Archive for April 12th, 2013

12 April 2013

isi dialog antara Nabi Khidir As dan Nabi Musa As tentang duka Ahlulbait Nabi Saw

oleh alifbraja

Dalam literatur riwayat disebutkan sebuah hadis dengan judul Perjumpaan Nabi Musa As dan Nabi Khidir As. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas tentang beragam masalah; di antaranya adalah duka dan musibah yang menimpa Ahlulbait As. Penggalan hadis yang menjadi obyek pertanyaan adalah sebagai berikut:

“Muhammad bin Ali bin Bilal meriwayatkan dari Yunus tentang perbedaan pendapat antara Yunus dan Hisyam ihwal seorang alim yang dijumpai oleh Nabi Musa As, siapakah yang lebih pandai dari keduanya. Apakah boleh terdapat orang lain yang lebih pandai dari Musa As yang notabene merupakan seorang hujjah pada masanya (baca: nabi)? Qasim Shaqil berkata, “Saya menulis surat kepada Imam Ridha As dan tentang masalah ini saya bertanya kepadanya. Imam Ridha As, dalam menjawab pertanyaan itu, menulis sebuah surat yang isinya sebagai berikut: “Tatkala Musa menjumpai alim tersebut di sebuah pulau dan menyampaikan salam kepadanya, ia bertanya kepada Musa: “Siapakah engkau?” Musa menjawab, “Aku adalah Musa bin Imran, orang yang diajak berbicara dengan Allah Swt. Saya datang untuk menimba ilmu dari Anda sehingga saya meraih kesempurnaan dan memperoleh petunjuk.” Ia berkata, “Engkau tidak dapat menyertaiku.” Kemudian alim tersebut berbicara tentang musibah yang menimpa Alu Muhammad As (Ahlulbait Nabi Saw) kepada Musa sedemikian sehingga keduanya menangis. Setelah itu alim tersebut berbicara tentang keutamaan dan keunggulan Alu Muhammad bagi Musa hingga Musa menimpali, “Sekiranya aku juga berasal dari Alu Muhammad Saw….”[1]

Demikianlah nukilan sesuai riwayat yang dijelaskan secara ringkas oleh Khidir As untuk Nabi Musa As  dengan judul musibah-musibah Ahlulbait As 

 


[1]. Ali bin Ibrahim Qummi, Tafsir al-Qummi, jil. 2, hal. 38, Dar al-Kitab, Qum, 1367 S.

«حدثنی محمد بن علی بن بلال عن یونس قال‏ اختلف یونس و هشام فی العالم الذی أتاه موسى ع أیهما کان أعلم و هل یجوز أن یکون حجة فی وقته و هو حجة الله على خلقه‏ فقال قاسم الصیقل فکتبوا إلى أبی الحسن الرضا ع یسألونه عن ذلک فکتب فی الجواب أتى موسى العالم فأصابه فی جزیرة من جزائر البحر إما جالسا و إما متکئا فسلم علیه موسى فأنکر السلام إذ کان بأرض لیس فیها سلام فقال من أنت قال أنا موسى بن عمران الذی کلمه الله تکلیما قال جئت لتعلمنی‏ مما علمت رشدا قال إنی وکلت بأمر لا تطیقه ثم حدثه العالم بما یصیب آل محمد (ع) من البلاء حتى اشتد بکاؤهما ثم حدثه عن فضل آل محمد حتى جعل موسى‏ یقول یا لیتنی کنت من آل محمد…»

 

12 April 2013

Alasan Nabi Khidir membunuh seorang anak kecil

oleh alifbraja

Sebelum kita membahasnya dengan lebih rinci dan memecahkan kemusykilan ini, kita harus terlebih dahulu mengetahui beberapa hal dasar yang akan kita jadikan pijakan awal pembahasan ini. Hal-hal tersebut adalah;

1.     Al-Qur’an menyebutkan bahwa Nabi Khidir As adalah hamba Allah Swt yang memliki ilmu dan rahmat khusus Ilahi.

2.     Beberapa ayat dan riwayat yang ada memberi pemahaman bahwa terbunuhnya anak yang baru balig (ghulam) tersebut bukanlah akibat dari tindakan yang  dilakukan karena kebencian, hawa nafsu atau amarah.

3.     Kematian anak tersebut di tangan Nabi Khidir As atas perintah dan izin Allah Swt.

4.     Tanpa diawali dialog atau percekcokan antara Nabi Khidir As dengan anak tersebut, Nabi Khidir As sengaja dengan penuh kesadaran membunuh anak tersebut. Jadi pembunuhan ini bukan kebetulan atau kecelakaan (ketidaksengajaan).

5.     Ayah dan ibu dari anak yang dibunuh tersebut adalah orang-orang Mukmin yang mendapat anugerah khusus dari Allah Swt. Nabi Khidir As ketika itu sangat mengkhawatirkan kedua orangtua si anak menjadi kafir dan sesat karena perangai buruk anak tersebut kelak.

6.     Merujuk ayat-ayat terkait peristiwa ini serta riwayat-riwayat dari para Imam Maksum As, dapat dipahami bahwa Allah Swt hendak mengaruniai seorang anak perempuan kepada sepasang suami istri tersebut sebagai gantinya. Kelak dari rahim anak perempuan ini lahir nabi-nabi. Berdasarkan riwayat-riwayat tersebut, sekitar 70 nabi yang lahir dari keturunan anak perempuan tersebut. Sedangkan anak laki-laki tersebut menjadi penghalang lahirnya nabi-nabi tersebut.

7.     Anak laki-laki yang dibunuh Nabi Khidir tersebut tenggelam dalam kekufuran dan tiada harapan sedikitpun untuk menerima hidayah. Kekufuran serta keingkaran terhadap kebenaran mengakar di dalam hatinya, kendati secara lahiriah tampak seperti seorang suci. Dengan kata lain, kejahatan anak laki-laki tersebut adalah kufur atau murtad secara fitrah dan balasan setimpal bagi orang seperti ini tidak lain adalah hukuman mati.

8.     Kematian anak laki-laki tersebut membawa manfaat yang sangat banyak diantaranya adalah terpeliharanya iman kedua orangtuanya, kedua orangtua anak laki-laki tersebut terhindar dari segala bentuk kesedihan akibat adanya hubungan dan rasa kekeluargaan, merasa gembira karena telah sukses menjalani qada dan qadar Ilahi, memperoleh keberkahan yang melimpah (melalui anak perempuannya), Nabi Musa dapat mengetahui sebagian rahasia, ilmu gaib dan hakikat batin, teraplikasinya aturan-aturan Tuhan melalui Nabi Khidir As, mencegah bertambah beratnya pertanggungjawaban amal jelek anak laki-laki tersebut akibat perbuatan yang kelak akan dilakukannya (diantaranya: menyesatkan serta mengganggu kedua orangtuanya) dan lain sebagainya.

 

Setelah kita mengetahui fakta-fakta di atas, maka hal penting lain yang harus kita perhatikan adalah bawa diantara sifat kesempurnaan (kamaliyah) Allah Swt adalah sifat Hakim (Mahabijak). Sifat ini termanifestasi baik pada tataran takwini ataupun tasyri’i. Walaupun mungkin saja semua orang tidak mengetahuinya kecuali hanya beberapa orang yang tahu tentang sebagian rahasia keberadaan alam. Salah seorang yang mendapat anugerah rahmat dan inayah khusus serta pengajaran Ilahi dan ilmu ladunni adalah Khidir As yang selain memperoleh rahmat dan ilmu Ilahi serta taufik menyampaikan sebagian dari rahasia-rahasia tersebut kepada Nabi Musa As, ia juga mendapat perintah untuk menjalankan hukum Ilahi.

Oleh karena itu, terkait dengan tewasnya anak laki-laki tersebut di tangan Nabi Khidir As, dengan memperhatikan fakta-fakta di atas, kita dapat menemukan sebuah jawaban yang sederhana, yaitu bahwa semuanya tak lain dari hikmah dan Kemahapengaturan Allah Azza Wa Jalla yang terejawantahkan melalui tangan Nabi Khidhir as. Kendati kata ghulam memiliki makna yang bermacam-macam, seperti pelayan, anak kecil, anak dewasa, baru balig dan lain sebagainya. Akan tetapi makna yang dianggap sesuai pada (ayat-ayat 74 dan 80 surat Al-Kahfi) adalah anak laki-laki yang baru balig yang baru tumbuh kumisnya dan sesuai pula dengan sebagian ayat dan  riwayat.[1] Karena itu berdasarkan hal ini dapat dikatakan bahwa seseorang  yang tewas di tangan Nabi Khidir As itu adalah seorang anak laki-laki yang baru balig dan bukan seorang anak kecil!

Kemudian, kematian anak laki-laki tersebut tidaklah diawali dengan dialog atau percekcokan yang memunculkan rasa amarah dan emosi atau karena nafsu jahat. Nabi Khidhir sama sekali tidak betengkar dan bersilang pendapat dengan pemuda itu, akan tetapi beliau langsung membunuh anak itu dengan pedang. Dan itu semua dilakukannya dengan penuh kesadaran dan kesengajaan. Bukan karena kecelakaan atau ketidaksengajaan. Nabi Khidir As melakukan hal ini tanpa ada rasa ragu sedikitpun dalam hatinya dan mengamalkannya sesuai dengan ilmu Ilahi dan batini yang dianugerahkan Allah padanya.[2] Wal-hasil bahwa peristiwa ini bukanlah sebuah kejadian yang bersifat kebetulan. Dan berdasarkan ma’arif Al-Qur’an dan kalimat-kalimat agung para Imam Ma’shum As serta tinjauan filsafat, bahwa di alam ini tidak ada istilah “kebetulan”. Proses pembunuhan ini dilakukan oleh seorang hamba khusus Allah Swt yang dianugerahi rahmat dan ilmu khusus dari Allah Swt, sebagaimana Firman-Nya dalam surat al-Kahfi ayat 65:”lalu mereka bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba kami, yang telah kami berikan kepadanya rahmat dari sisi kami dan yang telah kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi kami”.

Di sini, Nabi Khidir As dengan berdasar pada perintah dan hukum Ilahi, bertindak sebagai pelaksana perintah tersebut[3] atau ia berposisi sebagai sebab diantara sebab-sebab takwini  pada terealisasinya kehendak dan keinginan Ilahi. Sedangkan Nabi Musa as saat itu bertindak berdasarkan pada hukum Ilahi yang lain yang ada di bawahnya, yaitu hukum tasyri’i atau syari’at. Karena itulah Nabi Musa as memprotes tindakan Nabi Khidhir as yang menurutnya tidak sesuai. Baru setelah dijelaskan oleh Nabi Khidhir as, Nabi Musa as menerimanya dan tunduk padanya.

Di sisi lain, ayah dan ibu anak laki-laki tersebut adalah orang-orang mukmin yang Allah Swt karunia inayah dan taufik khusus. Dan berdasarkan ilmu zat-Nya Allah Swt tahu bahwa kalau anak laki-lakinya itu hidup, maka kedua orang tua tersebut akan terjerumus ke dalam fitnah, kekufuran dan kesesatan yang luar biasa dimasa mendatang. Dengan alasan ini Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Khidir As untuk membunuh anak laki-laki tersebut dan dengan inayah ini Allah Swt memberikan maqam kemuliaan khusus kepada kedua orangtua tersebut di akhirat.[4]

Bersandarkan pada riwayat-riwayat yang sampai ke kita, dapat dikatakan bahwa Allah Swt hendak mengganti anak laki-laki tersebut -dengan melihat keimanan serta kesabaran yang dimiliki oleh orang tua itu- dengan seorang anak perempuan yang lahir dari keturunannya  sekitar 70 nabi. Dan ini merupakan balasan pahala yang lebih baik dan sebuah rahmat yang lebih dekat dan lebih banyak.[5]

Laki-laki yang disebutkan di atas adalah seorang laki-laki kafir (atau murtad secara fitrah) dimana tidak ada sedikit pun harapan pada dirinya untuk memeperoleh cahaya petunjuk dan hidayah Ilahi. Kalau hidup, Ia tidak hanya semakin larut dan tenggelam dalam kerusakan dan kejahatan, tapi ia juga akan berbuat sesuatu yang menyebabkan orang lain, khususnya orang tuanya ikut tersesat. Jadi kematiannya itu merupakan akibat dari kekufuran atau kemurtadannya serta tidak ditemukan tanda-tanda sedikit pun kalau ia akan beriman dan meninggalkan kekufuran[6]. Dan Nabi Khidir As dengan ilmu ladunninya tahu akan hal itu, kendati secara lahiriah Nabi Musa As tidak punya pengetahuan akan hal itu. (masalah kemurtadan sebagai sebuah pandangan bisa menjadi fokus perhatian).

Dengan ungkapan lain, kematian anak laki-laki tersebut membawa manfaat dan guna yang cukup banyak dimana ia bisa dikatakan sebuah amalan yang sudah diperhitungkan secara matang. Dan juga merupakan sebuah lingkaran matarantai alam semesta yang indah ini dan merupakan sebuah tanda dari hikmah dan kekuatan Ilahi serta sebuah rahasai dari ribuan rahasia tersembunyi alam semesta ini. Diantara rahasia-rahasia tersebut adalah: Kedua orang tua mukmin dari anak laki-laki tersebut dapat terhindar dari bahaya kesesatan yang mungkin saja menimpa mereka akibat adanya hubungan rasa kekeluargaan dengan anak laki-lakinya itu. Mereka telah menunjukkan kesabaran, kerelaan serta kepasrahan atas qadha dan qadar Allah Swt sehinga berhasil dan sukses menjalani ujian Ilahi. Guna terealisasinya keinginan dan kehendak Ilahi dan penganugerahan seorang anak perempuan yang merupakan sumber keberkahan, maka Allah Swt memerintahkan kepada Nabi Khidir As untuk membunuh anak laki-laki kafir tersebut yang mana dianggap sebagai penghalang.

Melalui peristiwa ini, dan dengan pengenalan serta kebersamaan Nabi Musa As dengan salah seorang hamba suci Allah Swt yang merupakan sebuah lautan ilmu dari ilmu-ilmu Ilahi dan rahasia dari segala rahasia Tuhan terbuka untuk maqam mulia tersebut serta pancaran cahaya dari ilmu dan hakikat yang gaib. Dan beliau mencapai maqam kesempurnaan sesuai izin yang Allah Swt anugerahkan. Berkenaan hal ini, Al-Qur’an menyatakan bahwa:”Nabi Musa As berkata kepada Hadrat Khidir As: bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang diajarkan kepadamu?”.[7]

Ya, dengan melaksanakan perintah Allah Swt dan kematian anak laki-laki tersebut, maka catatan amal jeleknya pun tertutup dan mencegah akan bertambahnya catatan amalan dosa yang akan dilakukannya dimasa mendatang dan lain sebagainya. Dengan kata lain bahwa kematian laki-laki tersebut membawa manfaat yang cukup banyak bagi orang-orang yang punya hubungan khusus dengan peristiwa tersebut, baik itu bagi laki-laki tersebut (yang mati), dan juga bagi kedua orangtua laki-laki tersebut serta bagi Nabi Khidir As dan yang menyertainya. []     

 

 

 


[1] . Mu’jam Muqayisullughah; al Afshah, jilid 1 halaman 11; al ‘Ain, jilid 4 halaman 442; Farhangg-e buzurg-e jame-e nuvin, jilid 3 halaman 1127; Mufradat Raghib; Aqrabul Mawarid; Muhammad Mahdi Fuladawan, Tarjume-e qur’an-e karim, ayat 74 dan 80.

[2] . tafsir Shafi, jilid 2; Biharul anwar, jilid 13 halaman 284.

[3] . tafsir Nurutstsaqalain, jilid 3 halaman 284; Biharul anwar, jilid 13 halaman 288.

[4] . Qs. Al Kahfi ayat 80; Allamah Majlisi, Biharul anwar, jilid 13 halaman 288.

[5] . tafsir Nurutstsaqalain, jilid 3 halaman 286, hadits 170-173; Biharul anwar, jilid 13 halaman 311; Ushul Kafi, jilid 2 halaman 83.

[6] . tafsir Nurutstsaqalain, jilid 3 halaman 286; tafsir Shafi, jilid 3 halaman 255; tafsir Majma’ al Bayan dan tafsir ‘Ayyasyi (ayat-ayat yang ada kaitannya dengan peristiwa Hadrat Hidir As dan Nabi Musa As); ‘Ilalusysyarayi’.

[7] . Qs. Al Kahfi ayat 66.

 

 

12 April 2013

Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya

oleh alifbraja

Redaksi-redaksi kunci dan sentral pada ayat yang dimaksud adalah “yahulu” dan “qalb”.

A.     Yahulu

Yahulu artinya merintangi, membatasi dan menghalangi. Kalimat ini derivasinya dari kata haûl (batas, rintangan, halangan). Dan makna-maknanya yang digunakan untuk kata ini adalah perubahan dan pergantian, mediasi antara dua hal.[1]

Sesuai dengan makna kedua; misalnya apabila matahari berada di antara bulan dan bumi kita berkata bahwa antara matahari terdapat dua penghalang dan pembatas. Tatkala ungkapan ihwal halangan (hâil) mengemuka artinya pertama, harus terdapat dua hal yang menjadi penghalang dan pembatas bagi hal yang ketiga dan memisahkan dua hal tersebut. Kedua, sesuai dengan kaidah dua hal tersebut jaraknya harus berdekatan sehingga hal ketiga menghalangi dan membatasi kedekatan dan kekerabatan ini.

B.      Qalb

Makna leksikal qalb (hati) adalah perubahan (inqilâb) dan pergolakan. Apabila indra tertentu manusia yang berada di bagian dada kiri disebut sebagi hati hal ini dikarenakan bahwa hati senantiasa mengalami perubahan dan usaha sehingga dengan gerakan teraturnya ia menata kehidupan manusia.[2]

Yang dimaksud dengan qalb (hati) dalam al-Qur’an adalah substansi abstrak dan transendental yang dengannnya kemanusiaan manusia bergantung. Serta kebanyakan kondisi ruh dan psikologis manusia disandarkan kepada hati. Misalnya pencerapan (idrâk), baik pencerapan presentif (hudhuri) atau perolehan (hushuli), atau cinta, benci dan sebagainya.

Bahkan ketika al-Qur’an menafikan pencerapan yang dilakukan hati, sejatinya al-Qur’an ingin menegaskan bahwa realitas ini yaitu hati bukan merupakan hati yang sehat (sâlim).[3]

Mengingat bahwa hati merupakan anggota sentral badan dapat dikatakan bahwa yang dimaksud adalah badan itu sendiri atau asli wujud hati. Oleh itu, dalam budaya dan penggunaan al-Qur’an, orang-orang yang tidak memiliki pemahaman dan pandangan dapat dicirikan sebagai orang yang tidak memiliki hati. Allamah Thaba-thabai Ra berpandangan bahwa hati itu adalah jiwa manusia yang dengan dibekali dengan kekuatan dan pelbagai afeksi batin sehingga manusia menata kehidupannya.[4] Dan hati adalah sesuatu yang menghukumi, mencinta atau membenci.

Dengan kata lain, mengapa Allah Swt memilih sebuah hakikat yang bernama hati untuk menjadi pembatas di antara seluruh anggota badan manusia. Dan bercerita tentangnya, sementara Dia adalah pencipta manusia dan mendominasi satu demi satu anggota badannya. Dan dalam kondisi apa pun Dia dapat menguasainya, lalu menjadi pembatas antara manusia dan telinganya, antara manusia dan hatinya, yang bermakna anggota dari anggota badan material manusia dan sebagainya?

Jawab: Karena al-Qur’an bukan sekedar Kitab ilmiah semata, melainkan juga merupakan Kitab petunjuk. Dari sisi lain, jalan untuk sampai kepada maarif Ilahiah tidak semata bersandar pada jalan rasional dan pemikiran, akan tetapi melalui juga melalui jalan hati. Oleh karena itu, pada kebanyakan ayat-ayat, secara langsung berurusan dengan hati dan al-Qur’an sebagai kitab samawi bagi seluruh manusia pada setiap masa dan zaman serta setiap generasi, karena itu al-Qur’an lebih menghargai jalan hati dan fitrah melebihi jalan pikiran.

Terkadang manusia memiliki pikiran yang kuat sehingga dalam pancaran pemikiran, hati bergerak dan terkadang hati yang bergerak dan dalam siluet gerakan hati kemudian lahir pemikiran. Dan al-Qur’an meletakkan keduanya di hadapan kita. Akan tetapi asas tarbiyah manusia adalah bergantung pada hidup-matinya hatinya. Dan tatkala hati manusia berubah dan berpaling kepada Tuhan maka hati tersebut akan memiliki nilai.[5]

Dalam hal ini, Imam Ali As bersabda: “Hati-hati ini adalah media dan sebaik-baik hati adalah hati yang bersemayam padanya pengetahuan-pengetahuan tentang kebenaran dan berniat baik.” Sebagian periset berkata, hati adalah penyebab kemuliaan dan keutamaan manusia yang lantaran kemuliaan tersebut manusia memiliki keunggulan atas seluruh makhluk. Melalui perantara hati Tuhan berikut sifat-sifat-Nya dapat dikenal. Dan pada akhirnya siap untuk menjadi tempat bersemayam maarif Ilahiah.

Dengan demikian, sejatinya hati yang mengenal (‘âlim) Tuhan dan merupakan pelakasana bagi titah Tuhan dan berusaha meniti jalan menuju Tuhan. Hati sedemikian adalah hati yang mengenal dirinya dan karena ia mengenal dirinya maka ia mengenal Tuhan. Apabila suatu waktu hati tidak mengenal Tuhan (jâhil) maka sesungguhnya ia jahil terhadap dirinya. Dan jahil ihwal dirinya adalah jahil terhadap Tuhan. Dan secara pasti, seseorang yang jahil terhadap dirinya maka ia akan lebih jahil terhadap selainnya. Dan kebanyakan manusia yang lalai terhadap hatinya dan menjadi pembatas antara hati dan dirinya.[6]

Sebagai hasilnya, ayat yang menjadi obyek pembahasan “Sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya” maka manusia harus membina kedekatan dan kekerabatan dengan hatinya sehingga Tuhah menjadi perantara di antara keduanya.

Dengan demikian, tentu hati yang dimaksud di sini bukan makna lahirnya yaitu sanubari manusia. Karena itu pembatasan dan penghalangan di sini tidak bermakna material. Dan perkara ini merupakan perkara maknawi dan non-material. Sebagaimana tatkala Allah Swt berfirman: “Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat nadinya.” (Qs. Al-Qaf [50]:16) kedekatan ini bukan merupakan kedekatan material melainkan perkara maknawi dan murni non-material. Terlebih, hati manusia merupakan media pencerapan, pemahaman, berpandangan, dan sejatinya keniscayaan hidup rasional manusia. Dan tanpanya kehidupan manusia hanya akan bercorak material dan lahiriya belaka.

Pada ayat yang difirmankan ini, Kami membatasi antara manusia dan media pencerapan dan pemahamannya. Apabila kita berkata bahwa hati manusia juga merupakan salah satu yang paling dekat kepada-Nya (sebagaimana urat nadi) maka Allah membatasi antara manusia dan sesuatu yang paling dekat kepada-Nya. Dalam bentuk ini, Tuhan dalam surah al-Qaf (50) ayat 16 ingin menjelaskan kehadiran-Nya dan pada ayat tersebut hendak mendeklarasikan dominasi dan kekuasaan-Nya.

Lebih dekat kepada urat nadi melebihi dekatnya manusia merupakan perlambang kehadiran Tuhan. Meski dengan alasan tirai yang dihasilkan oleh kelalaian sehingga kehadiran ini tidak kita rasakan. Dan menjadi medium antara manusia dan hatinya menujukkan kekuasaan Tuhan atas manusia dan hatinya. Dan kehadiran tersebut merupakan syarat utama atas kekuasaan dan dominasi ini. Oleh karena itu kita berada di bawah dominasi dan kekuasaan Tuhan.

Penafsiran lain yang dapat ditunjukkan atas pembatasan ini:

A.      Tuhan dengan kematian membatasi antara manusia dan hatinya. Dan lantaran kematian berada di tangan-Nya dan hal ini merupakan tanda kekuasaan-Nya setelah kematian, antara manusia dan hatinya Dia menjadi jarak dan membuat batasan. Boleh jadi kelanjutan ayat yang menyatakan: “Dan sesungguhnya kepada-Nya kalian dikumpulkan” menyiratkan kepada kematian ini dimana pertama: dengan kematian, antara manusia dan hatinya terbentang jarak dan batasan. Kedua manusia dengan kematian akan memasuki padang masyhar, hari kebangkitan dan alam akhirat.

B.      Karena kematian tidak mesti bermakna keluarnya ruh manusia dari badannya, melainkan segala sesuatu yang kematian niscaya baginya, adalah jenis kematian dan pada akhirnya menjadi jarak dan batasan antara manusia dan hatinya; misalnya kesesatan adalah jenis kematian. Sebagaimana petunjuk dan penerimaan seruan nabi merupakan jenis kehidupan dan bagian pertama ayat yang menjadi obyek bahasan, “Penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya jika ia menyerumu yang menghidupkanmu.” (Qs. Al-Anfal [6]:24) adalah mengisyaratkan bahwa petunjuk dan menyambut seruan nabi adalah jenis kehidupan. Tatkala seseorang tidak menyambut seruan Tuhan maka ia tidak memiliki kehidupan yang dihasilkan dari menjawab seruan Tuhan ini. Orang seperti ini terpuruk dalam jurang kesesatan dan sejatinya telah mati. Allah Swt juga mengunci mata-hati orang sedemikian, sebagaimana firman-Nya “Allah mengunci mata hati mereka.” (Qs. Al-Baqarah [2]:7) dan dengan demikian terbentang jarak, batasan dan hijab antara manusia dan hatinya.

Iya seluruh yang menolak petunjuk dan terpeleset ke dalam jurang kesesatan dan kelalaian sesungguhnya telah bersua dengan kematian. Sebagaimana orang-orang yang mendapat petunjuk meski secara lahir mati maka sesungguhnya mereka menjumpai kehidupan, “Mereka bahkan hidup dan mendapatkan rezki di sisi Tuhan mereka.” (Qs. Ali Imran [3]:169)

Adalah hal yang natural bahwa tatkala dengan kematian terbentang jarak antara manusia dan hatinya maka manusia sedemikian adalah hampa pemikiran, pandangan, rasionalitas, pemahaman dan pencerapan, “Pada mereka telinga tapi tidak untuk mendengar, dan pada mereka hati tapi tidak untuk memahami.” (Qs. Al-A’raf [7]:179)

C.      Orang yang melupakan Tuhan maka Tuhan menjadikan mereka melupakan diri mereka sendiri. Artinya lantaran mereka melupakan Tuhan telah menjadi sebab Tuhan membuat mereka melupakan diri mereka sendiri. Dan orang yang melupakan dirinya atau, dengan terma modernnya, teralienasi maka terbentang jarak dan batasan antara dirinya dan kekuatan pencerapan dan rasionalnya. Kemampuan mencerap dan memahami telah hilang dari dirinya, sesuai dengan firman Allah Swt, “Lalu mereka melupakan diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Hasyr [59]:19) dan terjerembab pada orang yang melupakan Tuhan. Iya, sedemikian ia terjerembab sehingga secara tidak sadar terjauhkan dari kehidupan tayyibah yang bersandar pada dzikruLlah dan mengingat Tuhan singkatnya mengikut, patuh dan taat kepada-Nya. Dan bukan saja ia melupakan Tuhan, bahkan ia juga telah melupakan dirinya sendiri.

D.      Sebagian nash-nash tentang pembatasan ini dimaknai sbagai pembatasan makna dan mereka berkata, “maksud dari “yahulu baina al-mar’i wa qalbihi adalah bahwa terkadang manusia mengambil keputusan untuk melakukan sebuah perbuatan, kemudian setelah itu Tuhan membuatnya menyesali perbuatan tersebut dan tidak membiarkan orang ini melanjutkan keputusan atau perbuatan tersebut.[7]

 

Makna ini kurang-lebih adalah makna tengah-tengah (mutawassith), akan tetapi apabila kita memiliki dalil rasional yang sesuai dengan ayat yang dimaksud dan terdapat dalil-dalil lainnya yang menyokong pandangan tersebut, maka tidak ada alasan bagi kita meninggalkan ayat ini secara lahir yang menyatakan : “Tuhan membatasi antara manusia dan dirinya.” Karena manusia bukan merupakan maujud yang berisi, melainkan laksana makhluk-makhluk kontingen (mumkin) lainnya yang ajwaf (tengahnya melompong). Sebagaimana Tsiqah al-Islam Kulaini menegaskan matlab ini dengan menukil sebuah riwayat dari Abu Ja’far As yang bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt menciptakan Bani Adam ajwaf.”[8]

Mengingat manusia adalah ajwaf dan tengahnya kosong maka antara manusia dan diri manusia terbentang jarak kekuasaan wujud Tuhan, oleh karena itu Tuhan dekat kepada segala sesuatu. Apabila Tuhan dekat maka Dia mendekat dengan segala sifat-sifatnya. Karena sifat-sifat dzati Tuhan adalah dzat-Nya itu sendiri dan apabila sifat-sifat dzati Tuhan hadir,[9] sifat-sifat perbutan juga mengikuti sifat-sifat dzati serta akan berpengaruh dan berlaku aktif (fa’âl).[10]

 

Hasil-hasil Pelbagai Pembatasan

1.       Kita tahu bahwa setiap halangan ke arah dua sisinya dari setiap sisi ke sisi yang lain adalah lebih dekat. Oleh itu, manusia lebih cepat dan lebih baik mengenal Tuhan dari hatinya sendiri. Dan dengan ilmu hudhuri, ia mencerap Tuhan. Sebagai hasilnya dalam menentukan instanta luaran (mishdaq) ia tidak menyimpang, tidak dapat meragukan dan mencari-cari dalih atas seruan Tuhan dan penyeru kebenaran kepada kalimat Tauhid.

2.       Mengingat Tuhan lebih mengetahui hati manusia daripada manusia itu sendiri, oleh itu manusia tidak dapat mendua (munafik) dalam menerima seruan tahuid dan para penyeru kepada kebenaran dan hanya menerimanya dalam bentuk lahir saja. Melainkan ia harus mentransfernya ke dalam lisan dan hatinya dan meyakini serta beriman kepadanya.

3.       Tatkala sifat terpuji disandarkan kepada manusia maka hal itu juga disandarkan kepada Tuhan tanpa perantara. Oleh itu, apabila manusia bersikap congkak terhadap niatnya yang tulus atau seluruh sifat-sifat terpuji maka sesungguhnya hal itu merupakan kesempurnaan kebodohannya.[11] Dan di antara kebodohan manusia adalah memandang dirinya sebagai mandiri dalam penguasaan hati dan beranggapan dirinya memiliki kekuasaan mutlak.

4.       Allah Swt dapat kapan saja Dia hendaki membuat manusia tidak dapat menikmati hatinya sehingga tidaklah demikian bahwa manusia senantiasa dapat menebus apa yang telah berlalu. Dengan demikian, ia harus sesegera mungkin melaksanan perintah Ilahi dan tidak menunda-nunda ketaatan kepada-Nya.

5.       Pembatasan ini menunjukkan kehadiran dan pengawasan Tuhan di setiap tempat dan penguasaan-Nya atas seluruh makhluk.[12]

Kekuatan dan kesuksesan bersumber dari-Nya, aktifitas akal dan juga ruh berada di tangan-Nya. Oleh karena itu, manusia tidak dapat menyembunyikan sesuatu apa pun dari-Nya, melainkan dalam setiap kesempatan dan keadaan senantiasa memohon taufik dari-Nya dan menjadikan Allah sebagai penolong-Nya dan tidak mencari penolong selain-Nya.[13]

 

Sebagai penutup kami akan mengakhiri pembahasan ini dengan menyebutkan dua riwayat berikut ini.

Hisyam bin Salim menukil dari Imam Shadiq As, maksud ayat tersebut adalah bahwa Allah menghalangi orang yang menemukan ilmu bahwa yang batil itu adalah kebenaran.[14]

Dalam riwayat yang lain disebutkan Imam Shadiq As bersabda: Demikianlah manusia melakukan sesuatu dengan telinga, mata dan tangan, pikiran, namun tatkala sesuatu itu datang kepadanya, hatinya mengingkarinya dan memahami bahwa sesuatu itu bukan kebenaran.[]

 

Untuk telaah lebih jauh:

Allamah Thaba-thabai,  Tafsir al-Mizân, jil. 9, hal. 24, surah al-Anfal

Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur, jil. 4, hal. 25, surah al-Anfal

Ja’far Subhani, Mansyur-e Jâvid-e Qur’ân, hal. 295

Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 89.

 


[1]. Raghib Isfahani, al-Mufrâdât fii Gharib al-Qur’ân, hal. 137

[2]. Ja’far Subhani, Mansyur-e Jâvid-e Qur’ân, hal. 295.  

[3]. Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 1, hal. 89

[4]. Allamah Thaba-thabai, Tafsir al-Mizân, terjemahan Sayid Muhammad Baqir Musawi, jil. 9, hal. 58.   

[5]. Ayatullah Jawadi Amuli, Zan dar Aine Jalâl wa Jamâl, hal. 281.  

[6]. Muhsin Faidh Kasyani,  Mahajjatul Baidhâ, jil.5, hal. 3.

[7]. Majma al-Bayân, jil. 4, hal. 820

[8]. Muhammad Ya’qub Kulaini, Al-Kâfi, jil. 6, hal. 282)   

[9]. Bagian-bagian sifat-sifat Tuhan: 1. Sifat-sifat dzat: dimana dalam mengabstrasikannya cukup dengan memperhatikan dzat seperti sifat-sifat “Mengetahui (‘Alim), Berkuasa (Kudrat), Hidup (Hayat) dan sebagainya. Sifat-sifat perbuatan: Sifat ini adalah sifat yang dalam mengabstrasikannya tidak cukup sekedar memperhatikan dzat Ilahi namun dzat tersebut harus ditinjau pada tataran perbuatan dan penciptaan kemudian mengabstrasikannya. Misalnya sifat-sifat pencipta (Khâliq), Pengampun (Ghafur), Pemberi rezeki (Râziq) dan sebagainya.

[10]. Jawadi Amuli, Hikmat-e Ibadah, pembahasan ketujuh, hal. 213. link dengan no.89

[11]. Allamah Thaba-thabai, terjemahan Tafsir al-Mizân, jil. 9, hal. 58.  

[12]. Allamah Thab-thabai, Op cit, jil. 9, hal. 58

[13]. Muhsin Qira’ati, Tafsir Nur, jil. 4, hal. 313.

[14]. Allamah Thaba-thabai, Op cit, jil. 9, hal. 62.

12 April 2013

Membedakan antara ujian dengan siksa atau azab Ilahi

oleh alifbraja

Secara tabiat jika manusia tidak memiliki satupun kesulitan khas yang menimpanya maka dia akan bangga dengan dirinya sendiri yang hal ini akan menjerumuskannya ke arah takabbur dan kesombongan. Dan kesombongan semacam inilah yang akan melalaikannya dari akibat-akibat yang akan timbul dikemudian hari karena perbuatan-perbuatannya sendiri. Untuk menghindarkan diri dari keburukan semacam ini, kebijakan Ilahi meniscayakan bahwa dalam kehidupan duniawinya manusia diperhadapkan pada kelemahan-kelemahan, kesulitan-kesulitan dan hambatan-hambatan alami atau sesuatu yang diciptakan sendiri oleh mereka. Dari sinilah sehingga peristiwa-peristiwa seperti sakit, kematian dan cacat, demikian juga dengan kefakiran, kekayaan, banjir, gempa bumi, angin topan, ledakan gunung berapi, serangga-serangga yang membahayakan serta binatang-binatang buas diletakkan melingkupi jasmani manusia sedangkan jiwanya dibatasi dengan akal, syahwat dan pembimbing-pembimbing Ilahi dari satu sisi, dan setan serta manusia-manusia setan dari sisi yang lain, juga adanya keterbatasan di dunia serta pentingnya ilmu dan iman terhadap gaib.

Bagaimana manusia menanggapi ketaksempurnaan jasmani dan jiwanya ini akan membentuk karakter pribadi dan identitasnya. Akal dan fitrah yang merupakan faktor dari dalam serta anbiya serta auliya Ilahi sebagai faktor dari luar merupakan pembimbing dan penunjuk ke arah bagaimana berperilaku dan bagaiamana bereaksi secara benar yang akan mengantarkan manusia meraih kesempurnaannya, sedangkan syahwat hewani dan kecenderungan serta harapan-harapan yang panjang sebagai faktor dari dalam, dan setan, jin serta manusia sebagai faktor dari luar merupakan penghambat jalan manusia dalam menggapai kebahagiaan dan menjauhkannya dari jalan yang seharusnya dia lalui, namun manusia tetap harus memilih jalannya karena keadilan Ilahi berada dalam kekuasaan mereka dan tidak ada manusia yang mampu menghindar dari persoalan ini.

Dari sini harus dikatakan bahwa seluruh alam keberadaan dengan segala nikmat dan musibahnya sebenarnya merupakan area uji bagi manusia, sementara bala serta musibah-musibah yang menimpanya pun pada dasarnya merupakan nikmat dan penyebab yang memungkinkannya untuk memilih dan selanjutnya akan mengantarkannya pada lompatan dan ketinggian jiwa baik di dunia maupun di akhirat, dan andai saja tidak ada hambatan-hambatan tersebut, maka lompatan dan kenaikan ini merupakan suatu hal yang sangat mungkin didapatkan oleh manusia.

Dalam masalah ini para auliyaullah lebih banyak mendapatkan dan menanggung sulitnya bala dan musibah, karena hal ini mereka butuhkan untuk mendukungnya mengalami lompatan dan kulminasi. Musibah-musibah yang datang menimpa para auliya akan menghasilkan beberapa persoalan di bawah ini:

 

1.       Memperkuat kehendak dan jiwa mereka dan memperluas lingkup eksistensinya serta memperkuat wilayah takwini dan penciptaan mereka;

2.       Mempertinggi derajat mereka di akhirat;[1]

3.       Membentuk kebencian mereka yang semakin mendalam kepada dunia dan hal-hal yang berkaitan dengannya dan memberikan kedekatan dan kecintaan yang semakin banyak kepada akhirat, dan apa yang berada di dekat-Nya akan disediakan kepada mereka;

4.       Memperbanyak tadharu’ dan mengingat-Nya serta memacunya untuk mempersiapkan bekal yang lebih banyak untuk akhiratnya. Tentunya para auliya itu sendiripun menyambut musibah-musibah yang menimpanya dengan perasaan yang rela dan pandangan yang positif. Datangnya kesulitan-kesulitan ini justru akan menambah keyakinan, keimanan dan kerelaan mereka,dan akan membuat keinginan untuk bertemu dengan Tuhan menjadi semakin besar, karena di balik segala ujian ini akan diikuti dengan kenaikan maqam, sedangkan usia yang pendek di dunia beserta musibah-musibah yang menyertainya samasekali tidak bisa diperbandingkan dengan nikmat abadi yang terdapat di akhirat.

Jika kita sedikit memperhatikan apa yang terjadi di Karbala pada tahun 61 Hijriah maka kita akan mengetahuinya sebagai sebuah contoh yang jelas dari rasa kecintaan seperti ini.

Akan tetapi mereka yang memiliki kapasitas lebih sedikit, hanya akan diuji seukuran dengan kemampuan mereka, jika mereka menang dalam ujian ini barulah akan menghadapi ujian-ujian selanjutnya.

Poin yang harus diperhatikan di sini adalah bahwa seluruh ujian tidak senantiasa berada dalam satu bentuk dan tingkatan. Pada seseorang kadangkala ujian diberikan dalam bentuk kefakiran sementara kepada yang lainnya dalam bentuk kekayaan, yang satu diuji dengan musibah sementara yang lainnya dengan kenikmatan, yang satu dengan keberadaannya anak sementara yang lainnya dengan ketiadaan menikmati kehadiran anak, yang satu dengan kesehatan sementara yang lainnya dengan penyakit dan barangkali yang satu dengan ilmu dan kesuksesan ilmunya sementara yang lain dengan kesuksesannya dalam beribadah. Mungkin pula seorang manusia kadangkala diuji dengan hal-hal seperti ini dan kadangkala dengan bentuk yang itu atau yang lainnya, dan hal ini bergantung pada sejauh mana dia mempersiapkan diri untuk menerima ujian. Tentu saja kesiapan ini merupakan hasil dari perbuatan-perbuatan yang dilakukan sebelumnya yang bisa jadi dirinya sendiri tidak menyadari akan hal ini.

Sebenarnya musibah-musibah dan bala-bala yang ada lebih luas dari apa yang telah kami sebutkan di atas. Dan setiap manusia senantiasa berhadapan dengan hal-hal tersebut dalam bentuknya sendiri-sendiri dan tidak ada jalan untuk menghindarkan diri darinya.[2]

Akan tetapi sebagian dari musibah-musibah terjadi dikarenakan kesalahan-kesalahan yang dilakukan oleh manusia atau karena penyimpangan dan penentangan yang dilakukannya terhadap aturan-aturan Ilahi. Musibah seperti ini terjadi sebagai sarana untuk memberikan pelajaran supaya manusia sadar dengan kesalahan yang dilakukannya. Dan tentunya musibah jenis ini hanya akan ditemukan pada orang-orang yang tak maksum, karena orang-orang maksum terlepas dari segala kelalaian dan kesalahan, sehingga musibah-musibah yang menimpa mereka tidak bisa dimaknakan sebagai ampunan dan penebus dosa.

Sementara mengenai yang lainnya musibah-musibah ini akan terwujud dalam beberapa bentuk:

 

1.       Azab yang terputus dan pendek yang muncul untuk memberikan ibrah dan pelajaran kepada manusia, menghilangkan kesombongan dan takabbur serta mendorong mereka untuk berendah diri di hadapan Ilahi, mengajaknya untuk berdzikir dan mengingat-Nya, juga berguna untuk menyempurnakan hujjah atas mereka;[3]

2.       Azab dan siksa yang bertahap adalah untuk mereka yang membangkang dan membandel dan tidak berkehendak melepaskan dirinya dari kesombongan dan takabbur. Kelompok ini telah melupakan keberadaan Tuhan, hari kiamat, kematian dan kemuliaan-kemuliaan manusia karena tenggelam dalam kenikmatan duniawi;[4]

3.       Azab dan siksa istishal (yaitu siksa yang berkepanjangan), hal ini akan terjadi pada mereka yang berada di puncak kesombongan. Mereka akan diselimuti oleh siksa Ilahi dan sekaligus akan dimasukkan ke dalam jahannamnya alam barzakh, dan hingga kiamat pun mereka akan tetap berhubungan dan berteman akrab dengan azab ukhrawi.[5]

Bentuk pertama merupakan bagian dari kenikmatan itu sendiri, karena musibah semacam ini akan memeberikan kesadaran dan peringatan kepada manusia dan akan menjadi penjaganya dalam sepanjang hidupnya. Kesabaran manusia dalam menghadapi musibah-musibah semacam ini serta memperbanyak istighfar dan memohon ampunan akan segala dosa yang telah dilakukannya akan menyebabkan sirnanya kejelekan-kejelekan dan keburukan-keburukannya lalu akan mengubahnya ke dalam kebaikan-kebaikan dan meninggikan derajatnya di sisi-Nya, demikian juga akan menjauhkannya dari kelalaian dan ketaksadaran. Dan akhirnya hal ini akan melepaskannya dari murka Tuhan dan azab ukhrawi, bahkan akan mendekatkannya ke haribaan-Nya.

Akan tetapi dua bentuk azab yang lainnya merupakan azab Ilahi yang menjadi milik para perusak dan para pembuat kezaliman di dunia, meskipun secara lahiriah mereka menikmati kehidupannya di puncak kulminasi kesejahteraan dan kemakmuran.

Dengan ungkapan al-Quran dikatakan, Bahkan manusia itu mengetahui tentang keberadaan dirinya sendiri meskipun dia membuat-buat alasan.”[6] Dan sebenarnya seseorang lebih mengetahui dirinya sendiri dari pada orang lain dalam niat dan tujuan dari amal dan perbuatan yang dilakukannya. Jika dia memandang dengan sadar dan adil serta menghindarkan diri dari mencari alasan serta membebankan segala sesuatu kepada selainnya maka dia akan mampu mengetahui keburukan dan kebaikan yang ada dalam dirinya. Dari sinilah jika sebuah musibah mendatanginya seiring dengan niat tak baiknya atau kelalaian yang dilakukannya, hal ini menunjukkan bahwa Tuhan memberikan inayah dan perhatian-Nya kepadanya dan dengan ini sebenarnya Tuhan bermaksud menyadarkannya untuk meninggalkan tujuan dan niat tak baiknya tersebut, dimana jika dia bersyukur dengan nikmat yang diberikan ini (musibah dan hukuman) dan meninggalkan persoalan tak baiknya tersebut, maka rahmat dan nikmat-nikmat Ilahi akan melingkupunya dan kebaikan-kebaikan dan ilham-ilham Ilahi akan menghambat dan menghalanginya dari jalan-jalan yang tak layak dan dari perbuatan-perbuatan yang tak terpuji.[7] Akan tetapi jika dia tidak memberikan perhatian yang serius terhadap perintah-perintah dan larangan-larangan Ilahi dan menyepelekan peringatan-peringatan dan hujah-hujah Tuhan, maka Tuhan pun akan meninggalkannya dan membiarkannya seorang diri sehingga dia tidak akan lagi mendapatkan peringatan maupun hukuman dari-Nya melainkan akan tenggelam dalam kesejahteraan dan kemakmuran sehingga secara bertahap dan secara sempurna dia akan mengambil jarak dari Tuhannya hingga akhirnya berhak untuk mendapatkan siksa abadi (secara bertahap).

Kesimpulannya: dunia dan kehidupan materi serta gemerlap sinar serta sekumpulan dari peristiwa-peristiwa yang terjadi di dalamnya merupakan ujian dan musibah Ilahi yang diberikan oleh Tuhan kepada manusia supaya dengan reaksi yang benar dalam menghadapinya akan memberikan kekuatan karakter pribadi dan identitas manusia dan meningkatkan maqam insaniyahnya –jika kita mampu menanggapinya dengan benar akan mendapatkan manfaat dari persoalan-persoalan ini, dan dengan bimbingan dari para nabi kita akan memiliki reaksi dan perilaku yang benar dalam menghadapinya- sedangkan apabila terlanjur melakukan kesalahan maka, dia akan diperingatkan berkali-kali sehingga meninggalkan kebandelannya, akan tetapi jika tetap tidak berubah maka dia akan menerima azab secara terus menerus atau secara bertahap.

 

Literatur:

1.       Al-Quranul Karim.

2.       Berbagai tafsir dalam penjelasannya tentang ayat-ayat yang dimaksud yang tercantum dalam catatan kaki.

3.       Imam Khomeini, Syarh Cehel Hadits, hal. 236-246 dan hal. 589, Muasasah Tandzim wa Nasyr Atsar, Tehran, 1376.

4.       Misbah Yazdi, Muhammad Taqi, Ma’arif Quran (Roh wa Rohnamo Syenosi), jil. 4-5, hal. 115-153.


[1]. Rujuklah: Ideks: Makna Wilayah

2. QS. Muhammad: 31, Anbiya: 35, QS. Al-Baqarah: 155, dan …

[3]. QS. Al-A’raf: 68, 90-94.

[4]. QS. Al-Mukminun: 53-56. QS. Al-A’raf: 182-183.

[5]. QS. Al-Fushilat: 16, 27 dan 50.

[6]. Qs. Al-Qiyamah: 14-15.

[7]. Qs. Al-Anfal: 26, Qs. Al-Ankabut: 69, Qs. Al-Baqarah: 282.

12 April 2013

Agama pamungkas dapat ditetapkan merupakan agama sempurna

oleh alifbraja

 

Sebelum memasuki pada inti pembahasan kiranya perlu dijelaskan di sini apa yang dimaksud dengan Redaksi  “sempurna” (kâmil). Redaksi “sempurna” di sini secara lahir adalah kebalikan dari redaksi “cacat” (nâqish). Secara umum tatkala kita berkata agama sempurna; artinya agama yang tidak cacat. Dengan kata lain, artinya agama yang tidak memiliki kekurangan untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi manusia. Dan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia untuk kesempurnaannya.

Kunci untuk mengakses pada dalil-dalil mengapa Islam disebut agama sempurna terletak pada masalah kepamungkasan agama Islam. Artinya kepamungkasan Nabi Islam dan keyakinan bahwa selepasnya tiada lagi nabi yang akan diutus, sejatinya membimbing kita untuk menerima bahwa mengikut kaidah agama ini haruslah agama sempurna; karena apabila agama ini tidak sempurna maka wajib bagi Tuhan untuk mengirim agama lainnya untuk kesempurnaan petunjuk manusia. Sementara sesuai dengan kaidah rasional dan referensial kita ketahui bahwa Tuhan tidak mengirim lagi agama lain. Karena itu agama ini harus menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia hingga hari Kiamat dimana apabila tidak demikian adanya maka niscaya Tuhan dalam membimbing manusia tidak menuntaskan dalil-dalil dan hujjah-hujjah. Tentu saja hal sedemikian tercela (qabih) bagi Tuhan.

Karena itu, Anda perhatikan bahwa masalah kepamungkasan dan pembahasan sempurnanya agama atau dengan ungkapan lebih baik lebih sempurnanya agama Islam mirip dua gambar satu koin dan satu sama lain saling bertautan.

Dalam tulisan ini kami berada pada tataran menjawab pertanyaan yang diajukan di atas. Dan sejatinya kita akan menempuh pelbagai jalan yang digunakan untuk menetapkan dan membuktikan masalah kepamungkasan agama. Namun secara selintasan kita akan membahas masalah kesempurnaan agama Islam. Di bawah ini kami akan menjelaskan indicator yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Dan sebagai pendahuluan kami sebutkan bahwa: seluruh aturan Islam, senantiasa segar dan baru. Tidak ada agama yang menampilkan kesegaran dan kebaruan seperti yang dimiliki Islam.  Dan keterkinian aturan-aturan Islam senantiasa sejalan dan selaras dengan seluruh masa.

Artinya pada setiap masa dan zaman dan untuk setiap perbuatan Anda dapat temukan sebuah hukum dalam aturan-aturan Islam. Dan demikianlah Anda menjumpai agama ini memiliki hukum pada setiap masalah. Setiap masalah tidak didiamkan atau tidak indahkan begitu saja. Dari angle ini, sisi ini dapat menjadi salah satu sisi kesempurnaan agama Islam.

Agama Islam untuk dapat menjawab setiap persoalan di setiap masa memberdayakan salah satu media dan mekanisme yang tiada duanya dalam pelbagai sistem penetapan hukum. Berikut ini kami akan menyinggung beberapa dari media tersebut:

1.       Agama Islam menggunakan pelbagai aturan dan kaidah universal dimana kaidah-kaidah ini sejatiniya merupakan simbol dan formula ketercakupan dan kemenyeluruhan ajaran Ilahi ini. Akan tetapi supaya kaidah-kaidah universal ini dapat bercorak menyeluruh dan mencakup segala hal serta mampu memberikan solusi atas setiap persoalan maka seyogyanya kaidah tersebut diadopsi dari sumber-sumber khusus dan diberdayakan semaksimal dan seoptimal mungkin sebagaimana yang akan kami singgung beberapa hal berikut ini:

a.       Allah Swt memandang hujjah (argumen dan dalil) bahwa segala yang dihukumi oleh akal sehat dalam proses inferensi hukum-hukum syariat; misalnya hukum tercelanya menghukum seseorang tanpa adanya penjelasan hukum sebelumnya, atau hukum akal terhadap terpujinya keadilan dan tercelanya kezaliman dan sebagainya. Atas alasan ini, Anda simak perhatian Islam terhadap hukum-hukum akal sehat seperangkat kaidah universal menandaskan bahwa kaidah ini bercorak menyeluruh yang dapat diberdayakan dan dayagunakan pada setiap masa untuk menjawab setiap persoalan yang ada.

b.       Allah Swt menetapkan hukum-hukum mengikut kepada kemaslahatan dan kemudaratan. Sebagai contoh, setiap persoalan yang memiliki kemasalahatan yang lebih besar maka ia memiliki signifikansi dan preferensi yang lebih tinggi ketimbang persoalan yang setingkat di bawahnya.

c.       Adanya aturan-aturan universal dimana kaidah universal ini dapat menjadi pembatas sebagian hukum-hukum Ilahi lainnya. Di antaranya Allah Swt befirman, “Allah tidak menjadikan kesusahan bagimu dalam agama.” (Qs. Al-Hajj [28]:78) dimana aturan ini dapat membatasi hukum agama yang memberikan kesusahan bagi manusia dan merubahnya menjadi hukum yang lain. Karena itu, satu hukum agama dapat berubah dan berganti sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang di lapangan. Misal lainnya dalam hal ini adalah kaidah idhtirar (dalam kondisi darurat) dan kaidah ikrah (paksaan).

d.       Aturan-aturan Islam selaras dan sejalan dengan fitrah manusia dan Tuhan menaruh perhatian terhadap nurani yang tidak berubah manusia ini dalam aturan-aturan Islam. Menjaga dan mengindahkan apa yang senada dengan tabiat sehat seorang manusia dan memilih jalan medium (i’tidal) dalam proses penetapan aturan dan hukum. Dengan kata lain, Allah Swt menaruh perhatian pada fitrah suci manusia dalam menetapkan aturan-aturan universal. Di antara aturan ini adalah aturan-aturan yang bertalian dengan pria dan wanita yang memiliki aturan-aturan khusus tersendiri.

e.       Ijtihad salah satu kaidah yang diterima (khususnya) dalam dunia Syiah dimana dengan penetapan dan kodifikasi ijtihad dalam agama Islam, sehingga ajaran Islam memiliki dimensi mencakupi dan menyeluruh. Misalnya mujtahid dengan memberdayakan kaidah-kaidah universal lau mencocokkannya dengan masalah-masalah baru. Dan demikianlah agama mampu memberikan solusi atas pelbagai persoalan setiap orang pada setiap masa.

Akhirnya dengan adanya sumber-sumber universal ini dimana Allamah Sya’rani bertutur tentang jalan-jalan ini: “Fikih Islam tidak cacat, melainkan kita memiliki kaidah-kaidah universal yang dapat kita gunakan untuk menjawab persoalan-persoalan kekinian pada setiap masa. Dan perkara ini adalah perkara yang telah berkembang pada masa Syaikh Thusi hingga masa kami.”[1]

2.       Salah satu media lainnya yang diberdayakan Islam untuk menunjukkan ketercakupan dan kemenyeluruhannya adalah keragaman dan bilangan hukum. Tatkala Anda menyaksikan dalam kitab fikih, Anda menyimak bahwa terdapat sebagian besar hukum-hukum Islam membahas masalah-masalah yang paling sederhana kehidupan manusia; misalnya makan dan minum hingga yang paling rumit hubungan sosial termasuk di antaranya adalah jual-beli, pemerintahan dan sebagainya. Karena itu, di samping ada kaidah-kaidah universal sebagaiman yang disebutkan pada bagian pertama di atas dan dapat menjadi problem solver (pemecah masalah), Islam secara partikulir dan kasus-per-kasus memiliki banyak hukum-hukum bagi kehidupan personal dan sosial manusia. Dan hal ini juga merupakan manifestasi yang lain dari universalitas, kemenyeluruhan dan kemencakupan Islam dan pada saat yang sama merupakan salah satu formula kesempurnaan agama Ilahi ini.

 

 

Hingga kini kita telah menyinggung salah satu dalil atas kesempurnaan agama Islam yaitu universalitas, kemenyeluruhan dan kemencakupan agama Ilahi ini. Sebagai kelanjutan pembahasan ini, untuk menjelaskan sisi sempurna agama Islam, kita juga dapat bersandar pada dalil-dalil lainnya sebagaimana berikut ini:

1.       Dengan mengkaji kasus-per-kasus hukum-hukum Islam dan membandingkannya dengan hukum-hukum yang serupa pada agama-agama Ilahi lainnya atau dengan sistem-sistem hukum dan perundangan yang ada di dunia saat ini, maka satu jalan lainnya akan muncul dan dapat menunjukkan keunggulan dan kesempurnaan hukum-hukum Islam. Misalnya hukum-hukum transaksi; apabila kita ingin membandingkan misalnya jual-beli dan pernikahan dalam Islam, Yahudi dan Kristen, keragaman dan keluasan penetapan hukum dalam Islam tiada bandingnya. Bahkan di antara aturan-aturan madani (civil laws) dunia saat ini, aturan madani Iran yang mengambil sumber dari fikih Syiah Ja’fari menurut pengakuan para profesional dan dosen terkemuka merupakan salah satu aturan madani yang termaju di dunia saat ini.

2.       Salah satu sisi lainya kesempurnaan agama Islam, dominasi akhlak Islam dan perilaku kenabian atas maktab-maktab lainnya (baik pada masa kemunculannya atau pun masa sekarang ini). Akhlak yang diajarkan dalam Islam termasuk pelbagai aturan-aturan praktis khususnya pada perilaku personal dan sosial yang memperhatikan tinjauan dunia dan akhirat. Hal ini berbeda dengan ajaran moral yang diajarkan dalam Kristen dan Yahudi yang dominan mendapat penegasan adalah perilaku yang lebih banyak condong ke dunia atau ke akhirat. Atau kebalikan dari maktab-maktab akhlak dunia saat ini yang tidak dapat menjawab lebih dari satu dimensi dari multi dimensi perilaku yang dimiliki manusia. Akan tetapi akhlak yan diajarkan dalam Islam di samping menghimpun pelbagai dimensi manusia dan menjawab pelbagai kebutuhan ini, ia mampu menyediakan tercapainya tujuan-tujuan transendental bagi kehidupan manusia dan hal itu tidak lain adalah kedekatan kepada Tuhan (qurb Ilahi).

3.       Di antara dalil ayat-ayat dan riwayat-riwayat terkait kesempurnaan agama Islam yang dapat disebutkan di sini adalah sebagai berikut:

Pertama, Sesungguhnya dalam (surah) ini benar-benar terdapat penyampaian yang jelas bagi kaum yang menyembah Allah. (Qs. Al-Anbiya [21]:106) Pada ayat ini, penyampaian jelas dan nyata bagi kaum yang menyembah Allah. Allamah Thabathabai dalam menafsirkan ayat ini menulis: Iblagh (penyampaian) bermakna terpenuhi dan genapnya sesuatu. Dan juga bermakna sesuatu yang dengannya harapan manusia terpenuhi.[2] Anda letakkan ayat ini di samping ayat “Telah Kusempurnakan bagimu agamamu.” (Qs. Al-Maidah [5]:5) maka Anda akan memahami bahwa Islam adalah agama sempurna yang melaluinya segala hajat dan harapan manusia yaitu kedekatan kepada Allah (qurb ilaLalah) terpenuhi.

Kedua, Dia-lah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama (Qs. Al-Taubah [9]:33) Kandungan ayat ini adalah kemenangan (Islam) atas seluruh agama dan bahwa tiada lagi agama yang akan datang selepasnya. Sekiranya adalagi agama yang akan diturunkan setelahnya maka niscaya ayat ini telah dianulir oleh ayat lainnya (sementara ayat ini tidak termasuk ayat yang dianulir). Dari sisi lain, lantaran apabila agama ini yang merupakan agama terakhir dan pamungksa bukan merupakan agama sempurna maka niscaya petunjuk manusia akan mengalami kecacatan (tidak sempurna) dan tentu saja hal ini tercela bagi Tuhan.

Ketiga, Sima’e menukil dari Imam Musa Kazhim As bahwa ia berkata kepada Imam, “Apakah Rasulullah Saw memenuhi segala sesuatu apa pada masanya? Imam menjawab, iya. Bahkan Rasulullah telah menghadirkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat hingga hari kiamat.[3]

Keempat,  Rasulullah Saw pada khutbah Hajjatulwida’ bersabda: “Ayyuhannas! Tidakklah sesuatu yang mendekatkanmu kepada surga dan menjauhkanmu dari neraka kecuali aku telah perintahkan kalian untuk melakukannya. Dan tidaklah sesuatu yang mendekatkanmu kepada neraka dan menjauhkanmu dari surga kecuali telah aku larang kalian untuk tidak melakukannya.”

Dalil-dalil ayat dan riwayat akhir kenabian juga merupakan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang secara langsung menunjukkan atas kesempurnaan agama Islam.[]

 

Referensi untuk telaah lebih jauh:

1.       Husaini Qazwini, Âyâ Qawânin-e Islâm Irtjiâ’i ast?

2.       Kharrazi, Bidâyat al-Ma’ârif al-Ilahiyyah.

3.       Ayatullah Ja’far Subhani, Muhadhârat fii Ilahiyyah.

4.       Syirazi, Naqd wa Tarh Andisyeh-hâi dar Mabâni I’tiqâdi.

5.       Allamah Thabathabai, al-Mizân, jil. 28.

6.       Kulaini, al-Kâfi, jil. 1.

 


[1]. Muhsin Kharrazi, Bidâyat al-Ma’ârif, jil. 1, hal. 270, sesuai nukilan dari kitab Râh-e Sa’âdat, hal. 214.

[2]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, jil. 28, hal. 186.

[3]. Kulaini, al-Kâfi, jil. 1, hal. 57

12 April 2013

Maksud dengan Kitâb Mubîn, rutab, yabis dalam al-Qur’an

oleh alifbraja

Yang dimaksud dengan Kitâb Mubîn merupakan tingkatan dari ilmu Ilahi yang menjadi sebab munculnya perbuatan-perbuatan Tuhan. Kitab ini ada sebelum penciptaan, pada saat dan setelah penciptaan. Dan tingkatan-tingkatan sebelum munculnya setiap entitas dan pelbagai fenomena atasnya dan akibat yang muncul darinya setelah tiadanya seluruhnya dicatat, dijaga dan dipelihara di dalamnya.   Karena itu, Kitâb Mubîn ini juga terkadang disebut sebagai lauh mahfuzh, ummul kitâb, imam mubîn, kitâb hafîzh dan sebagainya yang masing-masing dari terminologi ini disebut dengan satu redaksi tertentu.

Dengan demikian, kendati pada sebagian ayat lainnya, disertai dengan redaksi “wahyu” dan “nuzul” dan sebagainya – Kitâb Mubîn adalah al-Qur’an itu sendiri. Akan tetapi, pada ayat ini (QS. Al-An’am [6]:59) dan semisalnya, yang dimaksud bukanlah al-Qur’an. Meski al-Qur’an itu sendiri dihasilkan dari Kitâb Mubîn ini.

Rutab” dan “yabis” adalah dua terminologi yang saling berlawanan (antonim) yang seluruh entitas pada tingkatan tertentu berjejer di bawah dua terminologi ini. Rutab (basah) dan Yabis (kering) adalah kata kiasan untuk segala sesuatu. Karena itu, ayat suci ini berada pada tataran menjelaskan keumuman ilmu Tuhan terhadap seluruh entitas dan eksisten baik sebelum dan setelah kemunculannya dan bahkan kemusnahannya secara lahir; Rutab (basah) dan yabis (kering) di sini tidak mengandung makna yang spesial.

Jawaban Detil

 

Ayat ini (al-An’am [6]:59) menyoroti masalah tingkatan-tingkatan pengetahuan Tuhan dan keumumannya. Pengetahuan Tuhan dan pelbagai tingkatannya merupakan masalah yang paling pelik dalam masalah teologi di kalangan para periset Islam sedemikian sehingga sebagian dari mereka memandang persoalan ini sebagai persoalan yang amat-sangat rumit. Karena itu, Mulla Shadra ra terkait dengan persoalan ini menulis, “Mengetahui ilmu Ilahi merupakan tingkatan tertinggi kesempurnaan manusia. Orang yang dapat mengakses pengetahuan ini akan membuat manusia mencapai derajat kesucian. Dan bahkan memasukkannya dalam golongan para malaikat. Mengingat kerumitan dan kepelikannya, sebagian ulama seperti Ibnu Sina dan Suhrawardi (Syaikh Isyraq) menempuh banyak jalan untuk memahami ilmu Ilahi ini; tatkala kondisi dua orang besar ini – dengan segala kecerdasan, kejeniusan, pengalamannya dalam bidang filsafat – sedemikian adanya, maka bagaimanakah kondisi orang-orang yang ahli dalam menuruti hawa nafsu, melakukan bidah, orang-orang yang suka berdialektika dalam ilmu kalam?[1]

 

Mengingat sangat sukar untuk mencapai kualitas dan tingkatan-tingkatan ilmu Ilahi, dalam hal ini kita harus bertekuk lutut dan mengakui ketidakmampuan untuk mengakses kedalaman zat dan sifat Ilahi ini. Bagaimanapun, apa yang dapat diperoleh dari ucapan-ucapan para periset dan peneliti (baca: teolog dan filosof), ilmu Ilahi dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan tingkatan:

 

1.     Ilmu zat, sifat zatiyah dan asma zatiyah. (Tingkatan ghayb al-ghuyûb yang tidak dapat menjadi objek penyaksian [syuhud] oleh manusia).

 

2.     Ilmu zat terhadap muqtadiyât (tuntutan) zat. Ilmu ini disebut sebagai ilmu yang bersifat universal dan global terhadap seluruh makhluk sebelum penciptaan. Global di sini bermakna bahwa batasan, ukuran, ketentuan (takdir) belum lagi ditetapkan padanya dan satu dengan yang lainnya belum ada yang menonjol).

 

3.     Ilmu terhadap seluruh makhluk sebelum penciptaan secara detil semenjak awal penciptaan terus berlanjut hingga kiamat besar. Detil di sini bermakna bahwa telah ditetapkan batasan dan ketentuan atas seluruh makhluk, tingkatan-tingkatan penciptaan dan perubahannya.

 

4.     Ilmu khusus yang menjadi sebab munculnya perbuatan dan realisasinya. Ilmu ini sendiri menjadi sumber munculnya perbuatan (ilmu ‘inai).

 

5.     Ilmu terhadap seluruh makluk yang tercipta dan dominasi atas seluruh perubahan dan konsepsinya. Ilmu ini merekam dan mencatat seluruh perubahan yang terjadi atas makhluk yang telah dicipta tersebut. Ilmu ini tidak akan pernah dihinggapi sifat lupa, lalai, salah, dan tidak akan musnah.

 

6.     Ilmu yang merekam segala kondisi, perbuatan, dan pikiran manusia yang boleh jadi hilang dan ditutupi oleh iman setelah kekufuran, atau taubat setelah melakukan dosa. Atau mungkin sebaliknya, hilang karena kekufuran setelah iman, maksiat setelah ketaatan. Juga dengan kematian, catatan-catatan amal manusia akan ditutup kecuali ia memiliki amal shalih (baik) atau amal thalih (buruk) yang tetap tersisa efeknya setelah kematian. Sebagaimana setelah terjadinya perubahan dan reaksi seluruh makhluk, maka catatan-catatan perbuatan mereka akan tertutup yang kemudian menjadi bank data dan terpelihara.

 

 

 

Tidak diragukan bahwa setiap tingkatan bersumber dari tingkatan sebelumnya. Dan, seluruh tingkatan ini tidak lain kecuali menandaskan dominasi wujud dan eksistensi Tuhan atas seluruh entitas. Bukan berasal dari pengaruh seluruh entitas tersebut. Seluruh entitas dalam menyisakan pengaruh bagi yang lainnya dalam ilmu memerlukan media, wahana dan alat. Atau, pada tingkatan tertentu, ia dapat mengeluarkan dirinya dari dominasi ini dan tidak menjadi objek pengetahuan Tuhan. Karena itu, klasifikasi dan penggolongan ini, dikemukakan pada tataran pembelajaran mengingat terbatasnya bahasa untuk menyebutnya sehingga manusia mengetahui bahwa wujud, seluruh pikiran, kondisi dan perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Semua ini terekam dengan baik dan pada hari Kiamat akan dihadapkan kepadanya dalam bentuk catatan amal, sehingga dengan memerhatikan pandangan ini, ia bersikap waspada dan hati-hati terhadap perbuatannya dan menggembleng dirinya dengan bimbingan Ilahi sehingga ia mencapai makam khalifah Tuhan di muka bumi.

Bagaimanapun bagian pertama dan kedua dalam perspektif filosof Islam tergolong dalam bagian sifat zat, zat itu sendiri dan terjaga dari segala macam perubahan. Sedangkan bagian-bagian lainnya, termasuk dalam klasifikasi sifat fi’liyah dan ilmu fi’li yang memiliki pengaruh dalam terealisasinya seluruh entitas. Mengalami perubahan dan pergantian, semakin beragam jenisnya, semakin banyak kuantitasnya.[2] Ilmu Ilahi ini pada setiap tingkatan, syuhudi dan hudhuri, bersumber dari dominasi wujud dan eksistensi-Nya. Dengan demikian, bergantinya, terpengaruh dan bereaksinya ilmu fi’li tidak akan menjadi penyebab munculnya reaksi dan perubahan zat Ilahi.[3] Karena reaksi zati sebagai susulan dari perubahan ilmu berkaitan dengan entitas seperti manusia yang ilmunya pada umumnya lebih bersifat hushuli (perolehan) ketimbang hudhuri (kehadiran) dan syuhudi (penyaksian intuitif)!

Adapun ayat suci, Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak sebutir biji pun yang jatuh dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh). (QS Al-An’am [6]:59)

Bagian pertama ayat yaitu, “Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri menyinggung dua bagian pertama klasifikasi ilmu Ilahi. Artinya, ilmu Tuhan bersifat zati yang tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan tiada seorang pun yang menjadi pembantu-Nya untuk memahami hal tersebut. Sebagaimana “khazâin” pada ayat 21, surah al-Hijr (15) dan enam ayat[4] yang serupa, ditafsirkan sebagai ilmu zati Tuhan maka yang dimaksud dengan khazanah-khazanah (khazâin) dan kunci-kunci semua yang gaib adalah tuntutan-tuntutan zat Ilmu Tuhan pada maqam zat.

Adapun kelanjutan ayat menyoroti masalah ilmu fi’li (perbuatan) Tuhan setelah penciptaan. Allah Swt berfirman terkait klasifikasi global seluruh makhluk dan entitas:

Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak sebutir biji pun yang jatuh dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh). Sebagaimana hal ini juga disebutkan pada ayat 3, surah Saba, Tidak ada tersembunyi dari-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dan yang lebih besar dari itu, melainkan tersebut (tercatat dan terekam) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh). [5]

Rutab dan yabis adalah dua terma yang saling berlawanan kata. Artinya setiap maujud dan entitas pada akhirnya berada berjejer di bawah dari dua terma ini. Satu entitas tidak dapat memiliki dua objek luaran (mishdaq). Karena itu, gabungan dari rutab dan yabis pada ayat ini merupakan kiasan dari seluruh makhluk.

Dari sisi lain, mengingat satu entitas terkadang basah dan terkadang kering, redaksi ayat ini boleh jadi menyinggung ilmu Ilahi pada seluruh perubahan dan pergantian yang terjadi di alam semesta. Mubîn bermakna nyata dan jelas tanpa secuil keraguan dan keburaman.

Mulla Shadra ra dalam mendefinisikan “kitâb” menulis: “Sesungguhnya kitâb disebut “kitâb” karena di dalamnya sebagian huruf dan kalimat-kalimat digabungkan satu dengan yang lain. Kitab misalnya pada kalimat katabat al-jaisy bermakna sekelompok laskar berkumpul.”[6]

Dalam mendefinisikan kedudukan ilmu, Mulla Shadra melanjutkan, “Yang benar adalah bahwa hal ini merupakan ilmu Ilahi terhadap segala sesuatu pada tingkatan zat. Sebuah ilmu yang sama sekali suci dan jauh dari karakteristik wujud kontingen dan rangkapan. Sedemikian sehingga seluruh entitas yang ada di alam kontingen (imkan) tersingkap dalam bentuk sempurna. Dan, hal ini berujung pada keberadaan entitas tersebut di alam luar dalam bentuk sempurna yang tidak memerlukan niat dan pikiran. Ilmu ini adalah ilmu yang bersifat basith (simpel) yang merupakan wâjib lidzatihi (wajib bagi diri-Nya) dan qâim bidzatihi (ada dengan sendiri-Nya) dan merupakan pencipta ilmu-ilmu secara detil (tafshili) dan rinci. Karena itu, ilmu ini berasal dari sisi Tuhan (dan bersumber dari zat-Nya) bukan pada zat Tuhan.”[7]

Penjelasan Mulla Shadra terkait ayat 39, surah al-Ra’ad (13) dimana yang serupa dengannya juga disebutkan pada ayat-ayat 1-4 surah Zukhruf (43). Akan tetapi redaksi “Ummul kitab” disertai dengan kalimat  “fii” (pada) dan “indahu” (di sisi-Nya) dimana Mulla Shadra menegaskan bahwa ilmu zati itu adalah “anhu” (di sisi-Nya) bukan “fi” (pada) karena keduanya berbeda satu dengan yang lain.

Dengan demikian, Kitâb Mubîn ini, Ummul Kitâb, Lauh Mahfuzh, Lauh mahw wa itsbat, imam mubîn dan redaksi-redaksi yang lainnya adalah menyinggung ilmu zati yang identik dengan Zat. Karena sesuai dengan penjelasan Mulla Shadra Ra, ilmu tersebut harus kosong dari segala corak kontingen, rangkapan, batasan dan ketentuan (taqdir), disertai dengan ekspresi “anhu” (di sisi-Nya) dan tidak boleh disertai dengan redaksi “fi” (pada). Sementara ayat-ayat ini, menyinggung seluruh entitas secara detil dan bahkan rontoknya dedaunan, basah dan keringnya seluruh entitas. Yang disertai dengan “indahu” dan “fi’.

Dalam hal ini, Allamah Thabathabai Ra memberikan penjelasan-penjelasan yang lebih akurat:

“Khazanah-khazanah gaib dan kitâb mubîn itu mencakup seluruh entitas, dalam hal ini tidak ada perbedaan dan demikian juga bahwa tidak terdapat entitas kecuali menjadi khazanah di sisi Allah Swt yang melaluinya seluruh entitas mendapatkan pertolongan, demikian juga tiada satu pun entitas kecuali telah tercatat dan terekam sebelum keberadaannya, pada saat keberadaannya dan setelah keberadaannya pada kitâb mubîn; kecuali bahwa kitâb mubîn merupakan salah satu khazanah yang berada pada tingkatan yang lebih rendah, di sinilah makna ini menjadi jelas bagi setiap alim bahwa kitâb mubîn pada saat ia merupakan sebuah kitab (yang sebagian bergabung dengan sebagian lainnya) namun ia tidak berasal dari jenis kertas dan lauh (lempengan). Karena semakin besar kertas-kertas material, maka ia akan semakin tidak mampu mencatat seluruh entitas dan pelbagai fenomena.”[8]

Yang dimaksud dengan kitâb mubîn adalah sebuah perkara yang dalam kaitannya dengan seluruh entitas hubungannya laksana program kerja dibandingkan dengan kerja itu sendiri. Setiap entitas dalam kitab ini memiliki ukuran dan ketentuan. Hanya saja, kitab ini merupakan sebuah entitas yang ada sebelum segala sesuatu, pada saat terciptanya sesuatu dan akan tetap ada setelah musnahnya segala sesuatu. Entitas yang termasuk ilmu Tuhan terhadap segala sesuatu adalah ilmu yang tidak mengenal lupa atau kehilangan.”[9] Pendeknya, kitab ini merupakan sebuah kitab himpunan seluruh entitas pada alam penciptaan dan memiliki semua yang dulu ada, ada dan akan ada, yang tiada secuil pun yang dialpakan dalam kitab tersebut.”[10]

“Kitab ini dalam firman Ilahi disebutkan dengan ragam nama: lauh mahfuzh atau kitab hafizh, ummul kitâb, kitâb mubîn, imâm mubîn yang masing-masing dari keempat nama ini memiliki daya tarik tersendiri. Dan, boleh jadi daya tariknya pada……imâm mubîn lantaran terkait dengan ketentuan-ketentuan pasti Ilahi… dan catatan amal perbuatan sebagaimana yang ditafsirkan pada surah Jatsiyah (ayat 29) diambil dari kitab tersebut..”[11]

Dalam lauh mahfuzh tercatat seluruh apa yang dulu ada, ada (sekarang) dan apa yang akan ada hingga hari Kiamat (dan tidak akan sirna).[12]

Lauh mahfuzh disebut sebagai ummul kitâb karena seluruh kitab samawi disimpulkan dari kitab tersebut.”[13] Disebut sebagai kitâb maknun karena lebih tinggi dan tersembunyi dari akal-akal manusia[14] dan pada kitab ini terkadang bentuk keluaran, ciptaan dan realisasinya segala urusan ditetapkan (itsbat) atau dihapus (mahw).[15] Atau melingkupi atau menutupi perbuatan-perbuatan manusia melalui pergantian metode dan caranya dengan ikhtiar manusia itu sendiri. Hal ini akan menjadi sebab yang pada akhirnya, buku catatan amal perbuatannya akan diambil naskahnya sesuai dengan usaha maksimalnya dan akan diserahkan kepadanya pada hari Kiamat. Meski pada kitab ini sendiri ketentuan-ketentuan yang bersifat pasti tidak dapat dihapus (mahw) dan ditetapkan (itsbat) seperti peristiwa-peristiwa penciptaan yang dialami oleh umat dan orang beriman atau pendosa sebelumnya. Demikian juga pelbagai tahapan penciptaan langit, bumi, manusia dan realisasi janji-janji Tuhan pada masa akan datang seperti keadilan universal dan digelarnya hari Kiamat dan sebagainya.

Dari beberapa persoalan yang dikemukakan di atas adalah jelas pada ayat-ayat ini bahwa yang dimaksud dengan “kitâb mubîn” bukan al-Qur’an yang dilafazkan dalam bahasa Arab atau sebuah kitab yang tertulis, melainkan al-Qur’an dan pewahyuannya secara gradual dan segala kejadian yang dikisahkan di dalamnya atau peristiwa yang akan terjadi, seluruhnya adalah sebagian dari “Kitâb Mubîn di sisi Allah” bukan semuanya. Bukan Al-Qur’an yang kini berada di tangan kita dan digunakan dalam kehidupan keseharian kita dan menjadi pedoman hidup kita. Akan tetapi, al-Qur’an yang satunya itu (kitâb mubîn) yang berada di luar jangkauan manusia. Adapun berita yang diperoleh para nabi, wasi dan wali adalah sesuai dengan izin Allah dan pengumuman Allah kepada mereka tidak lebih.[16]

Adapun pada sebagian ayat lainnya, seperti pada surah Qashash [28]: 2; asy-Syu’ara [26]: 2; an-Naml [27]: 1; al-Hijr [15]: 1, Yusuf [12]: 1; al-Maidah [5]: 15 dengan disebutkannya indikasi seperti wahyu, nuzul di samping “kitâb mubîn” yang dimaksud adalah al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kita sekarang yang dapat dipahami dan dijadikan sebagai petunjuk oleh setiap orang.

Dengan demikian, “kitâb mubîn” dalam al-Qur’an digunakan dalam dua bentuk. Bentuk pertama digunakan sebagai manifestasi ilmu fi’li Tuhan sebelum, pada waktu dan setelah penciptaan terhadap seluruh makhluk secara detil. Bentuk kedua adalah al-Qur’an itu sendiri yang dilafazkan dalam bahasa Arab yang menjadi sentral ilmu pengetahuan (yang berada di tangan kita sekarang). Tentu saja di antara dua hal ini tidak boleh dicampuradukkan satu dengan yang lainnya.

Yang perlu diingat adalah bahwa redaksi rutab dan yabis sesuai dengan riwayat disebutkan dengan contoh-contohnya seperti, janin yang gugur disebutkan sebagai contoh yabis dan bayi disebutkan sebagai contoh rutab. Atau hasil pertanian yang dipetik sebagai yabis dan apa yang belum lagi dipetik sebagai contoh dari rutab. Akan tetapi, secara lahir konteks ayat, menandaskan akan keumuman ilmu Tuhan terhadap segala makhluk dan entitas di alam semesta, kemajuan dan perubahannya.[17]

Dengan memerhatikan beberapa penjelasan di atas kini terdapat tiga kemungkinan:

Pertama, bahwa yang dimaksud dengan malakuti samawati dan bumi yang dipertontonkan kepada para wali Allah seperti Nabi Ibrahim As;[18] dan bahkan mikraj Nabi Saw pada alam-alam di atas,[19] berputar pada satu entitas yang disebut sebagai kitâb mubîn.

Kedua, ilmu gaib yang dimiliki oleh para maksum adalah diperoleh dari kitâb mubîn ini dan dari kitab ini ilmu mereka bertambah. Sebagian diberikan “ilmu al-kitâb[20] dan memiliki wilayah universal Ilahi dan sebagian lainnya diberikan “ilmu min al-kitâb[21] yang hingga batasan tertentu dapat memanfaatkan wilayah ini.

Ketiga, boleh jadi yang dimaksud dengan arsy dan kekuasaan atasnya (istila) adalah entitas (kitâb mubîn) dan makam ini. Karena itu, kekuasaan (istiwa) atas arsy adalah kiasan dari pengaturan alam semesta setelah penciptaan, sesuai dengan ilmu Ilahi yang tercatat pada kitâb mubîn.[22]

 

 

 

 Sumber Bacaan:

1.     Sayid Mahdi Amin, Ma’ârif Qur’ân dar al-Mizân, jil. 7, 10, 11, 17 dan 18, Sazeman-e Tablighat-e Islami, cetakan pertama, Teheran, 1370 S.

2.     Shadruddin Muhammad Syirazi (Mulla Shadra), al-Hikmah al-Mutâ’aliyah, jil. 6, hal. 110-118, 149 dan 306, jil. 2, hal. 299-311, Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi, cetakan keempat, Beirut, 1410 H.

3.     Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, Daftar-e Intisyarat-e Islami, Qum.

4.     Abi Ali Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma al-Bayân, jil. 2, hal. 311, Maktabah al-Ilmiyah al-Islamiyah, Teheran.

5.     Sayid Abdulhusain Thayyib, Athyâb al-Bayân, Kitab Purusyi Islami, cetakan kedua, hal. 91-92.

6.     Muhammad bin Muhammad Ridha Qummi Mashyadi, Kanz al-Daqâiq, jil. 4, hal. 342-244, Muassasah Tab’e wa Nasyr (Wizarat-e Irsyad), cetakan pertama, Teheran, 1411 Q.

7.     Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Ma’ârif Qur’ân, jil. 1-3, Muassasah dar Rah-e Haq, cetakan kedua, Qum, 1368 S.

8.     Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 8, 9, 15, dan 18, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cetakan ke-17, Teheran, 1374 S.

 


[1] Muhammad Shadruddin Syirazi, al-Hikmah al-Mutâ’aliyah, jil. 6, hal. 179-180.  

[2] Silahkan lihat, Allamah Hilli, Bâb Hâdi ‘Asyar, Fashl Nafi al-Hawadits ‘anhu dan kitab-kitab teologi dan filsafat lainnya, terkait pembahasan Ilmu Ilahi.  

[3] Ibid.

[4] Qs. Al-An’am [6]:10; Qs. Hud [11]:31; Qs. Al-Isra [17]:100; Qs. Shad [38]:9; Qs. Thur [52]: 37; Qs. Al-Munafikun [63]:7; Silahkan lihat al-Mîzân, jil. 13, hal. 96-201.

[5] Dan juga Qs. Yunus [10]:61.

[6] Muhammad Shadruddin Syirazi, al-Hikmah al-Mutâ’aliyah, jil. 6, hal. 179-180.

[7] Ibid.  

[8] Sayid Amin Mehr, Ma’ârif Qur’an dar Al-Mîzân, hal. 224-225, nukilan dari al-Mîzân, terkait dengan ayat 59 surah al-An’am. Dan juga pada kitab yang sama, hal. 229, yang menukil dari al-Mîzân, terkait dengan ayat 58, surah al-Isra.

[9] Ibid.  

[10] Ibid.  

[11] Ibid, hal. 226.  

[12] Ibid, hal. 230, nukilan dari al-Mîzân, terkait dengan ayat 4 surah Qaf.  

[13] Ibid, hal. 233, nukilan dari al-Mîzân, terkait dengan ayat 1-4 surah az-Zukhruf.   

[14] Ibid.

[15]. “Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitâb (Lauh Mahfûzh).” (Qs. Ar-Ra’ad [13]:39)    

[16]. Katakanlah, “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib, serta tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. (Qs. Al-An’am [6]:50); Dan aku tidak mengatakan kepadamu (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, aku tidak mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat.” (Qs. Al-Hud [11]:31)

[17]Silahkan lihat, Al-Mîzân, jil. 7, hal. 212; Kanz al-Daqâiq, jil. 4, hal. 342-344.  

[18]. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, (agar ia berargumentasi dengannya) dan termasuk orang-orang yang yakin. (Qs. Al-An’am [6]:75); Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi dan membutuhkan perlindungan (kepada siapa pun), jika kamu mengetahui?”(Qs. Al-Mukminun [23]:88)  

[19]. Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (Qs. Al-Isra [17]:1); Qs. Al-Najm [53]:1-18.  

[20]. Katakanlah, “Cukuplah Allah dan orang yang mempunyai ilmu al-Kitab (dan pengetahuan terhadap Al-Qur’an) menjadi saksi antara aku dan kamu.” (Qs. Al-Ra’ad [13]:43)  

[21].  (Tetapi) seseorang yang mempunyai sebuah ilmu dari kitab (samawi) berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhan-ku untuk mencobaku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).”  (Qs. Al-Naml [27]:40)

[22] Sayid Amin Mehr, Ma’ârif Qur’ân dar Al-Mîzân, hal. 177-184, al-Mîzân, terkait dengan surah al-Ma’arij

%d blogger menyukai ini: