Telaah Kritis Perbedaan Wahyu dan Pengalaman Keagamaan

oleh alifbraja

 

 Telaah Kritis Perbedaan Wahyu dan Pengalaman Keagamaan

           

        

Pengalaman keagamaan (religious experience) adalah sebuah komprehensi yang muncul di dunia Barat pada abad kedua puluh, dan pada zaman kemunculannya itu juga ia menghadapi dilema serius dalam pendefinisian yang tepat; sebab perbedaan dalam definisi dan tafsir yang tidak dapat dihindari dalam dua kosa kata, pengalaman dan agama. Sebagian memandang pengalaman keagamaan itu sebagai suatu kejadian dimana pribadi yang mengalaminya dinisbahkan terhadap kejadian tersebut mempunyai pengetahuan tentangnya. Pribadi pelaku, memandang pengalaman ini bergantung pada suatu maujud atau suatu kehadiran yang metafisis, seperti Tuhan atau manifestasi-Nya dalam suatu perbuatan atau ia menyangka suatu maujud dengan suatu bentuk yang berhubungan dengan Tuhan, seperti tajalli Tuhan atau seorang pribadi semisal Maryam ‘Udzara As.

Pengalaman, memiliki pengertian yang luas dan dimutlakkan atas fenomena yang sangat beragam; sedemikian hingga, dari pengalaman panca indera biasa sampai mimpi, imajinasi, dan kondisi-kondisi luar biasa (supranatural) -yang tanpa ikhtiar (kemauan sendiri) atau dengan ikhtiar dan hasil pengaturan sempurna- semuanya terhitung sebagai pengalaman. Akan tetapi, kemestian pengalaman keagamaan itu sendiri harus disifatkan dengan suatu sifat dari sudut tinjauan pelakunya; yakni suatu pengalaman dimana pelaku memandang dan memahaminya sebagai suatu agama atau dengan kata lain, pelaku memandang atas kandungan dari pengalaman tersebut berada dalam koridor agama.                

Pengalaman keagamaan berbeda dengan bashirah (insight) keagamaan; sebab pengalaman keagamaan (sesuai dengan aplikasi kita dalam tulisan ini)  memestikan berhadapan dengan Tuhan atau hakikat paling akhir (hakikat paling tinggi, the ultimate reality), sedangkan bashirah keagamaan tidak mengharuskan seperti itu. Namun, pengalaman keagamaan dapat saja menjadi pangkal bashirah keagamaan; sebab syarat pengalaman keagamaan tidak lain adalah Tuhan dan hakikat paling akhir, yang menjadi subyek dari pengalaman tersebut.

Adapun ragam dan macam  pengalaman keagamaan antara lain:

1.             Pengalaman ketuhanan dengan perantara sesuatu yang terasakan (terinderai) dan muta’araf (ordinary); seperti menyaksikan seorang pribadi muqaddas (kudus);

2.             Pengalaman ketuhanan dengan perantara sesuatu yang terasakan dan tidak muta’âraf; seperti menyaksikan-Nya dengan perantara pohon yang menyala dan tidak terbakar;

3.             Pengalaman ketuhanan dalam domain bahasa indera muta’âraf; seperti menyaksikan-Nya dalam mimpi atau mukasyafah;

4.             Pengalaman ketuhanan dalam domain bahasa tidak muta’âraf dan tidak menerima pensifatan;

5.             Pengalaman ketuhanan dengan tanpa perantara setiap bentuk penginderaan atau perasaan, dimana dalam kondisi ini pribadi (pelaku) mendapatkan informasi kehadiran Tuhan dalam bentuk syuhudi.

 

Pandangan Tentang Pengalaman Keagamaan

Pertama: Pengalaman keagamaan adalah suatu pengalaman yang tidak bersifat akal dan makrifat, tetapi semacam perasaan (sensibility) yang tidak bisa dituangkan dalam batas perbedaan komprehensi  dan pemahaman, dan juga semacam penjelasan metafisis; kendatipun kelaziman darinya kita memandang bahwa perenungan filosofis dan teologis (dalil dan argumen serta konklusinya) merupakan natijah dan perkara kedua dari pengalaman keagamaan.

Kedua: Pengalaman keagamaan adalah suatu pengalaman yang berlandaskan atas persepsi perasaan dan merupakan ciptaan persepsi perasaan; yakni bukan merupakan hasil dari istidlal akal dan tidak memiliki perenungan filosofis dan teologis serta berada di luar kerangka dalil dan silogisme. Oleh karena itu, dia adalah suatu pengalaman imani (belief).

Kebanyakan filosof peneliti agama di Barat, menegaskan dan menguatkan pandangan pertama dan menyatakan bahwa pengalaman keagamaan mengandung pemahaman, kaidah dan aturan bahasa, dan metodelogi argumentasi.

 

Kesatuan Esensi Pengalaman Keagamaan

Sebagian berkeyakinan bahwa pengalaman-pengalaman keagamaan seluruhnya memiliki unsur-unsur yang sama, masalah ini, khususnya dalam pengalaman irfani dan sufistik nampak lebih jelas; yakni dalam pengalaman keagamaan yang mengandung makrifat dari realitas paling akhir (paling tinggi), arif sampai pada derajat kesatuan denga realitas paling akhir; baik dari dimensi makrifat (gnostikal) maupun dari dimensi eksistensial. Ini adalah suatu esensi dan hakikat yang melampaui dinding-dinding dan batas-batas agama, firkah, mazhab, dan kebudayaan yang beragam.

Dalam berhadapan dengan pandangan di atas, suatu kelompok lain yang berkeyakinan bahwa tidak satupun pengalaman tanpa perantara komprehensi-komprehensi dan keyakinan-keyakinan; bahkan ilmu terhadap nafs yang dihasilkan dari deduksi yang merupakan paling baiknya contoh pengalaman syuhudi. Oleh karena itu, kepercayaan, budaya, dan agama membatasi pengalaman keagamaan dan setiap tradisi serta agama mempuyai pengalaman khusus bagi dirinya. Jadi, keyakinan-keyakinan yang ada memberi bentuk kepada pengalaman-pengalaman keagamaan.[1]

Berasaskan hal ini, sebagian cendekiawan kontemporer memasukkan wahyu dalam koridor pengalaman keagamaan dan memandangnya sebagai pilar kepribadian dan kenabian para nabi. Dalam pengalaman ini, nabi melihat seakan-akan seseorang datang padanya dan membacakan di telinga dan kalbunya pesan-pesan dan perintah-perintah serta memberi tanggung jawab padanya untuk menyampaikan pesan-pesan itu kepada orang-orang, dan sebagai efek dari hasil pengalaman ini ia merasakan adanya tugas dan tanggung jawab baru. Ghazali juga dalam kitab “al-munqidzu min ad-dhalâl” menyinggung poin ini -pengalaman keagamaan- dengan ungkapannya: Dengarkanlah ucapan-ucapan para nabi, sungguh mereka telah mengalami dan menyaksikan Hak pada seluruh apa yang datang padanya dari syariat dan berjalanlah pada jalan mereka niscaya kamu akan mengalami penyaksian sebagian dari itu.[2]

 

Beberapa Ambigu Dalam Pengalaman Keagamaan

Masalah pengalaman keagamaan dari sudut pandangan cendekiawan Barat dan lainnya, telah menjadi bahan pertanyaan dan diskursus serius dan  tidak menampakkan secara jelas dan terang wajahnya serta tidak kosong dari konplik dan pertentangan; misalnya dapat ditujukan beberapa pertanyaan berikut ini:

1.                   Dengan parameter apa dapat diketahui dan dibedakan pengalaman keagamaan dari pengalaman akhlak, pengetahuan seni, perasaan gembira, perasaan bersalah, dan perasaan takjub? Pengalaman, dalam contoh biasa, seperti seseorang melihat sesuatu sebagai beruang atau macan dan merasa takut, tetapi lainnya berkata tidak ada beruang atau macan; tetapi yang ada adalah batang pohon.

2.                   Apakah suatu pengalaman dapat diberi nama pengalaman keagamaan; padahal kita tidak mempunyai pengetahuan sedikitpun tentangnya? Apakah mendapatkan kandungan keagamaan dari jalan pengalaman tidak mengindikasikan “kedahuluan sesuatu atas dirinya” (taqaddum syai ‘ala nafsihi)?

3.                   Mengapa harus agama Budha, Hindu, Kristen, dan agama lainnya dipandang sebagai tradisi keagamaan, tetapi Marxisme tidak dipandang sebagai tradisi keagamaan atau terdapat keraguan terhadap maktab (school of thought) Humanisme?

4.                   Apakah jika seseorang memandang suatu pengalaman sebagai pengalaman keagamaan, yang melihat dan yang mendengar juga harus memandang pengalamannya sebagai pengalaman keagamaan?

5.                   Apakah dapat diadakan tolok ukur dan parameter kebenaran pengalaman keagamaan dan tercipta kesepakatan pandangan, sebagaimana segolongan dari urafa berkeyakinan atas ini? [3]

 

Kedudukan Logikal Pengalaman

Pengalaman -sebagaimana yang dibahas dalam ilmu Logika- adalah suatu peristiwa yang dihukumi manusia dikarenakan penyaksiannya yang berulang kali. Ketika seseorang menyaksikan suatu peristiwa secara berkali-kali dan mengujinya, maka jiwanya menjadi yakin dengannya serta menghukuminya secara pasti; seperti hukum pasti bahwa setiap api niscaya membakar; ini dikarenakan dia menyaksikan peritiwa itu berulang-ulang kali dan melakukan pengujian terhadapnya dan seperti hukum terhadap hubungan derajat panas tertentu dengan memuainya besi serta hukum terhadap kemendidihan air dalam 100 derajat Celcius. Kebanyakan masalah-masalah ilmu Fisika, Kimia, Biologi, Kedokteran, dan ilmu Eksprimen diperoleh dari jalan pengujian dan pengalaman ini.

Konklusi yang dihasilkan ini dalam analisa dan pengujian yang kurang sempurna, pada dasarnya bertumpu atas landasan penemuan sebab, dan penemuan-penemuan sebab ini dikarenakan keberadaan dua qiyâs (silogisme) tersembunyi dalam kedalaman jiwa manusia: yaitu qiyâs istitsnâî (suatu bentuk silogisme dimana konklusi itu sendiri atau kontranya secara aktual disebutkan dalam mukadimah-mukadimah)   dan qiyâs iqtirânî (suatu bentuk silogisme dimana natijah itu sendiri atau kontranya tidak disebutkan secara aktual dalam mukadimah-mukadimah); dan jika tidak ada demikian maka tidak seorangpun akan mengklaim bahwa semua air akan mendidih dalam 100 derajat Celcius atau semua besi akan memuai dalam derajat panas tertentu dan klaim-klaim lain seperti ini dalam ilmu Fisika, Kimia, Biologi, dan ilmu Alam lainnya.

Qiyâs istitsnâî yang disebutkan di atas dalam masalah mendidihnya air adalah: Sekiranya hasil efek ini (mendidihnya air pada 100 derajat Celcius) kebetulan dan terjadi tanpa sebab, maka tidak harus terjadi selamanya, tetapi kita menyaksikannya demikian dalam seluruh zaman. Maka dari itu, hasil efek ini bukanlah kebetulan; akan tetapi terdapat suatu penyebab yang menyebabkannya sehingga demikian.

Qiyâs iqtirânî juga dalam masalah ini berbentuk seperti ini: natijah silogisme sebelumnya dijadikan sebagai premis minor dan kita mengatakan: hasil efek ini adalah akibat dari suatu sebab, dan dalam premis mayor qiyâs kita mengatakan: dan tidak satupun akibat melanggar (menyalahi) sebabnya. Oleh karena itu, efek ini (mendidihnya air pada  100 derajat Celcius) selamanya tidak terpisahkan dari sebabnya (yakni dari 100 derajat Celcius). Jadi, selamanya sebab ini menyertai akibatnya. Ketika kita menemukan sebab maka kita menghukuminya secara pasti, yakni dalam kasus ini setiap air akan mendidih dalam panas 100 derajat Celcius.

Dengan keadaan ini, tidak seorang pun yang nekat dan gegabah mengklaim bahwa  setiap eksperimen dan pengalaman niscaya pasti sesuai dengan kenyataan; sebab sangat banyak dari pengalaman dan eksperimen mengalami kesalahan dikarenakan si pelaku tidak menemukan “sebab”nya secara akurat atau ia menempatkan “sebab nâqish” (kurang, tidak sempurna) pada kedudukan “sebab sempurna” atau ia menyangka sesuatu yang aksiden sebagai yang esensial; misalnya jika seseorang  lahir dalam area orang-orang yang berkulit putih dan menyaksikan bahwa setiap anak yang lahir adalah berkulit putih, jika ia berkata: seluruh manusia adalah berkulit putih, maka penghukuman dia dalam masalah ini tentulah salah; yakni ia telah menempatkan sifat aksiden pada sifat esensial.[4]

Berdasarkan ini, mungkin saja seseorang memandang suatu pengalaman sebagai pengalaman keagamaan dan dia merasakan dari internal dirinya itu adalah dîny (keagamaan), tetapi pada hakikatnya pengalaman ini sendiri berhadapan dengan suatu keraguan besar; sebab pengalaman ini merupakan pengalaman dan penyaksian batin pribadi sipelaku sendiri dan pengalaman seperti ini tidak terlepas dari keberadaan faktor-faktor dan penyebab-penyebab yang beragam yang bukan keagamaan; yakni pengalaman ini, bukanlah suatu jenis pengalaman dan eksperiman yang berada dalam kerangka ilmu dan sains lainnya yang dapat disaksikan dan diuji di laboratorium -seperti Pharmacology, Fisika, Kimia, Kedokteran, Biologi, dan lainnya- serta pengalaman ini tidak didukung oleh kebadihian dan sense universal dan tidak disertai dengan silogisme tersembunyi (seperti yang kita sebutkan dalam masalah mendidihnya air dalam 100 derajat Celcius).

Oleh karena itu, dari sudut tinjauan logikal, pengalaman keagamaan pribadi bermasalah (isykal).

 

Definisi Agama                

Mungkin saja terdapat definisi yang beragam untuk agama, tapi di sini kami cukup menyebutkan dua definisi saja, yang satu khusus dan lainnya umum.

1.                   Agama, adalah sekumpulan dari akidah, akhlak, hukum dan fiqih Ilahi yang membentuk proses teoritis dan praktis orang yang beragama. Dalam bentuk ini, jika seseorang mempersepsi suatu realitas dengan penyaksian batin, maka ia akan menganggapnya sebagai pengalaman keagamaan; tentu saja penyaksian dia terkadang berhubungan dengan “harus” dan “tidak boleh” dan terkadang berhubungan dengan “ada” dan “tidak ada” dan juga secara minimal berhubungan dengan “ada” dan “manifestasi”. Pengalaman-pengalaman ini, semuanya tidak dalam satu tingkatan; sebab para pelakunya tidak dalam satu tingkatan; sebab sebagian adalah ahli sair suluk (tarekat) dan sebagian lainnya tidak menapakkan kakinya dalam jalan ini, dan terkadang mereka mengalami suatu pengalaman batin secara kebetulan dan mungkin saja mereka ini tidak memilih agama yang benar.

2.                   Agama, adalah sekumpulan ajaran yang lebih luas dari akidah, akhlak, hukum, fiqih Ilahi dan non-Ilahi. Dalam bentuk ini, maka Marxisme dan Humanisme juga termasuk sebagai agama dan suatu maktab; sebagaimana al-Qur’an juga menggunakan kata agama dengan makna umum dan mutlak, misalnya al-Qur’an menukil perkataan Fir’aun: “Sesungguhnya aku khawatir dia (Musa As) mengganti agama kamu atau melakukan kerusakan di bumi”.[5] Agama para Fir’aun adalah penyembahan berhala; bukan agama tauhid yang menerima wahyu, ma’âd, kenabian, dan mukjizat. Mereka dalam istilah adalah orang yang beragama; yakni sekumpulan dari undang-undang yang dengan berbagai kecenderungan dan faktor, tumbuh dan berkembang di kalangan masyarakat, diterima dan disebut oleh mereka sebagai agama. Dari sisi ini, Fir’aun berkata: Saya khawatir Musa As akan menimpakan bahaya dengan menukar sekumpulan dari keyakinan-keyakinan dan tradisi-tradisi yamg kamu terima dan sebut sebagai agama.

 

Oleh karena itu, jika kita memandang agama adalah suatu hakikat yang diafirmasikan dengan media para nabi As dan rasul Ilahi serta musyahadah mereka, sebagaimana al-Qur’an menyebutkan: “Sesungguhnya agama di sisi Allah adalah Islam…”[6] maka yang lain yang tidak dari jalan ini tidak bisa disebut sebagai agama; apakah sesuatu itu didapatkan dari alam mitsâl muttashil, seperti adhghaâtsu ahlâmin (mimpi yang bercampur aduk) atau mimpi shâdiq (benar), dan ataukah dari alam mitsâl munfashil, sebagaimana yang terkadang diklaim oleh kaum yoga Hindu dan kaum pertapa Budha, ataukah sesuatu yang Marxisme, Humanisme dan penyembah berhala utarakan dan slogankan tentangnya.

Fir’aun adalah penyembah berhala. Dari sisi ini, pembesar-pembesar kaumnya dalam mengkritisi dia berkata: Apakah engkau akan membiarkan Musa dan kaumnya untuk berbuat kerusakan di negeri ini (Mesir) lalu meninggalkanmu dan tuhan-tuhanmu?[7] Fir’aun, kendatipun dia adalah penyembah berhala, namun dia memandang dirinya sebagai pengelola, pengatur, dan penguasa tanah Mesir dan berkata: selain saya tidak seorang pun yang berkuasa atas kalian, pandangan saya yang berkuasa dan harus undang-undang yang diberlakukan berdasarkan kehendak saya, Fir’aun berkata: “Akulah Tuhanmu yang paling tinggi”[8]; “…tidak aku ketahui Tuhan bagimu selainku…”[9]; tapi tentu saja Fir’aun tidak akan berkata: saya adalah wajib al-wujud dan aku yang menciptakan alam serta kamu.

Oleh karena itu, penamaan dan penyebutan agama adalah berhubungan dengan istilah. Jika agama kita pandang sebagai suatu perkara Ilahi yang berasaskan musyahadah-musyahadah gaib dan alam mitsâl munfashil serta akal munfashil -dimana  hak adalah ini- maka sangat banyak apa yang disebut agama dan masyhur sebagai agama, bukanlah agama; adapun jika kita tidak mensyaratkan syuhud ghaibi  atau perkara Ilahi dalam penamaan suatu agama atau maktab -sebagaimana al-Qur’an juga terkadang memutlakkan penamaan agama terhadap maktab batil- maka makna agama dalam hal ini adalah sangat luas.        

Perlu kita ingat bahwa sesuatu yang diperoleh lewat pengalaman keagamaan, tidak mesti sebelumnya diafirmasikan keagamaannya; akan tetapi cukup jika ia itu adalah tipe makna-makna keagamaan dan tidak menyalahi prinsip-prinsip akidah, akhlak, hukum, dan fiqih.

Mungkin bisa dikatakan bahwa semua masyarakat memiliki semacam penyembahan kepada Tuhan, bahkan para penyembah berhala; sebab mereka yang menyembah berhala itu, berasaskan persangkaan dan keyakinan mereka bahwa dalam berhala terdapat uluhiyyat  (divinity). Jadi, mereka ini menyembah sesuatu yang menurut konsepsi mereka, dia itu adalah Tuhan yang Hak atas seluruh alam; tetapi dikarenakan dalam maqam penegasan (tashdiq) mereka itu menyangka sesuatu sebagai Tuhan yang realitasnya bukan Tuhan dan itu juga yang mereka hukumi benar maka mereka itu dikategorikan kafir (yakni kafir secara tashdiq atas Tuhan Hak). Oleh karena itu, mereka pada dasarnya sampai kepada konsepsi terhadap realitas, tetapi mereka dalam maqam tashdiq adalah keliru dan salah. Berasaskan tinjauan ini, mereka dari dimensi ini tidak berbeda dengan kebanyakan orang-orang muslim.[10]       

 

Musyahadah Wahyu                          

Terkadang manusia dalam proses musyahadah batin, ia menyaksikan matlab dan kandungan makrifat yang sangat dalam untuk pertama kalinya dan ia tidak mempunyai sedikit pun perasaan ragu tentangnya, sebagaimana ia meyakini secara jelas dan terang bahwa 2 + 2 = 4. Penyaksiannya ini tidak butuh pengulangan, tidak butuh dukungan burhan akal, dan tidak juga butuh pada sandaran muktabar nakli. Kendatipun boleh jadi bahwa bentuk kejelasan dan kepastian ini merupakan tipologi dari keyakinan psikologis, bukan keyakinan logikal. Dan selama ia tidak diobservasi dengan suatu mizan akal dan parameter burhan akal maka untuk menentukan keyakinan logikal dari keyakinan psikologis adalah tidak mudah; meskipun pribadi yang mempunyai keyakinan mendapatkan dirinya tidak butuh terhadap parameter argumentasi akal.

Musyahadah internal (batin) para nabi dan wahyu Tuhan -sebagai suatu tasybih (pendekatan dengan penyerupaan) yang rasional dengan yang terinderai (tasybih ma’qûl dengan mahsûs)- adalah seperti kejernihan dan kejelasan hissi (sense) yang gamblang (badihi) bagi manusia. Musyahadah hissi manusia terdiri dari dua bentuk: musyahadah tanpa keraguan dan dengan keraguan. Ketika kita membuka mata dan kita menyaksikan cahaya matahari serta melihat udara terang, kita tidak mempunyai keraguan terhadap “terang” ini dan manusia yang menyaksikan untuk pertama kalinya udara terang, akan memahami kandungan ini -yakni terangnya dia-; kendatipun ia tidak dapat menyebutkan namanya atau hal itu sama sekali tidak mempunyai nama.

Demikian pula seseorang yang membawa tangannya di atas api, tidak diragukan bahwa ia akan merasakan tangannya pedih terbakar, dan seseorang yang dalam kondisi lapar niscaya ia tidak mempunyai keraguan dalam kelaparan dirinya; sebab semua ini merupakan perkara hissi yang tidak menerima keraguan. Sebaliknya, jika seseorang berkehendak mengobservasi dan melakukan eksperiman terhadap khasiat suatu tumbuhan obatan, hanya dengan syarat tertentu dan pengulangan yang berkali-kali ia akan berkesimpulan tentang khasiatnya; sebab dalam pengalaman dan eksperimen ini ia berhadapan dengan berbagai keraguan.

Apa yang para nabi konsepsi dengan nama wahyu, niscaya tidak butuh pada pengulangan, topangan burhan akal, atau sanad standar naqli; mereka menyaksikan dengan terang, jernih, dan jelas paling dalam dan paling beratnya masalah-masalah metafisika dan paling sulit serta rumitnya masalah-masalah fisika (alam materi), dan jika orang menyebut dan menamakan itu pengalaman keagamaan maka tidak ada komentar dalam masalah penamaan, dan bentuk penamaan ini bukanlah hal yang tauqîfy (terbatasi, tidak bisa dinalar).

            Di sini ada beberapa poin yang urgen disebutkan:

1.                   Eksistensi mempunyai dua dimensi; dimensi gaib dan dimensi syahadah;

2.                   Dimensi gaib dan metafisik adalah hak, benar, murni, dan sempurna, sementara dimensi syahadah adalah bercampur hak dan batil, benar dan bohong, murni dan tidak murni, serta sempurna dan kurang;

3.                   Dalam inti dan pusat hak tidak ada jalan bagi kebatilan, dan para nabi menjumpai dan sampai pada istana ini, sementara yang lain -meskipun mereka telah dekat dengan istana mani’ (tercegah dilewati) itu- akan tetapi mereka tidak terjaga dan terpelihara dari sistem kerja khiyâl (khayalan) dan wahm (fantasi);

4.                   Oleh karena itu, garis demarkasi antara wahyu para nabi dengan setiap bentuk musyahadah irfani dan pengalaman keagamaan tetaplah terjaga.

 

Di samping poin-poin di atas, juga kami membawakan suatu hadits dari Imam Shadiq As yang perlu ditelaah; Zurarah bertanya pada Imam Shadiq As: Bagaimana Rasulullah Saw ketika suatu pesan datang padanya dari sisi Tuhan, ia tidak khawatir bahwa jangan-jangan pesan ini datang dari Iblis dan ini adalah setan yang melakukan campur tangan pada kalbunya? Imam Shadiq berkata: Tuhan, ketika Dia mengangkat seorang hamba sebagai rasul-Nya, maka Dia menurunkan padanya sukûnat (occupancy) dan waqâr (serenity), dan sebagai natijahnya, pembawa pesan Tuhan datang padanya dan Rasulullah melihatnya dengan mata; seperti dia melihat orang-orang lain dengan mata.[11]

Para nabi dan rasul Tuhan, dikarenakan tajarrud nafs, kejernihan ruh, dan kesucian batin yang mereka miliki, mereka sampai pada tahap eksistensial tertentu dimana tidak terdapat padanya kabatilan, kebohongan, ketaksesuaian dengan kenyataan, dan skeptis serta keraguan. Mereka, dikarenakan sampai pada suatu maqam dimana di situ tidak ada sama sekali kebatilan, mereka layak mendapatkan dan menyaksikan hak definite (nyata) secara jelas, jernih, dan terang; sebab dalam istana Haq Ta’alâ tidak ada selain Hak dan di situ tidak ada tempat parade bagi kebatilan, kebohongan, dan kekhilafan, serta was-was setan tidak mempunyai jalan pada maqam tersebut. Oleh karena itu, wahm dan tipuan setan tidak berfungsi pada maqam itu; sebab plafon dan batas ketinggian tajarrud (keabstarakan, kenonmaterian) setan dan tempat paradenya hanya sampai pada tajarrud wahmi dan dia (setan) tidak dapat sampai pada maqam hak dan ikhlas -dimana maqam ini adalah tajarrud murni, dan bersih dari setiap bentuk percampuran-, karena itu, hak dari sisi ini jauh dari jaring-jaring jeratan setan.

Apa yang insan kamil dan mukhlashîn dapatkan dalam maqam tajarrud sempurna, sama sekali tidak mungkin tercampuri, terkotori, dan  tersamarkan, sehingga setan tidak dapat membuat gantinya dan menyiapkan yang serupa dengannya serta melakukan tipu daya atasnya. Oleh karena itu, nabi dalam mitsâl mutthashil -seperti sebagian dari mimpi-mimpi- dan dalam mitsâl munfashil -seperti melihat malaikat wahyu dalam kondisi tidak tidur- hanya menyaksikan dan mendengarkan hak, dan syuhud (penyaksian) serta kasyfnya (penyingkapan)  semuanya adalah hak murni.

Jalan pengamalan ini, telah menyebabkan Amirul Mukminin Ali As berkata: Sejak zaman diperlihatkan padaku hak dan aku mendapatkannya, sejak itu aku tidak punya syak dan keraguan[12] (saya selalu kukuh dalam kebenaran dan selamanya kebatilan tidak pernah mendapatkan jalan padaku), dan pada kesempatan lain dia berkata: Tidak pernah sama sekali aku berkata dusta dan tidak pernah aku didustai (aku tidak pernah dengar dusta dari nabi; sebab nabi dan imam adalah bersih dan suci dari dusta) dan aku tidak pernah sesat dan tak seorang pun sesat karena aku.[13]       

Kendatipun Imam Ali As bukan seorang nabi, rasul, dan penyampai wahyu tasyri’î, tetapi dia mendengar thanîn (dering, bunyi) wahyu dan melihat malaikat wahyu; sebagaimana sabda nabi Saw kepadanya: Sesungguhnya engkau mendengar apa yang aku dengar dan engkau melihat apa yang aku lihat kecuali bahwa engkau bukanlah seorang nabi.[14] Setan dalam atmosfir seperti ini tidak punya jalan untuk masuk dan di sini bukanlah wilayah sayap wahm untuk terbentangkan; yakni juga suluk syuhud mereka adalah hak dan juga masyhud mereka, dan tidak butuh sama sekali pada pengulangan pengalaman, dukungan burhan dan silogisme akal, atau sanad muktabar nakli; bahkan dia sendiri adalah penopang argumen akal dan dalil muktabar nakli itu sendiri. 

Amirul Mukminin Ali As, pesâlik (peniti) jalan ini dan ârif billah, mengungkapkan realitas itu dalam bentuk ini: arif pada hak, pada hakikatnya adalah orang yang menghidupkan akalnya (dengan ketaqwaan dan ketaatan pada Allah dan rasul-Nya) dan mematikan nafsnya (dengan riyâdah dan penghambaan di jalan Tuhan); sedemikian hingga sampai lebarnya (badannya) kurus dan ucapannya (hatinya) menjadi lembut dan baginya pancaran terang penuh cahaya (dia mendapatkan jalan pada makrifat tinggi ketuhanan). Lantas cahaya benderang itu menunjuki dia jalan hidayah dan kebahagiaan dan dengan cahaya itu juga dia melewati jalan hak, dan pintu-pintu kesalehan, ketakwaan, dan ibadah mengangkat dia sampai pintu keselamatan dan mengantar dia pada rumah (tempat) kediaman dan kaki-kakinya dengan ketenangan badannya tegak pada tempat yang aman dan sentosa; dikarenakan itu maka hatinya menjadi bekerja (merenung, berpikir) dan dia membuat Tuhan-Nya ridha dan senang.[15]      

 

Pengalaman Manusia Non Maksum

Pengalaman orang-orang yang bukan nabi dan pemimpin (imam) maksum, apakah itu kasyf dan syuhud, mimpi, atau merasakan perkara mutthashil dan munfashil dari nafs dan badan (tidak seperti kondisi tidur dan kondisi manâmiyyah), semuanya itu butuh dipresentasikan dengan mizan sehingga jelas kesahihan dan ketaksahihan mereka dan menjadi terang nilai dan validitas mereka; sebagaimana riwayat-riwayat harus dipresentasikan dengan al-Qur’an, sunnah qat’î, dan khabar mutawatir.

Yakni sebagaimana al-Qur’an dan sunnah qat’î serta khabar mutawatir adalah mizan khabar-khabar dan hadits-hadits masykuk (diragukan) dan dengan mereka dipisahkan hadits buatan dan palsu dari hadits sahih dan muwatssaq, demikian juga hasil kasyf dan syuhud serta pengalaman keagamaan harus memiliki mizan dan parameter yang menjadi tolok ukurnya, sehingga syuhud orang yang musyahadah dan pengalaman para ârif dipresentasikan dengannya.

Kesimpulannya, secara umum apa saja yang dapat menerima kesalahan maka mesti dihadapkan pada mizan yang tidak menerima kesalahan; sebab secara pasti pengalaman-pengalaman yang lainnya tidak seperti pengalaman para nabi  yang maksum dan dalam landasan konsepsi dan tasdiknya, dapat dimasuki dan menerima cacat, kekurangan, dan kesalahan, maka niscaya mereka itu membutuhkan mizan.

Pengalaman-pengalaman natural dan material, eksperimen kedokteran, pengalaman politik, sistem pemerintahan, budaya, sistem ekonomi, dan lainnya, semua mereka itu keluar dari bahasan ini; sebab dalam alam tabiat dan natural, obyek-obyek persepsi yang menjadi bahan analisa dan penelitian adalah obyek-obyek yang mesti terjadi perlawanan dan pertentangan di antara mereka. Sebagai asumsi, mungkin saja pengaruh pengobatan suatu tumbuhan tertentu hanya terkhususkan pada suatu wilayah tertentu dan pada wilayah lainnya tidak memberikan natijah pengobatan. Atau mungkin saja tejadi kesalahan dalam menentukan kedzatian (keesensilan) atau keaksidenan, dimana yang menempati kedudukan dzati adalah aksiden atau kesalahan dalam menentukan sebab, karena sebab sempurnanya tidak diketahui. Demikian pula, sistem persepsi juga terkadang mesti salah; seperti ahwal (orang yang matanya juling) melihat satu benda adalah dua benda. Atau seorang yang melakukan eksperimen mendapatkan suatu pengalaman yang menyalahi pengalaman pelaku eksperimen lainnya dalam satu obyek yang sama, dan terkadang keduanya (yang mempersepsi dan obyek dipersepsi) ditimpa penyakit atau cacat sehingga kesalahan tidak bisa terhindari.       

Akan tetapi, dalam pengalaman supra natural dan metafisis, hanya para nabi maksum As dan mereka yang berada pada mahram rahasia wahyu serta mereka yang menyaksikan apa yang para nabi saksikan, yang terjaga dan terpelihara dari setiap bentuk kekeliruan dan kesalahan. Nabi Saw, tidak akan berkata-kata selain dari jalan wahyu dan pembicaraannya senantiasa terjaga dari hawa nafsu dan kesalahan-kesalahan psikologis, serta indera, khayal, wahm, syuhud, dan akalnya, semuanya selalu terpelihara dari kesalahan dan kekeliruan. Dia, pertama menyaksikan matlab-matlab transendental (‘âly) dengan syuhud kalbu dan kemudian menganalisanya dengan rasionalisasi argumentasi, dan yang terakhir baru kemudian mengungkapkannya dengan penalaran rasional dan logikal.

Pembicaraan dia adalah irfani dan sufistik atau hikmah dan filosofis atau teologis atau akhlak dan hukum (fiqih), dan  tidak satupun dari tahapan-tahapan   persepsinya -indera, khayal, wahm, akal, dan syuhud- dapat dimasuki kesalahan, fallacy, dan tadlîs: “Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya”.[16]

Insan kamil ini, jika dia adalah seorang nabi -di samping mendapatkan ilham-ilham inbâîy– maka dia mempunyai wahyu tasyriî; dan jika bukan (seorang nabi) maka dalam wujudnya terdapat suatu substansi yang membuatnya lebih utama dan sempurna dari lainnya, dan dalam sisi ini tidak ada perbedaan antara laki-laki dan wanita; seperti para imam maksum As dan juga seperti hadhrat Fatimah Zahra As, ibunda Musa, dan hadhrat Maryam As.

Perlu kita ketahui bahwa sebagian dari pengalaman-pengalaman keagamaan, mungkin disertai dengan kondisi dan sifat khusus, seperti:   

1.                   Sesuatu yang diperoleh dari mitsâl mutthashil, seperti mimpi dan kondisi-kondisi manâmiyyah (yang berkenaan dengan mimpi);

2.                   Pengalaman-pengalaman yang tidak diketahui dari mitsâl mutthashil atau dari mitsâl munfashil dan jalan keraguan serta zhan (persangkaan) pada mereka adalah terbuka;

3.                   Sesuatu yang diperoleh dari mitsâl munfashil, seperti: “…maka dia menampakkan diri dihadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna”[17]; malaikat Jibril As dalam bentuk manusia yang sempurna zahir dan menampak atas hadhrat Maryam As;

4.                   Seluruh musyahadah-musyahadah sahih dan pengalaman-pengalaman keagamaan benar, di bawah naungan wilayah Ilahi para Nabi As, yang menjadi bagian dari para pengikut benar mereka, dan pengujian benar dan salahnya musyahadah dan pengalaman keagamaan berada dalam kerangka komparatif dengan apa yang diperoleh oleh Para nabi As.

 

           

Evaluasi Jalan-Jalan Mendapatkan pengalaman Keagamaan

Pengalaman-pengalaman yang didapatkan manusia dari mitsâl mutthashil dan juga pengalaman-pengalaman yang tidak diketahui apakah ia dari mitsâl mutthashil ataukah dari mitsâl munfashil, semuanya itu dalam wilayah kemungkinan ditimpa kesalahan. Kendatipun alam mitsâl mutthashil dan alam yang lebih tinggi darinya adalah alam metafisika dan tidak mempunyai dimensi gerak serta tidak punya persentuhan dengan kondisi materi, akan tetapi dari dimensi pengalaman (persepsi), pelaku pengalaman (yang mempersepsi), dan obyek pengalaman (yang dipersepsi), kemungkinan ditimpa kekeliruan dan kesalahan; sebab apa yang disaksikan pelaku pengalaman dalam mimpi dan alam tidurnya, meskipun ia yakin akan kebenarannya, tetapi itu dari hasil potensi khayal dia dan dalam potensi ini, terdapat ihtimal ketidakterjagaan dari gangguan dan tipu daya setan.

Demikian pula pengalaman-pengalaman yang diperoleh dari jalan mitsâl munfashil, meskipun dalam mitsâl munfashil tidak ada jalan bagi kebatilan dan kecacatan dan apa saja yang diperoleh dari alam ini semuanya adalah pengalaman rabbani, tetapi pengalaman-pengalaman ini dari aspek pelaku pengalaman (yang mempersepsi) adalah maujud yang tidak tercegah dari terpaan kekeliruan; seperti manusia bermata juling (squint-eyed) yang menyangka setiap hakikat benda di luar mempunyai dua hakikat (dikarenakan kekurangan pada alat penyaksian).

Meskipun ahwal (squint-eyed) dapat melihat obyek di luar dirinya dan memberitakan tentangnya, akan tetapi dikarenakan kecacatan alat penglihatan maka persepsi dia tidak terjaga dari kekeliruan, dan dalam masalah yang kita bahas ini juga, apa yang diperoleh dari mitsâl munfashil dengan perpindahannya pada potensi khayal  maka menjadi bahan yang akan dicampuri dan ditangani oleh potensi ini dan wajah kenyataannya (aslinya) akan menjadi berubah. Dari sisi ini maka ia (sesuatu yang didapatkan dari mitsâl munfashil) berbeda dengan yang sebenarnya (hakikatnya); sebagaimana bisa saja dikarenakan pengaruh syuhud illah nâqish (penyaksian sebab tidak sempurna) kemudian menyangka bahwa illah itu sempurna atau dikarenakan kelalaian dari sebagian penghalang-penghalang atau ketidaktahuan terhadap sebagian dari syarat-syarat, dengan perhitungan sebab sudah tâm (sempurna), dia menjadi yakin; padahal hakikatnya tidaklah demikian.

Adapun sâlik dan ‘ârif, memperoleh pengalaman dalam maqam akal dan kalbu dan mengetahui perkara-perkara yang tidak mempunyai bentuk, dan mereka mendapatkan itu dengan ruh dan kalbu; seperti persepsi syuhudi tentang masalah khilafah, wilayah, tauhid hakiki, dan sumber risalah dan wilayah. Dalam tataran ini, seluruh ingatan, memori,  dan pengalaman adalah rabbani, namun, ketika ingatan, memori, dan pengalaman ini mendapat jalan pada tingkatan yang lebih rendah dan potensi yang lebih di bawah (seperti sampai pada potensi khayal), maka di sinilah terjadi campur tangan dari potensi tersebut. Misalnya, apa yang arif lihat (dalam bentuk pengalaman dan  mukasyafah kalbu), itu adalah penglihatan benar dan pendengaran benar, dan mungkin saja dia (‘ârif) menyaksikan hadhrat Amirul Mukminin Ali As berada di samping Rasulullah Saw, tapi, dalam perjalanan kembalinya, apa yang disaksikannya itu dicampuri dan dirubah oleh potensi khayalnya sehingga memperlihatkan salah seorang wajah lain dari sahabat menggantikan wajah hadhrat Amirul Mukminin As; sebab muthâlaah (studi dan pembelajaran) dan file memori si pelaku pengalaman, sebelumnya mengambil bentuk seperti ini bahwa sifulan sahabat harus berada di sisi Rasulullah Saw, bukan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As.

Matlab ini juga dikaji dan dijelaskan dalam ilmu irfan teoritis dan para urafa dalam masalah ini adalah satu pandangan; misalnya Qaishari dengan mengikuti Ibnu Arabi, dalam tafsir ayat: “Ya Tuhanku, ampunilah aku, ibu bapakku, dan siapa pun yang memasuki rumahku dengan beriman dan semua orang yang beriman laki-laki dan perempuan. Dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kehancuran”[18], menuliskan: Kalbu dan ruh adalah bersih dan suci dari kekotoran-kekotoran badani dan dari kegelapan-kegelapan jasmani dan apa yang masuk atas mereka (dari kasyf dan syuhud) semuanya sesuai dengan realitas dan hakikat. Oleh karena itu, semuanya adalah rabbani dan tidak satupun yang menyalahi realitas. Dari sisi ini, telah dikatakan bahwa ingatan-ingatan pertama (kasyf dan syuhud), semuanya dalam hakikat rabbani; kecuali jika campur tangan dan serangan nafsâni mendapat jalan pada harîm ingatan-ingatan murni pertama dan dia menyimpangkan mereka dari jalan sahih dan mengganti mereka dengan kebohongan, kepalsuan, jeratan-jeratan nafsâni, dan was-was setan.[19]                 

Oleh karena itu, dalam tahapan dan tingkatan khayal dan wahm, jalan bagi setan adalah terbuka dan setan senantiasa sibuk melancarkan serangan-serangannya: “…Sesungguhnya setan-setan akan membisikkan kepada kawan-kawannya… .”[20] Maka dari itu, selama potensi khayal, tidak dalam pengaruh potensi akal murni dan tidak di bawah kekuasaan akal, maka potensi ini selalu melakukan upaya pembelokan dan membuat penyerupaan dan penggantian terhadap mitsal munfashil dan mutthashil.

Berdasarkan ini, ahli sair suluk senantiasa berhati-hati dan menjaga apa yang didapatkan oleh kalbunya supaya jangan dikotori oleh potensi khayalnya; sebagaimana ahli irfan katakan: hasil-hasil yang didapatkan setiap orang dalam potensi khayal dan mitsâl mutthashilnya -seperti mimpi-mimpi benar- adalah seukuran jernih dan terangnya hatinya, tidak seukuran kemampuan potensi khayalnya; sebab potensi khayal mempunyai kemampuan menukar dan melakukan tipuan.[21]               

Berasaskan ini, kita mendapati dalam banyak hadits-hadits bahwa mimpi-mimpi shâdiq dan benar merupakan bagian dari bagian-bagian kenabian, Rasulullah Saw bersabda: …dan sesungguhnya mimpi shâdiqah adalah bagian dari tujuh puluh bagian dari kenabian.[22]       

Mimpi, bergantung dengan kondisi dan keadaan seorang mukmin; jika iman dia lebih kuat maka cermin hatinya akan lebih bening, lebih jernih, lebih terang, dan lebih bercahaya. Nabi Saw bersabda: Yang paling benar di antara mereka (mukminin) mimipi-mimpinya adalah yang paling benar (paling jujur) dari mereka ucapannya.[23]  

Imam Ridha As berkata: Nabi Saw setiap pagi mempertanyakan apa yang dilalui sahabat-sahabatnya pada malam hari, yakni apa yang mereka dapatkan: Sesungguhnya Rasulullah Saw, ketika pagi, berkata pada sahabat-sahabatnya, apakah ada berita menggembirakan? Yakni berkenaan mimpi-mimpi.[24]

Nabi Saw mengevaluasi mimpi sahabat-sahabatnya, tapi mimpi-mimpi Rasulullah Saw sendiri -seperti nabi-nabi lainnya- semuanya adalah wahyu; sebab setan tidak punya jalan dalam harimnya dan dia tidak dapat menjelma serupa dengannya; sebagaimana setan juga tidak dapat menjelma menyerupai wajah Nabi Saw, Rasulullah Saw bersabda: Barang siapa yang melihatku dalam tidurnya maka sungguh dia telah melihatku, karena sesungguhnya setan tidak akan menjelma menyerupai wajahku dan wajah salah seorang dari wasiku. Pada kondisi dan tempat dimana setan tidak dapat menyerupai bentuk rupa Rasulullah Saw dan para wasinya maka lebih-lebih lagi setan niscaya tidak mampu mendapat jalan dalam harim wujud mereka dan melakukan tipu dayanya.

 

Mizan Kasyf dan Pengalaman keagamaan

Segala sesuatu mempunyai mizan dan tolok ukur, dan mizan mimpi dan kondisi manâmiyyah adalah mimpi dan kondisi manâmiyyah para nabi As. Amirul Mukmin Ali As berkata: Mimpi para nabi merupakan wahyu (atas mereka).[25] Jika kita meyakini wahyu adalah suatu pengalaman syuhudi, maka kita harus eksposisikan pengalaman-pengalaman syuhudi, kasyf, dan mimpi-mimpi lainnya terhadapnya -menjadikan  mizan atas mereka-. Apa yang para nabi dapatkan dari alam gaib, semuanya adalah hak dan setan tidak mempunyai jalan dalam harîm (sanctum) itu; sebagaimana Rasulullah Saw ungkapkan dalam sabdanya yang lalu bahwa setan tidak akan mampu menampak dalam bentuk diriku dan wasi-wasiku.

Oleh karena itu, jika seseorang memimpikan Rasulullah Saw atau salah seorang dari wasinya, -dalam bentuk terungkapkan bahwa yang datang dalam mimpinya itu adalah Nabi Saw sendiri atau salah seorang dari imam maksum As- maka ibaratnya ia telah menyaksikan diri Nabi Saw sendiri dalam keadaan sadarnya (bangunnya). Atas dasar ini, ucapan Nabi Saw -sebagaimana al-Qur’an dan sunnat qat’î– adalah mizan sahih bagikasyf dan syuhud .

 Para ilmuan (ulama) mempresentasikan sunnat (hadits) yang tidak qat’î dan akhbâr (jamak khabar) yang maghsyusy (confused) dengan al-Qur’an dan akhbar qat’î serta mutawatir, dan jika mereka itu tidak sejalan dan cocok dengan al-Qur’an dan hadits mutawatir dan qat’î serta tidak mungkin menerima penakwilan, maka mereka itu harus dibuang jauh-jauh atau dengan kata lain dilemparkan ke dinding. Para ilmuan juga terhadap al-Qur’an, merujukkan ayat-ayat mutasyâbihâtnya kepada ayat-ayat muhkamâtnya dan mengaplikasikan kandungan ayat-ayat mutasyâbihât dalam pancaran ayat-ayat muhkamât

Oleh karena itu, kesahihan kasyfdan syuhud manusia yang tidak maksum, mizannya juga adalah kasyf dan syuhud para nabi As dan para imam maksum As; sebab ucapan mereka niscaya pasti dan perbuatan mereka berasaskan yakin, kasyf, dan syuhud sempurna. Sebab mereka, dari dimensi persepsi, yang dipersepsi, dan yang mempersepsi adalah sempurna, dan pada hakikatnya mereka itu adalah mizan qisth (keadilan) dan mereka adalah teks syuhud serta kasyf. Sebab mereka adalah penyaksi dan pembicara hak serta mukhlas, dan setan menyerah pada mereka yang mukhlas.

Ibnu Arabi tentang hal ini mempunyai penuturan yang indah tentang Nabi Saw, dia meyakini bahwa Nabi Saw adalah pemilik kasyf sempurna (mizan kasyf). Dia berkata:  Bagi beliau Saw adalah kasyf tâm dan sempurna, beliau Saw menyaksikan apa yang kita tidak saksikan, dan dia memberitahukan suatu perkara dimana ahlullah mengamalkan dastûr dan perkara tersebut dan mereka mendapatkan bahwasanya itu adalah benar. Ucapan beliau Saw itu adalah: Sekiranya kamu tidak berlebih-lebihan dan menambah-nambahkan dalam ucapan dan perkataan kamu (yakni kamu menjauhi lahwun dan laghwun kalâm) dan sekiranya tidak ada kegaduhan dan huru-hara dalam hati-hati kamu (kamu berpikiran sehat) maka niscaya kamu akan menyaksikan apa yang aku saksikan dan kamu akan mendengarkan apa yang aku dengarkan (wahyu dan kalam Tuhan).[26]

Nabi Saw dalam hadits lain menyatakan bahwa Tidur dan mimpi manusia yang terjadi pada khayal (muthashil), semuanya turun dari perbendaharaan Tuhan dalam bentuk nyata dan jelas, tapi ketika kembali dari sisi Tuhan maka terjadilah penyelewengan dan proses campur aduk (mimpi menjadi bercampur aduk) pada langit-langit pertengahan; Rasulullah Saw bersabda: Wahai Ali! Seorang hamba yang tidur dan ruhnya naik ke Tuhan alam semesta, maka apa yang ia saksikan di sisi Tuhan alam semesta  pada dasarnya itu adalah hak, kemudian Allah yang Maha Aziz dan maha Jabbar memerintahkan ruhnya kembali kepada jasadnya, maka apa yang disaksikan ruh (ketika) berada di antara langit dan bumi (dalam perjalanan kembali kejasadnya) adalah adhghâtsu ahlâmin (mimpi yang bercampur aduk).

Oleh karena itu, di masa ruh manusia berada di sisi Tuhan, apa saja yang ia saksikan, semuanya adalah nyata, jelas, dan jernih dari sumbernya, tapi ketika kembali ke badan, terkadang ia menyimpang dari jalan semestinya (kesahihannya). Menurut Qaisari: Pada dasarnya ingatan dan memori awal (ketika kasyf) semuanya adalah rabbâniyyah haqqiyyah  (rabbani dan hak) dan perkara serta campur tangan nafslah yang menyimpangkan dan mengeluarkannya dari jalan sahih, maka jadilah ia cerita dan buatan nafsâniyyah serta was-was syaithâniyyah.[27]

Oleh karena itu, pengalaman para ârif butuh presentasi kepada mizan dan setiap pengalaman keagamaan tidak bisa begitu saja dipandang sahih sebelum dieksposisikan terhadap mizan. Suatu pengalaman dipandang mizan jika pelakunya mengenal malaikat wahyu dan mendengar suara wahyu serta nâtiq teks al-Qur’an dan kalam Tuhan; sebagaimana Rasulullah Saw ucapkan kepada Ali As: Engkau melihat dan mendengar apa yang aku lihat dan dengarkan[28], dan sebagaimana Amirul Mukminin katakan: Al-Qur’an adalah bersamaku dan sejak saya bersama dengannya tidak sedetikpun saya berpisah darinya.[29]

Perlu kita ingat bahwa perbedaan secara mendasar wahyu dan apa yang di zaman sekarang ini disebut dengan pengalaman keagamaan, adalah tetap pada proporsinya dan tetap terjaga, dan pada sela-sela pembahasan telah diisyaratkan pebedaan di antara keduanya secara gamblang serta ditunjukkan keutamaan wahyu mushtalah al-Qur’an atas pengalaman keagamaan.                

 

Jalan Kasyf dan Pengalaman Keagamaan Sahih

1.                   Harus mengontrol panca indera zahir yang lima; yakni seseorang jangan menengok apa saja dan melihat ke setiap tempat, jangan mendengarkan suara percakapan apa saja, makanlah makanan yang halal dan suci, dan gunakanlah tangan dan kaki serta anggota-anggota badan lainnya di jalan yang benar. Singkatnya, masuknya apa saja dari luar lewat kanal-kanal panca indera yang lima ke dalam diri seseorang, dan keluarnya apa saja dari dalam lewat kanal-kanal tersebut, haruslah diperhitungkan secara sempurna, diatur dengan baik, dan dipikirkan dimensi kehalalan dan kesuciannya.

2.                   Kalbu dan hati mesti dibebaskan dari selain Tuhan dan hanya menempatkannya pada perkara dan hal yang berkaitan dengan Tuhan. Yakni manusia harus menjadikan hatinya sebagai haram (tempat suci) Tuhan.

3.                   Harus berkhalwat dengan Tuhan Yang Maha Esa dengan kadar yang dibutuhkan dan melepaskan diri dari kejamakan; seseorang mengkhususkan malam-malam untuk dirinya sambil berdoa dan bermunajat, tidak berpikir pekerjaan duniawi hari-hari, dengan kata lain, mendekatkan diri kepada Tuhan dari jalan nawâfil (ibadah-ibadah mustahab), dimana ini adalah paling baiknya jalan taqarrub.

Penapak jalan ini adalah banyak; seperti Haritsah ibnu Malik, ia dengan jalan ini berhasil sampai pada suatu maqam dimana terkadang ia menyaksikan surga dan neraka dan penghuni keduanya serta nikmat dan azab mereka. Dia mengutarakan kepada nabi Saw syuhudnya; yakni ia mempresentasikan kasyf dan syuhudnya kepada mizan -yang mana dalam hal ini kasyf sempurna maksum (Rasulullah Saw)- dan Nabi Saw memandang kasyf dan syuhudnya adalah sahih dan berkata: Ini adalah seorang hamba yang Tuhan telah terangi hatinya dengan cahaya iman. Wahai Haritsah! Kamu sudah melihat (alam gaib) dan penglihatan bashirahmu telah terbuka, karena itu berhati-hatilah dengan keadaannya dan tetaplah kukuh di jalan ini.                     Kemudian Haritsah ibnu Malik memohon agar Nabi Saw mendoakannya mendapatkan syahadah bersamanya, beliau Saw berdoa: Ya Tuhan karunialah Haritsah syahadah!.[30] Berdasarkan ini maka Haritsah merupakan orang kesepuluh  di antara mayat-mayat muslimin yang bersama Jakfar bin Abi Thalib mencapai derajat tinggi syahadah.

Perlu dipahami bahwa penegasan dan pembenaran kasyf dan syuhud Haritsah oleh Rasulullah Saw, tidaklah bermakna bahwa Haritsah memiliki ishmah; akan tetapi bermakna pengutaraan syuhudnya kepada mizan sahih dan pengesahan kebenaran syuhud khusus ini dari sisi mizan; dengan artian mungkin saja Haritsah ini juga dalam syuhud lainnya yang mengalami kesalahan dan kekeliruan. Oleh karena itu, dalam seluruh kondisi, kasyf dan syuhud butuh dieksposisikan pada mizan wahyu.

Amirul Mukminin Ali As juga menguatkan poin ini, bahwa orang-orang mukmin dan orang-orang saleh adalah orang-orang yang yakin tentang surga, dan keyakinan mereka itu seperti keyakinan seseorang yang melihatnya dimana penghuni-penghuni surga mendapatkan kenikmatan di dalamnya, dan juga keimanan mereka terhadap neraka seperti keimanan seseorang yang melihatnya dimana penghuninya mengalami penderitaan siksaan di dalamnya.[31]

4.                   Harus sinkron dengan burhan akal. Iman pada Tuhan dan kenabian yang tidak didasari dengan burhan dan keyakinan yang tidak dilandasi dengan dalil dan argumen, adalah bentuk iman dan keyakinan yang tidak aplikatif serta sangat rapuh. Sahabat-sahabat zahir hadhrat Musa As, dengan menyaksikan mukjizat beliau, mereka beriman kepadanya, dan dengan mendengarkan suara sapi Sâmiri, mereka menjadi penyembah sapi; sebab dalam pemilihan dan pemihakan mereka tidak dilandasi dengan pandangan teoritis dan burhan; kebalikan dengan apa yang terjadi pada ahli tenun dan ahli sihir Firaun, dimana al-Qur’an mengabadikan dengan agung dan semarak keimanan mereka dan dengan ungkapan penuh bijaksana mengatakan: “…Kami tidak akan memilih (tunduk) kepadamu atas bukti-bukti nyata (mukjizat), yang telah datang kepada kami dan atas (Allah) yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah yang hendak engkau putuskan. Sesungguhnya engkau hanya dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini.”[32] 

Berasaskan ini, Amirul Mukminin Ali As berkata: Kenalilah Tuhan lewat Tuhan sendiri (asma dan sifat-Nya), Nabi dengan risalah dan kenabian, dan ulil amr dengan perintah kepada kebaikan, keadilan, serta ihsan.[33]

Dirayah dan pandangan sahih serta istidlal kuat ini dapat dilihat pada ucapan Mansur Ibnu Hâzim. Dia berkata:  Saya utarakan kepada imam  Shadiq As bahwa saya berdialog dengan suatu kelompok dan saya berkata kepada mereka bahwa Tuhan lebih mulia dan agung untuk dikenal dengan perantara makhluk-makhluk-Nya, bahkan hamba-hamba-Nya diketahui dengan perantara Tuhan. Baliau As -sebagai pembenaran- berkata: Tuhan merahmatimu.[34]

Para ilmuan memandang bentuk istidlal ini burhan hakiki; yakni manusia mengenal Tuhan lewat Tuhan sendiri, kemudian dengan perantara Dia -sebagai illah keberadaan makhluk-makhluk dan mumkinât– menjadi bukti atas keberadaan makhluk dan maujud-maujud lainnya; bukan dengan perantara makhluk dan ciptaan sebagai dalil atas eksistensi Tuhan.

Berdasarkan ini, sebagian berkeyakinan bahwa kata “burhan” hanya bermakna hakikat bagi burhan limmî  (pengenalan pada sebab mengantarkan pengenalan pada akibat) dan istidlal dari jalan lain dipandang mereka sebagai dalil innî (salah satu di antaranya adalah pengenalan pada akibat membawa pengenalan pada sebab); akan tetapi innî juga terbagi dua, dimana pembahasan detail dan perbedaan di antara keduanya serta keunggulan satu atas lainnya dibahas dalam ilmu mantiq.    

Singkatnya, pandangan yang diutarakan Mansur Ibnu Hâzim dalam masalah “pengenalan” dan “makrifat”, merupakan paling baiknya jalan istidlal, dan orang seperti dia ini adalah misdak dari ucapan imam Ali As: Ketika akal manusia hidup maka kilatan cahaya menunjuki dia jalan, dan sedemikian rupa menjalankan dia sehingga menyampaikannya kepada puncak keabadian.[35]

 

Al-Qur’an dan Pengalaman Keagamaan  

Jika kita ingin menelusuri jalan pengalaman kapada malakut langit dan bumi, maka untuk sampai ke sana harus mengambil paedah dari petunjuk dan hidayah al-Qur’an. Allamah Thabathabai tentang tema ini menuliskan: Terdapat suatu hakikat Qur’ani bahwa dengan masuknya manusia pada taman wilayah Ilahi dan kedekatannya pada maqam suci Tuhan, maka terbukalah baginya pintu malakut langit dan bumi dimana dari pintu tersebut dia menyaksikan ayat-ayat agung Ilahi dan cahaya-cahaya jabarut-Nya yang tak pernah padam -dimana bagi yang lain adalah tersembunyi-. Nabi mulia Saw bersabda: Jika setan-setan tidak mengitari sekeliling kalbu-kalbu bani Adam maka niscaya mereka akan menyaksikan malakut langit dan bumi.

Ahli Sunnah juga meriwayatkan dari Nabi Saw bahwa beliau bersabda: Jika tidak berlebih-lebihan pembicaraanmu dan kusut hatimu niscaya engkau akan menyaksikan apa yang aku saksikan dan akan mendengarkan apa yang aku dengarkan.

Allah Swt berfirman: “Orang-orang yang berjihad di jalan Kami (mencari keridaan Kami), Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh, Allah beserta orang-orang yang berbuat baik.”[36] Juga zahir ayat ini menunjukkan atas matlab ini: “Dan sembahlah Tuhanmu sampai yakin datang padamu”[37]; yakni sedemikian hingga berupayalah beribadah kepada Tuhanmu sampai engkau mendapatkan maqam yakin; sebab pencapaian pada maqam yakin merupakan derivasi atas ibadah dan penghambaan.   

Demikian pula Hak Swt dalam ayat lain berfirman: “Dan demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim malakut langit dan bumi, supaya dia termasuk orang-orang yang yakin.”[38] Malakut langit dan bumi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan maqam yakin dan Tuhan dalam kedudukan menjelaskan tafsir dampak dari yakin berfirman: “Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan ilmu yakin, niscaya kamu benar-banar akan melihat neraka jahim, kemudian kamu benar-benar akan melihat dengan ‘ainul yakin.”[39] Demikian pula Tuhan berfirman: “Sekali-kali tidak! Sesungguhnya kitab abrar (orang-orang yang bebakti) benar-benar tersimpan dalam ‘illiyyin. Dan tahukah engkau apakah ‘illiyyin itu? Adalah suatu kitab yang tertutulis (berisi catatan amal) yang disaksikan oleh muqarrabun.”[40]

Al-Qur’an, mengungkapkan jalan kerja pengalaman keagamaan yang sahih dan Ilahi dengan menegaskan tentang urgensi memperhatikan kognisi diri dan berkata: “Wahai orang-orang yang beriman! Berhati-hati dan jagalah nafsmu (dirimu); (karena) orang yang sesat itu tidak akan membahayakanmu jika kamu telah mendapat petunjuk. Hanya kepada Allah kamu semua akan kembali, kemudian Dia akan menerangkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.”[41]

Allamah Thabathabai Rh, dalam komentarnya terhadap ayat ini menuliskan: Ayat ini menekankan suatu tujuan bagi manusia bahwa berjalanlah ke arah-Nya dan dalam menapaki jalan jangan sampai tersesat. Dan tujuan itu, ujung dan akhirnya adalah kebahagiaan dan kebaikan.

Manusia, apakah ia tersesat atau bahagia, melangkah menuju  Tuhan. Ia mencari sesuatu yang hilang bernama kebahagiaan dan ia mencari ke seluruh tempat sampai ia dapat menggapainya. Dan sesuatu yang hilang ini, yang menjadi puncak pencarian manusia, ada pada sisi Tuhan; namun terdapat jalan istiqamah (jalan lurus) dan juga jalan tergelincir yang beragam; Dia menunjuki seseorang kepada tujuan akhir dan kebahagiaan serta Dia memberitahukan bahwa yang lainnya berada pada kerugian. Sebagaimana al-Qur’an membahasakan dengan ungkapannya: “Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya”.[42] Suatu golongan (yakni Hizbullah) akan mencapai kebahagiaan: “…Ingatlah, sesungguhnya golongan Allah itulah yang beruntung”[43] dan satu golongan lainnya akan sampai pada kehancuran: “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan ingkar kepada Allah dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?!”[44]

            Oleh karena itu, terdapat dua jalan; satunya adalah hidayah dan lainnya adalah kesesatan, dan terhadap orang-orang yang beriman  hendaklah memperhatikan dirinya: ““Wahai orang-orang yang beriman! Berhati-hati dan jagalah dirimu…”[45] dan tidak usah hiraukan orang lain yang ahli sesat, ketahuilah bahwa perhitungan mereka (orang-orang sesat) adalah dengan Tuhan mereka: “Itulah umat yang telah lalu. Baginya apa yang telah mereka usahakan (yakni jika mereka taat atau maksiat, itu untuk mereka sendiri) dan bagimu apa yang telah kamu usahakan. Dan kamu tidak akan diminta (pertanggungjawaban) tentang apa yang dahulu mereka kerjakan.”[46]

Jadi, orang-orang mukmin menjaga dirinya dengan kesibukan pada pekerjaan hidayah yang didapatkannya, dan apa yang mereka saksikan dalam bentuk kesesatan serta maksiat yang dilakukan masyarakat tidak akan menggelincirkan mereka dan masyarakat tidak menyibukkan mereka dan mereka juga tidak telibat dengan kerja masyarakat; kecuali dalam batas ta’lim, tazkiyah, irsyad, memerintahkan pada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, serta perintah-perintah lainnya yang wajib dari agama, dan mereka mengetahui bahwa hak adalah hak; kendatipun masyarakat mengingkari dan meninggalkan itu, dan batil adalah batil; kendatipun masyarakat cenderung dan berpihak terhadap itu, firman Tuhan: “Katakanlah (Muhammad), “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang berakal, agar kamu beruntung.”[47]      

Perlu dipahami bahwa jalan yang al-Qur’an dakwahkan untuk disuluki dan dilalui, tidak lain adalah nafs mukmin: ‘alaikum anfusakum’, sebab ketika dikatakan: Maaf! Jangan sampai kehilangan jalan, maksudnya jagalah jalan dan jangan berpisah dengannya. Jadi, makna ungkapan kalimat ini: Maaf! Jangan sampai kehilangan nafs (diri) kamu, dapat dipahami bahwa nafs di sini adalah jalan itu sendiri, bukan penapak jalan; serupa dengan ini firman Tuhan dalam ayat 153 surah al-An’am: “Dan sungguh, inilah jalanku (Nabi Saw) yang lurus. Maka ikutilah! Jangan kamu ikuti jalan-jalan (yang lain) yang akan mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Demikianlah Dia memerintahkan kepadamu agar kamu bertakwa.”[48]

Oleh karena itu, nafs, adalah jalan hidayah; bukan dirinya adalah salah satu dari penapak jalan hidayah; yakni nafs mukmin, adalah jalan itu sendiri yang harus dijalani dan ia adalah suatu garis dan  jalan yang sampai kepada Tuhan dan berakhir pada kebahagiaannya (nafs).

Berlawanan dengan itu, jika kita melupakan nafs kita sendiri, kita telah melupakan Tuhan; yakni jika kita melupakan jalan maka kita tidak akan sampai pada tujuan (kebahagiaan), firman Tuhan: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang fasik.”[49]      

Ayat dengan jelas menyatakan bahwa jagalah nafs kamu, sehingga pekerjaan yang dilakukannya akan menjadi modal dan bekal di hari esok (akhirat); sebab ia hari ini adalah yang esok (malakah nafsâniyyah; yakni apa yang diusahakan dan dikerjakan nafs di dunia ini dan menjadi rupa nafs di dunia ini, itu jugalah ia di akhirat). 

Nafs manusia, setiap waktu bergerak dan melewati jarak perjalanan, dan tujuan dia adalah sampai kepada Tuhan dan nikmat-nikmat-Nya (kebahagiaan). Berdasarkan ini pesuluk yang berakal tidak akan pernah melupakan tujuan. Nabi Islam Saw dalam sebuah hadits yang dinukil baik Syi’ah maupun Sunni, bersabda: Barang siapa mengenal nafsnya maka niscaya mengenal Tuhan-Nya.[50] Jika kita menyerahkan dan mengarahkan nafs pada pekerjaan dan perbuatan baik atau kita tenggelamkan dan ceburkan ia pada jalan kesesatan dan keburukan, maka keberuntungan dan kerugiannya juga akan kembali pada nafs, firman Tuhan: “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri.”[51]

Nafs manusia, melewati dan menjalani tahapan-tahapan janin, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan usia tua serta akan memasuki alam barzakh, selanjutnya akan memasuki masa kiyamat dan pada akhirnya akan masuk surga atau neraka, dan nafs setiap waktu berproses dan berangkat menuju ke sisi Tuhan, firman Tuhan: “Dan sesungguhnya kepada Tuhanmulah kesudahannya (segala sesuatu).”[52] Berasaskan ini, satu-satunya yang bisa mengarahkan dan menyelamatkan nafs adalah makrifat ilmu dan prilaku amalinya sendiri; sebab ilmu dan amal akan menyelaraskan dan mensimetrikan nafs manusia itu sendiri dan memberikan hasil baginya. Jika makrifat dan amal seseorang selaras dengan tujuan pengadaan dan penciptaannya, maka niscaya ia akan beruntung dan bahagia, dan natijah dari makrifat dan amal salehnya pasti akan didapatkannya secara sempurna; tanpa sedikitpun kerusakan dan kerugian padanya.

Nafs dalam batasan dan esensi dirinya, adalah dzatan diciptakan baik, ia sendiri yang akan menentukan baik dan buruk dirinya, dan ia mempunyai kecenderungan serta kecondongan dzati terhadapnya, oleh karena itu nisab perhitungan buruk dan baik telah tersedia dan sempurna untuknya. Dengan kata lain, Allah Swt telah mempertimbangkan bagi penciptaan nafs paling tingginya tingkatan kesadaran, kognisi, kesempurnaan, dan parameter serta tolok ukur pemberi kebahagiaan, Dia dengan penuh ketegasan bersumpah lewat firman-Nya: “Demi nafs (jiwa) serta penyempurnaan (ciptaannya), maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu), dan sungguh rugi orang yang mengotorinya”.[53] 

Hasil dan natijah dari ayat-ayat tersebut, kaifiyyah (kualitas) dan kebagaimanaan penciptaan nafs dijelaskan dengan baik, dan juga dijelaskan bahwa ia (nafs) adalah suatu maujud yang simetri dan seimbang. Ia adalah suatu maujud yang dapat menerima kesucian dan kekotoran, dimana dalam hal ini ia akan terkotori dengan keburukan dan kejahatan dan ia akan tersucikan dengan ketakwaan, sehingga dengan demikian ia nantinya akan mendapatkan keberuntungan dan kebahagiaan atau kerugian dan kemalangan. Ini bermakna bahwa manusia sesuai dengan kemestian-kemestian takwiniahnya, manusia bebas dalam memilih salah satu di antara keduanya, dan ini adalah kenyataan yang tidak akan terpisahkan dari manusia dan ia niscaya salik pada salah satu dari dua jalan ini; jalan kehidupan maknawi, cahaya, dan hidayah, atau jalan kematian maknawi, kegelapan, dan kesesatan, firman Tuhan: “Dan apakah orang yang tadinya hatinya mati dan kafir dan Kami menghidupkannya (dan mereka memiliki iman) dan Kami beri dia cahaya yang membuatnya dapat berjalan di tengah-tengah orang banyak, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan, sehingga dia tidak dapat keluar dari sana? Demikianlah dijadikan terasa indah bagi orang-orang kafir terhadap apa yang mereka kerjakan.”[54]

Oleh karena itu, setiap individu dan juga masyarakat, jika mereka berserah diri pada hidayah Ilahi, makrifat rabbani, sunnah dan undang-undang sahih Tuhan, dan prilaku saleh serta syiar-syiar Islami; niscaya mereka akan mendapatkan kebahagiaan.  Dalam kondisi ini, mereka tidak akan termakan dan termangsa oleh kesesatan orang-orang sesat dan kegelapan yang mereka pilih: “Tidak menyesatkan kamu orang sesat, ketika kamu mendapat petunjuk”[55]; tentu saja kondisi ini berlaku jika mereka telah melakukan kewajibannya kepada orang lain dalam bentuk memerintahkan pada kebaikan dan mencegah dari kejahatan dan keburukan; sebab meninggalkan kewajiban Ilahi ini sama halnya bahwa dia tidak melaksanakan tugas utamanya dan belum menerima hidayah. Karena itu, ia akan mudah terpengaruh dan tergelincir pada kesesatan.

Kunci pengalaman keagamaan adalah kognisi diri dan makrifat nafs, dan seseorang dalam medan ini akan meraih piala yang sangat berharga dengan memiliki  shibgah (warna) Ilahi dan dalam tataran makrifat nafs serta makrifat Tuhan akan meraih keutamaan dan kelebihan; sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa “Paling berilmunya kamu pada nafsnya, paling berilmunya kamu pada Tuhannya”. Sudah sangat jelas bahwa orang yang mendapatkan kondisi ini akan lebih dekat pada Tuhannya dan akan lebih banyak meraih kenikmatan (kebahagiaan) dari-Nya.[56]  

Oleh karena itu, jalan pengalaman keagamaan yang dapat memberikan kemantapan dan keyakinan hanya jalan yang ditunjukkan oleh al-Qur’an dan natijah kenabian yang dinampakkannya di dalam diri manusia. Sebagaimana Rasulullah Saw sabdakan: Barang siapa yang memberikan tempat al-Qur’an pada jiwanya maka seakan-akan ia telah memasukkan kenabian di dalam jiwanya; kecuali bahwa tidak diwahyukan (al-Qur’an) kepadanya dan ia bukan nabi tasyri’.[57]

 

Contoh dan Sampel Pengalaman Keagamaan dalam Al-Qur’an 

“(Ingatlah, wahai Muhammad!) ketika Allah memperlihatkan mereka di dalam mimpimu (berjumlah) sedikit. Dan sekiranya Allah memperlihatkan mereka (berjumlah) banyak tentu kamu menjadi gentar dan tentu kamu akan berbantah-bantahan dalam urusan itu, tetapi Allah telah menyelamatkan kamu. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang ada dalam hatimu. Dan ketika Allah memperlihatkan mereka kepadamu, ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka, itu karena Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.”[58] 

Dalam perang Badar, dua pasukan yang tidak seimbang (dalam jumlah dan perlengkapan perang) saling berhadap-hadapan, dan Tuhan, supaya perang ini berakhir dengan kemenangan di pihak Islam, memperlihatkan suatu pengalaman dan peristiwa (mimpi) kepada Nabi Saw dimana sekelompok kecil orang-orang kafir Makkah menyerang kepada kaum muslimin. Nabi Saw, ketika menceritakan itu kepada kaum muslimin, mereka semua bersedia  untuk berperang; sebab pengetahuan terhadap kualitas dan kuantitas kekuatan pasukan musuh mempunyai dampak dan pengaruh terhadap ruh pasukan muslimin dan akan menyelesaikan saling berbantah-bantahan di antara mereka (maka Allah memperlihatkan pasukan musuh dalam jumlah kecil kepada Nabi-Nya). Sementara di sisi lain, Nabi Saw adalah maksum dan setan tidak mempunyai jalan pada batasan wujud dan rasionalitas beliau Saw. Oleh karena itu, kuantitas pasukan musuh yang disaksikan beliau Saw dalam musyahadah mimpi itu adalah benar dan Tuhan adalah kuasa mengerdilkan yang banyak dan sebaliknya.

Dari dimensi pasukan kafir, mereka tidak mempunyai tujuan selain dunia dan keinginan mareka hanyalah harta dan kesenangan dunia, dimana ini semua menurut  tinjauan al-Qur’an adalah sedikit: “…Katakanlah, “Kesenangan di dunia ini hanya sedikit…”.[59] Oleh karena itu, seluruh modal dan bekal mereka adalah kesenangan dan harta yang sedikit dan setiap orang akan ditimbang dan dinilai sesuai dengan tujuan eksistensialnya, dan hakikat ini yang disaksikan Nabi Saw dalam bentuk mimpi yang hak.

Dari dimensi orang-orang Mukmin, bagi mereka juga terjadi suatu pengalaman dimana mereka menyaksikan pasukan kafir berjumlah sedikit: “…ketika kamu berjumpa dengan mereka berjumlah sedikit menurut penglihatan matamu…”[60]. Dari sisi ini, ketika mereka memasuki perang maka mereka mampu menanggung jumlah pasukan musuh, bahkan mereka dapat mendesak dan membuat pasukan musuh lari meninggalkan peperangan. Jadi, ini adalah suatu bentuk pengalaman keagamaan dan dikarenakan berkah wahyu dan kenabian maka kemenangan berada di pihak orang-orang mukmin, dimana dalam peperangan itu mereka telah menyaksikan dengan mata mereka kekerdilan dan kekecilan batin dan tujuan musuh (dalam bentuk jumlah musuh yang sedikit); yakni kejadian yang disaksikan Nabi Saw dalam bentuk mimpi benar, sampai mencapai batasan penglihatan bagi masyarakat.

Dari sisi Tuhan, Dia menghendaki kemenangan agama-Nya dan memerintahkan kepada mereka suatu perkara: “…itu karena Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan, hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan”[61]. Dalam hal ini, Allah juga menampakkan pada penglihatan orang-orang kafir bahwa kaum muslimin berjumlah sedikit: “…dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka…”[62]. Dari dimensi ini, kaum musyrikin Makkah dengan angkuh dan gegabah masuk dalam peperangan; sampai Abu Jahal berkata: Mereka ini tidak cukup sampai dalam hitungan suatu hidangan kita dan kita tidak perlu menggunakan pedang dan panah kita untuk (menghadapi) mereka; tapi kita cukup mengirim budak-budak kita saja dengan tangan kosong untuk menangkapi mereka.[63]

Pengalaman ini bagi kaum musyrikin, adalah suatu pengalaman negatif dan kontra agama; sebab peperangan itu dilakukan mereka karena didasari keyakinan kepada agama khusus mereka, karena itu mereka membela sasaran dan maslak mereka sendiri dan mereka mengenal Tuhan mereka dalam bentuk yang lain -sebagaimana kita temukan ungkapan maksum dalam hadits bahwa “Tuhan itu dikenal (ma’ruf) di sisi semua orang jahil”[64]– ataukah mereka menghalangi supaya usaha dan upaya dakwah Nabi Saw yang beberapa tahun  tidak memberi natijah dalam memberi hidayah kepada kaum musyrikin lainnya: “…dan Kami telah menjadikan hati mereka tertutup (sehingga mereka tidak)  memahaminya, dan telinganya tersumbat. Dan kalaupun mereka melihat segala tanda (kebenaran), mereka tetap tidak mau beriman kepadanya…”[65]. Oleh karena itu, pengalaman kaum musyrikin dengan memandang kecil kaum mukminin dan menutup mata pada realitas adalah suatu pengalaman yang akhirnya sangat buruk.

Perlu kami ingatkan, bahwa predikasi asli peristiwa atas pengalaman keagamaan, bersandar atas makna “lahir ayat” bahwa yang dimaksudkan bukanlah penyaksian indera (penglihatan mata lahiriah) ketika dua pasukan itu berhadapan; jika tidak, maka ini keluar dari pembahasan pengalaman keagamaan yang merupakan suatu perasaan internal dan capaian nafsâni.

 

Isykal: Ungkapan ayat “dan kamu diperlihatkan-Nya berjumlah sedikit menurut penglihatan mereka” (Q.s. al-Anfal ayat 44), menunjukkan pengalaman kaum musyrikin yang melihat kaum mukmin dalam jumlah  sedikit. Berdasarkan ini, mereka tidak memandang cukup jumlah kaum mukminin sebagai suatu santapan bagi mereka sehingga mereka menyatakan untuk mengirim budak-budak mereka saja dalam keadaan tangan kosong untuk menangkapi kaum mukminin. Sementara itu al-Qur’an dalam ayat lain menyatakan bahwa musyrikin dalam perang Badar ini melihat jumlah mukminin dua kali lipat dari jumlah mereka: “Sungguh, telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang berhadap-hadapan. Satu golongan berperang di jalan Allah dan yang lain (golongan) kafir yang melihat bahwa mereka (golongan muslim) dua kali lipat mereka. Allah menguatkan dengan pertolongan-Nya bagi siapa yang Dia kehendaki. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai penglihatan (mata batin).”[66]

Sebagaimana yang dapat dilihat, di antara ayat-ayat al-Qur’an yang turun tentang perang Badar -sebagian dalam surah Ali Imran dan sebagian lainnya dalam surah al-Anfal- terasa ada saling penafian satu dengan lainnya.

Jawab: Allamah Thabathabai dalam menjawab isykal tersebut menuliskan: Diawal peperangan, kedua pasukan itu memandang sedikit jumlah lawannya sehingga masing-masing mereka berambisi untuk  memenangkan peperangan (karena itu mereka mulai peperangan); tetapi ketika perang sedang berlangsung, golongan kaum mukmin menjelma dua kali lipat dalam pandangan golongan kafir. Berdasarkan ini maka mereka menjadi takut dan melarikan diri, sehingga pada akhirnya kemenangan berada di pihak kaum muslimin.

Oleh karena itu, ayat awal (ayat 44 dalam surah al-Anfal) menjelaskan tema tentang masing-masing kedua pasukan itu melihat lawannya dalam jumlah sedikit dalam awal peperangan dan ayat kedua (ayat 13 dalam surah Ali Imran), menjelaskan jumlah pasukan muslimin dua kali lipat dalam pandangan kaum kafir di tengah-tengah peperangan; khususnya dengan memperhatikan ayat sebelumnya dari ayat ini dimana Tuhan memberitahukan secara umum kepada kaum kafir bahwa jika kamu mempunyai penglihatan batin maka untuk mengerti kemenangan hak (atas batil) dan bahwa Tuhan, setiap orang yang Dia inginkan menang, Dia berikan kemenangan dan selamanya ia tidak akan terkalahkan oleh harta dan keturunan seseorang, mesti kamu cukupkan dengan apa yang kamu saksikan pada hari peperangan Badar; sebab pada hari itu, pasukan Islam hanya terdiri dari beberapa orang dan jumlah mereka tidak mencapai 1/3 dari jumlah kaum musyrikin dan dari sisi peralatan perang juga tidak bisa dibandingkan dengan peralatan perang kaum musyrikin.               

Sebab jumlah kaum mukminin ketika itu tidak lebih dari 313 orang dan hanya memiliki enam baju baja, delapan pedang, dan dua kuda; sedangkan pasukan musuh jumlahnya mendekati seribu orang ahli perang dengan perlengkapan yang sempurna di zaman itu. Dengan kondisi ini, Tuhan memperlihatkan jumlah pasukan kaum muslimin yang sedikit itu menjadi dua kali lipat, sehingga kaum musyrikin menjadi gentar dan takut serta melarikan diri, dan akhirnya kemenangan berada di pihak kaum muslimin. Di samping itu, Tuhan juga mengirimkan malaikat untuk membantu kaum mukminin dan menjelmakan pasukan musyrikin dalam jumlah sedikit  dalam pandangan mereka supaya hati mereka menjadi kukuh dan mantap, sehingga janji kemenangan dan pengalaman keagamaan Nabi Saw dalam mimpi, terealisasi dengan sempurna dan agama Tuhan menampak secara nyata: ”…itu karena Allah berkehendak melaksanakan suatu urusan yang harus dilaksanakan. Hanya kepada Allah segala urusan dikembalikan.”[67] [68] \


 


[1] . Merujuk pada kitab Akl wa I’tiqâd-e Dinî, Hal. 35-59.

[2] . Al-Munqidzu min ad-dhalâl, Hal. 64.

[3] . Merujuk pada kitab Akl wa I’tiqâd-e Dinî, Hal. 35-59.

[4] . Al-Mantiq, Bab 6, Shana’ât Khamsah, Tajribiyât, Hal. 318.

[5] . Q.S. al-Mu’min [40] : 26.

[6] . Q.S. Ali Imran [3] : 19.

[7] . Q.S. al-A’raf [7] : 127.

[8] . Q.S. an-Nâzi’ât [79] : 24.

[9] . Q.S. al-Qasas [28] : 38.

[10] . Syawâhid ar-Rububiyyah, Hal. 144.

[11] . Bihârul Anwâr, Jld. 18, Hal. 270.

[12] . Nahjul Balâgah, Khutbah 4.

[13] . Ibid, Hikmah 185.

[14] . Bihârul Anwâr, Jld. 14, Hal. 476.

[15] . Nahjul Balâgah, Khutbah 220.

[16] . Q.S. an-Najm [53] : 11.

[17] . Q.S. Maryam [19] : 17.

[18] . Q.S. Nuh [71] : 28.

[19] . Syarh Fushus al-Hikam, Fashun Nuhi, Hal. 537.

[20] . Q.S. al-An’am [6] : 121.

[21] . Syarh Fushus Qaishari, Fashun Ishâqi, Hal. 629.

[22] . Bihârul Anwâr, Jld. 61, Hal. 176.

[23] . Ibid, Hal. 181.

[24] . Ibid, Hal. 177.

[25] . Bihârul Anwâr, Jld. 11, Hal. 64 dan Jld. 61, Hal. 181.

[26] . Futuhat Makkiyyah, Jld. 1. Hal. 147.

[27] . Syarh Fusus Qaisari, Fassun Nuhi, Hal. 537.

[28] . Bihârul Anwâr, Jld. 14, Hal. 476.

[29] . Nahjul Balagah, Khutbah 122.

[30] . Ushul Kâfi, Jld. 2, Hal. 54.

[31] . Nahjul Balagah, Khutbah 193.

[32] . Q.S. Taha [20] : 72.

[33] . Ushul kâfi, Jld. 2, Hal. 85.

[34] . Ibid, Hal.86.

[35] . Nahjul Balagah, terjemahan makna bebas Khutbah 220.

[36] . Q.S. al-Ankabût [29] : 69.

[37] . Q.S. al-Hijr [15] : 99.

[38] . Q.S. al-An’am [6] : 75.

[39] . Q.S, at-Takâtsur [102] : 5-7.

[40] . Q.S. al-Mutaffifin [83] : 18-21, Tafsir al-Mizan, Jld. 5, Hal. 276.

[41] . Q.S. al-Maidah [5] : 105.

[42] . Q.S. al-Insyiqâq [84] : 6.

[43] . Q.S. al-Mujâdilah [58] : 22.

[44] . Q.S. Ibrahim [14] : 28.

[45] . Q.S. al-Maidah [5] : 105.

[46] . Q.S. al-Baqarah [2] : 134.

[47] . Q.S. al-Maidah [5] : 100.

[48] . Q.S. al-An’am [6] : 153.

[49] . Q.S. al-Hasyr [59] : 19.

[50] . Bihârul Anwâr, Jld.2, Hal. 32.

[51] . Q.S. al-Isra [17] : 7.

[52] . Q.S. an-Najm [53] : 42.

[53] . Q.S. asy-Syams [91] : 7-10.

[54] . Q.S. al-An’am [6] : 122.

[55] . Q.S. al-Maidah [5] : 5.

[56] . Merujuk pada: Tafsir al-Mizan, Jld. 6, hal. 170.

[57] . Ushul Kâfi, Jld. 2, Hal. 604.

[58] . Q.S. al-Anfal [8] : 43-44.

[59] . Q.S. an-Nisa [4] : 77.

[60] . Q.S. al-Anfal [8] : 44.

[61] . Ibid.

[62] . Ibid.

[63] . Tafsir Nur ats-Tsaqalain, Jld. 2, Hal. 128.

[64] . Ushul Kâfi, Jld. 1, Hal. 91.

[65] . Q.S. al-An’am [6] : 25.

[66] . Q.S. Ali Imran [3] : 13.

[67] . Q.S. al-Anfal [8] : 44.

[68] . Tafsir al-Mizan, Jld. 3, Hal. 107.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: