Posts tagged ‘alif’

3 September 2012

Janganlah Memaksakan Perjalanan Kecuali Pada Tiga Masjid

oleh alifbraja

9
قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ :
لَا تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلَّا إِلَى ثَلَاثَةِ مَسَاجِدَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمَسْجِدِ الْأَقْصَى (صحيح البخاري

 

Sabda Rasulullah saw :
“Janganlah memaksakan (berusaha keras) mengadakan perjalanan kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul saw, dan Masjid Al Aqsha” (Shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Limpahan Puji Kehadirat Allah Swt Maha Raja langit dan bumi, Maha Membangun kemegahan alam semesta dari tiada, Maha Tunggal dan Maha Abadi sempurna dengan Keabadian-Nya dan alam semesta menjadi lambang Kesempurnaan-Nya. Maha Melimpahkan Anugerah tiada pernah terhenti sepanjang waktu dan zaman. Terbit dan terbenamnya matahari menyaksikan Anugerah Ilahi yang tiada pernah terputus kepada hamba – hambaNya. Hamparan permukaan bumi yang selalu menyaksikan limpahan Anugerah Illahi. Kenikmatan yang tiada tara yang tidak bisa diberikan oleh hamba satu sama lain. Kenikmatan hidup, kenikmatan bernafas, melihat, mendengar, berbicara, berfikir.

Tiada satu manusia bisa menciptakan akalnya sendiri, tiada satu manusia bisa menciptakan tangannya sendiri, tiada satu manusia bisa menciptakan lidah dan bibirnya sendiri, tiada satu manusia bisa memiliki kehidupannya sendiri, bahkan ia lahir tanpa kehendak-Nya untuk lahir ke muka bumi. Tiada satu bayi lahir ke dunia karena ia sendiri yang ingin lahir. Tapi semua bayi lahir tanpa tahu kenapa ia lahir. Maka setiap kelahiran bayi di muka bumi melambangkan bahwa kehidupan berawal dari kehendak Rabbul Alamin. Maka diutuslah Para Nabi dan Rasul, para pembawa risalah mulia menuntun kepada keluhuran.

Dan sampailah kepada kita keagungan tuntunan Sayyidina Muhammad Saw. Membawa kemuliaan – kemuliaan ibadah, perbuatan – perbuatan yang indah juga doa – doa dan munajat yang indah. Allah Maha Tahu bahwa manusia itu selalu menginginkan keindahan. Aazllah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya dan Allah Maha Tahu manusia itu sangat tidak berdaya untuk lepas dari segala dosa.

Namun Dia (Allah) menciptakan manusia itu lemah agar manusia banyak berdoa. Maka Allah menciptakan keinginan dosa pada manusia agar mereka mau meminta ampun agar mereka memahami bahwa Sang Pencipta mereka Maha Pengampun. Allah menciptakan manusia bisa berbuat jahat agar manusia mengenal Yang Maha Memaafkan. Jalla Wa Alla Swt yang menuntun setiap kejadian. Hakikatnya merupakan bentuk perkenalan Kesempurnaan Allah dan Keindahan Allah.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Maka muncullah 7 ayat dalam surah Al Fatihah yang mengandung rahasia Kasih Sayang Allah untuk hamba – hambaNya yang beriman dan yang tidak beriman. “Bismillahirrahmanirrahim” QS. Al Fatihah : 1 adalah kalimat yang mengenalkan Kasih Sayang Allah pada hamba-Nya yang beriman dan yang tidak beriman. “Arrahman” adalah Kasih Sayang Allah pada seluruh hamba-Nya, yang muslim yang bukan muslim, hewan dan tumbuhan semua yang baik dan yang jahat diberi Anugerah oleh Allah. Dijinkan minum, diijinkan makan, diijinkan bernafas, yang kesemuanya itu adalah bentuk dari nikmatnya Allah Swt.

Rasulullah saw itu kalau selesai minum beliau berdoa “Alhamdulillahilladzi ja’allahu ‘adzban furatan birahmatihi wa lam ya2j’alhu milhan ujaajan bidzunubina” lailahailallah..(luar biasa), beliau berkata kalau saat minum, (haus lalu minum), ucapannya selesai minum : segala puji bagi Allah yang menjadikan air ini tawar dan enak diminum karena Rahmat dan Kasih Sayang-Nya kepada kita dan tidak menjadikan air ini pahit dan getir sebab dosa – dosa kita”. Allah bisa membalikkan air yang jernih itu menjadi bara api yang masuk ke dalam mulut kita karena dosa – dosa kita. “Alladzi ja’alahu adzbamfuratan birahmatihi” tetap tidak berubah air itu walau diminum oleh seorang pendosa. “wa lam yaj’alhu milhan ujaajan bidzunubina” tidak Ia (Allah) dijadikan pahit dan getir bagi mereka karena dosa – dosa kita. Inilah bentuk Kasih Sayang Allah dalam setiap reguk air yang kita minum dan kita memahami bahwa kita penuh dosa dan kesalahan.

Hadirin – hadirat, “Bismillahirrahmanirrahim” “Arrahman” (Maha Melimpahkan Kasih Sayang kepada seluruh makhluk-Nya). “Arrahim” Kasih Sayang Allah untuk yang beriman, khusus bagi yang beriman. Jadi kalimat ini mengenalkan Kasih Sayang dan merangkul seluruh makna kasih sayang dan kenikmatan yang dilimpahkan oleh Allah di muka bumi dan kenikmatan yang abadi kelak bagi yang beriman di dunia dan di.akhirat. bagi yang tidak beriman hanya di dunia saja. Demikian dan surah Al Fatihah juga adalah induk dari seagung – agungnya doa.

Surah Al Fatihah adalah induk dari seagung – agungnya doa, seagung – agungnya Rahmat-Nya Allah. Ketika kita memahami dasar awal kecelakaan dan musibah dan kesulitan di dunia & di barzah dan di akhirat adalah dosa. Maka keselamatan dari dosa – dosa adalah jalan yang lurus dan baik. Itulah yang tersimpan dalam surah Al Fatihah.

“Ihdinaashshirathalmustaqiim” QS. Al Fatihah : 6 tunjukkan kami ke jalan yang lurus. Adakah doa yang lebih agung daripada doa untuk selalu berada di jalan yang dicintai dan direstui Allah. Adakah kalimat yang lebih agung dari tidak ingin selalu jauh dari Allah. Kalimat agar kita selalu bersama Rabbul Alamin. “Ihdina.. ihdina.. ihdina” tunjukkan.. tunjukkan.. tunjukkan kami ke jalan yang lurus, walau sudah tahu tunjukkan lagi yang lebih indah bukan dari pintu yang lebih indah. Kami tahu jalan yang lurus, ibadah yang indah tapi barangkali belum bisa mengamalkannya maka tunjukkanlah. Bila yang menghalangi kami dari jalan yang lurus adalah pekerjaan maka berikan pekerjaan yang lebih indah dan lurus di mata-Mu Rabbiy.

Jika yang menjadi penghalang adalah usaha kami daripada hal – hal yang tidak Kau ridhai maka jadikanlah Rabbiy usaha kami hal – hal yang Kau ridhai dan membawa kemakmuran. Jika rumah tangga kami, jika masalah kami, jika..jika..jika setiap detik dalam kehidupan kami yang keluar dari jalan-Mu, kembalikanlah kepada jalan yang benar. Inilah doa yang menuntun kita agar selalu dirangkul oleh cintanya Allah.

“Shiratalladzina an’amta a’laihim” QS. Al Fatihah : 7 jalan orang yang Kau beri kenikmatan atas mereka. Alangkah indahnya ajaran doa dari Rabbul Alamin. Minta jalan orang yang Kau beri kenikmatan dunia dan akhirat, beri kami kenikmatan. Adakah lebih yang diinginkan manusia melebihi dari kenikmatan? adakah kebutuhan lebih dari kenikmatan? Kenikmatan dunia, kenikmatan akhirat tersimpan dalam kalimat “Shiratalladzina an’amta a’laihim”.

“Ghairilmaghdhubi a’laihim waladhdhaalliin” QS. Al Fatihah : 7 bukan jalan yang mereka yang dimurkai dan bukan pula jalan mereka yang sesat. Oleh sebab itu setiap kita shalat selalu dibaca tiap rakaat. Kenapa? karena inilah seagung – agungnya doa, seagung – agungnya harapan, seagung – agungnya anugerah tersimpan dalam Fatihatul kitab. Beruntunglah kita yang mengikuti dan memahami rahasia kemuliaan Anugerah Illahi.

Sampailah kita pada hadits riwayat Shahih Bukhari yang kit abaca bersama tadi. “la tasyaddurrahalu illa ilaa tsalatsah masaajid, Almasjidil haram, wa masjidirrasul shallallahu a’laihi wasallam, walmasjidil Aqsha” jangan berusaha untuk mengadakan perjalanan atau memaksakan diri untuk mencapai kecuali 3 tempat yaitu Masjidil Haram, Masjidinnabiy dan Masjidil Aqsa. Maksudnya bukanlah larangan untuk pergi ke masjid lain atau ke tempat lain tapi hadits ini dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalani di dalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari makna hadits ini adalah tasyjii’ wattarghib, laysa littahrim. Makna hadits ini bukan berarti seseorang itu haram pergi ke masjid lainnya akan tetapi memberikan semangat dari Nabi saw, tidak ada tempat yang lebih baik dari dituju di muka bumi melebihi Masjidil Haram, Masjid Nabawiy dan Masjid Al Aqsa. 3 tempat termulia yang ada di muka bumi. Kalau bawa anak, tamasya, ziarah, mengadakan dalam perjalanan, boleh – boleh saja tapi tidak ada yang melebihi 3 kemuliaan tempat ini.

Disini laisa bittahriim, tap Tasyjii’ wattarghiib, bukan haram pergi ke masjid lain, karena di dalam riwayat Shahih Bukhari Nabi saw pergi ke masjid quba setiap hari sabtu. Masji d Quba bukanlah masjid haram, bukan masjil Aqsa, bukan masjid nabawiy, tapi Nabi saw setiap hari sabtu pergi ke masjid Quba.
Menunjukkan pergi ke masjid – masjid lain juga boleh. Memaksakan perjalanan ke masjid lain juga boleh tapi tidak ada tempat yang lebih agung di muka bumi melebihi Masjidil Haram wa Masjidirrasul wa Masjidil Aqsa.
Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Baari bisayarah Shahih Bukhari menjelaskan bahwa makna hadits ini terlepas dari keinginan seseorang daripada ziarah kepada pekuburan shalihin (orang – orang shalih) karena yang dituju bukan masjidnya tapi pekuburannya. Sebagaimana Rasul saw berziarah ke Baqi’ dan ke tempat lainnya. Demikian pula kita kalau seandainya berziarah ke tempat – tempat para shalihin maka hal itu adalah sunnah. Akan tetapi kalau kita bicara masjid, tidak ada yang lebih mulia di muka bumi selain 3 masjid (Masjidil Haram wa Masjidirrasul wa Masjidil Aqsa). 3 tempat yang Allah jadikan perjuangan dan kemuliaan langkah – langkah Nabi Muhammad Saw.

Masjidil Haram adalah tempat lahirnya Rasulullah Saw, Masjid Nabawiy adalah makamnya Rasulullah Saw, Masjidil Aqsa adalah tempat Isra dan Mi’rajnya Rasulullah Saw. Dijadikan Nya (oleh Allah swt) tempat yang didatangai Nabiyunna Muhammad Saw dan mencatat sejarah agung itu sebagai tempat tempat suci dan mulia.

Hadirin – hadirat, diriwayatkan didalam Shahih Bukhari Rasul saw bersabda “ma baina, baiti wamin bariy raudhatun min riyadhil jannah” diantara rumahku dan mimbarku adalah taman – taman surga. Raudhatul Syarif, apa maksudnya? antara rumah dan mimbarnya adalah taman surga. Kan tempat biasa, itu tanah, Bagaimana taman surga? Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari menjelaskan maknanya adalah mulianya tempat tersebut dan banyaknya, berdatangannya berkali – kali dan berbolak – baliknya malaikat Jibril membawakan wahyu di tempat tersebut. Maka tempat itu menjadi salah satu dari tamannya surganya Allah Swt. Apa maksudnya? Orang yang ibadah di tempat itu, Insya Allah bersama Rasulullah Saw di taman surganya Allah.

Oleh sebab itu Abu Abdilah Muhammad bin Ismail bin Bardizbah Al Bukhari yaitu pengarang Shahih Bukhari, kita kenal dengan nanam Imam Bukhari. Beliau menulis lebih dari 7.000 hadits didalam shahihnya di raudhatul syarif. Satu hadits ditulis berwudhu, shalat, tulis lagi, berwudhu, shalat. Demikian di dalam tadzkiratul huffadh dan syi’ar .. karena beliau sangat mencintai Nabi Muhammad Saw sehingga beliau menulis haditsnya di raudhatul syarif (diantara makam dan mimbarnya Rasulullah saw).

Ketika Sayyidina Umar bin Khattab radiyallahu anhu berdoa kepada Allah “Allahummarzuqnissyahaadah fi baladi Rasulik” wahai Allah beri aku mati syahid tapi mati syahidnya di Madinah Al Munawwarah. Dikabulkan oleh Allah. Bukan hanya di Madinah wafatnya tapi malah dimakamkan di sebelah makamnya Rasulullah Saw. Beruntung orang – orang yang mencintai Madinah. Diriwayatkan didalam Shahih Bukhari Rasul saw berdoa : “Allahumma habbib ilaynal Madinah Kahubbina Makkah awa asyadd” wahai Allah jadikanlah kami ini mencintai Madinah sebagaimana kami mencintai Makkah atau lebih dari mencintai Makkah. Inilah doanya Nabi Muhammad Saw, riwayat Shahih Bukhari. Beruntung orang – orang yang mencintai Madinah Al Munawwarah, semoga aku dan kalian mencintai Madinah Al Munawwarah.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Dari salah satu sunnah Sang Nabi saw yang tidak ditinggal oleh Nabi saw didalam melakukan safar adalah qabliyah fajr (shalat sunnah sebelum shalat fardhu fajar). Ini pertanyaan yang perlu saya perjelas karena pertanyaan sering muncul. Shalat Fajar itu adalah shalat subuh. Sebagian orang mengatakan shalat fajar itu bukan shalat subuh, sama saja shalat fajar itu ya shalat subuh. Kalau sunnah fajar berarti sunnah subuh, ketahuilah bahwa tidak ada bedanya makna fajar dan subuh itu didalam fiqh. Saya sudah shalat fajar (shalat subuh berarti). Kalau niatnya “ushalli fardhul fajr dengan ushalli fardhussubuh” sama saja, karena fajr itu ya subuh, subuh ya fajr. Kalau qabliyah fajr ya qabliyah subuh. Diriwayatkan oleh Sayyidatuna Aisyah radiyallahu anha didalam Shahih Bukhari Rasul saw selalu memaksakan untuk tidak pernah meninggalkan shalat qabliyah fajr “fi hadharin wa safar” didalam perjalanan maupun tidak dalam perjalanan, dalam keadaan sakit atau dalam keadaan sehat selalu tidak mau tinggal shalat sunnah 2 rakaat sebelum shalat subuh. Mau dibilang qabliyah fajr atau qabliyah subuh itu – itu juga maknanya.

Hadirin – hadirat yang dimuliakan Allah,
Allah Swt menuntun hamba – hambaNya kepada kemuliaan maka jadikan hari – hari kita terus mendekat kepada hal – hal yang mulia. Kita memahami bagaimana Allah memuliakan hamba – hambaNya yang memperjuangkan hal – hal yang diridhai Allah. Saya ambilkan satu penyampaian ketika Nabiyullah Ibrahim as diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar didalam Fathul Baari bisyarah Shahih Bukhari bahwa ketika Nabiyullah Ibrahim as ini sudah siap dibakar oleh Namrud karena menghancurkan semua berhala dan menggantungkan kapak yang menghancurkan semua berhala pada berhala yang paling besar maka rakyat sudah tahu ini yang berbuat adalah Ibrahim maka bakar. Ketika kayu – kayu bakar sudah ditumpukkan disekitar Ibrahim bagaikan bukit yang besar maka disaat itu Rasul saw menyampaikan riwayat cerita ini sebagaimana dijelaskan didalam Fathul Baari Al Masykur bahwa langit dan bumi dan malaikat berdoa kepada Allah. “Wahai Allah kekasih-Mu itu Ibrahim mau dibakar” maka Allah menjawab “Aku lebih tahu daripada mereka talam semesta”. Wahai alam semesta, wahai gunung, wahai malaikat, wahai alam jika Ibrahim meminta bantuan kepada kalian, memerintah kalian maka taati, perintah Allah. Nabiyullah Ibrahim berdoa “wahai Allah Engkau Maha Tunggal di langit dan bumi, aku ini sendiri di muka bumi, tidak ada manusia menyembah-Mu selain aku di muka bumi ini, di dunia ini”. Saat itu belum punya umat, sendiri Nabi Ibrahim. Engkau Maha Tunggal ya Rabb dan aku sendiri di bumi ini, tidak ada satu pun yang menyembah-Mu di muka bumi. “Hasbiyallahu wani’mal wakiil” cukup bagiku Engkau wahai Allah daripada hal – hal yang perlu kuminta perlindungan. Maka Allah melihat api Namrud dinyalakan maka Allah memerintahkan “kuuniy bardan wa salaaman ala ibrahim..”, QS. Al Anbiya 69 wahai api jadilah kau sejuk dan membawa kesejahteraan atas Ibrahim as.. Kita lihat bagaimana mesranya doa Nabi Ibrahim kepada Allah. Bagaimana pasrah dirinya Nabiyullah Ibrahim kepada Allah, Khalilullah (kekasih Allah).

Kita lihat riwayat yang berkaitan dengan ini. Diriwayatkan didalam riwayat yang tsigah bahwa Allah menyaksikan seekor katak yang mengisi air di mulutnya dan melompat – lompat mendekat kepada Nabi Ibrahim dan meniupkan air di mulutnya ke gunung api yang membakar Nabiyullah Ibrahim. Apa artinya perbuatan seekor katak? ia kembali lagi mengambil air, menaruh air di mulutnya, melompat – lompat lagi mendekati api dan menyemburkannya. 1000 katak berbuat seperti ini tidak akan bisa memadamkannya. Tapi perbuatan yang sia – sia itu tidak sia – sia di mata Allah. Allah haramkan semua katak untuk dibunuh hingga akhir zaman, gara – gara satu perbuatan katak. Diriwayatkan didalam Sunan Al Kubra oleh Al Imam Baihaqi dan riwayat Imam Nasa’i dan riwayat Imam Abi Daud dengan riwayat hasan dan riwayat yang shahih bahwa Rasul saw melarang membunuh katak.

Datang seseorang berkata “ya Rasulullah kami ingin menjadikan obat dari hewan katak boleh tidak?”, dilarang oleh Nabi saw. Jangan membunuh katak.
Subhanallah!! Kenapa? karena cintanya katak kepada Khalilullah (Nabiyullah Ibrahim as). Padahal perbuatannya sia – sia tidak bisa memadamkan api itu dan Allah sudah menolongnya tanpa perlu katak ini meniupkan air, tapi usahanya, walaupun ia tahu perbuatannya itu tidak akan merubah sesuatu tapi niatnya didalam hati seekor katak yang demikian kecil Rabbul Alamin melihat dan memerintahkan semua Nabi untuk melarang umatnya membunuh katak.

Hadirin, kseru engkau untuk membela Sayyidina Muhammad Saw lebih – lebih lagi jiwa yang ingin membantu dan menegakkan tuntunan Sayyidina Muhammad Saw. Membantu menyebarkan dan membenahi umat agar dalam kedamaian. Kalau seekor katak mendapatkan penghargaan diharamkan untuk dibunuh seluruh bangsanya hingga akhir zaman hanya karena mengumpulkan air di mulutnya untuk memadamkan api Nabi Ibrahim. Renungilah kelembutan dan penghargaan Allah ini. Renungilah didalam jiwa masing – masing, renungilah segalanya betapa Allah menghargai orang – orang yang mau perduli atas hamba – hamba yang dicintai Allah. Hadirin – hadirat, semoga Allah Swt mempercepat jadinya kota Jakarta ini kotanya Nabi Muhammad Saw. Kota yang damai, kota yang sejahtera, kota yang tidak ada padanya atau sangat – sangat terbatas sekali narkotika, kekerasan, dan segala kejahatan terus berkurang dan semakin reda, semakin reda menjadi kota yang damai dan jadikan setiap diri kita menjadi orang – orang yang turut mendukung pembenahan kedamaian ini.

Hadirin – hadirat, kita berdoa kepada Allah Swt. Disini juga ada tamu – tamu kita para calon legislatif Bpk. H. Ashraf Ali, Bpk. H. Khairul Azhar, Bpk. H. Igo Ilham ini semuanya berniat sama untuk membenahi bumi Jakarta agar selalu berada dalam kedamaian. Semoga diberi kesuksesan oleh Allah Swt. Semua yang memperjuangkan kedamaian di bumi Jakarta Rabbiy dan bergandengan dengan Majelis Rasulullah Saw kita doakan dan kita inginkan mereka intuk maju dan membenahi wilayah kita. Amin allahumma amin.

Dan juga tamu – tamu kita yang hadir semoga dilimpahi keberkahan oleh Allah. Saya tidak berpanjang lebar menyampaikan tausiyah dan kita berdoa kepada Allah Swt, semoga Allah Swt melimpahkan Rahmat dan Keberkahan kepada kita, melimpahkan kedamaian kepada kita dan meredam segala fitnah yang datang kepada kita dan menyelesaikan segala kesulitan yang ada pada kita. Barangkali diantara kami yang hadir Rabbiy didalam permasalahan rumah tangganya, permasalahan dalam pekerjaannya, permasalahan dalam sekolahnya, permasalahan dalam pekerjaannya. Rabbiy Rabbiy kami meminta kepada-Mu Yang Maha Abadi dan Maha Tunggal untuk menyelesaikan segala kesulitan kami, pada siapa kami mengadu bukanlah kepada pintu-Mu Yang Maha dermawan Ya Rabb..

Ya Rahmah Ya Rahim “Ihdinaashshirathalmustaqiim Shiratalladzina an’amta a’laihim” tunjukkan kami ke jalan yang lurus, tunjukkan kami ke jalan yang indah. Kami yang masih terjebak dalam dosa tunjukkan untuk segera terhindar dari dosa, yang masih terjebak dalam kesulitan tunjukkan jalan menuju penyelesaian. Wahai Yang Maha Menerbitkan matahari dan membenamkannya, wahai Yang Menciptakan seluruh sel dan debu menghamparkan ke permukaan bumi, wahai Yang Mamahami segala kehidupan dan segala kematian, wahai Yang Menguasai kehidupan dunia, kehidupan barzah dan kehidupan di yaumal qiyamah, kami pasrah kepada-Mu Rabbiy Sang Pemilik kehidupan. Kamilah yang menjadi milikmu, kami adalah milik-Mu di dunia, milik-Mu di alam barzah, milk-Mu di yaumal qiyamah. Kami titipkan diri kami pada gerbang Rahmat-Mu ya Allah, pada gerbang Kasih Sayang-Mu Rabbiy. Kepada siapa pendosa ini menitipkan dirinya kalau bukan kepada gerbang pengampunan-Mu Yang Maha Luas.

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Ya Allah, Ya Allah..Ya Allah..Ya Allah..

Faquuluuu jamii’an (ucapkanlah bersama sama) Laillahailallah Laillahailallah Laillahailallah Muhammadurrasulullah

Kita berdoa juga semoga Allah mensukseskan rencana acara besar kita 12 Rabiul Awwal 1430H di MONAS. Ini waktunya pagi sebagaimana tahun lalu di monument nasional kita akan mengadakan Maulid Agung pada tanggal 12 Rabiul Awwal pagi waktunya karena itu hari senin kebetulan tepat dengan lahirnya Rasulullah saw. Dan hari itu tanggal merah, hadirin semoga acara ini sukses dan semoga Allah menyingkirkan segala fitnah dari acara yang menghambat daripada kejadian ini dan kita berharap juga bahwa acara ini menjadi acara besar yang menjadi benteng bagi khususnya bumi Jakarta dan umumnya bangsa kita dari segala musibah dan bala yang datang kepada kita. Allahumma amin dan kita meneruskan kembali dengan doa dan munajat bersama untuk muslimin – muslimat dan terangkatnya pemimpin yang lebih mencintai pembenahan umat. Amin Allahumma Amin.

Washollallahu ala Sayyidina Muhammad Nabiyyil Ummiy wa Shohbihi wa Sallam.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Iklan
20 Juli 2012

KSISTENSI TUHAN; DITOLAK DAN DITETAPKAN [1]

oleh alifbraja

KSISTENSI TUHAN; DITOLAK DAN DITETAPKAN [1]

 
 
 

Para penganut materialisme dan ateisme mengklaim, bahwa mereka adalah orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Di sisi lain, para penganut agama memperkenalkan diri mereka sebagai orang-orang yang menerima dan meyakini keberadaan Tuhan. Untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan salah satu dari dua pandangan tersebut, kita perlu mengkaji dan memahami argumen-argumen yang mereka sajikan.

Para penganut ateisme -untuk mempertahankan pandangan mereka- telah berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan konsepsi kaum beragama. Di antara argumen yang mereka lontarkan terhadap para pemeluk agama adalah : Terjadinya kesalahan pada akal dan alat pikir, keyakinan terhadap wujud Tuhan disebabkan karena kebodohan, eksperimen-eksperimen ilmiah tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan, banyak kejahatan dan keburukan yang tidak sesuai dengan pandangan kaum beragama bahwa Tuhan itu adalah baik dan berkehendak baik, dan sejumlah dalil serta argumen lainnya. Berikiut ini, mari kita kaji argumen mereka.

Dalil pertama : Kesalahan akal dan alat pikir manusia.

Akal dan pikiran manusia dapat melakukan kesalahan, karenanya ia tidak bisa dijadikan sandaran dan tolok ukur kebenaran. Di samping itu, hasil pemikiran manusia dibagi dua. Pertama: Pemikiran yang menerima penelitian dan eksperimen. Kedua: Pemikiran yang tidak menerima penelitian dan eksperimen. Pemikiran yang menerima eksperimen dapat diterima, dan sebaliknya pemikiran yang tidak menerima eksperimen harus ditolak. Sementara persoalan-persoalan ketuhanan, termasuk hasil pemikiran manusia jenis kedua, yakni tidak bisa menerima eksperimen. Dengan demikian maka persoalan-persoalan agama dan segala hal yang berhubungan dengan ketuhanan tidak bisa diterima dan harus ditolak.

Muthaharidalam menjawab masalah ini menulis:

Pertama: Jika argumen tersebut benar, seharusnya tidak harus berpihak pada kaum materialisme dan tidak juga pada kaum ber-Tuhan, tetapi sebatas pada kaum “tidak mengetahui”. Karenanya, dalil tersebut tidak dapat mendukung mazhab meterialisme dan tidak juga bermanfaat bagi mereka.

Kedua: Argumen tersebut termasuk argumen akal murni, bukan eksperimen. Dengan demikian, jika selain eksperimen tidak ada argumen lain yang bisa dijadikan sandaran, maka dengan sendirinya argumen inipun tidak dapat dijadikan sandaran. Oleh sebab itu, dengan sendirinya dalil inipun harus ditolak. Sebab, dia menolak keabsahan dalil yang bukan eksperimen.

Ketiga: Penelitian dan eksperimen itu berlandaskan pancaindera. Sedangkan pancaindera tidak lebih kecil dan lebih sedikit kesalahannya dibandingkan dengan akal. Oleh sebab itu, jika argumen akal tersebut ditolak keabsahannya -dengan alasan mengalami kesalahan- maka hasil eksperimen pun harus ditolak keabsahannya, karena pancaindera pun bisa mengalami kesalahan, bahkan lebih banyak dibanding kesalahan akal. Jadi pada dasarnya, sebagaimana kesalahan yang terjadi pada panca indera itu tidak menyebabkan orang menolak seluruh pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penelitian dan eksperimen -karena kesalahan bisa dihindari dengan pengulangan penelitian dan eksperimen yang lebih seksama dan teliti- demikian pula halnya kesalahan sebagian dari argumen akal, tidak harus menyebabkan seluruh bentuk argumennya tertolak. Sebenarnya manusia, dengan ketelitian dan latihan yang sempurna dan dengan penuh kehati-hatian pada materi dan bentuk istidlal (argumentasi akal murni), dapat sampai pada satu seri argumentasi yang meyakinkan yang tidak perlu dibantu oleh eksperimen. Bahkan sebagian besar dari masalah-masalah ketuhanan di dalam filsafat dan teologi Islam ditetapkan berdasarkan argumen bentuk ini.

Dalil ke dua : Manusia itu beragama (meyakini eksistensi Tuhan), disebabkan menyaksikan berbagai peristiwa dan bencana alam, tetapi mereka tidak mengetahui sebab khusus dari peristiwa dan kejadian alam tersebut. Kepercayaan terhadap wujud Tuhan inilah yang dijadikan alat untuk menjelaskan ketidaktahuan mereka terhadap sebab khusus tersebut.

Pada dasarnya pandangan yang dipelopori oleh August Comte ini berpijak pada asumsi bahwa sumber didapatkannya agama dan kepercayaan pada wujud Tuhan adalah karena kebodohan dan kejahilan manusia terhadap gejala dan fenomena sebab akibat yang terjadi di alam ini. Kemudain, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains, pemikiran tentang Tuhan dan agama pada manusia akan menjadi hilang. Jadi, pandangan ini berlandaskan pada suatu teori bahwa hukum-hukum universal pada awalnya merupakan bentuk hipotesa-hipotesa yang digunakan untuk menjelaskan peristiwa dan fenomena yang tidak diketahui sebabnya. Kemudian penelitian dan eksperimen memiliki peran untuk menentukan apakah hipotesa tersebut diterima ataukah ditolak. Dalam hal ini, keyakinan manusia terhadap wujud Tuhan pun merupakan sebuah hipotesa yang disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap sebab dari berbagai peristiwa dan fenomena, seperti timbulnya berbagai macam penyakit, gunung meletus, gempa bumi, gerhana matahari dan bulan, topan dan bencana alam lainnya.

Tetapi sebagaimana diketahui, tidak semua hukum-hukum dan judgmen-judgmen manusia dari jenis tersebut harus diperoleh dengan jalan penelitian dan eksperimen. Seperti proposisi mate-matika misalnya, proposisi jenis ini tidak perlu dilakukan penelitian dan eksperimen laboratorium untuk menemukan hasilnya apakah hipotesa sebelumnya cocok dengan hasil eksperimen ataukah tidak. Tetapi dengan metode mate-matika itu setiap orang dapat langsung memperoleh konklusinya tanpa melakukan hipotesa dan eksperimen sebelumnya. Meskipun -seandainya- teori di atas dapat dipercaya, tetapi hal itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk meyakini wujud Tuhan. Sebab jika diasumsikan bahwa keyakinan terhadap wujud Tuhan merupakan hasil suatu hipotesa, maka dia harus dinamakan hipotesa ” sebab dari semua sebab – sebab” (hatta sebab dari hukum kausalitas alam itu sendiri). Adapun hipotesa sebab untuk akibat khusus tidak mempunyai hubungan dengan kepercayaan pada Tuhan kaum beragama. Karena -menurut kaum beragama- suatu maujud yang dapat memberikan efek khusus pada maujud lainnya (yakni suatu sebab terbatas yang hanya bisa memunculkan akibat terbatas), tidak bisa dan tidak layak dikonsepsi sebagai Tuhan. Bahkan itu hanyalah merupakan satu makhluk dari makhluk-makhluk Tuhan yang tak terhitung jumlahnya.

Dalil ketiga : Manusia berpikir tentang Tuhan dan beragama dikarenakan keterbelakangan dan problem-problem sosial serta ekonomi yang tidak dapat mereka atasi. Kaum beragama itu berasal dari masyarakat strata bawah, kemudian penderitaan dan kemiskinan yang dialaminya menyeret mereka pada kondisi kebutuhan kepada perlindungan. Karenanya, berpikir tentang wujud Tuhan dan beragama, mereka jadikan sebagai tempat bernaung untuk mengurangi penderitaan mereka dan memberikan ketenangan jiwa. Di sisi lain, masyarakat strata atas dan para penguasa mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan kondisi ini demi mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya, sehingga keyakinan dan kepercayaan kelas bawah tersebut tetap eksis dan terpelihara. Atas dsar itulah aliran ini menolak agama, sebab agama -menurut mereka- merupakan candu masyarakat.

Dengan menelusuri sejarah para nabi pendakwah agama dan menyaksikan keragaman strata masyarakat yang menerima keberadaan Tuhan dan beragama, pandangan ini dengan mudah dapat ditolak. Karena tidak semua para nabi dan pendakwah agama itu dari kaum lemah, miskin, dan lapisan masyarakat bawah. Bagitu pula orang-orang yang menerima seruan mereka, tidak semuanya dari lapisan dan golongan masyarakat miskin dan menderita. Di zaman sekarang ini kita saksikan, betapa banyak orang-orang pintar, ilmuan, seniman, praktisi politik, penguasa, serta orang-orang kaya yang berpegang teguh pada agama secara murni tanpa pretensi dan kepentingan individu serta golongan. Bahkan tidak hanya sebatas itu, mereka malah bersedia menjadi pasilitator untuk pengembangan dakwah agama ditengah masyarakat. Kebalikan dari pandangan tersebut, justru kemiskinan yang mendekatkan seseorang kepada kekufuran (menolak Tuhan dan keluar dari agama).

Dalil Keempat : Pembahasan tentang Tuhan tidak akan sampai pada suatu konklusi, karena jika segala yang maujud di alam ini memiliki sebab dan Tuhan adalah sebab utamanya, maka berarti, Tuhan juga tidak bisa keluar dari hukum kausalitas tersebut, artinya bahwa Tuhan juga harus memiliki sebab. Sesuai dengan hukum ini bahwa setiap eksistensi harus mempunyai sebab.

Betrand Russel dalam buku kecilnya “Mengapa saya tidak beragama masehi (Kristen)?” berkata: ” Ketika saya masih muda, saya tidak memikirkan masalah yang dalam ini, dan argumen sebab dari semua sebab-sebab sudah cukup lama saya dengar. Sampai suatu hari ketika usia saya 18 tahun dengan membaca otobiografi John Stuart Mill, saya dapati kalimat ini; ayah saya berkata pada saya bahwa pertanyaan :siapa yang menciptakan saya? tidak punya jawaban. Sebab jika ada jawabnya, maka akan segera disusul dengan pertanyaan berikutnya: siapa yang menciptakan Tuhan? Kalimat sederhana ini menjelaskan kepada saya tentang kebatilan argumen sebab dari semua sebab-sebab. Jika setiap sesuatu harus mempunyai sebab, maka Tuhan juga harus mempunyai sebab. Karena jika sesuatu itu dapat ber-eksistensi tanpa sebab, maka sesuatu itu bisa berupa Tuhan dan bisa juga berupa alam. Ditinjau dari sisi inilah kehampaan argumen tersebut”.

Pada dasarnya orang yang menganggap salah dan batil argumen sebab dari semua sebab-sebab dikarenakan kerancuan pengetahuan mereka atas maksud dari argumen tersebut. Sebenarnya argumen ini tidak mengatakan bahwa setiap yang memiliki eksistensi itu harus bersebab, sehingga wujud Tuhan pun butuh kepada sebab selain diri-Nya. Tetapi yang dimaksud bahwa segala sesuatu yang memiliki eksistensi itu harus bersebab adalah segala sesuatu yang bersifat wujud mumkin (yakni segala sesuatu yang -dari segi konsepsi- antara ada dan tidak adanya adalah sama). Sedangkan Tuhan bukanlah wujud mumkin, tetapi Tuhan adalah wujud wajib, yakni wujud yang keberadaannya bersifat niscaya (dharuri) dengan sendirinya. Dengan demikian maka eksistensi Tuhan tidak membutuhkan sebab. (Di dalam filsafat Islam, prinsip ini dibahas secara luas dan detail. Pilar-pilarnya adalah kemustahilan daur (sirklus) dan kemustahilan tasalsul (berantai) dalam hukum sebab-akibat ). Pada saatnya nanti kita akan sampai juga pada pembahasan yang cukup menarik ini. Kami harap Anda sabar menunggu gilirannya.

15 Juli 2012

PEMBERSIHAN HATI MENUJU MA’RIFAT TAUHID

oleh alifbraja

Adapun fase-fase yang harus ditempuh  kearah mencapai hakikat, mutashowif (muta’alim) dapat melakukan amal ibadat cara menuju kepada Tuhan dengan menempuh empat fase :

Fase 1. Disebut dengan murhalah amal lahir. Artinya : berkenalan melakukan amal ibadat yang dipardukan dan sunnat, sebagai mana yang dilakukan Rosulullah Saw.

Fase 2. disebut amal batin atau moraqabah (mendekatkan diri pada Alloh) dengan jalan menyucikan diri dari maksiat lahir dan batin (takhalli), memerangi hawa nafsu, dibarengi dengan amal yang terpuji (mahmudah) dari taat lahir dan batin (tahalli) yang semuanya itu merupakan amal qalb (hati). Setelah hati dan ruhani telah bersir dan diisi dengan amalan batin (dzikir), maka pada fase ini mutashowif didatangkan nur dari Tuhan yang dinamakan nur kesadaran.

Fase 3. disebut murhalah riadhah/ melatih diri dan mujahadah/ mendorong diri. Maksud dari dari pada mujahadah yakni melakukan jihad lahir dan batin  untuk menambah kuatnya kekuasaan ruhani atas jasmani, guna membebaskan jiwa kita dari belenggu nafsu duniawi, supaya jiwa itu menjadi suci, Imam ghazali mengumpamakan seperti kaca cermin yang dapat menangkap sesuatu apapun yang bersifat suci, sehgingga salih dapat menerima informasi hakiki tentang Alloh.

Fase 4. disebut murhalah “fana kamil” yaitu jiwa mutashowif telah mencapai pada martabat menyaksikan langsung yang haq dengan al-haqq (syuhudul haqqi bil haqqi). Pada fase keempat ini, sebagai puncak segala perjalanan, maka didatangkan nur yang dinamakan “nur kehadiran”

Keempat fase ini adalah tahapan-tahapan secara garis besar dari semua guru-guru Tarekat, baik tarekat ‘Am maupun tharikat Khas, yang mesti dilakukan oleh mutshowif. Jika kita memandang rasi sudut tharikat Khas, dalam proses penyucian hati dengen metode suluk misalnya pandangan Tharekat Qadiriyah (Syekh Abdul-Qadir Ajjailani), dimana tarekat tersebut mengedepankan aspek praktis dalam berdzikir terutama dalam melantunkan asma’ Alloh secara berulang-ulang. Dalam pelaksanaannya terdapat berbagai tingkatan penekanan dan intensitas. Ada dzikir yang terdiri dari satu, dua, tiga, dan empat.

Dzikir yang dilakukan dengan satu gerakan dilakukan dengan mengulang-ulang Asma Alloh, melalui tarikan nafas panjang yang kuat, seolah-olah dihela dari tempat yang tinggi, diikuti penekanan dari jantung dan tenggorokan, kemudian dihentikan sehingga nafas kembali normal. Hal ini harus diulang secara konsisten untuk waktu yang lama. Dzikir dengan dua gerakan dilakukan dengan duduk dalam posisi shalat, kemudian melantunkan asma Alloh di dada sebelah kanan, lalu dijantung, dan kesemuanya dilakukan dengan berulang-ulang dengan intensitas tinggi. Hal ini dianggap efektif untuk meningkatkan konsentrsi dan menghilangkan rasa gelisah dan pikiran yang kacau. Dzikir dengan ketiga gerakan dilakukan dengan duduk bersila dan mengulang pembacaan asma Alloh di bagian dada sebelah kanan, kemudia di sebelah kiri, dan akhirnya di jantung. Kesemuanya itu dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi dan pengulang dan yang lebih sering. Dzikir dengan keempat gerakan dilakukan dengan duduk bersila dengan mengucapkan asma Alloh berulang-ulang di dada sebelah kanan, kemudian disebelah kiri, lalu ditarik kerah jantung  dan terakhir dibaca di depan dada. Cara terakhir ini dilakukan dengan lebih kuat dan lebih lama.

Setelah melakukan dzikir, tarekat Qadiriyah menganjurkan untuk melakuakan apa yang disebut  pas-i anfas, yakni mengatur nafas sedemikian rupa sehingga dalam proses menarik dan menghembuskan nafas, asma Alloh bersirkulasi didalam tubuh secar otomatis. Kemudian diikuti dengan muraqabah atau kontempalsi. Dianjurkan untuk berkonsentrasi pada sejumlah ayat al-Qur’an ataupun sifat-sifat Illahiyah tertentu hingga sungguh-sungguh terserap ke dalam konsentrasi.

Tarekat Sammaniyah juga memiliki pandangan mengenai suluk dalam hal ini tarekat Sammaniyah membagi dzikir kedalam empat metode yaitu : dzikir nafi isbat, dzikir asm al-jalalah, dzikir ism al-isyarah, dan dzikir khusus yaitu dzikir Ah-Ah.

Dzikir nafi Isbat. Dzikir ini dilakukan dengan mambaca la ilaha illAlloh. Kata la ilaha bermakna nafi atau di tiadakan. Sementara kata illa Alloh bermakna isbat tau penegasan, yakni merupakan satu-satunya yang abadi.  Dzikir nafi isbat biasanya diberikan kepad murid yang berada pada tingkat permulaan. Biasanya mutashowif berdzikir nafi isbat sebanyak 10-100 nkali setiap kali. Namun, bisa di tambah menjadi 300 klai setiap hari apabila tingkat atau maqam-nya sudah lebih tinggi. Dzikir ism al-jalalah. Dzikir ini dengan membaca Alloh-Alloh. Dzikir ini biasanya dikerjakan kepada murid yang telah menacapai tingkat khusus. Dzikir ini dilakukan antara 40, 101, atau 300 kali sehari. Dzikir asm al-isyarah. Dzikir ini dengan membaca Huwa-Huwa. Dzikir ini diberikan kepada murid kepad murid yang telah ,menacapai tingkat tinggi, atau yang sudah mejadi mursyid. Jumlah dzikirnya antara 100-700 kali setiap hari. Tetapi, umumnya mereka memebaca dzikir ini sebanyak 300 kali setiap hari. Dzikir khuhus. Yakni dengan membaca Ah-Ah. Dzikir ini hanya diberikan kepada murid yang telah menjadi mursyid dan telah menacapai maqam tertinggi karena sudah Ma’rifat. Jumlah dzikir yang diwajibkan adalah antara 100-700 kali setiap hari.

Tidak jauh berbeda dengan tarekat Chistiyah, Qadiriyah wa Naqsabandiyah, Syattariyah, Khalwatiyah, Sydziliyah dan tarekat-tarekat Muktabarah lainnya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semua tarekat Muktabarah yang berkembang di dunia Islam merujuk pada dua bentuk suluk.

  1. Suluk dalam berntuk Riyadhah ريضةyakni melatih jiwa secara metodik berdasarkan ajaran tarekat yang di pegangnya baik Tharekat ‘Am maupun Khos.

  2. Suluk dalam bentuk ibadah عبدةyakni yang dijelaskan oleh Ibnu ‘Atha’illah dalam al-Hikam yaitu memperbanyak dan menjadikan segala sesuatu yang mubah sebagai niat ibadah kepada Alloh, sebagaimana hikmah yang di tulisnya sebagai berikut :

مَنْ اَشْرَ قَتْ بِدَا َيتُهُ اَشْرَقَتْ نِهَا يَتُهُ

Artinya : “barang siapa bercahaya pada permulaannya, niscaya bercahaya pada akhirnya”

Orang yang giat beribadah kepada Alloh dengan niat yang ikhlas itu bisa mengantarkan dirinya kepada Alloh. Karena pada permulaannya bercahaya (giat beribadah) itulah satu-satunya jalan untuk menempuh Ma’rifat kepada Alloh yang pada akhirnya bercahaya (bisa membuahkan Ma’rifat –dan Ma’rifat kepada Alloh itu mempunyai macam-macam sifat terpuji. Dan sifat-sifat yang terpuji itu bisa membuahkan kebahgiaan dunia dan akhirat. Kegiatan beribadah kepada Alloh dengan ikhlas itu adalah salah satu pokok  yang terpenting dalam mencapai kebahagiaan, karena dia bisa berma’rifat kepada-nya dan dapat berkomunikasi dengan-Nya

Mengenai Suluk riyadhah tidak jauh berbeda dengan pembicaraan suluk ibadah. Yang menjadi titik perbedaannya yakni suluk ibadah lebih mengedepankan proses penyucian jiwa kearah memperbanyak ibadah, baik ibadah dalam bentuk mahdzoh seperti shalat, puasa, naik haji maupun ghaer mahdzoh seperti sedekah, zakat, bebuat baik sesama manusia dan lain sebagainya. Sedangkan  suluk riyadhah melakukan penyucian jiwa lebih kepada aspek hati (qalb) seperti uzlah, khalwat, berdiam, berpuasa sunat, menjauhi maksiat, memperbanyak Dzikir kepada Alloh, Tajarud ‘aniddunya, lapar, meninggalkan syahwat, dan sebagianya. Namun dari kedua bentuk suluk tersebut memiliki persamaan yaitu bertujuan untuk mensucikan jiwa dari berbagai penyakit ruhani dan jasmani, sampai mendapat karunia Ma’rifat dari Alloh SWT.

Ibnu ‘Atha’illah menganjurkan kepada mutashowif yang ingin mencapai ma’rifat agar menempuh tujuh langkah dan senantiasa bersungguh-sungguh (al-Juhd), merendahkan diri keada Alloh (al-taddharu), membakar hawa nafsu (ahrtiraq al-nafs), kembali dan taubat kepada Alloh (al-inabah), senantiasa sabar (al-sabr), selalu bersyukur pada nikmat Alloh (al-sykr), dan senantisa rela atas takdir dan ketentuan Alloh (al-ridha), Alloh akan tetap menjalankan takdir-Nya kepada hamba-Nya baik diminta ataupun tidak, maka cukuplah bagi seorang hamba untuk berserah diri kepada Alloh dan Dia akan mencukupi hamba-Nya yang senantisa tawakal.

Ibnu ‘Atha’illah juga mengatakan “janganlah engkau tinggalkan dzikir dikarenakan engkau tidak merasakan kehadiran Alloh dalam dzikir tersebut, sebab kelalaianmu terhadap-Nya dengantidak ada dzikir kepada-Nya itu lebih berbahaya daripada kelalaianmu terhadap-Nya dengan adanya dzikir kepada-Nya”. Dzikir adalah sebaik-baiknya jalan menju Alloh Swt. Jadi tidak boleh ditinggalkan walaupun tidak sedang konsentrasi penuh. Dzikir sebaiknya adalah dengan menghadirkan tuhan dalam hati, sehingga mampu melupakan segalanya selain Alloh Swt.

Dzikir merupakan metode yang efektif untuk membersihkan hati. Menurut Ibnu ‘Atha’illah orang yang berdzikir itu ada yang menggunakan lisan (dzikir al-dzahir atau dzikir huruf atau dzikir al-zahr), ada dzikir hati (dzikir al-qalb atau dzikir al-sirr atau dzikir al-khafi), dan ada pula dzikir anggota badan (dzikir a’dha al-abdan atau dzikir al-jawarih).

15 Juli 2012

Allah: Cahaya-Nya, Mahasuci-Nya, Rahasia-Nya

oleh alifbraja

Allah-and-Muhammad-in-Arabic--muxlimos-lair

Salam alaikum,

“Amantu bi Rasul wa bimaa qaala Rasuli”.
Aku beriman kepada Rasul dan dengan apa yang disabdakannya.

“Awwalu wa khalaqallahu Nuuri Nabiyika, yaa Jabiir. Fa khalaqa minhul asy ya-a”
Yang mula-mula sekali dijadikan Allah ialah cahaya nabimu, ya Jabir. Dijadikan daripadanya itu segala isi alam.

Berkata lagi Rasulullah Saw. pada Jabir: 
“Termasuklah diri kamu pun dari segala isi alam itu.”


Dan Rasulullah Saw. bersabda lagi:
ﺍﻧﺎ ﻣﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻭﺍﻟﻣﺆﻣﻨﻭﻥ ﻣﻨﯥ
“Aku dari Allah dan sekalian mukmin dariku.”

Firman Allah Swt. dalam hadis qudsiy:
“Innallaaha khalaqa ruuhi nabiyyika shalallaahu `alaihi wasallam min dzaatihi”
“Sesungguh-Nya Allah menciptakan ruh Muhammad Saw. itu dari Zat-Nya.”

Allah Swt. juga menegaskan dalam hadis qudsiy lainnya:
“Lau laka laa maa khalaktul aflaka.”
Jika bukan karena engkau (Muhammad), tidak Kuciptakan alam semesta ini.

Allah dan Cahaya-Nya

Dari Cahaya Nabi ini jadi apa? Cahaya inilah yang dikatakan Nur Ilahi. Ada juga yang menyatakan ini Cahaya Allah. Jadi, yang disebut Nuur ialah Nama bagi Cahaya Tuhan. Cahaya Tuhan itu tidak pernah rusak dan tidak binasa. Ingat, Cahaya Tuhan itu bukan Tuhan. Jangan Tuhan dirupakan sebagai Cahaya.

Terdahulu Tuhan itu mentajallikan Cahaya Diri-Nya. Cahaya Diri-Nya inilah yang diakatan `alaa bikulli syai`in muhiith (meliputi segala sesuatu). Jelas sekali Cahaya Tuhan itu tubuhnya sekalian alam atau lembaga sekalian alam. Cahaya inilah tubuh maharuang. Inilah zat mutlak, yaitu satu zat yang tiada berwujud: tidak berbentuk, tidak bertempat; ujungnya tidak ada kesudahan, demikian juga pangkalnya. Bahkan munculnya pun tidak diketahui. Ini yang dikatakan satu zat yang tidak berwujud.

Kalau di Quran Surat Nuur, Cahaya Allah itu tembus menembus. Zat-zat dan cahaya-cahaya pun ditembusnya, tetapi Cahaya Tuhan ini tidak bisa ditembus sesuatu apa pun.

Kalau sudah tahu Cahaya Tuhan itu meliputi sekalian alam, tentulah yang ada pada sekalian alam ini diliputi Cahaya (wa zulumati ila Nur). Cahaya inilah Nuurun `ala nuurin, Cahaya di atas cahaya. Tentulah Cahaya Tuhan yang tertinggi.

Cahaya Tuhan ini lebih terang daripada cahaya matahari dan lebih dahsyat daripada api neraka. Tentulah tidak akan ada kehidupan di dunia dan takkan ada segala sesuatu apa pun. Agar terjadi proses-proses alam dan segala sesuatu yang hidup, Allah tabir Cahaya-Nya itu dengan Nur Muhammad. Dari Nur Muhammad ini barulah bisa terjadi segala macam proses kejadian (di alam semesta). Kalau Cahaya Tuhan saja (tanpa ditabiri dengan Nur Muhammad), Bukit Thursina pun hancur jadi debu. Demikian dengan selainnya, pasti hancur juga.

Maka dengan Rahman Allah agar alam ini ada kehidupan dan ada proses, diadakankah Nur Muhammad yang dapat menabiri kehidupan dari Cahaya-Nya. Inilah sebabnya Allah berfirman, “Jika bukan karena engkau (Muhammad), tidak Kuciptakan alam semesta ini.”

Buka juga Q.S. Fushilat:54

أَلَآ إِنَّہُمۡ فِى مِرۡيَةٍ۬ مِّن لِّقَآءِ رَبِّهِمۡ‌ۗ أَلَآ إِنَّهُ ۥ بِكُلِّ شَىۡءٍ۬ مُّحِيطُۢ
Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.

Orang yang dalam keragu-raguan itu orang yang belum kenal. Kalau orang yang sudah kenal, tidak ada keraguan lagi tentang Tuhan.

Inilah tugas yang berat bagi Rasulullah, yaitu mengenalkan manusia kepada Tuhan. Kalau sudah kenal, sembahlah yang kaukenal itu. Bagaimana kita bisa menyembah, sedangkan yang kita sembah tidak kita kenali? Bisa saja timbul rekayasa berupa patung, bulan, bintang, berupa wasilah, dan lain-lain.

Allah dan Mahasuci-Nya

Sekalian alam, semua itu Mahasucinya Allah. Kalau Allah Mahasuci, alam itu pun mahasuci juga. Mahasucinya Allah itu, berupa zat wajiba alwujud (zat yang wajib Ada). Inilah wujud Qadim dan wujud muhaddas (baharu), artinya, wujud yang boleh ada, boleh di-ada-kan, boleh juga tidak di-ada-kan.

Wujud muhaddas ini terdiri atas empat:

1. Jirim Sesuatu yang berbentuk: dapat dlihat dan diraba dengan pancaindera.
Seperti diri manusia, binatang, tumbuhan, dan benda-benda lainnya.
2. Jisim Sesuatu yang tidak dapat dilihat dan tidak dapat diraba dengan pancaindera,  Seperti angin, bebauan, iblis, jin, setan <= jisim latif  
3. Jawhar Sesuatu yang berbentuk cahaya-cahaya. Malaikat termasuk golongan ini.
4.`Arad Sekalian sifat-sifat makhluk (baharu), seperti tinggi, rendah, putih, legam, keras, lunak, kasar, dsb.

Allah tidak berupa jirim, jisim, jawhar, dan `arad ini. Kalau ada yang mempersamakan-Nya dengan jirim, jisim, jawhar, dan `arad, kemudian meyakininya, kafirlah dia!

Muakal-muakal, khodam-khodam, dan sebagainya itu, itu semua jin! Makhluk jisim.

Allah mengingatkan iblis, setan, jin itu sesungguhnya musuh-musuh kamu. Jauhilah! Mengapa ada manusia yang mau memberi sesajen ini-itu, bahkan ada yang mau berdatukkan para jin. Nauzubillah! Enyahkanlah perbuatan yang membawa kepada kesesatan.

  • Lihat kasus lumpur Lapindo itu, berapa kepala kerbau dilemparkan dan berapa banyak sesajen lainnya dipersembahkan, mengapa tidak surut juga?
  • Lihatlah batu (Gunung Merapi) disembah Mbah Maridjan diberi sesajen ini itu, kenapa masih meletup juga?

Sadarlah! Manusia itu laqad khalaqnal insaana fi ahsani taqwim. Manusia itu makhluk yang seindah-indah kejadian. Mengapa manusia mau menjatuhkan derajatnya di bawah Iblis, jin, setan?!! 

Allah dan Rahasia-Nya

Maharuang itu zat mutlak atau Cahaya Ilahi. Zat mutlak ini Rahasia Tuhan. Rasahsia Tuhan inilah Roh Qudus yang ada di sama-tengah hati atau di dalam syiir. Inilah wa fi anfusikum (Aku ada di dalam diri kamu). Yang berkuasa atas segala diri manusia.

Kalau Rahasia Tuhan (Roh Qudus) ini keluar dari jasad, ditinggalkannya jasad, binasalah jasad. Kalau dia keluar, lalu lari dari jasad, binasa juga jasad.

Kalau dia keluar dari jasad, memecahkan dirinya lalu satu dengan jasad, selamatlah jasad. Hiduplah sampai yaumil qiyamah. Tubuh ini tidak pandai tua. Makanya di akhirat itu tidak ada yang tua. Muda semuanya.

Dalam permasalahan mati, tidak perlu lagi kita mau pakai tanda-tanda, mau berseri-seri, mau tau hari dan jam-jamnya, semua itu tidak bisa dipakai (sebagai patokan). Yang penting kita ketahui: biar mati sekalipun, jasad dan ruh qudus tidak bercerai. Kalau becerai, binasa jasad. Hidup (di dunia) saja kalau jasad becerai dengan ruh, binasa jasad. Apalagi setelah mati nanti. Binasa juga jasad.

Maka perlu diketahui, Diri Tuhan yang dijadikan itulah induknya sekalian yang bernyawa. Itulah Cahaya di atas cahaya. Cahaya Tuhan yang paling tinggi. Di sinilah yang paling nikmat senikmat-nikmatnya. Tidak ada sesuatu lagi. Yang ada zawq saja. Nikmat senikmat-nikmatnya. Inilah la bi harfin wa laa syautin (tidak berhuruf, tidak bersuara). Tidak ada ilmu yang bisa menafsirkan nikmat ini.

Bagi orang tauhid yang hakiki, yang dikatakan Allah itu nikmat senikmat-nikmatnya. Diistilahkan Allah itu Surga.

Kita, Zat Asam, dan Zat Mutlak

Kita ini sudah dilindungi zat asam. Ingat uraian di atas, zat asam ini jadadnya Muhammad. Berarti kita ini sudah bersama-sama dengan zat asam. Dan zat asam sudah bersama zat mutlak.

Mengapa kita tidak bisa bertemu? Sedangkan zat mutlak selalu bersama-sama zat asam. Dan kita bersama zat asam. Suatu yang mustahil kalau tidak bisa bertemu. Hanya bagi orang yang punya pandangan dan pemikiran.

Yang namanya mahaesa itu tidak becerai. Yang dikatakan tidak bercerai ini satu. Tidak mengenal dua. Kalau diri kita bukan Diri Tuhan, becerailah. Nerakalah tempatnya. Pahami yang dikatakan Mahaesa itu. Mahaesa itu satu, tidak becerai.

Tuhan diriku. Tuhan diriku ini yang mana? Rahasia Tuhan yang ada di sama-tengah hati (pusat), itulah Diri Tuhan.

Segala ilmu sudah Aku hidayahkan kepada nabi-nabi, rasul-rasul, wali-wali, arif billah: hamba-hamba-Ku yang saleh. Ambillah Diri Aku itu! Bersama Aku-lah kamu.

Maka kata para muwwahid, Diri Tuhan jugalah yang bisa sampai ke Tuhan. Beginilah adanya cerita/pengetahuan dalam tauhid.

Jalan pengenalan pada Tuhan itu: zat semata-mata. Ini sebabnya mengenal Tuhan itu mudah. Lebih sulit itu mengenali wali Allah.

Rasulullah saw bersabda:
‘ U’budulla-ha ka an naka tara-hu fa in lam takun tara-hu fa innahu yara-ka.
“Sembahlah Allah seakan –akan kamu melihat-Nya, dan apabila kamu tidak bisa melihat-Nya, maka yakinkanlah bahwa Allah melihat kamu.”

Ketika kamu beribadah, pandanglah Allah itu. Sekarang waktu kamu salat, waktukamu bertakbir, siapa Allah itu? Maka pentinglah mengesakan diri. Bukan Ruhani saja mahaesa, jasad musti mahaesa juga. Oleh sebab itu, jasad ini perlu dimahaesakan.

Kalau jasad tidak dapat mengesakan, ruhani akan menuntut.
Sebab badan yang mengandung nyawa, bukan ruhani yang mengandung tubuh

Catatan:
Ada kalangan ulama yang menyatakan ini hadis munkar, bahkan menyatakannya sebagai dalil sesat. Sungguh, jika Allah mengizinkan, suatu hari kami akan menunjukkan betapa mereka sekalian telah ter-yahudi-kan secara perlahan sehingga tanpa sadar telah bermata satu dalam beriman Islam

14 Juli 2012

AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

oleh alifbraja

AGAMA LANGIT DAN AGAMA BUMI

Ada berbagai cara menggolongkan agama-agama dunia. Ernst Trults seorang teolog Kristen menggolongkan agama-agama secara vertikal: pada lapisan paling bawah adalah agama-agama suku, pada lapisan kedua adalah agama hukum seperti agama Yahudi dan Islam; pada lapisan ketiga, paling atas adalah agama-agama pembebasan, yaitu Hindu, Buddha dan karena Ernst Trults adalah seorang Kristen, maka agama Kristen adalah puncak dari agama-agama pembebasan ini.

Ram Swarup, seorang intelektual Hindu dalam bukunya; “Hindu View of Christianity and Islam” menggolongkan agama menjadi agama-agama kenabian (Yahudi, Kristen dan Islam) dan agama-agama spiritualitas Yoga (Hindu dan Buddha) dan mengatakan bahwa agama-agama kenabian bersifat legal dan dogmatik dan dangkal secara spiritual, penuh klaim kebenaran dan yang membawa konflik sepanjang sejarah. Sebaliknya agama-agama Spiritualitas Yoga kaya dan dalam secara spiritualitas dan membawa kedamaian.

Ada yang menggolongkan agama-agama berdasarkan wilayah dimana agama-agama itu lahir, seperti agama Semitik atau rumpun Yahudi sekarang disebut juga Abrahamik (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama-agama Timur (Hindu, Buddha, Jain, Sikh, Tao, Kong Hu Cu, Sinto).

Ada pula yang menggolongkan agama sebagai agama langit (Yahudi, Kristen, dan Islam) dan agama bumi (Hindu, Buddha, dll.) Penggolongan ini paling disukai oleh orang-orang Kristen dan Islam, karena secara implisit mengandung makna tinggi rendah, yang satu datang dari langit, agama wahyu, buatan Tuhan, yang lain lahir di bumi, buatan manusia. Penggolongan ini akan dibahas secara singkat di bawah ini.

Agama bumi dan agama langit.

Dr. H.M. Rasjidi, dalam bab Ketiga bukunya “Empat Kuliyah Agama Islam Untuk Perguruan tinggi” membagi agama-agama ke dalam dua kategori besar, yaitu agama-agama alamiah dan agama-agama samawi. Agama alamiah adalah agama budaya, agama buatan manusia. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Hindu dan Budha. Mengenai agama Hindu Rasjidi mengutip seorang teolog Kristen, Dr. Harun Hadiwiyono, Rektor Sekolah Tinggi Theologia “Duta Wacana” di Yogyakarta sebagai berikut:

“Sebenarnya agama Hindu itu bukan agama dalam arti yang biasa. Agama Hindu sebenarnya adalah satu bidang keagamaan dan kebudayaan, yang meliputi jaman sejak kira-kira 1500 S.M hingga jaman sekarang. Dalam perjalanannya sepanjang abad-abad itu, agama Hindu berkembang sambil berobah dan terbagi-bagi, sehingga agama ini memiliki ciri yang bermacam-macam, yang oleh penganutnya kadang-kadang diutamakan, tetapi kadang-kadang tidak diindahkan sama sekali. Berhubung karena itu maka Govinda Das mengatakan bahwa agama Hindu itu sesungguhnya adalah satu proses antropologis, yang hanya karena nasib baik yang ironis saja diberi nama agama.” 1)

Samawi artinya langit. Agama samawi adalah agama yang berasal dari Tuhan (yang duduk di kursinya di langit ketujuh, Sky god, kata Gore Vidal). Yang termasuk dalam kelompok ini adalah agama Yahudi, Kristen, dan Islam. Dalam bab Keempat dengan judul “Agama Islam adalah Agama Samawi Terakhir” Rasjidi dengan jelas menunjukkan atau menempatkan Islam sebagai puncak dari agama langit. Hal ini dapat dipahami karena Rasjidi bukan saja seorang guru besar tentang Islam, tetapi juga seorang Muslim yang saleh.

Bahkan dengan doktrin mansukh, pembatalan, para teolog dan ahli fikih Islam mengklaim, Qur’an sebagai wahyu terakhir telah membatalkan kitab-kitab suci agama-agama sebelumnya (Torah dan Injil).

Bila Tuhan yang diyakini oleh ketiga agama bersaudara ini adalah satu dan sama, pandangan para teolog Islam adalah logis. Tetapi disini timbul pertanyaan, apakah Tuhan menulis bukunya seperti seorang mahasiswa menulis thesis? Sedikit demi sedikit sesuai dengan informasi yang dikumpulkannya, melalui percobaan dan kesalahan, perbaikan, penambahan pengurangan, buku itu disusun dan disempurnakan secara perlahan-lahan?

Tetapi ketiga agama ini tidak memuja Tuhan yang satu dan sama. Masing-masing Tuhan ketiga agama ini memiliki asal-usul yang berbeda dan karakter yang berbeda. Yahweh berasal dan ajudan dewa perang, yang kemungkinan berasal dari suku Midian, dan dijadikan satu-satunya Tuhan orang Israel oleh Musa. Jesus salah seorang dari Trinitas, adalah seorang pembaharu agama Yahudi yang diangkat menjadi Tuhan oleh para pendiri Kristen awal. Allah adalah dewa hujan yang setelah digabung dengan dewa-dewa lain orang Arab dijadikan satu-satunya tuhan orang Islam oleh Muhammad. Jadi Yahweh, Trinitas dan Allah adalah tuhan-tuhan yang dibuat manusia. 2) (Lihat Karen Amstrong: A History of God).

Dan karakter dari masing-masing Tuhan itu sangat berbeda. Ketiganya memang Tuhan pencemburu, tetapi tingkat cemburu mereka berbeda. Yahweh adalah Tuhan pencemburu keras, gampang marah, dan suka menghukumi pengikutnya dengan kejam, tetapi juga suka ikut berperang bersama pengikutnya melawan orang-orang lain, seperti orang Mesir, Philistin dan Canaan. Jesus juga Tuhan pencemburu, tapi berpribadi lembut, ia memiliki banyak rasa kasih, tetapi juga mempunyai neraka yang kejam bagi orang-orang yang tidak percaya padanya. Allah lebih dekat karakternya dengan Yahweh, tetapi bila Yahweh tidak memiliki neraka yang kejam, Allah memilikinya. Di samping itu, bila Yahweh menganggap orang-orang Yahudi sebagai bangsa pilihannya, Allah menganggap orang-orang Yahudi adalah musuh yang paling dibencinya.

Jadi jelaslah di langit-langit suci agama-agama rumpun Yahudi ini terdapat lima oknum Tuhan yang berbeda-beda, yaitu Yahweh, Trinitas (Roh Kudus, Allah Bapa dan Tuhan Anak atau Jesus) dan Allah Islam. Masing-masing dengan ribuan malaikat dan jinnya.

Pengakuan terhadap Tuhan yang berbeda-beda tampaknya bisa menyelesaikan masalah soal pembatalan kitab-kitab atau agama-agama sebelumnya oleh agama-agama kemudian atau agama terakhir. Masing-masing Tuhan ini memang menurunkan wahyu yang berbeda, yang hanya berlaku bagi para pengikutnya saja. Satu ajaran atau satu kitab suci tidak perlu membatalkan kitab suci yang lain.

Tetapi disini timbul masalah lagi. Bagaimana kedudukan bagian-bagian dari Perjanjian Lama yang diterima atau diambil oleh Perjanjian Baru? Bagaimana kedudukan bagian-bagian Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru yang terdapat di dalam Al-Qur’an? Apakah bagian-bagian itu dipinjam dari Tuhan yang satu oleh Tuhan yang lain, yang ada belakangan? Atau persamaan itu hanya kebetulan? Ataukah para penulis kitab-kitab yang belakangan meminjamnya dari penulis kitab-kitab terdahulu?

Pembagian agama menjadi agama bumi dan agama langit, dari sudut pandang Hindu sebenarnya tidak menjadi masalah. Ini terkait dengan konsep ketuhanan dari masing-masing agama. Agama-agama Abrahamik atau Rumpun Yahudi (nama yang lebih tepat daripada “agama langit”) memandang Tuhan sebagai sosok berpribadi, seperti manusia, yang berdiam di langit (ke tujuh) duduk di atas kursinya, yang dipikul oleh para malaikat. Dari kursinya di langit itu Dia melakukan segala urusan, termasuk antara lain, tetapi tidak terbatas pada, mengatur terbit dan tenggelannya matahari, “menurunkan” wahyu dan lain sebagainya. Dari segi ini benarlah sebutan “agama langit” itu, karena ajarannya diturunkan oleh Tuhannya yang bermukim nun jauh di langit.

Dalam pandangan agama Hindu, Tuhan bersifat panteistik, yang melingkupi ciptaan (imanen) dan sekaligus di luar ciptaannya (transenden). Menurut pandangan Hindu Tuhan tidak saja lebih besar dari ciptaannya, tetapi juga dekat dengan ciptaannya. Kalau Tuhan hanya ada di satu tempat di langit ketujuh, berarti Ia ada di satu noktah kecil di dalam ciptaannya. Oleh karena itu Dia tidak Mahabesar. Agak mirip dengan pengertian ini, di dalam agama Hindu, dikenal ajaran tentang Avatara, yaitu Tuhan yang menjelma menjadi mahluk, yang lahir dan hidup di bumi – seperti Rama dan Krishna – menyampaikan ajarannya di bumi langsung kepada manusia tanpa perantara.

Dari segi ini, dikotomi agama langit dan agama bumi tidak ada masalah. Baru menjadi masalah ketika “truth claim” yang menyertai dikotomi ini. Bahwa agama langit lebih tinggi kedudukannya dari agama bumi; karena agama-agama langit sepenuhnya merupakan bikinan Tuhan, yang tentu saja lebih mulia, lebih benar dari agama-agama bumi yang hanya buatan manusia dan bahwa oleh karenanya kebenaran dan keselamatan hanya ada pada mereka. Sedangkan agama-agama lain di luar mereka adalah palsu dan sesat.

Pandangan “supremasis” ini membawa serta sikap “triumpalis”, yaitu bahwa agama-agama yang memonopoli kebenaran Tuhan ini harus menjadikan setiap orang sebagai pengikutnya, menjadikan agamanya satu-satunya agama bagi seluruh umat manusia, dengan cara apapun. Di masa lalu “cara apapun” itu berarti kekerasan, perang, penaklukkan, penjarahan, pemerkosaan dan perbudakan atas nama agama.

Masalah wahyu

Apakah wahyu? Wahyu adalah kata-kata Tuhan yang disampaikan kepada umat manusia melalui perantara yang disebut nabi, rasul, prophet. Bagaimana proses penyampaian itu? Bisa disampaikan secara langsung, Tuhan langsung berbicara kepada para perantara itu, atau satu perantara lain, seorang malaikat menyampaikan kepada para nabi; atau melalui inspirasi kepada para penulis kitab suci. Demikian pendapat para pengikut agama-agama rumpun Yahudi.

Benarkah kitab-kitab agama Yahudi, Kristen dan Islam, sepenuhnya merupakan wahyu Tuhan? Bila benar bahwa kitab-kitab ini sepenuhnya wahyu Tuhan, karena Tuhan Maha Tahu dan Maha Sempurna, maka kitab-kitab ini sepenuhnya sempurna bebas dari kesalahan sekecil apapun. Tetapi Studi kritis terhadap kitab-kitab suci agama-agama Abrahamik menemukan berbagai kesalahan, baik mengenai fakta yang diungkapkan, yang kemudian disebut ilmu pengetahun maupun tata bahasa. Berikut adalah beberapa contoh.

Pertama, kesalahan mengenai fakta.

Kitab-suci kitab-suci agama ini, menyatakan bumi ini datar seperti tikar, dan tidak stabil. Supaya bumi tidak goyang atau pergi ke sana kemari, Tuhan memasang tujuh gunung sebagai pasak. Kenyataannya bumi ini bulat seperti bola. Dan sekalipun ada banyak gunung, lebih dari tujuh, bumi tetap saja bergoyang, karena gempat.

Kedua, kontradiksi-kontradiksi.

Banyak terdapat kontradiksi-kontradiksi intra maupun antar kitab suci-kitab suci agama-agama ini. Satu contoh tentang anak Abraham yang dikorbankan sebagai bukti ketaatannya kepada Tuhan (Yahweh atau Allah). Bible mengatakan yang hendak dikorbankan adalah Isak, anak Abraham dengan Sarah, istrinya yang sesama Yahudi. Sedangkan Qur’an mengatakan bukan Isak, tetapi Ismail, anak Ibrahamin dengan Hagar, budak Ibrahim yang asal Mesir

Contoh lain. Bible menganggap Jesus sebagai Tuhan (Putra), sedangkan Al-Qur’an menganggap Jesus (Isa) hanya sebagai nabi, dan bukan pula nabi terakhir yang menyempurnakan wahyu Tuhan.

Ketiga, kesalahan struktur kalimat atau tata bahasa.

Di dalam kitab-kitab suci ini terdapat doa-doa, kisah-kisah, berita-berita tentang kegiatan Tuhan, mirip seperti berita surat kabar, yang ditulis oleh seseorang (wartawan) atas seseorang yang lain (dari obyek berita, dalam hal ini Tuhan). Lalu ada kalimat yang merujuk Tuhan sebagai “Aku, Kami, Dia, atau nama-namanya sendiri, seperti Allah, Yahweh, dll”. Mengapa Tuhan menunjukkan diriNya dengan Dia, kata ganti ketiga? Kata-kata atau kalimat-kalimat pejoratif seperti Maha Adil, Maha Bijaksana, Maha Mengetahui ini pastilah dibuat oleh manusia, sebab mustahil rasanya Tuhan memuji-muji dirinya sendiri.

Keempat, ajaran tentang kekerasan dan kebencian.

Di dalam kitab-suci kitab-suci agama-agama langit ini banyak terdapat ajaran-ajaran tentang kebencian terhadap komunitas lain, baik karena kebangsaan maupun keyakinan. Di dalam Perjanjian Lama terdapat kebencian terhadap orang Mesir, Philistin, Canaan dll. Di dalam Perjanjian Baru terdapat ajaran kebencian terhadap orang Yahudi dan Roma. Di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat kebencian terhadap orang-orang Yahudi, Kristen dan pemeluk agama-agama lain yang dicap kafir secara sepihak. Pertanyaan atas soal ini, betulkah Tuhan menurunkan wahyu kebencian terhadap sekelompok orang yang memujanya dengan cara berbeda-beda, yang mungkin sama baiknya atau bahkan lebih baik secara spiritual? Bukankah akhirnya ajaran-ajaran kebencian ini menjadi sumber kekerasan sepanjang massa?

Bagaimana mungkin Tuhan yang Maha Bijaksana, Maha Pengasih dan Penyayang menurunkan wahyu kebencian dan kekerasan semacam itu? Di dalam agama Hindu kebencian dan kekerasan adalah sifat-sifat para raksasa, asura dan daitya (demon, devil, atau syaitan).

Di samping hal-hal tersebut di atas, agama-agama rumpun Yahudi banyak meminjam dogma dari agama-agama lain, bahkan dari komunitas yang mereka sebut penyembah berhala atau kafir. Dogma utama mereka tentang eskatologi seperti hari kiamat, kebangkitan tubuh dan pengadilan terakhir dipinjam oleh agama Yahudi dari agama Zoroaster Persia, lalu diteruskan kepada agama Kristen dan Islam. Legenda tentang penciptaan Adam dipinjam dari leganda tentang penciptaan Promotheus dalam agama Yunani kuno. Bagaimana mungkin tuhan agama langit meminjam ajaran dari agama-agama atau tradisi buatan manusia?

Swami Dayananda Saraswati (1824-1883), pendiri Arya Samaj, sebuah gerakan pembaruan Hindu, dalam bukunya Satyarth Prakash (Cahaya Kebenaran) membahas Al Kitab dan AI-Qur’an masing-masing di dalam bab XI II dan XIV, dan sampai kepada kesimpulan yang negatif mengenai kedua kitab suci ini. Bahwa kedua kitab suci ini mengandung hal-hal yang patut dikutuk karena mengajarkan kekerasan, ketahyulan dan kesalahan. Ia meningkatkan penderitaan ras manusia dengan membuat manusia menjadi binatang buas, dan mengganggu kedamaian dunia dengan mempropagandakan perang dan dengan menanam bibit perselisihan.

Apa yang dilakukan oleh Swami Dayananda Saraswati adalah kounter kritik terhadap agama lain atas penghinaan terhadap Hindu yang dilakukan sejak berabad-abad sebelumnya oleh para teolog dan penyebar agama lainnya.

Kesimpulan.

Tidak ada kriteria yang disepakati bersama di dalam penggolongan agama-agama. Setiap orang membuat kriterianya sendiri secara semena-mena untuk tujuan meninggikan agamanya dan merendahkan agama orang lain. Hal ini sangat kentara di dalam agama-agama missi yang agresif seperti Kristen dan Islam dimana segala sesuatu dimaksudkan sebagai senjata psikologis bagi upaya-upaya konversi dan proselitasi mereka.

Di samping itu tidak ada saksi dan bukti untuk memverifikasi dan memfalsifikasi apakah isi suatu kitab suci betul-betul wahyu dari Tuhan atau bukan? Yang dapat dikaji secara obyektif adalah isi atau ajaran yang dikandung kitab suci-kitab suci itu apakah ia sesuai dengan dan mempromosikan nilai-nilai kemanusiaan, seperti cinta kasih, kesetiaan, ketabahan, rajin bekerja, kejujuran, kebaikan hati atau mengajarkan kebencian dan kekerasan?

Penggolongan agama-agama menjadi agama langit dan agama bumi, jelas menunjukkan sikap arogansi, sikap merendahkan pihak lain, dan bahkan sikap kebencian yang akhirnya menimbulkan kekerasan bagi pihak yang dipandangnya sesat, menjijikan dan tidak bernilai. Di lain pihak penggolongan ini menimbulkan rasa tersinggung, kemarahan, dan akhirnya kebencian. Bila kebencian bertemu kebencian, hasilnya adalah kekerasan.

Melihat berbagai cacat dari kitab suci-kitab suci mereka, khususnya ajarannya yang penuh kebencian dan kekerasan, maka isi kitab suci itu tidak datang dari Tuhan, tetapi dari manusia yang belum tercerahkan, apalagi Tuhan-Tuhan mereka adalah buatan manusia.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas disarankan agar dikotomi agama langit dan agama bumi ini tidak dipergunakan di dalam baik buku pelajaran, wacana keagamaan maupun ilmiah. Dianjurkan agar dipergunakan istilah yang lebih netral, yaitu agama Abrahamik dan agama Timur.

(Ngakan Putu Putra sebagaian bahan dari SATS ; “Semua Agama Tidak Sama” ).

Catatan kaki:
I). Prof . DR. H.M. Rasjidi : “Empat Kuliyah Agama Islam pada Perguruan Tinggi” penerbit Bulan Bintang, Jakarta, cetakan pertama, 1974. hal 10) H.M Rasjidi hal 53
2). Lihat Karen Amstrong : A History of God
3). Swami Dayananda Saraswati Satyarth Prakash (Light of Truth), hal 648.
4). Ibid hal 720.

14 Juli 2012

7 Takdir Dimensi

oleh alifbraja
  • Takdir Dan Dinamika Manusia Oleh: Lukman Hakim Pendahuluan Takdir merupakan salah satu dari rukun iman di mana setiap individu muslim wajib untuk mempercayainya. Menurut paham ahlussunnah Waljama’ah (ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah) percaya kepada takdir merupakan rukun iman yang keenam. Secara etimologis takdir berasal dari kata bahasa Arab taqdiran yang berarti “ketentuan”, adapun pengertian takdir yang paling mendasar sesungguhnya adalah ketentuan Ilahi yang tidak dapat kita lawan (Munawar Rahman: 2006: 3221). Artinya Allah S.W.T. telah memberikan ketentuan kepada manusia dan manusia harus menerima ketentuan itu baik hal itu merupakan ketentuan yang baik maupun ketentuan yang buruk. Untuk memberikan pengertian lebih mendalam, Nurcholish Madjid membagi pengertian takdir ke dalam tiga hal. Pertama, Takdir Allah. Pengertian takdir Allah di sini adalah bahwa konsep takdir selain berhubungan dan terkait dengan kehidupan manusia juga berlaku untuk alam dan kebendaan. Artinya, baik manusia maupun alam (seluruh makhluk ciptaan Allah selain manusia) memiliki ketentuannya masing-masing. Oleh karena itu, takdir Allah yang menyangkut tentang alam kebendaan serta hukum ketetapan Allah dalam Al-Qur’an diistilahkan sebagai takdir (takdir Allah; Arab taqdirullah), yang berarti “kepastian” dari Allah. Maka, sesuai dengan makna harfiahnya, takdir Allah digambarkan dalam al-Qur’an sebagai kepastian. Sebagai misal adalah perjalanan matahari menurut garis edarnya yang disertai penegasan bahwa tidak mungkin matahari bertemu atau bertabrakan dengan rembulan sebagaimana juga malam tidak akan mendahului siang. Semua itu disebut sebagai takdir dari Yang Mahamulia dan Mahatahu1. Selain itu, ada penegasan pula bahwa “Allah menciptakan segala sesuatu kemudian dipastikan (hukum-hukumnya) sepastinya” (Q., 25: 2). Berdasarkan tinjauan dari sudut keimanan atau ajaran agama, diketahuai bahwa hukum-hukum lingkungan hidup manusia, baik yang bersifat sosial-historis (sunnatullah) ataupun yang bersifat 1 . (Q., 36: 28-30) dan (Q., 21: 33).
  • alam kebendaan atau material (takdir Allah), tidaklah berdiri sendiri melainkan dibuat dan ditetapkan oleh Sang Maha Pencipta. Jadi, semuanya itu adalah hukum Allah, dan manusia diperintahkan untuk mempelajari, memahami, dan menggunakannya dalam menjalani dan menghadapi kehidupan ini. Hukum-hukum itu secara konvensional dapat disebut sebagai “hukum sosial-historis”dan “hukum alam”, namun sebatas dalam pengertian, berturut-turut, “hukum Allah untuk pola lingkungan sosial historis”dan “hukum Allah untuk pola lingkungan kebendaan”, dan sama sekali tidak dalam arti hukum-hukum yang berdiri sendiri atau ada dengan sendirinya dalam lingkungan masing-masing sosial-historis dan alam kebendaan itu. Dari sudut pandang itulah dapat dilihat adanya kemampuan melakukan tindakan supraalami dimungkinkan. Kemampuan itu merupakan “penangguhan” sementara hukum-hukum yang berlaku, yang penangguhan itu terjadi hanya atas kehendak Allah. Sebab Allah Yang Mahakuasa sebagai pembuat hukum itu pastilah mempunyai “hak prerogatif” untuk memberlakukan atau tidak memberlakukan hukum-hukum ketetapan-Nya sendiri, sesuai dengan keperluan. Tetapi karena sudah ada “janji” Allah sendiri bahwa hukum-hukum tersebut tidak mengalami perubahan atau peralihan, maka penangguhan itu adalah untuk suatu tujuan yang sangat khusus. Maka penangguhan itu menjadi bersifat “di atas alam”, “supra alami” (super natural), “menerobos kebiasaan” (khariq al adah). Namun itu semua merupakan keterangan keagamaan secara konvensional tentang tindakan supraalami. Kemungkinan keterangan lain menyangkut pengertian tentang “alami”, “natural”, “kebiasaan” atau “addah”. Seperti semua pengertian oleh manusia, pengertian-pengertian tersebut masih tetap mengandung kenisbian. Artinya, masih ada kemungkinan suatu gejala masih merupakan hal yang alami untuk seseorang, tapi tidak lagi untuk orang lain. Perkataan kita “heran” sudah menunjukkan kemungkinan itu, sebab perkataan itu kita pinjam dari perkataan Arab hiran atau hairan yang artinya “bingung”, tidak dapat mengerti. Adapun untuk perkataan Indonesia “takjub”, pinjaman dari perkataan Arab ta’ajjub, yang berarti “melihat sesuatu sebagai aneh atau ajaib”, menunjukkan hal yang sama. Yaitu, ada kenyataan-
  • kenyataan sosial historis maupun material yang membuat orang tidak dapat mengerti, dan karena itu memandangnya sebagai hal yang aneh. Letak kenisbian pengertian “aneh” atau “ajaib” itu sangat nyata, karena tidak semua orang melihat satu kenyataan atau gejala sebagai aneh atau ajaib. Ada dari mereka pribadi atau kelompok yang memang memandangnya aneh dan ajaib, sehingga mereka menjadi “heran”, alias bingung, tidak dapat mengerti. Tetapi juga ada yang melihatnya sebagai biasa saja, tidak ada yang aneh, dan tidak membuatnya heran. Hal itu dapat terjadi karena adanya perbedaan dalam tingkat pengetahuan dan pengalaman orang dari sudut pandang ini, maka suatu gejala yang oleh orang dipandang sebagai supraalami dan “melawan kebiasaan” mungkin saja bagi orang lain lagi merupakan hal biasa. Kemungkinan ini didukung oleh beberapa fakta baru dalam perkembangan ilmiah. Kedua, takdir dalam Al-Qur’an. Pengertian takdir dalam Al-Qur’an di sini dijelaskan bahwa sesungguhnya apa yang diajarkan oleh Islam bukanlah kehidupan duniawi dan ukhrawi yang dikotomis dalam arti terpisah dan bertentangan. Islam hanya mengajarkan bahwa antara keduanya itu berbeda. Adapun perbedaan itu merupakan kesinambungan atau kontinuitas karena keduanya dipertautkan dan dipersatukan dalam satu hukum ketentuan Tuhan yang mengatur lingkungan hidup duniawi ini serta pola kehidupan manusia itu sendiri secara tetap dan tidak berubah, yaitu hukum ketentuan Tuhan atau taqdir. Seperti diketahui, istilah takdir dalam Al-Qur’an berbeda dengan umumnya arti istilah itu dalam penggunaan kita sehari-hari – ialah hukum ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan untuk mengatur pola perjalanan dan “tingkah laku”alam ciptaan-Nya, khususnya alam material. Secara spesifik Kitab Suci menyebutkan tentang taqdir pola perjalanan atau peredaran matahari2. Demikian pula ada takdir untuk pola perjalanan rembulan dan matahari, yang memungkinkan manusia menjadi keduanya itu sebagai dasar perhitungan waktu yang pasti3. Semantara matahari 2 . Dan matahari berlari(beredar) pada tempat yang telah ditetapkan: itulah taqdir (Tuhan) Yang Mahamulia dan Mahatau (Q., 36: 38). 3 . (Allah) yang memisahkan (menerbitkan) pagi hari, dan Dia jadikan malam sebagai saat ketenangan, serta matahari dan rembulan sebagai perhitungan itulah hukum ketentuan (taqdir) Tuhan yang Mahamulia dan Mahatau (Q., 6: 96).
  • dan rembulan yaitu dua benda langit yang paling tampak pada manusia dan paling banyak memengaruhi kehidupannya di bumi ini – secara khusus disebutkan sebagai berjalan menurut hukum ketentuan atau taqdir Tuhan yang pasti, namun sesungguhnya hukum ketentuan itu meliputi seluruh ciptaan Allah tanpa kecuali4. Dengan perkataan lain, lingkungan material di sekeliling manusia dan terkait erat dengan kehidupannya di dunia ini berjalan mengikuti hukum-hukum ketentuan yang pasti dari Tuhan Maha Pencipta. Hukum-hukum ketentuan itu tidak lain adalah padanan atau ekuivalensi dengan istilah sehari-hari, “hukum alam”. Maka sudah tentu untuk mendapatkan sukses dalam kehidupan duniawi ini manusia dituntut untuk memahami hukum ketentuan Allah bagi lingkungan sekelilingnya, yaitu alam. Sebab, memang alam ini diciptakan Allah untuk kepentingan hidup manusia, dan manusia pasti dapat menarik manfaat darinya jika mereka mau berpikir dan berusaha memahaminya5. Ketiga, takdir dalam Teologi. Pengertian takdir dalam teologi berbeda pengertiannya dengan pengertian atau istilah takdir dalam Al-Qur’an. Perkataan seperti, “ini sudah ditakdirkan oleh Tuhan”, itu merupakan istilah teologi. Al-Qur’an tidak menggunakan perkataan takdir dengan konotasi itu. Bagi pihak yang mendukung paham takdir, rujukannya adalah firman Allah, Setiap ada musibah terjadi di bumi dan dalam dirimu, sudah tercatat sebelum Kami mewujudkannya, Sungguh itu bagi Allah mudah sekali (Q., 57: 22). Sampai disinilah, banyak kalangan ulama dan mubaligh mengutip ayat itu, tetapi ayat seterusnya jarang mereka kutip, yaitu Agar kamu tidak berduka cita atas apa yang sudah hilang, dan merasa bangga atas apa yang diberikan (Q.,57: 23). Itulah sebetulnya kegunaan paham takdir. Kalau diperhatikan, itu sebenarnya masalah psikologis tujuannya adalah agar manusia bersikap “seimbang” atau tidak terlalu ekstrem (terlalu sedih karena menerima musibah, atau terlalu sombong karena menerima kesuksesan), karena 4 . … Dia menciptakan segala sesuatu dan Dia tetapkan ketentuannya sepenuh-penuh ketentuan (taqdiran) (Q., 25:2). Dan segala sesuatu bagi-Nya adalah dengan hukum ketentuan yang pasti (miqdar) (Q., 13: 8). 5 . Dan Dia (Allah) telah sediakan bagi kamu segala sesuatu yang ada di seluruh langit dan segala sesuatu yang ada di bumi – semuanya sebagai karunia daripada – Nya. Sesungguhnya dalam hal itu semua ada ayat-ayat (tanda-tanda) bagi golongan yang berpikir (Q., 45: 13).
  • semuanya dikembalikan kepada Allah. Itulah yang membuat orang sehat secara ruhani (secara psikologis). Kalau dilihat konteksnya, maka hal yang harus dihadapi sebagai takdir itu adalah yang lampau sedangkan yang akan datang tidak bisa dibicarakan sebagai takdir. Seseorang tidak bisa mengatakan misalnya, besok dia ditakdirkan untuk tidak datang ke kantor. Terhadap masa depan, tatapan itu harus dalam rangka ikhtiar. Ikhtiar itu sendiri dilihat dari segi bahasa cukup menarik. Ia berasal dari kata khairun (baik), sehingga ikhtiar berarti menentukan pilihan yang terbaik. Asumsinya ialah ada alternatif, bahwa seseorang mengetahui seluruh alternatifnya untuk kemudian dia pilih yang terbaik. Itulah ikhtiar. Di situ ada act of choice atau tindakan memilih, yang berarti bebas, karena memang masa depan masih terbuka dan masa lalu sudah tertutup atau, katakanlah tutup buku. Hal terakhir inilah yang harus dihadapi sebagai takdir. Sekali lagi perkataan takdir seperti ini sesungguhnya tidak ada dalam Al-Qur’an, melainkan dalam teologi ciptaan para ulama dan para pemikir. Persoalan keagamaan yang mula-mula muncul adalah persoalan pembunuhan ‘Utsman: mengapa ‘Utsman dibunuh?. Mereka yang membunuh ‘Utsman mengatakan bahwa dia telah melakukan kejahatan sebagai seorang khalifah, yang antara lain melakukan nepotisme. Ketika digugat, apakah ‘Utsman telah ditakdirkan Tuhan untuk melakukan itu?, tentu saja tidak. Ia melakukannya dengan pilihan sendiri, dan karena itu, dia harus bertanggung jawab. Orang yang membunuh ‘Utsman itu menjadi qadari (qadar di sini berarti mampu, sehingga qadari adalah orang yang berpendapat bahwa manusia itu mampu menentukan nasibnya sendiri). Keluarga ‘Utsman, terutama yang kemudian berkuasa di Damaskus, yaitu Bani Umayyah, berlindung di balik argumen bahwa tindakan ‘Utsman semuanya sudah ditakdirkan oleh Tuhan. Artinya, kalau mereka melakukan kejahatan (sebagai penguasa), maka semua kejahatan itu adalah takdir Tuhan. Hal ini menjadi dasar dari sikap-sikap despotisme atau jabbarisme (jabarun dari bahasa Arab, artinya terpaksa). Salah satu sifat Allah adalah al-jabbar, artinya memaksa. Kalau orang menganut jabariah, berarti ia menganut paham bahwa manusia itu terpaksa. Namun, hal ini jelas pilihan ekstrem bahwa seolah-olah hanya ada dua paham: Jabariah atau Qadariah.
  • Ada bahasan menarik dalam buku Marxis Philosophy. Di situ digabungkan antara konsep keharusan sejarah (historical neccesity) dan kebebasan manusia (human freedom). Konsep keharusan sejarah itu mirip dengan konsep Jabariah. Konsep history materialism mengatakan bahwa “manusia itu ditakdirkan untuk menjadi komunis.” Proses sejarah, menurut konsep ini, akan berlangsung demikian. Hanya saja, ternyata banyak sekali anomali. Buktinya, kalau menurut urutan-urutan historisme materialisme itu, mestinya Inggris, bukan Uni Soviet, yang lebih dulu menjadi komunis, tetapi ternyata Uni Sovietlah yang lebih dulu. Itu jelas anomali. Kemudian Lennin menambahkan satu doktrin mengenai petani, yaitu sosialisme oleh petani (kalau Marx itu sosialisme buruh). Bagaimanapun juga, di situ ada predeterminisme historis yang mirip Jabariah. Orang komunis mengatakan bahwa manusia ditakdirkan untuk menjadi komunis. Pertanyaannya, mengapa harus menjadi komunis (anggota PKI, misalnya) dan menanggung risiko untuk dibunuh (dan kenyataannya memang benar-benar dibunuh)? Mereka pun menjawab, karena ada peranan manusia yang harus ambil bagian untuk menciptakan negara komunis. Berdasarkan seberapa jauh orang mengambil peran, maka manusia dibagi menjadi jahat dan baik, revolusioner dan kontra-revolusioner. Semua agama (seperti Islam) pun sebenarnya begitu: yang cocok untuk diri sendiri disebut saleh, mukmin, muslim; dan yang tidak cocok disebut kafir. Begitu pula orang-orang komunis: yang cocok disebut revolusioner, yang tidak cocok kontra-revolusioner. Di sini, ada human freedom (kebebasan manusia). Lantas, untuk apa teori mengenai keharusan sejarah itu. Ini menarik sekali. Namun, penulis buku Marxis Philoshopy sendiri pun tidak bisa menjelaskannya karena memang sulit sekali. Kembali ke pembahasan, bahwa takdir yang dipahami masyarakat itu takdir teologi, bukan takdir Al-Qur’an. Takdir Al-Qur’an seperti dalam surat Yasin (dan juga ditempat-tempat lain dalam Al- Qur’an) dalam bahasa sekarang kira-kira adalah hukum alam kebendaan, yang bila dipelajari dan dikuasai, akan menghasilkan ilmu pasti (exact sciences). Hukum alam kebendaan ini mudah sekali dikuantifikasi, sehingga peran matematika, statistika, dan sebagainya sangat penting. Lain
  • halnya dengan ilmu sosial. Karena menyangkut sunnatullah yang fluid, yang cair dan tidak menentu, ilmu sosial sulit sekali dikuantifikasi, sehingga pendekatannya harus kualitatif, tempat peranan insight, peranan yang mirip ilham atau wangsit itu kadang-kadang bisa terjadi karena tidak bisa diperhitungkan. Kiai-kiai pun menjadi penting, karena pada umumnya kekuatan mereka bukan kekuatan kuantitatif empirikal, tetapi insight, semacam kemampuan mencandra sesuatu (weruh seduruning winarah) mengetahui sesuatu sebelum sesuatu itu terjadi. Selain itu pengertian takdir identik dengan pengertian konsep qadla dan qadar. Adapun pengertian qadla adalah ketentuan dan pengertian qadar adalah jangka yang telah ditentukan (Hamka: 1996: 332). Artinya, baik istilah takdir maupun istilah qadla dan qadar memiliki pengertian yang sama khususnya pengertian ketentuan yang terkait dengan ketentuan hidup manusia. Pengertian tentang takdir ini semakin dinamis tatkala konsep takdir itu bersentuhan langsung dalam realitas kehidupan manusia. Hal ini karena dalam realitas hidup manusia baik secara sadar atau tidak sadar mengalami langsung peristiwa yang disebut sebagai “takdir” Allah itu. Oleh sebab itu, konsep takdir kemudian memiliki korelasi langsung dengan konsep ikhtiar dan konsep tawakal. senantiasa berhubungan bahkan lekat dengan praktik kehidupan sehari-hari seorang muslim. Keterkaitan itu nyata tampak tatkala konsep takdir itu bersinggungan dengan konsep ikhtiar (usaha). Manusia sebagai makhluk yang oleh Allah S.W.T. diberi otonomi berupa kebebasan untuk menentukan segala hal atau pilihan yang terkait dengan hidupnya namun di sisi lain Allah S.W.T. menetapkan ketentuan-ketentuan kepada manusia. Ketentuan-ketentuan Allah itulah yang tidak dapat dilawan atau diubah oleh manusia dan manusia harus rela dan pasrah untuk menerima ketentuan-ketentuan itu. Takdir dan Sunnatullah Selain ada hukum ketentuan Allah dalam pengertian takdir yang mengatur lingkungan material hidup manusia, terdapat pula hukum ketentuan lain dari Allah dalam pengertian sunnatullah (Arab: sunnatullah), yang mengatur lingkungan sosial hidup manusia (Munawar Rahman: 2006;
  • 3167). Oleh kerena itu, konsep takdir juga terkait dengan konsep sunnatullah. Di mana pengertian sunnatullah sendiri adalah ketentuan yang telah ditetapkan oleh Allah dan Allah juga telah menetapkan hukum-hukumNya. Oleh karena itu, Allah tidak pernah manyalahi janjiNya dan Allah telah menetapkan sunnatullah di muka bumi dan seluruh jagat raya yang harus kita perhatikan. Oleh sebab itulah, kita diperintahkan oleh Allah untuk memerhatikan jagat raya6. Bahkan terhadap apa yang ada disekitar kita pun Allah memerintahkan agar kita mencermati dan memerhatikan7. Selain itu, kita juga harus memerhatikan sejarah. Banyak sekali firman Allah dalam Al-Qur’an yang memerintahkan kita untuk belajar dari sejarah8. Kepentingan mempelajari sejarah adalah supaya kita dapat memetik pelajaran. Di sini kita melihat adanya sunnatullah, bahwa hukum- hukum Allah berjalan secara objektif, artinya tidak tergantung pada kita dan tidak akan berubah (immutable)9 (Munawar Rahman: 2006: 3162). Nurcholish Madjid mengulas soal sunnatullah dan sejarah ini dan menjelaskanny secara luas. Menurut Nurcholish Madjid, huruf yang diwariskan kepada kita sekarang ini ialah huruf Nabathea yang diciptakan oleh orang Arab Nabathea. Huruf itulah yang kemudian menular kepada bangsa Punesia (sekarang ada di Lebanon). Huruf Latin pun sebenarnya juga berasal dari tempat itu, sehingga terdapat kemiripan- kemiripan seperti huruf; “alif, ba, ta” mirip dengan huruf; “al fa be ta”. Huruf “dal” itu sebanarnya gambar “delta”. Selanjutnya ada huruf “gama” dan “djim”, yang oleh orang Mesir dibaca “gim”. Padanan-padanan tersebut penting sekali, sehingga diketahui secara runtun perkembangan dari peradaban yang sekarang ini diwarisi. Secara spiritual ini merupakan pelajaran agar orang bersyukur kepada Allah S.W.T., bahwa semua yang diwarisi sekarang ini adalah akumulasi pengalaman manusia ribuan tahun. Tetapi yang negatif pun banyak sekali. Misalnya, pada 1298 M terjadi peristiwa yang menurut para orientalis membuat shock umat Islam, yang sampai 6 . Katakanlah,”perhatikan apa yang ada di langit dan di bumi” (Q., 10: 101). 7 . Tidaklah mereka memerhatikan unta, bagaimana diciptakan? (Q., 88: 17). 8 . Katakanlah, “jelajahilah bumi ini kemudian lihatlah bagaimana akibat orang yang mendustakan (kebenaran)” (Q., 6: 11). 9 . Dalam Al-Qur’an dijelaskan, . . . tidak akan kau dapatkan perubahan pada hukum Allah (Q., 33: 62).
  • sekarang belum sembuh, yaitu jatuhnya Bagdad ke tangan bangsa Mongol. Bagdad yang merupakan ibu kota ke khalifahan Harun Al-Rasyid itu dihancurkan sampai rata dengan tanah, bukan hanya menyangkut bangunan pemerintahan tetapi yang lebih mengenaskan adalah perpustakaan ilmu pengetahuan, yang semua isinya dibakar dan dibuang ke sungai. Tidak selembar pun yang tersisa. Padahal kalau kita baca kisah 1001 Malam akan terbayang bagaimana kebesaran Bagdad waktu itu. Damaskus saja yang kekuasaannya sekitar seratusan tahun bisa meninggalkan bekas-bekas yang luar biasa seperti Masjid Umawi atau Masjid Al-Aqsa yang arsitekturnya sangat agung, apalagi Bagdad yang waktu itu merupakan “kota metropolis” terbesar di muka bumi. Untunglah Kairo tidak terjangkau oleh mereka, sebab Kairo pada waktu itu memang kota propinsi yang kecil. Alhamdulilah bahwa di Perpustakaan Nasional Kairo sampai sekarang masih banyak tersimpan buku-buku ilmu pengetahuan yang sangat berharga. Artinya, dari gambaran itu bisa dibayangkan kalau seandainya Bagdad waktu itu selamat, tentu akan sangat luar biasa sekali pengaruhnya. Orang-orang Mongol itu memang betul-betul sadis, mereka membunuh jutaan orang dan memiliki kegemaran membangun piramida dari tengkorak umat Islam. Semua itu sejarah. Dan orang Barat sendiri mencatat seperti itu. Philip K. Hitti, misalnya, mengatakan bahwa shock yang ditimbulkan oleh peristiwa itu sampai sekarang masih belum sembuh. Kerugian dari segi ilmu pengetahuan pun tidak kurang-kurang. Misalnya, kitab-kitab lama yang berhasil dicetak kembali masih sedikit sekali. Di Princeston masih ada sekitar 1 juta naskah klasik umat Islam yang sama sekali belum dijamah. Yang sekarang sudah diterbitkan dengan teknologi mutakhir baru beberapa puluh ribu saja. Pertanyaannya sekarang ialah, mengapa Baghdad jatuh? Atau kalau mau didramatisasi dari segi keagamaan, mengapa khazanah dan peradaban milik orang-orang Islam (penganut agama yang paling benar di hari akhir, agama yang diridlai Allah S.W.T.) hancur lebur? Apakah Tuhan tidak memberi dispensasi kepada umat-Nya yang diridlai? Di sinilah, orang harus kembali ke masalah sunnatullah. Penting memahami sunnatullah sebagai bukti yang objektif dan immutable (abadi).
  • Objektif maksudnya tidak tergantung pada keinginan kita (yang subjektif). Immutable artinya tidak berubah oleh kita. Semuanya berjalan secara objektif. Sunnatullah yang objektif dan immutable itu bisa dikiaskan dengan hukum alam mengenai api. Api itu membakar atau tidak tergantung kepada kita. Siapa pun yang memasukkan tangan kedalam api pasti terbakar, tidak peduli apakah dia orang saleh atau orang jahat. Hukum alam atau sunnatullah pun seperti itu: kalau orang tidak memerhatikannya, pasti diterjang oleh hukum itu. Selain itu, sunnatullah yang objektif ini atau istilah lainnya hukum alam merupakan konsep yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an. Istilah Al-Qur’an untuk membahasakan sunnatullah atau hukum alam itu adalah hukum keadilan (Munawar Rahman: 2006; 3165). Masyarakat akan tegak kalau bersikap adil dan akan hancur kalau sebaliknya10. Selain itu Allah dalam Al-Qur’an juga memperingatkan kepada manusia untuk berlaku adil pada siapa pun11. Oleh sebab itu, tidak salah jika Ibn Taimiyah mengutip Ali bin Abi Thalib yang mengatakan mengenai keadilan sebagai berikut, “sesungguhnya Allah akan meneguhkan, akan mendukung negara yang adil meskipun kafir, dan Allah tidak akan menegakkan negara yang zalim meskipun Islam. “ Ini merupakan contoh dari sunnatullah yang objektif dan immutable. Dan itu harus dipelajari melalui sejarah. Tanpa memahami sunnatullah yang ada dalam sejarah, mustahil akan dimengerti mengapa umat Islam bisa sengsara, mengapa selama tiga abad terakhir umat Islam menjadi bulan-bulanan bangsa lain. Semua itu lebih karena mereka tidak menjalani sunnatullah. Sunnatullah itu dapat dilihat dalam sejarah, sehingga apa yang disebut “menjalankan hukum Allah” tidak hanya menjalankan hukum dalam arti hukum-hukum yang dipelajari dalam buku, tetapi memahami apa hukum yang beroperasi di alam raya ini. Kalau orang membuat irigasi, daerah hulunya lebih tinggi daripada hilirnya sehingga air bisa mengalir, itu sebenarnya menjalankan hukum Allah. Namun sebaliknya, kalau hulunya lebih rendah daripada hilirnya, tentu ini tidak akan mengalir, sebab menyalahi sunnatullah, menentang hukum Allah. 10 . Allah memerintahkan berbuat adil, mengerjakan amal kebaikan (Q., 16: 90). 11 . Janganlah kebencian orang kepadamu membuat kamu berlaku tidak adil. Berlakulah adil. Itu lebih dekat kepada takwa (Q., 5: 8).
  • Demikian juga dalam soal sejarah yang notabene tidak bersifat eksak, meski ada sesuatu yang bisa dipegang. Karena itu, dalam hal ini orang Islam harus mengikuti sejarah, yaitu bisa bekerja sama dengan bangsa lain. Di situlah, mengapa dulu orang Islam belajar dari mana-mana. Selain itu, memahami sunnatullah dalam sejarah kiranya menjadikan manusia dapat mengetahui hakikat dirinya melalui dinamika historisitasnya dalam ruang dan waktu. Sebab melalui sejarah pula manusia harus berjuang membebaskan dirinya untuk meningkatkan harkat dan martabat hidupnya, dengan usaha mewujudkan kualitas hidupnya untuk menuju ke tingkat yang sedekat mungkin dengan ukuran-ukuran tertinggi moralitas dan akhlak. Manusia dan Kebebasan Dalam pandangan Islam manusia merupakan puncak ciptaan Tuhan12. Maksudnya adalah hanya manusia makhluk yang paling sempurna di antara semua makhluk ciptaan Tuhan. Oleh karena itu secara hierarkis hanya manusia yang paling bisa mendekati Tuhan. Akan tetapi, Allah juga menyebutkan kebalikannya bahwa manusia juga bisa menjadi makhluk yang paling rendah. Bahkan dapat lebih rendah dari binatang13. Namun manusia tetap dapat menempati posisi terhormatnya sebagai makhluk terbaik apabila dia beriman dan beramal saleh14. Hal ini karena secara primordial, sejak manusia sebelum lahir, manusia adalah baik (ahsan al-taqwim). Di samping itu, manusia menurut Al-Qur’an terikat perjanjian dengan Tuhan (sebelum lahir), yaitu manusia akan mengakui Tuhan sebagai pelindungnya. Di mana perwujudannya kelak adalah sikap menyembah kepada Tuhan dan berakhlak baik (Munawar Rachman: 2006; 1817). Manusia selain disebut sebagai makhluk tertinggi, oleh Al-Qur’an manusia juga disebut sebagai khalifah. Penciptaan manusia sebagai makhluk yang tertinggi ini sesuai dengan maksud dan tujuannya menjadi khalifah (secara harfiah berarti “yang mengikuti dari belakang”, yaitu, “wakil” atau “pengganti”) di bumi, dengan tugas menjalankan “mandat” yang diberikan Allah 12 . Dalam surat Al-Tin dikatakan, “Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik” (Q., 95: 4). 13 . Kemudian Kami jatuhkan dia serendah-rendahnya (Q., 95: 5). 14 . Dalam Al-Qur’an disebutkan “Kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan” (Q., 95: 6).
  • kepadanya untuk membangun dunia ini sebaik-baiknya15. Oleh karena itu, sebagai khalifah, manusia akan dimintai pertanggungjawaban atas tugasnya di dalam menjalankan “mandat” dari Tuhan16. Sebagai makhluk tertinggi dan sebagai khalifah Tuhan di bumi manusia oleh Allah dibekali beberapa kelebihan dan potensi. Salah satu kelebihan dan potensi yang diberikan Allah kepada manusia diantaranya adalah “kebebasan” atau “otonomi”. Kebebasan atau otonomi ini merupakan dimensi di mana manusia sebagai makhluk yang akan memberikan pertanggungjawaban atas apa yang telah dikerjakannya sebagai khalifah. Oleh karena itu, manusia dapat menampilkan dirinya sebagai makhluk moral. Sebagai makhluk moral, manusia memiliki potensi untuk menentukan pilihan apa dan mana yang terbaik untuk dirinya dan apa yang diridloi oleh Tuhan. Agar manusia dapat terus memiliki kebebasan dan otonomi itu, manusia harus senantiasa membebaskan dirinya dari pelbagai belenggu yang memungkinkan menjadi penghalang baginya di dalam memilih dengan bebas jalan dan kegiatan hidup yang diyakininya terbaik, yaitu paling bermoral dan bertanggungjawab17. Karena itu, kemusyrikan atau perbuatan menyekutukan Tuhan merupakan larangan keras Allah yang wajib dihindari oleh manusia. Sebab apabila itu dilanggar oleh manusia, sudah pasti hal itu akan menjatuhkan derajat manusia dan kemanusiaan sebagai makhluk tertinggi dan sebagai khalifah. Manusia tidak pantas tunduk pada apa pun selain tunduk dan patuh pada sang Khaliq. Kebebasan dan otonomi itu tentu dapat diperoleh manusia apabila manusia dengan seksama memperhatikan peraturan tetap (sunnah) dan ketentuan pasti (taqdir dalam makna generiknya) yang diberlakukan oleh Tuhan untuk seluruh alam ciptaan-Nya. Dengan pembebasan diri 15 . Ingatlah ketika Tuhanmu bersabda kepada para malaikat, “Sesungguhnya kami mengangkat seorang khalifah di bumi . . .” (Q., 2: 30); Dan Dialah (Tuhan) yang menjadikan kamu sekalian khalifah-khalifah bumi, dan mengangkat sebagian dari kamu di atas sebagian lain beberapa derajat, agar supaya Dia menguji kamu berkenaan dengan sesuatu (kelebihan) yang dikaruniakan-Nya kepadamu itu . . . (Q., 6: 165). 16 . Kemudian Kami jadikan kamu sekalian khalifah-khalifah di bumi sesudah mereka yang lalu itu, agar dapat Kami saksikan bagaimana kamu sekalian bekerja (Q., 10: 14). 17 . (Q., 39: 17-18).
  • manusia dari bentuk-bentuk pembelengguan sewenang-wenang (dari tuhan-tuhan palsu) itu, dan bersamaan dengan itu pengarahan hidup hanya kepada Dzat Mutlak yang tak terjangkau dan tak terhingga, maka alam tersingkap dari kualitas mitologisnya, dan menjadi terbuka bagi manusia untuk dipahami sedekat mungkin kepada kebenaran. Kemudian dalam konteks hukum-hukum alam yang dipahaminya itu manusia memilih jalan hidupnya yang penuh tanggung jawab. Dengan kata lain mengutip pendapat Muhammad Abduh bahwa eksistensi kebebasan manusia senantiasa berada antara kemauan (iradat) Allah dengan kebebasan untuk melakukan ikhtiar (Muhammad Abduh: 1996; 48). Manusia dan Keterbatasan Selain manusia memiliki kebebasan manusia harus pula senantiasa ingat akan dimensi keterbatasan yang ada dan lekat dengannya. Hal ini karena kebebasan yang dimiliki oleh manusia sebatas dalam lingkup kodrat dan iradat Tuhan (Hamka: 1996; 337). Ini artinya adalah bahwa bagaimana pun bebasnya manusia, kebebasan dan otonominya senantiasa berada dalam dimensi takdir (ketentuan Allah) dan dimensi sunnatullah (hukum Allah). Walau manusia memiliki keterbatasan Allah senantiasa memberikan harapan. Dengan mengacu pada iman kepada Allah di sana Allah melukiskan diri sebagai al-shamad (tempat menggantungkan harapan). Bila manusia lupa kepada Allah, maka salah satu akibat yang akan ditanggungnya adalah hilangnya harapan, dan hal ini akan menyebabkan hidupnya sengsara. Jadi, harapan di sini adalah bagian dari iman; dan putus harapan adalah bagian dari kekafiran18. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa manusia yang utuh, manusia yang integral, adalah manusia yang sanggup membina hubungan dengan Allah. Apabila dicermati, masalah keterbatasan manusia dan dianugerahkannya “peluang” oleh Allah kepada manusia terkait erat dengan persoalan takdir. Percaya kepada takdir atau qadla dan qadar ini bagi manusia adalah terkait dengan masa lampau yang telah tertutup. Adapun yang terkait dengan masa depan yang masih bersifat terbuka, keterkaitannya bukan dengan qadla-qadar, melainkan terkait dengan kewajiban untuk berikhtiar. Pertanyaannya sekarang adalah mengapa untuk masa lampau (sesuatu yang sudah terjadi) manusia harus percaya kepada qadla dan qadar? 18 . Allah mengingatkan kita dengan firmannya “Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah, tak ada orang yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali golongan orang tak beriman (Q., 12: 87).
  • Sikap pasrah, ikhlas, dan percaya terhadap qadla dan qadar itu penting karena untuk kepentingan manusia sendiri yaitu untuk menjaga kesehatan ruhani dan mental manusia19. Jadi ada predestination20. Pengetahuan manusia memang terbatas sebab Tuhan memiliki rahasia. Namun yang terpenting bagi manusia adalah berusaha memahami mengapa Allah membuat ketetapan yang pasti bahkan mutlak bagi manusia dan alam21. Maksudnya adalah, jika manusia gagal manusia tidak boleh berputus asa, dan apabila berhasil manusia tidak boleh sombong. Dari sini, manusia diharapkan menjadi manusia yang seimbang. Hal ini sangat penting bagi kesehatan manusia. Oleh karena itu, di dalam mengimani qadla dan qadar, tersangkut pula harapan kepada Tuhan. Selain keterbatasan, manusia juga memiliki kelemahan. Tentang kelemahan yang dimiliki oleh manusia ini, Nurcholish Madjid berpendapat bahwa kelemahan merupakan aspek sekunder manusia, di mana manusia dapat berbuat salah (Munawar Rachman: 2006; 1832)22. Nurcholish Madjid selanjutnya menyatakan bahwa kelemahan manusia yang penting dan harus disadari serta diingat adalah halu, mudah terpengaruh; di mana indikasinya adalah tidak tahan menderita (Munawar Rachman: 2006; 1832)23. Potensi sekunder lainnya adalah miotik, yaitu berpandangan pendek24. Hal ini menunjukkan betapa manusia lebih menyukai kepada hal-hal yang bersifat segera dan melupakan kepentingan yang bersifat jangka panjang (dikemudian hari). Pandangan ajaran tentang manusia yang tidak 19 . Secara tegas Allah berfirman, “Setiap ada musibah terjadi di bumi dan dalam dirimu, sudah tercatat sebelum Kami mewujudkannya (Q., 57: 22). 20 . Selanjutnya ayat dalam Q., 57: 22 itu menjawab dan melanjutkan, “Sungguh itu bagi Allah mudah sekali” (Q., 57: 22). 21 . Dalam Al-Qur’an Allah berfirman, “Agar kamu tidak berduka cita atas apa yang sudah hilang, dan merasa bangga atas apa yang diberikan” (Q., 57: 23). 22 . Disebutkan di dalam Al-Qur’an, “Manusia diciptakan dalam kodrat yang lemah” (Q., 4: 28). 23 . Bila ditimpa bahaya berkeluh kesah. Dan bila kekayaan yang diterimanya kikir (“sombong” – Nurcholis Madjid) (Q., 70: 20-21). 24 . Terkait dengan pandangan pendek ini manusia juga lekat dengan sikap gegabah, oleh karena itu Allah di dalam Al-Qur’an mengingatkan, “Tidak! (kamu manusia) menginginkan hidup yang fana, dan membiarkan hari kemudian (Q., 75: 20-21).
  • boleh mudah tergoda sesungguhnya merupakan ajaran universal yang terdapat dalam setiap budaya dan agama. Gampang tergoda berarti lebih tertarik kepada hal yang bersifat jangka pendek dan sesaat dan melupakan hal yang bersifat jangka panjang yang jauh lebih prospektif dan abadi. Oleh sebab itu, pepatah Melayu mengatakan berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Melihat potensi manusia yang mudah tergoda itu selanjutnya Nabi berpesan, “setiap manusia itu pembikin kesalahan, dan sebaik kamu yang berbuat kesalahan ialah kamu yang bertobat”. Kesalahan yang dimaksud di dalam hadits itu adalah alpa, sehingga tidak berarti manusia itu pada dasarnya jahat. Jadi potensi untuk salah, karena akibat dari sesuatu yang berada di luar manusia, dan hal itu merupakan potensi sekunder. Adapun potensi primer manusia adalah kebaikan, sebab kebaikan merupakan sesuatu yang datang dari dinamika internal diri manusia. Ikhtiar dan Harapan Secara etimologis ikhtiar berasal dari kata khayrun. Di sini kata tersebut telah ditempatkan sebagai bentuk kata kerja, yang berarti memilih kemungkinan yang terbaik (Munawar Rahman: 2006: 987). Secara konseptual ikhtiar artinya memilih, yakni memilih diantara pelbagai kemungkinan yang tersedia di depan kita. Makna ikhtiar selanjutnya memiliki implikasi terhadap perbuatan (amal) yang dilakukan oleh manusia. Jadi manusia tidak sekedar menjatuhkan pilihan atas apa yang dikehendakinya. Melainkan apa yang telah menjadi pilihannya itu selanjutnya termanifestasikan kedalam bentuk perbuatan dan tindakan. Perbuatan dan tindakan yang dilakukan oleh manusia itu merupakan upaya untuk mengungkap rahasia ilahi guna memprediksi apa yang terbaik untuk manusia. Oleh sebab itu, manusia oleh Allah senantiasa diperintahkan untuk mencari dan mengambil hikmah (kebajikan) atas apa yang telah diperbuat. Maka dari itu, walaupun Allah memberikan kebebasan kepada manusia di dalam menentukan pilihan dan di dalam melakukan perbuatan, Allah senantiasa mengingatkan kepada manusia untuk melakukan perbuatan yang baik yang diridlai olehNya.
  • Menurut konsep Islam untuk menyebut perbuatan yang baik adalah amal shalih yaitu amal yang diridlai oleh Allah dan di dalam mengerjakannya manusia tidak boleh menyalahi atau melanggar ketentuan-ketentuan Allah. Kesesuaian manusia di dalam menjalani perintah dan menjauhi larangan Allah itu merupakan syari’ah (jalan) guna mencapai ridla-Nya. Guna menjalankan fungsi kekhalifahannya manusia oleh Allah diberi beberapa potensi dan kelebihan yang diantaranya adalah akal. Dengan akal manusia dapat menggunakan daya pikirnya untuk menentukan pilihan. Dan dengan pertimbangan akalnya itu manusia dapat mempertimbangkan konsekuensi atas perbuatan yang telah dilakukan (Nasution: 2006; 65). Ikhtiar, perbuatan, dan tanggung jawab merupakan rangkaian dinamika proses manusia di dalam menjalani kebebasan pilihannnya. Atas apa yang telah diperbuat oleh manusia, manusia selanjutnya hanya dapat memasrahkan hasil ikhtiarnya itu kepada Allah. Di sinilah Allah senantiasa memberikan harapan kepada manusia. Barang siapa berbuat kebajikan dengan sungguh-sungguh dan sesuai dengan jalan dan ketentuan Allah niscaya apa yang diharapkan oleh manusia selain oleh Allah diridlai tentu peluang untuk dikabulkan semakin besar. Oleh sebab itu, konsep ikhtiar ini selanjutnya dilengkapi oleh konsep tawakal. Tawakal artinya bersandar atau memercayai diri. Dalam Islam, tawakal berarti sikap bersandar dan memercayakan diri kepada Allah. Oleh sebab itu, tawakal merupakan implikasi langsung dari iman. Selanjutnya Nabi bersabda, “Kalau kamu tidak mau untamu hilang, maka tambatkanlah ke suatu pohon, kemudian bertawakallah kepada Tuhan” (Munawar Rachman: 2006; 987). Hadits Nabi tersebut berarti mengingatkan kita bahwa manusia haruslah berusaha terlebih dahulu baru kemudian bertawakal dan berserah atas apa yang telah kita kerjakan. Nabi juga melarang kepada kita apabila kita belum berbuat namun kita sudah pasrah dan menyerah. Oleh karena itu, sikap atau paham fatalisme pasrah tanpa diiringi dengan usaha dan perbuatan sangat bertentangan dengan prinsip agama Islam. Tawakal dan Iman Secara etimologis, “tawakal“ atau dengan ejaan dan vokalisasi bahasa Arab tawakkul yang berarti bersandar atau memercayai diri (Munawar Rahman: 2006: 3346). Dalam Islam, tawakal
  • berarti sikap bersandar dan memercayakan diri kepada Allah S.W.T. Oleh karena konsep tawakal mengandung makna “memercayakan diri“, maka tawakal merupakan implikasi langsung dari iman. Pengertian iman di sini tidak sekedar “percaya akan adanya“ Tuhan, melainkan lebih bermakna kepada “memercayai“ atau “menaruh kepercayaan“ kepada Allah S.W.T. Maka tidak ada tawakal tanpa iman, dan tidak ada iman tanpa tawakal25. Pengertian lain tawakal adalah bukan merupakan sikap pasif yang bersemangat untuk melarikan diri dari kenyataan (eskapis). Akan tetapi tawakal yang dimaksud oleh ajaran Islam adalah sikap aktif yang tumbuh dari pribadi yang memahami dan menerima kenyataan hidup dengan tepat. Hal ini karena pangkal tawakal itu berasal dari kesadaran diri bahwa perjalanan pengalaman manusia secara keseluruhan dalam sejarah untuk tidak mengatakan perjalanan pengalaman perorangan dalam kehidupan diri pribadi tidak akan cukup untuk menemukan hakikat hidup. Sebagian besar dari hakikat itu tetap merupakan rahasia Ilahi yang tidak ada jalan bagi makhluk untuk menguasainya. Kesadaran yang serupa dengan hal itu tidak sekedar merupakan suatu “realisme metafisis“, melainkan juga memerlukan keberanian moral, karena memiliki nilai aktif. Keberanian moral yang dimaksudkan di sini adalah keberanian moral untuk menginsafi dan mengakui keterbatasan diri sendiri setelah melakukan usaha optimal, dan siap menerima kenyataan bahwa tidak semua persoalan dapat dikuasai dan diatasi tanpa bantuan (inayah) Allah S.W.T. Pengakuan ini terkandung dalam ungkapan, La haula wa la quwwata illa billahi al-aliyy al-azhim (Tidak ada daya dan tidak pula ada kekuatan kecuali dengan [bantuan, ’inayah ] Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar). Dalam Al-Qur’an, seruan kepada manusia untuk bertawakal kepada Allah itu dikaitkan dengan berbagai ajaran dan nilai. Pertama, konsep tawakal dikaitkan dengan sikap percaya (iman) kepada Allah dan pasrah (islam) kepada-Nya. Kedua, sikap tawakal kepada Allah diperlukan 25 . Di dalam Al-Qur’an Allah S.W.T. berfirman: . . . Dan kepada Allah hendaknya kamu sekalian bertawakal, kalau benar kamu adalah orang-orang yang beriman (Q., 5: 23). Adapun ayat yang menunjukkan tidak ada iman, dan tidak pula ada sikap pasrah kepada Allah (islam), tanpa tawakal, dan begitu pula sebaliknya adalah: . . . kalau kamu sekalian benar-benar beriman kepada Allah, maka bertawakallah kepada-Nya, jika memang kamu orang-orang yang pasrah [muslim] (Q., 10: 84).
  • setiap kali usai mengambil keputusan penting (khususnya keputusan yang menyangkut orang banyak melalui musyawarah), guna memperoleh keteguhan hati dan ketabahan dalam melaksanakannya, serta agar tidak mudah mengubah keputusan itu26. Ketiga, tawakal juga dilakukan agar terbit keteguhan jiwa menghadapi lawan dan agar perhatian kepada usaha untuk menegakkan kebenaran tidak pecah karena adanya lawan itu, dengan keyakinan bahwa Tuhanlah yang akan melindungi dan menjaga kita27. Keempat, tawakal juga diperlukan untuk mendukung perdamaian antara sesama manusia, terutama jika perdamaian itu juga dikehendaki oleh mereka yang memusuhi kita28. Kelima, sikap memercayakan diri kepada Tuhan juga merupakan konsistensi keyakinan bahwa segala sesuatu akan kembali kepada-Nya dan bahwa kita harus menyembah Dia Yang Maha Esa29. Keenam, tawakal kepada Allah juga dilakukan karena Dialah Yang Mahahidup dan tak akan mati. Dialah Realitas Mutlak dan Mahasuci, yang senantiasa memperhitungkan perbuatan hamba-hamba-Nya30. Ketujuh, kita bertawakal kepada Allah karena Dialah yang Mahamulia dan Mahabijaksana. Dengan tawakal kita menghapus kekhawatiran kepada Pencipta kita sendiri dengan segala kemuliaan dan kebijaksanaan-Nya31. Kedelapan, tawakal diperlukan untuk meneguhkan hati jika memang seseorang yakin, dengan tulus dan ikhlas, bahwa dia berada dalam kebenaran32. 26 . Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka. Mohonkanlah ampun bagi mereka. Dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya (Q., 3: 159). 27 . Dan mereka (orang-orang munafik) mengatakan: “(Kewajiban kami hanyalah) ta’at”. Tetapi apabila mereka telah pergi dari sisimu, sebahagian dari mereka mengatur siasat di malam hari (mengambil keputusan) lain dari yang telah mereka katakan tadi. Allah menulis siasat yang mereka atur di malam hari itu, maka berpalinglah kamu dari mereka dan tawakkallah kepada Allah. Cukuplah Allah menjadi pelindung (Q., 4: 81). 28 . Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Q., 8: 61). 29 . Dan kepunyaan Allah-lah apa yang ghaib di langit dan di bumi dan kepada-Nya-lah dikembalikan urusan-urusan semuanya, maka sembahlah Dia, dan bertawakkallah kepada-Nya. Dan sekali-kali Tuhanmu tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan (Q., 11: 123). 30 . Dan bertawakkallah kepada Allah Yang Hidup (kekal) Yang tidak mati, dan bertasbihlah dengan memuji-Nya. Dan cukuplah Dia Maha Mengetahui dosa-dosa hamba-hamba-Nya (Q., 25: 58). 31 . Dan bertawakkallah kepada (Allah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang (Q., 26: 217). 32 . Sebab itu bertawakkallah kepada Allah, sesungguhnya kamu beradadi atas kebenaran yang nyata (Q., 27: 79).
  • Penutup Sebagai ikhtitam, takdir merupaka ketentuan Allah yang tidak dapat diubah dan dilawan oleh manusia. Walau demikian, manusia oleh Allah diwajibkan untuk melakukan ikhtiar dan manusia oleh Allah dikaruniai kebebasan di dalam melakukan ikhtiar atas apa yang dipilih dan dikehendaki oleh manusia. Selanjutnya, manusia juga harus bertawakal dan memasrahkan hasil ikhtiarnya tersebut kepada Allah. Sebab dengan bertawakal manusia senantiasa berada dalam koridor keimanan dan senantiasa dapat memetik hikmah dan mensyukuri atas nikmat yang telah Allah anugerahkan. Selain itu, konsep takdir juga terkait dengan konsep sunnatullah. Sunnatullah merupakan ketentuan Allah yang terkait dengan hukum alam di mana Allah telah menetapkan hukum- hukumNya. Hukum sunnatullah ini berlaku bagi siapa pun. Oleh karena itu, setiap orang muslim harus belajar tentang sunnatullah ini dari pengalaman sejarah. Sebab dalam lintasan sejarah orang muslim juga memiliki pengalaman pahit yang diakibatkan barangkali oleh kesalahan oleh orang muslim sendiri. Atas dasar pengalaman itu, setiap manusia di muka bumi ini ada yang berhasil dan ada yang gagal. Tidak memandang manusia itu beriman atau tidak beriman, dan hal ini tergantung kepada manusia sendiri. Apakah yang bersangkutan mengikuti sunnatullah atau tidak mengikuti sunnatullah. Bagi yang mengikuti sunnatullah atau hukum alam dia akan selamat dan sukses hidup di dunia. Oleh karena itu, tidak salah bila ada ungkapan yang mangatakan Allah akan menegakkan kekuasaan suatu negara meskipun kafir namun adil, dan Allah akan meruntuhkan kekuasaan suatu negara yang tidak adil meskipun mukmin. Pesan yang dapat kita tangkap dari ungkapan tersebut adalah manusia sebagai khalifah Allah di bumi harus berlaku adil terhadap siapa pun. Sebab menurut hukum Allah siapa pun akan hancur dan binasa bila tidak mematuhi hukum dan ketentuan yang berlaku. Oleh sebab itu, manusia di dalam melakukan ikhtiar dan berbuat baik (amal shalih) hendaknya senantiasa memperhatikan ketentuan dan aturan yang telah ditetapkan oleh Allah. Sebab, semua ikhtiar dan perbuatan manusia adalah proses untuk mengharap ridloNya di mana orientasi
  • hasilnya tidak semata-mata untuk suatu jangka yang bersifat pendek. Melainkan untuk masa yang bersifat panjang dan abadi. Memang adakalanya antara apa yang dikerjakan, diharapkan, dan diinginkan oleh manusia tidak seluruhnya dapat dikabulkan oleh Allah oleh sebab itu, manusia hanya dapat berharap sambil bertawakal kepada Allah dan tetap yakin dan percaya bahwa Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk hambaNya.
12 Juli 2012

Mengecek Status Hadits Melalui Situs Dorar.Net

oleh alifbraja

 

Situs dorar.net atau situs Ad Durarus Saniyyah, adalah situs islami yang diasuh oleh Asy Syaikh Alwi bin Abdul Qadir Assegaf Hafizhahullah. Situs dorar.net memuat banyak info dan artikel bermanfaat yang sejalan dengan manhaj ahlussunnah wal jama’ah, insya Allah. Salah satu fitur bermanfaat yang disajikan oleh web ini adalah aplikasi web untuk mengecek keshahihan hadits menurut pendapat para ulama hadits di kitab-kitab mereka. Fitur ini sangat membantu sekali untuk mengecek status hadits dengan cepat. Namun, untuk memanfaatkan fitur ini, anda disyaratkan memiliki 2 hal:

  • Sedikit kemampuan bahasa arab
  • Potongan teks hadits yang akan dicari dalam bahasa arab, bukan terjemahan.

Berikut ini kami bahas bagaimana cara memanfaatkan fitur tersebut. Sebagai contoh, kita akan mengecek status hadits yang mengatakan bahwa tidurnya orang puasa adalah ibadah, namun kita asumsikan bahwa kita tidak ingat teks lengkap haditsnya, kita hanya ingat hadits tersebut mengandung kata الصائم (orang yang berpuasa) dan عبادة (ibadah).

Langkah 1

Akses alamat http://dorar.net

Langkah 2

Plih tab الموسوعة الحديثية

Langkah 3

Anda akan melihat input box bertuliskan: بحث سريع في الموسوعة الحديثية

Sebenarnya di kotak ini anda dapat memasukkan potongan hadits yang akan dicari, namun kami sarankan untuk meng-klik tulisan بحث متقدم dibawahnya untuk mendapatkan fitur pencarian yang lebih lengkap.

Langkah 4

Anda berada di halaman khusus pencarian hadits. Anda juga bisa mengakses langsung halaman ini dengan alamat http://dorar.net/enc/hadith

Ketik kedua kata tersebut, yaitu الصائم عبادة pada kotak pencarian. Jika komputer anda belum diset fasilitas font arabic-nya, anda cukup meng-klik tombol bergambar keyboard untuk membuka virtual arabic keyboard.

Lalu klik tombol بحث

Langkah 5

Aplikasi akan mencari hadits yang memuat kedua kata tersebut, baik yang keduanya bersandingan maupun terpisah oleh kata-kata lain. Berikut ini contoh hasil pencarian:

Keterangan gambar:

Merah → Hasil pencarian

Hijau → Jumlah hadits yang ditemukan dan kecepatan pencarian

Biru → Pengelompokkan hadits yang ditemukan berdasarkan kitab yang memuatnya atau nama ulama yang berpendapat

Langkah 6

Hasil pencarian:

Teks yang tercetak tebal adalah teks haditsnya:

نوم الصائم عبادة ، وصمته تسبيح ، ودعاؤه مستجاب ، وعمله مضاعف

Tidurnya orang yang puasa adalah ibadah, diamnya adalah tasbih, doanya dikabulkan, amal ibadahnya dilipat-gandakan pahalanya

Keterangan hasil pencarian:

الراوي → Nama sahabat, tabi’in atau tabi’ut tabi’in yang meriwayatkan hadits. Dalam contoh di atas disebutkan: عبدالله بن أبي أوفى (Abdurrahman bin Abi Aufa)

المحدث → Nama ulama pakar hadits yang mengomentari. Dalam contoh di atas disebutkan: البيهقي (Al Baihaqi). Jika anda mengklik pada nama tersebut, akan keluar biografi ringkasnya.

المصدر → Nama kitab yang memuat perkataan / komentar ulama tersebut. Dalam contoh di atas disebutkan: شعب الإيمان (Syu’abul Iman). Jika anda mengklik namanya, akan keluar informasi ringkas mengenai kitab tersebut.

الصفحة أو الرقم → Nomor halaman atau nomor tempat dicantumkannya hadits yang dicari dalam kitab yang dimaksud. Dalam contoh di atas disebutkan: 3/1437.

خلاصة حكم المحدث → Ringkasan komentar dari ulama tersebut terhadap hadits. Dalam contoh di atas disebutkan: فيه معروف بن حسان ضعيف وسليمان بن عمرو النخعي أضعف منه. (Di dalam sanadnya terdapat Ma’ruf bin Hassan, ia dhaif. Dan juga terdapat Salman bin ‘Amr An Nakha’i, ia lebih dha’if dari pada Ma’ruf)

Dari satu hasil pencarian ini bisa kita simpulkan, Imam Al Baihaqi mendhaifkan hadits tersebut karena ada perawi yang lemah, sebagaimana perkataan beliau di kitabnya yaitu Syu’abul Iman (3/1437)

Bacalah hasil pencarian selanjutnya agar pencarian anda lebih komprehensif. Klik nomor halaman di bagian paling bawah untuk melihat halaman selanjutnya dari daftar hasil pencarian.

Langkah 7, selesai.

Hasil pencarian secara default ditampilkan berdasarkan relevansi dengan kata kunci yang digunakan. Namun, anda dapat mengurutkan hasil pencarian berdasarkan tahun wafat dari ulama yang berpendapat. Caranya dengan mengklik tulisan إعادة ترتيب النتائج حسب تاريخ وفاة المحدث. di atas hasil pencarian.

Dari kasus pencarian di atas, jika kita melihat komentar para ulama hadits, kita dapatkan bahwa hadits yang menyatakan bahwa tidurnya orang yang puasa adalah ibadah tidak ada yang shahih.

Fitur tambahan

Untuk menampilkan fitur pencarian yang lebih lengkap, klik tulisan بحث متقدم , akan muncul berbagai opsi seperti pada gambar berikut:

  • Centang pada tulisan بحث مطابق untuk melakukan pencarian yang mengandung kata kunci yang saling bersandingan, atau dengan kata lain persis sebagaimana kata kunci yang ditulis. Contoh, pencarian dengan kata kunci الصائم عبادة akan menghasilkan:
  • Bila anda menginginkan hasil pencarian menampilkan hadits yang tidak mengandung suatu kata, pada kotak النتائج لا تحتوي هذه الكلمات anda bisa memasukkan kata tersebut
  • Anda bisa mencari secara spesifik pada sebuah kitab atau berdasarkan nama seorang atau beberapa ulama dengan menyeleksinya di kotak المحدث dan الكتاب
  • Anda bisa menentukan jenis hasil pencarian, ada 5 pilihan:Centang pada تثبيت خيارات البحث jika anda ingin menggunakan opsi-opsi di atas untuk pencarian baru. Jika tidak dicentang, opsi-opsi yang anda pilih akan di-reset.
    1. أحاديث صحيحة ومافي حكمها → Hanya menampilkan hasil pencarian dari kitab yang memuat hadits-hadits shahih saja
    2. أحاديث أسانيدها صحيحة وما في حكمها → Hanya menampilkan hasil pencarian dari kitab yang memuat hadits-hadits beserta sanadnya yang shahih.
    3. أحاديث ضعيفة وما في حكمها → Hanya menampilkan hasil pencarian dari kitab yang memuat hadits-hadits dhaif saja
    4. أحاديث أسانيدها ضعيفة وما في حكمها → Hanya menampilkan hasil pencarian dari kitab yang memuat hadits-hadits beserta sanadnya yang dha’if.
    5. الجميع → Semua jenis.

Beberapa catatan

  • Aplikasi ini hanyalah alat bantu. Untuk menyajikan data yang ilmiah, untuk keperluan karya tulis ilmiah misalnya, kami sarankan anda mengecek hasil pencarian anda pada kitab aslinya. Hal tersebut dapat anda lakukan lebih mudah karena sudah ada acuan nomor halaman atau nomor hadits.
  • Umumnya, hasil pencarian melalui web ini hanya menghasilkan kesimpulan hukum, shahih, hasan, dhaif, maudhu’ atau semisalnya. Bila ingin mengecek alasan atau hujjah ulama yang menyimpulkan hukum tersebut, silakan merujuk pada kitab aslinya.
  • Aplikasi ini tentu tidak memuat seluruh hadits Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, sehingga hadits yang tidak ada dalam aplikasi ini belum tentu hadits palsu. Namun juga sebaliknya, kita tidak bermudah-mudah menganggap sebuah perkataan sebagai hadits Nabi sampai kita mengetahui sanadnya tercantum di salah satu kitab hadits dari para ulama.
  • Jika dalam melakukan pencarian anda menemukan istilah atau hal-hal yang membingungkan, seperti istilah-istilah jarh wa ta’dil (mis: shaduq, tsiqah, saaqith, mudallas, laa ba’sa bih, dll), atau adanya beberapa lafadz berbeda, dll, silakan bertanya kepada ustadz anda, dan jangan bermudah-mudah menyimpulkan hukum.
  • Tulisan ini dibuat pada tanggal 11 Juli 2011, tidak menutup kemungkinan situs dorar.net memperbaharui aplikasi ini di masa datang, sehingga langkah-langkah penggunaannya pun berbeda.
12 Juli 2012

Fenomena Kebesaran Allah

oleh alifbraja

Fenomena Kebesaran Allah






























10 Juli 2012

Karya Emas Ulama Legendaris Aceh, ” Mir’at Al Thullab “

oleh alifbraja

I.  Biografi syaikh Abdurrauf dan karyanya Mir’atul Tullab

Syekh Abdurrauf bin Ali al-Jawi, sedangkan kuniyah/silsilah) al-Singkili diberikan oleh para sarjana.

Ia lahir di Barus atau Singkel, diperkirakan awal abad 17. Pada tahun 1641/1642 M, ia berangkat menuntut ilmu ke Yaman dan Haramain (Mekkah-Madinah) pada  awal tahun Sultanah Tajul Alam Safiyatuddin (1641 M). Jadi dipastikan ia mengetahui pertikaian yang terjadi di kesultanan antara pengikut Syamsuddin al-Sumatrani dan Nuruddin al-Raniri, karna Syekh Abdurrauf masih di Aceh pada periode Nuruddin ar-Raniri atau Sultan Iskandar Tsani.

Selama 19 tahun di Arab (1642-1661 M), ia kembali ke Aceh. Pada tahun 1662 M dan menjadi Shayhkul Islam, jabatan di Kesultanan Aceh yang pernah disandang oleh syaikh Syamsuddin al-Sumatrani (w. 1630) dan syaikh Nuruddin al-Raniri (1637-1644 M).

Jadi ada gap (jurang) yang kosong untuk jabatan Syaikhul Islam, yaitu 7 tahun setelah Syamsuddin al-Sumatrani meninggal atau sebelum kedatangan Nuruddin ar-Raniri, dan juga + 17 tahun setelah kepulangan Nuruddin ar-Raniri. Ini disebabkan belum banyak diungkapkan oleh para sarjana sampai saat ini, karena masih sedikit para ilmuwan yang merujuk ke naskah-naskah (manuskrip) untuk mendapat data-data masa lalu. Menurut Hermansyah (filolog Aceh) jabatan syaikhul Islam dan Qadhi Malik Adil setelah Syamsuddin al-Sumatrani wafat adalah syaikh Faiz al-Fairusi al-Baghdadi (1630-1636 M), yaitu diakhir-akhir masa pemerintahan sultan Iskandar Muda. Ini diketahui melalui naskah kuno tarekat silsilah Syattariyah Tgk Ali di Tanoh Abee.

Sedangkan Syaikhul Islam sebelum Abdurrauf Syiah Kuala adalah kemungkinan Sayf al-Rijal, namun tidak dapat dipastikan berapa lama ia di lingkungan Kesultanan. Ia ulama yang pernah mengeyam pendidikan di Aceh, Minangkabau dan Surat (India) dan memenangi debat/diskusi dengan Nuruddin al-Rarini yang mengakibatkan ia kembali ke India. Informasi ini diperoleh dalam penelitian Takashi Ito melalui laporan tertulis (juga disebut mansukrip) Peter Sourij kepada delegasi Belanda tahun 1644 M.

Pada tahun 1662 M, syakh Abdurrauf Syiah Kuala yang terkenal alim, keramat, dan guru dalam tarekat Syattariyah serta ulama yang sangat dihormati resmi sebagai Syaikhul Islam. Ia dikenal melalui karya-karyanya yang spekakuler, komprehensif dan pembawa perdamaian antar kelompok yang bertikai di Aceh, baik akibat perselisihan akidah ataupun kekuasaan.

Karya-karyanya masih dikenal hingga kini dan belum tertandingi, terutama bidang tasawuf, kalam, tafsir, dan fiqh. Dalam bidang Fiqh yang sangat terkenal salah satunya karyanya adalah kitab Mir’atul Tullab (judul lengkapnya Mir’atul Tullab fi Tashil al-ma’rifat al-Ahkam wal Syari’ah lil Malik al-Wahhab : Cermin segala mereka yang menuntut ilmu Fiqh untuk memudahkan mengenal segala syariat Allah).

Kitab ini disusun atas permintaan Sultanah Tajul Alam Safiatudin Syah, dimulai sekitar tahum 1663, atau diawal bergabungnya dalam lingkungan Kesultanan (1663 M). Ini dapat ditunjukkan dengan alasan Syaikh Abdurrauf pada mukaddimah kitabnyamenyebutkan bahwa  awalnya ia enggan menerima tugas tersebut, karena ia belum fasih dalam menulis bahasa Jawi (Melayu), sebab lama di negeri Yaman, Mekkah dan Madinah, dan baru-baru kembali ke Nusantara.  Tetapi dengan bantuan dua orang saudaranya, (saya belum mendapatkan nama kedua saudaranya, mungkin bisa diperoleh dalam teks Miratul Tullab bpk Tarmizi), maka iapun mengarang kitab ini untuk orang (lembaga pemerintahan) di lingkungan Qadhi, kehakiman, kejaksaan, ataupun  lembaga penegakan hukum dan syariat Islam lainnya.

Kitab Mir’atul Tullab terdiri atas 3 bab/pembahasan:

a).    Hukum Fiqih, baik persoalan Muamalah (perdata), nikah dan segala permasalahan keluarga, termasuk didalamnya permasalahan warisan (faraidh: pembagian harta pusaka), termasuk hukom warisan tanah negara, dan segala hasil bumi didalamnya .

b).    Hukum Ba’i (persoalan jual beli dan segala perkara yang terkandung didalamnya, hukum laba dan bunga).

c).    Hukum Jinayah (penegakan hukum syariat, termasuk didalamnya hukum perdata dan kriminal atau permasalahan kontemporer).

Permintaan Sultanah Safiyatuddin sangat beralasan, karena segala problema masyarakat yang kompleks dan beraneka ragam belum terdapat satupun karya dalam bahasa Melayu. Bahkan, belum ada pedoman (sekarang : Qanun/Undang2) sebagai pedoman Kesultanan/ Pemerintahan. Karena yang menjadi landasan sebelumnya pada bidang Fiqh kitab Siratul Mustaqim karya Nuruddin ar-Raniry, meliputi bidang Taharah (bersuci), Shalat, Zakat, Puasa dan Haji. Karenanya, Abdurrauf dikenal sebagai ulama pertama yang menulis mengenai fiqh mu’amalat, sehingga kitab Mir’atul Tullab sebagai solusi di Kesultanan dan masyakarat saat itu.

Maka kemudian dikenal dengan “Adat bak Poteu Meuruhoem, Hukom bak Syiah Kuala Kanun bak Putroe Phang, Reusam bak Laksamana”, karena aplikasi dan penerapan langsung hukum-hukum syariat dan fiqh di masyarakat diprakarsai oleh Abdurrauf Syiah Kuala.

Oleh sebab itu, sumber utama kitab ini adalah Fath al-Wahhab, syarah kitab Minhaj Tullab yang disusun oleh Abu Yahya Zakariyah al-Ansari. Kitab Minhaj Tullab adalah ringkasan dari kitab Minhaj al-Talibin karangan imam Nawawi (w. 676 H/1277 M). Kitab Tuhfat al-Muhtaj dan Fath al-Jawab karya Ibn Hajar al-Haytsami (w. 973/1565 M), kitab imam al-Ghazali (w. 505 H/1112 M) yang masing-masing berjudul al-Wasit dan al-Basit.

Pengaruh kitab Mir’atul Tullab bukan hanya sebagai pedoman di Kesultanan Aceh. Akan tetapi, menurut MB Hooker (1984) mengemukakan, Lumaran, kumpulan hukum Islam yang digunakan kaum Muslim Miquidanao, Filipina, sejak pertengahan abad ke-19, menjadikan kitab Mir’atul Tullab sebagai salah satu acuan utamanya. Demikian juga bab Faraidh di dalam Mir’atul Tullab menjadi pedoman dan digunakan di wilayah Melayu-Nusantara; yaitu termasuk wilayah Nusantara (terutama Sumatera, Jawa dan Sulawesi), Malaysia, Patani (Thailand Selatan) dan Brunai Darussalam. Ini terbukti ditemukan kitab-kitab cetakan Ilmu Faraidh karya Abdurrauf Singkili di Singapura, Jeddah (Haramayn) dan Malaysia.

Murid-murid Abdurrauf yang terkenal adalah

  1. Burhanuddin Ulakan (Tuanku Ulakan) (1646-1693 M) dari Minangkabau, dan mengembangkan tarekat Syatariyah di Minagkabau (Sumatera Barat).
  2. Abdul Muhyi, Pamijahan- Jawa Barat, pengembang tarekat di Jawa
  3. Abdul Malik bin Abdullah (1678-1736 M) dikenal juga sebagai Tok Pulau Manis, dari Terengganu
  4. Murid terdekatnya adalah Dawud al-Jawi al-Fansuri bin Ismail bin Agha Mustafa bin Agha Ali al-Rumi. Kemungkinan ayahnya berasal dari Turki, sebagai pasukan perang Turki yang membantu Aceh terhadap serangan Portugis, namun ia lahir di Aceh (Fansur-Aceh Singkel)
  5. Kemungkinan juga Muhammad Yusuf al-Makassari (1627-1699 M) belajar kepadanya atau sama-sama belajar. Namun, yang pasti mereka pernah bertemu.
  6. Dan beberapa ulama dari Patani, sebelum syeikh Daud bin Abdullah al-Fatani

 

II.  Macam-macam (Various) Teks Naskah dalam 1 Bundel

Salah satu naskah yang unik dan sangat penting juga yang dimiliki adalah teks bermacam-macam (miscellaneous) dalam satu bundel naskah (1 ikatan yang tak terpisah). Biasanya dilakukan oleh seseorang penyalin melihat pentingnya naskah-naskah ada pada saat itu, sehingga disalin dalam satu bagian yang menyatu dan tidak terpisahkan, seperti satu bundel naskah ilmu tasawuf, satu bundel ilmu pengetahuan alam (ta’bir gempa, hukum melaut, waktu bertanam), atau satu bundel obat-obatan, yang terdapat segala macam obat didalamnya.

Naskah-naskah diatas semuanya ada, termasuk tentang tasawuf. Bahwa dalam satu bundel naskah terdapat 16 judul teks naskah / 16 judul pembahasan. Di antaranya:

  1. Tasawuf
  2. Durr al-aqa’id li-abtal aqwal mulahid, karya Nuruddin ar-Raniri. Ini adalah judul kitab terbaru yang ditemukan, dan belum diidentifikasi oleh para sarjana di katalog-katalo, atau buku karya mereka, seperti Ahmad Daudi, Tudjimah, Shaghir Abdullah, dll. Menurut Hermansyah, ini temuan terbaru kitab karya Nuruddin ar-Raniri hingga menjadi bertambah jumlah kitabnya, dan menjadi naskah langka karna belum ada ditempat lain.
  3. Asrar suluk ila malakil muluk
  4. Syifaul Qulub: karya Nuruddin ar-Raniri
  5. Hill al-Zill; karya Nuruddin ar-Raniri
  6. Syifaul Qulub dan Umdatul Muhatajin; Nuruddin ar-Raniri dan Abdurrauf Singkili
  7. Doa-doa tasawuf,
  8. Ilmu kebal dan doa keramat
  9. Hikayat Nur Muhammad; Syamsuddin al-Sumatrani
  10. Tanda Kiamat; Abdurrauf Syiah kuala
  11. Kasyful Muntadhar; Abdurrauf Syiah kuala
  12. Daqaiq al-huruf; Abdurrrauf Syiah kuala
  13. Martabat Tujuh : Syamsuddin al-Sumatrani
  14. Sedengkan teks lainnya tanpa judul.

Melihat judul-judul kitab diatas, maka satu bundel naskah itu sangat penting, yang kadang masyarakat kurang memahami dan mengerti isi di dalamnya. Dia bukan hanya satu aspek pembahasan, dan bukan hanya satu karya ulama saja.

Sepatutnya juga, ini lebih kepada kajian ilmuwan yang bisa dilakukan dan dikembangkan oleh lembaga-lembaga intelektual seperti lembaga pengkajian dan lembaga pendidikan tinggi, yaitu universitas; baik IAIN Ar-Raniri dan Unsyiah. Karena kedua universitas tersebut memiliki kapasitas dan kualitas untuk menelaah lebih dalam karya-karya mereka, sebagai lembaga yang memakai jasa nama-nama ulama tersebut. Namun, sejauh ini belum ada kearah sana.

Padahal beberapa universitas di dalam negeri seperti UI, UGM dan Unpad telah melakukan program rekonstruksi dan reproduksi  karya-karya ulama terdahulu, untuk menggali ilmu yang terdapat dalam naskah-naskah kuno. Hal yang sama sebelumnya sudah dilakukan di Malaysia, dan satu abad sebelumnya di Leiden University melalui kajian naskah.

 

III. Nazam dan teks-teks suntingan lainnya

Program kita (Rumoh Manuskrip) kedepan adalah merekonstruksi naskah-naskah kuno ke dalam bahasa Latin, atau disebut transkripsi/transliterasi teks. Yaitu proses penyuntingan teks naskah kuno dari Arab-Jawi ke Latin, sehingga bisa banyak dibaca oleh khalayak umum, tidak disitu saja, bahkan dikaji dalam konteks keilmuan sekarang (konstekstual).

Salah satunya buku Nazam Aceh, merupakan contoh hasil dari teks naskah kuno yang disunting dan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan dikaji dengan keilmuan yang selaras dengannya.

Oleh karena itu, program kita ke depan bukan hanya inventarisasi dan restorasi (perbaikan) naskah, artinya naskah yang ada ditangan saya tidak hanya terpendam di dalam lemari besi atau di rumah saja. Akan tetapi tujuan utamanya adalah kajian tekstual (kajian teks naskah) dan kontekstual (ilmu yang didalam naskah) dengan ilmu yang berkembang saat ini. Sehingga harapannya bisa bekerja sama dengan pihak pemerintah dalam bidang apapun, LSM/NGO dan lembaga pendidikan seperti IAIN dan Unsyiah.

10 Juli 2012

Nasihat Mendidik Dari Imam al-Ghazali, dalam kitab “Ayuuhal Walad”

oleh alifbraja

Nasihat Mendidik Dari Imam al-Ghazali, dalam kitab “Ayuuhal Walad”

 
Nasihat tulus dari Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang dinukilkan dalam surat kepada murid yang disayanginya. Metode dan isi nasihat dalam mendidik Imam al-Ghazali begitu cantik dan dapat diambil dalam kitab ini.

Kitab Ayyuhal walad ini juga dikenal dengan Al Risalah Al Waladiah. Merupakan karangan Imam al Ghazali ra yang asalnya ditulis dalam bahasa Persia kemudian telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Kitab ini ditulis beliau untuk membalas sepucuk surat yang telah dikirim oleh salah seorang murid beliau dengan harapan agar Al Imam Al Ghazali dapat membalasnya, memberi wasiat dan nasihat kepada dirinya.

Imam Al Ghazali dengan dengan tulus dan ikhlas hatinya telah membalas surat tersebut dan telah memasukkan beberapa saran yang cukup berguna buat muridnya juga kita. (Muqaddimah penerjemah)

Saya nukilkan beberapa nasihat indah dan mendalam yang diambil dari kitab Ayyuhal Walad Imam al-Ghazali:

Waktu Itu Adalah Kehidupan

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Antara nasihat Rasulullah SAW kepada umatnya adalah seperti hadits beliau:

علامة إعراض الله تعالى عن العبد, اشتغاله بما لا يعنيه, وإن امرأ ذهبت ساعة من عمره, في غير ما خلق له من العبادة, لجدير أن تطول عليه حسرته, ومن جاوز الأربعين ولم يغلب خيره على شره فليتجهز إلى النار.
Maksudnya:

Adalah termasuk tanda berpalingnya Allah Taala dari seseorang hamba apabila ia selalu mengerjakan hal yang tidak berguna. Dan seandainya ada sesaat saja dari umurnya yang telah digunakannya pada hal yang bukan tujuan hidupnya (beribadah kepada Allah) maka layaklah penyesalan (di hari kiamat nanti) dan siapa yang umurnya lebih dari 40 tahun sedangkan kebaikannya masih belum dapat melebihi kejahatannya maka layaklah ia mempersiapkan dirinya untuk memasuki api neraka.

Ilmu Itu Tidak Berguna Jika tidak dilaksanakan

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Jaganlah engkau menjadi orang yang bangkrut pada amalnya dan janganlah kamu jadikan dirimu itu kosong dari hal yang menguntungkan dan yakinlah sesungguhnya ilmu semata-mata belum menjamin keselamatanmu dikhirat kelak. Mafhum dari kenyataan di atas itu adalah: Ilmu tanpa amal tidak akan berguna. Ilmu akan menjadi berguna bila mana kita mengamalkannya dalam kehidupan seharian kita.kita juga dituntut agar mengisi jiwa yang kosong dengan berusaha menuntut ilmu.Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi: 110

فمن كان يرجوا لقآء ربه فليعمل عملا صلحا

Artinya:

Maka siapa yang mengharap akan bertemu Tuhannya, maka hendaklah ia beramal akan amalan yang saleh.

Sesungguhnya dalil tentang klaim agar kita beramal dengan ilmu banyak sekali.

Ikhlaskan Niat

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Berapa banyak dari malam-malam yang telah engkau penuhkan dengan berjaga untuk mengulang dan menatap kitab dan berapa lama engkau telah menahan tidur.

Aku tidak pasti apakah niat yang mendorong engkau berbuat demikian, apakah hanya semata-mata mencari keuntungan dunia, menghimpun segala mata benda dan mencapai posisi yang tertinggi serta membanggakan kemampuan mu di hadapan teman-teman. Jika ini niatmu maka engkau akan rugi serugi-ruginya.

Namun seandainya niatmu itu adalah untuk menghidupkan segala syariat Nabi Muhammad SAWcdan berbuat akhlakmu, serta berusaha memecahkan keinginan nafsumu yang sering terangsang ke arah kejahatan, maka beruntunglah engkau seribu keuntungan. Seorang anggota syair telah berkata:

سهر العيون لغير وجهك ضائع
وبكاؤهن لغير فقدك باطل
Artinya:

Tidur kalau bukan karena zat-Mu adalah sia-sia dan menangis kalau bukan karena kehilangan-Mu adalah tidak berguna.

Hakikat Hidup, Cinta & Amal

Wahai Anakku Yang Tercinta;

عش ما شئت فإنك ميت, وأحبب ما شئت فإنك مفارقه, واعمل ما شئت فإنك مجزي به.

Artinya:

Hiduplah kamu sesuka hatimu karena engkau pasti akan mati dan cintailah apa saja yang kamu kehendaki karena engkau pasti akan berpisah dengannya dan buatlah apa saja yang kamu kehendaki karena engkau akan dibalas menurut amal perbuatanmu.

Inilah antara nasihat-nasihat dasar dari Imam al-Ghazali terkandung dalam kitab tersebut. Selebihnya bisa disebut melalui kitabnya yang masih banyak dijual di toko-toko buku inshaAllah. Sekadar sharing moga-moga dapat dimanfaatkan untuk praktek.Nasihat tulus dari Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang dinukilkan dalam surat kepada murid yang disayanginya. Method dan isi nasihat dalam mendidik Imam al-Ghazali begitu cantik dan dapat diambil dalam kitab ini.

Kitab Ayyuhal walad ini juga dikenal dengan Al Risalah Al Waladiah. Merupakan karangan Imam al Ghazali ra yang asalnya ditulis dalam bahasa Persia kemudian telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Kitab ini ditulis beliau untuk membalas sepucuk surat yang telah dikirim oleh salah seorang murid beliau dengan harapan agar Al Imam Al Ghazali dapat membalasnya, memberi wasiat dan nasihat kepada dirinya.

Imam Al Ghazali dengan dengan tulus dan ikhlas hatinya telah membalas surat tersebut dan telah memasukkan beberapa saran yang cukup berguna buat muridnya juga kita. (Muqaddimah penerjemah)

Saya nukilkan beberapa nasihat indah dan mendalam yang diambil dari kitab Ayyuhal Walad Imam al-Ghazali:

Waktu Itu Adalah Kehidupan

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Antara nasihat Rasulullah SAW kepada umatnya adalah seperti hadits beliau:

علامة إعراض الله تعالى عن العبد, اشتغاله بما لا يعنيه, وإن امرأ ذهبت ساعة من عمره, في غير ما خلق له من العبادة, لجدير أن تطول عليه حسرته, ومن جاوز الأربعين ولم يغلب خيره على شره فليتجهز إلى النار.
Maksudnya:

Adalah termasuk tanda berpalingnya Allah Taala dari seseorang hamba apabila ia selalu mengerjakan hal yang tidak berguna. Dan seandainya ada sesaat saja dari umurnya yang telah digunakannya pada hal yang bukan tujuan hidupnya (beribadah kepada Allah) maka layaklah penyesalan (di hari kiamat nanti) dan siapa yang umurnya lebih dari 40 tahun sedangkan kebaikannya masih belum dapat melebihi kejahatannya maka layaklah ia mempersiapkan dirinya untuk memasuki api neraka.

Ilmu Itu Tidak Berguna Jika tidak dilaksanakan

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Jaganlah engkau menjadi orang yang bangkrut pada amalnya dan janganlah kamu jadikan dirimu itu kosong dari hal yang menguntungkan dan yakinlah sesungguhnya ilmu semata-mata belum menjamin keselamatanmu dikhirat kelak. Mafhum dari kenyataan di atas itu adalah: Ilmu tanpa amal tidak akan berguna. Ilmu akan menjadi berguna bila mana kita mengamalkannya dalam kehidupan seharian kita.kita juga dituntut agar mengisi jiwa yang kosong dengan berusaha menuntut ilmu.Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi: 110

فمن كان يرجوا لقآء ربه فليعمل عملا صلحا

Artinya:

Maka siapa yang mengharap akan bertemu Tuhannya, maka hendaklah ia beramal akan amalan yang saleh.

Sesungguhnya dalil tentang klaim agar kita beramal dengan ilmu banyak sekali.

Ikhlaskan Niat

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Berapa banyak dari malam-malam yang telah engkau penuhkan dengan berjaga untuk mengulang dan menatap kitab dan berapa lama engkau telah menahan tidur.

Aku tidak pasti apakah niat yang mendorong engkau berbuat demikian, apakah hanya semata-mata mencari keuntungan dunia, menghimpun segala mata benda dan mencapai posisi yang tertinggi serta membanggakan kemampuan mu di hadapan teman-teman. Jika ini niatmu maka engkau akan rugi serugi-ruginya.

Namun seandainya niatmu itu adalah untuk menghidupkan segala syariat Nabi Muhammad SAWcdan berbuat akhlakmu, serta berusaha memecahkan keinginan nafsumu yang sering terangsang ke arah kejahatan, maka beruntunglah engkau seribu keuntungan. Seorang anggota syair telah berkata:

سهر العيون لغير وجهك ضائع
وبكاؤهن لغير فقدك باطل
Artinya:

Tidur kalau bukan karena zat-Mu adalah sia-sia dan menangis kalau bukan karena kehilangan-Mu adalah tidak berguna.

Hakikat Hidup, Cinta & Amal

Wahai Anakku Yang Tercinta;

عش ما شئت فإنك ميت, وأحبب ما شئت فإنك مفارقه, واعمل ما شئت فإنك مجزي به.

Artinya:

Hiduplah kamu sesuka hatimu karena engkau pasti akan mati dan cintailah apa saja yang kamu kehendaki karena engkau pasti akan berpisah dengannya dan buatlah apa saja yang kamu kehendaki karena engkau akan dibalas menurut amal perbuatanmu.

Inilah antara nasihat-nasihat dasar dari Imam al-Ghazali terkandung dalam kitab tersebut. Selebihnya bisa disebut melalui kitabnya yang masih banyak dijual di toko-toko buku inshaAllah. Sekadar sharing moga-moga dapat dimanfaatkan untuk praktek.

%d blogger menyukai ini: