Posts tagged ‘maqam’

11 November 2012

MAQAM ROH

oleh alifbraja

MAQAM ROH

 

Dalam istilahi tasawwuf yang dimaksud maqamat sangat berbeza dengan maqam dalam istilah umum yang bererti kubur. Pengertian  maqamat secara adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang berarti kedudukan kerohanian
Maqam erti nya :
1) adalah “tempat berdiri”, dalam istilah sufis bererti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya. Adapun “ahwal” bentuk jamak dari ‘hal’ 
2) biasanya diartikan sebagai keadaan minda atau fikiran yang dialami oleh para sufi celah-celah perjalanan kerohaniannya

Dengan erti kata lain, maqam diertikan sebagai suatu tahap adab
 kepadaNya dengan bermacam usaha diwujudkan untuk satu tujuan
pencarian dan ukuran tugas masing-masing yang berada dalam tahapnya
sendiri ketika dalam keadaan tersebut, serta tingkah laku riyadah
menuju kepadanya.

3  Seorang sufi tidak dibenarkan berpindah ke suatu maqam
lain, kecuali setelah menyelesaikan syarat-syarat yang ada dalam maqam
tersebut. Tahap-tahap atau tingkat-tingkat maqam ini bukannya berbentuk
yang sama di antara ahli-ahli sufi, namun mereka bersependapat bahawa
tahap permulaan bagi setiap maqam ialah taubah.
Rentetan amalan para sufi tersebut di atas akan memberi kesan kepada
keadaan rohani yang disebut sebagai al-ahwal yang diperoleh secara
rohaniah dalam hati secara tidak langsung sebagai anugerah daripada Allah
semata-mata, daripada rasa senang atau sedih, rindu atau benci, rasa takut
atau sukacita, ketenangan atau kecemasan secara berlawanan dalam kenyataan
dan pengalaman dan sebagainya.
4 Al-Maqamat dan al-ahwal adalah dua bentuk kesinambungan yang bersambungan dan bertalian daripada sebab akibat amalan-amalan melalui latihan-latihan rohani.

Banyak pendapat yang berbeza untuk mendefinisikan maqamat, di antaranya :

 Al Qusyairi, menjelaskan bahwa maqamat adalah etika seorang hamba dalam wushul (mencapai, menyambung) kepadanya dengan macam upaya, diwujudkan dengan tujuan pencarian dan ukuran tugas. Al Qusyairi menggambarkan maqamat dalam taubat – wara – zuhud – tawakal – sabar dan Ridha.

Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal – mahabbah – ma’rifat dan redha.

At Thusi menjelaskan maqamat sebagai berikut : Al Taubat – Wara – Zuhud – faqir – sabar – redha – tawakal – ma’rifat.

Al Kalabadhi (w. 990/5) didalam kitabnya “Al taaruf Li Madzhab Ahl Tasawuf”, menjelaskan ada sekitar 10 maqamat : Taubat – zuhud – sabar – faqir – dipercaya – tawadhu (rendah hati) – tawakal – redha – mahabbah (cinta) -dan ma’rifat.

Ibn Arabi dalam kitab Al futuhat Al Makiyah bahkan menyebutkan enam puluh maqam tetapi tidak memperdulikan sususunan maqam tersebut.

Maqam-maqam di atas harus dilalui oleh seorang sufi yang sedang mendekatkan diri kepada Tuhannya. Karena urutan masing-masing ulama sufi dalam menentukan urutan seperti yang tersebut di atas tidak seragam sehingga mengelirukan murid, biasanya Syaikh (guru) tasawuf akan memberikan petunjuknya kepada muridnya.

Menjelaskan perbezaan tentang maqamat dan hal mengelirukan karena definisi dari masing-masing tokoh tasawuf berbeza tetapi umumnya yang dipakai sebagai berikut:

Maqamat adalah perjalanan rohaniah yang diperjuangkan oleh para Sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan srohaniah yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu termasuk ego manusia yang dipandang sebagai berhala besar dan merupakan halangan untuk menuju Tuhan.

Didalam kenyataannya para Saliki memang untuk berpindah dari satu maqam ke maqam lain itu memerlukan waktu yang bertahun- tahun, sedangkan “ahwal” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Contoh ahwal yang sering disebut adalah : takut , syukur, rendah hati, ikhlas, takwa, gembira. Walaupun definisi yang diberikan sering berlawanan makna, namun kebanyakan mereka mengatakan bahwa ahwal dialami secara spontan dan berlangsung sebentar dan diperoleh bukan atas dasar usaha sedar dan perjuangan keras, seperti halnya pada maqamat, melainkan sebagai hadiah dari kilatan Ilahiah , yang biasa disebut “lama’at”.
Menurut al-Qusyairi (w. 465 H) maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam rangka wushul (sampai) kepadaNya dengan berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas.
Adapun pengertian maqam dalam pandangan al-Sarraj (w. 378 H) yaitu kedudukan atau tingkatan seorang hamba dihadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian pengabdian (ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati (mujahadah), latihan-latihan spiritual (riyadhah) dan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah.
Semakna dengan al-Qusyairi, al-Hujwiri (w. 465 H) menyatakan bahwa  maqam  adalah keberadaan seseorang di jalan Allah yang dipenuhi olehnya kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan maqam itu serta menjaganya hingga ia mencapai kesempurnaannya.  Jika diperhatikan beberapa pendapat sufi diatas maka secara terminologis kesemuanya sepakat memahami Maqamat bermakna kedudukan seorang pejalan spiritual di hadapan Allah yang diperoleh melalui kerja keras beribadah, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan latihan-latihan spiritual sehingga pada akhirnya ia dapat mencapai kesempurnaan. Bentuk maqamat adalah pengalaman-pengalaman yang dirasakan dan diperoleh seorang sufi melalui usaha-usaha tertentu; jalan panjang berisi tingkatan-tingkatan yang harus ditempuh oleh seorang sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Tasawuf memang bertujuan agar manusia (sufi) memperoleh hubungan langsung dengan Allah sehingga ia menyadari benar bahwa dirinya berada sedekat-dekatnya dengan Allah. Namun, seorang sufi tidak dapat begitu saja dekat dengan Allah. Ia harus menempuh jalan panjang yang berisi tingkatan-tingkatan (stages ataustations). Jumlah maqam yang harus dilalui oleh seorang sufi ternyata bersifat relatif. Artinya, antara satu sufi dengan yang lain mempunyai jumlah maqam yang berbeda. Ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat maqamat itu terkait erat dengan pengalaman sufi itu sendiri.
Ibn Qayyim al-Jauziyah (w. 750 H) berpendapat bahwa Maqamat terbagi kepada tiga tahapan. Yang pertama adalah kesadaran (yaqzah), kedua adalah tafkir (berpikir) dan yang ketiga adalah musyahadah. Sedangkan menurut al-Sarraj Maqamat terdiri dari tujuh tingkatan yaitu taubat, wara’, zuhd, faqr, shabr, tawakkal dan ridha. 
 Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal – mahabah – ma’rifat dan ridha. At Thusi menjelaskan maqamat sebagai berikut : Al Taubat – Wara – Zuhud – faqir – sabar – ridha – tawakal – ma’rifat. Al Kalabadhi (w. 990/5) didalam kitabnya “Al taaruf Li Madzhab Ahl Tasawuf” menjelaskan ada sekitar 10 maqamat : Taubat – zuhud – sabar – faqir – dipercaya – tawadhu (rendah hati) – tawakal – ridho – mahabbah (cinta) -dan ma’rifat.
Tentang “Hal”, dapat diambil contoh beberapa item yang diungkapkan oleh al-
Thusi sebagai item yang termasuk di dalam kategori hâl yaitu:
 Al-murâqabat (rasa selalu diawasi oleh Tuhan),
al-qurb (perasaan dekat kepada Tuhan),
al-mahabbat (rasa cinta kepada Tuhan),
 al-khauf wa al-rajâ’ (rasa takut dan pengharapan kepada Tuhan),
 al-syawq (rasa rindu),
 al-uns (rasa berteman),
al-thuma’nînat (rasa tenteram),
 al-musyâhadat (perasaan menyaksikan Tuhan dengan mata hati), dan
al-yaqîn (rasa yakin). 
Kembali kepada masalah Al-Maqaamaat dan Al-Akhwaal, yang dapat
dibezakan dari dua segi:

a). Tingkat kerohanian yang disebut maqam hanya dapat diperoleh
dengan cara pengamalan ajaran Tasawuf yang sungguh-sungguh. Sedangkan
ahwaal, di samping dapat diperoleh manusia yang mengamalkannya, dapat
juga diperoleh manusia hanya karena anugErah semata-mata dari Tuhan,
meskipun ia tidak pernah mengamalkan ajaran Tasawuf secara sungguh-
sungguh.

b) Tingkatan kerohanian yang disebut maqam sifatnya
bertahan lama, sedangkan ahwaal sifatnya sementara; sering ada pada
diri manusia, dan sering pula hilang. Meskipun ada pendapat Ulama
Tasawuf yang mengatakan bahwa maqam dan ahwaal sama pengertiannya,
namun penulis mengikuti pendapat yang membeZakannya beserta alasan-
alasannya.

Tentang jumlah tingkatan maqam dan ahwaal, tidak disepakati oleh Ulama
Tasawuf. Abu Nashr As-Sarraaj mengatakan bahwa tingkatan maqam ada
tujuh, sedangkan tingkatan ahwaal ada sepuluh.

Adapun tingkatan maqam menurut Abu Nashr As-Sarraj, dapat disebutkan
sebagai berikut:

a). Tingkatan Taubat (At-Taubah);
b) Tingkatan pemeliharaan diri dari perbuatan yang haram dan yang
makruh, serta yang syubhat (Al-Wara’);
c). Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia (As-Zuhdu).
d) Tingkatan memfakirkan diri (Al-Faqru).
e). Tingkatan Sabar (Ash-Shabru).
f). Tingkatan Tawakkal (At-Tawakkul).
g). Tingkatan kerelaaan (Ar-Ridhaa).

Mengenai tingkatan hal (al-ahwaal) menurut Abu Nash As Sarraj, dapat
dikemukakan sebagai berikut;

a). Tingkatan Pengawasan diri (Al-Muraaqabah)
b). Tingkatan kedekatan/kehampiran diri (Al-Qurbu)
c). Tingkatan cinta (Al-Mahabbah)
d). Tingkatan takut (Al-Khauf)
e). Tingkatan harapan (Ar-Rajaa)
f). Tingkatan kerinduan (Asy-Syauuq)
g). Tingkatan kejinakan atau senang mendekat kepada perintah Allah
(Al-Unsu).
h). Tingkatan ketenangan jiwa (Al-Itmi’naan)
i). Tingkatan Perenungan (Al-Musyaahaah)
j). Tingkatan kepastian (Al-Yaqiin).

Maqām merupakan tahapan-tahapan thariqah yang harus dilalui oleh seorang salik, yang membuahkan keadaan tertentu yang merasuk dalam diri salik. Misalnya maqām taubat, seorang salik dikatakan telah mencapai maqām ini ketika dia telah bermujahadah dengan penuh kesungguhan untuk menjauhi segala bentuk maksiat dan nafsu syahwat. Dengan demikian, maqām adalah suatu keadaan tertentu yang ada pada diri salik yang didapatnya melalui proses usaha riyadhah (melatih hawa nafsu).

Sedangkan yang dimaksud dengan hāl − sebagaimana diungkapkan oleh al-Qusyairi − adalah suatu keadaan yang dianugerahkan kepada seorang sālik tanpa melalui proses usaha riyadhah.

Namun, dalam konsep maqām ini Ibn Atha’illah memiliki pemikiran yang berbeza, dia memandang bahawa suatu maqām boleh dicapai bukan karena adanya usaha dari seorang salik, melainkan semata anugerah Allah swt. Karena jika maqām dicapai karena usaha salik sendiri, sama halnya dengan menisbatkan bahwa salik memiliki kemampuan untuk mencapai suatu maqām atas kehendak dan kemampuan dirinya sendiri.
Pun jika demikian, maka hal ini bertentangan dengan konsep fana’ iradah, iaitu bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kehendak, dan juga bertentangan dengan keimanan kita bahwa Allah yang menciptakan semua perbuatan manusia. Dengan demikian, bagi seorang salik untuk mencapai suatu maqām hendaknya salik menghilangkan segala kehendak dan angan-angannya (isqath al-iradah wa al-tadbir).

Mengenai maqām, Ibn Atha’illah membahaginya tingkatan maqam sufi menjadi 9 tahapan;

1. Maqam taubat
2. Maqam zuhud
3. Maqam shabar
4. Maqam syukur
5. Maqam khauf
6. Maqam raja’
7. Maqam ridha
8. Maqam tawakkal
9. Maqam mahabbah

23 Juli 2012

Nikmatnya Celaan

oleh alifbraja

sebuah Maqam yang harus dilewati oleh para penempuh jalan kebenaran, maqam yang tidak meng-enakkan yaitu Maqam Celaan. Jarang sekali ada pembahasan tentang maqam celaan walaupun hampir semua kita yang menekuni tarekat, berguru, pernah mengalami hal seperti itu. Saya menemukan ulasan lengkap tentang maqam celaan dalam sebuah kitab Tasawuf Klasik yang berjudul Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri.

Untuk lebih mudah memahami saya akan mengajukan pertanyaan kepada anda, “Pernahkah anda dihina orang? Dicela atau dilecehkan orang?” Jawabannya tentu saja ada. Pengalaman orang yang berguru, menekuni tarekat lebih khusus lagi, tiba-tiba saja tanpa sebab setelah berguru orang yang selama ini menjadi teman kemudian menjauhi anda, bahkan orang tua yang anda hormati jadi ikut membenci anda. Ketika orang tua anda mengetahui anda telah berguru kepada Wali Allah apakah mereka langsung setuju? Jawabannya hampir semua orang tua tidak setuju dengan sebab atau tanpa sebab kecuali orang tua anda benar-benar paham tentang tasawuf/tarekat.

Ditambah lagi orang-orang sekitar anda sangat tidak senang dengan Tarekat, maka semakin bertambah-tambah hinaan dan cacian yang anda terima. Ada yang bisa melewati itu semua dengan tabah dan bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya namun tidak mereka berputus asa menganggap menekuni tarekat membuat hidup jadi susah kemudian mengambil keputusan untuk tidak lagi berguru.

Pernahkah anda merenung kenapa anda dikucilkan dan dianggap aneh dan tidak hanya anda sayapun mengalami hal yang sama. Memang harus di akui ada faktor lain yang ikut menyuburkan kebencian dan ketidaksenangan orang terhadap Tarekat seperti tingkah laku pengamal tarekat sendiri yang terkesan eksklusif, tidak mau bergaul dengan lingkungan, tidak menjaga syariat dan lain-lain. Terlepas dari itu semua, saya juga melihat orang-orang yang bertingkah laku baik dan orang juga tidak tahu kalau dia pengamal tarekat namun anehnya orang tetap saja tidak senang. Setelah saya merenung dalam dalam akhirnya saya menemukan jawabannya dan saya uraikan secara singkat dalam empat point berikut ini :

Pertama, Kalau anda sebagai pengamal tarekat sebagai inti dari ajaran Islam dianggap aneh dan asing di zaman ini itu hal yang wajar karena telah terlebih dahulu Nabi mengingatkan dalam hadistnya :
“Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing”. (HR Muslim dari Abu Hurairah).
Kalau ada golongan lain yang merasa lebih “Islam” dari anda itupun wajar karena biasanya yang merasa itu berarti tidak memilikinya 

Kedua, anda menemukan mutiara yang dicari oleh seluruh dunia yaitu bertemu dengan Kekasih Allah. Kakasih Allah ibarat pengantin yang disembunyikan oleh Allah dan hanya diperkenalkan kepada orang-orang yang telah ditakdirkan oleh-Nya. Anda harus mensyukuri nikmat dan karunia yang luar biasa ini. Banyak cara Allah untuk menyembunyikan kekasih-Nya, salah satunya manusia terhijab oleh kekurangan yang nampak pada diri seorang wali sebagaimana juga musuh musuh Islam melihat kekurangan yang Nampak pada diri Nabi. Kalau ada orang mengatakan Guru anda sesat, itu juga wajar karena dia melihat Guru anda dibalik hijab yang dibuat oleh Allah.

Anda begitu yakin Nabi Muhammad adalah seorang mulia dan dimuliakan Allah, apakah musuh-musuh Islam dari dulu beranggapan yang sama? Apakah Abu Lahab dan Abu Jahal menilai Nabi seperti anda menilai? Apakah orang yang menggambar karikatur Nabi dengan penuh kebencian melhat Nabi dengan kemulyaan? Tentu saja TIDAK, mereka melihat nabi dibalik hijab.

Rasulullah SAW, yang menjadi teladan dan pemimpin orang-orang yang mengikut jalan kebenaran, dan yang mengunguli derajat pecinta pecinta Tuhan, Kemulyaan Beliau diakui dan kebenaran Beliau menerima wahyu dari Allah tidak diragukan sedikitpun. Namun dalam pandangan orang yang tidak senang, Belau dituduh dengan berbagai macam tuduhan, “Orang yang suka mengada-ada”, “penyair” bahkan Beliau dituduh Gila dan pendusta.

Orang-orang beriman yang mengalami celaan dilukiskan dalam firman Allah :
“Mereka tidak takut celaan seseorang, itulah rahmat Tuhan yang Dia anugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, Tuhan Maha Pemurah lagi Maha bijaksana” (QS 5:59).

Ketiga, Coba anda bayangkan disebuah desa ada seorang gadis paling cantik dan anda termasuk penduduk desa tersebut. Gadis itu diperebutkan oleh banyak laki-laki dan anda termasuk salah seorang yang berusaha mengambil hati. Bisa anda bayangkan bagaimana susahnya anda merebut hati si gadis diantara puluhan pesaing. Kemudian bayangkan juga anda berada disebuah kota dan dikota tersebut ada seorang gadis paling cantik, primadona kota dan seluruh pemuda di kota tersebut berlomba-lomba merebut hati sang gadis.

Bisa anda bayangkan pengorbanan harta, pikiran dan tenaga untuk bisa mendapatkan gadis pujaan anda, bisa jadi anda ditolak dan mengalami sakit hati. Sekarang bayangkan yang ingin anda rebut cinta adalah dari Sang Maha Cinta yang diperebutkan oleh Manusia seluruh alam ini, ada 5 milyar saingan anda untuk memperoleh perhatian dan cinta Dia Yang Maha Esa. Sekarang coba anda bayangkan pengorbanan apa yang harus anda berikan agar bisa mendapatkan cinta dari Sang Maha Cinta tersebut?. Apakah harta anda cukup untuk bisa mendekati Dia? Apakah pikiran anda cukup untuk dikorbankan kepada-Nya dan apakah perasaan anda siap untuk kecewa dan sakit hati untuk mencapai Cinta-Nya? Saya tidak melanjutkan uraian ini dan saya yakin ada menemukan jawabannya. Yang diminta dari anda oleh Sang Kekasih adalah sedikit kesabaran dalam menggapai cinta tersebut, pantaskah anda berkeluh kesah?

Ke empat, Orang yang masuk tarekat pada hakikatnya adalah memulai hidup baru dalam Taubat kepada-Nya, melangkahkan kaki setahap demi setahap menuju kehadirat Allah. Anda, saya dan semua kita di dalam hati ini bersemayam Jin, setan yang sejak lahir (buka surat An Naas) telah menemani kita siang dan malam selama 24 jam sampai kita mengucapkan kata perpisahan dengan mereka ketika kita menyatakan diri menjadi murid seorang kekasih Allah. Setan dan dalam diri anda itu kemudian keluar dari tubuh anda, keluar dengan nada kesal dan kecewa. Lalu rasa kecewa tersebut kemudian dia masuk ke tubuh sahabat anda, tetangga anda atau bisa jadi orang tua anda sendiri, lewat mereka para jin/setan tersebut dengan bebas mencaci maki anda sebagai orang yang telah meninggakan mereka. Lalu kenapa anda jadi marah kalau dicaci oleh tetangga yang pada hakikatnya adalah telah di masuki oleh “diri anda”, sekutu yang sejak lahir menemami anda. Kalau ada yang mencaci anda karena anda mengamalkan tarekat, dalam hati ucapkan, “wahai kawan lama, maaf, aku tak bisa bersamamu lagi, sekarang aku sudah jadi murid Wali” he he.

Memegang kebenaran itu ibarat memegang bara api, kalau digenggam tangan akan terbakar kalau dilepas maka bara itu akan terlepas dan hilang. Guru memberikan rahasia kepada saya, “Pegang kuat-kuat bara itu dan nanti bara itu akan padam ditanganmu dan kamu harus punya prinsip tangan yang terbakar atau bara api yang padam dan jangan pernah kau melapaskan bara tersebut”. Ditempat lain Guru juga memberikan gambaran bahwa seorang penempuh jalan kebenaran persis seperti orang yang berada diantara buaya dan dinding terjal. Di depan ada dinding terjal sementara dibelakang ada buaya. Kalau mundur akan mati dimakan buaya sementara kalau maju harus melewati dinding yang terjal dan sangat sulit. Guru memberikan rahasia, “Kalau Aku akan terus maju walau harus merangkak”.

Seorang teman seperguruan bertanya kepada saya, “Menurut anda apakah Guru kita termasuk orang yang benar?”. Saya jawab, “Pertanyaan itu ketika tahun pertama berguru saya masih bisa menjawabnya, tapi sekarang setelah belasan tahun saya berguru pertanyaan tersebut tidak bisa lagi terjawab”. Dengan penasaran dia bertanya lagi, “kenapa bisa begitu?”. Saya jawab, “Bertahun-tahun saya mencari Wali Allah, begitu banyak saya menjumpai Guru yang mengaku Wali Allah dan dan hampir saja saya putus asa karena tidak menemukan orang yang benar-benar Wali Allah dan saya pikir tidak mungkin orang seperti saya bisa berjumpa dengan seorang Wali Allah. Setelah berguru awalnya timbul keraguan dalam hati, dan saya membuka Al Qur’an dan Hadist untuk mencari kebenaran dari apa yang disampaikan Guru. Bukan hanya itu saya juga mempelahari  ucapan-ucapan ulama, kitab-kita tentang Tauhid dan tasawuf untuk Menelusuri kebenaran yang di ajarkan oleh Guru. Setelah setahun saya mengambil kesimpulan bahwa Guru kita benar-benar seorang Wali Allah, Ulama Pewaris Nabi dan Beliau benar Khalifah Rasulullah yang menegakkan Agama ini yang kebenarannya tidak diragukan lagi.” Kemudian saya melanjutkan, “Kalau anda saudaraku hari ini bertanya tentang kebenaran Guru kita, saya tidak bisa menjawabnya karena bagi saya saat ini berguru bukan karena benar dan salah tapi karena kecintaan saya kepada Beliau sebagai seoranng pengemban amanah Allah. Andai seluruh dunia ini mengatakan Guru kita salah atau sesat dan siapapun jadi murid Beliau dikatakan masuk Neraka, saya tidak peduli dan saya akan tetap menjadi murid Beliau”. Kemudian saya melanjutkan, “Saudaraku, Kebenaran mutlak itu hanya ada pada Allah dan Guru kita telah mengantarkan saya kepada Allah, Sang Kebenaran Mutlak, jadi untuk apa saya harus mendengarkan kebenaran versi manusia yang sangat besar kemungkinan salahnya?

Siapapun anda wahai saudaraku, apakah kita satu Guru atau berbeda Guru, saya memberikan nasehat kepada anda, siapapun Guru anda, hormati Beliau sayangi Beliau dan teruslah melanjutkan Berguru karena sesungguhnya bersama Kekasih Allah itu adalah sebesar-besarnya rahmat dan karunia dan sesungguhnya Guru Mursyid itu adalah pintu yang langsung menuju kehadirat Allah SWT.

Walaupun pandangan orang negatif terhadap anda, digolongkan anda kapada pengikut aliran sesat, dituduh sebagai pembuat bid’ah bahkan orang mengatakan anda kafir jangan membuat pribadi anda berubah menjadi pribadi pendendam, pribadi yang putus asa dan kemudian malah bertingkah laku aneh sesuka hati. “ah saya sudah terlanjur dianggap sesat, mendingan buat yang aneh-aneh sekalian”. Kemulyaan dan ketinggian derajat seseorang tidak tergantung dari penilaian orang, manusia itu bersifat baharu dan penilaiannya pun akan berubah termasuk penilaiaan terhadap anda. Jadilah pribadi yang mulia karena anda mengemban amanah yang mulia, dalam diri anda telah tertanam Nur Allah dan kemanapun anda melangkah Allah dan seluruh alam ini akan ridho kepada anda. Jadilah pribadi yang ketika orang melihat dan menilai anda maka orang akan mengatakan, “orang ini benar dan Gurunya juga benar”.

Bersyukurlah karena masih ada orang yang menghina anda, karena yang paling berbahaya justru ketika anda dipuji karena pujian sering kali membuat orang lalai dan lupa dan kemudian tanpa sadar menjadi sombong dan angkuh sementara dua sikap itu yang paling tidak disenangi oleh Tuhan dan sikap itu membuat anda jauh dari Tuhan. Hinaan manusia akan membuat cinta anda kepada Tuhan semakin menggelora dan hati anda selalu terjaga untuk selalu mengingat dan membesarkan nama-Nya. Ketika semua orang mencaci dan menghina orang maka anda hanya memikirkan satu saja, semain fokus pada satu tujuan yaitu Allah SWT. Yakinlah bahwa Orang-orang yang menghina anda itu sengaja diciptakan oleh Tuhan sebagai lawan tanding agar anda bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam menggapai cintai-Nya. Suatu saat nanti anda akan menangis dan selalu bersyukur karena anda dihina orang dan hal itu hanya bisa terjadi ketika anda benar-benar bisa memaknai Nikmatnya Celaan. Salam

16 Juli 2012

Hakikat Mati

oleh alifbraja

Al-Ghazali
Kesembilan maqam ruhani yang telah kami sebutkan terdahulu bukanlah satu
kategori yang berdiri sendiri-sendiri. Justru sebagian diantaranya menunjukkan
esensi maqam lainnya, seperti prinsip atau maqam cinta (mahabbah) dan prinsip
atau maqam ridha (rela terhadap ketetapan Allah); keduanya merupakan maqam
tertinggi. Di antara maqam tersebut saling berkait dengan maqam lainnya,
seperti maqam tobat dan zuhud; maqam takut (khauf) dan sabar. Sebab, tobat itu
merupakan tindakan kembali dari jalan yang menjauhkan (diri dari Allah) menuju
jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Sedangkan zuhud merupakan tindakan
meninggalkan ragam kesibukan yang menghalangi pendekatan diri kepada-Nya; rasa
takut (al-khauf) merupakan cambuk yang menggiring perilaku untuk meninggalkan
kesibukan-kesibukan tersebut. Sabar adalah perjuangan ruhani melawan ragam
nafsu yang menghalangi jalan pendekatan diri kepada-Nya.

Jadi, masing-masing maqam tersebut
tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling berkaitan antara satu dengan yang
lainnya, melalui ma’rifat dan mahabbah, yang berdiri sendiri. Hanya saja,
ma’rifat dan mahabbah tidak dapat berwujud sempurna, kecuali dengan cara
menafikan rasa cinta kepada selain Allah dalam kalbu. Untuk kepentingan
tersebut memerlukan al-khauf, sabar dan zuhud. Di antara hal yang besar manfaat
dan fungsinya dalam hal ini adalah mengingat akan mati. Inilah pembahasan yang
kami maksudkan.

 

Syariat memberikan imbalan pahala
yang besar terhadap orang yang suka mengingat mati. Sebab dengan mengingat
mati, akan menyulitkan dirinya dalam mencintai dunia, selain memutus hubungan
hati dengan dunia itu sendiri.
Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu Iari dari padanya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (Q.s. Al-Jumu’ah: 8).

Rasulullah Saw. bersabda:
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan-kelezatan!” (Al-Hadis).

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah
pun tidak suka bertemu dengannya.”

Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang
yang dikumpulkan bersama para syuhada’ (orang yang mati syahid)?” tanya Aisyah
r.a.
“Benar,” jawab Rasulullah, “yaitu, orang yang mengingat mati duapuluh kali
dalam sehari semalam.”

Rasulullah Saw. melintasi sebuah majelis yang penuh dengan gelak tawa, lalu
beliau bersabda, “Campurilah majelis kalian dengan pengaruh
kelezatan-kelezatan!”
“Apakah itu?” di antara mereka mengajukan pertanyaan.
“Maut,” jawab beliau singkat.

Rasulullah Saw. bersabda, “Andaikata binatang-binatang itu tahu akan kematian
sebagaimana manusia (mengetahuinya), tentu kalian tidak akan makan daging yang
gemuk darinya.”
Sabda beliau pula, “Cukup maut sebagai pemberi peringatan.”
Sabdanya:
“Aku tinggalkan dua pemberi peringatan di tengah-tengah kalian, yang diam dan
dapat berbicara. Yang diam adalah maut, sedangkan yang berbicara adalah
Al-Qur’an.” (Al-Hadis).

Ada seorang laki-laki yang disebut-sebut di sisi Rasulullah Saw, orang itu
selalu dipuji dengan baik. Lalu Rasulullah Saw bertanya, “Bagaimana teman
kalian itu men yebut mati?”
“Kami hampir tidak pernah mendengar dia mengingat mati,” jawab mereka.
“(Jika demikian), maka sesungguhnya teman kalian itu bukanlah di situ,” jawab
beliau.

Seorang sahabat dan kaum Anshar bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia
yang paling cerdas dan mulia?” tanya seorang laki-laki dan (kaurn) Anshar.
“Yang paling banyak mengingat mati di antara mereka, dan yang paling banyak
(tekun) mempersiapkan diri menghadapi kematian. Mereka itulah orang-orang yang
paling cerdas, mereka pergi dengan kelegaan dunia dan kemuliaan akhirat,” sabda
beliau.

Manfaat Ingat Kematian
Mati merupakan persoalan besar, sekaligus masalah yang luar biasa. Tiada
sesuatu pun yang luar biasa melebihi kematian ini. Mengingat mati besar
manfaatnya. Kematian dapat mempersempit kehidupan dunia dan menjadikan hati benci
pada dunia.
Membenci duniawi merupakan pangkal segala kebaikan, sebagaimana cinta dunia
merupakan pangkal dari segala kesalahan.

 

Bagi orang ‘arif (ahli ma’rifat)
mengingat Allah itu memiliki dua fungsi dan kegunaan: Pertama, benci pada
dunia, dan kedua, rindu akhirat.
Orang yang mencintai -tidak mustahil- pasti merasakan rindu. Rindu pada hal-hal
yang bisa diraba, pengertiannya adalah, penyempurnaan fantasi untuk mencapai
pada penyaksian langsung.

 

Rasa rindu kepada-Nya pasti bisa
dicapai melalui fantasi, tanpa penglihatan dengan mata.
Hal-ihwal akhirat dan kenikmatannya berikut keindahan hadirat ketuhanan, bagi
orang ‘arif diketahui dalam bentuk seakan-akan dia melihat dari balik tirai
tipis pada waktu mendung dan cahaya remang. Dia merindukan kesempunaan itu
melalui tajalli dan musyahadah. Dia tahu bahwa hal tersebut tidak akan terjadi,
kecuali dengan maut; karenanya dia tidak benci mati, sebab dia tidak membenci
pertemuan dengan Allah Swt, bahkan dia menyukai pertemuan dengan-Nya.

 

Orientasi duniawi muncul disebabkan
oleh kurangnya mengingat mati. Cara untuk bertafakur pada kematian ialah,
hendaklah seseorang mengosongkan pikiran dan ingatannya selain kematian. Lalu
duduk berkhalwat dan mengendalikan ingatan tentang mati dengan lubuk kalbunya.
Mula-mula ia mengingat tentang sahabat-sahabatnya yang telah lalu (meninggal
dunia), mengingat mereka satu persatu, lalu mengingat sifat rakus, ambisi,
angan-angan dan kecintaan mereka terhadap kedudukan dan harta. Kemudian
mengingat pergulatan mereka menjelang direnggut maut dan penyesalannya
menyia-nyiakan waktu dan umur.

 

Selanjutnya bertafakur tentang
tubuh-tubuh mereka: Bagaimana tubuh-tubuh tersebut terobek-robek dalam tanah
dan menjadi bangkai yang dimakan ulat. Lalu, mengembalikan kepada dirinya,
bahwa dirinya seperti salah seorang di antara mereka: Angan-angannya seperti
angan-angan mereka dan pergulatannya (nanti menjelang kematian) seperti
pergulatan mereka. Kemudian perhatiannya dialihkan pada anggota-anggota
tubuhnya, bagaimana nanti ia menjadi remuk; selanjutnya dialihkan pada biji
matanya, ketika nanti ia dimakan ulat; pada lidahnya ketika lidah itu menjadi
usang kemudian menjadi bangkai di dalam mulutnya.

 

Apabila Anda melakukan hal itu, maka
bagi Anda dunia atau harta-benda itu kecil dan hina, dan Anda menjadi bahagia.
Sebab, orang yang bahagia itu adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari
orang lain. Karena itulah Rasulullah Saw bersabda:

 

“Hai manusia, seakan-akan maut itu
telah ditetapkan kepada selain kita, seakan-akan kebenaran itu telah diwajibkan
kepada selain kita, dan seakan-akan orang-orang mati yang kita antarkan baru
saja pergi, mereka kembali kepada kita, kita tempatkan mereka di makam-makamnya
dan kita makan harta-harta peninggalan (warisan)nya, seakan-akan kita (hidup)
kekal setelah mereka. Kita melupakan setiap peringatan dan aman (terbebas) dari
bencana.” (Al-Ha dis).
Lamunan Panjang

 

Lamunan panjang merupakan akar dari
kelalaian mengingat mati. Lamunan itu merupakan kebodohan yang sebenarnya.
Karena itulah Rasulullah Saw. bersabda kepada Abdullah bin Umar r.a.:
“Jika masuk waktu pagi, jangan kamu bicarai dirimu tentang sore har. Bila masuk
waktu sore, jangan kamu bicarai dirimu tentang pagi. Ambil (kesempatan) dari
hidupmu untuk matimu, dari sehatmu untuk sakitmu, sebab kamu hai Abdullah,
tidak tahu apa namamu esok hari.” (Al-Hadis).

Rasulullah Saw juga bersabda, “Ada dua kebiasaan (perangai) yang paling aku
takutkan pada ummatku, yaitu: menuruti hawa nafsu dan lamunan panjang.”

Usamah membeli budak wanita sampai dua bulan dengan harga seratus, lalu
Rasulullah Saw. berkata:
“Apakah kalian tidak merasa heran kepada Usamah, orang yang membeli (budak
wanita) sampai dua bulan? Sungguh Usamah itu panjang lamunannya. Demi jiwaku
yang ada pada kekuasaan-Nya, aku tidak akan mengejapkan kedua mataku, kecuali
aku telah mengira bahwa tempat tumbuhnya bulu pelupuk mata tidak dapat mengatup
hingga Allah mencabut ruhku. Aku tidak akan mengangkat kedua mataku, sedangkan
aku mengira bahwa dirikulah sebenarnya yang menaruhnya hingga aku dimatikan,
dan aku tidak akan menelan sesuap (makanan), kecuali aku mengira bahwa aku
tidak akan memasukkannya ke tenggorokan hingga aku tersekat dengannya karena
menjelang kematian.”

Kemudian beliau bersabda, “Hai anak Adam, jika kalian berakal, maka hendaklah
kalian perhitungkan diri kalian dengan kematian. Demi jiwaku yang ada pada
kekuasaan-Nya, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian pasti tiba, dan
kalian bukan tidak mampu.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Generasi pertama dan ummat ini selamat dengan
keyakinan dan kezuhudan, dan akhir ummat ini menjadi binasa karena sifat kikir
dan panjang angan-angan.”
Dan Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah kalian semua ingin masuk surga?”
“Benar,” jawab mereka.
“Pendekkanlah angan-angan kalian, jadikan ajal kalian ada di hadapan mata
kalian, dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya,” sabda beliau.

Kematian Dimata Orang Arif
Orang ‘arif yang paripurna tidak putus-putus menyebut dan mengingat Allah,
tidak lagi mengingat mati, bahkan dia itu fana’ dalam tauhid. Dia tidak pernah
menoleh ke masa lalu dan masa depan, tidak pula keadaan dari sisi bahwa itu
sekadar keadaan. Dia adalah anak waktunya, patuh kepada sang waktu. Maksudnya,
dia seperti orang yang menyatu dengan yang diingat atau disebutkannya. Kami
tidak menyatakan bahwa dia menyatu dengan Dzat Allah Swt. Hal ini jangan Anda
rasionalisasikan, nanti Anda tergelincir dan salah, kemudian buruk sangka.

 

Orang ‘arif tidak lagi merasakan
rasa takut/cemas (khauf) dan rasa berharap (raja’), karena khauf dan raja’ itu
adalah cambuk yang menggiring seorang hamba kepada suatu kondisi yang penuh
dengan rasa. Lalu bagaimana ia akan mengingat mati, padahal tujuan mengingat
mati itu adalah agar hubungan ikatan kalbunya dengan apa yang bisa ditinggalkan
setelah kematian itu terputus. Sedangkan seorang ‘arif telah mengalami mati,
dalam kaitannya dengan hak dunia dan apa saja yang akan ia tinggalkan dengan
terjadinya kematian itu. Dia juga bebas dari orientasi kepada akhirat, apalagi
pada dunia. Selain Allah Swt, baginya rendah dan hina. Maut baginya merupakan
penyingkapan tirai agar tambah jelas dan yakin. Inilah makna ucapan Sayyidina
Ali r.a, “Jika tirai itu telah dibuka, maka belum bisa menambah keyakinan
bagiku.”
Orang yang melihat orang lain dari balik tirai, keyakinannya belum bertambah
dengan tersingkapnya tirai, hanya saja, bertambah jelas.

 

Maka mengingat mati itu dibutuhkan
oleh orang yang kalbunya masih menoleh pada dunia, agar dia tahu bahwa dia akan
berpisah dan meninggalkannya, sehingga dia tidak selalu cinta dunia. Karena
itulah, Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Ruhul Quds (Jibril) membisik
dalam hatiku, ‘Cintailah apa yang kamu cintai, sesungguhnya kamu akan berpisah
dan meninggalkannya. Puaskanlah hidupmu, sebab sesungguhnya kamu itu adalah
mayit. Dan beramallah sesukamu, karena sesungguhnya kamu mendapat imbalan
dengannya’.”

Hakikat Dan Esensi Mati

Barangkali Anda ingin tahu hal-ihwal dan hakikat mati. Anda tidak akan pernah
mengetahui hal itu sebelum Anda tahu tentang hakikat hidup. Anda tidak akan
pernah mengetahui hakikat hidup sebelum Anda tahu tentang ruh; itu adalah diri
Anda, esensi dan jatidiri Anda. Ruh adalah hal yang tersembunyi dalam diri
Anda. Anda jangan terlalu giat untuk mengenal Tuhan sebelum Anda kenal diri
Anda. Maksud kami dengan diri Anda adalah ruh Anda, sesuatu yang dinisbatkan
kepada Allah Swt. dalam firman-Nya yang berbunyi, “Katakanlah, ‘Ruh itu
termasuk urusan Tuhanku’.” (Q.s. Al-Isra’: 85).
Dan dalam firman-Nya yang berbunyi, “Dan telah meniupkan ke dalamnya ruh
(ciptaan)-Ku.” (Q.s. Al-Hijr: 29).

Dimaksud ayat tersebut bukan ruh jasad yang halus, yang merupakan pembawa
energi indera dan gerak, yang bersumber dari hati dan menyebar ke seluruh
tubuh; menyebar ke seluruh rongga urat-urat yang berdenyut. Dari Situ mengalir
cahaya indera penglihatan pada mata, cahaya indera pendengaran pada telinga,
dan pada seluruh kekuatan dan indera-indera lainnya; sebagaimana cahaya pelita
mengalir ke seluruh sisi rumah. Ruh Ini sama dengan ruh binatang, ia bisa
menjadi binasa dengan maut, sebab itu adalah uap yang kematangannya terus
stabil ketika minyaknya masih stabil. Bila minyak itu telah labil, ia jadi
rusak sebagaimana cahaya yang mengalir dari pelita itu punah ketika pelita itu
padam, karena minyaknya telah habis, atau karena dipadamkan.
Ruh semacam ini menjadi binasa
(rusak) dengan terputusnya makanan (bagi manusia atau binatang), karena makanan
bagi ruh tersebut minyak bagi pelita. Pembunuhan terhadapnya seperti tiupan
pada pelita. Ruh semacam ini, kesehatan dan stabilitasnya menjadi garapan ilmu
kedokteran. Ruh ini tidak memikul ma’rifat dan amanat.

9 Juli 2012

AJARAN CINTA (Rabi’ah al-Adawiyah)

oleh alifbraja
Pendahuluan
           
Cinta yang dalam tasawuf dikenal dengan istilah mahabbah, adalah pilar utama bagi ehidupan seorang sufi, karena dasar setiap gerak dan diam adalah cinta. Tiada kehidupan tanpa cinta dan dengan cinta kehidupan tercipta.
            Cinta Allah kepada seorang hamba ditunjukkan dengan kedekatan-Nya pada hamba itu, sedangkan cinta hamba kepada Allah ditunjukkan dengan taat melakukan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan mempersembahkan kepasrahan total di hadapan-Nya.
            Puncak cinta berakhir dengan disingkapkannya hijab Allah, dibukanya pintu, dan dipersilahkannya seorang hamba masuk ke hadirat Allah bersama para ahbab, para pecinta yang mempunya maqam khusus di hadapan-Nya.
 
Biografi Singkat
 
Salah seorang penyair Sufi perempuan yang terkenal pada abad ke-2H, atau ke-8M di Bashrah Iraq, adalah Rabi’ah al-Adawiyah. Seorang perempuan yang menghijabi dirinya dengan keikhlasan agama, seorang yang selalu membara oleh api cinta dan kerinduan kepada Tuhan. Seorang yang selalu terpikat oleh kecenderungannya untuk selalu dekat dengan Tuhannya dan dilumatkan oleh keagungan menyatu dengan-Nya, seorang perempuan yang telah menanggalkan dirinya guna menyatu dengan Yang Agung.[1]
Pada malam lahirnya al-Adawiyah ke dunia, tidak ada apapun yang pantas untuk menyambut kelahiran sang bayi. Ayahnya begitu miskin, hingga tidak memiliki lampu untuk penerangan  ruangan. Juga tidak setitik minyak saminpun karena habis Ia mempunyai tiga orang putri, maka putri yang ke empat diberi nama Rabi’ah. Ayahnya menamakan Rabi’ah,  yang artinya “empat”, tak lain karena ia merupakan anak keempat dari keempat saudaranya itu.
Dalam hidupnya ayah Rabi’ah adalah seorang hamba yang soleh, yang telah berjanji untuk tidak meminta bantuan pada sesama manusia (kecuali pada Tuhan), namun karena desakan keadaan dan permohonan seorang isteri juga karena merasa kasihan kepada sang anak ia pergi ke rumah-rumah tetangga dan mengetuk pintunya hendak meminta bantuan, tetapi tak ada satu jawaban apapun dari balik pintu, Ismail (ayah Rabi’ah) pun terpaksa pulang dengan tangan hampa.
Saat Ismail tertidur untuk menunggui putri keempatnya yang baru lahir tersebut, ia kemudian bermimpi didatangi oleh Nabi Muhammad Saw dan bersabda: “Janganlah bersedih hati, sebab anak perempuanmu yang baru lahir ini adalah seorang suci yang agung, yang pengaruhnya akan dianut oleh 7.000 umatku.” Nabi kemudian bersabda lagi: “Besok kirimkan surat kepada Isa Zadzan, Amir kota Basrah, ingatkanlah kepadanya bahwa ia biasanya bershalawat seratus kali untukku dan pada malam Jum’at sebanyak empat ratus kali, tetapi malam Jum’at ini ia melupakanku, dan sebagai hukumannya ia harus membayar denda kepadamu sebanyak empat ratus dinar.”
Ayah Rabi’ah kemudian terbangun dan menangis. Tak lama, ia pun menulis surat dan mengirimkannya kepada Amir kota Basrah itu yang dititipkan kepada pembawa surat pemimpin kota itu. Ketika Amir selesai membaca surat itu, ia pun berkata: “Berikan dua ribu dinar ini kepada orang miskin itu sebagai tanda terima kasihku, sebab Nabi telah mengingatkanku untuk memberi empat ratus dinar kepada orang tua itu dan katakanlah kepadanya bahwa aku ingin agar ia menghadapku supaya aku dapat bertemu dengannya. Tetapi aku rasa tidaklah tepat bahwa orang seperti itu harus datang kepadaku, akulah yang akan datang kepadanya dan mengusap penderitaannya dengan janggutku.[2]
Pernah suatu ketika ayahnya berdoa agar ia dikaruniai seorang anak laki-laki. Keinginan untuk memperoleh anak laki-laki ini disebabkan karena keluarga Rabi’ah bukanlah termasuk keluarga yang kaya raya, tapi sebaliknya hidup serba kekurangan dan penuh penderitaan. Setiap hari ayahnya kerap memeras keringat untuk menghidupi keluarganya, sementara anak-anaknya saat itu masih terbilang kecil-kecil. Apalagi dengan kehadiran Rabi’ah, beban penderitaan ayahnya pun dirasakan semakin bertambah berat, sehingga bila kelak dikaruniai anak laki-laki, diharapkan beban penderitaan itu akan berkurang karena anak laki-laki bisa melindungi seluruh keluarganya. Atau paling tidak bisa membantu ayahnya untuk mencari penghidupan.
Sekalipun keluarganya berada dalam kehidupan yang serba kekurangan, namun ayah Rabi’ah selalu hidup zuhud dan penuh kesalehan. Begitu pun Rabi’ah, yang meskipun sejak kecil hingga dewasanya hidup serba kekurangan, namun ia sama sekali tidak menciutkan hatinya untuk terus beribadah kepada Allah. Sebaliknya, kepapaan keluarganya ia jadikan sebagai kunci untuk memasuki dunia sufi, yang kemudian melegendakan namanya sebagai salah seorang martir sufi wanita di antara deretan sejarah para sufi.
Suatu ketika, Rabiah al-Adawiyah beserta keluarganya sedang mengadakan acara makan bersama. Sebelum menyantap makanan, Rabi’ah memandang ayahnya seraya berkata, “wahai Ayah, perkara yang haram selamanya tak akan menjadi halal. Apalagi karena ayah merasa berkewajiban memberi nafkah kepada kami.” Seketika itu Ismail dan istrinya terkejut mendengar kata-kata yang terucap dari bibir Rabi’ah.  Sehingga makanan yang sudah di mulut akhirnya tak jadi dimakan. Ia memandangi  Rabi’ah dengan pandangan yang lembut dan penuh kasih sayang. Sambil tersenyum, si ayah lalu berkata, “Rabi’ah, bagaimana pendapatmu, jika ayah tidak menemukan makanan apa pun kecuali barang yang haram?” Dengan cerdas Rabi’ah menjawab: “kita harus banyak bersabar karena menahan rasa lapar di dunia, ini jauh lebih ringan dan lebih baik daripada harus menanggung siksa kelak dalam api neraka. Ismail merasakan ketenangan dengan jawaban rabi’ah, wajahnya berseri-seri. Pada umumnya, anak seusia Rabi’ah  belum bisa memberikan jawaban setegas jawaban yang diberikan oleh Rabi’ah. Hal itu merupakan cermin keimanan yang sangat mendalam yang telah tertanam sejak usia dini.[3]
 
Rabi’ah Dewasa
Saat Rabi’ah menginjak dewasa, ayah dan ibunya kemudian meninggal dunia. Jadilah kini ia sebagai anak yatim piatu. Penderitaan Rabi’ah terus bertambah, terutama setelah kota Basrah dilanda kelaparan hebat. Rabi’ah dan suadara-saudaranya terpaksa harus berpencar, sehingga ia harus menanggung beban penderitaan itu sendirian.
Pada suatu hari, ketika Rabi’ah sedang berejalan sendirian menelusuri lorong jalanan di kota Basrah, tiba-tiba seseorang menyekap dan menculiknya. Mulut Rabi’ah juga dibungkam dengan sehelai kain. Kemudian ia dibawa dan dijual seharga enam dirham.[4]
Dalam statusnya sebagai budak, Rabi’ah benar-benar diperlakukan kurang manusiawi. Siang malam tenaga Rabi’ah diperas tanpa mengenal istirahat. Pada saat ia keluar untuk membeli keperluan rumah tanpa didampingi oleh majikannya ke pasar yang tempatnya tidak jauh dari tempat majikannya. ada seorang laki-laki asing yang selalu memperhatikan gerak-gerik Rabi’ah seraya laki-laki itu ingin melakukan sesuatu atau dengan kata lain mempunyai niat buruk dan ingin mencelakai Rabi’ah. Ketika laki-laki itu mendekatinya, Rabi’ah lalu menjauh dan berlari dan kemudian jatuh terpeleset. Tangannya patah dan mukanya tersungkur di pasir panas dan berkata:
“Tuhan, tanganku kini patah, aku benar-benar telah menanggung kepedihan. Kepedihan lahir dan batin. Aku telah ditinggalkan oleh kedua orangtua. Dan aku akan selalu menerima cobaan apapunyang hendakl Engkau timpakan ke atas diriku. Aku akan selalu sabar menerima. Tuhan, apakah Engkau masih ridha dalam menerima keadaanku yang dhaif ini. Tuhan aku akan selalu bertanya apakah Engkau masih mencintaiku?[5]
 
Dengan pertolongan Allah swt Rabi’ah akhirnya selamat dari kejaran laki-laki yang mempunyai niat buruk tersebut. Setelah itu, Rabi’ah kembali pulang pada tuannya dan tetap menjalankan ibadah puasa sambil melakukan pekerjaannya sehari-hari.
Keadaan rabi’ah sebagai anak yatim piatu, perbudakan, penyiksaan, penghinaan, dan cobaan-cobaan yang lainnya yang telah dialami oleh Rabi’ah bukanlah sesuatu yang harus diresahkan. Akan tetapi, keridhaan dan kemurkaan Allah swt. yang selalu membuatnya resah. Apabila dibandingkan antara cobaan dan keridhaan Allah swt. keridhaan Allah swt. lebih mahal, sehingga ia sanggup menanggung setiap bentuk penyiksaan, asalkan ia tidak mendapat murka Allah. Kemurkaan Allah sajalah yang ia takuti dalam hidupnya.  [6]
Pada suatu malam, tuannya sempat terbangun dari tidurnya dan dari jendela kamarnya ia melihat Rabi’ah sedang sujud beribadah.
Dalam shalatnya Rabi’ah berdoa, “Ya Allah, ya Tuhanku, Engkau-lah Yang Maha Mengetahui keinginan dalam hatiku untuk selalu menuruti perintah-perintah-Mu. Engkau senantiasa mengetahu bahwa cahaya mataku ini khidmah kepada-Mu. Seandainya urusan ini berada dalam kekuasaanku, niscaya tak sesaatpun  terlewat dari munajat kepada-Mu. Tetapi Engkau telah membiarkan diriku berada dalam pemeliharaan makhluk yang tidak mau beribadah kepada-Mu.[7]
 
Tatkala Rabi’ah masih khusyuk beribadah, tuannya tampak melihat ada sebuah lentera yang tergantung di atas kepala Rabi’ah tanpa ada sehelai tali pun yang mengikatnya. Lentera yang menyinari seluruh rumah itu merupakan cahaya “sakinah” (diambil dari bahasa Hebrew “Shekina”, artinya cahaya Rahmat Tuhan) dari seorang Muslimah suci. Melihat peristiwa aneh yang terjadi pada budaknya itu, majikan Rabi’ah tentu saja merasa ketakutan. Ia kemudian bangkit dan kembali ke tempat tidurnya semula. Sejenak ia tercenung hingga fajar menyingsing. Tak lama setelah itu ia memanggil Rabi’ah dan bicara kepadanya dengan baik-baik seraya membebaskan Rabi’ah sebagai budak. Rabi’ah pun pamitan pergi dan meneruskan pengembaraannya di padang pasir yang tandus.
Kehidupan Rabi’ah setelah terbebas dari perbudakan, merupakan pelajaran yang bermanfaat dan menjadi nasehat yang sempurna. Sebab ia telah menyebarkan nasehat yang bijak dengan kata-kata yang mulia, dikalangan generasi laki-laki dan perempuan pada masanya. Rabi’ah menapaki jalan dimana ia memulai langkah hidup. Sebuah jalan yang erat kaitannya dengan ridha Allah Swt.[8]
Rabi’ah memahami betul bahwa Tuhan dunia  ini juga Tuhan dihari kemudian. Oleh karena itu, jika Ia meridhai kita, menjadi yang pertama dari semua, Ia akan menganugerahi kita di dunia ini dan akan melimpahkan anugerah dihari kemudian.[9]
Jalan Menuju Mahabbah Kepada Allah
1.      Tidak Menikah
Sebagaimana yang banyak ditulis dalam biografi Rabi’ah al-Adawiyah, wanita suci ini sama sekali tidak memikirkan dirinya untuk menikah. Sebab, menurut Rabi’ah, jalan tidak menikah merupakan tindakan yang tepat untuk melakukan pencarian Tuhan tanpa harus dibebani oleh urusan-urusan keduniawian. Padahal, tidak sedikit laki-laki yang berupaya untuk mendekati Rabi’ah dan bahkan meminangnya. Di antaranya adalah Abdul Wahid bin Zayd, seorang sufi yang zuhud dan wara. Ia juga seorang teolog dan termasuk salah seorang ulama terkemuka di kota Basrah. 
Suatu ketika, Abdul Wahid bin Zayd sempat mencoba meminang Rabi’ah. Tapi lamaran itu ditolaknya dengan mengatakan, “Wahai laki-laki sensual, carilah perempuan sensual lain yang sama dengan mereka. Apakah engkau melihat adanya satu tanda sensual dalam diriku?”
Laki-laki lain yang pernah mengajukan lamaran kepada Rabi’ah adalah Muhammad bin Sulaiman al-Hasyimi, seorang Amir Abbasiyah dari Basrah (w. 172 H). Untuk berusaha mendapatkan Rabi’ah sebagai istrinya, laki-laki itu sanggup memberikan mahar perkawinan sebesar 100 ribu dinar dan juga memberitahukan kepada Rabi’ah bahwa ia masih memiliki pendapatan sebanyak 10 ribu dinar tiap bulan. Tetapi dijawab oleh Rabi’ah, ”Aku sungguh tidak merasa senang bahwa engkau akan menjadi budakku dan semua milikmu akan engkau berikan kepadaku, atau engkau akan menarikku dari Allah meskipun hanya untuk beberapa saat.”[10]
Dalam kisah lain disebutkan, sahabat Rabi’ah bernama Hasan al-Bashri bercakap-cakap dengan Rabi’ah perihal pernikahan. Hasan al-Bashri bertanya “wahai Rabi’ah apakah engkau akan menikah? kemudian Rabi’ah menjawab “Jika engkau dapat menjawab empat pertanyaanku, aku pun akan menikah.” Hasan al-Bashri berkata, “Bertanyalah, dan jika Allah mengizinkanku, aku akan menjawab pertanyaanmu.” “Pertanyaan pertama,” kata Rabi’ah, “Apakah yang akan dikatakan oleh Hakim dunia ini saat kematianku nanti, akankah aku mati dalam Islam atau murtad?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui yang dapat menjawab.” “Pertanyaan kedua, pada waktu aku dalam kubur nanti, di saat Malaikat Munkar dan Nakir menanyaiku, dapatkah aku menjawabnya?” Hasan menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.” “Pertanyaan ketiga, pada saat manusia dikumpulkan di Padang Mahsyar di Hari Perhitungan (Yaumul Hisab) semua nanti akan menerima buku catatan amal di tangan kanan dan di tangan kiri. Bagaimana denganku, akankah aku menerima di tangan kanan atau di tangan kiri?” Hasan kembali menjawab, “Hanya Allah Yang Maha Tahu.” “Pertanyaan terakhir, pada saat Hari Perhitungan nanti, sebagian manusia akan masuk surga dan sebagian lain masuk neraka. Di kelompok manakah aku akan berada?” Hasan lagi-lagi menjawab seperti jawaban semula bahwa hanya Allah saja Yang Maha Mengetahui semua rahasia yang tersembunyi itu. Selanjutnya, Rabi’ah mengatakan kepada Hasan al-Bashri, “Aku telah mengajukan empat pertanyaan tentang diriku, bagaiman aku harus bersuami yang kepadanya aku menghabiskan waktuku dengannya?” Dalam penolakannya itu pula, Rabi’ah lalu menyenandungkan sebuah sya’ir yang cukup indah.[11]
Damaiku, wahai saudara-saudaraku,
Dalam kesendirianku,
Dan kekasihku bila selamanya bersamaku,
Karena cintanya itu,
Tak ada duanya,
Dan cintanya itu mengujiku,
Di antara keindahan yang fana ini,
Pada saat aku merenungi Keindahan-Nya,
Dia-lah “mirabku”, Dia-lah “kiblatku”,
Jika aku mati karena cintaku,
Sebelum aku mendapatkan kepuasaanku,
Amboi, alangkah hinanya hidupku di dunia ini,
Oh, pelipur jiwa yang terbakar gairah,
Juangku bila menyatu dengan-Mu telah melipur jiwaku,
Wahai Kebahagiaanku dan Hidupku selamanya,
Engkau-lah sumber hidupku,
Dan dari-Mu jua datang kebahagiaanku,
Telah kutanggalkan semua keindahan fana ini dariku,
Harapku dapat menyatu dengan-Mu,
Karena itulah hidup kutuju.[12]
Bebrapa masalah yang dilontarkan rabi’ah dalam dialog di atas itu termasuk dalam persoalan ghaib yang tidaak bisa diketahui kecuali oleh Allah. Karena itulah, orang-orang yang hadir pada saat itu terdiam. Sesaat kemudian ia berkata, “ Kami sama sekali tidak mengerti apa yang engkau maksudkan, wahai Rabi’ah.”
Jawab Rabi’ah; “Kalau aku berdukacita memikirkan hal-hal tersebut, apakah mungkin aku memerlukan suami. Padahal kenyataannya, bila aku bersuami, sebagian waktuku akan disita olehnya.[13]
Begitulah, meskipun sebagai manusia, Rabi’ah tak pernah tergoda sedikit pun oleh berbagai keindahan dunia fana. Sampai wafatnya, ia hanya lebih memilih Allah sebagai Kekasih sejatinya semata ketimbang harus bercinta dengan sesama manusia.
 
2.      Zuhud
Ke-zuhud-an Rabi’ah al-Adawiyah Sebagaimana diungkapkan terdahulu, Rabi’ah sejak kecil sudah memiliki karakter yang tidak begitu banyak memperhatikan kehidupan duniawi. Hidupnya sederhana dan sangat besar kehati-hatiannya terhadap makanan apapun yang masuk ke dalam perutnya. Bahkan saking zuhudnya, Rabi’ah sering menolak setiap bantuan yang datang dari para sahabatnya, padahal andai saja ia bersedia menerima pemberian orang lain, tentu dalam waktu sekejap ia akan kaya raya karena banyak sekali baik dari para pedagang atau para hartawan yang ingin membenatu dia, namun mereka selalu kecewa setiap kali menawarkan hadiah atau bantuan kepada Rabi’ah setiap itu juga Rabi’ah menolaknya, dan Rabi’ah malah menyibukkan diri untuk melayani Tuhannya.
Selepas dirinya dari perbudakan, Rabi’ah memilih hidup menyendiri di sebuah gubuk sederhana di kota Basrah tempat kelahirannya. Ia meninggalkan kehidupan duniawi dan hidup hanya untuk beribadah kepada Allah. Tampaknya, keinginan untuk hidup zuhud dari kehidupan duniawi ini benar-benar ia jalankan secara konsisten.
Aku shalat seakan-akan ini terkahir kalinya, dan pada siang hari aku mengurung diri menjauhi makhluk lainnya, aku takut mereka akan menarikku dari diri-Nya, maka aku katakan, “Ya Tuhan, sibukkanlah hati ini dengan hanya menyebut-Mu, jangan Engkau biarkan mereka menarikku dari-Mu.”
Sebagai seorang zahid, Rabi’ah senantiasa bermunajat kepada Allah agar dihindarkan dari ketergantungannya kepada manusia. Namun, perjalanan zuhud yang dialami Rabi’ah tampaknya tidak mudah begitu saja dilalui. Di depan, banyak tantangan dan cobaan yang harus ia hadapi. Kenyataan-kenyataan itu memang wajar, karena sebagai manusia, tak mungkin dirinya hanya bergantung kepada Allah semata.
Meskipun demikian, Rabi’ah tetap berusaha untuk menghindari apapun bantuan yang datang selain dari Allah, sehingga sekalipun ia hidup dalam kemiskinan (faqr), namun kemiskinannya dianggap sebagai bagian dari kasih sayang Allah kepada Rabi’ah.
Dalam satu kisah misalnya disebutkan, sahabatnya Malik bin Dinar pada suatu waktu mendapati Rabi’ah sedang minum air dar bejana yang pecah, di atas tikar yang telah usang, serta batu bata sebagai bantal di kepalanya. Melihat pemandangan seperti itu, Malik lalu berkata pada Rabi’ah, “Aku memiliki teman-teman yang kaya dan jika engkau membutuhkan bantuan aku akan meminta kepada mereka.” Rabi’ah mengatakan, “Wahai Malik, ucapanmu itu sangat tidak menyenangkan hatiku, dan itu memang ucapan yang salah . yang memberi rizki kawan-kawanmu yang kaya raya itu adalah Allah, yang juga telah memberi rizki kepadaku. Apakah engkau akan mengatakan bahwa hanya orang-orang kaya saja yang memperoleh rizki, sedangkan orang-orang miskin tidak? Jika Allah mentakdirkan kita seperti ini, maka tugas yang perlu kita laksanakan adalah menerimanya dengan tawakkal.”[14]
Sikap zuhud yang ditampilkan Rabi’ah sesungguhnya tiada lain agar ia hanya lebih mencintai Allah ketimbang makhluk-makhluknya. Karena itu, hidup dalam kefakiran baginya bukanlah halangan untuk beribadah dan lebih dekat dengan Tuhannya. Dan, toh, Rabi’ah menganggap bahwa kefakiran adalah suatu takdir, yang karenanya ia harus terima dengan penuh keikhlasan. Kebahagiaan dan penderitaan, demikian menurut Rabi’ah, adalah datang dari Allah. Dan dalam perjalanannya sufistiknya itu, Rabi’ah sendiri telah melaksanakan pesan Rasulullah: “Zuhudlah engkau pada dunia, pasti Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada pada manusia, pasti manusia akan mencintaimu.”
 
Konsep tentang Cinta Rabi’ah
 Cinta Ilahi (al-Hubb al-Ilah) Rabi’ah al-Adawiyah  dalam pandangan kaum sufi memiliki nilai tertinggi. Bahkan kedudukan antara mahabbah dan ma’rifat merupakan kembar dua yang satu sama lain tidak bisa dipisahkan. Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi mengatakan, cinta para sufi dan ma’rifat itu timbul dari pandangan dan pengetahuan mereka tentang cinta abadi dan tanpa pamrih kepada Allah. Cinta itu timbul tanpa ada maksud dan tujuan apa pun.
Rabi’ah mengisyaratkan adanya dua bentuk cinta. Pertama, cinta yang lahir dari kesaksian kepada kemurahan Tuhan dalam bentuk kecukupan hajat hidup insaniyah dan kenikmatan inderawi (Hissiyah) serta kehormatan harga diri (ma’nawiyah), sehingga tiada disangkal jika hati cenderung dan tergirirng untuk mencintai Dzat pemberi kemurahan itu. Cinta seperti inilah yang disebut dengan hubbul-hawa, cinta karena kecenderungan hati.
Kedua, cinta yang lahir dari kesaksian hati kepada kepada adanya kesempurnaan. Jika hijab yang menyelimuti hati seorang hamba dibuka oleh Allah, maka tampaklah oleh hamba tersebut keindahan dan kesempurnaan Tuhan dalam segala hal. Pada saat demikian, secara otomatis lahir rasa cinta yang kokoh seorang hamba kepada Allah.
Cinta kedua inilah yang sesungguhnya paling hakiki, karena seorang hamba tidak lagi melihat seberapa besar Allah memberikan kecukupan hajat hidupnya, melainkan sebuah cinta yang melintasi segala ruang dan waktu serta mengatasi segala keadaan, baik suka maupun duka, baik ketika berkecukupan maupun papa.[15]
Apa yang diajarkan Rabi’ah melalui mahabbah-nya, sebenarnya tak berbeda jauh dengan yang diajarkan Hasan al-Bashri dengan konsep khauf (takut) dan raja’ (harapan). Hanya saja, jika Hasan al-Bahsri mengabdi kepada Allah didasarkan atas ketakutan masuk neraka dan harapan untuk masuk surga, maka mahabbah Rabi’ah justru sebaliknya. Ia mengabdi kepada Allah bukan lantaran takut neraka maupun mengharapkan balasan surga, namun ia mencinta Allah lebih karena Allah semata. Sikap cinta kepada dan karena Allah semata ini misalnya tergambar dalam sya’ir Rabi’ah sebagai berikut:
Ya Allah, jika aku menyembah-Mu,
karena takut pada neraka,
maka bakarlah aku di dalam neraka.
Dan jika aku menyembah-Mu karena mengharapkan surga,
campakkanlah aku dari dalam surga.
Tetapi jika aku menyembah-Mu, demi Engkau,
janganlah Engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu,
yang Abadi kepadaku.[16]
 
Cinta Rabi’ah kepada Allah sebegitu kuat membelenggu hatinya, sehingga hatinya pun tak mampu untuk berpaling kepada selain Allah. Pernah suatu ketika Rabi’ah ditanya, “Apakah Rabi’ah tidak mencintai Rasul?” Ia menjawab, “Ya, aku sangat mencintainya, tetapi cintaku kepada Pencipta membuat aku berpaling dari mencintai makhluknya.” Rabi’ah juga ditanya tentang eksistensi syetan dan apakah ia membencinya? Ia menjawab, “Tidak, cintaku kepada Tuhan tidak meninggalkan ruang kosong sedikit pun dalam diriku untuk rasa membenci syetan.” Allah adalah teman sekaligus Kekasih dirinya, sehingga ke mana saja Rabi’ah pergi, hanya Allah saja yang ada dalam hatinya. Ia mencintai Allah dengan sesungguh hati dan keimanan. Karena itu, ia sering jadikan Kekasihnya itu sebagai teman bercakap dalam hidup.
Menurut kaum sufi, proses perjalanan ruhani Rabi’ah telah sampai kepada maqam mahabbah dan ma’rifat setelah ia berhasil melewati beberapa tahapan atau maqam. Tahapan-tahapan ini ia lampaui seiring dengan perwujudan Cintanya kepada Tuhan. Tapi pada tahap tertentu, Cinta Rabi’ah kepada Tuhannya seakan masih belum terpuaskan, meski hijab penyaksian telah disibakkan. Oleh karena itu, Rabi’ah tak henti-hentinya memohon kepada Kekasihnya itu agar ia bisa terus mencintai-Nya dan Dia pun Cinta kepadanya. Hal ini sesuai dengan firman Allah: “Dia mencintai mereka dan mereka mencintai-Nya” (QS. 5: 59).
Dalam kegamangannya itu, Rabi’ah tak putus-putusnya berdoa dan bermunajat kepada Allah. Bahkan dalam doanya itu ia berharap agar tetap mencintai Allah hingga Allah memenuhi ruang hatinya. Doanya:
Tuhanku, malam telah berlalu dan
siang segera menampakkan diri.
Aku gelisah apakah amalanku Engkau terima,
hingga aku merasa bahagia,
Ataukah Engkau tolak hingga sehingga aku merasa bersedih,
Demi ke-Maha Kuasaan-Mu, inilah yang akan kulakukan.
Selama Engkau beri aku hayat,
sekiranya Engkau usir dari depan pintu-Mu,
aku tidak akan pergi karena cintaku pada-Mu,
telah memenuhi hatiku.[17]
 
Cinta bagi Rabi’ah telah mempesonakan dirinya hingga ia telah melupakan segalanya selain Allah. Tapi bagi Rabi’ah, Cinta tentu saja bukan tujuan, tetapi lebih dari itu Cinta adalah jalan keabadian untuk menuju Tuhan sehingga Dia ridla kepada hamba yang mencintai-Nya. Dan dengan jalan Cinta itu pula Rabi’ah berupaya agar Tuhan ridla kepadanya dan kepada amalan-amalan baiknya. Harapan yang lebih jauh dari Cintanya kepada Tuhan tak lain agar Tuhan lebih dekat dengan dirinya, dan kemudian Tuhan sanggup membukakan hijab kebaikan-Nya di dunia dan juga di akhirat kelak. Ia mengatakan, dengan jalan Cinta itu dirinya berharap Tuhan memperlihatkan wajah yang selalu dirindukannya. Dalam sya’irnya Rabi’ah mengatakan:
Aku mencintai-Mu dengan dua macam Cinta,
Cinta rindu dan Cinta karena Engkau layak dicinta,
Dengan Cinta rindu,
kusibukan diriku dengan mengingat-ingat-Mu selalu,
Dan bukan selain-Mu.
Sedangkan Cinta karena Engkau layak dicinta,
di sanalah Kau menyingkap hijab-Mu,
agar aku dapat memandangmu.
sama sekali tiada puji bagiku dalam cinta manapun
Tapi bagi-Mulah segala puji itu.[18]
 
Selain Rabi’ah al-Adawiyah, sufi lain yang memperkenalkan ajaran mahabbah adalah Maulana Jalaluddin Rumi, sufi penyair yang lahir di Persia tahun 604 H/1207 M dan wafat tahun 672 H/1273 M. Jalaluddin Rumi banyak mengenalkan konsep Mahabbah melalui syai’ir-sya’irnya, terutama dalam Matsnawi dan Diwan-i Syam-I Tabriz. Sepanjang sejarahnya, konsep Cinta Ilahi (Mahabbatullah) yang diperkenalkan Rabi’ah ini telah banyak dibahas oleh berbagai kalangan. Sebab, konsep dan ajaran Cinta Rabi’ah memiliki makna dan hakikat yang terdalam dari sekadar Cinta itu sendiri. Bahkan, menurut kaum sufi, Mahabbatullah tak lain adalah sebuah maqam (stasiun, atau jenjang yang harus dilalui oleh para penempuh jalan Ilahi untuk mencapai ridla Allah dalam beribadah) bahkan puncak dari semua maqam. Hujjatul Islam Imam al-Ghazali misalnya mengatakan, “Setelah Mahabbatullah, tidak ada lagi maqam, kecuali hanya merupakan buah dari padanya serta mengikuti darinya, seperti rindu (syauq), intim (uns), dan kepuasan hati (ridla)”.
Demikian pula, sebelum mencapai cinta kepada Allah, tidak ada jenjang kecuali hanya sebagai salah satu pendahuluannya saja, seperti taubat, sabar, zuhud, dan lain sebagainya.[19] Rabi’ah telah mencapai puncak dari maqam itu, yakni Mahabbahtullah.
 
Pengaruh Doktrin dan Ajaran Mahabbah
 Kisah di atas menggambarkan kemuliaan akhlak Rabi’ah al-Adawiyah, seorang sufi wanita yang nama dan ajaran-ajarannya telah memberi inspirasi bagi para pecinta Ilahi. Rabi’ah adalah seorang sufi legendaries. Sejarah hidupnya banyak diungkap oleh berbagai kalangan, baik di dunia sufi maupun akademisi. Rabi’ah adalah salah seorang sufi yang memperkenalkan ajaran Mahabbah (Cinta) Ilahi, sebuah jenjang (maqam) atau tingkatan yang dilalui oleh seorang salik (penempuh jalan Ilahi).
Sesungguhnya peran Rabi’ah al-Adawiyah dalam dunia sufisme sangatlah kuat, sehingga di atas langkah-langkahnya, berjalan seorang tokoh Ibn al-Faridl, serta Al-Hallaj.
Rabi’ah telah membingungkan para tokoh orientalis. Sebab mereka adalah golongan yang selalu mengklaim bahwa tasawuf bukanlah berasal dari Islam, bahwa materi spiritual yang ada pada tasawuf merupakan “pinjaman” dari spiritualitas Yunani. Mereka juga mengklaim bahwa tasawuf adalah hasil adopsi Islam dari konsep agama dan budaya di luar Islam. Menurut mereka Islam adakh agama pedang bukan agama jiwa dan hati, bukan pula agama asketik dan cinta.
Lalu datanglah Rabi’ah al-Adawiyah, seorang wanita bangsa Arab dari kota Basrah yang tumbuh di akhir abad pertama hijriah yang memberikan jawaban terhadap tudingan orang-orang orientalis tentang Islam. Ia memberikan konsep yang sempurna tentang Cinta Ilahi. Konsep Cinta ini merupakan tangga yang diletakkan di bawah kakinya untuk menapak naik ke puncak yang tertinggi.
Islam adalah sebuah kekuatan spiritual yang dimengerti dengan sangat baik oleh kaum orientalis, walaupun mereka mengingkarinya dan menganggap sebagai anacaman. Mereka sangat cemas, apalagi ketika itu materialisme Eropa sudah runtuh dalam berbagai betuk.tidak ada lagi di dunia ini kekuatan yang muncul dengan sinar cerah diawal kebangkitannya yang lebih besar ketimbang potensi spiritualisme Islam.
Rabi’ah adalah perintis kaum sufi yang mengumandangkan cinta murni, cinta yang tidak dibatasi oleh keinginan selain cinta kepada Allah. Rabi’ah telah menjadikan cinta kepada Allah sebagai inti kehidupan, tabi’at kehidupan, dan tujuan hidup yang paling tinggi. Cinta yang mempertautkan hati seorang hamba dengan penciptanya ini adalah inti dari totalitas makrifat dan ilham sufistik. Bahkan sesungguhnya cinta akan memindahkan materi-materi alam secara keseluruhan kepada ruh-ruh yang dapat merasakan dan selalu bertasbih serta mengabdi kepada Allah. Karena sesungguhnya materi-materi tersebut diciptakan dengan cinta, tegak dengan cinta,  bertasbih dengan cinta, serta membisikkan ungkapan, “Sesungguhnya tidak ada sesuatupun kecuali bertasbih dengan memuji-Nya.” (Q.S. al-Isra:44)
Dengan cinta pula alam ini menjadi teratur secara keseluruhan di dalam wilayah spiritual yang indah dan bersinar, kehidupan menjadi suci, indah dan sempurna. Sesungguhnya segala sesuatu yang ada di alam ini berasal dari ketentuan Allah yang terbaik.[20]
 
Rabi’ah dan menjelang hari kematiannya
Dikisahkan, Rabi’ah telah menjalani masa hidup selama kurang lebih 90 tahun. Dan selama itu, ia hanya mengabdi kepada Allah sebagai Pencipta dirinya, hingga Malaikat Izrail menjemputnya. Tentu saja, Rabi’ah telah menjalani pula masa-masa di mana Allah selalu berada dekat dengannya. Para ulama yang mengenal dekat dengan Rabi’ah mengatakan, kehadiran Rabi’ah di dunia hingga kembalinya ke alam akhirat, tak pernah terbersit sedikit pun adanya keinginan lain kecuali hanya ta’zhim (mengagungkan) kepada Allah. Ia juga bahkan sedikit sekali meminta kepada makhluk ciptaan-Nya.
Kematian Rabi’ah telah membuat semua orang yang mengenalnya hampir tak percaya, bahwa perempuan suci itu akan segera meninggalkan alam fana dan menjumpai Tuhan yang sangat dicintainya. Orang-orang kehilangan Rabi’ah, karena dialah perempuan yang selama hidupnya penuh penderitaan, namun tak pernah bergantung kepada manusia. Setiap orang sudah pasti akan mengenang Rabi’ah, sebagai sufi yang telah berjumpa dengan Tuhannya.

Kini Rabi’ah telah tiada. Penyair kasmaran itu telah meninggalkan  kita semua, perempuan kekasih Ilahi itu meninggal untuk selamanya, dan akan kembali hidup bersama Sang Kekasih di sisi-Nya. Jasad kasarnya hilang ditelan bumi, tetapi ruh sucinya terbang bersama para sufi, para wali, dan para pecinta Ilahi. Namun tapak-tapaknya dalam cinta menuju Allah telah menjadi tonggak terpenting dalam falsafah sufiah tentang cinta Ilahi, dan mempengaruhi penyair sufi sesudahnya seperti Al-Bakhi, at-Tsuri, al-Ghazali, juga mempengaruhi al-Hallaj, as-Syibli, ibn Faridh, dan bahkan al-Aththar, ar-Rumi dan Ibn Arabi.

4 Juli 2012

MAQAM DAN AHWAL

oleh alifbraja

Dalam terminologi tasawuf yang dimaksud maqamat sangat berbeda dengan makam dalam istilah umum yang berarti kuburan. Definisi maqamat secara etimologis adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang berarti kedudukan spiritual (English : Station).

Maqam arti dasarnya 1) adalah “tempat berdiri”, dalam terminologi sufistik berarti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya. Adapun “ahwal” bentuk jamak dari ‘hal’ 2) biasanya diartikan sebagai keadaan mental (mental states) yang dialami oleh para sufi di sela-sela perjalanan spiritualnya.

 

Dengan arti kata lain, maqam didefinisikan sebagai suatu tahap adab

(etika) kepadaNya dengan bermacam usaha diwujudkan untuk satu tujuan

pencarian dan ukuran tugas masing-masing yang berada dalam tahapnya

sendiri ketika dalam kondisi tersebut, serta tingkah laku riyadah (exercise)

menuju kepadanya.5 Seorang sufi tidak dibenarkan berpindah ke suatu maqam

lain, kecuali setelah menyelesaikan syarat-syarat yang ada dalam maqam

tersebut. Tahap-tahap atau tingkat-tingkat maqam ini bukannya berbentuk

yang sama di antara ahli-ahli sufi, namun mereka bersependapat bahawa

tahap permulaan bagi setiap maqam ialah tawbah.

Rentetan amalan para sufi tersebut di atas akan memberi kesan kepada

kondisi rohani yang disebut sebagai al-ahwal yang diperoleh secara

intuitif dalam hati secara tidak langsung sebagai anugerah daripada Allah

semata-mata, daripada rasa senang atau sedih, rindu atau benci, rasa takut

atau sukacita, ketenangan atau kecemasan secara berlawanan dalam realiti

dan pengalaman dan sebagainya.6 Al-Maqamat dan al-ahwal adalah dua

bentuk kesinambungan yang bersambungan dan bertalian daripada kausaliti

(sebab akibat) amalan-amalan melalui latihan-latihan (exersice) rohani.

 

Banyak pendapat yang berbeda untuk mendefinisikan maqamat, diantaranya : Al Qusyairi, menjelaskan bahwa maqamat adalah etika seorang hamba dalam wushul (mencapai, menyambung) kepadanya dengan macam upaya, diwujudkan dengan tujuan pencarian dan ukuran tugas. Al Qusyairi menggambarkan maqamat dalam taubat – wara – zuhud – tawakal – sabar dan Ridha.

 

Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal – mahabah – ma’rifat dan ridha.

 

At Thusi menjelaskan maqamat sebagai berikut : Al Taubat – Wara – Zuhud – faqir – sabar – ridha – tawakal – ma’rifat.

 

Al Kalabadhi (w. 990/5) didalam kitabnya “Al taaruf Li Madzhab Ahl Tasawuf”, sebuah kitab yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Inggris oleh Arthur John Arberry dengan judul “The doctrine of the Sufi” 3) menjelaskan ada sekitar 10 maqamat : Taubat – zuhud – sabar – faqir – dipercaya – tawadhu (rendah hati) – tawakal – ridho – mahabbah (cinta) -dan ma’rifat.

 

Ibn Arabi dalam kitab Al futuhat Al Makiyah (The Meccan Revalation) 4) bahkan menyebutkan enam puluh maqam tetapi tidak memperdulikan sistematika maqam tersebut.

 

Maqam-maqam diatas harus dilalui oleh seorang sufi yang sedang mendekatkan diri kepada Tuhannya. Karena urutan masing-masing ulama sufi dalam menentukan urutan seperti yang tersebut di atas tidak seragam sehingga membingungkan murid, biasanya Syaikh (guru) tasawuf akan memberikan petunjuknya kepada muridnya.

 

Menjelaskan perbedaan tentang maqamat dan hal membingungkan karena definisi dari masing-masing tokoh tasawuf berbeda tetapi umumnya yang dipakai sebagai berikut:

 

Maqamat adalah perjalanan spiritual yang diperjuangkan oleh para Sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan spiritual yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu termasuk ego manusia yang dipandang sebagai berhala besar dan merupakan kendala untuk menuju Tuhan. Didalam kenyataannya para Saliki memang untuk berpindah dari satu maqam ke maqam lain i memerlukan waktu berbilang tahun, sedangkan “ahwal” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Contoh ahwal yang sering disebut adalah : takut , syukur, rendah hati, ikhlas, takwa, gembira. Walaupun definisi yang diberikan sering berlawanan makna, namun kebanyakan mereka mengatakan bahwa ahwal dialami secara spontan dan berlangsung sebentar dan diperoleh bukan atas dasar usaha sadar dan perjuangan keras, seperti halnya pada maqamat, melainkan sebagai hadiah dari kilatan Ilahiah (divine flashes), yang biasa disebut “lama’at”.

 

Tentang “Hal”, dapat diambil contoh beberapa item yang diungkapkan oleh al-

Thusi sebagai item yang termasuk di dalam kategori hâl yaitu: Al-murâqabat (rasa selalu diawasi oleh Tuhan), al-qurb (perasaan dekat kepada Tuhan), al-mahabbat (rasa cinta kepada Tuhan), al-khauf wa al-rajâ’ (rasa takut dan pengharapan kepada Tuhan), al-syawq (rasa rindu), al-uns (rasa berteman), al-thuma’nînat (rasa tenteram), al-musyâhadat (perasaan menyaksikan Tuhan dengan mata hati), dan al-yaqîn (rasa yakin).

 

Kembali kepada masalah Al-Maqaamaat dan Al-Akhwaal, yang dapat

dibedakan dari dua segi:

 

a). Tingkat kerohanian yang disebut maqam hanya dapat diperoleh

dengan cara pengamalan ajaran Tasawuf yang sungguh-sungguh. Sedangkan

ahwaal, di samping dapat diperoleh manusia yang mengamalkannya, dapat

juga diperoleh manusia hanya karena anugrah semata-mata dari Tuhan,

meskipun ia tidak pernah mengamalkan ajaran Tasawuf secara sungguh-

sungguh.

 

b) Tingkatan kerohanian yang disebut maqam sifatnya langgeng atau

bertahan lama, sedangkan ahwaal sifatnya sementara; sering ada pada

diri manusia, dan sering pula hilang. Meskipun ada pendapat Ulama

Tasawuf yang mengatakan bahwa maqam dan ahwaal sama pengertiannya,

namun penulis mengikuti pendapat yang membedakannya beserta alasan-

alasannya.

 

Tentang jumlah tingkatan maqam dan ahwaal, tidak disepakati oleh Ulama

Tasawuf. Abu Nashr As-Sarraaj mengatakan bahwa tingkatan maqam ada

tujuh, sedangkan tingkatan ahwaal ada sepuluh.

 

Adapun tingkatan maqam menurut Abu Nashr As-Sarraj, dapat disebutkan

sebagai berikut:

 

a). Tingkatan Taubat (At-Taubah);

b) Tingkatan pemeliharaan diri dari perbuatan yang haram dan yang

makruh, serta yang syubhat (Al-Wara’);

c). Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia (As-Zuhdu).

d) Tingkatan memfakirkan diri (Al-Faqru).

e). Tingkatan Sabar (Ash-Shabru).

f). Tingkatan Tawakkal (At-Tawakkul).

g). Tingkatan kerelaaan (Ar-Ridhaa).

 

Mengenai tingkatan hal (al-ahwaal) menurut Abu Nash As Sarraj, dapat

dikemukakan sebagai berikut;

 

a). Tingkatan Pengawasan diri (Al-Muraaqabah)

b). Tingkatan kedekatan/kehampiran diri (Al-Qurbu)

c). Tingkatan cinta (Al-Mahabbah)

d). Tingkatan takut (Al-Khauf)

e). Tingkatan harapan (Ar-Rajaa)

f). Tingkatan kerinduan (Asy-Syauuq)

g). Tingkatan kejinakan atau senang mendekat kepada perintah Allah

(Al-Unsu).

h). Tingkatan ketengan jiwa (Al-Itmi’naan)

i). Tingkatan Perenungan (Al-Musyaahaah)

j). Tingkatan kepastian (Al-Yaqiin).

 

 

Maqām merupakan tahapan-tahapan thariqah yang harus dilalui oleh seorang salik, yang membuahkan keadaan tertentu yang merasuk dalam diri salik. Semisal maqām taubat; seorang salik dikatakan telah mencapai maqām ini ketika dia telah bermujahadah dengan penuh kesungguhan untuk menjauhi segala bentuk maksiat dan nafsu syahwati. Dengan demikian, maqām adalah suatu keadaan tertentu yang ada pada diri salik yang didapatnya melalui proses usaha riyadhah (melatih hawa nafsu).

 

Sedangkan yang dimaksud dengan hāl − sebagaimana diungkapkan oleh al-Qusyairi − adalah suatu keadaan yang dianugerahkan kepada seorang sālik tanpa melalui proses usaha riyadhah.

 

Namun, dalam konsep maqām ini Ibn Atha’illah memiliki pemikiran yang berbeda, dia memandang bahwa suatu maqām dicapai bukan karena adanya usaha dari seorang salik, melainkan semata anugerah Allah swt. Karena jika maqām dicapai karena usaha salik sendiri, sama halnya dengan menisbatkan bahwa salik memiliki kemampuan untuk mencapai suatu maqām atas kehendak dan kemampuan dirinya sendiri.

Pun jika demikian, maka hal ini bertentangan dengan konsep fana’ iradah, yaitu bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kehendak, dan juga bertentangan dengan keimanan kita bahwa Allah yang menciptakan semua perbuatan manusia. Dengan demikian, bagi seorang salik untuk mencapai suatu maqām hendaknya salik menghilangkan segala kehendak dan angan-angannya (isqath al-iradah wa al-tadbir).

 

Mengenai maqām, Ibn Atha’illah membaginya tingkatan maqam sufi menjadi 9 tahapan;

 

1. Maqam taubat

2. Maqam zuhud

3. Maqam shabar

4. Maqam syukur

5. Maqam khauf

6. Maqam raja’

7. Maqam ridha

8. Maqam tawakkal

9. Maqam mahabbah

 

 

Maqam Taubat

 

Taubat adalah maqam awal yang harus dilalui oleh seorang salik. Sebelum mencapai maqam ini seorang salik tidak akan bisa mencapai maqam-maqam lainnya. Karena sebuah tujuan akhir tidak akan dapat dicapai tanpa adanya langkah awal yang benar.

Cara taubat sebagaimana pandangan Ibn Atha’illah adalah dengan bertafakkur dan berkhalwat. sedang tafakkur itu sendiri adalah hendaknya seorang salik melakukan instropeksi terhadap semua perbuatannya di siang hari. Jika dia mendapati perbuatannya tersebut berupa ketaatan kepada Allah, maka hendaknya dia bersyukur kepada-Nya. Dan sebaliknya jika dia mendapati amal perbuatannya berupa kemaksiatan, maka hendaknya dia segera beristighfar dan bertaubat kepada-Nya.

Untuk mencapai maqam taubat ini, seorang salik harus meyakini dan mempercayai bahwa irodah (kehendak) Allah meliputi segala sesuatu yang ada. Termasuk bentuk ketaatan salik, keadaan lupa kepada-Nya, dan nafsu syahwatnya, semua atas kehendak-Nya.

Sedangkan hal yang dapat membangkitkan maqam taubat ini adalah berbaik sangka (husn adz-dzon) kepada-Nya. Jika seorang salik terjerumus dalam sebuah perbuatan dosa, hendaknya ia tidak menganggap bahwa dosanya itu sangatlah besar sehingga menyebabkan dirinya merasa putus asa untuk bisa sampai kepada-Nya.

 

Maqam Zuhud

 

Dalam pandangan Ibn ‘Aţā’illah, zuhd ada 2 macam; Zuhd Ẓahir Jalī seperti zuhd dari perbuatan berlebih-lebihan dalam perkara ḥalal, seperti: makanan, pakaian, dan hal lain yang tergolong dalam perhiasan duniawi. Dan Zuhd Bāţin Khafī seperti zuhd dari segala bentuk kepemimpinan, cinta penampilan zahir, dan juga berbagai hal maknawi yang terkait dengan keduniaan”.

Hal yang dapat membangkitkan maqām zuhd adalah dengan merenung (ta’ammul). Jika seorang sālik benar-benar merenungkan dunia ini, maka dia akan mendapati dunia hanya sebagai tempat bagi yang selain Allah, dia akan mendapatinya hanya berisikan kesedihan dan kekeruhan. Jikalau sudah demikian, maka sālik akan zuhd terhadap dunia. Dia tidak akan terbuai dengan segala bentuk keindahan dunia yang menipu.

Maqām zuhd tidak dapat tercapai jika dalam hati sālik masih terdapat rasa cinta kepada dunia, dan rasa ḥasud kepada manusia yang diberi kenikmatan duniawi. Alangkah indahnya apa yang dikatakan oleh Ibn ‘Aţā’illah: ”Cukuplah kebodohan bagimu jika engkau ḥasud kepada mereka yang diberi kenikmatan dunia. Namun, jika hatimu sibuk dengan memikirkan kenikmatan dunia yang diberikan kepada mereka, maka engkau lebih bodoh daripada mereka. Karena mereka hanya disibukkan dengan kenikmatan yang mereka dapatkan, sedangkan engkau disibukkan dengan apa yang tidak engkau dapatkan”.

Inti dari zuhd adalah keteguhan jiwa, yaitu tidak merasa bahagia dengan kenikmatan dunia yang didapat, dan tidak bersedih dan putus asa atas kenikmatan dunia yang tidak didapat.

Seorang salik tidak dituntut menjadi orang yang faqir yang sama sekali tidak memiliki apa-apa. Karena ciri-ciri seorang zuhd ada dua; yaitu saat kenikmatan dunia tidak ada dan saat kenikmatan dunia itu ada. Ini dimaksudkan bahwa jika kenikmatan dunia itu didapat oleh sālik, maka dia akan menghargainya dengan bershukur dan memanfaatkan nikmat tersebut hanya karena Allah. Sebaliknya, jika nikmat sirna dari dirinya, maka dia merasa nyaman, tenang dan tidak sedih.

 

 

Maqam Sabar

 

Ibn ‘Ata’illah membagi sabar menjadi 3 macam sabar terhadap perkara haram, sabar terhadap kewajiban, dan sabar terhadap segala perencanaan (angan-angan) dan usaha.

Sabar terhadap perkara haram adalah sabar terhadap hak-hak manusia. Sedangkan sabar terhadap kewajiban adalah sabar terhadap kewajiban dan keharusan untuk menyembah kepada Allah. Segala sesuatu yang menjadi kewajiban ibadah kepada Allah akan melahirkan bentuk sabar yang ketiga yaitu sabar yang menuntut salik untuk meninggalkan segala bentuk angan-angan kepada-Nya.

“Sabar atas keharaman adalah sabar atas hak-hak kemanusiaan. Dan sabar atas kewajiban adalah sabar atas kewajiban ibadah. Dan semua hal yang termasuk dalam kewajiban ibadah kepada Allah mewajibkan pula atas salik untuk meniadakan segala angan-angannya bersama Allah”.

 

Sabar bukanlah suatu maqam yang diperoleh melalui usaha salik sendiri. Namun, sabar adalah suatu anugerah yang diberikan Allah kepada salik dan orang-orang yang dipilih-Nya.

Maqam sabar itu dilandasi oleh keimanan yang sempurna terhadap kepastian dan ketentuan Allah, serta menanggalkan segala bentuk perencanaan (angan-angan) dan usaha.

 

 

Maqam Syukur

 

Shukur dalam pandangan Ibn ‘Ata’illah terbagi menjadi 3 macam; pertama shukur dengan lisan, yaitu mengungkapkan secara lisan, menceritakan nikmat yang didapat. Kedua, shukur dengan anggota tubuh, yaitu shukur yang diimplementasikan dalam bentuk ketaatan. Ketiga, shukur dengan hati, yaitu dengan mengakui bahwa hanya Allah Sang Pemberi Nikmat, segala bentuk kenikmatan yang diperoleh dari manusia semata-mata dari-Nya. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibn ‘Ata’illah:

“Dalam shukur menurut Ibn ‘Ata’illah terdapat tiga bagian; shukur lisan yaitu memberitakan kenikmatan (pada orang lain), shukur badan adalah beramal dengan ketaatan kepada Allah, dan shukur hati adalah mengakui bahwa Allah semata Sang Pemberi nikmat. Dan segala bentuk kenikmatan dari seseorang adalah semata-mata dari Allah.”

Ibn ‘Ata’illah juga menjelaskan bahwa bentuk shukur orang yang berilmu adalah dengan menjadikan ilmunya sebagai landasan untuk memberi petunjuk kepada manusia lainnya. Sedangkan bentuk shukur orang yang diberi kenikmatan kekayaan adalah dengan menyalurkan hartanya kepada mereka yang membutuhkan. Bentuk shukur orang yang diberi kenikmatan berupa jabatan dan kekuasaan adalah dengan memberikan perlindungan dan kesejahteraan terhadap orang-orang yang ada dalam kekuasaannya.

Lebih lanjut Ibn ‘Aţā’illah memaparkan bahwa shukur juga terbagi menjadi 2 bagian; shukur ẓāhir dan shukur bāţin. Shukur ẓāhir adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-Nya. Sedangkan shukur bāţin adalah mengakui dan meyakini bahwa segala bentuk kenikmatan hanyalah dari Allah semata.

Manfaat dari shukur adalah menjadikan anugerah kenikmatan yang didapat menjadi langgeng, dan semakin bertambah. Ibn ‘Ata’illah memaparkan bahwa jika seorang salik tidak menshukuri nikmat yang didapat, maka bersiap-siaplah untuk menerima sirnanya kenikmatan tersebut. Dan jika dia menshukurinya, maka rasa shukurnya akan menjadi pengikat kenikmatan tersebut. Allah berfirman: لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأَزِيْدَنَّكُمْ (Jika kalian bershukur [atas nikmat-Ku) niscaya akan kutambah [kenikmatan itu]).1

Jika seorang salik tidak mengetahui sebuah nikmat yang diberikan Allah kepada-Nya, maka dia akan mengetahuinya ketika nikmat tersebut telah hilang. Hal inilah yang telah diperingatkan oleh Ibn ‘Ata’illah.

Lebih lanjut Ibn ‘Ata’illah menambahkan hendaknya seorang salik selalu bershukur kepada Allah sehingga ketika Allah memberinya suatu kenikmatan, maka dia tidak terlena dengan kenikmatan tersebut dan menjadikan-Nya lupa kepada Sang Pemberi Nikmat.

Meskipun pada dasarnya semua kenikmatan pada hakikatnya adalah dari Allah, shukur kepada makhluk juga menjadi kewajiban seorang salik. Dia harus bershukur terhadap apa yang telah diberikan orang lain kepadanya, karena hal ini adalah suatu tuntutan shari‘at, seraya mengakui dan meyakini dalam hati bahwa segala bentuk kenikmatan tersebut adalah dari Allah.

Pengejawantahan shukur tetap harus dilandasi dengan menanggalkan segala bentuk angan-angan dan keinginan. Akal adalah kenikmatan paling agung yang diberikan Allah kepada manusia. Karena akal inilah manusia menjadi berbeda dari sekalian makhluk. Namun, dengan kelebihan akal ini pula manusia memiliki potensi untuk bermaksiat kepada Allah. Dengan akal ini manusia dapat berpikir, berangan-angan, dan berkehendak. Sehingga manusia memiliki potensi untuk mengangan-angankan dan menginginkan suatu bentuk kenikmatan yang akan diberikan oleh Allah. Hal inilah yang harus ditiadakan dalam pengejawantahan shukur.

 

 

Maqam khauf

 

Seorang salik dapat mencapai derajat maqam khauf apabila dia merasa takut atas sirnanya ḥal dan maqamnya, karena dia tahu bahwa Allah memiliki kepastian hukum dan kehendak yang tidak dapat dicegah. Ketika Allah berkehendak untuk mencabut suatu maqām dan hal yang ada pada diri salik, seketika itu juga Allah akan mencabutnya.

“Bukti dari makna ini mengharuskan maqām khauf bagi seorang hamba terwujud, ketika dia memiliki ucapan yang baik dan perilaku yang terpuji maka dia tak akan terputus maqām khauf ini, serta dia tidak terpedaya dengan urusan duniawi, karena hukum kepastian dan kehendak Allah terwujud.”

 

Khauf seorang sālik bukanlah sekedar rasa takut semata. Khauf pasti diiringi dengan rajā’ (harapan) kepada Allah, karena khauf adalah pembangkit dari rajā’. Maqām khauf adalah maqām yang membangkitkan maqām rajā’. Rajā’ tidak akan ada jika khauf tidak ada.

Ibn ‘Atā’illah menyatakan bahwa jika sālik ingin agar dibuka baginya pintu rajā’ maka hendaknya dia melihat apa yang diberikan Allah kepadanya berupa anugerah maqām, hal dan berbagai kenikmatan yang dia terima. Jika dia ingin agar terbuka baginya pintu khauf, maka hendaknya dia melihat apa yang dia berikan kepada-Nya berupa peribadatan dan ketaatan penuh pada-Nya. Sebagaimana diutarakan oleh Ibn ‘Atā’illah:

”Jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu rajā’, maka lihatlah segala sesuatu yang diberikan Allah kepadamu. Dan jika engkau ingin agar Allah membukakan bagimu pintu khauf, maka lihatlah apa yang telah kau berikan kepada-Nya.”

 

Rajā’ bukan semata-mata berharap, rajā’ harus disertai dengan perbuatan. Jika rajā’ hanya berupa harapan tanpa perbuatan, maka tidak lain itu hanyalah sebuah angan-angan atau impian belaka. Dengan demikian wajib bagi seorang sālik untuk menyertakan rajā’nya dengan amal kepatuhan, dan peribadatan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah secara kontinu.

Jika rajā’ sudah ada dalam diri sālik, maka rajā’ ini akan semakin menguatkan khauf yang ada pada dirinya. Karena suatu harapan, pasti akan disertai dengan rasa takut akan sesuatu, sehingga dapat dinyatakan bahwa khauf akan melahirkan rajā’, dan rajā’ akan menjadi penguat khauf.

 

Maqam Ridha dan Tawakkal

 

Riḍa dalam pandangan Ibn ‘Ata’illah adalah penerimaan secara total terhadap ketentuan dan kepastian Allah. Hal ini didasarkan pada QS. al-Mā’idah ayat 119:

 

(Allah riḍa terhadap mereka, dan mereka ridha kepada Allah), dan juga sabda Rasulullah SAW.:

 

(Orang yang merasakan [manisnya] iman adalah orang yang ridha kepada Allah).

 

Maqam ridha bukanlah maqam yang diperoleh atas usaha salik sendiri. Akan tetapi ridha adalah anugerah yang diberikan Allah.

 

Jika maqam ridha sudah ada dalam diri sālik, maka sudah pasti maqām tawakkal juga akan terwujud. Oleh karena itu, ada hubungan yang erat antara maqām ridha dan maqām tawakkal. Orang yang ridha terhadap ketentuan dan kepastian Allah, dia akan menjadikan Allah sebagai penuntun dalam segala urusannya, dia akan berpegang teguh kepada-Nya, dan yakin bahwa Dia akan menentukan yang terbaik bagi dirinya.

 

Maqām tawakkal akan membangkitkan kepercayaan yang sempurna bahwa segala sesuatu ada dalam kekuasaan Allah. Sebagaimana termaktub dalam QS. Hūd ayat 123:

(…kepada-Nya lah segala urusan dikembalikan, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya).

 

Sebagaimana maqām-maqām lainnya, maqām ridha dan tawakkal tidak akan benar jika tanpa menanggalkan angan-angan. Ibn ‘Aţā’illah menyatakan bahwa angan-angan itu bertentangan dengan tawakkal, karena barangsiapa telah berpasrah kepada Allah, dia akan menjadikan Allah sebagai penuntunnya, dia akan berpegang teguh kepada-Nya atas segala urusannya, dan jika sudah demikian tiadalah bagi dirinya segala bentuk angan-angan.

 

“Perencanaan (tadbīr) juga bertentangan dengan maqam tawakkal karena seorang yang bertawakkal kepada Allah adalah orang yang menyerahkan kendali dirinya kepada-Nya, dan berpegang teguh kepada-Nya atas segala urusannya. Barangsiapa telah menetapi semua hal tersebut, maka tiada lagi perencanaan baginya, dan dia berpasrah terhadap perjalanan takdir. Peniadaan perencanaan (isqaţ tadbīr) juga terkait dengan maqām tawakkal dan ridha, hal ini jelas, karena seorang yang ridha maka cukup baginya perencanaan Allah atasnya. Maka bagaimana mungkin dia menjadi perencana bersama Allah, sedangkan dia telah rela dengan perencanan-Nya. Apakah engkau tidak tahu bahwa cahaya ridha telah membasuh hati dengan curahan perencanan-Nya. Dengan demikian, orang yang ridha terhadap Allah telah dianugrahkan baginya cahaya ridha atas keputusan-Nya, maka tiada lagi baginya perencanaan bersama Allah…”

 

Hikmah ridha kepada qadhā’ dan qadar, antara lain dapat menghilangkan keruwetan dan kesusahan. Musibah yang diperoleh seseorang, jika dihadapi/dengan pikiran yang lapang dan dengan bekerja yang sungguh-sungguh di sanalah seseorang akan mendapatkan jalan dan petunjuk yang lebih berguna, daripada dihadapi dengan meratapi kesusahan-kesusahan itu, yang tidak ada berkesudahan.

 

Dasar ridha akan qadhā’ dan qadar, ialah firman Allah dalam al-Qur’an:

 

“Orang-orang (yang mu’min) jika mereka mendapat sesuatu bencana berkatalah mereka “Bahwasanya kami ini kepunyaan Allah, dan kami (semua) pasti kembali lagi kepada-Nya.”

Jika seseorang ditimpa bencana hendaklah dia ridha, hatinya tidak boleh mendongkol. Ridha dengan qadhā’ ialah menerima segala kejadian yang menimpa diri seseorang, dengan rasa senang hati dan lapang dada.

 

Meridhai qadhā’ dan qadar, karena ditimpa bencana atau menderita sesuatu, sangat disukai oleh agama. Tetapi sekali-kali tiada dibenarkan seseorang meridhai kekufuran dan kemaksiatan.

 

Ridha dengan taqdir Allah adalah suatu perangai yang terpuji dan mulia serta membiasakan jiwa menyerahkan diri atas keputusan Allah, juga dapat mendapatkan hiburan yang sempurna di kala menderita segala bencana. Dialah obat yang sangat mujarab untuk menolak penyakit gelap mata hati. Dengan ridha atas segala ketetapan Allah, hidup seseorang menjadi tenteram dan tidak gelisah.

 

Seseorang wajib berkeyakinan, bahwa bencana yang menimpa seseorang, adakalanya juga merupakan cobaan bagi seorang hamba, untuk lebih suka mengoreksi segala amal perbuatan pada masa-masa yang lampau, agar seseorang dapat mengubah dan memperbaiki jejak langkah dan perbuatannya pada masa-masa yang akan datang.

 

Menyerah kepada qadhā’illah (keputusan takdir) Allah termasuk tidak boleh mengandai-andaikan, misalnya andaikan tadinya dia tidak ikut rombongan ini, barangkali dia tidak termasuk korban kecelakaan ini, sebagaimana firman Allah SWT.:

 

Hai orang yang beriman, janganlah kamu seperti orang-orang kafir, yang berkata kepada saudara-saudara mereka tatkala mereka bepergian di bumi, atau sedang bertempur : Sekiranya bersama-sama kami, niscaya mereka tidak akan mati, dan tidak akan terbunuh. Yang demikian karena Allah hendak jadikan yang tersebut itu duka cita di hati-hati mereka dan Allah rnenghidupkan dan mematikan, dan Allah Maha melihat akan apa yang engkau kerjakan.

 

 

Maqam Mahabbah

 

Imam al-Ghazālī berpendapat bahwa maqām maḥabbah adalah maqām tertinggi dari sekian maqām-maqām dalam tarekat. Dia menggambarkan bahwa maḥabbah adalah tujuan utama dari semua maqām.

Namun, Ibn ‘Aţā’illah memiliki pandangan yang berbeda tentang konsep mahabbah bahwa dalam mahabbah seorang sālik harus menanggalkan segala angan-angannya. Dia berpendapat demikian karena alasan bahwa sālik yang telah sampai pada mahabbah (cinta) bisa jadi dia masih mengharapkan balasan atas cintanya kepada yang dicintainya. Dari sini tampak bahwa rasa cinta sālik didasarkan atas kehendak dirinya untuk mendapatkan balasan cinta sebagaimana cintanya. Karena pecinta sejati adalah orang yang rela mengorbankan segala yang ada pada dirinya demi yang dicintainya, dan tidak mengharapkan imbalan apapun dari yang dicintainya, yang dalam konteks ini adalah Allah SWT.

 

”…mahabbah (cinta) kepada Allah adalah tujuan luhur dari seluruh maqām, titik puncak dari seluruh derajat. Tiada lagi maqām setelah mahabbah, karena mahabbah adalah hasil dari seluruh maqām, menjadi akibat dari seluruh maqām, seperti rindu, senang, ridha dan lain sebagainya. Dan tiadalah maqām sebelum mahabbah kecuali hanya menjadi permulaan dari seluruh permulaan maqām, seperti taubat, sabar, zuhd dan lain sebagainya…”

 

Untuk dapat mencapai hal tersebut diatas, maka seorang salik disyaratkan terlebih dulu mengambil baiat (janji)pada seorang guru tarekat (Mursyid). Dimana tugas seorang guru Mursyid adalah membimbing dan mengarahkan agar seorang salik tidak terjerumus kedalam kesesatan. Baiat Tarekat merupakan pintu utama memasuki dunia tasawuf.

 

Istilah Tarekat berasal dari kata Ath-Thariq (jalan) menuju kepada

Hakikat atau dengan kata lain pengalaman Syari’at, yang disebut “Al-

Jaraa” atau “Al-Amal”, sehingga Asy-Syekh Muhammad Amin Al-Kurdiy

mengemukakan tiga macam definisi, yang berturut-turut disebutkan:

 

1) Tarekat adalah pengamalan syari’at, melaksanakan beban ibadah

(dengan tekun) dan menjauhkan (diri) dari (sikap) mempermudah

(ibadah), yang sebenarnya memang tidak boleh dipermudah.

 

2) Tarekat adalah menjauhi larangan dan melakukan perintah Tuhan

sesuai dengan kesanggupannya; baik larangan dan perintah yang nyata,

maupun yang tidak (batin).

 

3) Tarekat adalah meninggalkan yang haram dan makruh, memperhatikan

hal-hal mubah (yang sifatnya mengandung) fadhilat, menunaikan hal-hal

yang diwajibkan dan yang disunatkan, sesuai dengan kesanggupan

(pelaksanaan) di bawah bimbingan seorang Arif (Syekh) dari (Shufi)

yang mencita-citakan suatu tujuan.

 

Menurut L. Massignon, yang pernah mengadakan penelitian terhadap

kehidupan Tasawuf di beberapa negara Islam, menarik suatu kesimpulan

bahwa istilah Tarekat mempunyai dua macam pengertian.

 

a) Tarekat yang diartikan sebagai pendidikan kerohanian yang sering

dilakukan oleh orang-orang yang menempuh kehidupan Tasawuf, untuk

mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqamaat”

dan “Al-Ahwaal”.

 

b) Tarekat yang diartikan sebagai perkumpulan yang didirikan menurut

ajaran yang telah dibuat seorang Syekh yang menganut suatu aliran

Tarekat tertentu.

Maka dalam perkumpulan itulah seorang Syekh mengajarkan Ilmu Tasawuf

menurut aliran Tarekat yang dianutnya, lalu diamalkan bersama dengan

murid-muridnya.

 

Dari pengertian diatas, maka Tarekat itu dapat dilihat dari dua sisi;

yaitu amaliyah dan perkumpulan (organisasi). Sisi amaliyah merupakan

latihan kejiwaan (kerohanian); baik yang dilakukan oleh seorang,

maupun secara bersama-sama, dengan melalui aturan-aturan tertentu

untuk mencapai suatu tingkatan kerohanian yang disebut “Al-Maqaamaat”

dan “Al-Akhwaal”, yakni kedudukan dan keadaan seorang salik dalam dunia

tasawuf

 

Maqam Hakikat

 

Istilah hakikat berasal dari kata Al-Haqq, yang berarti kebenaran.

Kalau dikatakan Ilmu Hakikat, berarti ilmu yang digunakan untuk

mencari suatu kebenaran. Kemudian beberapa ahli merumuskan

definisinya sebagai berikut:

 

a. Asy-Syekh Abu Bakar Al-Ma’ruf mengatkan :

 

“Hakikat adalah (suasana kejiwaan) seorang Saalik (Shufi) ketika ia

mencapai suatu tujuan …sehingga ia dapat menyaksikan (tanda-tanda)

ketuhanan dengan mata hatinya”.

 

b. Imam Al-Qasyairiy mengatakan:

 

“Hakikat adalah menyaksikan sesuatu yang telah ditentukan,

ditakdirkan, disembunyikan (dirahasiakan) dan yang telah dinyatakan

(oleh Allah kepada hamba-Nya”.

 

Hakikat yang didapatkan oleh Shufi setelah lama menempuh Tarekat

dengan selalu menekuni Suluk, menjadikan dirinya yakin terhadap apa

yang dihadapinya. Karena itu, Ulama Shufi sering mengalami tiga macam

tingkatan keyakinan:

 

1) “Ainul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh

pengamatan indera terhadap alam semesta, sehingga menimbulkan

keyakinan tentang kebenaran Allah sebagai penciptanya;

 

2) “Ilmul Yaqiin; yaitu tingkatan keyakinan yang ditimbulkan oleh

analisis pemikiran ketika melihat kebesaran Allah pada alam semesta

ini.

 

3) “Haqqul Yaqqin; yaitu suatu keyakinan yang didominasi oleh hati

nurani Shufi tanpa melalui ciptaan-Nya, sehingga segala ucapan dan

tingkah lakunya mengandung nilai ibadah kepada Allah SWT. Maka

kebenaran Allah langsung disaksikan oleh hati, tanpa bisa diragukan

oleh keputusan akal”.

 

Pengalaman batin yang sering dialami oleh Shufi, melukiskan bahwa

betapa erat kaitan antara hakikat dengan mari”fat, dimana hakikat itu

merupakan tujuan awal Tasawuf, sedangkan ma’rifat merupakan tujuan

akhirnya.

 

 

Maqam Marifat

 

Istilah Ma’rifat berasal dari kata “Al-Ma’rifah” yang berarti

mengetahui atau mengenal sesuatu. Dan apabila dihubungkan dengan

pengamalan Tasawuf, maka istilah ma’rifat di sini berarti mengenal

Allah ketika Shufi mencapai maqam dalam Tasawuf.

 

Kemudian istilah ini dirumuskan definisinya oleh beberapa Ulama

Tasawuf; antara lain:

 

a. Dr. Mustafa Zahri mengemukakan salah satu pendapat Ulama Tasawuf

yang mengatakan:

 

“Marifat adalah ketetapan hati (dalam mempercayai hadirnya) wujud

yang wajib adanya (Allah) yang menggambarkan segala kesempurnaannya.”

 

b. Asy-Syekh Ihsan Muhammad Dahlan Al-Kadiriy mengemukakan pendapat

Abuth Thayyib As-Saamiriy yang mengatakan:

 

“Ma’rifat adalah hadirnya kebenaran Allah (pada Shufi)…dalam

keadaan hatinya selalu berhubungan dengan Nur Ilahi…”

 

c. Imam Al-Qusyairy mengemukakan pendapat Abdur Rahman bin Muhammad

bin Abdillah yang mengatakan:

 

“Ma’rigfat membuat ketenangan dalam hati, sebagaimana ilmu

pengetahuan membuat ketenangan (dalam akal pikiran). Barangsiapa yang

meningkat ma’rifatnya, maka meningkat pula ketenangan (hatinya).”

 

Tidak semua orang yang menuntut ajaran Tasawuf dapat sampai kepada

tingkatan ma’rifat. Karena itu, Shufi yang sudah mendapatkan

ma’rifat, memiliki tanda-tanda tertentu, sebagaimana keterangan Dzuun

Nuun Al-Mishriy yang mengatakan; ada beberapa tanda yang dimiliki

oleh Shufi bila sudah sampai kepada tingkatan ma’rifat, antara lain:

 

a. Selalu memancar cahaya ma’rifat padanya dalam segala sikap dan

perilakunya. Karena itu, sikap wara’ selalu ada pada dirinya.

 

b. Tidak menjadikan keputusan pada sesuatu yang berdasarkan fakta

yang bersifat nyata, karena hal-hal yang nyata menurut ajaran

Tasawuf, belum tentu benar.

 

c. Tidak menginginkan nikmat Allah yang banyak buat dirinya, karena

hal itu bisa membawanya kepada perbuatan yang haram.

 

Dari sinilah kita dapat melihat bahwa seorang Shufi tidak

membutuhkan kehidupan yang mewah, kecuali tingkatan kehidupan yang

hanya sekedar dapat menunjang kegiatan ibadahnya kepada Allah SWT.,

sehingga Asy-Syekh Muhammad bin Al-Fadhal mengatakan bahwa ma’rifat

yang dimiliki Shufi, cukup dapat memberikan kebahagiaan batin

padanya, karena merasa selalu bersama-sama dengan Tuhan-nya.

 

Begitu rapatnya posisi hamba dengan Tuhan-nya ketika mencapai

tingkat ma’rifat, maka ada beberapa Ulama yang melukiskannya sebagai

berikut:

 

a. Imam Rawiim mengatakan, Shufi yang sudah mencapai tingkatan

ma’rifat, bagaikan ia berada di muka cermin; bila ia memandangnya,

pasti ia melihat Allah di dalamnya. Ia tidak akan melihat lagi

dirinya dalam cermin, karena ia sudah larut (hulul) dalam Tuhan-nya.

Maka tiada lain yang dilihatnya dalam cermin, kecuali hanya Allah SWT

saja.

 

b. Al-Junaid Al-Bahdaadiy mengatakan, Shufi yang sudah mencapai

tingkatan ma’rifat, bagaikan sifat air dalam gelas, yang selalu

menyerupai warna gelasnya. Maksudnya, Shufi yang sudah larut (hulul)

dalam Tuhan-nya selalu menyerupai sifat-sifat dan kehendak-Nya. Lalu

dikatakannya lagi bahwa seorang Shufi, selalu merasa menyesal dan

tertimpa musibah bila suatu ketika ingatannya kepada Allah terputus

meskipun hanya sekejap mata saja.

 

c. Sahal bin Abdillah mengatakan, sebenarnya puncak ma’rifat itu

adalah keadaan yang diliputi rasa kekagumam dan keheranan ketika

Shufi bertatapan dengan Tuhan-nya, sehingga keadaan itu membawa

kepada kelupaan dirinya.

 

Keempat tahapan yang harus dilalui oleh Shufi ketika menekuni

ajaran Tasawuf, harus dilaluinya secara berurutan; mulai dari

Syariat, Tarekat, Hakikat dan Ma’rifat. Tidak mungkin dapat ditempuh

secara terbalik dan tidak pula secara terputus-putus.

 

Dengan cara menempuh tahapan Tasawuf yang berurutan ini,seorang hamba tidak akan mengalami kegagalan dan tidak pula mengalamikesesatan.

 

 

Demikian ulasan singkat kami tentang maqam (kedudukan) dan hal (keadaan) dalam dunia tasawuf atau dunia para Wali Allah, semoga kita semua dapat menempuh tahapan-tahapan dalam tasawuf.

 

Wassalam

22 Juni 2012

Maqam Ahadiyyah dan Wahidiyyah

oleh alifbraja

Maqam Ahadiyyah dan Wahidiyyah

 

Maqam Ahadiyyah dan Wahidiyyah (2)

Dari alam mineral aku mati lalu menjadi tumbuh-tumbuhan;
Dari alam tumbuh-tumbuhan aku mati lalu mencapai alam hewan;
Dari alam hewan aku mati lalu menjadi manusia.
Lalu mengapa aku harus takut?
Kapan aku berkurang karena kematian?
Nanti aku mati sebagai manusia, lalu aku membentangkan sayapku dan mengangkat kepalaku di antara para malaikat…
Sekali lagi, aku akan berkorban dari alam malakuti dan menjadi apa yang tak sanggup dibayangkan imajinasi.
(Jalaluddin Rumi, Matsnawi, III, 3901-3903)

Ibarat selembar kertas yang memiliki dua sisi. Salah satu sisinya kosong dan sisi lainnya berisi tulisan. Sisi yang kosong tidak bisa dijelaskan sedangkan sisi sebelahnya dapat dijelaskan karena ada kalimat-kalimat penjelasnya.

Jika ini dianalogikan dengan wacana Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah, halaman yang kosong ibarat Maqam Ahadiyyah (the Divine Nothingness).

Dalam kitab-kitab tasawuf, maqam ini sering disebut sebagai Sir al-Asrar/Sacred of the Sacred. Maqam Ahadiyyah juga sering disebut ”Gudang yang Tersembunyi” atau Gayb al-Guyub, Haqiqat al-haqaiq. Sedangkan Maqam Wahidiyyah dapat dikatakan sebagai manifestasi sempurna (kamal al-istijla’) dari Maqam Ahadiyyah.

Maqam Wahidiyyah ini banyak dibicarakan ketika kita membahas konsep al-A’yan al-Tsabitah pada artikel minggu lalu. Al-A’yan al-Tsabitah, suatu maqam yang di atas alam Jabarut, tetapi masih berada di wilayah Maqam Wahidiyyah. Itu sebabnya, Maqam Wahidiyyah disebut Ta’ayyun Kedua dan Ta’ayyun Pertama ialah Maqam Ahadiyyah.

Dalam Ta’ayyun Pertama (Ahadiyyah) nama-nama dan sifat (al-asma’ wa al-aushaf) masih belum teridentifikasi dengan jelas dan semuanya masih tenggelam dalam keesaan diri-Nya. Oleh karena itu, Maqam Ahadiyyah disebut juga dengan Jam’ al-Jam’ atau Ahadiyyah al-Ahad menurut istilah Ibnu Arabi.

Sedangkan Maqam Wahidiyyah sudah ada unsur distingsi dan identifikasi nama-nama dan sifat-sifat. Nama-nama dan sifat-sifat Tuhan berada di dalam Maqam Wahidiyyah karena merupakan hakikat yang menyingkapkan diri-Nya. Dalam ilmu tasawuf disebut madzahir al-asma’ atau al-a’yan.

Kita tidak mungkin bisa mengenal diri-Nya melalui martabat Ahadiyyah maka Ia memperkenalkan diri-Nya sendiri, yang tentu saja sejauh Tuhan mengungkapkan diri-Nya. Dari sini dipahami bahwa 99 nama indah Tuhan yang dikenal dengan al-Asma’ al-Husna, bisa merupakan jendela untuk mengintip, mengenal, dan  mendekati Tuhan.

Seperti disebutkan dalam Alquran, “Dan Allah memiliki Asma’ul Husna maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asma’ul Husna itu.” (QS Al-A’raf: 180).

Nama-nama inilah yang pertama kali diajarkan oleh Allah SWT kepada Adam, yang membuat malaikat takjub kepadanya.

Dalam Alquran disebutkan, “Dan Dia (Allah) mengajarkan kepada Adam nama-nama seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para malaikat lalu berfirman: ‘Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu memang orang-orang yang benar!’ Mereka menjawab: ‘Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana’.” (QS Al-Baqarah: 31-32).

Tentang rahasia nama-nama indah Allah akan dibahas dalam suatu artikel tersendiri yang akan datang. Manifestasi Maqam Ahadiyah ke Maqam Wahidiyyah diterangkan dalam hadis Qudsi bahwa: “Aku pada mulanya harta yang tersembunyi, kemudian Aku ingin dikenal maka kuciptakanlah makhluk dan melalui Aku mereka pun kenal pada-Ku.”

Dalam beberapa kitab tasawuf dijelaskan ketika Allah sedang menyadari diri-Nya (subject conciusness) maka saat itu muncul subjek dan objek dan muncul determinasi (mu’ayyan), manifestasi, spesifikasi. Ketika itu Al-Haq tanazul (descended) dari kemutlakan-Nya menjadi partikularisasi.

Ada yang sadar, ada yang disadari meskipun subjek dan objek itu masih tetap satu atau tunggal. Namun, ketunggalan di sini oleh Ibnu Arabi disebut Ahadiyyah al-Wahid, yaitu  ketunggalan relatif atau ketunggalan dari yang banyak. Berbeda di level Ahadiyyah, Allah betul-betul berada dalam ketunggalan atau keesaan mutlak sehingga disebut Ahadiyyah al-Ahad.

Meskipun dibedakan antara Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah, keduanya tidak bisa dipisahkan. Satu wujud eksistensi dan yang lainnya haqiqah (reality), ‘ain (entity), sya’i (thing), dan ma’lum (pengetahuan Ilahi). Wujud dalam diri-Nya sendiri dalam level Ahadiyyah tidak dapat didefinisikan dan diketahui (unknowable).

Sedangkan di level Wahidiyyah ialah wujud yang dapat diketahui melalui realitas yang termanifestasikan oleh atau sejauh yang ditentukan dan didefinisikan oleh diri-Nya sendiri. Wujud Yang Mahatinggi memang tidak tampak pada diri-Nya sendiri, tetapi menyebabkan segala sesuatu selain diri-Nya menjadi tampak.Ilustrasi sederhananya, seperti ombak dengan laut, matahari dengan cahayanya, api dan panasnya.

Tidak mungkin ada ombak tanpa laut, tidak mungkin ada cahaya tanpa sumber cahaya, dan tidak mungkin ada panas tanpa sumber panasnya. Ombak adalah akibat atau reaksi dari adanya laut yang menjadi sebab.

Para teolog dan kalangan arifin beranggapan bahwa manifestasi dan tajalli dari Ahadiyyah ke Wahidiyyah dan seterusnya ke wujud aktual menjadi pangkal permulaan makhluk.

Berawal dari potensi wujud (wujud al-’ilmiy) atau yang biasa disebut dengan al-A’yan al-Tsabitah, kemudian menjelma menjadi wujud aktual (wujud al-khariji).

Lalu, dari al-khariji dan seterusnya sampai kepada alam syahadah mutlak disebut makhluq atau maj’ul. Di dalam bahasa Alquran sesuatu yag bersifat ciptaan awal (the first creation) biasanya diungkapkan menggunakan kata khalaqa, sedangkan untuk ciptaan kedua (the second creations) atau kejadian yang berkelanjutan (cintinum creations) diungkapkan dalam kata ja’ala. Jadi, ada makhluq dan ada maj’ul.

Sang Khaliq atau Ja’il sering disebut dengan al-Haq, sementara makhluk dan maj’ul, yaitu alam semesta termasuk manusia disebut al-khalq. Antara al-Haq dan al-Khalq sesuatu yang berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan satu sama lain.

Inilah yang diungkapkan dalam syair Jalaluddin Rumi, “Jika engkau bicara soal ketakterbandingan, engkau telah membatasi. Jika engkau berbicara soal keserupaan engkau juga membatasi. Jika engkau membicarakan keduanya itu yang tepat dan engkau bakal mencapai makrifat.”

Maqam Wahidiyyah sering disebut maqam antara (barzakh) karena posisinya berada di antara al-Haq dan al-khalq. Akan tetapi, barzakh di sini tidak sama dengan Alam Barzakh atau Alam Mitsal sebagaimana disebutkan dalam artikel terdahulu, karena Alam Barzakh masih makhluk sedangkan Maqam Barzakh Wahidiyyah belum termasuk makhluk.

Penjelasan lebih lengkap tentang Maqam Ahadiyyah dan Maqam Wahidiyyah akan lebih lengkap setelah nanti kita membahas nama-nama dan sifat-sifat Tuhan. Mungkin kita bisa terbantu untuk memahami dua maqam ini melalui pembahasan spiritual puncak beberapa agama lain. Wallahua’lam.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 136 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: