Maksud dengan Kitâb Mubîn, rutab, yabis dalam al-Qur’an

oleh alifbraja

Yang dimaksud dengan Kitâb Mubîn merupakan tingkatan dari ilmu Ilahi yang menjadi sebab munculnya perbuatan-perbuatan Tuhan. Kitab ini ada sebelum penciptaan, pada saat dan setelah penciptaan. Dan tingkatan-tingkatan sebelum munculnya setiap entitas dan pelbagai fenomena atasnya dan akibat yang muncul darinya setelah tiadanya seluruhnya dicatat, dijaga dan dipelihara di dalamnya.   Karena itu, Kitâb Mubîn ini juga terkadang disebut sebagai lauh mahfuzh, ummul kitâb, imam mubîn, kitâb hafîzh dan sebagainya yang masing-masing dari terminologi ini disebut dengan satu redaksi tertentu.

Dengan demikian, kendati pada sebagian ayat lainnya, disertai dengan redaksi “wahyu” dan “nuzul” dan sebagainya – Kitâb Mubîn adalah al-Qur’an itu sendiri. Akan tetapi, pada ayat ini (QS. Al-An’am [6]:59) dan semisalnya, yang dimaksud bukanlah al-Qur’an. Meski al-Qur’an itu sendiri dihasilkan dari Kitâb Mubîn ini.

Rutab” dan “yabis” adalah dua terminologi yang saling berlawanan (antonim) yang seluruh entitas pada tingkatan tertentu berjejer di bawah dua terminologi ini. Rutab (basah) dan Yabis (kering) adalah kata kiasan untuk segala sesuatu. Karena itu, ayat suci ini berada pada tataran menjelaskan keumuman ilmu Tuhan terhadap seluruh entitas dan eksisten baik sebelum dan setelah kemunculannya dan bahkan kemusnahannya secara lahir; Rutab (basah) dan yabis (kering) di sini tidak mengandung makna yang spesial.

Jawaban Detil

 

Ayat ini (al-An’am [6]:59) menyoroti masalah tingkatan-tingkatan pengetahuan Tuhan dan keumumannya. Pengetahuan Tuhan dan pelbagai tingkatannya merupakan masalah yang paling pelik dalam masalah teologi di kalangan para periset Islam sedemikian sehingga sebagian dari mereka memandang persoalan ini sebagai persoalan yang amat-sangat rumit. Karena itu, Mulla Shadra ra terkait dengan persoalan ini menulis, “Mengetahui ilmu Ilahi merupakan tingkatan tertinggi kesempurnaan manusia. Orang yang dapat mengakses pengetahuan ini akan membuat manusia mencapai derajat kesucian. Dan bahkan memasukkannya dalam golongan para malaikat. Mengingat kerumitan dan kepelikannya, sebagian ulama seperti Ibnu Sina dan Suhrawardi (Syaikh Isyraq) menempuh banyak jalan untuk memahami ilmu Ilahi ini; tatkala kondisi dua orang besar ini – dengan segala kecerdasan, kejeniusan, pengalamannya dalam bidang filsafat – sedemikian adanya, maka bagaimanakah kondisi orang-orang yang ahli dalam menuruti hawa nafsu, melakukan bidah, orang-orang yang suka berdialektika dalam ilmu kalam?[1]

 

Mengingat sangat sukar untuk mencapai kualitas dan tingkatan-tingkatan ilmu Ilahi, dalam hal ini kita harus bertekuk lutut dan mengakui ketidakmampuan untuk mengakses kedalaman zat dan sifat Ilahi ini. Bagaimanapun, apa yang dapat diperoleh dari ucapan-ucapan para periset dan peneliti (baca: teolog dan filosof), ilmu Ilahi dapat dibagi menjadi beberapa bagian dan tingkatan:

 

1.     Ilmu zat, sifat zatiyah dan asma zatiyah. (Tingkatan ghayb al-ghuyûb yang tidak dapat menjadi objek penyaksian [syuhud] oleh manusia).

 

2.     Ilmu zat terhadap muqtadiyât (tuntutan) zat. Ilmu ini disebut sebagai ilmu yang bersifat universal dan global terhadap seluruh makhluk sebelum penciptaan. Global di sini bermakna bahwa batasan, ukuran, ketentuan (takdir) belum lagi ditetapkan padanya dan satu dengan yang lainnya belum ada yang menonjol).

 

3.     Ilmu terhadap seluruh makhluk sebelum penciptaan secara detil semenjak awal penciptaan terus berlanjut hingga kiamat besar. Detil di sini bermakna bahwa telah ditetapkan batasan dan ketentuan atas seluruh makhluk, tingkatan-tingkatan penciptaan dan perubahannya.

 

4.     Ilmu khusus yang menjadi sebab munculnya perbuatan dan realisasinya. Ilmu ini sendiri menjadi sumber munculnya perbuatan (ilmu ‘inai).

 

5.     Ilmu terhadap seluruh makluk yang tercipta dan dominasi atas seluruh perubahan dan konsepsinya. Ilmu ini merekam dan mencatat seluruh perubahan yang terjadi atas makhluk yang telah dicipta tersebut. Ilmu ini tidak akan pernah dihinggapi sifat lupa, lalai, salah, dan tidak akan musnah.

 

6.     Ilmu yang merekam segala kondisi, perbuatan, dan pikiran manusia yang boleh jadi hilang dan ditutupi oleh iman setelah kekufuran, atau taubat setelah melakukan dosa. Atau mungkin sebaliknya, hilang karena kekufuran setelah iman, maksiat setelah ketaatan. Juga dengan kematian, catatan-catatan amal manusia akan ditutup kecuali ia memiliki amal shalih (baik) atau amal thalih (buruk) yang tetap tersisa efeknya setelah kematian. Sebagaimana setelah terjadinya perubahan dan reaksi seluruh makhluk, maka catatan-catatan perbuatan mereka akan tertutup yang kemudian menjadi bank data dan terpelihara.

 

 

 

Tidak diragukan bahwa setiap tingkatan bersumber dari tingkatan sebelumnya. Dan, seluruh tingkatan ini tidak lain kecuali menandaskan dominasi wujud dan eksistensi Tuhan atas seluruh entitas. Bukan berasal dari pengaruh seluruh entitas tersebut. Seluruh entitas dalam menyisakan pengaruh bagi yang lainnya dalam ilmu memerlukan media, wahana dan alat. Atau, pada tingkatan tertentu, ia dapat mengeluarkan dirinya dari dominasi ini dan tidak menjadi objek pengetahuan Tuhan. Karena itu, klasifikasi dan penggolongan ini, dikemukakan pada tataran pembelajaran mengingat terbatasnya bahasa untuk menyebutnya sehingga manusia mengetahui bahwa wujud, seluruh pikiran, kondisi dan perbuatannya berada dalam pengawasan Tuhan. Semua ini terekam dengan baik dan pada hari Kiamat akan dihadapkan kepadanya dalam bentuk catatan amal, sehingga dengan memerhatikan pandangan ini, ia bersikap waspada dan hati-hati terhadap perbuatannya dan menggembleng dirinya dengan bimbingan Ilahi sehingga ia mencapai makam khalifah Tuhan di muka bumi.

Bagaimanapun bagian pertama dan kedua dalam perspektif filosof Islam tergolong dalam bagian sifat zat, zat itu sendiri dan terjaga dari segala macam perubahan. Sedangkan bagian-bagian lainnya, termasuk dalam klasifikasi sifat fi’liyah dan ilmu fi’li yang memiliki pengaruh dalam terealisasinya seluruh entitas. Mengalami perubahan dan pergantian, semakin beragam jenisnya, semakin banyak kuantitasnya.[2] Ilmu Ilahi ini pada setiap tingkatan, syuhudi dan hudhuri, bersumber dari dominasi wujud dan eksistensi-Nya. Dengan demikian, bergantinya, terpengaruh dan bereaksinya ilmu fi’li tidak akan menjadi penyebab munculnya reaksi dan perubahan zat Ilahi.[3] Karena reaksi zati sebagai susulan dari perubahan ilmu berkaitan dengan entitas seperti manusia yang ilmunya pada umumnya lebih bersifat hushuli (perolehan) ketimbang hudhuri (kehadiran) dan syuhudi (penyaksian intuitif)!

Adapun ayat suci, Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak sebutir biji pun yang jatuh dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh). (QS Al-An’am [6]:59)

Bagian pertama ayat yaitu, “Dan hanya di sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri menyinggung dua bagian pertama klasifikasi ilmu Ilahi. Artinya, ilmu Tuhan bersifat zati yang tiada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri dan tiada seorang pun yang menjadi pembantu-Nya untuk memahami hal tersebut. Sebagaimana “khazâin” pada ayat 21, surah al-Hijr (15) dan enam ayat[4] yang serupa, ditafsirkan sebagai ilmu zati Tuhan maka yang dimaksud dengan khazanah-khazanah (khazâin) dan kunci-kunci semua yang gaib adalah tuntutan-tuntutan zat Ilmu Tuhan pada maqam zat.

Adapun kelanjutan ayat menyoroti masalah ilmu fi’li (perbuatan) Tuhan setelah penciptaan. Allah Swt berfirman terkait klasifikasi global seluruh makhluk dan entitas:

Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak sebutir biji pun yang jatuh dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh). Sebagaimana hal ini juga disebutkan pada ayat 3, surah Saba, Tidak ada tersembunyi dari-Nya seberat zarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, dan tidak ada (pula) yang lebih kecil dan yang lebih besar dari itu, melainkan tersebut (tercatat dan terekam) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfûzh). [5]

Rutab dan yabis adalah dua terma yang saling berlawanan kata. Artinya setiap maujud dan entitas pada akhirnya berada berjejer di bawah dari dua terma ini. Satu entitas tidak dapat memiliki dua objek luaran (mishdaq). Karena itu, gabungan dari rutab dan yabis pada ayat ini merupakan kiasan dari seluruh makhluk.

Dari sisi lain, mengingat satu entitas terkadang basah dan terkadang kering, redaksi ayat ini boleh jadi menyinggung ilmu Ilahi pada seluruh perubahan dan pergantian yang terjadi di alam semesta. Mubîn bermakna nyata dan jelas tanpa secuil keraguan dan keburaman.

Mulla Shadra ra dalam mendefinisikan “kitâb” menulis: “Sesungguhnya kitâb disebut “kitâb” karena di dalamnya sebagian huruf dan kalimat-kalimat digabungkan satu dengan yang lain. Kitab misalnya pada kalimat katabat al-jaisy bermakna sekelompok laskar berkumpul.”[6]

Dalam mendefinisikan kedudukan ilmu, Mulla Shadra melanjutkan, “Yang benar adalah bahwa hal ini merupakan ilmu Ilahi terhadap segala sesuatu pada tingkatan zat. Sebuah ilmu yang sama sekali suci dan jauh dari karakteristik wujud kontingen dan rangkapan. Sedemikian sehingga seluruh entitas yang ada di alam kontingen (imkan) tersingkap dalam bentuk sempurna. Dan, hal ini berujung pada keberadaan entitas tersebut di alam luar dalam bentuk sempurna yang tidak memerlukan niat dan pikiran. Ilmu ini adalah ilmu yang bersifat basith (simpel) yang merupakan wâjib lidzatihi (wajib bagi diri-Nya) dan qâim bidzatihi (ada dengan sendiri-Nya) dan merupakan pencipta ilmu-ilmu secara detil (tafshili) dan rinci. Karena itu, ilmu ini berasal dari sisi Tuhan (dan bersumber dari zat-Nya) bukan pada zat Tuhan.”[7]

Penjelasan Mulla Shadra terkait ayat 39, surah al-Ra’ad (13) dimana yang serupa dengannya juga disebutkan pada ayat-ayat 1-4 surah Zukhruf (43). Akan tetapi redaksi “Ummul kitab” disertai dengan kalimat  “fii” (pada) dan “indahu” (di sisi-Nya) dimana Mulla Shadra menegaskan bahwa ilmu zati itu adalah “anhu” (di sisi-Nya) bukan “fi” (pada) karena keduanya berbeda satu dengan yang lain.

Dengan demikian, Kitâb Mubîn ini, Ummul Kitâb, Lauh Mahfuzh, Lauh mahw wa itsbat, imam mubîn dan redaksi-redaksi yang lainnya adalah menyinggung ilmu zati yang identik dengan Zat. Karena sesuai dengan penjelasan Mulla Shadra Ra, ilmu tersebut harus kosong dari segala corak kontingen, rangkapan, batasan dan ketentuan (taqdir), disertai dengan ekspresi “anhu” (di sisi-Nya) dan tidak boleh disertai dengan redaksi “fi” (pada). Sementara ayat-ayat ini, menyinggung seluruh entitas secara detil dan bahkan rontoknya dedaunan, basah dan keringnya seluruh entitas. Yang disertai dengan “indahu” dan “fi’.

Dalam hal ini, Allamah Thabathabai Ra memberikan penjelasan-penjelasan yang lebih akurat:

“Khazanah-khazanah gaib dan kitâb mubîn itu mencakup seluruh entitas, dalam hal ini tidak ada perbedaan dan demikian juga bahwa tidak terdapat entitas kecuali menjadi khazanah di sisi Allah Swt yang melaluinya seluruh entitas mendapatkan pertolongan, demikian juga tiada satu pun entitas kecuali telah tercatat dan terekam sebelum keberadaannya, pada saat keberadaannya dan setelah keberadaannya pada kitâb mubîn; kecuali bahwa kitâb mubîn merupakan salah satu khazanah yang berada pada tingkatan yang lebih rendah, di sinilah makna ini menjadi jelas bagi setiap alim bahwa kitâb mubîn pada saat ia merupakan sebuah kitab (yang sebagian bergabung dengan sebagian lainnya) namun ia tidak berasal dari jenis kertas dan lauh (lempengan). Karena semakin besar kertas-kertas material, maka ia akan semakin tidak mampu mencatat seluruh entitas dan pelbagai fenomena.”[8]

Yang dimaksud dengan kitâb mubîn adalah sebuah perkara yang dalam kaitannya dengan seluruh entitas hubungannya laksana program kerja dibandingkan dengan kerja itu sendiri. Setiap entitas dalam kitab ini memiliki ukuran dan ketentuan. Hanya saja, kitab ini merupakan sebuah entitas yang ada sebelum segala sesuatu, pada saat terciptanya sesuatu dan akan tetap ada setelah musnahnya segala sesuatu. Entitas yang termasuk ilmu Tuhan terhadap segala sesuatu adalah ilmu yang tidak mengenal lupa atau kehilangan.”[9] Pendeknya, kitab ini merupakan sebuah kitab himpunan seluruh entitas pada alam penciptaan dan memiliki semua yang dulu ada, ada dan akan ada, yang tiada secuil pun yang dialpakan dalam kitab tersebut.”[10]

“Kitab ini dalam firman Ilahi disebutkan dengan ragam nama: lauh mahfuzh atau kitab hafizh, ummul kitâb, kitâb mubîn, imâm mubîn yang masing-masing dari keempat nama ini memiliki daya tarik tersendiri. Dan, boleh jadi daya tariknya pada……imâm mubîn lantaran terkait dengan ketentuan-ketentuan pasti Ilahi… dan catatan amal perbuatan sebagaimana yang ditafsirkan pada surah Jatsiyah (ayat 29) diambil dari kitab tersebut..”[11]

Dalam lauh mahfuzh tercatat seluruh apa yang dulu ada, ada (sekarang) dan apa yang akan ada hingga hari Kiamat (dan tidak akan sirna).[12]

Lauh mahfuzh disebut sebagai ummul kitâb karena seluruh kitab samawi disimpulkan dari kitab tersebut.”[13] Disebut sebagai kitâb maknun karena lebih tinggi dan tersembunyi dari akal-akal manusia[14] dan pada kitab ini terkadang bentuk keluaran, ciptaan dan realisasinya segala urusan ditetapkan (itsbat) atau dihapus (mahw).[15] Atau melingkupi atau menutupi perbuatan-perbuatan manusia melalui pergantian metode dan caranya dengan ikhtiar manusia itu sendiri. Hal ini akan menjadi sebab yang pada akhirnya, buku catatan amal perbuatannya akan diambil naskahnya sesuai dengan usaha maksimalnya dan akan diserahkan kepadanya pada hari Kiamat. Meski pada kitab ini sendiri ketentuan-ketentuan yang bersifat pasti tidak dapat dihapus (mahw) dan ditetapkan (itsbat) seperti peristiwa-peristiwa penciptaan yang dialami oleh umat dan orang beriman atau pendosa sebelumnya. Demikian juga pelbagai tahapan penciptaan langit, bumi, manusia dan realisasi janji-janji Tuhan pada masa akan datang seperti keadilan universal dan digelarnya hari Kiamat dan sebagainya.

Dari beberapa persoalan yang dikemukakan di atas adalah jelas pada ayat-ayat ini bahwa yang dimaksud dengan “kitâb mubîn” bukan al-Qur’an yang dilafazkan dalam bahasa Arab atau sebuah kitab yang tertulis, melainkan al-Qur’an dan pewahyuannya secara gradual dan segala kejadian yang dikisahkan di dalamnya atau peristiwa yang akan terjadi, seluruhnya adalah sebagian dari “Kitâb Mubîn di sisi Allah” bukan semuanya. Bukan Al-Qur’an yang kini berada di tangan kita dan digunakan dalam kehidupan keseharian kita dan menjadi pedoman hidup kita. Akan tetapi, al-Qur’an yang satunya itu (kitâb mubîn) yang berada di luar jangkauan manusia. Adapun berita yang diperoleh para nabi, wasi dan wali adalah sesuai dengan izin Allah dan pengumuman Allah kepada mereka tidak lebih.[16]

Adapun pada sebagian ayat lainnya, seperti pada surah Qashash [28]: 2; asy-Syu’ara [26]: 2; an-Naml [27]: 1; al-Hijr [15]: 1, Yusuf [12]: 1; al-Maidah [5]: 15 dengan disebutkannya indikasi seperti wahyu, nuzul di samping “kitâb mubîn” yang dimaksud adalah al-Qur’an al-Karim yang ada di tangan kita sekarang yang dapat dipahami dan dijadikan sebagai petunjuk oleh setiap orang.

Dengan demikian, “kitâb mubîn” dalam al-Qur’an digunakan dalam dua bentuk. Bentuk pertama digunakan sebagai manifestasi ilmu fi’li Tuhan sebelum, pada waktu dan setelah penciptaan terhadap seluruh makhluk secara detil. Bentuk kedua adalah al-Qur’an itu sendiri yang dilafazkan dalam bahasa Arab yang menjadi sentral ilmu pengetahuan (yang berada di tangan kita sekarang). Tentu saja di antara dua hal ini tidak boleh dicampuradukkan satu dengan yang lainnya.

Yang perlu diingat adalah bahwa redaksi rutab dan yabis sesuai dengan riwayat disebutkan dengan contoh-contohnya seperti, janin yang gugur disebutkan sebagai contoh yabis dan bayi disebutkan sebagai contoh rutab. Atau hasil pertanian yang dipetik sebagai yabis dan apa yang belum lagi dipetik sebagai contoh dari rutab. Akan tetapi, secara lahir konteks ayat, menandaskan akan keumuman ilmu Tuhan terhadap segala makhluk dan entitas di alam semesta, kemajuan dan perubahannya.[17]

Dengan memerhatikan beberapa penjelasan di atas kini terdapat tiga kemungkinan:

Pertama, bahwa yang dimaksud dengan malakuti samawati dan bumi yang dipertontonkan kepada para wali Allah seperti Nabi Ibrahim As;[18] dan bahkan mikraj Nabi Saw pada alam-alam di atas,[19] berputar pada satu entitas yang disebut sebagai kitâb mubîn.

Kedua, ilmu gaib yang dimiliki oleh para maksum adalah diperoleh dari kitâb mubîn ini dan dari kitab ini ilmu mereka bertambah. Sebagian diberikan “ilmu al-kitâb[20] dan memiliki wilayah universal Ilahi dan sebagian lainnya diberikan “ilmu min al-kitâb[21] yang hingga batasan tertentu dapat memanfaatkan wilayah ini.

Ketiga, boleh jadi yang dimaksud dengan arsy dan kekuasaan atasnya (istila) adalah entitas (kitâb mubîn) dan makam ini. Karena itu, kekuasaan (istiwa) atas arsy adalah kiasan dari pengaturan alam semesta setelah penciptaan, sesuai dengan ilmu Ilahi yang tercatat pada kitâb mubîn.[22]

 

 

 

 Sumber Bacaan:

1.     Sayid Mahdi Amin, Ma’ârif Qur’ân dar al-Mizân, jil. 7, 10, 11, 17 dan 18, Sazeman-e Tablighat-e Islami, cetakan pertama, Teheran, 1370 S.

2.     Shadruddin Muhammad Syirazi (Mulla Shadra), al-Hikmah al-Mutâ’aliyah, jil. 6, hal. 110-118, 149 dan 306, jil. 2, hal. 299-311, Dar al-Ihya al-Turats al-‘Arabi, cetakan keempat, Beirut, 1410 H.

3.     Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, Daftar-e Intisyarat-e Islami, Qum.

4.     Abi Ali Fadhl bin Hasan Thabarsi, Majma al-Bayân, jil. 2, hal. 311, Maktabah al-Ilmiyah al-Islamiyah, Teheran.

5.     Sayid Abdulhusain Thayyib, Athyâb al-Bayân, Kitab Purusyi Islami, cetakan kedua, hal. 91-92.

6.     Muhammad bin Muhammad Ridha Qummi Mashyadi, Kanz al-Daqâiq, jil. 4, hal. 342-244, Muassasah Tab’e wa Nasyr (Wizarat-e Irsyad), cetakan pertama, Teheran, 1411 Q.

7.     Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Ma’ârif Qur’ân, jil. 1-3, Muassasah dar Rah-e Haq, cetakan kedua, Qum, 1368 S.

8.     Nasir Makarim Syirazi, Tafsir Nemune, jil. 8, 9, 15, dan 18, Dar al-Kitab al-Islamiyah, cetakan ke-17, Teheran, 1374 S.

 


[1] Muhammad Shadruddin Syirazi, al-Hikmah al-Mutâ’aliyah, jil. 6, hal. 179-180.  

[2] Silahkan lihat, Allamah Hilli, Bâb Hâdi ‘Asyar, Fashl Nafi al-Hawadits ‘anhu dan kitab-kitab teologi dan filsafat lainnya, terkait pembahasan Ilmu Ilahi.  

[3] Ibid.

[4] Qs. Al-An’am [6]:10; Qs. Hud [11]:31; Qs. Al-Isra [17]:100; Qs. Shad [38]:9; Qs. Thur [52]: 37; Qs. Al-Munafikun [63]:7; Silahkan lihat al-Mîzân, jil. 13, hal. 96-201.

[5] Dan juga Qs. Yunus [10]:61.

[6] Muhammad Shadruddin Syirazi, al-Hikmah al-Mutâ’aliyah, jil. 6, hal. 179-180.

[7] Ibid.  

[8] Sayid Amin Mehr, Ma’ârif Qur’an dar Al-Mîzân, hal. 224-225, nukilan dari al-Mîzân, terkait dengan ayat 59 surah al-An’am. Dan juga pada kitab yang sama, hal. 229, yang menukil dari al-Mîzân, terkait dengan ayat 58, surah al-Isra.

[9] Ibid.  

[10] Ibid.  

[11] Ibid, hal. 226.  

[12] Ibid, hal. 230, nukilan dari al-Mîzân, terkait dengan ayat 4 surah Qaf.  

[13] Ibid, hal. 233, nukilan dari al-Mîzân, terkait dengan ayat 1-4 surah az-Zukhruf.   

[14] Ibid.

[15]. “Allah menghapuskan dan menetapkan apa yang Dia kehendaki, dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul Kitâb (Lauh Mahfûzh).” (Qs. Ar-Ra’ad [13]:39)    

[16]. Katakanlah, “Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak (pula) aku mengetahui yang gaib, serta tidak (pula) aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. (Qs. Al-An’am [6]:50); Dan aku tidak mengatakan kepadamu (bahwa) aku mempunyai gudang-gudang rezeki dan kekayaan dari Allah, aku tidak mengetahui yang gaib, dan tidak (pula) aku mengatakan bahwa sesungguhnya aku adalah malaikat.” (Qs. Al-Hud [11]:31)

[17]Silahkan lihat, Al-Mîzân, jil. 7, hal. 212; Kanz al-Daqâiq, jil. 4, hal. 342-344.  

[18]. Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi, (agar ia berargumentasi dengannya) dan termasuk orang-orang yang yakin. (Qs. Al-An’am [6]:75); Katakanlah, “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu, sedang Dia melindungi dan membutuhkan perlindungan (kepada siapa pun), jika kamu mengetahui?”(Qs. Al-Mukminun [23]:88)  

[19]. Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. (Qs. Al-Isra [17]:1); Qs. Al-Najm [53]:1-18.  

[20]. Katakanlah, “Cukuplah Allah dan orang yang mempunyai ilmu al-Kitab (dan pengetahuan terhadap Al-Qur’an) menjadi saksi antara aku dan kamu.” (Qs. Al-Ra’ad [13]:43)  

[21].  (Tetapi) seseorang yang mempunyai sebuah ilmu dari kitab (samawi) berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, ia pun berkata, “Ini termasuk karunia Tuhan-ku untuk mencobaku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya).”  (Qs. Al-Naml [27]:40)

[22] Sayid Amin Mehr, Ma’ârif Qur’ân dar Al-Mîzân, hal. 177-184, al-Mîzân, terkait dengan surah al-Ma’arij

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: