“ISLAM KAFFAH”

oleh alifbraja

Beberapa bulan yang lalu di depan Mesjid Raya Baiturrahman Banda Aceh terdapat sebuah spanduk berukuran besar, bertuliskan kata  “SYARIAT ISLAM KUNCI SELAMAT DUNIA AKHIRAT”, setiap lewat depan mesjid kebanggaan masyarakat Aceh itu saya merasa terganggu dengan spanduk tersebut, bukan karena ukuran spanduknya  tapi isi sepanduk tersebut menjadi bahan renungan saya.

Benarkah dengan “Syariat Islam” bisa selamat dunia akhirat? Bukankah “Syariat” itu hanyalah makna lain dari peraturan atau Hukum, apa mungkin orang-orang kelak di akhirat bisa selamat hanya dengan melaksanakan Syariat nya saja.

Kepada seorang teman saya mengatakan, “andai spanduk itu isinya ISLAM KUNCI SELAMAT DUNIA AKHIRAT, itu lebih tepat”.

Kenapa? Karena Islam itu bukan hanya syariatnya saja, tapi ada Tharerat, Hakikat dan Makrifat.

 

Rasulullah bersabda :

Assyariati ‘ahwali,

Attariqati ‘Af’ali

Alhaqiqati ‘Awwali

Almarifati assirri

Artinya:

Syariat itu adalah perkataanku

Tahrikat itu adalah perbuatanku

Hakikat itu adalah kediamanku

Makriat itu adalah rahasiaku.

 

Saidi Syekh Dermoga Barita Raja Muhammad Syukur Al-Khalidi pernah mengatakan bahwa Islam itu ibarat kelapa mempunyai lapisan-lapisan, begitu juga Islam mempunyai lapisan-lapisan atau tahapan-tahapan yang mesti dilalui agar menjadi Islam Kaffah.

 

Disinilah letak kekeliruan sebagian besar umat Islam yang sedang eforia menuntut ditegakkan syariat Islam, mereka lupa bahwa Islam yang bermakna “Selamat” itu mencakup 4 paket yang mesti diambil secara keseluruhan.

Melaksanakan seluruh hukum-hukum Islam, Berpakaian secara Islami, berdagang secara Islam dan lain sebagainya itu merupakan syariat artinya kita baru melaksanakan ¼ dari Islam, masih kurang ¾ lagi.

 

Awaluddini Makrifatullah, artinya : awal ber agama adalah mengenal Allah, kalau sampai detik ini kita belum mengenal Allah sudah pasti kita belum digolongkan kepada orang beragama, belumlah kita Islam. Nah!?!

 

Mengenal Allah harus dengan sebenar kenal, orang-orang sufi mengartikan Makrifatullah dengan “Berjumpa Allah” .

Sudahkah kita “berjumpa dengan Allah”?

Siapakah yang kita temui dalam shalat? Jawabnya Allah, kalau kita teruskan pertanyaan,  ”Allah yang mana?” Bagaimana Dia?

Tidak serupa dengan makluk, yang mana Dia?

 

Orang yang belum sampai ke tahap makrifat jika shalat pasti lalai, artinya seluruh pikirannya tidak fokus, yang di ingat tidak lain  masalah hidupnya.

Orang yang lalai dalam shalat diancam Neraka Wail, wah bagaimana ini? Udah capek-capek shalat eh masuk Neraka.

 

 

Nah, disinilah letak kekalahan ummat Islam sebagaimana yang telah disampaikan oleh Prof. Dr. Saidi Syekh Khadirun Yahya MA, M.Sc dalam pidatonya, kebanyakan ummat Islam tidak lagi mempunyai “Tali” ke Tuhan. (Baca Pidato Prof. Dr. Saidi Syekh Khadirun Yahya MA, M.Sc dalam katagori “Tasauf“)

 

Bisakah orang bermakrifat tanpa melalui hakikat dan thareqat ?

Jawabnya, MUSTAHIL!

Orang yang belum masuk thareqat tidak akan mungkin bisa mencapai hakikat apa lagi Makrifat.

Apa itu thareqat? Apa itu Hakikat dan apa pula Makrifat?

Melalui tulisan bersambung ini akan kami bahas secara satu bersatu, mulai dari Syariat sampai kepada Makrifat, dengan harapan tidak lain agar seluruh ummat Islam sadar dan terbuka hijabnya agar tidak lagi mengikuti propaganda orang-orang orientalis melalui paham wahabi nya yang mendiskreditkan Tharekat dan ilmu tasawwuf, menuduh orang-orang sufi sebagai ahli bid’ah. Karena Makrifat merupakan sumber power dalam Islam yang amat ditakuti oleh musuh-musuh Islam.

 

Insya Allah, atas karunia dan kudrah dari Allah SWT,  berkat syafaat Rasulullah SAW beserta ahli Silsilah Tharekat Naqsyabandi terutama kepada Maha Guru kami yang selalu menuntun kami kejalan Nya, akan kami bahas secara tuntas.

SYARIAT

Syariat bisa disebut syir’ah. Artinya secara bahasa adalah sumber air mengalir yang didatangi manusia atau binatang untuk minum. Perkataan “syara’a fiil maa’i” artinya datang ke sumber air mengalir atau datang pada syari’ah.

Kemudian kata tersebut digunakan untuk pengertian hukum-hukum Allah yang diturunkan untuk manusia.

Kata “syara’a” berarti memakai syari’at. Juga kata “syara’a” atau “istara’a” berarti membentuk syari’at atau hukum. Dalam hal ini Allah berfirman, “Untuk setiap umat di antara kamu (umat Nabi Muhammad dan umat-umat sebelumnya) Kami jadikan peraturan (syari’at) dan jalan yang terang.” [QS. Al-Maidah (5): 48]

Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syari’at (peraturan) tentang urusan itu (agama), maka ikutilah syari’at itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang yang tidak mengetahui.” [QS. Al-Maidah (5): 18].

Allah telah mensyari’atkan (mengatur) bagi kamu tentang agama sebagaimana apa yang telah diwariskan kepada Nuh.” [QS. Asy-Syuuraa (42): 13].

Sedangkan arti syari’at menurut istilah adalah “maa anzalahullahu li ‘ibaadihi minal ahkaami ‘alaa lisaani rusulihil kiraami liyukhrijan naasa min dayaajiirizh zhalaami ilan nuril bi idznihi wa yahdiyahum ilash shiraathil mustaqiimi.” Artinya, hukum-hukum (peraturan) yang diturunkan Allah swt. melalui rasul-rasulNya yang mulia, untuk manusia, agar mereka keluar dari kegelapan ke dalam terang, dan mendapatkan petunjuk ke jalan yang lurus.

Jika ditambah kata “Islam” di belakangnya, sehingga menjadi frase Syari’at Islam (asy-syari’atul islaamiyatu), istilah bentukan ini berarti, ” maa anzalahullahu li ‘ibaadihi minal ahkaami ‘alaa lisaani sayyidinaa muhammadin ‘alaihi afdhalush shalaati was salaami sawaa-un akaana bil qur-ani am bisunnati rasuulillahi min qaulin au fi’lin au taqriirin.” Maksudnya, syari’at Islam adalah hukum-hukum peraturan-peraturan) yang diturunkan Allah swt. untuk umat manusia melalui Nabi Muhammad saw. baik berupa Al-Qur’an maupun Sunnah Nabi yang berwujud perkataan, perbuatan, dan ketetapan, atau pengesahan.

Terkadang syari’ah Islam juga dimaksudkan untuk pengertian Fiqh Islam. Jadi, maknanya umum, tetapi maksudnya untuk suatu pengertian khusus. Ithlaaqul ‘aammi wa yuraadubihil khaashsh (disebut umum padahal dimaksudkan khusus).

Mengerjakan syariat itu diartikan sebagai mengerjakan amal badaniah dengan segalan hukum-hukum : shalat, puasa, zakat dan haji.  Dalam syariat, apabila seseorang mengerjakan shalat dan sudah ada wudhu, telah menghadap ke Kiblat, ber-Takbiratul Ihram, membaca Al-Fatihah, Rukuk dan Sujud dan sampai dengan Taslim, maka oleh syariat dianggap shalatnya telah sempurna. Tujuan utama syariat itu adalah membangun kehidupan manusia atas dasar amar ma’ruf dan nahi munkar.

Syariat membagi ma’ruf  dalam 3 katagori :

1.      Fardhu atau wajib, Suatu perbuatan yang telah dituntut oleh syara’ (Allah swt.) dengan bentuk tuntutan keharusan. Hukum perbuatan ini harus dikerjakan. Bagi yang mengerjakan mendapat pahala dan bagi yang meninggalkan mendapat siksa. Contohnya, puasa Ramadhan adalah wajib. Sebab, nash yang dipakai untuk menuntut perbuatan ini adalah menunjukkan keharusan. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa.” [QS. Al-Baqarah (2): 183]

2.      Sunnat atau mustahab Mandub adalah mengutamakan untuk dikerjakan daripada ditinggalkan, tanpa ada keharusan. Yang mengerjakannya mendapat pahala, yang meninggalkannya tidak mendapat siksa, sekalipun ada celaan. Mandub biasa disebut sunnah, baik sunnah muakkadah (yang dikuatkan) atau ghairu (tidak) muakkadah (mustahab).

3.      Mubah atau harus adalah mengutamakan ditinggalkan daripada dikerjakan, dengan tidak ada unsur keharusan. Misalnya, terlarang shalat di tengah jalan. Yang melaksanakannya tidak mendapat dosa sekalipun terkadang mendapat celaan

Selanjutnya Syariat membagi munkarat menjadi dua katagori :

1.      Haram adalah sesutu yang telah dituntut oleh syara’ (Allah swt.) untuk ditinggalkan dengan bentuk tuntutan keharusan. Hukumnya bila dikerjakan adalah batal dan yang mengerjakannya mendapat siksa. Contohnya, tuntutan meninggalkan berzina, tuntutan meninggalkan makan bangkai, darah, dan daging babi.

2.      Makruf adalah mengutamakan ditinggalkan daripada dikerjakan, dengan tidak ada unsur keharusan. Misalnya, terlarang shalat di tengah jalan. Yang melaksanakannya tidak mendapat dosa sekalipun terkadang mendapat celaan.

Pembagian Syari’at Islam

Hukum yang diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. untuk segenap manusia dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

1. Ilmu Tauhid, yaitu hukum atau peraturan-peraturan yang berhubungan dengan dasar-dasar keyakinan agama Islam, yang tidak boleh diragukan dan harus benar-benar menjadi keimanan kita. Misalnya, peraturan yang berhubungan dengan Dzat dan Sifat Allah swt. yang harus iman kepada-Nya, iman kepada rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan iman kepada hari akhir termasuk di dalamnya kenikmatan dan siksa, serta iman kepada qadar baik dan buruk. Ilmu tauhid ini dinamakan juga Ilmi Aqidah atau Ilmu Kalam.

2. Ilmu Akhlak, yaitu peraturan-peraturan yang berhubungan dengan pendidikan dan penyempurnaan jiwa. Misalnya, segala peraturan yang mengarah pada perlindungan keutamaan dan mencegah kejelekan-kejelekan, seperti kita harus berbuat benar, harus memenuhi janji, harus amanah, dan dilarang berdusta dan berkhianat.

3. Ilmu Fiqh, yaitu peraturan-peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya dan hubungan manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh mengandung dua bagian: pertama, ibadah, yaitu yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan manusia dengan Tuhannya. Dan ibadah tidak sah (tidak diterima) kecuali disertai dengan niat. Contoh ibadah misalnya shalat, zakat, puasa, dan haji. Kedua, muamalat, yaitu bagian yang menjelaskan tentang hukum-hukum hubungan antara manusia dengan sesamanya. Ilmu Fiqh dapat juga disebut Qanun (undang-undang).

Definisi Fiqh Islam

Fiqh menurut bahasa adalah tahu atau paham sesuatu. Hal ini seperti yang bermaktub dalam surat An-Nisa (4) ayat 78, “Maka mengapa orang-orang itu (munafikin) hampir-hampir tidak memahami pembicaraan (pelajaran dan nasihat yang diberikan).”

Nabi Muhammad saw. bersabda, “Barangsiapa dikehendaki Allah kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam perkara agama.”

Kata Faqiih adalah sebutan untuk seseorang yang mengetahui hukum-hukum syara’ yang berhubungan dengan perbuatan orang mukallaf, hukum-hukum tersebut diambil dari dalil-dalilnya secara terperinci.

Fiqh Islam menurut istilah adalah ilmu pengetahuan tentang hukum-hukum Allah atas perbuatan orang-orang mukallaf, hukum itu wajib atau haram dan sebagainya. Tujuannya supaya dapat dibedakan antara wajib, haram, atau boleh dikerjakan.

Ilmu Fiqh adalah diambil dengan jalan ijtihad. Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya menulis, Fiqh adalah pengetahuan tentang hukum-hukum Allah, di dalam perbuatan-perbuatan orang mukallaf (yang dibebani hukum) seperti wajib, haram, sunnah, makruh, dan mubah. Hukum-hukum itu diambil dari Al-Qur’an dan Sunnah serta dari sumber-sumber dalil lain yang ditetapkan Allah swt. Apabila hukum-hukum tersebut dikeluarkan dari dali-dalil tersebut, maka disebut Fiqh.

Para ulama salaf (terdahulu) dalam mengeluarkan hukum-hukum dari dalil-dalil di atas hasilnya berbeda satu sama lain. Perbedaan ini adalah suatu keharusan. Sebab, pada umumnya dalil-dalil adalah dari nash (teks dasar) berbahasa Arab yang lafazh-lafazhnya (kata-katanya) menunjukkan kepada arti yang diperselisihkan di antara mereka.

Fiqh Islam terbagi menjadi enam bagian:
1. Bagian Ibadah, yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang dipakai untuk mendekatkan diri kepada Allah swt. dan untuk mengagungkan kebesaran-Nya, seperti shalat, zakat, puasa, dan haji.
2. Bagian Ahwal Syakhshiyah (al-ahwaalu asy-syakhsyiyyatu), yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang berhubungan dengan pembentukan dan pengaturan keluarga dan segala akibat-akibatnya, seperti perkawinan, mahar, nafkah, perceraian (talak-rujuk), iddah, hadhanah (pemeliharaan anak), radha’ah (menyusui), warisan, dan lain-lain. Oleh kebanyakan para mujtahidin, bagian kedua ini dimasukkan ke dalam bagian mu’amalah.
3. Bagian Mu’amalah (hukum perdata), yaitu suatu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang mengatur harta benda hak milik, akad (kontrak atau perjanjian), kerjasama sesama orang seperti jual-beli, sewa menyewa (ijarah), gadai (rahan), perkonsian (syirkah), dan lain-lain yang mengatur urusan harga benda seseorang, kelompok, dan segala sangkut-pautnya seperti hak dan kekuasaan.
4. Bagian Hudud dan Ta’zir (hukum pidana), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang berhubungan dengan kejahatan, pelanggaran, dan akibat-akibat hukumnya.
5. Bagian Murafa’at (hukum acara), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang mengatur cara mengajukan perkara, perselisihan, penuntutan, dan cara-cara penetapkan suatu tuntutan yang dapat diterima, dan cara-cara yang dapat melindungi hak-hak seseorang.
6. Bagian Sirra wa Maghazi (hukum perang), yaitu bagian yang membicarakan hukum-hukum yang mengatur peperangan antar bangsa, mengatur perdamaian, piagam perjanjian, dokumen-dokumen dan hubungan-hubungan umat Islam dengan umat bukan Islam.

Jadi, Fiqh Islam adalah konsepsi-konsepsi yang diperlukan oleh umat Islam untuk mengatur kepentingan hidup mereka dalam segala segi, memberikan dasar-dasar terhadap tata administrasi, perdagangan, politik, dan peradaban. Artinya, Islam memang bukan hanya akidah keagamaan semata-mata, tapi akidah dan syariat, agama dan negara, yang berlaku sepanjang masa dan sembarang tempat.

Dalam Al-Qur’an ada 140 ayat yang secara khusus memuat hukum-hukum tentang ibadah, 70 ayat tentang ahwal syakhshiyah, 70 ayat tentang muamalah, 30 ayat tentang uqubah (hukuman), dan 20 ayat tentang murafa’at. Juga ada ayat-ayat yang membahas hubungan politik antara negara Islam dengan yang bukan Islam. Selain Al-Qur’an, keenam tema hukum tersebut di atas juga diterangkan lewat hadits-hadits Nabi. Sebagian hadits menguatkan peraturan-peraturan yang ada dalam ayat-ayat Al-Qur’an, sebagian ada yang memerinci karena Al-Qur’an hanya menyebutkan secara global, dan sebagian lagi menyebutkan suatu hukum yang tidak disebutkan dala mAl-Qur’an. Maka, fungsi hadits adalah sebagai keterangan dan penjelasan terhadap nash-nash (teks) Al-Qur’an yang dapat memenuhi kebutuhan (kepastian hukun) kaum muslimin.

Petunjuk-petunjuk tersebut diatas memberikan pegangan yang kuat bagi setiap manusia untuk dapat pengertian dalam membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang benar dan mana yang salah. Petunjuk-petunjuk itu mengikat manusia sebagai kewajiban moral dalam segala sikap hidupnya. Dalam mengerjakan haram dan makruh, kemaksiatan atau kejahatan, semua itu dipandang sebagai dosa dan balasannya adalah Neraka.

Peraturan-peraturan yang di atur dalam syariat berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah yang merupakan sumber hukum-hukum Islam untuk keselamatan manusia, untuk ketertiban dan ketenangan hidup di dunia.  Tetapi menurut Ahli Sufi, bahwa syariat itu baru merupakan tingkat pertama dalam menuju jalan kepada Tuhan.

Sebagaimana Ilmu Tasawuf menerangkan bahwa syariat Islam itu hanya berupa peraturan-peraturan belaka.  Thariqat lah yang merupakan perbuatan untuk melaksanakan syariat itu. Apabila “Syariat” dan “Thariqat” itu sudah dapat dikuasai maka lahirlah “Hakikat” yang tidak lain daripada perbaikan keadaan dan ahwal, sedangkan tujuan terakhir adalah “Makrifat” yaitu mengenal Allah dengan sebenar-benarnyanya, berjumpa dengan Allah dan mencintaiNya.

Kesimpulan

Syariat merupakan ilmu mengenal jenis perintah sedangkan Thariqat/Hakekat adalah ilmu pengenalan sang “PEMBERI PERINTAH”

Setelah kita mengetahui hukum-hukum dan segala perintahNya maka tujuan hakiki hidup adalah mengenal sang “PEMBERI PERINTAH”, menghadirkan DIA disetiap ibadah, baik Shalat, Puasa, Zakat maupun haji, karena tanpa “hadir” DIA maka seluruh ibadah kita akan sia-sia karena Iblis beserta bala tentaranya akan selalu menyusup dalam hati untuk membuat kita lalai tidak khusuk dan akhirnya shalat kita di ancam dengan Neraka Wail.

Sungguh amat sia-sia ibadah yang kita kerjakan, Shalat kita kosong, puasa kita sia-sia, zakat kita tidak bermakna dan haji kita menjadi hampa karena tidak ada ruh spiritual Islam.  Ketika naik haji menjadi tamu Allah tidak pernah kita berjumpa dengan sang ‘TUAN RUMAH”, maka penyair Islam Hamzah Fanshuri  pernah menulis dalam Syairnya : Pergi ke Mekkah mencari  ALLAH, Pulang ke Rumah Bertemu  DIA

Ketika melakukan shalat untuk menghambakan diri tidak mengenal siapa yang disembah, padahal perintah Shalat tidak lain adalah untuk mengingat DIA, bagaimana mungkin kita bisa mengingat sesuatu yang belum kita kenal?

Dalam sebuah hadist Rasulullah pernah bersabda bahwa ada dua hal yang amat disenangi bagi orang yang berpuasa yaitu Bertemu Tuhannya dan Berbuka. Artinya seseorang yang tidak “berjumpa” Tuhan ketika berbuka puasa tidak memiliki makna dari puasanya.

Mudah-mudahan Allah SWT akan selalu menuntun dan membimbing kita kejalan yang diridhaiNya, Amin.

Sudah lama saya tidak melanjutkan tulisan tentang Islam Kaffah yang telah saya tulis dua bagian. Pada bagian terakhir masih membahas masalah syariat dan sebenarnya kelanjutan dari tulisan tersebut (tentang thareqat, hakikat dan makrifat) telah dibahas dengan lengkap tapi dalam judul yang berbeda makanya saya tidak lagi menulis Judul seperti di atas.

Menarik sekali komentar yang diberikan oleh pengunjung sufimuda beberapa hari yang lalu yang menulis bahwa Guru Mursyid harus bertaqliq kepada Guru Fiqih karena guru mursyid hanya mengerti tentang tarekat saja sedangkan guru fiqih luas pengetahuannya. Tentu saja kebanyakan orang yang belum mendalami thareqat akan berpandangan seperti itu. Ketika kita memisahkan antara ke empat pilar penyokong Islam yaitu syariat, tarikat, hakikat dan makrifat disinilah nanti letak kekeliruan kita dan tentu saja kita tidak akan bisa mengamalkan Islam secara keseluruhan atau di istilahkan islam secara kaffah.

Ilmu fiqih yang kita kenal sekarang bersumber kepada al-qur’an dan hadist berdasarkan ijtihad para ulama. Pelopor ilmu fiqih adalah Imam Jakfar Shaddiq, beliau adalah pendiri mazhab Jakfari sekaligus Mursyid yang kelak melahirkan  dua tarekat besar yaitu Qadiriah dan Naqsyabandiyah sekaligus beliau adalah salah seorang imam syiah selengkapnya coba baca disini.

Dari Imam Jakfar Shaddiq inilah kelak lahir 4 mazhab besar yaitu Hanafi, Maliki, Syafi’I dan Hanbali. Pendiri Mazhab Hanafi adalah Imam Abu Hanifah, nama asli Beliau adalah Nu’man bin Tsabit bin Zauthi dari penduduk Kabil yang lahir tahun 80 H dan wafat tahun 150 H. Beliau pernah belajar dan berguru pada salah Imam Ja’far ash-Shadiq Abu Hanifah pernah berkata, “Kalau bukan karena dua tahun (berguru pada Imam Ja’far ash-Shadiq as) maka niscaya binasalah Nu’man.” Nu’man adalah nama asli dari Abu Hanifah . Beliau juga pernah berkata: “Aku tidak dapati orang yang lebih faqih dari Ja’far bin Muhammad”. (Lihat kitabnya (Ahlussunnah): al-Musuan, al-Makharij dan Fiqh Akbar).

Mazhab Maliki didirikan oleh Imam Malik bin Anas dilahirkan di Madinah tahun 93 H berasal dari kabilah Yamaniah. Sejak kecil beliau rajin menghadiri majlis-majlis ilmu, beliau sejak kecil telah menghapal Al-Qur’an. Beliau belajar dari para sahabat dan tabi’in, hingga ia tumbuh menjadi ulama terkemuka terutama di bidang fiqih. Malik adalah orang yang paling mengerti di bidang hadis di Madinah saat itu. Paling mengetahui tentang keputusan-keputusan Umar bin Khattab, Abdullah bin Umar, Aisyah. Atas dasar itulah ia memberikan fatwa. Dia sangat berhati-hati dalam berfatwa. Terlebih dahulu, dia pasti mengadakan cross check pada ulama-ulama sezamannya yang berjumlah 70 ulama dalam memutuskan fatwa. Dia wafat pada usia 86 tahun. (Lihat Kitab Fiqih Lima Mazhab, bab Malik bin Anas). Imam Malik pernah berkata: “Tidak ada mata yang dapat melihat dan tidak ada telinga yang dapat mendengar serta pikiran yang melintas akan adanya orang yang lebih pandai dan lebih berilmu selain dari Ja’far ash-Shadiq.” (Lihat kitabnya Maliki (Ahlussunnah): al-Muwaththa)

Mazhab Syafi’i merupakan mazhab paling banyak di anut oleh ummat Islam di Indonesia termasuk para pengikut Thareqat Naqsyabandi didirikan Imam Syafii. Nama lengkap Beliau Muhammad bin Idris asy-Syafi’i. Beliau dilahirkan di Gazzah (Palestina sekarang) tahun 150 H. Belajar pada ulama-ulama hadis di Mekkah. Usia 20 tahun dia meninggalkan Mekkah untuk belajar ilmu Fiqih dari Imam Malik, kemudian dia berangkat ke Iraq dan belajar pada murid-murid Abu Hanifah. Setelah wafat Imam Malik tahun 179 H beliau pergi ke Yaman untuk mengajar di sana, diangkat oleh Harun ar-Rasid sebagai guru di Baghdad, setelah itu beliau dikenal secara lebih luas. Tahun 198 H, beliau berangkat ke Mesir dan mengajar di masjid Amr bin Ash dan dia wafat di sana. (Silahkan lihat kitab Fiqih Lima Mazhab, bab Imam Syafi’i).

Mazhab Hanbali di dirikan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, dia adalah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal asy-Syaibani. Dilahirkan di Baghdad tahun 164 H. sejak kecil dia menuntut ilmu di mana Baghdad saat itu sebagai pusat ilmu. Beliau mulai belajar bahasa Arab, Al-Qur’an, hadis, sejarah, dan seterusnya. Belajar pada Imam Syafi’i di kota Basrah. Beliau mempunyai kitab hadis yang dinamakan Musnad. Wafat di Baghdad tahun 241 pada usia 77 tahun. (Silahkan lihat kitab Fiqih Lima Mazhab, bab Imam Ahmad).

Seluruh ilmu fiqih yang kita kenal sekarang ini tentu saja bersumber kepada 4 mazhab yang mengambil ilmunya kepada Imam Jakfar Shaddiq baik secara langsung maupun secara tidak langsung. Tentu saja Imam Jakfar Shaddiq tidak hanya mengajarkan Syariat (fiqih) semata-mata namun juga mengajarkan Tareqat dan hakikat sehingga salah seorang murid Beliau Imam Malik pernah berkata : Barangsiapa berfiqih/bersyariat saja tanpa bertasawuf niscaya dia berkelakuan fasik (tidak bermoral) dan barangsiapa bertasawuf tanpa berfiqih/bersyariat niscaya dia zindiq dan barangsiapa yang melakukan kedua-duanya maka sesungguhnya dia adalah golongan Islam yang hakiki.

Kenapa seorang Ahli Fiqih harus mempunyai Guru Mursyid?

Ilmu Fiqih atau syariat hanya mengajarkan kepada kita hal-hal yang bersifat lahiriah semata tidak akan pernah menyentuh sampai kepada persoalan rohani sementara seluruh ibadah dalam agama terdiri dari  zahir dan bathin. Sebagai contoh dalam syariat hanya menjelaskan tata cara pelaksanaan shalat, dan hal-hal yang berhubungan dengan rukun syarat sah shalat. Di sana tidak dibahas tentang bagaimana pelaksanaan shalat khusyuk. Sehingga kalau anda bertanya kepada ulama yang Cuma memahami syariat tentu saja anda tidak pernah akan menemukan jawabannya kerena orang yang anda tanyai juga tidak pernah merasakan shalat khusyuk.

Suatu saat didepan anda dihidangkan daging yang sudah dimasak dan anda tidak tahu apakah daging itu haram atau halal, apakah ilmu fiqih bisa membantu anda? Apakah anda mesti membawa segudang kitab untuk menyelidiki apakah itu daging lembu atau babi? Dipotong dengan memakai nama Allah atau tidak?. Kawan, ilmu fiqih saja tidak cukup, kalau anda sudah sampai ke tahap Muraqabah maka secara otomatis Allah akan memberikan petunjuk langsung kepada anda apakah daging itu haram atau tidak.

Syariat hanya membahas tentang Nama-nama Allah dan segala sifat-Nya namun tidak pernah ada pelajaran tentang bagaimana kita menuju kehadirat-Nya. Kalau anda bertanya kepada ulama fiqih, “Kapan saya bisa jumpa dengan Allah?” pasti jawabannya sangat spekualatif, “di akhirat nanti kita semua pasti berjumpa dengan Allah”. Dan kalau anda memberanikan diri bertanya, “Dimana Allah? kalau kita shalat kan mesti jelas siapa yang disembah” sudah tentu pertanyaan ini tidak ada jawabannya dan kalau pertanyaan ini anda tanyakan kepada Ulama Wahabi sudah pasti anda dikatakan sebagai orang gila dan penghina agama dan anda akan di usir dari majelis nya. Bagaimana kalau anda bertanya kepada ulama Tasawuf, kepada Guru Mursyid tentang “Dimana Allah dan kapan saya bisa jumpa Allah?” maka pasti anda diberikan sebuah senyum indah dan Beliau berkata, “Nak, mari aku tuntun engkau kehadirat-Nya sebagaimana aku dituntun oleh guruku dan sebagaimana Junjungan Nabi Muhammad dituntun oleh Jibril AS”.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: