Rahasia Basmalah

oleh alifbraja
Rahasia Basmalah: Rahasia tanpa Alif sesudah Ba

 

Rahasia Basmalah: Rahasia tanpa Alif sesudah Ba (1)

misteri tanpa penulisan hurus inti alif sesudah huruf ba.
Sehingga tertulis bersambung menjadi bismillah, bukan bi ismillah, sebagaimana lazimnya dalam ilmu penulisan bahasa Arab (‘ilm rasm), misalnya ayat iqra’ bi ismi Rabbik. Terdapat berbagai macam pendapat ulama tentang hal ini.

Dalam kitab Majma’ Al-Bayan dijelaskan sebagian dari mukjizat Alquran. Kitab ini menghubungkan jumlah kata ism terulang sebanyak 19 kali dalam Alquran.

Kalau ada alif mendahului kata ism, kata ism tidak lagi sesuai dengan angka 19 dan jumlah huruf basmalah tidak lagi 19 melainkan bertambah satu, 20.

Jumlah huruf basmalah (Bismillahirrahmanirrahim) jika ditulis dalam bahasa Arab berjumlah 19 huruf. Setiap kosakata yang digunakan di dalamnya berhubungan dengan angka 19. Kata ism terulang 19 kali, ar-Rahman 57:19=3, ar-Rahim 114:19=6, Allah 2697:19=142.

Ingat teori Rashad Khaifah yang mengatakan Alquran menggunakan rumus 19, sebagaimana disebutkan dalam QS Al-Muddatsir 74: 30 (Wa ‘alaiha tis’ata ‘asyar/Di atasnya ada sembilan belas). (Samikh ‘Athif Al-Zain, Majma’ Al-Bayan Al-Hadits, tafsir Mufradat Alfadh Al-Qurán Al-karim, h 34).

Penjatuhan (hadzf) huruf alif di dalam ayat itu sudah sesuai dengan tradisi bahasa Alquran, seperti tiga kali terulang bentuk kata seperti ini, yakni QS Al-Fatihah: 1, An-Naml: 30, dan Hud: 41.

Penjelasan senada juga disampaikan Abd Allah ibnu Husain Al-Akbary dalam At-Tibyan fi I’rab Al-Qur’an. Al-Razi dalam At-Tafsir Al-Kabir juga berpendapat bahwa pembuangan huruf alif sebelum kata ism hanya urusan teknis bahasa Arab.
Bagi para sufi, terjadinya al-a’yan al-kharijiyyah adalah kelanjutan dari ta’ayyun awwal, yaitu proses dari Ahadiyah ke Wahidiyyah¸ yakni dari sisi Tuhan sebagai Sirr al-Asrar/the Secret of the Secred/ kemudian ingin mengenal diri-Nya lalu memperkenalkan diri-Nya melalui Sifat-sifat dan Nama-nama-Nya.

Sisi Tuhan yang pertama disebut Ahadiyyah dan sisi yang terakhir disebut Wahidiyyah (supaya tidak bingung lihat artikel terdahulu tentang Ahadiyyah dan Wahidiyyah dan al-A’yan al-Tsabitah).

Sifat-sifat dan nama-nama Allah SWT yang ada di dalam al-A’yan al-Tsabitah menuntut konsekuensi, maka proses entitas terus berlanjut dan tidak hanya berhenti di al-A’yan al-Tsabitah.

Sulit memahami Allah sebagai Rabb dan Ilah tanpa marbub dan ma’luh yang menyembahnya. Sulit dipahami Tuhan sebagai Maha Pencipta (al-Khalik) tanpa makhluk.

Sulit memahami Allah Maha Pemberi (al-Wahhab) tanpa objek yang diberi (mauhub) dan seterusnya. Konsekuensi inilah yang melahirkan alam semesta yang merupakan kelanjutan proses dari al-A’yan al-Tsabitah.

Beda antara keduanya ialah al-A’yan al-Tsabitah, entitasnya permanen atau biasa disebut wajib al-wujud. Sedangkan alam semesta, termasuk manusia, adalah entitas baharu (al-a’yan al-hawadits) atau biasa disebut dengan mumkin al-wujud.

Baik yang pertama maupun yang kedua, asal-usulnya terlacak dan jelas, semuanya dari Allah. Allah disebut Ibnu Arabi sebagai al-Haqq dan makhluk-Nya disebut al-khalq.

Dalam kitab tafsir Isyari, penciptaan alam raya dihubungkan dengan sumpah pertama Allah dalam Alquran yaitu, Nun wa al-Qalam wa ma yasthurun (Demi Pena dan apa yang dituliskannya). Di antara mereka ada yang memahami secara semiotik, bahwa nun adalah botol tinta dan al-qalam adalah pena penciptaan.
Berbeda dengan ulama tasawuf dan mufasir Syiah yang memberikan makna khusus ketiadaan hurus alif sebelum kata ism. Penafsiran basmalah diurai perinci seperti yang dilakukan Al-Qummi dalam tafsirnya.

Ia mengatakan, al-ba’u Bahaullah (kemahaagungan Allah), al-sin sanaullah (kemahatinggian Allah), al-mim mulkullah (kemahakuasaan Allah), al-Allah Ilahu kulli syai’ (Tuhan seru sekalian alam),

Kemudian al-rahman bi jami’ khalqihi (Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk-Nya), al-rahim bi al-mu’minin khashah (Maha Penyayang secara khusus diberikan kepada hamba-Nya yang beriman). (Al-Qummi, Tafsir al-Qummi, juz 56, hlm 56).

Tafsir Al-Kafi mengutip riwayat dari Al-Baqir, “Kitab yang pertama kali Tuhan turunkan dari langit ialah basmalah. Apabila membacanya jangan lupa memohon perlindungan terhadap Allah SWT. Jika dibaca, Allah akan melindunginya dari bahaya yang ada di antara langit dan bumi.” (Al-Kasyani dalam Tafsir al-Shafi, juz 1, hlm 82).

Senada dengan riwayat yang disampaikan Ibnu Abbas, Anna likulli syai’in usas. Wa usas al-Qur’an al-Fatihah wa usas al-Fatihah Bismillahirrahmanirrahim. Segala sesuatu mempunyai inti dan intinya Alquran ialah basmalah. (Majma’ Al-bayan oleh Al-Thabrisi, juz 1 hlm 20).

Dalam kitab Al-Muwaqif fi Ba’dh Isyarat Al-Qur’an ila Asrar wa Al-Ma’arif, oleh Abdul Qadir Al-Hasani Al-Jazairy dijelaskan, “Membaca basmalah di awal pekerjaan bukannya tanpa maksud, melainkan untuk pujian. Huruf ba adalah untuk perlindungan dan pertolongan (isti’anah).”

“Sebagaimana firman Allah, “Mohonlah pertolongan kepada Allah.” (QS. Al-A’raf: 127) dan “Hanya Engkaulah kami memohon pertolongan” dan hadis sahih, “Tiada daya upaya dan kekuatan selain Allah.” (Juz 1 hlm 551-552).

Bagi para sufi, terjadinya al-a’yan al-kharijiyyah adalah kelanjutan dari ta’ayyun awwal, yaitu proses dari Ahadiyah ke Wahidiyyah¸ yakni dari sisi Tuhan sebagai Sirr al-Asrar/the Secret of the Secred/ kemudian ingin mengenal diri-Nya lalu memperkenalkan diri-Nya melalui Sifat-sifat dan Nama-nama-Nya.

Sisi Tuhan yang pertama disebut Ahadiyyah dan sisi yang terakhir disebut Wahidiyyah (supaya tidak bingung lihat artikel terdahulu tentang Ahadiyyah dan Wahidiyyah dan al-A’yan al-Tsabitah).

Sifat-sifat dan nama-nama Allah SWT yang ada di dalam al-A’yan al-Tsabitah menuntut konsekuensi, maka proses entitas terus berlanjut dan tidak hanya berhenti di al-A’yan al-Tsabitah.

Sulit memahami Allah sebagai Rabb dan Ilah tanpa marbub dan ma’luh yang menyembahnya. Sulit dipahami Tuhan sebagai Maha Pencipta (al-Khalik) tanpa makhluk.

Sulit memahami Allah Maha Pemberi (al-Wahhab) tanpa objek yang diberi (mauhub) dan seterusnya. Konsekuensi inilah yang melahirkan alam semesta yang merupakan kelanjutan proses dari al-A’yan al-Tsabitah.

Beda antara keduanya ialah al-A’yan al-Tsabitah, entitasnya permanen atau biasa disebut wajib al-wujud. Sedangkan alam semesta, termasuk manusia, adalah entitas baharu (al-a’yan al-hawadits) atau biasa disebut dengan mumkin al-wujud.

Baik yang pertama maupun yang kedua, asal-usulnya terlacak dan jelas, semuanya dari Allah. Allah disebut Ibnu Arabi sebagai al-Haqq dan makhluk-Nya disebut al-khalq.

Dalam kitab tafsir Isyari, penciptaan alam raya dihubungkan dengan sumpah pertama Allah dalam Alquran yaitu, Nun wa al-Qalam wa ma yasthurun (Demi Pena dan apa yang dituliskannya). Di antara mereka ada yang memahami secara semiotik, bahwa nun adalah botol tinta dan al-qalam adalah pena penciptaan.Akan tetapi jika membaca terjemahan pertama (Atas nama Allah), tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi, sebagai representasi Allah, akan selalu terbayang.

Kita tidak boleh main-main di dalam hidup ini, karena semua yang kita lakukan di muka bumi ini adalah ‘mewakili’ Allah, karena manusia adalah representasi-Nya, sebagaimana firman-Nya: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’

Mereka berkata, ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?’ Tuhan berfirman, ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui,” (QS. Al-Baqarah: 30).

Ayat ini memberi arti penting posisi manusia sebagai khalifah di muka bumi, akan tetapi juga mengisyaratkan Allah tidak akan terlibat langsung, paling tidak dalam pandangan visual manusia, karena Ia telah menunjuk representatif-Nya.

Sebagai representasi Tuhan, maka wajar kalau tanggung jawab yang diemban manusia sungguh amat luar biasa beratnya. Inilah makna basmalah, “Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”.

Secara gramatikal bahasa Arab, terjemahan “Atas nama Allah” atau “Dengan nama Allah” keduanya dimungkinkan. Jika dalam suatu acara presiden berhalangan datang untuk membuka sebuah acara lalu didisposisikan kepada wakil presiden atau salah seorang menterinya, kalimat yang digunakan wapres atau menteri ialah “Bi ism al-rais al-jumhuriyyah … ” (Atas nama Presiden …). Dengan demikian, makna basmalah menjadi amat penting dalam eksistensi kehidupan manusia.

Tidak adanya huruf alif sebelum kata ism, yakni huruf ba langsung menempel kata ism (bism Allah), sebagai wujud kedekatan antara pemberi amanah dan yang diamanati, antara perbuatan dan pembuatnya, dan antara sifat dan yang disifati. Dari segi ini cukup berdasar jika kalangan ulama tasawuf, ulama Syiah, dan kecenderungan ulama Sunni memberi bobot lebih penting terhadap lafal basmalah.

Mereka yakin bahwa semua perbuatan yang diawali dengan basmalah pasti mendatangkan berkah. Mari kita memulai seluruh perbuatan kita dengan basmalah (Atas nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang). Wallahua’lam.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 144 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: