Posts tagged ‘arti cinta’

8 Juli 2012

Filosofi Gelap Freemasonry

oleh alifbraja

Filosofi Gelap Freemasonry Ateis

Filosofi Gelap Freemasonry Ateis (1)

Ilustrasi strata organ Fremasonry.

Oleh: Harun Yahya *

Freemason Ateis menjadikan “perdamaian, persaudaraan dan kasih sayang di antara umat manusia” sebagai ajaran misi mereka.

Namun konsep-konsep ini, meskipun tampaknya positif pada pandangan pertama, menyimpan permusuhan terhadap agama.

Masonry Ateis telah menjadi salah satu topik utama yang membuat orang penasaran dan bingung. Itu karena kegiatan organisasi ini bersifat rahasia, dus filosofi dan tujuan-tujuan mereka memiliki sejumlah kontroversi.

Dalam pernyataan publik, Freemason Ateis kerap mengobral “cinta kasih sesama manusia, toleransi, persaudaraan universal, cara-cara menggapai pengetahuan dan kebijaksanaan…” secara luas. Sebuah konsep instan yang menarik hati. Walau demikian, Freemasonry Ateis adalah sebuah organisasi gelap dengan fitur-fitur ateis dan bahkan anti-agama.

Aspek paling menarik Freemasonry Ateis adalah konsep-konsep yang mereka sebutkan dalam pernyataan publik dan tuduhan mereka terhadap kaum “beragama” pada intinya tidak memiliki banyak perbedaan. Pada tahap ini, seseorang mungkin akan bertanya, “Kenapa?”

Bagaimana pun juga, konsep-konsep ini tampaknya saling berlawanan; cinta, toleransi dan konsep “humanis” sejenis lainnya tampaknya tidak anti-agama pada pandangan pertama.

Selain itu, banyak orang yang berpikir bahwa konsep-konsep tersebut terdapat dalam moral dan ajaran agama. Benarkah demikian? Bagaimana pun jua, kebenaran yang melekat dalam konsep inilah yang lebih utama.

Apakah arti cinta bagi kaum Freemasonry Ateis? Freemason Ateis kerap berbicara tentang persaudaraan, toleransi dan perdamaian universal. Mereka menggunakan retorika bahwa manusia bertanggung jawab terhadap manusia lainnya.

Sebenarnya ini adalah kata-kata yang merujuk pada konsolidasi (persatuan) di antara manusia, dengan demikian tidak ada yang salah dengan mereka. Namun, bagaimana dengan tanggung jawab seseorang kepada Allah?

Pertanyaan ini menguak wajah filosofi Masonik Ateis yang sebenarnya. Hal itu karena, “cinta pada manusia”, sebagaimana dimaksudkan filsafat Masonik ateis, bukan cinta yang bersumber dari kenyataan bahwa manusia adalah ciptaan Allah, sebagaimana disepakati Yunus Emre dalam kata-katanya “untuk mengasihi ciptaan karena Sang Pencipta”.

Sebaliknya, Freemason Ateis percaya bahwa semua manusia lahir sebagai akhir dari sebuah proses evolusi. Hal ini, bagaimanapun, merupakan ekspresi utama penolakan terhadap Allah.

Secara singkat, filsafat yang didefinisikan sebagai “humanisme”, yang merupakan tulang punggung Freemasonry Ateis, hanya meramalkan cinta yang ditunjukkan kepada manusia dan bukan kepada Allah.

Filosofi yang terdistorsi ini diungkapkan dalam laporan resmi Freemason Ateis loji Turki yang diterbitkan pada 1923:

“Kami tidak lagi menerima Allah sebagai tujuan hidup kita. Kami telah menciptakan tujuan kita sendiri. Tujuan itu akan melayani kemanusiaan dan bukan Allah lagi.”

“Masyarakat tertinggal itu impoten. Untuk menutupi ketidakmampuan mereka, mereka kerap mendewakan kekuatan dan kejadian yang mengelilingi mereka. Masonry mempertuhankan manusia.” (Selamet Mahfili-Konferensi Ketiga, hal: 51).

Definisi humanisme, yang menjadi dasar Freemasonry Ateis, menunjukkan bahwa filosofi ini bersifat anti-agama. Julian Huxley, pemimpin gerakan humanis di abad ke-20 mendirikan sebuah agama baru, “Evolusi Humanisme” dengan bimbingan teori evolusi Darwin.

Dia berkata, “Ketika menggunakan kata “humanis”, maksud saya adalah manusia merupakan makhluk alam seperti tetumbuhan atau binatang. Dengan kata lain, tubuh manusia, pikiran dan jiwa manusia tidak diciptakan oleh kekuatan supranatural, namun tercipta berdasarkan hasil evolusi.

Oleh karena itu, manusia tidak boleh percaya pada kendali maupun panduan kekuatan supranatural, tapi harus percaya pada kendali dan kekuatannya sendiri.” (Brosur Asosiasi Humanis Amerika).

John Dewey menerbitkan “Manifesto Humanis” pada 1933. Manifesto ini menekankan gagasan bahwa sudah waktunya untuk menghilangkan agama Ilahi dan menggantinya dengan era baru pengembangan ilmiah dan kerjasama sosial.

Manifesto kedua yang diterbitkan pada 1973 menjelaskan semua ancaman terhadap umat manusia. Dalam Manifesto ini, diberikan garis besar tentang bagaimana filsafat ini menyangkal keberadaan Allah: “Tidak ada Tuhan yang akan menyelamatkan kita. Kita harus menyelamatkan diri kita sendiri.”

Ideologi Masonik Ateis juga didasarkan pada prinsip-prinsip humanistik yang sama. Semua kata-kata panas yang digunakan dalam ideologi mereka bersifat menipu ketika seseorang benar-benar melihat arti keberadaan masing-masing.

Setelah terlepas dari keberadaan Allah, kata-kata seperti cinta, persaudaraan dan perdamaian menjadi tidak berarti. Tujuan eksistensi manusia satu-satunya di dunia adalah untuk menyembah Allah. “Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Jika manusia menyangkal tugas ini dan memberontak kepada Allah, maka Allah mungkin tidak akan pernah memberikan keselamatan.

Seseorang tidak akan pernah bisa benar-benar mencintai orang lain kecuali ia memiliki iman kepada Allah. Inilah sebabnya mengapa istilah “cinta kasih terhadap manusia” kerap digunakan dalam ideologi Masonik Ateis yang sepenuhnya terpisah dari kenyataan.

Semua ideologi yang didasarkan pada pengingkaran akan memperkuat sisi jahat dalam diri seseorang dan oleh sebab itu, akan menimbulkan pertumpahan darah dan penyiksaan.
Selama abad ke-20, karena adanya ideologi anti-agama seperti komunisme dan fasisme, ratusan juta orang menderita dan menjadi korban genosida, sementara miliaran lainnya menjadi sasaran penyiksaan dan penindasan.

Hal ini juga penting diingat, bahwa Revolusi Perancis—sebuah gerakan yang didukung Freemason—mendapatkan kekuatannya dari moto “Kebebasan, Kesetaraan dan Persaudaraan”, namun berakhir dengan tewasnya puluhan ribu orang di bawah guillotine (pisau jagal).

Seperti halnya konsep “cinta kasih sesama manusia” yang ditafsirkan dalam kerangka humanisme, “pengetahuan” dan “rasionalisme” juga digunakan dalam konteks anti-agama oleh Freemason Ateis.

Bagi seorang Muslim, ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengamati alam semesta yang diciptakan Allah dan untuk memahami rahasia-rahasia yang mendasari cara dan fungsinya.

Berpikir rasional, di sisi lain, adalah cara menjalankan perintah-perintah Allah dalam Alquran dan merupakan tanda keimanan. Namun dalam terminologi Masonik Ateis, konsep-konsep ini digunakan dengan konotasi yang sama sekali berbeda.

Menurut pola pikir Masonik Ateis, ilmu bukan merupakan alat yang digunakan untuk menganalisa makhluk yang diciptakan Allah. Sebaliknya, memercayai sains dikaitkan dengan menjadi ateis.

Dengan kedok ilmu pengetahuan, kebohongan Darwinisme diindoktrinasikan kepada masyarakat. Kaum Masonik Ateis mengajarkan perang melawan agama dengan cara-cara tipuan ala Darwinisme, yang sebenarnya ditolak oleh ilmu itu sendiri.

Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan Freemason Ateis Turki, disebutkan bahwa tanggung jawab Freemason Ateis adalah membuat propagasi non-religiusitas yang berkedok “ilmu” pengetahuan.

“Memercayai bahwa ini (teori Darwin) adalah cara terbaik dan tunggal dalam evolusi, tugas utama Masonik kami tidak menyimpang dari ilmu-ilmu dan kebijaksanaan positif, untuk menyebarkan kepercayaan di antara masyarakat dan untuk meningkatkan masyarakat dengan bimbingan ilmu,” kata jurnal tersebut.

Kata-kata Ernest Renan berikut ini sangat penting, “Tujuan agama yang sia-sia akan runtuh dengan sendirinya, hanya jika masyarakat dilatih dan tercerahkan oleh ilmu pengetahuan dan akal.”

Kata-kata Lessing berikut juga mendukung argumen yang sama, “Melalui pencerahan manusia dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, manusia tidak lagi merasa membutuhkan agama satu hari nanti.”

Inilah pendekatan Masonik Ateis terhadap agama.


* Ilmuwan Muslim asal Turki

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 146 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: