Posts tagged ‘kosa kata’

25 Agustus 2012

Tiga Orang yang Pasti Doanya Dikabulkan

oleh alifbraja

Tiga Orang yang Pasti Doanya Dikabulkan

 
Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘Anhu beliau berkata : Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda :
ثلاث دعوات مستجابات لا شك فيهن : دعوة المظلوم ودعوة المسافر ودعوة الوالد على ولده
“Ada tiga doa yang pasti dikabulkan tanpa ada keraguan padanya : doanya orang yang terdholimi, doanya seorang musafir dan doa jeleknya orang tua pada anaknya”.

(Hadis ini diriwayatkan oleh Abu Dawud No.1536, dan Imam At-Tirmidzi No. 3442. Imam At-Tirmidzi mengatakan : hadits hasan. Imam Suyuti pada kitab Al Jami’ Ash Shoghir memberinya tanda shohih)

Kosa Kata Hadits :
لا شك فيهن : maksudnya tidak ada keraguan dalam hal dikabulkannya tiga doa tersebut.

الوالد : ibu termasuk dalam katagori “الوالد “ dalam keutamaan ini. Tidak disebutnya ibu dalam hadits ini dikarenakan bahwa doanya lebih berhak untuk dikabulkan. Karena, beban yang dipikul oleh ibu lebih berat dari ayah. Dialah yang telah mengandung anaknya dengan susah payah dan telah melahirkanya dengan susah payah pula.

Makna Hadits :
Allah telah menciptakan makhluk dan menjadikan mereka selalu butuh kepada-Nya dalam segala hal baik kecil ataupun besar, baik sepele ataupun yang penting. Dan Allah telah memerintahkan mereka untuk meminta dan bersandar kepada-Nya agar permintaannya dikabulkan.
Allah Subhanahu Wata’ala berfirman :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ
“Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu”. ( Al Mukmin : 60 )

Dia juga berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ
“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran”. ( Al Baqorah : 186 )

Dan Allah telah menjadikan beberapa sebab untuk dikabulkannya doa. Sebagian sebab itu kembali kepada sifat pada orang yang berdoa, sebagian yang lain kembali kepada keutamaan waktu dan tempat dan sebagian lagi kembali kepada kemuliaan pada doa.

Hadits ini mencakup tiga diantara sifat-sifat yang apabila ada pada orang yang berdoa maka jadilah doanya itu lebih bisa untuk dikabulkan.
Sifat-sifat ini adalah :

Pertama, orang yang berdoa dalam keadaan didholimi : Allah Subhanahu Wata’ala mengabulkan doa jeleknya kepada orang yang telah mendholiminya. Begitu juga Allah mengabulkan doanya bagi orang yang telah membantunya dalam menghilangkan kedholiman terhadapnya.

Kedua, orang yang berdoa dalam keadaan safar ( bepergian ) Allah ta’ala mengabulkan doa kebaikan darinya untuk orang yang telah berbuat baik kepadanya dan juga mengabulkan doa jelek darinya untuk orang yang telah berbuat tidak baik kepadanya demikian juga Allah mengabulkan doanya untuk dirinya sendiri. Tetapi para ulama memberi syarat dalam hal ini bahwa bepergiannya orang yang berdoa tersebut adalah bepergian yang dibolehkan. Kalau bukan yang diperbolehkan maka ia tidak mendapatkan keutamaan itu.

Ketiga, orang yang berdoa adalah orangtua dari orang yang didoakan. Allah Ta’ala mengabulkan doa jelek orang tua terhadap anaknya apabila seorang anak meremehkan hak orang tuanya. Allah juga mengabulkan doa kebaikan dari orang tua untuk anaknya.

Terdapatnya keutamaan ini bagi mereka yang memiliki tiga sifat ini atau salah satunya itu dikarenakan sangat bersandarnya mereka kepada Allah Ta’ala disertai dengan kesedihan hati dan ketulusan dalam memohon.

Pelajaran Yang Dipetik Dari Hadits :
1. Bahwasanya orang yang terdapat padanya salah satu dari sifat yang disebutkan dalam hadis maka doanya dikabulkan. Dan, bahwasanya orang yang terkumpul padanya sifat yang tiga ini maka dia lebih berhak lagi untuk dikabulkan doanya. Itu seperti orang tua yang sedang bepergian yang mendoakan keburukan kepada anaknya yang telah mendurhakainya. Begitu juga orang yang terkumpul padanya dua sifat dari tiga sifat tersebut seperti ayah disertai safar atau kedholiman dan safar dan sebagainya.

2. Pengharaman kedholiman dan durhaka terhadap kedua orang tua, karena dua hal itu menyebabkan kemarahan Allah Azza Wajalla.

3. Kasih sayang dan pertolongan Allah kepada hamba-hamba-Nya baik dalam keadaan senang atau susah.
Walallahu A’lam

(Diterjemahkan dari kitab “Arba’una Haditsan Kullu Hadits Fii Tsalatsi Khishol”, penyusun : Syaikh Shaleh As-Sadlan, diposting oleh Abu Maryam Abdusshomad)

21 Juli 2012

Telaah Kritis Perbedaan Wahyu dan Pengalaman Keagamaan

oleh alifbraja

 

 Telaah Kritis Perbedaan Wahyu dan Pengalaman Keagamaan

           

        

Pengalaman keagamaan (religious experience) adalah sebuah komprehensi yang muncul di dunia Barat pada abad kedua puluh, dan pada zaman kemunculannya itu juga ia menghadapi dilema serius dalam pendefinisian yang tepat; sebab perbedaan dalam definisi dan tafsir yang tidak dapat dihindari dalam dua kosa kata, pengalaman dan agama. Sebagian memandang pengalaman keagamaan itu sebagai suatu kejadian dimana pribadi yang mengalaminya dinisbahkan terhadap kejadian tersebut mempunyai pengetahuan tentangnya. Pribadi pelaku, memandang pengalaman ini bergantung pada suatu maujud atau suatu kehadiran yang metafisis, seperti Tuhan atau manifestasi-Nya dalam suatu perbuatan atau ia menyangka suatu maujud dengan suatu bentuk yang berhubungan dengan Tuhan, seperti tajalli Tuhan atau seorang pribadi semisal Maryam ‘Udzara As.

Pengalaman, memiliki pengertian yang luas dan dimutlakkan atas fenomena yang sangat beragam; sedemikian hingga, dari pengalaman panca indera biasa sampai mimpi, imajinasi, dan kondisi-kondisi luar biasa (supranatural) -yang tanpa ikhtiar (kemauan sendiri) atau dengan ikhtiar dan hasil pengaturan sempurna- semuanya terhitung sebagai pengalaman. Akan tetapi, kemestian pengalaman keagamaan itu sendiri harus disifatkan dengan suatu sifat dari sudut tinjauan pelakunya; yakni suatu pengalaman dimana pelaku memandang dan memahaminya sebagai suatu agama atau dengan kata lain, pelaku memandang atas kandungan dari pengalaman tersebut berada dalam koridor agama.                

Pengalaman keagamaan berbeda dengan bashirah (insight) keagamaan; sebab pengalaman keagamaan (sesuai dengan aplikasi kita dalam tulisan ini)  memestikan berhadapan dengan Tuhan atau hakikat paling akhir (hakikat paling tinggi, the ultimate reality), sedangkan bashirah keagamaan tidak mengharuskan seperti itu. Namun, pengalaman keagamaan dapat saja menjadi pangkal bashirah keagamaan; sebab syarat pengalaman keagamaan tidak lain adalah Tuhan dan hakikat paling akhir, yang menjadi subyek dari pengalaman tersebut.

Adapun ragam dan macam  pengalaman keagamaan antara lain:

1.             Pengalaman ketuhanan dengan perantara sesuatu yang terasakan (terinderai) dan muta’araf (ordinary); seperti menyaksikan seorang pribadi muqaddas (kudus);

2.             Pengalaman ketuhanan dengan perantara sesuatu yang terasakan dan tidak muta’âraf; seperti menyaksikan-Nya dengan perantara pohon yang menyala dan tidak terbakar;

3.             Pengalaman ketuhanan dalam domain bahasa indera muta’âraf; seperti menyaksikan-Nya dalam mimpi atau mukasyafah;

4.             Pengalaman ketuhanan dalam domain bahasa tidak muta’âraf dan tidak menerima pensifatan;

5.             Pengalaman ketuhanan dengan tanpa perantara setiap bentuk penginderaan atau perasaan, dimana dalam kondisi ini pribadi (pelaku) mendapatkan informasi kehadiran Tuhan dalam bentuk syuhudi.

 

Pandangan Tentang Pengalaman Keagamaan

Pertama: Pengalaman keagamaan adalah suatu pengalaman yang tidak bersifat akal dan makrifat, tetapi semacam perasaan (sensibility) yang tidak bisa dituangkan dalam batas perbedaan komprehensi  dan pemahaman, dan juga semacam penjelasan metafisis; kendatipun kelaziman darinya kita memandang bahwa perenungan filosofis dan teologis (dalil dan argumen serta konklusinya) merupakan natijah dan perkara kedua dari pengalaman keagamaan.

Kedua: Pengalaman keagamaan adalah suatu pengalaman yang berlandaskan atas persepsi perasaan dan merupakan ciptaan persepsi perasaan; yakni bukan merupakan hasil dari istidlal akal dan tidak memiliki perenungan filosofis dan teologis serta berada di luar kerangka dalil dan silogisme. Oleh karena itu, dia adalah suatu pengalaman imani (belief).

Kebanyakan filosof peneliti agama di Barat, menegaskan dan menguatkan pandangan pertama dan menyatakan bahwa pengalaman keagamaan mengandung pemahaman, kaidah dan aturan bahasa, dan metodelogi argumentasi.

 

Kesatuan Esensi Pengalaman Keagamaan

Sebagian berkeyakinan bahwa pengalaman-pengalaman keagamaan seluruhnya memiliki unsur-unsur yang sama, masalah ini, khususnya dalam pengalaman irfani dan sufistik nampak lebih jelas; yakni dalam pengalaman keagamaan yang mengandung makrifat dari realitas paling akhir (paling tinggi), arif sampai pada derajat kesatuan denga realitas paling akhir; baik dari dimensi makrifat (gnostikal) maupun dari dimensi eksistensial. Ini adalah suatu esensi dan hakikat yang melampaui dinding-dinding dan batas-batas agama, firkah, mazhab, dan kebudayaan yang beragam.

Dalam berhadapan dengan pandangan di atas, suatu kelompok lain yang berkeyakinan bahwa tidak satupun pengalaman tanpa perantara komprehensi-komprehensi dan keyakinan-keyakinan; bahkan ilmu terhadap nafs yang dihasilkan dari deduksi yang merupakan paling baiknya contoh pengalaman syuhudi. Oleh karena itu, kepercayaan, budaya, dan agama membatasi pengalaman keagamaan dan setiap tradisi serta agama mempuyai pengalaman khusus bagi dirinya. Jadi, keyakinan-keyakinan yang ada memberi bentuk kepada pengalaman-pengalaman keagamaan.[1]

Berasaskan hal ini, sebagian cendekiawan kontemporer memasukkan wahyu dalam koridor pengalaman keagamaan dan memandangnya sebagai pilar kepribadian dan kenabian para nabi. Dalam pengalaman ini, nabi melihat seakan-akan seseorang datang padanya dan membacakan di telinga dan kalbunya pesan-pesan dan perintah-perintah serta memberi tanggung jawab padanya untuk menyampaikan pesan-pesan itu kepada orang-orang, dan sebagai efek dari hasil pengalaman ini ia merasakan adanya tugas dan tanggung jawab baru. Ghazali juga dalam kitab “al-munqidzu min ad-dhalâl” menyinggung poin ini -pengalaman keagamaan- dengan ungkapannya: Dengarkanlah ucapan-ucapan para nabi, sungguh mereka telah mengalami dan menyaksikan Hak pada seluruh apa yang datang padanya dari syariat dan berjalanlah pada jalan mereka niscaya kamu akan mengalami penyaksian sebagian dari itu.[2]

 

Beberapa Ambigu Dalam Pengalaman Keagamaan

Masalah pengalaman keagamaan dari sudut pandangan cendekiawan Barat dan lainnya, telah menjadi bahan pertanyaan dan diskursus serius dan  tidak menampakkan secara jelas dan terang wajahnya serta tidak kosong dari konplik dan pertentangan; misalnya dapat ditujukan beberapa pertanyaan berikut ini:

1.                   Dengan parameter apa dapat diketahui dan dibedakan pengalaman keagamaan dari pengalaman akhlak, pengetahuan seni, perasaan gembira, perasaan bersalah, dan perasaan takjub? Pengalaman, dalam contoh biasa, seperti seseorang melihat sesuatu sebagai beruang atau macan dan merasa takut, tetapi lainnya berkata tidak ada beruang atau macan; tetapi yang ada adalah batang pohon.

2.                   Apakah suatu pengalaman dapat diberi nama pengalaman keagamaan; padahal kita tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentangnya? Apakah mendapatkan kandungan keagamaan dari jalan pengalaman tidak mengindikasikan “kedahuluan sesuatu atas dirinya” (taqaddum syai ‘ala nafsihi)?

3.                   Mengapa harus agama Budha, Hindu, Kristen, dan agama lainnya dipandang sebagai tradisi keagamaan, tetapi Marxisme tidak dipandang sebagai tradisi keagamaan atau terdapat keraguan terhadap maktab (school of thought) Humanisme?

4.                   Apakah jika seseorang memandang suatu pengalaman sebagai pengalaman keagamaan, yang melihat dan yang mendengar juga harus memandang pengalamannya sebagai pengalaman keagamaan?

5.                   Apakah dapat diadakan tolok ukur dan parameter kebenaran pengalaman keagamaan dan tercipta kesepakatan pandangan, sebagaimana segolongan dari urafa berkeyakinan atas ini? [3]

 

Kedudukan Logikal Pengalaman

Pengalaman -sebagaimana yang dibahas dalam ilmu Logika- adalah suatu peristiwa yang dihukumi manusia dikarenakan penyaksiannya yang berulang kali. Ketika seseorang menyaksikan suatu peristiwa secara berkali-kali dan mengujinya, maka jiwanya menjadi yakin dengannya serta menghukuminya secara pasti; seperti hukum pasti bahwa setiap api niscaya membakar; ini dikarenakan dia menyaksikan peritiwa itu berulang-ulang kali dan melakukan pengujian terhadapnya dan seperti hukum terhadap hubungan derajat panas tertentu dengan memuainya besi serta hukum terhadap kemendidihan air dalam 100 derajat Celcius. Kebanyakan masalah-masalah ilmu Fisika, Kimia, Biologi, Kedokteran, dan ilmu Eksprimen diperoleh dari jalan pengujian dan pengalaman ini.

Konklusi yang dihasilkan ini dalam analisa dan pengujian yang kurang sempurna, pada dasarnya bertumpu atas landasan penemuan sebab, dan penemuan-penemuan sebab ini dikarenakan keberadaan dua qiyâs (silogisme) tersembunyi dalam kedalaman jiwa manusia: yaitu qiyâs istitsnâî (suatu bentuk silogisme dimana konklusi itu sendiri atau kontranya secara aktual disebutkan dalam mukadimah-mukadimah)   dan qiyâs iqtirânî (suatu bentuk silogisme dimana natijah itu sendiri atau kontranya tidak disebutkan secara aktual dalam mukadimah-mukadimah); dan jika tidak ada demikian maka tidak seorangpun akan mengklaim bahwa semua air akan mendidih dalam 100 derajat Celcius atau semua besi akan memuai dalam derajat panas tertentu dan klaim-klaim lain seperti ini dalam ilmu Fisika, Kimia, Biologi, dan ilmu Alam lainnya.

Qiyâs istitsnâî yang disebutkan di atas dalam masalah mendidihnya air adalah: Sekiranya hasil efek ini (mendidihnya air pada 100 derajat Celcius) kebetulan dan terjadi tanpa sebab, maka tidak harus terjadi selamanya, tetapi kita menyaksikannya demikian dalam seluruh zaman. Maka dari itu, hasil efek ini bukanlah kebetulan; akan tetapi terdapat suatu penyebab yang menyebabkannya sehingga demikian.

Qiyâs iqtirânî juga dalam masalah ini berbentuk seperti ini: natijah silogisme sebelumnya dijadikan sebagai premis minor dan kita mengatakan: hasil efek ini adalah akibat dari suatu sebab, dan dalam premis mayor qiyâs kita mengatakan: dan tidak satupun akibat melanggar (menyalahi) sebabnya. Oleh karena itu, efek ini (mendidihnya air pada  100 derajat Celcius) selamanya tidak terpisahkan dari sebabnya (yakni dari 100 derajat Celcius). Jadi, selamanya sebab ini menyertai akibatnya. Ketika kita menemukan sebab maka kita menghukuminya secara pasti, yakni dalam kasus ini setiap air akan mendidih dalam panas 100 derajat Celcius.

Dengan keadaan ini, tidak seorang pun yang nekat dan gegabah mengklaim bahwa  setiap eksperimen dan pengalaman niscaya pasti sesuai dengan kenyataan; sebab sangat banyak dari pengalaman dan eksperimen mengalami kesalahan dikarenakan si pelaku tidak menemukan “sebab”nya secara akurat atau ia menempatkan “sebab nâqish” (kurang, tidak sempurna) pada kedudukan “sebab sempurna” atau ia menyangka sesuatu yang aksiden sebagai yang esensial; misalnya jika seseorang  lahir dalam area orang-orang yang berkulit putih dan menyaksikan bahwa setiap anak yang lahir adalah berkulit putih, jika ia berkata: seluruh manusia adalah berkulit putih, maka penghukuman dia dalam masalah ini tentulah salah; yakni ia telah menempatkan sifat aksiden pada sifat esensial.[4]

Berdasarkan ini, mungkin saja seseorang memandang suatu pengalaman sebagai pengalaman keagamaan dan dia merasakan dari internal dirinya itu adalah dîny (keagamaan), tetapi pada hakikatnya pengalaman ini sendiri berhadapan dengan suatu keraguan besar; sebab pengalaman ini merupakan pengalaman dan penyaksian batin pribadi sipelaku sendiri dan pengalaman seperti ini tidak terlepas dari keberadaan faktor-faktor dan penyebab-penyebab yang beragam yang bukan keagamaan; yakni pengalaman ini, bukanlah suatu jenis pengalaman dan eksperiman yang berada dalam kerangka ilmu dan sains lainnya yang dapat disaksikan dan diuji di laboratorium -seperti Pharmacology, Fisika, Kimia, Kedokteran, Biologi, dan lainnya- serta pengalaman ini tidak didukung oleh kebadihian dan sense universal dan tidak disertai dengan silogisme tersembunyi (seperti yang kita sebutkan dalam masalah mendidihnya air dalam 100 derajat Celcius).

Oleh karena itu, dari sudut tinjauan logikal, pengalaman keagamaan pribadi bermasalah (isykal).

 

Definisi Agama                

Mungkin saja terdapat definisi yang beragam untuk agama, tapi di sini kami cukup menyebutkan dua definisi saja, yang satu khusus dan lainnya umum.

1.                   Agama, adalah sekumpulan dari akidah, akhlak, hukum dan fiqih Ilahi yang membentuk proses teoritis dan praktis orang yang beragama. Dalam bentuk ini, jika seseorang mempersepsi suatu realitas dengan penyaksian batin, maka ia akan menganggapnya sebagai pengalaman keagamaan; tentu saja penyaksian dia terkadang berhubungan dengan “harus” dan “tidak boleh” dan terkadang berhubungan dengan “ada” dan “tidak ada” dan juga secara minimal berhubungan dengan “ada” dan “manifestasi”. Pengalaman-pengalaman ini, semuanya tidak dalam satu tingkatan; sebab para pelakunya tidak dalam satu tingkatan; sebab sebagian adalah ahli sair suluk (tarekat) dan sebagian lainnya tidak menapakkan kakinya dalam jalan ini, dan terkadang mereka mengalami suatu pengalaman batin secara kebetulan dan mungkin saja mereka ini tidak memilih agama yang benar.

2.                   Agama, adalah sekumpulan ajaran yang lebih luas dari akidah, akhlak, hukum, fiqih Ilahi dan non-Ilahi. Dalam bentuk ini, maka Marxisme dan Humanisme juga termasuk sebagai agama dan suatu maktab; sebagaimana al-Qur’an juga menggunakan kata agama dengan makna umum dan mutlak, misalnya al-Qur’an menukil perkataan Fir’aun: “Sesungguhnya aku khawatir dia (Musa As) mengganti agama kamu atau melakukan kerusakan di bumi”.[5] Agama para Fir’aun adalah penyembahan berhala; bukan agama tauhid yang menerima wahyu, ma’âd, kenabian, dan mukjizat. Mereka dalam istilah adalah orang yang beragama; yakni sekumpulan dari undang-undang yang dengan berbagai kecenderungan dan faktor, tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat, diterima dan disebut oleh mereka sebagai agama. Dari sisi ini, Fir’aun berkata: Saya khawatir Musa As akan menimpakan bahaya dengan menukar sekumpulan dari keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi yamg kamu terima dan sebut sebagai agama.

 

Oleh karena itu, jika kita memandang agama adalah suatu hakikat yang diafirmasikan dengan media para nabi As dan rasul Ilahi serta musyahadah mereka, sebagaimana al-Qur’an menyebutkan: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam…”[6] maka yang lain yang tidak dari jalan ini tidak bisa disebut sebagai agama; apakah sesuatu itu didapatkan dari alam mitsâl muttashil, seperti adhghaâtsu ahlâmin (mimpi yang bercampur aduk) atau mimpi shâdiq (benar), dan ataukah dari alam mitsâl munfashil, sebagaimana yang terkadang diklaim oleh kaum yoga Hindu dan kaum pertapa Budha, ataukah sesuatu yang Marxisme, Humanisme dan penyembah berhala utarakan dan slogankan tentangnya.

Fir’aun adalah penyembah berhala. Dari sisi ini, pembesar-pembesar kaumnya dalam mengkritisi dia berkata: Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk berbuat kerusakan di negeri ini (Mesir) lalu meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu?[7] Fir’aun, kendatipun dia adalah penyembah berhala, namun dia memandang dirinya sebagai pengelola, pengatur, dan penguasa tanah Mesir dan berkata: selain saya tidak seorang pun yang berkuasa atas kalian, pandangan saya yang berkuasa dan harus undang-undang yang diberlakukan berdasarkan kehendak saya, Fir’aun berkata: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”[8]; “…tidak aku ketahui Tuhan bagimu selainku…”[9]; tapi tentu saja Fir’aun tidak akan berkata: saya adalah wajib al-wujud dan aku yang menciptakan alam serta kamu.

Oleh karena itu, penamaan dan penyebutan agama adalah berhubungan dengan istilah. Jika agama kita pandang sebagai suatu perkara Ilahi yang berasaskan musyahadah-musyahadah gaib dan alam mitsâl munfashil serta akal munfashil -dimana  hak adalah ini- maka sangat banyak apa yang disebut agama dan masyhur sebagai agama, bukanlah agama; adapun jika kita tidak mensyaratkan syuhud ghaibi  atau perkara Ilahi dalam penamaan suatu agama atau maktab -sebagaimana al-Qur’an juga terkadang memutlakkan penamaan agama terhadap maktab batil- maka makna agama dalam hal ini adalah sangat luas.        

Perlu kita ingat bahwa sesuatu yang diperoleh lewat pengalaman keagamaan, tidak mesti sebelumnya diafirmasikan keagamaannya; akan tetapi cukup jika ia itu adalah tipe makna-makna keagamaan dan tidak menyalahi prinsip-prinsip akidah, akhlak, hukum, dan fiqih.

Mungkin bisa dikatakan bahwa semua masyarakat memiliki semacam penyembahan kepada Tuhan, bahkan para penyembah berhala; sebab mereka yang menyembah berhala itu, berasaskan persangkaan dan keyakinan mereka bahwa dalam berhala terdapat uluhiyyat  (divinity). Jadi, mereka ini menyembah sesuatu yang menurut konsepsi mereka, dia itu adalah Tuhan yang Hak atas seluruh alam; tetapi dikarenakan dalam maqam penegasan (tashdiq) mereka itu menyangka sesuatu sebagai Tuhan yang realitasnya bukan Tuhan dan itu juga yang mereka hukumi benar maka mereka itu dikategorikan kafir (yakni kafir secara tashdiq atas Tuhan Hak). Oleh karena itu, mereka pada dasarnya sampai kepada konsepsi terhadap realitas, tetapi mereka dalam maqam tashdiq adalah keliru dan salah. Berasaskan tinjauan ini, mereka dari dimensi ini tidak berbeda dengan kebanyakan orang-orang muslim.[10]       

 

Musyahadah Wahyu                          

Terkadang manusia dalam proses musyahadah batin, ia menyaksikan matlab dan kandungan makrifat yang sangat dalam untuk pertama kalinya dan ia tidak mempunyai sedikit pun perasaan ragu tentangnya, sebagaimana ia meyakini secara jelas dan terang bahwa 2 + 2 = 4. Penyaksiannya ini tidak butuh pengulangan, tidak butuh dukungan burhan akal, dan tidak juga butuh pada sandaran muktabar nakli. Kendatipun boleh jadi bahwa bentuk kejelasan dan kepastian ini merupakan tipologi dari keyakinan psikologis, bukan keyakinan logikal. Dan selama ia tidak diobservasi dengan suatu mizan akal dan parameter burhan akal maka untuk menentukan keyakinan logikal dari keyakinan psikologis adalah tidak mudah; meskipun pribadi yang mempunyai keyakinan mendapatkan dirinya tidak butuh terhadap parameter argumentasi akal.

Musyahadah internal (batin) para nabi dan wahyu Tuhan -sebagai suatu tasybih (pendekatan dengan penyerupaan) yang rasional dengan yang terinderai (tasybih ma’qûl dengan mahsûs)- adalah seperti kejernihan dan kejelasan hissi (sense) yang gamblang (badihi) bagi manusia. Musyahadah hissi manusia terdiri dari dua bentuk: musyahadah tanpa keraguan dan dengan keraguan. Ketika kita membuka mata dan kita menyaksikan cahaya matahari serta melihat udara terang, kita tidak mempunyai keraguan terhadap “terang” ini dan manusia yang menyaksikan untuk pertama kalinya udara terang, akan memahami kandungan ini -yakni terangnya dia-; kendatipun ia tidak dapat menyebutkan namanya atau hal itu sama sekali tidak mempunyai nama.

Demikian pula seseorang yang membawa tangannya di atas api, tidak diragukan bahwa ia akan merasakan tangannya pedih terbakar, dan seseorang yang dalam kondisi lapar niscaya ia tidak mempunyai keraguan dalam kelaparan dirinya; sebab semua ini merupakan perkara hissi yang tidak menerima keraguan. Sebaliknya, jika seseorang berkehendak mengobservasi dan melakukan eksperiman terhadap khasiat suatu tumbuhan obatan, hanya dengan syarat tertentu dan pengulangan yang berkali-kali ia akan berkesimpulan tentang khasiatnya; sebab dalam pengalaman dan eksperimen ini ia berhadapan dengan berbagai keraguan.

Apa yang para nabi konsepsi dengan nama wahyu, niscaya tidak butuh pada pengulangan, topangan burhan akal, atau sanad standar naqli; mereka menyaksikan dengan terang, jernih, dan jelas paling dalam dan paling beratnya masalah-masalah metafisika dan paling sulit serta rumitnya masalah-masalah fisika (alam materi), dan jika orang menyebut dan menamakan itu pengalaman keagamaan maka tidak ada komentar dalam masalah penamaan, dan bentuk penamaan ini bukanlah hal yang tauqîfy (terbatasi, tidak bisa dinalar).

            Di sini ada beberapa poin yang urgen disebutkan:

1.                   Eksistensi mempunyai dua dimensi; dimensi gaib dan dimensi syahadah;

2.                   Dimensi gaib dan metafisik adalah hak, benar, murni, dan sempurna, sementara dimensi syahadah adalah bercampur hak dan batil, benar dan bohong, murni dan tidak murni, serta sempurna dan kurang;

3.                   Dalam inti dan pusat hak tidak ada jalan bagi kebatilan, dan para nabi menjumpai dan sampai pada istana ini, sementara yang lain -meskipun mereka telah dekat dengan istana mani’ (tercegah dilewati) itu- akan tetapi mereka tidak terjaga dan terpelihara dari sistem kerja khiyâl (khayalan) dan wahm (fantasi);

4.                   Oleh karena itu, garis demarkasi antara wahyu para nabi dengan setiap bentuk musyahadah irfani dan pengalaman keagamaan tetaplah terjaga.

 

Di samping poin-poin di atas, juga kami membawakan suatu hadits dari Imam Shadiq As yang perlu ditelaah; Zurarah bertanya pada Imam Shadiq As: Bagaimana Rasulullah Saw ketika suatu pesan datang padanya dari sisi Tuhan, ia tidak khawatir bahwa jangan-jangan pesan ini datang dari Iblis dan ini adalah setan yang melakukan campur tangan pada kalbunya? Imam Shadiq berkata: Tuhan, ketika Dia mengangkat seorang hamba sebagai rasul-Nya, maka Dia menurunkan padanya sukûnat (occupancy) dan waqâr (serenity), dan sebagai natijahnya, pembawa pesan Tuhan datang padanya dan Rasulullah melihatnya dengan mata; seperti dia melihat orang-orang lain dengan mata.[11]

Para nabi dan rasul Tuhan, dikarenakan tajarrud nafs, kejernihan ruh, dan kesucian batin yang mereka miliki, mereka sampai pada tahap eksistensial tertentu dimana tidak terdapat padanya kabatilan, kebohongan, ketaksesuaian dengan kenyataan, dan skeptis serta keraguan. Mereka, dikarenakan sampai pada suatu maqam dimana di situ tidak ada sama sekali kebatilan, mereka layak mendapatkan dan menyaksikan hak definite (nyata) secara jelas, jernih, dan terang; sebab dalam istana Haq Ta’alâ tidak ada selain Hak dan di situ tidak ada tempat parade bagi kebatilan, kebohongan, dan kekhilafan, serta was-was setan tidak mempunyai jalan pada maqam tersebut. Oleh karena itu, wahm dan tipuan setan tidak berfungsi pada maqam itu; sebab plafon dan batas ketinggian tajarrud (keabstarakan, kenonmaterian) setan dan tempat paradenya hanya sampai pada tajarrud wahmi dan dia (setan) tidak dapat sampai pada maqam hak dan ikhlas -dimana maqam ini adalah tajarrud murni, dan bersih dari setiap bentuk percampuran-, karena itu, hak dari sisi ini jauh dari jaring-jaring jeratan setan.

Apa yang insan kamil dan mukhlashîn dapatkan dalam maqam tajarrud sempurna, sama sekali tidak mungkin tercampuri, terkotori, dan  tersamarkan, sehingga setan tidak dapat membuat gantinya dan menyiapkan yang serupa dengannya serta melakukan tipu daya atasnya. Oleh karena itu, nabi dalam mitsâl mutthashil -seperti sebagian dari mimpi-mimpi- dan dalam mitsâl munfashil -seperti melihat malaikat wahyu dalam kondisi tidak tidur- hanya menyaksikan dan mendengarkan hak, dan syuhud (penyaksian) serta kasyfnya (penyingkapan)  semuanya adalah hak murni.

Jalan pengamalan ini, telah menyebabkan Amirul Mukminin Ali As berkata: Sejak zaman diperlihatkan padaku hak dan aku mendapatkannya, sejak itu aku tidak punya syak dan keraguan[12] (saya selalu kukuh dalam kebenaran dan selamanya kebatilan tidak pernah mendapatkan jalan padaku), dan pada kesempatan lain dia berkata: Tidak pernah sama sekali aku berkata dusta dan tidak pernah aku didustai (aku tidak pernah dengar dusta dari nabi; sebab nabi dan imam adalah bersih dan suci dari dusta) dan aku tidak pernah sesat dan tak seorang pun sesat karena aku.[13]       

Kendatipun Imam Ali As bukan seorang nabi, rasul, dan penyampai wahyu tasyri’î, tetapi dia mendengar thanîn (dering, bunyi) wahyu dan melihat malaikat wahyu; sebagaimana sabda nabi Saw kepadanya: Sesungguhnya engkau mendengar apa yang aku dengar dan engkau melihat apa yang aku lihat kecuali bahwa engkau bukanlah seorang nabi.[14] Setan dalam atmosfir seperti ini tidak punya jalan untuk masuk dan di sini bukanlah wilayah sayap wahm untuk terbentangkan; yakni juga suluk syuhud mereka adalah hak dan juga masyhud mereka, dan tidak butuh sama sekali pada pengulangan pengalaman, dukungan burhan dan silogisme akal, atau sanad muktabar nakli; bahkan dia sendiri adalah penopang argumen akal dan dalil muktabar nakli itu sendiri. 

Amirul Mukminin Ali As, pesâlik (peniti) jalan ini dan ârif billah, mengungkapkan realitas itu dalam bentuk ini: arif pada hak, pada hakikatnya adalah orang yang menghidupkan akalnya (dengan ketaqwaan dan ketaatan pada Allah dan rasul-Nya) dan mematikan nafsnya (dengan riyâdah dan penghambaan di jalan Tuhan); sedemikian hingga sampai lebarnya (badannya) kurus dan ucapannya (hatinya) menjadi lembut dan baginya pancaran terang penuh cahaya (dia mendapatkan jalan pada makrifat tinggi ketuhanan). Lantas cahaya benderang itu menunjuki dia jalan hidayah dan kebahagiaan dan dengan cahaya itu juga dia melewati jalan hak, dan pintu-pintu kesalehan, ketakwaan, dan ibadah mengangkat dia sampai pintu keselamatan dan mengantar dia pada rumah (tempat) kediaman dan kaki-kakinya dengan ketenangan badannya tegak pada tempat yang aman dan sentosa; dikarenakan itu maka hatinya menjadi bekerja (merenung, berpikir) dan dia membuat Tuhan-Nya ridha dan senang.[15]      

 

Pengalaman Manusia Non Maksum

Pengalaman orang-orang yang bukan nabi dan pemimpin (imam) maksum, apakah itu kasyf dan syuhud, mimpi, atau merasakan perkara mutthashil dan munfashil dari nafs dan badan (tidak seperti kondisi tidur dan kondisi manâmiyyah), semuanya itu butuh dipresentasikan dengan mizan sehingga jelas kesahihan dan ketaksahihan mereka dan menjadi terang nilai dan validitas mereka; sebagaimana riwayat-riwayat harus dipresentasikan dengan al-Qur’an, sunnah qat’î, dan khabar mutawatir.

Yakni sebagaimana al-Qur’an dan sunnah qat’î serta khabar mutawatir adalah mizan khabar-khabar dan hadits-hadits masykuk (diragukan) dan dengan mereka dipisahkan hadits buatan dan palsu dari hadits sahih dan muwatssaq, demikian juga hasil kasyf dan syuhud serta pengalaman keagamaan harus memiliki mizan dan parameter yang menjadi tolok ukurnya, sehingga syuhud orang yang musyahadah dan pengalaman para ârif dipresentasikan dengannya.

Kesimpulannya, secara umum apa saja yang dapat menerima kesalahan maka mesti dihadapkan pada mizan yang tidak menerima kesalahan; sebab secara pasti pengalaman-pengalaman yang lainnya tidak seperti pengalaman para nabi  yang maksum dan dalam landasan konsepsi dan tasdiknya, dapat dimasuki dan menerima cacat, kekurangan, dan kesalahan, maka niscaya mereka itu membutuhkan mizan.

Pengalaman-pengalaman natural dan material, eksperimen kedokteran, pengalaman politik, sistem pemerintahan, budaya, sistem ekonomi, dan lainnya, semua mereka itu keluar dari bahasan ini; sebab dalam alam tabiat dan natural, obyek-obyek persepsi yang menjadi bahan analisa dan penelitian adalah obyek-obyek yang mesti terjadi perlawanan dan pertentangan di antara mereka. Sebagai asumsi, mungkin saja pengaruh pengobatan suatu tumbuhan tertentu hanya terkhususkan pada suatu wilayah tertentu dan pada wilayah lainnya tidak memberikan natijah pengobatan. Atau mungkin saja tejadi kesalahan dalam menentukan kedzatian (keesensilan) atau keaksidenan, dimana yang menempati kedudukan dzati adalah aksiden atau kesalahan dalam menentukan sebab, karena sebab sempurnanya tidak diketahui. Demikian pula, sistem persepsi juga terkadang mesti salah; seperti ahwal (orang yang matanya juling) melihat satu benda adalah dua benda. Atau seorang yang melakukan eksperimen mendapatkan suatu pengalaman yang menyalahi pengalaman pelaku eksperimen lainnya dalam satu obyek yang sama, dan terkadang keduanya (yang mempersepsi dan obyek dipersepsi) ditimpa penyakit atau cacat sehingga kesalahan tidak bisa terhindari.       

Akan tetapi, dalam pengalaman supra natural dan metafisis, hanya para nabi maksum As dan mereka yang berada pada mahram rahasia wahyu serta mereka yang menyaksikan apa yang para nabi saksikan, yang terjaga dan terpelihara dari setiap bentuk kekeliruan dan kesalahan. Nabi Saw, tidak akan berkata-kata selain dari jalan wahyu dan pembicaraannya senantiasa terjaga dari hawa nafsu dan kesalahan-kesalahan psikologis, serta indera, khayal, wahm, syuhud, dan akalnya, semuanya selalu terpelihara dari kesalahan dan kekeliruan. Dia, pertama menyaksikan matlab-matlab transendental (‘âly) dengan syuhud kalbu dan kemudian menganalisanya dengan rasionalisasi argumentasi, dan yang terakhir baru kemudian mengungkapkannya dengan penalaran rasional dan logikal.

Pembicaraan dia adalah irfani dan sufistik atau hikmah dan filosofis atau teologis atau akhlak dan hukum (fiqih), dan  tidak satupun dari tahapan-tahapan   persepsinya -indera, khayal, wahm, akal, dan syuhud- dapat dimasuki kesalahan, fallacy, dan tadlîs: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”.[16]

Insan kamil ini, jika dia adalah seorang nabi -di samping mendapatkan ilham-ilham inbâîy- maka dia mempunyai wahyu tasyriî; dan jika bukan (seorang nabi) maka dalam wujudnya terdapat suatu substansi yang membuatnya lebih utama dan sempurna dari lainnya, dan dalam sisi ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita; seperti para imam maksum As dan juga seperti hadhrat Fatimah Zahra As, ibunda Musa, dan hadhrat Maryam As.

Perlu kita ketahui bahwa sebagian dari pengalaman-pengalaman keagamaan, mungkin disertai dengan kondisi dan sifat khusus, seperti:   

1.                   Sesuatu yang diperoleh dari mitsâl mutthashil, seperti mimpi dan kondisi-kondisi manâmiyyah (yang berkenaan dengan mimpi);

2.                   Pengalaman-pengalaman yang tidak diketahui dari mitsâl mutthashil atau dari mitsâl munfashil dan jalan keraguan serta zhan (persangkaan) pada mereka adalah terbuka;

3.                   Sesuatu yang diperoleh dari mitsâl munfashil, seperti: “…maka dia menampakkan diri dihadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna”[17]; malaikat Jibril As dalam bentuk manusia yang sempurna zahir dan menampak atas hadhrat Maryam As;

4.                   Seluruh musyahadah-musyahadah sahih dan pengalaman-pengalaman keagamaan benar, di bawah naungan wilayah Ilahi para Nabi As, yang menjadi bagian dari para pengikut benar mereka, dan pengujian benar dan salahnya musyahadah dan pengalaman keagamaan berada dalam kerangka komparatif dengan apa yang diperoleh oleh Para nabi As.

 

           

Evaluasi Jalan-Jalan Mendapatkan pengalaman Keagamaan

Pengalaman-pengalaman yang didapatkan manusia dari mitsâl mutthashil dan juga pengalaman-pengalaman yang tidak diketahui apakah ia dari mitsâl mutthashil ataukah dari mitsâl munfashil, semuanya itu dalam wilayah kemungkinan ditimpa kesalahan. Kendatipun alam mitsâl mutthashil dan alam yang lebih tinggi darinya adalah alam metafisika dan tidak mempunyai dimensi gerak serta tidak punya persentuhan dengan kondisi materi, akan tetapi dari dimensi pengalaman (persepsi), pelaku pengalaman (yang mempersepsi), dan obyek pengalaman (yang dipersepsi), kemungkinan ditimpa kekeliruan dan kesalahan; sebab apa yang disaksikan pelaku pengalaman dalam mimpi dan alam tidurnya, meskipun ia yakin akan kebenarannya, tetapi itu dari hasil potensi khayal dia dan dalam potensi ini, terdapat ihtimal ketidakterjagaan dari gangguan dan tipu daya setan.

Demikian pula pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari jalan mitsâl munfashil, meskipun dalam mitsâl munfashil tidak ada jalan bagi kebatilan dan kecacatan dan apa saja yang diperoleh dari alam ini semuanya adalah pengalaman rabbani, tetapi pengalaman-pengalaman ini dari aspek pelaku pengalaman (yang mempersepsi) adalah maujud yang tidak tercegah dari terpaan kekeliruan; seperti manusia bermata juling (squint-eyed) yang menyangka setiap hakikat benda di luar mempunyai dua hakikat (dikarenakan kekurangan pada alat penyaksian).

Meskipun ahwal (squint-eyed) dapat melihat obyek di luar dirinya dan memberitakan tentangnya, akan tetapi dikarenakan kecacatan alat penglihatan maka persepsi dia tidak terjaga dari kekeliruan, dan dalam masalah yang kita bahas ini juga, apa yang diperoleh dari mitsâl munfashil dengan perpindahannya pada potensi khayal  maka menjadi bahan yang akan dicampuri dan ditangani oleh potensi ini dan wajah kenyataannya (aslinya) akan menjadi berubah. Dari sisi ini maka ia (sesuatu yang didapatkan dari mitsâl munfashil) berbeda dengan yang sebenarnya (hakikatnya); sebagaimana bisa saja dikarenakan pengaruh syuhud illah nâqish (penyaksian sebab tidak sempurna) kemudian menyangka bahwa illah itu sempurna atau dikarenakan kelalaian dari sebagian penghalang-penghalang atau ketidaktahuan terhadap sebagian dari syarat-syarat, dengan perhitungan sebab sudah tâm (sempurna), dia menjadi yakin; padahal hakikatnya tidaklah demikian.

Adapun sâlik dan ‘ârif, memperoleh pengalaman dalam maqam akal dan kalbu dan mengetahui perkara-perkara yang tidak mempunyai bentuk, dan mereka mendapatkan itu dengan ruh dan kalbu; seperti persepsi syuhudi tentang masalah khilafah, wilayah, tauhid hakiki, dan sumber risalah dan wilayah. Dalam tataran ini, seluruh ingatan, memori,  dan pengalaman adalah rabbani, namun, ketika ingatan, memori, dan pengalaman ini mendapat jalan pada tingkatan yang lebih rendah dan potensi yang lebih di bawah (seperti sampai pada potensi khayal), maka di sinilah terjadi campur tangan dari potensi tersebut. Misalnya, apa yang arif lihat (dalam bentuk pengalaman dan  mukasyafah kalbu), itu adalah penglihatan benar dan pendengaran benar, dan mungkin saja dia (‘ârif) menyaksikan hadhrat Amirul Mukminin Ali As berada di samping Rasulullah Saw, tapi, dalam perjalanan kembalinya, apa yang disaksikannya itu dicampuri dan dirubah oleh potensi khayalnya sehingga memperlihatkan salah seorang wajah lain dari sahabat menggantikan wajah hadhrat Amirul Mukminin As; sebab muthâlaah (studi dan pembelajaran) dan file memori si pelaku pengalaman, sebelumnya mengambil bentuk seperti ini bahwa sifulan sahabat harus berada di sisi Rasulullah Saw, bukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.

Matlab ini juga dikaji dan dijelaskan dalam ilmu irfan teoritis dan para urafa dalam masalah ini adalah satu pandangan; misalnya Qaishari dengan mengikuti Ibnu Arabi, dalam tafsir ayat: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran”[18], menuliskan: Kalbu dan ruh adalah bersih dan suci dari kekotoran-kekotoran badani dan dari kegelapan-kegelapan jasmani dan apa yang masuk atas mereka (dari kasyf dan syuhud) semuanya sesuai dengan realitas dan hakikat. Oleh karena itu, semuanya adalah rabbani dan tidak satupun yang menyalahi realitas. Dari sisi ini, telah dikatakan bahwa ingatan-ingatan pertama (kasyf dan syuhud), semuanya dalam hakikat rabbani; kecuali jika campur tangan dan serangan nafsâni mendapat jalan pada harîm ingatan-ingatan murni pertama dan dia menyimpangkan mereka dari jalan sahih dan mengganti mereka dengan kebohongan, kepalsuan, jeratan-jeratan nafsâni, dan was-was setan.[19]                 

Oleh karena itu, dalam tahapan dan tingkatan khayal dan wahm, jalan bagi setan adalah terbuka dan setan senantiasa sibuk melancarkan serangan-serangannya: “…Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya… .”[20] Maka dari itu, selama potensi khayal, tidak dalam pengaruh potensi akal murni dan tidak di bawah kekuasaan akal, maka potensi ini selalu melakukan upaya pembelokan dan membuat penyerupaan dan penggantian terhadap mitsal munfashil dan mutthashil.

Berdasarkan ini, ahli sair suluk senantiasa berhati-hati dan menjaga apa yang didapatkan oleh kalbunya supaya jangan dikotori oleh potensi khayalnya; sebagaimana ahli irfan katakan: hasil-hasil yang didapatkan setiap orang dalam potensi khayal dan mitsâl mutthashilnya -seperti mimpi-mimpi benar- adalah seukuran jernih dan terangnya hatinya, tidak seukuran kemampuan potensi khayalnya; sebab potensi khayal mempunyai kemampuan menukar dan melakukan tipuan.[21]               

Berasaskan ini, kita mendapati dalam banyak hadits-hadits bahwa mimpi-mimpi shâdiq dan benar merupakan bagian dari bagian-bagian kenabian, Rasulullah Saw bersabda: …dan sesungguhnya mimpi shâdiqah adalah bagian dari tujuh puluh bagian dari kenabian.[22]       

Mimpi, bergantung dengan kondisi dan keadaan seorang mukmin; jika iman dia lebih kuat maka cermin hatinya akan lebih bening, lebih jernih, lebih terang, dan lebih bercahaya. Nabi Saw bersabda: Yang paling benar di antara mereka (mukminin) mimipi-mimpinya adalah yang paling benar (paling jujur) dari mereka ucapannya.[23]  

Imam Ridha As berkata: Nabi Saw setiap pagi mempertanyakan apa yang dilalui sahabat-sahabatnya pada malam hari, yakni apa yang mereka dapatkan: Sesungguhnya Rasulullah Saw, ketika pagi, berkata pada sahabat-sahabatnya, apakah ada berita menggembirakan? Yakni berkenaan mimpi-mimpi.[24]

Nabi Saw mengevaluasi mimpi sahabat-sahabatnya, tapi mimpi-mimpi Rasulullah Saw sendiri -seperti nabi-nabi lainnya- semuanya adalah wahyu; sebab setan tidak punya jalan dalam harimnya dan dia tidak dapat menjelma serupa dengannya; sebagaimana setan juga tidak dapat menjelma menyerupai wajah Nabi Saw, Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa yang melihatku dalam tidurnya maka sungguh dia telah melihatku, karena sesungguhnya setan tidak akan menjelma menyerupai wajahku dan wajah salah seorang dari wasiku. Pada kondisi dan tempat dimana setan tidak dapat menyerupai bentuk rupa Rasulullah Saw dan para wasinya maka lebih-lebih lagi setan niscaya tidak mampu mendapat jalan dalam harim wujud mereka dan melakukan tipu dayanya.

 

Mizan Kasyf dan Pengalaman keagamaan

Segala sesuatu mempunyai mizan dan tolok ukur, dan mizan mimpi dan kondisi manâmiyyah adalah mimpi dan kondisi manâmiyyah para nabi As. Amirul Mukmin Ali As berkata: Mimpi para nabi merupakan wahyu (atas mereka).[25] Jika kita meyakini wahyu adalah suatu pengalaman syuhudi, maka kita harus eksposisikan pengalaman-pengalaman syuhudi, kasyf, dan mimpi-mimpi lainnya terhadapnya -menjadikan  mizan atas mereka-. Apa yang para nabi dapatkan dari alam gaib, semuanya adalah hak dan setan tidak mempunyai jalan dalam harîm (sanctum) itu; sebagaimana Rasulullah Saw ungkapkan dalam sabdanya yang lalu bahwa setan tidak akan mampu menampak dalam bentuk diriku dan wasi-wasiku.

Oleh karena itu, jika seseorang memimpikan Rasulullah Saw atau salah seorang dari wasinya, -dalam bentuk terungkapkan bahwa yang datang dalam mimpinya itu adalah Nabi Saw sendiri atau salah seorang dari imam maksum As- maka ibaratnya ia telah menyaksikan diri Nabi Saw sendiri dalam keadaan sadarnya (bangunnya). Atas dasar ini, ucapan Nabi Saw -sebagaimana al-Qur’an dan sunnat qat’î- adalah mizan sahih bagikasyf dan syuhud .

 Para ilmuan (ulama) mempresentasikan sunnat (hadits) yang tidak qat’î dan akhbâr (jamak khabar) yang maghsyusy (confused) dengan al-Qur’an dan akhbar qat’î serta mutawatir, dan jika mereka itu tidak sejalan dan cocok dengan al-Qur’an dan hadits mutawatir dan qat’î serta tidak mungkin menerima penakwilan, maka mereka itu harus dibuang jauh-jauh atau dengan kata lain dilemparkan ke dinding. Para ilmuan juga terhadap al-Qur’an, merujukkan ayat-ayat mutasyâbihâtnya kepada ayat-ayat muhkamâtnya dan mengaplikasikan kandungan ayat-ayat mutasyâbihât dalam pancaran ayat-ayat muhkamât

Oleh karena itu, kesahihan kasyfdan syuhud manusia yang tidak maksum, mizannya juga adalah kasyf dan syuhud para nabi As dan para imam maksum As; sebab ucapan mereka niscaya pasti dan perbuatan mereka berasaskan yakin, kasyf, dan syuhud sempurna. Sebab mereka, dari dimensi persepsi, yang dipersepsi, dan yang mempersepsi adalah sempurna, dan pada hakikatnya mereka itu adalah mizan qisth (keadilan) dan mereka adalah teks syuhud serta kasyf. Sebab mereka adalah penyaksi dan pembicara hak serta mukhlas, dan setan menyerah pada mereka yang mukhlas.

Ibnu Arabi tentang hal ini mempunyai penuturan yang indah tentang Nabi Saw, dia meyakini bahwa Nabi Saw adalah pemilik kasyf sempurna (mizan kasyf). Dia berkata:  Bagi beliau Saw adalah kasyf tâm dan sempurna, beliau Saw menyaksikan apa yang kita tidak saksikan, dan dia memberitahukan suatu perkara dimana ahlullah mengamalkan dastûr dan perkara tersebut dan mereka mendapatkan bahwasanya itu adalah benar. Ucapan beliau Saw itu adalah: Sekiranya kamu tidak berlebih-lebihan dan menambah-nambahkan dalam ucapan dan perkataan kamu (yakni kamu menjauhi lahwun dan laghwun kalâm) dan sekiranya tidak ada kegaduhan dan huru-hara dalam hati-hati kamu (kamu berpikiran sehat) maka niscaya kamu akan menyaksikan apa yang aku saksikan dan kamu akan mendengarkan apa yang aku dengarkan (wahyu dan kalam Tuhan).[26]

Nabi Saw dalam hadits lain menyatakan bahwa Tidur dan mimpi manusia yang terjadi pada khayal (muthashil), semuanya turun dari perbendaharaan Tuhan dalam bentuk nyata dan jelas, tapi ketika kembali dari sisi Tuhan maka terjadilah penyelewengan dan proses campur aduk (mimpi menjadi bercampur aduk) pada langit-langit pertengahan; Rasulullah Saw bersabda: Wahai Ali! Seorang hamba yang tidur dan ruhnya naik ke Tuhan alam semesta, maka apa yang ia saksikan di sisi Tuhan alam semesta  pada dasarnya itu adalah hak, kemudian Allah yang Maha Aziz dan maha Jabbar memerintahkan ruhnya kembali kepada jasadnya, maka apa yang disaksikan ruh (ketika) berada di antara langit dan bumi (dalam perjalanan kembali kejasadnya) adalah adhghâtsu ahlâmin (mimpi yang bercampur aduk).

Oleh karena itu, di masa ruh manusia berada di sisi Tuhan, apa saja yang ia saksikan, semuanya adalah nyata, jelas, dan jernih dari sumbernya, tapi ketika kembali ke badan, terkadang ia menyimpang dari jalan semestinya (kesahihannya). Menurut Qaisari: Pada dasarnya ingatan dan memori awal (ketika kasyf) semuanya adalah rabbâniyyah haqqiyyah  (rabbani dan hak) dan perkara serta campur tangan nafslah yang menyimpangkan dan mengeluarkannya dari jalan sahih, maka jadilah ia cerita dan buatan nafsâniyyah serta was-was syaithâniyyah.[27]

Oleh karena itu, pengalaman para ârif butuh presentasi kepada mizan dan setiap pengalaman keagamaan tidak bisa begitu saja dipandang sahih sebelum dieksposisikan terhadap mizan. Suatu pengalaman dipandang mizan jika pelakunya mengenal malaikat wahyu dan mendengar suara wahyu serta nâtiq teks al-Qur’an dan kalam Tuhan; sebagaimana Rasulullah Saw ucapkan kepada Ali As: Engkau melihat dan mendengar apa yang aku lihat dan dengarkan[28], dan sebagaimana Amirul Mukminin katakan: Al-Qur’an adalah bersamaku dan sejak saya bersama dengannya tidak sedetikpun saya berpisah darinya.[29]

Perlu kita ingat bahwa perbedaan secara mendasar wahyu dan apa yang di zaman sekarang ini disebut dengan pengalaman keagamaan, adalah tetap pada proporsinya dan tetap terjaga, dan pada sela-sela pembahasan telah diisyaratkan pebedaan di antara keduanya secara gamblang serta ditunjukkan keutamaan wahyu mushtalah al-Qur’an atas pengalaman keagamaan.                

 

Jalan Kasyf dan Pengalaman Keagamaan Sahih

1.                   Harus mengontrol panca indera zahir yang lima; yakni seseorang jangan menengok apa saja dan melihat ke setiap tempat, jangan mendengarkan suara percakapan apa saja, makanlah makanan yang halal dan suci, dan gunakanlah tangan dan kaki serta anggota-anggota badan lainnya di jalan yang benar. Singkatnya, masuknya apa saja dari luar lewat kanal-kanal panca indera yang lima ke dalam diri seseorang, dan keluarnya apa saja dari dalam lewat kanal-kanal tersebut, haruslah diperhitungkan secara sempurna, diatur dengan baik, dan dipikirkan dimensi kehalalan dan kesuciannya.

2.                   Kalbu dan hati mesti dibebaskan dari selain Tuhan dan hanya menempatkannya pada perkara dan hal yang berkaitan dengan Tuhan. Yakni manusia harus menjadikan hatinya sebagai haram (tempat suci) Tuhan.

3.                   Harus berkhalwat dengan Tuhan Yang Maha Esa dengan kadar yang dibutuhkan dan melepaskan diri dari kejamakan; seseorang mengkhususkan malam-malam untuk dirinya sambil berdoa dan bermunajat, tidak berpikir pekerjaan duniawi hari-hari, dengan kata lain, mendekatkan diri kepada Tuhan dari jalan nawâfil (ibadah-ibadah mustahab), dimana ini adalah paling baiknya jalan taqarrub.

Penapak jalan ini adalah banyak; seperti Haritsah ibnu Malik, ia dengan jalan ini berhasil sampai pada suatu maqam dimana terkadang ia menyaksikan surga dan neraka dan penghuni keduanya serta nikmat dan azab mereka. Dia mengutarakan kepada nabi Saw syuhudnya; yakni ia mempresentasikan kasyf dan syuhudnya kepada mizan -yang mana dalam hal ini kasyf sempurna maksum (Rasulullah Saw)- dan Nabi Saw memandang kasyf dan syuhudnya adalah sahih dan berkata: Ini adalah seorang hamba yang Tuhan telah terangi hatinya dengan cahaya iman. Wahai Haritsah! Kamu sudah melihat (alam gaib) dan penglihatan bashirahmu telah terbuka, karena itu berhati-hatilah dengan keadaannya dan tetaplah kukuh di jalan ini.                     Kemudian Haritsah ibnu Malik memohon agar Nabi Saw mendoakannya mendapatkan syahadah bersamanya, beliau Saw berdoa: Ya Tuhan karunialah Haritsah syahadah!.[30] Berdasarkan ini maka Haritsah merupakan orang kesepuluh  di antara mayat-mayat muslimin yang bersama Jakfar bin Abi Thalib mencapai derajat tinggi syahadah.

Perlu dipahami bahwa penegasan dan pembenaran kasyf dan syuhud Haritsah oleh Rasulullah Saw, tidaklah bermakna bahwa Haritsah memiliki ishmah; akan tetapi bermakna pengutaraan syuhudnya kepada mizan sahih dan pengesahan kebenaran syuhud khusus ini dari sisi mizan; dengan artian mungkin saja Haritsah ini juga dalam syuhud lainnya yang mengalami kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, dalam seluruh kondisi, kasyf dan syuhud butuh dieksposisikan pada mizan wahyu.

Amirul Mukminin Ali As juga menguatkan poin ini, bahwa orang-orang mukmin dan orang-orang saleh adalah orang-orang yang yakin tentang surga, dan keyakinan mereka itu seperti keyakinan seseorang yang melihatnya dimana penghuni-penghuni surga mendapatkan kenikmatan di dalamnya, dan juga keimanan mereka terhadap neraka seperti keimanan seseorang yang melihatnya dimana penghuninya mengalami penderitaan siksaan di dalamnya.[31]

4.                   Harus sinkron dengan burhan akal. Iman pada Tuhan dan kenabian yang tidak didasari dengan burhan dan keyakinan yang tidak dilandasi dengan dalil dan argumen, adalah bentuk iman dan keyakinan yang tidak aplikatif serta sangat rapuh. Sahabat-sahabat zahir hadhrat Musa As, dengan menyaksikan mukjizat beliau, mereka beriman kepadanya, dan dengan mendengarkan suara sapi Sâmiri, mereka menjadi penyembah sapi; sebab dalam pemilihan dan pemihakan mereka tidak dilandasi dengan pandangan teoritis dan burhan; kebalikan dengan apa yang terjadi pada ahli tenun dan ahli sihir Firaun, dimana al-Qur’an mengabadikan dengan agung dan semarak keimanan mereka dan dengan ungkapan penuh bijaksana mengatakan: “…Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.”[32] 

Berasaskan ini, Amirul Mukminin Ali As berkata: Kenalilah Tuhan lewat Tuhan sendiri (asma dan sifat-Nya), Nabi dengan risalah dan kenabian, dan ulil amr dengan perintah kepada kebaikan, keadilan, serta ihsan.[33]

Dirayah dan pandangan sahih serta istidlal kuat ini dapat dilihat pada ucapan Mansur Ibnu Hâzim. Dia berkata:  Saya utarakan kepada imam  Shadiq As bahwa saya berdialog dengan suatu kelompok dan saya berkata kepada mereka bahwa Tuhan lebih mulia dan agung untuk dikenal dengan perantara makhluk-makhluk-Nya, bahkan hamba-hamba-Nya diketahui dengan perantara Tuhan. Baliau As -sebagai pembenaran- berkata: Tuhan merahmatimu.[34]

Para ilmuan memandang bentuk istidlal ini burhan hakiki; yakni manusia mengenal Tuhan lewat Tuhan sendiri, kemudian dengan perantara Dia -sebagai illah keberadaan makhluk-makhluk dan mumkinât- menjadi bukti atas keberadaan makhluk dan maujud-maujud lainnya; bukan dengan perantara makhluk dan ciptaan sebagai dalil atas eksistensi Tuhan.

Berdasarkan ini, sebagian berkeyakinan bahwa kata “burhan” hanya bermakna hakikat bagi burhan limmî  (pengenalan pada sebab mengantarkan pengenalan pada akibat) dan istidlal dari jalan lain dipandang mereka sebagai dalil innî (salah satu di antaranya adalah pengenalan pada akibat membawa pengenalan pada sebab); akan tetapi innî juga terbagi dua, dimana pembahasan detail dan perbedaan di antara keduanya serta keunggulan satu atas lainnya dibahas dalam ilmu mantiq.    

Singkatnya, pandangan yang diutarakan Mansur Ibnu Hâzim dalam masalah “pengenalan” dan “makrifat”, merupakan paling baiknya jalan istidlal, dan orang seperti dia ini adalah misdak dari ucapan imam Ali As: Ketika akal manusia hidup maka kilatan cahaya menunjuki dia jalan, dan sedemikian rupa menjalankan dia sehingga menyampaikannya kepada puncak keabadian.[35]

 

Al-Qur’an dan Pengalaman Keagamaan  

Jika kita ingin menelusuri jalan pengalaman kapada malakut langit dan bumi, maka untuk sampai ke sana harus mengambil paedah dari petunjuk dan hidayah al-Qur’an. Allamah Thabathabai tentang tema ini menuliskan: Terdapat suatu hakikat Qur’ani bahwa dengan masuknya manusia pada taman wilayah Ilahi dan kedekatannya pada maqam suci Tuhan, maka terbukalah baginya pintu malakut langit dan bumi dimana dari pintu tersebut dia menyaksikan ayat-ayat agung Ilahi dan cahaya-cahaya jabarut-Nya yang tak pernah padam -dimana bagi yang lain adalah tersembunyi-. Nabi mulia Saw bersabda: Jika setan-setan tidak mengitari sekeliling kalbu-kalbu bani Adam maka niscaya mereka akan menyaksikan malakut langit dan bumi.

Ahli Sunnah juga meriwayatkan dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda: Jika tidak berlebih-lebihan pembicaraanmu dan kusut hatimu niscaya engkau akan menyaksikan apa yang aku saksikan dan akan mendengarkan apa yang aku dengarkan.

Allah Swt berfirman: “Orang-orang yang berjihad di jalan Kami (mencari keridaan Kami), Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”[36] Juga zahir ayat ini menunjukkan atas matlab ini: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin datang padamu”[37]; yakni sedemikian hingga berupayalah beribadah kepada Tuhanmu sampai engkau mendapatkan maqam yakin; sebab pencapaian pada maqam yakin merupakan derivasi atas ibadah dan penghambaan.   

Demikian pula Hak Swt dalam ayat lain berfirman: “Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim malakut langit dan bumi, supaya dia termasuk orang-orang yang yakin.”[38] Malakut langit dan bumi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan maqam yakin dan Tuhan dalam kedudukan menjelaskan tafsir dampak dari yakin berfirman: “Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan ilmu yakin, niscaya kamu benar-banar akan melihat neraka jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihat dengan ‘ainul yakin.”[39] Demikian pula Tuhan berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab abrar (orang-orang yang bebakti) benar-benar tersimpan dalam ‘illiyyin. Dan tahukah engkau apakah ‘illiyyin itu? Adalah suatu kitab yang tertutulis (berisi catatan amal) yang disaksikan oleh muqarrabun.”[40]

Al-Qur’an, mengungkapkan jalan kerja pengalaman keagamaan yang sahih dan Ilahi dengan menegaskan tentang urgensi memperhatikan kognisi diri dan berkata: “Wahai orang-orang yang beriman! Berhati-hati dan jagalah nafsmu (dirimu); (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu jika kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”[41]

Allamah Thabathabai Rh, dalam komentarnya terhadap ayat ini menuliskan: Ayat ini menekankan suatu tujuan bagi manusia bahwa berjalanlah ke arah-Nya dan dalam menapaki jalan jangan sampai tersesat. Dan tujuan itu, ujung dan akhirnya adalah kebahagiaan dan kebaikan.

Manusia, apakah ia tersesat atau bahagia, melangkah menuju  Tuhan. Ia mencari sesuatu yang hilang bernama kebahagiaan dan ia mencari ke seluruh tempat sampai ia dapat menggapainya. Dan sesuatu yang hilang ini, yang menjadi puncak pencarian manusia, ada pada sisi Tuhan; namun terdapat jalan istiqamah (jalan lurus) dan juga jalan tergelincir yang beragam; Dia menunjuki seseorang kepada tujuan akhir dan kebahagiaan serta Dia memberitahukan bahwa yang lainnya berada pada kerugian. Sebagaimana al-Qur’an membahasakan dengan ungkapannya: “Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya”.[42] Suatu golongan (yakni Hizbullah) akan mencapai kebahagiaan: “…Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung”[43] dan satu golongan lainnya akan sampai pada kehancuran: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?!”[44]

            Oleh karena itu, terdapat dua jalan; satunya adalah hidayah dan lainnya adalah kesesatan, dan terhadap orang-orang yang beriman  hendaklah memperhatikan dirinya: ““Wahai orang-orang yang beriman! Berhati-hati dan jagalah dirimu…”[45] dan tidak usah hiraukan orang lain yang ahli sesat, ketahuilah bahwa perhitungan mereka (orang-orang sesat) adalah dengan Tuhan mereka: “Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan (yakni jika mereka taat atau maksiat, itu untuk mereka sendiri) dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.”[46]

Jadi, orang-orang mukmin menjaga dirinya dengan kesibukan pada pekerjaan hidayah yang didapatkannya, dan apa yang mereka saksikan dalam bentuk kesesatan serta maksiat yang dilakukan masyarakat tidak akan menggelincirkan mereka dan masyarakat tidak menyibukkan mereka dan mereka juga tidak telibat dengan kerja masyarakat; kecuali dalam batas ta’lim, tazkiyah, irsyad, memerintahkan pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, serta perintah-perintah lainnya yang wajib dari agama, dan mereka mengetahui bahwa hak adalah hak; kendatipun masyarakat mengingkari dan meninggalkan itu, dan batil adalah batil; kendatipun masyarakat cenderung dan berpihak terhadap itu, firman Tuhan: “Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu beruntung.”[47]      

Perlu dipahami bahwa jalan yang al-Qur’an dakwahkan untuk disuluki dan dilalui, tidak lain adalah nafs mukmin: ‘alaikum anfusakum’, sebab ketika dikatakan: Maaf! Jangan sampai kehilangan jalan, maksudnya jagalah jalan dan jangan berpisah dengannya. Jadi, makna ungkapan kalimat ini: Maaf! Jangan sampai kehilangan nafs (diri) kamu, dapat dipahami bahwa nafs di sini adalah jalan itu sendiri, bukan penapak jalan; serupa dengan ini firman Tuhan dalam ayat 153 surah al-An’am: “Dan sungguh, inilah jalanku (Nabi Saw) yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”[48]

Oleh karena itu, nafs, adalah jalan hidayah; bukan dirinya adalah salah satu dari penapak jalan hidayah; yakni nafs mukmin, adalah jalan itu sendiri yang harus dijalani dan ia adalah suatu garis dan  jalan yang sampai kepada Tuhan dan berakhir pada kebahagiaannya (nafs).

Berlawanan dengan itu, jika kita melupakan nafs kita sendiri, kita telah melupakan Tuhan; yakni jika kita melupakan jalan maka kita tidak akan sampai pada tujuan (kebahagiaan), firman Tuhan: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”[49]      

Ayat dengan jelas menyatakan bahwa jagalah nafs kamu, sehingga pekerjaan yang dilakukannya akan menjadi modal dan bekal di hari esok (akhirat); sebab ia hari ini adalah yang esok (malakah nafsâniyyah; yakni apa yang diusahakan dan dikerjakan nafs di dunia ini dan menjadi rupa nafs di dunia ini, itu jugalah ia di akhirat). 

Nafs manusia, setiap waktu bergerak dan melewati jarak perjalanan, dan tujuan dia adalah sampai kepada Tuhan dan nikmat-nikmat-Nya (kebahagiaan). Berdasarkan ini pesuluk yang berakal tidak akan pernah melupakan tujuan. Nabi Islam Saw dalam sebuah hadits yang dinukil baik Syi’ah maupun Sunni, bersabda: Barang siapa mengenal nafsnya maka niscaya mengenal Tuhan-Nya.[50] Jika kita menyerahkan dan mengarahkan nafs pada pekerjaan dan perbuatan baik atau kita tenggelamkan dan ceburkan ia pada jalan kesesatan dan keburukan, maka keberuntungan dan kerugiannya juga akan kembali pada nafs, firman Tuhan: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”[51]

Nafs manusia, melewati dan menjalani tahapan-tahapan janin, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan usia tua serta akan memasuki alam barzakh, selanjutnya akan memasuki masa kiyamat dan pada akhirnya akan masuk surga atau neraka, dan nafs setiap waktu berproses dan berangkat menuju ke sisi Tuhan, firman Tuhan: “Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu).”[52] Berasaskan ini, satu-satunya yang bisa mengarahkan dan menyelamatkan nafs adalah makrifat ilmu dan prilaku amalinya sendiri; sebab ilmu dan amal akan menyelaraskan dan mensimetrikan nafs manusia itu sendiri dan memberikan hasil baginya. Jika makrifat dan amal seseorang selaras dengan tujuan pengadaan dan penciptaannya, maka niscaya ia akan beruntung dan bahagia, dan natijah dari makrifat dan amal salehnya pasti akan didapatkannya secara sempurna; tanpa sedikitpun kerusakan dan kerugian padanya.

Nafs dalam batasan dan esensi dirinya, adalah dzatan diciptakan baik, ia sendiri yang akan menentukan baik dan buruk dirinya, dan ia mempunyai kecenderungan serta kecondongan dzati terhadapnya, oleh karena itu nisab perhitungan buruk dan baik telah tersedia dan sempurna untuknya. Dengan kata lain, Allah Swt telah mempertimbangkan bagi penciptaan nafs paling tingginya tingkatan kesadaran, kognisi, kesempurnaan, dan parameter serta tolok ukur pemberi kebahagiaan, Dia dengan penuh ketegasan bersumpah lewat firman-Nya: “Demi nafs (jiwa) serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”.[53] 

Hasil dan natijah dari ayat-ayat tersebut, kaifiyyah (kualitas) dan kebagaimanaan penciptaan nafs dijelaskan dengan baik, dan juga dijelaskan bahwa ia (nafs) adalah suatu maujud yang simetri dan seimbang. Ia adalah suatu maujud yang dapat menerima kesucian dan kekotoran, dimana dalam hal ini ia akan terkotori dengan keburukan dan kejahatan dan ia akan tersucikan dengan ketakwaan, sehingga dengan demikian ia nantinya akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan atau kerugian dan kemalangan. Ini bermakna bahwa manusia sesuai dengan kemestian-kemestian takwiniahnya, manusia bebas dalam memilih salah satu di antara keduanya, dan ini adalah kenyataan yang tidak akan terpisahkan dari manusia dan ia niscaya salik pada salah satu dari dua jalan ini; jalan kehidupan maknawi, cahaya, dan hidayah, atau jalan kematian maknawi, kegelapan, dan kesesatan, firman Tuhan: “Dan apakah orang yang tadinya hatinya mati dan kafir dan Kami menghidupkannya (dan mereka memiliki iman) dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”[54]

Oleh karena itu, setiap individu dan juga masyarakat, jika mereka berserah diri pada hidayah Ilahi, makrifat rabbani, sunnah dan undang-undang sahih Tuhan, dan prilaku saleh serta syiar-syiar Islami; niscaya mereka akan mendapatkan kebahagiaan.  Dalam kondisi ini, mereka tidak akan termakan dan termangsa oleh kesesatan orang-orang sesat dan kegelapan yang mereka pilih: “Tidak menyesatkan kamu orang sesat, ketika kamu mendapat petunjuk”[55]; tentu saja kondisi ini berlaku jika mereka telah melakukan kewajibannya kepada orang lain dalam bentuk memerintahkan pada kebaikan dan mencegah dari kejahatan dan keburukan; sebab meninggalkan kewajiban Ilahi ini sama halnya bahwa dia tidak melaksanakan tugas utamanya dan belum menerima hidayah. Karena itu, ia akan mudah terpengaruh dan tergelincir pada kesesatan.

Kunci pengalaman keagamaan adalah kognisi diri dan makrifat nafs, dan seseorang dalam medan ini akan meraih piala yang sangat berharga dengan memiliki  shibgah (warna) Ilahi dan dalam tataran makrifat nafs serta makrifat Tuhan akan meraih keutamaan dan kelebihan; sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa “Paling berilmunya kamu pada nafsnya, paling berilmunya kamu pada Tuhannya”. Sudah sangat jelas bahwa orang yang mendapatkan kondisi ini akan lebih dekat pada Tuhannya dan akan lebih banyak meraih kenikmatan (kebahagiaan) dari-Nya.[56]  

Oleh karena itu, jalan pengalaman keagamaan yang dapat memberikan kemantapan dan keyakinan hanya jalan yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan natijah kenabian yang dinampakkannya di dalam diri manusia. Sebagaimana Rasulullah Saw sabdakan: Barang siapa yang memberikan tempat al-Qur’an pada jiwanya maka seakan-akan ia telah memasukkan kenabian di dalam jiwanya; kecuali bahwa tidak diwahyukan (al-Qur’an) kepadanya dan ia bukan nabi tasyri’.[57]

 

Contoh dan Sampel Pengalaman Keagamaan dalam Al-Qur’an 

“(Ingatlah, wahai Muhammad!) ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka (berjumlah) banyak tentu kamu menjadi gentar dan tentu kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Dan ketika Allah memperlihatkan mereka kepadamu, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka, itu karena Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.”[58] 

Dalam perang Badar, dua pasukan yang tidak seimbang (dalam jumlah dan perlengkapan perang) saling berhadap-hadapan, dan Tuhan, supaya perang ini berakhir dengan kemenangan di pihak Islam, memperlihatkan suatu pengalaman dan peristiwa (mimpi) kepada Nabi Saw dimana sekelompok kecil orang-orang kafir Makkah menyerang kepada kaum muslimin. Nabi Saw, ketika menceritakan itu kepada kaum muslimin, mereka semua bersedia  untuk berperang; sebab pengetahuan terhadap kualitas dan kuantitas kekuatan pasukan musuh mempunyai dampak dan pengaruh terhadap ruh pasukan muslimin dan akan menyelesaikan saling berbantah-bantahan di antara mereka (maka Allah memperlihatkan pasukan musuh dalam jumlah kecil kepada Nabi-Nya). Sementara di sisi lain, Nabi Saw adalah maksum dan setan tidak mempunyai jalan pada batasan wujud dan rasionalitas beliau Saw. Oleh karena itu, kuantitas pasukan musuh yang disaksikan beliau Saw dalam musyahadah mimpi itu adalah benar dan Tuhan adalah kuasa mengerdilkan yang banyak dan sebaliknya.

Dari dimensi pasukan kafir, mereka tidak mempunyai tujuan selain dunia dan keinginan mareka hanyalah harta dan kesenangan dunia, dimana ini semua menurut  tinjauan al-Qur’an adalah sedikit: “…Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit…”.[59] Oleh karena itu, seluruh modal dan bekal mereka adalah kesenangan dan harta yang sedikit dan setiap orang akan ditimbang dan dinilai sesuai dengan tujuan eksistensialnya, dan hakikat ini yang disaksikan Nabi Saw dalam bentuk mimpi yang hak.

Dari dimensi orang-orang Mukmin, bagi mereka juga terjadi suatu pengalaman dimana mereka menyaksikan pasukan kafir berjumlah sedikit: “…ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu…”[60]. Dari sisi ini, ketika mereka memasuki perang maka mereka mampu menanggung jumlah pasukan musuh, bahkan mereka dapat mendesak dan membuat pasukan musuh lari meninggalkan peperangan. Jadi, ini adalah suatu bentuk pengalaman keagamaan dan dikarenakan berkah wahyu dan kenabian maka kemenangan berada di pihak orang-orang mukmin, dimana dalam peperangan itu mereka telah menyaksikan dengan mata mereka kekerdilan dan kekecilan batin dan tujuan musuh (dalam bentuk jumlah musuh yang sedikit); yakni kejadian yang disaksikan Nabi Saw dalam bentuk mimpi benar, sampai mencapai batasan penglihatan bagi masyarakat.

Dari sisi Tuhan, Dia menghendaki kemenangan agama-Nya dan memerintahkan kepada mereka suatu perkara: “…itu karena Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan, hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan”[61]. Dalam hal ini, Allah juga menampakkan pada penglihatan orang-orang kafir bahwa kaum muslimin berjumlah sedikit: “…dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka…”[62]. Dari dimensi ini, kaum musyrikin Makkah dengan angkuh dan gegabah masuk dalam peperangan; sampai Abu Jahal berkata: Mereka ini tidak cukup sampai dalam hitungan suatu hidangan kita dan kita tidak perlu menggunakan pedang dan panah kita untuk (menghadapi) mereka; tapi kita cukup mengirim budak-budak kita saja dengan tangan kosong untuk menangkapi mereka.[63]

Pengalaman ini bagi kaum musyrikin, adalah suatu pengalaman negatif dan kontra agama; sebab peperangan itu dilakukan mereka karena didasari keyakinan kepada agama khusus mereka, karena itu mereka membela sasaran dan maslak mereka sendiri dan mereka mengenal Tuhan mereka dalam bentuk yang lain -sebagaimana kita temukan ungkapan maksum dalam hadits bahwa “Tuhan itu dikenal (ma’ruf) di sisi semua orang jahil”[64]- ataukah mereka menghalangi supaya usaha dan upaya dakwah Nabi Saw yang beberapa tahun  tidak memberi natijah dalam memberi hidayah kepada kaum musyrikin lainnya: “…dan Kami telah menjadikan hati mereka tertutup (sehingga mereka tidak)  memahaminya, dan telinganya tersumbat. Dan kalaupun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya…”[65]. Oleh karena itu, pengalaman kaum musyrikin dengan memandang kecil kaum mukminin dan menutup mata pada realitas adalah suatu pengalaman yang akhirnya sangat buruk.

Perlu kami ingatkan, bahwa predikasi asli peristiwa atas pengalaman keagamaan, bersandar atas makna “lahir ayat” bahwa yang dimaksudkan bukanlah penyaksian indera (penglihatan mata lahiriah) ketika dua pasukan itu berhadapan; jika tidak, maka ini keluar dari pembahasan pengalaman keagamaan yang merupakan suatu perasaan internal dan capaian nafsâni.

 

Isykal: Ungkapan ayat “dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka” (Q.s. al-Anfal ayat 44), menunjukkan pengalaman kaum musyrikin yang melihat kaum mukmin dalam jumlah  sedikit. Berdasarkan ini, mereka tidak memandang cukup jumlah kaum mukminin sebagai suatu santapan bagi mereka sehingga mereka menyatakan untuk mengirim budak-budak mereka saja dalam keadaan tangan kosong untuk menangkapi kaum mukminin. Sementara itu al-Qur’an dalam ayat lain menyatakan bahwa musyrikin dalam perang Badar ini melihat jumlah mukminin dua kali lipat dari jumlah mereka: “Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata batin).”[66]

Sebagaimana yang dapat dilihat, di antara ayat-ayat al-Qur’an yang turun tentang perang Badar -sebagian dalam surah Ali Imran dan sebagian lainnya dalam surah al-Anfal- terasa ada saling penafian satu dengan lainnya.

Jawab: Allamah Thabathabai dalam menjawab isykal tersebut menuliskan: Diawal peperangan, kedua pasukan itu memandang sedikit jumlah lawannya sehingga masing-masing mereka berambisi untuk  memenangkan peperangan (karena itu mereka mulai peperangan); tetapi ketika perang sedang berlangsung, golongan kaum mukmin menjelma dua kali lipat dalam pandangan golongan kafir. Berdasarkan ini maka mereka menjadi takut dan melarikan diri, sehingga pada akhirnya kemenangan berada di pihak kaum muslimin.

Oleh karena itu, ayat awal (ayat 44 dalam surah al-Anfal) menjelaskan tema tentang masing-masing kedua pasukan itu melihat lawannya dalam jumlah sedikit dalam awal peperangan dan ayat kedua (ayat 13 dalam surah Ali Imran), menjelaskan jumlah pasukan muslimin dua kali lipat dalam pandangan kaum kafir di tengah-tengah peperangan; khususnya dengan memperhatikan ayat sebelumnya dari ayat ini dimana Tuhan memberitahukan secara umum kepada kaum kafir bahwa jika kamu mempunyai penglihatan batin maka untuk mengerti kemenangan hak (atas batil) dan bahwa Tuhan, setiap orang yang Dia inginkan menang, Dia berikan kemenangan dan selamanya ia tidak akan terkalahkan oleh harta dan keturunan seseorang, mesti kamu cukupkan dengan apa yang kamu saksikan pada hari peperangan Badar; sebab pada hari itu, pasukan Islam hanya terdiri dari beberapa orang dan jumlah mereka tidak mencapai 1/3 dari jumlah kaum musyrikin dan dari sisi peralatan perang juga tidak bisa dibandingkan dengan peralatan perang kaum musyrikin.               

Sebab jumlah kaum mukminin ketika itu tidak lebih dari 313 orang dan hanya memiliki enam baju baja, delapan pedang, dan dua kuda; sedangkan pasukan musuh jumlahnya mendekati seribu orang ahli perang dengan perlengkapan yang sempurna di zaman itu. Dengan kondisi ini, Tuhan memperlihatkan jumlah pasukan kaum muslimin yang sedikit itu menjadi dua kali lipat, sehingga kaum musyrikin menjadi gentar dan takut serta melarikan diri, dan akhirnya kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Di samping itu, Tuhan juga mengirimkan malaikat untuk membantu kaum mukminin dan menjelmakan pasukan musyrikin dalam jumlah sedikit  dalam pandangan mereka supaya hati mereka menjadi kukuh dan mantap, sehingga janji kemenangan dan pengalaman keagamaan Nabi Saw dalam mimpi, terealisasi dengan sempurna dan agama Tuhan menampak secara nyata: ”…itu karena Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.”[67] [68] \


 


[1] . Merujuk pada kitab Akl wa I’tiqâd-e Dinî, Hal. 35-59.

[2] . Al-Munqidzu min ad-dhalâl, Hal. 64.

[3] . Merujuk pada kitab Akl wa I’tiqâd-e Dinî, Hal. 35-59.

[4] . Al-Mantiq, Bab 6, Shana’ât Khamsah, Tajribiyât, Hal. 318.

[5] . Q.S. al-Mu’min [40] : 26.

[6] . Q.S. Ali Imran [3] : 19.

[7] . Q.S. al-A’raf [7] : 127.

[8] . Q.S. an-Nâzi’ât [79] : 24.

[9] . Q.S. al-Qasas [28] : 38.

[10] . Syawâhid ar-Rububiyyah, Hal. 144.

[11] . Bihârul Anwâr, Jld. 18, Hal. 270.

[12] . Nahjul Balâgah, Khutbah 4.

[13] . Ibid, Hikmah 185.

[14] . Bihârul Anwâr, Jld. 14, Hal. 476.

[15] . Nahjul Balâgah, Khutbah 220.

[16] . Q.S. an-Najm [53] : 11.

[17] . Q.S. Maryam [19] : 17.

[18] . Q.S. Nuh [71] : 28.

[19] . Syarh Fushus al-Hikam, Fashun Nuhi, Hal. 537.

[20] . Q.S. al-An’am [6] : 121.

[21] . Syarh Fushus Qaishari, Fashun Ishâqi, Hal. 629.

[22] . Bihârul Anwâr, Jld. 61, Hal. 176.

[23] . Ibid, Hal. 181.

[24] . Ibid, Hal. 177.

[25] . Bihârul Anwâr, Jld. 11, Hal. 64 dan Jld. 61, Hal. 181.

[26] . Futuhat Makkiyyah, Jld. 1. Hal. 147.

[27] . Syarh Fusus Qaisari, Fassun Nuhi, Hal. 537.

[28] . Bihârul Anwâr, Jld. 14, Hal. 476.

[29] . Nahjul Balagah, Khutbah 122.

[30] . Ushul Kâfi, Jld. 2, Hal. 54.

[31] . Nahjul Balagah, Khutbah 193.

[32] . Q.S. Taha [20] : 72.

[33] . Ushul kâfi, Jld. 2, Hal. 85.

[34] . Ibid, Hal.86.

[35] . Nahjul Balagah, terjemahan makna bebas Khutbah 220.

[36] . Q.S. al-Ankabût [29] : 69.

[37] . Q.S. al-Hijr [15] : 99.

[38] . Q.S. al-An’am [6] : 75.

[39] . Q.S, at-Takâtsur [102] : 5-7.

[40] . Q.S. al-Mutaffifin [83] : 18-21, Tafsir al-Mizan, Jld. 5, Hal. 276.

[41] . Q.S. al-Maidah [5] : 105.

[42] . Q.S. al-Insyiqâq [84] : 6.

[43] . Q.S. al-Mujâdilah [58] : 22.

[44] . Q.S. Ibrahim [14] : 28.

[45] . Q.S. al-Maidah [5] : 105.

[46] . Q.S. al-Baqarah [2] : 134.

[47] . Q.S. al-Maidah [5] : 100.

[48] . Q.S. al-An’am [6] : 153.

[49] . Q.S. al-Hasyr [59] : 19.

[50] . Bihârul Anwâr, Jld.2, Hal. 32.

[51] . Q.S. al-Isra [17] : 7.

[52] . Q.S. an-Najm [53] : 42.

[53] . Q.S. asy-Syams [91] : 7-10.

[54] . Q.S. al-An’am [6] : 122.

[55] . Q.S. al-Maidah [5] : 5.

[56] . Merujuk pada: Tafsir al-Mizan, Jld. 6, hal. 170.

[57] . Ushul Kâfi, Jld. 2, Hal. 604.

[58] . Q.S. al-Anfal [8] : 43-44.

[59] . Q.S. an-Nisa [4] : 77.

[60] . Q.S. al-Anfal [8] : 44.

[61] . Ibid.

[62] . Ibid.

[63] . Tafsir Nur ats-Tsaqalain, Jld. 2, Hal. 128.

[64] . Ushul Kâfi, Jld. 1, Hal. 91.

[65] . Q.S. al-An’am [6] : 25.

[66] . Q.S. Ali Imran [3] : 13.

[67] . Q.S. al-Anfal [8] : 44.

[68] . Tafsir al-Mizan, Jld. 3, Hal. 107.

20 Juli 2012

HAKIKAT WAHYU DALAM ISLAM

oleh alifbraja
 HAKIKAT WAHYU DALAM ISLAM
 
 

 

Wahyu Dalam Bahasa

Para peneliti kosa kata berkeyakinan bahwa wahyu adalah suatu kaidah untuk penyampaian ilmu, makrifat, dan lainnya. Kekhususan dan spesifikasi dari wahyu di antaranya adalah: isyarat cepat terhadap penulisan dan risalah, pemberitahuan terhadap misteri dan simbol, terkadang dalam bentuk tak berkomposisi, isyarat terhadap sebagian anggota-anggota badan, dan terkadang dalam artian ilham dan ungkapan rahasia serta tersembunyi. Oleh karena itu, rahasia, cepat, dan misteri merupakan pilar-pilar asli dari wahyu.[1]

 

Wahyu Dalam Al-Qur’an

Wahyu kebanyakan dari jenis ilmu dan kognisi, bukan dari jenis amal dan perbuatan; dan ilmu  merupakan dimensi khusus dari wujud yang tidak terlaburi mahiyah; kendatipun mahiyah senantiasa menyertainya. Oleh sebab itu, wahyu adalah sebuah komprehensi yang digali dari eksistensi. Dari sisi ini maka wahyu tidak mempunyai kuiditas dan tidak mungkin didefinisikan dengan jalan genus, difrensia, definisi, dan deskripsi. Jadi wahyu bersih dari semua itu yang berada di bawah kategori-kategori popular kuiditas, dan komprehensi wahyu –seperti pengertian eksistensi– mempunyai wujud luar (ekstensi), dimana misdaknya sendiri mempunyai tingkatan yang berbeda dan beragam.

Penjelasan tentang matlab ini:

1.                   Setiap ” wujud mungkin” terangkap dari wujud dan mahiyah.

2.                   Sesudah diurai akal dan dipisahkan mahiyah dari wujud, meskipun masing-masing dari mahiyah dan wujud ini adalah “mungkin” (possible), tetapi tidak satupun secara sendirian terangkap dari wujud dan mahiyah; yakni sesudah diurai oleh akal, meskipun masing-masing harus disertai lainnya, akan tetapi dalam atmosfir analisa, tidak satupun dari keduanya adalah berkomposisi.

3.                   Wahyu ilmi adalah dari jenis ilmu, dan ilmu adalah dari tipe wujud; apakah ia itu ilmu husuli ataukah ia ilmu huduri.

4.                   Wahyu adalah dari tipe ilmu huduri, bukan dari jenis ilmu husuli; akan tetapi dari bagian spesifik ilmu huduri, bukan mutlak ilmu tersebut.

5.                   Mungkin saja kadang suatu matlab terlontar  dalam hati dalam bentuk ilmu husuli dan merupakan bagian dari wahyu.

 

Dalam kultur al-Qur’an semua maujud-maujud mendapatkan saham dari ilmu dan kesadaran serta semuanya dapat mengambil manfaat dari jenis wahyu dan ilham. Seluruh alam ciptaan dalam sistem eksistensi berada di bawah pengelolaan Tuhan serta Tuhan adalah pengajar mereka, dan ini memungkinkan bahwa Tuhan terkadang dari jalan wahyu atau ilham melontarkan dan memahamkan suatu hakikat kepada manusia, malaikat, hewan, tumbuhan, bahkan hatta bebatuan; meskipun pada dasarnya terdapat juga jalan-jalan selain jalan pewahyuan dalam masalah ini.

 Oleh karena itu:

a. Karena wahyu galibnya dari jenis ta’lim (pengajaran) yang memiliki kekhususan tersembunyi, cepat, dan misteri maka pengajaran terang-terangan, dihadiri orang lain, lambat, bertahap, dan tanpa simbol tidaklah masuk dalam kunci dan gembok wahyu.

Simbol atau sandi, bukanlah ambigu dan bersifat global, sebab dalam perkara global dan ambigu tersimpan kegelapan dan ketidaktahuan, tetapi ungkapan yang bersandi memiliki isyarat terhadap makna-makna, dimana dalam perkara wahyu, gembok dan kuncinya berada di tangan para nabi As.

Pengetahuan global berbaur dengan kejahilan dan ilmu ijmâl (ilmu global dalam ilmu ushul fikh), yaitu percampuran dari beragam ketidaktahuan dengan satu ilmu.

Kendatipun wahyu galibnya dari tipe ilmu dan kognisi, tetapi terkadang ia juga dari jenis keputusan dan resolusi ilmu; dalam berhadapan dengan doktrin dan dogma. Terkadang iradah (kehendak) melakukan pekerjaan diperoleh dari wahyu, seperti: “Kami wahyukan kepada ibu Musa…”[2] dan “Kami wahyukan kepada mereka perbuatan kebaikan…”[3], dimana dalam masalah-masalah ini yang menjadi perkara diwahyukan adalah iradah, keputusan, dan pergerakan dalam diri, yang mana tidak satupun dari mereka ini termasuk dari kategori mafhum dzihni.

b. Demikian pula wahyu, bukanlah munajat dan pembicaraan bisik-bisik serta sembunyi-sembunyi. Dalam Islam sejati, seluruh al-Qur’an, adalah wahyu Tuhan: “…dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (al-Qur’an kepadanya)”[4]; “Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu dinisbahkan kepadanya adalah orang yang tidak mengetahui”[5].

Oleh karena itu, jika seseorang melakukan perenungan, pemikiran, dan tadabbur tentang ayat-ayat al-Qur’an, dia akan mengenal satu sudut dari rahasia-rahasia wahyu; sebab al-Qur’an adalah kalam Tuhan dan kalam Tuhan adalah wahyu-Nya. Dia adalah pengajar yang berbicara dengan manusia dengan perantara wahyu, dan seluruh alam eksistensi serta manusia mendapat pengajaran serta mendengarkan kalam Ilahi. Di samping itu, manusia sendiri juga adalah kalam Tuhan. Sebagai petunjuk bahwasanya Tuhan berbicara dengan manusia dengan kalam-Nya, al-Qur’an menyetir firman Tuhan dalam ayat-ayatnya: “…dan Allah bebicara (kallama) kepada Musa dengan pembicaraan (taklîman)”[6]; “…di antara mereka ada yang (langsung) Allah berbicara dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat.”[7]

 

Jadi pada hakikatnya kita dapat meneliti seukuran kapasitas akal, kemampuan memahami dan mempersepsi diri kita terhadap wahyu dan kalam Tuhan; sebagaimana dapat juga dengan seukuran kapasitas itu melakukan penjelajahan intelektual dalam wilayah dzat, asmâ (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya.

Dalam al-Qur’an karim terdapat banyak ayat-ayat yang berbicara tentang wahyu, dimana masing-masing dari ayat-ayat itu mengandung pesan-pesan kepada alam pemikiran, makrifat, dan ilmu. Sebelum kami utarakan beberapa aplikasi dari sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang mengupas tentang wahyu, perlu kiranya beberapa poin berikut ini diketahui:

-                      Kendatipun makna totalitas wahyu adalah satu dan terpaparkan dalam bentuk musytarak maknawi (bukan musytarak lafzhi), akan tetapi dikarenakan di antara misdak-misdak terjadi perbedaan yang dalam dan jarak yang curam maka hal ini menjadi pangkal timbulnya praduga dan kemungkinan akan persepsi musytarak lafzhi di antara mereka, dan ini adalah penyebab dinamakannya makna seperti ini dengan nama musyakkik; sebab mengarahkan pendengar pada syak dan keraguan bahwa makna lafazh (kata) ini dari tipe musytarak lafzhi ataukah musytarak maknawi; sementara itu kesatuan komprehensi adalah dalil dari isytirâk maknawi, sedangkan perbedaan yang dalam di antara misdak-misdak adalah sanad akan isytirâk lafzhi. Dengan segala tinjauan, dapat dinyatakan bahwa hakikat makna wahyu adalah satu dan musyakkik.

-                      Wahyu para nabi As mempunyai kekhususan tersendiri dan tidak boleh salah dipersepsikan dengan misdak-misdak lainnya, hatta dengan pengalaman keagamaan para urafa terkemuka.

-                      Wahyu tasyrii para nabi berbeda degan wahyu takwini mereka; apatah lagi dengan misdak-misdak wahyu lainnya (maksudnya lebih jelas perbedaannya).

-                      Topik wahyu –sebagaimana topik ilmu– bisa saja hakikatnya adalah satu, dan nisbahnya terhadap faktor pelaku dan faktor penerima telah menyebabkan timbulnya topik-topik yang beragam; seperti hakikat ilmu yang jika dinisbahkan kepada faktor pelaku maka ia adalah ta’lîm, dan jika dinisbahkan terhadap faktor penerima maka ia adalah ta’allum; kendatipun perbedaan tipis di antara tiga macam topik dan istilah ini (ta’lîm, ta’allum, dan ilmu) tetap terpelihara. Disini juga peristiwa pewahyuan, penerimaan wahyu, dan wahyu bisa saja ditilik dimensi  keragamannya dan pada saat yang sama menjaga dimensi kesatuannya.       

 

Lontaran-lontaran Setan

Telah diisyaratkan (dalam pembahasan kenabian) bahwa wilayah bersih memori dan ingatan para nabi adalah suci dari terlaburi kebusukan-kebususkan lontaran dan hembusan setani; sebab iblis tidak mempunyai kemampuan merasuk ke dalam harîm muqaddas (wilayah suci)  qalbu mereka. Pancaran sempurna ishmah dan kesucian meliputi dan menyelimuti hati-hati mereka dan puncakyang tinggi serta sinaran akal mereka tidak tergapai dan terjangkau oleh wâhimah (imaginative)dan khayalan-khayalan setani; akan tetapi pada person dan pribadi yang tidak maksum tentu saja  setan mempunyai kemampuan untuk menembus dan melontarkan bisikan-bisikan dan perkataan-perkataan Ahriman (Tuhan keburukan dalam agama Zoroaster); sebagaimana al-Qur’an mengisyaratkan hal ini dalam beberapa ayatnya, seperti:

1.                   “Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka melontarkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.”[8]

2.                   “Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar     mereka membantah kamu.”[9]

 

Dunia ini adalah tempat berniaga, sebagian orang dapat mengambil keuntungan untuk akhirat mereka dan sebagian lainnya hanya mendapatkan kerugian; sebagian orang memanfaatkan usianya dan dalam berhadapan dengannya memperoleh ilmu, makrifat, pengorbanan, kemanusiaan, kebaikan, dan kemuliaan. Mereka berniaga dengan orang yang karîm dan mulia serta tidak bermajlis dengan orang-orang rendah akhlak dan hina moral. Dalam berniaga dengan pribadi karîm dan mulia, bisa saja harga barang dan barang keduanya kembali kepada sipeniaga.

Sekelompok orang juga berbarter dengan setan dan dalam perdagangan ini, modal, harga, barang, dan seluruh miliknya habis tak tersisa sedikitpun serta mereka juga kehilangan umur, amal, akidah, iman, dan wibawa. Setan dalam bermuamalah dengan manusia, tidak akan pernah membuka jalan keberuntungan bagi lawan niaganya. Ia akan merenggut seluruh modal dan investasi manusia dan menggiring mereka ke jurang curam kerugian; seperti sinar matahari panas yang mencairkan es dagangan seorang pedagang es hingga membuatnya jadi rugi.

Turunnya wahyu untuk memperingatkan manusia akan akibat malang menerima bisikan dan godaan setan: “…al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (al-Qur’an kepadanya)”[10], sehingga setan tidak mampu mempermalukan seseorang dan menghilangkan harga dirinya.

Setan memenjarakan manusia dalam lingkaran pengaruhnya dan memerintahkan tahanan-tahanannya menyebarkan racun akhlak serta melontarkan syubhat-syubhat dalam pemikiran lewat pena dan tulisan, bahasa dan retorika, informasi dan penerbitan, serta kitab, majalah, dan koran, sehingga masyarakat mengalami kegelapan dan kekaburan. Dan ini merupakan cikal bakal tersemainya ketidak beragamaan dan penipisan iman sehingga dengan sekali sentakan mereka terjatuh ke jurang kehancuran kekafiran dan kefasikan: “Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dai surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”.[11]              

Oleh karena itu, setan, memasukkan kedalam hati seseorang dengan jalan rahasia, sembunyi, cepat , dan misterius berbagai bentuk wahyu syubhat, yang kemudian dari situlah masuk ke dalam atmosfir masyarakat. Virus berbahaya ini, pertama mencegah manusia yang dimasukinya dari amal mustahab dan selanjutnya diapun meringan-ringankan amal wajib; sampai dia pada akhirnya menjadi misdak dari yat ini: “Kemudian, akibat yang lebih buruk adalah kesudahan bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan. Karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya.”[12]

Kebanyakan ideologi dan mazhab buatan sesat yang ada merupakan dampak dan pengaruh dari syubhat-syubhat setan serta ayat-ayat setani yang pada awalnya hinggap dalam hati para cendekiawan dan ilmuan cinta dunia dan selanjutnya mendapat jalan masuk ke dalam jantung masyarakat. Jumlah orang yang berperan nabi-nabi palsu atau gadungan tidak lebih sedikit dari jumlah para nabi hakiki, dan karya serta pengaruh ulama buruk tidak lebih minim dari karya dan pengaruh ulama rabbani. Para nabi Ilahi datang sebagai utusan Tuhan untuk memberi hidayah bangsa-bangsa dan masyarakat, sementara para nabi palsu dan ilmuan buruk menerima lontaran-lontaran setani  untuk membuat aliran, mazhab, dan ideologi yang menyesatkan masyarakat.

Setan pada awalnya menipu manusia dan kemudia membuatnya menjadi yakin dan percaya serta pada akhirnya menggambarkan bahwasanya tidak ada yang benar selain ini (buatan pikirannya): “Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”[13]

Setan adalah maujud beringas yang hatta terhadap dirinyapun tidak punya kasih. Ia beribadah enam ribu tahun dan kemudian menghancurkan dirinya untuk selamanya dalam neraka. Amirul Mukminin As berkata: Tidak diketahui bahwa enam ribu tahun itu adalah perhitungan tahun duniawi ataukah ukhrawi. Maujud berbahaya dan beringas  seperti ini, bagaimana mungkin mengasihi yang lainnya dan membuka jalan kebenaran pada mereka serta tidak menyergap secara tiba-tiba atas mereka? Memang, lontaran-lontaran beracunnya adalah cepat, rahasia, dan misterius. Ia dengan para pengikutnya bersembunyi serta merealisasikan kehendak-kehendak busuknya yang terkadang lewat ujung pena-pena mereka. Ia menampakkan lampu hijau dan membuat janji-janji, akan tetapi tidak satupun dari janji itu akan ia penuhi dan tepati.

Berasaskan ini, terkadang manusia menyangka ia telah mendapatkan tongkat Musa atau cincin Sulaiman; mereka lupa bahwasanya tongkat Musa dan cincin Sulaiman tidak dapat dimiliki dan berguna di tangan orang lain. Sebab tongkat tanpa nabi Musa As tidak akan berubah menjadi ular dan pedang dzulfikar tanpa hadhrat Ali As tidak akan menang serta baju tanpa pesan hadhrat Yusuf As tidaklah akan menyebabkan mata buta dapat melihat.

 

Wahyu Kepada Langit dan Bumi          

Tuhan mengingatkan dalam beberapa ayat al-Qur’an tentang undang-undang yang berkuasa atas langit dan bumi yang menyebabkan terjadinya keteraturan akurat dan perputaran yang teratur serta manfaat-manfaat yang layak darinya; seperti: “Kemudian Dia menuju kelangit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.” Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit dunia ini, Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui”.[14]

Berasaskan ini, ruang lingkup wahyu Tuhan meliputi seluruh langit dan bumi, dan langit serta bumi memiliki pendengaran dan menerima perintah lewat wahyu-Nya. Keduanya patuh dan tidak akan keluar dari ruang lingkup undang-undang yang berkuasa atas mereka; seolah-olah mereka seperti manusia yang memiliki kesadaran dan kognisi yang berserah diri atas perintah dan menerima aturan-aturan.

Langit dan bumi menerima wahyu dan kesadaran rumusannya ada sejak  pada awal kejadiannya dan hingga kini  melanjutkan perjalanan kesempurnaannya, sampai suatu ketika mereka akan menceritakan apa yang telah dilewatinya, sebagaimana Tuhan berfirman: “jika bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan (yang demikian itu) padanya.”[15]

Perlu disadari bahwa meskipun dalam pancaran pengetahuan kontemporer dan penemuan-penemuan baru hari ini telah banyak menyingkap wahyu-wahyu yang diperoleh langit dan bumi (undang-undang yang menata dan mengatur mereka), akan tetapi tentu saja masih terdapat jarak yang sangat jauh untuk sampai menjangkau seluruhnya. Ini adalah suatu telaahan dan bacaan yang menuntut ribuan bahkan jutaan tahun penelitian dan observasi tentangnya; sebab sebagian dari matlab-matlabnya adalah fisika dan sebagian lagi dari makrifat-makrifatnya adalah metafisika.

 

Wahyu Kepada Lebah   

Sebelumnya telah diungkapkan bahwa seluruh alam ini mempunyai kehidupan dan kesadaran dan seluruh maujud-maujud mengikuti tata tertib dan aturan wahyu mereka masing-masing. Al-Qur’an mengungkapkan bahwa sebagian hewan-hewan mendapatkan wahyu, seperti ayatnya: “Dan Tuhanmu mewahyukan (ilham dalam bentuk instink) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan dan tempulah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir.”[16]

Dalam ayat ini, wahyu berkenaan dengan pemberian “pengambilan keputusan” dan wahyu yang berkaitan dengan ‘azm, iradah, dan motivasi. Sebagaimana ayat menyebutkan; pertama, keputusan lebah tentang  keharusan berumah dan membuat sarang dengan bentuk spesifik dan arsitek khusus, dan perkara ini harus tercipta pada tempat yang sesuai, seperti gunung-gunumg  atau pohon-pohon. Pada tahap kedua, harus menyediakan makanan yang sesuai –itupun dengan bunga-bunga yang semerbak dan wangi– yang mana untuk menentukannya tidak mungkin dilakukan oleh seorangpun kecuali dengan wahyu rabbani. Pada tahap ketiga, perjalanan dalam rangka mencari makanan yang memestikan pengenalan jalan dan melewati perjalanan serta perjalanan yang mesti sejalan dengan wahyu (sesuai dengan ayat “tempulah jalan Tuhanmu”). Pada tahap keempat dan akhir dari pekerjaan, natijah dan hasil dari pekerjaan yang tak mengenal lelah dari hewan ini, adalah madu yang beragam warnanya yang memiliki khasiat menyehatkan dan menyembuhkan.    

 

Wahyu atau Ilham Kepada Amal       

Wahyu, kadang berhubungan dengan tashawwur (konsepsi) atau tashdiq (pembenaran) yang berada di seputar pengajaran dan makrifat, dan terkadang juga berhubungan dengan kecenderungan dan keputusan; seperti kesukaan, motivasi, peringatan, ancaman, dan lainnya. Sebagian dari perkara-perkara wahyu yang aplikasinya terdapat dalam al-Qur’an di antarnya:

1.                   “Lalu Kami wahyukan kepadanya (Nuh), “Buatlah kapal di bawah pengawasan dan wahyu Kami.”[17]

2.                   “Dan ingatlah, ketika Aku wahyukan dan ilhamkan kepada pengikut-pengikut  Isa  yang setia (Hawariyyûn hadhrat Isa As), “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.”[18]

3.                   “Dan Kami wahyukan kepada Musa As, “Pergilah pada malam hari dengan membawa Bani Israil, sebab pasti kamu akan dikejar”[19], dan juga ayat: “Dan Kami wahyukan kepada Musa As ketika kaumnya meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah dari (batu) itu dua belas mata air”.[20]

4.                   “Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa As, “Susuilah dia (Musa), dan jika engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai Nil. Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikan kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” [21] Sebab ibu nabi Musa As memperoleh takdir anaknya secara informasi rahasia dari Tuhan maka al-Qur’an menamakan itu sebagai wahyu. Tidak diragukan bahwa ibu nabi Musa As bukanlah seorang nabi, tetapi kepadanya telah diilhamkan informasi rahasia yang al-Qur’an menyebutnya dengan wahyu. Demikian pula kondisi nabi Yusuf As ketika masih remaja, dimana saudara-saudaranya membuat rencana untuk membunuhnya dan Tuhan memberitahukan perkara ini dalam peristiwa pembuangannya ke dalam sumur sebagai wahyu, dan berfirman: “Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dalam sumur, Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”[22]

5.                   “Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”[23] Tuhan, terhadap semua pemimpin-pemimpin Ilahiah –para nabi As, para imam As, dan para ulama rabbani– mungkin saja mewahyukan dan memberi petunjuk untuk mengambil sikap dan keputusan serta menunjukkan kepada mereka tanggung jawab yang mesti dikerjakan. Ini semua adalah sejenis ‘azm (tekad yang bulat) dan keputusan amal yang dilontarkan dan diilhamkan kepada pemimpin-pemimpin Ilahiah. Oleh karena itu, yang terkena curahan jenis wahyu-wahyu ini adalah akal amali; akal yang dengannya Tuhan Maha Rahman disembah dan surga diusahakan.[24] Terdapat saham yang cukup luas dari ayat-ayat wahyu yang mengungkapkan seputar pengambilan keputusan, sikap, amal, dan prilaku. Jenis wahyu ini dinamakan juga ilham dan bagi setiap orang –dalam batas dan kapasitas dirinya– mempunyai kemungkinan untuk mendapatkannya; sebagaimana sangat banyak penemuan ilmiah dan penyingkapan pengetahuan timbul lewat inspirasi dan ilham Ilahi dan mungkin saja syiir-syiir yang bermuatan tinggi dan transendental diperoleh dari jalan ini.

 

Hurr bin Yazid Riyâhi, ketika berada di antara jajaran pasukan imam Husain As dan Umar Sa’d yang saling berhadapan, berkata: Saya mendengar senandung yang memberi kabar gembira dan menjanjikan padaku surga. Dia pada awalnya menunjukkan rasa takjub terhadap berita gembira ini, namun ketika dia mengambil keputusan  dan membulatkan tekad untuk bergabung dengan imam Husain As, dia yakin bahwa basyârat itu adalah ilham dari alam gaib.

            Di sini ada dua poin yang urgen diperhatikan:

-                      Jika wahyu berhubungan dengan hukum insyâi (perintah) dan disertai dengan undang-undang dan aturan baru maka ini adalah tipe tasyrii yang hanya dikhususkan bagi para nabi As.

-                      Jika wahyu berhubungan dengan perbuatan, iradah, ‘azm, motif, dan lainnya dan tidak dari tipe hukum insyâi maka wahyu dalam bentuk ini tidak terkhususkan untuk para nabi As.

 

Wahyu Kepada Para Nabi As                                         

            Al-Qur’an berulang-ulang kali membicarakan tentang wahyu kepada para nabi As, di antaranya:

1.                   “Demikianlah Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana mewahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada orang-orang yang sebelummu.”[25]

2.                   “Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara padanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.”[26] Amirul Mukminin Ali As dalam tafsir ayat ini berkata: Wahyu dan kalam Tuhan adalah tidak satu jenis, tetapi sebagian dalam bentuk kalam dan pembicaraan yang mana Tuhan dengan perantaraan itu berbicara dengan nabi-nabi-Nya, dan sebagiannya terlontar ke dalam qalbu para nabi As serta sebagian lagi dalam bentuk mimpi yang mereka saksikan, dan sebagian juga wahyu yang dibacakan dalam bentuk kalamullah.[27]

Al-Qur’an berbicara tentang wahyu khusus nabi Muhammad Saw: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) rûh dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah kitab (al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.[28]

Ustad Allamah Thabathabai dalam tafsir ayat 52 dan 53 surah asy-Syûrâ, mengutarakan: Tuhan berbicara dengan hamba-Nya lewat salah satu dari tiga jalan ini; dengan perantara wahyu atau dari belakang tabir dan hijab atau dengan perantara mengutus utusan yang dengan izin-Nya Dia mewahyukan apa yang  Dia kehendaki; selanjutnya Allamah mengutarakan: Dia wahyukan pesan-pesan-Nya dengan jalan ini kepada rasul-Nya Saw dan apa yang dari sisi Tuhan diwahyukan kepada beliau -sebelum pewahyuan- tidak ada sebelumnya dalam jiwa beliau (yakni beliau sebelumnya tidak mengetahui satupun dari hakikat-hakikat wahyu). Wahyu ini adalah cahaya Ilahi yang mana Tuhan berikan secara khusus kepada salah satu dari hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki… .

‘Atf (konjungsi) tiga bagian dari pembicaraan Tuhan dengan manusia (…kecuali dengan perantaraan wahyu ataudi belakang tabir atau dengan mengutus utusan…) dengan perantara kata penghubung ‘atau’, menjelaskan bahwa tiga bagian ini adalah berbeda satu sama lain; sebab dalam dua bagian akhir, satunya dikaitkan dengan tabir dan lainnya dikaitkan dengan pengiriman utusan; tapi bagian pertama tidak memiliki kait sama sekali. Pada dasarnya yang pertama ini berhadapan dengan dua lainnya dan yang dimaksud adalah pembicaraan sembunyi dan rahasia; suatu pembicaraan yang di dalamnya tidak satupun perantara antara Tuhan dengan lawan bicara-Nya.

Akan tetapi maksud dari dua pembicaraan lainnya –yang mempunyai kait– adalah pembicaraan dengan perantara, dimana perantara ini dalam bagian ketiga adalah malaikat Jibril; sebagaimana dalam ayat: “Yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (malaikat Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan.”[29] Bagian kedua dari pembicaraan Tuhan juga dengan perantara, dimana dalam hal ini perantaranya adalah di belakang hijab; sebagaimana dialog yang terjadi antara Tuhan dengan nabi Musa As di bukit Thûr: “Maka ketika dia (Musa) sampai ke (tempat) api itu, dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon, di sebidang tanah yang diberkahi, “Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam!”[30]

Terdapat juga wahyu-wahyu dalam alam mimpi para nabi As yang termasuk dari bagian ini.

Bagian pertama dari pembicaraan Tuhan, adalah pembicaraan-Nya dengan nabi Islam Muhammad Saw yang terjadi tanpa perantara malaikat Jibril dan tanpa tabir setiap bentuk hijab. Dan karena setiap tiga bagian wahyu mempunyai nisbah kepada Tuhan, maka dari itu wahyu dapat dipandang secara mutlak berelasi dengan Tuhan; sebagaimana al-Qur’an mengungkapkan: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya….”[31]       

Zurarah berkata: Saya bertanya kepada imam Shadiq As: Kondisi pingsan yang mendatangi Rasulullah Saw tatkala dituruni wahyu itu, adalah bagaimana? Imam Shadiq As berkata: Ini  (dialami Rasulullah) dalam bagian wahyu yang antara  beliau dan Tuhan tidak ada sama sekali  perantara dan Tuhan Yang Mahatinggi memanifestasikan diri-Nya untuk beliau. Zurarah berkata: Kemudian imam Shadiq As dalam keadaan menampakkan khusyu’ berkata: Ini adalah Kenabian, wahai Zurarah![32]

Imam Shadiq As bersabda: Setiap kali malaikat Jibril turun pada Rasulullah Saw, dia duduk di hadapan nabi seperti hamba, dan setiap kali dia  akan masuk, dia meminta izin ( terlebih dahulu kepada nabi).[33]    

Zurarah berkata: Saya bertanya kepada imam Baqir As tentang perbedaan antara rasul, nabi, dan muhaddats, beliau berkata: Rasul adalah seseorang yang malaikat Jibril As datang di sisinya dan dia berbicara dengannya berhadap-hadapan dan dia melihat malaikat Jibril As sebagaimana kamu melihat orang yang kamu ajak bicara di hadapanmu. Orang seperti inilah disebut dengan rasul. Nabi adalah seseorang yang melihat malaikat Jibril As dalam tidur; seperti hadhrat Ibrahim As yang melihat dalam mimpi mengorbankan putranya, dan seperti Rasulullah Saw yang dalam tidur ringannya dan dalam keadaan itu malaikat Jibril As datang padanya. Orang seperti ini disebut dengan nabi. Terkadang kenabian dan risalah berkumpul pada satu orang; seperti Rasulullah Saw beliau rasul dan juga nabi dan beliau melihat malaikat Jibri As di hadapannya dalam kondisi tidak tidur dan beliau berbicara dengannya, serta Rasulullah Saw juga (sebagai seorang nabi) melihat malaikat Jibril As dalam tidur. Muhaddats adalah seseorang yang mendengar kalam malaikat dan berbicara dengannya, tetapi dia tidak melihat malaikat baik dalam tidur maupun dalam kondisi terbangun.[34]   

 

Mimpi-Mimpi Shâdiq (Benar)

Dalam hadits-hadits yang telah diisyaratkan, disebutkan bahwa mimpi-mimpi benar itu adalah sejenis wahyu. Saat ini kami akan isyaratkan sebagian dari mimpi-mimpi benar dari nabi-nabi As:

1.         Tidur (mimpi) hadhrat Ibrahim khalilullah As; al-Qur’an mengungkapkan tentang hadhrat Ibrahim As seperti ini: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan  (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”[35]     

 

Imam Shadiq As berkata: Sebab nabi Ibrahim As menyaksikan dalam mimpi putranya Ismail As dia kurbankan maka ketika musim haji dia membawa Hajar dan Ismail As keluar dari Syam menuju ke Mekkah sehingga dalam perayaan haji dia akan sembelih Ismail As. Dia pertama meninggikan pondasi-pondasi rumah Tuhan (Ka’bah), kemudian pergi ke Mina dan melaksanakan manasik serta amal-amal Mina dan kembali ke Mekkah serta tawaf atas Ka’bah. Dan setelah melaksanakan sa’î Safa dan Marwah dia berkata pada Ismail As: Putraku sayang! Saya melihat dalam mimpi bahwa engkau dalam musim tahun ini saya kurbankan, bagaimana pandanganmu? Dia (Ismail As) berkata: Wahai ayahku! Apa yang diperintahkan padamu, lakukanlah!

Sebab  telah selesai sa’î maka Nabi Ibrahim As membawanya ke Mina dan pada hari idul kurban ketika sampai jumrah wusthâ dia membaringkan Ismail As ke sisi kiri dan mengambil pisau untuk menyembelihnya. Pada saat ini, dia mendengar seruan bahwa engkau telah membenarkan mimpimu, dan engkau telah melaksanakan tugasmu: “Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu”.[36]Saat itu terjelma biri-biri besar dan nabi Ibrahim As mengurbankan biri-biri itu dan menyedekahkan dagingnya kepada orang-orang miskin.[37]

2.         Mimpi hadhrat Yusuf As; al-Qur’an mengungkapkan tentang hadhrat Yusuf As seperti ini: “(Ingatlah), ketika Yusuf As berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bemimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”[38]       

            Hadhrat Yusuf As menyaksikan perkara-perkara tersebut dalam mimpi, dan betapa suatu karunia mimpi  jika seseorang menyaksikan peristiwa seperti ini dalam keadaan tidur. Ini adalah semacam wahyu yang menunjukkan fenomena terang kenabian; sebagaimana Tuhan dalam akhir kisah, dari ucapan hadhrat Yusuf berfirman: “…Wahai ayahku! Ini adalah takwil dari mimpiku… .”[39]

            Tuhan, dalam ayat lain, memandang jenis mimpi ini adalah sahih dan berfirman: “Dan demikianlah, Tuhan memilih engkau (untuk menjadi nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan (nikmat-nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub… .”[40]

Allamah Thabatahabai di bawah ayat ini menuliskan penjelasan seperti ini: Takwil dalam ungkapan: “Dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi”, yang dimaksud adalah (ramalan peristiwa) apa yang akan datang, yang akan terjadi sesudah penglihatan dalam mimpi serta merupakan ta’bir dari mimpi, dan itu adalah peristiwa yang hakikatnya menjasad dalam alam tidur bagi pemilik mimpi. Dan ini menjelma dalam bentuk dan gambaran yang sesuai dengan kognisi dan kesadaran dia; sebagaimana menjasadnya sujud ayah, ibu, dan saudara-saudara nabi Yusuf As dalam bentuk sebelas bintang dan bulan serta matahari yang sujud dalam berhadapan dengannya. Di samping itu, dia juga sanggup menta’birkan mimpi teman sepenjaranya dan mimpi raja Mesir secara baik dan benar serta ditakwilkanlah (diramalkan) mimpi-mimpi itu sesuai dengan ta’birnya (Nabi Yusuf As).[41]

Perlu diketahui bahwa “takwil ahâdîts” dalam ayat ini (Q.S. Yusuf : 6) lebih umum dari peristiwa-peristiwa yang dilihat dalam mimpi yang berhubungan dengan kejadian yang akan datang; akan tetapi yang dimaksud adalah mutlak peristiwa-peristiwa, apakah peristiwa yang disaksikan itu dalam tidur ataukah terbangun, dan ini adalah salah satu dari dimensi kenabian; sebagaimana Tuhan berfirman: “…Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”[42]  

3.         Mimpi hadhrat Muhammad Saw; Tuhan berfirman tentang mimpi nabi Islam Muhammad Saw: “Sungguh, Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.”[43]

 

Wahyu Kepada Malaikat

Malaikat-malaikat juga mendapatkan wahyu dari Tuhan; sebagaimana al-Qur’an mengungkapkan tentang mereka dalam ayatnya: “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.”[44]

Para malaikat adalah pesuruh Tuhan yang dalam menjalankan tugasnya senantiasa taat dan tidak pernah maksiat dan membangkang dari perintah Tuhan: “…yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”[45]

Para malaikat, dalam berbagai sistem eksistensial -dengan izin Tuhan- sibuk melakukan pengaturan dan pengelolaan perkara dan masalah alam dan perkara yang berhubungan dengan ilmu dan makrifat, pemikiran dan teoritis, keputusan dan kehendak yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam kehidupan manusia; jika hak, benar, baik, bermanfaat, dan sesuai dengan pengajaran al-Qur’an serta maksumin As, maka semuanya itu datang dari sisi Tuhan dan pembawanya adalah para malaikat, sebagaimana ayat menyatakan: “Di tangan para utusan (malaikat), yang mulia lagi berbakti.”[46]

Perlu diperhatikan bahwa perkara-perkara yang telah disebutkan itu, tidak seharusnya mars (batas demarkasi) antara wahyu khusus kepada para maksumin Tuhan dan wahyu biasa menjadi terlalaikan dan terlupakan; akan tetapi selamanya kekhususan dan kelebihan wahyu maksumin pemilik syariat harus dijaga dan ia senantiasa berperan sebagai mizan perbandingan dan parameter adil dan benarnya suatu makrifat.     

 

Wahyu Dari sudut Tinjauan Hadhrat Ali As

Amirul mukminin Ali As menafsirkan dan membagi makna wahyu kepada beberapa bagian:

-                      Wahyu yang maknanya sesuai dengan kenabian dan risalah; seperti: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail,… .”[47]

-                      Wahyu yang bermakna ilham; seperti: “Dan Tuhanmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”[48]; dan: “Dan Kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibunya Musa, “Susiilah dia (Musa), dan jika engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil).”[49] Kendatipun inti dari ilham seperti ini adalah dimensi amal, akan tetapi amal ini merupakan suatu amal yang berbasis informasi dan nalar logis. Oleh karena itu, pengetahuan terhadap metode amal dan makrifat terhadap kualitas amal –yang merupakan tipe ilmu– masuk dalam kandungan dari makna ilham tersebut di atas.

-                      Wahyu bermakna isyarat; seperti bunyi ayat: “Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia mewahyukan (memberi isyarat) kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.”[50]

-                      Wahyu bermakna takdir; seperti Firman Tuhan: “Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing.”[51]

-                      Wahyu bermakna ilham ‘azm; seperti: “Dan (ingatlah), ketika Aku wahyukan (ilhamkan) kepada pengikut-pengikut Isa yang setia (Hawariyyun), “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.”[52] Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, wahyu dalam bentuk ini bermakna gerak hati dan ilham mengambil keputusan serta pemberian ‘azm.

-                      Wahyu bermakna membisikkan dan meniupkan tipuan serta dusta: seperti keterangan ayat berikut ini: “…Setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.”[53] Lontaran-lontaran yang mahir, tersembunyi, dan penuh tipuan disebut dengan wahyu setani.    

-                      Wahyu bermakna lontaran iradah dan kehendak melakukan pekerjaan baik; seperti ungkapan ayat: “Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan.”[54] Yakni keputusan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan ‘azm merealisasikan amal-amal kebajikan merupakan misdak nyata dari pewahyuan fi’il (perbuatan) baik.

Di sini perlu kami ingatkan bahwa apa yang menjadi misdak-misdak wahyu pikiran, motivasi, keputusan amal, dan ‘azm amal serta yang meliputi akal teoritis dan akal praktis dari sudut tinjauan hadhrat Ali As, sesuai dengan sebagian nash-nash yang dinukil dari sekh-sekh; dan jika kita tidak membatasi diri pada aspek ini, maka untuk mendapatkan misdak-misdak yang lain dari kalam beliau adalah lebih memungkinkan dari ini; sebagaimana untuk mendapatkan informasi tentang misdak-misdak lain (wahyu)  dari ungkapan dan kalam maksumin As yang lainnya, adalah memungkinkan dan dapat diterima.

 

Pandangan Para Ilmuan Tentang Sumber Wahyu

Sekelompok ilmuan berkeyakinan bahwa sumber wahyu adalah alam di luar kesadaran dan pengetahuan yang dijangkau dan diraih panca indera, dan menurut ungkapan Allamah Tahabathabai: Kesadaran misterius dan rahasia ini, berasal dari alam di luar akal, batin manusia, pikiran, dan kejeniusan manusia. Kendatipun alam di bawah sadar pada proporsinya adalah benar, tetapi jalan nubuwah dan wahyu, bukanlah suatu jalan pikiran, kejeniusan, dan perolehan lewat usaha, akan tetapi adalah pemberian Tuhan, bukan hasil dari upaya manusia.[55]

Sebagian dari ilmuan juga memandang wahyu, lahir dari kejeniusan dan kecerdasan yang luar biasa. Menurut mereka, orang-orang jenius, dengan kejeniusan esensial dan kejiwaannya, memiliki pikiran-pikiran tinggi, baru, dan nalar serta rasionalitas tinggi, dan dari jalan ini mereka berkhidmat kepada masyarakat.      

Sebagian lagi punya pandangan bahwa manusia mempunyai dua kepribadian dan identitas; kepribadian lahiriah yang diatur lewat ruang lingkup lima panca indera dan kepribadian batiniah. Ketika kesadaran-kesadaran lahiriah tidak bekerja, kesadaran-kesadaran batiniah melakukan aktivitas; sebagaimana dalam tidur tabii dan tidur magnetis dapat diperoleh kejadian-kejadian dan hasil-hasil yang ajaib serta asing. Kepribadian batini ini adalah tidak terlihat dan memiliki intensitas kuat serta lemah, dan jika intensitasnya lebih kuat maka manifestasinya lebih besar dan lebih benar.

Berasaskan ini,  maka wahyu menurut mereka adalah pancaran dari dalam diri yang tersembunyi dan manifestasi kesadaran batin para nabi. Oleh karena itu, sesuai pandangan ini, tidak perlu ada malaikat pembawa wahyu dan para nabi tidak diutus dari sisi Tuhan. “Wahyu di sisi mereka tidak lain adalah manifestasi kepribadian batiniah bagi rasul, dan wahyu kesadaran batiniah rasul itu adalah sesuatu yang bermanfaat baginya dan bagi kaumnya yang sezaman dengannya.”[56]

Akan tetapi kita ketahui bahwa: pertama, kata paling awal dan kata paling akhir al-Qur’an, seluruhnya adalah wahyu dan dalam kitab Ilahi ini, makrifat-makrifat, hakikat-hakikat, undang-undang, dan perintah-perintah yang meskipun para jenius dari yang paling pertama dan akhir, paling tinggi dan paling kuat intensitas derajat batinnya, serta orang yang memiliki kekuatan dalam diri yang tersembunyi, mereka semua itu berkumpul dan saling membantu satu sama lain, niscaya tidak akan bisa menghasilkan suatu ungkapan, makrifat, dan hakikat seperti al-Qur’an. Oleh karena itu, dalam hal ini yang benar adalah apa yang dikatakan oleh almarhum Allamah Thabathabai. Kedua, kesucian ruh dari satu sisi dan kecerdasan akal dari sisi lain, ini hanya berada dalam tataran kesiapan sebagai penerima (qâbilî) wahyu, bukan dalam tataran sebagai pelaku (fâ’ilî) wahyu; yakni akal  cerdas dan jiwa suci hadhrat Rasul Saw adalah penerima sempurna (qâbili tâm) dalam mendapatkan wahyu; bukan sumber keluarnya (mashdar) pewahyuan dan sumber tercipta serta keluarnya wahyu. Ketiga, wahyu tasyri’i Tuhan sampai kepada insan kamil (manusia sempurna) dan maksum; namun tidak berarti bahwa wahyu tasyri’i akan dijangkau oleh setiap manusia sempurna dan maksum; sebab: “Allah lebih mengetahui dimana Dia meletakkan risalah-Nya.”[57] Oleh karena itu, nisbah antara rasul tasyri’i dengan kemaksuman adalah umum wa khusus mutlak. Keempat, ketika rasul tasyri’i lebih utama dari manusia sempurna maksum dan mempunyai kekhususan yang tidak dimiliki oleh manusia-manusia sempurna maksum lainnya maka tentu kelebih utamaan rasul tasyri’i dari manusia-manusia ‘ârif (jamaknya urafa) tidak maksum dan juga kelebih utamaannya dari manusia-manusia jenius dan pemikir ahli adalah sangat jelas.

Penjelasan matlab tersebut:

1.                   Ilmu para pemikir dan cendekiawan dalam hikmah (filsafat) dan kalam (teologi) serta disiplin-disiplin ilmu lainnya, berhadapan dengan istinbat dari suatu landasan, kemudian perpindahan dari matlab-matlab (subyek atau tema) menuju ke arah matlab-matlab dan perpindahan kembali mereka (subyek atau tema) dari landasan ke arah matlab-matlab; yakni dari jalan ijtihad dan gerak berpikir (berulang kali).

2.                   Apa yang menjadi saham dari para ilmuan dan cendekiawan dalam disiplin-disiplin ilmu yang beragam adalah mafhum dzihni dan ilmu husuli.

3.                   Apa yang menjadi bagian ilmu para ilmuan, tidak terjaga dan terpelihara dari terpaan kekeliruan, kesalahan, kealpaan, dan semacam itu lainnya; pada saat yang sama saham ilmu manusia sempurna yang mendapatkan wahyu adalah terjaga dari semua perkara tersebut di atas.

4.                   Apa yang menjadi saham para ârif dalam pengetahuan dan ilmu irfan, kendatipun itu adalah ilmu huduri dan bukan ilmu husuli, dan juga meskipun bukan tipe ijtihad mafhumi dan perpindahan dari matlûb kepada mukadimah dan dari mukadimah kepada natijah, akan tetapi terkadang masyhud (yang disaksikan) ‘ârif memiliki mabda setani dan terkadang mabdanya malakuti. Oleh karena itu, terkadang masyhud ‘ârif adalah hak dan terkadang juga adalah batil, dan wasilah untuk menentukan benar dan salahnya serta hak dan batilnya (masyhud) -sesudah keluar dari kondisi keterpesonaan atau ketaksadaran dan kembali kepada keadaan biasa- tidak lain adalah argumen rasional (burhan akli); sementara manusia sempurna maksum, bersih dan suci dari apa yang disebutkan semua itu.

5.                   Apa yang menjadi bagian maksum kâmil (sempurna) dan manusia-manusia suci, kembali pada keindahan dan ornamen-ornamen yang bukan wahyu, dinisbahkan dengan apa yang menjadi saham hadhrat Rasul Saw -selain perbedaan yang kembali pada tasyri’i dan bukan tasyri’i- tidak lain adalah intensitas kuat dan lemah, kepermanenan dan ketemporeran, zuhur dan khifâ, tinggi dan rendah, dan pada akhirnya adalah qurb (kedekatan) dan kejauhan serta dengan perantara dan tidak dengan perantara; sebab apa yang menjadi saham bukan Rasul Saw, adalah mesti dengan perantara shâdir awwal atau zhahir awwal.

Dari sini menjadi jelaslah bahwasanya ketika wahyu Rasul mulia Saw berbeda dengan apa yang menjadi saham maksum-maksum sempurna  maka niscaya apa yang menjadi bagian para ‘ârif dalam syuhud juga adalah jelas berbeda, dan sudah pasti juga berbeda secara sempurna dengan apa yang menjadi bagian para filosof jenius dan teolog ahli.

Singkatnya, jenius zaman yang mana  yang mengalir dari dalam dirinya apa yang terpendam dan manifestasi-manifestasi kesadaran batinnya yang dapat melahirkan karya ilmu dan pengetahuan sebagaimana yang al-Qur’an bawa untuk alam kemanusiaan yang hanya dengan beberapa butir ayatnya telah mampu memberi keamanan, kemantapan, dan kekokohan keyakinan, kepercayaan-kepercayaan sahih, akhlak dan moralitas, undang-undang fikhi dan hukum serta undang-undang kemasyarakatan.

Al-Qur’an (sebagai wahyu tasyri’i), hanya dalam beberapa ayat dari surah al-Isra, telah menyampaikan inti dan substansi dari hikmah teoritis dan hikmah praktis dengan ungkapannya yang sangat bernilai agung seperti ini:

“Jangan sekutukan Tuhan dan hanya Dia yang kamu sembah (tauhid ibadah)  dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jangan sekali-kali menganiaya mereka dan ucapkanlah perkataan yang baik, penuh hormat, tawadhu dan kasih sayang kepada keduanya. Tuhan lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu dari pada kamu. Berbuatlah secara benar dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, dan bantulah orang miskin dan orang yang dalam perjalanan serta dalam seluruh kehidupan janganlah berbuat boros dan kufur nikmat. Jangan membuat tanganmu terbelenggu dan tertutup dan jangan pula terlalu mengulurkannya (yakni tengah-tengah dalam kehidupan; tidak bakhil dan tidak juga berlebihan (isrâf)); kelapangan rezki dan kesempitan rezki hanya di tangan Tuhan.

Jangan kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin; sebab rezki mereka dijamin Tuhan dan sekali-kali jangan kamu dekati perbuatan zina ; sebab zina itu sungguh perbuatan keji dan buruk dan jangan kamu membunuh manusia serta jangan tumpahkan darah orang-orang yang terzalimi, dan selamanya jangan kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara baik dan maslahat. Penuhi dan tepatilah mitsaq atau janji, dan dalam jual beli berlakulah secara benar dan jujur serta setiap sesuatu yang kamu takar maka sempurnakanlah takarannya, bahkan segala sesuatu takarlah dengan takaran yang adil (takaran, timbangan, atau parameter keadilan).

Jangan kamu ikuti segala sesuatu yang kamu tidak punya pengetahuan terhadapnya; sebab pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. Dan selamanya jangan berjalan di bumi ini dengan takabur serta janganlah engkau sombong; karena semua ini adalah keburukan yang dibenci di sisi Tuhan. Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu (Muhammad)”.[58][www.wisdoms4all.com]     

         

 


[1] . Mufradât Râgib, Kata و-ح-ی) )

[2] . Q.S. al-Qasas [26] : 7.

[3] . Q.S. al-Anbiyâ [21] : 73.

[4] . Q.S. al-An’am [6] : 19.

[5] . Q.S. Yusuf [12] : 3.

[6] . Q.S. an-Nisa [4] : 164.

[7] . Q.S. al-Baqarah [2] : 253.

[8] . Q.S. al-An’am [6] : 112.

[9] . Q.S. al-An’am [6] : 121.

[10] . Q.S. al_an’am [6] : 19.

[11] . Q.S. al-A’raf [7] : 27.

[12] . Q.S. ar-Rûm [30] : 10.

[13] . Q.S. al-Kahfi [18] : 103-104.

[14] . Q.S. Fussilat [41] : 11-12.

[15] . Q.S. az-Zilzâl [99] : 1-5.

[16] . Q.S. an-Nahl [16] : 68-69.

[17] . Q.S. al-Mu’minûn [23] : 27.

[18] . Q.S. al-Maidah [5] : 111.

[19] . Q.S. asy-Syu’arâ [26] : 52.

[20] . Q.S. al-A’raf [7] : 160.

[21] . Q.S. al-Qasas [28] : 7.

[22] . Q.S. Yûsuf [12] : 15.

[23] . Q.S. al-Anbiyâ [21] : 73.

[24] . Bihârl Anwâr, Jld. 1, Hal. 116.

[25] . Q.S. asy-Syûrâ [42] : 3.

[26] . Q.S. asy-SYârâ [42] : 51.

[27] . Tafsir Nur Tsaqalain, Jld. 4, Hal. 588.

[28] . Q.S. asy-Syûrâ [42] : 52.

[29] . Q.S. asy-Syu’arâ [26] : 193-194

[30] . Q.S. al-Qasas [28] : 30.

[31] . Q.S. an-Nisa [4] : 163; Tafsir Al-Mizan, Jld. 5, Hal. 73-75.

[32] . Bihârul Anwâr, Jld. 18, Hal. 256.

[33] . Ibid.

[34] . Bihârul Anwâr, Jld. 18, Hal. 270.

[35] . Q.S. as-Sâffât [37] : 102.

[36] . Q.S. as-Sâffât [37] : 105.

[37] . Tafsir Nur ats-Tsaqalain, Jld. 4, Hal. 421.

[38] . Q.S. Yusuf [12] : 4.

[39] . Q.S. Yusuf [12] : 100.

[40] . Q.S. Yusuf [12] : 6.

[41] . Tafsir Al-Mizan, Jld. 11, Hal. 79.

[42] . Q.S. Yusuf [12]: 15.

[43] . Q.S. Al-Fath [48] : 27.

[44] . Q.S. al-Anfal [8] : 12.

[45] . Q.S. at-Tahrîm [66] : 6.

[46] . Q.S. ‘Abasa [80] : 15-16.

[47] . Q.S. an-Nisa [4] : 163.

[48] . Q.S. an-Nahl [16] : 68.

[49] . Q.S. al-Qasas  [28] : 7.

[50] . Q.S. Maryam [19] : 11.

[51] . Q.S. Fussilat [41] : 12.

[52] . Q.S. al-Maidah [5] : 111.

[53] . Q.S. al-An’am [6] : 112.

[54] . Q.S. al-Anbiyâ [21] : 73.

[55] . Allamah Thaba-thabai, Wahyu atau Kesadaran Misterius, Hal. 104.

[56] . Dâiratul Ma’ârif Wajdî, Mâddah Wahyu.

[57] . Q.S. al-An’am [6] : 124.

[58] . Dinukil secara ringkas dan bebas dari Surah al-Isra ayat 23-39.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 136 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: