Posts tagged ‘al quran’

28 Juli 2012

Tawassul / Istighotsah (1); Sebuah Pengantar

oleh alifbraja

Kita nanti akan memasuki kajian legalitas “Tawassul / Istighatsah” yang sesuai dengan ajaran syariat Islam agar kita tidak terjerumus dalam penentuan obyek Tawassul/Istighatsah secara ‘liar’ sehingga menyebabkan kita terjerumus ke dalam jurang bid’ah dan kesesatan, seperti yang dapat kita temukan dalam masyarakat kejawen di Indonesia. Ataupun terjerumus ke dalam jurang ke-jumud-an dalam menentukan obyek Tawassul / Istighatsah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sekte Wahabisme, imbas dari kerancuan metodologi memahami teks. Baik kelompok ‘Kejawen’ maupun ‘Wahabi’ keduanya telah terjerumus ke dalam jurang ekstrimitas (ekstrim kiri dan ekstrim kanan) yang mengakibatkan kerancuan dalam bersikap berkaitan dengan konsep Tawassul/Istighatsah. Tentu kedua bentuk ekstrimitas tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Islam.

————————————————————————————

Tawassul / Istighatsah (1); Sebuah Pengantar

Hakekat “Tawassul” merupakan hal yang telah menjadikan kejelasan dalam Islam. Al-Quran sebagai sumber utama agama Islam dalam sebuah ayatnya menyatakan: “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan (wasilah) yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS Al-Maidah: 35). Dalam ayat tadi Allah SWT menjelaskan bahwa ketakwaan dan jihad merupakan sarana legal untuk menyampaikan manusia kepada Allah SWT.

Yang menjadi pertanyaan adalah; adakah sarana-sarana lain yang legal menurut syariat Islam yang mampu menghantarkan manusia menuju Allah SWT, ataukah dalam penentuan sarana-sarana tadi telah sepenuhnya diserahkan kepada manusia? Untuk menjawab secara ringkas maka dapat kita katakana bahwa; jelas sekali bahwa penentuan sarana pendekatan diri kepada Allah SWT tidak terdapat campur tangan manusia sehingga dengan ijtihad pribadinya dapat menentukan sarana-sarana apapun untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Hanya sarana-sarana yang telah ditentukan oleh syariat Islam –yang bersumber dari al-Quran dan as-Sunnah as-Sohihah Rasulullah SAW- saja yang dapat menjadi penghantar manusia menuju Allah SWT. Sehingga dari sini dapat kita simpulkan bahwa, semua sarana yang tidak mendapat legalitas syariat –baik dengan dalil umum maupun khusus- maka tergolong bid’ah dan kesesatan yang nyata. Dalam kesempatan kali ini, kita akan memasuki kajian legalitas “Tawassul/Istighatsah” sesuai dengan ajaran syariat Islam, baik dari apa yang telah dijelaskan oleh al-Quran, Sunnah Rasulullah maupun prilaku para Salaf Saleh dan Ulama Salaf Ahlusunnah wal Jamaah. Sehingga kita tidak terjerumus dalam penentuan obyek tawassul/Istighatsah secara ‘liar’ sehingga menyebabkan kita terjerumus ke dalam jurang bid’ah dan kesesatan, seperti yang dapat kita temukan dalam masyarakat kejawen di Indonesia. Ataupun terjerumus ke dalam jurang kejumudan dalam menentukan obyek Tawassul/Istighatsah, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok sekte Wahabisme, imbas dari kerancuan metodologi memahami teks. Baik kelompok ‘Kejawen’ maupun ‘Wahabi’ keduanya telah terjerumus ke dalam jurang ekstrimitas (ekstrim kiri dan ekstrim kanan) yang mengakibatkan kerancuan dalam bersikap berkaitan dengan konsep Tawassul/Istighatsah. Tentu kedua bentuk ekstrimitas itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh Islam.

Jika kita melihat beberapa kamus bahasa Arab yang sering dijadikan rujukan dalam menentukan asal dan makna kata maka akan kita dapati bahwa, kata “Tawassul” mempunyai arti dari ‘darajah’ (kedudukan), atau ‘Qurbah’ (kedekatan), atau ‘washlah’ (penyampai/penghubung). Sehingga sewaktu dikatakan bahwa ‘wasala fulan ilallah wasilatan idza ‘amala ‘amalan taqarraba bihi ilaihi’ berarti ‘seseorang telah menjadikan sarana penghubung kepada Allah melalui suatu pebuatan sewaktu melakukan pebuatan yang dapat mendekatkan diri kepada-Nya’. (Lihat: Kitab Lisan al-‘Arab karya Ibn Mandzur jilid 11 asal kata wa-sa-la). Begitu juga berkaitan dengan asal kata ‘ghatsa’ yang berarti ‘menolong’ yang dengan memakai bentuk (wazan) ‘istaf’ala’ yang kemudian menjadi ‘istighatsah’ yang berarti ‘mencari/meminta pertolongan’. Pengertian-pengertian semacam ini pun akan kita dapati dalam berbagai kamus-kamus bahasa Arab terkemuka lainnya.

Berkaitan dengan konsep Tawassul dan Istighatsah ini, terdapat perbedaan pendapat di kalangan beberapa kelompok. Letak perbedaannya dalam masalah penentuan obyek-obyek tawassul dan istighatsah yang dilegalkan oleh syariat Islam. Dikarenakan terjadi perbedaan pendapat dalam penentuan obyek maka terjadi ikhtilah juga dalam menghukuminya. Dari perbedaan hukum tadilah akhirnya muncul ‘penyesatan’ dari kelompok yang belum dewasa dalam menerima perbedaan, merasa benar sendiri, tidak menganggap pendapat kelompok lain, bahkan menganggap kelompok lain tadi telah berbuat yang dilarang oleh Islam, bid’ah atau syirik.

Di sini, kita akan mengkalasifikasikan pendapat-pendapat tersebut menjadi tiga bagian;

A- Pertama: Pendapat Sekte Wahabisme
Dalam hal ini, kita akan menukilkan pendapat Muhammad bin Abdul Wahhab an-Najdi (pelopor dan pendiri sekte Wahabisme) yang dalam kita “Kasyfus Syubuhaat” menyatakan: “Jika ada sebagian orang musyrik (muslim non-Wahaby .red) mengatakan kepadamu; “Ingatlah, Sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati (QS Yunus: 62)”, atau mengatakan bahwa syafa’at adalah benar, atau mengatakan bahwa para nabi memiliki edudukan di sisi Allah, atau mengungkapkan perkataan Nabi untuk berargumen menetapkan kebatilannya (seperti Syafa’at, Tawassul/Istighatsah, Tabarruk…dst. Red) sedang kalian tidak memahaminya (tidak bisa menjawabnya) maka katakanlah: Sesungguhnya Allah dalam al-Quran menjelaskan bahwa orang-orang yang menyimpang adalah orang yang meninggalkan ayat-ayat yang jelas (muhkam) dan mengikuti yang samar (mutasyabih)”. (Lihat: Kitab Kasyfus Syubuhaat halaman 60).

Di sini jelas sekali bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab menyatakan ‘sesat’ (bahkan menuduh musyrik) orang-orang yang meyakini adanya syafaat, kedudukan tinggi para nabi di sisi Allah sehingga dimintai istighatsah/tawassul…dst. Bahkan di sini, Muhammad bin Abdul Wahhab mengajarkan kepada para pengikutnya “trik melarikan diri” dari diskusi tentang doktrinan sektenya dengan kelompok lain dengan cara melarikannya kepada pembagian tasyabuh dan muhkam ayat-ayat al-Quran. Termasuk trik mengajak para pengkritisi ajaran Wahabisme untuk bertobat ‘tanpa terbukti’ kesalahannya. Ternyata, akhirnya ‘trik-trik licik’ ini pun yang sering dipakai banyak para pengikut sekte Wahaby ketika terpepet dalam berargumentasi ketika membela keyakinan wahabismenya, bahkan menjadi ‘kebiasaan buruk’ mayoritas para pengikut sekte tersebut.

Contoh lain. Nashiruddin al-Bani -yang konon- adalah seorang ahli hadis dari kalangan Wahaby pun pernah menyatakan dalam salah satu karyanya yang berjudul “at-Tawassul; Ahkaamuhu wa Anwa’uhu” (Tawassul; hukum-hukum dan jenis-jenisnya) begitu juga dalam mukaddimahnya atas kitab “Syarh at-Thawiyah” (Lihat: di halaman 60 dari kitab Syarh Thahawiyah) dia mentakan bahwa; “Sesungguhnya masalah tawassul bukanlah tergolong masalah akidah”.

Dan contoh lainnya adalah apa yang dinyatakan oleh Abdullah bin Baz seorang mufti Wahaby: “Barangsiapa yang meminta (istighatsah/tawassul) kepada Nabi dan meminta syafaat darinya maka ia telah merusak keislamannya” (Lihat: Kitab Al-‘Aqidah as-Shohihah wa Nawaqidh al-Islam).

B- Kedua: Pendapat Ahlusunnah wal Jamaah (bahkan Islam secara keseluruhan).
Terlampau banyak contoh fatwa ulama Ahlusunnah dalam menjelaskan legalitas Tawassul/Istighatsah ini. Insya-Allah pada kesempatan selanjutnya akan lebih kita perjelas mengenai ungkapan-ungkapan mereka.

Namun di sini kita akan memberikan contoh beberapa tokoh dari mereka saja;

  1. Imam Ibn Idris as-Syafi’i sendiri permnah menyatakan: “Sesungguhnya aku telah bertabarruk dari Abu Hanifah (pendiri mazhab Hanafi .red) dan mendatangi kuburannya setiap hari. Jika aku memiliki hajat maka aku melakukan shalat dua rakaat dan lantas endatangi kuburannya dan meminta kepada Allah untuk mengabulkan doaku di sisi (kuburan)-nya. Maka tidak lama kemudian akan dikabulkan” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 123 dalam bab mengenai kuburan-kuburan yang berada di Baghdad)
  2. As-Samhudi yang bermazhab Syafi’i menyatakan; “Terkadang orang bertawassul kepadanya (Nabi SAW .red) dengan meminta pertolongan berkaitan suatu perkara. Hal itu memberikan arti bahwa Rasul memiliki kemampuan untuk memenuhi permintaan dan memberikan syafaatnya kepada Tuhannya. Maka hal itu kembali kepada permohonan doanya. Walaupun terdapat perbedaan dari segi pengibaratannya. Kadangkala seseorang meminta; aku memohon kepadamu (wahai Rasul .red) untuk dapat menemanimu di sorga…tiada yang dikehendakinya malainkan bahwa Nabi SAW menjadi sebab dan pemberi syafaat” (Lihat: Kitab Wafa’ al-Wafa’ bi Akhbar Daarul Mustafa karya as-Samhudi Jilid 2 halaman 1374)
  3. As-Syaukani az-Zaidi pernah menyatakan akan legalitas tawassul dalam kitab karyanya yang berjudul “Tuhfatudz Dzakiriin” dengan mengatakan: “Dan bertawassul kepada Allah melalui para nabi dan manusia saleh”. (Lihat: Kitab Tuhfatudz Dzakiriin halaman 37)
  4. Abu Ali al-Khalal salah seorang tokoh mazhab Hambali pernah menyatakan: “Tiada perkara yang membuatku gunda kecuali aku pergi ke kuburan Musa bin Jakfar (salah seorang cucu Rasulullah yang dianggap salah seorang Imam oleh Syiah .Red) dan aku bertawasul kepadanya melainkan Allah akan memudahkannya bagiku sebagaimana yang kukehendaki” (Lihat: Kitab Tarikh Baghdad jilid 1 halaman 120 dalam bab kuburan-kuburan yang berada di Baghdad).

C- Ketiga: Pendapat Ibnu Taimiyah al-Harrani
Jika kita telaah beberapa karya Ibnu Taimiyah maka akan kita dapati bahwa ia telah mengalami kebingungan dalam menentukan masalah ini. Kita akan dapati bahwa terkadang ia mengingkarinya, terjadang membolehkannya, dan terkadang menjawabnya dengan membagi-baginya. Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat apa yang telah ditulisnya dalam salah satu kitab yang berjudul “At-Tawassul wal Wasilah” dimana ia membagi Tawassul menadi tiga kategori, ia mengatakan:

  1. Tawassul dengan ketaatan Nabi dan keimanan kepadanya. Ini tergolong asal muasal Iman dan Islam. barangsiapa yang mengingkarinya berarti telah mengingkarinya (kufur) terhadap hal yang umum dan yang khusus.
  2. Tawassul dengan doa dan syafa’at Nabi -dalam arti bahwa Nabi secara langsung dapat memberi syafaat dan mendengar doa- semasa hidupnya dan sehingga di akherat kelak mereka akan bertawassul kepadanya untuk mendapat syafaatnya. Barangsiapa yang mengingkari hal tersebut maka dia tergolong kafir murtad dan harus dimintai tobatnya. Jika tidak tobat maka ia harus dibunuh karena kemurtadannya.
  3. Tawassul untuk mendapat syafaatnya pasca kematiannya. Sungguh ini merupakan bid’ah yang dibuat-buat. (Lihat; Kitab At-Tawassul wal Wasilah karya Ibnu Taimiyah halaman 13/20/50)

Jadi jelaslah bahwa Ibnu Taimiyahpun tergolong orang yang tidak mengingkari legalitas tawassul, walaupun dalam beberapa hal ia nampak rancu dalam menentukan sikapnya. Dari penjelasan di atas tadi membuktikan bahwa, pengkategorian bid’ah dalam tawassul versi Ibnu Taimiyah terletak pada hidup dan matinya obyek yang ditawassuli. Benarkah demikian? Kita akan buktikan -nanti- bahwa pernyataan Ibnu Taimiyah itu tidak sesuai dengan ajaran Islam itu sendiri.

Yang perlu saya perjelas dari ungkapan saya di atas berkaitan dengan pendapat kedua “Islam secara keseluruhan” melegalkan konsep dan praktik Tawassul/Istighatsah kepada Nabi dan orang-orang saleh adalah, bukan hanya Ahlusunnah wal Jamaah saja (termasuk ahli tasawwuf), bahkan kelompok Syiah pun meyakininya. Jadi Sufi dan Syiah kedua kelompok yang paling dibenci oleh kaum Wahhaby pun memiliki kesamaan –juga dalam banyak hal yang dituduhkan Wahaby terhadap Ahlusunnah- dengan kelompok Ahlusunnah. Jadi dalam masalah ini –terkhusus masalah Tawassul/Istighatsah, juga masalah-masalah lain yang dinyatakan syirik dan bid’ah oleh sekte Wahaby- ternyata kelompok Salafy gadungan itu (Wahaby) sendirian, selain karena mereka juga tidak memiliki dalil yang kuat baik bersandarkan dari al-Quran, sunnah Rasul, dan perilaku Salaf Saleh. Dengan kata yang lebih singkat dan mengena; “Dalam masalah ini Wahabisme akan berhadapan dengan Islam”. Kita akan buktikan pada pertemuan selanjutnya.

21 Juli 2012

Soroush dan Teorinya

oleh alifbraja

 

 

Soroush dan Teorinya; Al-Qur’an Produk Nabi!

 

 

           

Adanya sikap Barat yang semakin brutal dalam memerangi Islam, dimana media-media Belanda dan media-media Denmark menjadi basis utamanya, dapat menginformasikan bahwa ada sebuah kelompok-kelompok tertentu yang mencoba bangkit memerangi Islam melalui keahlian mereka seperti membuat karikatur-karikatur, film tentang Nabi Saw dan al-Quran yang sifatnya menghina dan menjelek-jelekkan yang untuk kemudian dipertontonkan ke masyarakat dunia. Terakhir dapat kita amati, rilis film Fitna yang menimbulkan fitnah di seantero dunia Islam. Dalam kondisi seperti ini, terdapat wawancara Abdul Karim Sorous yang mengetengahkan ihwal al-Qur’an dan Nabi Saw yang secara tidak langsung menjadi teoritikus –sadar atau tidak sadar- kebrutalan ini. Tulisan ini tidak bisa –tanpa ada dasar dan bukti yang akurat – menyatakan bahwa apa yang tertulis dari wawancara tersebut adalah 100 persen pendapat dan keyakinannya. Akan tetapi sikap diamnya (tanpa menegaskan dan menafikan) Dr. Soroush terhadap informasi (ihwal wawancara yang dilakukan media Belanda itu) semacam ini dapat anggap sebagai kesalahan yang tidak dapat dimaafkan.

 

Aliran Sophisme

Pada abad ke 5 SM, di Yunani muncul sebuah aliran yang meragukan wujud segala sesuatu dan bahkan ragu dengan wujud dirinya sendiri. Mereka banyak memaparkan pemikiran-pemikiran dan keyakinan-keyakinan yang aneh-aneh. Perkembangan pemikiran Sophisme ini dalam jangka waktu cukup lama sempat menguasai blantika pemikiran di Yunani. Akan tetapi dengan munculnya ilmuan besar dan ahli hikmah seperti Socrates, Plato dan Aristoteles, pemikiran dan aliran Sophisme pun terkubur; kenapa? Karena mereka telah membeberkan dan membongkar paradigme-paradigma yang menjadi pijakan aliran sophisme. Aristoteles melalui buku Logika-nya telah mampu memberikan sumbangan besar kepada masyarakat tentang bagaimana cara berpikir yang logis serta realistis. Dengan adanya sumbangan besar dalam bidang pemikiran dari para ilmuan yang disebutkan di atas, namun tidak lama kemudian muncul kembali sebuah aliran baru yang mengistilahkan dirinya dengan agnostisisme yang dipelopori oleh Pyrho (275-365 M) dan aliran yang mengingkari keberadaan suatu hakikat berubah menjadi sebuah aliran Skeptisisme mutlak, namun aliran ini berlalu ditelan sejarah.

Para filosof Islam seperti Ibnu Sina, Mulla Shadra memiliki pandangan dalam hal ini dan yang tertarik untuk menelaah lebih jauh hal tersebut dapat merujuk ke buku Mas’alah Ma’rifah karya Allamah Subhani.

Reaksi Barat akhir-akhir ini adalah mengumbar kembali aliran Skeptisisme kepermukaan dan dipoles sedemikian rupa seakan-akan berbentuk sebuah barang ilmiah. Dan fokus perhatian para filosof Barat saat ini adalah selain merubah tatanan kuat filsafat, mereka juga sedang berusaha pada giliriannya meruntuhkan dan menghancurkan tatanan dan bangunannya.  Dimana skill mereka adalah senantiasa menebarkan stetmen-stetmen skeptis di seluruh lapisan, menyitir Furughi: “Keahlian para filosof Inggris tidak lain adalah senang merusak tatanan tinggi filsafat yang masih tetap langgeng sampai pada masa itu” tanpa menambahkan atau memberikan kontribusi sesuatu pun.

Yang kita maksudkan disini bukan ragu yang kadang menjadi media ke arah yakin. Dan selama manusia tidak pernah ragu, maka ia tidak akan pernah sampai pada keyakinan. Keraguan adalah hal yang sangat indah ketika menjadi jembatan dalam memperoleh keyakinan bukan menjadi tujuan; akan tetapi sangat disayangkan karena sikap skeptis yang ada pada aliran ini adalah sebuah tujuan dan bukan wahana menuju ke keyakinan.

Hal lain yang lahir dari aliran Skeptisisme ini adalah ketika memaparkan pandangannya –sekecil apa pun masalahnya– selalu tidak disertai dengan dalil dan argumentasi. Setiap waktu ditanya: Apa dalil Anda berkata seperti ini? Selalu dijawab: I think (saya pikir atau saya kira…) dan pertanyaan-pertanyaan seperti; kenapa Anda memiliki pandangan seperti ini? Atas dasar dan dalil apa? Merupakan masalah yang tidak diperbolehkan dan bahkan dilarang.

Ibnu Sina berkata: “Setiap orang yang menerima pendapat atau pandangan seseorang tanpa didasari oleh dalil dan argumentasi, maka orang tersebut telah keluar dari fitrahnya sebagai manusia”. Akan tetapi, sangat disayangkan luka borok ini (yakni; berpendapat tanpa didasari dalil dan argumentasi) bisa tersebar tahap demi tahap, padahal logika Al-Quran menandaskan: Haatuu Burhânakum (Suguhkan argumenmu)

Beberapa waktu yang lalu kita mendengar info ihwal wawancara Dr. Soroush dengan salah satu media di Belanda. Dalam wawancara tersebut Dr. Soroush menyampaikan stetment-stetmentnya ihwal wahyu dan al-Qur’an. Dr. Soroush mengklaim bahwa Al-Qur’an merupakan produk pemikiran Nabi, sebagaimana para penyair dalam menggubah syair, nabi pun melakukan hal yang sama. Al-Qur’an merupakan kolaborasi antara Tuhan dan Muhammad, dari kolaborasi inilah lahir Al-Qur’an. Tuhan yang mengonsepnya, Muhammad yang meramunya dalam bentuk bahasa verbal. Sejarah kehidupan Muhammad yang mendominasi ayat-ayat al-Qur’an. Tulisan ini adalah dimaksudkan untuk menjawab dan menyangkal stetment-stetment yang dibuat secara subyektif dan tak bersadar oleh Dr. Soroush, sebagaimana para so called filosof Barat, yang melontarkan isu-isu tak bersandar dan tak berdasar.

 

Ringkasan Teori

Sejatinya Dr. Soroush, ketika memaparkan pandangan dan gagasannya, telah terperangkap dengan ikhtilaf dan pernyataan yang kontradiktif.  Sedemikian sehingga ia tidak mampu mengkompilasikan pandangan yang dipaparkannya menjadi sebuah pandangan yang satu, utuh dan baku. Saya akan sebutkan pandangan Dr. Soroush dalam beberapa bagian:

1. Pengalaman keagamaan yang terjadi pada nabi ekuivalen dengan pengalaman yang dilakukan para penyair.

Dr. Sorous mengatakan: “Wahyu adalah ilham dan hal ini sama seperti pengalaman yang terjadi pada para penyair dan para arif. Tentunya Nabi Saw berada pada tataran pengalaman yang lebih tinggi. Dan di era modern ini, dengan menggunakan gaya bahasa metafora syair, kita dapat memahami wahyu itu. Sebagaimana yang diungkapkan oleh salah seorang filosof Muslim bahwa: “Wahyu merupakan bentuk syair yang paling tinggi.””

 

Analisis

Pandangan seperti ini bukan hal yang baru, akan tetapi merupakan warisan dari kaum Musyrikin Makkah, dimana ketika menginterpretasikan ihwal Alquran mereka menggunakan cara seperti ini dan berkata: Sebagaimana Amrul Qais mendapatkan ilham lalu kemudian dia menggubah lafaz-lafaz dan makna-makna dalam bentuk sebuah syair, maka Muhammad pun demikian; yakni dengan jalan ilham yang diperolehnya menyusun ayat-ayat tersebut. Tentunya yang dimaksud mereka dengan syair adalah syair yang bukan dalam bentuk sajak atau kasidah, akan tetapi khayalan-khayalan manusia yang diperoleh dari hasil tafakkurnya baik itu dalam bentuk berupa puisi maupun dalam bentuk prosa. Al-Quran menukil pandangan mereka itu dan sekaligus mengkritiknya, “Mereka berkata: ” Patutkah Kami mesti meninggalkan tuhan-tuhan Yang Kami sembah, karena mendengar ajakan seorang penyair gila?” (Qs. Ash-Shaffat :36), “Dan mereka mengatakan: “(Muhammad) itu seorang penyair Yang Kami tunggu-tunggu saat kebinasaannya”. (Qs. Ath-Thuur:30)

Terkadang Al-Quran dianggapnya sebagai hasil dari pemikiran Nabi Muhammad Saw dan terkadang juga mereka berkata: Alquran itu berisi pemikiran-pemikiran yang semrawut. Terkadang mereka juga berkata bahwa Nabi Muhammad Saw menyandarkan kebohongannya itu kepada Tuhan serta pada puncaknya mereka berkata bahwa Al-Quran merupakan sebuah buku syair yang disusun berdasarkan hasil wishful thinking (khayalan) Muhammad Saw.”bahkan mereka menuduh Dengan berkata: “Al-Quran itu perkara kalut Yang dimimpikan oleh Muhammad, bahkan perkara Yang diada-adakan olehnya, bahkan Muhammad sendiri seorang penyair.” (Qs. Al-Anbiyaa’:5)

Al-Quran ketika mengkritik pandangan seperti ini, menegaskan, “dan bukanlah Al-Quran itu perkataan seorang penyair (sebagaimana Yang kamu dakwakan. tetapi sayang!) amatlah sedikit kamu beriman.”  (Qs. Al Haaqqah: 41), (Nabi Muhammad bukanlah penyair) dan Kami tidak mengajarkan syair kepadaNya, dan kepandaian bersyair itu pula tidak sesuai baginya. Yang Kami wahyukan kepadanya itu tidak lain melainkan nasihat pengajaran dan Kitab suci Yang memberi penerangan.” (Qs. Yaasin: 69)

Walhasil, mereka menganggap bahwa Nabi Saw sederetan dengan para penyair itu. Muatan pemikiran dan pandangan yang menjadi fokus bahasan kita tidak lebih dari ini meskipun mereka sedikit menambahkan stetmen dengan epheuisme bahasa ” Nabi berada pada tataran yang lebih tinggi “ , akan tetapi semuanya berasal dari nara sumber yang sama.

Kalau dia mengatakan bahwa ilham yang ada pada para penyair bersumber dari dirinya sendiri, sementara Nabi Saw memperoleh ilham (baca wahyu) dari maqam rububiyah. Dalam pada ini, hubungan kedua hal tersebut dalam logika termasuk hubungan differensial (tabayun) sehingga pada akhirnya tidak bisa diserupakan satu sama lain.

Terlepas dari hal diatas, pada dasarnya apa yang menjadi dalil dari pandangan seperti ini, apakah Anda punya bukti atas hal tersebut? Sangat disayangkan wawancara semacam ini hanya sebatas konsepsi dan visualisasi tanpa ada argumen dan dalil sebagai sandaran yang tangguh dalam membuktikan hal tersebut. Dan kalau memang betul Al-Quran berada pada tataran tertinggi formula sebuah syair, lalu mengapa Al-Quran mengeluarkan sebuah stetemen yang berisi tantangan untuk membuat ayat yang serupa dengannya meski dengan satu ayat saja? Penyair mana yang berani mengeluarkan tantangan seperti Al-Quran. Misalnya berkata: Tak seorang pun yang bisa membuat ghazal seperti yang saya buat hingga hari Kiamat nanti.

Di sini dapat pula dikatakan kepada sang pencetus pandangan ini bahwa: gaya interpretasi Anda ihwal Alquran ini tidak lain merupakan satu bentuk pengalaman syair; artinya jiwa Anda yang telah memberikan binaan kepada pemikiran seperti ini kemudian ditransfer ke intelek dan dikejawantahkan melalui bentuk ucapan dan tulisan tanpa ada sedikit pun hakikat yang tersimpan di balik semua itu.

Kalau memang betul bahwa syair dan seorang penyair serta yang semisal dengannya tidak memiliki sedikit pun nilai keabadian, maka pernyataan Anda pun demikian adanya.

 

2. Al-Quran merupakan produk Nabi Muhammad Saw.

Pada tema lain, dalam wawancara yang sama,  Soroush mengatakan bahwa: gaya metafor syair bisa membantu dalam menjelaskan poin penting ini, betul bahwa nabi ibarat seorang penyair yang kekuatan eksternalnya berada dalam genggaman dan ikhtiarnya atau bahkan lebih tinggi dari itu, akan tetapi dalam kondisi itulah Muhammad dalam konteks pribadi adalah segala-galanya; yakni sang produser dan pembuat. Pokok bahasan ihwal ilham itu bersifat eksternal atau internal, pada hakikatnya tidak punya tempat dan tidak ada relevansinya.

 

Analisis

Stetmen-stetmen ini membuktikan bahwa sang pemilik teori ini memiliki asumsi bahwa Al-Quran merupakan hasil dari manifestasi unsur internal pribadi Nabi Muhammad saw yang sering diistilahkan dengan ‘wahyu nafsi’. Nara sumber pertama interpretasi yang mengatakan bahwa wahyu itu merupakan hasil dari manifestasi unsur internal pribadi nabi-nabi adalah bersumber dari para pendeta dan orientalis dan yang paling mumpuni dalam bidang ini dari kalangan orientalis. Mereka dengan sikap infantnya berusaha untuk memperkenalkan bahwa salah satu sumber referensi Al-Quran adalah manifestasi internal pribadi Nabi Saw. Salah seorang orientalis itu menuliskan bahwa: “Akal internal Muhammad memahami bahwa agama syirik tidak memiliki asas dan dasar. Dia (Muhammad saw), untuk mencapai dan sampai pada maqam kenabian, senantiasa menyembah Tuhan dan pergi ke Gua Hira menyepi untuk berasyik-ma’syuk atau beribadah kepada Tuhan dan di sanalah dia mencapai tingkatan tertinggi iman dan pemikiran-pemikiran luas serta mata batinnya pun semakin terbuka luas. Pada tahapan ini, karna demikian kuatnya, maka dia mendapat kelayakan untuk menghidayahi umat manusia. Dia terus menerus tenggelam dalam tafakkur sampai menemukan keyakinan: inilah nabi tersebut dimana Allah SWT mengutusnya untuk menghidayahi umat manusia. Pengetahuan-pengetahuan ini diolah sedemikian rupa oleh dia seakan-akan datang dari langit dan ucapan-ucapan tersebut dikirim oleh Tuhan melalui malaikat Jibril.”[1]

Pada dasarnya hal yang memisahkan dan membedakan antara feeling , cita-rasa para penyair dan feeling para nabi adalah hal yang tidak diyakini oleh Dr. Soroush. Para penyair berkeyakinan bahwa sumber ilham itu bersifat internal, sementara para nabi menganggap bahwa sumber ilham itu bersifat eksternal. Akan tetapi, sangat disayangkan poin terpenting perbedaan antara kedua hal diatas dianggap sepele oleh Dr. Sorous dan berkata: Pokok bahasan ihwal ilham itu bersifat eksternal atau internal, pada hakikatnya tidak punya tempat dan tidak ada relevansinya, karena pada tataran wahyu tidak ada perbedaan antara unsur internal maupun eksternal.

Seorang yang tidak memiliki pijakan pengetahuan Filsafat dan Irfan, tidak akan pernah mengetahui dan memahami garis pembeda antara kedua bentuk ilham dan kedua bentuk feeling tersebut. Oleh karena itu, demikian halnya kaum musyrik masa Nabi Muhammad Saw lantaran tidak punya kemampuan dalam membedakan antara kedua bentuk feeling tersebut, maka dengan sendirinya mereka berfikir bahwa bagaimana mungkin seseorang bisa mendapat ilham yang bersifat eksternal dan sekaligus menjadi pembimbing umat manusia. Al-Quran menceritakan ihwal bahwa pemikiran seperti ini bersumber dari mereka, “Patutkah menjadi keheranan bagi manusia bahwa Kami mewahyukan kepada seorang laki-laki di antara mereka, “Berilah peringatan kepada manusia dan berilah berita gembira kepada orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi dan pahala yang baik di sisi Tuhan mereka.” (Tetapi) orang-orang kafir berkata, “Sesungguhnya orang ini (Muhammad) benar-benar adalah tukang sihir yang nyata.”” (Qs. Yunus:2)

 

Sepanjang perjalanan sejarah, terdapat kelompok-kelompok yang kontra terhadap”wahyu muhammadi” memiliki banyak penafsiran dan penjelasan. Akan tetapi, esensi penjelasan dan interpretasi-interpretasi sesat itu pada dasarnya sejatinya merupakan satu kesatuan. Apa yang ada saat ini adalah merupakan bentuk tuduhan-tuduhan yang pernah dilakukan oleh Abu Jahal dan Abu Sofyan, namun dalam bentuk dan rupa yang berbeda. Sehingga dapat dikatakan bahwa klaim Soroush ini dapat dilacak hingga masa-masa diturunkannya al-Qur’an.

 

3. Konsep dari Tuhan dan lafaz dari Muhammad Saw

Dr. Sorous, secara umum dan terperinci meyakini bahwa Al-Quran adalah produk Nabi Muhammad Saw dalam wawancar tersebut. Akan tetapi, di tempat lain dia mengatakan bahwa :Nabi Saw dalam bentuk yang berbeda juga merupakan produser wahyu. Apa yang dia peroleh dari Tuhan mengandung unsur wahyu. Namun kandungan atau muatan wahyu  ini tidak bisa disampaikan kepada manusia dalam bentuk asli dan hakikinya, karena wahyu itu lebih tinggi dari pemahaman mereka (manusia). Wahyu itu tidak memiliki bentuk dan format dan tugas pribadi Nabi adalah membahasakan wahyu tersebut sehingga memiliki bentuk dan format khusus dan bisa dipahami dan ditangkap oleh semua orang.”

Dr. Sorous dalam pernyataan ini, meyakini bahwa konsep dan makna itu datang dari Tuhan sementara bentuk dan formatnya berasal dari Nabi Muhammad Saw. Dan hasilnya adalah dia telah mengingkari salah satu mukjizat Al-Quran; yaitu keindahan lafaz-lafaznya; dan hanya makna-makna saja yang dianggap datang dari Tuhan.

Oleh karena itu, Al-Quran adalah dapat dikatakan sebagai hasil kolaborasi antara Allah Swt dengan Nabi Muhammad Saw; karena makna-maknanya datang dari Allah Swt sementara bentuknya bersumber dari Nabi Saw. Ibarat sebuah perusahaan saham dimana modal dari Allah Swt dan pengelola saham adalah Nabi Saw.

Sekarang yang harus ditanyakan adalah apakah pandangan ini berada pada tataran lebih rendah dari pandangan atau teori pertama? Sebelumnya dikatakan bahwa segala sesuatu bersumber dari Nabi Saw dan kelemahannya adalah adanya hubungan yang tidak kuat dengan Allah Swt, sedangkan di sini dikatakan bahwa makna-makna mentah dan tidak terformat itu berasal dari Allah Swt dan formatnya dibuat dan digodok langsung oleh Nabi Saw.

Pertanyaan selanjutnya yang harus diajukan di sini: Apa dalil Anda ihwal adanya kolaborasi ini (antara Tuhan dan Nabi Saw)? Apakah Tuhan yang Mahakuasa dalam menurunkan dan menciptakan konsep-konsep itu tidak mampu membuat sebuah format bagi konsep-konsep tersebut?

Terlepas dari hal di atas, Al-Quran dengan sendirinya menentang teori seperti ini, buktinya adalah sebagai permisalan: “Qul huwallahu ahad…(katakanlah Dia Allah itu Esa) menandaskan bahwa konsep-konsep dan bentuk serta formatnya itu kedua-duanya bersumber dari Allah Swt.

 

4. Sirah Kehidupan Muhammad saw mendominasi terciptanya Al-Quran

Dr. Soroush terkadang menganggap bahwa secara independen Al-Quran merupakan produk Muhammad saw dan dia menyatakan: Muhammad Saw memiliki peranan langsung. Dan terkadang menjelaskan adanya kolaborasi Tuhan dengan Nabi Saw; akan tetapi terkadang pula dia ingin mengatakan bahwa kondisilah yang mendominasi kehidupan Nabi Muhammad Saw. Dengan kata lain Dr. Soroush menganggap zamanlah yang telah memproduksi Al-Quran Al-Karim; artinya: “Sejarah kehidupan Muhammad Saw, ayah dan ibunya, masa kecilnya dan bahkan kondisi-kondisi jiwa serta ruhnya memiliki peran besar dalam membuat Al-Quran. Kalau Anda melihat dan membaca Al-Quran, maka anda akan merasakan bahwa Nabi Saw terkadang pada waktu-waktu tertentu merasa senang, dan berbicara dengan gaya bahasa fushah (elokuen) dan terkadang ketika kondisi kurang kondusif, Muhammad berbicara dengan ungkapan-ungkapan yang sangat sederhana dan mudah dicerna. Dari aspek ini dapat dipahami bahwa wahyu tersebut merupakan hasil karya manusia”.

Yang menjadi Pertanyaan bahwa: Dr. Sorous, dengan stetment ini hendak memperkenalkan bahwa Al-Quran merupakan sebuah buku atau kitab hasil karya mutlak manusia. Soroush berusaha untuk mengeneralisasikannya dengan tulisan atau buku-buku lain, dimana aspek kehidupan setiap penulis sangat berperan dalam karya tulisannya atau kita istilahkan bahwa kecenderungan-kecenderungan serta latar belakang budaya sangat berpengaruh pada sebuah tulisan. Kalau memang seperti ini, maka mengapa Tuhan Muhammad menafikan itu semua dan menyatakan bahwa aspek yang sangat berperan dalam penciptaan Al-Quran tidak lain adalah wahyu sebagaimana Firman-Nya,“Dan ia tidak berkata menurut kemauan dan pendapatnya sendiri. Segala Yang dikatakannya itu tidak lain hanyalah wahyu Yang diwahyukan kepadaNya. wahyu itu (disampaikan dan) diajarkan kepadanya oleh (malaikat jibril) Yang amat kuat gagah.” (Qs. An-Najm: 3-5)

 

Stetmen-stetmen yang menyatakan bahwa Al-Quran adalah sebuah buku hasil karya manusia sangat bertentangan dan sangat kontras dengan ratusan ayat-ayat suci Al-Quran yang mana kita akan sebutkan sebagian darinya, “Patutkah mereka (bersikap demikian), tidak mahu memikirkan isi Al-Quran? kalaulah Al-Quran itu (datangnya) bukan dari sisi Allah, nescaya mereka akan dapati perselisihan Yang banyak di dalamnya.”  I(Qs. An-Nisaa: 82), “Alif, Laam, Raa’. ini ialah Kitab (Al-Quran) Kami turunkan Dia kepadamu (Wahai Muhammad), supaya Engkau mengeluarkan umat manusia seluruhnya dari gelap-gelita kufur kepada cahaya iman – Dengan izin Tuhan mereka – ke jalan Allah Yang Maha Kuasa lagi Maha Terpuji.”  (Qs. Ibrahim:1), “Sesungguhnya kami menurunkan Alquran itu dengan menggunakan bahasa arab semoga kalian bisa memahami dan berpikir”  (Qs. Yusuf:12), “Dan ini ialah Kitab (Al-Quran) Yang Kami turunkan, Yang mengandungi berkat….” (Qs. Al An’am: 92)

Mencermati ayat-ayat di atas, bagaimana kita bisa mengklaim bahwa Al-Quran merupakan kitab hasil karya manusia, padahal tak seorang pun yang ragu akan kebenaran dan kredibilitas Muhammad Saw, Al Amin.

 

Induksi dan klaim-klaim yang menyesatkan

Di sini kita telah memaparkan inti dari pandangan atau teori yang digagas Soroush. Dia menjelaskan pandangannya ke dalam empat dimensi yang berbeda-beda tanpa menyertakan argument-argumen sebagai pijakannya. Dan satu-satunya bukti akan ketidakberasasan pandangannya adalah adanya kontradiksi dalam pandangan-pandangan yang dilontarkannya.

Di samping pandangan yang disebutkan di atas, masih ada beberapa ungkapan lain yang akan kita utarakan sekilas saja:

1. Dr. Sorous mengatakan: “Di era ini, mayoritas mufassir berpikir bahwa wahyu tidak hanya dalam masalah yang berkaitan dengan agama bisa salah tapi juga wahyu bisa salah dalam hal-hal yang berkaitan dengan perkara dunia dan sosial masyarakat. Apa saja yang djelaskan Al-Quran berkaitan dengan peristiwa-peristiwa sejarah dan hal lain yang terjadi di bumi ini tidak harus benar dan tidak harus terjadi. Para mufassir tersebut mayoritas menggunakan argumen bahwa bentuk kesalahan-kesalahan pada Al-Quran tersebut tidak akan berbahaya dan berdampak negatif pada kenabiaan Muhammad Saw; karena Nabi Saw turun ke tataran pengetahuan kaumnya dan berbicara dengan bahasa yang berkembang pada zaman itu.”

Yang menjadi pertanyaan adalah: kata mayoritas yang digunakan oleh Soroush tersebut ditujukan kepada mufassir siapa? Kapan dan dimana sepanjang 14 abad mufassir tersebut telah mengakui adanya kesalahan pada Al-Quran ketika membahas hal yang berkaitan dengan kehidupan?; jawabannya tidak lain bahwa mereka itu adalah para mufassir orientalis yang pekerjaannya hanya mencari muka saja seperti pemimpin Qadiyani-qadiyani dan yang terpengaruh oleh mereka seperti sebagian penulis yang berasal dari Mesir.

Terlepas dari hal diatas, diskriminasi dalam kesalahan ini mengandung makna apa? dimana Nabi Muhammad Saw ketika berbicara hal-hal yang berkaitan dengan metafisika selalu dianggap benar dan diyakini, sementara ketika beliau saw berbicara ihwal materi dan hal-hal yang bisa dirasakan oleh panca indra, maka selalu dianggap jauh dari hakikat dan kebenaran. Dan kalau pun ada seorang mufassir mencoba menafsirkan sebuah ayat, maka hal itu tidak bisa dijadikan sebagai dalil adanya kesamaan dalam memahami pokok materi tersebut.

Alquran telah mengklasifikasi ilmu pengetahuan Nabi Muhammad saw itu sebagai karunia terbesar Ilahi. “Dan telah mengajarkanmu apa Yang engkau tidak mengetahuinya. dan adalah kurnia Allah Yang dilimpahkanNya kepada mu amatlah besar.” (Qs. An-Nisaa:113)

Apakah ilmu yang diklasifikasikan oleh Al-Quran sebagai ilmu yang luar biasa dan amat besar dapat terjerambab dalam kesalahan?

 

2. Dr. Soroush melangkah ke yang lebih sensitif; yaitu dia mencoba mendeskripsikan ilmu Nabi Saw seperti ini:

“Saya punya pandangan lain. Saya menganggap bahwa ilmu Muhammad tentang bumi, tumbuh-tumbuhan, dan genetic manusia sama seperti ilmu yang dimiliki orang lain yang setara dengannya, tidak lebih dan tidak kurang. Dia tidak memiliki dan mengetahui ilmu yang ada dan kita miliki sekarang dan hal ini tidak akan berbahaya dan tidak berdampak negatif pada maqam kenabian Muhammad; karena dia adalah seorang nabi bukan ilmuan atau sejarawan.”

Yang menjadi pertanyaan: Apa dalil dan bukti anda mengatakan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak punya pengetahuan tentang masalah-masalah yang ada sekarang dan pengetahuan yang dimilikinya hanya sebatas apa yang ada di zaman jahiliyah saja?

Di sini kita tidak hendak berbicara ihwal mukjizat ilmiah Al-Quran, karena pembahasan itu memerlukan waktu dan ruang tersendiri. Rasulullah Saw melalui wahyu dan imam pengganti beliau, seperti Ali As, dalam Nahjul Balaghah serta cucu beliau, Ali Zainal Abidin, dalam Shahifah Sajjadiyah telah membuka berbagai tabir ilmu pengetahuan hakiki dimana tak seorang pun penghuni bumi yang pernah membayangkan hal tersebut, baik di zaman para imam tersebut maupun di zaman kita sekarang. Sangat naïf sekali jika kita mengingkari ilmu pengetahuan hakiki yang ada pada kitab suci tersebut (Al-Quran) dan menganggap Muhammad sebagai nabi (ansich) tetapi bukan ilmuan; artinya Nabi Saw seorang nabi bukan seorang ‘alim; maksudnya seorang nabi tapi tidak mengetahui rahasia-rahasia alam semesta.

 

Tuduhan kepada Mu’tazilah

Ketika Soroush menyatakan bahwa Al-Quran merupakan produk pemikiran Muhammad, maka tentunya dia punya tujuan dan maksud. Tujuannya adalah mencari relasi dan mitra baginya . Mitra yang dapat dijadikan oleh Soroush adalah Mu’tazilah dan persoalan ini ia nisbatkan kepada mereka dan berkata: “KIeyakinan bahwa Al-Quran merupakan sebuah produk manusia dan secara potensial bisa saja salah. Secara sepintas Mu’tazilah meyakini bahwa Al-Quran itu adalah makhluk”.

Meskipun Mu’tazilah telah hilang dan tidak berkembang lagi dan begitu pun tokoh-tokohnya, tapi tentunya kitab-kitab mereka masih berada di tangan kita. Mereka, kelompok Mu’tazilah, tidak pernah berkeyakinan bahwa Al-Quran tersebut adalah makhluk yang diproduk oleh pikiran Nabi Muhammad Saw. Pada dasarnya yang menjadi pokok bahasan di abad kedua yang dipelopori oleh orang-orang Kristen yang bekerja di istana Khalifah Abbasiyah adalah mengenai apakah Al-Quran itu qadim  ataukah haadits. Ada kelompok yang meyakini bahwa Al-Quran itu qadim dan ada juga kelompok yang meyakini bahwa Al-Quran itu haadits. Kelompok ahli hadis menganggap bahwa Al-Quran itu adalah qadim dan kelompok mu’tazilah menganggap bahwa Al-Quran itu adalah haadits, karena yang qadim secara dzati (hakiki) hanya Allah Swt dan selain Dia adalah haadits. Dan salah satu dari haadits itu adalah Al-Quran, dimana hal itu adalah fi’il (perbuatan) Allah Swt dan perbuatan Dia itu tidak terpisah dari sifat hudutsi (baru). Dan kalau mereka (Mu’tazilah) mengatakan bahwa Al-Quran adalah makhluk, maka yang dimaksudkannya adalah makhluk Tuhan bukan makhluk (ciptaan) dan bukan buah pikiran Muhammad Saw. Oleh karena itu, dalam riwayat-riwayat Ahlulbait ditekankan bahwa hendaknya kita jangan menganggap Al-Quran itu qadim dan janganpula menganggapnya sebagai makhluk, karena ketika dikatakan qadim maka akan terperangkap pada kesyirikan dan jika dianggap sebagai makhluk, maka musuh-musuh Islam akan menyalahgunakannya dan akan mengatakan bahwa Al-Quran adalah hasil karya pikiran dan perenungan Muhammad Saw. Dengan demikian, kaum musyrik di era Rasulullah Saw menggunakan redaksi yang sama seperti ini, ” Kami tidak pernah mendengar tentang itu Dalam agama Yang terakhir; perkara ini tidak lain hanyalah rekaan dan dusta semata-mata.”  (Qs. Shaad :7)

 

Tuduhan Kepada Maulawi

Untuk membenarkan klaimnya, Dr. Soroush mencoba menjadikan Rumi sebagai tamengnya, “Al-Quran adalah hasil proyeksi dari pikiran Muhammad Saw. Apa yang ada dalam ucapan Rumi itu menjelaskan bahwa perubahan kondisi dan perubahan pribadi baik-buruk Nabi itu terlihat nampak dalam Al-Quran”.

Menisbatkan sesuatu itu kepada seseorang memang merupakan pekerjaan mudah, tapi membuktikannya adalah hal yang sangat sulit. Pada bait syair yang mana Rumi berkata seperti yang disimpulkan oleh Dr. Soroush. Sementara Rumi memiliki ratusan bait syair yang penjelasannya dengan sangat transparan bertentangan dengan apa yang dipahami oleh Dr. Sorous, di antaranya:

Ketika Kitabullah (Al-Quran) datang;

Kaum kafir pun melontarkan tuduhan-tuduhannya;

Mengatakan Al-Quran itu berisi dongeng dan cerita fiksi;

Tanpa meneliti dan mendalaminya;

Meskipun Al-Quran keluar dari lisan Muhammad;

Barangsiapa tidak berkata hak, maka ia kafir;

Ini semua adalah rumor dari sang kaisar;

Meskipun dari tenggorokan hamba Allah.  

 

Penetapan Taklif untuk kaum Muslim

Dia (Dr. Sorous) diakhir ucapannya mencoba menetapkan taklif dan tugas bagi kaum muslimin di era ini. Dia berkata: “Tugas umat Islam hari ini adalah hendaknya menerjemahkan substansi Al-Quran sesuai dengan perjalanan zaman”

Pertanyaan: Apa perlunya Al-Quran yang Anda anggap sebagai sebuah kitab hasil karya manusia dan mungkin saja salah itu harus diterjemahkan dan ditafsirkan dengan menggunakan bahasa sekarang? Apa perlunya pretensi ini? Anda telah membuat jarak dengan komunitas Muslim dengan mengatakan bahwa Al-Quran merupakan hasil dan buah karya manusia dan peluang untuk salah sangat terbuka. Umat Islam tidak butuh lagi kepada nasihat anda. Orang yang pantas untuk Anda nasehati adalah orang yang tetap teguh bersama aAnda, akan tetapi Anda tidak punya otoritas lagi menasehati orang-orang yang telah keluar dari perkumpulan Anda.  

Sangat disayangkan mengapa wawancara seperti dapat terjadi. Diharapkan wawancara ini bukan bersumber dari wawancara dia dan kemungkinan para translator yang salah dalam menerjemahkan. jika hal ini demikian adanya maka Dr. Soroush berkewajiban untuk memperbaiki klaim-klaim yang dibuatnya itu. Allâhu ‘Alim.

21 Juli 2012

PENANTIAN MANUSIA TERHADAP AGAMA

oleh alifbraja
 
 

  PENANTIAN MANUSIA TERHADAP AGAMA

 
 

 

Dewasa ini, isu seputar “Penantian Manusia terhadap Agama”, banyak diangkat oleh kalangan agamawan kontemporer di sejumlah media ilmiah maupun pusat-pusat kajian ilmu dan filsafat. Nampaknya, pembahasan tersebut tengah menjadi wacana hangat pada ranah teologi dan filsafat. Tidak mengherankan, jika berbagai pandangan mengemuka dan sejumlah tulisan  bermunculan.

        Dari sekian gagasan yang mencuat, barangkali belum ada yang menukik pada akar permasalahan. Berbagai pertanyaan mendasar masih belum dikaji serius seperti; kapan, di mana dan pada situasi seperti apa persoalan tersebut lahir? Lalu, setelah berapa masa sejak kemunculannya, kapan dan bagaimana gelombang  persoalan  tersebut singgah di pusat-pusat ilmu kita?[1]

Almarhum Ayatullah Agung Burujerdi (1292-1380 Hq) mencurahkan perhatian mendalam terhadap akar sejarah problematika fiqih. Hal ini pula yang menjadi salah satu prinsip dasar dalam memahami al-Quran dan Sunnah secara benar. Pada bidang Ushul, metode ini pun kerap digunakan.

        Suatu hari, ia menjelaskan permasalahan masyhur dalam bidang Ushul, “Apakah takhshîs ‘âm, menjadi sumber diperbolehkannya (sesuatu) atau tidak ?” Dengan pendekatannya yang khas, ia meneliti rentang perjalanan beberapa abad dari sejarah persoalan tersebut, sampai pada konklusi bahwa persoalan tersebut disistematikakan di Irak pada tahun 303 H.  Bahkan, ia juga menyoroti  pasang surut permasalahan tersebut sepanjang sejarah.

        Tidak ada keraguan bahwa Barat dan dunia Kristen, menjadi tempat lahirnya berbagai pemikiran tentang filsafat agama. Di sisi lain, revolusi ilmu pengetahuan serta industri di dunia Barat telah memberikan perubahan besar pada persoalan kemanusiaan.

        Berangkat dari fenomena tersebut, para pemikir membagi kebutuhan manusia terhadap agama ke dalam dua kategori:

        Pertama, kalangan yang memandang bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman serta eksperimen menyebabkan manusia tidak lagi membutuhkan agama.

        Kedua, kalangan yang berpendapat bahwa sebagian besar kebutuhan manusia dapat terpenuhi melalui ilmu serta pengetahuan. Hanya sebagian persoalan kecil saja, yang disandarkan di pundak agama.

        Dalam hal ini, para pemikir mengamini pendapat yang berupaya meneliti kembali agama serta memanfaatkannya dalam batas yang memungkinkan.

Nampaknya, dengan mempertimbangkan berbagai pengaruh pencerahan agama terhadap kehidupan, mereka menuju resultan untuk mengembalikan agama kepada masyarakat serta mengambil pengaruh positif dari kekuatan spiritual. Mereka juga berupaya memberikan pengertian kepada para oposan agama serta para kritikus kalangan gereja bahwa agama masih memiliki peran di masyarakat. Maka dari itu, tidak sepatutnya ditinggalkan begitu saja. Dari sinilah para psikolog serta sosiolog menata penelitian agama dengan mengungkapkan berbagai pengaruh positif yang dapat diperoleh dari agama.

 

Peralihan  Isu

Melalui pembahasan di atas, jelaslah bahwa isu “Penantian Manusia terhadap Agama” merupakan peralihan dari tema sebelumnya, “Kebutuhan Manusia terhadap Agama” serta “Dampak Pencerahan Agama”. Wacana ini mengemuka dengan motif-motif tertentu yang berlainan. Salah seorang pemikir yang mengkaji tentang penantian manusia terhadap agama, menulis:

“Penantian kita sebagai manusia terhadap agama adalah agama mampu memahami kesulitan dan penderitaan kita. Dalam terminologi yang lebih luas, agama diharapkan memberikan makna bagi kehidupan manusia. Dengan memahami penderitaan yang kita alami, agama akan menyelamatkan manusia serta mengantarkan kepada kondisi yang lebih baik. Maka, tidak salah jika kita mengklaim bahwa penantian manusia terhadap agama adalah manusia sampai pada kondisi yang diharapkan dari situasi buruk sebelumnya. Dari jalan inilah, diperoleh makna kehidupan dan menjauhkan manusia dari keadaan yang tidak diharapkannya”[2]

        Apa yang mereka kemukakan sebagai “Penantian Manusia terhadap Agama”, sama halnya dengan penjelasan para psikolog dalam pembahasan “Kebutuhan Manusia terhadap Agama” serta “Dampak Pencerahan Agama”. Sejatinya, hal ini lebih disebabkan adanya spirit wacana yang hampir paralel. Hanya saja, wacana tersebut belakangan mengalami peralihan tema.

 

Dampak Pencerahan Agama: Kacamata Psikologi

        Para psikolog berupaya mempelajari kejiwaan manusia di antara sekian fenomena alam yag tak terbatas. Dalam hal ini, mereka berpendapat bahwa kembalinya manusia pada agama, memiliki pengaruh yang dapat meringankan berbagai problematika kehidupan: Pertama, terbelenggunya sifat congkak dan membangkang, Kedua, menyelesaikan kesalah fahaman, memberikan metode berpikir positif di antara sesama manusia serta berbagai ketentuan lainnya. Ketiga, Terapi untuk mengatasi berbagai kesulitan dan penderitaan hidup.

        Di satu sisi, dengan kembali pada agama, manusia memperoleh ketenangan dalam menghadapi berbagai guncangan dan bencana yang bersumber dari alam maupun takdir. Pada sisi lain, sebuah keyakinan juga dapat mencegah berbagai kerusakan yang berpangkal dari peradaban serta dapat memberikan ketenangan batin[3].

        Gustav Yung, sependapat bahwa agama menghadiahkan ketenangan kepada pemeluknya. Selain itu, agama juga mampu memberikan makna keberadaan manusia. Terlebih, agama juga mengajarkan kepada manusia cara mengatasi berbagai persoalan[4].

        William James meyakini bahwa dengan kembali pada agama, manusia akan memperoleh ketenangan dan kebahagiaan tertentu. Agama juga memotivasi munculnya kekuatan yang mampu mengubur kegetiran hidup. Kekuatan yang diperoleh manusia dari agama untuk mengatasi berbagai kesulitan tersebut, tidak akan pernah tergantikan oleh etika. Karena semangat yang diperoleh manusia melalui keyakinan keagamaan, sama sekali tidak mampu dihasikan dari etika[5].

 

Kebutuhan Manusia terhadap Agama: Kacamata Sosiologi

        Para sosiolog yang mendasari telaahnya pada masyarakat, memposisikan individu sebagai entitas masyarakat. Kalangan ini memandang bahwa agama memiliki pengaruh dalam mengatasi berbagai konflik sosial.

        Durkheim meyakini bahwa agama dalam implementasinya, dapat memenuhi kebutuhan masyarakat. Selain itu dikatakannya, keyakinan keagamaan memiliki peran vital dalam mewujudkan sistem ekonomi.[6]

        M.Yinger berpendapat, untuk kelangsungan hidupnya, manusia memerlukan serangkaian nilai yang diyakininya. Nilai tersebut harus mampu menjawab berbagai persoalan akhir kehidupan, terutama misteri kematian. Terlebih, nilai tersebut juga harus dapat menjelaskan kepada manusia berbagai persoalan sosial, seperti: frustasi, musibah serta penderitaan lain.

        Dalam hal ini, hanya agamalah yang mampu menjawab berbagai persoalan tersebut. Agama berupaya keras menjelaskan sesuatu yang tidak dapat diungkapkan oleh yang lainnya. Demikian, Yinger menuturkan.[7]

        Penjelasan kedua pandangan tersebut, mampu menyingkap tabir problematika sebenarnya. Mereka juga menetapkan bahwa tujuan mempertimbangkan peran agama, untuk mengungkapkan berbagai sisi positifnya. Selain itu, untuk menunjukkan bahwa sampai saat ini pun kejayaan agama belum berlalu. Manusia masih memerlukan agama dalam kehidupannya, sebagai obat penenang.

 

Isu Yang Masih Mentah

        Isu penantian manusia terhadap agama, mengingatkan pada peristiwa di sebuah dusun. Karena lokasinya yang jauh dari dokter serta balai pengobatan, Masyarakatnya sedemikian asing dengan berbagai jenis penyakit. Mereka selalu menanti kehadiran seorang dokter yang akan mengobati berbagai jenis penyakit di daerah itu. Pada saat dokter tiba di lokasi tersebut, ia berhadapan dengan ribuan pertanyaan yang tidak mungkin terjawab oleh satu atau dua orang dokter.

        Demikian halnya kondisi sosial masyarakat kini, sebagaimana penduduk dusun tersebut. Harapan serta penantian mereka terhadap agama sedemikian besar, sehingga tidak mungkin seluruhnya dapat terjawab.

        Analisis di atas, mengindikasikan bahwa isu pembahasan sebaiknya dirubah dan isu “Penantian Manusia terhadap Agama” tidak semestinya dibahas. Karena, penantian masyarakat terhadap agama, tidak memiliki standar serta aturan yang jelas. Setiap kelompok menghendaki permasalahannya dapat teratasi. Kalau pun pembahasan ini harus diangkat, terlebih dahulu memerlukan penyelesaian berbagai persoalan berikut:

1.        Apa penantian agama terhadap manusia?

Jika agama merupakan sebuah fenomena yang informatif serta datang dari Tuhan, apa penantiannya terhadap individu maupun masyarakat?

2.        Kalau pun persoalan tersebut tetap dibahasakan dalam format pertama, yaitu apa penantian manusia terhadap agama, sebelum menjawab masalah ini, problem lainnya harus dituntaskan terlebih dahulu, bagaimana mengetahui kemampuan agama dan kualifikasinya, barulah dapat berharap sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya. Karena selama agama tidak dapat tergambarkan secara benar serta tidak memiliki batasan yang jelas, kita tidak dapat berharap sesuai dengan harapan.

Cobalah Anda bayangkan, untuk rehabilitasi sebuah negara yang berada dalam peradaban terbelakang, para pakar diterjunkan mendatangi lokasi tersebut. Sehingga seluruh kebutuhan masyarakat terdata serta bantuan yang diberikan pun sesuai dengan kapasitas yang dimilikinya.

        Negara dengan kondisi demikian, tidak hanya memiliki satu atau dua permasalahan. Tetapi, menyimpan segudang persoalan yang perlu penyelidikan sebelumnya, kemudian barulah permasalahan tersebut dapat diatasi oleh berbagai tim yang memiliki keahlian di bidangnya masing-masing.

        Pada kondisi seperti itu, masyarakat tidak selayaknya berharap pada seorang atau satu tim ahli, untuk dapat mengatasi seluruh persoalan. Tetapi, sebelumnya perlu dianalisis dengan cermat sesuai dengan bidang studi serta dasar keilmuannya, barulah harapan mereka akan terjawab selaras dengan kemampuannya.

        Para penggagas ide ini, sebelum menyuguhkan pemahaman keagamaan, terlebih dahulu mengutarakan berbagai harapannya, baru kemudian menentukan batasan serta memberikan sejumlah ilustrasi. Seringkali  harapan-harapan mereka itu, tidak berada dalam wilayah agama. Tetapi, dapat terpenuhi melalui pengetahuan individu maupun masyarakat.

        Bagaimanapun, apakah persoalan ini memiliki orisinalitas ataukah ia merupakan distorsi dari wacana “Kebutuhan Manusia terhadap Agama” atau “Pengaruh membangun agama”, yang jelas dalam topik permasalahan ini, terkandung sejumlah ambiguitas dan berbagai kesulitan yang menghantui yang urgen untuk dipecahkan.

 

a. Agama sebagai  Alat

        Isu pembahasan di atas, mengidentifikasikan pandangan sebagian kalangan, alih-alih memandang agama dari aspek ibadah dan penyembahan, serta berupaya memahami hubungannya dengan manusia, maupun hubungan pencipta dengan ciptaannya. Sebaliknya, mereka malah  memposisikan agama sebagai alat serta mensejajarkannya dengan berbagai fasilitas kehidupan lain yang dapat mengatasi kesulitan manusia.

Ketika dasar harapan manusia terhadap fasilitas kehidupan begitu jelas, maka demikian pula dengan dasar penantian manusia terhadap agama. Padahal, kedudukan agama lebih tinggi dan lebih baik ketimbang berbagai sarana dan fasilitas kehidupan. Di sinilah mereka meletakkan agama sebagai alat.

Agama dalam pengertian umum merupakan keyakinan terhadap ketergantungan manusia dan alam kepada wujud terbaik. Ketergantungan ini, memiliki konsekuensi berupa serangkaian tugas baik pada aspek keyakinan maupun perbuatan. Pada kondisi demikian, sudah semestinya kita menanti perintahnya, tidak hanya mengharap pelayanannya dalam area pemikiran maupun aktivitas kehidupan.

 

b. Humanisme

        Kaum Materialis kontemporer, meremehkan aspek spiritualitas. Mereka menganggap yang ada hanyalah materi yang berujung pada penegasian setiap bentuk spiritualitas. Untuk menutupi kekosongan spiritualitas dalam kehidupan manusia, mereka berupaya melahirkan tiruan. Sehingga pandangan spiritual yang dianutnya, tidak terwarnai oleh pemahaman spiritualitas. Dari sini, lahirlah isu humanisme. Mazhab yang menjanjikan cinta sesama, kebahagiaan dan minus kerugian ini, berupaya mengambil alih peran spiritualitas serta keyakinan pada metafisik.

        Mereka berpegang pada superioritas manusia dengan tujuan mengagungkannya. Humanisme pun lahir menambah deretan mazhab-mazhab materialisme. Sejatinya, mereka meyakini satu bentuk spiritualitas lain meringankan  beban berat materialisme.

Dengan cara ini, kaum materialis berupaya membebaskan manusia dari penghambaan kepada Tuhan. Tetapi, pada akhirnya malah menyeret manusia pada pendewaan ekonomi serta alat produksi. Sebagaimana disitir kalangan Marxisme, sarana produksi merupakan pembangun sejarah, sedang manusia berada dalam arena permainannya. Kemuliaan apa yang diperoleh manusia, ketika dia tidak lagi memiliki pilihan. Ke manapun alat produksi melangkah, ke arah itu pula manusia berjalan.

        Pelecehan pada manusia, ternyata tidak hanya terjadi dalam mazhab Marxisme. Tetapi juga, ditemukan dalam mazhab Kapitalisme. Meski dalam opini publik mereka menghormati manusia baik sebagai individu maupun kelompok. Tetapi, lagi-lagi opini publik tersebut, telah dikuasai kaum borjuis. Mereka merancang kegiatan sedemikian rupa untuk kepentingannya sendiri. Kemudian, seluruh manusia digiring menjadi kapitalis.

        Para Penggagas isu penantian manusia terhadap agama, secara tidak sadar terpengaruh oleh paham humanisme yang memandang agama dari kaca mata manusia. Apapun selainnya diposisikan sebagai pemuas kebutuhan. Oleh karena itu, mereka menyebutkan: “Penantian kita terhadap agama adalah ini dan itu”

        Padahal kenyataanya, dalam pandangan seorang agamis, Tuhan sebagai poros dan selainnya adalah pelayan serta hamba. Kemendasaran hanya milik Tuhan serta agama, bukan manusia. Barangkali dalam terminologi yang lebih tepat, manusia berkhidmat pada agama, bukan agama yang berkhidmat pada manusia. Sebagaimana penjelasan al-Quran:

“Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi, melainkan akan menghadap Tuhan yang maha pemurah, sebagai seorang hamba”[8]

Resultan dari kupasan isu di atas, menjelaskan kebutuhan manusia bukan kemuliaan agama.

 

c. Segitiga  Ambigu

Dalam tema pembahasan di atas, tersusun segitiga ambigu. Sejatinya, para penggagas masalah ini, menuntaskan berbagai kesamaran dan kerancuan pembahasan serta menjelaskan pemahaman ketiga unsur berikut: masyarakat, agama dan penantian atau pemuas kebutuhan.

        Unsur pertama perlu diperjelas, apa yang dimaksud dengan manusia? Peradaban manusia telah melewati lebih dari sepuluh ribu tahun. Apakah yang dimaksud adalah manusia jaman batu? Ataukah manusia setelahnya yang dijelaskan dalam berbagai format? Pembagian masyarakat yang dilakukan Marx berbeda dengan pemetaan yang dihasilkan para  sosiolog lainnya. Namun, keduanya bertemu pada titik bahwa manusia masa kini berhadapan dengan berbagai gelombang pasang surut. Mereka sama sekali berbeda dari sisi pemikiran, kehidupan maupun kebutuhannya.

        Kini, kita akan meneliti unsur kedua, apakah pengertian agama hanya dikhusukan pada agama langit, yang dikenal dengan agama Ibrahimi, ataukah termasuk berbagai aliran mistisme seperti Brahmana, Budha dan Hindu? Jika yang dimaksud adalah pengertian pertama, apakah ruang lingkupnya hanya meliputi agama yang  tidak terdistorsi, ataukah termasuk juga agama yang mengalami penyimpangan? Misalnya agama yang menyebutkan bahwa Tuhan turun dari langit ke kemah Ya’kub untuk bergulat bersamanya, dan melalui pukulan dasyat, akhirnya menang. Ataukah agama yang menyebutkan, suatu hari al-Masih menghadiri pesta pernikahan. Saat persediaan minuman untuk para tetamu tidak mencukupi, al-Masih merubah air menjadi minuman melalui mukjizat. Di sebutkan pula: “Al-Masih juga meminum minuman keras, ia pun seorang pemabuk”.

 

Benar dan Salah Bukan Parameter

Ketika pemuas kebutuhan menjadi poros dalam kehidupan manusia, benar dan salah tidak lagi dianggap sebagai parameter. Meskipun, pemuas kebutuhan itu berupa pandangan keliru, tetap saja harus disebut sebagai agama dan wajib mensucikannya. Misalnya, dalam agama Hindu dan Budha terdapat ajaran reinkarnasi. Mereka meyakini bahwa manusia mengalami kematian berulang kali, kemudian kembali ke alam dunia. Manusia memperoleh balasan pahala atau siksa sesuai dengan perbuatan yang dilakukan dalam kehidupan sebelumnya.

        Keyakinan semacam ini, menjestifikasi adanya perbedaan kelas serta ketidak adilan melalui institusi agama. Seorang fakir yang tiada daya, menganggap bahwa kefakiran yang menimpanya saat ini, akibat perbuatan tercela yang dilakukan di kehidupan sebelumnya. Sebaliknya, manusia yang hidup makmur, berkat perbuatan baik yang dilakukan sebelumnya.

        Nampaknya, keyakinan ini kontradiksi dengan kepercayaan terhadap kehidupan manusia pada masa mendatang, setelah kematiannya di dunia mengurangi kegetiran kaum fakir, mensejahterakan kelompok hedonis. Hal ini pada akhirnya, menghambat kelas proletar untuk melakukan berbagai gerakan revolusi buruh menentang golongan borjuis.

        Tentu saja, jalan keluar yang ditawarkan agama yang telah terdistorsi, sama sekali berbeda dengan penyelesaian yang dilakukan oleh agama murni. Dengan penjelasan lain, penantian kita terhadap keduanya, pastilah tidak sama.

        Adapun berkenaan dengan unsur ketiga, yaitu pemuas kebutuhan, perlu penjelasan lebih lanjut, apa yang dimaksud dengan kebutuhan? Apakah kebutuan yang bersifat materi ataukah maknawi? Kebutuhan permanen ataukah tentatif? Kebutuhan individu atau sosial? Kebutuhan absolut atau sekedar maya?

Jika yang dimaksud adalah berbagai kebutuhan absolut, maka agama harus dapat memenuhi seluruh kebutuhan, termasuk kebutuhan maya sekali pun. Pada akhirnya, akan melahirkan konklusi bahwa agama memenuhi dua kebutuhan yang kontradiktif. Misalnya saja, seorang Yahudi pecinta dunia, mengharapkan kebutuhannya dalam menumpuk harta terpenuhi. Sementara, seorang Kristiani yang jujur juga menanti keinginannya terkabul, yaitu kesendirian serta menjauh dari kenikmatan dunia.

        Seorang pemuda suci Kristen yang menolak berbagai kenikmatan biologis seksual, dengan alasan Tuhan melarangnya, memiliki penantian tertentu terhadap agama. Sedangkan kelompok yang berseberangan dengannya pun, memiliki kebutuhan yang berbeda pula.

        Jika yang dimaksud adalah kebutuhan sejati, bukan maya. Maka, parameter apa yang digunakan untuk menilai kebutuhan benar dan salah?

        Pada akhirnya, para penggagas isu ini, menempatkan agama sebagai pemuas seluruh kebutuhan. Nampaknya, perlu membagi kebutuhan ke dalam dua bagian: Pertama, kebutuhan yang dapat dipenuhi melalui pemikiran individu maupun masyarakat. Kedua, kebutuhan di luar kemampuan individu maupun masyarakat. Penantian masyarakat, berkenaan dengan bagian kedua. Padahal, untuk meninjau kembali dua kebutuhan tersebut memerlukan kriteria yang jelas.

 

Pemuas  Kebutuhan atau Cinta Pada Kesempurnaan Absolut

        Setiap kali mendiskusikan  isu tentang penantian manusia terhadap agama dalam area filsafat agama serta memposisikannya pada kavling filsafat, secara spontan kekudusan agama akan sirna. Karena dalam konteks demikian, manusia hanya akan meyakini agama ketika ia mampu memuaskan kebutuhannya. Padahal, penggerak manusia dalam beragama adalah cinta pada kesempurnaan mutlak yang keindahannya mampu menyihir manusia.

        Dengan kata lain, pembahasan di atas hanya mengungkap hubungan materi manusia dengan Tuhan. Sedikit pun tidak dipengaruhi oleh tujuan kesempurnaan absolut.

 

Rasionalitas Mendahului Wahyu

Dalam analisis di atas, rasionalitas diposisikan lebih utama ketimbang wahyu dan keinginan manusia dianggap sesuatu yang prima. Padahal sejatinya, dalam penantian agama terhadap manusia tidak demikian.

        Akhirnya, para deklarator isu ini, dengan kebingungan tanpa mengenal hubungan manusia dengan Tuhan dan memahami tujuan beragama, tengah menanti giliran kebutuhannya dapat terpuaskan. Kini, kita lihat, apa saja penantian mereka. Perlu diingat kiranya, bagaimana penjelasan wahyu berkenaan dengan penantian seperti itu.

Seandainya kebenaran memperturutkan hawa nafsu mereka, maka binasalah langit, bumi serta semua yang ada di dalamnya[9].

 

Harapan Para Deklarator Penantian Manusia Terhadap Agama

        Pada pembahasan yang lalu, telah dibuktikan bahwa pertanyaan “Apa penantian manusia terhadap agama itu?” merupakan sebuah pertanyaan yang jungkir balik, keliru. Sejumlah faktor mental maupun sosial, menyebabkan terjadinya perubahan dari pertanyaan sebenarnya, tentang “apa penantian agama terhadap manusia”.

        Kini, jika kita berasumsi, dengan mengabaikan berbagai kritik beragam yang menghujani bahwa skema pertanyaan dalam format pertama adalah benar, kita lihat apa harapan para deklarator ide ini terhadap agama. Pada realitasnya, persoalan tersebut diungkap oleh pelbagai kalangan dengan membawa ciri khasnya masing-masing. Dari seluruh pandangan di atas, ditarik sejaumlah konklusi ke dalam lima aspek:

1.    Agama tidak layak melakukan intervensi ke dalam persoalan duniawi seseorang. Karena  tujuan di utusnya nabi untuk kebahagiaan akhirat  bukan dunia;

2.    Agama tidak pada tempatnya mengintervensi ke berbagai dimensi kehidupan sosial manusia. Karena, agama hanya mengatur persoalan individu;

3.     Konklusi diterimanya kedua proposisi di atas, melahirkan pandangan sekularisme dan pemisahan agama dari politik. Maka, sistem politik ilahiah tidak selayaknya memerintah;

4.     Agama merupakan pegangan yang tanpa arah, sama sekali tidak pernah menampilkan arahnya yang khusus;

5.     Agama adalah sesuatu yang bisu dan diam.

 

Selanjutnya, tulisan ini akan menyusuri  pandangan-pandangan tersebut dan menyuguhkan analisis terhadapnya. 

 

Pendapat Pertama

        Salah seorang tokoh lama[10] menuliskan pandangannya berkenaan dengan persoalan di atas:

Tidak selayaknya menanti pada agama Islam, Kristen mapun Yahudi untuk memberikan kepada kita berbagai konstitusi dan undang-undang serta berbagai ketentuan secara sempurna dalam ideologi, politik, ekonomi, berbagai disiplin ilmu terapan, kedokteran dan kesehatan. Sebagaimana tidak disampaikannya ilmu memasak, menjahit, bangunan, ilmu keterampilan hidup serta berbagai penemuan lainnya.

        Dalam pandangan di atas, terdapat mixing antara substansi agama dengan kulitnya yang merupakan bentuk penerapan hukum. Karena agama, di samping memiliki undang-undang yang tetap dan kekal. Ia juga memuat formulasi universal tentang politik, ekonomi, persoalan sosial serta akhlak yang sejalan dengan fitrah penciptaan manusia. Bentuk realisasinya yang disebut konstitusi dan lainnya, diserahkan kepada pemikiran masyarakat.

        Misalnya, untuk memperkuat situasi pertahanan, agama menawarkan prinsip universal. Dari awal hingga saat ini, tidak akan hilang keuniversalannya, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an:

        Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka apa saja yang kalian sanggupi[11]

Tetapi, penerapannya tergantung pada para pemikir yang menangani masalah pertahanan. Mereka memiliki persenjataan khusus pada masanya.

        Agama dapat memberikan pandangan tentang prinsip universal ekonomi sesuai dengan fitrah kemanusiaan dan hukum akal. Melimpahkan otoritas untuk melakukan transaksi sesuai kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak,[12] mengharamkan praktik riba[13] dan melarang berbagai jenis kontrak yang mengandung spekulasi maupun  penipuan.

        Tetapi, bentuk penerapan prinsip-prinsip ini, dengan melihat di sepanjang masa disertai dengan perubahan, diserahkan kepada pemikiran masyarakat. Pada wilayah ini, tidak akan pernah terjadi intervensi.

        Prinsip serupa juga dapat diterapkan dalam ruang lingkup politik serta keluarga. Di sini agama menyajikan berbagai prinsip universal yang membentuk bangunan ekonomi serta politik. Adapun yang diserahkan pada pemikiran masyarakat, berupa penerapan konstitusi serta undang-undang.

 

Kontradiksi  Pandangan

Nampak amat menarik di sini, ketika sang narator menyampaikan pemikiran tersebut di akhir kehidupannya. Karena, ia berada pada situasi kekalahan politik dan naiknya pemerintahan agama. Padahal pada masa sebelumnya, yaitu pra revolusi Islam, ia menyerukan pemikiran yang sama sekali berbeda. Berikut beberapa contoh petikannya. Ia menuliskan demikian dalam bukunya:

“Islam mendesain aturan serta metode tertentu untuk semua perbuatan yang bersifat individu. Prinsip-prinsip tersebut sebelumnya diterapkan oleh kaum muslimin. Sehingga mampu mengarahkan seluruh pemikiran, kejadian serta perbuatan. Mereka juga memahami bahwa kebahagian dunia serta keselamatan akhirat terdapat pada prinsip-prinsip tersebut ”[14]

Pada bagian lain, ia menyebutkan:

Batu ujian (kitab) al-Qur’an sedemikian detail hingga mencakup berbagai persoalan besar maupun kecil. Menentukan pahala serta siksa setiap perbuatan, memuat aturan kenegaraan, memposisikan tinggi ilmu dan penelitian. Memberikan petuah tentang cara berbakti pada ayah dan ibu, berbuat baik pada keluarga serta orang lain. Meletakkan aturan kemasyarakatan dalam bidang kebersihan, menentukan waktu perdamaian serta peperangan, menawarkan konsep mu’amalah dalam bentuk fiqih dan berbagai syariat[15].

Ia juga dalam bukunya yang lain “Ihtiyâj Ruz” menuliskan:

Pada masa permulaan Islam, masjid dan jama’ah merupakan pusat perencanaan berbagai kegiatan serta pengambilan keputusan bersama. Di tempat itu pula, berbagai persoalan diselesaikan. Para khalifah serta Imam, seusai melaksanakan shalat jama’ah, berpidato di atas mimbar serta menyampaikan berbagai persoalan terbaru dan yang diperlukan oleh masyarakat. Para jama’ah juga memberikan sumbangsih pendapatnya serta mengikat janji bersama.

Di sana pula, perdamaian dan peperangan diputuskan. Tak jarang, barisan shalat jama’ah berganti menjadi barisan perang serta pertahanan. Para prajurit berangkat dari masjid untuk bertempur ke medan laga. Betapa banyak, para pejuang Islam dari berbagai tempat serta medan perang, memasuki masjid dengan pakaian kotor. Kemudian, melaporkan berbagai operasi militernya kepada masyarakat, sebelum akhirnya mereka kembali ke rumahnya masing-masing.”[16]

Kesimpulan dari berbagai pandangan di atas, agama memiliki pesan untuk setiap tema pembahasan. Di antaranya adalah persoalan duniawi, politik serta kenegaraan. Pembahasan ini, bertentangan dengan dua hipotesis sebelumnya yang menyebutkan bahwa agama terpisah dari politik dan tujuan diutusnya para nabi hanya untuk kebahagiaan akhirat. Coba Anda lihat, begitu jauh jarak perbedaannya.

        Untuk membuktikan klaimnya, yang kebanyakan berbicara seputar pemisahan agama dari politik[17], penulis buku tersebut berupaya mengajukan berbagai argumentasi yang cukup mengejutkan bagi sosoknya sebagai seorang peneliti dan agamis[18]. Tentu saja, sampai saat ini kondisi spiritualnya terpengaruh oleh berbagai argumentasi tersebut. Dengan mempertimbangkan pengaruh serta berbagai pidatonya yang berharga, kiranya perlu memandang hal ini sebagai sejumput kesalahan yang hinggap di akhir hidupnya.

        Dalam kesempatan ini, hanya akan difokuskan pada dua sampel argumentasi. Sehingga jelas, sejauh mana  kekuatan metode berpikir seperti ini?

 

Argumentasi Pertama

Agama diturunkan untuk mengatasi berbagai persoalan ilmu dan amal akhirat. Bukan untuk menyelesaikan berbagai penderitaan hidup serta persoalan duniawi. Jika atas nama agama, ideologi serta pemerintahan agama terbentuk, maka pastilah para pemimpin agama tidak akan sukses mengatasi persoalan sosial. Hasilnya, masyarakat mukmin, terutama para pemuda yang penuh semangat, akan berperasangka negatif terhadap keyakinan keagamaannya.

 

Analisis

        Argumentasi yang ditawarkan oleh si penulis yang mengemukakan gagasan tersebut, bersandar pada prinsip yang tidak tepat. Sehingga, konklusi yang dihasilkannya pun akan keliru. Penawaran ideologi serta pembentukan pemerintahan agama oleh kalangan agamawan, tidak  berarti meliburkan aktivitas ilmiah dan pemikiran serta berbagai usaha sosial dengan hanya mencukupkan ketentuan dan aturan umum agama saja.

        Menjadi kesepakatan nampaknya, setiap kategori yang dipresentasikan oleh ideologi dan pembentukan pemerintahan, yang menjadikan manusia diasumsikan tidak lagi membutuhkan ilmu dan pengetahuan serta kerja keras. Hal ini, hanya sekedar menegaskan kesimpulan yang telah disampaikan penulis saja. Di sini, para pemimpin agama dalam area pemerintahan akan mengalami  prustasi, sehingga menyebabkan para pemuda  menjauh dari agamanya.

        Namun, tidak ada seorang pemimpin agama pun yang menyampaikan ideologi untuk membentuk pemerintahan dengan pemikiran seperti itu. Bahkan sebaliknya, dalam ketentuan berbagai aturan Islam, masyarakat didorong menuju kutub ilmu, pengetahuan, kesungguhan, dialog dan pertukaran gagasan serta memanfaatkan seluruh potensi lainnya. Disepakati kiranya, pandangan ideologi dan terbentuknya pemerintahan seperti itu, keduanya akan mengalami keberhasilan.  Ketika terjadi kegagalan pada penerapannya, bisa jadi disebabkan oleh faktor lain.

        Ketika pemerintahan Rasulullah dan Alawi berhasil melaksanakan tugas-tugasnya, hal ini berdasarkan prinsip dan kriteria tersebut.

 

Argumentasi Kedua

        Penelitian historis membuktikan bahwa setiap agama dan pemerintahan yang berada di tangan pemimpin agama, menimbulkan banyak kerugian dalam masyarakat. Di sini, Bazargan membuktikannya dengan berbagai fakta tentang pemerintahan ribuan tahun kekuasaan Paus dan pemerintahan gereja, pemerintahan Umawi, Abasi dan Ustmani, Kesultanan Shafawi dan Qajar.

 

Analisis

Kekeliruan dari argumentasi ini sangat jelas. Karena, adanya perbedaan antara realitas agama dan penyalahgunaaan agama di sisi lain. Jika kenyataannya, agama Tuhan bergandengan dengan politik dan melakukan intervensi dalam urusan sosial. Ketika terjadi penyalahgunaan agama oleh para pemimpin dan aparat, maka- jika hal tersebut dianggap benar sekalipun- tidak bisa menjadi dalil bagi terpisahnya agama dan politik. Sebagai contoh,  para  pakar sebuah bangsa menentukan undang-undang dasarnya dengan seteliti dan seholistik mungkin untuk pemerintahan mendatang. Namun, jika pemerintah ada kalanya menyalahgunakan undang-undang tersebut, hal ini bukan dalil bagi lemahnya hukum, tetapi argumentasi bagi rapuhnya  penerapan hukum tersebut.

        Pada akhirnya pandangan seperti ini, alih-alih  mengkaji al-Quran dan sunnah hingga posisi agama dan relasinya dengan berbagai persoalan sosial dan politik diketahui. Malah, memilih jalan lain dengan menyandarkan pada pendapat pribadi. Agama dipersepsi menurut pandangannya sendiri, dikatakannya agama harus begini dan tidak begitu. Padahal  harus dikaji bagaimana sumber agama berbicara mengenai persoalan tersebut.

 

Pendapat kedua

        Beberapa kalangan, melihat kehadiran agama dalam kancah politik dan arena sosial, harus diminimalisasi dan disempitkan perannya, hanya pada individu dan moral saja. Di sini, mereka mengemukakan  pra justifikasi tertentu sebagai berikut:  

Agama yang diturunkan Tuhan kepada manusia, terdiri dari dua karakter penting. Pertama, pada posisi praktis seperti ”tali” tidak mempunyai arah. Kedua, pada posisi teoritis sebagaimana  alam “diam” dan “bisu”. Maka definisi deskriptif yang tepat, agama merupakan sebuah tali yang diam.

Maksud dari makna “tali” adalah tidak “berarah”. Artinya, pada dasarnya dalam dataran praktis siapapun dengan tujuan dan arah apa pun tidak ditetapkan. Namun maujud yang memiliki arah dan tujuanlah yang menggunakan baik atau buruknya. Manusia yag bertakwa   dapat menggunakan tali ini untuk keluar menyelamatkan diri dari jurang. Sementara manusia  yang tidak bertakwa, mempergunakan media tersebut untuk menuruni dan terjun ke dalam jurang tersebut.[19]   

 

Analisis

Menyoroti pandangan ini, terdapat beberapa kritik mendasar antara lain:

Pertama, jika dikatakan oleh beberapa kalangan bahwa pada dasarnya agama tidak bisa di tarik oleh siapa pun ke arah mana pun.  Di sini, arah tidak  memiliki makna.

        Muncul pertanyaan di benak kita apa maksud penulis, agama tidak ditarik pada arah tertentu ? Jika yang dimaksud adalah bukan “agama dalam format potensi deterministik yang menarik manusia.” Pandangan ini walau pun benar, tetapi tidak ada kaitannya dengan pembahasan kita. Tidak ada agamawan yang meyakini bahwa agama dengan potensi konstrainnya secara praktis menarik manusia. Jika realitas agama demikian, di dunia ini tidak ada orang yang  tidak beragama. Tentu saja hal ini, tidak bernilai. Karena, secara praktis sebuah tindakan harus dilandasi pilihan. Pada akhirnya manusia berada dalam dua jalan, mengikuti perintah Tuhan atau mendahulukan hawa nafsunya. Al-Quran mengisyaratkan tentang iman dengan ikhtiar bukan iman dengan keterpaksaan. Allah Swt berfirman: “Dan Jika Tuhan-mu menghendaki, semua manusia di atas bumi ini beriman pada-Nya, apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya ?” [20]

        Dalam ayat ini, Tuhan tidak menginginkan iman deterministik karena tidak bernilai.

Jika maksud dari pembahasan penafian arah pembagian adalah memberikan arah aturan dan penjelasan, maka tidak diragukan lagi, agama Islam memiliki kategori arah pembagian yang dimaksud dan melalui jalan tersebut arah kehidupan menjadi jelas.

        Tuhan menyampaikan perintah kepada Nabi dalam firman-Nya: “Katakanlah, inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Maha suci Allah dan aku bukan termasuk orang-orang Musyrik”[21]

Al-Quran di dalam ayat lain, menceritakan kalangan yang mengimaninya sebagai petunjuk hidup. Allah Swt berfirman: “…Sesungguhnya kami telah mendengarkan al-Quran yang menakjubkan, yang memberikan petunjuk kepada jalan yang benar, lalu kami beriman padanya. Kami sekali-kali tidak akan memepersekutukan seorang pun dengan Tuhan kami” [22]

Pandangan yang mengatakan bahwa “agama sebagaimana tali dan tiada berarah, yang dengannya bisa keluar dan masuk ke dalam jurang” sepenuhnya  mengalami fallacy. Karena, al-Quran  tidak pernah mengibaratkan agama dengan tali. Tetapi al-Quran memperkenalkannya dengan tali Tuhan atau “hablullah”. Dengan jelas, hal tersebut menunjukan posisinya sebagai sumber keselamatan dari jurang, bukan jatuh ke dalamnya. Oleh karena itu, agama adalah bersambungnya sarana untuk menggapai kesempurnaan dan kebahagiaan, serta keluar dari jurang kebodohan.

Al-Quran dalam posisi memuji persatuan kaum muslimin, menggunakan terma hablullah, sebagaimana firman-Nya: “ Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah padamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah)  bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya padamu, agar kamu mendapat petunjuk.” [23]

jika hablullah al-Matin ini dalam kenyatannya merupakan sebuah tali yang tak bertujuan, tanpa nilai dan seni, mengapa al-Quran mendeskripsikannya dengan “fa anqa dzakum minha”, yakni kamu sebelumnya dalam api, kemudian tali ini  menyelamatkan kamu dari jilatan api.

Kedua, jika yang dimaksud dengan ideologisasi agama, -sebagaimana yang diyakini oleh beberapa kalangan- bahwa agama hadir dalam domain memiliki arah, dalam bentuk ternafikan kondisi keterikatan darinya dan kemungkinan  penyalahgunaannya, dengan tinjauan ini pada dasarnya syarat “takwa” telah terhapus dengan sendirinya. Jika seseorang menginginkan keyakinan langit dan illahi ini ditawarkan dalam  suatu format dimana format itu secara otomatis memiliki tujuan serta darinya hanya dapat diaplikasikan dalam satu model, maka di samping tidak mungkin, juga telah menghapuskan syarat taqwa dan iman.

Analisis seperti ini, beranjak dari adanya tumpang tindih antara hidayah takwini dan hidayah tasyri’i. Keberadaan yang tidak memerlukan takwa adalah hidayah takwini, bukan tasyri’i.

Adanya tujuan sesuatu bermakna hidayah takwini, yang jelas menunjukkan bahwa hal ini tidak memerlukan takwa. Sebagai contoh, itik yang lahir dari sebutir telur, kemudian keluar mencari butiran makanan. Hidayah seperti ini tidak diperlukannya sama sekali, kecuali kecenderungan fitri.

Hidayah tasyri’i memerlukan takwa dan takut kepada Tuhan. Karena, ia tidak akan keluar dari area nasehat dan bahasa. Maka, keberadaan manusia tidak secara otomatis ada dengan sendirinya, karena ia tetap memerlukan sebab yang menghentikan dan menggerakannya.

        Tujuan agama dengan ketakwaan, secara penuh seiring sejalan. Dengan adanya tujuan  di jalan ini, agama menempatkan takwa berupa keadaan takut kepada Tuhan pada posisi sebagai kekuatan internal, yang menyebabkan manusia ditarik menuju arah tertentu, dan menghindar dari penyimpangan ke kiri maupun kanan.

 

Pendapat Lainnya

Syariat, sesuatu yang ‘diam’ dan ‘bisu’, bermakna bahwa dalam batinnya tidak mudah  berada pada setiap orang. Maka tidak setiap orang yang mengkaji Kitab-Nya dan hadis Rasulullah Saw serta para hadis Imam akan memahaminya. Dengan demikian, diperlukan mata dan akal yang jernih terhadap berbagai prinsip dan pertanyaan yang terkait.

Syariat diam dan bisu, namun tidak berarti tanpa kata dan bahasa. Perkataan sendiri ditawarkan kepada yang hadir dan bertanya. Ketika tiada pertanyaan maupun tidak mengetahui apa yang diperlukan, sedikit memperoleh manfaat darinya. Pertanyaan manusia pada setiap zaman senantiasa baru.

 

Analisis

Pada prinsipnya, perlu diketahui terlebih dahulu pengertian dari syariah yang diam dan  berakal budi. Dari sini, diamnya al-Qur’an dan syariah ditafsirkan ke dalam dua perspektif.

Pertama,  para alim yang mumpuni terhadap penguasaan al-Qur’an dan Sunnah. Ketika merujuk pada kedua sumber tersebut, maka apa yang singgah dalam hatinya tidak akan diutarakan.  Dengan demikian, mereka akan terdiam untuk menyampaikan risalahnya.

Jika seperti itu, jelas sekali hipotesis ini gugur. Dengan ini, makna dari turunnya al-Qur’an sebagai petunjuk, tidak memiliki manfaat sama sekali dan tertolak dengan sendirinya.

Kedua,  Adanya beberapa kalangan yang bukan spesialisasinya, yang tidak menguasai  kajian terhadap kitab dan sunnah melakukan penilaian terhadap agama dan syariah dan mengambil manfaat dari keduanya.  Mereka, bukan hanya tidak mendapatkan manfaat dari al-Qur’an dan sunnah. Bahkan, al-Qur’an menolak dan menutup jalannya. Karena, tanpa kelayakan dalam kriteria pemahaman agama dan syariah, al-Qur’an dan sunnah tidak mengungkapkan rahasianya sendiri.  Dalam makna ini, al-Qur’an diam. Bukan untuk kalangan pertama, tetapi bagi kalangan kedua.

Sejatinya, jika al-Qur’an yang berhadapan dengan kelompok pertama diam, lalu apa makna dari penyataan tersebut.

Dalam al-Quran,  Allah Swt berfirman, “… (al-Qur’an) membenarkan  apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab selain itu…”[24]

“Sesungguhnya al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka mendapatkan pahala yang besar”[25]

“Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an sebagai  pelajaran, maka adakah orang-orang yang mengambil pelajaran ?”[26]

Nampaknya terjadi kontradiksi antara pemahaman al-Qur’an yang mudah dipahami, dengan pengertian al-Qur’an yang diam.

Al-Qur’an tidak hanya menjadi petunjuk bagi kaum muslimin, tetapi sumber yang merupakan neraca antara hak dan batil bagi kitab terdahulu. Ketika para ulama Yahudi dan Kristen, mengharapkan Taurat dan Injil bebas penyimpangan yang memasukinya. Kedua kitab tersebut, harus dikonfirmasikan dengan al-Qur’an, hingga menemui kebenaran. Maka, jelaslah al-Qur’an  tidak hanya untuk kaum muslimin. Bahkan, bagi kaum kafir sekalipun, terdapat pesan di dalamnya.

Jika  kita berkaca pada sabda Imam Ali As, sebagai sosok Imam yang berbicara sedangkan al-Qur’an sebagai imam yang diam. Maka, al-Qur’an secara mandiri merupakan peran yang tertulis dalam kertas. Sedangkan para alim sejati dan orang-orang yang mengenal lisan wahyu, mengungkapkannya. Di sini, Imam Ali As dalam salah satu khutbahnya menjelaskan:

Inilah al-Quran  yang akan berbicara, selamanya  ia sendiri tidak berbicara[27]

Dalam pengadilan, terdapat undang-undang sangat banyak, namun hanya dengan adanya peraturan saja tidak cukup. Tetapi, harus ada hakim yang memutuskannya, hingga aturan tersebut memiliki peran.

Berangkat dari sini, selain al-Qur’an terdapat alim natiq yang menyampaikannya. Hal ini, di luar al-Qur’an yang diam, sehingga  tidak cukup diperoleh manfaat darinya.

 

Pendapat Akhir

Benar kiranya, pandangan yang meyakini bahwa dunia ini dikelola secara rasional oleh orang-orang yang berakal. Dalam realitasnya, hingga saat ini pun demikian. Fiqih program, tidak pernah memperlihatkan hasilnya. Bahkan,  program fiqhi hanyalah sebuah kontradiksi yang kontras. Padahal, hanya fiqih yang menjadi wajah paling ril dan dekat  hubungannya dengan unsur-unsur agama dalam kehidupan.  Dalam hal ini, fiqih merupakan ilmu tentang cabang hukum. Maka jelas sekali, fiqih menjadi penjamin berbagai ketentuan hukum, perintah dan larangan untuk seluruh perilaku sosial maupun individual. 

Siapa pun yang menyakini bahwa agama memiliki program untuk kehidupan dunia ini, akan menyandarkannya pada ketentuan fiqih yang berkaitan dengan ekonomi dan politik. Namun, pandangan ini  masih bisa diperdebatkan.

Di sini, kita menjadikan fiqih sebagai titik tekan dan analisis, meskipun dalam area akhlak dan akidah tidak demikian.[28]

  Pandangan yang meyakini bahwa  alam harus diatur dan dikelola secara rasional oleh orang-orang yang berakal, merupakan pendapat yng kuat. Namun, yang menjadi pertanyaan, hal ini berada dalam lingkup hukum dan prinsip aturan yang mana? Di sinilah, kedua kalangan terpisah. Para penganut agama Islam, mengatakan bahwa orang-orang yang berakal, harus menyusun dan merencanakannya berdasarkan  prinsip aturan Ilahi.

Jika dikatakan bahwa fiqih hanyalah hukum, bukan program. Nampaknya, hal ini tidak penting. Benar, fiqih merupakan hukum, namun program sebagai jubah implementasinya. Dalam prinsip hukum, fiqih sangat urgen dan kami sudah menyampaikan keberatan dengan adanya pemisahan antara  keduanya.

 

Penantian Agama Terhadap Manusia

Mengikuti alur penjelasan ketiga isu sebelumnya,[29] nampaknya tidak perlu lagi mengupas isu keempat, tentang “Penantian Tuhan terhadap Manusia”. Karena, dengan penjelasan tujuan di utusnya para Nabi, yang hakikatnya berujung simpul pada kebahagiaan dunia dan akhirat, penantian agama terhadap manusia menjadi jelas.

        Terma “agama” dalam diskursus yang lalu, kembali pada rahasia pemilik agama itu sendiri, yaitu Tuhan pencipta manusia serta alam semesta. Terminologi “Penantian Tuhan terhadap manusia”, jika memang tepat digunakan, mengandung pengertian bahwa Tuhan mengharapkan manusia menempuh jalan kesempurnaan, melalui jalan tauhid dan manifestasi sifat-sifat-Nya. Dialah Tuhan yang maha mengetahui dan kuasa, maha melihat dan mendengar, maha adil serta bijaksana. Manusia juga menjadi manifestasi sifat-sifat Tuhan tersebut, sesuai dengan kapasitas eksistensi mungkinnya sendiri.

        Penantian agama terhadap manusia adalah berbagai upaya menerapkan hukum-hukum Tuhan dalam mencapai kebahagiaan dunia sebagai pengantar menuju kebahagiaan akhirat, mengindahkan tapal batas agama serta tidak memperturutkan hawa nafsu.

        Kami akan menuntaskan pembahasan sampai di sini. Barangkali, tema ini dapat dikembangkan hingga persoalan sebenarnya menjadi jelas.

 

 


 


[1] Doktor Abdullah Nashri merupakan salah seorang penulis mumpuni di Iran, ia menulis sebuah buku dengan tema serupa setebal 303 halaman yang diterbitkan oleh Yayasan Kebudayaan, Ilmu dan Pemikiran kontemporer. Penulis tidak hanya mengutip berbagai gagasan para pemikir, bahkan ia juga melakukan analisis dan kritik terhadap beragam  pendapat tersebut.

[2]. Jame’eh Syenâsi Din  hal. 205.

[3] Âyandeh Yek Fendâr, hal. 179.

[4] Fard wa Jâme’eh-hâye Imruzi hal. 7-9.

[5] Din Dardân hal 178.

[6] Majalah Naqd wa Nazar, edisi 6, hal 35.

[7] Tafakkur dini dar Qarn-e Bistum, hal 233-249

[8] Qs. Maryam, 19:93

[9] Qs. Al-Mu’minun, 23: 71.

[10] Âgha-ye Muhandes Bazargân

[11] Qs. al-Anfal, 8: 60.

[12] Qs. al-Baqarah, 2: 275.

[13] Qs. al-Baqarah, 2:275.

[14] Muhandes Bazargan, Mazahib dar Eropa  Tabriz, Penerbit Soroush, , 1343 Hs: hal 17

[15] Ibid

[16] Ihtiyaj Ruz cetakan ketiga hal. 39-40

[17] ibid

[18] Di antara kebanggaan sejarah yang melekat padanya adalah untuk pertama kalinya pasca peristiwa bulan Syahrivar 1320 Hs, ia mengobarkan semangat keagamaan di kampus.

[19] Âkhirat, Khodâ, wa Bi’tsat-e Anbiyâ, hal. 6, 80, 97, 98,102.

[20] Qs. Yunus, 10 :99

[21] Qs. Yusuf, 12:108

[22] Qs. al-Jin, 72:1-2

[23] Qs. ali-Imran, 3:103

[24] Qs. al-Maidah, 5 :48.

[25] Qs.al-Isra, 17 :9.

[26] Qs.al-Qamar, 54 :17.

[27] Nahj  al-Balaghah  Khutbah 158.

[28] Mudara va Mudiriyat  hal. 253

[29] Pertama, Penantian Manusia terhadap agama. Kedua,  Agama  Mencerahkan Kehidupan. Ketiga,  Duta Tuhan ke atas Manusia.

16 Juli 2012

Shalat Syariat dan Shalat Tariqat

oleh alifbraja

Mengenai shalat, sebagaimana telah diketahui yaitu di dalam Al-Quran:

“Hendaklah kamu menjaga shalat-shalatmu dan shalat wustha (yang di tengah)” (Al-Baqarah: 238).

Yang dimaksud dengan shalat syariat ialah shalat seluruh badan yang zahir dengan gerakan tubuh, seperti: badan berdiri, lidah membaca, ruku’, sujud, duduk, mengeluarkan suara dan bacaan-bacaan. Oleh karena itu di dalam Al-Quran disebut shalawat (beberapa shalat).

Adapun shalat tariqat adalah shalatnya hati selama-lamanya, sebagaimana tersebut dalam Al-Quran “Shalat Wustha”, yaitu shalat hati, karena hati berada di tengah badan; antara kanan dan kiri; antara atas dan bawah; antara bahagia dan celaka.

Rasul bersabda:

“Sesungguhnya hati manusia ada di antara dua jari-jari Allah. Allah membolak-balikkannya sesuai dengan kehendak-Nya”.

Yang dimaksud dengan dua jari Allah ialah dua sifat Allah, yaitu: 1. Memaksa; 2. Pengasih. Dari ayat dan Hadits ini diketahui bahwa shalat yang pokok adalah shalat hati. Bila shalat hati dilupakan, maka rusaklah shalatnya; dan bila rusak shalatnya, rusak pula shalat seluruh badannya. Sabda Rasul: “Tidaklah sah shalat seseorang kecuali disertai dengan hadirnya hati”. Sesungguhnya orang yang shalat itu sedang bermunajat (berdialog) dengan Tuhannya. Alat untuk munajat adalah hati. Bila hati lupa maka batallah shalatnya dan shalat badannya, karena hati sebagai pokok utama dan anggota badan yang lain mengikutinya.

Rasul bersabda:

“Sesungguhnya di dalam jasad manusia ada segumpal daging. Bila ia baik, sekujur badan akan ikut baik dan bila ia buruk, sekujur badan pun menjadi buruk. Itulah hati”.

Shalat syariat mempunyai waktu tertentu di dalam satu hari satu malam lima kali. Sunatnya shalat syariat dilakukan di masjid dengan berjamaah sama-sama menghadap Ka’bah dan mengikuti Imam, tanpa riya’ dan sum’ah.

Shalat tariqat dilakukan selamanya tanpa batas waktu selama hidup di dunia dan akhirat. Masjidnya adalah hati. Berjamaahnya ialah terpadunya kesucian batin dengan selalu memperdengarkan tauhid dengan lisan batin. Imamnya adalah rasa rindu di dalam hati untuk sampai kepada Allah. Kiblatnya ialah Hadirat Allah Yang Maha Tunggal dan Keindahan Ketuhanan. Itulah kiblat yang hakiki. Hati dan ruh selamanya tidak terlepas dari shalat ini.

Hati tidak pernah tidur dan tidak akan mati, tetapi ia selalu punya kegiatan di saat tidur maupun terjaga. Shalat hati dilakukan dengan hidupnya hati tanpa suara, berdiri dan duduk; ia selalu berhadapan dengan Allah dan senantiasa siaga dengan ucapan: “Kepada-Mu kami beribadah dan kepada-Mu kami memohon pertolongan, dan mengikuti Nabi Muhammad s.a.w. karena begitulah keadaan Nabi.

Di dalam Tafsir Al-Qadhi disebutkan bahwa ayat ini merupakan isyarat tentang hati seseorang yang sudah ma’rifat kepada Allah, yang telah berpindah dari keadaan ghaib (memandang Allah ghaib) beralih kepada hadrat Ahadiyat (selalu merasa bersama Allah). Sesuai dengan sabda Rasul dalam Haditsnya: “Para Nabi dan para wali selalu shalat, walau terlah berpindah alam (wafat), seperti halnya mereka shalat di rumahnya”, yakni mereka selalu bermunajat dengan Allah karena hatinya yang sudah hidup.

Bila dua shalat telah berpadu (shalat syariat dan shalat tariqat) lahir dan batin, maka sempurnalah shalat itu dan pahalanya pun sangat besar. Qurbah (dekat dengan Allah) diraih oleh shalat ruhaniyahnya dan darajat (surga) diraih oleh shalat badannya, maka orang yang melakukan shalat seperti ini berarti ia lahiriyahnya ahli ibadah, dan batinnya Arif Billah (yang ma’rifat kepada Allah). Dan bila shalat tak berpadu antara shalat syariat dan shalat tariqat dengan hati yang hidup, maka shalatnya shalat yang kurang dan pahalanya pun hanya mendapatkan darajat, tidak mendapat Qurbah.

13 Juli 2012

Takdir dan Usaha

oleh alifbraja

Takdir adalah ketentuan suatu peristiwa yang terjadi di alam raya ini yang meliputi semua sisi kejadiannya baik itu mengenai kadar atau ukurannya, tempatnya maupun waktunya. Dengan demikian segala sesuatu yang terjadi tentu ada takdirnya, termasuk manusia.
Umat Islam memahami takdir sebagai bagian dari tanda kekuasaan Tuhan yang harus diimani sebagaimana dikenal dalam Rukun Iman. Penjelasan tentang takdir hanya dapat dipelajari dari informasi Tuhan, yaitu informasi Allah melalui Al Quran dan Al Hadits. Secara keilmuan umat Islam dengan sederhana telah mengartikan takdir sebagai segala sesuatu yang sudah terjadi.
Untuk memahami konsep takdir, jadi umat Islam tidak dapat melepaskan diri dari dua dimensi pemahaman takdir. Kedua dimensi dimaksud ialah dimensi ketuhanan dan dimensi kemanusiaan
Pada masa nubuah,wujud”Lauh”yang dikenal oleh para sahabat adalah sebidang papan atau tulang yang biasa ditulisi.Papan dan tulang itu hanya disebut Lauh jika sudah ditulisi.Sedangkan “Qalam”adalah alat tulis atau pena. Pada masa itu”Qalam”berupa bulu unggas yang dipakai untuk menulis setelah dicelupkan ke tinta terlebih dahuluatau sebatang ranting/ kayu yang diruncingkan untuk mengores “Lauh”. Demikianlah penggambaran yang diberikan oleh Ibnu Manzhur dalam kitab “Lisanul Arab”.
Mengenai Lauh Mahfuzh (Lauh yang selalu dijaga) dan pena yang telah menulisinya ada sebuah atsar marfu’dari Ibnu ‘Abbas .Beliau berkata,”sesungguhnya Allah menciptakan Lauh Mahfuzh dari mutiara putih. Kedua sampulnya dari permata yaqut merah.Qalamnya adalah cahaya,tulisanya adalah cahaya, dan lebarnya sejarak antara langit dan bumi,”
Tulisan pada Lauh Mahfuzh
Takdir Allah untuk setiap dan semua mahluk bresifat azali. Sebelum Allah menciptakan semua mahluk-temasuk Qalam dan Lauh Mahfuzh-Allah sudah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh setiap makhluk. Kemudian pada masa 50.000 tahun sebelum Allah menciptakan langit dan bumi Allah mencitakan Qalam,lalu diperintahkanya Qalam untuk menulis semua takdir. Hal ini dapat kita pahami dari kedua hadist berikut ini:
“Allah menulis takdir pada mahkluk 50.000 tahun sebelum diciptakanya semua langit dan bumi.”(H.R.Muslim dari Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash)
“Benda pertama yang diciptakan oleh Allah adalah pena.Allah berfirman,’Tulislah!’Pena menjawab,’Apa yang aku tulis?’Allah berfirman,’Tulislah takdir yang telah terjadi dan akan terjadi selamanya!’.”(H.R.at-Tirmidziy dan dinyatakan shahih oleh al-Albaniy)
Hal ini juga telah Allah terangkan di dalam al-Qur’an. Allah berfirman,
“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kamami menciptakanya.Sesungguhnya Allah mengetahuinya apa saja yang ada dilangit dan dibumi? Bahwasanya yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab (Lauh Mahfuzh).Sesungguhya yang demikian itu amat mudah bagi Allah.”(Q.S.al-Hajj:70)
Apa yand terjadi diseluruh alam dijadikan oleh Allah dengan iradah dan masyiah-Nya yang berporos pada rahmat dan hikmah-Nya. Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dia kehendaki tersesat dengan hikmahNya.semua itu dan semua takdir telah ditulis didalam Lauh Mahfuzh.tidak ada seorang pun yang terlewatkan.Apa yang telah terjadi dan akan terjadi sampai hari kiamat. Dan saat kejadianya,semuanya persis seperti apa yang tertulis disana. Tidak sesuatu pun yang bergeser.Ini adalah bukti kesempurnaan ilmu,kuasa dan hikmah Allah.

Dimensi Ketuhanan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang menginformasikan bahwa Allah maha kuasa menciptakan segala sesuatu termasuk menciptakan Takdir.
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir ,Yang Zhahir dan Yang Bathin (Al Hadid / QS. 57:3). Allah tidak terikat ruang dan waktu, bagi-Nya tidak memerlukan apakah itu masa lalu, kini atau akan datang).
Dia (Allah) telah menciptakan segala sesuatu dan sungguh telah menetapkannya (takdirnya) (Al-Furqaan / QS. 25:2)
Apakah kamu tidak tahu bahwa Allah mengetahui segala sesuatu yang ada di langit dan bumi. Sesungguhnya itu semua telah ada dalam kitab, sesungguhnya itu sangat mudah bagi Allah (Al-Hajj / QS. 22:70)
Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya (Al Maa’idah / QS. 5:17)
Kalau Dia (Allah) menghendaki maka Dia memberi petunjuk kepadamu semuanya (Al-An’am / QS 6:149)
Allah menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat (As-Safat / 37:96)
Dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan (Luqman / QS. 31:22). Allah yang menentukan segala akibat (Kausalitas).

Dimensi kemanusiaan

Dimensi ini merupakan sekumpulan ayat-ayat dalam Al Quran yang meginformasikan bahwa Allah memperintahkan manusia untuk berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mencapai cita-cita dan tujuan hidup yang dipilihnya.
Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia (Ar Ra’d / QS. 13:11)
(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (Al Mulk / QS. 67:2)
Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Nasrani, Shabiin (orang-orang yang mengikuti syariat Nabi zaman dahulu, atau orang-orang yang menyembah bintang atau dewa-dewa), siapa saja di antara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian, dan beramal saleh, maka mereka akan menerima ganjaran mereka di sisi Tuhan mereka, tidak ada rasa takut atas mereka, dan tidak juga mereka akan bersedih (Al-Baqarah / QS. 2:62). Iman kepada Allah dan hari kemudian dalam arti juga beriman kepada Rasul, kitab suci, malaikat, dan takdir.
… barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir… (Al Kahfi / QS. 18:29)

Implikasi Iman kepada Takdir

Kesadaran manusia untuk beragama merupakan kesadaran akan kelemahan dirinya. Terkait dengan fenomena takdir, maka wujud kelemahan manusia itu ialah ketidaktahuannya akan takdirnya. Manusia tidak tahu apa yang sebenarnya akan terjadi. Kemampuan berfikirnya memang dapat membawa dirinya kepada perhitungan, proyeksi dan perencanaan yang canggih. Namun setelah diusahakan realisasinya tidak selalu sesuai dengan keinginannya. Manuisa hanya tahu takdirnya setelah terjadi.
Oleh sebab itu sekiranya manusia menginginkan perubahan kondisi dalam menjalani hidup di dunia ini, diperintah oleh Allah untuk berusaha dan berdoa untuk merubahnya. Usaha perubahan yang dilakukan oleh manusia itu, kalau berhasil seperti yang diinginkannya maka Allah melarangnya untuk menepuk dada sebagai hasil karyanya sendiri. Bahkan sekiranya usahanya itu dinialianya gagal dan bahkan manusia itu sedih bermuram durja menganggap dirinya sumber kegagalan, maka Allah juga menganggap hal itu sebagai kesombongan yang dilarang juga (Al Hadiid QS. 57:23).
Kesimpulannya, karena manusia itu lemah (antara lain tidak tahu akan takdirnya) maka diwajibkan untuk berusaha secara bersungguh-sungguh untuk mencapai tujuan hidupnya yaitu beribadah kepada Allah. Dalam menjalani hidupnya, manusia diberikan pegangan hidup berupa wahyu Allah yaitu Al Quran dan Al Hadits untuk ditaati.
Memahami Takdir Illahi. Di dalam memahami takdir Illahi, setiap manusia harus merujuk pada apa yang terdapat dalam Rukun Iman yang telah di paparkan dalam Hadis Rasulullah Saw yakni Percaya pada Allah, kepada malaikat-malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir dan percaya pada Qada dan Qadar-Nya. Keenam poin yang termaktup dalam Rukun Iman di atas harus kita yakini seyakin-yakinya, guna melahirkan dan menumbuhkan ketabahan dan kesabaran yang penuh di dalam menerima ujian dan cobaan dari Allah Swt, karena tidak ada manusia yang tidak luput dari cobaan dan ujian. Dan mewujudkan kepercayaan yang tinggi bahwa dalam penciptaan manusia, Allah Swt menetapkan apa yang di sebutkan agama dengan langkah, rezeki, pertemuan dan maut. Serta segala sesuatu yang baik ( kenikmatan ) atau segala sesuatu yang buruk (bencana maupun musibah).
Lima poin di atas kebanyakan dari manusia khususnya manusia muslim mungkin sudah bisa merealisasikanya dengan baik dan benar melalui amal ibadah kita sehari-hari. Apakah itu amalan yang di kerjakan secara munfarit (sendiri) atau berjamaah, saling sehat-menasehati dan menaburkan kebaikan yang kesemuanya itu terangkum dalam ber-Amar Makruf dan ber-Nahi Mungkar. Dengan satu pengharapan, keridhoan dan pahala dari Allah Swt. Lalu bagaimana dengan poin ke enam mengimani dan mempercayai adanya takdir dalam bentuk Qada & Qadar yang di voniskan Allah Pada umat manusia?, bagaimana pula kita memahami dan mengimaninya ? sehingga apapun bentuk takdir apakah itu baik atau buruk, rasa syukur dan optimis tetap di terapkan dalam hidup dan kehidupan ini, dengan satu tekad Allah pun pasti memberikan jalan keluarnya.
Mengimani takdir Ilahi atau Qada & Qadar akan memberikan pelajaran pada manusia, bahwa segala sesuatu yang telah dan yang akan terjadi di jagat raya ini sudah sesuai dengan kebijaksanaan yang telah di gariskan oleh zat yang maha tinggi. Sebagai muslim sejati kita dituntut untuk mentaati, menerima dan mematuhi. Seperti yang di firmankan Allah Swt dalam Qs Al Ahzab-36 “ Dan tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan tidak pula bagi perempuan mukmin, apabila Allah dan rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan yang lain tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia berada dalam kesesatan yang nyata “
Setiap manusia memiliki ketentuan/ketetapan yang telah di gariskan Allah dalam hidupnya, seperti yang di tegaskan Allah dalam Qs Ahzab-36 di atas. Namun memahami takdir ( Qada & Qadar ) acap kali melahirkan ketidak cocokan dan kesalahpahaman. Oleh karena itu untuk menyingkapinya kembali suatu keharusan memperhatikan dengan seksama (Al Quran dan Hadis Saw ) yang menjelaskan akan hal tersebut. Agar kita bisa meluruskan segala hal yang terjadi sesuai dengan sikap positif dalam Islam ( Positive Thinking ).
Kalimat Qada & Qadar berasal dari bahasa Arab yang memiliki beberapa makna di antaranya Qada yang berati “Hukum” atau “Keputusan”. Hal ini dapat kita pahami dalam Qs An Nisaa-65 “ Maka demi tuhan mereka pada hakekatnya tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. Dalam menerima suatu keputusan/ketetapan apalagi yang datangnya dari Allah Swt keikhlasanlah yang akan di tuntut dari seoraqng hamba. Qada, yang berarti juga “Kehendak” atau “Menjadikan” yang di maksud di sini telah di terangkan Allah Qs Ali Imran-47 “ Maryam berkata yaa tuhanku apakah mungkin aku mempunyai anak, padahal aku belum pernah di sentuh oleh seorang laki-laki manapun, Allah berfirman ( dengan perantaraan Jibril ) Demikianlah Allah menciptakan apa yang di kehendakinya. Apabila Allah berkehendak untuk menciptakan sesuatu maka Allah hanya cukup berkata “Jadilah” lalu jadilah dia”. Hal ini juga dapat kita lihat dalam Qs Fushshilat-12, yang mengupas tentang ketentuan Allah terhadap alam semesta dan jagat raya ini.
Begitu juga dengan kalimat Qadar yang bermakna “Ukuran” firman Allah dalam Qs Ar Ra’d-17 yang menjelaskan bagaimana Allah Swt mengumpamakan yang benar itu sebagai air atau logam yang bermanfaat, sedangkan yang buruk/bathil itu sama dengan buih/sisa, tahi logam yang akan lenyap dan tidak ada guna sama sekali bagi manusia. Qadar Allah juga berarti “Kepastian” “Lalu Kami tentukan bentuknya maka Kami sebaik-baik yang mementukan ( Qs Al Mursalat-23 ). Sedangkan dalam bahasa Indonesia Qada & Qadar dalam artian sederhananya biasa kita sebut dengan Takdir Ilahi atau ketentuan Allah Taalla.
Pernah seorang teman mengeluh saat ia mendapat cobaan berkali-kali. “Mengapa ya Tuhan tidak bersikap adil kepada saya? Sampai sekarang saya masih saja menderita. Takdir saya buruk sekali! Mengapa Tuhan tidak kasihan kepada saya?”
Saat itu saya tidak mau menjawab persoalan yang tidak mudah ini. Saya hanya katakan agar ia bersabar terhadap ujian Allah SWT itu. Mudah-mudahan itu akan menjadi kafarat atas berbagai dosa dan jadi tabungan baik di akhirat kelak.
Namun tetap saja ia tidak puas dan masih tetap mengeluh, “Saya sudah lakukan semua perintah Allah. Setiap hari saya berdoa agar saya dilepaskan dari berbagai derita. Namun tetap saja Allah tak mendengar dan tak mau mengabulkan do’a saya.”
Bagaimana Anda menjawab persoalan pelik ini?
Ini memang bukan teka-teki hidup yang mudah kita pahami. Banyak rahasia Allah SWT yang tidak bisa ditembus oleh ketinggian pengetahuan dan teknologi manusia. Apa arti dari semua peristiwa kehidupan ini? Mengapa tiba-tiba turun bencana besar yang menghabiskan segalanya dan menewaskan ribuan manusia? Mengapa Amerika dan Israel yang menguasai dunia? Mengapa orang jahat lebih kaya dan lebih sejahtera hidupnya, sementara orang-orang baik dan suci menderita? Mengapa koruptor besar itu dibebaskan? Mengapa perbuatan baik kita tidak mendapat ganjaran sepadan? Mengapa para Nabi bisa dibunuh? Mengapa mereka tidak menang saja? Apakah Tuhan tidak menolong mereka?
Pasti banyak pertanyaan-pertanyaan besar seperti itu yang susah untuk bisa kita jawab. Sebelum saya melanjutkan diskusi ini, saya ingin mendapat masukan Anda semua, para pembaca.
Silakan berkontribusi ya!
Sambil menunggu pendapat yang lain, saya coba kutip satu masukan menarik tentang apa itu takdir, yang saya peroleh dari buku “Anak, Antara Kekuatan Gen dan Pendidikan”, karangan Prof. Muhammad Taqi Falsafi.
Disitu diambil sebuah ilustrasi tentang seseorang yang mencoba menjatuhkan dirinya dari atas sebuah gedung bertingkat tinggi ke sebuah batu marmer yang keras. Orang tua itu berkata, “Kalau memang sudah ditakdirkan mati, maka saya akan mati. Dan jika ditakdirkan hidup, pasti saya akan tetap hidup.”
Menurut Prof. Falsafi, sungguh orang ini telah keliru besar memahami persoalan takdir. Katanya, Allah SWT telah mempunyai takdir-takdir paksaan dalam masalah ini dan juga punya takdir ikhtiar di sisi yang lain.
Adapun takdir paksaan dalam masalah ini adalah:
1. Qadha dan qadar Allah telah menjadikan marmer sebagai batu keras dan kuat
2. Tengkorak kepala manusia diciptakan (berdasarkan qadha dan qadar Allah) dari tulang yang lembut dan berpotensi untuk pecah.
3. Qadha dan qadar Allah telah menetapkan adanya hukum gravitasi yang akan membuat benda jatuh ke tanah.
4. Qadha dan qadar Allah memutuskan bahwa setiap orang yang melemparkan diri dari ketinggian ke tanah yang keras, niscaya tulangnya akan hancur berantakan dan otaknya berhamburan keluar.
5. Qadha dan qadar Allah juga memutuskan bahwa setiap manusia harus mati ketika otaknya hancur.
6. Qadha dan qadar Allah jua telah memutuskan bahwa manusia mempunyai kehendak dan ikhtiar/pilihan. Ia bisa menjatuhkan dirinya lalu mati, atau menahan diri untuk tidak melakukan bunuh diri itu, lalu turun menuruni tangga dengan selamat.
Lalu beliau mengutip satu riwayat dari Ibnu Nabatah, bahwa Ali bin Abi Thalib kw, pernah pada suatu hari berpindah dari satu tembok ke tembok yang lain. Para sahabat menegur beliau, “Wahai Amirul Mukminin, apakah Anda lari dari qadha Allah?” Imam Ali menjawab, “Saya lari dari qadha Allah menuju qadar Allah Azza wa Jalla.”
Maka, kalau kedua kalimat di atas di konotasikan dengan Allah akan menjadi Qada Allah dan Qadar Allah yang mengambarkan konotasi yang saling mengisi dan melengkapi yang bersifat tetap, istilah agamanya di kenal dengan “Sunatullah” atau segala sesuatu bergerak sesuai dengan ketentuan dan kehendak dari sang maha pencipta dan maha mengetahui. Jelasnya kita sebagai manusia yang di beri akal, pikiran dan hati dapat mementukan pilihan dalam berbagai masalah, sebagai khalifah dalam kebebasan tersebut yang di berikan Allah dalam hal iman atau kafir, baik atau buruk, sorga atau neraka. Namun dalam hal tertentu pula baik di dunia maupun di akherat akan di gariskan pula oleh Allah Swt.
Di dalam memahami Takdir Illahi atau Qada & Qadar Al Quran Nul Karim dan sunah Rasulullah Saw memberikan beberapa tahapan yang harus di kaji lewat pemahaman yang mendalam dari manusia, agar manusia itu tidak terjerembab masuk ke lumpur dosa dan rasa keputus asaan akibat rasa pesimis dalam menerima takdir tersebut. Di antaranya : Al-Iim (pengetahuan) yaitu mengimani dan meyakini bahwa Allah itu maha tahu atas segala sesuatu apa-apa yang ada di langgit dan di bumi. Baik secara umum maupun secara terperinci dan detail, baik perbuatan yang di nampakan maupun yang tersembunyi, baik perbuatan-Nya, perbuatan makhlik-Nya dan tak ada sesuatupun yang tersembunyi bagi-Nya.
Al Kitabah ( Penulisan ) yaitu mengimani bahwa Allah Swt telah menuliskan ketetapan segala sesuatu dalam Lauh Mahfuzh yang ada di sisi-Nya. Allah Swt berfirman dalam Qs Al Hajj-70 “ Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langgit dan di bumi, bahwa yang demikian itu terdapat dalam sebuah kitab ( Lauh Mahfuzh ) bagi Allah. Mengenai Ayat ini pernah di pertanyakan pada Rasulullah Saw, mengapa kita mesti berusaha dan tidak pasrah, nrimo saja dengan takdir, garis, nasib yang telah tertulis yaa Rasulullah ?. Beliau Saw memjawab, berusahalah kalian, masing-masing akan di mudahkan menurut takdir yang telah di tentukan baginya. Seperti yang di firmankan Allah Swt dalam Qs Al Lail ayat 5-11 “Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah bertaqwa, membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga). Maka, kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah dan adapun orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup maka kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila dia telah binasa (mati). Manusia hanya bisa berusaha semaksimal mungkin, Allah Swt yang menentukan segalanya. Musibah dan bencana dalam bentuk dan rupa apapun merupakan takdir Illahi yang akan di alami setiap orang tidak ada yang bisa mengelak dari hal ini.
Pemahaman yang lain yang harus kita miliki dalam mengimani takdir Ilahi adalah Al Masyi’ah (kehendak) dari Allah Swt lihat Qs At Takwir-28-29 yang menerangkan bahwa kehendak Allah yang berlaku secara mutlak terhadap alam semesta ini. Al Khalq (Penciptaan) yaitu mengimani bahwa Allah Swt pencipta dari segala sesuatu, apa yang ada di langgit dan di bumi penciptanya tiada lain adalah Allah Swt sampai pada kematian dengan sebab apapun di ciptakan Allah Aza Wajalla. (lihat Qs Al Mulk-2.)
Dengan segala keterbatasan dan kekuarangan yang kita punyai sebagai manusia di sela-sela kelebihan yang di miliki Allah, hendaknya selalu menjadi renungan bagi diri untuk selalu mematuhi segala perintah dan larangan-Nya. Semoga takdir dan keadaan yang buruk dan menyusahkan di jauhkan Allah dalam kehidupan kita. Dengan memantapkan Ikhtiar dengan sungguh-sungguh serta suatu keyakinan bahwa apa-apa yang kita inginkan tidak akan datang dengan sendirinya. Namun, untuk meraih itu semua di butuhkan usaha dengan benar dan penuh kesabaran sambil bertawakal dan menyerahkan diri pada Allah Swt yang mengendalikan kebaikan dan keburukan itu.
Kalau hal ini sudah tertanam dalam jiwa, hati dan pikiran serta selalu berlaku sabar, maka pemahaman kita terhadap Takdir Ilahi dalam warna Qada & Qadar Insya Allah akan membwa kita pada jenjang iman dan taqwa di bawah lindungan sang Ilahi Rabbi, menanamkan kesadaran dalanm diri bahwa memang Dialah di atas segala-galanya. Serta senantiasa menyadari dan menerima realita, membangun kesabaran yang mantap yang akan menjadi pemicu dalam berusaha dengan bekal keoptimisan diiringi dengan doa dan tawakal pada-Nya. Diri kita ini seakan tiada berarti, ibarat sebutir debu di tenggah padang pasir yang luas tak bertepi, berhadapan dengan kemaha kuasaan dan kemaha perkasaan Allah Aza Wajalla… Allah Huu A’llam.

7 Juli 2012

Kabar Kehancuran Benua Atlantis di Al Qur’an

oleh alifbraja
Ini artikel yang saya temukan di Internet, entah siapa penulisnya, mungkin ada benarnya penisbahan ayat-ayat al-Qur’an yang dikutipnya dengan kejadian Kemusnahan peradaban Atlantis dulu (11.600 tahun yang lalu). Untuk melengkapi kajian dan penelitian tentang Peradaban Atlantis. Semoga bisa diambil pelajaran darinya. (Red. Ahmad Samantho)
Kabar kehancuran benua Atlantis di Al Quran :
Maka dimusnahkanlah mereka oleh suara yang mengguntur dengan hak dan Kami jadikan mereka (sebagai) sampah banjir, maka kebinasaanlah bagi orang-orang yang zalim itu.
QS. al-Mu’minun (23) : 41
Kemudian Kami ciptakan sesudah… mereka umat-umat yang lain.
QS. al-Mu’minun (23) : 42
Maka apakah kamu merasa aman (dari hukuman Tuhan) yang menjungkir balikkan sebagian daratan bersama kamu atau Dia meniupkan (angin keras yang membawa) batu-batu kecil? Dan kamu tidak akan mendapat seorang pelindung pun bagi kamu.
QS. al-Isra’ (17) : 68
Atau apakah kamu merasa aman dari dikembalikan-Nya kamu ke laut sekali lagi, lalu Dia meniupkan atas kamu angin taupan dan ditenggelamkan-Nya kamu disebabkan kekafiranmu. Dan kamu tidak akan mendapat seorang penolongpun dalam hal ini terhadap (siksaan) Kami.
QS. al-Isra’ (17) : 69
 
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
QS. al-Isra’ (17) : 70
Maka (masing-masing) mereka mendurhakai Rasul Tuhan mereka, lalu Allah menyiksa mereka dengan siksaan yang sangat keras. QS. al-Haqqah (69) : 10 Sesungguhnya Kami, tatkala air telah naik (sampai ke gunung) Kami bawa (nenek moyang) kamu ke dalam bahtera,
QS. al-Haqqah (69) : 11
agar Kami jadikan peristiwa itu peringatan bagi kamu dan agar diperhatikan oleh telinga yang mau mendengar.
QS. al-Haqqah (69) : 12
Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (suatu mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.
(QS. 17:16)
Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, akan tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.
(QS. 12:111)
MAHA BENAR ALLAH DGN SEGALA FIRMANNYA..
.
Di buku The lost continent finally found nya Arysio Santos, atlantis juga disebut Atala Dari Indonesialah lahir bibit-bibit peradaban yang kemudian berkembang menjadi budaya lembah Indus, Mesir, Mesopotamia, Hatti, Junani, Minoan, Crete, Roma, Inka, Maya, Aztek, dan lai…n-lain. Budaya-budaya ini mengenal mitos yang sangat mirip.

Nama Atlantis diberbagai suku bangsa disebut sebagai Tala, Attala, Patala, Talatala, Thule, Tollan, Aztlan, Tluloc, dan lain-lain. Setelah terjadi letusan krakatau dan tambora, atlatis pulao surga jadi neraka dan KOSONG dan ini lah yg di ingat oleh para leluhur atlantis yg melarikan diri ke benua lain lalu apakah ada hubungan antara makna kata atala/atlantis (setelah hancur/kosong) dengan makna atala pada al-Quran di bawah ???? apa pendapat anda ?? ‘ATHAL (Kekosongan) ‘Athal adalah bentuk mashdar (noun) dari kata kerja ‘athila – ya‘thalu (عَطِلَ – يَعْطَل), tersusun dari huruf-huruf ‘ain, tha, dan lam yang arti denotasinya “kosong”, “luang”. Makna itu kemudian berkembang menjadi, antara lain: “tak berpenghuni” (rumah) karena isinya kosong; “terlantar” digunakan untuk binatang gembala yang tidak ada penjaganya; “tidak berair” (sumur); “tidak mengenakan pakaian” (wanita); “libur” karena sekolah/kantor dikosongkan; “menganggur” karena kosong dari pekerjaan; “macet” karena kosong dari fungsinya; “tunda” karena mencari waktu luang yang lain; “tidak hujan” karena ada mendung tetapi tidak turun. Kata ‘athal dan pecahannya di dalam al-Quran terulang dua kali, di mana masing-masing dalam bentuk kata kerja lampau muannats, ‘uththilat (عُطِّلَتْ = ditinggalkan) yang terdapat di dalam S. At-Takwîr [81]: 4 dan bentuk ism maf’ûl muannats, mu‘aththalah(مُعَطَّلَة = yang dikosongkan, yang ditinggalkan) yang terdapat pada S. Al-Hajj [22]: 45. Masing-masing bunyi teks dan terjemahannya sebagai berikut: pertama, wa idza al-‘isyâru ‘uththilat (وَإِذَا الْعِشَارُ عُطِّلَتْ = dan ketika unta-unta yang bunting ditinggalkan [tidak diperdulikan]); kedua, faka’ayyin min qaryatin ahlaknâhâ wa hiya zhâlimatun fahiya khâwiyatun ‘alâ ‘urûsyihâ wa ba‘rin mu‘aththalatin wa qashrin masyîd (فَكَأَيِّنْ مِنْ قَرْيَةً أَهْلَكْنَاهَا وَهِيَ ظَالِمَةٌ فَهِيَ خَاوِِِيَةٌ عَلَى عُرُوْشِهَا وَبَعْرٍ مَعَطَّلَةٍ وَقَصِرٍ مَشِيْدٍ= Berapa kota yang Kami telah binasakan, yang penduduknya dalam keadaan lalim, tembok-tembok kota itu roboh menutupi atap-atapnya, dan (berapa banyak pula) sumur dan istana tinggi yang telah ditinggalkan).

Ulama berbeda pendapat mengenai makna kata ‘uththilat di dalam S. At-Takwîr [81]: 4.

Imam As-Suyuthi dan Mujahid mengartikannya dengan “ditinggalkan”; Ubay bin Ka‘ab dan Ad-Dhahak mengartikannya dengan “diabaikan”; Ar-Rabi‘ bin Haisam mengartikannya dengan “tidak ada penjaganya” karena di dalam ayat tersebut kata ‘uththilat dikaitkan dengan unta-unta hamil. Meskipun mereka berbeda dalam memaknai kata tersebut, namun maksudnya sama, yaitu ketika unta-unta hamil itu ditinggalkan oleh pemiliknya. Ayat ini, menurut al-Qurthubi, menggambarkan sebagian dari situasi di hari kiamat, di mana sekitarnya ada orang yang memiliki unta-unta hamil yang bagi orang-orang Arab merupakan harta yang sangat berharga ketika ayat ini turun, namun kemudian diterlantarkan dan tidak dihiraukan lagi karena sibuk mengurusi diri mereka sendiri. Adayang berpendapat, maksud ayat tersebut adalah ketika manusia dibangkitkan dari kubur juga seluruh harta miliknya, termasuk unta-unta yang sedang hamil tua. Pada saat itu, manusia tidak lagi menghiraukan hartanya itu, termasuk yang unta-unta yang sedang hamil tua dan uang sangat disayangi ketika di dunia, karena mengurusi dirinya sendiri.

Adapun kata mu‘aththalah di dalam S. Al-Hajj [22]: 45 berkedudukan sebagai kata sifat dari kata bi‘r (بِعْرٌ = sumur). Tafsirnya diperselisihkan oleh ulama. Ada yang berpendapat artinya adalah (sumur) yang ditinggalkan, seperti kata As-Suyuti dan Ad-Dhahak. Ibnu Katsir mengartikannya dengan sumur yang tidak lagi menjadi sumber air minum dan tidak ada lagi orang yang mendatanginya. Ada juga yang berpendapat, maknanya adalah tidak berair, atau tidak ada pemiliknya karena telah binasa, atau tidak ada tali dan timbanya. Semua pendapat tersebut mempunyai kemiripan. Pada intinya sumur itu tidak lagi digunakan karena kosong airnya, atau ditinggalkan/diterlantarkan oleh pemiliknya, atau kosong dari tali dan timba. Perbedaan itu terjadi karena mereka berusaha menyesuaikan makna dasar mu‘aththalah, yaitu “kosong” yang disesuaikan dengan konteks kalimatnya. Penggunaan mu‘aththalah di dalam ayat tersebut berkaitan dengan banyaknya umat terdahulu yang dibinasakan Allah dengan menghancurkan kotanya, meruntuhkan istananya, dan mengeringkan sumurnya, karena mereka menzhalimi diri mereka sendiri dengan menentang para rasul yang diutus Allah kepada mereka. Ayat ini merupakan penghibur dan pembesar hati Nabi Muhammad Saw. dalam berdakwah, juga bagi umatnya, di mana nabi-nabi terdahulu juga mengalami dan berhadapan dengan umatnya yang menentang ajaran yang mereka bawa, tetapi pada akhirnya para penentang itulah yang binasa.

Salam Atlantis…

7 Juli 2012

ANTARA RUH DAN JASAD.

oleh alifbraja
Assalamualaikum wr wb,
 
Pada suatu hari Abu Bashir berada di Masjid A-Haram. la terpesona rnenyaksikan ribuan orang yang bergerak mengelilingi Kabah, mendengarkan gemuruh tahlil, tasbih, dan takbir mereka. Ia membayangkan betapa beruntungnya orang-orang itu. Mereka tentu akan mendapat pahala dan ampunan Tuhan. Imam Ja’far Al-Shadiq, tokoh spiritual yang terkenal dan salah seorang ulama besar dari keluarga Rasulullah saw, menyuruh Abu Bashir menutup matanya. Imam Ja’far mengusap wajahnya. Ketika ia membuka lagi matanya, ia terkejut. Di sekitar Ka’bah ia melihat banyak sekali binatang dalam berbagai jenisnya- mendengus, melolong, mengaum. Imam Ja’far berkata, “Betapa banyaknya lolongan atau teriakan; betapa sedikitnya yang haji.”
 
 
Apa yang disaksikan Abu Bashir pada kali yang pertama adalah tubuh-tubuh manusia. Apa yang dilihat kedua kalinya adalah bentuk-bentuk roh mereka. Kita adalah makhluk yang hidup di dua alam sekaligus. Tubuh kita hidup di alam fisik, terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam fisik ini sebagai alam nasut, alam yang bisa kita lihat dan kita raba, Kita dapat menggunakan pancaindera kita untuk mencerapnya. Sementara itu, roh kita hidup di alam metafisik, tidak terikat dalam ruang dan waktu. Para ulama menyebut alam ini alam malakut. Menurut Al-Quran, bukan hanya manusia, tetapi segala sesuatu mempunyai malakut-nya. “Maka Mahasuci (Allah) yang di tangan-Nya malakut segala sesuatu. Dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.’ (QS. Yasin 83); ‘Dan demikianlah kami perlihatkan kepada Ibrahim, malakut langit dan bumi.” (QS. Al-An’arn 75)
 
Roh kita, karena berada di alam malakut, tidak dapat dilihat oleh mata lahir kita. Roh adalah bagian batiniah dari diri kita. Ia hanya dapat dilihat oleh mata batin. Ada sebagian di antara manusia yang dapat melihat roh dirinya atau orang lain. Mereka dapat menengok ke alam malakut. Kemampuan itu diperoleh karena mereka sudah melatih mata batinya dengan riyadhah kerohanian atau karena anugrah Allah (al-mawahib al-rabbaniyyah). Para Nabi, para walli, dan orang-orang saleh seringkali mendapat kesempatan melihat ke alam rnalakut itu.
 
Makanan Roh
 
Roh -seperti tubuh-juga dapat berada dalam berbagai keadaan. Imam Ali kw berkata, ‘Sesungguhnya tubuh mengalami enam keadaan; sehat, sakit, mati, hidup, tidur, dan bangun. Demikian pula roh. Hidupnya adalah ilmunya, matinya adalah kebodohannya., sakitnya adalah keraguannya, dan sehatnya adalah keyakinannya, tidurnya adalah kelalaiannya, dan bangunnya ialah penjagaannya.’ (BiharAl-Anwar 61:40)
 
Seperti tubuh, roh pun memerlukan makanan. Mulla Shadra tidak menyebutnya makanan. Ia menyebutnya rezeki. Ia berkata, ‘Setiap yang hidup perlu rezeki, dan rezeki arwah adalah cahaya-cahaya ilahiah dan ilmu-ilmu rabbaniah.’ (Mafatih AI-Ghaib 545)
 
Untuk meningkatkan kualitas roh, supaya ia sehat dan kuat, kita perlu memberikan kepadanya cahaya-cahaya ilahiah dalam bentuk zikir, doa, dan ibadat-ibadat lainnya seperti salat, puasa, dan haji. Pada Bulan Ramadhan, kita berusaha menerangi roh kita dengan berbagai makanan rohani. Kita mandikan roh kita dengan proses pensucian batin, seperti istighfar, mengendalikan hawa nafsu, dan menjauhi kemaksiatan. Karena itu Nabi saw bersabda, ‘Bulan Ramadhan adalah bulan yang diwajibkan atas kamu puasanya dan disunnahkan bagimu bangun malamnya. Barangsiapa yang berpuasa dan melakukan salat malamnya dengan iman dan ikhlas, Tuhan akan mengampuni dosa-dosanya yang terdahulu. (Dalam riwayat lain) la akan keluar dari dosa-dosanya seperti ketika ia keluar dari perut ibunya.’
 
Kita menghidupkan roh dengan ilmu-ilmu rabbaniah. Inilah yang kita maksud dengan dimensi intelektual dari keberagamaan kita. Ada ilmu-ilmu yang membantu kita untuk memelihara kesehatan tubuh kita seperti ilmu gizi, kedokteran, ekologi, dan sebagainya. Di samping itu, ada ilmu-ilmu yang menolong kita untuk menyehatkan roh kita: ilmu-ilmu tentang Al-Quran dan Sunnah (syariat), ilmu-ilmu tentang cara mendekatkan diri kita kepada Allah (thariqat), dan ilmu-ilmu berkenaan dengan pengalaman rohaniah (haqiqat).
 
Seperti tubuh, roh yang tidak diperhatikan dan dipelihara, roh yang kekurangan makanan akan menjadi roh yang lemah, sakit-sakitan, dan akan dikuasai setan. Roh yang sakit tampak dalam gejala-gejala seperti kegelisahan, keresahan, kebingungan, hidup yang tidak bermakna, hidup tanpa tujuan, kosongan eksistensial (existential vacuum). Pendeknya, roh yang sakit tampak dalam hidup yang tidak tentram. Al-Quran melukiskannya, ‘Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan kami menghimpunkannya pada Hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS. Thaha 124); “Barangsiapa yang Allah menghendaki akan diberikan kepadanya pet-unjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk Islam. Dan barangsiapa dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki ke langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.’ (QS. Al-An’am 120).
 
Keindahan Roh
 
Seperti tubuh, arwah mempunyai rupa yang bermacam-macam: buruk atau indah; juga mempunyai bau yang berbeda: busuk atau harum. Rupa roh jauh lebih beragam dari rupa tubuh. Berkenaan dengan wajah lahiriah, kita dapat saja menyebut wajahnya mirip binatang, tapi pasti ia bukan binatang. Roh dapat betul-betul berupa binatang -babi atau kera. Tuhan berkata, ‘Katakanlah: apakah akan Aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk kedudukannya di sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan penyembah Thagut? Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus. (Al-Maidah 60)
 
Al-Ghazali menulis: ‘Al-Khuluq dan Al-Khalq kedua-duanya digunakan. Misalnya si Fulan mempunyai khuluq dan khalq yang indah -yakni indah lahir dan batin. Yang dimaksud dengan khalq adalah bentuk lahir, yang dimaksud dengan khuluq adalah bentuk batin. Karena manusia terdiri dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir dan roh yang mencerap dengan mata batin. Keduanya mempunyai rupa dan bentuk baik jelek maupun indah. Roh yang mencerap dengan mata batin memiliki kemampuan yang lebih besar dari tubuh yang mencerap dengan mata lahir. Karena itulah Allah memuliakan roh dengan menisbahkan kepada diri-Nya. Ia bersabda, ‘Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, Aku menjadikan manusia dan’ tanah. Maka apabila telah kusempurna kan kejadiannya dan kutiupkan kepadanya rohku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya.’(QS. Shad 71-72). Allah menunjukkan bahwa jasad berasal dari tanah dan roh dari Tuhan semesta alam. (Ihya Ulum Al-Din, 3:58).
 
Khuluq -dalam bahasa Arab- berarti akhlak. Roh kita menjadi indah dengan akhlak yang baik dan menjadi buruk dengan akhlak yang buruk. Dalam teori akhlak dari Al-Ghazali, orang yang selalu mengikuti hawa nafsunya, akan memiliki roh yang berbentuk babi; orang yang pendengki dan pendendam akan memiliki roh yang berbentuk binatang buas; orang yang selalu mencari dalih buat membenarkan kemaksiatannya akan mempunyai roh yang berbentuk setan (monster) dan seterusnya.
 
Ketika turun ke bumi, karena berasal dari Mahasuci, roh kita dalam keadaan suci. Ketika kita kembali kepadanya, roh kita datang dalam bentuk bermacam-macam. Ketika pohon pisang lahir ke dunia, ia lahir sebagai pohon pisang. Ketika mati, ia kembali sebagai pohon pisang lagi. Ketika manusia lahir, ia lahir sebagai manusia. Ketika mati, ia kembali kepada Tuhan dalam berbagai bentuk, tidak hanya dalam bentuk manusia saja. Ia dapat kembali dalam bentuk binatang, setan, atau cahaya.
 
Walhasil, untuk memperindah bentuk roh kita, kita harus melatihkan akhlak yang baik. Meningkatkan kualitas spiritual, berarti mernperindah akhlak kita. Kita menyimpulkan prinsip ini dalam doa ketika bercermin. “Allahumma kama ahsanta khalqi fa hassin khuluqi.’ (Ya Allah, sebagaimana Engkau indahkan tubuhku, indahkan juga akhlakku).
 
Roh dalam Maut
 
Kita kutipkan di sini hadits yang panjang;
 
“Kami sedang mengantarkan jenazah di Baqi. Kemudian datanglah Nabi dan duduk bersama kami di dekat jenazah. Kami tundukkan kepala kami seakan-akan burung hinggap di atasnya. Ia berkata: Aku berlindung dari siksa kubur, 3X. Sesungguhnya manusia mukmin ketika hendak memasuki akhirat dan meninggalkan dunia, turunlah malaikat kepadanya dengan wajah yang bersinar seperti cahaya matahari. Mereka duduk di dekat rnayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang baik, keluarlah menuju ampunan Allah dan keridhaannya. Maka keluarlah roh itu mengalir seperti rnengalirnya tetesan air dari mulut cerek. Malaikat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengambilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kafan. Dari roh itu keluarlah bau harum semerbak memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik membawa roh itu. Setiap kali mereka rnelewati kelompok malaikat yang lain, mereka ditanya, ‘Siapa roh yang baik ini?’ Mereka menyebut Fulan bin Fulan dengan nama-nama yang indah yang diperolehnya di dunia. Ketika sampai di langit dunia, dibukakanlah pintu baginya. Pada setiap langit, malaikat mengantarkannya sampai ke langit berikutnya dan seterusnya sampai ke Allah Ta’ala.
 
Allah berfirman: ‘Tuliskan kitab hamba-Ku di tempat yang tinggi. Kembalikan dia ke bumi karena aku menciptakannya dari bumi, mengembalikannya ke bumi, dan mengeluarkannya dari bumi sekali lagi. Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Tuhanku Allah. Apa agamamu? Agamaku Islam. Siapa laki-laki yang diutus kepadamu? Rasulullah. Darimana kamu mengetahui hal ini? Aku membaca Kitabullah, beriman kepadanya, dan membenarkannya. Seorang penyeru berseru dari langit: Benar hambaku. Hamparkan baginya tikar dari surga. Bukakan baginya pintu dari surga. Lalu angin dan semerbak surga datang kepadanya. Kuburan dilegakan seluas pandangan mata. Seseorang yang berwajah cantik datang kepadanya dengan baju yang indah dan bau yang harum. Ia berkata: Bergembiralah dengan apa-apa yang akan membahagiakan kamu. Inilah hari yang dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya: siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa kebaikan. Ia berkata: Saya. amal shalehmu. Ia berkata: Tuhanku, tegakkanlah hari kiamat supaya aku kembali kepada keluargaku dan kekayaanku.
 
Bila seorang kafir meninggalkan dunia dan memasuki akhirat, dari langit turunlah mialaikat berwajah buruk dan membawa kain yang buruk. Mereka duduk di dekat mayit sepanjang mata memandang. Lalu datanglah malakal maut dan duduk di dekat kepalanya dan berkata: Hai roh yang buruk, keluarlah menuju kemurkaan Allah dan kemarahan-Nya.. Malaikat maut mencabut nyawanya seperti sisir besi mencabuti bulu yang basah. Mailakat maut mengambilnya. Apabila ia sudah mengarnbilnya, ia tidak membiarkannya berada di tangannya sekejap mata pun sampai ia menyimpannya di dalam kain buruk itu. Dari roh itu keluar bau yang lebih busuk dari bau bangkai dan memenuhi permukaan bumi. Para malaikat naik mernbawa roh itu. Setiap kali mereka melewati kelompok malaikat yang lain mereka ditanya. “Siapa roh yang buruk ini”? Mereka menjawab; Fulan bin Fulan dan menyebutnya dengan nama-nama yang buruk yang diperolehnya dari dunia. Ketika ia sampai ke langit dunia, ia minta dibukakan pintu langit, tetapi tidak dibukakan kepadanya. Kemudian. Rasulullah saw membaca ayat Al-Quran, “Sesingguhnya orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami dan menyombongkan diri terhadapnya, sekali-kali tidak akan dibukakan kepada mereka pintu-pintu langit dan tidak pula mereka masuk surga, seperti tidak mungkinnya unta masuk ke lubang jarum. (QS. Al-A’raf 40)
 
Allah berfirman, ‘Tuliskan kitabnya di bumi yang paling rendah.’ Maka dilemparkanlah rohnya. Kemudian Nabi membaca ayat Al-Quran, ‘Dan barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (QS. AI-Haj 31) Lalu rohnya dikembalikan ke jasadnya. Dua malaikat datang dan duduk bersamanya, seraya berkata: Siapa Tuhanmu? Ia berkata: Ah, aku tidak tahu. Seorang penyeru berteriak dari langit: Bohong hambaku. Hamparkan kepadanya tikar dari api neraka. Bukakan baginya pintu neraka. Panas dan keringnya neraka mendatanginya. Kuburannya disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya. Seseorang yang berwajah buruk, berpakaian buruk, berbau busuk datang kepadanya dan berkata: Terimalah berita yang menyusahkan kamu. Inilah hari yang telah dijanjikan kepadamu. Mayit bertanya, ‘Siapakah kamu? Wajahmu wajah yang membawa keburukan.’ Ia menjawab, ‘Aku amalmu yang buruk.’ Mayit itu berkata: Tuhanku jangan tegakkan hari kiamat. (Ibn Qayyim Al-Jawziyyah, Al-Roh hal 44-45).
 
Wallahu’alambishawab
4 Juli 2012

Asmaul Husna

oleh alifbraja

Tanda 99 (Asmaul Husna) Pada Telapak Tangan Kita

Tahukah sahabat kebesaran Allah di tangan kita, garis utama kedua telapak tangan kita bertuliskan dalam angka Arab yaitu :
|/\ pada telapak tangan kanan, artinya : 18, dan
/\| pada telapak tangan kiri, artinya : 81

Jika kedua angka ini dijumlahkan, 18+81 = 99
99 adalah jumlah nama/sifat Allah, Asmaul Husna yang terdapat dalam Al-Quran. Bila 18 dan 81 ini dirangkaikan, maka terbentuk angka 1881. Angka ini adalah angka kelipatan 19 yang ke-99 ( 19 x 99 = 1881 ).Seperti diketahui angka 19 adalah fenomena tersendiri dalam Al-Quran, yang merupakan bukti kemukjizatan al-Quran.

Begitu juga pada ruas-ruas tulang jari (tapak tangan maupun telapak kaki) sahabat, terkandung jejak-jejak nama Allah, tuhan yang sebenar pencipta alam semesta ini. Silakan perhatikan salah satu tapak tangan anda (bisa kanan bisa kiri). Perhatikan lagi dengan seksama:

Jari kelingking ==> membentuk huruf alif
Jari manis, jari tengah, & jari telunjuk ==> membentuk huruf lam (double)
Jari jempol (ibu jari) ==> membentuk huruf ha’

Jadi jika digabung, maka bagi anda yang mengerti huruf Arab akan mendapati bentuk tapak tangan itu bisa dibaca sebagai Allah (dalam bahasa Arab).

Maka benarlah firman Allah SWT :
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Fushshilat 41:53)

Allah SWT memilik nama-nama paling indah yang berjumlah 99 yang dikenal dengan sebutan Asmaul Husna. Asmaul husna atau nama-nama terindah Allah SWT ini dapat kita gunakan sebagai cara untuk mengingat Allah akan kebesaran, keagungan dan kemuliannya dalam setiap dzikir dan doa kita.

Rasulullah bersabda “Sesungguhnya hati itu berkarat sebagaimana besi berkarat. Cara membersihkannya adalah dengan mengingat Allah [dzikrullah]“

Anjuran untuk berdoa menggunakan Asmaul Husna pun telah tercermin dalam firman Allah SWT dalam surat Al-A’rof ayat 180 yang berbunyi “Hanya milik Allah Asma-Ul Husna, maka berdoalah kepadaNya dengan menyebut Asma-Ul Husna, dan tinggalkan orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-namaNya. Nanti mereka akan mendapatkan balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan”.

Saya sengaja membuat tulisan ini untuk mempermudah saya mengingat nama-nama mulia dan kebesaran Allah SWT, agar dalam setiap doa dan munajat kepada-Nya, saya dapat menyapanya dengan nama-nama yang baik lagi mulia. Insya Allah, Allah maha mendengar lagi maha mengetahui.

“Karena itu ingatlah kepadaKu, niscaya Aku akan ingat kepadamu.. [Al-Baqarah : 152] “Maka apabila kamu telah selesai shalat, ingatlah Allah di waktu berdiri,duduk dan di kala berbaring.” [An-Nisa:103]

“Katakanlah olehmu, “Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kalian seru, Dia mempunyai Al-Asmaul Husna (nama-nama yang terbaik).. [Al-Isra : 110]

The Most Beautiful 99 Asmaul Husna :

No.

Nama

Arab

Indonesia

Inggris

1


Allah

الله

 

The God

2


Ar Rahman

الرحمن

Yang Memiliki Mutlak sifat Pengasih

The All Beneficent

3


Ar Rahiim

الرحيم

Yang Memiliki Mutlak sifat Penyayang

The Most Merciful

4


Al Malik

الملك

Yang Memiliki Mutlak sifat Merajai/Memerintah

The King, The Sovereign

5


Al Quddus

القدوس

Yang Memiliki Mutlak sifat Suci

The Most Holy

6


As Salaam

السلام

Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Kesejahteraan

Peace and Blessing

7

Al Mu`min

المؤمن

Yang Memiliki Mutlak sifat Memberi Keamanan

The Guarantor

8

Al Muhaimin

المهيمن

Yang Memiliki Mutlak sifat Pemelihara

The Guardian, the Preserver

9

Al `Aziiz

العزيز

Yang Memiliki Mutlak Kegagahan

The Almighty, the Self Sufficient

10

Al Jabbar

الجبار

Yang Memiliki Mutlak sifat Perkasa

The Powerful, the Irresistible

11

Al Mutakabbir

المتكبر

Yang Memiliki Mutlak sifat Megah, Yang Memiliki Kebesaran

The Tremendous

12

Al Khaliq

الخالق

Yang Memiliki Mutlak sifat Pencipta

The Creator

13

Al Baari`

البارئ

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melepaskan (Membuat, Membentuk, Menyeimbangkan)

The Maker

14

Al Mushawwir

المصور

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Membentuk Rupa (makhluknya)

The Fashioner of Forms

15

Al Ghaffaar

الغفار

Yang Memiliki Mutlak sifat Pengampun

The Ever Forgiving

16

Al Qahhaar

القهار

Yang Memiliki Mutlak sifat Memaksa

The All Compelling Subduer

17

Al Wahhaab

الوهاب

Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Karunia

The Bestower

18

Ar Razzaaq

الرزاق

Yang Memiliki Mutlak sifat Pemberi Rejeki

The Ever Providing

19

Al Fattaah

الفتاح

Yang Memiliki Mutlak sifat Pembuka Rahmat

The Opener, the Victory Giver

20

Al `Aliim

العليم

Yang Memiliki Mutlak sifat Mengetahui (Memiliki Ilmu)

The All Knowing, the Omniscient

21

Al Qaabidh

القابض

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menyempitkan (makhluknya)

The Restrainer, the Straightener

22

Al Baasith

الباسط

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Melapangkan (makhluknya)

The Expander, the Munificent

23

Al Khaafidh

الخافض

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Merendahkan (makhluknya)

The Abaser

24

Ar Raafi`

الرافع

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Meninggikan (makhluknya)

The Exalter

25

Al Mu`izz

المعز

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Memuliakan (makhluknya)

The Giver of Honor

26

Al Mudzil

المذل

Yang Memiliki Mutlak sifat Yang Menghinakan (makhluknya)

The Giver of Dishonor

27

Al Samii`

السميع

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendengar

The All Hearing

28

Al Bashiir

البصير

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melihat

The All Seeing

29

Al Hakam

الحكم

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menetapkan

The Judge, the Arbitrator

30

Al `Adl

العدل

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil

The Utterly Just

31

Al Lathiif

اللطيف

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Lembut

The Subtly Kind

32

Al Khabiir

الخبير

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengetahui Rahasia

The All Aware

33

Al Haliim

الحليم

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyantun

The Forbearing, the Indulgent

34

Al `Azhiim

العظيم

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Agung

The Magnificent, the Infinite

35

Al Ghafuur

الغفور

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengampun

The All Forgiving

36

As Syakuur

الشكور

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pembalas Budi (Menghargai)

The Grateful

37

Al `Aliy

العلى

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi

The Sublimely Exalted

38

Al Kabiir

الكبير

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Besar

The Great

39

Al Hafizh

الحفيظ

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menjaga

The Preserver

40

Al Muqiit

المقيت

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Kecukupan

The Nourisher

41

Al Hasiib

الحسيب

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membuat Perhitungan

The Reckoner

42

Al Jaliil

الجليل

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia

The Majestic

43

Al Kariim

الكريم

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemurah

The Bountiful, the Generous

44

Ar Raqiib

الرقيب

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengawasi

The Watchful

45

Al Mujiib

المجيب

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengabulkan

The Responsive, the Answerer

46

Al Waasi`

الواسع

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Luas

The Vast, the All Encompassing

47

Al Hakiim

الحكيم

Yang Memiliki Mutlak sifat Maka Bijaksana

The Wise

48

Al Waduud

الودود

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencinta

The Loving, the Kind One

49

Al Majiid

المجيد

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia

The All Glorious

50

Al Baa`its

الباعث

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Membangkitkan

The Raiser of the Dead

51

As Syahiid

الشهيد

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menyaksikan

The Witness

52

Al Haqq

الحق

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Benar

The Truth, the Real

53

Al Wakiil

الوكيل

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memelihara

The Trustee, the Dependable

54

Al Qawiyyu

القوى

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kuat

The Strong

55

Al Matiin

المتين

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kokoh

The Firm, the Steadfast

56

Al Waliyy

الولى

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Melindungi

The Protecting Friend, Patron, and Helper

57

Al Hamiid

الحميد

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Terpuji

The All Praiseworthy

58

Al Mushii

المحصى

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengkalkulasi

The Accounter, the Numberer of All

59

Al Mubdi`

المبدئ

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memulai

The Producer, Originator, and Initiator of all

60

Al Mu`iid

المعيد

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengembalikan Kehidupan

The Reinstater Who Brings Back All

61

Al Muhyii

المحيى

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menghidupkan

The Giver of Life

62

Al Mumiitu

المميت

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mematikan

The Bringer of Death, the Destroyer

63

Al Hayyu

الحي

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Hidup

The Ever Living

64

Al Qayyuum

القيوم

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mandiri

The Self Subsisting Sustainer of All

65

Al Waajid

الواجد

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penemu

The Perceiver, the Finder, the Unfailing

66

Al Maajid

الماجد

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mulia

The Illustrious, the Magnificent

67

Al Wahiid

الواحد

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Esa

The One, the All Inclusive, the Indivisible

68

As Shamad

الصمد

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Dibutuhkan, Tempat Meminta

The Self Sufficient, the Impregnable, the Eternally Besought of All, the Everlasting

69

Al Qaadir

القادر

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Menentukan, Maha Menyeimbangkan

The All Able

70

Al Muqtadir

المقتدر

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkuasa

The All Determiner, the Dominant

71

Al Muqaddim

المقدم

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mendahulukan

The Expediter, He who brings forward

72

Al Mu`akkhir

المؤخر

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengakhirkan

The Delayer, He who puts far away

73

Al Awwal

الأول

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Awal

The First

74

Al Aakhir

الأخر

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Akhir

The Last

75

Az Zhaahir

الظاهر

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Nyata

The Manifest; the All Victorious

76

Al Baathin

الباطن

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Ghaib

The Hidden; the All Encompassing

77

Al Waali

الوالي

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memerintah

The Patron

78

Al Muta`aalii

المتعالي

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Tinggi

The Self Exalted

79

Al Barri

البر

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penderma

The Most Kind and Righteous

80

At Tawwaab

التواب

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penerima Tobat

The Ever Returning, Ever Relenting

81

Al Muntaqim

المنتقم

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Penyiksa

The Avenger

82

Al Afuww

العفو

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemaaf

The Pardoner, the Effacer of Sins

83

Ar Ra`uuf

الرؤوف

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pengasih

The Compassionate, the All Pitying

84

Malikul Mulk

مالك الملك

Yang Memiliki Mutlak sifat Penguasa Kerajaan (Semesta)

The Owner of All Sovereignty

85

Dzul Jalaali Wal Ikraam

ذو الجلال و الإكرام

Yang Memiliki Mutlak sifat Pemilik Kebesaran dan Kemuliaan

The Lord of Majesty and Generosity

86

Al Muqsith

المقسط

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Adil

The Equitable, the Requiter

87

Al Jamii`

الجامع

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mengumpulkan

The Gatherer, the Unifier

88

Al Ghaniyy

الغنى

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Berkecukupan

The All Rich, the Independent

89

Al Mughnii

المغنى

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Kekayaan

The Enricher, the Emancipator

90

Al Maani

المانع

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Mencegah

The Withholder, the Shielder, the Defender

91

Ad Dhaar

الضار

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Derita

The Distressor, the Harmer

92

An Nafii`

النافع

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Memberi Manfaat

The Propitious, the Benefactor

93

An Nuur

النور

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Bercahaya (Menerangi, Memberi Cahaya)

The Light

94

Al Haadii

الهادئ

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pemberi Petunjuk

The Guide

95

Al Baadii

البديع

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pencipta

Incomparable, the Originator

96

Al Baaqii

الباقي

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Kekal

The Ever Enduring and Immutable

97

Al Waarits

الوارث

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pewaris

The Heir, the Inheritor of All

98

Ar Rasyiid

الرشيد

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Pandai

The Guide, Infallible Teacher, and Knower

99

As Shabuur

الصبور

Yang Memiliki Mutlak sifat Maha Sabar

The Patient, the Timeless

Mudah-mudahan dengan mengenal 99 beautiful name of Allah (Asmaul Husna) kita semakin dekat dan semakin mencintai Allah  SWT lebih dari segala-galanya. Dan itulah tujuan Akhir dari hidup kita, Amien…

Baca Selengkapnya : http://www.adityaperdana.web.id/the-most-beautiful-99-asmaul-husna.html#ixzz1za74hRUI

29 Juni 2012

BAPAK PARA NABI & IMAM SEMUA BANGSA

oleh alifbraja

Nabi Ibrahim, Bapak Para Nabi Dan Imam Semua Bangsa

 

Ada sebagian umat Hindu menanggap bahwa agama Abrahamik merupakan perkembangan dari Hindhu (Veda), dan pengikut agama Abrahamik merasa bahwa Veda adalah Kitab Suci Hindhu. Kedua-duanya salah dalam mempersepsikan Veda.
Veda sebenarnya (kemungkinan) kitab yang berasal dari nabi Ibrahim atau dengan kata lain kisah serta ajaran nabi Ibrahim tersebar dalam berbagai kitab suci antara lain ke Veda, Avesta (Zoroaster), Bible (Khususnya Kitab Kejadian) dan Al-Quran (sebagai Kitab Penutup). Ibrahim sendiri kemungkinan Zoroaster pertama dari sekitar 7 Zoroaster yang pernah ada setelahnya.

 

 

 

Biographia Antiqua & Anacalypsis; by Godfrey Higgins Vol. I, p. 396., menyebut beberapa orang Majuzi menyamakan Ibrahim dengan Zoroaster, dan memanggilnya “Ibrahim Zaradust (Ibrahim Zerdascht = Ibrahim teman Api)
Voltaire’s Philosophical Dictionary, menyebut Bram, Abram yang terkenal di India dan Persia sebagai Orang Khaldea atau Persia dan beberapa terpelajar sering menyamakannya dengan Zoroaster
The late Prof. Edward Browne of Cambridge University inadvertently mentions, : “I may here mention a very absurd fiction, which I have more than once heard the Zoroastrians maintain in the presence of Musulmans or Babis, namely, that Zoroaster was identical with Abraham.” – (A Year Amongst The Persians: Impressions as to the Life, Character, & Thought of the People of Persia; by Prof. Edward Granville Brown). Dikatakan bahwa Zoroasterian terpelihara dalam kehadiran Musulman. Musulman merupakan nama lain dari Muslim. Ini sebagai bukti bahwa Islam memang sudah ada sejak nabi Ibrahim. Bukti lain bahwa kata Muslim sudah dipakai sebelum lahirnya Nabi Muhammad bisa anda baca DISINI dan DISINI

 

Banyak sarjana menegaskan bahwa Zoroaster adalah pendiri Imamat Majusi. Gagasan ini dikonfirmasikan dalam Bhavisya Purana, tulisan pro-Veda, yang berbicara dari Zoroaster sebagai salah satu ‘Jarasabda’ mengatakan:
“Karena baik Anda maupun saya telah mengabaikan perintah dari Weda, begitu juga anak kami tidak akan mengikuti hukum mereka. Ia akan dikenal sebagai Jarasabda dan Akan membawa ketenaran untuk dinastinya. Mereka akan menjalankan ibadah dan akan dikenal dengan nama magas, dan menjadi penyembah Soma, mereka akan dikenal sebagai Brahmanas. ” – (Bhavisya Purana, Brahma-parva 139,42-45).
Bhavisya Purana (bab 139-140) juga memberikan penjelasan yang luas dari latar belakang Maga Jarasabda (Zoroaster). Kata ‘Maga’ mengacu pada dinasti para imam yang mana Zoroaster adalah seorang nenek moyang. Dalam lingkungan Iran kuno, kasta imam turun-temurun disebut orang sebagai Majusi, berasal dari kata magas atau Magus. Imamat Majusi, bagaimanapun, menyatakan Abraham sebagai pendiri mereka sebagaimana tercermin dalam Antiqua Biographia yang berbunyi:
“Persia menegaskan bahwa Abraham adalah pendiri pertama dari agama mereka. Zoroaster kemudian membuat beberapa perubahan di dalamnya, tetapi dikatakan ia tidak merubah yang berkaitan dengan doktrin satu prinsip tunggal tak tercipta, tetapi hanya inovasi khusus disini yaitu memberikan nama Cahaya sebagai prinsip yang baik, dan bahwa Kegelapan merupakan prinsip jahat (setan) “-. (Biographia Antiqua). Hal ini selanjutnya dikonfirmasikan oleh sarjana Martin Haug, Ph.D., yang menulis “The Sacred Language, Writings, and Religions of the Parsis”
“Orang Majusi memanggil agamanya sebagai Kesh-î-Ibrahim. Mereka menelusuri buku-buku agama mereka kepada Abraham, yang diyakini telah membawa mereka dari surga..” – (Hal. 16.)
Nabi Ibrahim sebagai Imam segala Bangsa dengan ajaran Monoteisme dan Tauhid telah menginspirasikan ajarannya kedalam Kitab-kitab diatas. Sekedar mengingatkan lagi, mari kita baca kesamaan dari keaslian Ketuhanan (Tauhid) dari Islam dengan Zoroaster dan Hindhu, sebagai bukti bahwa Kitab-kitab diatas bersumber dari nabi Ibrahim.

 

Monoteisme Di Alkitab Injil
1. Tauhid Nabi Musa (Ulangan 4:35, Ulangan 6:4, Ulangan 32:39).

2. Tauhid Nabi Daud (II Samuel 7:22, Mazmur 86:8).

3. Tauhid Nabi Sulaiman (I Raja-raja 8:23).

4. Tauhid Nabi Yesaya (Yesaya 43: 10-11, Yesaya 44:6,Yesaya 45:5-6, Yesaya 46:9).

5. Tauhid Yesus (Markus 12:29, Yohanes 5:30, Yohanes 17:3).

Konsep Tuhan Dalam agama Zoroaster (Dasatir, Ahura Mazda)
-Dia itu satu

-Dia lebih dekat padamu daripada dirimu sendiri

-Dia diatas segala yang kamu bayangkan

-Dia tanpa awal dan akhir

-Dia tak punya bapak, istri dan anak

-Dia tak berujud

-Tak ada yang menyerupainya

-Tak dapat dilihat dan dipahami dengan pikiran

 

Dalam agama Hindu juga terdapat konsep Tuhan sebagai berikut (dalam Upanishad, Upanishad = Pengetahuan Brahma (pengetahuan Ibrahim):

 

    1. “Ekam evadvitiyam” (Dia satu satunya tanpa ada duanya) [Chandogya Upanishad 6:2:1]
    1. “Na casya kascij janita na cadhipah.” (Tak punya orang tua dan tuan) [Svetasvatara Upanishad 6:9]
    1. “Na tasya pratima asti” (Tak ada yang menyerupainya) [Svetasvatara Upanishad 4:19]
    1. “Na samdrse tisthati rupam asya, na caksusa pasyati kas canainam.” (Ujud Nya tak dapat dilihat, tak ada yang bisa melihatnya dengan mata)[Svetasvatara Upanishad 4:20]

 

Vedanta mengandung arti “Upanishad” yang sesungguhnya. “Vedanta” berarti Veda terakhir yang merupakan tujuan Veda. Upanishad sebagai Konklusi (kesimpulan) dari Veda, dan secara kronologis muncul dari masa terakhir periode Veda. Beberapa Pundit (Pendeta) menganggap Upanishad lebih superior dari Veda.

Konsep Tuhan Menurut Veda :

 

Veda yang berbahasa sansekerta merupakan kumpulan dari : Rig Veda, Yajur Veda, Sam Veda and Atharva Veda . Diantara Kitab ini Rig Veda merupakan yang tertua. Rig Veda dikompilasi dalam 3 masa yang lama dan berbeda. Menurut Sarjana Hindhu atau orientalist kisah dalam Veda ada tidak lebih dari 4000 tahun yang lalu. Kepada siapa, dimana dan siapa pembuat Veda tidak diketahui dengan pasti. Dalam artian kitab ini kemungkinan dikumpulkan dari kisah-kisah tua di sekitar Asia tengah atau anak benua India. Kisah-kisah tua yang tertuang dalam ayat-ayat tersebut tidak berada dalam 1 tempat dan jaman yang sama. Saat itu tak ada nama buat kisah-kisah tua dalam ayat-ayat tersebut.
    1. “na tasya pratima asti

      “Tak ada rupa buat Tuhan.”

      [Yajurveda 32:3]

    1. “shudhama poapvidham”

      “Tuhan tak bertubuh dan suci.”

      [Yajurveda 40:8]

 

    1. “Andhatama pravishanti ye asambhuti mupaste”

      “Mereka memasuki kegelapan bagi yang menyembah Elemen Alam (Udara, Air, Api, dll), dan terperosok dalam kegelapan yang besar bagi yang menyembah benda buatan semisal “Kursi, Meja, Patung dll”.

      [Yajurveda 40:9]

 

    1. The Atharvaveda Book 20, hymn 58 and verse 3: “Dev maha osi”

      “Tuhan Maha Besar”

      [Atharvaveda 20:58:3]9

 

    1. “Na tasya Pratima asti”

      “Tak ada rupa buat Tuhan.”

      [Yajurveda 32:3]

 

    1. “Ma cid anyad vi sansata sakhayo ma rishanyata”

      “Oh saudara, jangan menyembah apapun selain Dia, satu-satunya Tuhan, pujilah dia sendiri.”

      [Rigveda 8:1:1]

 

    1. “Devasya samituk parishtutih”

      “Sesungguhnya, kemuliaan Tuhan Pencipta adalah Besar (Tuhan Maha Besar/Akbar) .”

      [Rigveda 5:1:81]

Agar ayat-ayat tersebut dapat dipelajari oleh generasi seterusnya, maka disusunlah ayat-ayat tersebut secara sistematis ke dalam sebuah buku oleh beberapa pemuka Hindhu. Setelah penyusunan dilakukan, ayat-ayat tersebut dikumpulkan ke dalam sebuah kitab yang kemudian disebut Weda.
Dan Veda di klaim sebagai kitab yang paling otentik dalam agama Hindhu. Veda inilah yang kemungkinan merupakan sumber langsung dari Nabi Ibrahim karena dalam Veda terdapat ajaran monoteisme dan Tauhid yang tegas. Yang bertentangan dengan Kitab Hindhu yang lain semisal Upanishad dimana di dalam Upanishad inilah ajaran Pantheisme berada.
Tahun 1935 Dr Pran Nath menerbitkan artikel yang isinya menerangkan bahwa Rig Veda berisi kisah kejadian dalam kerajaan Babilonia dan Mesir kuno dan perang keduanya. Peran Babilonia terhadap Nabi Ibrahim adalah bahwa dari sinilah kemungkinan kisah nabi Ibrahim berasal.

 

Alkitab Injil-Kejadian 10:10 Mula-mula kerajaannya (Namrud) terdiri dari Babel, Erech (Ur), dan Akkad, semuanya di tanah Sinear.
Kota “Ur” pada peta diatas diyakini sebagai tempat Ibrahim berasal yang mana dari tempat ini pula aliran Brahma menyebar ke India (Moisés y los Extraterrestres, Tomás Doreste)
Nabi Ibrahim yang menurut banyak sumber mempunyai pertentangan dengan Namrud (Nimrod) raja Babilonia (pendiri menara Babel). Agama Nimrud adalah Pantheisme seperti halnya agama Hindhu sekarang pada umunya yang menganggap semuanya adalah Tuhan. Dan juga Politeisme yang bertentangan dengan ajaran nabi Ibrahim yang monoteisme. Ajaran Pantheisme serta Politeisme Babilonia inilah yang menyebar ke Yunani, Roma, Mesir dan India pada saat itu. Sehingga tidak aneh jika ditemukan kemiripan ajaran atau kisah dari masing-masing kerajaan kuno ini.
Pada jaman itu (Balinonia-Namrud) dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim menghancurkan semua patung dewa milik Namrud kecuali yang besar (dengan mengatakan kepada Namrud bahwa Patung terbesarlah yang merusak patung lainnya) agar Namrud sadar bagaimana patung bisa menghancurkan patung lainnya. Meski tidak membawa hasil dan akhirnya Nabi Ibrahim di bakar oleh Namrud, tetapi Allah menyelamatkan beliau dengan menjadikan Api terasa dingin bagi Nabi Ibrahim. Seperti difirmankan oleh Allah dalam Al-Quran.
Al-Quran-Surah Al-Anbya 21 :68-69: Mereka berkata: Bakarlah dia (Ibrahim) dan bantulah ilah-ilah kamu, jika kamu benar-benar hendak bertindak. Kami berfirman: Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim.
Seperti halnya yang terjadi ketika Yesus menghidupkan Lazarus, dimana disekitarnya banyak orang2 musryik penyuka takhyul, demikian juga ketika Nabi Ibrahim dibakar. Disana banyak tukang takhyul yang ikut menyaksikan. Api yang tidak membakar Nabi Ibrahim kemungkinan menjadi dasar bagi agama Majusi (penyembah Api) untuk simbol agamanya. Zoroaster sebagai pendiri agama ini kemungkinan tidak menggunakan Api sebagai pusat mediasi kepada Tuhan, tetapi Api adalah penyimpangan berikutnya pada agama ini melalui penerusnya.

 

Dan (Ingatlah), ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia. Ibrahim berkata: (Dan saya mohon juga) dari keturunanku. Allah berfirman: Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang yang zalim. (Al-Quran. 2:124)
Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia (Al-Quran 3:96)
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim meninggikan (membina) dasar-dasar baitullah (Ka’bah)bersama Ismail (seraya berdoa): “Ya Tuhan kami terimalah daripada kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.(Al-Quran 2:127)
Ketiga ayat diatas merupakan beberapa ayat dalam Al-Quran (Kitab suci ISLAM) yang menerangkan tentang Ibrahim sebagai bapak teologi semua bangsa dan sebagai imam bagi semua bangsa.
Dalam Kitab orang kristen dikatakan dalam “Kejadian” dan “Yoshua” sebagai berikut :

 

 

 

Kejadian 25:17-18 Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. Mereka itu mendiami daerah dari Hawila (India) sampai Syur, yang letaknya di sebelah timur Mesir ke arah Asyur. Mereka menetap berhadapan dengan semua saudara mereka.
(Hebrew) Ishaak = (Sanskrit) Ishakhu = “Friend of Shiva.” (Hebrew) Ishmael = (Sanskrit) Ish-Mahal = “Great Shiva.”
Yoshua 24:2-3 Berkatalah Yosua kepada seluruh bangsa itu: “Beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Dahulu kala di seberang sungai Efrat, di situlah diam nenek moyangmu, yakni Terah, ayah Abraham dan ayah Nahor, dan mereka beribadah kepada allah lain. Tetapi Aku mengambil Abraham, bapamu itu, dari seberang sungai Efrat, dan menyuruh dia menjelajahi seluruh tanah Kanaan. Aku membuat banyak keturunannya dan memberikan Ishak kepadanya.
Ayat diatas seolah-olah menunjukkan arah ke timur di seberang sungai Efrat, dari sini untuk sementara kita bisa mengasumsikan sebagai arah dari India.
Menurut beberapa sumber sekitar 1900 SM di India (sekitar lembah Sindhu) terjadi bencana antara lain kekeringan, banjir dll (Indic Ideas in the Graeco-Roman World, by Subhash Kak, taken from IndiaStar online literary magazine; P.14) , hal ini terjadi karena perang antara bangsa Arya dan Asura yang pernah menguasai lembah Sindhus, dimana kota dan bendungan menjadi hancur. Hal ini membuat Ibrahim dan sanak saudaranya bermigrasi ke arah Asia Barat.
“Para sejarawan Arab berpendapat bahwa Brahma dan Abraham, nenek moyang mereka, adalah orang yang sama. Persia umumnya menyebut Abraham sebagai Ibrahim Zeradust. Cyrus menganggap agama orang Yahudi sama seperti dirinya sendiri. Hindu pasti berasal dari Abraham, atau Israel dari Brahma … ” (Anacalypsis;.. Vol I, P 396)
Ram dan Abraham adalah mungkin orang atau marga yang sama. Misalnya, suku kata “Ab” atau “Ap” berarti “ayah” di Kashmir. Orang-orang Yahudi prototipikal bisa disebut Ram “Ab-Ram” atau “Bapa Ram.” Dari sini kita bisa membayangkan bahwa kata “Brahm” berevolusi dari “Ab-Ram” dan bukan sebaliknya. Jadi Brahm (Brahma) kemungkinan dari kata Ab-Ram (Abraham). Kata Kashmir untuk “Kerahiman Ilahi yaitu Raham juga berasal dari Ram. Ab-Raham = “Bapak atas Rahmat Ilahi.” Rakham = “Kerahiman Ilahi” yang dalam bahasa Ibrani Ram juga istilah untuk “pemimpin yang ditempatkan atau gubernur.” Sejarawan India AD Pusalker, yang memiliki esai“Traditional History From the Earliest Times” appeared in The Vedic Age”, mengatakan bahwa Ram masih hidup pada tahun 1950 SM, yaitu waktu sekitar Abraham dimana Indo-Ibrani,dan Arya membuat migrasi besar sejumlah orang India ke Timur Tengah sejak Banjir Besar.
“Salah satu tempat suci di Arab yaitu Ka’bah juga didedikasikan oleh Brahma untuk Allah Pencipta Hindu. Itulah sebabnya mengapa nabi buta huruf Islam (Muhammad) mengklaim itu didedikasikan untuk Abraham. Kata” Abraham “tidak lain dari malpronunciation kata Brahma. Hal ini dapat secara jelas membuktikan jika salah satu kata berakar dari kedua kata. Abraham dikatakan menjadi salah satu nabi tertua dari para nabi Semit. Namanya seharusnya berasal dari makna dua kata Semit ‘Ab’ ‘Ayah’ dan ‘Raam / Raham yang berarti yang ditinggikan. ” Dalam kitab Kejadian, Abraham hanya berarti ‘orang banyak. ” Kata Abraham berasal dari kata Sansekerta Brahma. Akar Brahma adalah ‘Brah’ yang berarti – ‘. Untuk tumbuh atau memperbanyak jumlah’. Selain itu Bhatara Brahma, Allah Pencipta Hindu dikatakan sebagai “Bapa semua manusia dan Ta’ala dari semua Dewa, karena dari DIA semua makhluk dihasilkan demikian juga kita berasal dari ‘Maha Bapa. ” Ini adalah sebuah penunjuk jelas bahwa Abraham tidak lain adalah ayah Brahma surgawi. ” (Vedic Past of Pre-Islamic Arabia; Part VI; p.2.)
Beberapa makna dapat diekstraksi dari kata “Abram,” masing-masing menunjuk langsung ke posisi ditinggikan-Nya. Ab = “Bapa;” HIR atau H’r = “Kepala; Top, Ta’ala,” Am = “masyarakat.” Oleh karena itu, Abhiram atau Abh’ram bisa berarti “Bapa Ta’ala.” Makna lainnya: Ab – î – Ram = “Bapak lagi Maha Penyayang.” Ab, yang juga berarti “Ular,” dapat menunjukkan bahwa Ab-Ram (Ta’ala Ular) adalah seorang raja Naga. Semua makna yang dapat digali dari kata majemuk “Abraham” mengungkapkan takdir ilahi pengikutnya. Hiram dari Tirus, teman dekat Salomo, adalah “Orang Ta’ala” atau Ahi-Ram (Maha Ular/Naga).

 

Bahkan dalam sebuah gambar yang lain dalam keyakinan Hindhu tampak jelas ketika Parvati menyirami kuil suci dengan Air. Hal ini tampak jelas disebutkan dalam Mazmur, dimana air suci itu oleh kaum Muslim dipahami sebagai Air yang keluar dari padang pasir saat Ismail kehausan dan Hagar berlari-lari mencarinya, yang sekarang dikenal sebagai air Zam-zam.
Apabila melintasi lembah Baka (Bakkah), mereka membuatnya menjadi tempat yang bermata air; bahkan hujan pada awal musim menyelubunginya dengan berkat (Mazmur 84:5-7)

 

Di India kuno, kultus Aryan disebut “Brahm-Arya.” Arya menyembah dewa ganda. Abraham berpaling dari kemusyrikan. Dengan demikian, ia bisa saja menjadi “A-Brahm” (No longer a Brahman). Arya menyebut Asura “Ah-Brahm.” Oleh karena itu, kita secara logis dapat mengasumsikan bahwa ayah dari peradaban Indus itu mungkin prototipikal Yahudi.
Yerusalem adalah kota orang Het/Hittite (kasta kepemimpinan keturunan India) pada saat kematian Abraham. Dalam Kejadian 23:04, Abraham meminta Yerusalem Het untuk menjual plot pemakaman. Orang Het menjawab, “… Kejadian 23:6″Dengarlah kepada kami, tuanku. Tuanku ini seorang raja agung di tengah-tengah kami; jadi kuburkanlah isterimu yang mati itu dalam kuburan kami yang terpilih, tidak akan ada seorangpun dari kami yang menolak menyediakan kuburannya bagimu untuk menguburkan isterimu yang mati itu.”
Jika Abraham dihormati sebagai seorang pangeran oleh orang Het, ia juga sangat dihormati dan memerintah keturunan India dan kasta prajurit. Alkitab tidak pernah mengatakan bahwa Ibrahim bukan seorang Het. Dia hanya berkata, “Aku ini orang asing dan orang asing dengan Anda.” (Kejadian 23:04). Sebagai orang Het mengatakan, mereka mengakui Abraham bahkan di atas mereka. Sama seperti orang Het itu bukan etnis yang unik, baik itu orang Amori atau Amarru. Marruta adalah nama kasta India jelata. Kata “Amori” (Marut) adalah nama kasta pertama Vaishyas India: pengrajin, petani, peternak, pedagang, dll
GD Pande menulis dalam Ancient Geography of Ayodhya, “Maruts mewakili Visah. Maruts digambarkan sebagai membentuk pasukan atau massa Rudra, ayah dari Maruts, adalah Penguasa ternak..” Malita J. Shendge negara (P. 177.): “. … Yang Maruts adalah orang” (The Demons Madani;. P. 314) Kita tidak perlu heran menemukan Khatti (Het) dan Maruts (Amori) berfungsi sebagai ayah (pelindung) dan ibu (helpmates atau asisten) dari Yerusalem.
Di India, orang Het juga dikenal sebagai Cedis atau Chedis (diucapkan Hatti atau Khetti). Sejarawan India mengklasifikasikan mereka sebagai salah satu kasta tertua dari Yadavas. “Cedis membentuk salah satu suku paling kuno di antara Ksatriyas (kelas bangsawan terdiri dari orang Het dan Kassites) di masa awal Veda. Pada awal periode Rgveda raja Cedi telah memperoleh kemasyhuran besar . Mereka merupakan salah satu kekuasaan terkemuka di India utara dalam epik besar. ” (Yadavas Through the Ages, P. 90.). Ram atau Rama juga berasal dari klan Yadava. Jika kata Abraham, Brahm, dan Ram adalah satu dan orang yang sama, Abraham pergi ke Yerusalem bersama bangsanya sendiri!
Jemaat Ram memisahkan diri dalam komunitas mereka sendiri, yang disebut Ayodhya, yang dalam bahasa Sansekerta berarti “tak terkalahkan.” Kata Sansekerta untuk “tempur” adalah Yuddha atau Yudh. Abraham dan kelompoknya milik jemaat Ayodhya (Yehudiya, Yudea) yang masih jauh dari non-Muslim dan Amalek (bangsa Arya?).
Melkisedek adalah seorang raja Yerusalem yang memiliki kekuatan mistik dan magis rahasia. Dia juga guru Abraham.
Ibrani 7:1,3 Sebab Melkisedek adalah raja Salem dan imam Allah Yang Mahatinggi; ia pergi menyongsong Abraham ketika Abraham kembali dari mengalahkan raja-raja, dan memberkati dia.Ia tidak berbapa, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan, dan karena ia dijadikan sama dengan Anak Allah, ia tetap menjadi imam sampai selama-lamanya.
Jika dilihat dari ayat Ibrani 7 :1,3..dimana Maliksedek tidak berawal dan berakhir dan tidak berbapa atau beribu, seolah-olah menggambarkan bahwa Malkisedek adalah nama dari Tuhan. Tetapi sebenarnya jati diri Melkisedek masih rancu. Karena dalam penjelasan lain seolah-olah Melkisedek ini manusia atau Tuhan yang dimanusiakan, atau malah manusia yang diTuhankan? (sebuah distorsi dari Malkisedek).
Melik-Sadaksina adalah seorang pangeran India yang besar, penyihir, dan raksasa spiritual – anak seorang raja Kassite. Di Kashmir dan Sansekerta, Sadak = “seseorang dengan ajaib, kekuatan supranatural.” Sebuah Zadok tertentu (Sadak?) Juga seorang imam supernatural-diberkahi yang diurapi Salomo. Mengapa Kassite (dari kasta kerajaan) Melik-Sadaksina, seorang tokoh mitos India, tiba-tiba muncul di Yerusalem sebagai sahabat dan mentor dari Abraham? Menurut Kumar Akshoy Mazumdar di Sejarah Hindu, Brahm adalah pemimpin spiritual dari bangsa Arya. Sebagai Arya (bukan hasil Yah), dia secara alami percaya pada berhala. Alkitab mengatakan bahwa ia bahkan diproduksi mereka. Setelah melihat bagaimana penyembahan berhala meningkat dan merebak berkontribusi terhadap kejatuhan agama lebih lanjut dari umat-Nya, Brahm mundur dari Aryanism dan memeluk India kuno (Yah) filsafat (Cult of MaterialUniverse) meskipun pun tenggelam dalam kejahatan buatan . Dia memutuskan manusia yang dapat menyelamatkan dirinya hanya dengan berurusan dengan apa yang nyata, bukan dibayangkan.
Terkejut pada barbarisme dan keegoisan rakyat yang membuta, orang-orang bijak dan orang-orang berpendidikan di antara-proto Ibrani mengisolasi diri dari massa. Dr Mazumdar menulis, “Pesatnya kejatuhan moral peramal dan orang bijak hidup terpisah dari massa. Mereka jarang menikah dan sebagian besar diberikan kepada kontemplasi religius. Massa, tanpa cahaya yang tepat dan pemimpin, segera menjadi kejam secara ekstrim. Perkosaan , perzinahan, pencurian, dll, menjadi sangat umum. Sifat manusia berlari liar. Brahma (Abraham) memutuskan untuk reformasi dan meregenerasi orang-orang. Dia membuat pemimpin orang bijak dan peramal untuk menikah dan bergaul dengan orang-orang. Sebagian besar menolak untuk menikah, tapi 30 setuju. ” Brahm menikahi saudara tirinya Saraisvati. Hal ini dikenal sebagai prajapatis (nenek moyang).
“Utara Afghanistan disebut Uttara Kuru dan merupakan pusat pembelajaran besar. Seorang wanita India pergi ke sana untuk mempelajari dan menerima gelar VAK, yaitu Saraisvati (Sarah). Hal ini diyakini bahwa Brahm, dia guru (dan setengah saudara), sangat terkesan dengan kecantikannya, pendidikan, dan intelek yang kuat, bahwa ia menikahinya. ” (The Hindu History, P. 48, in passim.)
Dari masyarakat suci di Afghanistan Selatan, masyarakat serupa tersebar di seluruh dunia: seluruh India, Nepal, Thailand, Cina, Mesir, Suriah, Italia, Filipina, Turki, Persia, Yunani, Laos, Irak, – bahkan Amerika ! Bukti linguistik kehadiran Brahm di berbagai belahan dunia lebih dari jelas: Persia: Braghman (Kudus); Latin: Bragmani (Kudus); Rusia: Rachmany (Kudus); Rachmanya Ukraina (Imam, Kudus); Ibrani: Ram ( Pemimpin Agung); Sebuah kata suci di kalangan umat Hindu dan merupakan suku kata mistik “OM”.
“OM” ini terkait kekal dengan bumi, langit, dan surga sebuah rangkap tiga Semesta . Ini juga merupakan nama Brahm. Suku Aztec juga menyembah dan meneriakkan suku kata OM sebagai ganda utama penciptaan semua: OMeticuhlti (Male Prinsip) dan OMelcihuatl (Female Prinsip). Kasta imam Maya disebut Balam (B’lahm diucapkan). Memiliki “R” suara ada di Maya, itu akan menjadi Brahm. Suku Inca Peru menyembah matahari sebagai Inti Raymi (Hindu Ram).
yang tak dapat disangkal kata yang berasal dari Rama yang secara harfiah bahasa lada Nama asli-Amerika, terutama bahasa suku-suku yang membentang dari Barat Daya Amerika, ke Meksiko, dan semua jalan ke Amerika Selatan, di luar Peru. Indian Tarahumara dari Chihuahua adalah contoh yang ideal. nama asli mereka adalah Ra-Ram-Uri. Seperti di India dan Sumeria , Ra-Ram-Uri “Uri” = “People.” Karena Spanyol “R” adalah getar, ini “Uri” juga bisa Udi atau Yuddhi, nama Sansekerta untuk “Warrior;. Penakluk” Banyak suku Meksiko menyebutkan bahwa ras asing Yuri sekali menyerang bagian mereka dari dunia. Dewa matahari Ra-Ram-Uri adalah Ono-Rúame. Di Kashmir, Ana = “anak favorit;” dewi bulan Ra-Ram-Uri, permaisuri Ono-Rúame, adalah Hawa-Ruame. Kashmir Hava (Hawa) = “Eve, atau Prinsip Perempuan.”
Seorang gubernur Ra-Ram-Uri disebut Si-Riame. Dalam bahasa Sansekerta / Kashmir, Su-Rama = “Rama Besar.” Menurut legenda Meksiko kuno, Yoris memiliki sebuah suku yang disebut Surem (Su-Ram?) Sebelum penaklukan, Meksiko tengah & barat daya Amerika, sejauh Timur Colorado, yang dikenal sebagai Sure’. Sure’ = “Sun” di Kashmir. Panduan Tarahumara menyembuhkan dokter atau rohani adalah Owi-Ruame. Dalam bahasa Sansekerta, Oph = “Hope.” setan mereka disebut Repa-Bet-Eame. Kashmir: Riphas (Penampilan) buth (Roh ganas) Yama (Malaikat Maut). Banyak lain yang mengherankan bahwa Kashmiri/ Sanskerta surat menyuratnya muncul dalam bahasa Ra-Ram-Uri. hubungan mereka ke Fenisia kuno, Sumeria, dan India Utara di luar pertanyaan.
Kebanyakan orang berpikir tentang Fenisia sebagai suku pelaut-pedagang yang daerah huniannya apa yang sekarang dinamakan Libanon. Namun, Pancika atau Pani sebagai Hindu menyebut mereka, atau Puni, oleh Roma (nama juga berasal dari Rama), adalah, seperti gipsi, tersebar di seluruh dunia.
Spanyol disebut tanah Chiahuahua Ra-Ram-Uri, diucapkan seperti Shivava oleh penduduk asli sendiri. Dalam bahasa Sansekerta, Shivava = “Candi Siwa.” Menurut ulama agama Hindu, Ram dan Tuhan Siwa adalah sama. Shiva dan Yah (yang sama kita baca di Alkitab) nama juga menonjol dalam praktik-praktik keagamaan asli-Amerika dan dapat ditemukan bertuliskan sebagai petroglyphs di seluruh barat daya Amerika. ( India Once Ruled the Americas?)
Ayodhya juga nama lain untuk Dar-es-Salam di Afrika Tanzania dan Yerusalem (Yudea). Memang benar bahwa Jerusalemites dikenal sebagai Yehudiya atau Yudea (Laskar Yah), fakta yang membuat orang Yahudi berasal dari India tak terbantahkan.
Tidak ada bagian dari dunia kuno, termasuk China, yang tidak dipengaruhi oleh pandangan agama Ram. Sebagai contoh, Kristen dan Yahudi telah dicuci otak untuk percaya bahwa ajaran-ajaran Muhammad disalin dari sumber-sumber Yahudi. Yang benar adalah bahwa dalam waktu Muhamad, teologi Ram atau Abraham adalah batu dasar dari semua sekte agama. Semua yang Muhammad lakukan adalah untuk membersihkan mereka dari penyembahan berhala.
“… Kuil Mekah didirikan oleh sebuah koloni Brahmana dari India. Itu adalah tempat yang suci sebelum masa Muhammad, dan mereka diizinkan untuk berziarah ke sana selama beberapa abad setelah zamannya. Selebriti besar sebagai material tempat suci jauh sebelum masa nabi tidak bisa diragukan. ” (Anacalypsis, Vol I,. P. 421.)
“… Kota Mekah dikatakan oleh para Brahmana, pada otoritas buku-buku lama mereka, telah dibangun oleh sebuah koloni dari India, dan penduduknya dari era awal sudah memiliki tradisi yang dibangun oleh Ismael, Agar anak kota ini,. dalam bahasa Indus, akan disebut Ishmaelistan. ” (Ibid, P. 424.)
Sebelum Muhammad, Hindu dari bangsa Arab disebut Tsaba. Tsaba atau Saba adalah sebuah kata Sansekerta, yang berarti “Majelis para Dewa”. Tsaba juga disebut Isya-ayalam (Candi Siwa). Istilah kaum atau Moshe-ayalam (Candi Siwa) hanyalah nama lain dari Sabaism. Kata ini telah menyusut ke Islam. Muhammad sendiri, menjadi anggota keluarga Quaryaish, berada di Tsabaist pertama. KaumTsaba tidak menganggap Abraham sebagai tuhan yang sebenarnya, tetapi sebagai avatar atau guru ilahi disebut Avather Brahmo (Hakim dari bawah dunia).
Kaum Saba atau Sabæ adalah masyarakat kuno yang berbicara bahasa “Arab Selatan lama” yang bemukim di tempat yang sekarang disebut Yaman, di barat daya Semenanjung Arab dari 2000 SM hingga abad ke-8 SM. Sebagian kaum Saba juga tinggal di D’mt, yang terletak di utara Ethiopia dan Eritrea, karena hegemoni mereka mereka melampaui Laut Merah.
Dalam Al-Quran Kaum Saba’ disebut sebagai kaum yang akhirnya ingkar terhadap Allah, sehingga Allah menghukumnya.
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat kediaman mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri, (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezeki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun”. Tetapi mereka berpaling, maka Kami datangkan kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun-kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi (pohon-pohon) yang berbuah pahit, pohon Atsl dan sedikit dari pohon Sidr. Demikianlah Kami memberi balasan kepada mereka karena ke-kafiran mereka. Dan kami tidak menjatuhkan azab (yang demikian itu), melainkan hanya kepada orang-orang yang sangat kafir.” (QS Saba’, 34: 15-17). !
Pada masa Yesus, bahasa masing-masing, simbolisme agama, dan tradisi orang Arab dan Yahudi hampir identik. Jika kita bisa mengambil mesin waktu ke masa lalu, sebagian besar dari kita tidak akan melihat perbedaan nyata antara orang-orang Arab dan Yahudi. Sejarah memberitahu kita bahwa orang Arab di jaman Kristus menyembah berhala. Begitu juga kelas bawah dan Yahudi pedesaan. Untuk alasan ini, pertengkaran Timur Tengah antara Yahudi dan Muslim dan benci antara Muslim dan Hindu di India adalah konyol. Kaum muslimin memerangi orang-orang Yahudi dan Hindu, atau sebaliknya, atas apa-apa. Semua tiga kelompok muncul dari sumber yang sama.
Kashmiri-Sansekerta setara Hebron (Khev’run dalam bahasa Ibrani) mencuatkan asal daerah India yang diduduki pada masa Yerusalem awal: Khab’ru (kuburan, makam). (See Grierson’s Dictionary.; p. 382.) Bahkan dalam bahasa Ibrani, Kever = “Tomb.”
ahli bahasa India dan orientalis Maliti J. Shendge ‘s Bahasa Harappans menyatu bersama-sama, sekali dan untuk semua, peradaban Asia Barat dan Lembah Indus. Tidak hanya dia membuktikan bahwa Harappa sbelumnya Akkadia dan Sumeria, dia juga membuktikan bahwa pertama “Abraham” itu tak lain dari Adam sebelum Hawa diciptakan dari salah satu tulang rusuknya.
“… Dapat dikatakan bahwa wilayah dari Tigris-Efrat ke Indus dan dari timur dihuni oleh Semit berbicara Akkadia yang kemudian menyebut diri mereka sebagai Asshuraiu. Nama India mereka sebagaimana diketahui dari Rgveda adalah ‘Asura’ yang tidak jauh dihapus Bahwa daerah ini harus dihuni oleh marga yang berbeda dari etos yang sama tidak sangat mengejutkan.. Bagaimanapun akan salah untuk berpikir bahwa itu adalah kelompok ras yang homogen. Sebagai bukti linguistik kami menunjukkan itu adalah populasi campuran dari kelompok Akkadians dan Sumeria. Etnis lain mungkin juga telah hadir, yang jejak bisa dilihat dalam pekerjaan di masa depan. ini komposisi campuran populasi tidak konsisten dengan keadaan pengetahuan, sebagai kehadiran unsur-unsur etnis di lembah Indus hanya memastikan dan memperluas pola demografi identik, yang mungkin eksis dari zaman prasejarah dan awal peradaban.
“Jika Akkadians dan klan Asia Barat adalah sama, seharusnya ada yang dominan yang sama dari pasangan ini yg mula-mula dalam mitologi Veda. Namun, lebih dari satu referensi samar, tidak ada referensi untuk mereka ini, membingungkan.. Hal ini tampaknya tidak mungkin bahwa marga ini tanpa orang tua yg mula-mula, meskipun mereka menduga Tuhan mereka adalah Asura. Dominasi Brahman di RV sebagai ayah yg adalah mula-mula juga ada yang tidak memadai karena ia adalah prinsip laki-laki saja. Penelitian dekat terhadap Brahman mengungkapkan keturunannya berasal dari dua kata Abu + Rahmu yang merupakan pasangan yg mula-mula dalam mitologi Semit. Para mitra Akkadia dari Rahmu adalah Lahmu yang kemudian menjadi dewi Laksmi, lahir di laut dan didekati oleh kedua dewa dan setan, Lahmu adalah naga dalam bahasa Akkadia tetapi dalam Ugaratic Rahmu ini merupakan anak gadis Abu. Brahma (rahmu + abu = abrahma = brahma) semua perubahan postulat di sini adalah tercakup dalam korespondensi di atas, atau gadis Abu, maka Ketuhanan Semit tertinggi, telah mengalami banyak transformasi dan memiliki banyak rekan-rekan di jajaran India, antara siapa Laksmi salah satu yang penting yang disembah sebagai dewi semua ciptaan materi. Jadi klan Asura lembah Indus memuja Abu-Rahmu sebagai pasangan yg mula-mula.. “(pp.269 – 270.)
Penelitian Ms Shendge benar-benar memperkuat keyakinan bahwa sisa-sisa Abraham dan Sarai (Sarah) di Hebron mungkin benar-benar orang-orang dari Brahm dan Saraisvati yang nyata. Abraham jelas seorang imam, bahkan mungkin pendiri, dari kultus Abu-Rahmu (Adam dan Hawa) yang membawa agama monoteisme ke Asia Barat. Meskipun ia dan Sarai (Sarah) kembali ke asal mereka di India sebagai paham yang didewakan dalam berbagai bentuk, mereka tetap sebagai manusia dalam Yudaisme.
Umat Hindu kuno suka akan pemujaan pahlawan. Itulah mengapa kisah para nabi jaman dulu dikultuskan sebegitu rupa melebihi aslinya menjadi kisah mitos. Dan yang paling parah saking berlebihannya dalam mengkutuskan para pahlawan (nabi) mereka menganggap para nabi (pahlawan) sebagai bagian Tuhan. Misalnya Nabi Ibrahim yang dimanifestasikan menjadi Dewa Brahma, Nabi Adam dimanifestasikan menjadi Dewa Sywa, dan Manu (Nabi Nuh) kemungkinan menjadi Wishnu. Bahkan ada sebuah opini bahwa makam dari Nabi Shees dan Ayub ada di Ayodya di sebuah propinsi Utar Pradesh India.
Dalam cerita kuno Hindhu ada hubungan bahwa Ibrahim merupakan wangsa dari Ayodhya (Yudea). Dan bawa Ibrahim merupakan Pangeran dari kasta prajurit India . Dari sini kita bisa mengambil kesimpulan sementara bahwa jalur migrasi Nabi Ibrahim adalah dari kota “Ur” di Babilonia ke arah India. Setelah hidup di India beberapa lamanya Ibrahim harus bermigrasi ke Arah Barat yaitu Arabia sampai Israel sekarang. Migrasi dari India karena bencana akibat perang dan banjir besar.
Dan jika ternyata di dalam Veda banyak ditemukan informasi akan datangnya nabi Muhammad, maka hal itu tidak aneh karena hal itu dikabarkan oleh Nabi Ibrahim sebagai Imam dari semua bangsa.
Daerah sekitar India dan Persia sebelum atau sesudah jaman nabi Ibrahim merupakan daerah dengan banyak kepercayaan. Dimana penduduk disekitarnya disebut sebagai Hindhu. Jadi Hindhu bukanlah nama agama tetapi nama Geografis. Jadi semua ajaran (kepercayaan) dan Manuskrip tua di daerah itu disatukan dengan nama Hindhu..
Hindhu dan Veda adalah beda. Para Sarjana Hindhu lebih suka disebut Sanatana Dharma atau Vedic Dharma. Ini kemungkinan karena mereka memakai Veda sebagai pegangan utama. Sedangkan Nama Hindhu lebih universal, bisa mengacu di luar ajaran Veda. Karena di dalam Veda tak menyebut soal Hindhu.
Orang Arya (Persia) menyebut wilayahnya sebagai “Saptha Sindhu” atau wilayah dengan 7 sungai di barat daya india dengan salah satu sungainya yaitu sungai Indus. Itu mengapa dalam Kitab Suci Persia Kuno (Zoroaster) terdapat kata Hapta-Hendu yang termuat dalam Zend Avesta (Vendidad: Fargard 1.18) . Jadi Hindu merujuk pada Masyarakat yang hidup di sekitar sungai sindhu. Tetapi secara pasti Nama Hindhu mulai terkenal tak lebih dari 500 tahun yang lalu.
29 Juni 2012

ZULKARNAEN DAN KOTA ATLANTIS

oleh alifbraja

ZULKARNAEN DAN KOTA ATLANTIS MENURUT AL-QURAN, sebuah Tafsir.

zulkarnaen dan Kota Atlantis Menurut Al-Quran

Di dalam artikel ini akan dibahas mengenai hubungan antara Dzulkarnaen dengan Peradaban tinggi jaman dulu (Atlantis). Ini hanya kajianku pribadi, jadi jika salah yang salah adalah penulis bukan Al-Quran nya. Aku hanya mencoba mentafsirkan.

[QS 18:83] Mereka akan bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tantangnya”.
 
Berdasarkan ayat ini maka Dzulkarnaen adalah manusia yang hidup sebelum nabi Muhammad.
[QS 18:90] Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahariitu,
Dalam tafsir Harun Yahya, disebutkan bahwa kalimat dari “Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahariitu”, adalah daerah Kutub. Dimana di daerah ini lapisan ozon lebih tipis sehingga radiasi matahari lebih berbahaya.
Tahun 1991 Arkeologis Amerika dan Mesir menemukan sekitar 12 perahu besar 13 km dari sungai Nil yang merupakan kepunyaan Fir’aun pertama. Berusia sekitar 5000 tahun yang kemungkinan merupakan kapal untuk tujuan keagamaan. Menurut Herodotus orang Mesir mengenal perbintangan lebih dari 10.000 tahun yang lalu. Pengetahuan ini didapatkan (diwarisi) dari peradaban asing yang belum diketahui. Kemungkinan berasal dari Antartika. Antartika dipercaya dulunya tidak tertutup Es 100%. Dan bahwa gletser lah yang menghancurkan peradaban Antartika mulai sejak 10.000 SM (www.s8int.com)
Gambar Benua Antartika
Jadi siapakah orang yang pada masa lalu yang pernah sampai ke kutub?. Jika orang itu adalah Alexander Agung, sepertinya bukan. Karena berdasarkan sejarah dia belum pernah sampai ke Kutub. cuma sampai sekitar Asia tengah.
Bisa disimpulkan bahwa Dzulkarnaen merupakan penjelajah pada masa lalu yang kemungkinan secara peradaban sudah maju. Selain daerah kutub, penjelajahan juga pernah sampai di sekitar laut hitam (QS 18:86)
[QS 57:25]…… Dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa.
[QS 18:96] berilah aku potongan-potongan besi”. Hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga (yang mendidih) agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu”.
[QS 18:98] Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh; dan janji Tuhanku itu adalah benar”.
Dimanakah tempat yang dimaksud di ayat tersebut diatas?. Dr Kuehne mencermati Atlantis sebagai daratan yang memanjang dari pantai selatan spanyol sampai kota Sevila. Gunung yang tinggi oleh para ahli digambarkan sebagai Sierra Novena dan Sierra Nevada. “Plato juga menulis bahwa Atlantis kaya akan tembaga dan logam lainnya. Tembaga ditemukan melimpah di tambang dari Sierra Morena,” jelas Dr Kuehne.
Dr Kuehne melihat bahwa perang antara Atlantis dan Mediterania timur yang dijelaskan dalam tulisan-tulisan Plato mirip serangan terhadap Mesir, Siprus dan Levant selama abad 12 SM oleh perampok misterius yang dikenal sebagai Orang Laut. Akibatnya, ia mengusulkan bahwa Atlantis dan Orang Laut berada dalam satu fakta dan sama. Pertemuan ini akan menyamakan baik kota dan masyarakat Atlantis dengan budaya Zaman Besi Tartessos dari Spanyol selatan atau lainnya, zaman perunggu yang tak diketahui. Sebuah hubungan antara Atlantis dan Tartessos pertama kali diusulkan pada awal abad ke 20. (www.s8int.com)
Bayangkan, bahwa Dzulkarnaen bisa membuat benteng dari besi setinggi gunung. Tentu Dzulkarnaen manusia yang sangat hebat. Tetapi siapakah manusia masa lalu yang sehebat dia. Anda mungkin pernah membaca bahwa di dunia ini ada sisa-sisa teknologi masa lalu, semisal radiator nuklir kuno di Oklo Gabon Afrika, juga bangunan kuno yang secara teknologi atau arsiteknya melebihi bangunan sekarang. Juga tentang teroti Lemuria atau Atlantis, yang merupakan peradaban canggih masa lalu yang hilang.
[QS 50:36] Dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)?
[QS 35:44] Dan apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang yang sebelum mereka, sedangkan orang-orang itu adalah lebih besar kekuatannya dari mereka? Dan tiada sesuatupun yang dapat melemahkan Allah baik di langit maupun di bumi. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.
[QS 40:82] Maka apakah mereka tiada mengadakan perjalanan di muka bumi lalu memperhatikan betapa kesudahan orang-orang yang sebelum mereka. Adalah orang-orang yang sebelum mereka itu lebih hebat kekuatannya dan (lebih banyak) bekas-bekas mereka di muka bumi , maka apa yang mereka usahakan itu tidak dapat menolong mereka.
Reaktor Nuklir Prasejarah di Gabon
Bangunan bawah laut di Cuba (3D scan bawah laut)
Kuil kuno bawah laut di Jepang
Sisa peradaban kerajaan Harapa India, di pantai Mahabalipuram
[QS 20:99] Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an)
[QS 12:3] Kami menceritakan kepadamu kisah yang paling baik dengan mewahyukan Al Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya kamu sebelum (Kami mewahyukan) nya adalah termasuk orang-orang yang belum mengetahui
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 147 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: