Posts tagged ‘wali allah’

25 Oktober 2012

Mawar Rum Yang Menari

oleh alifbraja

Maulana Rumi: Mawar Rum Yang Menari

Persia yang amat terkenal di seluruh dunia – kepopulerannya menembus ke wilayah nonMuslim dan mengilhami banyak penyair muslim maupun nonmuslim, dari golongan Sufi hingga penyair profan. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa mulai dari dunia wilayah Timur hingga Barat. Pesan-pesan spiritual dan cinta-mistisnya diakui amat relevan disegala zaman, bahkan hingga di dunia kontemporer yang materialistis. Badan PBB UNESCO bahkan menetapkan tahun 2007 sebagai “Tahun Rumi.” Para pengikutnya mengabadikan ajaran-ajarannya dengan mendirikan Tarekat Maulawiyyah, yang terkenal dengan “tarian gasing.”

 

Kekasih memancarkan cahaya laksana mentari
Para pecinta berputar mengelilinginya laksana atom
Ketika angin musim semi cinta mulai berhembus
Setiap ranting yang belum kering turut menari

-          Maulana Rumi

 

Maulana Jalaluddin Muhammad ibn Husayn al-Khatibi al-Bahri al-Rumi lahir pada 30 September 1207 (6 Rabiul Awwal 604 H) di Balkh, Khurasan (Afghanistan sekarang). Ayahnya adalah Bahauddin Walad, seorang ulama Sufi yang berpengaruh. Menurut sebagian tradisi, Maulana Rumi masih keturunan dari Sayyidina Abu Bakar ra. dari jalur ayahnya ini. Ibunya adalah Mu’min Khatun, yang masih keturunan bangsawan Dinasti Khawarizmi yang berkuasa di Bukhara pada saat itu. Sejak kecil Maulana Rumi telah memiliki keistimewaan: beliau bisa melihat alam malakut dan bertemu dengan ruh-ruh Nabi dan orang-orang suci. Saat berusia lima atau enam tahun Rumi, ketika sedang bermain dengan anak-anak lainnya, beliau mendadak lenyap – beliau dibawa naik ke langit oleh malaikat untuk melihat-lihat alam samawi. Seperti banyak Wali Allah lainnya, sejak kecil Maulana Rumi sudah sering berpuasa. Beliau sejak usia enam tahun-an sering membaca surat al-Kautsar dan menangis dan mengalami penyingkapan spiritual. Ketika Rumi berusia sekitar tujuh tahun, ayahnya menerima ilham ilahi yang memerintahkannya untuk pindah dari Balkh. Keluarga Rumi kemudian hijrah ke Khurasan, Nisyapur, Baghdad, Mekah, Damaskus dan kemudian menetap di Konya, yang saat itu merupakan ibu kota Kesultanan Saljuk. Konon saat berada di Nisyapur Syekh Bahauddin Walad bertemu dengan Sufi termasyhur FARIDUDDIN ATTHAR. Ketika beliau melihat Maulana Rumi berjalan di belakang ayahnya, Atthar berseru, “Alangkah menakjubkan! Sungai menarik samudera di belakanganya.” Maulana Rumi menikah pada usia 18 tahun. Putra pertama mereka, Sultan Walad, lahir sekitar 1226 di Laranda, sedang putra keduanya, Alauddin lahir di Konya sekitar tahun 1228 atau 1229.

Di Konya Syekh Bahauddin Walad diangkat menjadi ulama utama oleh Sultan Saljuk. Maulana Rumi bertindak mendampingi ayahnya menjadi pengajar umat. Pada 1231 sang ayah meninggal dunia. Setahun sesudah ayahnya meninggal dunia, datanglah seorang Wali Allah bernama Syekh Burhanuddin Muhaqqiq, yang juga murid Syekh Bahauddin Walad. Kepadanyalah Maulana Rumi mendalami ajaran spiritual atau Tasawuf. Di bawah bimbingannya Maulana Rumi melakukan suluk selama 40 hari malam. Sesudah  40 hari, Burhanuddin memasuki ruang khalwatnya, namun beliau menjumpai Maulana Rumi masih tenggelam dalam tafakurnya dan tak merespon sapaannya. Kemudian pada periode 40 hari kedua Maulana Rumi muncul dari kamarnya dengan tersenyum setelah mendapat pencerahan spiritual. Melalui bimbingan Syekh Burhanuddin ini Maulana Rumi mendalam kitab Ma’arif karya ayahnya. Rumi kemudian melanjutkan pendidikan syariat dan fiqh ke Aleppo dibawah bimbingan ulama dan qadhi mazhab Hanafi yang termasyhur, Kamaluddin ibn Al-Adim. Selama belajar di sini Maulana Rumi sering menghilang di waktu malam. Pada suatu malam Kamaluddin membuntuti Maulana Rumi berjalan ke luar gerbang kota. Di suatu tempat Kamaluddin melihat bangunan besar berkubah, yang dipenuhi dengan Wali-wali Allah yang berjubah hijau – dan Kamaluddin pun pingsan.

Saat belajar di Aleppo, Maulana Rumi beberapa kali pergi ke Damaskus. Suatu ketika Syekh Burhanuddin menyuruh Rumi berpuasa selama sembilan hari. Pada hari kesembilan, Syekh Burhanuddin mengajaknya ke sebuah pasar di Damaskus. Mendadak seorang pengemis, dengan jenggot kelabu dan mata liar bercahaya, menghadang jalannya, meminta sedekah. Pada awalnya Maulana Rumi terkejut dan ingin lari, namun dicegah oleh Syekh Burhanuddin, yang kemudian menyuruhnya memberi sedekah kepada pengemis itu. Ketika Maulana Rumi memberi sedekah, pengemis itu mendekat dan berbisik di telinganya, “Manfaatkan hidupmu sebaik-baiknya, atau akau akan merampasnya.” Lalu pengemis itu mendadak memeluk Syekh Burhanuddin, menjunjungnya dan mulai berputar seperti gasing. Jubahnya melambai mengembang berputar. Lalu pengemis itu pergi dan menghilang. Inilah pertemuan pertama Maulana Rumi dengan SYAMSUDDIN TABRIZ, Wali Allah pengembara yang kelak mengubah seluruh arah hidup Maulana Rumi.

Setelah sekitar delapan tahun memperdalam ilmu, Maulana Rumi kembali ke Konya dan kembali mengajar, dan setelah itu Syekh Burhanuddin pun pergi lagi untuk mengembara. Popularitas Maulana Rumi makin meningkat. Tetapi Maulana Rumi terus gelisah, ia merindukan seorang kawan yang menemaninya di perjalanan ruhani. Ia mengingat kata-kata terakhir gurunya sebelum pergi, “Kau tak akan sendirian. Seorang kawan hebat akan menemuimu. Ia adalah cermin dirimu sendiri, dan dunia akan berdiri untuk menghormatimu karena ajaran Cintamu.”

Pada suatu hari Jum’at Maulana sedang memberikan pelajaran agama kepada banyak orang di madrasahnya. Ketika selesai, tiba-tiba seorang lelaki lusuh berdiri dan berjalan menuju ke meja Maulana Rumi. Ia mengmbil kitab-kitab itu lalu dibuangnya ke dalam kolam. Tiga orang santri berusaha menyerang lelaki itu, namun Maulana Rumi mencegahnya. Kitab-kitab itupun hancur tenggelam dalam air kolam (sebagian riwayat mengatakan kitab-kitab itu tidak ditenggelamkan, tetapi dibakar). Maulana Rumi hanya bisa menangis. Lelaki itu bertanya, “Mana dari kitab-kitab ini yang paling berharga?” Lalu ia mengambil kitab-kitab itu dari dalam air, dan – ajaibnya – kitab-kitab itu sudah kering dan berbentuk seperti semula. Lalu lelaki itu berkata, “Ada dua jalan menjadikan seseorang sebagai Wali Allah. jalan yang panjang, lewat kitab-kitab, dan jalan singkat, lewat Jalan Cinta.” Lalu ia memeluk Maulana Rumi dan pergi. Pertemuan kedua ini amat mempengaruhi Maulana Rumi, dan beliaupun kembali mulai sering menyendiri. Beberapa waktu kemudian mereka bertemu lagi. Dalam pertemuan ini Syamsuddin Tabriz bertanya, “Mana yang lebih besar, Rasulullah yang mengatakan ‘Segala puji bagi Engkau, dan aku tak memahami-Mu sebagaimana seharusnya Engkau dipahami, maka tambahkanlah aku pemahaman’ ataukah Abu Yazid al-Bisthami yang berseru ‘Maha Suci aku! Maha agung aku, dan tiada dalam jubahku selain Allah.’” Mendengar pertanyaan ini Maulana Rumi pingsan. Dan setelah siuman, beliau menjawab, “Muhammad Rasulullah saw lebih besar. Dahaga Abu Yazid jadi hilang hanya dengan secangkir air karena hanya secangkir itulah daya tampung Abu Yazid, sedangkan Rasulullah tak terbatas, dan karenanya ia selalu memohon tambahan.”

Sejak saat itulah keduanya mulai tinggal bersama. Syekh Syamsuddin Tabriz mengatakan kepada Maulana Rumi, “Aku akan menghancurkanmu … kau akan mati ditanganku dan hanya setelah itu engkau akan kembali memulai hidupmu yang sesungguhnya.” Maulana Rumi menghabiskan dua bulan terus-menerus bersama Syamsuddin Tabriz, lelaki yang juga dijuluki “Syamsi Perende” – Matahari Terbang, karena ia sering berkelana dari satu tempat ke tempat lain. Hal ini membuat Rumi seperti melupakan murid-murid lainnya, dan akibatnya mereka mulai jengkel dan iri kepada Syekh Syamsuddin Tabriz. Kejengkelan itu bertambah setelah sebuah peristiwa luar biasa. Menjelang maghrib, Syekh Syamsuddin menyuruh Rumi membeli sebotong anggur di pasar. Pada awalnya Maulana Rumi ingin shalat mahgrib berjamaah dulu, tetapi Syekh Syamsuddin Tabriz ingin saat itu juga Maulana Rumi berangkat membeli anggur, sebuah minuman yang diharamkan oleh Islam. Ketika jamaah shalat maghrib selesai dari shalat, mereka keluar dan menyaksikan Maulana Rumi, ulama agung yang begitu mereka hormati, berjalan membawa sebotol anggur yang haram. Orang-orang yang berkerumun di sepanjang jalan yang dilalui Maulana Rumi heran dan mulai mencelanya dan bahkan sebagian menghina. Maulana Rumi menyerahkan anggur itu kepada Syekh Syamsuddin Tabriz. Dan setelah menerima anggur itu, Syekh Syamsuddin untuk pertama kalinya berbicara di depan khalayak ramai. Beliau mengatakan bahwa beliau hanya menguji ketulusan dan ketaatan Maulana Rumi. Lalu Syekh Syamsuddin menumpahkan anggur itu ke tanah, dan menunduk memberi hormat kepada Maulana Rumi. Tetapi kejadian ini justru menambah kebencian orang dan sebagian murid terhadap Syekh Syamsuddin. Dan puncak kemarahan terjadi setelah Syekh Syamsuddin memperkenalkan sama’ (musik spiritual) dan tarian gasing mistis kepada Maulana Rumi, yang dengan cepat segera asyik di dalam praktik spiritual ini. Bahkan salah satu putra Rumi, Alauddin, konon termasuk orang yang membenci Syekh Syamsuddin Tabriz. Mereka menyebut Syamsuddin sebagai “pengacau” yang harus disingkirkan.

Tanpa alasan yang jelas Syekh Syamsuddin Tabriz menghilang dari Konya menuju Damaskus. Maulana Rumi merasa sedih, tetapi murid-muridnya menjadi senang. Mereka meminta Maulana Rumi mengajar kembali. Untuk pertama kalinya sejak bergaul dengan Syekh Syamsuddin, Maulana Rumi kembali ke madrasah, bersiap untuk mengajar, meski hatinya dirundung kesedihan mendalam. Pada saat akan memulai mengajar, berdatanganlah banyak ulama dan pembesar, serta ratusan santri ke madrasahnya. Namun begitu Maulana berdiri di mimbarnya, beliau tampak gelisah, mengamati sesuatu di dinding belakang. Tiba-tiba, tanpa mempedulikan tatapan heran pada hadirin, Maulana Rumi berteriak,”Siapa engkau yang berdiri di tembok belakang sana.” Semua menoleh, tetapi tak ada siapapun di sana. Orang-orang mulai ramai dan menggerutu. Seorang ulama berdiri dari duduknya dan berteriak dihadapan hadirin, “Ini gila. Mawar Rum telah busuk.” Lalu ia pergi dari majelis. Maulana Rumi mendadak berkata sambil menunjuk ke arah tembok, “Rasul Ilyas. Dia Ilyas as.” Semua orang heran, marah, takut, benci, dan menghina. Akhirnya Maulana Rumi memerintahkan putranya, SULTAN WALAD, untuk mencari Syekh Syamsuddin, dan Syekh Syamsuddin ditemukan lalu dibawa kembali ke Konya. Tetapi, sekali lagi, Syekh Syamsuddin meminta pintu madrasah dikunci dan sekali lagi Maulana Rumi asyik bersama sang guru, menjalani perenungan spiritual, menari dan bermusik. Akhirnya kemarahan tak tertahankan. Pada suatu malam, pada tahun 1247, Syekh Syamsuddin tak kembali lagi ke kamarnya. Kali ini Syams pergi dari Konya untuk selama-lamanya. Desas-desus mengatakan bahwa Syekh Syamsuddin dibunuh oleh sekelompok murid yang dipimpin oleh Alauddin. Ini menjelaskan mengapa Maulana Rumi tidak menghadiri pemakaman Alauddin yang wafat pada 1260 (658 H).

Setelah Syekh Syamsuddin tak ada lagi, orang-orang berharap Maulana Rumi kembali ke kehidupan “normal” dan mengajar. Tetapi beliau justru mencurahkan perhatian dan persahabatan dengan seorang tukang emas sederhana Syekh Shalahuddin Zarkub. Menurut cerita ketika Maulana Rumi sedang menarik di jalanan, konsentrasinya pecah oleh suara dentuman suara palu pengrajin emas yang berirama, yang sedang menempa sepotong perak. Maulana Rumi terpesona dan tak beranjak memandang sang tukang emas. Karena segan, Syekh Zarkub meneruskan memukul-mukul perak itu hingga selesai. Maulana Rumi menulis, “Aku temukan kebahagiaan di bengkel hiasan emas. Alangkah indahnya, alangkah cantik dan anggunnya.” Syekh Shalahuddin ini adalah juga murid Syekh Burhanuddin Muhaqqiq. Maulana Rumi bersahabat dengan Syekh Shalahuddin selama sepuluh tahun. Bahkan beliau menikahkan putranya, Sultan Walad, dengan putri Shalahuddin, Fatima Khatun, salah satu “Wali Allah perempuan di muka bumi,” meski tampaknya Sultan Walad tidak begitu antusias dengan perjodohan ini. Setelah Syekh Shalahuddin wafat, Maulana Rumi akhirnya bersahabat akrab dengan muridnya, Syekh Husamuddin Syalabi. Kepadanyalah Maulana Rumi mempersembahkan salah satu karya besarnya, Matsnawi.

Maulana Rumi menjelang akhir hayatnya mengalami sakit parah. Beliau akhirnya meninggal pada 16 Desember 1273 (5 Jumadil Akhir 672 H). Orang-orang Muslim, Kristen dan Yahudi bergabung untuk memberikan penghormatan pada acara pemakamannya. Sebelum wafat, Maulana Rumi menyatakan bahwa kematiannya adalah “Malam Pernikahan” yang akan membawanya berjumpa dengan Kekasihnya yang sejati, Allah swt, dan karenanya mesti disikapi dengan gembira dan dirayakan dengan sama’. Menurut salah satu biografinya, sesaat setelah Maulana meninggal, semua penduduk Konya larut dalam duka dan menjalankan ritual selama 40 hari penuh, dan terjadi “hiruk pikuk luar biasa bagaikan Hari Kebangkitan.” Kucing kesayangan Maulana Rumi ikut bersedih. Kucing itu tak mau makan dan minum sejak Maulana wawfat. Akhirnya kucing itu mati seminggu kemudian, dan dimakamkan oleh Malika Khatun, putri Maulana dari istri kedua, Kira Khatun, di sebelah makam Maulana Rumi.

Ajaran dan karamah

Warisan Maulana Rumi yang terkenal adalah Diwan-i Shams Tabriz, Mathnawi-i Ma’nawi. Diwan-i Shams Tabriz adalah sajak pujian atau semacam qasidah, yang dilhami oleh persahabatannya dengan Syekh Syamsuddin Tabriz. Tema utamanya adalah Cinta transendental, cinta Ilahiah. Diwan ini terdiri tak kurang dari 36.000 bait puisi. Sementara Mathnawi, yang ditulis untuk memenuhi permintaan Husamuddin, berisi ajaran rahasia-rahasia ilmu Tasawuf dalam bentuk karya sastra. Kitab ini berisi tak kurang dari 25.000 bait prosa-liris, tetapi sebagian peneliti menyebut 40.000 bait. Abdul Rahman al-Jami, seorang Wali Allah Persia abad 15, menyatakan bahwa Mathnawi adalah “tafsir al-Qur’an yang indah dalam bahasa Persia.”

Pada intinya Maulana Rumi mengajarkan bahwa untuk memahami kehidupan dan agar sampai kepada Tuhan manusia bisa menempuh Jalan Cinta. Karenanya ia senantiasa mengundang para murid dan pembaca kitab-kitabnya untuk mampir “kedai persatuan” dengan mereguk “anggur cinta.” Menurut Maulana Rumi semua agama mengajarkan pentingnya cinta yang merupakan dasar dari penciptaan semesta. Nyanyian merdu dan musik dapat membantu orang-orang untuk mencapai cinta dengan mengingatkan mereka kembali pada kenangan suara indah yang pernah didengarnya di alam pra-eksistensi yang tak terbatasi oleh ruang dan waktu. Karenanya Maulana Rumi melukiskan cinta abadi yang tak terbatas adalah sebuah “rumah yang atap dan pintunya tercipta sepenuhnya dari sajak dan lagu.” Namun dalam memberikan pelajarannya beliau tidak berangkat dari pembahasan metafisika, teologi, kosmologi atau psikologi secara sistematis. Sajak-sajaknya sepenuhnya mengalir dari pemahaman dan pengalaman ruhaninya. Maulana tak menyusun filsafat mistis sistematis yang menyeluruh dengan cara seperti yang dilakukan salah seorang sahabatnya, Sadruddin al-Qunawi (murid utama Syaikh Akbar IBN ‘ARABI). Tujuannya adalah mengisahkan kepada para pecinta dan membuka pintu menuju pengalaman alam gaib, yang berpuncak pada “persatuan dengan Sang Kekasih.”

Tetapi untuk berjalan di atas Jalan Cinta ini manusia tak cukup hanya menari dan menyanyi. Seperti Wali Allah lainnya, Maulana Rumi menegaskan agar manusia tahu apa itu arti cinta yang hakiki, dan karenanya tahu tujuan dan makna dari kehidupan ini, maka manusia mesti berjuang melepaskan hawa nafsunya. Segala bentuk ibadah, zikir, membaca al-Qur’an, puasa dan sebagainya pada dasarnya adalah penyucian jiwa (tazkiyatun nafs), agar hati yang merupakan cermin Ilahi atau singgasana Ilahi di dalam mikrokosmos mampu memantulkan Keindahan (Jamal) sekaligus Keagungan (Jalal). Melalui pantulan inilah manusia akan mampu menyaksikan segala bentuk Keindahan yang niscaya akan membuat mereka “jatuh cinta” dan pada akhirnya merasakan sendiri dengan segenap keberadaan dirinya yang hakiki apa itu Cinta yang sesungguhnya. Dengan jiwa yang bersih dan senantiasa ingat kepada-Nya (zikir) maka Hujan Cinta akan menyirami ruh manusia yang pada dasarnya selalu merindukan pertemuan dengan Tuhannya. Tetapi karena di dunia ini manusia masih terpisah dengan Kekasihnya, maka kerinduan pecinta kadang amatlah perih, seperti alunan pilu “suara seruling bambu yang dipisahkan dari batang pokoknya, yang membuatnya sesak dan pilu.” Jadinya seorang pecinta niscaya akan mengalami semacam “luka,” tetapi luka inilah yang menjadi tempat persemaian benih cinta. Dalam keadaan luka dan kepedihan yang sangat mendalam, manusia dipaksa untuk berhenti, untuk berubah, dan beralih ke arah yang baru, untuk memusatkan perhatian pada apa-apa yang tersembunyi dalam kepedihan rindu itu, yakni Allah, Sang Kekasih. Kerinduan yang membara membuat manusia bisa berkonsentrasi hanya pada satu obyek tujuan saja: Allah yang Maha Indah lagi Maha Tinggi. Agar bisa berkonsentrasi sepenuhnya, manusia harus melakukan mujahadah dan riyadhah untuk mensucikan dirinya, sebuah perjuangan yang sering melelahkan dan menyakitkan. Pada titik tertentu dalam pengalaman duka ini, sang pecinta akan merasakan “mati sebelum mati,” sebuah pengalaman yang dalam dunia Sufi disebut-sebut sebagai pengalaman menyakitkan tetapi perlu dialami siapa saja yang ingin bersatu kembali dengan Tuhannya. Seperti dijelaskan Maulana Rumi sendiri, “Rasa sakitlah yang membimbing kita. Seseorang tidak akan berusaha mencapai tujuan jika hal itu tidak mengandung rasa sakit, godaan dan hasrat cinta.” Setiap orang akan memahami rasa sakit ini ketika ia ditarik dan dilepaskan dari jerat kebodohan hawa nafsu dan dimatangkan oleh kesulitan dan duka cita yang tak terperi. Gelap harus dibabat habis agar cahaya cinta terhampar nyata di lubuk hati. Seperti ditulis Maulana Rumi: “Matahari menghunus pedang dan menumpahkan darah fajar; dan darah dari ribuan fajar sungguh halal ditumpahkan demi Wajah-Nya.” Ini adalah momen kebangkitan ruhani, momen kemunculan cahaya ruh. Menurut Maulana Rumi, tubuh adalah laksana Maryam. Setiap dari kita mengandung Isa dalam diri kita, tetapi sebelum kita merasakan nyeri dalam diri kita, nyeri yang mengawali kelahiran, maka “Isa dalam diri kita tak akan dilahirkan.” Yakni, sebelum mengalami derita dan dukacita mati sebelum mati, ruh kita yang suci kita tak akan bangkit menguasai dunia jiwa rendah. Saat Isa dalam diri kita telah dilahirkan, maka kita akan mendapatkan kebangkitan keimanan yang sesungguhnya, sebuah kebahagiaan yang tiada batasnya dalam genggaman Cinta.

Maka, dalam analisis terakhir, manusia akan menyadari bahwa sumber kebahagiaan, dan kebahagiaan itu sendiri, bukan berasal dari dalam diri yang masih diliputi oleh hawa nafsu, tetapi dari sesuatu yang lain, sumber dari segala sumber: Allah. Ketika hati yang merupakan singgasana Allah telah dikosongkan maka sang pemilik Singgasana akan berkenan “bertahta” di hatinya, dan Cintapun akan menjadi sesuatu yang “permanen” di dalam hati sang pecinta.

Sama; dan tarian gasing dalam ajaran Rumi adalah ekspresi dari kerinduan semesta kepada Tuhannya. Tetapi tujuan utama dari tarian ini bukanlah untuk mendapatkan ekstase atau jadzab, meskipun banyak yang mengalaminya saat menari. Ekstase dan kegembiraan ruhani dalam tarian ini bukan tujuan, tetapi hanya merupakan salah satu tahap dari perjalanan yang lebih tinggi kualitasnya. Tujuan utama dan paling mendasar adalah menyelaraskan diri dengan semesta – mulai “dari sel yang terkecil hingga ke bintang-bintang di angkasa” – untuk mengingat, menyaksikan Keagungan dan Keindahan Allah Yang Maha Tinggi, dan bersyukur kepada-Nya lalu pasrah kepada ketentuan-Nya – dengan kata lain tarian Maulana Rumi adalah demi mengaktualkan hakikat ajaran Islam itu sendiri. Ciri penting dari ritual ini adalah tarian dan sama’ memadukan tiga komponen utama manusia:  pikiran, hati dan tubuh. Media musik dan sajak dipakai untuk mempengaruhi penari. Musik dan metafora yang indah dalam sajak akan mempengaruhi tubuh dan pikiran – dan secara bersama-sama akan mengubah keadaan lahir dan batin pendengarnya. Musik dan metafora dalam puisi dipakai sebagai kunci untuk memahami, bukan dengan akal (sebab kata Maulana Rumi, “Dihadapan Cinta, akal tak berdaya), tetapi dengan hati dan mukasyafah. Musik dan puisi menyampaikan sekaligus “menciptakan” makna yang berada di luar fenomena yang empiris, yang berarti pula di luar batas-batas logika, analisis dan rasionalitas. Musik dan puisi langsung menyentuh dunia emosi, intuisi moral dan spiritual (ruhani). Jadi, sama’ adalah sebentuk perjalanan ruhani, sebuah pendakian melalui tangga Cinta, mengatasi hawa nafsu, dengan pedoman kebenaran, dan akhirnya mencapai kesempurnaan, yakni merasakan “persatuan dengan Tuhan,” lalu “turun” lagi ke dunia dengan keadaan yang jauh berbeda – mampu mencintai dan melayani seluruh ciptaan tanpa diskriminasi, sebab manusia diciptakan dengan cinta untuk mencintai.

Maulana Rumi memiliki banyak karamah, diantaranya adalah beberapa kisah berikut. Suatu Maulana Rumi bertemu beberapa rahib Sisilia. Mereka biasa memamerkan kemampuan khawariq al-adah-nya untuk mendapatkan uang. Di depan Maulana mereka memamerkan kemampuan ajaibnya dengan menerbangkan seorang anak. Maulana melihat anak itu sebentar lalu diam bertafakur. Anak itu lalu berteriak-teriak ketakutan karena tak bisa turun dan bahkan terus naik. Para rahib mengerahkan kemampuannya untuk menurunkan anak itu, namun tetap sia-sia. Akhirnya mereka mengaku kalah dan masuk Islam.

Ketika Maulana berkhalwat di biliknya, beliau dikunjungi enam Wali Allah secara ghaib yang menghadiahkan sebuah bunga yang masih segar, padahal bunga itu berasal dari India yang jauh sekali dari Turki. Maulana kemudian menyerahkan bunga itu kepada istrinya. Warna dan keharuman bunga itu tidak pernah pudar. Seorang saksi lainnya, yakni murid Maulana, mengisahkan, suatu ketika memasang pelana kuda dan kemudian memacu kudanya ke arah negeri Qibla di Selatan. Malam harinya beliau kembali dengan pakaian penuh debu dan kusut. Beliau minta disediakan kuda lagi, lalu memacu kudanya kembali dengan cepat seperti terburu-buru. Kejadian ini dilakukannya selama tiga hari berturut-turut. Beberapa hari kemudian datang sepasukan tentara yang mengisahkan kemenangan tentara Islam melawwn pasukan Hulagu Khan di Damaskus.

Maulana Rumi pernah minum obat sebanyak 70 cangkir padahal obat itu amat berbahaya jika diminum terlalu banyak sekaligus. Namun Maulana tidak terkena dampak apa-apa, bahkan beliau mengatakan tubuhnya merasa sehat. Maulana Rumi juga menyelamatkan seorang muridnya dari bahaya lewat sarana mimpi. Maulana Rumi melalui mimpi memberinya petunjuk sehingga dia bisa lolos dari hukuman tentara Salib. Maulana Rumi juga bisa mengubah benda – sebuah batu baisa diubah menjadi baru merah delima. Beliau juga bisa berada di beberapa tempat sekaligus, yakni berada di rumahnya di Konya dan di rumah seorang rahib di Istanbul dalam waktu yang sama.

14 September 2012

Rahasia Kehidupan (Suluk)

oleh alifbraja

Bahwa sesungguhnya seseorang masuk surga bukan karena amalnya, bukan karena banyak ilmu atau pemahaman yang telah diketahui, bukan karena kepandaiannya dalam bahasa Arab atau kepandaian memahami, menterjemahkan atau mentafsirkan, bukan karena pengetahuan atau hafalan al Qur’an dan haditsnya semata. Intinya bukan karena Amal dan Ilmu semata ! atau ibaratnya semua bukan karena “aku” (maksudnya diri kita).

Semua semata-mata karena pertolongan Allah, karunia Allah, rahmat Allah, hidayah dari Allah,  petunjuk dari Allah Subhanahu wa Ta’ala . Intinya semua karena Dia (oleh karenanya orang-orang yang mendalami tasawuf, memanggilNya atau mengingatNya dengan Huwa artinya Dia).

“…Allah juga berfirman memberitakan tentang penduduk surga:”..Dan mereka berkata:”segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada (surga) ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk..“(QS Al-A’raaf:43)

.”..Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS an Nuur : 21)

Untuk itulah kita berjanji sesuai firmanNya yang artinya,
“Hanya Engkaulah yang kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan” (QS al Fatihah : 5).

Pada saat kita mengucapkan “hanya Engkaulah yang kami sembah”, pada saat itulah kita berupaya untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan kepada Wali Allah, Mursyid, Syaikh, Ulama, muslim yang sholeh atau mereka yang taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.

Berupaya untuk menjadi muslim yang menjalankan Ihsan (akhlak/tasawuf), muslim yang ihsan atau muhsinin yakni muslim yang dapat seolah-olah melihat Allah atau minimal muslim yang yakin bahwa Allah melihat kita,  muslim yang sholeh, muslim terbaik.  Sebagaimana doa  Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dan doa yang selalu kita ucapkan “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin” yang artinya  “Keselamatan semoga bagi kami dan hamba-hamba Allah yang sholeh”

Pada saat kita mengucapkan “hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan”, pada saat itulah kita sadar bahwa upaya kita untuk taat atau untuk menjadi muslim yang sholeh  adalah semata-mata pertolongan Allah Subhanahu wa Ta’ala,  pada saat itu pula kita menghilangkan / memfanakan “aku” (maksudnya diri kita), sehingga yang Ada hanyalah Dia.

Fana, itu secara sederhana bisa dimaknai menghilangkan pengakuan “Aku” atau ego. Sehingga tidak setitikpun rasa sombong, riya, ujub yang  timbul dari hati kita. Sehingga kita dapat mencapai puncak keikhlasan, menjadi tawadhu dan tersungkur sujud di hadapanNya.

Kita ketahui
Keagungan adalah sarungKU dan kesombongan adalah pakaianKU. Barangsiapa merebutnya (dari AKU) maka AKU menyiksanya. (HR. Muslim)
Tiada masuk surga orang yang dalam hatinya terdapat sebesar biji sawi dari kesombongan. kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (HR. Muslim)

Fana itu dapat dimaknai mengendalikan “hawa nafsu” atau akhlak yang sadar dan mengingat Allah atau diibaratkan sebagai “mati”.  “Mati” dalam keadaan syahid (bersaksi),  seolah-olah melihatNya.

Sebagaimana hadits Rasulullah SAW yang artinya
”Pakailah pakaian yang baru, hiduplah dengan terpuji, dan matilah dalam keadaan mati syahid” (HR.Ibnu Majah)

Pakaian yang baru = Pakaian Ruhani = Akhlakul karimah = keadaan sadar (kesadaran) atau perilaku/perbuatan secara sadar dan mengingat Allah.

Sebagaimana yang disampaikan ulama sufi, imam Al Qusyairi bahwa “Asy-Syahid untuk menunjukkan sesuatu yang hadir dalam hati, yaitu sesuatu yang membuatnya selalu sadar dan ingat, sehingga seakan-akan pemilik hati tersebut senantiasa melihat dan menyaksikan-Nya, sekalipun Dia tidak tampak. Setiap apa yang membuat ingatannya menguasai hati seseorang maka dia adalah seorang syahid (penyaksi)”.

Wassalam

1 September 2012

MAQAM DAN DERAJAT MANUSIA DI SISI ALLAH

oleh alifbraja

1 Ahli Syari’at ialah mereka yang beramal dengan rukun Islam yan lima

 

2 Ahli Tareqat ialah mereka yang beramal dengan suluk

 

3 Ahli Hakikat ialah mereka yang beramal dengan zahir syari’at dan batin syari’at. Juga dikenalai sebagai orang yang Tahkik

 

4 Ahli Makrifat ialah mereka yang beramal denagn sirullah

 

5 Maqam Murid ialah yang berkehendak kepada mengenal Tuhan dan yang mempelajri Ilmu Sirullah

 

6 Maqam Murad ialah orang-orang yang telah wasil

 

7 Maqam Mahmud ialah orang-orang yang rohnya telah mi’raj. Nabi Muhammad saw mi’raj dengan tubuhnya. Umat nabi Muhammad saw mi’raj dengan rohnya sahaja. Bagi merka yang telah mi/raj sampai kepada SidratulMuntaha, maka merka mendapat maqam Mahmud dan Jisim mereka bernama Jamalul Jisim

 

8 Orang Taqwa ialah yang mengerjakan yang wajib dan meninggalakan yang haram

 

9 Orang-orang Mukmin ialah yang telah celik dua mata hatinya iaitu Fuad dan Kalbun

 

10 Orang –orang Saleh ialah orang-orang terlipast dengan sifat akhirat

 

11 Orang-orang Salik ialah daripada syari’at naik kepada hakikat

 

12 Ibadullah ialah mereka yang istiqamah

 

13 Ahli Taqwa ialah orang-orang yang ada mazkur

 

14 Wali Allah ialah orag yang ada mazkur

 

15 Orang Zahid ialah orang-orang yang hatinya mengingati Allah semata-mata dan meninggalkan masayarakat

 

16 Ahli Saufi ialah orang-orang yang hatinya seperti Adam as. Hatinya telah suci daripada syirik jali, syirik khafi dan syirik mukhafi

 

17 Maqam Muhid ialah orang-orang yang beramal dengan mujahadah

 

18 Orang Abid ialah yang beramal dengan zauq serta yang kamil dan mukamail

 

19 Orang Salehin ialah yang beramala dengan musyahadah serta yang beramal denagan solatul da’im

 

20 Ahli Huzbi ialah orang-orang yang majzub

 

21 Ahli Muhiddin ialah orang yang ada mempunyai mazkur

 

22 Ahli Khalis ialah oranf yang ada mazkur

 

23 Ahli Muhakik ialah dieknali sebagai ahli hakikat, maqam Siddiq dan ahli Saufi

 

24 Ahli Khafiful Hal ialah orang-orang yang tidak berkait dengan keduniaan, iaitu ahli ibadat yang tidak ada isteri, anak, pekerjaan dan bujang

 

25 Ahli Allah ialah orang yang nayawanya Roh Izapu dan fana dengan Allah

 

26 Maqam Abrar ialah mereka yang berderajat Khawas

 

27 Orang Muqaribbin ialah mereka yang berderajat khawas Ul Khawas

 

28 Orang Rashikun ialah mereka yang mengetahui rahsia-rahsia isi al Quran yang tersirat

 

29 Ahli Mukasyaf ialah orang –orang yang kasyaf

 

30 Orang-orang Majzub ialah daripada hakikat turun kepada syari’at

 

31 Orang-orang Arif ialah orang-orang yang mengetahui perkataan dan derejat

 

 

32 Orang Mutakalimin ialah ahli Ilmu ketuhanan

 

33 MaqamAkhyar ialah orang-orang yang telah celik dua mata hatinya

 

34 Ahli Mujahadah ialah orang yaang memerangi nafsu jahat, dinamakan berperang sabiullah

 

35 Ahli Muqarabah ialah orang-orang yang telah suci hatinya, dinamakan ahli tasawwuf

 

36 Orang-orang Zahid ialah orang yang telah selesai hatinya

 

37 Orang-orang Abrar ialah orang yang menyaksikan diri kerana Ujudul hak

 

38 Ahli Muhid ialah orang-orang yang fana

 

39 Orang Muqaribbin ialah orang-orang yang terlipat dengan sifat Rahman

 

40 Orang Muhid ialah orang-orang yang fana

 

41 Manusia ialah apabila berhimpun ilmu, amal, akal, rezeki

 

42 Insan kamil ialah yang boleh makrifat kepada 7 awalim iaitu daripada Alam Insan kepada Alam Malakut, Alam Jabarut, Alam Lahut, Alam Roh, Alam Adjam dan Alam Misal

 

43 Insan Mukamil ialah ahli Ibadullah

 

44 Insan kamil Mukamil ialah, iaitu mereka yang

(a) nafsunya Mulhimah,

(b) nafsunya Mutmainnah,

(c) Istiqamah dan

(d) Keramat

 

45 Ahli Makrifat Daim ialah mereka yang mengetahui asal manusia, usul manusia dan rahsia manusia

 

46 Ahli Khawas ialah orang yang nafsunya martabat Radhiah, Kasyaf, orang yang Majzub dan orang-orang yang Wujdan

 

47 Ahli Khawas Ul Khawas ialah yang

(a) Menduduki martabat nafsu Mardhiah,

(b) Nafsu Kamaliah,

(c) ahli Hakikatul Hak,

(d) Ahli Laduni,

(e) Fana ul fana dan

(f) Baqa ul baqa.

 

48 Maqam Baqa ialah orang yang boleh bermusyahadah dengan

– Syhudul Wahdah Fil Kasrah (pandangan yang satu kepada yang banyak)

- Syhudul Kasrah Fil Wahdah (Pandangan yang banyak kepada yang satu)

 

48 Maqam Fana ialah orang yang Majzub

 

49 Ahli Huzbi ialah orang yang Majzub

 

50 Insan Nakus ialah oranf yang mempunyai insan haiwan yang

(a) Bernafsukan amarah,

(b) Nafsu sawaiah dan

(c) Nafsu lawamah.

 

51 Insan syaitani ialah oarng yang

(a) bernafsukan amarah,

(b) yang berhatikan hati sanubari,

(c) yang berjantungkan jantung sanubari

(d) Nafsu natiqah

 

52 Maqam Abid ialah orang yang kamil dan Muakmil

dan yang beramal dengan Zauq

 

53 Maqam Khas Ul Khas ialah di kalangan

(a) ahli makrifat Hulul,

(b) Ahli makrifat Ittihad,

(c) ahli Fana Ul Fana

(d) Baqa ul Baqa.

 

54 Orang Keramat ialah

(a) orang yang ada Nadzri,

(b) yang telah istiqamah,

(c) yang khitabullah dan

(d) yang ada Mufatihah

 

55 Ahli Hakikatul Haq ialah orang yang mempunyai Mazkur dan ahli laduni

 

56 Ahli Asrarul Hakikat ialah orang yang lebih tinggi derajatnya daripada Ahli Hakikatul Haq

 

57 Ahli Iradatul Haq ialah orang yang Ibadusalehin

 

58 Orang Alim Rabbani ialah orang mengetahui akan zat Allah, sifat Allah, Asma Allah, Afaal allah, Sirullah dan Assarah

 

59 Maqam Qutub ialah ketua kepada sebilanagn wali-wali Allah dui dalamk jamaahnya. Seoarng Qutub itu ada 2 sahabatnya iaitu seorang derejatanya Ukuf dan yang satu lagi berderjat malakut. Di mana murudnya yang disurh mengajar Ilmu Usul Muftahul Ghuyub, derajatnta dalah Sadjadah (Wali)

 

60 Qutubul Ghauts ialah ketua pada segala wali-wali allah dalam zamanya, dfaialah naib Rasulullah pada zamannya

 

61 Qubul Jalallah ialah rasulullah saw yang jadi ketua kepada segala wali-wali Allah yang hidup dan yang telah berpulang ke rahmatullah

 

62 Qutubul Rahman ialah Bulya Ibni Malkan yang dikenali sebagai Nabi Khidir as

 

63 Ahli Taqwa ialah ahli batin

 

64 Rijalul ghaib ialah wali ghaib

 

65 Rijalul Bahar ialah wali lautan

 

66 Maqam Jamal Unsubillah ialah

(a) Orang yang Wujdan (tenggelam dan karam),

(b) Orang yang Wujdan Fil Hubbi (Satu rahsia yang maha Tinggi di antara hamba dengan Tuahannya kerana….)

(c) Meminum sebahagian daripada rasa cinta kepada Allah

(d) Cahaya Wujdan yang telah menyelami hatinya

(e) Redha dengan cinatNya

(f) Dekat dengan cinta allah

(g) Tidak berenggang dengan cinta Allah

 

67 Maqam Unsubillah ialah:

(a) Imam Rabbani

(b) Alim Rabbani

(c) Ahli Rabbani

(d) Ahli laduni

(e) Siddiq

 

68 Maqam wasil ialah:

(a) Orang-orang yang telah sampai ilmunya kepada Allah

(b) Orang-orang yang telah sampai amalnya kepada Allah

(c) orang-orang yang telah melihat Allah

(d) Sifat dirinya ditutup dengan sifat Rahman

 

69 Maqam Ubudiah ialah orang Kamil mukamil, Istiqamah dan

Mausup

 

70 Maqam Sirrul Asrar ialah ahli laduni

 

71 Maqam Nurul Hidayah ialah ahli Kasyaf

 

72 Maqam Asrul Haq ialah orang yang muqrabah

 

73 Maqam Tabdal ialah orang yang telah bertukar derejatanya kepada Sirullah

23 Juli 2012

Nikmatnya Celaan

oleh alifbraja

sebuah Maqam yang harus dilewati oleh para penempuh jalan kebenaran, maqam yang tidak meng-enakkan yaitu Maqam Celaan. Jarang sekali ada pembahasan tentang maqam celaan walaupun hampir semua kita yang menekuni tarekat, berguru, pernah mengalami hal seperti itu. Saya menemukan ulasan lengkap tentang maqam celaan dalam sebuah kitab Tasawuf Klasik yang berjudul Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri.

Untuk lebih mudah memahami saya akan mengajukan pertanyaan kepada anda, “Pernahkah anda dihina orang? Dicela atau dilecehkan orang?” Jawabannya tentu saja ada. Pengalaman orang yang berguru, menekuni tarekat lebih khusus lagi, tiba-tiba saja tanpa sebab setelah berguru orang yang selama ini menjadi teman kemudian menjauhi anda, bahkan orang tua yang anda hormati jadi ikut membenci anda. Ketika orang tua anda mengetahui anda telah berguru kepada Wali Allah apakah mereka langsung setuju? Jawabannya hampir semua orang tua tidak setuju dengan sebab atau tanpa sebab kecuali orang tua anda benar-benar paham tentang tasawuf/tarekat.

Ditambah lagi orang-orang sekitar anda sangat tidak senang dengan Tarekat, maka semakin bertambah-tambah hinaan dan cacian yang anda terima. Ada yang bisa melewati itu semua dengan tabah dan bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya namun tidak mereka berputus asa menganggap menekuni tarekat membuat hidup jadi susah kemudian mengambil keputusan untuk tidak lagi berguru.

Pernahkah anda merenung kenapa anda dikucilkan dan dianggap aneh dan tidak hanya anda sayapun mengalami hal yang sama. Memang harus di akui ada faktor lain yang ikut menyuburkan kebencian dan ketidaksenangan orang terhadap Tarekat seperti tingkah laku pengamal tarekat sendiri yang terkesan eksklusif, tidak mau bergaul dengan lingkungan, tidak menjaga syariat dan lain-lain. Terlepas dari itu semua, saya juga melihat orang-orang yang bertingkah laku baik dan orang juga tidak tahu kalau dia pengamal tarekat namun anehnya orang tetap saja tidak senang. Setelah saya merenung dalam dalam akhirnya saya menemukan jawabannya dan saya uraikan secara singkat dalam empat point berikut ini :

Pertama, Kalau anda sebagai pengamal tarekat sebagai inti dari ajaran Islam dianggap aneh dan asing di zaman ini itu hal yang wajar karena telah terlebih dahulu Nabi mengingatkan dalam hadistnya :
“Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing”. (HR Muslim dari Abu Hurairah).
Kalau ada golongan lain yang merasa lebih “Islam” dari anda itupun wajar karena biasanya yang merasa itu berarti tidak memilikinya 

Kedua, anda menemukan mutiara yang dicari oleh seluruh dunia yaitu bertemu dengan Kekasih Allah. Kakasih Allah ibarat pengantin yang disembunyikan oleh Allah dan hanya diperkenalkan kepada orang-orang yang telah ditakdirkan oleh-Nya. Anda harus mensyukuri nikmat dan karunia yang luar biasa ini. Banyak cara Allah untuk menyembunyikan kekasih-Nya, salah satunya manusia terhijab oleh kekurangan yang nampak pada diri seorang wali sebagaimana juga musuh musuh Islam melihat kekurangan yang Nampak pada diri Nabi. Kalau ada orang mengatakan Guru anda sesat, itu juga wajar karena dia melihat Guru anda dibalik hijab yang dibuat oleh Allah.

Anda begitu yakin Nabi Muhammad adalah seorang mulia dan dimuliakan Allah, apakah musuh-musuh Islam dari dulu beranggapan yang sama? Apakah Abu Lahab dan Abu Jahal menilai Nabi seperti anda menilai? Apakah orang yang menggambar karikatur Nabi dengan penuh kebencian melhat Nabi dengan kemulyaan? Tentu saja TIDAK, mereka melihat nabi dibalik hijab.

Rasulullah SAW, yang menjadi teladan dan pemimpin orang-orang yang mengikut jalan kebenaran, dan yang mengunguli derajat pecinta pecinta Tuhan, Kemulyaan Beliau diakui dan kebenaran Beliau menerima wahyu dari Allah tidak diragukan sedikitpun. Namun dalam pandangan orang yang tidak senang, Belau dituduh dengan berbagai macam tuduhan, “Orang yang suka mengada-ada”, “penyair” bahkan Beliau dituduh Gila dan pendusta.

Orang-orang beriman yang mengalami celaan dilukiskan dalam firman Allah :
“Mereka tidak takut celaan seseorang, itulah rahmat Tuhan yang Dia anugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, Tuhan Maha Pemurah lagi Maha bijaksana” (QS 5:59).

Ketiga, Coba anda bayangkan disebuah desa ada seorang gadis paling cantik dan anda termasuk penduduk desa tersebut. Gadis itu diperebutkan oleh banyak laki-laki dan anda termasuk salah seorang yang berusaha mengambil hati. Bisa anda bayangkan bagaimana susahnya anda merebut hati si gadis diantara puluhan pesaing. Kemudian bayangkan juga anda berada disebuah kota dan dikota tersebut ada seorang gadis paling cantik, primadona kota dan seluruh pemuda di kota tersebut berlomba-lomba merebut hati sang gadis.

Bisa anda bayangkan pengorbanan harta, pikiran dan tenaga untuk bisa mendapatkan gadis pujaan anda, bisa jadi anda ditolak dan mengalami sakit hati. Sekarang bayangkan yang ingin anda rebut cinta adalah dari Sang Maha Cinta yang diperebutkan oleh Manusia seluruh alam ini, ada 5 milyar saingan anda untuk memperoleh perhatian dan cinta Dia Yang Maha Esa. Sekarang coba anda bayangkan pengorbanan apa yang harus anda berikan agar bisa mendapatkan cinta dari Sang Maha Cinta tersebut?. Apakah harta anda cukup untuk bisa mendekati Dia? Apakah pikiran anda cukup untuk dikorbankan kepada-Nya dan apakah perasaan anda siap untuk kecewa dan sakit hati untuk mencapai Cinta-Nya? Saya tidak melanjutkan uraian ini dan saya yakin ada menemukan jawabannya. Yang diminta dari anda oleh Sang Kekasih adalah sedikit kesabaran dalam menggapai cinta tersebut, pantaskah anda berkeluh kesah?

Ke empat, Orang yang masuk tarekat pada hakikatnya adalah memulai hidup baru dalam Taubat kepada-Nya, melangkahkan kaki setahap demi setahap menuju kehadirat Allah. Anda, saya dan semua kita di dalam hati ini bersemayam Jin, setan yang sejak lahir (buka surat An Naas) telah menemani kita siang dan malam selama 24 jam sampai kita mengucapkan kata perpisahan dengan mereka ketika kita menyatakan diri menjadi murid seorang kekasih Allah. Setan dan dalam diri anda itu kemudian keluar dari tubuh anda, keluar dengan nada kesal dan kecewa. Lalu rasa kecewa tersebut kemudian dia masuk ke tubuh sahabat anda, tetangga anda atau bisa jadi orang tua anda sendiri, lewat mereka para jin/setan tersebut dengan bebas mencaci maki anda sebagai orang yang telah meninggakan mereka. Lalu kenapa anda jadi marah kalau dicaci oleh tetangga yang pada hakikatnya adalah telah di masuki oleh “diri anda”, sekutu yang sejak lahir menemami anda. Kalau ada yang mencaci anda karena anda mengamalkan tarekat, dalam hati ucapkan, “wahai kawan lama, maaf, aku tak bisa bersamamu lagi, sekarang aku sudah jadi murid Wali” he he.

Memegang kebenaran itu ibarat memegang bara api, kalau digenggam tangan akan terbakar kalau dilepas maka bara itu akan terlepas dan hilang. Guru memberikan rahasia kepada saya, “Pegang kuat-kuat bara itu dan nanti bara itu akan padam ditanganmu dan kamu harus punya prinsip tangan yang terbakar atau bara api yang padam dan jangan pernah kau melapaskan bara tersebut”. Ditempat lain Guru juga memberikan gambaran bahwa seorang penempuh jalan kebenaran persis seperti orang yang berada diantara buaya dan dinding terjal. Di depan ada dinding terjal sementara dibelakang ada buaya. Kalau mundur akan mati dimakan buaya sementara kalau maju harus melewati dinding yang terjal dan sangat sulit. Guru memberikan rahasia, “Kalau Aku akan terus maju walau harus merangkak”.

Seorang teman seperguruan bertanya kepada saya, “Menurut anda apakah Guru kita termasuk orang yang benar?”. Saya jawab, “Pertanyaan itu ketika tahun pertama berguru saya masih bisa menjawabnya, tapi sekarang setelah belasan tahun saya berguru pertanyaan tersebut tidak bisa lagi terjawab”. Dengan penasaran dia bertanya lagi, “kenapa bisa begitu?”. Saya jawab, “Bertahun-tahun saya mencari Wali Allah, begitu banyak saya menjumpai Guru yang mengaku Wali Allah dan dan hampir saja saya putus asa karena tidak menemukan orang yang benar-benar Wali Allah dan saya pikir tidak mungkin orang seperti saya bisa berjumpa dengan seorang Wali Allah. Setelah berguru awalnya timbul keraguan dalam hati, dan saya membuka Al Qur’an dan Hadist untuk mencari kebenaran dari apa yang disampaikan Guru. Bukan hanya itu saya juga mempelahari  ucapan-ucapan ulama, kitab-kita tentang Tauhid dan tasawuf untuk Menelusuri kebenaran yang di ajarkan oleh Guru. Setelah setahun saya mengambil kesimpulan bahwa Guru kita benar-benar seorang Wali Allah, Ulama Pewaris Nabi dan Beliau benar Khalifah Rasulullah yang menegakkan Agama ini yang kebenarannya tidak diragukan lagi.” Kemudian saya melanjutkan, “Kalau anda saudaraku hari ini bertanya tentang kebenaran Guru kita, saya tidak bisa menjawabnya karena bagi saya saat ini berguru bukan karena benar dan salah tapi karena kecintaan saya kepada Beliau sebagai seoranng pengemban amanah Allah. Andai seluruh dunia ini mengatakan Guru kita salah atau sesat dan siapapun jadi murid Beliau dikatakan masuk Neraka, saya tidak peduli dan saya akan tetap menjadi murid Beliau”. Kemudian saya melanjutkan, “Saudaraku, Kebenaran mutlak itu hanya ada pada Allah dan Guru kita telah mengantarkan saya kepada Allah, Sang Kebenaran Mutlak, jadi untuk apa saya harus mendengarkan kebenaran versi manusia yang sangat besar kemungkinan salahnya?

Siapapun anda wahai saudaraku, apakah kita satu Guru atau berbeda Guru, saya memberikan nasehat kepada anda, siapapun Guru anda, hormati Beliau sayangi Beliau dan teruslah melanjutkan Berguru karena sesungguhnya bersama Kekasih Allah itu adalah sebesar-besarnya rahmat dan karunia dan sesungguhnya Guru Mursyid itu adalah pintu yang langsung menuju kehadirat Allah SWT.

Walaupun pandangan orang negatif terhadap anda, digolongkan anda kapada pengikut aliran sesat, dituduh sebagai pembuat bid’ah bahkan orang mengatakan anda kafir jangan membuat pribadi anda berubah menjadi pribadi pendendam, pribadi yang putus asa dan kemudian malah bertingkah laku aneh sesuka hati. “ah saya sudah terlanjur dianggap sesat, mendingan buat yang aneh-aneh sekalian”. Kemulyaan dan ketinggian derajat seseorang tidak tergantung dari penilaian orang, manusia itu bersifat baharu dan penilaiannya pun akan berubah termasuk penilaiaan terhadap anda. Jadilah pribadi yang mulia karena anda mengemban amanah yang mulia, dalam diri anda telah tertanam Nur Allah dan kemanapun anda melangkah Allah dan seluruh alam ini akan ridho kepada anda. Jadilah pribadi yang ketika orang melihat dan menilai anda maka orang akan mengatakan, “orang ini benar dan Gurunya juga benar”.

Bersyukurlah karena masih ada orang yang menghina anda, karena yang paling berbahaya justru ketika anda dipuji karena pujian sering kali membuat orang lalai dan lupa dan kemudian tanpa sadar menjadi sombong dan angkuh sementara dua sikap itu yang paling tidak disenangi oleh Tuhan dan sikap itu membuat anda jauh dari Tuhan. Hinaan manusia akan membuat cinta anda kepada Tuhan semakin menggelora dan hati anda selalu terjaga untuk selalu mengingat dan membesarkan nama-Nya. Ketika semua orang mencaci dan menghina orang maka anda hanya memikirkan satu saja, semain fokus pada satu tujuan yaitu Allah SWT. Yakinlah bahwa Orang-orang yang menghina anda itu sengaja diciptakan oleh Tuhan sebagai lawan tanding agar anda bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam menggapai cintai-Nya. Suatu saat nanti anda akan menangis dan selalu bersyukur karena anda dihina orang dan hal itu hanya bisa terjadi ketika anda benar-benar bisa memaknai Nikmatnya Celaan. Salam

23 Juli 2012

Murid yang Tamat Berguru

oleh alifbraja

Berikut adalah cerita sufi tentang seorang murid yang telah tamat berguru. Cerita ini seringkali disampaikan oleh Guru saya kepada murid-muridnya. Biasanya cerita ini disampaikan kepada murid-murid yang masih tinggal bersama Beliau di Surau.

Suatu ketika anak surau yang berjumlah 35 orang itu dikumpulkan. Maklum, para pengabdi itu pun sudah dewasa dan mereka juga memikirkan ujung pengabdian. Mereka harus ke mana, mereka harus hidup berumah tangga, mencari pekerjaan dan lain-lain. Guru bila bercerita sangat menarik, mempesona dan membuat pendengar tak bergerak. Guru berkata, “Ada murid yang baru tamat berguru lalu ia pulang ke rumahnya. Di tengah jalan dilihatnya ada seorang putri raja yang aduhai cantiknya, sang putri sedang duduk di depan rumahnya yang indah. Si murid ini sangat terpesona dan tertarik dengan paras cantik putri itu. Dalam hatinya ia berkata, “Alangkah eloknya jika ia jadi istri dan pendamping hidup saya…?”

Terangan-angan paras gadis sampai di rumahnya, ia berkata kepada ibunya, “Ibu, anak gadis yang saya jumpai di rumah indah di pinggir jalan itu apa sudah ada yang punya?” Ibu menjawab, “Apa maksudnya?” ujar ibu menimpali pertanyaan anaknya. Anaknya berkata, “Kalau belum ada yang punya, tolong ibu lamarkan untuk saya.” “Sadar nak” begitu sergah ibunya. “Dia putri raja, kaya raya, sedangkan engkau anak orang biasa dan miskin.”

Untuk tidak mengecewakan anaknya yang baru lulus berguru dan pantas menikah itu. Sebagai ibu yang bijaksana, sang ibu pergi mencoba bertanya. Ia pergi ke rumah gadis tersebut. Maka ibu mengetok pintu sambil mengucap salam “Assalamu’alaikum!” “Wa’alaikum salam”, jawab tuan rumah. “Ada apa bu?” kata tuan rumah. “Ini anak saya kemarin lewat di depan rumah raja kebetulan dilihatlah olehnya seorang gadis manis putri raja dan ia merasa tertarik. Si anak baru tamat berguru pada wali Allah (tidak disebut nama si wali), dan maksud kedatangan hamba kemari ingin melamar anak gadis raja itu, bila raja berkenan dan bila putri itu belum ada yang punya!”

Raja memang bijaksana, untuk menolak dengan terang-terangan dan supaya tidak menyakiti hati sebagian rakyatnya ia menjawab, “Oh, ibu mau melamar untuk anak ibu. Begini bu, saya tidak bisa memutuskan sendiri, apakah lamaran itu diterima atau tidak. Karena ini adalah masalah Negara maka saya akan panggil dan mengumpulkan semua menteri untuk memutuskan hal ini. Dan ibu sebaiknya pulang dulu dan barang seminggu sudah ada keputusan.”

Sesampainya di rumah, si anak bertanya “Bagaimana bu, beritanya?” “Oh tunggu seminggu lagi nak, karena raja tidak bisa memutuskan seorang diri maka raja akan panggil menteri-menterinya untuk membahas masalah ini.” Raja memanggil menteri-menteri dan memberitahukan bahwa anak si ibu yang bernama Fulana telah datang menemui raja dengan maksud ingin melamarkan si anak pada putri raja dan bagaimana caranya supaya lamaran di tolak, dengan tidak menyakiti hati ibunya.” “Ah itu mudah raja” jawab menteri. “Buat saja persyaratan yang berat kepadanya yang sekiranya tidak dapat dipenuhi.” “Nah apa itu?” kata raja. “Minta saja tujuh buah mutiara sebesar telur, pasti ia tidak akan bisa memenuhi dan karena itu persyaratan untuk mempersunting putri raja menjadi gagal.” “Wah pandai kau menteri. Aku setuju dengan caramu itu, nanti akan aku katakan pada ibu si anak itu jika ia datang ke sini untuk menanyakan keputusan raja.” Benar saja seminggu kemudian pintu raja terketuk dan terdengar “Assalamu’alaikum.” “Wa’alaikum salam”, pintu dibukakan dan si ibu pun dipersilakan masuk untuk menanyakan bagaimana kabar beritanya. “Begini, lamaran ibu diterima asalkan anak ibu menyiapkan tujuh butir mutiara sebesar telur lalu diserahkan pada raja. Itu persyaratannya.” jelas raja. “Kalau begitu saya beritahukan pada anak saya, sanggup atau tidak.” jawab ibu. “Oh ya, ya silakan.”

Si ibu pun pulang dari rumah raja, di pintu dia sudah disambut oleh anak itu sambil bertanya, ”Bagaimana kabarnya bu?” ”Aduh itu nak, tujuh turunan dari kakek sampai anak cucu, mencari duit untuk tidak dibuat makan, tatapi dibuat untuk membeli tujuh butir mutiara sebesar telur ayam itu tidak akan bisa terkumpul.” “Oh itu rupanya yang menjadi persyaratan diterimanya lamaran saya Bu?” “Betul nak, itu mana mungkin.” “Ah, Itu soal kecil, Bu!” tanggap anaknya. “Ha, soal kecil?” ibunya terheran. “Allah Ta’ala kan kaya bu” kata si anak, dan si ibu dibuat bingung mendengarnya. Si anak berkata, “Mutiara sebesar dan sebanyak itu hanya ada di Laut Cina Selatan.”

Diam-diam si anak keluar dengan membawa tempurung kelapa dan pergi ke Laut Cina Selatan. Dia kuras laut itu dengan batok kelapa (tempurung kelapa) sambil membaca: laa ilaaha illa Allah pada tiap kurasan, sehingga hampir habis air laut itu(secara gaib). Tiba-tiba geger penghuni-penghuni laut, berupa jin-jin penjaga laut itu dan mereka berteriak, “Stop…stop…! jangan kau teruskan nanti kering laut ini dan matilah anak buah kami. Sebenarnya apa yang engkau cari?” “Saya akan mencari tujuh butir mutiara sebesar telur ayam dan mutiara itu hanya ada di laut ini. Karena itu saya harus menguras dan mengeringkan laut ini.” begitu kata si murid wali itu dengan tegas.

Panglima jin penghuni laut itu berkata, “Kalau soal itu gampang, nanti saya akan memerintahkan anak buahku untuk mencari mutiara-mutiara itu dengan menyelami laut ini, dan tidak usah kau teruskan untuk menguras laut.” “Nah kalau kau sudah menjamin begitu, baiklah akan saya hentikan menguras laut ini.” Sesaat kemudian anak buah penghuni Laut Cina Selatan itu diperintahkan menyelam ke dasar laut sampai ditemukan ketujuh batu mutiara, lalu oleh penghulu jin mutiara itu disampaikan pada anak tadi dan ketujuh butir mutiara itu dibawa pulang oleh anak tadi.

Sesampainya di rumah, ibu menyapa “Sudah datang nak?” “Ya sudah datang dan ini tujuh buah mutiara yang diminta raja” kata anaknya. Oleh ibunya ketujuh butir mutiara itu di ambil dan ditimang-timang, dibalik-balik setengah tidak percaya. Lalu si anak menyeletuk, “Itu mutiara asli, bukan batu atau plastik bu!” meyakinkan pada ibunya. Sang ibu pun terdiam.

Esok harinya si ibu mengantarkan ketujuh butir mutiara itu kehadapan raja.” Assalamu’alaiku” “Wa’alaikum salam. Apa kabar bu?” “Kabar baik, dan ini tujuh butir mutiara yang raja minta dari anak saya, saya disuruh untuk mengantarkannya ke hadapan raja dan menyerahkannya.

Ketujuh butir mutiara itu pun diterima oleh raja, si raja terbelalak kedua matanya, terheran-heran hampir tidak percaya, seolah-olah dalam mimpi saja. Di balik-balik mutiara-mutiara itu, terheran melebihi kehendaknya. Raja terkagum diam. lalu si ibu berkata, “Tak usah khawatir raja, itu asli mutiara, bukan palsu, batu, atau plastik mainan, kata anak saya.” Raja pun terhentak dan akhirnya perkawinan pun dilaksanakan.

23 Juli 2012

Dunia Sufi Yang Misteri

oleh alifbraja

Ketika anda mendengar kata “sufi” atau orang sufi saya yakin hampir sebagian kita tergambar sebuah kehidupan sederhana di padang pasir yang tandus, ada pohon kurma lengkap dengan ontanya serta tergambar juga dalam pikiran kita seorang yang pakaian sederhana memakai jubah dan surban seperti lazimnya orang Arab. Mungkin tidak semua dari anda berpandangan seperti itu, tapi itulah gambaran umum tentang kaum sufi dan gambaran itulah yang terekam dalam pikiran saya sebelum mengenal dunia sufi dari seorang Wali Allah.

Disampul buku-buku tasawuf juga kita lihat orang berjubah yang hidup sederhana, makanya tidak mengherankan banyak orang alergi dengan tasawuf karena dalam pandangan mereka orang sufi itu adalah jenis manusia zuhud yang tidak memerlukan lagi dunia, mereka hanya memikirkan Tuhan semata. Kritik tajam terhadap kaum sufi adalah mereka egois hanya memikirkan diri sendiri dengan ibadahnya sehingga melupakan hubungan dengan manusia.

Pandangan miring terhadap tasawuf dan dunia sufi itu saya dengar dalam sebuah perbincangan disebuah warung kopi, dimeja sebelah saya 4 mahasiswa IAIN sedang berbincang tentang sufi menurut pandangan mereka dan sangat disayangkan obrolan mereka bukan membahas kebaikan ajaran tasawuf tapi malah membahas hal-hal buruk tentang sufi. “Orang sufi ketika suluk tidak makan daging, dari mana dalilnya itu? Bukankah tindakan seperti itu tandanya tidak mensyukuri nikmat Allah, kenapa melarang sesuatu yang dihalalkan Allah?” demikian seorang mahasiswa memaparkan pandangannya tentang tasawuf. Kemudian yang lain menambahkan, “Saya setuju dengan tasawuf sebagai pelajaran akhlak, tapi saya tidak setuju dengan Tarekat, jumlahnya begitu banyak jadi membingungkan dan terkesan Islam itu terpecah padahal Islam itu kan satu, tidak ada ajaran-jaran khusus sejak zaman dulu dan Nabi dengan sifat amanahnya tidak pernah menyembunyikan ilmu apapun, sementara mereka (kaum sufi) mengatakan memperoleh ilmu laduni, mana ada dalil seperti itu?”. Obrolan yang mirip diskusi itu terus berlanjut membahas hal-hal yang mereka sendiri tidak memahami dengan lengkap dan saya sambil menikmati secangkir kopi hanya senyum-senyum saja. Sebelum meninggalkan warung kopi saya hampiri mereka dan mengatakan, “yang kalian bahas itu tidak ada hubungan sedikitpun dengan tasawuf, persis seperti orang buta membahas tentang Gajah yang tidak pernah dilihatnya. Kalau kalian ingin belajar tasauf jangan hanya membaca tapi carilah guru yang ahli untuk membimbing kalian agar bisa mengamalkan tasawuf dengan benar.” Mereka menatap saya dengan wajah terkejut dan saya segera meninggalkan mereka dengan sejuta tanda tanya. Dalam hati saya berdoa mudah-mudahan Allah membimbing mereka sehingga menemukan Guru Mursyid yang Kamil Mukamil.

Banyak orang membaca tentang tasawuf dan dunia sufi dari orang-orang yang tidak memahami sepenuhnya tentang tasawuf, hanya memahami secara teori dan kemudian pemahaman yang tidak lengkap tersebut dituangkan lagi dalam buku dan dibaca oleh orang awam maka timbul salah persepsi tentang tasawuf. Lebih parah lagi, membaca tentang tasawuf dari orang-orang yang memang anti dengan tasawuf, kelompok-kelompok yang mengambil ilmu dari orientalis yang selalu memojokkan tasawuf. Salah satu ucapan orientalis yang diyakini sebagian besar kaum muslim adalah mereka mengatakan tasawuf itu bukan berasal dari Islam tapi hasil percampuran antara Yahudi, Kristen dan filsafat yunani.

Dalam Islam sendiri ada kelompok yang memang sangat anti dengan tasawuf, saya tidak menyebutkan nama kelompok tersebut dan saya yakin anda mengerti yang saya maksudkan dan kebetulan kelompok tersebut bukan hanya tasawuf yang dianggap sesat tapi hampir seluruh aliran dalam Islam selain dari mereka dianggap sesat.

Kembali ke Sufi, karena seringnya kita membaca buku-buku tentang sufi, cerita sufi, anekdot sufi yang seluruh ceritanya sebagian besar menceritakan dengan latar belakang kehidupan di tanah Arab, dan itu wajar karena cerita-cerita tersebut diambil dari kitab-kitab yang ditulis oleh orang Arab.

Apakah Sufi itu hanya di arab? Dan apakah menjadi sufi itu harus selalu berjubah dengan sekian banyak tambalan, pakaian compang camping, memegang tongkat atau menggembala domba? Kalau menjadi sufi harus seperti itu maka saya yakin orang Indonesia tidak satupun memenuhi Kriteria menjadi seorang sufi .

Tasawuf adalah ajaran moral agar akhlak manusia menjadi lebih baik dan setahap demi setahap melangkah mendekatkan diri kepada Allah sampai benar-benar dekat sehingga tidak ada keraguan lagi yang disembah adalah Allah SWT. Seperti ucapan Abu Yazid ketika ditanya tenang Allah, Beliau berkata, “Tiada keraguan sedikitpun bahwa itu adalah Allah”.

Siapapun yang mengamalkan tasawuf, apakah orang arab, Indonesia, China bahkan orang Eropa sekalipun maka hatinya akan terisi dengan Nur Ilahi, memiliki gairah dalam berzikir mengingat Allah kemudian timbul rasa cinta dan rindu kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sufi akan hadir dimana saja, mungkin dia suka nongrong di mall, atau sering duduk di warung kopi, atau sedang bekerja sebagai karyawan yang apapun yang dilakukan selalu tidak melupakan zikir kepada Allah. Bisa jadi teman disebelah anda dalam pesawat, tukang parkir yang sering senyum kepada anda, tukang bengkel yang memperbaiki mobil anda atau juga bahkan seorang penyanyi yang anda kagumi, jangan-jangan mereka adalah sufi yang selama ini anda cari. Tubuh mereka dibungkus oleh pakaian yang sesuai dengan zaman dan tempat mereka berada, namun hati mereka tidak berubah sedikitpun.

Sufi akan terus menjadi misteri sepanjang zaman dan tidak mudah dikenali kecuali oleh sufi itu sendiri. Mereka lebih senang kalau manusia tidak mengenali mereka sebagai sosok sufi yang alim, mereka lebih nyaman tidak diketahui agar terhindar dari sifat sombong dan ria. Mereka melakukan zikir lama-lama atas rasa cinta dan kerinduang kepada Sang Kekasih dan tentu saja tidak dilakukan di dalam mesjid atau tempat terbuka karena memang tujuan mereka beribadah bukan untuk mendapat pujian manusia.

Seperti yang saya kemukakan pada tulisan yang lalu banyak pendapat atau kesan yang kurang tepat atau keliru tentang bagaimana seharusnya kehidupan para sufi. Salah satu pandangan negatif orang terhadap kaum sufi adalah tentang Zuhud yang merupakan salah satu maqam yang harus dilewati oleh para sufi. Tentang zuhud sekilas telah pernah saya bahas dalam tulisan Zuhud Yang Sebenarnya dan disini saya ingin menulis dua pendapat yang berbeda tentang zuhud.

Pendapat pertama, zuhud berarti berpaling dan meninggalkan sesuatu yang disayangi yang bersifat material atau kemewahan duniawi dengan mengharapkan dan menginginkan suatu wujud yang lebih baik dan bersifat spiritual atau kebahagiaan akhirati. Pengertian pertama ini akhirnya berkembang ekstrim sehingga zuhud berarti benci dan meninggalkan sama sekali sesuatu yang bersifat duniawiyah.

Pendapat kedua, zuhud tidak berarti semata-mata tidak mau memiliki harta dan tidak suka mengenyam nikmat duniawi. Tapi zuhud sebenarnya adalah kondsi mental yang tidak mau terpengaruh oleh harta dan kesenangan duniawi dalam pengabdian diri kepada Allah SWT.

Saya pribadi lebih condong kepada pengertian kedua dengan alasan selain Al Qur’an dan Hadist yang tidak menyuruh kita kearah pengertian zuhud yang ekstrim pertama, juga kehidupan para sahabat zaman Rasulullah dan kehidupan sahabat semasa Khulafaur Rasyidin. Sahabat-sahabat utama Rasulullah seperti Abu Bakar AsShiddiq, Usman bin Affan dan Abdul Rahman bin ‘Auf adalah orang-orang yang kaya. Walaupun mereka kaya, mereka tetap hidup sebagai orang zuhud, yaitu hidup sederhana, dimana kekayaan mereka tidak akan mengurangi apalagi memalingkan pengabdian diri mereka kepada Allah SWT.

Pengertian zuhud yang kedua ini sesuai dengan firman Allah SWT :
“(Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu dan supaya kamu jangan terlalu bergembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri“. (Q.S. Al Hadid : 23).
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) kampong akhirat dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik padamu.” (Q.S. Al Qashash : 57).

Pengertian kedua ayat ini adalah bahwa kita manusia tidak dapat memisahkan diri sama sekali dari harta dan segala bentuk kesenangan duniawi yang di ridhai Allah, sebab kita masih hidup di alam dunia. Pengertian lain adalah bahwa harta benda tidak dilarang untuk dimiliki, tetapi harta benda tersebut tidak boleh mempengaruhi atau memperbudak seseorang, sehingga menghalangi yang bersangkutan untuk menghampirkan dirinya kepada Allah SWT, atau dengan kata lain, sikap seorang sufi tidak boleh diperbudak oleh harta duniawi, tetapi hata duniawi itu dijadikan persembahan, pengabdian ubudiyah lebih banyak lagi kepada Allah SWT.

Yang menjadi pertanyaan, “Apa sebab terjadinya sikap zuhud ini, dan kenapa muncul anggapan bahwa sufi identik dengan sikap zuhud?”. Harus di akui bahwa Kajian dan gerakan zuhud ini memang muncul pertama kali di kalangan pengamal tasawuf pada akhir abad pertama hijriah. Gerakan ini muncul sebagai reaksi terhadap pola hidup mewah para khalifah dan keluarganya serta pembesar Negara yang merupakan dampak dri kekayaan yang diperoleh kaum muslim dalam pembebasan, penaklukan negeri-negeri Suriah, Mesir, Mesopotamia (Irak) dan Persia.

Semasa Dinasti Umayah pola hidup sederhana berubah menjadi pola hidup mewah dikalangan para Khalifah dan pembesar-pembesar Negara dan timbulnya jurang pemisah antara rakyat dan penguasa. Pola hidup mewah dan kondisi mental yang demikian tidak sesuai dengan ajaran dan amal agama seperti yang dicontohkan olh Rasulullah dan para sahabat. Disinilah awal timbulnya gerakan Zuhud sebagai wujud untuk menentang sikap dari Para penguasa yang hidup dalam kemewahan.

Tasawuf sebagai ajaran Islam harus sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist sebagai rujukan semua orang Islam dan kajian-kajian tasawuf yang tidak sesuai dengan Al Qur’an dan Hadist harus dipertanyakan kebenarannya walaupun meninjau Al Qur’an tidak selalu harus dari segi tekstual semata.
Islam menganjurkan pemeluknya untuk sunguh-sungguh mencari rizki dan tentang keutamaan mencari rizki anda bisa membuka Al Qur’an Surat : Al Jumu’ah ayat 10, Al Muzammil ayat 20 dan surat Al Baqarah ayat 198, dan ini menjadi petunjuk bagi kita tentang keutamaan mencari rizki agar hidup menjadi lebih baik di dunia ini.

Diriwayatkan bahwa Nabi Isa a.s melihat seorang laki-laki, maka Beliau besabda, “Apakah yang kamu kerjakan?”. Ia menjawab, “Saya beribadat”. Isa bersabda,”Siapakah yang menanggungmu?”. Ia jawab, “Saudaraku”. Isa bersabda,”Saudaramu lebih baik ibadahnya daripada kamu”.

Dalam sejarah, para sufi pada umumnya bekerja sendiri untuk mencari nafkahnya dalam berbagai bidang usaha, sehingga ada diantara mereka itu diberikan julukan-julukan sesuai bidang usahanya itu. Seperti Al Hallaaj (Pembersih kulit kapas), Al Qashar (Tukang Penatu), Al Waraak (Tukang Kertas), Al Kharraaz (Penjahit Kulit Hewan), Al Bazzaaz (Perajin Tikar Daun Kurma), Az Zujaaji (Pengrajin dari kaca) dan Al Farraa’ (Penyamak Kulit).

Tidak terkecuali juga sufi zaman sekarang, mereka tidak melupakan kewajibannya mencari nafkah diberbagai usaha menghidupi dirinya dan keluarganya. Menjadi seorang sufi tidak harus miskin dan melarat namun jika Tuhan memberikan anda cobaan dalam bentuk kemiskinan berarti Dia senang dengan kondisi tersebut dan anda harus tetap mensyukuri apapun yang diberikan oleh-Nya. Kemulyaan seseorang dimata Tuhan tidak terletak pada banyak atau sedikit harta tapi bagaimana hatinya selalu bisa mengingat Allah siang dan malam, sunyi dan ramai, susah dan senang sehingga kondisi apapun tidak mempengaruhi dirinya untuk terus mendekatkan diri kepada-Nya.

Gambaran Sufi yang saya kemukakan diatas mudah-mudahan bisa sedikit menghapus prasangka buruk orang-orang yang tidak paham dengan tasawuf atau orang-orang yang belum pernah belajar tasawuf namun sudah merasa menjadi sufi dengan kesusahan dan kemiskinannya. Anda menjadi miskin dan susah tidak berarti anda menjadi seorang sufi begitu juga anda menjadi kaya juga tidak berarti anda menjadi sufi Karena kesufian itu terletak di hati. Lanjutan dari tulisan ini akan kami ceritakan tentang tokoh-tokoh sufi yang kehidupannya kaya raya bahkan ada yang sangat kaya yang kekayaannya mengalahkan seorang Raja. Mudah2an tulisan ini bermanfaat hendaknya, salam.

 

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 146 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: