SUMUR PENINGGALAN, PUTRA JAKA TARUB, SYEKH SYERUT

oleh alifbraja
 
Di wilayah Druju Pangkahkulon kecamatan Ujungpangkah tempo dulu pada zaman penjajahan terdapat pondok yang bernama Pondok Serut. Nama pondok itu diambil dari nama pohon yang tumbuh di depan pondok Pohon itu disebut pohon serut oleh penduduk setempat karena pohon itu mempunyai akar gantung yang dapat tumbuh menjadi batang pohon bila akar itu memanjang sampai mencapai tanah dan menyerut masuk ke tanah. Bila akar-akar gantung itu telah menyerut ke tanah dan menjadi batang baru maka pohon itu seperti sebuah sokoguru yang berdiri di tengah-tengah dan dikelilingi oleh pilar-pilar penyangga. Semakin banyak akar yang gantung yang mencapai tanah semakin banyak batang-batang yang mengelilingi pohon itu.
Pondok Serut didirikan oleh Jaka Tarub putra Jaka Slining. Jaka Tarub adalah cucu Jayeng Katon bin Sunan Bonang Tuban. Ia memilih Druju sebagai tempat penyebaran dan pengembangan agama Islam karena di wilayah kota Ujungpangkah sudah terdapat lima pondok yang diasuh oleh kelima putra Jayeng Katon. Pondok Pangkah diasuh oleh Jayeng Katon dibantu Jaka Berek Sawonggaling, Pondok Bekuto diasuh oleh Pendel Wesi, Pondok Rebuyut diasuh oleh Jaka Karang Wesi, Pondok Unusan diasuh oleh Jaka Sekintel Cinde Amo, dan Pondok Sabilan diasuh oleh Jaka Slining..
Jaka Tarub ditemani istrinya asal Ujungpangkah dan kelima anaknya  mengajar dan mendidik santri-santrinya, juga penduduk sekitar pondok untuk memahami dan mengamalkan Islam. Ia menjadi obor di wilayah yang berada kurang lebih lima ratus meter ke barat kota Ujungpangkah. Ia menjadi tempat bertanya masyarakat setempat, tempat meminta nama bagi anak-anaknya yang terlahir. Ia menjadi tempat mengaduh bagi masyarakat yang mengalami permasalahan. Disamping memberikan pengajaran agama Islam, di pondoknya juga dijadikan sebagai tempat penggemblengan ilmu kanuragan. Santri-santrinya dibekali dengan ilmu kedikdayaan sebagai sarana pembelaan diri mengahadapi lawan ketika terjun di masyarakat kelak. Berkat perjuangannya penduduk Druju dan sekitarnya menjadi pemeluk Islam yang taat.
 

Jaka Tarub mempunyai seorang anak yang mempunyai kebiasan sejak kecil senang duduk-duduk di pohon Serut yang ada di depan pondok. Ia menghabiskan waktu-waktu luangnya di bawah pohon serut. Ia tidak seperti keempat saudaranya yang senang bermain-main di luar pondok. Karena kebiasaannya itu Jaka Tarub memanggil anaknya itu dengan panggilan Jaka Serut.

Jaka Serut semasa anak-anak suka mengembalakan kambing. Kambing-kambing itu digembalakan di sekitar pondok. Ia membiarkan kambing-kambing itu merumput dan menyiapkan minuman kambing-kambing itu. Kambing-kambing itu selalu menurut pada majikannya. Kambing-kambing itu akan merumput di tempat yang ditunjuk oleh Jaka Serut. Kambing-kambing itu tak akan pergi meninggalkan tempat yang telah ditunjuk oleh tuannya. Kambing-kambing itu menurut perintah majikannya. Ia mengawasi kambing-kambing yang memakan rumput-rumput hijau dan semak-semak yang tumbuh di sekitar pondok sambil duduk-duduk di bawah pohon serut. Bila ia merasa haus, ia mendatangi pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pondok itu. Ia hanya mengarahkan tangannya ke pohon kelapa yang dituju, pohon itu sekonyong-konyong menunduk di hadapan Jaka Serut seperti danyang-danyang yang menyajikan minuman raja atau ratunya. Ia tinggal memetik buah kelapa yang dikehendaki. Dengan isyarat tangannya pohon kelapa itu berdiri seperti sedia kala. Begitu juga bila ia ingin minum legen, ia tinggal mengarahkan telunjuknya ke arah pohon siwalan yang dikehendaki, maka pohon itu akan menunduk di hadapannya dan ia tinggal mengambil betek yang telah diletakkan di pohon itu.
Setelah dewasa Jaka Serut sering membantu dan mewakili Jaka Tarub ayahnya untuk mengasuh santri-santri pondok terutama jika ayahnya sedang berdakwah atau bersilaturrahim ke sanak familinya. Karena dirasa sudah mampu mewakili dan mengasuh pondok ia diserahi oleh ayahnya untuk mengasuh pondok dalam waktu yang lama karena ayahnya ingin bersilaturrahim ke sanak saudaranya di Tuban terutama ke keluarga Sunan Bonang yang telah lama tidak dikunjunginya.
Jaka Serut  menjadi pengasuh Pondok Serut menggantikan kedudukan Jaka Tarub ayahnya yang tinggal di Plumpang Tuban di tempat istrinya kedua Disamping mengasuh Pondok Serut, Jaka Serut juga mendapat tugas dari Jaka Slining embahnya untuk ikut membantu mengasuh Pondok Bonang yang ada di Rembang Jawa Tengah yang didirikan oleh Jaka Slining ketika dalam pengembaraannya. Jaka Siling sudah tua dan tidak kuat lagi pulang pergi dari Pondok Sabilan Ujungpangkah ke Pondok Bonang Rembang untuk mengasuh kedua pondok itu.
Ketika Jaka Serut di Rembang ia didatangi Belanda dan memintanya untuk membantu Belanda memerangi perintang pemerintahan Belanda. Belanda merayunya hingga ia terpedaya dan menuruti kemauan Belanda. Belanda menjebaknya agar ia mau berhadapan dengan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya yang tidak menghendaki kehadiran Belanda di wilayahnya karena menyengsarakan rakyat. Belanda kewalahan dan tidak mampu menghadapi kesaktian dan kedikdayaan Pangeran Diponegoro. Belanda sudah berusaha mencari orang-orang yang sanggup menghadapi Pangeran Diponegoro, namun Belanda tidak menemukan orang yang dapat menandingi kesaktian dan kedikdayaannya Hanya Jaka Serut satu-satunya tokoh yang dapat menandingi kehebatan ilmu Pangeran Diponegoro menurut para tokoh dalam dunia kanuragan yang didatangi Belanda.
Belanda merasa senang karena Jaka Serut bersedia menghadapi perusuh pemerintahannya. Jaka Serut dihadapkan pada Pangeran Diponegoro yang dianggap sebagai perusuh kekuasaannya. Namun, setelah Jaka Serut saling berhadapan dengan Pangeran Diponegoro, Jaka Serut tidak mau memusuhi Pangeran Diponegoro karena yang dihadapi itu bukan perusuh negara seperti yang diceritakan Belanda kepadanya. Jaka Serut tidak mau bermusuhan dengan sesama ulama. Ia sama dengan dirinya sebagai pejuang dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar dan mengembangkan agama Islam. Ia merasa ditipu dan diperdayai oleh Belanda. Ia mengurungkan niatnya membantu Belanda untuk menghadapi Belanda. Ia bersama para santrinya membiarkan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya meninggalkan tempat pertempuran. Ia kembali ke pondoknya bersama para santri yang mengikutinya.
Jaka Serut mengasuh Pondok Bonang Rembang itu dibantu anak bungsunya. Setelah anak bungsunya itu mampu mengasuh pondok itu ia menyerahkan sepenuhnya Pondok Bonang Rembang sepenuhnya kepada anaknya karena Jaka Serut ingin kembali ke Ujungpangkah untuk mengasuh pondoknya di Druju yang ia tinggalkan. Sebelum meninggalkan Rembang ia menanam pohon serut di halaman Pondok Bonang Rembang sebagai tanda dan kenangan bagi anaknya yang ditinggalkannya agar selalu ingat orang tuanya dan seluruh kerabatnya yang ada di Pondok Serut Druju. Bila anaknya melihat pohon serut itu ia akan teringat pohon serut yang ada di Pondok Serut Druju Ujungpangkah.
Jaka Serut kembali ke Ujungpangkah. Sebelum meninggalkan Rembang, ia berpesan kepada putranya agar mengembangkan pondoknya dan tidak melupakan untuk bersilturrahim ke sanak saudara dan alumni santri agar tetap terjalin uhuwah Islamiyah. Sesampai di Ujungpangkah Jaka Serut merasa iba melihat penduduk Ujungpangkah mengalami kelaparan. Mereka kelaparan bukan karena panen gagal. Hasil panen mereka dirampas oleh Belanda. Hasil panen penduduk Ujungpangkah disimpan di gudang penyimpanan milik Belanda. Hatinya terbakar melihat kezaliman Belanda. Penduduk yang bersusah payah menanam, hasilnya tidak ikut menikmati mereka ibarat pohon mangga yang menghasilkan buah-buah mangga namun tidak pernah ikut menikmati buahnya  Ia tidak rela melihat penduduk Ujungpangkah itu mati kelaparan. Mereka kebanyakan adalah keluarganya sendiri. Mereka itu tidak lain keturunan Jayeng Katon buyutnya. Mereka juga santri-santrinya.
Jaka Serut beserta santrinya merencanakan penyerangan ke gudang penyimpanan milik Belanda. Ia memilih santri-santrinya yang sudah menguasai ilmu kanuragan yang diajarkan. Ia menyusun rencana serapi-rapinya agar tidak dicium oleh Belanda. Ia akan mengambil kembali barang-barang milik penduduk yang dirampas Belanda.
Pada malam yang direncanakan Jaka Serut dan para santrinya menyerang markas Belanda. Mereka melakukan penyamaran sehingga tidak diketahui Belanda. Markas Belanda itu diobrak-abrik hingga prajurit-prajurit penjaganya lari tunggang langgang meninggalkan markas dan gudang penyimpanan pangan. Santri-santri Jaka Serut menguras habis isi gudang itu dan membawa ke tempat yang aman. Bahan-bahan pangan itu disimpan di tempat yang tersembunyi dan jauh dari markas Belanda. Secara sembunyi-sembunyi bahan-bahan itu dibagikan kepada penduduk Ujungpangkah yang kelaparan. Para penduduk senang sekali menerima pembagian bahan-bahan makanan itu secara gratis. Para penduduk dipesan agar merahasiakan agar tidak sampai tercium Belanda. Mereka tahu akibatnya bila Belanda mengetahuinya. Jaka Serut puas dapat mengembalikan bahan-bahan makanan penduduk yang dirampas oleh Belanda. Ia mengembalikan kepada yang berhak.
Jaka Serut mengasuh Pondok Serut dibantu oleh keempat anaknya. Disamping mengasuh pondok, ia juga sering berdakwah menyebarkan Islam ke luar daerah. Ia dipanggil Syeh Serut atau Syekh Syarofuddin oleh para pantrinya dan para penduduk karena ketinggian ilmunya dan kealimannya. Usianya dihabiskan demi Islam. Ia berjuang demi Islam hingga akhir hayatnya.
Syeh Serut disemayamkan di bawah pohon serut di depan pondoknya. Ia seperti tidak mau dipisahkan dengan pohon serut. Semenjak kecil pohon itu sebagai tempatnya bernaung sambil mengembalakan kambing-kambingnya hingga akhir hayatnya juga bersemayam di pohon kesayangannya. Pohon itu setia menaunginya pada masa hayatnya hingga akhir hayatnya seakan-akan dirinya menyatu dengan pohon itu. Tak salah jika orang tuanya memanggilnya Serut.
Pesarean Syeh Serut banyak diziarahi oleh masyarakat setempat maupun sanak familinya.. Setiap tahun diadakan acara haul di pesareannya. Masyarakat Ujungpangkah dan sekitarnya memenuhi pesareannya menghadiri acara haul. Juga keturunannya yang berada di berbagai daerah ikut hadir. Bahkan keturunnya di Sarang Rembang Jawa Tengah, keluarga K.H. Maimun Zuber, secara rutin selalu menghadiri acara haulnya pada bulan Safar
Di timur pesarean Syekh Serut terdapat sumur peninggalannya. Sumur itu airnya jernih dan tawar padahal lima meter ke utara merupakan areal pertambakan yang asin airnya. Anehnya lagi permukaan air sumur itu kurang lebih satu sampai dua meter tingginya dari permukaan air pertambakan. Sumur itu belum pernah kering airnya meskipun pada musim kemarau panjang sekalipun.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: