HAKIKAT WAHYU DALAM ISLAM

oleh alifbraja
 HAKIKAT WAHYU DALAM ISLAM
 
 

 

Wahyu Dalam Bahasa

Para peneliti kosa kata berkeyakinan bahwa wahyu adalah suatu kaidah untuk penyampaian ilmu, makrifat, dan lainnya. Kekhususan dan spesifikasi dari wahyu di antaranya adalah: isyarat cepat terhadap penulisan dan risalah, pemberitahuan terhadap misteri dan simbol, terkadang dalam bentuk tak berkomposisi, isyarat terhadap sebagian anggota-anggota badan, dan terkadang dalam artian ilham dan ungkapan rahasia serta tersembunyi. Oleh karena itu, rahasia, cepat, dan misteri merupakan pilar-pilar asli dari wahyu.[1]

 

Wahyu Dalam Al-Qur’an

Wahyu kebanyakan dari jenis ilmu dan kognisi, bukan dari jenis amal dan perbuatan; dan ilmu  merupakan dimensi khusus dari wujud yang tidak terlaburi mahiyah; kendatipun mahiyah senantiasa menyertainya. Oleh sebab itu, wahyu adalah sebuah komprehensi yang digali dari eksistensi. Dari sisi ini maka wahyu tidak mempunyai kuiditas dan tidak mungkin didefinisikan dengan jalan genus, difrensia, definisi, dan deskripsi. Jadi wahyu bersih dari semua itu yang berada di bawah kategori-kategori popular kuiditas, dan komprehensi wahyu –seperti pengertian eksistensi– mempunyai wujud luar (ekstensi), dimana misdaknya sendiri mempunyai tingkatan yang berbeda dan beragam.

Penjelasan tentang matlab ini:

1.                   Setiap ” wujud mungkin” terangkap dari wujud dan mahiyah.

2.                   Sesudah diurai akal dan dipisahkan mahiyah dari wujud, meskipun masing-masing dari mahiyah dan wujud ini adalah “mungkin” (possible), tetapi tidak satupun secara sendirian terangkap dari wujud dan mahiyah; yakni sesudah diurai oleh akal, meskipun masing-masing harus disertai lainnya, akan tetapi dalam atmosfir analisa, tidak satupun dari keduanya adalah berkomposisi.

3.                   Wahyu ilmi adalah dari jenis ilmu, dan ilmu adalah dari tipe wujud; apakah ia itu ilmu husuli ataukah ia ilmu huduri.

4.                   Wahyu adalah dari tipe ilmu huduri, bukan dari jenis ilmu husuli; akan tetapi dari bagian spesifik ilmu huduri, bukan mutlak ilmu tersebut.

5.                   Mungkin saja kadang suatu matlab terlontar  dalam hati dalam bentuk ilmu husuli dan merupakan bagian dari wahyu.

 

Dalam kultur al-Qur’an semua maujud-maujud mendapatkan saham dari ilmu dan kesadaran serta semuanya dapat mengambil manfaat dari jenis wahyu dan ilham. Seluruh alam ciptaan dalam sistem eksistensi berada di bawah pengelolaan Tuhan serta Tuhan adalah pengajar mereka, dan ini memungkinkan bahwa Tuhan terkadang dari jalan wahyu atau ilham melontarkan dan memahamkan suatu hakikat kepada manusia, malaikat, hewan, tumbuhan, bahkan hatta bebatuan; meskipun pada dasarnya terdapat juga jalan-jalan selain jalan pewahyuan dalam masalah ini.

 Oleh karena itu:

a. Karena wahyu galibnya dari jenis ta’lim (pengajaran) yang memiliki kekhususan tersembunyi, cepat, dan misteri maka pengajaran terang-terangan, dihadiri orang lain, lambat, bertahap, dan tanpa simbol tidaklah masuk dalam kunci dan gembok wahyu.

Simbol atau sandi, bukanlah ambigu dan bersifat global, sebab dalam perkara global dan ambigu tersimpan kegelapan dan ketidaktahuan, tetapi ungkapan yang bersandi memiliki isyarat terhadap makna-makna, dimana dalam perkara wahyu, gembok dan kuncinya berada di tangan para nabi As.

Pengetahuan global berbaur dengan kejahilan dan ilmu ijmâl (ilmu global dalam ilmu ushul fikh), yaitu percampuran dari beragam ketidaktahuan dengan satu ilmu.

Kendatipun wahyu galibnya dari tipe ilmu dan kognisi, tetapi terkadang ia juga dari jenis keputusan dan resolusi ilmu; dalam berhadapan dengan doktrin dan dogma. Terkadang iradah (kehendak) melakukan pekerjaan diperoleh dari wahyu, seperti: “Kami wahyukan kepada ibu Musa…”[2] dan “Kami wahyukan kepada mereka perbuatan kebaikan…”[3], dimana dalam masalah-masalah ini yang menjadi perkara diwahyukan adalah iradah, keputusan, dan pergerakan dalam diri, yang mana tidak satupun dari mereka ini termasuk dari kategori mafhum dzihni.

b. Demikian pula wahyu, bukanlah munajat dan pembicaraan bisik-bisik serta sembunyi-sembunyi. Dalam Islam sejati, seluruh al-Qur’an, adalah wahyu Tuhan: “…dan al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (al-Qur’an kepadanya)”[4]; “Kami menceritakan kepadamu (Muhammad) kisah yang paling baik dengan mewahyukan al-Qur’an ini kepadamu, dan sesungguhnya engkau sebelum itu dinisbahkan kepadanya adalah orang yang tidak mengetahui”[5].

Oleh karena itu, jika seseorang melakukan perenungan, pemikiran, dan tadabbur tentang ayat-ayat al-Qur’an, dia akan mengenal satu sudut dari rahasia-rahasia wahyu; sebab al-Qur’an adalah kalam Tuhan dan kalam Tuhan adalah wahyu-Nya. Dia adalah pengajar yang berbicara dengan manusia dengan perantara wahyu, dan seluruh alam eksistensi serta manusia mendapat pengajaran serta mendengarkan kalam Ilahi. Di samping itu, manusia sendiri juga adalah kalam Tuhan. Sebagai petunjuk bahwasanya Tuhan berbicara dengan manusia dengan kalam-Nya, al-Qur’an menyetir firman Tuhan dalam ayat-ayatnya: “…dan Allah bebicara (kallama) kepada Musa dengan pembicaraan (taklîman)”[6]; “…di antara mereka ada yang (langsung) Allah berbicara dengannya dan sebagian lagi ada yang ditinggikan-Nya beberapa derajat.”[7]

 

Jadi pada hakikatnya kita dapat meneliti seukuran kapasitas akal, kemampuan memahami dan mempersepsi diri kita terhadap wahyu dan kalam Tuhan; sebagaimana dapat juga dengan seukuran kapasitas itu melakukan penjelajahan intelektual dalam wilayah dzat, asmâ (nama-nama) dan sifat-sifat-Nya.

Dalam al-Qur’an karim terdapat banyak ayat-ayat yang berbicara tentang wahyu, dimana masing-masing dari ayat-ayat itu mengandung pesan-pesan kepada alam pemikiran, makrifat, dan ilmu. Sebelum kami utarakan beberapa aplikasi dari sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang mengupas tentang wahyu, perlu kiranya beberapa poin berikut ini diketahui:

–                      Kendatipun makna totalitas wahyu adalah satu dan terpaparkan dalam bentuk musytarak maknawi (bukan musytarak lafzhi), akan tetapi dikarenakan di antara misdak-misdak terjadi perbedaan yang dalam dan jarak yang curam maka hal ini menjadi pangkal timbulnya praduga dan kemungkinan akan persepsi musytarak lafzhi di antara mereka, dan ini adalah penyebab dinamakannya makna seperti ini dengan nama musyakkik; sebab mengarahkan pendengar pada syak dan keraguan bahwa makna lafazh (kata) ini dari tipe musytarak lafzhi ataukah musytarak maknawi; sementara itu kesatuan komprehensi adalah dalil dari isytirâk maknawi, sedangkan perbedaan yang dalam di antara misdak-misdak adalah sanad akan isytirâk lafzhi. Dengan segala tinjauan, dapat dinyatakan bahwa hakikat makna wahyu adalah satu dan musyakkik.

–                      Wahyu para nabi As mempunyai kekhususan tersendiri dan tidak boleh salah dipersepsikan dengan misdak-misdak lainnya, hatta dengan pengalaman keagamaan para urafa terkemuka.

–                      Wahyu tasyrii para nabi berbeda degan wahyu takwini mereka; apatah lagi dengan misdak-misdak wahyu lainnya (maksudnya lebih jelas perbedaannya).

–                      Topik wahyu –sebagaimana topik ilmu– bisa saja hakikatnya adalah satu, dan nisbahnya terhadap faktor pelaku dan faktor penerima telah menyebabkan timbulnya topik-topik yang beragam; seperti hakikat ilmu yang jika dinisbahkan kepada faktor pelaku maka ia adalah ta’lîm, dan jika dinisbahkan terhadap faktor penerima maka ia adalah ta’allum; kendatipun perbedaan tipis di antara tiga macam topik dan istilah ini (ta’lîm, ta’allum, dan ilmu) tetap terpelihara. Disini juga peristiwa pewahyuan, penerimaan wahyu, dan wahyu bisa saja ditilik dimensi  keragamannya dan pada saat yang sama menjaga dimensi kesatuannya.       

 

Lontaran-lontaran Setan

Telah diisyaratkan (dalam pembahasan kenabian) bahwa wilayah bersih memori dan ingatan para nabi adalah suci dari terlaburi kebusukan-kebususkan lontaran dan hembusan setani; sebab iblis tidak mempunyai kemampuan merasuk ke dalam harîm muqaddas (wilayah suci)  qalbu mereka. Pancaran sempurna ishmah dan kesucian meliputi dan menyelimuti hati-hati mereka dan puncakyang tinggi serta sinaran akal mereka tidak tergapai dan terjangkau oleh wâhimah (imaginative)dan khayalan-khayalan setani; akan tetapi pada person dan pribadi yang tidak maksum tentu saja  setan mempunyai kemampuan untuk menembus dan melontarkan bisikan-bisikan dan perkataan-perkataan Ahriman (Tuhan keburukan dalam agama Zoroaster); sebagaimana al-Qur’an mengisyaratkan hal ini dalam beberapa ayatnya, seperti:

1.                   “Dan demikianlah untuk setiap nabi Kami menjadikan musuh yang terdiri dari setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka melontarkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.”[8]

2.                   “Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya agar     mereka membantah kamu.”[9]

 

Dunia ini adalah tempat berniaga, sebagian orang dapat mengambil keuntungan untuk akhirat mereka dan sebagian lainnya hanya mendapatkan kerugian; sebagian orang memanfaatkan usianya dan dalam berhadapan dengannya memperoleh ilmu, makrifat, pengorbanan, kemanusiaan, kebaikan, dan kemuliaan. Mereka berniaga dengan orang yang karîm dan mulia serta tidak bermajlis dengan orang-orang rendah akhlak dan hina moral. Dalam berniaga dengan pribadi karîm dan mulia, bisa saja harga barang dan barang keduanya kembali kepada sipeniaga.

Sekelompok orang juga berbarter dengan setan dan dalam perdagangan ini, modal, harga, barang, dan seluruh miliknya habis tak tersisa sedikitpun serta mereka juga kehilangan umur, amal, akidah, iman, dan wibawa. Setan dalam bermuamalah dengan manusia, tidak akan pernah membuka jalan keberuntungan bagi lawan niaganya. Ia akan merenggut seluruh modal dan investasi manusia dan menggiring mereka ke jurang curam kerugian; seperti sinar matahari panas yang mencairkan es dagangan seorang pedagang es hingga membuatnya jadi rugi.

Turunnya wahyu untuk memperingatkan manusia akan akibat malang menerima bisikan dan godaan setan: “…al-Qur’an ini diwahyukan kepadaku agar dengan itu aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang yang sampai (al-Qur’an kepadanya)”[10], sehingga setan tidak mampu mempermalukan seseorang dan menghilangkan harga dirinya.

Setan memenjarakan manusia dalam lingkaran pengaruhnya dan memerintahkan tahanan-tahanannya menyebarkan racun akhlak serta melontarkan syubhat-syubhat dalam pemikiran lewat pena dan tulisan, bahasa dan retorika, informasi dan penerbitan, serta kitab, majalah, dan koran, sehingga masyarakat mengalami kegelapan dan kekaburan. Dan ini merupakan cikal bakal tersemainya ketidak beragamaan dan penipisan iman sehingga dengan sekali sentakan mereka terjatuh ke jurang kehancuran kekafiran dan kefasikan: “Wahai anak cucu Adam! Janganlah sampai kamu tertipu oleh setan sebagaimana halnya dia (setan) telah mengeluarkan ibu bapakmu dai surga, dengan menanggalkan pakaian keduanya untuk memperlihatkan aurat keduanya. Sesungguhnya dia dan pengikutnya dapat melihat kamu dari suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. Sesungguhnya Kami telah menjadikan setan-setan itu pemimpin bagi orang-orang yang tidak beriman”.[11]              

Oleh karena itu, setan, memasukkan kedalam hati seseorang dengan jalan rahasia, sembunyi, cepat , dan misterius berbagai bentuk wahyu syubhat, yang kemudian dari situlah masuk ke dalam atmosfir masyarakat. Virus berbahaya ini, pertama mencegah manusia yang dimasukinya dari amal mustahab dan selanjutnya diapun meringan-ringankan amal wajib; sampai dia pada akhirnya menjadi misdak dari yat ini: “Kemudian, akibat yang lebih buruk adalah kesudahan bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan. Karena mereka mendustakan ayat-ayat Allah dan mereka selalu memperolok-olokkannya.”[12]

Kebanyakan ideologi dan mazhab buatan sesat yang ada merupakan dampak dan pengaruh dari syubhat-syubhat setan serta ayat-ayat setani yang pada awalnya hinggap dalam hati para cendekiawan dan ilmuan cinta dunia dan selanjutnya mendapat jalan masuk ke dalam jantung masyarakat. Jumlah orang yang berperan nabi-nabi palsu atau gadungan tidak lebih sedikit dari jumlah para nabi hakiki, dan karya serta pengaruh ulama buruk tidak lebih minim dari karya dan pengaruh ulama rabbani. Para nabi Ilahi datang sebagai utusan Tuhan untuk memberi hidayah bangsa-bangsa dan masyarakat, sementara para nabi palsu dan ilmuan buruk menerima lontaran-lontaran setani  untuk membuat aliran, mazhab, dan ideologi yang menyesatkan masyarakat.

Setan pada awalnya menipu manusia dan kemudia membuatnya menjadi yakin dan percaya serta pada akhirnya menggambarkan bahwasanya tidak ada yang benar selain ini (buatan pikirannya): “Katakanlah (Muhammad), “Apakah perlu Kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (Yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya.”[13]

Setan adalah maujud beringas yang hatta terhadap dirinyapun tidak punya kasih. Ia beribadah enam ribu tahun dan kemudian menghancurkan dirinya untuk selamanya dalam neraka. Amirul Mukminin As berkata: Tidak diketahui bahwa enam ribu tahun itu adalah perhitungan tahun duniawi ataukah ukhrawi. Maujud berbahaya dan beringas  seperti ini, bagaimana mungkin mengasihi yang lainnya dan membuka jalan kebenaran pada mereka serta tidak menyergap secara tiba-tiba atas mereka? Memang, lontaran-lontaran beracunnya adalah cepat, rahasia, dan misterius. Ia dengan para pengikutnya bersembunyi serta merealisasikan kehendak-kehendak busuknya yang terkadang lewat ujung pena-pena mereka. Ia menampakkan lampu hijau dan membuat janji-janji, akan tetapi tidak satupun dari janji itu akan ia penuhi dan tepati.

Berasaskan ini, terkadang manusia menyangka ia telah mendapatkan tongkat Musa atau cincin Sulaiman; mereka lupa bahwasanya tongkat Musa dan cincin Sulaiman tidak dapat dimiliki dan berguna di tangan orang lain. Sebab tongkat tanpa nabi Musa As tidak akan berubah menjadi ular dan pedang dzulfikar tanpa hadhrat Ali As tidak akan menang serta baju tanpa pesan hadhrat Yusuf As tidaklah akan menyebabkan mata buta dapat melihat.

 

Wahyu Kepada Langit dan Bumi          

Tuhan mengingatkan dalam beberapa ayat al-Qur’an tentang undang-undang yang berkuasa atas langit dan bumi yang menyebabkan terjadinya keteraturan akurat dan perputaran yang teratur serta manfaat-manfaat yang layak darinya; seperti: “Kemudian Dia menuju kelangit dan (langit) itu masih berupa asap, lalu Dia berfirman kepadanya dan kepada bumi, “Datanglah kamu berdua menurut perintah-Ku dengan patuh atau terpaksa.” Keduanya menjawab, “Kami datang dengan patuh.” Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing. Kemudian langit dunia ini, Kami hiasi dengan bintang-bintang, dan (Kami ciptakan itu) untuk memelihara. Demikianlah ketentuan (Allah) Yang Mahaperkasa, Maha Mengetahui”.[14]

Berasaskan ini, ruang lingkup wahyu Tuhan meliputi seluruh langit dan bumi, dan langit serta bumi memiliki pendengaran dan menerima perintah lewat wahyu-Nya. Keduanya patuh dan tidak akan keluar dari ruang lingkup undang-undang yang berkuasa atas mereka; seolah-olah mereka seperti manusia yang memiliki kesadaran dan kognisi yang berserah diri atas perintah dan menerima aturan-aturan.

Langit dan bumi menerima wahyu dan kesadaran rumusannya ada sejak  pada awal kejadiannya dan hingga kini  melanjutkan perjalanan kesempurnaannya, sampai suatu ketika mereka akan menceritakan apa yang telah dilewatinya, sebagaimana Tuhan berfirman: “jika bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat, dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung) nya, dan manusia bertanya, “Apa yang terjadi pada bumi ini?” Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah mewahyukan (yang demikian itu) padanya.”[15]

Perlu disadari bahwa meskipun dalam pancaran pengetahuan kontemporer dan penemuan-penemuan baru hari ini telah banyak menyingkap wahyu-wahyu yang diperoleh langit dan bumi (undang-undang yang menata dan mengatur mereka), akan tetapi tentu saja masih terdapat jarak yang sangat jauh untuk sampai menjangkau seluruhnya. Ini adalah suatu telaahan dan bacaan yang menuntut ribuan bahkan jutaan tahun penelitian dan observasi tentangnya; sebab sebagian dari matlab-matlabnya adalah fisika dan sebagian lagi dari makrifat-makrifatnya adalah metafisika.

 

Wahyu Kepada Lebah   

Sebelumnya telah diungkapkan bahwa seluruh alam ini mempunyai kehidupan dan kesadaran dan seluruh maujud-maujud mengikuti tata tertib dan aturan wahyu mereka masing-masing. Al-Qur’an mengungkapkan bahwa sebagian hewan-hewan mendapatkan wahyu, seperti ayatnya: “Dan Tuhanmu mewahyukan (ilham dalam bentuk instink) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia, kemudian makanlah dari segala (macam) buah-buahan dan tempulah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berfikir.”[16]

Dalam ayat ini, wahyu berkenaan dengan pemberian “pengambilan keputusan” dan wahyu yang berkaitan dengan ‘azm, iradah, dan motivasi. Sebagaimana ayat menyebutkan; pertama, keputusan lebah tentang  keharusan berumah dan membuat sarang dengan bentuk spesifik dan arsitek khusus, dan perkara ini harus tercipta pada tempat yang sesuai, seperti gunung-gunumg  atau pohon-pohon. Pada tahap kedua, harus menyediakan makanan yang sesuai –itupun dengan bunga-bunga yang semerbak dan wangi– yang mana untuk menentukannya tidak mungkin dilakukan oleh seorangpun kecuali dengan wahyu rabbani. Pada tahap ketiga, perjalanan dalam rangka mencari makanan yang memestikan pengenalan jalan dan melewati perjalanan serta perjalanan yang mesti sejalan dengan wahyu (sesuai dengan ayat “tempulah jalan Tuhanmu”). Pada tahap keempat dan akhir dari pekerjaan, natijah dan hasil dari pekerjaan yang tak mengenal lelah dari hewan ini, adalah madu yang beragam warnanya yang memiliki khasiat menyehatkan dan menyembuhkan.    

 

Wahyu atau Ilham Kepada Amal       

Wahyu, kadang berhubungan dengan tashawwur (konsepsi) atau tashdiq (pembenaran) yang berada di seputar pengajaran dan makrifat, dan terkadang juga berhubungan dengan kecenderungan dan keputusan; seperti kesukaan, motivasi, peringatan, ancaman, dan lainnya. Sebagian dari perkara-perkara wahyu yang aplikasinya terdapat dalam al-Qur’an di antarnya:

1.                   “Lalu Kami wahyukan kepadanya (Nuh), “Buatlah kapal di bawah pengawasan dan wahyu Kami.”[17]

2.                   “Dan ingatlah, ketika Aku wahyukan dan ilhamkan kepada pengikut-pengikut  Isa  yang setia (Hawariyyûn hadhrat Isa As), “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.”[18]

3.                   “Dan Kami wahyukan kepada Musa As, “Pergilah pada malam hari dengan membawa Bani Israil, sebab pasti kamu akan dikejar”[19], dan juga ayat: “Dan Kami wahyukan kepada Musa As ketika kaumnya meminta air kepadanya, “Pukullah batu itu dengan tongkatmu!” Maka memancarlah dari (batu) itu dua belas mata air”.[20]

4.                   “Dan Kami wahyukan kepada ibu Musa As, “Susuilah dia (Musa), dan jika engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai Nil. Dan janganlah engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan mengembalikan kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul.” [21] Sebab ibu nabi Musa As memperoleh takdir anaknya secara informasi rahasia dari Tuhan maka al-Qur’an menamakan itu sebagai wahyu. Tidak diragukan bahwa ibu nabi Musa As bukanlah seorang nabi, tetapi kepadanya telah diilhamkan informasi rahasia yang al-Qur’an menyebutnya dengan wahyu. Demikian pula kondisi nabi Yusuf As ketika masih remaja, dimana saudara-saudaranya membuat rencana untuk membunuhnya dan Tuhan memberitahukan perkara ini dalam peristiwa pembuangannya ke dalam sumur sebagai wahyu, dan berfirman: “Maka ketika mereka membawanya dan sepakat memasukkan ke dalam sumur, Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”[22]

5.                   “Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan shalat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”[23] Tuhan, terhadap semua pemimpin-pemimpin Ilahiah –para nabi As, para imam As, dan para ulama rabbani– mungkin saja mewahyukan dan memberi petunjuk untuk mengambil sikap dan keputusan serta menunjukkan kepada mereka tanggung jawab yang mesti dikerjakan. Ini semua adalah sejenis ‘azm (tekad yang bulat) dan keputusan amal yang dilontarkan dan diilhamkan kepada pemimpin-pemimpin Ilahiah. Oleh karena itu, yang terkena curahan jenis wahyu-wahyu ini adalah akal amali; akal yang dengannya Tuhan Maha Rahman disembah dan surga diusahakan.[24] Terdapat saham yang cukup luas dari ayat-ayat wahyu yang mengungkapkan seputar pengambilan keputusan, sikap, amal, dan prilaku. Jenis wahyu ini dinamakan juga ilham dan bagi setiap orang –dalam batas dan kapasitas dirinya– mempunyai kemungkinan untuk mendapatkannya; sebagaimana sangat banyak penemuan ilmiah dan penyingkapan pengetahuan timbul lewat inspirasi dan ilham Ilahi dan mungkin saja syiir-syiir yang bermuatan tinggi dan transendental diperoleh dari jalan ini.

 

Hurr bin Yazid Riyâhi, ketika berada di antara jajaran pasukan imam Husain As dan Umar Sa’d yang saling berhadapan, berkata: Saya mendengar senandung yang memberi kabar gembira dan menjanjikan padaku surga. Dia pada awalnya menunjukkan rasa takjub terhadap berita gembira ini, namun ketika dia mengambil keputusan  dan membulatkan tekad untuk bergabung dengan imam Husain As, dia yakin bahwa basyârat itu adalah ilham dari alam gaib.

            Di sini ada dua poin yang urgen diperhatikan:

–                      Jika wahyu berhubungan dengan hukum insyâi (perintah) dan disertai dengan undang-undang dan aturan baru maka ini adalah tipe tasyrii yang hanya dikhususkan bagi para nabi As.

–                      Jika wahyu berhubungan dengan perbuatan, iradah, ‘azm, motif, dan lainnya dan tidak dari tipe hukum insyâi maka wahyu dalam bentuk ini tidak terkhususkan untuk para nabi As.

 

Wahyu Kepada Para Nabi As                                         

            Al-Qur’an berulang-ulang kali membicarakan tentang wahyu kepada para nabi As, di antaranya:

1.                   “Demikianlah Allah Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana mewahyukan kepadamu (Muhammad) dan kepada orang-orang yang sebelummu.”[25]

2.                   “Dan tidaklah patut bagi seorang manusia bahwa Allah akan berbicara padanya kecuali dengan perantaraan wahyu atau dari belakang tabir atau dengan mengutus utusan (malaikat) lalu diwahyukan kepadanya dengan izin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sungguh, Dia Mahatinggi, Mahabijaksana.”[26] Amirul Mukminin Ali As dalam tafsir ayat ini berkata: Wahyu dan kalam Tuhan adalah tidak satu jenis, tetapi sebagian dalam bentuk kalam dan pembicaraan yang mana Tuhan dengan perantaraan itu berbicara dengan nabi-nabi-Nya, dan sebagiannya terlontar ke dalam qalbu para nabi As serta sebagian lagi dalam bentuk mimpi yang mereka saksikan, dan sebagian juga wahyu yang dibacakan dalam bentuk kalamullah.[27]

Al-Qur’an berbicara tentang wahyu khusus nabi Muhammad Saw: “Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) rûh dengan perintah Kami. Sebelumnya engkau tidaklah mengetahui apakah kitab (al-Qur’an) dan apakah iman itu, tetapi Kami jadikan al-Qur’an itu cahaya, dengan itu Kami memberi petunjuk siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sungguh, engkau benar-benar membimbing (manusia) kepada jalan yang lurus.[28]

Ustad Allamah Thabathabai dalam tafsir ayat 52 dan 53 surah asy-Syûrâ, mengutarakan: Tuhan berbicara dengan hamba-Nya lewat salah satu dari tiga jalan ini; dengan perantara wahyu atau dari belakang tabir dan hijab atau dengan perantara mengutus utusan yang dengan izin-Nya Dia mewahyukan apa yang  Dia kehendaki; selanjutnya Allamah mengutarakan: Dia wahyukan pesan-pesan-Nya dengan jalan ini kepada rasul-Nya Saw dan apa yang dari sisi Tuhan diwahyukan kepada beliau -sebelum pewahyuan- tidak ada sebelumnya dalam jiwa beliau (yakni beliau sebelumnya tidak mengetahui satupun dari hakikat-hakikat wahyu). Wahyu ini adalah cahaya Ilahi yang mana Tuhan berikan secara khusus kepada salah satu dari hamba-hamba-Nya yang Dia kehendaki… .

‘Atf (konjungsi) tiga bagian dari pembicaraan Tuhan dengan manusia (…kecuali dengan perantaraan wahyu ataudi belakang tabir atau dengan mengutus utusan…) dengan perantara kata penghubung ‘atau’, menjelaskan bahwa tiga bagian ini adalah berbeda satu sama lain; sebab dalam dua bagian akhir, satunya dikaitkan dengan tabir dan lainnya dikaitkan dengan pengiriman utusan; tapi bagian pertama tidak memiliki kait sama sekali. Pada dasarnya yang pertama ini berhadapan dengan dua lainnya dan yang dimaksud adalah pembicaraan sembunyi dan rahasia; suatu pembicaraan yang di dalamnya tidak satupun perantara antara Tuhan dengan lawan bicara-Nya.

Akan tetapi maksud dari dua pembicaraan lainnya –yang mempunyai kait– adalah pembicaraan dengan perantara, dimana perantara ini dalam bagian ketiga adalah malaikat Jibril; sebagaimana dalam ayat: “Yang dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (malaikat Jibril) ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau termasuk orang yang memberi peringatan.”[29] Bagian kedua dari pembicaraan Tuhan juga dengan perantara, dimana dalam hal ini perantaranya adalah di belakang hijab; sebagaimana dialog yang terjadi antara Tuhan dengan nabi Musa As di bukit Thûr: “Maka ketika dia (Musa) sampai ke (tempat) api itu, dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah, dari sebatang pohon, di sebidang tanah yang diberkahi, “Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam!”[30]

Terdapat juga wahyu-wahyu dalam alam mimpi para nabi As yang termasuk dari bagian ini.

Bagian pertama dari pembicaraan Tuhan, adalah pembicaraan-Nya dengan nabi Islam Muhammad Saw yang terjadi tanpa perantara malaikat Jibril dan tanpa tabir setiap bentuk hijab. Dan karena setiap tiga bagian wahyu mempunyai nisbah kepada Tuhan, maka dari itu wahyu dapat dipandang secara mutlak berelasi dengan Tuhan; sebagaimana al-Qur’an mengungkapkan: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah wahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya….”[31]       

Zurarah berkata: Saya bertanya kepada imam Shadiq As: Kondisi pingsan yang mendatangi Rasulullah Saw tatkala dituruni wahyu itu, adalah bagaimana? Imam Shadiq As berkata: Ini  (dialami Rasulullah) dalam bagian wahyu yang antara  beliau dan Tuhan tidak ada sama sekali  perantara dan Tuhan Yang Mahatinggi memanifestasikan diri-Nya untuk beliau. Zurarah berkata: Kemudian imam Shadiq As dalam keadaan menampakkan khusyu’ berkata: Ini adalah Kenabian, wahai Zurarah![32]

Imam Shadiq As bersabda: Setiap kali malaikat Jibril turun pada Rasulullah Saw, dia duduk di hadapan nabi seperti hamba, dan setiap kali dia  akan masuk, dia meminta izin ( terlebih dahulu kepada nabi).[33]    

Zurarah berkata: Saya bertanya kepada imam Baqir As tentang perbedaan antara rasul, nabi, dan muhaddats, beliau berkata: Rasul adalah seseorang yang malaikat Jibril As datang di sisinya dan dia berbicara dengannya berhadap-hadapan dan dia melihat malaikat Jibril As sebagaimana kamu melihat orang yang kamu ajak bicara di hadapanmu. Orang seperti inilah disebut dengan rasul. Nabi adalah seseorang yang melihat malaikat Jibril As dalam tidur; seperti hadhrat Ibrahim As yang melihat dalam mimpi mengorbankan putranya, dan seperti Rasulullah Saw yang dalam tidur ringannya dan dalam keadaan itu malaikat Jibril As datang padanya. Orang seperti ini disebut dengan nabi. Terkadang kenabian dan risalah berkumpul pada satu orang; seperti Rasulullah Saw beliau rasul dan juga nabi dan beliau melihat malaikat Jibri As di hadapannya dalam kondisi tidak tidur dan beliau berbicara dengannya, serta Rasulullah Saw juga (sebagai seorang nabi) melihat malaikat Jibril As dalam tidur. Muhaddats adalah seseorang yang mendengar kalam malaikat dan berbicara dengannya, tetapi dia tidak melihat malaikat baik dalam tidur maupun dalam kondisi terbangun.[34]   

 

Mimpi-Mimpi Shâdiq (Benar)

Dalam hadits-hadits yang telah diisyaratkan, disebutkan bahwa mimpi-mimpi benar itu adalah sejenis wahyu. Saat ini kami akan isyaratkan sebagian dari mimpi-mimpi benar dari nabi-nabi As:

1.         Tidur (mimpi) hadhrat Ibrahim khalilullah As; al-Qur’an mengungkapkan tentang hadhrat Ibrahim As seperti ini: “Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, Ibrahim berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan  (Allah) kepadamu; Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”[35]     

 

Imam Shadiq As berkata: Sebab nabi Ibrahim As menyaksikan dalam mimpi putranya Ismail As dia kurbankan maka ketika musim haji dia membawa Hajar dan Ismail As keluar dari Syam menuju ke Mekkah sehingga dalam perayaan haji dia akan sembelih Ismail As. Dia pertama meninggikan pondasi-pondasi rumah Tuhan (Ka’bah), kemudian pergi ke Mina dan melaksanakan manasik serta amal-amal Mina dan kembali ke Mekkah serta tawaf atas Ka’bah. Dan setelah melaksanakan sa’î Safa dan Marwah dia berkata pada Ismail As: Putraku sayang! Saya melihat dalam mimpi bahwa engkau dalam musim tahun ini saya kurbankan, bagaimana pandanganmu? Dia (Ismail As) berkata: Wahai ayahku! Apa yang diperintahkan padamu, lakukanlah!

Sebab  telah selesai sa’î maka Nabi Ibrahim As membawanya ke Mina dan pada hari idul kurban ketika sampai jumrah wusthâ dia membaringkan Ismail As ke sisi kiri dan mengambil pisau untuk menyembelihnya. Pada saat ini, dia mendengar seruan bahwa engkau telah membenarkan mimpimu, dan engkau telah melaksanakan tugasmu: “Sungguh engkau telah membenarkan mimpi itu”.[36]Saat itu terjelma biri-biri besar dan nabi Ibrahim As mengurbankan biri-biri itu dan menyedekahkan dagingnya kepada orang-orang miskin.[37]

2.         Mimpi hadhrat Yusuf As; al-Qur’an mengungkapkan tentang hadhrat Yusuf As seperti ini: “(Ingatlah), ketika Yusuf As berkata kepada ayahnya, “Wahai ayahku! Sungguh, aku (bemimpi) melihat sebelas bintang, matahari dan bulan; kulihat semuanya sujud kepadaku.”[38]       

            Hadhrat Yusuf As menyaksikan perkara-perkara tersebut dalam mimpi, dan betapa suatu karunia mimpi  jika seseorang menyaksikan peristiwa seperti ini dalam keadaan tidur. Ini adalah semacam wahyu yang menunjukkan fenomena terang kenabian; sebagaimana Tuhan dalam akhir kisah, dari ucapan hadhrat Yusuf berfirman: “…Wahai ayahku! Ini adalah takwil dari mimpiku… .”[39]

            Tuhan, dalam ayat lain, memandang jenis mimpi ini adalah sahih dan berfirman: “Dan demikianlah, Tuhan memilih engkau (untuk menjadi nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan (nikmat-nikmat-Nya) kepadamu dan kepada keluarga Ya’qub… .”[40]

Allamah Thabatahabai di bawah ayat ini menuliskan penjelasan seperti ini: Takwil dalam ungkapan: “Dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi”, yang dimaksud adalah (ramalan peristiwa) apa yang akan datang, yang akan terjadi sesudah penglihatan dalam mimpi serta merupakan ta’bir dari mimpi, dan itu adalah peristiwa yang hakikatnya menjasad dalam alam tidur bagi pemilik mimpi. Dan ini menjelma dalam bentuk dan gambaran yang sesuai dengan kognisi dan kesadaran dia; sebagaimana menjasadnya sujud ayah, ibu, dan saudara-saudara nabi Yusuf As dalam bentuk sebelas bintang dan bulan serta matahari yang sujud dalam berhadapan dengannya. Di samping itu, dia juga sanggup menta’birkan mimpi teman sepenjaranya dan mimpi raja Mesir secara baik dan benar serta ditakwilkanlah (diramalkan) mimpi-mimpi itu sesuai dengan ta’birnya (Nabi Yusuf As).[41]

Perlu diketahui bahwa “takwil ahâdîts” dalam ayat ini (Q.S. Yusuf : 6) lebih umum dari peristiwa-peristiwa yang dilihat dalam mimpi yang berhubungan dengan kejadian yang akan datang; akan tetapi yang dimaksud adalah mutlak peristiwa-peristiwa, apakah peristiwa yang disaksikan itu dalam tidur ataukah terbangun, dan ini adalah salah satu dari dimensi kenabian; sebagaimana Tuhan berfirman: “…Kami wahyukan kepadanya, “Engkau kelak pasti akan menceritakan perbuatan ini kepada mereka, sedang mereka tidak menyadari.”[42]  

3.         Mimpi hadhrat Muhammad Saw; Tuhan berfirman tentang mimpi nabi Islam Muhammad Saw: “Sungguh, Allah akan membuktikan kepada rasul-Nya tentang kebenaran mimpinya bahwa kamu pasti akan memasuki Masjidilharam, jika Allah menghendaki dalam keadaan aman, dengan menggundul rambut kepala dan memendekkannya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tidak kamu ketahui, dan selain itu Dia telah memberikan kemenangan yang dekat.”[43]

 

Wahyu Kepada Malaikat

Malaikat-malaikat juga mendapatkan wahyu dari Tuhan; sebagaimana al-Qur’an mengungkapkan tentang mereka dalam ayatnya: “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman.”[44]

Para malaikat adalah pesuruh Tuhan yang dalam menjalankan tugasnya senantiasa taat dan tidak pernah maksiat dan membangkang dari perintah Tuhan: “…yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.”[45]

Para malaikat, dalam berbagai sistem eksistensial -dengan izin Tuhan- sibuk melakukan pengaturan dan pengelolaan perkara dan masalah alam dan perkara yang berhubungan dengan ilmu dan makrifat, pemikiran dan teoritis, keputusan dan kehendak yang sebelumnya tidak pernah terjadi dalam kehidupan manusia; jika hak, benar, baik, bermanfaat, dan sesuai dengan pengajaran al-Qur’an serta maksumin As, maka semuanya itu datang dari sisi Tuhan dan pembawanya adalah para malaikat, sebagaimana ayat menyatakan: “Di tangan para utusan (malaikat), yang mulia lagi berbakti.”[46]

Perlu diperhatikan bahwa perkara-perkara yang telah disebutkan itu, tidak seharusnya mars (batas demarkasi) antara wahyu khusus kepada para maksumin Tuhan dan wahyu biasa menjadi terlalaikan dan terlupakan; akan tetapi selamanya kekhususan dan kelebihan wahyu maksumin pemilik syariat harus dijaga dan ia senantiasa berperan sebagai mizan perbandingan dan parameter adil dan benarnya suatu makrifat.     

 

Wahyu Dari sudut Tinjauan Hadhrat Ali As

Amirul mukminin Ali As menafsirkan dan membagi makna wahyu kepada beberapa bagian:

–                      Wahyu yang maknanya sesuai dengan kenabian dan risalah; seperti: “Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan (pula) kepada Ibrahim, Ismail,… .”[47]

–                      Wahyu yang bermakna ilham; seperti: “Dan Tuhanmu mewahyukan (mengilhamkan) kepada lebah, “Buatlah sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia”[48]; dan: “Dan Kami wahyukan (ilhamkan) kepada ibunya Musa, “Susiilah dia (Musa), dan jika engkau khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil).”[49] Kendatipun inti dari ilham seperti ini adalah dimensi amal, akan tetapi amal ini merupakan suatu amal yang berbasis informasi dan nalar logis. Oleh karena itu, pengetahuan terhadap metode amal dan makrifat terhadap kualitas amal –yang merupakan tipe ilmu– masuk dalam kandungan dari makna ilham tersebut di atas.

–                      Wahyu bermakna isyarat; seperti bunyi ayat: “Maka dia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu dia mewahyukan (memberi isyarat) kepada mereka; bertasbihlah kamu pada waktu pagi dan petang.”[50]

–                      Wahyu bermakna takdir; seperti Firman Tuhan: “Lalu diciptakan-Nya tujuh langit dalam dua masa dan pada setiap langit Dia mewahyukan urusan masing-masing.”[51]

–                      Wahyu bermakna ilham ‘azm; seperti: “Dan (ingatlah), ketika Aku wahyukan (ilhamkan) kepada pengikut-pengikut Isa yang setia (Hawariyyun), “Berimanlah kamu kepada-Ku dan kepada rasul-Ku.”[52] Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, wahyu dalam bentuk ini bermakna gerak hati dan ilham mengambil keputusan serta pemberian ‘azm.

–                      Wahyu bermakna membisikkan dan meniupkan tipuan serta dusta: seperti keterangan ayat berikut ini: “…Setan-setan manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.”[53] Lontaran-lontaran yang mahir, tersembunyi, dan penuh tipuan disebut dengan wahyu setani.    

–                      Wahyu bermakna lontaran iradah dan kehendak melakukan pekerjaan baik; seperti ungkapan ayat: “Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan.”[54] Yakni keputusan mengerjakan perbuatan-perbuatan baik dan ‘azm merealisasikan amal-amal kebajikan merupakan misdak nyata dari pewahyuan fi’il (perbuatan) baik.

Di sini perlu kami ingatkan bahwa apa yang menjadi misdak-misdak wahyu pikiran, motivasi, keputusan amal, dan ‘azm amal serta yang meliputi akal teoritis dan akal praktis dari sudut tinjauan hadhrat Ali As, sesuai dengan sebagian nash-nash yang dinukil dari sekh-sekh; dan jika kita tidak membatasi diri pada aspek ini, maka untuk mendapatkan misdak-misdak yang lain dari kalam beliau adalah lebih memungkinkan dari ini; sebagaimana untuk mendapatkan informasi tentang misdak-misdak lain (wahyu)  dari ungkapan dan kalam maksumin As yang lainnya, adalah memungkinkan dan dapat diterima.

 

Pandangan Para Ilmuan Tentang Sumber Wahyu

Sekelompok ilmuan berkeyakinan bahwa sumber wahyu adalah alam di luar kesadaran dan pengetahuan yang dijangkau dan diraih panca indera, dan menurut ungkapan Allamah Tahabathabai: Kesadaran misterius dan rahasia ini, berasal dari alam di luar akal, batin manusia, pikiran, dan kejeniusan manusia. Kendatipun alam di bawah sadar pada proporsinya adalah benar, tetapi jalan nubuwah dan wahyu, bukanlah suatu jalan pikiran, kejeniusan, dan perolehan lewat usaha, akan tetapi adalah pemberian Tuhan, bukan hasil dari upaya manusia.[55]

Sebagian dari ilmuan juga memandang wahyu, lahir dari kejeniusan dan kecerdasan yang luar biasa. Menurut mereka, orang-orang jenius, dengan kejeniusan esensial dan kejiwaannya, memiliki pikiran-pikiran tinggi, baru, dan nalar serta rasionalitas tinggi, dan dari jalan ini mereka berkhidmat kepada masyarakat.      

Sebagian lagi punya pandangan bahwa manusia mempunyai dua kepribadian dan identitas; kepribadian lahiriah yang diatur lewat ruang lingkup lima panca indera dan kepribadian batiniah. Ketika kesadaran-kesadaran lahiriah tidak bekerja, kesadaran-kesadaran batiniah melakukan aktivitas; sebagaimana dalam tidur tabii dan tidur magnetis dapat diperoleh kejadian-kejadian dan hasil-hasil yang ajaib serta asing. Kepribadian batini ini adalah tidak terlihat dan memiliki intensitas kuat serta lemah, dan jika intensitasnya lebih kuat maka manifestasinya lebih besar dan lebih benar.

Berasaskan ini,  maka wahyu menurut mereka adalah pancaran dari dalam diri yang tersembunyi dan manifestasi kesadaran batin para nabi. Oleh karena itu, sesuai pandangan ini, tidak perlu ada malaikat pembawa wahyu dan para nabi tidak diutus dari sisi Tuhan. “Wahyu di sisi mereka tidak lain adalah manifestasi kepribadian batiniah bagi rasul, dan wahyu kesadaran batiniah rasul itu adalah sesuatu yang bermanfaat baginya dan bagi kaumnya yang sezaman dengannya.”[56]

Akan tetapi kita ketahui bahwa: pertama, kata paling awal dan kata paling akhir al-Qur’an, seluruhnya adalah wahyu dan dalam kitab Ilahi ini, makrifat-makrifat, hakikat-hakikat, undang-undang, dan perintah-perintah yang meskipun para jenius dari yang paling pertama dan akhir, paling tinggi dan paling kuat intensitas derajat batinnya, serta orang yang memiliki kekuatan dalam diri yang tersembunyi, mereka semua itu berkumpul dan saling membantu satu sama lain, niscaya tidak akan bisa menghasilkan suatu ungkapan, makrifat, dan hakikat seperti al-Qur’an. Oleh karena itu, dalam hal ini yang benar adalah apa yang dikatakan oleh almarhum Allamah Thabathabai. Kedua, kesucian ruh dari satu sisi dan kecerdasan akal dari sisi lain, ini hanya berada dalam tataran kesiapan sebagai penerima (qâbilî) wahyu, bukan dalam tataran sebagai pelaku (fâ’ilî) wahyu; yakni akal  cerdas dan jiwa suci hadhrat Rasul Saw adalah penerima sempurna (qâbili tâm) dalam mendapatkan wahyu; bukan sumber keluarnya (mashdar) pewahyuan dan sumber tercipta serta keluarnya wahyu. Ketiga, wahyu tasyri’i Tuhan sampai kepada insan kamil (manusia sempurna) dan maksum; namun tidak berarti bahwa wahyu tasyri’i akan dijangkau oleh setiap manusia sempurna dan maksum; sebab: “Allah lebih mengetahui dimana Dia meletakkan risalah-Nya.”[57] Oleh karena itu, nisbah antara rasul tasyri’i dengan kemaksuman adalah umum wa khusus mutlak. Keempat, ketika rasul tasyri’i lebih utama dari manusia sempurna maksum dan mempunyai kekhususan yang tidak dimiliki oleh manusia-manusia sempurna maksum lainnya maka tentu kelebih utamaan rasul tasyri’i dari manusia-manusia ‘ârif (jamaknya urafa) tidak maksum dan juga kelebih utamaannya dari manusia-manusia jenius dan pemikir ahli adalah sangat jelas.

Penjelasan matlab tersebut:

1.                   Ilmu para pemikir dan cendekiawan dalam hikmah (filsafat) dan kalam (teologi) serta disiplin-disiplin ilmu lainnya, berhadapan dengan istinbat dari suatu landasan, kemudian perpindahan dari matlab-matlab (subyek atau tema) menuju ke arah matlab-matlab dan perpindahan kembali mereka (subyek atau tema) dari landasan ke arah matlab-matlab; yakni dari jalan ijtihad dan gerak berpikir (berulang kali).

2.                   Apa yang menjadi saham dari para ilmuan dan cendekiawan dalam disiplin-disiplin ilmu yang beragam adalah mafhum dzihni dan ilmu husuli.

3.                   Apa yang menjadi bagian ilmu para ilmuan, tidak terjaga dan terpelihara dari terpaan kekeliruan, kesalahan, kealpaan, dan semacam itu lainnya; pada saat yang sama saham ilmu manusia sempurna yang mendapatkan wahyu adalah terjaga dari semua perkara tersebut di atas.

4.                   Apa yang menjadi saham para ârif dalam pengetahuan dan ilmu irfan, kendatipun itu adalah ilmu huduri dan bukan ilmu husuli, dan juga meskipun bukan tipe ijtihad mafhumi dan perpindahan dari matlûb kepada mukadimah dan dari mukadimah kepada natijah, akan tetapi terkadang masyhud (yang disaksikan) ‘ârif memiliki mabda setani dan terkadang mabdanya malakuti. Oleh karena itu, terkadang masyhud ‘ârif adalah hak dan terkadang juga adalah batil, dan wasilah untuk menentukan benar dan salahnya serta hak dan batilnya (masyhud) -sesudah keluar dari kondisi keterpesonaan atau ketaksadaran dan kembali kepada keadaan biasa- tidak lain adalah argumen rasional (burhan akli); sementara manusia sempurna maksum, bersih dan suci dari apa yang disebutkan semua itu.

5.                   Apa yang menjadi bagian maksum kâmil (sempurna) dan manusia-manusia suci, kembali pada keindahan dan ornamen-ornamen yang bukan wahyu, dinisbahkan dengan apa yang menjadi saham hadhrat Rasul Saw -selain perbedaan yang kembali pada tasyri’i dan bukan tasyri’i- tidak lain adalah intensitas kuat dan lemah, kepermanenan dan ketemporeran, zuhur dan khifâ, tinggi dan rendah, dan pada akhirnya adalah qurb (kedekatan) dan kejauhan serta dengan perantara dan tidak dengan perantara; sebab apa yang menjadi saham bukan Rasul Saw, adalah mesti dengan perantara shâdir awwal atau zhahir awwal.

Dari sini menjadi jelaslah bahwasanya ketika wahyu Rasul mulia Saw berbeda dengan apa yang menjadi saham maksum-maksum sempurna  maka niscaya apa yang menjadi bagian para ‘ârif dalam syuhud juga adalah jelas berbeda, dan sudah pasti juga berbeda secara sempurna dengan apa yang menjadi bagian para filosof jenius dan teolog ahli.

Singkatnya, jenius zaman yang mana  yang mengalir dari dalam dirinya apa yang terpendam dan manifestasi-manifestasi kesadaran batinnya yang dapat melahirkan karya ilmu dan pengetahuan sebagaimana yang al-Qur’an bawa untuk alam kemanusiaan yang hanya dengan beberapa butir ayatnya telah mampu memberi keamanan, kemantapan, dan kekokohan keyakinan, kepercayaan-kepercayaan sahih, akhlak dan moralitas, undang-undang fikhi dan hukum serta undang-undang kemasyarakatan.

Al-Qur’an (sebagai wahyu tasyri’i), hanya dalam beberapa ayat dari surah al-Isra, telah menyampaikan inti dan substansi dari hikmah teoritis dan hikmah praktis dengan ungkapannya yang sangat bernilai agung seperti ini:

“Jangan sekutukan Tuhan dan hanya Dia yang kamu sembah (tauhid ibadah)  dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jangan sekali-kali menganiaya mereka dan ucapkanlah perkataan yang baik, penuh hormat, tawadhu dan kasih sayang kepada keduanya. Tuhan lebih mengetahui apa yang ada dalam hatimu dari pada kamu. Berbuatlah secara benar dan berikanlah haknya kepada kerabat dekat, dan bantulah orang miskin dan orang yang dalam perjalanan serta dalam seluruh kehidupan janganlah berbuat boros dan kufur nikmat. Jangan membuat tanganmu terbelenggu dan tertutup dan jangan pula terlalu mengulurkannya (yakni tengah-tengah dalam kehidupan; tidak bakhil dan tidak juga berlebihan (isrâf)); kelapangan rezki dan kesempitan rezki hanya di tangan Tuhan.

Jangan kamu membunuh anak-anakmu karena takut miskin; sebab rezki mereka dijamin Tuhan dan sekali-kali jangan kamu dekati perbuatan zina ; sebab zina itu sungguh perbuatan keji dan buruk dan jangan kamu membunuh manusia serta jangan tumpahkan darah orang-orang yang terzalimi, dan selamanya jangan kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara baik dan maslahat. Penuhi dan tepatilah mitsaq atau janji, dan dalam jual beli berlakulah secara benar dan jujur serta setiap sesuatu yang kamu takar maka sempurnakanlah takarannya, bahkan segala sesuatu takarlah dengan takaran yang adil (takaran, timbangan, atau parameter keadilan).

Jangan kamu ikuti segala sesuatu yang kamu tidak punya pengetahuan terhadapnya; sebab pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya. Dan selamanya jangan berjalan di bumi ini dengan takabur serta janganlah engkau sombong; karena semua ini adalah keburukan yang dibenci di sisi Tuhan. Itulah sebagian hikmah yang diwahyukan Tuhanmu kepadamu (Muhammad)”.[58][www.wisdoms4all.com]     

         

 


[1] . Mufradât Râgib, Kata و-ح-ی) )

[2] . Q.S. al-Qasas [26] : 7.

[3] . Q.S. al-Anbiyâ [21] : 73.

[4] . Q.S. al-An’am [6] : 19.

[5] . Q.S. Yusuf [12] : 3.

[6] . Q.S. an-Nisa [4] : 164.

[7] . Q.S. al-Baqarah [2] : 253.

[8] . Q.S. al-An’am [6] : 112.

[9] . Q.S. al-An’am [6] : 121.

[10] . Q.S. al_an’am [6] : 19.

[11] . Q.S. al-A’raf [7] : 27.

[12] . Q.S. ar-Rûm [30] : 10.

[13] . Q.S. al-Kahfi [18] : 103-104.

[14] . Q.S. Fussilat [41] : 11-12.

[15] . Q.S. az-Zilzâl [99] : 1-5.

[16] . Q.S. an-Nahl [16] : 68-69.

[17] . Q.S. al-Mu’minûn [23] : 27.

[18] . Q.S. al-Maidah [5] : 111.

[19] . Q.S. asy-Syu’arâ [26] : 52.

[20] . Q.S. al-A’raf [7] : 160.

[21] . Q.S. al-Qasas [28] : 7.

[22] . Q.S. Yûsuf [12] : 15.

[23] . Q.S. al-Anbiyâ [21] : 73.

[24] . Bihârl Anwâr, Jld. 1, Hal. 116.

[25] . Q.S. asy-Syûrâ [42] : 3.

[26] . Q.S. asy-SYârâ [42] : 51.

[27] . Tafsir Nur Tsaqalain, Jld. 4, Hal. 588.

[28] . Q.S. asy-Syûrâ [42] : 52.

[29] . Q.S. asy-Syu’arâ [26] : 193-194

[30] . Q.S. al-Qasas [28] : 30.

[31] . Q.S. an-Nisa [4] : 163; Tafsir Al-Mizan, Jld. 5, Hal. 73-75.

[32] . Bihârul Anwâr, Jld. 18, Hal. 256.

[33] . Ibid.

[34] . Bihârul Anwâr, Jld. 18, Hal. 270.

[35] . Q.S. as-Sâffât [37] : 102.

[36] . Q.S. as-Sâffât [37] : 105.

[37] . Tafsir Nur ats-Tsaqalain, Jld. 4, Hal. 421.

[38] . Q.S. Yusuf [12] : 4.

[39] . Q.S. Yusuf [12] : 100.

[40] . Q.S. Yusuf [12] : 6.

[41] . Tafsir Al-Mizan, Jld. 11, Hal. 79.

[42] . Q.S. Yusuf [12]: 15.

[43] . Q.S. Al-Fath [48] : 27.

[44] . Q.S. al-Anfal [8] : 12.

[45] . Q.S. at-Tahrîm [66] : 6.

[46] . Q.S. ‘Abasa [80] : 15-16.

[47] . Q.S. an-Nisa [4] : 163.

[48] . Q.S. an-Nahl [16] : 68.

[49] . Q.S. al-Qasas  [28] : 7.

[50] . Q.S. Maryam [19] : 11.

[51] . Q.S. Fussilat [41] : 12.

[52] . Q.S. al-Maidah [5] : 111.

[53] . Q.S. al-An’am [6] : 112.

[54] . Q.S. al-Anbiyâ [21] : 73.

[55] . Allamah Thaba-thabai, Wahyu atau Kesadaran Misterius, Hal. 104.

[56] . Dâiratul Ma’ârif Wajdî, Mâddah Wahyu.

[57] . Q.S. al-An’am [6] : 124.

[58] . Dinukil secara ringkas dan bebas dari Surah al-Isra ayat 23-39.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: