Archive for ‘THORIQOH’

9 November 2012

Dzikir dalam 7 Latifah Tarekat Naksabandiyah

oleh alifbraja

Suatu zikir hanyalah untuk menyelamatkan hati dari nafsu keduniawian dan nafsu keinginan, nafsu itu menarik kejelekan, maka tidak ada yang selamat dari nafsu, kecuali bergantung pasrah kepada Allah SWT.
Aktifitas wirid/zikir yang terus menerus akan menjadi warid yaitu timbul cahaya ke-ilahy-an yang masuk kedalam hati yang akan membedakan hak dan batil.
Oleh karena itu jelaslah bahwa ilmu tarekat sangatlah penting karena pengaruh zikrullah terhadap pribadi mukmin makin kuat, sehingga membawa pengaruh positif dalam hidup dan kehidupan pribadi yang luhur.

Pelaksanaan zikir Naksabandiyah sebagai berikut  :

1. LATIFAH QOLBU

Latifah yang berarti duduknya di Latifatul qolby, adanya dibawah susu sebelah kiri jarang dua jari condongnya kedalam.Dalam pengisian zikir……..arahnya kedalam dan harus diisi dengan zikir sebanyak-banyaknya, maka tetaplah di Latifatul qolby.
Wilayahnya nabi Adam, tempatnya nafsu Lawwamah, bersifat > suka mencela, menuruti hawa nafsu, bohong, menganiaya, bangga diri, menggunjing, pamer, bangga diri,
Warnanya : kuning
2. LATIFAH RUH
Latifah yang berarti duduknya di Latifatul Ruh, adanya dibawah susu sebelah kanan jarang dua jari condongnya keluar kedalam. Dalam pengisian zikir…..arahnya keluar kedalam dan harus diisi dengan zikir sebanyak-banyaknya di Latifatul Ruh. Dari Latifatul qolby ke Latifatul Ruh ada perjalanan zikir sebanyak 1000 kali dan setelah mengerjakan zikir perjalanan tetaplah di Latifatul Ruh.
Wilayahnya nabi Ibrahim dan nabi Nuh. Tempatnya nafsu Mulhimah, bersifat > lapang dada, dermawan, merendah, sabar, taubat, qonaah, tahan menghadapi kesusahan.
Warnanya : merah
3. LATIFAH SIR/SIRRI
Latifah yang berarti duduknya di Latifatul Sir, adanya di atas susu sebelah kiri jarang dua jari condongnya keluar. Dalam pengisian zikir ….arahnya keluar dan harus diisi dengan zikir sebanyak-banyaknya di Latifatul Sir. Dari Latifatul Ruh ke Latifatul Sir ada perjalanan zikir 1000 kali. Bilamana dalam pengisian Latifah Qolby 5000 kali, maka Ruh harus juga diisi 5000 kali. Setelah mengerjakan perjalanan zikir dari Ruh ke Sir maka tetaplah berada di Latifatul Sir.
 Wilayahnya nabi Musa, tempatnya nafsu Mutmainah, bersifat > senang ibadah, bersyukur, ridho, tawakal, sayang dengan sesama makhluk, takut melanggar larangan Allah/Waro.
Warnanya : Putih
4. LATIFAH KHOFI
Latifah yang berarti duduknya di Latifatul Khofi, adanya di atas susu sebelah kanan jarang dua jari condongnya kedalam. Dalam pengisian zikir ….arahnya kedalam dan harus diisi dengan zikir sebanyak-banyaknya di Latifatul Khofi. Dari Latifatul Sir ke Latifatul Khofi  ada perjalanan zikir sebanyak 1000 kali. Bilamana dalam pengisian Latifah qolby 5000 kali dan Sir juga harus 5000 kali. Setelah mengerjakan perjalanan zikir dari Sir ke Khofi maka tetaplah di Latifatul Khofi. 
Wilayahnya nabi Isa, tempatnya nafsu Mardiyah, bersifat > baik budi, welas asih, menjalankan kebaikan, tahu diri, sayang sesama makhluk.
Warnanya : Hitam
5. LATIFAH AHFA/AKFA
Latifah yang berarti duduknya di Latifatul Akfa, adanya di tengah-tengah dada condongnya keatas kedepan. Dalam pengisian zikir …..arahnya keatas kedepan dan harus diisi dengan zikir sebanyak-banyaknya di Latifatul Akfa. Dari Latifatul Khofi ke Latifatul Akfa ada perjalanan zikir sebanyak 1000 kali. Bilamana dalam pengisian Latifatul Qolby, Ruh, Sir dan Khofi harus sama diisi 5000 kali. Setelah mengerjakan perjalanan zikir dari Khofi ke akfa maka tetaplah di Latifatul Akfa. 
Wilayahnya nabi Muhammad SAW, tempatnya nafsu Kamilah, bersifat > ilmu yakin, ainul yakin, haqqul yakin.
Warnanya : Hijau
6.LATIFAH NAPSI
Latifah yang berarti duduknya di Latifatul Napsi, adanya di tengah diantara dua alis condongnya kebawah kebelakang. Dalam pengisian zikir…. arahnya kebawah kebelakang dan harus diisi dengan zikir sebanyak-banyaknya di Latifatul Napsi. Dari Latifatul Akfa ke Latifatul Napsi ada perjalanan zikir sebanyak 1000 kali. Bilamana dalam pengisian Latifatul qolby, Ruh, Sir, Khofi sama, maka di Latifatul Akfa juga harus sama ( misalnya 5000 kali ). Setelah mengerjakan perjalanan zikir dari Latifatul Akfa ke Latifatul Napsi maka tetaplah duduk di Latifatul Napsi.
Tempatnya nafsu Amarah, bersifat > serakah, takabur, khianat, pelit, syahwat.
Warnanya : merah, kuning, hijau, biru. ( dominan merah )
7. LATIFAH QOLAB/QOLAM
Latifah yang berarti duduknya di Latifatul qolam adanya di tengah embun-embunan condong kedalam (seluruh badan). Dalam pengisian zikir …..arahnya kedalam ditengah-tengah dada. Dari Latifatul Napsi ke Latifatul Qolam, ada perjalanan zikir sebanyak 1000 kali. Bilamana dalam pengisian Latifatul Qolby, Ruh, Sir, Khofi, Akfa sama, maka di Latifatul Napsi juga harus sama 5000 kali. Setelah mengerjakan perjalanan zikir dari Latifatul Napsi ke Latifatul Qolam maka Latifatul Qolam harus diisi sebanyak 5000 kali. Kemudian dinaikan ke Hadiyat>Kulhu Allah hu ahad…. Ma’iyat>Wahuwa ma’akum aena ma kuntum…..Akrobiyah>Wahuwa Akrobu minha, minha fi warid.
Setelah mengisi zikir di Latifatul Qolam maka kembali ke Latifatul Qolby dengan perjalanan zikir sebanyak 1000 kali, maka tetaplah zikir untuk seterusnya di Latifatul Qolby yang berarti langsung tenggelam/fana, isilah zikir sebanyak-banyaknya sebagai tanggung jawab diri sendiri.
Tempatnya nafsu Kamilah, bersifat> Tajjali, laduni, irsad, ikmal, baqobillah.
Warnanya : merah, kuning, hijau, biru ( pelangi )
Zikir latifatul jasad / Qolam caranya sebagai berikut, masukan zikir Hu Allah lewat napas, tarik ke lubang hidung sebelah kiri dimasukan ke pangkal jantung diisi zikir Allah 5000 kali. Dari jantung disebarkan lewat urat ashabat ke semua denyut nadi, artinya jantung dan nadi menjadi satu disebarkan ke seluruh tubuh/Latifatul jasad dan mengisi rongga-rongga tubuh dengan zikir sehingga seluruh tubuh berzikir

Untuk menyebarkan zikir keluar masuknya napas di jantung, harus belajar cara memberhentikan dan melancarkan jantung, adalah sebagai berikut :

1.Untuk memberhentikan jantung adalah buang napasnya yang panjang……. tarik napasnya sedikit.
2.Untuk melancarkan jantung adalah buang napasnya sedikit……tarik napasnya yang panjang. 
 

Sebagai catatan >Jantung ada dua bagian :
1.Pangkal Jantung ada 101 urat ashabat adalah rupa kerajaan ilahy.  2.Ujung Jantung, kerajaan iblis/darah kotor yang harus dibersihkan/dihancurkan.

wassalam, Semoga Allah SWT selalu menyertai kita. Amin.  

Iklan
7 Oktober 2012

Kitab tentang Thoriqoh Shiddiqiyyah

oleh alifbraja

 

(1.)  Dalam kitab   “Tanwirul Qulub Fi Mu’amalati ‘allamil Ghuyub” karangan Syaih   Muhammad Amin Kurdi Al Arbili, pada bab “Faslun Fi Adaabil Murid Ma’a   Ikhwanihi” halaman 539 disebutkan demikian:
“Ketahuilah   bahwa sesungguhnya julukannya silsilah itu berbeda-beda, disebabkan   perbedaannya kurun waktu, silsilah dari sahabat Abu Bakar Shiddiq R.A sampai   kepada syaih Thoifur bin Isa Abi Yazied Al Busthomi dinamakan   SHIDDIQIYYAH.”  
Silsilah Thoriqoh   Shiddiqiyyah melalui Sahabat Salman Al Farisi sampai pada Syekh Muhammad Amin   Al Kurdi Al Irbil, dari Kitab Tanwirul Qulub.
Alloh Ta’ala.
Jibril ‘alaihi Salam.
Muhammad Rosululloh SAW.
Abu Bakar Ash-Shiddiq R.A.
Salman Al Farisi R.A.
Qosim Bin Muhammad bin Abu        Bakar Ash-Shiddiq R.A.
Imam Ja’far Shodiq Siwa        Sayyidina Qosim bin Muhammad bin Abi Bakar Ash-Shiddiq R.A. (Silsilah        ini dinamakan Thoriqoh Shiddiqiyyah)
Syaikh Abi Yasid Thifur bin        Isa bin Adam bin Sarusyan Al Busthomi.
Syaikh Abil Hasan Ali bin        Abi Ja’far Al Khorqoni.
Syaikh Abi Ali Al Fadlol        bin Muhammad Ath Thusi Al Farmadi.
Syaikh Abi Ya’qub Yusuf Al        Hamdani. ( Thoriqoh At Thoifuriyyah).
Syaikh Abdul Kholiq        Al-Ghojduwani Ibnul Imam Abdul Jalil.
Syaikh ‘Arif Arriwikari.
Syaikh Mahmud Al-Anjari        Faghnawi.
Syaikh Ali Ar Rumaitani Al        Mansyur Bil’Azizaani.
Syaikh Muhammad Baabas        Samaasi.
Syaikh Amir Kullaali Ibnu        Sayyid Hamzah, ( Thoriqoh Al Khuwaajikaaniyyah).
Syaikh Muhammad Baha’uddin        An-Naqsyabandi bin Muhammad bin Muhammad Syarif Al-Husain Al-Ausi        Al-Bukhori.
Syaikh Muhammad bin        ‘Alaaiddin Al Athori.
Syaikh Ya’qub Al Jarkhi, (        Dinamakan Thoriqoh An-Naqsyabandiyyah).
Syaikh Nashiruddin        Ubaidillah Al-Ahror As-Samarqondi bin Mahmud bin Syihabuddin.
Syaikh Muhammad Azzaahid.
Syaikh Darwis Muhammad        As-Samarqondi.
Syaikh Muhammad        Al-Khowaajaki Al-Amkani As Samarqondi.
Asy-Syaikh Muhammad Albaaqi        Billah, (Disebut Thoriqoh Ahroriyyah).
Asy-Syaikh Ahmad Al Faruqi        As-Sirhindi.
Asy-Syaikh Muhammad        Ma’shum.
Asy-Syaikh Muhammad        Syaifuddien.
Asy-Syaikh Muhammad Nurul        Badwani.
Asy-Syaikh Habibulloh        Jaanijanaani Munthohir.
Asy-Syaikh Abdillah        Addahlawi, ( Thoriqoh Mujaddadiyyah).
Asy-Syaikh Kholid        Dliyaa’uddien.
Asy-Syaikh Utsman Sirojul        Millah.
Asy-Syaikh Umar Al-Qothbul        Irsyad.
Asy-Syaikh Muhammad Amin        Al-Kurdi Al-Irbil, ( Thoriqoh Kholidiyyah).
 
(2.)  Thoriqoh Shiddiqiyyah dalam Ensiklopedi Islam, penerbit PT. Ichtiar Van Hoeven (Jilid 5, hal. 67)

(3). THORIQOH SHIDDIQIYYAH Dalam buku “Hakekat Thoriqot Naqsabandiyah” (Penerbit PT. Al Hasan Dzikro, karangan H.A. Fu’ad Sa’id)
Di halaman  44 disebutkan sebagai berikut:
Periode antara ABUBAKAR SHIDDIQ sampai Syaikh THOIFUR BIN ABI YAZID BASTHOMI dinamakan “SHIDDIQIYYAH”
Periode antara Syaikh THOIFUR sampai KHOWAJAH Syaikh ABDUL KHOLIQ AL-FAJDUWANI dinamakan “THOIFURIYYAH”
Periode antara Syaikh ABDUL KHOLIQ AL-FAJDUWANI sampai Syaikh MUHAMMAD BAHA’UDDIN AL-HUSAIN AL UWASI AL BUKHORI dinamakan “KHUWAJIKANIYYAH”
Periode antara Syaikh  BAHA’UDDIN sampai Syaikh UBAIDILLAH AL AKHROR dinamakan “NAQSABANDIYYAH”
Periode antara Syaikh UBAIDILLAH AL AKHROR sampai Al Imam Robbani Syaikh AHMAD AL FARUQI dinamakan “AKHRORIYYAH”
Periode antara Syaikh AHMAD AL FARUQI sampai Maulana Syaikh KHOLID  dinamakan “MUJADDADIYYAH”
Periode antara Syaikh KHOLID sampai dewasa ini dinamakan “KHOLIDIYYAH”

 

 

7 Oktober 2012

kesanggupan menjadi pengikut thoriqoh

oleh alifbraja

1. Sanggup Taat Kepada Alloh Ta’ala, Bakti Kepada Allah Ta’ala.
“Yaa ayyuhalladzina ‘aamanu athiulloha wa athi’ur rosuula” ( QS.An Nisa’:59 ).
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, Taatlah kamu kepada ALLOH dan kepada ROSUL-ROSUL.

Taat Kepada Alloh : Melaksanakan apa-apa yang diperintah oleh ALLOH TA’ALA dan menjauhi yang dilarang oleh ALLOH TA’ALA.
Taat Kepada Rosululloh : Melaksanakan apa-apa yang diperintah oleh ROSULULLOH dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh ROSULULLOH.
Kesemua hal tersebut menurut kemampuan kita masing-masing.

2. Sanggup Taat Kepada Rosululloh, Bakti Kepada Rosululloh.
“Yaa ayyuhalladzina ‘aamanu athiulloha wa athi’ur rosuula” ( QS.An Nisa’:59 ).
Artinya : Wahai orang-orang yang beriman, Taatlah kamu kepada ALLOH dan kepada ROSUL-ROSUL.

Taat Kepada Alloh : Melaksanakan apa-apa yang diperintah oleh ALLOH TA’ALA dan menjauhi yang dilarang oleh ALLOH TA’ALA.
Taat Kepada Rosululloh : Melaksanakan apa-apa yang diperintah oleh ROSULULLOH dan menjauhi apa-apa yang dilarang oleh ROSULULLOH.
Kesemua hal tersebut menurut kemampuan kita masing-masing.

3. Sanggup Taat Bakti Kepada Orang Tua ( Ibu – Bapak ).
Alloh berfirman : “Anisykurli Waliwaalidaika Ilayal Masyir ” (QS: Luqman :14).
Artinya :
Hendaklah beryukur kepada KU dan kepada dua orang IBU-BAPAKMU, hanya kepada KU lah kembalimu.
a. Kita wajib bersyukur kepada ALLOH TA’ALA karena ALLOH TA’ALA yang menciptakan wujud kita, yang menciptakan orang-orang tua kita, yang menciptakan alam yang menjadi kebutuhan-kebutuhan hidup kita, yang menciptakan petunjuk-petunjuk untuk jalan keselamatan hidup kita di dunia sampai akhirat. Oleh sebab itu wajib kita bersyukur.

b. Dan wajib syukur kepada orang tua kita terutama kepada Ibu kita, terutama kepada Ibu kita, terutama kepada Ibu kita. Karena orang tua kita itulah yang dijadikan jalan oleh ALLOH TA’ALA, kita wujud di dunia ini.

INGATLAH KESUSAHAN IBU KITA :

• Susah payah waktu mengandung kita selama 9 bulan 10 hari.
• Susah payah waktu melahirkan kita.
• Susah payah menjaga diri kita setelah kita lahir sampai dewasa.

Oleh sebab itu, Wajib syukur kepada orangtua kita meskipun orang tua kita bersifat kufur, dholim, musyrik, apalagi mukmin.
Kita wajib membenci sifat kufur, dholim, syirik akan tetapi janganlah membenci kepada orang yang memiliki sifat-sifat tersebut.
SYUKUR kepada orang tua kita, merupakan bakti kita kepada orang tua :

• Hendaklah menjaga sopan santun perkataan,tingkah laku kepada orang tua.
• Janganlah berkata keras, janganlah berkata tidak sopan.
• Cintailah orang tua.
• Bantulah orang tua dengan pikiran,jiwa,tenaga,harta benda.
• Ikutilah perintahnya,asal tidak bertentangan dengan perintah ALLAH.
• Bila kita diperintah syirik,janganlah diikuti. Akan tetapi wajiblah bersikap baik kepada orang tua.
• Ingatlah !
Syukur kepada orang tua itu perintah ALLAH. Apabila kita tidak bersyukur kepada orang tua, artinya kita menentang perintah ALLAH.
• Apabila orang tua kita telah meninggal, doakan ruhnya. Mudah-mudahan mendapatkan rahmat ALLAH.
Peliharalah makamnya baik-baik.

4. Sanggup Bakti Kepada Sesama Manusia.
Alloh Berfirman :
“WA AHSIN KAMAA AHSANALLOHU ILAIKA WALA TABGHIL FASADA FIL ARDLI INNALLOHA LAA YUHIBBUL MUHSIDIEN” (Al Qoshosh :17)
Berbuat baiklah kamu sebagaimana ALLAH telah berbuat baik kepadamu dan janganlah membuat kerusakan di bumi. Sesungguhnya ALLAH TA’ALA tidak suka kepada orang yang berbuat kerusakan.

QOLA ROSULULLOHI SHOLLALLOHU ALAIHI WASALLAM : ” MAN LAM YASYKURINNAASA LAM YASYKURILLAH.” (An Abi Sa’iid rowahu Ahmad, wa Turmudzi –Jamius Shoghir / mim/ 314). Artinya :
Bersabda Rosululloh SAW : Barang siapa yang tidak syukur kepada manusia, berarti tidak syukur kepada ALLAH. Bakti kepada manusia itulah syukur kepada manusia.

Ingatlah kita setiap hari menerima kebaikan dari masyarakat. Oleh Karena Itu:
Berbuat baiklah kepada masyarakat dengan perkataan, pikiran, hati dan harta benda.
Ingatlah kita hidup bersama-sama masyarakat.
Sadarlah bahwa kebutuhan hidup kita dalam setiap harinya dipenuhi oleh masyarakat.

5. Sanggup Bakti Kepada Negara Republik Indonesia (Untuk warga negara Indonesia).

Pada tanggal 18 Agustus 1945, telah berdiri Negara Republik Indonesia yang berdasarkan :
Pancasila
• Undang-Undang Dasar 1945

Tujuan Negara Republik Indonesia didirikan oleh bangsa Indonesia:
• Untuk melindungi segenap bangsa Indonesia.
• Untuk melindungi seluruh tumpah darah Indonesia.
• Untuk memajukan kesejahteraan umum.
• Untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
• Untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan: Kemerdekaan, Perdamaian abadi dan Keadilan sosial.

Bagaimanakah jadinya kalau kita tidak memiliki negara, pastilah tidak ada yang melindungi bangsa, tak ada yang melindungi tanah air, tak ada yang memajukan kesejahteraan umum, tak ada yang mencerdaskan kehidupan bangsa dan tidak mungkin dapat ikut menertibkan dunia. Oleh sebab itu : Wajib Bakti kepada Negara kita.

Haruslah melaksanakan apa-apa yang telah ditentukan oleh negara. BAKTI KEPADA NEGARA , itulah syukur kita sebagai warga negara.
Alloh berfirman:
“WASYKURULLOH BALDATUN THOYYIBATUN WAROBBUN GHOFUUR” (QS.As Saba’:15)
Artinya : Hendaklah kamu beryukur kepada Nya (ALLOH), Negara baik dan Alloh Dzat yang Maha Pengampun.
SYUKUR kepada ALLOH TA’ALA yang dihubungkan dengan Negara adalah SYUKUR sebagai warga negara setelah SYUKUR sebagai manusia.

6. Sanggup Cinta Tanah Air Indonesia (Untuk warga negara Indonesia).

• TANAH AIR adalah tempat yang menerima kedatangan kita.
• Diri kita tersusun dari unsur Tanah dan Air.
• Tanahnya kita tempati dan Air-nya kita minum. Udaranya kita hirup, hasil buah-buahannya kita makan.

OLEH SEBAB itu : Kita haruslah cinta kepada Tanah Air.
Cinta Kepada Tanah Air adalah sebagian daripada iman.
Iman adalah pokok pangkal Agama.
Qola Rusululloh SAW : “HUBBUL WATHON MINAL IMAN”
Artinya: Sabda Rosululloh SAW : Cinta Tanah Air itu bagian dari Iman.

CINTA TANAH AIR, realisasinya adalah :
• Kita bangun sebaik-baiknya.
• Untuk Kebaikan bersama.
• Kita membelanya.

7. Sanggup Mengamalkan Thoriqoh Shiddqiiyyah.

QOLA ROSULULLOH SHOLLALLOHU ALAIHI WASALLAM : ” MAN’AMILA BIMAA’ALIMA WAROTSAHULLOHU ILMA MAALAM YA’LAM” (Rowahu abu Na’im fil Hilliyatil Auliya’i.).
Artinya : Barang siapa mengamalkan suatu yang telah diketahui, ALLOH mewariskan sesuatu yang belum diketahui.

1. THORIQOH merupakan ILMU.
2. Apabila diamalkan akan berkembang baik.
3. Tanpa diamalkan tidak akan berbuah kebaikan.
4. Oleh sebab itu amalkanlah sebaik-baiknya.

8. Sanggup Menghargai Waktu
• Waktu kita itulah umur kita.
• Umur kita itulah pokok modal kita.
• Tiap-tiap nafas yang keluar dari kita adalah merupkan berlian-berlian ma’nawi.
• Janganlah berlian-berlian tersebut, kita buang percuma puluhan ribu tiap hari.
• Pergunakanlah modal berlian umur itu untuk perniagaan :
(1). AAMANU
(2). ‘AMILUSH SHOLIHAATI.
(3). TAWAASHOW BILHAQQI
(4). TAWAASHOW BISH SHOBRI.

3 Oktober 2012

JAMAAH DZIKIR DAN HUKUM JAHR

oleh alifbraja

Sebagai contoh misalnya, bacaan kalimat La ilaha illallah, bacaan Allah, kalimat yang mengandung Asma al-Husna, atau wirid yang mengandung ayat Al-Qur’an. Semua itu harus diperhatikan, karena mengandung asnar atau rahasia karena di dalamnya mengandung magnet yang tinggi, tergantung besar-kecilnya, sesuai pemberian Allah (Swt).
Hal itu tidak diketahui oleh semua ulama. Yang mengerti hanya sebagaian besar kalangan para wali.

Adapun terkait Hadist yang Anda tanyakan, yang dimaksud sampai gila adalah cinta yang luar biasa. Sebab, bila zikir dibaca dengan baik, ia mampu menumbuhkan cinta yang amat sangat kuat kepada Allah, juga tumbuh rasa khawf (takut) bila imannya meluntur atau tipis, yang berakibat dirinya jauh dari Allah dan Rasul-Nya yang timbul sebagai rasa istiqomah . Maka gandengan kalimat khawf adalah raja’ (pengharapan) yang penuh. Tiada yang bisa diharapkan terkecuali Allah, baik untuk bersandar, berteduh, berlindung maupun memohon. Yang ditakutkan adalah mati dalam keadaan su’ul khatimah (akhir kehidupan yang jelek), dan yang diharapkan yaitu mati dalam keadaan husnul khatimah (akhir kehidupan yang baik). Selain dari khawf, raja, ada juga haya’, yang artinya malu kepada Allah. Dia malu bila berbuat maksiat, malu bila akhlaknya dan budi pekertinya tidak terpuji kepada Allah, Rasul-Nya, para sahabat, para wali, dan para ulama. Itulah yang terkandung dalam Hadist tersebut. Jadi bukan gila dalam pengertian penyakit dan bukan pula gila dalam pengertian meninggalkan syariat atau sunnah, akhlak dan adab Nabi (saw).

Di antara kebiasaan orang-orang sufi, mereka berdzikir dengan cara melampaui batas syariat Islam, yaitu berdzikir dengan bilangan yang memberatkan diri seperti berdzikir sebanyak 70 ribu kali, 100 ribu kali. Padahal, maksimal dari Nabi -Shollallahu ‘alaihi wasallam-sebanyak 100 kali dalam dzikir-dzikir tertentu, bukan pada semua jenis dzikir.

Mereka membebani diri seperti ini, karena mendengar hadits berikut:

أَكْثِرُوْا مِنْ ذِكْرِاللهِ حَتى يَقُوْلُوْا مَجْنُوْنٌ

“Perbanyaklah dzikir sehingga orang-orang berkata, engkau gila”. [HR. Ahmad (3/68), Al-Hakim (1/499), dan Ibnu Asakir (6/29/2)]

Hadits ini lemah karena diriwayatkan oleh Darraj Abu Samhi. Dia lemah riwayatnya yang berasal dari Abul Haitsam. Di-dho’if-kan oleh syaikh Al-Albaniy dalam Adh-Dho’ifah (no. 517) (2/9).

 

3 Oktober 2012

Penulis Risalah Tasawuf Tertua Dalam Bahasa Persia

oleh alifbraja
Syekh Hujwiry: Penulis Risalah Tasawuf Tertua Dalam Bahasa Persia
 
Nama lengkapnya adalah Abu al-Hasan ‘Ali ibn Utsman ibn Ali al-Ghaznawi Al-Jullabi al-Hujwiry. Di India beliau lebih dikenal sebagai “Data Ganj Bakhsh” (penyebar khazanah tanpa batas), julukan yang diberikan oleh Syekh Khwaja Mu’inuddin Chisti. Beliau sangat terkenal sebagai penulis risalah tasawuf tertua dalam bahasa Persia, yang diberi judul Kasyf al-Mahjub li Arbab al-Qulub. Beliau juga yang menjelaskan panjang lebar untuk doktrin fana di India untuk pertama kalinyanya. Beliau berpendapat bahwa makna sesungguhnya dari ajaran Islam bisa dijumpai dalam inti ajaran Tasawuf. Mengenai deskripsi Tasawuf, beliau mengutip pernyataan al-Junayd al-Baghdad:
Tasawuf didasarkan pada delapan sifat yang dicontohkan oleh delapan rasul: kedermawanan Ibrahim, yang mengorbankan putranya; kepasrahan Ismail, yang menyerahkan dirinya pada perintah Tuhan dan menyerahkan hidupnya; kesabaran Ayub, yang sabar menahan penderitaan penyakit borok dan kecemburuan dari Yang Maha Pemurah; perlambang Zakaria, yang menerima sabda Tuhan, “Kau tak akan bicara dengan manusia selama 3 hari kecuali dengan menggunakan lambang-lambangmu” (Q. S. 3: 36) dan “tatkala ia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut” (Q. S. 19:2); keterasingan Yahya, yang terasing di negerinya sendiri dan di tengah kaumnya sendiri; perjalanan ruhani Isa, yang meninggalkan benda duniawi sehingga ia hanya menggunakan sebuah cangkir dan sebuah sisir – bahkan cangkir itu dibuangnya ketika melihat seseorang minum dengan telapak tangannya, dan dibuang pula sisirnya ketika dia melihat seseorang menyisir dengan jemarinya; jubah wool Musa; dan kefakiran Muhammad, yang dianugerahi kunci segala harta yang ada di muka bumi, di mana Allah bersabda, “Jangan menyusahkan diri sendiri, tetapi nikmati kemewahan ini,” namun Rasulullah menjawab, “Ya Allah, hamba tidak menghendakinya; biarkan hamba sehari kenyang dan sehari lapar.”
Meski terkenal, namun tidak banyak yang diketahui tentang kehidupannya. Beliau dilahirkan di Ghazna, Afghanistan, sekitar tahun 1000 M. Diperkirakan beliau pernah mengembara dari Syria hingga Turkistan, dan dari Lembah Hindus sampai ke Laut Kaspia. Sepanjang perjalanannya ini dia bertemu dengan banyak sufi dan wali Allah. Tempat-tempat yang disinggahinya terutama adalah Azerbaijan, makam Syekh Abu Yazid al-Bisthami, Damaskus, Ramalah, Bayt al-Jinn di Syria, Thus, makam Abu Sa’id ibn Abd al-Khayr di Mihna dan Jabal al-Buttam. Menurut keterangan, beliau pernah menikah meski usia perkawinannya tidak lama. Beliau berguru terutama kepada Syekh Abu al-Fadhl Muhammad ibn al-Hasan al-Khuttali, Syekh Abu al-Qasim al-Gurgani (seorang mursyid tarekat Naqsyabandiyah) dan Khwaja Muzhaffar.
Gurunya meminta beliau bermukim di Lahore. Pada awalnya beliau tidak mau karena di sana telah ada Syekh Hasan Zanjani. Tetapi karenanya dipaksa beliau akhirnya pergi ke Lahore. Sesampainya di sana beliau menyaksikan pemakaman Syekh Hasan Zanjani. Akhirnya beliau menetap di dekat Bhati, Lahore. Beliau meninggal sekitar tahun 1063 atau 1064 (456 H) atau 1071 (465 H). Makamnya menjadi salah satu makam keramat yang tenar. Banyak wali-wali besar India yang menziarahi makamnya, termasuk Syekh Mu’inuddin Chisti, sesepuh Tarekat Chistiyah, yang melakukan khalwat dan disiplin riyadhah berat di makam Syekh al-Hujwiry. Bahkan selama beberapa abad kemudian sudah menjadi kelaziman bagi para Sufi yang masuk ke wilayah India dari barat laut untuk mengunjungi makam ini dengan maksud meminta “izin” dan berkah.
Meski banyak menulis risalah, namun tidak banyak yang tersisa, seperti Minhaj al-Din (tentang metode Tasawuf), Asrar al-Khirqa wa al-Ma’unat, Kitab al-bayan li ahl al-Iyan, Bahr al-Qulub, Al-Ri’ayat li-Huquq Allah dan Kitab-i fana u baqa. Untungnya kitab Kasyf al-Mahjub masih lestari dan menjadi rujukan penting bagi generasi Sufi selanjutnya, terutama di kawasan India dan sekitarnya. Menurut al-Hujwiry, tujuannya menulis kitab ini adalah untuk mengemukakan sebuah “sistem” tasawuf yang komprehensif, jadi bukan sekedar menghimpun sejumlah besar ujaran Syekh Sufi dan Wali Allah. Beliau menjelaskan banyak doktrin dan praktik Sufi. Bab yang amat mengagumkan dalam Kasyaf al-Mahjub adalah bab yang membahas “Doktrin-Doktrin Pelbagai Mazhab Sufi,” di mana beliau mencantumkan 12 mazhab tasawuf dan menguraikan doktrin-doktrin khususnya.

 

26 September 2012

Dzikir Dan Tujuan nya

oleh alifbraja

Zikir memiliki berbagai kelebihan sepertimana yang masyhur dinyatakan dalam kitab-kitab Hadits. Hadhrat Hafiz Ibnul Qayyim Rahmatullah ‘alaih yang merupakan seorang ‘Ulama Hadits telah menyatakan berbagai-bagai penjelasan mengenai kelebihan Zikir. Beliau menyatakan terdapat lebih dari seratus faedah yang dapat diperolehi menerusi amalan Zikir dan telah beliau nukilkan sebanyak tujuh puluh sembilan faedah di dalam sebuah risalah yang bertajukAl-Wabil. Hadhrat Maulana Muhammad Zakaria Al-Kandahlawi Rahmatullah ‘alaih telah meyalin faedah-faedah itu satu persatu secara ringkas dalam kitabnya Fadhail Zikir dan hamba pun menyalinnya sebagai berikut:

1.  Zikir adalah menjauhkan Syaitan dan menghancurkan kekuatannya.
2. Zikir adalah menyebabkan Allah Subhanahu Wa Ta’ala redha.
3. Zikir adalah menjauhkan dukacita daripada hati manusia.
4. Zikir adalah menggembirakan hati.
5. Zikir adalah menguatkan badan dan menyeronokkan sanubari.
6. Zikir adalah sinaran hati dan muka.
7. Zikir adalah menyebabkan datangnya rezeki dengan mencurah-curah yakni memurahkan rezeki.
8. Zikir adalah membawa orang yang berzikir itu kepada kehebatan dan kegagahan yakni dengan memandang wajahnya seseorang merasa gentar.
9. Zikir adalah melahirkan cinta sejati terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala kerana cinta itulah merupakan Ruh Islam, jiwa agama dan sumber kejayaan dan kebahagiaan. Barang siapa ingin mendapatkan cinta Ilahi itu maka hendaklah dia berzikir sebanyak-banyaknya. Sebagaimana mutala’ah dan muzakarah itu merupakan pintu kejayaan ilmu, demikianlah Zikrullah itu merupakan pintu Cinta Ilahi.
10. Zikir adalah mendatangkan hakikat Muraqabah dan Muraqabah itu membawa seseorang kepada martabat Ihsan. Denganadanya martabat Ihsan maka manusia dapat beribadat kepada Allah dalam keadaan yang seolah-olah dia melihatNya dan keadaan seperti inilah yang merupakan tujuan asasi daripada perjuangan Para Sufi.
11. Zikir adalah membawa seseorang kepada penyerahan diri dengan sebulat- bulatnya kepada Allah.Dengan ini lama kelamaan maka setiap urusan dan dalam setiap keadaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjadi pelindung dan pembantu baginya.
12. Zikir adalah membawa seseorang kepada Taqarrub yakni mendekatkan diri kepada Allah. Jika zikir itu bertambah banyak maka dengan sendirinya dia bertambah dekat kepada Allah dan sebaliknya jika dia bertambah lalai daripada berzikir maka dengan sendirinya dia bertambah jauh daripada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
13. Zikir adalah membukakan pintu Ma’rifat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
14. Zikir adalah melahirkan di dalam hati seseorang akan keagungan dan kehebatan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan melahirkan semangat buat merapatkan diri denganNya.
15. Zikir adalah menyebabkan Allah Subhanahu wa Ta’ala ingat kepada seseorang yang ingat kepadaNya sepertimana disebutkan di dalam Al-Quran:“F a zk u ru n I Azkurkum.” Ertinya: Kerana itu ingatlah kamu kepadaKu nescaya Aku ingat pula kepadamu. Dan diterangkan pula di dalam Hadits: “Man Zakarani Fi Nafsihi, Zakrtuhu Fi Nafsi.” Ertinya: Barangsiapa mengingati Aku di dalam hatinya, nescaya Aku mengingatinya pula di dalam hatiKu.”
16. Zikir adalah menghidupkan hati. Hafiz Ibnu Taimiyah Rahmatullah ‘alaih berkata bahawa perbandingan Zikrullah dengan hati seseorang adalah ibarat ikan dengan air. Ingatlah, apakah halnya ikan itu jika ia tidak berada di dalam air?
17. Zikir adalah santapan bagi Ruh dan Hati. Andaikata jika kedua-duanya tidak dapat menikmati santapannya maka adalah sama seperti badan yang tidak dapat makanannya.
18. Zikir adalah membersihkan hati daripada karat kekotorannya sepertimana diterangkan di dalam Hadits bahawa tiap-tiap sesuatu ada daki dan kekotoran baginya. Daki dan kekotoran hati ialah keinginan dan kelalaian yang tidak dapat dibersihkan melainkan dengan berzikir.
19. Zikir adalah menghapuskan dosa dan maksiat.
20. Zikir adalah menghapuskan keraguan dari seseorang terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Sebenarnya hati orang yang lalai itu diselubungi oleh rasa ragu atau gelisah terhadap Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ianya dapat dihapuskan hanya oleh Zikrullah.
21. Orang yang berzikir dengan mensucikan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, memujiNya, mengagungkanNya dan mengesakanNya, maka kalimah-kalimah zikirnya itu akan berpusing-pusing mengelilingi ‘Arash Allah Subhanahu Wa Ta’ala sambil menyebut nama penzikir itu dengan suara yang perlahan.
22. Barangsiapa ingat kepada Allah dalam kesenangan, Allah Subhanahu Wa Ta’ala ingat pula kepadanya dalam kesusahan.
23. Zikir adalah melepaskan orang yang berzikir itu daripada azab Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
24. Zikir adalah menyebabkan turunnya Sakinah ketenangan dan Para Malaikat melingkungi orang-orang yang berzikir itu.
25. Zikir adalah menyebabkan selamatnya lidah seseorang yang berzikir itu daripada menumpat, mencela, berdusta, maki hamun dan bercakap yang sia- sia. Telah dibuktikan oleh kenyataan bahawa barangsipa yang membiasakan lidahnya dengan berzikir maka terselamatlah daripada sifat-sifat yang keji. Sebaliknya orang yang tidak biasa dengan zikir maka dengan sendirinya dia terlibat di dalam keburukan dan sifat-sifat yang keji itu.
26. Majlis-majlis zikir adalah seperti majlis Para Malaikat sebaliknya majlis kelalaian yakni majlis yang peserta-pesertanya lalai daripada berzikir adalah seperti majlis Syaitan. Kini terserah kepada manusia, sertailah majlis mana yang suka. Menururt kebiasaan manusia sukakan akan sesuatu yang sesuai dengan sikap dan perangainya.
27. Zikir adalah memasukkan orang-orang yang berzikir itu ke dalam golongan orang-orang yang berbahagia dan demikian juga mereka yang mendampinginya. Sebaliknya orang-orang yang lalai dan membuat kerja-kerja yang sia-sia adalah tercampak ke dalam kancah kecelakaan. Demikian juga orang-orang yang menyertai mereka itu.
28. Zikir akan memelihara seseorang yang berzikir daripada menyesal pada Hari Qiyamat. Di dalam Hadits ada disebutkan bahawa majlis-majlis yang terkosong daripada Zikrullah menyebabkan mendapat kerugian dan menyesal pad Hari Qiyamat.
29. Jika seseorang yang berzikir sambil menangis-nangis dalam keadaan sunyi diri maka pada Hari Qiyamat dia akan ditempatkan di bawah naungan ‘Arash Ilahi di mana manusia akan berteriak dan menjerit-jerit kerana kepanasan hari yang amat dahsyat itu.
30. Pada hati manusia ada suatu bahagian yang tidak subur melainkan dengan Zikrullah.
31. Zikrullah adalah merupakan pohon di dalam Syurga.
32. Segala-gala amalan adalah diwajibkan semata-mata kerana Zikrullah.
33. Orang yang menyibukkan dirinya dengan berzikir maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala mengurniakan kepadanya lebih daripada orang yang meminta kepadaNya. Di dalam sebuah Hadits ada disebutkan bahawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Barangsiapa yang tertahan oleh zikirKu daripada berdoa nescaya Aku berikan kepadanya lebih daripada yang Aku berikan kepada orang-orang yang berdoa.”
34. Sungguhpun zikir merupakan suatu ibadat yang ringan dan mudah sekali namun ia adalah lebih afdhal dan utama daripada seluruh ibadat kerana menggerakkan lidah itu lebih mudah daripada menggerakkan seluruh badan.
35. Nikmat dan kekurniaan yang diberikan Allah kepada seseorang kerana zikir tidaklah diberikan kerana amal-amal yang lain yang mana diterangkan di dalam mafhum sebuah Hadits: “Barangsiapa yang membaca kalimah:La Ilaha Illa Allahu Wahdahu La Syarikalahu, Lahul Mulk Wa Lahul Hamd, Wa Huwa ‘Ala Kulli Syai in Qadir, sebanyak seratus kali pada suatu hari maka Allah memberikan pahala kepadanya yang seimbangan dengan memerdekakan sepuluh hamba sahaya dan dicatitkan di dalam buku amalannya seratus kebajikan, dihapuskan daripadanya seratus dosa, dipelihara daripada godaan Syaitan dan tidak sesiapa pun yang lebih afdhal daripadanya kecuali orang yang amalan-amalannya telah melebihi.”
36. Seseorang yang berzikir berterusan dengan secara Istiqamah, dia akan terselamat daripada melupakan dirinya yang menyebabkan kecelakaan Dunia dan Akhirat, kerana melupakan diri sendiri dan muslihat-muslihatnya bererti melupakan Tuhan dan yang melupakan Tuhan nescaya akan tercampak ke dalam kancah kerugian. Diperingatkan oleh Allah di dalam Kitab Suci Al- Quran pada Surah Al-Hasyar ayat 19 yang ertinya: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah lalu Allah menjadikan kamu seperti orang-orang yang lupa kepada diri mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik.” Yakni janganlah kamu menyerupai orang-orang yang tidak menghiraukan Allah, lantas Allah menjadikan mereka tidak menghiraukan diri mereka sendiri yakni akal fikiran mereka dilemahkan sehingga mereka tidak dapat menjalani jalan yang menuju ke arah kejayaan yang hakiki kerana apabila manusia melupakan dirinya maka dengan sendirinya dia terlalai daripada muslihat-muslihatnya dan akhirnya dia akan menjadi mengsa kebinasaan. Sepertimana seorang petani yang melupakan sawah atau ladangnya, tidak enghiraukannya sedikit pun. Maka tentulah sawah atau ladangnya itu tidak akan mendatangkan hasil apa-apa dan akhirnya keadaan berubah menjadi belukar.
37. Seseorang akan merasai keamanan dan ketenangan jiwa manakala dia membasahi lidahnya dengan berzikir sehingga dia cinta kepada zikir. Sepertimana seorang yang cinta kepada air ketika dia mengalami dahaga yang amat sangat atau cinta kepada makanan ketika dia lapar ataupun cinta kepada pakaian dan rumah kediaman semasa dia merasai panas atau dingin yang amat sangat, bahkan Zikrullah itu lebih mustahak lagi kerana jika segala-gala yang disebutkan itu tidak tersedia, maka tubuh ksar manusia saja mengalami kebinasaan sedangkan tanpa zikir, Ruh dan Hati juga akan mengalami kebinasaan.
38. Zikir adalah merupakan suatu pohon yang setiap masa mendatangkan buah Ma’rifat. Menururt istilah ‘Ulama Tasawwuf, pohon itu mendatangkan buah Ahwal dan Maqamat. Semakin zikir itu diperbanyakkan semakin akar pohon itu terkukuh dan semakin akarnya kukuh semakin pohon itu mengeluarkan buah-buahannya.
39. Zikir adalah sumber syukur. Barangsiapa yang tidak mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dia tidak dapat bersyukur kepadaNya.
40. Dengan zikir, seseorang manusia mencapai kemajuan dan kejayaan dengan secara terus menerus ketika dia beristirehat ataupun berada di pasar, ketika dia sihat ataupun sakit, ketika dia sibuk dengan mengecap kenikmatan hidup ataupun berada dalam serba kekurangan. Pada setiap masa dan dalam setiap keadaan dia mencapai kejayaan. Tiada suatu apa pun yang menyebabkan dia mencapai kemajuan dengan secra terus menerus kecuali dengan zikir. Jika hatinya telah bersinar dengan sinaran zikir, maka dalam setiap keadaan dia meningkat ke martabat yang setinggi-tingginya.
41. Zikir adalah intisari Ilmu Tasawwuf yang diamalkan oleh setiap Ahli Tariqat. Jika telah terbuka pintu zikir bagi seseorang bererti telah terbuka baginya jalan yang menuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Barangsiapa yang telah menuju kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala nescaya dia telah mendapat segala-gala yang dikehendakinya kerana tidak berkurangan apa-apa pada khazanah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
42. Zikir adalah menggerakkan hati manusia daripada tidur dan menyedarkannya daripada lalai. Selagi hati dan jiwa manusia tidak sedar maka selama itulah dia mengalami kerugian demi kerugian.
43. Apabila zikir telah menguasai hati maka bukan saja ia menyubur ke bahagian hati itu sahaja bahkan ia menjadikan orang yang berzikir itu hidup dengan makmur walaupun dia tidak berharta benda, memuliakannya walaupun dia tidak berkeluarga dan menjadikannya penguasa walaupun dia tidak mempunyai kerajaan. Sebaliknya orang yang lalai daripada zikir pasti dia akan dihinakan walaupun dia mempunyai harta benda, kaum keluarga dan kerajaan yang besar.
44. Zikir adalah menghimpunkan kembali yang telah bercerai dan menseraikan yang telah terhimpun, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat, yakni hati manusia yang diselubungi oleh berbagai-bagai keraguan, dukacita dan kegelisahan itu semuanya dilenyapkan sama sekali dan dilahirkan ketenteraman dan ketenangan jiwa dan hati atau jiwa manusia yang dikuasai oleh perbuatan-perbuatan yang keji itu dibersihkan dan manusia yang senantiasa digoda dan dikuasai oleh tentera-tentera Syaitan itu diceraikan daripadanya dan Akhirat yang jauh itu didekatkan dan Dunia yang dekat itu dijauhkan dari jiwa manusia.
45. Zikir adalah mendekatkan kepada Zat yang zikirnya dikerjakan sehingga mendapat penyertaan denganNya sebagaimana diterangkan di dalam Al- Quran, “Inna Allaha Ma’allazi Nattaqau,” yang bererti: Sesungguhnya Allah Subhanahu Wa Ta’ala berserta orang-orang yang bertaqwa. Diterangkan di dalam satu Hadits Qudsi, “Ana Ma’a ‘Abdi Ma Zakarani,” ertinya: Adalah Aku menyertai hambaKu selama dia mengingati Aku. Di dalam sebuah Hadits ada disebutkan bahawa Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Orang yang mengingati Aku itu adalah orang Aku. Aku tidak menjauhkannya daripada RahmatKu. Jika mereka bertaubat dari dosa-dosa mereka, maka Aku menjadi Kekasih bagi mereka tetapi sebaliknya jika mereka tidak bertaubat maka Aku menjadi Jururawat bagi mereka lalu Aku mencampakkan mereka ke alam kancah penderitaan supaya Aku membersihkan mereka daripada dosa-dosa.”
46. Penyertaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dicapai menerusi zikir itu adalah penyertaan yang tidak ada tolok bandingnya. Hakikat penyertaan itu tidak mungkin dicatit dan tidak pula mungkin dibicarakan. Kelazatannya dengan ertikata yang sebenarnya boleh dirasai hanya oleh orang yang telah mencapainya. Ya Allah, berikanlah kepadaku barang sedikit daripada kenikmatanNya.
47. Zikir adalah seimbang dengan memerdekakan hamba, seimbang dengan membelanjakan harta dan seimbang pula dengan berjuang pada Jalan Allah.
48.Di dalam sebuah Hadits ada diberitakan bahawa Hadhrat Musa ‘Alaihissalam pernah berkata kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Ya Allah, Engkau telah menganugerahkan kepadaku nikmat-nikmat yang amat banyak maka tunjukilah aku cara-cara bersyukur kepadaMu.” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman kepadanya:“Sebanyak yang engkau berzikir sebanyak itulah engkau dapat bersyukur.”
49.Di dalam Hadits yang lain diterangkan bahawa Hadhrat Musa ‘Alaihissalam memohon kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala: “Ya Allah! Bagaimanakah cara bersyukur yang sesuai dengan keadaanMu yang terunggul?” Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:“Hendaklah lidahmu senantiasa dibasahi dengan berzikir.”
50. Yang paling mulia di antara orang-orang yang bertaqwa pada sisi Allah ialah yang senantiasa sibuk dengan berzikir kerana natijah Taqwa ialah Syurga sedangkan natijah zikir ialah penyertaan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
51. Pada hati manusia ada semacam kekerasan yang tiada berubah menjadi lembut melainkan dengan berzikir.
52. Zikir adalah sumber persahabatan dengan Allah sebaliknya lalai adalah sumber permusuhan denganNya.
53. Tiadalah satu apapun yang menambahkan nikmat-nikmat Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menyelamatkan daripada azabNya lebih daripada Zikrullah.
54.Allah Subhanahu Wa Ta’ala menurunkan RahmatNya kepada orang-orang yang berzikir dan Para Malaikat berdoa untuk mereka.
55. Barangsiapa yang ingin menikmati Syurga sedangkan dia masih berada di dalam Dunia ini maka hendaklah dia menyertai majlis-majlis zikir kerana majlis-majlis zikir itu adalah seumpama taman-taman Syurga.
56. Barangsiapa senantiasa berzikir, dia akan memasuki syurga sambil tersenyum-senyum.
57. Amalan yang paling afdhal ialah amalan yang disertai dengan berzikir sebanyak-banyaknya. Puasa yang afdhal sekali ialah puasa yang disertai dengan berzikir sebanyak-banyaknya. Haji yang afdhal ialah haji yang disertai dengan zikir sebanyak-banyaknya dan demikianlah Jihad serta amalan-amalan yang lainnya.
58. Zikir adalah pengganti kepada ibadat-ibadat Nafilah. Sebagaimana yang diriwayatkan di dalam sebuah hadits bahawa segolongan orang-orang miskin datang lalu merayu hal mereka kepada Hadhrat Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam dengan berkata, “Ya Rasulullah, saudara kami yang berharta benda telah meningkat darjat yang setinggi-tingginya disebabkan harta kekayaan mereka. Mereka bersembahyang seperti kami bersembahyang, mereka berpuasa seperti kami berpuasa tetapi kerana harta kekayaan, mereka telah mendahului kami dengan mengerjakan Haji, Umrah, Jihad dan lain-lainya.” Sebagai menjawab Hadhrat Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Mahukah kamu sekelian ku ajarkan sesuatu untuk mencapai yang mendahului dan untuk mendahului sesudah kamu sehingga tiadalah lagi seorang pun yang lebih afdhal daripada kamu kecuali orang yang berbuat seperti yang kamu perbuat.” Selanjutnya Hadhrat Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Bacalah kamu sekelian: Subhanallah Alhamdulillah Allahu Akbar selepas tiap-tiap Solat.” Ini menunjukkan bahawa Hadhrat Baginda Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam menganggap zikir ini sebagai pengganti haji, umrah, jihad dan lain-lain bagi yang tidak berada.
59. Majlis Zikir adalah majlis Para Malaikat.
60. Allah Subhanahu Wa Ta’ala membanggakan orang-orang yang berzikir di hadapan Para Malaikat.
61. Zikir adalah rawatan bagi penyakit-penyakit hati.
62. Zikir adalah pendorong bagi ibadat-ibadat yang lain. Dengan berzikir sebanyak-banyaknya maka ibadat-ibadat yang lain itu menjadi mudah dan senang serta kelazatan ibadat-ibadat itu pun dirasai benar, oleh itu semua ibadat itu dapat dikerjakan tanpa keberatan dan kesukaran apa-apa.
63. Dengan berzikir semua keberatan akan berubah menjadi ringan, setiap kesukaran akan berubah menjadi senang, setiap bebanan menjadi ringan dan semua bala bencana akan terlenyap.
64. Lantaran zikirlah maka segala rupa ketakutan dan kebimbangan akan terhindar.
65. Zikrullah adalah mempunyai kuasa yang terkhas untuk melahirkan ketenteraman dan untuk melenyapkan ketakutan. Ianya mempunyai kesan yang teristimewa di mana semakin berzikir sebanyak-banyaknya semakin itulah akan mencapai ketenteraman dan akan lenyap ketakutan.
66.Zikir adalah melahirkan kekuatan dan tenaga yang terkhas kepada manusia. Maka dengan kekuatan itu diadapat menyelenggarakan urusan-urusan yang agak sukar.
67.Pemberes urusan-urusan keakhiratan adalah dahulu-mendahului di antara satu dengan yang lain dan di dalam mendahului ini yang kelihatan di hadapan sekali ialah orang-orang yang berzikir. Di dalam sebuah Hadits, Hadhrat Baginda Muhammad Rasulullah Sallallahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,
“Telah mendahului mereka yang Munfarrid.” Para Sahabat bertanya, “Siapakah yang Munfarrid itu Ya Rasulullah?” Baginda menjawab, “Mereka yang mengingati Allah sebanyak-banyaknya kerana zikir adalah meringankan bebanan mereka.”
68. Allah Subhanahu Wa Ta’ala sendiri yang membenarkan dan menguji orang- orang yang berzikir.Orang-orang yang dibenarkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu tidaklah akan dibangkitkan bersama-sama orang-orang yang dusta. Di dalam sebuah Hadits ada disebutkan bahawa apabila seorang hamba mengucapkan: “La Ilaha Illa Allah Wallahu Akbar,”maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman, “Benarlah ucapan hambaKu bahawa tiada Tuhan melainkan Aku dan Akulah Maha Besar.”
69. Zikir adalah menyebabkan terbinanya rumah di dalam Syurga. Apabila seseorang hamba berhenti daripada berzikir maka Para malaikat berhenti daripada membina rumah itu. Manakala mereka ditanyakan, mengapakah kamu berhenti daripada membina rumah itu? Mereka menjawab bahawa perbelanjaannya belum lagi tiba.
70. Di dalam sebuah Hadits ada disebutkan bahawa barangsiapa mengucapkan:“Subhanallahi Wabihamdihi Subhanallahil ‘Azim” sebanyak tujuh kali nescaya dibinakan satu menara untuknya di dalam Syurga.
71. Zikir adalah perisai atau pendinding bagi Neraka Jahannam. Barangsiapa yang dimasukkan ke dalam Neraka kerana amal perbuatannya yang tidak baik maka zikirnya itu menjadi pendinding di antaranya dengan Neraka Jahannam. Semakin banyak zikir dibuat maka semakin kuatlah pendinding itu.
72. Jika seseorang yang berzikir di atas sebuah gunung atau di tanah datar maka tempat tersebut akan merasa amat bangga. Di dalam sebuah Hadits ada diberitakan bahawa gunung-ganang bertanya-tanyakan di antara satu dengan yang lain bahawa hari ini adalah seseorang yang berzikir melalui di atas engkau. Jika diberitahukan bahawa ada yang melaluinya sambil berzikir, maka ia berasa gembira lagi bangga.
73. Nur Zikir adalah sentiasa bersama orang yang berzikir itu sama ada di Dunia mahupun di dalam Kubur dan ia memimpin di Titian Sirat. Ia tidak berpisah di mana-mana pun. Diperingatkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala di dalam Kitab Suci al-Quran pada Surah Al-An’am ayat 122 yang bermaksud,“Apa k a h  orang yang sudah mati kemudian Kami hidupkan dia dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada di dalam gelap gelita yang tidak dapat keluar daripadanya?”Or ang pertama itu beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang hatinya bersinar cemerlang dengan cinta makrifat dan zikirnya sementara orang yang kedua itu ialah yang terkosong dari sifat-sifat tersebut. Penghasilan Nur adalah sesuatu yang teragung sekali, ianya membawa kepada kejayaan yang gilang-gemilang.
74.Para Malaikat beristighfar memohon keampunan bagi orang yang berzikir. Hadits ada menyebut bahawa apabila seseorang hamba mengucapkan Subhanallahi Wabihamdihiatau Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin, maka Para Malaikat berkata,“Ya Allah, ampunilah dia.” Adalah termaklum bahawa doa Para Malaikat itu tidak ditolak malahan terus dikabulkanNya.
75. Memperbanyakkan zikir adalah merupakan sijil bagi kelepasan dari kemunafikan kerana orang-orang yang Munafik tiada mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala melainkan sedikit. Hadhrat Ka’ab Ahbar Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Barangsiapa berzikir sebanyak-banyaknya maka terpelihara dia daripada kemunafikan.”
76. Berbanding dengan amalan-amalan yang baik maka zikir mempunyai suatu kelazatan yang tidak di dapati pada amalan-amalan yang lain. Hadhrat Malik bin Dinar Rahmatullah ‘alaih berkata bahawa seseorang tidak akan berasa lazat dari suatu apa pun seperti kelazatan zikir.
77. Pada wajah orang yang berzikir itu di dapati kegembiraan di Dunia dan akan kelihatan Nur padanya di Hari Qiyamat.
78. Barangsiapa mengingati Allah Subhanahu Wa Ta’ala sebanyak-banyaknya di tengah-tengah jalan, dirumah, di dalam safar perjalanan dan ketika berada di kampung, maka dia akan mempunyai pembela-pembela yang ramai sekali di Hari Hisab kelak.
79. Selama lidah sibuk dengan berzikir maka selama itulah dia terpelihara daripada perbicaraan yang sia-sia, berdusta, mengumpat dan sebagainya. Lidah itu sememangnya tidak mahu diam, ia akan sibuk dengan berzikir, kalau tidak sudah tentu dengan kesia-siaan. Demikian juga halnya dengan hati, jika ia tidak sibuk dengan mencintai Khaliq iaitu Allah Subhanahu Wa Ta’ala maka sudah tentu dia akan sibuk dengan mencintai makhluk.
80. Syaitan adalah musuh manusia yang nyata. Ia mencampakkan manusia di dalam kancah kerunsingan dan kegelisahan dengan berbagai cara. Ia juga mengerumuni mereka dari setiap penjuru. Orang yang halnya sedemikian rupa senantiasa berada di tengah-tengah lingkungan para musuh yang mana tiap-tiap seorang darinya ingin menimpakan ke atasnya penderitaan demi penderitaan. Maka tiadalah apa-apa untukmematahkan serangan-serangan musuh itu melainkan Zikrullah.
18 September 2012

Lathifah-lathifah Batin dalam Thariqat Sufi

oleh alifbraja

Dan 7 titik batin yang kita sebut dengan lathifah, yaitu:

  1. Latifatul-Qolby: Di sini letaknya sifat-sifat syetan, iblis, kekufuran, kemusyrikan, ketahayulan dan lain-lain, letaknya dua jari dibawah susu sebelah kiri. Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya, Insya Allah pada tingkat ini diganti dengan Iman, Islam, Ihsan, Tauhid dan Ma’rifat.
  2. Latifatul-Roh : Di sini letaknya sifat bahimiyah (binatang jinak) menuruti hawa nafsu, , letaknya dua jari dibawah susu sebelah kanan. Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah di isi dengan khusyu’ dan tawadhu’.
  3. Latifatus-Sirri : Di sini letaknya sifat-sifat syabiyah (binatang buas) yaitu sifat zalim atau aniaya, pemarah dan pendendam, , letaknya dua jari diatas susu sebelah kiri. Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah diganti dengan sifat kasih sayang dan ramah tamah.
  4. Latifatul-Khafi : Di sini letaknya sifat-sifat pendengki, khianat dan sifat-sifat syaitoniyah,  letaknya dua jari diatas susu sebelah kanan. Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah diganti dengan sifat-sifat syukur dan sabar.
  5. Latifatul-Akhfa : Di sini letaknya sifat-sifat robbaniyah yaitu riya’, takabbur, ujub, suma’ dan lain-lain, letaknya ditengah-tengah dada. Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah diganti dengan sifat-sifat ikhlas, khusyu’, tadarru dan tafakur.
  6. Latifatun-Nafsun-Natiqo : Di sini letaknya sifat-sifat nafsu amarrah banyak khayalan dan panjang angan-angan, , letaknya tepat diantara dua kening. Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah diganti dengan sifat-sifat tenteram dan pikiran tenang.
  7. Latifah Kullu-Jasad : Di sini letaknya sifat-sifat jahil “ghaflah” kebendaan dan kelalaian, , letaknya diseluruh tubuh mengendarai semua aliran darah kita yang letak titik pusatnya di tepat ditengah-tengah ubun-ubun kepala kita. Kita buat dzikir sebanyak-banyaknya Insya Allah diganti dengan sifat-sifat ilmu dan amal.

Mengenal Lathifah-lathifah Batin dalam Thariqat Sufi

Acuan dalam pengamalan tarekat bertumpu kepada tradisi dan akhlak nubuwah (kenabian), dan mencakup secara esensial tentang jalan sufi dalam melewati maqomat dan ahwal tertentu. Setelah ia tersucikan jasmaniahnya, kemudian melangkah kepada aktivitas-aktivitas, yang meliputi:

  • Pertama, tazkiyah an nafs atau pensucian jiwa, artinya mensucikan diri dari berbagai kecenderungan buruk, tercela, dan hewani serta menghiasinya dengan sifat sifat terpuji dan malakuti.
  • Kedua, tashfiyah al qalb, pensucian kalbu. Ini berarti menghapus dari hati kecintaan akan kenikmatan duniawi yang sifatnya sementara dan kekhawatirannya atas kesedihan, serta memantapkan dalam tempatnya kecintaan kepada Allah semata.
  • Ketiga, takhalliyah as Sirr atau pengosongan jiwa dari segenap pikiran yang bakal mengalihkan perhatian dari dzikir atau ingat kepada Allah.
  • Keempat, tajalliyah ar-Ruh atau pencerahan ruh, berarti mengisi ruh dengan cahaya Allah dan gelora cintanya.

Qasrun = Merupakan unsur jasmaniah, berarti istana yang menunjukan betapa keunikan struktur tubuh manusia.

Sadrun = (Latifah al-nafs) sebagai unsur jiwa

Qalbun = (Latifah al-qalb) sebagai unsur rohaniah

Fuadun = (Latifah al-ruh) Unsur rohaniah

Syagafun = (Latifah al-sirr) unsur rohaniah

Lubbun = (Latifah al-khafi) unsur rohaniah

Sirrun = (Latifah al-akhfa) unsur rohaniah

Hal ini relevan dengan firman Allah SWT. dalam Hadist Qudsi :

“Aku jadikan pada tubuh anak Adam (manusia) itu qasrun (istana), di situ ada sadrun (dada), di dalam dada itu ada qalbu (tempat bolak balik ingatan), di dalamnya ada lagi fu’ad (jujur ingatannya), di dalamnya pula ada syagaf (kerinduan), di dalamnya lagi ada lubbun (merasa terialu rindu), dan di dalam lubbun ada sirrun (mesra), sedangkan di dalam sirrun ada “Aku”.

 

Ahmad al-Shirhindi dalam Kharisudin memaknai hadist qudsi di atas melalui sistem interiorisasi dalam diri manusia yang strukturnya yang dapat diperhatikan dalam gambar di atas.

Pada dasarnya lathifah-lathifah tersebut berasal dari alam amri (perintah) Allah : “Kun fayakun”, yang artinya, “jadi maka jadilah” (QS.36:82) merupakan al-ruh yang bersifat immaterial. Semua yang berasal dari alam al-khalqi (alam ciptaan) bersifat material. Karena qudrat dan iradat Allah ketika Allah telah menjadikan badan jasmaniah manusia, selanjutnya Allah menitipkan kelima lathifah tersebut ke dalam badan jasmani manusia dengan keterikatan yang sangat kuat.

Lathifah-lathifah itulah yang mengendalikan kehidupan batiniah seseorang, maka tempatnya ada di dalam badan manusia. Lathifah ini pada tahapan selanjutnya merupakan istilah praktis yang berkonotasi tempat. Umpamanya lathifah al-nafsi sebagai tempatnya al-nafsu al-amarah. Lathifah al-qalbi sebagai tempatnya nafsu al-lawamah. Lathifah al-Ruhi sebagai tempatnya al-nafsu al-mulhimmah, dan seterusnya. Dengan kata lain bertempatnya lathifah yang bersifat immaterial ke dalam badan jasmani manusia adalah sepenuhnya karena kuasa Allah.

Lathifah sebagai kendaraan media bagi ruh bereksistensi dalam diri manusia yang bersifat barzakhiyah (keadaan antara kehidupan jasmaniah dan rohaniah).

Pada hakekatnya penciptaan ruh manusia (lima lathifah), tidak melalui sistem evolusi. Ruh ditiupkan oleh Allah ke dalam jasad manusia melalui proses. Ketika jasad Nabi Adam a.s telah tercipta dengan sempurna, maka Allah memerintahkan ruh Nya untuk memasuki jasad Nabi Adam a.s. Maka dengan enggan ia menerima perintah tersebut. Ruh memasuki jasad dengan berat hati karena harus masuk ke tempat yang gelap. Akhirnya ruh mendapat sabda Allah: “Jika seandainya kamu mau masuk dengan senang, maka kamu nanti juga akan keluar dengan mudah dan senang, tetapi bila kamu masuk dengan paksa, maka kamupun akan keluar dengan terpaksa”. Ruh memasuki melalui ubun-ubun, kemudian turun sampai ke batas mata, selanjutnya sampai ke hidung, mulut, dan seterusnya sampai ke ujung jari kaki. Setiap anggota tubuh Adam yang dilalui ruh menjadi hidup, bergerak, berucap, bersin dan memuji Allah. Dari proses inilah muncul sejarah mistis tentang karakter manusia, sejarah salat (takbir, ruku dan sujud), dan tentang struktur ruhaniah manusia (ruh, jiwa dan raga).

Bahkan dalam al Qur’an tergambarkan ketika ruh sampai ke lutut, maka Adam sudah tergesa gesa ingin berdiri. Sebagaimana firman Allah : “Manusia tercipta dalam ketergesa-gesaan” (QS.21:37).

Pada proses penciptaan anak Adam pun juga demikian, proses bersatunya ruh ke dalam badan melalui tahapan. Ketika sperma berhasil bersatu dengan ovum dalam rahim seorang ibu, maka terjadilah zygot (sel calon janin yang diploid ).

Ketika itulah Allah meniupkan sebagian ruhnya (QS.23:9), yaitu ruh al-hayat. Pada tahapan selanjutnya Allah menambahkan ruhnya, yaitu ruh al-hayawan, maka jadilah ia potensi untuk bergerak dan berkembang, serta tumbuh yang memang sudah ada bersama dengan masuknya ruh al-hayat.

Sedangkan tahapan selanjutnya adalah peniupan ruh yang terakhir, yaitu ketika proses penciptaan fisik manusia telah sempurna (bahkan mungkin setelah lahir). Allah meniupkan ruh al-insan (haqiqat Muhammadiyah). Maka dengan ini, manusia dapat merasa dan berpikir. Sehingga layak menerima taklif syari’ (kewajiban syari’at) dari Allah dan menjadi khalifah Nya.

Itulah tiga jenis ruh dan nafs yang ada dalam diri manusia, sebagai potensi yang menjadi sudut pandang dari focus pembahasan lathifah (kesadaran). Lima lathifah yang ada di dalam diri manusia itu adalah tingkatan kelembutan kesadaran manusia. Sehingga yang dibahas bukan hakikatnya, karena hakikat adalah urusan Tuhan (QS.17:85), tetapi aktivitas dan karakteristiknya.

Lathifah al-qalb, bukan qalb (jantung) jasmaniah itu sendiri, tetapi suatu lathifah (kelembutan), atau kesadaran yang bersifat rubbaniyah (ketuhanan) dan ruhaniah. Walaupun demikian, ia berada dalam qalb (jantung) manusia sebagai media bereksistensi. Menurut Al Ghazall, di dalam jantung itulah memancarnya ruh manusia itu. Lathifah inilah hakikatnya manusia.

Ialah yang mengetahui, dia yang bertanggung jawab, dia yang akan disiksa dan diberi pahala. Lathifah ini pula yang dimaksudkan sabda Nabi “Sesungguhnya Allah tidak akan memandang rupa dan hartamu, tetapi ia memandang hatimu”.

Latifiah al-qalb bereksistensi di dalam jantung jasmani manusia, maka jantung fisik manusia ibaratnya sebagai pusat gelombang, sedangkan letak di bawah susu kiri jarak dua jari (yang dinyatakan sebagai letaknya lathifah al-qalb) adalah ibarat “channelnya”. Jika seseorang ingin berhubungan dengan lathifah ini, maka ia harus berkonsentrasi pada tempat ini. Lathifah ini memiliki nur berwarna kuning yang tak terhinggakan (di luar kemampuan indera fisik).

Demikian juga dengan lathifah al-ruh, dia bukan ruh atau hakikat ruh itu sendiri. Tetapi lathifah al-ruh adalah suatu identitas yang lebih dalam dari lathifah al-qalb. Dia tidak dapat diketahui hakikatnya, tetapi dapat dirasakan adanya, dan diketahui gejala dan karakteristiknya. Lathifah ini terletak di bawah susu kanan jarak dua jari dan condong ke arah kanan.

Warna cahayanya merah yang tak terhinggakan. Selain tempatnya sifat-sifat yang baik, dalam lathifah ini bersemayam sifat bahimiyah atau sifat binatang jinak. Dengan lathifah ini pula seorang salik akan merasakan fana al-sifat (hanya sifat Allah saja yang kekal), dan tampak pada pandangan batiniah.

Lathifah al-sirri merupakan lathifah yang paling dalam, terutama bagi para sufi besar terdahulu yang kebanyakan hanya menginformasikan tentang tiga lathifah manusia, yaitu qalb, ruh dan sirr. Sufi yang pertama kali mengungkap sistem interiorisasi lathifah manusia adalah Amir Ibn Usman Al Makki (w. 904 M), yang menurutnya manusia terdiri dari empat lapisan kesadaran, yaitu raga, qalbu, ruh dan sirr. Dalam temuan Imam al Robbani al Mujaddid, lathifah ini belum merupakan latifiah yang terdalam.

Ia masih berada di tengah tengah lathifah al ruhaniyat manusia. Tampaknya inilah sebabnya sehingga al Mujaddid dapat merasakan pengalaman spiritual yang lebih tinggi dari para sufi sebelumnya, seperti Abu Yazid al Bustami, al-Hallaj (309 H), dan Ibnu Arabi (637 H). Setelah ia mengalami “ittihad” dengan Tuhan, ia masih mengalami berbagai pengalaman ruhaniah,  sehingga pada tataran tertinggi manusia ia merasakan sepenuhnya, bahwa abid dan ma’bud adalah berbeda, manusia adalah hamba, sedangkan Allah adalah Tuhan.

Hal yang diketahui dari lathifah ini adalah, ia memiliki nur yang berwarna putih berkilauan. Terletak di atas susu kiri jarak sekitar dua jari, berhubungan dengan hati jasmaniah (hepar). Selain lathifah ini merupakan manifestasi sifat-sifat yang baik, ia juga merupakan sarangnya sifat sabbu’iyyah atau sifat binatang buas. Dengan lathifah ini seseorang salik akan dapat merasakan fana’ fi al-dzat, dzat Allah saja yang tampak dalam pandangan batinnya.

Lathifah al-khafi adalah lathifah al-robbaniah al-ruhaniah yang terletak lebih dalam dari lathifah al-sirri. Penggunaan istilah ini mengacu kepada hadis Nabi : “Sebaik-baik dzikir adalah khafi dan sebaik baik rizki adalah yang mencukupi”.

Hakikatnya merupakan rahasia Ilahiyah. Tetapi bagi para sufi, keberadaanya merupakan kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Cahayanya berwarna hitam, letaknya berada di atas susu sebelah kanan jarak dua jari condong ke kanan, berhubungan dengan limpa jasmani. Selain sebagai realitas dari nafsu yang baik, dalam lathifah ini bersemayam sifat syaithoniyyah seperti hasad, kibir (takabbur, sombong), khianat dan serakah.

Lathifah yang paling lembut dan paling dalam adalah lathifah al-akhfa. Tempatnya berada di tengah-tengah dada dan berhubungan dengan empedu jasmaniah manusia. Lathifah ini memiliki nur cahaya berwarna hijau yang tak terhinggakan. Dalam lathifah ini seseorang salik akan dapat merasakan’isyq (kerinduan) yang mendalam kepada Nabi Muhammad S.a.w. sehingga sering sering ruhaniah Nabi datang mengunjungi.

Relevan dengan pendapat al-Qusyairi yang menegaskan tentang tiga alat dalam tubuh manusia dalam upaya kontemplasi, yaitu:

  • Pertama, qalb yang berfungsi untuk mengetahui sifat-sifat Allah.
  • Kedua, ruh berfungsi untuk mencintai Allah, dan
  • Ketiga, sirr berfungsi untuk melihat Allah.

Dengan demikian proses ma’rifat kepada Allah menurut al Qusyairi dapat digambarkan sebagai berikut dibawah ini.

“Aktivitas spiritual itu mengalir di dalam kerangka makna dan fungsi rahmatan lil ‘alamin; Tradisi kenabian pada hakekatnya tidak lepas dari mission sacred, misi yang suci tentang kemanusiaan dan kealam semestaan untuk merefleksikan asma Allah”.

Praktek Dzikir

Setelah seorang murid mengikuti talqin ini maka secara resmi dia sudah menjadi pengikut tarekat. Selanjutnya dia mengamalkan ajaran-ajaran dalam tarekat tersebut, khususnya dalam tata cara dzikirnya. Pertama-tama seorang dzikir harus membaca istighfâr sebanyak 3X, kemudian membaca shalawât 3X, baru kemudian mengucapkan dzikir dengan mata terpejam agar lebih bisa menghayati arti dan makna kalimat yang diucapkan yaitu lâ ilâha illa Allâh. Tekniknya, mengucap kata la dengan panjang, dengan menariknya dari bawah pusat ke arah otak melalui kening tempat diantara dua alis, seolah-olah menggoreskan garis lurus dari bawah pusat ke ubun-ubun –suatu garis keemasan kalimat tauhid–. Selanjutnya mengucapkan ílâha seraya menarik garis lurus dari otak ke arah kanan atas susu kanan dan menghantamkan kalimat illa Allâh ke dalam hati sanubari yang ada di bawah susu kiri dengan sekuatkuatnya. Ini dimaksudkan agar lebih menggetarkan hati sanubari dan membakar nafsu-nafsu jahat yang dikendalikan oleh syetan.

Selain dengan metode gerakan tersebut, praktek dzikir di sini juga dilaksanakan dengan ritme dan irama tertentu. Yaitu mengucapkan kalimat lâ, ilâha, illa Allâh, dan mengulanginya 3X secara pelan-pelan. Masing-masing diikuti dengan penghayatan makna kalimat nafy isbat (nafy = meniadakan yang selain Allah isbat = menetapakan hanya ada Allah tiada yang selainNya) itu, yaitu lâ ma’buda illa Allâh (tidak ada yang berhak disembah selain Allah), lâ maqsuda illa Allâh (tidak ada tempat yang dituju selainAllah), dan lâ maujuda illa Allâh (tidak ada yang maujud selain Allah). Setelah pengulangan ketiga, dzikir dilaksanakan dengan nada yang lebih tinggi dan dengan ritme yang lbih cepat. Semakin bertambah banyak bilangan dzikir dan semakin lama, nada dan ritmenya semakin tinggi agar“kefanaan” semakin cepat diperoleh.

Jadi dzikir pertama yang diamalkan murid adalah dzikir nafy isbât, dengan suara jahr (keras). Setelah itu, murid dapat melangkah kepada model dzikir berikutnya yaitu ism dzat, yang lebih menekankan pada dzikir sirr dan terpusat pada beberapa “Lathifah”. Untuk lebih jelasnya ajaran tentang pengisian “lathifah” tersebut.

Dapat dilihat dari tabel di atas beberapa sifat yang harus dihilangkan dalam diri seorang murid, dengan melalui dzikir yang harus terisi dalam “lathifah” yang berjumlah 7 “lathifah” tersebut, untuk mencapai sifat-sifat yang terpuji. Sementara dzikir yang harus dilakukan oleh seorang murid adalah sangat tergantung kepada kondisi batin seorang murid, berapa kali mereka akan berdzikir, dan untuk menilai kemampuan murid dalam jumlah yang harus dibebankannya adalah sang guru dapat menilainya melalui “indera keenam”. Selain dzikir sebagai ajaran khusus, tarekat tetap sangat menekankan keselarasan pengamalan trilogi Islam, Iman, dan Ihsan, atau yang lebih akrab lagi dengan istilah syari’at, tarekat, dan hakekat. Dalam konteks ini pengamalan dalam tarekat hakekatnya tidak jauh berbeda dengan kalangan Islam lain. Semuanya dimaksudkan untuk dapat mengimplementasikan Islam secara kâffah, tidak saja dimensi lahir tetapi juga dimensi batin.

Demikianlah pemaparan singkat tentang 7 Lathifah, semoga menjadi pengetahuan yang mencerahkan batin dan ruh kita. Jika masih bingung tanyakan Guru Mursyid anda.

18 September 2012

Hakekat Nabi Muhammad

oleh alifbraja

Tentang Hakekat Nabi Muhammad (Haqiqat al-Muhammadiyyah)

Ibn Arabi, menjelaskan bahwa semua Nabi as., semenjak Nabi Adam as., sampai Nabi Isa ibn Maryam as., semuanya mengambil al-Nubuwwah (ke-Nabian) dari tempat cahaya Khatm al-Nabiyyin yakni Nabi Muhammad saw., sekalipun wujud jasmaninya di akhir. Sebab pada Hakekatnya Khatm al-Nabiyyin telah wujud. Hal ini sebagaimana sabda Nabi Muhammad saw. :
كُنْتُ نَبِيًا وَآدَمَ بَيْنَ المَاءِ وَالطِِّيْنِ.
“Aku telah menjadi Nabi Ketika Adam as., masih berada antara air dan tanah”.

Dalan memahami sabda Nabi saw., ini, Ibn Arabi menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw., telah diangkat jadi Nabi sebelum lahirnya jasad Beliau di dunia ini, dan Beliau mengetahui ke-Nabiannya, dengan demikian secara Hakekat bahwa Nabi Muhammad saw., sejak di Alam arwah telah berfungsi sebagai Rasul kepada ummat manusia sejak awal manusia melalui para nabi dan Rasul-rasul Allah.
Tentang Maqam Nabi Muhammad tersebut, dalam Surat Saba ayat 84 Allah Berfirman :
وَمَا اَرْسَلْنَاكَ إِلاَّ كَافَّةً لِّلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا وَّلكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لاَيَعْلَمُوْنَ.
Artinya : “Dan kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pembawa peringatan, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya”.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa kenabian para nabi dan kerasulan para rasul merupakan pelaku yang dipilih Allah untuk menjalankan roda kenabian dan kerasulan Nabi Muhammad saw. Sebab secara fisik Nabi Muhammad Saw., lahir diakhir. Oleh karena itu, secara syari’at, Nabi Muhammad diangkat menjadi nabi ketika turunnya Lima Ayat dari surat al-‘Alaq di Gua Hira yakni pada hari Senin 17 Ramadhan atau tanggal 6 Agustus tahun 600 M., ketika itu Beliau berumur 40 tahun Komariyah 6 Bulan 8 Hari kemudian 3 tahun kemudian diangkat menjadi Rasul terakhir melalui turunnya Surat al-Mudatstsir sedangkan selain Khatm al-Nabiyyin, mereka tidak diangkat menjadi Nabi, dan tidak tahu pada ke-Nabiannya kecuali pada waktu ia diutus setelah Wujud dengan unsur Badaniyahnya dan sesudah sempurna syarat-syarat ke-Nabiannya.

Menurut Syekh Ahmad al-Tijani pada dasarnya ruh Sayyidina Muhammad adalah awal segala sesuatu yang diciptakan Allah, dan melalui perantara ruh inilah terjadi seluruh Alam.

Pada bagian lain Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa Nur Nabi Muhammad saw., telah wujud sebelum makhluk lain ada, bahkan Nur ini merupakan sumber semua Nabi sebelum Nabi Muhammad saw. Selanjutnya dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Nur Nabi Muhammad saw., menurut Syekh Ahmad al-Tijani adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyah.

Selanjutnya dikatakan, bahwa pada dasarnya tidak seorangpun dalam martabat al-Haqiqat al-Muhammadiyah bisa mengetahuinya secara utuh. Pengetahuan orang shalih (Wali, Sufi) terhadap al-Haqiqat al-Muhammadiyah ini berbeda-beda sesuai dengan maqamnya masing-masing. Dalam hal ini Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan :

…طائفة غاية ادراكهم نفسه صلى الله عليه وسلم وطائفة غاية ادراكهم قلبه صلى الله عليه وسلم وطائفة غاية اداكهم عقله صلى الله عليه وسلم وطائفة وهم الاعلون بلغوا الغاية القصوى فى الادراك فادركوا مقام روحه صلى الله عليه وسلم.
“Diantara wali Allah ada yang hanya mengetahui jiwanya (al-Nafs) saja, ada juga yang sampai pada tingkat hatinya (al-Qalb), ada juga yang sampai pada tingkat akalnya (al-Aql), dan maqam yang tertinggi adalah wali yang bisa sampai mengetahui tingkat ruhnya; tingkat ini merupakan tingkat penghabisan (al-Ghayat al-Quswa).”

Rumusan mengenai Nur Muhammad {haqiqat al-Muhammadiyyah} ditegaskan melalui dua shalawat yang dikembangkan dalam wirid thariqat tijaniyah yakni shalawat fatih dan shalawat Jauharat al-Kamal :

a. Tentang Shalawat Fatih
Diantara rukun wirid wadzifah adalah membaca shalawat fatih sebanyak 50 kali. Berikut teks bacaan shalawat fatih :
اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدِنِ الْفَاتِحِ لِمَااُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَاسَبَقَ نَاصِرِالْحَقِّ ‍ بِالْحَقِّ وَالْهَادِى اِلَى صِرَاطِك َالْمُسْتَقِيْم وَعَلَى اَلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ الْعَظِيْمِ.
Artinya : “Yaa Allah limpahkanlah rahmat-Mu kepada Nabi Muhammad saw., dia yang telah membukakan sesuatu yang terkunci (tertutup), dia yang menjadi penutup para Nabi dan Rasul yang terdahulu, dia yang membela agama Allah sesuai dengan petunjuk-Nya dan dia yang memberi petunjuk kepada jalan agama-Mu. Semoga rahmat-Mu dilimpahkan kepada keluarganya yaitu rahmat yang sesuai dengan kepangkatan Nabi Muhammad saw”.
Syarah kandungan shalawat Fatih…, walaupun shalawatnya diakui dari Nabi Muhammad saw; mencerminkan pemikiran faham tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani serta pengaruh tasawuf Filsafat terhadap pemikiran Syekh Ahmad al-Tijani.
Makna al-Fatih li ma Ughliq pada intinya adalah :
1) Nabi Muhammad adalah sebagai pembuka belenggu ketertutupan segala yang maujud di alam.
2) Nabi muhammad sebagai pembuka keterbelengguan al-Rahmah al-Ilahiyyah bagi para makhluk di alam.
3) Hadirnya Nabi Muhammad menjadi pembuka hati yang terbelenggu oleh Syirik.
Sedangkan makna al-Khatimi li ma Sabaq pada intinya adalah :
1) Nabi Muhammad sebagai penutup kenabian dan kerasulan.
2) Nabi Muhammad menjadi kunci kenabian dan kerasulan.
3) tidak ada harapan kenabian dan kerasulan lagi bagi yang lainnya.

Pemikiran-pemikiran (faham) tasawuf Syekh Ahmad al-Tijani terkandung dalam penafsirannya tentang makna al-Fatih li ma Ughliq dan al-Khatim li ma Sabaq. Syekh Ahmad al-Tijani mengatakan bahwa al-Fatih li ma Ughliq mempunyai makna bahwa Nabi Muhammad merupakan pembuka segala ketertutupan al-Maujud yang ada di alam. Alam pada mulanya terkunci (mughallaq) oleh ketertutupan batin (hujbaniyat al-Buthun). Wujud Muhammad menjadi “sebab” atas terbukanya seluruh belenggu ketertutupan alam dan menjadi “sebab” atas terwujudnya alam dari “tiada” menjadi “ada”. Karena wujud Muhammad alam keluar dari “tiada” menjadi “ada”, dari ketertutupan sifat-sifat batin menuju terbukanya eksistensi diri alam (nafs al-Akwan) di alam nyata (lahir). Jika tanpa wujud Muhammad, Alah tidak akan mencipta segala sesuatu yang wujud, tidak mengeluarkan alam ini dari “tiada” menjadi “ada”.

Syekh Ahmad al-Tijani juga mengatakan bahwa awal segala yang maujud (awal maujud) yang diciptakan oleh Allah dari eksistensi al-Ghaib adalah Ruh Muhammad {nur Muhammad}.
Nur Muhammad telah diungkapkan oleh Nabi Muhammad saw., ketika tiu Jabir bin Abdullah bertanya kepada Nabi Muhammad saw., tentang apkah yang paling awal diciptakan oleh Allah Swt., Nabi menjawab :
ياجابر ان الله اتعالى خلق قبل الاشياء نور نبيك
“Wahai Jabir, sesungguhnya Allah swt., sebelum menciptakan sesuatu terlebih dahulu menciptakan nabimu {nur Muhammad}.”
Selain istilah nur Muhammad digunakan juga istilah lain sebagai penegas keberadaannya, yaitu ruh Muhhamad, nur, al-‘Aqju awwal dan al-Haba.

Dari ruh Muhammad ini kemudian Allah mengalirkan ruh kepada ruh-ruh alam. ruh alam berasal dari ruh Muhammad, ruh berarti kaifiyah. Melalui kaifiyah ini terwujudlah materi kehidupan. al-Haqiqat al-Muhammadiyyah adalah awal dari segala yang maujud yang diciptakan Allah dari ¬hadarah al-Ghaib (eksistensi keGhaiban). Di sisi Allah, tidak ada sesuatu yang maujud yang diciptakan dari makhluk Allah sebelum al-Haqiqat al-Muhammadiyyah ini tidak diketahui oleh siapapun dan apa pun. Di samping sebagai pembuka, Nabi Muhammad juga sekaligus sebagai penutup kenabian dan risalah. Oleh karena itu, tidak ada lagi risalah bagi orang sesudah Nabi Muhammad. Nabi Muhammad juga sebagai penutup bentuk-bentuk panampakan sifat-sifat Ilahiyyah (al-Tajaliyyah al-Ilahiyyah), yang menampakan sifa-sifat Tuhan di alam nyata ini.
Kandungan shalawat fatih mengenai pemikiran Syekh Ahmad Al-Tijani tentang al-Haqiqat Muhammadiyyah lebih tampak lagi dalam shalawat jauharat al-kamal.
b. Tentang Shalawat Jauharat al-Kamal
Berikut teks Shalawat Jauharat al-Kamal :
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى عَيْنِ الرَّحْمَةِ الرَّبَّانِيَّةِ وَالْيَقُوْتَةِ الْمُتَحَقِّقَةِ الْحَائِطَةِ بِمَرْكَزِالْفُهُوْمِ وَالْمَعَانِى وَنُوْرِاْلاَكْوَانِ الْمُتَكَوَّنَةِ اْلأدَمِيِّ صَاحِبِ اْلحَقِّ اْلرَّبَّانِى اْلبَرْقِ اْلأَسْطَعِ بِمُزُوَنِ اْلأَرْبَاحِ اْلمَالِئَةِ لِكُلِّ مُتَعَرِّضٍ مِنَ اْلبُحُوْرِ وَاْلأَوَانِى وَنُوْرِكَ اللاَّمِعِ الَّذِيْ مَلأْتَ بِه كَوْنَكَ اْلحَائِطَ بِأَمْكِنَةِ اْلمَكاَنِى اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى عَيْنِ اْلحَقِّ الَّتِى تَتَجَلّى مِنْهَا عُرُوْشُ اْلحَقَائِقِ عَيْنِ اْلمَعَارْفِ اْلأَقْوَمِ صِرَاطِكَ التَّآمِّ اْلاَسْقَمِ اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلى طَلْعَةِ اْلحَقِّ بِاالْحَقِّ اْلكَنْزِ اْلأَعْظَمِ إِفَاضَتِكَ مِنْكَ اِلَيْكَ إِحَاطَةِ النُّوْرِ اْلمُطَلْسَمِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَعَلى آلِهِ صَلاَةًتُعَرِّفُنَا بِهَا إِيَّاهُ
Artinya : “Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad. Ia adalah haqiqat rahmat sifat-sifat Tuhan, ia bagaikan mutiara yang yang mengetahui semua nama-nama (asma) dan sifat-sifat Allah, ia yang menjadi pusat pengetahuan yang mencakup seluruh pengetahuan yang diberikan kepada makhluk, ia yang menjadi penerang (cahaya) segala sesuatu yang ada termasuk manusia, ia yang membawa (mempunyai) agama Allah, ia adalah al-Haqiqat al-Muhammadiyyah (Hakekat Muhammad, Nur Muhammad) yang bagaikan kilat bahkan lebih dari kilat yang dibuktikan dengan mengalirnya rahmat Tuhan kepada setiap orang yang menghadap-Nya., seperti halnya para nabi dan para wali, ia yang menjadi cahaya Tuhan yang menerangi seluruh makhluk di setiap tempat. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamatan-Mu kepada Nabi Muhammad yang menjadi ‘ain al-Haqq (wujud keadilan, pemilik kebenaran)., telah tampak dari padanya seluruh

Hakekat keadilan yang seperti ‘arsy (gudang) sebagi sumber seluruh ilmu, yaitu ilmu agama Allah yang adil, sempurna dan istiqamah. Ya Allah ! limpahkanlah rahmat dan keselamtan-Mu kepada Nabi Muhammad yang merupakan mazhar (manifestasi) dan tajalli (penampakan lahir)-Mu, ia yang menjadi gudang (tempat penyimpanan) ilmu dan rahmat-Mu Yang Maha Besar, ia tempat datangnya kasih-Mu, ia yang meliputi seluruh cahaya yang tersimpan. Semoga Allah memberikan rahmat kepadanya dan kepada keluarganya, yang dengan sebab rahmat tersebut kami bisa mengetahui haqiqat (Hakekat) sesungguhnya Nabi Muhammad”.

Bacaan Shalawat Jauharat al-Kamal ini, tampaknya lebih menjelaskan atau menafsirkan kalimat yang terdapat dalam shalawat fatih yakni kalimat اَلْفَاتِحِ لِمَاأُغْلِقَ””. Misalnya, shalawat tersebut mengungkapkan sifat-sifat Nabi Muhammad saw., sebagai Hakekat rahmat dari sifat-sifat Tuhan, yang merupakan pusat pengetahuan. Kemudian dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw., sebagai al-Haqiqat al-Muhammadiyyah yang memiliki sifat Tuhan, yang mengalir dan menyinari keseluruh alam. Selanjutnya dikatakan bahwa Nabi Muhammad saw., sebagai wujud yang paling sempurna.

Ungkapan sifat-sifat Nabi Muhammad di atas, menunjukan bahwa Syekh Ahmad Al-Tijani merumuskan maqam Nabi Muhammad sebagai mana telah dikemukakan sufi-sufi terdahulu, terutama dalam mensifati pemahaman mereka terhadap haqiqat (Hakekat) Muhammad, tidak dapat dibantah bahwa ia sependapat, bahkan ia menjelaskan konsep dasar tersebut.

Hal ini, menunjukan bahwa dari aspek pemikiran, Syekh Ahmad al-Tijani menganut tasawuf falsafi sedangkan konsep-konsep dasar tasawufnya : nur Muhammad, Ruh Muhammad, al-Haqiqat al-Muhammadiyyah. Dengan demikian, bahwa corak (paham) tasawuf yang digunakan oleh Syekh Ahmad al-Tijani adalah corak (paham) tasawuf yang dikembangkan oleh ‘Abd al-Karim al-Jili dengan konsep dasar al-Insan al-Kamil, yang berasal dari Ibn Arabi dengan konsep Haqiqat al-Muhammadiyah.. Terlepas apakah Syekh Ahmad al-Tijani terpengaruh oleh pemikiran filosofis Abd. Karim al-Jili yang berasal dari Ibn. ‘Arabi atau tidak, corak pemikiran tasawuf demikian dikembangkan oleh dua sufi tersebut. Sekali lagi, hemat penulis, pemikiran Syekh Ahmad al-Tijani “mengawinkan”, menyatukan kembali dua corak {faham} tasawuf yakni tasawuf amali dan tasawuf falsafi yang telah “bercerai” sejak abad ketiga Hijri sehingga masing-masing mempunyai metodologi tersendiri.

Inilah yang dimaksud bahwa Thariqat Tijani merupakan thariqat yang terakhir dan seluruh thariqat akan mausk kedalam lingkup ajarannya, dalam arti seluruh amalan sufi {wali} dan seluruh corak pemikiran para sufi terakomodir dalan ajaran thariqat yang dikembangkannya, hal ini bisa dimengerti karena cahaya maqam wali khatm merupakan sumber seluruh cahaya kewalian. Sebagai perbandingan seluruh syari’at para nabi terakomodir kedalam syari’at Nabi Muhammad Saw., karena syari’at para nabi bersumber dari cahaya Khatm an-Nabiyyin.
Disinilah keunggulan Syekh Ahmad Al-Tijani, dan hal ini, lebih mengukuhkan keabsahan dirinya tentang kepemilikannya terhadap maqam wali khatm.

23 Agustus 2012

Sang Guru Murshid

oleh alifbraja

Sebenarnya Sukma sejati, sukma jati, guru sejati atau guru murshid sama saja…cuma sebutannya saja yang berbeda…..ada juga yang menyebutnya dengan Nur Muhammad yang disebut Ruh idhlafi yang merupakan Hakikat Sukma dan ini merupakan kehendak dari Dzat Yang Maha Suci.

Nur Muhammad adalah hakikat sukma yang diakui keadaan Dzat dan merupakan perbuatan Atma dan menjadi Wahana dalam Alam Arwah (Martabat 7) dan dari Nur Muhammad inilah yang menimbulkan Unsur-unsur Kehidupan yang menjadi Asal muasal Kehidupan.

Sukma sejati adanya pada kedalaman pribadi yang di pegang oleh Sang Pribadi…..melalui proses pengenalan diri sendiri maka muncullah cermin memalukan yang memberikan kenyataan kesadaran bahwa kotornya diri kita dan melalui proses selanjutnya maka kita bisa mulai mencari dan menemukan Sang Sukma sejati atau Adam Makna ……sama saja.

Dan dalam proses menemukan yang di butuhkan adalah totalitas Kesadaran, Keikhlasan, Ketulusan dan Kebulatan Tekad hanya untuk MencintaiNya seutuhnya ……tanpa ketakutan akan neraka atau keinginan akan sorga….yang ada hanya Dia.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma (sukma sejati) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kadang ada yang menyamakan antara sukma sejati dengan saudara 4 …ini sesuatu yang berbeda walaupun asalnya memang dari perbendaharaan saudara 4 tetapi yang sudah di sempurnakan atau di tundukkan oleh Sang Penguasa Sukma.

Kalo pengisian secara instant mengenai sukma sejati, mungkin ini bukan sukma sejati tetapi di sebut punden sari atau saudara 4, dan ini adalah tahap awalnya saja, karena untuk menemukan Penguasa Sukma (sukma sejati) melalui proses dan halangan yang cukup sulit, apalagi kalo dalam hidup kita masih sering tergoda kehendak jasad.

Dan sebetulnya bukan diisi, tetapi dibukakan pintunya melalui cakra-cakra yang berada tubuh kita sehingga bisa membangkitkan daya alam bawah sadar kita dan memungkinkan diri kita melakukan sesuatu di luar nalar.

Kenapa saya sebut sebuah perjalanan.

Karena ini semua harus kita jalani sendiri, dengan mulai dari sebuah keraguan, pencarian, penemuan, pemahaman, kesadaran dan penyatuan…..dalam sebuah cinta kasih yang tulus, dengan pengorbanan yang tak terkira untuk sampai kesana…untuk sampai ke pantai dan melihat samudera…untuk melihat dimana semua sungai bermuara   (  kembali ).

Seperti Bima bertemu Dewa Ruci.

Bagaimana pertama kali kita akan dihadang oleh nafsu 4 perkara…..mula-mula sinar lutam, sinar merah, sinar kuning, sinar putih.

Berakhirnya perjalanan ….Pada zaman karamatullah kelak, waktunya maqamijabah, yakni terkabulnya segala sesuatu, segala apa yang dikehendaki terlaksana, karena lenyapnya Mutdah yang merupakan Dzat hamba, tinggallah Wajah yaitu Dzat Tuhan yang bersifat kekal.

Menuju cinta sejati …..adalah sebuah perjalanan yang penuh pengorbanan, saat hidup di kuasai rahsa maka nafsu menguasai jiwa, dan kita tidak akan mendapatkan atau menemukan apa-apa semuanya hanya semua, tidak abadi dan kekal.

Betul sekali bahwa ortu, anak istri…dan semua yang kita dengar, lihat, rasa, endus…semuanya hanyalah pinjaman dan akhirnya toh harus kembali ke asal….itulah yang dinamakan Kesadaran…

Jalan bertemu suksma sejati……adalah dengan menemukan Kesadaran dengan membersihkan jiwa, mengendalikan nafsu 4 menembus 3 cahaya akhir … pertama ; ikhlas, kedua ; rela pada hukum kepastian Allah, ketiga ; agar merasa tidak memiliki apa-apa, keempat ; harap berserah diri pada kehendak Allah Taala …. tidak ada yg menyerupainya ….kecuali anda tahu tempatnya, disinilah kadang di perlukan pembimbing…karena kadang banyak yang serupa atau menyerupai…tapi bukanlah yg sebenarnya.

Dalam Kehidupan ini faktor yang sering dilupakan kita sebagai manusia yang kadang mentang-mentang sebagai khalifah ( pemimpin ) dan merupakan Tajali ( perwujudan ) dari Sang Maha Sempurna, adalah dari mana kita ” berasal ” dan bagaimana kita ” kembali ke asal “.

Sehingga kadang kita melupakan bahwa bahwa kita terdiri dari 2 bagian…..yaitu yg bernama “Jasad” (rag ) dan “Ruh” (jiwa)… dan dalam menempuh hidup dan kehidupan, biasanya kita lebih banyak termakan dogma dari sebuah kehidupan yang mengandalkan atau menampilkan baju dari masing-masing sehingga hakikat atau makna dari dalam bajunya jarang tersentuh.

Bagaimana Jasad atau raga itu adalah sebagai baju dari Ruh atau jiwa….jiwa menemukan raga begitu di dunia…..dahulu disana tiadalah memerlukan baju atau apapun, raga memerlukan makanan, minuman dan kebutuhan lainnya untuk bertahan di dunia, sedangkan jiwa merindukan tempatnya yang dahulu, dimana tidak memerlukan apapun di alam adam makdum….. Bagaimana sebuah raga begitu memerlukan perjuangan untuk bertahan hidup di dunia sehingga akhirnya kadang berbenturan dengan keinginan ruh yang tidak merindukan apa-apa, tetapi ruh tanpa raga adalah bukan siapa-siapa karena Keagungan Perwujudan Dzatullah tidak akan terlihat.

Demi menjaga keseimbangan haruslah kita mempertimbangkan tentang keduanya.  bagaimana begitu kita berwujud sudah berbekal 4 nafsu inti, lawwammah, amarah, sufian dan muthmainah, yg apabila bicara seharusnya……dan harusnya dalam wacana mematikan nafsu 4 perkara: Mati nafsunya, setiap nafsu akan merasakan maut. Mati rohnya, maksudnya yang hilang rahsanya. Mati ilmunya, maksudnya yang mati atau yang berjurang imannya. Mati hatinya, maksudnya yang mati ucapannya dengan lisan.

Dan yang melandasi hukumnya adalah ; Jalan untuk kesempurnaan Pati itu adalah Hidayatullah yang menandakan tempat yang telah diatur, serta hakikat hidup yang berada pada manusia. Kedudukan Pati petunjuk Allah taala, selamat dalam keadaan jati maksudnya bijaksana terhadap kesempurnaan sangkan paran. Bertemunya Pati itu tawakal maksudnya berserah diri kepada Allah taala, adapun bertemunya apti itu iradat Allah. Perkara Pati perbuatan Allah maksudnya merapakan kesempurnaan Dza yang bersifat Esa.

Janganlah kita terpaku pada sebuah nama atau sebutan…..karena pasti akan menimbulkan perbedaan bahkan kekacauan dan berujung kehancuran.

Dalam khasanah jawa disebut sukma sejati dan sejatining sukma, dalam khasanah islam disebut ruh idhafi atau nur muhammad atau ruh al quds (ruh suci), dalam nasrani di sebut ruh kudus, dalam hindhu atma.

Dalam perjalanannya kenapa disebut guru sejati atau guru mushid…..adalah pada saat kita mencari sesuatu yang murni atau sejati, abadi…..bahwa kita harus menyadari bahwa DzatNya ada pada sifat hidup kita dan yang pantas kita jadikan guru adalah hanya itu…..bukan yang lain yang sama dengan kita yang akan menjadi tanah lagi atau bahkan dari bangsa dilura manusia.

Dalam khasanah yang berbeda keberadaan sukma sejati tidak bisa dilepaskan dari asal mula Tuhan menciptakan Ruh suci ini dalam bentuk makhluk untuk meneruskan penzhahiran yang [paling sempurna dalam peringkat Alam Ketuhanan Dzat Yang Maha Tinggi. Dan Tuhan menhendaki ruh itu turun ke alam fana ini di peringkat paling rendah, yaitu alam Ajsam (alam kokret) … yang tujuan utamanya adalah untuk memberi pelajaran kepada Ruh suci itu dan untuk mengetahui pengalamannya dalam mencari jalan kembali kepada Tuhan.

Dan dalam perjalanannya …dari tingkat yang paling tinggi sampai ke tingkat paling rendah , ruh suci menempuh berbagai alam atau peringkat….mulai dari semula turun ke peringkat Akal Semesta atau Kesatuan atau Hakikat Muhammad.

Dan Ruh suci ini dihantarkan ke tempat yang paling rendah agar ia mencari jalan ke asalnya yaitu berpadu atau berdampingan denagn Tuhan seperti ketika ia berada dalam pakaian daging, darah, dan tulang itu. Melalui hati yang ada dalam badan kasar ini, wajar bila ia menanam benih rasa kesatuan dan keesaan, dan ia akan berusaha menyuburkan rasa berpadu dan berdampingan dengan Tuhan yang menciptakannya.

Dalam bumi hati itu ruh suci menanam benih keyakinan yang telah dibekalkan kepadanya oleh Tuhan dari alam Maha Tinggi dan benih itu diharapkan menjadi pokok keyakinan yang akan menghasilkan buah-buahan yang rasanya kelak akan membawa Ruh itu kembali naikke tingkat demi tingkat hingga sampai ke hadirat Tuhan.

Penciptaan badan agar sukma sejati (ruh) dapat masuk dan menetap didalamnya, dan setiap ruh mempunyai nama tersendiri, dan Tuhan menyusun ruang-ruang dalam badan dan meletakkan ruh manusia diantara daging dan darah, dan meletakkan ruh suci ditengah hati manusia suatu ruang yang indah dan halus untuk menyimpan rahasia antara Tuhan dan hambaNya.

Ruh-ruh itu berdiam diberbagai bagian anggota badan dengan tugas masing-masing. Keberadaannya seolah-olah berlaku sebagai pembeli dan penjual bermacam barang yang mendatangkan berbagai hasil. Perniagaan semacam inilah yang mendatangkan bentuk rahmat dan berkat dari Tuhan.

Seharusnya manusia mengetahui kebutuhan dalam ruhaninya masing-masing, seharusnya tidak mengubah apa yang sudah ditetapkan atau ditakdirkan Tuhan kepadanya.

Dada adalah tempat bersemayamnya ruh dalam diri setiap insan manusia, tempat yang berhubungan dengan panca indera ini bertugas mengatur segala hal yang berkaitan dengan masalah syariat…..karena dengan ini Tuhan mengatur keharmonisan alam nyata. Ruh tidak pernah mengingkari perintah Tuhan, tidak mengatakan tindakannya itu sebagai tindakannya sendiri, tetapi lebih karena ia tidak mampu bercerai dengan Tuhan.

Tuhan memberikan beberapa kelebihan bagi manusia yang memiliki ruhani yang tinggi pula ; pertama, kemampuan melihat bukti-bukti wujud keberadaan Tuhan didunia yang manifestasikan dalam sifat-sifat Tuhan, kedua…kemampuan melihat hal yang jamak dalam sesuatu yang tunggal dan sebaliknya dimata orang awam, ketiga…kemampuan melihat hakikat dibalik alam nyata dan keempat…perasaan dekat dengan Tuhan….inilah ganjaran karena keikhlasan dan ketulusan mencintaiNya dan berbuat semata-mata karena Dia.

Namun inipun masih berkaitan dengan alam kebendaan, begitu pula hal2 yang dianggap luar biasa oleh sebagian orang seperti berjalan diatas air, terbang diudara, mendengar suara2 gaib, membaca sesuatu yang berada dibenak orang lain, dll…ini masih berpijak pada kebendaan atau alam nyata.

Hendaknya dalam beramal shalih manusia tidak seperti “Pedagang” …yang selalu dalam melakukan sesuatu haruslah ada untungnya, apalagi ini dengan Tuhan.

Ruh dalam Hati

Hati adalah tempat bergeraknya ruh, dan ilmu yang mengulas tentang gerakan hati disebut ilmu thariqah. Kerjanya berkaitan dengan 4 nama Allah. Sebagaimana dengan 12 nama Dzat…4 nama ini tidak berhuruf dan tidak berbunyi, sehingga nama-nama itu tidak dapat diucapkan.

Pada setiap peringkat (dari 4 tingkatan) yang dilalui oleh ruh terdapat 3 buah nama yang berbeda. Dan dengan cara ini Tuhan dapat memegang hati kekasihNya yang sedang dalam perjalanan cinta menuju kepadaNya.

Ada 7 titik, yang 3 merupakan titik inti dan yang 4 adalah pendamping dan apabila diolah nantinya akan akan berhubungan dengan 9 lubang di badan kita.

Cara pengolahannya ada beberapa cara:

1. Dengan berpuasa lahir dan batin, bukan berpuasa hanya puasa lahir tapi batin juga karena lahir hanya menggembleng lahir saja (jasmani ), tetapi batin akan meggembleng lahir dan batin.

2. Meditasi, dengan pengolahan nafas secara benar dan teratur, kontinyu, karena nafas adalah tali jiwa.

3. Dengan adanya pembukaan titik melalui orang lain yang bisa membukanya…..tetapi biasanya ini kurang membuat kita lebih matang dan kurang bisa mengolahnya dengan baik nantinya….karena kendala setelah itu akan banyak.

Dalam islam, kalimat La ilaaha illallaah itu melahirkan 12 nama Allah, setiap nama tercantum pada setiap hurufyang menyusun kalimat tersebut. Dan Allah akan memeberikan nama kepada setiap huruf dalam proses kemajuan hati seseorang itu.

1. Lailaha illallaah: Tiada Ilah kecuali Allah

2. Allah: Nama Dzat

3. Huwa: Dia

4. Al-Haqq: Yang Benar

5. Al-Hayy: Yang Hidup

6. Al- Qayyum: Yang berdiri sendiri kepadaNya segala sesuatu bergantung

7. Al-Qahar: Yang Maha Berkuasa dan Perkasa

8. Al-Wahab: Yang Maha Pemberi

9. Al-Fattah: Yang Maha Pembuka

10. Al-Wahid: Yang Satu

11. Al-Ahad: Yang Maha Esa

12. As-Shamad: Sumber, puncak segala sesuatu

Hati adalah tempat bergeraknya ruh dan ruh selalu memandang ke alam ‘ Malakut’ yang identik dengan kebaikan, dan dialam ini ruh dapat melihat surga alam malakut beserta para penghuninya, cahaya, dan para malaikat yang ada didalamnya.

Dan dialam inilah ruh ruh bergerak dan melakukan percakapan-percakapan tanpa kata dan suara, dan dalam percakapan itu pikiran akan selalu berputarmencari rahasia-rahasia atau makna dalam batin. Ruha yang bergerak akan melalui berbagai tingkatan dalam perjalanannya. Dan tempat ruh yang telah mencapai tingkatan tinggi adalah di tengah hati, yaitu Hati bagi Hati.

Yang sangat berhubungan dengan Sukma Sejati adalah bagaimana kita mengetahui dan memahami tentang “Rasa Sejati” …..bagaimana pembentukan rasa sejati adalah sebagai berikut:

Eka Kamandhanu, artinya kandungan berumur satu bulan mulai bersatunya kama laki-laki dan perempuan. Dari detik ke detik, kama tersebut menggumpal dan merajut angan-angan untuk mencipta embrio. Kama tersebut menyatu padu dalam kandungan ibu menjadi benih unggul dan keadaan benih belum begitu kelihatan besar dalam perut ibunya. Saat itu biasanya wajah ibu berseri-seri karena itu sering dinamakan Eka Padmasari artinya sari-sari bunga sedang berkumpul dalam kandungan ibu, dalam keadaan penuh kegembiraan. Pada saat ini hubungan seksual masih diperbolehkan, bahkan dimungkinkan hubungan akan semakin hangat karena kedua pasangan tengah akan menikmati anugerah Tuhan yang sebelumnya telah dinanti-nantikan. Detik keberhasilan hubungan seksual ini akan menjadi spirit hidup sebuah pasangan.

Dwi Panunggal, umur kandungan dua bulan. Pada saati ini juga boleh melakukan hubungan seks. Dalam istilah jawa disebut nyepuh ibarat seorang empu sedang membuat keris, semakin banyak nyepuh artinya menambah kekuatan magis keris, keris akan semakin ampuh. Juga hubungan seks pada waktu hamil muda akan semakin hangat dan menarik kedua pasangan, biasanya seorang wanita pada tahap ini ingin jalan-jalan pagi, ingin plesir ke tempat yang sejuk, indah dan mempesona, karena itu disebut pula dwi amratani, artinya rata kemana-mana, bepergian kemana-mana sebagai ungkapan kesenangan dan juga sambil memikirkan nama yang mungkin akan diberikan kepada anaknya kelak.

Tri Lokamaya, artinya umur benih tiga bulan kandungan, dan benih masih berada dalam alam maya. Benih belum ada roh yang ditiupkan, karena itu suasananya gondar-gandir atau gawat. Jika hubungan seks tidak hati-hati kemungkinan besar benih tadi bisa gugur dan terjadi pendarahan. Maka ada baiknya mengurangi kuantitas hubungan seks, dan menghindari percekcokan atau sering marah-marah, karena secara psikologis akan mengakibatkan benih gugur karena merasa panas, ini artinya hubungan yang harmonis dalam keluarga amat menentukan kondisi benih yang dikandungan. Pada saat ini sikap selalu bersolek diri seseorang pasangan sangat menentukan. Karena itu candra benih tiga bulan sering dinamakan trikawula busana, artinya wanita sudah berpikir masalah pakaian seperti daster, pakaian bayi, dll, hal ini memungkinkan wajah wanita akan lebih berseri-seri bagai bulan purnama dan lebih cantik jelita.

Catur Anggajati, benih berumur empat bulan mulai terbentuk organ-organ tubuh secara lengkap. Benih unggul telah berbentuk manusia. Karena itu telah menghisap sari-sari makanan melalui sang ibu, umur seperti ini juga sudah ditiupkan roh sehingga benih telah hidup, sebagai tandanya sering bergerak. Karena itu hubungan seks yang berlebihan kurang baik pada saat ini, bahkan hubungan seks atas bawah akan berbahaya bagi benih dalam kandungan. Saat ini pula benih mulai merekam denyut hidup kedua pasangan. Karenanya kedua pasangan jangan berbuat hal-hal yang tidak baik atau terjadi penyelewengan akan berbahaya bagi benih bayi tersebut. Candra benih berumur empat bulan disebut catur wanara rukem, artinya tingkah laku ibu akan seperti kera yang sedang diatas pohon rukem, dia mulai nyidam buah-buahan yang asam dengan cara lotisan dan akan sangat aneh-aneh sehingga membutuhkan kesabaran bagi pasangan, kadang kurang wajar. Ia mendapat tambahan otak, karena itu sudah punya keinginan.

Panca Yitmayajati, artinya benih berumur lima bulan, dan benar-benar telah hidup, dan hubungan seks harus dilakukan lebih hati-hati, agar memperhatikan posisi sehingga tidak merugikan benih, dan pasangan harus telah tumbuh keberanian untuk menghadapi resiko lahirnya seorang bayi nanti. Karenanya candra benih berumur lima bulan sering dinamakan panca sura panggah, ada keteguhan dan keberanian menghadapi rintangan apapun ketika pasangan hamil lima bulan, tentu saja dari aspek materi jelas memerlukan persiapan berbagai hal. Mendapatkan tambahan otot mulai bergerak erlahan-lahan.

Sad Lokajati, benih berumur enam bulan semakin besar, karena itu kedua pasangan harus lebih berhati-hati. Karena itu candra benih dinamakan sad guna weweka, artinya mulai bersikap hati-hati dalam bertindak dan bertutur kata, jika diantara pasangan ada yang berbuat kasar, mencaci maki apalagi berbuat keji akan mengakibatkan benih yang dikandung tidak baik, bahkan suami dilarang membunuh binatang karena secara insting benih sudah dapat merekam keadaan sekelilingnya. Mendapatkan tambahan tulang karena itu ia bisa naik turun, jungkir balik.

Sapta Kawasajati, umur benih tujuh bulan telah lengkap semua organ dan cipta, rasa, serta karsa, karena itu apabila ada bayi yang lahir pada umur tujuh bulanpun dimungkinkan. Dalam tradisi jawa sering dilakukan ritual mitoni dengan maksud memohon agar bayi yang akan lahir diberi kelancaran, dan pada waktu ini hubungan seks dilarang sama sekali, kalaupun dilakukan harus diperhatikan secara ekstra hati-hati ( posisi diperhatikan ). Karena candra bayi tuuh bulan adalah sapta kulilawarsa artinya seperti burung yang terguyur air hujan, merasa letih. Lelah, dan sedikit pucat, kurang bergairah dan perlu pengertian dari pasangan. Dan ia memperoleh tambahan rupa, dan mendapat tambahan Kodrat dari Allah Ta’ala sperti rambut, darah dan daging.

Astha Sabdajati, benih berumur delapan bulan biasanya siap lahir, siap menuju dunia besar setelah bertapa dalam kandungan. Bayi hampir weruh padange hawa, ingin menghirup udara dunia yang sesungguhnya. Saat ini hanya timbul sikap pasrah untuk menghadapi perang sabil. Candra bayi adalah astha sacara-cara, artinya terjadi sikap berserah diri dengan cara apapun bayi akan lahir ibunya telah siap sedia bahkan siap berkorban jiwa raga. Manakala bayi umur delapan bulan belum mapan posisinya, tentu sang ibu akan gelisah. Untuk itu ada gugon tuhon juga agar ibu dilarang makan buah yang melintang posisinya, seperti kepel, agar posisi bayi tidak melintang yang akan menyulitkan kelahiran. Calon anak sudah dapat mengoperasikan saudara yang empat, sbb;

Pertama: kakawah ( air ketuban )

Kedua : bungkus

Ketiga: ari-ari

Keempat: darah

Kakawah artinya menjadi pengasih, bungkus menjadi kekuatan, darah menjadi waliyas mati, harus diketahui bahwa Kakawah itu adalah malaikat Jibril, bungkus adalah Mikail, ari-ari adalah Malaikat Israfil, dan darah adalah malaikat Izrail.

Jibril pada kulit, Mikail pada tulang, Israfil pada otot, Izrail pada dagingakhirnya selamatlah sentosa, semua itu tidak kelihatan karena Kodrat Allah.

Nawapurnajati, bayi telah mendekati detik-detik lahir, yaitu sembilan bulan, dan tentu yang tepat sembilan bulan sangat jarang. Pada saat itu memang keadaan bayi dan ibunya sangat lelah, karena itu candra suasana disebut nawa gralupa artinya keaaan sangat lemas, tak berdaya, seperti orang lapar dan dahaga. Apalagi setelah sembilan bulan sepuluh hari dengan candra khusus dasa yaksa mati, artinya seperti raksasa mati terbunuh ksatria-seorang ibu setelah melahirkan bayi. Oleh karena itu hubungan seksual sangat dilarang, paling tidak kurang lebih 40 hari seorang suami harus berpuasa.

Sembilan langkah tersebut diatas di harapkan pasangan suami istri dapat menjalankan sesirik ( prihatin ), ibarat sedang bertapa gaib. Segala tingkah laku akan menjadi cerminan hidup anak yang masih dalam kandungan. Itulah sebabnya sikap dan perilaku dijaga baik-baik dengan tujuan manembah dan karyenak tyasing sesama, maksudnya hubungan vertikal selalu harus terus menerus dan hubungan dengan sesama mahkluk agar jangan sampai berbuat diluar kewajaran. Ada empat yang dianugerahkan Allah Ta’ala dengan KodratNya ;

Pertama: Budi

Kedua: Rahsa

Ketiga: Angan-angan

Keempat: Hidup

17 Agustus 2012

Peran Thariqah dalam Menjernihkan Hati

oleh alifbraja

Bila kita mau melihat lebih jauh tentang filosofis atau makna‘ Al Mudghoh’ yang di sebutkan pada bahasan sebelumnya ((ألا إن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله ألا وهي القلب) [البخاري ومسلم]). Hati sering digunakan dengan maksud makna jiwa, dan hati yang bermakna liver. Untuk menggambarkan betapa pentingnya menjaga hati yang bermakna jiwa manusia saya akan menguraikan mudhgoh atau hati dalam hadis tersebut dengan makna liver. Ini analog saja untuk memudahkan pemahaman pada tujuan dari pembahasan kita ini.
Mudghoh atau hati letaknya di dalam tubuh manusia. Tubuh manusia membutuhkan perhatian yang serius. Perlu kita ketahui bahwa penyakit-penyakit manusia bersumberkan dari hati . baik dan tidaknya metabolism tubuh seseorang tergantung pada baik dan tidaknya darah darah orang tersebut. Dan darah itu akan menjadi baik dan tidak tergantung dua hal:
Pertama; apa yang dimakan dan yang dan bagaimana cara memperoleh makanan itu. Apa yang dimakan adalah harus sehat, seperti buah-buahan, sayur-sayuran, daging-dagingan yang memperkuat stamina. Kemudian darimana yang kita makan atau bagaimana cara mendapatkan makanan itu. Yang jelas makanannya harus halal, halal disini sudak mencakup pengertian makanan itu diperoleh dengan cara yang benar.Kedua darah itu baik dan tidaknya adalah bersumber dari pencernaan. Pencernaan yang berfungsi dengan baik akan membuat darah baik dan begitu juga sebaliknya; jika pencernaannya tidak berfungsi dengan baik maka darah yang dihasilkannya juga tidak baik.
Upaya untuk membantu memperbaiki pencernaan biasa kita lakukan paling tidak satu tahun sekali; yaitu puasa Ramadhan. Puasa Ramadhan diantara manfaatnya adalah membersihkan semua organ-organ manusia. Panasnya pencernaan orang-orang yang berpuasa akan membakar hal-hal yang negative dalam pencernaan seperti bachsil dan bakteri. Dan lain sebagainya. Dengan demikian pencernaan dapat kita analogikan seperti bejana yang kita gunakan untuk memasakn segala sesuatu.
Kita bayangkan seandainya bejana itu tidak pernah dicuci. Setalah kita gunakan untuk memasak ikan laut, kita gunakan untuk memasak telur, terus demikian silih beganti sehingga menimbulkan kerak pada bejana itu. Demikian pula pencernaan, kerak-kerak, imbas daripada yang kita makan lambat atau cepat mempengaruhi proses kerja perncernaan atas makanan yang kita konsumsi.
Sangat jelas sekali bahwa pencernaan tidak bisa bekerja sendiri. Hasil proses pencernaan dilimpahkan ke ginjal, pancreas sampai pada liver. Dari kerja sama yang kompak menghasilkan beberapa hal, diantaranya darah putih, darah merah, sperma, keringat, air kencing dan kotoran.
Dari hasil kerja sama yang baik antara organ tubuh manusia tersebut akan menghasilkan lima hal di atas yang baik pula. Bila akibat proses kerja pencernaan yang kurang baik sehingga terjadi darah kotor dalam tubuh manusia, maka sangat diperlukan sekali pembersih. Yang pertama untuk membersihkan pencernaan yang menjadi sumber pengelola makanan dalam tubuh. Kedua membersihkan apa yang telah di olah.
Tugas liver adalah menjatah atau menyalurkan darah ke jantung, ke otak kecil. Apakah tidak mungkin apabila darah atau kotoran akan mempengaruhi fisik otak manusia serta sarafnya. Sehingga kurang mampu untuk berfikir baik, membuka wawasan, dan pandangan yang jauh. Apalagi jelas kita tidak menginginkan pola fikir-pola fikir yang kurang baik. Yang tidak menguntungkan bagi pribadi kita, baik dalam urusan dunia dan maupun akhirat kita.
Dengan hasil darah yang baik, sehat, akan sangat membantu dalam kecerdasan; dari kecerdasan hati sampai kecrdasan akal. Sehingga menumbuhkan pola fikir dan wawasan serta pandangan yan jernih. Bisa memilah mana yang menguntungkan dalam dunia dan akhiratnya. Dan mana yang merugikan dalam kedua hal tersebut.
Secara fisik saja sangat memerlukan kesehatan dan kebersihan. Hati adalah bagian tubuh manusia yang sangat berperan dalam memberikan atau dalam mensuport pola fikir, wawasan dan pandangan manusia, karena hati adalah tempatnya iman dan tempatnya nafsu. Lalu apa yang terjadi jika kita tidak mempunyai alat untuk membersihkannya.
Kita harus memberikan makanan hati serta pembersihnya seperti ilmu ma’rifat dan lain sebagainya, yang terkait dengan keimanan serta pertumbuhannya. Paling tidak kita bisa memilih mana yang di dorong oleh imannya dan mana yang didorong oleh nafsunya.
Seperti masalah pencernaah diatas bukan sesuatu hal yang mustahil bilamana kita mendiamkan kotoran-kotoran hati maka akan mempengaruhi pola fikir yang pada dasarnya akan merugikan diri sendiri.
Dorongan bathin untuk menuju ke jalan Allah, ketahuilah bahwa jalan yang pertama-tama harus ditempuh adalah mengeluarkan dorongan yang kuat dihati untuk berminat dan mengajak untuk menuju Allah Ta’ala dan menuju jalan ke Akherat, serta menomor duakan dunia, dari segala yang biasanya dikejar manusia kebanyakan. Seperti mengumpulkan menumpuk kekayaan, bersenang-senang menurut hawa nafsunya, serta bermegah-megahan, dalam tindakan dan kemewahannya.

Dorongan ini merupakan rahasia-rahasia Tuhan yang dilimpahkan ke dalam hati hamba-Nya, itulah yang dikatakan inayah Tu han dan tanda-tanda petunjuk-Nya, sering inayah serupa di limpahkan ke dalam hati hambanya dikala dalam ketakutan atau menggembirakan atau timbulnya kerinduan terhadap Zat-Nya, ataupun ingin mengadakan pertemuan dengan para wali Allah, atau sewaktu mendapatkan nasehat atau pandangan dari mereka. Adakalanya dorongan tersebut tanpa ada sesuatu sebab tertentu
Adapun cita-cita untuk-mendapatkan dorongan serupa itu, memang diharuskan dan digalakkan. Akan tetapi bercita-cita saja tanpa berusaha untuk meningkatkan dan mendapatkannya, itu satu keputusan yang bodoh, yang menunjukkan orang yang berharap atau bercita-cita saja tanpa amal, sangat bodoh sekali, bukanlah Rasul pernah bersabda ; Sesungguhnya Tuhan telah menyediakan berbagai kelimpahan pada setiap manusia, maka hendaklah kamu menuntutnya.
Siapa yang telah mendapatkan penghargaan dari Allah Rabbul Alamin dengan dorongan yang Mulia ini, hendaklah ia menyediakan dirinya pada tempat yang sesuai. dan hendaklah ia tahu bahwa karunia Allah Ta’ala ini, adalah nilai yang paling tinggi di antara nikmat-nikmat yang lain. Dan tak dapat dinilai derajatnya, dan tidak dapat dibandingkan dengan apapun. Kesyukuran atas nikmat-Nya, maka hendaklah melipatgandakan kesyukuran-mu terhadap Allah Ta’ala atas nikmat yang besar yang telah diberikan kepadamu. Dipilih dan diutamakan diantara orang-orang yang setaraf dengan rekan-rekan yang berjuang yang telah mendapatkan nikmat.
Sangat banyak orang-orang Islam yang sadar mencapai usia delapan puluh tahun atau lebih akan tetapi ia masih belum dikaruniakan dorongan serupa dan hatinya tidak pernah terketuk oleh rahasia bathinnya
Setiap murid harus rajin berusaha untuk meperkokoh, memelihara dan menuruti ajakan dorongan bathin tersebut. Cara untuk memperkokohnya ialah dengan memperbanyak mengingat Allah Ta’ala (dzikir), merenung dan memperhatikan segala kekuasaan Allah Ta’ala, dan senantiasa dekat dan berdampingan dengan wali Allah. Cara lain memeliharanya dengan menjauhkan diri dari berkumpul bersama-sama orang-orang yang tidak bermanfaat dalam agama, dan menjauhkan segala was-was dan tipu daya syaitan. Yang terakhir dengan cara menuruti ajakannya ialah berlomba-lomba kembali kejalan Allah, berlaku benar dalam menghadapi segala perintah-Nya, tidak bermalas-malasan dan tidak menunda-nunda serta tidak pula melambat-lambatkannya.
Bahkan apabila sampai pada masanya hendaklah ia menunaikan, dan apabila terbuka pintu kebajikan hendak­lah ia masuk tanpa banyak berpikir, dan apabila diseru untuk berbakti hendaklah bergegas, dan tidak tanggung-tanggung, hendaklah ia berhati-hati atas ucapan besok atau lusa, sebab yang demikian itu adalah hasutan syaitan. Malah hendaklah ia terus-menerus mengerjakan segala amal baik itu dengan segera, tidak ditangguh-tangguhkan atau mencari-cari alasan karena tidak ada waktu, atau belum masa­nya untuk beramal dan sebagainya.
Berkata Abur Robi’ Rahimahullah, tujukan dirimu ke jalan Allah dalam keadaan tampan atau cacat diri, jangan sekali-kali menunggu waktu sehat saja, karena menunggu waktu sehat itu adalah merugikan.
Berkata Ibnu Atha’ dalam kitabnya Al-Hikam menangguh-nangguhkan sesuatu pekerjaan sehingga ada peluang, menandakan kebodohan jiwa.
Risalatul Murid, Sayyid Al-Imam Abdullah Al-Hadad.ra

Allah berfirman :
 “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Al Baqarah : 201]
Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya hati ini benar-benar berkarat dan sesungguhnya [cara] menjernihkannya adalah [dengan] membaca Al Quran, mengingat mati dan menghadiri majelis-majelis zikir.”
Hati itu berkarat, jika memang si pemiliknya menyadari apa yang telah digambarkan oleh Nabi SAW di atas. Jika tidak, maka ia akan berubah hitam kelam. Ia menghitam karena jauh dari [pancaran] cahaya. Ia menghitam karena kecintaannya pada dunia dan kepemilikannya tanpa sikap wara’. Memang, barang siapa yang di dalam hatinya sudah bercokol kuat kecintaan pada dunia, maka hilanglah rasa wara’ nya. Ia menjadi sembarangan mengumpulkan duniawi dari yang halal dan haram. Kesadaran untuk memilah dalam mengumpulkan harta telah hilang, dan rasa malunya pada Tuhan-nya dan pengawasanNya telah lenyap.
Wahai manusia ! terimalah resep Nabi kalian dan segeralah menjernihkan hati kalian dengan obat yang telah beliau deskripsikan pada kalian. Jikalau salah seorang di antara kalian terserang sakit, lalu dokter memberinya resep obat padanya, tentu saja hidupnya akan berubah dan akan langsung menggunakannya.
Awasilah selalu Allah dalam kesendirian dan keramaianmu. Jadikanlah Ia pusat pandangmu hingga kalian seolah-olah melihatNya, dan jika kalian tidak bisa melihatNya, maka [ingatlah selalu] bahwasanya Dia Melihatmu. Barang siapa yang berzikir menyebut Allah ‘Azza wa Jalla dengan hatinya, maka ia benar-benar seorang pezikir, dan tidaklah disebut pezikir orang yang tidak berzikir menyebutNya dengan hatinya. Lisan [bibir] adalah pemuda hati dan subordinatnya. Senantiasalah menyimak petuah, sebab jika hati absen dari petuah, maka ia menjadi buta.
Hakikat taubat adalah mengagungkan perintah Al Haqq ‘Azza wa Jalla dalam segala kondisi. Sebagian kaum [shaleh] menuturkan “segala kebaikan [terangkum] dalam dua kata : pengagungan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan cinta kasih pada makhlukNya. Setiap orang yang tidak mengagungkan perintah Allah ‘Azza wa Jalla dan tidak menyayangi makhluk Allah, maka ia jauh dari Allah.” Allah mewahyukan pada Musa AS, “sayangilah [makhluk-Ku] hingga Aku menyayangimu, maka ia pun akan Ku sayangi dan akan Ku masukkan ke dalam surga Ku.” Sungguh beruntung orang yang penyayang [tetapi kalian, wahai manusia] umur kalian sia-sia dalam perilaku, “mereka makan, kami juga makan, mereka minum, kami juga minum, mereka berpakaian, kami juga berpakaian …”
Barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan, maka sebarkanlah nafsu dirinya dari [mengkonsumsi] hal-hal yang haram, syubhat dan syahwat. Juga hendaklah ia bersabar menjalankan perintah Allah SWT dan menjauhi laranganNya, serta menyetujui takdirNya. Kaum shaleh senantiasa bersabar bersama Allah SWT dan tidak bersabar dariNya. Mereka bersabar demi Dia dan didalamNya. Mereka bersabar agar bisa bersamaNya. Mereka hanya memohon agar Dia berkenan menganugerahkan pada mereka kedekatan denganNya. Mereka keluar dari rumah-rumah hawa nafsu dan tabiat mereka serta senantiasa membawa syara’ bersamanya. Mereka berjalan menuju Tuhannya. Meskipun menemui petaka, kesusahan, penderitaan, musibah, mendung, masalah, lapar, dahaga, ketelanjangan, kenistaan dan kehinaan, mereka tetap tidak memperdulikannya dan tidak urung kembali [membatalkan] perjalanan mereka, serta tidak berubah sedikitpun dari lintasan yang mereka lalui. Mereka terus maju ke depan tanpa sedikit pun melambatkan perjalanan mereka. Mereka terus berbuat demikian hingga kekekalan hati dan qalib [fisik] bisa dicapainya.
Wahai manusia ! berusahalah bertemu dengan Al Haqq ‘Azza wa jalla dan malulah denganNya jika belum menemuiNya. Rasa malu orang Mukmin pada Allah SWT, kemudian pada makhluknya hanya terkait dengan masalah agama dan pelanggaran batasan syara’. Ia tidak boleh malu, apalagi minder dalam [menjalankan] agama Allah, menegakkan ketentuan-ketentuanNya dan melaksanakan perintahNya.
“Dan janganlah belas kasihan kepada keduanya mencegah kamu untuk [menjalankan] agama Allah.” [QS An Nur : 2]
Barang siapa yang benar-benar mengikuti Rasulullah SAW, maka beliau akan memakaikannya baju besi dan topi perang, menyerahkan beliau kepadanya, membekali kesantunan perilaku dan akhlak beliau, serta memakaikannya jubah kebesarannya. Beliau juga sangat senang dengannya sebagai sosok umatnya dan bersyukur pada Allah SWT atas hal tersebut. Beliau kemudian mengangkatnya sebagai deputinya dalam komunitas umatnya, serta pembimbing jalan menuju Al Haqq ‘Azza wa Jalla. Maka tatkala Al Haq ‘Azza wa Jalla menjemput ajalnya, maka Diapun mengangkat salah seorang umatnya untuk menggantikan [tugas]nya. Orang-orang inilah yang merupakan manusia-manusia pilihan, jumlahnya hanya 1 berbanding 1 juta jiwa. Mereka membimbing manusia dan bersabar menghadapai siksaan sambil terus memberi nasihat pada mereka. Mereka tersenyum di muka kaum munafik dan durjana, serta memikat mereka dengan segala upaya demi membersihkan kotoran yang ada dalam diri mereka untuk kemudian menggandeng mereka menuju pintu Tuhan mereka ‘Azza wa Jalla.
Diriwayatkan dari beberapa kaum shaleh, “Tidak tertawa di depan muka orang fasik kecuali orang yang arif.” Ia tertawa di depan si fasik dan memperlihatkan kepadanya bahwa ia memang tidak mengenalnya, namun ia mengetahui kebobrokan rumah agamanya dan kehitaman muka hatinya oleh gumpalan daki dan kotoran. Orang yang fasik dan munafik menyangka bahwa keduanya bisa menyembunyikan perkara mereka dari orang arif dan ia pun tidak mengetahui mereka. Sungguh tidak, sekali lagi tidak ada kemuliaan sedikitpun pada mereka. Mereka tidak dapat bersembunyi dari orang arif, karena ia mengetahui mereka hanya dengan lirikan, tatapan, kata dan gerakannya. Ia bisa melihat lahir dan batin mereka. Tidak diragukan lagi, celakalah bagi kalian. Kalian pikir, kalian bisa menyembunyikan kebusukan kalian dari kaum shidiqqin yang arif dan alim ? sampai kapan kalian akan mensia-siakan usia dalam kehampaan ? carilah orang yang dapat membimbingmu menuju jalan akherat, hai orang yang tersesat !
Allah Maha Besar di atas kalian, hai orang-orang yang mati hati dan musyrik dengan sarana-sarana duniawi ! kalian juga, hai para penyembah berhala ! kekuatan dan daya mereka, pekerjaan, modal, penguasa negeri dan arah-arah yang mereka tuju, sesungguhnya mereka terhijab dari Allah SWT. Setiap orang yang memandang kemudaratan dan kemanfaat berasal dari selain Allah SWT, maka ia bukanlah hambaNya, akan tetapi ia adalah hamba yang memandang hal itu [kemudaratan dan kemanfaatan] sebagai berasal darinya. Hari ini [di dunia], mereka telah berada dalam api Neraka Jahanam. Tidak ada orang yang bisa selamat dari Neraka Allah ‘Azza wa Jalla kecuali orang-orang yang bertakwa, mengesakan ikhlas, dan orang-orang yang bertaubat.
Bertaubatlah dengan hatimu, baru kemudian dengan lisanmu. Taubat merupakan inti perubahan, yang merubah kuasa hawa nafsu, setan dan kolega-kolegamu yang buruk. Jika engkau bertaubat, maka ubahlah fungsi pendengaran, penglihatan, lisan, hati dan seluruh anggota tubuhmu. Murnikanlah makanan dan minumanmu dari kotoran haram dan syubhat. Suburkanlah rasa wara’mu dalam pekerjaan, dan jual belimu. Jadikanlah citamu hanya tertuju pada Al Mawla junjunganmu ‘Azza wa Jalla. Hapuslah kebiasaanmu dan gantikan tempatnya dengan beribadah. Hapuskanlah kemaksiatan dan gantikan ia dengan ketaatan. Lalu carilah hakikat dengan tetap memegang keshahihan syariat dan kesaksiannya, sebab setiap hakikat yang tidak dipersaksikan oleh syariat, maka ia adalah ke-zindiq-an.
Jika instruksi ini telah engkau realisasikan, maka akan datang padamu kefanaan dari akhlak yang tercela dan dari memandang seluruh makhluk. Ketika itulah, lahirmu akan terpelihara dan batinmu sibuk dengan Tuhanmu ‘Azza wa Jalla. Jika hal ini telah mewujud sempurna dalam dirimu, maka dunia akan datang di hadapanmu dengan sisi-sisinya, lalu menempatkanmu sebagai bagiannya, dan seluruh makhluk mengikutimu, dari yang pertama hingga yang akhir. Semua itu tidak akan mudarat bagimu serta tidak akan mengubahmu dari pintu Al Mawla Junjunganmu ‘Azza wa Jalla, sebab engkau telah berdiri bersamaNya, menerimaNya, dan asyik tenggelam denganNya, memandang kebesaran dan keindahanNya. Engkau hancur tercerai-berai, ketika memandang kebesaranNya, lalu engkau menyatu kembali, ketika memandang keindahanNya. Engkau takut ketika menatap kebesaranNya, serta berharap ketika menatap keindahanNya. Bergetar ketika menyaksikan kebesaranNya, dan kokoh ketika menyaksikan keindahanNya. Sungguh bahagia orang yang telah mencicipi makanan ini.
Ya Allah berilah kami makan dari makanan kedekatan-Mu dan minumilah kami dengan minuman kemesraan-Mu.
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka.” [QS Al Baqarah : 201]
%d blogger menyukai ini: