TERJAMAH AL-QURAN DAN HUKUMNYA

oleh alifbraja

Pada umumnya terjamahan tidak memerlukan kehadiran nas sumber aslinya. Bahkan pada bagian-bagian tertentu, terjamahan  teks apapun dapat menggantikan posisi teks asli dalam berbagai kebutuhan pembaca. Karena itu, tidak lagi dikenal mana nas sumber dan mana teks terjamahan. Ada otonomi tersendiri yang dimiliki oleh tulisan terjamah, meskipun pada waktu-waktu khusus sumber asli masih ditelusuri dengan berbagai alasan. Tetapi secara garis besar, terjamahan sudah terpisah dari nas sumber.

 

Kaidah demikian ini tidak dapat dibenarkan ketika terjamahan itu adalah al-Quran yang memuat firman-firman Tuhan yang dikuduskan. Ada banyak alasan tentang hal itu, diantaranya:

Pertama, karena Allah swt., memberikan penegasan sebagaimana dalam surah al-Fathir ayat 29 bahwa orang yang membaca al-Quran akan mendapat pahala (ta’abbudi). Senada dengan Tuhan, Nabi Muhammad saw., juga mengemukakan bahwa setiap huruf al-Quran yang dibaca oleh sesorang memiliki satu kebaikan. Sementara satu kebaikan dari bacaan tersebut dilipat menjadi sepuluh kali. Bahkan ditegaskan oleh Nabi, bahwa aliif laam miim tidak dihitung satu huruf, tetapi aliif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.

Jika terjamahan al-Quran dapat menggantikan teks aslinya, maka tentulah membaca tulisan terjamahan akan memperoleh pahala sebagamana sumbernya. Pandangan demikian agak kurang tepat. Karena dalam hal al-Quran, teks apapun tidak dapat menggantikan posisi al-Quran yang dengan membacanya saja sudah bernilai pahala. Memang membaca terjamahan al-Quran dinilai sebuah perbuatan baik dan tentu saja berpahala, tetapi baik dan berpahala itu didapat karena niatan terkandung di dalam pembacaan tersebut, misalnya karena ingin menambah ilmu pengetahuan dan lain-lain. Bukan karena teks terjamahannya secara substansial.

Kedua, para ahli fiqh mengemukakan bahwa bacaan terjamahan tidak bisa menggantikan posisi bacaan teks al-Quran, baik saat shalat maupun di luar shalat. Berangkat dari sini larangan terjamah al-Quran memiliki otonomi dari teks asli patut di junjung tinggi.

Al-Zarqani menyimpulkan bahwa metode harafiyah (literal) dan metode maknawiyah haram digunakan untuk menterjamahkan al-Quran. Pendapat ini di dukung oleh sebagian besar ulama.

Fatwa al-Azhar tentang Terjamah al-Quran

Universitas al-Azhar Mesir telah lama menaruh perhatian khusus terhadap masalah yang terkait terjamah al-Quran. Sudah banyak diskusi, dialog, dan seminar yang mengangkat topik tentang penerjamahan al-Quran. Dari berbagai forum yang diselenggarakan oleh perguruan kuno Islam itu dipepoleh beberapa kesimpulan fatwa terkait dengan alih bahasa al-Quran ke bahasa asing, antara lain:

Pertama, dalam menafsirkan al-Quran sedapat mungkin dihindari istilah-istilah ilmiah, kecuali sebatas tuntutan pemahaman (upaya memperdekat pemahaman seseorang terhadap isi kalimat al-Quran).

Kedua, tidak boleh menyuguhkan pandangan-pandangan yang bersifat asumsi pribadi, meskipun hal itu memiliki bobot ilmiah. Misalnya, tatkala seseorang melakukan terjamah surah al-Ra’d, tidak boleh menyajikan pandangan siapapun, termasuk ahli astronomi, di dalam terjamahan surah tersebut. Alur alih bahasa mengekor kepada bahasa asli yang digunakan al-Quran tanpa ada interpretasi atau penafsiran-penafsiran terhadap teks aslinya.

Ketiga, jika ada beberapa masalah yang perlu diperdalam secara ilmiah, maka sebaiknya harus dalam bentuk kerja kolektif, misalnya melahirkan kelompok, komisi atau yang lainnya yang dapat mewadahi banyak orang untuk berfikir bersama tentang apa yang akan diperdalam dari teks al-Quran.

Keempat, kelompok atau komisi tersebut harus betul-betul tunduk kepada apa yang termaktub di dalam al-Quran. Oleh karenanya, penterjamahan yang dilakukan oleh kelompok itu tidak terikat dengan pengaruh pandangan-pandangan madzhab apapun, baik fiqh, tasawuf, maupun teologi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: