Archive for Agustus 7th, 2012

7 Agustus 2012

BERGURU KEPADA ALLAH

oleh alifbraja
 
“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantara kalam, Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahui” (QS 96:1-5) 
 

Ayat diatas jelas sekali bagaimana Allah mengajarkan membaca dengan melihat suatu kejadian penciptaan “manusia” mulai dari bentuk mudhgah (segumpal darah) sehingga menjadi bentuk manusia yang sempurna. Kalau kita runtun serangkaian kejadian tersebut dengan teliti dan kita bisa cerita kembali dengan orang lain secara tidak sadar kita megajarkan sebuah ilmu. Dan kalau kita khususkan lebih dalam penelitian kita atas peristiwa kelahiran manusia mungkin kita akan lebih banyak mengetahui seperti halnya kejadian yang akan kita perhatikan. Onum atau sel produksi wanita yang telah dewasa itu ditempatkan dalam jaringan yang berbentuk bisul dipermukaan indung telur. Pada saatnya yang tepat, terbukalah pintu, dan ovum itu bergerak maju kebagian ruang peranakan. Sangat mengherankan, sel tersebut tidak musnah di sini, tetapi diarahkan keujung saluran indung telur, yaitu satu pipa saluran menuju kandungan.
Mari kita pertegas lagi dengan surat Al Mu’minuun ayat 12-14:” Dengan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari saripati (berasal) dari tanah, kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh  (rahim), kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang. Lalu tulang-belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci Allah, pencipta yang paling baik (QS 23:12-14)

Banyak orang mengajarkan ilmu kepada muridnya namun ia tidak mampu memberikan kefahaman,…banyak guru mengajarkan agama namun ia tidak bisa memberikan secuil iman, dan banyak guru mengajarkan shalat dan rukunya namun ia tidak bisa memberikan kekhusyu’an. Dan banyak majelis pembersihan jiwa namun ia tidak bisa membersihkan jiwanya (QS 24:21).

Ada yang ingin saya ungkapkan sebuah rahasia Allah, saat kita bertutur mengenai perilaku binatang dan tumbuh-tumbuhan, bagaimana lebah menciptakan sarangnya denga struktur yang indah, para semut yang bekerja dengan tekun dan kompak serta mengelompokan dalam pekerjaan dengan manajemen yang sangat rapih. Dan kita perhatikan seperti apakah sarang semut itu? Mereka membuat sarang terdiri dari ruangan-ruangan yang berfungsi sebagai gudang tempat penyimpanan makanan, ruang untuk menyimpan larva, ruang makan ratu semut yang dilayani semut pekerja dan tempat bertelur, kemudian telur semut tersebut dibawah oleh pekerja ke ruangan khusus penyimpanan telur. Ruang semut jantan dan ruang semut betinah terpisah, kepompong yang sudah menjadi semut sempurna diletakkan pada ruangan tersendiri dan para semut yang ada yang bertugas merobek kepompong untuk mengeluarkan semut-semut yang masih bayi. Kita lihat diruangan yang lain, semut-semut ini memelihara kepompong kupu-kupu hairstreak. Mereka merawat dan memberikan makanan layaknya bayi sendiri. Mereka mengharapkan kelak anak angkatnya ini mampu membalas jasa baiknya dengan memberi madu yang manis.

Mari kita tinggalkan rumah semut yang damai dan sejahtera, menuju istana rayap yang penuh keajaiban. Sebuah gundukan tanah sarang rayap, yang kelihatanya sepele ternyata ada sebuah kecerdasan yang mengalir pada diri para penghuninya… bagaimana tidak, saat suhu luar bergerak anatar 35 derajat (pada malam hari) hingga 104 derajat farenheit (pada siang hari), suhu suhu didalam sarang tetap stabil. Kira- kira hanya 87 fareinheit kehebatan ini yang membuat para arsitek Zimbabwe berguru kepada rayap. Mereka ingin membuat rumah yang dingin seperti rumah rayap. Ternyata lubang angin dibawah gundukan ..udara yang hangat disiang hari mengalir keseluruh ruang. Sementara ruang-ruang itu telah basah oleh lumpur yang dibawah oleh rayap dari genangan dibawah tanah, makanya di dalam sarang udara tetap lembab. Jadi tak heran jika jamur yang dibutuhkan rayap sebagai makanan tumbuh subur di sini.

Kita perhatikan makhluk yang tidak memiliki akal dan tiada mampu berfikir (klick), makhluk yang tiada daya namun siapa yang membekali ia kempuan bersiasat, berpengertian? Memiliki tingkat kecerdasan yang luar biasa. Bagaimana mereka mendapatkan kecerdasan dan pengertian tersebut. Apakah mereka bisa dengan sendirinya. (Harap direnungkan…)
Allah-lah yang bertutur kata kepada semua makhluknya. Allah yang memberikan wahyu kepada para Nabi, kepada ibu Musa, kepada lebah, kepada semut, kepada langit dan bumi, kepada manusia, kepada pencuri sekalipun..!!!

Semua makhluk telah mengikuti kehendak Ilahi dan perintah Ilahi dengan terpaksa ataupun suka cita. Allah membuat hukum yang harus diikuti semua makhluk, hal ini bisa kita rasakan dalam ruangan hening…kita perhatikan keluar masuknya nafas..kedip mata dan degub jantung yang bergerak mengaliri darah sambil mengirimkan nutrisi menggantikan sel-sel yang hilang… indahnya penglihatan memandang alam…suara debur ombak menggema menembus telinga… dan lidah merasakan lezatnya buah-buahan dan biji-bijian. Oh alangkah indahnya semuanya ini, manusia hanya bisa merasakan dan menyaksikan. Tidak sedikitpun kita andil dalam membuat rasa semua ini !!!
Rasakan dengan penuh hikma bahwa kita sebenarnya hanya diam terpaku dalam kesibukan Allah (Af’alullah), Allah yang menggerakkan bumi dan bintang-bintang, Allah menggerakkan semua makhluknya yang Dia ciptakan, Allah yang mengatur senyawa bereaksi dan butiran atom bergerak pada porosnya. “dan Allah telah mengeluarkan kamu dari perut ibumu tidak mengetahui apa-apa, kemudian Allah memberi kepada kamu pendengaran dan penglihatan serta pikiran (perasaan), supaya kamu bersyukur” (QS 16:78).

Firman Allah :
Kemudian Dia mengarahkan kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan pada bumi; silakan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa jawab mereka : kami mengikuti dengan suka hati” (QS 41:11)

Allah mengajarkan manusia apa-apa yang belum diketahuinya. Allah-lah yang menuntun manusia, memberikan inspirasi, ilham dan wahyu. Tubuhnya patuh mengikuti perintah Tuhannya tidak terkecuali orang kafir. Sunnah-sunnah Allah berlaku kepada alam semesta baik yang mikro maupun yang makro.

Wassalam.

7 Agustus 2012

MENYAKSIKAN ALLAH SWT

oleh alifbraja
 MENYAKSIKAN ALLAH SWT
 
 
اَعُوْذُ بِااللهِ مِنَ اْلشَّيْطَا نِ الْرَجِيْم بِسْمِ اللهِ اْلَرّحْمنِ اْلرَحِيْمِ
 
اَشْهَدُ اَنْ لا َاِلَهَ اِلا الله وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ الله
اَلله ُوَحْدهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ مُحَمَّدٌ عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهْ حَقُّ الله – رَحْمَةُ الله – رِضَأ الله
 
SAMPAI KEPADA MAKAM MELIHAT KENYATAAN ZAT YANG MAHA SUCI.
 
Melihat Allah ada dua jenis: Pertama melihat sifat keindahan Allah yang sempurna secara langsung di akhirat’ dan satu lagi melihat sifat-sifat ketuhanan yang dipancarkan ke atas cermin yang jernih kepunyaan hati yang tulen di dalam kehidupan ini. Dalam hal tersebut penyaksian kelihatan sebagai penzahiran cahaya keluar daripada keindahan Allah yang sempurna dan dilihat oleh mata hati yang hakiki.
 
ما كَذَبَ الفُؤادُ ما رَأىٰ
“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.”. (Surah Najmi, ayat 11).
 
Mengenai melihat kenyataan Allah melalui perantaraan, Nabi s.a.w bersabda, “Yang beriman adalah cermin kepada yang beriman”. Yang beriman yang pertama, cermin dalam ayat ini, adalah hati yang beriman yang suci murni, sementara yang beriman kedua adalah Yang Melihat bayangan-Nya di dalam cermin itu, Allah Yang Maha Tinggi. Sesiapa yang sampai kepada makam melihat kenyataan sifat Allah di dalam dunia ini akan melihat Zat Allah di akhirat, tanpa rupa tanpa bentuk.
 
Kenyataan ini disahkan oleh Sayyidina Umar r.a dengan katanya, “Hatiku melihat Tuhanku dengan cahaya Tuhanku”. Saidina Ali r.a berkata, “Aku tidak menyembah Allah kecuali aku melihat-Nya”. Mereka berdua tentu telah melihat sifat-sifat Allah dalam kenyataan. Jika seseorang melihat cahaya matahari masuk melalui jendela dan dia berkata, “Aku melihat matahari”, dia bercakap benar.
 
Allah memberi gambaran yang jelas tentang kenyataan sifat-sifat-Nya:

 
اللَّهُ نورُ السَّمٰوٰتِ وَالأَرضِ ۚ مَثَلُ نورِهِ كَمِشكوٰةٍ فيها مِصباحٌ ۖ المِصباحُ فى زُجاجَةٍ ۖ الزُّجاجَةُ كَأَنَّها كَوكَبٌ دُرِّىٌّ يوقَدُ مِن شَجَرَةٍ مُبٰرَكَةٍ زَيتونَةٍ لا شَرقِيَّةٍ وَلا غَربِيَّةٍ يَكادُ زَيتُها يُضيءُ وَلَو لَم تَمسَسهُ نارٌ ۚ نورٌ عَلىٰ نورٍ ۗ يَهدِى اللَّهُ لِنورِهِ مَن يَشاءُ ۚ وَيَضرِبُ اللَّهُ الأَمثٰلَ لِلنّاسِ ۗ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيءٍ عَليمٌ 
“Allah (Pemberi) cahaya (kepada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah, adalah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam kaca (dan) kaca itu seakan-akan bintang (yang bercahaya) seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur (sesuatu) dan tidak pula di sebelah barat (nya), yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi, walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis), Allah membimbing kepada cahaya-Nya siapa yang Dia kehendaki, dan Allah memperbuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. ”. (Surah Nuur, ayat 35).
 
Perumpamaan dalam ayat ini adalah hati yang yakin penuh di kalangan orang yang beriman. Lampu yang menerangi bekas hati itu ialah hakikat atau intipati kepada hati, sementara cahaya yang dipancarkan ialah rahsia Tuhan, ‘roh sultan’. Kaca adalah lutsinar dan tidak memerangkap cahaya di dalamnya tetapi ia melindunginya sambil menyebarkannya kerana ia umpama bintang. Sumber cahaya adalah pohon Ilahi. Pohon itu adalah makam atau suasana keesaan, menjalar dengan dahan dan akarnya, memupuk prinsip-prinsip iman, berhubung tanpa perantaraan dengan bahasa yang asli.
 
Secara langsung, melalui bahasa yang asli itulah Nabi s.a.w menerima pembukaan al-Quran. Dalam kenyataan Jibrail membawa firman Tuhan hanya setelah firman tersebut diterima – ini adalah untuk faedah kita supaya kita boleh mendengarnya dalam bahasa manusia. Ini juga memperjelaskan siapakah yang tidak percaya dan munafik dengan memberi mereka peluang untuk menafikannya seperti mereka tidak percaya kepada malaikat.

 
وَإِنَّكَ لَتُلَقَّى القُرءانَ مِن لَدُن حَكيمٍ عَليمٍ
“Dan sesungguhnya kamu benar-benar diberi Al Qur’an dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”. (Surah Naml, ayat 6).
 
Oleh kerana Nabi s.a.w menerima pembukaan sebelum Jibrail membawanya kepada baginda, setiap kali Jibrail membawa ayat-ayat suci itu Nabi s.a.w mendapatinya di dalam hatinya dan membacanya sebelum ayat itu diberikan. Inilah alasan bagi ayat:
 
فَتَعٰلَى اللَّهُ المَلِكُ الحَقُّ ۗ وَلا تَعجَل بِالقُرءانِ مِن قَبلِ أَن يُقضىٰ إِلَيكَ وَحيُهُ ۖ وَقُل رَبِّ زِدنى عِلمًا
“Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al Qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “”Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (Surah Ta Ha, ayat 114).
 
Keadaan ini menjadi jelas sewaktu Jibrail menemani Nabi s.a.w pada malam mikraj, Jibrail tidak terdaya untuk pergi lebih jauh daripada Sidratul Muntaha. Dia berkata, “Jika aku ambil satu langkah lagi aku akan terbakar”. Jibrail membiarkan Nabi s.a.w meneruskan perjalanan seorang diri.
 
Allah menggambarkan pokok zaitun yang diberkati, pokok keesaan, bukan dari timur dan bukan dari barat. Dalam lain perkataan ia tidak ada permulaan dan tidak ada kesudahan, dan cahayanya yang menjadi sumber tidak terbit dan tidak terbenam. Ia kekal pada masa lalu dan tiada kesudahan pada masa akan datang. Kedua-dua Zat Allah dan sifat-sifat-Nya adalah kekal abadi. Kedua-dua kenyataan Zat-Nya dan kenyataan sifat-Nya bergantung kepada Zat-Nya.
 
Penyembahan yang sebenar hanya boleh dilakukan apabila hijab yang menutup hati tersingkap agar cahaya abadi menyinarinya. Hanya selepas itu hati menjadi terang dengan cahaya Ilahi. Hanya selepas itu roh menyaksikan perumpamaan Ilahi itu.
 
Tujuan diciptakan alam maya adalah untuk ditemui khazanah rahsia itu. Allah berfirman melalui Rasul-Nya:
 
“Aku adalah Perbendaharaan Yang Tersembunyi. Aku suka dikenali lalu Aku ciptakan makhluk agar Aku dikenali”.
 
Ini bermakna Dia boleh dikenali di dalam dunia ini melalui sifat-sifat-Nya. Tetapi untuk melihat dan mengenali Zat-Nya sendiri hanyalah boleh terjadi di akhirat. Di sana melihat Allah adalah secara langsung sebagaimana yang Dia kehendaki dan yang melihatnya adalah mata bayi hati.
 
“Beberapa muka pada hari itu berseri-seri. Kepada Tuhannya mereka melihat”. (Surah Qiamat, ayat 22 & 23).
 
Nabi s.a.w bersabda, “Aku melihat Tuhanku di dalam rupa jejaka tampan”. Mungkin ini adalah bayangan bayi hati. Bayangan adalah cermin. Ia menjadi alat untuk menzahirkan yang ghaib. Hakikat Allah Yang Maha Tinggi tidak menyerupai sesuatu samada bayangan atau bentuk. Bayangan adalah cermin, walaupun yang kelihatan bukanlah cermin dan bukan juga orang yang melihat ke dalam cermin. Fikirkan tentang itu dan cubalah memahaminya kerana ia adalah hakikat kepada alam rahsia-rahsia.
 
Tetapi semuanya berlaku pada makam sifat. Pada makam Zat semua kenyataan hilang, lenyap. Orang yang di dalam makam Zat itu sendiri lenyap tetapi mereka merasai zat itu dan tiada yang lain. Betapa jelas Nabi s.a.w menggambarkannya, “Aku daripada Allah dan yang beriman daripadaku”. Dan Allah berfirman melalui Rasul-Nya:
 
“Aku ciptakan cahaya Muhammad daripada cahaya Wujud-Ku sendiri”.
 
Maksud Wujud Allah adalah Zat-Nya Yang Maha Suci, menyata di dalam sifat-sifat-Nya Yang Maha Mengasihani. Ini dinyatakan-Nya melalui Rasul-Nya:
 
“Rahmat-Ku mendahului murka-Ku”.
 
Rasul yang dikasihi Allah adalah cahaya kebenaran sebagaimana Allah berfirman:
 
“Tidak Kami utuskan engkau melainkan menjadi rahmat kepada seluruh alam”. (Surah Anbiyaa’, ayat 107).
 
يٰأَهلَ الكِتٰبِ قَد جاءَكُم رَسولُنا يُبَيِّنُ لَكُم كَثيرًا مِمّا كُنتُم تُخفونَ مِنَ الكِتٰبِ وَيَعفوا عَن كَثيرٍ ۚ قَد جاءَكُم مِنَ اللَّهِ نورٌ وَكِتٰبٌ مُبينٌ
“Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepadamu Rasul Kami, menjelaskan kepadamu banyak dari isi Al Kitab yang kamu sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan kitab yang menerangkan.”. (Surah Maaidah, ayat 15).
 
Pentingnya utusan Allah yang dikasihi-Nya itu jelas dengan firman-Nya kepada baginda, “Jika tidak kerana engkau Aku tidak ciptakan makhluk”.
 
رَبَّنَا اَتِنَا فِى اْلدُنْيَاحَسَنَةً وَفِى اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ اْلنَّارِ. وَاْلحَمْدُ للهِ رَبّ ِاْلعَالَمِيْنَ
رِضَــا يَاالله ……….. الفاتحة
7 Agustus 2012

ALLAH ADALAH PERWUJUDAN

oleh alifbraja

Bismillahirrohmanirrahim

Para pembaca yang mulia, kalau kita bicara soal kebhatinan, kejiwaan, dan kerokhanian, ini semua tidak akan terlepas dari soal Ketuhanan karena.
  • Allah sumber dari segala sesuatu
  • Allah Maha bisa
  • Allah Serba Ada
  • Allah Maha Pengasi dan Penyayang
 
maka saya akan menyampaikan kepada para pembaca, pengertian tentang Allah “Konsep Tentang Allah” maka saya dahului dengan pengertian dasar Allah yang artinya sesembahan (yang disembah, yang diagungkan) dan Allah adalah berarti dan dapat diartikan.
 
Pertama: yang saya sembah adalah Allah, Kedua: yang saya agungkan adalah Allah, Ketiga: Tempat saya meminta dan mengabdi kepada Allah.
Taip-tiap perwujudan mempunyai kerangka dan batasan-batasan. Jika ada seseorang menyebutkan sesuatu tetapi mereka tidak dapat memberikan kerangka dan batasan pada nama tersebut maka nama yang disebutnya itu adalah khayalan belaka dan pengertian ini juga menjadi ukuran keimanan sesorang terhadap apa yang diketahui apalagi yang ia yakini.
 
ARTI PERKATAAN “ALLAH”
 
Dalam sastra Arab : Illah berarti Tuhan (sesembahan atau yang disembah). Allah berasal dari “Al” dan “Ilah” yang berarti Maha Sesembahan. Dengan demikian Allah adalah sesembahan Yang Tertinggi dari segala hidup, kehidupan dan Penghidupan dan tempat pengabdian diri segala makhluk.
 
MENTAUHIDKAN DIRI
 
Rosulullah pernah bersabda “MAN AROFA NAPSAHU FAQOD AROFAH ROBBAHU” artinya “barang siapa yang mengenal dirinya maka orang itu akan mengenal akan TuhanNya (Allah)”, oleh karena itu kita diwajibkan untuk mengenal yang kita sembah. “WAMAN AROFAH ROBBAHU FAQOD JAHILAN NAPSAHU” artinya “barang siapa yang mengenal Tuhanya (Allah) maka dia merasa tidak mempunyai apa-apa, karena perbuatan, pikiran, ucapan, pendengaran dan lain-lainnya adalah kepunyaan Allah. Jadi janganlah merasa bahwa kalian yang berbuat, kalian yang berpikir, kalian yang mengucap, kalian yang mendengar dan lain-lain itu semua adalah perbuatan Allah.
 
Allah berfirman “WANAKHNU AQROBBU ILLAIHI MIN HABLIL WARIED” sesunguhnya Aku dan engkau hai manusia tidak ada antara lagi semisal gula dan manisnya, seumpama garam dan asinya, nah begitulah akrabnya Allah dengan manusia. Apakah ini masih anda ragukan kebenaran firmanNya, coba anda renungkan.
  
“AWWALU DINNI MA’RIFATULLAH TA’ALLA” bahwa rasulullah bersabda ” Awal dari beragama diwajibkan mengenal kepada Allah Ta’alah”, semisal sebagai pekerja/buruh tanpa tahu majikannya pada saat minta upah dan majikan tidak tahu apa yang kita kerjakan, bukankah itu sia-sia? Nah marilah kita berusaha agar bisa Ma’rifat kepada Allah Subahanallu Wata’ala apabila kita semua mengakui Islam sebagai agama kita.
7 Agustus 2012

Hati Menemukan Kedamaian dengan Mengingat Allah

oleh alifbraja
 
Menurut penelitian oleh David B Larson dan timnya dari the American National Health Research Center [Pusat Penelitian Kesehatan Nasional Amerika], pembandingan antara orang Amerika yang taat dan yang tidak taat beragama telah menunjukkan hasil yang sangat mengejutkan. Sebagai contoh, dibandingkan mereka yang sedikit atau tidak memiliki keyakinan agama, orang yang taat beragama menderita penyakit jantung 60% lebih sedikit, tingkat bunuh diri 100% lebih rendah, menderita tekanan darah tinggi dengan tingkat yang jauh lebih rendah, dan angka perbandingan ini adalah 7:1 di antara para perokok. 1
Dalam sebuah pengkajian yang diterbitkan dalam International Journal of Psychiatry in Medicine, sebuah sumber ilmiah penting di dunia kedokteran, dilaporkan bahwa orang yang mengaku dirinya tidak berkeyakinan agama menjadi lebih sering sakit dan mempunyai masa hidup lebih pendek. Menurut hasil penelitian tersebut, mereka yang tidak beragama berpeluang dua kali lebih besar menderita penyakit usus-lambung daripada mereka yang beragama, dan tingkat kematian mereka akibat penyakit pernapasan 66% lebih tinggi daripada mereka yang beragama.
Para pakar psikologi yang sekuler cenderung merujuk angka-angka serupa sebagai “dampak kejiwaan”. Ini berarti bahwa keyakinan agama meningkatkan semangat orang, dan hal ini berpengaruh baik pada kesehatan. Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan, namun sebuah kesimpulan yang lebih mengejutkan muncul ketika orang-orang tersebut diperiksa. Keimanan kepada Allah jauh lebih kuat daripada pengaruh kejiwaan apa pun. Penelitian yang mencakup banyak segi tentang hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan jasmani yang dilakukan oleh Dr. Herbert Benson dari Fakultas Kedokteran Harvard telah menghasilkan kesimpulan yang mencengangkan di bidang ini. Walaupun bukan seorang yang beragama, Dr. Benson telah menyimpulkan bahwa ibadah dan keimanan kepada Allah memiliki lebih banyak pengaruh baik pada kesehatan manusia daripada keimanan kepada apa pun yang lain. Benson menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak ada keimanan yang dapat memberikan banyak kedamaian jiwa sebagaimana keimanan kepada Allah. 2
Apa yang mendasari adanya hubungan antara keimanan dan jiwa raga manusia ini? Kesimpulan yang dicapai oleh sang peneliti sekuler Benson adalah, dalam kata-katanya sendiri, bahwa jasmani dan ruhani manusia telah dikendalikan untuk percaya kepada Allah. 3
Kenyataan ini, yang oleh dunia kedokteran pelan-pelan telah mulai diterima, adalah sebuah rahasia yang dinyatakan dalam Al Qur’an dengan kalimat ini “…Hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’d, 13:28). Alasan mengapa orang-orang yang beriman kepada Allah, yang berdoa dan berharap kepada-Nya, lebih sehat secara ruhani dan jasmani adalah karena mereka berperilaku sesuai dengan tujuan penciptaan mereka. Filsafat dan sistem yang tidak selaras dengan penciptaan manusia selalu mengarah pada penderitaan dan ketidakbahagiaan.
Kedokteran modern sekarang sedang mengarah menuju pemahaman tentang kebenaran ini. Seperti kata Patrick Glynn: “Penelitian ilmiah di bidang psikologi selama lebih dari 24 tahun silam telah menunjukkan bahwa, … keyakinan agama adalah satu di antara sejumlah kaitan paling serasi dari keseluruhan kesehatan jiwa dan kebahagiaan.” 4

1. Patrick Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World (California: Prima Publishing: 1997), 80-81.
2. Herbert Benson, and Mark Stark, Timeless Healing (New York: Simon & Schuster: 1996), 203.
3. Ibid., 193.
4. Glynn, God: The Evidence, The Reconciliation of Faith and Reason in a Postsecular World, 60-61.
7 Agustus 2012

MENGENAL JATI DIRI 2

oleh alifbraja
 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 

Dan hal tersebut diatas sesuai dengan petunjuk Al Qur’an nulkarim yang menyatakan :

 
“Fa aqimis sholata inna sholaata kaanat’alan mu’miniin kataaban manguuta”
Artinya:
“Kerjakan sholat sesungguhnya sholat itu suatu kuwajiban yang ditentukan kepada yang mengaku agama islam”, maka karena itu sungguh wajiblah kiranya apabila kita benar mengaku sebagai bangsa yang beragama Islam dan ingatlah oleh anda bahwa sewaktu-waktu kita diberi peringatan atau cobaan, diri bisa menyatakan ganjaran diri, yang ditumpahkan kepada pribadi kita tetapi pada umumnya hal ini dinyatakan sebagai cobaan Allah.
 
Justru kita sadari padahal sesungguhnya Allah menyiksa atau menghukumnya karena Allah maha Suci. Karena itu sangatlah wajib kita saling mengintropeksi diri atau relius atau melihat kedalam agar kita tidak sering menyalahkan Allah sakit susah tidak adil Allah dan sebagainya apabila kita berfikir dengan hati yang bersih sesungguhnya Allah tiada yang diharapkan dari hambanya, cobalah anda renungkan baik-baik bahkan Allah dijadikan pelbak dipakai joget dipakai zikir dan dipakai tempat meyalahkan dan permintaan.
 
Manusia yang tidak sadar akan dirinya cobalah perhatikan pada dirinya yang pasti akan kita temui dalam perjalanan masing-masing misalnya saja sewaktu berusaha sesuatu lantas mengalami kegagalan kadang-kadang sampai ada mengakhiri dengan bunuh diri bukan ataupun hal-hal lain anda dengan sendirinya timbul suatu pertanyaan apakah dengan jalan bunuh diri persoalan selanjutnya dianggap selesai? Mungkin soal kehadapan saya selesai itu hanyalah masalah lahiriah saya, tetapi yang sekarang yang dihadapi oleh si Aku belum selesai mengapa demikian ! oleh karena pada hakekatnya bunuh diri itu merupakan suatu perbuatan mengingkari kekuasaan Allah Lillahi Rabbi dan tergolong orang yang sesat.
 
Oleh karena perbuatan semacam ini sesungguhnya ialah didominir olah unsur raga atau saya padahal unsur raga itu tetap binasa pula setelah terjadi perpisahan antara unsur Aku dan unsur saya, tetapi harus diingat bahwa si Aku itu adalah abadi yang harus menanggung resiko atau beban dari perbuatan kita dikala masih hidup, jadi apabila demikian halnya yang jelas beban oleh unsur si Aku itu akan semakin berat karena suatu pengingkaran diri dari kenyataan hidup ataupun kuasa hidup, ataupun kekuasaan Allah. Sebenarnya adapun surga ataupun neraka itu milik Allah semata justru terserah wewenang dan keridhoaanya.
 
Saudara para jemaah Majelis Mudzakaroh Warga Kekeluargaan (MMWK) kaum muslimin dan muslimat, para remaja penerus bangsa yang berbahagia yang selalu menjadi dambaan Negara hendaknya berupaya untuk menjadi insane yang berfaedah bagi nusa dan bangsa kelak nanti sesuai dengan kemampuan masing-masing dan tuntullah kesempurnaan berfikir dan terkuatlah lahir dan bhatin dalam mengemban hidup dan kehidupan dialam semesta ini gunakanlah pula pikiran yang baik dan saya ingin mengajak anda melalui blog ini mari kita mengemban amanat Allah Subhanahu wata’ala dengan penuh pengertian yang patut kita jadikan landasan dalam melaksanakan yaitu :
 
  1. 1.   Iman dan taqwa kita jadikan dasarnya.
  2. 2.   Berbuat amal dan kebijakan atau amal sholeh adalah dengan buktinya.
  3. 3.   Tolong-menolong sesame insane sebagai siarnya.
  4. 4.   Bersabar dan menerima atas dasar ketentuan Allah adalah sandaran
  5. 5.   Berhubungan kepada diri sendiri bukti taqwa kepada Allah ta’ala.
Nah oleh karena itu bagi kita yang mengaku yang beragama islam hukumnya wajib melaksanakan agar dapat mempercayakan diri kita masing-masing dan apabila tersebut diatas telah kita kerjakan dengan sepenuh hati dan baik Insyah Allah akan memperolah bukti yang nyata serta pengertian yang lebih sempurna didalam menjalankan tugas hidup, yang sehingga dapat mengalami benar sistimatik petunjuk dari yang dikatakan Aku sebagai mana metode telah digariskan yaitu petunjuk dari Allah diterima melalui di Aku tersebut dan oleh siAku diteruskan kepada siSaya dan mengekspresikan petunjuk itu, menjadi satu rangsangan yang perlu mendapat respond an alam merespon tersebut akan berbentuk suatu perbuatan nyata.
 
Atau tindakan yang mungkin saya dalam merespon petunjuk itu bisa terjadi pula tidak dilaksanakan sebab ada kemungkinan petunjuk tersebut  tidak sesuai dengan aspek saya atau lahiriah, dan apabila factor lahiriyah yang lebih dominan akan menolaknya petunjuk darisiAku atau yang disebut utusan tadi, jadi yang berarti ketidak sesuaian dari si hawa nafsu.
 
Karena tidak dapat dikembalikan jelasnya diumbar siSaya kemungkinan sekali ptunjuk yang dari dalam itu dapat melangsungkan dilaksanakan karena sudah ada kesadaran dari hawa nafsu itu sendiri yang berarti telah terkendali, nah inilah masalah yang sangat penting bagi kita untuk diketahui agar didalam mengamalkan pelaksanaanya di kerjakan oleh kita dapat diperhatikan terlebih dahulu demi keselamatan dunia dan akhirat kelak.
 
Dan mari kita sama-sama memperhatikan penjelasan selanjutnya hal yang berhubungan dengan pengertian untuk dapat mengerjakan keikhlasan dalam melaksanakan kebajikan pada sesamanya selama kita hidup di alam semesta ini sebab banyak contohnua dan apabila mengalami suatu kegagalan bahwa itu merupakan guru yang sangat berharga dalam upaya mencapai sukses ialah dengan kesadaran yang tinggi serta mau menerima kenyataan hidup dengan melalui penyerahan diri nudah ke akhirat Lillahi rabbi juga mau menoleh dan dan menerima atau memperhatikan kedalam diri, sehingga untuk itu dapat ditekan semaksimal mungkin sudah dengan sendiri tidaklah terlalu memberatkan siAkunya jadi adapun benar dan salahnya suatu perbuatan itu, sebaiknya diserhakan saja kepada yang sangat berwenang yaitu Allah subhanahu wata’ala.
 
Justru itu kelak untuk melaksanakan suatu perbuatan ikhlas kita perlu mempelajari mekanis diri kita sendiri, oleh karena itu pada sesungguhnya katifitas diri  itu dalam bentuk lahiriah sebenarnya cukup banyak hal  yang mengandung pelajaran yang sangat berguna ataupun baik bagi kehidupan kita walaupun mungkin kelihatanya sangat sepele bahkan seolah-olah terlihat oleh kita tidak ada manfaatnya, namun apabila secara jujur dan terbuka tidaklah akan pernah kita membicarakan persoalan buang air besar (berak), sebab dihubungi dengan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dan pula jika kita lihat dalam pengertian berak itu, yang normalnya suatu ucapan yang menjijikan atau jorok kedengaranya. Tetapi dibalik kejorokan yang menjijikan sesungguhnya terdapat mutiara ikhlas, dan cobalah anda renungkan sejenak apa yang diuraikan diatas dan secara tegas pernahkah anda berupaya untuk tidak buang air ataupun tidak mau berak mengingat yang dimakan oleh anda adalah barang makanan yang kita makan itu mahal harganya tetapi saja akan kita buang melalui buang air tersebut bahkan dengan lapang dada malah anda mau melihat lagi dengan segala senang hati itulah yang terdapat dalam penegrtian kata ikhlas dalam kehidupan kita, karena telah banyak contoh oaring yang 2-3 tidak bisa buang airrasanya kebingungan maka adalah merupakan simpanan penyakit dalam tubuh, oleh sebab itu walaupun suatu rejeki yang dapat dari hasil kita sendiri maka perlu kita sedekahkan.
 
Pada yang benar-benar menerimanya dengan sepenuh hati ke ikhlasan hati tak menharapkan kembali, inilah contoh penegrtian tentang keikhlasan dalam berbuat kebajikan kepada sesama
.
Dan selanjutnya mari kita perhatikan hal-hal yang lain, yang bisa dijadikan keyakinan dari masing-masing renungkanlah apakah yang sebenarnya akan dating nanti dari harapan kita tersebut, adalah yang pasti ialah senang dan susah seperti sakit dan bingung, putus asa dan gelisah atau demam hati, itulah suatu perbuatan kebajikan yang dilandasi pamrih jadi yang jelas itu perbuatan yang mengharap imbalan. Hendakna suatu perbuatan yang bersifat agama tentu disertai keikhlasan karena tidak menharapkan imbalan apapun yang ia kerjakan, demi agama diserhakan saja kepada Allah subhanahu wataala, andaikan demikian pula itikat baik kita itu bisa rusak, oleh karena harapan akan banyak kemungkinan yang masih bisa timbul dan jelaslah sudah barang tentu yang tadi kita anggap sepele belumlah pasti mempunyai nilai dan arti yang sepele juga kemungkinan lain.
 

Saudara muslim dan muslimat serta para generasi penerus terutama jemaah MMWK yang berbahagia dengan sesuatu kesadaran yang tinggi dalam diri pribadi, malah kita akan lebih menyadari bahwasanya kita ini merupakan ciptaan Allah yang segala sesuatunya mengatur ketentuan itu, adalah Allah sendiri dan dengan demikian apa yang dilakukan dengan pengertian yang berlandaskan dogma (bod) diadakan keberadaan kita diatur dan ditentukan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan sebaiknya kita berbuat jangan seenak perut sendiri ataupun sekehendak diri saja,…   

Mengenal Jati Diri (lanjutan) KLIK   DISINI

7 Agustus 2012

MENGENAL JATI DIRI 1

oleh alifbraja

MENGENAL JATI DIRI

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 
Alhamdulillah Washolatul Washalmu Ala Asrofil Ambiya Wal Mursalim Wa’alaihi Washohbihi ajma’in. Mari bersama-sama kita panjatkan puji dan syukur dengan setulus hati iklas kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan taufik dan hidayahnya kepada kita sekalian, terutama warga ”Kekeluargaan” dan bangsa Indonesia pada umumnya. Dan dengan izin serta rahmatNya kepada kita, Alhamdulillah telah dapat mengumpulkan dan menulis hasil penyampaian rutin yang ke III yang dimulai awal bulan Ramadhan, dengan mengambil kata-kata Mutiara Islam ialah :
1.     Sahudul Qusro Fil Wakhdut Sihudul Wakhdut Fil Yusro, 
2.     Inallaha Ala Qulli Syaiin Qodir.
Yang diartikan oleh para Pujangga Islam terkenal dijaman dahulu yaitu Pandanglah yang satu akan hilanglah yang ada Ini, banyak dan pandanglah yang banyak, yang ada ini lenyaplah yang satu dan sesungguhnya segala sesuatu Allah itu Maha Kuasa.
Para muslimin dan muslimat wabil khusus jama’ah Majelis Muzakaroh Warga Kekeluargaan yang dicintai Allah, bertolak dari ayat suci tersebut diatas maka dengan banyaknya yang meminta agar pengertian akan Diri itu Pribadi disusun dan dibukukan secara rinci supaya lebih jelas dan mudah dipahami dengan sangat gembira sekali dalam waktu singkat telah selesai disusun, yang insyaAllah sudah disampaikan kepada saudara yang memerlukan.
Saudara Jamaah Majelis Mujakaroh Warga Kekeluargaan dan para pembaca serta muslimin dan muslimat yang dimuliakan Allah, mengapa pengertian akan Diri Pribadi ini saya sampaikan, sebagaimana sama-sama mengetahui Negara kita sedang membangun disegala bidang, penekanananya ialah untuk lebih kuat akan kepercayaan Diri sendiri inilah Pemerintah dan Bangsa selalulmendambakan, justru karena itulah sudah sewajarnya hal tersebut kita sampaikan agar lebih mantap lagi Iman Islam kita dan selain daripada itu perlu saya jelaskan disini buku ini bukan mata pelajaran dan juga tidak diperjual belikan.
Penyampaian ini hanya sekedar sumbangan pemikiran saya dalam mengamalkan Ajaran Allah atas Dasar percaya terhadap Diri Sendiri, bahwa saya sadar Bangsa Indonesia dengan gigih menegakan Kemandiriannya, mudah-mudahan buah pemikiran saya ada faedahnya serta manfaatnya bagi penerus bangsa kelak, terutama penerus Islam yang berkualitas serta jauh wawasannya dan mendalami serta tahu akan batas-batas yang hak dan bathil didalam mengembangkan Amanat Allah SWT, yaitu Hidup didalam Dunia ini, serta cepat mengenal Diri dan Mengenal kepada Tuhannya yaitu Allah yang bersifat Rabul Alamin.
Saudara warga Keleluargaan yang berbahagia, sebelumnya saya sudahi kata pendahuluan ini, ingin menjelaskan terlebih dahulu tentang perbedaan Sifat Ulahiyah dan Sifat Ilahiyah antar Insan disatu pihak dan Kholiq dilain pihak, yang pada hakekatnya kedua sifat tersebut adalah satu yaitu dari sumber yang tidak seumpama Dzat Laesalihi Saiun, justru itu agar kita bisa mencapai derajat disisi Allah atau menjadi Insan Kamil Mukamil hendaknya penuhilah dan laksanakanlah dulu yang ditunjukan oleh ayat suci Al Qur’an yaitu yang berbunyi : “Almarifatullah Ma’bud”, juga beserta hukumnya dan selain dari itu tentu saudara sering mendengar ceramah Agama yang disampaikan oleh para Ulama kita, katanya bahwa Manusia yang pertama adalah Adam, Adam diartikan tidak ada, maka kini sekalipun telah terwujud kenyataannya pada hakekatnya tetap saja Adam namanya seperti rupanya dan bayangannya.
Yang ada disitu adalah yang punya ialah Allah, dinyatakan orang wujud tunggal yang tak dapat dipisahkan, dan cobalah anda anda renungkan sejenak bahwa saya ini Adam kalau ini suatu gambaran saja, adanya seseorang yang menciptakan sebuah bentuk almari, umpamanya sudah barang tentu barang tersebut sudah ada yang terlihat lebih dahulu oleh rasa penghayatan sipencipta tersebut padahal benda tersebut masih bersifat bayangan. Ada, sesuai yang dijelaskan oleh Mutiara Islam :
“Innaka Ma’duman Kama Kunta Ma’duman Qoblaa Taqwim”
Yang artinya : Kamu itu tiada seperti barang adanya tiadanya sebelumnya kamu itu ada, justru itulah sebagaimana masing-masing maklumi bahwa Nabi Besar Muhammad SAW , adalah berprilaku secara lumrah dan wajar dan hal ini harus kita sadari bahwa didalam hati batin kita benar-benar merasa wujud kita ini seperti binatang kesiangan, agar kita bisa mengikuti perilakunya Nabi Besar Muhammad saw tersebut lahir dan batin kita teruskan mengkaji sampai pada Hakekatnya Rasullullah dan hingga sampai pada Nujulun Illarabbi.
Demikian pendahuluan ini saya akhiri dengan mengikatkan diri kita bersama, serta para pembaca pada umumnya, sebagaimana yang telah kita imankan (yakini) bahwa sesungguhnya:
1.     Agama Islam, adalah Agama yang diridhoi Allah, 
2.     Agama Islam, adalah Agama yang paling sempurna, 
3.     Agama Islam adalah Agama yang memilki Derajat disisi Allah.
Maka dengan memahami penyampain ini kita semua dituntut rasa tanggung jawab untuk menegakkan dan menjaga terus citra Agama Islam dengan sebaik-baiknya.
Wabillahi Taufiq Wal Hidayah
Wassalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
 
Para saudara jamaah Majelis Mujakaroh Warga “Kekeluargaan” muslimin dan muslimat serta remaja Islam yang dimuliakan Allah, sebelum pada rincian sasaran yang dimaksud mari kita memperhatikan terlebih dahulu apa yang dituangkan Allah pada ayat suci Al Qur’an yan berbunyi :
“Waal Awallu Wal Akhiru Wal Bqahir Wal Bathin Wa Huwasa Millalim”
Artinya : Dia yang Mula-mula dan Dia yang Akhir dan Dia yang Wujud dan Dia yang Ghaib dan segala sesuatu dida mengetahuinya, itulah yang diterjemahlkan kedalam bahasa Indonesia oleh para ulama kita. Apabila kita renungkan lagi ini adalah merupakan penerangan bagi kita terutama bagi Umat Islam, sudah cukup jelas yaitu adalah dzat yang tidak seumpama apapun, Alam Semesta pun belum ada, Manusiapun belum ada, yang ada hanya dzat kosong dan kemudian telah menjadi nyata (wujud) ini disebut Allah namanya, jadi apabila kita perhatikan baik-baik bahwasanya ada dan tidak ada itu adalah satu kesatuan yang utuh, pantaslah apabila segala sesuatu yang akan kita kerjakan, Allah itu amat mengetahuinya dan cobalah anda renungkan sejenak justru dalam sifat 20 (dua puluh) menyatakan kata rangkap tidak mungkin ada sifat tanpa dzat dan tidak mingkin ada dzat tanpa sifat, karena itu merupakan satu kesatuan, asal dari sumber yang satu sekalipun dunia ini.
Dan kini bagaimanakah agar kita tergolong Manusia yang Istaqbaro tentu kita wajib mencontoh Nabi Besar Muhammad SAW dalam mengemban Hidupnya dan hendaknya kita semua menyadari Agama Islam yang Allah turunkan telah disempurnakan, barang tentunya pengikut-pengikutnya harus berfikir secara sempurna pula, bukan sekedar melengkapi Rahasia Al Qur’an saja namun perlu direalisasikan dengan pelaksanaannya itu sendiri, sebab Nabi Muhammad SAW itu adalah dinyatakan sebagai Pesuruh Allah, sudah barang tentu Pesuruh yang Mewakili Allah, berkewajiban untuk selalu menjaga dan melestarikan Ajaran Islam yang diamanatkan oleh Allah SWT, lewat Nabi Muhammad SAW.
Dan mari kita lanjutkan penjelasan ayat-ayat Al Qur’an yang lainnya seperti yang telah dijelaskan pada surat Al Iqro “Iqro Rabikalaqi Kholaqo Insana Min Alaqqin” yang digaris pisahkan antara Insan dengan Kholiq maka oleh sebab itu dimana kita memperhatikan sudah pasti akan mengetahui Kedudukan kita sebagai machluk Manusia sebab kenyataan bahwa kita masih dapat dengan adanya perpaduan antara Ibu dan Bapak kita, itulah sebab secara lahiriyah yaitu melalui gumpalan darah, maka oleh karena itu bangsa Indonesia yang beragama Islan, Al Qur’an yang telah mengajarkan agar kita selalu ingat kepada Yang Maha Kuasa yaitu Allah, yang bahwasanya Manusia itu Mulia dengan ketentuan yang disebut Manusia itu Utusannya yaitu berhal untuk menyampaikan pesan yang mengutus, justru saya menyampaikan ini, ataupun menerangkan batas-batas wewenang di Alam Semesta ini, oleh karena pada umumnya kita Manusia masih melakukan permohonan kepadanya Yaitu Allah.
Saudara-saudara para pembaca muslimin dan muslimat wabil khusus Jamaah Warga “Kekeluargaan” yang dicintai oleh Allah, agar kita tidak sesat didalam menjalankan tugas hidup didunia ini, maka sangat penting supaya kita jangan terlalu lupa kepada yang Kuasa, sebab sampai pada saat ini masih ada Warga Kekeluargaan yang keliru didalam mengamalkannya sehari-hari, yaitu seolah-olah bahwa si Aku itu adalah Allah, padahal sebenarnya adalah bukanlah itu yang disebutkan Aku pada sesungguhnya adalah Utusannya Allah, berdasarkan petunjuk Al Qur’anul Karim, cobalah anda renungkan baik-baik apa yang disuratkan oleh ayat tersebut diatas, Al Qur’an pun telah mengingatkan kepada kita “Jadilah Anda itu Manusia yang Mufridun” yang Membersihkan dan Menyerahkan Diri, sukurilah agar jangan terbawa oleh nafsu yang meyesatkan supaya kita benar-benar bisa memisahkan Hidayah dari Allah petunjuk, sebab hal ini akan mungkin terjadi pada suatu saat apabila dalam permohonan anda nanti, justru itulah saya ingatkan pada Anda sekalian.
Saudara kaum muslimin dan muslimat serta kaum remaja serta warga Kekeluargaan yang berbahagia dimana saja Anda berada dan dapat membaca buku ini, masih perlu rupanya penjelasan yang lebih lengkap dan terperinci agar Anda tidak remang-remang ataupun sulit untuk memahaminya, sebab semua kita mengerti bahwa Agama Islam memang cukup pelik, justru sangatlah perlu menjelaskan yang lebih kongkrit dan jelas, maka dari itu saya akan mencoba menjelaskannya tentang kedudukan dan fungsi Manusia yang dikatakan machluk Allah ataupun Machluk Allah yang paling tinggi derajatnya dan lagi paling sempurna baik bentuk ataupun kejadiannya.
Apabila memang demikian halnya cobalah anda renungkan ini adalah satu kata-kata Rasulullah yang berbunyi “Qulbi Mukminin Biuttullah” dan apabila diartikan alangkah indahnya orang yang memeluk Agama Islam bukan ? saya kira anda sering mendengar dari para penceramah. kita yakin bahwa Kesetian Hati orang Mukmin adalah Rumahnya Allah, dan sadari oleh anda bahwa Allah itu Maha Suci, tak mungkin dia akan menempati Wadahnya yang Kotor / tidak bersih yang berarti adalah tempat bersemayam Allah harus dipelihara dengan baik barulah anda itu merasakannya bahwa sesungguhnya Allah itu tidak terpisahkan, cobalah Pikirkan baik-baik dan tanyakanlah Diri Anda sendiri dan menjawab permohonannya karena Allah telah mengatakan siapa-siapa yang ingin meminta sesuatu aku Jabah, tetapi hendaknya penuhilah Perintahnya dan Sucikanlah serta Luruskanlah Hatinya.
Saudara para Jamaah Majelis Mujakaroh Warga “Kekeluargaan”, dan para remaja Islam yang dicintai oleh Allah, hal ini diatas tidak datang serta merta begitu saja, sudah barang tentu diupayakan dan dicari oleh anda sendiri, sebab semuanya telah dituangkan Allah, melalui ayat-ayatnya tinggal pemikiran anda saja, ingin sampai pada apa yang telah diterangkan tersebut cobalah anda perhatikan pesan Imam Gazali yang mengatakan sebaiknya anda melihat sendiri daripada mendengar kata-kata orang lain, maksud dan tujuan agar anda benar-benar mengerti itu bukan cukup di baca saja, memahami artinya tetapi yang jelas anda tidak langsung merasakan sendiri, namanya Iman yang membuat percaya tanpa tahu, karena Ajaran Islam cukup jelas dan tegas.
Nah inilah yang merupakan kunci untuk dapat mencapai tujuan hidup, pada kehidupan masa depan yang akan kita capai, maupun kehidupan masa depan yang menjadi dambaan masa akhir tentu apa dan bagaimana kehidupan masa kini, inilah apabila ditinjau dari unsur akunya, sudah tentu tidak lain adalah mata rantai dari kehidupan sekarang, dan akan datanglah yang menuju masa akhir yang gemilang oleh karena itu dalam kehidupan sekarang ini sebenarnya sudah sampai dimana si aku dapat memperbaiki kehidupan yang telah lalu atau mungkin lebih rusak dari pada kehidupan yang lalu itu yang mempunyai kehidupan akhir dan agar kita dapat mengerti bahwa sesungguhnya unsure yang bisa merusak kehidupan didunia ini, adalah unsure saya atau yang dapat dalam unsure (material) yang berasal dari unsur angin, unsure apai, unsure air, unsure tanah (bumi) itulah bahwa perwujudan manusiajasamani namanya ialah yang menimbulkan hawa nafsu, dan yang ada umumnya unsure saya ini dapat mengendalikan, oleh karena itu antara aku dan saya tidak terdapat keseimbangan yang sehingga tidak ada keselarasan diri yang membuat arti hidup sempurna.
Dan pada sesungguhnya unsur ini hendaknya serasi dalam pengertian apabila unsurnya saya ini lebih dominan dari pada unsure aku maka unsure saya dapat member tanggung jawab yang berarti unsure akulah yang tidak dapat memenuhi amanat dari Allah Subhanahu Wata’ala.
Yang akhirnya beban yang diderita si utusan aku lebih berat lagi dalam hidup yang akan dating, sebab apabila unsur saya cepat dikuasai sudah dengan sendirinya arti hidup yang lebih sempurna menurut ukuran manusia itu akan sulit tercapai, itulah sebabnya hidup menurut aku, yang berarti sudah upaya mutlak yang hakiki yaitu menjalankan perintah Allah dalam Al-Qur’an mengingat pada hakekatnya adalah unsure aku itu bersumber dari Allah sudah pasti si aku berupaya semaksimal mungkin untuk bisa kembali kepada yang mengutusnya yaitu Allah Rabbil’alamin yang jelas Dia akan menyatu kembali antara si aku dan pencipta yang dapat sekiranya memenuhi dalilnya ialah “INNAL LILLAHI WA’INNAILAHI ROJI’UN” asalmu dari Allah dan kembali kepadaNya sempurna didunia dan sempurna juga di akhirat dan sampailah pada yujuan sesuai dengan petunjuk ayat suci Al-Qur’an “INNAILIA RABBI KARUDJANA”
Saudara para pembaca muslimin dan muslimat wabi khusus warga kekeluargaan di cintai oleh Allah dan marilah kita sama-sama memperhatikan penjelasan yang mengandung manfaat yang kita jadikan patokan dalam melakukan perbuatan yang baik amal sholeh di dalam alam ramai dan terutama saya tujukan untuk adik-adik para remaja islam yang mempunyai harapan masa depan agar kita sekedar menjadi manusia yang  ikutan dalam memahami agama islam yang dibenarkan nabi kita nabi besar Muhammad salallhu’alaihi wassalam atau percaya saja apa yang dikatakan olrh para guru hal ini sangatlah penting bagi anda dalam menata kehidupan masa depan.
Yang bersih dan tajam untuk anda mengenal diri sendiri agar kelak kita benar-benar mengerti dan percaya pada Allah tidak kata guru maupun ustad justru terangkan disini agar dalam pemahamannya agak mudah tentang pengertian mengemban hidup yang kita jalankan sekarang sebab di dalam hidup ini yang banyak sekali hal yang perlu kita kerjakan, sesuai dengan norma yang berlaku dewasa ini serta hokum agama yang dapat keridhoan Allah subhanahu wata’ala yaitu perbuatan kita dalam-dalam hidup ialah sangat penting kita perhatikan beberapa factor yang menyangkut.
Factor rokhaniayah/factor relius oleh karena didalam kehidupan ini factor dalam sangatlah penting sebab kita sebagai makhluk ciptaan Allah tentu berupaya akan kembali kepadanya (keasalnya) justru itu dirasakan sangat penting sekali  atau wajib kita meketahui bagaimana caranya kita menyerahkan diri terhadap Allah yang maha kuasa, itu tanpa ragu-ragu atau secara keseluruhanya kehadiranya, dan sangat/sesungguhnya umat islam dapat melakukan asal benar yakin adanya Allah yang kuasa itu dengan cara sangat mudah yaitu hendaklah didalam melakukan penyerahan tersebut kita harus pasrah atau lepaskan sementara hal yang bersifat kepentingan dunia ini yang berarti kita lebih mengutamakan perilaku dalam menghadap Illahi Robbi kerena yang mendapat berdialog dengan Allah dan juga menerima petunjuk langsung dari yang maha sempurna yaitu Allah Ya Rabbul’alamin dan apabila terdapat suatu ketajaman dan penglihatan itu tidak lain adalah hanya dasar petunjuk yang diterima.
Maha bijaksana oleh karena itu setiap saat melakukan latihan penyerahan diri dan dengan kesungguhan serta penuh keyakinan, itulah yang membawa seseorang yang mendapat ketenangan hidup didunia maupun di akherat oleh karena itu perlu anda mengetahui didalam masyarakat melepaskan unsure saja sementara tetapi tidak berarti anda lepas sepenuhnya sebab pada hakekatnya antara aku dan saya merupakan satu kesatuan yang bulat oleh karena itu manusia dalam hidup yakin akan adanya zat yang Maha Agung yaitu Allah Subhanahu wata’ala inilah anda renungkan baik-baik.
Dan adapun penjelasan sertanya dari sifat hawa nafsu yang timbul serta dorongan illahi:
a.     Nafsu amarah yaitu dari undur narun api yang sering ditimbulkan olahnya itu adalah sifat menang sendiri lupa daratan atau ingin berkuasa ingin mencapai kepuasan diri sendiri.
b.     Nafsu Sawiyah (sawiyah) yang timbul dari unsure angin adapun cirinya adalah mendorong suatu kekuatan yang mendekatkan sesuai dengan adanya rasa harga diri etika juga yang bersifat dorongan yang bersifat biologis.
c.      Nafsu A’lumah yang berasal dari tanah yaitu sifatnya yang mendorong kita manusia berdiam diri dan juga memenuhi biologi sifat pemalas selalu berpikir kurang baik pembohong dan menekan jasmaniah hati gelap hitam.
d.     Nafsu Mutmainah ialah timbul dari unsure air hawaun yang sifatnya mempunyai rasa persatuan dan kesatuan yang membina pengaruh serta memiliki keanggupan berkorban demi kebaikan, baik dengan alamnya maupun si aku ikhal jiwa yang sejati dan kadang susah penentuanya itulah cirri dari beberapa unsure yang terdapat pada tubuh manusia justru perhatikan secara khusus oleh anda.
Nama dari semua hawa nafsu tersebut diatas hendak ahrus menunggu menyatu dengan si aku dan insya Allah bila demikian dapat mengendalikan sifat yang dapat menteladani sifat yang dapat melakukan perbuatan tercela atau yang tidak baik maka dengan nafsu yang terkendali itu unsure saya sebagai factor penunjang dalah hidup untuk meraih kehidupan yang hakiki diakhirat yaitu abadi.
Saudar kaum muslimin dan muslimat warga kekeluargaan yang dimuliakan oleh Allah jelas sudah mari kita lanjutkan penjelasan mengenai garis pemisah yang menyangkut wewenang Allah dan manusia yang telah ditentukan oleh ayat suci Al-Qur’an yang berbunyi :
“Kulu Man’alaika faanin Wajhaka Illa Biidznillah”
Artinya :
Segala sesuatu yang ada didunia ini akan hancur apabila telah seizing Allah maka oleh sebab itu kita telah maklum dan demikian kuat dan besar serta kekuasaanya itulah keinginan asma Allah serta kesaktianya justru para ulama kita sering menggambarkan betapa hebatnya oleh karena itu manusia menyatakan dirinya tidak mempunyai daya upaya.
Selain Allah dan kita bagaimanakah tentang diri anda yang telah mengaku agama islam itulah adalah milik Allah dan cobalah amati diri pribadi anda renungkan mudah-mudahan nanti tidak terlalu gegabah dalam menjalankan atau menyampaikan amanat Allah dan ketahuilah agama islam itu mendapat ridho Allah dan lagi sempurna bukan asal diciptakan saja gunakanlah fikiran anda yang baik.
Para jemaah Majelis Mudzakaroh Warga Kekeluargaan (MMWK) muslimin dan muslimat serta para pembaca yang berbahagia mari kita bersama-sama memperhatikan penjelasan berikut ini, agar benar kita berbuat kebajikan yang menggunakan landasan yang bisa diterima dengan fikiran dan akal yang sehat lagi sempurna lagi pula bagaimana cara pelaksanaanya pengendalian hawa nafsu itu, dan didalam mengemban kehidupan kita dengan pengertian serta keikhlasan ialah sudah tentu sesuatu yang akan kita perbuat harus ikhlas yang berarti perbuatan soleh atau perbuatan kebajikan tanpa pamrih yaitu sesuatu yang ada dengan kaitanya dengan ajaran agama islam juga hendaknya yang tidak ada kaitanya sesuatu hawa nafsu, sebab seuatu perbuatan kebaikan yang bertendensi kebaikan ialah dalam melaksnakan demi kebesaran dankeagungan asam Allah.
Semata-mata dan diberi imbalan atau pun tidak terserahkepada yang Maha Kuasa ataupun Yang Maha Adil jadi pada kesimpulannya apa-apa yang kita lakukan dipandang baik atau tidak, dan benar atau pun salah berhasil suatu permohonan kita itu atau pun tidak semua itu mutlak kita serhkan kepada yang Maha Kuasa sebab pada hakekatnya kebenarannya itu hanya semata-mata datangnya dari Allah ta’alah itu sendiri dan kita menyadari dan kita menyadari bahwa kebenaran dalam hidup itu banyak macam ragamnya maka kini suatu perbuatan kebajikan yang bertendensi hawa nafsu atau kebenaran lain juga pada hakekatnya itu suatu perbuatan yang tidak ikhlas namun bisa juga dikatakan suatu perbuatan yang sia-sia dan hal yang demikian ini kemingkinan akan lebih memperbesar.
Pertanggung jawaban si aku ataupun utusan, pada kehidupan masa depan, oleh suatu perbuatan yang mempunyai latar belakang hawa nafsu bisa pula terjadi apabila upaya yang berhasil ia akan mengucapkan puja dan puji syukur yang sebanyak-banyaknya pada Allah namun mungkin saja karena ia lupa  merasakan kenikmatan yang belum mereka nikmati. Selama hidupnya yang berarti ia lupa akan sumber yang sesungguhnya padahal taklain kenikmatan itu sendiri  adalah milik Allah juga pengasih penyayang.
Saudara para pembaca muslimin dan muslimat para remaja wabil khusus Majelij Mudjakaroh Warga Kekeluargaan (MMWK) yang beriman dalam pepatah mengatakan ingat dalam menderita rupa dalam bahagia sudah barang tentu dalam hal ini yang melakukan nya adalah manuisa atau pun kita manusia dapat dikatakan pula manusia yang tidak beriman, sebab apabila usaha itu mengalami kegagalan dia mngumpat malu atau kecewa.
Katanya yang tidak enak kasar dan sebagainya atau merasa dirinya tidak mendapat keadilan dari Allah ta’ala dan tuntunan yang semacam itu telah mempunyai fitback tersendiri terhadap si aku sebab dalam kegagalan tersebut pada hakekatnya akan menyatukan si aku dengan penciptaanya yang berarti mengingkari realita hidup dan kehidupan yang hakiki renungkanlah oleh anda.
Setelah kita dapat memahami sesatu perbuatan yang berteremigensi hawa nafsu, maka mari kita sama-sama melihat apa yang kita kerjakan untuk lebih memnatapkan iman islam kita, serta keyakinan diri masing-masing dan cobahlah perhatikan baik-baik sarat yang kita lakukan dengan sepenuh hati juga menerima suatu apa-apa yang telah dihukumkan Allah dalam semsta ini. Oleh karena manusia yang sempurna dituntut untuk mau mengerti dan meaykinkan dengan segala ketentuannya.
1.     Yaitu kita wajib bersabar akan hokum Allah yang berlaku
2.     Kita wajib menerima Ridho Allah dalam menjalankan perintah Allah
3.     Manusia diwajibkan untuk meyakinkan serta menerima sepenuh hati dengan menyerahkan diri mutlak, semata-mata hanya kepada Allah Subhanahu Wata’ala.

4.     Dan wajiblah setiap umat islam mengikuti akan firman Allah serta  hadist Rasulullah yaitu melaksanakan perintahnya dan menjauhkan semua laranganya…..

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 147 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: