Posts tagged ‘realitas’

14 April 2013

keazalian dan keabadian Tuhan melalui argumentasi rasional

oleh alifbraja

Di antara sifat dzati (esensial) Allah Swt adalah keazalian (azaliyah) dan keabadian (abadiyah). Kedua sifat ini bermakna bahwa keberadaan Tuhan tidak berpermulaan dan juga tidak berkesudahan. Terkadang dua sifat ini juga disebut oleh para teolog dengan nama sarmadi. Dia adalah Awal dan juga Akhir.[1] Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, Dia-lah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Zahir dan Yang Maha Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(Qs. Al-Hadid [57]:3)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda, “Keazalian-Nya tidak berawal, dan kebaqaan-Nya tidak berakhir. Ia adalah yang pertama dan azali. la kekal tanpa batas.”[2] 

Imam Shadiq As ditanya tentang makna “awwal” dan “akhir”, beliau bersabda, “Dia pertama sebelum bermulanya segala sesuatu sedangkan permulaan tidak mendahului-Nya. Dia akhir yang tidak berpenghujung sebagaimana yang dipahami dari sifat-sifat makhluk. Allah Swt adalah qadim, awwal dan akhir. Dia senantiasa ada dan akan ada, tanpa berpermulaan dan berpenghujung; fenomena tidak akan terjadi pada-Nya dan tidak mengalami perubahan dari satu keadaan ke keadaan yang lain; Pencipta segala sesuatu.”[3]

 Sebagai kesimpulannya, keawalan-Nya bermakna bahwa Dia tidak berpermulaan sebagaimana keakhiran-Nya juga bermakna bahwa Dia tidak berpengakhiran. Keluasan eksistensial-Nya mencakup masa dan sebelum masa; karena wujud-Nya adalah metamasa dan berada di atas masa.

Setelah makna keazalian dan keabadian Tuhan menjadi jelas, sekarang giliran untuk menetapkan dua sifat ini bagi Allah Swt. Salah satu dalil terpendek dalam masalah ini terbentuk berdasarkan Wâjib al-Wujud (Wujud Mesti) Allah Swt. Karena itu, sebelum menetapkan keazalian dan keabadian Tuhan, kita akan menyebutkan abstrak salah satu dalil rasional yang paling kuat untuk menetapkan keberadaan Tuhan (Wajib al-Wujud), yaitu argumen imkan dan wujub:

“Di alam luaran (khârij) sudah barang tentu dan niscaya terdapat sebuah entitas (realitas). Apabila entitas ini Wâjib al-Wujûd maka ideal kita tertetapkan (dimana Wâjib al-Wujud ini adalah wujud Tuhan itu sendiri). Apabila entitas tersebut adalah mumkin al-wujud (contingen being), mengingat kebutuhannya terhadap sebab dan kemustahilan tasalsul (infinite circle) dan daur (circular reasoning), maka ia membutuhkan entitas yang wujudnya bukan merupakan akibat dari entitas lainnya, dan entitas semacam inilah yang layak menyandang predikat sebagai Wâjib al-Wujûd (baca: Tuhan)”[4]

Adapun penetapan keazalian dan keabadian (sarmadi) Tuhan dapat dilakukan melalui argumen wujub dan imkan sebagaimana berikut: Tatkala kita telah menetapkan bahwa Allah Swt itu Wâjib al-Wujud dan tetapnya wujud bagi Tuhan bersifat mesti dan mustahil keberadaan-Nya dapat dinafikan dari Zat-Nya, maka karena itu, kemestian wujud meniscayakan mustahilnya penafian wujud dari Zat Ilahi.[5] Hal ini bermakna bahwa Zat Ilahi tidak didahului oleh ketiadaan sebagaimana ketiadaan juga tak akan menyusulnya. Dan hal ini tidak lain adalah keazalian dan keabadian Tuhan. Khaja Nashiruddin Thusi dengan kalimat pendek menyinggung burhan ini, “Wa wujub al-wujud yadullu ‘ala sarmadiyatihi” (Bahwa Wâjib al-Wujud bagi Tuhan menunjukkan keabadian dan keazalian-Nya [sarmadi]).[6]

Penjelasan lebih jauh, bahwa Zat Allah Swt adalah sebuah eksisten bersifat mesti, yang sama sekali tidak dapat dinegasikan dan dinafikan. Keberadaan adalah identik dengan Zat-Nya. Karena itu, dengan memperhatikan bahwa Allah Swt itu adalah Wâjib al-Wujud maka hal itu merupakan pemandu bagi kita pada keabadian dan keazalian-Nya; karena ketiadaan sebuah entitas pada satu penggalan masa menunjukkan kebutuhannya, maka wujud yang demikian adalah wujud kontingen. Sementara Zat Allah Swt adalah sebuah entitas (eksisten) yang pertama: Keberadaan-Nya tidak diterima dari luar sehingga kita berkata pada suatu masa keberadaan diberikan kepada-Nya. Kedua, keberadaaan-Nya juga bukan merupakan pinjaman, sehingga suatu masa akan diambil dari-Nya (melainkan keberadaan adalah identik dengan Zat-Nya). Karena itu, entitas seperti ini senantiasa ada dan akan senantiasa ada.[7]

 Di samping itu, berdasarkan argumen wujub (burhan wujub), Wâjib al-Wujud adalah satu dan tidak ada duanya; karena itu Dia tidak memiliki non-wujud sehingga wujud dapat dinegasikan dari Tuhan; karena seluruh entitas pada keberadaannya butuh kepada-Nya; sebagaimana mustahil Wâjib al-Wujud meniadakan diri-Nya; karena wujud-Nya bersifat mesti dan niscaya. Dan apabila Dia ingin mengambil kemestian ini dari diri-Nya maka akan terjadi pergolakan dalam esensi-Nya dan hal ini tidak sesuai dengan status Wâjib al-Wujud Allah Swt.[8] Dan demikianlah makna keazalian dan keabadian Tuhan.

 Poin lain yang dapat disimpulkan dari argumentasi ini adalah bahwa keabadian dan keazalian dengan makna yang telah disebutkan di atas bersifat mesti di antara keduanya (mutual). Apabila sebuah entitas itu adalah azali maka tentu saja ia akan abadi.[9]

 Dalam pandangan para filosof Ilahi, “Karena Allah Swt adalah Wâjib al-Wujud secara esensial, maka tidak terdapat pada diri-Nya ketiadaan—sebelum dan sesudah-Nya. Apabila kita meninjau masalah ini dari sudut pandang ketiadaan sebelumnya, maka hal itu disebut sebagai keazalian dan qidam. Dan bilamana kita melihatnya tidak memiliki kesudahan, maka hal itu disebut sebagai keabadian dan baqa. Dan bilamana kita memandang keduanya (qidam dan baqa), maka kita mencirikannya sebagai sarmadi. Terkadang sarmadiyat (keabadian dan keazalian) bersinonim dengan keabadian dan baqa.”[10]

 


[1]. Para penafsir dalam menafsirkan dua redaksi ayat “awwal” dan “akhir” mengemukakan beberapa kemungkinan, nampaknya yang dimaksud dari dua sifat ini adalah sifat azali dan abadi. Makna ini disokong oleh beberapa riwayat.  

 

[2]. Nahj al-Balâghah, Khutbah 162.

لَیْسَ لاِوَّلِیَّتِهِ ابْتِداءٌ، وَ لا لاِزَلِیَّتِهِ انْقِضاءٌ.هُوَالاْوَّلُ لَمْ یَزَلْ، وَ الْباقى بِلا اَجَل

 

[3]. Ushûl al-Kâfi, jil. 1, hal. 90.  

 

[4]. Diadaptasi dari Pertanyaan 1286 (Site: 1330), Indeks: Dalil-dalil Wujud dan Proses Penciptaan Tuhan.  

 

[5]. Karena setiap entitas yang memiliki latar belakang ketiadaan (‘adam) atau ada kemungkinan sirnanya (zawal) maka ia tidak dapat menjadi Wâjib al-Wujud.  

 

[6]. Nashiruddin Muhammad bin Hasan Thusi, Kasyf al-Murâd,  Maqshad Sewwum, Fashl Duwwum, Masalah Ketujuh, Korektor Allamah Hasan Zadeh Amuli, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Qum, 1407 H.  

 

[7]. Nashir Makarim Syirazi, Payâm-e Qur’ân, jil. 4, hal. 194.  

 

[8]. Muhammad Ridha Kasyif, Majmu’e Pursesy-hâ wa Pâsukh-hâ, Khudâsyinâsi wa Parjâm, hal. 77.  

 

[9]. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Âmuzesy ‘Aqâid (Iman Semesta), jil. 1, hal. 84-85.  

 

[10]. Kasyf al-Murâd, Maqshad Sewwum, Fashl Duwwum, Masalah Ketujuh. 

12 April 2013

Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya

oleh alifbraja

Redaksi-redaksi kunci dan sentral pada ayat yang dimaksud adalah “yahulu” dan “qalb”.

A.     Yahulu

Yahulu artinya merintangi, membatasi dan menghalangi. Kalimat ini derivasinya dari kata haûl (batas, rintangan, halangan). Dan makna-maknanya yang digunakan untuk kata ini adalah perubahan dan pergantian, mediasi antara dua hal.[1]

Sesuai dengan makna kedua; misalnya apabila matahari berada di antara bulan dan bumi kita berkata bahwa antara matahari terdapat dua penghalang dan pembatas. Tatkala ungkapan ihwal halangan (hâil) mengemuka artinya pertama, harus terdapat dua hal yang menjadi penghalang dan pembatas bagi hal yang ketiga dan memisahkan dua hal tersebut. Kedua, sesuai dengan kaidah dua hal tersebut jaraknya harus berdekatan sehingga hal ketiga menghalangi dan membatasi kedekatan dan kekerabatan ini.

B.      Qalb

Makna leksikal qalb (hati) adalah perubahan (inqilâb) dan pergolakan. Apabila indra tertentu manusia yang berada di bagian dada kiri disebut sebagi hati hal ini dikarenakan bahwa hati senantiasa mengalami perubahan dan usaha sehingga dengan gerakan teraturnya ia menata kehidupan manusia.[2]

Yang dimaksud dengan qalb (hati) dalam al-Qur’an adalah substansi abstrak dan transendental yang dengannnya kemanusiaan manusia bergantung. Serta kebanyakan kondisi ruh dan psikologis manusia disandarkan kepada hati. Misalnya pencerapan (idrâk), baik pencerapan presentif (hudhuri) atau perolehan (hushuli), atau cinta, benci dan sebagainya.

Bahkan ketika al-Qur’an menafikan pencerapan yang dilakukan hati, sejatinya al-Qur’an ingin menegaskan bahwa realitas ini yaitu hati bukan merupakan hati yang sehat (sâlim).[3]

Mengingat bahwa hati merupakan anggota sentral badan dapat dikatakan bahwa yang dimaksud adalah badan itu sendiri atau asli wujud hati. Oleh itu, dalam budaya dan penggunaan al-Qur’an, orang-orang yang tidak memiliki pemahaman dan pandangan dapat dicirikan sebagai orang yang tidak memiliki hati. Allamah Thaba-thabai Ra berpandangan bahwa hati itu adalah jiwa manusia yang dengan dibekali dengan kekuatan dan pelbagai afeksi batin sehingga manusia menata kehidupannya.[4] Dan hati adalah sesuatu yang menghukumi, mencinta atau membenci.

Dengan kata lain, mengapa Allah Swt memilih sebuah hakikat yang bernama hati untuk menjadi pembatas di antara seluruh anggota badan manusia. Dan bercerita tentangnya, sementara Dia adalah pencipta manusia dan mendominasi satu demi satu anggota badannya. Dan dalam kondisi apa pun Dia dapat menguasainya, lalu menjadi pembatas antara manusia dan telinganya, antara manusia dan hatinya, yang bermakna anggota dari anggota badan material manusia dan sebagainya?

Jawab: Karena al-Qur’an bukan sekedar Kitab ilmiah semata, melainkan juga merupakan Kitab petunjuk. Dari sisi lain, jalan untuk sampai kepada maarif Ilahiah tidak semata bersandar pada jalan rasional dan pemikiran, akan tetapi melalui juga melalui jalan hati. Oleh karena itu, pada kebanyakan ayat-ayat, secara langsung berurusan dengan hati dan al-Qur’an sebagai kitab samawi bagi seluruh manusia pada setiap masa dan zaman serta setiap generasi, karena itu al-Qur’an lebih menghargai jalan hati dan fitrah melebihi jalan pikiran.

Terkadang manusia memiliki pikiran yang kuat sehingga dalam pancaran pemikiran, hati bergerak dan terkadang hati yang bergerak dan dalam siluet gerakan hati kemudian lahir pemikiran. Dan al-Qur’an meletakkan keduanya di hadapan kita. Akan tetapi asas tarbiyah manusia adalah bergantung pada hidup-matinya hatinya. Dan tatkala hati manusia berubah dan berpaling kepada Tuhan maka hati tersebut akan memiliki nilai.[5]

Dalam hal ini, Imam Ali As bersabda: “Hati-hati ini adalah media dan sebaik-baik hati adalah hati yang bersemayam padanya pengetahuan-pengetahuan tentang kebenaran dan berniat baik.” Sebagian periset berkata, hati adalah penyebab kemuliaan dan keutamaan manusia yang lantaran kemuliaan tersebut manusia memiliki keunggulan atas seluruh makhluk. Melalui perantara hati Tuhan berikut sifat-sifat-Nya dapat dikenal. Dan pada akhirnya siap untuk menjadi tempat bersemayam maarif Ilahiah.

Dengan demikian, sejatinya hati yang mengenal (‘âlim) Tuhan dan merupakan pelakasana bagi titah Tuhan dan berusaha meniti jalan menuju Tuhan. Hati sedemikian adalah hati yang mengenal dirinya dan karena ia mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhan. Apabila suatu waktu hati tidak mengenal Tuhan (jâhil) maka sesungguhnya ia jahil terhadap dirinya. Dan jahil ihwal dirinya adalah jahil terhadap Tuhan. Dan secara pasti, seseorang yang jahil terhadap dirinya maka ia akan lebih jahil terhadap selainnya. Dan kebanyakan manusia yang lalai terhadap hatinya dan menjadi pembatas antara hati dan dirinya.[6]

Sebagai hasilnya, ayat yang menjadi obyek pembahasan “Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya” maka manusia harus membina kedekatan dan kekerabatan dengan hatinya sehingga Tuhah menjadi perantara di antara keduanya.

Dengan demikian, tentu hati yang dimaksud di sini bukan makna lahirnya yaitu sanubari manusia. Karena itu pembatasan dan penghalangan di sini tidak bermakna material. Dan perkara ini merupakan perkara maknawi dan non-material. Sebagaimana tatkala Allah Swt berfirman: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya.” (Qs. Al-Qaf [50]:16) kedekatan ini bukan merupakan kedekatan material melainkan perkara maknawi dan murni non-material. Terlebih, hati manusia merupakan media pencerapan, pemahaman, berpandangan, dan sejatinya keniscayaan hidup rasional manusia. Dan tanpanya kehidupan manusia hanya akan bercorak material dan lahiriya belaka.

Pada ayat yang difirmankan ini, Kami membatasi antara manusia dan media pencerapan dan pemahamannya. Apabila kita berkata bahwa hati manusia juga merupakan salah satu yang paling dekat kepada-Nya (sebagaimana urat nadi) maka Allah membatasi antara manusia dan sesuatu yang paling dekat kepada-Nya. Dalam bentuk ini, Tuhan dalam surah al-Qaf (50) ayat 16 ingin menjelaskan kehadiran-Nya dan pada ayat tersebut hendak mendeklarasikan dominasi dan kekuasaan-Nya.

Lebih dekat kepada urat nadi melebihi dekatnya manusia merupakan perlambang kehadiran Tuhan. Meski dengan alasan tirai yang dihasilkan oleh kelalaian sehingga kehadiran ini tidak kita rasakan. Dan menjadi medium antara manusia dan hatinya menujukkan kekuasaan Tuhan atas manusia dan hatinya. Dan kehadiran tersebut merupakan syarat utama atas kekuasaan dan dominasi ini. Oleh karena itu kita berada di bawah dominasi dan kekuasaan Tuhan.

Penafsiran lain yang dapat ditunjukkan atas pembatasan ini:

A.      Tuhan dengan kematian membatasi antara manusia dan hatinya. Dan lantaran kematian berada di tangan-Nya dan hal ini merupakan tanda kekuasaan-Nya setelah kematian, antara manusia dan hatinya Dia menjadi jarak dan membuat batasan. Boleh jadi kelanjutan ayat yang menyatakan: “Dan sesungguhnya kepada-Nya kalian dikumpulkan” menyiratkan kepada kematian ini dimana pertama: dengan kematian, antara manusia dan hatinya terbentang jarak dan batasan. Kedua manusia dengan kematian akan memasuki padang masyhar, hari kebangkitan dan alam akhirat.

B.      Karena kematian tidak mesti bermakna keluarnya ruh manusia dari badannya, melainkan segala sesuatu yang kematian niscaya baginya, adalah jenis kematian dan pada akhirnya menjadi jarak dan batasan antara manusia dan hatinya; misalnya kesesatan adalah jenis kematian. Sebagaimana petunjuk dan penerimaan seruan nabi merupakan jenis kehidupan dan bagian pertama ayat yang menjadi obyek bahasan, “Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya jika ia menyerumu yang menghidupkanmu.” (Qs. Al-Anfal [6]:24) adalah mengisyaratkan bahwa petunjuk dan menyambut seruan nabi adalah jenis kehidupan. Tatkala seseorang tidak menyambut seruan Tuhan maka ia tidak memiliki kehidupan yang dihasilkan dari menjawab seruan Tuhan ini. Orang seperti ini terpuruk dalam jurang kesesatan dan sejatinya telah mati. Allah Swt juga mengunci mata-hati orang sedemikian, sebagaimana firman-Nya “Allah mengunci mata hati mereka.” (Qs. Al-Baqarah [2]:7) dan dengan demikian terbentang jarak, batasan dan hijab antara manusia dan hatinya.

Iya seluruh yang menolak petunjuk dan terpeleset ke dalam jurang kesesatan dan kelalaian sesungguhnya telah bersua dengan kematian. Sebagaimana orang-orang yang mendapat petunjuk meski secara lahir mati maka sesungguhnya mereka menjumpai kehidupan, “Mereka bahkan hidup dan mendapatkan rezki di sisi Tuhan mereka.” (Qs. Ali Imran [3]:169)

Adalah hal yang natural bahwa tatkala dengan kematian terbentang jarak antara manusia dan hatinya maka manusia sedemikian adalah hampa pemikiran, pandangan, rasionalitas, pemahaman dan pencerapan, “Pada mereka telinga tapi tidak untuk mendengar, dan pada mereka hati tapi tidak untuk memahami.” (Qs. Al-A’raf [7]:179)

C.      Orang yang melupakan Tuhan maka Tuhan menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Artinya lantaran mereka melupakan Tuhan telah menjadi sebab Tuhan membuat mereka melupakan diri mereka sendiri. Dan orang yang melupakan dirinya atau, dengan terma modernnya, teralienasi maka terbentang jarak dan batasan antara dirinya dan kekuatan pencerapan dan rasionalnya. Kemampuan mencerap dan memahami telah hilang dari dirinya, sesuai dengan firman Allah Swt, “Lalu mereka melupakan diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Hasyr [59]:19) dan terjerembab pada orang yang melupakan Tuhan. Iya, sedemikian ia terjerembab sehingga secara tidak sadar terjauhkan dari kehidupan tayyibah yang bersandar pada dzikruLlah dan mengingat Tuhan singkatnya mengikut, patuh dan taat kepada-Nya. Dan bukan saja ia melupakan Tuhan, bahkan ia juga telah melupakan dirinya sendiri.

D.      Sebagian nash-nash tentang pembatasan ini dimaknai sbagai pembatasan makna dan mereka berkata, “maksud dari “yahulu baina al-mar’i wa qalbihi adalah bahwa terkadang manusia mengambil keputusan untuk melakukan sebuah perbuatan, kemudian setelah itu Tuhan membuatnya menyesali perbuatan tersebut dan tidak membiarkan orang ini melanjutkan keputusan atau perbuatan tersebut.[7]

 

Makna ini kurang-lebih adalah makna tengah-tengah (mutawassith), akan tetapi apabila kita memiliki dalil rasional yang sesuai dengan ayat yang dimaksud dan terdapat dalil-dalil lainnya yang menyokong pandangan tersebut, maka tidak ada alasan bagi kita meninggalkan ayat ini secara lahir yang menyatakan : “Tuhan membatasi antara manusia dan dirinya.” Karena manusia bukan merupakan maujud yang berisi, melainkan laksana makhluk-makhluk kontingen (mumkin) lainnya yang ajwaf (tengahnya melompong). Sebagaimana Tsiqah al-Islam Kulaini menegaskan matlab ini dengan menukil sebuah riwayat dari Abu Ja’far As yang bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt menciptakan Bani Adam ajwaf.”[8]

Mengingat manusia adalah ajwaf dan tengahnya kosong maka antara manusia dan diri manusia terbentang jarak kekuasaan wujud Tuhan, oleh karena itu Tuhan dekat kepada segala sesuatu. Apabila Tuhan dekat maka Dia mendekat dengan segala sifat-sifatnya. Karena sifat-sifat dzati Tuhan adalah dzat-Nya itu sendiri dan apabila sifat-sifat dzati Tuhan hadir,[9] sifat-sifat perbutan juga mengikuti sifat-sifat dzati serta akan berpengaruh dan berlaku aktif (fa’âl).[10]

 

Hasil-hasil Pelbagai Pembatasan

1.       Kita tahu bahwa setiap halangan ke arah dua sisinya dari setiap sisi ke sisi yang lain adalah lebih dekat. Oleh itu, manusia lebih cepat dan lebih baik mengenal Tuhan dari hatinya sendiri. Dan dengan ilmu hudhuri, ia mencerap Tuhan. Sebagai hasilnya dalam menentukan instanta luaran (mishdaq) ia tidak menyimpang, tidak dapat meragukan dan mencari-cari dalih atas seruan Tuhan dan penyeru kebenaran kepada kalimat Tauhid.

2.       Mengingat Tuhan lebih mengetahui hati manusia daripada manusia itu sendiri, oleh itu manusia tidak dapat mendua (munafik) dalam menerima seruan tahuid dan para penyeru kepada kebenaran dan hanya menerimanya dalam bentuk lahir saja. Melainkan ia harus mentransfernya ke dalam lisan dan hatinya dan meyakini serta beriman kepadanya.

3.       Tatkala sifat terpuji disandarkan kepada manusia maka hal itu juga disandarkan kepada Tuhan tanpa perantara. Oleh itu, apabila manusia bersikap congkak terhadap niatnya yang tulus atau seluruh sifat-sifat terpuji maka sesungguhnya hal itu merupakan kesempurnaan kebodohannya.[11] Dan di antara kebodohan manusia adalah memandang dirinya sebagai mandiri dalam penguasaan hati dan beranggapan dirinya memiliki kekuasaan mutlak.

4.       Allah Swt dapat kapan saja Dia hendaki membuat manusia tidak dapat menikmati hatinya sehingga tidaklah demikian bahwa manusia senantiasa dapat menebus apa yang telah berlalu. Dengan demikian, ia harus sesegera mungkin melaksanan perintah Ilahi dan tidak menunda-nunda ketaatan kepada-Nya.

5.       Pembatasan ini menunjukkan kehadiran dan pengawasan Tuhan di setiap tempat dan penguasaan-Nya atas seluruh makhluk.[12]

Kekuatan dan kesuksesan bersumber dari-Nya, aktifitas akal dan juga ruh berada di tangan-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat menyembunyikan sesuatu apa pun dari-Nya, melainkan dalam setiap kesempatan dan keadaan senantiasa memohon taufik dari-Nya dan menjadikan Allah sebagai penolong-Nya dan tidak mencari penolong selain-Nya.[13]

 

Sebagai penutup kami akan mengakhiri pembahasan ini dengan menyebutkan dua riwayat berikut ini.

Hisyam bin Salim menukil dari Imam Shadiq As, maksud ayat tersebut adalah bahwa Allah menghalangi orang yang menemukan ilmu bahwa yang batil itu adalah kebenaran.[14]

Dalam riwayat yang lain disebutkan Imam Shadiq As bersabda: Demikianlah manusia melakukan sesuatu dengan telinga, mata dan tangan, pikiran, namun tatkala sesuatu itu datang kepadanya, hatinya mengingkarinya dan memahami bahwa sesuatu itu bukan kebenaran.[]

 

Untuk telaah lebih jauh:

Allamah Thaba-thabai,  Tafsir al-Mizân, jil. 9, hal. 24, surah al-Anfal

Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur, jil. 4, hal. 25, surah al-Anfal

Ja’far Subhani, Mansyur-e Jâvid-e Qur’ân, hal. 295

Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 89.

 


[1]. Raghib Isfahani, al-Mufrâdât fii Gharib al-Qur’ân, hal. 137

[2]. Ja’far Subhani, Mansyur-e Jâvid-e Qur’ân, hal. 295.  

[3]. Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 89

[4]. Allamah Thaba-thabai, Tafsir al-Mizân, terjemahan Sayid Muhammad Baqir Musawi, jil. 9, hal. 58.   

[5]. Ayatullah Jawadi Amuli, Zan dar Aine Jalâl wa Jamâl, hal. 281.  

[6]. Muhsin Faidh Kasyani,  Mahajjatul Baidhâ, jil.5, hal. 3.

[7]. Majma al-Bayân, jil. 4, hal. 820

[8]. Muhammad Ya’qub Kulaini, Al-Kâfi, jil. 6, hal. 282)   

[9]. Bagian-bagian sifat-sifat Tuhan: 1. Sifat-sifat dzat: dimana dalam mengabstrasikannya cukup dengan memperhatikan dzat seperti sifat-sifat “Mengetahui (‘Alim), Berkuasa (Kudrat), Hidup (Hayat) dan sebagainya. Sifat-sifat perbuatan: Sifat ini adalah sifat yang dalam mengabstrasikannya tidak cukup sekedar memperhatikan dzat Ilahi namun dzat tersebut harus ditinjau pada tataran perbuatan dan penciptaan kemudian mengabstrasikannya. Misalnya sifat-sifat pencipta (Khâliq), Pengampun (Ghafur), Pemberi rezeki (Râziq) dan sebagainya.

[10]. Jawadi Amuli, Hikmat-e Ibadah, pembahasan ketujuh, hal. 213. link dengan no.89

[11]. Allamah Thaba-thabai, terjemahan Tafsir al-Mizân, jil. 9, hal. 58.  

[12]. Allamah Thab-thabai, Op cit, jil. 9, hal. 58

[13]. Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur, jil. 4, hal. 313.

[14]. Allamah Thaba-thabai, Op cit, jil. 9, hal. 62.

14 September 2012

Tasawuf » Makna Hukum Labiriah dan Realitas Batin (Syariat dan Hakikat) – Praktek sufi bag 2

oleh alifbraja

Syariat dan hakikat yang dapat kita satukan
sehingga dapat membuat kita semakin berkembang  

Menurut para sufi, segala sesuatu yang kita saksikan dalam penciptaan ini memiliki sifat polaritas di dalamnya. Juga, setiap fenomena dalm penciptaan bersifat siklus (berputar) .Suatu fenomena terlihat seakan-akan mulai dari satu titik dan berakhir di satu titik lain, lalu kedua titik itu bertemu. Misalnya, riwayat penciptaan dimulai dengan siklus hidrologis. Air dari laut menguap, menjadi awan, kemudian turun sebagai hujan lalu mengalir kembali ke laut. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada hukum lahiriah dan realitas batin. Kata Arab syari ‘at berarti jalan. Apabila orang naik ke atasnya seakan-akan ia menaruh sampan ke sungai agar dapat mencapai samudra. Apabila si penempuh mempunyai penglihatan yang menyatu, apabila ia seorang manusia utuh (man of unity) maka ia akan mengakui bahwa sekalipun itu adalah sungai, tapi mempunyai arah yang akan membawa ke alam dan hakikatnya yang asli, yakni samudra. Kata Arab bagi realitas batin adalah haqiqah yang berarti kebenaran. Samudra adalah realitas batin sedang sungai adalah jalan lahiriah. Sungai tak akan mempunyai tujuan atau makna apabila ia tidak berakhir di samudra, namun asalnya adalah dari samudra!

Mengenai orang yang memiliki visi dan wawasan, serta keterhubungan dan kesatuan sejati, pada saat mereka melangkah ke dalam syariat, mereka merasa bahwa mereka telah melangkah ke dalam hakikat batin. Dari sisi pandang kaum sufi, apahila sesorang sedang mencari kedalaman makna dan transformasi dalam hidupnya, maka pada saat ia menerima syariat, ia segera menyadari makna hatin dan ruhnya, Misalnya, syariat mewajibkan orang melakukan penyucian lahiriah, yang merupakan kombinasi dari mencuci seluruh badan secara ritual pada keadaan tertentu, dan mencuci hanya bagian-bagian tertentu saja secara ritual pada keadaan tertentu lainnya, sebelum mendirikan salaat Nah, apabila seseorang mempunyai visi hidup yang menyatukan dan mencari pengetahuan tentang kesatuan, maka ia akan menyadari hahwa pengetahuan ini tak akan tercapai apabila ia tidak disucikan secara lahir maupun hatin, dan ia akan memperluas tuntutan hukum lahiriah itu la akan menyucikan kulit dan dagingnya, hukan saja dengan penyucian ritual, tetapi juga dengan menjaga jenis makanan dan minuman yang dikonsumsinya Lebih dari itu, ia akan menyucikan hati, niat, dan pikirannya Ini merupakan pandangan kesatuan dari hukum syariat, atau tata perilaku. la semata-mata dan secara langsung mengantarkan ke realitas batin.

Hukum Islam yang lahiriah, seperti telah disebutkan sehelumnya, adalah hukum Tuhan yang sempurna dan final yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. la didasarkan pada hukum-hukum perilaku yang diwahyukan secara langsung dalam Al-Qur’an dan pada sunah Nabi Muhammad. Hukum-hukum ini memungkinkan setiap anggotamasyarakat mendalami lehihjauh dan mengemhangkan kesadaran yang lebih tinggi yang merupakan maksud dan tujuan di balik penciptaan ini. Pengemhangan batin, yang merupakan tujuan tasawuf tidaklah mungkin tanpa Islam eksoteris. Kepentingan esoteris tidak akan cukup apabila seseorang tidak mempunyai perlindungan dari hatas-batas lahiriah tata perilaku lahiriah. Air tak akan tertampung tanpa wadah, dan isi telur tak akan tertarnpung tanpa kulitnya. Demikian pula, hukum lahiriah itu ibarat kulit yang melindungi realitas batin, ibarat sekat luar yang melindungi inti batin yang dengan aman membawa apa yang bila tidak dilindungi akan menjadi energi yang sangat mudah menguap.

Sekarang, di manakah hukum lahiriah (syariat) berakhir dan realitas (hakikat) batin mulai? Yang satu berurusan dengan yang lahiriah dan kasar, sedang yang lainnya berurusan dengan yang batin dan halus. Serupa dengan mengatakan bahwa ini sungai dan itu samudra, padahal sebenamya keduanya merupakan aspek dari satu sistem yang saling dihubungkan oleh satu hakikat, yaitu air.

Dari sisi pandang sufi, manusia harus memeluk dan tunduk kepada hukum syariat maupun hakikat batin, karena ia meliputi keduanya. Manusia adalah genting, atau ruang pemisah, di antara keduanya. la terlibat dalam hukum lahiriah, atau undang-undang perilaku, dalam arti bahwa ia merupakan entitas fisik, material, dan ia terlibat dalam hakikat batin dalam arti bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang melampaui waktu dan ruang. Jadi, ke dalam ia merupakan hakikat batin, dan ke luar ia adalah hukum lahiriah. Syekh sufi besar mengatakan:

Barangsiapa bersyariat tanpa hakikat,
ia telah meninggalkan jalan yang benar;

Barangsiapa punya hakikat batin tanpa syariat,
ia adalah orang bidah.

Barangsiapa menyatukan keduanya,
ia mempunyai kesadaran.

Hukum Islam yang lahiriah adalah hukum yang diwahyukan Ilahi. Dalam alam ada hukum-hukum tertentu yang tak dapat dilanggar atau dipatahkan. Namun, di dalam batas-batasnya, orang dapat mengadakan beberapa perubahan. Misalnya, suatu rumah tangga di mana peraturan umum rumah itu telah ditetapkan, tetapi di dalam peraturan itu orang mengizinkan sang anak untuk berbuat banyak sekali hal yang disukainya dalam suatu ruang tertentu. Misalnya, si anak dapat mengubah kedudukan meja kursi atau meletakkan barang-barang tertentu di dinding, dan sebagainya. Namun, sejauh berkenaan dengan gaya perabotan atau batas sesungguhnya dari ruang itu, si anak tak punya komentar atau pilihan apa-apa. Tentu saja, sebagian batas-batas atau peraturan bersifat fleksibel, tetapi selalu ada batas akhirnya. Pengetahuan tentang batas-batas ini dan perilaku pantas yang diperlukan agar tetap berada di dalamnya adalah mengenai hukum Islam yang lahiriah. Menghormari dan mencintai hukum lahiriah ini adalah menghormari dan mencintai realitas fisik yang alami.

Semua nabi dan rasul mencapai kualitas yang luar biasa dalam mengungkapkan sebagian dari hukum- hukum Ilahi, baik hukum yang menguasai keberadaan maupun hukum yang mengatur mereka dalam kehidupan, sesuai dengan keadaan, tempat, dan ruang di mana mereka hidup. Mereka saling menguatkan. Tak ada nabi atau rasul yang menolak pendahulunya. Apabila ada suatu pembatalan (nasakh) atas hukum-hukum sebelumnya, maka ini karena realitas atau kesadaran umat sebelumnya itu masih berkembang dan belum siap untuk persoalan yang akan datang. Misalnya, lihatlah minuman alkohol. Di iklim gurun yang panas, tak mungkin menyimpan buah-buahan dalam waktu lama tanpa terjadi fermentasi, dan demikian pula ribuan tahun yang lalu, minuman anggur adalah hasil yang alami dari musim buah-buahan yang berlangsung lama.

Orang diizinkan meminum anggur namun tujuannya bukan supaya menjadi mabuk. Kemudian tiba saatnya ketika terdapat kemungkinan untuk membuat alkohol secara kimiawi dalam skala besar, sehingga orang dapat merusak diri dan lingkungannya dengan meminum alkohol. Karena itulah maka hukurn Islam yang terakhir diwahyukan memperingatkan hal ini dan melarang sama sekali konsumsi minuman beralkohol, walaupun sedikit.

Jadi, selalu ada tahapan kejadian dan tujuan di balik pembatalan (nasakh) hukum-hukum nabi tertentu, yang diwahyukan kepada nabi sebelurnnya, oleh nabi yang kemudian. Semua nabi berada dalam Islam, yakni dalam ketundukan, dalam arti bahwa masing-masing telah menyerahkan dirinya kepada Allah; dan hukurn lahiriah, atau hukurn perilaku, yang dibawa oleh masing-masing nabi merupakan konfirmasi dan kelanjutan dari hukum yang dibawa oleh pendahulunya, dari hukurn Ilahi yang saling mengisi. Ketika kota dibangun, peraturan dan ketetapan tertentu menjadi jelas, sampai seluruh kota itu disempurnakan. Kemudian seluruh peraturan dan ketentuan yang telah berkembang dan diperlukan dalam rangka pembangunan dipadukan dan disempurnakan, semuanya sesuai dengan rencana utama (master plan) yang asli!

Nabi Musa as mengungkapkan banyak hukum yang sepenuhnya segaris dengan hukum yang datang sebelumnya dan yang datang sesudahnya. Namun, selama beberapa abad, hukurn-hukum tersebut dirusak, dan hanya kandungan hukumnya saja yang tetap penting. Maka muncullah Nabi ‘Isa as, yang menghidupkan kembali ruh hukum itu, tanpa mengubah hukum-hukum yang berasal dari Musa. la mempertanyakan cara penerapan hukum-hukum itu, dan berusaha untuk membenahi ketimpangan antara ruh dan kandungan hukum itu, dengan menekankan kualitas perilaku yang santun, kelemah-lembutan, keimanan, kepercayaan dan semua nilai moral Kristen lainnya. Kemudian, Nabi Muhammad mengukuhkan hukum asli itu secara benar-benar berimbang dan dalam bahasa dan kultur yang berbeda dengan bahasa dan kultur para nabi sebelumnya. Nabi Muhammad menghapuskan beberapa hukum dan, sesuai perintah llahi, membawa beberapa hukum baru, dengan demikian menyempurnakan undang-undang perilaku jalan kenabian.

Hukum-hukum kenabian (nubuwah) adalah aturan- aturan perilaku dari wahyu Ilahi yang dibawa oleh individu-individu yang peka luar biasa dalam keterhubungannya antara dunia nampak dan dunia gaib. “Hati” mereka bagaikan cermin yang memantulkan hukum asli yang diharapkan dalam alam gaib dan dalam bentuk yang lebih dapat diraba, yang mereka berikan untuk kemanusiaan. Hukum-hukum ini tidaklah kaku atau represif, dan di dalamnya terdapat banyak sekali kebebasan untuk menciptakan hukum-hukum sekunder (by-laws) dan peraturan baru yang lebih rinci untuk mengatur kehidupan manusia. Misalnya, jumlah yang tepat dari makanan yang dibolehkan untuk konsumsi manusia sehari-hari tidak diwahyukan Ilahi. Di lain pihak, adalah merupakan hukum alam dan umumnya dapat dipahami bahwa apabila seseorang tidak makan dalam jangka waktu cukup lama maka ia akan mati. Namun, tidaklah mudah dipahami, misalnya, bahwa apabila homoseksualitas merajalela maka masyarakat bisa binasa. Ini karena kita belum pernah hidup dalam suatu lingkungan di mana homoseksualitas telah berlaku menyeluruh. Maka hukum Ilahi dengan jelas melarang perbuatan homoseksual, karena apabila tidak demikian maka masyarakat akan dihancurkan dan didaur ulang. Sifat telanjang akan datang menyertainya, dan contoh Sodom dan Gomorah akan berulang sendiri. Kemudian ada hukum-hukum yang lebih halus yang berkenaan dengan pelanggaran yang kurang jelas, seperti riba. Telah diwahyukan kepada banyak nabi dan rasul, terutama ditekankan kepada para nabi besar terakhir-Musa, .Isa, dan Muhammad-bahwa riba akan menyebabkan kehancuran setiap masyarakat yang tenggelam di dalamnya. Isa menentang praktik riba, dan banyak orang Yahudi menentangnya karena ia mengancam akan menghancurkan kebiasaan buruk mereka, yang menjadi gantungan mata pencaharian mereka. Sekarang kita lihat benar-benar seluruh dunia dikuasai, diobsesi, dan dikendalikan oleh sistem riba yang beroperasi melalui sarana sistem perbankan resmi.

Syariat Islam, sebagaimana disebutkan sebelumnya, adalah kulminasi dari semua hukum yang diwahyukan sebelumnya. Masyarakat dan kultur yang mengikuti hukum Tuhan yang asli akan bertahan. Individu atau masyarakat akan beroleh maslahat sesuai dengan kadar penerapan hukum ini. Apabila suatu masyarakat atau negeri berlaku dermawan kepada fakir miskin, yang sesuai dengan semua hukum Tuhan, maka sebagai akibat dari perbuatan ini banyak kebaikan akan datang kepada orang-orang dermawan. Maka bilamana, secara terbuka atau diam-diam, seseorang atau suatu masyarakat berbuat baik, perbuatan itu segaris dengan hukum Islam. Kesejahteraan dan kemakmuran suatu kultur atau masyarakat tergantung pada seberapa dekat praktik mereka dengan syariat Islam yang asli. Karena mayoritas kaum Muslim sekarang tidak sepenuhnya melaksana- kan syariat Islam, selain kedangkalannya, mereka pun secara individu dan kolektif sedang ditimpa dan dihukum oleh ketidaktahuan atau perbuatan batil mereka sendiri.

Dalam sejarah kemajuan umat manusia, kita dapati bahwa hukum syariat yang diwahyukan sangat sederhana pada mulanya. Namun, ketika kultur, peradaban dan kesadaran manusia berkembang, hukum syariat menjadi lebih rinci dan kompleks. Manusia di masa awal mempunyai cara dan gagasan yang sederhana dan langsung tentang hidup. Bahkan hingga kini, beberapa suku pengembara (nomadic) mempunyai undang-undang perilaku yang benar-benar berhubungan dengan sifat pembawaan lahir manusia. Undang-undang ini adalah orisinil dan sangat sederhana serta blak-blakan. Pemimpin dari suku semacam itu pada umumnya mempunyai sifat-sifat yang paling disukai di kalangan kaumnya. la pemurah, kuat, ramah, penyayang, tidak egois, dan seterusnya. Suku-suku ini terus hidup secara demikian selama suatu masa hingga tiba-tiba muncul pemimpin yang tak becus, atau sistem itu ditantang oleh suatu kultur yang lebih kompleks atau maju, dan kemudian cara hidup mereka yang sederhana hilang.

Singkatnya, hukum syariat Ilahi telah diwahyukan dalam format yang berbeda-beda selama suatu kurun waktu sesuai dengan kebutuhan masa itu, dan proses ini disempurnakan secara total l.400 tahun lalu. Master plan dari alam gaib ini, dari Sumber seluruh realitas penciptaan, adalah bagian dari cinta dan belas-kasih- Nya kepada manusia sehingga kita tidak dibiarkan tanpa bimbingan. Para nabi dan rasul mengungkapkan apa yang hakiki dan perlu bagi kondisi manusia. Hukum-hukum dan cetak biru yang mereka bawa terkulminasi dalam cetak biru akhir yang merupakan undang-undang Muhammad. Jadi, berbagai macam aturan-aturan hukum lahiriah ini bersifat komplementer (saling mengisi) dan merupakan bacaan-bacaan dari kitab yang sama. Kira- kira seperti membaca bab-bab berlainan dari kitab atau lembaran yang sama. Dan di dalam parameter hukum. syariat, ada ruangan bagi hukum buatan manusia yang selaras dengan syariat itu. Syariat Islam, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, memberikan pokok-pokok hukum, tetapi di dalam hal-hal spesifik-misalnya, berapa besar pajak harus ditarik atas penduduk untuk barang- barang impor tertentu-diserahkan kepada pemerintahan dari masa bersangkutan untuk memutuskannya. Apabila pemerintah memerlukan sejumlah tertentu uang untuk suatu proyek khusus, dan rakyat kaya, maka pemerintahan Islam dapat menetapkan peraturan untuk mengumpulkan uang melalui pajak tambahan, walaupun hal itu tidak diungkapkan secara tegas sebagai wajib menurut hukum Islam. Jadi, ada jangkauan yang luas di dalam hukum Islam untuk menetapkan peraturan dan ketentuan yang sesuai dengan keadaan sekarang dan yang selaras dengan itu. Keluwesan ini- lah,berdasarkan dan di dalam bentuk yang tepat, yang meyakinkan bahwa hukum lahiriah itu sebenarnya merupakan sarana menuju hakikat batin, dan bukan suatu halangan yang menutupi atau mencegah jalan masuk kepadanya.

20 Juli 2012

MOTIVASI MENCARI SANG PENCIPTA

oleh alifbraja
 
 
 

MOTIVASI MENCARI SANG PENCIPTA

 
 

 

Di antara kelebihan dan keistimewaan manusia dari makhluk lainnya adalah adanya rasa ingin tahu (kuriositas) terhadap berbagai realitas dan hakikat. Setiap manusia memiliki sifat tersebut -sebagai fitrah yang bersemayam di dalam jati dirinya- yang mulai tampak sejak masa kanak-kanak sampai akhir usianya. Perasaan tersebut bukan hanya mendorong seseorang untuk mengetahui dan mengenal segala apa yang ada di hadapan matanya dan yang ia dengar, bahkan perasaan itupun mendorongnya ingin mengenal dan mengetahui siapa dirinya dan penciptanya. Lebih jauh lagi perasaan itu akan mendorong seseorang untuk memikirkan berbagai persoalan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat non-materi, yang kemudian timbullah berbagai pertanyaan di dalam lubuk hatinya yang dalam, antara lain: Apakah ada wujud lain yang bersifat non-materi? Jika memang ada, apakah ada hubungan antara alam non-materi dengan alam materi ini? Jika benar terdapat relasi di antara keduanya, apakah wujud non-materi itu sebagai pencipta alam materi ini? Apakah wujud manusia itu terbatas pada badan fisikal ini saja? Apakah hidupnya terbatas pada kehidupan di dunia ini? Ataukah ada kehidupan lain? jika kehidupan lain itu ada, apakah ada hubungan di antara kehidupan duniawi ini dan kehidupan ukhrawi? Dan serentetan pertanyaan-pertanyaan lainnya.

 Dengan demikian, naluri rasa ingin tahu itu merupakan motivasi utama yang mendorong seseorang untuk mencari berbagai persoalan, termasuk yang berkaitan dengan dirinya dan penciptanya.

Motivasi lainnya yang juga sangat kuat membangkitkan keinginan seseorang untuk mengetahui berbagai persoalan termasuk penciptanya adalah rasa ingin memenuhi berbagai kebutuhan dalam hidupnya di dunia ini, rasa ingin meraih keamanan dan kebahagiaan yang sejati. Oleh karena itu, ia berusaha mengerahkan segala pikiran dan pengetahuannya demi memperoleh kebahagiaan dan keamanan. Karena dengan meyakini adanya pencipta dirinya dan alam semesta ini akan membantunya untuk memenuhi berbagai kebutuhannya dan meraih kesenangan dan keuntungan yang diinginkan serta melindungi dirinya dari bahaya yang mengancamnya.

 Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa fitrah mencari keuntungan, kebahagiaan dan rasa aman dari marabahaya merupakan pendorong lainnya untuk mencari Tuhan pencipta. Berdasarkan pandangan ini dapat kita ketahui bahwa mencari Tuhan pencipta merupakan naluri tersendiri pada diri setiap manusia sehinggga tidak perlu lagi menetapkan keberadaannya dengan argumentasi. Tetapi, karena naluri dan kecenderungan semacam itu tidak dapat dirasakan secara langsung -berbeda halnya dengan hal-hal yang bersifat indrawi yang dapat dirasakan secara langsung- maka sangat mungkin seseorang akan meragukan dan bahkan mengingkari keberadaan dirinya dan penciptanya ketika ia berada pada kondisi yang menyenangkan, keamanannya terjamin, segala kebutuhan materinya dapat terpenuhi dengan mudah dan tidak menghadapi dan mengalami problem yang berarti.

Dengan demikian jelaslah bahwa dorongan naluri untuk mengetahui berbagai hakikat dari satu sisi, dan motifasi untuk meraih keuntungan, kebahagiaan dan keamanan dari segala bahaya dari sisi lain, menjadi alasan kuat bagi seseorang untuk memikirkan dan menemukan jati dirinya dan siapa penciptanya.

 Oleh karena itu, ketika seseorang mendengar seruan orang-orang yang beragama atau membaca kisah dan ihwal orang-orang besar dalam sejarah yang mengaku sebagai utusan Sang Pencipta alam semesta ini untuk mengajak umat manusia mengenal dirinya dan Tuhan pencipta dan menuntun umat manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat, maka tentunya -dengan dorongan naluri tersebut- akal pikirannya tersentuh untuk berpikir, merenung dan mengenal siapa dirinya, bahkan hatinya akan tergerak untuk mencari satu keyakinan atau agama dan melihat sejauh mana kebenaran klaim orang-orang tersebut.

 Tetapi tidak sedikit orang-orang yang memang tidak tergerak hatinya untuk mengenal diri dan penciptanya. Biasanya sikap seperti itu menghamipiri mereka karena mereka ingin hidup santai serta suka berleha-leha, atau karena mereka meyakini bahwa usaha semacam itu tidak akan mendatangkan keuntungan dan membuahkan hasil apa-apa, cepat ataupun lambat. Sesungguhnya orang-orang yang memiliki pemikiran semacam ini pada suatu saat nanti akan ditimpa berbagai akibat buruk kemalasan dan kecongkakannya tersebut.

Ada pula sebagian orang lainnya merasa enggan untuk berpikir dan memahami siapa dirinya dan penciptanya dengan alasan bahwa: memikirkan hal-hal yang seperti itu hanya membuang-buang waktu dan energi saja sementara hasilnya pun tidak dapat diharapkan secara nyata. Dengan demikian -menurut mereka- alangkah baiknya jika tenaga dan waktu ini dikerahkan untuk usaha-usaha yang dapat memberikan keuntungan yang jelas dan lebih banyak daripada harus mencari dan membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan agama yang belum jelas hasilnya. Mereka mengira bahwa tidak mungkin keuntungan dan kebahagiaan itu dapat diraih melalui jalan agama. Padahal adanya kemungkinan dan harapan terhadap keuntungan dan kebahagiaan yang ditempuh melalui jalan agama itu tidak lebih kecil daripada kemungkinan dan harapan yang ditempun melalui jalan-jalan ilmiah atau lainnya. Sementara masalah-masalah ilmiah itupun baru akan diperoleh hasilnya setelah puluhan tahun lamanya dan dengan mengerahkan segala upaya dan pemikiran.

 Biasanya seseorang itu baru akan menyadari tentang perlunya mencari dan mengenal Tuhan pencipta dirinya dan alam semesta ini, ketika ia berada pada kondisi yang sangat sulit yang tidak mungkin lagi dapat ia pecahkan dengan sendiri, sementara tidak seorangpun dapat memberikan bantuan dan pertolongan kepadanya. Ketika seorang pelaut -misalnya- dihempas dan diombang-ambing oleh ombak di tengah lautan nan luas, sementara badai bertiup dengan kencangnya, maka pada saat itulah ia merasakan ada kekuatan yang luar biasa yang bisa menyelamatkan dirinya, kekuatan yang tidak terbatas oleh ruang dan waktu, pada saat itulah ia akan menemukan Sang Pencipta Yang Maha Kuasa di dalam lubuk hati dan jati dirinya.Tuhan, di dalam lubuk hatiku ada KAMU.

20 Juli 2012

ARGUMEN TAUHID DAN SEBAB-SEBAB KEMUSYRIKAN

oleh alifbraja

ARGUMEN TAUHID DAN SEBAB-SEBAB KEMUSYRIKAN

 
 

 

Mukadimah 

Pada beberapa kajian yang telah lalu, telah kita buktikan kemestian adanya Tuhan Pencipta alam semesta dan pencipta manusia. Setiap insan, dengan akalnya yang sehat dan normal, atau dengan fitrahnya yang suci, pasti meyakini adanya Tuhan Pencipta. Sebagaimana ia meyakini keberadaan dirinya dan yang di sekitarnya. Dengan beberapa argumen rasional, telah ktia buktikan wujud Tuhan Yang Mahatahu, Mahakuasa dan memiliki seluruh sifat kesempurnaan serta ternafikan dari segala sifat kekurangan. Dialah yang menciptakan, memelihara dan mengatur alam semesta ini. Lebih dari itu, kami juga telah memaparkan pandangan dunia Materialisme terhadap alam  semesta. Dan melalui catatan kritis kami terhadap beberapa pandangan tersebut, menjadi jelas bagi kita, bahwa kemestian adanya alam semesta tanpa Tuhan Pencipta, adalah merupakan kemestian yang irrasional dan penafsiran yang tidak mungkin dapat diterima oleh setiap insan yang berakal sehat.

Selanjutnya, pada kesempatan ini dan pada kajian berikutnya, kami akan membahas tema Tauhid, sekaligus menyanggah pandangan dan keyakinan orang-orang musyrik.

Perkembangan kemusyrikan atau syirik kepada Tuhan Yang Esa, tidak bisa dilepaskan dari perkembangan keyakinan di masyarakat. Para sosiolog mengajukan berbagai macam pandangan seputar perkembangan keyakinan-keyakinan syirik di masyarakat yang senantiasa mengalami perubahan silih-berganti. Tetapi, pandangan dan penafsiran itu  tidak berdasarkan dalil yang kokoh dan akurat.

Sehubungan dengan hal itu, pertanyaan yang layak dilontarkan adalah: Bagaimanakah, dan kapankan kecendrungan masyarakat kepada kemusyrikan itu mulai timbul? Atau: faktor apakah yang menjadi sebab utama terjadinya kemusyrikan dan meyakini banyak Tuhan tersebut? Ada kemungkinan, bahwa faktor  pertama kecenderungan syirik dan keyakinan pada banyak Tuhan, adalah tatkala seseorang melihat banyak dan beragamnya realitas-realitas di langit dan di bumi. Mulai dari situlah mereka berkeyakinan, bahwa setiap bagian realitas itu tunduk di bawah pengaturan Tuhan tertentu. Misalnya matahari memiliki Tuhan tertentu yang mengaturnya. Rembulan tunduk dibawah pengaturan Tuhan yang lainnya. Dan begitulah seterusnya bagi benda-benda dan realitas-realitas lainnya, baik yang berada di bumi maupun yang di langit. Masing-masing memiliki Tuhan tertentu yang mengawasi dan mengaturnya. Bahkan, sebagian dari mereka percaya, bahwa seluruh kebaikan itu bersumber dari Tuhan kebaikan. Sementara seluruh keburukan berasal dari Tuhan keburukan. Berangkat dari sinilah, mereka yakin bahwa alam semesta ini memiliki dua sumber wujud dan pencipta; Pencipta kebaikan dan Pencipta keburukan

Demikian pula pengamatan mereka terhadap pengaruh sinar matahari, bulan dan bintang-bintang terhadap realitas bumi. sehingga -dari satu sisi-mereka memandang bahwa benda-benda tersebut memiliki suatu bentuk pengaturan terhadap apa yang ada di bumi. Dari sisi lain, bahwa kecendrungan manusia untuk menyembah sembahan yang dapat diindera, mendorong mereka untuk membuat berbagai lambang dan simbol bagi Tuhan-Tuhan yang mereka anggap layak untuk mereka sembah. Lambang-lambang itu, lambat laun, mendarah daging dan terukir di hati orang-orang yang pikirannya lemah. Selanjutnya setiap bangsa, bahkan suku, membuat ritual keagamaan tertentu -sesuai dengan anggapan mereka masing-masing- yang bertujuan untuk menyembah lambang tersebut. Dengan cara itulah mereka  dapat memenuhi desakan fitrah -untuk menyembah Tuhan Pencipta- dari dalam diri mereka.

Lebih dari itu, mereka pun berusaha memenuhi tuntutan-tuntutan hewani dan hawa nafsunya dalam bentuk kesucian agama. Dan sebagian dari ritual-ritual keagamaan tersebut, masih berlanjut hingga sekarang, yang disertai dengan berbagai macam tarian, nyanyian, minum khamar, hubungan seks dan perilaku hewani lainnya, yang semua itu mewarnai suasana ritual keagamaan para penyembah lambang tersebut. Di negara kita Indonesia misalnya, fenomena semacam itu masih dapat kita saksikan, atau paling tidak kita dengar, di daerah-daerah pedalaman Kalimantan atau Sumatera dan di tempat-tempat lainnya.

Di samping itu semua, adanya tujuan para penguasa zalim, congkak dan tamak, yang sengaja ingin memanfaatkan keyakinan dan pemikiran masyarakat awam demi memenuhi ambisi busuk mereka, mengokohkan dan memperluas daerah kekuasaan mereka. Untuk tujuan itulah mereka menebarkan keyakinan-keyakinan syirik, menurunkan pengaturan alam di bawah kuasa mereka, dan menjadikan raja-raja yang zalim sebagai sembahan dan bagian dari upacara keagamaan. Kenyataan ini tampak begitu jelas pada raja-raja dan sultan-sultan di Cina, India, Iran, Mesir dan negeri-negeri yang lain.

Dengan demikian, dari uraian singkat di atas, dapat dipahami bahwa  keyakinan-keyakinan dan dasar-dasar syirik itu telah tumbuh dan berkembang di tengah umat manusia karena faktor yang beragam. Lalu, keyakinan-keyakinan itu tersebar luas, sehingga menjadi kendala bagi proses kesempurnaan  hakiki umat manusia, yaitu proses yang hanya dapat dicapai melalui ajaran Ilahi  dan Tauhid. Oleh karena itu, para nabi dan utusan Tuhan, mengerahkan sebagian besar tenaganya untuk memberantas syirik.

Pada dasarnya, keyakinan-keyakinan dan dasar-dasar syirik itu, bertumpu pada kepercayaan adanya pengatur alam selain Tuhan Yang Esa. Di samping itu, banyak kaum musyrik yang percaya, bahwa pencipta alam semesta adalah satu. Buktinya adalah bahwa mereka mempercayai konsep Tauhid dalam penciptaan. Tetapi pada saat yang sama, mereka pun meyakini adanya Tuhan-Tuhan sebagai pengatur alam secara mandiri. Dan mereka juga menamakan Tuhan Pencipta sebagai “Tuhan di atas Tuhan-Tuhan pengatur”.

Sebagian mereka menganggap, bahwa Tuhan-Tuhan pengatur itu adalah malaikat. Musyrikin Arab percaya, bahwa Tuhan-Tuhan pengatur itu adalah putri-putri Allah. Sebagian lainnya percaya, bahwa mereka itu adalah jin. Di antara mereka ada pula yang percaya, bahwa mereka itu adalah ruh bintang-bintang, atau ruh orang-orang terdahulu, atau bentuk-bentuk maujud yang abstrak.

Sebagaimana pernah kami singgung, bahwa sebenarnya terdapat kaitan yang erat antara penciptaan (Khaliqiyah) dengan pengaturan (Rububiyah) yang hakiki. Sehingga keimanan pada penciptaan dan pengaturan itu tidak dapat dipisahkan sama sekali. Dan keimanan kepada Allah sebagai pencipta alam raya ini, tidak sejalan dengan kepercayaan kepada selain Allah sebagai pengaturnya. Mereka yang memiliki keyakinan adanya dua Tuhan; Tuhan Pencipta dan Tuhan Pengatur, sesungguhnya belum menyadari adanya kontradiksi di dalamnya. Untuk menyanggah keyakinan mereka, cukuplah dengan mengangkat poin kontradiksi tersebut.

Sebenarnya banyak sekali dalil-dalil atas Tauhid kepada Allah yang telah dipaparkan di berbagai kitab Teologi dan Filsafat. Di sini, kami hanya akan membawakan satu dalil saja, yang secara langsung menunjukkan Tauhid dalam pengaturan, sekaligus menyanggah keyakinan-keyakinan kaum musyrik.

 

Argumen atas Tauhid kepada Allah

Sesungguhnya memestikan dan meyakini banyak Tuhan bagi alam semesta ini, tidak keluar dari beberapa asumsi berikut ini:

Pertama: Kita memestikan bahwa setiap realitas alam ini merupakan akibat dan diciptakan oleh seluruh Tuhan tersebut.  

Kedua: Setiap unit atau kelompok realitas alam ini, adalah akibat dan diciptakan oleh satu Tuhan di antara Tuhan-Tuhan yang banyak itu.

Ketiga: Semua realitas di alam ini, diciptakan oleh Tuhan Yang Esa, sementarta Tuhan-Tuhan yang lain, berperan sebagai pengatur mereka.

Asumsi bahwa setiap realitas alam ini memiliki banyak Tuhan sebagai Tuhan-Tuhan Pencipta, adalah asumsi yang mustahil. Sebab, keyakinan ini berarti memestikan ada dua Tuhan atau lebih, sebagai pencipta dan sebagai sebab-pewujud. Artinya bahwa, setiap Tuhan itu memberi wujud kepada setiap realitas alam. Konsekuensinya adalah bahwa  setiap realitas itu memiliki Tuhan-Tuhan yang banyak sekali, sebanyak bilangan yang diasumsikan. Padahal kenyataannya sudah jelas, bahwa setiap realitas, hanya memiliki satu wujud saja. Tidak lebih dari satu wujud.Karena jika tidak demikian, tentu setiap realitas tidak lagi satu. 

Adapun asumsi bahwa setiap Tuhan itu menciptakan satu makhluk, atau menciptakan sekelompok makhluk tertentu, hal ini berarti, bahwa masing-masing makhluk itu bergantung hanya kepada  penciptanya saja, dan tidak butuh kepada maujud yang lain, kecuali dalam hal-hal yang kebutuhannya itu berakhir kepada penciptanya. Dan ini merupakan kebutuhan yang khas bagi makhluk-makhluknya. Dengan kata lain, asumsi kedua itu melazimkan  pula adanya sistem yang banyak di dalam alam raya ini. Dan setiap sistem itu, mandiri dan terpisah dari yang lain. Padahal alam ini, jelas, hanya memiliki satu sistem. Buktinya adalah adanya hubungan di antara realitas-realitas alam pada satu zaman, yang setiap mereka butuh kepada yang lain. Kenyataan ini menunjukkan bahwa ada hubungan di antara realitas-realitas sebelumnya dengan realitas-realitas yang sedang berlangsung. Demikian juga, antara realitas-realitas yang sedang berlangsung dengan yang berikutnya. Dan setiap realitas yang lalu, merupakan prasyarat bagi wujud yang berikutnya. Dengan cara seperti itu, alam yang terdiri dari bagian-bagian ini, saling berhubungan dan berkait yang diatur oleh satu sistem yang tidak mungkin sebagai akibat dari beberapa sebab pengada.                 

Adapun asumsi bahwa Pencipta seluruh makhluk adalah Tuhan Yang Esa, sedangkan Tuhan-Tuhan yang lain bertugas mengatur alam, adalah asumsi yang keliru. Karena seluruh wujud dan aktifitas setiap akibat itu, bergantung kepada sebab yang mengadakannya. Artinya, tidak ada celah bagi maujud mandiri apa pun, untuk ikut campur dalam urusan tersebut, selain interaksi antara sesama akibat-akibat dari satu sebab. Dan tentunya, seluruh akibat-akibat tersebut tunduk kepada sebab pengada mereka dan tidak keluar dari wilayah kekuasaan-Nya. Satu pun tidak akan terjadi, kecuali dengan izin-Nya.

Dengan demikian, Tuhan-Tuhan itu -selain Tuhan Pencipta dan Pewujud- bukan Tuhan dalam arti yang sebenarnya. Karena, makna Tuhan yang sebenarnya adalah Dzat yang dapat memperlakukan segala makhluk-Nya secara mandiri. Sedangkan pada asumsi di atas, Tuhan-Tuhan itu tidak mandiri dalam meng-aktifkan kekuasaan mereka. Bahkan mereka itu adalah serpihan dari rububiyah Pencipta Sejati. Dan akan menjadi aktif dengan kekuatan yang Dia berikan kepada mereka. Tanpa anugerah-Nya, segala aktifitas apa pun tidak akan terwujud.

Dengan demikian, bahwa asumsi adanya Tuhan-Tuhan pengatur alam yang tidak mandiri, tidak menafikan Tauhid Rububiyah (tauhid dalam pengaturan). Sebagaimana suatu penciptaan yang terjadi dengan izin Allah pun tidak menafikan Tauhid Khaliqiyyah-Nya. Di dalam Al-Qur’an dan hadis-hadis, terdapat ungkapan yang menunjukkan ketetapan penciptaan atau pengaturan vertikal (taba’i) dan tidak mandiri pada sebagian hamba-hamba Allah. Sekaitan dengan ihwal Nabi Isa a.s., Allah swt. berfirman:

“Dan ingatlah ketika kamu menciptakan dari tanah seperti bentuk burung dengan izin-Ku, kemudian kamu meniupkan padanya, lalu ciptaan itu menjadi burung (yang sebenarnya) dengan izin-Ku.”  (Qs. Al-Maidah: 110)

Di  ayat lain Allah Swt. berfirman:

 “Dan (malaikat-malaikat) yang mengatur suatu urusan.” (Qs. An-Nazi’at: 5).

Alhasil, dugaan tentang kemungkinan adanya Tuhan-Tuhan bagi alam ini, muncul dari menyerupakan Allah dengan sebab-sebab material dan sebab-sebab penyiap, sehingga  dapat dikatakan bahwa Tuhan itu bisa berbilang bagi satu akibat. Tetapi, kita tidak mungkin dapat menyerupakan sebab pewujud dengan sebab-sebab tersebut. Sebagaimana kita juga tidak mungkin mengasumsikan diwujudkannya suatu akibat oleh sejumlah sebab pewujud dan sejumlah pengatur yang mandiri.

Jadi, untuk menyanggah dugaan tersebut, kita mesti berpikir lebih dalam tentang konsep sebab pengada dan ciri-ciri khasnya, sehingga kita mengetahui kemustahilan berbilangnya sebab bagi satu akibat. Demikian pula,  kita harus memperhatikan bahwa saling terkaitnya sesama realitas alam, tampak  jelas, bahwa sistem yang saling terpadu di alam semesta ini, tidak mungkin diciptakan oleh banyak Tuhan. Dan tidak mungkin juga tunduk pada pengaturan banyak pengatur yang mandiri.

Dari uraian di atas menjadi jelas pula, bahwa keyakinan terhadap wilayah takwiniyah (kekuasaan cipta) pada sebagian hamba yang saleh, tidak menafikan keimanan terhadap Tauhid. Tetapi yang penting adalah -sehubngan denganwilayah takwiniyah- jangan sampai kita menafsirkan wilayah ini, dengan makna penciptaan atau pengaturan yang mandiri. Sebagaimana keyakinan terhadap wilayah tasyri’iyah (kekuasaan hukum) pada Nabi saw dan para imam maksum as, juga tidak menafikan pengaturan kekuasaan hukum Allah (tasyri’iyah Ilahiyyah). Karena wilayah itu diwujudkan oleh Allah, dengan izin-Nya, dan bersumber dari-Nya.

29 Juni 2012

Penjelasan filsafat tentang alam barzakh terdapat penyempurnaan ilmu, namun tidak ada penyempurnaan amal

oleh alifbraja

VERSI 1

Penyempurnaan di alam barzakh merupakan suatu perkara yang pasti sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadis dan sebagian teks ayat-ayat suci al-Quran juga berimplikasi demikian. Di samping itu, ungkapan-ungkapan yang dikutip dari Irfan yang bersumber dari mukâsyafah dan musyâhadah yang berkaitan dengan realitas penyempurnaan di alam barzakh.

Hal ini juga dikaji di dalam Filsafat.  Secara global dalam Filsafat terdapat kesepakatan tentang adanya kenyataan penyempurnaan di alam barzakh dan berdasarkan prinsip-prinsip bisa dikatakan bahwa tidak satupun Filsafat yang dapat mengingkari adanya kemungkinan penyempurnaan di alam barzakh.

Poin pertama yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah tidak ada kemungkinan penyempurnaan amal dalam artian bahwa di alam barzakh manusia menyempurna dan menggapai derajat yang lebih tinggi dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan Ilahi, karena alam barzakh bukanlah alam ‘kewajiban’ (atau alam syariat) yang kondisi-kondisi dan hukum-hukum serta kaidah-kaidah tidak sebagaimana alam materi. Oleh karena itu, jika ada pembahasan tentang penyempurnaan di alam barzakh maka yang dimaksud adalah penyempurnaan ilmu yang secara tegas disebutkan dalam hadis-hadis. Tentang perilaku orang-orang shaleh dan lain sebagainya demikian juga kembalinya jiwa yang telah meninggal bukanlah pelbagai aktivitas dan amalan di alam barzakh, melainkan bersumber dari pengaruh-pengaruh suatu amal yang telah dikerjakan di dunia dan buah dari perbuatan itu baru nampak kemudian di alam barzakh.

Adapun sehubungan dengan masalah bentuk penyempurnaan di alam barzakh bahwa apakah sejenis gerak yang menurut definisi Filsafat tentangnya ataukah sejenis penyempurnaan lain dan mengalami perubahan? Tampaknya persoalan ini mengundang kritikan yang akan dicarikan solusinya secara filosofis.

Sumber kritikan berkenaan dengan probabilitas penyempurnaan di alam barzakh dan bagaimana penjelasan filosofisnya terkait dengan pembahasan potensialitas dan aktualitas serta definisi materi dan gerak dalam filsafat.

Uraian kritikan tersebut adalah sebagai berikut: gerak dalam perspektif Filsafat adalah keluarnya sesuatu secara bertahap dari kondisi yang bersifat potensial ke keadaan yang aktual, sementara materilah yang mengandung potensi dan bakat ini. Oleh karena itu, gerak bergantung kepada keberadaan materi dan kondisi yang bersifat potensial, gerak tidak bermakna tanpa kedua hal ini. Dengan kata lain, jika di suatu alam tidak terdapat materi maka akan berkonsekuensi pada tiadanya gerak dan penyempurnaan.     

Kritikan ini secara mendasar bersumber dari keterbatasan penggambaran tentang konsep penyempurnaan yang semata-mata hanya dipandang berada dan terkait di seputar materi. Jika kita memandang persoalan penyempurnaan dengan perspektif yang lebih universal dan melihat bahwa gerak menurun dan menaik di dalam tingkatan eksistensi sebagai gerak eksistensial serta meninjau bahwa jiwa-berakal manusia berasal dari mana dan akan kembali berproses ke sumbernya yang tertinggi, maka akan disaksikan bahwa keraguan dan kritikan ini tidak dapat dijadikan hukum universal untuk menolak adanya penyempurnaan di alam barzakh setelah berpindahnya jiwa dari alam materi ke alam barzakh.

Pernyataan tentang gerak berpijak kepada materi adalah benar sesuai dengan ruang-lingkupnya, karena jika tidak ada potensi dan bakat untuk menjadi sesuatu, maka tidak akan ada pula aktualitas baru dan gerak juga tidak akan bermakna. Poin ini perlu digaris bawahi bahwa jiwa manusia setelah melewati gerbang kematian, walaupun ia telah meninggalkan materi dan badan jasmaninya dan tidak lagi memiliki suatu gerak dalam makna filosofisnya, akan tetapi, pada saat yang sama setelah meninggal dan berpisah dengan badan materinya, jiwa manusia tidak langsung mencapai derajat kenonmateriannya yang sempurna. Karena itu, jiwa manusia mesti mengalami semacam penyempurnaan dan perubahan di alam barzakh, karena begitu banyak hijab-hijab yang meliputi jiwa masih belum sirna atau tersingkap.

Dengan kata lain, memang benar bahwa jiwa setelah melewati gerbang kematian, telah mengaktual dari aspek gerak materi, akan tetapi, jika dilihat hakikatnya yang terdalam maka ia masih diselimuti oleh hijab-hijab yang beragam. Oleh itu, jiwa yang masih memiliki potensi untuk lebih menyempurna jika dibandingkan dengan keadaan-keadaan berikutnya yang masih diliputi oleh hijab-hijab yang relatif lebih sedikit, mesti mengalami suatu bentuk penyempurnaan sedemikian sehingga ia kembali dalam keadaannya yang utama dalam bentuk nonmateri murni.

Dengan demikian, penyempurnaan di alam barzakh tidak bertolak belakang dengan kondisinya yang material (tidak berada di alam materi), karena walaupun materi tidak ada di alam barzakh, namun jiwa itu sendiri ketika dia meninggalkan badan materinya masih memiliki potensi-potensi yang disebabkan oleh adanya hijab-hijab yang meliputinya sewaktu hidup di alam materi, dan pada akhirnya jiwa akan mengaktual secara sempurna setelah penyempurnaan kekurangan-kekurangan dan penyirnaan hijab-hijabnya di alam barzakh.

Secara bertahap, jiwa akan berproses untuk mencapai kesempurnaan di alam barzakh dan alam-alam berikutnya atau tahapan-tahapan lebih tinggi, dan jalan ini akan berujung pada hari kiamat yang dipandang merupakan batas akhir dari perjalanan menyempurna.

Dari aspek inilah sehingga dikatakan: barzakh dan kebutuhan kepada penyempurnaan di alam barzakh adalah tidak sama bagi semua jiwa, karena sangat mungkin terdapat orang-orang sempurna yang selama hidup di alam materi telah mampu menyirnakan hijab kegelapan dan hijab cahaya yang meliputinya, karena itu, ia hanya sebentar saja berada dan berhenti di alam barzakh, orang-orang itu seperti para nabi, rasul, dan orang-orang suci lainnya yang telah ditegaskan oleh Allah Swt dalam al-Quran dan hadis nabi, dikarenakan derajat kedekatannya yang sangat tinggi kepada Tuhan dan kegemilangan cahayanya, setelah melewati kematian, mereka akan kembali ke tempat asalnya yang semula.

Begitu pula para arif mendapatkan kesempurnaan di alam barzakh dan akan masuk ke alam-alam malakuti yang lebih tinggi, namun begitu banyak jiwa-jiwa manusia akan mengalami proses penyirnaan hijab-hijab, perolehan aktualitasnya yang sempurna, penghilangan sifat-sifat buruk duniawi, dan pencapaian kenonmaterian murni di alam barzakh hingga hari kiamat.

Dengan penjelasan tersebut, kaidah-kaidah Filsafat yang telah terjabarkan untuk gerak dalam pembahasan potensi dan aktual tentunya tidak bertentangan dengan penyempurnaan yang ada di alam barzakh, dan satu-satunya penyelesaian dalam hal ini adalah tidak memandang gerak materi yang terjadi di alam materi bisa teraplikasi di alam barzakh, karena gerak materi ini telah sampai pada tujuannya, dan jiwa yang telah meninggalkan badan jasmaninya akan terus mengalami sejenis penyempurnaan di alam nonmateri dan barzakh supaya jiwa terbebas secara sempurna dari segala bentuk kotoran-kotoran, hijab-hijab, dan sifat-sifat buruk yang meliputinya.

Dari aspek inilah penyempurnaan di alam barzakh menjadi mungkin dan bahkan menjadi hal yang urgen mengingat jiwa mesti berjalan dan berproses untuk mencapai kesempurnaannya dalam bentuk nonmateri yang murni.

Oleh karena itu, sanggahan dan kritikan yang terlontar pada dasarnya berpijak kepada penyempurnaan yang semata-mata bergantung kepada materi dan badan jasmani, penggambaran ini juga bersumber dari anggapan sebagian orang yang menyatakan bahwa satu-satunya faktor yang mengantarkan jiwa dan ruh manusia ke derajat nonmateri sempurna adalah kebergantungannya kepada badan materi ini dan ketika jiwa berpisah dengan badan jasmaninya akan secara langsung berubah menjadi nonmateri sempurna dan tidak lagi membutuhkan suatu bentuk penyempurnaan di alam manapun. Anggapan ini keliru dan salah, jiwa tidak akan langsung mencapai aktualitas  terakhir, nonmateri sempurna, dan tidak lagi menyempurna seketika melewati gerbang kematian, walaupun kematian sejenis keterpisahan dari badan lahiriah yang menyebabkan jiwa tidak lagi terhalangi untuk mencapai kesempurnaannya, namun kematian bukanlah akhir dari suatu pergerakan, perubahan, dan penyempurnaan, bahkan –menurut Mulla Sadra- dipandang sebagai langkah awal gerak dan kembali jiwa manusia ke haribaan Ilahi.[1]

Dengan demikian, begitu banyak para filosof dan arif pada saat yang sama menerima prinsip-prinsip gerak, alam potensial dan aktual serta memustahilkan gerak dalam makna filosofisnya, namun sangat menekankan adanya penyempurnaan di alam barzakh dan mereka menggunakan istilah ‘penyirnaan hijab-hijab’, ‘penguatan cinta’, dan istilah-istilah semacamnya untuk menjelaskan penyempurnaan ini yang bukan sejenis gerak dalam istilah filsafat.

Hal seperti itu juga disinggung oleh Imam Khomeni Qs dalam catatan kakinya atas Syarh Fushushush al-Hikam[2] berkenaan dengan penyempurnaan di alam barzakh. Beliau menyebut penyempurnaan itu sebagai ‘penyirnaan hijab-hijab dan sifat-sifat kegelapan’ dan menegaskan bahwa penyempurnaan itu bukan sejenis gerak materi yang memiliki potensi dan bakat. Begitu pula Allamah Thabathabai Qs menamakan penyempurnaan di alam barzakh itu sebagai ‘penggapaian derajat cinta’ yang bijinya telah disemaikan di kebun alam materi.[3]

Poin lain yang dapat disimpulkan dari filsafat Mulla Sadra adalah jiwa di alam barzakh memiliki badan mitsal yang “materinya” sangat lembut.[4] Badan mitsal atau badan barzakh memiliki tingkat kelembutan yang sangat tinggi dibandingkan dengan badan duniawi, badan barzakh inilah yang mengandung potensi bagi jiwa di alam barzakh yang akan mengalami proses penyempurnaan dan pensucian dari segala bentuk kegelapan dan sifat-sifat buruk ke arah pencerahan sempurna. Karena itu, badan barzakh akan menyempurna di alam barzakh dikarenakan proses-proses penerimaan rahmat Ilahi dan pensucian yang dibutuhkan di alam barzakh, penjelasan yang lebih teliti ini mungkin akan memberikan pemahaman yang lebih jelas kepada kita.

Di akhir uraian ini, demi memudahkan kita mengerti makna penyempurnaan di alam barzakh, akan diutarakan konsep-konsep yang lebih membumi (down to earth). Misalnya jiwa di alam mimpi yang pada saat yang bersamaan lepas dari kontrol dan pengaturan badan jasmani, dapat menggapai pengetahuan-pengetahuan yang lebih tinggi yang hal ini juga sejenis penyempurnaan dan perjalanan barzakh. Begitu pula mukâsyafah-nya para arif yang terjadi ketika berpisah dari badan jasmaninya (bukan kematian alami, namun kematian ihktiari) juga tergolong ke dalam sejenis penyempurnaan barzakh yang tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk gerak materi, dan penyempurnaan ini menyebabkan kesempurnaan jiwa.

Alam mimpi dan mukâsyafah juga sejenis kematian, namun memiliki derajat yang lebih rendah dari kematian alami. Kematian ini bermakna keterpisahan sementara dari materi dan badan jasmani dengan cara “meringankan” jiwa dan ruh. Jenis kematian ini dapat dilakukan dengan maksud memperoleh pengetahuan dan makrifat baru yang tidak lain adalah sejenis penyempurnaan di alam barzakh, kedua istilah ini tidak bertentangan satu sama lain. Sebagaimana pernyataan Mulla Sadra yang dipandang sebagai akhir sebuah gerak dan tercapainya tujuan dari satu sisi yang dikategorikan sebagai kematian, namun di sisi lain dipandang sebagai awal kelahiran dan permulaan suatu “gerak” kedua di alam yang lebih tinggi.

VERSI 2

Penyempurnaan di alam barzakh bisa diterima dengan berpijak kepada al-Quran dan hadis-hadis sahih. Hal ini juga dikaji dalam koridor Filsafat serta banyak lagi hal yang dibahas terkait dengan masalah alam barzakh (isthmus) dalam Filsafat.

Poin pertama yang perlu diperhatikan dalam hal ini adalah tidak ada kemungkinan penyempurnaan amal dengan makna bahwa di alam barzakh manusia menyempurna dan menggapai derajat yang lebih tinggi dengan melaksanakan kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan Ilahi, karena alam barzakh bukanlah alam ‘kewajiban’ (atau alam syariat) sebagaimana alam materi.

Oleh karena itu adalah jelas bahwa ketika ada pembahasan terkait dengan penyempurnaan di alam barzakh maka yang dimaksud adalah penyempurnaan ilmu sebagaimana ditegaskan dalam banyak hadis sahih.

Untuk menguraikan persoalan penyempurnaan ini dari perspektif filsafat, maka harus dikatakan: dari pandangan yang bersifat global, ruh nonmateri dan jiwa-berakal manusia berasal dari ruh Ilahi yang telah melewati jenjang dan derajat yang beragam secara menurun sedemikian sehingga sampai di alam materi dan badan jasmani, dan dalam perjalanan menaik juga melewati tingkatan-tingkatan yang berbeda. Perjalan menaik ini juga bisa dikatakan sebagai ‘penyempurnaan’.    

Fenomena kematian dan perpindahan ke alam barzakh merupakan suatu tahapan gerak dan perjalanan menuju Tuhan yang bukan merupakan kesempurnaan akhir manusia, namun masih tertinggal banyak tahapan perjalanan jiwa manusia untuk sampai ke alam nonmateri dan malakut yang sempurna. Akan tetapi dengan memperhatikan definisi gerak dalam filsafat yakni keluarnya sesuatu dari alam potensial ke alam aktual, maka sanggahan yang terlontar adalah bahwa materilah yang mengandung potensi dan cikal-bakal itu.

Oleh karena itu, gerak bersyarat kepada materi dan kondisi yang bersifat potensial, dengan demikian, di alam barzakh yang tidak terdapat materi (karena bukan alam materi) niscaya tidak ada gerak dan berkonsekuensi juga kepada tiadanya penyempurnaan.

Untuk menjawab sanggahan ini, dapat dikatakan bahwa walaupun jiwa manusia akan berpisah dengan materi dan badan jasmaninya setelah mengalami kematian dan mengaktual dari aspek gerak materi, akan tetapi jika dipandang dari hakikat jiwa (nonmateri sempurna) maka masih berada dalam hijab-hijab yang beragam. Oleh karena itu, dari satu sisi dapat dikatakan: jiwa dalam kondisi demikian (di alam barzakh) jika disandarkan dengan kondisi-kondisi setelahnya akan memiliki hijab-hijab yang semakin berkurang secara potensial dan mesti mengalami penyempurnaan sedemikian sehingga mencapai derajat nonmateri sempurna dan aktual murni (tidak lagi memiliki potensi).

Dengan dasar inilah mayoritas ulama tidak menamakan penyempurnaan ini sebagai gerak, tetapi menggunakan istilah-istilah lain seperti ‘penyirnaan hijab-hijab’, ‘pemusnahan jarak’, ‘pensucian kotoran-kotoran’, ‘penguatan cinta’,  dan yang semacamnya yang tidak bertentangan dengan kenonmaterian alam barzakh.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 146 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: