Posts tagged ‘hak hak’

28 September 2012

RAHASIA al-Qur’an 2

oleh alifbraja

PENGARUH PERBUATAN BAIK DAN UCAPAN YANG BAIK

 

 

Manusia senantiasa mencari lingkungan yang tenang tempat mereka dapat hidup dengan aman, gembira, dan membina persa­ha­batan. Meskipun mereka merindukan keada­an yang demikian itu, mereka tidak pernah melakukan usaha untuk menyu­bur­kan nilai-nilai tersebut, tetapi sebaliknya, mereka sendirilah yang menjadi penyebab terjadinya konflik dan kesengsaraan. Sering kali orang mengharapkan agar orang lain mem­berikan ketenangan, kedamaian, dan bersikap bersahabat. Hal ini berlaku dalam hubungan keluarga, hubungan antarpegawai di perusahaan, hubungan kemasyarakatan, maupun persoalan internasional. Namun, untuk membina persahabatan dan mencip­takan kedamaian dan keamanan dibutuhkan sikap mau mengorbankan diri. Konflik dan keresahan tidak dapat dihindari jika orang-orang hanya bersikukuh pada ucapannya, jika mereka hanya mementingkan kesenangannya sendiri tanpa bersedia melakukan kompromi atau pengorbanan. Bagaimanapun, orang-orang yang beriman dan bertakwa kepada Allah tidak bersikap seperti itu. Orang-orang yang beriman tidak mementingkan diri sendiri, suka memaafkan, dan sabar. Bahkan ketika mereka dizalimi, mereka bersedia mengabaikan hak-hak mereka. Mereka menganggap bahwa kedamaian, keamanan, dan kebahagiaan orang lain lebih penting dibandingkan dengan kepentingan pribadi mereka, dan mereka menunjukkan sikap yang santun. Ini merupakan sifat mulia yang dipe­rintahkan Allah kepada orang-orang beriman:

 

“Dan tidaklah sama kebaikan dan keja­hat­an. Tolaklah kejahatan itu dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianuge­rahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keber­un­tungan yang besar.” (Q.s. Fushshilat: 34-5).

 

“Ajaklah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantah­lah mereka dengan cara yang baik. Sesung­guhnya Tuhanmu Dialah yang lebih menge­tahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.s. an-Nahl: 125).

 

Sebagaimana dinyatakan dalam ayat tersebut, sebagai balasan atas perbuatan baik­nya bagi orang-orang yang beriman, Allah mengubah musuh mereka menjadi “teman yang setia”. Ini merupakan salah satu rahasia Allah. Bagaimanapun juga, hati manu­sia berada di tangan Allah. Dia mengubah hati dan pikiran siapa saja yang Dia kehendaki.

Dalam ayat lainnya, Allah mengingatkan kita tentang pengaruh ucapan yang baik dan lemah lembut. Allah memerintahkan Nabi Musa dan Harun a.s. agar mendatangi Fir‘aun dengan lemah lembut. Meskipun Fir‘aun itu zalim, congkak, dan kejam, Allah memerin­tahkan rasul-Nya agar berbicara kepadanya dengan lemah lembut. Allah menjelaskan alasannya dalam al-Qur’an:

 

“Pergilah kamu berdua kepada Fir‘aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Q.s. Thaha: 43-4).

 

Ayat-ayat ini memberitahukan kepada orang-orang yang beriman tentang sikap yang harus mereka terapkan terhadap orang-orang kafir, musuh-musuh mereka, dan orang-orang yang sombong. Tentu saja ini mendorong kepada kesabaran, kemauan, kesopanan, dan kebijakan. Allah telah mengungkapkan sebu­ah rahasia bahwa Dia akan menjadikan per­buatan orang-orang beriman itu akan meng­hasilkan manfaat dan akan mengubah musuh-musuh menjadi teman jika mereka menaati perintah-Nya dan menjalankan akhlak yang baik.

 


TERDAPAT KEMUDAHAN DALAM KESULITAN

 

 

Allah menciptakan dunia sebagai ujian bagi manusia. Sebagaimana sifat ujian itu sendiri, terkadang Dia menguji manusia dengan kesenangan, terkadang dengan pende­ritaan. Orang-orang yang menilai berbagai peristiwa tidak berdasarkan al-Qur’an tidak mampu menafsirkan secara tepat ber­bagai peristiwa tersebut, kemudian men­jadi ber­sedih hati dan kehilangan harapan. Pada­hal Allah mengungkapkan rahasia penting dalam al-Qur’an yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Rahasia tersebut dijelaskan sebagai berikut:

 

“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.s. asy-Syarh: 5-6).

 

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam ayat ini, apa pun bentuk penderitaan yang dialami seseorang atau bagaimanapun situasi yang dihadapi, Allah menciptakan sebuah jalan keluar dan memberikan kemu­dahan kepada orang-orang yang beriman. Se­sungguhnya, orang yang beriman akan me­nyaksikan bahwa Allah memberikan kemu­dahan di dalam semua kesulitan jika ia tetap istiqamah dalam kesabarannya. Dalam ayat lainnya, Allah telah memberi kabar gembira berupa petunjuk dan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya:

 

“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan bagi­nya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Q.s. ath-Thalaq: 2-3).

 

 

Allah Tidak Membebani Seseorang

di Luar Kemampuannya

 

Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penya­yang, dan Mahaadil, menjadikan kemudahan dalam segala sesuatu dan menguji manusia sesuai dengan batas-batas kekuatan mereka. Shalat yang diperintahkan Allah untuk diker­jakan manusia, kesulitan-kesulitan yang Dia ciptakan untuk mengujinya, tanggung jawab yang Dia bebankan kepada manusia, semua­nya sesuai dengan kemampuan seseorang. Ini merupakan kabar gembira dan menent­ramkan bagi orang-orang beriman, dan meru­pa­kan wujud dari kasih sayang dan kemurah­an Allah. Allah menceritakan rahasia ini dalam beberapa ayat sebagai berikut:

 

“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih ber­man­faat, hingga sampai ia dewasa. Dan sem­purnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kesang­gupan­nya. Dan apabila kamu berkata, maka hen­daklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepa­da­mu agar kamu ingat.” (Q.s. al-An‘am: 152).

“Dan orang-orang yang beriman dan me­nger­jakan amal saleh, Kami tidak memikul­kan kewajiban kepada diri seseorang melain­kan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. al-A‘raf: 42).

 

“Kami tidak membebani seseorang melain­kan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” (Q.s. al-Mu’minun: 62).

 

 

Hidup Menjadi Mudah dengan

Menja­lankan Agama Allah

 

Sebagian besar manusia beranggapan bahwa agama menjadikan hidup mereka sulit dan mereka dibebani dengan kewajiban-kewajiban yang berat. Sesungguhnya ini meru­pakan anggapan sesat yang dibisikkan oleh Setan kepada manusia agar mereka ter­sesat. Sebagaimana telah disebutkan ter­dahulu, agama itu mudah. Allah menyata­kan bahwa Dia akan memberikan kemudahan kepada orang-orang beriman setelah mereka menghadapi kesulitan. Di samping itu, ajaran agama seperti bertawakal kepada Allah dan meyakini takdir juga dapat menghilangkan semua beban, kesulitan, dan penyebab pende­ritaan dan duka cita. Bagi seseorang yang hidup dengan agama Allah, tidak ada pende­rita­an, duka cita, atau putus asa. Dalam bebe­rapa ayat, Allah menjanjikan akan menolong orang-orang yang berserah diri kepada-Nya dan orang-orang yang membantu agama-Nya, dan akan memberikan kehidupan yang baik kepada mereka, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Tuhan kita, Yang tidak pernah mengingkari ucapan-Nya, menyatakan seba­gai berikut:

 

“Ketika orang-orang yang bertakwa ditanya, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan­mu?’ Mereka menjawab, ‘Kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertak­wa.” (Q.s. an-Nahl: 30).

 

Allah memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa Dia akan memberikan keberhasilan kepada orang-orang yang menjalankan agama-Nya:

 

“Adapun orang yang memberikan harta­nya (di jalan Allah) dan bertakwa, dan mem­benarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Q.s. al-Lail: 5-7).

 

Sebagaimana yang diungkapkan oleh rahasia-rahasia ini, orang yang dengan ikhlas berpaling kepada agama Allah berarti telah memilih jalan yang benar sejak permulaan, jalan yang mudah yang akan membawa kepada keberhasilan, yang akan menda­tang­kan manfaat di dunia dan di akhirat. Dalam pada itu bagi orang-orang kafir, yang terjadi adalah sebaliknya. Orang-orang kafir semen­jak awal telah mengalami kehidupan yang penuh dengan duka cita, kesedihan, dan meng­alami kerugian, baik di dunia maupun di akhirat. Pada saat mereka memutuskan ber­ada dalam kekufuran, mereka telah meng­alami kerugian di dunia dan akhirat. Hal ini dinya­ta­kan dalam ayat-ayat sebagai berikut:

“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendus­takan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sulit.” (Q.s. al-Lail: 8-10).

 

Allah adalah Pemilik dan Pencipta segala sesuatu. Dengan demikian tentu saja sangat penting bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon bantuan dan pertolongan-Nya agar Dia memberikan keku­atan. Orang yang menjadikan Allah sebagai penolongnya dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya, hidupnya di dunia dan akhirat akan dipenuhi rahmat dan karunia, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mencelakakan diri­nya. Ini merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri. Oleh sebab itu, setiap orang yang memahami kebenaran dan memiliki hati nurani tentu memahami rahasia-rahasia yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan memilih jalan yang benar dan lurus. Jika orang-orang kafir tidak dapat memahami fakta-fakta yang sangat jelas ini, tentu saja hal ini juga meru­pakan rahasia tersendiri. Betapapun mereka sangat cerdas dan berpendidikan, akal mereka tidak mereka gunakan sehingga mereka tidak dapat memahami dan melihat fakta-fakta tersebut.

 


ALLAH MENGABURKAN PEMAHAMAN ORANG-ORANG KAFIR

 

 

Jika orang-orang kafir tidak dapat mema­hami al-Qur’an, ini merupakan rahasia yang sangat penting yang dijelaskan dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ini merupakan rahasia penting, karena al-Qur’an itu merupakan kitab yang sangat jelas, mudah, dan seder­hana. Siapa pun yang mau dapat membaca al-Qur’an dan mengkaji firman Allah tentang akhlak terpuji yang diridhai-Nya, keadaan surga dan neraka, dan tentang berbagai raha­sia yang juga diketengahkan dalam kitab ini. Meskipun hukum-hukum Allah tersebut tidak terbantahkan, sebagian orang tidak mampu memahami al-Qur’an, sekalipun telah sangat jelas. Di samping itu, orang-orang seperti insinyur nuklir atau profesor biologi, yang dapat memahami cabang-cabang sains yang rumit seperti fisika, kimia, atau matema­tika, dan mampu memahami Budhisme, Hin­duisme, Shintoisme, materialisme atau komu­nisme, anehnya mereka tidak mampu mema­hami al-Qur’an. Orang-orang yang berpegang pada sistem non-al-Qur’an yang rumit terse­but bagaimanapun tidak dapat mema­hami agama Allah yang jelas dan mudah, bahkan mereka juga tidak mampu memahami persoal­an-persoalan yang jelas yang terkandung di dalamnya.

Bahwa mereka tidak dapat memahami fakta yang sangat jelas, sesungguhnya ini juga merupakan keajaiban tersendiri. Dengan me­nun­jukkan bahwa mereka memiliki keku­rang­an yang parah dalam hal pemahaman, Allah menjelaskan bahwa sebagian orang memiliki kehidupan yang berbeda. Di sisi lain, hal ini memberikan bukti terhadap fakta bahwa sesungguhnya hati, akal, dan pema­ham­an itu berada di tangan Allah. Allah menyata­kan bahwa Dia akan menutupi hati dan pemahaman orang-orang yang dihinggapi perasaan takabur, yaitu orang yang tidak mau berserah diri kepada Allah. Fakta bahwa mereka dapat memahami apa saja kecuali al-Qur’an, ini menjelaskan bahwa Allah telah mema­lingkan mereka dari ayat-ayat-Nya, dan mereka ter­hijab dari al-Qur’an karena keti­dakikhlas­an mereka. Adapun sebagian ayat yang mem­bi­cara­kan masalah ini adalah:

 

“Dan apabila kamu membaca al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman dengan ke­hidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mere­ka dan sumbatan telinga mereka, agar mereka tidak dapat memaha­minya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam al-Qur’an, niscaya mereka berpaling ke bela­kang karena bencinya.” (Q.s. al-Isra’: 45-6).

 

“Dan di antara mereka ada orang yang men­dengarkanmu, padahal Kami telah meletak­kan tutup di atas hati mereka (sehing­ga mereka tidak) memahaminya dan sum­batan di telinganya. Dan jika mereka melihat segala tanda, mereka tetap tidak mau ber­iman kepa­danya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk memban­tahmu, orang-orang kafir itu berkata: ‘Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu’.” (Q.s. al-An‘am: 25).

 

 

 

“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripa­danya dan melupakan apa yang telah diker­jakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahami­nya, dan sumbatan di telinga mereka, dan mes­kipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan menda­pat petunjuk selama-lamanya.” (Q.s. al-Kahfi: 57).

 

Sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut, mengapa orang-orang kafir tidak dapat memahami al-Qur’an, rahasianya adalah bahwa Allah telah menutupi pema­ham­an mereka dan meletakkan tutup di hati mere­ka karena penolakan mereka. Ini meru­pa­kan keajaiban besar yang menun­jukkan kebesaran Allah, dan bahwa Dia adalah pe­milik hati dan pikiran setiap orang.

 


ALLAH MENGARUNIAKAN PEMAHAMAN KEPADA ORANG-ORANG YANG BERTAKWA

 

 

Rahasia lain yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah bahwa Allah memberikan ke­mampuan kepada orang-orang yang ber­iman kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Hal ini disebut sebagai “hikmah”. Allah menceritakan rahasia ini dalam Surat al-Anfal sebagai berikut:

 

“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (petun­juk yang dapat membedakan antara yang hak dan batil) dan menghapuskan segala kesalah­anmu dan mengampunimu. Dan Allah mem­punyai karunia yang besar.” (Q.s. al-Anfal: 29).

 

Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab terdahulu, Allah mengaburkan pemahaman orang-orang kafir. Orang-orang ini, betapa­pun cerdasnya otak mereka, tidak dapat me­ma­hami prinsip-prinsip agama yang sangat jelas. Hikmah adalah sifat istimewa yang dimiliki orang-orang yang ber­iman. Sebagian besar manusia menganggap bahwa kecer­dasan otak dan hikmah itu memiliki makna yang sama. Kecerdasan otak adalah kemampuan pikiran yang dimiliki oleh setiap orang. Misalnya, menjadi seorang ilmuwan ahli atom atau jenius di bidang matematika menunjuk­kan kecerdasan otak. Akan tetapi hikmah adalah hasil dari ketakwaan seseorang kepada Allah dan digunakannya hati nurani, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kece­rdasan otak. Bisa saja seseorang sangat cerdas otaknya, tetapi ia tidak akan menjadi orang bijak selagi ia tidak bertakwa kepada Allah.

Dengan demikian, hikmah adalah rahmat dari Allah yang dikaruniakan kepada orang-orang yang beriman. Orang-orang yang di­jauh­kan dari pemahaman seperti itu bahkan tidak menyadari keadaan mereka. Misalnya, orang-orang yang menganggap bahwa mereka adalah sumber kekuasaan dan kekayaan, lalu menjadi sombong. Sesungguhnya anggapan dan sikap seperti ini menunjukkan bahwa ia tidak memiliki hikmah. Karena jika ia memi­liki hikmah, ia akan menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa kecuali Kehen­dak Allah. Kesadaran ini pada akhirnya akan menghasilkan sikap yang rendah hati. Namun, orang seperti ini tidak berpikir bahwa jika Allah menghendaki, semua kekayaannya dapat musnah dalam waktu sekejap, atau bahwa dia dapat menghadapi kematian, dan semua yang ia miliki ia tinggalkan di dunia, dan ia akan berada di neraka untuk menerima balasannya. Semua ini lebih pasti dan lebih nyata daripada apa yang dimiliki seseorang di dunia. Hanya orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah yang memiliki pema­ham­an seperti ini, sehingga mereka tidak tertipu oleh kehidupan dunia. Mereka meng­habiskan hidup mereka dengan memahami hakikat segala sesuatu. Allah mengaruniakan pemahaman kepada orang-orang beriman mela­lui keimanan mereka. Jika mereka me­rasa semakin dekat kepada Allah, pema­ham­an mereka pun meningkat dan mereka men­jadi lebih memahami rahasia-rahasia ciptaan Allah.

 


ORANG-ORANG YANG BERBUAT BAIK AKAN MEMPEROLEH KEBAIKAN

 

 

Rahasia lain yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan memperoleh pahala berupa kebaikan di dunia dan akhirat. Menge­nai hal ini, Allah berfirman sebagai berikut:

 

“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan­mu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.s. az-Zumar: 10).

 

Bagaimanapun, orang perlu mengetahui apakah sesungguhnya “kebaikan” itu. Setiap kaum memiliki pendapat masing-masing tentang kebaikan; ada yang menyatakan bahwa yang disebut kebaikan adalah bersikap menyenangkan, memberikan uang kepada orang miskin, bersikap sabar terhadap ber­bagai bentuk perlakuan, itulah yang sering kali disebut “kebaikan” oleh masyarakat. Namun, Allah memberitahukan kita di dalam al-Qur’an tentang hakikat “kebaikan”:

 

“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan ialah ber­iman kepada Allah, hari Kiamat, malaikat-malaikat, Kitab-kitab, nabi-nabi, dan mem­berikan harta yang dicintainya kepa­da ke­rabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati jan­jinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. al-Baqarah: 177).

 

Sebagaimana diingatkan dalam ayat di atas, kebaikan yang sesungguhnya adalah bertakwa kepada Allah, menyibukkan diri mengingat hari perhitungan, menggunakan hati nurani, dan selalu sibuk melakukan amalan yang mendatangkan ridha Allah. Utusan Allah, Nabi Muhammad saw., juga memerintahkan agar orang-orang beriman bertakwa kepada Allah dan berbuat kebaikan:

“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Bersegeralah berbuat kebaik­an setelah berbuat dosa agar dosa itu menjadi bersih, dan selalu berlemah lembut dalam bergaul dengan manusia.” 1

Allah telah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang selalu berbuat kebaikan karena keimanan mereka, dan orang-orang yang takut dan cinta kepada Allah, selanjutnya Dia menyatakan akan mem­­beri pahala kepada mereka dengan ke­baik­an:

 

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s. Ali ‘Imran: 148).

“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh yang baik. Dan sesung­guh­nya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. an-Nahl: 30).

 

Ini merupakan kabar baik yang diberitakan dalam al-Qur’an kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, yang mengorbankan diri, dan yang berusaha untuk memperoleh keri­dha­an Allah.

Allah memberikan kepada orang-orang ini berita gembira tentang kehidupan yang baik, di dunia ini dan di akhirat kelak, dan Allah akan menambahkan karunia-Nya, baik yang berupa kebendaan maupun keruhanian. Nabi Sulaiman yang diberi seluruh kerajaan, yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun, dan Nabi Yusuf yang diberi wewenang atas selu­ruh harta benda Mesir, adalah contoh-contoh yang diceritakan dalam al-Qur’an. Allah memberitahukan kita tentang nikmat yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad saw. dalam ayat, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia membe­rikan kecukupan.” (Q.s. adh-Dhuha: 8).

Perlu kita ketahui bahwa kehidupan yang indah dan baik tidak saja diberikan kepada orang-orang beriman dari generasi terdahulu. Allah menjanjikan bahwa dalam setiap kurun, Dia akan memberikan kehidupan yang baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman:

 

“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguh­nya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerja­kan.” (Q.s. an-Nahl: 97).

 

Orang-orang yang beriman tidak pernah mengejar dunia, yakni mereka tidak tamak ter­hadap harta dunia, kedudukan, atau keku­asaan. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam sebuah ayat, mereka telah menjual diri dan harta mereka untuk memperoleh surga. Jual beli dan perdagangan tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan sha­lat, dan berjuang untuk agama. Di sam­ping itu, mereka tetap sabar dan taat sekalipun mereka diuji dengan kelaparan atau kehilang­an harta, dan mereka tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang berhijrah pada zaman Nabi merupakan sebuah contoh. Mereka berhijrah ke kota lain dengan meninggalkan rumah, pe­kerjaan, perdagangan, harta, dan kebun mere­ka, dan di sana mereka puas dengan yang sedi­kit mereka miliki. Sebagai balasannya, mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah. Kerelaan mereka dan keikhlasan mere­ka dalam mengingat akhirat menyebab­kan mereka memperoleh rahmat dari Allah berupa kehidupan yang baik. Kekayaan yang diberi­kan Allah kepada mereka tidak menyebabkan mereka mencintai dunia, sebaliknya mereka bersyukur kepada Allah dan mengingat-Nya. Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia ini kepada setiap orang yang beriman dan berakhlak mulia.

 

 

Allah Berjanji akan Melipatgandakan Perbuatan

Hamba-hamba-Nya yang Berbuat Kebaikan

 

Allah berjanji akan melipatgandakan per­buatan hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:

“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan mela­in­kan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (Q.s. al-An‘am: 160).

 

“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Q.s. an-Nisa’: 40).

 

Tanda yang paling jelas bahwa Allah me­lipatgandakan setiap perbuatan baik adalah perbedaan antara kehidupan di dunia dan akhi­rat. Kehidupan di dunia sangatlah sing­kat waktunya, yang lebih kurang berlang­sung selama 60 tahun. Namun, orang-orang yang sibuk membersihkan diri mereka dan sibuk dalam amal saleh di dunia ini akan memper­oleh pahala berupa kebaikan tak terbatas di akhirat sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan selama kehidupannya yang singkat di dunia. Allah telah menyatakan janji ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

 

“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik dan tambahannya.” (Q.s. Yunus: 26).

 

Kita perlu merenungkan pengertian “tak terbatas” agar dapat memahami besarnya pahala ini. Marilah kita bayangkan tentang semua orang yang pernah hidup di bumi, orang-orang yang sedang hidup di bumi, dan orang-orang yang akan hidup di bumi, bagai­mana mereka menghabiskan setiap detik dalam kehidupan mereka. Tentu saja angka ini akan sangat besar jika dituliskan. Namun, sesudah “tak terbatas”, bahkan angka yang sangat besar ini tidak berarti apa-apa. Karena “tak terbatas” maknanya adalah tidak ada akhirnya, tidak memiliki batas waktu. Orang-orang yang taat kepada Allah ketika di dunia, mereka ketika di akhirat akan bertempat tinggal di surga. Mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya, mereka akan memper­oleh apa saja yang mereka inginkan, yang tidak ada batasnya. Tentu saja ini merupakan contoh yang harus direnungkan agar kita dapat memahami besarnya kasih sayang dan rahmat Allah.

6 Agustus 2012

Tiga Inti Ajaran Islam

oleh alifbraja

Diiringi panjatan do’a dan sanjungan serta pujian hanya bagi Alloh semata atas segala kenikmatan serta ma’unah(pertolongan) yang tercurah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya. Kemudian diiringi panjatan sholawat bagi baginda Rosululloh Muhammad bin Abdulloh, bagi keluarga, para sahabat, serta seluruh pengikut beliau yang tulus setia meniti jalan hidup beliau dan menaati ajaran beliau sampai hari kiamat.

Pada majelis kita kali ini kami mengajak sidang pembaca untuk membahas “tiga inti ajaran Islam” yang merupakan salah satu karakteristik Islam yang paling pokok. Kami berharap semoga dengan mengenal serta mengilmui ketiganya kita bisa meluruskan pemahaman sekaligus amalan kita sebagai wujud ukhuwwah (persaudaraan) dan kebersamaan di bawah naungan panji agama Islam.

Pertama:

Berserah Diri Kepada Alloh Dengan Mentauhidkan-Nya

Inti ajaran Islam pertama adalah berserah diri sepenuh jiwa dan raga hanya kepada Alloh yang didasari kemurnian tauhid kepada-Nya semata. “Berserah diri” di sini bermakna menghinakan dan merendahkan diri disertai ketundukan yang tulus dari setiap hamba kepada penciptanya. Sehingga secara utuh maknanya seorang hamba berserah diri, patuh lagi tunduk kepada Alloh untuk meninggikan keesaan-Nya dalam hak-hak berkehendak dan berbuat yang melazimkan keesaan-Nya dalam hak-hak peribadahan. Inilah hakikat mentauhidkan Alloh, yaitu yang disebut tauhid ibadah, bermakna diunjukkannya seluruh peribadahan hamba hanya kepada-Nya semata.

Ketahuilah, mentauhidkan Alloh dengan seluruh peribadahan merupakan hal yang paling besar dalam ajaran Islam. Keagungan peribadahan ini tersirat dari penyebutannya di dalam Kitabulloh (al-Qur’an) dan dalam hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia merupakan perintah Alloh yang pertama dan seruan awal para rosul utusan-Nya kepada manusia, bahkan para rosul itu diutus demi tujuan tauhid ibadah tersebut.[1] Demikian juga tidaklah didapati fi’il[2] yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an selain peribadahan kepada-Nya[3]. Dan tidaklah Alloh memerintah manusia dengan fi’il amr[4] yang pertama kali disebutkan di dalam al-Qur’an selain fi’il amr untuk beribadah kepada-Nya[5]. Ini hanya sebagian hikmah Alloh yang mengisyaratkan pada keutamaan ketundukan seorang hamba dengan tauhid ibadah kepada-Nya semata.

Alloh menyebutkan bahwa tauhid adalah millah[6] Nabi Ibrohim alaihis salam, dan kita diwajibkan untuk menitinya. Sebagaimana Alloh menyebutkan teladan dalam berserah diri kepada-Nya pada diri Nabi Ibrohim dan anak-anak serta pengikutnya sehingga kita harus meneladaninya dan tidak membencinya.[7]

Berserah diri, tunduk, dan merendah yang dilakukan oleh seorang muslim merupakan kewajiban yang telah diperintahkan untuk senantiasa dilakukan selama hayat masih dikandung badan[8], dan dia harus melakukan seluruh ritual peribadahannya kepada Alloh disebabkan cinta dan rindunya yang mendalam kepada-Nya. Sebagaimana dia harus merendahkan diri serta menundukkan keangkuhannya di hadapan Alloh dengan harapan yang tinggi lagi besar kepada ridho dan rohmat-Nya serta dengan perasaan takut, cemas, dan khawatir akan murka dan siksa-Nya. Alloh telah berfirman:

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. al-Anbiya’ [21]: 90)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa berserah dirinya seorang muslim kepada Alloh harus terwujud dalam bentuk amalan sholih dan kebaikan yang didasari keikhlasan hanya kepada-Nya semata. Itulah sesungguhnya hakikat khusyu’, yaitu sikap merendah seorang hamba di hadapan penciptanya yang ia yakin akan kebesaran dzat-Nya dan ketinggian serta keagungan sifat-Nya.

Nampak jelaslah bahwa berserah diri kepada Alloh yang dimaksudkan di sini tidak sama dengan berserah diri kepada taqdir; bila seseorang telah menerima taqdir Alloh—apapun bentuk dan cita rasanya—maka berarti ia telah berserah diri kepada-Nya. Bukan itu maksudnya! Akan tetapi, seseorang dikatakan telah berserah diri kepada Alloh bila ia telah mencurahkan waktu, daya, dan upayanya untuk beramal ibadah kepada Alloh semata, bahkan selama hayat masih dikandung badan ia harus melakukannya. Maka pahamilah wahai kaum!

Kedua:

Mewujudkan Ketaatan Atas Segala Perintah Alloh dan Menjauhi Larangan-Nya

 

Mengapa Islam memerintahkan manusia untuk taat kepada perintah Alloh dan Rosul-Nya, apa faedah yang akan didapati oleh mereka yang taat, apa pula celakanya bila mereka tidak taat? Pertanyaan seperti ini mungkin yang sering menutupi fithroh suci setiap orang yang enggan untuk taat.

Ada satu hal yang harus selalu kita ingat, yaitu bahwa Alloh telah mengutus para rosul kepada seluruh umat, bahkan tiada suatu umat pun melainkan Alloh telah mengutus kepada mereka seorang rosul. Alloh juga menyebutkan tujuan diutusnya mereka guna menyampaikan kabar gembira sekaligus peringatan serta ancaman. Alloh berfirman:

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS. Fathir [35]: 24)

Kabar gembira dan peringatan tersebut disampaikan kepada seluruh umat ini, yaitu kabar gembira bagi umat yang taat dan peringatan serta ancaman bagi mereka-mereka yang enggan.

Ketahuilah, ketaatan apapun yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk kebaikan diri mereka sendiri dan bukan untuk membahagiakan Alloh dengan ditaati-Nya.[9] Sungguh, ketaatan manusia kepada Alloh dan rosul-Nya merupakan kebutuhan asasi disebabkan butuhnya mereka kepada rohmat Alloh, penciptanya. Oleh sebab itu, Alloh memerintahkan manusia untuk taat kepada-Nya dan taat kepada rosul-Nya, yaitu agar mereka dirohmati oleh Robb seru sekalian alam. Ini adalah sebagian kabar gembira yang dibawa oleh para rosul. Alloh berfirman:

Dan taatilah Alloh dan rosul, supaya kamu diberi rohmat. (QS. Ali Imron [3]: 132)

Telah kita ketahui bahwa Alloh telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita—sebagai umat terakhir—sebagaimana Dia pun telah menurunkan al-Qur’an bersama beliau. Seperti halnya para rosul sebelum beliau, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun diutus dengan membawa kabar gembira sekaligus peringatan bagi kita.[10] Maka perhatikanlah firman Alloh sebagai kabar gembira bagi kaum yang taat (yang artinya):

… barangsiapa taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (QS. an-Nisa’ [4]: 13)

Di dalam ayat selanjutnya Alloh berfirman tentang ancaman bagi mereka-mereka yang lalim lagi durhaka (yang artinya):

Dan barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. an-Nisa’ [4]: 14)

Mungkin ada yang mengatakan ancaman tersebut sekedar ancaman, sebagaimana kabar gembira itu hanya sekedar janji. Aduhai, sungguh besar kecelakaan dan sungguh gelap jalan mereka, yakinlah bahwa tiada seorang pun yang mengatakan demikian melainkan ia sangat jahil bahkan telah tersesat di lembah hitam kekufuran.

Sudahkah mereka belajar dari umat-umat yang terdahulu? Sudahkah mereka tahu bahwa Alloh pun telah memerintahkan supaya kita mengambil pelajaran dari umat-umat yang terdahulu?[11]

Ingatlah kesudahan kaum ‘Ad yang mengerikan, mengapa angin yang sangat dingin lagi sangat kencang menerpa mereka selama tujuh hari delapan malam sehingga mereka binasa sama sekali dan tidak menyisakan seorang pun? Ingatlah kesudahan kaum Tsamud yang celaka, mengapa petir yang sangat besar dengan suara mengguntur yang memekakkan lagi mematikan membinasakan mereka? Ingatlah pula kesudahan kaum Nabi Luth alaihis salam yang menjijikkan, gerangan apa sebabnya negeri tempat tinggal mereka dibalikkan sedangkan hujan batu yang panas membakar menerpa mereka hingga binasa? Sejarah telah menjadi saksi bahwa kaum ‘Ad telah durhaka kepada Nabi Hud alaihis salam, kaum Tsamud tidak taat kepada Nabi Sholih alaihis salam, sementara kaum Nabi Luth alaihis salam enggan dan berpaling dari seruan beliau.[12]

Ingatlah juga kapal penyelamat Nabi Nuh alaihis salam, bagaimana air telah menenggelamkan seluruh manusia dan tiada tersisa seorang pun di muka bumi ini selain yang taat mengikuti Nabi Nuh alaihis salam dan menumpang di atas kapal yang Alloh perintahkan Nabi Nuh alaihis salam untuk membuatnya?[13] Sungguh ini adalah keterangan yang nyata, maka ambillah pelajaran wahai kaum![14] Akankah kesombonganmu tetap mengalahkan fithrohmu?

Maka jelaslah bahwa hanya mereka yang enggan taat lantaran sombonglah yang menolak kejelasan perkara yang terang-benderang—laksana matahari di siang hari—ini. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan kejelasan masalah ini dalam sabda beliau:

“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan!” Para sahabat bertanya: “Siapa orang yang enggan (masuk surga), wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku niscaya akan masuk surga, dan siapa saja yang mendurhakaiku dialah orang yang enggan (masuk surga).” Dalam riwayat lain beliau bersabda: “… dan siapa saja yang mendurhakaiku niscaya akan masuk neraka.”[15]

Setelah semuanya jelas, kini ketahuilah bahwa “ketaatan” itu disebut “ketaatan” apabila berupa ketekunan melaksanakan perintah seiring dengan senantiasa waspada untuk meninggalkan larangan. Bila seseorang hanya melaksanakan perintah saja, dia masih belum dikatakan taat sehingga dia juga meninggalkan larangan. Demikian juga, bila seseorang hanya meninggalkan larangan namun tidak melaksanakan perintah tidaklah disebut orang yang taat sehingga dia menegakkan perintah-perintah.

Ketahuilah bahwa perintah yang paling awal, paling agung, dan paling utama adalah mentauhidkan Alloh dengan seluruh peribadahan sebagaimana hal ini telah jelas pada inti ajaran Islam yang pertama. Sebaliknya, larangan yang paling besar dan paling utama untuk ditinggalkan adalah menduakan Alloh dengan makhluk-Nya sebagai pemilik hak peribadahan, ialah dosa syirik, mempersekutukan Alloh dengan makhluk-Nya. Maka ketaatan seorang muslim yang paling utama ialah ia mengesakan Alloh dengan seluruh macam ibadah seiring dengan ia tinggalkan kesyirikan serta para pelakunya. Lebih lanjut hal ini akan kita pahami pada inti ajaran Islam yang ketiga berikut ini.

Ketiga:

Berlepas Diri dari Kesyirikan dan Pelakunya

Kewajiban awal bagi setiap muslim adalah bertauhid yang murni lagi tulus seiring dengan berlepas diri dan cuci tangan dari kesyirikan. Perhatikanlah apa yang telah Alloh perintahkan dan dari apa yang kita dilarang-Nya dalam ayat berikut:

Ibadahilah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun…. (QS. an-Nisa’ [4]: 36)

Di sini Alloh subhanahu wata’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya dan melarang mereka dari mempersekutukan-Nya. Hal ini mengandung penetapan hak peribadahan hanya bagi-Nya semata. Sehingga siapa yang tidak beribadah kepada-Nya maka ia kafir lagi congkak, dan siapa yang beribadah kepada Alloh disertai peribadahan kepada selain-Nya maka ia kafir lagi musyrik, sedangkan siapa saja yang hanya beribadah kepada-Nya semata ialah muslim yang mukhlish.[16]

Ketahuilah, berlepas diri dari kesyirikan itu mengharuskan berlepas diri dari para pelakunya. Tatkala seseorang berusaha menyucikan diri dari kesyirikan maka usahanya itu mengharuskannya membersihkan diri dari hubungan baik dengan para pelaku kesyirikan di atas kesyirikan mereka. Sungguh Alloh telah menunjuk teladan yang baik dalam masalah ini pada diri Nabi Ibrohim alaihis salam dan kaumnya.[17]

Akhirnya, semoga Alloh menuntun kita semua meniti jalan-Nya yang lurus dalam ber-Islam yang sesuai dengan kehendak-Nya.


[1] Lihat QS. al-Anbiya’ [21]: 25.

[2] Fi’il: kata kerja

[3] Fi’il yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an terdapat dalam surat al-Fatihah ayat 4, yaitu kata na’budu yang berarti “kami beribadah”. Dan tidak ada kata kerja lainnya yang mendahuluinya dalam surat tersebut yang merupakan surat pertama dalam al-Qur’an sesuai urutan dalam Mushhaf Utsmani.

[4] Fi’il amr dalam bahasa Indonesia disebut “kata perintah”.

[5] Fi’il amr yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an terdapat dalam surat al-Baqoroh ayat 21, yaitu kata u’budu yang berarti “beribadahlah kalian”. Dan tidak ada kata perintah lainnya yang mendahuluinya dari ayat-ayat sebelumnya sampai awal al-Qur’an.

[6] Millah: agama atau jalan hidup

[7] QS. al-Baqoroh [2]: 130–132

[8] QS. al-An’am [6]: 162–163

[9] QS. Fushshilat [41]: 46

[10] QS. al-Baqoroh [2]: 119

[11] QS. Yusuf [12]: 109

[12] Lihat QS. Hud [11]: 50–83, QS. al-Haqqoh [69]: 4–8.

[13] Lihat QS. Hud [11]: 25–49.

[14] Lihat QS. al-Hajj [22]: 46.

[15] Hadits shohih riwayat Bukhori, kitab al-I’tishom bil Kitab was Sunnah bab al-iqtida’ bi sunani Rosulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.

[16] Syarh Tsalatsatul Ushul, Syaikh Muhammad al-Utsaimin, hlm. 42. Mukhlish artinya yang tulus ibadahnya hanya untuk Alloh subhanahu wata’ala.

[17] Lihat QS. al-Mujadilah [58]: 22 dan QS. al-Mumtahanah [60]: 4.

21 Juli 2012

Agama Mengatur Tatanan Sosial Manusia

oleh alifbraja

Agama Mengatur Tatanan Sosial Manusia

 

 

 

Semakin meningkatnya grafik kehidupan sosial manusia serta menurunya kehidupan individual seseorang – yang tinggal di gurun-gurun sahara, gua-gua, hutan-hutan dan gunung-gunung – mengantarkan kita pada satu hakikat bahwa manusia memiliki kecendrungan hidup bermasyarakat, sehingga dengan saling membantu dan bekerja sama, mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya serta mampu mencapai kehidupan yang bahagia.

Banyak pandangan mengenai faktor kecendrungan manusia untuk hidup bersosial, dimana hal itu tidak akan kami utarakan di sini. Namun poin yang perlu kami tekankan ialah bahwa kehidupan sosial mengharuskan adanya seperangkat sistem yang dapat menjelaskan batasan-batasan kewajiban manusia. Sistem itu mesti memiliki kriteria sebagai berikut:

  1. Sistem harus mampu menegaskan batasan-batasan serta tanggung jawab setiap individu dalam kehidupan sosial, karena seseorang – meskipun ia adalah pendamba keadilan yang selalu menjaga kewajibannya – tidak akan dapat menjalani tugas-tugasnya dengan baik dan menjaga hak-hak orang lain serta mewujudkan kehidupan yang damai, jika ia tidak mengetahui metode serta langkah-langkah yang harus dijalaninya.

  2. Memiliki serentetan kebijakan serta hukum yang mampu meredam prilaku buruk, kesewenangan, sikap egois, serta pelanggaran terhadap hak-hak orang lain yang biasa dilakukan manusia.

 

Seperangkat sistem tersebut tidak lain adalah undang-undang yang menjadi pijakan bagi kehidupan sosial manusia, dimana saat ini kita akan menelusuri siapakah yang berhak merumuskan undang-undang – yang amat urgen ini – yang mampu melestarikan kehidupan manusia dan menjaga kestabilan kehidupan sosial mereka.

Berdasarkan kesimpulan rasional dan hasil observasi di lapangan, dapat kita katakan bahwa undang-undang semacam ini hanya dapat dirumuskan oleh pribadi yang memiliki kriteria sebagai berikut:

 

  1. Mengenal esensi manusia dan masyarakat secara sempurna serta mengetahui segala kecendrungan, emosi, dan perasaan manusia secara akurat dan hakiki, sehingga undang-undang yang dihasilkan dapat meredam segala jenis kecendrungan manusia yang melampaui batas, ia pun harus mampu mengidentifikasi dengan baik seperangkat aturan yang dapat mengantarkan manusia kepada kesempurnaannya, ia juga dapat mendeteksi dengan cermat segala maslahat dan mudharat yang dapat dialami manusia secara individual atau sosial, serta benar-benar mengetahui segala pengaruh dan efek yang akan muncul dari kehidupan bermasyarakat.

  2. Tidak memiliki sedikitpun kepentingan pribadi yang terselipkan dalam undang undang yang dirumuskannya, sehingga tidak akan muncul kecendrungan mengutamakan kepentingan pribadi dan sikap egoisme, dimana hal ini dapat memalingkan pemikirannya dan membuatnya lemah dalam mengidentifikasi manfaat dan maslahat bagi kepentingan bersama, karena seseorang yang memiliki kepentingan tertentu meskipun ia telah bertekad untuk merumuskan undang-undang secara adil dan bijaksana, tetap – tanpa disadari – ia akan dipengaruhi oleh kepentingan pribadinya yang dapat mengalihkannya dari jalan kebenaran dan keadilan.

Siapakah yang layak menyandang kriteria dan persyaratan tersebut secara sempurna?

Mengenai kriteria pertama kita katakan bahwa jika perumus undang-undang harus mengenal esensi dan substansi manusia secara sempurna, maka selain Tuhan tidak ada seorang pun yang mengenal manusia secara sempurna dan juga tak ada sesuatu pun yang mengetahui rahasia penciptaan melebihi Sang Penciptanya.[1]

Tuhan yang telah merekonstruksi unsur-unsur asli keberadaan manusia dan mewujudkan sel-sel tubuh yang tak terhitung jumlahnya serta mengkombinasikan perangkat-perangkat organ tubuhnya, sudah pasti Dia akan mengetahui segala rahasia keberadaan dan esensi manusia, seluruh kebutuhannya – yang tersembunyi maupun yang lahir – dan segala apa yang dapat bermanfaat dan mudharat baginya.

Adapun mengenai kriteria kedua, disini perlu kita garis bawahi bahwa hanya Tuhanlah yang tidak memiliki kepentingan terhadap kehidupan sosial yang kita jalani, Dia suci dari segala bentuk pengaruh dan kecendrungan (hawa nafsu) terutama dari sifat egoisme. Menurut ucapan Jean Jacques Rousseau, “Untuk menyingkap serentetan undang-undang yang paling efektif dan ideal untuk seluruh masyarakat dunia dibutuhkan “sosok” yang sangat mengenal hawa nafsu manusia namun ia sama sekali tidak dikendalikan olehnya, yang paling mengenal dunia namun ia tidak bergantung kepadanya, kebahagiaan yang diraihnya tidak bergantung kepada kita namun selalu bersedia membantu kita untuk mencapai kebahagian, ia merasa bangga dengan sesuatu yang hasilnya akan tampak di masa mendatang (berkhidmat di satu masa dan menuai hasilnya di masa mendatang). Oleh karena itu, hanya para Nabi lah yang mampu membawa undang-undang yang layak diterapkan ditengah-tengah masyarakat.”[2]

 

Hukum Konstan dan Masyarakat yang terus Berubah

Salah satu pertanyaan yang diajukan dalam pembahasan ini ialah bahwa kita mengambil undang-undang dari naskah agama guna kita aplikasikan pada kehidupan sosial, lantaran universalitas dan sakralitas kandungan agama, undang-undang yang dibawanya pun menjadi permanen dan abadi. Jika demikian, maka patut kita tanyakan, bagaimana mungkin undang-undang yang tetap dapat menjadi pedoman dan pengatur kehidupan masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan? Bukankah sebaiknya manusia sendirilah – yang pemikirannya selalu berubah seperti halnya kehidupan masyarakat – yang merumuskan aturan-aturan yang berkenaan dengan kehidupan sosial mereka?

Orang yang melontarkan pertanyaan ini telah melupakan sisi lain dari hukum agama sehingga ia berasumsi bahwa syariat Islam hanya mengandung undang-undang yang tetap, padahal selain memiliki undang-undang yang permanen, Islam pun mempunyai hukum-hukum yang dapat berubah.

Untuk lebih jelasnya, kita akan membahas poin-poin berikut ini: 

  1. Undang-undang yang konstan, tetap, dan permanen ialah yang tidak akan mengalami perubahan.

  2. Hukum-hukum serta aturan-aturan yang transformatif, yang dengan berubahnya situasi, kondisi, dan tuntutan tertentu akan mengalami perubahan.

Masalah yang harus kita bahas disini ialah mengenai kriteria serta perbedaan masing-masing dari kedua macam undang-undang tersebut.

Didalam kehidupan manusia terdapat sejumlah prinsip-prinsip akhlak (etika atau norma), undang-undang sipil, sosial dan hukum pidana yang bersumber dari kecendrungan serta fitrah manusia yang tidak akan pernah mengalami perubahan – dari mana dan di mana pun seseorang hidup bermasyarakat -, dikarenakan masalah-masalah ini merupakan sesuatu yang tetap dan paten, maka hukum-hukum Islam yang bersangkutan dengannya pun juga tetap dan tidak berubah.

Selain itu, kita pun memiliki sejumlah aturan dan hukum yang bergantung pada situasi, kondisi, ruang, dan masa tertentu dimana pada masing-masing kehidupan masyarakat memiliki tampilan yang berbeda. Untuk aturan dan hukum semacam ini, Islam telah menentukan ushul dan kaidah global yang para Fuqahalah yang bertugas untuk menelurkan hukum-hukum parsial guna diterapkan sesuai dengan tuntutan zaman, masa, serta kondisi masyarakat tertentu.

 

Contoh Hukum Permanen

Setiap manusia – kapan dan dimana pun ia berada – memiliki serentetan kecendrungan, hawa nafsu, dan keinginan-keinginan yang terkandung dalam jiwanya, segala dorongan dan perkara yang fitri ini merupakan bagian dari esensi manusia itu sendiri yang tidak akan pernah berubah seiring berubahnya zaman dan masa, misalnya: 

1. Dorongan seksual. Kecendrungan ini tidak akan pernah mengalami perubahan yang pada kondisi tertentu setiap pria dan wanita saling menghendaki satu sama lainnya. Oleh karena itu, ajakan [agama] untuk membangun sebuah rumah tangga – guna kelestarian umat manusia serta menjaga kehormatannya – merupakan perkara fitrah yang tidak akan berubah dengan berputarnya masa, dan hukum Ilahi dalam masalah ini pun akan tetap dan permanen.

 

2. Kasih sayang orang tua terhadap anaknya juga merupakan perkara fitri, oleh karena itu hukum-hukum yang berkenaan dengan masalah ini, seperti hak waris, mendidik anak dan sebagainya juga akan tetap dan abadi.

Dari kedua contoh ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa perkara-perkara yang fitri – yang selalu melekat pada diri manusia dan tidak dapat terpisah darinya selama ia masih tetap manusia – mengharuskan adanya hukum-hukum yang tetap dan permanen, karena hukum yang ada harus sesuai dengan obyeknya, jika perkara yang berkaitan dengn fitrah menusia merupakan suatu yang paten maka undang-undangnya pun juga harus tetap dan permanen. Oleh karena itu, hukum dan undang-undang atas hak individual manusia seperti ikatan kekeluargaan, pernikahan dan lain-lain merupakan undang-undang tetap dan permanen.

 

3. Serentetan norma dan prilaku yang selalu menjadi sumber kerusakan, seperti dusta, khianat, pelanggaran, sikap apatis dan sebagainya, dimana prilaku seperti ini selalu dan akan terus menimbulkan kerugian dan kerusakan pada lingkungan masyarakat, maka dari itu hukum bagi perkara semacam ini pun harus tetap dan paten.

Segala prilaku semacam ini akan selalu dilarang dan diharamkan karena meskipun waktu dan masa terus berganti, kerugian dan kerusakan yang diakibatkan darinya tidak akan pernah berubah.

 

4. Seperangkat aturan yang bersangkutan dengan pensucian hati (tahdzibun nafs), menyandang akhlak mulia, dan pengorbanan, seperti rasa tanggug jawab, adil, kasih sayang, dan lain-lain, juga termasuk aturan yang tetap dan paten, karena sifat seperti keadilan untuk selamanya mulia dan dalam penegakan keadilan serta penghancuran kezaliman untuk selamanya memiliki metode yang sama.

Kesimpulannya, undang-undang dan hukum yang telah ditetapkan pada seribu empat ratus tahun yang lalu guna mengatur segala masalah yang berkenaan dengan fitrah dan kecendrungan manusia – yang dihasilkan dari pengenalan dan tinjauan sempurna atas esensi manusia -, tetap memiliki kompetensi untuk menjadi pedoman kehidupan masyarakat dewasa ini dan juga yang akan datang.

 

Hukum yang mengalami perubahan

Selain undang-undang tetap, syariat Islam pun memiliki sejumlah hukum yang dapat berubah seiring dengan berubahnya situasi dan kondisi. Pada dasarnya, perubahan yang terjadi bukan pada teks asli hukum Islam itu sendiri, namun pada penerapan hukum-hukum tersebut, dan perubahan yang terjadi pun senantiasa berpijak pada kaidah dan rumusan tersendiri. Sekarang mari kita lihat contoh-contoh berikut ini:

 

1. Dalam teks agama Islam terdapat hukum permanen yang terkait dengan membangun kekuatan dan memperkokoh sistem pertahanan terhadap serangan musuh, akan tetapi metode dan cara penerapannya selalu saja berubah. Islam tidak memiliki hukum dan pedoman khusus yang berbicara tentang metode memperkuat pertahanan, jenis senjata perang, cara membendung pengaruh musuh dan sebagainya. Akan tetapi dalam masalah ini, dengan meninjau situasi dan kondisi yang ada, pemerintahan Islam dituntut untuk menetapkan aturan-aturan serta sistem tertentu demi menjaga tujuan dan misi suci yang dibawa oleh Islam. Oleh karena itu, dalam memperkuat sistem pertahanan Islam cukup memberikan perintah secara global tanpa menentukan jenis senjata yang harus dipersiapkan serta taktik yang harus dipergunakan. Allah Swt berfirman, “persiapkanlah kekuatan semampu kalian untuk menghadapi mereka.”[3]

meskipun Ayat ini menyebutkan kuda sebagai salah satu kekuatan yang layak dipersiapkan, namun itu hanya sebagai penjelasan akan sarana umum yang digunakan pada masa turunnya ayat itu, karena kuda merupakan sarana transportasi dan kendaraan perang yang paling kuat pada zaman itu.

 

2. Islam pun tidak meletakkan aturan khusus yang berkaitan dengan permasalahan keamanan dalam negeri, seperti menjaga kestabilan, dan ketenteraman masyarakat. Segala permasalahan semacam ini, dipasrahkan kepada pemerintah Islam – sebagai lembaga yang menurut undang-undang Islam memiliki otoritas untuk mengatur dan memerintah – untuk merumuskannya.

 

3. Islam senantiasa menyeru dan mengajak untuk menggali ilmu yang bermanfaat, menyebarkan kebudayaan Islam, dan peradaban manusia, namun perlu dilihat bahwa sarana untuk mencari ilmu dan menyebarkannya selalu berubah dari masa ke masa sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada.

Patut diingat bahwa hanya para faqihlah yang memiliki otoritas untuk mengidentifikasi hukum-hukum yang konstan dan juga yang transformatif, dan tak seorang pun yang berhak mengutarakan pandangannya dalam masalah ini tanpa merujuk kepada para faqih dan mendapatkan legalitas dari mereka.

Kami akhiri pembahan ini sampai disini, namun kami yakin bahwa masalah ini butuh pembahasan yang lebih jauh dan mendalam lagi.

Ada satu poin yang patut kami ingatkan bahwa salah satu faktor ditetapkannya Islam sebagai agama penutup, karena meskipun Islam memiliki dasar-dasar hukum yang paten dan permanen namun penerapan akan hukum-hukum tersebut dapat berubah sesuai dengan kondisi tertentu, seandainya Islam hanya menampilkan satu model hukum, maka ia tidak akan mampu menjadi agama penutup.

jika anda menganalisa perubahan yang terjadi pada tatanan kehidupan sosial manusia – semenjak revolusi industri di Eropa hingga saat ini – maka anda akan mendapatkan segala perubahan yang hanya berkaitan dengan metode penerapan hukum-hukum. Adapun tatanan yang berkenaan dengan fitrah manusia dan juga yang berkaitan dengan suatu yang dapat bermanfaat atau merugikan masyarakat, maka hukum-hukum tetap dalam setiap kehidupan masyarakat.

Demikian pula dengan perubahan yang terjadi pada pola kehidupan wanita, bagaimanapun ia tidak akan dapat merubah kecendrungan dan fitrah yang ada pada diri seorang wanita. Untuk selamanya, ia akan tetap seorang wanita yang kelak akan menjadi seorang ibu serta dituntut untuk menjalani tugas-tuganya dengan baik. Jika seorang wanita menyalahi kodratnya maka kehidupannya pun akan sirna. Kehidupan rumah tangga yang dibangun oleh sepasang pria dan wanita merupakan miniatur kehidupan sosial yang mengharuskan adanya seorang pemimpin, lantaran kemampuan lebih yang umumnya dimiliki oleh seorang pria, maka ialah yang layak menjadi sang pemiimpin, pengecualian-pengecualian ini tidak perlu menjadi hal yang dipertentangkan.

 

Universalitas Hukum Islam

Jika persoalan sebelumnya beranjak dari satu asumsi bahwa undang-undang permanen tidak akan dapat mengatur kehidupan sosial manusia yang selalu berubah, namun permasalahan di sini berangkat dari satu pandangan bahwa undang-undang yang terbatas tidak akan mampu menjawab seluruh tuntutan masyarakat yang tidak ada batasannya dan selalu saja bertambah.

Masalah pertama berpijak pada satu dasar pemikiran bahwa undang-undang tetap berseberangan dengan masyarakat yang selalu berubah, adapun masalah kedua berpijak pada satu pandangan bahwa undang-undang yang terbatas tidak dapat menjadi pedoman bagi kehidupan yang luas dan tidak terbatas, hingga dikatakan: bagaimana mungkin undang-undang yang terbatas dapat menjawab masalah-masalah yang mencuat sangat luas dan tidak terbatas?

Pertanyaan ini bukan suatu hal yang baru, namun ia adalah bagian dari masalah “Islam sebagai agama penutup dan terakhir”.Orang yang melontarkan pertanyaan ini sebenarnya telah menyamakan agama Islam dengan aliran-aliran dan agama-agama yang lain, ia beranggapap bahwa agama Islam tidak ada bedanya dengan agama Nasrani – yang ada saat ini – yang merasa cukup dengan membaca wirid-wirid dan berkehendak untuk mengatur masyarakat dengan segudang wejangan dan nasihat.

Seandainya sang penanya adalah seorang yang mengenal Islam dengan baik, maka ia tidak akan lagi meragukan luasnya kekayaan Syariat Islam yang mampu menjawab segala problematika yang ada dengan bersandar pada teks-eks al-Quran dan hadist.  Hal ini dikarenakan Islam memiliki dua keutamaan yang tidak dimiliki oleh agama-agama lain, antara lain:

 

1. Islam memiliki hukum-hukum yang kokoh, hidup serta produktif, sehingga ia mampu menjawab sederet permasalahan atas fenomena yang terjadi, kompetensi humum-hukum Islam akan tampak jelas di mata seseorang yang mengenal baik al-Quran dan Sunnah Nabi.

2. Agama Islam memandang kehidupan manusia dengan pandangan yang sangat luas dan penuh dengan keluwesan, dan undang-undangnya sama sekali tidak terikat dengan masalah-masalah parsial yang senantiasa berubah yang dapat membuatnya bungkam untuk menjawab tuntutan-tuntutan zaman mendatang.

Dengan menganalisa sumber-sumber syariat, kedua keutamaan ini dapat tergambarkan.

 

Sumber Hukum menurut Perspektif Ulama Syiah

1. Otoritas akal dalam batasan tertentu

Salah satu keutamaan syariat Islam ialah turut andilnya akal dan pikiran dalam proses formulasi hukum, dimana dalam ruang-ruang tertentu ia diberikan otoritas untuk berintervensi dalam mencari putusan. Oleh karena itu, selain Kitab dan Sunnah akal pun merupakan sumber hukum syariat yang tidak dapat dipisahkan dari kedua sumber lainnya.

Orang-orang yang mengingkari kesempurnaan hukum-hukum Islam dan meragukan keuniversalitasnya, telah memisahkan akal dari jajaran sumber-sumber hukum dan telah memandangnya dengan sebelah mata.

Legalitas yang diberikan kepada akal dalam menelurkan undang-undang berada dalam ruang lingkupnya tersendiri, telah menjadikan Islam itu kekal dan abadi serta selaras dengan segala model peradaban manusia. Undang-undang Islam akan terus berkembang melalui langkah-langkah hukum akal dan segala putusan global yang dihasilkannya merupakan bagian dari syariat Islam.

Perlu ditegaskan bahwa otoritas dan validitas yang dimiliki oleh akal tidaklah mencakup segala permasalahan yang ada, namun ia memiliki ruang lingkup dan batasan tersendiri yang tidak akan bertentangan dengan hukum-hukum yang dihasilkan dari al-Quran dan Sunnah. Berikut ini kami akan bawakan contoh-contoh mengenai posisi akal dalam Islam. Hadist dari Imam ke empat (Ali bin Musa ar-Ridha as) ketika bersabda kepada Hisyam bin Hakam:

“Wahai Hisyam! Sesungguhnya Allah telah memberikan dua hujjah bagi manusia, hujjah yang lahir (eksternal) dan hujjah yang batin (internal), hujah yang lahir adalah para Nabi, Rasul dan Imam As, adapun hujjah  yang batin adalah akal.”[4]

Imam Shadiq as pun bersabda:

“Nabi merupakan hujjah Allah bagi para hamba-Nya dan akal merupakan hujjah antara para hamba dan Allah.” [5]

Salah satu faktor kehadiran akal dalam menformulasikan undang-undang ialah aturan-aturan Islam senantiasa terkait dengan substansi kehidupan manusia, dan tidak ada hukum Islam yang bertentangan dengan akal, justru Islam adalah agama akal dan rasio. Segala sesuatu yang dihukumi oleh akal tidak akan bertentangan dengan syariat dan segala sesuatu yang dihukumi oleh syariat mesti berpijak pada akal.

Para teolog Islam sejak masa lalu telah merumuskan satu kaidah yang berbunyi:

Segala sesuatu yang dihukumi oleh akal maka syariat pun akan menerimanya, dan setiap yang dihukumi oleh syariat, maka akal pun akan menyetujuinya.” [6]

Dengan menerima peranan akal dalam memproduksi hukum, pada dasarnya Islam telah memberikan legalitas kepada akal untuk menetapkan aturan-aturan dalam cakupan yang luas dan juga menyetujui putusan-putusan yang dihasilkannya, contohnya:

 

1. Saat akal menilai baik dan buruk satu prilaku, ia pun akan memerintahkan untuk melakukan atau menjauhi prilaku tersebut. Dalam batasan ini, putusan akal juga dikatagorikan sebagai hukum agama.

Akhlak mulia yang diafirmasikan oleh Islam, juga berpijak pada hukum-hukum akal semacam ini, dimana akal mampu menilai tabiat satu prilaku, apakah ia terpuji atau tercela. Jika subyek hukum adalah prilaku tertentu yang bebas dari batasan ruang dan waktu, maka hukum prilaku itu akan tetap kekal dan abadi selama akal dan subyek hukum itu masih ada.

Allah Swt berfirman dalam kitab-Nya: “Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berlaku adil dan berbuat baik serta memberi (hak-hak) kepada kaum kerabat, dan melarang utuk berbuat keji dan kemungkaran serta kezaliman. Ia memberi nasihat kepada kalian agar kalian ingat.” [7]

Enam subyek hukum (prilaku) yang termaktub di ayat ini memiliki undang-undang tetap dan permanen, karena akal telah menilainya sebagai prilaku yang baik.

 

2. Dalam ilmu ushul fiqih, hukum akal merupakan pencetus prinsip dan kaidah yang mampu menelurkan beragam hukum, seperti kewajiban melaksanakan suatu amal ketika segala persyaratannya telah terpenuhi atau meninggalkan satu pekerjaan ketika segala prasarananya tak terjangkau. Dan masih banyak lagi kaidah semacam ini yang menurut istilah ushul fiqih disebut “kemestian rasional (mulazamah aqliah)”dimana para pakar ilmu fikih banyak memperoleh kontribusi dari putusan-putusan yang dihasilkannya.

 

3. Mengutamakan suatu yang “lebih penting” daripada yang “penting” (taqdimul aham alal muhim) juga merupakan salah satu prinsip akal, misalnya membedah jasad seorang muslim menurut hukum Islam adalah haram, karena badan seorang mukmin -baik yang hidup maupun yang mati – memiliki kehormatan tersendiri, namun terkadang menjaga kehormatan jasad seorang muslim berbenturan dengan kemaslahatan sosial, karena ilmu kedokteran saat ini terpusat pada praktek pembedahan, dan -menurut hukum akal – menjaga keselamatan sosial lebih patut diprioritaskan daripada menjaga kehormatan individual. Oleh karena itu, jika tidak memungkinkan ditemukannya badan seorang kafir, maka diperbolehkan untuk membedah tubuh seorang muslim, itupun dengan mendahulukan jasad seseorang muslim yang indetitasnya tidak dikenali.

Orang-orang yang menuduh Islam sebagai agama yang tidak sempurna, telah melupakan unsur urgen ini (peranan akal) dari syariat Islam, dan menganggap “ketidaksempurnaan” sebagai salah satu kriteria agama Islam. Kita katakan kepada mereka bahwa pandangan seperti ini “sungguh-sungguh hal (pembagian) yang tidak adil”[8]

 

2. Penetapan hukum berdasarkan Maslahat dan Mudharat

Kandungan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang ada, menyatakan bahwa hukum-hukum Islam terlahirkan berdasarkan maslahat dan mudharat. Hukum-hukum Ilahi tidak pernah muncul begitu saja tanpa ada sebab tertentu, akan tetapi kemunculannya mesti dibarengi dengan tujuan-tujuan yang mendatangkan manfaat bagi seorang hamba (mukallaf). Di dalam beberapa kesempatan al-Quran dan hadist telah menyinggung masalah ini, disini kami cukup membawakan dua ayat dan satu hadist tersebut. Allah Swt berfirman: “sesungguhnya syaitan hanya ingin membangkitkan permusuhan dan kebencian diantara kalian dengan perantaraan minuman keras dan berjudi , dan menghalang-halangi kalian untuk mengingat Allah dan menunaikan shalat. Apakah kalian ingin menghentikan (perbutan itu)?”[9]  

 “Dan tegakkanlah shalat sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar.“ [10]

Imam kedelapan (Ali bin Musa ar-Ridha as) bersabda:

 “sesungguhnya Allah Swt tidak akan menghalalkan satu makanan atau minuman kecuali ia mengandung manfaat dan maslahat, dan tidak akan mengharamkannya kecuali ia mengandung mudharat dan dapat merugikan”

Dari penjelasan di atas, dapat kita simpulkan bahwa hukum-hukum yang ditetapkan berdasarkan unsur dan tujuan yang tetap, ia pun akan abadi dan tetap pula, sebagaimana hukum yang dihasilkan dari tinjauan akan dampak baik atau buruk yang ditimbulkan makanan atau minuman tertentu yang tidak terbatas dengan ruang dan waktu.

Disaat hukum-hukum Islam selalu mengikuti maslahat dan mudharat yang ada, maka segala hal yang baru – yang dapat merugikan atau menuntungkan masyarakat umum – dengan mudah dapat diketahui hukum syar’inya. Seperti: 

1. Vaksinasi yang dilakukan untuk mencegah penyakit cacar, polio, campak dan lain lain yang bermanfaat untuk kesehatan masyarakat umum.

2. Pemakain obat-obatan terlarang seperti opium dan heroin yang dapat meruntuhkan bangunan rumah tangga seseorang serta menyebabkan kemandulan.

Hukum syar’i dari kedua realitas ini dengan jelas dapat diketahui.

 

3. Produktivitas Syariat Islam

Dalam fiqih Islam terdapat sejumlah prinsip yang dapat menjawab ribuan masalah dan tantangan zaman sebagaimana ia telah menjawab serentetan hukum-hukum permasalahan yang muncul selama empat belas abad ini.

Imam-Imam Ahlulbait As selalu memperingati para Faqih yang berpaling dari sunnah seraya bersabda, “segala apa yang dibutuhkan manusia hingga hari akhirat telah dijelaskan oleh Allah dalam kitab serta sunnah Nabi-Nya, dan Allah Swt telah memberikan hukum dan petunjuk bagi segala yang ada, barang siapa yang melanggarnya, maka Allah akan mengazabnya”[11]

Imam Shadiq as bersabda,

“Tidak ada suatu apa pun kecuali ia telah termaktub dalam kitab (al-qur’an) dan sunnah (Ahlulbait).

Fiqih Syiah merupakan luapan mata airyang telah dimanfaatkan selama empat belas abad dan berbagai ensiklopedia telah disusun untuk membahas masalah ini, seperti dalam kitab Jawahir al-Kalam yang mengandung berbagai permasalahan yang tak terhitung jumlahnya.

Pada masa kejayaan pemerintahan Islam yang menguasai batasan wilayah yang sangat luas, kaidah-kaidah fikihlah yang dijadikan pijakan untuk menjalani segala birokrasi dan organisasi yang ada saat itu. Oleh karena itu, fiqih Islam banyak dimanfaatkan oleh orang-orang barat dan mereka pun merasa terheran-heran akan kompetensi yang dimilikinya.

 

4. Ijtihad, Mekanisme Istinbat Hukum dari Sumbernya

Sekelompok ulama ahlus sunnah (Sunni) berpendapat, ketika akar satu permasalahan tidak dapat ditemukan dalam Nash (al-Quran dan hadist), maka usaha dan ijtihad seorang faqihlah sebagai pencipta hukum syar’i. Menurut pendapat mereka, hukum-hukum semacam ini (yang tidak terdapat dalam al-Quran dan sunnah) dipasrahkan kepada seorang faqih untuk menetapkannya. Adapun menurut fiqih Syi’ah Imamiah, segala permasalahan telah memiliki hukumnya tersendiri, ijtihad seorang faqih adalah sarana untuk menyingkap hukum-hukum tertentu dan bukan sumber hukum syar’i itu sendiri. Ijtihad dengan makna inilah yang telah menyumbangkan kontibusi besar terhadap ilmu fiqih sepanjang empat belas abad serta manjadikannya tetap hidup, aktif, dan selalu berjalan mengikuti langkah-langkah peradaban.

Ijtihad ala Syi’ah merupakan anugrah Ilahi yang telah menopang ilmu fiqih sehingga memiliki kompetensi untuk menjawab sederetan permasalahan kontemporer. meskipun sistem ijtihad ini hanya menyodorkan kaidah-kaidah global dan tidak membahas permasalahan fiqih secara khusus, namun seorang mujtahid dengan berpegang kepada metode ijtihad, ia akan mampu mengeluarkan hukum-hukum akan permasalahan yang dihadapi dari sumber-sumbernya (al-Quran dan sunnah).

Penutupan pintu ijtihad yang terjadi dalam perjalanan fiqih ahlus sunnah merupakan problema yang serius yang menghalangi fiqih mereka untuk terus berkembang, problema semacam ini tidak pernah menimpa fiqih syiah. Pada tahun 655 mereka (para penguasa saat itu) membatasi mazhab-mazhab Islam hanya dengan empat mazhab, kemudian mereka pun melarang siapa saja untuk menyingkap hukum-hukum syariat dengan mengatasnamakan seorang mujtahid yang memiliki otoritas, akhirnya fiqih mereka pun mengalami stagnasi yang menjadi penghalang bagi kemajuannya.

Akhir-akhir ini, kelompok intelektual ahlus sunnah menyatakan akan pentingnya dibuka kembali pintu ijtihad, mereka menghendaki agar problema ini segera dipecahkan, namun masih panjang jalan yang harus mereka tempuh guna meraih keberhasilan.

Dengan memperhatikan empat poin di atas, maka sangatlah tidak adil seseorang yang menuduh Islam sebagai agama yang tidak sempurna dan tidak universal.

Di bawah ini kembali kami sebutkan poin-poin yang membahas unsur-unsur yang turut andil dalam menghidupkan fiqih Islam serta menjadikannya fleksibel dan universal, dan masing-masing dari point tersebut memerlukan pembahasan yang lebih luas.

1. Akal adalah salah satu pijakan ijtihad;

2. Hukum-hukum Islam selalu berdasarkan maslahat dan mudharat tertentu;

3. Fiqih Islam memiliki sejumlah prinsip dan kaidah umum yang produktif;

4. Seorang faqih dengan metode ijtihad dan analisa terhadap ayat dan hadits secara cermat dapat mengeluarkan hukum-hukum bagi segala permasalahan.

 

 

      

 


[1]  Apakah Dia tidak mengenal siapa yang diciptakannya, dan Ia Maha halus dan Maha mengetahui” al-Mulk: 14.

[2] Qarardadhaye Ijtima’i, Jean Jacques Rousseau, terjemahan Ghulam Husain Zirak Zadeh, hal: 18.

[3] Al-Anfal: 60

[4] Usul al-Kafi jld 1 hal 16.

[5] Usul al-Kafi jld 1 hal 25

[6] Kaedah ini merupakan kaedah yang subtansial, dan kami telah membahasnya dalam kitab “at-Tahsin wa at-Taqbih al-Aqliyaan”

[7] An-Nahl: 90

[8] An-Najm: 22

[9] Al-Maidah: 91

[10] Al-Ankabut: 45

[11] Ushul al-Kafi jld: 1 hal: 49-62 Bab “ar-Rad ‘ala al-Kitab wa as-Sunnah”.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 141 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: