Takwil Teks-teks Suci dalam Dua Perspektif

oleh alifbraja

 

 

Takwil Teks-teks Suci dalam Dua Perspektif

 

 

           

Dalam prolog ini, sembari menyinggung pelbagai pendekatan pilihan tafsir teks-teks suci di kalangan agama Kristen dan Yahudi, proses pembentukan beragam pandangan baru agamawan dan cendekiawan moderen dalam riset agama kontemporer yang menjadi tema pembahasan. Akan tetapi fokus pembahasan adalah ajaran agama Kristen; lantaran dalam hubungannya dengan beragam pandangan ajaran Yahudi, sumber-sumber dan referensi yang tersedia tidak memadai.

Setelah masa baru dan khususnya pasca kemunculan filsafat-filsafat baru, filsafat analitik dan filsafat bahasa mengkondisikan adanya riset dalam ranah teks-teks suci agama. Idealisme perlahan-lahan pada tahun-tahun terakhir menanamkan akarnya pada pelbagai pemikiran filosofis dan bahkan pada penyebaran filsafat ilmu. Dan dalam berhadapan dengan teks-teks suci, ia menampakkan dirinya. Pada akhirnya pada masa kiwari, kita melihat dimana ayat-ayat dan firman-firman kitab suci kehilangan nilai-nilai “realisitik”nya. Dan semata-mata dipandang hanya sebagai nasihat dan wejangan yang berguna saja. Persis seperti pelbagai pandangan yang meyakini bahwa ilmu sains, merupakan serangkaian formula yang berguna yang dapat memberikan ketentraman dan keamanan kepada manusia. Kini pertanyaan yang mengemuka adalah metode apa yang digunakan dalam melakukan penafsiran terhadap kitab suci? Dan mengapa proses ini berkembang di belahan bumi Eropa?

 

Metode Penafsiran Orang-orang Terdahulu

Metode-metode tafsir kitab suci dalam agama Kristen dan Yahudi pada masa-masa silam terdapat empat macam:

1.    Tafsir Syarh-e Lafzi (Lahiriyah)

Dalam metode ini yang menjadi perhatian adalah makna-makna kata dan struktur gramatika teks. Dan dipandang bahwa setiap kata dari kitab suci merupakan pesan samawi yang terkandung di dalamnya. Santo Geremia yang menerjemahkan kitab suci (Injil) ke dalam bahasa Latin dan terjemahannya diterima oleh gereja-gereja Katolik, merupakan salah satu figur yang utama dalam metode tafsir ini. Santo Geremia ini hidup pada abad keempat dan kelima Masehi. Ia  mempertahankan metode tafsir ini di hadapan kelompok ekstrim, orang-orang yang menggunakan metode metaforis dalam menafsirkan kitab suci. Setelah Santo Geremia, terdapat figur-figur terkemuka seperti Santo Aquanius, Nicholas Lyra, John Colt, Martin Luther dan John McKwain, yang menjadi pendukung metode tafsir ini.

 

2.    Tafsir Moral

Tafsir moral kitab suci, adalah upaya menindaklanjuti pelajaran-pelajaran moral yang telah diilustrasikan pada berbagai bagian kitab suci dan setelah itu kaidah tafsir disusun. Sebagai contoh pada surat-surat Barnabas, makanan-makanan haram ditafsirkan sebagai kenistaan yang terdapat pada sebagian hewan, bukan dagingnya.

 

3.    Tafsir Metaforis

Dalam metode tafsir metaforis, mereka beranggapan bahwa kitab suci memiliki strata yang lain dari makna yang tersimpan pada pribadi-pribadi, peristiwa dan benda-benda. Sebagai contoh, metode yang digunakan dalam penafsiran ini bahtera Nuh yang dilambangkan sebagai “Gereja Masehi” yang semenjak semula menjadi focus perhatian Tuhan. Orang-orang yang menjadi penyokong metode tafsir ini, kita dapat menyebut Filo seorang cendekiawan Yahudi yang hidup semasa Nabi Isa. Metode yang digunakan Filorclement Iskandarani dan mencari makna-makna metaforis untuk kitab suci. Ia menyingkap realitas-realitas filosofis dari kitab suci. Setelahnya, salah seorang pengikutnya yang bernama Origan, yang menata dan mengorganizir metode tafsir ini. Ia mengelompokkan strata yang beragam dengan terpisah makna-makna dari lahir, moralis dan maknawi. Ia memandang bahwa makna-makna batin sebagai makna yang terbaik. Di antara semua itu, pengelompokan tiga bagian Origan, ia sampai pada tafsir cabang lainnya dalam makna-makna batin menjadi dua jenis metaforis dan irfani, ia sampai pada empat metode tafsir yang lain.

 

4.       Tafsir Mistikalٰٰ

Tafsir kitab suci jenis ini berupaya memberikan relasi antara peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam kitab suci dan kehidupan ukhrawi.  Metode tafsir ini dapat dijumpai pada metode Qabalai Yahudi – yang menggunakan metode tafsir batin dan irfani.

Zahar, salah seorang penafsir terkemuka Yahudi merupakan salah seorang contoh yang nyata dalam model pendekatan tafsir ini.. Mayoritas penafsir Kristen juga, yang mengkaji tema “Maryamologi”, menggunakan metode tafsir irfani dan mistikal ini.

     

Empat metode tafsir yang disebutkan di atas, yang dapat dijumpai di kalangan agamawan dan penafsir Kristen dan Yahudi, dalam penyebaran beragam pengetahuan baru khususnya di Barat, perubahan yang mencolok, di sini kita hanya akan menyinggung salah satu poin penting dan hal itu adalah “lari dari realitas” yang menjadi tipologi nyata dan karakteristik tafsir kitab suci, pada masa kiwari. Dimana hal ini sejalan dengan Idealisme filsafat yang menimpa para periset agama. Proposisi agama dan ayat-ayat kitab suci, tidak bertutur ihwal realitas dan kenyataan, melainkan pada tataran maksimalnya, ia adalah wejangan-wejangan moral yang bermanfaat atau satu silsilah sebuah permainan bahasa (language game). 

Pada dasarnya, mereka yang kontra terhadap realitas, pada dua dasawarsa terakhir menjadi sesuatu yang ideal di Barat. Dan secara umum dapat dikatakan: dalam masalah epistemologi kontemporer ada empat jenis kontra-realitas di antaranya: individualisme ekstrim, idealisme, fenomenologi, kontra-realitas maksimal.[1]

Kaum individualis mengklaim bahwa seluruh proposisi terfokus pada pengalaman-pengalaman pribadi; artinya manusia dan beragam pengalaman esoteriknya tidak dapat menemukan jalan untuk melakukan infiltrasi kepada orang lain dan dunia luaran. Kita ekuivalen dengan beragam “aku” dan setiap orang adalah sendiri. Dan hanya akulah yang hakiki dan memiliki prinsipalitas.

Individualisme juga memiliki banyak jenis dan yang paling utama adalah:

1.       Manusia memiliki pengalaman-pengalaman aktualnya.

2.       Manusia adalah satu-satunya pemilik pengalaman-pengalaman aktual dan masa lalunya.

3.       Manusia adalah satu-satunya pemilik pengalaman-pengalaman aktual dan masa depannya.

4.       Manusia adalah satu-satunya pemilik pengalaman-pengalaman aktual, masa lalu dan masa depannya.

 

Yang diklaim kaum Idealisme adalah bahwa seluruh proposisi dapat dipahami, dalam pengalaman personal aku atau yang lain. Keempat jenis individualisme juga berlaku dalam masalah ini. Fenomenologi meyakini bahwa seluruh proposisi yang ada dapat dipahami (komprehensibel), terfokus pada pengalaman-pengalaman potensial pribadi aku atau orang lain atau pengalaman-pengalaman dimana aku atau orang lain, dapat atau mungkin terjadi pada kondisi yang beragam.  Oleh karena itu fenomenologi berkata ihwal pengalaman aktual atau potensial; namun idenya membatasinya pada pengalaman actual saja. Fenomenologi kognitif sebagaimana dua bagian sebelumnya, tampak dan lahir pada empat jenis individualisme yang disebutkan di atas.

Akan tetapi kelompok kontra-realitas maksimal meyakini bahwa sebagian proposisi saja yang dapat dipahami (komprehensibel) yang fokus pada realitas-realitas pengalaman-pengalaman aktual atau potensial seorang aku atau yang lain. Proposisi-proposisi ini dapat menjadi benar dan  valid, akan tetapi kita tidak dapat memahami dan mencerap kebenarannya.  Kontra realitas maksimal, sebagaimana tiga bagian yang lain, probablitas kebenaran berbagai realitas di atas yang disaksikan, artinya realitas-realitas yang disaksikan. Namun jika penyaksinya tidak terjangkau (non accessible) atau bersifat metafisik, hal itu tidak diterima. Dengan demikian, ia tidak dapat diterima bahwa realitas tidak memiliki saksi, atau memiliki saksi yang tidak dapat diakses, atau memiliki saksi yang bersifat metafisikal; akan tetapi berbalikan dengan tiga bagian yang lain, diterima realitas-realitas dalam perkara seperti yang bersifat fisikal atau material yang bukan berasal dari jenis pengalaman dan realitas-realitas ini tidak dapat ditakwil dan diubah menjadi realitas-realitas pengalaman.

Bagaimanapun, spirit yang berkuasa pada pemikiran kiwari Barat yang di antaranya ilmu takwil kitab suci, adalah menciptakan jarak antara muatan kitab suci dan realitas. Idealisme adalah pandangan dan maktab yang paling banyak diterima dalam hal ini. Oleh karena itu, para pemikir meyakini bahwa dua perjanjian (Injil dan Taurat), tidak berbicara dan menghikayatkan tentang realitas. Dan peran maksimal dua perjanjian tersebut adalah perbaikan kondisi moral masyarakat melalui jalan wejangan moral dan penekanan pada nilai-nilai pelajaran yang dikandungnya.   

 

Metode-metode Penafsiran Baru

Selain metode-metode tafsir klasik dan antikuasi, terdapat pandangan-pandangan baru dalam menafsirkan kitab suci dimana pandangan tersebut dapat diklasifikasikan dalam empat bagian universal.[2]

1.      Ekspresi sentimen

Dalam metode ini, pada penyampaian pesan-pesan agama, yang mengemuka kepada sang metodolog adalah sentiment dan perasaan. Dan hal ini tidak memiliki relasi dengan realitas, misalnya seseorang yang berkata bahwa Tuhan menciptakan langit dan bumi. Ucapan ini bersumber dari bentuk perasaan takut, takjub dan kaget terhadap keagungan tabiat. 

 

2.      Tafsir simbolik

Dalam teori ini, kata-kata jembatan yang membawa kita melambung kepada makna-makna lebih tinggi, misalnya antrophormisme dan pengorbanan serta kebangkitan Isa,” merupakan jalan untuk menjelaskan matlab ini bahwa: “Berkorban untuk orang lain memiliki nilai moral yang tinggi.”

 

3.      Tafsir cerminan

Dalam metode ini, kita tidak boleh membandingkan antara proposisi-proposisi agama dan dunia luaran. Dan juga tidak menyingkap benar dan salah di antara keduanya; lantaran proposisi-proposisi ini tidak datang hingga ia memberikan reportase ihwal dunia luaran. Pesan-pesan ini bertitik-tolak dari pelataran ibadah dan hanya bisa dipahami dalam pelataran tersebut. Tidak ada kata-kata yang digunakan untuk menjelaskan pesan-pesan ini.

 

4.      Tafsir mitos

Oang-orang yang mengusung metode tafsir ini memiliki penjelasan yang beragam dalam menjelaskan metode ini: sebagian ucapan religius sedemikian eksklusifnya mereka pandang sebagai bahasa simbolik yang merupakan mitos; seperti Arnest Kasirer, orang-orang seperti Stace yang berkata: proposisi-proposisi agama, merupakan pengalaman mistikal. Misalnnya ucapan “Tuhan adalah benar (adanya)”, menjelaskan perasaan penyingkapan dan ilham. Dan dengan redaksi “Tuhan adalah cinta”, bermaksud untuk menciptakan ketertarikan dan menciptakan minat yang tinggi.  Ilmuan lainnya yang bernama Paul Tilis juga yang berpandangan, dalam tataran ini, bahwa proposisi-proposisi seperti ini merupakan penjelas: “realitas pamungkas” dimana, tidak dapat berkata-kata tentangnya, selain dari perspektif metafisikal, yang dihasilkan dalam bentuk simbol.

 

Faktor-faktor Munculnya Teori Baru

Beraneka dalil dan faktor menjadi sebab munculnya pembahasan bahasa agama dan metode-metode baru dalam menakwilkan kitab suci dan pengalaman empirikal keagamaan. Barangkali dalam satu klasifikasi universal metode-metode tersebut dapat dikelompokkan secara runut di bawah ini:

1.       Munculnya mazhab Romantisme; pada abad ke-18 dan 19 M, pemikiran filosofis menemui jalan buntu (impasse) dan penalaran (reasoning) kering dan tidak memiliki spirit membuat semakin lemahnya akal dalam melakukan penalaran  dan asasnya telah goyah dan runtuh.  Dalam kondisi dan situasi seperti ini, gerakan Romantisme muncul ke permukaan.[3]

Gerakan ini dengan menekankan kepada sentimen dan perasaan, emosi dan perkara-perkara selera (dzauqi), pandangan mutlak akal menjadi sasaran kritikan.  Para penganut paham Romantisme, kendati penegasan Kant atas tidak dikenalnya “keberadaan-keberadaan”, mengemukakan bahwa pertolongan emosi dan sentimen segala yang tak-terkatakan dan tak-terkenalkan dapat ditemukan. Pada masa Romantisme ini, perhatian banyak tertuju dan terfokus kepada syair, lukisan dan musik. Muncul dan ditemukannya Romantisme, merupakan salah satu penyebab yang tepat bagi kemunculan metode tafsir sentimental dan emosional terhadap kitab suci.  

2.       Kritikus kitab suci: Pada abad terakhir, kitab suci agama Kristen telah menjadi sasaran kritikan yang amat pedas.[4] Kritikan yang beragam dan semakin bertambah banyak setiap hari, sebagian filosof seperti Scheleirmacher berpandangan bahwa sentral pengusahaan iman ditransformasi dari kitab suci ke dalam lubuk hati orang beriman, sehingga, menurut sangkaannya, pokok agama dapat terhindar dari malapetaka. Mereka percaya pesan utama dan asli kitab suci, menghidupkan pengalaman keagamaan dalam kehidupan manusia bukan penyampaian serangkaian proposisi yang terbebas dari kesalahan kepada manusia melalui para nabi.

3.       Filsafat Kant: Kant dalam Filsafat Kritik-nya, sembari menyampaikan penentangannya terhadap teologi natural dan bahwa masalah-masalah keagamaan  dapat dibuktikan melalui jalan penalaran rasional dan filosofis, ia mengeluarkan agama dari domain akal teoritis dan meletakkannya pada ranah akal praktis.[5]

Ia menempatkan ajaran-ajaran agama sebagai mengikut kepada aturan-aturan moral. Berdasarkan hal ini, agama yang bersumber dari akhlak dan moral, maka ia akan menjadi agama moral dan agama moral akan menjadi sesuatu yang sentimental, empirikal, dan syuhudi. Demikian juga, agama dalam pandangan sedemikian akan berubah menjadi akhlak dan moral; dengan kata lain, teori evolusional agama dalam pandangan Kant, tidak memiliki kehakikian dan prinsipalitas; oleh karena itu bahasa agama, bahasa sentimental, bahasa yang bersifat wejangan dan bahasa agama akan menjadi bahasa seluruh keberadan dan segala realitas.

4.       Kontradiksi antara ilmu dan agama: Kemunculan ilmu baru dan kemajuan pesat teknologi, apa-apa yang tidak diketahui oleh manusia setapak demi setapak semakin terkuak. Sehingga setelah masa ini, wilayah pengetahuan dan wilayah agama, mendapatkan ketenangan; lantaran  tidak ada tanda-tanda kemajuan Occidentalis secara asasi dalam ilmu pengetahuan.  Dengan sedikit penemuan dari formula-formula dunia tabiat, banyak terjadi ketidakselarasan. Semenjak astronom hingga arkeolog, yang menjadi medan dialektika para periset ilmuan dan keyakinan beragama. Menariknya di sini dimana para periset itu sendiri adalah orang-orang Kristen yang beriman dan berupaya sekuat tenaga keluar dari beban berat kontradiksi ini. Sangat menarik ucapan Galileo yang berkata: “Tabiat satu-satunya sumber ilmu pengetahuan yang dapat menjadi jalan untuk menuju Tuhan. Seyogyanya hal-hal yang “analogous” (mutasyabih) yang terdapat dalam kitab suci ditafsirkan dalam “muhkamat” sebagai ilmu pengetahuan baru.”[6]

 

Diambilnya langkah-langkah pemisahan (segregasi) pengetahuan dari realitas dari masa-masa tersebut dapat terlihat; dari ketidakselarasan antara pandangan bahwa dalam tata surya matahari merupakan sentral dan keyakinan resmi Gereja, pengadilan historis para ilmuan menjadi saksi sejarah kelam dalam kenangan ilmu dan agama. Kardinal Belarmin memberikan usulan sebagai berikut:

“Sentral matahari di antara planet dan galaksi dapat menjadi media planetarium dan sebagian ramalan-ramalan yang digunakan sepanjang media tersebut tidak dibela sebagai refleksi realitas yang sebenarnya.”[7]

           

Dengan demikian kita melihat ilmu pengetahuan dengan kekuatan dan kecepatan berjalan progresif dan orang-orang beragama tidak maju-maju. Dari sini, mereka mencari alternatif untuk keluar dari kontradiksi ini. Dan ilmu pengetahuan tidak termasuk dari penafsiran non-ilmiah, mereka beralih kepada penafsiran agama dan kitab-kitab suci. Dan sebagai hasilnya munculnya metodelogi takwil yang beragam dan banyak terhadap teks-teks agama.

 

Pelbagai Konsekuensi

Ditemukannya berbagai pendekatan dan metodelogi dalam ranah tafsir dan takwil kitab suci, tidak dapat dibatasi hanya pada takwil dua perjanjian (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), akan tetapi termasuk pada perubahan dan gejolak dalam cara pandang terhadap agama dan wahyu. Pandangan baru ini menimbulkan konsekuensi-konsekuensi logis[8] yang di antaranya adalah yang tersebut di bawah ini:

  1. Iman, keyakinan dan ibadah; iman kesetiaan terhadap realitas, dan merupakan satu jenis konflik personal. Dalam keyakinan ini, iman bukan merupakan makrifat; bukan merupakan pengenalan atau makrifat yang bersumber dari kitab suci; bukan merupakan keyakinan bahwa Tuhan itu ada, akan tetapi keyakinan kepada Tuhan yang kasat mata.

Pendekatan yang di dalamnya makrifat dan pengenalan tidak memiliki tempat dapat digabungkan dengan orang-orang yang ragu (skeptis) yang disebut sebagai Fideism. Pandangan ini, menampilkan beragam penafsiran dalam bidang teologi. Dalam mazhab pemikiran ini, baik teologi natural – yang merupakan sekumpulan usaha manusia untuk hal-hal yang berkenaan dengan iman – ternafikan maupun teologi naratif – yang merupakan kumpulan hukum dan proposisi teologis. Kedua jenis teologi ini tidak sejalan dengan penemuan dan kehadiran Tuhan dalam sejarah manusia.   Karena iman dalam pandangan ini, bergejolaknya manusia dan salah satu jenis bentrokan pengalaman pribadi. jika seseorang tidak dapat menyaksikan keberadaan Tuhan dalam peristiwa-perisitwa sejarah dunia dan faktor-faktor yang lain, ia tidak terhalangi dari penyaksian ini, sesungguhnya ia adalah orang yang beriman.

  1. Konsekuensi yang lain dari pandangan tidak terbahasakannya wahyu dan agama adalah bahwa lantaran wahyu adalah salah satu jenis pengalaman intrinsik dan pengalaman dalam pandangan sebagian ilmuan Barat, senantiasa disertai dengan ta’bir, tidak satu pun wahyu yang tak-tertafsirkan. Tipologi penting pandangan ini adalah: Wahyu hanyalah sebuah pengalaman; bahkan peristiwa-peristiwa penting bersejarah masa lalu tidak dapat dipisahkan dari ucapan manusia masa lalu, kini dan masa datang. Di sini, saham orang yang mengetahui dan mengenal pelaku tidak dapat dibiarkan begitu saja. Oleh karena itu hubungan-hubungan dan harapan-harapannya dalam menafsirkan dan penyebutan wahyu sangat berpengaruh.  Wahyu diposisikan seperti penemuan Tuhan itu sendiri dan ditafsirkan sebagai sebuah peristiwa sejarah. 

  2. Konsekuensi yang lain dari penyebutan wahyu (divine revelation) sebagai pengalaman dapat terlihat dalam penafsiran kitab suci. Kitab suci bukan lagi merupakan sebuah kitab yang infallible (terjaga dari kesalahan), yang didiktekan dan terbebas dari cela, akan tetapi merupakan sebuah karya tulis manusia yang mengisahkan perisitiwa-peristiwa revelasionis. Dalam keadaan ini keyakinan para penulis bercorak dimensional, satu sisi dan terbatas dimana kitab suci yang berwarna Ilahi, dicoraki dan diungkapkan oleh manusia yang sarat dengan kesalahan. jika kitab suci merupakan bagian dari sejarah manusia, maka ia dapat dikaji dengan berbagai pendekatan riset sejarah dan sastra.

  3. Konsekuensi yang lain dari kesimpulan di atas bahwa jika wahyu sebanding dengan citra bersejarah Tuhan, tentu saja ia tidak memilki kesamaan. Kita tidak dapat menyebut bahwa wahyu merupakan sebuah realitas eksklusif. jika wahyu merupakan jenis penampakan dan citra Tuhan dan bertalian dengan pengalaman kemanusiaan, ia tidak bisa didekati melalui “satu pendekatan” saja. Di samping itu, teolog yang memandang bahwa wahyu merupakan peristiwa sejarah, tidak dapat menghindar selain menggunakan pra-pikiran-pra-pikiran yang dimilikinya, dan dengan demikian ia senantiasa sampai kepada kesimpulan global dan keseluruhan dan keluar dari batasan personal. Dan pada akhirnya, kita dapat menambah poin ini, karena wahyu disebut sebagai pengalaman intrinsik, maka bahasanya adalah bahasa sentimental dan perasaan. Akan tetapi bahasa ilmu pengetahuan berurusan dengan realitas luaran. Oleh karena itu, bahasa agama dan bahasa ilmu pengetahuan berada pada satu titik yang berseberangan dan di antara keduanya tidak ada berhubungan, dan keduanya saling bertentangan. 

 

Penafsiran Kitab Suci di Kalangan Muslimin

Sebelum masuk kepada inti pembahasan pertama-tama kami ingatkan poin ini bahwa kaum Muslimin, di samping al-Qur’an, mereka mempunyai teks-teks suci yang lain yang mempunyai volume yang sangat besar. Riwayat-riwayat dan hadis-hadis telah dinukil dari Nabi Saw atau maksum yang lain, terhitung sebagai teks-teks suci dan biasanya memerlukan penjelasan. Kendati redaksi “penafsiran” terkhusus hanya untuk al-Qur’an, dan adapun masalah riwayat, digunakan redaksi syarh (ulasan) atau bayan (penjelasan).  

Volume riwayat juga berbeda pada beragam firqah kaum Muslimin. Syiah Imamiah dikarenakan keyakinan mereka terhadap empat belas maksum, mereka mempunyai volume hadis yang lebih besar. Akan tetapi pada kesempatan kali ini, pembahasan utama kita berkisar pada penafsiran ayat-ayat Kitabullah dan pada gilirannya nanti, akan kita bahas masalah riwayat.

Ulama dari kalangan Muslimin sepanjang perjalanan sejarah kebudayaan Islam, memiliki dua pra-supposisi penting dan mereka tidak pernah ragu terhadap dua pra-supposisi ini. Yang pertama, bahwa mayoritas mereka meyakini bahwa kitab ini semenjak awal hingga diturunkannya, tidak mengalami penambahan dan pengurangan, firman Ilahi secara langsung dan tidak mengalami distorsi; sedemikian sehingga bukan kalam dan huruf yang mengalami pengurangan dan juga tidak mengalami penambahan.  

Kalimat-kalimat ini adalah wahyu Tuhan yang dibawa oleh Jibril kepada Nabi Saw. Dan Nabi Saw membacakan wahyu tersebut di hadapan manusia. Kekhususan ini tidaklah demikian di kalangan umat Kristen dalam masalah Injil. Keyakinan semacam ini (bahwa teks-teks suci Islam tidak mengalami distorsi), memberikan nilai signifikan yang sangat besar kepada teks-teks ini.

Yang kedua, Qur’an senantiasa bercerita ihwal realitas semesta. Kitab Suci ini memperkenalkan dirinya bahwa ia senantiasa menghikayatkan tipologi ini. Sifat-sifat seperti, haq (benar), bayan ([berisi] penjelasan), nur (cahaya), tadzikrah (pemberi peringatan), mubin (nyata), dan lain sebagainya adalah penjelas tipologi ini.

Qur’an dalam puncak keindahan dan keelokan seni, kembali ia mengingatkan bahwa ia bukan kumpulan kuplet syair; lantaran tipologi syair adalah semakin imaginatif dan non-realisitis semakin ia indah dan menarik hati. Akan tetapi kitab suci al-Qur’an bukan hanya ia bukan syair, ia juga tidak layak disebut sebagai syair, sebagaiman ungkapan Qur’an sendiri: “Dan Kami tidak mengajarkan syair dan tidak layak bagi kami untuk itu.” (Qs. Yasin [36]:69)

Dengan seluruh keutamaan ini, kitab suci menjelaskan realitas-realitas dan dengan ayat-ayatnya yang menyuguhkan “pandangan dunia.” Bukan sekedar kitab yang berisikan kisah-kisah teladan yang bertujuan untuk menggerakan perasaan dan sentimen atau ikatan bagi satu metode hidup tertentu tanpa melihat realitas. Jalan ini merupakan jalan eskapis yang dipikirkan oleh orang-orang Barat, tanpa memandang bahwa agama pada akhirnya merupakan urusan realistik dan rasional.

Adanya dua poin penting ini di kalangan kaum Muslimin telah menyebabkan munculnya usaha suci untuk melakukan tafsir dan menyingkap tirai dari rahasia-rahasia semesta dalam firman Tuhan. Akan tetapi kita tidak dapat berkata bahwa pada jalan ini tidak terjadi ifrath atau tafrith. Tidak, ada juga orang-orang yang menafsirkan kitab Tuhan berdasarkan pandangan astronomikal yang berkembang pada zamannya. Namun sekali-kali pandangan ini dalam dunia ilmu pengetahuan tidak memunculkan kekuatiran yang serius; lantaran firman Ilahi pada saat jelas dan gamblang, ia sangat fleksibel untuk ditafsirkan dengan penafsiran yang beragam dan para penafsir juga memahami bahwa dalam menafsirkan ayat-ayat sesuai dengan makna yang berkembang pada zamannya ia tidak boleh melakukannya dengan tergesa-gesa. 

Dengan demikian, dalam sejarah Islam, tidak pernah ada inkuisisi akidah. Sementara kedekatan para ulama dengan pemerintah-pemerintah yang berkuasa, setidaknya pada sebagian firqah, tidak kurang penetrasinya sebagaimana kaum pendeta gereja pada pemerintah-pemerintah yang berkuasa.

Secara asasi, pandangan ilmiah, yang bermakna ilmu empirik dan laik uji, sekali-kali tidak memiliki corak dan warna agamis sehingga terobosan, dapat dianggap sebagai sebuah kekufuran dan perbuatan murtad.

Menariknya di sini, kaum Muslimin sepanjang perjalanan sejarah, adalah orang-orang yang terdepan dalam ilmu pengetahuan, bahkan dalam bidang ilmu-ilmu empirik. Pada masa-masa itu, sekali-kali seorang cendikia atau alim Muslim tidak pernah mengingkari realistisnya gaya bahasa Qur’an. Nasihat yang berguna dan bijaksana, para cendikiawan Muslim yang matang melarang tindakan tergesa-gesa dalam mempraktikkan pandangan ilmiahnya atas ayat-ayat al-Qur’an. Lantaran mereka percaya bahwa terdapat doa poin penting yang senantiasa harus diperhatikan dalam berhadapan dengan ayat-ayat Qur’an dimana: maksud dan tujuan Tuhan dalam firman-firmanNya bukan menjelaskan dunia melalui pendekatan ilmu-ilmu empirik, tapi hal ini juga tidak bermakna bahwa firman Tuhan tidak realitis dan tidak memiliki instanta atau contoh luaran (misdhaq). Di antara dua matlab ini terdapat gap dan jarak yang terbentang luas.

Kini kita saksikan dimana kaum Muslimin dengan segala pra supposisi ini, bagaimana mereka memaknai firman Tuhan? Apakah sekedar sesuai dengan makna tersurat (eksplisit) dan mencukupkan diri dengan metode kaum Akhbari (Zahirisme), atau kalimat-kalimat ini memandu kepada makna-makna yang terjauh? Pada hakikatnya ulama, dalam hal ini, tidak memiliki satu pendekatan. Sebagian dalam menghindari intervensi dalam makna-makna tinggi firman Tuhan, sehingga mereka sampai pada titik bahwa apa yang tersurat dari al-Qur’an merupakan sebuah hujjah dan untuk memahami maksud Tuhan hanya dapat ditempuh melalui orang-orang yang memiliki jalan kepada khazanah tersembunyi Tuhan. Dan mukhatab (yang diajak berbicara) Qur’an adalah orang-orang yang memiliki jalan tersebut.

Sekelompok lainnya juga menerima makna lahiriyah al-Qur’an dimana mereka berpikir bahwa Tuhan duduk di atas singgasana dan Dia dapat dilihat – setidaknya di hari Kiamat kelak – dengan mata hati. Akan tetapi pemikiran sederhana seperti ini dalam memahami al-Qur’an senantiasa berada pada posisi minoritas dan tidak banyak memiliki pengikut. Namun dua pra-supposisi di atas tidak pernah terlupakan.   

Kita lalui kecendrungan-kecendrungan yang kurang memiliki pengikut ini, kebanyakan peniliti dan periset dalam ranah kalam Ilahi meyakini bahwa ayat-ayat al-Qur’an, di samping memiliki makna-makna redaksional, dimana secara lahiriyah dan urf-nya merupakan hujjat, ia juga memiliki lembaran-lembaran yang sangat subtil dan sublim.

Usaha bertungkus lumus para penafsir dalam menyingkap makna dan analisa lembaran-lembaran misterius ini yang membuat lahirnya pengetahuan yang sangat banyak dalam rangkaian ilmu-ilmu agama yang bernama “tafsir.”

Akan tetapi evaluasi dan pengkajian metodelogi yang terdapat dalam tafsir dan jenis pendekatan para penafsir, tidak di bahas dalam tulisan ini dan hal itu memerlukan waktu dan ruang yang lain untuk dibahas bersama.

Maksud kami di sini sekedar mengetahui bahwa para ilmuan kita, baik hal itu bertautan dengan pandangan-pandangan interpretatif, memandang hubungan antara takwil ayat-ayat suci, firman-firman yang sarat dengan rahasia dan realitas luaran. Apakah filosof dan urafa, dengan seluruh pandangan yang secara lahir menakjubkan ini, tatkala sampai kepada firman-firman Tuhan, mereka memandangnya tidak bertautan dengan realitas luaran.  Dan berangkat dari sini, selintas dan sepintas mereka puas dengan pandangan ini? Sebenarnya, orang Barat jalan eskapis mudah yang mana mereka pilih?

Baik kesucian dan iman kepada firman Tuhan bertakhta di hati atau realitas dunia bermukim di mata! Dalam keadaan seperti ini, iman akan menjadi sesuatu yang tidak dapat dipahami!

Di sini saya beriman kepada sesuatu yang saya tidak pahami! Dan seterusnya, secara definitif dapat dikatakan bahwa ucapan-ucapan semacam ini tidak dapat ditemukan dalam riset dan penilitian para ilmuan dan ulama kita.

 

Makna Takwil Ayat-ayat

Untuk menerangkan masalah takwil dan hubungannya dengan realitas yang ada di alam semesta, kita menukil ucapan salah seorang mufassir dan alim besar dimana baik dalam bidang tafsir memiliki kedudukan yang tinggi dan juga dalam bidang Filsafat. Allamah Tha-thabai penulis tafsir al-Mizân, yang membahas tentang takwil dan kesamaan ayat secara panjang-lebar pada jilid tiga kitab ini. Allamah Thaba-thabai Ra setelah menjelaskan pembagian ayat-ayat Qur’an, muhkam dan mutasyabih, dan bahwa ayat-ayat mutasyabih dapat dimaknai dengan merujuk kepada ayat-ayata muhkamat. Dan yang global (ijmal) disimpulkan darinya, bukan pada ayat-ayat muhkam. Kemudian ketika mengkaji salah satu pandangan dalam masalah takwil, ia menolak ucapan ini dan menegaskan bahwa takwil tidak hanya terdapat pada ayat-ayat mutasyabih. Selanjutnya Allamah Thaba-thabai menyampaikan pandangannya sebagai berikut:    

“Yang benar dalam masalah penafsiran takwil adalah realitas yang bersandar kepadanya penjelasan-penjelasan Qur’ani dari hukum, nasihat dan hikmat. Dan terdapat pada seluruh ayat-ayat Qur’ani, muhkamah dan mutasyabih.

“Sesungguhnya dalam menafsirkan takwil adalah sebuah fakta yang real yang dapat disandarkan padanya penjelasan-penjelasan Qur’ani dari sisi hukum atau nasihat atau hikmah. Dan takwil ini terdapat pada aspek esoteris seluruh ayat-ayat al-Qur’an, baik pada ayat-ayat mutasyabih atau muhkamat.  Dan takwil ini bukan sekedar berisikan pemahaman-pemahaman yang terbersit dalam benak melainkan bersumber dari perkara-perkara real dan transendental yang terlepas dari ikatan-ikatan lafaz. Dan jika Allah Swt meletakkannya dalam format lafaz sejatinya dimaksudkan untuk memudahkan pemahaman manusia. Sejatinya firman Tuhan dapat diserupakan dengan permisalan-permisalan yang digunakan untuk mendekatkan pemahaman, sehingga matlab yang ada dapat menjadi jelas dalam benak pendengar. Sebagaimana firman Allah Swt:

“Dan Sesungguhnya Al Quran itu dalam Induk Al kitab (Lauh Mahfuzh) di sisi Kami, adalah benar-benar Tinggi (nilainya) dan Amat banyak mengandung hikmah.” Dan terdapat ayat-ayat yang lain dalam al-Qur’an yang mengisyaratkan dan menjelaskan matlab ini. [9] 

Oleh karena itu seluruh ayat-ayat suci Ilahi memiliki takwil dan takwil tidak hanya terdapat dalam tawanankata-kata, dimana hakikatnya equivalen dengan  realitas luaran. Di sini terdapat perbedaan antara metode kaum Muslimin dan orang-orang Barat dalam memandang pemahaman-pemahaman dan kategori-kategori agama.  Dan kitab samawi di kalangan kaum Muslimin termasuk sebuah realitas faktual yang terdapat di dunia luar. Bukan sekedar nasihat yang berguna atau kisah-kisah yang menakjubkan.

Terkadang, untuk sebuah kalimat, di samping makna-makna yang sesuai dan kata-kata, terdapat realitas yang lain dimana aplikasinya adalah kalimat isyarat dan hikayat yang memiliki realitas. Realitas tersebut adalah realitas luaran, bukan madlul (yang dimaksud dari) kata-kata kalimat, tapi hasil dan konsekuensi dari aplikasi redaksi yang digunakan yang memberikan petunjuk atas realitas tersebut. Sebagai permisalan, tatkala seseorang berkata kepada seorang lainnya: “Tolong berikan Aku minum.” Ucapan ini bersumber dari karakter manusia, sebuah karakter yang mengingingkan dirinya untuk tinggal dan tahu bahwa untuk memenuhi keinginan ini ia memerlukan makan dan minum, dan atas alasan ini ia meminta air.” Sementara bukan karakter manuasia dan juga bukan permintaan untuk tinggal, bukan madlul (yang dimaksud dari) kalimat “lepaskan dahaga”; akan tetapi kalimat pendek ini seakan-akan adalah seluruh realitas ini.  

Metode petunjuk pepatah dan pemahaman takwil sangat berdekatan. Tatkala sebuah pepatah kita gunakan, sekali-kali makna yang tersimpan dalam kata-kata pepatah tersebut tidak dapat digunakan pada satu perkara tertentu, melainkan kita menyinggung sebuah realitas yang lain yang terdapat dalam pepatah. Sebagai contoh, dalam bahasa Arab, terdapat sebuah pepatah, “Fii as-saif Dhayya’ti al-laban.” (Pada musim panas engkau [perempuan] merusak susu). Pepatah ini disampaikan kepada seseorang yang diminta untuk melakukan suatu pekerjaan, akan tetapi sebelum itu, pekerjaan pendahuluan tidak dilakukan. jika pepatah ini diucapkan kepada seseorang yang tidak lulus dalam sebuah ujian; mengapa tatkala memiliki waktu untuk bersiap-siap, ia tidak gunakan, sekali-kali tidak bermakna “ia merusak susu” dan ia tidak lagi dapat meminum susu itu, akan tetapi maksudnya adalah engkau sebelumnya seharusnya telah bersiap-siap dan konsekuensi ini tidak dapat dihindari. Pepatah ini sendiri memiliki hikayat terhadap realitas yang memiliki realitas faktual.

Dalam Qur’an sendiri pepatah digunakan, tatkala seorang wanita berkata bahwa benang-benangnya sebelum disimpulkan, ia buka dan berantakan. Dan ketika Qur’an berkisah ihwal air hujan yang ditadah dengan telapak tangan, beginilah Qur’an turun kepada kita. Pada sisi Tuhan, perkara yang transendental, tinggi dan penuh hikmah tidak dapat hinggap ke dalam batin dan jiwa kita tanpa perantara. Tuhan berdasarkan kasih dan kebesaran-Nya, Dia menurunkan al-Qur’an yang rinci dan dengan struktur bahasa Arab, sehingga manusia berpikir tentangnya. Dan hal ini adalah kitab suci al-Qur’an (Ummul Kitab) yang tidak terjangkau oleh tangan-tangan kotor. Kemudian Allamah Thaba-thabai menjelaskan pokok pandangannya:

“Apa yang dapat disimpulkan dari ayat-ayat suci ini sesungguhnya menandaskan bahwa di balik dari apa yang kita baca dan pikirkan dari al-Qur’an merupakan sebuah perkara dari al-Qur’an. Dan kedudukannya bagi al-Qur’an adalah ibarat kedudukan ruh pada jasad dan seperti yang dimisalkan (mutamattsil) bagi misal. Dan hal demikian yang disebut oleh Allah Swt dalam Kitab Suci, dan juga yang disandarkan padanya maarif dan kandungan al-Qur’an. Dan ia bukan dari jenis lafaz yang terpisah dan tak bermakna. Dan demikian merupakan pada hakikatnya merupakan takwil yang disebutkan pada ayat-ayat yang termasuk di dalamnya. Dan dengan demikian jelaslah makna takwil yang sebenarnya. Dan menjadi jelas pula bahwa takwil tidak mungkin dapat dipahami oleh orang-orang biasa yang tidak maksum. [10]  

Mulla Shadra dalam bab takwil memiliki pandangan yang sama dan dalam menafsirkan ayat kursi ia menyampaikan pandangan tersebut yang menyimpan poin-poin penting di dalamnya.[11]

Hal ini merupakan penegasan dan stressing pada matlab ini bahwa al-Qur’an merupakan kitab yang senantiasa berkata-kata ihwal realitas, bukti-bukti yang lain yang bersumber dari riwayat akan kami beberkan kemudian. Akan tetapi sebelum membeberkan riwayat tersebut, kami akan menyampaikan dua jenis riwayat, dimana al-Qur’an dipandang sebagai realistis dan bersandar kepada dunia real, bukan sekedar nasihat, wejangan dan kisah-kisah yang berguna.

Jenis pertama,  Riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa al-Qur’an adalah cahaya, pemberi petunjuk dan furqan. Dari riwayat-riwayat jenis pertama ini, dua riwayat yang muktabar yang kami pilih:

“Dari Abi Abdillah As: Jika terjadi atas kalian fitnah bak malam yang gelap, maka hendaklah kalian bersama al-Qur’an: Karena ia adalah obat penyembuh, benar dan membenarkan. Barang siapa yang meletakkan (al-Qur’an) di hadapannya, ia akan menuntunnya ke surga dan barang siapa yang menaruh di belakangnya akan menggiringnya ke neraka. Ia adalah penunjuk ke jalan kebaikan dan ia merupakan kitab yang di dalamnya terdapat rincian, penjelasan dan uraian…”[12]

Riwayat yang lain yang memilki sanad yang dapat dipercaya:

“Tuhan Sang Pencipta menurunkan kitab kepadamu dan Dia adalah benar, di dalamnya terkandung berita tentangmu dan berita tentang orang-orang sebelum dan setelahmu, berita ihwal langit dan bumi. [13]  

Dalam dua riwayat ini, yang memiliki sanad muktabar dan dapat dipercaya, Qur’an, diperkenalkan sebagai kitab yang menjelaskan realitas dan cahaya kegelapan dan termasuk berita-berita langit dan bumi dan pelipur lara jiwa dan hati. Apakah tipologi ini selaras dengan tipologi yang kita jumpai dalam pembahasan hermeneunetik?

Poin yang lain dalam menukil riwayat ini, kita berkata bahwa bukan hanya mufassir yang beranggapan bahwa Qur’an adalah berita-berita benar tentang alam semesta dan mengisahkan realitas. Dan tidak ada satu pun keraguan di dalamnya. Ucapan pembawa kitab dan pemimpin agama ini juga senada dengan ucapan wahyu, yang menegaskan hakikat ini, pertama, Nabi Saw sendiri memandang Qur’an ini sebagai kitab yang menjelaskan realitas, jelas (mubin), dan penjelas (mubayyin). Dan pandangan ini bukan hanya bersumber dari penafsir Musliminin saja yang hidup di sepanjang perjalanan sejarah.

Kedua, riwayat-riwayat yang diambil dari tafsir bi ar-ray. Riwayat-riwayat semacam ini sedemikian masyhur di kalangan Imamiyah dan Ahlussunah sehingga tidak perlu lagi mengkajinya dari sisi sanad. Kendati, banyak ucapan yang bertautan dengan masalah ini, namun pesan ini dapat disimpulkan bahwa: Qur’an tidak dapat ditafsirkan sesuai dengan pandangan yang sempit dan subjektif. Mengapa demikian?

jika Qur’an – yang merupakan firman Tuhan Pencipta Alam – tidak memiliki pandangan transendental, subtil terhadap realitas factual dan sekedar untuk mewujudkan tujuan lain, lalu mengapa kita mendapatkan banyak sekali peringatan tentang hal ini? Atas alasan ini penggunaan ayat-ayat kitab ini terhadap mishdaq-mishdaq luar, yang tidak benar kecuali dengan realitas dan hakikat luaran, dengan demikian, mereka yang mengetahui kehendak penciptanya melalui rahasia-rahasia keberadaan, adalah orang-orang yang mengetahui takwilnya. Allamah Thab-thabai memiliki ucapan yang indah dalam hal ini yang merupakan poin kritis dari larangan terhadap tafsir bi ar-ray.

“Larangan yang terdapat dalam riwayat sebenarnya berpulang kepada metodelogi dan pendekatan. Penafsiran firman Allah adalah sama dengan penafsiran kita terhadap ucapan manusia. Dan tiada perbedaan firman Tuhan dan ucapan orang lain dalam menggunakan lafaz; lantaran firman Tuhan adalah dalam bahasa Arab, dan seluruh firman yang disampaikan dalam bahasa Arab – yang sesuai dengan kaidah – sama yang diucapkan oleh manusia. Dan perbedaannya terletak antara ayat-ayat Tuhan dan ucapan-ucapan manusia adalah pada maksud dan misdhaq yang sesuai dengan mafhumnya.”[14]

Bagaimanapun, tujuan dari ucapan ini dalam masalah takwil adalah titik utama perbedaan antara kaum Krisitian dan kaum Muslimin, nampak pada fondasi dua jenis pandangan keberagamaan, orang-orang Barat memisahkan agama dari pentas dunia realitas, mereka menyerahkan dunia kepada ilmu pengetahuan dan memandang agama sebagai wejangan, kisah-kisah menarik dan yang membangun moral.  

Akan tetapi di dunia Timur, pandangan sedemikian belum sampai pada anggapan orang-orang beriman dan juga para periset, kecuali sebagian kecil yang mengetahui secuil pandangan orang-orang Barat, seorang sekali-kali tidak akan memandang benar pandangan yang dilekatkan kepada agama semacam ini. Mungkin saja pada abad mendatang, keyakinan seluruh kaum Kristian tradisional tidak lagi sedemikian sebagaimana yang diikatakan oleh para cendekiawan abad ini. 

Pandangan ini dengan sendirinya setiap hari semakin banyak mengejar sesuatu yang semakin jauh dari realitas. Munculnya pembahasan seperti relativitas pengetahuan dan makrifat manusia – khususnya dalam pembahasan keagamaan – dan juga pluralisme dalam menerima keyakinan beragama adalah bersumber dari pandangan ini. Sementara dalam penyebaran ilmu empirik , mereka sedemikian yakin dan definitif. Dalam bidang nilai-nilai akhlak dan ajaran-ajaran agama, mereka berpandangan sebaliknya, penuh dengan keraguan dan kesangsian. Tentu saja dalam ilmu empirik dalam banyak pembahasan, ada juga ucapan yang tidak definitif, namun hal ini terdapat pada sebagian kecil periset filsafat atau fisika teoritis. Dan bahkan periset lainnya dan ilmuan bidang ini tidak terlalu percaya dengan hal ini.

 

Kriteria dalam Takwil

Sekarang pembahasan kita dapat dikaji dalam bidang internal agama. Dan merupakan salah satu masalah penting dalam pengkajian Qur’an. Setelah pemahaman takwil menjadi jelas, sekarang mari kita diagnosa batasan boleh dan tidaknya takwil dalam pembahasan ini dan kita lihat apakah kritikan-kritikan takwil (Apa kriteria yang digunakan dalam menentunkan benar tidaknya dalam melakukan takwil?  Masalah ini menjadi penting lantaran berdasarkan hal tersebut, serangkaian takwil interpretatif, irfan dan hadis dapat dikaji.

Bertolak dari poin ini, terdapat banyak perbedaan dalam mazhab-mazhab Islam: Sekelompok orang menggunakan piranti akal dan rasio dan sekelompok lainnnya  menafikan fungsinya. Sebagian sedemikian mencengkram riwayat sehingga bahkan mereka tidak menerima hujjah lahir ayat-ayat Qur’an.

Secara umum terdapat dua criteria umum dan standar universal dalam ucapan-ucapan para cendekiawan Muslim dan hal itu dapat dijelaskan di sini.

  1. Riwayat dan takwil:

Dalam poin ini, tiada keraguan dan kesangsian bahwa jika ada ucapan dan sabda dari seseorang yang memiliki kedudukan maksum dalam ranah takwil, maka seluruhnya akan menerima hal itu. Dan jika terdapat ucapan di kalangan firqah Islam, dalam hal bahwa apakah para imam Syiah memiliki kedudukan seperti ini? (Dimana hal ini merupakan pembahasan teologis dan para teolog Syiah dalam hal ini sangat argumentatif dan jelas). Kedua, apakah hadis yang sampai ke tangan kita, memiliki landasan kokoh dari sisi sanad dan teks? Oleh karena itu seorang teolog Syiah yang memandang ucapan para maksum sebanding dengan ucapan Nabi Saw, hanya berusaha dalam meneliti dari sisi hujjiyah riwayat-riwayat yang ada. Dan jika terdapat hadis yang menghubungkan antara takwil satu ayat dan ayat-ayat yang lain dalam al-Qur’an, ia akan bersandar pada hadis tersebut. Dalam hubungannya dengan hadis-hadis dan riwayat-riwayat dalam bab takwil, banyak karya dan berguna dari kalangan mufassir Syiah yang tersisa buat kita. Dimana signifikansi riwayat-riwayat ini sangat jelas. Sejatinya riwayat semacam ini, terkadang kita berjumpa dengan beberapa matlab yang menakjubkan dimana sesuai dengan pandangan pertama nampak aneh, sedemikian bahwa kandungan-kandungan sebagian riwayat ini, tidak sesuai dan senada dengan ayat secara lahir.

Namun makna-makna agung dapat diterima dikarenakan dalil yang meyakinkan dan argumentatif yang bersumber dari para maksum. Dan penelitian dan penelusuran harus dilakukan pada warisan yang sangat berharga ini. Dimana sejatinya penelitian dan penelusuran ini merupakan penilitian dan penelusuran yang besar (fiqih akbar).  

Bari, bahwa ucapan para maksum merupakan kriteria dalam melakukan takwil ayat-ayat suci al-Qur’an, bukan hanya diterima oleh kalangan mufassir, melainkan juga telah dijelaskan oleh para Imam Maksum As. Di samping itu, juga pada ajaran-ajaran murid-murid para maksum, kita melihat makna-makna subtil al-Qur’an dan juga pada ucapan-ucapan langsung mereka, yang semakin menambah validitas masalah ini, dimana firman Tuhan tidak mudah untuk dipahami. Dan hal penting ini memerlukan hubungan dengan khazanah ilmu ghaib Tuhan. Dalam bidang ini, kita akan menyebutkan beberapa hadis  yang terang dan standar di bawah ini.

Pertama, yang berhubungan dengan masalah-masalah haji dan secara lahir ayat tersebut tidak berkenaan dengan masalah haji. “”Dinukil dari Abdillah bin Sanan, ia berkata: “Aku berkunjung kepada Aba Abdillah dan aku berkata kepadanya: “Semoga aku menjadi tebusanmu wahai Imam, apa maksud dari firman Allah Swt: “Tsumma liyaqdhu tafstuhum.” Imam As berkata: “Hendaklah kalian (jamaah haji) mencukur kumis dan merapikan kuku dan semacam itu.” Aku berkata, “semoga aku menjadi tebusanmu wahai Imam,” Sesenggungnya Dzarih al-Muharabih menukil hadis dari Anda bahwa sesungguhnya Anda bersabda: “Jauhkanlah segala kekotoran (bermakna) perjumpaan bersama Imam dan (hendaknya) memenuhi nadzar (yang telah diikrarkan). Imam berkata: Anda dan Dzarih berkata benar. Sesungguhnya pada al-Qur’an terdapat dimensi batin dan lahiriyah. Siapakah yang dapat bersabar dan tabah seperti Dzarih?[15]

Kita melihat bahwa menghilangkank kotoran dalam riwayat-riwayat ini yang bermakna perjumpaan dengan Imam Maksum, dimana makna lahirnya tidak begitu dekat, tapi jauh dari makna lahirnya.  Kendati menurut Faidh Kasyani, kedua sisi common antara tafsir dan takwil terdapat dalam riwayat ini. [16] Namun harus fair, dan jika kita tidak memiliki riwayat semacam ini, niscaya makna perjumpaan dengan imam tidak akan pernah terlintas dalam benak kita, sementara ayat ini tidak senada dengan makna lahirnya.

Kita sampaikan riwayat standar lainnya yang bertautan dengan subjek ini dimana takwil yang ada tidak sesuai dengan ayat secara lahir. “Syaikh Mufid dalam kitab al-Ikhtishas…dari Zaid asy-Syiham dari Abu Ja’far berkenaan dengan firman Ilahi, “Dan hendaklah manusia memperhatikan makanan yang dimakannya.”Imam berkata: ٰIlmu darimana ia dapatkan. [17]

Kini dengan melihat secara umum terhadap beberapa hadis dan riwayat-riwayat lainnya dapat disimpulkan bahwa masalah tawkil merupakan masalah yang njelimet. Benar bahwa dalam masalah ini bahwa ucapan Imam Maksum dalam menerima makna-makna merupakan hujjah, namun dengan semua ini, ia memiliki titik henti (ending point), khususnya cara menyampaikan dan transformasi makna-makna Qur’an dapat disimpulkan dari serangkaian masalah ini, ia memerlukan tadabbur sehingga baik takwil tidak kita abaikan demikian juga tidak membiarkan takwil-takwil para penafsir dan jalan ini adalah lebih halus dari lapisan rambut. 
2. Akal dan takwil

Apakah akal memiliki peluang dalam menakwil ayat-ayat Ilahi? Sejauh mana akal dapat menangkap rahasia dan misteri firman Ilahi? Kenyataannya adalah kaum Muslimin berselisih pendapat dalam masalah ini. Dengan adanya perselisihan pendapat, semenjak dulu para cendekiawan Syiah terkenal sebagai orang-orang yang menerima dan memberikan signifikansi terhadap akal. Pandangan Syiah senatiasa merupakan pandangan rasional. Mereka dengan menegaskan poin ini bahwa untuk melintas di jalan akal merupakan pekerjaan sukar,  mereka senatiasa mengambil manfaat dan bersandar kepadanya. Nampaknya dalam menerima pandangan transformatif (tahawwul gerane) terhadap ayat-ayat Qur’an keraguan harus ditepikan. jika fondasi penting keyakinan agama dapat diterima dengan akal, jika kaidah, hujjahiyat lahir ayat-ayat Qur’an dan tiadanya distorsi dalam urusan Qur’an dapat dinalar oleh akal dan jika di antara ayat-ayat kitab samawi ini dapat dijumpai puluhan ayat yang kandungannya dapat dinalar dengan akal, kesemua ini, merupakan penegas terang dan pembenar atas hujjiyat akal, bahkan dalam batasan takwil ayat-ayat suci Qur’an.

‌Syaikh Anshari, yang bukan merupakan seorang filosof atau arif atau penafsir, mengenai kedudukan akal dalam urusan inferensi (istinbath) agama berkata, “Yang menjadi tuntutan pendapat sesuai dengan pandangan para ahli bahwa sesungguhnya segala yang dihasilkan oleh qath yang bersumber dari dalil-dalil rasional tidak dibenarkan untuk dipertentangkan dengan dalil referensial (naqli). Dan jika dijumpai pertentangan maka pertentangan tersebut harus ditakwil.[18]

Sejatinya dalam lintasan batasan benar atau batilnya takwil, terdapat ifrath dan tafrith. Sebagaimana sebagian takwil yang keliru dan pemaksaan pandangan-pandangan keliru atas ayat-ayat Qur’an, semakin menambah nilai ifrath pandangan ini. Terdapat jalan yang panjang untuk menemukan faktor-faktor yang menjadi sebab kemunculan pandangan seperti ini. Menerima nasihat dari orang-orang yang berpengalaman dalam bidang riset Qur’an, para ilmuan diajak untuk lebih berhati-hati dan teliti. Nampaknya jika dua perkara dalam memandang secara rasional terhadap ayat-ayat Qur’an yang menjadi objek kajian diperhatikan sercara seksama, urusan takwil akan sebangun dan selaras dengan akal.

Pertama, takwil melalui jalan akal, harus dilaksanakan dengan ilmu dan makrifat yang kokoh dan mantap sehingga ia dapat bersandar kepada ayat, “Dan tiada yang mengetahui takwilnya kecuali Allah, dan orang-orang yang rasikh dalam ilmu.[19] bukan sekedar ucapan kosong dan melantur. Seorang filosof seperti Mulla Shadra dengan usaha yang tak kenal lelah yang ia lakukan berhasil menyingkap tabir keberadaan dan dengan pandangannya yang tajam, ia berhasil menguak tirai hakikat dari al-Qur’an. Sebagai contoh berkenaan dengan tajarrrud nafs, ia menuturkan, “Adapun ayat-ayat yang bertautan dengan tajarrud an-nafs, firman Allah yang berkenaan dengan Nabi Adam As dan anak-anaknya: “Dan Aku tiupkan kepadanya dari ruh-Ku.”[20] Dan yang berhubungan dengan Nabi Isa As: “Kalimat-Nya yang disampaikan-Nya kepada Maryam, dan (dengan tiupan) roh dari-Nya[21] dan penisbatan ruh Tuhan ini menandaskan kemuliaan ruh dan keberadaannya yang tidak memiliki corakjasmani dan berkenaan Syaikhul Anbiya (Tuan para Nabi) Ibrahim Khalilillah, “Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, (agar ia berargumentasi dengannya) dan termasuk orang-orang yang yakin.”[22] Dan firman-Nya yang mengisahkan tentang hal ini: Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan keimanan yang murni dan tulus kepada-Nya, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”[23] dan jelas bahwa sesungguhnya jism dan kekuatan yang  dimaksud di sini bukanlah jisim materi yang menerawang semesta malakut dan keyakinan kepada Sang Pencipta langit dan lurus yang bermakna kesucian dan kekudusan. Dan di antara firman-Nya, Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Suci-lah Allah, Pencipta Yang Paling Baik.[24] Dan firman Ilahi: “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui [25] Dan “Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh mengangkatnya.[26]” Dan ”Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia dalam bentuk sebaik-baiknya.”[27] Dan firman-Nya “Wahai jiwa yang tenang kembalilah kepada Tuhanmu dalam keadaan ridha dan diridhai.”[28] Dan sejatinya seluruh ayat-ayat yang bertalian dengan maad dan ihwal para hamba adalah menjelaskan masalah tajarrud an-nafs.[29]

Kedua, para penggali harus berupaya keras menerapkan rasionalitas yang tertata dan berkaidah dalam ilmu tafsir dan khususnya ilmu takwil. Model yang pas dan contoh yang unggul dalam bidang ini adalah ilmu fiqih. Selain itu, untuk mendapatkan kriteria-kriteria dalam hukum-hukum akan menjadi sangat pelik dan dalam banyak hal tidak akan terselesaikan? Bukankah akal yang menjadi hujjah batin Tuhan telah diterima dalam fiqih? Dan bukankah kerisauan akan kesalahan akal dalam fiqih tidak kurang resikonya dari penafsiran?  Para fuqaha dalam pembahasan mereka yang terang, khususnya dalam ilmu Ushul Fiqih, bagaimana mereka member perhatian dan mengkaji jenis-jenis hukum akal dan nilai-nilai setiap jenis hukum dalam bidang ibadah dan muamalah, dan banyak poin-poin yang berguna dalam sejarah disiplin ilmu ini mereka gali dan aplikasikan.

 

Dengan ditemukannya seluruh tendensi seperti Akhbari (Zhahirisme), betapa banyak kerugian yang dipikulkan kepada disiplin ilmu ini, akan tetapi para fuqaha seperti Wahid Bahbahani dan Murtadha Anshari, dengan usaha dan kerja keras mereka, berhasil menghalau tendensi ini dalam bidang riset agama, fiqih dan hadis, dan mengukuhkan fungsi akal pada setiap periset agama.

Dewasa ini kita tidak menemukan secara serius pendekatan Akhbarian. Ketelitian dan kecermatan yang sangat subtil Ushul Fiqih dan para ahli ilmu Ushul (yang sekaligus filosof), seluruhnya merupakan bukti jelas kedudukan akal di sisi para fuqaha. Akan tetapi perkara ini merupakan jasa  usaha para fuqaha yang merdeka dan mandiri.

 

 

 


[1]. Lihat, Muhammad Taqi Fa’ali, Dar Âmad bar Ma’rifat Syinâsi Dini wa Ma’âshir, hal-hal. 248-249. 

[2]. The Encyclopedia of Philosophy; Edortichle, Religious Languange, jil. 1, hal. 1710.

[3]. Lihat, Justin Garder; Dunya-e Sufi, terjemahan Kuresy Shafawi, hal-hal. 419-440; William Hurder, Râhnemâ Ilahiyyat Protestan, terjemahan Tha Thahawes Mikailiyan, hal. 34. 

[4]. Lihat, Râhnemâ Ilahiyyat Protestan, hal-hal. 36-41. 

[5]. Lihat, Justin Hartnak; Nazhariyah Ma’rifat dar Falsafe-ye Kant, terjemahan Ghulam ‘Ali Haddad ‘Adil, hal-hal. 166-171, Roger Iskrutan; Kant, terjemahan ‘Ali Paya, hal-hal. 161-164, Frederick Kopelston, Tarikh Falsafeh, terjemahan Ismail Sa’adat dan Manucher Buzurghmehr, hal-hal. 318-319, Corner Stephen, terjemahan Izzatullah Fuladewand, hal-hal. 245-272. 

[6]. Lihat, ‘Ilm wa Din, hal. 36. 

[7]. Idem.

[8]. Lihat, Dar Âmad bar Ma’rifat Syinâsi Dini wa Ma’âshir, hal. 358-361. 

[9]. Al-Mizân, jil. 3, hal. 43. 

[10]. Al-Mizan, jil. 3, hal. 54.  

[11]. Tafsir Ayatul Kursi, Shadr al-Muta’allihin, jil. 4, hal. 154-174.

[12]. Lihat, Ushul al-Kafi, jil. 2, hal. 598. 

[13]. Idem, hal. 599. 

[14]. Lihat, Tafsir al-Mizan, jil. 3, hal. 78. 

[15]. Lihat, Man Lâ Yahdhuru al-Faqih, jil. 2, hal. 390. 

[16]. Lihat, al-Kâfi, jil. 4, hal, 549 dan catatan kaki pada halaman yang sama. 

[17]. Lihat, al-Ikhtisâsh, hal. 5 dan Tafsir al-Burhân, jil. 4, hal. 429. 

[18]. Faraidh al-Ushul, hal. 10.

[19]. Qs. Ali Imran (3):7

[20]. Qs. Al-Hijr (15):29

[21]. Qs. An-Nisa (4):171

[22]. Qs. Al-An’am (6):75

[23]. Qs. Al-An’am (6):79

[24]. Qs. Al-Mu’minun (23):14

[25]. Qs. Yasin (36):36

[26]. Qs. Al-Fathir (35):10

[27]. Qs. At-Tin ():4

[28]. Qs. Al-Fajr (89):

[29]. Al-Asfar al-Arba’ah, jil. 8, hal-hal. 303-305.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: