Posts tagged ‘bernama’

13 Oktober 2012

BAPAK SASTRA DAN BAHASA MELAYU

oleh alifbraja

HAMZAH FANSURI
BAPAK SASTRA DAN BAHASA MELAYU
Waktu dan t emp at Hamzah Fansuri lahir sampai sekarang masih
merupakan teka-teki. Demikian juga t ahun kapan ia meninggal tak
dike t ahui secara pasti. Namun bahwa ia adalah seorang sufi
besar yang luas pengaruhnya diwilayah Nusantara pada abad ke-17
dan sesudahnya, tidak ada yang bisa menyangkal. Jus t ru karena
luasnya pengaruh ajaran-ajarannya itulah yang membuat kita bert anya – t anya mengapa tidak ada catat an yang resmi kapan ia lahir
dan meninggal. Hikayat Aceh sendiri misalnya tidak me n y e b ut
adanya seorang tok oh sastra dan ahli tasawuf bernama Hamzah
Fansuri, suatu kekeliruan yang sangat besar, karena dengan demikian seakan-akan tok oh Hamzah Fansuri tidak pernah muncul dalam
sejarah Aceh.
Namun hal itu bisa dimaklumi. Peniadaan nama Hamzah Fansuri dan jejaknya dalam sejarah memanglah disengaja dan merupakan kelanjutan dari perintah perusakan te rhadap karya-karyanya
yang dipandang penuh dengan ajaran-ajaran yang berbahaya dan
menye s a tkan. Ketika pengaruh Hamzah Fansuri sudah berakar
dalam masyarakat Aceh pada awal abad ke -17, khususnya pada
masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), datanglah
untuk kedua kalinya seorang ulama dari Ranir India bernama
Nuruddin, yang kelak akan ki ta kenal dengan nama Nuruddin
A Raniri. Ia adalah seorang ulama ortodo ks dan tidak menyukai
ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Dalam waktu yang singkat Nuruddin Arraniri dapat mempengaruhi sultan. Setelah itu ia berhasil
mendorong sultan melakukan perusakan te rhadap ajaran-ajaran
Hamzah Fansuri, sehingga seorang tok oh pr ibumi dengan mudah
dapat disingkirkan oleh seorang penda t ang. Dengan demikian penyingkiran te rhadap Hamzah Fansuri, yang di ikuti dengan pengejaran te rhadap dirinya dan pengikutnya serta pembakaran karya-karyanya, lebih me rupakan peristiwa pol it ik.
13 Namun sejarah tidak bisa dibohongi. Begitu Hamzah Fansuri
meninggal namanya tiba-tiba melejit lagi dan menjadi buah
bibir orang. Pengikutnya yang setia ternya ta tidak sedikit,
dan merekalah yang berhasil menye l ama tkan salinan karya-karya
Hamzah Fansuri sehingga sampai kepada kita sekarang ini Pertanyaan yang muncul kepada kita setelah lebih tiga abad kematiannya
ada l ah: “Benarkah ajaran tasawuf Hamzah Fansuri sesat? Tidakk ah apa yang ia alami serupa saja dengan apa yang dialami Al-Hallaj,
v yang huk uman ma t inya lebih merupakan peristiwa politik? “
Kita tidak perlu menjawab pe rt anya an itu sebelum memperhatikan sungguh-sungguh apa yang ia ajarkan dalam karya-karyanya. Sebab karya-karya Hamzah sendirilah kelak yang akan menjadi saksi atau hakim apakah ia seorang sufi yang sesat ataukah
t idak.
Meskipun hari dan t ahun kelahirannya tidak dike t ahui dengan
pasti, ia diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-I 6 dan
awal ke-17 pada masa pemerintahan raja Iskandar Muda. Karena
t ambahan nama di belakangnya “F angsur” itulah kita sekarang mengenalnya sebagai tok oh yang berasal dari Barus, Aceh, sebab kataka ta Melayu “B arus” bila diterjemahkan ke dalam bahasa Arab
akan menjadi “F a n s u r”. Tapi di dalam sajak-sajaknya ia pun men yeb ut bahwa dirinya berasal dari Shahr Nawi, sebuah ko ta di
Siam t emp at be rmukimnya pedagang dan ulama Islam dari Persia
dan Ar ab. Jadi meskipun tidak bisa dipastikan di mana ia lahir sebena rnya, jelaslah kedua t emp at ini memiliki arti yang penting
dalam hidupnya.
Sajak-sajaknya juga menya t akan bahwa ia telah mengembara
ke berbagai t emp at dan negeri seperti J awa, Siam, Semenanjung
Melayu, Pesisir Sumatra, Persia dan tanah Arab. Selain menguasai
bahasa Melayu, ia mahir pula dalam bahasa-bahasa Persia dan Ar ab.
Penguasaan bahasanya inilah agaknya yang membuat ia sangat
mudah menguasai berbagai buku tasawuf dari sufi-sufi te rkemuka
Persia. Di dalam uraian-uraian tasawufnya misalnya tak sedikit
sajak-sajak para sufi Persia itu ia kut ip dalam bahasa aslinya, kemudian dibubuhi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Bahkan ia tak segan-segan menya t akan bahwa ia belajar langsung tasawuf dari sufi-sufi terk emu ka di Persia. Ia juga diberitahukan telah mengunjungi Mekkah dan Medinah, dan menunaikan
ibadah haji.
14 Dalam sebuah sajaknya ia menulis:
Hamzah Fansuri di Negeri Melayu
Tempa tnya kapur di dalam kayu
“K apur” dalam sajak ini sama dengan “barus”, menunjukkan
t emp at asal Hamzah. Agaknya ia sengaja memakai kata-kata “kap ur” itu setelah baris yang menyebutkan namanya sendiri (Hamzah
Fansuri), lalu ia memb u at ungkapan yang menunjuk pada makrifat
(Uniomys t ika),: tempatnya kapur di dalam kayu.
Di dalam sajaknya yang lain ia menul i s:
Hamzah Shahr-Nawi terlalu hapus
Seperti kayu sekalian hangus
Asalnya Laut tidak berharus
Menjadi kapur di dalam Barus
Sajak ini mewartakan bahwa ia seakan-akan berasal dari ShahrNawi, Siam, namun dibesarkan dan mempelajari tasawuf sampai
makrifat di tanah barus. Kata-kata “kayu sekalian hangus” menunjukkan bahwa ia mencapai makrifat. Seseorang yang mencapai makrikat. atau fana hapus) dengan Tuhannya, sering dilambangkan
sebagai sesuatu yang kembali ke asalnya “L a ut tak be ra rus”, suatu
ungkapan yang sering digunakan juga oleh Ibn Arabi dan Jalaluddin
Rumi. Laut di sini adalah lambang dz at yang maha luas. Sedang
baris “menjadi kapur di dalam Ba rus” mewartakan bahwa ia mencapai tingkat kesufian di tanah Barus.
Sebagai penyair, di sini ia berhasil memadukan tahapan pengalaman spiritual yang ia capai dengan t emp at di mana ia mencapainya. Artinya ia mampu menya tukan dunia luar dan dunia
dalam yang sangat inti dalam penulisan puisi, menjadi suatu ungkapan yang utuh. berdimensi ganda, menyaran ke banyak segi.
Ketika tingkat kesufian telah ia capai, maka ia tak peduli lagi
pada t emp at kelahirannya di dunia ini, sebab lahir di mana saja
sebenarnya sama. Yang penting adalah ia telah paham bahwa ia
berasal dari Dz at di luar dunia ini. Katanya:
Hamzah gharib Unggas Quddusi
Akan rumahnya Baytul Makmuri
Kursinya sekalian ia kapuri
Di negeri Fansuri minal ashjari
15 Jika sajak ini dialihkan ke dalam bahasa Indonesia masa kini,
saya kira akan menjadi sebagai be r ikut:
Hamzah asing si burung suci
Rumah di umumnya di Baitulmakmur
Taht anya put ih ia kapuri
Dari kayu di tanah Fansuri
Dalam sajak ini Hamzah Fansuri menyebut dirinya orang asing
atau pengembara asing di dunia ini (lihat juga Rumi). Secara hakiki ia adalah roh suci (burung suci). Dan rumah yang sebenarnya adalah di dalam ha t inya. Ia memakai ungkapan “Baytul makm ur” unt uk me nyeb ut ha ti, suatu ungkapan yang biasa ki ta t emui
dalam literatur sufi, yang kemudian juga dipakai di dalam
tasawuf Jawa, misalnya oleh Ronggowarsito (lihat: Hidayat J ati).
Berdasar sajak-sajak ini S. Naguib Al-Attas dalam b u k u n ya
“The Mysticisun of Hamzah F ansuri” (Kualalumpur: 1970) mengajukan kemungkinan t ent ang t emp at kelahirannya. Kemungkinan,
ka ta Al-Attas, Hamzah dilahirkan di Shar Nawi, namun ayahnya
berasal dari Barus, dan menjelang ayahnya wafat ia pun kembali ke
Barus. Tetapi dibagian lain ia menulis bahwa ia berasal dari Barus, dan
mencapai tingkat kesufian di tanah Shahr Nawi:
Hamzah nin asalnya Fansuri
Mendapat ada di t anah Shahr Nawi
Namun apakah ia dilahirkan di Barus atau Shahr Nawi
agaknya tidak menjadi penting lagi. Yang jelas bukan orang asing
seperti Nuruddin Arraniri yang berasal dari Ranir di India i tu.
Seperti ia tulis dalam sajaknya:
Hamzah Fansuri orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Sementara Wasil dengan Yang Baqi
Di sini ia mewa rt akan bahwa ia orang fakir (uryani = telanjang),
16 telah menjalani pengorbanan sebagaimana nabi Ismail. Ia bukan
orang Persia (Ajami) at au p un Arab, dan selalu manunggal (menyatu diri) dengan Tuhannya.
Di bagian lain, sementara ia mengaku berasal dari Barus, dan
mendapat pelajaran sufi di Shahr Nawi ia mengatakan bahwa ia ^
mendapat khilaf at atau ilmu tasawuf di Bagdad. Dan ajaran tasawuf yang ia peroleh adalah ajaran Syekh Abdulkadir Jailani.
Namun karya-karya Hamzah Fansuri sendiri menunjukkan bahwa
bukan pengaruh Jailani yang besar kepadanya, melainkan ajaran
Ibn Arabi. Selain i tu Hamzah menunjukkan bahwa dirinya
sangat dekat dengan tokoh – tok oh sufi yang lain serta karya-karya
puisinya, seperti: B ist ami, Baghdadi, Al-Hallaj, Imam Ghazali,
Mas’udi, Farid At tar, Jalaluddin Rumi, Shabistari, Maroko,
Iraqi, Sa’di, Nikmatullah, J ami dan Karim Al-Jili.
Sebuah sajaknya yang terkenal yang mengabarkan luas
daerah yang ia kunjungi dan pengakuannya bahwa rumahnya yang
sejati adalah ha t inya sendiri, yang dalam sajaknya terdahulu di
sebut “Baytul m a k m u r” adalah ini:
Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka ‘bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya ditemukan pada di dalam rumah
Seperti sajak-sajaknya yang lain t emp at – t emp at yang memiliki arti penting bagi hidupnya, muncul dalam sajak ini dan menjadi
sangat berarti atau bermakna baik sebagai pelambang atau pembentuk
nilai sajak. Kita diberi tahu di sini betapa jauhnya Hamzah Fansuri men-\ s
cari Tuhannya, betapa payah badan dan rohaninya, sehingga akhirnya
Tuhan ia jumpai dalam dirinya.
Barang siapa mengenal dirinya sendiri, ia akan mengenal Tu-v
hannya, ka ta hadi t s. J adi sebenarnya Tuhan i tu tidak jauh dari
diri kita. Hanya unt uk mendapa tkan Tuhan itu yang tidak mudah.
Manusia harus be rupaya lahir dan ba t in, beramal dan mengerjakan ibadah, ment aa ti syariah ajaran agama, serta mendalami
17 agama benar-benar. Hamzah Fansuri dalam sajak ini menunjuk-
-V kan bahwa Tuhan memang t idak j auh dari diri ki ta, namun unt uk
mencapainya manusia harus melakukan perjalanan j auh, karena
begitu lahir ke dunia manusia seakan-akan asing atau j auh dari
hakekat kejadiannya. Di sini jelas bahwa Hamzah Fansuri tidak
^ Menolak pent ingnya ibadah keagamaan, asal ia dianggap sebagai
benar-benar suatu latihan spiritual yang penting dan dijalankan
dengan penuh keyakinan dan disiplin. Namun semua itu akhirnya
tergantung pada manusia, apakah ia mampu bercermin pada dirinya atau tidak unt uk menangkap cahaya ilahi yang ters embunyi
dalam dirinya. Cahaya ilahi yang akan tersingkap bila seseorang
mampu melakukan disiplin spiritual yang keras, mau belajar
sungguh-sungguh, sebab perjalanan ke dalam diri itu memang
tidak mudah dan payah.
Tuduhan Nuruddin Arraniri bahwa Hamzah Fansuri telah
menempuh jalan yang sesat, t e rnya ta keliru. Dalam sajak-sajaknya sendiri Hamzah Fansuri malah mengecam para sufi palsu £
atau pengikutnya yang telah menyelewengkan ajaran
tasawuf yang sebenarnya. Kata Hamzah:
Segala muda dan sopan
Segala tuan berhuban
Uzlatnya berbulan-bulan
Mencari Tuhan ke dalam hut an
Segala menjadi “s u f i”
Segala menjadi “s hal awq i” (= pencinta kepayang)
Segala menjadi Ruhi (roh)
Gusar dan masam pada bumi (menolak dunia)
w \ Tasawuf yang diajarkan Hamzah Fansuri tidak menolak
dunia atau aktivitas keduniaan. Dalam sajak ini jelas ia tidak setuju
dengan para sufi palsu yang suka be rt apa atau menyingkirkan diri
ke hutan, menyiksa tubuh, tidak mau bergaul dengan masyarakatnya. Tuhan bisa dicari dalam diri kita sendiri dengan pemahaman
dan perenungan yang da l am, dan gratis ia dicari di hut an yang
18 sepi t anpa pemahaman diri yang mendalam. Kata Hamzah dalam
sajaknya yang lain:
Subhani itulah terlalu ajaib
Dari habbil-Warid Ia qarib
Indah sekali Qadi dan Khatib
Demikian hampir tidak mendapat nasib
Baris kedua sajak ini “habbil-Warid Ia qarib” adalah kutipan
Dari ayat suci bahwa “Dia lebih dekat dari pembuluh darah ki ta”.
Dia begitu indah sebagai Penghulu (Qadi) dan kha t ib kita. Di
dalam tasawufnya manusia tet ap dipandang sebagai hamba dan
sebagai hamba ia wajib menjalankan perintah Tuhan seperti shalat, <£ =
hanya dalam beragama sebaiknya manusia itu tidak bertaklid,
melainkan lebih mulia berijtihad:
Aho segala kita bernama Abid
Shalat dan Shahadat jangan kau taqlid
Dalam sajak ini, sebagaimana dalam sajak-sajaknya yang lain,
t ampak keterampilan Hamzah memainkan kata dan me robahnya
untuk kepentingan suara dan sajak, t anpa me Robah maknanya.
Misalnya kata-kata abdi menjadi abid, dan lain sebagainya
Sebagai seorang sufi, yang t ak terlalu memandang tinggi dunia
dan selalu berusaha menjauhkan diri dari penjajahan benda-benda,
ia t e r n y a ta seorang yang populis. Ia menganjurkan murid-muridnya, unt uk lebih dekat dengan orang kecil, dan selalu menjauhi,
atau melawan, penguasa yang lalim. Ka t anya:
Jika bersahabat dengan orang kaya
Akhirnya engkau jadi binasa
Anjurannya unt uk menjauhi penguasa yang lalim ia tulis
dalam sajak ini:
Aho segala kamu anak alim
19 Jangan bersahabat dengan yang zalim
Karena Rasulullah sempurna hakim
Melarangkan ki ta sekalian khadim
Aho segala kamu yang menjadi faqir
Jangan bersahabat dengan raja dan amir
Karena Rasulullah badïhir dan nasir
Melarangkan ki ta Saghir dan kabir
Bila ki ta kembali ke sajak-sajaknya tentang mencari
Tuhan, maka ki ta lihat di situ bagaimana seorang sufi lebih melet akkan kepercayaan kepada dirinya sendiri. Seorang sufi ingin
merealisir posisi manusia yang telah ditentuk an Tuhan dalam
kitab sucinya, yaitu sebagai khalifah. Ia berdaulat pada dirinya
sendiri, bebas melakukan pilihan dengan segala risikonya.
Seni, sebagaimana hidup, adalah realisasi diri sepenuhnya. Begitupun jalan untuk bertemu dengan Tuhan tidaklah bisa dicapai <fe =
t anpa upaya pembentukan diri, pencarian diri dan realisasi diri.
Di dalam upaya itu iradah atau kehendak berperan
penting unt uk ditingkatkan sehingga menya tu dengan kehendak
Tuhan.
Mengapa sufi memiliki keyakinan diri yang demikian besar?
Sebab hadits nabi menya t akan bahwa jika seseorang ingin me nge-F
nal Tuhannya, ia harus mengenal dirinya terlebih dahulu, dirinya
terdalam. Di dalam diri terdalam inilah te rdapat jendela unt uk
melihat Tuhan, te rdapat cermin unt uk menangkap cahaya Tuhan,
te rdapat alat perekam te rhadap suara-suara Tuhan.
Tuhan itu kreatif, karena itu manusia harus kreatif. Agaknya
ia menyalin surat Annur ketika menulis sajak ini, yang menyatakan pandangannya bahwa Tuhan itu kreatif:
Cahaya atharNya Tiadakan padam
Memberikan wujud pada sekalian
Menjadikan mahluq siang dan malam
IIA abadi’l-abad Tiadakan karam
20 Dari sajaknya ini ki ta t ahu bahwa Hamzah memandang Tuhan
sebagai penc ipta dan ada perbedaan ant a ra manusia sebagai hamba
dengan Tuhannya i tu. Tapi pada hakeka tnya manusia itu juga merupakan faset-faset dari wujud ilahi, karena manusia memang
diciptakan me n u r ut gambaran Tuhan.
Dalam sebuah ungkapan simboliknya ia mengatakan bahwa
“Wujud T uhann ya dengan wujud dirinya esa juga.” Ungkapan ini
harus diartikan sebagai t ahap terakhir dari perjalanan seorang sufi,
yaitu makrifat, di mana kehendak manusia dengan Tuhan telah
menya tu, sebab kata-kata “Wujud” di sini tidak bisa diartikan
sebagai ada secara fisik, melainkan sebagai “keberadaan” atau
“Eksistensi”. Dengan ka ta lain seorang yang telah mencapai
makrifat dengan sendirinya mampu memancarkan keberadaan
Tuhan di dunia, mampu menunjukkan kebe sar an Tuhan, mampu
mengemban sifat-sifat ilahi yang diberikan kepadanya. Sebab
kehendaknya telah menya tu dengan kehendak Tuhan, tidak berpisah dengan Tuhan.
Bahwa ia menolak faham hului, faham keleburan seleburl eburnya dengan Tuhan sehingga pribadinya lenyap di lautan
ke tuhanan, t amp ak dalam sajaknya ini:
Aho segala ki ta umat Rasuli
T u n t ut ilmu hakikat al-wusul
Karena ilmu itu pada Allah qabul
I ‘t iqadmu jangan Ittihad dan hului
Seorang theolog Kristen, Dr Harun Hadiwijono dalam bukunya
“Keba t inan Islam Abad XVI” (J aka r ta = 1975) memberi koment ar
t ent ang karya Hamzah Fansuri yang masyhur “Asrar al-Arifin”
bahwa Hamzah memulai ajarannya dengan mengemukakan hal
Allah yang sama dengan Allah yang diajarkan oleh para ulama Islam. Ia bertitik tolak dari pandangan bahwa Allah adalah Mahasuci
dan Mahatinggi, yang menc ipt akan manusia. J adi Tuhan t e t ap
be rkedudukan sebagai penc ipt a.
Namun sayang meskipun Harun Hadiwijono menyadari bahwa,
21 anjuran Hamzah Fansuri pada awal bukunya itu menganjurkan agar sekalian anak Adam yang Islam wajib mencari Tuhan
yang menjadikannya sebagai tidak bertentangan dengan Islam,
ia ‘toh berkesimpulan juga:’ T eta pi jika ajaran Hamzah ini kita selidiki lebih mendalam dan dihubungkan dengan seluruh ajarannya,
maka akan t ampakl ah, bahwa Hamzah menyimpang dari ajaran
ulama ortodo ks Tuhan Allah lebih dipandang dari segi
filsafat dari pada segi relegius. “ig =
Dengan memakai kritik para ulama ortodo ks seperti Nuruddin Arraniri ia seakan-akan ingin menya t akan bahwa tasawuf
itu asing dari Islam, seperti dika t akannya. “Dari segala kut ipan ini
jelaslah kiranya bahwa gambaran Hamzah t ent ang Allah tidak sama dengan gambaran Al-Qur ‘an. “Sebab oleh Hamzah Fansuri
Dzat yang Mutlak itu diibaratkan sebagai laut, baik sebagai laut
batiniah (bahr al-butun) laut yang dalam (bahr al-‘amiq) dan laut
yang mulia (bahr al-ulyan).
Memang tidak sedikit kalangan non-Islam kurang memahami
hubungan yang mendalam antara tasawuf dan Islam be rpendapat
serupa i tu, seakan-akan tasawuf itu tidak bersumber dari Islam dan
asing dari ajaran Islam yang hakiki. Bahwa Tuhan juga sering diibaratkan dalam Al-Qur’an bisa dilihat misalnya dalam surat Annur ayat 3 5, di mana Tuhan diibaratkan sebagai cahaya di atas
cahaya. Para penyair sufi kemudian ten tu saja tidak terlarang
menc ipt akan ibarat-ibarat lain sesuai dengan penemuannya sendiri.
Dalam bukunya “Janji-janji I sl umum” (terj. HM Rasjidi, J aka r ta:
1982) Roger Garaudy, melalui sebuah penelitian yang menda l umum,
malah membant ah bahwa tasawuf asing dari ajaran Islam. Ia mengatakan bahwa tasawuf adalah suatu bentuk spiritualitas yang
khusus dalam Islam dan merupakan keseimbangan ant a ra jihad besar-
(Yaitu perjuangan melawan tiap keinginan yang membelokkan
manusia dari s ent rumnya, yaitu T uhan), dan jihad kecil (yaitu
usaha unt uk kesatuan dan keharmonisan masyarakat Islam melawan segala bentuk kemusyrikan kekuasaan, kekayaan dan penget ahuan yang salah yang akan menjauhkan manusia dari jalan Allah).
22 Meskipun Roger Garaudy mengakui adanya pengaruh mistik
dari agama lain te rhadap tasawuf, ia tet ap menya t akan bahwa
tasawuf yang sejati bersumber dari Al-Qur’an. Ia memberikan
contoh dua hal yang sangat pokok dari ajaran para sufi, yaitu:
(1). Menanamkan rasi cinta kepada Tuhan, yang sesuai dengan
ayat 31 surat Al-Imran “Ka t akan (hai Muhammad), jika kamu
mencintai Tuhan ikutilah aku, Tuhan akan mencintaimu dan
mengampuni dos a-dos amu. ::; (2). Tidak seperti mistik Kristen,
tasawuf Islam tidak puas dengan sekedar pemikiran t ent ang
Tuhan yang berakhir dengan rasa bersatu dengan Tuhan. Dari
pengalaman bersatu dengan Tuhan, ia hanya mengambil energi ^
unt uk mencurahkan t indakannya kepada “amar ma ‘ruf” kepada
realisasi masyarakat manusia, sebab Al-Qur’an sendiri dalam surat
Al-Imran ayat 30 menya t akan bahwa manusia itu adalah khalifahkhalifah Allah di mu ka bumi, yang bertanggung jawab te rhadap
keseimbangan dan keserasian ant a ra alam dan manusia.
Kesalahan memandang bahwa paham wujudlah yang dibawakan Hamzah Fansuri itu menyimpang dari ajaran Islam agaknya
bersumber dari kenyataan bahwa faham itu melahirkan kaum
zindiq yang memang menyimpang dari ajaran agama. Tapi Hamzah
Fansuri melalui sajak-sajaknya telah menunjukkan bahwa ia tidak
sefaham dengan kaum zindiq i tu, yaitu golongan wujudlah yang
berhaluan mulhidah (menyimpang dari kebena r an). Hamzah t e t ap
berpegang pada wujudlah yang murni, yang klasik, yang belum
menyimpang yang disebut muwahhidah (kesatuan dengan Tuhan).
Agaknya unt uk membe tulkan kesalahpahaman ini perlu dijelaskan mengapa mereka disebut sebagai kaum wujudlah. Disebut demikian karena dalam percakapan dan keyakinannya mereka selalu bertolak pada faham bahwa Tuhan itu immanen, di
Selain tr ans enden, atau bertolak dari masalah wujud Tuhan.
Keyakinan semacam i tu berangkat dari kepercayaan bahwa Tiada
Tuhan selain Allah (la ilahailallah). Bagi kaum sufi kalimat ini
be rarti: Tak ada ada dalam diriku yang menye l ama tkan ada
Tuhan yang adalah wujudku. Eesensi Tuhan, juga sifat-sifatNya,
t ampak dalam hasil pekerjaannya yang tampak di dunia ini,
dalam ruang dan wa k t u.
23 Hamzah Fansuri menulis dalam bahasanya sendiri sebagai berikut.
Wujudnya itu umpama da’irah yang buntu
Nentiasa tetap, tidak berkisar
Kelakuannya saja yang berubah-ubah
Mengenal Dia terlalu sulit
Dalam “Syair Perahu” nya lebih jelas lagi titik tolak Hamzah
Fansuri, katanya:
La ilaha illallaah itu firman
Tuhan itulah ketergantungan alam semesta
iman tersurat pada hati insan
siang dan malam jangan dilalaikan
La ilaha illallaah itu tempat mengintai
Tauhid ma’rifat semata-mata
memandang yang gaib semuanya rata
lenyapkan sekalian kita
La ilaha illallaah itu jangan kaupermudah
sekalian mahluk ke sana berpindah
da’im dan ka’im jangan berubah
khalak di sana dengan La ilaha illallaah
La ilaha illallaah itu jangan kaulalaikan
siang dan malam jangan kausunyikan
selama hidup juga engkau pakaikan
Allah dan Rasul juga yang menyampaikan
Atau bait ini:
La ilaha illallah itu tempat mengintai
bidang yang KADIM tempat berdamai
wujud Allah terlalu bitai
siang dan malam jangan bercerai
24 Berdasar sajak-sajaknya ini, dalam pengantar terjemahan sajaksajak Iqbal “Asrar-i-khudi” (J aka RTA: 1976) Bahrum Rangkuti
menyetujui pandangan Dr. Van Nieuwenhuyze dalam b u k u n y a,;:
mengenai Syamsudin Al-Samatrani, sufi Aceh yang hidup sejaman?
dan sehaluan dengan Hamzah Fansuri. Menurut Nieuwenhuyze
kondisi yang dialami mistik Islam memang ment akjubkan. Ia bersifatkan ikhtisar pergandaan (tweekedigheid). Di satu pihak
ada ada yang fenomenal, yang tampak yang di s ebut wahmi,
di pihak lain ada wujud kesegalaan, ya i tu wujud tunggal yang hadir
dalam segala hal. Pada hakeka tnya mistik yang demikian itu adalah
“Ma’rifa j ami ‘abainah uma” (ilmu yang melingkupi dan menjembatani keduanya).
Dengan demikian cita t auhid Islam tet ap terpelihara, hubungan
lahir dengan Islam tidak terputus, pakaian Islam tidak hilang,
sebab kondisi antara khalik dan mahluk masih tet ap terpelihara,
bahkan perbedaan keduanya dinya t akan sebagai positif dan negatif. Bahrum Rangkuti selanjutnya be rpendapat bahwa Hamzah
Fansuri dan Syamsudin Al-Syamatrani sebenarnya hendak mewujudkan bahwa segala ini berpusat pada Allah. Di sini Bahrum Rangkuti berpegang pada apa yang dinya t akan Hamzah Fansuri dalam
sajak-sajaknya. Allah meliputi alam semesta, dengan tegas dinyatakan oleh Hamzah Fansuri. Tapi menusia bisa memperoleh kepribadian dan bisa sampai kepada Tuhan hanya dengan “taraqqi”, ^
yaitu berusaha me n umb uhk an sifat-sifat Tuhan dalam dirinya
dengan sungguh-sungguh. Hamzah Fansuri misalnya me n y a t a k a n:
La ilaha illallah itu kesudahan ka ta
t auhid ma’rifat semata-mata
hapus ingin sekalian hal
hamba dan Tuhan tidak berbeda
Menurut Bahrum Rangkuti yang dimaksud dengan bait ini
adalah diselaraskannya kemauan, pikiran, amal dan cita Insanul
kamil dengan kemauan T uhan, sehingga seolah-olah segala gerak
cita insan itu adalah gerak cita Tuhan juga. Hanya salah pengertian
saja te rhadap pe rumpama an-pe rumpama an yang dilukiskan Ham-
25 zah dalam sajak-sajaknya, yang memb u at Nuruddin Arraniri
menent ang habis-habisan ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsudin
Al-Syamatrani.
S S. Naguib Al-Attas dalam bukunya yang telah dikutif di bagian
awal tulisan ini, lebih jauh menya t akan bahwa tasawuf yang dibawa Hamzah Fansuri pada akhir abad ke-16 itu adalah tasawuf
klasik yang belum tercemar oleh ajaran yang sesat. Ini terbuk ti dari kut ipan langsung sajak-sajak sufi Persia yang awal dalam buku-
\ J buku Hamzah Fansuri. Namun sayang, ka ta Al-Attas, ketika Hamzah Fansuri merasa kembali di Indonesia, yakni sepulangnya dari
Persia, pengertian tasawuf telah dikorupsi dan mengalami degenerasi. Gejala pemalsuan tasawuf ini pertama muncul di India
pada jaman dinasti Moghul, dan kemudian oleh orang-orang
India tasawuf palsu ini disebarkan pula ke Indonesia. Ketika
Nuruddin Arraniri t iba di Sumatera, yaitu menjelang wafatnya
Sultan Iskandar Muda, ia membawa pengertian tasawuf yang salah
pula yang didapa tkannya di India, khususnya faham wUjudiah.
Di India ia terbiasa melihat tasawuf yang diselewengkan dengan
berbagai praktek-klenik dan pedukunannya yang bertujuan menumpuk kekayaan. Hamzah Fansuri juga melihat kenya t a an ini
sepulang dari Persia, namun buru-buru dia sendiri memperoleh
pemahaman yang salah dari Nuruddin Arraniri. Agaknya, Nuruddin belum s empat mendalami karya-karya Hamzah Fansuri secara
menyeluruh sebelum melahirkan pe rt ent angannya, atau ada halhal lain yang berlatar-belakang politik maka ia menyerang Hamzah
dan Syamsuddin habis-habisan. Labih-lebih mengingat posisi
Syamsudin sebagai kadi agung di istana Sultan Iskandar Muda,
yang memb u at ajarannya leluasa tersebar.
Bait-bait yang dipe t ik dari “Syair P erahu” ini akan menunjukkan betapa Hamzah Fansuri tidak meninggalkan tauhid dan
rukun iman.
1
Inilah gerangan sua tu madah
mengarangkan syair terlalu indah
26 membe tuli jalan t e m p at berpindah
di sanalah i’tikad diperbetuli sudah
2
Wahai mu da kenali dirimu
adalah, perahu tamsil t u b u hmu
tiadalah berapa lama hidupmu
ke akhirat jua kekal diammu
3
Hai muda arif budiman
hasilkan kemudi dengan pedoman
alat pe r ahumu jua kerjakan
itulah jalan membe tuli insan
19
Ingati sungguh siang dan malam
lautnya deras be r t ambah dalam
anginpun keras OMB a k n ya rencam
ingati perahu jangan tenggelam
21
Sampailah Minggu dengan masanya
datanglah angin dengan paksanya
berlayar perahu sidang budimannya
berlayar itu dengan kelengkapannya
22
Wujud Allah nama pe r ahunya
ilmu Allah akan kurungnya
iman Allah nama kemudinya
yakin akan Allah nama pawangnya
30
T untu ti ilmu jangan kepalang di dalam kub ur terbaring seorang
Munkar wa Nakir ke sana da t ang
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang
33
Kenal dirimu hai anak Adam
t a tka la di dunia terangnya alam
sekarang di k u b ur t emp a tmu kelam
tiadalah berbeda siang dan malam
Sajak-sajak ini benar-benar indah. Pemilihan imaji-imaji simbol iknya tep at dan menggugah. Pemakaiannya pun konsisten dan
perulangan-perulangan yang te rdapat di da l umumnya membawa ki ta
pada suasana ekstase sebagaimana dalam zikir, sehingga ki ta membayangkan bahwa ada keserasian ant a ra bentuk dan isi.
Penamaan syair kepada sajak itu sebenarnya menimbulkan
persoalan, karena bentukn ya yang emp at baris i tu. Syair berasal
Dari kata-kata Arab “shi ‘ir” yang berarti puisi, bukan sajak empat
baris. Karena itu diragukan bahwa Hamzah Fansuri menggunakan
nama syair u n t uk sajak-sajaknya i tu. Sajak empat baris seperti
itu agaknya lebih kena, sebab sudah barang ten tu Hamzah tidak
asing dengan b e n t uk persajakan Persia i tu.
Naguib Al-Attas juga mempertanyakan hal i tu. Namun masalah
yang tak kalah penting yang diajukan Naguib Al-Attas adalah apakah sudah ada buku-buku uraian tasawuf dalam bahasa Melayu
sebelum Hamzah Fansuri? Persoalan itu dijawab sendiri oleh AlAttas.
Menurut Al-Attas memang belum dike t emukan tulisan yang
menguraikan tasawuf secara jelas dan rinci dalam bahasa
Melayu sebelum munculnya karya-karya Hamzah Fansuri seperti
“Asrarul Arifien”, “Sharabul Ashiqin” dan “Mu ntahi”. Ini
tidak dike t emukan tanda-tanda semaraknya sastra Melayu sejak
kedatangan Islam di Sumatera sebelum Hamzah Fansuri menulis
rubayatn ya seperti “Syair Pe r ahu”, “Syair Dagang”, “Syair
Burung pingai “dan sebagainya.
28 Dengan Hamzah Fansuri, ka ta Al-Attas lebih lanjut, perkembangan bahasa Melayu menjadi pesat. Pengaruhnya luar biasa di
kalangan cendikiawan Indonesia. Ia banyak menambah perbendaharaan kata-kata Melayu sedemikian banyaknya karena pengetahuannya yang luas dalam bahasa Arab dan Persia. Dengan sendirinya, ia pun membawa pula pembaha ruan di bidang logika atau
mant iq, karena masalah bahasa bersangkutan pa ut dengan masalah
logika dan pemikiran.
Pada j amannya pula tidak ada yang mampu menandingi Hamzah Fansuri dalam kesusastraan. Karya-karyanya berpengaruh
besar dalam gaya maupun thema te rhadap sastra Melayu berikutnya. Pada masanya, buku-buku uraian tasawuf dan keagamaan
kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab. Misalnya buku-buku yang
disebut-sebut dalam “Sejarah Me l ayu” seperti “Durrul Manzum”
(Benang Mutiara) dan “Al-Sayful Q ati” (Pedang Tajam) Dalam
bukun ya “Sha r abul Ashiqin”, di mana ia membicarakan pentingnya syariah unt uk dilaksanakan, Hamzah sendiri menya t akan
bahwa ia mengerjakan ka ryanya dalam bahasa Melayu untuk
pembaca yang tidak mengerti bahasa Arab dan Persia.
Dengan demikian, apabila belum juga dike t emukan karyakarya berbahasa Melayu yang sama berisi dan segar bahasanya
seperti karya Hamzah, maka Hamzah Fansuri sudah sepantasnya
mendapa tkan gelar sebagai Bapak Bahasa dan Sastra Indonesia
Sebutan ini layak diberikan kepadanya sebagai penghargaan
t e rhadap jerih payah dan mu tu karya-karyanya.
J aka r ta 12 November 1983 Daftar Bacaan
1. Syed Muhammad Naguib Al-Attas “T he mysticism of Hamzah
Fansur i “(University of Indonesian Press, Kuala L ump ur; 1970)
2. Syed Muhammad Naguib Al-Attas “Raniri dan The Wujudiyyah of 17th Century A cheh” (MBRAS, Singapore; 1966)
3. V.Y. Braginsky “Some Remarks on The St RUC ture of The
Syair Perahu By Hamzah F ansuri “(Bijdragen deel 1973)
4. J. Doerenbos “De Geschrieften van Hamzah Pansoe ri” (Leiden 1933)
5. Annemarie Schimmel “Mystical Dimensions of Islam” University of Nor th Carolina Press, Chapel Hill: 1975)
6. R.A. Nicholson “Studies in Islamic mysticism” (Cambridge
University Press 1980 – r EPR int ed)
7. Dr. Harun Hadiwijono “Keba t inan Islam Abad XVI” (BPK
Gunung Mulia, J a k a r t a: 1975)
8. Bahrum Rangkuti “Asrar-i-khudi Mohamad I qbal” (Bulan
Bintang J a k a r t a: 1966)
9. Roger Garaudy “Janji-janji I sl umum” (terj. HM Rasjidi, Bulan
Bintang, J a k a r ta 1 9 8 2)
30 SYAIR PERAHU
Inilah gerangan suatu madah,
mengarangkan syair terlalu indah,
membe tuli jalan t emp at be rpindah,
disanalah i’tikat ‘diperbetuli sudah
Wahai muda, kenali dirimu,
adalah perahu tamsil t u b u h m u,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu
Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat pe r ahumu jua kerjakan,
itulah jalan membe tuli insan.
Perteguh j ua alat pe r ahumu,
hasilkan bekal air dan k a y u,
dayung pengayuh t a ruh disitu.
sehingga laju pe r ahumu i tu.
1 imam. HAaaq m
Sudahlah hasil kayu dan a y a r
2
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir
  3
.
Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah disana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.
Muaranya dalam, ikanpun banyak,
disanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak,
keatas pasir kamu tersesak.
Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam * ombaknya karang,
ikanpun banyak datang menyarang,
hendak membawa ketengah sawang.
2 air; 3 besar.
4 kacau
memi 1 Muaranya itu terlalu sempit,
dimanakan lalu sampan dan rakit,
jikalau ada pedoman dikapi t,
sempurnalah jalan terlalu ba’id
  2
.
Baiklah perahu engkau pe r t eguh,
hasilkan 3 pendapat
 4
 dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh
  5
.
pul aunya j auh t emp at berlabuh.
Lengkapi penda r at dan tali sauh,
derasmu banyak be r t emu musuh,
selebu
 6
 rencam
 7
 ombaknya c abuh,
LIIA
 8
 akan tali yang teguh.
Barang siapa bergantung disitu,
t eduhl ah selebu yang rencam i t u,
pedoman be tuli pe r ahumu laju,
selamat engkau ke pulau i tu.
; 2 jauh; 3 ikatkan; 4 tali penambat ke darat; 5 kacau dan riuh;
6 samudera; 7 kacau dan memusingkan; 8 baca: La Uaha illa’llahu.
33 LIIA jua yang engkau ikut,
di laut keras topan dan r ibut,
hiu dan paus di belakang me n u r u t,
pe r t e t apl ah kemudi jangan terkejut.
Laut Silan terlalu dalam,
disanalah perahu rusak dan karam,
meskipun banyak disana menye l umum,
larang mendapat pe rma ta nilam ‘.
Laut Silan wahid al kahhar
  2
,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan (mem) belok sengkar
  3
,
perbaik kemudi jangan berkisar.
Itulah laut yang maha indah,
kesanalah kita semuanya be rpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah,
selamatlah engkau sempurna musyahadah
 4
1 sejenis batu yang indah; 2 yang berwenang; disini laut Silan dibandingkan
dengan wujud Tuhan; 3 balok atau papan melintang di kapal; 4 mengetahui
dan mengalami Tuhan dalam batin menurut ilmu suluk;
34 Silan itu ombaknya kisah
  5
,
banyaklah akan kesana be rpindah,
topan dan r ibut terlalu ‘azamah
  6
,
perbetuli pedoman jangan be rubah.
Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit
 7
 pada sekalian alam,
banyaklah disana rusak dan karam
perbaiki na’am
  8
, Siang dan malam.
Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras be r t ambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam,
Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi t e d u h,
t ambahan selalu t e t ap yang c abuh,
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.
5 cerita; 6 hebat:
7 sangat luas, meliputi segala sesuatu;
8 na’am: ya, disini agaknya pengakuan. Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budiman (nya),
berlayar itu dengan kelengkapannya.
Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan ‘,
iman Allah nama kemudinya,
“Yakin akan Al l ah” nama pawangnya.
“Taha r at
 2
 dan istinja “
 3
 nama lantainya,
“Kufur
 4
 dan ma s i a t “
 s
 air ruangnya,
tawakkul akan Allah j u r u b a t u n y a,
tauhid itu akan sauhnya.
LIIA akan talinya,
kamal
 6
 Allah akan tiangnya,
as salam alaikum akan tali lenggangnya,
t a at dan ibadat anak dayungnya.
1 dalam naskahnya tidak terbaca; 2 suci; 3 bersuci; 4 tidak percaya;
5 durhaka; 6 kesempurnaan.
36 Salat akan nabi tali bubut annya,
istigfar ‘Allah akan layarnya,
“Allahu a k b a r” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.
“Wallahu a ‘a l umum” nama r ant aunya,
“Iradat
 2
 Al l ah “nama banda rnya,
“K u d r at Al l ah” nama l abuhannya,
“Surga j a n n at an n a ‘i m”
 3
 nama negerinya.
Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair t emp at be rpindah,
didalam dunia janganlah t a r r i ‘ah
4
,
didalam kubur berkhalwat sudah.
Kenal dirimu didalam k u b u r,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan b e r t u t u r,
dibalik papan badan t e rhancur.
1 permintaan ampun; 2 kemauan; 3 surga yang nikmat; 4 loba;
37 Didalam dunia banyaklah mamang
  5
,
ke akhirat jua t emp a tmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.
T u n t u ti ilmu jangan kepalang,
dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir
 6
 kesana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang
Tongkatnya lekat tidak terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan l enyap,
6 kedua malaikat yang menurut kepercayaan menanyai orang yang
mati didalam kuburannya; 7 hilang sejajar.
38 Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu be r t ambah garang
tongka tnya besar terlalu panjang,
c abuknya banyak tidak terbilang.
Kenal dirimu, hai anak Adam!
t a tka la di dunia terangnya alam,
sekarang di k u b ur t emp a tmu kelam,
tidak berbeda siang dan malam.
Kenal dirimu, hai anak dagang!
dibalik papan t idur t e r l ent ang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan bicara?
LIIA itu firman,
Tuhan itulah ketergantungan alam semesta,
iman t e r sur at pada ha ti insap,
siang dan malam jangan dilalaikan. LIIA itu terlalu nya t a,
t auhid ma’rifat ‘semata-mata,
memandang yang gaib semuanya r a t a,
lenyapkan kesana sekalian ki t a.
LIIA itu jangan kaupe rmudah-mudah.
siapa kesana berpindah,
da’im
 2
 dan ka’im
 3
 jangan be rubah,
khalak
 4
 disana dengan LIIA.
LIIA itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kausunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan
LIIA itu ka ta yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian r u s u h,
jin dan setan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.
1 pengetahuan tentang zat Allah yang dalam; 2 permanen; 3 teguh; 4 yang
dijadikan; makhluk. LIIA itu kesudahan ka t a,
tauhid ma’rif at semata.
hapus ingin sekalian hal,
hamba dan Tuhan tidak berbeda.
LIIA itu t emp at mengintai
bidang yang KADIM ‘t empat berdamai,
wujud Allah terlau b i t a i
2
,
siang dan malam jangan bercerai.
LIIA itu t emp at musyahadah,
menya t akan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pe r t emuan Tuhan terlalu susah.
Dari: DE GESCHRIFTEN VAN HAMZAH PANSOERl
(Dissertatie J. Doorenbos).

Iklan
2 Oktober 2012

ADAM, ALLAH DAN MUHAMMAD TIDAK TERPISAH

oleh alifbraja

ADAM, ALLAH DAN MUHAMMAD TIDAK TERPISAH

Adam adalah seorang manusia yang di cipta oleh Allah s.w.t, yang dimaksudkan manusia itu ialah apabila Rohani itu sudah memiliki jasad (manus adalah jasmani sementara ia ialah Rohani) jika ada jasmani tanpa Rohani maka ia bukan manusia, demikian juga jika Rohani tanpa jasmani maka ia bukan manusia, maka yang dimaksudkan manusia itu adalah zuriat daripada Adam sebagaimana firman Allah menyatakan:

Maksudnya: Dan sesungguhnya Kami telah muliakan Bani Adam, dan Kami angkat mereka di darat dan juga di laut dan Kami beri rezeki yang baik, dan sesungguhnya Kami lebihkan mereka dari kebanyakan (makhluk) yang telah Kami jadikan sebenar-benar kelebihan ( Al Israk 70) Di atas pemberian Allah kepada bani Adam gelaran sebagai makhluk yang di muliakan maka manusia menjadi makhluk yang terpuji dan mulia, dan makhluk terpuji itu adalah bernama Muhammad, kerana Muhammad itu bermaksud terpuji, dan yang terpuji itu adalah yang sebaik-baik kejadian seperti mana firman Allah menyatakan:

Maksudnya: Sesungguhnya Kami jadikan Insan itu sebaik-baik kejadian ( At Tin 4 ) Ayat yang di atas menerangkan bahwa insan itu adalah sebaik-baik kejadian, sem entara Allah pula beserta dengan Insan tersebut sebagaimana firman Allah menyata kan:

Maksudnya: Dan Allah beserta kamu dimana juga kamu berada ( Al Hadid 4 ) Ayat yangdiatas menunjukkan bahwa Allah tetap bersama manusia di mana juga manusia itu berada, ertinya manusia dan Allah tidak bercerai, ertinya Adam dan Allah tidak mungkin bercerai, jika demikian mengapa Azazil dapat menyesatkan Adam dan isterinya Siti Hawa ? Di sinilah timbul persoalan dan keraguan yang akhirnya melahirkan ilmu yang lebih khusus tentang istilah di antara Muhammad dan Allah itu, logiknya setan tidak boleh menggelincirkan Adam jika Allah beserta manusia(Adam)Di sebabkan manusia itu ada kelebihan maka kelebihan tersebut pula di katakan melahirkan suatu ilmu yang lebih khusus kerana masalah Adam dapat di sesatkan oleh syaitan walaupun Adam beserta Allah, jadi apakah ilmu yang lebih khusus itu suatu yang dapat dicapai oleh manusia, kerana itu untuk menyelesaikannya mari kita tinjau dalam bentuk soal jawab Soalan: Dimanakah letaknya kelebihan manusia jika di bandingkan dengan makhluk Allah yang lain ? Jawapan: Kelebihan di antara manusia dan makhluk terletak pada lembaga akal manusia kerana lembaga akal maka manusia itu di kenali sebagai manusia, jika manusia tiada lembaga akal maka manusia itu setaraf dengan haiwan dan syaitan Soalan: Bukankah manusia itu sebaik-baik kejadian dan mengapa ada di antara manusia itu berperangai syaitan dan haiwan ? Jawapan: Manusia berperangai syaitan dan haiwan kerana adanya hawa kepada nafsu tersebut dan ia adalah suatu fitrah daripada Allah s.w.t Soalan: Jika demikian manusia yang dikatakan sempurna itu adalah sesuatu yang tidak mutlak ? Jawapan : Untuk mendapatkan jawapannya maka kita kena faham siapa yang di maksudkan Insan yang mulia tersebut, adapun yang di maksudkan Insan yang sempurna kejadian tersebut ialah diri sebenar diri manusia yang di kenali sebagai Insan atau nyawa atau nafas atau Nur Muhammad naka dialah yang sempurna kerana itulah diri manusia terbahagi kepada empat istilah iaitu diri terdiri (jasmani) Diri terperi iaitu Ruhul Yaqaza h yang terdiri dari roh, Akal dan nafsu, sementara nafas atau nyawa kita di namakan diri sebenar diri, maka diri inilah yang di katakan Insan yang sempurna itu sementara diri tajalli ialah sifat Kamal yang tidak bercerai dengan Insan terseb ut Soalan: Siapakah yang sebenar diri Tajalli tersebut ? Jawapan: Diri Tajalli tersebut adalah Tuhan Yang Maha Esa yang menggerakkan manusia zahir dan batin yang bersifat Qadirun, Maridun, Alimun dan Hayyun Soalan: Mengapakah Allah tidak selamatkan Adam dari gangguan syaitan ? Jawapan: Allah wajib bersikap adil terhadap permintaan syaitan yang hendak menyesatkan Adam kerana syaitanpun makhluk Allah juga walaupun dia di rejam oleh Allah, atas permohonan syaitan tersebut Allah izinkan syaitan menggelincirkan Adam (manusia) akan tetapi Allah kurniakan Al Quran kepada manusia sebagai senjata melawan syaitan itu dan terpulanglah kepada manusia.

Katakan (wahai Muhammad) siapa yang memusuhi Jibril maka sebabnya ialah kerana Jibril itu menurunkan Al Quran di dalam hatimu dengan izin Allah (Al Baqarah 97)

22 Agustus 2012

Keadilan Tuhan….

oleh alifbraja

Seorang pengembara yang mencari kebenaran, suatu ketika berhenti di sebuah pohon beringin besar….pengembara ini kemudian duduk bersandar pada batang pohon beringin tersebut…tanpa sengaja matanya menatap buah yang tergantung pada ranting pohon beringin tersebut yang tampak tidak sebanding dengan pohonnya yang begitu gagah dan besar…dia lalu bergumam dalam hatinya…Betapa tak adilnya Tuhan .membikin pohon beringin dengan pohon yang besar tetapi berbuah kecil..
Ketika agak lama bersandar tiba-tiba di lihatnya seekor kuda yang berjalan dikendarai seseorang.Pengembara itupun kemudian membati alam hatinya..ah betapa tak adilnya tuhan…burung yang kecil diberi sayap tetapi kuda yang besar malah tak diberi sayap,di antara angin sepoi ditambah dengan tubuh yang letih tanpa disadari kemudian tertidurlah pengembara itu dengan tetap bersandar pada batang pohon beringin.
Tak lama kemudian jatuhlah sebiji buah beringin dan tepat mengenai hidung si pengembara…terbangunlah si pengembara dari tidurnya….sambil memijit-mijit hidungnya..ketika berjalan baru beberapa langkah..jatuh tepat mengenai pundaknya kotoran burung pipit..
pengembara itu pun merenung..lalu terbayanglah olehnya…seandainya saja buah beringin itu besar..tentu tewaslah ia karena kejatuhan buahnya..untunglah buah beringin kecil…seandainya kuda bersayap..lalu buang kotoran dari udara..tentu betapa akan menjadi kacau mereka yang di bawah…lalu menangis dan memohon ampunalah si pengembara..atas kekurangajarannya telah mengomentari yang tidak-tidak terhadap keadilan Tuhan….
sahabat…renungi kisah diatas….kadang kita sering merasa tuhan tidak adil pada kita…atas apa-apa yang menimpah kita entah itu bernama putus cinta. lambat jodoh,..hidung kurang mancung,..orangtua ,.atau orang yang kita kasihi pergi,..atau kecelakaan….,tetapi setelah kelak kabut ke tak fahaman mulai hilang dari akal fikiran kita,barulah kita dapat melihat betapa semua peristiwa didunia terjadi atas keadilanNya yang sangat sempurna.
.” Tuhanku…tiadalah sesungguhnya Engkau ciptakan ini dengan sia-sia..
Maha Suci Engkau….”( Q>S Al Imron 190-191)

15 Agustus 2012

RAHASIA ASHHABUL KAHFI

oleh alifbraja

RAHASIA ASHHABUL KAHFI

keyword-
images Selama ini orang memandang peristiwa ashhabul kahfi sebagai sebuah keajaiban yang berasal dari Allah swt. Kisahnya sendiri berkisar tentang sekelompok pemuda yang mendapatkan hidayah dari Allah swt karena tidak mempercayai bahwa Raja mereka adalah tuhan. Namun karena takut jika tak mengakuinya sebagai tuhan mereka akan dihukum, maka para pemuda ini pun bersepakat melarikan diri keluar dari wilayah kerajaan.

Perjalanan itu sendiri dipimpin oleh salah satu pemuda yang bernama Tamlico. Sungguh Maha Besar Allah, di tengah perjalanan mereka bertemu dengan seorang penggembala yang akhirnya malah menjadi pengikut mereka. Dari informasi penggembala itulah akhirnya mereka menemukan sebuah gua untuk berlindung. Peristiwa ini terjadi sekitar tahun 408-450 M di masa pemerintahan Kaisar Theodosius II (Dyqianus). Untuk selanjutnya, kami rasa orang sudah banyak yang tahu hasil akhir ceritanya, apalagi Al Qur’an sendiri sudah menegaskannya dengan sangat jelas Di sini tidak akan dikemukakan secara detail cerita lengkapnya dari awal hingga akhir.

Apa yang akan dijelaskan hanyalah hal-hal yang berkaitan dengan peristiwa ashhabul kahfi menurut dunia sains. Gua para ashhabul kahfi ini tertidur terletak di sebuah kampung bernama Al Rahiib di wilayah Yordania. DR. Rafiq Wafa Al Dujani, seorang arkeolog asal Yordania, pada tahun 1963 melakukan riset terhadap gua ini.

Pada gua ini didapati 8 buah makam dan rahang anjing (rahang atas) di dekat pintu gua. Jumlah ashhabul kahfi ada 7 orang termasuk sang penggembala, sementara yang kedelapan adalah anjingnya. Jika yang lainnya dikuburkan secara berdampingan, maka si anjing dikuburkan di depan pintu gua, tempatnya berjaga dulu. Di tahun yang sama, Direktorat Benda Bersejarah Yordania dipimpin oleh DR. Rafiq Wafa Al Dujani, melakukan penggalian di wilayah Sahab atau sekitar 13 km sebelah tenggara kota Amman, ibukota Yordania. Dari penggalian itu ditemukan bukti- bukti sebagai berikut: Bukti Sejarah Di atas gua ditemukan sebuah bangunan yang dulunya diperkirakan adalah sebuah bangunan tempat ibadah. Bangunan itu terdiri dari 7 buah tiang batu yang tingginya tidak sempurna berbentuk bulat. Selain itu juga ditemukan sebuah mihrab berbentuk setengah lingkaran tepat di atas pintu gua.

Sedangkan di antara sisa-sisa tiang masjid terdapat sumur masjid yang dulunya digunakan untuk tempat berwudhu. Masjid tersebut mengalami renovasi berulangkali, termasuk saat Khalifah Al Muwaffaq dari Dinasti Abbasiyah berkuasa. Agaknya, tempat ibadah ini sengaja didirikan oleh salah satu penguasa tak lama berselang setelah para ashhabul kahfi meninggal dunia. Lalu oleh penguasa-penguasa selanjutnya bangunan ini dilestarikan dan berulangkali direnovasi hingga sekarang. Selain itu, di dalam gua juga ditemukan lemari kaca berisi tulang tengkorak anjing, beberapa keping uang logam, gelang dan cincin, manik-manik serta bejana yang terbuat dari tanah. Image Hosted by ImageShack.us B

ukti geologi Pakar geologi Nazhim Al Kailani menegaskan, debu gua dan wilayah Ar Raqiim bisa membantu menjaga kebugaran tubuh. Debu ini terdiri dari karbohidrat, kalsium, magnesium, serta galian tumbuh-tumbuhan dan binatang yang kaya radium. Bahan-bahan ini terdapat pada uranium dan turanium bersinar yang di antara keistimewaannya adalah menghasilkan sinar alfa, beta, dan gama. Jenis-jenis sinar ini memiliki pengaruh sangat besar untuk mensterilkan daging, tumbuh-tumbuhan, serta menjaga dan mengawetkan. Al Kailani meyakini bahwa keberadaan jenis debu (tanah) dengan segala jenis unsur dan keasaman yang terkandung didalamnya tersebut, jika direaksikan dengan sinar matahari, akan menjadi sarana pengawet jasad yang sangat baik.

Agar para Ashhabul Kahfi ini dapat tidur secara pulas dan tepat selama kurun waktu ratusan tahun, maka Allah swt melakukan hal-hal berikut: Menonaktifkan indera pendengaran ”Maka Kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam gua itu.” (QS. Al Kahfi: 11) Artinya, aktifitas pendengaran mereka benar-benar dihentikan secara total untuk sementara waktu. Yang demikian itu karena indera pendengaran adalah satu- satunya indera yang terus bekerja terus-menerus meskipun orang sedang tidur atau bahkan koma sekalipun.

Jadi, untuk menghindarkan para ashhabul kahfi ini terjaga sewaktu-waktu, maka indera pendengaran mereka harus dinonaktifkan untuk sementara waktu. Menghentikan tugas organ penggerak (scending reticular activating system) yang ada pada pangkal otak (Brainstem). Syaraf ini sendiri memiliki dua tugas; pertama, bertanggung jawab atas indera pendengaran, dan kedua bertugas untuk menstabilkan badan bagian dalam dan luar. Karena itulah Allah berfirman, ”Kami tutup telinga mereka…” dan bukan ”Kami tutup pendengaran mereka..” Artinya, penonaktifan fungsi-fungsi tubuh ini akan menyebabkan seorang manusia tertidur dengan sangat pulas karena kepekaannya kepada daya rangsang dibuat tidak sensitif. Indera pendengarnya seperti mati dan syaraf penggeraknya tak merasakan sakit, lapar, haus atau gangguan- gangguan lainnya. Sel dan jaringan hidup dalam tubuh mereka dipertahankan dalam temperatur panas rendah dan dibiarkan tidak berkembang, namun uniknya juga dijaga agar jangan sampai mati. Menjaga tubuh dalam keadaan tetap sehat secara medis Allah swt berfirman: ” Dan kamu mengira mereka itu bangun, padahal mereka tidur; Dan Kami balik-balikkan mereka ke kanan dan ke kiri, sedang anjing mereka mengunjurkan kedua lengannya di muka pintu gua. Dan jika kamu menyaksikan mereka tentulah kamu akan berpaling dari mereka dengan melarikan diri dan tentulah (hati) kamu akan dipenuhi oleh ketakutan terhadap mereka.” (QS. Al Kahfi: 18)

Tubuh mereka terus-menerus dibolak-balik dengan tujuan agar fisik mereka tidak rusak karena pengaruh alas tidur mereka pada badan mereka. Di sini sinar matahari juga berperan penting. Setiap hari tubuh mereka disinari oleh cahaya matahari di setiap pagi dan sore hari. Cahaya matahari ini berfungsi untuk memperkuat tulang-tulang serta jaringan tubuh dengan vitamin (vitamin D).

Selain itu, cahaya matahari juga berfungsi untuk mencegah gua dalam keadaan terlalu lembab dan pengap. Andai saja waktu itu ada orang yang melihatnya, kondisi mereka ini benar-benar akan dipandang aneh. Mereka bukan orang mati, orang yang melihatnya akan mengira kalau mereka sebenarnya sedang terjaga karena bisa bergerak-gerak dan berbolak-balik. Tapi orang juga akan merasa ketakutan karena mereka juga menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka bukan orang yang sedang terjaga dari tidur. Demikianlah, catatan-catatan yang kami buat di atas bisa saja salah perkiraan. Sebagai manusia kita hanya bisa membuat prediksi tentang peristiwa yang mungkin saja terjadi di masa lalu. Adapun kebenarannya kita serahkan kembali kepada ilmu Allah swt, Yang Maha Mengetahui segala hal.

12 Agustus 2012

Silsilah Sunan Kalijaga

oleh alifbraja

 

Sunan Kalijaga

 

Nama dan Asal-Usul

Pada waktu muda Sunan Kalijaga bernama Raden Said atau Jaka Said. Kemudian ia disebut juga dengan nama Syekh Malaya, Lokajaya, Raden Abdurraman dan Pangeran Tuban. Di dalam Babad Tanah Jawi disebut bahwa Raden Said adalah putra Tumenggung Wilatikta, Adipati Tuban. Sedangkan Arya Wilatikta, ayah Sunan Kalijaga, menurut Babad Tuban, adalah putra Arya Teja. Disebutkan pula bahwa Arya Teja bukanlah seorang pribumi jawa. Ia berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama. Ia berhasil mengislamkan Raja Tuban, Arya Dikara, dan memperoleh seorang putrinya. Dengan jalan ini ia akhirnya berhasil menjadi kepala negara Tuban, menggunakan kedudukan mertuanya. Akan tetapi Babad Tuban tidak menjelaskan mengenai asal-usul Arya Wilatikta, ayahanda Sunan Kalijaga itu.

Dalam Babad Cerbon naskah Nr. 36 koleksi Brandes, dijumpai keterangan bahwa ayahanda Sunan Kalijaga bernama Arya Sidik, dijuluki “Arya ing Tuban” Arya Sadik dipastikan merupakan perubahan dari nama Arya Sidik, dan nama ini merupakan nama asli dari ayahanda Sunan Kalijaga, yang menurut Babad Tuban bukan seorang pribumi jawa, melainkan berasal dari kalangan masyarakat Arab dan merupakan seorang ulama.

Tahun kelahiran serta wafat Sunan Kalijaga belum dapat dipastikan, hanya diperkirakan ia mencapai usia lanjut. Diperkirakan ia lahir ± 1450 M berdasarkan atas suatu sumber yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga kawin dengan putri Sunan Ampel pada usia ±20 tahun, yakni tahun 1470. Sedangkan Sunan Ampel lahir pada tahun 1401 dan mempunyai anak wanita yang dikawini oleh Sunan Kalijaga itu pada waktu ia berusia 50 tahun.

Masa hidupnya mengalami 3 masa pemerintahan, yaitu masa akhir Majapahit, zaman Kasultanna Demak dan Kasultanan Pajang. Kerajaan Majapahit runtuh pada tahun 1478 M, kemudian disusul Kasultanan  Demak berdiri pada tahun 1481-1546 M, dan disusul pula Kasultanan Pajang yang diperkirakan berakhir pada t ahun 1568 M. diperkirakan, pada tahun 1580 M Sunan Kalijaga wafat. Hal ini dapat dihubungkan dengan gelar kepala Perdikan Kadilangu semula adalah Sunan Hadi, tetapi pada Mas Jolang di Mataram (1601-1603), gelar itu diganti dengan sebutan Panembahan Hadi. Dengan demikian, Sunan Kalijaga sudah diganti putranya sebagai Kepala Perdikan Kadilangu sebelum zaman mas Jolang yaitu sejak berdirinya kesultanan Mataram pemerintahan Panembahan Senopati atau Sutawijaya (1675-1601). Dan pada awal pemerintahan Mataram, menurut Babad Tanah Jawi versi Meisma, dinyatakan Sunan Kalijaga pernah datang ke tempat kediaman Panembahan Senopati di Mataram memberikan saran bagaimana cara membangun kota.

Dengan demikian, Sunan Kalijaga diperkirakan hidupnya lebih dari 100 tahun lamanya yakni sejak pertengahan abad ke-15sampai dengan akhir abad 16.

Tentang asal-usul keturunannya, ada beberapa pendapat, ada yang menyatakan keturunan arab asli, yang lain menyatakan keturunan Cina, dan ada pula yang menyatakan keturunan Jawa asli. Masing-msing pendapat mempunyai sumber yang berbeda.

Dalam buku “De Handramaut et les Colonies Arabes dan’l Archipel Indian” Karya Mr. C.L.N. Van den Berg, Sunan Kalijaga disebutkan sebagai keturunan Arab asli. Bahkan di dalam buku tersebut tidak hanya Sunan Kalijaga saja yang dinyatakan sebagai keturunan Arab, tetapi juga semua Wali di Jawa.

Menurut buku tersebut, silsilah Sunan Kalijaga adalah sebagai berikut: Abdul Muthalib (nenek moyang Muhammad saw) berputra Abbas, berputra Abdul Wakhid, berputra Mudzakir, berputra Abdullah, berputra Kharmia, berputra Mubarrak, berputra Abdullah, berputra Madhra’uf, berputra Arifin, berputra Hasanudin, berputra Jamal, berputra Akhmad, berputra Abdullah, berputra Abbas, berputra Kouramas, berputra Abdur rakhim (Aria Teja, Bupati Tuban) berputra Teja Laku (Bupati Majapahit), berptra Lembu Kusuma (Bupati Tuban), berputra Tumenggung Wilatikta (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said (Sunann Kalijaga).

Kemudian pendapat yang menyatakan Sunan Kalijaga sebagia keturunan Cina di dasarkan atas buku “Kumpulan Cerita Lama dari kota Wali (Demak)” yang ditulis oleh S. Sunan Kalijaga sewaktu kecil bernama Said. Dia adalah keturunan seorang cina bernama Oei Tiktoo yang mempunyai putra bernama Wiratikta (Bupati Tuban). Bupati Wiratikta ini mempunyai anak laki-laki bernama Oei Sam Ik, dan terakhir di panggil Said.

Sedangkan pendapat yang menyatakan Sunan Kalijaga berdarah jawa asli, didasarkan atas sumber keterangan yang berasal dari keturunan Sunan Kalijaga sendiri. Silsilah menurut pendapat ketiga ini menyatakan bahwa moyang “Kalijaga adalah salah seorang panglima Raden Wijaya, raja pertama majapahit, yakni Ronggolawe yang kemudian diangkat menjadi Bupati Tuban. Seterusnya adipati Ronggolawe (Bupati Tuban), berputra Aria Teja I (bupati Tuban) berputra Aria Teja II (Bupati Tuban), berputra Aria Teja III (Bupati Tuban), berputra Raden Tumenggung Wilwatikta (Bupati Tuban), berputra Raden Mas Said (Sunan Klijaga). Menurut keterangan berdasar bukti yang ada pada makam, Aria Teja I dan II masih memeluk agama Syiwa, sedangkan Aria Teja III sudah memeluk Islam.

Terhadap pendapat-pendapat tersebut, terdapat sanggahan-sanggahan, terutama terhadap endapat yang menyatakan bahwa Sunan Kalijaga, dan juga para wali yang lain, adalah keturunan cina. Di antara para ahli yang menyatakan bahwa pendapat itu tidak benar adalah Prof. D.W.J. Drewes. Beliau adalah bekas guru Besar Sastra Arab di Fakultas der Aleteren pada Universitas Leiden dan berkas ketua Oosters Genooschap di Nederland, lahir pada tahun 1899 pernah memimpin balai pustaka (1930) di Jakarta danmenjadi guru besar Hukum Islam di Indonesia, dan sampai tahun 1970 beliau menjadi Guru Besar di Universitas Leiden, Nederland. Tanggapannya terhadap Prof. Dr. Slamet Mulyono yang menyatakan bahwa para wali adalah keturunan bahwa para wali adalah keturunan Cina adalah tidak benar, karena tidak mempunyai bukti. Sumber-sumber yang diambil yakni dari Babad Tanah Jawi, Serat Kanda, Kronik Cina dari Klenteng Semarang dan Talang, semua sumber itu tidak pernah dipeakai oleh padra sarjana sejarah. Sementara, sumber dari Reseden Poortman sudah lewat tangan ketiga.

Kemudian Prof. Dr. Tujimah, Guru Besar dalam Bahasa Arab dan Sejarah Islam di Fakultas Sastra Universitas Indonesia, juga tidak sependapat atas kesimpulan yang mengatakan bahwa para wali adalah keturunan Cina. Beberapa alasan yang dikemukakan adalah:

1.    Sumber-sumber dari kesimpulan itu dari Babad Tanah Jawi, Serta Kanda, Kronik Cinta Semarang dan Talang yang belum banyak dipakai sarjana.

2.    Prof. Slamet Mulyana mendapat sumber dari tangan ketiga (dua orang) yaitu lewat Residen Poortman dan Ir. Parlindungan.

3.    Sumber-sumber babad itu penuh dengan dongeng dan legenda.

4.    Sumber-sumber Portugis yang ada digunakan

5.    Lebih memberatkan dan menerima 100% sumber Cina, atau membesar-besarkan pengaruh Cina.

6.    Mungkin ada nama-nama pribumi asli yang dibaca atau ditulis menurut Lidah Cina. Pengaruh setiap bahasa dan lidah sesuatu bangsa lain memungkinkan terjadi penyesuaian ejaan, seperti khabar menjadi kabar (bahasa Arab), lebih-lebih pendatang baru bangsa Cina yang disebut tokelja, sabar menjadi sabal, dan sebagainya. Akhirnya terjadilah seperti yang dikira, terdapat nama-nama yang berubah dari nama asalnya, seperti di dalam naskah Poortman, Kertabumi menjadi King ta Bu Mi, Su Hi Ta menjadi Su King Ta, Trenggana menjadi Tung Ka Lo, Mukmin (putra Trenggana) menjadi Muk Ming, Sunan Bonang menjadi Be Nang, Ki Ageng Gribig menjadi Na Pao Cing, Aceh menjadi Ta Cih, Bintoro menjadi Bing To Lo, Bangil menjadi Jiaotung, Majakerta menjadi Jangki, Palembang menjadi Ku Kang, Sultan tayyib menjadi Too Yat, dan sebagainya. Ternyata banyak nama-nama Indonesia yang diberi nama dengan bahasa Tionghoa.

7.    Salah satu kelemahan, antara lain ialah Sunan Gunung Jati diidentifikasikan dengan Toh A Bo, dalam bukunya Prof. Slamet Mulyana hal. 219. tetapi pada halaman 220 dikatakan bahwa Tung Ka Lo (trengganda mempunyai dua orang putra, yaitu muk Ming (Pangeran Mukin atau Pangeran Prawoto) dan putra kedua pangeran A Bo dinyatakan dalam Babat Tanah Jawi bahwa dia menjadi Bupati Madiun. Jika Panglima Perang Demak pada tahun 1526, yang berhasil membawa kemenganna sama dengan Panglima Perang yang dikirim ke Majapahit apda tahun 1527, maka Panglima Perang yang memimpin armada Demak ke Cirebon dan ke Sunda Kelapa adalah Toh A Bo Putra Tung Ka Lo sendiri. Dengan demikian, maka Toh A Bo identik dengan Fatahillah. Demikianlah tulis Prof. Dr. Slamet Mulyana. Tetapi pada halaman 224 Prof. Slamet Mulyana menulis lagi bahwa Fatahillah sebagai Sultan Banten / Cirebon dan Ipar sulatan Trenggana, dan pula menjadi Sultan Cirebon / Banten. Inilah kejanggalannya, bahwa Fatahillah disamakan dengan Toh A Bo, yang menjadi putra Sultan Trenggana dan sekali itu juga menjadi ipar Sultan Trenggana. Juga menjadi Bupati Madiun dan juga menjadi Sultan Cirebon / Banten. Apakah bisa? Aneh bukan, satu oknum menjadi putra dan sekaligus menjadi ipar Sultan Trenggana, jug amenjadi Bupati Madiun dan juga menjadi Sultan Cirebon / Banten.

 

Dengan adanya beberapa pendapat tentang silsilah itu, maka bagaimanapun juga tampak bahwa masih terdapat ketidakjelasan tentang silsilah Sunan Kalijaga. Tampak pula bahwa terdapat maksud-maksud tertentu dari penyusunan silsilah. Hal itu sebagaimana pengungkapan tentang silsilah raja-raja jawa dalam Babad Tanah jawi  yang menyatakan bahwa silsilah tokoh Senopati, raja Islam Mataram II, putra Ki Gede Pemanahan. Bahwa Ki Gede Pemanahan adalah keturunan langsung ratu-ratu Majapahit, kerjaan hindu yang dipuji orang jawa. Ia adalah Ki Ageng Sela. Ki Ageng Sela putra Ki Ageng Getas Pendawa, Selanjutnay ia putra Bondan Kejawen (Lembut Peteng), dan Bondan Kejawen ini mempunyai dua saudara lagi yakni Arya Damar (Bupati Palembang yang masuk Islam) dan terakhir adalah raden Patah, Mereka bertiga adalah putra Hayam Wuruk, Putra Raden Sesusuh, putra Kuda Lalean, putra Raden Panji (Hikayat Panji Semarang dan Galuh Candrakirana). Raden Panji Putra Getayu, putra Prabu Jayabaya, keturunan Parikesit putra Abimanyu, putra Aejuna, putra Barahmana, putra Bhatara Guru, ptra Sang Hyang Tunggal, putra Sang Hyang Wening, yang berasal dari Sang Hyang Nur Cahya. Dengan demikian maka Senopati dihubungkan dengan dewa-dew dan cerita wayang. Tampak bahwa dari penyusun silsilah Sunan Kalijaga yang berbeda-beda terdapat kemungkinan adanya maksud-maksud tertentu.

Tentang asal-usul nama Kalijaga, terdapat pula perbedaan penafsiran, satu pendapat menyatakan bahwa Kalijaga berasal dari kataJaga Kali (bahasa jawa). Pendapat lain mengatakan bahwa kalijaga berasal dari kata Arab, Wodli Dzakka (penghulu suci), dan pendapat yang lain lagi menyatakan Kalijaga berasal dari nama dusun Kalijaga yang terletak di daerah Cirebon.

Penafsiran yang pertama mengacu kepada nama jawa asli bahwa Kalijaga artinya menjaga kali, dari asal kata kali yang berarti sungai dan kata Jaga yang b berarti menjaga. Boleh jadi tafsiran ini didasarkan atas suatu riwayatnya sebagaimana dinyatakan dalam Babad Tanah Jawi bahwa beliau pernah berkhalwat setiap malam di sebuah sungai yang berada di tengah hutan yang sepi, seakan beliau menjaga kali itu. Secara kebetulan hutan itu bernama Kalijaga di daerah Cirebon.

Tetapi terdapat suatu penafsiran pula bahwa menjaga kali diartikan sebagai kemampuan Sunan Kalijaga dalam menjaga aliran atau kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat. Beliau tidak menunjuk sikap anti pati terhadap semua aliran atau kepercayaan yang tidak sesuai dengan islam, tetapi dengan penuh kebijaksanaan aliran-aliran kepercayaan yang hidup di dalam masyarakat itu dihadapi atau digauli dengan sikap penuh toleransi. Konon, menurut cerita, memang Sunan Kalijaga adalah satu-satunya wali yang faham dan mendalami segala pergerakan dan aliran atau agama yang hidup di kalangan rakyat.

Dalam suatu sumber di dapatkan tentang asal-usul perkataan kaljaga yang berasal dari perkataan jagakali termasuk juga bagaimana Raden Said mendapatkan julukan yekh Malaya”.  Keterangan ini dijumpai dalam Babad Dipanegara, sebuah naskah sejarah yang ditulis oleh Pangeran Dipanegara di tempat pengasingannya di Menado. Menurut penuturan Pangeran Dipanegara, waktu Sunan Bonang teringat ihwal Raden Sahid yang tealh dpendamnay, Sunan Bonang ingin mengeluarkannya. Sunan Bonang segera pergi ke temapt Raden Sahid dipendam, sembari membawa sahabatnya. Raden Sahid dikeluarkan dari pendamnanya, raden Sahid telah menjadi mayat. Sekalipun demikian sudah menjadi kehendak Tuhan tubuh jasmaninya masih dalam keadaan utuh, tidak membusuk. Hanya tinggal tulang dan kulit. Mayat Raden Sahid dibawa ke Ngampel Gading.

Mayat raden sahid dikembalikan kekuatannya. Sunan giri telah dapat dan ikut mengerjakannya. Semua wali ikut mengembalikan kekuatan Raden Sahid. Tuhan pun memberikan pertolongan-Nya. Penglihatan Raden Sahid muncul lagi, kemudian nafasnya, setelah itu detak jantungnya. Ayah dan ibu raden Sahid telah datang, demikian juga adik Raden Sahid, Dewi Rasawulan, telah sengaja datang dari hutan langsung menuju Ngampel Gading. Bersama waktu datangnya ayah dan ibunya, nafas yang keluar dari tubuh raden sahid semakin besar, para wali berdoa, lalu datanglah kembali semua kekuatan Raden Sahid. Raden Sahid telah siuman, bagai tealh lama tidur. Raden Sahid duduk dikitari para wali, Raden Sahid sadar, kemudian bersembah sujud kepada semua wali dan ayahnya, sedangkan Dewi raswulan bersembah sujud kepadanya. Bagaikan mimpi saja, semuanya telah menakjubkan semua orang yang pada susah hati melihatnya, sangat ajaib, sangat mengesankan.

Semua kekuatan Raden Sahid tealh kembai seperti sediakala, hanay tinggal rasa lesu saja. Kata Sunan Makdum: “Anak-anakku semua, patuhilah kata-kataku ini. Aku akan menjuluki si Sahid “Syekh Malaya”. Disamping itu, Sunan Makdum Berkata lagi “Mumpung lengkap semua, Wilatikta anakku, aku akan mengambil kedua anakmu. Syekh Malaya akan kukawinkan dengan putriku yang bungsu, sedang Nini Rasawulan akan kukawinkan dengan ananda di Giri.” Keduannya kemudian dikawinkan, disaksikan semua wali.

Para wali kembali ke tempat tinggalnya masing-masing, sementara Syekh Malaya belum merasa puas hatinya. Beliau minta diri kepada adiknya, ingin pergi berkelana. Lalu pergi meninggalkan Ngampel Gading, menyusuri daerah Pengisikan, berhenti bertapa mati raga di pinggir kali dengan bersandar pda pohon jati yang telah mati, yang batangya condong ke kali itu. Demikian lama Syekh Malaya bertapa mati raga, hingga pohon jati yang semula mati telah hidup kembali berimbun daun.

Alkisah, waktu itu Kanjeng Sunan Bonang berkelana, beliau telah sampai di pohon jatiitu. Beliau melihat ada orang bertapa mati raga dengan bersandar pada pohon jati tersebut. Lama-kelamaan Kanjeng Sunan Bonang tidak lupa lagi, orang itu tidak lain adalah adiknya sendiri. Kanjeng Sunan Bonang segera duduk mendekatinya. Syekh Malaya waktu itu sedang tidur, dibangunkan olehnya. “Bangunlah adikku,” katanya. Syekh Malaya terkejut melihat kedatangan kakaknya, lalu mencium kaki bersembah bakti. “Sudahlah, duduklah adinda. Sekarang namamu kuberi tambahan, yakni Jagakali, Sunan Kalijaga. Demikianlah namamu yang patut. Disamping itu, bertempat tinggallah dan dirikanlah pedesaan ditempat ini. Aku yang akan membantumu, sedang istrimu akan kuundang”. Sunan Kalijaga. Tidak menolak perintah kakaknya.

Kanjeng Sunan Bonang mengirim utusan ke Ngampel memanggil adiknya sembari mohon izin kepada ayahnya. Tidak diceritakan, istri Sunan Kalijaga telah datang, sedang desa tempat Sunan Kalijaga juga telah siap, dibuatkan oleh Sunan Gunung Jati. Sunan Bonang lalu kembali ke tempat tinggalnya.

Telah lama bertempat tinggal di desa itu Sunan Kalijaga mempunyai seorang putra yang roman mukanya tidak berbeda dengan ayahnya, bernama kanjeng Sinuhun Adi.

Penafsiran kedua mengacu kepada nama Arab bawa kalijaga berasal dari bahasa Arab yang telah berubah menurut pengucapan lidah orang jawa, yaitu Qadli Zakkah yang berarti hakim suci atau penghulu sici. Nama itu merupakan nama sanjungan yang diberikan pagnera Modang, Adipati Cirebon, tatkala mereka berdiskusi tentang masalah hukum Islam di Cirebon. Dari kata sanjungan Qadli Zakka itulah kemudian desa tempat tinggal Penghulu Suci itu dikenal dengansebutan Kalijaga, Nama yang masih melekat pada suatu desa di daerah kabupaten Cirebon hingga sekarang.

Lain lagi dengan pendapat ketiga yang menyatakan bahwa nama kalijaga berasal dari nama desa tempat tinggal yang pernah didiami oelh Raden Sahid. Pendapat ketiga cenderung menyanggah kedua pendapat terdahulu itu. Prof. Dr. Hoesein Djajaningrat menyatakan, kisah legendaries menetapnya Sunan Kalijaga di sebuah ssungai merupakan sebuah ikhtisar yang kaku untuk menerangkan si muasal nama Sunan Kalijaga. Prof. Hoesein Djajaningrat mengingatkan, dalam masalah ini orang telah memberikan artian nama kalijaga dengan “Penjaga Kali” atau “penjaga di kali”, akan tetapi orang lupa, bahwa dengan demikian orang mendapatkan susunan (perkataan) yang tidak bercorak jawa. Oleh karena menurut logat bahasa jawa “penjaga kali” toh disebut “(wong) jaga Kali”. Menurut pendapatnya, asal-muasal nama kalijaga justru tidak bisa di pulangkan pada Sunan Kalijaga, artinya tidak bisa dinyatakan bahwa nama itu telah muncul oleh karena pada awal mulanya Sunan Kalijaga telah berjaga, bertapa atau menetap di dekat kali. Tetapi sebaliknya, nama Sunan Kalijaga justru lahir karena yang bersangkutan telah menetap di desa kalijaga. Dengan demikian sebelum Sunan Kalijaga datang desa itu telah bernama kalijaga.

Pendapat yang sama dipegangi juga oleh G.P.H. Hadiwidjaja, yang ditulis dalam brosurnya berjudul Kalijaga, sebuah tulisan yang disampaikan dalam tulisan ceramahnya di Radya Pustaka, Solo, tanggal 7 Mei 1956. dalil yang dipakai bukan nama desa yang mengikuti nama wali itu, tetapi telah dikenal sebelumnya. Dan nama desa yang dimaksud adalah desa kalijaga yang telah dikenal sebelumnya. Dan nama desa yang dimaksud Cirebon. Dalam tulisannya itu ia sekaligus menunjukkan kesalahan kedua pendapat di atas. Dasar pendapatnya adalah sebuah kidungan yang pernah didengarnya pada zaman sebelum perang di daerah Pasundan, yang berbunyi:

 

 

Sing sapa reke bisa nglakoni,

Amutih lawan anawaha,

Patang puluh dina wawe

Lan tangi wegtu subuh,

Lan den sabar sakuring ati

Ing sa-Allah tinekan,

Sakarsanireku,

Tumrap sanak rajatinira

Saking sawabe ngelmu pangiket kami,

Duk aneng kalijaga.

 

Artinya:

Barangsiapa bisa menjalani

Melakukan mutih dan minum air tawar

Empat puluh hari saja,

Dan bangun waktu subuh,

Dan sabar berhati sukur,

Kepada Tuhan terlaksanalah

Sekehendakmu,

Pada saudara keluargamu,

Dari sawab ngelmu yang kami ikat, waktu berada di Kalijaga.

 

Dari kidung itu K.G.P.H. hadiwidjaja berpendapat bahwa yang membuat kidungan itu adalah Sunan Kalijaga sendiri, sebagaimana disebutkan “duk aneng Klaijaga” – “Waktu berada di kalijaga”. Dia menunjukkan serangkaian bukti bahwa kalijaga sebenarnya bukan nama orang, melainkan nama desa di kawasan Cirebon sebagai berikut:

1.    Pokok isi naskah sejarah Banten yang termuat dalam disertasinya Prof D.R.R.A Hoesein Djajaningrat yang berjudul Critiche Beschouwingen Van De Sadjarah Banten yang menyatakan, raden Said lalu pergi berkelana sampai ke Palembang, bertemu dengan Dara Petak. Kemudian mereka bersama pergi ke Pulau Upih, berguru kepada Syekh Sutabris. Setelah selesai disuruh pulang kembali ke tanah Jawa bertempat tinggal membuat pedukuhan di Cirebon di dekat Sungai kecil, sembari berjualan atap ilallang agar mereka diketahui oleh yang empun negeri. Di berlakng hari pedukuhan tersebut disebut kalijaga.

2.    Kitab Wali Sepuluh Karangan Kargosudjono, diterbitkan Tan Koen Swie tahun 1950, menyatakan: “Tuan Sunan Kalijaga dulu keratonnya adalah di tanah Puserbumi (Cirebon).” Nama Keratonnya tidak disebutkan, tetapi letaknya ada di Cirebon, sama dengan disebut pada nomor satu di atas. Hanya saja, mengenai disebutnya Puserbumi, K.G.P.H. Hadiwijaya baru mengetahuinya. Menurutnya, yang disebut Puserbumi itu adalah Mekkah, yang karena Multasyam-nya, matahari tidak pernah mengunggulinya. Ada pun pusarnya tanah jawa adalah gunung tidar di Magelang.

3.    Kidungan Musium dalam bentuk cetakan dan kidungan milik K.G.P.H. Hadiwijaya sendiri dalam bentuk naskah, menyebutkan:

“….Saking sawabe ngelmu pengiket kami, du aneng kalijaga”.

Artinya:

“….Dari sawah ngelmu ikatan kami, waktu di kalijaga.”

4.    Serat Syeh Malaja, koleksi musium Sana Pusaka, milik K.G.P.H. Hadiwijaya sendiri dalam bentuk naskah:

1)    Pupuh Asmarandana pada 4:

Anulnya kinen angasih,

Pitekur ing kalijaga,

Mila karan kakasihe…….

 

 

Artinya:

Lalu disuruh pindah bertafakur di Kalijaga oleh karena itu namanya disebut ……….

Di sini jelas nyata bahawa kalijaga bukan nama orang tetapi nama desa. Sedang yang menyuruh pindah adalah Sunan Bonang, setelah Kalijaga diberi wejangan.

2)    Bersamaan Pupuhnya pada 12:

“Wus telas denya wawarti,

ajeng Sunan Bonang samna,

jangkar sing kalijagane”

artinya:

“Telah selesai memberikan keterangan,

Kanjeng Sunan Bonang waktu itu,

Berangkat dari Kalijagane….”

5.    Serat Walisanga, Milik K.G.P.H. Hidiwijaya pupuh pucung pada 29:

“inggalipun,

wus raharjo ponang dukuh,

katah kang awismo.

Pradesane wus sawasri,

Sinung aran padukuhan kalijaga.”

Kemudian menceritakan kembalinya dari samudra diwejang kanjeng nabi Kidir, Tembang Gambuh pada 33:

Umpami sekar kuncup,

Mangke samun mangsane cumucup,

Ngambar-ambar gandane kastri jati,

Ing wasana lajang kondur,

Tan wangsul maring Cirebon.”

Artinya:

“bagaikan bunga yang kuncup,

sekarang telah waktunya mekar,

semerbak harumnya kasturi tulen,

akhirnya lalu pulang,

tidak kembali ke Cirebon.”

 

Pada 34:

“Mring padukuhanipun,

Kalijaga pun Lumajang misuwur…”

 

Artinya:

“Ke Pedukuhannya,

Kalijaga yang lalu termasyur…”

 

Pada 35:

“She Malaya kasetbut,

papan saking padamelanipun,

nengsih Sunan Kalijaga Wewangi…”

 

Artinya:

“Syekh Malaya tersebut,

dari sebab pekerjaannya,

nengsih Sunan Kalijaga mewangi…

 

Menurut K.G.P.H. Hadiwijaya, dengan bukti-bukti tersebut jelas bahwa Kanjeng Sunan Kalijaga tersebut berasal dari nama desa, yakni desa Kalijaga di kawasan Cirebon.

Tentang penolakan K.G.P.H. Hadiwijaya terhadap perkataan “Qadli Zakka” yang berarti penghulu suci, bahwa tidak mungkin ada desa yang bernama penghulu agung suci, seperti halnya pengulon yang berarti tempat kediaman penghulu; Modinan yang berarti tempat kediaman Modin; Kauman yang berarti tempat kediaman kaum dan lain sebagainya. Demikian jug a perkataan “kali” tidaklah bisa dikatakan begitu saja berasal dari Arab, sebab nama desa yang memakai perkataan “Kali”, misalnya Kalijanes, Kaliwingka, Kaliyasa, Kalisara, Kaliwungu dan lain sebagainya.

K.G.P.H. Hadiwijaya juga merujuk nama-nama Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Ngudung, Syekh Lemah Abang, Semua itu adalah nama-nama yang diberikan berdasarkan tempat tinggal dan tidak diberikan dari asl perkataan Arabnya, sehingga, oleh karenanya, kata “Kalijaga” menurutnya merupakan “tembung jaawa klutuk”, perkataan Jawa Asli. Penyebutakn kalijaga sebagai berasal dari perkataan Arab “Qadl Zakkah” merupakan perbuatan orang jawa sendiri secara paksa. Hal yang sama dikemukakan juga oleh K.G.P.H. Hadiwijaya berkenaan dengan nama-nama wayang, Petruk Berasal dari Fatruq, Janaka berasal dari Zinaka, Narada berasal dari nurhuda dan sebagainya.

Berbeda dengan pendapat Ki M.A Machfoed, dia juga tampak kurang sependapat tentang asal-usul nama Kalijaga yang dihubungkan dengan perilaku bertapa di kali laksana orang “Jaga Kali” yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga sebagaiaman dituturkan dalam Sejarah Kadilangu. Dia lebih cenderung memegangi apa yang dituturkan dalam babad demak versi Cirebon, bahwa nama kalijaga berasal dari bahasa Arab “Qadli Zakkah” yang berarti penghulu suci, sebgaiman telah dikemukakan terdahulu. Dengan demikian , Ki M.A. Machfoed berpendapat bahwa kalijaga dapat lebih dipegangi sebagai nama orang, bukan nama desa yang semula bernama kalijaga sehingga nama itu menjadi sebutan bagi wali tersebut. Dia beranalog sama halnya dengan nama K.G.P.H. Hadiwijaya bukanlah nama yang diberikan karena bel;iau itu bertempat tinggal di kampung Hadiwijaya, karena menurut pengakuran beliau, nama Hadiwiaya adalah nama pemberian ayahandanya yakni Sri Susuhunan Paku Buana X.

Tentang nama Raden Said atau Jaka Said sebagai nama Sunan Klaijaga pada waktu mdua adlah nama pemberian Sunana Ampel Denta. Kata Said (Sa’id) yang berasal dari bahasa arab berarti bahagia. Sunan Ampel sendiri mempunyai hubungan dekat dengan ayahanda raden Said, dan setiap saat bersilaturrahmi di istana adipati Tuban itu, berdiskusi  tentang masalah-masalah keagamaan.

Sejalan dengan arti sa’id, bahagia, maka Sunan Kalijaga dikenal juga dengan nama Lokajaya. Hanya saja sebutan Lokajaya lebih mengacu kepadea bahasa jawa, yang terdiri dari dua kata loka artinya tempat dan jaya berarti bahagia, menang. Menurut Pustaka Daerah Agung, nama baru itu adalah pemberian Syekh Sutam, tetapi tanpa penjelasan siapa Syekh Sutam itu. Dalam Babad Demak, nama Syekh Sutam juga tidak dikenal, kendatipun nama lokajaya disebut-sebut tatkala mengenalkan Raden Said sebagai pelayan, kemudian sebagai pengadu ayam, dan kemudian sebagai penyamun. Perannya sebagai pelayan dimulai setelah pergi meninggalkan kadipaten ketika semua uang emas berkalnya lenyap, entah dicuri orang dalam rumah penginapan, entah jatuh diperjalanan. Dalam Babad Demak versi Matara disebutkan bahwa bekal emas Raden Said habis karena diperjudikan. Tetapi lain halnya apa yang disebut oleh Babad Demak versi Cirebon, emas bekal calon wali itu habis karena telah dihadiahkan kepada anak gembala kerbau sebagai tanda terima kasih atas doa anak gembala itu dalam bentuk nama lokajaya.

Dalam perantauannya Lokajaya sampai lah pada suatu hari disebuah desa yang diantara penghuninya ada seorang janda tua beranak banyak, dan mata pencahariannya sebagai pedagang serabi, semacam kue apem. Meskipun hasil perdagangan itu sudah tidak mencukupi keperluan hidup hariannya bersama lima orang anak-anaknya yang belum ada satupun yang dewasa, namun janda tua yang berwatak murah hati itu ternyata suka menerima Lokajaya sebgai seorang penumpang hidup padanya. Mengerti betapa pemarah dan baik hati orang yang ditumpangi hidupnya itu, maka Lokajaya dengan setia dan jujur melayani pedagang serabi, memasak, memikul barang-barang keperluan memasak dan menjual serabi ke pasar, memikul barang-barang itu dari pasar pulang kembali ke rumah. Dan disadari oelh wanita janda tua itu, betapa pesat kemajuan dagangannya yang tampak sudahmenjadi besar dan tidak lagi miskin, sejak lokajaya menumpang hidup sebagai pelayan padanya. Maka lokajaya amatlah disayangi dan diperlakukan sebgai anak kandungnya. Uang pun diberikan secukupnya pada sembarang waktu diperlukan, termasuk juga untuk membeli seekor ayam aduan dan untuk bertaruh di kala ayam itu dibawa lokajaya ke dalam gelanggang peraudan ayam.

Ayam aduan Lokajaya itu diberi nama Ganden dan kenyataannya tak terkalahkan. Setiap kali Ganden keluar dari gelanggang, tetaplah senantiasa sebgai pemenang. Semua taruhan kemengangannya yang tak sedikit jumlahnya selalu Lokajaya berikan kepada janda tua, itu akuannya itu.

Apda suatu hari, rumah pedagang serabi tersebut dikunjungi seorang setengah baya berserta anak muda yang membawa sebuah krusu berisi seekor ayam aduan. Mereka datang perlu menantang Lokajaya mengadu ayamnya yang bernama Tatah dengan Ganden, ayam aduan milik Lokajaya itu. Tantangan itu tentunya diterima Lokajaya dengan gembira hati, karena memang sudah agak lama menunggu adanya ayam aduan yang berani melawan ganden.

Lokajaya merujuk ketika mendengar tantangannya mengenai soal  taruhannya yaitu rumah tempat tinggal pedagang serabi itu seisinya yang dikira oleh tamu penantang itu menaruh sebuah kantong besar berisi emas, sebagai taruhannya. Melihat keraguan Lokajaya dan melihat sekantong emas yang nilainya jelas lebih besar dari pada harga rumah seisinya itu, dengan mengingat bahwa ssealma ini Ganden terbukti tak pernah terkalahkan, maka janda tua akuannya itu menganjurkan agar Lokajaya dengan berbesar hati menerima tantangannya. Dan Ganden sergeralah berhadap-hadapan dengan Tatah dalam sebuah Gelanggang di halaman depan rumah yang dikerumuni banyak penggemar adu jago. Pertarungan antar aGanden dan Tatah berlangsung hebat sekali, namun tidak begitu alma pertarungan itus udah selesai. Ganden Kalah, mati terkapar di tengah gelanggang.

Janda serabi dan kelima anak-anaknya menangis kekalahan Ganden yang menimbuni segenap keluarga dengan malapetaka. Lokajaya tinggal berdiri tegak saja dengan hati gusar pandangannya mengikuti kepergian tamunya setelah menerima tawaran bahwa kelak tamunya akan kembali untuk menempati rumah teruhannya, dan diharap Lokajaya sekeluarga sudah tidak berada di dalam rumah dan halaman itu, tetapi Lokajaya diperbolehkan mengambil dan membawa isi dari rumah dan halaman apa saja yang disukai.

Pada senja hari, lokajaya minta diri pada ibu akuannya akan pergi mencari pengganti rumah tinggal dan semua harta kekayaan ibunya yang telah lenyap dalam pertaruhan tadi pagi, dengan pesan agar ibu dan kelima anaknya jangan meninggalkan rumah itu sebelum dia pulang kembali dan supaya menuntut kehidupan seperti biasanya. Seolah-olah di situ tidak ada perubahan apapun. Kemudian Lokajaya pergi ke satu-satunya jalan lalu lintas di tengah hutan menghadang di sana sebagai penyamun. Tujuan hari siang dan malam dia menyamun di sana. Pada pagi hari yang kedelapan, dia telah bertukar niat hendak pergi merampok saja dipedesaan, tetapi mendadak terlihatlah olehnya orang setengah baya dan seorang muda yang mengantarkannya akan lewat di dijalan penyamunannya. Walau calaon  korbannya itu berpakaian seorang ualma, namun tiada panglinglah Lokajaya bahwa calon korbannya itu adalah si pemilik tatah tempo hari. Pakaian keulamaannya tampak serba indah, serba mahal harganya. Lokajaya segera menghentikan mereka, diminta pakaian mereka dan semua yang mereka bawa atau nyawa mereka yang akan direnggutnya kalau mereka berani menolak permintaannya. Tetapi alangkah terperanjatnya Lokajaya ketika orang setengah baya itu menyebut namanya di minta agar ia melihat pohon aren yang ada disebelah kanannya, bahwa semua tirisan buah kolang-kaling sesungguhnya ems murni dan bisa diambil kalau memang bermaksud menghimpun kekayaan duniawi. Tampak pada pandangan mata Lokajaya semua tirisan buah kolang-kaling itu adalah emas yang kilau-kemilau yang indah dalam sinar matahari. Seketika lokajaya berjongkok di hadapan orang setengah baya itu sambil menyembah, minta ma’af, menyerahkan diri kepadanya serta minta diterima sebagai muridnya. Dengan senang hati permintaan itu diterima orang setengah baya itu, yang kemudian memberi perintah kepada Lokajaya agar segera pulang lebih dahulu kepada ibu akuannya untuk minta diri dan berkata kepadanya atas nama calon gurunya itu menghadiahkan rumah tinggal seisinya dan halaman itu dan selanjutnya disuruh menyusul ke pondok bonang.

Sesungguhnya, orang setengah baya itu tak lain adalah Sunan Bonang, dan anak muda pengiringnya itu adalah adik kandung bungsunya, yang kemudian hari tampil sebagai Sunan Drajat. Keduannya adalah putra sulung dan putra bungsu Sunan Ampel Denta yang diutus ayahandanya supaya mencari dan menemukan Raden Said.

Sunan Kalijaga dikenal juga sebagai syekh Malaya, nama pemberian dari sunan bonang, setelah dia selesai menjalankan khulwat yang merupakan ujian pertama kesanggupan berguru kepada Sunan Bonang itu. Demikian itu sebagaimana dituturkan dalam Babad Diponegara, babad demak versi Cirebon maupun Babad demak versi lain-lainnya. Hanya saja, terdapat perbedaan antara pengertian maupun praktik tapa ngluwat atau tapa mendem yang digambarkan dalam Babad Diponegoro sebagaimana telah dikemukakan pada bagian terdahulu, demikian juga berbeda dengan pengertian dan praktik tapa mendem sebagaimana yang digambarkan dalam Babad Demak yang lain, atau juga Babad Majapahit dan Para Wali. Inti ajaran tentang khulwat  dalam Babad Demak versi Cirebon yakni menyekap diri lahir-batin dalam kesepian dari segala apa pun, kecuali harsu senantiasa hudlur ma’ Allah, demikian itu selama 40 hari, siang dan malam. Sedangkan tapa ngluwat sebagai mana digambarkan dalam Babad Diponegoro, Babat Majapahit dan Para Wali  dan Babad Demak  yang lain, adalah menguburkan diri dalam tanah. Disebutkan bahwa Raden Said dipendam dalam tanah selama 100 hari.

Agak berbeda dengan cerita tersebut, dalam Babad Tanah Jawi terbitan Balai Pustaka, di sana dinyatakan, sebagai ujian kepatuhan raden Said untuk berguru pada Sunan Bonang maka raden Said diminta untuk menunggui tongkatnya. Sedemikian patuhnya raden Said dalam  memenuhi permintaan Sunan Bonang sehingga satu tahun kemudian Sunan Bonang menjenguknya kembali. Keadaan tempat telah menjadi hutan, dan hanya dengan mengucapkan salam Sunan Bonang dapat melenyapkan hutan itu sehingga tampaklah raden Said. Akan tetapi Raden Said hanya diraba denyut jantungnya , kemudian ditinggalkan lagi selama satu tahun lagi sehingga genaplah dua tahun Raden Said bertapa menunggui tongkat Sunan Bonang . setelah diajari ajaran-ajaran tentang ilmu, diminta pergi dan agar senantiasa taat pada Tuhan. Selama satu tahun kemudian Raden Said berkhulewat dan setelah itu dia pergi ke arah barat menuju Cirebon dan bertempat tinggal di sebuah hutan sepi yang disebut kalijaga. Di situlah dia bertapa dengan dua orang temannya dengan cara menjaga sungai di malam hari yakni berendam di dalam sungai. Setelah berhenti bertapa dan telah menjadi orang sakti Raden Said berganti nama menjadi Sunan Kalijaga.

Riwayat Hidup

1.    Guru-guru Sunan Kalijaga

Sunan Kalijaga pertama berguru kepada Sunan Bonang, yang dikenal juga dengan nama Makdum Ibrahim. Menurut sumber-sumber sejarah, sebenarnya antara Sunan Bonang dengan Sunan Kalijaga mempunyai hubungan kekerabatan, karena Sunan Ampel Denta, ayah Sunan Bonang, memperistri Nyi Gede Manila, yakni Ibun Sunan Bonang yang tidak lain adalah anak perempuan Wilatikta. Tetapi dalam Babad Tanah Jawi versi yang mana pun, seakan mereka sebelumnya tidak pernah mengenal, setidak-tidaknya Raden Said tidak mengenal Sunan Bonang, sementara menurut salah satu sumber, Sunan Bonang sendiri memang secara sengaja disuruh ayahandanya agar mencari dean menemukan serta mempertobatkan Raden Said dan mengesankan bahwa Sunan Bonang sudah mengenal sebelumnya.

Pertemuan yang pertama adalah ketika mereka mengadu ayam, sebagaimana telah dikemukakan pada uraian terdahulu. Dalam banyak cerita tentang pertemuan-pertemuan pertama antara kedua orang itu menyatakan bahwa di bawah asuhan Sunan Bonang, Sunan Kalijaga pada awal mulanya merupakan seorang anak muda yang nakal, akhirnya dapat ditobatkan hingga jadi waliullah.

Kemudian Sunan Kalijaga juga berguru kepada Syekh Sutabris di Pulau Upih. Yang dimaksud pulau Upih ialah bagian kota malaka yang terletak di sebelah utara sungai, yang pada akhir abad XV merupakan daerah perdagangan yang paling ramai di kota itu, di mana banyak pedagang dari pulau jawa yakni dari daerah Tuban dan Jepara bertempat tinggal. Demikianlah, sebagaimana dinyatakan dalam naskah sejarah Banten dan menurut naskah ini, Sunan Kalijaga berguru pada Syekh Sutabris. Sunan Kalijaga menetap di tepi sungai kecil di Cirebon dan oleh karenanya kemudian disebut orang pangeran Kalijaga. Menurut sumber lain, kepergian Sunan Kalijaga sampai ke pulau Upih sebenarnya dalam perjalanan menyusul Sunan Bonang naik haji ke makkah. Tetapi sampai di pulau Upih itu oleh Syekh Maulana Maghribi disarankan untuk kembali ke jawa membangun masjid, menjadi penggenap wali sembilan. Disarankan oleh Syekh Maulana agar menunggu gurunya itu di   atas kayu ditepi kali. Kembalilah Sunan Kalijaga ke jawa dan menetap di suatu desa di Cirebon, dan disinilah kemudian ia bertemu kembai dengan Sunan Bonang, setelah menunggu selama 100 hari. Desa yang dimaksud itu adalah desa kalijaga.

Menurut Serat Kandaning ringgit Purwa, Sunan Kalijaga pergi naik haji bukan menyusul Sunan Bonang, tetapi justru kepergiannya atas saran Sunan Bonang setelah mendapatkan berbagai ajaran pengetahuan agama dan belum dianggap sempurna kebajikan lahiriyahnya kalau belum pergi haji ke makkah.

Di Cirebon, setelah membuat pemukiman baru lengkap dengan perumahan nya, oleh Sunan Bonang diajak pergi ke Giripura menghadap Sunan Gunung Giri yang dianggap sebagai ketua para wali di jawa agar menerima Sunan Kalijaga sebagai wali yang kedelapan.

Adapun gurunya yang ketiga adalah Sunan Gunung Jati di Cirebon. Dalam beberapa sumber seperti Babad Dipanegara, Babad Tdanah Jawi maupun Babad Demak selain versi Cirebon, kehadiran Sunan Kalijaga di Cirebon adalah dalam usahanya untuk menambah pengetahuan dengan berkelana, bertapa dari tempat ke tempat lain, sehingga sampailah di desa kalijaga. Menurut salah satu naskah Sunan Kalijaga sebagai Syekh Malaya ditemukan oleh Pangeran Modang yakni Sunan Gunung Jati, dalam keadaan seolah-olah tidak menyadaridirinay bertapa di perempatan jalan di dekat pasar, terlentang tanpa pakaian seama sekali. Tatkala keempat istri pangeran modang tidak mampu menggagalkan / membangunkan Sunan Kalijaga maka Pangeran Modang sendirilah yang berkunjung ke temapt, dan dia baru bisa membangunkan seteah menunggu selama tujuh hari. Akan tetapi, menurut Babad Demak versi Cirebon, kehadiran Sunan Kalijaga ke Cirebon adalah dalam rangkaian dakwahnya sejak dari Rembang-Purwodadi-Salatiga-Kartasura-Kutaarja-Kebumen-Banyumas dan akhirnya sampai ke Cirebon. Disini Sunan Kalijaga sebagai Syekh Malaya diterima sebagai tamu terhormat yang ahli dalam bidang ilmu agama, sebagai penghulu suci. Sedangkan menurut naskah sejarah Hikayat Hasanuddin, kedatangan Sunan Kalijaga Dicirebon tidak lepas dari usahanya menyebarkan agama Islam, sekaligus menuntut ilmu pada Sunan Gunung Jati. Dalam fragment itu dituturkan, Sunan Bonang dan Adipati Demak telah pergi berziarah mengunjungi Sunan Gunung jati. Sunan Bonang, Pangeran Adipati Demak dan kaum keluarganya berguru kepada Sunan Gunung Jati. Demikian halnya Pangeran Kalijaga dan pangeran Kadarajad, putra Sunan Ampel yang dibelakang hari terkenal dengan nama Sunan Drajad. Penyebutdan Sunan Kalijaga dengan nama Pangeran Kalijaga dengan jelas menunjukkan, pada waktu itu Sunan Kalijaga masih belum menjadi wali. Tidak ubahnya dengan Sunan Derajad, yang pada waktu itu masih disebut dengan nama Pangeran Kadarajad.

Pada akhirnya dinyatakan dalam berbagai naskah, Sunan Kalijaga di ambil menantu Sunan Gunung Jati yakni memperoleh adik kandungnya, tetapi apda sumber lain menyebutkan Sunan Kalijaga menikah dengan Ratu Syarifah Jamilah, kakak kandung Sunan Gunung Jati. Selanjutnya Sunan Kalijaga membuka pondok pesantren di daerah kaki bukit gunung jati, yaitu daerah hutan yang baru dibuka menjadi desa, namun belum lagi bernama.

Pertanyaan, bagaimanakah para guru-guru Sunan Kalijaga memberikan pengajaran, serta apa pula yang diajarkan mereka. Dalam beberapa sumber nampaknya memang tidak disebutkan. Kalaulah ada, ternyata pula bahwa masing-masing versi sumber menuturkannya dalam alur cerita maupun sudut pandang yang berbeda. Terdapat kecenderungan orang memahami cerita dari sumber babad secara harfiah, tetapi kecenderungan lain beranggapan bahwa banyak hal yang harus dipahami secara tersirat, oleh karena hal itu merupakan cerita sandi ataupun pasemon. Dalam hal ini, untuk memahami cara-cara yang dipergunakan oleh para guru Sunan Kalijaga dalam memberikan ajarannya maupun inti pelajarannya, sebagian pendapat dengan cara menafsirkan cerita sandi ataupun pasemon. Dalam hal ini, untuk memahami cara-cara yang dipergunakan oleh para guru Sunan Kalijaga dalam memberikan ajrannya maupun inti pelajarannya, sebagian pendapat dengan cara menafsirkan cerita sandi itu menyatakan antara lain sebagai berikut: dalam beberapa sumber diceritakan bahwa Sunan Kalijaga pada waktu muda senang berjudi, membegal orang, menjadi perampok dan mencuri. Semua itu sebenarnya hanya perlambang, Sunan Kalijaga seorang bangsawan yang senang sekali menambah pengetahuannya. Tidak peduli dengan cara mencuri, artinya jika ada orang memberi wejangan pada muridnya,  beliau pun ikut memperhatikannya. Dan itulah yang disebut “mencuri pengetahuan”. Cerita selanjutnya menyatakan, jika perlu Sunan Kalijaga menjadi perampok, yang dimaksud tidak lain masuk ke rumah orang yang kaya pengetahuan dan dengan paksa minta wejangan. Jika sudah memperolehnya lalu dijadikan bekal berjudi, artinya digunakan untuk mengadakan musyawarah atau perdebatan, yang sudah tentu ada kalanya menang. Jika kalah malah beruntung, oleh karena bisa mendapatkan pengetahuan yang belum diketahui. Oleh karena itu Sunan Kalijaga dikatakan orang senang berjudi, oleh karena dengan jalan demikian pengetahuannya menjadi bertambah banyak.

Kebetulan waktu Sunan Kalijaga beradu jago dengan Sunan Bonang, jago Sunan Kalijaga bernama ganden, jago Sunan Bonang bernama tatah. Masudnya, waktu Sunan Kalijaga berbantahan dengan Sunan Bonang pengetahuan Sunan Kalijaga masih kurang tajam. Oleh karenanya diibaratkan Ganden melawan Tatah. Oleh karena kekalahan Sunan Kalijaga mengancam dan membegal Sunan Bonang, dengan maksud mau membegal pengetahuannya. Waktu bertemu, Sunan Bonang diceritakan memakai pakaian dan perhiasan yang sangat berharga. Maksudnya adalah, Sunan Bonang ternyata menanggapi maksud Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga diberi beberapa keterangan ihwal kenikmatan tuhan yang berupa panca indera, yang diibaratkan berupa buah kolang-kaling yang telah berujud menjadi emas, intan berlian dan batu permata berharga, semua itu dari keindahan wejangan dan dari nikmatnya Sunan Kalijaga menerimanya. Sunan Kalijaga merasa terpikat, oleh karenanya Sunan Kalijaga lalu mengikuti Sunan Bonang. Sunan Bonang sendiri waktu melihat keinginan Sunan Kalijaga, lalu menerimanya menjadi muridnya, disuruh menjadi cantrik di pondok bersama santri yang lain. Itulah yang dimaksud tapa pendam, bertapa dengan memendam diri, artinya mencegah hawa nafsu dan tidak berhubungan dengan orang-orang yang pada umumnya melakukan perilaku maksiat. Selanjutnya, Sunan Kalijaga telah ditumbuhi gelagah dan alang-alang, artinya selama di pondok,  hati Sunan Kalijaga telah ditumbuhi banyak sekali pertanyaan yang belum dimengerti olehnya. Oleh karena itu, Sunan Bonang kemudian menebangi gelagah dan alang-alang itu, maksudnya adalah memberikan banyak sekali keterangan mengenai persoalan-persoalan yang timbul dalam hati Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga merasa puas, kemudian disuruh bertapa di sungai, maksudnya tidak lain, Sunan Kalijaga disuruh mensucikan hatinya dengan air tauhid, agar supaya hatinya teguh, tidak terkena bujukan orang lain, tetap dan mantap hati dan perasaannya. Dalam suatu fragmen dituturkan bahwa atas perintah Sunan Ampel Denta, Sunan Kalijaga agar diberi wejangan tentang ilmu filsafat tinggi oleh Sunan Bonang. Ilmu itu diberikan di atas perahu di tengah rawa. Seekor cacing yang ada dalam tanah yang dipakai untuk menambal bagian perahu yang bocor ikut mendengarkan ilmu tersebut kemudian berubah menjadi manusia, dialah Syekh Siti Jenar. Yang dimaksud cacing dalam tanah tersebut adalah tukang satang yakni juru pendayung perahu. Hal itu karena sudah menjadi perlambang ibarat bahwa pada umumnya orang bodoh disebut termasuk jenis hewan. Akan tetapi jika telah pandai, berarti telah purnalah kemanusiaannya. Demikian itu pula halnya dengan juru pendayung perahu yang dimaksud itu, yang sebneranya tidak mengerti alif ba ta, akan tetapi begitu mendengar wejangna adiluhung berasal dari Al-Qur’an seketika itu juga sadar akan kemanusiaannya, malah menjadi manusia sejati.

Demikian masih banyak lagi berbagai penuturan dalam naskah babad yang manapun, yang mau tidak mau terpaksa harus menafsirkan apa saja maksud tersurat, oleh karena itu merupakan bahasa kinayah dan terkadang sulit untuk dicerna dengan akal sehat.

Adapun initi ajran yang pertama kali diwejang kepada Sunan Kalijaga sesampainya dipondok Bonang sebagaimana banyak disebut dalam banyak naskah kuno tentang Sunan Kalijaga, adalah ilmu “Sangkan Paraning Dumadi”. Ilmu ini pada dasarnya menerangkan soal:

a.    Dari mana asal-usul kejadian alam semesta seisinya, termasuk di dalamnya tentang manusia.

b.    Kemana perginya nanti dalam kelenyapannya sesudah adanya,

c.    Apa perlunya semua itu adanya sebelum lenyapnya nanti,

d.    Apa perlunya manusia itu hidup dan

e.    Apa hidup itu sejatiya. Ilmu sangkan paraning dumadi

Inilah yang kemudian juga menjadi wejangan Sunan Kalijaga kepada para putra-wayah dan para muridnya sebagai dasar dan permulaan segala wejangan-wejangan.

 

2.    Menjadi Wali

Menurut sumber naskah sejarah yang mana pun Sunan Kalijaga disebut sebagai salah satu waliyullah yang termasuk dalam walisongo. Kedudukannya sebagai seorang wali, menurut Babad Majapahit  dan Para Wali, dikukuhkan di hadapan Sunan Giri yang dianggap sebagai ketua para wali di jawa. Dengan demikian, penetapan sebagai wali itu sesuai dengan ramalan semula semenjak Sunan Bonang diutus oleh ayahnya, Sunan Ampel Denta untuk mencari dan mempertobatkan Sunan Kalijaga sebagai upaya mempercepat proses ke arah kedudukannya sebagai wali.

Sebagai waliyullah, Sunan Kalijaga termasuk orang yang dikasihi allah, sebagaimana pengertian waliyullah adalah “kekasih allah”, Oleh karena itu sebagiaman lazimnya para wali, Sunan Kalijaga memiliki “karamah” pemberian dari Allah berupa keunggulan lahir dan batin yang tidak bisa dimiliki oleh sembarang orang. Di samping itu, sebagai tanda kewalian, ia bergelar “Sunan” sebagaimana wali-wali yang lain. Menurutu salah satu penafsiran, kaata “sunan” berasal dari bahasa Arab, kata jamak dair “sunnat” yang berarti tingkah laku, adat kebiasaan. Adapun tingkah laku yang dimaksud adalah yang serba baik, sopan santun, budi luhur, hidup yang serba kebijakan menurut tuntunan agama islam. Oleh karena itu, seorang sunan akan senantiasa menampilkan perilaku yang serba berkebajikan sesuai dengan tugas  mereka berdakwah, beramar ma’ruf nahi munkar, memerintah atau mengajak ke arah kebaikan dan melarang perbuatan munkar.

Peran Sunan Kalijaga dalam berdakwah tampak dalam berbagai kegiatan, baik kegiatan agama secara langsung ataupun dalam pemerintahan dan kegiatan seni dan budaya pada umumnya.

Diantara kasus kegiatan yang berkenaan dengan keagamaan, sebagaimana banyak disebut dalam naskah babad, adalah kegiatan Sunan Kalijaga bersama-sama wali yang lain dalam mendirikan masjid agung demak. Sudah jelas bahwa fungsi masjid, di samping menjadi sarana peribadatan, juga dipakai sebagai pusat kegiatan dakwah ketika itu sehingga dirasakan perlu adanya, kendatipun sulit untuk menentukan secara pasti kapan masjid tersebut di dirikan. Banyak keterangan antar satu dengan yang lain saling bertentangan. Di antaranya pendapat-pendapat tersebut adalah:

1.    Menurut Candra Sangkala “naga Salira Wani” berasal dari gambaran petir di pintu tengah, adalah tahun 1388 saka atau tahun 1466 M.

2.    Ada yang mengatakn berdirinya masjid demak itu pada tahun 1401 saka, ataupun tahun 1479 M. berdasarkan gambaran binatang bulus (penyu) di dalam tembok pengimaman (mihrab) masjid demak, karena gambar bulus itu diartikan sebagai berikut:

Kepala bulus     : 1

Empat kaki     : 4

Badan Bulus     : 0

Ekor Bulus     : 1

 

3.    Ada lagi yang mengatakan, bahwa berdasarkan tulisan dalam bahasa jawa yang terpacang di pintu muka sebelah atas, bunyinya adalah “Hadegipun masjid yasanipun para wali, nalika tanggal 1 dulka’idah tahun 1428”, yakni bertepat dengan h ari kamis Kliwaon malam ju’at legi atau tahun 1501 M.

4.    Menurut “Serta Kanda”, jadinya masjid Demak pada thun 1328 saka atau tahun 1407 M. hal ini sebenarnya lebih tidak masuk akal, karena raden patah mulai menjadi raja adalah sekitar 1477 M. dengan demikian, jarak antara waktu mendirikan masjid (tahun 1407 menurut serat kanda) dengan diangkatnya menjadi raja (tahun 1477) adalah 70 tahun. Waktu 70 tahun adalah lam bagi jarak antara berdirinya masjid dengan diangkatnya menjadi raja. Yang lebih masuk akal adalah jarak antaramenetapnya raden patah di Glagah Wangi dengan saat mendirikan masjid serta menjadi raja itu dalam masa yang berurutan, dan dalam masa yang dekat atau tidak begitu lama.

5.    Menurut buku Babad Demak , berdirinya masjid Demak itu dapat diambil dari arti kata-kata “Lawang Trus Gunaning Janma”, yang menunjukkan angka tahun saka 1399 atau bertepatan dengan tahun 1477 M. keterangan ini kalu disesuaikan dengan gambar bulus, agak mendekati, karena mungkin tahun 1399 saka (=1477) itu sewaktu mulai meletakkan batu pertama, mulai membangun. Setelah dua tahun berjalan, maka jadilah masjid itu pada tahun 1401 Saka (=1479 M)sebagaimana yang dilambangkan dalam  gambar bulus, diperingati menurut Candra Sangkala Memet.

 

Masjid Agung Demak menjadi terkenal, tidak saja karena masjid ini dibangun oleh wali, tetapi karena salah satu saka gurunya terdiri dari serpihan kayu-kayu tatal karya dari Sunan Kalijaga yang dikenal dengan sebutan “soko tatal”. Keikutsertaan Sunan Kalijaga tidak hanya mengupayakan bahan-bahannya, tetapi juga ikut bermusyawarah sebelumnya.

Dituturkan dalam salah satu sumber bahwa pembangunan masjid Demak berjalan lancar, masing-masing wali mendapat tugs membwawa empat tiang besar, yaitu Sunan Giri, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Purwaganda, Sunan Gunung Jati, Pangeran Palembang, Sunan Kalijaga dan Syekh Siti Jenar. Hanya Sunan Kalijaga sendirilah yang membawa tiga  buah. Jumlah semuanya delapan puluh tiga kurang satu, tatkala semuanya sudah siap, dan waktu mendirikan masjid tinggal satu hari, sementara saka guru kurang satu, maka Sunan Bonang menanyakan kepada Sunan Kalijaga akan tugasnya menyiapkan tiang saka guru itu. Sunan Kalijaga menyanggupinya, malam-malam menunggui orang mengapak (jawa:methel) kulit bagian luar, dikumpulkan serpihan-serpihan kayu itu, disusun, dilekatkan dengan lem Damar, kemenyan, blendok trembalo, lantas dibalut. Jadilah sebuah tiang dari tatal.

Adanya soko tatal ini adalah suatu kesengajaan, sebagai lambang kerohanian, bahwa pembuatan Soko tatal sebagai lambang kerukunan danpersatuan. Konon sewaktu mendirikan masjid agung demak, masyarakat Islam ditimpa perpecahan antara golongan, bahkan dalam bekerja mendirikan masjid itu pun terjadi perselisihan-perselisihan berbagai masalah kecil dan sepele. Sunan Kalijaga mendapat ilham, suasut petunjuk dari tuhan dan disusunlah tatal-tatal menjadi sebuah tiang yang kokoh.

Kasus lain juga bersamaan para wali yang lain adalah upaya memberantas ajaran akidah yang tidak benar atau pun sesat, yakni ajaran Pantheisme yang disebarkan oleh salah seorang yang semua termasuk dalam kelompok wali yaitu Syekh Siti Jenar. Dalam Serat Kandaning Ringgit Purwa maupun Babad Tanah Jawi dituturkan bahwa Syekh Siti Jenar dihukum mati di hadapan sidang pengadilan para wali, termasuk Sunan Kalijaga. Hukum itu dijatuhkan kepada Syekh Siti Jenar oleh karena pengakuannya bahwa dirinya adalah Allah. Ajarannya ten tang ketuhanan yang bersifat Pantheisme di pandang sangat membahayakan karena mengakibatkan masyarakat islam ketika itu meninggalkan Syara’. Faham itu disebut juga faham Wahdatul Wujud manunggaling Kawula Gusti.

Dengan kasus hukuman mati terhadap Syekh Siti Jenar tersebut, Sunan Kalijaga bersama wali lainnya tidak kompromi dengan keyakinan yang memang sangat membahayakan, meskipun pendekatan yang dipakai para wali dalam berdakwah juga dengan menggunakan pendekatan sufistik, tetapi sufisme yang diantu oleh Kalijaga bukanlah sufisme yang beraliran pantheisme, tetapi sufisme yang tetap menganut aqiah ahlussunah wal jamaah.

Sebenarnya pandangan Sunan Kalijaga jika dibanding dengan pandangan Sunan Ampel maupun Sunan Giri terhadap sisa-sisa keyakinan agama lama itu lebih toleran, dalam arti tidak mau memberantasnya seketika. Sunan Kalijaga berpendirian, bahwa rakyat akan lari begitu dihantam dan diserang pendiriannya. Dakwah harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Adat istiadat rakyat jarang terus diberantas, tetapi hendaknya dipelihara dan dihormati sebagai suatu kenyataan. Adapun cara merubah nya adalah sedikit-demi sedikit, member warna yang baru kepada yang lama, mengikuti sambil mempengaruhi yang nanti diharapkan bila rakyat telah mengerti dan paham akan agama akhirnya mereka akan membuang sendiri mana yang tidak perlu dan merombak atau menghilangkan sendiri mana yang tidak sesuai dengan agama. Para wali sebaiknya bertindak mengikuti dari belakang sambil mempengaruhi, atau mengikuti kebudayaan lama sambil mengisi jiwa Islam.

Sikap seperti itu telah pada berbagai karyanya yang kalau dilihat dari kacamata kebudayaan cenderung mengarah pada akulturasi antara kebudayaan lama dengan kebudayaan yang baru hasil kreasinya ke arah yang lebih islami. Sementara itu, kalau dilihat dari segi akidah, Sunan Kalijaga cenderung pada sinkritisme. Sebagai contoh, pendirian seperti itu tampak salah satunya pada penciptaan lambang gambar bulus di Mihrab masjid agung Demak yang bisa dipandang sebgai hasil karyanya, sebagaimana ide pembuatan soko tatal. Bulus adalah binatang yang hidup di dua alam di daratan dan di air, dan menurut masyarakat Islam hukumnya haram,tetapi mengapa gambarnya ditempatkan pada mihrab masjid yang justru tempat suci bagi orang Islam. Ternyata itu juga merupakan suatu bentuk kebijaksanaan berdakwah ketika itu dimana pemeluk agama lama di ingatkan bahwa di dalam masjid juga ada suatu lambang kesucian dan keabadian, sebagaimana kepercayaan agama lama (Budha) memandang bulus sebagai binatang suci. Hanya saja, kesucian dan keabadian dalam Islam diperoleh dengan cara melaksanakan shalat berbakti ke pada Allah Yang Maha Esa, biar hidup abadi di alam baqa nanti dengan bahagia.

Dalam media dakwah yang lain juga tampak sikap Sunan Kalijaga yang demikian itu, baik dalam penciptaan seni pakaian, seni suara, seni ukir, seni gamelan, termasuk juga kesenian wayhang. Bahkan terhadap kesenian wayang. Bahkan terhadap kesenian wayang ini Sunan Kalijaga dipandang sebagai tokoh yang telah menghasilkan kreasi baru, yaitu  dengan adanya wayang kulit dengan segala perangkat gamelannya. Wayang kulit ini merupakan pengembangan baru dari wayang b eber yang memang sudah ada sejak zaman Erlangga. Di antara wayang ciptaan Sunan Kaijaga bersama Sunan Bonang dan Sunan Giri adalah wayang Punakawa Pandawa yang terdiri dari semar, Petruk, Garang dan Bogong. Wayang itu sebagai media dakwah yang senantiasa dipergunakan oleh Sunan Kalijaga dalam kesempatan dawahnya di berbagai daerah, dan ternyata wayang ini merupakan media yang efektif, dapat mendekatkan dan menarik simpati rakyat terhadap agama. Kemampuan Sunan Kalijaga dalam mendalang (Memainkan wayang) begitu memikat, sehingga terkenalah berbagai nama samaran baginya dikenal dengan nam Ki Dalam Sida Brangti, bila mendalang  di Tegal dikenal dengan nama Ki Dalang Bengkok, tetapi bila mendalang di daerah Purbalingga terkenal dengan nama Ki Dalang Kumendung.

Peranannya dalam politik pemerintahan sudah dimulai sejak awal berdirinya kesultanan Demak sampai akhir Kesultanan itu. Bersama-sama dengan para wali yang lain, dalam suatu kelembagaan walisongo di mana salah seorang anggotanya adalah Sultan Demak sendiri, menunjukkan betapa penting peran wali ini dalam politik dan pemerintahan waktu itu. Dalam rangka dakwah Islam maka fungsi para waliyul amri itu adalah memberi nasihat tentang pelaksanaan tata pemerintahan agar senantiasa dijiwai roh Islam. Sebagai contoh, konon di antara wejangan Sunan Kalijaga teknik pembangunan kota Kabupaten maupun Kotapraja yang selamanya tampak di dalamnya terdapat empat bangun yaitu: 1) istana Keraton atau Kabupaten, 2) alun-alun, 3) satu atau dua pohon beringin, 4) masjid. Letaknya juga sangat teratur, yaitu letak kabupaten atau kraton selalu memangku alun-alun dengan pohon beringin di tengah alun-alun, membelakangkan gunung atau menghadap laut, dan letak masjid selalu di sebelah baratnya. Tata letak yang sedemikian itu di dasarkan atas falsafath baldatun thoyyibatun wa rabun Ghafur, negeri yang sejahtera diridhai oleh Tuhan. Akan tetapi peran para wali yang terdiri dari delapan orang waliyul amri dan seorang imam itu pada zaman kesultanan pajang sudah tidak berfungsi lagi, karena pada masa ke kesultanan ini lembaga walisongo telah dibubarkan dan diganti dengan lembaga baru yang terdiri dari seorang Sultan Dan delapan orang nayaka atau pelayanan.

3.    Akhir Hayat Sunan Kalijaga

Tidak jelas kapan Sunan Kalijaga wafat, tetapi secara umum masyarakat memaklumi bahwa makam Sunan Kalijaga berada di desa Kadilangu. Tiap tahun tanggal 10 Dzulhijah diadakan ziarah resmi yang diselenggarakan oleh panitia besaran ziarah resmi yang diselenggarakan oleh panitia besaran dari Masjid Agung Demak ke makam Kadilangu. Memang Babad Tanah Jawi menuturkan kepindahan Sunan Kalijaga dari Cirebon ke demak dan menetap di Kadilangu. Kepindahan itu atas permintaan sultan. Setiap bulans ekali Sunan Kalijaga datang ke Demak dari tempat tinggalnya di Kalijaga, Cirebon. Dituturkan dalam buku itu bahwa yang menjemput adalah Sultan sendiri dengan disertai dua puluh ribu pengikut. Di Kadilangu pekerjaan Sunan Kalijaga mengajar mengaji agama Rasul, sehingga banyak pula murid yang menetap di dusun itu.

Akan tetapi adalah pendapat lain yang mengatakan bahwa Sunan Kalijaga dimakamkan di Cirebon. Kira-kira dalam jarak 2 ½ Km. Ke arah barat daya darikotad Cirebon di sana terdapat pula sebuah desa bernama Kadilangu. Di desa inilah Sunan Kalijaga dimakamkan dan memang desa itu pula merupakan tempat tinggal resmi sewaktu beliau masih hidup. Makam Sunan Kalijaga dikeramatkan oleh masyarakat setempat dan ramai diziarahi orang sebagai mana makma di Kadilangu Demak. Mereka yang mempercayai bahwa Sunan Kalijaga di makamkan di Cirebon mengajukan bukti bahwa masjid kesepuhan alun-alun Cirebon terdapat soko tatal seperti halnya yang terdapat di Demak. Dan menurut kepercayaan mereka, yang dimakamkan di Kadilangu Demak itu hanyalah benda-benda peninggalan nya saja. Beberapa sumber yang membenarkan keterangan itu antara lain:

1.    Serat Sejarah Banten, oleh Prof. Dr. R.A. Hoesein Djajadiningrat.

2.    Serat Walisongo, dari Sadu Budi, 1955

3.    Serat Syekh Malaya, dari Musium Sana Pustaka

4.    Babad Cirebon, Penghulu Abdul Qohar

5.    Kitab Wali Sepuluh, oleh Tan Koen Swie, 1950

6.    Menurut K.G.P.H. Hadiwijaya, Sunan Kalijaga adalah seorang wali yang berasal dari harjamukti, sebuah dusun yang berjarak kira-kira 2 ½ Km. Sebelah selatan kota Cirebon. Ia menetap di dusun itu dan dimakamkan di sana pula.

Kenyataan adanya dua makam bagi Sunan Kalijaga bukanlah merupakan hal yang mengherankan, karena beberapa tokoh wali yang lain dipercayai oleh masyarakat mempunyai makam di berberapa tempat. Namun, menurut para ahli, bila terdapat makam dari satu pribadi di dua tempat, maka jasad nya tetap dimakamkan di satu tempat saja, sedangkan makam yang lain hanyalah merupakan petilasan atau penguburan barang-barang peninggalan tokoh yang bersangkutan.

 

Catatan Kaki

 

1.    Lembaga Riset dan Survai IAIN Walisongo semarang, Bahan-bahan Sejarah Islam di Jawa Tengah Bagian Utara, Laporan Penelitian, 1982, hlm. 17

2.    Amen Budiman, Walisanga Antar Legenda dan Fakta Sejarah, Penerbit Tanjung Sari, Semarang, 1982, hlm. 69

3.    Ibid, hlm. 70

4.    Lembaga Research & Survey IAIN Walisongo Semarang, Op.Cit, hlm. 17

5.    Umar Hasyim, Sunan Kalijaga, Penerbit Menara, Kudus, 1974, hlm. 4

6.    Ibid,

7.    Ibid, hlm. 5

8.    Ibid, hlm. 9

9.    Ibid, hlm 10-11

10.    Amen Bidiman, Op.Cit, hlm, 66-69

11.    Ki M.A. Machfoed, Sunan Kalijaga, Jilid I, Penerbit Yayasan An-Nur, Yogyakarta, 1970, hlm. 23-24

12.    Amen Budiman, Op.Cit. hlm. 68

13.    G.P.H. Hadiwidjoyo, Kalidjaga, Saresehan Radyapustaka, Surakarta, 7Mei 1956, hlm. 5

14.    Ibid, hlm. 14-16

15.    Ibid, hlm. 8

16.    Ibid, hlm. 13

17.    Ki M.A. Machfoed, Op. Cit. hlm. 14-17

18.    Ibid, hlm. 19

19.    Amen Budiman, Op. Cit. hlm. 69

20.    Ki M.A. Machfoed, Op. Cit, hlm. 21

21.    Amen Budiman, Op. Cit. hlm. 18

22.    Ki. M.A. Machfoed, Op. Cit. hlm. 18

23.    Umar Hsyim, Op. Cit. hlm. 67

12 Agustus 2012

SUMUR PENINGGALAN, PUTRA JAKA TARUB, SYEKH SYERUT

oleh alifbraja
 
Di wilayah Druju Pangkahkulon kecamatan Ujungpangkah tempo dulu pada zaman penjajahan terdapat pondok yang bernama Pondok Serut. Nama pondok itu diambil dari nama pohon yang tumbuh di depan pondok Pohon itu disebut pohon serut oleh penduduk setempat karena pohon itu mempunyai akar gantung yang dapat tumbuh menjadi batang pohon bila akar itu memanjang sampai mencapai tanah dan menyerut masuk ke tanah. Bila akar-akar gantung itu telah menyerut ke tanah dan menjadi batang baru maka pohon itu seperti sebuah sokoguru yang berdiri di tengah-tengah dan dikelilingi oleh pilar-pilar penyangga. Semakin banyak akar yang gantung yang mencapai tanah semakin banyak batang-batang yang mengelilingi pohon itu.
Pondok Serut didirikan oleh Jaka Tarub putra Jaka Slining. Jaka Tarub adalah cucu Jayeng Katon bin Sunan Bonang Tuban. Ia memilih Druju sebagai tempat penyebaran dan pengembangan agama Islam karena di wilayah kota Ujungpangkah sudah terdapat lima pondok yang diasuh oleh kelima putra Jayeng Katon. Pondok Pangkah diasuh oleh Jayeng Katon dibantu Jaka Berek Sawonggaling, Pondok Bekuto diasuh oleh Pendel Wesi, Pondok Rebuyut diasuh oleh Jaka Karang Wesi, Pondok Unusan diasuh oleh Jaka Sekintel Cinde Amo, dan Pondok Sabilan diasuh oleh Jaka Slining..
Jaka Tarub ditemani istrinya asal Ujungpangkah dan kelima anaknya  mengajar dan mendidik santri-santrinya, juga penduduk sekitar pondok untuk memahami dan mengamalkan Islam. Ia menjadi obor di wilayah yang berada kurang lebih lima ratus meter ke barat kota Ujungpangkah. Ia menjadi tempat bertanya masyarakat setempat, tempat meminta nama bagi anak-anaknya yang terlahir. Ia menjadi tempat mengaduh bagi masyarakat yang mengalami permasalahan. Disamping memberikan pengajaran agama Islam, di pondoknya juga dijadikan sebagai tempat penggemblengan ilmu kanuragan. Santri-santrinya dibekali dengan ilmu kedikdayaan sebagai sarana pembelaan diri mengahadapi lawan ketika terjun di masyarakat kelak. Berkat perjuangannya penduduk Druju dan sekitarnya menjadi pemeluk Islam yang taat.
 

Jaka Tarub mempunyai seorang anak yang mempunyai kebiasan sejak kecil senang duduk-duduk di pohon Serut yang ada di depan pondok. Ia menghabiskan waktu-waktu luangnya di bawah pohon serut. Ia tidak seperti keempat saudaranya yang senang bermain-main di luar pondok. Karena kebiasaannya itu Jaka Tarub memanggil anaknya itu dengan panggilan Jaka Serut.

Jaka Serut semasa anak-anak suka mengembalakan kambing. Kambing-kambing itu digembalakan di sekitar pondok. Ia membiarkan kambing-kambing itu merumput dan menyiapkan minuman kambing-kambing itu. Kambing-kambing itu selalu menurut pada majikannya. Kambing-kambing itu akan merumput di tempat yang ditunjuk oleh Jaka Serut. Kambing-kambing itu tak akan pergi meninggalkan tempat yang telah ditunjuk oleh tuannya. Kambing-kambing itu menurut perintah majikannya. Ia mengawasi kambing-kambing yang memakan rumput-rumput hijau dan semak-semak yang tumbuh di sekitar pondok sambil duduk-duduk di bawah pohon serut. Bila ia merasa haus, ia mendatangi pohon kelapa yang tumbuh di sekitar pondok itu. Ia hanya mengarahkan tangannya ke pohon kelapa yang dituju, pohon itu sekonyong-konyong menunduk di hadapan Jaka Serut seperti danyang-danyang yang menyajikan minuman raja atau ratunya. Ia tinggal memetik buah kelapa yang dikehendaki. Dengan isyarat tangannya pohon kelapa itu berdiri seperti sedia kala. Begitu juga bila ia ingin minum legen, ia tinggal mengarahkan telunjuknya ke arah pohon siwalan yang dikehendaki, maka pohon itu akan menunduk di hadapannya dan ia tinggal mengambil betek yang telah diletakkan di pohon itu.
Setelah dewasa Jaka Serut sering membantu dan mewakili Jaka Tarub ayahnya untuk mengasuh santri-santri pondok terutama jika ayahnya sedang berdakwah atau bersilaturrahim ke sanak familinya. Karena dirasa sudah mampu mewakili dan mengasuh pondok ia diserahi oleh ayahnya untuk mengasuh pondok dalam waktu yang lama karena ayahnya ingin bersilaturrahim ke sanak saudaranya di Tuban terutama ke keluarga Sunan Bonang yang telah lama tidak dikunjunginya.
Jaka Serut  menjadi pengasuh Pondok Serut menggantikan kedudukan Jaka Tarub ayahnya yang tinggal di Plumpang Tuban di tempat istrinya kedua Disamping mengasuh Pondok Serut, Jaka Serut juga mendapat tugas dari Jaka Slining embahnya untuk ikut membantu mengasuh Pondok Bonang yang ada di Rembang Jawa Tengah yang didirikan oleh Jaka Slining ketika dalam pengembaraannya. Jaka Siling sudah tua dan tidak kuat lagi pulang pergi dari Pondok Sabilan Ujungpangkah ke Pondok Bonang Rembang untuk mengasuh kedua pondok itu.
Ketika Jaka Serut di Rembang ia didatangi Belanda dan memintanya untuk membantu Belanda memerangi perintang pemerintahan Belanda. Belanda merayunya hingga ia terpedaya dan menuruti kemauan Belanda. Belanda menjebaknya agar ia mau berhadapan dengan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya yang tidak menghendaki kehadiran Belanda di wilayahnya karena menyengsarakan rakyat. Belanda kewalahan dan tidak mampu menghadapi kesaktian dan kedikdayaan Pangeran Diponegoro. Belanda sudah berusaha mencari orang-orang yang sanggup menghadapi Pangeran Diponegoro, namun Belanda tidak menemukan orang yang dapat menandingi kesaktian dan kedikdayaannya Hanya Jaka Serut satu-satunya tokoh yang dapat menandingi kehebatan ilmu Pangeran Diponegoro menurut para tokoh dalam dunia kanuragan yang didatangi Belanda.
Belanda merasa senang karena Jaka Serut bersedia menghadapi perusuh pemerintahannya. Jaka Serut dihadapkan pada Pangeran Diponegoro yang dianggap sebagai perusuh kekuasaannya. Namun, setelah Jaka Serut saling berhadapan dengan Pangeran Diponegoro, Jaka Serut tidak mau memusuhi Pangeran Diponegoro karena yang dihadapi itu bukan perusuh negara seperti yang diceritakan Belanda kepadanya. Jaka Serut tidak mau bermusuhan dengan sesama ulama. Ia sama dengan dirinya sebagai pejuang dalam menegakkan amar makruf nahi mungkar dan mengembangkan agama Islam. Ia merasa ditipu dan diperdayai oleh Belanda. Ia mengurungkan niatnya membantu Belanda untuk menghadapi Belanda. Ia bersama para santrinya membiarkan Pangeran Diponegoro dan pengikutnya meninggalkan tempat pertempuran. Ia kembali ke pondoknya bersama para santri yang mengikutinya.
Jaka Serut mengasuh Pondok Bonang Rembang itu dibantu anak bungsunya. Setelah anak bungsunya itu mampu mengasuh pondok itu ia menyerahkan sepenuhnya Pondok Bonang Rembang sepenuhnya kepada anaknya karena Jaka Serut ingin kembali ke Ujungpangkah untuk mengasuh pondoknya di Druju yang ia tinggalkan. Sebelum meninggalkan Rembang ia menanam pohon serut di halaman Pondok Bonang Rembang sebagai tanda dan kenangan bagi anaknya yang ditinggalkannya agar selalu ingat orang tuanya dan seluruh kerabatnya yang ada di Pondok Serut Druju. Bila anaknya melihat pohon serut itu ia akan teringat pohon serut yang ada di Pondok Serut Druju Ujungpangkah.
Jaka Serut kembali ke Ujungpangkah. Sebelum meninggalkan Rembang, ia berpesan kepada putranya agar mengembangkan pondoknya dan tidak melupakan untuk bersilturrahim ke sanak saudara dan alumni santri agar tetap terjalin uhuwah Islamiyah. Sesampai di Ujungpangkah Jaka Serut merasa iba melihat penduduk Ujungpangkah mengalami kelaparan. Mereka kelaparan bukan karena panen gagal. Hasil panen mereka dirampas oleh Belanda. Hasil panen penduduk Ujungpangkah disimpan di gudang penyimpanan milik Belanda. Hatinya terbakar melihat kezaliman Belanda. Penduduk yang bersusah payah menanam, hasilnya tidak ikut menikmati mereka ibarat pohon mangga yang menghasilkan buah-buah mangga namun tidak pernah ikut menikmati buahnya  Ia tidak rela melihat penduduk Ujungpangkah itu mati kelaparan. Mereka kebanyakan adalah keluarganya sendiri. Mereka itu tidak lain keturunan Jayeng Katon buyutnya. Mereka juga santri-santrinya.
Jaka Serut beserta santrinya merencanakan penyerangan ke gudang penyimpanan milik Belanda. Ia memilih santri-santrinya yang sudah menguasai ilmu kanuragan yang diajarkan. Ia menyusun rencana serapi-rapinya agar tidak dicium oleh Belanda. Ia akan mengambil kembali barang-barang milik penduduk yang dirampas Belanda.
Pada malam yang direncanakan Jaka Serut dan para santrinya menyerang markas Belanda. Mereka melakukan penyamaran sehingga tidak diketahui Belanda. Markas Belanda itu diobrak-abrik hingga prajurit-prajurit penjaganya lari tunggang langgang meninggalkan markas dan gudang penyimpanan pangan. Santri-santri Jaka Serut menguras habis isi gudang itu dan membawa ke tempat yang aman. Bahan-bahan pangan itu disimpan di tempat yang tersembunyi dan jauh dari markas Belanda. Secara sembunyi-sembunyi bahan-bahan itu dibagikan kepada penduduk Ujungpangkah yang kelaparan. Para penduduk senang sekali menerima pembagian bahan-bahan makanan itu secara gratis. Para penduduk dipesan agar merahasiakan agar tidak sampai tercium Belanda. Mereka tahu akibatnya bila Belanda mengetahuinya. Jaka Serut puas dapat mengembalikan bahan-bahan makanan penduduk yang dirampas oleh Belanda. Ia mengembalikan kepada yang berhak.
Jaka Serut mengasuh Pondok Serut dibantu oleh keempat anaknya. Disamping mengasuh pondok, ia juga sering berdakwah menyebarkan Islam ke luar daerah. Ia dipanggil Syeh Serut atau Syekh Syarofuddin oleh para pantrinya dan para penduduk karena ketinggian ilmunya dan kealimannya. Usianya dihabiskan demi Islam. Ia berjuang demi Islam hingga akhir hayatnya.
Syeh Serut disemayamkan di bawah pohon serut di depan pondoknya. Ia seperti tidak mau dipisahkan dengan pohon serut. Semenjak kecil pohon itu sebagai tempatnya bernaung sambil mengembalakan kambing-kambingnya hingga akhir hayatnya juga bersemayam di pohon kesayangannya. Pohon itu setia menaunginya pada masa hayatnya hingga akhir hayatnya seakan-akan dirinya menyatu dengan pohon itu. Tak salah jika orang tuanya memanggilnya Serut.
Pesarean Syeh Serut banyak diziarahi oleh masyarakat setempat maupun sanak familinya.. Setiap tahun diadakan acara haul di pesareannya. Masyarakat Ujungpangkah dan sekitarnya memenuhi pesareannya menghadiri acara haul. Juga keturunannya yang berada di berbagai daerah ikut hadir. Bahkan keturunnya di Sarang Rembang Jawa Tengah, keluarga K.H. Maimun Zuber, secara rutin selalu menghadiri acara haulnya pada bulan Safar
Di timur pesarean Syekh Serut terdapat sumur peninggalannya. Sumur itu airnya jernih dan tawar padahal lima meter ke utara merupakan areal pertambakan yang asin airnya. Anehnya lagi permukaan air sumur itu kurang lebih satu sampai dua meter tingginya dari permukaan air pertambakan. Sumur itu belum pernah kering airnya meskipun pada musim kemarau panjang sekalipun.
8 Juli 2012

Tradisi Mayat Berjalan di Tana Toraja

oleh alifbraja

Tradisi Mayat Berjalan di Tana Toraja

Mayat berjalan – Tradisi Ma’nene di Tana Toraja, mengganti pakaian jenazah leluhur yang dilakukan secara berkala oleh kerabat keluarganya. Usai berganti baju, sang mayat akan berjalan menuju ke gua di perbukitan, tempat dimana ia disemayamkan.

Ma’ Nene’, tradisi mengganti pakaian jenazah di Toraja

Ma Nene adalah salah satu kegiatan ritual adat di Toraja, khususnya di Baruppu, Rinding Allo Toraja Utara. UpacaraMa Nenek dimaksudkan untuk mengganti pakaian Almarhum, sebagai perwujudan dari rasa cinta keluarga yang masih hidup.

Biasanya, Ma Nene digelar tiap bulan Agustus. Saat Ma Nene berlangsung, peti-peti mati para leluhur, tokoh dan orang tua, dikeluarkan dari makam-makam dan liang batu dan diletakkan di arena upacara. Di sana, sanak keluarga dan para kerabat sudah berkumpul. Secara perlahan, mereka mengeluarkan jenazah (baik yang masih utuh maupun yang tinggal tulang-belulang) dan mengganti busana yang melekat di tubuh jenazah dengan yang baru.Mereka memperlakukan sang mayat seolah-olah masih hidup dan tetap menjadi bagian keluarga besar.
Ritual Ma Nene oleh masyarakat Baruppu dianggap sebagai wujud kecintaan mereka pada para leluhur, tokoh dan kerabat yang sudah meninggal dunia. Mereka tetap berharap, arwah leluhur menjaga mereka dari gangguan jahat, hama tanaman, juga kesialan hidup.

Sejarah Ritul Ma Nene dimulai dari seorang pemburu binatang bernama Pong Rumasek,

Pong Rumasek sewaktu berburu di kawasan hutan pegunungan Balla.Beliau menemukan jasad seseorang yang telah lama meninggal dunia. Mayat itu tergeletak di bawah pepohonan dan hanya tinggal tulang-belulang.

Merasa iba, Pong Rumasek kemudian merawat mayat semampunya.Dibungkusnya tulang-belulang dengan baju yang dipakainya, lalu diletakkan di areal yang lapang. Setelah itu, Pong Rumasek kembali berburu.Tak disangka,setelah memberlakukan mayit seperti itu,beliau selalu beroleh hasil yang besar dalam berburu.Dan sesampainya di rumahnya, Pong Rumasek mendapati tanaman padi di sawah miliknya sudah menguning dan siap panen sebelum waktunya.

Pong Rumasek menganggap,beberapa keberuntungan diperolehnya berkat perilaku yang ditunjukkan sewaktu merawat mayat tak bernama tersebut.

Sejak saat itulah,Pong Rumasek dan masyarakat Baruppu memuliakan mayat para leluhur, tokoh dan kerabat dengan upacara Ma Nene.

Ritual Ma Nene juga memiliki aturan tak tertulis yang mengikat warga. Misalnya, jika seorang istri atau suami meninggal dunia, maka pasangan yang ditinggal mati tak boleh kawin lagi sebelum mengadakan Ma Nene untuknya.

Ketika Ma Nene digelar, para perantau asal Baruppu yang bertebaran ke nusantara akan pulang kampung demi mengikuti ritual.Warga Baruppu memiliki keyakikan, jika Ma Nene tidak digelar maka leluhur juga akan luput menjaga mereka.

 

 

Posted in Budaya & Sastra, Ibrah Sejara

7 Juli 2012

Tarekat Khalwatiyah

oleh alifbraja

Tarekat Khalwatiyah

 
 
 
Umumnya, nama sebuah tarekat diambil dari nama sang pendiri tarekat bersangkutan, seperti Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau Naqsyabandiyah dari Baha Uddin Naqsyaband. Tapi Tarekat Khalwatiyah justru diambil dari kata “khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung. Diambilnya nama ini dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati (w. 717 H), pendiri Tarekat Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi.

Secara “nasabiyah”, Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari Tarekat Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi (539-632 H).

 
Tarekat Khalwatiyah berkembang secara luas di Mesir. Ia dibawa oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali al-Bakri as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal Damaskus, Syiria. Ia mengambil tarekat tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi. Karena pesatnya perkembangan tarekat ini di Mesir, tak heran jika Musthafa al-Bakri dianggap sebagai
pemikir Khalwatiyah oleh para pengikutnya. Karena selain aktif menyebarkan ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya sastra sufistik. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyat Al-Ahzan (Pelipur Duka).
 
Musthafa al-Bakri sejak kecil dikenal sebagai seorang zahid yang cerdas. Menurut salah satu bukunya, al-Bakri menceritakan, bahwa dirinya pernah mengalami hidup sebatang kara. Pada waktu kecil, tepatnya ketika berumur dua tahun, Ayah dan ibunya sempat bercerai. Ia kemudian tinggal bersama ayahnya setelah ibunya kawin lagi dengan lelaki lain. Al-Bakri juga menyatakan, secara geneologis, ayahnya masih memiliki nasab sampai kepada Khalifah Abu Bakar r.a. Sedangkan dari sisi ibunya, nasabnya sampai cucu Rasulullah SAW, al-Husein, putra Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib.
 
Hidup al-Bakri suka sekali berkeliling, terutama ke negeri-negeri yang ada di kawasan Timur Tengah. Hal itu dilakukannya tak lain guna menambah wawasan dan pengetahuan, dan belajar pada guru-guru yang dianggapnya memiliki ilmu tinggi. Dari Damaskus, kampung halamannya, ia pergi ke kota Quds di Palestina, kemudian ke Tripoli (Libanon Utara), ke kota Akka dan kemudian singgah di kota Sidon atau Shaida. Setelah menikah dengan sepupunya tahun 1141 H, ia melanjutnya perjalanannya ke Mekkah Al-Mukarramah sambil menunaikan ibadah haji. Di sana, ia banyak melakukan kontemplasi untuk memperdalam pengalaman batinnya.
 
Setelah tinggal beberapa lama di Mekkah, ia melanjutkan perjalannya ke Mesir. Kemudian kembali ke Quds dan Irak (Baghdad dan Basrah). Tak lama, ia kembali pergi ke Mekkah untuk berhaji yang terakhir kalinya. Tahun 1161 H, ia pergi ke Mesir dan menetap di sana hingga akhir hayatnya (1162 H).
 
Di Mesir inilah, ia banyak berdakwah melalui Tarekat Khalwatiyah yang diambil dari gurunya, Syekh Abdul Latif bin Husamuddin al-Halabi. Tarekat Khalwatiyah nampaknya telah banyak memberi pengaruh pada pemikiran maupun amaliyah al-Bakri sehari-hari. Sehingga dari sekitar 200 karya al-Bakri, sebagian di antaranya banyak berupa amaliyah praktis.
 
Ajaran dan Dzikir Tarekat Khalwatiyah
Dalam Tarekat Khalwatiyah dikenal adanya sebuah amalan yang disebut Al-Asma’ As-Sab’ah (tujuh nama). Yakni tujuh macam dzikir atau tujuh tingkatan jiwa yang harus dibaca oleh setiap salik.
 
Dzikir pertama adalah La ilaaha illallah (pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah). Dzikir pada tingkatan jiwa pertama ini disebut an-Naf al-Ammarah (nafsu yang menuruh pada keburukan, amarah). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang paling terkotor dan selalu menyuruh pemiliknya untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat atau buruk, seperti mencuri, bezina, membunuh, dan lain-lain.
 
Kedua, Allah (Allah). Pada tingkatan jiwa kedua ini disebut an-Nafs al-Lawwamah (jiwa yang menegur). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang sudah bersih dan selalu menyuruh kebaikan-kebaikan pada pemiliknya dan menegurnya jika ada keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.
 
Ketiga, Huwa (Dia). Dzikir pada tingkatan ketiga ini disebut an-Nafs al-Mulhamah (jiwa yang terilhami). Jiwa ini dianggap yang terbersih dan telah diilhami oleh Allah SWT, sehingga bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.
 
Keempat, Haq (Maha Benar). Tingkatan jiwa ini disebut an-Nafs al-Muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa ini selain bersih juga dianggap tenang dalam menghadapi segala problema hidup maupun guncangan jiwa lainnya.
 
Kelima, Hay (Maha Hidup). Disebut juga dzikir an-Nafs ar-Radliyah (jiwa yang ridla). Jiwa ini semakin bersih, tenang dan ridla (rela) terhadap apa yang menimpa pemiliknya, karena semua berasal dari pemberian Allah.
 
Keenam, Qayyum (Maha Jaga). Tingkatan jiwa ini disebut juga an-Nafs Mardliyah (jiwa yang diridlai). Selain jiwa ini semakin bersih, tenang, ridla terhadap semua pemberian Allah juga mendapatkan keridlaan-Nya.
 
Ketujuh, Qahhar (Maha Perkasa). Jiwa ini disebut juga an-Nafs al-Kamilah (jiwa yang sempurna). Dan inilah jiwa terakhir atau puncak jiwa yang paling sempurna dan akan terus mengalami kesempurnaan selama hidup dari pemiliknya.
 
Ketujuh tingkatan (dzikir) jiwa ini intinya didasarkan kepada ayat al-Qur’an. Tingkatan pertama didasarkan pada surat Yusuf ayat 53: “Sesunguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan”.
 
Tingkatan kedua dari surat al-Qiyamah ayat 2: “Dan Aku tidak bersumpah dengan jiwa yang menegur”.
 
Tingkatan ketiga dari surat as-Syams ayat 7 dan 8: “Demi jiwa dan Yang menyempurnakannya. Allah mengilhami jiwa tersebut kejahatan dan ketakwaannya”.
 
Tingkatan keempat dari surat al-Fajr ayat 27: “Wahai jiwa yang tenang”.
 
Tingkatan kelima dan keenam dari surat al-Fajr ayat 28: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keridlaan dan diridlai”.
 
Sementara untuk tingkatan ketujuh yang sudah sempurna, atau yang berada di atas semua jiwa, secara eksplisit tidak ada dalam al-Qur’an, karena al-Qur’an seluruhnya merupakan kesempurnaan dari semua dzikir dan jiwa pemiliknya. Wallahu a’lam.
7 Juli 2012

MA’RIFAT,MENEMUI DAN MENGENAL ALLAH

oleh alifbraja
MA’RIFAT berasal dari kata. “ara fa” yang arti­nya: mengenal.
Menurut “Imam Al-Ghozali”, arti pengenalan kepada Allah, Tuhan semesta alam, yaitu yang timbul karena musyahadah (penyaksian).
-Maka orang arif ialah orang yang telah mengenal Dzat, sifat, asma, dan af’al Allah dengan perantaraan musya­hadahnya (penyaksian/bukti yang nyata).
-Seorang yang alim ialah orang yang mengenal Tuhannya tanpa melalui musyahadahnya, namun hanya dengan keper­cayaan biasa saja.
-Orang yang tingkat Ma’rifatnya tinggi tentu akan melihat bahwa Allah adalah wujud yang paling jelas, paling terang dan teramat nyata.
Oleh karena itu Allah dalam pandangan mereka itu jelas dan nyata, maka menyebabkan adanya proses pengenalan terhadap-Nya menjadi ilmu yang tertinggi clan yang paling utama. Berbeda dengan orang awam, yang belum mencapai tingkat Ma’rifat, bagi mereka Allah itu memang tiada terwujud atau tidak bisa di­pandang melalui pandangan lahiriah.
Adapun pengertian menurut seorang ahli Ma’ri­fat bernama “Hallaj” mengartikan dalam beberapa pepatah sebagai berikut:
Tak seorang-pun mengenal-Nya kecuali orang yang telah dibuat-Nya mengenal-Nya”.
“Tak seorang-pun bisa mengenal-Nya kecuali orang yang hati-nuraninya telah diilhami oleh-Nya sendiri”.
“Tak seorang-pun setia kepada-Nya kecuali orang yang telah didekatkan oleh-Nya pada-Nya”.
“Tak seorang-pun mempercayai-Nya kecuali orang yang kepadanya Dia telah memperlihatkan karunia-Nya”.
“Tak seorang pun berbakti pada-Nya kecuali orang yang telah dipilih-Nya”.
Dengan demikian, berma’rifatullah menjadikan kita semakin mantap keyakinannya, semakin teguh keimanannya dan semakin besar taqwa kita terhadap ALLAH, Tuhan semesta alam sehingga mencapai “ISBATULYAQIN” yaitu yakin yang seyakin-yakin­nya setelah adanya pembuktian nyata.
Bagi para penganut Nabi Muhammad saw. tingkat pelajaran dibagi 4 (empat) tingkatan yaitu:
MA’RIFAT
HAKEKAT
TAREKAT
SYAREAT
KETERANGAN:
MARIFAT : Ilmu pengetahuan yang sampai ketingkat keyakinan yang mutlak dalam meng-esakan Allah. Penghayatan Kepercayaan KepadaTuhan Yang Maha Esa, Bagi Yang telah Dapat Menyaksikan Nur Allah ( SEMBAH SUKMA)
HAKEKAT : Pandangan yang terus menerus kepada Allah. Kesadaran Mental Ber­orientasi pada Dimensi-dimensi Atas­an (Budhi Luhur), (SEMBAH JIWA/ RASA).
TAREKAT :Berjalan menurut ketentuan-ketentuan syareat, yakni berbuat sesuai dengan yang diatur oleh syareat. Kesadaran Mental Berorientasi pada Dimensi-dimensi Bawahan (Bawah Sadar), (SEMBAH CIPTA).
SYAREAT : Pengetahuan terhadap jalan-jalan me­nuju kepada Allah. Kesadaran Ber­perilaku Hidup Sehari-hari yang Ber­orientasi kepada Norma-norma Bu­daya/Agama/Hukum dan Aturan-aturan Sosial, Lingkungan yang her­laku, (SEMBAH RAGA/ROGO).
Syari’at           tingkat Wajjibulyaqin
Tharikat         tingkat Ainulyakin.
Hakikat          tingkat flaqquiyaqin.
Ma’rifat           tingkat Isbatulyaqin
Banyak orang berpendapat, bahwa untuk BER­IMAN kepada Allah kita cukup percaya dan yakin terhadap keberadaan Tuhan Yang Maha Esa. Di samping itu bagi umat Islam cukup melaksanakan Rukun Islam dan Rukun Iman dengan sempurna, maka manusia telah merasa puas dan telah merasa cukup BERIMAN terhadap Allah swt., tanpa her­usaha untuk menemui dan mengenal Allah.
Benarkah demikian?
Untuk mengkaji kebenaran pendapat tersebut di atas, kami persilahkan para pembaca memahami dan meneliti serta mencari jawabannya dengan mem­pelajari bunyi ayat-ayat Kitab Suci sebagai berikut:
AL-KAHFI :103 -104 -105
103. Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”
104. Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.
105. mereka itu orang-orang yang telah kufur terhadap ayat-ayat Tuhan mereka dan (kufur terhadap) perjumpaan dengan Dia, Maka hapuslah amalan- amalan mereka, dan Kami tidak Mengadakan suatu penilaian bagi (amalan) mereka pada hari kiamat.
YUNUS : 7 – 8
7. Sesungguhnya orang-orang yang tidak mengharapkan (tidak percaya akan) Pertemuan dengan Kami, dan merasa puas dengan kehidupan dunia serta merasa tenteram dengan kehidupan itu dan orang-orang yang melalaikan ayat-ayat Kami,
8. mereka itu tempatnya ialah neraka, disebabkan apa yang selalu mereka kerjakan.
Dapatkah kita men yaksikan /bertemu Tuhan?
Banyak pendapat, di kalangan umat beragama mengatakan akan bahwa manusia tidak akan bertemu/menyaksikan Tuhan terkecuali Nabi. Kata menyaksikan pasti ada hubungannya dengan pandangan mata. Sebagaimana kita ketahui, bahwa ada dua macam pandangan mata, yaitu mata lahiriah dan mata batiniah. Mata lahiriah dari alam inderawi dan alam kasat mata (“alamul hiss was-syahadah”) dan mata batiniah dari alam lain, yaitu alam malaikat, atau alam malakut
Memang manusia tak akan mampu melihat,-Nya dengan mata lahiriah. Kalaupun seandainya Allah menampakkan dirinya, pasti kita tak akan kuat menatap wujudnya dengan indera mata kita. Dan akal kita tak akan mampu menjangkau pemahaman tetang Allah, kecuali melalui Ma’rifat atau tingkat keyakinan yang tinggi. Dikarenakan Tuhan itu tersembunyi, maka inilah yang menyebabkan tak terjangkaunya Dia oleh pemahaman.
Akan tetapi bagi orang yang kuat dan tajam mata batinnya, penuh ketekunan maka hal itu bagi mereka dalam keadaan bagaimanapun, di manapun berada yang dilihat hanya Allah. Mereka dapat melihal, wujud-Nya dengan mata batinnya yang tajam dan kuat itu. Sedangkan ciptaan-Nya yang ada di alam semesta ini hanyalah kodrat-Nya saja, sesuatu yang ia lihat., disebut orang yang bertauhid dalam arti yang sebenarnya; bahkan dirinya tidak dipandang sebagai makhluk yang berdiri sendiri melainkan dirinya adalah merupakan suatu kesatuan dengan Semesta Alam.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut di atas dalam rangka mencari kebenaran maka sebaiknya per¬hatikanlah bunyi ayat-ayat sebagai berikut:
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah.
AL-ANKABUT :5
Barangsiapa yang mengharap Pertemuan dengan Allah, Maka Sesungguhnya waktu (yang dijanjikan) Allah itu, pasti datang. dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.
55. dan ketika kamu berkata: “Hai Musa, Kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan nyata. Lalu kamu disambar halilintar dan kini kamu telah melihat-Nya”.
A-RAFF: 143
… “Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau”. ..
QAFF: 22
Sesungguhnya kamu berada dalam Keadaan lalai dari (hal) ini, Maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu Amat tajam.
Apabila kita menyimak ayat-ayat diatas dengan akal yang sehat, maka kita dapat mengambil kesimpulan bahwa kita dapat bertemu dan menyaksikan Tuhan, apabila Tuhan mengizinkan dan menghendaki-Nya. Demikian pula perhatikanlah bunyi KALIMAT SYAHADAT sebagai berikut :
“ Kami bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah “
Dari kalimat tersebut dapat deitegaskan bahwa kita dapat menyaksikan Tuhan, bila dikehendaki-Nya dan atas seizin-Nya. Dan Shalat kita benar-benar seperti apa yang diucapkan oleh mulut kita.
2 Juli 2012

Tarekat Khalwatiyah

oleh alifbraja

Umumnya, nama sebuah tarekat diambil dari nama sang pendiri tarekat bersangkutan, seperti Qadiriyah dari Syekh Abdul Qadir Al-Jailani atau Naqsyabandiyah dari Baha Uddin Naqsyaband. Tapi Tarekat Khalwatiyah justru diambil

dari kata “khalwat”, yang artinya menyendiri untuk merenung. Diambilnya nama ini dikarenakan seringnya Syekh Muhammad Al-Khalwati (w. 717 H), pendiri Tarekat Khalwatiyah, melakukan khalwat di tempat-tempat sepi.

Secara “nasabiyah”, Tarekat Khalwatiyah merupakan cabang dari Tarekat Az-Zahidiyah, cabang dari Al-Abhariyah, dan cabang dari As-Suhrawardiyah, yang didirikan oleh Syekh Syihabuddin Abi Hafs Umar as-Suhrawardi al-Baghdadi (539-632 H).

Tarekat Khalwatiyah berkembang secara luas di Mesir. Ia dibawa oleh Musthafa al-Bakri (lengkapnya Musthafa bin Kamaluddin bin Ali al-Bakri as-Shiddiqi), seorang penyair sufi asal Damaskus, Syiria. Ia mengambil tarekat tersebut dari gurunya yang bernama Syekh Abdul Latif bin Syekh Husamuddin al-Halabi. Karena pesatnya perkembangan tarekat ini di Mesir, tak heran jika Musthafa al-Bakri dianggap sebagai pemikir Khalwatiyah oleh para pengikutnya. Karena selain aktif menyebarkan ajaran Khalwatiyah ia juga banyak melahirkan karya sastra sufistik. Di antara karyanya yang paling terkenal adalah Tasliyat Al-Ahzan (Pelipur Duka).

Musthafa al-Bakri sejak kecil dikenal sebagai seorang zahid yang cerdas. Menurut salah satu bukunya, al-Bakri menceritakan, bahwa dirinya pernah mengalami hidup sebatang kara. Pada waktu kecil, tepatnya ketika berumur dua tahun, Ayah dan ibunya sempat bercerai. Ia kemudian tinggal bersama ayahnya setelah ibunya kawin lagi dengan lelaki lain. Al-Bakri juga menyatakan, secara geneologis, ayahnya masih memiliki nasab sampai kepada Khalifah Abu Bakar r.a. Sedangkan dari sisi ibunya, nasabnya sampai cucu Rasulullah SAW, al-Husein, putra Khalifah Sayyidina Ali bin Abi Thalib.

Hidup al-Bakri suka sekali berkeliling, terutama ke negeri-negeri yang ada di kawasan Timur Tengah. Hal itu dilakukannya tak lain guna menambah wawasan dan pengetahuan, dan belajar pada guru-guru yang dianggapnya memiliki ilmu tinggi. Dari Damaskus, kampung halamannya, ia pergi ke kota Quds di Palestina, kemudian ke Tripoli (Libanon Utara), ke kota Akka dan kemudian singgah di kota Sidon atau Shaida. Setelah menikah dengan sepupunya tahun 1141 H, ia melanjutnya perjalanannya ke Mekkah Al-Mukarramah sambil menunaikan ibadah haji. Di sana, ia banyak melakukan kontemplasi untuk memperdalam pengalaman batinnya.

Setelah tinggal beberapa lama di Mekkah, ia melanjutkan perjalannya ke Mesir. Kemudian kembali ke Quds dan Irak (Baghdad dan Basrah). Tak lama, ia kembali pergi ke Mekkah untuk berhaji yang terakhir kalinya. Tahun 1161 H, ia pergi ke Mesir dan menetap di sana hingga akhir hayatnya (1162 H).

Di Mesir inilah, ia banyak berdakwah melalui Tarekat Khalwatiyah yang diambil dari gurunya, Syekh Abdul Latif bin Husamuddin al-Halabi. Tarekat Khalwatiyah nampaknya telah banyak memberi pengaruh pada pemikiran maupun amaliyah al-Bakri sehari-hari. Sehingga dari sekitar 200 karya al-Bakri, sebagian di antaranya banyak berupa amaliyah praktis.

Ajaran dan Dzikir Tarekat Khalwatiyah
Dalam Tarekat Khalwatiyah dikenal adanya sebuah amalan yang disebut Al-Asma’ As-Sab’ah (tujuh nama). Yakni tujuh macam dzikir atau tujuh tingkatan jiwa yang harus dibaca oleh setiap salik.

Dzikir pertama adalah La ilaaha illallah (pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah). Dzikir pada tingkatan jiwa pertama ini disebut an-Naf al-Ammarah (nafsu yang menuruh pada keburukan, amarah). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang paling terkotor dan selalu menyuruh pemiliknya untuk melakukan perbuatan dosa dan maksiat atau buruk, seperti mencuri, bezina, membunuh, dan lain-lain.

Kedua, Allah (Allah). Pada tingkatan jiwa kedua ini disebut an-Nafs al-Lawwamah (jiwa yang menegur). Jiwa ini dianggap sebagai jiwa yang sudah bersih dan selalu menyuruh kebaikan-kebaikan pada pemiliknya dan menegurnya jika ada keinginan untuk melakukan perbuatan-perbuatan buruk.

Ketiga, Huwa (Dia). Dzikir pada tingkatan ketiga ini disebut an-Nafs al-Mulhamah (jiwa yang terilhami). Jiwa ini dianggap yang terbersih dan telah diilhami oleh Allah SWT, sehingga bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk.

Keempat, Haq (Maha Benar). Tingkatan jiwa ini disebut an-Nafs al-Muthmainnah (jiwa yang tenang). Jiwa ini selain bersih juga dianggap tenang dalam menghadapi segala problema hidup maupun guncangan jiwa lainnya.

Kelima, Hay (Maha Hidup). Disebut juga dzikir an-Nafs ar-Radliyah (jiwa yang ridla). Jiwa ini semakin bersih, tenang dan ridla (rela) terhadap apa yang menimpa pemiliknya, karena semua berasal dari pemberian Allah.

Keenam, Qayyum (Maha Jaga). Tingkatan jiwa ini disebut juga an-Nafs Mardliyah (jiwa yang diridlai). Selain jiwa ini semakin bersih, tenang, ridla terhadap semua pemberian Allah juga mendapatkan keridlaan-Nya.

Ketujuh, Qahhar (Maha Perkasa). Jiwa ini disebut juga an-Nafs al-Kamilah (jiwa yang sempurna). Dan inilah jiwa terakhir atau puncak jiwa yang paling sempurna dan akan terus mengalami kesempurnaan selama hidup dari pemiliknya.

Ketujuh tingkatan (dzikir) jiwa ini intinya didasarkan kepada ayat al-Qur’an. Tingkatan pertama didasarkan pada surat Yusuf ayat 53: “Sesunguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada keburukan”.

Tingkatan kedua dari surat al-Qiyamah ayat 2: “Dan Aku tidak bersumpah dengan jiwa yang menegur”.

Tingkatan ketiga dari surat as-Syams ayat 7 dan 8: “Demi jiwa dan Yang menyempurnakannya. Allah mengilhami jiwa tersebut kejahatan dan ketakwaannya”.

Tingkatan keempat dari surat al-Fajr ayat 27: “Wahai jiwa yang tenang”.

Tingkatan kelima dan keenam dari surat al-Fajr ayat 28: “Kembalilah kepada Tuhanmu dengan keridlaan dan diridlai”.

Sementara untuk tingkatan ketujuh yang sudah sempurna, atau yang berada di atas semua jiwa, secara eksplisit tidak ada dalam al-Qur’an, karena al-Qur’an seluruhnya merupakan kesempurnaan dari semua dzikir dan jiwa pemiliknya. Wallahu a’lam.

%d blogger menyukai ini: