DUNIA TASAWWUF
Kitab tentang Thoriqoh Shiddiqiyyah
(1.) Dalam kitab “Tanwirul Qulub Fi Mu’amalati ‘allamil Ghuyub” karangan Syaih Muhammad Amin Kurdi Al Arbili, pada bab “Faslun Fi Adaabil Murid Ma’a Ikhwanihi” halaman 539 disebutkan demikian:
“Ketahuilah bahwa sesungguhnya julukannya silsilah itu berbeda-beda, disebabkan perbedaannya kurun waktu, silsilah dari sahabat Abu Bakar Shiddiq R.A sampai kepada syaih Thoifur bin Isa Abi Yazied Al Busthomi dinamakan SHIDDIQIYYAH.”
Silsilah Thoriqoh Shiddiqiyyah melalui Sahabat Salman Al Farisi sampai pada Syekh Muhammad Amin Al Kurdi Al Irbil, dari Kitab Tanwirul Qulub.
Alloh Ta’ala.
Jibril ‘alaihi Salam.
Muhammad Rosululloh SAW.
Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A.
Salman Al Farisi R.A.
Qosim Bin Muhammad bin Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A.
Imam Ja’far Shodiq Siwa Sayyidina Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq R.A. (Silsilah ini dinamakan Thoriqoh Shiddiqiyyah)
Syaikh Abi Yasid Thifur bin Isa bin Adam bin Sarusyan Al Busthomi.
Syaikh Abil Hasan Ali bin Abi Ja’far Al Khorqoni.
Syaikh Abi Ali Al Fadlol bin Muhammad Ath Thusi Al Farmadi.
Syaikh Abi Ya’qub Yusuf Al Hamdani. ( Thoriqoh At Thoifuriyyah).
Syaikh Abdul Kholiq Al-Ghojduwani Ibnul Imam Abdul Jalil.
Syaikh ‘Arif Arriwikari.
Syaikh Mahmud Al-Anjari Faghnawi.
Syaikh Ali Ar Rumaitani Al Mansyur Bil’Azizaani.
Syaikh Muhammad Baabas Samaasi.
Syaikh Amir Kullaali Ibnu Sayyid Hamzah, ( Thoriqoh Al Khuwaajikaaniyyah).
Syaikh Muhammad Baha’uddin An-Naqsyabandi bin Muhammad bin Muhammad Syarif Al-Husain Al-Ausi Al-Bukhori.
Syaikh Muhammad bin ‘Alaaiddin Al Athori.
Syaikh Ya’qub Al Jarkhi, ( Dinamakan Thoriqoh An-Naqsyabandiyyah).
Syaikh Nashiruddin Ubaidillah Al-Ahror As-Samarqondi bin Mahmud bin Syihabuddin.
Syaikh Muhammad Azzaahid.
Syaikh Darwis Muhammad As-Samarqondi.
Syaikh Muhammad Al-Khowaajaki Al-Amkani As Samarqondi.
Asy-Syaikh Muhammad Albaaqi Billah, (Disebut Thoriqoh Ahroriyyah).
Asy-Syaikh Ahmad Al Faruqi As-Sirhindi.
Asy-Syaikh Muhammad Ma’shum.
Asy-Syaikh Muhammad Syaifuddien.
Asy-Syaikh Muhammad Nurul Badwani.
Asy-Syaikh Habibulloh Jaanijanaani Munthohir.
Asy-Syaikh Abdillah Addahlawi, ( Thoriqoh Mujaddadiyyah).
Asy-Syaikh Kholid Dliyaa’uddien.
Asy-Syaikh Utsman Sirojul Millah.
Asy-Syaikh Umar Al-Qothbul Irsyad.
Asy-Syaikh Muhammad Amin Al-Kurdi Al-Irbil, ( Thoriqoh Kholidiyyah).
(2.) Thoriqoh Shiddiqiyyah dalam Ensiklopedi Islam, penerbit PT. Ichtiar Van Hoeven (Jilid 5, hal. 67)
(3). THORIQOH SHIDDIQIYYAH Dalam buku “Hakekat Thoriqot Naqsabandiyah” (Penerbit PT. Al Hasan Dzikro, karangan H.A. Fu’ad Sa’id)
Di halaman 44 disebutkan sebagai berikut:
Periode antara ABUBAKAR SHIDDIQ sampai Syaikh THOIFUR BIN ABI YAZID BASTHOMI dinamakan “SHIDDIQIYYAH”
Periode antara Syaikh THOIFUR sampai KHOWAJAH Syaikh ABDUL KHOLIQ AL-FAJDUWANI dinamakan “THOIFURIYYAH”
Periode antara Syaikh ABDUL KHOLIQ AL-FAJDUWANI sampai Syaikh MUHAMMAD BAHA’UDDIN AL-HUSAIN AL UWASI AL BUKHORI dinamakan “KHUWAJIKANIYYAH”
Periode antara Syaikh BAHA’UDDIN sampai Syaikh UBAIDILLAH AL AKHROR dinamakan “NAQSABANDIYYAH”
Periode antara Syaikh UBAIDILLAH AL AKHROR sampai Al Imam Robbani Syaikh AHMAD AL FARUQI dinamakan “AKHRORIYYAH”
Periode antara Syaikh AHMAD AL FARUQI sampai Maulana Syaikh KHOLID dinamakan “MUJADDADIYYAH”
Periode antara Syaikh KHOLID sampai dewasa ini dinamakan “KHOLIDIYYAH”
Tasawuf
Imam Abu Hanifa (81-150 H./700-767 CE)
Imam Abu Hanifa (r) (85 H.-150 H) berkata, “Jika tidak karena dua tahun, saya telah celaka. Karena dua tahun saya bersama Sayyidina Ja’far as-Sadiq dan mendapatkan ilmu spiritual yang membuat saya lebih mengetahui jalan yang benar”. Ad-Durr al-Mukhtar, vol 1. p. 43 bahwa Ibn ‘Abideen said, “Abi Ali Dakkak, seorang sufi, dari Abul Qassim an-Nasarabadi, dari ash-Shibli, dari Sariyy as-Saqati dari Ma’ruf al-Karkhi, dari Dawad at-Ta’i, yang mendapatkan ilmu lahir dan batin dari Imam Abu Hanifa (r), yang mendukung jalan Sufi.” Imam berkata sebelum meninggal: lawla sanatan lahalaka Nu’man, “Jika tidak karena dua tahun, Nu’man (saya) telah celaka.” Itulah dua tahun bersama Ja’far as-Sadiq.
Imam Malik (94-179 H./716-795 CE)
Imam Malik (r): “man tassawaffa wa lam yatafaqah faqad tazandaqa wa man tafaqaha wa lam yatsawwaf faqad fasadat, wa man tafaqaha wa tassawafa faqad tahaqqaq. (Barangsiapa mempelajari/mengamalkan tasauf tanpa fikh maka dia telah zindik, dan barangsiapa mempelajari fikh tanpa tasauf dia tersesat, dan siapa yang mempelari tasauf dan fikh dia meraih kebenaran).” (dalam buku ‘Ali al-Adawi dari keterangan Imam Abil-Hassan, ulama fikh, vol. 2, p. 195
Imam Shafi’i (150-205 H./767-820 CE)
Imam Shafi’i : ”Saya bersama orang sufi dan aku menerima 3 ilmu:
1. Mereka mengajariku bagaimana berbicara.
2. Mereka mengajariku bagaimana meperlakukan orang dengan kasih dan hati lembut.
3. Mereka membimbingku ke dalam jalan tasawuf
[Kashf al-Khafa and Muzid al-Albas, Imam 'Ajluni, vol. 1, p. 341.]
Dalam Diwan (puisi) Imam Syafii, nomor 108 :
“Jadilah ahli fiqih dan sufi Jangan menjadi salah satunya Demi Allah Aku menasehatimu”.
Imam Ahmad bin Hanbal (164-241 H./780-855 CE)
Imam Ahmad (r) : “Ya walladee ‘alayka bi-jallassati ha’ula’i as-Sufiyya. Fa innahum zaadu ‘alayna bikathuratil ‘ilmi wal murqaba wal khashiyyata waz-zuhda wa ‘uluwal himmat (Anakku jika kamu harus duduk bersama orang-orang sufi, karena mereka adalah mata air ilmu dan mereka tetap mengingat Allah dalam hati mereka. Mereka orang-orang zuhud dan mereka memiliki kekuatan spiritual yang tertinggi,” –Tanwir al-Qulub, p. 405, Shaikh Amin al-Kurdi) Imam Ahmad (r) tentang Sufi:”Aku tidak melihat orang yang lebih baik dari mereka” ( Ghiza al-Albab, vol. 1, p. 120)
Imam Haris Al-Muhasibi (d. 243 H./857 CE)
Imam Haris Al-Muhasibi meriwayatkan dari Rasul, “Umatku akan terpecah menjadi 73 golongan dan hanya satu yang akan menjadi kelompok yang selamat” . Dan Allah yang lebih mengetahui bahwa itu adalah Golongan orang tasawuf. Dia menjelaskan dengan mendalam dalam Kitab al-Wasiya p. 27-32.
Imam al-Qushayri (d. 465 H./1072 CE)
Imam al-Qushayri tentang Tasauf: “Allah membuat golongan ini yang terbaik dari wali-wali-Nya dan Dia mengangkat mereka di atas seluruh hamba-hamba-Nya sesudah para Rasul dan Nabi, dan Dia memberi hati mereka rahasia Kehadiran Ilahi-Nya dan Dia memilih mereka diantara umat-Nya yang menerima cahaya-Nya. Mereka adalah sarana kemanusiaan, Mereka menyucikan diri dari segala hubungan dengan dunia dan Dia mengangkat mereka ke kedudukan tertinggi dalam penampakan (kasyf). Dan Dia membuka kepada mereka Kenyataan akan Keesaan-Nya. Dia membuat mereka untuk melihat kehendak-Nya mengendalikan diri mereka. Dia membuat mereka bersinar dalam wujud-Nya dan menampakkan mereka sebagai cahaya dan cahaya-Nya .” [ar-Risalat al-Qushayriyya, p. 2]
Imam Ghazali (450-505 H./1058-1111 CE)
Imam Ghazali, hujjatul-Islam, tentang tasawuf : “Saya tahu dengan benar bahwa para Sufi adalah para pencari jalan Allah, dan bahwa mereka melakukan yang terbaik, dan jalan mereka adalah jalan terbaik, dan akhlak mereka paling suci. Mereka membersihkan hati mereka dari selain Allah dan mereka menjadikan mereka sebagai jalan bagi sungai untuk mengalirnya kehadiran Ilahi [al-Munqidh min ad-dalal, p. 131].
Imam Nawawi (620-676 H./1223-1278 CE)
Dalam suratnya al-Maqasid : “Ciri jalan sufi ada 5 : menjaga kehadiran Allah dalam hati pada waktu ramai dan sendiri mengikuti Sunah Rasul dengan perbuatan dan kata menghindari ketergantungan kepada orang lain bersyukur pada pemberian Allah meski sedikit selalu merujuk masalah kepada Allah swt [Maqasid at-Tawhid, p. 20]
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi (544-606 H./1149-1209 CE)
Imam Fakhr ad-Din ar-Razi : “Jalan para sufi adalah mencari ilmu untuk memutuskan diri mereka dari kehidupan dunia dan menjaga diri mereka agar selalu sibuk dalam pikiran dan hati mereka dengan mengingat Allah, pada seluruh tindakan dan perilaku” .” [Ictiqadat Furaq al-Musliman, p. 72, 73]
Ibn Khaldun (733-808 H./1332-1406 CE)
Ibn Khaldun : “Jalan sufi adalah jalan salaf, ulama-ulama di antara Sahabat, Tabi’een, and Tabi’ at-Tabi’een. Asalnya adalah beribadah kepada Allah dan meninggalkan perhiasan dan kesenangan dunia” [Muqaddimat ibn Khaldan, p. 328]
Tajuddin as-Subki
Mu’eed an-Na’eem, p. 190, dalam tasauf: “Semoga Allah memuji mereka dan memberi salam kepada mereka dan menjadikan kita bersama mereka di dalam sorga. Banyak hal yang telah dikatakan tentang mereka dan terlalu banyak orang-orang bodoh yang mengatakan hal-hal yang tidak berhubungan dengan mereka. Dan yang benar adalah bahwa mereka meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah” Dia berkata: “Mereka dalah manusia-manusia yang dekat dengan Allah yang doa dan shalatnya diterima Allah, dan melalui mereka Allah membantu manusia.
Jalaluddin as-Suyuti
Dalam Ta’yad al-haqiqat al-’Aliyya, p. 57: “tasauf dalam diri mereka adalah ilmu yang paling baik dan terpuji. Dia menjelaskan bagaimana mengikuti Sunah Nabi dan meninggalkan bid’ah”
Ibn Taimiya (661-728 H./1263-1328 CE)
Majmu Fatawa Ibn Taymiyya, Dar ar-Rahmat, Cairo, Vol, 11, page 497, Kitab Tasawwuf: “Kamu harus tahu bahwa syaikh-syaikh terbimbing harus diambil sebagai petunjuk dan contoh dalam agama, karena mereka mengikuti jejak Para Nabi dan Rasul. Tariqat para syaikh itu adalah untuk menyeru manusia ke Kehadiran Allah dan ketaatan kepada Nabi.” Juga dalam hal 499: “Para syaikh dimana kita perlu mengambil sebagai pembimbing adalah teladan kita dan kita harus mengikuti mereka. Karena ketika kita dalam Haji, kita memerlukan petunjuk (dalal) untuk mencapai Ka’ bah, para syaikh ini adalah petunjuk kita (dalal) menuju Allah dan Nabi kita. Di antara para syaikh yang dia sebut adalah: Ibrahim ibn Adham, Macruf al-Karkhi, Hasan al-Basri, Rabia al-Adawiyya, Junaid ibn Muhammad, Shaikh Abdul Qadir Jilani, Shaikh Ahmad ar-Rafa’i, and Shaikh Bayazid al- Bistami. Ibn Taymiyya mengutip Bayazid al-Bistami pada 510, Volume 10: “…Syaikh besar, Bayazid al-Bistami, dan kisah yang terkenal ketika dia menyaksikan Tuhan dalam kasyf dan dia berkata kepada Dia:” Ya Allah, bagaimana jalan menuju Engkau?”. Dan Allah menjawab: “Tinggalkan dirimu dan datanglah kepada-Ku”. Ibn Taymiah melanjutakan kutipan Bayazid al-Bistami, ” Saya keluar dari diriku seperti seekor ular keluar dari kulitnya”. Implisit dari kutipan ini adalah sebuah indikasi tentang perlunya zuhd (pengingkaran-diri atau pengingkaran terhadap kehidupan dunia), seperti jalan yang diikuti Bayazid al-Bistami. Kita melihat dari kutipan di atas bahwa Ibn Taymiah menerima banyak Syaikh dengan mengutipnya dan meminta orang untuk mengikuti bimbingannya untuk menunjukkan cara menaati Allah dan Rasul Saw.
Apa kata Ibn Taymiah tentang istilah tasawuf
Berikut adalah pendapat Ibn Taimiah tentang definisi Tasauf dari strained, Whether you are gold or gold-plated copper.” Sanai. Following is what Ibn Taymiyya said about the definition of Tasawwuf, from Volume 11, At-Tasawwuf, of Majmu’a Fatawa Ibn Taymiyya al-Kubra, Dar ar-Rahmah, Cairo: “Alhamdulillah, penggunaan kata tasauf telah didiskusikan secara mendalam. Ini adalah istilah yang diberikan kepada hal yang berhubungan dengan cabang ilmu (tazkiyat an-nafs and Ihsan).” “Tasauf adalah ilmu tentang kenyataan dan keadaan dari pengalaman. Sufi adalah orang yang menyucikan dirinya dari segala sesuatu yang menjauhkan dari mengingat Allah dan orang yang mengisi dirinya dengan ilmu hati dan ilmu pikiran di mana harga emas dan batu adalah sama saja baginya. Tasauf menjaga makna-makna yang tinggi dan meninggalkan mencari ketenaran dan egoisme untuk meraih keadaan yang penuh dengan Kebenaran. Manusia terbaik sesudah Nabi adalah Shidiqin, sebagaimana disebutkan Allah: “Dan barangsiapa yang menta’ati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi ni’mat oleh Allah, yaitu: Nabi, para shiddiqqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. 4:69)” Dia melanjutkan mengenai Sufi,”mereka berusaha untuk menaati Allah.. Sehingga dari mereka kamu akan mendapati mereka merupakan yang terdepan (sabiqunas-sabiqun) karena usaha mereka. Dan sebagian dari merupakan golongan kanan (ashabus-syimal).”
Imam Ibn Qayyim (d. 751 H./1350 CE)
Imam Ibn Qayyim menyatakan bahwa, “Kita menyasikan kebesaran orang-orang tasawuf dalam pandangan salaf bagaimana yang telah disebut oleh Sufyan ath-Tsawri (d. 161 H./777 CE). Salah satu imam terbesar abad kedua dan salah satu mujtahid terkemuka, dia berkata: “Jika tidak karena Abu Hisham as-Sufi (d. 115 H./733 CE) saya tidak pernah mengenal bentuk munafik yang kecil (riya’) dalam diri (Manazil as-Sa’ireen) Lanjut Ibn Qayyim:”Diantara orang terbaik adalah Sufi yang mempelajari fiqh” ‘
Abdullah ibn Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab (1115-1201 H./1703-1787 CE)
Dari Mu ammad Man ar Nu’mani’s book (p. 85), Ad- ia’at al-Mukaththafa Didd ash-Shaikh Mu ammad ibn c’Abdul Wahhab: “Shaikh ‘Abdullah, anak shaikh Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab, mengatakan mengenai Tasawwuf: ‘Anakku dan saya tidak pernah menolak atau mengkritik ilmu tasauf, tetapi sebaliknya kami mendukungnya karena ia menyucikan baik lahir maupun batin dari dosa tersembunyi yang berhubungan dengan hati dan bentuk batin. Meskipun seseorang mungkin secara lahir benar, secara batin mungkin salah; dan untuk memperbaikinya tasauf diperlukan.” Dalam volume 5 dari Muhammad ibn ‘Abdul Wahhab entitled ar-Rasa’il ash-Shakhsiyya, hal 11, serta hal. 12, 61, and 64 dia menyatakan: “Saya tidak pernah menuduh kafir Ibn ‘Arabi atau Ibn al-Farid karena interpretasi sufinya”
Ibn ‘Abidin
Ulama besar, Ibn ‘Abidin dalam Rasa’il Ibn Abidin (p. 172-173) menyatakan: ” Para pencari jalan ini tidak mendengar kecuali Kehadiran Ilahi dan mereka tidak mencintai selain Dia. Jika mereka mengingat Dia mereka menangis. Jika mereka memikirkan Dia mereka bahagia. Jika mereka menemukan Dia mereka sadar. Jika mereka melihat Dia mereka akan tenang. Jika mereka berjalan dalan Kehadiran Ilahi, mereka menjadi lembut. Mereka mabuk dengan Rahmat-Nya. Semoga Allah merahmati mereka”. [Majallat al-Muslim, 6th ed., 1378 H, p. 24].
Shaikh Rashid Rida
Dia berkata,”tasawuf adalah salah satu pilar dari pilar-pilar agama. Tujuannya adalah untuk membersihkan diri dan mempertanggungjawabkan perilaku sehari-hari dan untuk menaikan manusia menuju maqam spiritual yang tinggi” [Majallat al-Manar, 1st year, p. 726].
Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi
Maulana Abul Hasan ‘Ali an-Nadwi anggota the Islamic-Arabic Society of India and Muslim countries. Dalam, Muslims in India, , p. 140-146, “Para sufi ini memberi inisiasi (baiat) pada manusia ke dalam keesaan Allah dan keikhlasan dalam mengikuti Sunah Nabi dan dalam menyesali kesalahan dan dalam menghindari setiap ma’siat kepada Allah SWT. Petunjuk mereka merangsang orang-orang untuk berpindah ke jalan kecintaan penuh kepada Allah” “Di Calcutta, India, lebih dari 1000 orang mengambil inisiasi (baiat) ke dalam Tasauf” “Kita bersyukur atas pengaruh orang-orang sufi, ribuan dan ratusan ribu orang di India menemukan Tuham merka dan meraih kondisi kesempurnaan melalui Islam”
Abul ‘Ala Mawdudi
Dalam Mabadi’ al-Islam (p. 17), “Tasauf adalah kenyataan yang tandanya adalah cinta kepada Allah dan Rasul saw, di mana sesorang meniadakan diri mereka karena tujuan mereka (Cinta), dan seseorang meniadakan dari segala sesuatu selain cinta Allah dan Rasul” “Tasauf mencari ketulusan hati, menyucikan niat dan kebenaran untuk taat dalam seluruh perbuatannya.” Ringkasnya, tasauf, dahulu maupun sekarang, adalah sarana efektif untuk menyebarkan kebenaran Islam, memperluas ilmu dan pemahaman spiritual, dan meningkatkan kebahagian dan kedamaian. Dengan itu manusia dapat menemukan diri sendir dan, dengan demikian, menemukan Tuhannya. Dengan itu manusia dapat meningkatkan, merubah dan menaikan diri sendiri dan mendapatkan keselamatan dari kebodohan dunia dan dari godaan keindahan materi. Dan Allah yang lebih mengetahui niat hamba-hamba-Nya.
Muslim Yang Paling Utama
0
عَنْ أَبِيْ مُوْسَى رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ ، قَالُوْا ياَ رَسُوْلَ اللهِ أَيُّ اْلِإسْلاَمِ أَفْضَلُ ؟ قاَلَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
( صحيح البخاري )
Para sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Muslim manakah yang paling utama ?” Maka Rasulullah sahallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : ” seseorang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya ” ( Shahih Al Bukhari )
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
حَمْدًا لِرَبٍّ خَصَّنَا بِمُحَمَّدٍ وَأَنْقَذَنَا مِنْ ظُلْمَةِ اْلجَهْلِ وَالدَّيَاجِرِ اَلْحَمْدُلِلَّهِ الَّذِيْ هَدَانَا بِعَبْدِهِ اْلمُخْتَارِ مَنْ دَعَانَا إِلَيْهِ بِاْلإِذْنِ وَقَدْ نَادَانَا لَبَّيْكَ يَا مَنْ دَلَّنَا وَحَدَانَا صَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ واَلْحَمْدُلِلّهِ الَّذِي جَمَعَنَا فِي هَذَا الْمَجمَعِ اْلعَظِيْمِ وَفِيْ هذَا الْجَمْعِ اْلعَظِيْمِ…
Limpahan puji ke hadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur , Maha membangun kerajaan alam semesta , cahaya keindahan yang menerbitkan kebahagiaan yang fana dan kebahagiaan yang kekal , cahaya tunggal yang menerbitkan segala keindahan yang ada di alam semesta , cahaya kenikmatan sumber dari segala kenikmatan berpadu seluruh keluhuran pada keagungan nama Allah , dan terbukalah rahasia keindahan Ilahi dan semerbak keagungan-Nya , dengan keagungan ” Laa ilaaha illallah Muhammadun Rasulullah ” , terbuka semerbak keagungan Rabbul ‘Alamin dan cahaya kecintaan dan kasih sayang-Nya dengan kalimat ” Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah ” , itulah gerbang keluhuran yang pertama , yang jika seseorang memasukinya maka ia telah berada dalam koridor muslimin dan berada dalam cahaya rahmat Ilahi siang dan malam tinggallah ia berusaha menuju dan mendekat ke hadirat Allah sepanjang waktu dalam hidupnya , hidup yang berada diantara alam rahimnya dan alam barzakhnya yaitu alam kehidupan dunia .
Alam kehidupan dunia yang diawali dari air mani dan diakhiri dengan bangkai , itulah awal kita . Awal kita adalah air mani dan akhirnya adalah bangkai lalu apa diantara keduanya ? apakah tetap di dalam kehinaan hawa nafsu atau bangkai atau di dalam keluhuran dan kemuliaan ? . Bisa terbuka cahaya keluhuran Ilahi di dalam kehidupan ini , namun jangan biarkan kita terus berada dalam kehinaan . Hingga hadirlah kita di malam mulia ini , di majelis agung ini dengan harapan hal ini bisa menjadi pembuka bagi tabir-tabir yang menutup kita menuju keluhuran , kebahagian , kedamaian , dan semoga dengan kehadiran kita di malam mulia ini juga Allah tutupi segala musibah dan semua hal yang menghalangi kita , dan kesulitan yang akan datang pada kita di dunia dan akhirah , Amin Ya Rabbal ‘Alamin .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Tidak terlewat satu detik pun terkecuali bumi telah menyaksikan jasad seorang pendosa telah dipendam ke dalamnya . Tidak satu detik pun terkecuali bumi menyaksikan bayi yang baru terlahir ke muka bumi . Demikian kehidupan terbit dan terbenamnya matahari , kelahiran dan kematian terus bergulir . Berputar antara kematian orang yang shalih , maka ia mengawali kematiannya dengan keluhuran yang kekal , namun kematian orang yang fasik maka ia mengawali kematian dengan musibah yang kekal . Dan pemisah dari keduanya ini adalah tuntunan sang Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam , beruntung mereka yang berada dalam tuntunan sang Nabi , berada dalam kecintaan kepada sang Nabi dan kecintaan kepada Allah subhanahu wata’ala tentunya , maka ia berada dalam keberuntungan yang kekal . Dijelaskan di dalam Shahih Al Bukhari bahwa ketika jasad dibaringkan ke dalam lahatnya dan ketika ruh ditinggal sendiri oleh para kerabat yang telah menguburkan , ruh itu masih mendengar hentakan kaki orang-orang yang meninggalkan kuburnya , kemudian ruh itu bertemu dengan dua malaikat yang menanyakannya :
مَا عِلْمُكَ بِمُحَمَّدٍ ؟
” Apa pengetahuanmu tentang Muhammad ?” Maksudnya , pengetahuan dia tentang Muhammad sampai dimana ? demikian riwayat Shahih Al Bukhari . Kalau ia menjawab : ” Aku beriman kepadanya , aku mengikuti ajarannya dan aku mencintainya ” , maka malaikat berkata : ” Tidurlah dengan tenang wahai orang shalih , kami sekarang mengetahui bahwa engkau adalah orang yang beriman ” . Tetapi orang yang tidak beriman ketika ditanya oleh malaikat : ” Siapa Muhammad ” ? , maka ia akan menjawab : ” aku tidak tau siapa nabi Muhammad ” , karena selama di muka bumi ia selalu berpaling dari majelis-majelis nabi Muhammad , selalu berpaling dari masjid , selalu menjauh dari majelis ta’lim , selalu menghindar dari majelis zikir , selalu menjauh dari hal-hal yang mulia dan selalu ingin pada hal yang hina , maka disaat itu ia tidak mengenal dengan sang pembawa kemuliaan . Maka ketika ia ditanya oleh malaikat ia berkata : ” Laa adrii ” ( aku tidak tahu ) , maka ia akan mendapatkan musibah yang kekal di dalam kuburnya sampai hari kiamat ( wal ‘iyaadzubillah ) .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sampailah kita pada hadits agung ini , dijelaskan oleh Abu Musa Al Asy’ari bahwa ia mendengar para sahabat bertanya kepada Rasulullah :
أَيُّ اْلإِسْلاَم أَفْضَلُ ؟
Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Baari bisyarh Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini , yang dimaksud adalah :
أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ أَفْضَلُ
” Muslim yang mana yang paling utama “
Karena Al Imam Ibn Hajar mengkaitkan dengan beberapa riwayat Shahih Muslim dan lainnya bahwa hadits ini juga teriwayatkan dengan shighah :
أَيُّ الْمُسْلِمِيْنَ أَفْضَلُ
” Muslim manakah yang paling utama ? ” Maka Rasulullah sahallallahu ‘alaihi wasallam menjawab :
مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
” seseorang yang orang-orang muslim lainnya selamat dari lidah dan tangannya ”
Seorang muslim dilihat kadar kebaikannya adalah dengan selamatnya orang lain sebab ucapan dan tangannya . Muslim yang lain tidak terganggu dengan tangan atau lidahnya , tangan bisa mengganggu dengan memukul , menyebar fitnah dengan sms hal itu juga termasuk mengganggu dengan tangan , bisa juga dengan ucapan fitnah dan lain sebagainya . Muslim lain tidak terganggu sebab ucapannya dan tangannya , ini adalah derajat terendah . Namun yang dimaksud dalam hadits ini demikian luas maknanya yang dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar . Maksudnya adalah , orang muslim lain selamat sebab lidah dan tangannya , bisa dengan doa karena ia mendoakan muslim lainnya dan ia mengangkat kedua tangannya bermunajat kepada Allah untuk muslimin lainnya , maka Allah selamatkan muslim lainnya dengan doanya , maka ini juga termasuk ke dalam hadits ini , inilah afdhaliyah seorang muslim .
Semakin mulia seorang muslim maka semakin banyak ia memberi manfaat untuk orang-orang muslim lainnya . Siapa yang paling banyak menyelamatkan muslim lainnya ? dialah sayyidina Muhammad shallallahu ‘laihi wasallam . Hadits ini sungguh memendam rahasia makna bahwa orang-orang yang mulia itu menyelamatkan muslim lainnya menuju keluhuran , baik dengan tangannya walaupun sekedar sms aja , atau dengan ucapan lembut yang menasehati saudaranya , dengan hartanya , dengan langkahnya atau dengan yang lainnya . Semakin ia memberikan manfaat kepada muslim lainnya maka semakin afdhal keislamannya . Hadirin hadirat , kita melihat kalimat hadits ini yang sedemikian ringkas , tetapi ia mencakup hampir seluruh kemuliaan amal ibadah , semakin banyak seseorang beribadah maka semakin banyak memberi manfaat untuk muslimin yang lainnya , diantara ibadah itu ketika dalam shalat kita telah mendoakan muslim yang lainnya dengan ucapan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ
( الفاتحة : 6-7 )
” Tunjukkan kami jalan yang lurus ( yaitu ) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya , bukan jalan mereka yang Engkau murkai , dan bukan pula jalan mereka yang sesat ” . ( QS . Al Fatihah : 6-7 )
itu adalah nafas-nafas doa sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam untuk keturunan Adam yang ada di masa beliau hingga akhir zaman agar diberi hidayah oleh Allah . Seseorang yang mau berdoa dengan niat makna seperti ini maka ia satu cita-cita dan satu perasaan dengan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . ” Ya Allah , tunjukkan kami ( seluruh keturunan Adam ) ke jalan yang lurus , yang masih dalam kemaksiatan , yang sedang berzina , yang akan berzina , yang mau berjudi , yang sedang berjudi , yang dalam kemunkaran , yang menyembah selain Allah , yang mengakui ada Tuhan selain Allah ” , maka semua nama itu terkena doa itu , semua nama itu terkena ucapan itu ketika kita perdalam maknanya . Karena doa itu telah mencakup untuk semua muslimin yang terkena musibah baik itu gempa , kebakaran , kecurian dan segala musibah kesedihan , maka semua itu telah kau doakan agar Allah selamatkan mereka menuju keluhuran . Semua ini adalah cita-cita nabi Muhammad , inilah jiwa nabi Muhammad dan ucapan itu terlafazhkan dalam setiap rakaat shalat kita .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Oleh sebab itu Allah berfirman di dalam hadits qudsy riwayat Shahih Muslim , bahwa ketika seseorang dalam shalatnya mengucapkan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Maka Allah subhanahu wata’ala menjawab :
هَذَا لِعَبْدِي وَلِعَبْدِي مَا سَأَل
” Ini untuk hamba-Ku , dan bagi hamba-Ku apa yang ia minta “
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Paling tidak jika kita mendoakan seluruh orang yang terkena musibah , yang dalam kesulitan , yang dalam kesesatan , yang dalam dosa , yang belum mendapat hidayah . Diantara milyaran nama penduduk bumi , ada satu namamu disitu dan nama itu pastilah yang disayangi Allah karena mendoakan milyaran nama lainnya . Hadirin hadirat , jadilah satu nama diantara milyaran nama yang mendoakan milyaran nama-nama tersebut .
Kita bayangkan Allah melihat permukaan bumi di barat dan timur ini , yang disana ada yang tobat , ada yang bermaksiat , ada yang menyembah selain Allah , ada yang masuk Islam , ada yang mencaci , dan ada yang memaafkan , Allah melihat semua itu dan Allah melihat ada satu jiwa yang mendoakan , semuanya didoakan oleh satu orang dengan berkata : ” Ya Rabb jadikanlah kami semua dalam kenikmatan , yang dalam kenikmatan tambahkan kenikmatannya , yang belum mendapat hidayah berilah hidayah , yang dalam musibah berikan kemudahan , yang dalam kesesatan berikan hidayah ” , satu jiwa mendoakan seluruh nama itu maka yang satu ini dipandang oleh Allah daripada yang lainnya . Maka paling tidak Allah akan memberi untuknya kenikmatan , hidayah dan jauh dari kesesatan karena telah satu perasaan dengan sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Demikian indahnya alam ma’rifah , semakin kita dalami makna kehidupan ini , semakin kita dalami makna ucapan yang yang kita ucapakn maka akan semakin indah hari-hari kita , semakin mulia kehidupan kita . Oleh sebab itu tidaklah mustahil jika orang-orang yang ma’rifah billah itu , yang nampaknya tidak terlalu banyak ibadahnya tetapi derajat mereka terus meningkat demikian cepatnya karena getaran jiwanya . Ketika seseorang mengucapkan Fatihah seribu kali , ia mengucapkannya sekali tetapi dengan makna yang begitu dalam dia rangkum seluruh nama penduduk bumi di dalam doanya , sungguh sangat jauh berbeda , semakin tinggi derajat sanubari dalam tangga-tangga keluhuran Ilahi , maka semakin luhur setiap getaran ucapannya , semakin luhur setiap getaran perasaannya . Inilah indahnya tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang terus mendoakan ummatnya dengan doa :
اَللّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ
” Ya Allah berilah hidayah kepada kaumku , sesungguhnya mereka tidak mengetahui “
Yang didoakan adalah orang yang memerangi beliau , beliau tidak diam atas musuh-musuh yang memerangi beliau dan membahayakan muslimin beliau tetap membela diri , namun beliau masih ingin musuh-musuh itu masuk Islam , jika tidak mungkin anak-anaknya . Rasulullah lebih sayang kepada musuhnya daripada musuhnya terhadap diri mereka sendiri , Rasulullah fikirkan keturunannya , kalau tidak mereka mungkin anak-anak mereka yang akan masuk Islam . Anak-anak orang yang memerangi beliau , yang mengejar dan melempari beliau , orang-orang yang meludahi beliau . Rasul masih ingin menyelamatkan mereka , kalau tidak mereka maka anak-anaknya yang selamat , demikian indahnya budi pekerti makhluk terindah ciptaan Allah subhanahu wata’ala , sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Jika musuh-musuhnya tidak selamat paling tidak anak-anaknya yang selamat , inilah indahnya budi pekerti sang Nabi . Semoga jiwa agung dan luhur seperti ini tersebar luas dalam penduduk bumi di saat ini , maka akan menjadi rahmah bagi alam sekitar , karena keberadaan orang seperti ini yang terus ia di dalam shalatnya mengucapkan :
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلَا الضَّالِّينَ
Dia telah berdoa membawa seluruh nama penduduk bumi , dia sudah membawa doa sang nabi , dia sudah limpahan-limpahan doa untuk seluruh masalah yang ada di seluruh permukaan bumi yang menimpa manusia , baik yang muslim atau yang non muslim . Yang di luar Islam agar dapat hidayah ke dalam Islam , yang dalam keislaman jika ia dalam musibah agar diberi kemudahan , yang dalam kesesatan aqidah supaya diberi petunjuk , yang dalam kenikmatan supaya ditambah kenikmatannya . Demikian indahnya doa surah Al Fatihah , oleh sebab itu ketika di majelis-majelis terus baca surah Alfatihah diulang-ulang , karena maknanya sangat agung dan luhur , hal ini membuka rahasia keluhuran yang membuat kita sangat dekat ke hadirat Rabbul ‘alamin subhanahu wa’alaa .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Rasul shallallahu ‘alihi wasallam bersabada :
لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُوْنَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِيْنَ
“Belum sempurna iman kalian sampai aku lebih dicintainya dari ayah dan ibunya, dari anak- anaknya, dan dari seluruh manusia”.
Karena cintanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita lebih dari cintanya semua orang yang cinta kepada kita , ayah ibu kita tidak melebihi cintanya Rasulullah kepada kita . Dan orang yang cinta kepada ayah ibunya , berbakti kepada ayah ibunya , berbakti kepada semua keluarganya , itu semua mengikuti tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam . Kalau seseorang mencintai Rasul maka seorang istri tidak akan menghianati suami , anak akan taat kepada ayah ibunya , dan ayah ibu tidak akan khianat pada amanah atas anaknya , karena ia mencintai sayyidina Muhammad dan mengikuti sang Nabi dan Allah tuntun ia menuju ke jalan-jalan luhur . Oleh karena itulah Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam menganjurkan kita untuk selalu mencintai beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , kalaupun seandainya terjebak dalam dosa kelak di akhir zaman , tetap orang yang mencintai akan bersama orang yang dicintai , kalau ia mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam maka ia akan bersama beliau shallallahu ‘alaihi wasallam , maka keluarganya , ayah ibu dan anak-anaknya bisa ia tolong dengan memohonkan syafaat kepada Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam karena ia mencintai Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan Rasul pun mencintainya .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Rasul tidak mengusir orang yang hendak masuk ke rumahnya , walaupun ia seorang yahudi yang mau masuk ke rumahnnya . Seorang yahudi datang ke rumah nabi dan berkhidmah di rumah nabi Muhammad , maka beliau memberinya izin . Seorang yahudi yang musyrik ingin masuk ke rumah beliau dan tinggal di rumah baliau , maka beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak menolaknya . Kalau kita renungkan demikian indah budi pekerti sang Nabi , bagaimana kalau kita yang memohon izin untuk masuk ke rumah Rasulullah , maka mustahil beliau akan menolaknya . Semoga aku dan kalian diizinkan masuk ke istana Firdaus , karena istana yang paling megah di surga adalah istana nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Sayyidina Hassan bin Tsabit Ra adalah seorang yang suka memuji Rasulullah dengan syair , dan Rasul sahallalllahu ‘alaihi wasallam mengizinkan untuk membacakan syairnya baik di dalam masjid atau di luar masjid . Bahkan di Masjid Nabawy diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa Hassan bin Tsabit membaca syair pujian untuk sang nabi , maka hal ini kita teruskan sampai sekarang , jadi membaca syair atau maulid Nabi yang ini adalah pujian kepada Allah dan Rasul di dalam masjid itu sudah ada di masa Rasul dan diperbolehkan oleh Rasul , namun sudah mulai tidak dikenal lagi di masa ini bahkan dianggap bid’ah , maka hal ini harus kita teruskan lagi , karena akhir zaman itu tanda-tandanya adalah yang sunnah dikatakan bid’ah , dan yang bid’ah dikatakan sunnah , ulama’ dikatakan jahil dan yang jahil dikatakan ulama’ , orang yang shalih dikatakan penyihir dan penyihir dikatakan orang yang shalih , inilah keadaan akhir zaman . Oleh sebab itu kita hidupkan lagi sunnah nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam .
Teriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari ketika salah seorang sahabat tidak menyukai Hassan bin Tsabit maka sayyidah Aisyah menghardik sahabat yang tidak menyukai sayyidina Hassan bin Tsabit seraya berkata : Jangan kalian mencaci sayyidina Hassan bin Tsabit karena dia dulu selalu memuji Rasulullah di hadapan beliau maka Rasulullah bangga dan senang terhadap Hassan bin Tsabit bahkan di doakan oleh Rasulullah . Sebagaimana yang diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari Rasulullah mendoakannya :
اَللّهُمَّ أَيِّدْهُ بِرُوْحِ اْلقُدُسِ
” Ya Allah tolonglah Hassan dengan perantara Jibril As “
Belum pernah Rasul mendoakan seorang sahabat dengan doa sedahsyat ini , sampai meminta agar Jibril menolong langsung Hassan bin Tsabit , orang yang asyik memuji Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam . Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Dalam riwayat yang tsiqah ( kuat ) bahwa pada beberapa waktu yang lalu Syaikh Farazdaq orang yang selalu memuji Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam . Ia terus menerus memuji Rasul , kalau kita sekarang pujian-pujian itu seperti qasidah , maka setiap tahun dia selalu datang ke maqam Rasul di Masjid Nabawy dan membaca syair-syair pujian kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan setelah itu pulang , setiap tahunnya seperti itu . Dan setelah beberapa tahun datanglah seseorang menegurnya dan mengundangnya makan malam ke rumahnya.
Di Negara-negara timur tengah merupakan hal yang biasa jika ada orang asing di kampung mereka kemudian di undang ke rumah mereka untuk makan bersama , itu adalah hal yang umum disana . Maka Farazdaq sampailah di suatu tempat di luar kota Madinah dan masuklah ia ke dalam sebuah rumah besar , kemudian ia dipegangi oleh beberapa pengawal orang yang mengundangnya , dan orang yang mengundang itu berkata : ” aku benci jika engkau memuji Rasulu , sekarang akan aku gunting lidahmu agar kau tidak bisa lagi membaca syair untuk memuji Rasul ” maka ia pun memaksanya dan mengeluarkan lidahnya dan menggunting lidah Farazdaq dan melepaskannya dan memberikan lidah itu kepada Farazdaq kemudian menyuruhnya pergi .
Maka Farazdaq pergi dan menangis menahan sakit bathin dan sakit zhahirnya , sakit zhahirnya bagaimana rasa sakit jika lidah digunting , dan sakit bathinnya karena ia tidak bisa lagi membaca syair untuk memuji Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Sebagaimana biasa maka ia pun pergi ke makam Rasulullah dan ia bersandar di hadrah as syarif di dalam masjid nabawy , dan ia berkata di dalam doanya : ” Wahai Allah , kalau shahibul maqam ini ( Rasulullah ) memang benci dengan perbuatanku ini maka biarkan aku agar tidak lagi memujinya , tetapi jika Engkau meridhai dan shahibul maqam ini ( Rasulullah ) senang jika aku terus memujinya dengan syair maka sembuhkanlah aku ” , maka ia pun dalam tangisnya tertidur dan didalam tidurnya ia bermimpi Rasulullah shallallahu ‘alihi wasallam berhadapan dengannya dan berkata : ” mana lidahmu yang digunting oleh orang itu , ? kemudian diambil oleh Rasul dan beliau berkata : ” buka mulutmu ” dan dikembalikan ke mulutnya dan Rasul berkata : ” aku gembira dengan perbuatanmu , maka teruskanlah dakwahmu dan syairmu ” , maka ia terbangun dan ia dapati lidahnya telah kembali pada posisinya .
Kemudian di tahun berikutnya syaikh Farazdaq kembali lagi ke maqam Rasul dan memujinya sebagaimana biasa ia lakukan tiap tahun , dan ada lagi orang yang mengundang untuk makan malam di rumahnya dan ia pun menerima undangan itu dan ia pun dibawa ke rumahnya , ketika dilihat rumah itu adalah rumah yang tahun lalu pernah ia datangi , maka syaikh Farazdaq tidak mau masuk , maka orang itu berkata : ” aku ingin kau masuk , kau jangan risau aku tau kau adalah orang yang baik dan kau lihat aku adalah orang yang jujur ” , maka Syaikh Farazdaq masuk dan dilihat di dalam rumah itu ada sebuah penjara dari besi dan di dalamnya ada seekor kera (monyet) besar dan kera itu terus memandangi dan mengamuk melihat syaikh Farazdaq , maka berkatalah orang yang mengundang syaikh Farazdaq : ” Wahai syaikh taukah engkau siapa yang di dalam kerangka besi itu ” ? maka Farazdaq menjawab : ” itu kera ” , maka lelaki itu berkata : ” itu ayahku yang dulu setahun yang lalu menggunting lidahmu , setelah ia melakukan itu maka Allah merubahnya menjadi seekor kera , wahai syaikh tolong doakan ayahku itu supaya diampuni Allah dan diwafatkan , kasian karena dia telah berubah menjadi kera ” , Maka Syaikh Farazdaq menangis dan mendoakannya dan wafatlah seekor kera itu .
Hal seperti ini tidak mustahil , karena teriwayatkan di dalam Alqur’an dan Hadits shahih tentang keramat-keramat para shahabat dan juga orang-orang terdahulu , sebagaimana Allah berfirman ketika Nabi sulaiman meminta agar singgasana ratu Balqis di pindah ke hadapannya :
قَالَ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَيُّكُمْ يَأْتِينِي بِعَرْشِهَا قَبْلَ أَنْ يَأْتُونِي مُسْلِمِينَ ¤ قَالَ عِفْريتٌ مِنَ الْجِنِّ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ تَقُومَ مِنْ مَقَامِكَ وَإِنِّي عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ أَمِينٌ ¤ قَالَ الَّذِي عِنْدَهُ عِلْمٌ مِنَ الْكِتَابِ أَنَا آَتِيكَ بِهِ قَبْلَ أَنْ يَرْتَدَّ إِلَيْكَ طَرْفُكَ فَلَمَّا رَآَهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهُ قَالَ هَذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ وَمَنْ شَكَرَ فَإِنَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهِ وَمَنْ كَفَرَ فَإِنَّ رَبِّي غَنِيٌّ كَرِيمٌ
( النمل : 38 – 40 )
” Berkata Sulaiman: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya (Ratubalqis) kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri ” , berkata `Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat untuk membawanya lagi dapat dipercaya , lalu berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Kitabullah : “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip”. Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata: “Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barang siapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barang siapa yang ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia “. ( QS. An Naml : 38-40 )
Maka seseorang yang memiliki ilmu dari Al Kitab itu dalam sekejap mata telah mendatangkan singgasana ratu Balqis di hadapan nabi Sulaiman . Inilah keramat yang disebutkan di dalam Alqur’an dan juga banyak teriwayatkan di dalam Shahih Al Bukhari dan Shahih Muslim tentang keramat para shahabat Radhiallahu ‘anhum . Hadirin hadirat , hal seperti ini tidak mustahil karena Yang Maha Memberi mampu memberi .
Kalau seandainya di masa sekarang orang tidak percaya jika ada orang yang hafal 100.000 hadits dengan sanadnya , tetapi di zaman dulu jumlahnya puluhan ribu orang yang seperti ini . Di zaman sekarang hampir mustahil , tetapi kalau kita bicara di masa lalu ada satu juta hadits dalam micro chip sebesar ujung jari , orang zaman dahulu tidak akan percaya apa mungkin satu juta hadits bisa disimpan dalam micro chip sebesar ujung telunjuk?? , itu adalah hal yang mustahil di masa itu , tetapi di masa sekarang hal itu masuk akal . Demikian pula zaman sekarang jika orang menghafal 100.000 hadits mungkin itu sulit , tetapi tentunya sangat mungkin terjadi .
Hadirin hadirat yang dimuliakan Allah
Semoga Allah subhanahu wata’ala memuliakan hari-hari kita dengan keindahan , dengan kemuliaan . Rabbi , kami bermunajat demi cahaya keindahan-Mu maka perindah hari-hari kami , perindah jiwa perindah sanubari kami , perindah siang dan malam kami , perindah pemikiran dan lintasan jiwa kami , perindah usia kami , perindah masa mendatang kami .
Ya Allah , kami menyeru nama-Mu yang tiada seorang pun yang menyeru nama-Mu lalu Kau kecewakan , karena Kau Maha menjawab doa dan kami telah berharap dan Kau telah berfirman di dalam hadits qudsy :
ياَابْنَ آدَمَ إِنَّكَ مَا دَعَوْتَنِيْ وَرَجَوْتَنِيْ غَفَرْتُ لَكَ عَلَى مَا كاَنَ مِنْكَ وَلَا أُبَالِيْ
“ Wahai keturunan Adam, jika kau berharap kepada-Ku dan kau berdoa kepada-Ku dan berharap kepada-Ku, Ku-hapus dosa kalian tanpa Ku-pertanyakan lagi “
Maka ingatlah dan panggillah nama-Nya , ingatlah firman Allah subhanahu wata’ala di dalam hadits qudsy kepada nabi Daud As :
ياَدَاوُد لَوْ يَعْلَمُ الْمُدْبِرُوْنَ عَنِّيْ شَوْقِي لِعَوْدَتِهِمْ ، وَمَحَبَّتِيْ فِيْ تَوْبَتِهِمْ ، وَرَغْبَتِيْ فِي إِناَبَتِهِمْ لَطاَرُوْا شَوْقًا إِلَيَّ ، يَادَاوُد هَذِهِ رَغْبَتِيْ فِى الْمُدْبِرِيْنَ عَنِّي ، فَكَيْفَ تَكُوْنُ مَحَبَّتِيْ فِى الْمُقْبِلِيْنَ عَلَيَّ…؟
“Wahai Daud : Seandainya orang-orang yg berpaling dari-Ku mengetahui kerinduan-Ku atas kembalinya mereka, dan cinta-Ku akan taubatnya mereka, dan besarnya sambutanku atas kembalinya mereka pada keridhoan Ku, niscaya mereka akan terbang karena rindunya mereka kepada-Ku. Wahai Daud, demikianlah cinta-Ku kepada orang-orang yg berpaling dari Ku (jika mereka ingin kembali), maka bagaimanakah cinta-Ku kepada orang-orang yg datang (mencintai dan menjawab cinta Allah ) kepada-Ku?”
فَقُوْلُوْا جَمِيْعًا…
Katakanlah bersama-sama..
يَا اللهْ يَا اَللهْ يَا اللهْ…يَا اللهُ يَا رَحْمَنُ يَا رَحِيْمُ…لاَإلهَ إِلاَّ الله… مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْهَا نَحْيَا وَعَلَيْهَا نَمُوْتُ وَعَلَيْهَا نُبْعَثُ إِنْ شَاءَ اللهُ تَعَالىَ مِنَ اْلأَمِنِيْنَ
Hadirin hadirat kita bertawassul kepada Ahlul Badr , Al Habib Sofyan menyampaikan kepada saya, beliau ini usianya lebih dari 80 tahun , dulu ketika beliau berjuang memberantas PKI di Banyuwangi senjatanya adalah Shalawat Badr , Shalawat Badr itu membawa kemenangan dan Fath untuk memberantas komunis dan Malam ini kita bertawassul kepada Ahlul Badr semoga Allah memberi kemenangan dalam kehidupan kita , Allah limpahkan kebahagiaan bagi kita , Allah bahagiakan hari-hari kita , sebelum Shalawat Badr dikumandangkan , kita bacakan Al Fatihah untuk Al marhum salah seorang ayah dari santri kita dari Papua semoga ruh beliau dimuliakan di alam barzakh , dan semoga putranya diberi ketabahan . Dan semoga kita semua yang hadir di malam hari ini bersama Majelis Rasulullah arwahnya dikumpulkan malam ini bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam . Amin

