Posts tagged ‘al junayd’

27 Oktober 2012

SISTEMATIKA TASAWUF 2

oleh alifbraja

MA’RIFATULLAH

Ma’rifat ,ma’rifah secara harfiah berarti pengetahuan.Dalam kajian tasawuf, ma’rifah maksudnya ma’rifah Allah ( pengetahuan tentang TUHAN )Dalam kamus tasawuf disebutkan , Ma’rifah berasal dari kata ‘arafa, yu’rifu, ‘irfan, ma’rifah, artinya adalah pengetahuan, pengalaman, atau pengetahuan Illahi.

 

Secara etimologis berarti ilmu yang tidak menerima keraguan atau pengetahuan Ma’rifah dapat pula berarti pengetahuan rahasia hakekat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu yang didapat oleh orang orang pada umumnya.

 

Ma’rifah dalam kajian tasawuf berarti pengetahuan yang sangat jelas dan pasti tentang Allah yang diperoleh melalui sanubari.Imam AL Ghazali menerangkan ;ma’rifat aalah ilmu pengetahuan yang tidak tercampur dengan keraguan.Sedangkan Abu Zakaria Al An shari menjelaskan ; ma’rifat menurut bahasa adalah ilmu pengetahuan yang sampai ketingkat yang mutlak

 

 

Lebih rinci imam Al Ghazali menerangkan,Ma’rifah adalah mengetahui rahasia rahasia Allah dan aturan aturanya yang melingkupi seluruh yang ada, seseorang yan telah sampai pada ma’rifah berada dekat dengan Allah,bahkan ia dapat memandang Allah, dan ma’rifat datang sebelum mahabah.Menunurut al Gazali,ma’rifat ada tiga tingkatan sesuai dengan dasar pengetahuan dan metode yang dipergunakan, sebagai berikut :

 

  1. Ma’rifat orang awam,yakni pengetahuan yang diperoleh melalui jalan meniru atau taqlit
  2. Ma’rifat mutakalimun, yaitu pengetahuan yang didapat melalui pembuktian rasional.kualitas peringkat pertama dan kedua ini hampir sama
  3. Peringkat yang tertinggi kwalitasnya, yaitu pengetahuan para sufi, pengetahuan yang diperoleh melalui metode penyaksian langsung dengan radar pendeteksi yaitu ;QALBU yang bening dan jernih.

Dalam Risalah al Qusyairy dsebutkan ,Al Junayd berkata :”Hajat pertama yang dibutuhkan oleh hamba adalah ma’rifat makluk terhadap khalik, mengenal sifat sifat pencipta dan yang tercipta bagaimana ia diciptakan.sehingga diketahui sifat khalik dari makhluk, dan sifat yang qadim dari yang baru.Sang makluk merasa hina ketika dipanggilnya dan mengakui kewajiban taat kepadaNYA.Barang siapa tak mengenal rajanya,maka ia tidak mengakui terhadap raja,kepada siapa kewajiban kewajiban harus diberikan.

Menurt Al Jilali, jika seorang sampai pada tingkat ash shidiqiah ( kebenaran ), maka para sufi mencapai tingkat ma’rifah dalam bentuk;

  1. Ilmu al ‘yaqin, pada tingkat ini sufi disinari oleh asma Allah
  2. ‘Ayn al Yaqin, pada tingkat ini sufi disinari sifat sifat Allah
  3. Haqq al –Yaqin pada tingkat ini sufi menjadi fana’dalam asma, sifat sifat dan zat Allah

Ma’rifah hanya terdapat pada kaum sufi, yang sanggup melihat Allah dengan hati sanubarinya.pengetahuan seperti ini hanya diberikan Allah kepada kaum sufi yang sangat berhasrat untuk menemukan TUHAN karena sangat cintanya kepada ALLAH.

Ma’rifah bukanlah hasil pemikiran manusia,Ma’rifah adalah pemberian Allah kepada hambanya yang sanggup menerimanya.Dan ma’rifah diperoleh karena adanya kesungguhan, kerajinan,kepatuhan dan ketaatan menjadikan diri sebagai hamba Allah dalam beramal secara lahiriah sebagai pengabdian yang dikerjakan oleh tubuh untuk beribadat.

Ma’rifat diperoleh seorang hamba Allah melalui proses panjang dan dilakukan secara kontinyu, semakin banyak sesorang memperolah pengetahuan dan semakin sempurna dalam mengenal Allah, maka semakin banyak diketahuinya tentang rahasia rahasia Allah swt, dan seseorang itu semakin dekat dengan Allah.

Karena banyaknya ibadah dan keistiqomahan hamba maka datanglah karunia Allah karunia dari Allah itu adalah sebagai balasan,ganjaran, pahala atas amal ibadah yang dilakukan.Maka bila seorang, telah berkelana terus dalam beramal dan hatipun parallel geraknya sehingga menjadi bersih suci, maka terjadilah maqam atau derajat tertinggi.jadi Ahwal/karunia adalah pemberian , sedangkan maqam/derajat adalah karean Amalan.

Ketika sahabat Rosulullah,Abu Bakar as Shidiq ditanya mengenai Ma’rifatullah yang ada pada dirinya ia berkata : ” Sangat mustahil ma’rifat datang bukan karena ma’unah Allah”ia mengatakan bahwa ma’rifat itu tidak akan ditemukan pada panca indera manusia,tidak ada ukuranya.Ma’rifat itu dekat tetapi jauh, jauh tapi dekat.Tidak dapat diucapkan dan dinyatakan.dibaliknya ada sesuatu.Dialah Allah dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu.tiada sesuatu yang menyamainya.

Orang yang telah dipenuhi ma’rifattullah selalu menegembalikan semua persoalan hidupnya kepada Allah.Hubunganya dengan Allah lewat Munajah yang intim dan berkesinambungan,memungkinkan ia mendapat petunujuk melalui ilham yang benar dan suci (ru’yah shadiqah ).Orang semacam ini melakukan segala sesuatu, selalu menunggu pimpinan Allah.Ia berlaku ‘arif atas pimpinan Allah melalui hatinya.Sikap seperti ini adalah sifat orang ‘arifin yang dinamakan ma’rifat.Artinya ia selalu mendapat bimbingan atau ma’rifat dari Allah SWT.

3 Oktober 2012

Penulis Risalah Tasawuf Tertua Dalam Bahasa Persia

oleh alifbraja
Syekh Hujwiry: Penulis Risalah Tasawuf Tertua Dalam Bahasa Persia
 
Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan ‘Ali ibn Utsman ibn Ali al-Ghaznawi Al-Jullabi al-Hujwiry. Di India beliau lebih dikenal sebagai “Data Ganj Bakhsh” (penyebar khazanah tanpa batas), julukan yang diberikan oleh Syekh Khwaja Mu’inuddin Chisti. Beliau sangat terkenal sebagai penulis risalah tasawuf tertua dalam bahasa Persia, yang diberi judul Kasyf al-Mahjub li Arbab al-Qulub. Beliau juga yang menjelaskan panjang lebar untuk doktrin fana di India untuk pertama kalinyanya. Beliau berpendapat bahwa makna sesungguhnya dari ajaran Islam bisa dijumpai dalam inti ajaran Tasawuf. Mengenai deskripsi Tasawuf, beliau mengutip pernyataan al-Junayd al-Baghdad:
Tasawuf didasarkan pada delapan sifat yang dicontohkan oleh delapan rasul: kedermawanan Ibrahim, yang mengorbankan putranya; kepasrahan Ismail, yang menyerahkan dirinya pada perintah Tuhan dan menyerahkan hidupnya; kesabaran Ayub, yang sabar menahan penderitaan penyakit borok dan kecemburuan dari Yang Maha Pemurah; perlambang Zakaria, yang menerima sabda Tuhan, “Kau tak akan bicara dengan manusia selama 3 hari kecuali dengan menggunakan lambang-lambangmu” (Q. S. 3: 36) dan “tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (Q. S. 19:2); keterasingan Yahya, yang terasing di negerinya sendiri dan di tengah kaumnya sendiri; perjalanan ruhani Isa, yang meninggalkan benda duniawi sehingga ia hanya menggunakan sebuah cangkir dan sebuah sisir – bahkan cangkir itu dibuangnya ketika melihat seseorang minum dengan telapak tangannya, dan dibuang pula sisirnya ketika dia melihat seseorang menyisir dengan jemarinya; jubah wool Musa; dan kefakiran Muhammad, yang dianugerahi kunci segala harta yang ada di muka bumi, di mana Allah bersabda, “Jangan menyusahkan diri sendiri, tetapi nikmati kemewahan ini,” namun Rasulullah menjawab, “Ya Allah, hamba tidak menghendakinya; biarkan hamba sehari kenyang dan sehari lapar.”
Meski terkenal, namun tidak banyak yang diketahui tentang kehidupannya. Beliau dilahirkan di Ghazna, Afghanistan, sekitar tahun 1000 M. Diperkirakan beliau pernah mengembara dari Syria hingga Turkistan, dan dari Lembah Hindus sampai ke Laut Kaspia. Sepanjang perjalanannya ini dia bertemu dengan banyak sufi dan wali Allah. Tempat-tempat yang disinggahinya terutama adalah Azerbaijan, makam Syekh Abu Yazid al-Bisthami, Damaskus, Ramalah, Bayt al-Jinn di Syria, Thus, makam Abu Sa’id ibn Abd al-Khayr di Mihna dan Jabal al-Buttam. Menurut keterangan, beliau pernah menikah meski usia perkawinannya tidak lama. Beliau berguru terutama kepada Syekh Abu al-Fadhl Muhammad ibn al-Hasan al-Khuttali, Syekh Abu al-Qasim al-Gurgani (seorang mursyid tarekat Naqsyabandiyah) dan Khwaja Muzhaffar.
Gurunya meminta beliau bermukim di Lahore. Pada awalnya beliau tidak mau karena di sana telah ada Syekh Hasan Zanjani. Tetapi karenanya dipaksa beliau akhirnya pergi ke Lahore. Sesampainya di sana beliau menyaksikan pemakaman Syekh Hasan Zanjani. Akhirnya beliau menetap di dekat Bhati, Lahore. Beliau meninggal sekitar tahun 1063 atau 1064 (456 H) atau 1071 (465 H). Makamnya menjadi salah satu makam keramat yang tenar. Banyak wali-wali besar India yang menziarahi makamnya, termasuk Syekh Mu’inuddin Chisti, sesepuh Tarekat Chistiyah, yang melakukan khalwat dan disiplin riyadhah berat di makam Syekh al-Hujwiry. Bahkan selama beberapa abad kemudian sudah menjadi kelaziman bagi para Sufi yang masuk ke wilayah India dari barat laut untuk mengunjungi makam ini dengan maksud meminta “izin” dan berkah.
Meski banyak menulis risalah, namun tidak banyak yang tersisa, seperti Minhaj al-Din (tentang metode Tasawuf), Asrar al-Khirqa wa al-Ma’unat, Kitab al-bayan li ahl al-Iyan, Bahr al-Qulub, Al-Ri’ayat li-Huquq Allah dan Kitab-i fana u baqa. Untungnya kitab Kasyf al-Mahjub masih lestari dan menjadi rujukan penting bagi generasi Sufi selanjutnya, terutama di kawasan India dan sekitarnya. Menurut al-Hujwiry, tujuannya menulis kitab ini adalah untuk mengemukakan sebuah “sistem” tasawuf yang komprehensif, jadi bukan sekedar menghimpun sejumlah besar ujaran Syekh Sufi dan Wali Allah. Beliau menjelaskan banyak doktrin dan praktik Sufi. Bab yang amat mengagumkan dalam Kasyaf al-Mahjub adalah bab yang membahas “Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab Sufi,” di mana beliau mencantumkan 12 mazhab tasawuf dan menguraikan doktrin-doktrin khususnya.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 142 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: