Posts tagged ‘mukjizat’

23 April 2013

Mengapa Tuhan tidak menggunakan mukjizat untuk mencegah terbunuhnya Imam Husain As?

oleh alifbraja

Tidak diragukan bahwa alam semesta merupakan ciptaan dan makhluk Tuhan. Pengaturan semesta berada di bawah kehendak dan pelbagai sunnah Ilahi. Tuhan adalah Penyebab segala sebab yang ada. Artinya Dia berdasarkan satu hikmah yang akurat menjadikan sebagian hal sebagai sebab bagi yang lain. Dia juga kuasa dalam pelbagai situasi untuk menafikan hubungan sebab-akibat ini. Sebagaimana Tuhan menjadikan api sebagai penyebab panas dan untuk membakar akan tetapi tatkala para penyembah berhala ingin melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api Tuhan mengeliminir tipologi membakar api ini sehingga Nabi Ibrahim selamat tidak terbakar.

Dan sebagaimana golok tajam Nabi Ibrahim tidak memotong (Tuhan mencegah supaya tidak memotong) dan menyelamatkan Nabi Ismail menjadi korban dari pengabdian ayahnya. Iya, kita meyakini bahwa Allah Swt juga memiliki kekuasaan untuk membuat seluruh pedang dan belati para antek-antek Yazid tidak berfungsi dan menggunakan mukjizat untuk menjaga keselamatan jiwa Imam Husain As dan para sahabatnya. Akan tetapi mukjizat seperti ini tidak terjadi. Lantaran tidak seluruh pekerjaan harus dikerjakan melalui jalan mukjizat dan tindakan adikodrati. Sunnah Ilahi menuntut bahwa seluruh perbuatan berdasarkan sunnah-sunah dan kaidah-kaidah dan aturan-aturan natural. Di samping itu, terdapat selaksa tujuan dan falsafah penting tragedi Asyura dan kesyahidan Imam Husain As yang hanya dapat diraih melalui proses wajar dan natural revolusi Asyura. Sebagian dari tujuan-tujuan tersebut adalah:

1.             Dengan memperhatikan situasi politik yang berkembang pada masa itu dari pihak Muawiyah dan Yazid yang melakukan segala sesuatu atas nama agama yang sejatinya bertentangan dengan agama dan demikian juga untuk mengidentifikasi hak dan batil, kebenaran dan kepalsuan merupakan suatu hal yang sangat pelik, dan satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan dan menyebarkan agama Allah Swt untuk sekian kalinya adalah kesyahidan Imam Husain As dan anak-anaknya beserta para sahabatnya.[1]

2.             Apa yang dinukil dari riwayat dalam hal ini dan telah disinggung sebelumnya bahwa kesyahidan telah ditakdirkan bagi Imam Husain As sehingga melalui kesyahidannya tujuan utama Imam Husain yaitu mereformasi (islah) umat Rasulullah Saw[2] dapat tercapai.

3.             Imam Husain As memandang kesyahidan merupakan seindah-indah dan semulia-mulia kematian. Hal ini telah dijelaskan pada khutbah dalam perjalanannya dari Mekah menuju Irak. “Hiasan kematian bagi anak-anak Adam laksana hiasan liontin yang bergantung pada seorang mempelai wanita.”[3] Artinya kematian tidak mencekik dan tidak ditimpakan melainkan berupa liontin dan hiasan; mengapa manusia tidak menggunakan liontin ini di lehernya di jalan Allah? Dan kematian di jalan agama bagi Imam Husain merupakan kelezatan dan kenikmatan.[4] Kesyahidan bukanlah kekurangan melainkan kesempurnaan.[5] Dengan mencegah kesyahdian Imam Husain As maka sesungguhnya mencegah tercapainya kesempurnaan ini.

4.             Memenuhi perjumpaan Ilahi dan persuaan dengan para nabi bagi Imam Husain As. Perjumpaan Ilahi dan para nabi ini merupakan lebih utama bagi Imam Husain As daripada harus tinggal di dunia. Imam Husain As memandang dirinya merenjana rindu untuk bersua dengan orang-orang saleh; sebagaimana hal ini terungkap dari kelanjutan khutbahnya di Mekah dimana Imam Husain As bersabda: “Kecondongan dan kerinduanku untuk berziarah kepada orang-orang saleh laksana kerinduan Ya’qub kepada Yusuf.”[6]

5.             Imam Husain As tidak ingin menggunakan mukjizat dan keramat, karena menggunakan mukjizat dan keramat berseberangan dengan apa yang ditugaskan kepadanya untuk menunaikanya secara lahir. Nilai dan kedudukan Imam Husain As di samping memiliki kedudukan yang menjulang bagi kaum Muslimin juga mendapat tempat istimewa bagi para pencari kebebasan dan keadilan di dunia, atas dasar itu, beliau mengerjakannya dengan cara-cara natural dan normal. Dengan membawa Ahlulbait As kepada satu perang yang tidak seimbang, tertawan dan terhina menjadi sebab revolusi Imam Husain menjadi abadi dan perenial.[7] Padahal Imam Husain mampu menumbangkan Yazid tanpa harus mengusung revolusi dan menggunakan keramat namun hal itu tidak banyak berarti dalam membongkar penyimpangan dan tujuan keji Bani Umayah.

6.             Kisah Asyura dan perang melawan tirani Imam Husain As merupakan teladan dari revolusi di hadapan pelbagai penyimpangan dan inovasi (bid’ah) yang boleh jadi terjadi di setiap masa pada hukum-hukum dan aturan-aturan agama Tuhan. Seluruh kaum Muslimin dan manusia memiliki tugas untuk mencegah pelbagai inovasi dan bid’ah. Apabila sekiranya Imam Husain As menunaikan tugas berat ini dengang menggunakan kekuasaan mukjizat dan wilayah takwini maka ia tidak lagi dapat menjadi teladan bagi setiap manusia di setiap masa. Atas dasar itu, para nabi dan imam As bertugas untuk melaksanakan pekerjaan keseharian mereka dengan pengetahuan dan kekuasaan natural serta tidak menggunakan kekuatan mukjizat dan adikodrati, kecuali pada hal-hal tertentu dan sesuai dengan izin Allah Swt apabila terdapat kemaslahatan dan petunjuk di dalamnya.[8]  Dan juga Allah Swt menghendaki bahwa seluruh nabi dan imam menjadi guru, pengajar dan teladan praktis bagi manusia. Manusia membina diri mereka dengan memetik pelajaran dari kehidupan dan perilaku mereka dan sekiranya Imam Husain As selamat dari syahadah dengan menggunakan mukjizat maka kehidupannya dan Ahlulbait As demikian juga orang-orang yang ditinggalkan tidak dapat menjadi teladan dan model perlawanan, kesabaran, ketabahan dan pengorbanan bagi manusia dalam kehidupannya.


[1]. Silahkan lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Adzarkhisyi Digar az Asemân-e Karbalâ, hal. 44-66, Intisyarat-e Muassasah wa Pazyuhesy Imam Khomeini, Cetakan Kelima, 1380.

[2]. Bihâr al-Anwâr, jil. 44, hal. 329.

[3]. Bihar al-Anwâr, jil. 44, hal. 366; Muhaddits Arbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, jil. 2, hal. 29. Bani Hasyim, Tabriz, Cetakan Pertama, 1381; Luhûf, hal. 110 dan 111.

[4]. Silahkan lihat, Abdullah Jawadi Amuli, Syukufâ-ye Aql dar Partu-e Nehdhat Husaini, hal. 28-30, Markaz-e Cap-e wa Intisyarat-e Isra, Cetakan Kelima, 1387 S.

[5]. Syukufâi-ye Aql dar Partu-e Nehdhat Husaini, hal. 27.

[6]. Bihâr al-Anwâr, jil. 44, hal. 366; Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, jil. 2, hal. 29. Luhûf, hal. 110 dan 111.

23 Oktober 2012

TINGKATAN ULAMA AKHIRAT

oleh alifbraja

Dalam dunia transenden, jiwa manusia bekerja sama dengan tubuh duniawi melalui suatu mukjizat, yang rahasianya hanya dapat diketahui oleh Tuhan sehingga mewujudkan kehidupannya didunia yang lebih rendah. Meski demikian, jiwa akan selalu mengenang asal kediaman tanah air sejatinya, sungguhpun terbatas pada dunia material.

Dalam dunia transenden jiwa manusia melakukan pendakian melewati rintangan kezuhudan dan disiplin spiritual, yang tingkatan pertamanya “Sayr wa Suluk” (perjalanan spiritual) dari seorang ulama. Walaupun ada berbagai cara penggambaran dan penjelasan tentang jalan menuju persatuan dengan Tuhan YANG MAHA ESA, yang semuanya dapat diringkas dalam tiga tingkatan ulama yang utama.

Tingkat pertama adalah “Qabdh Latha’if” (penyusutan dalam esensi lembut-halus). Dalam tingkatan ini, aspek tertentu dari jiwa seorang ulama akan berhubungan dengan kezuhudan dan kesalehan serta manifestasi teofani dari nama-nama Tuhan Yang Maha Lembut dan Maha Halus.

Pada tingkatan inilah di dalam diri seorang ulama akan ditemukan sifat yang lemah lembut berlandaskan kasih sayang dan kebajikan yang luhur, sehingga dirinya tidak pernah melakukan fitnah keji kepada kaum muslim lainnya.

Tingkatan “Qabdh Latha’if” (penyusutan dalam esensi lembut-halus) merupakan perjuangan spiritual (mujahadah) yang mendefinisikan berbagai kelembutan dan kehalusan dalam diri ulama, dalam diri kaum arif dan pecinta Allah.

Bagi seorang ulama dalam tingkatan ini, ia melihat segala sesuatu sebagaimana adanya, sehingga mukjizat yang berada dalam tubuh akan terungkap meski hanya sekejap dan memungkinkan burung jiwa dapat membentangkan sayapnya dan terbang ke dunia spiritual yang sangat luas tiada batasannya dan menikmati alunan simfoni keabadian serta ekstase yang merupakan aspek esensi dari dunia ini.

Seorang ulama akhirat yang sudah mencapai tingkatan “Qabdh Latha’if” ini, tentunya tidak memerlukan tunggangan atau sarana apapun, karena dia sendiri memiliki daya untuk terbang menuju dunia transenden melalui rahasia perjanjian primordial antara manusia dan Tuhan.

Tingkatan kedua adalah “Basth Kasyf Imani” (perluasan penyingkapan melalui keimanan). Dalam tingkatan ini, aspek dari jiwa ulama mendapat keluasan dan diperluas. Sehingga eksistensinya melampaui batasan dirinya sendiri hingga dia memeluk seluruh alam semesta melalui ketulusan iman.

Kadar intesitas tingkatan Basth Kasyf Imani ini dapat berfungsi sebagai katalisator yang mengaktifkan sang ulama untuk lebih banyak lagi mencari ilmu (pengetahuan) yang berkaitan dengan segala maujud dalam kosmos sewaktu ia berada dalam ekstase (wajd) dibawah pengaruh kuat suatu keadaan spiritual (hal), sehingga tubuh jasmaninya akan tampak meluruh seperti debu primordial (al habah).

Dan menyatu dengan lingkungan alam sekelilingnya. Maka inilah kebenaran bagi hati manusia yang sederhana, yang bebas dari rasa keakuan, keserakahan dan dari berbagai cinta serta gairah yang dapat mempengaruhinya “

Namun apabila ia tidak terbebas dari hal-hal itu, dan ia terisi sesuatu selain Allah dihatinya, maka sesuatu itu akan bergerak dan berpengaruh sebagaimana api yang kian berkobar.

Ulama dalam tingkatan “Basth Kasyf Imani” ini adalah manusia yang sudah terlepas dari jurang dunia material yang sangat dalam dan telah berhasil dalam penyempurnaan jiwanya sebagai penakluk nafsu-nafsu hewani“, sehingga dirinya akan terbebas dari rasa keakuan yang ingin selalu dihormati oleh semua orang, dengan tanpa memperhatikan cacat bathin yang mengeram didalam hatinya.

Tingkatan ketiga adalah; “Wishalbi Al Haqq” (persatuan dengan Yang Maha Benar). Dalam tingkatan ini, seorang ulama harus melalui pencapaian tingkat peleburan (fana) dan kekekalan (baqa). Karena pada tingkatan ini, dirinya telah dapat melewati seluruh maqamat (tingkatan) lainnya dan dia dapat merenungkan wajah sang kekasih (Allah SWT). Penampakkan luarnya yang sedih tak lain merupakan prawacana untuk ketakterlukiskan kebahagiaan yang tersembunyi didalamnya.

Seorang ulama dalam tingkatan ini, akan menyerahkan dirinya kepada kehendak Tuhan, menempatkan diri sepenuhnya dalam genggaman Tuhan. Dan menjadi sumber gita-gita yang menebarkan kegembiraan dan kebahagiaan serta menuntun orang lain ke tempat primordial dan kediaman akhirnya, agar dapat membebaskan dirinya dari nafsu keinginan yang tanpa batas itu.

Dirinya bagaikan sebuah tempat perlindungan diantara badai yang mengerikan dan oase yang menyejukkan di tengah-tengah tandusnya gurun pasir serta dapat dijadikan sebagai mata air yang penuh barakah untuk menghilangkan kebingungan dan kehausan jiwa.

Maka pada tingkatan yang terakhir inilah, seorang ulama akan mampu menguak selubung keterpisahan eksistensi dan bersatu dengan asal serta sifat primordialnya melalui penyerahan kemauannya sendiri kepada kehendak Tuhan dan menempatkan diri sepenuhnya dalam genggaman Tuhan.

Ulama dalam tingkatan ini akan selalu menyatukan visi antar sesama ulama lainnya agar bersinergi dalam membentuk ummah yang penuh dedikasi tinggi dan menjalin tali persatuan sesama ummat Islam dengan berlandaskan keilmuan (pengetahuan).

Sehingga dirinya akan dipersatukan dengan getaran kehidupan alam (mikrokosmos bersatu dengan makrokosmos) yang didalam diri seseorang selalu ada dalam bentuk getaran hati, sehingga jiwanya mengalami perluasan dan mencapai kebahagiaan dan ekstrase yang melingkupi dunia. Sehingga dirinya akan terbebaskan dari belenggu diri yang membatasi penilaiannya terhadap sesuatu hal.

Dalam tingkatan inilah seorang ulama akhirat akan bersikap obyektif dan tidak terlalu kukuh dengan faham yang dimilikinya ketika melihat seseorang atau suatu kelompok memiliki perbedaan faham dengan dirinya. Bagi kaum muslim, mereka (ulama akhirat) adalah sarana potensial untuk menyadari nilai warisan masa lampau dari Muhammad Rasuulullah SAW yang sangat berharga.

Lisan mereka (para ulama akhirat) memiliki sifat realitas batin yang pasti meninggalkan pengaruh pada jiwa pendengarnya. Karena segala ucapan mereka itu merupakan nyanyian abadi dalam dunia, ruang dan waktu, karena segala ucapannya telah terbebas dari rasa kebencian dan kecurigaan yang berlebihan terhadap sesama ummat Islam. Bahkan para ulama akhirat telah menjauhkan diri mereka dari para penguasa yang hendak memanfaatkannya.

Nabi SAW bersabda; “Seburuk-buruknya ulama adalah ulama yang mengunjungi penguasa. Dan sebaik-baiknya penguasa adalah, penguasa yang mengunjungi ulama.” (HR Muslim)

Dari Jabir ra, dari Abu Thalhah ra dan Dari ibnu Abbas ra, bahwasanya nabi SAW bersabda; “ada tiga golongan manusia pada hari kiamat nanti yang tidak akan diajak biara, tidak dilihat dan tidak diampuni dosa mereka oleh Allah, bahkan mereka abadi selamanya didalam neraka dengan siksaan yang pedih.” (Nabi SAW mengulangi sabdanya sampai 3x).

Ibnu Abbas berkata; “siapakah mereka?” Nabi SAW bersabda; “yaitu para ulama yang mencari dunia dengan menjual agamanya, Para penguasa yang memberlakukan undang-undang yang mengakibatkan kesengsaraan bagi raknyatnya dan para penyebar fitnah” (HR Bukhari & Muslim)

“Para Ulama akhirat tidaklah akan mengalami proses kemunduran atau perubahan, mereka selalu sejuk menyejukkan dalam ucapan maupun ajarannya,laksana kilau mentari pagi dipermukaan air yang jernih “
(Sayyid Faridhal Attros Al Kindhy Asy’ari)

Ulama yang baik dan benar adalah ulama akhirat yang membawa kemasylahatan bagi ummat, dan bukannya membawa kemudharatan yang memicu pertikaian antar sesama ummat Islam pada khususnya dan antar sesama ummat beragama pada umumnya.

Mengenai kriteria tingkatan para ulama yang telah saya sebutkan diatas adalah; mereka yang hidup dijaman para sahabat, tabi’ien dan tabi’ien tabi’iet. Dan semoga ulama-ulama kita sekarang ini termasuk dalam salah satu kriteria tingkatan ulama akhirat tersebut diatas. Insya Allah ….. !!!.

12 Oktober 2012

rahasia dibalik nama Muhammmad

oleh alifbraja

Inilah rupanya rahasia dibalik nama Muhammmad

Rahasia di sebalik nama Muhammad, di mana banyak makna yang tersirat dalam kebesaran nama yang sederhana itu. entah apakah ini merupakan salah satu mukjizat atau sekadar kebetulan saja, bahawa ada fakta menarik di abjad / huruf-huruf yang tersusun dari nama itu: 1. Kata Muhammad , jika kita gabungkan dalam bentuk normal mim ha mim dal, maka akan menjadi sebuah sekesta seorang manusia. sudah maklum adanya bahawa sebaik-baik makhluk / ciptaan yang pernah dicipta oleh Tuhan di alam semesta ini adalah manusia dengan kelebihan aqal mereka, sementara makhluk hanyalah hayawan dan planet-planet yang penuh rahsia. Manusia Sempurna:

gudangartikelunik.blogspot.com - Subhanallah, Inilah rupanya rahasia dibalik nama Muhammmad2. kata Ahmad , jika kita cermati satu-persatu hurufnya maksud huruf-huruf itu akan mennggambarkan sosok orang yang sedang melakukan solat, tahukah kita bahawa solat merupakan sebaik-baik doa dan ibadah yang pernah diperintahkanNya. Ahmad Terpisah:

gudangartikelunik.blogspot.com - Subhanallah, Inilah rupanya rahasia dibalik nama Muhammmad 3. Kata Muhammad jika digabungkan huruf-hurufnya maka akan berbentuk layaknya manusia yang sedang sujud dalam solat. dalam ritual solat Sujud merupakan inti dari semua rukun-rukunnya, kerana pada saat sujud manusia menundukkan 8 bahagian tubuhnya di bumi bukti kepasrahan total kepada sang pencipta. hmmm betapa rahsia Tuhan sangat menggetarkan hati, saya yakin masih banyak tersirat rahsia-rahaisa lain di sebalik sosok, nama dan semua yang berkaitan dengan sang kekasih sejati ‘ Habibullah: Muhammad ‘ .

gudangartikelunik.blogspot.com - Subhanallah, Inilah rupanya rahasia dibalik nama Muhammmad

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 145 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: