Posts tagged ‘sunan bonang’

23 Agustus 2012

Inti Ajaran Suluk Wujil

oleh alifbraja

Tasawuf dan Pengetahuan Diri, secara keseluruhan jalan tasawuf merupakan metode-metode untuk mencapai pengetahuan diri dan hakikat wujud tertinggi, melalui apa yang disebut sebagai jalan Cinta dan penyucian diri. Cinta yang dimaksudkan para sufi ialah kecenderungan kuat dari kalbu kepada Yang Satu, karena pengetahuan tentang hakikat ketuhanan hanya dicapai tersingkapnya cahaya penglihatan batin (kasyf) dari dalam kalbu manusia (Taftazani 1985:56). Tahapan-tahapan jalan tasawuf dimulai dengan‘penyucian diri’, yang oleh Mir Valiuddin (1980;1-3) dibagi tiga:

  • Pertama, penyucian jiwa atau nafs (thadkiya al-nafs);
  • Kedua, pemurnian kalbu (tashfiya al-qalb);
  • Ketiga, pengosongan pikiran dan ruh dari selain Tuhan (takhliya al-sirr).

Istilah lain untuk metode penyucian diri ialah mujahadah, yaitu perjuangan batin untuk mengalahkan hawa nafsu dan kecenderungan-kecenderungan buruknya. Hawa nafsu merupakan representasi dari jiwa yang menguasai jasmani manusia (‘diri jasmani’). Hasil dari mujahadah ialah musyahadah dan mukasyafah. Musyahadah ialah mantapnya keadaan hati manusia sehingga dapat memusatkan penglihatannya kepada Yang Satu, sehingga pada akhirnya dapat menyaksikan kehadiran rahasia-Nya dalam hati. Mukasyafah ialah tercapainya kasyf, yaitu tersingkapnya tirai yang menutupi cahaya penglihatan batin di dalam kalbu. Penyucian jiwa dicapai dengan memperbanyak ibadah dan amal saleh. Termasuk ke dalam ibadah ialah melaksanakan salat sunnah, wirid, zikir, mengurangi makan dan tidur untuk melatih ketangguhan jiwa.

Semua itu dikemukakan oleh Sunan Bonang dalam risalahnya Pitutur Seh Bari dan juga oleh Hamzah Fansuri dalam Syarab al-`Asyiqin (“Minuman Orang Berahi”). Sedangkan pemurnian kalbu ialah dengan membersihkan niat buruk yang dapat memalingkan hati dari Tuhan dan melatih kalbu dengan keinginan-keinginan yang suci. Sedangkan pengosongan pikiran dilakukan dengan tafakkur atau meditasi, pemusatan pikiran kepada Yang Satu.

Dalam sejarah tasawuf ini telah sejak lama ditekankan, terutama oleh Sana’i, seorang penyair sufi Persia abad ke-12 M. Dengan tafakkur, menurut Sana’i, maka pikiran seseorang dibebaskan dari kecenderungan untuk menyekutuhan Tuhan dan sesembahan yang lain (Smith 1972:76-7). Dalam Suluk Wujil juga disebutkan bahwa murid-muridnya menyebut Sunan Bonang sebagai Ratu Wahdat. Istilah ‘wahdat’ merujuk pada konsep sufi tentang martabat (tinbgkatan) pertama dari tajalli Tuhan atau pemanifestasian ilmu Tuhan atau perbendaharaan tersembunyi-Nya (kanz makhfiy) secara bertahap dari ciptaan paling esensial dan bersifat ruhani sampai ciptaan yang bersifat jasmani. Martabat wahdat ialah martabat keesaan Tuhan, yaitu ketika Tuhan menampakkan keesaan-Nya di antara ciptaan-ciptaan-Nya yang banyak dan aneka ragam. Pada peringkat ini Allah menciptakan esensi segala sesuatu (a’yan tsabitah) atau hakikat segala sesuatu (haqiqat al-ashya). Esensi segala sesuatu juga disebut ‘bayangan pengetahuan Tuhan’ (suwar al-ilmiyah) atau hakikat Muhammad yang berkilau-kilauan (nur muhammad). Ibn `Arabi menyebut gerak penciptaaan ini sebagai gerakan Cinta dari Tuhan, berdasar hadis qudsi yang berbunyi, “Aku adalah perbendaharaan tersembunyi, Aku cinta (ahbabtu) untuk dikenal, maka aku mencipta hingga Aku dikenal” (Abdul Hadi W. M. 2002:55-60). Maka sebutan Ratu Wahdat dalam suluk ini dapat diartikan sebagai orang yang mencapai martabat tinggi di jalan Cinta, yaitu memperoleh makrifat dan telah menikmati lezatnya persatuan ruhani dengan Yang Haqq.

Pengetahuan Diri, Cermin dan Ka’bah Secara keseluruhan bait-bait dalam Suluk Wujil adalah serangkaian jawaban Sunan Bonang terhadap pertanyaan-pertanyaan Wujil tentang aka yang disebut Ada dan Tiada, mana ujung utara dan selatan, apa hakikat kesatuan huruf dan lain-lain. Secara berurutan jawaban yang diberikan Sunan Bonang berkenaan dengan soal:

(1) Pengetahuan diri, meliputi pentingnya pengetahuan ini dan hubungannya dengan hakikat salat atau memuja Tuhan. Simbol burung dan cermin digunakan untuk menerangkan masalah ini;

(2) Hakikat diam dan bicara;

(3) Kemauan murni sebagai sumber kebahagiaan ruhani;

(4) Hubungan antara pikiran dan perbuatan manusia dengan kejadian di dunia;

(5) Falsafah Nafi Isbat serta kaitannya dengan makna simbolik pertunjukan wayang, khususnya lakon perang besar antara Kurawa dan Pandawa dari epik Mahabharata;

(6) Gambaran tentang Mekkah Metafisisik yang merupakan pusat jagat raya, bukan hanya di alam kabir (macrokosmos) tetapi juga di alam saghir (microcosmos), yaitu dalam diri manusia yang terdalam;

(7) Perbedaan jalan asketisme atau zuhud dalam agama Hindu dan Islam. Sunan Bonang menghubungkan hakikat salat berkaitan dengan pengenalan diri, sebab dengan melakukan salat seseorang sebenarnya berusaha mengenal dirinya sebagai ‘yang menyembah’, dan sekaligus berusaha mengenal Tuhan sebagai ‘Yang Disembah’.

Pada bait ke-12 dan selanjutnya Sunan Bonang menulis:

12. Kebajikan utama (seorang Muslim) Ialah mengetahui hakikat salat Hakikat memuja dan memuji Salat yang sebenarnya Tidak hanya pada waktu isya dan maghrib Tetapi juga ketika tafakur Dan salat tahajud dalam keheningan Buahnya ialah mnyerahkan diri senantiasa Dan termasuk akhlaq mulia.

13. Apakah salat yang sebenar-benar salat? Renungkan ini: Jangan lakukan salat; Andai tiada tahu siapa dipuja; Bilamana kaulakukan juga; Kau seperti memanah burung; Tanpa melepas anak panah dari busurnya; Jika kaulakukan sia-sia; Karena yang dipuja wujud khayalmu semata.

14. Lalu apa pula zikir yang sebenarnya? Dengar: Walau siang malam berzikir Jika tidak dibimbing petunjuk; Tuhan Zikirmu tidak sempurna; Zikir sejati tahu bagaimana; Datang dan perginya nafas; Di situlah Yang Ada, memperlihatkan Hayat melalui yang empat.

15. Yang empat ialah tanah atau bumi Lalu api, udara dan air Ketika Allah mencipta Adam Ke dalamnya dilengkapi Anasir ruhani yang empat: Kahar, jalal, jamal dan kamal Di dalamnya delapan sifat-sifat-Nya Begitulah kaitan ruh dan badan Dapat dikenal bagaimana Sifat-sifat ini datang dan pergi, serta ke mana.

16. Anasir tanah melahirkan Kedewasaan dan keremajaan Apa dan di mana kedewasaan Dan keremajaan? Dimana letak Kedewasaan dalam keremajaan? Api melahirkan kekuatan Juga kelemahan Namun di mana letak Kekuatan dalam kelemahan? Ketahuilah ini.

17. Sifat udara meliputi ada dan tiada Di dalam tiada, di mana letak ada? Di dalam ada, di mana tempat tiada? Air dua sifatnya: mati dan hidup Di mana letak mati dalam hidup? Dan letak hidup dalam mati? Kemana hidup pergi Ketika mati datang? Jika kau tidak mengetahuinya Kau akan sesat jalan.

18. Pedoman hidup sejati; Ialah mengenal hakikat diri; Tidak boleh melalaikan shalat yang khusyuk; Oleh karena itu ketahuilah; Tempat datangnya yang menyembah; Dan Yang Disembah; Pribadi besar mencari hakikat diri Dengan tujuan ingin mengetahui; Makna sejati hidup; Dan arti keberadaannya di dunia.

19. Kenalilah hidup sebenar-benar hidup; Tubuh kita sangkar tertutup Ketahuilah burung yang ada di dalamnya; Jika kau tidak mengenalnya; Akan malang jadinya kau;Dan seluruh amal perbuatanmu, Wujil Sia-sia semata Jika kau tak mengenalnya. Karena itu sucikan dirimu; Tinggalah dalam kesunyian Hindari kekeruhan hiruk pikuk dunia.

Pertanyaan-pertanyaan itu tidak diberi jawaban langsung, melainkan dengan isyarat-isyarat yang mendorong Wujil melakukan perenungan lebih jauh dan dalam. Sunan Bonang kemudian berkata dan perkatannya semakin memasuki inti persoalan:

20. Keindahan, jangan di tempat jauh dicari; Ia ada dalam dirimu sendiri; Seluruh isi jagat ada di sana; Agar dunia ini terang bagi pandangmu; Jadikan sepenuh dirimu; Cinta Tumpukan pikiran, heningkan cipta; Jangan bercerai siang malam Yang kaulihat di sekelilingmu Pahami, adalah akibat dari laku jiwamu!

21. Dunia ini Wujil, luluh lantak; Disebabkan oleh keinginanmu Kini, ketahui yang tidak mudah rusak; Inilah yang dikandung pengetahuan sempurna; Di dalamnya kaujumpai; Yang Abadi Bentangan pengetahuan ini luas; Dari lubuk bumi hingga singgasana-Nya; Orang yang mengenal hakikat; Dapat memuja dengan benar; Selain yang mendapat petunjuk ilahi; Sangat sedikit orang mengetahui rahasia ini.

22. Karena itu, Wujil, kenali dirimu Kenali dirimu yang sejati; Ingkari benda; Agar nafsumu tidur terlena; Dia yang mengenal diri Nafsunya akan terkendali; Dan terlindung dari jalan; Sesat dan kebingungan Kenal diri, tahu kelemahan diri; Selalu awas terhadap tindak tanduknya.

23. Bila kau mengenal dirimu; Kau akan mengenal Tuhanmu; Orang yang mengenal Tuhan; Bicara tidak sembarangan; Ada yang menempuh jalan panjang; Dan penuh kesukaran; Sebelum akhirnya menemukan dirinya; Dia tak pernah membiarkan dirinya; Sesat di jalan kesalahan; Jalan yang ditempuhnya benar.

24. Wujud Tuhan itu nyata Mahasuci, lihat dalam keheningan; Ia yang mengaku tahu jalan; Sering tindakannya menyimpang;  Syariat agama tidak dijalankan Kesalehan dicampakkan ke samping; Padahal orang yang mengenal Tuhan Dapat mengendalikan hawa nafsu; Siang malam penglihatannya terang Tidak disesatkan oleh khayalan.

Selanjutnya dikatakan bahwa diam yang hakiki ialah ketika seseorang melaksanakan salat tahajud, yaitu salat sunnah tengah malam setelah tidur. Salat semacam ini merupakan cara terbaik mengatasi berbagai persoalan hidup. Inti salat ialah bertemu muka dengan Tuhan tanpa perantara. Jika seseorang memuja tidak mengetahui benar-benar sispa yang dipuja, maka yang dilakukannya tidak bermanfaat. Salat yang sejati mestilah dilakukan dengan makrifat. Ketika melakukan salat, semestinya seseorang mampu membayangkan kehadiran dirinya bersama kehadiran Tuhan. Keadaan dirinya lebih jauh harus dibayangkan sebagai ’tidak ada’, sebab yang sebenar-benar Ada hanyalah Tuhan, Wujud Mutlak dan Tunggal yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu. Sedangkan adanya makhluq-makhluq, termasuk manusia, sangat tergantung kepada Adanya Tuhan.

35. Diam dalam tafakur, Wujil Adalah jalan utama (mengenal Tuhan); Memuja tanpa selang waktu; Yang mengerjakan sempurna (ibadahnya); Disebabkan oleh makrifat; Tubuhnya akan bersih dari noda; Pelajari kaedah pencerahan kalbu ini; Dari orang arif yang tahu; Agar kau mencapai hakikat Yang merupakan sumber hayat.

36. Wujil, jangan memuja Jika tidak menyaksikan; Yang Dipuja Juga sia-sia orang memuja; Tanpa kehadiran Yang Dipuja; Walau Tuhan tidak di depan kita; Pandanglah adamu; Sebagai isyarat ada-Nya Inilah makna diam dalam tafakur; Asal mula segala kejadian menjadi nyata.

Setelah itu Sunan Bonang lebih jauh berbicara tentang hakikat murni ‘kemauan’. Kemauan yang sejati tidak boleh dibatasi pada apa yang dipikirkan. Memikirkan atau menyebut sesuatu memang merupakan kemauan murni. Tetapi kemauan murni lebih luas dari itu.

38. Renungi pula, Wujil! Hakikat sejati kemauan; Hakikatnya tidak dibatasi pikiran kita Berpikir;  dan menyebut suatu perkara; Bukan kemauan murni; Kemauan itu sukar dipahami; Seperti halnya memuja Tuhan; Ia tidak terpaut pada hal-hal yang tampak; Pun tidak membuatmu membenci orang; Yang dihukum dan dizalimi; Serta orang yang berselisih paham.

39. Orang berilmu Beribadah tanpa kenal waktu; Seluruh gerak hidupnya Ialah beribadah Diamnya, bicaranya Dan tindak tanduknya Malahan getaran bulu roma tubuhnya; Seluruh anggota badannya Digerakkan untuk beribadah Inilah kemauan murni.

40. Kemauan itu, Wujil! Lebih penting dari pikiran; Untuk diungkapkan dalam kata Dan suara sangatlah sukar Kemauan bertindak; Merupakan ungkapan pikiran Niat; melakukan perbuatan Adalah ungkapan perbuatan; Melakukan shalat atau berbuat kejahatan Keduanya buah dari kemauan.

Di sini Sunan Bonang agaknya berpendapat bahwa kemauan atau kehendak (iradat) , yaitu niat dan iktiqad, mestilah diperbaiki sebelum seseorang melaksanakan sesuatu perbuatan yang baik. Perbuatan yang baik datang dari kemauan baik, dan sebaliknya kehendak yang tidak baik melahirkan tindakan yang tidak baik pula. Apa yang dikatakan oleh Sunan Bonang dapat dirujuk pada pernyataan seorang penyair Melayu (anonim) dalam Syair Perahu, seperti berikut:

Inilah gerangan suatu madah. Mengarangkan syair terlalu indah. Membetulkan jalan tempat berpindah. Di sanalah iktiqad diperbaiki sudah.

Wahai muda kenali dirimu. Ialah perahu tamsil tubuhmu. Tiada berapa lama hidupmu. Ke akhirat jua kekal diammu.

Hai muda arif budiman. Hasilkan kemudi dengan pedoman. Alat perahumu jua kerjakan Itulah jalan membetuli insan.

… La ilaha illa Allah tempat mengintai Medan yang qadim tempat berdamai Wujud Allah terlalu bitai Siang malam jangan bercerai.

(Doorenbos 1933:33)
Tamsil Islam universal lain yang menonjol dalam SulukWujil ialah cermin beserta pasangannya gambar atau bayang-bayang yang terpantul dalam cermin, serta Mekkah. Para sufi biasa menggunakan tamsil cermin, misalnya Ibn `Arabi. Sufi abad ke-12 M dari Andalusia ini menggunakannya untuk menerangkan falsafahnya bahwa Yang Satu meletakkan cermin dalam hati manusia agar Dia dapat melihat sebagian dari gambaran Diri-Nya (kekayaan ilmu-Nya atau perbendaharaan-Nya yang tersembunyi) dalam ciptaan-Nya yang banyak dan anekaragam. Yang banyak di alam kejadian (alam al-khalq) merupakan gambar atau bayangan dari Pelaku Tunggal yang berada di tempat rahasia dekat cermin (Abu al-Ala Affifi 1964:15-7).

Pada pupuh atau bait ke-74 diceritakan Sunan Bonang menyuruh muridnya Ken Satpada mengambil cermin dan menaruhnya di pohon Wungu. Kemudian dia dan Wujil disuruh berdiri di muka cermin. Mereka menyaksikan dua bayangan dalam cermin. Kemudian Sunan Bonang menyuruh salah seorang dari mereka menjauh dari cermin, sehingga yang tampak hanya bayangan satu orang. Maka Sunan Bonang bertanya: ”Bagaimana bayang-bayang datang/Dan kemana dia menghilang?” (bait 81). Melalui contoh datang dan perginya bayangan dari cermin, Wujil kini tahu bahwa ”Dalam Ada terkandung tiada, dan dalam tiada terkandung ada”.

Sang Guru membenarkan jawaban sang murid. Lantas Sunan Bonang menerangkan aspek nafi (penidakan) dan isbat (pengiyaan) yang terkandung dalam kalimah La ilaha illa Allah (Tiada tuhan selain Allah). Yang dinafikan ialah selain dari Allah, dan yang diisbatkan sebagai satu-satunya Tuhan ialah Allah. Pada bait atau pupuh 91-95 diceritakan perjalanan seorang ahli tasawuf ke pusat renungan yang bernama Mekkah, yang di dalamnya terdapat rumah Tuhan atau Baitullah. Mekkah yang dimaksud di sini bukan semata Mekkah di bumi, tetapi Mekkah spiritual yang bersifat metafisik. Ka’bah yang ada di dalamnya merupakan tamsil bagi kalbu orang yang imannya telah kokoh. Abdullah Anshari, sufi abad ke-12 M, misalnya berpandapat bahwa Ka’bah yang di Mekkah, Hejaz, dibangun oleh Nabi Ibrahim a.s. Sedangkan Ka’bah dalam kalbu insan dibangun oleh Tuhan sebagai pusat perenungan terhadap keesaan Wujud-Nya (Rizvi 1978:78). Sufi Persia lain abad ke-11 M, Ali Utsman al-Hujwiri dalam kitabnya menyatakan bahwa rumah Tuhan itu ada dalam pusat perenungan orang yang telah mencapai musyahadah.

Kalau seluruh alam semesta bukan tempat pertemuan manusia dengan Tuhan, dan juga bukan tempat manusia menikmati hiburan berupa kedekatan dengan Tuhan, maka tidak ada orang yang mengetahui makna cinta ilahi. Tetapi apabila orang memiliki penglihatan batin, maka seluruh alam semesta ini akan merupakan tempat sucinya atau rumah Tuhan. Langkah sufi sejati sebenarnya merupakan tamsil perjalanan menuju Mekkah. Tujuan perjalanan itu bukan tempat suci itu sendiri, tetapi perenungan keesaan Tuhan (musyahadah), dan perenungan dilakukan disebabkan kerinduan yang mendalam dan luluhnya diri seseorang (fana’) dalam cinta tanpa akhir (Kasyful Mahjub 293-5). Berdasarkan uraian tersebut, dapatlah dipahami apabila dalam Suluk Wujil dikatakan, “Tidak ada orang tahu di mana Mekkah yang hakiki itu berada, sekalipun mereka melakukan perjalanan sejak muda sehingga tua renta. Mereka tidak akan sampai ke tujuan. Kecuali apabila seseorang mempunyai bekal ilmu yang cukup, ia akan dapat sampai di Mekkah dan malahan sesudah itu akan menjadi seorang wali.  Tetapi ilmu semacam itu diliputi rahasia dan sukar diperoleh. Bekalnya bukan uang dan kekayaan, tetapi keberanian dan kesanggupan untuk mati dan berjihad lahir batin, serta memiliki kehalusan budi pekerti dan menjauhi keseangan duniawi. Di dalam masjid di Mekkah itu terdapat singgasana Tuhan, yang berada di tengah-tengah.

Singgasana ini menggantung di atas tanpa tali. Dan jika orang melihatnya dari bawah, maka tampak bumi di atasnya. Jika orang melihat ke barat, ia akan melihat timur, dan jika melihat timur ia akan menyaksikan barat. Di situ pemandangan terbalik. Jika orang melihat ke selatan yang tampak ialah utara, sangat indah pemandangannya. Dan jika ia melihat ke utara akan tampak selatan, gemerlapan seperti ekor burung merak. Apabila satu orang shalat di sana, maka hanya ada ruangan untuk satu orang saja. Jika ada dua atau tiga orang shalat, maka ruangan itu juga akan cukup untuk dua tiga orang. Apabila ada 10.000 orang melakukan shalat di sana, maka Ka`bah dapat menampung mereka semua. Bahkan seandainya seluruh dunia dimasukkan ke dalamnya, seluruh dunia pun akan tertampung juga”. Wujil menjadi tenang setelah mendengarkan pitutur gurunya. Akan tetapi dia tetap merasa asing dengan lingkungan kehidupan keagamaan yang dijumpainya di Bonang.

Berbeda dengan di Majapahit dahulu, untuk mencapai rahsia Yang Satu orang harus melakukan tapa brata dan yoga, pergi jauh ke hutan, menyepi dan melakukan kekearsan ragawi. Di Pesantren Bonang kehidupan sehari-hari berjalan seprti biasa. Shalat fardu lima waktu dijalankan dengan tertib. Majlis-majlis untuk membicarakan pengalaman kerohanian dan penghayatan keagamaan senantiasa diadakan. Di sela-sela itu para santri mengerjakan pekerjaan sehari-hari, di samping mengadakan pentas-pentas seni dan pembacaan tembang Sunan Bonang menjelaskan bahwa seperti ibadat dalam agama Hindu yang dilakukan secara lahir dan batin, demikian juga di dalam Islam. Malahan di dalam agama Islam, ibadat ini diatur dengan jelas di dalam syariat. Bedanya di dalam Islam kewajiban-kewajiban agama tidak hanya dilakukan oleh ulama dan pendeta, tetapi oleh seluruh pemeluk agaa Islam. Sunan bonang mengajarkan tentang egaliterianissme dalam Islam. Sunan bonang mengajarkan tentang egaliterisme di dalam Islam. Jika ibadat zahir dilakukan dengan mengerjakan rukun Islam yang lima, ibadat batin ditempuh melalui tariqat atau ilmu suluk, dengan memperbanyak ibadah seperti sembahyang sunnah, tahajud, taubat nasuha, wirid dan zikir. Zikir berarti mengingat Tuhan tanpa henti. Di antara cara berzikir itu ialah dengan mengucapkan kalimah La ilaha illa Allah. Di dalamnya terkandung rahsia keesaan Tuhan, alam semesta dan kejadian manusia. Berbeda dengan dalam agama Hindu, di dalam agama Islam disiplin kerohanian dan ibadah dapat dilakukan di tengah keramaian, sebab perkara yang bersifat transendental tidak terpisah dari perkara yang bersifat kemasyarakatan. Di dalam agama Islam tidak ada garis pemisah yang tegas antara dimensi transendental dan dimensi sosial. Dikatakan pula bahwa manusia terdiri daripada tiga hal yang pemiliknya berbeda. Jasmaninya milik ulat dan cacing, rohnya milik Tuhan dan milik manusia itu sendiri hanyalah amal pebuatannya di dunia.

Akhir Kalam: Falsafah Wayang
Tamsil paling menonjol yang dekat dengan budaya lokal ialah wayang dan lakon perang Bala Kurawa dan Pandawa yang sering dipertunjukkan dalam pagelaran wayang.. Penyair-penyair sufi Arab dan Persia seperti Fariduddin `Attar dan Ibn Fariedh menggunakan tamsil wayang untuk menggambarkan persatuan mistis yang dicapai seorang ahli makrifat dengan Tuhannya. Pada abad ke-11 dan 12 M di Persia pertunjukan wayang Cina memang sangat populer (Abdul Hadi W.M. 1999:153). Makna simbolik wayang dan layar tempat wayang dipertunjukkan, berkaitan pula dengan bayang-bayang dan cermin.

Dengan menggunakan tamsil wayang dalam suluknya Sunan Bonang seakan-akan ingin mengatakan kepada pembacanya bahwa apa yang dilakukan melalui karyanya merupakan kelanjutan dari tradisi sastra sebelumnya, meskipun terdapat pembaharuan di dalamnya. Ketika ditanya oleh Sunan Kalijaga mengenai falsafah yang dikandung pertunjukan wayang dan hubungannya dengan ajaran tasawuf, Sunang Bonang menunjukkan kisah Baratayudha (Perang Barata), perang besar antara Kurawa dan Pandawa. Di dalam pertunjukkan wayang kulit Kurawa diletakkan di sebelah kiri, mewakili golongan kiri.

Sedangkan Pandawa di sebelah kanan layar mewakili golongan kanan layar mewakili golongan kanan. Kurawa mewakili nafi dan Pandawa mewakili isbat. Perang Nafi Isbat juga berlangsung dalam jiwa manusia dan disebut jihad besar. Jihad besar dilakukan untuk mencapai pencerahan dan pembebasan dari kungkungan dunia material. Sunan Bonang berkata kepada Wujil: “Ketahuilah Wujil, bahwa pemahaman yang sempruna dapat dikiaskan dengan makna hakiki pertunjukan Wayang. Manusia sempurna menggunakan ini untuk memahami dan mengenal Yang. Dalang dan wayang ditempatkan sebagai lambang dari tajalli (pengejawantahan ilmu) Yang Maha Agung di alam kepelbagaian. Inilah maknanya:

Layar atau kelir meupakan alam inderawi. Wayang di sebelah kanan dan kiri merupakan makhluq ilahi. Batang pokok pisang tempat wayang diletakkan ialah tanah tempat berpijak. Blencong atau lampu minyak adalah nyala hidup. Gamelan memberi irama dan keselarasan bagi segala kejadian. Ciptaan Tuhan tumbuh tak tehitung.

Bagi mereka yang tidak mendapat tuntunan ilahi ciptaan yang banyak itu akan merupakan tabir yang menghalangi penglihatannya. Mereka akan berhenti pada wujud zahir. Pandangannya kabur dan kacau. Dia hilang di dalam ketiadaan, karena tidak melihat hakekat di sebalik ciptaan itu.”

Selanjutnya kata Sunan Bonang, “Suratan segala ciptaan ini ialah menumbuhnkan rasa cinta dankasih. Ini merupakan suratan hati, perwujudan kuasa-kehendak yang mirip dengan-Nya, jwalaupun kita pergi ke Timur-arat, Utara-Selatan atau atas ke bawah. Demikinlah kehidupan di dunia ini merupakan kesatuan Jagad besar dan Jagad kecil. Seperti wayang sajalah wujud kita ini. Segala tindakan, tingkah laku dan gerak gerik kita sebenarnya secara diam-diam digerakkan oleh Sang Dalang”.  Mendengar itu Wujil kini paham. Dia menyadari bahwa di dalam dasar-dasarnya yang hakiki terdapat persamaan antara mistisisme Hindu dan tasawuf Islam. Di dalam Kakawin Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, penyair Jawa Kuno abad ke-12 dari Kediri, falsafah wayang juga dikemukakan. Mpu Kanwa menuturkan bahwa ketika dunia mengalami kekacauan akibat perbuatan raksasa Niwatakawaca, dewa-dewa bersidang dan memilih Arjuna sebagai kesatria yang pantas dijadikan pahlawan menentang Niwatakawaca. Batara Guru turun ke dunia menjelma seorang pendeta tua dan menemui Arujuna yang baru saja selesai menjalankan tapabrata di Gunung Indrakila sehingga mencapai kelepasan (moksa).

Di dalam wejangannya Batara guru berkata kepada Arjuna:

“Sesunguhnya jikalau direnungkan baik-baik, hidup di dunia ini seprti permainan belaka. Ia serupa sandiwara. Orang mencari kesenangan, kebahagiaan, namun hanya kesengsaraan yang didapat. Memang sangat sukar memanfaatkan lima indra kita. Manusia senantiasa tergoda oleh kegiatan indranya dan akibatnya susah. Manusia tidak akan mengenal diri peribadinya jika buta oleh kekuasaan, hawa nafsu dan kesenangan sensual dan duniawi. Seperti orang melihat pertunjukan wayang ia ditimpa perasaan sedih dan menangis tesedu-sedu. Itulah sikap orang yang tidak dewasa jiwanya. Dia tahu benar bahwa wayang hanya merupakan sehelai kulit yang diukir, yang digerak-gerakkan oleh dalang dan dibuat seperti berbicara. Inilah kias seseorang yang terikat pada kesenangan indrawi. Betapa besar kebodohannya.” (Abdullah Ciptoprawiro 1984).

Selanjutnya Batara Guru berkata, “Demikianlah Arjuna! Sebenarnya dunia ini adalah maya. Semua ini sebenarnya dunia peri dan mambang, dunia bayang-bayang! Kau harus mampu melihat Yang Satu di balik alam maya yang dipenuhi bayang-bayang ini.” Arjuna mengerti. Kemudian dia bersujud di hadpan Yang Satu, menyerahkan diri, diam dalam hening. Baru setelah mengheningkan cipta atau tafakur dia merasakan kehadiran Yang Tunggal dalam batinnya.

Kata Arjuna:
Sang Batara memancar ke dalam segala sesuatu Menjadi hakekat seluruh Ada, sukar dijangkau Bersemayam di dalam Ada dan Tiada, Di dalam yang besar dan yang kecil, yang baik dan yang jahat Penyebab alam semesta, pencipta dan pemusnah Sang Sangkan Paran (Asal-usul) jagad raya Bersifat Ada dan Tiada, zakhir dan batin.
(Ibid)
Demikianlah, dengan menggunakan tamsil wayang, Sunan Bonang berhasil meyakinkan Wujil bahwa peralihan dari zaman Hindu ke zaman Islam bukanlah suatu lompatan mendadak bagi kehidupan orang Jawa. Setidak-tidaknya secara spiritual terdapat kesinambungan yang menjamin tidak terjadi kegoncangan. Memang secara lahir kedua agama tersebut menunjukkan perbedaan besar, tetapi seorang arif harus tembus pandang dan mampu melihat hakikat sehingga penglihatan kalbunya tercerahkan dan jiwanya terbebaskan dari kungkungan dunia benda dan bentuk-bentuk. Itulah inti ajaran Sunan Bonang dalam Suluk Wujil.

23 Agustus 2012

Intelektual Para Wali

oleh alifbraja

PARA wali di Jawa abad ke-15 dan 16 M telah lama dikenal bukan saja sebagai penyebar Islam yang gigih dan produktif, melainkan juga sebagai perintis dan pelopor berbagai kegiatan kreatif seni. Banyak khazanah budaya lokal berhasil ditransformasikan menjadi ekspresi baru, melalui cara yang halus, misalnya dengan mengubah wawasan estetikanya dan memasukkan pandangan dunia (world view) serta sistem nilai yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Hasilnya dapat kita lihat dalam seni musik, perwayangan, sastra, dan seni rupa.

Dominasi arabesque (ragam hias tetumbuhan) yang sangat simbolis dalam ukiran dan batik Jawa; begitu pula pola garis dan kecenderungan pewarnaannya yang mirip dengan lukisan miniatur Persia abad ke-13 dan 14 M, menunjukkan besarnya pengaruh para wali, yang tidak lain adalah juga para sufi. Gamelan Jawa menjadi musik yang begitu kontemplatif setelah para wali menerapkan estetika sufi bagi penabuhan instrumennya, juga dengan menambahkan instrumen baru dari tradisi Islam Arab, yaitu rebab.

Gamelan Bali, yang mempertahankan estetika tantrik Hindu, tidak demikian halnya. Dalam tradisi sufi, fungsi utama musik sebagai tajarrud atau transendensi, yaitu pembebasan dari yang material melalui yang material itu sendiri; dan sebagai sarana tawajjud atau meditasi, yaitu pemusatan pikiran terhadap “Yang Satu” yang sekaligus adalah “Yang Transenden”. Dengan demikian, musik dapat membantu pendengarnya melakukan penyucian diri (thazkiya al-nafs) dan membebaskan keterikatannya dari kungkungan alam material.

Tetapi, yang jarang dikemukakan ialah peranan menonjol beberapa wali di Jawa dalam penulisan karya sastra. Khususnya dalam penulisan puisi bercorak tasawuf yang lazim disebut suluk, dari bahasa Arab, yang artinya ialah jalan kerohanian menuju pemahaman mendalam terhadap keesaan Tuhan (tawhid). Pemahaman atau pengenalan mendalam terhadap keesaan itu disebut ma’rifa. Oleh karena itu, dalam sastra Melayu, puisi-puisi suluk sering disebut sebagai syair tauhid dan makrifat.

Sayangnya, apabila ahli-ahli sejarah sastra Jawa berbicara tentang suluk, puisi sufistik atau mistikal, selalu yang menjadi perhatian adalah karya-karya abad ke-18 dan 19. Misalnya, Serat Cebolek karya Yasadipura II dan Wirid Hidayat Jati karya Ronggowarsito. Namun, suluk-suluk para wali sangat sedikit yang membicarakan. Padahal, karya para wali bukan saja relevan bersamaan dengan maraknya kajian tasawuf dewasa ini, melainkan juga cukup melimpah dan tersimpan sebagai koleksi mati, khususnya di museum-museum Belanda dan Tanah Air.

Suluk, sebagai bentuk ekspresi sastra bernapas Islam, mulai ditulis di Jawa pada akhir abad ke-15 dan 16 M, bersamaan dengan runtuhnya Majapahit dan makin banyaknya orang Jawa memeluk agama Islam. Pentingnya suluk-suluk awal itu karena ia menggambarkan suasana zaman peralihan dari Hindu ke Islam, termasuk kesibukan para wali mengolah tradisi budaya lokal menjadi tradisi Islam Jawa.

Di antara wali yang paling prolifik dalam penulisan kreatif itu ialah Makhdum Ibrahim alias Sunan Bonang alias Ibrahim Asmarakandi (baca al-Samarkandi). Menurut Drewes, tidak kurang dari 20 suluk panjang dalam koleksi naskah Museum Perpustakaan Universitas Leiden dan Museum Jakarta (sekarang Perpustakaan Nasional) dapat diidentifikasikan sebagai karya Sunan Bonang atau rekaman ajaran kerohanian sang wali yang sempat dicatat beberapa muridnya yang pandai.

Banyak yang penting dan relevan dari suluk-suluk Sunan Bonang, khususnya sebagai bahan renungan. Misalnya, uraian sang wali tentang cinta (‘isyq) (baik cinta sebagai metode ilmu pengetahuan maupun cinta sebagai cara mendekatkan diri kepada Yang Satu). Persoalan Ada dan Tiada, masalah keberadaan manusia, pengaruh pikiran dan kemauan terhadap perjalanan sejarah, makna keberadaan manusia di bumi, hakikat tauhid dan pentingnya pengetahuan tertinggi yang disebut makrifat bagi kebahagiaan seseorang, dan lain-lain.

Simaklah misalnya kisah Wujil, bekas aktor dan pelawak di istana Majapahit yang terpelajar, dalam sebuah suluknya. Setelah 10 tahun berguru kepada Sunan Bonang, dan mempelajari agama serta sastra Arab secara mendalam, dia akhirnya jemu dan merasa sia-sia. Jiwanya merasa kerontang dan gelisah, hatinya menjerit dan kebingungan. Suatu ketika, dia menghadap Sunan Bonang dan berkata:

Agama dan sastra Arab telah saya pelajari Tetapi saya masih terus mencari-cari…

Uraian kesatuan huruf, dulu dan sekarang Tak berbeda. Musik masih digunakan Bahasa tetap bahasa, Saya meninggalkan Majapahit dan semua yang dicintai Namun tak menemukan apa-apa sebagai penawar

Diam-diam saya pergi malam-malam Mencari rahasia Yang Satu Mencari jalan sempurna Semua pendeta, biksu dan ulama saya temui Agar terjumpa hakikat hidup, akhir kuasa sejati Ujung utara selatan, tempat matahari dan bulan terbenam Akhir mata tertutup dan inti maut akhir ada dan tiada

Tidak tega melihat penderitaan batin muridnya, Sunan Bonang dengan terpaksa mengajarkan tasawuf, khususnya jalan mengenal hakikat diri yang merupakan sumber kebahagiaan. Selain Suluk Wujil, banyak lagi karya Sunan Bonang yang relevan. Di antaranya ialah Suluk Khalifah, Suluk Bentur, Suluk Jebeng, dan Gita Suluk Ing Aewuh.

Dalam Suluk Khalifah, Sunan Bonang menceritakan anekdot para wali di Jawa, pengalaman mereka mengajar Islam kepada orang Hindu, dan juga pengalamannya selama belajar di Pasai.

Suluk Bentur ditulis dalam tembang wirangrong. Bentur artinya lengkap atau sempurna. Dalam suluk ini, Sunan Bonang menggambarkan jalan yang ditempuh para sufi sehingga mencapai kesadaran tertinggi, yaitu makrifat dan persatuan mistikal (fana, dan baqo). Garam jatuh ke dalam laut dan lenyap, tetapi tidak dapat dikatakan menjadi laut. Demikian pula manusia yang mencapai persatuan mistik, tidak dapat menjadi Tuhan. Persatuan mistikal yang tertinggi disebut fana’ruh idafi, yaitu keadaan hati yang dapat menyaksikan peralihan bentuk lahir dan fenomena menjadi wujud spiritual. Dalam keadaan demikian, kesadaran intuitif menguasai hati seseorang, dan dengan demikian penglihatan tentang keesaan terhadap Tuhan menjadi sempurna.

Suluk Jebeng ditulis dalam pupuh dandanggula. Dimulai dengan pembicaraan mengenai wujud manusia sebagai khalifah Tuhan di bumi dan uraian bahwa manusia merupakan gambaran-Nya. Menurut Sunan Bonang, ”Puncak ilmu yang sempurna seperti api berkobar. Yang tampak hanya bara dan nyalanya, kilatan cahaya dan asap yang menyeliputinya.” Untuk mengetahui hakikat keberadaan, ”Kenali apa yang ada sebelum api menyala dan apa yang tinggal sesudah api padam.” Inilah perkataan Sunan Bonang yang relevan dalam suluk ini: ”Jangan meninggalkan diri, berlindunglah kepada-Nya/ Ketahui, tempat tinggal jasad yang sebenarnya ialah ruh/ Jangan bertanya/ Jangan memuja nabi dan wali/ Jangan kau mengaku Tuhan/ Jangan mengira tak ada padahal ada/Baik diam/ Jangan diguncang kebingungan.”

Suluk Regol ditulis dalam pupuh asmaradana. Regol artinya gapura, bentuknya menyerupai gabungan kata la (tidak) dan lam dalam ayat ”lam yalid wa lam yulad” (tidak beranak dan tidak diperanakkan) Surat al-Ikhlas. Kata lam diumpamakan sebagai gapura yang menghalangi sesuatu yang ada di belakangnya. Dalam suluk ini, peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia diumpamakan sebagai pertunjukan wayang kulit, yang dilihat dari berbagai sudut. Ada yang melihat sebagai permainan yang dilakukan Ki Dalang namun menganggap antara permainan dan yang memainkan terpisah. Ada yang melihat antara Ki Dalang dan lakon yang dimainkan tidak terpisah, bahkan melihat bahwa Ki Dalang benar-benar hadir dalam lakon yang dimainkannya. Yang lain lagi melihat bahwa pertunjukan wayang sebenarnya mencerminkan dan mengisyaratkan keberadaan Dalang.

Telah dikemukakan bahwa gagasan utama suluk-suluk Sunan Bonang ialah cinta. Menurut para sufi, cinta merupakan asas penciptaan dan apa yang berasal dari cinta itu baik. Para sufi mengambil gagasan ini dari hadis qudsi, ”Aku perbendaharaan tersembunyi (kanz makhfiy), Aku cinta (ahbabtu) untuk dikenal maka Aku mencipta dan karena itu dikenal.” Para sufi juga merujuk kepada kalimat Bismilahirrahmannirrahim. Dalam kalimat ini ada dua jenis cinta, yaitu, al-rahman (pengasih) dan al-rahim (penyayang). Rahman adalah cinta yang esensial (dzatiyah) sebab dilimpahkan kepada semua ciptaannya, tak peduli orang Melayu, Cina, Jawa, Inggris, Afghanistan, atau Libya. Sedangkan rahim merupakan cinta wujud, artinya wajib diberikan kepada orang-orang tertentu yang sangat dicintai oleh-Nya.

Menurut Sunan Bonang, kerusakan di dunia akan merajalela apabila cinta telah lenyap. Di sini cinta sering diidentikkan dengan iman, pengetahuan intuitif, dan dorongan kuat terhadap kebenaran tertinggi. Karena itu, Sunan Bonang berkata dalam Suluk Wujil, ”Jadikan dirimu cinta, agar dapat memandang dunia dengan terang…/Kerusakan di dunia ini muncul/ Karena amal perbuatanmu dan karena tiadanya cinta/ Yang harus dimiliki ialah yang tak dapat hancur/ Yakni cinta dan makrifat, pengetahuan sempurna.”

23 Agustus 2012

Petikan Serat Darmogandul

oleh alifbraja

Suatu hari, Darmo Gandhul bertanya kepada Ki Kalamwadi demikian, “Awal mulanya bagaimana sehingga orang Jawa meninggalkan agama Buddha dan masuk agama Islam?”

Ki Kalamwadi lantas bercerita, “Hal ini perlu diketahui, supaya orang yang tidak tahu bisa mengerti.” Pada jaman dahulu negara Majapahit itu namanya negara Majalengka. Adapun nama Majapahit itu, hanya untuk pasemon, tetapi yang belum tahu riwayatnya menganggap bahwa nama Majapahit itu memang sudah namanya sejak semula. Raja Majalengka yang terakhir bernama Prabu Brawijaya.Waktu itu sang Prabu sedang susah hati. Sang Prabu kawin dengan Putri Campa, padahal Putri Campa tadi beragama Islam. Kalau sedang berkasih-kasihan, ia selalu bercerita kepada sang raja tentang keluhuran agama Islam. Setiap bertemu selalu memuji agama Islam sehingga menyebabkan Sang Prabu terpikat dengan agama Islam.

Sang Prabu Brawijaya memiliki seorang putra dari istrinya Putri Cina, anak tersebut lahir di  Palembang dan diberi nama Raden Patah. Menurut aturan leluhur dari ayahandanya yang beragama Jawa Buddha, putra raja yang lahir si gunung, namanya adalah Bambang. Jika menurut alur ibu, sesebutannya adalah Kaotiang. Adapun jika orang Arab sebutannya adalah Sayid atau Sarib. Lalu sang Prabu meminta pertimbangan sang Patih, menurut sang Patih maka putra sang Prabu tersebut dinamai Bambang, akan tetapi karena ibunya Cina, lebih baik disebut Babah artinya lahir di negara lain, negeri Majalengka.

Pada suatu hari Prabu Brawijaya sedang dihadap Patih serta para madya bala. Patih memberi laporan bahwa baru saja menerima surat dari Tumenggung Kertasana. Isi surat memberi tahu bahwa negeri Kertasan sungainya kering. Sungai yang dari Kediri alirannya menyimpang ke timur. Sebagian surat tadi bunyinya begini, “Disebelah barat laut Kediri, beberapa dusun-dusun rusak. Semua itu terkena sabda ulama dari Arab, namanya Sunan Bonang. Mendengar kata Patih tersebut, Sang Prabu sangat marah. Patih kemudian diutus ke Kertasana, memeriksa keadaan senuanya, penduduk dan hasil bumi yang diterjang air bah? Serta diperintahkan memanggil Sunan Bonang. Sang Prabu kemudian memerintahkan kepada Patih, orang Arab yang di tanah Jawa diusir pergi, karena membuat kerepotan negara, hanya di Demak dan Ampelgading yang boleh melestarikan agamanya. Selain dua tempat diperintahkan kembali ke negerinya. Jika tidak mau pergi diperintahkan untuk dibunuh, jawab Patih, “Gusti ! benar perintah Paduka itu, karena ulama Giripura sudah tiga tahun juga tidak menghadap dan tidak mengirim upetti. Mungkin maksudnya hendak menjadi raja sendiri, tidak merasa makan minum di tanah Jawa. Berarti santri Giri hendak melebihi wibawa Paduka. Namanya Sunan Ainul Yakin, itu nama dalam bahasa Arab, artinya Sunan itu budi, Ainal itu makrifat, Yakin itu tahu sendiri. Jadi maknanya tahu dengan pasti. Dalam bahasa Jawa sama dengan kata Prabu Satmata. Itu nama luhur yang hanya dimiliki Yang Maha Kuasa, maha melihat. Di dunia tidak ada duanya nama Prabu Satmata, kecuali hanya Batara Wisnu ketika bertahta di negeri Medang Kasapta.”

Mendengar kata Patih, kemudian Sang Prabu memerintahkan untuk memerangi Giri. Orang di Giri geger, tidak kuat menanggulangi amukan prajurit Majapahit. Sunan Giri lari ke Bonang, mencari bantuan kekuatan. Setelah mendapat bantuan , kemudian perang lagi musuh orang Majalengka. Perang ramai sekali, waktu itu tanah Jawa sudah hampir separo yang masuk agama Islam, orang-orang pesisir utara sudah beragama Islam. Adapun yang di selatan masih tetap memakai agama Buddha. Sunan Bonang sudah mengakui kesalahanya, tidak menghadap ke Majalengka. Maka kemudian pergi dengan Sunan Giri ke Demak. Sesampainya di Demak, kemudian memanggil Adipati Demak, diajak menyerang Majalengka. Kata Sunan Bonang kepada Adipati Demak, “Ketahuilah, sekarang sudah saatnya Kraton Majalengka hancur, umurnya sudah seratus tiga tahun”.  Dari penglihatan gaibku yang kuat menjadi raja tanah Jawa, menggantikan tahta raja hanya kamu. Karena itu hancurkan Kraton Majalengka, tetapi dengan cara halus, jangan sampai kelihatan.

Menghadaplah besok Garebeg Maulud, tetapi siapkan senjata perang, nanti kalau semua sudah berkumpul, para sunan dan para bupati dan prajuritnya yang sudah Islam, pasti menurut kepada kamu. Adipati Demak berkata, “Saya takut menyerang negeri Majalengka, karena memusuhi ayah dan rajaku. Apa balasan saya kecuali kesetiaan. Sunan Bonang berkata lagi, “Meskipun musuh ayah dan raja, tidak ada jeleknya, karena itu orang kafir. Kalau membunuh orang kafir Buda kawak, kamu akan mendapatkan ganjaran surga. Sunan Bonang yang sudah dipuji orang sealam semesta, keturunan rasul pemimpin orang Islam semua. Kamu musuh ayah raja, meskipun dosa sekali, hanya dengan satu orang, lagi pula raja kafir. Tetapi bila ayahmu kalah, orang setanah Jawa Islam semua. Yang demikian itu, seberapa pahalamu nanti di hadapan Allah, lipat berkali-kali. Sebenarnya ayahmu itu sia-sia kepada kamu. Buktinya kamu diberi nama Babah, tahu artinya Babah? Babah itu artinya jorok sekali yaitu saja mati saja hidup, benih Jawa dibawa putri Cina, maka ibumu diberikan kepada Arya Damar, Bupati Palembang, manusia keturunan raksasa. Itu memutuskan tali kasih namanya. Ayahandamu pikirnya tetap tidak baik, maka kuanjurkan balaslah dengan halus, artinya jangan sampai ketahuan.  Dalam bathin Sunan Bonang berkata, “Sesaplah darahnya, remuklah tulangnya.”

Singkat cerita, tidak lama kemudian para Sunan dan para Bupati sudah berdatangan semua. Kemudian mereka bermusyawarah untuk memperbesar masjid. Setelah jadi, kemudian mereka melakukan shalat berjamaah di Masjid. Setelah selesai shalat kemudian mereka menutup pintu. Semua orang diberitahu oleh Sunan Bonang, bahwa adipati Demak akan menjadi raja Jawa. Untuk itu Majapahit harus ditaklukkan. Mereka semua terbujuk oleh Sunan Bonang yang sangat piawai berbicara itu. Para sunan dan para Bupati sudah mufakat semua, hanya satu yang tidak sepakat, yaitu Syekh Siti Jenar, Sunan Bonang marah, maka Syekh Siti Jenar dibunuh. Adapun yang diperintahkan membunuh adalah Sunan Giri. Syekh Siti Jenar dipenggal kepalanya hingga tewas. Sebelum Syekh Siti Jenar tewas, ia meninggalkan suara, “Ingat-ingat ulama Giri, kamu tidak kubalas di akhirat, tetapi kubalas di dunia saja. Kelak apabila ada raja Jawa bersama orang tua, saat itulah lehermu akan kupenggal.”

Sang Prabu Brawijaya mendengar laporan Patih sangat terkejut, berdiri mematung seperti tugu. Mengapa putranya dan para ulama datang hendak merusak negara. Sang patih juga tidak habis mengerti, karena tidak masuk akal orang diberi kebaikan kok membalas kejahatan. Semestinya mereka membalas kebaikan juga, Ki patih tak habis berpikir.Singkat cerita, setelah pasukan Majapahit dipukul mundur oleh pasukan yang dipimpin adipati Demak Raden Patah yang juga Putra Prabu Brawijaya, para ulama dan para bupati, kemudian perjalanan Prabu Brawijaya sampai di Blambangan, karena merasa lelah kemudian berhenti dipinggir mata air. Waktu itu pikiran Sang Prabu benar-benar gelap. Yang dihadapannya hanya dua abdi dalem, yaitu Noyo Genggong dan Sabdo Palon. Kedua abdi tadi tidak pernah bercanda, dan memikirkan peristiwa yang baru saja terjadi. Sabdo Palon? Sabda artinya kata-kata, Palon kayu pengancing kandang. Naya artinya pandangan, Genggong artinya langgeng tidak berubah. Jadi bicara hamba itu, bisa untuk pedoman orang tanah Jawa, langgeng selamanya.

Tidak lama kemudian Sunan Kalijaga berhasil ketemu dengan sang Prabu diperjalanan, lalu Sunan Kalijaga bersujud menyembah di kaki Sang Prabu. Sang Prabu kemudian bertanya kepada Sunan Kalijaga, “Sahid! Kamu datang ada apa ? Apa perlunya mengikuti aku ?” Sunan Kalijaga berkata, “Hamba diutus paduka untuk mencari dan menghaturkan sembah sujud kepada paduka di manapun bertemu. Beliau memohon ampun atas kekhilafannya sampai lancang berani merebut tahta paduka, karena terlena oleh darah mudanya yang tidak tahu tata krama ingin menduduki tahta memerintahkan negeri, disembah para bupati. Sang Prabu Brawijaya bersabda, “Aku sudah dengar kata-katamu, Sahid! Tetapi tidak aku gagas! Aku sudah muak bicara dengan santri! Mereka bicara dengan mata tujuh, lamis semua, maka blero matanya! Menunduk di muka tetapi memukul di belakang. Kata-katanya hanya manis di bibir, batinnya meraup pasir ditaburkan ke mata, agar buta mataku ini.”

Setelah mendengar sabda Prabu demikian, Sunan Kalijaga merasa bersalah karena ikut menyerang Majapahit. Ia menarik nafas dalam dan sangat menyesal. Sang Prabu Brawijaya berkata, “Sekarang aku akan ke pulau Bali, bertemu dengan yayi Prabu Dewa Agung di Klungkung. Aku akan beri tahu tingkah Si Raden Patah, menyia-nyiakan orang tua tanpa dosa, dan hendak kuminta menggalang para raja sekitar Jawa untuk mengambil kembali tahta Majapahit. Sunan Kalijaga sangat prihatin, ia berkata dalam hati, “Tidak salah dengan dugaan Nyai Ageng Ampelgading, bahwa Eyang Bungkuk masih gagah mengangkangi negara, tidak tahu diri, kulit kisut punggung wungkuk. Jika beliau dibiarkan sampai menyeberang ke Pulau Bali, pasti akan ada perang besar dan pasukan Demak pasti kalah karena dalam posisi salah, memusuhi raja dan bapa, ketiga pemberi anugrah. Sudah pasti orang Jawa yang belum Islam akan membela raja tua, bersiaga mengangkat senjata. Pasti akan kalah orang islam tertumpas dalam peperangan. Mendengar kemarahan sang Prabu yang tak tertahankan, Sunan Kalijaga merasa tidak bisa meredakan lagi, maka kemudian beliau menyembah kaki sang Prabu sambil menyerahkan senjata kerisnya dengan berkata, apabila sang Prabu tidak bersedia mengikuti sarannya, maka ia mohon agar dibunuh saja, karena akan malu mengetahui peristiwa menjijikan ini. Sang Prabu mengeluh kepada Sunan Kalijaga, “Coba pikirkan Sahid! Alangkah sedih hatiku, orang sudah tua renta, lemah tak berdaya kok akan direndam dalam air”.

Sunan Kalijaga memendam senyum dan berkata, “Mustahil jika demikian, besok hamba yang tanggung, hamba yakin tidak akan tega putra paduka memperlakukan sia-sia kepada paduka. Akan halnya masalah agama hanya terserah sekehendak paduka, namun lebih baik jika paduka berkenan berganti syariat Rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika paduka tidak berkenan itu tidak masalah, toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.

Akhirnya, setelah Sunan Kalijaga berkata banyak-banyak sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah agama Islam, setelah itu minta potong rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan dipotong, Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam Lahir bathin, karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir bathin, maka rambutnya bisa dipotong. Sang Prabu setelah potong rambut kemudian berkata kepada Sabdo Palon dan Noyo Genggong, “Kamu berdua kuberi tahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Kalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama Rasul dan meninggalkan agama Buddha.

Lalu Sado Palon berkata sedih, “Hamba ini Ratu Dang Hyang yang menjaga tanah Jawa, siapa yang bertahta, menjadi asuhan hamba. Mulai dari leluhur paduka dahulu, sang Wiku Manumanasa, Sakutrem dan Bambang Sakri, terun-temurun sampai sekarang. Hamba mengasuh penurun raja-raja Jawa. Hamba jika tidur sampai 200 tahun. Selama hamba tidur selalu ada peperangan saudara musuh saudara, yang nakal membunuh manusia bangsanya sendiri. Sampai sekarang ini umur hamba sudah 2.000 lebih 3 tahun dalam mengasuh raja-raja Jawa, tidak ada yang berubah agamanya, sejak pertama menepati agama Buddha. Baru paduka yang berani meninggalkan pedoman luhur Jawa. Kalau hanya ikut-ikutan akan membuat celaka muksa paduka kelak, kata Wikuutama disambut halilintar bersahutan. Prabu Brawijaya disindir oleh Dewata karena mau masuk agama Islam, yaitu dengan perwujudan keadaan di dunia ditambah tiga hal : (1) rumput Jawan, (2) padi Randanunut, dan (3) padi Mriyi.

Sang Prabu bertanya, “Bagaimana niatmu, mau apa tidak meninggalkan agama Buddha masuk agama Rasul, lalu menyebut Nabi Muhammad Rasulallah dan nama Allah yang sejati!”

Sabdo Palon berkata sedih, “Paduka masuklah sendiri, hamba tidak tega melihat watak sia-sia, seperti manusia Arab itu, menginjak-nginjak hukum, menginjak-nginjak tatanan. Jika hamba pindah agama, pasti akan celaka muksa hamba kelak. Yang mengatakan mulia itu kan orang Arab dan orang Islam semua, memuji diri sendiri. Kalau hamba mengatakan kurang ajar, memuji kebaikan tetangga mencelakai diri sendiri. Hamba suka agama lama menyebutkan Dewa Yang Maha Lebih. Sang Prabu berkata lagi, “Aku akan kembali kepada yang suwung, kekosongan ketika aku belum maujud apa-apa, demikianlah tujuan kematianku kelak. Itu matinya manusia tak berguna, tidak punya iman dan ilmu, ketika hidup seperti hewan, hanya makan minum dan tidur. Demikian itu hanya bisa gemuk kaya daging. Penting minum dan kencing saja, hilang makna hidup dalam mati”.

Sang prabu berkata,”Aku akan muksa dengan ragaku”. Sabdo Palon tersenyum, “Kalau orang Islam terang tidak bisa muksa, tidak mampu meringkas makan badannya, gemuk kebanyakkan daging. Manusia mati muksa itu celaka, karena mati tetapi tidak meninggalkan jasad.

Sang Prabu, “Keinginanku kembali ke akhirat, masuk surga menghadap Yang Maha Kuasa”.

Sabdo Palon berkata, “Akhirat, surga, sudah paduka bawa kemana-mana, dunia manusia itu sudah menguasai alam kecil dalam besar. Paduka akan pergi ke akhirat mana, nanti tersesat lho! Bila mau hamba ingatkan jangan sampai paduka mendapatkan kemelaratan seperti pengadilan negara. Jika salah menjawab tentu dihukum, ditangkap, dipaksa kerja berat dan tanpa menerima upah. Masuk akhirat Nusa Srenggi. Nusa artinya Manusia, Sreng artinya berat sekali, Enggi artinya kerja. Jadi maknanya manusia dipaksa bekerja untuk Ratu Nusa Srenggi, Apa tidak celaka! Paduka jangan sampai pulang akhirat, jangan sampai masuk surga, malah tersesat, banyak binatang mengganggu, semua tidur berselimut tanah, hidupnya bekerja dengan paksaan, paduka jangan sampai menghadap Gusti Allah, karena Gusti Allah itu tidak berwujud tidak berbentuk. Wujudnya hanya asma, meliputi dunia dan akhirat, paduka belum kenal, kenalnya hanya seperti kenalnya cahaya bintang dan rembulan. Saya tidak tahan dekat apalagi paduka, Kandjeng Nabi musa toh tidak tahan melihat Gusti Allah, maka Allah tidak kelihatan hanya Dzatnya yang meliputi semua mahluk. Paduka bibit ruhani bukan malaikat, manusia raganya berasal dari nutfah menghadap Hyang Lata wal Hujwa, jika sudah lama minta yang baru tidak bolak-balik, itulah hidup-mati.”

Sang Prabu bertanya, “Dimana Tuhan yang Sejati?”. Sabdo Palon berkata, “Tidak jauh tidak dekat, Paduka bayangannya, paduka wujud sifat suksma, sejatinya tunggal budi, hawa, dan badan. Tiga-tiganya itu satu, tidak terpisahkan, tetapi juga tidak berkumpul. Paduka itu raja mulia tentu tidak akan khilaf kepada kata-kata hamba ini”.

“Apa kamu tidak mau masuk agama Islam?” Sabdo Palon berkata sedih, “Ikut agama lama, kepada agama baru tidak !! Kenapa Paduka berganti agama tidak bertanya hamba? Apakah Paduka lupa nama hamba Sabdo Palon!”

“Bagimana ini, aku sudah terlanjur masuk agama Islam, sudah disaksikan Sahid, aku tidak boleh kembali kepada agama Buddha lagi, aku malu apabila ditertawakan bumi dan langit.”

“Iya sudah, silakan Paduka jalani sendiri, hamba tidak ikut-ikutan, kata Sabdo Palon kepada Prabu Brawijaya.Sang Prabu mendengar kata-kata Sabdo Palon dalam batin merasa sangat menyesal karena telah memeluk agama Islam dan meninggalkan agama Buddha. Lama beliau tidak berkata, kemudian ia menjelaskan bahwa masuknya agama Islam itu karena terpikat kata Putri Campa, yang mengatakan bahwa agama Islam itu kelak apabila mati, masuk surga yang melebihi surganya orang kafir. Saddo Palon berkata sambil meludah, ” Sejak jaman kuno,bila laki-laki menurut perempuan, pasti sengsara, karena perempuan itu utamanya wadah, tidak berwewenang memulai kehendak”. Sabdo Palon banyak-banyak mencaci kepada Sang Prabu. Sabdo Palon berkata bahwa dirinya akan memisahkan diri dengan beliau. Ketika ditanya perginya akan kemana? Ia menjawab tidak pergi, tetapi tidak berada disitu, hanya menepati yang namanya Semar, artinya meliputi sekalian wujud, anglela kalingan padang.

Sang Prabu bersumpah, besok apabila ada orang Jawa tua berpengetahuan, yaitulah yang akan diasuh Sabdo Palon. Orang Jawa akan diajari tahu benar salah. Sang Prabu hendak merangkul Sabdo Palon dan Noyo Genggong, tetapi dua orang tadi kemudian musnah.Sang Prabu menyesal dan meneteskan air matanya, kemudian berkata kepada Sunan Kalijaga, “Besok negara Blambangan gantilah dengan nama negara Banyuwangi agar menjadi pertanda kembalinya Sabdo Palon ke Tanah Jawa membawa asuhannya. Adapun kini Sabdo Palon masih dalam alam gaib. Sejak jaman kuno belum pernah ada kerajaan besar seperti Majapahit hancur dengan disengat tawon serta digerogotin tikus saja, dan bubarkan orang sekerejaan hanya dengan karena disantet demit. Hancurnya Majapahit suaranya menggelegar, terdengar sampai ke negara mana-mana. Kehancurannya tersebut karena diserang oleh anaknya sendiri dibantu yaitu wali delapan atau sunan delapan yang disujudi orang Jawa. Sembilannya Adipati Demak, mereka semua memberontak dengan licik.

 

Ramalan Sabdo Palon & Noyo Genggong

1.Ingatlah kepada kisah lama yang ditulis di dalam buku babad tentang negara Mojopahit. Waktu itu Sang Prabu Brawijaya mengadakan pertemuan dengan Sunan Kalijaga didampingi oleh Punakawannya yang bernama Sabda Palon Naya Genggong.

2.Prabu Brawijaya berkata lemah lembut kepada punakawannya: “Sabda Palon sekarang saya sudah menjadi Islam. Bagaimanakah kamu? Lebih baik ikut Islam sekali, sebuah agama suci dan baik.”

3.Sabda Palon menjawab kasar: “Hamba tak mau masuk Islam Sang Prabu, sebab saya ini raja serta pembesar Dang Hyang se tanah Jawa. Saya ini yang membantu anak cucu serta para raja di tanah jawa. Sudah digaris kita harus berpisah.

4.Berpisah dengan Sang Prabu kembali ke asal mula saya. Namun Sang Prabu kami mohon dicatat. Kelak setelah 500 tahun saya akan mengganti agama Budha lagi (maksudnya Kawruh Budi), saya sebar seluruh tanah Jawa.

5.Bila ada yang tidak mau memakai, akan saya hancurkan. Menjadi makanan jin setan dan lain-lainnya. Belum legalah hati saya bila belum saya hancur leburkan. Saya akan membuat tanda akan datangnya kata-kata saya ini. Bila kelak Gunung Merapi meletus dan memuntahkan laharnya.

6.Lahar tersebut mengalir ke Barat Daya. Baunya tidak sedap. Itulah pertanda kalau saya datang. Sudah mulai menyebarkan agama Buda (Kawruh Budi). Kelak Merapi akan bergelegar. Itu sudah menjadi takdir Hyang Widhi bahwa segalanya harus bergantian. Tidak dapat bila diubah lagi.

7.Kelak waktunya paling sengsara di tanah Jawa ini pada tahun: Lawon Sapta Ngesthi Aji. Umpama seorang menyeberang sungai sudah datang di tengah-tengah. Tiba-tiba sungainya banjir besar, dalamnya menghanyutkan manusia sehingga banyak yang meninggal dunia.

8.Bahaya yang mendatangi tersebar seluruh tanah Jawa. Itu sudah kehendak Tuhan tidak mungkin disingkiri lagi. Sebab dunia ini ada ditanganNya. Hal tersebut sebagai bukti bahwa sebenarnya dunia ini ada yang membuatnya.

9.Bermacam-macam bahaya yang membuat tanah Jawa rusak. Orang yang bekerja hasilnya tidak mencukupi. Para priyayi banyak yang susah hatinya. Saudagar selalu menderita rugi. Orang bekerja hasilnya tidak seberapa. Orang tanipun demikian juga. Penghasilannya banyak yang hilang di hutan.

10.Bumi sudah berkurang hasilnya. Banyak hama yang menyerang. Kayupun banyak yang hilang dicuri. Timbullah kerusakan hebat sebab orang berebutan. Benar-benar rusak moral manusia. Bila hujan gerimis banyak maling tapi siang hari banyak begal.

11.Manusia bingung dengan sendirinya sebab rebutan mencari makan. Mereka tidak mengingat aturan negara sebab tidak tahan menahan keroncongannya perut. Hal tersebut berjalan disusul datangnya musibah pagebluk yang luar biasa. Penyakit tersebar merata di tanah Jawa. Bagaikan pagi sakit sorenya telah meninggal dunia.

12.Bahaya penyakit luar biasa. Di sana-sini banyak orang mati. Hujan tidak tepat waktunya. Angin besar menerjang sehingga pohon-pohon roboh semuanya. Sungai meluap banjir sehingga bila dilihat persis lautan pasang.

13.Seperti lautan meluap airnya naik ke daratan. Merusakkan kanan kiri. Kayu-kayu banyak yang hanyut. Yang hidup di pinggir sungai terbawa sampai ke laut. Batu-batu besarpun terhanyut dengan gemuruh suaranya.

14.Gunung-gunung besar bergelegar menakutkan. Lahar meluap ke kanan serta ke kiri sehingga menghancurkan desa dan hutan. Manusia banyak yang meninggal sedangkan kerbau dan sapi habis sama sekali. Hancur lebur tidak ada yang tertinggal sedikitpun.

15.Gempa bumi tujuh kali sehari, sehingga membuat susahnya manusia. Tanahpun menganga. Muncullah brekasakan yang menyeret manusia ke dalam tanah. Manusia-manusia mengaduh di sana-sini, banyak yang sakit. Penyakitpun rupa-rupa. Banyak yang tidak dapat sembuh. Kebanyakan mereka meninggal dunia.

16.Demikianlah kata-kata Sabda Palon yang segera menghilang sebentar tidak tampak lagi diriya. Kembali ke alamnya. Prabu Brawijaya tertegun sejenak. Sama sekali tidak dapat berbicara. Hatinya kecewa sekali dan merasa salah. Namun bagaimana lagi, segala itu sudah menjadi kodrat yang tidak mungkin diubahnya lagi.

12 Agustus 2012

Silsilah Sunan Kalijaga

oleh alifbraja

 

Sunan Kalijaga

 

Nama dan Asal-Usul

Pada waktu muda Sunan Kalijaga bernama Raden Said atau Jaka Said. Kemudian ia disebut juga dengan nama Syekh Malaya, Lokajaya, Raden Abdurraman dan Pangeran Tuban. Di dalam Babad Tanah Jawi disebut bahwa Raden Said adalah putra Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban. Sedangkan Arya Wilatikta, ayah Sunan Kalijaga, menurut Babad Tuban, adalah putra Arya Teja. Disebutkan pula bahwa Arya Teja bukanlah seorang pribumi jawa. Ia berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama. Ia berhasil mengislamkan Raja Tuban, Arya Dikara, dan memperoleh seorang putrinya. Dengan jalan ini ia akhirnya berhasil menjadi kepala negara Tuban, menggunakan kedudukan mertuanya. Akan tetapi Babad Tuban tidak menjelaskan mengenai asal-usul Arya Wilatikta, ayahanda Sunan Kalijaga itu.

Dalam Babad Cerbon naskah Nr. 36 koleksi Brandes, dijumpai keterangan bahwa ayahanda Sunan Kalijaga bernama Arya Sidik, dijuluki “Arya ing Tuban” Arya Sadik dipastikan merupakan perubahan dari nama Arya Sidik, dan nama ini merupakan nama asli dari ayahanda Sunan Kalijaga, yang menurut Babad Tuban bukan seorang pribumi jawa, melainkan berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama.

Tahun kelahiran serta wafat Sunan Kalijaga belum dapat dipastikan, hanya diperkirakan ia mencapai usia lanjut. Diperkirakan ia lahir ± 1450 M berdasarkan atas suatu sumber yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga kawin dengan putri Sunan Ampel pada usia ±20 tahun, yakni tahun 1470. Sedangkan Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 dan mempunyai anak wanita yang dikawini oleh Sunan Kalijaga itu pada waktu ia berusia 50 tahun.

Masa hidupnya mengalami 3 masa pemerintahan, yaitu masa akhir Majapahit, zaman Kasultanna Demak dan Kasultanan Pajang. Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478 M, kemudian disusul Kasultanan  Demak berdiri pada tahun 1481-1546 M, dan disusul pula Kasultanan Pajang yang diperkirakan berakhir pada t ahun 1568 M. diperkirakan, pada tahun 1580 M Sunan Kalijaga wafat. Hal ini dapat dihubungkan dengan gelar kepala Perdikan Kadilangu semula adalah Sunan Hadi, tetapi pada Mas Jolang di Mataram (1601-1603), gelar itu diganti dengan sebutan Panembahan Hadi. Dengan demikian, Sunan Kalijaga sudah diganti putranya sebagai Kepala Perdikan Kadilangu sebelum zaman mas Jolang yaitu sejak berdirinya kesultanan Mataram pemerintahan Panembahan Senopati atau Sutawijaya (1675-1601). Dan pada awal pemerintahan Mataram, menurut Babad Tanah Jawi versi Meisma, dinyatakan Sunan Kalijaga pernah datang ke tempat kediaman Panembahan Senopati di Mataram memberikan saran bagaimana cara membangun kota.

Dengan demikian, Sunan Kalijaga diperkirakan hidupnya lebih dari 100 tahun lamanya yakni sejak pertengahan abad ke-15sampai dengan akhir abad 16.

Tentang asal-usul keturunannya, ada beberapa pendapat, ada yang menyatakan keturunan arab asli, yang lain menyatakan keturunan Cina, dan ada pula yang menyatakan keturunan Jawa asli. Masing-msing pendapat mempunyai sumber yang berbeda.

Dalam buku “De Handramaut et les Colonies Arabes dan’l Archipel Indian” Karya Mr. C.L.N. Van den Berg, Sunan Kalijaga disebutkan sebagai keturunan Arab asli. Bahkan di dalam buku tersebut tidak hanya Sunan Kalijaga saja yang dinyatakan sebagai keturunan Arab, tetapi juga semua Wali di Jawa.

Menurut buku tersebut, silsilah Sunan Kalijaga adalah sebagai berikut: Abdul Muthalib (nenek moyang Muhammad saw) berputra Abbas, berputra Abdul Wakhid, berputra Mudzakir, berputra Abdullah, berputra Kharmia, berputra Mubarrak, berputra Abdullah, berputra Madhra’uf, berputra Arifin, berputra Hasanudin, berputra Jamal, berputra Akhmad, berputra Abdullah, berputra Abbas, berputra Kouramas, berputra Abdur rakhim (Aria Teja, Bupati Tuban) berputra Teja Laku (Bupati Majapahit), berptra Lembu Kusuma (Bupati Tuban), berputra Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said (Sunann Kalijaga).

Kemudian pendapat yang menyatakan Sunan Kalijaga sebagia keturunan Cina di dasarkan atas buku “Kumpulan Cerita Lama dari kota Wali (Demak)” yang ditulis oleh S. Sunan Kalijaga sewaktu kecil bernama Said. Dia adalah keturunan seorang cina bernama Oei Tiktoo yang mempunyai putra bernama Wiratikta (Bupati Tuban). Bupati Wiratikta ini mempunyai anak laki-laki bernama Oei Sam Ik, dan terakhir di panggil Said.

Sedangkan pendapat yang menyatakan Sunan Kalijaga berdarah jawa asli, didasarkan atas sumber keterangan yang berasal dari keturunan Sunan Kalijaga sendiri. Silsilah menurut pendapat ketiga ini menyatakan bahwa moyang “Kalijaga adalah salah seorang panglima Raden Wijaya, raja pertama majapahit, yakni Ronggolawe yang kemudian diangkat menjadi Bupati Tuban. Seterusnya adipati Ronggolawe (Bupati Tuban), berputra Aria Teja I (bupati Tuban) berputra Aria Teja II (Bupati Tuban), berputra Aria Teja III (Bupati Tuban), berputra Raden Tumenggung Wilwatikta (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said (Sunan Klijaga). Menurut keterangan berdasar bukti yang ada pada makam, Aria Teja I dan II masih memeluk agama Syiwa, sedangkan Aria Teja III sudah memeluk Islam.

Terhadap pendapat-pendapat tersebut, terdapat sanggahan-sanggahan, terutama terhadap endapat yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga, dan juga para wali yang lain, adalah keturunan cina. Di antara para ahli yang menyatakan bahwa pendapat itu tidak benar adalah Prof. D.W.J. Drewes. Beliau adalah bekas guru Besar Sastra Arab di Fakultas der Aleteren pada Universitas Leiden dan berkas ketua Oosters Genooschap di Nederland, lahir pada tahun 1899 pernah memimpin balai pustaka (1930) di Jakarta danmenjadi guru besar Hukum Islam di Indonesia, dan sampai tahun 1970 beliau menjadi Guru Besar di Universitas Leiden, Nederland. Tanggapannya terhadap Prof. Dr. Slamet Mulyono yang menyatakan bahwa para wali adalah keturunan bahwa para wali adalah keturunan Cina adalah tidak benar, karena tidak mempunyai bukti. Sumber-sumber yang diambil yakni dari Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Kronik Cina dari Klenteng Semarang dan Talang, semua sumber itu tidak pernah dipeakai oleh padra sarjana sejarah. Sementara, sumber dari Reseden Poortman sudah lewat tangan ketiga.

Kemudian Prof. Dr. Tujimah, Guru Besar dalam Bahasa Arab dan Sejarah Islam di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, juga tidak sependapat atas kesimpulan yang mengatakan bahwa para wali adalah keturunan Cina. Beberapa alasan yang dikemukakan adalah:

1.    Sumber-sumber dari kesimpulan itu dari Babad Tanah Jawi, Serta Kanda, Kronik Cinta Semarang dan Talang yang belum banyak dipakai sarjana.

2.    Prof. Slamet Mulyana mendapat sumber dari tangan ketiga (dua orang) yaitu lewat Residen Poortman dan Ir. Parlindungan.

3.    Sumber-sumber babad itu penuh dengan dongeng dan legenda.

4.    Sumber-sumber Portugis yang ada digunakan

5.    Lebih memberatkan dan menerima 100% sumber Cina, atau membesar-besarkan pengaruh Cina.

6.    Mungkin ada nama-nama pribumi asli yang dibaca atau ditulis menurut Lidah Cina. Pengaruh setiap bahasa dan lidah sesuatu bangsa lain memungkinkan terjadi penyesuaian ejaan, seperti khabar menjadi kabar (bahasa Arab), lebih-lebih pendatang baru bangsa Cina yang disebut tokelja, sabar menjadi sabal, dan sebagainya. Akhirnya terjadilah seperti yang dikira, terdapat nama-nama yang berubah dari nama asalnya, seperti di dalam naskah Poortman, Kertabumi menjadi King ta Bu Mi, Su Hi Ta menjadi Su King Ta, Trenggana menjadi Tung Ka Lo, Mukmin (putra Trenggana) menjadi Muk Ming, Sunan Bonang menjadi Be Nang, Ki Ageng Gribig menjadi Na Pao Cing, Aceh menjadi Ta Cih, Bintoro menjadi Bing To Lo, Bangil menjadi Jiaotung, Majakerta menjadi Jangki, Palembang menjadi Ku Kang, Sultan tayyib menjadi Too Yat, dan sebagainya. Ternyata banyak nama-nama Indonesia yang diberi nama dengan bahasa Tionghoa.

7.    Salah satu kelemahan, antara lain ialah Sunan Gunung Jati diidentifikasikan dengan Toh A Bo, dalam bukunya Prof. Slamet Mulyana hal. 219. tetapi pada halaman 220 dikatakan bahwa Tung Ka Lo (trengganda mempunyai dua orang putra, yaitu muk Ming (Pangeran Mukin atau Pangeran Prawoto) dan putra kedua pangeran A Bo dinyatakan dalam Babat Tanah Jawi bahwa dia menjadi Bupati Madiun. Jika Panglima Perang Demak pada tahun 1526, yang berhasil membawa kemenganna sama dengan Panglima Perang yang dikirim ke Majapahit apda tahun 1527, maka Panglima Perang yang memimpin armada Demak ke Cirebon dan ke Sunda Kelapa adalah Toh A Bo Putra Tung Ka Lo sendiri. Dengan demikian, maka Toh A Bo identik dengan Fatahillah. Demikianlah tulis Prof. Dr. Slamet Mulyana. Tetapi pada halaman 224 Prof. Slamet Mulyana menulis lagi bahwa Fatahillah sebagai Sultan Banten / Cirebon dan Ipar sulatan Trenggana, dan pula menjadi Sultan Cirebon / Banten. Inilah kejanggalannya, bahwa Fatahillah disamakan dengan Toh A Bo, yang menjadi putra Sultan Trenggana dan sekali itu juga menjadi ipar Sultan Trenggana. Juga menjadi Bupati Madiun dan juga menjadi Sultan Cirebon / Banten. Apakah bisa? Aneh bukan, satu oknum menjadi putra dan sekaligus menjadi ipar Sultan Trenggana, jug amenjadi Bupati Madiun dan juga menjadi Sultan Cirebon / Banten.

 

Dengan adanya beberapa pendapat tentang silsilah itu, maka bagaimanapun juga tampak bahwa masih terdapat ketidakjelasan tentang silsilah Sunan Kalijaga. Tampak pula bahwa terdapat maksud-maksud tertentu dari penyusunan silsilah. Hal itu sebagaimana pengungkapan tentang silsilah raja-raja jawa dalam Babad Tanah jawi  yang menyatakan bahwa silsilah tokoh Senopati, raja Islam Mataram II, putra Ki Gede Pemanahan. Bahwa Ki Gede Pemanahan adalah keturunan langsung ratu-ratu Majapahit, kerjaan hindu yang dipuji orang jawa. Ia adalah Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela putra Ki Ageng Getas Pendawa, Selanjutnay ia putra Bondan Kejawen (Lembut Peteng), dan Bondan Kejawen ini mempunyai dua saudara lagi yakni Arya Damar (Bupati Palembang yang masuk Islam) dan terakhir adalah raden Patah, Mereka bertiga adalah putra Hayam Wuruk, Putra Raden Sesusuh, putra Kuda Lalean, putra Raden Panji (Hikayat Panji Semarang dan Galuh Candrakirana). Raden Panji Putra Getayu, putra Prabu Jayabaya, keturunan Parikesit putra Abimanyu, putra Aejuna, putra Barahmana, putra Bhatara Guru, ptra Sang Hyang Tunggal, putra Sang Hyang Wening, yang berasal dari Sang Hyang Nur Cahya. Dengan demikian maka Senopati dihubungkan dengan dewa-dew dan cerita wayang. Tampak bahwa dari penyusun silsilah Sunan Kalijaga yang berbeda-beda terdapat kemungkinan adanya maksud-maksud tertentu.

Tentang asal-usul nama Kalijaga, terdapat pula perbedaan penafsiran, satu pendapat menyatakan bahwa Kalijaga berasal dari kataJaga Kali (bahasa jawa). Pendapat lain mengatakan bahwa kalijaga berasal dari kata Arab, Wodli Dzakka (penghulu suci), dan pendapat yang lain lagi menyatakan Kalijaga berasal dari nama dusun Kalijaga yang terletak di daerah Cirebon.

Penafsiran yang pertama mengacu kepada nama jawa asli bahwa Kalijaga artinya menjaga kali, dari asal kata kali yang berarti sungai dan kata Jaga yang b berarti menjaga. Boleh jadi tafsiran ini didasarkan atas suatu riwayatnya sebagaimana dinyatakan dalam Babad Tanah Jawi bahwa beliau pernah berkhalwat setiap malam di sebuah sungai yang berada di tengah hutan yang sepi, seakan beliau menjaga kali itu. Secara kebetulan hutan itu bernama Kalijaga di daerah Cirebon.

Tetapi terdapat suatu penafsiran pula bahwa menjaga kali diartikan sebagai kemampuan Sunan Kalijaga dalam menjaga aliran atau kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menunjuk sikap anti pati terhadap semua aliran atau kepercayaan yang tidak sesuai dengan islam, tetapi dengan penuh kebijaksanaan aliran-aliran kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat itu dihadapi atau digauli dengan sikap penuh toleransi. Konon, menurut cerita, memang Sunan Kalijaga adalah satu-satunya wali yang faham dan mendalami segala pergerakan dan aliran atau agama yang hidup di kalangan rakyat.

Dalam suatu sumber di dapatkan tentang asal-usul perkataan kaljaga yang berasal dari perkataan jagakali termasuk juga bagaimana Raden Said mendapatkan julukan yekh Malaya”.  Keterangan ini dijumpai dalam Babad Dipanegara, sebuah naskah sejarah yang ditulis oleh Pangeran Dipanegara di tempat pengasingannya di Menado. Menurut penuturan Pangeran Dipanegara, waktu Sunan Bonang teringat ihwal Raden Sahid yang tealh dpendamnay, Sunan Bonang ingin mengeluarkannya. Sunan Bonang segera pergi ke temapt Raden Sahid dipendam, sembari membawa sahabatnya. Raden Sahid dikeluarkan dari pendamnanya, raden Sahid telah menjadi mayat. Sekalipun demikian sudah menjadi kehendak Tuhan tubuh jasmaninya masih dalam keadaan utuh, tidak membusuk. Hanya tinggal tulang dan kulit. Mayat Raden Sahid dibawa ke Ngampel Gading.

Mayat raden sahid dikembalikan kekuatannya. Sunan giri telah dapat dan ikut mengerjakannya. Semua wali ikut mengembalikan kekuatan Raden Sahid. Tuhan pun memberikan pertolongan-Nya. Penglihatan Raden Sahid muncul lagi, kemudian nafasnya, setelah itu detak jantungnya. Ayah dan ibu raden Sahid telah datang, demikian juga adik Raden Sahid, Dewi Rasawulan, telah sengaja datang dari hutan langsung menuju Ngampel Gading. Bersama waktu datangnya ayah dan ibunya, nafas yang keluar dari tubuh raden sahid semakin besar, para wali berdoa, lalu datanglah kembali semua kekuatan Raden Sahid. Raden Sahid telah siuman, bagai tealh lama tidur. Raden Sahid duduk dikitari para wali, Raden Sahid sadar, kemudian bersembah sujud kepada semua wali dan ayahnya, sedangkan Dewi raswulan bersembah sujud kepadanya. Bagaikan mimpi saja, semuanya telah menakjubkan semua orang yang pada susah hati melihatnya, sangat ajaib, sangat mengesankan.

Semua kekuatan Raden Sahid tealh kembai seperti sediakala, hanay tinggal rasa lesu saja. Kata Sunan Makdum: “Anak-anakku semua, patuhilah kata-kataku ini. Aku akan menjuluki si Sahid “Syekh Malaya”. Disamping itu, Sunan Makdum Berkata lagi “Mumpung lengkap semua, Wilatikta anakku, aku akan mengambil kedua anakmu. Syekh Malaya akan kukawinkan dengan putriku yang bungsu, sedang Nini Rasawulan akan kukawinkan dengan ananda di Giri.” Keduannya kemudian dikawinkan, disaksikan semua wali.

Para wali kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, sementara Syekh Malaya belum merasa puas hatinya. Beliau minta diri kepada adiknya, ingin pergi berkelana. Lalu pergi meninggalkan Ngampel Gading, menyusuri daerah Pengisikan, berhenti bertapa mati raga di pinggir kali dengan bersandar pda pohon jati yang telah mati, yang batangya condong ke kali itu. Demikian lama Syekh Malaya bertapa mati raga, hingga pohon jati yang semula mati telah hidup kembali berimbun daun.

Alkisah, waktu itu Kanjeng Sunan Bonang berkelana, beliau telah sampai di pohon jatiitu. Beliau melihat ada orang bertapa mati raga dengan bersandar pada pohon jati tersebut. Lama-kelamaan Kanjeng Sunan Bonang tidak lupa lagi, orang itu tidak lain adalah adiknya sendiri. Kanjeng Sunan Bonang segera duduk mendekatinya. Syekh Malaya waktu itu sedang tidur, dibangunkan olehnya. “Bangunlah adikku,” katanya. Syekh Malaya terkejut melihat kedatangan kakaknya, lalu mencium kaki bersembah bakti. “Sudahlah, duduklah adinda. Sekarang namamu kuberi tambahan, yakni Jagakali, Sunan Kalijaga. Demikianlah namamu yang patut. Disamping itu, bertempat tinggallah dan dirikanlah pedesaan ditempat ini. Aku yang akan membantumu, sedang istrimu akan kuundang”. Sunan Kalijaga. Tidak menolak perintah kakaknya.

Kanjeng Sunan Bonang mengirim utusan ke Ngampel memanggil adiknya sembari mohon izin kepada ayahnya. Tidak diceritakan, istri Sunan Kalijaga telah datang, sedang desa tempat Sunan Kalijaga juga telah siap, dibuatkan oleh Sunan Gunung Jati. Sunan Bonang lalu kembali ke tempat tinggalnya.

Telah lama bertempat tinggal di desa itu Sunan Kalijaga mempunyai seorang putra yang roman mukanya tidak berbeda dengan ayahnya, bernama kanjeng Sinuhun Adi.

Penafsiran kedua mengacu kepada nama Arab bawa kalijaga berasal dari bahasa Arab yang telah berubah menurut pengucapan lidah orang jawa, yaitu Qadli Zakkah yang berarti hakim suci atau penghulu sici. Nama itu merupakan nama sanjungan yang diberikan pagnera Modang, Adipati Cirebon, tatkala mereka berdiskusi tentang masalah hukum Islam di Cirebon. Dari kata sanjungan Qadli Zakka itulah kemudian desa tempat tinggal Penghulu Suci itu dikenal dengansebutan Kalijaga, Nama yang masih melekat pada suatu desa di daerah kabupaten Cirebon hingga sekarang.

Lain lagi dengan pendapat ketiga yang menyatakan bahwa nama kalijaga berasal dari nama desa tempat tinggal yang pernah didiami oelh Raden Sahid. Pendapat ketiga cenderung menyanggah kedua pendapat terdahulu itu. Prof. Dr. Hoesein Djajaningrat menyatakan, kisah legendaries menetapnya Sunan Kalijaga di sebuah ssungai merupakan sebuah ikhtisar yang kaku untuk menerangkan si muasal nama Sunan Kalijaga. Prof. Hoesein Djajaningrat mengingatkan, dalam masalah ini orang telah memberikan artian nama kalijaga dengan “Penjaga Kali” atau “penjaga di kali”, akan tetapi orang lupa, bahwa dengan demikian orang mendapatkan susunan (perkataan) yang tidak bercorak jawa. Oleh karena menurut logat bahasa jawa “penjaga kali” toh disebut “(wong) jaga Kali”. Menurut pendapatnya, asal-muasal nama kalijaga justru tidak bisa di pulangkan pada Sunan Kalijaga, artinya tidak bisa dinyatakan bahwa nama itu telah muncul oleh karena pada awal mulanya Sunan Kalijaga telah berjaga, bertapa atau menetap di dekat kali. Tetapi sebaliknya, nama Sunan Kalijaga justru lahir karena yang bersangkutan telah menetap di desa kalijaga. Dengan demikian sebelum Sunan Kalijaga datang desa itu telah bernama kalijaga.

Pendapat yang sama dipegangi juga oleh G.P.H. Hadiwidjaja, yang ditulis dalam brosurnya berjudul Kalijaga, sebuah tulisan yang disampaikan dalam tulisan ceramahnya di Radya Pustaka, Solo, tanggal 7 Mei 1956. dalil yang dipakai bukan nama desa yang mengikuti nama wali itu, tetapi telah dikenal sebelumnya. Dan nama desa yang dimaksud adalah desa kalijaga yang telah dikenal sebelumnya. Dan nama desa yang dimaksud Cirebon. Dalam tulisannya itu ia sekaligus menunjukkan kesalahan kedua pendapat di atas. Dasar pendapatnya adalah sebuah kidungan yang pernah didengarnya pada zaman sebelum perang di daerah Pasundan, yang berbunyi:

 

 

Sing sapa reke bisa nglakoni,

Amutih lawan anawaha,

Patang puluh dina wawe

Lan tangi wegtu subuh,

Lan den sabar sakuring ati

Ing sa-Allah tinekan,

Sakarsanireku,

Tumrap sanak rajatinira

Saking sawabe ngelmu pangiket kami,

Duk aneng kalijaga.

 

Artinya:

Barangsiapa bisa menjalani

Melakukan mutih dan minum air tawar

Empat puluh hari saja,

Dan bangun waktu subuh,

Dan sabar berhati sukur,

Kepada Tuhan terlaksanalah

Sekehendakmu,

Pada saudara keluargamu,

Dari sawab ngelmu yang kami ikat, waktu berada di Kalijaga.

 

Dari kidung itu K.G.P.H. hadiwidjaja berpendapat bahwa yang membuat kidungan itu adalah Sunan Kalijaga sendiri, sebagaimana disebutkan “duk aneng Klaijaga” – “Waktu berada di kalijaga”. Dia menunjukkan serangkaian bukti bahwa kalijaga sebenarnya bukan nama orang, melainkan nama desa di kawasan Cirebon sebagai berikut:

1.    Pokok isi naskah sejarah Banten yang termuat dalam disertasinya Prof D.R.R.A Hoesein Djajaningrat yang berjudul Critiche Beschouwingen Van De Sadjarah Banten yang menyatakan, raden Said lalu pergi berkelana sampai ke Palembang, bertemu dengan Dara Petak. Kemudian mereka bersama pergi ke Pulau Upih, berguru kepada Syekh Sutabris. Setelah selesai disuruh pulang kembali ke tanah Jawa bertempat tinggal membuat pedukuhan di Cirebon di dekat Sungai kecil, sembari berjualan atap ilallang agar mereka diketahui oleh yang empun negeri. Di berlakng hari pedukuhan tersebut disebut kalijaga.

2.    Kitab Wali Sepuluh Karangan Kargosudjono, diterbitkan Tan Koen Swie tahun 1950, menyatakan: “Tuan Sunan Kalijaga dulu keratonnya adalah di tanah Puserbumi (Cirebon).” Nama Keratonnya tidak disebutkan, tetapi letaknya ada di Cirebon, sama dengan disebut pada nomor satu di atas. Hanya saja, mengenai disebutnya Puserbumi, K.G.P.H. Hadiwijaya baru mengetahuinya. Menurutnya, yang disebut Puserbumi itu adalah Mekkah, yang karena Multasyam-nya, matahari tidak pernah mengunggulinya. Ada pun pusarnya tanah jawa adalah gunung tidar di Magelang.

3.    Kidungan Musium dalam bentuk cetakan dan kidungan milik K.G.P.H. Hadiwijaya sendiri dalam bentuk naskah, menyebutkan:

“….Saking sawabe ngelmu pengiket kami, du aneng kalijaga”.

Artinya:

“….Dari sawah ngelmu ikatan kami, waktu di kalijaga.”

4.    Serat Syeh Malaja, koleksi musium Sana Pusaka, milik K.G.P.H. Hadiwijaya sendiri dalam bentuk naskah:

1)    Pupuh Asmarandana pada 4:

Anulnya kinen angasih,

Pitekur ing kalijaga,

Mila karan kakasihe…….

 

 

Artinya:

Lalu disuruh pindah bertafakur di Kalijaga oleh karena itu namanya disebut ……….

Di sini jelas nyata bahawa kalijaga bukan nama orang tetapi nama desa. Sedang yang menyuruh pindah adalah Sunan Bonang, setelah Kalijaga diberi wejangan.

2)    Bersamaan Pupuhnya pada 12:

“Wus telas denya wawarti,

ajeng Sunan Bonang samna,

jangkar sing kalijagane”

artinya:

“Telah selesai memberikan keterangan,

Kanjeng Sunan Bonang waktu itu,

Berangkat dari Kalijagane….”

5.    Serat Walisanga, Milik K.G.P.H. Hidiwijaya pupuh pucung pada 29:

“inggalipun,

wus raharjo ponang dukuh,

katah kang awismo.

Pradesane wus sawasri,

Sinung aran padukuhan kalijaga.”

Kemudian menceritakan kembalinya dari samudra diwejang kanjeng nabi Kidir, Tembang Gambuh pada 33:

Umpami sekar kuncup,

Mangke samun mangsane cumucup,

Ngambar-ambar gandane kastri jati,

Ing wasana lajang kondur,

Tan wangsul maring Cirebon.”

Artinya:

“bagaikan bunga yang kuncup,

sekarang telah waktunya mekar,

semerbak harumnya kasturi tulen,

akhirnya lalu pulang,

tidak kembali ke Cirebon.”

 

Pada 34:

“Mring padukuhanipun,

Kalijaga pun Lumajang misuwur…”

 

Artinya:

“Ke Pedukuhannya,

Kalijaga yang lalu termasyur…”

 

Pada 35:

“She Malaya kasetbut,

papan saking padamelanipun,

nengsih Sunan Kalijaga Wewangi…”

 

Artinya:

“Syekh Malaya tersebut,

dari sebab pekerjaannya,

nengsih Sunan Kalijaga mewangi…

 

Menurut K.G.P.H. Hadiwijaya, dengan bukti-bukti tersebut jelas bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut berasal dari nama desa, yakni desa Kalijaga di kawasan Cirebon.

Tentang penolakan K.G.P.H. Hadiwijaya terhadap perkataan “Qadli Zakka” yang berarti penghulu suci, bahwa tidak mungkin ada desa yang bernama penghulu agung suci, seperti halnya pengulon yang berarti tempat kediaman penghulu; Modinan yang berarti tempat kediaman Modin; Kauman yang berarti tempat kediaman kaum dan lain sebagainya. Demikian jug a perkataan “kali” tidaklah bisa dikatakan begitu saja berasal dari Arab, sebab nama desa yang memakai perkataan “Kali”, misalnya Kalijanes, Kaliwingka, Kaliyasa, Kalisara, Kaliwungu dan lain sebagainya.

K.G.P.H. Hadiwijaya juga merujuk nama-nama Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Ngudung, Syekh Lemah Abang, Semua itu adalah nama-nama yang diberikan berdasarkan tempat tinggal dan tidak diberikan dari asl perkataan Arabnya, sehingga, oleh karenanya, kata “Kalijaga” menurutnya merupakan “tembung jaawa klutuk”, perkataan Jawa Asli. Penyebutakn kalijaga sebagai berasal dari perkataan Arab “Qadl Zakkah” merupakan perbuatan orang jawa sendiri secara paksa. Hal yang sama dikemukakan juga oleh K.G.P.H. Hadiwijaya berkenaan dengan nama-nama wayang, Petruk Berasal dari Fatruq, Janaka berasal dari Zinaka, Narada berasal dari nurhuda dan sebagainya.

Berbeda dengan pendapat Ki M.A Machfoed, dia juga tampak kurang sependapat tentang asal-usul nama Kalijaga yang dihubungkan dengan perilaku bertapa di kali laksana orang “Jaga Kali” yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga sebagaiaman dituturkan dalam Sejarah Kadilangu. Dia lebih cenderung memegangi apa yang dituturkan dalam babad demak versi Cirebon, bahwa nama kalijaga berasal dari bahasa Arab “Qadli Zakkah” yang berarti penghulu suci, sebgaiman telah dikemukakan terdahulu. Dengan demikian , Ki M.A. Machfoed berpendapat bahwa kalijaga dapat lebih dipegangi sebagai nama orang, bukan nama desa yang semula bernama kalijaga sehingga nama itu menjadi sebutan bagi wali tersebut. Dia beranalog sama halnya dengan nama K.G.P.H. Hadiwijaya bukanlah nama yang diberikan karena bel;iau itu bertempat tinggal di kampung Hadiwijaya, karena menurut pengakuran beliau, nama Hadiwiaya adalah nama pemberian ayahandanya yakni Sri Susuhunan Paku Buana X.

Tentang nama Raden Said atau Jaka Said sebagai nama Sunan Klaijaga pada waktu mdua adlah nama pemberian Sunana Ampel Denta. Kata Said (Sa’id) yang berasal dari bahasa arab berarti bahagia. Sunan Ampel sendiri mempunyai hubungan dekat dengan ayahanda raden Said, dan setiap saat bersilaturrahmi di istana adipati Tuban itu, berdiskusi  tentang masalah-masalah keagamaan.

Sejalan dengan arti sa’id, bahagia, maka Sunan Kalijaga dikenal juga dengan nama Lokajaya. Hanya saja sebutan Lokajaya lebih mengacu kepadea bahasa jawa, yang terdiri dari dua kata loka artinya tempat dan jaya berarti bahagia, menang. Menurut Pustaka Daerah Agung, nama baru itu adalah pemberian Syekh Sutam, tetapi tanpa penjelasan siapa Syekh Sutam itu. Dalam Babad Demak, nama Syekh Sutam juga tidak dikenal, kendatipun nama lokajaya disebut-sebut tatkala mengenalkan Raden Said sebagai pelayan, kemudian sebagai pengadu ayam, dan kemudian sebagai penyamun. Perannya sebagai pelayan dimulai setelah pergi meninggalkan kadipaten ketika semua uang emas berkalnya lenyap, entah dicuri orang dalam rumah penginapan, entah jatuh diperjalanan. Dalam Babad Demak versi Matara disebutkan bahwa bekal emas Raden Said habis karena diperjudikan. Tetapi lain halnya apa yang disebut oleh Babad Demak versi Cirebon, emas bekal calon wali itu habis karena telah dihadiahkan kepada anak gembala kerbau sebagai tanda terima kasih atas doa anak gembala itu dalam bentuk nama lokajaya.

Dalam perantauannya Lokajaya sampai lah pada suatu hari disebuah desa yang diantara penghuninya ada seorang janda tua beranak banyak, dan mata pencahariannya sebagai pedagang serabi, semacam kue apem. Meskipun hasil perdagangan itu sudah tidak mencukupi keperluan hidup hariannya bersama lima orang anak-anaknya yang belum ada satupun yang dewasa, namun janda tua yang berwatak murah hati itu ternyata suka menerima Lokajaya sebgai seorang penumpang hidup padanya. Mengerti betapa pemarah dan baik hati orang yang ditumpangi hidupnya itu, maka Lokajaya dengan setia dan jujur melayani pedagang serabi, memasak, memikul barang-barang keperluan memasak dan menjual serabi ke pasar, memikul barang-barang itu dari pasar pulang kembali ke rumah. Dan disadari oelh wanita janda tua itu, betapa pesat kemajuan dagangannya yang tampak sudahmenjadi besar dan tidak lagi miskin, sejak lokajaya menumpang hidup sebagai pelayan padanya. Maka lokajaya amatlah disayangi dan diperlakukan sebgai anak kandungnya. Uang pun diberikan secukupnya pada sembarang waktu diperlukan, termasuk juga untuk membeli seekor ayam aduan dan untuk bertaruh di kala ayam itu dibawa lokajaya ke dalam gelanggang peraudan ayam.

Ayam aduan Lokajaya itu diberi nama Ganden dan kenyataannya tak terkalahkan. Setiap kali Ganden keluar dari gelanggang, tetaplah senantiasa sebgai pemenang. Semua taruhan kemengangannya yang tak sedikit jumlahnya selalu Lokajaya berikan kepada janda tua, itu akuannya itu.

Apda suatu hari, rumah pedagang serabi tersebut dikunjungi seorang setengah baya berserta anak muda yang membawa sebuah krusu berisi seekor ayam aduan. Mereka datang perlu menantang Lokajaya mengadu ayamnya yang bernama Tatah dengan Ganden, ayam aduan milik Lokajaya itu. Tantangan itu tentunya diterima Lokajaya dengan gembira hati, karena memang sudah agak lama menunggu adanya ayam aduan yang berani melawan ganden.

Lokajaya merujuk ketika mendengar tantangannya mengenai soal  taruhannya yaitu rumah tempat tinggal pedagang serabi itu seisinya yang dikira oleh tamu penantang itu menaruh sebuah kantong besar berisi emas, sebagai taruhannya. Melihat keraguan Lokajaya dan melihat sekantong emas yang nilainya jelas lebih besar dari pada harga rumah seisinya itu, dengan mengingat bahwa ssealma ini Ganden terbukti tak pernah terkalahkan, maka janda tua akuannya itu menganjurkan agar Lokajaya dengan berbesar hati menerima tantangannya. Dan Ganden sergeralah berhadap-hadapan dengan Tatah dalam sebuah Gelanggang di halaman depan rumah yang dikerumuni banyak penggemar adu jago. Pertarungan antar aGanden dan Tatah berlangsung hebat sekali, namun tidak begitu alma pertarungan itus udah selesai. Ganden Kalah, mati terkapar di tengah gelanggang.

Janda serabi dan kelima anak-anaknya menangis kekalahan Ganden yang menimbuni segenap keluarga dengan malapetaka. Lokajaya tinggal berdiri tegak saja dengan hati gusar pandangannya mengikuti kepergian tamunya setelah menerima tawaran bahwa kelak tamunya akan kembali untuk menempati rumah teruhannya, dan diharap Lokajaya sekeluarga sudah tidak berada di dalam rumah dan halaman itu, tetapi Lokajaya diperbolehkan mengambil dan membawa isi dari rumah dan halaman apa saja yang disukai.

Pada senja hari, lokajaya minta diri pada ibu akuannya akan pergi mencari pengganti rumah tinggal dan semua harta kekayaan ibunya yang telah lenyap dalam pertaruhan tadi pagi, dengan pesan agar ibu dan kelima anaknya jangan meninggalkan rumah itu sebelum dia pulang kembali dan supaya menuntut kehidupan seperti biasanya. Seolah-olah di situ tidak ada perubahan apapun. Kemudian Lokajaya pergi ke satu-satunya jalan lalu lintas di tengah hutan menghadang di sana sebagai penyamun. Tujuan hari siang dan malam dia menyamun di sana. Pada pagi hari yang kedelapan, dia telah bertukar niat hendak pergi merampok saja dipedesaan, tetapi mendadak terlihatlah olehnya orang setengah baya dan seorang muda yang mengantarkannya akan lewat di dijalan penyamunannya. Walau calaon  korbannya itu berpakaian seorang ualma, namun tiada panglinglah Lokajaya bahwa calon korbannya itu adalah si pemilik tatah tempo hari. Pakaian keulamaannya tampak serba indah, serba mahal harganya. Lokajaya segera menghentikan mereka, diminta pakaian mereka dan semua yang mereka bawa atau nyawa mereka yang akan direnggutnya kalau mereka berani menolak permintaannya. Tetapi alangkah terperanjatnya Lokajaya ketika orang setengah baya itu menyebut namanya di minta agar ia melihat pohon aren yang ada disebelah kanannya, bahwa semua tirisan buah kolang-kaling sesungguhnya ems murni dan bisa diambil kalau memang bermaksud menghimpun kekayaan duniawi. Tampak pada pandangan mata Lokajaya semua tirisan buah kolang-kaling itu adalah emas yang kilau-kemilau yang indah dalam sinar matahari. Seketika lokajaya berjongkok di hadapan orang setengah baya itu sambil menyembah, minta ma’af, menyerahkan diri kepadanya serta minta diterima sebagai muridnya. Dengan senang hati permintaan itu diterima orang setengah baya itu, yang kemudian memberi perintah kepada Lokajaya agar segera pulang lebih dahulu kepada ibu akuannya untuk minta diri dan berkata kepadanya atas nama calon gurunya itu menghadiahkan rumah tinggal seisinya dan halaman itu dan selanjutnya disuruh menyusul ke pondok bonang.

Sesungguhnya, orang setengah baya itu tak lain adalah Sunan Bonang, dan anak muda pengiringnya itu adalah adik kandung bungsunya, yang kemudian hari tampil sebagai Sunan Drajat. Keduannya adalah putra sulung dan putra bungsu Sunan Ampel Denta yang diutus ayahandanya supaya mencari dan menemukan Raden Said.

Sunan Kalijaga dikenal juga sebagai syekh Malaya, nama pemberian dari sunan bonang, setelah dia selesai menjalankan khulwat yang merupakan ujian pertama kesanggupan berguru kepada Sunan Bonang itu. Demikian itu sebagaimana dituturkan dalam Babad Diponegara, babad demak versi Cirebon maupun Babad demak versi lain-lainnya. Hanya saja, terdapat perbedaan antara pengertian maupun praktik tapa ngluwat atau tapa mendem yang digambarkan dalam Babad Diponegoro sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, demikian juga berbeda dengan pengertian dan praktik tapa mendem sebagaimana yang digambarkan dalam Babad Demak yang lain, atau juga Babad Majapahit dan Para Wali. Inti ajaran tentang khulwat  dalam Babad Demak versi Cirebon yakni menyekap diri lahir-batin dalam kesepian dari segala apa pun, kecuali harsu senantiasa hudlur ma’ Allah, demikian itu selama 40 hari, siang dan malam. Sedangkan tapa ngluwat sebagai mana digambarkan dalam Babad Diponegoro, Babat Majapahit dan Para Wali  dan Babad Demak  yang lain, adalah menguburkan diri dalam tanah. Disebutkan bahwa Raden Said dipendam dalam tanah selama 100 hari.

Agak berbeda dengan cerita tersebut, dalam Babad Tanah Jawi terbitan Balai Pustaka, di sana dinyatakan, sebagai ujian kepatuhan raden Said untuk berguru pada Sunan Bonang maka raden Said diminta untuk menunggui tongkatnya. Sedemikian patuhnya raden Said dalam  memenuhi permintaan Sunan Bonang sehingga satu tahun kemudian Sunan Bonang menjenguknya kembali. Keadaan tempat telah menjadi hutan, dan hanya dengan mengucapkan salam Sunan Bonang dapat melenyapkan hutan itu sehingga tampaklah raden Said. Akan tetapi Raden Said hanya diraba denyut jantungnya , kemudian ditinggalkan lagi selama satu tahun lagi sehingga genaplah dua tahun Raden Said bertapa menunggui tongkat Sunan Bonang . setelah diajari ajaran-ajaran tentang ilmu, diminta pergi dan agar senantiasa taat pada Tuhan. Selama satu tahun kemudian Raden Said berkhulewat dan setelah itu dia pergi ke arah barat menuju Cirebon dan bertempat tinggal di sebuah hutan sepi yang disebut kalijaga. Di situlah dia bertapa dengan dua orang temannya dengan cara menjaga sungai di malam hari yakni berendam di dalam sungai. Setelah berhenti bertapa dan telah menjadi orang sakti Raden Said berganti nama menjadi Sunan Kalijaga.

Riwayat Hidup

1.    Guru-guru Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga pertama berguru kepada Sunan Bonang, yang dikenal juga dengan nama Makdum Ibrahim. Menurut sumber-sumber sejarah, sebenarnya antara Sunan Bonang dengan Sunan Kalijaga mempunyai hubungan kekerabatan, karena Sunan Ampel Denta, ayah Sunan Bonang, memperistri Nyi Gede Manila, yakni Ibun Sunan Bonang yang tidak lain adalah anak perempuan Wilatikta. Tetapi dalam Babad Tanah Jawi versi yang mana pun, seakan mereka sebelumnya tidak pernah mengenal, setidak-tidaknya Raden Said tidak mengenal Sunan Bonang, sementara menurut salah satu sumber, Sunan Bonang sendiri memang secara sengaja disuruh ayahandanya agar mencari dean menemukan serta mempertobatkan Raden Said dan mengesankan bahwa Sunan Bonang sudah mengenal sebelumnya.

Pertemuan yang pertama adalah ketika mereka mengadu ayam, sebagaimana telah dikemukakan pada uraian terdahulu. Dalam banyak cerita tentang pertemuan-pertemuan pertama antara kedua orang itu menyatakan bahwa di bawah asuhan Sunan Bonang, Sunan Kalijaga pada awal mulanya merupakan seorang anak muda yang nakal, akhirnya dapat ditobatkan hingga jadi waliullah.

Kemudian Sunan Kalijaga juga berguru kepada Syekh Sutabris di Pulau Upih. Yang dimaksud pulau Upih ialah bagian kota malaka yang terletak di sebelah utara sungai, yang pada akhir abad XV merupakan daerah perdagangan yang paling ramai di kota itu, di mana banyak pedagang dari pulau jawa yakni dari daerah Tuban dan Jepara bertempat tinggal. Demikianlah, sebagaimana dinyatakan dalam naskah sejarah Banten dan menurut naskah ini, Sunan Kalijaga berguru pada Syekh Sutabris. Sunan Kalijaga menetap di tepi sungai kecil di Cirebon dan oleh karenanya kemudian disebut orang pangeran Kalijaga. Menurut sumber lain, kepergian Sunan Kalijaga sampai ke pulau Upih sebenarnya dalam perjalanan menyusul Sunan Bonang naik haji ke makkah. Tetapi sampai di pulau Upih itu oleh Syekh Maulana Maghribi disarankan untuk kembali ke jawa membangun masjid, menjadi penggenap wali sembilan. Disarankan oleh Syekh Maulana agar menunggu gurunya itu di   atas kayu ditepi kali. Kembalilah Sunan Kalijaga ke jawa dan menetap di suatu desa di Cirebon, dan disinilah kemudian ia bertemu kembai dengan Sunan Bonang, setelah menunggu selama 100 hari. Desa yang dimaksud itu adalah desa kalijaga.

Menurut Serat Kandaning ringgit Purwa, Sunan Kalijaga pergi naik haji bukan menyusul Sunan Bonang, tetapi justru kepergiannya atas saran Sunan Bonang setelah mendapatkan berbagai ajaran pengetahuan agama dan belum dianggap sempurna kebajikan lahiriyahnya kalau belum pergi haji ke makkah.

Di Cirebon, setelah membuat pemukiman baru lengkap dengan perumahan nya, oleh Sunan Bonang diajak pergi ke Giripura menghadap Sunan Gunung Giri yang dianggap sebagai ketua para wali di jawa agar menerima Sunan Kalijaga sebagai wali yang kedelapan.

Adapun gurunya yang ketiga adalah Sunan Gunung Jati di Cirebon. Dalam beberapa sumber seperti Babad Dipanegara, Babad Tdanah Jawi maupun Babad Demak selain versi Cirebon, kehadiran Sunan Kalijaga di Cirebon adalah dalam usahanya untuk menambah pengetahuan dengan berkelana, bertapa dari tempat ke tempat lain, sehingga sampailah di desa kalijaga. Menurut salah satu naskah Sunan Kalijaga sebagai Syekh Malaya ditemukan oleh Pangeran Modang yakni Sunan Gunung Jati, dalam keadaan seolah-olah tidak menyadaridirinay bertapa di perempatan jalan di dekat pasar, terlentang tanpa pakaian seama sekali. Tatkala keempat istri pangeran modang tidak mampu menggagalkan / membangunkan Sunan Kalijaga maka Pangeran Modang sendirilah yang berkunjung ke temapt, dan dia baru bisa membangunkan seteah menunggu selama tujuh hari. Akan tetapi, menurut Babad Demak versi Cirebon, kehadiran Sunan Kalijaga ke Cirebon adalah dalam rangkaian dakwahnya sejak dari Rembang-Purwodadi-Salatiga-Kartasura-Kutaarja-Kebumen-Banyumas dan akhirnya sampai ke Cirebon. Disini Sunan Kalijaga sebagai Syekh Malaya diterima sebagai tamu terhormat yang ahli dalam bidang ilmu agama, sebagai penghulu suci. Sedangkan menurut naskah sejarah Hikayat Hasanuddin, kedatangan Sunan Kalijaga Dicirebon tidak lepas dari usahanya menyebarkan agama Islam, sekaligus menuntut ilmu pada Sunan Gunung Jati. Dalam fragment itu dituturkan, Sunan Bonang dan Adipati Demak telah pergi berziarah mengunjungi Sunan Gunung jati. Sunan Bonang, Pangeran Adipati Demak dan kaum keluarganya berguru kepada Sunan Gunung Jati. Demikian halnya Pangeran Kalijaga dan pangeran Kadarajad, putra Sunan Ampel yang dibelakang hari terkenal dengan nama Sunan Drajad. Penyebutdan Sunan Kalijaga dengan nama Pangeran Kalijaga dengan jelas menunjukkan, pada waktu itu Sunan Kalijaga masih belum menjadi wali. Tidak ubahnya dengan Sunan Derajad, yang pada waktu itu masih disebut dengan nama Pangeran Kadarajad.

Pada akhirnya dinyatakan dalam berbagai naskah, Sunan Kalijaga di ambil menantu Sunan Gunung Jati yakni memperoleh adik kandungnya, tetapi apda sumber lain menyebutkan Sunan Kalijaga menikah dengan Ratu Syarifah Jamilah, kakak kandung Sunan Gunung Jati. Selanjutnya Sunan Kalijaga membuka pondok pesantren di daerah kaki bukit gunung jati, yaitu daerah hutan yang baru dibuka menjadi desa, namun belum lagi bernama.

Pertanyaan, bagaimanakah para guru-guru Sunan Kalijaga memberikan pengajaran, serta apa pula yang diajarkan mereka. Dalam beberapa sumber nampaknya memang tidak disebutkan. Kalaulah ada, ternyata pula bahwa masing-masing versi sumber menuturkannya dalam alur cerita maupun sudut pandang yang berbeda. Terdapat kecenderungan orang memahami cerita dari sumber babad secara harfiah, tetapi kecenderungan lain beranggapan bahwa banyak hal yang harus dipahami secara tersirat, oleh karena hal itu merupakan cerita sandi ataupun pasemon. Dalam hal ini, untuk memahami cara-cara yang dipergunakan oleh para guru Sunan Kalijaga dalam memberikan ajarannya maupun inti pelajarannya, sebagian pendapat dengan cara menafsirkan cerita sandi ataupun pasemon. Dalam hal ini, untuk memahami cara-cara yang dipergunakan oleh para guru Sunan Kalijaga dalam memberikan ajrannya maupun inti pelajarannya, sebagian pendapat dengan cara menafsirkan cerita sandi itu menyatakan antara lain sebagai berikut: dalam beberapa sumber diceritakan bahwa Sunan Kalijaga pada waktu muda senang berjudi, membegal orang, menjadi perampok dan mencuri. Semua itu sebenarnya hanya perlambang, Sunan Kalijaga seorang bangsawan yang senang sekali menambah pengetahuannya. Tidak peduli dengan cara mencuri, artinya jika ada orang memberi wejangan pada muridnya,  beliau pun ikut memperhatikannya. Dan itulah yang disebut “mencuri pengetahuan”. Cerita selanjutnya menyatakan, jika perlu Sunan Kalijaga menjadi perampok, yang dimaksud tidak lain masuk ke rumah orang yang kaya pengetahuan dan dengan paksa minta wejangan. Jika sudah memperolehnya lalu dijadikan bekal berjudi, artinya digunakan untuk mengadakan musyawarah atau perdebatan, yang sudah tentu ada kalanya menang. Jika kalah malah beruntung, oleh karena bisa mendapatkan pengetahuan yang belum diketahui. Oleh karena itu Sunan Kalijaga dikatakan orang senang berjudi, oleh karena dengan jalan demikian pengetahuannya menjadi bertambah banyak.

Kebetulan waktu Sunan Kalijaga beradu jago dengan Sunan Bonang, jago Sunan Kalijaga bernama ganden, jago Sunan Bonang bernama tatah. Masudnya, waktu Sunan Kalijaga berbantahan dengan Sunan Bonang pengetahuan Sunan Kalijaga masih kurang tajam. Oleh karenanya diibaratkan Ganden melawan Tatah. Oleh karena kekalahan Sunan Kalijaga mengancam dan membegal Sunan Bonang, dengan maksud mau membegal pengetahuannya. Waktu bertemu, Sunan Bonang diceritakan memakai pakaian dan perhiasan yang sangat berharga. Maksudnya adalah, Sunan Bonang ternyata menanggapi maksud Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga diberi beberapa keterangan ihwal kenikmatan tuhan yang berupa panca indera, yang diibaratkan berupa buah kolang-kaling yang telah berujud menjadi emas, intan berlian dan batu permata berharga, semua itu dari keindahan wejangan dan dari nikmatnya Sunan Kalijaga menerimanya. Sunan Kalijaga merasa terpikat, oleh karenanya Sunan Kalijaga lalu mengikuti Sunan Bonang. Sunan Bonang sendiri waktu melihat keinginan Sunan Kalijaga, lalu menerimanya menjadi muridnya, disuruh menjadi cantrik di pondok bersama santri yang lain. Itulah yang dimaksud tapa pendam, bertapa dengan memendam diri, artinya mencegah hawa nafsu dan tidak berhubungan dengan orang-orang yang pada umumnya melakukan perilaku maksiat. Selanjutnya, Sunan Kalijaga telah ditumbuhi gelagah dan alang-alang, artinya selama di pondok,  hati Sunan Kalijaga telah ditumbuhi banyak sekali pertanyaan yang belum dimengerti olehnya. Oleh karena itu, Sunan Bonang kemudian menebangi gelagah dan alang-alang itu, maksudnya adalah memberikan banyak sekali keterangan mengenai persoalan-persoalan yang timbul dalam hati Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merasa puas, kemudian disuruh bertapa di sungai, maksudnya tidak lain, Sunan Kalijaga disuruh mensucikan hatinya dengan air tauhid, agar supaya hatinya teguh, tidak terkena bujukan orang lain, tetap dan mantap hati dan perasaannya. Dalam suatu fragmen dituturkan bahwa atas perintah Sunan Ampel Denta, Sunan Kalijaga agar diberi wejangan tentang ilmu filsafat tinggi oleh Sunan Bonang. Ilmu itu diberikan di atas perahu di tengah rawa. Seekor cacing yang ada dalam tanah yang dipakai untuk menambal bagian perahu yang bocor ikut mendengarkan ilmu tersebut kemudian berubah menjadi manusia, dialah Syekh Siti Jenar. Yang dimaksud cacing dalam tanah tersebut adalah tukang satang yakni juru pendayung perahu. Hal itu karena sudah menjadi perlambang ibarat bahwa pada umumnya orang bodoh disebut termasuk jenis hewan. Akan tetapi jika telah pandai, berarti telah purnalah kemanusiaannya. Demikian itu pula halnya dengan juru pendayung perahu yang dimaksud itu, yang sebneranya tidak mengerti alif ba ta, akan tetapi begitu mendengar wejangna adiluhung berasal dari Al-Qur’an seketika itu juga sadar akan kemanusiaannya, malah menjadi manusia sejati.

Demikian masih banyak lagi berbagai penuturan dalam naskah babad yang manapun, yang mau tidak mau terpaksa harus menafsirkan apa saja maksud tersurat, oleh karena itu merupakan bahasa kinayah dan terkadang sulit untuk dicerna dengan akal sehat.

Adapun initi ajran yang pertama kali diwejang kepada Sunan Kalijaga sesampainya dipondok Bonang sebagaimana banyak disebut dalam banyak naskah kuno tentang Sunan Kalijaga, adalah ilmu “Sangkan Paraning Dumadi”. Ilmu ini pada dasarnya menerangkan soal:

a.    Dari mana asal-usul kejadian alam semesta seisinya, termasuk di dalamnya tentang manusia.

b.    Kemana perginya nanti dalam kelenyapannya sesudah adanya,

c.    Apa perlunya semua itu adanya sebelum lenyapnya nanti,

d.    Apa perlunya manusia itu hidup dan

e.    Apa hidup itu sejatiya. Ilmu sangkan paraning dumadi

Inilah yang kemudian juga menjadi wejangan Sunan Kalijaga kepada para putra-wayah dan para muridnya sebagai dasar dan permulaan segala wejangan-wejangan.

 

2.    Menjadi Wali

Menurut sumber naskah sejarah yang mana pun Sunan Kalijaga disebut sebagai salah satu waliyullah yang termasuk dalam walisongo. Kedudukannya sebagai seorang wali, menurut Babad Majapahit  dan Para Wali, dikukuhkan di hadapan Sunan Giri yang dianggap sebagai ketua para wali di jawa. Dengan demikian, penetapan sebagai wali itu sesuai dengan ramalan semula semenjak Sunan Bonang diutus oleh ayahnya, Sunan Ampel Denta untuk mencari dan mempertobatkan Sunan Kalijaga sebagai upaya mempercepat proses ke arah kedudukannya sebagai wali.

Sebagai waliyullah, Sunan Kalijaga termasuk orang yang dikasihi allah, sebagaimana pengertian waliyullah adalah “kekasih allah”, Oleh karena itu sebagiaman lazimnya para wali, Sunan Kalijaga memiliki “karamah” pemberian dari Allah berupa keunggulan lahir dan batin yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Di samping itu, sebagai tanda kewalian, ia bergelar “Sunan” sebagaimana wali-wali yang lain. Menurutu salah satu penafsiran, kaata “sunan” berasal dari bahasa Arab, kata jamak dair “sunnat” yang berarti tingkah laku, adat kebiasaan. Adapun tingkah laku yang dimaksud adalah yang serba baik, sopan santun, budi luhur, hidup yang serba kebijakan menurut tuntunan agama islam. Oleh karena itu, seorang sunan akan senantiasa menampilkan perilaku yang serba berkebajikan sesuai dengan tugas  mereka berdakwah, beramar ma’ruf nahi munkar, memerintah atau mengajak ke arah kebaikan dan melarang perbuatan munkar.

Peran Sunan Kalijaga dalam berdakwah tampak dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan agama secara langsung ataupun dalam pemerintahan dan kegiatan seni dan budaya pada umumnya.

Diantara kasus kegiatan yang berkenaan dengan keagamaan, sebagaimana banyak disebut dalam naskah babad, adalah kegiatan Sunan Kalijaga bersama-sama wali yang lain dalam mendirikan masjid agung demak. Sudah jelas bahwa fungsi masjid, di samping menjadi sarana peribadatan, juga dipakai sebagai pusat kegiatan dakwah ketika itu sehingga dirasakan perlu adanya, kendatipun sulit untuk menentukan secara pasti kapan masjid tersebut di dirikan. Banyak keterangan antar satu dengan yang lain saling bertentangan. Di antaranya pendapat-pendapat tersebut adalah:

1.    Menurut Candra Sangkala “naga Salira Wani” berasal dari gambaran petir di pintu tengah, adalah tahun 1388 saka atau tahun 1466 M.

2.    Ada yang mengatakn berdirinya masjid demak itu pada tahun 1401 saka, ataupun tahun 1479 M. berdasarkan gambaran binatang bulus (penyu) di dalam tembok pengimaman (mihrab) masjid demak, karena gambar bulus itu diartikan sebagai berikut:

Kepala bulus     : 1

Empat kaki     : 4

Badan Bulus     : 0

Ekor Bulus     : 1

 

3.    Ada lagi yang mengatakan, bahwa berdasarkan tulisan dalam bahasa jawa yang terpacang di pintu muka sebelah atas, bunyinya adalah “Hadegipun masjid yasanipun para wali, nalika tanggal 1 dulka’idah tahun 1428”, yakni bertepat dengan h ari kamis Kliwaon malam ju’at legi atau tahun 1501 M.

4.    Menurut “Serta Kanda”, jadinya masjid Demak pada thun 1328 saka atau tahun 1407 M. hal ini sebenarnya lebih tidak masuk akal, karena raden patah mulai menjadi raja adalah sekitar 1477 M. dengan demikian, jarak antara waktu mendirikan masjid (tahun 1407 menurut serat kanda) dengan diangkatnya menjadi raja (tahun 1477) adalah 70 tahun. Waktu 70 tahun adalah lam bagi jarak antara berdirinya masjid dengan diangkatnya menjadi raja. Yang lebih masuk akal adalah jarak antaramenetapnya raden patah di Glagah Wangi dengan saat mendirikan masjid serta menjadi raja itu dalam masa yang berurutan, dan dalam masa yang dekat atau tidak begitu lama.

5.    Menurut buku Babad Demak , berdirinya masjid Demak itu dapat diambil dari arti kata-kata “Lawang Trus Gunaning Janma”, yang menunjukkan angka tahun saka 1399 atau bertepatan dengan tahun 1477 M. keterangan ini kalu disesuaikan dengan gambar bulus, agak mendekati, karena mungkin tahun 1399 saka (=1477) itu sewaktu mulai meletakkan batu pertama, mulai membangun. Setelah dua tahun berjalan, maka jadilah masjid itu pada tahun 1401 Saka (=1479 M)sebagaimana yang dilambangkan dalam  gambar bulus, diperingati menurut Candra Sangkala Memet.

 

Masjid Agung Demak menjadi terkenal, tidak saja karena masjid ini dibangun oleh wali, tetapi karena salah satu saka gurunya terdiri dari serpihan kayu-kayu tatal karya dari Sunan Kalijaga yang dikenal dengan sebutan “soko tatal”. Keikutsertaan Sunan Kalijaga tidak hanya mengupayakan bahan-bahannya, tetapi juga ikut bermusyawarah sebelumnya.

Dituturkan dalam salah satu sumber bahwa pembangunan masjid Demak berjalan lancar, masing-masing wali mendapat tugs membwawa empat tiang besar, yaitu Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Purwaganda, Sunan Gunung Jati, Pangeran Palembang, Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. Hanya Sunan Kalijaga sendirilah yang membawa tiga  buah. Jumlah semuanya delapan puluh tiga kurang satu, tatkala semuanya sudah siap, dan waktu mendirikan masjid tinggal satu hari, sementara saka guru kurang satu, maka Sunan Bonang menanyakan kepada Sunan Kalijaga akan tugasnya menyiapkan tiang saka guru itu. Sunan Kalijaga menyanggupinya, malam-malam menunggui orang mengapak (jawa:methel) kulit bagian luar, dikumpulkan serpihan-serpihan kayu itu, disusun, dilekatkan dengan lem Damar, kemenyan, blendok trembalo, lantas dibalut. Jadilah sebuah tiang dari tatal.

Adanya soko tatal ini adalah suatu kesengajaan, sebagai lambang kerohanian, bahwa pembuatan Soko tatal sebagai lambang kerukunan danpersatuan. Konon sewaktu mendirikan masjid agung demak, masyarakat Islam ditimpa perpecahan antara golongan, bahkan dalam bekerja mendirikan masjid itu pun terjadi perselisihan-perselisihan berbagai masalah kecil dan sepele. Sunan Kalijaga mendapat ilham, suasut petunjuk dari tuhan dan disusunlah tatal-tatal menjadi sebuah tiang yang kokoh.

Kasus lain juga bersamaan para wali yang lain adalah upaya memberantas ajaran akidah yang tidak benar atau pun sesat, yakni ajaran Pantheisme yang disebarkan oleh salah seorang yang semua termasuk dalam kelompok wali yaitu Syekh Siti Jenar. Dalam Serat Kandaning Ringgit Purwa maupun Babad Tanah Jawi dituturkan bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati di hadapan sidang pengadilan para wali, termasuk Sunan Kalijaga. Hukum itu dijatuhkan kepada Syekh Siti Jenar oleh karena pengakuannya bahwa dirinya adalah Allah. Ajarannya ten tang ketuhanan yang bersifat Pantheisme di pandang sangat membahayakan karena mengakibatkan masyarakat islam ketika itu meninggalkan Syara’. Faham itu disebut juga faham Wahdatul Wujud manunggaling Kawula Gusti.

Dengan kasus hukuman mati terhadap Syekh Siti Jenar tersebut, Sunan Kalijaga bersama wali lainnya tidak kompromi dengan keyakinan yang memang sangat membahayakan, meskipun pendekatan yang dipakai para wali dalam berdakwah juga dengan menggunakan pendekatan sufistik, tetapi sufisme yang diantu oleh Kalijaga bukanlah sufisme yang beraliran pantheisme, tetapi sufisme yang tetap menganut aqiah ahlussunah wal jamaah.

Sebenarnya pandangan Sunan Kalijaga jika dibanding dengan pandangan Sunan Ampel maupun Sunan Giri terhadap sisa-sisa keyakinan agama lama itu lebih toleran, dalam arti tidak mau memberantasnya seketika. Sunan Kalijaga berpendirian, bahwa rakyat akan lari begitu dihantam dan diserang pendiriannya. Dakwah harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Adat istiadat rakyat jarang terus diberantas, tetapi hendaknya dipelihara dan dihormati sebagai suatu kenyataan. Adapun cara merubah nya adalah sedikit-demi sedikit, member warna yang baru kepada yang lama, mengikuti sambil mempengaruhi yang nanti diharapkan bila rakyat telah mengerti dan paham akan agama akhirnya mereka akan membuang sendiri mana yang tidak perlu dan merombak atau menghilangkan sendiri mana yang tidak sesuai dengan agama. Para wali sebaiknya bertindak mengikuti dari belakang sambil mempengaruhi, atau mengikuti kebudayaan lama sambil mengisi jiwa Islam.

Sikap seperti itu telah pada berbagai karyanya yang kalau dilihat dari kacamata kebudayaan cenderung mengarah pada akulturasi antara kebudayaan lama dengan kebudayaan yang baru hasil kreasinya ke arah yang lebih islami. Sementara itu, kalau dilihat dari segi akidah, Sunan Kalijaga cenderung pada sinkritisme. Sebagai contoh, pendirian seperti itu tampak salah satunya pada penciptaan lambang gambar bulus di Mihrab masjid agung Demak yang bisa dipandang sebgai hasil karyanya, sebagaimana ide pembuatan soko tatal. Bulus adalah binatang yang hidup di dua alam di daratan dan di air, dan menurut masyarakat Islam hukumnya haram,tetapi mengapa gambarnya ditempatkan pada mihrab masjid yang justru tempat suci bagi orang Islam. Ternyata itu juga merupakan suatu bentuk kebijaksanaan berdakwah ketika itu dimana pemeluk agama lama di ingatkan bahwa di dalam masjid juga ada suatu lambang kesucian dan keabadian, sebagaimana kepercayaan agama lama (Budha) memandang bulus sebagai binatang suci. Hanya saja, kesucian dan keabadian dalam Islam diperoleh dengan cara melaksanakan shalat berbakti ke pada Allah Yang Maha Esa, biar hidup abadi di alam baqa nanti dengan bahagia.

Dalam media dakwah yang lain juga tampak sikap Sunan Kalijaga yang demikian itu, baik dalam penciptaan seni pakaian, seni suara, seni ukir, seni gamelan, termasuk juga kesenian wayhang. Bahkan terhadap kesenian wayang. Bahkan terhadap kesenian wayang ini Sunan Kalijaga dipandang sebagai tokoh yang telah menghasilkan kreasi baru, yaitu  dengan adanya wayang kulit dengan segala perangkat gamelannya. Wayang kulit ini merupakan pengembangan baru dari wayang b eber yang memang sudah ada sejak zaman Erlangga. Di antara wayang ciptaan Sunan Kaijaga bersama Sunan Bonang dan Sunan Giri adalah wayang Punakawa Pandawa yang terdiri dari semar, Petruk, Garang dan Bogong. Wayang itu sebagai media dakwah yang senantiasa dipergunakan oleh Sunan Kalijaga dalam kesempatan dawahnya di berbagai daerah, dan ternyata wayang ini merupakan media yang efektif, dapat mendekatkan dan menarik simpati rakyat terhadap agama. Kemampuan Sunan Kalijaga dalam mendalang (Memainkan wayang) begitu memikat, sehingga terkenalah berbagai nama samaran baginya dikenal dengan nam Ki Dalam Sida Brangti, bila mendalang  di Tegal dikenal dengan nama Ki Dalang Bengkok, tetapi bila mendalang di daerah Purbalingga terkenal dengan nama Ki Dalang Kumendung.

Peranannya dalam politik pemerintahan sudah dimulai sejak awal berdirinya kesultanan Demak sampai akhir Kesultanan itu. Bersama-sama dengan para wali yang lain, dalam suatu kelembagaan walisongo di mana salah seorang anggotanya adalah Sultan Demak sendiri, menunjukkan betapa penting peran wali ini dalam politik dan pemerintahan waktu itu. Dalam rangka dakwah Islam maka fungsi para waliyul amri itu adalah memberi nasihat tentang pelaksanaan tata pemerintahan agar senantiasa dijiwai roh Islam. Sebagai contoh, konon di antara wejangan Sunan Kalijaga teknik pembangunan kota Kabupaten maupun Kotapraja yang selamanya tampak di dalamnya terdapat empat bangun yaitu: 1) istana Keraton atau Kabupaten, 2) alun-alun, 3) satu atau dua pohon beringin, 4) masjid. Letaknya juga sangat teratur, yaitu letak kabupaten atau kraton selalu memangku alun-alun dengan pohon beringin di tengah alun-alun, membelakangkan gunung atau menghadap laut, dan letak masjid selalu di sebelah baratnya. Tata letak yang sedemikian itu di dasarkan atas falsafath baldatun thoyyibatun wa rabun Ghafur, negeri yang sejahtera diridhai oleh Tuhan. Akan tetapi peran para wali yang terdiri dari delapan orang waliyul amri dan seorang imam itu pada zaman kesultanan pajang sudah tidak berfungsi lagi, karena pada masa ke kesultanan ini lembaga walisongo telah dibubarkan dan diganti dengan lembaga baru yang terdiri dari seorang Sultan Dan delapan orang nayaka atau pelayanan.

3.    Akhir Hayat Sunan Kalijaga

Tidak jelas kapan Sunan Kalijaga wafat, tetapi secara umum masyarakat memaklumi bahwa makam Sunan Kalijaga berada di desa Kadilangu. Tiap tahun tanggal 10 Dzulhijah diadakan ziarah resmi yang diselenggarakan oleh panitia besaran ziarah resmi yang diselenggarakan oleh panitia besaran dari Masjid Agung Demak ke makam Kadilangu. Memang Babad Tanah Jawi menuturkan kepindahan Sunan Kalijaga dari Cirebon ke demak dan menetap di Kadilangu. Kepindahan itu atas permintaan sultan. Setiap bulans ekali Sunan Kalijaga datang ke Demak dari tempat tinggalnya di Kalijaga, Cirebon. Dituturkan dalam buku itu bahwa yang menjemput adalah Sultan sendiri dengan disertai dua puluh ribu pengikut. Di Kadilangu pekerjaan Sunan Kalijaga mengajar mengaji agama Rasul, sehingga banyak pula murid yang menetap di dusun itu.

Akan tetapi adalah pendapat lain yang mengatakan bahwa Sunan Kalijaga dimakamkan di Cirebon. Kira-kira dalam jarak 2 ½ Km. Ke arah barat daya darikotad Cirebon di sana terdapat pula sebuah desa bernama Kadilangu. Di desa inilah Sunan Kalijaga dimakamkan dan memang desa itu pula merupakan tempat tinggal resmi sewaktu beliau masih hidup. Makam Sunan Kalijaga dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan ramai diziarahi orang sebagai mana makma di Kadilangu Demak. Mereka yang mempercayai bahwa Sunan Kalijaga di makamkan di Cirebon mengajukan bukti bahwa masjid kesepuhan alun-alun Cirebon terdapat soko tatal seperti halnya yang terdapat di Demak. Dan menurut kepercayaan mereka, yang dimakamkan di Kadilangu Demak itu hanyalah benda-benda peninggalan nya saja. Beberapa sumber yang membenarkan keterangan itu antara lain:

1.    Serat Sejarah Banten, oleh Prof. Dr. R.A. Hoesein Djajadiningrat.

2.    Serat Walisongo, dari Sadu Budi, 1955

3.    Serat Syekh Malaya, dari Musium Sana Pustaka

4.    Babad Cirebon, Penghulu Abdul Qohar

5.    Kitab Wali Sepuluh, oleh Tan Koen Swie, 1950

6.    Menurut K.G.P.H. Hadiwijaya, Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang berasal dari harjamukti, sebuah dusun yang berjarak kira-kira 2 ½ Km. Sebelah selatan kota Cirebon. Ia menetap di dusun itu dan dimakamkan di sana pula.

Kenyataan adanya dua makam bagi Sunan Kalijaga bukanlah merupakan hal yang mengherankan, karena beberapa tokoh wali yang lain dipercayai oleh masyarakat mempunyai makam di berberapa tempat. Namun, menurut para ahli, bila terdapat makam dari satu pribadi di dua tempat, maka jasad nya tetap dimakamkan di satu tempat saja, sedangkan makam yang lain hanyalah merupakan petilasan atau penguburan barang-barang peninggalan tokoh yang bersangkutan.

 

Catatan Kaki

 

1.    Lembaga Riset dan Survai IAIN Walisongo semarang, Bahan-bahan Sejarah Islam di Jawa Tengah Bagian Utara, Laporan Penelitian, 1982, hlm. 17

2.    Amen Budiman, Walisanga Antar Legenda dan Fakta Sejarah, Penerbit Tanjung Sari, Semarang, 1982, hlm. 69

3.    Ibid, hlm. 70

4.    Lembaga Research & Survey IAIN Walisongo Semarang, Op.Cit, hlm. 17

5.    Umar Hasyim, Sunan Kalijaga, Penerbit Menara, Kudus, 1974, hlm. 4

6.    Ibid,

7.    Ibid, hlm. 5

8.    Ibid, hlm. 9

9.    Ibid, hlm 10-11

10.    Amen Bidiman, Op.Cit, hlm, 66-69

11.    Ki M.A. Machfoed, Sunan Kalijaga, Jilid I, Penerbit Yayasan An-Nur, Yogyakarta, 1970, hlm. 23-24

12.    Amen Budiman, Op.Cit. hlm. 68

13.    G.P.H. Hadiwidjoyo, Kalidjaga, Saresehan Radyapustaka, Surakarta, 7Mei 1956, hlm. 5

14.    Ibid, hlm. 14-16

15.    Ibid, hlm. 8

16.    Ibid, hlm. 13

17.    Ki M.A. Machfoed, Op. Cit. hlm. 14-17

18.    Ibid, hlm. 19

19.    Amen Budiman, Op. Cit. hlm. 69

20.    Ki M.A. Machfoed, Op. Cit, hlm. 21

21.    Amen Budiman, Op. Cit. hlm. 18

22.    Ki. M.A. Machfoed, Op. Cit. hlm. 18

23.    Umar Hsyim, Op. Cit. hlm. 67

12 Agustus 2012

SUMUR PENINGGALAN, PUTRA JAKA TARUB, SYEKH SYERUT

oleh alifbraja
 
Di wilayah Druju Pangkahkulon kecamatan Ujungpangkah tempo dulu pada zaman penjajahan terdapat pondok yang bernama Pondok Serut. Nama pondok itu diambil dari nama pohon yang tumbuh di depan pondok Pohon itu disebut pohon serut oleh penduduk setempat karena pohon itu mempunyai akar gantung yang dapat tumbuh menjadi batang pohon bila akar itu memanjang sampai mencapai tanah dan menyerut masuk ke tanah. Bila akar-akar gantung itu telah menyerut ke tanah dan menjadi batang baru maka pohon itu seperti sebuah sokoguru yang berdiri di tengah-tengah dan dikelilingi oleh pilar-pilar penyangga. Semakin banyak akar yang gantung yang mencapai tanah semakin banyak batang-batang yang mengelilingi pohon itu.
Pondok Serut didirikan oleh Jaka Tarub putra Jaka Slining. Jaka Tarub adalah cucu Jayeng Katon bin Sunan Bonang Tuban. Ia memilih Druju sebagai tempat penyebaran dan pengembangan agama Islam karena di wilayah kota Ujungpangkah sudah terdapat lima pondok yang diasuh oleh kelima putra Jayeng Katon. Pondok Pangkah diasuh oleh Jayeng Katon dibantu Jaka Berek Sawonggaling, Pondok Bekuto diasuh oleh Pendel Wesi, Pondok Rebuyut diasuh oleh Jaka Karang Wesi, Pondok Unusan diasuh oleh Jaka Sekintel Cinde Amo, dan Pondok Sabilan diasuh oleh Jaka Slining..
Jaka Tarub ditemani istrinya asal Ujungpangkah dan kelima anaknya  mengajar dan mendidik santri-santrinya, juga penduduk sekitar pondok untuk memahami dan mengamalkan Islam. Ia menjadi obor di wilayah yang berada kurang lebih lima ratus meter ke barat kota Ujungpangkah. Ia menjadi tempat bertanya masyarakat setempat, tempat meminta nama bagi anak-anaknya yang terlahir. Ia menjadi tempat mengaduh bagi masyarakat yang mengalami permasalahan. Disamping memberikan pengajaran agama Islam, di pondoknya juga dijadikan sebagai tempat penggemblengan ilmu kanuragan. Santri-santrinya dibekali dengan ilmu kedikdayaan sebagai sarana pembelaan diri mengahadapi lawan ketika terjun di masyarakat kelak. Berkat perjuangannya penduduk Druju dan sekitarnya menjadi pemeluk Islam yang taat.
 

Jaka Tarub mempunyai seorang anak yang mempunyai kebiasan sejak kecil senang duduk-duduk di pohon Serut yang ada di depan pondok. Ia menghabiskan waktu-waktu luangnya di bawah pohon serut. Ia tidak seperti keempat saudaranya yang senang bermain-main di luar pondok. Karena kebiasaannya itu Jaka Tarub memanggil anaknya itu dengan panggilan Jaka Serut.

Jaka Serut semasa anak-anak suka mengembalakan kambing. Kambing-kambing itu digembalakan di sekitar pondok. Ia membiarkan kambing-kambing itu merumput dan menyiapkan minuman kambing-kambing itu. Kambing-kambing itu selalu menurut pada majikannya. Kambing-kambing itu akan merumput di tempat yang ditunjuk oleh Jaka Serut. Kambing-kambing itu tak akan pergi meninggalkan tempat yang telah ditunjuk oleh tuannya. Kambing-kambing itu menurut perintah majikannya. Ia mengawasi kambing-kambing yang memakan rumput-rumput hijau dan semak-semak yang tumbuh di sekitar pondok sambil duduk-duduk di bawah pohon serut. Bila ia merasa haus, ia mendatangi pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pondok itu. Ia hanya mengarahkan tangannya ke pohon kelapa yang dituju, pohon itu sekonyong-konyong menunduk di hadapan Jaka Serut seperti danyang-danyang yang menyajikan minuman raja atau ratunya. Ia tinggal memetik buah kelapa yang dikehendaki. Dengan isyarat tangannya pohon kelapa itu berdiri seperti sedia kala. Begitu juga bila ia ingin minum legen, ia tinggal mengarahkan telunjuknya ke arah pohon siwalan yang dikehendaki, maka pohon itu akan menunduk di hadapannya dan ia tinggal mengambil betek yang telah diletakkan di pohon itu.
Setelah dewasa Jaka Serut sering membantu dan mewakili Jaka Tarub ayahnya untuk mengasuh santri-santri pondok terutama jika ayahnya sedang berdakwah atau bersilaturrahim ke sanak familinya. Karena dirasa sudah mampu mewakili dan mengasuh pondok ia diserahi oleh ayahnya untuk mengasuh pondok dalam waktu yang lama karena ayahnya ingin bersilaturrahim ke sanak saudaranya di Tuban terutama ke keluarga Sunan Bonang yang telah lama tidak dikunjunginya.
Jaka Serut  menjadi pengasuh Pondok Serut menggantikan kedudukan Jaka Tarub ayahnya yang tinggal di Plumpang Tuban di tempat istrinya kedua Disamping mengasuh Pondok Serut, Jaka Serut juga mendapat tugas dari Jaka Slining embahnya untuk ikut membantu mengasuh Pondok Bonang yang ada di Rembang Jawa Tengah yang didirikan oleh Jaka Slining ketika dalam pengembaraannya. Jaka Siling sudah tua dan tidak kuat lagi pulang pergi dari Pondok Sabilan Ujungpangkah ke Pondok Bonang Rembang untuk mengasuh kedua pondok itu.
Ketika Jaka Serut di Rembang ia didatangi Belanda dan memintanya untuk membantu Belanda memerangi perintang pemerintahan Belanda. Belanda merayunya hingga ia terpedaya dan menuruti kemauan Belanda. Belanda menjebaknya agar ia mau berhadapan dengan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya yang tidak menghendaki kehadiran Belanda di wilayahnya karena menyengsarakan rakyat. Belanda kewalahan dan tidak mampu menghadapi kesaktian dan kedikdayaan Pangeran Diponegoro. Belanda sudah berusaha mencari orang-orang yang sanggup menghadapi Pangeran Diponegoro, namun Belanda tidak menemukan orang yang dapat menandingi kesaktian dan kedikdayaannya Hanya Jaka Serut satu-satunya tokoh yang dapat menandingi kehebatan ilmu Pangeran Diponegoro menurut para tokoh dalam dunia kanuragan yang didatangi Belanda.
Belanda merasa senang karena Jaka Serut bersedia menghadapi perusuh pemerintahannya. Jaka Serut dihadapkan pada Pangeran Diponegoro yang dianggap sebagai perusuh kekuasaannya. Namun, setelah Jaka Serut saling berhadapan dengan Pangeran Diponegoro, Jaka Serut tidak mau memusuhi Pangeran Diponegoro karena yang dihadapi itu bukan perusuh negara seperti yang diceritakan Belanda kepadanya. Jaka Serut tidak mau bermusuhan dengan sesama ulama. Ia sama dengan dirinya sebagai pejuang dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar dan mengembangkan agama Islam. Ia merasa ditipu dan diperdayai oleh Belanda. Ia mengurungkan niatnya membantu Belanda untuk menghadapi Belanda. Ia bersama para santrinya membiarkan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya meninggalkan tempat pertempuran. Ia kembali ke pondoknya bersama para santri yang mengikutinya.
Jaka Serut mengasuh Pondok Bonang Rembang itu dibantu anak bungsunya. Setelah anak bungsunya itu mampu mengasuh pondok itu ia menyerahkan sepenuhnya Pondok Bonang Rembang sepenuhnya kepada anaknya karena Jaka Serut ingin kembali ke Ujungpangkah untuk mengasuh pondoknya di Druju yang ia tinggalkan. Sebelum meninggalkan Rembang ia menanam pohon serut di halaman Pondok Bonang Rembang sebagai tanda dan kenangan bagi anaknya yang ditinggalkannya agar selalu ingat orang tuanya dan seluruh kerabatnya yang ada di Pondok Serut Druju. Bila anaknya melihat pohon serut itu ia akan teringat pohon serut yang ada di Pondok Serut Druju Ujungpangkah.
Jaka Serut kembali ke Ujungpangkah. Sebelum meninggalkan Rembang, ia berpesan kepada putranya agar mengembangkan pondoknya dan tidak melupakan untuk bersilturrahim ke sanak saudara dan alumni santri agar tetap terjalin uhuwah Islamiyah. Sesampai di Ujungpangkah Jaka Serut merasa iba melihat penduduk Ujungpangkah mengalami kelaparan. Mereka kelaparan bukan karena panen gagal. Hasil panen mereka dirampas oleh Belanda. Hasil panen penduduk Ujungpangkah disimpan di gudang penyimpanan milik Belanda. Hatinya terbakar melihat kezaliman Belanda. Penduduk yang bersusah payah menanam, hasilnya tidak ikut menikmati mereka ibarat pohon mangga yang menghasilkan buah-buah mangga namun tidak pernah ikut menikmati buahnya  Ia tidak rela melihat penduduk Ujungpangkah itu mati kelaparan. Mereka kebanyakan adalah keluarganya sendiri. Mereka itu tidak lain keturunan Jayeng Katon buyutnya. Mereka juga santri-santrinya.
Jaka Serut beserta santrinya merencanakan penyerangan ke gudang penyimpanan milik Belanda. Ia memilih santri-santrinya yang sudah menguasai ilmu kanuragan yang diajarkan. Ia menyusun rencana serapi-rapinya agar tidak dicium oleh Belanda. Ia akan mengambil kembali barang-barang milik penduduk yang dirampas Belanda.
Pada malam yang direncanakan Jaka Serut dan para santrinya menyerang markas Belanda. Mereka melakukan penyamaran sehingga tidak diketahui Belanda. Markas Belanda itu diobrak-abrik hingga prajurit-prajurit penjaganya lari tunggang langgang meninggalkan markas dan gudang penyimpanan pangan. Santri-santri Jaka Serut menguras habis isi gudang itu dan membawa ke tempat yang aman. Bahan-bahan pangan itu disimpan di tempat yang tersembunyi dan jauh dari markas Belanda. Secara sembunyi-sembunyi bahan-bahan itu dibagikan kepada penduduk Ujungpangkah yang kelaparan. Para penduduk senang sekali menerima pembagian bahan-bahan makanan itu secara gratis. Para penduduk dipesan agar merahasiakan agar tidak sampai tercium Belanda. Mereka tahu akibatnya bila Belanda mengetahuinya. Jaka Serut puas dapat mengembalikan bahan-bahan makanan penduduk yang dirampas oleh Belanda. Ia mengembalikan kepada yang berhak.
Jaka Serut mengasuh Pondok Serut dibantu oleh keempat anaknya. Disamping mengasuh pondok, ia juga sering berdakwah menyebarkan Islam ke luar daerah. Ia dipanggil Syeh Serut atau Syekh Syarofuddin oleh para pantrinya dan para penduduk karena ketinggian ilmunya dan kealimannya. Usianya dihabiskan demi Islam. Ia berjuang demi Islam hingga akhir hayatnya.
Syeh Serut disemayamkan di bawah pohon serut di depan pondoknya. Ia seperti tidak mau dipisahkan dengan pohon serut. Semenjak kecil pohon itu sebagai tempatnya bernaung sambil mengembalakan kambing-kambingnya hingga akhir hayatnya juga bersemayam di pohon kesayangannya. Pohon itu setia menaunginya pada masa hayatnya hingga akhir hayatnya seakan-akan dirinya menyatu dengan pohon itu. Tak salah jika orang tuanya memanggilnya Serut.
Pesarean Syeh Serut banyak diziarahi oleh masyarakat setempat maupun sanak familinya.. Setiap tahun diadakan acara haul di pesareannya. Masyarakat Ujungpangkah dan sekitarnya memenuhi pesareannya menghadiri acara haul. Juga keturunannya yang berada di berbagai daerah ikut hadir. Bahkan keturunnya di Sarang Rembang Jawa Tengah, keluarga K.H. Maimun Zuber, secara rutin selalu menghadiri acara haulnya pada bulan Safar
Di timur pesarean Syekh Serut terdapat sumur peninggalannya. Sumur itu airnya jernih dan tawar padahal lima meter ke utara merupakan areal pertambakan yang asin airnya. Anehnya lagi permukaan air sumur itu kurang lebih satu sampai dua meter tingginya dari permukaan air pertambakan. Sumur itu belum pernah kering airnya meskipun pada musim kemarau panjang sekalipun.
7 Juli 2012

TONGKAT NABI MUSA A.S.

oleh alifbraja

Di dalam Alqur-an disebutkan bahwa :

1. Tongkatnya Nabi Musa AS. itu bisa jadi ular, yaitu hayawan yang tanpa bapak tanpa ibu.
    Di sini menyampaikan makna bathin bukan makna dhohir. Dan tongkatnya Nabi Musa AS yang bisa jadi ular itu menelan-i ular-ularnya tukang sihir. Ularnya itu :
    1) Panjang
    2) Mlungsungi (ganti kulit)
    Kalau panjangnya dhohir itu panjangnya badan, dan kalau panjangnya Mlungsungi itu panjangnya waktu.
Jadi kalau anda melihat ular itu adalah bukan melihat ularnya, akan tetapi melihat plungsungannya saja, sebab kalau ditinggal ularnya maka yang ada tinggal plungsungannya (kulitnya).
Makanya kalau sudah tua itu mlungsungi, sudah tua muda lagi, sudah tua muda lagi, ini mesti saja hidup terus, karena minum air hidup (banyu urip), ini namanya HIDUP ABADI.
2. Tongkatnya Nabi Musa AS itu bisa menghilangkan banjir.
3. Tongkatnya Nabi Musa AS itu bisa menghilangkan topan.
4. Tongkatnya Nabi Musa AS itu bisa menghilangkan belalang.
5. Tongkatnya Nabi Musa AS itu bisa menghilangkan kutu.
6. Tongkatnya Nabi Musa AS itu bisa menghilangkan kodok (katak)
7. Tongkatnya Nabi Musa a.s. itu bisa menghilangkan darah.
Sebagaimana tersebut dalam Alqur’an :
FA-ARSALNAA ‘ALAIHIMUT TUUFAANA WAL JAROODA WAL KUMMALa WADZ DHOFAADI’A WAD DAMA
Artinya:” Maka Kami kirimkan kepada mereka topan,belalang, kutu, katak dan darah. “ (surat Al A’rof/S.7/ayat 133)
* Pada zaman Raja Fir’aun, didalam mesir itu kedatangan banjir kutu ( di saku, di telinga dll) makan, minum, banyak kutu. Kemudian Fir’aun didemonstrasi oleh kaum Bani Isroil, dan mereka berkata “ jika kamu itu Tuhan, maka hilangkanlah kutu-kutu ini !”...Akan tetapi kenyataannya Fir’aun sendiri kewalahan , lalu ia datang kepada Nabi Musa AS minta pertolongan, dan jika bisa menghilangkannya, maka ia berjanji akan percaya pada Tuhannya Nabi Musa AS
Lalu Nabi Musa AS memberikan pertolongan dengan memukulkan tongkatnya, dan setelah dipukul lalu kutu-kutu itu hilang, akan tetapi ternyata Fir’aun tetap tidak percaya.
* Lalu Allah mengirimkan lagi hayawan kodok (hijau, klawu,dll) seluruh negeri Mesir semua penuh kodok. Dan raja fir’aun didemonstrasi lagi oleh kaum Bani Isroil, lalu ia datang kepada Nabi Musa AS minta pertolongan, dan jika bisa menghilangkannya, maka ia berjanji akan percaya pada Tuhannya Nabi Musa AS.
Lalu Nabi Musa AS memberikan pertolongan dengan memukulkan tongkatnya, dan setelah dipukul lalu kodok-kodok itu hilang, akan tetapi ternyata Fir’aun tetap tidak percaya (tidak Iman lagi).
*Kemudian Allah mengirimkan lagi yaitu darah. Seluruh negeri Mesir (sumur, bengawan Nil, air minum, getah / dadaknya daun-daunan dsb nya ) penuh cairan darah dan baunya arus (amis), hanya di tempat Nabi Musa AS dan pengikutnya yang tidak ada darahnya. Kemudian Fir’aun didemontrasi lagi oleh kaum Bani Isroil dan Fir’aun tidak bisa mengatasi, lalu ia datang kepada Nabi Musa AS minta pertolongan, dan jika bisa menghilangkannya, maka ia berjanji akan percaya pada Tuhannya Nabi Musa AS.
Lalu Nabi Musa AS memberikan pertolongan dengan memukulkan tongkatnya, dan setelah dipukul lalu darah-darah itu hilang, akan tetapi ternyata Fir’aun tetap tidak percaya (tidak Iman lagi).
8. Tongkat Nabi Musa AS bisa untuk memukul batu yang keluar AIR HIDUP, makanya timbul TUBAN. TU asalnya watu (batu), BAN asalnya BANYU (air). Jadi watu metu banyu (batu keluar air).
Makanya dinamakan oleh Sunan Bonang itu TUBAN. Ini asalnya adalah :
IDLRIB BI’ASHOOKAL HAJAR, FAN FAJAROT MINHUTS NATAA ‘ASYROTA ‘AINA
Artinya:”Pukullah dengan tongkatmu kepada batu, maka memancar dari batu itu 12 mata air sumberan-sumberan”. (S.AlBaqoroh/S.2/Ayat 60).
5 Juli 2012

MENGENAL PARA WALI ALLAH

oleh alifbraja

 

Selama ini kita mengenal Wali Allah sebagai orang yang dikeramatkan, dan mampu melakukan hal hal yang luar biasa. Di Pulau Jawa kita mengenal Wali Songo , sembilan orang Kyai yang menyebarkan agama Islam di Pulau jawa yang dikenal mencapai tingkatan para wali. Masing masing wali mempunyai keistimewaan sendiri sendiri. Seperti Sunan Bonang yang menciptakan buah atap (kolang kaling) menjadi butiran emas dihadapan Raden Mas Said yang hendak merampoknya. Sunan Kalijaga membuat tiang utama Masjid Demak dalam semalam dan lain sebagainya.

Dalam kisah hikmah dari berbagai buku kita menemukan banyak tokoh yang ditenggarai sebagai wali Allah dan mampu melakukan hal yang luar biasa, seperti berjalan melipat bumi atau menempuh jarak yang amat jauh hanya dengan sekejap mata. Berjalan diatas air, mendapat makanan dari langit, berbicara dengan binatang buas, tidak terlihat oleh musuh dan lain sebagainya.

Betulkah para wali mempunyai karomah dan mampu melakukan hal yang luar biasa ? . Masih adakah para wali seperti itu dizaman modern ini? Berikut ini kami sampaikan beberapa artikel tentang Wali Allah

1. WALI ALLAH SIAPAKAH MEREKA ?

 

Mulyadi – Muhammad Ibnu Anwar

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang- orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus : 62-63).

Ayat di atas mengandung pengertian bahwa wali Allah (waliyullah) ialah orang yang beriman dan bertakwa.(lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 2 hal 422). (Wali-wali Allah) ialah orang yang beriman kepada hal yang gaib, mendirikan salat, menafkahkan sebagian rezeki yang telah Allah anugerahkan kepadanya. Mereka juga beriman kepada yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW (Al-Qur’an) dan yang diturunkan kepada nabi- nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, serta mereka meyakini adanya hari akhir. Mereka (wali-wali Allah) itu adalah golongan yang mengikuti Nabi Muhammad SAW (lihat Tafsir Tanwiirul Miqbas, hal 4).

Terhadap mereka (wali-wali Allah) terkadang tampak karamah ketika sedang dibutuhkan. Seperti karamah Maryam ketika ia mendapatkan rezeki berupa makanan di rumahnya (QS.3 : 35) (lihat Firqah an Naajiyah Bab 31).

Maka wilayah (kewalian) memang ada. Tetapi ia tidak terjadi kecuali pada hamba yang mukmin, taat dan mengesakan Allah. Adapun karamah tidak menjadi syarat untuk seseorang disebut sebagai wali Allah, sebab syarat demikian tidak diberitakan dalam Al Qur’an.

Tingkat kewalian yang terdapat dalam diri seseorang mukmin sesuai dengan tingkat keimanannya. Para wali Allah yang paling tinggi tingkat kewaliannya adalah para nabi, dan diantara para nabi yang paling tinggi tingkat kewaliannya adalah para rasul, dan diantara para rasul yang paling tinggi tingkat kewaliaanya adalah rasul ulul azmi, dan diantara rasul ulul azmi yang paling tinggi tingkat kewaliannya adalah Rasulullah Muhammad SAW. Maka barangsiapa yang mengaku mencintai Allah dan dekat dengan-Nya (mengaku sebagai wali Allah), tetapi ia tidak mengikuti sunah Rasulullah Muhammad SAW, maka sebenarnya ia bukanlah wali Allah tetapi musuh Allah dan wali setan (lihat Al Furqan, hal 6) .

Apa yang tampak pada sebagian ahli bid’ah seperti memukul-mukulkan besi ke perut, memakan api dan sebagainya dengan tidak menimbulakn cedera apapun, maka itu adalah dari perbuatan setan. Hal yang demikian bukanlah karamah tetapi istidraaj agar mereka semakin jauh tenggelam dalam kesesatan (lihat Firqah an Najitaah Bab 31).

Mengenai hal tersebut, Asy Syeikh Hasyim Al Asy’ari r.a. (tokoh pendiri Nahdlatul Ulama, NU) berkata : “Barangsiapa yang mengaku sebagai wali Allah tanpa mengikuti sunah, maka pengakuannya adalah kebohongan.” (Ad Durar Al Muntasirah, hal 4)

Apa yang dikatakan oleh Asy Syeikh Hasyim Al Asy’ari di atas diperkuat dengan perkataan Imam Asy Syafi’I r.a. : “Jika kalian melihat seseorang yang mampu berjalan di atas air dan terbang di angkasa, maka janganlah kalian tertipu olehnya, sehingga kalian serahkan urusannya kepada Al Qur’an (dan As Sunah)*.”(lihat Syarah Al Aqidah Ath Thahawiyah hal 573) *Maksudnya jika tingkah laku sehari- hari orang tersebut sesuai dengan dengan Al Qur’an dan As Sunah, maka ia adalah seorang wali Allah, tetapi jika tidak sesuai, maka ia adalah seorang wali setan. pen.

Menurut persepsi kebanyak orang, wali adalah orang yang mengetahui ilmu gaib. Padahal ilmu gaib sesuatu yang hanya Allah sendiri yang mengetahuinya. Memang terkadang hal itu ditampakan pada sebagian Rasul-Nya, jika Dia menghendakinya (QS Al Jin : 26-27).

Sebagian orang lagi menyangka bahwa setiap kuburan yang dibangun di atasnya kubah adalah wali. Padahal bisa jadi kuburan tersebut di dalamnya adalah orang fasik, atau bahkan mungkin tad ada manusia yang dikubur di dalamnya.

Seorang wali bukanlah yang dikuburkan di dalam masjid atau yang dibangun di atasnya suatu bangunan atau kubah. Hal itu justru melanggar syari’at Islam, bahkan Rasulullah SAW melarang mengkapur kuburan atau dibangun sesuatu di atasnya (HR. Muslim) (lihat Firqah an Naajiyah Bab 31)

Kesimpulan :
Semua orang yang beriman adalah wali Allah, dan di dalam diri setiap orang yang beriman terdapat tingkat kewalian sesuai dengan tingkat keimanannya. (lihat Mujmal Ushul Ahlissunnah wal Jamaah fi Al Aqidah, pasal 2).

Posting Milis (MediaKita)Manajemen Qolbu No 45


 

 

2. TANDA TANDA WALI ALLAH

 

1. Jika melihat mereka, akan mengingatkan kita kepada Allah swt.

Dari Amru Ibnul Jammuh, katanya:

“Ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Allah berfirman: “Sesungguhnya hamba-hambaKu, wali-waliKu adalah orang-orang yang Aku sayangi. Mereka selalu mengingatiKu dan Akupun mengingai mereka.”

Dari Said ra, ia berkata:

“Ketika Rasulullah saw ditanya: “Siapa wali-wali Allah?” Maka beliau bersabda: “Wali-wali Allah adalah orang-orang yang jika dilihat dapat mengingatkan kita kepada Allah.”

2. Jika mereka tiada, tidak pernah orang mencarinya.

Dari Abdullah Ibnu Umar Ibnu Khattab, katanya:

10 Hadis riwayat Abu Daud dalam Sunannya dan Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I hal. 6

Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Auliya’ dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilya Jilid I hal 6).

“Pada suatu kali Umar mendatangi tempat Mu’adz ibnu Jabal ra, kebetulan ia sedang menangis, maka Umar berkata: “Apa yang menyebabkan engkau menangis, wahai Mu’adz?” Kata Mu’adz: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Orang-orang yang paling dicintai Allah adalah mereka yang bertakwa yang suka menyembunyikan diri, jika mereka tidak ada, maka tidak ada yang mencarinya, dan jika mereka hadir, maka mereka tidak dikenal. Mereka adalah para imam petunjuk dan para pelita ilmu.”

3. Mereka bertakwa kepada Allah.

Allah swt berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhuwatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati Mereka itu adalah orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertaqwa.. Dan bagi mereka diberi berita gembira di dalam kehidupan dunia dan akhirat”13

Abul Hasan As Sadzili pernah berkata: “Tanda-tanda kewalian seseorang adalah redha dengan qadha, sabar dengan cubaan, bertawakkal dan kembali kepada Allah ketika ditimpa bencana.”

4. Mereka saling menyayangi dengan sesamanya.

Dari Umar Ibnul Khattab ra berkata:

Hadis riwayat Nasa’i, Al Bazzar dan Abu Nu’aim di dalam Al Hilyah jilid I hal. 6

Surah Yunus: 62 – 64

Hadisriwayat.Al Mafakhiril ‘Aliyah hal 104

“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya sebahagian hamba Allah ada orang-orang yang tidak tergolong dalam golongan para nabi dan para syahid, tetapi kedua golongan ini ingin mendapatkan kedudukan seperti kedudukan mereka di sisi Allah.” Tanya seorang: “Wahai Rasulullah, siapakah mereka dan apa amal-amal mereka?” Sabda beliau: “Mereka adalah orang-orang yang saling kasih sayang dengan sesamanya, meskipun tidak ada hubungan darah maupun harta di antara mereka. Demi Allah, wajah mereka memancarkan cahaya, mereka berada di atas mimbar-mimbar dari cahaya, mereka tidak akan takut dan susah.” Kemudian Rasulullah saw membacakan firman Allah yang artinya: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati.”

5. Mereka selalu sabar, wara’ dan berbudi pekerti yang baik.

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra bahwa”Rasulullah saw bersabda:

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I, hal 5

“Ada tiga sifat yang jika dimiliki oleh seorang, maka ia akan menjadi wali Allah, iaitu: pandai mengendalikan perasaannya di saat marah, wara’ dan berbudi luhur kepada orang lain.”
Rasulullah saw bersabda: “Wahai Abu Hurairah, berjalanlah engkau seperti segolongan orang yang tidak takut ketika manusia ketakutan di hari kiamat. Mereka tidak takut siksa api neraka ketika manusia takut. Mereka menempuh perjalanan yang berat sampai mereka menempati tingkatan para nabi. Mereka suka berlapar, berpakaian sederhana dan haus, meskipun mereka mampu. Mereka lakukan semua itu demi untuk mendapatkan redha Allah. Mereka tinggalkan rezeki yang halal kerana akan amanahnya. Mereka bersahabat dengan dunia hanya dengan badan mereka, tetapi mereka tidak tertipu oleh dunia. Ibadah mereka menjadikan para malaikat dan para nabi sangat kagum. Sungguh amat beruntung mereka, alangkah senangnya jika aku dapat bertemu dengan mereka.” Kemudian Rasulullah saw menangis kerana rindu kepada mereka. Dan beliau bersabda: “Jika Allah hendak menyiksa penduduk bumi, kemudian Dia melihat mereka, maka Allah akan menjauhkan siksaNya. Wahai Abu Hurairah, hendaknya engkau menempuh jalan mereka, sebab siapapun yang menyimpang dari penjalanan mereka, maka ia akan mendapati siksa yang berat.”

6. Mereka selalu terhindar ketika ada bencana.

Dari Ibnu Umar ra, katanya:

“Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah mempunyai hamba-hamba yang diberi makan dengan rahmatNya dan diberi hidup dalam afiyahNya, jika Allah mematikan mereka, maka mereka akan dimasukkan ke dalam syurgaNya. Segala bencana yang tiba akan lenyap secepatnya di hadapan mereka, seperti lewatnya malam hari di hadapan mereka, dan mereka tidak terkena sedikitpun oleh bencana yang datang.”

Rujukan:-

Hadis riwayat Ibnu Abi Dunya di dalam kitab Al Auliya’

Hadis riwayat Abu Hu’aim dalam kitab Al Hilya

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6

8. Hati mereka selalu terkait kepada Allah.

Imam Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya.. Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan dimanakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka.”

9. Mereka senang bermunajat di akhir malam.

Imam Ghazali menyebutkan: “Allah pernah memberi ilham kepada para siddiq: “Sesungguhnya ada hamba-hambaKu yang mencintaiKu dan selalu merindukan Aku dan Akupun demikian. Mereka suka mengingatiKu dan memandangKu dan Akupun demikian. Jika engkau menempuh jalan mereka, maka Aku mencintaimu. Sebaliknya, jika engkau berpaling dari jalan mereka, maka Aku murka kepadamu. ” Tanya seorang siddiq: “Ya Allah, apa tanda-tanda mereka?” Firman Allah: “Di siang hari mereka selalu menaungi diri mereka, seperti seorang pengembala yang menaungi kambingnya dengan penuh kasih sayang, mereka merindukan terbenamnya matahari, seperti burung merindukan sarangnya. Jika malam hari telah tiba tempat tidur telah diisi oleh orang-orang yang tidur dan setiap kekasih telah bercinta dengan kekasihnya, maka mereka berdiri tegak dalam solatnya. Mereka merendahkan dahi-dahi mereka ketika bersujud, mereka bermunajat, menjerit, menangis, mengadu dan memohon kepadaKu. Mereka berdiri, duduk, ruku’, sujud untukKu. Mereka rindu dengan kasih sayangKu. Mereka Aku beri tiga kurniaan: Pertama, mereka Aku beri cahayaKu di dalam hati mereka, sehingga mereka dapat menyampaikan ajaranKu kepada manusia. Kedua, andaikata langit dan bumi dan seluruh isinya ditimbang dengan mereka, maka mereka lebih unggul dari keduanya. Ketiga, Aku hadapkan wajahKu kepada mereka. Kiranya engkau akan tahu, apa yang akan Aku berikan kepada mereka?”

Rujukan:-

Nahjul Balaghah hal 595 dan Al Hilya jilid 1 hal.. 80

Ihya’ Ulumuddin jilid IV hal 324 dan Jilid I hal 358

10. Mereka suka menangis dan mengingat Allah.

‘Iyadz ibnu Ghanam menuturkan bahwa ia pernah mendengar Rasulullah saw bersabda: “Malaikat memberitahu kepadaku: “Sebaik-baik umatku berada di tingkatan-tingkatan tinggi. Mereka suka tertawa secara terang, jika mendapat nikmat dan rahmat dari Allah, tetapi mereka suka menangis secara rahsia, kerana mereka takut mendapat siksa dari Allah. Mereka suka mengingat Tuhannya di waktu pagi dan petang di rumah-rumah Tuhannya. Mereka suka berdoa dengan penuh harapan dan ketakutan. Mereka suka memohon dengan tangan mereka ke atas dan ke bawah. Hati mereka selalu merindukan Allah. Mereka suka memberi perhatian kepada manusia, meskipun mereka tidak dipedulikan orang. Mereka berjalan di muka bumi dengan rendah hati, tidak congkak, tidak bersikap bodoh dan selalu berjalan dengan tenang. Mereka suka berpakaian sederhana. Mereka suka mengikuti nasihat dan petunjuk Al Qur’an. Mereka suka membaca Al Qur’an dan suka berkorban. Allah suka memandangi mereka dengan kasih sayangNya. Mereka suka membahagikan nikmat Allah kepada sesama mereka dan suka memikirkan negeri-negeri yang lain. Jasad mereka di bumi, tapi pandangan mereka ke atas. Kaki mereka di tanah, tetapi hati mereka di langit. Jiwa mereka di bumi, tetapi hati mereka di Arsy. Roh mereka di dunia, tetapi akal mereka di akhirat. Mereka hanya memikirkan kesenangan akhirat. Dunia dinilai sebagai kubur bagi mereka. Kubur mereka di dunia, tetapi kedudukan mereka di sisi Allah sangat tinggi. Kemudian beliau menyebutkan firman Allah yang artinya: “Kedudukan yang setinggi itu adalah untuk orang-orang yang takut kepada hadiratKu dan yang takut kepada ancamanKu.”

11. Jika mereka berkeinginan, maka Allah memenuhinya.

Dari Anas ibnu Malik ra berkata: “Rasul saw bersabda: “Berapa banyak manusia lemah dan dekil yang selalu dihina orang, tetapi jika ia berkeinginan, maka Allah memenuhinya, dan Al Barra’ ibnu Malik, salah seorang di antara mereka.”

Ketika Barra’ memerangi kaum musyrikin, para sahabat: berkata: “Wahai Barra’, sesungguhnya Rasulullah saw pernah bersabda: “Andaikata Barra’ berdoa, pasti akan terkabul. Oleh kerana itu, berdoalah untuk kami.” Maka Barra’ berdoa, sehingga kami diberi kemenangan.

Di medan peperangan Sus, Barra’ berdo’a: “Ya Allah, aku mohon, berilah kemenangan kaum Muslimin dan temukanlah aku dengan NabiMu.” Maka kaum Muslimin diberi kemenangan dan Barra’ gugur sebagai syahid.

Rujukan:-

Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Hilya jilid I, hal 16

12. Keyakinan mereka dapat menggoncangkan gunung.

Abdullah ibnu Mas’ud pernah menuturkan:

“Pada suatu waktu ia pernah membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan”, pada telinga seorang yang pengsan. Maka dengan izin Allah, orang itu segera sedar, sehingga Rasuulllah saw bertanya kepadanya: “Apa yang engkau baca di telinga orang itu?” Kata Abdullah: “Aku tadi membaca firman Allah: “Afahasibtum annamaa khalaqnakum ‘abathan” sampai akhir surah.” Maka Rasul saw bersabda: “Andaikata seseorang yakin kemujarabannya dan ia membacakannya kepada suatu gunung, pasti gunung itu akan hancur.”

- Hadis riwayat Abu Nu’aim dalam Al Hilya jilid I hal 7

3. HAKIKAT SAKIT SEORANG WALI ALLAH

 

Suatu hari aku berziarah kepada Guruku. Saat itu Beliau sedang terbaring di opname dirumah sakit. Bersyukur sekali dalam kedaan darurat aku di izinkan untuk langsung bertemu Beliau. Aku masih ingat saat itu aku menangis lama melihat Guruku yang selama ini gagah dan sehat terbaring lemah di kamar rumah sakit. Aku masuk kekamar dengan pelan agar tidak mengganggu istrahat Beliau. Beliau melirik ke arahku dan berkata:

Kapan kau datang?

Baru 1 jam yang lalu Guru

Kemudian Beliau menatap langit-langit kamar seakan ingin mengatakan sesuatu tapi tidak sempat keluar dari mulut Beliau. Dalam hatiku berkata, bagaimana mungkin seorang wali Allah bisa sakit, padahal segala jenis penyakit sembuh berkat doa dan syafaat Beliau. Saat aku sedang mengucapkan itu dalam hati, kemudia Beliau menoleh kepadaku dan berkata:

Sufi Muda, rohani Gurumu itu tidak pernah sakit karena dia berasal dari Yang Maha Sehat dan akan terus mengalirkan syafaat serta terus menerus menyalurkan rahmat dan karunia Allah lewat dadanya, akan tetapi fisik Gurumu akan tunduk kepada Firman Afaqi sesuai dengan hukum-hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan. Salah satu sifat dari Nabi adalah HARUS dia seperti manusia biasa. Kalau Nabi terkena api harus dirasakan panas seperti layaknya manusia begitu juga kalau nabi berjalan di tengah malam akan merasakan dingin. Begitu juga berlaku kepada wali-Nya, akan tunduk kepada hukum alam ini. Sifat HARUS seperti manusia itu juga salah satu cara Tuhan menyembunyikan Kekasih-Nya dari pandangan dunia ini. Junjungan kita Nabi Muhammad SAW berani dilempari kotoran unta dikarenakan orang kafir terhijab oleh hijab Insani”.

Aku hanya diam di sudut ranjang, menatap mata Guru yang amat aku sayangi dan setiap pertemuan aku dengan Guruku selalu aku rasakan hal baru yang sangat sulit diungkapkan dengan kata-kata. Benar sekali apa yang dikemukan oleh para sufi bahwa bertemu dengan Guru Mursyid itu adalah satu karunia Allah yang sangat besar. Saat menatap mata Beliau seakan-akan ruhani ini terbawa melayang langsung ke Alam Rabbani. Salah satu hadab bertemu dengan Guru adalah tidak diperkenankan kita banyak berbicara dan baiknya hanya mendengar dan ketika ditanya oleh Guru haruslah menjawabnya dengan bahasa yang sopan dan dalam hati terlebih dahulu harus memperbanyak Istikhfar, memohon ampun kepada-Nya agar dalam mengucapkan kata-kata kepada Guru nanti tidak disusupi oleh nafsu dan setan.

Dalam hatiku kembali timbul pertanyaan, bukankah Guru bisa berdoa kepada Allah agar disembuhkan dari penyakit ini? Sebagai Wali Allah tentu saja Beliau bisa mendengar suara hatiku, tiba-tiba guruku berkata, “Tidak seperti itu Sufimuda….

Pernahkah kau mendengar kisah tentang Nabi Ayyub?

Pernah Guru

Apa yang kau ketahui tentang Nabi Ayyub?

Nabi Ayyub adalah nabi yang paling banyak mengalami sakit, Guru” jawabku.

Kemudian Beliau dengan senyum berkata, “Nabi Ayyub, sakit-sakitan dia, kemudian dia berdoa kepada Allah, ‘Ya Allah sembuhkanlah penyakitku ini’, kemudian Allah berfirman, ‘Apa kau ucapkan Ayyub?’ nabi Ayyyub kembali mengulang do’anya: ‘tolong sembuhkanlah penyakitku ini’ dengan marah Tuhan berkata kepada Nabi Ayyub: ‘Hai Ayyub, sekali lagi kau berdo’a seperti itu aku tampar engkau nanti’ Kemudian dengan polosnya nabi Ayyub bertanya kepada Allah: ‘Ya Allah, berarti engkau senang kalau aku sakit?’ dengan tegas Allah menjawab: ‘Ya, Aku senang kau sakit’. Setelah Nabi Ayyub tahu Tuhan senang kalau dia sakit maka diapun dengan senang menjalani sakitnya itu. Setiap dia mau ambil wudhuk dia pindahkan ulat yang ada di badannya dan setelah selesai beribadah kembali diambil ulat tadi diletakkan di badannya sambil berkata kepadda ulat, ‘hai ulat, kembali kau kesini, Tuhan senang aku sakit’. Begitulah yang dialami nabi Ayyub, maka Gurumu ada persamaan seperti itu”.

Sambil minum segelas air putih kembali Beliau berkata kepadaku, “Aku sudah berjanji kepada Tuhan agar terus memuja-Nya dan berdakwah, makanya setiap aku cerita tentang Tuhan maka badanku terasa enak”.

Sufi Muda….

Saya Guru…

Suatu saat nanti kau pasti tahu kenapa aku sakit, silahkan baca dan renungi 2 ayat terakhir dari surat at-Taubah, disana kau menemukan jawabannya. Bacalah Laqadjaakum dengan pelan dan mesra jangan seperti burung beo yang tidak pernah tahu makna dari ucapannya”.

Kemudian Beliau membacakan surat at-Taubah sambil menangis, “Laqadjaakum Rasulun min anfusikum, azizun alaihi ma anittum, harisun alaikum bil mukminina raufur rahim….

Aku merasakan dadaku bergemuruh dan berguncang hebat mendengar ayat yang Beliau bacakan. Serasa rontok dada ini, dan seluruh tubuh berguncang hebat, aku menangis dengan sejadi-jadinya. Apalagi Beliau membacakan arti ayat tersebut, “…. Berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin….

Sungguh lama aku tenggelam dalam tangisan sambil menatap wajah Guruku yang mulia. Firman Allah yang dibacakan oleh kekasih Allah sangat berbeda dengan ayat Allah yang dibacakan oleh pada umumnya orang. Benar seperti yang dikemukan oleh Para Syekh Besar bahwa apabila Wali-Nya membacakan ayat-Nya pastilah Dia hadir menyertai bacaan Kekasih-Nya.

Aku memangis menyesali diri yang selama ini hanya menjadi beban Guru, hanya bisa meminta tapi belum bisa memberi, hanya bisa membebani belum bisa berbhakti, hanya mementingkan diri sendiri tanpa mau peduli, hanya mengharapkan kasih sayang tanpa mau menyayangi.

Sufi Muda….

Saya Guru…

Jangan pernah engkau patah semangat kalau melihat Gurumu seperti ini, seluruh dokter di dunia ini tidak akan bisa menyembuhkan sakitku ini. Tuhan ingin menunjukkan kebesaran-Nya. Dan Tuhan sekarang sedang bekerja ke arah sana. Yang kau lihat keramat dan gagah dalam nyata dan mimpimu itu bukanlah aku, tapi itu adalah pancarahan dari Nur Ilahi. Aku hanyalah seorang hamba yang tiada berdaya. Muridku….yang Hebat itu Tuhan saja

Kemudian Beliau membacakan surat Al-Mujaadilah ayat 21: “Kataballahu La Aghlibanna anaa wa rusulii, innallahaa qawiyum ‘azii zun (Allah telah menetapkan, bahwa tiada kamus kalah bagi Ku dan rasul-rasul-Ku. Sesungguhnya Allah Maha Kuat dan Maha Gagah”.

Ketika aku berpamitan sambil mencium tangannya

Barulah aku tahu bahwa sakit seorang Wali itu bukan sakit biasa akan tetapi sakit karunia. Sakit menanggung beban dari orang-orang yang selalu bersamanya bahkan beban dunia ini. Seminggu kemudian Beliau sembuh, sehat wal afiat bahkan lebih sehat seperti sebelumnya. Terimakasih Tuhan atas berkenannya Engkau mengabulkan do’aku sehingga Guruku sehat kembali.

Ya Tuhan,

Berilah panjang umur dan kesehatan kepada Guruku agar beliau lebih lama lagi membimbing dan menuntun aku yang bodoh dan dungu ini ke jalan-Mu yang Maha lurus.

Ya Tuhan,

Andai masih ada karunia berupa kesenangan dunia yang kelak akan Engkau berikan sepanjang hidupku, berikanlah kesenangan itu kepada Guruku agar Beliau selalu bahagia dan sejahtera.

Ya Tuhan,

Jadikanlah aku orang yang selalu bisa merasakan apa yang dirasakan Guruku, senyumnya menjadi senyumku, deritanya menjadi deritaku, kepedihannya menjadi kepedihanku agar aku bisa mengerti makna dan tujuan hidup di dunia ini.

Ya Tuhan,

Jangan engkau memasukkan aku kedalam orang-orang yang merasa dekat kepada kekasih-Mu yang tanpa sadar justru lebih banyak menyakiti hatinya. Janganlah aku menyayangi kekasih-Mu seperti sayangnya anak kecil kepada seekor kuncing yang terus menerus didekap dalam pelukannya sehingga kucing itu sulit bernafas dan akhirnya mati. Jadikanlah rasa sayangku kepada Guruku sebagaimana Ia ingin disayang.

Ya Tuhan,

Ajari aku yang bodoh, lemah dan tiada berdaya ini untuk bisa mencintai kekasih-Mu sebagaimana ia ingin dicintai.

Ya Tuhan,

Izinkanlah aku bisa terus bersama kekasih-Mu dan bisa melayaninya dengan baik.

Ya Tuhan

Perkenankanlah doaku ini….

Koeta Radja, 9 Maret ’09

 

4. ‘UWAIYS AL – QARANI – WALI ALLAH YANG TERSEMBUNYI

 

“Wali-Wali Allah tidak berkata: ‘ikuti saya’ tapi berkata: ‘Ikuti Allah dan Rasul-Nya!’ Siapa yang terbuka hatinya mengikuti mereka.
Wali-Wali Allah tersembunyi, bukan fisiknya tapi Maqom Spiritualnya
[tersembunyi] dari orang-orang yang buta matahatinya.
Banyak yang ingin mendekati Allah tapi menjauhi para wali-Nya.
Pemuka para wali adalah para Nabi dan Sahabat Rasulullah Saw.
Sultan para wali adalah Nabiyur-Rahmah Muhammad Saw.
yang melalui beliau mengalir ilmu-ilmu Hakikat Allah
dari “hati spiritual” ke “hati spiritual” para hamba-Nya yang mukhlisin.”
– Dikutip dari kata-kata mutiara Wiyoso Hadi -

Disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah ra, bahwa Rasulullah SAW (ShollaLlahu ‘Alayhi Wassalam) bersabda: “Sesungguhnya Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Tinggi mencintai di antara makhluk-Nya orang-orang pilihan, (mereka) tersembunyi, taat, rambut mereka acak-acakan, wajah mereka berdebu dan perut mereka kelaparan. Jika meminta izin kepada pemimpin ditolak. Jika melamar wanita cantik tidak diterima. Jika mereka tak hadir tak ada yang kehilangan dan jika hadir tak ada yang merasa bahagia atas kehadirannya. Jika sakit tak ada yang mengunjunginya dan jika mati tak ada yang menyaksikan jenazahnya.”

Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, contohkan pada kami salahsatu dari mereka?” Beliau SAW menjawab: “Itulah ‘Uways al-Qarani.” Para sahabat bertanya kembali: “Seperti apakah ‘Uways al-Qarani?” Beliau SAW menjawab: “Matanya berwarna hitam kebiru-biruan, rambutnya pirang, pundaknya bidang, postur tubuhnya sedang, warna kulitnya mendekati warna tanah (coklat-kemerahan), janggutnya menyentuh dada (karena kepalanya sering tertunduk hingga janggutnya menyentuh dada), pandangannya tertuju pada tempat sujud, selalu meletakkan tangan kanannya di atas tangan kiri, menangisi (kelemahan) dirinya, bajunya compang-camping tak punya baju lain, memakai sarung dan selendang dari bulu domba, tidak dikenal di bumi namun dikenal oleh penduduk langit, jika bersumpah (berdo’a) atas nama Allah pasti akan dikabulkan. Sesungguhnya di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Sesungguhnya kelak di hari kiamat, diserukan pada sekelompok hamba, “Masukklah ke dalam surga!” Dan diserukan
kepada ‘Uways, “Berhenti, dan berikanlah syafa’at!” Maka Allah memberikan syafa’at sebanyak kabilah Rabi’ah dan Mudhar.”

“Wahai ‘Umar, wahai `Ali! Jika kalian berdua menemuinya, mintalah padanya agar memohonkan ampun bagi kalian berdua, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua.” Maka mereka berdua mencarinya selama sepuluh tahun tetapi tidak berhasil. Ketika di akhir tahun sebelum wafatnya, ‘Umar ra berdiri di gunung Abu Qubais, lalu berseru dengan suara lantang: “Wahai penduduk Yaman, adakah di antara kalian yang bernama ‘Uways?”

Bangkitlah seorang tua yang berjenggot panjang, lalu berkata: “Kami tidak tahu ‘Uways yang dimaksud. Kemenakanku ada yang bernama ‘Uways, tetapi ia jarang disebut-sebut, sedikit harta, dan seorang yang paling hina untuk kami ajukan ke hadapanmu. Sesungguhnya ia hanyalah penggembala unta-unta kami, dan orang yang sangat rendah (kedudukan sosialnya) di antara kami. Demi Allah tak ada orang yang lebih bodoh, lebih gila (lebih aneh/nyentrik), dan lebih miskin daripada dia.”

Maka, menangislah ‘Umar ra, lalu beliau berkata: “Hal itu (kemiskinan & kebodohan spiritual) ada padamu, bukan padanya. Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Kelak akan masuk surga melalui syafa’atnya sebanyak kabilah Rabi`ah dan Mudhar.” Maka ‘Umar pun memalingkan pandangan matanya seakan-akan tidak membutuhkannya, dan berkata: Dimanakah kemenakanmu itu!? Apakah ia ada di tanah haram ini?” “Ya,” jawabnya. Beliau bertanya: “Dimanakah tempatnya?” Ia menjawab: “Di bukit ‘Arafat.” Kemudian berangkatlah ‘Umar dan ‘Ali ra dengan cepat menuju bukit ‘Arafat. Sampai di sana, mereka mendapatkannya dalam keadaan sedang shalat di dekat pohon dan unta yang digembalakannya di sekitarnya. Mereka mendekatinya, dan berkata: “Assalamu’alayka wa rahmatullah wa barakatuh.” ‘Uways mempercepat shalatnya dan menjawab salam mereka.

Mereka berdua bertanya: “Siapa engkau?” Ia menjawab: “Penggembala unta dan buruh suatu kaum.” Mereka berdua berkata: “Kami tidak bertanya kepadamu tentang gembala dan buruh, tetapi siapakah namamu?” Ia menjawab: ” `Abdullah (hamba Allah).” Mereka berdua berkata: “Kami sudah tahu bahwa seluruh penduduk langit dan bumi adalah hamba Allah, tetapi siapakah nama yang diberikan oleh ibumu?” Ia menjawab: “Wahai kalian berdua, apakah yang kalian inginkan dariku?”

Mereka berdua menjawab: “Nabi SAW menyifatkan kepada kami seseorang yang bernama ‘Uways al-Qarani. Kami sudah mengetahui akan rambut yang pirang dan mata yang berwarna hitam kebiru-biruan. Beliau SAW memberitahukan kepada kami bahwa di bawah pundak kirinya terdapat belang putih. Tunjukkanlah pada kami, kalau itu memang ada padamu, maka kaulah orangnya. Maka ia menunjukkan kepada mereka berdua pundaknya yang ternyata terdapat belang putih itu. Mereka berdua melihatnya seraya berkata: “Kami bersaksi bahwasannya engkau adalah ‘Uways al-Qarani, mintakanlah ampunan untuk kami, semoga Allah mengampunimu.”

Ia menjawab: “Aku merasa tidak pantas untuk memohon ampun untuk anak cucu Adam (‘alayhis-salam), tetapi di daratan dan lautan (di kapal yang sedang berlayar) ada segolongan laki-laki maupun wanita mu’min (beriman) dan muslim yang doanya diterima.” ‘Umar dan ‘Ali ra berkata: “Sudah pasti kamu yang paling pantas.”

‘Uways berkata: “Wahai kalian berdua, Allah telah membuka (rahasia spiritual) dan memberitahukan keadaaan (kedudukan spiritual)ku kepada kalian berdua, siapakah kalian berdua?” Berkatalah `Ali ra: “Ini adalah ‘Umar ‘Amir al-Mu’minin, sedangkan aku adalah `Ali bin Abi Thalib.” Lalu ‘Uways bangkit dan berkata: “Kesejahteraan, rahmat dan keberkahan Allah bagimu wahai ‘Amir al-Mu’minin, dan kepadamu pula wahai putra ‘Abi Thalib, semoga Allah membalas jasa kalian berdua atas umat ini dengan kebaikan.” Lalu keduanya berkata: “Begitu juga engkau, semoga Allah membalas jasamu dengan kebaikan atas dirimu.”

Lalu ‘Umar ra berkata kepadanya: “Tetaplah di tempatmu hingga aku kembali dari kota Madina dan aku akan membawakan untukmu bekal dari pemberianku dan penutup tubuh dari pakaianku. Di sini tempat aku akan bertemu kembali denganmu.”

Ia berkata: “Tidak ada lagi pertemuan antara aku denganmu wahai ‘Amir al-Mu’minin. Aku tidak akan melihatmu setelah hari ini. Katakan apa yang harus aku perbuat dengan bekal dan baju darimu (jika engkau berikan kepadaku)? Bukankah kau melihat saya (sudah cukup) memakai dua lembar pakaian terbuat dari kulit domba? Kapan kau melihatku merusakkannya! Bukankah kau mengetahui bahwa aku mendapatkan bayaran sebanyak empat dirham dari hasil gembalaku? Kapankah kau melihatku menghabiskannya? Wahai ‘Amir al-Mu’minin, sesungguhnya dihadapanku dan dihadapanmu terdapat bukit terjal dan tidak ada yang bisa melewatinya kecuali setiap (pemilik) hati (bersih-tulus) yang memiliki rasa takut dan tawakal (hanya kepada Allah), maka takutlah (hanya kepada Allah) semoga Allah merahmatimu.”

Ketika ‘Umar ra mendengar semua itu, ia menghentakkan cambuknya di atas tanah. Kemudian ia menyeru dengan suara lantang: “Andai ‘Umar tak dilahirkan oleh ibunya! Andai ibuku mandul tak dapat hamil! Wahai siapa yang ingin mengambil tampuk kekhilafahan ini?” Kemudian ‘Uways berkata: “Wahai ‘Amir al-Mu’minin, ambillah arahmu lewat sini, hingga aku bisa mengambil arah yang lain.” Maka ‘Umar ra berjalan ke arah Madina, sedangkan ‘Uways menggiring unta-untanya dan mengembalikan kepada kaumnya. Lalu ia meninggalkan pekerjaan sebagai penggembala dan pergi ke Kufah dimana ia mengisi hidupnya dengan amal-ibadah hingga kembali menemui Allah.

5. SEPUTAR RAHASIA WALI ALLAH

 

Inna auliya allahi la khaufun ‘alaihim walaa hum yahzanuun. Begitulah penegasan Allah tentang hakekat jiwa para wali, bahwa mereka tidak akan dirundung takut dan sedih. Tak heran bila kita melihat perjalanan hidup para wali sanga dan para wali jaman mutakhir, semisal KH Moch. Cholil Bangkalan, KH Abdul Hamid Pasuruan, KH Chamin Jasuli (Gus Mik) dan beberapa auliya’ lainnya, mereka tidak kenal rasa takut dan sedih, sebab hidup dan mati mereka memang untuk dan bagi Allah semata. Hanya saja, bagaimanapun dunia wali adalah dunia penuh rahasia.

Terkait dengan rahasia wali Allah itu, Imam Abu Hamid Muhammad Al Ghazali menulis sebuah cerita dalam Mukasayafat Al-Qulub. Alkisah, seorang bangsawan berjalan jalan di pasar budak. Matanya tertarik pada seorang budak bertubuh kekar. Lalu ia bertanya kepada budak itu, “Maukah kau bekerja untukku? Aku lihat kau mempunyai keterampilan yang aku butuhkan”. Dengan tenang budak itu menjawab, “ Aku mau bekerja untuk siapapun dengan dua syarat.” “Apa itu syaratmu anak muda?”, tanya sang bangsawan penasaran. “Dua syaratku adalah : pertama, aku hanya bekerja siang hari, jangan suruh aku bekerja malam hari dan kedua, aku tidak mau tinggal satu rumah denganmu, beri aku tempat tinggal yang lain.” Mendengar ini, timbul rasa penasaran di hati bangsawan, ia pun berniat untuk mempekerjakan budak itu, apalagi si budak memenuhi kriterianya.

Singkat cerita dibawalah budak itu ke rumah sang bangsawan. Ia diizinkan untuk tinggal di sebuah gubuk di sebelah rumah mewah bangsawan. Lalu dimulailah hari-hari sang budak bekerja bagi majikan barunya. Segala sesuatu berjalan apa adanya. Si budak bekerja di siang hari menjalankan tugas tugasnya sampai majikannya sangat puas terhadapnya. Ingin rasanya majikan itu memintanya kerja juga di malam hari walaupun hanya untuk pekerjaan ringan, tetapi ia teringat akan syarat pertama si budak. Dan ia merasa berkecukupan dengan kerja baik si budak itu pada siang hari.

Semuanya berjalan lancar sampai pada suatu saat ketika istri si bangsawan merasa ingin memberi hadiah atas kerja keras budak itu. Tanpa sepengetahuan suaminya, malam hari istri bangsawan itu membawakan sesuatu buat si budak. Ia menyelinap masuk ke dalam gubuk. Ia terkejut manakala menemukan budak itu telungkup sujud. Di atasnya bergayut lingkaran putih bercahaya.

Melihat ini, istri bangsawan segera berlari menemui suaminya dan berkata, “Wahai suamiku, sesungguhnya budak itu adalah seorang wali Allah !”. Dengan segera pasangan suami istri itu bergegas menemui si budak. Apa jawab budak itu ketika bertemu mereka ? Ia hanya menjawab singkat, “Bukankah sudah aku minta agar kalian tidak menggangguku di malam hari ?” Lalu ia menengadahkan tangannya ke langit seraya menggumankan sebuah syair yang artinya : “Wahai pemilik rahasia, sesungguhnya rahasia ini sudah terungkap, maka tak kuinginkan lagi hidup ini setelah rahasia ini tersingkap”. Tak lama setelah membacakan syair ini, si budak pun sujud dan menghembuskan nafasnya yang terakhir, meninggalkan suami istri itu dalam keheranan.

Cerita dari Imam Ghazali itu mengantarkan kita kepada beberapa hal, diantaranya bahwa kita sebagai manusia biasa tidak mengetahui begitu saja bahwa seseorang adalah wali Allah dan seseorang yang lain bukan . Menurut para sufi, la ya’rifal-wali illa al-wali, tidak akan mengetahui seorang wali selain wali Tuhan yang lainnya.

 

Demikianlah beberapa artikel tentang wali Allah dan tanda tandanya, mudah mudahan menambah wawasan dan meningkatkan motivasi kita untuk mendekatkan diri pada Allah. Dalam surat Al Waqiah ayat 10-14 disebutkan bahwa para Wali Allah adalah orang yang dekat dengan Allah (Al Mukarrobuun), mereka itu sebagian besar orang zaman dahulu dan sebagian kecil dari orang zaman sekarang (kemudian).

10. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu, 11. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. 12. Berada dalam jannah kenikmatan13. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, 14. dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian (Al Waqiah 10-14)

Mari kita berlomba lomba untuk mendapatkan derajat Aulia Allah ataupun Al Muqarrobun seperti yang disebutkan dalam surat Al Waqiah tersebut diatas.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 141 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: