Posts tagged ‘allah swt’

23 April 2013

Mengapa Tuhan tidak menggunakan mukjizat untuk mencegah terbunuhnya Imam Husain As?

oleh alifbraja

Tidak diragukan bahwa alam semesta merupakan ciptaan dan makhluk Tuhan. Pengaturan semesta berada di bawah kehendak dan pelbagai sunnah Ilahi. Tuhan adalah Penyebab segala sebab yang ada. Artinya Dia berdasarkan satu hikmah yang akurat menjadikan sebagian hal sebagai sebab bagi yang lain. Dia juga kuasa dalam pelbagai situasi untuk menafikan hubungan sebab-akibat ini. Sebagaimana Tuhan menjadikan api sebagai penyebab panas dan untuk membakar akan tetapi tatkala para penyembah berhala ingin melempar Nabi Ibrahim ke dalam kobaran api Tuhan mengeliminir tipologi membakar api ini sehingga Nabi Ibrahim selamat tidak terbakar.

Dan sebagaimana golok tajam Nabi Ibrahim tidak memotong (Tuhan mencegah supaya tidak memotong) dan menyelamatkan Nabi Ismail menjadi korban dari pengabdian ayahnya. Iya, kita meyakini bahwa Allah Swt juga memiliki kekuasaan untuk membuat seluruh pedang dan belati para antek-antek Yazid tidak berfungsi dan menggunakan mukjizat untuk menjaga keselamatan jiwa Imam Husain As dan para sahabatnya. Akan tetapi mukjizat seperti ini tidak terjadi. Lantaran tidak seluruh pekerjaan harus dikerjakan melalui jalan mukjizat dan tindakan adikodrati. Sunnah Ilahi menuntut bahwa seluruh perbuatan berdasarkan sunnah-sunah dan kaidah-kaidah dan aturan-aturan natural. Di samping itu, terdapat selaksa tujuan dan falsafah penting tragedi Asyura dan kesyahidan Imam Husain As yang hanya dapat diraih melalui proses wajar dan natural revolusi Asyura. Sebagian dari tujuan-tujuan tersebut adalah:

1.             Dengan memperhatikan situasi politik yang berkembang pada masa itu dari pihak Muawiyah dan Yazid yang melakukan segala sesuatu atas nama agama yang sejatinya bertentangan dengan agama dan demikian juga untuk mengidentifikasi hak dan batil, kebenaran dan kepalsuan merupakan suatu hal yang sangat pelik, dan satu-satunya jalan yang dapat menyelamatkan dan menyebarkan agama Allah Swt untuk sekian kalinya adalah kesyahidan Imam Husain As dan anak-anaknya beserta para sahabatnya.[1]

2.             Apa yang dinukil dari riwayat dalam hal ini dan telah disinggung sebelumnya bahwa kesyahidan telah ditakdirkan bagi Imam Husain As sehingga melalui kesyahidannya tujuan utama Imam Husain yaitu mereformasi (islah) umat Rasulullah Saw[2] dapat tercapai.

3.             Imam Husain As memandang kesyahidan merupakan seindah-indah dan semulia-mulia kematian. Hal ini telah dijelaskan pada khutbah dalam perjalanannya dari Mekah menuju Irak. “Hiasan kematian bagi anak-anak Adam laksana hiasan liontin yang bergantung pada seorang mempelai wanita.”[3] Artinya kematian tidak mencekik dan tidak ditimpakan melainkan berupa liontin dan hiasan; mengapa manusia tidak menggunakan liontin ini di lehernya di jalan Allah? Dan kematian di jalan agama bagi Imam Husain merupakan kelezatan dan kenikmatan.[4] Kesyahidan bukanlah kekurangan melainkan kesempurnaan.[5] Dengan mencegah kesyahdian Imam Husain As maka sesungguhnya mencegah tercapainya kesempurnaan ini.

4.             Memenuhi perjumpaan Ilahi dan persuaan dengan para nabi bagi Imam Husain As. Perjumpaan Ilahi dan para nabi ini merupakan lebih utama bagi Imam Husain As daripada harus tinggal di dunia. Imam Husain As memandang dirinya merenjana rindu untuk bersua dengan orang-orang saleh; sebagaimana hal ini terungkap dari kelanjutan khutbahnya di Mekah dimana Imam Husain As bersabda: “Kecondongan dan kerinduanku untuk berziarah kepada orang-orang saleh laksana kerinduan Ya’qub kepada Yusuf.”[6]

5.             Imam Husain As tidak ingin menggunakan mukjizat dan keramat, karena menggunakan mukjizat dan keramat berseberangan dengan apa yang ditugaskan kepadanya untuk menunaikanya secara lahir. Nilai dan kedudukan Imam Husain As di samping memiliki kedudukan yang menjulang bagi kaum Muslimin juga mendapat tempat istimewa bagi para pencari kebebasan dan keadilan di dunia, atas dasar itu, beliau mengerjakannya dengan cara-cara natural dan normal. Dengan membawa Ahlulbait As kepada satu perang yang tidak seimbang, tertawan dan terhina menjadi sebab revolusi Imam Husain menjadi abadi dan perenial.[7] Padahal Imam Husain mampu menumbangkan Yazid tanpa harus mengusung revolusi dan menggunakan keramat namun hal itu tidak banyak berarti dalam membongkar penyimpangan dan tujuan keji Bani Umayah.

6.             Kisah Asyura dan perang melawan tirani Imam Husain As merupakan teladan dari revolusi di hadapan pelbagai penyimpangan dan inovasi (bid’ah) yang boleh jadi terjadi di setiap masa pada hukum-hukum dan aturan-aturan agama Tuhan. Seluruh kaum Muslimin dan manusia memiliki tugas untuk mencegah pelbagai inovasi dan bid’ah. Apabila sekiranya Imam Husain As menunaikan tugas berat ini dengang menggunakan kekuasaan mukjizat dan wilayah takwini maka ia tidak lagi dapat menjadi teladan bagi setiap manusia di setiap masa. Atas dasar itu, para nabi dan imam As bertugas untuk melaksanakan pekerjaan keseharian mereka dengan pengetahuan dan kekuasaan natural serta tidak menggunakan kekuatan mukjizat dan adikodrati, kecuali pada hal-hal tertentu dan sesuai dengan izin Allah Swt apabila terdapat kemaslahatan dan petunjuk di dalamnya.[8]  Dan juga Allah Swt menghendaki bahwa seluruh nabi dan imam menjadi guru, pengajar dan teladan praktis bagi manusia. Manusia membina diri mereka dengan memetik pelajaran dari kehidupan dan perilaku mereka dan sekiranya Imam Husain As selamat dari syahadah dengan menggunakan mukjizat maka kehidupannya dan Ahlulbait As demikian juga orang-orang yang ditinggalkan tidak dapat menjadi teladan dan model perlawanan, kesabaran, ketabahan dan pengorbanan bagi manusia dalam kehidupannya.


[1]. Silahkan lihat Muhammad Taqi Misbah Yazdi, Adzarkhisyi Digar az Asemân-e Karbalâ, hal. 44-66, Intisyarat-e Muassasah wa Pazyuhesy Imam Khomeini, Cetakan Kelima, 1380.

[2]. Bihâr al-Anwâr, jil. 44, hal. 329.

[3]. Bihar al-Anwâr, jil. 44, hal. 366; Muhaddits Arbili, Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, jil. 2, hal. 29. Bani Hasyim, Tabriz, Cetakan Pertama, 1381; Luhûf, hal. 110 dan 111.

[4]. Silahkan lihat, Abdullah Jawadi Amuli, Syukufâ-ye Aql dar Partu-e Nehdhat Husaini, hal. 28-30, Markaz-e Cap-e wa Intisyarat-e Isra, Cetakan Kelima, 1387 S.

[5]. Syukufâi-ye Aql dar Partu-e Nehdhat Husaini, hal. 27.

[6]. Bihâr al-Anwâr, jil. 44, hal. 366; Kasyf al-Ghummah fi Ma’rifat al-Aimmah, jil. 2, hal. 29. Luhûf, hal. 110 dan 111.

23 April 2013

shalawat akan melambungkan derajat dan kedudukan Rasulullah Saw?

oleh alifbraja

Shalawat kita kepada Rasulullah Saw memiliki sisi beragam yang akan kita singgung sebagian darinya berikut ini:

  1. Shalawat merupakan perintah Allah Swt dalam al-Quran yang menyatakan, “InnaLlaha wa malaikatahu yushalluna ‘ala al-nabi. Yaayyuhalladzina amanu shallu ‘alaihi wa shallu ‘alaihi wa sallimu taslima.” Artinya, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah untuk nabi dan ucapkanlah salam serta tunduklah (kepada perintahnya).” (Qs. Al-Ahzab [33]:56) Oleh itu, hamba Allah Swt memiliki tugas untuk menaati perintah Allah Swt dan mengirimkan salam kepadanya.

  2. Shalawat dan salam pada hakikatnya adalah bentuk apresiasi dan ucapan terima kasih kita atas segala jerih payah dan usaha Rasulullah Saw dan Ahlulbaitnya yang selama bertahun-tahun lamanya hidup di tengah masyarakat dengan baik dan benar. Mereka rela menanggung seluruh kesusahan dan penderitaan demi memberi petunjuk kepada manusia dan menjadi teladan serta panutan manusia. Atas dasar itu, mereka tentu saja sangat layak menerima apresiasi dan ucapan terima kasih sedemikian sehingga bentuk rasa syukur yang paling minimal adalah menyampaikan shalawat kepada mereka. Bahkan apabila mereka tidak membutuhkan shalawat ini, kita sebagai orang yang menikmati hasil jerih payah mereka memiliki tugas untuk menyampaikan rasa syukur kita kepada mereka.

  3. Apa manfaat shalawat bagi keluarga Rasulullah Saw? Mereka tidak membutuhkan salam dan shalawat kita.

Allamah Thabathabai memberikan jawaban sublim kepada seseorang yang mengajukan pertanyaan seperti ini bahwa shalawat yang kita kirimkan pertama kita tidak memberikan sesuatu dari diri kita melainkan persembahkan kita kepada Allah Swt dan kita memohon kepada-Nya untuk melimpahkan rahmat khusus kepada Rasulullah Saw dan keluarganya. Kedua, meski keluarga ini tidak butuh kepada kita namun mereka membutuhkan Allah Swt dan emanasi Ilahi harus senantiasa tercurah ke atas mereka.  Kita dengan shalawat ini sejatinya ingin mendekatkan diri kita kepada keluarga ini. Setelah itu, Allamah Thabathabai mengimbuhkan, “Apabila seorang penjaga kebun bekerja pada sebuah taman (kebun) yang seluruh bunga dan buahnya dimiliki oleh pemilik kebun dan menerima gaji dari pemilik kebun, pada hari raya, tukang kebun itu menyiapkan setangkai bunga dari kebun dan mempersembahkannya kepada pemilik kebun apakah perbuatannya itu tidak akan mendekatkan penjaga kebun itu kepada pemilik kebun? Tentu saja iya. Perbuatan ini menunjukkan adab dan etika penjaga kebun. Shalawat juga mengukuhkan adab dan etika kita karena kalau tidak demikian kita tidak memiliki sesuatu dari diri kita. Kita memohon kepada Allah Swt untuk meninggikan derajat dan kedudukan mereka. Dan penghormatan ini bagi kita menyebabkan kedekatan kita kepada mereka dan kepada Allah Swt.[1]


[1]. Diadaptasi dari Faidah Shalawat atas Keluarga Rasulullah Saw; Manfaat Shalawat.

14 April 2013

keazalian dan keabadian Tuhan melalui argumentasi rasional

oleh alifbraja

Di antara sifat dzati (esensial) Allah Swt adalah keazalian (azaliyah) dan keabadian (abadiyah). Kedua sifat ini bermakna bahwa keberadaan Tuhan tidak berpermulaan dan juga tidak berkesudahan. Terkadang dua sifat ini juga disebut oleh para teolog dengan nama sarmadi. Dia adalah Awal dan juga Akhir.[1] Al-Qur’an dalam hal ini menyatakan, Dia-lah Yang Maha Awal dan Yang Maha Akhir, Yang Maha Zahir dan Yang Maha Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.(Qs. Al-Hadid [57]:3)

Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As bersabda, “Keazalian-Nya tidak berawal, dan kebaqaan-Nya tidak berakhir. Ia adalah yang pertama dan azali. la kekal tanpa batas.”[2] 

Imam Shadiq As ditanya tentang makna “awwal” dan “akhir”, beliau bersabda, “Dia pertama sebelum bermulanya segala sesuatu sedangkan permulaan tidak mendahului-Nya. Dia akhir yang tidak berpenghujung sebagaimana yang dipahami dari sifat-sifat makhluk. Allah Swt adalah qadim, awwal dan akhir. Dia senantiasa ada dan akan ada, tanpa berpermulaan dan berpenghujung; fenomena tidak akan terjadi pada-Nya dan tidak mengalami perubahan dari satu keadaan ke keadaan yang lain; Pencipta segala sesuatu.”[3]

 Sebagai kesimpulannya, keawalan-Nya bermakna bahwa Dia tidak berpermulaan sebagaimana keakhiran-Nya juga bermakna bahwa Dia tidak berpengakhiran. Keluasan eksistensial-Nya mencakup masa dan sebelum masa; karena wujud-Nya adalah metamasa dan berada di atas masa.

Setelah makna keazalian dan keabadian Tuhan menjadi jelas, sekarang giliran untuk menetapkan dua sifat ini bagi Allah Swt. Salah satu dalil terpendek dalam masalah ini terbentuk berdasarkan Wâjib al-Wujud (Wujud Mesti) Allah Swt. Karena itu, sebelum menetapkan keazalian dan keabadian Tuhan, kita akan menyebutkan abstrak salah satu dalil rasional yang paling kuat untuk menetapkan keberadaan Tuhan (Wajib al-Wujud), yaitu argumen imkan dan wujub:

“Di alam luaran (khârij) sudah barang tentu dan niscaya terdapat sebuah entitas (realitas). Apabila entitas ini Wâjib al-Wujûd maka ideal kita tertetapkan (dimana Wâjib al-Wujud ini adalah wujud Tuhan itu sendiri). Apabila entitas tersebut adalah mumkin al-wujud (contingen being), mengingat kebutuhannya terhadap sebab dan kemustahilan tasalsul (infinite circle) dan daur (circular reasoning), maka ia membutuhkan entitas yang wujudnya bukan merupakan akibat dari entitas lainnya, dan entitas semacam inilah yang layak menyandang predikat sebagai Wâjib al-Wujûd (baca: Tuhan)”[4]

Adapun penetapan keazalian dan keabadian (sarmadi) Tuhan dapat dilakukan melalui argumen wujub dan imkan sebagaimana berikut: Tatkala kita telah menetapkan bahwa Allah Swt itu Wâjib al-Wujud dan tetapnya wujud bagi Tuhan bersifat mesti dan mustahil keberadaan-Nya dapat dinafikan dari Zat-Nya, maka karena itu, kemestian wujud meniscayakan mustahilnya penafian wujud dari Zat Ilahi.[5] Hal ini bermakna bahwa Zat Ilahi tidak didahului oleh ketiadaan sebagaimana ketiadaan juga tak akan menyusulnya. Dan hal ini tidak lain adalah keazalian dan keabadian Tuhan. Khaja Nashiruddin Thusi dengan kalimat pendek menyinggung burhan ini, “Wa wujub al-wujud yadullu ‘ala sarmadiyatihi” (Bahwa Wâjib al-Wujud bagi Tuhan menunjukkan keabadian dan keazalian-Nya [sarmadi]).[6]

Penjelasan lebih jauh, bahwa Zat Allah Swt adalah sebuah eksisten bersifat mesti, yang sama sekali tidak dapat dinegasikan dan dinafikan. Keberadaan adalah identik dengan Zat-Nya. Karena itu, dengan memperhatikan bahwa Allah Swt itu adalah Wâjib al-Wujud maka hal itu merupakan pemandu bagi kita pada keabadian dan keazalian-Nya; karena ketiadaan sebuah entitas pada satu penggalan masa menunjukkan kebutuhannya, maka wujud yang demikian adalah wujud kontingen. Sementara Zat Allah Swt adalah sebuah entitas (eksisten) yang pertama: Keberadaan-Nya tidak diterima dari luar sehingga kita berkata pada suatu masa keberadaan diberikan kepada-Nya. Kedua, keberadaaan-Nya juga bukan merupakan pinjaman, sehingga suatu masa akan diambil dari-Nya (melainkan keberadaan adalah identik dengan Zat-Nya). Karena itu, entitas seperti ini senantiasa ada dan akan senantiasa ada.[7]

 Di samping itu, berdasarkan argumen wujub (burhan wujub), Wâjib al-Wujud adalah satu dan tidak ada duanya; karena itu Dia tidak memiliki non-wujud sehingga wujud dapat dinegasikan dari Tuhan; karena seluruh entitas pada keberadaannya butuh kepada-Nya; sebagaimana mustahil Wâjib al-Wujud meniadakan diri-Nya; karena wujud-Nya bersifat mesti dan niscaya. Dan apabila Dia ingin mengambil kemestian ini dari diri-Nya maka akan terjadi pergolakan dalam esensi-Nya dan hal ini tidak sesuai dengan status Wâjib al-Wujud Allah Swt.[8] Dan demikianlah makna keazalian dan keabadian Tuhan.

 Poin lain yang dapat disimpulkan dari argumentasi ini adalah bahwa keabadian dan keazalian dengan makna yang telah disebutkan di atas bersifat mesti di antara keduanya (mutual). Apabila sebuah entitas itu adalah azali maka tentu saja ia akan abadi.[9]

 Dalam pandangan para filosof Ilahi, “Karena Allah Swt adalah Wâjib al-Wujud secara esensial, maka tidak terdapat pada diri-Nya ketiadaan—sebelum dan sesudah-Nya. Apabila kita meninjau masalah ini dari sudut pandang ketiadaan sebelumnya, maka hal itu disebut sebagai keazalian dan qidam. Dan bilamana kita melihatnya tidak memiliki kesudahan, maka hal itu disebut sebagai keabadian dan baqa. Dan bilamana kita memandang keduanya (qidam dan baqa), maka kita mencirikannya sebagai sarmadi. Terkadang sarmadiyat (keabadian dan keazalian) bersinonim dengan keabadian dan baqa.”[10]

 


[1]. Para penafsir dalam menafsirkan dua redaksi ayat “awwal” dan “akhir” mengemukakan beberapa kemungkinan, nampaknya yang dimaksud dari dua sifat ini adalah sifat azali dan abadi. Makna ini disokong oleh beberapa riwayat.  

 

[2]. Nahj al-Balâghah, Khutbah 162.

لَیْسَ لاِوَّلِیَّتِهِ ابْتِداءٌ، وَ لا لاِزَلِیَّتِهِ انْقِضاءٌ.هُوَالاْوَّلُ لَمْ یَزَلْ، وَ الْباقى بِلا اَجَل

 

[3]. Ushûl al-Kâfi, jil. 1, hal. 90.  

 

[4]. Diadaptasi dari Pertanyaan 1286 (Site: 1330), Indeks: Dalil-dalil Wujud dan Proses Penciptaan Tuhan.  

 

[5]. Karena setiap entitas yang memiliki latar belakang ketiadaan (‘adam) atau ada kemungkinan sirnanya (zawal) maka ia tidak dapat menjadi Wâjib al-Wujud.  

 

[6]. Nashiruddin Muhammad bin Hasan Thusi, Kasyf al-Murâd,  Maqshad Sewwum, Fashl Duwwum, Masalah Ketujuh, Korektor Allamah Hasan Zadeh Amuli, Muassasah al-Nasyr al-Islami, Qum, 1407 H.  

 

[7]. Nashir Makarim Syirazi, Payâm-e Qur’ân, jil. 4, hal. 194.  

 

[8]. Muhammad Ridha Kasyif, Majmu’e Pursesy-hâ wa Pâsukh-hâ, Khudâsyinâsi wa Parjâm, hal. 77.  

 

[9]. Muhammad Taqi Mishbah Yazdi, Âmuzesy ‘Aqâid (Iman Semesta), jil. 1, hal. 84-85.  

 

[10]. Kasyf al-Murâd, Maqshad Sewwum, Fashl Duwwum, Masalah Ketujuh. 

12 April 2013

isi dialog antara Nabi Khidir As dan Nabi Musa As tentang duka Ahlulbait Nabi Saw

oleh alifbraja

Dalam literatur riwayat disebutkan sebuah hadis dengan judul Perjumpaan Nabi Musa As dan Nabi Khidir As. Dalam pertemuan itu, keduanya membahas tentang beragam masalah; di antaranya adalah duka dan musibah yang menimpa Ahlulbait As. Penggalan hadis yang menjadi obyek pertanyaan adalah sebagai berikut:

“Muhammad bin Ali bin Bilal meriwayatkan dari Yunus tentang perbedaan pendapat antara Yunus dan Hisyam ihwal seorang alim yang dijumpai oleh Nabi Musa As, siapakah yang lebih pandai dari keduanya. Apakah boleh terdapat orang lain yang lebih pandai dari Musa As yang notabene merupakan seorang hujjah pada masanya (baca: nabi)? Qasim Shaqil berkata, “Saya menulis surat kepada Imam Ridha As dan tentang masalah ini saya bertanya kepadanya. Imam Ridha As, dalam menjawab pertanyaan itu, menulis sebuah surat yang isinya sebagai berikut: “Tatkala Musa menjumpai alim tersebut di sebuah pulau dan menyampaikan salam kepadanya, ia bertanya kepada Musa: “Siapakah engkau?” Musa menjawab, “Aku adalah Musa bin Imran, orang yang diajak berbicara dengan Allah Swt. Saya datang untuk menimba ilmu dari Anda sehingga saya meraih kesempurnaan dan memperoleh petunjuk.” Ia berkata, “Engkau tidak dapat menyertaiku.” Kemudian alim tersebut berbicara tentang musibah yang menimpa Alu Muhammad As (Ahlulbait Nabi Saw) kepada Musa sedemikian sehingga keduanya menangis. Setelah itu alim tersebut berbicara tentang keutamaan dan keunggulan Alu Muhammad bagi Musa hingga Musa menimpali, “Sekiranya aku juga berasal dari Alu Muhammad Saw….”[1]

Demikianlah nukilan sesuai riwayat yang dijelaskan secara ringkas oleh Khidir As untuk Nabi Musa As  dengan judul musibah-musibah Ahlulbait As 

 


[1]. Ali bin Ibrahim Qummi, Tafsir al-Qummi, jil. 2, hal. 38, Dar al-Kitab, Qum, 1367 S.

«حدثنی محمد بن علی بن بلال عن یونس قال‏ اختلف یونس و هشام فی العالم الذی أتاه موسى ع أیهما کان أعلم و هل یجوز أن یکون حجة فی وقته و هو حجة الله على خلقه‏ فقال قاسم الصیقل فکتبوا إلى أبی الحسن الرضا ع یسألونه عن ذلک فکتب فی الجواب أتى موسى العالم فأصابه فی جزیرة من جزائر البحر إما جالسا و إما متکئا فسلم علیه موسى فأنکر السلام إذ کان بأرض لیس فیها سلام فقال من أنت قال أنا موسى بن عمران الذی کلمه الله تکلیما قال جئت لتعلمنی‏ مما علمت رشدا قال إنی وکلت بأمر لا تطیقه ثم حدثه العالم بما یصیب آل محمد (ع) من البلاء حتى اشتد بکاؤهما ثم حدثه عن فضل آل محمد حتى جعل موسى‏ یقول یا لیتنی کنت من آل محمد…»

 

14 Januari 2013

Madlul Syahadah

oleh alifbraja

Kandungan Kalimat Syahadah

Syahadah atau syahadat berasal dari kata syahida, yang berarti “memberi tahu dengan berita yang pasti” atau “mengakui apa yang diketahui” (Al-Mu’jam Al-Wasith). Dari makna bahasa ini, kita mendapati beberapa makna yang diisyaratkan Al-Qur’an tentang kata ini.

1. Ikrar (Al-Iqrar)

Syahadat merupakan sebuah pernyataan (ikrar), yaitu suatu statement seorang muslim mengenai keyakinannya. Ini adalah pernyataan yang sangat kuat karena didukung oleh Allah SWT, malaikat, dan orang-orang yang berilmu (para nabi dan orang yang beriman).  Hal ini sebagaimana dalam firman Allah SWT,

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ ﴿١٨﴾

”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran: 18)

Dalam ayat lain disebutkan bahwa sesungguhnya sebelum manusia dilahirkan, manusia telah berikrar atau memberikan kesaksian bahwa Allah SWT adalah Tuhan para manusia (Tauhid Rububiyatullah). Hal ini diingatkan Allah SWT dalam ayat berikut ini,

وَإِذْ أَخَذَ رَبُّكَ مِن بَنِي آدَمَ مِن ظُهُورِهِمْ ذُرِّيَّتَهُمْ وَأَشْهَدَهُمْ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ أَلَسْتُ بِرَبِّكُمْ ۖ قَالُوا بَلَىٰ ۛ شَهِدْنَا ۛ أَن تَقُولُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّا كُنَّا عَنْ هَٰذَا غَافِلِينَ﴿١٧٢﴾

”Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku Ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap Ini (keesaan Tuhan)”. (Al-A’raf: 172).

Selain itu, para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, seluruhnya telah berikrar mengakui kerasulan Muhammad SAW meskipun mereka hidup sebelum kedatangan Rasulullah SAW. Allah SWT mengingatkan hal ini dalam firman-Nya,

وَإِذْ أَخَذَ اللَّهُ مِيثَاقَ النَّبِيِّينَ لَمَا آتَيْتُكُم مِّن كِتَابٍ وَحِكْمَةٍ ثُمَّ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مُّصَدِّقٌ لِّمَا مَعَكُمْ لَتُؤْمِنُنَّ بِهِ وَلَتَنصُرُنَّهُ ۚ قَالَ أَأَقْرَرْتُمْ وَأَخَذْتُمْ عَلَىٰ ذَٰلِكُمْ إِصْرِي ۖ قَالُوا أَقْرَرْنَا ۚ قَالَ فَاشْهَدُوا وَأَنَا مَعَكُم مِّنَ الشَّاهِدِينَ﴿٨١﴾

”Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi: “Sungguh, apa saja yang Aku berikan kepadamu berupa Kitab dan hikmah Kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya”. Allah berfirman: “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” mereka menjawab: “Kami mengakui”. Allah berfirman: “Kalau begitu saksikanlah (hai para Nabi) dan Aku menjadi saksi (pula) bersama kamu.” (QS. Ali Imran: 81).

2. Sumpah (Qosam)

Syahadat juga bermakna sumpah. Sumpah ini merupakan hasil dari ikrar yang telah dijelaskan di atas. Dibalik ikrar, wajib bagi kita untuk menegakkan dan memperjuangkan apa yang diikrarkan. Oleh karena itu pada hakikatnya sumpah (qosam) adalah pernyataan kesediaan menerima akibat dan risiko apapun dalam mengamalkan syahadah. Artinya, muslim yang menyebut asyhadu berarti siap dan bertanggung-jawab terhadap tegaknya Islam. Pelanggaran terhadap sumpah ini adalah kemunafikan dan tempat orang munafik adalah neraka Jahanam.

Jika ditadabburi dalam Al-Qur’an, sesungguhnya orang-orang munafik berlebihan dalam pernyataan syahadahnya, padahal mereka tidak lebih sebagai pendusta. Lihat ayat berikut ini,

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ﴿١﴾اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَن سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ﴿٢﴾

”Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata: “Kami mengakui, bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah”. Dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa Sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta. Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang Telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Munafiqun: 1-2)

Beberapa ciri orang yang melanggar sumpahnya yaitu memberikan wala kepada orang-orang kafir, memperolok-olok ayat Allah, mencari kesempatan dalam kesempitan kaum muslimin, menunggu-nunggu kesalahan kaum muslimin, malas dalam shalat dan tidak punya pendirian. Sedangkan orang-orang mukmin yang sumpahnya teguh tidak akan bersifat seperti tersebut. Allah SWT berfirman,

”Kabarkanlah kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih, (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu? Maka Sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah. Dan sungguh Allah Telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al-Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), Maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena Sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam, (yaitu) orang-orang yang menunggu-nunggu (peristiwa) yang akan terjadi pada dirimu (hai orang-orang mukmin). Maka jika terjadi bagimu kemenangan dari Allah mereka berkata: “Bukankah kami (turut berperang) beserta kamu?” dan jika orang-orang kafir mendapat keberuntungan (kemenangan) mereka berkata: “Bukankah kami turut memenangkanmu, dan membela kamu dari orang-orang mukmin?” Maka Allah akan memberi Keputusan di antara kamu di hari kiamat dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman. Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. Mereka dalam keadaan ragu-ragu antara yang demikian (iman atau kafir): tidak masuk kepada golongan Ini (orang-orang beriman) dan tidak (pula) kepada golongan itu (orang-orang kafir), Maka kamu sekali-kali tidak akan mendapat jalan (untuk memberi petunjuk) baginya. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu)? Sesungguhnya orang-orang munafik itu (ditempatkan) pada tingkatan yang paling bawah dari neraka. Dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolong pun bagi mereka.” (QS. An-Nisa’: 138-145).

3. Perjanjian yang Teguh (Mitsaq)

Syahadah juga merupakan perjanjian yang teguh (mitsaq) yang harus diterima dengan sikap sam’an wa tho’atan (kami dengar dan kami taat) didasari dengan iman yang sebenarnya terhadap Allah, Malaikat, Kitab-kitab, Rasul-rasul, Hari Akhir dan Qadar baik maupun buruk.

Allah SWT mengingatkan kita tentang hal ini,

وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَمِيثَاقَهُ الَّذِي وَاثَقَكُم بِهِ إِذْ قُلْتُمْ سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ﴿٧﴾

”Dan ingatlah karunia Allah kepadamu dan perjanjian-Nya yang Telah diikat-Nya dengan kamu, ketika kamu mengatakan, ’Kami dengar dan kami taati.’ dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah mengetahui isi hati(mu).” (Al-Maidah: 7)

Rasul telah mencontohkan hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an,

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ ﴿٢٨٥﴾

”Rasul Telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorang pun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami Ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (QS. Al-Baqarah: 285).

Pelanggaran terhadap mitsaq akan berakibat laknat Allah seperti yang pernah terjadi pada orang-orang Yahudi.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَكُمْ وَرَفَعْنَا فَوْقَكُمُ الطُّورَ خُذُوا مَا آتَيْنَاكُم بِقُوَّةٍ وَاسْمَعُوا ۖ قَالُوا سَمِعْنَا وَعَصَيْنَا وَأُشْرِبُوا فِي قُلُوبِهِمُ الْعِجْلَ بِكُفْرِهِمْ ۚ قُلْ بِئْسَمَا يَأْمُرُكُم بِهِ إِيمَانُكُمْ إِن كُنتُم مُّؤْمِنِينَ ﴿٩٣﴾

”Dan (ingatlah), ketika kami mengambil janji dari kamu dan kami angkat bukit (Thursina) di atasmu (seraya kami berfirman), ’Peganglah teguh-teguh apa yang kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!’ mereka menjawab, ’Kami mendengar tetapi tidak mentaati.’ Dan telah diresapkan ke dalam hati mereka itu (kecintaan menyembah) anak sapi karena kekafirannya. Katakanlah, ’Amat jahat perbuatan yang telah diperintahkan imanmu kepadamu jika betul kamu beriman (kepada Taurat).’” (QS. Al-Baqarah: 93)

14 Januari 2013

Tajalli

oleh alifbraja

Tajalli
Setiap melaksanakan ibadah khususnya pada waktu sholat, bila tidak disertai perasaan, “seperti sungguh-sungguh” melihat Allah swt, maka ibadah itu tidak tergolong dalam katagori ibadah yang ihsan (baik). Allah SWT. berfirman :“Sesungguhnya (Sholat) itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyu yaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya”. (QS. Al-Baqarah 2 : 45)
Dikalangan umat Islam terdapat beberapa pendapat tentang Tajalli “melihat Tuhan” yang dapat disimpulkan sebagai berikut :
1.Dapat Tajalli atau melihat Tuhan di akhirat
2. Tidak dapat melihat Tuhan di dunia maupun di akhirat
3. Dapat melihat Tuhan di dunia dengan mata hati, sedang di akhirat dengan lebih nyata.
Seluruh Ulama di kalangan Ahlus-Sunnah Wal-Jamaah sepakat bahwa semua orang mukmin akan melihat Allah SWT. di akhirat kelak dengan berpedoman pada firman Allah :
“Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri karena memandang kepada Tuhan-Nya”. (QS. Al-Qiyamah : 22-23).
“Untuk orang yang berbuat baik dengan perbuatan yang terbaik, mendapatkan tambahan (melihat TuhanNya)”. (QS. Yunus 10 : 26).
“Ketahuilah, sesungguhnya mereka pada hari itu terdinding untuk memandang Tuhan-Nya” (QS Al-Muthaffifin 83 : 15).
Nabi Muhammad juga pernah bersabda mengenai masalah Tajalli atau melihat Allah :
“Dari Abi Hurairah r.a, sesungguhnya orang-orang (Para Sahabat) bertanya : Ya Rosulullah, apakah kita bisa melihat Tuhan kita di hari kiamat ? Maka Rasulullah menjawab : “Sulitkan kamu melihat bulan di malam bulan purnama ? Para sahabat menjawab : Tidak ya Rasulullah. Rasulullah berkata lagi : “Apakah kamu sulit melihat matahari diwaktu tanpa awan ?”Pra sahabat menjawab : Tidak ya Rasulullah. Sesungguhnya kamu akan melihat Tuhan seperti itu”. ( HR Bukhari dari Abu Hurairah )
Syeikh Rabi r.a berkata : Saya telah mendengar Imam Syafi’i berkata :
“Kami tahu tentang itu (melihat Tuhan) bahwa ada golongan yang tidak
terdinding memandang kepada-Nya, mereka tidak bergerombol melihat-Nya”. “Sesungguhnya kedudukan sorga yang paling rendah ialah penghuni sorga yang melihat sorganya, isterinya, pembantunya dan pelaminannya dari jarak perjalanan seribu tahun. Dan penghuni sorga yang paling mulia diantara mereka ialah yang melihat Allah setiap pagi dan petang. Di hari itu penuh ceria memandang TuhanNya”. ( HR Turmudzi dari
Stuwair r.‘a diterima beliau dari Ibnu ‘Umar r.a )
Adapun golongan Mu’tazilah meyakini bahwa mustahil untuk dapat Tajalli melihat Tuhan di dunia maupun di akhirat dengan berpedoman pada firman Allah
: “Tidak ada mata yang dapat melihat Tuhan, tetapi Tuhan dapat melihat mata” (QS Al An’am 6 : 103 )
Demikian pula dengan ayat 22-23 Al-Qiyamah, perkataan n a z h i r a h (melihat) mereka artikan dengan menunggu. Mereka sama sekali tidak menghiraukan apa yang terdapat pada Hadits-hadits Rasulullah SAW.
Zamakhsyari, seorang Ulama tafsir di kalangan Mu’tazilah hanya menyatakan “mustahil dapat melihat Tuhan di dunia maupun di akhirat” tanpa memberikan penjelasan dan dasar alasan yang lebih meyakinkan. Syeikh ‘Allamah Al-Qori menyindir golongan Mu’tazilah dengan Syi’irnya:
Orang Mukmin melihat Tuhannya,
tanpa bentuk tanpa umpama,
nikmat lain tiada arti,
dibanding melihat Ilahi Rabbi,
kaum Mu’tazilah rugi seribu rugi.
Di kalangan Al-Asy’ari (Ahlus Sunnah Wal Jamaah) masih dipertanyakan,
apakah melihat Tuhan hanya khusus di akhirat saja ?. Dalam membahas hal
tersebut terdapat dua pendapat :
1. Tajalli atau Melihat Tuhan hanya di akhirat saja.
2. Tajalli atau Melihat Tuhan hanya bukan di akhirat saja tetapi juga dapat Tajalli atau melihat Tuhan selagi di dunia ini, yaitu dengan “mata batin” (bashirah). Kedua pendapat tersebut didasari dengan alasan : bahwa Rasulullah SAW pada waktu melakukan Isra Mi’raj benar-benar melihat Tuhan, sehingga Sayidina Hasan bin ‘Ali r.a berani bersumpah sewaktu menerangkan hal itu. Demikian pula dengan Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Muslim dari Ibnu ‘Abbas r.a, yang oleh Imam Nawawi
disimpulkan: “Kesimpulannya, Sesungguhnya /rajih /(alasan kuat) menurut sebagian Ulama bahwa Rasulullah SAW. melihat Tuhannya dengan nyata / mata, pada malam Isra berdasarkan hadits Ibnu ‘Abbas dan lain-lain”.
Menurut Syeikh Ibnu Hajar Haitami tentang Rasulullah melihat Tuhan di malam Isra : “Dikalangan Ahlus Sunnah telah terjadi kesepakatan tentang masalah Rasulullah melihat Tuhan di malam Mi’raj dengan nyata /
mata”. Para Auliya mendapat karunia Allah melihat Allah dengan mata batinnya, sebagai suatu “Karomah” untuk mereka, seperti juga mukjizat untuk Rasulullah SAW.
Syeikh Abdul Qadir Jaelani mengakui hal itu, dan Ulama Shufi umumnya mengemukakan : “Apabila ruhaniyah dapat menguasai basyariyah (fisik) maka pandangan mata berlawanan dengan mata batin. Mata tidak akan melihat, kecuali hanya dengan pengertian-pengertian yang terlihat oleh mata batin” Pengertian “ruhaniyah dapat menguasai basyariyat” dapat diambil misal, seorang yang sangat takut dengan hantu. Rasa takut tersebut akan sangat mempengaruhi jiwanya, sehingga apabila ia berjalan pada malam hari, kemudian tiba-tiba ia melihat pohon atau daun pisang yang bergerak tertiup angin, maka ia akan berlari ketakutan karena
dikiranya hal itu adalah sosok hantu yang menakutkan. Bisa juga terjadi melihat Tuhan di dalam mimpi. Dalam kitab Sirajut-Tholibin disebutkan : “Adapun di dalam tidur, sepakat sebagian besar Ulama Shufi kemungkinan terjadi melihat Tuhan”. Dikalangan ulama Shufi terdapat keyakinan bahwa “melihat Tuhan bisa terjadi dengan
pandangan mata batin yang mendapat n u r dari Allah SWT, yang oleh Syeikh Junaid disebut Nurul Imtinan.
Syeikh Junaid terkenal sebagai seorang yang amat waro’ (tekun ibadat), seorang Waliyullah, seorang Shufi besar pada zamannya, yang tetap teguh memegang syariat. Banyak sekali tokoh-tokoh Shufi besar adalah
murid-murid beliau. Antara lain, Abu ‘Ali Ad-Daqaq, Abu Bakar Al-Atthar, Al-Jurairi, ‘Athowi dan lain-lain. Diceritakan saat beliau mendekati akhir hayatnya, secara terus menerus mendirikan sembahyang dan membaca
Al-Qur’an. Beliau wafat pada hari Jum’at tahun 297 Hijriyah, setelah selesai membaca ayat ke 70 Surat. Al-Baqarah.
Sehubungan dengan ucapan beliau tentang Tuhan, murid beliau bertanya :“Ya Abal Qosim, apakah engkau dapat melihat Tuhan pada waktu engkau menyembah-Nya ? Beliau menjawab : “Kami (Para Arif) tidak akan
menyembah-Nya bila kami tidak melihat-Nya. Kami juga tidak akan bertasbih untuk-Nya bila kami tidak mengenal-Nya”. Kesimpulannya adalah, bahwa melihat Tuhan di dunia sepanjang pendapat para ‘Arif bila bisa
saja terjadi, dengan Nur Mukhasyafah.
Dalam hal ini yang perlu diperhatikan adalah, bahwa yang dimaksud dengan “melihat” bukan berarti melihat Kunhi Dzat-Nya (keadaan rupa, bentuk atau warnanya dari Zat Tuhan), yang mereka istilahkan “bi ghoiri kaifin wa hashrin wa dhorbin min mistalin”. Selain itu mereka pun mengakui bahwa penglihatan kelak diakhirat jauh lebih jelas dan lebih nyata dibanding apa yang mereka lihat di dunia sekarang. “
Imam Qurthuby berkata : “Melihat Allah SWT di dunia (dengan mata hati) dapat diterima akal. Kalau sekiranya tidak bisa, tentulah permintaan Nabi Musa a.s. untuk bisa melihat Tuhan adalah hal yang mustahil. Tidak mungkin seorang Nabi tidak mengerti apa yang boleh dan dan apa yang tidak boleh bagi Allah. Bahkan (seandainya) Nabi Musa tidak meminta, hal ini bisa terjadi dan bukan mustahil”.(Al-Jami’ul Ahkamul-Qur’an) “
Dan firman Allah : “Tatkala Tuhan tajalli / tampak nyata pada gunung itu, kejadian itu menjadikan gunung itu hancur” Maka apabila Allah bias tajalli pada gunung, padahal gunung itu adalah benda padat, kenapa tidak mungkin Allah “ tajalli ” pada Rasul-Rasul-Nya dan Wali-WaliNya ?” (Kawasyiful-Jilliyah)

28 Oktober 2012

DZIKRULLAH

oleh alifbraja
Beruntunglah, Berbahagialah & Bersyukurlah kpd ALLAH SWT, Karena penjelasannya TIDAK ADA DI BUKU2 LAINNYA, Dan ilmu2 AgamaNYA ALLAH SWT  tidak gampang ditemukan & tidak sebanding dengan harta & Material yang ada di muka bumi ini, maka tunduk sujud syukurlah Kepada-NYA semoga penjelasan ini menjadi HIDAYAH bagi kita semua,……..AMIN
Ini adalah kekuatan cahaya Dzikir yg ada pada diri manusia dgn 4 tingkatan ingatan fokus pada ALLAH SWT Sang Maha Bercahaya.
Makin dalam & fana (hampa) suatu fokus dzikir maka makin terlenalah Sang Hamba oleh fenomena kegaiban alam Nur Ilahiah.
Karena jika ingin mengenali ALLAH pahamilah tentang Gaib sesungguhnya ALLAH pun sifatNYA GAIB & Perkenalanmu Kepada-NYA Takkkan habis sampai seumur hidupmu di dunia ini.
Seorang Hamba terkadang tidak menyadari bahwa ia sebenarnya masih di dunia sehingga menerawang melintasi alam kegaiban nur Ilahiah yang tak ada batas akhirnya membutuhkan power energi cahaya dzikir yg kuat.
Jika sang Hamba berpikir bijak ia pasti kembali ke dunia ibarat orang yang lagi menyelam melihat cakrawala keindahan bawah laut tidak terlalu lama lalu ia kembali ke permukaaan dasar laut untuk persiapan oksigennya kembali.
Begitulah tehnik berzikir yang bijaksana saudara……………………………
Ketahuilah Brothers  secara realita banyak saudara2 kita yang ERROR oleh fenomena alam kegaiban ALLAH SWT ketika mengosongkan pikiran &  masuk dalam alam kefanaan (hampa) melalui dzikir 4 tingkatan Syariat-Tarekat-Hakikat-Ma’rifat.
Padahal kalau ditelaah secara hakikat Alam fenomena visual kegaiban ALLAH SWT Takkan Habis oleh masa, batas, ruang & waktu ibaratnya klo menghitung ilmu2NYA ALLAH SWT takkan habis biarpun laut dijadikan tinta untuk menulis ayat2 ilmu ALLAH SWT Yang Maha Luas Pengetahuan-NYA Di Alam Jagat Raya.
Berikut ini adalah tuntunan2 dzikir:
  • Dzikir Syariat :
  •  “La Ilaha Illallah” diucapkan berulang2 dgn lisan sampai masuk kedalam hati sehingga lisan/mulut tak berucap lagi, rahasia dzikir ini terdiri dari 12 huruf yg sama maknanya dengan Waktu 12 jam, dzikir ini selalu dikumandangkan oleh para malaikat bumi (Malaikatul Ahyar) ketika ALLAH SWT menciptakan setiap makhlukNYA di muka bumi.
  • Dzikir Tarekat :
  •  “ALLAH”ALLAH”ALLAH” diucapkan berulang2 di dalam hati saja dengan pengosongan pikiran fana (hampa) lalu fokus pada nama tadi sehingga nama ALLAH tadi membuat & menciptakan alam bayangan hidup  didepan mata anda sendiri, jangan kaget & takut oleh fenomena tersebut karena para jin syetan selalu mengintai anda tetapi berlindunglah Kepada ALLAH SWT yang Maha Menjaga Orang Beriman dgn ayat & doa : audzu billahi minas syathanir rajim…………… La ilaha illallah anta subhanaka inni kuntu minaz zhalimin……….lalu lafazkan… ALLAHU SALAMUN HAFIZHUN WALIYYUN WA MUHAIMIN ( Allah Yang Maha sejahtera, Maha Memelihara, Maha Melindungi lagi Maha Menjaga Hambanya yg beriman).
  • Dzikir Hakikat :
  •  “HU”HU”HU (DIA ALLAH) diucapkan dalam hati saja dengan keadaan fana (hampa) melalui perantaraan tarikan Nafas ke dalam sampai ke perut, usahakan perut tetap keras biarpun nafas telah keluar, dalam bahasa ilmu tenaga dalam ini adalah metode pemusatan power lahiriah dari perut, dalam istilah cina yin & yang ini adalah penyembuhan/pengobatan pada diri secara bathiniah dan kesemuanya itu benar adanya karena pusat perut adalah sumber daya energi kekuatan manusia secara lahiriah & bathiniah serta secara hakikat dzikir”HU” sebenarnaya tempatnya pada pusat perut dengan perantaraan cahaya nafas yg sangat berharga pada manusia.
  • Dzikir Ma’rifat : 
  • ” HU”AH”-”HU”AH”-HU”AH” atau HU-WAH” (Dia ALLAH Bersamaku”) sebenarnya bunyi dzikir ini sudah perpaduan antara hakikat & ma’rifat, dzikir tersebut dilantunkan dalam hati saja dengan gerakan nafas “HU” masuk kedalam “AH” keluar nafas, pada para sufi (wali Allah) ini adalah dzikir kenikmatan, kecintaan ( Mahabbatullah) yang sangat luas faedah hidayahnya & karomahnya sehinngga dapat menyingkap tabir rahasia2 Allah Swt pada gerakan kehidupan ini.
  • Dzikir rahasia  ma’rifat :
  •  ” Hu”wallahu Ahad (Allah Maha Tunggal)
Pada penjelasan diatas tentang dzikir sebenarnya kalau bicara tentang tingkatan pemahaman Agama dengan ilmun2NYA ALLAH SWT terdiri 7 fase tingkatan  :
  1. Syariat : mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala laranganNYA
  2. Tarekat : Jalan spritual menuju kepadaNYA
  3. Hakikat : Mengetahui arti makna sesuatu pada kehidupan TAPI hamba itu diam pada orang awam KARENA itulah ikatan janjinya kepada ALLAH SWT.
  4. Ma’rifat : Mengetahui pengenalan dirinya kepada ALLAH SWT.   seperti yang  hadist katakan ” kenalilah dirimu sendiri sebelum mengenali ALLAH setelah engkau MengenaliNYA maka binasalah wujudmu BERSAMANYA.
  5. Musyahadah : Penyaksian fenomena kegaiban NUR ALLAH SWT Di langit & di bumi, ia menyaksikanNYA bersama para wali ALLAH & nabi2 ALLAH & Khususnya Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW
  6. Mukasyaf : Terbukanya Tabir rahasia seluruhnya di langit & di bumi, para mukasyaf saat ini hanya terdiri dari 111 orang saja di  seluruh  dunia & setiap ada wafat ada yang menggantikan Wali tersebut, jadi  berbahagialah hamba yang telah menemukannya.
  7. Mahabbah : Kecintaan kepada ALLAH SWT dengan penglihatan pada setiap gerakan nafas & hidupnya ada  kasih sayang TuhanNYA Yang Maha Pemberi Nan Maha pemurah, tingkatan ini hanya ALLAH SWT saja yang tahu tentang kedudukan hambanya, tapi ketahuilah saudara Wali-NYA saat ini yang mencapai tingkatan MAHABBAH cuma berjumlah 11(sebelas) orang saja Di dunia ini & setiap ada yg kembali kehadiratNYA akan ada yg menggantikannya (sama para Mukasyaf), maka sangat Berbahagialah di dunia & Akherat orang2 yang telah menjumpainya.
27 Oktober 2012

ARTI DAN DIFINISI RUH

oleh alifbraja

Ruh ada pada diri manusia, tanpa ruh berarti mati, tubuh tak bergerak dan seluruh bagian tubuh tak berarti.Ada kehidupan maka ada ruh dalam tubuh kita.Salah satu bagian yang dekat dengan diri kita adalah RUH,sehingga kita perlu mengetahui tentang bagian dari diri kita ini.Oleh karenya mengetahui tentang ruh perlu untuk bekal perjalanan menuju Allah.

Lalu apa ruh itu, kalau ada dari mana dia ,ada dimana, dan kemana setelah tubuh ini mati, ruh keluar dari tubuh, bagaimana keadaan ruh setelah diluar tubuh atau bagaimana keadaan sebelum di tiupkan dalam tubuh,dan apa peran ruh dalam diri kita sehingga berperan dalam perjalanan menuju ALLAH SWT.

Ketika memperhatikan seorang saleh yang berjalan menuju Allah,kami mendapat pengalaman banyak tentang ruh dan inilah salah satu faktor yang mendorong saya untuk mengetahui apa sebenarnya ruh

Bertanya tentang ruh sering kali di jawab dengan dalil firman Allah : dalam surat al isyra’ ’85 :

وَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً –

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh”itu termasuk urusan Tuhan-ku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”

Ini sering dijadikan landasan bahwa ruh adalah urusan Tuhan manusia tak usah tahu,lalu apakah dosa bila orang seperti saya ingin tahu benar tentang ruh sebagai jawaban pertanyaan pengalaman dalam perjalanan menuju Allah.lama saya tidak punya jawaban .Alhamdulillah Allah memberi jalan beberapa karya besar ulama ternyata ada yang membahas mengenai ruh.

Syeikh Ali akhmad Abdul ‘Al Ath- thahthawi dalam karyanya :RU’YAL AHYA LIL AMWAT” telah diterjemahkan oleh Ustaz Masrokhan Ahmad.(terima kasih kepada uztad dan penerbit citra risalah ;buku ini banyak memberikan keterangan pertanyaan saya)dan saya merasa nyaman membaca buku ini.karya ulama lainya yang memberi keterangan tentang ruh adalah ;Tarbiyah Ruhiyah ,Syeikh Sa’id Hawa, “Sirr al asrar fiima Yahtaj Ilahyah al abror .karya syeikh abdul qadir al jilany, “Wahabiyah fi al mizan ;syeikh Ja’far subhani, dan tentu saja IHYA ‘Ulumuddin Syeikh Imam al Gazali.

Tulisan selanjutnya tentang RUH merujuk dan mengutip karya tersebut diatas dan bermaksud memotivasi saudara dan sahabat saya untuk mengatahui lebih jauh tentang ruh dan alam gaib.siapa tahu dalam perjalan menempuh jalan Allah mendapatkan pengalaman tersendiri menganai ruh dan alam gaib,sehingga menyaksikan sendiri apa yang dibicarakan karya ulama tersebut.

Syeikh akhmad ‘abdul’ath thahtawi berpendapat. Sesungguhnya tidak ada larangan dalam agama untuk berusaha mengungkap hakekat ruh.namun ia tetap merupakan rahasia yang tidak dibukan Allah,keseluruhan.Selanjutnya beliau menjelaskan ;Ruh adalah suatu kekuatan yang menumbuhkan kehidupan di alam ini,baik pada tumbuhan, binatang maupun manusia.Namun ia lebih dominan pada sesuatu yang bergerak dan memiliki kepekaan, mempunyai akal dan dapat berpikir, yakni binatang dan manusia.

Imam al Alusi menyebutkan ada seribu pendpat di kalangan para peneliti mengenai ruh.Menurut beliau ada dua pendapat yang paling kuat dan yang terkuat adalah ; RUH merupakan jisim ruhani yang tinggi dan hidup, berlawanan dengan jisim yang dapat diraba.RUH itu berjalan pada jisim tidak dapat diurai dan tidak dapat dibagi.Ia meniupkan kehidupan pada jisim selama jisim itu layak menerimanya.Ibnul Qayyim sangat setuju dengan pendapat ini,Beliau mengatakan inilah pendapat yang benar sedangkan pendapat yang lain tidak benar.Pendapat ini sesuai dengan Al kitab, sunnah dan ijma’ para sahabat.bahkan juga sesuai dengan dalil aqli.Meski demikian pendapat ini belum bisa mengungkap secara jelas tentang hakekat ruh.

Syeikh Said hawa Rahimaullah mendifinsikan RUH mempunyai dua arti,pertama nyawa yaitu alat jasmani yang halus bersumber dari rongga hati inderawi (jantung).Ia menyebar dengan bantuan urat yang berdenyut ke seluruh tubuh ,mengalir dalam badan dan mencurahkan cahanya kehidupan,perasaan, penglihatan,pendengaran dan indera penciuman.Kehidupan manusia diibaratkan cahaya yang bersumber dari sebuah lampu.Ruh diibaratkan lampu .Curhan cahaya kehidupan seperi curahan sinar lampu yang menyinari setiap sudut rumah.

Makna kedua ,Ruh adalah kehalusan rohani yang ada pada diri manuasia yang berfungsi mengetahui dan memahami.inilah yang dimaksuh pengetian Ruh menurut para dokter dan sering disebut NYAWA.

25 Oktober 2012

Hakikat Basmalah Menurut Syekh Al-Akbar Ibnu ‘Arabi

oleh alifbraja

Dalam suatu hadits Nabi saw. Beliau bersabda, Setiap kandungan dalam seluruh kitab-kitab Allah diturunkan, semuanya ada di dalam Al-Qur’an. Dan seluruh kandungan Al-Qur’an ada di datam Al-Fatihah. Dan semua yang ada dalam Al-Fatihah ada di dalam Bismillnahirrahmaanirrahiim.”

 

Bahkan disebutkan dalam hadits lain, “setiap kandungan yang ada dalam Bismillahirrahmaanirrahiim ada di dalam huruf Baa’, dan setiap yang terkandung di dalam Baa’ ada di dalam titik yang berada dibawah Baa’”.

Sebagian para Arifin menegaskan, “Dalam perspektif orang yang ma’rifat kepada Allah, Bismillaahirrahmaanirrahim itu kedudukannya sama dengan “kun” dari Allah”.

 

Perlu diketahui bahwa pembahasan mengenai Bismillahirrahmaanirrahiim banyak ditinjau dari berbagai segi, baik dari segi gramatikal (Nahwu dan sharaf) ataupun segi bahasa (etimologis), disamping tinjuan dari materi huruf, bentuk, karakteristik, kedudukan, susunannya serta keistemewaanya atas huruf-huruf lainnya yang ada dalam Surat Pembuka Al-Qur’an, kristalisasi dan spesifikasi huruf-huruf yang ada dalam huruf Baa’, manfaat dan rahasianya.

 

Tujuan kami bukan mengupas semua itu, tetapi lebih pada esensi atau hakikat makna terdalam yang relevan dengan segala hal di sisi Allah swt, Pembahasannya akan saling berkelin dan satu sama lainnya, karena seluruh tujuannya adalah Ma’rifat kepada Allah swt.

 

Kami memang berada di gerbangNya, dan setiap ada limpahan baru di dalam jiwa maka ar-Ruhul Amin turun di dalam kalbunya kertas. Ketahuilah bahwa Titik yang berada dibawah huruf Baa’ adalah awal mula setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala. Sebab huruf itu sendiri tersusun darititik, dan sudah semestinya setiap Surat ada huruf yang menjadi awalnya, sedangkan setiap huruf itu ada titik yang menjadi awalnya huruf. Karena itu menjadi keniscayaan bahwa titik itu sendiri adalah awal dan pada setiap surat dan Kitab Allah Ta’ala.

 

Kerangka hubungan antara huruf Baa’ dengan Tititknya secara komprehensfih akan dijeaskan berikut nanti. Bahwa Baa’ dalam setiap surat itu sendiri sebagai keharusan adanya dalam Basmalah bagi setiap surat, bahkan di dalam surat Al-Baqarah. Huruf Baa’itu sendiri mengawali ayat dalam surat tersebut. Karena itu dalam konteks inilah setiap surat dalam Al-Qur’an mesti diawali dengan Baa’ sebagaimana dalam hadits di atas, bahwa seluruh kandungan Al-Qur’an itu ada dalam surah Al-Fatihah, tersimpul  lagi di dalam Basmalah, dan tersimpul lagi dalam Huruf Baa’, akhirnya pada titik.

 

Hal yang sama , Allah SWT dengan seluruh yang ada secara paripurna sama sekali tidak terbagi-bagi dan terpisah-pisah. Titik sendiri merupakan syarat-syarat dzat Allah Ta’ala yang tersembunyi dibalik khasanahnya ketika dalam penampakkan-Nya terhadap mahlukNya.

 

Amboi, titik itu tidak tampak dan tidak Layak lagi bagi anda untuk dibaca selamanya mengingat kediaman dan kesuciannya dari segala batasan, dari satu makhraj ke makhraj lainya.

 

Sebab ia adalah jiwa dari seluruh huruf yang keluar dari seluruh tempat keluarnya huruf. Maka,camkanlah, dengan adanya batin dari Ghaibnya sifat Ahadiyah.

 

Misalnya anda membaca titik menurut persekutuan, seperti huruf Taa’ dengan dua tik, lalu Anda menambah satu titik lagi menjadi huruf Tsaa’, maka yang Anda baca tidak lain kecuali Titik itu sendiri. Sebab Taa’ bertitik dua, dan Tsaa’ bertitik tiga tidak terbaca,karena bentuknya satu, yang tidak terbaca kecuali titiknya belaka. Seandainya Anda membaca di dalam diri titik itu niscaya bentuk masing-masing berbeda dengan lainnya. Karena itu dengan titik itulah masing-masing dibedakan, sehingga setiap huruf sebenarnya tidak terbaca kecuali titiknya saja. Hal yang sama dalam perspektif makhluk, bahwa makhluk itu tidak dikenal kecuali Allah.

 

Bahwa Anda mengenal-Nya dari makhluk sesungguhnya Anda mengenal-Nya dari Allah swt. Hanya saja Titik pada sebagian huruf lebih jelas satu sama lainnya, sehingga sebagian menambah yang lainnya untuk menyempurnakannya, seperti dalam huruf-huruf yang bertitik, kelengkapannya pada ttik tersebut. Ada sebagian yang tampak pada kenyataannya seperti huruf Alif dan huruf-huruf tanpa Titik. Karena huruf tersebut juga tersusun dari titik-titik. Oleh sebab itulah, Alif lebih mulia dibanding Baa’,karena Titiknya justru menampakkan diri dalam wujudnya, sementara dalam Baa’ itu sendiri tidak tampak (Titik berdiri sendiri). Titik di dalam huruf Baa’ tidak akan tampak, kecuali dalam rangka kelengkapannya menurut perspektif penyatuan. Karena Titik suatu huruf Merupakan kesempurnaan huruf itu sendiri dan dengan sendirinya menyatu dengan huruf tersebut. Sementara penyatuan itu sendiri mengindikasikan adanya faktor lain, yaitu faktor yang memisahkan antara huruf dengan titiknya.

 

Huruf Alif itu sendiri posisinya menempati posisi tunggal dengan sendirinya dalam setiap huruf. Misalnya Anda bisa mengatakan bahwa Baa’ itu adalah Alif yang di datarkan Sedang Jiim, misalnya, adalah Alif dibengkokkan’ dua ujungnya. Daal adalah Alif yang yang ditekuk tengahnya.

 

Sedangkan Alif dalam kedudukan titik, sebagai penyusun struktur setiap huruf ibarat Masing-masing huruf tersusun dari Titik. Sementara Titik bagi setiap huruf ibarat Neucleus yang terhamparan. Huruf itu sendiri seperti tubuh yang terstruktur. Kedudukan Alif dengan kerangkanya seperti kedudukan Titik. Lalu huruf-huruf itu tersusun dari Alif sebagimana kita sebutkan, bahwa Baa’ adalah Alif yang terdatarkan.

 

Demikian pula Hakikat Muhammadiyyah merupakan inti dimana seluruh jagad raya ini diciptakan dari Hakikat Muhammadiyah itu. Sebagaimana hadits riwayat Jabir, yang intinya Allah swt. menciptakan Ruh Nabi saw dari Dzat-Nya, dan menciptakan seluruh alam dari Ruh Muhammad saw. Sedangkan Muhammad saw. adalah Sifat Dzahirnya Allah dalam makhluk melalui Nama-Nya dengan wahana penampakan Ilahiyah.

 

Anda masih ingat ketika Nabi saw. diisra’kan dengan jasadnya ke Arasy yang merupakan Singgasana Ar-Rahman. Sedangkan huruf Alif, —walaupun huruf-huruf lain yang tanpa titik sepadan dengannya, dan Alif merupakan manifestasi Titik yang tampak di dalamnya dengan substansinya — Alif memiliki nilai tambah dibanding yang lain. Sebab yang tertera setelah Titik tidak lain kecuali berada satu derajat. Karena dua Titik manakala disusun dua bentuk alif, maka Alif menjadi sesuatu yang memanjang. Karena dimensi itu terdiri dari tiga: Panjang, Lebar dan Kedalaman.

 

Sedangkan huruf-huruf lainnya menyatu di dalam Alif,seperti huruf Jiim. Pada kepala huruf Jiim ada yang memanjang, lalu pada pangkal juga memanjang, tengahnya juga memanjang. Pada huruf Kaaf misalnya, ujungnya memanjang, tengahnya juga memanjang namun pada pangkalnya yang pertama lebar. Masing-masing ada tiga dimensi. Setiap huruf selain Alif memiliki dua atau tiga jangkauan yang membentang. Sementara Alif sendiri lebih mendekati titik. Sedangkan titik , tidak punya bentangan. Hubungan Alif diantara huruf-huruf yang Tidak bertitik, ibarat hubungan antara Nabi Muhammad saw, dengan para Nabi dan para pewarisnya yang paripurna. Karenanya Alif mendahului semua huruf.

 

Diantara huruf-huruf itu ada yang punya Titik di atasnya, ada pula yang punya Titik dibawahnya,Yang pertama (titik di atas) menempatip osisi “Aku tidak melihat sesuatu sebelumnya) kecuali melihat Allah di sana”.

 

Diantara huruf itu ada yang mempunyai Titik di tengah, seperti Titik putih dalam lobang Huruf Mim dan Wawu serta sejenisnya, maka posisinya pada tahap, ”Aku tidak melihat sesuatu kecuali Allah didalamnya.” Karenanya titik itu berlobang, sebab dalam lobang itu tampak sesuatu selain titik itu sendiri Lingkaran kepada kepala Miim menempati tahap, “Aku tidak melihat sesuatu” sementara Titik putih menemptai “Kecuali aku melihat Allah di dalamnya.”

 

Alif menempati posisi “Sesungguhnya orang-orang yang berbaiat kepadamu sesungguhnya mereka itu berbaiat kepada Alllah.” Kalimat “sesungguhnya” menempati posisi arti “Tidak”, dengan uraian “Sesungguhnya orang-orang berbaiat” kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu tidaklah berbaiat kepadamu, kecuali berbaiat kepada Allah.”

 

Dimaklumi bahwa Nabi Muhammad saw. dibaiat, lalu dia bersyahadat kepada Allah pada dirinya sendiri, sesungguhnya tidaklah dia itu berbaiat kecuali berbaiat kepada Allah. Artinya, kamu sebenarnya tidak berbaiat kepada Muhammad saw.  tetapi hakikat-nya berbaiat kepada Allah swt. Itulah arti sebenarnya dari Khilafah tersebut.

 

Menurut Ibnu Araby dalam Kitab Tafsir Tasawufnya, “Tafsirul Qur’anil Karim” menegaskan, bahwa dengan (menyebut) Asma Allah, berarti Asma-asma Allah Ta’ala diproyeksikan yang menunjukkan keistimewaan-nya, yang berada di atas Sifat-sifat dan Dzat Allah Ta’ala. Sedangkan wujud Asma itu sendiri menunjukkan arah-Nya, sementara kenyataan Asma itu menunjukkan Ketunggalan-Nya.

 

Allah itu sendiri merupakan Nama bagi Dzat (Ismu Dzat) Ketuhanan. dari segi Kemutlakan Nama itu sendiri. Bukan dari konotasi atau pengertian penyifatan bagi Sifat-sifat-Nya, begitu pula bukan bagi pengertian “Tidak membuat penyifatan”.

 

“Ar- Rahman” adalah predikat yang melimpah terhadap wujud dan keparipurnaan secara universal. menurut relevansi hikmah. dan relevan dengan penerimaan di permulaan pertama.

 

“Ar-Rahiim” adalah yang melimpah bagi keparipurnaan maknawi yang ditentukan bagi manusia jika dilihat dari segi pangkal akhirnya. Karena itu sering. disebutkan, “Wahai Yang Muha Rahman bagi Dunia dan akhirat, dan Maha Rahim bagi akhirat”.

 

Artinya, adalah proyeksi kemanusiaan yang sempuma, dan rahmat menyeluruh, baik secara umum maupun khusus, yang merupakan manifestasi dari Dzat Ilahi. Dalam konteks, inilah Nabi Muhammad saw. Bersabda, “Aku diberi anugerah globalitas Kalam, dan aku diutus untuk menyempurnakan akhlak (menuju) paripurna akhlak”.

 

Karena. kalimat-kalimat merupakan hakikat-hakilkat wujud dan kenyataannya. Sebagaimana Isa as, disebut sebagai Kalimah dari Allah, sedangkan keparipurnaan akhlak adalah predikat dan keistimewaannya. Predikat itulah yang menjadi sumber perbuatan-perbuatan yang terkristal dalam jagad kemanusiaan. Memahaminya sangat halus. Di sanalah para Nabi – alaihimus salam – meletakkan huruf-huruf hijaiyah dengan menggunakan tirai struktur wujud. Kenyataan ini bisa djtemukan dalam periode! Isa as, periode Amirul Mukminin Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, dan sebagian masa sahabat, yang secara keseluruhan menunjukkan kenyataan tersebut.

 

Disebutkan, bahwa Wujud ini muncul dari huruf Baa’ dari Basmalah. Karena Baa’ tersebut mengiringi huruf Alif yang tersembunyi, yang sesungguhnya adalah Dzat Allah. Disini ada indikasi terhadap akal pertama, yang merupakan makhluk awal dari Ciptaan Allah, yang disebutkan melalui firman-Nya, “Aku tidak menciptakan makhluk yang lebih Kucintai dan lebih Kumuliakan ketimbang dirimu, dan denganmu Aku memberi. denganmu Aku mengambil, denganmu Aku memberi pahala dan denganmu Aku menyiksa”. (Al-hadits).

 

Huruf-huruf yang terucapkan dalam Basmalah ada 18 huruf. Sedangkan yang tertera dalam tulisan berjumlah 19 huruf. Apabila kalimat-kalimat menjadi terpisah. maka jumlah huruf yang terpisah menjadi 22.

 

Delapan belas huruf mengisyaratkan adanya alam-alam yang dikonotasikannya dengan jumlahnya. 18 ribu alam. Karena huruf Alif merupakan hitungan sempurna yang memuat seluruh struktur jumlah. Alif merupakan induk dari seluruh strata yang tidak lagi ada hitungan setelah Alif. Karena itu dimengerti sebagai induk dari segala induk alam yang disebut sebagai Alam Jabarut, Alam Malakut, Arasy, Kursi, Tujuh Langit., dan empat anasir, serta tiga kelahiran yang masing masing terpisah dalam bagian-bagian tersendiri.

 

Sedangkan makna sembilan belas, menunjukkan penyertaan Alam Kemanusiaan. Walau pun masuk kategori alam hewani, namun alam insani itu menurut konotasi kemuliaan dan universalitasnya atas seluruh alam dalam bingkai wujud, toh ada alam lain yang memiliki ragam jenis yang prinsip. Ia mempunyai bukti seperti posisi Jibril diantara para Malaikat.

 

Tiga Alif yang tersembunyi yang merupakan pelengkap terhadap dua puluh dua huruf ketika dipisah-pisah, merupakan perunjuk pada Alam Ilahi Yang Haq, menurut pengertian Dzat. Sifat dan Af ‘aal. Yaitu tiga Alam ketika dipisah-pisah, dan Satu Alam ketika dinilai dari hakikatnya.

Sementara tiga huruf yang tertulis menunjukkan adanya manifestasi alam-alam tersebut pada tempat penampilannya yang bersifat agung dan manusiawi.

 

Dan dalam rangka menutupi Alam Ilahi, ketika Rasulullah saw, ditanya soal Alif yang melekat pada Baa’, “dari mana hilangnya Alif itu?” Maka Rasulullah saw, menjawab, “Dicuri oleh Syetan”.

 

Diharuskannya memanjangkan huruf Baa’nya Bismillah pada penulisan, sebagai ganti dari Alifnya, menunjukkan penyembunyian Ketuhanannya predikat Ketuhanan dalam gambaran Rahmat yang tersebar. Sedangkan penampakannya dalam potret manusia, tak akan bisa dikenal kecuali oleh ahlinya. Karenanya, dalam hadist disebutkan, “Manusia diciptakan menurut gambaran Nya”.

 

Dzat sendiri tersembunyikan oleh Sifat, dan Sifat tersembunyikan oleh Af’aal. Af’aal tersembunyikan oleh jagad-jagad dan makhluk.

Oleh sebab itu, siapa pun yang meraih Tajallinya Af’aal Allah dengan sirnanya tirai jagad raya, maka ia akan tawakkal. Sedangkan siapa yang meraih Tajallinya Sifat dengan sirnanya tirai Af’aal, ia akan Ridha dan Pasrah. Dan siapa yang meraih Tajallinya Dzat dengan terbukanya tirai Sifat, ia akan fana dalam kesatuan. Maka ia pun akan meraih Penyatuan Mutlak. Ia berbuat, tapi tidak berbuat. Ia membaca tapi tidak membaca “Bismillahirrahmaanirrahiim”.

 

Tauhidnya af’aal mendahului tauhidnya Sifat, dan ia berada di atas Tauhidnya Dzat. Dalam trilogi inilah Nabi saw, bermunajat dalam sujudnya, “Tuhan, Aku berlindung dengan ampunanmu dari siksaMu, Aku berlindung dengan RidhaMu dari amarah dendamMu, Aku berlindung denganMu dari diriMu”.

 

Tafsir ini dikutip dari Tafsirul Qur’anil Karim, karya Ibnu Araby

23 Oktober 2012

Siapa ALLAH? Siapa AKU?

oleh alifbraja

Siapa ALLAH? Siapa AKU?
Apakah tujuan AKU diciptakan?
Apakah benar ada Tuhan yang perlu disembah atau sebaliknya?

Allah ada yang Zahir dan ada yang Bathin, maksudnya ada yang nampak, ada yang tersembunyi, contohnya: ghaib titik, alif yang nyata; titik tersembunyi di dalam alif; atau

>>>>>>>>Ghaib Allah Hamba yang nyata, tetapi esa juga adanya, tampa bercampur, tampa bertempat.<<<<<<<<<<<

Kelihatan dua nama tetapi satu (esa), yang nampak dinamakan Hamba dan yang tersembunyi (bathin) dinamakan Allah.

1_ Tujuan Allah mencipta hambanya, sebanarnya Tuhan ingin menampakkan sifatnya di dunia, kalau tidak nampak siapa yang mengenal.
2_ Allah ingin mengenal dirinya dan memuji dirinya yang zahir, yang paling duminan adalah Rasa.

Berlakunya Sembah, atas kenal mengenal,

yang dikenal puji memuji, yang dipuji, ya_saya, ya_kamu,

itulah sebenarnya sembah.

Semoga saudaraku dilindungi Allah SWT dari was-was. Amin.
NB: KITA SEMUA DUDUK PADA NAMA DAN SIFAT NYA JUA. ZAT NYA ESA, MANA MUNGKIN KITA DUDUK DI LUAR. TIADA ISTILAH DI LUAR KERANA DIA MELIPUTI SEGALA APA YANG TERCIPTA.

%d blogger menyukai ini: