MENGENAL JATI DIRI 2

oleh alifbraja
 
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
 

Dan hal tersebut diatas sesuai dengan petunjuk Al Qur’an nulkarim yang menyatakan :

 
“Fa aqimis sholata inna sholaata kaanat’alan mu’miniin kataaban manguuta”
Artinya:
“Kerjakan sholat sesungguhnya sholat itu suatu kuwajiban yang ditentukan kepada yang mengaku agama islam”, maka karena itu sungguh wajiblah kiranya apabila kita benar mengaku sebagai bangsa yang beragama Islam dan ingatlah oleh anda bahwa sewaktu-waktu kita diberi peringatan atau cobaan, diri bisa menyatakan ganjaran diri, yang ditumpahkan kepada pribadi kita tetapi pada umumnya hal ini dinyatakan sebagai cobaan Allah.
 
Justru kita sadari padahal sesungguhnya Allah menyiksa atau menghukumnya karena Allah maha Suci. Karena itu sangatlah wajib kita saling mengintropeksi diri atau relius atau melihat kedalam agar kita tidak sering menyalahkan Allah sakit susah tidak adil Allah dan sebagainya apabila kita berfikir dengan hati yang bersih sesungguhnya Allah tiada yang diharapkan dari hambanya, cobalah anda renungkan baik-baik bahkan Allah dijadikan pelbak dipakai joget dipakai zikir dan dipakai tempat meyalahkan dan permintaan.
 
Manusia yang tidak sadar akan dirinya cobalah perhatikan pada dirinya yang pasti akan kita temui dalam perjalanan masing-masing misalnya saja sewaktu berusaha sesuatu lantas mengalami kegagalan kadang-kadang sampai ada mengakhiri dengan bunuh diri bukan ataupun hal-hal lain anda dengan sendirinya timbul suatu pertanyaan apakah dengan jalan bunuh diri persoalan selanjutnya dianggap selesai? Mungkin soal kehadapan saya selesai itu hanyalah masalah lahiriah saya, tetapi yang sekarang yang dihadapi oleh si Aku belum selesai mengapa demikian ! oleh karena pada hakekatnya bunuh diri itu merupakan suatu perbuatan mengingkari kekuasaan Allah Lillahi Rabbi dan tergolong orang yang sesat.
 
Oleh karena perbuatan semacam ini sesungguhnya ialah didominir olah unsur raga atau saya padahal unsur raga itu tetap binasa pula setelah terjadi perpisahan antara unsur Aku dan unsur saya, tetapi harus diingat bahwa si Aku itu adalah abadi yang harus menanggung resiko atau beban dari perbuatan kita dikala masih hidup, jadi apabila demikian halnya yang jelas beban oleh unsur si Aku itu akan semakin berat karena suatu pengingkaran diri dari kenyataan hidup ataupun kuasa hidup, ataupun kekuasaan Allah. Sebenarnya adapun surga ataupun neraka itu milik Allah semata justru terserah wewenang dan keridhoaanya.
 
Saudara para jemaah Majelis Mudzakaroh Warga Kekeluargaan (MMWK) kaum muslimin dan muslimat, para remaja penerus bangsa yang berbahagia yang selalu menjadi dambaan Negara hendaknya berupaya untuk menjadi insane yang berfaedah bagi nusa dan bangsa kelak nanti sesuai dengan kemampuan masing-masing dan tuntullah kesempurnaan berfikir dan terkuatlah lahir dan bhatin dalam mengemban hidup dan kehidupan dialam semesta ini gunakanlah pula pikiran yang baik dan saya ingin mengajak anda melalui blog ini mari kita mengemban amanat Allah Subhanahu wata’ala dengan penuh pengertian yang patut kita jadikan landasan dalam melaksanakan yaitu :
 
  1. 1.   Iman dan taqwa kita jadikan dasarnya.
  2. 2.   Berbuat amal dan kebijakan atau amal sholeh adalah dengan buktinya.
  3. 3.   Tolong-menolong sesame insane sebagai siarnya.
  4. 4.   Bersabar dan menerima atas dasar ketentuan Allah adalah sandaran
  5. 5.   Berhubungan kepada diri sendiri bukti taqwa kepada Allah ta’ala.
Nah oleh karena itu bagi kita yang mengaku yang beragama islam hukumnya wajib melaksanakan agar dapat mempercayakan diri kita masing-masing dan apabila tersebut diatas telah kita kerjakan dengan sepenuh hati dan baik Insyah Allah akan memperolah bukti yang nyata serta pengertian yang lebih sempurna didalam menjalankan tugas hidup, yang sehingga dapat mengalami benar sistimatik petunjuk dari yang dikatakan Aku sebagai mana metode telah digariskan yaitu petunjuk dari Allah diterima melalui di Aku tersebut dan oleh siAku diteruskan kepada siSaya dan mengekspresikan petunjuk itu, menjadi satu rangsangan yang perlu mendapat respond an alam merespon tersebut akan berbentuk suatu perbuatan nyata.
 
Atau tindakan yang mungkin saya dalam merespon petunjuk itu bisa terjadi pula tidak dilaksanakan sebab ada kemungkinan petunjuk tersebut  tidak sesuai dengan aspek saya atau lahiriah, dan apabila factor lahiriyah yang lebih dominan akan menolaknya petunjuk darisiAku atau yang disebut utusan tadi, jadi yang berarti ketidak sesuaian dari si hawa nafsu.
 
Karena tidak dapat dikembalikan jelasnya diumbar siSaya kemungkinan sekali ptunjuk yang dari dalam itu dapat melangsungkan dilaksanakan karena sudah ada kesadaran dari hawa nafsu itu sendiri yang berarti telah terkendali, nah inilah masalah yang sangat penting bagi kita untuk diketahui agar didalam mengamalkan pelaksanaanya di kerjakan oleh kita dapat diperhatikan terlebih dahulu demi keselamatan dunia dan akhirat kelak.
 
Dan mari kita sama-sama memperhatikan penjelasan selanjutnya hal yang berhubungan dengan pengertian untuk dapat mengerjakan keikhlasan dalam melaksanakan kebajikan pada sesamanya selama kita hidup di alam semesta ini sebab banyak contohnua dan apabila mengalami suatu kegagalan bahwa itu merupakan guru yang sangat berharga dalam upaya mencapai sukses ialah dengan kesadaran yang tinggi serta mau menerima kenyataan hidup dengan melalui penyerahan diri nudah ke akhirat Lillahi rabbi juga mau menoleh dan dan menerima atau memperhatikan kedalam diri, sehingga untuk itu dapat ditekan semaksimal mungkin sudah dengan sendiri tidaklah terlalu memberatkan siAkunya jadi adapun benar dan salahnya suatu perbuatan itu, sebaiknya diserhakan saja kepada yang sangat berwenang yaitu Allah subhanahu wata’ala.
 
Justru itu kelak untuk melaksanakan suatu perbuatan ikhlas kita perlu mempelajari mekanis diri kita sendiri, oleh karena itu pada sesungguhnya katifitas diri  itu dalam bentuk lahiriah sebenarnya cukup banyak hal  yang mengandung pelajaran yang sangat berguna ataupun baik bagi kehidupan kita walaupun mungkin kelihatanya sangat sepele bahkan seolah-olah terlihat oleh kita tidak ada manfaatnya, namun apabila secara jujur dan terbuka tidaklah akan pernah kita membicarakan persoalan buang air besar (berak), sebab dihubungi dengan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari dan pula jika kita lihat dalam pengertian berak itu, yang normalnya suatu ucapan yang menjijikan atau jorok kedengaranya. Tetapi dibalik kejorokan yang menjijikan sesungguhnya terdapat mutiara ikhlas, dan cobalah anda renungkan sejenak apa yang diuraikan diatas dan secara tegas pernahkah anda berupaya untuk tidak buang air ataupun tidak mau berak mengingat yang dimakan oleh anda adalah barang makanan yang kita makan itu mahal harganya tetapi saja akan kita buang melalui buang air tersebut bahkan dengan lapang dada malah anda mau melihat lagi dengan segala senang hati itulah yang terdapat dalam penegrtian kata ikhlas dalam kehidupan kita, karena telah banyak contoh oaring yang 2-3 tidak bisa buang airrasanya kebingungan maka adalah merupakan simpanan penyakit dalam tubuh, oleh sebab itu walaupun suatu rejeki yang dapat dari hasil kita sendiri maka perlu kita sedekahkan.
 
Pada yang benar-benar menerimanya dengan sepenuh hati ke ikhlasan hati tak menharapkan kembali, inilah contoh penegrtian tentang keikhlasan dalam berbuat kebajikan kepada sesama
.
Dan selanjutnya mari kita perhatikan hal-hal yang lain, yang bisa dijadikan keyakinan dari masing-masing renungkanlah apakah yang sebenarnya akan dating nanti dari harapan kita tersebut, adalah yang pasti ialah senang dan susah seperti sakit dan bingung, putus asa dan gelisah atau demam hati, itulah suatu perbuatan kebajikan yang dilandasi pamrih jadi yang jelas itu perbuatan yang mengharap imbalan. Hendakna suatu perbuatan yang bersifat agama tentu disertai keikhlasan karena tidak menharapkan imbalan apapun yang ia kerjakan, demi agama diserhakan saja kepada Allah subhanahu wataala, andaikan demikian pula itikat baik kita itu bisa rusak, oleh karena harapan akan banyak kemungkinan yang masih bisa timbul dan jelaslah sudah barang tentu yang tadi kita anggap sepele belumlah pasti mempunyai nilai dan arti yang sepele juga kemungkinan lain.
 

Saudara muslim dan muslimat serta para generasi penerus terutama jemaah MMWK yang berbahagia dengan sesuatu kesadaran yang tinggi dalam diri pribadi, malah kita akan lebih menyadari bahwasanya kita ini merupakan ciptaan Allah yang segala sesuatunya mengatur ketentuan itu, adalah Allah sendiri dan dengan demikian apa yang dilakukan dengan pengertian yang berlandaskan dogma (bod) diadakan keberadaan kita diatur dan ditentukan oleh Allah Yang Maha Kuasa dan sebaiknya kita berbuat jangan seenak perut sendiri ataupun sekehendak diri saja,…   

Mengenal Jati Diri (lanjutan) KLIK   DISINI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: