Tasawuf » Makna Fitrah – Praktik sufi bag 3

oleh alifbraja

Fitrah kita adalah sesuatu yang dikaruniakan
kepada setiap manusia. la seperti sumber air segar,
jernih, sejuk, atau sumur air manis  

Menurut Al-Qur’an, penciptaan dimulai dengan perintah Ilahi, Jadilah! ( QS. 16:40; 19:35; 36:82) .Di bawah perintah itu terkandung seluruh kitab Hakikat. Dari sisi pandang sufi, setiap hati ( qalb ) mengandung cetak biru kebenaran. Kebanyakan orang tahu apa itu kebahagiaan dan ketidakbahagiaan, kepuasan dan ketidakpuasan. Bagaimana mereka mengetahuinya? Bagaimana saya mengetahui bahwa saya tak bahagia? Bagaimana saya mengetahui bahwa saya sedang resah? Jasad saya boleh jadi sama sekali tak seimbang, namun saya tetap akan mengetahui apa itu keseimbangan dan ketenteraman, dan apa itu keresahan serta ketidakseimbangan. Ada sesuatu yang berharga di dalam inti setiap orang yang mengungkapkan kebenaran. Bahwa sesuatu tidak berubah, karena ia bersifat asali dan subgenetik. Secara fisik, setiap orang nampak berbeda, tetapi apa yang melekat secara subgenetik dalam diri manusia adalah sifatnya yang dibawa sejak lahir, seperti telah kami sebutkan sebelumnya. Dalam bahasa Arab kata untuk sifat bawaan lahir itu ialah fitrah. Cetak biru hukum Ilahi yang asli terpelihara dalam fitrah manusia ini. Kalau cetak biru tersebut tidak pudar, maka akan lebih mudah bagi manusia untuk mengenal dan mengakui para rasul dan Hakikat. Dengan kata lain, jika seseorang dibesarkan dalam lingkungan yang sehat, bersih, dan alami maka peluang untuk menemukan kebenaran dan jalan menuju kebebasan lebih besar daripada peluang orang yang terperangkap dalam batas-batas lingkungan, rasial atau budaya yang tidak cocok.

Kaum sufi selalu mengatakan bahwa jika Anda mengikuti hati Anda, maka Anda akan selamat. Allah juga berkata dalam Al-Qur’an bahwa hati tak pernah berdusta. Bagaimana seseorang membedakan antara bimbingan yang datang dari hati, dan yang datang dari emosi, hawa nafsu, rasa takut dan imajinasi? Bagaimana orang membedakan fitrah dengan imajinasi? Fitrah pada diri setiap orang telah memudar hingga tingkat yang bermacam-macam karena pengaruh keluarga dan lain-lain selama masa muda kita. Untuk kembali kepada keadaan fitrah yang asli, kita memerlukan lagi bimbingan syariat Ilahi. Inilah sebabnya maka Islam yang asli jauh lebih mudah dijkuti oleh orang-orang yang tidak dididik atau dilatih untuk menganalisis, meragukan dan mendebat.

Pada zaman dahulu, di Cina, India, dan Timur Tengah, terdapat banyak nabi dan orang suci. Mereka semua memantulkan kebenaran yang asali (primal truth), yakni bahwa kita berasal dari satu Hakikat (realitas), dan keberadaan fisik kita bukan suatu realitas per- manen melainkan hanya sebuah bayang-bayang, dan kita harus belajar untuk mengatasinya; dengan berbuat demikian kita akan menemukan di dalam diri kita apa yang tidak berbatas waktu dan permanen. Orang-orang masa awal yang sederhana dari suku-suku dan desa-desa di zaman kuno dapat lebih mudah merefleksikan kebenaran akhir di balik penciptaan. Syekh besar sufi Ibn ‘ Arabi mengatakan bahwa kelompok orang pertama yang akan diterima di Taman Surga setelah meninggal adalah orang-orang sederhana.

Fitrah kita adalah sesuatu yang dikaruniakan kepada setiap manusia. la seperti sumber air segar, jernih, sejuk, atau sumur air manis. Namun, dalam masa pengasuhan dan pendidikan seseorang, dan karena kekusutan intelektual dan budaya yang berangsur-angsur terakumulasi, sumur itu mulai penuh dengan sampah, dan saat pun tiba ketika ternyata tidak ada lagi air segar yang mengalir, karena sumur fitrah telah dipenuhi puing. Banyak orang yang hidup dalam masyarakat industri di kota-kota modern yang padat penduduk, harus melakukan banyak penggalian dan pekerjaan arkeologi sebelum mencapai fondasi asli dan sumber mata air dalam sumur itu. Orang-orang ini memerlukan lebih banyak disiplin dan kerja keras, seperti meditasi, tafakur, dan pembersihan pikiran dari indoktrinasi ketimbang orang-orang yang hidup di lingkungan pedesaan yang sederhana yang terbuka ke alam di mana tuntutan materi dan persaingan lebih sedikit, dan fitrah mereka masih terpelihara sehingga bagian cetak biru dari hukum Ilahi yang asli masih dapat dibaca.

Perbedaan antara kaum sederhana yang bijaksana, yang masih mempunyai akses ke fitrah mereka, dan para nabi adalah bahwa nabi menerima ajaran Ilahi dengan jalan wahyu, sementara kaum sederhana itu menerima pemahaman melalui penyaksian, pemikiran dan wawasan. Banyak lainnya juga dianugerahi inspirasi (ilham) bilamana ada celah dalam selubung mereka; selubung itu tak lain dari nafsu rendah, dan begitu nafsu rendah tersebut disingkirkan, muncullah kilasan hakikat yang aneh dan menakjubkan.

Kita telah melihat bahwa Islam, tata perilaku asli yang dikehendaki Tuhan untuk manusia, yang, apabila ditaati, membawa manusia kepada Penciptanya, bukanlah agama yang baru muncul sekitar 1.400 tahun yang lalu, melainkan suatu jalan yang bermula sejak Nabi Adam, yang tercetak pada penciptaan pertama sejak permulaan umat manusia. Dengan bangkitnya kesadaran Adami, maka muncullah pula pada saat bersamaan suatu celah batin, atau pengetahuan atau pemahaman yang fitri, mengenai bagaimana berperilaku dalam kehidupan ini untuk menghindari kebingungan.

Jalan Islam adalah jalan perilaku Adami. Setiap nabi, setiap orang yang sadar dan merdeka, telah berada dalanl penyerahan, dan karena itu ia adalah seorang Muslim. Setiap pemikir, filosof dan orang bijak adalah seorang Muslim dalam berbagai derajat kejemihan dan kesadaran. Seluruh manusia sebenarnya dilahirkan dalam ketundukan kepada hakikat alami dan karena itu berada dalam Islam. Masyarakat dan orang tualah yang kemudian sering merusak keadaan Islami yang fitri itu. Ada orang-orang dari seluruh dunia yang menemukan Islam dalam dirinya pada suatu masa hidupnya, dan bukan karena telah menemukan agama Islam yang konvensional. Melainkan, lebih merupakan suatu gema dari sesuatu yangjauh lebih dalam dan azali yang terpusat dalam hati semua makhluk manusia. Namun, konvensi-konvensi, baik yang berhubungan dengan perilaku maupun konseptual, yang dipaksakan oleh kebiasaan masyarakat, komunitas dan pribadi terhadap seseorang itu, menabiri pengenalan atas hakikat tersebut. Karenanya kita memerlukan hukum Ilahi untuk membimbing kita menjalani kehidupan yang dipersatukan dan yang membawa kepada pengetahuan tentang keesaan.

Islam yang asli telah ada persis sejak awal umat manusia dan diwahyukan dalam tingkatan-tingkatan yang berbeda sampai kesempurnaan totalnya diwahyukan melalui Nabi Muhammad, sedemikian rupa sehingga Allah berjanji kepada manusia bahwa wahyu itu akan terpelihara selama-lamanya. Karena itu, tak ada alasan bagi siapa pun untuk mencoba merusak atau mengubahnya. Perbedaan yang ada di antara berbagai mazhab hukum Islam adalah kecil dan tak berarti. Namun, apabila orang ingin melihat perbedaan, maka mereka melihat perbedaan-perbedaan besar, dan ini sering terjadi pada orang-orang yang tidak mempunyai akses kepada fitrah mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: