Rabi’ah Al-Adawiyah dan Cintanya kepada Allah

oleh alifbraja

Wahai Tuhanku, sesudah aku mati masukkanlah daku ke neraka
dan jadikan jasmaniku memenuhi seluruh ruang neraka
sehingga tak ada orang lain dapat dimasukkan ke sana

Wahai Tuhanku, bilamana daku menyembahMu karena takut neraka
jadikan neraka kediamanku
dan bilamana daku menyembahMu karena gairah nikmat surga
maka tutupkan pintu surga selamanya bagiku

tetapi apabila daku menyembahMu demi Dikau semata
maka jangan larang daku menatap keindahanMu Yang Abadi

(Doa Rabi’ah dari Basrah)
-hlm.vii-

Sekalipun hidupnya sangat menderita, namun Rabi’ah tetap Rabi’ah. Ia tak merubah pendirian. Betapapun pahitnya kehidupan yang dijalani, tetap diterimanya dengan tabah dan sabar. Salat malam tetap dilakukan secara rutin, dan lisannya tak pernah berhenti dari zikir. Istighfar merupakan senandung yang selalu didendangkan. Musibah dan penderitaan silih berganti. Batinnya tersiksa tiada henti. Dipukul dan ditendang dengan kaki. Dihina dan dicaci maki. Semua dihadapi dengan tabah dan tahan uji. Ternyata, dibalik ujian dan cobaan, ada suatu kebahagiaan sangat besar. Mendapatkan derajat yang sangat mulia di sisi Allah.
-hlm.23-24-

Tuhanku,
selagi Engkau tidak murka kepadaku,
aku tak akan memperdulikan segala cobaan dan penderitaan.
Walau bagaimanapun,
pertolongan-Mu pasti lebih luas untukku.
Aku berlindung dengan nur wajahMu
yang menerangi tujuh lapis langit,
dan yang menyinari kegelapan.
Aku berlindung dari kemurkaan dan kebencianMu.
Engkaulah yang berhak memurkaiku.
Dan tiada daya upaya serta kekuatan
kecuali atas pertolonganMu.
-hlm.28-

Rabi’ah tak pernah sedih dicaci, dan tidak pula bangga dipuji. Apa pun kata orang dibiarkan berlalu tanpa harus ditanggapi. Yang penting ia mendapatkan keridhaan Allah. Allah mencintainya. Itu yang selalu diharapkan. Karena kemurkaanNya sangat ditakuti. Sementara kemurkaan manusia, sama sekali tak ada artinya. Cobaan demi cobaan yang silih berganti takpernah berhenti menimpa. Semua ia hadapi dengan sabar. Keyakinannya terhadap qadar Allah sangat mantap. Selama ada yang baik, tentu ada yang jelek. Namun, ia terima dengan perasaan antara yang baik dan yang buruk. Ia tidak pernah berpikir untuk protes, membangkang kepada kenyataan yang dihadapi. Ia senantiasa berprinsip, bahwa Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya.
-hlm.29-

Cinta Rabi’ah tidak mengharap balasan pahala dan tidak pula menunggu imbalan duniawi. Cintanya kepada Allah bukan sekadar melatarbelakangi berhasilnya permohonan, namun terlepas dari ambisi dan keinginan duniawi. Cintanya mengalir dari kesadaran yang teramat dalam.
-hlm.55-

Rabi’ah tidak pernah terpengaruh dalam perlombaan mencari keduniaan dengan berbagai kesenangan di dalamnya. Padahal, pada umumnya manusia tidak segan-segan melakukan penipuan, pengkhianatan, dan saling membunuh dalam mengejar keduniaan yang bersifat sangat sementara itu.
-hlm.96-

Dunia kebanyakan manusia adalah yang dihias dengan harta, wanita, anak, kemegahan, dan kerakusan. Sedangkan, dunia Rabi’ah hanya sepotong roti kring ditambah sedikit garam, sekadar cukup untuk mempertahankan hidup. Dan pakaiannya pun sekadar dapat menutup aurat, ditambah sehelai tikar sebagai tempat duduk, dan bejana dari tanah liat sebagai tempat minum bila rasa haus datang.
-hlm.96-

Hidupnya (Rabi’ah*) tidak pernah berbenturan dengan harta, tidak pernah mengejar kemegahan dan kesenangan. Juga tak pernah mengharap sanjungan dan pujian dari sesama makhluk. Seluruh hidupnya diserahkan kepada Allah, dihabiskan dengan beribadah dan berusaha keras menuju keridhaanNya.
-hlm.96-

Rabi’ah tidak pernah susah memikirkan penampilan dan kecantikan dirinya. Padahal, penampilan dan kecantikan senantiasa diimpikan oleh kebanyakan wanita. Rabi’ah bisa melakukan hal tersebut, karena ia sama sekali tidak pernah menginginkan perhiasan dunia. Baginya, sehelai kain yang dapat menutup aurat, sudah cukup memadai.
Rabi’ah sama sekali tidak menginginkan rumah besar yang indah, diisi dengan berbagai perabot dan perhiasan yang mahal, sebagaimana impian sepasang pengantin yang sedang berbulan madu. Hal semacam itu pernah ditawarkan kepadanya, tetapi dengan tegas ia menolaknya. Ia lebih suka tinggal di gubuk tua yang sederhana. Di dalamnya, ia dapat menikmati segala arti keindahan dan kemewahan keagungan Allah.
Keridhaan dan ketenangan Rabi’ah dalam menerima kesederhanaan hidup bukan karena terpaksa, tetapi didasari kesadaran yang tinggi. Kalau ia mau, tentu dapat memilih pola hidup baik hidup yang bergelimang emas permata maupun penuh sanjungan dan penghormatan. Hidup di istana sebagai permaisuri, atau menjadi istri seorang zuhud, wirai, danalim. Tetapi semua itu bukan menjadi pilihan Rabi’ah. Kesederhanaan yang selalu ia dambakan, sekalipun di mata orang lain dianggap sebagai suatu penderitaan dan kehinaan. Bahkan, kepahitan dan kesusahan itulah yang menyebabkan Rabi’ah merasa bahagia.
Keridhaan terhadap segala ketentuan Allah telah mendarah daging dalam diri Rabi’ah. Itu tergambar dari sikapnya yang selalu bersabar dan bersyukur. Bukan saja ia bersabar menghadapi ujian dan cobaan yang menimpa dirinya, tetapi juga selalu bersyukur ketika menerima musibah dan nikmat yang diberikan Allah. Sebab ia tahu, bahwa musibah dan cobaan pada hakikatnya adalah kunci keberhasilan dan kebahagiaan bagi insan beriman.
-hlm.136-137-

Apapun masalah yang datang menghadang di depan Rabi’ah, tentu dihadapinya dengan wajah berseri. Hal mana terbukti ketika ia memperoleh ujian sakit dan menghadapi kesusahan dalam perjalanan hidupnya. Semua ia hadapi dengan sabar dan tabah. Tenang, seakan-akan tidak terjadi sesuatu. Setiap ujian yang datang, tentu ia lalui dengan kemenangan.
-hlm.137-

“Tuhanku, tenggelamkanlah diriku ke dalam samudera keikhlasan mencintaiMu, sehingga tidak ada sesuatu yang menyibukkanku, kecuali berzikir kepadaMu.”
-hlm.143-

Di Keikhlasan dalam beribadah menjadikan dirinya (Rabi’ah*) selalu mengingat Allah, setiap saat. Ia merasakan kenikmatan tersendiri, tenang dalam zikir, dan gembira mendekatkan diri kepada hatinya tumbuh kerinduan untuk bertemu denganNya. Mereka yang dapat merasakan nikmatnya keikhlasan itu akan bisa merasakan kelezatan yang tiada duanya.
Untuk mencapai keikhlasan itu, hendaklah hati, jiwa, seluruh anggota badan, dan indera sepenuhnya tunduk pada Allah secara total. Menjauhkan diri dari masalah keduniawiaan. Karenanya, kemana pun ia melangkah, di sana ia temui kebesaran dan keagungan Allah.
Keikhlasan dalam ibadah bagai semerbak wangi bunga-bunga. Semerbak wangi itu memang takdapat dilihat atau disentuh. Tapi, bau wangi inilah yang menjadikan amal ibadah seseorangistimewa dan tinggi nilainya. Ikhlas inilah yang menyebabkan buku catatan si hamba dan istimewa, bagai mahalnya nilai sebuah taman yang dihiasi bunga-bunga yang menyebarkan keharuman.
Ikhlas nerupakan kekuatan yang amat perkasa. Ia mampu mengusir setiap bentuk riya dalamhati.
-hlm.161-162-

“Wahai Rabi’ah, bagaimana pandangan Anda tentang cinta?”
Menjawab pertanyaan seperti ini, Rabi’ah berkata :
“Cinta berbicara dengan kerinduan dan perasaan. Mereka yang merasakan cinta saja yang dapat mengenal apa itu cinta. Cinta tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Tak mungkin orang dapat menjelaskan sesuatu yang belum dikenalnya. Atau mengenali sesuatu yang belum pernah digaulinya. Cinta tak mungkin dikenal lewat hawa nafsu, terlbih bila tuntutan cinta itu dikesampingkan. Cinta bisa membuat orang jadi bingung, akan menutup untuk menyatakan sesuatu. Cinta mampu menguasai hati.”

Kemudian Rabi’ah membacakan syair ini :

Alangkah sedihnya perasaan yang dimabuk cinta
hatinya menggelepar menahan dahaga rindu
cinta digenggam walau apa yang terjadi
kalau terputus, ia sambung seperti mula
liku-liku cinta terkadang bertemu surga
menikmati pertemuan indah dan abadi
tapi tak jarang bertemu neraka
dalam pertarungan yang tiada berpantai
-hlm.188-189-

Tuhanku, kepadaMu orang-orang bertaqarrub. Karena kebesaranMu pula, ikan-ikan di lautan bertasbih. Dan dengan kemuliaanMu ombak-ombak bergulung di tepi pantai. KepadaMu kegelapan malam dan cahaya siang bersujud. Begitu pula perputaran siang, laut dengan segala isinya, bulan dan planet-planet lainnya, semuanya berjalan menurut ketentuanMu. Hanya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Perkasa.
-hlm.193-

Wahai Tuhanku, jika aku menyembahmu karena takut akan nerakaMu, maka bakarlah aku dengannya. Jika aku menyembahMu karena mengharap surgaMu, haramkanlah aku memasukinya. Tapi, jika aku menyembahMu semata karena cinta padaMu, janganlah kecewakan aku, jangan tutup diriMu dari pandanganku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: