Archive for Oktober, 2012

29 Oktober 2012

Meraih Kebahagiaan Sejati

oleh alifbraja

“Pikiran yang benar ialah yang membuka jalan; jalan yang benar ialah yang dilalui seorang raja spiritual.”
(Rumi)

“Jiwa yang rela itu seperti samudera. Kedalaman dan keluasannya akan menyerap setiap benda yang jatuh ke dalamnya. Seberapa besar pun benda itu. Ia tetap tenang bergelombang.”
(Haidar Bagir)

Seperti halnya manusia, dunia pun berumur. Tapi berbeda dengan manusia, dunia, semakin senja umurnya, semakin menawan rupa dan penampilannya. Semakin banyak manusia terpikat. Semakin dunia, dengan segala gemerlap dan kenikmatannya, menjadi puncak impian hampir setiap insan.

Namun bersamaan insan-insan berjibaku, bertengkar atau bahkan saling menghancurkan demi mengejar impian masing-masing, waktu terus berjalan. Dunia tetap bernafas seolah abadi. Sementara manusia datang dan pegi. Satu lahir, membawa impian-impian baru. Yang lain mati membawa serta impian-impian yang tinggal impian.

Demikian kurang lebih refleksi dari fenomena kehidupan. Banyak sekali orang yang menganggap hidup ini segala-galanya. Mereka rela menghabiskan hampir seluruh umurnya untuk meraih semua hasrat dan impian hidupnya. Bahkan tak sedikit yang melakukan semua cara ,meski mengorbankan orang lain dan nilai-nilai kepatutan. Seolah hidup ini bagi mereka, adalah satu-satunya dan untuk selamanya.

Anggapan demikianlah yang menjadi sumber malapetaka di muka bumi tanpa kecuali tanah air kita: korupsi, kemiskinan, perang, penjajahan, kediktatoran, kerusakan alam, dan lain sebagainya. Tak satu pun negeri di muka bumi ini yang benar-benar terbebas dari malapetaka itu. Negeri semakmur Amerika dan Singapura pun, nyatanya menyangga kedigdayaannya dengan eksploitasi negeri-negeri lain yang lemah seperti Indonesia ini. Berapa banyak kekayaan alam negeri kita diangkut ke Amerika. Berapa triliun uang haram yang ditanam di Singapura oleh para koruptor negeri ini.

Paradigma/cara pandang hidup menjadi kunci persoalan. Artinya, bagaimana cara kita memandang kehidupan berpengaruh secara mendasar terhadap kondisi sosial, sebab kita menjadi bagian darinya. Paradigma egoistik, misalnya, akan melahirkan penindasan. Ini berlaku bagi siapa saja. Sebab, relasi sosial menindas-ditindas adalah persoalan kesempatan. Yang saat ini menindas ialah mereka yang mempunyai kesempatan untuk itu. Namun yang saat ini tertindas pun, jika satu saat memperoleh kesempatan, tak menutup kemungkinan akan melakukan penindasan pula. Saat para pejabat menyalahgunakan wewenangnya, saat pedagang mengurangi timbangan, saat para produsen makanan memproduksi makanan tak layak makan, saat para penyedia transportasi menarik ongkos melampaui tarif, dan lain sebagainya, saat itulah relasi sosial yang dzolim itu terjadi.

Jika ditelusuri, benang merahnya adalah paradigma hidup seperti direfleksikan di atas: seolah hidup ini selamanya; apapun layak dilakukan demi mencapai semua hasrat dan impian. Maka paradigma hidup menjadi hal utama dan pertama yang perlu dibenahi. Sebab paradigma menentukan cara berpikir, cara bersikap dan bertindak, termasuk cara membangun relasi sosial. Ia merupakan kerangka manusia untuk melihat dan memahami realitas kehidupan.

Solusi yang berfokus pada paradigma individual inilah yang ditawarkan agama-agama, tak terkecuali Islam. Diakui atau tidak, dalam sejarah manusia agama telah membuktikan diri sebagai satu-satunya ‘sosok’ yang mampu menawarkan solusi terbaik. Ini bisa dilihat, paling tidak dari fakta bahwa mayoritas umat manusia menganut sebuah kepercayaan agama. Bahkan tak sedikit yang berpindah dari satu agama ke agama lain mencari paradigma yang menurut mereka terbaik.

Jika kemudian ada sejarah penindasan yang berbasis agama, seperti yang terjadi di Eropa pada Zaman Pertengahan, ini hanya sekelumit contoh penyelewengan agama. Akhirnya, agama pula (kaum Protestan) yang menjadi basis perlawanan terhadap para penindas itu. Fakta historis serupa juga ditemukan dalam sejarah Islam. Tanpa terkecoh dengan sejarah kelam kaum-kaum beragama, agama tetaplah agama. Sebuah tata nilai suci yang menawarkan solusi problematika umat manusia demi kebahagiaan sejati.

Universalitas Islam

Universal ialah sifat dasar sebuah agama, sehingga ia bisa tumbuh di mana saja dan berumur panjang sepanjang umur peradaban manusia. Islam ialah agama. universalitasnya ditegaskan sendiri dalam diktum terkenal dalam al-Quran, rahmatan li al-‘ālamīn (rahmat bagi semesta alam).
 
Dan Kami (Allah) mengutus engkau Muhammad sebagai rahmat bagi seluruh alam (al-Anbiya:107).

Rahmat di sini bisa dimaknakan sebagai kebaikan, kedamaian atau keselamatan. Secara etimologis, kata tersebut seakar dengan kata ‘rahmân’ dan ‘rahîm’, dua nama Allah, yakni kata ‘rahima’ yang berarti penuh kasih sayang, penuh perhatian tulus. Pada ayat tersebut, Muhammad SAW dijuluki sebagai rahmat bagi semesta alam. Ia adalah sosok yang dipilih Tuhan untuk menyampaikan pesan-pesan keselamatan dan perdamaian. Sosok Muhammad di samping sebagai penyampai, juga merupakan pelaksana yang representatif dari pesan-pesan tersebut. Pribadinya menjadi teladan sepanjang zaman. Setiap kata, sikap dan tindakannya merupakan interpretasi dan penjelasan wahyu.

Penjelasan ayat ini dalam Tafsir al-Kabīr, karya Syaikh Muhammad Fakhruddin al-Razi mengatakan, bahwa Islam merupakan rahmat bagi seluruh umat manusia. Ia tidak hanya berbicara tentang soal-soal yang dikategorikan sebagai agama, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini tercermin dari sosok Muhammad SAW yang kesantunan dan keadilannya merangkul seluruh kalangan masyarakat di sekitarnya, tidak hanya kaum Muslimin.

Secara kosmologis, bahwa Allah berbicara kepada umat manusia melalui sosok Nabi adalah sebuah kehormatan besar yang tak diperoleh mahluk-mahluk lain. Ini karena, sebagaimana dikatakan Allah sendiri, manusia adalah ciptaan-Nya yang terbaik, dikaruniai akal, dan dinobatkan sebagai khalifah/pemimpin di muka bumi. Manusia mampu mengolah, mengelola atau bahkan menghancurkan alam lingkungannya. Maka dipilihnya manusia sebagai penerima pesan-pesan ilahiah adalah agar pesan-pesan tersebut bisa terpancar ke seluruh alam semesta.

Sementara dari sisi karakter pesan-pesannya, yang membuat Islam universal ialah karena ia berbicara tentang fitrah/hakekat dari alam semesta, segala sesuatu di dalamnya, dan Penciptanya. Ia merupakan pengakuan Allah tentang diri-Nya, prinsip-prinsip penciptaan dan pengaturan ciptaan-ciptaan-Nya. Pengakuan kepada manusia, ciptaannya yang paling sempurna. Pengakuan-Nya ini menjadi setetes pengetahuan Allah untuk manusia dalam menjalankan misi kepemimpinannya di alam semesta (QS.2:30). Sebagai pemimpin, mereka perlu mengetahui hal-hal prinsipil dari apa yang dipimpinnya, agar mampu memahami setiap persoalan yang dihadapi dan mampu merumuskan solusi yang tepat. Demikianlah posisi manusia di alam semesta. Demikian pula maksud Islam diturunkan.
 
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menciptakan wakil di bumi”. Para malaikat merespon, “apakah Engkau hendak menciptakan para pembuat kerusakan dan huru-hara di muka bumi (sebagai wakil-Mu), padahal kami lah yang selama ini memuji dan mensucikan-Mu?”. Allah menjawab, “Aku mengetahui semua hal yang tidak kalian ketahui”. Kemudian Allah mendeskripsikan kepada Adam segala sesuatu, lalu menyodorkan  segala sesuatu tersebut kepada para malaikat. Lalu Allah berkata, “deskripsikan ini semua jika benar kalian itu memang bisa dipercaya!” Para malaikat menjawab, “Maha Suci Engkau, kami tidak mengetahui selain sebatas yang telah Engkau ajarkan pada kami. Engkau Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana.” Allah lalu berfirman, “Hai Adam, deskripsikan ini semua!” Pada saat Adam memaparkan deskripsinya, Allah berkata, “bukankah sudah Aku katakana bahwa Aku mengetahui rahasia langit dan bumi, dan juga mengetahui semua yang kalian tunjukan maupun yang kalian sembunyikan?” (al-Baqoroh:30-33).

Maha Suci Dia yang telah menurunkan al-Furqon (al-Quran) melalui seorang hamba-Nya sehingga dia bisa menjadi pemberi peringatan bagi seluruh penghuni semesta. Dia lah Sang Penguasa langit dan bumi; Dia tidak beranak dan tidak pula memiliki (membutuhkan) partner dalam berkuasa. Dia menciptakan segala sesuatu dan menetapkan ukuran yang tepat untuk semuanya itu (al-Furqon:1-2).

Maka dari perspektif kemanusiaan, tema utama Islam ialah seputar identitas manusia. Untuk itu, secara mendasar ayat-ayat al-Quran dan hadits-hadits Nabi berbicara tentang siapa manusia, siapa Tuhan, siapa sesuatu selain manusia dan Tuhan, dan bagaimana relasinya satu sama lain. Itu semua disampaikan melalui simbol-simbol berupa kisah, peristiwa, perintah dan larangan agar mudah dipahami. Islam diturunkan untuk manusia dan dengan bahasa manusia.

Mengenal Diri

Kembali pada soal paradigma hidup. Sebagai Muslim, tentu kita selayaknya membangun sebuah pandangan dasar hidup yang sesuai dengan informasi-informasi Allah dalam al-Quran dan Sunnah. Ada empat pertanyaan yang bisa diajukan sebagai kerangka untuk mengumpulkan dan mengkaji informasi-informasi tersebut: siapa sebenarnya kita? Apa yang sedang kita lakukan di dunia ini? Dari mana kita berasal? Dan, akan ke mana kita esok hari?
Empat pertanyaan tersebut akan kami urai satu per satu sebagai berikut:

1. Siapa sebenarnya kita?

Ada beberapa ayat al-Quran yang memberikan petunjuk jawabannya. Tiga di antaranya adalah:
 
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakanmu (al ‘Alaq:1)

“Allah menciptakan manusia dari air mani…” (an-Nahl:4)

“Dan Dialah yang menciptakan dari air itu seorang manusia”… (al-Furqan:54).

Sangat tegas dari ketiganya bahwa manusia adalah wujud yang diciptakan. Allah adalah Sang Pencipta. Dalam konteks ini, kita tidak berbeda dengan wujud-wujud lain di sekitar kita. Semuanya masuk dalam kategori hasil kreasi (mahlūq). Artinya, dalam batas-batas tertentu manusia memang mampu berkreasi/mencipta, sehingga terciptalah peradaban-peradaban. Begitu pun hewan seperti laba-laba yang menciptakan sarangnya. Namun, proses kreasi manusia dan hewan sejatinya hanya merubah dari satu bentuk ke dalam bentuk lain dari bahan-bahan dasar yang telah tersedia seperti air, tanah, api, udara, tumbuhan dan lain sebagainya. Dan hingga kini tak satu pun manusia mampu menciptakan bahan-bahan dasar tersebut. Tak satu pun hasil kreasi manusia yang murni tanpa bahan-bahan dasar tersebut.

Maka jauh dari kemungkinan manusia dapat menciptakan dirinya sendiri atau manusia lainnya. Manusia itu diciptakan. Berarti seluruh potensi, baik fisik maupun non-fisiknya pun adalah ciptaan, termasuk potensi kreatifnya. Siapa yang menciptakan? Dialah Dia, yang dikenal sebagai Tuhan. Maka Tuhan, melalui manusia pilihan-Nya, memperkenalkan diri sebagai Allah, al-Rahmān, al-Rahĭm, al-Awwal, al-Ăkhir, dan lain sebagainya.

Fakta dikotomis antara yang diciptakan (mahlûq) dan yang mencipta (khâliq) ini menjadi pesan, bahwa hakekatnya kita manusia berada pada kelas yang sama dengan hewan, tumbuhan, air, dan entitas-entitas lain di alam raya ini: kelas mahluk. Dari sekian itu, kita manusia memang menempati posisi teratas sebagai yang paling sempurna. Manusia ditunjuk Allah sebagai wakil dengan tugas kepemimpinan di antara para mahluk lain. Namun ini tidak menjadi alasan bagi kita untuk bersikap angkuh, berbangga diri dan sombong. Sebab diri kita, seluruh potensi yang dimiliki, seluruh kekuasaan yang diraih, tak lebih sekedar pemberian (pinjaman). Yang semuanya bisa kapan saja diambil oleh Sang Pemilik. Yang semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban. Maka dalam Islam, semua sikap dan tindakan yang bersumber dari kebanggaan, keangkuhan, kesombongan pribadi dikategorikan sebagai terlaknat/dosa. Allah memperingatkan hal ini dalam sebuah hadits qudsi, seperti terekam dalam buku Misykāt al-Anwār karya Ibn ‘Arabĭ, yang kira-kira artinya, “Arogansi adalah baju kebesaran-Ku, dan kebanggan diri adalah selendang-Ku. Maka siapapun manusia yang menandingiku dengan salah satu dari keduanya, Aku akan melemparnya ke dalam neraka!”

2. Apa yang sedang kita lakukan di dunia ini?

Jawabannya cukup tegas diinformasikan Allah dalam QS.Al-Dzariyat:56:

 “Dan Aku ciptakan jin dan manusia hanya untuk menyembah-Ku.”

Kata ‘ya’budūn’ di ayat ini umum diterjemahkan ‘beribadah’. Sementara kata ‘ibadah’ sendiri adalah derivasi dari kata bahasa Arab ‘îbâdah’, dari kata dasar ‘âbada’. Kita diciptakan untuk beribadah, bukan untuk lainnya. Sehinga jawabannya adalah, kita di dunia ini adalah dalam rangka beribadah kepada Allah.

Di masyarakat, kata ‘ibadah’ tidak jarang dipahami sebagai aktifitas-aktifitas tertentu yang diwajibkan atau dianjurkan agama seperti shalat, puasa, zakat, wudhu, sedekah, dan lain-lain. Sehingga ayat ini sering dijadikan dalil bagi sementara orang untuk beragama dengan berhenti pada tingkat ritual. Sementara pandangan hidup, sikap dan perilaku kesehariannya tidak mencerminkan pribadi yang beragama. Atau, bagi bagi mereka yang meninggalkan pergaulan sosial dan menenggelamkan diri sehari-harinya dalam aktifitas ritual.

Jika demikian, tentu akan banyak waktu hidup kita yang habis bukan untuk ibadah, seperti mandi, makan, pergi ke pasar, tidur, berdagang, dan lain-lain. Sebab aktifitas-aktifitas yang diwajibkan atau dianjurkan itu jumlahnya terbatas. Apalagi kemampuan fisik kita pun terbatas untuk melaksanakan seluruhnya. Bukankah ini sebuah pelanggaran atas ayat tersebut? Maka, ‘ya’budūn’ pada ayat itu perlu dimaknakan secara generik, yakni menghamba, patuh dengan penuh kepasrahan, atau mencintai secara totalitas. Sehingga ayat tersebut bisa diartikan secara bebas “Aku menciptakan jin dan manusia tidak lain agar mereka tunduk-patuh kepada-Ku atas dasar cinta yang tulus’.

Ini kiranya sejalan dengan pemaknaan Syaikh al-Razi terhadap ibadah dalam ayat ini, sebagai sikap hidup yang menjunjung tinggi nilai-nilai suci Allah baik yang berupa perintah, larangan, anjuran maupun informasi-informasi. Serta bersikap penuh kasih kepada seluruh ciptaan-Nya. Ayat ini juga berarti bahwa, cara pandang, sikap, perilaku dan aktifitas keseharian kita selayaknya diorientasikan sebagai wujud penghambaan kepada Allah SWT.

Maka seorang Mukmin yang sejati ialah dia yang selalu sadar akan hakekat penciptaannya ini, dan yang kesadarannya ini memancar ke dalam langgam berpikir dan kepribadiannya. Setiap helai pemikiran, kata dan perilakunya dimaknakan secara filosofis sebagai ekspresi ketundukan tulus kepada Allah SWT. Makan, minum, olahraga, berpakaian, bekerja, berkeluarga dimaknakan serupa dengan shalat, puasa, zakat dan ritualisme lainnya sebagai rangkaian peribadatan sehari-hari. Dengan begitu, tidak akan ada ruang, atau paling tidak sedikit ruang bagi aktifitas-aktifitas yang bukan ibadah. Dengan kata lain, komitmen pada kesadaran ini akan memberi sedikit ruang bagi berkembangnya potensi-potensi kemaksiatan dalam diri seorang insan. Jadi, nilai setiap aktifitas kita di hadapan Allah tergantung pada pemaknaannya secara filosofis, baik sebelum, selama maupun sesudah pelaksanaannya.

Penafsiran ini kiranya berkorelasi positif dengan sebuah hadits terkenal:

 “Setiap perbuatan itu tergantung pada niatnya. Dan setiap orang akan memperoleh apa yang diniatkannya. Jika dia berhijrah dengan niat rela untuk Allah dan Rasul-Nya, maka demikianlah Allah dan Rasul akan menilainya. Namun jika ia berhijrah karena perkara duniawi atau karena perempuan yang hendak dipinang, maka nilai hijrahnya akan bernilai tidak lebih dari itu saja ” (HR.Bukhori-Muslim). (bersambung)

29 Oktober 2012

Meraih Kebahagiaan Sejati (2)

oleh alifbraja

3. Dari mana kita berasal?

 Jawaban pertanyaan ketiga ini terdapat dalam QS.15:28-29,

“Dan ketika Tuhanmu berkata kepada para Malaikat ‘telah Aku ciptakan sedemikian rupa jasad manusia dari onggokan tanah liat…Maka sesudah jasad itu sempurna dan Aku tiupkan ruh-Ku ke dalamnya, bersujudlah kalian padanya wahai para Malaikat.”

Dua ayat ini menggambarkan bagaimana manusia diciptakan dalam dua tahap, tahap pembuatan jasad, dan tahap pemberian ruh ke dalam jasad tersebut. Ayat ini menjadi landasan suci tesis para filsuf Muslim seperti Ibn Sina dan Al Ghazali bahwa sosok manusia itu terdiri atas dua aspek, jasad dan jiwa/ruh. Dari keduanya, jiwa-lah yang utama. Jasad hanya sebatas wadah/tempat bagi jiwa untuk bekerja. Tanpa jiwa, jasad tak lebih dari seonggok daging yang membungkus tulang-tulang dan yang berbahan dasar tanah liat. Jiwa-lah yang membuat jasad tersebut bergerak.

Malaikat yang tercipta lebih dahulu dalam ayat itu diperintahkan Allah untuk bersujud kepada manusia. Sujud di sini, seperti dikatakan al-Thabariy dan al-Baghawi, bukan penghambaan, tetapi sujud tanda penghormatan dan pemuliaan sosok manusia. Perintah tersebut diberikan setelah jasad manusia itu disempurnakan dengan dimasukkannya ruh Allah (min rûhî). Ruh di sini barang kali bisa berarti seperangkat piranti keunggulan yang dimasukkan Allah ke dalam jasad tersebut. Ruh tidak hanya membuatnya bisa bergerak, tetapi juga menyimpan potensi-potensi yang tidak dimiliki oleh malaikat dan mahluk-mahluk lain termasuk iblis yang pada ayat selanjutnya dijelaskan tidak mau bersujud.

Nyatanya, memang hanya manusia yang “mewarisi” kemampuan-kemampuan, namun dalam kapasitas yang sangat terbatas, yang hanya dimiliki Allah, seperti berkreasi, memerintah, berkasih-sayang, adil, berpikir/mengetahui, dan lain-lain. Potensi-potensi inilah yang memungkinkannya menerima kehormatan dari Allah untuk menjadi khalifah/pemimpin di muka bumi. Meskipun secara fisik manusia terbuat dari tanah, keunggulan-keunggulan ruhani inilah yang barang kali menjadi alasan mengapa malaikat dan iblis diperintahkan sujud hormat kepada manusia. Aspek imateri dari manusia ini tidak dilihat oleh iblis sehingga dia menolak untuk bersujud. Iblis hanya melihat aspek fisikal manusia dari tanah yang menurutnya tidak lebih mulia dari dirinya yang tercipta dari api. Maka bisa dimengerti mengapa para Sufi dan filsuf Muslim memberikan perhatian besar pada persoalan jiwa ini. Bagi mereka, manusia sejatinya adalah dia yang bersemayam di balik wujud fisiknya. Wujud fisik tersebut hanya sebatas media untuk hidup di alam fisik ini. Bahkan bagi Suhrawardi, seorang filsuf Muslim abad ke-12, jasad itu seperti penjara. Manusia tak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati sebelum dia benar-benar keluar dari jasadnya. Baginya, jasad adalah penjara yang pengap.

4. Akan ke mana kita esok hari?

Untuk pertanyaan terakhir ini, banyak sekali ayat yang bisa dirujuk. Beberapa di antaranya adalah:
QS.29:57

“Setiap esensi pasti akan musnah. Semuanya akan kembali pada Kami”

QS. Yunus:56
  
“Dia lah yang menghidupkan dan mematikan. Kepada-Nya kalian akan kembali (dikembalikan).”

QS. Ali Imran:83

 “Apakah mereka mencari jalan keimanan lain selain jalan Allah. Padahal, kepada-Nya segala apa yang di langit dan di bumi berserah diri dengan rela maupun terpaksa. Dan kepada-Nya semua itu pasti akan kembali (dikembalikan).”

Lepas dari konteks pembicaraannya masing-masing, ketiga ayat ini memiliki sebuah titik temu bahwa, segala sesuatu di alam raya ini, benda maupun peristiwa, berjalan menuju arah yang sama, yaitu Dia, Allah. Artinya bahwa, keberadaan kita, alam raya dan seluruh isinya, bukan keberadaan yang mutlak dan abadi. Awalnya, kita dan semuanya itu adalah tidak ada, lalu menjadi ada seperti saat ini. Akhirnya akan kembali menjadi tidak ada, mati, musnah.

Tiga ayat tersebut menginformasikan, bahwa proses keberadaan-ketidakberadaan ini tidak berlangsung sendiri. Tetapi ada subjek yang menjalankannya. Bahwa segala sesuatu menjadi ada berarti ada yang mengadakan. Dan bahwa segala sesuatu tersebut akan lenyap berarti ada yang melenyapkan. Ini terlihat pada kalimat “turja’ûn” dan “yurja’ûn” pada ketiga ayat itu. Keduanya adalah kalimat pasif bermakna “kalian dikembalikan” dan “mereka dikembalikan”. Siapa yang mengembalikan? Dia-lah Allah. Sebab dari semua yang ada, semua yang hidup dan semua yang mati. Dia-lah yang ada secara mutlak. Dia ada tanpa sebab, karena Dia-lah sebab itu sendiri. Dia-lah al-Awwal dan al-Âkhir, dan selain Dia adalah hadîts (baru).

Dalam konteks manusia dan mahluk hidup lainnya, akhir dari kehidupan adalah mati. Sementara kehidupan sendiri, seperti dalam uraian pertanyaan ketiga, tak lain adalah kondisi bersatunya jiwa dengan jasad materi. Bersatunya dua wujud tersebut terjadi di tempat yang disebut alam dunia. Maka mati sesungguhnya adalah saat dimana jiwa keluar/dikeluarkan (yurja’u) dari jasadnya. Setelah terpisah dari jiwanya, jasad menjadi tak lebih dari onggokan daging yang akan segera membusuk. Allah kemudian melalui Nabi-Nya mengajarkan untuk menguburkan jasad tersebut, agar segera kembali ke wujudnya semula, tanah.

Sementara jiwa ditempatkan Allah di alam ruh guna menjalani proses ‘kehidupan’ selanjutnya. Ada banyak fase kehidupan, seperti diinformasikan dalam al-Quran dan Hadits. Kiamat menjadi titik akhir seluruh kehidupan alam semesta ini. Sampai di sini para ahli berbeda pendapat apakah saat tersebut adalah akhir dari kehidupan alam jasad/materi maupun ruh, atau hanya jasad; juga mereka berselisih apakah fase kehidupan pasca kiamat itu adalah kehidupan jiwa plus jasad atau jiwa semata. Hanya Dia yang mengetahui dan berkuasa ke mana dan bagaimana ciptaan-Nya akan dikembalikan.

Lautan Jiwa

Dalam karya sufistiknya the Garden of Truth, Seyyed Hussein Nasr mengatakan “life is a journey” hidup ialah sebuah perjalanan. Perjalanan hidup manusia terjadi di ruang bernama alam dunia. Sementara alam dunia sendiri bergerak menuju suatu arah. Dan perjalanan hidup manusia beriringan dengan perjalan hidup alam dunia ini. Semua berjalan dari tidak ada menjadi ada, dan akan kembali menjadi tidak ada. Pada saat ketiadaan alam semesta ini yang ada hanya Dia. Namun Dia tetap ada ketika saat ini alam semesta itu ada. Seperti diurai di atas, Dia adalah sumber dari semua keberadaan (the Source of all existence). Dia ada dengan diri-Nya sendiri, tanpa sebab, tanpa permulaan, tanpa akhir. Dia yang menciptakan, dan dia pula yang menghancurkan. Dia yang tak diciptakan dan tak mengenal hancur.

Kehidupan manusia dan kehidupan alam semesta, kembali menurut Nasr, ialah ibarat perjalanan berputar. Bertolak dari satu titik, berjalan, terus berjalan, dan akan kembali pada titik semula. Artinya, bahwa yang ada mutlak dan pasti itu (Wâjib al-Wujûd/Necessery) hanya satu, Allah. Sementara semua wujud yang lain bertolak dari wujud mutlak tersebut. Wujud-wujud lain tersebut adalah wujud yang tidak pasti (mumkin al-wujûd/possible), imanen, fana, temporal. Wujud-wujud ini pada waktunya akan kembali pada Wujud Satu yang Mutlak itu. Namun demikian, ini tidak berarti bahwa Allah itu adalah sebuah wujud materi seperti titik. Perumpamaan ini sebatas upaya untuk mempermudah penggambaran tentang hakekat kehidupan, meski bukan perumpamaan yang sempurna sebab Allah memang tidak berpadanan (mukhâlafah li al-hawâdits).

Kembali pada ‘dunia’ manusia. Titik tolak kehidupan manusia tentunya adalah saat kelahiran, dan titik akhirnya adalah kematian. Dan persis pada saat ini, kita tengah berjalan di garis antara dua titik tersebut. Garis yang kita namakan sebagai ‘kehidupan’. Tuhan kemudian menginformasikan tentang tujuan penciptaan kita manusia untuk beribadah, baik dalam arti umum seperti diurai di atas maupun khusus berupa ritual-ritual. Perintah ini sejatinya bermakna zikir. Ini merupakan cara Tuhan memperingatkan manusia agar selalu ingat akan hakekat serta tujuan penciptaan dirinya dan alam semesta. Konteks pembicaraan surat Al-Dzariat: 56 sendiri adalah tentang betapa umat manusia zaman para nabi terdahulu lupa akan hakekat diri dan alam semesta. Mereka tidak lagi mengenal siapa Tuhannya. Diutusnya para rasul mengemban misi mengembalikan kesadaran mereka akan hakekat semua itu. Kisah ini menjadi pengajaran bagi umat Nabi Muhammad SAW agar tersadar dan tidak terjerembab ke dalam perangkap yang sama.

Kesadaran ini akan mengangkat manusia dari jebakan-jebakan perjalanan hidup: kegemerlapan, kesenangan, kemewahan, kenyamanan, dan lain-lain, yang semuanya itu semu belaka. Sebab hidup sebagai perjalanan berarti bahwa, tidak ada yang lebih berharga selain perjalanan itu sendiri. Segala hal yang dialami, dirasakan dan dimiliki selama perjalanan tidak lebih dari sekedar sesuatu yang bisa diceritakan setelah perjalan berakhir. Namun memang, cara kita melewati semuanya itu tidak hanya berbekas sebagai kesan, tetapi juga menjadi penilaian yang menentukan nasib kita kelak di perjalanan hidup di alam selanjutnya.

Secara praktis, memaknakan hidup sebagai perjalanan berarti bahwa seluruh yang kita miliki, dan yang kita nikmati di alam raya ini selayaknya diorientasikan semata kepada penghambaan (ibadah) tulus kepada Allah SWT: uang, kendaraan, jabatan, tanah, rumah, pakaian, alat-alat olahraga, udara, anak, istri, dan lain sebagainya. Ini semua sebagai ‘ongkos’ dan sarana yang disediakan Allah untuk kita semua dalam melaksanakan misi perjalanan dunia ini (QS.16:4-16). Oleh Sang Pemberi misi, semuanya kelak di Hari Pengadilan akan dimintai pertanggungjawaban. Al-Quran dan Sunnah sudah secara lengkap menghimpun berbagai prinsip, hukum dan tips agar selamat dalam perjalanan. Kembali pada masing-masing kita, sejauh mana mau mempelajari, memahami dan berkomitmen merefleksikannya dalam pikiran, sikap dan tindakan.

Akhirnya dapat dirumuskan, bahwa kesadaran hidup sebagai sebuah perjalanan menjadi kunci menggapai kebahagiaan sejati. Kebahagiaan yang lahir dari pengetahuan akan hakekat penciptaan kehidupan, serta kejujuran menerima pengetahuan tersebut sebagai kebenaran sejati. Kesadaran ini menjadi modal filosofis untuk merumuskan pikiran, sikap dan langkah menghadapi setiap jengkal hari. Dari sini kita dapat menyusun cita-cita, target dan skala prioritas dalam hidup dan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan di dalamnya: mana yang diperlukan dan mana yang tidak; mana yang baik dan mana yang buruk; mana yang harus, boleh, tidak boleh; mana yang harus didahulukan dan mana yang harus diakhirkan; dan seterusnya.

Kebahagiaan di sini ialah kerelaan jiwa terhadap setiap potensi dan kekurangan yang dimiliki, kondisi yang dirasakan, peristiwa yang menimpa dan persoalan yang menghadang. Kerelaan ini memancar dari jiwa yang tersinari oleh pengetahuan akan hakekat kehidupan. Dan dari jiwa yang yakin bahwa Allah telah menganugerahkan bumi dan isinya untuk kebutuhan para musafirnya. Bagi jiwa yang rela ini, tak seorang musafir bumi pun yang diutus tanpa perbekalan. Allah mengetahui tingkat kebutuhan dan kemampuan setiap musafir-Nya. Dia menganuerahkan perbekalan tersebut dengan jumlah dan kualitas yang beragam, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masing-masing. Dia tahu persis akan hal itu. Dia-lah yang Adil sejati. Sehingga bagi musafir yang rela itu, banyak sedikit perbekalan yang dianugerahkan tidak menjadi masalah: banyak tidak melenakan; sedikit tidak menyengsarakan. Baginya, tidak ada yang lebih berharga dari perjalanan itu sendiri. Perjalanan dengan tunduk pasrah dan tulus menuju sumber dari segala keberadaan.

Dengan kata lain, jiwa yang rela memandang hidup ini bukan sebagai buku kosong, tetapi sebagai buku yang setiap halamannya dihiasi kisah-kisah. Dengan kerelaan, jiwa akan memfokuskan konsentrasinya pada setiap kisah yang tersaji. Baginya, kesuksesan menangkap makna setiap kisah tersebut menjadi kunci sukses memahami keseluruhan isi buku tersebut. Sebuah buku yang menghadirkan kisah-kisah tentang kemiskinan, penyakit, kecelakaan, kegagalan, musibah, dan juga tentang kekayaan, kesuksesan, kesehatan, kesejahteraaan, kekuasaan, kecantikan, ketampanan, kecerdasaan, popularitas, dan lain sebagainya.

Setiap jiwa memiliki kisahnya masing-masing, dengan tema-tema yang beragam antara satu jiwa dengan lainnya. Jiwa yang rela tak akan terlena dengan satu atau dua kisah saja. Dia akan semangat menyelami setiap kisah hingga halaman akhir hidupnya.

Sebaliknya, jiwa yang tidak rela akan terlena pada satu atau dua kisah saja. Kisah yang melenakan ini biasanya yang bertema jenis kedua di atas, kekayaan, kesehatan, kesejahteraan, popularitas. Dia tidak mampu memahami pesan dalam kisah-kisah lainnya, karena konsentrasinya hilang, tertinggal di satu kisah yang lampau itu. Ketidakmampuan yang berbuah kesengsaraan (hidup). Dia lupa, dan benar-benar lupa bahwa, mau tidak mau, dia harus membaca seluruh isi buku hidupnya. Dia juga lupa, bahwa ada banyak buku kehidupan yang harus (pasti) dia baca.

29 Oktober 2012

KITA SEJATINYA ADALAH TAMU HARTA KITA HANYA PINJAMAN

oleh alifbraja

Saudaraku…
Kala hidup kita identik dengan kesuksesan, kejayaan dan kemenangan. Seperti menduduki sebuah jabatan penting. Baju kekuasaan yang dikenakan. Asset bertebaran di mana-mana. Berbagai macam investasi dibuat. Laba bisnis yang tak pernah surut. Popularitas yang semakin mengkilap. Prestasi puncak di dunia pendidikan. Dan yang senada dengan itu.

Hal itu sering membuat kita silau dan terpesona dengan dunia. Kita lupa bahwa pada hakikatnya kita adalah tamu yang sedang bertandang ke rumah salah seorang sahabat kita. Kita tak sadar bahwa harta yang kita punya, seberapapun jumlah dan kwantitasnya hanya sekadar titipan dan pinjaman dari yang Maha Kaya.

Abdullah bin Mas’ud ra pernah menasihati kita:

“Tidak seorang pun yang berada di pagi hari melainkan ia adalah sebagai seorang tamu dan hartanya adalah pinjaman. Seorang tamu seharusnya sadar bahwa beberapa saat lagi ia akan meninggalkan rumah yang ia singgahi. Dan hartanya sewaktu-waktu akan dikembalikan kepada pemiliknya.”
(Mawa’izh as shahabah, Shalih Ahmad al Syami).

Saudaraku..
Tamu yang baik adalah tamu yang menjaga adab-adab Islam dalam bertamu. Seperti; tidak berlama-lama dalam bertamu. Mata terpelihara dari mengamati perabot dan perhiasan milik tuan rumah. Jika terpaksa harus bermalam, maka tidak lebih dari tiga malam.

Jika keberadaan kita di dunia ini diumpamakan seperti tamu, yang hanya singgah beberapa saat lamanya. Maka tentu kita ingin memberikan kesan seindah dan seelok mungkin kepada tuan rumah. Dan kita sadar, bahwa tamu yang baik adalah tamu yang bersikap sopan santun, memahami aturan, dan tidak menyulitkan serta menyusahkan tuan rumah.

Demikianlah dunia tempat kita hidup sekarang ini, hanya seperti tempat persinggahan sementara. Setelah waktu istirahat dirasa cukup, maka kita akan melanjutkan perjalanan yang hakiki. Perjalanan menuju Allah swt. Safar menuju tempat yang kekal abadi.

Maka pada saat kita terlena. Dan menjadikan tempat persinggahan sebagai tempat menetap, maka hal itu merupakan awal dari bencana yang besar. Dan pangkal dari kesengsaraan abadi.

Allah swt membuat ilustrasi tentang kehidupan dunia dalam sebuah firman-Nya, “Pada hari mereka melihat hari berbangkit itu, mereka merasa seakan-akan tidak tinggal di dunia melainkan sesaat di waktu petang atau pagi hari.” An Nazi’at: 46.

Saudaraku…
Harta benda yang kita kumpulkan siang dan malam. Pagi, siang dan petang hari. Hakikatnya adalah titipan dan pinjaman Allah swt. Walau terkadang kita meraihnya dengan perahan keringat. Meskipun terkadang kita harus mengaisnya ke luar daerah dan bahkan ke luar negeri.

Seperti titipan dan pinjaman lainnya, jika sewaktu-waktu pemiliknya mengambilnya dari kita, maka kita tak bisa menolaknya atau menahannya. Harta kita sesungguhnya, yang akan kita bawa sampai kita menutup mata adalah harta yang kita kembalikan kepada pemiliknya. Berupa zakat, sedekah, infaq, menolong orang yang kesusahan, membantu orang yang tak mampu dan seterusnya.

Selebihnya akan kita tinggalkan. Tidak kita bawa ke liang lahat. Dan bahkan bisa jadi sepeninggal kita, harta peninggalan kita justru menjadi barang rebutan bagi ahli waris kita.

Saudaraku..
Sadarkah kita bahwa sebenarnya kita adalah tamu? Yang mungkin esok atau lusa kita harus pamit kepada tuan rumah untuk melanjutkan perjalanan yang sangat jauh. Lebih jauh dari jangkauan pandangan mata kita.

Dan pernahkah kita menghitung harta titipan dan pinjaman Allah swt yang ada di tangan kita? Kapan kita akan mengembalikannya kepada pemiliknya? Wallahu a’lam bishawab.

28 Oktober 2012

Rahasia dibalik Dzikir Jahar

oleh alifbraja

Hingga kini, masih banyak orang yang under estimate, merasa tidak mempercayai dengan dalil suudzon dan syak wasangka, apakah benar ada yang dinamakan dzikir jahar atau dzikir keras. Kebanyakan dari mereka, mengira bahwa yang dinamakan dzikir keras itu sesuatu yang tidak ada riwayat dari Rasulnya. Benarkah?

Sebagai ilustrasi, sebagaimana orang bijak pernah berkata, bahwa manusia akan dikumpulkan dengan orang yang disukainya. Jika ia mencintai musik, maka ia akan berkumpul dengan para pecinta musik. Jika ia mencintai hobi motor cross misalnya, maka ia akan berkumpul dengan mereka yang mencitai hobi yang sama. Tidak perduli dengan suara bising dan dentuman musik yang menjadi-jadi. Bagi mereka yang penting adalah mencari kenikmatan.

Ya, begitulah bahwa manusia akan dikumpulkan bersama dengan orang yang memiliki hobi dan minat yang sama. Demikian juga dengan dzikir, atau bagi mereka yang menyukai dzikir. Timbulnya pertanyaan, benarkah ada dzikir jahar, ialah keluar dari mereka yang memang belum mencintai apa itu dzikir jahar. Padahal, Allah sendiri adalah firman-Nya menyatakan bahwa orang yang beriman yang memiliki hati suci, jika mendengar dzikir akan tersentuh dan gemetar hatinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” (QS. Al Anfal ayat 2).

Dalam ayat ini, Allah memberi isyarat bahwa mereka yang beriman tidak akan merasa resah tetapi akan tersentuh hati dan jiwanya jika mendengarkan dzikir. Dari ayat ini yang menjadi titik tekan adalah dalam kata dzukiro, yang berarti dzikir itu dibacakan. Berarti orang yang beriman itu mendengar bacaan dzikir, lalu mereka bergetar hatinya. Kemudian, kita bisa menyimpulkan bahwa apa pun yang bisa didengar atau terdengar itu adalah suara yang dinyaringkan atau dikeraskan. Berarti dzikir dalam ayat tersebut adalah dzikir jahar atau dzikir yang dinyaringkan. Untuk lebih jelasnya, maka kita uraikan satu per satu ayat Al Quran dan Hadits yang menerangkan tentang dzikir jahar.

 

HUKUM DZIKIR KERAS (JAHAR) DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITSHUKUM DZIKIR JAHAR DALAM AQUR’AN

 

– 1. Q.S. AL-‘AROF AYAT 204 :

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat .”

 

Penjelasan ayat ini bukan menunjukan dzikir dalam hati tapi dzikir yang terdengar atau dzikir keras. Namun, Ayat di atas seakan bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits yang lain tentang anjuran untuk berdzikir dalam hati seperti Q.S.Al-‘Arof ayat 205: “Sebutlah nama Allah di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tidak dengan suara yang keras dari pagi sampai petang, Dan janganlah dirimu menjadi golongan yang lupa (lalai).”

Sebenarnya Ayat 205 ini tidaklah bertentangan dengan ayat 204 yang menunjukan akan diperintahkannya dzikir jahar. Dan ayat 205 ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang dzikir keras karena akan bertentangan dengan dzikir yang telah umum yang biasa dibaca dengan suara keras, seperti takbiran, adzan, membaca talbiyah ketika pelaksanakan haji, membaca al-qur’an dengan dikeraskan atau dilagukan, membaca sholawat dangan suara keras dan lain-lain. Hanya saja, Q.S Al’Arof ayat 205 ini hanya menjelaskan tentang dzikir yang tidak memakai gerak lidah yaitu dzikir dalam hati atau khofi. Jadi penjelasan Ayat 205 ini menunjukan, bagaimanapun bentuknya dzikir jika dibaca dalam hati pasti tidak akan mengeluarkan suara karena dzikirnya sudah menggunakan hati, bahkan sudah tidak menggunakan gerak lidah.

Kesimpulan dari dua ayat itu, Allah menunjukan adanya perintah dibolehkannya berdzikir dengan jahar (keras) maupun dzikir dalam hati (khofi) yang tidak memakai gerak lidah.

 

 

 

– 2. Q.S.AL-BAQOROH AYAT 200 :

“Apabila engkau telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menywebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau bahkan berdzikirlah lebih (nyaring dan banyak) daripada itu.”

Menurut Ibnu Katsir, latar belakang turunnya ayat ini ialah kebiasaan bangsa Arab, baik suku quraisy maupun lainnya pada musim haji mereka biasanya berkumpul di Mudzalifah setelah wukuf di Arafah. Disitu mereka membanggakan kebesaran nenek moyang mereka dengan cara menyebut-nyebut kebesaran nenek moyang mereka itu dalam pidato mereka. Ketika telah memeluk agama Islam, Nabi memerintahkan mereka hadir di Arafah untuk wukuf kemudian menuju mudzdalifah. Setelah mabit di mudzdalifah mereka diperintahkan untuk meninggalkan tempat itu dengan tidak menunjukan perbedaan diantara mereka (dengan cara menyebut kebesaran nenek moyang) seperti yang mereka lakukan pada masa pra Islam.

Berbeda dengan Ibnu Katsir, yaitu Mahmud Hijazi menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, bila kamu selesai mengerjakan haji maka berdzikirlah kepada Tuhanmu dengan baik (dengan cara menyebut-nyebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu sewaktu kamu jahiliyah atau sebutlah nama Allah itu lebih keras daripada kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu itu. Begitu pun penafsiran Ibnu Abbas, seperti terdapat dalam kitab Tanwir al Miqbas ketika menafsirkan kata aw asyadda dzikro yang berarti menyebut Allah dengan mengatakan “Ya Abba” seperti menyebut nenek moyang “Ya Allah”.

Dua pendapat mufasir di atas mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa menyebut nama Allah dalam pengertian dzikrullah dianjurkan setelah menunaikan ibadah haji,. Dzikrullah tersebut dikerjakan dengan suara keras, bahkan boleh dengan suara yang lebih keras daripada suara jahiliyah tatkala mereka menyebut nama nenek moyang mereka ketika berhaji.

 

 

 

 

 

– 3. Q.S. AL-BAQOROH AYAT 114 :

“ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalangi-halangi menyebut nama Allah di dalam mesjid-mesjid-Nya ..”

 

– 4. Q.S. AN-NUR AYAT 36 :

Didalam semua rumah Allah diijinkan meninggikan (mengagungkan) suara untuk berdzikir dengan menyebut nama-Nya dalam mensucikan-Nya sepanjang pagi dan petang.”

 

– 5. Dan lain-lain

 

HUKUM DZIKIR JAHAR MENURUT HADITS ROSUL

 

HADITS KE SATU

Dalam Kitab Bukhori jilid 1:

Dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas ra., berkata: “Inna rof’ash shauti bidzdzikri hiina yanshorifunnaasu minal maktuubati kaana ‘ala ‘ahdi Rosuulillaahi sholallaahu alaihi wasallam kuntu ‘alamu idzaanshorrofuu bidzaalika sami’tuhu.” Artinya :“Sesungguhnya mengeraskan suara dalam berdzikir setelah manusia-manusia selesai dari sholat fardlu yang lima waktu benar-benar terjadi pada zaman Nabi Saw. Saya (ibnu Abbas) mengetahui para sahabat melakukan hal itu karena saya mendengarnya .”

Selanjutnya dalam hadits :“Suara yang keras dalam berdzikir bersama-sama pada waktu tertentu atau ba’da waktu sholat fardhu, akan berbekas dalam menyingkap hijab, menghasilkan nur dzikir” (HR. Bukhari).

 

 

– HADITS KE DUA

Dari Abu Khurairah ra, katanya Rasulullah bersabda: “Allah berfirman; ‘Aku berada di dalam sangkaan hamba-Ku tentang diri-Ku, Aku menyertainya ketika dia menyebut-Ku, jika dia menyebut-Ku kepada dirinya, maka Aku menyebutnya kepda diri-Ku. Maka jika menyebut-tu di depan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di tempat yang lebih baik daripada mereka” (HR. Bukhari). Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut ‘di depan orang banyak’, berarti dzikir tersebut dilakukan secara jahar.

 

– HADITS KE TIGA

Diriwayatkan di dalam Al Mustadrak dan dianggap saheh, dari Jabir ra. berkata: “Rasulullah keluar menjumpai kami dan bersabda: ‘Wahai saudara-saudara, Allah memiliki malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis-majlis dzikir di dunia. Maka penuhilah taman-taman syurga’. Mereka bertanya:’Dimanakah taman-taman syurga itu?’. Rasulullah menjawab: ‘Majlis-majlis dzikir.’ Kunjungilah dan hiburlah diri dengan dzikir kepada Allah” (HR. Al Badzar dan Al Hakim).

Penjelasan hadits ini, bahwa dalam kalimat ‘malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis dzikir di dunia’ maksudnya berarti dzikir dalam hal ini adalah dzikir jahar yang dilakukan manusia. Karena malaikat hanya mengetahui dzikir jahar dan tidak mampu mengetahui dzikir khofi. Hal ini sebagaimana sabda Rasul: “Adapun dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat yakni dzikir khofi atau dzikir dalam hati yakni dzikir yang memiliki keutamaan 70x lipat dari dzikir yang diucapkan” (HR. Imam Baihaqi dalam Kitab Tanwirul Qulub hal.509).

 

 

– HADITS KE EMPAT

Hadits yang dishohehkan oleh An Nasai dan Ibdu Majjah dari As Sa’ib dari Rasululah SAW, beliau bersabda: “Jibril telah datang kepadaku dan berkata, ‘Perintahkanlah kepada sahabat-sahabatmu untuk mengeraskan suaranya di dalam takbir”(HR. Imam Ahmad Abu Daud At Tirmidzi).

Penjelasan hadits ini, bahwa sangat jelas tidak dilarangnya dzikir keras tetapi dianjurkan untuk melakukan dzikir jahar.

 

– HADITS KE LIMA

Didalam kitab Sya’bil Iman dari Abil Jauza’ ra. berkata :“Nabi Saw, bersabda, “Perbanyaklah dzikir kepada Allah sampai orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” (H.R.Baihaqi)

Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut “orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” Hadits ini menunjukan dzikir jahar karena dengan dzikir jahar (terdengar) itulah orang munafik akhirnya menyebutnya ria .

 

– HADIITS KE ENAM

Juga dalam kitab Sya’bil Iman yang di shohehkan oleh Al-Hakim dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., berkata :“Nabi Saw, bersabda,” Perbanyaklah dzikir kepada Allah kendati kalian dikatakan gila”. (H.R.Al-Hakim danAl-Baihaqi)

 

– HADITS KE TUJUH,

Dari Jabir bin Abdullahra, berkata :“Ada seorang yang mengeraskan suaranya dalam berdzikir, maka seorang berkata, “ semestinya dia merendahkan suaranya.” Rosulullah bersabda,” Biarkanlah dia,sebab sesungguhnya dia adalah lebih baik.“ (Al-Baihaqi). Dari Sa’id bin Aslam ra., katanya Ibnu Adra’ berkata, “ Aku menyertai Nabi Saw. Pada suatu malam, lalu melewati seseorang di mesjid yang mengeraskan suaranya, lalu aku berkata, “ Wahai Rosulullah, tidaklah ia termasuk orang ria ? “ Beliau menjawab, “ Tidak,tetapi dia pengeluh,” (H.R.Baihaqi).

 

 

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG DZIKIR JAHAR

Imam An-Nawawi berkata : Bahwa bacaan dzikir sir (samar) lebih utama apabila takut ria, atau khawatir mengganggu orang yang sedang sholat atau tidur. Sedangkan yang jahar (dzikir keras) lebih baik apabila tidak ada kekhawatiran tentang hal ini, mengingat amalan di dalamnya lebih banyak manfaatnya, karena ia dapat membangkitkan kalbu orang yang membaca atau yang berdzikir, ia mengumpulkan semangat untuk berfikir, mengalahkan pendengaran kepadanya, mengusir tidur, dan menambah kegiatan” (dalam Kitab Haqiqot Al-Tawwasulu wa Al-Wasilat Al-Adlow’il kitabi wa As-Sunnah).

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih didalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang kepada Allah yang telah menjadikan hati jadi keras bagaikan batu, penghalangnya yaitu seperti sipat malas, sombong, ria, iri dengki dan sebagainya)

Imam Al-Ghozali r.a. mengatakan: “Sunnat dzikir keras (jahar) diberjemaahkan di mesjid karena dengan banyak suara keras akan memudahkan cepat hancurnya hati yang keras bagaikan batu, seperti satu batu dipukul oleh orang banyak maka akan cepat hancur”.

 

KENAPA MESTI DZIKIR KERAS?

Ulama ahli ma’rifat mengatakan bahwa untuk mencapai ma’rifat kepada Allah bisa diperoleh dengan kebeningan hati. Sedangkan kebeningan hati itu bisa dicapai dengan suatu thoriqoh (cara), diantaranya banyak berdzikir kepada Allah. Jadi, ma’rifattidak akan bisa diperoleh jika hati kita busuk penuh dengan kesombongan, ria, takabur, iri dengki, dendam, pemarah, malas beribadah dan lain-lain. Oleh sebab itu dzikir diantara salah satu cara (thiriqoh) untuk membersihkan hati.

Sebab, manusia sering menyalahgunakan fitrah yang diberikan Tuhan, sehingga hati mereka menjadi keras. Sifat-sifat yang tidak terpuji tersebut, mendorong manusia memiliki hati yang keras melebihi batu. Hal tersebut sebagaimana kalimat yang tercantum dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 74: “tsumma qosat quluubukum minba’di dzaalika fahiya kal hijaaroti aw asyaddu qoswatun”, artinya “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu,bahkan lebih keras lagi”.Dari ayat tersebut hati manusia yang membangkang terhadap Allah menjadikan hatinya keras bagaikan batu bahkan lebih keras daripada batu.

Maka, jalan keluarnya untuk melembutkan hati yang telah keras bagaikan batu sehingga kembali tunduk kepada Allah, sebagaimana Ulama ahli ma’rifat mengatakan penafsirkan ayat tersebut, sebagaimana dalam kitab miftahu Ash-Sshudur karya Sulthon Awliya Assayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “fakamaa annal hajaro laa yankasiru illa biquwwatin dlorbil muawwil fakadzaalikal qolbu laayankasiru illa biquwwati ”, artinya “sebagaimana batu tidak pecah kecuali bila dipukul dengan tenaga penuh pukulan palunya, demikian hati yang membatu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan kuatnya suara dzikir. “liannadz dzikro laa yu’tsiru fiijam’i tsanaati qolbi shohibihi illa biquwwatin”, artinya “ Demikian pula dzikir tak akan memberi dampak dalam menghimpun fokus hati pendzikirnya yang terpecah pada Allah kecuali dengan suara keras”.

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih di dalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang yang akan menghalangi kita dekat kepada Allah, seperti sifat-sifat jelek manusia: iri, dengki, sombong, takabur,dll yang disumberkan oleh hati yang keras).

 

CARA BERDZIKIR DENGAN KERAS YANG DIAJARKAN ROSUL

Dalam hadits shohihnya, dari Yusuf Al-Kaorani : “Sesungguhnya Sayyidina ‘Ali r.a. telah bertanya pada Nabi Saw. : Wahai Rosulullah, tunjukkanlah kepadaku macam-macam thoriqot (jalan) yang paling dekat menuju Allah dan yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan yang paling utama di sisi Allah, maka Nabi Saw menjawab: wajiblah atas kamu mendawamkan dzikkrullah: Sayyidina ‘Ali r.a bertanya lagi: Bagaimana cara berdzikirnya ya Rosulallah? Maka Nabi menjawab: pejamkan kedua matamu, dan dengarkan (ucapan) dariku tiga kali, kemudian ucapkan olehmu tiga kali, dan aku akan mendengarkannya. Maka Nabi Saw. Mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali sambil memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sedangkan Sayyidina ‘Ali r.a mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali, sedangkan Nabi Saw memdengarkannya”. (Hadits dengan sanad sahih, dalam kitab Jami’ul Ushul Auliya)

 

Dalam kitab Tanwirul Quluub dijelaskan cara gerakan dzikir agar terjaga dari datangnya Syetan, merujuk Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al’Arof ayat 17: “Demi Allah (kami Syetan) akan datang kepada manusia melalui arah depan, arah belakang, arah kanan dan arah kiri”. Ayat ini menunjukan arah datangnya syetan untuk menggoda manusia agar menjadi ingkar terhadap Allah. Jelas, sasarannya manusia melalui empat arah; 1. Depan 2.Belakang 3.Kanan 4.Kiri.Maka, dzikirnya pun harus menutup empat arah. Dalam kitab Tanwirul Qulub: ucapkan kalimat “LAA” dengan diarahkan dari bawah pusat tarik sampai otak hal ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah depan dan belakang. Adapun ditarik kalimat itu ke otak karena syetan mengganggu otak/pikiran kita sehingga banyak pikiran kotor atau selalu suuddzon. Dan “ILAA” dengan diarahkan ke susu kanan atas, dan kalimat “HA” diarahkan ke arah susu kanan bagian bawah adapun ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah kanan. Dan “ILLALLAH” diarahkan ke susu kiri yang bagian atas serta bawahnya, hal ini untuk menutup pintu syetan yang datangnya dari arah kiri, namun lapadz jalalah yaitu lapadz “ALLAAH”nya diarahkan dengan agak keras ke susu kiri bagian bawah sekitar dua jari, karena disanalah letaknya jantung atau hati (keras bagaikan batu) sebagaimana pendapat Imam Al-ghozali.

Syarat berdzikir menurut para Ulama Tasawuf:

1. Dengan berwudlu sempurna

2. Dengan suara kuat/ keras

3. Dengan pukulan yang tepat ke hati sanubari

 

 

 

MANA YANG PALING UTAMA, DZIKIR KERAS (JAHAR) ATAU DZIKIR HATI (KHOFI)?

Dalam kitab ulfatu mutabarikin dan kitab makanatu Adz-dzikri bahwasanya Rosul pernah bersabda: “sebaik-baik dzikir adalah dalam hati”. Dalam kitab tersebut dijelaskan hal itu bagi orang yang telah mencapai kelembutan bersama Allah, hati bersih dari penyakit, hati yang sudah lembut. Sedangkan dzikir keras itu lebih utama bagi orang yang hatinya keras bagaikan batu, sehingga sulit untuk tunduk pada perintah Allah karena sudah dikuasai oleh nafsunya.

Dalam kitab Miftahu Ash-Shudur karya Sulthon Auliya As-Sayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “ Sulthon Awliya As-Sayyid Syekh Abu A-Mawahib Asy-Syadzili r.a. berkata: “Para ulama toriqoh berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama, apakah dzikir sir (hati) atau dzikir jahar (keras), menurut pendapat saya bahwa dzikir jahar lebih utama bagi pendzikir tingkat pemula (bidayah) yang memang hanya dapat meraih dampak dzikir dengan suara keras dan bahwa dzikir sir (pelan) lebih utama bagi pendzikir tingkat akhir (nihayah) yang telah meraih Al-Jam’iyyah (keteguhan hati kepada Allah)” .

Imam Bukhori, dalam kitab Sahihnya bab dzikir setelah salat fardlu, berkata: “ Ishaq ibnu Nasr memberitahu kami, dia berkata’Amru memberitahu saya bahwa Abu Ma’bad, pelayan Ibnu Abbas, semoga Allah meridloi keduanya, memberitahu Ibnu Abbas bahwa “Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jama’ah selesai dan shalat fardlu sudah biasa dilakukan pada masa Nabi Muhammad. Ibnu Abbas berkata: “Aku tahu hal itu, saat mereka selesai shalat karena aku mendengarnya”. Sayyid Ahmad Qusyayi. Q.s., berkata: ”inilah dalil keutamaan dzikir keras (jahar) yang didengar orang lain, dengan demikian ia membuat orang lain berdzikir kepada Allah dengan dzikirnya kepada Allah“.

 

DZIKIR KERAS MERESAHKAN?

Dzikir keras tidak akan meresahkan atau mengganggu orang yang hatinya penuh dengan cinta kepada Allah. Dengan terdengarnya dzikir menjadi magnet (daya tarik) yang kuat bagi orang yang beriman, bahkan menjadi kenikmatan tersendiri. Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an QS.Al-Anfal ayat 2 :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” .

 

ALLAH TIDAK TULI

Ada anekdot dari seorang Ulama Tasawuf pengamal thoriqoh: suatu hari ada dialog antara mahasiswi dan ulama tasawuf. Mahasiswi bertanya: “Pak Kiai, kenapa dzikir mesti keras (jahar) padahal Allah itu tidak tuli?”. Ulama Tasawuf menjawab dengan membalikan pertanyaan: “yang bisa kena sifat tuli itu yang memiliki telinga atau tidak?”. Mahasiswi menjawab: “iya yang punya telinga”. Ulama Tasawuf kembali bertanya: “Kalau Allah punya telinga tidak?”. Mahasiswi menjawab: “tidak punya”. Ulama tasawuf kembali bertanya lagi: “apakah dengan suara keras makhluk akan merusak pendengaran Allah?”. Mahasiswi menjawab: “tidak Pak Kiai”.

Selanjutnya Ulama Tasawuf mengatakan: “oleh sebab itu istighfarlah dan bersyahadatlah dengan baik, bagaimanapun Allah tidak akan tuli dan tidak akan rusak pendengaran-Nya oleh suara kerasnya makhluk. Bagi-Nya suara keras maupun pelan terdengar oleh Allah sama. Hanya saja, hati manusia yang tuli akan perintah Allah. Jadi, dzikir keras bukan untuk Allah dan bukan ingin didengar oleh Allah karena Allah sudah tahu. Tapi tujuan dzikir keras itu diarahkan untuk hati yang tuli kepada Allah yang keras bagaikan batu sedangkan kita tahu batu itu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan yang kuat, begitupun hati yang keras bagaikan batu tidak akan hancur kecuali dengan suara pukulan dzikir yang kuat. Jadi, Allah tidak butuh akan dzikir kita, sebaliknya kitalah yang butuh akan dzikir kepada Allah supaya hati menjadi lembut, bersih dan ma’rifat kepada Allah.

28 Oktober 2012

DZIKRULLAH

oleh alifbraja
Beruntunglah, Berbahagialah & Bersyukurlah kpd ALLAH SWT, Karena penjelasannya TIDAK ADA DI BUKU2 LAINNYA, Dan ilmu2 AgamaNYA ALLAH SWT  tidak gampang ditemukan & tidak sebanding dengan harta & Material yang ada di muka bumi ini, maka tunduk sujud syukurlah Kepada-NYA semoga penjelasan ini menjadi HIDAYAH bagi kita semua,……..AMIN
Ini adalah kekuatan cahaya Dzikir yg ada pada diri manusia dgn 4 tingkatan ingatan fokus pada ALLAH SWT Sang Maha Bercahaya.
Makin dalam & fana (hampa) suatu fokus dzikir maka makin terlenalah Sang Hamba oleh fenomena kegaiban alam Nur Ilahiah.
Karena jika ingin mengenali ALLAH pahamilah tentang Gaib sesungguhnya ALLAH pun sifatNYA GAIB & Perkenalanmu Kepada-NYA Takkkan habis sampai seumur hidupmu di dunia ini.
Seorang Hamba terkadang tidak menyadari bahwa ia sebenarnya masih di dunia sehingga menerawang melintasi alam kegaiban nur Ilahiah yang tak ada batas akhirnya membutuhkan power energi cahaya dzikir yg kuat.
Jika sang Hamba berpikir bijak ia pasti kembali ke dunia ibarat orang yang lagi menyelam melihat cakrawala keindahan bawah laut tidak terlalu lama lalu ia kembali ke permukaaan dasar laut untuk persiapan oksigennya kembali.
Begitulah tehnik berzikir yang bijaksana saudara……………………………
Ketahuilah Brothers  secara realita banyak saudara2 kita yang ERROR oleh fenomena alam kegaiban ALLAH SWT ketika mengosongkan pikiran &  masuk dalam alam kefanaan (hampa) melalui dzikir 4 tingkatan Syariat-Tarekat-Hakikat-Ma’rifat.
Padahal kalau ditelaah secara hakikat Alam fenomena visual kegaiban ALLAH SWT Takkan Habis oleh masa, batas, ruang & waktu ibaratnya klo menghitung ilmu2NYA ALLAH SWT takkan habis biarpun laut dijadikan tinta untuk menulis ayat2 ilmu ALLAH SWT Yang Maha Luas Pengetahuan-NYA Di Alam Jagat Raya.
Berikut ini adalah tuntunan2 dzikir:
  • Dzikir Syariat :
  •  “La Ilaha Illallah” diucapkan berulang2 dgn lisan sampai masuk kedalam hati sehingga lisan/mulut tak berucap lagi, rahasia dzikir ini terdiri dari 12 huruf yg sama maknanya dengan Waktu 12 jam, dzikir ini selalu dikumandangkan oleh para malaikat bumi (Malaikatul Ahyar) ketika ALLAH SWT menciptakan setiap makhlukNYA di muka bumi.
  • Dzikir Tarekat :
  •  “ALLAH”ALLAH”ALLAH” diucapkan berulang2 di dalam hati saja dengan pengosongan pikiran fana (hampa) lalu fokus pada nama tadi sehingga nama ALLAH tadi membuat & menciptakan alam bayangan hidup  didepan mata anda sendiri, jangan kaget & takut oleh fenomena tersebut karena para jin syetan selalu mengintai anda tetapi berlindunglah Kepada ALLAH SWT yang Maha Menjaga Orang Beriman dgn ayat & doa : audzu billahi minas syathanir rajim…………… La ilaha illallah anta subhanaka inni kuntu minaz zhalimin……….lalu lafazkan… ALLAHU SALAMUN HAFIZHUN WALIYYUN WA MUHAIMIN ( Allah Yang Maha sejahtera, Maha Memelihara, Maha Melindungi lagi Maha Menjaga Hambanya yg beriman).
  • Dzikir Hakikat :
  •  “HU”HU”HU (DIA ALLAH) diucapkan dalam hati saja dengan keadaan fana (hampa) melalui perantaraan tarikan Nafas ke dalam sampai ke perut, usahakan perut tetap keras biarpun nafas telah keluar, dalam bahasa ilmu tenaga dalam ini adalah metode pemusatan power lahiriah dari perut, dalam istilah cina yin & yang ini adalah penyembuhan/pengobatan pada diri secara bathiniah dan kesemuanya itu benar adanya karena pusat perut adalah sumber daya energi kekuatan manusia secara lahiriah & bathiniah serta secara hakikat dzikir”HU” sebenarnaya tempatnya pada pusat perut dengan perantaraan cahaya nafas yg sangat berharga pada manusia.
  • Dzikir Ma’rifat : 
  • ” HU”AH”-”HU”AH”-HU”AH” atau HU-WAH” (Dia ALLAH Bersamaku”) sebenarnya bunyi dzikir ini sudah perpaduan antara hakikat & ma’rifat, dzikir tersebut dilantunkan dalam hati saja dengan gerakan nafas “HU” masuk kedalam “AH” keluar nafas, pada para sufi (wali Allah) ini adalah dzikir kenikmatan, kecintaan ( Mahabbatullah) yang sangat luas faedah hidayahnya & karomahnya sehinngga dapat menyingkap tabir rahasia2 Allah Swt pada gerakan kehidupan ini.
  • Dzikir rahasia  ma’rifat :
  •  ” Hu”wallahu Ahad (Allah Maha Tunggal)
Pada penjelasan diatas tentang dzikir sebenarnya kalau bicara tentang tingkatan pemahaman Agama dengan ilmun2NYA ALLAH SWT terdiri 7 fase tingkatan  :
  1. Syariat : mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala laranganNYA
  2. Tarekat : Jalan spritual menuju kepadaNYA
  3. Hakikat : Mengetahui arti makna sesuatu pada kehidupan TAPI hamba itu diam pada orang awam KARENA itulah ikatan janjinya kepada ALLAH SWT.
  4. Ma’rifat : Mengetahui pengenalan dirinya kepada ALLAH SWT.   seperti yang  hadist katakan ” kenalilah dirimu sendiri sebelum mengenali ALLAH setelah engkau MengenaliNYA maka binasalah wujudmu BERSAMANYA.
  5. Musyahadah : Penyaksian fenomena kegaiban NUR ALLAH SWT Di langit & di bumi, ia menyaksikanNYA bersama para wali ALLAH & nabi2 ALLAH & Khususnya Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW
  6. Mukasyaf : Terbukanya Tabir rahasia seluruhnya di langit & di bumi, para mukasyaf saat ini hanya terdiri dari 111 orang saja di  seluruh  dunia & setiap ada wafat ada yang menggantikan Wali tersebut, jadi  berbahagialah hamba yang telah menemukannya.
  7. Mahabbah : Kecintaan kepada ALLAH SWT dengan penglihatan pada setiap gerakan nafas & hidupnya ada  kasih sayang TuhanNYA Yang Maha Pemberi Nan Maha pemurah, tingkatan ini hanya ALLAH SWT saja yang tahu tentang kedudukan hambanya, tapi ketahuilah saudara Wali-NYA saat ini yang mencapai tingkatan MAHABBAH cuma berjumlah 11(sebelas) orang saja Di dunia ini & setiap ada yg kembali kehadiratNYA akan ada yg menggantikannya (sama para Mukasyaf), maka sangat Berbahagialah di dunia & Akherat orang2 yang telah menjumpainya.
28 Oktober 2012

MENGENAL MANI UNTUK MENGENAL JASAD

oleh alifbraja

BARANG SIAPA MENGENAL MANI…MENGENAL IA AKAN JASADNYA.

Mengenal mani adalah penjelmaan dari bapak dan ibu atau yang disebut Sulbi dabn Taraib,jadi mani itu dalah mulanya seberkas cahaya yang dikeluarkan oleh allah dari mutu manikam sehingga para Ulama berpendapat yaitu :

Mani adalah salah satu-satunya Zat Penjelmaan dari dua macam zat (sulbi dan taraib)…Dengan adanya KUDRATILLAHI yaitu berasal dari sulbi bapak dan yang menjadi IRADATILLAHI yaitu berasal dari ibu…Oleh sebab itu bagaimanapun birahinya kaum ibu,hal ini tidak terlalu nampak karena birahinya kaum ibu ini tidak dapat melampaui batasnya kudrat kaum bapak,karena kaum ibu ini hanyalah iradat maka ulama mengistilahkan Surga Itu Di Atas Telapak Kaki Ibu.
Untuk lebih jelasnya saya terangkan bagian-bagian dari maksud yang diatas :
BAGIAN BAPAK : WADI,MADI,MATU,MANI Atau disebut  SULBI.
BAGIAN IBU      : ASALNYA TANAH,ANGIN,API AIR Atau disebut TARAIB.
BAGIAN ALLAH : ROH IDHAFI,ROH ROHANI,ROH RAHMANAI,ROH JASMANI.
BAGIAN DARI GUDANG RAHASIA Disebut “MUTU MANIKAM”.
Asalnya Tanah yaitu : ANFAS Hurufnya Alif Kalimatnya LA.
Asalnya Angin yaitu : TANAFAS Hurufnya Lam Awal Kalimatnya ILLAHA
Asalnya Air yaitu : NAFAS Hurufnya Ha Kalimatnya ALLAH.
Wadi…….Ma anni kalimatnya : LAA ILAHA
Madi…….Ma annawiya kalimatnya : ILALLAH
Matu…….Sulbi kalimatnya : ALLAH
Mani…….Salbiyah kalimatnya : HU
Ruh Jasmani ………….Kalimatnya (YAHU).
Ruh Rahmani………….Kalimatnya (IYAHU).
Ruh Rohani…………..Kalimatnya (YAMANIHU).
Ruh Idhafi………….Kalimatnya (YAMAN LAYISALAHU).
Mutu Manikam………….Kalimatnya (MA’DAHU)
Tujuh Petala Bumi dijadikan 7 (tujuh) Tingkatan Martabat yaitu :
1. Sifat Amarah.
2. Sifat Lawwama.
3. Sifat Mulhima.
4. Sifat Mutmainah.
5. Sifat Radhiyatan.
6. Sifat Mardhiyah.
7. sifat ubudiyah.
Tujuh Petala Langit yang dimaksud denngan Martabat 7 (Tujuh) yaitu :
1. Lathifatul Qolbi.
2. Lathifatul Ruuhi.
3. Lathifatul Sirri.
4. Lathifatul Ahfa.
5. Lathifatul Hafi.
6. Lathifatul Nafsu Natika.
7. Lathifatul Kulu Jasad.
Jikalau tingkatan semacam ini yang kita ambil Hakikatnya pada Alam kecil yang tersembunyi (terahasia) dalam diri kita,maka ulama menamakan sebagai berikut :
1.HAYATUN JASADI BIN-NAFASI.
2. HAYATUN NAFASI BIR-RUHI.
3. HAYATUN RUHI BIS-SIRRI.
4. HAYATUN SIRRI BIL IMANI.
5.HAYATUN IMANI BINNURI .
6.HAYATUN NURI BIL QUDRATI.
7. HAYATUN QUDRATI BI MU’ALAMULLAHI TA’ALA DZATULLAH.
Artinya adalah sebagai berikut :
1. Asalnya Jasad dari Nafas.
2. Asalnya Nafas dari Ruh.
3. Asalnya Ruh dari dalam Rahasia.
4. Asalnya Rahasia dari dalam Iman.
5. Asalnya Iman dari Nur/Cahaya.
6. Asalnya Nur/Cahaya dari Qudrat.
7. Asalnya Qudrat dari ke-Baqa’an ALLAH.
Kalimatnya jadi seperti ini :
1. Hayatun jasadi hurufnya ALIF kalimatnya LA.
2. Hayatun Nafasi hurufnya LAM AWAL kalimatnya ILAHA.
3. Hayatun Ruuhi hurufnya LAM AKHIR kalimatnya ILLA.
4.  Hayatun Sirri hurufnya HA kalimatnmya ALLAH.
5. Hayatun Imani hurufnya Alif (Allah) kalimatnya YAHU.
6. Hayatun Nuri hurufnya Lam (Jibril) kalimatnya IYAHU.
7. Hayatun Qudrati hurufnya  Mim (Muhammad) kalimatnya IYAHU YAMANIHU.
Dengan demikian apabila kesemuanya ini akan kita lebur kedalam ke-Baqa’an DZAT ALLAH,maka ulama menamakannya sebagai berikut :
1. WATUJIBUL WASADI FI FASARAL QOLBI.
2. WATUJIBUL QOLBI FI FASARAL RUHI.
3. WATUJIBUL RUHI FI FASARAL SIRRI.
4. WATUJIBUL SIRRI FI FASARAL IMAN.
5. WATUJIBUL IMAN FI FASARAL NURI.
6. WATUJIBUL NURI FI FASARAL QUDRATI.
7. WATUJIBUL QUDRATI FI FASARAL DZATI FIL DZATI.

Demikian penjelasan singkat dan keterangan yang dapat saya sajikan dalam hal pengenalan “MANI” hingga dia menjadi “JASAD”  kita manusia yang barangkali ada keterangan-keterangan selanjutnya….Wallahu a’lam bissawab..

27 Oktober 2012

SISTEMATIKA TASAWUF 3

oleh alifbraja

PERAN WIRID DALAM  KEHIDUPAN HATI

Sebagian kita mengartikan WIRID ; sebagai rangkaian doa dan zikir di amalkan seorang salik ,yang diberikan oleh seorang guru kepada murid.Dalam Ensiklopedia Tasawuf disebutkan ;Wirid berasal dari kata arab WIRID, jamaknya Awrad yang berarti kumpulan zikir dan do’a do’a kepada Allah.Pembacaan wirid sangat dianjurkan,wirid merupakan do’a do’a pendek atau formula formula untuk memuja Tuhan dan memuji Muhammad saw,dan membacanya dalam hitungan tertentu sekian kali,pada jam jam yang telah ditentukan yang dipercaya akan memperoleh keajaiban atau paling tidak akan mendatangkan manfaat.

 

Didalam Kamus Tasawuf juga disebutkan,WIRID jamaknya AURAD.Wirid adalah seruan yang mengandung permohonan tertentu kepada Allahswt.Wirid diartikan juga dengan do’a do’a yang diucapkan berulang ulang setiap hari.Dalam istilah tassawuf adalah doa yang diulang pada waktu tertentu saetiap hari biasanya sesudah shalat wajib.Rangkaian kalimat qurani,biasanya dibaca sejumlah seratus kali ataulebih.Kalimat kalimat tersebut merupakan pelatihan yang menumbuhkan konsentrasi keagamaan sehari hari.Kalimat kalimat wirid biasanya dibaca oleh kelompok kelompok thariqat dan juga kelompok lainya.Gaya dan model aurad sangat beragam,tetapi pada umumnya mengandung permohonan ampunan(istigfar), shalawat nabi, dan syahadah.

 

Menurut hemat kami pengertian pengertian tentang wirid tersebut diatas merupakn pengertian wirid yang sempit.Sebenarnya WIRID mempunyai arti yang lebih luas yaitu WIRID adalah amal amal kebaikan dalam islam termasuk do’a dan dzikir yang dilakukan oleh penempuh jalan menuju Allah ( salik).Jadi wirid tidak hanya membaca doa dan dzikir tapi melakukan amal ibadah ibadah lain juga bisa disebut WIRID.Seperti dijelaskan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah al hasani dalam kitabnya : Iqazh al Himam fi Syarh al Hikam ;versi Indonesia :”Lebih dekat kepada Allah ” terjemahan :Abdul Halim S,Ag );bahwa WIRID menurut istilah adalah dzikir dan ibadah lainya yang ditetapkan seorang hamba kepada dirinya sendiri atau ditetapkan seorang guru kepada muridnya.

 

Syeikh Sa’id Hawa rahimaullah dalam kitabnya : Mudzakiraat fi manzilis shidiqien wa rabbaniyyin ;terjemahan : imran effendi menjelaskan panjang lebar tentang wirid .Wirid wirid harian adalah kehidupan hati,dengan wirid ,hati menjadi terang bersih dan tenteram,shalat adalah wirid khusus sementara amal amal dalam islam lainya merupakan wirid umum.Menurut syeikh ‘Athaillah rahimaullah: seorang arif tak pernah meninggalkan ibadah, maka padukanlah ibadah dengan ma’rifat, sebab orang yang hanya melakukan ibadah dan zuhud tanpa memperoleh ma’rifah akan surut semangat ibadahnya.Agar gambaran ma’rifah tak menyimpang maka beliau menjelaskan bahwa ma’rifah hakiki itu ada di akhirat, sedangkan keharusan kita didunia ini hanya memperhatikan ciptaanNYA dan menyelami sifat sifatNYA.

 

Wirid wirid harian diperlukan agar supaya hati seorang salik yang sedang menempuh perjalanan menuju Allah berada dalam kesadaran.Seperti kita ketahui bahwa ketika ruh dimasukan dalam jasad atau tubuh maka seketika itu pula ruh tersebut menjadi tawanan jasad atau tubuhnya,sehingga ruh terpengaruh oleh tuntutan tuntutan jasad.dan inilah yang mjenyebabkan dirinya terhijab (tertutup tabir).padahal azalnya hati ini telah mengenal Allah seperti difirmankan Allah swt :

 

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِى اَدَ مَ مِنْ ظُهُوْ رِهِمْ ذ ُرِّ يَّتَهُمْ وَاَشْـهَدَ هُـمْ عَلَي

 

اَنْفُــسِهِمْ اَلَسْتُ بِــرَبِّكُــمْ قاَ لُوْا بَلىَ شَــهِد ناَ اَنْ تَــقُــوْ لُــوْا يَـــوْمَ

 

الْقِيَــمَةِ اِناَّ كُــنَّا عَــنْ هَــذَا غَا فِلِــيْــنَ .

 

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan anak anak adam dari sulbi mereka Dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka(seraya berfirman):”BukanKah AKU ini Tuhanmu?”,mereka menjawab,”Betul (Engkau Tuhan kami),kami bersaksi (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan :’Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini ‘.” (Al ‘Araf(7):172 )

 

Akan tetapi ketika ruh sudah masuk kedalam raga maka beragam tuntutan jasadpun memberinya perubahan yang berpengaruh langsung kepada hati.Bila cahaya yang menyinari hati begitu kuat,maka sesorang dapat menangkis beragam desakan tubuh,tetapi jika sesorang melakukan dosa ,maka hatinya tertitik noda noktah hitam.

 

Oleh karena itu agar hati seseorang tetap dalam kondisi tertentu, maka ia harus menjaga beberapa hal tertentu.Karena itu ibadah disyariatkan kepada kita, baik wajib maupun yang sunat,agar dapat mengisi dan mewarnai keadaan yang ada diri seseorang.Hati bukan hanya satu, kondisi bukan hanya satu dan pengaruh yang membekaspun bukan hanya satu macam, karena ini dan hal lainya,maka disyari’atkan kepada kita hal hal yang wajib dan nafilah ( sunat yang sangat dianjurkan).Sebagian syariat nafilah itu diserahkan kepada kita agar seseorang dapat mengambil,sesuai dengan kapsitas dirinya,kebutuhan hatinya, dan keadaan yang meliputinya.Allah berfirman :

 

 
بَلِ الا ِنْـساَنُ عَــلَى نَــفْسِــهِ بَــصِيْــرَةً . وَلَوْ اَلْـقَى مَــعاَ ذِيـرَهُ .

 

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.Dan meskipun dia

Mengemukakan alasan alasannya.” (Al Qiyamah(75):14-15)

 

 

Orang yang hidup dalm lingkungan yang kacau harus lebih gencar mencuci hatinya katimbang orang yang hidup dalam lingkungan mesjid misalnya.dan inilah sebagian hikmah, mengapa hal hal yang nafilah (sunat) tidak terikat;karena faktor tertentu, maka tingkat kebutuhan sesorang berbeda, ada yang sedikit ada Pula yang banyak.maka setiap orang hemdaklah mengatur segala urusan agar hatinya tetap dalam kondisi tertentu.Jika ia tidak memperhatikan hal itu maka bisa jadi tiba tiba hatinya tertutup, lalu makin tebal,tapi tetap tidak merasa.Karena itu setiap hari seseorang harus mencuci hatinya, dan sholat dianggap alat pencuci yang utama.Setiap rukun islam mempunyai peran dalam pencucian hati,tetapi sholat yang kontinyu sangat ampuh sekali mengkilapkan/menjernihkan hati dan jiwa,lebih lebih bila sholat ditunaikan dengan segenap kesempurnaan.Allah berfirman :

 

 

….. اِنَّ الصَّــلَو ةََ َ تَـنْهىَ عَـنِ الْفَـحْـشَآ ءِ وَالمُـنْــكَرِ……

 

“…..Sesungguhnya sholat itu mencegah dari hal hal keji dan mungkar……

(al-Ankabut /29:45)

 

 

Selain sebagai penghalang nafsu dari melakukan kekejian dan kemungkaran, sholat juga sebagai juga senagai pembasuh ruhani, karena pada dasarnya sholat harus dilakukan dalam suasana ruhani tertentu.Pasti menyimpan hikmah kebaikan jika sholat itu diwajibkan pada malam issro’ mi’roj tepatnya ketika mi’raj.Dari sinilah para ahli perjalanan menuju Allah berpendapat bahwa ketika seorang menunaikan sholat rohaninya naik melambung ke alam arwah.

 

Orang yang setiap hari membawa ruhaninya naik melalui shalat shalatnya, maka ia akan menjadikan ruhaninya benar benar suci.Jika seorang benar benar berdiri menegakkan shalatnya,seraya memperhatikan makna makna yang terkandung didalamnya,seperti sujud, rukuk,sholawat kepada nabi,memuji Allah,berdoa beristighfar dan membaca al qur’an sesungguhnya ia telah membersihkan ruhaninya.Jika seseorang melaksanakan sholat wardu dengan sempurnadan rapih ,maka berarti ia mencuci ruhani jiwa dan hatinya sebanyak lima kali.Jika sholat wajib dipadu dengan sholat sholat sunat, seperti sunat rawatib, witir, qiyamul lail, sholat dhuha, maka tak pelak lagi hatinya akan menjadi bersih dan berkilau.Tanpa pencucian yang terus menerus dengan sholat ruhani akan bertanbah kotor,jiwanya makin kusam dan hatinya kian menjadi gelap.

Ari Ibnu Mas’ud rahimaullah, dia menuturkan, rosulullah bersabda :

” Kalian akan terbakar, kalian akan terbakar !namun jika kalian sholat subuh,makaAkan dicucinya.Kalian akan terbakar kalian akan terbakar,namun jika kalian sholat Dhuhur maka akan dicucinya.Kalian akan terbakar kalian akan terbakar namun jika kalian sholat as’ar maka akan dicucinya.Kalian akan terbakar kalian akan terbakar namun jika kalian sholat maghrib maka akan dicucinya.Kalian akan terbakar Kalian akan terbakar namun jika kalina sholat ‘isya’ maka akan dicucinya, kemudian kalian tidur maka tiada keawjiban bagi kalian hingga kalian bangun .” (HR Tabrani )

 

Apabila wirid yang kontinyu itu menyatu dengan sholat maka proses pencucian akan makin besar pengaruhnya.Raosulullah saw mempunyai berbagi wirid yang menyatu dengan sholat sholatnya dan sungguh betapa banyak sholat dan wirid beliau.Dalam satu rekaat saja rosulullah memmbaca surat al baqarah. Al imron, an nisa’.

Ibnu Umar berkata :

“Dalam satu majlis (saja) kami hitung Rosulullah melafalkan doa:Rabbighfirlii wa tub ‘alayya innaka antat tawwabur rohim (yaTuhanku ampunilah aku dan berilah aku taubat,sesungguhnyaEngkau maha pemberi taubat lagi penyayang ) “.(HR Abu dawud ,tirmidzi)

‘Aisyah berkata : “Rasulullah berdzikir kepada Allah dalam semua waktu “.

(HR Muslim)

Shalat, doa, dzikir selepas sholat, doa dan dzikir pada saat tertentu, doa dikala malam dan siang serta dzikir dzikir bebas semua itu bisa menopang pencucian dan pembersihan ruhani dan hati yang terus menerus.Namun jika melalaikan berarti tiada pembersihan,peringatan dan penerangan baginya hingga terkadang sampai kepada kekufuran.

Sesungguhnya sesorang yang menginginkan kesempurnaan ibadah dan ubudiyah, demi meraih hati yang tetap terang dan menerangi maka tiada jalan lain kecuali harus melazimkan wirid wirid harian yang dipadu dengan shalat.Seorang yang tidak punya pencucian harian yang kontinyu bagi hatinya, maka ia berada dalam bahaya.Maka setiap muslim hendaknya mengobati hatinya setiap hari, hingga ia selalu siap untuk berjumpa dengan Allah yang maha suci .Inilah keadaan yang kita warisi dari Rasulullah saw. Dan inilah yang harus dimiliki setiap Muslim khusunya yang ingin menempuh perjalanan menuju ALLAH.

27 Oktober 2012

SISTEMATIKA TASAWUF 2

oleh alifbraja

MA’RIFATULLAH

Ma’rifat ,ma’rifah secara harfiah berarti pengetahuan.Dalam kajian tasawuf, ma’rifah maksudnya ma’rifah Allah ( pengetahuan tentang TUHAN )Dalam kamus tasawuf disebutkan , Ma’rifah berasal dari kata ‘arafa, yu’rifu, ‘irfan, ma’rifah, artinya adalah pengetahuan, pengalaman, atau pengetahuan Illahi.

 

Secara etimologis berarti ilmu yang tidak menerima keraguan atau pengetahuan Ma’rifah dapat pula berarti pengetahuan rahasia hakekat agama, yaitu ilmu yang lebih tinggi dari pada ilmu yang didapat oleh orang orang pada umumnya.

 

Ma’rifah dalam kajian tasawuf berarti pengetahuan yang sangat jelas dan pasti tentang Allah yang diperoleh melalui sanubari.Imam AL Ghazali menerangkan ;ma’rifat aalah ilmu pengetahuan yang tidak tercampur dengan keraguan.Sedangkan Abu Zakaria Al An shari menjelaskan ; ma’rifat menurut bahasa adalah ilmu pengetahuan yang sampai ketingkat yang mutlak

 

 

Lebih rinci imam Al Ghazali menerangkan,Ma’rifah adalah mengetahui rahasia rahasia Allah dan aturan aturanya yang melingkupi seluruh yang ada, seseorang yan telah sampai pada ma’rifah berada dekat dengan Allah,bahkan ia dapat memandang Allah, dan ma’rifat datang sebelum mahabah.Menunurut al Gazali,ma’rifat ada tiga tingkatan sesuai dengan dasar pengetahuan dan metode yang dipergunakan, sebagai berikut :

 

  1. Ma’rifat orang awam,yakni pengetahuan yang diperoleh melalui jalan meniru atau taqlit
  2. Ma’rifat mutakalimun, yaitu pengetahuan yang didapat melalui pembuktian rasional.kualitas peringkat pertama dan kedua ini hampir sama
  3. Peringkat yang tertinggi kwalitasnya, yaitu pengetahuan para sufi, pengetahuan yang diperoleh melalui metode penyaksian langsung dengan radar pendeteksi yaitu ;QALBU yang bening dan jernih.

Dalam Risalah al Qusyairy dsebutkan ,Al Junayd berkata :”Hajat pertama yang dibutuhkan oleh hamba adalah ma’rifat makluk terhadap khalik, mengenal sifat sifat pencipta dan yang tercipta bagaimana ia diciptakan.sehingga diketahui sifat khalik dari makhluk, dan sifat yang qadim dari yang baru.Sang makluk merasa hina ketika dipanggilnya dan mengakui kewajiban taat kepadaNYA.Barang siapa tak mengenal rajanya,maka ia tidak mengakui terhadap raja,kepada siapa kewajiban kewajiban harus diberikan.

Menurt Al Jilali, jika seorang sampai pada tingkat ash shidiqiah ( kebenaran ), maka para sufi mencapai tingkat ma’rifah dalam bentuk;

  1. Ilmu al ‘yaqin, pada tingkat ini sufi disinari oleh asma Allah
  2. ‘Ayn al Yaqin, pada tingkat ini sufi disinari sifat sifat Allah
  3. Haqq al –Yaqin pada tingkat ini sufi menjadi fana’dalam asma, sifat sifat dan zat Allah

Ma’rifah hanya terdapat pada kaum sufi, yang sanggup melihat Allah dengan hati sanubarinya.pengetahuan seperti ini hanya diberikan Allah kepada kaum sufi yang sangat berhasrat untuk menemukan TUHAN karena sangat cintanya kepada ALLAH.

Ma’rifah bukanlah hasil pemikiran manusia,Ma’rifah adalah pemberian Allah kepada hambanya yang sanggup menerimanya.Dan ma’rifah diperoleh karena adanya kesungguhan, kerajinan,kepatuhan dan ketaatan menjadikan diri sebagai hamba Allah dalam beramal secara lahiriah sebagai pengabdian yang dikerjakan oleh tubuh untuk beribadat.

Ma’rifat diperoleh seorang hamba Allah melalui proses panjang dan dilakukan secara kontinyu, semakin banyak sesorang memperolah pengetahuan dan semakin sempurna dalam mengenal Allah, maka semakin banyak diketahuinya tentang rahasia rahasia Allah swt, dan seseorang itu semakin dekat dengan Allah.

Karena banyaknya ibadah dan keistiqomahan hamba maka datanglah karunia Allah karunia dari Allah itu adalah sebagai balasan,ganjaran, pahala atas amal ibadah yang dilakukan.Maka bila seorang, telah berkelana terus dalam beramal dan hatipun parallel geraknya sehingga menjadi bersih suci, maka terjadilah maqam atau derajat tertinggi.jadi Ahwal/karunia adalah pemberian , sedangkan maqam/derajat adalah karean Amalan.

Ketika sahabat Rosulullah,Abu Bakar as Shidiq ditanya mengenai Ma’rifatullah yang ada pada dirinya ia berkata : ” Sangat mustahil ma’rifat datang bukan karena ma’unah Allah”ia mengatakan bahwa ma’rifat itu tidak akan ditemukan pada panca indera manusia,tidak ada ukuranya.Ma’rifat itu dekat tetapi jauh, jauh tapi dekat.Tidak dapat diucapkan dan dinyatakan.dibaliknya ada sesuatu.Dialah Allah dzat yang maha kuasa atas segala sesuatu.tiada sesuatu yang menyamainya.

Orang yang telah dipenuhi ma’rifattullah selalu menegembalikan semua persoalan hidupnya kepada Allah.Hubunganya dengan Allah lewat Munajah yang intim dan berkesinambungan,memungkinkan ia mendapat petunujuk melalui ilham yang benar dan suci (ru’yah shadiqah ).Orang semacam ini melakukan segala sesuatu, selalu menunggu pimpinan Allah.Ia berlaku ‘arif atas pimpinan Allah melalui hatinya.Sikap seperti ini adalah sifat orang ‘arifin yang dinamakan ma’rifat.Artinya ia selalu mendapat bimbingan atau ma’rifat dari Allah SWT.

27 Oktober 2012

SISTEMATIKA TASAWUF 1

oleh alifbraja

SYARI’AT TAREKAT HAKEKAT

Dalam dunia tasawuf istilah tersebut diatas sangat populer;Syari’at Tarikat-Tarekat (Thariqat) Hakikat -Hakekat (haqiqat) adalah rangkaian sarana / jalan menuju Allah dan satu sama lain tidak bisa dipisahkan.Syeikh Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha,dalam syair hikmahnya mengatakan :

Inilah Jalan penghidupan keyakinan

Syari’at, tariqat, haqiqat menuju kemuliaan

Dengarlah yang tersirat dalam gambaran

Yang tersurat dalam bisikan.

Inilah gambaran jalan menuju Allah melalui Syariat, tariqat, haqiqat, melalui jalan ini seseorang akan mudah mengawasi ketakwaannya dan menjauhi hawa nafsu.Tiga jalan utama ini menjadi sarana bagi orang orang beriman menuju akhirat tanpa boleh meninggalkan salah satu dari tiga tersebut.

Syari’at tanpa haqiqad, adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh surga, menurut syeikh Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad ,Bagi orang yang beramal karena memperoleh surga,ada atau tidak adanya syari’at sama saja keadaannya,karena ia beranggapan;masuk surga itu semata mata anugerah Allah.dan inilah syariat yang kosong.

 

Haqiqat tanpa syari’at menjadi batal,Syeikh Ibn Muhammad Syatha mencontohkan :bila ada seorang yang memerintahkan sahabatnya mendirikan sholat, maka ia akan menjawab, mengapa harus sholat ?bukankah sejak zaman azali dia sudah ditetapkan takdirnya ? bila telah ditetapkan sebagai seorang yang beruntung,tentu ia akan masuk surga walaupun tidak shalat, sebaliknya apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang celaka maka ia akan masuk neraka walaupun mendirikan shalat.ini jalan yang salah.

Sayri’at adalah peraturan Allah yang telah ditetapkan melalui wahyu, berupa perintah dan larangan.Thariqat pelaksanaan dari peraturan hukum Allah ( syari’at).sedangkan Haqiqat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syari’at, sebagai tugas menjalankan firmanNYA

Kedudukan tiga jalan menuju Allah tersebut dijelaskan oleh syeikh Ibn Muhammad syatha;dalam syair hikmahnya :

Ibarat Bahtera itulah Syariat

Ibarat samudera itulah tharikqat

Ibarat mutiara itulah haqiqat

Syari’at ibarat kapal / bahtera, sebagai instrument, Tarekat ibarat lautan sebagai wadah yang mengantar tujuan.Haqiqat ibarat mutiara yang sangat berharga dan banyak mafaatnya.

Untuk memperoleh mutiara haqiqat, manusia harus mengarungi lautan /samudra yang sangat luas dangan ombak dan gelombang yang dahsyat.Sedangkan untuk mengarungi lautan itu,tidak ada jalan lain kecuali dengan kapal.

Rumi dengan indah memberikan deskripsi ketiga hal tersebut sabagai berikut :

Syari’at ibarat pelita;ia menerangi jalan,tanpa pelita kalian tak dapat berjalan, ketika sedang menapaki jalan kalian sedang menempuh tarekat, dan ketika telah sampai pada tujuan itulah hakekat.

1.SYARI”AT

Didlam eksiklopedi tasawuf disebutkan bahwa syari’at merupakan salah satu tahap praktek bagi calon sufi.keempat tahap lainya itu: syari’ah ( hukum keagamaan eksoterik ) tariqah (jalan mistik),haqiqah (kebenaran) dan ma’rifah ( pengetahuan ).

Syarat pertama adalah mengambil dan mengikuti syari’at;hukum Allah untuk kehidupan manusia,yang pada waktunya akan membawa seseorang ke sirat al mustaqim (yaitu jalan agama yang lurus.Jalan ini membawa sesorang ke dalam hakekat ( kebenaran akhir yang tak terbantahkan dan mutlak tentang seluruh eksistensinya ).

Syari’at dari akar kata syara’a yang berarti jalan.ia adalah jalan yang benar,sebuah rute perjalanan baik dan dapat ditempuh oleh siapapun.Sebagian besar sufi memahami syari’at dalam pengertian yang luas; mencakup ilmu dan seluruh ajaran islam.Syari’at bukan hanya sekumpulan kode atau peraturan yang mengatur tindak lahiri.Ia juga menjelaskan tentang keimanan, tauhid, cinta ,syukur,sabar,ibadah,zikir,jihad takwa.dan ihsan serta menunjukkan bagaimana mewujudkan realitas tersebut.semua doktrin sufi,secara implicit dan /atau ekplisit lahir dari sini.Syeikh Ahmad Sirhindi mengemukakan ; di dalam syari’at terkandung tiga hal yaitu : pengetahuan(ilmu),praktik ( amal)dan ikhlas.artinya meyakini kebenaran syari’at dan melaksanakan perintah perintahNYA dengan tulus dan ikhlas demi mendapatkan keridloan Illahi

Syari’at berisi ajaran moral dan etika yang menjadi dasar tasawuf.Syari’at memberi petunjuk kepada setiap orang untuk hidup secara tepat didunia ini.Mencoba menjalankan tasawuf tanpa mengikuti syari’at bagaikan membangun rumah berfondasi pasir.Tanpa dibangun kehidupan teratur yang dibangun dari prinsip moral dan etika yang kuat maka tidak ada mistisisme yang dapat berkembang.Kebutuhan terhadap syari’at sering diibaratkan dengan perahu nabi nuh yang harus dibangun dengan papan dan pasak.papan adalah ilmu dan pasak adalah amal.Tanpa perahu seseorang akan tenggelam dalam lautan keserbabendaan,sebagaimana putra nabi nuh yang menolak hukum yang dibawa ayahnya, karena itu didalam tasawuf syari’at sering dilihat sebagi bagian dari lipat tiga : syari’at, adalah jalan utama,yang cabangnya adalah jalan yang lebih sulit ( Tariqah) yang mengarah ke kebenaran ( haqiqah)

Dasar pokok ilmu syari’at adalah wahyu Allah yang tertulis jelas dalam Al-Qur’an dan sunah nabi Muhammad saw.ibadah mahdzah dan ghairu mahdzah serta ibadah muamalah tercantum denga jelas dalam ilmu syari’at.

Siappun tidak boleh menganggap dirinya terlepas dari syari’at,walaupun ulama sufi besar dan piawi, atau wali sekalipun.Orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan syari’at untuk mencapai tarikah sangat sesat dan meneyesatkan..Karena syari’at itu seluruhnya bermuatan ibadah dan muamalah, maka menjadi satu paduan dengan thariqat dan haqiqat.Ibadah seperti itu tidak gugur kewajibanya, walaupun seorang telah mencapai tingkat wali..Bahkan ibadah syari’atnya wajib melebihi tingkat ibadah manusia biasa.Sebagaimana dicontohkan rosulullah saw,ketika mendirikan sholat dengan penuh kekhusukan dan begitu lama berdiri,ruku’dan sujudnya,sehingga dua kakinya bengkak karena dikerjakan dengan penuh kecintaan dan ketulusan.

Ketika nabi ditanya berkaitan dengan ibadahnya yang begitu hebat dan sungguh sungguh beliau menjawab : “Mengapa saya tidak menjadi hamaba yang bersyukur ?”Karena ibadah itu termasuk salah satu cara untuk mensukuri nikmat ALLah dan semua anugerahnya.Maka para sufiyah atau waliyullah tetap berkewajiban melaksankan ibadah syari’at yang ditaklifkan kepada setiap muslim dan muslimat..

Oleh karena itu wajib bagi penempuh jalan ruhani dan para penuntut ilmu ilmu islam secara intensive mempelajari ilmu syari’at.Sebab semua ilmu yang berkaitan erat dengan kehidupan dunia dan akhirat tergantung erat kepada ilmu syari’at. Ilmu tasawuf dengan pendekatan kebatinan ( ruhaniyah ) tetap tergantung erat dengan syari’at.Tanpa syari’at semua ilmu ruhaniyah tak ada artinya.

Hati para sufiah akan bersinar cemerlang dalam menempuh kehidupan ruhaniyah yang tinggi, haya akan diperoleh dengan ilmu syari’at. Demikian juga kemaksiatan batin dan pencegahanya yang sudah tercantum dari teladan nabi saw,semua tercantum dalam ilmu syari’at.

Ilmu tasawuf adalah bagian dari akhlaq mahmudah, hanya akan diperoleh dari uswah hasanahya nabi Muhammad saw.Cahaya yang bersinar dari kehidupan nabi muhammad saw adalah pokok dasar dari pengembangan ilmu tasawuf atau dasar pribadi bagi para penuntut ilmu tasawuf.Menurut nabi Muhammad saw hati adalah ukuran pertama penuntut ilmu tasawuf.dengan kesucian hati dan ketulusannya melahirkan akhlaq mahmudah dan mencegah akhlaq mazmumah,seperti yang diajarkan dalam sunah nabi Muhammad saw,sebagian dari ilmu syari’at. Dengan pengertian lain, hati manusia shufiyah itu akan ditempati oleh tariqat yang berdasarkan syari’at.

2.TAREKAT

Tarekat menurut bahasa berasal dari kata arab TARIQAH ( jama’:taruq atau tara’iq ) yang bararti jalan atau metode atau aliran (madzab).Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan sampai ( wusul) kapada NYA.Tarekat merupakan metode yang harus ditempuh seorang sufi dengan aturan aturan teretentu, dengan petunjuk guru atau mursid tarekat masing masing,agar berada sedekat mungkin dengan ALLAH swt.Ahli taswuf mengaitkan istilah tarekat dengan firmanNYA :”Dan bahwasanya apabila mereka tetap berdiri pada jalan (tariqah) yang benar niscaya akan kami turunnkan ( hikmah)seperti hujan yang deras dari langit. (AL-Jin/72:16).

Pemikiran yang mendasari tasawuf adalah karena Allah merupakan zat yang maha suci,maka yang suci itu tidak akan dapat didekati kecuali dengan sesuatu yang suci.Dalam mendekatkan diri kepada Allah, para sufi biasanya melalui tahapan tahapan spiritual ( maqomat).masing masing sufi menempuh tahapan spiritual yang berbeda beda,berdasarkan pengalaman ruhani yang berbeda pula. menurut AL Gazali langkah langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kejernihan hati ( tazkiyah al nafs ) adalah :Takhalli yaitu pengosongan hati dari selain Allah, Tahalli :yaitu mengisi hati dengan zikir kepada Allah dan sifat sifat terpuji, dan Tajalli ; yaitu;memperoleh hakekat dan penampakan Tuhan.

Metoda yang digunakan para suifi untuk mendekatkan diri kepada Allah berbeda beda,, sebagian mereka melalui cara selalu dalam keadaan zikir kepada Allah ( mulzamah al-dzikr), selalu melatih diri (riyadoh ),selalu bersunguhsungguh untuk membersihkan hati dari sifat sifat tercela dan hawa nafsu (mujahadah),sebagian yang lain melalui metoda tujuh yaitu; memperingati diri(musyaratah),mengawasidiri(muraqabah),intropeksi (muhasabah),menghukum diri (mu’raqabah ) kesungguhan lahir batin (mujahadah ),menyesali diri (mu’atabah) dan pembukaan hijab ( mukhasafah ).Serentak dengan itu mereka melintasi tingkatan tingkatan (maqamat) antara lain tobat, sabar,ridla,zuhud, muhatabah, dan ma’rifah.

Menurut syeikh Ajiba al hasani ; tarekat berarti bertujuan membereskan hati membereskan hati dengan tiga hal : ikhlas, jujur dan tenang ( tuma’ninah) atau bisa dikatakan membereskan hati dengan cara mengosongkannya dari kotoran kotoran jiwa dan menghiasinya dengan keutamakan.

Suatu ketika syeikh Baha’ al Din al naqsyabandi ditanya :apa tujuan tariqah ?,beliau menjawab :”tujuannya adalah mengetahui secara rinci apa yang baru engkau ketahui secara singkat, dan untuk merasakan dalam penglihatan apa yang telah engkau ketahui lewat penjelasan dan argument”.Tujuan tareqah adalah memperkuat keyakinan terhadap syari’at,menyakini kebenaranya, mematuhi jaran ajaranya dengan senang dan spontan,mengikis kemalasan dan meniadakan penentangan atas keinginan diri ( nafsu ).

Seluruh kegiatan Tariqah dapatlah dikatakan mengarah pada satu tujuan ; yaitu ma’rifat billah atau mengenal ALLAH.Ma’rifat billah adalah puncak tujuan dari perjalanan tariqat atau ajaran tasawuf.Dengan berbagai jalan, cara, atau metoda ,tariqah pada intinya adalah ingin menjadi orang selalu taqarub billah, ma’rifat billah dan sekaligus ingin menjadi orang yang dikasihi ALLAH atau yang dikenal dengan sebutan WALIYULLAH.

3.WAJIBKAH MENGIKUTI KELOMPOK TAREKAT TERTENTU

Ada semacam keyakinan kuat dalam masyarkat kita bahwa pengamal tariqat harus mengikuti orginasasi atau kelompok tarekat tertentu,sehingga dia dapat disebut pengamal tariqat jika ia telah memsuki suatu organisasi tarekat tertentu yang dibimbing seorang guru tertentu dan mempunyai tata cara menurut ajaran organisasi tersebut.Dengan demikian ada doktrin yang baku dan diyakini benar benar, bahwa seorang tidak bisa sampai kepada tujuan ibadat secara hakiki sebelum menempuh atau melaksanakan ajaran organisasi tariqoah tertentu.

Ust.Labib MZ (dalam Rahasia Ilmu Tasawuf ) perpendapat ; seorang pengamal tariqat tidaklah harus menjadi anggota kelompok jama’h tariqoh dalam aliran tertentu, namun seorang yang sudah melaksanakan ajaran islam secara murni dan konsekwen sudah termasuk melaksanakan tariqat.

Semua orang sesuai dengan profesinya dan kemampuanya dengan cara sendiri sendiri bisa dikategorikan pengamal tariqat.Dalam hal ini tariqat yang digariskan dalam syari’at tenytunya. Sebab tariqat yang tidak sesuai dengan syari’at adalah sesat.Tidak ada tariqat tanpa syari’at, tidak terwujud hakekat tanpa adanya syari’at. Seperti dikatakan syeikhZainudin bin Ali Al Malibari :” Bahwasanya Tariqat ( jalan menuju Allah yang ditempuh orang islamn ) adalah syari’at,tariqat, hakikat.Maka dengarkanlah contoh contoh dari ketiga tiganya “.

Jadi tarekat umat islam tak lain adalah syari’at islam itu sendiri.Dan umat islam yang mengamalkan syari’atnya berarti sudah mengamalkan tareqat,tak peduli apapun profesinhya, direktur dokter ,ulama, pengajar,kyai , ustaz, da’i ,pelajar, mahasiswa dan lainya.Jalan tariqah bisa ditempuh dengan berbagi macam jalan termasuk juga orang sudah mengususkan diri dengan memperbanyak zikir dan senantiasa bertaqarub kepada Allah,baik lewat organisasi tariqat tertentu atau tidak ,nilainya sama hanya cara dan bentuknya yang berlainan.

Syeikh Zainudin bin Ali al malibary dalam “Nadhom Hidayatul Adzkiya” mengatakan :”Dan bagi masing masing dari kaum ada sebuah jalan (tariqat,cara)dari beberapa jalan,yang dipilihnya, maka dari jalan ini mereka sampai.Seperti duduknya diantara manusia dalam keadaan mendidik, dan seperti memperbanyak wirid – wirid, puasa, solat. Dan seperti berkhidmad kepada manusia, membawa kayu bakar untuk bersedekah dengan uang yang dihasilkannya”.

Pada akhirnya seorang muslim tidaklah wajib mengikuti ataupun memasuki kelompok atau organisasi tarekat teretntu,(agar sampai kepada Allah ) tetapi wajib bagi umat islam untuk melaksanakan syari’at islam sebagi tariqat yang sah untuk menuju kepada ALLAH, sebagai bukti perwujudan keimanan kepada Allah. Apabila seorang muslim telah melaksanakan syari’at dengan benar dan sesuai petunjuk sunah rosul maka berarti sudah melaksanakan tariqat yang dilakukan oleh keksaih Allah, wliyullah.

4.HAKIKAT

Dalam eksiklopedi Tasawuf di terangkan ; Hakikat atau kebenaran adalah makna terdalam dari praktik dan petunjuk yang ada pada syari’at dan tarekat.Haqiqah menunjukan hakikat esensial segala sesuatu atau kebenaran., ia adalah pengalaman langsung akan kebenaran gaib.Tanpa pemahaman yang didasari pengalaman tersebut maka kita ditakdirkan untuk taklit, meniru mereka yang telah mencapai tingkat HAQIQAH, seperti laiknya sebuah mesin.Pencapaian pada tingkat haqiqah ini menegaskan dan memperkukuhkan prkatik dua tingkat pertama.Sebelum mencapai tingkat haqiqah, seluruh praktik merupakan bentuk peniruan .

Haqiqah ( kebenaran atau kenyataan seakar dengan kata Al haq, realty, absol ute).Makna haqiqah (hakikat) menunjukan kebenaran esoteric yang merupakan batas dari transendensi manusia dan teologis.Dalam pengertian ini haqiqah merupakan unsur ketiga setelah syaria’at (hukum) yang merupakan keyakinan eksoteris,tarikat (jalan)sebagai tahapan esoterisme,yang ketiga ialah haqiqah yakni kebenaran esensial.

Haqiqah adalah kemampuan seorang dalam merasakan dan melihat kehadiran Allah di dalam syari’at .Dalam dunia sufi haqiqah diartikan sebagai aspek batin dari syari’at,sehingga haqiqah adalah aspek yang paling penting dalam setiap amal,inti, dan rahasia dari syari’at ; merupakan tujuan setiap penempuh jalan menuju ALLAH ( salik).

27 Oktober 2012

CAHAYA ILLAHI

oleh alifbraja

CAHAYA ILLAHI KENDARAAN DAN TENTARA HATI

بِسْمِ الًّلهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيمِ

 

Setelah menjelaskan WARID secara umum,selanjutnya Syeikh Ibnu ‘Atha’illah rahimaullah menjelaskan lebih spesifik lagi dengan mengartikan WARID sebagai CAHAYA yang dituangkan dalam hati :

“Cahaya adalah tunggangan hati dan asrar(rahasia rahasia batin) cahaya adalah tentara hati,seperti kegelapan adalah tentara nafsu.Jika Allah ingin menolong hambaNYA,maka DIA menolongnya dengan pasukan cahaya,dan memutuskan sokongan kegelapan dan segala sesuatu selain Allah darinya “.

Syeikh Sa’id Hawa menjelaskan ; WARID jika dirinci lebih detail berarti ; cahaya atau cahaya yang dituangkan Allah ke dalam hati seseorang, merupakan akibat dari proses penghadapan seorang hamba kepada Allah atau merupakan pemberia-NYA.Sebagaimana dijelaskan Oleh Allah dalam surat Az zumar ;22 :

اَفَمَنْ شَرَّ حَ اللَّهُ صَدْ رَهُ لِِلاِْ سْلاَ مِ فَهُوَ عَلىَ نُوْ رٍ مِنْ رَبِهِ. . . .
Apakah orang orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya ( sama dengan orang yang hatinya membatu) (Az-zumar:22)

 

Juga Firman Allah dalam surat Muhammad:17 ;

وَ الَّذِ يْنَ اَهْتَدَ وْا زَا دَهُمْ هُدً وَ اَ تَهُمْ تَقْوَ هُمْ

“Dan orang yang mendapat petunjuk,Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwakanya ( Muhammad:22)

Dan Firman NYA dalam surat Al-Ankabut:69 :

وَالَّذِ ينَ جَا هَدُ وا فِيْناَ لَنَهْدِ يَنَّهُمْ سًبُلَنَا وَاِنَّ الَّلهَ لَمَعَ

الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang orang yang berjihad untuk(mencari keridlaan) KAMI,benar benar akan KAMI tunjukan kepada mereka jalan jalan KAMI”. (Al-Ankabut :69).

Kendaraan yang ditunggangi hati untuk menempuh perjalanan menuju Allah adalah cahaya ,sedang tentara hati dan jiwa yang denganya ia dapat mengalahkan tentara syetan,juga adalah cahaya.Ada dua peran yang dimainkan oleh cahaya dalam hati.Pertama sebagai tunggangan seorang dalam mengarungi perjalanan menuju Allah;bila seorang memiliki cahaya,maka ia akan mengendarai tungganganya dan berjalan menuju Allah.Kedua sebagai prajurit, bila memiliki cahaya, maka ia akan mengalahkan tentara lain yang ingin menyerahkannya kepada syetan atau dunia.Oleh karena itu kita juga harus meneliti tidak saja kepada hal hal yang mendatangkan WARID,tetapi juga harus mengamati apakah warid warid itu telah memainkan peranya dalam hati; apakah warid warid itu juga bisa menjadi kendaraan yang dapat dikemudikan untuk menuju akhirat dan untuk menentang dorongan dorongan syaitani.

Marilah kita bertanya pada dirikita masing masing;Apakah kita dapat menambah cahaya yang ada dalam hati kita masing masing?Jika mampu melakukannya,maka kita dapat dinyatakan lulus.Sebaliknya jika kita tak lulus.kita merugi.Dan semua itu kembali kepada Allah dan iradatNYA; bila Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka DIA menganugerahi WARID berupa cahaya, dan Allah menyelematkannya dari segala bentuk kegelapan dan dari berbagai macam benda ( dzat) selain Allah.

Apakah kita memiliki tanda tanda yang dapat kita gunakan untuk mengetahui apa yang Allah kehendaki pada diri kita ?Apakah Allah menginginkan kebaikan pada diri kita ?.tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan pada diri kita ,menurut syeikh Sa’id Hawa adalah ;menumbuhkan pemahaman agama NYA,seperti disinyalir oleh Nabi dalam sabdanya :

مَـنْ يـُرِ دِ الَـلَّهُ بِـِهِ خـَيـْرًا يــُفَــقِّهْـهُ فـــِى الــدِّ يــْنِ :
Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya ,maka DIA memberi pemahaman agama kepadanya
(HR Muslim ,Tirmidzi)

Jika kau jumpai seseorang yang dianugerahi pemahaman terhadap agama_NYA,itu adalah pertanda bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi seorang itu.Maka seyogyanya ia senang dan melantunkan pujian kepada Allah.

Menurut syeikh Sa’id Hawa rahimaullah sebagian orang memasukan tema pembicaraan ini ke dalam kajian filsafat.Padahal sebenarnya tidak,karena ini adalah fitrah dan merupakan aspektertinggi dan terluhur dalam islam.Selama kita mengacu pada pengertian seperti ini, maka kita mengarah pada kebaikan.Namun bila kita terlalu banyak membaca dan mengkaji berbagai macam disiplin ilmu, sementara hati kita tidak di asah dan tak pernah diperhatikan hingga menjadi gelap,maka mesti menjadi peringatan bagi kita.karena bila kita tidak merasa lelah dan terus begitu, maka yang akan muncul dikalangan kita adalh filosof, dan bukan kaum RABBANI.

NUR atau cahaya ini amat penting.karena jika seseorang memiliki lampu senter,lalu pada malam dinyalakan,maka akan terlihat segala sesuatu yang ada disekelilingnya,Jika sesuatu itu terlihat,maka akal akan berperan untuk memutuskan,apakah sesuatu itu membahayakan atau bermanfaat,jelek atau baik,harus berbuat atau menahan diri,berjalan atau berhenti,dan seterusnya,

Untuk masalah akhirat kita mempunyai NUR (cahaya) BASHIRAH ( mata batin) dan punya kepastian.Dengan cahya akan terlihat segala sesuatu,dan cahaya pulalah yang membedakan cara pandang sang muslim dan si kafir dalm memandang sesuatu.Allah melukiskan dalam firmanNYA :

” Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya,Allah hilangkan cahaya(yang menyinari)mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan,tak dapat melihat “.(Al-Baqarah :17).

Melalui cahaya seorang mukmin dapat menatap sesuatu dengan penglihatan imani yang lain dengan penglihatan orang kafir.Penglihatan orang kafir adalah penglihatan yang bersifat meterialistis melulu dilandasi oleh nafsu untuk kepentingan individual semata.Mereka (orang kafir) seharusnya melihat segala sesuatu dengan berdasarkan api tersebut, yang tak lain adalah (cahaya) syari’at.Namun Allah menghilangkan cahaya bagi mereka.Jadi ayat diatas mengabarkan bahwa ada yang bersemayam dalam hati,ang dengannya mesti melihat sesuatu menurut hakekatnya.

Setelah cahaya bisa diraih lalu bagaimana dengan BASHIRAH,suatu kurnia yang denganya sesorang menentukan hukum tentang apa yang wajib dilakukan.Allah berfirman :

” Sesungguhnya telah datang dari RABB-mubashaa’ir (bukti bukti yang terang ) kepada kalian “.(Al-An’am :104 ).

Al-Quran adalah BASHAA’IR jamak dari bashirah.dengan alQuran ini Allah memberimu bashirah yang melaluinya kita menghukumi segala sesuatu.Hukum bashirah adalah bila seorang muslim melihat tindak kemungkaran,maka ia harus memeranginya,dan bila menemukan perilaku kebaikan,maka ia mengokohkannya.demikian juga dengan hukum hukum yang lain.

Setelah Bashirah menetapkan,maka peran terakhir adalah hati,dimana ia bisa menerima untuk melakukan hukum itu, bisa pula meninggalkannya.Penerimaan hukum tersebut muncul lantaran cahaya yang dimiliki fungsional sebagai tentara hati,sedangkan penolakanya terjadi karena kegelapan yang ada telah menjalankan perannya sebagai tentara nafsu.Wirid wirid yang dilazimkan oleh sesorang adalah faktor menentukan untuk melahirkan kepatuhan hati ini.Karena itu ,para ahli suluk menginginkan agar seseorang terus menerus melakukan WIRID nya hingga mampu meraih kesempurnaan itu.Tapi jangan lupa ketika melakukan wirid pusatkan hati sepenuhnya kepada Allah.Tunaikan WIRID, karena dimana ada WIRID disitu pula ada WARID,meski kehadlirannya kadang dapat dirasakan,kadang tidak.

Warid warid yang dituangkan kedalam hati sesorang itu bukan hanya satu macam,walaupun memang pada akhirnya warid warid berupa cahaya,yang lahir lantaran rasa senang kepada Allah yang sekaligus sebagai anugerah Illahi.Cahaya itu terasa dalam bentuk dada yang lapang dan hati yang berbunga.Yang paling penting untuk diingat adalah,bahwa Warid Warid yang dicurahkan kedalam hati sesorang itu bervariasi.

Seseorang yang mengarungi perjalanan menuju Allah,lantas disusupi rasa teteram,lalu merasa bahwa dirinya mempunyai hati dan hati tersebut memiliki sensivitas dan kepekaan yang tinggi,itu sudah cukup menjadi WARID yang besar bagi sang pejalan menuju ALLAH.

%d blogger menyukai ini: