Dikisahkan oleh Ibnu Mas’ud, seorang sahabat yang memiliki keakraban khusus dengan manusia pilihan itu.
Lelaki bernama Abdullah bin Mas’ud itu juga dikenal sebagai satu dari empat sahabat Nabi Saw. yang memiliki kecakapan dalam membaca Al-Quran. Tiga lainnya adalah Salim Maula Abi Huzaifah, Ubay bin Ka’ab, dan Muaz bin Jabal.
Suatu ketika dikisahkan, Rasulullah Saw. pernah meminta Ibnu Mas’ud membacakan ayat-ayat Al-Quran. Permintaan ini tentu saja membuat Ibnu Mas’ud heran, lalu bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah (layak) saya membacakan Al-Quran untukmu sementara ia diturunkan kepadamu?”
“Aku senang mendengarnya dari orang selain diriku,” sahut Baginda Nabi Saw.
Mendengar itu, Ibnu Mas’ud pun membacakan Surat An-Nisa. Namun, Rasulullah Saw. tiba-tiba meminta Ibnu Mas’ud berhenti ketika sampai pada ayat:
فَكَيْفَ إِذَا جِئْنَا مِنْ كُلِّ أُمَّةٍ بِشَهِيدٍ وَجِئْنَا بِكَ عَلَى هَؤُلَاءِ شَهِيدًا
“Maka bagaimanakah (halnya orang-orang yang durhaka nanti), apabila Kami mendatangkan seseorang saksi (rasul) dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka itu (sebagai umatmu),” (QS. An-Nisa’: 41).
Rasulullah Saw. berkata, “Cukup.”
Seketika Ibnu Mas’ud menghentikan bacaannya, lalu ia menoleh ke wajah Rasulullah Saw. Dan betapa terkejutnya Ibnu Mas’ud saat melihat wajah Rasulullah Saw. basah dengan cucuran air mata.
,…,…,……………,………..,………………..,………..
Kisah saat Rasulullah menangis di malam hari yang membuat Siti Aisyah menjadi bingung.
======
Siti Aisyah pernah bercerita bahwa di tengah malam, Rasulullah SAW pernah bangun. Dia menemuinya dan mengatakan: “Hai Aisyah, izinkanlah saya beribadah kepada Tuhanku.”
Aisyah berkata, “Ya Rasulullah, aku senang engkau dekat denganku. Tetapi aku juga lebih senang jika engkau beribadah kepada Tuhanmu.”
Lalu Rasulullah SAW mengambil gharibah (wadah air), satu-satunya perkakas rumah tangga di rumahnya untuk berwudhu dan menunaikan ibadah salat.
Siti Aisyah bercerita, segera saja setelah Rasulullah SAW mengangkat tangannya takbiratul ihram, ketika dia memasuki surat yang dibacanya, Rasulullah menangis terisak-isak.
Usai sholat, ketika Bilal memberitahukan bahwa sesaat lagi akan masuk waktu subuh, Rasulullah SAW masih terisak-isak menangis.
Bilal bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa engkau menangis padahal Allah SWT telah mengampuni dosa-dosamu baik yang terdahulu maupun yang kemudian?” Waku itu Rasululah SAW menjawab, “Bukankah aku belum menjadi hamba yang bersyukur?”
Kemudian Rasulullah SAW bersabda: “Pada malam ini turun satu ayat suci Alquran. Celakalah orang yang membaca ayat Alquran ini, tetapi tidak merenungkan maknanya.”
Kemudian Rasulullah membacakan ayat: “Sesungguhnya dalam penciptaan angit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.” (QS 3:190).
Nabi SAW mengajarkan kepada kita bagaimana cara melakukan salat malam.
Pertama, ketika salat malam, sholatlah dua rakaat, karena Rasululah SAW paling sering melakukan sholat malam dua rakaat-dua rakaat (matsna-matsna).
Sesudah empat kali dua rakaat (berarti delapan rakaat), anda lakukan sholat dua rakaat lagi yang disebut dengan salat syafa’.
Pada rakaat pertama, dan baca Surah Al-Fatihah dengan Al-Kafirun, dan pada rakaat yang kedua, Anda baca Surah Al-Fatihah dengan Al-Ikhlash.
Kemudian tunaikanlah salat witir satu rakaat.
Bacalah Surah Al-Fatihah, Al-Falaq dan Surah An-Nas. Kemudian bacalah istighfar sebanyak tujuh puluh kali (astaghfi rullaha rabbi wa atubu ilaih). Aku memohon ampun kepada Allah Tuhanku dan kembali kepada-Nya.
Usai istighfar, sebelum rukuk bacalah doa: “Hadza maqamul ‘aidzi bika minannar” (Ya Allah, inilah saya yang berlindung kepada-Mu dari api neraka) sebanyak tujuh kali.
Setelah itu mohonkanlah ampunan bagi kaum mukminin dan mukminat. Sebut nama mereka satu per satu. Paling sedikit empat puluh orang. Ucapkanlah rabbighfirli .. wa, .. dan seterusnya. Kemudian kita berdoa apa saja.
Lalu kita rukuk, iktidal, sujud, tasyahud dan seterusnya.
Rasulullah SAW hanya memperpanjang sholatnya pada saat beliau menunaikan ibadah salat malam.
Pada sholat fardhu, beliau tidak melazimkan sholat yang panjang.
Dalam sebuah hadist qudsy disebutkan ada empat tanda orang-orang yang diterima salatnya.
Pertama, dia datang untuk melaksanakan salat dengan merendahkan diri kepada-Nya. Kedua, tidak sombong dengan makhluk-Ku yang lain. Ketiga, tidak mengulangi lagi maksiatya kepadaAllah SWT. Keempat, menyayangi orang-orang miskin.
Artinya, kalau seeorang menemukan empat tanda-tanda di atas, insya Allah dia akan menemukan ke nikmatan salat dalam bentuk yang lan.
Dia merasakan manfaat di dalam kehidupannya. Ada kenikmatan tertentu yang dia peroleh dari ibadah salatnya. Bukan hanya kenikmatan menangis, tetapi juga kenikmatan yang lain.
(Sumber : Renungan-renungan Sufistik oleh Jalaluddin Rakhmat)


Tinggalkan Balasan