dosa besar menurut Al-quran dan hadis

oleh alifbraja

Kriteria dosa besar menurut Al-quran dan hadis

Di dalam ajaran Islam, dikenal adanya dosa besar dan dosa kecil.
Namun tidak didapati rincian dalam al-Qur’an dan Hadis, dua sumber
agama Islam, tentang kesalahan apa saja yang dikategorikan dosa besar
dan dosa kecil.

Dalam al-Qur’an, misalnya surat al-Nisa’ ayat 37, dan surat al-Najm
ayat 32, disebut kata kaba’ir dan kaba’ir al-ism. Menurut Muhammad
Fuad Abd al-Baqi, hanya 3 ayat dalam al-Qur’an yang mengandung kata
kaba’ir atau kaba’ir al-ism. Dalam ayat-ayat itu, yang disebut
kaba’ir tidak jelas. Kata kaba’ir atau kaba’ir al-ism, yang biasanya
diterjemahkan dengan dosa besar dan muncul dalam al-Qur’an sebanyak 3
kali itu, semuanya tidak menyebut kesalahan apa saja yang disebut
dosa besar.

Hadis, yang fungsinya antara lain menjelaskan yang masih umum dalam
al-Qur’an, tidak banyak membantu kita untuk dapat memahami kesalahan
apa saja yang disebut dosa besar. Dalam Hadis, justeru yang terungkap
hanya dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar (akbar al-
kaba’ir), yaitu syirik, durhaka kepada kedua orang tua, saksi palsu,
mundur dari medan perang melawan orang kafir, dan sihir. Jika ada
dosa paling besar, tentu ada dosa besar dan dosa kecil. Dengan
demikian, perincian dosa-dosa besar belum jelas adanya. Bahkan,
ungkapan-ungkapan dalam al-Qur’an atau Hadis yang mengacu kepada arti
dosa-dosa besar belum jelas. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba
mengungkap kriteria-keriteria dosa besar, baik melalui sumber pertama
(al-Qur’an) maupun sumber kedua (Hadis) Rasulullah, dengan cara
menelusuri istilah atau ungkapan yang digunakan dalam dua sumber
ajaran Islam tersebut.

Sebelum dicoba diuraikan ungkapan-ungkapan yang mengacu kepada arti
dosa besar dalam al-Qur’an dan Hadis, terlebih dahulu dikemukakan
beberapa ungkapan yang biasa diterjemahkan dengan arti dosa dalam
bahasa Indonesia.

Istilah-Istilah Dosa Dalam Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an, terdapat sejumlah istilah atau kata yang biasa
diterjemahkan dengan dosa dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah
tersebut ,misalnya: al-itsm, al-zanb, al-khith’u, al -sayyi’at dan al-
hub.

Kata al-itsm dengan berbagai bentuk kata jadiannya, menurut
perhitungan Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, muncul sebanyak 44 kali dalam
al-Qur’an. Menurut Lewis Ma’luf, kata al-itsm, berarti ‘amila ma la
yahillu (mengerjakan sesuatu yang tidak halal atau tidak dibolehkan
agama). Makna kata al-itsm, seperti diungkap Lewis Ma’luf, umum
sekali, yaitu mencakup semua amal yang dilarang agama. Padahal al-
Qur’an, ketika menunjuk hal-hal yang dilarang agama, misalnya zina,
mengungkapnya dengan kata fahisyat. Jadi, tidak selamanya hal-hal
yang dilarang agama disebut al-itsm oleh al-Qur’an. Berbeda dengan
Lewis Ma’luf, Al-Raghib al-Asfahani, salah seorang pakar bahasa al-
Qur’an, mengemukakan bahwa kata al-itsm berarti sebutan bagi
perbuatan-perbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Dengan kata
lain, al-itsm adalah sebutan bagi tindakan yang menghambat
terwujudnya kebaikan.

Berbeda dengan Lewis Ma’luf dan al-Asfahani, al-Maraghi (penulis
tafsir al-Maraghi), mengatakan bahwa al-itsm sama dengan al-zanb.
Sesuatu perkataan atau tindakan baru dapat disebut al-itsm, demikian
al-Maraghi, bila mendatangkan bahaya yang menimpa jasmani, jiwa,
akal, dan harta benda (materi). Ibn Mandhur, penulis kamus Lisan al-
Arab, lebih khusus lagi mengartikan al-itsm dengan al-khamar. Alasan
yang dikemukakan Ibn Mandhur ialah bait syair Arab yang berbunyi
“syaribtu al-itsm hatta dlalla ‘aqliy, kazalika al-itsm tazhabu bi al-
‘uqul” (saya meminum al-ism, “al-khamar”, maka ingatanku hilang.
Memang khamar dapat menghilangkan ingatan).

Dalam al-Qur’an, terdapat dua tindakan yang dapat dikategorikan al-
itsm, yakni meminum khamar dan bermain judi, seperti yang terdapat
dalam surat al-Baqarah ayat 219. Memang, mengartikan al-itsm dengan
sesuatu yang menghambat perbuatan baik, mendatangkan bahaya, dan
bahkan secara eksplisit sama dengan khamar, seperti yang dilakukan
oleh ibn Mandhur, tidak jauh dari hakikat kata al-itsm, seperti yang
ditunjukkan oleh al-Qur’an. Seseorang yang meminum khamar dan bermain
judi, misalnya, dapat mengganggu aktifitas yang positif, dapat
membahayakan kesehatan jasmani dan rohani,dan dapat menimbulkan
perbuatan-perbuatan negatif lainnya.

Dari sejumlah kata al-itsm yang muncul dalam al-Qur’an, terlihat
bahwa kata al-ism digunakan untuk menyebut pelanggaran yang memiliki
efek negatif dalam kehidupan seseorang dan masyarakat.

Kata al-zanb dengan berbagai bentuk kata jadiannya disebut sebanyak
48 kali dalam al-Qur’an. Menurut Lewis Ma’luf, kata al-zanb berarti
tabi’ahu falam yufarriq israh (menyertai dan tidak pernah berpisah).
Kata al-zanab yang dirangkai dengan binatang, misalnya zanab al-
hayawan berarti ekor binatang. Ekor binatang biasanya terletak di
belakang, dekat dengan tempat keluarnya kotoran. Ekor, kalau begitu,
menggambarkan keterbelakangan atau kehinaan. Ungkapan zanab al-qawm
berarti masyarakat terkebelakang. Dengan demikian dapat dipahami
bahwa ungkapan al-zanb yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
dengan dosa, ditujukan kepada perbuatan-perbuatan yang mengandung
nilai kehinaan dan keterbelakangan, seperti letak ekor binatang yang
dekat dengan tempat keluarnya kotoran.

Diantara 48 kata al-zanb yang muncul dalam al-Qur’an adalah terdapat
dalam surat Ali Imran ayat 135. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan
bahwa orang-orang yang meminta ampun dari dosa (al-zanb), karena
mengerjakan fahisyat, maka Allah akan mengampuni dosa mereka. Kata
fahisyat berarti al-zina atau ma yusytaddu qubhuh min al-zunub (dosa
yang paling jelek atau paling besar). Dengan demikian, dapat dipahami
bahwa kata al-zanb mengacu juga kepada perbuatan dosa yang paling
jelek termasuk zina. Apalagi, diantara ulama tafsir, misalnya al-
Maraghi, memang mengartikan kata fahisyat dalam ayat itu dengan arti
zina.

Tindakan lain yang dikatakan al-zanb oleh al-Qur’an adalah mengubur
hidup-hidup anak perempuan, seperti yang dilakukan masyarakat
Jahiliyah. Tindakan mereka disebutkan dalam surat al-Takwir ayat 9.
Perbuatan masyarakat Jahiliyah seperti diungkap dalam ayat itu
termasuk perbuatan keji, sebab tindakan itu tidak mengenal
perikemanusiaan sama sekali. Dalam Islam, merusak tubuh manusia yang
telah meninggal, jika tidak ada kepentingan keilmuan atau kepentingan
lain, diketegorikan dosa, apalagi mengubur hidup-hidup manusia.

Mendustakan ayat-ayat Allah diungkap pula dengan kata al-zanb,
seperti terdapat dalam surat al-Anfal ayat 54. Hal ini, menurut
pandangan Allah, karena dosa mendustakan ayat-ayat Allah termasuk
dosa paling besar. Dalam ajaran Islam, puncak ajaran agama adalah
tauhid (mengesakan Allah). Oleh karena ajaran tauhid paling penting
dalam ajaran Islam, maka orang-orang yang menganggap Allah memiliki
anak, seperti dalam surat al-Maidah ayat 18, dikatakan sebagai orang
berdosa besar.

Dari sekian banyak ayat yang mengadung kata al-zanb dalam al-Qur’an,
dapat dipahami bahwa kata al-zanb digunakan untuk menyebut dosa
terhadap Allah dan dosa terhadap sesama manusia. Kebanyakan kata al-
zanb muncul dalam bentuk yang sangat umum, sehingga tidak dapat
diketahui apakah dosa yang ditunjukkannya termasuk dosa besar atau
dosa kecil. Untuk mengetahui besar kecilnya dosa yang ditunjuk oleh
kata al-zanb harus didukung oleh petunjuk lain yang terdapat dalam
konteks ayat yang memuat kata al-zanb itu, atau petunjuk dari Hadis
Rasulullah.

Al-khith’u juga termasuk salah satu kata yang sering diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia dengan arti dosa. Bentuk kata kerja madli
(kata kerja lampau) dari kata al-khith’u ialah khati’a. Penggunaan
kata khathi’a fi dinih berarti salaka sabila khatha’in amidan aw
ghaira amidin (mengikuti jalan yang salah, baik disengaja maupun
tidak disengaja). Nampaknya, kata al-khith’u ini dianggap sama dengan
kata al-zanb oleh Lewis Ma’luf. Namun, Lewis menambahkan pendapat
lain bahwa al-khith’u khusus digunakan untuk mengungkap kesalahan
yang tidak disengaja.

Berbeda dengan Lewis, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-
khith’u dengan arti melenceng dari arah yang sebenarnya. Pengertian
melenceng seperti diungkap al-Asfahani ini, memiliki beberapa
kemungkinan. Pertama, niat mengerjakan sesuatu yang salah, kemudian
benar-benar dikerjakan. Kesalahan seperti ini dinamakan al-khith’u al-
tamm (betul-betul salah). Kedua, niat mengerjakan sesuatu yang boleh
dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya. Dengan kata
lain, benar niatnya, tetapi tindakannya salah. Ketiga, niat
mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi yang dilakukan
sebaliknya, yaitu mengerjakan perbuatan yang boleh dilakukan. Yang
disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Kata al-
khith’u dalam al-Qur’an, menurut perhitungan Muhammad Fu’ad Abd al-
Baqi, muncul sebanyak 22 kali. Diantara kata al-khith’u yang muncul
dalam al-Qur’an ialah dalam surat al-Isra’ ayat 31. Kata al-khith’u
dalam ayat ini dirangkai dengan kata kabiran (besar). Kata kabiran
adalah sifat dari kata al-khith’u, sehingga rangkaian dua kata yang
disebut terakhir ini berarti dosa besar. Dengan demikian, kata al-
khith’u dalam ayat ini dapat diterjemahkan sebagai dosa besar jika
dirangkai dengan kata kabiran.

Dari sekian banyak ayat al-Qur’an yang mengandung kata al-khith’u
dapat dipahami bahwa kata ini digunakan untuk menyebut dosa yang
cukup bervariasi, misalnya dosa terhadap Allah, dan dosa terhadap
sesama manusia. Juga dapat dipahami bahwa al-Qur’an, ketika
menggunakan kata al-khith’u atau al-khathiat, tidak menjelaskan
secara tersurat, apakah dosa yang ditunjukkannya dosa besar atau dosa
kecil. Untuk membedakan dosa yang ditunjukkannya, dibutuhkan petunjuk
lain, seperti adanya kata kabiran dalam ayat 31 surat al-isyra’ yang
dikutip di depan.

Seperti disebut di depan, kata al-sayyi’at juga termasuk kata yang
diterjemahkan dalam bahasa Indoenesia dengan arti dosa. Kata ini
dengan segenap kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fu’ad
‘Abd al-Baqi, muncul sebanyak 167 kali. Seorang pakar bahasa al-
Qur’an, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-sayyi’at atau al-
su’ dengan kullu ma yaghummu al-insan min al-umur al-dunyawiyyat wa
al-ukhrawiyyat wa min al-ahwal al-nafsiyyat wa al-badaniyyat wa al-
kharijat min fawat malin wa jahin wa faqd hamim (segala sesuatu yang
dapat menyusahkan manusia, baik masalah keduniaan maupun masalah
keakhiratan, atau baik masalah yang terkait dengan kejiwaan atau
jasmani, yang diakibatkan oleh hilangnya harta benda, kedudukan dan
meninggalnya orang-orang yang disayangi).

Ternyata kata al-sayyi’at yang muncul dalam al-Qur’an, semuanya
merujuk kepada arti yang disebutkan al-Asfahani tersebut. Dalam al-
Qur’an, surat Thaha ayat 22, dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan Nabi
Musa untuk memasukkan tangannya ke ketiaknya, niscaya tangan Nabi
Musa akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad. Hal itu sebagai
mu’jizat lain yang dimiliki Nabi Musa dari Tuhannya. Kata al-su’,
dalam ayat ini berarti penyakit, yaitu al-barash (belang), yang
banyak menimpa tangan, penyakit yang selalu menyusahkan orang yang
ditimpanya. Oleh karena itu, sangat tepat bila kata al-su’ diartikan
juga dengan al-huzn (susah). Sesuatu hal yang jelek juga dikatakan al-
su’, dan karena itu kata al-su’ dalam hal ini dilawankan dengan al-
husna (baik), dan al-sayyiat dilawankan dengan kata al-hasanat,
seperti terdapat dalam surat al-Nisa’ ayat 79.

Dalam al-Qur’an, perbuatan-perbuatan yang dikategorikan al-su antara
lain: perzinaan (Surat al-Nisa’ ayat 22), menjadikan syetan sebagai
teman (surat al-Nisa’ ayat 38), mengubur hidup-hidup anak perempuan
seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah (surat al-Nisa’ ayat 58-
59). Dari sekian banyak kata al-su’ atau al-sayyi’at yang muncul
dalam al-Qur’an, kelihatannya tidak selalu mengacu kepada arti dosa
besar (seperti yang disebutkan dalam Hadis Rasulullah) atau dosa
kecil. Terkadang kata al-su’ digunakan untuk menyebut dosa besar,
seperti zina (surat al-Isra’ ayat 32), membunuh anak perempuan hidup-
hidup (surat al-Nahl ayat 59), dan sebagainya. Terkadang juga kata al-
su’ ada yang mengacu kepada dosa kecil, seperti yang muncul dalam
surat al-Nisa’ ayat 31. Disamping itu, ada lagi kata al-su’ dalam al-
Qur’an yang tidak jelas mengacu kepada dosa besar atau dosa kecil,
seperti yang muncul dalam surat al-A’raf ayat 95, surat al-Ra’d ayat
6, surat Yunus ayat 28, surat al-Naml ayat 90, surat Ghafir ayat 40,
dan lain-lain.

Kata al-hub, yang diterjemahkan dengan arti dosa, muncul dalam al-
Qur’an sebanyak satu kali, yaitu dalam surat al-Nisa’ ayat 2. Menurut
al-Asfahani, kata al-hub sama dan sinonim dengan kata al-itsm. Oleh
karena kata al-hub ini muncul hanya satu kali dalam al-Qur’an, tidak
dapat diketahui berbagai makna yang timbul dari kata tersebut, apakah
ia mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil, atau dosa secara
umum. Khusus dalam surat al-Nisa’ ayat 2 di atas, karena kata al-hub
dirangkai dengan kata kabiran, maka rangkaian itu diterjemahkan
dengan dosa besar.

Kriteria Dosa Besar

Tidak mudah untuk menentukan kriteria dosa besar dalam al-Qur’an.
Kesulitan itu tetap terasa, walaupun istilah-istilah yang biasa
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan dosa telah dijelaskan
sebelum ini. Diantara lima istilah tersebut, tidak satu pun yang
secara eksplisit dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan
dosa besar. Bila al-Qur’an menyebut dosa besar, maka istilah-istilah
tersebut dirangkai dengan kata kabir atau adim (dua kata yang berarti
besar). Oleh karena itu, ditemukan rangkaian kata-kata: isman adiman,
isman kabiran, zanban adiman, khith’an kabiran, atau huban kabiran,
untuk merujuk dosa-dosa besar. Dengan demikian, jika ditemukan kata
ism, zanb, khith’ saja, maka tidak dihukumi sebagai dosa besar, tanpa
melihat indikator lain yang dapat mengantarkan kita memahaminya
sebagai dosa besar.

Sebagai dikatakan di atas, Hadis pun tidak banyak membantu kita
menjelaskan kekaburan itu. Yang disebut dalam Hadis hanyalah dosa-
dosa terbesar diantara dosa-dosa besar. Sedangkan dosa besar itu
sendiri masih kabur. Setelah tidak jelas macam-macam dosa besar,
menurut al-Qur’an dan Hadis, maka ijtihadlah yang harus difungsikan
untuk mengetahui macam-macam dosa besar. Oleh karena dasar untuk
mengetahui dosa besar itu ijtihad, maka hasilnya menjadi relatif.
Jika dampak negatif yang ditimbulkan suatu tindakan pelanggaran
dijadikan tolok ukur untuk mengetahui dosa besar, kesulitan yang
ditemui ialah bahwa dampak negatif itu sendiri relatif juga. Suatu
pelanggaran, yang dianggap oleh seseorang memiliki dampak yang
relatif cukup besar bagi dirinya, belum tentu dirasakan sebagai hal
yang sama oleh orang lain. Dalam menyelesaikan problem ini, akan
digunakan tolok ukur lain, yaitu istilah apa yang digunakan al-Qur’an
ketika mengancam pelanggar suatu aturan. Tentu yang dianalisa adalah
bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an atau Hadis tersebut.

Berdasarkan tolok ukur kebahasaan itu, dosa besar menurut al-Baruzi,
seperti dikutip al-Ghimari setidak-tidaknya ada lima belas kategori,
yaitu dosa besar yang diancam dengan hukuman had, dosa besar yang
ditandai dengan ungkapan “fahisyah”, dosa besar karena pelanggaran
yang dilakukan termasuk perbuatan syetan, dosa besar karena Allah
tidak menyenangi tindakan itu termasuk pelakunya, dosa besar karena
pelaku dosa diancam dengan laknat, dosa besar karena Allah marah
terhadap pelakunya, dosa besar ditandai dengan ungkapan “shalat yang
dikerjakan seseorang ditolak Allah”, dosa besar karena pelakunya
dikecam sebagai orang merugi, dosa besar ditandai dengan ungkapan
“bukan dari golongan kami”, dosa besar ditandai dengan ungkapan
“Allah menutup pintu taubat bagi pelaku dosa”, dosa besar ditandai
dengan ungkapan “kemaksiatan menghabiskan kebaikan”, dosa besar
ditandai dengan ancaman wayl, dosa besar karena tindakan itu
membatalkan amalan shaleh, dosa besar ditandai dengan ungkapan “Allah
tidak menyenangi pelaku dosa”, dan dosa besar ditandai dengan
ungkapan “tidak perlu ditanyakan resiko yang akan diterima pelaku
dosa”. Macam-macam dosa besar yang dikemukakan al-Baruzi tersebut,
tidak dijelaskan semua di sini, karena disamping tidak memungkinkan
dari segi tempat yang disediakan, juga karena sebagian besar dari
dosa-dosa tersebut, sudah disebutkan dalam Hadis Rasulullah, bahkan
ada yang termasuk dosa terbesar. Oleh karena itu hanya sebagian saja
yang akan diuraikan di sini.

1. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Hukuman Had.

Terdapat sejumlah ayat al-Qur’an yang mengancam sebuah pelanggaran
dengan hukuman had, misalnya surat al-Baqarah ayat 178. Ayat ini
membicarakan hukuman had bagi pembunuh, atau terkenal dengan qishash.
Secara eksplisit, memang sudah dikatakan dalam Hadis bahwa dosa
pembunuhan termasuk dosa besar. Namun, tidak semua pelanggaran yang
diancam dengan hukuman had disebut oleh Hadis Rasulullah. Dalam Hadis
disebutkan bahwa dosa besar karena diancam hukuman had hanyalah zina,
dan saksi palsu. Padahal dosa besar dengan tolok ukur ancaman had
bagi sebuah pelanggaran cukup banyak, misalnya: membunuh, zina, qazaf
(tuduhan palsu), mencuri, pengacau di jalan, liwath (homo seksual) .

Kata had berasal dari kata kerja hadda. Kalimat hadda Allah ‘anna al-
syarra, berarti kaffahu wa sharrafahu (menjauhkan atau memalingkan).
Tegasnya, Allah menjauhkan kita dari bahaya. Ungkapan hadda al-
muzniba berarti aqama ‘alyhi al-had bima yamna’u ghairahu wa
yamna’uhu min irtikab al-zanb (menerapkan hukuman had kepada
seseorang yang berbuat dosa, agar dia jera dan agar orang lain yang
mengetahui hukuman tersebut dapat juga jera). Kemudian muncullah
istilah had dan dalam bentuk jamaknya hudud, yang berarti hukuman
yang diterapkan di dunia bagi pelanggar hukum tertentu, seperti
pencurian dengan hukuman potongan tangan, zina dengan hukuman rajam,
pembunuhan dengan hukuman qishash, dan sebagainya.

Hukuman bagi pembunuhan, perzinaan, qazaf, mencuri, mengacau di
jalan, dan liwath (homoseksual) dikategorikan dosa besar, bukan saja
karena diancam dengan hukuman had, tetapi karena dampak negatif dari
tindakan- tindakan tersebut memang besar. Di sini, untuk menilai
tindakan-tindakan tersebut sebagai dosa besar, bukan saja acuan
kebahasaan tetapi juga acuan dampak negatif yang ditimbulkannya.
Pembunuhan, misalnya, memiliki dampak negatif yang cukup besar, sebab
pembunuhan tidak saja menghilangkan nyawa orang yang terbunuh. Lebih
dari itu, pembunuhan dapat menambah penderitaan keluarga yang
ditinggalkannya, terutama jika yang terbunuh itu orang yang menjadi
tulang punggung kehidupan keluarga.

Demikian juga perzinaan, dikategorikan dosa besar, karena disamping
diancam dengan hukuman had, juga karena dampak negatif yang
ditimbulkan zina cukup besar. Penyakit kelamin, anak lahir tanpa
orang tua sah dan hidup terlantar, cemoohan masyarakat dan masih
banyak lagi yang lainnya, adalah dampak-dampak yang ditimbulkan
perzinaan. Qazaf pun tidak kalah besar dampaknya bila dibandingkan
dengan pembunuhan dan perzinaan. Orang yang dituduh palsu, dalam hal
ini wanita baik-baik yang dituduh berzina, nama baiknya akan
tercemar, termasuk nama baik keluarganya. Wanita itu juga akan
dikucilkan dari masyarakat, dan akan mengalami penderitaan batin yang
cukup hebat. Tidak mudah untuk memulihkan nama baiknya, dan kalaupun
bisa, membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan mental yang
cukup prima. Wajar bila penuduh palsu diancam dengan hukuman berat,
yaitu dipukul delapan puluh kali (hukuman had), kesaksian mereka
ditolak selamanya, dan mereka dikategorikan orang fasik. Demikian
juga mencuri dan mengacau di jalan, termasuk yang diancam dengan
hukuman had oleh al-Qur’an. Hukuman-hukuman yang diancamkan kepada
pezina, pencuri, penuduh palsu, dan pengacau di jalan tersebut cukup
berat. Dengan melihat ancaman hukuman tersebut, tidak salah jika
pelanggaran-pelanggaran yang diancam dengan hukuman had dikategorikan
dosa besar.

2.Dosa Besar Ditandai Ungkapan “Fahisyat’.

Dosa besar dapat dikenal juga dengan adanya ungkapan fahisyat bagi
tindakan pelanggaran. Diantara ayat yang menggunakan kata fahisyat
untuk menunjuk suatu pelanggaran adalah ayat 15 surat al-Nisa’. Dalam
ayat ini, Allah menetapkan bahwa para isteri yang dituduh mengerjakan
perbuatan fahisyat, harus dibuktikan kebenarannya oleh empat orang
saksi. Kata fahisyat berarti qabihat dan syani’at (jelek dan keji).
Banyak mufassir menafsirkan kata fahisyat dalam ayat ini dengan arti
zina. Namun dalam beberapa ayat lain, kata fahisyat muncul dalam
makna yang sangat umum, misalnya dalam ayat 45 surat al-Ankabut.
Dalam ayat disebut terakhir, dikatakan bahwa shalat dapat mencegah
seseorang dari perbuatan fahsya’ (bentuk jamak dari fahisyat). Kata
fahisyat dalam ayat ini tidak dapat dipahami dengan makna zina,
karena tidak ada petunjuk yang mengantarkan kita untuk dapat
memahaminya dengan arti zina. Demikian pula kata fahsya’ dalam ayat
169 surat al-Baqarah, ayat 28 surat al-A’raf, ayat 24 surat Yusuf,
ayat 22 surat al-Nisa’ dan sebagainya, muncul dengan makna yang
sangat umum. Kata-kata fahsya’ atau fahisyat dalam konteks seperti
ini tidak dapat dipahami dengan mengacu kepada arti dosa besar atau
dosa kecil. Namun pada saat tertentu, misalnya ada petunjuk yang
tegas yang mengarah kepada arti dosa besar, kata fahisyat atau
fahsya’, dapat dijadikan dasar untuk menghukumi sebuah pelanggaran
sebagai dosa besar.

3. Dosa Besar Karena Pelakunya Diancam Dengan Laknat.

Dosa besar terkadang dapat diketahui dengan adanya ungkapan lain yang
digunakan al-Qur’an atau Hadis, selain yang dikemukakan di atas,
yaitu pelakunya diancam dengan laknat, misalnya dalam ayat 51-52
surat al-Nisa. Dalam ayat ini, Allah menyatakan melaknat orang-orang
musyrik dan orang-orang yang percaya kepada Thaghut dan orang-orang
yang mengakui bahwa orang kafir Makkah lebih benar jalannya dari
orang-orang beriman. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata “la’ana”
yang, dari segi bahasa, berarti akhaza wa sabba (menyiksa dan
mencaci) dan dapat juga berarti ab’adahu min al-khair (menjauhkan
dari kebaikan). Lebih jauh lagi, kata la’ana berarti ‘azzaba
(menyiksa). Al-Maraghi mengartikan kata la’ana dengan ab’adahu min al-
khayr. Dengan arti bahasa dan istilah dari kata la’ana seperti
dikutip di atas, dapat dipahami bahwa kata la’ana mengakibatkan
jauhnya seseorang dari kebaikan, atau tegasnya, jauhnya seseorang
dari rahmat Allah. Orang yang dijauhi memang ada kemungkinan karena
tidak disenangi, dan dampak dari tidak disenangi orang antara lain
tidak mendapatkan kebaikan orang lain. Orang tidak disenangi dalam
ayat di atas ialah orang musyrik, dan kemusyrikan termasuk dalam
akbar al-kabair (salah satu dosa terbesar diantara dosa-dosa besar).

Orang-orang yang tidak disenangi Allah, seperti tercantum dalam al-
Qur’an cukup bervariasi, misalnya orang-orang kafir (Qs. al-Ahzab
ayat 64). Bahkan golongan ini dinyatakan secara tegas akan dimasukkan
ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala di akhirat nanti. Golongan
yang tidak disenangi Allah, juga termasuk orang-orang Yahudi dan
Nasrani yang telah melanggar janji kepada Allah. Hati mereka pun
enggan dan kaku, serta keras bagaikan batu, sehingga tidak mau
menerima ayat-ayat Allah. Bahkan lebih jauh lagi, mereka berani
merubah ayat-ayat Allah (ayat al-Qur’an), seperti merubah arti dan
mengurangi atau menambah huruf dan kata-kata dalam ayat al-Qur’an
tersebut.

Dalam Hadis Rasulullah pun terdapat kata la’ana, yaitu sabda
Rasulullah: “la’ana Allah al-rasyi wa al-murtasyi” (Allah melaknat
orang yang menyuap dan yang disuap). Beberapa kata la’ana yang
muncul, baik dalam al-Qur’an maupun dalam Hadis memang mengacu kepada
arti dosa besar. Apalagi pelanggaran-pelanggaran yang diungkap dengan
kata la’ana, dampak negatifnya memang besar, sehingga tepat bila kata
la’ana digunakan sebagai dasar untuk menghukumi pelanggaran yang
ditunjuknya sebagai dosa besar.

4. Dosa Besar Yang Ditandai Ungkapan “Kemaksiatan Dapat Merusak
Kebaikan”.

Dosa besar dalam kategori ini tidak ditemukan dalam al-Qur’an, tetapi
ditemukan dalam Hadis Rasulullah. Hadis tersebut berbunyi: “Iyyakum
wa al-hasad fa inna al-hasad ya’kul al-hasanat kama ta’kul al-nar al-
hathab” (Jauhilah sifat hasad (dengki), sebab dengki itu dapat
memakan amalan baik, sebaimana halnya api membakar kayu). Dalam kamus
Arab, kata hasad digunakan, misalnya dalam ungkapan “hasada fulan
ni’matahu wa ‘ala ni’matihi” yang berarti “tamanna zawala ni’matih wa
tahawwulaha ilayhi” (Seseorang berharap hilangnya ni’mat yang didapat
orang lain, dan dapat berpindah ke tangan dia). Hasad, kalau begitu,
adalah sifat yang tidak terpuji. Kemudian, bagaimana sifat hasad
dapat memakan amal-amal baik, sehingga digambarkan sebagai api
membakar kayu? Tidak dijelaskan oleh Rasulullah. Dapat diduga bahwa
alasan hasad dapat memakan amal-amal baik, adalah karena orang kalau
sudah hasad, tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang diberikan
Allah. Bahkan, nikmat Allah yang ada di tangan orang lain diusahakan
pindah ke tangannya. Dalam pandangan orang hasad, kebaikan dan nikmat
yang ada di tangannya selalu dirasakan kurang. Bahkan, nikmat
tersebut tidak diakui eksistensinya. Jadi, sifat hasad sama dengan
api yang membakar kayu. Yang tersisa hanya arang dan debu. Lama
kelamaan, arang dan debu pun akan hilang tanpa bekas. Gambaran hasad
dapat menghilangkan kebaikan bersifat abstrak. Proses hilangnya
kebaikan oleh sifat hasad tidak dapat dilihat. Oleh karena itu,
dibutuhkan perumpamaan. Kemudian, Rasulullah mengambil perumpamaan:
Hasad menghilangkan kebaikan sama dengan api membakar kayu. Dengan
cara mempersamakan seperti ini, sesuatu yang awalnya bersifat abstrak
berubah menjadi kongkrit. Ia menjadi seakan-akan dapat diihat,
seperti halnya benda nyata. Seseorang yang telah hangus amal baiknya,
berarti ia tidak memiliki peluang untuk memperoleh balasan kebaikan
dari Allah. Sebaliknya, justeru balasan keburukan (neraka) yang akan
diperolehnya. Bila demikian, dapat dipahami kalau sifat hasad
dikategorikan sebagai dosa besar.

5. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Wayl (Celaka).

Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengandung kata wayl
(celaka), antara lain dalam surat al-Muthaffifin ayat 1-3. Kata wayl
menurut kamus bahasa Arab berarti al-halak (kehancuran). Kata wayl
dalam ayat 1 surat al-Muthaffifin tersebut, menurut al-Maraghi,
merujuk kepada arti kehancuran yang besar. Kehancuran besar
menggambarkan besarnya dampak yang ditimbulkan. Kehancuran besar
dalam ayat ini ialah menimbang dengan timbangan yang besar ketika
membeli dan menimbang dengan timbangan kecil ketika menjual. Tindakan
ini jelas mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam perdagangan,
tanpa memperhatikan kerugian dan penderitaan orang lain. Setidak-
tidaknya, ada dua keuntungan yang diraih oleh orang yang melakukan
penipuan seperti itu: Pertama, keuntungan dari selisih timbangan
barang yang dibeli; Kedua, keuntungan dari selisih harga jual barang.
Oleh karena itu, tindakan tersebut sangat menguntungkan diri sendiri
dan sangat merugikan orang lain. Dengan demikian, adalah tepat bila
al-Qur’an mengancam pelakunya dengan kata wayl, yang merujuk kepada
besarnya dosa bagi pelaku tindakan tersebut.

Al-Asfahani mengartikan kata wayl dengan al-qubh (jelek) atau al-
tahassur (penyesalan). Pengertian wayl seperti yang dikemukakan al-
Asfahani, secara etimologis, berbeda dengan pengertian yang diberikan
oleh Lewis Ma’luf. Namun pada hakekatnya, dua pengertian itu memiliki
makna yang sama, yaitu merujuk kepada arti kejelekan atau kejahatan
yang besar, dan dampaknya menimbulkan kehancuran yang besar pula.
Pendusta lagi banyak berbuat dosa, sebagai dikatakan dalam al-Qur’an
surat al-Hujurat ayat 7, tepat diancam dengan wayl. Kedustaan sudah
cukup membahayakan, apalagi ditambah dengan kesenangan melakukan dosa.

6. Dosa Besar Ditandai Ungkapan”Allah Tidak Suka Melihat Pelaku Dosa”.

Dosa besar dalam kategori ini ditandai ungkapan “la yandhuru” (tidak
melihat). Kata nadhara, bentuk kata kerja lampau dari kata kerja
yandhuru, dalam al-Qur’an ditemukan lebih seratus kali dengan
berbagai bentuk kata jadiannya. Seperti dikatakan di atas, kata la
yandhuru, yang berarti tidak melihat, bukan saja berarti tidak
melihat karena tidak bertemu atau tidak menemukan, akan tetapi
ungkapan itu memiliki arti tertentu, yaitu tidak ingin melihat karena
merasa tidak senang dengan sesuatu. Dalam al-Qur’an, tidak ditemukan
ungkapan la yandhuru, dalam arti seperti disebut terakhir. Ungkapan
la yandhuru dalam arti tersebut terakhir hanya ditemukan dalam Hadis,
misalnya “la yandhuru Allah ‘azza wa jalla ila al-rajuli ata rajulan
aw imrataan fi duburiha” (Allah tidak senang melihat seseorang yang
menyetubuhi sesama lelaki (homoseksual) dan bersetubuh dengan
perempuan melalui duburnya (sodomi).

Ungkapan la yandhuru (tidak mau melihat) seperti dalam Hadis di atas,
disebabkan ketidaksenangan kepada sesuatu. Ketidaksenangan boleh jadi
menjurus kepada tidak mau melihat yang tidak disenangi itu, sebab
pada umumnya orang yang tidak senang kepada sesuatu atau kepada
seseorang, boleh jadi ia tidak mau melihat sesuatu atau seseorang
yang dibencinya. Dalam Hadis lain dikatakan: Salasatun la
yukallimuhum Allah yawm al-qiyamat wa la yuzakkihim wa la yandhuru
ilayhim wa lahum ‘azabun alim: syaikhun zanin, wa malikun kazzab, wa
‘ailun mustakbirun (ada tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh
Allah di hari qiyamat, tidak dibersihkan hatinya, dan akan disiksa
dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja
pendusta, dan orang miskin yang sombong).

Kata la yukallimuhum Allah (mereka tidak diajak bicara oleh Allah),
bukan karena Allah tidak bertemu dengan orang itu, akan tetapi
ungkapan itu memiliki makna kiasan, yaitu kiasan bahwa Allah tidak
senang kepada mereka. Bahkan, ketidaksenangan Allah itu ditegaskan
lagi dengan kata berikutnya wa la yandhuru ilayhim (Allah tidak mau
melihat mereka). Mengapa Allah tidak senang kepada mereka ? Tentu
saja karena perilaku mereka sudah melampaui batas. Orang tua yang
berzina, dianggap melampaui batas, sebab orang tua seharusnya memberi
contoh yang baik kepada anak cucu. Raja yang berdusta juga sangat
dibenci Allah, sebab raja seharusnya jujur dalam menjalankan
pemerintahan, bukan malah mengelabui rakyatnya.

Kesimpulan

Dari uraian yang telah dipaparkan sebelum ini, dapat dipahami bahwa
al-Qur’an tidak menyebut secara tegas macam-macam dosa besar. Dalam
al-Qur’an hanya terdapat ungkapan-ungkapan yang dapat mengantarkan
kita untuk dapat menghukumi sebuah pelanggaran itu sebagai sebuah
dosa besar. Dengan meresapi sejumlah istilah atau ungkapan yang
menjadi tanda untuk memahami dosa besar, sebagaimana yang dikemukakan
al-Baruzi, maka akan muncul puluhan macam dosa besar. Dosa-dosa yang
pernah diucapkan oleh Rasulullah hanyalah sebagian dari dosa-dosa
besar yang terdapat dalam ajaran Islam. Untuk mengetahui secara rinci
macam-macam dosa besar, kita hanya merujuk saja kepada ungkapan-
ungkapan tersebut, baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun Hadis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: