Dialog Ibn Athaillah dan Ibn Taymiyah (Malaysia)

oleh alifbraja

Asy-Syaikh Ibn Athaillah merupakan seorang ahli sufi, ahli hadits, ahli fiqh Mazhab Maliki dan seorang khalifah Tariqat Syazilliyah. Antara karyanya yang terkenal adalah kitab Hikam.
Satu ketika Syeikh Ibn Taymiah telah diampuni sultan lalu dibebaskan. Setelah dibebaskan, beliau dari Iskandariah terus kembali ke Kairo lalu shalat Maghrib di Masjid Al Azhar.

Kebetulan yang menjadi imam shalat adalah Syaikh Ibn Athaillah. Tampaknya Ibn Taimiah tidak ada masalah untuk berimamkan seorang ahli sufi. Kalau benarlah Ibn Taimiyah membid’ahkan pegangan dan paham tariqat, mengapa mudah saja ia menjadi makmum kepada Ibn Athaillah?
Selesai shalat Ibn Athaillah terpandang Ibn Taymiyah di belakangnya lalu menegurnya. Merekapun ngobrol bertukar pikiran. Berikut adalah antara dialog mereka:

IBN Athaillah:
Biasanya aku sholat di masjid Imam Hussein dan shalat Isya ‘di sini, tapi lihatlah bagaimana ketentuan Allah berlaku. Allah mentakdirkan akulah orang pertama yang menyambut engkau (setelah dibebaskan dari penjara dan datang ke mari). Ceritakanlah kepadaku wahai faqih, apakah engkau menyalahkan aku atas apa yang telah terjadi?

IBN TAYMIYAH:
Aku tahu, engkau tidak berbuat buruk terhadapku, tapi perbedaan pandangan antara kita tetap ada. Mulai hari ini, dalam masalah apapun aku tidak mempersalahkan dan membebaskan dari kesalahan, siapapun yang melakukan keburukan terhadapku.
(Ini menunjukkan betapa tingginya budi Ibn Taymiyah)

IBN Athaillah:
Apa yang engkau tahu tentang aku wahai Syeikh Ibn Taymiyah?

IBN TAYMIYAH:
Aku tahu engkau adalah seorang yang saleh, berpengetahuan luas, dan selalu berkata yang benar dan tulus. Aku bersumpah tidak ada orang selain engkau, baik di Mesir maupun di Syria yang lebih mencintai Allah ataupun mampu meniadakan diri di (depan) Allah atau lebih patuh atas perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya. Namun kita tetap memiliki pandangan yang berbeda.
(Meskipun mereka berbeda pandangan dalam aspek-aspek tertentu, namun Ibn Taymiyah sangat menghormati Ibnu Athaillah bahkan mengakui kredibilitasnya. Kondisi ini jauh berbeda dengan pemahaman dan perilaku sebagian orang hari ini yang mengklaim peminat Ibn Taymiyah. Semua tulisan dalam kurungan adalah penjelasan Alexanderwathern)
Apa yang engkau tahu tentang aku?
Apakah engkau atau aku sesat-dalam menolak kebenaran meminta bantuan seseorang untuk memohon pertolongan Allah (dalam kasus istighatsah)?

IBN Athaillah:
Tentu saja sahabatku engkau tahu bahwa istighatsah atau memohon pertolongan sama dengan tawasul atau mengambil wasilah (perantara) dan meminta syafaat, dan sesungguhnya Rasulullah saw adalah seorang yang kita harapkan bantuannya karena beliaulah perantara kita dan syafaatnyalah yang kita harapkan.

IBN TAYMIYAH:
Dalam hal ini aku berpegang pada sunnah Rasul yang ditetapkan dalam syariat.
Dalam hadits yang berbunyi: “Aku telah dianugerahkan kekuatan syafaat.” Dalam ayat al Quran juga disebutkan: “Mudah-mudahan Allah akan menaikkan kamu (wahai Nabi) ke tempat yang terpuji.” (QS Al Isra: 79).
Yang dimaksud dengan tempat terpuji adalah syafaat. Lebih jauh lagi, saat ibu Khalifah Ali ra meninggal dunia, Rasulullah berdoa kepada Allah di kuburnya:
“Ya Allah Yang Maha Hidup dan Tak Pernah Mati, Yang Menghidupkan dan Mematikan, ampuni dosa-dosa ibuku (ibu saudaraku) Fatimah binti Asad, lapangkanlah kubur yang akan dimasukinya dengan syafaatku, utusanMu, dan para nabi sebelumku. Karena Engkaulah Yang Maha Pengasih dan Maha Pengampun “.

Inilah syafaat yang dimiliki Rasulullah saw.
Sementara mencari pertolongan dari selain Allah, merupakan suatu bentuk kemusyrikan. Rasulullah saw sendiri melarang sepupunya, Abdullah bin Abbas, memohon pertolongan dari selain Allah.

IBN Athaillah:
Semoga Allah menganugerahkan engkau keberhasilan, wahai faqih! Maksud dari teguran Rasulullah saw kepada sepupunya Ibn Abbas, adalah agar dia (Ibn Abbas) mendekatkan diri kepada Allah bukan (dengan jalan) melalui kekerabatannya dengan rasul melainkan dengan ilmu pengetahuan.
(Sangat jelas maksud teguran Rasulullah kepada Ibnu Abbas tersebut. Nyatalah selama ini Ibn Taimiyah salah faham)

Sedangkan mengenai pemahaman engkau tentang istighasah sebagai mencari bantuan kepada selain Allah-yang termasuk perbuatan musyrik, aku ingin bertanya kepada engkau:

Apakah muslim yang beriman kepada Allah dan rasul-Nya yang berpendapat-ada selain Allah yang memiliki kekuasaaan atas segala kejadian dan mampu menjalankan apa yang telah ditetapkan-Nya berkenaan dengan dirinya sendiri?
(Jawabannya … tentulah tidak ada. Apa yang terjadi semuanya dengan kekuasaan Allah. Allah berkuasa, makhluk langsung tak ada apa-apa).

Apakah mukmin sejati yang meyakini, ada yang dapat memberikan pahala atas kebaikan dan menghukum atas perbuatan buruk, selain dari Allah?
(Jawabannya, tidak ada juga)

Di samping itu, seharusnya kita sadar bahwa ada berbagai ekspresi yang tak bisa dimaknai sebatas harfiah belaka. Ini bukan saja dikhawatirkan akan membawa kepada kemusyrikan, tapi juga untuk mencegah kemusyrikan.
Sebab, siapapun yang meminta pertolongan Rasul berarti mengharapkan anugerah syafaat yang dimiliknya dari Allah, sebagaimana jika engkau mengatakan: “Makanan ini memuaskan seleraku”.
Apakah itu berarti makanan itu sendiri yang memuaskan selera kamu? Ataupun Allahlah yang memberikan kepuasan melalui makanan?

(Meminta bantuan kepada seseorang itu tidak harus berarti kita menduakan Allah, tidak harus menjadikan kita syirik. Samalah seperti seorang suami berkata kepada istrinya, “Sayang, tolong gorengkan ayam untuk abang.” Apakah ini berarti istrinya yang berkuasa mutlak menjadikan ayam itu digoreng? Tentu tidak. Yang berkuasa mutlak hanyalah Allah, si istri sebagai perantara saja, sebagai tukang proses saja)

Sedangkan kenyataan engkau bahwa Allah melarang orang Islam untuk mendatangi seseorang selain diri-Nya untuk mendapat pertolongan, pernahkah Anda melihat seorang muslim meminta pertolongan kepada selain Allah?

Ayat Al Quran yang engkau lihat (sebenarnya) berkenaan dengan kaum musyrikin, dan mereka yang memohon kepada dewa, dan berpaling dari Allah (tidak ada kena-mengena pun dengan kasus tersebut). Sedangkan satu-satunya jalan untuk kaum muslim yang meminta pertolongan Rasul adalah dalam rangka bertawasul atau mengambil perantara, pada prioritas (hak) rasul yang diterimanya dari Allah (bihaqqihi inda Allah) dan tashaffu atau meminta bantuan dengan syafaat yang telah Allah anugerahkan kepada rasul-Nya .

Sementara itu, jika engkau berpendapat bahwa istighasah atau memohon pertolongan itu dilarang syariat karena mengarah kepada kemusyrikan, maka kita seharusnya mengharamkan anggur karena dapat dijadikan (mengarah ke terhasilnya) minuman keras, dan mengembiri pria yang tidak menikah untuk mencegah zina (karena mengarah ke terhasilnya zina).

* Kedua syaikh tertawa atas ulasan terakhir ini.

Aku kenal betul dengan segala inklusifitas dan gambaran mengenai sekolah fiqih yang didirikan oleh syeikh engkau, Imam Ahmad (pendiri Mazhab Hanbali), dan aku tahu betapa luasnya teori fiqih serta mendalamnya “prinsip-prinsip agar terhindar dari godaan setan” yang engkau miliki, sebagaimana juga tanggung jawab moral yang engkau pikul selaku seorang ahli fiqih.

Namun aku juga menyadari bahwa engkau dituntut menyelidik di balik kata-kata untuk menemukan makna yang seringkali terselubung dibalik kondisi harfiahnya.

Bagi sufi, makna laksana ruh, sementara kata-kata adalah jasadnya. Engkau menembus ke dalam jasad fisik ini untuk meraih hakikat yang mendalam. Kini engkau telah memperoleh dasar bagi pernyataan engkau terhadap karya Ibn Arabi (seorang tokoh sufi besar yang sering dikaitkan oleh musuh-musuhnya, dan orang-orang jahil di kemudian hari dengan Wahdatul Wujud, padahal beliau sendiri tidak pernah menyebut istilah tersebut), Fususul Hikam. Naskah tersebut telah dirusak oleh musuhnya, bukan saja dengan kata-kata yang tak pernah diucapkannya, juga kalimat-pernyataan yang tidak (pernah) dimaksudkannya. (Lebih malang lagi, banyak pula orang-orang jahil hari ini yang percaya segala sabotase musuh-musuh Ibn Arabi tersebut secara taqlid buta)

Ketika Syeikhul Islam Al Izz bin Abdul Salam memahami apa yang sebenarnya yang diucapkan dan dianalisis oleh Ibn Arabi, menangkap dan mengerti makna sebenarnya di balik ungkapan simboliknya, dia segera memohon ampun kepada Allah atas pendapatnya sebelum itu dan menempatkan Muhyiddin Ibn Arabi sebagai Imam Islam.
(Sebelumnya Izz Abdul juga bersikap seperti Ibn Taymiyah, menentang Ibn Arabi dan karyanya. Biasalah, kebanyakan manusia memusuhi apa yang dia tidak tahu, apa yang dia belum tahu karena tidak cukup informasi, atau salah faham, atau memang jahil, atau berlagak pandai, atau taqlid buta dengan buku atau tokoh yang diminatinya, atau ingin menjadi hero cepat, atau disalahfahamkan oleh orang lain dan sebagainya. Jelas dalam hal ini Ibn Taymiyah tidak membuat kajian mendalam terlebih dahulu sebelum mengeluarkan fatwa / pendapatnya tentang Ibn Arabi serta karya-karyanya)

Sedangkan mengenai pernyataan al Syazili yang menjatuhkan (kredibilitas) Ibn Arabi, engkau kena tahu, ucapan tersebut tidak keluar dari mulutnya melainkan dari salah seorang murid Syadziliyah.
Lebih jauh lagi, pernyataan itu dikeluarkan saat para murid membicarakan (perilaku) sebagian (dari) pengikut Syadziliyah.
Dengan itu, pernyataan itu diambil dalam konteks yang tak pernah dimaksudkan oleh sang pembicaranya sendiri.
(Sebelum itu Ibn Taimiyah memperkuat penolakannya terhadap Ibn Arabi melalui pernyataan yang kononnya dibuat oleh Imam asy Syazili. Rupa-rupanya Ibn Taymiyah menerima informasi yang salah. Beberapa kali Ibn Taimiyah membuat keputusan tanpa kajian yang mendalam dalam banyak hal. Kelemahannya inilah antara penyebab dia dipenjarakan )

“Apa pendapat kamu tentang khalifah Ali bin Abi Thalib?”

IBN TAYMIYAH:
Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah saw bersabda:
“Aku adalah kota ilmu dan Ali adalah pintunya”.
Imam Ali adalah seorang mujahid yang tak pernah keluar dari pertempuran kecuali dengan membawa kemenangan. Siapa lagi ulama atau fuqaha sesudahnya yang mampu berjuang demi Allah menggunakan lidah, pena dan pedang sekaligus? (Tapi Ibn Taymiyah sendiri seorang tokoh yang berjuang melalui lidah, pena dan pedang sekaligus). Dialah sahabat rasul yang paling sempurna-semoga Allah membalas kebaikannya. Ucapannya bagaikan cahaya lampu yang menerangi sepanjang hidupku setelah al Quran dan sunnah. Duhai! Seseorang yang meski sedikit perbekalannya namun panjang perjuangannya.

IBN Athaillah:
Sekarang, apakah Imam Ali ra meminta agar orang-orang berpihak padanya dalam suatu sumbu?
Sementara sumbu ini mengklaim bahwa Jibril melakukan kesalahan dengan menyampaikan wahyu kepada Muhammad saw, bukannya kepada Ali!
Atau pernahkah dia (Ali) meminta mereka untuk menyatakan bahwa Allah menitis ke dalam tubuhnya dan sang imam menjadi Tuhan?
Atau dia tidak menentang dan memberantas mereka dengan memberikan fatwa (ketentuan hukum) bahwa mereka harus dibunuh di manapun mereka ditemukan?
(Ini bicara tentang kelompok Syiah yang ekstrem)

IBN TAYMIYAH:
Berdasarkan fatwa inilah saya memerangi mereka di pegunungan Syria selama lebih dari 10 tahun. (Melalui jawaban ini jelas Ibn Taymiyah setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ibn Athaillah).

IBN Athaillah:
Dan Imam Ahmad-semoga Allah meridhainya-mempertanyakan perbuatan sebagian pengikutnya yang berpatroli, memecahkan tong-tong anggur (di toko-toko menjual miras), menumpahkan isinya ke lantai, memukul gadis para penyanyi, dan menyerang masyarakat di jalan.
Meskipun sang Imam tidak memberikan fatwa bahwa mereka harus mengecam dan menghardik orang-orang tersebut. Konsekuensinya para pengikutnya ini dicambuk, dilempar ke penjara dan diarak di punggung keledai dengan menghadap ekornya (duduk secara terbalik).
Apakah Imam Ahmad bertanggung jawab atas perbuatan buruk yang kini kembali dilakukan pengikut Hanbali, dengan alasan melarang benda atau hal-hal yang diharamkan?

(Kesalahan pengikut tidak harus dipertanggungjawabkan kepada pemimpin. Ini karena ada pengikut yang berfahaman dan bertindak di luar dari pemahaman dan tindakan pemimpin.
Bila kita menegur kesalahan para Syiah yang ekstrem ini, mereka membalas dengan mengklaim kita menentang Ali dan ahlul bait.
Bila kita menegur kesalahan tariqat-tariqat sufi yang sesat, mereka membalas dengan mengklaim kita menentang Al Ghazali dan Ibn Arabi.
Bila kita menegur kesalahan para Salafi yang ekstrem hari ini yaitu kaum Wahabi, mereka membalas dengan mengklaim kita menentang Ibn Taymiyah dan menolak kitab Tauhid Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Begitulah antara metode psikologi suku-suku yang rusak ini untuk menegakkan benang basah dan melanjutkan hidupnya paham mereka)

Dengan itu, Syeikh Muhyidin Ibn Arabi tidak bersalah atas pelanggaran yang dilakukan oleh para pengikutnya yang melepaskan diri dari ketentuan hukum dan moral yang telah ditetapkan agama serta melakukan pebuatan yang dilarang agama.
Apakah Anda tidak memahami hal ini?

IBN TAYMIYAH:
(Ibn Taimiyah tidak menjawab pertanyaan tersebut karena apa yang dikatakan oleh Ibn Athaillah memang benar, dan Ibn Taymiyah memahaminya)
Tapi bagaimana pendirian mereka di hadapan Allah? Di antara kalian para sufi, ada yang menegaskan bahwa ketika Rasulullah saw memberitakan kabar gembira pada kaum miskin bahwa mereka akan masuk surga sebelum kaum kaya, selanjutnya kaum miskin tersebut tenggelam dalam ledakan kegembiraan dan mulai merobek-robek jubah mereka; saat itu malaikat Jibril turun dari surga dan mewahyukan kepada rasul bahwa Allah akan memilih di antara jubah-jubah yang robek itu; selanjutnya Jibril mengangkat satu dari jubah dan menggantungkannya di singgasana Allah. Berdasarkan ini, kaum sufi mengenakan jubah kasar dan menyebut dirinya fuqara atau kaum “faqir”.

IBN Athaillah:
Tidak semua sufi memakai jubah dan pakaian kasar. Lihatlah apa yang aku pakai (sekarang), apakah engkau tidak setuju dengan penampilanku? (Ketika itu Ibn Athaillah memakai pakaian yang cantik. Ini menolak gagasan bahwa semua ahli sufi berpakaian buruk dan selekeh setiap saat)

IBN TAYMIYAH:
Tapi engkau adalah ulama syariat dan mengajar di Al Ahzar.

IBN Athaillah:
Al Ghazali adalah seorang imam syariat maupun tasawuf. Dia menerapkan fiqh, sunnah, dan syariat dengan semangat seorang sufi. Dan dengan cara ini, dia mampu menghidupkan kembali ilmu-ilmu agama. Kita tahu bahwa dalam tasawuf, noda tidak memiliki tempat dalam agama dan bahwa kesucian merupakan ciri dari kebenaran. Sufi yang tulus dan sejati kena menyuburkan hatinya dengan kebenaran yang ditanamkan ahli sunnah.

Dua abad yang lalu muncul fenomena sufi palsu yang engkau sendiri telah mengecam dan menolaknya, di mana sebagian orang mengurangi kewajiban beribadah dan peraturan keagamaan, melonggarkan berpuasa dan melecehkan pengamalan shalat wajib lima kali sehari. Ditunggangi kemalasan dan ketidakpedulian, mereka mengklaim telah bebas dari belenggu kewajiban beribadah. Begitu dahsyatnya tindakan mereka sehingga Imam Qusyairi sendiri mengeluarkan kecaman dalam bukunya ar Risalah (Risalah al-Qusyairiyah).

(Para sufi palsu inilah yang seharusnya ditentang oleh Ibn Taymiyah, dan memang beliau ada usaha ke arah itu. Tapi yang menjadi masalahnya adalah Ibn Taymiyah sendiri tidak ada “basic” yang kokoh dalam tasauf kesufian menyebabkan ia kadang-kadang termenentang dunia sufi yang benar. Niatnya baik, tetapi ilmunya tidak memadai.
Misalnya seorang pemilik kebun mempekerjakan seorang budak memetik buah rambutan di kebunnya dengan pesanan, “Jangan kait buah yang masih hijau.” Tapi budak ini memetik semua buah yang tidak berwarna hijau termasuk yang baru ada kekuningan sikit-sikit. Rugilah tuan kebun karena buah yang kuning sikit-sikit itu seharusnya ditunggu kemarah-merahan barulah sesuai dipetik untuk dipasarkan. Aksi budak itu demikian karena “basic” nya pada paham warna buah masak tidak mencukupi. Niatnya baik tapi hasilnya …)

Di sini, ia juga menerangkan secara rinci jalan yang benar menuju Allah, yakni berpegang teguh pada Al Quran dan Sunnah. Imam tasawuf juga berkeinginan mengantarkan manusia pada kebenaran sejati, yang tidak hanya diperoleh melalui bukti rasional yang dapat diterima akal manusia yang dapat membedakan yang benar dan salah, melainkan juga melalui penyucian hati dan pelenyapan ego yang dapat dicapai dengan menerapkan praktek spiritual.

Kelompok di atas selanjutnya tersingkir lantaran sebagai hamba Allah sejati, seseorang tidak akan menyibukkan diriya kecuali demi kecintaannya kepada Allah dan rasul-Nya. Inilah posisi mulia yang menyebabkan seorang menjadi hamba yang shaleh, sehat dan sentosa. Inilah jalan untuk membersihkan manusia dari hal-hal yang dapat menodai manusia, seperti cinta akan harta, tujuan akan posisi tertentu. Meskipun demikian, kita harus berusaha di jalan Allah agar memperoleh ketentraman beribadah.

Sahabatku yang bijaksana, menerjemahkan naskah secara harfiah terkadang menyebabkan kekeliruan. Penafsiran harfiahlah yang mendasari penilaian engkau terhadap Ibn Arabi, salah seorang imam kami yang terkenal akan kesolehannya. Engkau tentu paham bahwa Ibn Arabi menulis dengan gaya simbolis; sedangkan para sufi adalah ahli dalam menggunakan bahasa simbolis yang mengandung makna lebih dalam dan gaya hiperbola yang menunjukkan tingginya kepekaan spiritual serta kata-kata yang mengirimkan rahasia mengenai fenomena yang tak nampak.

(Biasanya manusia yang tidak dilatih dengan jalan tasawuf tidak dapat memahami kata-kata dan istilah para sufi. Bahasa sufi sangat tinggi, penuh simbolik dan berarti yang sama sekali berbeda dengan bahasa harian manusia.
Ibn Taymiyah tidak menerima tarbiyyah melalui jalan kesufian, maka banyak hal yang tidak dipahami tentang dunia sufi. Inilah yang menyebabkan dia kadang-kadang termenentang hal yang benar.
Samalah keadaannya seperti seorang ilmuwan yang ingin menyela pembicaraan antara dua orang Sastrawan Negara. Ilmuwan tadi biasanya pasti akan salah paham dengan apa yang dikatakan.
Samalah seperti seperti seorang rakyat Tiongkok yang belajar Bahasa Indonesia di sana, kemudian datang ke Malaysia. Di Malaysia dia menyaksikan latihan silat sebuah perguruan. Kemudian ketika pulang, dia menulis sebuah artikel menunjukkan bahwa bangsa Melayu sendiri sudah banyak yang tidak menguasai bahasa ibu mereka. Sebenarnya dia yang salah faham.
Bila anggota silat buat gerakan ke atas lawan, mereka namakan “buah”. Orang Cina tadi mengkritik penggunaan perkatan “buah ‘karena menurut ilmu Bahasa Melayunya,” buah “adalah untuk buah-buahan, bukan untuk gerakan memukul, menjatuhkan dan mengunci.
Begitu juga ketika anggota silat diminta menyerang maka disebut “masuk”. Dalam artikelnya, orang Cina itu menulis-seharusnya kata “masuk” harus diganti dengan “serang”.
Singkatnya, dia menghukum orang-orang Melayu tadi melakukan kesalahan bahasa.
Begitulah yang terjadi kepada Ibn Taymiyah. Tapi yang peliknya, kesalahan Ibn Taymiyah ini masih diteruskan pula oleh kelompok-kelompok yang mengaku mencontoh pada hari ini)

IBN TAYMIYAH:
Argumentasi tersebut seharusnya ditujukan kepada engkau. Karena saat Imam al-Qusyairi melihat (ada diantara) pengikutnya melenceng dari jalan Allah, dia dengan segera mengambil langkah untuk membendong mereka.
Sementara, apa yang dilakukan oleh para syeikh sufi sekarang? Aku meminta para sufi untuk mengikuti jalur sunnah dari para leluhur kami (salafi) yang saleh dan terkemuka: para sahabat yang zuhud, generasi sebelum mereka dan generasi sesudahnya yang mengikuti langkah mereka.

Siapapun yang menempuh jalan ini, saya berikan penghargaan setinggi-tingginya dan menempatkan sebagai imam agama. Namun bagi mereka yang melakukan pembaruan yang tidak berdasar dan menyisipkan gagasan kemusyrikan seperti filsafat Yunani dan pengikut Budha, atau yang beranggapan bahwa manusia menempati Allah (hulul) atau bersatu dengan-Nya (Ittihad), atau teori yang menyatakan bahwa seluruh penampakan adalah satu adanya / kesatuan wujud (wahdatul wujud) ataupun hal-hal lain yang diperintahkan syeikh anda: semuanya jelas perilaku atheis dan kafir.

IBN Athaillah:
Ibn Arabi adalah salah seorang ulama terhebat yang mengenyam pendidikan di Dawud al Zahiri seperti Ibn Hazm al Andalusi, seorang yang fahamannya sesuai dengan metodologi Anda tentang hukum Islam, wahai penganut Hanbali! Tetapi meskipun Ibn Arabi seorang Zahiri (menerjemahkan hukum Islam secara lahiriah), metode yang diterapkannya untuk memahami hakikat adalah dengan menyelidik apa yang tersembunyi, mencari makna spiritual (thariq al bathin), untuk mensucikan bathin (thathhir al bathin).

Meskipun demikian tidak seluruh pengikut mengartikan sama apa-apa yang tersembunyi. Agar kamu tidak keliru atau lupa, ulangilah bacaan engkau tentang Ibn Arabi dengan pemahaman baru akan simbol-simbol dan gagasannya (maksudnya, Ibn Taymiyah kenalah ulang kembali penelitiannya tentang karya-karya Ibn Arabi menggunakan hal-hal baru yang baru dipahami saat ini, karena hasilnya nanti pasti berbeda dengan hasil yang lalu). Engkau akan menemukannya sangat mirip dengan al-Qusyairi. Dia telah menempuh jalan tasawuf di bawah payung al-Quran dan sunnah, sama seperti Hujjatul Islam Al Ghazali, yang mengusung perdebatan mengenai perbedaan mendasar mengenai iman dan isu-isu ibadah namun menilai usaha ini kurang menguntungkan dan bermanfaat.

Ia mengajak orang untuk memahami bahwa mencintai Allah adalah cara yang patut ditempuh seorang hamba Allah berdasarkan keyakinan. Apakah engkau setuju wahai faqih? Atau kamu lebih suka melihat perselisihan di antara para ulama? Imam Malik ra. telah mengingatkan mengenai perselisihan semacam ini dan memberikan nasehat: “Setiap kali seseorang berdebat mengenai iman, maka kepercayaannya akan berkurang.”

Sejalan dengan ucapan itu, Al Ghazali berpendapat, cara tercepat untuk mendekatkan diri kepada Allah adalah melalui hati, bukan jasad. Bukan berarti hati dalam bentuk fisik yang dapat melihat, mendengar atau merasakan secara gamblang. Melainkan, dengan menyimpan dalam benak, rahasia terdalam dari Allah Yang Maha Agung dan Besar, yang tidak dapat dilihat atau diraba.

Sesungguhnya anggota sunnahlah yang menobatkan syeikh sufi, Imam Al-Ghazali, sebagai Hujjatul Islam, dan tak seorangpun yang menyangkal pandangannya bahkan seorang ilmuwan secara berlebihan berpendapat bahwa Ihya Ulumuddin nyaris setara dengan Al Quran (ilmuan tersebut fanatik dengan kelima).

Dalam pandangan Ibn Arabi dan Ibn Al Farid, taklif atau kepatuhan beragama laksana ibadah yang mihrab atau sajadahnya menandai aspek batin, bukan semata-mata ritual lahiriah saja. Karena apalah artinya duduk berdiri anda dalam sholat sementara hati anda dikuasai selain Allah.
Allah memuji hambaNya dalam Al Quran:
“(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam sholatnya”;
dan Ia mengutuk dalam firmanNya:
“(Yaitu) orang-orang yang lalai dalam sholatnya”.
Inilah yang dimaksudkan oleh Ibn Arabi saat mengatakan: “Ibadah bagaikan mihrab bagi hati, yakni aspek batin, bukan lahirnya”.

Seorang muslim takkan mampu mencapai keyakinan tentang isi Al Quran, baik dengan ilmu atau pembuktian itu sendiri, hingga ia membersihkan hatinya dari segala yang dapat mengalihkan dan berusaha untuk khusyuk. Dengan demikian Allah akan mencurahkan ilmu ke dalam hatinya, dan dari sana akan muncul semangatnya. Sufi sejati tak mencukupi dirinya dengan meminta sedekah.

Seseorang yang tulus adalah ia yang menyuburkan diri di (depan) Allah dengan mematuhi-Nya. Barangkali yang menyebabkan (sebagian) ahli fiqh mengecam Ibn Arabi adalah karena kritik beliau terhdap keasyikan mereka dalam berargumentasi dan berdebat seputar masalah iman, hukum masalah-masalah yang terjadi (aktual) dan masalah-masalah yang baru dihipotesakan (dibayangkan padahal ia belum terjadi).
(Ini memang terjadi. Ada ahli fiqh yang keras fakir dan cari penyesaian masalah-masalah yang tak perlu dipikir.
Misalnya, seorang pria sholat berjamaah. Ketika shalat dia mengikat tali kudanya di ibu jarinya. Sedang shalat tiba-tiba kudanya buang air besar. Apakah batal shalatnya karena najis kuda itu tertanggung melalui tali yang diikat di kakinya?
Inikan namanya “tak ada masalah cari masalah”? Padahal masa memikirkan hal ini lebih baik dibuat mempelajari bidang-bidang lain yang belum kita kuasai terutamanya tasauf.
Ada pula orang yang habiskan waktu berpikir dan mencari solusi dalam hal ini-Air mani dikumpulkan-kumpul dan cukup dua kolah. Dapatkah dibuat mengambil wudhuk?
Kalau suami istri bercinta tiba-tiba melekat selama 48 jam, tak bisa dipisahkan. Macam mana cara hendak mandi wajib, ambil wudhu dan sholat selama itu?
Ada pula yang berpikir-macam manalah agaknya kalau satu hari nanti orang Melayu akan anggap bid’ah hasanah kepada perempuan yang menjadi imam shalat Jumat pada pria di dalam gereja? Ini lagi mengherankan!
Bukan tidak bisa sama-sekali memikirkan hal-hal ini, tapi ikutlah prioritas. Banyak lagi bidang yang kiat belum kuasai.
Inilah sebenarnya yang ditentang oleh anggota-anggota tasauf atas sebagian ahli-ahli fiqh)
 
(Ibnu Arabi dan para sufi tidak menolak ilmu fiqh dan anggota-anggotanya sebagaimana klaim musuh-musuh mereka yang masih ada hingga hari ini, tetapi melawan keekstreman beberapa ahli fiqh yang hanyut dalam dunia fiqih mereka sehingga usaha mereka dalam agama menjadi sempit lagi amat terbatas . Seorang Muslim seharusnya menjalani kehidupan dengan seimbang walaupun mereka ada spesialisasi dalam bidang tertentu. Apalagi banyak juga ahli fiqh yang langsung tidak ambil pusing soal-soal tasauf yang melibatkan penggunaaan hati, sampaikan mereka beranggapan bahwa amal-amal lahiriah tunduk bangkit itu sajalah yang membawa keberhasilan dalam agama. Padahal Tuhan lebih memandang soal hati. Inilah yang dimaksudkan)

Ibn Arabi mengkritik begitu karena dia melihat betapa sering hal tersebut dapat mengalihkan mereka dari kejernihan hati. Ia menjuluki mereka sebagai “ahli fiqih basa-basi wanita”. Semoga Allah mengeluarkan kamu karena telah menjadi salah satu dari mereka!
Pernahkan engkau membaca pernyataan Ibn Arabi bahwa:
“Siapa saja yang membangun keyakinannya semata-mata berdasarkan bukti-bukti yang tampak dan argumen deduktif, maka ia membangun keyakinan dengan dasar yang tak bisa diandalkan. Karena ia akan selalu dipengaruhi oleh sangahan-sangahan balik yang konstan. Keyakinan bukan berasal dari alasan logis melainkan tercurah dari lubuk hati. “
Apakah pernyataan yang seindah ini?

IBN TAYMIYAH:
Engkau telah berbicara dengan baik, andaikanlah guru engkau sama seperti yang engkau katakan, maka dia sangat jauh dari kafir. Tapi menurutku apa yang telah ia ucapkan tidak mendukung pandangan yang telah Anda kemukakan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: