Tasawuf » Makna Muraqabah (Keterjagaan) – Praktik sufi bag 5

oleh alifbraja

Keterjagaan dan keterasingan kita dari kehidupan dapat membuat pikiran kita kembali segar dan jernih

Praktik sufi yang sangat penting ialah keterjagaan. Kata Arabnya muraqabah. Ini dipraktikkan agar dapat menyaksikan dan menghaluskan keadaan diri sendiri. Dengan praktik muraqabah timbul kepekaan yang kian lama kian besar yang menghasilkan kemampuan untuk menyaksikan “pembukaan ” di dalam. Muraqabah yang terkonsentrasi dan maju terjadi dalam pengasingan diri (khalwat) .Selama pengasingan, dan ketika “pembukaan ” yang sesungguhnya terjadi, si pencari akan menerima kekosongan dan ketidakterbatasan waktu yang luas dalam dirinya. Ini merupakan kulminasi, boleh dikatakan, dari kesadaran diri dan keterjagaan diri, dan awal dari apa yang dipandang sebagai proses kebangunan gnostik (makrifat) atau pencerahan. Maksud dari semua ini ialah bahwa orang itu sadar setiap waktu tentang keadaan di dalam batin yang tak terlukiskan, yang tak ada batasnya.

Makna Pengasingan Diri (Khalwat)

Sering praktik khalwat dipadu dengan praktik spiritual lain yang ditetapkan selama empat puluh hari. Mengapa empat puluh hari? Dalam dunia alamiah, terdapat banyak hukum alam, sebagian di antaranya berjalan menurut siklus. Juga terdapat banyak hukum biologi, seperti hukum-hukum yang mengatur perkembangbiakan dan pemberian makanan, yang mengikuti suatu ritme tertentu dan siklus waktu. Dalam hal makanan rohani atau rehabilitasi. ada pula tempo dan frekuensi optimum.

Dalam tradisi praktik khalwat sufi sering kita dapati waktu pengasingan diri ditetapkan oleh guru rohani bagi muridnya, biasanya untuk jangka waktu empat puluh hari, atau sepuluh hari, atau tujuh atau tiga hari, dan sebagainya. Misalnya, untuk waktu khalwat selama bulan Ramadan, hendaknya seseorang menyendiri (berkhalwat) di mesjid sedikitnya selama tiga hari dan biasanya sepuluh hari..

Syekh sufi menyuruh seorang pencari untuk berkhalwat apabila tubuh, pikiran dan hatinya telah sepenuhnya siap untuk itu. Kata Arab untuk pengasingan diri ialah khalwah (khalwat) Begitu memasuki khalwat, tujuannya ialah-dengan cara dzikrullah dan berjaga- untuk meninggalkan semua pikiran, dan melalui pemusatan pikiran ke satu titik mengalami kasadaran yang murni. Selama khalwatnya seorang murid, makannya harus diatur dengan cermat oleh syekh. Demikian pula, keadaan mental, emosi, dan rohaninya diawasi. Pengasingan spiritual dan dzikrullah tidak akan bermanfaat apabila si pencari tidak siap meninggalkan semua aspek kemakhlukkan. Salah satu bentuk pengasingan spiritual disebut chilla yang artinya empat puluh, dan jangka waktunya empat puluh hari. Dikatakan bahwa bila seseorang telah siap untuk dikurung selama empat puluh hari, suatu terobosan atau pembukaan dapat tercapai lebih awal, sebelum genap empat puluh hari.

Jangka waktu khalwat yang disebutkan dalam Al- Qur’an sehubungan dengan Nabi Musa adalah suatu janji karena Allah selama empat puluh hari (Q.2:.251), dimulai tiga puluh hari lalu ditambah sepuluh hari (Q.7:142). Nabi Zakaria diperintahkan untuk tidak berbicara selama tiga hari (Q. 19:10). Nabi Muhammad ditanya, “Berapa hari seseorang harus bertaubat agar diampuni [yakni sadar akan hakikat] ?” Nabi menjawab, “Setahun sebelum mati sudah cukup.” Kemudian beliau segera berkata, “Setahun terlalu lama; sebulan sebelum mati cukuplah.” Kemudian beliau berkata, “Sebulan terlalu lama.” Kemudian beliau terus berkata semakin mengurangi jangka waktunya, sampai beliau berkata, “Langsung tobat, juga cukup.”

Praktik-praktik Sufi Lainnya

Karena macam praktik yang dapat dilakukan sangatlah banyak, contoh lainnya adalah yang tercantum disini.

Banyak syekh sufi dan orang suci telah mengajukan doa, wirid, dan bacaan-bacaan yang membantu si pencari untuk menyucikan dan mengangkat dirinya. Lingkaran dan pertemuan dzikrullah diselenggarakan untuk membantu menyucikan diri dengan jalan meninggalkan pikiran dan perhatian pada urusan duniawi. Banyak bantuan datang melalui konsentrasi pada bunyi khusus yang spesifik secara berulang-ulang. Energi yang memancar dari kehadiran banyak orang dalam suatu lingkaran dzikrullah menciptakan “pembukaan” ke “hati” dan menghasilkan rasa riang dalam diri para pencari. Masing-masing guru spiritual, sesuai dengan keadaan dan waktunya, telah menghasilkan berbagai obat untuk mengobati penyakit-penyakit hati.

Beberapa syekh telah mengetahui bahwa praktik hadhrah adalah metode yang bermanfaat untuk memungkinkan “pembukaan” ke “hati”. Kata Arab hadhrah biasanya didefinisikan sebagai “tarian sufi” dalam konsteks ini, tetapi secara harfiah hadhrah berarti kehadiran, karena orang yang melakukan hadhrah dengan benar terangkat kesadarannya akan kehadiran Allah yang senantiasa hadir dan senantiasa meliputi. Hadhrah, yang biasanya melibatkan seruan atas sifat-sifat Allah Yang Mahahidup ( al-Hayyu) , dapat dilakukan sambil berdiri, berirama dan bergoyang dalam kelompok- kelompok. Sebagian kelompok berdiri melingkar, sebagian berdiri dalam barisan, dan sebagian duduk berbaris atau melingkar, pria di satu kelompok, dan wanita di kelompok lain yang terpisah.

Sebagian sufi telah mengambil praktik-praktik dari Asia dan Afrika dan menginovasi berbagai cara dan sarana dalam menggunakannya sesuai dengan kebutuhan khusus mereka. Misalnya, beberapa sufi, terutama para anggota tarekat Naqsyabandiyah, menggunakan latihan pernapasan dan penarikan nafas panjang secara intensif, yang menambah aliran oksigen ke dalam peredaran darah. Praktik-praktik ini sangat menyerupai praktik yang dilakukan para yogi di India.

Sebagian dari praktik-praktik ini terbuka bagi umum, sedang yang lainnya banya dimaksudkan bagi para pemula dan para pencari yang dekat. Sering mereka me- ngeluarkan anak-anak dan orang-orang yang sangat muda. Praktisnya, dalam semua kasus, pria dan wanita dipisahkan, sehingga tak ada energi pengganggu yang menyebabkan penyimpangan perhatian.

Gerak berputarnya para darwis merupakan praktik aneh lainnya. Prinsip di balik gerakan ini ialah bahwa bentuk lahiriahlah yang dapat dibiarkan untuk berkelana dan berputar, sedang sentralitas batin dan perasaan yang mendalam tetap bening dan kokoh, persis seperti benar-benar beningnya inti sentral dari puncak yang sedang berputar. Gaya berputar dikuasai oleb Maulana Jalaluddin Rumi, yang biasa dilakukan sambil mengelilingi sebatang pohon. Efeknya ialah mencapai pemusatan ke satu titik dengan mempersatukan dua realitas yang saling berlawanan-berputar secara lahiriah, diam secara batiniah-dalam satu wujud. Selama berputar, perbatian barus diarahkan ke dalam menuju “hati”, dan sesuai dengan itu kepada Allah, karena apabila ia diarahkan keluar, orang yang berputar akan segera pusing. Berputar dapat menimbulkan keadaan asyik- masyuk apabila dilakukan di bawah pengawasan dan tuntunan yang benar dari syekh sufi.

Para anggota tarekat Rifa’iyah menunjukkan suatu fenomena fisik yang agak spektakuler dan aneh, yang tak mudah dijelaskan. Salah satu praktik itu ialah menusuk tubuh dengan pedang tanpa mengeluarkan darah, dan nampaknya tanpa rasa sakit, yang dilakukan sementara dalam keadaan fly. Persepsi dan pengalaman seseorang dalam suatu keadaan tertransformasi sangat berbeda dengan pengalaman dalam kesadaran normal.

Kebanyakan tarekat sufi mempraktikkan dzikrullah dengan berirama atau menyanyi, dengan sekali-sekali menggunakan instrumen musik, terutama genderang. Musik telah memasuki praktik tarekat sufi secarasangat terbatas, dan sering untuk jangka waktu sementara di bawah tuntunan seorang syekh sufi. Di anak-benua India, kaum sufi mendapatkan bahwa orang Hindu sangat menyukai musik, sehingga mereka pun menggunakan musik untuk membawa mereka ke jalan kesadaran-diri, dzikrullah dan kebebasan yang menggembirakan. Maka walaupun peralatan musik digunakan untuk maksud dan tujuan itu, namun pada umumnya mereka dianggap sebagai penghalang yang tak perlu. Kebanyakan bait- bait yang dinyanyikan adalah mengenai jalan rohani dan tak ada hubungannya dengan nyanyian biasa. Sering merupakan gambaran tentang bagaimana membebaskan diri dari belenggunya sendiri dan bagaimana agar terbangun.

Jadi, nyanyian dan tarian sufi merupakan bagian dari praktik menumpahkan kecemasan duniawi dan menimbulkan kepekaan dalam diri dengan cara sama , (mendengar). Dalam konteks sufi, sama’ ini artinya segala sesuatu yang berhubungan dengan musik atau nyanyian yang dimaksudkan untuk peningkatan rohani dan penyucian-diri. Tidak ada arti lain yang dikandung semua praktik ini selain menimbulkan suatu keadaan netral dalam diri sendiri dan pembukaan hati. Dan, tidak dilakukan demi hiburan sebagaimana musik biasa yang ritmis dan menggairahkan secara fisik. Tarian itu adalah untuk Allah, bukan untuk orang lain. Sering kita dapati bahwa bilamana seorang syekh sufi sejati tidak hadir, musik dan nyanyian tak dapat dikendalikan lagi dan melenceng dari tujuan yang diniatkan. Musik adalah alat, dan bila dipegang oleh orang yang tahu bagaimana menggunakannya, akan bermanfaat untuk tujuan yang diniatkan. Apabila sebaliknya maka ia bisa lepas kendali dan menyebabkan kerusakan.

Pentingnya Waktu dan Tempat

Tempat dan waktu sangatlah berpengaruh bagi praktik sufi
karena perbedaan tempat dan waktu akan menentukan
kondisi setempat

Guru spiritual sangat mementingkan tempat dan waktu yang khusus untuk meditasi, doa, dan praktik- praktik spiritual lainnya. Ada tempat-tempat tertentu yang mempunyai sifat-sifat alamiah yang dipengaruhi, misalnya, oleh medan magnet listrik dan kedekatan kepada bukit-bukit granit, sungai, atau sumber air lainnya. Ada banyak tempat di muka bumi ini di mana orang merasakan adanya daya tarik untuk berada disana. Juga ada tempat-tempat yang berdaya tolak, seperti, misalnya, dekat jalur listrik tegangan tinggi, yang menghalau kebanyakan hewan yang dapat merasakan getaran buruknya sehingga menjauhi pencemaran semacam itu, tidak seperti kebanyakan manusia yang tidak sepeka hewan.

Jelaslah, setiap tempat mempunyai energi atau ekosistem tertentu. Ada tempat-tempat tertentu di muka bumi yang mempunyai konsentrasi energi yang tinggi, seperti Mekah, Madinah, Yerusalem, dan makam para nabi zaman dahulu serta para wali, para syekh dan pemimpin spiritual, ke mana orang tertarik secara konstan. Apabila seseorang mengunjungi tempat-tempat itu, ia merasa bahwa suatu peristiwa besar pernah terjadi di sana, dan perasaan ini sering membantu dalam menyembuhkan hati dan meninggikan tingkat spiritual seseorang. Tempat-tempat itu banyak membantu apabila seseorang dibimbing dan dipersiapkan untuk mengangkat keadaannya.

Komentar yang sama juga berlaku pada waktu. Ada suatu hubungan penting, walaupun tak kentara, antara waktu dan musim yang berubah-ubah, fase-fase bulan, fluktuasi suhu, dan kondisi-kondisi perubahan lain yang berkaitan dengan waktu. Tak diragukan bahwa ada tendensi dan kecenderungan dalam lingkungan kosmik berkenaan dengan energi positif dan negatif yang mempengaruhi iklim bumi secara fisik maupun spiritual pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, tidak diketahui pada malam tertentu mana di bulan Ramadan terdapat lailatul qadr, tetapi menurut tradisi malam itu adalah tanggal 21 atau 23 atau 25 atau 27 atau 29 bulan Ramadan. Pada malam itu seakan-akan semua kekuatan kosmik yang sesuai terfokus bersama-sama dan diperbesar, dan seakan-akan tak ada katup spiritual di “langit” serta jauh lebih kondusif untuk duduk bermeditasi. Dzikrullah dan berjaga malam pada waktu seperti itu, di tempat seperti Mekah atau Madinah atau di makam seorang syekh sufi, lebih efektif daripada di waktu dan tempat lain

Maka pengetahuan tentang waktu dan tempat merupakan bantuan penting ketika mengikuti praktik- praktik spiritual. Misalnya, dikatakan bahwa sepertiga malam bagian akhir, sebelum fajar, adalah salah satu waktu terbaik untuk zikir kepada Allah dan berdoa, dan bahwa tempat yang terbaik untuk praktik-praktik semacam itu adalah tempat yang bersih dan bebas dari perbuatan batil. Namun, apabila seseorang telah bertekad dan terbimbing dengan baik maka tempat dan waktu kurang penting baginya. Ketika Imam Ali ditanya, “Hari apa saja dalam setahun yang buruk?” ia menjawab, ‘Janganlah menjadi musuh dari hari maka tak ada hari yang akan menjadi musuh Anda.” Dari puncak tinggi kedudukan spiritualnya, ia tidak membeda-bedakan atau melihat perbedaan antara hari baik dan hari buruk. la semata-mata hanya menyaksikan rahmat dan cinta Allah sepanjang waktu, di mana pun, walaupun ia berada dalam keadaan sedang ditetak oleh pedang pembunuh ketika sujud di hadapan Allah Yang Maha Esa, yang melampaui waktu dan tempat.

Imam yang sudah tercerahkan melihat seluruh kosmos dalam hatinya. la memandang hatinya sebagai rumah suci penyembahan kepada Allah di pusat kosmos. la melihat jejak-jejak Allah pada setiap waktu. Namun, bagi orang awam, dalam urusan spiritual, nampak seakan-akan Allah lebih hadir pada waktu-waktu tertentu dan di tempat-tempat tertentu ketimbang di waktu atau tempat lain.

Tujuan akhir dari semua praktik sufi yang sejati ialah menyadari hakikat-hakikat yang tak terbatas ketika hakikat terungkap dengan caranya sendiri yang alami di dalam setiap hati. Percikan-percikan cahaya yang memancar dari dalam tak terhitung banyaknya dan tak terbatas dalam kombinasi dan perubahannya, meliputi segala sifat, namun hakikatnya adalah satu. Sufi sejati tak akan berhenti sampai ia mapan dalam pengetahuan tentang hakikat, dan apabila ini terjadi, semua cahaya, manifestasi dan sifat-sifat mulia lainnya memudar dalam gemerlapnya cahaya kebangunan batin.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: