Tasawuf » Praktik-praktik Sufi bag 1

oleh alifbraja

Praktik-praktik lahiriah kaum sufi meliputi jumlah salat, wirid, zikir, dan doa yang bermacam-macam. Apabila suatu tarekat sufi berkembang di lingkungan pengembara, maka sebagian besar praktik dilakukan sambil kafilahnya berjalan, dan dengan banyak kumpulan dan lingkaran zikir yang berlangsung pada awal atau akhir malam, karena pada saat-saat itu kafilah beristirahat. Apabila suatu tarekat sufi aktif di kalangan orang pasar di Tanah Abang, atau Jatinegara, misalnya, maka pola praktiknya berbeda, di mana perkumpulan cenderung berlangsung di sore hari atau di awal malam, atau di saat yang tepat bagi para penjaga toko.

Sering kita dapati bahwa bukan saja ekologi setempat dan lingkungan fisik banyak berkaitan dengan jenis praktik kaum sufi yang dominan di suatu wilayah, melainkan juga kultur, kelas dan kondisi sosial ekonomi kelompok yang berperan paling menonjol dalam praktik-praktik ini. Kita dapati bahwa beberapa tarekat sufi menjadi hampir eksklusif bagi kalangan mampu dan berpengaruh dalam masyarakat. Misalnya, Tarekat Tiianiyah di Afrika Utara nampaknya telah menarik minat orang-orang kuat dalam politik, sedang Tarekat Darqawiyah terutama diikuti oleh kalangan orang miskin. Kadang-kadang suatu tarekat sufi yang dahulu umumnya menarik minat kalangan miskin, berubah dan mulai menarik kalangan kaya dan berkuasa, boleh jadi karena datangnya guru spiritual baru, atau perubahan keadaan lainnya yang cukup berarti.

Kondisi iklim dan cuaca juga mempengaruhi bentuk lahir dari praktik sufi. Kita dapati bahwa anggota tarekat sufi yang berada di gurun-gurun sering duduk atau berdiri berbaris dalam melakukan praktiknya. Namun, di pegunungan atau tempat-tempat yang mengharuskan berada dalam rumah dan lebih terbatas, mereka duduk dalam lingkaran konsentris untuk melaksanakan praktik-praktiknya. Tak ada yang keramat dari cara praktik ini. Intuisi si gurulah yang menemukan metode yang sesuai untuk menyehatkan para “pasien”nya. Bilamana suatu praktik atau sistem sufi yang spesifik digantikan atau dialihkan dari satu lingkungan ke lingkungan lain, maka kadang-kadang ia menjadi ganjil, karena praktik atau sistem itu sebenarnya hanya sesuai bagi suatu lingkungan, waktu, atau kalangan manusia tertentu. Misalnya, praktik mengingat Allah dengan tahlil, tasbih dan zikir sering dilakukan dengan sangat keras dan nyaring oleh orang-orang kekar seperti orang Kurdi atau orang-orang Pegunungan Atlas di Afrika Utara, sedang di kalangan para penghuni kota yang fisiknya kurang kuat, dan yang bergaya hidup lebih halus, kita dapati gaya nyanyian tahlil dan zikir yang jauh lebih lunak, jauh lebih musikal, dan sering akhirnya menjadi merosot dan memburuk ke penggunaan instrumen musik.

Jadi bentuk lahiriah praktik sufi tergantung pada lingkungan, waktu, tempat, situasi ekologi dan ekonomi, serta kerangka sosial dari orang-orang yang termasuk dalam tarekat sufi itu. Walaupun terdapat banyak variasi yang muncul dalam berbagai kondisi, satu hal yang sama-sama dimiliki oleh semua sufi sejati ialah bahwa praktik-praktik mereka menghasilkan disiplin lahiriah serta pembukaan dan kesenangan batin. Praktik-praktik itu mengingatkan kepada pencari yang ikhlas dan pengikut yang setia bahwa tujuan hidup yang utama ialah untuk mencapai kesadaran, mempelajari seni kebebasan dan penyerahan, dan menemukan kekuatan tunggal di balik segala sesuatu. Mereka membawa manusia bersatu di atas basis yang sama, karena banyak dari praktik spiritual itu berhubungan secara sosial seperti pertemuan mingguan atau bulanan, sambil me- mungkinkan setiap individu dalam pertemuan itu untuk sampai pada pemahamannya sendiri tentang realitas.

Suatu analogi bagus yang dapat kami berikan tentang tarekat-tarekat sufi dan berbagai gaya serta tipe praktik mereka ialah analogi masakan. Menu masakan di Kanton, Cina, misalnya, sangat berbeda dengan yang di Praha, Cekoslavia, atau Omdurman di Sudan. Namun, makanan adalah makanan, dan apabila disiapkan dengan ramuan yang tepat, dengan perhatian dan cinta, maka ia akan menghasilkan makanan dan kesehatan. Hanya rasa dan ramuannya yang berbeda dari tempat ke tempat.

Ciri menonjol dari suatu tarekat sufi ialah bahwa menunya sesuai dengan musim, iklim dan lingkungan, persis sebagaimana makanan etnis yang dihasilkan sesuai dengan iklim dan ekologi dari negeri di mana mereka berada. Beberapa praktik sufi jauh lebih kaku daripada praktik lainnya. Sebagian sufi melakukan praktiknya dan berjaga malam dalam posisi duduk. Sebagian lagi melakukannya sambil berdiri, atau bersandar, dan ada yang menempuh cara lain. Ada pula yang menggunakan alat bantu visual, ada yang tidak. Masing-masing tarekat mengembangkan teknik yang sesuai untuk mendaki gunung “diri” (nafs). Tujuan seorang sufi ialah mencapai puncak “nafs “-nya, mengatasi berbagai rintangan jiwa dan pikiran dan menjadi sadar secara spontan akan keberadaan. Jadi, si penempuh jalan rohani (salik) adalah bagaikan seorang pendaki gunung. Bilamana seorang pemanjat gunung yang cakap mencapai puncak gunung maka ia telah memenuhi syarat untuk membimbing para pemula tentang bagaimana melempar tali dan memanjat.

Praktik meditasi (tafakur) dan berjaga malam para sufi berbeda-beda sesuai tempat, waktu dan maksud khusus dari si guru rohani. Sebagian guru rohani jauh lebih gembira (ecstatic) ketimbang lainnya. Sebagian lagi lebih serius atau tenang dalam sikap lahiriahnya. Namun semuanya mempunyai suatu kesamaan sebagaimana para koki di dapur sama-sama mempunyai kecintaan pada makanan dan pengetahuan tentang masak-memasak. Para guru rohani sama-sama mempunyai suatu kesunyian (silence) dan kepuasan batin. Menurut mereka, karena penciptaan dimulai dari kesunyian, maka setiap orang yang ingin memulai hidup harus kembali kepada keadaan atau asal itu-kesunyian total- suatu kesunyian batin di mana tak ada penglihatan, tak ada ingatan, tak ada pikiran, tak ada gerakan.

Untuk mencapai kesunyian batin, tuntutan pertama ialah harus mencapai diam lahiriah atau diam fisik, yang menuntut tubuh yang sehat. Inilah sebabnya maka banyak guru sufi juga mempraktikkan pengobatan supaya mampu merawat dirinya sendiri dan para murid- nya. Karena, apabila tubuh kedutan sepanjang waktu bagaimana orang dapat duduk tenang? Yang lahiriah, yakni tubuh fisik, dituntut untuk diam untuk memudahkan kesunyian batin. Maka banyak syekh sufi menjadi pelaku penyembuhan. Para nabi adalah dokter lahir maupun batin. Mereka adalah guru kesatuan, yang menyatukan batin dan lahir. Mereka adalah pecinta kesatuan (unitarian). Tujuan seorang sufi ialah untuk mendaki setinggi-tingginya kesadaran dan mencapai puncak kebangunan, di titik mana ia melihat bahwa batin dan lahir manunggal dengan sempurna.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: