IMAN dan ILMU

oleh alifbraja

“Kekufuran memodernisasi dirinya menjadi sesuatu yang ilmiah diatas fikiran yang rasional”

Kalangan terpelajar dari umat ini adalah harapan terbesar bagi peradaban Islam untuk bangkit kembali. Ruang akademik sebagai basis intelektual dan core competancy ilmu-ilmu Islam merupakan tempat yang paling potensial untuk memulai membangun peradaban ilmiah. Sebab kadar kemajuan sebuah masyarakat di ukur oleh intelektualitas kaum terpelajarnya.

Kaum muslimin yang kini tengah terpuruk, terjelembab dalam lubang kegelapan seolah merindukan renaissance yang pernah dialami oleh Barat. Apa yang sebenarnya di butuhkan, dan apa yang sebenarnya terjadi? Padahal Islam tidak pernah mengalami kematian, sehingga tak perlu di lahirkan kembali. Karena“Akan senantiasa ada segolongan dari ummat-ku yang berperang di atas al-haq…” maka permasalahannya adalah bagaimana men-dzohirkan golongan (minoritas) tersebut.

Al-Islam ya`lu wala yu`la alaihi. Islam itu agung dan tetap agung, dari awal mulanya, hingga kini. Tapi bagaimana dengan umat-nya? Bagaimana dengan generasi mudanya dan kalangan terpelajarnya. Kita yakin akan sunnah kauny yang menyatakan bahwa peradaban itu dipergilirkan. Kita juga yakin bahwa Islam akan kembali mendominasi dunia (Idzharudien).

Kenyataan bahwa pengusung al-haq (baca : islamic standard) adalah minoritas pada saat ini telah di kabarkan oleh Rosululloh. Banyak dalil-dalil yang menegaskan, baik dalil naql maupun aql.

Akademisi bebas hukum
Sudah maklum bagi sistem hukum negara ini, bahwa kampus merupakan basis intelektual, kebebasan berfikir, berpendapat dan bersuara. Karenanya siapapun boleh berkata apa pun. Siapa pun boleh berpendapat apapun, tanpa harus takut terkena sangsi represif dari rezim. Ini aksioma yang disepakati secara umum. Bahwa sistem politik dan hukum tak berlaku di dalam kampus.

Lantas bagaimana dengan sistem agama (hukum agama, sangsi agama, dll)? Apa masih berlaku aksioma kebebasan diatas? Mari kita lihat Undang-undang agama kita.
Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu k edalam Islam secara kafah, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaiton [Al-Baqoroh:208]
Katakanlah: “Sesungguhnya sholatku, sembelihanku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Robb semesta alam, tiada sekutu bagiNya dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri kepada Allah”. [Al An’ aam: 162-163]
Demikian itu adalah dikarenakan mereka benci terhadap apa yang di turunkan oleh Allah (Subhanahu wa Taala), maka Allah (Subhanahu wa Taala) menghapuskan segala amal perbuatan mereka. [Muhammad : 9].

Sesungguhnya, Islam melingkupi seluruh aspek kehidupan. Tidak ada rukhsoh kecuali untuk kebodohan dan kelemahan. Apa yang tertera dalam transaksi dan perjanjian Islam, akan tetap memberikan konsekuensi pada siapa yang berada dalam naungan transaksi tersebut.

Jika dalam framework negara, kampus bebas nilai maka dalam framework agama tidaklah demikian. Seorang muslim tidak di perkenankan untuk melakukan diskusi tanpa implementasi, atau untuk berpendapat secara bebas atau berkata sekehendak nafsunya. Hawa nafsu tidak boleh ada di kampus, sebab ia hanya pantas ada di neraka.

Ilmu Iman versus Ilmu Kufur
Sudah mafhum dalam khazanah Islam, bahwa setiap ilmu menuntut pengamalan. Karenanya ilmu-ilmu Islam hampir seluruhnya bersifat praksis dan aplikatif. Tidak ada tradisi olah fikir (semata), atau onani intelektual yang biasa kita lakukan. Tidak ada diskusi, kecuali untuk implementasi. Karena apa yang diterima al-qalb, diterima oleh badan. Apa yang ada pada qoul akan ada pada `amal.

Berbeda dengan ilmu yang lahir di peradaban ‘tempat tenggelamnya matahari’. Apa yang ada di (dalam) kepala adalah untuk kepuasan kepala. Tidak berkaitan sama sekali dengan gerak tangan dan badan. Badan boleh di gereja, tapi kepala tidak mesti. Karena kepala punya kebebasan yang tak terbatas. (Isi) Kepala boleh saja pergi ke surga atau ke neraka, saat badan dan tangan ada di dalam tempat ibadah.

Islam menyeru manusia menuju Taman Firdaus secara keseluruhan. Taman kenikmatan yang dapat di rasakan kepala, tangan dan badan secara bersamaan. Taman yang akan menjadi tempat tinggal orang-orang yang menerima Islam secara keseluruhan. Taman yang memiliki segala kenikmatan, berbeda dengan apa yang dibayangkan oleh manusia modern tentang surga.

Objektifitas dan perjuangan menggapainya
Sampai disini jelas, bahwa tidak hanya dengan berilmu kita menjadi beriman. Tidak sedikit orang yang ingkar justru setelah mendapat ilmu. Sekali lagi perlu di ingat bukan hanya ketidaktahuan yang membuat seseorang menjadi ingkar. Karena sebagaimana kita maklumi, iman dan kufr tidak di ukur dari sejauh mana pengetahuan yang di miliki.

Kita bisa melihat betapa ilmiah dan rasionalnya kekufuran pada hari ini. Secara empirik, setiap pihak yang mengusung peradaban akan mewujudkan tradisi ilmiah. Disisi lain, ada kisah tentang orang-orang beriman yang hampir kehilangan tradisi ilmiahnya. Jadi, bukan hanya iman yang menuntut tradisi ilmiah dan objektifitas.

Pada akhirnya, baik iman atau kufur, kedua pengusunganya akan diberi kemudahan untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. “Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah ia kuasainya itu”. Namun demikian, kita harus sadar bahwa hidup ini adalah perjuangan, dan menjadi kafir pun butuh perjuangan. Sebab hidup adalah pilihan, maka tentukan pilihan Anda sekarang juga. Mau bagimana lagi; iman atau kufur. Hanya itu!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: