Posts tagged ‘jalaluddin rumi’

27 Juli 2012

Menyingkap Rahasia Puisi Puisi Rumi

oleh alifbraja

Menyingkap Rahasia Puisi Puisi Rumi

Biarkan aku bercerita tentang
keajaiban-keajaiban Dikau, oh Cinta! Ijinkan
aku membuka pintu gaib bagi makhluk,
dengan ucapan!

Salah satu cara menyingkap rahasia di balik puisi-puisi mistik Maulawi Jalaluddin Rumi adalah mencari kata-kunci (keyword) yang sering digunakan Rumi di dalam puisi-puisinya yang banyak menawan banyak orang.

Bagi penggemar puisi-puisi Rumi, kata CINTA mungkin merupakan kata yang paling sering diekspresikan Rumi di dalam puisi-puisinya. Oleh karena itulah bagi mereka yang kering dari rasa ini pastilah akan mengalami kesulitan hebat untuk bisa memahami semua yang diungkap Rumi di dalam karya-karyanya.

Cinta, bagi Rumi, sesuatu yang tidak mungkin bisa lepas darinya. Kalau boleh kita sedikit ekstrem bisa dikatakan Rumi adalah seorang sufi “pemuja” Cinta!

Bagi sebagian kecil orang – sekali lagi bagi mereka yang tidak akrab dengan dunia rasa – akan sangat sulit memahami semua karya Rumi. Untuk bisa memahami Rumi, anda tidak hanya diminta untuk memiliki tingkat pemahaman tertentu tetapi, yang lebih penting lagi adalah anda mesti memiliki kepekaan rasa yang lebih.

Daya pikat puisi-puisi Rumi tidak sekedar mengekspresikan cinta tanpa arah yang pasti. Cinta yang diungkap Rumi dalam semua puisi-puisinya mengandung rahasia-rahasia irfan *] yang lumayan tinggi.

Saya katakan lumayan tinggi, karena irfan yang diungkap Rumi dalam puisi-puisinya merupakan ungkapan-ungkapan indah yang terjelma dari pemahaman Wahdah al-Wujud-nya Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi, seorang sufi genius awal abad 12 M.

Banyak pengamat karya-karya Rumi, semisal Annemarie Schimel dan William C. Chittick, yang menganggap Rumi banyak dipengaruhi pemikiran sufi besar Ibn ‘Arabi.

“Diwan-i Syams-i Tabriz Rumi, misalnya, merepresentasikan pengalaman-pengalaman spiritual tertentu seperti “menyatu” dengan Tuhan atau pun perpisahan dengan sang Kekasih, yang semua itu digambarkan Rumi dengan sangat sesuai melalui simbol-simbol dan kiasan-kiasan,” demikan jelas Chittick.

Bahkan secara ekstrem, ada beberapa pengamat yang mengatakan bahwa Rumi merupakan seorang komentator (pensyarah) karya-karya Ibn ‘Arabi dalam bentuk puisi!

Tapi saya membantah pernyataan tersebut mengingat bahwa Rumi merupakan seorang sufi yang memang tidak sekedar bersyair atau berpuisi, tetapi dia juga mengamalkan praktik-praktik sufi yang berat dibawah bimbingan guru sekaligus sahabatnya, Syamsuddin Tabrizi.

Puisi-puisi atau syair-syair Rumi bisa dikatakan terekspresi dibawah pengaruh keadaaan-keadaan yang lumrah dialami oleh sufi-sufi besar sebelumnya seperti Bayazid al-Busthami dan al-Hallaj.

Inilah yang saya maksud bahwa karya Rumi bukan sekadar puisi atau syair, tetapi merupakan ekspresi pengalaman batin seorang sufi.

Manusia rendah mencuri kata-kata kaum
darwis untuk menipu orang-orang
yang berpikiran sederhana
(Matsnawi)

Singkat kata, kita takkan pernah bisa memahami karya-karaya Rumi tanpa terlebih dahulu mencoba memahami dasar pemikiran Rumi tentang Wahdah al-Wujud. Karena hampir semua – kalau tidak boleh dikatakan semua – karya Rumi merupakan celoteh kaum sufi yang sedang dimabuk cinta.

Dari sinilah, insya Allah kita akan mencoba menggali dan mengungkapkan sebagian rahasia-rahasia yang ingin diungkapkan Rumi dalam karya-karya spektakulernya, seperti Matsnawi, Diwan-i Syams-i Tabriz, dan Fihi Ma Fihi.
(bersambung)
_____
* Secara sederhana Irfan bisa dikatakan sebagai : pengetahuan tentang Tuhan. Kata irfan sendiri diambil dari akar kata ‘arafa yang berarti pengetahuan dan ilmu irfan merupakan ilmu yang memfokuskan pembahasan tentang Tuhan dalam berbagai aspek.

7 Juli 2012

INTI TASAWUF RUMI

oleh alifbraja

INTI TASAWUF RUMI

 
TETES-TETES AIR RUMI

Seperti tetes-tetes air yang mendinginkan kerak bebatuan yang cadas dan keras. Kesan batin inilah bila kita membuka-buka halaman buku tasawuf. Belajar Tasawuf memang tidak menjanjikan kesaktian dan kekuatan badan. Ia juga tidak menjanjikan satu cara agar mendapatkan kekayaan, kekuasaan dan kedigdayaan di dunia. Namun, dari tasawuf kita mendapatkan bekal agar mampu merangkai sesuatu yang berserak di batin, dan selanjutnya bisa menggerakkan kita agar bersiap diri untuk sebuah perjumpaan dengan Tuhan Yang Maha Melihat.

Betapa kering hidup ini bila kita hanya berkutat pada aturan, pada hukum, pada syariat. Namun tidak pernah menyelami samudra hakikat dari hukum syariat tersebut. Syariat itu dibuat tidak hanya untuk ditaati, namun pasti jelas ada tujuannya. Syariat mengharuskan seseorang muslim untuk sholat, namun apa tujuan sholat. Inilah saat kita memasuki wilayah hakikat dan kemudian tujuan sholat ditemukan yaitu bersujudnya “diri” kepada DIRI YANG MAHA SEJATI. Secara otomatis, bila kita bersujud kepada DIRI SEJATI, maka kita diharapkan untuk selalu menyatu dan dekat dengan iradat-NYA, kehendak-NYA. Dalam terminologi agama dikatakan sebagai TAKWA.

Dalam sebuah perjalanan spiritual menuju DIRI YANG MAHA SEJATI, setidaknya kita membutuhkan bekal yaitu pengetahuan sebab perjalanan itu adalah perjalanan yang orientasinya tidak ke luar, namun ke dalam diri. Kita tidak membutuhkan jutaan kilometer jarak tempuh perjalanan dengan kaki dan peluh yang bercucuran, namun yang kita perlukan adalah milyaran kehendak baik di dalam diri untuk selalu ingin berbuat kebajikan. Serta trilyunan perilaku sekecil apapun yang luhur. Inilah sesungguhnya perjalanan batin yang orientasinya hanya agar DIA mendekat menjadi ENGKAU dan kemudian dekat-sedekat-dekatnya menjadi AKU DIRI SEJATI.

Perjalanan mendekati-DIA menjadi AKU inilah yang menjadi fokus tasawuf Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Muhammad bin Husin Al Khatabi Al Bakri, nama lengkap Jalaluddin Rumi. Rumi dilahirkan di Balch Persia pada tahun 604 H atau 1217 Masehi dan meninggal dunia pada tahun 672 H atau 1273 Masehi. Saat usia empat tahun, dia ajak sang ayah ke Asia Kecil (negeri Rum) sehingga dia memakai nama Rumi.

Ajaran tasawufnya tersimpan dalam karya-karya agung, di antaranya Matsnawi yang terdiri dari 20.700 bait syair yang dirangkum dalam enam jilid. Pendirian tasawufnya berdasarkan atas Wihdatul Wujud. Inilah sari tasawuf Rumi:
Karamlah aku di dalam rindu
Mencari Dia, mendekati Dia
Dan telah tenggelam pula
Nenekku dulu, dan yang kemudian mengikut pula
Kalau kukatakan bibirnya
Itulah ibarat bibir dari bibir pantai lautan
Yang luas tak tentu tepinya
Dan jika aku katakan Laa, cucuku adalah Illa
Aku tertarik bukan oleh huruf
Dan bukan pula oleh suara
Makin jauh di belakang dari yang didengar dan diketahui
Apa huruf, apa suara, apa guna kau pikirkan itu
Itu hanya duri yang menyangkut di kakimu
Di pintu gerbang taman indah itu
Kuhapus kata, huruf dan suara
Dan aku langsung menuju ENGKAU
Rumi melanjutkan:
Nyanyian bagiku, wahai harapanku, nyanyian nusyur
Runduklah unta dan berhentilah
Sekarang timbul rasa bahagia dan surur
Telanlah ya bumi, air mata cukuplah
Minumlah hai jika, air mawar yang suci
Engkau kembali, hai hari rayaku
Selamat datang ya marhaban
Alangkah sejuknya engkau, hari yang sepoi
Dan kata Rumi lagi, mengibaratkan Tuhan memanggil kita pulang:
Marilah ke mari, marilah..
Sebab engkau tak akan mendapat sahabat laksana AKU
Manakah kecintaan seperti cinta KU, dalam wujud ini
Marilah ke mari, marilah…
Jangan kau habiskan umurmu dalam ragu-ragu
Tidak ada pasaran bagi hartamu
Kau adalah lembah yang kering, AKU-lah hujan
Kau adalah kota yang telah runtuh, AKU-lah pembangun
Kalau tidak ada pengabdian manusia atas-KU, tidaklah mereka akan bahagia
Pengabdian mutlak adalah Matahari kebahagiaan
Rumi memiliki jawaban atas pertanyaan manusia sebagai berikut:
Kita mendengar suara setiap waktu
Dari utara, dari selatan, panggilan..
Inilah kami! Terbang menuju bintang
Sebab kita dulu datang dari bintang
Dan berteman karib dengan malaikat
Dari sana kita datang, bahkan kita lebih tinggi dari bintang
Kita pulang! Kita pulang!
Lebih baik dari Malaikat, mengapa tidak akan kita atasi?
Tempat kita adalah di Maha Kebesaran
Apa artinya alam bumi bagi diri yang suci?
Kita pulang! Kita pulang!
Dan jika terjatuh lagi, tempat kita bukan di sini
Datanglah empasan ombak
Hancurlah bahtera badan
Itulah saat pertemuan…..
Hakikat hidup adalah CINTA, Rumi menyimpulkan tujuan perjalanan mendekati-NYA:
Aku tak kenal lagi siapa diriku
Tubuhku, tunjuki aku apa dayaku
Bukan bulan sabit dan bukan pula kayu palang
Bukan aku kafir dan bukan Yahudi
Bukan di timur bukan di barat tanah asalku
Tak ada keluarga, baik malaikat atau pun jin
Geligaku bukan dari bumi dan bukan batu karang
Bukan dari benua Cina bukan dari yang lain
Bukan dari Bulgaria tanah lahirku, Bukan..
Bukan dari Irak, bukan Khurasan
Bukan dari India dengan sungainya yang lima
Bukan disini dan bukan di sana
Bukan di surga bukan di neraka, wathan asalku
Aku juga bukan orang usiran dari surga Adam atau lembah Yazhan
Bukan dari Adam aku mengambil nasabku,
Tetapi dari satu tempat… alangkah jauh
Jalan yang sunyi sepi tiada bertanda
Aku lepaskan diriku dari tubuhku dan nyawaku
Dan aku telah menempuh hidup baru
Dalam nyawa KECINTAANKU

Demikian sekelumit tasawuf Rumi yang menyejukkan tersebut. Semoga ada manfaatnya bagi kita yang selama ini berada di dalam ombak lautan dunia fana dan terombang ambing dalam kebimbangan menentukan jalan hidup sejati.

25 Juni 2012

Nama Thoriqoh di Dunia

oleh alifbraja

Nama Thoriqoh di Dunia

 

Berikut nama-nama Thoriqot yang mempunyai pengaruh besar di dunia yaitu sejumlah 44 thoriqot tersebar di 3 benua yaitu, benua Asia, Afrika, Eropa. Benua yang kosong dari Pusat pengembangan Thoriqot ada dua yaitu, benua Amerika dan benua Australia.

Dinukil dari “Ensiklopedi Islam”, Penerbit PT.Ikhtiar Van Hoven Jakarta, tahun 1994.

1. T: Ad-Hamiyyah. P:Ibrohim bin Adham. Di Damaskus Syuriah.
2. T: Ahmadiyyah. P:Mirza Ghulam Ahmad. Di Qodiyan India.
3. T: `Alawiyyah. P:Abu Abbas Ahmad. Di Musta`nim Aljazair.

4. T: `Alwaniyyah. P: Syaikh Alwan. Di Jeddah Saudi Arabia.
5. T: `Ammariyyah. P: Ammar Busina. Di Konstantine Aljazair.
6. T: Asysyaaqiyyah.P: Hasanuddin. Di Istambul Turki.
7. T: Asyroofiah. P:Asrof Rumi. Di Khin Iznik Turki.
8. T: Baahaiyyah. P:Abdul Ghoni. Di Adrianopel Turki.
9. T: Bahromiyyah. P: Hajji Bahromi. Di Ankara Turki.
10. T: Bakriyyah. P: Abu Bakar Wafa`i. Di Aleppo Syuriah.
11. T: Biktasyi. P: Biktasyi fili. Di Kirshir Turki.
12. T: Bistaamiyyah.P: Abu Yazid Al Bistami. Di Jabal Bistam Iran.
13. T: Ghulsyaaniyyah. P: Ibrohim Ghulsyani. Di Kairo Mesir.
14. T: Haddaadiyyah. P: Sayyid Abdulloh bin `alawy bin Muhammad AlHaddad. Di Hijaz, Arab saudi.
15. T: Idriisiyyah. P: Sayyid Ahmad bin Idris.Di `Ashir, Arab saudi.
16. T: Ightibaasiyyah. P: Syamsuddin. Di Maghnasiyah Yunani.
17. T: Jalwaatiyyah. P: Fier Uftady. Di Bursa Turki.
18. T: Jamaaliyyah. P: Jamaluddin. Di Istambul Turki.
19. T: Kubroowiyyah. P: Najmuddin. Di Khurosan Iran.
20. T: Qodiriyyah.P: Abdul Qodir Al Jailani. Di Baghdad Irak.
21. T: Kholwatiyyah. P: Umar Al Kholwaty. Di Kasyiri Turki.
22. T: Maulawiyyah. P: Jalaluddin Rumi. Di Kunya Anatholia.
23. T: Muroodiyyah. P: Murod Syami. Istambul Turki.
24. T: Naqsyabandiyyah. P: Muhammad bin muhammad al Uwaisi al Bukhori Naqsyabandi. Di Qosri Arifan Turki.
25. T: Niyaziyyah. P: Muhammad Niyaz. Di Limnuz Yunani.
26. T: Ni`matulloh. P: Syah Wali Ni`matulloh. Di Kirman Iran.
27. T: Nur Bahsyiyyah. P: Muhammad Nurbah. Di Khurosan Iran.
28. T: Nuruddiiniyyah. P: Nuruddin. Di Istambul Turki.
29. T: Rifaa`iyyah. P: Sayyid Ahmad Ar Rifa`i. Di Baghdad Irak.
30. T: Sa`diyyah. P: Sa`aduddin Jibawi. Di Damaskus Syuria.
31. T: Safaawiyyah. P: Saifuddin. Di Ardabil Iran.
32. T: Sanusiyyah. P: Sidi Muhammad bin `Ali As Sanusi. Di Tripoli Libya.
33. T: Saqoothiyyah. P: Sirri Saqothi. Di Baghdad Irak.
34. T: Shiddiqiyyah. P: Kyai Muchtar Mu`thi. Di Jombang Jawa Timur Indonesia.
35. T: Sinan Ummiyyah. P: Alim Sinan Ummi. Di Al Wali Turki.
36. T: Suhrowardiyyah. P: Abu Najib Suhrowardi dan Syihabuddin Abu Hafsin Umar bin Abdulloh Suhrowardi. Di Baghdad Irak.
37. T: Sunbuliyyah. P: Sunbul Yusuf Bulawi. Di Istambul Turki.
38. T: Samsiyyah. P: Syamsuddin. Di Madinah Arab Saudi.
39. T: Syattaariyyah. P: Abdulloh Syattar. Di India.
40. T: Syaadziliyyah. P: Abu Hasan Ali Assyadzili. Di Mekkah Arab Saudi.
41. T: Tijaaniyyah. P: Abul Hasan Ahmad bin Muhammad Tijani. Di Fez, Maroko.
42. T: Um Sunaniyyah. P: Syaikh Um Sunan. Di Istambul Turki.
43. T: Wahaabiyyah. P: Muhammad bin Abdul Wahab. Di Nejed Arab Saudi. 44. T: Zainiyyah. P: Zainuddin. Di Kufah, Irak.

23 Juni 2012

Relevansi Mantiq Al-Tayr Karya Sufi Persia Fariduddin Attar

oleh alifbraja

Relevansi Mantiq Al-Tayr Karya Sufi Persia Fariduddin Attar

Alamat apa yang memerlihatkan adanya dunia lain
Di sebalik dunia yang tampak ini?
Perubahan-perubahan besar, terhapusnya masa lalu
Hari baru, malam baru, zaman baru
Dan bahaya-bahaya baru yang mengancam kehidupan
Dalam setiap zaman selalu ada pikiran baru
Kesenangan baru dan juga kekayaan baru
(Jalaluddin Rumi dalam Divan-i Shams Tabriz)

 

Yang paling dekat adalah Tuhan
Namun sukar dipahami dengan pikiran
Jika bahaya datang mengancam
Baru orang berbondong-bondong cari keselamatan
(Hoelderlin dalam “Patmos”)

Dalam forum ini saya diminta berbicara tentang spiritualitas dalam sastra Islam. Oleh karena pokok berkenaan dengan hal ini sangat luas, saya ingin batasi perbincangan ini dengan membahas salah satu karya sufi yang masyhur, yaitu Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung) karangan seorang sufi Persia terkenal Fariduddin `Attar (1132-1222 M). Hingga sekarang karya sufi dari Nisyapur ini masih jadi perbincangan hangat di kalangan sarjana dan masyarakat sufi internasional, di Timur maupun di Barat, disebabkan relevansinya. Tetapi sebelum itu ada baiknya diuraikan secara ringkas sejarah tasawuf sebagai bentuk spiritualitas Islam dan sumbangan sufi terhadap kesusastraan serta kebudayaan Islam secara umum.

Sebelum memperoleh namanya seperti yang kita kenal sekarang, tasawuf muncul awal mulanya sebagai gerakan sosial keagamaan yang dipelopori oleh ahli zuhud (asketik) pada awal abad ke-2 H. Oleh karena itu gerakan ini disebut juga gerakan kaum asketik, yaitu kelompok orang yang mengutamakan ibadah dan kesalehan sosial dalam menjalankan perintah agama. Di antara tokoh yang dipandang cikal baka kelahirannya ialah ahli zuhud seperti Hasan al-Basri, Makruf al-Karkhi, Rabi’ah al-Adawiyah, Hasan al-Muhasibi, Dhu al-Nun al-Misri, Sumnun, Hasan al-Nuri, dan lain sebagainya. Pada mulanya gerakan ini lahir sebagai protes terhadap kecenderungan pada hedonisme dan materialisme yang meluas dalam masyarakat Islam, terutama yang tinggal di kota-kota besar yang merupakan pusat kegiatan politik dan perdagangan ketika itu seperti Damaskus, Baghdad, Basra, dan lain sebagainya. Tetapi lambat laun, dengan berjalannya waktu dan keterlibatan para tokohnya dalam berbagai pemikiran keagamaan, filsafat dan ilmu pengetahuan, wacana pengetahuan dan pemikiran mereka juga meluas merangkumi berbagai aspek persoalan keagamaan dan sosial budaya.

Pada abad ke-10 – 12 M tasawuf muncul bukan saja sebagai gerakan kerohanian (tariqa) yang mengajarkan disiplin kerohanian dalam mencapai kebenaran. Tetapi juga menjadi disiplin ilmu tersendiri dalam Islam, yang dilandasi pula dengan corak pemikiran filsafat tersendiri pula. Demikianlah tasawuf tidak hanya menjelma sebagai gerakan kerohanian (tariqat) dan gerakan sosial keagamaan, tetapi juga sebagai gerakan ilmu keagamaan dan filsafat. Pada abad ke-13 M, karena banyaknya sufi Arab dan Persia mengekspresikan gagasan dan pengalaman kerohanian mereka dalam puisi dan alegori-alegori mistik yang menarik perhatian pembaca sastra, maka tasawuf pun menjelma menjadi gerakan estetik. Sejak itu sampai abad-abad akhir menjelang munculnya gerakan pembaruan dan munculnya pengaruh Barat dalam masyarakat Muslim, para sufi ini memainkan peranan penting dalam perkembangan sastra di Dunia Islam. Peranan penting mereka ini tidak hanya dapat dilihat dalam sejarah kesusastraan Arab dan Persia, tetapi juga dalam sejarah kesusastraan Turki Usmani, Melayu, Urdu, Sindhi, Swahili, dan lain-lain.

Sebagai cabang dari ilmu-ilmu Islam, ahli-ahli tasawuf yang disebut sufi ini menekankan pembahasan pada masalah-masalah berkenaan dengan dimensi batin atau spiritual ajaran Islam. Keseluruhan ilmu dan filsafat mereka mencakup bidang-bidang seperti metafisika, kosmologi, psikologi kerohanian, epistemologi, etika, filsafat ketuhanan, estetika, puitika, hermeneuitika (ta’wil), dan lain sebagainya. Sebagai disiplin kerohanian sering disebut sebagai ilmu suluk atau ilmu makrifat. Suluk artinya jalan kerohanian, dan orang yang menempuh ilmu suluk disebut salik. Disebut ilmu makrifat karena tujuan mereka mempelajari dan mempraktekkan ilmu suluk ialah mencapai makrifat, yaitu pengenalan masalah ketuhanan secara mendalam. Adapun perkumpulan tempat mereka mempelajari ilmu suluk dan prakteknya disebut tariqa (tarekat), yang sering diartikan juga sebagai persaudaraan sufi.

Kata-kata tasawuf sendiri dibentuk dari tiga kata yang artinya berbeda-beda, tetapi masing-masing memiliki kaitan makna dengan erat dengan kegiatan sufi. Pertama, kata suf yang artinya kain dari bulu domba atau wool. Ini berkaitan dengan kebiasaan para sufi yang awal yang selalu mengenakan baju dari bulu domba yang bersahaja, sebagai lambang kesederhanaan. Kebiasaan yang sama sebelumnya tampak di kalangan rahib-rahib Kristen. Bulu domba juga merupakan lambang pengurbanan diri demi tujuan-tujuan ilahiah. Kedua, kata safi yang artinya dalam bahasa Arab ialah suci. Jalan tasawuf ialah penyucian diri (thadkiya al-nafs), yaitu melenyapkan egonsentrisme atau pamrih indvidual dalam setiap laku sosial dan amal ibadah. Ketiga, kata sophia yang dalam bahasa Yunani artinya kearifan atau kebijaksanaan. Tetapi para sufi memandang bahwa kearifan tidak hanya diperoleh melalui logika dan penalaran akal (rasio), tetapi terutama juga menggunakan metode intuitif dan instrospeksi. Misalnya melalui kontemplasi (muraqabah) dan meditasi (tafakkur). Metode intuitif sering dipadankan dengan cinta, yaitu penyaksian mata hati secara langsung atas kebenaran yang ingin dicapai.

Pengertian-pengertian yang diberikan itu sesuai dengan hakikat tasawuf itu sendiri, yaitu sebagai ilmu yang membicarakan cara-cara terbaik jiwa manusia berhubungan dengan Realitas Tertinggi dan mengenal-Nya secara mendalam. Dalam perjalanan-Nya mencapai Yang Haqq itu banyak pengalaman yang ditemui para sufi dan setiap pengalaman itu memberi dampak kepada jiwa sang pencari. Karena itu ilmu tasawuf pada dasarnya membicarakan tahapan-tahapan rohani (maqamat) dan keadaaan-keadaan jiwa (ahwal) yang dialami seorang penempuh ilmu suluk sehingga mencapai makrifat. Begitu pula dengan sastra sufi, yang dipaparkan ialah pengalaman dan gagasan sufi berkenaan dengan tahapan rohani dan keadaan jiwa, yaitu yang dialami secara langsung oleh penulisnya.

Pada abad ke-12 dan 13 M, yaitu masa berkecemuknya Perang Salib dan invansi Mongol, yang menyebabkan hancurnya kekhalifataan Baghdad dan terjadinya diaspora besar-besaran orang Islam; tarekat-tarekat sufi berkembang subur dan pecah ke dalam banyak aliran. Mereka memiliki jaringan-jaringan luas di seantaro Dunia Islam. Terdapat juga tarekat memiliki organisasi sosial keagamaan yang disebut futuwwa dan gilde-gilde (organisasi dagang) yang disebut ta`ifa dengan jaringan-jaringan yang luas pula. Pada masa inilah sastra sufi mulai mencapai puncak kesuburan dan kematangannya, yang terus tumbuh pesat setidak-tidaknya hingga abad ke-19 M. Pada abad ke-20 M sekalipun sebagai gerakan estetik telah terhenti, namun pengaruh sastra sufi dan estetikanya tetap tampak di kalangan penulis-penulis Muslim tertentu. Misalnya dalam karya Mohamad Iqbal, Ahmad Sawqi, Salah Abdul Sabur, Amir Hamzah, Sanusi Pane, Danarto, Kuntowijoyo, dan lain-lain.

Fariduddin `Attar adalah sufi Persia terkenal yang dipandang sebagai pelopor kebangkitan sastra sufi dalam kesusastraan Persia bersama-sama dengan Sana’i. Pengaruhnya sangat besar bukan hanya terhadap pengarang-pengarang sufi Persia seperti Jalaluddin Rumi, tetapi juga bagi penulis fusi di Turki, Asia Tengah, India, kepulauan Melayu, dan lain sebagainya. Dio kepulauan Melayu, pengaruh kepenyairannya tampak dalam karya Hamzah Fansuri, sufi Melayu dari Aceh yang hidup pada abad ke-16 M. Disebabkan relevansinya, terutama Mantiq al-Tayr (Musyawarah Burung), sampai sekarang karya-karya `Attar masih luas diperbincangkan di kalangan msyarakat tasawuf dan dijadikan bahan perbincangan di kalangan sarjana-sarjana Timur dan Barat.

Attar dan Karyanya

Farriduddin al-`Attar nama lengkapnya ialah Fariduddin Abu Hamid Muhammad bin Ibrahim, dilahirkan di Nisyapur pada tahun 1142 M dan wafat di kota yang sama pada tahun 1230 M. Menurut cerita sang sufi mati dibunuh oleh tentara Mongol, yang pada tahun 1220 M menyerbu Nisyapur. Dia lebih dikenal sebagai al-`Attar atau `Attar, yang artinya pembuat minyak wangi (parfum) dan obat-obatan (farmasi). Setengah riwayat menceritakan bahwa dia berubah pikiran untuk menjadi seorang sufi setelah mengalami peristiwa ganjil dalam hidupnya.

Pada suatu hari `Attar, bersama-sama seorang rekannya, sedang duduk di depan kedainya. Tiba-tiba datanglah seorang darwis (sufi pengembara) yang melihat ke dalam kedainya. Ketika sang darwis menghirup bau parfum dia menarik nafas panjang dan menangis. `Attar mula-mula berfikir bahwa faqir itu hendak meminta belas kasihan, lalu dia mengusir dari kedainya. Faqir itu kemudian menjawab, “Tidak ada yang dapat menghalang saya untuk meninggalkan tokomu ini. Tak sukar pula bagiku untuk mengucap selamat tinggal kepada dunia yang bobrok ini. Apa yang ada padaku hanyalah jubah bulu domba yang lusuh ini. Tetapi bagaimana dengan kau? Aku sangat kasihan justru pada kau. Bisakah kau mengubah pendirianmu tentang kematian dan bagaimana kau dengan lapang dada mau meninggalkan harta kekayaanmu yang berlimpah ini?”

`Attar terperangah, tetapi kemudian dengan spontan dia menjawab, ”Aku mau hidup sederhana dan karenanya sanggup meninggalkan harta bendaku ini untuk mencari kebenaran. Faqir itu berkata, ”Kuharap kau mau menjadi faqir dan bebas dari belenggu dunia!”. `Attar kembali terkejut, sebab setelah mengucapkan kata-kata itu sang faqir terjatuh dan setelah diperiksa sudah tidak bernyawa lagi. Kejadian ini memberikan pengaruh mendalam kepada `Attar. Selang beberapa hari kemudian dia meninggalkan Nisyapur dan mengembara ke berbagai kota untuk menemui guru-guru tasawuf yang terkemuka pada zaman itu. Sejumlah toko parfum miliknya dia serahkan kepada sanak saudaranya. Banyak guru dia temui, antara lain yang paling banyak memberi bimbingan kerohanian ialah sufi terkemuka Syekh

Bukh al-Din.

Selama bertahun-tahun dalam pengembaraannya, `Attar menjalani hidupnya sebagai seorang darwish. Dia akhirnya kembali ke kota kelahirannya dan masa-masa akhir hayatnya sebagai guru kerohanian dan saudagar minyak wangi di kota kelahirannya. Dia bukan saja sukses dan tenar sebagai ahli tasawuf dan sastrawan, tetapi juga sebagai usahawan. Kekayaannya bertambah-tambah, tetapi tidak menyebabkan dia terbelenggu oleh masalah keduniaan. Sebaliknya dengan harta yang diperolehnya dia dapat mendirikan sekolah, pesantren, zawiyah, dan membesarkan gerakan tasawuf yang dipimpinnya. Pada masa ini pulalah karya-karyanya ditulis. ‘Attar termasuk penulis yang subur pada zamannya. Dalam karya-karyanya dia banyak mengambil dan menyajikan semula ucapan Nabi Muhammad s.a.w. dan ucapan guru-guru sufi yang masyhur. Hal itu dimaksudkan karena ucapan-ucapan tersebut dapat mengukuhkan keimanan dan aspirasi pembacanya, serta dapat meruntuhkan kesombongan dirinya. `Attar sangat menyukai ucapan-ucapan spiritual para sufi, serta kisah-kisah mereka yang sangat berfaedah untuk pengajaran dan pendidikan akhlaq, sejak pada masa muda lagi. Terlebih-lebih, menurut `Attar, karya-karya yang berkenaan spiritualiti sangat penting ditulis pada zaman di mana dunia dikuasai oleh pemimpin-pemimpin yang jahat, haloba, tidak jujur dan tidak adil. Sedangkan manusia-manusia yang memiliki kearifan dan dapat membimbing manusia di jalan benar telah dilupakan banyak orang.

Di antara karyanya yang masyhur ialah Thadkira al-`Awliya (Anekdot Para Wali), Musibat-Namah (Kitab tentang Bencana), Ilahi-Namah (Kitab Ketuhanan atau Kesucian), Mantiq al-Tayr (Persidangan atau Musyawarah Burung), Asrar-namah (Kitab Rahasia Ketuhanan), dan banyak lagi. Sajak-sajaknya sebagian besar dia dalam bentuk qasidah (pujian), ghazal (sajak cinta) dan ruba`i (sajak empat baris berisi renungan atau pemikiran). Di antara qasidahnya yang terkenal ialah sajak-sajak pujian kepada Nabi Muhammad s.a.w. (madaih al-nabawiya) yang sampai sekarang dinyanyikan dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad di negeri-negeri berbahasa Persia.

Mantiq al-Tayr menceritakan.penerbangan burung-burung mencari raja diraja mereka Simurgh yang berada di puncak gunung Qaf yang sangat jauh dari tempat mereka berada. Perjalanan itu dipimpin oleh Hudhud, burung kesayangan Nabi Sulaiman a.s. yang melambangkan guru sufi yang telah mencapai tingkat makrifat yang tinggi. Sedangkan burung-burung melambangkan jiwa atau roh manusia yang gelisah disebabkan kerinduannya kepada Hakekat Ketuhanan. Simurgh sendiri merupakan lambang diri hakiki mereka dan sekaligus lambang hakekat ketuhanan. Perjalanan itu melalui tujuh lembah, yang merupakan lambang tahap-tahap perjalanan sufi menuju cinta ilahi. Dalam tiap tahapan (maqam) seorang penempuh jalan akan mengalami keadaan-keadaan jiwa/rohani (ahwal, kata jamak dari hal). Uraian keadaan rohani yang disajikan `Attar menarik karena menggunakan kisah-kisah perumpamaan. Pada akhir cerita `Attar menyatakan bahwa ternyata hanya tiga puluh ekor burung (si-murgh) yang mencapai tujuan, dan Simurgh tidak lain ialah hakekat diri mereka sendiri.

Lembah-lembah yang dilalui para burung itu ialah:

Pertama, lembah talab atau pencarian. Di lembah ini banyak kesukaran, rintangan dan godaan dijumpai oleh seorang salik (penempuh jalan) . Untuk mengatasinya seorang salik harus melakukan berbagai ikhtiar besar dan harus mengubah diri sepenuhnya, dengan membalikkan nilai-nilai yang dipegangnya selama ini. Kecintaan pada dunia harus dilepaskan, baru kemudian ia dapat terselamatkan dari bahaya kehancuran diri dan sebagai labanya dapat menyaksikan cahaya kudus Keagungan Ilahi. Hasrat-hasrat murni kita dengan demikian juga akan berlipat ganda. Seseorang yang berhasil mengatasi diri jasmani dan dunia akan dipenuhi kerinduan kepada yang dicintai dan benar-benar mengabdikan diri kepada Kekasihnya. Tidak ada masalah lain baginya kecuali mengejar tujuan murni hidupnya dan dia pun tidak takut kepada naga-naga kehidupan, yaitu hawa nafsunya. Ia tidak mempermasalahkan lagi keimanan dan kekufuran, sebab dia telah berada dalam Cinta. Kata `Attar, “Apabila kau gemar memilih di antara segala sesuatu yang datang dari Tuhan, maka kau bukan penempuh jalan yang baik. Apabila kau suka memandang dirimu sendiri dimuliakan karena memiliki intan dan emas segudang, dan merasa dihinakan karena hanya memiliki setumpuk batu, maka Tuhan tidak akan menyertaimu. Ingatlah, jangan kau sanjung intan dan kau tolak batu, karena keduanya berasal dari Tuhan. Batu yang dilemparkan oleh kekasih yang setia lebih baik dari intan yang dijatuhkan oleh seorang wanita perusak rumah tangga.”

Di lembah pencarian seseorang harus memiliki cinta dan harapan. Dengan cinta dan harapan orang dapat bersabar. Kata `Attar, “Bersabarlah dan berusahalah terus dengan harapan memperoleh petunjuk jalan (hidayah). Kuasailah dirimu dan jangan biarkan kehidupan lahiriah dan jasmaniah menawan serta menyesatkanmu!”

Kedua, lembah Cinta (`isyq). `Attar melambangkan cinta sebagai api yang bernyala terang, sedangkan pikiran sebagai asap yang mengaburkannya. Tetapi cinta sejati dapat menyingkirkan asap. Di sini `Attar mengartikan cinta sebagai penglihatan batin yang terang, sehingga tembus pandang, artinya dapat menembus bentuk-bentuk formal kemudian menyingkap rahasia-rahasia terdalam dari ciptaan. Orang yang cinta tidak memandang segala sesuatu dengan mata pikiran biasa, melainkan dengan mata batin. Hanya dia yang telah teruji dan bebas dari dunia serta kungkungan benda-benda, berpeluang memiliki penglihatan terang. Caranya ialah dengan penyucian diri.

`Attar sendiri mengatakan, “Dia yang menempuh jalan tasawuf hendaknya memiliki seribu hati, sehingga setiap saat ia dapat mengurbankan yang satu tanpa kehilangan yang lain.” Di sini Cinta dikaitkan dengan pengurbanan. Para sufi merujuk kepada kepatuhan Nabi Ismail a.s. kepada perintah Tuhan. yang bersedia dijadikan qurban oleh ayahnya Nabi Ibrahhim. a.s. Peristiwa inilah yang dijadikan landasan upacara Idul Qurban. Kata-kata qurban berasal dari qurb yang berarti hampir atau dekat. Jadi berkurban dalam cinta berarti berusaha memperdekat langkah kita untuk mencapai tujuan, yaitu Cinta Ilahi.

Salah satu ciri cinta sejati ialah dicapainya penglihatan hati yang terang. Dalam keadaan seperti itu seorang sufi memiliki pandangan yang visioner, dan mampu memahami hakekat terdalam kehidupan. Karena dapat melihat dari arah hakekat, maka seorang pencinta dapat memiliki gambaran yang berbeda dari orang lain tentang dunia dan kehidupan Pencinta sejati bebas dari kungkungan bentuk-bentuk lahir. `Attar menuturkan kurang lebih sebagai berikut:

Ketahuilah wahai yang tak pernah diberi tahu!
Di antara pencinta, burung-burung itu telah bebas
Dari kungkungan sangkarnya sebelum ajal mereka tiba
Mereka memiliki perkiraan dan gambaran lain tentang dunia
Mereka memiliki lidah dan tutur yang berbeda pula
Di hadapan Simurgh mereka luluh dan bersimpuh
Mereka mendapat obat demi kesembuhan mereka dari penyakit
Sebab Simurgh mengetahui bahasa sekalian burung

Ketaatan kepada orang yang dicintai merupakan tanda seorang pencinta sejati. Namun demikian di jalan Cinta banyak sekali godaan dijumpai oleh seorang pencinta. Dalam Mantiq al-Tayr `Attar memberi contoh kisah Syekh San`an dan Gadis Yunani beragama Kristen. Ketika menjadi pencinta Syekh San`an menuruti perintah kekasihnya, dia memeluk agama Kristen dan ketika Putri Yunani itu menjadi pencinta dia mengikuti jejak kekasihnya, mencari Syekh San`an di Mekkah dan memeluk agama Islam di sana. Kembalinya Syekh San`an ke agama Islam ialah berkat doa para pengikutnya yang tak kenal lelah memohon kepada Tuhan agar guru mereka diberi petunjuk. Tampaknya usaha itu tidak membuahkan hasil, bahkan Syekh San`an semakin larut dalam agama yang baru dipeluknya. Namun sekali lagi Tuhan turun tangan. Syekh San`an bermimpi berjumpa Nabi Muhammad s. a. w. yang menyuruhnya datang ke Mekkah. Setibanya di Mekkah Syekh San`an dan ratusan pengikutnya disambut oleh ratusan orang Islam termasuk sahabat-sahabat dekatnya. Di hadapan Ka`bah Syekh pun bertobat dan berikrar untuk kembali ke jalan benar. Putri Yunani yang ditinggalkan menjadi sangat rindu, dan kemudian menyusul ke Mekkah, di mana dia memeluk agama Islam dengan disaksikan Syekh San`an dan para pengikutnya.

Kisah yang baru saja dikemukakan juga memberi tahu kita bahwa di lembah Cinta begitu banyak cobaan dan ujian, yang dapat menyesatkan seorang penuntut tasawuf. Hanya petunjuk Tuhan yang dapat menyelamatkan seseorang yang berada dalam bahaya, dan petunjuk itu datang sesuai dengan ikhtiar dan doa yang dipanjatnya sendiri di masa lalu dan doa yang dipanjatkan orang-orang terdekat. Di lain hal kisah ini memberi isyarat bahwa cinta sejati dapat mengatasi perbedaan keyakinan, sebab cinta mengutamakan yang hakiki dan persatuan dengan jiwa kekasih, bukan untuk memperdebatkan perbedaan-perbedaan lahir. Hikmah lain dari kisah ini bahwa cinta sejati dapat mendorong orang melakukan perubahan atau transformasi diri sebagaimana terlihat pada Syekh San`an atau pun gadis Yunani.

Walaupun cinta yang dialami Syekh San`an dengan gadis Nasrani itu merupakan cinta profan, namun dari pengalaman tersebut Syekh San`an memperoleh pelajaran tentang sifat-sifat cinta yang lebih tinggi. Seperti dituturkan Syekh San`an ketika gadis Nasrani itu menyambut cintanya:

Malam-malam pengasingan yang sunyi telah berlalu
Namun tak seorang dapat menyingkap rahasia seperti itu
Siapa pun yang permohonannya dikabulkan seperti aku malam ini
Siang dan malam-malamnya akan dilalui dengan kebenaran cinta berahi
Pada siang hari nasibnya dicetak, malam hari bentuknya disiapkan
Ya Tuhan, tanda-tanda menakjubkan apa yang kusaksikan malam ini?
Apakah ini tanda Hari Kiamat? Akal, kesabaran, kawan sejati – semua pergi
Cinta macam apa ini, derita macam apa dan kepiluan macam apa?

Ketiga, ialah lembah kearifan atau makrifat. Kearifan berbeda dengan pengetahuan biasa. Pengetahuan biasa bersifat sementara, kearifan ialah pengetahuan yang abadi, sebab isinya ialah tentang Yang Abadi. Kearifan merupakan laba yang diperoleh seseorang setelah memperoleh penglihatan batin terang, di mana ia mengenal dengan pasti hakekat tunggal segala sesuatu. Kearifan menyebabkan seseorang selalu terjaga kesadarannya akan Yang Satu, dan waspada terhadap kelemahan, kekurangan dan keabaian dirinya disebabkan godaan dan tipu muslihat ‘yang banyak’.

Makrifat dapat dicapai dengan berbagai cara. Di antaranya melalui sembahyang yang khusyuk, latihan kerohanian yang berdisiplin, penyucian diri sepenuhnya di hadapan Kekasih, dan pengisian jiwa dengan pengetahuan yang bermanfaat bagi pertumbuhan rohani. Seseorang yang mencapai makrifat akan menerima nur (cahaya) sesuai amal usahanya dan mendapat peringkat kerohanian yang ditetapkan baginya dalam mengenal kebenaran ilahi. Orang yang mengenal hakekat segala sesuatu akan memandang, dan bersikap terhadap dunia melalui penglihatan hatinya yang telah tercerahkan. Ia tidak lagi terpaku pada segala sesuatu yang bersifat embel-embel, sebab yang menjadi perhatiannya ialah yang hakiki. Ia tidak sibuk memikirkan dirinya dan hasratnya yang rendah, namun senantiasa asyik memandang wajah Sahabat atau Kekasihnya, yang Maha Pengasih dan Penyayang itu (al-rahman al-rahim). Kearifan menjadi rusak disebabkan dangkalnya pikiran, kesedihan yang berlarut-larut dan kebutaan pandangan terhadap hakekat ketuhahan. Mata orang arif terbuka kepada Yang Satu, bagaikan bunga tulip yang kelopaknya selalu terbuka kepada cahaya matahari.

Keempat. Lembah kebebasan atau kepuasan (istighna). Di lembah ini tidak ada lagi nafsu memenuhi jiwa seseorang atau keinginan mencari sesuatu yang mudah didapat dengan ikhtiar biasa. Karena pandangan telah tercerahkan oleh kehadiran Yang Abadi, maka seseorang tidak pernah melihat ada yang baru atau ada yang lama di dunia ini. Lautan tampak sebagai setitik air di tengah wujud-Nya yang tak terhingga luasnya, dan dadanya selalu lapang sebab dia mengetahui bahwa rahmat Tuhan tidak akan pernah menyusut atau berkembang. Tujuan hidup tak berguna ditaggalkan dan seseorang merasa cukup dengan rahmat yang dilimpahkan Tuhan. Di dunia dia hanya tinggal bekerja, berikhtiar dan berusaha sesuai kemampuan dan pengetahuannya tentang sesuatu, dan untung rugi dia pasrahkan kepada Kekasihnya. Untuk mencapai tingkat ini, kata `Attar, seseorang harus melakukan kewajiban yang dipikulkan kepadanya tanpa beban. Seseorang mesti meninggalkan sikap acuh tak acuh, masa bodoh dan ketakpedulian terhadap masalah keagamaan, kemanusiaan dan sosial. Lamunan kosong dan ketakpastian terhadap sesuatu yang tak memerlukan lamunan dan keraguan harus diganti dengan keteguhan iman atau haqq al-yaqin.

Kata Hamzah Fansuri:

`Ilmu`l-yaqin nama ilmunya
Ayn`l-yaqin hasil tahunya
Haqq`l-yaqin akan katanya
Muhammad Nabi asal gurunya

Syariat akan ripainya
Tariqat akan bidainya
Haqiqat akan tirainya
Makrifat yang wasil akan isainya

Bagi sufi makrifat merupakan bentuk pengetahuan tertinggi tentang hakekat. Keadaan yang rohani lahir darinya ialah kedekatan (wasil) dengan Yang Satu. Rasa dekat ini dapat timbul karena dia menyaksikan dengan mata batinnya bahwa Kekasih hanya Satu, tidak dua. Istilah lain yang digunakan para sufi tentang keadaan ini ialah musyahadah, artinya penyaksian bahwa Tuhan itu satu.

Musyahadah menjamin stabilitas jiwa dan pikiran seseorang, sebab benar-benar telah terpaut pada tali Yang Satu. Istilah lain yang digunakan para sufi untuk keadaan ini ialah haqq al-yaqin, yakni yakin secara mendalam bahwa kebenaran hakiki ialah Dia. Keyakinan seperti itu sudah barang tentu mendatangkan kepuasan rohani dan kebebasan dari yang selain Dia. Jadi batas antara lembah makrifat dan lembah isytighna tidak begitu jelas.

Menurut `Attar di lembah keempat ini seseorang mesti menyibukkan diri dengan hal-hal yang bersifat hakiki dan utama, mengabaikan hal-hal yang bersifat lahiriah atau yang semata-mata menyangkut kepentingan diri sendiri. Seseorang mesti memperbanyak kerja kerohanian, misalnya dengan ibadah, berderma. memperbanyak amal saleh, membangun pesantren, menyebarkan kegiatan keagamaan dan sebagainya. Kata `Attar, “Di lembah ini seseorang mungkin melakukan suatu kegiatan yang bermakna, tetapi ia tidak menyadari.” Kalaupun menyadari ia tidak perlu menyombongkan diri. Lanjut `Attar, “Lupakan segala yang telah kauperbuat, berikhtiarlah untuk bebas dan cukupkan dengan dirimu sendiri, meskipun kau kadang mesti menangis dan bergembira terhadap hasil-hasilnya. Di lembah keempat ini cahaya kilat kesanggupan, yang merupakan penemuan sumber-sumber dirimu sendiri, kecukupan dirimu, menyala begitu terang dan membara hingga membakar penglihatanmu pada dunia.”

Kelima, lembah Tauhid. Di lembah ini semuanya pecah berkeping-keping, kemudian menyatu kembali. Semua yang tampak berlainan dan berbeda kelihatan berasal dari hakekat yang sama. Jadi di lembah ini seseorang menyadari bahwa hakekat wujud yang banyak itu sebenarnya satu, maksudnya manifestasi Cinta Yang Satu, yaitu rahman dan rahim-Nya.

Keenam, lembah Hayrat atau ketakjuban. Di sini kita menjadi mangsa ketakjuban yang menyilaukan mata, sehingga seolah-olah kita tenggelam dalam kebingungan dan timbul rasa duka yang tak terkira. Betapa tidak. Siang berubah jadi malam, malam berubah siang. Kemalangan tampak sebagai kebruntungan dan keberuntungan kelihatan sebagai kemalangan. Untung rugi tak jelas batasnya. Orang yang mencapai lembah Tauhid pada mulanya akan lupa atas segalanya, kemudian sadar bahwa bersama dirinya ialah Yang Satu. Tetapi dia tidak tahu siapa yang bersama dengan dirinya. Jika orang berada di lembah ini ditanya, dia akan menjawab: “ Aku tak tahu apa ini fana’ (hapus dalam esensi ketuhanan) atau baqa’ (hidup kekal dalam keabadian-Nya). Aku tak tahu apa ini nyata atau tak nyata. Aku sedang bercinta, tetapi tidak tahu dengan siapa bercinta.” `Attar memberi contoh “Kisah Seorang Putri Raja Yang Mencintai Hambanya”. Hamba sahaya dalam kisah ini melambangkan seorang salik yang tak memikirkan apa-apa lagi, yang penting mengabdi, dan karena hanyutnya dalam pengabdiannya maka dia memancarkan keindahan luar biasa. Putri raja diam-diam jatuh cinta kepadanya, dan dengan dibius oleh dayang-dayangnya maka hamba itu pun dibawa ke peraduan sang putri, diberi minuman dan makanan lezat, dihidangi tari-tarian dan musik yang indah, sebelum keduanya beradu. Hamba tersebut mengalami semua itu antara sadar dan tak sadar.

Ketujuh. Lembah Faqir dan Fana. Faqir artinya tidak memiliki apa-apa lagi, semuanya sudah terampas dari dirinya, kecuali Cintanya kepada Yang Satu. Karena jiwanya hanya terisi oleh-Nya maka dia sanggup mengurbankan diri asal saja diperintahkan oleh Kekasihnya. Kefakiran menerbitkan keberanian menentang yang selain Dia, sebagaimana dimanifestasikan dalam semangat jihad. Kefakiran juga dijadikan landasan ethos dagang yang melahirkan prinsip futuwwa (semangat satria pinandita). Dengan ethos demikian organisasi-organisasi dagang Islam (ta`ifa) tumbuh pada abad ke-13 sebagai organisasi sosial keagamaan yang dipimpin oleh ulama sufi. Ta`ifa aktif menyebarkan agama Islam dengan didukung aktivitas perdagangan, pembinaan kota-kota urban di pesisir dan pengembangan industri, dari mana terbentuk pusat-pusat penyebaran agama Islam di Nusantara. Pada masa-masa genting anggota-anggota ta`ifa, termasuk para pengrajin, santri, dan lain-lain, ikut berjuang melawan musuh yang mereangi kaum Muslimin, termasuk kaum penjajah.

Fana’ ialah persatuan mistik, manunggaling kawula Gusti atau Unio-mystica. Keadaan ini disusul dengan baqa’, yaitu pengalaman hidup kekal dalam Tuhan. Apabila seseorang telah mencapai tahapan ini, dia akan mengenal dirinya yang hakiki, dirinya yang universal, dan dengan demikian mengenal sungguh-sungguh asal kerohaniannya. Hadis yang mengatakan, “Barang siapa mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya” dapat dijelaskan melalui uraian di atas. Di sini seseorang mengenal bahwa dirinya benar-benar makhluk rohani, bukan sekedar mahluk jasmani dan nafsani. Dia menyadari bahwa secara esensial manusia memang makhluk kerohanian, sebagaimana dinyatakan al-Qur’an dengan istilah khalifah Tuhan di muka bumi, dan sekaligus hamba-Nya. Sebagai khalifah Tuhan menjadi perantara antara alam rendah dan alam tinggi.

`Attar mengakhiri kisah burung menemui raja mereka Simurgh, yang tak lain ialah gambaran diri mereka yang sejati, sebagai berikut: “ Tahukah kau apa yang kaumiliki? Masuklah ke dalam dirimu sendiri dan renungkan ini. Selama kau tak menyadari kehampaan dirimu, dan selama kau tak meninggalkan kebanggan diri yang palsu, serta kesombongan dan cinta diri yang berlebihan, kau tidak akan mencapai puncak keabadian. Di jalan tasawuf muka-muka akan dicampakkan ke dalam lembah kehinaan, kemudian baru kau akan diangkatnya ke puncak gunung kemuliaan”.

Mengenai pengetahuan tentang diri itu Imam al-Ghazali mengatakan dalam kitabnya Kimiya-i Sa`adah (Kimia Kebahagiaan), “Pengetahuan tentang diri yang sebenarnya berada dalam pengetahuan tentang hal-hal berikut: Siapakah anda, darimana anda datang? Kemana anda akan pergi, dan apa tujuan anda datang serta tinggal sejenak di sini, dan di manakah letak kebahagiaan anda?… Suatu bagian penting dari pengetahuan kita tentang Tuhan timbul dari kajian dan renungan atas jasad kita sendiri yang menampakkan kepada kita kebijaksanaan, kekuasaan serta cinta Sang Pencipta. Manusia dengan tepatnya disebut `alam al-saghir (jagad cilik) dalam dirinya. Susunan kerangka jasadnya mesti dipelajari, bukan saja oleh orang-orang yang ingin menjadi dokter, tetapi juga oleh orang-orang yang ingin mencapai pengetahuan yang lebih dalam tentang Tuhan, sebagaimana kajian yang mendalam tentang keindahan dan corak bahasa pada sebuah puisi yang agung akan mengungkapkan kepada kita lebih banyak tentang kejeniusan pengarangnya… Tetapi di atas segalanya pengetahuan tentang jiwa dan kerohanian manusia lebih penting sebab pengetahuan semacam itulah yang dapat membawa kita sampai kepada pengetahuan tentang Tuhan.”

Syekh San’an dan Hakekat Cinta

Syekh San`an adalah orang suci dan ulama terkemuka pada zamannya. Pada suatu hari dia bermimpi bepergian dari Mekkah menuju Yunani, dan di sana dia menyembah arca yang sangat indah. Begitu terjaga dia merasa sangat sedih dan memutuskan Syekh pergi ke Yunani untuk mengetahui arti mimpinya. Diikuti oleh empat ratus muridnya sampailah dia di negeri seribu biara itu. Setelah mendatangi berbagai pelosok negeri itu sampailah ia di sebuah biara yang megah. Di sana dia melihat seorang gadis yang cantik luar biasa, memandang ke luar dari sebuah jendela.

Gadis Yunani itu ternyata beragama Nasrani. Syekh San`an sangat terpesona oleh kecantikannya. Ia berseru kepada murid-muridnya, “O alangkah dahsyat cintaku kepadanya. Andaikata aku dapat membebaskan diri dari kungkungan agama, tentulah aku beruntung dan bahagia!” Murid-muridnya mengerti maksud perkataan gurunya. Sementara itu Syekh San`an benar-benar terbakar api asmara. Dia merasa muda kembali, dan darah di tubuhnya bergelora. Dia berhasrat mendapatkan gadis Yunani itu dan menjadikan istrinya seumur hidup.

Siang malam Syekh San`an mengunjungi tempat itu untuk dapat menatap wajah gadis itu. Keinginannya untuk bertemu dan berbincang dengannya sedemikian kuatnya. Nasehat murid-muridnya tidak diacuhkannya, begitu pula ratusan doa yang mereka panjatkan sia-sia. Syekh San`an malahan semakin tergila-gila kepada gadis itu. Berhari-hari lamanya dia selalu gagal menjumpai gadis itu. Pintu biara tertutup rapat baginya. Pada akhirnya dia putus asa dan keadaannya begitu menyedihkan. Dia termangu-mangu di dekat tempat di bawah jendela tempat gadis itu selalu menampakkan mukanya.

Ketika melihat Syekh San`an sudah putus asa, gadis itupun keluar, menyilakan masuk kepada Syekh San`an dan menjamunya dengan makanan yang serba lezat dan minuman anggur. Karena cintanya Syekh San`an menuruti apa saja yang diperintahkan si gadis. Namun si gadis belum juga mau menerima lamaran Syekh San`an. Pada suatu hari ketika Syekh San`an bersedia masuk agama Nasrani, barulah gadis itu menerima lamarannya. Kini mereka resmi menjadi sepasang suami istri. Sebagai mas kawinnya Syekh San`an harus bersedia memelihara babi, memandikan binatang-binatang itu dan memberinya makan pagi dan sore.

`Attar menulis pada episode ini, “Dalam fitrah kita masing-masing ada seratus babi. Wahai kalian yang tak berarti apa-apa, kalian hanya memikirkan bahaya yang sedang mengancam Syekh San`an! Sedangkan bahaya itu terdapat juga dalam diri kita masing-masing, dan menegakkan kepala sejak saat kita mulai melangkah di jalan pengenalan-diri. Kalau kalian tak mengetahui perihal babi-babi kalian sendiri, maka kalian tak akan mengenal Jalan Cinta. Tetapi apabila kalian mulai menempuh jalan itu, kalian akan menjumpai ratusan babi dan ratusan berhala pujaan. Halaulah babi-babi itu, bakarlah berhala-berhala itu di lembah Cinta; atau kalau tidak, kalian akan menjadi seperti Syekh San`an, hina dina dicemooh cinta.”

Kabar segera tersiar ke negeri-negeri Islam bahwa seorang ulama terkenal telah memeluk agama Kristen dan menjadi pemelihara babi, hanya disebabkan oleh cintanya kepada seorang gadis cantik yang masih muda. O betapa pesona dunia dapat membelokkan iman dan pengetahuan. Kebetulan di Mekkah tinggallah seorang Syekh, sahabat karib Syekh San`an. Mendengar berita itu dia hanya mengurut-urut dadanya. Murid-murid Syekh San`an yang sedang berada di Mekkah dipanggilnya semua dan diberi nasehat, “Apabila kalian benar-benar ingin berbuat sesuatu yang membuahkan hasil, kalian harus mengetuk pintu Tuhan berulang kali tanpa jemu. Dengan doa yang disertai keyakinan mendalam kalian akan diterima di hadirat Ilahi. Mestinya kalian memohon kepada Allah demi guru kalian, masing-masing dengan doa sendiri. Insya Allah Dia akan mengembalikan Syekh San`an kepada kalian. Mengapa kalian enggan mengetuk pintu Tuhan?”

Murid-murid itu pun segera berangkat ke Yunani. Sesampainya di sana mereka memilih tinggal tidak jauh dari tempat Syekh San`an. Empat puluh hari empat puluh malam mereka berdoa. Empah puluh hari lamanya mereka berpuasa, berpantang makan makanan lezat yang mengandung banyak lemak dan kolestrol. Mereka juga tak boleh tergoda oleh gadis-gadis cantik yang banyak terdapat di biara itu. Akhirnya kekuatan doa orang-orang tulus itu pun menggetarkan langit. Malam itu mereka bermimpi berjumpa dengan Nabi Muhammad s. a. w. Dalam mimpi mereka Nabi Muhammad s. a. w. bersabda bahwa Syekh San’an sebentar lagi akan kembali ke jalan benar dan dosa-dosanya akan diampuni. Segala yang telah dia tinggalkan selama ini, kitab suci al-Qur`an, kiblat dan sajadah segera akan didatanginya lagi”.

Pada malam yang sama wanita Yunani itu juga bermimpi dan dalam mimpinya melihat matahari turun kepadanya, disertai suara, “Ikuti Syekh San`an suamimu, peluklah agamanya, jadilah suci seperti hatinya yang telah dibersihkan oleh cinta. Kau telah membawa dia ke jalanmu, kini ikuti jalan yang ditempuhnya.”

Ketika wanita itu terjaga dari tidurnya, Syekh San`an telah meninggalkan Yunani bersama empat ratus pengikutnya menuju Mekkah. Tidak tahan sendiri, dan merasa rindu kepada Syekh San`an, dia pun menyusul mereka menuju Mekkah. Kepada Syekh San`an dia berkata, “Aku merasa begitu malu karena kau. Singkaplah tabir rahasia itu, dan ajarkan Islam kepadaku, agar aku dapat menempuh jalan kedamaian dan keselematan!” Di depan Ka`bah, disaksikan oleh ratusan murid dan sahabat Syekh San`an, wanita Nasrani itu mengucapkan kalimah syahadah. Kebahagiaan memancar dari wajahnya yang cerah setelah berhari-hari muram oleh kesedihan.

Ada kisah cinta lain yang menarik, yaitu cinta putri raja kepada salah seorang hamba sahayanya yang tampan dan berbudi. Dalam kisah ini `Attar ingin mengamukan bahwa seringkali cinta mendatangi tanpa diharapkan dan disadari. Pengalaman cinta itu sendiri menurut `Attar bersifat subyektif sehingga sulit diuraikan kepada orang lain. Bahasa terbaik untuk mengutarakannya ialah bahasa sastra yang bersifat fuguratif dan imaginatif. Ketika seseorang asyik bercinta dia hanyut ke dalam dunia khayalan, sehingga tidak bisa membedakan apa yang dialami itu kenyataan atau impian.

Bagaimana cinta bia timbul dalam diri seseorang? Salah satu penyebabnya ialah apabila obyek atau orang lain yang dicintai menampakkan keindahan yang membuatnya patut dicinta. Begitulah misalnya cinta Tuhan kepada manusia yang dipilih-Nya untuk mendapat petunjuk dari-Nya seperti nabi-nabi, para aulia dan santu di masa dahulu. Keindahan yang sangat kuat dayanya dalam menerbitkan dorongan hati seseorang untuk mencintainya, ialah keindahan batin (jamal), bukan keindahan lahir (husn). Hamba sahaya di dalam kisah `Attar ini dicintai bukan karena kecantikan wajah atau badannya, melainkan terutama karena ketaatan dan pengabdiannya kepada majikannya. Pada akhirnya `Attar juga ingin menyatakan bahwa cinta sejati itu tidak ada kepentingan sesuatu apa selain dari mencintai itu sendiri. Kisah lain tentang rahasia cinta sejati juga dapat dijumpai dalam ”Kisah Yusuf dan Zuleikha”. Tetapi dalam buku `Attar hanya dijumpai fragmennya. Yang memaparkan dalam alegori mistik menarik ialah Nizami al-Ganjawi, penulis Persia abad ke-12 M, segenerasi dengan `Attar.

Hakikat cinta yang lain ialah kepatuhan seorang pencinta kepada kekasihnya, yang mengakibatkan kekasihnya mencintainya secara dalam dan akhirnya patuh kepadanya. Ini diperlihatkan oleh kepatuhan Syeikh San`an kepada Gadis Nasrani, yang menyebabkan Gadis Nasrani itu cinta kepada Syeikh San`an dan akhirnya patuh kepadanya dengan memeluk agama Islam. Hakikat cinta yang lain lagi ialah bahwa cinta sejati dapat menembus perbedaan agama dan warna kulit (bangsa), ertinya melalui cinta seseorang dapat menapai hakikat kemanusiaan dan kerohanian paling dalam, yaitu mencintai itu sendiri. Kisah ini juga memberi pelajaran bahwa dalam jalan cinta banyak sekali godaan dan bahaya yang mesti dilalui seorang penempuh jalan kerohanian. Pada saat Syeikh San`an jatuh cinta kepada Gadis Nasrani dia menjadi sesat karena beliau tidak dapat membedakan antara cinta nafsani (sensual) dan cinta sejati. Tetapi Syeikh San`an terselamatkan disebabkan kuatnya doa murid-muridnya sehingga Tuhan turun tangan memberi petunjuk dan bimbingan. `Attar ingin menyatakan bahwa Petunjuk Tuhanlah yang paling penting dalam kehidupan manusia.

Mengenai lembah ketujuh atau terakhir `Attar menulis, yang artinya lebih kurang sebagai berikut:

Melalui kesukaran dan kehinaan jiwa burung-burung itu luluh
Dalam fana, sementara tubuh mereka menjadi debu
Setelah dimurnikan maka mereka menerima hidup baru
Dari Cahaya Hadirat Tuhan yang Baqa
Sekali lagi mereka menjadi hamba-hamba berjiwa segar
Perbuatan dan kebisuan mereka pada masa yang lampau
Telah lenyap dan hapus dari lubuk dada mereka
Matahari Kehampiran bersinar terang dari dalam diri mereka
Jiwa mereka diterangi oleh cahaya petunjuk-Nya
Dalam pantulan wajah tiga puluh burung (si-murgh) dunia
Mereka lantas menyaksikan wajah Simurgh
Apabila mereka memandang ke dalam diri mereka
Ya nampak, itulah Simurgh, bukan lain.
Tidak diragukan bahwa Simurgh ialah tiga puluh (si-murgh) burung
Semua bingung penuh ketakjuban, tidak tahu apa mereka ini atau itu
Mereka memandang diri mereka tiada lain ialah Simurgh

Mantiq al-Tayr diakhiri dengan amanat penulisnya agar pembaca menempuh jalan cinta dalam kehidupan. Cinta ialah penawar untuk segala kesedihan dan duka nestapa, dan ia merupakan obat dalam dua dunia. Sang sufi juga mengharapkan pembaca tidak membaca karyanya sebagai buku puisi atau nujum, namun sebagai hikmah yang hanya dapat diselami melalui pemahaman yang dalam. Karya sastra baginya adalah upaya pembebasan jiwa dari kungkungan keduniawian (tajarrud) dengan menggunakan sarana-sarana estetik dan bahan verbal yang dijumpai dalam hidup keseharian, serta disediakan oleh kitab suci, sejarah, dan kebudayaan.

Akhir Kalam

Ada beberapa perspektif atau aspek penting yang dapat dikemukakan untuk melihat relevansi karya sufistik atau profetik seperti Mantiq al-Tayr. Pertama, berkenaan dengan wawasan estetika yang melandasi penulisannya, yang sebenarnya mencerminkn kecenderungan umum karya sejenis – sufistik, mistikal, transendental, spiritual, profetik, bahkan apokaliptik, dan lain sebagainya. Kedua, aspek kesejarahan yaitu sejarah sosial budaya dan keagamaan yang melatari penulisan karya `Attar. Ketiga, sebagai karya yang berangkat dari perenungan ketuhanan dan masalah keagamaan, tentulah patut kita bertanya teologi apa yang ditawarkan oleh karya seperti ini.

Secara estetik Mantiq al-Tayr memerlihatkan bahwa kaum spiritualis atau mistikus (dalam hal ini sufi) memandang bahwa sastra sebagai penyajian (presentation) secara simbolik gagasan dan pengalaman kerohanian yang dicapai penulisnya sebagai penempuh jalan kerohanian (`ilm al-suluk). Simbol-simbol tersebut diambil dari kitab suci, teks keagamaan, sejarah agama, pristiwa-peristiwa sejarah, budaya, cerita rakyat yang mereka kenal, dan lain sebagainya. Burung Hudhud, yang berperan sebagai guru spiritual (pir) para burung, diambil dari al-Qur’an. Ia adalah burung kesayangan Nabi Sulaiman a.s. karena paling mengetahui jalan menuju dan rahasia istana ratu Balqis (Sheba) di Yaman. Simurgh (phoenix, burung `anqa dalam legenda Arab, burung Pingai dalam sastra Melayu, burung Hung di Cina) diambil dari mitos, merupakan lambang hakekat ketuhanan yang tempatnya sangat tinggi. Burung-burung yang lain adalah lambang jiwa manusia yang kecenderungannya beraneka ragam. Bukit Qaf diambil dari al-Qur’an, simbol kedekatan (uns) manusia dengan Tuhan, sebab puncak gunung merupakan tempat pertemuan langit dan bumi (samawat wa al-`ardh). Penerbangan adalah simbol kenaikan jiwa dari tingkat terendah kesadarannya menuju tingkat kesadaran tertinggi. Misalnya dalam kisah cinta Syekh San`an dengan gadis Yunani adalah upaya pengarang untuk melukiskan betapa cinta profan bisa ditingkatkan menjadi cinta transcendental.

Dengan begitu peristiwa yang disajikan karya itu bukan peristiwa di ruang kehidupan keseharian atau sosial, tetapi di ruang kejiwaan dan rohani manusia. Hal serupa kita lihat dalam Bhagavat Gita, Divina Comedia Dante, Faust Goethe, dan lain sebagainya. Tentu apa yang dipaparkan di situ tetap ada kaitannya dengan realitas di luarnya. Persoalan-persoalan yang dikemukakan melalui kisah-kisah dalam Mantiq al-Tayr, adalah persoalan keseharian namun berhasil ditransformasikan menjadi persoalan spiritual dan keagamaan.

Seperti halnya karya sastra pada umumnya, kelahiran Mantiq al-Tayr tidak kosong dari pengalaman dan peristiwa sejarah. Tetapi sejarah yag dimaksud bukan sejarah yang empirik, bukan sekadar sejarah sosial dan politik. Tetapi juga sejarah pemikiran keagamaan dan filsafat. Ketika karya ‘Attar itu ditulis masyarakat Muslim sedang mengalami krisis internal dan sedang diambang perpecahan. Terhadap banyak aliran keagamaan di situ yang saling bertarung memperebutkan posisi dalam kehidupan sosial budaya dan politik. Perang Salib kian membuat keruh keadaan, begitu pula invasi Mongol (Jengis Khan) pada awal abad ke-13 M. Semua itu menggiring umat Islam ke arah disintegrasi sehingga terjadi diaspora besar-besaran. Terutama setelah penghancuranm Baghdad oleh Hulagu Khan, cucu Jengis Khan, pada tahun 1256 M. Pemikiran keagamaan juga mengalami kejumudan karena cenderung ajaran agama ditafsirkan secara legalistik formal. Filsafat, science dan spiritualitas mengalami kemunduran, padahal sebelumnya mengalami masa kejayaannya.

Di tengah suasana kehidupan yang dipenuhi dengan krisis dan keputusasaa, serta ancaman internal dan eksternal itulah karya-karya profgetik sufi seperti Imam al-Ghazali, `Attar, Rumi, Ibn `Arabi, dan lain-lain dilahirkan. Melalui karya-karyanya itu mereka membangkitkan apa yang sekarang dapat disebut sebagai Teologi Harapan. Jika masyarakat sudah lagi mempercayai institusi sosial, politik, ekonomi, kebudayaan, hukum, dan agama; kepada siapa lagi dia harus berharap kecuali pada Tuhan dan dirinya sendiri. Cinta ilahi atau cinta transendental yang diajarkan sufi lahir sebagai upaya membangunkan kembali harapan yang telah redup dalam jiwa manusia. Manusia harus diyakinkan bahwa keadilan Tuhan dan pertolongan-Nya masih mungkin jika manusia berusaha keras dan mampu membangun cita-cita bagi masa depannya yang lebih baik.

Pesimisme dan sinisme tidak akan mampu memberi keselamatan. Hanya dengan meneguhkan keimanan, berikhtiar dan berpikir keras manusia dapat mengatasi penderitaan dan menyelamatkan kehidupannya. Hanya dengan meyakini bahwa Tuhan tidak akan meninggalkan manusia sendirian mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya maka kehidupan ini dapat diselamatkan. Cinta, keadilan, kecerdasan, perdamaian, solidaritas sosial, dan lain-lain yang didambakan sepanjang abad bukan sekadar masalah sosial, tetapi juga masalah spiritual. Ingatlah piagam PBB tentang perdamaian sendiri menyebutkan bahwa perdamaian dimulai bukan di tempat lain, melainkan di dalam hati dan jiwa manusia sendiri. Inilah pesan moral dari karya spiritual seperti Bhagavad Gita. Inilah pulalah pesan dari pepatah Kristen “Kerajaan Tuhan ada di dalam diri manusia”.

22 Juni 2012

Maqam Ahadiyyah dan Wahidiyyah

oleh alifbraja

Maqam Ahadiyyah dan Wahidiyyah

 

Maqam Ahadiyyah dan Wahidiyyah (2)

Dari alam mineral aku mati lalu menjadi tumbuh-tumbuhan;
Dari alam tumbuh-tumbuhan aku mati lalu mencapai alam hewan;
Dari alam hewan aku mati lalu menjadi manusia.
Lalu mengapa aku harus takut?
Kapan aku berkurang karena kematian?
Nanti aku mati sebagai manusia, lalu aku membentangkan sayapku dan mengangkat kepalaku di antara para malaikat…
Sekali lagi, aku akan berkorban dari alam malakuti dan menjadi apa yang tak sanggup dibayangkan imajinasi.
(Jalaluddin Rumi, Matsnawi, III, 3901-3903)

Ibarat selembar kertas yang memiliki dua sisi. Salah satu sisinya kosong dan sisi lainnya berisi tulisan. Sisi yang kosong tidak bisa dijelaskan sedangkan sisi sebelahnya dapat dijelaskan karena ada kalimat-kalimat penjelasnya.

Jika ini dianalogikan dengan wacana Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah, halaman yang kosong ibarat Maqam Ahadiyyah (the Divine Nothingness).

Dalam kitab-kitab tasawuf, maqam ini sering disebut sebagai Sir al-Asrar/Sacred of the Sacred. Maqam Ahadiyyah juga sering disebut ”Gudang yang Tersembunyi” atau Gayb al-Guyub, Haqiqat al-haqaiq. Sedangkan Maqam Wahidiyyah dapat dikatakan sebagai manifestasi sempurna (kamal al-istijla’) dari Maqam Ahadiyyah.

Maqam Wahidiyyah ini banyak dibicarakan ketika kita membahas konsep al-A’yan al-Tsabitah pada artikel minggu lalu. Al-A’yan al-Tsabitah, suatu maqam yang di atas alam Jabarut, tetapi masih berada di wilayah Maqam Wahidiyyah. Itu sebabnya, Maqam Wahidiyyah disebut Ta’ayyun Kedua dan Ta’ayyun Pertama ialah Maqam Ahadiyyah.

Dalam Ta’ayyun Pertama (Ahadiyyah) nama-nama dan sifat (al-asma’ wa al-aushaf) masih belum teridentifikasi dengan jelas dan semuanya masih tenggelam dalam keesaan diri-Nya. Oleh karena itu, Maqam Ahadiyyah disebut juga dengan Jam’ al-Jam’ atau Ahadiyyah al-Ahad menurut istilah Ibnu Arabi.

Sedangkan Maqam Wahidiyyah sudah ada unsur distingsi dan identifikasi nama-nama dan sifat-sifat. Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan berada di dalam Maqam Wahidiyyah karena merupakan hakikat yang menyingkapkan diri-Nya. Dalam ilmu tasawuf disebut madzahir al-asma’ atau al-a’yan.

Kita tidak mungkin bisa mengenal diri-Nya melalui martabat Ahadiyyah maka Ia memperkenalkan diri-Nya sendiri, yang tentu saja sejauh Tuhan mengungkapkan diri-Nya. Dari sini dipahami bahwa 99 nama indah Tuhan yang dikenal dengan al-Asma’ al-Husna, bisa merupakan jendela untuk mengintip, mengenal, dan  mendekati Tuhan.

Seperti disebutkan dalam Alquran, “Dan Allah memiliki Asma’ul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu.” (QS Al-A’raf: 180).

Nama-nama inilah yang pertama kali diajarkan oleh Allah SWT kepada Adam, yang membuat malaikat takjub kepadanya.

Dalam Alquran disebutkan, “Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (QS Al-Baqarah: 31-32).

Tentang rahasia nama-nama indah Allah akan dibahas dalam suatu artikel tersendiri yang akan datang. Manifestasi Maqam Ahadiyah ke Maqam Wahidiyyah diterangkan dalam hadis Qudsi bahwa: “Aku pada mulanya harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal maka kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku mereka pun kenal pada-Ku.”

Dalam beberapa kitab tasawuf dijelaskan ketika Allah sedang menyadari diri-Nya (subject conciusness) maka saat itu muncul subjek dan objek dan muncul determinasi (mu’ayyan), manifestasi, spesifikasi. Ketika itu Al-Haq tanazul (descended) dari kemutlakan-Nya menjadi partikularisasi.

Ada yang sadar, ada yang disadari meskipun subjek dan objek itu masih tetap satu atau tunggal. Namun, ketunggalan di sini oleh Ibnu Arabi disebut Ahadiyyah al-Wahid, yaitu  ketunggalan relatif atau ketunggalan dari yang banyak. Berbeda di level Ahadiyyah, Allah betul-betul berada dalam ketunggalan atau keesaan mutlak sehingga disebut Ahadiyyah al-Ahad.

Meskipun dibedakan antara Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah, keduanya tidak bisa dipisahkan. Satu wujud eksistensi dan yang lainnya haqiqah (reality), ‘ain (entity), sya’i (thing), dan ma’lum (pengetahuan Ilahi). Wujud dalam diri-Nya sendiri dalam level Ahadiyyah tidak dapat didefinisikan dan diketahui (unknowable).

Sedangkan di level Wahidiyyah ialah wujud yang dapat diketahui melalui realitas yang termanifestasikan oleh atau sejauh yang ditentukan dan didefinisikan oleh diri-Nya sendiri. Wujud Yang Mahatinggi memang tidak tampak pada diri-Nya sendiri, tetapi menyebabkan segala sesuatu selain diri-Nya menjadi tampak.Ilustrasi sederhananya, seperti ombak dengan laut, matahari dengan cahayanya, api dan panasnya.

Tidak mungkin ada ombak tanpa laut, tidak mungkin ada cahaya tanpa sumber cahaya, dan tidak mungkin ada panas tanpa sumber panasnya. Ombak adalah akibat atau reaksi dari adanya laut yang menjadi sebab.

Para teolog dan kalangan arifin beranggapan bahwa manifestasi dan tajalli dari Ahadiyyah ke Wahidiyyah dan seterusnya ke wujud aktual menjadi pangkal permulaan makhluk.

Berawal dari potensi wujud (wujud al-’ilmiy) atau yang biasa disebut dengan al-A’yan al-Tsabitah, kemudian menjelma menjadi wujud aktual (wujud al-khariji).

Lalu, dari al-khariji dan seterusnya sampai kepada alam syahadah mutlak disebut makhluq atau maj’ul. Di dalam bahasa Alquran sesuatu yag bersifat ciptaan awal (the first creation) biasanya diungkapkan menggunakan kata khalaqa, sedangkan untuk ciptaan kedua (the second creations) atau kejadian yang berkelanjutan (cintinum creations) diungkapkan dalam kata ja’ala. Jadi, ada makhluq dan ada maj’ul.

Sang Khaliq atau Ja’il sering disebut dengan al-Haq, sementara makhluk dan maj’ul, yaitu alam semesta termasuk manusia disebut al-khalq. Antara al-Haq dan al-Khalq sesuatu yang berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Inilah yang diungkapkan dalam syair Jalaluddin Rumi, “Jika engkau bicara soal ketakterbandingan, engkau telah membatasi. Jika engkau berbicara soal keserupaan engkau juga membatasi. Jika engkau membicarakan keduanya itu yang tepat dan engkau bakal mencapai makrifat.”

Maqam Wahidiyyah sering disebut maqam antara (barzakh) karena posisinya berada di antara al-Haq dan al-khalq. Akan tetapi, barzakh di sini tidak sama dengan Alam Barzakh atau Alam Mitsal sebagaimana disebutkan dalam artikel terdahulu, karena Alam Barzakh masih makhluk sedangkan Maqam Barzakh Wahidiyyah belum termasuk makhluk.

Penjelasan lebih lengkap tentang Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah akan lebih lengkap setelah nanti kita membahas nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Mungkin kita bisa terbantu untuk memahami dua maqam ini melalui pembahasan spiritual puncak beberapa agama lain. Wallahua’lam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 136 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: