Manazilus-Sa’irin, Karya Tasawuf yang Bercorak Sastra

oleh alifbraja

Al-Harawi menawarkan begitu banyak manzilah atau terminal spiritual yang harus didaki oleh para pejalan rohani.

Tasawuf dan sastra mempunyai hubungan yang sangat mesra karena kedekatan antara pengalaman sufistik dengan pengalaman estetis seorang seniman. Ilmu tasawuf juga menjelaskan perihal wilayah esoteris manusia dengan Sang Pencipta. Di sisi lain, ketika seorang sufi ‘mabuk’ dalam luapan spiritual, maka sastralah yang menjadi medium bagi para sufi untuk mengutarakan isi hatinya dan pemikiran-pemikiran tasawufnya.

Puisi sebagai salah satu genre sastra menjadi perangkat yang paling laris digunakan oleh sufi untuk menumpahkan segenap gelegak jiwanya, pengalaman spiritualnya, dan konsep tasawufnya. Mulai dari Rabi’ah al-Adawiyah, Dzun-Nun al-Mishri, Sumnun bin Hasan Basri, Abu Yazid al-Bustami, Saqiq al-Balkhi, Sari as-Saqati, Junaid al-Baghdadi, Abu Bakar asy-Syibli, Abul Hasan an-Nuri, Mansur al-Hallaj, Niffari, Abul Qasim as-Sayyani, Ahmad al-Ghazali, dan lain-lain.

Prof Abdul Hadi WM malah mencatat bahwa pada abad ke-10, Ja’far al-Khuldi (wafat 939 M) menghimpun syair-syair sufi Arab sejak abad ke-8 hingga abad ke-10 M. Di dalam antologinya, beliau berjaya menghimpun ribuan puisi karya 130 penyair sufi. Sayang sekali naskah asli buku Ja’far al-Khuldi itu sudah hilang dan belum lagi dijumpai hingga kini. Hanya sebagian kecil puisi-puisi tersebut dapat dijumpai dalam naskah buku penulis sufi yang lain.

Banyaknya bilangan penyair sufi yang sajak-sajaknya dihimpun oleh Ja’far al-Khuldi menunjukkan bahwa perkembangan kesusastraan sufi sangat marak sejak abad ke-8 hingga pada abad-abad selanjutnya.

Kesusastraan sufi Arab juga mencapai puncak perkembangannya dengan munculnya penulis-penulis prolifik dan pemikir tasawuf terkemuka, seperti Ibnu Arabi, Sustari, Sadruddin al-Qunyawi, Ibnu Atha’ilah as-Sakandari, Ibnul Farid, Ibnu Tufail, Qusyairi, Imam al-Ghazali, Najamuddin Dayah, dan lain-lain. Pada masa itu, tasawuf juga berkembang dengan suburnya di sebagian besar negeri Islam.

Dan, kesusastraan sufi bertambah subur perkembangannya dengan munculnya penulis-penulis sufi Parsi terkemuka, seperti Sana’i, Abu Sa’id al-Khayr, Baba Kuhi, Baba Tahir, Fariduddin ‘Attar, Ruzbihan Baqli, Jalaluddin Rumi, Nizami al-Ganjawi, Fakhrudin ‘Iraqi, Nasir Khusraw, Sa’di, Suhrawardi, Mahmud ash-Shabistari, Maghribi, Jami, Karim al-Jili, dan salah satu tokoh dalam deretan ini adalah Syekh Abu Isma’il Abdullah al-Ansari al-Harawi (wafat 481 H/1088 M), yang tak lain adalah penulis kitab Manazilus-Sa’irin, sebuah karya tasawuf yang bercorak sastra. Lebih tepatnya, bagaimana penulis menggunakan puisi sebagai medium untuk mengeksplorasi konsepnya.

Di berbagai pesantren tradisional kita juga dikaji karya tasawuf yang bergaya seperti ini, yaitu kitab Kifayatul-Atqiya wa Minhajul-Ashfia, sebuah karya komentar (syarah) terhadap kitab berwarna puitis: Hidayatul-Adzkiya ila Thariqil-Auliya karya Syekh Zainuddin bin Ali al-Ma’bari al-Malibari. Selain itu, tentu saja kitab al-Hikam karya Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari, yang disajikan dengan ujaran-ujaran pendek dan menyentuh setiap penikmatnya, yang lebih dekat pada gaya prosa.

Kegemaran dan minat al-Harawi yang besar terhadap sastra ini sebetulnya bukan hanya melalui karya Manazilus-Sa’irin, melainkan juga dalam karyanya yang lain, yaitu Munajat (Doa). Sementara, melalui kitab Manazilus-Sa’irin (Maqam para Penempuh Jalan Ruhani) ini, al-Harawi menawarkan begitu banyak manzilah atau terminal spiritual yang harus didaki oleh para pejalan ruhani. Manzilah-manzilah itu dibagi dalam 10 bagian dan dari setiap bagian itu juga dibagi dalam 10 tema sehingga genaplah menjadi 100 manzilah.

Dengan demikian, hal ini merupakan satu kemajuan dari apa yang sudah dirumuskan oleh pendahulunya, Abu Nashr as-Sarraj ath-Thusi (wafat 378 H/988 M), yang disebut oleh Dr Abdul Halim Mahmud sebagai seorang sejarawan sufi terbesar dalam sejarah klasik dan modern, ath-Thusi dengan al-Luma’-nya hanya menyebut tujuh maqam atau manzilah. Atau bahkan dengan tokoh belakangan al-Qusyairi (wafat 465 H/1073 M) sekalipun yang hanya menampilkan 49 maqam.

Hal lain yang menjadi daya tarik kitab Manazilus-Sa’irin adalah maqam-maqam yang diperkenalkannya. Penulis merujuk sepenuhnya kepada Alquran, baik dalam tataran konsep maupun term atau istilah yang digunakan. Sehingga, dalam kitab ini bermunculanlah manzilah-manzilah, seperti i’tisham, firar, isyfaq, ikhbat, tabattul, dan seterusnya. Maqam-maqam tersebut belum pernah dimunculkan, setidaknya oleh kedua tokoh tadi, namun istilah-istilah ini jelas-jelas ada di dalam Alquran sekalipun dalam bentuk derivasinya. Dan inilah yang coba diangkat (disistematis-Red) oleh al-Harawi dalam khazanah tasawuf.

Manzilah i’tisham (berpegang teguh), misalnya, merujuk pada ayat “wa’tashimu bi hablillahi jami’a wa la tafarraqu.” (Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali [agama] Allah dan janganlah kamu bercerai-berai). (Ali ‘Imran [3]: 103).

Manzilah firar (lari) mengacu pada ayat “fafirru ilallahi inni lakum minhu nadzirun mubin.” (Maka segeralah lari atau kembali kepada [menaati] Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu). (Adz-Dzariyat [51]: 50).

Demikian pula dengan maqam ikhbat (ketundukan hati), yang melandaskannya pada serangkaian ayat-ayat di dalam Alquran, baik dalam bentuk kata akhbatu, tukhbitu, atau mukhbitin. Di dalam surah al-Hajj ayat 34, misalnya, Allah berfirman, “wa basysyiril mukhbitin.” (Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh [kepada Allah]).

Yang tidak kalah menariknya juga adalah penggunaan angka “tiga”. Bukan hanya dalam pembagian peringkat yang digulirkan oleh al-Harawi dari setiap persinggahan yang didaki oleh para pejalan Ilahi itu, setiap manzilah tersebut selalu dibaginya dalam tiga peringkat (kecuali pada maqam shahwu (kesadaran), tapi juga dalam banyak hal. Maka, kata-kata seperti tsalatsu darajat (tiga peringkat), tsalatsatu asy-ya’ (tiga faktor), rutabun tsalatsun (peringkat yang tiga) selalu berkelabatan dalam lembar demi lembar buku ini.

Di samping memiliki cita rasa yang indah, karya yang dituangkan dalam bentuk puisi juga biasanya sedikit kata, namun sarat makna. Hal ini meniscayakan adanya kerumitan pula dalam memahaminya karena satu kata atau bait dari sang penggubah menelorkan banyak makna pada diri pembaca. Maka, di sinilah jasa besar yang sudah disumbangkan oleh para pembuat syarah (karya komentar atau penjelas).

Sebagaimana dalam tradisi penulisan kitab berbahasa Arab yang kerap kali diiringi oleh sejumlah syarah, demikian pula dengan kitab Manazilus-Sa’irin ini. Maka, ‘Afifuddin Sulaiman bin Ali at-Tilmitsani menulis kitab berjudul Manazilus-Sa’irin ilal-Haqqil-Mubin dan Ibnu Qayyim al-Jauziyyah merangkai kitab Madarijus-Salikin baina Manazili “Iyyaka Na’budu wa Iyyaka Nasta’in”.

Melalui karya terakhir inilah agaknya publik di Indonesia bisa menikmati butir-butir pemikiran tasawuf dari seorang Syekh al-Harawi. Dan dari karya syarah ini juga tersimbul keberkahan ilmunya karena dari naskah yang semula hanya berkisar 100-an halaman, bisa menginspirasi Ibnu Qayyim al-Jauziyyah hingga membuahkan karya sebanyak tiga jilid buku besar dengan total halaman 1.500-an lebih. ed: heri ruslan.

Syekh al-Harawi
Mengubah Kesan Mazhab Hambali

Tokoh sufi yang lahir pada 396 H dan wafat pada 481 H/1088 M di Herat ini mempunyai nama lengkap Abu Isma’il Abdullah bin Muhammad bin Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Ali bin Ja’far bin Manshur bin Matta al-Anshari al-Harawi. Adalah tokoh Khurasan, keturunan sahabat Nabi SAW, yaitu Abu Ayyub al-Anshari ra. Ia juga seorang pemuka dalam ilmu hadis, tafsir, bahasa, dan tasawuf dari kalangan mazhab Hambali yang penuh semangat.

Kalau ada pandangan bahwa sikap keras, kaku, dan ketat dalam mazhab Hambali tidak bisa berdampingan dengan emosi sufistik, maka melalui sosok Syekh al-Harawi terburailah keyakinan tersebut. Barangkali, inilah sebabnya mengapa Syekh Ibnu Qayyim al-Jauziyyah sangat bersemangat dalam membuat syarah kitab Manazilus-Sa’irin hingga menghabiskan begitu banyak halaman.

Manazilus-Sa’irin ini hanyalah satu saja dari sekian banyak karya yang sudah ditelorkan oleh tokoh yang penjelasannya mengenai hakikat diakui paling lurus dan dapat diterima oleh masyarakat awam maupun para spesialis.

Karya lain yang juga bernilai sastra tinggi adalah Munajat (Doa), yang ditulis dalam prosa berirama bahasa Persia, yang diselang-seling dengan beberapa sajak yang dipergunakannya untuk mencurahkan cintanya, dambanya, dan nasihatnya. Karya yang bahkan dihargai oleh kaum Hindu di India ini menjadi literatur doa andalan di dunia berbahasa Persia.

Bahkan, Seyyed Hussein Nasr, guru besar Studi Islam di Universitas Georgetown, memberi kesaksian bahwa ia masih ingat betul perihal pembacaan beberapa doa ini di radio Teheran pada pagi hari selama bulan Ramadhan.

Kitab Ilalul-Maqamat adalah buku lain dari Syekh al-Harawi yang melukiskan tentang karakteristik kondisi spiritual, ditujukan untuk para murid dan guru tasawuf. Di samping menulis teori-teori tasawuf yang banyak jumlahnya, menerjemahkan karya Abdurrahman as-Sulami, kitab Tabaqatush Shufiyyah, dari bahasa Arab ke Persia, yang dipergunakan di daerahnya.

Syekh al-Harawi juga mewariskan karya berharga lainnya untuk kita, seperti al-Faruq fi Shifaatillahi Subhanahu wa Ta’ala, Dzammul-Kalam wa Ahluhu, Kasyful-Asrar wa ‘Uddatul-Abrar (bahasa Persia), atau Sad Maydan, sebuah karya dalam bahasa Persia yang berisi tafsir dari ayat “Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali ‘Imran [3]: 31).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: