Posts tagged ‘malaikat jibril’

17 Agustus 2013

SUMBER ILMU

oleh alifbraja
Tafsir Surat Al Alaq Ayat 1-5
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (1) خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ (2) اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ (3) الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ (4) عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ (5)
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan,Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Tentang Turunnya Ayat
Ayat ini adalah ayat yang pertama kali di turunkan kepada Rasulullah saw menurut sebagian besar ulama tafsir. Surat ini diturunkan kepada Nabi saw melalui malaikat Jibril as pada saat nabi sedang berada di gua Hira. Pada awalnya Jibril mengajarkan Nabi saw untuk menghafal lima ayat dari surat ini.

Pendapat ini adalah pendapat yang paling kuat, sebagaimana sebuah hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah ra[1] bahwa wahyu yang pertama ditunjukkan kepada Nabi saw adalah ru’ya shadiqah (mimpi yang benar) datangnya malaikat kepada beliau dan membaca 5 ayat ini.
Pendapat lain mengatakan bahwa yang diturunkan pertama kali adalah surat al mudatsir[2]. Ada pula yang berpendapat bahwa yang pertama kali diturunkan adalah surat al fatihah.[3] Namun menurut as suyuthi[4] pendapat pertamalah yang benar, kemudian beliau mengemukakan alasan-alasannya.
Keutamaan Ayat
Permulaan ayat yang diturunkan kepada Rasulullah saw ini  memberikan dalil bahwa Allah adalah sumber segala sumber ilmu serta  memberikan penilaian tertinggi akan pentingnya membaca dan menulis bagi ummat Islam. Hingga pada saatnya Beliau saw dengan pengajarannya memalingkan wajah kehidupan manusia dari kejahiliyahan khamar, maisir, menumpuk-numpuk harta dengan segala macam cara, dusta dalam berniaga serta syahwat wanita dan kekuasaan kepada kerja besar membangun peradaban dunia yang modern dengan kekuasaan yang berkeadilan, penghormatan akan hak laki-laki dan perempuan, serta kecintaan akan kebaikan yang sesuai fitrah kemanusiaan. Nilai-nilai yang bahkan hingga saat ini menjadi pertanyaan besar bagi budaya materialis yang kering kerontang dari nilai.
Muhammad Abduh[5] menggambarkan dalam tafsirnya betapa pentingnya ayat ini bagi ummat Islam,
فَإنْ لَمْ يَهْتَدُ المُسْلِمُونَ بِهَذَا الهُدَى وَ لَمْ ينبههم النظر فيه الى النهوض الي تمزيق تلك الحجب التى حجبت عن أبصار هم نور العلم و كسر تلك الأبواب التى غلقها عليهم رؤساؤهم و حبسوهم بها في ظلمات من الجهل و إن لم يسترشدوا بفاتحة هذا المكتاب المبين و لم يستضيئوا بهذا لبضياء الساطع فلا أرشدهم الله أبدا
Jika ummat Islam tidak mendapat petunjuk dengan ayat ini dan tidak memperhatikan jalan-jalan untuk maju, merobek segala macam hijab yang menutup penglihatan mereka selama ini terhadap cahaya ilmu pengetahuan atau memecahkan pintu yang selama ini terkunci sehingga mereka terkurung dalam bilik kegelapan, sebab dikunci erat-erat oleh para pemimpin mereka sampai mereka meraba-raba dalam kegelapan kebodohan. Kalau ayat pembukaan wahyu ini tidak menggetarkan hati mereka, niscaya tidaklah mereka akan bangkit (mencapai kejayaan) lagi selama-lamanya.
               
Sumber Ilmu dalam al Qur’an
Berbeda dengan berbagai pemikiran filsafat, Islam menegaskan bahwa Allah adalah sumber ilmu dan kebenaran. Pada ayat-ayat ini Allah menegaskan bahwa dirinya adalah Rabb, pencipta serta pengajar manusia hal-hal yang tidak mereka ketahui.
Allah memerintahkan manusia untuk membaca dengan menyebut nama-Nya. Membaca adalah pembuka cakrawala ilmu pengetahuan. Melalui membaca kegelapan kebodohan akan menjadi terang benderang karena pengetahuan & rahasia-rahasia yang terselubung akan terungkap.
Maha suci Allah yang memerintahkan manusia untuk menyebut nama-Nya ketika membaca, karena Dia lah sumber segala bahan bacaan, Dia lah pencipta semesta. Dengan demikian segala proses membaca — pendekatan, observasi, penelitian dan uji coba —  untuk menjalani kehidupan di dunia adalah karena hakikat yang tak terbantahkan manusia yaitu Allah. Inilah iman, ketika kita meyakini bahwa segala sesuatu bermula, berjalan, tertuju dan kembali kepada-Nya.
Sayyid Quthb berkata,[6]توجه الرسول- صلى الله عليه وسلم- أول ما توجه، في أول لحظة من لحظات اتصاله بالملأ الأعلى، وفي أول خطوة من خطواته في طريق الدعوة التي اختير لها..توجهه إلى أن يقرأ باسم الله” surat ini mengarahkan Rasulullah saw untuk pertama kalinya, pada detik pertama di antara saat-saat hubungannya dengan Sang Penguasa Tertinggi serta pada langkah awal diantara langkah-langkahnya meniti jalan da’wah yang dirinya dipilih untuk mengembannya itu dengan mengarahkannya membaca dengan menyebut nama-Nya.
Inilah awal mula perubahan besar dalam peradaban manusia, pada saatnya kelak sejarah yang menjadi romantisme milik para raja-raja dan bangsawan itu mencatatkan kegemilangan pembangunan peradaban dunia yang modern namun kaya akan nilai-nilai spiritual. Dan itu semua dimulai oleh gerakan yang dipelopori seorang nabi yang ummi dan sekelompok kecil sahabatnya yang miskin dan tertindas pada masa itu. Karena mereka melandasi langkah-langkahnya dengan menyebut nama Allah.
Bacalah dengan menyebut nama Allah, perintah ini mengisyaratkan pula bahwa antara ilmu pengetahuan dan keimanan kepada Allah haruslah seiring.  Dr. Yusuf al Qaradhawi[7] menegaskan pula pandangan ini, bahwa iman adalah pembungkus ilmu “أن العلم في الإسلام إنما هو علم في حضانة الإيمان، فالعلاقة بينهما علاقة التواصل والتلاحم ، لا التقاطع والتنافر ، علاقة التكامل، لا علاقة التعارض.”  Ilmu dalam Islam terbungkus oleh keimanan, hubungan antara keduanya merupakan hubungan langsung dan senyawa, bukan hubungan yang terputus dan terpisah, juga merupakan hubungan yang saling melengkapi dan tidak bertentangan.
Sebagai pencipta segala sesuatu, maka Allah adalah Zat pemilik seluruh pengetahuan tentang ciptaan-Nya. Demikian Sayyid Quthb[8] menegaskan dalam tafsirnya,
والله هو الذي خلق. وهو الذي علم. فمنه البدء والنشأة، ومنه التعليم والمعرفة.. والإنسان يتعلم ما يتعلم، ويعلم ما يعلم.. فمصدر هذا كله هو الله الذي خلق والذي علم.
Dialah Allah yang mencipta dan yang mengajarkan. Dari-Nyalah permulaan dan pertumbuhan. Dari-Nyalah pengajaran dan ilmu pengetahuan. Manusia bisa mempelajari apa yang dipelajarinya dan mengajarkan apa yang diajarkannya, namun sumber semuanya adalah Allah yang menciptakan dan mengajarkan.
Sa’id Hawwa mengutip perkataan al wasithy[9] tentang  makna kalimat rabb yaitu “هو الخالق ابتداءً و المربّي غذاءً و الغافر أنتهاءًRabb adalah Pencipta pada mulanya, Pemelihara setelah itu dan Pengampun pada akhirnya.
Dengan demikian sebagai Pencipta, Pemelihara dan Pengampun, Dialah sumber awal segala ilmu, karena-Nyalah pengetahuan manusia meningkat secara bertahap. Lihatlah bagaimana pemberitahuan Allah atas penglihatan manusia yang terbatas tentang gunung yang disangkanya diam,
وَتَرَى الْجِبَالَ تَحْسَبُهَا جَامِدَةً وَهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَابِ صُنْعَ اللَّهِ الَّذِي أَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ إِنَّهُ خَبِيرٌ بِمَا تَفْعَلُونَ
Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh tiap-tiap sesuatu; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” An naml 88
Demikian pula koreksi Allah atas fatamorgana kehidupan dunia yang menipu yang manusia sangka adalah hakikat,
يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ فَلَا تَغُرَّنَّكُمُ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا وَلَا يَغُرَّنَّكُمْ بِاللَّهِ الْغَرُورُ
Hai manusia, sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syetan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah.” Fathir 5
Karunia Allah atas Manusia
Ayat-ayat ini juga menjelaskan bahwa Allah telah memuliakan manusia dengan berbagai karunia yaitu, menjadikannya ciptaan yang sempurna dan berakal, berlaku lemah lembut serta memuliakannya dengan melimpahkan kepada manusia ilmu pengetahuan.
Al Qurthubi[10] menjelaskan bahwa maksud penyebutan manusia yang diciptakan dari ‘alaqah adalah wujud karunia Allah kepada manusia.  “أَرَادَ أَنْ يُبَيِّنَ قَدْرَ نِعْمَتِهُ عَلَيْهِ، بِأَنْ خَلَقَهُ مِنْ عَلَقَةٍ مَهِينَةٍ، حَتَّى صَارَ بَشَرًا سَوِيًّا، وَعَاقِلًا مميزا” menjelaskan kadar kenikmatan yang diberikan kepada manusia. Dari segumpal darah yang hina, kemudian menjadi manusia yang sempurna, berakal sempurna.
Lebih lanjut al Qurthubi[11] mengutip pendapat al kalby yang menjelaskan bahwa makna kata al akram adalah berasal dari kata al Haliim “الْحَلِيمُ عَنْ جَهْلِ الْعِبَادِ، فَلَمْ يُعَجِّلْ بِعُقُوبَتِهِمْ” yaitu lemah lembut terhadap ketidak tahuan hamba-Nya, hingga mereka tidak disegerakan hukumannya ketika melakukan kesalahan.
Karunia Allah selanjutnya adalah Allah melimpahkan pengetahuan kepada manusia dengan mengajarkan manusia segala yang tidak diketahuinya melalui ilmu penulisan. Al Qurthubi[12] menuliskan dalam tafsirnya tentang keutamaan menulis, “وَلَوْلَا هِيَ مَا اسْتَقَامَتْ أُمُورُ الدِّينِ وَالدُّنْيَا” tidak bisa tidak bahwa segala perkara kehidupan agama dan dunia tegak diatasnya.

Jika membaca merupakan pembuka cakrawala ilmu pengetahuan maka menulis adalah pengunci pengetahuan tersebut agar tidak hilang dan menjadi dasar pengembangan keilmuan selanjutnya. Bahkan ilmu pengetahuan itu akan bertambah-tambah jika di amalkan, sebagaimana sebuah atsar yang diriwayatkan dari Abdul Wahid bin Zaid,[13] ia berkata,”
مَنْ عَمِلَ بِمَا عَلِمَ فَتَحَ اللهُ لَهُ مَا لَا يَعْلَمُ” barang siapa yang mengamalkan ilmunya maka Allah akam bukakan baginya apa-apa yang belum diketahuinya.
Demikianlah ayat-ayat yang diturunkan pertama kali ini merupakan pemberitaan besar akan hakikat Sang Penguasa Tertinggi sebagai sumber ilmu pengetahuan. Ia melimpahkan kasih sayangnya kepada manusia berupa pengajaran ilmu pengetahuan agar mereka selamat menjalani kehidupannya, yang dalam ayat-ayat lain disebutkan sebagai hamba dan khalifah-Nya.
Hasbunallah wa ni’mal wakil


[1] Lihat Al Bukhari : Shahih al Bukhari, Daar Thuuq an Najah, 1422 H, Juz 1, hlm 7 Lihat pula Muslim : Shahih Muslim, Beirut: Daar Ihya at Turats al ‘Arabi, tt, Juz 1, hlm 139.
[2] Lihat  Shahih al Bukhari, Juz 1, hlm 7. Lihat pula Shahih Muslim, Juz 1, hlm 143.
[3] Abu Bakar al Baihaqi: Dalaail an Nubuwwah, Beirut: Daar al Kutub al ‘Ilmiyyah, 1405 H, Juz 2, hlm 156.
[4] Lihat As Suyuthi : al Itqan fi Ulum al Qur’an, al Haiah al Mishriyah al A’mmah lil Kitab, 1394 H, Juz 1, hlm 91-100.
[5] Muhammad Abduh : Tafsir al Qur’an al Karim (juz ‘amma), Mesir : Mathba’atu Mishr, 1341 H, hlm 124.
[6]Sayyid Quthb : Fi Dzilal al Qur’an, Beirut : Daar asy Syuruq, 1412 H, jilid 6, hlm 3938.
[7]Dr. Yusuf al Qaradhawi : al Hayat ar Rabbaniyyah wal ‘Ilm, Qahirah : Maktabah Wahbah, 1416 H, hlm 54.
[8] Fi Dzilal al Qur’an, hlm 3939.
[9] Sa’id Hawwa : al Asas fi Tafsir, Daar as Salam : Yordania, 1405 H, Jilid 1, hlm 41.
[10]Syamsuddin al Qurthubi : al Jami’ li Ahkam al Qur’an, Qahirah : Daar al Kutub al Mishriyyah, 1384 H, Juz 20, hlm 119.
[11] idem
[12]ibid, hlm 120.
[13] Abu Na’im al Ashbahany: Hilyatul Auliya wa Thobaqot al Ashfiya,  Beirut: Daar al Kitab al ‘Araby, 1394 H, juz 6, hlm 163
1 September 2012

KEHIDUPAN KEROHANIAN BERMULA DARI RASULULLAH SAW

oleh alifbraja
Muhammad Al-Amin di Gua Hira’
Di tengah-tengah masyarakat yang penuh dengan bermacam-macam kepincangan itu, dalam dekad pertama kurun ke – 7 Masihi, Muhammad yang bergelar Al-Amin yang sedang meningkat usia empat puluhan sedang dalam keadaan amat tidak puas hati dengan keadaan masyarakatnya yang sedemikian rupa. Baginda sentiasa berfikir dan merenung mencari kebenaran.
Pada suatu malam, baginda mengalami mimpi yang baik “al-Ru’ya al-Salihah” atau “al-Ru’ya al-sadiqah” mimpi yang benar di dalam tidurnya. Sejak itu baginda gemar bersendirian di Gua Hira’, sebuah gua yang terletak kira-kira enam batu ke utara kota Makkah. Baginda bersendirian di gua itu kerana beribadat menurut agama Nabi Ibrahim AS. Dalam hubungan ini Aisyah melaporkan:
Permulaan wahyu berlaku pada Rasulullah s.a.w. ialah mimpi yang baik di dalam tidur. Sesuatu mimpi yang dilihatnya itu pasti datang seperti sinaran subuh. Kemudian selepas itu baginda gemar bersendirian di Gua Hira’ beribadat beberapa malam sebelum kembali kepada keluarga mengambil bekalan baru. Sesudah beberapa malam di Gua Hira’ baginda pulang kepada Khadijah mengambil bekalan sehingga datang kebenaran ketika berada di Gua Hira’ itu.
(Riwayat al-Bukhari , L-Tajrid al-Sarih, hlm.5)
Beberapa tahun sepanjang bulan Ramadhan, baginda pergi ke Gua Hira’, merenung, berfikir dan menunaikan ibadat. Jauh dari masyarakat yang hingar–bingar, bersendirian mencari kebenaran dan keheningan fikiran, mencari kekuatan rohaniah dan kekuatan diri.
Pada suatu ketika sewaktu berada di gua itu, tiba-tiba datang Malaikat Jibril AS dengan rupa yang asal, membawa sehelai kain sutera yang bertulis, terus ia memeluk nabi dengan erat sambil berkata: “Bacalah!” dan dia menjawab: “Aku tidak tahu membaca.” Sekali lagi Jibril memeluknya. Ia menyuruh lagi katanya: “Bacalah!” Muhammad terus bertanya, “Apakah saya akan baca?” Ketika itu Jibril terus membaca firman Allah Taala:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Ia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang paling Pemurah. Yang mengajar dengan perantaraan pena. Ia mengajar manusia apa-apa yang tidak diketahuinya. (Surah al-Alaq :1-5)
Nabi menurut bacaan itu dan Jibril menghilang dirinya dari situ . Ketika itu baginda seolah-olah terasa hatinya sudah tertulis atau terpatri dengan ayat yang dibacanya itu.2
Begitulah peristiwa Rasulullah SAW menerima ayat al-Quran yang pertama dari Malaikat Jibril. Peristiwa ini berlaku pada malam Isnin 17 Ramadhan tahun 41 dari kelahirannya bersamaan 6 Ogos tahun 610 Masihi. Ketika itu baginda meningkat usia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut kiraan tahun Qamariah bersamaan kira-kira 39 tahun 3 bulan 8 hari menurut kiraan Syamsiah.3
Dalam keadaan terkejut dan kehairanan Nabi SAW keluar dari gua itu. Ketika sampai di lembah bukit, baginda terdengar suara dari arah langit, katanya: “Wahai Muhammad! Engkau rasul dan aku Jibril.” Nabi mendongak ke langit kelihatan Jibril dalam rupa seorang lelaki. Baginda tidak berganjak dari tempatnya, tidak ke depan dan tidak ke belakang. Setelah Jibril menghilangkan diri, Nabi segera pulang ke rumah mendapatkan isterinya Khadijah. Dengan perasaan gerun dan terperanjat baginda meletakkan kepalanya di atas paha Khadijah sambil berkata, “Selimutkanlah aku! Selimutkanlah aku!”4
Melihat keadaan yang luar biasa itu, dengan penuh simpati Kahdijah bertanya: “Wahai Abu al-Qasim, ke manakah anda pergi? Saya telah mengantar utusan untuk mencari anda sehingga mereka sampai ke Bandar Makkah dan kini mereka telah pulang.” Setelah agak reda daripada keadaan itu, Nabi menceritakan segala yang telah berlaku. Sebaik sahaja mendengar peristiwa itu, sebagai seorang isteri yang bertanggungjawab, Khadijah cuba menenang dan menguatkan semangat suaminya itu. Kata Khadijah: “Bergembiralah dan tetapkan hati wahai anak pakcik ku! Demi yang diri Khadijah ini di dalam kekuasaan-Nya, ku harap anda dapat menjadi Nabi bagi umat ini.”5 Melihat suaminya dalam keletihan dan terperanjat itu, Khadijah menyelimutkannya sehingga baginda tertidur.
Ketika Nabi sedang tertidur itu Khadijah pergi ke rumah sepupunya Waraqah bin Naufal seorang tua yang buta, beragama Nasrani, menguasai bahasa Ibrani, sangat luas pengetahuan dalam hal-hal agama. Mengetahui kandungan kitab Taurat dan Injil. Setelah mendengar cerita daripada Khadijah, Waraqah berkata: “Quddus, Quddus! Demi yang diri Waraqah di tangan-Nya, kalau engkau mempercayai aku wahai Khadijah, sebenarnya dia telah didatangi al-Namus al-Akbar yang telah datang kepada Nabi Musa. Dia adalah Nabi untuk umat ini.” Katakanlah kepadanya: “Hendaklah tetapkan hati.”6
Khadijah pulang menemui suaminya dan didapati ia masih nyenyak tidur. Tiba-tiba ia menggigil dan sesak nafas sementara peluh membasahi dahinya. Baginda terbangun dari tidurnya itu dan didapati malaikat datang menyampaikan wahyu kepadanya:7
“Wahai orang yang berselimut! Bangunlah , lalu berilah peringatan!Dan Tuhan mu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa tinggalkanlah. Dan jangan engkau memberi(dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak.”
(Surah al-Muddathir: 1-6)
Melihat suaminya yang menggigil-gigil itu, timbul rasa belas kasihan dan simpati di hati Khadijah lalu menyuruhnya tidur kembali untuk berehat. Mendengar suruhan isterinya itu baginda berkata:-
Masa tidur dan berehat sudah habis wahai Khadijah! Jibril telah memerintah aku supaya memberi peringatan kepada manusia dan menyeru mereka kepada Allah dan beribadat kepada-Nya. Tetapi siapakah orangnya yang hendak aku serukan itu? Siapakah yang akan menerima seruan aku itu?8
Kemudian dengan tidak teragak-agak Khadijah terus menyatakan pendiriannya dengan berkata: “Sayalah orang yang mula-mula sekali menyahut seruan Islam. Saya mengaku bahawa anda adalah Nabi dan Pesuruh Allah dan saya beriman kepada Allah.”
Bermulalah babak baru dalam hidup Muhammad. Hidup yang mengubah dunia dari gelap kejahilan kepada cahaya kebenaran dan ilmu. Kehidupan baginda menjadi contoh teladan yang unggul bukan sahaja dalam bidang kehidupan rohani, tetapi dalam pembinaan masyarakat dan negara.
 
Kerohaniaan Dalam Islam
Kehidupan rohaniah dalam Islam bermula sejak zaman Nabi SAW dan baginda sendiri merupakan model yang pertama dan utama dalam mengamalkan rohaniah dalam kehidupan sehari-hari. Amalan baginda dicontohi dan diikuti para sahabat yang kemudiannya diteruskan pula oleh para Tabi’in dan Tabi’at Tabi’in dan berterusan sampai ke hari ini dan masa-masa yang akan datang. Perjuangan dan amalan rohaniah Baginda SAW merupakan ikutan utama bagi setiap Muslim yang ingin mencapai ketinggian rohaniah.
Rasulullah dan para sahabatnya, di samping berjuang di medan perang kerana menegakkan agama Allah, mereka juga berjuang meningkatkan rohaniah, hidup zuhud, tidak mementingkan kebendaan dunia, pangkat kebesaran dan kemasyhuran diri. Mereka sebaliknya dengan penuh prihatin dan kesedaran menumpukan sepenuh hati kepada Allah, berusaha meningkatkan mujahadah al-nafs melawan hawa nafsu dan godaan syaitan. Di samping itu tidak pula lalai daripada tanggungjawab dakwah menegakkan amar maaruf dan nahi munkar. Semua tanggungjawab ini adalah semata-mata kerana Allah demi mencapai keredhaan-Nya.
Dengan iman yang kental dan keyakinan yang padu, mereka tidak ragu-ragu memikul tanggungjawab sebagai hamba Allah, menunaikan hak-hak fizikal dan juga tuntutan-tuntutan rohaniah sehingga berjaya mencapai ketinggian rohaniah dan kehidupan yang sempurna selaras dengan ajaran-ajaran dan tuntutan Islam yang sebenar. Mereka telah memperimbangkan antara tuntutan dunia dan tuntutan akhirat, antara jasmaniah dan rohaniah. Dengan menggabung-jalinkan antara dua aspek ini barulah terbina kehidupan yang dikehendaki Islam.
Cara hidup Rasulullah SAW dan para sahabat Ridwanullahi Alaihim dengan penumpuan beribadat, hidup zuhud, hidup secara kasar (taqasysyuf), mujahadah al-nafs, berjihad pada jalan Allah, semuanya itu merupakan benih pertama kehidupan rohaniah Islamiah. Kemudian benih ini tumbuh dan berkembang subur melahirkan sistem rohaniah yang mempunyai kaedah-kaedah dan cara-cara yang tertentu, menjadi amalan para tabi’in dan amalan umat Islam yang kemudiannya. Mereka mengambil berat menjalankan urusan agama, tidak lalai dan tidak terpengaruh dengan kehidupan dunia yang sementara ini.
Sirah Rasulullah SAW sebelum baginda dibangkitkan menjadi Rasul sebagaimana yang telah dijelaskan dalam bahagian yang lepas, baginda berhari-hari bersendirian di Gua Hira, merenung memikirkan tentang keindahan alam, tentang keadaan masyarakat, tentang kekuasaan dan keagungan Maha Pencipta, mencari ketenangan dan keheningan jiwa, semuanya ini merupakan jalan rohaniah, jalan menyuci jiwa daripada kekotoran dan gangguan keduniaan untuk menuju insan kamil.
Untuk mencapai ketinggian dan kemurniaan rohaniah itu, seseorang itu memerlukan disiplin diri yang kuat, menjalani riadah dan mujahadah, melaksanakan amalan-amalan syariat dengan penuh kesedaran sehingga akhirnya terbentuklah kehidupan rohaniah yang murni, bersih daripada gangguan-gangguan hawa nafsu, rasa tamakkan dunia, tidak berasa takut dan ragu dalam menjalani hidup di dunia ini.
Berjuang meningkatkan ketinggian rohaniah dengan membersihkan jiwa daripada daki-daki dunia merupakan satu usaha dan ikhtiar untuk membaiki diri setakat yang mampu oleh manusia. Tujuannya supaya benar-benar menjadi abid, seorang insan yang beruntung, yang mencapai kejayaan hakiki menurut penilaian Islam, beruntung dan berjaya di dunia dan akhirat.
Dalam kehidupan dunia ini, biasanya manusia kalah kepada hawa nafsu apabila berhadapan dengan kebendaan dan pangkat kebesaran dan tawaran-tawaran kesenangan walaupun kadang-kadang jalan-jalan memperolehinya itu tidak bersih dan salah. Apabila seseorang itu kalah dalam menghadapi gejala-gejala tersebut, nilai dirinya telah jatuh ke tahap yang paling rendah, ia tidak lagi mempunyai harga diri dan terlalu hina pada pandangan Allah Taala.
Biasanya pengaruh kebendaan inilah yang memutuskan hubungan hamba dengan Tuhannya. Ia merupakan penghalang bagi seseorang daripada mencapai kebersihan kerohaniaan, menjadikan manusia leka dalam hidup ini dan akhirnya terjerumus dalam kesesatan, kegelapan dan kehinaan.
Kehidupan rohaniah menurut Islam bukan sahaja bertujuan menggilap hati sejernih mungkin, tetapi juga membawa manusia kepada keinsafan diri, mengenali diri sendiri dan mengenali akan alam sarwajagat yang tersusun indah, rapi dan menakjubkan ini. Semakin tajam keprihatinan diri terhadap alam ini, semakin jauh jangkauan mata hati, perasaan hati dan pandangan hidup meneroka alam metafizik yang penuh rahsia, penuh misteri ini.
Ayat-ayat Al-Quran begitu banyak menganjurkan manusia supaya merenung berfikir dan menyelidik terhadap alam semesta ini. Bagi orang yang berfikir, orang yang bermata hati, semua penjuru alam ini menimbulkan kesedaran bahawa di sebalik alam nyata yang indah dan terbentang luas wujud satu kuasa Yang Maha Agung, Maha Sempurna, Dialah Al-Khaliq. Apabila kesedaran ini telah bertakhta di hati, perasaan diri akan lebih tertumpu ke arah Yang Maha Agung itu sehingga timbul perasaan rindu, perasaan ingin mengenali dan mendampingi-Nya. Justeru itu, mulailah ia berusaha mencari jalan untuk makrifatullah dengan sebenar-benarnya. Sesudah dapat mencapai makrifatullah, keimanan akan bertambah kukuh, keyakinan terhadap kebesaran dan kekuasaan-Nya semakin kuat dan rasa tauhid bertambah mendalam, tiada lagi ragu-ragu, itulah tauhid ahlullah. Terangkat hijab dan terserlah baginya berbagai-bagai rahsia alam ghaib.
Apabila seseorang itu telah mencapai tahap kerohaniaan yang tinggi, mengenali hakikat hidup yang sebenar, keduniaan ini tidak lagi menjadi tumpuan hidup yang utama. Nilai kebendaan dan kebesaran pangkat pula tidak lagi menjadi tumpuan hidup dan tidak lagi menduduki tempat yang teratas dalam pandangannya. Dia sudah mempunyai pegangan dan pandangan hidup yang tersendiri. Dia sedar hidup di dunia ini hanya sementara sahaja. Dia yakin, di sebalik hidup di dunia ini ada lagi hidup yang lebih tinggi dan lebih bererti, hidup kekal abadi, hidup di dalam rahmat Allah bagi mereka yang telah menyuci jiwanya. Sebaliknya pula, hidup dalam kesengsaraan yang amat parah bagi mereka yang hanya bergelumang dengan keduniaan.
Setelah mengenali yang hak dan yang batil, ia beriltizam di atas yang hak. Kaya atau miskin, senang atau susah, mulia ataupun hina, tinggi ataupun rendah, istana atau pun teratak, semuanya tidak penting dalam hidupnya. Yang penting ialah menghabiskan sia-sia hidup sementara ini dalam kebenaran. Kalau Allah memberi kesenangan, kemewahan, kekayaan, ia bersyukur, dan ia membelanjakannya untuk jalan agama Allah. Jika sebaliknya, ia juga bersyukur dan bersabar. Ia terus berusaha dan bersabar beristiqamah dalam keredaan Allah walaupun terpaksa menempuh ujian dan kesusahan.
Dengan pandangan ini, ia terus bertekun meningkatkan ta’abbudnya kepada Allah, menjadi seorang abid yang bersikap warak, zuhud, taqasysyuf, bertawakal dan reda. Inilah sikap hidup yang dipelopori baginda Rasulullah SAW, dicontohi para sahabat, menjadi ikutan generasi Muslim yang kemudian. Inilah juga cara hidup para nabi yang terdahulu, para wali, orang-orang salihin, dan orang-orang sufi.
Kehidupan rohaniah sebagaimana yang tersebut di atas adalah tuntutan syariat Allah, bukannya rekaan manusia. Ia adalah intisari bagi agama Samawi, telah dipraktikkan para nabi dan abid yang telah sempurna kemuncak keagungannya dalam agama Islam, bertitik tolak daripada ajaran al-Quran dan as-Sunnah.
Kehidupan rohaniah Islamiah sebagaimana yang telah digambarkan di atas itu terus berkembang di kalangan generasi Islam peringkat permulaan itu dengan keadaan bersih dan murni. Tetapi setelah Islam berkembang luas, penganut bertambah ramai terdiri daripada pelbagai bangsa yang selama ini telah mempunyai kepercayaan, amalan, adat istiadat, kebudayaan dan cara hidup yang tersendiri, mulailah kehidupan itu bercampur dengan pelbagai unsur. Ada yang bersifat falsafah, kebudayaan, kepercayaan dan sebagainya. Unsur-unsur itu telah memberi kesan dan pengaruh yang besar kepada kehidupan orang-orang Islam. Antara unsur itu ada yang sesuai dengan Islam dan ada pula yang menyeleweng.
Oleh yang demikian apabila hendak melibatkan diri dalam kehidupan rohaniah, kita kenalah berhati-hati memilih guru atau syeikh mursyid yang muktabar agar kita tidak terjerumus dalam ajaran sesat yang bertopengkan ilmu tasawuf. Perlu diingat sejak zaman-zaman kebelakangan ini, terdapat banyak ajaran sesat berkembang di dalam masyarakat kita yang dibawa oleh orang-orang jahil yang mendakwa diri mereka sebagai ahli tasawuf padahal mereka bukan ahli tasawuf.
 
Ibadat Rasulullah SAW
Dalam huraian di atas dinyatakan bahawa kehidupan Rasulullah merupakan contoh teladan bagi para sahabat dan kemudiannya diikuti pula oleh generasi yang kemudian Rasulullah SAW dalam kehidupannya telah melaksanakan kedua-dua tuntutan, duniawi dan ukhrawi. Baginda tidak meninggalkan dunia kerana menumpukan amal ibadat untuk hidup akhirat. Beliau adalah sebagai panglima perang, ketua negara yang berkecimpung dalam masyarakat kerana membina ummah, sebagai suami dan sebagai ayah yang bertanggungjawab membina keluarga dan rumahtangga bahagia. Dalam kesibukan menjalankan tugas dan tanggungjawab tersebut, baginda juga merupakan seorang abid yang tekun menunaikan ibadat, bangun menunaikan solat tahajud dan membaca Al-Quran setiap malam, beristighfar kepada Allah sekurang-kurangnya 70 kali atau 100 kali setiap hari.9
Baginda menunaikan solat fardu berjemaah di masjidnya. Ditambah pula dengan sunat rawatibnya, lapan rakaat ditunaikan solat dhuha setiap hari. Solat ditunaikan dengan khusyuk, penuh sempurna memakan masa yang panjang, malah meliputi dua pertiga malam menunaikan solat. Auf bin Malik menceritakan: “Pada suatu malam saya bersama Rasulullah SAW. Baginda bangun lalu bersugi. Selepas itu baginda menunaikan solat. Saya bangun besertanya. Baginda menunaikan solat dengan membaca surah Al-Baqarah. Bila bertemu ayat rahmat, baginda berhenti lalu berdoa. Bila bertemu ayat azab, ia berhenti lalu memohon perlindungan. Kemudian barulah rukuk. Lama sekali rukuknya itu. Dalam rukuknya itu baginda membaca:
سبحان ذى الملكوت والعظمة والجبروت
‘Maha suci Tuhan Yang mempunyai kerajaan dan keagungan serta kekuatan.’
Kemudian bangun dan sujud, dibacanya yang demikian. Pada rakaat yang kedua dibacanya surah Ali Imran, kemudian dibacanya surah demi surah dilakukannya seperti itu juga.10
Mengambarkan keadaan ibadat Rasulullah SAW, Ummu Mu’minin Saiyidatina Aisyah menerangkan bahawa baginda menunaikan solat malam sampai bengkak kedua kakinya. Lantaran itu Aisyah RA berkata: “Wahai Rasulullah! Kerana apa lagi tuan lakukan sampai begini, sedangkan Allah telah mengampuni dosa tuan yang telah lalu mahupun yang akan datang?” Jawab baginda: “Tidakkah baik aku menjadi seorang hamba yang penuh bersyukur?”11
Rasulullah SAW sering menangis takutkan Allah. Sensitiviti hatinya begitu terasa dan tajam. Justeru itu apabila berdoa kepada Allah baginda sering menggeletar, menadah tangan dengan penuh khusyuk dan tadarruk terutamanya pada malam-malam hari selepas menunaikan solat pada waktu sahur, pada waktu pagi dan juga pada waktu petang. Baginda pernah bersabda maksudnya: “Demi Allah, jika kamu mengetahui apa yang aku ketahui, tentulah kamu berebut-rebut hendak pergi ke kubur.”
Ata’ menceritakan bahawa beliau dan Ubaid bin Umair pernah pergi ke rumah Aisyah RA bertanyakan hal-hal yang menakjubkan pada Rasulullah SAW. Aisyah yang berada di balik tabir itu tiba-tiba menangis sambil berkata: “Perkara-perkara yang berlaku pada Rasulullah SAW semuanya menakjubkan. Pada satu malam giliran saya, baginda datang menghampiri saya sehingga bersentuhan kulit. Baginda bersabda: aku hendak menumpukan ibadat kepada Tuhanku, Allah Taala’. Baginda pun pergi ke tempat air mengambil wuduk. Baginda berdiri menunaikan solat. Kemudian menangis sehingga basah janggutnya. Kemudian sujud. Selepas itu baginda terbaring di atas lambungnya. Kemudian datang Bilal kerana azan Subuh. Bilal bertanya: ‘Apa sebab tuan menangis sedangkan Allah telah mengampuni dosa tuan yang lalu dan yang akan datang?’ Jawab baginda: ‘Wahai Bilal, betapa tidak aku menangis kerana pada malam ini Allah telah menurunkan ayat:
“Sesungguhnya dalam kejadian langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (Ali Imran: 190)
Kemudian baginda bersabda: ‘Celakalah bagi mereka yang membaca ayat ini, tetapi tidak memikirkan tentangnya.’12
Dalam penumpuan rohaniah ini, pernah terjadi Rasulullah SAW putus hubungan dengan alam nyata ini, terputus dengan keadaan sekelililngnya walaupun tubuh kasarnya berada di alam nyata ini. Pada suatu ketika baginda berada seorang diri, tiba-tiba Aisyah isterinya masuk ke tempat baginda. Bila baginda sedar Aisyah masuk terus bertanya:
“Siapa engkau?”
“Saya Aisyah.” Jawab Aisyah.
“Siapa Aisyah?” Tanya baginda lagi.
“Aisyah anak al-Siddiq.”
“Siapa al-Siddiq itu?”
“Mentua Muhammad,” tegas Aisyah.
Ketika baginda bertanya: “Siapa Muhammad?” Aisyah tidak berkata apa-apa kerana dia sudah mengetahui, Nabi SAW sedang berada dalam keadaan yang luar biasa, lebih ke alam rohani daripada alam maddi. Jika riwayat ini sahih, kata Muhammad Mustafa Hilmi, suasana rohaniah yang luar biasa juga boleh berlaku pada orang-orang yang sufi.13
Dalam melaksanakan tuntutan rohaniah ini, seseorang itu jangan sampai mengabaikan tanggungjawab terhadap tuntutan jasmaniah dirinya. Kedua-duanya hendaklah dilaksanakan, sama-sama diberi perhatian yang sebaik-baiknya. Pada zaman Rasulullah SAW pernah tiga orang sahabat datang ke rumah isteri-isteri Rasulullah SAW bertanyakan tentang ibadat baginda. Setelah mereka diberitahu, mereka merasakan bahawa ibadat tersebut masih terlalu sedikit. Lalu mereka pun berkata: “ Di manlah kita ini jika dibandingkan dengan Rasulullah SAW sedangkan baginda diampuni dosa-dosanya yang telah lalu dan yang akan datang?” salah seorang daripada mereka berkata: “Tentang saya, saya akan solat malam selama-lamanya.” Yang kedua berkata: “saya akan berpuasa sepanjang tahun dan tidak akan berbuka.” Yang ketiga pula berkata: “saya akan menjauhkan diri daripada perempuan dan tidak akan kahwin selama-lamanya.” Apabila Raulullah SAW bertemu mereka, baginda bertanya: “Kamukah yang berkata begini, begini? Sesungguhnya demi Allah, saya adalah orang yang paling takut dan bertakwa kepada-Nya, tetapi saya berpuasa dan berbuka. Saya mendirikan solat dan tidur dan saya juga berkahwin. Sesiapa yang tidak sukakan sunnahku, dia bukan daripada golonganku.” (Riwayat Al-Bukhari)
Ramai para sahabat melaksanakan tuntutan rohaniah dengan memperbanyakkan ibadat kepada Allah. Sikap ini pula dicontohi oleh generasi tabi’in. dalam perkembangan rohaniah Islam ini, semua tatahidup para sahabat itu dapat dianggap sebagia benih pertama yang kemudiannya tumbuh dan berkembang merendang mengeluarkan buah-buahan yang lazat rasanya, dinikmati dalam kehidupan para tabi’in dan generasi-generasi kemudian yang mengutamakan agama dalam hidup dunia ini.
Dalam peringkat permulaan ini, istilah “tasawwuf” dan “sufi” belum lagi wujud dalam sejarah umat Islam. Ia mula dikenali pada kurun ke-2 Hijrah. Orang-orang yang mula-mula sekali dipanggil sufi ialah Abu Hasyim al-Kufi yang meninggalkan dunia pada tahun 162.
 
Perkembangan Kehidupan Rohaniah
Kehidupan rohaniah Islamiah yang bermula dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW sebagaimana yang tersebut dalam bahagian yang lepas, dicontohi dan diamalkan oleh para sahabat dalam kehidupan mereka. Sebagaimana Nabi turun ke medan perang berjihad menegakkan agama Allah, para sahabat dan generasi yang kemudiannya juga turut melaksanakan tuntutan tersebut. Akhirnya mereka berjaya menegakkan pemerintahan Islam, mengalahkan dua kerajaan besar pada masa itu iaitu Rom dan Parsi. Di samping meneruskan jihad di medan perang, mereka juga meneruskan jihad al-nafs, melawan hawa nafsu dan godaan syaitan.
Sejarah menunjukkan sikap hidup yang bersepadu, yang dipelopori Rasulullah SAW dan para rasul yang terdahulu itu, dalam kehidupan sahabat-sahabat besar baginda, Abu Bakr, Umar, Uthman dan Ali. Sahabat-sahabat utama seperti Bilal Al-Habsyi, Salman Al-Farisi, Suhaib Al-Rumi, Ubai Ibn Ka’ab, Tamim Al-Dari, Abu Dzar Al-Ghiffari, Huzaifah Ibn al-Yaman, Mus’ab ibn Umair dan ramai lagi sahabat lain turut mempraktikkan sistem hidup Rasulullah SAW itu. Mereka menumpukan amal ibadat (taabud), bersikap zuhud (tazahhud), hidup taqasysyuf (hidup secara kasar), mujahad al-nafs dan sebagainya.14
Semuanya tatahidup mereka itu merupakan benih pertama rohaniah yang kemudiannya tumbuh dan berkembang membina institusi kehidupan rohaniah yang besar, menerbitkan buah-buahan yang lazat, dinikmati dalam kehidupan para tabi’in dan generasi yang kemudiannya.
Dalam kurun pertama hijrah ini, istilah sufi dan tasawwuf belum lagi dikenal dalam sejarah kehidupan rohaniah Islamiah. Dalam peringkat ini ahli-ahli ibadat dipanggil dengan berbagai-bagai gelaran. Antaranya ialah:
Nussak: Kata jamak bagi perkataan nasik iaitu orang-orang yang memberi penumpuan untuk beribadat kepada Allah.
Ubbad: Kata jamak bagi perkataan abid iaitu orang-orang yang banyak beribadat, mengabdikan diri semata-mata kepada Allah.
Zuhhad: Kata jamak bagi perkatan zahid yang diambil daripada perkataan zuhud iaitu orang-orang yang tidak mementingkan dunia, harta benda, kemegahan, kebesaran dan sebagainya.
Bakka’un: Kata jamak bagi perkataan bakka’ yang bermaksud orang-orang yang banyak menangis kerana mengenangkan amalan ibadat kalau-kalau tidak diterima Allah atau pun kerana mengenangkan hari Akhirat.
Walaupun nama-nama ini berlainan sebutan zahirnya, tetapi semuanya membawa pengertian yang sama iaitu sangat-sangat prihatin terhadap urusan agama, sedikit perhatian terhadap dunia. Kehidupan mereka lebih banyak menunaikan ibadat, banyak berzikir, merenung, bertafakkur mengenangkan keagungan dan kekuasaan Allah, peka terhadap Allah dan penuh bertawakal kepada-Nya.
Antara tokoh rohaniah dalam peringkat ini ialah Uwais bin Amir Al-Qarani, Amir bin Abdullah bin Abd Qais al-Basri, Masyruq bin Abdurrahman al-Kufi, al-Rabi’ bin Khaitham, Haram bin Hayyan, Hasan bin Abu al-Hasan Abu Sai’d al-Basri dan lain-lain. Cara hidup mereka meninggalkan kesan yang besar dalam pertumbuhan kerohanian Islam masa-masa berikutnya.15
Dalam kurun pertama dan kedua Hijrah, peraturan-peraturan yang merupakan kaedah-kaedah umum untuk dijadikan pegangan dalam melaksanakan kehidupan rohaniah atau kaedah-kaedah yang perlu diikuti dalam menjalani latihan rohaniah belum lagi wujud dengan teratur. Malah setiap individu menjalankan kehidupan rohaniah menurut citarasa sendiri. Walaubagaimanapun, masing-masing berusaha menuju ke arah ketinggian rohaniah dan kebersihan jiwa. Ahli-ahli ibadat, nasik, zahid, dan sebagainya itu berusaha membersih dan membebaskan diri daripada gangguan-gangguan duniawi yang boleh menyekat perkembangan rohaniah seseorang itu. Matlamat mereka ialah mencapai keredaan Allah, matlamat tertinggi bagi setiap orang.
Dalam peringkat ini, golongan nussak, dan zuhhud itu secara umumnya terbahagi kepada dua aliran iaitu:
1.Aliran Kufah
2.Aliran Basrah
Kedua-dua aliran ini sangat-sangat mengambil berat tentang ilmu-ilmu Islam dengan mempelajari ilmu fekah, hadis, ilmu al-kalam dan ilmu-ilmu bahasa. Di samping kegiatan ilmiah itu, mereka juga giat menjalani latihan rohaniah, menjalani riadah hati, mujahadah al-nafs dan mengawal hawa nafsu.16
Selain daripada dua aliran yang berpusat di dua buah kota itu golongan al-zuhhad, ubbad dan nussak juga telah muncul di kawasan-kawasan lain umpamanya Khurasan di mana munculnya Ibrahim bin Adham (m. 161H) dan muridnya Syaqiq al-Balkhi (m. 194H). Kedua-duanya merupakan tokoh terkenal dalam sejarah kehidupan rohaniah Islamiah.17
 
Tasawwuf dan Tareqat
Daripada kegiatan rohaniah sebagaimana yang telah dijelaskan itulah kemudiannya terbentuk institusi tasawwuf. Pada permulaan abad ketiga ia telah tersebar luas dan mendapat sambutan yang baik daripada masyarakat. Baghdad, pusat pemerintahan kerajaan Abbasiyyah pada masa itu merupakan pusat kegiatan ilmiah yang begitu pesat. Kegiatan tasawwuf amat subur di kota ini. Sesuai dengan kemajuan dan pertumbuhan ilmiah itu, orang ramai kian terpaut kepada kesenangan dan kemewahan duniawi. Justeru keruntuhan akhlak mulai melanda masyarakat Islam.
Untuk menghadapi gejala-gejala negatif itu, alim ulama’ meningkatkan kegiatan mereka, menyedarkan masyarakat, berusaha menarik mereka ke arah memperbaiki akhlak dan ketinggian budi pekerti. Kegiatan tasawwuf bertambah luas dan memegang peranan penting dalam usaha pembentukan rohaniah dan akhlak masyarakat. Baghdad sebagai pusat kegiatan tasawwuf mengatasi tempat-tempat lain. Dari Baghdad, tasawwuf terus berkembang sampai ke Parsi. Sebagaimana Baghdad, tanah Parsi juga merupakan kawasan yang subur bagi institusi tasawwuf. Pada peringkat ini tasawwuf telah berkembang sampai ke Mesir, Syam dan Jazirah Arab.
Semenjak abad ketiga, tasawwuf mulai teratur, terbentuk peraturan-peraturan, kaedah-kaedah yang tersusun sebagai satu ilmu dan istilah-istilahnya juga sudah tercipta. Masa abad ke-4 ia telah merupakan satu cabang ilmu yang telah mantap, mempunyai bidang dan pendekatannya yang tersendiri. Istilah-istilah seperti al-‘Isya, al-Mahabbah, al-qurb, al-haqiqah, maqamat, ahwal dan lain-lain sudah meluas digunakan.
Institusi tasawwuf tumbuh dengan meluas di bawah bimbingan syaikh-syaikh tasawwuf yang berwibawa yang mempunyai murid yang ramai. Dari institusi inilah kemudiannya terbentuk tareqat-tareqat dengan cara dan pendekatan masing-masing. Keseimbangan antara kegiatan ilmiah dan amalan inilah yang meletakkan tasawwuf pada tahap kecemerlangan, dan inilah yang perlu kita contohi pada hari ini.
Bermula dari kurun ke 7 dan seterusnya, tareqat telah berkembang luas dan tumbuh di seluruh alam Islami. Tareqat-tareqat itu walaupun mempunyai sistem, cara dan kaedah yang berlainan antara satu sama lain, tetapi semuanya mempunyai matlamat yang sama iaitu mendekatkan diri kepada Allah, membersihkan jiwa, meningkatkan rohaniah untuk mencapai keredhaan dan ma’rifatullah. Hasil daripada pertumbuhan dan kegiatan sebagaimana yang tersebut itu akhirnya terbentuklah institusi tareqat yang diberi nama menurut nama shaikh masing-masing. Tareqat-tareqat mu’tabar sebagaimana yang disenaraikan Abu Bakar Aceh antaranya ialah:
1. Qadiriyyah
2. Jalutiyyah
3. Usyaqiyyah
4. Syattariyyah
5. Naqsybandiyyah
6. Bakdasiyyah
7. Bakriyyah
8. ‘Aidrusiyah
9. Syadhiliyyah
10.Ghazaliyyah
11.Bayumiyyah
12.Sunbuliyyah
13.Rifa’iyyah
14.Rumiyyah
15.Uthmaniyyah
16.Anfasiyyah
17.Dusuqiyyah
18.Jastiyyah
19.Aliyyah
20.Sammaniyyah
21.Akbariyyah
22.Sya’baniyyah
23.Abbasiyyah
24.Sanusiyyah
25.Maulawiyyah
26.Kaisaniyyah
27.Haddadiyyah
28.Idrisiyyah
29.Kubrawiyyah
30.Hamzawiyyah
31.Maghribiyyah
32.Badawiyyah
33.Suhrawardiyyah
34.Tijaniyyah
35.Ghaibiyyah
36.Ahmadiyyah
37.Khalwatiyyah
38.Alawiyyah
39.Hadriyyah
Antara tareqat yang tersebar luas dan mempunyai pengikut atau ikhwan yang ramai di Malaysia ialah Tareqat Naqsybandiyyah dan Tareqat Ahmadiyyah. Justeru itu, ada yang tidak bertanggungjawab mengambil kesempatan bergerak sebagai kumpulan tareqat dan mendakwa kumpulannya sebagai Tareqat Naqsybandiyyah atau Tareqat Ahmadiyah pada hal sebenarnya bukanlah tareqat tersebut. Oleh itu diingatkan kepada sesiapa yang ingin mengikut mana-mana tareqat pastikan ianya tareqat yang sebenar, bukanlah tareqat tiruan yang membawa ajaran sesat.
 
Mengenali Syeikh Mursyid
Dalam menyelusuri khazanah sufistik ini, perlu juga kita mengetahui ciri-ciri seorang shaikh yang merupakan tonggak utama dalam institusi tareqat sufiyyah. Ini kerana di tangannya terletak teraju bagi sesebuah tareqat sama ada berada di atas landasan yang lurus ataupun sebaliknya. Masalah mursyid inilah yang perlu diberi perhatian oleh setiap orang yang ingin melibatkan dirinya dalam kegiatan rohaniah. Wujudnya ajaran-ajaran sesat yang bergerak cergas adalah berpunca daripada mursyid tiruan yang mendakwa dirinya sebagai pemimpin rohaniah, pada hal dia bukanlah mursyid menurut kriteria tareqat sufiyyah yang sebenarnya. Gerakan yang dipimpinnya itu dilabelkan dengan mana-mana sama tareqat yang mu’tabar bertujuan untuk mengabui mata orang ramai, untuk meraih sokongan dan kepentingan diri sendiri. Dengan sikapnya yang tidak bertangggungjawab itu, dia telah mencemarkan ajaran-ajaran tareqat yang asli yang telah lama beroperasi dan diterima pakai dalam masyarakat alam Islami.
Untuk kebaikan peminat-peninat rohaniah, kita menyeru agar mereka berhati-hati dan berwaspada dalam memilih institusi rohaniah yang hendak disertainya itu. Seseoraang itu hendaklah lebih dahulu meneliti latar belakang institusi yang hendak diceburinya itu dan sekaligus pula cuba mengenali latar belakang pemimpinnya, apakah dia seorang yang berwibawa dalam bidang Akidah Islamiyah, bidang Syariah dan benar-benar menguasai ilmu rohaniah. Ini boleh dicapai dengan merujuk kepada alim ulama’ dan institusi–institusi agama yang diakui menpunyai authoriti dalam bidang keagamaan.
Dalam peringkat ini rasanya perlu kita mengetahui apakah ciri-ciri mursyid yang layak untuk menjadi pemimpin rohaniah itu? Dalam hubungan ini al-Imam al-Ghazali menegaskan,
katanya: “Seseorang salik atau pengembara rohaniah itu memerlukan seseorang syaikh mursyid murabbi untuk mengeluarkan sifat-sifat negatif daripada salik tersebut dengan bimbingan dan didikannya, dan digantikannya dengan sifat–sifat positif.” Seterusnya kata Imam Ghazali lagi, didikan atau tarbiah itu serupalah dengan kerja peladang yang mencabut duri-duri dan mengeluarkan tumbuh-tumbuhan asing dari celah–celah tanaman supaya ia tumbuh dengan baik dan sempurna kesuburannya. Bagi seseorang salik, kata al-Imam al-Ghazali, dia mesti syaikh yang melatih dirinya dan menunjuknya ke arah jalan Allah Taala. Ini kerana Allah Taala telah mengutus untuk hamba–hambanya seorang rasul yang bertugas memandu hamba-hambanya itu kejalan Allah; dan apabila Rasulullah SAW sudah tidak ada lagi, para Khulafa’ ar-Rasyidun pula mengambil tempatnya itu, sehingga mereka pula bertugas menunjuk orang ramai kepada jalan Allah Taala.
Syarat seorang syeikh yang layak menjadi pengganti Rasullullah SAW itu, kata Al Imam Al-Ghazali, pertamanya dia mesti seorang yang alim. Tetapi tidak semua orang alim layak menerajui kepimpinan ini. Di sini, kata Al-Imam Al-Ghazali, diterangkan secara ringkas cirinya agar tidak semua orang boleh mendakwa dirinya sebagai mursyid. Antara ciri-ciri itu ialah:
•Dia tidak mencintai dunia dan kemegahannya.
•Dia sendiri telah mengikuti bimbingan seorang mursyid yang berwibawa yang berkesinambungan sampai kepada junjungan kita penghulu rasul-rasul SAW.
•Beliau amat baik dalam riyadhah dirinya, tidak banyak makan, tidak banyak bercakap dan tidak banyak tidur, sebaliknya banyak mengerjakan solat, bersedekah dan puasa.
Dengan mengikut syaikh yang berwibawa seperti itu, jadilah akhlak yang baik itu sirah perjalanan hidupnya seperti bersifat sabar, mengerjakan solat, bersyukur, bertawakal, yakin, qana’ah, tenang, lemah-lembut, tawadhu’, bersopan-santun, berhati-hati, berhemat-cermat dan sebagainya. Jadilah dia sebagai cahaya daripada cahaya-cahaya nabi SAW, dan dia layak diikuti. Tetapi wujudnya tokoh yang seperti ini jarang sekali dan lebih sukar daripada mendapati belerang merah. Walaupun bagaimanapun, kata Al-Imam Al-Ghazali, mana-mana orang yang terdorong untuk beroleh kebahagiaan, dia akan bertemu denagn shaikh yang mempunyai ciri-ciri dan kriteria sebagaimana yang tersebut itu.
Sifat-sifat mursyid yang dibentangkan al-Imam al-Ghazali itu dapat kita jadikan sebagai kayu pengukur atau neraca untuk memilih syaikh atau mursyid, atau guru rohaniah yang benar-benar boleh dipercayai dan boleh diikuti. Dengan demikian, seseorang itu akan terhindar daripada terperangkap dalam kegiatan ajaran-ajaran sesat.
 
11 Agustus 2012

AL-QURAN & MODERNISASI

oleh alifbraja

Titik simpul pertautan Alquran dengan modernisasi terletak pada penggunaan akal pikiran manusia. Baik Alquran maupun modernisasi sangat mengagungkan akal pemikiran atau dimensi rasionalitas.

Perbedaannya, kalau modernisasi mengagungkan akal pikiran secara absolut sedangkan dalam Alquran akal pikiran itu memperoleh bimbingan wahyu.

Modernisasi adalah sebuah era tercapainya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat penting untuk diapresiasi oleh seluaruh umat manusia, khususnya umat Islam. Dalam modernisasi, yang sangat penting adalah bagaimana melakukan transformasi ilmu pengetahuan modern guna menalar Alquran secara historis. Dengan lain perkataan, memahami Alquran secara historis, korelasinya dengan perubahan sosial kehidupan yang sangat cepat di era globalisasi dan modernitas dewasa ini memiliki signifikansi yang sangat penting.

Dimensi historis ini tidak bisa diabaikan. Tujuannya agar manusia, khususnya umat Islam, tidak terjebak pada kongklusi-kongklusi parsial dan apologi-apologi. Alquaran memiliki karakteristik yang sangat khas dan berbeda dibandingkan dengan dokumen lain yang merupakan hasil kreasi umat manusia. Pendek kata, Alquran memiliki dimensi historis, ruang, dan waktu yang berbeda. Oleh karena itu, bacaan kita terhadap Alquran membutuhkan pengetahuan yang bersifat interdispliner. Apalagi, kalau kita berupaya untuk menghubungkan atau mencari korelasi antara Alquran dan modernisasi. Tidaklah mudah mencari pertautan antara keduanya.

Secara epistemologis, Alquran merupakan kalam Ilahi yang diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Salah satu fungsinya sebagai petunjuk bagi umat manusia, hudan li al-Nas dan orang-orang yang bertakwa (QS Al-Baqarah/2: 1-2, 185), terutama untuk mengetahui dan membedakan antara yang baik dan yang buruk. Oleh karena itu, sebagai petunjuk dan secara ontologis Alquran hanya bersifat global. Konsekuensi logisnya, jika ada persoalan kehidupan yang penjelasannya tidak ditemukan di dalam Alquran maka tugas manusia itu sendiri untuk mencari jawabannya. Dengan lain perkataan, Alquran hanya memberi landasan-landasan moral atau petunjuk yang bersifat global.

Secara historis Alquran turun untuk merespons berbagai problematika sosial kehidupan yang terjadi di dalam masyarakat Arab saat itu, memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepada Nabi atau memberi ketetapan hukum sebagai doktrin teologis yang harus ditaati. Sementara proses turunnya, sebagaimana dalam riwayat Ibnu Abbas yang dikutip Al-Sayuti dalam Al-Itqan fi Ulum Al-Quran, melalui dua tahapan: turun secara serentak di lauh al-mahfudz menuju langit bumi dan secara bertahap selama kurang lebih 23 tahun.

Di antara hikmah turunnya Alquran secara bertahap ini agar materi hukum Tuhan itu dapat diterapkan secara evolutif sesuai dengan kondisi objektif sosio-kultural masyarakat. Pada sisi yang lain, secara teknis materi Alquran akan lebih mudah dipahami, dihafalkan, maupun proses penerapan hukum-hukumnya akan lebih mudah untuk diterima. Inilah argumen logis bahwa Tuhan, dalam konsep Islam, tidak menghendaki sesuatu yang menyulitkan kehidupan umat manusia (QS Al-Baqarah/2: 185).

Perlu dicatat bahwa mengubah perilaku atau tradisi sosial yang sudah mapan itu tidak mudah. Seperti untuk menghapus sistem perekonomian yang eksploitatif dengan sistem riba misalnya paling tidak dibutuhkan tiga ayat untuk menjelaskan, yaitu: QS Al-Nisa/4:160-161, QS Al-Imran/3: 130 dan QS Al-Rum/30:39). Demikian halnya dengan tradisi minuman keras. Untuk menghapus tradisi ini, Alquran melibatkan empat ayat, yaitu: QS Al-Nahl/16:67, QS Al-Nisa/4:43, QS Al-Baqarah/2:219 dan QS Al-Maidah/5:90-91). Artinya, meskipun Alquran tidak menjelaskan secara detail tentang sistem-sistem sosial kehidupan, seperti mekanisme politik, ekonomi, sosial budaya, dan lain sebagainya, tidak secara otomatis sistem-sistem sosial kemasyarakatan itu tidak ada di dalam Alquran. Justru inilah satu entry point penting Alquran yang memberi rangsangan berkembangnya kecerdasan intelektualitas atau terciptanya dinamika sosial kehidupan. Dengan terbatasnya ayat-ayat yang mengatur mekanisme sosial berarti Tuhan memberi peluang kepada akal pikiran manusia untuk mengatur dan menentukan model-model relasi sosial kehidupannya yang lebih luas sesuai dengan perkembangan sosio-kultural dan peradabannya.

Pendek kata, Alquran bukanlah dokumen yang sarat dengan detail-detail hukum sosial melainkan sebuah buku yang mengandung prinsip-prinsip dasar dan moralitas kemanusiaan universal. Penting penulis tegaskan bahwa semakin banyak hukum absolut yang mengatur pola kehidupan, maka ritme peradaban manusia akan menjadi sangat kaku dan statis. Stagnanasi peradaban ini sangat dimungkinkan apabila doktrin teologis menjadi sangat taken for granted.

Dalam perspektif ini, siapapun, sesungguhnya tidak bisa mengklaim bahwa Alquran merupakan sumber segalanya, apalagi mengatakan sarat dengan teori-teori sains (science theory). Menurut penelitian para ahli, ayat Alquran yang berbicara tentang sains hanya sekitar 150 ayat. Menurut pandangan ini, ayat-ayat tersebut secara paradigmatik tidak cukup untuk dijadikan dasar pemikiran bahwa Alquran merupakan kitab yang sarat dengan teori sains, apalagi teknologi modern yang di dalamnya sarat dengan detail-detail. Lebih tepat, jika dikatakan bahwa Alquran itu mengandung motivasi atau prinsip-prinsip moral yang bersifat normatif untuk melakukan aktivitas sains dan teknologi.

Pertautan Alquran dengan modernisasi
Titik simpul pertautan Alquran dengan modernisasi terletak pada penggunaan akal pikiran manusia. Baik Alquran maupun modernisasi sangat mengagungkan akal pemikiran atau dimensi rasionalitas. Perbedaannya, kalau modernisasi mengagungkan akal pikiran secara absolut sedangkan dalam Alquran akal pikiran itu memperoleh bimbingan wahyu.

Menurut Alex Inkeles (1986:90-93), manusia dapat dikategorikan sebagai modern, jika bersedia menerima dan terbuka terhadap pembaharuan atau perubahan, mampu bersikap demokratis dan bersedia menerima bentuk keragaman realitas sosial yang niscaya. Pandangan hidup masyarakat modern senantiasa difokuskan pada masa kini dan masa depan, memiliki perencanaan hidup, menjunjung tinggi kemampuan manusia, dapat memperhitungkan waktu bahwa proses kehidupan ini ditentukan bukan karena nasib.

Di samping itu, orang atau masyarakat modern memiliki harga diri dan bersedia untuk menghargai orang lain, percaya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi, serta memiliki prinsip keadilan. Kategorisasi manusia modern dalam pandangan Alex ini tanpa menafikan pandangan yang lain sejatinya memiliki kesesuaian dengan prinsip-prinsip kehidupan yang terkandung di dalam Alquran.

Akan tetapi, umat Islam sendiri terkesan sangat lamban dalam merespons permasalahan-permasalahan kontemporer dan tidak jarang terjebak pada pemikiran-pemikiran simplistis yang bersifat apologi. Memang, persoalan umum yang terus dirasakan umat Islam, paling tidak di kalangan kaum intelektualnya adalah fenomena tidak singkronnya antara Islam sebagai doktrin dan prilaku umat dalam realitas sosialnya. Fenomena inilah yang melahirkan modernisme di dalam dunia Islam.

Islam modernis mencoba melihat kembali persoalan-persoalan yang dihadapi umat dan bersikap apresiatif terhadap kamajuan yang dicapai dunia Barat, seperti semangat untuk mengembangkan rasionalitas, kerja keras, cinta terhadap sains dan ilmu pengetahuan, dan lain sebagainya yang merupakan kata kunci kemajuan masyarakat Barat selama ini. Fazlur Rahman dalam Islam: Past Influence and Present Challenge (1979:315-125) mengkategorikan gerakan pemikiran Islam menjadi revivalisme awal, neo-revivalisme, modernisme klasik, dan neo-modernisme.

Pertanyaannya, mengapa umat Islam terkesan tidak akomodatif dan bahkan antipati terhadap pola hidup dan pemikiran-pemikiran Barat, tentu saja pemikiran positif yang tidak bertentangan dengan prinsip dasar Islam? Padahal, semangat inilah yang pernah mengantarkan kemajuan dunia Islam pada abad pertengahan, ketika masyarakat Barat masih terbelakang.

Namun demikian, kita harus tetap optimistis untuk masa yang akan datang karena kaum Islam modernis tampak semakin apresiatif terhadap perkembangan modernisasi dan masyarakat secara umum mulai banyak yang berpendidikan. Meminjam penjelasan Alex Inkeles (1986:91), semakin tinggi pendidikan seseorang, maka akan semakin terbuka lebar kemungkinan negaranya menjadi maju di masa depan. Pendidikan merupakan salah satu elemen faktor yang memberi angin segar bagi proses perubahan dan perkembangan menuju terciptanya masyarakat yang civilized.

16 Juli 2012

Misteri Maryam

oleh alifbraja

misteri Maryam masih sangat langka dibahas. Kitab-kitab Tafsir pun jarang menyingkap lebih jauh siapa sesungguhnya Maryam.

Padahal, di dalam Alquran, Maryam dijadikan sebagai sebuah nama surah dengan 98 ayat. Maryam lebih banyak dijelaskan sebagai ibunda Nabi Isa AS—nabi yang lahir tanpa bapak.

Peristiwa hamilnya Maryam tanpa pernah disentuh laki-laki cenderung diselesaikan dengan menyerahkan kepada kemahakuasaan Allah SWT, padahal ada sejumlah ayat menyatakan proses dan peran malaikat Jibril, seperti:

“Maka ia mengadakan tabir (yang melindunginya) dari mereka; lalu Kami mengutus roh Kami kepadanya, maka ia menjelma di hadapannya (dalam bentuk) manusia yang sempurna. Maryam berkata, “Sesungguhnya aku berlindung daripadamu kepada Tuhan Yang Mahapemurah, jika kamu seorang yang bertakwa.” (QS. Maryam: 17-19).

Dalam tulisan ini tidak akan dikaji sudut pandang biologis Maryam dengan proses dan peran Jibril yang kemudian melahirkan Nabi Isa, akan tetapi tulisan ini akan mengkaji sudut pandangan esoteris kehadiran Maryam yang kemudian melahirkan Nabi Isa As.

Dalam pandangan esoteris, Maryam merupakan simbol orisinalitas kesucian (the original holiness) kebalikannya Hawa yang merupakan simbol orisinalitas dosa (the original sin). Maryam dan Hawa simbol dari sepasang karakter feminin.

Hawa menjadi simbol kejatuhan anak manusia ke bumi kehinaan dan Maryam menjadi simbol kenaikan anak manusia ke langit kesucian. Karena Hawa menggoda suaminya, Adam, maka anak manusia jatuh ke lembah kehinaan dan karena sang perawan suci Maryam melahirkan Nabi Isa, maka manusia diangkat kembali ke langit, kampung halaman pertama manusia.

Di dalam tradisi Talmud Babilonia, semacam kitab tafsir Taurat (Perjanjian Lama), Hawa dinyatakan sebagai penyebab dari segala sumber kehinaan dan malapetaka kemanusiaan sebagaimana dinyatakan dalam Kitab Eruvin pasal 100 b. Akibat kekeliruan dilakukan Hawa/Maria maka kaum perempuan dinyatakan menanggung 10 macam kutukan, yaitu:

  1. Perempuan mengalami siklus menstruasi, yang sebelumnya Hawa tidak pernah mengalaminya di surga.
  2. Perempuan yang pertama kali melakukan persetubuhan mengalami rasa sakit.
  3. Perempuan mengalami penderitaan dalam mengasuh dan memelihara anak-anaknya. Anak-anak membutuhkan perawatan, pakaian, kebersihan, dan pengasuhan sampai dewasa. Ibu merasa risi manakala pertumbuhan anak-anaknya tidak seperti yang diharapkan.
  4. Perempuan merasa malu terhadap tubuhnya sendiri.
  5. Perempuan merasa tidak leluasa bergerak ketika kandungannya berumur tua.
  6. Perempuan merasa sakit pada waktu melahirkan.
  7. Perempuan tidak boleh mengawini lebih dari satu laki-laki.
  8. Perempuan masih ingin merasakan hubungan seks lebih lama sementara suaminya sudah tidak kuat lagi.
  9. Perempuan sangat berhasrat melakukan hubungan seks terhadap suaminya, tetapi amat berat menyampaikan hasrat itu kepadanya.
  10. Perempuan lebih suka tinggal di rumah.

Bandingkan juga dengan Kitab Kejadian [3]: 15 yang sering dianggap sebagai the protoevangelium:

“Dan Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dan perempuan ini, antara keturunanmu (benihmu) dan keturunannya (benihnya); keturunannya (benihnya) akan meremukkan kepalamu, dan engkau akan meremukkan tumitnya.”

Kalangan teolog Kristen sering mempertentangkan atau memperhadap-hadapkan antara figur Hawa dan Maryam, namun ada juga yang menganggap Hawa dan Maryam adalah sepasang perawan yang saling melengkapi.

Jika Hawa yang muncul dari Adam menjadi simbol kejatuhan manusia, maka Maria perawan suci yang melahirkan Nabi Isa adalah simbol kemenangan dan keterangkatan manusia ke langit atas.

Melalui simbol kesucian dan kasih sayang Maryam, maka manusia akan menguasai dosa yang diwariskan oleh simbol Hawa, sang pembawa bencana dengan kekuatannya sebagai penggoda (tempter).
Dalam literatur kekristenan dijelaskan bahwa perempuan yang dimaksudkan di sini adalah Hawa yang telah tergoda dengan ular atau setan tersebut, dan akhirnya telah melanggar perintah Tuhan.

Ayat-ayat dalam Alkitab di atas cenderung memojokkan agama Kristen di mata kaum feminis, namun kaum feminis juga paham bahwa agama dan produk nilai-nilai kepercayaan luhur tidak selamanya saling menguntungkan dengan tidak mengindahkan sertifikat.

Wacana Hawa-Maryam seperti ini mengingatkan kita pada konsep Maya dalam perspektif agama Hindu yang dilukiskan sebagai “Divine Principle” yang berakar dari ketidakterbatasan Tuhan. Ia adalah “penyebab” Esensi Ilahiyah memancar keluar dari Diri-Nya ke dalam manifestasi. Maya adalah Hawa dan juga sekaligus Maryam.

Ia merupakan simbol perempuan penggoda (seductive) tetapi sekaligus dan perempuan membebaskan (pneumatic). Ia ”descendent” (an-nuzuli) tetapi sekaligus “ascendant” (al-su’udi). Ia mengasingkan (al-fariq) tetapi sekaligus menyatukan kembali (al-jam’).

Ia menghijab agar bisa berjuang memanifestasikan segala potensialitas Kebaikan Agung (the Supreme Good), tetapi juga menyingkapkan-Nya, agar ia memanifestasikan kebaikan yang lebih baik.

Berbagai akibat yang lahir dan muncul dari dosa Hawa, akan tetapi kesucian dan kemuliaan Maryam secara total akan menghapuskan dosa Hawa. Hawa dalam sudut pandang seperti ini, eksistensi dan puncak keilahian, tidak akan ada ambiguitas lagi, dan kejahatan (evil) akan menjadi terhapus“.

Pada puncaknya, apa pun selain dari al-Asl al-Ilahi (the Divine Principle) hanyalah “penampilan”; hanya Al-Haq yang benar-benar riil, dan maka itu Hawa secara tak terbatas telah dimaafkan dan mendapat kemenangan dalam Maryam.

Hubungan antara dua aspek feminin ini tidak hanya sebuah hubungan resiprokal di mana dosa Hawa dalam konteks proyeksi kosmogonis untuk bergerak ke arah ketiadaan yang menyebabkan Maya terlihat ambigu, tetapi ambiguitas ini adalah relatif. Ia sama sekali jauh dari kesimetrisan, keadaan ini tidak akan mengotori Maryam. Bahkan, Maryam akan secara total menghapuskan dosa Hawa.

Dalam Islam tidak dirinci secara eksplisit fungsi dan peran Hawa dan Maryam. Kita hanya menemukan dalam Alquran bahwa Hawa adalah figur personal yang lahir dari badan Adam tanpa ibu. Sedangkan Maryam adalah figur personal yang lahir dari pasangan lengkap ayah dan ibu lalu ia melahirkan seorang putra (Nabi Isa AS) yang hanya punya ibu tanpa bapak. Contoh-contoh ini tentu ada hikmahnya dalam dunia kemanusiaan.

12 Juli 2012

Penggambaran wujud bidadari dalam Islam

oleh alifbraja
  1. Penggambaran wujud
    bidadari dalam Islam
    –Riwayat Ibnu Abbas
    r.a :
    Rasulullah Muhammad
    SAW bersabda,
    “Sesungguhnya di dalam
    surga itu terdapat
    bidadari-bidadari.
    Dikatakan kepadanya,
    namanya ‘Aina’, ia
    diciptakan dari empat
    unsur, yaitu : misik, kafur,
    anbar, dan za’faran.
    Seluruh bidadari-bidadari
    itu sangat merindukan
    suami-suami mereka.
    Andai sekali saja bidadari-
    bidadari itu meludah di
    dunia maka tawarlah
    lautan tersebut lantaran
    ludahnya. Tertulis pada
    tengkuknya:”Barangsiapa
    yang suka akan dirinya
    seperti aku, maka beramal
    dengan ketaatan kepada
    Tuhannya”
    –Riwayat Ibnu Mas’ud
    r.a :
    Rasulullah Muhammad
    SAW bersabda,
    “Sesungguhnya ketika
    ALLAH menciptakan surga
    ‘Adn, Dia memanggil
    malaikat Jibril,
    berangkatlah engkau ke
    surga ‘Adn dan lihatlah
    apa yang telah aku
    ciptakan untuk hamba-
    hambaKu dan wali-waliKu.
    Maka berangkatlah Jibril
    ke surga ‘Adn dan
    mengelilingi surga
    tersebut. Maka salah
    seorang bidadari dari
    penghuni istana-istana
    surga yang masih perawan
    dan matanya bersinar-
    sinar memuliakannya, lalu
    bidadari itu tersenyum
    pada malaikat Jibril, maka
    menjadi teranglah surga
    ‘Adn karena gigi-giginya.
    Lalu malaikat Jibril
    bersujud, ia menyangka
    cahaya itu berasal dari
    Nur Tuhan Yang Maha
    Mulia. Maka bidadari itu
    memanggil malaikat Jibril,
    “Wahai makhluk yang
    dipercaya ALLAH SWT,
    tahukah engkau untuk
    siapa aku diciptakan?”
    ucap bidadari jelita itu.
    “Tidak,” jawab malaikat
    Jibril. “Sesungguhnya aku
    ini diciptakan oleh ALLAH
    SWT untuk orang yang
    memilih ridha ALLAH SWT
    dari pada mengumbar
    hawa nafsunya,” ungkap
    bidadari itu.”
    –Di dalam kitab Daqoiqul
    Akbar Fii Dzikril Jannati
    Wan-Nar karya Imam
    Abdirrahim bin Ahmad Al-
    Qadhiy disebutkan :
    Rasulullah Muhammad
    SAW bersabda, “ALLAH
    SWT menciptakan wajah
    bidadari dari empat
    warna, yaitu putih, hijau,
    kuning, dan merah. ALLAH
    menciptakan tubuhnya
    dari minyak Za’faran,
    misik, anbar, dan kafur.
    Rambutnya dari sutra
    yang halus. Mulai dari jari-
    jari kakinya sampai ke
    lututnya dari Za’faran dan
    wewangian. Dari lutut
    sampai payudara dari
    misik. Dari payudara
    sampai lehernya dari
    Anbar, Dan dari leher
    sampai kepalanya terbuat
    dari Kafur. Seandainya
    bidadari itu meludah
    sekali di dunia, maka
    jadilah semua air di dunia
    Kasturi.
    Di dadanya
    tertulis nama suaminya
    dan nama-nama ALLAH
    SWT. Pada setiap tangan
    dari kedua tangannya
    terdapat sepuluh gelang
    dari emas, sedangkan
    pada jari-jarinya terdapat
    sepuluh cincin, dan pada
    kedua kakinya terdapat
    sepuluh binggal(gelang
    kaki) dari Jauhar dan
    permata.”
    Nah, para lelaki…ingin ga
    bidadari surga? Ber-amal-
    lah dengan ketaatan
    kepada ALLAH, memilih
    ridha ALLAH dari pada
    mengumbar hawa
    nafsunya.
5 Juli 2012

Isra Mi’raj-Rasulullah SAW

oleh alifbraja

Isra Mi’raj-Rasulullah SAW Kelangit Yang Paling Tinggi

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Anas Ibnu Malik bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Didatangkan untukku Buraq yang merupakan hewan putih, panjangnya diatas himar dan dibawah bagal, kukunya berada di akhir ujungnya. Beliau bersabda, `Aku segera menunggainya hingga tiba di Baitul Maqdis.’ Beliau bersabda, `Lalu ia mengikatnya dengan tali (rantai) yang biasa dipakai oleh para nabi untuk mengikat.’ Beliau melanjutkan, `Kemudian aku memasuki masjid (Baitul Maqdis) dan mendirikan shalat dua rakaat. Setelah itu, aku keluar. Lalu Malaikat Jibril a.s. mendatangiku dan menyodorkan dua buah gelas yang satu berisi khamar dan lainnya berisi susu. Aku memilih gelas yang berisi susu dan Jibril a.s. berkata, `Engkau telah memilih kesucian.’

Kemudian ia naik bersamaku ke langit yang pertama. Jibril meminta dibukakan pintu. Lalu (malaikat penjaga langit pertama) bertanya, `Siapakah kamu.’ Jibril a.s. menjawab, `Jibril.’ Kemudian ia ditanya lagi, `Siapakah yang besertamu?’ Jibril a.s. menjawab, `Muhammad.’ Malaikat itu bertanya, `Apakah kamu diutus?’ Jibril menjawab, `Ya, aku diutus.’ Lalu pintu langit dibukakan untuk kami. Ternyata aku bertemu dengan Nabi Adam a.s. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Setelah itu Jibril a.s. naik bersamaku kelangit yang kedua dan meminta dibukakan pintu. Lalu pintu langit kedua dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan dua putra paman Isa bin Maryam dan Yahya bin Zakaria a.s., keduanya menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik bersamaku ke langit yang ketiga dan meminta dibukakan pintu langit ketiga. Lalu pintu langit ketiga dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Yusuf a.s. yang telah dianugerahi sebagian nikmat ketampanan. Ia menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Kemudian Jibril a.s. naik bersamaku kelangit keempat dan meminta dibukakan pintu langit keempat. Lalu pintu langit keempat dibukakan untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Idris a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan. Allah SWT berfirman, `Dan Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.’

Setelah itu Jibril a.s. kembali naik bersamaku kelangit yang kelima dan meminta dibukakan pintu langit kelima. Lalu ia membukakan pintu langit yang kelima untuk kami, Di sana aku bertemu dengan Harun a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Malaikat Jibril a.s. kembali naik bersamaku ke langit yang keenam dan meminta dibukakan pintu untuk kami. Lalu ia membukakan pintu keenam untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Musa a.s. yang menyambutku dan mendoakanku dengan kebaikan.

Lalu Jibril a.s. naik lagi bersamaku ke langit yang ketujuh dan meminta dibukakan pintu langit ketujuh. Kemudian malaikat penjaga pintu langit ketujuh membukakan pintu untuk kami. Di sana aku bertemu dengan Ibrahim a.s. yang menyandarkan punggungnya ke Baitul Ma’mur yang setiap harinya dimasuki oleh tujuh puluh ribu malaikat dan tidak kembali kepadanya -sebelum menyelesaikan urusannya.

Setelah itu, ia pergi bersamaku ke Sidratul Muntaha. Ternyata, daun-daunnya sebesar kuping gajah dan buah-buahannya menyerupai buah anggur. Begitu perintah Allah SWT menyelubunginya dan menyelubungi apa-apa yang akan diselubungi, ia segera berubah. Tidak ada seorang makhluk Allah pun yang mampu menyifati keindahan dan keelokannya. Lalu Allah Maha Agung mewahyukan apa-apa yang akan diwahyukan-Nya kepadaku dan mewajibkanku untuk mendirikan shalat lima puluh kali setiap hari sehari semalam. Setelah itu, aku turun menemui Musa a.s.. Ia bertanya kepadaku, `Apakah gerangan yang telah diwajibkan Allah SWT atas umatmu.’ Aku menjawab,’ Mendirikan shalat sebanyak lima puluh kali.’ Kemudian ia berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah kepada-Nya keringanan. Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan itu. Sesungguhnya aku telah berpengalaman mencobanya kepada Bani Israel.’ Beliau melanjutkan sabdanya, `Kemudian aku kembali kepada Rabb-ku dan memohon, `Wahai Rabb, berikanlah keringan untuk umatku.’ Dan Ia mengurangi menjadi lima kali. Setelah itu, aku kembali menemui Musa a.s. dan kukatakan kepadanya, `Ia telah mengurangi menjadi lima kali.’ Namun Musa a.s. kembali berkata, `Sesungguhnya umatmu tidak memiliki kemampuan untuk melakukan hal itu. Karena itu kembalilah kepada Rabb-mu dan mohonlah keringanan.’ Lalu aku bolak-balik bertemu antara Rabb-ku Yang Maha Tinggi dengan Musa a.s.. Lalu Dia berfirman, `Wahai Muhammad, sesungguhnya kelima shalat itu dilaksanakan setiap sehari semalam. Setiap shalat dihitung sepuluh yang berarti berjumlah lima puluh shalat. Barang siapa yang ingin melakukan suatu kebaikan kemudian tidak melaksanakannya, maka Ku-tuliskan untuknya satu kebaikan. Dan jika ia mengerjakannya, maka Ku-tuliskan untuknya sepuluh kebaikan. Barangsiapa ingin melakukan kejelekan kemudian tidak melakukannya, maka Aku tidak menulis apa-apa padanya. Dan jika ia mengerjakannya, maka Aku menuliskannya satu kejelekan.’ Beliau kembali melanjutkan sabdanya, `Lalu aku turun hingga sampai kepada Musa a.s. dan memberitahukan hal tersebut. Musa a.s. berkata, `Kembalilah kepada Rabb-mu dan memohonlah keringanan.’ Saat itu Rasulullah saw. bersabda, `Aku katakan kepadanya, `Aku telah berulang kali kembali kepada Rabb-ku hingga aku merasa malu kepada-Nya.'”

29 Juni 2012

101 Ilmuwan dan Tokoh Sains Muslim Yang Dilupakan Dunia

oleh alifbraja

Allah SWT menurunkan wahyu kepada nabi Muhammad melalui malaikat Jibril dengan berkata “Iqra!”, pada ayat pertama di dalam Al-Qur’an. Iqra bukan hanya berarti“bacalah”, namun juga berarti “belajarlah”.

 

Begitu Maha Segalanya Allah SWT, hingga menurunkan satu kalimat pertama dalam wahyu-Nya yang ternyata mempunyai arti dan makna yang sangat berguna sekali bagi kelangsungan kehidupan manusia Bumi dikemudian hari.

 

*****

 

Bagaimana mungkin seorang Muhammad membaca? Beliau adalah seorang buta huruf. Beliau bukan seorang ilmuwan. Beliau bukanlah seorang pengarang. Dan, Al-Qur’an tidak diwahyukan secara berurutan. Namun sesuai kejadian-kejadian yang dialami oleh beliau.

 

 

Selama diwahyukan , Al-Qur’an tidak diturunkan berdasarkan ayat demi ayat yang berurutan, selalu acak, beda surah, beda ayat, beda kota, beda keadaan. Kemudian dihafalkannya beserta semua sahabatnya agar tidak saling lupa. Namun ketika tiap ayat di Al-Qur’an yang telah diwahyukan tersebut disusun, ternyata menjadi beraturan!

 

Itulah salah satu kitab Ilahi yang sempurna, mukzizat yang tiada duanya karena tidak hanya dapat dinikmati oleh Rasul dan kaum di zamannya, namun oleh segenap umatnya hingga akhir zaman (for all mindkind).

 

*****

 

Di dalam Islam, ada tiga pilar yang harus dikerjakan untuk menjadi manusia yang selalu bertaqwa dan berbudaya dengan baik. Yaitu, percaya kepada Allah, menggali ilmu(ilm), dan mencintai sesama manusia.

 

SCIENCE IS FUN..!

Islam sering kali diberikan gambaran oleh orang-orang dan golongan yang tidak pernah mengenalnya sebagai agama yang mundur dan memundurkan.

 

Islam juga dikatakan tidak pernah menggalakkan umatnya untuk menuntut dan menguasai pelbagai lapangan ilmu pengetahhuan.

 

Kenyataan dan gambaran yang diberikan itu bukan saja tidak benar tetapi justru bertentangan dengan hakikat sejarah yang sebenarnya.

 

Sejarah adalah fakta, dan fakta adalah sejarah. Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan banyak golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam berbagai bidang keilmuwan.

 

Pada masa lalu dan memang sudah ajaran Islam, bahwa jika seseorang menemukan alat atau apapun yang belum ada manusia yang menciptakannya, maka wajiblah baginya untuk menyebarkan hasil temuannya itu.

 

Menyebarkannya kepada umat manusia agar mereka semakin dapat mempermudah pekerjaannya dan menjadikan mereka semakin bersyukur kepada Allah.

 

Mereka tidak menuntut satu apapun, termasuk “hak paten” atau “upeti” lainnya akibat temuannya tersebut.

 

Dan dari orang-orang baratlah ilmu-ilmu itu kemudian dicuri, lalu dipatenkan atas nama mereka masing-masing untuk mencari keuntungan. Banyak sekali penemuan-penemuan dari kebudayaan Islam yang tak tercatat sejarah.

 

Misalkan, diantaranya adalah keilmuwan dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, pengobatan, astronomi dan sebagainya.

Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekedar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, tetapi mereka juga menguasai keilmuwan tersebut dalam masa yang singkat dan dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara bersamaan.

 

Inilah 101 Ilmuwan dan Tokoh Sains Muslim Yang Dilupakan Dunia

 

Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 – 930. Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925. Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar. Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit “alergi asma”, dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri. Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.

Abu Ali Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham atau Ibnu Haitham (Basra,965 – Kairo 1039), dikenal dalam kalangan cerdik pandai di Barat, dengan nama Alhazen, adalah seorang ilmuwan Islam yang ahli dalam bidang sains, falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Ia banyak pula melakukan penyelidikan mengenai cahaya, dan telah memberikan ilham kepada ahli sains barat seperti Boger, Bacon, dan Kepler dalam menciptakan mikroskop serta teleskop. Bidang lain: Physics,Optics, Mathematics.

Abu Musa Jabir bin Hayyan / Jabir Ibnu Hayyan

Orang-orang Eropa menamakannya Gebert, ia hidup antara tahun 721-815 M. Dia adalah seorang tokoh Islam yang mempelajari dan mengembangkan dunia Islam yang pertama. Ilmu tersebut kemudian berkembang dan kita mengenal sebagai ilmu kimia. Bidang keahliannya, (dimana dia mengadakan peneltian) adalah bidang : Logika, Filosofi, Kedokteran, Fisika, Mekanika, dan sebagainya.

 

 

Abu Yusuf Yacub Ibnu Ishak Al-Kindi

Dalam dunia barat dia dikenal dengan nama Al-Kindus. Memang sudah menjadi semacam adat kebiasaan orang barat pada masa lalu dengan melatinkan nama-nama orang terkemuka, sehingga kadang-kadang orang tidak mengetahui apakah orang tersebut muslim atau bukan. Tetapi para sejarawan kita sendiri maupun barat mengetahui dari buku-buku yang ditinggalkan bahwa mereka adalah orang Islam, karena karya orisinil mereka dapat diketahui dalam bentuk tulisan ilmiah mereka sendiri. Al Khindi ahli adalah ilmuwan ensiklopedi, pengarang 270 buku, ahli matematika, fisika, musik, kedokteran, farmasi, geografi, ahli filsafat Arab dan Yunani kuno.

 

Al-Kindi adalah seorang filosof muslim dan ilmuwan sedang bidang disiplin ilmunya adalah: Filosofi, Matematika, Logika, Musik, Ilmu Kedokteran.

 

Abul Hakam Umar bin Abdurrahman bin Ahmad bin Ali Al-Kirmani adalah cendekiawan besar abad ke-12 dari Kordoba, Al-Andalus. Ia adalah murid dari Maslamah Al-Majriti. Ia mempelajari dan berkarya di bidang bidang geometri dan logika. Menurut muridnya Al-Husain bin Muhammad Al-Husain bin Hayy Al-Tajibi, “tak ada yang sepandai Al-Kirmani dalam memahami geometri atau jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya yang tersulit, dan dalam mempertunjukkan seluruh bagian dan bentuknya.” Ia lalu pindah ke Harran, Al-Jazirah (sekarang terletak di Turki). Disana ia mempelajari geometri dan kedokteran. Ia lalu kembali ke Al-Andalus dan tinggal di Sarqasta (Zaragoza). Ia diketahui menjalankan praktik bedah seperti amputasi dan kauterisasi.

Abul Qasim Khalaf ibn al-Abbas az-Zahrawi adalah salah satu pakar di bidang kedokteran pada masa Islam abad Pertengahan. Dia lahir di Madinatuz Zahra’, 936 – 1013 yang dikenal di Barat sebagaiAbulcasis. Karya terkenalnya adalah Al-Tasrif, kumpulan praktik kedokteran yang terdiri atas 30 jilid. Abul Qasim lahir di Zahra, yang terletak di sekitar Kordoba, Spanyol. Di kalangan bangsa Moor Andalusia, dia dikenal dengan nama “El Zahrawi”. Al-Qasim adalah dokter kerajaan pada masa Khalifah Al-Hakam II dari kekhalifahan Umayyah. Al-Tasrif berisi berbagai topik mengenai kedokteran, termasuk di antaranya tentang gigi dan kelahiran anak. Buku ini diterjemahkan ke bahasa Latin oleh Gerardo dari Cremona pada abad ke-12, dan selama lima abad Eropa Pertengahan, buku ini menjadi sumber utama dalam pengetahuan bidang kedokteran di Eropa. Bidang lain: Surgery, Medicine.

 

Muhammad ibn Muhammad ibn Mahmud Abu Mansur al-Samarqandi al-Maturidi al-Hanafi atauAbu Mansyur Almaturiddi adalah seorang cendekiawan muslim dan ahli di bidang ilmu kalam. Maturidi dilahirkan di Maturid, dekat Samarqand. Di bidang ilmu agama, beliau berguru pada Abu Nasr al-`Ayadi and Abu Bakr Ahmad al-Jawzajani. Ia banyak menulis tentang Mu’tazilah, Qarmati, dan Syiah.

 

Ibnu Rushd atau nama lengkapnya Abu Walid Muhammad Ibnu Ahmad adalah ahli falsafah, perubatan, matematik, teologi, ahli fikah mazhab Maliki, astronomi, geografi dan sains. Rushd lahir 1126 dan meninggal dunia 1198. Dilahirkan di Sepanyol dan meninggal dunia di Maghribi, beliau adalah ahli falsafah yang paling agung pernah dilahirkan dalam sejarah Islam. Pengaruhnya bukan sahaja berkembang luas didunia Islam, tetapi juga di kalangan masyarakat di Eropah. Di Barat, beliau dikenal sebagai Averroes dan bapa kepada fahaman sekularisme.

Abu Raihan Al-Birunimerupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan. Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan di Khawarazmi, Turkmenistan atau Khiva di kawasan Danau Aral di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur. Abu Raihan Al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina/Ibnu Sina, sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al Abbas Ma’mun Khawarazmshah. Dia lahir 15 September 973 dan meninggal 13 Desember 1048. Bidang lain: Astronomy, Mathematics, determined Earth’s circumference.

 

Muhammad Ibnu Musa Al-Khawarizmi

(780 – 850) adalah seorang pakar dalam bidang matematik, astronomi dan geografi dari Iran. Al-Khawarizmi juga dikenali sebagai bapa algebra. Orang Eropa menyebutnya dengan AlGorisma. Nama itu kemudian dipakai orang-orang barat dalam arti kata Aritmatika atau ilmu hitung. Mengapa ? Karena dia adalah seorang muslim yang pertama-tama dan ternama dalam ilmu Matematika dan ilmu hitung. Bukunya yang terkenal berjudul Al-jabar Wal Muqobalah, kemudian buku tersebut disalin oleh orang-orang barat dan sampai sekarang ilmu itu kita kenal dengan nama Al-Jabar.

 

Muhammad Ibnu Zakaria Al-Razi

Hidup antara tahun 864-930 dan namanya dilatinkan menjadi Razes. Seorang dokter klinis yang terbesar pada masa itu dan pernah mengadakan satu penelitian Al-Kimi atau sekarang lebih terkenal disebut ilmu Kimia.

Didalam penelitiannya pada waktu itu Muhammad Ibnu Zakaria Al-Razi sudah menggunakan peralatan khusus dan secara sistimatis hasil karyanya dibukukan, sehingga orang sekarang tidak sulit mempelajarinya. Disamping itu Al-Razi telah mengerjakan pula proses kimiawi seperti: Distilasi, Kalsinasi dan sebagainya dan bukunya tersebut merupakan suatu buku pegangan Lboratorium Kimia yang pertama di dunia. Bidang lain: Medicine, Ophthalmology, Smallpox , Chemistry, Astronomy.

 

Abu Nasir Al-Farabi

Orang barat menyebutnya dengan ALFARABIUS. Ia hidup tahun antara tahun 870-900 Masehi dan merupakan tokoh Islam yang pertama dalam bidang Logika. Al Farabi juga mengembangkan dan mempelajari ilmu Fisika, Matematika, Etika, Filosofi, Politik, dan sebagainya. Bidang lain: Sociology, Logic, Philosophy, Political Science, Music.

 

 

Abul Wafa Muhammad Ibn Muhammad Ibn Yahya Ibn Ismail Buzjani (Buzhgan, Nishapur, Iran, 940 – 997 / 998) adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan dari Persia. Pada tahun 959, Abul Wafa pindah ke Irak, dan mempelajari matematika khususnya trigonometri di sana. Dia juga mempelajari pergerakan bulan; salah satu kawah di bulan dinamai Abul Wáfa sesuai dengan namanya. Salah satu kontribusinya dalam trigonometri adalah mengembangkan fungsi tangen dan mengembangkan metode untuk menghitung tabel trigonometri.

 

Abul Qasim Maslamah bin Ahmad Al-Majriti adalah seorang astronom, alkimiawan, matematikawan, dan ulama Arab Islam dari Al-Andalus (Spanyol yang dikuasai Islam). Abdul Qasim lahir di Madrid dan meninggal 1008 atau 1007 M).Ia juga ikut serta dalam penerjemahan Planispherium karya Ptolemeus, memperbaiki terjemahan Almagest, memperbaiki tabel astronomi dari Al-Khwarizmi, menyusun tabel konversi kalender Persia ke kalender Hijriah, serta mempelopori teknik-teknik geodesi dan triangulasi. Ia juga ditulis sebagai salah satu penulis Ensiklopedia Ikhwan As-Shafa, tapi kecil kemungkinan bahwa ia benar-benar salah satu penulisnya.

 

Abu Ali Al-Husein Ibnu Sina atau dikenal dengan nama Avicenna, yang hidup antara tahun 986-1037 M. Seorang ilmuwan muslim dan Filosof besar pada waktu itu, hingga kepadanya diberikan julukan Syeh Al-Rais.

Keistimewaannya antara lain pada masa umur 10 tahun sudah hafal Al-Qur`an, kemudian pada usia 18 tahun sudah mampu menguasai semua ilmu yang ada pada waktu itu, bidang keahliannya adalah ilmu Kedokteran, ilmu Fisika, Geologi, Mineralogi. Juga dibidang Medicine, Philosophy, Mathematics, Astronomy.

 

Abu Abdullah Muhammad Al-Idrisi merupakan salah seorang pakar sains Islam yang hidup di Sicily. Sumbangan utama tokoh ini ialah menghasilkan peta bebola perak seberat 400 paun untuk Raja Roger II, lengkap dengan membahagikan dunia kepada 7 iklim, laluan perdagangan, teluk, tasik, sungai, bandar-bandar besar, bukit dan lembah serta gunung-ganang. Al Idrisi lahir 1099 Masihi di Ceuta, Sepanyol dan meninggal pada 1166 Masihi. Beliau juga mencatatkan jarak dan ketinggian sesuatu tempat dengan tepat. Tokoh Geografi kurun ke-12 ini kemudiannya menghasilkan buku Nuzhah al Musytaq fi Ishtiraq al Afaq (Kenikmatan pada Keinginan Untuk Menjelajah Negeri-negeri) atau Roger’s Bookiaitu sebuah ensiklopedia geografi yang mengandungi peta dan informasi tentang negara Eropah, Afrika dan Asia. Buku ini mencatatkan perihal masyarakat, budaya, kerajaan dan cuaca negara-negara yang terdapat di dalam petanya. Beliau turut menggunakan semula garisan lintang dan garisan bujur yang diperkenalkan sebelumnya dalam peta yang dihasilkan. Beberapa abad lamanya, Eropah menggunakan peta Al Idrisi dan turut menggunakan hasil kerja ilmuwan ini ialah Christopher Columbus.

 

Piri Reis pencipta peta dunia terlengkap dibuat pada tahun 1513. Para ahli satelit sendiri pun merasa terkejut dengan model pemetaan yang dibuat oleh tokoh Muslimin tersebut. peta yang dibuat diatas sepotong kulit rusa berukuran 90×65 centimeter tersebut benar-benar digambarkan lengkap dan cukup detail. Bahkan hasil perbandingan dengan pemotretan dari angkasa luar yang dilakukan menggunakan satelit saat ini memiliki bentuk yang sangat mirip. Mulanya para sejarawan tidak percaya akan bukti keberadaan peta tersebut. Di peta yang terlihat jelas hanyalah kawasan Laut Timur Tengah. Sementara kawasan lainnya seperti benua Afrika dan Amerika sama sekali tergambar sangat berbeda. Baru setelah gambar hasil pemotretan satelit jaman modern ini dipadukan dengan peta kuno karya muslimin bangsa Turki tersebut sangat nyata kebenarannya bahwa gambar yang ditorehkan dalam kulit tersebut memang sangat detail dan terperinci. (klik disini unuk membaca artikel: Ilmuwan Muslim Pencipta Peta Dunia Pertama)

 

 

Omar Al-Khayyám adalah seorang pemuisi, ahli matematik, dan ahli astronomi. Kahyyam yang lahir: 18 Mei 1048 di Nishapur, Iran (Parsi) dan meninggal 4 Desember 1131 itu mempunyai nama asli Ghiyatuddin Abu al-Fatah Omar ibni Ibrahim Al-Nisaburi Khayami. Khayam adalah perkataan pinjaman bahasa Arab yang bermakna “pembuat khemah.” Beliau paling dikenali kerana himpunan puisinya, Rubaiyat Omar Khayyam.

Ibnu Nafis atau Ibn Al-Nafis Damishqui, merupakan orang pertama yang secara akurat mendeskripsikan peredaran darah dalam tubuh manusia (pada 1242). Penggambaran kontemporer proses ini telah bertahan. Khususnya, ia merupakan orang pertama yang diketahui telah mendokumentasikan sirkuit paru-paru. Secara besar-besaran karyanya tak tercatat sampai ditemukan di Berlin pada 1924. Dia lahir di Damaskus (kini wilayah Suriah) tahun 1210 dan meninggal di Kairo (kini wilayah Mesir), 17 Desember 1288 pada umur 77/78 tahun)

Abu Nashr Mansur bin Ali (sekitar. 970 – 1036) merupakan matematikawan dari Khwarazm. Ia banyak dikenal untuk penemuannya tentang hukum sinus.

 

Abu Nashr Mansur dilahirkan di Khwarazm dari keluarga yang menguasai daerah itu. Ia kemudian menjadi pangeran dalam iklim politik. Ia merupakan guru Al-Biruni dan juga kolega penting para matematikawan. Bersama mereka menorehkan karya penemuan besar dalam matematika dan mendedikasikan karyanya pada orang lain. Kebanyakan karya Abu Nashr berfokus pada matematika, namun beberapa karyanya pada astronomi. Dalam matematika, ia memiliki banyak tulisan penting pada trigonometri, yang dikembangkan dari tulisan Ptolomeus. Ia juga memelihara karya Menelaus dari Alexandria dan mengerjakan kembali banyak teorema Yunani. Ia meninggal di daerah yang kini Afganistan dekat kota Ghazna.

 

Muhammad Asad atau Leopold Weiss adalah seorang cendekiawan muslim, mantan Duta Besar Pakistan untuk Perserikatan Bangsa Bangsa, dan penulis beberapa buku tentang Islam termasuk salah satu tafsir Al Qur’an modern yakni The Message of the Qur’an. Muhammad Asad terlahir sebagai Leopold Weiss pada tahun 1900 di kota Lemberg, saat itu bagian dari Kekaisaran Austria-Hongaria(sekarang bernama Lviv dan terletak di Ukraina) dalam lingkungan keluarga Yahudi. Dia lahir di Lemberg, Austria-Hongaria pada tahun 1900 dan meninggal di Spanyol pada tahun 1992. Pendidikan agama yang ia enyam selama masa kecil hingga mudanya menjadikan ia familiar dengan bahasa Aram, Kitab Perjanjian Lama serta teks-teks maupun tafsir dari Talmud, Mishna, Gemara dan Targum.

 

Salman Al Farisi; pembuat strategi perang kanal, meriam pelontar/tank.

Miqdad bin Amru; pelopor pembuat pasukan kalveleri/berkuda modern pertama.

 

Al Nadim (990), abad ke 10 adalah pelopor pembuat katalog/ensiklopedi kebudayaan pertama.

 

Ma’mun Ar Rasyid yang hidup tahun 815, abad 9 adalah pelopor pendiri perpustakaan umum pertama di dunia yang dikenal dengan Darul Hikmah di Baghdad.

Nizam Al Mulk (1067); pelopor pendiri universitas modern pertama di dunia yang dikenal dengan Nizamiyyah saat itu ditiru sistemnya oleh Oxford Univ. Inggris.

 

Al Ghazali (1111); pelopor pembuat klasifikasi fungsi sosial pengetahuan yang dalam perkembangannya mengarah timbulnya berbagai jenis referensi dan karya bibliografi, ahli ilmu kalam, ahli tasawuf.

Al Farabi (950); ahli musik dan filsafat Yunani, (salah satu karya besarnya dijiplak bebas oleh Thomas Aquinas).

Ibnu Sina (1037) dikenal oleh barat dengan nama Aveciena; ilmuwan ensiklopedi, dokter, psikolog, penulis kaidah kedokteran modern (dipakai sebagai referensi ilmu kedokteran barat), menulis buku tentang fungsi organ tubuh, meneliti penyakit TBC, Diabetes dan penyakit yang ditimbulkan oleh efek fikiran.

 

Ibnu Rusydi (1198) dikenal oleh barat dengan nama Averous, ; ahli fisika, ahli bahasa, ahli filsafat Yunani kuno.

 

Fakhruddin Razi (1290); ahli matematika, ahli fisika, tabib/dokter, filosof, penulis ensiklopedia ilmu pengetahuan modern.

 

Al Battani (sekitar 850 – 923) adalah seorang ahli astronomi dan matematikawan dari Arab. Al Battani lahir di Harran dekat Urfa. Salah satu pencapaiannya yang terkenal adalah tentang penentuan tahun matahari sebagai 365 hari, 5 jam, 46 menit dan 24 detik. Al Battani juga menemukan sejumlah persamaan trigonometri.

 

Ibnu Khaldun (1406) seorang sejarahwan, pendidik ulung, pendiri filsafat sejarah dan sosiologi. Ibnu Khaldun, lahir 27 Mei 1332/732H, wafat 19 Maret 1406/808H) adalah seorang sejarawan muslim dari Tunisia dan sering disebut sebagai bapak pendiri ilmu historiografi, sosiologi dan ekonomi. Karyanya yang terkenal adalah Muqaddimah (Pendahuluan).

Ibnu Thufail (1185); dokter, filosof, penulis novel filsafat paling awal Risalah Hayy Ibn Yaqzan kemudian dijiplak habis-habisan oleh Defoe dengan judul barunya Robinson Crusoe

 

Ibnu Al Muqaffa (757); pengarang kitab Al Hayawan atau kitab tentang Binatang/ Ensiklopedia tentang Hewan.

 

Ikhwan Ash Shafa (983); pembuat serial pertama dan ensiklopedi pertama (bukanlah Marshall Cavendish seperti yang diakui sekarang).

 

Al Khwarizmi (850); menemukan logaritma (berasal dari nama Al Khwarizmi) dan aljabar (Al Jabr), ilmu bumi dengan menyatakan bumi itu bulat sebelum Galileo dengan bukunya Kitab Surah al Ardh.

 

Abu Wafa’ (997); mengembangan ilmu Trigonometri dan Geometri bola serta penemu table Sinus dan Tangen, juga penemu variasi dalam gerakan bulan.

 

Abu’l Hasan Tsabit bin Qurra’ bin Marwan al-Sabi al-Harrani, (826 – 18 Februari 901) adalah seorang astronom dan matematikawan dari Arab, dan dikenal pula sebagai Thebit dalam bahasa Latin. Tsabit lahir di kota Harran, Turki. Tsabit menempuh pendidikan di Baitul Hikmah di Baghdad atas ajakan Muhammad ibn Musa ibn Shakir. Tsabit menerjemahkan buku Euclid yang berjudul Elements dan buku Ptolemy yang berjudul Geograpia.

Umar Khayyam (1123); memecahkan persamaan pangkat tiga dan empat melalui kerucut-kerucut yang merupakan ilmu aljabar tertinggi dalam matematika modern, penyair.

 

Al Battani (929); ahli astronom terbesar Islam, mengetahui jarak bumi – matahari, alat ukur gata gravitasi, alat ukur garis lintang dan busur bumi pada globe dengan ketelitian sampai 3 desimal, menerangkan bahwa bumi berputar pada porosnya, mengukur keliling bumi. ( jauh sebelum Galileo), table astronomi, orbit planet-planet.

 

Ibnu Al Haytsam (1039) pelopor di bidang optik dengan kamus optiknya (Kitab Al Manazhir) jauh sebelum Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Keppler, dan Newton, penemu hukum pemantulan dan pembiasan cahaya (jauh sebelum Snellius), penemu alat ukur ketinggian bintang kutub, menerangkan pertambahan ukuran bintang-bintang dekat zenit.

Al Tusi atau Nasir al-Din Tusi (1274) astronom kawakan dari Damaskus yang melakukan penelitian tentang gerakan planet-planet, membuat model planet (planetarium) jauh sebelum Copernicus.

 

Ibnu Bajjah atau lengkapnya Abu Bakar Muhammad bin Yahya bin ash-Shayigh merupakan filsuf dan dokter Muslim Andalusia yang dikenal di Barat dengan nama Latinnya, Avempace. Ia lahir di Saragossa di tempat yang kini bernama Spanyol dan meninggal di Fez pada 1138. Pemikirannya memiliki pengaruh yang jelas pada Ibnu Rushdi dan Yang Besar Albert. Kebanyakan buku dan tulisannya tidak lengkap (atau teratur baik) karena kematiannya yang cepat. Ia memiliki pengetahuan yang luas pada kedokteran, Matematika, dan Astronomi. Sumbangan utamanya pada filsafat Islam ialah gagasannya pada Fenomenologi Jiwa, namun sayangnya tak lengkap. Ekspresi yang dicintainya ialah Gharib dan Motivahhed ekspresi yang diakui dan terkenal dari Gnostik Islam.

Tsabit bin Qurrah (901); penemu teori tentang getaran/trepidasi.

 

Jabir Ibnu Hayyan (813); ahli kimia dengan berbagai eksperimennya, penemu sejumlah perlengkapan alat laboraturium modern, system penyulingan air, identifikasi alkali, asam, garam, mengolah asam sulfur, soda api, asam nitrihidrokhlorik pelarut logam dan air raksa (jauh sebelum Mary Mercurie), pembuat campuran komplek untuk cat. Kontribusi terbesar Jabir adalah dalam bidang kimia. Keahliannya ini didapatnya dengan ia berguru pada Barmaki Vizier, di masa pemerintahan Harun Ar-Rasyid di Baghdad. Ia mengembangkan teknik eksperimentasi sistematis di dalam penelitian kimia, sehingga setiap eksperimen dapat direproduksi kembali. Jabir menekankan bahwa kuantitas zat berhubungan dengan reaksi kimia yang terjadi, sehingga dapat dianggap Jabir telah merintis ditemukannya hukum perbandingan tetap. Kontribusi lainnya antara lain dalam penyempurnaan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumen untuk melakukan proses-proses tersebut.

 

Abu Bakar Ar Razi (935); membagi zat kimia ke dalam kategori mineral, nabati dan hewani (klasifikasi zat kimia) jauh sebelum Dalton, pembagian fungsi tubuh manusia berdasarkan reaksi kimia komplek.

 

Al Majriti (1007); membuktikan hukum ketetapan massa (900 tahun sebelum Lavoisier)

 

Al Jahiz (869) menulis penelitian tentang ilmu hewan (zoology) pertama kali. Al-Jahiz lahir di Basra, Irak pada 781 M. Abu Uthman Amr ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri, nama aslinya. Ahli zoologi terkemuka dari Basra, Irak ini merupakan ilmuwan Muslim pertama yang mencetuskan teori evolusi. Pengaruhnya begitu luas di kalangan ahli zoologi Muslim dan Barat. Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar, ”Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi Muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral.” Al-Jahiz lah ahli biologi Muslim yang pertama kali mengembangkan sebuah teori evolusi …. Ilmuwan dari abad ke-9 M itu mengungkapkan dampak lingkungan terhadap kemungkinan seekor binatang untuk tetap bertahan hidup.

 

Sejarah peradaban Islam mencatat, Al-Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori berjuang untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk dapat bertahan hidup, papar dia, makhluk hidup harus berjuang, seperti yang pernah dialaminya semasa hidup….. Beliau dilahirkan dan dibesarkan di keluarga miskin. Meskipun harus berjuang membantu perekonomian keluarga yang morat-marit dengan menjual ikan, ia tidak putus sekolah dan rajin berdiskusi di masjid tentang sains. Beliau bersekolah hingga usia 25 tahun. Di sekolah, Al-Jahiz mempelajari banyak hal, seperti puisi Arab, filsafat Arab, sejarah Arab dan Persia sebelum Islam, serta Al-Qur’an dan hadist……

Al-Jahiz juga merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Menurutnya, lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni sebuah komunitas tertentu. Asal muasal beragamnya warna kulit manusia terjadi akibat hasil dari lingkungan tempat mereka tinggal….. Berkat teori-teori yang begitu cemerlang, Al-Jahiz pun dikenal sebagai ahli biologi terbesar yang pernah lahir di dunia Islam. Ilmuwan yang amat tersohor di kota Basra, Irak itu berhasil menuliskan kitab Ritab Al-Haywan (Buku tentang Binatang). Dalam kitab itu dia menulis tentang kuman, teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang. Al-Jahiz pun tercatat sebagai ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung melalui migrasi……. Tak cuma itu, pada abad ke-9 M. Al-Jahiz sudah mampu menjelaskan metode memperoleh ammonia dari kotoran binatang melalui penyulingan.

 

Sosok dan pemikiran Al-Jahiz pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini, dan ilmuwan Mesir, Al-Damiri. Karirnya sebagai penulis ia awali dengan menulis artikel. Ketika itu Al-Jahiz masih di Basra. Sejak itu, ia terus menulis hingga menulis dua ratus buku semasa hidupnya…… Pada abad ke-11, Khatib al-Baghdadi menuduh Al-Jahiz memplagiat sebagian pekerjaannya dari Kitab al-Hayawan of Aristotle. Selain al-Hayawan, beliau juga menulis kitab al-Bukhala (Book of Misers or Avarice & the Avaricious), Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (The Book of eloquence and demonstration), Kitab Moufakharat al Jawari wal Ghilman (The book of dithyramb of concubines and ephebes), dan Risalat mufakharat al-sudan ‘ala al-bidan (Superiority Of The Blacks To The Whites).

 

Suatu ketika, pada tahun 816 M ia pindah ke Baghdad. Al-Jahiz meninggal setelah lima puluh tahun menetap di Baghdad pada tahun 869, ketika ia berusia 93 tahun.

 

Kamaluddin Ad Damiri (1450); mengembangkan system taksonomi/ klasifikasi khusus ilmu hewan dan buku tentang kehidupan hewan.

 

Abu Bakar Al Baytar (1340); pengarang buku tentang kedokteran hewan yang pertama.

 

Al Khazini (1121); ahli kontruksi, pengarang buku tentang teknik pengukuran (geodesi) dan kontruksi keseimbangan, kaidah mekanis, hidrostatika, fisika, teori zat padat, sifat-sifat pengungkit/tuas, teori gaya gravitasi (jauh 900 thn dari Newton)

Al Farghani (870); pengarang buku tentang pergerakkan benda-benda langit dan ilmu astronomi dan dipakai oleh Dante jauh kemudian.

 

Al Razi (abad ke8); pengarang kitab Sirr Al Asrar (rahasianya rahasia) tentang penyulingan minyak mentah, pembuatan ekstrak parfum/minyak wangi (sekarang Perancis yang terkenal), ekstrak tanaman untuk keperluan obat, pembuatan sabun, kaca warna-warni, keramik, tinta, bahan celup kain, ekstrak minyak dan lemak, zat warna, bahan-bahan dari kulit, Mengembangkan penelitian tentang penyakit wanita dan kebidanan, penyakit keturunan, penyakit mata, penyakit campak dan cacar.

 

Banu Musa bersaudara (abad ke 9); pengarang buku Al Hiyal (buku alat-alat pintar) yang berisikan 100 macam mesin seperti pengisi tangki air otomatis, kincir air dan system kanal bawah tanah (sekarang yang terkenal Belanda), teknik pengolahan logam, tambang, lampu tambang, teknik survei dan pembuatan tambang bawah tanah.

 

Abul Hasan Ali Al-Masu’di merupakan salah seorang pakar sains Islam yang meninggal pada tahun 957. Dilahirkan di Baghdad, dia juga merupakan seorang ahli sejarah, geografi dan falsafah. Dia pernah mengembara ke Sepanyol, Rusia, India, Sri Lanka dan China serta menghabiskan umurnya di Syiria dan Mesir. Dia berasal dari keturunan sahabat Nabi Muhammad, Abdullah bin Mas’ud. Bukunya Muruj adh-Dhahab wa Ma’adin al-Jawahir (Padang Emas dan Lombong Manikam) yang ditulis pada 943, merupakan himpunan kisah perjalanan dan pembelajarannya. Ia menyentuh aspek sosial dan kesusasteraan sejarah, perbincangan mengenai agama dan penerangan geografi. Dia juga menulis buku Al-Tanbih wa al-Ashraf, yang merupakan buku terakhirnya

Nasir Al-Din Al-Tusi (1201–1274) adalah ahli sains Islam Syiah berkebangsaan Iran yang dikenali sebagai ahli falsafah, matematik, astronomi, teologi, serta pakar perubatan dan penulis, iaitu beliau adalah seorang pakar dalam pelbagai bidang. Bidang lainnya: Astronomy, Non-Euclidean Geometry.

 

Al Farazi (790); perintis alat astrolab planisferis yaitu mesin hitung analog pertama, sebagai alat Bantu astronomi menghitung waktu terbit dan tenggelam serta titik kulminasi matahari dan bintang serta benda langit lainnya pada waktu tertentu.

 

Taqiuddin (1565); merintis jam mekanis pertama dan alarmnya yang digerakkan dengan pegas.

 

Ibnu Nafis (1288); menulis dan menggambarkan tentang sirkulasi peredaran darah dalam tubuh manusia (Harvey 1628 dianggap pertama yang menemukannya).

 

Abu Muhammad Abdullah Ibn Ahmad Ibn al-Baitar Dhiya al-Din al-Malaqi merupakan salah seorang pakar sains Islam yang hidup antara tahun meninggal pada tahun 1248. Lebih dikenali sebagai Ibn al-Baitar, beliau dilahirkan di Malaga, Spanyol.

 

Az Zahra (939); pembuat alat bedah/pembedahan , teknik dan jenis pengoperasian, pengembangan ilmu kedokteran gigi dan operasi gigi serta peralatan bedah gigi.

Al Ibadi (873); pengarang buku tentang anatomi mata, otak dan syaraf optik, permasalahan pada mata.

 

Ibnu Fadlan (abad 10); membuat daftar koordinat daerah Volga-Caspian (daerah Rusia) dan sosiologi daerah tersebut.

 

Ali Ibn Rabban Al-Tabari merupakan salah seorang pakar sains Islam yang hidup antara tahun 838 – 870.

 

Ibnu Batutah (1369); membuat daftar koordinat dan sosiologi wilayah China, Srilangka, India, Byzantium, Rusia Selatan.

 

Ibnu Majid (abad 15); pemandu Vasco de Gamma dan menerbitkan buku panduan navigasi bagi pilot dan pelaut.

Ibnu Khuradadhbih (abad 9); karya geografi tentang kerajaan-kerajaan dan rute perjalanannya dari negeri-negeri China, Korea dan Jepang.

 

Imam Hanafi, nama lengkapnya adalah An Nukman bin Tsabit. Lahir tahun 700 M di Kufah, Irak. Ajarannya dalam ilmu fiqih adalah selalu berpegang pada Al-Qur’an dan hadis. Beliau tidak menghendaki adanya taklid dan bid’ah yang tidak ada dasarnya dalam Al Qur’an dan hadis. Dalam menetapkan hukum fiqih beliau bersumber pada Al Qur’an, hadis, qiyas dan ihtisan.

 

Imam Maliki, nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Malik bin Annas. Beliau lahir di Madinah tahun 716 M. Beliau merupakan ulama besar di kawasan Arab. Dalam menetapkan ilmu fiqih, beliau berpedoman pada Al Qur’an, hadis, ijma sahabat, dan kemaslahatan urf (adat) penduduk Madinah. Buku karangannya diantaranya adalah Al Muwaththa. Imam Maliki ini adalah guru Imam Syafi’i.

 

Imam Syafi’i, nama lengkapnya adalah Muhammad Ibnu Idris bin Abbas bin Usman Asy Syafi’i. Beliau dilahirkan di Palestina tahun 767 M. Menurut riwayat, beliau telah mahir membaca dan menulis Arab pada usia 5 tahun. Pada usia 9 tahun, beliau telah hafal Al Quran 30 juz. Pada usia 10 tahun, beliau sudah menghafal hadis yang terdapat dalam kitab Al Muwaththa karya Imam Malik. Di usianya yang 15 tahun, beliau lulus dalam spesialisasi hadis dari gurunya Imam Sufyan bin Uyaina, sehingga beliau diberi kepercayaan untuk mengajar dan memberi fatwa kepada masyarakat dan menjadi guru besar di Masjidil Haram, Mekah. Dalam menetapkan ilmu fiqih, Imam Syafi’i berpedoman pada Al Qur’an, hadis, ijma’ dan qiyas. Buku karangan Imam Syafi’i adalah Ar Risalah dan Al ‘Um. Ajaran Imam Syafi’i terkenal dengan Mazhab Syafi’i yang banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia, Asia Tenggara, Mesir, Baghdad, dan negara lainnya.

 

Imam Hambali, nama lengkapnya adalah Ahmad bin Hambal Asy Syaibani. Beliau lahir di Baghdad tahun 855 M. Ajarannya terkenal dengan nama Mazhab Hambali. Dalam menetapkan hukum fiqih, Imam Hambali berpedoman pada Al Qur’an, hadis, dan fatwa para sahabat.

 

Imam Ghazali, nama lengkapnya adalah Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al Ghazali. Beliau lahir di Iran tahun 1058 M. Beliau tokoh yang terkenal dalam bidang ilmu tafsir, ilmu fiqih, ilmu filsafat, dan ilmu akhlak. Karena keluasan ilmunya, beliau mendapat gelar Hujjatul Islam. Karya beliau diantaranya adalah Tahafut Al Falasifah, Huluqul Muslim, dan yang terkenal adalah Ihya’ Ulumuddin.

Al Mas’udi ; menerbitkan ensiklopedi geografi yang membahas gempa bumi, formasi geologis, sifat dasar laut mati, evolusi geologi (jauh sebelum Maghelan dan Weber).

 

Al Idris (1154); ahli peta bumi, membuat peta bumi dan globe dengan dilengkapi penjelasan penggunaan kompas.

 

Yaqut Hawami (1229); membuat kamus geografi pertama berdasarkan abjad berisikan nama kota dan tempat yang dikenal dan berisi informasi akurat mengenai ukuran bumi, zona iklim dan sifatnya, geografi matematika dan politik.

 

Abu Al-Nasr Al-Farabi atau dikenali sebagai Al-Pharabius di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains dan ahli falsafah Islam yang hebat di dalam dunia Islam pada ketika itu,beliau hidup antara tahun 870 – 950. Dia berasal dari Farab, Kazakhstan.

 

Ibnu Abdus Salam (abad 13); merumuskan pertama kali tentang hak-hak perlindungan binatang atau konservasi hewani.

Safiuddin (1294); memperkenalkan teori musik.

 

Al Mawsili (850); ahli musik klasik dan oleh muridnya musisi ulung Ziryab memperkenalkan ke Spanyol thn 822, pengembangan notasi mensural, konsep gloss atau hiasan melodi, pengembangan rumpun alat musik gesek, kecapi, kelompok gitar, busur gesek pada alat musik gesek, musik keroncong dan morisko.

 

Abu Hasan Al Asy’ari adalah tokoh ilmuwan muslim di bidang ilmu tauhid. Beliau lahir di Baghdad tahun 873 M. Ajaran Abu Hasan Al Asy’ari dikenal dengan paham Asy’ariah. Adapun ajaran Asy’ariah yang berkembang sampai saat ini adalah sifat wajib Allah swt. ada 13(wujud, qidam, baqa, mukhalafatul lilhawadis, qiyamuhu binafsihi, wahdaniyat, qudrat, iradat, ilmu, hayat. sama’, bashar dan kalam) ditambah dengan 7 sifat maknawiyah (qadiran, muridan, ‘aliman, hayyan, sami’an, basiran, mutakalliman), sehingga menjadi 20 sifat wajib bagi Allah swt.

 

Nur Al-Din Ibn Ishaq Al-Bitruji (1204) dikenali sebagai Alpetragius) di dunia barat merupakan salah seorang ahli sains Islam.

Muhammad Abduh (Delta Nil, 1849 – Alexandria, 11 Juli 1905 ) adalah seorang pemikir muslim dari Mesir, dan salah satu penggagas gerakan modernisme Islam. Beliau belajar tentang filsafat dan logika di Universitas Al-Azhar, Kairo, dan juga murid dari Jamal al-Din al-Afghani, seorang filsuf dan pembaharu yang mengusung gerakan Pan-Islamisme untuk menentang penjajahan Eropa di negara-negara Asia dan Afrika. Muhammad Abduh diasingkan dari Mesir selama enam tahun pada 1882, karena keterlibatannya dalam Pemberontakan Urabi. Di Libanon, Abduh sempat giat dalam mengembangkan sistem pendidikan Islam. Pada tahun 1884, ia pindah ke Paris, dan bersalam al-Afghani menerbitkan jurnal Islam The Firmest Bond. Salah satu karya Abduh yang terkenal adalah buku berjudul Risalah at-Tawhid yang diterbitkan pada tahun 1897.

 

al-Allamah al-Muhaddits al-Faqih az-Zahid al-Wara’ asy-Syaikh Abdul Muhsin bin Hammad al-’Abbad al-Badr lahir di Zulfa (300 km dari utara Riyadh) pada 3 Ramadan tahun 1353H (10 Desember 1934. Ia adalah salah seorang pengajar di Masjid Nabawi yang mengajarkan kitab-kitab hadits seperti Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud dan saat ini beliau masih memberikan pelajaran Sunan Turmudzi. Ia adalah seorang ‘Alim Robbaniy dan pernah menjabat sebagai wakil mudir (rektor) Universitas Islam Madinah yang waktu itu rektornya adalah Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz.

 

Ahmad ibnu Yusuf al-Misri (835 – 912) adalah seorang matematikawan, putra dari Yusuf ibnu Ibrahim yang juga seorang matematikawan. Ahmad ibnu Yusuf lahir di Baghdad, Irak dan kemudian pindah bersama bapaknya ke Damaskus pada tahun 839. Kemudian ia pindah lagi ke Kairo, dan dari sini lah namanya mendapat tambahan al-Misri (dari Mesir).

 

Abu-L ‘Abbas Ahmad ibn Khallikan adalah sarjana Muslim Kurdi pada abad ke-13. Karyanya yang paling terkenal adalah Wafayat al-Ayan (Berita Kematian Laki-laki Ulung) atau lebih dikenal sebagai Kamus Biografis. Dia lahir Irbil, 22 September 1211 -Damaskus, Suriah dan meninggal 30 Oktober 1282. Menurut Encyclopedia Britannica, ibn Khallikan memilih “bahan faktual untuk biografinya dengan sangat baik dari sisi pengetahuan akademis” dan buku ini juga menyebutkan “… ia adalah seorang yang menyumbangkan sumber berharga untuk karya kontemporer dan berisi petikan dari biografi yang lebih awal yang sudah tidak lagi ada.” Ia mulai mengerjakan karya ini dari tahun 1256 sampai dengan tahun 1274.

Ibnu Rusyd (Ibnu Rushdi, Ibnu Rusyid, dalam bahasa Latin Averroes, adalah seorang filsuf dari Spanyol (Andalusia). Dia lahir tahun 1126 – Marrakesh, Maroko, dan meninggal 10 Desember 1198). Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada. Filsafat Ibnu Rusyd ada dua, yaitu filsafat Ibnu Rusyd seperti yang dipahami oleh orang Eropa pada abad pertengahan; dan filsafat Ibnu Rusyd tentang akidah dan sikap keberagamaannya. Ibnu Rusyd adalah seorang jenius yang berasal dari Andalusia dengan pengetahuan ensiklopedik. Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai “Kadi” (hakim) dan fisikawan. Di dunia barat, Ibnu Rusyd dikenal sebagai Averroes dan komentator terbesar atas filsafat Aristoteles yang memengaruhi filsafat Kristen di abad pertengahan, termasuk pemikir semacam St. Thomas Aquinas. Banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

 

Said Al-Andalusí (Almería, 1029 – Toledo, 1070) “Al-Tulaytuli” (dari Toledo) adalah seorang qadi, ilmuwan dan sejarawan Al-Andalus. Karyanya yang terkenal adalah Tabaqat Al-Umam (Klasifikasi Bangsa-Bangsa), yang banyak dipelajari oleh para sejarawan. Karyanya yang lain adalah Kumpulan Sejarah Bangsa Arab dan Non-Arab, dan Koreksi Pergerakan Bintang-Bintang.

Jafar Muhammad bin Musa bin Shakir Banu Musa, (800 – 873), adalah seorang astronom dan matematikawan dari Baghdad. Ia bersama kedua saudaranya (Ahmad Banu Musa dan Hasan Banu Musa) sangat aktif menerjemahkan berbagai buku sains dari manuskrip Yunani dan Pahlavi ke dalam bahasa Arab pada masa kekhalifahan Al-Ma’mun.

 

Mālik ibn Anas bin Malik bin ‘Āmr al-Asbahi atau Malik bin Anas lahir di (Madinah pada tahun 714 (93 H), dan meninggal pada tahun 800 (179 H)). Ia adalah pakar ilmu fikih dan hadits, serta pendiri Mazhab Maliki.

 

Yusuf al-Qaradawi (lahir di Shafth Turaab, Kairo, Mesir, 9 September 1926; umur 84 tahun) adalah seorang cendekiawan Muslim yang berasal dari Mesir. Ia dikenal sebagai seorang Mujtahid pada era modern ini. Selain sebagai seorang Mujtahid ia juga dipercaya sebagai seorang ketua majelis fatwa. Banyak dari fatwa yang telah dikeluarkan digunakan sebagai bahan rujukan atas permasalahan yang terjadi. Namun banyak pula yang mengkritik fatwa-fatwanya.

 

Jalaluddin as-Suyuthi lahir 1445 (849H) – wafat 1505 (911H). Dia adalah ulama dan cendekiawan muslim yang hidup pada abad ke-15 di Kairo, Mesir. Beliau pernah berguru pada al Bulqini sampai wafatnya Al Bulqini, Beliau juga belajar hadits pada Syaikhul Islam Taqiyyudin al Manaawi. Dalam Kitab beliau yang berjudul Khusnul Muhadlarah beliau menyebutkan bahwa dari setiap guru yang aku datangi aku mendapatkan lisensi dan aku menghitungnya sampai sejumlah 150 ijazah dari 150 guru.

 

Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Dilahirkan di Damaskus, Suriah pada tanggal 4 Februari 1292, dan meninggal pada 23 September 1350) adalah seorang Imam Sunni, cendekiawan, dan ahli fiqh yang hidup pada abad ke-13. Ia adalah ahli fiqih bermazhab Hambali. Disamping itu juga seorang ahli Tafsir, ahli hadits, penghafal Al-Quran, ahli ilmu nahwu, ahli ushul, ahli ilmu kalam, sekaligus seorang mujtahid.

Muhammad Marmaduke William Pickthall (1875-1936) adalah seorang intelektual Muslim Barat, yang terkenal dengan terjemahan Al Qur’an yang puitis dan akurat dalam bahasa Inggris. Ia merupakan pemeluk agama Kristen yang kemudian berpindah agama memeluk Islam. Pickthall adalah juga seorang novelis, yang diakui oleh D.H Lawrence, H.G Wells dan E.M Forster, juga seorang jurnalis, kepala sekolah serta pemimpin politik dan agama. Dididik di Harrow, ia terlahir pada keluarga Inggris kelas menengah, yang akar keluarganya mencapai ksatria terkenal William sang penakluk. Pickthall berkelana ke banyak negara-negara Timur, mendapat reputasi sebagai ahli masalah Timur Tengah. Ia menerbitkan terjemahannya atas Al Qur’an (The meaning of the Holy Qur’an), ketika menjadi pejabat di bawah pemerintahan Nizam dari Hyderabad. Terjemahannya ini menjadi terjemahan dalam bahasa Inggris pertama yang dilakukan oleh seorang Muslim dan diakui oleh Universitas Al Azhar (Mesir); terjemahan ini oleh Times Literary Supplement disebut sebagai sebuah pencapaian penulisan yang besar. Pickthall dimakamkan di pemakaman Muslim di Brookwood.

 

Ahmad bin Muhammad Miskawaih, Ibnu Miskawaih (932-1030) merupakan filsuf Iran yang menonjol dari Ray, Iran. Ia merupakan tokoh politik yang aktif selama masa Al-Booye. Pengaruhnya pada filsafat Islam terutama berkaitan dengan isu etik.

 

Al-Jāḥiẓ (781 – Desember 868/Januari 869) adalah seorang cendekiawan Afrika-Arab yang berasal dari Afrika Timur. Ia merupakan sastrawan Arab dan memiliki karya-karya dalam bidang literatur Arab, biologi, zoologi, sejarah, filsafat, psikologi, Teologi Mu’taziliyah, dan polemik-polemik politik religi.

 

Ibnu Ismail Al Jazari

Ilmuwan Muslim Penemu Konsep Robotika Modern. Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

 

”Tak mungkin mengabaikan hasil karya Al-Jazari yang begitu penting. Dalam bukunya, ia begitu detail memaparkan instruksi untuk mendesain, merakit, dan membuat sebuah mesin” (Donald Hill). Kalimat di atas merupakan komentar Donald Hill, seorang ahli teknik asal Inggris yang tertarik dengan sejarah teknologi, atas buku karya ahli teknik Muslim yang ternama, Al-Jazari.

Jazari merupakan seorang tokoh besar di bidang mekanik dan industri. Lahir dai Al Jazira, yang terletak diantara sisi utara Irak dan timur laut Syiria, tepatnya antara Sungai tigris dan Efrat…

 

Al-Jazari merupakan ahli teknik yang luar biasa pada masanya. Nama lengkapnya adalah Badi Al-Zaman Abullezz Ibn Alrazz Al-Jazari. Dia tinggal di Diyar Bakir, Turki, selama abad kedua belas. Ibnu Ismail Ibnu Al-Razzaz al-Jazari mendapat julukan sebagai Bapak Modern Engineering berkat temuan-temuannya yang banyak mempengaruhi rancangan mesin-mesin modern saat ini, di antaranya combustion engine, crankshaft, suction pump, programmable automation, dan banyak lagi………. Ia dipanggil Al-Jazari karena lahir di Al-Jazira, sebuah wilayah yang terletak di antara Tigris dan Efrat, Irak. Seperti ayahnya ia mengabdi pada raja-raja Urtuq atau Artuqid di Diyar Bakir dari 1174 sampai 1200 sebagai ahli teknik. Donald Routledge dalam bukunya Studies in Medieval Islamic Technology, mengatakan bahwa hingga zaman modern ini, tidak satupun dari suatu kebudayaan yang dapat menandingi lengkapnya instruksi untuk merancang, memproduksi dan menyusun berbagai mesin sebagaimana yang disusun oleh Al-Jazari. Pada 1206 ia merampungkan sebuah karya dalam bentuk buku yang berkaitan dengan dunia teknik…

 

Beliau mendokumentasikan lebih dari 50 karya temuannya, lengkap dengan rincian gambar-gambarnya dalam buku, “al-Jami Bain al-Ilm Wal ‘Aml al-Nafi Fi Sinat ‘at al-Hiyal” (The Book of Knowledge of Ingenious Mechanical Devices). Bukunya ini berisi tentang teori dan praktik mekanik. Karyanya ini sangat berbeda dengan karya ilmuwan lainnya, karena dengan piawainya Al-Jazari membeberkan secara detail hal yang terkait dengan mekanika.

 

Dan merupakan kontribusi yang sangat berharga dalam sejarah teknik. Keunggulan buku tersebut mengundang decak kagum dari ahli teknik asal Inggris, Donald Hill (1974). Donald berkomentar bahwa dalam sejarah, begitu pentingnya karya Al-Jazari tersebut. Pasalnya, kata dia, dalam buku Al-Jazari, terdapat instruksi untuk merancang, merakit, dan membuat mesin.

 

Di tahun yang sama juga 1206, al-Jazari membuat jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot masa sekarang.

 

Kini replika jam gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya. Pada acara World of Islam Festival yang diselenggarakan di Inggris pada 1976, banyak orang yang berdecak kagum dengan hasil karya Al-Jazari. Pasalnya, Science Museum merekonstruksi kerja gemilang Al-Jazari, yaitu jam air.

 

Ketertarikan Donald Hill terhadap karya Al-Jazari membuatnya terdorong untuk menerjemahkan karya Al-Jazari pada 1974, atau enam abad dan enam puluh delapan tahun setelah pengarangnya menyelesaikan karyanya.Tulisan Al-Jazari juga dianggap unik karena memberikan gambaran yang begitu detail dan jelas. Sebab ahli teknik lainnya lebih banyak mengetahui teori saja atau mereka menyembunyikan pengetahuannya dari orang lain.

Bahkan ia pun menggambarkan metode rekonstruksi peralatan yang ia temukan.

Karyanya juga dianggap sebagai sebuah manuskrip terkenal di dunia, yang dianggap sebagai teks penting untuk mempelajari sejarah teknologi. Isinya diilustrasikan dengan miniatur yang menakjubkan. Hasil kerjanya ini kerap menarik perhatian bahkan dari dunia Barat.

 

Dengan karya gemilangnya, ilmuwan dan ahli teknik Muslim ini telah membawa masyarakat Islam pada abad ke-12 pada kejayaan. Ia hidup dan bekerja di Mesopotamia selama 25 tahun. Ia mengabdi di istana Artuqid, kala itu di bawah naungan Sultan Nasir al-Din Mahmoud.

 

Al-Jazari memberikan kontribusi yang pentng bagi dunia ilmu pengetahuan dan masyarakat. Mesin pemompa air yang dipaparkan dalam bukunya, menjadi salah satu karya yang inspiratif. Terutama bagi sarjana teknik dari belahan negari Barat.

 

Jika menilik sejarah, pasokan air untuk minum, keperluan rumah tangga, irigasi dan kepentingan industri merupakan hal vital di negara-negara Muslim. Namun demikian, yang sering menjadi masalah adalah terkait dengan alat yang efektif untuk memompa air dari sumber airnya.

 

Masyarakat zaman dulu memang telah memanfaatkan sejumlah peralatan untuk mendapatkan air. Yaitu, Shaduf maupun Saqiya. Shaduf dikenal pada masa kuno, baik di Mesir maupun Assyria. Alat ini terdiri dari balok panjang yang ditopang di antara dua pilar dengan balok kayu horizontal.

 

Sementara Saqiya merupakan mesin bertenaga hewan. Mekanisme sentralnya terdiri dari dua gigi. Tenaga binatang yang digunakan adalah keledai maupun unta dan Saqiya terkenal pada zaman Roma.

 

Para ilmuwan Muslim melakukan eksplorasi peralatan tersebut untuk mendapatkan hasil yang lebih memuaskan. Al-Jazari merintis jalan ke sana dengan menguraikan mesin yang mampu menghasilkan air dalam jumlah lebih banyak dibandingkan dengan mesin yang pernah ada sebelumnya.

Al-Jazari, kala itu, memikul tanggung jawab untuk merancang lima mesin pada abad ketiga belas. Dua mesin pertamanya merupakan modifikasi terhadap Shaduf, mesin ketiganya adalah pengembangan dari Saqiya di mana tenaga air menggantikan tenaga binatang………

Satu mesin yang sejenis dengan Saqiya diletakkan di Sungai Yazid di Damaskus dan diperkirakan mampu memasok kebutuhan air di rumah sakit yang berada di dekat sungai tersebut.

 

Mesin keempat adalah mesin yang menggunakan balok dan tenaga binatang. Balok digerakkan secara naik turun oleh sebuah mekanisme yang melibatkan gigi gerigi dan sebuah engkol.

 

Mesin itu diketahui merupakan mesin pertama kalinya yang menggunakan engkol sebagai bagian dari sebuah mesin. Di Eropa hal ini baru terjadi pada abad 15. Dan hal itu dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa.

 

Pasalnya, engkol mesin merupakan peralatan mekanis yang penting setelah roda. Ia menghasilkan gerakan berputar yang terus menerus. Pada masa sebelumnya memang telah ditemukan engkol mesin, namun digerakkan dengan tangan. Tetapi, engkol yang terhubung dengan sistem rod di sebuah mesin yang berputar ceritanya lain.

 

Penemuan engkol mesin sejenis itu oleh sejarawan teknologi dianggap sebagai peralatan mekanik yang paling penting bagi orang-orang Eropa yang hidup pada awal abad kelima belas. Bertrand Gille menyatakan bahwa sistem tersebut sebelumnya tak diketahui dan sangat terbatas penggunaannya.

 

Pada 1206 engkol mesin yang terhubung dengan sistem rod sepenuhnya dikembangkan pada mesin pemompa air yang dibuat Al-jazari. Ini dilakukan tiga abad sebelum Francesco di Giorgio Martini melakukannya.

 

Sedangkan mesin kelima, adalah mesin pompa yang digerakkan oleh air yang merupakan peralatan yang memperlihatkan kemajuan lebih radikal. Gerakan roda air yang ada dalam mesin itu menggerakan piston yang saling berhubungan.

 

Kemudian, silinder piston tersebut terhubung dengan pipa penyedot. Dan pipa penyedot selanjutnya menyedot air dari sumber air dan membagikannya ke sistem pasokan air. Pompa ini merupakan contoh awal dari double-acting principle. Taqi al-Din kemudian menjabarkannya kembali mesin kelima dalam bukunya pada abad keenam belas.

Abu Al Zahrawi / ALBUCASIS

Sang Penemu Gips Era Islam. Abu Al Zahrawi merupakan seorang dokter, ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli dari teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini…… Sebagai seorang dokter era kekalifahan, dia sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern ini.Al Zahrawi lahir pada tahun 936 di kota Al Zahra yaitu sebuah kota yang terletak di dekat Kordoba di Andalusia yang sekarang dikenal dengan negara modern Spanyol di Eropa.

 

Kota Al Zahra sendiri dibangun pada tahun 936 Masehi oleh Khalifah Abd Al rahman Al Nasir III yang berkuasa antara tahun 912 hingga 961 Masehi. Ayah Al Zahrawi merupakan seorang penguasa kedelapan dari Bani Umayyah di Andalusia yang bernama Abbas.

 

Menurut catatan sejarah keluarga ayah Al Zahrawi aslinya dari Madinah yang pindah ke Andalusia.Al Zahrawi selain termasyhur sebagai dokter yang hebat juga termasyhur karena sebagai seorang Muslim yang taat. Dalam buku Historigrafi Islam Kontemporer, seorang penulis dari perpustakaan Viliyuddin Istanbul Turki menyatakan Al Zahrawi hidup bagaikan seorang sufi…….. Kebanyakan dia melakukan pengobatan kepada para pasiennya secara cuma-cuma. Dia sering kali tidak meminta bayaran kepada para pasiennya. Sebab dia menganggap melakukan pengobatan kepada para pasiennya merupakan bagian dari amal atau sedekah. Dia merupakan orang yang begitu pemurah serta baik budi pekertinya.

 

Selain membuka praktek pribadi, Al Zahrawi juga bekerja sebagai dokter pribadi Khalifah Al Hakam II yang memerintah Kordoba di Andalusia yang merupakan putra dari Kalifah Abdurrahman III (An-Nasir). Khalifah Al Hakam II sendiri berkuasa dari tahun 961 sampai tahun 976.

 

Dia melakukan perjanjian damai dengan kerajaan Kristen di Iberia utara dan menggunakan kondisi yang stabil untuk mengembangkan agrikultur melalui pembangunan irigasi. Selain itu dia juga meningkatkan perkembangan ekonomi dengan memperluas jalan dan pembangunan pasar.Kehebatan Al Zahrawi sebagai seorang dokter tak dapat diragukan lagi.

 

Salah satu sumbangan pemikiran Al Zahrawi yang begitu besar bagi kemajuan perkembangan ilmu kedokteran modern adalah penggunaan gips bagi penderita patah tulang maupun geser tulang agar tulang yang patah bisa tersambung kembali. Sedangkan tulang yang geser bisa kembali ke tempatnya semula. Tulang yang patah tersebut digips atau dibalut semacam semen.

 

Dalam sebuah risalahnya, dia menuliskan, jika terdapat tulang yang bergeser maka tulang tersebut harus ditarik supaya kembali tempatnya semula. Sedangkan untuk kasus masalah tulang yang lebih gawat, seperti patah maka harus digips.Untuk menarik tulang lengan yang bergeser, Al Zahrawi menganjurkan seorang dokter meminta bantuan dari dua orang asisten. Kedua asisten tersebut bertugas memegangi pasien dari tarikan.

Kemudian lengan harus diputar ke segala arah setelah lengan yang koyak dibalut dengan balutan kain panjang atau pembalut yang lebih besar. Sebelum dokter memutar tulang sendi sang pasian, dokter tersebut harus mengoleskan salep berminyak ke tangannya. Hal ini juga harus dilakukan oleh para asisten yang ikut membantunya dalam proses penarikan. Setelah itu dokter menggerakan tulang sendi pasien dan mendorong tulang tersebut hingga tulang tersebut kembali ke tempatnya semula.

 

Setelah tulang lengan yang bergeser tersebut kembali ke tempat semula, dokter harus melekatkan gips pada bagian tubuh yang tulangnya tadi sudah dikembalikan. Gips tersebut mengandung obat penahan darah dan memiliki kemampuan menyerap. Kemudian gips tersebut diolesi dengan putih telur dan dibalut dengan perban secara ketat. Setelah itu, dengan menggunakan perban yang diikatkan ke lengan, lengan pasien digantungkan ke leher selama beberapa hari.

 

Sebab jika lengan tidak digantungkan, maka lengan terasa sakit karena masih lemah kondisinya. Sesudah kondisi lengan semakin kuat dan membaik, maka gantungan lengan ke leher dilepaskan. Jika tulang yang bergeser itu sudah benar-benar kembali dalam posisi semula dengan baik dan sudah tidak terasa begitu sakit lagi maka buka semua balutan termasuk gips yang membalut tangan pasien.

 

Tetapi jika tulang yang bergeser tersebut belum sepenuhnya pulih atau kembali ke tempat semula secara tepat, maka perban maupun gips yang membalut lengan pasien harus dibuka. Lalu lengan pasien dibalut lagi dengan gips dan perban yang baru setelah itu dibiarkan selama beberapa hari hingga lengan pasien benar-benar sembuh total.Salah satu karya fenomenal Al Zahrawi merupakan Kitab Al-Tasrif. Kitab tersebut berisi penyiapan aneka obat-obatan yang diperlukan untuk penyembuhan setelah dilakukannya proses operasi.

 

Dalam penyiapan obat-obatan itu, dia mengenalkan tehnik sublimasi. Kitab Al Tasrif sendiri begitu populer dan telah diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa oleh para penulis. Terjemahan Kitab Al Tasrif pernah diterbitkan pada tahun 1519 dengan judul Liber Theoricae nec non Practicae Alsaharavii.

 

Salah satu risalah buku tersebut juga diterjemahkan dalam bahasa Ibrani dan Latin oleh Simone di Genova dan Abraham Indaeus pada abad ke-13. Salinan Kitab Al Tasrif juga juga diterbitkan di Venice pada tahun 1471 dengan judul Liber Servitoris. Risalah lain dalam Kitab Al Tasrif juga diterjemahkan dalam bahasa Latin oleh Gerardo van Cremona di Toledo pada abad ke-12 dengan judul Liber Alsaharavi di Cirurgia. Dengan demikian kitab karya Al Zahrawi semakin termasyhur di seluruh Eropa.
Hal ini menunjukkan betapa pentingnya karya Al Zahrawi tersebut bagi dunia. Kitabnya yang mengandung sejumlah diagram dan ilustrasi alat bedah yang digunakan Al Zahrawi ini menjadi buku wajib mahasiswa kedokteran di berbagai kampus-kampus.Al Zahrawi menjadi pakar kedokteran yang termasyhur pada zamannya. Bahkan hingga lima abad setelah dia meninggal, bukunya tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai belahan dunia. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan

27 Juni 2012

Malaikat Menyumpal Mulut Firaun, Sesaat Sebelum Mati

oleh alifbraja

Malaikat Menyumpal Mulut Firaun, Sesaat Sebelum Mati

 
 
Dari Sa’id bin Jubeir dari Ibnu ‘Abbas radhiya’l-lahu ‘anhuma meriwayatkan: “dua orang Sahabat menghadap Rasulullah (menanyakan tentang Fir’aun). Sabda Nabi s.a.w: “Malaikat Jibril menyumpali mulut Fir’aun dengan pasir, khawatir kalau-kalau akan mengucapkan: la ‘ilaha illa’l-lah”[1]
 
 
 
 
Hadits di atas umumnya dapat kita temui pada bahasan ayat tenggelamnya Fir’aun, surah Yunus ayat 90, di mana Allah berfirman: “Dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir’aun dan bala tentaranya, karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir’aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah).” (Qs. 10:90) .
 
Pada detik-detik naza‘nya, malaikat Jibril melihat gelagat Fir’aun akan mempergunakan kesempatan dalam kesempitan. Allah Ta’ala memerintahkan malaikat Jibril untuk mengeksekusi nyawa Fir’aun dengan cara menyumpal mulutnya dengan pasir, supaya tidak sampai mengucapkan keimanan dan pertaubatannya. Akhirnya Fir’aun mati dengan mulut miring dan jauh dari rahmat Allah s.w.t.(Tafsir Al-Kasyaf, 21 202). Karena iman dan taubat pada saat ini, tiada guna sama sekali.
 
Mengutip Tafsir Syeikh Sa’di, ada dua keadaan di mana iman tidak berguna pada saat itu yakni beriman di ujung sakarat dan beriman menjelang hari kiamat, sesuai firman Allah dalam surah Al-Mu’min:85.
 
Fir’aun wafat di Laut Merah atau laut Qalzum atau sebelumnya populer dengan nama FAM AL-HAIRUTS, dekat terusan Suez, pada tanggal 10 Muharram dan karena itulah ada syari’at shaum ‘Asyura, setelah sebelumnya menyatakan taubat dan yakin akan Tuhan Allah s.w.t. Dan inilah taubat yang tertolak (Qs. 10:90)
 
Di antara perkara yang aneh dalam din Fir’aun adalah fithrah kejadiannya. Umum-nya bayi diciptakan oleh Allah dalam keadaan fithrah, tapi tampaknya hadits ini dikecualikan terhadap bayi Fir’aun. Karena sejak orok sudah kafir di dalam perut ibunya.
 
Bunyi hadits “wa khalaqa fir’aun fi bathni ummihi kafiran” dan Fir’aun dijadikan (oleh Allah) dalam perut ibunya dalam keadaan kafir. (HR. Ibnu ‘Adi dalam Al-Kamil dan Imam Thabarani dalam Al-Ausath). saat menyampaikan hadits ini Rasulullah s.aw sedang berkhutbah di hadapan para sahabat pada sore hari.
 
Ahli sejarah terpecah dua; ada yang bilang Fir’aun itu nama orang (ismul ‘ajam), yang lain dan terbanyak mengatakan Fir’aun itu gelar bagi raja yang lupa daratan. Tapi yang jelas, nama ini pertama kali dipakai oleh Walid bin Mush’ab bin Rayyan, keturunan Lois bin Sam bin Nuh.
 
Fir’aun Musa adalah Ramses II atau Ramses Akbar, yaitu dinasti yang ke-19 yang naik tahta pada 1311 SM. Ada yang mengatakan bahwa, Fir’aun ini juga bernama Maneftah (1224-1214 SM) yang Allah binasakan bersama 700.000 pasukannya di Laut Merah, mayatnya Allah selamatkan, pada waktu syuruq (matahari terbit), menurut Tafsir Muqatil (Qs. 10:90).
 
Mayatnya diawetkan dengan pembalseman dalam bentuk mumi yang kini disimpan di museum Mesir di Kairo dengan berbagai macam hikmah sejarah. Mumi ini ditemukan pertama kali oleh purba-kalawan Perancis, Loret, di Wadi al-Muluk (lembah raja-raja) Thaba Luxor Mesir pada tahun 1896 M. Pembalutnya dibuka oleh Eliot Smith, seorang purbakalawan Inggris pada tanggal 8 Juli 1907.
 
Sebuah gelar yang mengarah pada kultus. Pada saat inilah gelar bisa makan tuan. Gelar menyeret pemiliknya pada kesombongan, sehingga bisa lupa daratan. Fitnah ghuluw (kultus, fanatik) muncul dari pemujaan gelar yang kelewat batas.
 
Perhatikanlah pesan indah dari Imam as-Syafi’i rahimahullah berikut ini: Berkata Imam as-Syafi’i: “aku benci orang yang kelewat mengagungkan makhluk, hingga menjadikan kuburannya (di/sebagai) masjid. Aku kuatir terjadi fitnah atasnya dan fitnah atas orang sesudahnya”.
 
27 Juni 2012

BATU TERAPUNG DI PALESTINA

oleh alifbraja

BATU TERAPUNG DI PALESTIN

Mengikut Al-kisah cerita disebalik batu itu, ianya adalah batu asal tempat duduk Nabi Muhammad SAW saat Isra Mi’raj sampai kini masih tetap terapung di udara. Pada saat Nabi Muhammad hendak Mi’raj, batu tersebut telah terangkat mengekori rasullah, tetapi Nabi SAW menghentakan kakinya pada batu tersebut, maksudnya agar batu tersebut berhenti dari mengikuti bersama malaikat Jibrail naik ke langit bertemu Allah swt. Batu terapung tersebut kini berada dalam masjid Umar (Dome of the Rock) di Lingkungan Masjidil AQSHA di Yarusalem. Sampai sekarang masjid Dome of Rock ditutup untuk umum, dan Yahudi membuat mesjid lain Al Sakhra tak jauh disebelahnya dengan kubah “emas”  dan mendakwanya sebagai Al Aqsa, untuk mengkaburi pandangan ummat Islam dimana mesjid Al Aqsa yang sebenarnya, yang Nabi Muhammad SAW pernah sebutkan Al Aqsa sebagai “mesjid kubah biru”

the rockDome of the Rock

Mengenai Batu di Palestin di Al Aqsa pada Kitab Durrotunnasikhin di jelaskan Nabi Muhammad SAW, pada waktu isro’ yaitu perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa (Palestin) Beliau terbang dengan Menggunakan Bouraq bersama Malaikat Jibril, setelah Sampainya di Masjidil Aqsa , Bouraq ditinggalkan Lantas Nabi Muhammad beserta Malaikat Jibril menuju suatu tempat yang ada batu besarnya lantas dari batu tersebut terlihatlah tangga (ghaib) diperbuat dari mutiara berlian lantas naiklah Nabi beserta malaikat jibril hingga ke langit yang ke 7 di Sidrotul Muntaha Untuk menerima wahyu Sembahyang lima waktu dari Allah SWT

27 Juni 2012

PERISTIWA KETIKA MENGURUS JENAZAH RASULULLAH SAW

oleh alifbraja

PERISTIWA KETIKA MENGURUS JENAZAH RASULULLAH SAW

Apabila Rasulullah s.a.w. baru saja wafat, adalah diriwayatkan bahawa ketika Sayyidina Ali Bin Abu Talib r.a meletakkan jasad baginda diatas tempat tidurnya,tiba-tiba terdengar suara ghaib dari penjuru rumah berseru dengan nada tinggi:””Jangan kamu mandikan jenazah Muhammad,kerana ia adalah orang yang suci lagi pula membawa kesucian!”Ali curiga terhadap suara itu seraya ia bertanya:

“Siapakah engkau?Bukankah Rasulullah menyuruh kami memandikannya.?Tiba-tiba terdengar suara ghaib yang lain berseru sebaliknya:

“Hai Ali!Mandikanlah Beliau!Suara ghaib yang pertama itu berasal dari suara iblis yang terkutuk kerana dengki terhadap Muhammad s.a.w. dan ia bermaksud supaya Nabi Muhammad tidak dimasukkan kedalam liang kuburnya dalam keadaan dimandikan.”

Ujar Ali pula:”Semoga Allah membalasi engkau dengan kebajikan dikala engkau memberitahukan,bahawa suara itu berasal dari iblis.Sekarang saiapakah pula sebenarnya engkau sendiri?”

“Aku adalah Khidir.aku datang untuk menzirahi jenazah Muhammad s.a.w.”Jawab suara itu.

Kemudian Saiyidina Ali r.a pun memandikan jenazah Rasulullahs.a.w.sedang AlFadhal Bin Abbas dan Usamah Bin Zaid r.a menimbakan air dan malaikat Jibril datang membawa harum-haruman dari syurga.Mereka kapani dan kuburkan beliau di kamar rumah Siti Aishah pada malam Rabu dan ada yang mengatakan pada malam Selasa.

Kewafatan baginda telah menyebabkan kesedihan yang bukan sedikit dikalangan seluruh ummat,lebih-lebih lagi para sahabat yang terdekat.Kata -kta yang dilahirkan oleh para sahabat demi setelah mengetahui kewafatan beliau amatlah mengharukan.

Seketika membuka kain selubung yang menutupi wajah Rasulullah yang baru saja wafat,Syaidina Abu Bakar AsSiddiq berkata dengan penuh terharu:

“Demi ayah dan bondaku!Alangkah indahnya hidupmu dan alangkah indahnya matimu!Demi Allah!Sekali-kali tidak akan terkumpul dua kematian atas dirimu.Adapun mati yang telah ditentukan Allah bagimu,telah kau alami.Dan setelah itu takkan ada lagi kematian yang datang kepadamu buat selam-lamanya!”

Hassan Bin Thabitr.a salah seorang sahabat Rasulullahs.a.w. yang utama dan penyair Islam yang agung dizaman Rasulullah,telah menerima berita kewafatan baginda dengan berat sekali.Kesedihan yang dirasakannya dapat kita saksikan dari sebuah sajak yang ditinggalkan sejurus kewafatan Rasulullah:

“duhai ,engkaulah biji mataku
Dengan kematianmu,
aku menjadi buta
tak dapat melihat
siapa yang ingin mati sepeninggalmu
biarlah ia mati pergi menemui ajalnya
Aku,hanya risau haru dengan pemergianmu…..”

Tetapi antara banyak orang tentu sekali yang paling merasakan berat atas kewafatan baginda ialah kaum keluarganya yang terdekat seperti puteri baginda yang paling dikasihinya Siti fatimah serta balu-balu baginda terutama Siti Aisyah r.a.

Pernah suatu hari,Ummu Mukminin Siti Aisyah r.a bersenandung dengan suara teharu sambil berdiri dikubur Nabi s.a.aw. Katanya:

“Wahai insan yang tidak pernah memakai sutera
Yang tak pernah tidur diatas tilam yang empuk
Wahai insan yang keluar dari dunia dan perutnya
Tidak pernah kenyang dengan roti dan gandum
Wahai insan yang memilh tikar tempat tidurnya
Wahai insan yang berjaga sepanjang malam tanpa tidur’
Kerana takut sentuhan neraka sa’ir…….”

Ada riwiyatkan sepeninggal ayahnya,orang melihat Siti fatimah Azzahra selalu berikat kepala,tubuhnya semakin kurus dan matanya membengkak kerana menagis terus menerus,bahkan ia sering tidak sedarkan diri.kepada putera-puteranya ia selalu mengatakan:

“Mana dia ayah yang mencintai kalian itu?Aku tidak pernah lagi melihat dia membuka pintu ini.Kalian tidak akan pernah lagi naik keatas punggungnya seperti yang biasa kalian lakukan…”

Pohon yang biasanya mendapatkan kasih sayang itu ,semakin layu dan mengering………

MISTERI KEMATIAN ABDULLAH AYAHANDA NABI

Rancangan jahat orang Yahudi membunuh Rasulullah saw telah direncanakan sejak sebelum rasulullah lahir lagi. Usaha itu dilakukan bahkan ketika beliau masih berada dalam sulbi ayahnya, Abdullah dan saat berada dalam perut ibunya, Aminah. Setelah beliau lahir, usaha membunuh beliau semakin menjadi-jadi.

Para dukun dan rabi Yahudi berusaha keras membunuh Abdullah, ayah Nabi Muhammad saw. Salah satu tokoh mereka mengatakan, “Siapkan makanan yang telah diberi racun yang sangat mematikan dan kemudian makanan itu berikan kepada Abdul Mutthalib.” Orang-orang Yahudi melakukan hal itu lewat para perempuan yang menutup wajahnya dengan kain. Setelah makanan tersebut selesai dibuat, mereka membawanya kepada Abdul Mutthalib.

 Ketika sampai di rumah Abdul Mutthalib, isterinya keluar dan menyambut mereka. Mereka berkata, “Kami masih keturunan Abdi Manaf dan itu berarti masih famili jauh kalian.” Mereka lantas memberikan makanan tersebut sebagai hadiah. Setelah mereka pergi, Abdul Mutthalib berkata kepada keluarganya, “Kemarilah keluargaku, kita menyantap bersama apa yang dibawakan oleh famili jauh kita.” Namun, saat mereka hendak memakan hidangan yang dibawa itu, terdengar suara dari makanan tersebut, “Kalian jangan memakan aku, karena aku telah diracuni oleh mereka.” Keluarga Abdul Mutthalib tidak jadi makan dan kemudian berusaha mencari tahu siapa para perempuan yang menghadiahi mereka hidangan itu. Namun selidik punya selidik mereka tidak berhasil mengetahui identitas mereka. Ini adalah salah satu tanda-tanda kenabian Rasulullah sebelum lahir.

Tidak berhasil, kembali sekelompok rahib Yahudi dengan memakai pakaian pedagang Syam memasuki kota Mekkah. Mereka sengaja datang ke sana untuk membunuh Abdullah, ayah Rasulullah saw. Sejak awal mereka telah mempersiapkan pedang yang telah di olesi racun. Mereka dengan sabar menanti kesempatan untuk melaksanakan rencana yang telah dibuat jauh-jauh hari.

Suatu hari, Abdullah bin Abdul Mutthalib keluar dari kota Mekkah untuk berburu. Orang-orang Yahudi melihat ini sebagai sebuah kesempatan bagus untuk membunuh Abdullah. Di suatu tempat mereka mengepung dan hendak membunuhnya. Namun lagi-lagi usaha mereka gagal, karena tiba-tiba ada sekelompok Bani Hasyim yang kembali dari perjalanan melalui tempat tersebut. Dan untuk kesekian kalinya Abdullah berhasil selamat dari niat busuk orang-orang Yahudi. Sempat terjadi bentrok antara orang-orang Yahudi dan Bani Hasyim yang berujung pada sejumlah pendeta Yahudi tewas dan sebagian lainnya ditawan dan dibawa kembali ke Madinah.

Abdullah, ayah Rasulullah saw meninggal secara misteri. Sebahagian ada yang meriwayatkan beliau meninggal pada umur 17 tahun sementara lainnya menyebutkan 25 tahun.

 Kazruni dalam bukunya al-Muntaqi menulis:

Abdullah Mutthalib lahir tepat 24 tahun sejak masa pemerintahan Anushirvan, Raja Kisra. Ketika berumur 17 tahun, beliau menikah dengan Aminah. Ketika Aminah hamil Rasulullah saw, Abdullah meninggal dunia di Madinah. Semua orang menuduh penyebab kematian Abdullah adalah orang-orang Yahudi. Mereka meracuni Abdullah. Karena ketika di Mekkah mereka berkali-kali berusaha membunuh Abdullah namun tidak sempat karena ada kendala. Bagaimana bila Abdullah ke Madinah yang di sana hidup banyak orang Yahudi?”

Tentunya, tujuan asli adalah Rasulullah saw, namun ayahnya, Abdullah yang menjadi korban.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 141 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: