Duta Tuhan Kepada Manusia

oleh alifbraja

  Duta Tuhan Kepada Manusia

 
 

 

Salah satu perdebatan hangat diantara para teolog pra dan pasca Islam, seputar tujuan diutusnya para nabi sebagai duta-duta Tuhan ke atas manusia. Bahkan, para pemuka agama Budha serta Brahmana pun turut angkat bicara dengan menegasikannya. Padahal, hampir seluruh teolog yang meyakini agama langit, memandang bahwa diutusnya para nabi merupakan sebuah kemestian, mereka juga menyebutkan tujuan pengutusannya.

Kini, perbincangan akan difokuskan pada tujuan diutusnya para Nabi dalam perspektif Islam. Seruan dasar para nabi, mengajak manusia menuju tauhid. Secara jelas al-Qur’an mengumandangkannya:

Sesungguhnya kami telah mengutus Rasul pada setiap ummat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah dan jauhilah berhala”[1].

Katakanlah, “Hai Ahli Kitab marilah (berpegang) kepada suatu kalimat yang diantara kami dan kalian  tidak ada perselisihan, bahwa kita tidak menyembah selain Tuhan dan tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu dan tidak pula sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai Tuhan selain Allah”[2]

        Pada ayat pertama berbicara tentang tauhid dalam ibadah. Sedangkan ayat kedua, selain menjelaskan tauhid ibadah, juga menyebutkan tauhid rububiyyah. Hal ini menegaskan penyembahan hanya satu Tuhan dan menegasikan tuhan-tuhan lainnya

        Kedua ayat di atas menjadi sentral. Karena masyarakat saat itu, mengalami penyelewengan pada dua area tauhid tersebut, dibanding tingkatan tauhid lainnya. Masyarakat Arab waktu itu, menyembah 360 berhala. Demikian pula dengan Ahli Kitab. Selain mereka menyembah al-Masih, juga mengagungkan para ulama serta pemikirnya .

        Meskipun pada berbagai ayat lainnya, dijelaskan secara luas tingkatan-tingkatan tauhid. Tetapi yang menjadi poros adalah tauhid dalam beribadah dan rububiyyah. Menerima tauhid rububiyyah memiliki konsekuensi pada penerimaan berbagai tingkatan tauhid lainnya. Karena, ketika meyakini tauhid rububiyyah, yaitu hanya mengenal satu Tuhan yang patut disembah dan hanya ada satu pengatur di alam ini, tentu saja kita harus selalu mengabdi pada-Nya.

        Konsekuensi tauhid rububiyyah antara lain:

       1.    Hanya kepada Allah kita menyembah;

2.    Legitimasi kekuasaan hanya milik-Nya;

3.    Ketaatan hanya pada-Nya;

4.    Hanya Tuhan yang berhak menetapkan undang-undang bagi kehidupan masyarakat.

Dalam al-Qur’an, dijelaskan berbagai argumentasi keempat konsekuensi tauhid tersebut yang sebagian menyebutnya dengan tauhid perbuatan, tauhid af’ali. Nampaknya di sini, tidak ada ruang untuk membahasnya lebih lanjut.[3]

        Al-Qur’an secara jelas menekankan bahwa hanya Allah pemilik serta pengatur alam semesta ini. Sebagaimana firmannya:

Katakanlah, “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah. Padahal Dia adalah Tuhan bagi segala sesuatu”[4]

Karena Dia adalah pengatur dan kita yang diatur, Dia pemilik dan kita yang  dimiliki, Dia pengawas dan kita yang diawasi, maka sudah selayaknya kita berserah diri hanya pada-Nya. Tidak ada seorang pun yang kita terima selain-Nya serta ketaatan hanya pada-Nya. Inilah totalitas penyerahan kepada Allah Swt yang menjadi seruan seluruh para Nabi. Sebagaimana penjelasan al-Qur’an:

Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam. Tidak berselisih orang-orang yang telah diberikan al-kitab, kecuali datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian di antara mereka[5].

        Barang siapa yang memilih agama selain Islam, maka sekali-kali ia tidak akan diterima[6].

        Pengikut agama Yahudi mengklaim bahwa Nabi Ibrahim As adalah dari kalangan mereka. Demikian halnya dengan penganut agama Kristen. Tetapi, al-Quran menentang kedua pandangan tersebut:

Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan (pula) seorang Nasrani. Tetapi, dia adalah seorang yang hanif dan berserah diri. Dan sekali-kali dia bukan termasuk golongan orang-orang musyrik[7].

        Dengan demikian, seluruh ajaran para nabi termanifestasi dalam tauhid ibadah dan rububiyyah. Keduanya, dapat disimpulkan dalam terma “Islam” yang artinya berserah diri secara total di hadapan Tuhan. Sebagian kalangan, mengartikan terma “Islam” dalam ayat di atas, sebagai syariat yang dibawa nabi terakhir. Padahal, jelas sekali maksudnya adalah berserah diri kepada Tuhan serta menegasikan penghambaan kepada selain-Nya. Keyakinan tersebut merupakan kanal yang dapat menghubungkan seluruh syariat para nabi, meskipun terdapat perbedaan dalam perincian hukum. Dari sinilah, Allah Swt memerintahkan kepada seluruh penganut ajaran langit untuk mengikuti Nabi Ibrahim As, sebagaimana firman-Nya:

        Ikutilah agama Ibrahim yang lurus dan dia bukan termasuk orang-orang yang musyrik[8].

 

Konsekuensi Tauhid Rububiyyah

        Penciptaan manusia dilandasi oleh sebuah tujuan luhur. Maka, tentu saja keberadaannya disertai dengan berbagai tanggung jawab. Sebagaimana al-Quran menuturkan:

Apakah manusia mengira bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggungjawaban)?[9]

Pada ayat lainnya, Allah Swt berfirman:

        Apakah kalian mengira bahwa Kami ciptakan kalian sia-sia (tanpa tujuan)?[10]

        Berbagai ayat di atas menjelaskan bahwa manusia adalah makhluk yang mengemban tanggung jawab. Di antara berbagai makhluk Tuhan lainnya, hanya manusialah yang mampu memikul amanat tersebut, sebagimana Allah Swt berfirman:

Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi serta gunung-gunung. Mereka seluruhnya enggan mengemban amanat tersebut dan takut mengkhianatinya. Maka manusialah yang mengemban amanat tersebut. Sesungguhnya mereka amat zhalim lagi bodoh.[11]

        Konsekuensi kepasrahan manusia kepada Allah Swt, dibuktikan dengan menerima seluruh tanggung jawab (akuntabilitas) yang datang dari-Nya serta melangkah sesuai dengan aturan-Nya. Berbagai tanggung jawab ini, membentuk suatu relasi tanggung jawab yang terjadi antara Tuhan, manusia dan alam. Hal tersebut meliputi antara lain: tanggung jawab manusia terhadap Tuhan, tanggung jawab manusia terhadap sesama, tanggung jawab manusia terhadap alam semesta serta tanggung jawab manusia terhadap dirinya sendiri.

 

1. Tanggung Jawab Manusia terhadap Tuhan

Tanggung jawab manusia terhadap Tuhan meliputi dua aspek pokok. Pertama, mengenal Tuhan. Kedua, menyembah dan beribadah kepada-Nya.

 

a. Mengenal Tuhan

        Nampaknya tidak ada metode yang lebih efektif dalam mengenal Tuhan untuk kebanyakan orang awam, kecuali melalui jalan wahyu. Benar, setiap manusia memang dibekali fitrah yang dapat menghantarkan kepada Tuhan. Tetapi, pengetahuan yang diperoleh lewat fitrah lebih bersifat umum, tidak dapat menjelaskan kedudukan Tuhan.

        Fitrah hanya menyebutkan ketergantungan manusia pada satu wujud. Tetapi, ia tidak dapat menjelaskan apakah Tuhan berupa substansi ataukah aksiden, materi atau non materi, adilkah atau zhalim, bebas ataukah terpaksa, penciptaan makhuk-Nya memiliki tujuan ataukah tidak. Berbagai pertanyaan ini tidak bisa dijawab hanya dengan fitrah saja. Kesempurnaan manusia dalam mengenal Tuhan, dari sisi nama serta sifat-Nya, akan lebih efektif melalui jalan wahyu.

        Jika sebagian cerdik pandai serta para arif dari Yunani dan Persia atau pada masa awal Islam mengetahui sifat-sifat Tuhan tersebut bukan melalui jalan wahyu, mereka memiliki kekhususan yang tidak dapat dijadikan sebagai acuan umum.

        Dengan demikian, salah satu di antara tujuan para Nabi adalah menmperkenalkan nama serta sifat Tuhan. Meskipun para Nabi sepanjang sejarah, telah berusaha menjelaskan sifat-sifat Tuhan, namun sampai saat ini, lebih dari satu milyar manusia masih mencari Tuhan dalam rumah-rumah berhala. Bahkan, sebagian mereka masih mengagungkan seekor sapi yang bisu.

        Manusia hanya mampu menerima tanggung jawab untuk mengenal Tuhan, jika ia mendapat tuntunan wahyu. Inilah jalan yang mampu membawa manusia menempuh jalan sulit. Nampaknya, tanpa wahyu manusia tidak akan pernah mengenal-Nya lebih jauh.

        Kini, jutaan orang di India tengah menderita kelaparan yang dasyat. Namun di sisi lain, lebih dari seratus lima puluh juta sapi berkeliaran bebas. Padahal, daging sapi ini bisa digunakan untuk mengatasi kelaparan. Namun, tidak seorangpun yang berani bersuara lantang menentang keyakinan keliru tersebut. Keyakinan yang menganggap sapi sebagai binatang suci. Akal dan pemikiran mereka sedemikian keliru hingga ribuan orang dalam setahun mati akibat kelaparan di negeri itu. Tetapi, tidak seorangpun berani memakan daging dari binatang yang dianggap suci.

        Suatu hari, pemerintah India pernah mengumumkan diperbolehkannya memakan sedikit daging sapi untuk mengurangi tingkat kematian. Kebijakan tersebut, mendatangkan protes keras dari seluruh penjuru India. Bahkan hal ini hampir saja menjatuhkan kabinet pemerintahan yang tengah berkuasa. Maka, terpaksa pemerintah kembali mencabut pernyataannya.

        Sampai detik ini, ratusan juta orang di tanah India yang merupakan pusat berbagai agama, masih menyembah sapi dan bintang di angkasa. Kekeliruan mereka begitu jauh, bahkan jika ada sapi yang tidur di atas rel, tidak ada seorangpun yang berhak untuk melecehkan sapi suci itu dengan membangunkannya dari tidur. Kereta dan para penghuninya harus sabar menunggu, sampai sapi yang disucikan oleh para penumpang itu bangkit sendiri dari atas rel.[12]

        Saat ini pun di negeri industri maju seperti Jepang, masih meyakini adanya tuhan-tuhan yang beragam pada setiap fenomena. Mereka membuat berhala tertentu sebagai jelmaan tuhan, untuk kepentingan tertentu pula. Misalnya, seorang gadis yang tengah mencari pendamping hidup, membuat berhala khusus yang disembah sebagai jelmaan tuhan yang menentukan jodohnya.

        Demikianlah, kondisi keyakinan ketuhanan di era antariksa dan kurun atom, itupun setelah diutusnya ribuan Nabi. Jika saja para Nabi tidak diutus dan mereka tidak berjuang memberantas berhala, bisa dibayangkan bagaimana kondisi masyarakat dalam menyembah Tuhan? Hanya Tuhan yang tahu. Jika saja para pejuang tauhid tidak memperkenalkan Tuhan kepada masyarakat, lentera tauhid tidak akan pernah menyala di berbagai penjuru dunia.

        Kini coba anda bandingkan, keyakinan yang berkembang di India atau negara maju seperti Jepang dengan apa yang dijelaskan al-Qur’an dalam memperkenalkan konsep ketuhanan. Anda akan sampai pada kesimpulan bahwa salah satu tujuan diutusnya para Nabi adalah untuk memperkenalkan Tuhan kepada masyarakat. Meskipun, hal ini belum sepenuhnya berhasil.

Al-Qur’an dalam surat Hasyr, memperkenalkan berbagai sifat Tuhan:

“Dialah Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, Yang Mengetahui yang ghaib dan nyata.    Dialah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang[13].

Dialah Allah yang tiada Tuhan selain-Nya, Raja, Maha Suci, Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, Pemilik Segala Keagungan. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan[14].

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Memiliki Nama-nama paling baik. Apa yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana[15].

 

b. Kualitas  Ibadah

        Setelah mengenal Tuhan dangan segala kebesaran-Nya, manusia merdeka beribadah karena keagungan-Nya. Sebagian kalangan, menyerukan untuk menyembah Tuhan karena mengharapkan karunia nikmat serta menjauhi siksa. Salah satu tujuan wahyu adalah mengajarkan kualitas beribadah kepada-Nya, sehingga dapat terhindar dari segala bentuk penyembahan yang tidak menyentuh dimensi rububiyyah. Oleh karena itu, pada seluruh syariat para Nabi terdapat ajaran berupa shalat, puasa, i’tikaf, haji dan jihad. Seluruh para Nabi menyerukan ajaran yang sama tersebut, dengan perbedaan dalam beberapa bagian serta situasi maupun kondisinya masing-masing.

 

2. Tanggung Jawab Manusia terhadap Sesama

        Sebagaimana dijelaskan sebelumnya, tujuan diutusnya para Nabi adalah tauhid. Hal ini tidak mengindikasikan bahwa agama hanya seperangkat keyakinan serta pemikiran saja yang sama sekali tidak memiliki peran dalam bidang sosial, ekonomi, politik, pendidikan serta akhlak. Tetapi, maksud dari semua itu adalah seluruh undang-undang yang ada, harus bersumber dari wahyu. Setiap kali masyarakat akan merancang sebuah undang-undang, harus merujuk pada wahyu serta mendapat legitimasi dari-Nya.

        Oleh karena itu, institusi agama terutama Islam memuat berbagai kajian kemasyarakatan. Islam tidak berbicara global dalam persoalan yang menyangkut individu, doa serta ibadah. Saat kita mengamati studi fiqih Islam, akan diketahui betapa dalam dan luasnya kandungan hukum-hukum tersebut. Kiranya, tidak tepat pandangan yang menyebutkan bahwa agama hanya terbatas pada kebahagiaan akhirat semata. Kebahagiaan dunia dan akhirat merekah dalam naungan agama.

        Bukti paling nyata kehadiran Islam di segala bidang adalah hadirnya berbagai ayat dan riwayat yang kebanyakan berbicara tentang tema-tema kemasyarakatan. Islam juga menetapkan berbagai aturan untuk kepentingan masyarakat.

Berikut ini akan disebutkan secara ringkas beberapa tema fiqih Islam yang masing-masing memiliki pasal-pasal terperinci. Mereka yang terlibat dalam kajian fiqih Islam, lebih memahaminya. Pembahasan tersebut antara lain:

·        Aturan jual beli;

·        Persyaratan  transaksi;

·        Persyaratan substitusi;

·        Berbagai transaksi dua arah dan satu arah;

·        Pembagian riba serta hukum-hukumnya;

·        Jual beli mata uang;

·        Hukum yang terkait dengan berbagai kontrak, seperti: hak jual pertama (syuf’ah) perdamaian, sewa menyewa, perdagangan (ju’âlah), â’riyah, mudhârabah (bagi hasil), muzâra’ah (kontrak pertanian), masaqâh, syirkah, qismah, hutang, qardh (pinjaman), rahn (hipotik), hajr, dhaman (jaminan), kifâlah (perwakilan), wakaf, habs  dan wasiat;

·        Hukum yang terkait dengan keluarga, seperti: mushaharah (mahramnya seseorang lantaran ikatan perkawinan), ‘iddah, ‘uyub (hal-hal yang perlu diketahui oleh kedua mempelai [pria dan wanita] perihal aib dan cacat yang masing-masing dimiliki), mujawwiz faskh (hal-hal yang membolehkan dibatalkannya pernikahan), nafkah, talak dan hukum waris;

·        Persoalan politik serta peradilan, misalnya: qadhawah (kehakiman), syahadah (kesaksian), hudud (pidana), diyât, hisbiyah dan berbagai aturan lainnya;

·        Pembahasan tentang pemanfaatan sumber daya alam, berbagai jenis makanan serta minuman yang halal dan haram.

       

Dalam sejumlah ayat serta hadis, Islam tampil  sebagai agama yang komprehensif dan universal mencakup berbagai aspek sosial, tidak hanya sebatas sudut-sudut mesjid dan seputar rumah. Lebih khusus lagi, bila dikaitkan dengan pembahasan jihad dan pertahanan dalam  fiqih Islam.

        Berbagai hukum fiqih yang terkait dengan tema-tema sosial kemasyarakatan mencapai lima puluh ribuan riwayat. Dengan jumlah sedemikian, bagaimana mungkin Islam hanya membatasi pada kebahagiaan akhirat semata?

       

3. Tanggung Jawab Manusia terhadap Alam Semesta

        Manusia memiliki tanggung jawab khusus terhadap alam semesta yang meliputi tumbuhan dan hewan. Sebagai khalifah Tuhan di muka bumi, manusia hendaknya mampu menghidupkan tanah dan memakmurkan alam raya ini. Sebagaimana Allah Swt berfirman:

        Dia yang menciptakan kalian dari tanah serta menjadikan kalian pemakmurnya[16].

        Maka, manusia yang mampu menghidupkan sebagian tanah dan memenuhi kebutuhan hidupnya dari hasil yang ia peroleh, harus bertanggungjawab atas prilakunya. Berkaitan dengan hal ini, Imam Ali As memberikan nasehat:

        Bertakwalah kepada Allah dalam beribadah karena sesungguhnya kalian memiliki tanggung jawab meskipun pada tanah dan binatang.[17]

        Manusia memiliki tanggung jawab untuk memakmurkan tanah, bukan malah merusaknya. Eksploitasi hutan, laut dan sumber daya lainnya, tidak boleh menimbulkan pencemaran pada sistem ekologi alam ini baik pada manusia, hewan dan binatang sekalipun. Jika terjadi kerusakan, berarti manusia telah melalaikan tugasnya dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan.

        Para ahli hukum Islam dalam berbagai buku yang berkaitan dengan pembahasan “Asyrat” dan “At’amah” wa “Asyrabah” menjelaskan secara panjang lebar tentang tanggung jawab manusia terhadap tumbuhan dan hewan.

        Di sini, hanya akan disinggung sebagian kecil tanggung jawab manusia terhadap binatang. Persoalan yang nampak di depan mata hari ini, sikap berlebihan mengunggulkan Barat. Ada semacam anggapan bahwa prilaku menyayangi binatang hanya berkembang di arena pemikiran Barat saja. Padahal melampaui semua itu, literatur klasik Islam secara detail menekankan tindakan tersebut. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw:

Tuhan mencintai kelembutan. Maka, jika kalian menunggangi binatang yang kurus lagi lemah. Turunkanlah bawaan kalian di setiap tempat pemberhentian. Janganlah berhenti di gurun yang kering. Tetapi, pilihlah padang-padang rumput yang hijau[18].

        Seorang faqih besar Syekh Muhammad Hasan Najafi, penulis buku al-Jawâhir pada bagian akhir pembahasan nikah, menyebutkan sebagian hak-hak binatang, mengikuti pandangan penulis buku Syaray’i Islam[19].

 

4. Tanggung Jawab Manusia terhadap Dirinya Sendiri

        Dalam perspektif syariat Islam, manusia memiliki tanggung jawab khusus terhadap dirinya. Lebih jauh, pembahasan ini menukik pada kajian tentang taklif. Imam Zainal Abidin As dalam risalahnya yang berharga “Risalah Huquq” menjelaskan tanggung jawab manusia terhadap diri serta anggota badannya. Dengan indah Imam Zainal Abidin As menyampaikan sabdanya:

Ketahuilah bahwa Allah Swt memiliki berbagai hak atasmu. Setiap gerakan yang kau lakukan, ketenangan yang kau pilih, tempat yang kau lihat, anggota badan yang kau gerakkan atau fasilitas lainnya yang kau pergunakan. Sebagian dari hak-hak tersebut, lebih utama dibandingkan  yang lainnya.

Dalam penglihatanmu, pendengaranmu dan lidahmu telah ditetapkan hak atasmu. Inilah tujuh anggota badan yang biasanya digunakan untuk bekerja[20].

        Selanjutnya, Imam Sajjad As mengisyaratkan sebagian tanggung jawab manusia terhadap bagian dalam tubuh. Tetapi di sini, hanya akan dijelaskan tanggung jawab manusia terhadap lidah, telinga serta mata saja.

 

a. Pertanggungjawaban Lisan

    Imam Sajjad As, menyampaikan sabdanya:

Hak lidah adalah tidak membiasakannya berkata jelek, namun berbicaralah  dengan baik. Lisan dijaga untuk diam, kecuali pada situasi yang dibutuhkan untuk kepentingan agama serta dunia. Hindarilah pembicaraan sia-sia yang mendatangkan kerugian. Lidah (bahasa) merupakan cerminan dari pikiran seseorang. Keindahan orang yang berakal dihiasi oleh kejernihan akal dan keindahan bahasanya. Tiada penolong selain dari Tuhan yang Maha Agung[21].

 

b. Pertanggungjawaban Telinga

Al-Qur’an menjelaskan bagaimana manusia bertanggung jawab terhadap telinga, mata serta hatinya.

Katakanlah: “Dialah yang menciptakan kamu dan menjadikan untukmu pendengaran, penglihatan serta hati” (Namun) sangat sedikit kamu bersyukur[22].     

        Syukur nikmat berarti manusia mempergunakan anugerah Tuhan tersebut sesuai pada tempatnya. Simaklah pesan Imam Zainal Abidin As tentang tanggung jawab terhadap pendengaran:

Hak pendengaran adalah mensucikannya, karena ia jalan menuju hati. Kecuali, untuk kabar gembira yang terdapat pada hati-hati suci atau akhlak terpuji yang kalian kerjakan. Sebab pendengaran merupakan bahasa hati yang memiliki arti indah, kebaikan dan kejelekan sampai melaluinya. Tiada kekuatan melainkan  dari sisi-Nya[23].

 

c. Pertanggungjawaban  Mata

Imam Sajjad As dalam hal ini bersabda:

Hak kamu terhadap penglihatan adalah menjaganya dari segala sesuatu yang dilarang. Kecuali, untuk mengambil pelajaran atau memperoleh pengetahuan. Karena, penglihatan merupakan perantara menuju pengetahuan[24].

        Dengan memperhatikan apa yang telah dijelaskan Islam tentang tanggung jawab manusia terhadap diri dan selainnya. Meskipun pembahasan di atas hanya dijelaskan selintas saja, namun hal ini sudah menampilkan wajah Islam yang telah mempersembahkan berbagai perannya dalam kehidupan manusia.

        Dengan melihat luasnya cakupan pembahasan di atas, tujuan para Nabi tidak hanya sebatas kebahagiaan akhirat saja, meskipun itulah tujuan sebenarnya. Tetapi, kebahagiaan akhirat hanya dapat diperoleh dengan menempuh jalan keselamatan di dunia. Pada hakikatnya, kehidupan di dunia ini mengantarkan manusia menuju kebahagiaan akhirat melalui tuntunan wahyu Tuhan.

 


[1] QS. an-Nahl (16): 36.

[2] QS.  al-Imran (3): 64.

[3] Lebih jauh lihat Mansyur Javid jilid 2 hal 320-490.

[4] QS. al-Anam (6): 164.

[5] QS. al-Imran (3): 19.

[6] QS. al-Imran (3): 85.

[7] QS. al-Imran (3): 67.

[8] QS. al-Imran (3): 95.

[9] QS. al-Qiyamah (75): 36.

[10] QS. al-Mu’minun (23): 115.

[11] QS. al-Ahzab (33): 72.

[12] Sebuah surat kabar terkemuka di Iran menyebutkan bahwa jalur penerbangan domestik dan internasional di airport internasional New Delhi India, dalam beberapa hari sempat terganggu. Hal itu disebabkan karena “sapi suci” tengah berkeliaran di area tersebut. Tidak ada seorangpun  yang berani mengusir sapi suci tersebut keluar dari airport.

[13] QS. al-Hasyr (59): 22.

[14] QS. al-Hasyr (59): 23.

[15] QS. al-Hasyr (59): 24.

[16] QS. al-Hud (11):61.

[17] Nahjul Balaghah, Khutbah ke 167.

[18] Man lâ Yahdhur al- Faqih hal 228.

[19] Jawâhir Kalam, 31: 396-398.

[20] Tuhâf al-‘Ûqul  hal 184-185.

[21]  Tuhâf  al-‘Ûqul  hal 184-185.

[22] QS, al-Mulk (67): 23.

[23] Tuhâf  al-‘Ûqul hal 185.

[24] Ibid.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: