PEMINUM YANG MASUK SURGA

oleh alifbraja

Apakah orang-orang yang senang bermabuk-mabukan bisa masuk Surga…?

Sebagian dari kita mungkin menganggapnya sebagai hal yang mustahil. Namun, alangkah lebih baik kalau kita tidak terburu-buru memberi VONIS. Sebab, kemustahilan bisa saja terjadi.

 

Tanpa perlu menatap mata, dakwah yang selama ini diterapkan masih terkesan “retorika”. sebab, dakwah hanya difahami sekedar pemberian nasehat oleh alim-ulama (yang mengerti agama) dari balik mimbar atau pengajian-pengajian. Tidak lebih. Padahal dakwah yang semacam itu belumlah cukup untuk mengantisipasi pengaruh buruk dari semakin menggilanya zaman.

 

Sudah sewajarnya para alim-ulama (yang mengerti agama) dituntut untuk melakukan modifikasi penyampaian dakwah, bukan sekedar dakwah dengan lisan tetapi melupakan dakwah melalui perbuatan.

 

Persoalan lain yang harus diperhatikan adalah obyek dakwah itu sendiri. Selama ini terkesan para juru dakwah lebih banyak membidik kalangan yang dipandang “sudah baik”. Padahal, semestinya turut pula (masuk ke dalamnya) memberikan bimbingan dengan porsi lebih bagi kalangan yang dicap negatif oleh masyarakat. Hal itu penting, karena sesungguhnya tujuan dakwah adalah mengembalikan orang-orang yang tersesat untuk kembali kepada jalan-Nya.

 

Kiranya, cerita di bawah ini yang berkisah tentang perjuangan seseorang yang memilih cara dakwah berbeda (walau dianggap negatif oleh sebagian orang karena menggunakan media yang tidak lazim), bisa menjadi renungan untuk melahirkan persfektif baru dalam berdakwah.

 

Alloh SWT. berfirman:

” Beginilah kamu, kamu ini (sewajarnya) bantah-membantah tentang hal yang kamu ketahui, maka kenapa kamu bantah-membantah hal yang tidak kamu ketahui ? Alloh lebih mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Ali-Imron; 66)

 

TETANGGA DI SURGA YANG PEMABUK

 

Hidup pada masanya seorang Ulama yang terkenal akan kesholehan sikapnya, beliau bernama ABU YAZID AL-BUSTHOMI.

 

Suatu hari, tatkala ia begitu khusyu’ bermunajat kepada Alloh SWT. dan hatinya terasa begitu lapang. Tanpa sadar beliau terbawa suasana yang melambungkan akalnya hingga melayang sampai ke Arasy.

 

Beliau mendapati suasana yang sungguh berbeda dari apa yang telah dialaminya. Sempat terbesit di hatinya: “Inilah tempat Muhammad SAW. Mungkin besok aku dapat hidup sebagai tetangganya di surga sana.”

 

Ketika kembali dapat menguasai diri, beliau lalu dikejutkan dengan datangnya suara tanpa wujud yang jelas sekali terdengar di telinganya. Suara gaib itu memberi tahukan bahwa ada seseorang yang bernama si fulan dan tinggal di sebuah kampung. Orang tersebut merupakan tetangganya kelak nanti di surga.

 

Mendengar suara yang tanpa rupa itu, beliau sempat berfikir sejenak. Tidak begitu lama beliau segera beranjak dari tempat duduknya dan pergi menuju kampung yang dimaksud. Beliau diliputi rasa penasaran untuk melihat dari dekat orang yang nanti menjadi tetangganya di surga.

 

Lokasi kampung yang hendak beliau tuju jarak tempuhnya lumayan jauh. Perlu waktu berhari-hari dengan menggunakan unta sebagai alat transportasi. Setelah melewati kurang lebih 100 pos, barulah beliau sampai ke kampung tersebut.

 

Keletihan dan kelelahan setelah berjalan jauh tidak beliau hiraukan. Sambil berjalan menuntun untanya, beliau mencoba mencari keterangan tentang rumah dan kegiatan keseharian si fulan kepada masyarakat setempat.

 

Abu Yazid bertanya. “Apakah kalian kenal seseorang yang bernama si fulan ?” Lalu orang kampung menjawab dengan rada sinis, “Untuk apa engkau mencari orang yang fasik dan ahli minum itu, sedangkan engkau adalah seorang lelaki yang di mukamu ada tanda-tanda kesholehan.”

 

Keterangan yang diberikan orang kampung tersebut membuat Abu Yazid kaget dan tak percaya. Hatinya khawatir dan diselubungi rasa was-was. Beliau berbisik dalam hati, “Ah, barangkali suara gaib yang kudengar itu adalah suara syaithon.”

 

Namun, aku telah menempuh perjalanan yang cukup jauh dan sekarang sudah berada di kampung di mana si fulan berada. Kalau aku putuskan pulang, berarti semua yang aku lakukan ini sia-sia belaka.

 

Akhirnya, Abu Yazid memberanikan diri untuk bertanya lagi di mana si fulan berada. “Wahai bapak-bapak sekalian, tahukah di mana si fulan berada ?”

 

Orang kampung kembali menjawab, “Saat ini si fulan sedang sibuk minum arak di sebuah kedai bersama kawan-kawannya. Pergilah engkau ke sana tentu akan dapat menemuinya.”

 

Maka dengan hati yang terus ingin tahu, beliau berangkat menuju kedai yang ditunjukkan. Sesampainya di sana beliau melihat ada 40 lelaki yang sedang mabuk-mabukan, termasuk si fulan.

 

Melihat kenyataan itu tentu saja membuat Abu Yazid terpana. Beliau merasa putus asa dan tak tahu harus berbuat apa. Baru saja beliau hendak melangkah pulang, tiba-tiba si fulan itu menyapanya, “Hai Abu Yazid Syaikhul Islam, kenapa engkau tidak suka masuk ke kedai ini ? Engkau datang dari jauh khusus untuk mencari seseorang yang akan menjadi tetanggamu besok di surga. Tapi setelah bertemu, kenapa engkau tinggalkan begitu saja tanpa salam ?”

 

Mendengar ucapan yang terlontar dari mulut si fulan, Abu Yazid tambah bingung dan heran. Hatinya pun bertanya-tanya, “Ini adalah perkara rahasia dan yang tahu hanya aku dan Alloh SWT. Tapi kenapa si fulan ini benar-benar tahu maksud kedatanganku ?

 

Belum lagi kata hatinya mendapat jawaban yang memuaskan, tiba-tiba si fulan berucap lagi, “Hai…Syaikhul Islam, tak perlu engkau heran dan berfikir tentang kenapa aku tahu maksud kedatanganmu. Ketahuilah, semua itu terjadi atas izin Aloh SWT. Dialah yang telah memberitahu diriku akan maksud kedatanganmu. Maka masuk dan duduklah bersamaku.”

 

Abu Yazid berkata, “Hai fulan, apa maksudmu dengan semua ini ?”

 

Si fulan menjawab dengan nada santai, “Bukanlah seorang laki-laki apabila bercita-cita masuk surga sendirian tanpa mengajak teman. Ketahuilah, sebenarnya yang berada di kedai ini semuanya berjumlah 80 orang pemabuk. Tetapi yang 40 orang telah kunasehati sehingga mereka bertobat memohon ampun kepada Alloh SWT. 40 orang selebihnya yang masih senang bermabuk-mabukan di kedai ini merupakan kewajibanmu. Tugasmu sekarang menasehati mereka agar sadar dan bertobat.”

 

Perbincangan antara Abu Yazid dan si fulan ternyata didengar oleh 40 orang yang dimaksud. Mereka terkesima lantas tersadar setelah mengetahui bahwa salah satunya adalah Syaikhul Islam Abu Yazid Al-Busthomi Rahimahulloh. Maka 40 orang pemabuk tersebut bertobat kepada Alloh SWT dan memohon ampun kepada-Nya.

 

KESIMPULAN

 

Kisah di atas merupakan kejadian yang teramat langka dan tidak menutup kemungkinan sebahagian orang akan menganggapnya hanya bualan semata. Tapi apabila Alloh SWT. sudah berkehendak, hal yang mustahil bisa saja terjadi.

 

Sebagai seorang Muslim, tentunya kita diharapkan dapat mengambil hikmah yang terkandung dalam peristiwa itu.

 

Ada beberapa hal yang bisa disimpulkan:

 

Pertama;

Perjuangan untuk berdakwah adalah kewajiban yang melekat bagi setiap Muslim. Maka dalam Al-Qur’an dikenal konsep nasehat-menasehati dan tolong-menolong antar sesama manusia.

Dalil yang menjadi rujukan adalah: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan taqwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertaqwalah kamu kepada Alloh, sesungguhnya Alloh amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah; 3)

 

Kedua;

Obyek dakwah harus diperluas. Bukan lagi terpaku kepada kalangan tertentu saja, melainkan harus menyeluruh, khususnya kalangan yang berprilaku negatif, seperti: pemabuk, penjudi, penjahat, penyuka ramalan, dan sebagainya. Sesungguhnya merekalah yang lebih membutuhkan bimbingan dan arahan para alim-ulama (yang mengerti agama). Hal itu tanpa bermaksud menganaktirikan kalangan lain.

 

Ketiga;

Cara berdakwah terbagi menjadi dua, yaitu terang-terangan dan sembunyi-sembunyi. Rosululloh SAW, telah memberikan contoh terbaik bagi kedua cara tersebut. Namun, hal penting yang perlu diingat sebelum berdakwah adalah memilih pendekatan yang di anggap cocok dengan obyek dakwah.

 

Keempat;

Manusia hanya bisa menilai dari dzohirnya apa yang dilakukan seseorang, namun tidak akan pernah tahu apa yang ada di balik hatinya. Apa yang dianggap buruk oleh manusia belum tentu sama di hadapan Alloh SWT.

Artinya (khusus dakwah facebook), bukan hanya sekedar ingin mendapatkan “Acungan Jempol dan kekaguman” atas apa yang disampaikan. Terkadang kita juga harus bisa menerima tatkala ada yang berfikir negatif dengan cara berdakwah yang telah kita lakukan, sekalipun orang-orang tersebut akan meremove/meninggalkan kita.

 

Semoga, kisah di atas bisa memberikan pemahaman baru agar kita dapat bersikap bijak dalam menilai sesuatu. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: