RAHASIA al-Qur’an 6

oleh alifbraja

ALLAH MEMASUKKAN RASA CINTA KE DALAM HATI MANUSIA

 

 

Dalam beberapa ayat, Allah menyatakan bahwa Dialah Yang memasukkan perasaan cinta dan kasih sayang ke dalam hati manusia. Misalnya, Allah telah menyatakan dalam ayat di bawah ini bahwa Dialah Yang mengum­pul­kan orang-orang beriman dan menyatukan hati mereka sebagai saudara:

 

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepa­da tali Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepa­da­mu ketika kamu dahulu bermusuhan, maka Allah menjinakkan antara hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demiki­an­lah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.s. Ali Imran: 103).

 

Dalam ayat lainnya, Allah memberi tahu kita bahwa Dialah Yang memberikan kepada orang-orang beriman perasaan belas kasihan.

 

“Dan Kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak, dan rasa belas kasihan yang mendalam dari sisi Kami dan kesucian. Dan ia adalah seorang yang bertak­wa.” (Q.s. Maryam: 12-3).

 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Q.s. Maryam: 96).

 

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cen­derung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demi­kian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir. (Q.s. ar-Rum: 21).

 

Allah juga menyatakan bahwa Dia akan memasukkan perasaan kasih sayang di antara orang-orang yang beriman dan orang-orang yang memusuhi mereka. Telah jelas bahwa Allahlah yang mengendalikan semua hati – baik orang-orang yang beriman maupun yang tidak beriman.

 

“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Mahakuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. al-Mumtahanah: 7).

 


KEMATIAN ORANG-ORANG YANG BERIMAN DAN KAFIR TIDAK AKAN SAMA

 

 

Dalam al-Qur’an, Allah mengungkapkan suatu rahasia tentang kematian, yang tidak diketahui oleh banyak orang — bahwa saat kematian yang dialami oleh seseorang sesung­guhnya tidaklah sebagaimana yang dilihat orang lain. Allah menceritakan kepada kita dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

 

“Maka mengapa ketika nyawa sampai di kerongkongan, padahal kamu ketika itu melihat, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.” (Q.s. al-Waqi‘ah: 83-5).

 

Rahasia lain yang diungkapkan Allah ten­tang kematian adalah bahwa saat kematian itu bagi orang-orang kafir merupakan penga­laman yang mengerikan dan menyeng­sara­kan. Tetapi orang-orang di sekitarnya tidak dapat menyaksikan kengerian itu. Allah me­nya­takan kenyataan ini dalam ayat-Nya sebagai berikut:

 

“Dan siapakah yang lebih zalim dari­pada orang yang membuat kedustaan terha­dap Allah atau yang berkata, ‘Telah diwahyu­kan kepada saya,’ padahal tidak ada diwah­yu­kan sesuatu pun kepadanya, dan orang yang berkata, ‘Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah.’ Alangkah dah­syat­nya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam te­kan­an-tekanan sakaratul-maut, sedang para malai­kat memukul dengan tangannya, sambil ber­kata, ‘Keluarkanlah nyawamu.’ Di hari ini kamu dibalas dengan siksaan yang sangat meng­hinakan, karena kamu selalu menga­takan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyom­bongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya. (Q.s. al-An‘am: 93).

 

“Dan janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki akan mengazab mereka di dunia dengan harta dan anak-anak itu dan agar melayang nyawa mereka, dalam keada­an kafir.” (Q.s. at-Taubah: 9).

 

Berdasarkan rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an, seorang kafir tampaknya saja mati dalam keadaan tenang di tempat tidurnya. Kelihatannya bagi orang-orang yang ada di sekitarnya ia sama sekali tidak mengalami kesakitan atau penderitaan pada saat kematiannya, kecuali matanya hanya ter­tutup. Namun, Allah memberi tahu kita bahwa seorang kafir merasakan penderitaan yang dahsyat yang tidak dapat kita saksikan. Bagaimana para malaikat mencabut nyawa orang-orang kafir dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

 

“Bagaimanakah apabila malaikat menca­but nyawa mereka seraya memukul muka mereka dan punggung mereka? Yang demi­kian itu adalah karena sesungguhnya mereka mengikuti apa yang menimbulkan kemur­kaan Allah dan (karena) mereka membenci apa yang diridhai-Nya; sebab itu Allah meng­hapus amal-amal mereka.” (Q.s. Muham­mad: 27-8).

“Kalau kamu melihat ketika para mala­ikat mencabut jiwa orang-orang yang kafir seraya memukul muka mereka dan belakang mereka, ‘Rasakanlah olehmu siksa neraka yang membakar. Demikian itu disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri. Sesung­guhnya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-Nya’.” (Q.s. al-Anfal: 50-1).

 

Sebagai kebalikan dari kematian yang menyengsarakan yang dialami orang-orang kafir, orang-orang beriman mengalami kema­tian dengan sangat mudah. Misalnya, seorang beriman yang berperang di medan peperangan di dekat nabi, kemudian ditikam dengan pedang, ia terbebas dari semua rasa takut, ia meng­alami saat kematian yang damai. Seba­gaimana diberitakan oleh Allah dalam ayat tersebut, nyawa orang-orang yang ber­iman akan dicabut dalam keadaan suci dan mereka akan disambut oleh malaikat dengan salam dan berita gembira. Allah menjelaskan kema­tian orang-orang beriman sebagai berikut:

 

“Orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan, ‘Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan’.” (Q.s. an-Nahl: 32).

 


SHALAT MENJAUHKAN MANUSIA DARI

PERBUATAN JAHAT

 

 

Shalat diperintahkan kepada orang-orang beriman pada saat-saat yang telah ditetapkan setiap hari, sebagaimana telah dijelaskan dalam al-Qur’an. Allah menjanjikan pahala bagi orang-orang yang benar-benar menjaga shalatnya dan yang istiqamah dalam menger­jakannya. Pahala lain yang akan diberikan kepada orang-orang yang mengerjakan shalat dijelaskan dalam al-Qur’an, sebagai berikut:

 

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu al-Kitab (al-Qur’an ) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar. Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. al-‘Ankabut: 45).

 

Sebagaimana dinyatakan Allah dalam ayat di atas, orang-orang yang mengerjakan shalat dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar. Allah akan menolong untuk menjauhkannya dari perbuatan jahat.

Orang yang benar-benar menjaga dan mengerjakan shalat sebagaimana dijelaskan dalam al-Qur’an adalah orang yang bertakwa kepada Allah. Orang yang berdiri, ruku’, dan sujud di hadapan Allah pada waktu-waktu tertentu setiap hari pasti akan dijauhkan dari perbuatan jahat, dan ia akan sangat takut kepada Allah. Hati nurani orang-orang seperti itu, dengan kehendak Allah, akan senantiasa dijauhkan dari perbuatan keji dan mungkar. Sekalipun mereka melakukan kemungkaran untuk sementara waktu, mereka akan menya­dari kesalahan mereka pada saat berdoa dan bertafakkur di hadapan Allah Yang Maha­kuasa. Kemudian mereka akan bertobat dan menjauhi kemungkaran tersebut pada masa berikutnya.

 


ORANG-ORANG YANG TERBUNUH DI JALAN ALLAH TIDAKLAH MATI

 

 

Allah telah mengungkapkan dalam al-Qur’an, bahwa orang-orang yang meninggal di jalan-Nya sesungguhnya tidaklah “mati”, tetapi hidup di sisi-Nya. Keadaan mereka ini diungkapkan dalam ayat-ayat sebagai berikut:

 

“Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhannya dengan mendapat rezeki. Mereka dalam ke­adaan gembira disebabkan karunia Allah yang diberikan-Nya kepada mereka, dan mereka bersenang hati terhadap orang-orang yang masih tinggal di belakang yang belum menyusul mereka, bahwa tidak ada kekha­watiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Mereka bersenang hati dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah, dan bahwa Allah tidak menyia-nyia­kan pahala orang-orang yang beriman.” (Q.s. Ali Imran: 169-71).

 

“Dan janganlah kamu mengatakan terha­dap orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati. Bahkan mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.s. al-Baqa­rah: 154).

 

Bahwa Allah akan menyempurnakan rah­mat bagi orang-orang yang syahid dan bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam surga merupakan rahasia Allah lainnya yang diung­kapkan dalam al-Qur’an.

 

“Dan orang-orang yang gugur di jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka, dan memasukkan mereka ke dalam surga yang telah diperkenankan-Nya kepada mereka.” (Q.s. Muhammad: 4-6).

 

“Maka Tuhan mereka mengabulkan per­mohonan mereka, ‘Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, pastilah akan Aku hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan pastilah Aku masuk­kan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. Dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik’.” (Q.s. Ali Imran: 195).

 

“Dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah, kemudian mereka dibunuh atau mati, benar-benar Allah akan memberikan kepada mereka rezeki yang baik. Dan sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik pemberi rezeki. Se­sung­guhnya Allah akan memasukkan mereka ke dalam suatu tempat yang mereka menyu­kainya. Dan sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Penyantun.” (Q.s. al-Hajj: 58-9).

Kenyataan yang diungkapkan dalam ayat-ayat di atas tentang orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah di antara rahasia-rahasia dalam al-Qur’an, yang pada umumnya tidak diketahui orang banyak.

 


ALLAH PEMBERI KEMULIAAN

 

 

Banyak orang yang tidak mempercayai akhirat, sehingga berlomba mencari keku­asaan, kekuatan, dan kehebatan di dunia, mereka menganggap bahwa kehidupan itu hanyalah kehidupan dunia. Sepanjang hidup mereka, mereka berusaha dengan tamak untuk mencapai tujuan ini. Mereka memiliki nilai dan patokan tersendiri tentang keku­asaan, kekuatan, dan kemuliaan. Menurut kriteria mereka, orang perlu kaya, memiliki peran penting dalam masyarakat, dan kemasy­huran. Seandainya mereka tidak memiliki salah satu di antara kriteria tersebut, mereka menganggap bahwa mereka tidak memiliki harga diri, kemuliaan, dan gengsi. Padahal itu merupakan pandang­an yang salah. Kesalahan ini dijelaskan dalam al-Qur’an sebagai berikut:

 

“Dan mereka telah mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar sembahan-sembahan itu menjadi pelindung bagi mereka. Sekali-kali tidak, kelak mereka (sembahan-sembahan) itu akan mengingkari penyem­bahan terhadapnya, dan mereka (sembahan-sembahan) itu akan menjadi musuh bagi mereka.” (Q.s. Maryam: 81-2).

 

Satu-satunya pemiliki kekuatan dan keku­asaan adalah Allah, dan Dialah yang mem­berikan kekuatan dan kekuasaan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Dengan demi­kian, orang-orang yang menggunakan asbab lain untuk memperoleh kekuatan dan keku­asa­an selain dari berdoa kepada Allah sesung­guhnya telah menyekutukan-Nya. Hal ini karena kekayaan, prestise, atau kedudukan tidak dapat memberikan kekuatan kepada seseorang. Di samping itu, bagi Allah hanya memerlukan waktu sedetik saja untuk men­cabut kekuasaan itu dari seseorang. Misalnya, seorang top-eksekutif bisa saja kehilangan seluruh kekayaannya, kehormatannya, dan kedudukannya dalam sesaat, karena satu-satu­nya pemilik yang hakiki dari segala sesuatu adalah Allah.

Allah mengaruniakan kekuatan dan kemu­lia­an kepada hamba-hamba-Nya yang dekat dengan-Nya, yang dengan sepenuh hati meng­abdi kepada-Nya, dan yang mengikuti al-Qur’an. Seseorang yang hidup berdasarkan al-Qur’an tidak pernah melakukan apa pun yang dapat membawa kepada kehinaan, penye­salan, atau malu di hadapan Tuhan. Orang-orang yang benar-benar beriman tidak takut kepada siapa pun dan kekuasaan mana pun, dan tidak pernah menjilat siapa pun. Yang mereka inginkan hanyalah memperoleh ridha Allah dan hanya takut kepada Allah. Itulah sebabnya mereka tidak merasa lemah dan tidak pernah merasa kekurangan. Meski­pun mereka tidak memiliki harta benda, keka­yaan, jabatan, atau prestise, Allah memberi­kan kepada mereka kekuatan dan kemuliaan. Orang-orang seperti itu me­miliki ketinggian dan kemuliaan karena iman mereka, dan mereka hidup berdasarkan ajaran al-Qur’an. Tentang hal ini, Allah menyatakan sebagai berikut:

 

“Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Munafiqun: 8).

 


RAHASIA MENCARI JALAN YANG BENAR

 

 

Hampir setiap orang memiliki kriteria sendiri-sendiri tentang yang benar dan yang salah. Kriteria yang digunakan untuk mene­tap­kan yang benar dan yang salah ini sangat berbeda-beda. Sebuah buku, seseorang, se­orang politisi, atau kadang-kadang seorang filsuf, barangkali dijadikan pembimbing dalam kehidupan seseorang. Namun demi­kian, jalan yang benar, sebagai satu-satunya jalan yang menuju kepada keselamatan, ada­lah agama yang telah dipilihkan oleh Allah. Menurut jalan ini, tujuan utamanya adalah untuk mencari keridhaan, rahmat, dan surga Allah. Sedangkan jalan-jalan lainnya, betapa­pun menariknya jalan itu kelihatannya, hanya­­lah menipu dan menjerumuskan kepada kehancuran, keputusasaan, penderitaan, dan siksa yang pedih, baik di dunia maupun di akhirat.

Orang-orang yang dibimbing ke jalan yang benar merupakan rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an. Mereka adalah hamba-hamba yang dibimbing Allah kepada jalan-Nya dan yang memperoleh surga-Nya.

 

 

Beriman dengan Penuh Keyakinan

 

Sebelum yang lain-lainnya, orang perlu memiliki iman agar dapat memperoleh bim­bingan kepada jalan yang lurus. Jika seseorang meyakini bahwa pemilik dan Pencipta langit dan bumi dan segala sesuatu di antara langit dan bumi itu adalah Allah, dan ia merasa yakin bahwa tujuan keberadaannya di dunia adalah untuk menjadi hamba Allah, dan ia mencari ridha Allah dalam seluruh kehidup­annya, maka Allah akan membimbingnya ke jalan yang lurus. Beriman kepada Allah, akhirat, dan al-Qur’an haruslah merupakan iman yang teguh dan yakin. Meskipun seba­gian orang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang beriman, tetapi mereka menyimpan keraguan. Ketika mereka ber­kum­pul dengan orang-orang kafir dan berada di bawah pengaruh mereka, orang-orang seper­ti itu kemungkinan menampakkan kelemahan dan bersikap memusuhi terhadap Allah dan agama-Nya. Akan tetapi, orang-orang yang dibimbing Allah kepada jalan yang lurus memiliki iman yang teguh dan tidak tergoyahkan:

 

“Dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa al-Qur’an itulah yang hak dari Tuhanmu lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepadanya, dan sesung­guhnya Allah adalah Pemberi Petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.” (Q.s. al-Hajj: 54).

 

 

Berpaling kepada Allah dengan

Penye­rahan yang Sempurna

 

Orang-orang beriman yang berpaling kepada Allah dengan penyerahan yang sem­purna merupakan rahasia lain dalam memper­oleh petunjuk ke jalan yang lurus. Bagi orang yang beriman kepada Allah dan takut akan akhirat, dunia ini tidaklah menarik baginya.

Karena yang didambakannya hanya men­cari ridha Allah, orang-orang yang benar-benar beriman berpaling kepada Allah dalam semua perbuatan mereka, dan mereka menge­tahui bahwa Allah menguji mereka, mereka berserah diri kepada Allah atas takdir mereka yang telah ditetapkan Allah. Allah telah mem­beri tahu bahwa orang-orang yang berserah diri kepada-Nya akan memperoleh petunjuk kepada jalan yang lurus:

 

“Dan bagaimanakah kamu menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa berpegang teguh kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.s. Ali Imran: 101).

 

“Dia telah mensyariatkan bagi kamu ten­tang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiat­kan kepada Ibrahim, Musa, dan Isa, yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada-Nya orang yang kembali kepada-Nya.” (Q.s. asy-Syura: 13).

2 Komentar to “RAHASIA al-Qur’an 6”

  1. f1FYE6 ivyncpzlsjuq, [url=http://tvnkhvkvasiz.com/]tvnkhvkvasiz[/url], [link=http://srrkslhqqgad.com/]srrkslhqqgad[/link], http://vooumkwlhiev.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: