AL-QUR’AN DAN RAHASIANYA 4

oleh alifbraja

TERDAPAT KEMUDAHAN DALAM KESULITAN
Allah menciptakan dunia sebagai ujian bagi manusia. Sebagaimana sifat ujian itu sendiri, terkadang Dia menguji manusia dengan kesenangan, terkadang dengan pende ritaan. Orang-orang yang menilai berbagai peristiwa tidak berdasarkan al-Qur’an tidak mampu menafsirkan secara tepat ber bagai peristiwa tersebut, kemudian men jadi ber sedih hati dan kehilangan harapan. Pada hal Allah mengungkapkan rahasia penting dalam al-Qur’an yang hanya dapat dipahami oleh orang-orang yang benar-benar beriman. Rahasia tersebut dijelaskan sebagai berikut:
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Q.s. asy-Syarh: 5-6).
Sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam ayat ini, apa pun bentuk penderitaan yang dialami seseorang atau bagaimanapun situasi yang dihadapi, Allah menciptakan sebuah jalan keluar dan memberikan kemu dahan kepada orang-orang yang beriman. Se­sungguhnya, orang yang beriman akan me nyaksikan bahwa Allah memberikan kemu dahan di dalam semua kesulitan jika ia tetap istiqamah dalam kesabarannya. Dalam ayat lainnya, Allah telah memberi kabar gembira berupa petunjuk dan rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang bertakwa kepada-Nya:
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan mengadakan bagi nya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.” (Q.s. ath-Thalaq: 2-3).
Allah Tidak Membebani Seseorang
di Luar Kemampuannya
Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penya yang, dan Mahaadil, menjadikan kemudahan dalam segala sesuatu dan menguji manusia sesuai dengan batas-batas kekuatan mereka. Shalat yang diperintahkan Allah untuk diker jakan manusia, kesulitan-kesulitan yang Dia ciptakan untuk mengujinya, tanggung jawab yang Dia bebankan kepada manusia, semua nya sesuai dengan kemampuan seseorang. Ini merupakan kabar gembira dan menent ramkan bagi orang-orang beriman, dan meru pa kan wujud dari kasih sayang dan kemurah an Allah. Allah menceritakan rahasia ini dalam beberapa ayat sebagai berikut:
“Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih ber man faat, hingga sampai ia dewasa. Dan sem­purnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada seseorang melainkan sekadar kesang gupan­nya. Dan apabila kamu berkata, maka hen daklah kamu berlaku adil kendatipun dia adalah kerabatmu, dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepa da mu agar kamu ingat.” (Q.s. al-An‘am: 152).
“Dan orang-orang yang beriman dan me nger jakan amal saleh, Kami tidak memikul kan kewajiban kepada diri seseorang melain kan sekadar kesanggupannya, mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Q.s. al-A‘raf: 42).
“Kami tidak membebani seseorang melain kan menurut kesanggupannya, dan pada sisi Kami ada suatu kitab yang membicarakan kebenaran, dan mereka tidak dianiaya.” (Q.s. al-Mu’minun: 62).
Hidup Menjadi Mudah dengan
Menja lankan Agama Allah
Sebagian besar manusia beranggapan bahwa agama menjadikan hidup mereka sulit dan mereka dibebani dengan kewajiban-kewajiban yang berat. Sesungguhnya ini meru pakan anggapan sesat yang dibisikkan oleh Setan kepada manusia agar mereka ter sesat. Sebagaimana telah disebutkan ter dahulu, agama itu mudah. Allah menyata kan bahwa Dia akan memberikan kemudahan kepada orang-orang beriman setelah mereka menghadapi kesulitan. Di samping itu, ajaran agama seperti bertawakal kepada Allah dan meyakini takdir juga dapat menghilangkan semua beban, kesulitan, dan penyebab pende ritaan dan duka cita. Bagi seseorang yang hidup dengan agama Allah, tidak ada pende rita an, duka cita, atau putus asa. Dalam bebe rapa ayat, Allah menjanjikan akan menolong orang-orang yang berserah diri kepada-Nya dan orang-orang yang membantu agama-Nya, dan akan memberikan kehidupan yang baik kepada mereka, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Tuhan kita, Yang tidak pernah mengingkari ucapan-Nya, menyatakan seba gai berikut:
“Ketika orang-orang yang bertakwa ditanya, ‘Apakah yang telah diturunkan oleh Tuhan mu?’ Mereka menjawab, ‘Kebaikan.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini mendapatkan yang baik. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertak wa.” (Q.s. an-Nahl: 30).
Allah memberikan berita gembira kepada orang-orang yang beriman bahwa Dia akan memberikan keberhasilan kepada orang-orang yang menjalankan agama-Nya:
“Adapun orang yang memberikan harta nya (di jalan Allah) dan bertakwa, dan mem benarkan adanya pahala yang terbaik, maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Q.s. al-Lail: 5-7).
Sebagaimana yang diungkapkan oleh rahasia-rahasia ini, orang yang dengan ikhlas berpaling kepada agama Allah berarti telah memilih jalan yang benar sejak permulaan, jalan yang mudah yang akan membawa kepada keberhasilan, yang akan menda tang kan manfaat di dunia dan di akhirat. Dalam pada itu bagi orang-orang kafir, yang terjadi adalah sebaliknya. Orang-orang kafir semen jak awal telah mengalami kehidupan yang penuh dengan duka cita, kesedihan, dan meng alami kerugian, baik di dunia maupun di akhirat. Pada saat mereka memutuskan ber ada dalam kekufuran, mereka telah meng alami kerugian di dunia dan akhirat. Hal ini dinya ta kan dalam ayat-ayat sebagai berikut:
“Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendus takan pahala yang terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya jalan yang sulit.” (Q.s. al-Lail: 8-10).
Allah adalah Pemilik dan Pencipta segala sesuatu. Dengan demikian tentu saja sangat penting bagi seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon bantuan dan pertolongan-Nya agar Dia memberikan keku atan. Orang yang menjadikan Allah sebagai penolongnya dan berserah diri sepenuhnya kepada-Nya, hidupnya di dunia dan akhirat akan dipenuhi rahmat dan karunia, dan tidak ada sesuatu pun yang dapat mencelakakan diri nya. Ini merupakan fakta yang tidak dapat dipungkiri. Oleh sebab itu, setiap orang yang memahami kebenaran dan memiliki hati nurani tentu memahami rahasia-rahasia yang dijelaskan dalam al-Qur’an dan memilih jalan yang benar dan lurus. Jika orang-orang kafir tidak dapat memahami fakta-fakta yang sangat jelas ini, tentu saja hal ini juga meru­pakan rahasia tersendiri. Betapapun mereka sangat cerdas dan berpendidikan, akal mereka tidak mereka gunakan sehingga mereka tidak dapat memahami dan melihat fakta-fakta tersebut.

ALLAH MENGABURKAN PEMAHAMAN ORANG-ORANG KAFIR
Jika orang-orang kafir tidak dapat mema hami al-Qur’an, ini merupakan rahasia yang sangat penting yang dijelaskan dalam al-Qur’an. Sesungguhnya ini merupakan rahasia penting, karena al-Qur’an itu merupakan kitab yang sangat jelas, mudah, dan seder hana. Siapa pun yang mau dapat membaca al-Qur’an dan mengkaji firman Allah tentang akhlak terpuji yang diridhai-Nya, keadaan surga dan neraka, dan tentang berbagai raha sia yang juga diketengahkan dalam kitab ini. Meskipun hukum-hukum Allah tersebut tidak terbantahkan, sebagian orang tidak mampu memahami al-Qur’an, sekalipun telah sangat jelas. Di samping itu, orang-orang seperti insinyur nuklir atau profesor biologi, yang dapat memahami cabang-cabang sains yang rumit seperti fisika, kimia, atau matema tika, dan mampu memahami Budhisme, Hin duisme, Shintoisme, materialisme atau komu nisme, anehnya mereka tidak mampu mema hami al-Qur’an. Orang-orang yang berpegang pada sistem non-al-Qur’an yang rumit terse but bagaimanapun tidak dapat mema hami agama Allah yang jelas dan mudah, bahkan mereka juga tidak mampu memahami persoal an-persoalan yang jelas yang terkandung di dalamnya.
Bahwa mereka tidak dapat memahami fakta yang sangat jelas, sesungguhnya ini juga merupakan keajaiban tersendiri. Dengan me nun­jukkan bahwa mereka memiliki keku rang an yang parah dalam hal pemahaman, Allah menjelaskan bahwa sebagian orang memiliki kehidupan yang berbeda. Di sisi lain, hal ini memberikan bukti terhadap fakta bahwa sesungguhnya hati, akal, dan pema ham an itu berada di tangan Allah. Allah menyata kan bahwa Dia akan menutupi hati dan pemahaman orang-orang yang dihinggapi perasaan takabur, yaitu orang yang tidak mau berserah diri kepada Allah. Fakta bahwa mereka dapat memahami apa saja kecuali al-Qur’an, ini menjelaskan bahwa Allah telah mema lingkan mereka dari ayat-ayat-Nya, dan mereka ter hijab dari al-Qur’an karena keti dakikhlas an mereka. Adapun sebagian ayat yang mem bi cara kan masalah ini adalah:
“Dan apabila kamu membaca al-Qur’an, niscaya Kami adakan antara kamu dan orang-orang yang tidak beriman dengan ke hidupan akhirat, suatu dinding yang tertutup, dan Kami adakan tutupan di atas hati mere ka dan sumbatan telinga mereka, agar mereka tidak dapat memaha minya. Dan apabila kamu menyebut Tuhanmu saja dalam al-Qur’an, niscaya mereka berpaling ke bela kang karena bencinya.” (Q.s. al-Isra’: 45-6).
“Dan di antara mereka ada orang yang men dengarkanmu, padahal Kami telah meletak kan tutup di atas hati mereka (sehing ga mereka tidak) memahaminya dan sum batan di telinganya. Dan jika mereka melihat segala tanda, mereka tetap tidak mau ber iman kepa danya. Sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk memban tahmu, orang-orang kafir itu berkata: ‘Al-Qur’an ini tidak lain hanyalah dongengan orang-orang dahulu’.” (Q.s. al-An‘am: 25).
“Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari Tuhannya lalu dia berpaling daripa­danya dan melupakan apa yang telah diker jakan oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas hati mereka sehingga mereka tidak memahami nya, dan sumbatan di telinga mereka, dan mes kipun kamu menyeru mereka kepada petunjuk, niscaya mereka tidak akan menda pat petunjuk selama-lamanya.” (Q.s. al-Kahfi: 57).
Sebagaimana telah dijelaskan dalam ayat-ayat tersebut, mengapa orang-orang kafir tidak dapat memahami al-Qur’an, rahasianya adalah bahwa Allah telah menutupi pema ham an mereka dan meletakkan tutup di hati mere ka karena penolakan mereka. Ini meru pa kan keajaiban besar yang menun jukkan kebesaran Allah, dan bahwa Dia adalah pe milik hati dan pikiran setiap orang.

ALLAH MENGARUNIAKAN PEMAHAMAN KEPADA ORANG-ORANG YANG BERTAKWA
Rahasia lain yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah bahwa Allah memberikan ke mampuan kepada orang-orang yang ber iman kemampuan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah. Hal ini disebut sebagai “hikmah”. Allah menceritakan rahasia ini dalam Surat al-Anfal sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqan (petun juk yang dapat membedakan antara yang hak dan batil) dan menghapuskan segala kesalah anmu dan mengampunimu. Dan Allah mem punyai karunia yang besar.” (Q.s. al-Anfal: 29).
Sebagaimana telah dijelaskan dalam bab terdahulu, Allah mengaburkan pemahaman orang-orang kafir. Orang-orang ini, betapa pun cerdasnya otak mereka, tidak dapat me ma hami prinsip-prinsip agama yang sangat jelas. Hikmah adalah sifat istimewa yang dimiliki orang-orang yang ber iman. Sebagian besar manusia menganggap bahwa kecer dasan otak dan hikmah itu memiliki makna yang sama. Kecerdasan otak adalah kemampuan pikiran yang dimiliki oleh setiap orang. Misalnya, menjadi seorang ilmuwan ahli atom atau jenius di bidang matematika menunjuk kan kecerdasan otak. Akan tetapi hikmah adalah hasil dari ketakwaan seseorang kepada Allah dan digunakannya hati nurani, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kece rdasan otak. Bisa saja seseorang sangat cerdas otaknya, tetapi ia tidak akan menjadi orang bijak selagi ia tidak bertakwa kepada Allah.
Dengan demikian, hikmah adalah rahmat dari Allah yang dikaruniakan kepada orang-orang yang beriman. Orang-orang yang di jauh kan dari pemahaman seperti itu bahkan tidak menyadari keadaan mereka. Misalnya, orang-orang yang menganggap bahwa mereka adalah sumber kekuasaan dan kekayaan, lalu menjadi sombong. Sesungguhnya anggapan dan sikap seperti ini menunjukkan bahwa ia tidak memiliki hikmah. Karena jika ia memi liki hikmah, ia akan menyadari bahwa tidak ada sesuatu pun yang berkuasa kecuali Kehen dak Allah. Kesadaran ini pada akhirnya akan menghasilkan sikap yang rendah hati. Namun, orang seperti ini tidak berpikir bahwa jika Allah menghendaki, semua kekayaannya dapat musnah dalam waktu sekejap, atau bahwa dia dapat menghadapi kematian, dan semua yang ia miliki ia tinggalkan di dunia, dan ia akan berada di neraka untuk menerima balasannya. Semua ini lebih pasti dan lebih nyata daripada apa yang dimiliki seseorang di dunia. Hanya orang-orang beriman yang bertakwa kepada Allah yang memiliki pema ham an seperti ini, sehingga mereka tidak tertipu oleh kehidupan dunia. Mereka meng habiskan hidup mereka dengan memahami hakikat segala sesuatu. Allah mengaruniakan pemahaman kepada orang-orang beriman mela lui keimanan mereka. Jika mereka me rasa semakin dekat kepada Allah, pema ham an mereka pun meningkat dan mereka men jadi lebih memahami rahasia-rahasia ciptaan Allah.

ORANG-ORANG YANG BERBUAT BAIK AKAN MEMPEROLEH KEBAIKAN
Rahasia lain yang dijelaskan Allah dalam al-Qur’an adalah bahwa orang-orang yang berbuat kebaikan akan memperoleh pahala berupa kebaikan di dunia dan akhirat. Menge nai hal ini, Allah berfirman sebagai berikut:
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhan mu.’ Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.s. az-Zumar: 10).
Bagaimanapun, orang perlu mengetahui apakah sesungguhnya “kebaikan” itu. Setiap kaum memiliki pendapat masing-masing tentang kebaikan; ada yang menyatakan bahwa yang disebut kebaikan adalah bersikap menyenangkan, memberikan uang kepada orang miskin, bersikap sabar terhadap ber bagai bentuk perlakuan, itulah yang sering kali disebut “kebaikan” oleh masyarakat. Namun, Allah memberitahukan kita di dalam al-Qur’an tentang hakikat “kebaikan”:
“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebaikan, akan tetapi sesungguhnya kebaikan ialah ber iman kepada Allah, hari Kiamat, malaikat-malaikat, Kitab-kitab, nabi-nabi, dan mem berikan harta yang dicintainya kepa da ke rabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir, dan orang-orang yang meminta-minta; dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati jan jinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan, dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang bertakwa.” (Q.s. al-Baqarah: 177).
Sebagaimana diingatkan dalam ayat di atas, kebaikan yang sesungguhnya adalah bertakwa kepada Allah, menyibukkan diri mengingat hari perhitungan, menggunakan hati nurani, dan selalu sibuk melakukan amalan yang mendatangkan ridha Allah. Utusan Allah, Nabi Muhammad saw., juga memerintahkan agar orang-orang beriman bertakwa kepada Allah dan berbuat kebaikan:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Bersegeralah berbuat kebaik an setelah berbuat dosa agar dosa itu menjadi bersih, dan selalu berlemah lembut dalam bergaul dengan manusia.” 1
Allah telah menyatakan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang selalu berbuat kebaikan karena keimanan mereka, dan orang-orang yang takut dan cinta kepada Allah, selanjutnya Dia menyatakan akan mem beri pahala kepada mereka dengan ke baik an:
“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s. Ali ‘Imran: 148).
“Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh yang baik. Dan sesung guh nya kampung akhirat itu lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa.” (Q.s. an-Nahl: 30).
Ini merupakan kabar baik yang diberitakan dalam al-Qur’an kepada orang-orang yang berbuat kebaikan, yang mengorbankan diri, dan yang berusaha untuk memperoleh keri dha an Allah.
Allah memberikan kepada orang-orang ini berita gembira tentang kehidupan yang baik, di dunia ini dan di akhirat kelak, dan Allah akan menambahkan karunia-Nya, baik yang berupa kebendaan maupun keruhanian. Nabi Sulaiman yang diberi seluruh kerajaan, yang tidak pernah diberikan kepada siapa pun, dan Nabi Yusuf yang diberi wewenang atas selu ruh harta benda Mesir, adalah contoh-contoh yang diceritakan dalam al-Qur’an. Allah memberitahukan kita tentang nikmat yang Dia berikan kepada Nabi Muhammad saw. dalam ayat, “Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia membe rikan kecukupan.” (Q.s. adh-Dhuha: 8).
Perlu kita ketahui bahwa kehidupan yang indah dan baik tidak saja diberikan kepada orang-orang beriman dari generasi terdahulu. Allah menjanjikan bahwa dalam setiap kurun, Dia akan memberikan kehidupan yang baik kepada hamba-hamba-Nya yang beriman:
“Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguh nya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerja kan.” (Q.s. an-Nahl: 97).
Orang-orang yang beriman tidak pernah mengejar dunia, yakni mereka tidak tamak ter hadap harta dunia, kedudukan, atau keku asaan. Sebagaimana yang dinyatakan Allah dalam sebuah ayat, mereka telah menjual diri dan harta mereka untuk memperoleh surga. Jual beli dan perdagangan tidak melalaikan mereka dari mengingat Allah, mendirikan sha lat, dan berjuang untuk agama. Di sam ping itu, mereka tetap sabar dan taat sekalipun mereka diuji dengan kelaparan atau kehilang an harta, dan mereka tidak pernah mengeluh. Orang-orang yang berhijrah pada zaman Nabi merupakan sebuah contoh. Mereka berhijrah ke kota lain dengan meninggalkan rumah, pe kerjaan, perdagangan, harta, dan kebun mere ka, dan di sana mereka puas dengan yang sedi kit mereka miliki. Sebagai balasannya, mereka hanya mengharapkan keridhaan Allah. Kerelaan mereka dan keikhlasan mere ka dalam mengingat akhirat menyebab kan mereka memperoleh rahmat dari Allah berupa kehidupan yang baik. Kekayaan yang diberi kan Allah kepada mereka tidak menyebabkan mereka mencintai dunia, sebaliknya mereka bersyukur kepada Allah dan mengingat-Nya. Allah menjanjikan kehidupan yang baik di dunia ini kepada setiap orang yang beriman dan berakhlak mulia.
Allah Berjanji akan Melipatgandakan Perbuatan
Hamba-hamba-Nya yang Berbuat Kebaikan
Allah berjanji akan melipatgandakan per buatan hamba-hamba-Nya yang berbuat kebaikan. Sebagian ayat-ayat al-Qur’an yang membicarakan masalah ini adalah sebagai berikut:
“Barangsiapa membawa amal yang baik, maka baginya sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan mela in kan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikit pun tidak dianiaya.” (Q.s. al-An‘am: 160).
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar dzarrah, dan jika ada kebajikan sebesar dzarrah, niscaya Allah akan melipatgandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar. (Q.s. an-Nisa’: 40).
Tanda yang paling jelas bahwa Allah me lipatgandakan setiap perbuatan baik adalah perbedaan antara kehidupan di dunia dan akhi rat. Kehidupan di dunia sangatlah sing kat waktunya, yang lebih kurang berlang sung selama 60 tahun. Namun, orang-orang yang sibuk membersihkan diri mereka dan sibuk dalam amal saleh di dunia ini akan memper oleh pahala berupa kebaikan tak terbatas di akhirat sebagai balasan atas apa yang mereka kerjakan selama kehidupannya yang singkat di dunia. Allah telah menyatakan janji ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:
“Bagi orang-orang yang berbuat baik ada pahala yang terbaik dan tambahannya.” (Q.s. Yunus: 26).
Kita perlu merenungkan pengertian “tak terbatas” agar dapat memahami besarnya pahala ini. Marilah kita bayangkan tentang semua orang yang pernah hidup di bumi, orang-orang yang sedang hidup di bumi, dan orang-orang yang akan hidup di bumi, bagai mana mereka menghabiskan setiap detik dalam kehidupan mereka. Tentu saja angka ini akan sangat besar jika dituliskan. Namun, sesudah “tak terbatas”, bahkan angka yang sangat besar ini tidak berarti apa-apa. Karena “tak terbatas” maknanya adalah tidak ada akhirnya, tidak memiliki batas waktu. Orang-orang yang taat kepada Allah ketika di dunia, mereka ketika di akhirat akan bertempat tinggal di surga. Mereka akan tinggal di sana untuk selama-lamanya, mereka akan memper oleh apa saja yang mereka inginkan, yang tidak ada batasnya. Tentu saja ini merupakan contoh yang harus direnungkan agar kita dapat memahami besarnya kasih sayang dan rahmat Allah.

RAHASIA MENGAPA ALLAH MEMERINTAHKAN MANUSIA UNTUK “MELAPANGKAN” MAJELIS
Salah satu kesalahan besar yang dilakukan oleh orang-orang adalah bahwa mereka meng anggap segala sesuatu itu sebagai akibat dari sesuatu lainnya. Misalnya, sebagaimana telah disebutkan dalam halaman-halaman sebelum nya, mereka berpendapat bahwa mereka akan kehabisan uang jika mereka menafkahkan harta mereka di jalan Allah. Padahal, ada suatu rahasia dalam ciptaan Allah yang tidak mereka ketahui, bahwa Allah akan menambah karunia-Nya kepada orang-orang yang meng in fakkan hartanya karena Allah, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Tentu saja Allah menjadikan manusia melihat hal ini sebagai sebab akibat yang berlaku di dunia. Misalnya, urusan seseorang yang menginfakkan harta nya karena Allah dijadikan mudah dan rezeki nya pun ditambah oleh Allah. Atau, sebagai mana dijelaskan dalam bagian terdahulu, seseorang mungkin akan menggunakan kekerasan dalam menghadapi orang yang marah karena ia mempercayai bahwa kata-kata yang lemah lembut tidak dapat mereda kan kemarahannya. Namun, bagi seseorang yang menaati perintah Allah, rahasia-rahasia yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an memberikan jalan keluarnya.
Salah satu di antara rahasia-rahasia yang diungkapkan dalam al-Qur’an adalah perin tah Allah lainnya:
“Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, ‘Berlapang-lapanglah dalam majelis,’ maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, ‘Berdirilah kamu, maka berdirilah, niscaya Allah akan mening gikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengeta huan beberapa derajat. Dan Allah Maha Menge tahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. al-Mujadalah: 11).
Allah memerintahkan orang-orang yang beriman agar menaati seruan agar melapang kan majelis bagi orang yang baru datang atau merenggangkan kerumunan jika diperlukan. Hal ini, di samping menunjukkan pentingnya bertenggang rasa juga sebagai tanda ketaatan. Allah menjelaskan bahwa Dia akan memberi kelapangan kepada orang-orang yang beriman dan akan meninggikan derajat mereka sebagai balasan atas perbuatan mereka. Niat dan hati setiap orang berada dalam genggaman Allah. Jika Dia ridha dengan perbuatan mereka, Dia dapat memberikan apa saja yang Dia kehen daki kepada orang ini. Untuk itulah orang-orang yang beriman mengharapkan balasan dan pahala apa saja dari Allah. Jika mereka mela pangkan ruangan dalam suatu majelis, mereka tidak mengharapkan ucapan terima kasih dari orang lain, tetapi hanya meng harap kan keridhaan Allah, karena Dia akan memberikan ketenangan dalam hati mereka dan akan meninggikan derajat mereka.

ALLAH PASTI MENOLONG ORANG-ORANG YANG MENOLONG AGAMANYA
Allah mengungkapkan sebuah rahasia dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedu dukanmu.” (Q.s. Muhammad: 7).
Sepanjang hidup mereka, orang-orang beriman melakukan usaha yang sungguh-sungguh untuk mendakwahkan ajaran-ajaran al-Qur’an di kalangan manusia, dan mendak wahkan perintah Allah. Di sisi lain, di sepan jang sejarah, selalu saja ada sekelompok orang-orang kafir yang menentang orang-orang beriman dan menghalangi mereka dengan kekerasan dan tekanan. Dalam al-Qur’an, Allah menyatakan bahwa Dia akan selalu bersama-sama orang yang beriman dalam meng hadapi orang-orang kafir, bahwa Dia akan menjadikan urusan orang-orang ber iman menjadi mudah, dan bahwa Dia akan membela dan menolong orang-orang ber iman. Orang-orang beriman yang berjuang dengan ikhlas di jalan Allah dapat merasakan semua ini dalam setiap detik dalam kehidupan mereka, yakni Allah menjadikan urusan-urusan mereka dapat diselesaikan dengan mudah, dan Allah memberikan kepada mereka kejayaan dan kebahagiaan. Bahkan dalam situasi yang sangat sulit, Dia memberi kan kemudahan kepada orang-orang yang beriman. Bahkan ketika orang-orang lemah imannya berkeluh kesah, berputus asa, dan tidak melihat jalan keluar, Allah menurunkan bantuannya kepada orang-orang yang ber iman dan memberikan kejayaan kepada mereka.
Orang-orang beriman yang yakin akan pertolongan Allah tidak pernah kehilangan harapan, dan mereka menunggu dengan penuh kegembiraan untuk melihat bagaimana Allah akan menyelesaikan masalah mereka. Nabi Musa dan kaumnya merupakan contoh dari peristiwa ini. Nabi Musa dan Bani Israel meninggalkan Mesir untuk menyelamatkan diri dari kekejaman Fir‘aun. Tetapi Fir‘aun dan bala tentaranya mengejar mereka. Ketika Nabi Musa dan kaumnya, Bani Israel, sampai di lautan, sebagian dari mereka yang imannya lemah merasa ketakutan dan kehilangan harapan, mereka berpikir akan terkejar oleh Fir‘aun. Namun, Nabi Musa berkata, “Sesung guhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan mem berikan petunjuk kepadaku.” (Q.s. asy-Syu‘ara’: 62). Demikianlah Nabi Musa menunjukkan keimanannya bahwa Allah akan menolong orang-orang yang beriman. Ke mu dian Allah mengeringkan air laut sehingga memung kin kan Nabi Musa dan para pengikutnya melin tasi lautan untuk menuju ke pantai seberang dengan selamat. Sementara itu, Dia menutup lautan untuk Fir‘aun dan bala tentaranya sehingga mereka tenggelam.
Orang yang beriman, yang dekat dengan Allah, yang menjadikan Allah sebagai pelin dungnya, dan mengetahui bahwa Dia akan menolong orang-orang yang beriman, akan melihat rahasia-rahasia tersebut ditampakkan dalam setiap saat dalam kehidupannya. Tentu saja mukjizat seperti air laut yang mengering merupakan ayat-ayat (tanda-tanda) yang di tun jukkan oleh Allah kepada sebagian dari para utusan-Nya. Namun demikian, jika orang-orang yang beriman merenungkan dengan ikhlas, bertafakkur tentang ciptaan Allah dan ayat-ayat al-Qur’an dalam setiap peristiwa, mereka dapat melihat perwujudan dari pertolongan Allah yang menyerupai mukjizat dalam setiap situasi.
Allah juga Menolong Orang-orang Ber iman
Melalui Cara-cara yang Tak Terlihat
Dalam beberapa ayat, Allah telah memberi tahukan kepada orang-orang beriman tentang pertolongan yang Dia berikan kepada mereka. Misalnya, dalam sebuah ayat, Allah telah menyatakan bahwa Dia akan menjadikan musuh-musuh mereka melihat orang-orang beriman jumlahnya menjadi dua kali lipat:
“Sesungguhnya telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang telah bertemu (dalam pertempuran). Segolongan berperang di jalan Allah dan yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat orang-orang musl imin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (Q.s. Ali Imran: 13).
Allah Menolong Orang-orang Beriman dengan Cara
Menggagalkan Rencana Jahat yang Ditujukan
kepada Mereka
Sebagaimana telah disebutkan sebelum nya, orang-orang kafir menyebabkan kesulit an bagi orang-orang beriman dan membuat rencana jahat bagi mereka untuk menghalangi orang-orang beriman dari jalan Allah. Tetapi Allah memberitahukan dalam al-Qur’an bahwa semua rencana jahat terhadap orang-orang beriman itu akan digagalkan, akan dikembalikan kepada si pembuat rencana, dan sama sekali tidak akan mencelakakan orang-orang beriman. Di antara ayat-ayat tersebut adalah sebagai berikut:
“Ketika datang kepada mereka pemberi peringatan, maka kedatangannya itu tidak menambah kepada mereka, kecuali jauhnya mereka dari (kebenaran), karena kesombong an mereka di muka bumi dan karena rencana mereka yang jahat. Rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain orang yang merencanakannya sendiri. Tidaklah yang mereka nanti-nantikan melainkan (berlaku nya) sunah kepada orang-orang yang terda hulu. Maka sekali-kali kamu tidak akan mendapat penggantian bagi sunah Allah, dan sekali-kali tidak (pula) akan menemui pe nyim pangan bagi sunah Allah itu.” (Q.s. Fathir: 42-3).
Sebagai contoh dari hal ini adalah kehidup an Nabi Yusuf, yakni rencana yang dibuat untuk mencelakakan orang-orang beriman pada akhirnya berbalik kepada mereka sendiri dan mencelakakan si pembuat rencana. Seba gaimana diceritakan dalam Surat Yusuf, saudara-saudara Nabi Yusuf, yang dihinggapi rasa iri, merencanakan untuk melempar beliau ke dalam sumur. Ketika Nabi Yusuf a.s. masih muda, rencana yang lain juga dibuat oleh istri gubernur, di mana Nabi Yusuf ting gal di tempat itu. Sesuai dengan janji-Nya, Allah menggagalkan semua ren cana itu dan melindunginya dari madharat. Setelah ren cana itu dibuat, Allah memberikan keku asaan kepada Nabi Yusuf atas seluruh per ben daharaan negeri. Setelah itu, Nabi Yusuf ber kata bahwa rencana orang-orang kafir itu menemui kegagalan.
“(Yusuf berkata), ‘Yang demikian itu agar dia (al-Aziz) mengetahui bahwa sesung guhnya aku tidak berkhianat kepadanya di belakangnya, dan bahwasanya Allah tidak meridhai tipu daya orang-orang yang berkhi anat’.” (Q.s. Yusuf: 52).

SALING BERDEBAT MENYEBABKAN HILANGNYA KEKUATAN
Salah satu rahasia penting dari Allah yang diungkapkan kepada orang-orang beriman adalah supaya tidak berdebat. Jika saling ber­debat, kekuatan mereka akan hilang dan hati mereka akan menjadi lemah. Adapun ayat yang membicarakan masalah tersebut adalah sebagai berikut:
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan jangan saling berdebat, yang menye babkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.s. al-Anfal: 46).
Akhlak Qur’ani bercirikan kerendahan hati. Orang-orang yang berpegang pada nilai-nilai akhlak dalam al-Qur’an menghindari pertengkaran, mencari jalan keluar dari masa lah, memberikan kemudahan kepada orang, dan tidak menunjukkan ketamakan. Tanpa berpegang pada akhlak Qur’ani, pertikaian dan konflik tidak dapat dielakkan. Adalah hal yang sangat wajar jika setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda. Misalnya, 20 orang dapat mengusulkan 20 pemecahan yang berbeda-beda. Masing-masing pemecahan mungkin saja cocok bagi atau benar bagi orang yang bersangkutan. Jika setiap orang bersiku kuh bahwa usulannya yang benar, dapat dipas tikan yang terjadi adalah kekacauan dan konflik. Dalam kasus seperti ini, jika tidak terwujud kesepakatan dari 20 orang tersebut, maka yang terjadi adalah pertengkaran dan ambisi pribadi, yang dapat menghapuskan amal saleh yang telah dilakukan untuk men cari ridha Allah. Akibatnya, seluruh kekuatan dari 20 orang tersebut akan hilang, persatuan dan persaudaraan di antara mereka akan lemah.
Orang-orang yang beriman harus saling mencintai satu sama lain, berkorban dan mempererat kesetia-kawanan dan kerja sama di antara mereka. Terutama pada saat-saat menghadapi kesulitan, mereka harus menyi bukkan diri mengingat Allah, lebih bersabar dan saling membantu. Saling berdebat dapat mengu rangi kekuatan, sedangkan kerja sama dapat meningkatkan kekuatan di antara orang-orang beriman. Dalam ayat lainnya, Allah telah mengungkapkan rahasia bahwa jika orang-orang beriman tidak menjadi teman dan pelindung satu sama lain, maka akan ter jadi kekacauan dan kerusakan besar di muka bumi:
“Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi sebagian yang lain. Jika kamu tidak melaksanakan apa yang telah diperintahkan Allah (saling melindungi), niscaya akan terjadi kekacauan dan kerusakan yang besar.” (Q.s. al-Anfal: 73).
Masing-masing dari rahasia Allah tersebut telah diungkapkan, dan orang-orang Muslim dibebani tanggung jawab. Orang Muslim tidak boleh menganggap bahwa pertengkaran dengan sesama Muslim merupakan hal yang remeh, dengan mengatakan, “Bagaimanakah jika kita berdebat?” Karena, sebagaimana telah diberitahukan oleh Allah kepada kita, setiap pertengkaran antara orang-orang Mus lim, artinya menghilangkan kekuatan orang-orang beriman, terhadap hal ini, orang-orang Muslim akan dimintai tanggung jawab oleh Allah. Itulah sebabnya Nabi kita tercinta saw. bersabda, “Takutlah kepada Allah, berda mailah sesama kamu agar Allah men cipta kan perdamai an sesama Muslim.”1
Orang-orang Muslim jangan sampai saling melihat kesalahan atau kekurangan masing-masing, tetapi sebaliknya supaya menutupi kesalahan sesama Muslim yang lain dengan penuh kasih sayang. Kekuatan orang-orang beriman berasal dari persatuan ini, artinya mengerahkan segenap tenaganya untuk mendakwahkan agama Allah dan akhlak al-Qur’an. Dengan persatuan, mereka dapat berkonsentrasi untuk menyampaikan tanda-tanda keberadaan Allah melalui karya-karya ilmiah dan melakukan pelayanan yang bermanfaat bagi umat manusia. Namun, kita harus ingat bahwa setiap orang yang melaku kan pelayanan ini harus diniatkan terutama untuk mencari kehidupan yang abadi di akhirat dan agar diselamatkan dari azab Allah.

HANYA DENGAN
BERDZIKIR, HATI MENJADI TENANG
Semua manusia yang hidup di muka bumi mencari jalan untuk memperoleh kebahagia an hakiki. Harapan ditumpahkan untuk men capai tujuan memperoleh kebaha giaan. Seba gian orang mencari kebahagiaan melalui gaya hidup yang mewah, sebagian lainnya melalui pekerjaan yang bergengsi, perkawinan yang indah, bedah plastik, dan gelar akademis. Namun, jika tujuan itu telah tercapai, semua kebahagiaan seperti itu hanya lah bersifat sementara. Atau sering kali tidak ada kegem biraan atau kepuasan sama sekali setelah semuanya itu diperoleh. Bagaimana pun, tak seorang pun di muka bumi ini yang akan mencapai kebahagiaan sejati melalui cara-cara tersebut. Terdapat beberapa hal yang meng gang gu atau membuat bosan orang yang mempercayai bahwa tujuan dalam menca pai kebahagiaan hakiki telah tercapai.
Kebahagiaan, ketenangan, kesenangan, atau kenyamanan sejati hanya dapat ditemu kan dalam mengingat Allah. Allah mence ritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:
“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (Q.s. ar-Ra‘d: 28).
Ini merupakan rahasia yang sangat penting yang diungkapkan Allah dalam al-Qur’an untuk umat manusia. Karena tidak mema hami kenyataan ini, banyak orang yang meng habiskan hidup mereka dalam khayalan bahwa harta benda dunia dapat memberikan kepuasan. Seakan-akan tidak akan pernah mati dan menghadapi hari hisab, mereka dengan tamaknya berusaha keras untuk me mi liki hal-hal yang bersangkut paut dengan keduniaan.
Namun, sesungguhnya ini merupakan kha yalan besar. Tidak ada sesuatu pun yang dimi liki di dunia ini yang dapat memberikan ketenteraman dan kebahagiaan sejati. Hanya orang-orang yang beriman saja, yang dengan ikhlas berbakti kepada Allah, dan orang-orang yang menyadari rahmat, kasih sayang, dan perlindungan Allah atas mereka yang dapat memperoleh perasaan hati yang tenteram. Allah memberikan perasaan tenteram ini ke dalam hati orang yang memperhatikan bukti-bukti ciptaan Allah dan mengingat-Nya setiap saat. Dengan demikian sia-sia saja jika men cari kesenangan, ketenteraman, dan kebaha giaan melalui asbab yang lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: