Mu’tazilah

oleh alifbraja

Definisi
Dalam buku Al Milal wa Al Nihal Mutazilah disebut kelompok ahl al adl wa at tauhid, dan Juga disebut Qaddaryyah atau Adliyyah. Qaddaryyah memiliki dua arti: pertama dipergunakan untuk menamakan orang yang mengakui qadar, Adliyyah dipergunakan untuk kebaikan dan keburukan pada hakikatnya dari Allah. Namun sebenarnya pendapat ini hanya lahir dari orang yang buta hatinya, karena

Nabi SAW bersabda:

” Al Qaddariyyah adalah majusinya umat (islam) ini.”

Dalam Sabda Nabi yang lain menyebutkan :

“Qadddriyyah adalah musuh-musuh Allah tentang takdir Allah.”

Yang dimaksud dengan musuh Allah disini adalah musuh mengenai takdir Allah, karena takdir Allah terdiri dari kebaikan dan kejahatan demikian juga perbuatan manusia terdiri dari dua macam ialah baik dan buruk. Yang demikian itu tidaklah* tergambar bagi orang yang bertawakal dan menyerahkan segala urusannya kepada Allah, yang rela menerima ketentuan yang sudah ditetapkan Allah, karena orang Mutazllah tidak menerima yang seperti ini, karena semua macam perbuatan yang terjadi adalah dari manusia. (Asy-Syahrastani, alih bahasa: Prof. Asywadte Syukur Lcy4/ Milal wa Al N ikal: Aliran*Al iron Teologi dalam Sejarah Umat Manusia (Buku I), PT Bina Ilmu, Surabaya, hal: 37-38.)

Sumber lain menyebutkan alasan kelompok ini disebut Mu’tazilah karena nama itu merupakan pecahan dari kata yang menggambarkan munculnya paham ini, menurut ulama yang mengatakan bahwa munculnya ketika washil ibn *Atha’ mengasingkan diri (i’tazala) dari forum Hasan al Bashri.

Sebagian orientalis berpendapat bahwa mereka dinamai Mutazllah karena mereka terdiri dari orang-orang yang menjaga harga diri, sulit ekonominya dan menolak hidup bersenang-senang. Kata Mutazllah menunjukkan bahwa orang yang menyandang predikat itu adalah mereka yang hidup zuhud terhadap dunia.

Almarhum Dr. Ahmad-Amin dalam bukunya Fajr Al-Islam berkata: “Menurut kami ada kemungkinan lain dalam menamai mereka dengan Mutazllah yang kami temukan dari catatan-catatan al-Maqrizi, bahwa diantara sekte Yahudi yang berkembang waktu itu dan sebelumnya, ada satu sekte bernama Forsyem, yang artinya Mu’tazilah (mengasingkan diri). Diantara mereka ada yang mengatakan bahwa sekte itu membicarakan masalah al-Qadr dan berpendapat bahwa tidak semua perbuatan manusia diciptakan mnusia sendiri. Jadi, bisa saja Mutazllah dipakaikan kepada sekelompok orang yang memeluk Islam karena melihat adanya persamaan diantara keduanya.”

Diantara Mutazllah Yahudi dan Mutazllah Islam terdapat persamaan yang besar, yaitu pertama menafsirkan Taurat sesuai dengan logika filsafat, sedangkan yang kedua mena’wilkan semua sifat-sifat (Tuhan) yang disebutkan dalam Al Qur’an sesuai dengan filsafat logika juga. Tentang Forsyem yang mereka namai dengan Mu’tazilah, al-Arqizi berkata “Mereka memahami apa yang terdapat dalam Taurat sesuai dengan penafsiran para filosof pendahulu mereka. (Zahrah, imam Muhammad Abu, Prof. Dr. Aliran Politik dan Aqidah dalam lslam, Logos, Jakarta: 1996, hal: 150)

Kelahiran dan Perkembangannya

Mu’tazilah merupakan salah satu aliran teologi Islam yang dikenal bersifat rasional dan liberal. Ciri utama yang membedakan aliran ini dengan aliran teologi lainnya adalah pandangan-pandangan teologisnya lebih banyak ditunjang oleh dalil-dalil ‘aqliyah (akal) dan lebih bersifat filosofis, sehingga sering disebut aliran rasionalis Islam. (Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve (Jilid:), Jakarta: 1994, hal: 290.)

Ada beberapa pendapat tentang awal mula munculnya aliran Mu’tazilah. Ada yang berpendapat aliran Ini muncul dari kalangan pengikut Ali. Mereka mengasingkan diri dari masalah-masalah politik dan beralih ke masalahaqidah ketika Hasan turun dari jabatan khalifah untuk digantikan oleh Mu’awiyah ibn Abi Sufyan. (Zahrah, Imam Muhammad Abu, Prof. Dr., Aliran Politik dan Aqidah dalam Islam, Logos, Jakarta: 1996, hal: 149)

Aliran ini muncul sebagai reaksi atas pertentangan antara aliran Khawarij dan aliran Murjiah mengenal orang mukmin yang melakukan dosa besar. Menurut kaum Khawarij, orang mukmin yang berdosa besar tidak dapat dikatakan sebagai mukmin lagi, melainkan sudah menjadi kafir. Sementara itu kaum Murjiah tetap menganggap orang mukmin yang berdosa besar itu tetap sebagai mukmin, bukan kafir. (Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve (Jilid:), Jakarta: 1994, hal: 290.)

Tetapi sebagian besar beranggapan tokoh utama Mutazilah adalah Washil ibn ‘Atha’. Yang merupakan salah satu murid Hasan al Bashri seorang ulam terkenal di Basra. Sikap Washil dan Hasan berbeda dalam menanggapi permasalahan tersebut. Menurut Washil pelaku dosa besar bukan mukmin dan bukan kafir, tapi diantara keduanya.

Golongan ini muncul pada pemerintahan Bani Umayyah, tetapi semakin menghebohkan pemikiran keislaman pada pemerintahan Bani ‘Abbas dalam masa yang cukup panjang. Pada awal perkembangannya kelompok Mutazllah tidak mendapat simpati umat Islam, khususnya di kalangan masyarakat awam karena mereka sulit memahami ajaran-ajaran Mutazllah yang bersifat rasionalis dan filosofis itu. Kelompok ini baru memperoleh dukungan yang luas, terutama dari kalangan intelektual, pada masa pemerintahan Khalifah al-Ma’mun penguasa Abbasiyah (198-218 H/ 813-833 M). Kedudukan Mutazllah menjadi kokoh yaitu setelah al-Ma’mun menyatakannya sebagai mahzab resmi negara. Hal ini disebabkan karena al-Ma’mun sejak kecil dididik dalam tradisi Yunani yang gemar akan ilmu pengetahuan dan filsafat.

Mereka memaksakan ajarannya kepada kelompok lain yang dalam sejarahnya dikenal sebagai peristiwa Mihrah (pengujian terhadap aparat pemerintah) tentang keyakinan mereka pada paham ini. Sejarah mencatat banyak tokoh dan pejabat pemerintah yang disiksa, diantaranya Imam Hanbali. Bahkan ada ulama yang dibunuh karena tidak sepaham dengan aliran Mutazllah,’ seperti al-Khuzzai dan al-Buwaiti. Peristiwa ini sangat menggoneang umat Islam lalu diteruskan oleh pemerintahan al-Wasiq (228-232 H/842-847 M) karena al-Ma’mun berwasiat untuk meneruskannya dan baru berakhir setelah pemerintahan al-Mutawakkil (232-247 H/847-861 M). Di masa al-Mutawakkil, domonasi Mutazllah semakin menurun dan semakin tidak simpatik dikalangan masyarakat. Keadaan ini semakin buruk setelah al-Mutawakkil membatalkan pemakaian mahzab Mutazllah sebagai mahzab resmi negara dan menggantinya dengan aliran Asy’ariyah.

5 Prinsip dalam ajaran Mu’tazilah)

Abu Hasan al-Khayyat dalam bukunya al Inthisar mengatakan: ‘Tidak seorang pun berhak mengaku sebagai penganut Mutazilah sebelum ia mengakui al-Ushul al-Khamsah (lima dasar), yaitu at-tauhid, al-adl, ah wa’d wa al-wa’id, al-manzilah bain al-manzilatain dan al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy’an al-munkar. Semua orang hanya mengakui sebagian dari paham itu dan tidak mengikuti metode berpikirnya, tidaklah termasuk kelompok mereka dan tidak pula memikul dosanya, serta tidak terkena akibat-akibat negatif dari paham itu.

a. At Tauhid (Ketuhanan)
At Tauhid ( Peng Esaan Tuhan) merupakan inti paham Mutazllah. Ajaran pertama Mutazllah ini meyakini sepenuhnya bahwa Allah SWT yang Maha Esa. Dia merupakan Zat yang unik, tidak ada yang serupa dengan-Nya. Golongan Mutazilah menganggap konsep Tauhid mereka paling mumi, sehingga mereka senang disebut sebagai ahl at-tauhid (pembela tauhid). Dalam mempertahankan faham keesaan Allah SWT, golongan Mutazilah menafikkan segala sifat, sehingga mereka sering juga disebut sebagal golongan Nafy as Sifat. Yang dimaksud dengan peniadaan sifat-sifat Allah adalah bahwa Allah tidak mempunyai sifat yang berdiri diluar Zat-Nya, karena itu dapat membawa pada adanya yang qadim selain Allah. Semua yang dimaksudkan oleh golongan Mu’tazilah sebagai sifat-sifat yang melekat pada Zat Allah, bagi golongan Mutazilah disebut bukan sifat Allah. Tegasnya, kaum Mutazilah enggan mengakui adanya sifat Allah dalam pengertian sesuatu yang melekat pada Zat Allah. Kalau Allah dikatakan mempunyai sifat Maha Mengetahui, bagi mereka yang Maha Mengetahui itu bukan sifat-Nya melainkan Zat-Nya.

b. Al Adl(Keadilan)
Paham keadilan ini menyatakan paham keadilan Allah dalam ajaran mereka bahwa Allah wajib berlaku adil dan mustahil Dia berbuat Zalim kepada hamba-Nya. Dari sini timbul ajaran as-salah wa ah aslah. Maksudnya, Allah wajib berbuat baik, bahkan yang terbaik bagi manusia, diantaranya Allah tidak boleh memberi beban yang terlalu berat kepada manusia. Allah wajib mengirimkan rasul dan nabi-nabi untuk menuntun kehidupan manusia di muka bumi, dan Allah wajib memberikan daya pada manusia agar ia dapat mewujudkan perbuatan-perbuatannya.

c. Al Wa’d wa Al Walid ( Janji dan Ancaman)
Menurut Mutazilah, Allah wajib menepati janji-Nya memasukkan orang mukmin ke dalam surga dan menepati ancaman-Nya mencampakkan orang kafir dan orang berdosa besar ke dalam neraka. Meskipun Allah sanggup untuk memasukkan orang-orang berdosa besar ke dalam surga dan menjerumuskan orang mukmin ke dalam neraka, namun Allah mustahil melakukan hal itu karena bertentangan dengan keadilan-Nya. Paham ini erat kaitannya dengan pandangan mereka bahwa manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya melalui daya yang diciptakan Allah dalam dirinya. Oleh karena itu, manusia bertanggung jawab penuh atas segala tindakannya. Jika manusia memilih untuk beriman dan berbuat baik maka kepadanya dijanjikan pahala masuk surga, sedangkan kalau mereka ingkar dan berbuat dosa, Allah mengancam dengan neraka.

d. Al Manzilah baln Al-Manzilatain (Posisi Diantara Dua Posisi)
Paham iini merupakan ajaran dasar pertama yang lahir dikalangan Mutazilah. Paham ini timbul terjadi setelah peristiwa antara Washil ibn ‘Atha’ dan Hasan al Bashri di Basra. Bagi Mutazilah, orang yang berdosa bersar bukan termasuk kafir juga bukan mukmin, melainkan diantara keduanya, yang disebut Fasik. Orang berdosa besar tidak dapat dikatakan mukmin lagi karena telah menyimpang dari ajaran Islam, sementara itu pula belum dapat dikatakan kafir karena masih mempercayai Allah SWT dan rasul-Nya. Jika orang-orang yang mendapat predikat fasik meninggal tanpa sempat bertaubat, maka mereka akan dicampakkan ke dalam neraka dan kekal di dalamnya, hanya saja siksaan yang mereka peroleh lebih ringan dibandingkan siksaan orang kafir.

e. Al Amr bi Al Ma’ruf wa Al Nahyi’an Al Munkar ( Menyuruh Berbuat Baik dan Melarang Kemungkaran)
Dalam prinsip Mutazllah, setiap muslim wajib menegakkan perbuatan yang makruf serta menjauhi perbuatan yang munkar. Berpegang pada ajaran ini kaum Mu’tazilah dalam sejarah pernah melakukan pemaksaan ajaran agama kepada golongan lain yang dikenal dengan peristiwa Mihnah, dan memaksakan pendapatnya bahwa Al Qur’an tidak Qadim. Mereka yang menentang pendapat ini wajib dihukum. Karena menurut Mutazllah itulah salah satucara menegakkan amar ma’ruf wa an-nahyi an al munkar.

Sekte-sekte dalam aliran Mu’tazilah

1. Al-Washiliyyah Aliran yang memilih pemikiran-pemikiran Washil ibn Atha, Al Gazzal al-Altsag (80 H/ 699 M – 131 H/748 M) seorang tokoh Mutazilah yang paling menonjol. Washil belajar ilmu fisika dan hadits kepada hasan al Bashri. Dia hidup pada masa pemerintahan khalifah Abd al Malik ibn Marwan, Hisyam ibn Abd al-Malik, ajaran Washil diantaranya:

  • Pertama, menolak adanya sifat-sifat Allah seperti Ilmu, Qudrat, Iradat dan Hayat. Menurutnya mustahil ada dua Tuhan yang Qadim dan Azali.
  • Kedua, tentang takdir, mereka sepakat.dengan Ma’bad al Jauhari (80 H) dan Ghillan al-Damisqi. Tapi pendapat Washil dalam hal ini melebihi pendapatnya tentang sifat, katanya: “Allah adalah hakim yang adil, karenanya tidak mungkin disandarkan kepada-Nya keburukan dan kedzhaliman, tidak mungkin Allah menghendaki dari manusia sesuatu yang bertentangan dengan apa yang diperintahKan-Nya.”
  • Ketiga, tentang orang yang terlibat dalam perang Jamal dan Shiffin, menurutnya salah satu kelompok memang tersalah, demikian juga dengan orang yang membunuh dan menghina Utsman ibn Affan. Katanya:”Salah satu kelompok jelas ada yang berbuat fasik demikian juga pada berlaku pada orang-orang yang saling mengutuk (li’an), namun tidak diketahui persis kelompok mana. Karena itu minimal hukum yang dikenakan pada dua kelompok tersebut, bahwa persaksiannya tidak diterima seperti tidak diterimanya persaksian Ali ibn Abi Thallib, Jubair, Talhah dan mungkin juga yang tersalah abalah Utsman ibn Affan.

2. Al-Huzailiyyah: Murid-murid Abu al-Hudzail al-xAllaf, seorang tokoh Mu’tazilah abad kedua (135-226 H) yang merupakan salah seorang tokoh dan pengonsep Mutazilah. Ia belajar dengan seorang bernama Utsman ibn Khalid ibn Thawil sedang Utsman ibn Khalid pernah belajar dengan Whasil ibn ‘Atha’ yang menerima ajaran itu dari Abu Hasyim Abdullah ibn Muhammad ibn Hanafiah.

  • Pendapat Abu Huzail diantaranya: Menurutnya Iradah Allah tidak ada tempatnya, Allah hanya menghendakinya. Huzail lah yang pertama mengemukakan masalah ini dan kemudian dikembangkan lalu diikuti oleh orang lain, selain itu ia juga berpendapat ada sebagian Kalam Allah yang tidak mempunyai tempat seperti “kun” dan ada sebagian Kalam Allah yang mempunyai tempat seperti amar, nahi, berita dan sebagainya. Menurutnya amar (perintah) seharusnya menciptakan bukan amar Taklif(perintah pembebanan).

3. An-Nazhzhamiyyah: Pengikut pendapat Ibrahim ibn Yasar al-Nazham (185-231 H), seorang murid Abu al-Hudzail. Dia banyak mempelajari buku-buku filsafat sehingga pendapatnya tidak jauh berbeda dengan Mu’tazilah tetapi ada sedikit perbedaan yaitu ia berpendapat bahwa Allah tidak berkuasa untuk menciptakan keburukan dan maksiat karena hal itu tidak termasuk dalam kehendak (qudrah) Allah.

4. Al-Khatabiyyah dan al-Hadidiyyah: Pendirinya terdiri dari dua orang yaitu Ahmad ibn Khabith (232 H) dan Al-Fadhal al-Haditsi (257 H). Dua tokoh ini termasuk murid An-Nazhzham sehingga pendapatnya hampir serupa hanya ada sedikit perbedaan yaitu keduanya mengakui bahwa Isa al Masih memang Tuhan sebagaimana dianggap oleh orang Nasrani, yang menurutnya pada hari kiamat nanti dia menghitung segala amal perbuatan manusia. Keyakinan ini diperkuat dengan beberapa ayat Al Qur’an diantaranya:
dan datanglah Tuhan mu,  sedang malaikat berbaris-baris” (Q.sAI Fajr: 22)

5. Al-Bisyariyyah: Pengikut Bisyar ibn al-Mu’tamar (226 H). Ia berpendapat bahwa warna, rasa, bau, dan apa saja yang dapat dicapai melalui panca indera termasuk penglihatan dan pendengaran, dan apa saja yang terjadi pada manusia dari akibat gerak tak langsung, disandarkan pada manusia karena terjadinya dari perbuatan manusia.

6. Al Mu’ammariyah: Pengikut Mu’amar ibn Ubbad al-Salma (220 H), yamg tergolong tokoh penting yang menentang adanya sifat bagi Allah. Pendapatnya yang penting adalah tentang kepercayaannya pada hukum alam. Ia mengatakan bahwa Allah menciptakan benda-benda materi, adapun al-Arad atau accidents (sesuatu yang datang dari benda-benda) itu adalah hasil hukum alam. Misalnya: jika sebuah batu dilempar ke dalam air, maka gelombang yang dihasilkan oleh lemparan batu itu adalah hasil atau kreasi dari batu itu, bukan hasil ciptaan Allah.

7. Al-Mardariyyah: Pendiri ajaran ini adalah ‘Isa ibn Shabih (226 H) yang dijuluki Abu Musa atau Mardar, ia berpendapat manusia mampu saja membuat kalimat yang sefasih Al Qur’an, pendapatnya sangat berlebihan yaitu Al Qur’an adalah ciptaan Allah dan mengkafirkan orang yang berpendapat bahwa Al Qur’an itu Qadim (kekal), Ia juga menolak bahwa Allah SWT dapat dilihat dengan mata kepala di akhirat.

8. Al-Tsumamah: Pendirinya adalah ats-Sumamah ibn Asyras namir (213 H). Ia berpendapat orang kafir, musyrik, penganut majusi, nasrani, yahudi zindiq, dan atheis pada hari kiamat nanti akan menjadi tanah seperti juga binatang dan anak orang yang tidak beriman. Selain itu ia juga berpendapat bahwa manusia sendirilah yang mewujudkan perbuatan-perbuatannya karena dalam dirinya telah tersedia daya untuk berbuat. Tentang daya akal ia berkesimpulan bahwa akal manusia sebelum turunnya wahyu dapat mengetahui perbuatan baik serta perbuatan buruk, Jadi wahyu turun hanya untuk memberikan konfirmasi.

9. Al-Hisyamiyyah: Pendirinya adalah Hisyam ibn Amr al-Fuwathi (226 H). Ia menolak penyandaran suatu perbuatan kepada Allah, sekalipun hal itu dengan jelas ditegaskan dalam Al Qur’an, Menurut pendapatnya Allah tidak mempersatukan kaum Muslimin, namun kaum muslimin sendiri yang mempersatukan hati mereka. Padahal dalam Al Qur’an ditegaskan:
niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka….” (Q.s Al Anfaal: 63)
Penduduk Madinah terdiri dari suku Aus dan Khazraj selalu bermusuhan sebelum nabi Muhammad SAW hujrah ke Madinah; di kemudian hari mereka masuk Islam, dan permusuhan itupun hilang.
Ia juga berpendapat apa yang dinamakan surga dan neraka hanyalah ilusi, belum ada wujudnya sekarang, alasan yang dikemukakan adalah tidak ada gunanya menciptakan surga dan neraka sekarang karena belum waktunya orang memasuki surga dan neraka.

10. Al-Jahizhiyyah: Pendirinya adalah Amr ibn Bahr Abi Utsman al-Jahiz. Ia termasuk tokoh Mutazilah dan pengarangbuku-buku Mahzab Mu’tazilah, ia hidup pada pemerintahan Khalifah Al Muthasim dan Al Mutawakkil. Menurutnya penghuni neraka tidak akan kekaldisiksa dalam neraka karena penghuni neraka akan berubah menjadi bagian dari neraka itu. Ia juga menyatakan dalam tulisannya Al Jahiz Abu Usman ibn Bahr dijumpai paham naturalisme atau kepercayaan akan hukum alam yang oleh kaum Mutazilah disebut sunnah Allah

11. Al-Khayatiyyah dan Al-Ka’biyyah:Pendirinya adalah Abu Husain ibn Abi Amr al-Khayyath (300 H). Ia berpendapat bahawa jika Allah dikatakan berkehendak maka kehendak Allah itu bukanlah sifat yang melekat pada Zat Allah dan bukan pula diwujudkan melalui Zat-Nya. ft Al-Juba’iyyah dan Al Bahsyaniyyah; Pendirinya Bahsyaniyyah adalah Abu Ali Muhammad ibn Abd al-Wahab al-Jubal (295 H) dan Abu Hasyim Abd as-Salam (321 H). Keduanya berpendapat manusia tidak melihat Zat Allah di akhirat dan semua perbuatan yang lahir dari manusia dan maksiat semuanya mengetahui yang baik dan yang burukserta mengetahui kewajiban berbuat yang baik dan meninggalkan yang buruk. Pendapat ini menjadi ajaran Mutazilah yang penting.

Posisi Mu’tazilah dalam Penilaian zamannya

Alasan dibalik penentangan para Fuqaha dan Muhadittsin terhadap Mutazllah disebabkan beberapa hal sebagal berikut:
1. Dalam memahami aqidah menyimpang dari metode yang diterapkan oleh ulama salaf yang memahami bahwa Al Qur’an adalah sumber utama dan semua yang hendak memahami bahwa Al Qur’an adalah sumber utama dan semua yamg hendak memahami sifat-sifat Allah harus merujuk pada Al Qur’an dan sunnah nabi dan wajib diimani, jika ada ayat Al Qur’an yang tidak dimengerti mereka mencari pemecahannya melalui uslub (gaya bahasa) jika masih sulit memahami maknanya mereka tawaqquf (menghentikan usaha memahaminya) dan menyerahkannya pada Allah agar tidak menimbulkan fitnah. Menurut Mutazilah hal itu tidak dapat diterima bagi mereka, akal lah yang menjadi tolok ukur segalanya dan landasan pembahasan mereka.
2. Dalam menemukan pemikiran Aqidahnya Mutazilah menggunakan metode logika murni dengan tetap berusaha agar tidak menyimpang dari nash-nash Al Qur’an, jika ada pertentangan antara paham mereka dengan nash Al Qur’an mereka menta’wilkan nya sehingga tidak bertentangan dengan paham mereka dan dengan makna Al Qur’an
3. Kelompok Mutazilah menyatakan bahwa Al Qur’an adalah mahluk (diciptakan), dan menafikkan sifat Al Qalam dari Allah karena menurut mereka sifat itu termasuk sifat yang baru, huruf yang dibaca dan makna yang difahami adalah diciptakan oleh Allah. Jika al Qur’an itu dikatakan Qadim, maka akan timbul kesimpulan bahwa ada yang qadim selain Allah, sedang para Fuqaha dan Muhadittsin sepakat bahwa Al Qur’an adalah kalamuliah, huruf dan maknanya merupakan manifestasi dari kata-kata Allah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: