Archive for April 23rd, 2013

23 April 2013

makna dari ayat berikut, “Tuhan akan memberikan hidayah kepada siapapun yang Dia kehendaki dan akan menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki”?

oleh alifbraja

Pada beberapa masalah dalam Al-Quran al-Karim, Tuhan Yang Maha Tinggi mengetengahkan tentang persoalan hidayah dan kesesatan dengan penjelasan yang berbeda.

Sebelumnya penting untuk diperhatikan bahwa sebagian dari ayat-ayat al-Quran tidak bisa menafsirkan dan mengambil kesimpulan secara sendiri, melainkan untuk memahami makna hakikinya harus menggunakan peran ayat-ayat yang lain.

Berikut ini adalah beberapa ayat yang serupa:

Pada surah an-Nahl (16) ayat ke 93, Tuhan berfirman, “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikanmu satu umat (saja dan memaksamu untuk beriman). Tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan.”

Pada surah al-Kahf (18) ayat ke 17, berfirman, “Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka dialah yang mendapat petunjuk; dan barang siapa yang disesatkan-Nya, maka kamu tak akan mendapatkan seorang pemimpin pun yang dapat memberi petunjuk kepadanya.”

Sedangkan surah al-A’raf (7) ayat ke 286, berfirman, “Barang siapa yang Allah sesatkan, maka ia tidak memiliki orang yang akan memberi petunjuk. Dan Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kezaliman mereka.”

Demikian juga pada surah al-Zumar (35) ayat ke 36-37, Tuhan berfirman, “Dan barang siapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang menjadi pemberi petunjuk baginya. Dan barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak seorang pun yang dapat menyesatkannya. Bukankah Allah Maha Perkasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) mengazab?”

Pada tafsir Al-Mizan ketika menjelaskan tentang ayat ke 93 dari surah An-Nahl (16), Alamah Thabathabai Ra berkata, “Maksudnya adalah bahwa Tuhan mampu menciptakan seluruh manusia dalam satu tingkatan dari sisi hidayah dan kebahagiaan. Sedangkan yang dimaksud dengan disesatkannya sebagian dan diberinya petunjuk pada sebagian yang lain bukanlah petunjuk dan kesesatan yang telah ditentukan sejak awal, melainkan merupakan kesesatan dan petunjuk yang bersifat imbalan dan konsekuensi, karena seluruh mereka, baik yang terhidayahi maupun yang tersesat, pada awalnya memiliki hidayah. Orang yang akan disesatkan oleh Tuhan adalah mereka yang memilih jalan kesesatannya sendiri, yaitu mereka yang melakukan maksiat dan tidak menyesali tindakannya, sedangkan orang yang dihidayahi oleh Tuhan adalah mereka yang tidak kehilangan hidayah fitrinya dan menapakkan langkahnya berdasarkan hidayah fitri tersebut, atau senantiasa berada dalam ketaatan, atau jikapun ia melakukan dosa dan maksiat, maka dia akan kembali ke jalan yang lurus dan kembali kepada sunnah Ilahi yang tidak akan mengalami perubahan.

Pada dasarnya ayat yang berbunyi, “Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan”, merupakan sebuah kalimat untuk menghilangkan sangkaan yang mungkin saja akan muncul dalam benak manusia yaitu bahwa keberadaan hidayah dan kesesatan di tangan Tuhan akan membatalkan dan menghilangkan kebebasan manusia, selanjutnya dengan batalnya kebebasan ini maka persoalan kenabian dan risalah pun akan menjadi batal. Untuk menghilangkan sangkaan seperti ini maka jawabannya adalah, tidak, masalah ikhtiar dan kebebasan masih tetap ada, dan keberadaan hidayah serta kesesatan di tangan Tuhan tidak akan membatalkan kebebasan kalian, karena Tuhan tidaklah menetapkan kesesatan dan hidayah ini sejak awal, kesesatan yang diberikan oleh-Nya merupakan imbalan, yaitu seseorang yang menginginkan kesesatan untuk dirinya sendiri maka dia akan mendapatkannya, demikian juga seseorang yang menghendaki petunjuk dan hidayah, maka dia akan melangkah dalam hidayah, dan kesimpulannya adalah apapun yang kalian kehendaki, maka Tuhan akan membantunya dan Dia akan melangkah lebih awal dalam apa yang kalian pilih.”[1]

Keberadaan ayat-ayat al-Quran adalah saling menyempurnakan dan sebagian ayat akan menafsirkan ayat yang lainnya, di sini Tuhan yang berfirman, “Dia akan menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya”, tak lain adalah Tuhan yang berfirman, “Allah akan menyesatkan orang-orang yang tersesat”[2], dan tak beda dengan Tuhan yang berfirman, “Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang melampaui batas dan ragu-ragu”[3], atau berfirman, “Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang kafir.”[4]

Dengan demikian benar apabila dikatakan bahwa Tuhan akan menyesatkan siapapun yang Dia kehendaki, akan tetapi yang harus diketahui di sini adalah hamba seperti apakah yang terancam dalam kesesatan ini?

Tuhan hanya akan menyesatkan orang-orang yang zalim, pendusta, fasik, berlebih-lebihan, kafir, dan mereka yang tidak mentaati perintah-Nya. Jadi mukadimah dan pendahuluan dari penyesatnya Tuhan sebenarnya berada di tangan hamba-Nya itu sendiri. Demikian juga halnya dalam kaitannya dengan hidayah, dalam masalah inipun terdapat syarat-syaratyang harus terpenuhi. Jika Tuhan berfirman, “memberikan petunjuk kepada siapa yang dihendaki” hal ini dengan artian bahwa Dia akan memberikan petunjuk dan hidayah kepada siapapun yang dihendaki-Nya. Terdapat pula ayat-ayat yang membahas tentang syarat-syarat hidayah, di antaranya dalam salah satu ayat yang berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami.”[5], sementara di tempat lain berfirman, “Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang fasik”, “Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada orang-orang yang kafir”, “Allah tidak akan memberikan petunjuk kepada mereka yang merencanakan penghianatan”, … yaitu Tuhan akan menafikan hidayah-Nya bagi mereka yang tidak berada dalam posisi terhidayahi.

Dengan demikian menjadi jelaslah bahwa orang-orang yang shaleh dan bertakwa sama sekali tidak layak untuk tersesat dan mereka yang membangkang sudah pasti tidak akan layak untuk mendapatkan hidayah. Memaparkan poin berikut ini menjadi urgen bahwa penyajian metode berada dalam tanggung jawab Pencipta, sedangkan pelaksanaan dan kewajibannya berada di tangan makhluk, yaitu untuk mengambil jalan yang telah ditunjukkan kepadanya supaya sampai pada tujuan yang sesungguhnya, dan jika tidak demikian, apabila dia menyimpang dari jalannya dan hasilnya adalah pembangkangan, maka tanggung jawabnya berada di tangannya sendiri. Dalam al-Quran al-Karim Tuhan berfirman, “Allah menyeru (manusia) ke Dârus Salâm (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.”[6], yaitu Tuhan memanggil seluruh ciptaan-Nya untuk menuju ke bumi kebahagiaan dan keselamatan. Demikian juga Dia berfirman, “Siapapun yang berkehendak, maka dia bisa memilih jalan Tuhannya, dan akan memperoleh kecenderungan dan kedekatan untuk mendatangi Kami dan Kami akan membimbing dan memberikan hidayah kepadanya”. Dan jika tidak demikian, mereka yang tidak memiliki keinginan dan kecenderungan untuk ke arah-Nya, menyimpang dari jalannya yang hak, dan tidak beriman kepada ayat-ayat, rasul-Nya, dan hari kiamat, maka dia akan termasuk dalam golongan ayat berikut, “Barang siapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman, (dia akan mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman (maka sesungguhnya dia tidak berdosa). Akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah akan menimpanya dan baginya azab yang besar.”[7]

Jika kita cermati ayat-ayat di atas maka tidak akan tersisa sedikitpun keraguan bahwa Tuhan memberikan kebebasan, ikhtiar dan kemandirian kepada semuanya, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Kami telah menunjukkan jalan (yang lurus) kepadanya; ada yang bersyukur dan ada pula yang kafir.”[8]

Dan kesimpulannya adalah bahwa Tuhan tidak akan memberikan hidayah dan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang zalim, pendusta, dan orang-orang yang menyimpang, karena sesungguhnya kelompok ini telah berada dalam kesesatan yang nyata, dimana Tuhan berfirman, “Dan barang siapa mendurhakai Allah dan rasul-Nya, maka sungguhlah dia telah tersesat, dalam kesesatan yang nyata.”[9], jadi orang yang tidak taat kepada-Nya dan kepada rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dan berada dalam kesesatan yang nyata. Dengan demikian bagi mereka yang berhak untuk mendapatkan hidyah maka Tuhan akan menunjukkan jalannya ke surga dan tidak ada seorang pun yang akan mampu menyesatkannya, dan bagi mereka yang berhak untuk mendapatkan siksa dan terseret ke dalam api neraka, tidak akan ada seorangpun yang akan mampu menjaganya dari siksaan adzab ini. Akan tetapi baik mereka yang berhak mendapatkan adzab ataupun mereka yang berhak mendapatkan pahala, pilihan tersebut pada awalnya telah diserahkan di tangan manusia.

Jika seseorang menjadi zalim, maka Tuhan tidak akan memberinya petunjuk, berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak akan memberikan petunjuk-Nya kepada orang-orang yang zalim”, dan jika seseorang berada dalam ketakwaannya maka Tuhan akan memberikan hidayah kepadanya, sebagaimana firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu (kekuatan) pembeda (antara yang hak dan yang batil di dalam hatimu), menghapuskan segala kesalahan-kesalahanmu, dan mengampuni (dosa-dosa)mu.”[10]

Oleh karena itu memilih jalan yang baik ataupun yang buruk, sejak awal telah berada di dalam kewenangan kita dan hakikat ini diterima oleh kalbu setiap manusia yang manapun.

 


[1]. Al-Mizân, Alamah Thabathabai, Muhammad Husein, jil. 12, hal. 48 pada penjelasan ayat ke93 surah an-Nahl, dengan terjemahan bahasa Persia.

[2]. Qs. Ibrahim (14): 27.

[3]. Qs. Al-Ghafir (50): 34.

[4]. Qs.Al-Ghafir (50): 74.

[5]. Qs. Al-Ankabut (29):69.

[6]. Qs.Yunus (10):25.

[7]. Qs. An-Nahl (16): 106.

[8]. Qs. Ad-Dahr (76): 3.

[9]. Qs. Al-Ahzab (33): 36.

[10]. Qs. Al-Anfal (8): 29.

Iklan
23 April 2013

Mengapa Tuhan tidak menggunakan mukjizat untuk mencegah terbunuhnya Imam Husain As?

oleh alifbraja

Tidak diragukan bahwa alam semesta merupakan ciptaan dan makhluk Tuhan. Pengaturan semesta berada di bawah kehendak dan pelbagai sunnah Ilahi. Tuhan adalah Penyebab segala sebab yang ada. Artinya Dia berdasarkan satu hikmah yang akurat menjadikan sebagian hal sebagai sebab bagi yang lain. Dia juga kuasa dalam pelbagai situasi untuk menafikan hubungan sebab-akibat ini. Sebagaimana Tuhan menjadikan api sebagai penyebab panas dan untuk membakar akan tetapi tatkala para penyembah berhala ingin melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api Tuhan mengeliminir tipologi membakar api ini sehingga Nabi Ibrahim selamat tidak terbakar.

Dan sebagaimana golok tajam Nabi Ibrahim tidak memotong (Tuhan mencegah supaya tidak memotong) dan menyelamatkan Nabi Ismail menjadi korban dari pengabdian ayahnya. Iya, kita meyakini bahwa Allah Swt juga memiliki kekuasaan untuk membuat seluruh pedang dan belati para antek-antek Yazid tidak berfungsi dan menggunakan mukjizat untuk menjaga keselamatan jiwa Imam Husain As dan para sahabatnya. Akan tetapi mukjizat seperti ini tidak terjadi. Lantaran tidak seluruh pekerjaan harus dikerjakan melalui jalan mukjizat dan tindakan adikodrati. Sunnah Ilahi menuntut bahwa seluruh perbuatan berdasarkan sunnah-sunah dan kaidah-kaidah dan aturan-aturan natural. Di samping itu, terdapat selaksa tujuan dan falsafah penting tragedi Asyura dan kesyahidan Imam Husain As yang hanya dapat diraih melalui proses wajar dan natural revolusi Asyura. Sebagian dari tujuan-tujuan tersebut adalah:

1.             Dengan memperhatikan situasi politik yang berkembang pada masa itu dari pihak Muawiyah dan Yazid yang melakukan segala sesuatu atas nama agama yang sejatinya bertentangan dengan agama dan demikian juga untuk mengidentifikasi hak dan batil, kebenaran dan kepalsuan merupakan suatu hal yang sangat pelik, dan satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan dan menyebarkan agama Allah Swt untuk sekian kalinya adalah kesyahidan Imam Husain As dan anak-anaknya beserta para sahabatnya.[1]

2.             Apa yang dinukil dari riwayat dalam hal ini dan telah disinggung sebelumnya bahwa kesyahidan telah ditakdirkan bagi Imam Husain As sehingga melalui kesyahidannya tujuan utama Imam Husain yaitu mereformasi (islah) umat Rasulullah Saw[2] dapat tercapai.

3.             Imam Husain As memandang kesyahidan merupakan seindah-indah dan semulia-mulia kematian. Hal ini telah dijelaskan pada khutbah dalam perjalanannya dari Mekah menuju Irak. “Hiasan kematian bagi anak-anak Adam laksana hiasan liontin yang bergantung pada seorang mempelai wanita.”[3] Artinya kematian tidak mencekik dan tidak ditimpakan melainkan berupa liontin dan hiasan; mengapa manusia tidak menggunakan liontin ini di lehernya di jalan Allah? Dan kematian di jalan agama bagi Imam Husain merupakan kelezatan dan kenikmatan.[4] Kesyahidan bukanlah kekurangan melainkan kesempurnaan.[5] Dengan mencegah kesyahdian Imam Husain As maka sesungguhnya mencegah tercapainya kesempurnaan ini.

4.             Memenuhi perjumpaan Ilahi dan persuaan dengan para nabi bagi Imam Husain As. Perjumpaan Ilahi dan para nabi ini merupakan lebih utama bagi Imam Husain As daripada harus tinggal di dunia. Imam Husain As memandang dirinya merenjana rindu untuk bersua dengan orang-orang saleh; sebagaimana hal ini terungkap dari kelanjutan khutbahnya di Mekah dimana Imam Husain As bersabda: “Kecondongan dan kerinduanku untuk berziarah kepada orang-orang saleh laksana kerinduan Ya’qub kepada Yusuf.”[6]

5.             Imam Husain As tidak ingin menggunakan mukjizat dan keramat, karena menggunakan mukjizat dan keramat berseberangan dengan apa yang ditugaskan kepadanya untuk menunaikanya secara lahir. Nilai dan kedudukan Imam Husain As di samping memiliki kedudukan yang menjulang bagi kaum Muslimin juga mendapat tempat istimewa bagi para pencari kebebasan dan keadilan di dunia, atas dasar itu, beliau mengerjakannya dengan cara-cara natural dan normal. Dengan membawa Ahlulbait As kepada satu perang yang tidak seimbang, tertawan dan terhina menjadi sebab revolusi Imam Husain menjadi abadi dan perenial.[7] Padahal Imam Husain mampu menumbangkan Yazid tanpa harus mengusung revolusi dan menggunakan keramat namun hal itu tidak banyak berarti dalam membongkar penyimpangan dan tujuan keji Bani Umayah.

6.             Kisah Asyura dan perang melawan tirani Imam Husain As merupakan teladan dari revolusi di hadapan pelbagai penyimpangan dan inovasi (bid’ah) yang boleh jadi terjadi di setiap masa pada hukum-hukum dan aturan-aturan agama Tuhan. Seluruh kaum Muslimin dan manusia memiliki tugas untuk mencegah pelbagai inovasi dan bid’ah. Apabila sekiranya Imam Husain As menunaikan tugas berat ini dengang menggunakan kekuasaan mukjizat dan wilayah takwini maka ia tidak lagi dapat menjadi teladan bagi setiap manusia di setiap masa. Atas dasar itu, para nabi dan imam As bertugas untuk melaksanakan pekerjaan keseharian mereka dengan pengetahuan dan kekuasaan natural serta tidak menggunakan kekuatan mukjizat dan adikodrati, kecuali pada hal-hal tertentu dan sesuai dengan izin Allah Swt apabila terdapat kemaslahatan dan petunjuk di dalamnya.[8]  Dan juga Allah Swt menghendaki bahwa seluruh nabi dan imam menjadi guru, pengajar dan teladan praktis bagi manusia. Manusia membina diri mereka dengan memetik pelajaran dari kehidupan dan perilaku mereka dan sekiranya Imam Husain As selamat dari syahadah dengan menggunakan mukjizat maka kehidupannya dan Ahlulbait As demikian juga orang-orang yang ditinggalkan tidak dapat menjadi teladan dan model perlawanan, kesabaran, ketabahan dan pengorbanan bagi manusia dalam kehidupannya.


[1]. Silahkan lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Adzarkhisyi Digar az Asemân-e Karbalâ, hal. 44-66, Intisyarat-e Muassasah wa Pazyuhesy Imam Khomeini, Cetakan Kelima, 1380.

[2]. Bihâr al-Anwâr, jil. 44, hal. 329.

[3]. Bihar al-Anwâr, jil. 44, hal. 366; Muhaddits Arbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, jil. 2, hal. 29. Bani Hasyim, Tabriz, Cetakan Pertama, 1381; Luhûf, hal. 110 dan 111.

[4]. Silahkan lihat, Abdullah Jawadi Amuli, Syukufâ-ye Aql dar Partu-e Nehdhat Husaini, hal. 28-30, Markaz-e Cap-e wa Intisyarat-e Isra, Cetakan Kelima, 1387 S.

[5]. Syukufâi-ye Aql dar Partu-e Nehdhat Husaini, hal. 27.

[6]. Bihâr al-Anwâr, jil. 44, hal. 366; Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, jil. 2, hal. 29. Luhûf, hal. 110 dan 111.

23 April 2013

kisah tentang dicabutnya panah dari kaki Imam Ali As pada waktu salat itu

oleh alifbraja

Kisah ini banyak disebutkan dan dinukil pada literatur hadis dengan nukilan dan kutipan yang beragam. Meski literatur-literatur dan buku-buku yang mengutip kisah ini tidak termasuk sebagai literatur dan buku derajat pertama, namun perlu diingat bahwa pertama, kisah ini disebutkan dalam beragam literatur, baik literatur Syiah atau pun Sunni; seperti Irsyâd al-Qulûb Dailâmi, al-Anwâr al-Nu’mâniyah, al-Manâqib al-Murtadhawiyah, Hilyat al-Abrâr, Muntahâ al-Âmal, al-Mahajjat al-Baidhâ demikian juga pada buku-buku fikih seperti al-Urwat al-Wutsqâ.[1]

Kedua, para penyusun buku dan periwayat kisah ini adalah ulama popular dan telah dikenal. Ketiga, kandungan kisah ini tidak bertentangan dengan akal dan riwayat, bahkan akal dan riwayat justru mendukung kemungkinan terjadinya peristiwa seperti ini; karena itu, menurut hemat kami, tidak ada masalah menjelaskan inti peristiwa ini berdasarkan kriteria-kriteria dan standar-standar ilmiah riwayat.

Dalam menjelaskan pandangan rasional masalah ini terdapat dua dalil yang dapat disebutkan:

1.    Di antara tipologi dan karakter penting Ali bin Abi Thalib As adalah gemar dan cinta pada ibadah sedemikian sehingga Ibnu Abi al-Hadid Mu’tazili dalam Syarh Nahj al-Balâghah menulis, “Baginda Ali adalah orang yang paling abid dalam urusan ibadah; salat dan puasanya lebih banyak dari kebanyakan orang. Orang-orang belajar darinya salat malam dan dzikir-dzikir serta amalan-amalan mustahab.”[2]

Imam Ali As sedemikian khusyu dalam ibadah dan perhatiannya tercurah sepenuhnya pada Allah Swt sehingga untuk mengeluarkan anak panah yang menghujam di kakinya pada perang Shiffin dan tidak mampu dicabut dari kakinya dalam kondisi normal, maka pada waktu salat, dalam kondisi sujud anak panah itu dicabut dari kakinya. Tatkala Imam Ali As usai menunaikan salat, beliau sadar bahwa anak panah telah dicabut dari kakinya. Beliau bersumpah bahwa ia tidak merasakan bagaimana anak panah itu dicabut;[3] Mengingat bahwa salat adalah tiang agama, pilar mikraj dan munajat maka orang yang mengerjakan salat sejatinya berada dalam kondisi ‘uruj (melesak) menuju Allah Swt dan berbisik-bisik dengan-Nya. Karena itu, mata, telinga, tangan dan kaki seluruhnya dalam kekuasaan Allah Swt dan tidak berada dalam kekuasaan orang yang mengerjakan salat.

Di samping itu, iman Ali bin Abi Thalib adalah iman yang berdasarkan pada pengenalan hakiki dan memandang ibadah kepada Tuhan sebagai ziarahnya demikian juga salat sebagai bukti-bukti Ilahi dan ziarah kepada Tuhan. Imam Ali Abin Thalib memandang Tuhan sebagai kieindahan mutlak. Karena itu, tentu saja beliau tidak lagi melihat dirinya. Imam Ali As menyembah Tuhan dalam kondisi merdeka dan terlepas dari segala bentuk keterikatan dan ketergantungan pada selain-Nya.[4]

2.    Pelbagai kondisi para nabi, para imam dan para wali Allah dalam salat tidak semuanya harus sama. Terkadang dengan menjaga kehadiran hati (hudhur al-qalb), mereka juga tetap menaruh perhatian terhadap alam majemuk (dunia) dan pelbagai manifestasi material. Mereka tidak melalaikan hal ini. Apabila terjadi sebuah masalah, mereka menunjukkan reaksi apabila diperlukan. Dan terkadang mereka tenggelam dalam samudera alam malakut dan tidak melihat segala sesuatu selain Zat Suci Allah Swt. Mereka tidak peduli dengan apa yang terjadi di sekelilingnya. Bahkan mereka sama sekali melupakan badannya sendiri sehingga seolah-olah panca indra mereka tidak lagi berfungsi tatkala tersedot magnet cinta dan irfan Rabbani. Mereka tidak merasakan segala sesuatu yang berhubungan dengan badan. Ditariknya anak panah yang menancap di kaki Imam Ali As pada waktu salat dalam kondisi sujud juga demikian adanya.[5]

Karena itu, dengan memperhatikan nukilan dan riwayat yang beragam dalam masalah ini yang sebagian secara lahir terasa aroma ghuluw (kecendrungan mendudukan Imam Ali pada maqam rububiyah) namun hal itu tidak akan menciderai inti kejadian kisah ini. Dan nampaknya inti cerita adalah yang disebutkan pada buku Syarh Nahj al-Balâghah dan Hayât-e Ârifân-e Imam Ali As sebagaimana yang telah kami jelaskan pada penjelasan bagian pertama di atas.

Kisah ini, tidak hanya tidak akan mendegradasi kedudukan dan derajat Imam Ali As bahkan akan menyebabkan pemuliaan dan pengagungan terhadap Imam Ali As; karena sebagaimana para wanita Mesir yang terpesona dan fana ketika menyaksikan paras rupawan Nabi Yusuf As sehingga tanpa sadar mereka memotong jari-jari mereka sendiri, kisah Imam Ali As juga demikian adanya. Karena Imam Ali As hanya melihat keindahan mutlak, sedemikian apa adanya sehingga seluruh anggota badannya tidak dirasakan dan sepenuhnya berada dalam wewenang Ilahi. Dalam kondisi seperti ini, Imam Ali tidak lagi melihat dirinya dan menaruh perhatian terhadap kemilau dunia. Dengan demikian, wajar ketika anak panah itu dicabut dari kaki Imam Ali dalam kondisi sujud, Imam Ali As tidak merasakan apa pun.

 


[1]. Dailami, Irsyâd al-Qulûb, jil. 2, hal. 25 & 26, Intisyarat-e Nashir, Qum, Cetakan Pertama, 1376 S. Sayid Ni’matullah Jazairi, al-Anwâr al-Nu’maniyah, jil. 2, hal. 371, Syerkat Cap Tabriz; Muhammad Saleh Kasyfi Hanafi, al-Manâqib al-Murtadhawiyah, hal. 364. Sayid Hasyim Bahrani, Hilyat al-Abrâr, jil. 2, hal. 180; Syaikh Abbas Qummi, Muntahâ al-Âmal, hal. 181, Capkhane Ahmadi, Cetakan Kesembilan, 1377; Faidh Kasyani, al-Mahajjat al-Baidhâ, jil. 1, hal. 397 & 398, Beirut; Anwâr al-Nu’mâniyah, hal. 342. Demikian juga buku-buku fikih seperti al-Urwat al-Wutsqâ, Muhammad Kazhim Yazdi, Ibadat, Bab al-Shalat.

[2]. Abdul Hamid ibnu Abi al-Hadid, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 1, hal. 27, Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah.

[3]. Habibullah Khui, Syarh Nahj al-Balâghah, jil. 8, hal. 152; Abdullah Jawadi Amuli, Hayât-e ‘Ârifân-e Imâm Ali As, hal. 63 & 64. Markaz Intisyarat-e Isra, Cetakan Keempat, 1385; referensi-referensi yang disebutkan pada catatan kaki No. 1.

[4]. Abdullah Jawadi Amuli, Hayât-e ‘Ârifân-e Imâm Ali As, hal. 62 & 64, dengan sedikit perubahan dan ringkasan.

[5]. Disadur dari Hayât-e ‘Ârifân-e Imâm Ali As, hal. 62 & 64; Murtadha Muthahhari, Imâmat wa Rahbari, Qum, Sadra, Cetakan Keempat, 1365 S, hal. 180-181.

23 April 2013

shalawat akan melambungkan derajat dan kedudukan Rasulullah Saw?

oleh alifbraja

Shalawat kita kepada Rasulullah Saw memiliki sisi beragam yang akan kita singgung sebagian darinya berikut ini:

  1. Shalawat merupakan perintah Allah Swt dalam al-Quran yang menyatakan, “InnaLlaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala al-nabi. Yaayyuhalladzina amanu shallu ‘alaihi wa shallu ‘alaihi wa sallimu taslima.” Artinya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk nabi dan ucapkanlah salam serta tunduklah (kepada perintahnya).” (Qs. Al-Ahzab [33]:56) Oleh itu, hamba Allah Swt memiliki tugas untuk menaati perintah Allah Swt dan mengirimkan salam kepadanya.

  2. Shalawat dan salam pada hakikatnya adalah bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kita atas segala jerih payah dan usaha Rasulullah Saw dan Ahlulbaitnya yang selama bertahun-tahun lamanya hidup di tengah masyarakat dengan baik dan benar. Mereka rela menanggung seluruh kesusahan dan penderitaan demi memberi petunjuk kepada manusia dan menjadi teladan serta panutan manusia. Atas dasar itu, mereka tentu saja sangat layak menerima apresiasi dan ucapan terima kasih sedemikian sehingga bentuk rasa syukur yang paling minimal adalah menyampaikan shalawat kepada mereka. Bahkan apabila mereka tidak membutuhkan shalawat ini, kita sebagai orang yang menikmati hasil jerih payah mereka memiliki tugas untuk menyampaikan rasa syukur kita kepada mereka.

  3. Apa manfaat shalawat bagi keluarga Rasulullah Saw? Mereka tidak membutuhkan salam dan shalawat kita.

Allamah Thabathabai memberikan jawaban sublim kepada seseorang yang mengajukan pertanyaan seperti ini bahwa shalawat yang kita kirimkan pertama kita tidak memberikan sesuatu dari diri kita melainkan persembahkan kita kepada Allah Swt dan kita memohon kepada-Nya untuk melimpahkan rahmat khusus kepada Rasulullah Saw dan keluarganya. Kedua, meski keluarga ini tidak butuh kepada kita namun mereka membutuhkan Allah Swt dan emanasi Ilahi harus senantiasa tercurah ke atas mereka.  Kita dengan shalawat ini sejatinya ingin mendekatkan diri kita kepada keluarga ini. Setelah itu, Allamah Thabathabai mengimbuhkan, “Apabila seorang penjaga kebun bekerja pada sebuah taman (kebun) yang seluruh bunga dan buahnya dimiliki oleh pemilik kebun dan menerima gaji dari pemilik kebun, pada hari raya, tukang kebun itu menyiapkan setangkai bunga dari kebun dan mempersembahkannya kepada pemilik kebun apakah perbuatannya itu tidak akan mendekatkan penjaga kebun itu kepada pemilik kebun? Tentu saja iya. Perbuatan ini menunjukkan adab dan etika penjaga kebun. Shalawat juga mengukuhkan adab dan etika kita karena kalau tidak demikian kita tidak memiliki sesuatu dari diri kita. Kita memohon kepada Allah Swt untuk meninggikan derajat dan kedudukan mereka. Dan penghormatan ini bagi kita menyebabkan kedekatan kita kepada mereka dan kepada Allah Swt.[1]


[1]. Diadaptasi dari Faidah Shalawat atas Keluarga Rasulullah Saw; Manfaat Shalawat.

%d blogger menyukai ini: