Posts tagged ‘Chania’

23 Oktober 2012

hal jabariyah lahaulawalaku wata illa billah

oleh alifbraja

Untuk ubudiyahnya,  aku .. disandarkan kepada,  lahaulawalaku wata illa billah….(tiada daya dan upayaku…) bagi yang belum mentajalikan asma (belum mengenal nama ke-100) …  makanya  adab ibadah ubudiyahnya ada istigpar.. subhanallah 33x, alhamdulillah 33x, allahu akbar, 33x  berjumlah 99, dan tambah  lagi satu nama yang Asli (nama yang ke-100), nama yang Rahasia,, nama yang tidak dinyaringkan. 

Sedangkan, kesimpulan makrifat (yang sudah tahu nama yang ke-100) iaitu adalah perhimpunan kesempurnaan (dzat, sifat, asma dan afaal) pada  nama Rahasia itu.  Mustahil kenal pangkat (Tuhan) dan jabatan (Allah), tetapi tidak kenal nama Aslinya (Rahsianya) …..anak-anak  juga tau..

(Berkaitan pertanyaan ante itu) Betul masih jabariyah..ibarat sekolah tidak ada ijazah..apa lagi belum pernah digurukan..Firman Allah: Tuhan mengajarkan kalam dan apa yang kita tidak ketahui.

Jadi yang tidak diketahui disuruh cari (carilah nama Rahasia itu).

(Perhatian: Nama Rahasia adalah sama dengan Ismu al Adzim, nama Asli Dzat dan nama yang ke-100)

Iklan
17 Oktober 2012

Manifestasi Makrifat

oleh alifbraja

Berbagai pilihan AMAL ADALAH KARENA BERBAGAI-BAGAI AHWAL (HAL-HAL)

 

Ini dalam membicarakan tentang makrifat tentang gambaran makrifat tetapi tidak dikatakan makrifat dan tidak diuraikan secara terus terang sebaliknya dikatakan sebagai ahwal. Ahwal adalah jamak untuk kata hal. Hikmat ini membawa arti hal membentuk keadaan amal. Amal adalah perbuatan atau perilaku lahiriah dan hal adalah suasana atau perilaku hati. Amal terkait dengan “lahiriah” manakala hal terkait dengan “batiniah.” Karena hati menguasai sekalian anggota maka kelakuan hati yaitu hal menentukan bentuk amal yaitu perbuatan lahiriah.

Dalam pandangan tasawuf, hal diartikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat. Hal merupakan zauk atau rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah). Karena itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak diperoleh makrifat. Ahli ilmu membangun makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasauf bermakrifat melalui pengalaman lansung tentang hakikat.

Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli spiritual terlebih dahulu memperoleh kasyaf yaitu terbuka kegaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk gaib seperti jin. Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya setan yang bersembunyi dalam berbagai bentuk dan suasana dunia ini. Kasyaf yang mengakui sesuatu, walau apa rupa yang dihadapi, penting bagi pengembara kerohanian. Rasulullah saw sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibril as dalam rupanya yang asli dua kali saja, meskipun pada setiap kali Jibril as menemui Rasulullah saw dengan rupa yang berbeda, Rasulullah saw tetap mengenalinya sebagai Jibril as Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya setan yang menjelma dalam berbagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa seorang yang tampak alim dan wara ‘.

 

AL-ALIM.

Bila seseorang ahli kerohanian memperoleh kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau zauk yaitu pengalaman kerohanian tentang hakikat ketuhanan. Hal tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu. Sebelum ini pernah dinyatakan bahwa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat. Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai hampir dengan pintu gerbangnya. Ketika sampai di situ seseorang hanya menanti karunia Allah, semata-mata karunia Allah yang membawa ma’rifat kepada hamba-hamba-Nya. Karunia Allah yang mengandung makrifat itu dinamakan hal. Allah memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahwa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi efeknya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil sampai dia jatuh pingsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau zauk atau merasakan keperkasaan Allah dan pengalaman ini dinamakan hakikat, yaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allah Pengalaman hati tersebut membuatnya berpengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperoleh dari zauk hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu disebut makrifat. Orang yang terkait dikatakan bermakrifat terhadap keperkasaan Allah Jadi untuk mencapai makrifat seseorang itu haruslah mengalami hakikat. Inilah jenis makrifat yang tertinggi. Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu. Makrifat secara ilmu bisa didapat dengan belajar, sementara secara zauk tersedia tanpa belajar (laduni). Ahli tasawuf tidak berhenti sejauh makrifat secara ilmu malah mereka mempersiapkan hati mereka agar sesuai menerima kedatangan ma’rifat secara zauk.

Ada orang yang memperoleh hal sekali saja dan dikuasai oleh hal dalam tempuh tertentu dan ada juga yang berkelanjutan di dalam hal. Hal yang berkelanjutan atau berkelanjutan dinamakan wisal yaitu penyerapan hal menerus, permanen atau baqa. Orang yang mencapai wisal akan terus hidup dengan cara hal yang terkait. Hal-hal (ahwal) dan wisal bisa dibagi lima jenis:

1: Abid:

Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau zauk yang membuat dia merasakan secara bersangatan bahwa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak memiliki daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, kemampuan, bakat-bakat dan apa saja yang ada dengannya adalah daya dan upaya yang dari Allah Semuanya itu adalah karunia-Nya semata. Allah sebagai Pemilik yang sebenarnya, ketika Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali setiap waktu yang dikehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah sehingga jika dia melepaskan cadangan itu dia akan jatuh, tidak berdaya, tidak bisa bergerak, karena dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah swt Hal atau suasana yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau kelakuan sangat kuat beribadah, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak mengambil bagian dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah dan gemar sendirian. Dia merasakan apa saja yang selain Allah akan menjauhkan dirinya dari Allah

2: Asyikin:

Asyikin adalah orang yang mendapat asyik dengan sifat Keindahan Allah Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal kepadanya karena apa saja yang dilihatnya menjadi cermin yang dia melihat Keindahan serta Keelokan Allah di dalamnya. Amal atau perilaku asyikin adalah gemar merenung alam maya dan memuji Keindahan Allah pada apa yang disaksikannya. Dia bisa duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu. Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang terlihat adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan aturan masyarakat. Kesadarannya bukan lagi pada alam ini. Dia memiliki alamnya sendiri yang di dalamnya hanyalah Keindahan Allah

3: Muttakhaliq:

Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan berubah sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana qurbi Faraidh atau qurbi nawafil. Dalam qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang mau terjadi pada kelakuan dan perbuatannya. Dia menjadi orang yang berpisah dari dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengendalikan atau mempengaruhinya. Hal qurbi Faraidh adalah dia melihat bahwa Allah melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah, dan diamnya ini adalah gerakan Allah Orang ini tidak memiliki kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan tadbir. Apa yang mengenai dirinya, seperti kata dan perbuatan, terjadi secara spontan. Perilaku atau amal qurbi Faraidh adalah bercampur-campur antara logika dengan tidak logis, menurut adat dengan merombak adat, perilaku alim dengan jahil. Dalam banyak hal penjelasan yang bisa diberikannya adalah, “Tidak tahu! Allah s.w.t berbuat apa yang Dia kehendaki “.

Dalam suasana qurbi nawafil, pula muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah yang menguasai bakat dan kemampuan pada sekalian anggotanya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal qurbi nawafil adalah berbuat dengan izin Allah karena Allah mengaruniakan kepadanya kemampuan untuk berbuat sesuatu. Contoh qurbi nawafil adalah perilaku Nabi Isa as yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah, juga perilaku beliau as menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa as melihat sifat-sifat Allah yang diizinkan menjadi bakat dan kemampuan beliau as, sebab itu beliau as tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah SWT

4: muwahhid:

Muwahhid fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid adalah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah Orang ini telah putus hubungannya dengan kesadaran basyariah dan sekalian maujud. Perilaku atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Ahmad, dan jika ditanya kepadanya di mana Ahmad, maka dia akan menjawab Ahmad tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke’Ahmad-an ‘dan benar-benar dikuasai oleh ke’Allah-an’. Ketika dia dikuasai oleh hal dia terlepas dari beban hukum. Dia mungkin meneriakkan, “Akulah Allah! Maha Suci Aku! Sembahlah Aku! “Dia telah fana dari ‘aku’ dirinya dan dikuasai oleh keberadaan ‘Aku Hakiki’. Akan tetapi sikap dan perilakunya dia tetap dalam ridha Allah Bila dia tidak dikuasai oleh hal, kesadarannya kembali dan dia menjadi anggota syariat yang taat. Perlu diketahui bahwa hal tidak bisa dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak bisa menahannya. Ahli hal karam dalam perbuatan Allah s.w.t. Kapan dia meneriakkan, “Akulah Allah!” Bukan berarti dia mengaku telah menjadi Tuhan, tetapi dirinya telah fana, apa yang terucap melalui lidahnya sebenarnya adalah dari Allah Allah yang mengatakan Dia adalah Tuhan dengan menggunakan lidah muwahhid yang sedang fana itu.

Berbeda pula kaum Mulhid. Si Mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada zauk, tetapi berkelakuan dan berbicara seperti orang yang di dalam zauk. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat bukan mengalami hakikat secara zauk. Si Mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata. Dia puas berbicara tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini berbicara sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesadaran kemanusiaan, masih gelojoh dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi sepakat mengatakan bahwa barangsiapa yang mengatakan, “Ana al-Haq!” Sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang tersebut adalah sesat dan kufur!

5: Mutahaqqiq:

Mutahaqqiq adalah orang yang setelah fana dalam zat turun kembali ke kesadaran sifat, seperti yang terjadi kepada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diurus. Dalam kesadaran zat seseorang tidak keluar dari khalwatnya dengan Allah dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. Sebab itu orang yang demikian tidak bisa dijadikan pemimpin. Dia harus turun ke kesadaran sifat barulah dia bisa memimpin orang lain. Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang ditunjuk oleh Allah menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah Orang inilah yang menjadi anggota makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, anggota tarekat yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani. Insan Rabbani tingkat tertinggi adalah para nabi-nabi dan Allah karuniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi ditunjuk sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.

Ahwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeda, dengan itu akan mencetuskan kelakuan amal yang berbeda. Ahwal harus dipahami dengan sebenarnya oleh orang yang memasuki pelatihan tarekat spiritual, supaya dia mengetahui, dalam amal yang bagaimanakah dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan shalat, zikir atau puasa. Dia harus berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia cepat dan selamat sampai ke puncak.

————————–

1: Penjelasan, memori, tarik dan keinginan terhadap benda-benda alam seperti harta, wanita, pangkat dan lain-lain.

2: Kehendak atau syahwat yang mengarahkan perhatian kepada apa yang diinginkan.

3: Kelalaian yang menutup ingatan terhadap Allah

4: Dosa yang tidak dicuci dengan taubat masih mengotori hati.

Diri manusia tersusun dari anasir

i.tanah,

ii.air,

iii.api dan

iv.angin.

Ia juga diresapi oleh unsur-unsur alam seperti mineral, tumbuh-tumbuhan, hewan, setan dan malaikat. Setiap anasir dan unsur itu menarik hati kepada diri masing-masing. Tarik menarik itu akan menimbulkan kekacauan di dalam hati. Kekacauan itu pula menyebabkan hati menjadi keruh. Hati yang keruh tidak dapat menerima sinar nur yang melahirkan iman dan tauhid. Mengobati kekacauan hati adalah penting untuk membukakannya untuk menerima informasi dari alam malakut. Hati yang kacau itu bisa distabilkan dengan cara menundukkan semua anasir dan unsur tadi kepada syariat. Syariat menjadi tali yang dapat mengikat musuh-musuh yang mencoba menawan hati. Penting bagi seorang murid yang menjalani jalan spiritual menjadikan syariat sebagai payung yang mengharmoniskan perjalanan anasir-anasir dan daya-daya yang menyerap ke dalam diri agar cermin hatinya bebas dari gambar-gambar virtual. Bila cermin hati sudah bebas dari gambar-gambar dan atraksi tersebut, hati dapat menghadap ke Hadrat Ilahi.

Selain atraksi benda-benda alam, hati bisa juga tunduk kepada syahwat. Syahwat bukan saja rangsangan nafsu yang rendah. Semua bentuk kehendak diri sendiri yang berlawanan dengan kehendak Allah adalah syahwat. Kerja syahwat adalah mengajak manusia supaya lari dari hukum dan aturan Allah serta membangkang takdir Ilahi. Syahwat membuat manusia tidak reda dengan keputusan Allah Seseorang yang mau menuju Allah harus melepaskan dirinya dari belenggu syahwat dan keinginan diri sendiri, lalu masuk ke dalam benteng Aslim yaitu berserah diri kepada Allah dan reda dengan takdir-Nya.

Hal berikutnya yang yang dikatakan sebagai ilmu hikmatialah junubbatin tidak suci dan dilarang melakukan ibadah atau memasuki masjid. Orang yang berjunub batin pula tertegah dari memasuki Hadrat Ilahi. Orang yang di dalam junub batin yaitu default hati, posisinya seperti orang yang berjunub lahir, di mana amal ibadatnya tidak diterima. Allah mengancam untuk menjatuhkan orang yang shalat dengan default (dalam kondisi berjunub batin) ke dalam neraka wil. Begitu hebat sekali ancaman Allah kepada orang yang menghadap-Nya dengan hati yang lalai.

Mengapa begitu hebat sekali ancaman Allah kepada orang yang lalai? Bayangkan hati itu berupa dan berbentuk seperti rupa dan bentuk kita lahir. Hati yang khusyuk adalah umpama orang yang menghadap Allah dengan mukanya, duduk dengan tertib, berbicara dengan sopan santun dan tidak berani mengangkat kepala di hadapan Kaisar Yang Maha Agung. Hati yang lalai pula adalah umpama orang yang menghadap dengan belakangnya, duduk secara biadab, bertutur kata tidak tentu ujung pangkal dan perilakunya sangat tidak sopan. Perbuatan demikian adalah satu penghinaan terhadap martabat ketuhanan Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Jika raja didunia murka dengan perbuatan demikian maka Raja kepada sekalian raja-raja lebih berhak melemparkan kemurkaan-Nya kepada hamba yang biadab itu dan layaklah jika si hamba yang demikian dicampakkan ke dalam neraka wil. Hanya hamba yang khusyuk, yang tahu bersopan santun di hadapan Tuhannya dan mengagungkan Tuhannya yang layak masuk ke Hadrat-Nya, sementara hamba yang lalai, tidak tahu bersopan santun tidak layak mendekati-Nya.

Yang ke empat adalah dosa-dosa yang belum ditebus dengan taubat. Ia mencegah seseorang dari memahami rahasia-rahasia yang halus-halus. Pintu ke Perbendaharaan Allah yang tersembunyi adalah taubat! Orang yang telah menyuci-bersihkan hatinya hanya mampu berdiri di luar pintu Rahasia Allah selagi dia belum bertaubat, samalah seperti orang yang mati syahid yang belum menjelaskan hutangnya terpaksa menunggu di luar surga. Jika dia mau masuk ke dalam Perbendaharaan Allah yang tersembunyi yang mengandung rahasia yang halus-halus wajib bertobat. Taubat itu sendiri merupakan rahasia yang halus. Orang yang tidak memahami rahasia taubat tidak akan mengerti mengapa Rasulullah yang tidak pernah melakukan dosa masih juga memohon ampunan sedangkan sekalipun beliau berdosa semuanya diampuni Allah Apakah Rasulullah saw tidak yakin bahwa Allah mengampuni semua dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan beliau (jika ada)?

Maksud taubat adalah kembali, yaitu kembali kepada Allah Orang yang melakukan dosa tercampak jauh dari Allah Meskipun orang ini sudah berhenti melakukan dosa malah dia sudah melakukan amal ibadat dengan banyaknya namun, tanpa taubat dia tetap tinggal berjauhan dari Allah Dia telah masuk ke dalam golongan hamba yang melakukan amal salih tetapi yang berjauhan bukan berdekatan dengan Allah Taubat yang lebih halus adalah pengayatan kalimat:

“Laa Hau la wala quwata illa billah.”

Tiada daya dan upaya melainkan anugerah Allah

“Inna Lillillahi wa-inna ilai-irajiun”

Kami datang dari Allah dan kepada Allah kami kembali.

Segala sesuatu datangnya dari Allah, baik kehendak maupun perbuatan kita. Sumber yang mendatangkan segala sesuatu adalah Uluhiyah (Tuhan) dan yang menerimanya adalah ubudiyah (hamba). Apa saja yang dari Uluhiyah adalah sempurna dan apa saja yang terbit dari ubudiyah adalah tidak sempurna. Uluhiyah memberikan kesempurnaan tetapi ubudiyah tidak dapat melaksanakan kesempurnaan itu. Jadi, ubudiyah berkewajiban mengembalikan kesempurnaan itu kepada Uluhiyah dengan memohon ampunan dan bertobat sebagai menampung cacat. Segala urusan dikembalikan kepada Allah s.w.t. Semakin tinggi makrifat seseorang hamba semakin kuat ubudiyahnya dan semakin sering dia memohon ampunan dari Allah, mengembalikan setiap urusan kepada Allah, sumber datangnya segala urusan.

Bila hamba mengembalikan urusannya kepada Allah maka Allah sendiri yang akan mengajarkan Ilmu-Nya yang halus-halus agar kehendak hamba itu sesuai dengan Iradat Allah, kuasa hamba sesuai dengan Kudrat Allah, hidup hamba sesuai dengan Hayat Allah dan pengetahuan hamba sesuai dengan Ilmu Allah, dengan itu jadilah hamba mendengar karena Sama ‘Allah, melihat karena Basar Allah dan berkata-kata karena Kalam Allah Setelah semuanya berkumpul pada seorang hamba maka jadilah hamba itu Insan Sirullah (Rahasia Allah).

MAHA SUCI ALLAH YANG MENUTUPI RAHASIA KEISTIMEWAAN (PARA WALI) DENGAN diperlihatkan SIFAT KEMANUSIAAN BIASA bagi masyarakat dan TERNYATA KEBESARAN KETUHANAN ALLAH SWT DALAM memperlihatkan sifat kehambaan (PADA WALI-NYA). Orang yang jahil dan lemah imannya mudah terlintas sangkaan saat menghadapi kejadian yang luar biasa yang terzahir dari seseorang manusia. Nabi Ia as dilahirkan secara luar biasa, dan padanya terzahir mukjizat yang luar biasa, menyebabkan sekelompok manusia menganggap beliau as sebagai anak Tuhan. Uzair yang ditidurkan oleh Allah selama seratus tahun dan dijagakan di kalangan generasi yang sudah melupakan Taurat, lalu Uzair membacakan isi Taurat dengan lancar. Penonton pun menganggap Uzair sebagai luar biasa, lalu mengangkatnya sebagai anak Tuhan. Orang sering mengagungkan manusia yang memiliki kemampuan yang luar biasa. Terkadang cara pengagungan itu sangat keterlaluan sehingga orang yang diagungkan itu didudukkan pada taraf yang melebihi standar manusia. Selain dianggap sebagai anak Tuhan, ada juga yang dianggap sebagai penjelmaan Tuhan. Timbul juga penabalan sebagai Imam Mahadi yang dijanjikan Tuhan. Efek pemujaan sesama manusia banyak terdapat di lembaran sejarah. Pemujaan yang demikian dianggap Allah sebagai menyembah makhluk. Hal ini terjadi karena salah menafsirkan kejadian luar biasa yang terzahir pada orang tersebut, meskipun mereka tidak meminta diagungkan. Hal luar biasa yang terjadi pada nabi-nabi disebut mukjizat dan yang terjadi pada wali-wali dinamakan keramat. Mukjizat menjadi bagian dari bukti atau argumen kepada publik tentang kebenaran kenabian. Fungsi utama mukjizat adalah memperkuat keyakinan publik kepada seseorang nabi itu. Sesuai dengan fungsinya mukjizat terjadi secara terbuka dan diketahui publik. Keramat pula merupakan karunia khusus kepada para wali. Tujuan utamanya adalah untuk menambahkan keyakinan wali itu sendiri. Tidak dimaksudkan untuk membuktikan posisi wali itu kepada orang banyak. Kekeramatan banyak terjadi pada zaman akhir ini, jarang terjadi pada zaman Rasulullah saw dan para sahabat, sedangkan para sahabat beliau adalah aulia Allah yang agung. Sebagian dari mereka telah dinyatakan sebagai anggota surga ketika mereka masih hidup lagi. Mereka sudah memiliki iman yang sangat teguh, tidak perlu ke kekeramatan untuk menguatkannya. Jaminan surga yang diberikan oleh Rasulullah saw tidak membuat mereka mengurangi layanan bakti mereka kepada Allah Umat ​​yang terakhir ini tidak memiliki hati sebagaimana umat pada zaman Rasulullah saw Umat ​​zaman akhir ini membutuhkan kekeramatan sebagai penawar yang menguatkan hati mereka. Karena kekeramatan itu lebih berguna untuk diri sendiri, maka ia lebih banyak terjadi secara tersembunyi, hanya sejumlah kecil yang menyaksikannya atau kadang-kadang tidak ada yang melihatnya. Sifat kewalian ditampakkan kepada wali Allah itu sendiri sedangkan pada orang ditampakkan sifat manusia biasa, sehingga masyarakat tidak mengetahui posisinya yang sebenarnya. Dengan demikian seseorang wali Allah itu diberi layanan sebagai manusia biasa. Dia harus hidup dan mengelola kehidupan seperti orang. Perilakunya yang memakai kemanusiaan biasa menjadi contoh kepada masyarakat, bagaimana mau menjalani kehidupan di dunia dengan mentaati Allah Rasulullah menjalani kehidupan sebagai manusia biasa di mana beliau terpaksa mengikat perut dengan kain untuk menahan lapar, padahal dengan hanya berdoa kepada Allah beliau bisa menjadi kenyang tanpa makan. Para nabi dan para wali adalah manusia yang menjadi model untuk diikuti oleh orang banyak. Jika mereka hidup secara khusus seperti bergerak secepat kilat dan kenyang tanpa makan, sudah tentu tidak ada manusia yang dapat mengikuti mereka. Jadi ketika Allah memakaikan sifat kehambaan seperti orang kepada para nabi dan para wali-Nya itu adalah untuk kebaikan manusia umum. Orang bisa mengikuti contoh yang mudah dan tidak timbul pemujaan sesama manusia yang bisa membawa kepada syirik.

17 Oktober 2012

Perjalanan mencari yang haq

oleh alifbraja

Ada dua jalan yang ditempuh orang dalam mencari yang haq dengan masing-masing dalilnya :

 

    Man `arafa nafsahu faqad `arafa rabbahu

    Barang siapa mengenal dirinya maka pasti dia akan kenal Tuhannya. (Dalil ini yang sangat popular dikalangan sufi, meditator , filosofi, teolog)

 

    Man `arafa rabbahu faqad `arafa nafsahu

    Barang siapa yang kenal Tuhannya pasti dia akan kenal dirinya.

 

Pada jalan pertama, biasanya dilakukan oleh para pencari murni, mereka belum memiliki panduan tentang Tuhan dengan jelas. Dia hanya berfikir dari yang sangat sederhana …iaitu ketika ia melihat sebuah alam tergelar, muncul pemikiran pasti ada yang membuatnya atau ada yang berkuasa dibalik alam ini, … mustahil alam ini ada begitu saja … dan alam merupakan jejak-jejak penciptanya … Dengan falsafah inilah orang akhirnya menemukan kesimpulan bahawa Tuhan itu ada.

Sebagian meditator atau ahli sufi menggunakan pendekatan falsafah ini dalam mencari Tuhan, iaitu tahap mengenal diri dari segi wilayah-wilayah alam pada dirinya, misalnya mengenali hatinya dan suasananya, fikiran, perasaannya, dan lain-lain sehingga dia boleh membezakan dari mana ilham itu muncul, … apakah dari fikirannya, dari perasaannya, atau dari luar dirinya…

Akan tetapi penggunaan jalur seperti ini sering kali membuat orang mudah tersesat, kerana pada tahap-tahap wilayah ini manusia sering terjebak pada ‘keghaiban’ yang dia lihat dalam perjalanannya, … yang kadang-kadang membuat hatinya tertarik dan berhenti sampai disini, kerana kalau tidak mempunyai tujuan yang kuat kepada Allah pastilah orang itu menghentikan perjalanannya …. Kerana disana dia boleh melihat fenomena / keajaiban alam-alam dan mampu melihat dengan kasyaf apa yang tersembunyi pada alam ini … akhirnya mudah muncul ‘keakuannya’ bahawa dirinyalah yang paling hebat …akan tetapi jika dia kuat terhadap Tuhan adalah tujuannya, pastilah dia selamat sampai tujuannya…..

Teori yang dilakukan tersebut adalah jalan terbalik, kerana dalam pencariannya ia telusuri jejak atau tanda-tanda yang ditinggalkannya (melalui ciptaan / alam), … ibarat seseorang mencari kuda yang hilang, yang pertama di telusuri adalah jejak tanda kaki kuda, kemudian memperhatikan suara ringkik kuda dan akhirnya di temukan kandang kuda dan yang terakhir dia menemukan wujud kuda yang sebenarnya ….Hal ini sebenarnya sangat menyulitkan para pelaku pencari Tuhan, … kerana terlalu lama di dalam mengideantifikasi alam-alam yang akan di laluinya ….

Dalil yang ke dua : adalah melangkah kepada yang paling dekat dari dirinya …iaitu Yang Maha Dekat, … langkah ini yang paling cepat di tempuh dibanding dalil pertama… Kerana dalil pertama banyak dipengaruhi oleh para filosofi pada zaman pertengahan dalam hal ini falsafah Yunani. Teologi Kristian dan Hindu telah banyak mempengaruhi falsafah ini. sehingga Al Ghazali pantas mengkritik kaum filosofi dengan menulis kitab tentang tidak setujunya dengan idea falsafah masa itu iaitu Tahafut Al Falasifah / kerancuan falsafah ….

Alghazali membantah pemikiran yang dimulai dengan rangkaian berfikir terbalik, … beliau mengajukan gagasan bahawa umat Islam harus memulakan pemikirannya dari sumber pangkal ilmu pengetahuan iaitu Tuhan, bukan dimulai dari luar yang tidak boleh dipertanggung jawabkan kebenarannya, ertinya sangat berbahaya kerana di dalam falsafah memulakan berfikirnya dari tahap yang benar menuju zat dibalik semuanya berasal. Sedangkan di dalam Islam menunjukkan keadaan Tuhan serta jalan yang akan di tempuh sudah di tulis dalam Alqur’an agar umat manusia tidak tersesat oleh rekaan-rekaan fikiran yang belum tentu kebenarannya…

Pencarian kita telah di tulis dalam Alqur’an dan Allah menunjukkan jalannya dengan sangat sederhana dan mudah …tidak menunjukkan alam-alam yang mengakibatkan menjadi rancu dan bingung … kerana alam-alam itu sangat banyak dan kemungkinan menyesatkan kita amat besar…

Mari kita perhatikan cara Tuhan menunjukkan para hamba yang mencari Tuhannya .

    “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku maka (jawablah) bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perinta-Ku) dan hendaklah mereka itu beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (QS. Al Baqarah: 186)

    “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan menusia dan mengetahui apa yang di bisikkan oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada urat lehernya.” (QS. Al Qaaf: 16)

Ayat-ayat diatas, mengungkapkan keadaan Allah sebagai wujud yang sangat dekat, dan kita diajak untuk memahami pernyataan tersebut secara sempurna. Alqur’an mengungkapkan jawapan secara dimensi dan dilihat dari perspektif seluruh sisi pandangan manusia sesempurnanya. Saat pertanyaan itu terlontar, dimanakah Allah ? Maka Allah menjawab: Aku ini dekat, kemudian jawapan meningkat sampai kepada, Aku lebih dekat dari urat leher kalian .Atau dimana saja kalian menghadap di situ wujud wajah-Ku…dan Aku ini maha meliputi segala sesuatu ….

Sebenarnya tidak ada alasan bagi kita jika dalam mencari Tuhan melalui tahap terbalik…

Pada tahap pertama beliau nampak alam dan segala kejadian adalah satu bersama Allah. Dan pada tahap kedua nampak alam sebagai bayangan Allah; dan pada tahap ke tiga beliau nampak Allah adalah berasingan dari pada segala sesuatu di alam ini. Kalau hal ini hanya sebatas penjelasan terstruktur kepada muridnya, saya anggap hal ini tidak menjadi persoalan, … akan tetapi jika tahap-tahap ini merupakan metologi dalam mencari Tuhan, … saya kira ini berbahaya, kerana yang akan berjalan adalah fikirannya atau otaknya, … yang akhirnya timbul khayalan atau khayalan.

Di dalam Islam memulakannya dengan pengenalan kepada Allah terlebih dahulu iaitu dengan zikrullah (mengingat Allah), … kemudian kita di perintah langsung mendekati-Nya, kerana Allah sudah sangat dekat..tidak perlu anda mencari jauh-jauh melalui alam-alam yang amat luas dan membingungkan ..alam itu sangat banyak dan bertingkat-tingkat. Tidak perlu kita memikirkannya…cukupkan jiwa ini mendekat secara langsung kepada Allah … kerana orang yang telah berjumpa alam-alam belum tentu ia tunduk kepada Allah, kerana alam disana tidak ada bezanya dengan alam di dunia ini kerana semua adalah ciptaan-Nya !!

Akan tetapi jika anda memulakan dengan cara mendekatkan diri kepada Allah, maka secara automatik anda akan diperlihatkan / dipersaksikan kepada kerajaan Tuhan yang amat luas. Maka saya setuju dengan dalil yang kedua, barang siapa kenal Tuhannya maka dia akan kenal dirinya. Sebab kalau kita kenal dengan pencipta-Nya, maka kita akan kenal dengan keadaan diri kita dan alam-alam dibawahnya, kerana semua berada dalam genggaman-Nya…kerana Dia meliputi segala sesuatu …kerana Dia ada dimana saja kita ada, … dan Dia sangat dekat.

Betapa rumitnya perjalanan yang dilalui oleh pencari, seperti apa yang yang saya tulis pada bab Membuka hijab….dan bagi yang tidak kenal Alqur’an akan mudah sekali berhenti dan tersesat kepada alam-alam itu …kerana ilham itu amat banyak yang muncul dari segala suara alam-alam tersebut (tolong anda baca tahap spiritual yang di tulis pada bab Membuka hijab, kerana akan membantu penjelasan saya ini )

Kesimpulan :

Islam mengajarkan didalam mencari Tuhan, telah diberi jalan yang termudah dengan dalil barang siapa kenal Tuhannya maka dia akan kenal dirinya … hal ini telah ditunjukkan oleh Allah bahawa Allah itu sangat dekat, … atau dengan dalil …barang siapa yang sungguh-sungguh datang kepada Kami, pasti kami akan tunjukkan jalan-jalan Kami… (QS: Al ankabut: 69 )

“Wahai orang-orang yang beriman jika kamu bertakwa kepada Allah niscaya dia akan menjadikan bagimu furqan (pembeza).” (QS : Al Anfaal: 29)

Ayat-ayat ini membuktikan di dalam mendekatkan diri kepada Allah tidak perlu lagi melalui proses pencarian atau menelusuri jalan-jalan yang di temukan oleh kaum falsafah atau ahli spiritual di luar Islam, … kerana mereka di dalam perjalanannya harus melalui tahap-tahap alam-alam … Islam di dalam menemuhi Tuhannya harus mampu memfanakan alam-alam selain Allah dengan konsep laa ilaha illallah … laa syai’un illallah … laa haula wala quwwata illa billah … tidak ada Tuhan kecuali Allah … tidak ada sesuatu (termasuk alam-alam) kecuali Allah, … tidak ada daya dan upaya kecuali kekuatan Allah semata ….maka berjalanlah atau melangkahlah kepada yang paling dekat dari kita terlebih dahulu bukan melangkah dari yang paling jauh dari diri kita ….

Demikian mudah-mudahan Allah membukakan hati kita

16 Oktober 2012

Zikir Meliputi Perkataan, Perbuatan Dan Perasaan

oleh alifbraja

Sesungguhnya Aku adalah Allah! Tidak ada Tuhan melainkan Aku! Dan dirikanlah sembahyang bagi mengingati Aku! ( Ayat 14 : Surah Taha )

Sembahyang mengandungi perbuatan anggota zahir, perkataan yang dilafazkan dan penyertaan hati yang benar menghadap kepada Allah s.w.t dengan sepenuh jiwa raga. Mengingati Allah s.w.t melalui sembahyang merupakan zikir yang paling sempurna. Perbuatan menjadi zikir, perkataan menjadi zikir dan perasaan menjadi zikir. Sekalian maujud berada dalam suasana zikir. Zikir dalam sembahyang menggabungkan pengakuan bahawa yang diingatkan itu adalah Allah s.w.t; bahawa Allah s.w.t yang diingati itu adalah Tuhan; bahawa tiada Tuhan melainkan Dia; bahawa Allah adalah Tuhan yang disembah; bahawa menyembah Allah s.w.t adalah dengan perkataan, perbuatan dan perasaan; bahawa apa sahaja yang dilakukan adalah kerana mentaati-Nya dan kerana ingat kepada-Nya.

Zikir yang di dalam sembahyang menjadi induk kepada zikir-zikir di luar sembahyang. Menyebut nama-nama Allah s.w.t adalah zikir. Perkataan yang baik-baik diucapkan kerana Allah s.w.t adalah zikir. Nasihat menasihati kerana Allah s.w.t adalah zikir. Menyeru manusia ke jalan Allah s.w.t adalah zikir. Semua itu merupakan zikir perkataan. Zikir perbuatan pula meliputi segala bentuk amalan dan kelakukan yang sesuai dengan syarak demi mencari keredaan Allah s.w.t. Berdiri, rukuk dan sujud dalam sembahyang adalah zikir. Melakukan pekerjaan yang halal kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi peraturan yang Allah s.w.t turunkan, adalah zikir. Mengalihkan duri dari jalan kerana Allah s.w.t adalah zikir. Apa juga perbuatan yang tidak menyalahi peraturan syariat jika dibuat kerana Allah s.w.t maka ia menjadi zikir. Tidak melakukan apa-apa pun boleh menjadi zikir. Orang yang menahan anggotanya, lidahnya dan hatinya daripada menyertai perbuatan maksiat sebenarnya melakukan zikir jika dia berbuat demikian kerana Allah s.w.t. Semua itu menjadi zikir jika dibuat kerana Allah s.w.t, kerana mematuhi perintah-Nya, kerana mencari keredaan-Nya dan kerana ingat kepada-Nya. Jadi, perbuatan dan perkataan terikat dengan amalan hati untuk menjadikannya zikir. Ia hanya dikira sebagai zikir jika ada zikir hati iaitu hati ingat kepada Allah s.w.t, ikhlas dalam melakukan perintah-Nya dan meninggalkan larangan-Nya Tanpa zikir hati tidak ada zikir-zikir yang lain, kerana setiap amalan digantungkan kepada niat yang lahir dalam hati.

Zikir adalah mengingati Allah s.w.t sebaik dan seikhlas mungkin. Mengingati nama-nama dan sifat-sifat-Nya adalah zikir. Melihat matahari, bulan dan bintang di langit sambil mengenang kebijaksanaan Allah s.w.t merupakan zikir. Melihat kilat memancar dan mendengar guruh berdentum sambil mengenangkan keperkasaan Allah s.w.t adalah zikir. Melihat fajar subuh, melihat dan mencium bunga yang indah lagi harum sambil mengenang keelokan Allah s.w.t adalah zikir juga namanya. Jadi, zikir adalah pekerjaan sepanjang masa, setiap ketika, semua suasana, pada setiap sedutan dan hembusan nafas dan pada setiap denyutan nadi. Kehidupan ini merupakan zikir daim (zikir berkekalan) jika mata hati sentiasa memerhatikan sesuatu tentang Allah s.w.t.

Misalkan seorang sedang melakukan zikir hati dan perkataan; menyebut dan mengingati nama-nama dan sifat-sifat Allah s.w.t. Tiba-tiba datang seorang kanak-kanak di hadapannya. Anak kecil itu memegang sebotol racun. Anak kecil mahu meminum racun tersebut. Pada ketika itu ahli zikir tadi berkewajipan meninggalkan pekerjaan zikir yang sedang dilakukannya dan berpindah kepada zikir menyelamatkan anak kecil yang mahu meminum racun itu. Perpindahan perbuatan tidak memutuskan zikir atau ingatannya kepada Allah s.w.t. Dia menyebut nama Tuhan kerana ingat kepada Tuhan. Dia menyelamatkan anak kecil itu kerana mentaati perintah Tuhan. Tuhan yang mentakdirkan anak kecil itu mahu meminum racun di hadapannya. Tuhan juga mengadakan syariat yang mewajibkan membuang kemudaratan. Taat kepada perintah Tuhan dan reda dengan takdir Tuhan yang datang serta bertindak menurut peraturan syariat Tuhan merupakan zikir yang sangat mulia pada sisi Tuhan. Zikir yang begini termasuk di dalam golongan zikir yang berkekalan atau zikir daim.

Zikir daim sukar diperolehi. Kebanyakan manusia melakukan pekerjaan yang baik-baik yang seharusnya menjadi zikir tetapi dilakukan tanpa ingatan kepada Allah s.w.t dan bukan dengan penghayatan mematuhi syariat-Nya. Kekuatan dalaman perlu ditambah bagi memperolehi zikir daim. Bagi tujuan tersebut perlulah dilakukan zikir sebutan iaitu zikir nafi-isbat (ucapan kalimah “La ilaha illa Llah ”) dan zikir nama-nama serta sifat-sifat-Nya. Zikir yang seperti ini memberi kesan kepada menguatkan rasa kecintaan dan ingatan kepada Allah s.w.t. Ia membuka kesedaran-kesedaran dalaman seperti yang telah dinyatakan pada tajuk yang membicarakan perjalanan Latifah Rabbaniah. Kekuatan kesedaran dalaman mendorong seseorang melakukan sesuatu dengan ikhlas kerana Allah s.w.t yang dicintainya, yang hampir dengannya. Zikir nafi-isbat dan sebutan nama-nama serta sifat-sifat-Nya menjadi jalan kepada zikir dalam bentuk mentaati peraturan-Nya tanpa lupa kepada-Nya. Jadi, perlu dilakukan zikir secara sebutan untuk memudahkan zikir secara amalan atau perbuatan dan kelakuan. Mudah-mudahan terhasillah zikir yang berkekalan.

Zikir atau mengingati Allah s.w.t haruslah dilakukan menurut kadar kemampuan masing-masing. Zikir yang paling baik diucapkan adalah seperti yang diajarkan oleh Rasulullah s.a.w dengan sabda baginda s.a.w yang bermaksud: “Ucapan zikir yang paling baik adalah yang aku dan sekalian nabi-nabi bawa. Itulah ucapan kalimah ‘La ilaha illa Llah ’ .”

Orang yang tidak pernah berzikir adalah orang yang sangat keras hatinya dan kuat dikuasai oleh syaitan, hawa nafsu dan dunia. Cahaya api syaitan, fatamorgana dunia dan karat hawa nafsu membaluti hatinya sehingga tidak ada ingatannya kepada Allah s.w.t. Seruan, peringatan dan ayat-ayat Tuhan tidak diterima oleh hatinya. Beginilah keadaan orang Islam yang dijajah oleh sifat munafik. Orang yang masih mempunyai kesedaran perlu memaksakan dirinya untuk berzikir, sekalipun hanya berzikir dengan lidah sedangkan hatinya masih lalai dengan berbagai-bagai ingatan yang selain Allah s.w.t. Pada tahap pemaksaan diri ini, lidah menyebut Nama Allah s.w.t tetapi hati dan ingatan mungkin tertuju kepada pekerjaan, harta, perempuan, hiburan dan lain-lain. Beginilah tahap orang Islam biasa. Orang yang berada pada tahap ini perlu meneruskan zikirnya kerana jika dia tidak berzikir dia kan lebih mudah dihanyutkan di dalam kelalaian. Tanpa ucapan zikir syaitan akan lebih mudah memancarkan gambar-gambar tipuan kepada cermin hatinya dan dunia akan lebih kuat menutupinya. Zikir pada peringkat ini berperanan sebagai juru ingat. Sebutan lidah menjadi sahabat yang memperingatkan hati yang lalai. Berlakulah pertembungan di antara tenaga zikir dengan tenaga syaitan yang menutupi hati. Tenaga syaitan akan mencuba untuk menghalang tenaga zikir daripada memasuki hati. Tindakan syaitan itu membuatkan orang yang ingin berzikir itu menjadi malas dan mengantuk. Oleh yang demikian perlulah dilakukan mujahadah, memerangi syaitan yang menghalang lidah daripada berzikir itu. Zikir yang dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan berjaya melepasi benteng yang didirikan oleh syaitan. Tenaga zikir yang berjaya memasuki hati akan bertindak sebagai pencuci, menyucikan karat-karat yang ada pada dinding hati. Pada peringkat permulaannya zikir masuk ke dalam hati sebagai Nama-nama dan Sifat-sifat Tuhan yang diucapkan. Apabila karat pada dinding hati sudah berkurangan ucapan zikir akan disertai oleh rasa kelazatan. Hati yang sudah merasai nikmat zikir itu tidak perlu kepada paksaan lagi. Lidah tidak perlu lagi berzikir. Zikir sudah hidup dalam hati secara diam, jelira dan melazatkan. Perhatian bukan sekadar kepada nama-nama dan sifat-sifat yang diingatkan malah ia lebih tertuju kepada Yang Empunya nama dan sifat. Inilah kedudukan orang yang beriman.

Zikir yang lebih mendalam membawa hati berhadap kepada Hadrat Tuhan, menyaksikan Tuhan pada setiap masa dan suasana. Apa sahaja yang dilihat dan dibuat memperingatkannya kepada Tuhan. Inilah peringkat zikir daim yang dikurniakan kepada mereka yang beriman dan bersungguh-sungguh mengabdikan diri kepada Allah s.w.t. Kehidupan mereka dipenuhi oleh zikir sepanjang masa. Tidur mereka juga menjadi zikir.

Zikir yang diucapkan dengan perkataan membantu hati mengingati Tuhan. Bagi sebahagian manusia berzikir secara kuat lebih memberi kesan daripada berzikir secara perlahan, terutamanya bagi mereka yang baharu memulakan amalan zikir. Zikir secara senyap di dalam hati adalah pergerakan perasaan. Hati menghayati apa yang dizikirkan dan terbentuklah alunan perasaan sesuai dengan apa yang dihayati. Pada tahap yang lebih mendalam zikir bukan lagi sebutan atau ingatan kepada Nama, tetapi hati menyaksikan Keperkasaan dan Keelokan Tuhan. Bila hati sudah boleh menyaksikan Keelokan dan Keperkasaan Tuhan, itu tandanya seseorang itu sudah ada hubungan semula dengan roh suci yang mengenal Tuhan. Pancaran cahaya makrifat daripada roh suci membuat hati dapat melihat kenyataan sifat-sifat Tuhan.

Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, ucapan serta ingatan dan perhatian yang berhubung dengan Tuhan menimbulkan keghairahan atau zauk. Zauk itu terjadi kerana kuatnya tarikan Hadrat Tuhan kepada hati. Ingatan dan penyaksian terhadap Hadrat Tuhan akan memberi kesan yang sangat kuat kepada hati. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Perkasa boleh menyebabkan seseorang itu menjadi pengsan kerana takutnya hati kepada keperkasaan Allah s.w.t. Hati yang menyaksikan Hadrat Tuhan Yang Maha Lemah-lembut akan mengalami rasa kenikmatan dan kebahagiaan yang amat sangat.

Pada tahap kesedaran yang lebih mendalam, hati diperkuatkan lagi supaya mampu menerima ‘sentuhan’ Hadrat Tuhan itu. Penyaksian terhadap Hadrat Tuhan tidak lagi melahirkan keghairahan atau zauk atau kegoncangan kepada hati. Hati mengalami suasana Hadrat Tuhan dalam keadaan damai dan sejahtera. Pada tahap ini hati akan mengenali Tuhan sebagai Raja Yang Maha Berkuasa. Berada pada sisi Raja tersebut membuat hati merasakan kesejahteraan dan keselamatan yang tidak terhingga, hilang rasa takut dan dukacita.

Pada tahap kesedaran yang paling dalam hati berhadap kepada Hadrat Tuhan yang bernama Allah s.w.t, yang menguasai semua Hadrat, yang melampaui segala nama dan sifat, segala kenyataan dan ibarat. Hati sampai kepada tahap jahil setelah berpengetahuan. Ilmu gagal menghuraikan tentang Allah s.w.t. makrifat gagal memperkenalkan Allah s.w.t. Apa sahaja yang terbentuk, tergambar, terfikir, yang disaksikan dengan mata luar dan juga mata dalam dan segala-galanya tersungkur di hadapan Hadrat Allah s.w.t, yang tiada Tuhan melainkan Dia, Maha Perkasa. Sesungguhnya tidak ada sesuatu yang menyamai Allah s.w.t, Dia Maha Esa. Hati yang berhadapan dengan Hadrat Allah s.w.t benar-benar mengalami dan mengenali maksud keesaan Allah s.w.t. Hati pun tunduk, menyerah sepenuhnya kepada Allah s.w.t, Tuhan Maha Mencipta. Baharulah sempurna penyerahannya, baharulah lengkap perjalanan Islamnya.

Setelah itu rohnya menjadi seakan-akan roh yang baharu, seumpama baharu lahir. Roh yang baharu itu adalah Roh Islam yang telah mengenal Allah s.w.t yang melampaui segala sesuatu tetapi memiliki Hadrat-Nya, Nama-nama-Nya dan Sifat-sifat-Nya, menyata kepada Roh Islam, iaitu Roh yang lebih tulen dan seni daripada semua roh-roh yang lain. Itulah roh yang telah menemui Kebenaran Hakiki. Pada roh tersebut bercantum tahu dengan tidak tahu, kenal dengan tidak kenal, nafi dengan isbat. Roh Islam itulah yang benar-benar mengerti maksud nafi dan isbat pada Kalimah Tauhid: “La ilaha illa Llah”.

Dia turunkan Roh dari urusan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki daripada hamba-hamba-Nya untuk memberi peringatan tentang hari pertemuan. ( Ayat 15 : Surah al-Mu’min

Roh Islam yang mengenderai hati Islam dan memiliki nafsu Islam, akal Islam dan pancaindera Islam kembali kepada kehidupan dunia untuk mengajak dan membimbing orang lain kepada Yang Haq, Kebenaran Hakiki. Roh Islam mengeluarkan yang Islam sahaja. Jiwanya Islam, perkataannya Islam, perbuatannya Islam, diamnya Islam, tidurnya Islam dan segala-gala yang mengenainya adalah Islam. Roh Islam yang paling sempurna adalah roh Nabi Muhammad s.a.w. Baginda s.a.w merupakan contoh tauladan Islam yang paling sempurna, paling baik.

Zikir memainkan peranan yang penting dalam melahirkan Roh Islam. Bagi orang yang inginkan kebenaran dan melihat kebenaran, menjadi kewajipan baginya mengingati Allah s.w.t sebanyak mungkin.

Lantas apabila kamu telah selesaikan sembahyang (sembahyang di waktu perang ) itu, maka hendaklah kamu ingat kepada Allah s.w.t sambil berdiri, dan sambil duduk, dan sambil (berbaring) atas rusuk-rusuk kamu. Tetapi apabila kamu telah tenteram, maka hendaklah kamu dirikan sembahyang (seperti biasa), kerana sesungguhnya itu adalah bagi Mukminin satu kewajipan yang ditentukan mwaktunya. ( Ayat 103 : Surah an-Nisaa’ )

Yang mengingati Allah sambil berdiri dan sambil duduk dan sambil berbaring, dan memikirkan tentang kejadian langit-langit dan bumi (sambil berkata): “Wahai Tuhan kami! Engkau tidak jadikan (semua) ini dengan sia-sia! Maha Suci Engkau. Lantaran itu peliharakanlah kami daripada seksa neraka”. ( Ayat 191 : Surah a-Li ‘Imran ) Setiap Muslim seharusnya mencari kehidupan berzikir; berzikir sambil duduk dan sambil berbaring; bekerja di dalam berzikir; berehat di dalam berzikir dan tidur di dalam berzikir. Lidah berzikir, anggota tubuh berzikir dan hati berzikir. Tentera Islam yang sedang berperang dengan musuh pun dituntut berzikir, apa lagi kaum Muslimin yang berada dalam suasana aman. Muslim sejati sentiasa berzikir, mengingati dan mentaati Allah s.w.t.

 

15 Oktober 2012

Rahasia Nama Zahra Nur AL-HAYYA

oleh alifbraja

Rahasia nama-nama Fathimah as

Sayyidah Fathimah as tidak hanya sebuah ide dan  gambaran dari hakikat yang memberikan ilham sebuah kehidupan, melainkan juga sebuah personifikasi hidup dari berkah Allah kepada manusia.

Imam Shadiq as berkata: Fathimah as di sisi Allah memiliki 19 nama seperti Fathimah, Shiddiqah, Mubarakah, Thahirah, Zakiyah, Radhiyah, Mardhiyah, Muhaddatsah dan Zahra.

Mengapa Fathimah?

Rasulullah saw bersabda: Karena dia dan para pengikutnya diselamatkan dari api neraka (Fathimah berarti terpotong).

Imam Shadiq as berkata: Karena ia telah terpisahkan dari segala kejahatan dan keburukan dan karena masyarakat terpisahkan untuk mengetahuinya secara sempurna.

Mengapa Shiddiqah?

Karena selama masa hidupnya ia tidak pernah berbohong dan hanya berkata benar dan apa yang disampaikan oleh ayahnya pasti dibenarkannya.

Rasulullah saw berkata kepada Ali bin Abi Thalib as: Wahai Ali! Aku telah membicarakan banyak hal kepada Fathimah yang akan disampaikan kepadamu. Apa saja yang diucapkannya harus engkau terima karena ia jujur dan sangat jujur.

Mengapa Mubarakah?

Berkah berarti kebaikan yang banyak dan dari Fathimah as memiliki keturunan yang banyak yang dipersembahkan kepada Islam. Oleh karenanya, sebagian tafsir dari ayat Inna A’thainaka al-Kautsar (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kebaikan yang banyak) yang dimaksud sebagai al-Kautsar (kebaikan yang banyak) adalah Fathimah as.

Mengapa Thahirah?

Imam Shadiq as berkata: Karena ia suci dari keburukan dan terhormat.

Begitu juga sesuai dengan sejumlah riwayat-riwayat yang menyebutkan bahwa ayat Tathir (Innama Yuridullahu Li Yudzhiba Ankum al-Rijsa Wa Yuthahhirakum Tathira) salah satu yang disucikan dalam ayat tersebut adalah Sayyidah Fathimah as. Oleh karenanya, Sayyidah Fathimah as adalah suci dari segala keburukan dan dosa.

Mengapa Zakiyah?

Zakat juga bermakna tumbuh dan juga berarti kesucian. Oleh karenanya, maksud dari kata Zakiyah adalah Sayyidah Fathimah as adalah keturunan Nabi saw yang tumbuh dan memiliki muatan yang dalam. Begitu juga dapat dimaknai bahwa keberadaannya adalah suci.

Mengapa Radhiyah?

Kehidupannya Sayyidah Fathimah as tidak panjang, namun dipenuhi oleh kesedihan dan usaha keras. Beliau menjalani kehidupannya dengan berbagai kesulitan, namun tidak pernah mengeluh-kesahkan apa yang dialaminya. Beliau senantiasa bersyukur kepada Allah dan rela dengan ketetapan-Nya.

Diriwayatkan: Suatu hari Rasulullah saw melihat Fathimah as yang memakai pakaian sederhana dan sedang menggiling gandum dan pada saat yang sama lagi menggendong salah satu anaknya dan memberinya susu. Rasulullah saw yang menyaksikan keadaan seperti ini tanpa terasa air matanya menetes dan berkata: Wahai anakku! Rasakan kesulitan kehidupan ini sebagai perantara untuk merasakan manisnya kehidupan akhirat.

Sayyidah Fathimah as tidak membuka mulut untuk mengeluhkan kehidupannya kepada ayahnya, bahkan ia berkata: Wahai Rasul Allah! Saya bersyukur kepada Allah atas nikmat-nikmat-Nya.

Suatu hari Imam Ali as meminta kepada Rasulullah saw untuk mencarikan pembantu. Namun, Rasulullah saw mengajarkan kepada Sayyidah Fathimah as bacaan tasbih. Setelah mendengar itu, Sayyidah Fathimah as berkata sebanyak tiga kali: Saya rela dengan Allah dan Rasul-Nya.

Mengapa Mardhiyah?

Seluruh perbuatan Sayyidah Fathimah as diridai oleh Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah saw dalam kehidupannya tidak pernah marah dengan sikap anaknya Fathimah. Nabi tidak pernah mengkritik sikap Fathimah as bahkan dalam banyak hal Rasulullah saw bersabda: Ayahnya menjadi penebusnya.

Oleh karena itu, Rasulullah saw mengucapkan bahwa kerelaan Fathimah as adalah kerelaan Allah swt. Beliau bersabda: Kemarahan Fathimah adalah kemarahan Allah dan kerelaannya adalah kerelaan Allah.

Mengapa Muhaddatsah?

Imam Shadiq as berkata: Karena Malaikat turun ke bumi dan berbicara dengannya. Dalam budaya Islam, mereka yang diajak berbicara oleh Malaikat memiliki tempat dan posisi tersendiri. Mereka yang diajak bicara oleh Malaikat memiliki  peran yang sangat penting dalam melindungi khazanah keilmuan dan nilai-nilai agama Islam dan pertumbuhannya. Mereka membawa amanah ilahi yang tak ternilai dan menjadi tempat disembunyikannya rahasia-rahasia Ahlul Bait.

Mengapa Zahra?

Imam Shadiq as berkata: Karena cahaya wanita yang dimuliakan Allah ini dalam sehari tiga kali menyinari Imam Ali as. Ketika ia berada di mihrabnya untuk melakukan ibadah, cahayanya menyinari seluruh manusia, sebagaimana cahaya bintang-bintang menyinari penduduk bumi.

” CAHAYA KEHIDUPAN SEJATI ”

Rasulullah Saw pernah berkata kepada Abu Dzar r.a., “Hai Abu Dzar, perbaharuilah kapalmu/perahumu, karena lautan itu sangat dalam. Ambillah perbekalan secara sempurna, karena perjalanan itu jauh sekali. Kurangilah beban, karena tanjakan itu bagaikan gunung, dan ikhlaskanlah amal, karena Dzat yang menilai baik dan buruk Maha Melihat.”

Kalau kita lihat apa yang disabdakan oleh rasulullah Saw kepada Abu Dzar ada empat hal yang harus kita perhatikan sebagai bekal untuk di akhirat kelak… Empat hal itu adalah sebagai berikut:

Pertama, perbaharuilah kapalmu atau perahumu karena lautan itu sangat dalam… Rasulullah mengibaratkan akhirat dengan samudera yang sangat dalam, penuh dengan gelombang yang dapat menghempaskan setiap perahu yang melaluinya. Untuk mengarungi samudera yang sangat dalam dan penuh dengan gelombang ini, senantiasa melakukan amal yang shalih setiap saat… Karena amal shaleh itulah yang akan menjadi perahu dalam mengarungi samudera yang sangat dalam ini.

Kedua, ambillah perbekalan secara sempurna, karena perjalanan sangat jauh…. Maksud dari perbekalan yang sempurna ini adalah takwa, yakni melaksanakan perintah Allah SwT dan menjauhi larangan-Nya. ..Untuk melewati sebuah perjalanan yang sangat jauh, kita harus mempersiapkan bekal dengan baik agar tidak kekurangan dalam perjalanan…. Begitupula dengan perjalanan menuju akhirat, maka dengan bekal takwa adalah bekal yang sangat tepat menuju kehidupan akhirat.

Ketiga, kurangilah beban, karena tanjakan itu bagaikan gunung…. Jangan terlalu berorientasi kepada keduniaan saja yang dapat membuat orang terlelap dalam pelukannya setiap saat. …Lupa akan kehidupan selanjutnya yang kekal. Sehingga membuat beban menjadi lebih berat dan tentunya akan sulit melangkah, bisa saja tidak sampai pada apa yang dituju dan diharapkan….

Keempat, ikhlaslah dalam beramal…. Amal apa pun, meskipun itu baik tetapi jika tidak disertai dengan keikhlasan akan sia-sia di hadapan Allah SwT…. Meskipun ketidakikhlasan itu hanya terdapat di dalam hati, tidak diucapkan dan tidak ada yang tahu, tetapi Allah SwT adalah Dzat Yang maha Tahu… Rasulullah Saw bersabda: “Ikhlaskan niat, niscaya engkau akan menerima balasan amalmu meskipun amalmu sedikit.” Wallaahu a’lam.

Lanjutan Nur Al Haq klik >>DISINI

13 Oktober 2012

Syair karangan Hamzah Fansuri 3

oleh alifbraja

Seperti firman Allah :
Wa nahnu aqrabu ilayhi min habWl—warid.
ya ‘ni :
Kami  [ t e r l ebih] hampir kepadanya daripada ur at
lehernya yang kedua.
(6) Dengarkan, hai Talib!—wa huwa ma’akum tiada diluar dan
tiada  [di] dalam, dan tiada diatas dan tiada dibawah, dan tiada
dikiri dan tiada  d i k a n a n – [ Ia khali] daripada enam pihak. Seperti
firman Allah Ta’ala:
Wa huwa’l-awwalu wal-akhiru wa’l-zahiru wa’l—
batinu.
ya ‘ni :
Ia itu  jua yang Dahulu dan Ia jua yang Kemudian
dan Ia jua yang Nyata dan Ia  jua yang Terbuni.
[Lagi] pun  t amthil seperti puhun kayu  s epuhun. Namanya limau
atau lain daripada limau. Daunnya lain, dahannya lain, bunganya
lain, buahnya lain, akarnya lain. Pada haqiqa tnya sekalian itu
limau jua. Sungguh pun namanya dan  rupanya dan warnanya
berbagai,  h a q i q a t [ n y a] esa jua. Jikalau demikian, hendaklah segala
‘Arif mengenal Allah Ta’ala seperti [ isharat] Rasulu’Llah (salla’
Llahu ‘alayhi wa sallam!):
Man arafa nafsahu fa qad ‘arafa rabbahu.—
seperti yang  t e r s ebut dahulu itu.
90 (7) Sebermula. Sabda Rasulu’Llah itu  [ 1 1 4] dengan diisharatkan
jua. Sungguh pun pada Shari’at  rupanya berbagai-bagai pada Haqiqat esa  jua. Seperti  k a ta sha’ir Lam ‘at:
[Yari daram ki jism u jan surat ust Chi jism u chi
jan jumlah jihan surat ust Har surat khub u ma’na
pakizah Kandar nazr man ayad an surat ust]
ya ‘ni :
Bahwa ada kekasihku,  t u b uh dan nyawa  rupanya
jua, Apa  t u b u h, apa nyawa? sekalian ‘alam pun
rupanya jua;
Segala  rupa yang baik dan erti yang suchi itu pun
rupanya jua,
Segala barang yang datang kepada penglihatku
itu pun  rupanya jua.
Seperti firman (Allah) Ta’ala:
Fa aynama tuwallu fa thamma wajhu’Llah.
ya ‘ni :
Barang kemana mukamu kau hadapkan, maka
disana ada Dhat Allah.
Tamthil seperti susu dan minyak sapi; namanya dua, haqiqa tnya
suatu jua. Kesudahannya susu lenyap [apabila di] putar—minyak
jua kekal sendirinya.
(8) Sekali-kali tiada be r tuka r, seperti sabda Rasulu’Llah (salla’
Llahu’alayhi wa sallam!):
Man’arafa nafsahu bi’l-fana’i.
fa qad’arafa rabbahu bVl-baqa\
ya’ni : Barang siapa mengenal diri nya  [dengan]
fana’nya, bahwa sanya mengenal Tuhan yang
baqa’lah dan serta Tuhannya.
Seperti mengetahui ruh dengan badan; muhit pada badan pun tiada dalam badan pun tiada, luar badan pun tiada. Demikian lagi
Tuhan; pada sekalian ‘alam pun tiada, dalam ‘alam pun tiada,
diluar ‘alam pun tiada. Seperti permata chinchin dengan chahayannya, dalam pe rma ta pun tiada chahayanya, diluar permata
pun tiada chahayanya.
91 (9) Kerana ini maka ka ta ‘Ali (radiya’Llahu’anhu):
Ma ra’aytu shay’an illa ra’aytu’Llaha fihi.
Tiada kulihat suatu melainkan  [ 1 1 5] kulihat
Allah da l amnya.
Maka Mansur Hallaj pun be rka ta daripada sangat berahi ini
menga t akan:
Ana’1-Haqq!
y a ‘ n i:
Akulah yang Sebenarnya!
Maka kata (ba) Yazid pun mengatakan demiki an:
Subhani ma a ‘ zama sha ‘ni!
y a ‘ n i:
Maha suchi  aku, dan siapa besar sebagianku!
Maka Shaykh  jun  [ a y] d Baghdadi pun mengatakan :
Laysa fi jubbatisiwa’Llah!
ya ‘ni
Tiada dialam  j u b b a h ku ini melainkan Allah!
Dan Sayyid Nasimi pun menga t akan:
Inni ana ‘ Llah !
ya ‘ni :
Bahwa akulah Allah!
Dan Mas’ udi pun mengatakan dengan bahasa Farsi:
Anchih ham’an dhat bud
bäz haman dhat shud.
y a ‘ n i:
Dhât Allah yang Qadim
itulah  d h ä t ku sekarang.
92 Dan kata Mawlâna Rum
‘Alam nin belum, adaku adalah
Adam pun belum, adaku adalah
Suatu pun belum, adaku beranikan qadimku jua.
Dan ka ta Sultânu’l-‘Àshiqin Shaykh ‘Ali Abü’1-Wafa’:
Kullu‘l-wujùdi wujûduhu là tushrikanna bibi’l-miläh
Fa idhâ nazarta lahu bihi fa’sjudhunâka fa làjunâh
ya’ni :
Segala [wujud ini] wujùdNya jangan kau
s ekutukan dengan yang baik,
Apabila kau lihatNya bagiNya dengan dia, maka
sujudlah engkau sana tiada berdosha.
Maka kata kita  [ b] Gulshan:
Hai segala islam! jika kau ketahui bahwa berhala
apa,
Kau ketahui olehmu bahwa yang jalan itu
pada menyembah berhala dika t a.
Jika segala kafir daripada berhalanya itu dalalnya,
Ngapa maka  [ 1 1 6] pada agamanya itu jadi sesat.
(10) Sebab demikianlah maka Shaykh ‘Aynu’1-Qudat menyembah
anjing menga t akan. ‘Hadha rabbi’—ya’ni: Tnilah Tuhanku!’—karena anjing tiada dilihatnya, hanya dilihatnya Tuhannya  jua yang
dilihatnya. Seperti orang melihat kepada  che rmin; muka  jua yang
dilihatnya, chermin gha’ib daripada penglihatannya karena ‘alam
ini pada penglihatannya seperti bayang jua—rupanya ada haqiq a t n ya tiada. Nisbat kepada Haqq Ta’ala tiada nisbat kepada ki ta
adalah karena kita memandang dengan hijab. Seperti sabda Rasulu’
Ilah (salla’Llahu’alayhi wa sallam!):
Man ‘arafa nafsahu fa qad’arafa rabbahu.
dengan isharatkan  jua. Pada haqiqa tnya dikenal pun Ia, mengenal
pun Ia.
93 (11) Seperti sabda Rasulu’Llah (salla’Llahu ‘alayhi wa sallam!):
Man ‘arafa ‘ Llaha tala lisanuhu.
Barangsiapa mengenal Allah lanjuti lidahnya.
Pada  t a t aka la mulanya mengetahui man ‘arafa nafsahu, setelah
sampai kepada fa qad’arafa rabbahu maka SendiriNya. Maka sabda
pula Nabi Allah:
Man ‘arafa’Llaha kalla lisanu [hu].
Barangsiapa mengenal Allah hululah  l i d a n y a .-
e r t inya:  t emp at be rka ta tiada lagi lulus.
(12) Seperti ka ta Shaykh Muhyi’1-Din ‘Arabi (qaddasa’ Llahu
sirrahu!) itu pun isharat kepada ‘Man ‘arafa nafsahu fa qad arafa
rabbahu ‘jua. Syair :
Ala-haqqu ‘aynu’l-khalqi in kunta dha’ayni
Wa’l-khalqu ‘aynu’l-haqqi in kunta dha’aqli
Fa in kunta dha’aynin wa ‘aqlin fama tara
Fa huwa ‘aynu shay’in wahidin fihi illa bi’l-shakli.
[ 1 1 7] ya ‘ni ka ta Muhyi’1-Din sebenarnya itu keadaan hamba
Nya:
Jika ada engkau orang bermata, be rmul a:
hamba  i tu kenya t a an Tuhan,
Jika ada engkau orang berbudi maka barang
segala kau lihat ini keadaanNya;
[Dan jika ada engkau orang be rma ta dan be rbudi,
maka apalah yang kau lihat? ] —hanya
Segala suatu itu dalam Nya [melainkan] dengan
segala rupa.
94 Seperti firman Allah Ta’ala:
Wa huwa ma’akum aynama kuntum.
y a ‘ n i:
Ia itu serta kamu barang dimana ada kamu.
Lagi  p e r k a [ t a a ] a n n ya Shaykh Muhyi’1-Din ibn’Arabi (shi’r.)
Kunna huruf fan] ‘aliyatin lam nuqal
Muta’alliqatin fi dhura a’la’l-qulal
Anafanta] fihi wa nahnu anta [wa anta] hu
Fa’l-kullu f i hu hu fasal’an man wasal.
ya’ni*
Kamilah huruf yang mahatinggi yang  t i a [ d a]
berpindah,
Dan yang tergantung dengan istananya diatas
punchak gunung.
Aku engkau dalamnya dan [kami engkau  d a n]
engkau Ia,
Maka sekalian dalam Itu Ia, maka bertanyalah
engkau kepada barangsiapa yang wasal.
(13) Hai Talib!—mengetahui ‘Man ‘arafa nafsahu ‘ bukan mengenal
j antung dan paru-paru, dan bukan mengenal kaki dan tangan.
Ma’na ‘Man ‘arafa nafsahu’: adanya dengan Ada Tuhannya esa
jua. Seperti kata Shaykh  [ J u n a y d] Baghda [di] (rahmatu Llahi
‘alayhi!):
Lawnu’l-ma’i lawnu ina’ihi.
ya ‘ni:-
ya ‘ni:
Warna air warna bejananya.
Dan seperi ka ta sha’ir Lam ‘at:
i
Laqad batanta fa lam tazhar li dhi basarin
Wa kayfa yudraku man bi’l-ayni mustatiru
ya ‘ni:
Sungguhnya telah  t e rhuni l ah Engkau maka tiada
dapat dilihat oleh segala ma t a;
Maka be t apa dilihat oleh segala ma ta  [ 1 1 8]
kerana Ia terdinding dengan adaNya?
95 Lagi  k a ta Shaykh Muhyi l -Din:
In ruhtu atlubuhu lam yangadi safari
In ji’tu hadratahu wuhishtu fi hadari
La ana arahu wa la yanfakku min basari
Wa fi damiri wa la alqahu fi ‘umuri.
y a ‘ n i. . ;
Jika pergilah aku  m e n u n t ut Dia, tiadalah
berkesudahan  t u n t u t k u,
Jika da t ang aku kehadr a tNya, Ia liar
da r ipadaku,
Tiada aku melihat Dia, Ia tiada jauh
daripada penglihatku,
Bermula: Ia ada dalamku dan tiada aku
be r t emu pada  s e ‘umurku.
Inilah maka kata Shaykh  J u n [ a y] d (rahmatu ‘Llahi ‘alayhi):
Wujuduka dhanbun la yuqasu bihi dhanbu.
y a ‘ n i:
Adamu ini dosha, tiada dosha sebagainya.
(14) Barangkala engkau pun suatu wujud, Haqq [Ta’ala] pun
suatu wujud, sharika lahu datang kerana Haqq Subhanahu wa
Ta’ala wahdahu la sharika lahu ertinya  y a ‘ n i: tiada sekutu bagiNya; ertinya tiada wujud lain hanya wujud Haqq Ta’ala jua. Seperti laut dan ombak. Seperti firman Allah Ta’ala:
Fa aynama tuwallu fa thamma wajhu Llah.
y a ‘ n i:
[Barang kemana mukamu kau  h a d a p k a n, maka
disana  ada] Dhat Allah.
Dan ka ta Mawlana  ‘Abdu’ l -Rahman Jami (rahmatu’Llahi’alayhi!):
Bayt: Ham sayah u ham[ni] shin u ham rahu hamah
ust [Dar dalaq gada u [dar] atlas shahi hamah
ust] Dar anchuman farq nihan [k] hanah u jam’
[hamah ust] Bi’Llahi hamah ust thumma bi’
Llahi hamah ust.
96 y a ‘ n i:
Sekampung  s ekedudukan sekejalanan sekalian itu
[ I a]  j u a;
Pada telekung segala minta makan dan pada atlas
segala raja-raja  i tu pun  [ 1 1 9] Ia  jua;
Pada segala pe rhimpunan dan percheraian dan
rumah yang  t e rbuni dan yang be rhimpun itu pun
Ia  jua,
Demi Allah sekaliannya Ia jua! Maka demi Allah
sekaliannya Ia  jua!
(15) Tamthil seperti biji sebiji, da l amnya  p u h un kayu sepuhun
dengan selengkapnya. Asalnya biji itu  j u a; setelah menjadi kayu
biji sebiji itu gha’ib—kayu  jua kelihatan. Warnanya berbagaibagai, rasanya berbagai,  [ t e t a p i] asalnya sebiji  i tu  jua. Seperti
firman Allah Ta’ala:
.. . Yusqa bi ma’in wahidin wa nufaddilu
ba’daha ‘ala ba’din fi’l-ukuli.
. . . Kami tuangkan dengan suatu air dan
Kami lebihkan setengah atas setengahnya
pada rasa makanan.
Tamthil seperti air hujan dalam sebuah  t a n ama n. Air  i [ t u]  jua
yang lengkap pada sekalian dan berbagai-bagai rasanya. Pada
limau masam, pada  t ebu manis, pada mambu pahi t; masing-masing
membawa rasanya. Te t api haqiqa tnya air  i tu  jua pada sekalian  i tu.
Suatu lagi  t amthil seperti ma t aha ri dengan panas. Jikalau panas
kepada bunga, atau kepada  chendana, tiada ia beroleh bahu
daripada bunga. Jikalau najis pun demikian lagi. Jangan shakk
disini kerena shakk ini itulah hijab.
(16) Kerana [atas] mazhar Jalai dan atas mazhar Jamal tiada
[ I a] bercherai, maka Kamal NamaNya. Nama al-Mu’izz tiada bercherai, Nama al-Latif  [ d a n] al-Qahhar tiada bercherai. Dan shirk
pun mazhar Nya jua. Seperti ka ta Shah Ni ‘ma tu’Ll ah qaddasa’
Llahu sirrahu!):
97 [120] Ra’aytu ‘Llaha fi’ayni bi’aynihi
Wa ayni ‘aynuhu fa’nzur bi’aynihi
Habibi ‘indaghayrighayru ‘ayni
Wa’indi aynuhu min haythu ‘ayni.
ya’ni
Kulihat Allah pada ke ada anku dengan penglihatNya; Bermula: keadaanku itu KeadaanNya. maka
tilik kepadaNya dengan tilik daripadaNya.
Kekasihku, pada segala lain daripadaku, lain daripadaku,
Bermula: padaku AdaNya itu dengan keadaanku
suatu  j u a’
Inilah sifat ‘Man arafa nafsahu fa qad’arafa rabbahu’ itu pun permulaan jua.
(17) Sebermula. Firman Allah Ta ‘ a l a:
Wa’Llahu khalaqakum wa ma ta malun.
ya ‘ni:
Bahwa Allah Ta’ala menjadikan kamu dan barang
pe rbua t an kamu.
Dan lagi firman Allah Ta’ala:
Ma min dabbatin illa huwa akhidhum
bi nasiyatiha inna rabbi’ala siratin
mustaqim.
ya’ni  . . .
 T
Tiada siapa dapat membawa melainkan la  jua
menghela  r amb ut dahinya. Bahwa Tuhanku Esa
JalanNya sebenarnya  i tupun.
Dan lagi sabda Nabi (salla’Llahu ‘ alayhi wa sallam!):
La hawla wa la quwaata illa bi’Llahi’l-ahyyil-
‘azim.
ya ‘ni:
Tiada mengelilingi dan tiada quwwat seorang
98 melainkan dengan kuasa Allah yang Mahatinggi
dan Mahabesar.
Dan lagi sabda Nabi (saHa^Llahu’alayhi wa sallam!):
La tataharraku dharratun illa bi idhni’Llah.
ya ‘ni:
Tiada bergerak suatu dha r r at pun melainkan
dengan gerak Allah Ta’ala.
[Dan lagi sabda Nabi (salla’Llahu’alayhi wa sallam!)] :
Khayrihi wa sharrihi mina’Llahi Ta’ala.
ya ‘ni:
Baik dan  j aha tnya daripada Allah Ta’ala.
Seperti firman Allah  [ 1 2 1] Ta’ala:
Wa ma tasha ‘ una illa an yasha ‘a Llah.
y a ‘ n i:
Dan tiada be rkehendak mereka itu seorang  jua
pun melainkan dengan  [ k e h e n d a k] Allah jua.
(18) Sekalian dalil dan hadi th ini isharat kepada Man arafa nafsahu fa qad ‘arafa Rabbahu  jua. Lain daripada tiada. Dan kata
Shaykh Muhyi’1-Din ibnu’l-‘Arabi (qaddasa’Llahu sirra ruhihi’l-‘
aziz!):
Shiï:
Haramun ‘ala’l-ushshaqi an yashhadu’l-siwa
Idha kana wajhuH-haqqi [bVl-nuri] sha’sha’a
Ma dha aqulu wa anta wahduka lam yaku
Ahadun siwaka fa ma siwaka fa ka’l-haba.
y a ‘ n i.
Telah haramlah atas segala yang berahi bahwakan
memandang lain daripadaNya,
Apabila ada keadaan Allah dengan chahayaNya
gilang-gemilang.
99 Barang segala yang kukata dan bahwa Engkau
jua Esa, tiada lain .
Suatu pun daripadaMu maka sekarang barang lain
daripadaMu itu seperti haba adanya.
Seperti firman Allah Ta’ala:
Kulla yawmin huma fi shaTi.
y a m
 Pada segala hari Ia itu dalam kelakuanNya.
(19) Ya’ni pada zuhuNya berbagai-bagai [akan tetapi Dhat tiada
hM-haeai-bagail dan tiada berubah, kerana Ia—
berbagai  W ^ ^ ^ wa%akhiru wa’l-zahiru wa’l-baUnu.
y a n i
‘ Ia yang Pertama dan Ia yang Kemudian dan Ia
Nyata dan Ia Terbuni—
AwwalNya tiada ketahuan, akhirNya tiada berkesudahan, zahirNyTamJt terbuni dengan batinNya tiada  ^ T T Z ^ Î Ï Ï
riiriNva dengan diriNya, melihat diriNya [dengan] DhatNya de-
^ S A d î n g J ÀfUNy. dengan AtharNya.  » » £ * £ »
namanya empat pada haqiqatnya esa. Sepert! kata Shaykh [122]
Muhyi’1-Din:
Tajalli bi dhatihi fi dhatihi.
Menunjukkan AdaNya bagi AdaNya
Lagi kata Imam Muhammad Gazzali (rahmatu’Llahialayhi!):
In ‘alam azust be ust baiki hamah ust.. .
y a m :
 ‘Alam ini daripadaNya dengan Di a l a h – t e t a p isekaliannya Ia.
Diikut dari Kimiya-i Sa’adat. „„„„
Guft Ba Yazid: ‘Wujuduna minhu wa quwwamuna
100 bihi lafarqun bayni wa bayna rabbi illa bihadha’lmarta barayu.
vâ’nii
Wujud kami daripadaNya dan quwwat kami dengan
Dia. Tiada bedha antaraku dan antara Tuhanku
melainkan dengan dua ma r t aba t.
Inilah ‘ibarat ‘Man ‘arafa nafsahu fa qad
l
arafa rabbahu.’
(2) Sebermula. Allah Subhahahu wa Ta’ala tiada be r t empat dan
tiada be rmi tha l. Apa akan ‘  t emp at  [ apabüa] lain daripadaNya
tiada? Mana  t emp a t, mana mi tha l,  [ma n a] warna? Hamba pun
demikian lagi hendak  [ n y a] jangan be r t empa t, jangan bermithal,
jangan berjihat enam, kerana sifat hamba  T u h a n n y a:  h e n d a k [ n y a]
maka datang kepada
Idha tamma’l-faqru fa huwa’Llahu
‘ayshuhu bi ‘ayshi’l-Llah.
ya ‘ni:
Apabila sempurnalah faqir maka ia itu Allah
dan hidupnya dengan hidup Allah.
Seperti ka ta Mawlana ‘Abdu’l-Rahman  J ami (rahmat*’Lkthï
alayhU):
ya’ni
[Bas bi rangist yari dikhwah ay dil
Qani nashawi barangi na gah ay dil
Asal in hamah rangaha azan birangist
Man ahsanu sibghatan mina’Llahi ay dil.]
Kepada kekasih yang tiada berwarna itu kau
kehendak, hai  h a t i;
Jangan kau padamkan kepada warna mudahmudahan, hai  h a t i:
Bahwa segala warna daripada tiada berwarna
da t angnya, hai, ha ti
101 ‘Barangniapa mengambil warna daripada Allah
itulah terlebih ba ik,’ hai ha t i?
f21ï Ya ‘ni f  1 2 3] yang asalnya itu tiada berwarna dan tiada
b e r u pl S  g i a  n ! p a
y
y a ig dapat dilihat dan dapat  d i b i c h a ^ j ,
s e k a Sn makhluq jua pada ‘ibarat. Barangsiapa menyembah
makhn^q ^ itu mushrik; seperti menyembah orang-orang mati
T n  m a i dan  j antung dan pa ru-pa ru- s eka l i an itu berhala^ jua
hukumanya. Barangsiapa menyembah berhala, ia itu kafir
na’udhubi’Llah minha! Wa’Llahu a’lam!
(22) Jika demikian ngapa memandang seperti ombak dan laut
juga dapa t? Seperti sha’ir:
Fa’awwiV alayhi la siwahu
fa’aynama tuwallu fa thamma wajhu
‘Llahi laysa mubarqa ‘an.
(2 3) (Raqqa’l-zujaju wa raqati’l-khamru
Fa tashabaha wa tashakala’l-amru
Fa ka’annama khamrun wa la qadahu
Fa ka’annama qadahun wa la khamru.
ya m:
f Naqsh kacha dan hening] minuman
Maka serupa  k e d u a n ya dan sebagai pekerjaannya
Maka sanya minuman tiada dengan piala
Dan bahwa piala  t i ada dengan minuman.
Ya’ni warna ke cha dan warna minuman esa  j u a; warna minuman
I L Z Z pun sebagai  jua,  t i ada  d a p at dilainkan, Seperti ka ta
L am’ a t:
Al-aynu wahidatun wa’l-hukmu mukhtalifu
Wa dhaka sinon U ahliVÜmi yankashifu.
y a ‘ n i:
Asalnya suatu  j ua warnanya berbagai-bagai
102 Rahasia ini bagi orang yang  t ahu  j ua dapat memakai dia.
[Seperti ka ta misra :
Ma’shuq u’ishq u’ashiq har sih yakyast inja
Chum wasl dar na-gunjad hijran chi kar darad.
y a ‘ n i] :
Berahi dan yang berahi dan yang diberahikan itu ketiganya esa jua,
Sini, apabila pe r t emuan tiada lulus, percheraian
dimanakan ada?
924) Kenapa dika ta k
(24) Kenapa dika ta kerana sifat be r t emu dan bercherai dua?
Hendak  [ n y a] pada Alim, haqiqat tiada dua. Seperti ombak dan
laut esa jua, pada  z ahimya  jua dua,  t e t a [ p i] be r t emu  p u [ u n] tiada
bercherai pun  t i ada;  d i d a l amp u [ n] tiada  [ 1 2 4] diluar pun tiada.
Qala’l-ghawthu’l-a’zam: Ayyi salatin afdalu ‘indaka yarabbi? Qala’Llahu Ta’ala: Salatu’l-ladhi
laysa fiha siwa’i wa’l-musalli gha’ibun ‘anha.
y a ‘ n i:
Sembah Ghawth: ‘Mana kebaktian terlebih kepadaMu ya Tuhanku? Firman Allah Ta’ala: Sembahyang yang tiada dalamnya  sua tu pun lain daripadaKu, dan yang menyembah gha’ib.
Nyatalah [daripada ini bahwa yang] disembah pun Ia jua, yang
menyembah pun Haqq. Seperti kata Masha’ikh:
Ma ‘arafa ‘ Llahu illa ‘Llah
ma ya’lamu’Llahu illa’Llah
ma yara ‘ Llahu illah ‘Llah.
y a ‘ n i:
Tiada mengenal Allah hanya Allah,
103 tiada mengetahui Allah hanya Allah,
tiada melihat Allah hanya Allah.
Dan seperti ka ta Mawlana ‘Abdul’1-Rahman  J ami:
Hamchunin wasil nashfas] tah pesh yari mikunad
an hajr nalahai zar ta shuwad mahjib u mahrum
az wasl waqif an bar ran] u malai.
Orang yang wasal itu seperti orang duduk [kesal]
t aul annya di che r i t e r akannya daripada percheraiannya dan serunya dan tangisnya sehingga jadi hurum
daripada wasal;  t e rhenti  [ o ] l e h n ya daripada percheraiannya dan daripada penuh dengan dukachitanya.
Dan seperti ka ta Shibli, hendak  [nya] sha’ir:
Innani kadafda’un sakinatun fi’l-yammi
In hiya [fahat] mala’at faha
aw sakatat matât mina ‘l-ghammi.
Akulah seperti katak diam dalam  l aut;
jika kubukakan mu l u t ku nischaya dipenuhi air;
jika aku diam nischaya matilah aku dalam perchint a anku.  [ 1 2 5]
y a n i:
(25) Isharat daripada Shaykh Sa’du’1-Din:  j ika lagi  d i t u n t ut
tiada diperoleh [jika lagi] dipandang tiada düiha t, kerena fi il
kita itu seperti angin dilaut. Jika be rhenti angin maka ombak
pulang kepada asalnya. Seperti firman Allah Ta ‘ a l a:
Ya ayyatuha’l-riafsu l-mutma’innatu irji’i
ila rabbiki radiyatan mardiyyah fa’dkhuli
fi’ibadi wa’dkhuli jannati.
104 y a ‘ n i:
Hai segala kamu bernyawa mu tma ‘ i n n a h!
pulanglah kamu kepada Tuhan kamu radi
kamu akan Dia dan radi Ia akan kamu.
Maka masuklah shurgaKu, hai hamba-hambaKu
Ertinya da t angnya pun daripada laut, pulangnya pun kepada laut
jua.
Jannatu’l-zahidina hurun wa qusurun
Jannatu’l-ashiqina fi mahalli kuntu kanzan makhfiyyan
y a ‘ n i:
Shurga orang zahid anak bidyadari dan mahgai,
Shurga o [rang] berahi kepada perbendaraan yang
berbuni.
(26) Sanalah  t emp at diam segala ‘Ashiqin! Beranikan shurga pun
tiada, dengan neraka pun tiada  t a k ut ia; kerana  [pada] orang
berahi yang wasal jannat itulah yang dikatakan [dalam  aya t)
fa’dkhuli f i ‘ibadi wa’dkhuli jannati. Pulanglah ia kepada  t empat
kuntu kanzan makhfiyyan. Dan seperti ka ta Ahlu’Ll ah;
ya ‘ni:
I tupun ia
I tupun ia:
ya ‘ni:
Man ‘arafa’Llahu fa huwa mushrikun.
Barangsiapa mengenal [ Allah] maka ia itu mushrik.
Al faqiru la yahtaju ila’Llah.
Al-faqiru aswadu’l-wà}hi fi’l-darayu.
Yang faqir  i tu hitam mukanya pada kedua negeri.
I tupun ia: sha’ir
105 Ana’l-ghariqu [126] bi bahrin ma lahu tarafun
[Qad] ghibtu fihi ‘ani’l-wijdani wal-adami.
y a ‘ n i:
Aku telah karamlah pada  l aut yang tiada bersisi,
Maka lenyaplah aku da l amnya; daripada  ‘ ada’ dan
‘ t i a d a’ pun aku tiadalah  t ahu.
I t u p un ia: sha’ir.
Raddadtani bayna’l-maniyyati wa’l-muna
Wa jama’tani bayna’l-ïnayati wa’l-‘ana
Wa akhadhta ni [minni] li dhatika faYtaqay
Tu limustawa la anta fihi wa la ana.
ya ‘ni:
Kembalilah aku daripada  m e n u n t ut dan yang
d i t u n t u t. Dan berhimpunlah aku  ant a ra yang mengarunia dan [yang] dikarunia,
Dan kembalüah daripada aku bagi adaMu suatu
tiga.
Tiada Engkau da l amnya dan tiada aku.
Lagi ka ta Shykh  ‘At t ar (radiya’Llahu’anhu!):
[Baz ba ‘de dar tamasha tarab
tan farudandi farigh az talab.]
ya ‘ni
Daripadanya kembalilah setengah daripada melihat
tamasha  t e p uk dan  t a r i:
Nyawanya pun diberi selesaüah ia daripada  t u n t u t.
I tupun ia:
[Bayt: waraq sukhtah wa qalam bashkun siyahi
zir dam dharkas hamin din [u] qissati Hshq
ust ki dar daftar nah migunjad.
ya ‘ni:
Qartas pun  d i t u n u k an dan qalam pun dipa t ahkan
dan  d a ‘wat pun di tumpahkan dan nafas pun di-
106 helakan. Inilah qissah ragam orang berahi bahwa
dalam daftar tiada lulus.
Ini  p un ia:
[Kata  b a yt Shaykh Ni ‘ma t u ‘ L l a h 🙂
[Talab afdat iradat wa bila wujud hijab ast
Wijdan muhal namnayi waqrub wa khiyal
Hudur ghurur naf sah du dur du dur.
y a ‘ n i:
T u n t ut pun setru dan kehendak pun sia-sia dan
wujud pun jadi dinding tiada  d a p at diperoleh
menghendaki damping dan chita yang hadir segala
ghurur naf s pun menjauhkan.
(27) Inilah kesudahan sekalian! Inüah yang dika t akan : ‘Fa’1-fana’u
‘ani’l-fana’i ghayata’1-fana.’  [ 1 2 7] Inilah yang dika t akan ‘alam
l ahut pun dapa t, dan dika t akan wasal pun dapa t, dika t akan
mahw pun dapat dika t akan. Inilah ka ta Shah ‘Ali Barizi d [alam
bahasa]  F a [ r] si:
Bar dar dara ‘l-fana ‘i kardam sujud
Sar bar awardam mara ru ‘i numud.
y a ‘ n i:
Kepada  p i n tu negeri yang fana sujudlah aku
Kubukakanlah kepalaku pe r tunjukkanl ah mukaMu kepadaku!
Kata orang Pasai : ‘Jika tiada  k u p h o, tiada be r t emu dengan kufu’
ya ‘ni  k u p ho pada bahasa Jawi  t e r t u t u p ‘: jika tiada  t e r t u t u p,
tiada be r t emu dengan kufu’—ya’ni [‘pada] Er ti pada  [ i t u] tiada
lagi lulus ia  i tu: ya ‘ni menjadi seperti dahulu tatakala dalam
kuntu kanzan makhifyyan, serta dengan Tuhannya. Seperti biji
dalam  p u h un kayu; sungguh pun  z ahi r [nya] tiada kelihatan
haqiqa tnya esa jua. Sebab inüah Mansur [alHalaj] menga t akan:
Ana’l-Haqq/’—setengah menga t akan: [‘Inni] Ana ‘Ll ah! ‘; kerana
adanya ini tiadalah  d ü i h a t n ya lagi.
107 (28) Inüah ertinya:
Idha tamma’l-faqru fahuwa’Llah.
Ertinya:
Yang faqir tiada suatu pun akan baginya.
Maka firman Allah Ta’ala dalam Hadith Qudsi:
Nawmu’l-faqiru nawmi
akalu 1-faqiru akali “
wa sharabu’l-faqiru sharabi
ya’ni:
Tidur faqir itu tidurKu, dan
makan faqir itu makanKu, dan
minum [faqir] itu minumKu.
Dan lagi firman Allah Ta’ala:
Al-insanu sirri wa an[a] sirruhu wa sifatufhuj.
y a ‘ ni
Yang manusia rahasiaKu dan
Aku rahasianya dan sifatnya.
Kata U ways al-Qarani:
Al-faqiru hayatuhu bi hayati’Llahi
wa ‘ayshuhu bi ‘ayshilf’Llah].
ya’ni:
Yang faqir itu hidupnya dengan hidup Allah,
dan sukanya dengan kesukaan Allah.
Seperti kata Masha’ikh hendak [nya] :
Man ‘arafa’ Llaha fa huwa mushrikun
wa man ‘arafa nafsahu fahuwa kafirun.
108

13 Oktober 2012

Syair ini karangan Hamzah Fansuri 2

oleh alifbraja

69 SYAIR RUH
(a)
Unggas itu yang  amat burhana
Diamnya nentiasa didalam astana
[ 3 9]  T emp a t n ya bermain dibukit Tur Sina
Majnun dan Si Layla adalah disana.
Unggas itu bukannya nuri
Berbunyi ia sedekala hari
Bermain  t ama sha pada sekalian negeri
Demikianlah murad al-insanu sirri.
Unggas itu bukannya balam
Nentiasa be rbunyi siang dan malam
T emp a t n ya bermain pada sekalian ‘alam
Disanalah tamasha melihat ragam.
Unggas itu  t ahu berkata-kata
Sarangnya dipadang  r a ta
Tempa tnya bermain pada sekelian anggauta
Ada yang bersalahan, ada yang sekata. Unggas itu terlalu indah
Olehnya banyak ragam dan ulah
Tempa tnya bermain [didalam] Ka’bah
Pada bukit ‘Arafat kesudahan mushahadah.
Unggas itu bukannya merak
Nentiasa bermain didalam shurga
Kenyataan mu’jizat  t idur dan jaga
Itulah wujud meliputi rongga.
Unggas itu terlalu pingai
Nentiasa main dalam maligai
Rupanya elok sempurna bisai
Menyamarkan diri pada sekalian sakai.
Unggas itu bukannya gagak
Bunyinya terlalu sangat galak
Tempa tnya tamasha pada sekalian awak
Itulah wujud menya t akan kehendak.
71 Unggas itu bukannya bayan
Nentiasa be rbunyi pada sekalian a’y an
T emp a t n ya tamasha pada sekalian kawan
Itulah wujud menya t akan kelakuan.
Unggas itu bukannya burung
Nentiasa be rbunyi didalam tanglung
Tempa tnya tamasha pada sekalian lurung
Itulah wujud menya t akan tulung.
Unggas itu bukannya Baghdadi
Nentiasa be rbunyi didalam jasadi
Tempa tnya tamasha  [ 4 0] pada sekalian fu’adi
Itulah wujud menya t akan ‘ahdi.
Unggas itu yang weruh angasmu
Nentiasa ‘ashiq tiada kala  j emu
Menjadi dagang lagi ia jamu
Itulah wujud menya t akan ‘ilmu.
72 ( h l
Tayru’l-‘uryani unggas sultani
Bangsanya Nur’l-Rahmani
Tasbihnya Allah Subhani
Gila dan mabok akan Rabbani.
Unggas itu terlalu pingai
Warnanya terlalu bisai
Rumahnya tiada  [ 6 9] berbidai
Dukuknya da’im dibalik tirai.
Putihnya terlalu suchi
Olehnya itu bernama ruh)
Muatnya terlalu sufi
Mashafnya bersurat Kufi
“Arsh Allah akan pangkalnya
Habib Allah akan  t aul annya
Bayt Allah akan sangkarannya
Mengadap Tuhan dengan  sopannya
73 Sufitnya bukannya kain
Fi’1-Makkah da’im bermain
‘ilmunya zahir dan batin
Menyembah Allah terlalu rajin.
Kitab Allah dipersandangnya
Ghayb Allah akan dipandangnya
‘Alam Lahut akan kandangnya
Pada da’irah Huwa  t emp at pandangnya.
Dhikr Allah kiri kanannya
Fikir Allah rupa badannya
Shurbat tawhid akan minumnya
Da’im be r t emu dengan Tuhannya
Suluhnya terlalu terang
Harinya tiada berpetang
J a l annya terlalu hening
Barang me n d a p at dia terlalu menang. Chahayanya tiada berha’il
Bayna’Llah dan bayna’1-amil
Sha r i ‘ a tnya terlalu kamil
Barang yang mungkir menjadi jahil.
Jika kau dapat asal ‘ilmunya
Engkaulah yang  t e r t a h u n ya
‘Alam nin engkau yang punya
Disana-sini engkau  sukunya.
‘Ilmunya tiada berbagai-bagai
Fa rdunya yogya kau pakai
Tinggalkan ibu dan bapai
Menyembah Tuhan jangan kau lalai.
‘Ilamunya ‘ilmu yang pe r t ama
Madhhabnya madhhab bernama
Chahayanya chahaya yang lama
Kedalam shurga bersama-sama. (c)
Tayru’l-uryani unggas ruhani
Didalam kandang hadr at rahmani
Warnanya pingai  rupanya safi
Tempa tnya Kursi yang maha ‘ali
Sungguh pun ‘uryan bukannya gila
Mengaji Qur’an dengan tartila
Tempa tnya mandi sungai Salsabila
Didalam firdaus ra’su Zanjabila.
(d)
Unggas nuri asalnya chahaya
Diamnya da ‘ im di Kursi Raja
Daripada nur inya faqir dan kaya
Menjadi insan, Tuhan dan saya.
Kuntu kanzan asal sarangnya
‘Alam  L a h ut nama padangnya
Terlalu Luas dengari lapangnya
I tul ah kanzam dengan lawangnya.
76 ‘Aqlu’l-KuUi nama bulunya
Qalam al-A ‘la nama kukunya
Allah Ta’ala akan gurunya
Oleh itulah tiada jodonya
Jalai dan jamal nama kakinya
Nuru’l-Awwal nama jarinya
Lawh al-Mahfuz nama hatinya
Menjadi jawhar dengan safinya.
Itulah Ahmad awwal Nabinya
Nur Allah dengan suchinya
Sekalian ‘alam panchar daripada nurinya
Menjadi langit serta buminya.
)
Unggas Pingai terlalu ‘ashiq
Da’im bermain di Kursi Khaliq
Bangsanya Rahman yang fa’iq
Menjadi sultan terlalu la’iq.
77 Unggas itu  t ahu berkata
Sarangnya dipadang rata
Akan wujudnya sekalian ma ta
Mengenal diri terlalu nya t a.
Mazhar Allah akan  rupanya
Asma’ Allah akan namanya
Mala’ikat akan  t ent e r anya
Akulah wasil akan ka t anya.
Sayapnya bernama Furqan
T u b u h n ya bersurat Qur ‘ an
Kakinya Hannan dan Mannan
Da’im  [ 7 3] bertengger ditangan Rahman.
Ruh Allah akan nyawanya
Sirr Allah akan angganya
Nur Allah nama ma t anya
Nur Muhammad da ‘ im sertanya.
78 Liqa Allah nama ‘ishqinya
Sawt Allah akan bunyinya
Rahman-Rahim nama ha t inya
Menyembah Tuhan dengan safinya.
Bumi-langit akan sangkarannya
Makkah-Madinah akan pangkalannya
Bayt Allah nama badannya
Disana be r t emu dengan Tuhannya.
Chahayanya seperti suluh
Bunyinya seperti guruh
Matanya lengkap dengan  t u b uh
Bulunya da ‘ im sekalian luruh.
Rupanya akan ma h b u b n ya
Lakunya akan marghubnya
Bangsanya akan ma t lubnya
Buraq al-Mi’raj akan ma rkubnya.
79 ‘ilmu’l-yaqin nama ‘ilmunya
‘Aynu’l-yaqin hasil  t a h u n ya
Haqqu’l-yaqin akan lakunya
Muhammad nabi asal gurunya.
Shari’at akan ripinya
Tariqat akan budinya
Haqiqat akan tirainya
Ma’rif  at yang wasil akan isinya.
‘Alam na sut nama hambanya
Perisai ma l akut akan ka t anya
Duldul  j a b a r ut nama kudanya
Menyerang  l ahut akan kerjanya.
Dengarkan hai anak  j amu,
Unggas itu sekalian kamu! (f)
Ikan Tunggal bernama fadil
Dengan air da ‘ im ia wasil
Tshqinya terlalu kamil
Didalam Laut tiada bersahil.
Ikan itu terlalu ‘ali
[ 8 7] Bangsanya Nur al-Rahmani
Anggapnya  rupa insani
Da’im bermain di laut baqi.
Bismi’Llah akan namanya
Ruh Allah akan nyawanya
Wajh Allah akan mukanya
Zahir dan batin sertanya.
Nur Allah nama bapainya
Khalaqat Allah akan sakainya
Raja Sulayman akan pawainya
Da’im berbunyi dalam balainya. Empat bangsa akan  ibunya
Summun bukmun akan  t ipunya
Kerja Allah yang di t i runya
Mengenal Allah dengan bisunya.
F a n a’ fi’Llah akan suchinya
Inni ana’Llah akan bunyinya
Memakai dunya akan ruginya
Radikan ma ti da ‘ im pujinya.
Ta rku’ l -dunya akan labanya
Me n u n t ut  d u n ya akan ma r anya
‘Abdu’l-Wahid asal namanya
Da’im ‘Ana’1-Haqq!’ akan ka t anya
Kerjanya mabok dan ‘ashiq
‘ I lmunya sempurna fa’iq
Menchari air terlalu sadiq
Didalam Laut bernama Khaliq. Ikan itu terlalu zahir
Olehnya da ‘ im didalam air
Sungguh pun ia terlalu hanyir
Wasilnya da ‘ im di Laut halir.
83 SYAIR MA’RIFAT
Aho segala ki ta  ummat Nabi!
Akan ma’rifat Allah yogya dike t ahui
Kerana ma’rifat itu pada sekalian wali
Mulianya sangat terlalu qawi.
Ma’rifat itu yang terlalu qabul
Dengan Mahbubmu da’im beroleh wusul
Pakaian Mahbub yang bernama Rasul
Terlalu jauh daripada zuluman jahul.
Maraja‘l-bahrayni yaltaqiyan
Bayna huma barzakhun la yabghiyan.
Bahrayn itu terlalu ‘ajib
Barzakh di ant a r anya bi Nuri’l-Habib
Olehnya zahir terlalu qarib
Kelihatan jauh pada sekalian  [ 6 6] gharib. Bahrayn itulah ma’nanya dalam
Menyatakan pertemuan Tuhan dan ‘alam
Inilah rahasia Nabi yang Khatam
Menyalakan ‘Ashiq tiada ia padam.
Bahrayn itu tiada bertating
Airnya suchi terlalu hening
Bukan dimata hidung dan kening
Jangan dipandang disana pening!
Erti qaba qawsayny aw adna
Pertemuan hamba dan Tuhan yang A’la
Pada ma kadhaba’l-fu adu ma ra’a
Tiada lagi lain ‘ala ma yura
Qaba qawsayni itu suatu tamthil
Ma’nanya ‘ali timbangnya thaqil
Babrayn didalamnya sempurna jamil
Orang mengetahui dia terlalu qalil
85 Orang qaba qawsayni itu seperti kandang
Tali di ant a r anya  b u k a n n ya benang
Bazrakh namanya disana  t e rbent ang
Ketiganya wahid yogya kau pandang.
Tuhan ki ta itu tiada bermakan
ZahirNya nya ta dengan rupa insan
Man ‘arafa nafsahu suatu burhan
Fa qad ‘arafa rabbahu terlalu bayan. t v
AL -MUNTAHI
karangan Hamzah Fansuri
[Naskah Leiden  n o.  7 2 91 (III)]
[ r ro] Bismi’ Llahi’ l—rahmani’ l-^rahim
Al—hamdu li’Llahi rabbi’l—’alamin
< wa’l—’aqibatu li’l—muttaqin
wa’lsolatu ‘ala rasuli [hi] Muhammadm
wa alihi ajma’in.
(1) Ketahui ol ehmu, hai Talib, bahwa sabda Rasulu’Llah (salla’
Llahu’alayhi wa sallam!).:
Man nazara ila shay ‘in wa lam yara ‘ Llaha
fihi fa huwa batilun.
ya ‘m
Barang siapa menilik kepada  sua tu, jika tiada
dilihatnya Allah da l amnya, maka ia itu sia-sia.
[ 1 1 1]
Kata ‘Ali (radiya’Llahu ‘anhu!) :
Ma [ra] ‘ ay tu shay’an ilia wa ra’aytu’Llaha [fihi].
ya’ni :
Tiada kulihat suatu melainkan kulihat Allah dalamnya.
Sabda Nabi (salla’Llahu ‘alayhi wa sallam!):
Man ‘arafa nafsahu fa qad’arafa rabbahu.
ya’ni :
Barang siapa mengenal dirinya maka sanya mengenal Tuhannya.
S7 ( 2 ) E r ti mengenal  T u h a n n y a, dan mengenal dirinya  y a m: Din
kuntu kanzan makhfiyyan  [ i t u] dirinya, dan  s eme [ s]  ta sekalian
dalam  ‘ I h nu AUah. Seperti sebiji dan  p u h u n;  p u h u n n ya dalam sebiji  i tu,  sungguh’pun tiada kelihatan,  t e t a pi  h u k umn ya ada dalam
biji itu.’ Kata Shaykh  J u n [ a y] d (radiya’Llahu ‘anhu!):
Kana’Llahu wa lam yakun ma’ahushay un [Huwa J
I—ana kama kana.
ya ‘ni Ada Allah dan tiada ada sertaNya suatu  p u n.
[ I a] sekarang ini seperti AdaNya dahulu itu jua.
Kerena ini maka sabda ‘Ali (radiya ‘Llahu ‘anhu!):
Ma ra’aytu shay’an illa wa ra’aytu’Llaha fini.
(3) Tetapi jangan melihat seperti kain basah karena kain lain, airnya lain Allah Subhanahu wa Ta’ala mahasuchi daripada demikian
itu  t amthi lnya! Tetapi jika di t amthi lkan seperti laut dan ombak,
harus seperti ka ta sha’ir:
Fa’l–bahru bahrun ‘ala ma kana fi qidamin
Inna’l—hawaditha amwajun wa anharu
La yahjibannaka as [h] kalun tushakiluha
‘An man tashakkala fiha fahiya astaru.
y a ni
Yang laut itu laut jua pada sedia pe r t amanya,
Maka yang baharu itu ombaknya dan sungainya;
Jangan  m e n d [ i n d ] i n g [ i] dikau  [ 1 1 2] segala
rupa yang menyerupai dirinya, Karena dengan
segala  rupa itu dinding daripadanya.
Te t api  [ omb a k] beserta dengan laut qadim. Seperti  [ k a t a] misra’j
[Darya kuhan chu bar zand mawji nu Mawjish khwanand u
dar haqiqat daryast].
[ y a ‘ n i :] Laut itu qadim; apabila berpalu, baharu ombak
namanya dika t a.
Tetapi pada haqiqa tnya  l aut jua—
Kerana  l aut dan ombak esa tiada dua.
Seperti firman Allah Ta’ala :
88 Wa’Llahu bi kulli shay’in muhit.
ya ‘ni :
Bahwa Allah Ta’ala dengan [segala  s e ] sua tu
me l iput.
Sabda Rasulu’Llah (salla’Llahu ‘alayhi wa sallam!):
Ana mina’Llahi wa’l—’alamu minni.
ya ‘ni
Aku daripada Allah; sekalian ‘alam daripadaku.
Seperti ma t aha ri dengan chahayanya dengan panasnya; namanya
tiga haqiqa tnya suatu jua. Seperti isharat Rasulu’Llah (salla
Llahu ‘alayhi wa sallam!):
Man ‘arafa nafsahu fa qad’arafa rabbahu.
ya’ni :
Barangsiapa mengenal din’ nya maka sanya mengenal
Tuhannya.
(4) Adapun dirinya  i tu,  sungguh[pun] beroleh nama dan rupa jua,
haqiqa tnya  rupanya dan namanya tiada. Seperti bayang-bayang
dalam chermin;  rupanya  d [ a n] namanya ada  [haqiqa tnya  t i a d a ].
Seperti sabda Nabi (salla’Llahu ‘alayhi wa sallam!):
Al-mu’minu mir’atu’l—mu’min.
ya ‘ni ; .
Yang Mu’min itu chermin samanya mu min.
Er t inya ya ‘ni Nama Allah Mu’min. Maka hambaNya yang khas
pun namanya mu ‘mi n. Jika demiki an, sama-sama dengan Tuhannya, kerana hamba tiada bercherai dengan Tuhannya, dan Tuhan
pun tiada bercherai dengan hambaNya.
(5) Seperti firman Allah Ta’ala:
Wa huwa ma’akum aynama kuntum.
ya ‘ni :
Ia itu serta kamu barang dimana ada kamu.
Dan  [ 1 1 3] lagi firman Allah Ta’ala .
89 Thalathatin ilia huwa rabi^uhum wa la khamsatin
illa huwa sadisuhum wa la adna min dhalika wa
la akthara illa huwa ma’ahum.
ya ‘ni :
Jika orang tiga, melainkan Ia jua ke empa tnya
dengan mereka  i tu; dan jika ada lima, melainkan
Ia  k e e n am[ n y a] dengan mereka  i tu; dan tiada
lebih dan tiada kurang daripada demikian itu
melainkan Ia jua serta mereka  i tu.

13 Oktober 2012

Syair ini karangan Hamzah Fansuri 1

oleh alifbraja

1 permanen;
C a t a t an
Sya ir ini ka r angan Hamz ah F ansu ri yai tu s eor ang ahlu suluk ya ng termasyhur, yang hidup pa da penghabisan abad keen umum belas dan permula an abad
k e t u j uh be l a s. T emp at kediamann ya IAL ah Barus, ia s angat bany ak me ngu nj un gi negeri asing: P ahang, B antan, K udus, S ya rh Nawi (temp at Keduduk an
raja S i a m), Mekah dan Me d i n a h. I l mu batinn ya tenta ng sifat T uhan, dun ia
d an manus ia tia da diter ima ul ama – ul ama agama I sl am zam an it u. T e r u t a ma
Sye ch N uru ‘dd in al Rani ri seorang ula ma Islam yang termasyh ur di Ac eh,
sela lu membant ah dan meme ran gi i lniu Hamz ah F ansu ri ser ta S jamsu ‘dd in al
S umatrani, s eor ang ahli sul uk ya ng sef aham dengan Hamz ah F angsur i. Demik ianl ah S ult an Ac eh menyur uh bak ar kitab – kit ab ka r angan ked ua anggota sul uk
i t u. T eta pi meskip un demiki an Hamz ah F ansu ri termasyh ur s amp ai kemanama na d an pengaruhn ya s amp ai ke pul au J aw a.
41 Bismillahi R Rahmanir RAHIMI
Subhanallah terlalu kamil. ‘
Menjadikan insan alam dan jahil,
Dengan hambaNya daim
 2
 la Wasil
 3
Itulah Mahbub
 4
 bernama Adil.
Mahbub itu tidak berlawan,
Lagi alim lagi bangsawan,
Kasihnya banyak lagi gunawan,
Aulad
 5
 itu bisa t e r t awan.
Bersunting bunga lagi bumalai
 6
 ,
Kainnya warna berbagai,
Tau be rbunyi di dalam sagai,
 7
Olehnya itu orang teralah.
Ingat-ingat kau lalu-lalang,
Berlekas-lekaslah jangan amang,
 8
Suluh Muhammad yugia kau pasang,
Supaya salim
 9
 jalanmu datang.
kamil (b hs Ar b) – s e m p u r h a.
d a im (b hs A r b) – s enant i a s a.
Wasil (b hs Ar b) – s amp a i.
4
  m a h b ub (b hs A r b) – k e k a s i h.
s
 Au l ab (b hs A r b) – p a ra ahak.
  B u m a l ai (b hs Mly. L ama) – e lok.
sagai – hal amb a.
8
ama ng – angan-angan,
salim (b hs Ar b) – s e j aht e r a.
42 Rumahnya ‘ali
1
 be rpa t umum birai.
2
Lakunya cerdas sempurna bisai.
3
Tudungnya halus terlalu pipai.
4
Daim be rbuni di luar tirai.
Jika sungguh engkau asyik mabuk.
Memakai c andi
5
 pergi menjaluk.
6
Ke dalam pagar supaya kau masuk.
Barang ghairallah
7
 sekeliannya amuk.
Berjalan engkau rajin-rajin.
Mencari guru yang t ahu akan batin
Yugia kau t u n t ut jalan yang amin.
Agar dapat lekas kau kahwin
8
Berahimu daim akan orang kaya.
Manakan dapat tidak berbahaya.
Ajib segala akan ha ti sahaya.
Hendak be rdapat dengan maya raya.
1
 ali (b hs Ar a b) – yang tihggi.
birai – hiasan,
bisai – p a n d a i.
4
 pipai – licin.
5
  c a n di – t e l e k u n g.
6
 menj a luk – mi n t a.
7
 ghairallah (b hs A rb) – selain da ri Al l ah.
8
  amin (b hs Ar b) – y a ng a m a n. Tiada kau t ahu akan agamamu.
Terlalu ghurur
9
 dengan ha r t amu.
Nafsu dan syahwat daim sertamu.
Asyik dan mabuk bukan kerjamu.
Rantaikan kehendak sekelian musuh.
Anjing tunggal yugia kau b u n u h.
Dengan Mahbubmu seperti suluh.
Supaya d a p at berdakap t u b u h.
Dunia nan kau sandang-sandang.
Manakan d a p at ke b u k it rentang.
Angan-anganmu terlalu panjang.
Manakan d a p at segera memandang.
Dunia jangan kau t a ruh.
Sehingga hampir Mahbub yang j a u h.
Indah segala akan kalah-kaluh.
Ke dalam api pergi be r l abuh.
. IggfuM »nav – (d ß ta tdo)
. Naaeiri – ‘uni
. i s b n aq – iaaid
 E
. Ni-jif – ieqiq *
. Jjnurfsfsi – ibntw *
. Nlnim – jiulßinam
 d
lialiA hal ub nia ba – (d ia arid) rißliBiiBdig
 r
9
  g h u r ur (b h s) – t e r t i p u.
44 Hamzah miskin hina dan ka r umum.
Bermain ma ta dengan Rabul Alam.
Selamanya sangat terlalu da l am.
Seperti mayat sudah t e r t a n umum.
Allah Maujud ‘terlalu baqi.
2
Dari enam jihad kenahinya cali.
Wa Huwal Auwalu
3
 sempurna ‘ali.
4
Wa Huwal Akhi ru ‘daim nur ani.
Nurani itu hakikat k h a t umum.
Pertama terang di l aut dalam.
Menjadi makhluk sekelian alam.
Itulah bangsa Hawa dan Adam.
Te r t entu awal sua tu cahaya.
Itulah cermin yang mulia raya.
Terlihat di sana miskin dan kaya.
Menjadi dua Tuhan dan sahaya.
1
 maujud (bhs Arb) – yang ada.
2
 baqi (bhs Arb) – yang kewal.
 Wa huwal auwalu (bhs Arb) – ia yang awal.
ali (bhs Arb) – yang tinggi.
45 Nurani itu terlalu zahir
Bernama Ahma d ‘dari cahaya satir.
2
Peniuru alam keduanya hadir.
Itulah makna awal dan akhir.
Awal dan akhir asmanya
3
 jarak.
Zahir dan batin warnanya banyak.
Meskipun dua ibu dan anak.
Keduanya cahaya di sana banyak.
Yugia kau pandang kapas dan kam,
Keduanya wahid
4
 asmanya lain,
Wahidkan hendak lahir dan batin,
Itulah ilmu ke sudahannya main.
Anggamu
5
 itu asalnya t ahi r.
6
Batinnya arak zahirnya takir,
Lagi kau saqi
7
 lagi kau sakir
Itulah Mansyur menjadi nazir.
1
  A hm ad – n ama lain da ri Nabi M uhamma d.
2
 satir (b hs Ar b) – yang byrsembuny i.
3
  a sma (b hs Ar b) – n ama.
4
 wahid (b hs Ar b) – s a t u.
* A n g g a – a n g g o t a.
6
  t a h ir (b hs A r b) – suc i.
7
 saqi (b hs Ar b) – y a ng m e m i n u m.
8
 na z ir (b hs A r b) – p e n i l iw.
46 hunuskan ma ta t u n u k an sarung.
I sba tkan
1
 Allah nafikan
2
 pa tung.
Laut t auhid yugia kau harung.
Itulah ilmu t emp at bernaung.
Rupamu zahir kau sangka t anah.
Itulah cermin sudah terasah.
Jangan kau pandang j auh be rpayah.
Mahbubmu hampir serta ramah.
Kerjamu mudah periksamu kurang.
Kau sangka tasbih
3
 membilang tulang.
Ilmumu baha ru berorang-orang.
Lupakan fardu yang tersedia hut ang.
J a u h a rmu lengkap dengan t u b u h.
Warnanya nyala seperti suluh.
Lupakan nafsu yang tersedia musuh.
Manakan d a p at adamu gugur.
1
 isbatkan (bhs Arb) – memastikan adanya Allah.
2
 nafi (bhs Arb) – meniadawan.
3
 tasbih – buah tasbih alat penghitung zikir.
47 J auhar yang mulia meskipun sangat.
Akan orang muda kasih akan alat.
Akan ilmu Allah ingin kau pe rdapa t.
Mangkanya sampai pulangmu r aha t.
4
Hamzah Nuwi zahirnya J awi.
5
Batinnya cahaya Ahmad yang saf i.
6
Meskipun ia hina j a t i.
Asyiknya daim akan Zatul Bari.
7
Sidang fakir emp u n ya ka t a.
Tuhanmu lahir terlalu nya t a.
Jika sungguh engkau be rma t a.
Lihatlah dirimu rata-rata.
Kenal dirimu hai anak j amu.
Jangan lupa akan diri kamu.
Ilmu hakikat yugia kau r amu.
8
Supaya terkenal’ali adamu.
4
  r a h at (b hs Ar b) – s Enang.
5
  J awi – m a k s u d n ya o r a ng My l a y u.
6
 safi (b hs A r b) – b e r s i h.
7
  Z a t ul Bari (b hs A r b) – Z at Allah.
8 ra mu – mengumpulk an bahan – baha n.
48 Jikalau terkenal dirimu baqi.
Elokmu i tu t i ada berbagi.
Hamba dan Tuhan daim berdami.
Memandang diri jangan kau lali.
Kenal dirimu hai anak dagang.
Menafikan diri jangan kau sayang.
Suluh isbat yugia kau pasang.
Supaya d a p at mudah kau da t ang.
Dengarkan sini hai anak r a t u.
Ombak dan airnya asalnya satu.
Seperti manikam Muhith
9
– Dengan b a t u.
Inilah tamsil engkau dan r a tu.
J ika terdengar olehmu firman.
Pada taur at Injil dan F u r q a n.
3
Wa Huwa ma ‘akum pada ayat Quran.
Bikulli syaiin muhi th terlalu ‘i y a n.
4
1 berda mi – tid ak be rcerai, bersat u.
2 m u h i th (b hs Ar b) me l i p u t i.
3 F urq an – nama lain dari Qurajv ^ ^ A n ^ m
^ ^ S ^ ^ ^ ^ ^ ^ i. “
Dan, angit bumi m ya
A llah – d an Al l ah itu me Lipu ti segala sesua tu
Wa Huwa M a ‘ak um – Al l ah itu bers amamu, iy an – nyat a. pa s t,.
49 Syari’at Muhammad ambilkan suluh.
Ilmu hakikat yugia kau p e r t u b u h.
Nafsumu itu yugia kau b u n u h.
Makanya d a p at sekelian gugur.
3
Mencari dunia berkawan-kawan.
Oleh nafsu khabis
4
 engkau t e r t awan.
Nafsumu itu yugia kau lawan.
Mangkanya sampai engkau bangsawan.
Mahbubmu itu tidak berhasil.
5
Fa ainama tuwallu
6
 jangan kau ghafil.
7
Fa samma Wajhullah
8
 sempurna Wasil.
9
Inilah jalan orang kamil.
1
 °
Kekasihmu lahir terlalu terang.
Pada kedua alam nya ta t e rbent ang.
Ahlul Makrifah ‘terlalu menang.
Wasilnya daim tidak berselang.
3
luruh – l enyap, fana.
4
 khabis (Ar b) – b u s u k, j a h a t,
h a il (A r b) – tirai, p e m b a t a s.
fa a inama tuwa l lu – kutip an ay at Qu r an dari sur ah Al B a ^ ar ah ay at 1 15
yang terj ema h an sel engkap ay at berbunyi: “K epunya an Allah tim ur d an
b a r a t: ke r ana. tu, ke ma na saja engkau menghadap, di sana terdap at Wajah
7 A llah: sesungguhn ya Allah mempuny ai ilmu ya ng luas “
Ghafil (Ar b) – lupa.
J fa s amma Wajhullah bagi an ay at 1 15 sur ah Al B aqara hal. s epe r ti pada n o ta 6
^ Wasil (Ar b) – s amp a i.
kamil (A rb) – sempurna, ma ks ud di sini Ins an Kami l.
50 Hempaskan akal dan rasamu.
Lenyapkan badan dan nyawamu.
Pejamkan ingin dua ma t amu.
Di sana lihat peri r u p amu.
Adamu itu yugia kau serang.
Supaya d a p at negeri yang henang.
3
Seperti Ali t a tka la perang.
Melepaskan duldul t i ada berkekang.
Hamzah miskin orang’uryani.
4
Seperti Ismail jadi qurbani.
5
Bukannya Ajam dan A ‘r abi.
Nantiasa Wasil dengan yang baqi.
-Habis-
3
 henang – tetap.
4
 uryani (Arb) – telanjang.
5
 qurbani (Arb) – korban. Maksudnya: seperti Nabi Ismail yang rela mengorbankan dirinya demi memenuhi mimpi ayahnya Ibrahim.
51 SYAIR NAMA-NAMA TUHAN
Aho segala ki ta yang menyembah nama
Yogya dike t ahui apa Yang Pertama
Karena Tuhan ki ta yang Sedia Lama
Dengan ketujuh sifat bersama-sama
Kunjung-kunjung di b u k it yang Mahatinggi
Kolam sebuah di bawahnya
Wajib insan mengenal diri
Sifat Allah pada t u b u h n ya
Nurani haqiqat kha t umum
Supaya terang laut yang maha dalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi Sultan kedua alam
Tuhan ki ta Empunya Dhat
Awwainya Hayy pe r t ama bilang Sifat
Keduanya Ilmu dan Rupa Ma’lumat
Ketiga Murid ‘kan sekalian I r adat
52 Keempat Qadir dengan Qudr a tnya tamam
Kelimanya sifat bernama Kalam
Keenamnya Sami ‘dengan adanya dawam
Ketujuhnya Basir akan halal dan haram
Ketujuhnya i tu adanya qadim
Akan istidat allamin sempurna Alim
Karena sifat ini dengan Kamal al-hakim
Bernama Bismillahi ‘l-Rahmani’ l-Rahim.
Ilmu ini Haqiqat Muhammad a l – N a bi
Menurutkan Ma’lum dengan lengkapnya qawi
Dari Haqiqa tnya itu jahil dan wali
Beroleh i’tibarnya dengan sekalian peri
Tuhan ki ta itu empunya Kamal
Di dalam tertandingi tidak panah zawal
Rahman da l umumnya pe rhimpunan Jalai
Beserta dengan Rahim sekalian Jamal
53 Tuhan ki ta itu yang bernama Aliyy
Dengan sekalian Zat senantiasa baqi
Alajamiil alamin Atha rnNya jadi
Dari Sittu j ihat sebab itulah khali
Cahaya AtharNya tidak padam
memberikan wujud pada sekalian alam
menjadikan mahluq siang dan malam
IIA abadi ‘l-abad tidak kan karam
Tuhan ki ta itu seperti Bahr-al ‘amiq
Ombaknya penuh pada sekalian tariq
Laut dan ombak keduanya rafiq
Akhir ke dalamnya jua ombaknya ghariq
Lautnya ‘Alim ha lunnya Ma’lum
Kondisinya Qasim ombaknya Maqsum
Tuhannya Hakim s h u ‘u n n ya Mahkum
Pada sekalian ‘alamin inilah rusum
54 Jikalau sini kamu tahu akan ada
Itulah t emp at kamu shuhud
Singkirkan rupamu dari sekalian quyud
Agar dapat ke dalam diri qu’ud
Pada wujud Allah itulah yogya kau qa’im
Singkirkan rupa dan namamu da’im
Nafikan rasamu dari Makhdum dan khadim
Agar sampai kepada Amal yang Khatim
Jika engkau belum t e t ap seperti batu
Hukum dua lagi khadim dan ratu
Setelah lupa engkau dari emas dan mati
Mangkanya d a p at menjadi satu
Jika belum fana dari ribu dan r a tus
Tiadakan dapat adamu kau hapus
Nafikan rasamu dari kasar dan halus
Agar dapat barang ka t amu harus Hamzah Fansuri sungguh pun da’if
Haqiqa tnya hampir di Dhat al-Sharif
Sungguh pun habab rupanya khatif
Wasilnya da ‘im dengan Bahr al-Latif
Hamzah miskin orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Senantiasa Wasil dengan Yang Baqi
Hamzah Fansuri terlalu karam
Di dalam laut yang mahadalam
Berhenti angin ombak pun padam
Menjadi sultan kedua alam
56 SYAIR a’yan THABITAH
Aho segala kamu yang bernama taulan!
T u n t ut ma’rifat pada mengenal a’yan
Karena disana sekalian ‘arifan
Barang ka t anya setengah dengan firman.
A’yan thabi t ah bukankah shu’un dha t iyyah?
Mengapa pulang dika ta ada ‘ilmiyyah!
Tatakala awwal baru muqabalah
Olehnya janggal sebab lagi me n t a h.
A’yan thabi t ah bukankah suwari?
Mengapa pulang dika ta sifat Wahyi!
Tatakala awwal baru tafsil ‘ilmi
Olehnya janggal tidak mengetahui.
A’yan thabi t ah bukankah mahiyyat al-mumkinat?
Mengapa pulang dika ta mus t ahi l a t!
Tatakala awwal telah bernama ma ‘lumat
Olehnya janggal tidak mendapa t.
57 a’yan thabi t ah bukankah makhluq?
Mengapa pulang dika ta ma ‘shuq!
Tatakala awwal baru masbuq
Olehnya janggal lalu t a f a ruq.
A’yan thabi t ah bukankah mi r ‘a t?
Mengapa pulang dika tak adamiyya t!
Tatakala awwal be rnama furuf ‘aliyat
Olehnya janggal menjadi dalalat.
A’yan thabi t ah bukankah ‘alam?
Mengapa pulang dika ta ‘adam!
Tatakala awwal telah sudah mutalazam
Olehnya janggal penglihatnya kelam.
A’yan thabi t ah bukankah ‘ashiq?
Mengapa pulang dika ta Khaliq!
Tatakala awwal baru mutalahiq
Olehnya janggal lalu mufariq.
58 a’yan thabi t ah bukankah ma ‘lum?
Mengapa pulang dika ta ma ‘d um!
Tatakala awwal telah sudah t e n n a q s um
Olehnya janggal tidak mafhum.
A’yan thabi t ah bukankah faqir?
Mengapa pulang dika ta amir!
Tatakala awwal baru hadir
Olehnya janggal menjadi khasir.
A’yan thabi t ah bukankah ja’izul ‘1-ada?
Mengapa pulang dika ta mumtani’u’l-ada!
Tatakala awwal telah sudah mawjud
Olehnya janggal menjadi j u h u d.
A’yan thabi t ah bukankah sh’un t h u b u t i?
Mengapa pulang dika ta ‘adam mahdi!
Tatakala awwal sudah mujmali
Olehnya janggal menjadi Mu’tazili. A’yan thabi t ah bukankah ‘adam mumkin?
Mengapa pulang dika ta ‘adam sakin!
Tatakala awwal telah menjadi cermin
Olehnya janggal lalu ngerin.
‘Adam mimkin awwalnya ma’ d um
Disana faqir sekalian antum
Didalam ‘ilmu sekaliannya ma’lum
Itulah murad wa huwa ma’akum aynama kuntum.
Dari Hamzah s Sha’irs (Coo. Or. 2 atau 6, Cod. Or. 3374, Cod. Or.
3 3 7 2, Library, Universitas Leiden)
60 SYAIR RUH ID AFI
T a ‘a y y un awwal ada yang j ami’ i
Pertama disana nya ta Ruh Idafi
Semesta ‘alam sana lagi ijmali
Itulah bernama Haqiqat Muhammad al-Nabi.
Ta ‘ayyun thani ada yang tamyizi
Disana terperi sekalian ruhi
Semesta ‘alam sana tafsil yang mujmali
Itulah bernama haqiqat insani.
Ta ‘ayyun tha l i th ada yang mufassali
Ia itulah penghargaan dari karunia Ilahi
Semesta ‘alam sana tafsil fi’li
Itulah bernama a’yan khariji.
Rahasia ini yogya dike t ahui
Pada kita sekalian yang me n u n t u ti
Demikianlah kelakuannya tanazzul dan taraqqi
Dari sanalah kita sekalian menjadi. Pada kunhinya i tu belum be rke t ahuan
Demikianlah ma r t a b at asal awal
Bernama wahdat t a t aka la zaman
Itulah ‘ashiq sifat menya t akan.
Wahdat itulah bernama Kamal dhati
Menyatakan sana Ruh Muhammad al-Nabi
Tatakala i tu be rnama Ruh Idafi
I tul ah ma h k o ta Qurayshi dan ‘Arabi.
Wahdat itulah sifat yang Keesaan
Memberikan wujud pada sekalian manusia
MuhitNya lengkap pada sekalian zaman
Olehnya itu tidak Ia bermakan.
Wahdat itulah yang pe r t ama nya ta
Didalamnya mawjud sekalian r a ta
MuhitNya lengkap pada sekalian anggota
Demikianlah ump ama chahaya dan pe rma t a.
62 wahdat itulah bernama Kunhi Sifat
Tidak ada bererai dengan itlaq Ahadiyyat
Tanzih dan tashbih disana ma ‘iyyat
Demikianlah sekarang zahir [2 8] pada ta ‘ayyuna t.
Wahdat itulah bernama bayang-bayang
Disana nya ta Wayang dan Dalang
MuhitNya lengkap pada sekalian padang
Mushahadat disana jangan kepalang.
Wahdat itulah yang pertama awwal
Ijmal dan tafsil sana mujmal
MuhitNya lengkap pada sekalian a f al
Itulah ma r t a b at usul dan asal.
Wahdat itulah yang pe r t ama tanazzul
Ijmal dan tafsil sana maqbul
MuhitNya lengkap pada sekalian maf’ul
Itulah Haqiqat Junjungan Rasul.
63 wahdat itulah yang pe r t ama tajalh
Tidak ada bererai dengan Wujud Mutlaqi
Ijmal dan tafsil didalam ‘ilmi
Itulah ma r t a b at kejadian Ruh Idafi.
Wahdat itulah yang pe r t ama taqayyid
Disana idafat lam yulad dan lam yalid
Pada sekalian t a ‘a y y un jangan kau taqlid
Mangkanya sampai bernama tajrid.
Wahdat itulah sifat yang t a l ahuq
Tanzih dan tashbih sana cluk
MuhitNya nya ta tatakala masuk
Itulah pe r t emuan Khaliq dan Makhluq.
Wahdat itulah sifat yang talazum
Tanzih dan tashbih sana malzum
MuhitNya lengap pada sekalian ma ‘lum
Itulah pe r t emuan Qasim d an Maqsiim. Wahdat itulah sifat yang taqarun
Tanzih dan tashbih sana maqrun
MuhitNya lengkap pada sekalian mudabbirun.
Itulah murad: Wa fi anfusikum-a fa la tubsirun.
65
J SYAIR IBA HATI
Tuhan ki ta yang be rnama Qadim
Pada sekalian makhluq terlalu karim
Tandanya qadir lagi dan hakim
Menjadikan ‘alam dari al-Rahman al-Rahim.
Rahman itulah yang bernama sifat
Tidak ada bererai dengan kunhi Dhat
Dhat disana pe rhimpunan sekalian ‘iba r at
Itulah haqiqat yang bernama ma ‘l uma t.
Rahman itulah yang bernama ada
Kondisi Tuhan yang tersedia ma ‘b ud
Kenyataan Islam Nasrani dan Yahud
Dari Rahman itulah sekalian mawjud.
Ma’bud itulah terlalu bayan
Pada kedua ‘alam kulla yawmin huwa fi shan
Ayat ini dari Surat al-Rahman
Sekalian ‘alam disana hayr an.
66 Ma’bud itulah yang bernama haqiq
Sekalian ‘alam didalamnya ghariq
Olehnya itu sekalian fariq
Pada kunhinya itu tidak mendapat tariq
Haqiqat itulah terlalu ‘ayan
Pada rupa kita sekalian insanAynama tuwallu suatu burhan
Fa thamma wajhu ‘Llah pada sekalian makan.
Insan itu terlalu ‘ali
Haqiqatnya Rahman yang Maha Baqi
Ahsanu taqwimin itu rabbani
Akan kenyataan Tuhan yang bernama Subhani.
Subhani itulah terlalu ‘ajib
Dari habli’l-Warid puh ia qarib
Indah sekali Qadi dan kha t ib
Demikian hampir tidak mendapat nasib.
67 Aho segala kita yang ‘ashiqi
Ingatkan ma ‘na insani
Jika sungguh engkau bangsa ruhani
Jadikan dirimu akan rupa Sultani.
Kenal dirimu hai anak ‘alim!
Supaya engkau nentiasa salim
Dengan dirimu itu yogya kau qa’im
Itulah haqiqat salat dan sa’im.
. Dirimu itu bernama khalil
Tidak ada bererai dengan Rabb [a l -] Jalil
Jika ma ‘na dirimu dapat akan dalil
Tidak berguna madhhab dan sabil.
Kullu man ‘alayha fan / ayat min Rabbihi
Menyatakan ma ‘na irjiH Ha aslihi
Akan insan yang deroleh tawfiqi
Supaya karam dalam sirru sirrihi. Situlah ada sekalian funun
Tinggallah engkau dari mal wa’1-banun
Engkaulah ‘ashiq terlalu j u n un
Inna IVLlahi wa inna ilayhi raji’un.

13 Oktober 2012

BAPAK SASTRA DAN BAHASA MELAYU

oleh alifbraja

HAMZAH FANSURI
BAPAK SASTRA DAN BAHASA MELAYU
Waktu dan t emp at Hamzah Fansuri lahir sampai sekarang masih
merupakan teka-teki. Demikian juga t ahun kapan ia meninggal tak
dike t ahui secara pasti. Namun bahwa ia adalah seorang sufi
besar yang luas pengaruhnya diwilayah Nusantara pada abad ke-17
dan sesudahnya, tidak ada yang bisa menyangkal. Jus t ru karena
luasnya pengaruh ajaran-ajarannya itulah yang membuat kita bert anya – t anya mengapa tidak ada catat an yang resmi kapan ia lahir
dan meninggal. Hikayat Aceh sendiri misalnya tidak me n y e b ut
adanya seorang tok oh sastra dan ahli tasawuf bernama Hamzah
Fansuri, suatu kekeliruan yang sangat besar, karena dengan demikian seakan-akan tok oh Hamzah Fansuri tidak pernah muncul dalam
sejarah Aceh.
Namun hal itu bisa dimaklumi. Peniadaan nama Hamzah Fansuri dan jejaknya dalam sejarah memanglah disengaja dan merupakan kelanjutan dari perintah perusakan te rhadap karya-karyanya
yang dipandang penuh dengan ajaran-ajaran yang berbahaya dan
menye s a tkan. Ketika pengaruh Hamzah Fansuri sudah berakar
dalam masyarakat Aceh pada awal abad ke -17, khususnya pada
masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda (1607-1636), datanglah
untuk kedua kalinya seorang ulama dari Ranir India bernama
Nuruddin, yang kelak akan ki ta kenal dengan nama Nuruddin
A Raniri. Ia adalah seorang ulama ortodo ks dan tidak menyukai
ajaran tasawuf Hamzah Fansuri. Dalam waktu yang singkat Nuruddin Arraniri dapat mempengaruhi sultan. Setelah itu ia berhasil
mendorong sultan melakukan perusakan te rhadap ajaran-ajaran
Hamzah Fansuri, sehingga seorang tok oh pr ibumi dengan mudah
dapat disingkirkan oleh seorang penda t ang. Dengan demikian penyingkiran te rhadap Hamzah Fansuri, yang di ikuti dengan pengejaran te rhadap dirinya dan pengikutnya serta pembakaran karya-karyanya, lebih me rupakan peristiwa pol it ik.
13 Namun sejarah tidak bisa dibohongi. Begitu Hamzah Fansuri
meninggal namanya tiba-tiba melejit lagi dan menjadi buah
bibir orang. Pengikutnya yang setia ternya ta tidak sedikit,
dan merekalah yang berhasil menye l ama tkan salinan karya-karya
Hamzah Fansuri sehingga sampai kepada kita sekarang ini Pertanyaan yang muncul kepada kita setelah lebih tiga abad kematiannya
ada l ah: “Benarkah ajaran tasawuf Hamzah Fansuri sesat? Tidakk ah apa yang ia alami serupa saja dengan apa yang dialami Al-Hallaj,
v yang huk uman ma t inya lebih merupakan peristiwa politik? “
Kita tidak perlu menjawab pe rt anya an itu sebelum memperhatikan sungguh-sungguh apa yang ia ajarkan dalam karya-karyanya. Sebab karya-karya Hamzah sendirilah kelak yang akan menjadi saksi atau hakim apakah ia seorang sufi yang sesat ataukah
t idak.
Meskipun hari dan t ahun kelahirannya tidak dike t ahui dengan
pasti, ia diperkirakan hidup antara pertengahan abad ke-I 6 dan
awal ke-17 pada masa pemerintahan raja Iskandar Muda. Karena
t ambahan nama di belakangnya “F angsur” itulah kita sekarang mengenalnya sebagai tok oh yang berasal dari Barus, Aceh, sebab kataka ta Melayu “B arus” bila diterjemahkan ke dalam bahasa Arab
akan menjadi “F a n s u r”. Tapi di dalam sajak-sajaknya ia pun men yeb ut bahwa dirinya berasal dari Shahr Nawi, sebuah ko ta di
Siam t emp at be rmukimnya pedagang dan ulama Islam dari Persia
dan Ar ab. Jadi meskipun tidak bisa dipastikan di mana ia lahir sebena rnya, jelaslah kedua t emp at ini memiliki arti yang penting
dalam hidupnya.
Sajak-sajaknya juga menya t akan bahwa ia telah mengembara
ke berbagai t emp at dan negeri seperti J awa, Siam, Semenanjung
Melayu, Pesisir Sumatra, Persia dan tanah Arab. Selain menguasai
bahasa Melayu, ia mahir pula dalam bahasa-bahasa Persia dan Ar ab.
Penguasaan bahasanya inilah agaknya yang membuat ia sangat
mudah menguasai berbagai buku tasawuf dari sufi-sufi te rkemuka
Persia. Di dalam uraian-uraian tasawufnya misalnya tak sedikit
sajak-sajak para sufi Persia itu ia kut ip dalam bahasa aslinya, kemudian dibubuhi terjemahannya dalam bahasa Indonesia.
Bahkan ia tak segan-segan menya t akan bahwa ia belajar langsung tasawuf dari sufi-sufi terk emu ka di Persia. Ia juga diberitahukan telah mengunjungi Mekkah dan Medinah, dan menunaikan
ibadah haji.
14 Dalam sebuah sajaknya ia menulis:
Hamzah Fansuri di Negeri Melayu
Tempa tnya kapur di dalam kayu
“K apur” dalam sajak ini sama dengan “barus”, menunjukkan
t emp at asal Hamzah. Agaknya ia sengaja memakai kata-kata “kap ur” itu setelah baris yang menyebutkan namanya sendiri (Hamzah
Fansuri), lalu ia memb u at ungkapan yang menunjuk pada makrifat
(Uniomys t ika),: tempatnya kapur di dalam kayu.
Di dalam sajaknya yang lain ia menul i s:
Hamzah Shahr-Nawi terlalu hapus
Seperti kayu sekalian hangus
Asalnya Laut tidak berharus
Menjadi kapur di dalam Barus
Sajak ini mewartakan bahwa ia seakan-akan berasal dari ShahrNawi, Siam, namun dibesarkan dan mempelajari tasawuf sampai
makrifat di tanah barus. Kata-kata “kayu sekalian hangus” menunjukkan bahwa ia mencapai makrifat. Seseorang yang mencapai makrikat. atau fana hapus) dengan Tuhannya, sering dilambangkan
sebagai sesuatu yang kembali ke asalnya “L a ut tak be ra rus”, suatu
ungkapan yang sering digunakan juga oleh Ibn Arabi dan Jalaluddin
Rumi. Laut di sini adalah lambang dz at yang maha luas. Sedang
baris “menjadi kapur di dalam Ba rus” mewartakan bahwa ia mencapai tingkat kesufian di tanah Barus.
Sebagai penyair, di sini ia berhasil memadukan tahapan pengalaman spiritual yang ia capai dengan t emp at di mana ia mencapainya. Artinya ia mampu menya tukan dunia luar dan dunia
dalam yang sangat inti dalam penulisan puisi, menjadi suatu ungkapan yang utuh. berdimensi ganda, menyaran ke banyak segi.
Ketika tingkat kesufian telah ia capai, maka ia tak peduli lagi
pada t emp at kelahirannya di dunia ini, sebab lahir di mana saja
sebenarnya sama. Yang penting adalah ia telah paham bahwa ia
berasal dari Dz at di luar dunia ini. Katanya:
Hamzah gharib Unggas Quddusi
Akan rumahnya Baytul Makmuri
Kursinya sekalian ia kapuri
Di negeri Fansuri minal ashjari
15 Jika sajak ini dialihkan ke dalam bahasa Indonesia masa kini,
saya kira akan menjadi sebagai be r ikut:
Hamzah asing si burung suci
Rumah di umumnya di Baitulmakmur
Taht anya put ih ia kapuri
Dari kayu di tanah Fansuri
Dalam sajak ini Hamzah Fansuri menyebut dirinya orang asing
atau pengembara asing di dunia ini (lihat juga Rumi). Secara hakiki ia adalah roh suci (burung suci). Dan rumah yang sebenarnya adalah di dalam ha t inya. Ia memakai ungkapan “Baytul makm ur” unt uk me nyeb ut ha ti, suatu ungkapan yang biasa ki ta t emui
dalam literatur sufi, yang kemudian juga dipakai di dalam
tasawuf Jawa, misalnya oleh Ronggowarsito (lihat: Hidayat J ati).
Berdasar sajak-sajak ini S. Naguib Al-Attas dalam b u k u n ya
“The Mysticisun of Hamzah F ansuri” (Kualalumpur: 1970) mengajukan kemungkinan t ent ang t emp at kelahirannya. Kemungkinan,
ka ta Al-Attas, Hamzah dilahirkan di Shar Nawi, namun ayahnya
berasal dari Barus, dan menjelang ayahnya wafat ia pun kembali ke
Barus. Tetapi dibagian lain ia menulis bahwa ia berasal dari Barus, dan
mencapai tingkat kesufian di tanah Shahr Nawi:
Hamzah nin asalnya Fansuri
Mendapat ada di t anah Shahr Nawi
Namun apakah ia dilahirkan di Barus atau Shahr Nawi
agaknya tidak menjadi penting lagi. Yang jelas bukan orang asing
seperti Nuruddin Arraniri yang berasal dari Ranir di India i tu.
Seperti ia tulis dalam sajaknya:
Hamzah Fansuri orang uryani
Seperti Ismail menjadi qurbani
Bukannya Ajami lagi Arabi
Sementara Wasil dengan Yang Baqi
Di sini ia mewa rt akan bahwa ia orang fakir (uryani = telanjang),
16 telah menjalani pengorbanan sebagaimana nabi Ismail. Ia bukan
orang Persia (Ajami) at au p un Arab, dan selalu manunggal (menyatu diri) dengan Tuhannya.
Di bagian lain, sementara ia mengaku berasal dari Barus, dan
mendapat pelajaran sufi di Shahr Nawi ia mengatakan bahwa ia ^
mendapat khilaf at atau ilmu tasawuf di Bagdad. Dan ajaran tasawuf yang ia peroleh adalah ajaran Syekh Abdulkadir Jailani.
Namun karya-karya Hamzah Fansuri sendiri menunjukkan bahwa
bukan pengaruh Jailani yang besar kepadanya, melainkan ajaran
Ibn Arabi. Selain i tu Hamzah menunjukkan bahwa dirinya
sangat dekat dengan tokoh – tok oh sufi yang lain serta karya-karya
puisinya, seperti: B ist ami, Baghdadi, Al-Hallaj, Imam Ghazali,
Mas’udi, Farid At tar, Jalaluddin Rumi, Shabistari, Maroko,
Iraqi, Sa’di, Nikmatullah, J ami dan Karim Al-Jili.
Sebuah sajaknya yang terkenal yang mengabarkan luas
daerah yang ia kunjungi dan pengakuannya bahwa rumahnya yang
sejati adalah ha t inya sendiri, yang dalam sajaknya terdahulu di
sebut “Baytul m a k m u r” adalah ini:
Hamzah Fansuri di dalam Mekkah
Mencari Tuhan di Baitul Ka ‘bah
Dari Barus ke Kudus terlalu payah
Akhirnya ditemukan pada di dalam rumah
Seperti sajak-sajaknya yang lain t emp at – t emp at yang memiliki arti penting bagi hidupnya, muncul dalam sajak ini dan menjadi
sangat berarti atau bermakna baik sebagai pelambang atau pembentuk
nilai sajak. Kita diberi tahu di sini betapa jauhnya Hamzah Fansuri men-\ s
cari Tuhannya, betapa payah badan dan rohaninya, sehingga akhirnya
Tuhan ia jumpai dalam dirinya.
Barang siapa mengenal dirinya sendiri, ia akan mengenal Tu-v
hannya, ka ta hadi t s. J adi sebenarnya Tuhan i tu tidak jauh dari
diri kita. Hanya unt uk mendapa tkan Tuhan itu yang tidak mudah.
Manusia harus be rupaya lahir dan ba t in, beramal dan mengerjakan ibadah, ment aa ti syariah ajaran agama, serta mendalami
17 agama benar-benar. Hamzah Fansuri dalam sajak ini menunjuk-
-V kan bahwa Tuhan memang t idak j auh dari diri ki ta, namun unt uk
mencapainya manusia harus melakukan perjalanan j auh, karena
begitu lahir ke dunia manusia seakan-akan asing atau j auh dari
hakekat kejadiannya. Di sini jelas bahwa Hamzah Fansuri tidak
^ Menolak pent ingnya ibadah keagamaan, asal ia dianggap sebagai
benar-benar suatu latihan spiritual yang penting dan dijalankan
dengan penuh keyakinan dan disiplin. Namun semua itu akhirnya
tergantung pada manusia, apakah ia mampu bercermin pada dirinya atau tidak unt uk menangkap cahaya ilahi yang ters embunyi
dalam dirinya. Cahaya ilahi yang akan tersingkap bila seseorang
mampu melakukan disiplin spiritual yang keras, mau belajar
sungguh-sungguh, sebab perjalanan ke dalam diri itu memang
tidak mudah dan payah.
Tuduhan Nuruddin Arraniri bahwa Hamzah Fansuri telah
menempuh jalan yang sesat, t e rnya ta keliru. Dalam sajak-sajaknya sendiri Hamzah Fansuri malah mengecam para sufi palsu £
atau pengikutnya yang telah menyelewengkan ajaran
tasawuf yang sebenarnya. Kata Hamzah:
Segala muda dan sopan
Segala tuan berhuban
Uzlatnya berbulan-bulan
Mencari Tuhan ke dalam hut an
Segala menjadi “s u f i”
Segala menjadi “s hal awq i” (= pencinta kepayang)
Segala menjadi Ruhi (roh)
Gusar dan masam pada bumi (menolak dunia)
w \ Tasawuf yang diajarkan Hamzah Fansuri tidak menolak
dunia atau aktivitas keduniaan. Dalam sajak ini jelas ia tidak setuju
dengan para sufi palsu yang suka be rt apa atau menyingkirkan diri
ke hutan, menyiksa tubuh, tidak mau bergaul dengan masyarakatnya. Tuhan bisa dicari dalam diri kita sendiri dengan pemahaman
dan perenungan yang da l am, dan gratis ia dicari di hut an yang
18 sepi t anpa pemahaman diri yang mendalam. Kata Hamzah dalam
sajaknya yang lain:
Subhani itulah terlalu ajaib
Dari habbil-Warid Ia qarib
Indah sekali Qadi dan Khatib
Demikian hampir tidak mendapat nasib
Baris kedua sajak ini “habbil-Warid Ia qarib” adalah kutipan
Dari ayat suci bahwa “Dia lebih dekat dari pembuluh darah ki ta”.
Dia begitu indah sebagai Penghulu (Qadi) dan kha t ib kita. Di
dalam tasawufnya manusia tet ap dipandang sebagai hamba dan
sebagai hamba ia wajib menjalankan perintah Tuhan seperti shalat, <£ =
hanya dalam beragama sebaiknya manusia itu tidak bertaklid,
melainkan lebih mulia berijtihad:
Aho segala kita bernama Abid
Shalat dan Shahadat jangan kau taqlid
Dalam sajak ini, sebagaimana dalam sajak-sajaknya yang lain,
t ampak keterampilan Hamzah memainkan kata dan me robahnya
untuk kepentingan suara dan sajak, t anpa me Robah maknanya.
Misalnya kata-kata abdi menjadi abid, dan lain sebagainya
Sebagai seorang sufi, yang t ak terlalu memandang tinggi dunia
dan selalu berusaha menjauhkan diri dari penjajahan benda-benda,
ia t e r n y a ta seorang yang populis. Ia menganjurkan murid-muridnya, unt uk lebih dekat dengan orang kecil, dan selalu menjauhi,
atau melawan, penguasa yang lalim. Ka t anya:
Jika bersahabat dengan orang kaya
Akhirnya engkau jadi binasa
Anjurannya unt uk menjauhi penguasa yang lalim ia tulis
dalam sajak ini:
Aho segala kamu anak alim
19 Jangan bersahabat dengan yang zalim
Karena Rasulullah sempurna hakim
Melarangkan ki ta sekalian khadim
Aho segala kamu yang menjadi faqir
Jangan bersahabat dengan raja dan amir
Karena Rasulullah badïhir dan nasir
Melarangkan ki ta Saghir dan kabir
Bila ki ta kembali ke sajak-sajaknya tentang mencari
Tuhan, maka ki ta lihat di situ bagaimana seorang sufi lebih melet akkan kepercayaan kepada dirinya sendiri. Seorang sufi ingin
merealisir posisi manusia yang telah ditentuk an Tuhan dalam
kitab sucinya, yaitu sebagai khalifah. Ia berdaulat pada dirinya
sendiri, bebas melakukan pilihan dengan segala risikonya.
Seni, sebagaimana hidup, adalah realisasi diri sepenuhnya. Begitupun jalan untuk bertemu dengan Tuhan tidaklah bisa dicapai <fe =
t anpa upaya pembentukan diri, pencarian diri dan realisasi diri.
Di dalam upaya itu iradah atau kehendak berperan
penting unt uk ditingkatkan sehingga menya tu dengan kehendak
Tuhan.
Mengapa sufi memiliki keyakinan diri yang demikian besar?
Sebab hadits nabi menya t akan bahwa jika seseorang ingin me nge-F
nal Tuhannya, ia harus mengenal dirinya terlebih dahulu, dirinya
terdalam. Di dalam diri terdalam inilah te rdapat jendela unt uk
melihat Tuhan, te rdapat cermin unt uk menangkap cahaya Tuhan,
te rdapat alat perekam te rhadap suara-suara Tuhan.
Tuhan itu kreatif, karena itu manusia harus kreatif. Agaknya
ia menyalin surat Annur ketika menulis sajak ini, yang menyatakan pandangannya bahwa Tuhan itu kreatif:
Cahaya atharNya Tiadakan padam
Memberikan wujud pada sekalian
Menjadikan mahluq siang dan malam
IIA abadi’l-abad Tiadakan karam
20 Dari sajaknya ini ki ta t ahu bahwa Hamzah memandang Tuhan
sebagai penc ipta dan ada perbedaan ant a ra manusia sebagai hamba
dengan Tuhannya i tu. Tapi pada hakeka tnya manusia itu juga merupakan faset-faset dari wujud ilahi, karena manusia memang
diciptakan me n u r ut gambaran Tuhan.
Dalam sebuah ungkapan simboliknya ia mengatakan bahwa
“Wujud T uhann ya dengan wujud dirinya esa juga.” Ungkapan ini
harus diartikan sebagai t ahap terakhir dari perjalanan seorang sufi,
yaitu makrifat, di mana kehendak manusia dengan Tuhan telah
menya tu, sebab kata-kata “Wujud” di sini tidak bisa diartikan
sebagai ada secara fisik, melainkan sebagai “keberadaan” atau
“Eksistensi”. Dengan ka ta lain seorang yang telah mencapai
makrifat dengan sendirinya mampu memancarkan keberadaan
Tuhan di dunia, mampu menunjukkan kebe sar an Tuhan, mampu
mengemban sifat-sifat ilahi yang diberikan kepadanya. Sebab
kehendaknya telah menya tu dengan kehendak Tuhan, tidak berpisah dengan Tuhan.
Bahwa ia menolak faham hului, faham keleburan seleburl eburnya dengan Tuhan sehingga pribadinya lenyap di lautan
ke tuhanan, t amp ak dalam sajaknya ini:
Aho segala ki ta umat Rasuli
T u n t ut ilmu hakikat al-wusul
Karena ilmu itu pada Allah qabul
I ‘t iqadmu jangan Ittihad dan hului
Seorang theolog Kristen, Dr Harun Hadiwijono dalam bukunya
“Keba t inan Islam Abad XVI” (J aka r ta = 1975) memberi koment ar
t ent ang karya Hamzah Fansuri yang masyhur “Asrar al-Arifin”
bahwa Hamzah memulai ajarannya dengan mengemukakan hal
Allah yang sama dengan Allah yang diajarkan oleh para ulama Islam. Ia bertitik tolak dari pandangan bahwa Allah adalah Mahasuci
dan Mahatinggi, yang menc ipt akan manusia. J adi Tuhan t e t ap
be rkedudukan sebagai penc ipt a.
Namun sayang meskipun Harun Hadiwijono menyadari bahwa,
21 anjuran Hamzah Fansuri pada awal bukunya itu menganjurkan agar sekalian anak Adam yang Islam wajib mencari Tuhan
yang menjadikannya sebagai tidak bertentangan dengan Islam,
ia ‘toh berkesimpulan juga:’ T eta pi jika ajaran Hamzah ini kita selidiki lebih mendalam dan dihubungkan dengan seluruh ajarannya,
maka akan t ampakl ah, bahwa Hamzah menyimpang dari ajaran
ulama ortodo ks Tuhan Allah lebih dipandang dari segi
filsafat dari pada segi relegius. “ig =
Dengan memakai kritik para ulama ortodo ks seperti Nuruddin Arraniri ia seakan-akan ingin menya t akan bahwa tasawuf
itu asing dari Islam, seperti dika t akannya. “Dari segala kut ipan ini
jelaslah kiranya bahwa gambaran Hamzah t ent ang Allah tidak sama dengan gambaran Al-Qur ‘an. “Sebab oleh Hamzah Fansuri
Dzat yang Mutlak itu diibaratkan sebagai laut, baik sebagai laut
batiniah (bahr al-butun) laut yang dalam (bahr al-‘amiq) dan laut
yang mulia (bahr al-ulyan).
Memang tidak sedikit kalangan non-Islam kurang memahami
hubungan yang mendalam antara tasawuf dan Islam be rpendapat
serupa i tu, seakan-akan tasawuf itu tidak bersumber dari Islam dan
asing dari ajaran Islam yang hakiki. Bahwa Tuhan juga sering diibaratkan dalam Al-Qur’an bisa dilihat misalnya dalam surat Annur ayat 3 5, di mana Tuhan diibaratkan sebagai cahaya di atas
cahaya. Para penyair sufi kemudian ten tu saja tidak terlarang
menc ipt akan ibarat-ibarat lain sesuai dengan penemuannya sendiri.
Dalam bukunya “Janji-janji I sl umum” (terj. HM Rasjidi, J aka r ta:
1982) Roger Garaudy, melalui sebuah penelitian yang menda l umum,
malah membant ah bahwa tasawuf asing dari ajaran Islam. Ia mengatakan bahwa tasawuf adalah suatu bentuk spiritualitas yang
khusus dalam Islam dan merupakan keseimbangan ant a ra jihad besar-
(Yaitu perjuangan melawan tiap keinginan yang membelokkan
manusia dari s ent rumnya, yaitu T uhan), dan jihad kecil (yaitu
usaha unt uk kesatuan dan keharmonisan masyarakat Islam melawan segala bentuk kemusyrikan kekuasaan, kekayaan dan penget ahuan yang salah yang akan menjauhkan manusia dari jalan Allah).
22 Meskipun Roger Garaudy mengakui adanya pengaruh mistik
dari agama lain te rhadap tasawuf, ia tet ap menya t akan bahwa
tasawuf yang sejati bersumber dari Al-Qur’an. Ia memberikan
contoh dua hal yang sangat pokok dari ajaran para sufi, yaitu:
(1). Menanamkan rasi cinta kepada Tuhan, yang sesuai dengan
ayat 31 surat Al-Imran “Ka t akan (hai Muhammad), jika kamu
mencintai Tuhan ikutilah aku, Tuhan akan mencintaimu dan
mengampuni dos a-dos amu. ::; (2). Tidak seperti mistik Kristen,
tasawuf Islam tidak puas dengan sekedar pemikiran t ent ang
Tuhan yang berakhir dengan rasa bersatu dengan Tuhan. Dari
pengalaman bersatu dengan Tuhan, ia hanya mengambil energi ^
unt uk mencurahkan t indakannya kepada “amar ma ‘ruf” kepada
realisasi masyarakat manusia, sebab Al-Qur’an sendiri dalam surat
Al-Imran ayat 30 menya t akan bahwa manusia itu adalah khalifahkhalifah Allah di mu ka bumi, yang bertanggung jawab te rhadap
keseimbangan dan keserasian ant a ra alam dan manusia.
Kesalahan memandang bahwa paham wujudlah yang dibawakan Hamzah Fansuri itu menyimpang dari ajaran Islam agaknya
bersumber dari kenyataan bahwa faham itu melahirkan kaum
zindiq yang memang menyimpang dari ajaran agama. Tapi Hamzah
Fansuri melalui sajak-sajaknya telah menunjukkan bahwa ia tidak
sefaham dengan kaum zindiq i tu, yaitu golongan wujudlah yang
berhaluan mulhidah (menyimpang dari kebena r an). Hamzah t e t ap
berpegang pada wujudlah yang murni, yang klasik, yang belum
menyimpang yang disebut muwahhidah (kesatuan dengan Tuhan).
Agaknya unt uk membe tulkan kesalahpahaman ini perlu dijelaskan mengapa mereka disebut sebagai kaum wujudlah. Disebut demikian karena dalam percakapan dan keyakinannya mereka selalu bertolak pada faham bahwa Tuhan itu immanen, di
Selain tr ans enden, atau bertolak dari masalah wujud Tuhan.
Keyakinan semacam i tu berangkat dari kepercayaan bahwa Tiada
Tuhan selain Allah (la ilahailallah). Bagi kaum sufi kalimat ini
be rarti: Tak ada ada dalam diriku yang menye l ama tkan ada
Tuhan yang adalah wujudku. Eesensi Tuhan, juga sifat-sifatNya,
t ampak dalam hasil pekerjaannya yang tampak di dunia ini,
dalam ruang dan wa k t u.
23 Hamzah Fansuri menulis dalam bahasanya sendiri sebagai berikut.
Wujudnya itu umpama da’irah yang buntu
Nentiasa tetap, tidak berkisar
Kelakuannya saja yang berubah-ubah
Mengenal Dia terlalu sulit
Dalam “Syair Perahu” nya lebih jelas lagi titik tolak Hamzah
Fansuri, katanya:
La ilaha illallaah itu firman
Tuhan itulah ketergantungan alam semesta
iman tersurat pada hati insan
siang dan malam jangan dilalaikan
La ilaha illallaah itu tempat mengintai
Tauhid ma’rifat semata-mata
memandang yang gaib semuanya rata
lenyapkan sekalian kita
La ilaha illallaah itu jangan kaupermudah
sekalian mahluk ke sana berpindah
da’im dan ka’im jangan berubah
khalak di sana dengan La ilaha illallaah
La ilaha illallaah itu jangan kaulalaikan
siang dan malam jangan kausunyikan
selama hidup juga engkau pakaikan
Allah dan Rasul juga yang menyampaikan
Atau bait ini:
La ilaha illallah itu tempat mengintai
bidang yang KADIM tempat berdamai
wujud Allah terlalu bitai
siang dan malam jangan bercerai
24 Berdasar sajak-sajaknya ini, dalam pengantar terjemahan sajaksajak Iqbal “Asrar-i-khudi” (J aka RTA: 1976) Bahrum Rangkuti
menyetujui pandangan Dr. Van Nieuwenhuyze dalam b u k u n y a,;:
mengenai Syamsudin Al-Samatrani, sufi Aceh yang hidup sejaman?
dan sehaluan dengan Hamzah Fansuri. Menurut Nieuwenhuyze
kondisi yang dialami mistik Islam memang ment akjubkan. Ia bersifatkan ikhtisar pergandaan (tweekedigheid). Di satu pihak
ada ada yang fenomenal, yang tampak yang di s ebut wahmi,
di pihak lain ada wujud kesegalaan, ya i tu wujud tunggal yang hadir
dalam segala hal. Pada hakeka tnya mistik yang demikian itu adalah
“Ma’rifa j ami ‘abainah uma” (ilmu yang melingkupi dan menjembatani keduanya).
Dengan demikian cita t auhid Islam tet ap terpelihara, hubungan
lahir dengan Islam tidak terputus, pakaian Islam tidak hilang,
sebab kondisi antara khalik dan mahluk masih tet ap terpelihara,
bahkan perbedaan keduanya dinya t akan sebagai positif dan negatif. Bahrum Rangkuti selanjutnya be rpendapat bahwa Hamzah
Fansuri dan Syamsudin Al-Syamatrani sebenarnya hendak mewujudkan bahwa segala ini berpusat pada Allah. Di sini Bahrum Rangkuti berpegang pada apa yang dinya t akan Hamzah Fansuri dalam
sajak-sajaknya. Allah meliputi alam semesta, dengan tegas dinyatakan oleh Hamzah Fansuri. Tapi menusia bisa memperoleh kepribadian dan bisa sampai kepada Tuhan hanya dengan “taraqqi”, ^
yaitu berusaha me n umb uhk an sifat-sifat Tuhan dalam dirinya
dengan sungguh-sungguh. Hamzah Fansuri misalnya me n y a t a k a n:
La ilaha illallah itu kesudahan ka ta
t auhid ma’rifat semata-mata
hapus ingin sekalian hal
hamba dan Tuhan tidak berbeda
Menurut Bahrum Rangkuti yang dimaksud dengan bait ini
adalah diselaraskannya kemauan, pikiran, amal dan cita Insanul
kamil dengan kemauan T uhan, sehingga seolah-olah segala gerak
cita insan itu adalah gerak cita Tuhan juga. Hanya salah pengertian
saja te rhadap pe rumpama an-pe rumpama an yang dilukiskan Ham-
25 zah dalam sajak-sajaknya, yang memb u at Nuruddin Arraniri
menent ang habis-habisan ajaran Hamzah Fansuri dan Syamsudin
Al-Syamatrani.
S S. Naguib Al-Attas dalam bukunya yang telah dikutif di bagian
awal tulisan ini, lebih jauh menya t akan bahwa tasawuf yang dibawa Hamzah Fansuri pada akhir abad ke-16 itu adalah tasawuf
klasik yang belum tercemar oleh ajaran yang sesat. Ini terbuk ti dari kut ipan langsung sajak-sajak sufi Persia yang awal dalam buku-
\ J buku Hamzah Fansuri. Namun sayang, ka ta Al-Attas, ketika Hamzah Fansuri merasa kembali di Indonesia, yakni sepulangnya dari
Persia, pengertian tasawuf telah dikorupsi dan mengalami degenerasi. Gejala pemalsuan tasawuf ini pertama muncul di India
pada jaman dinasti Moghul, dan kemudian oleh orang-orang
India tasawuf palsu ini disebarkan pula ke Indonesia. Ketika
Nuruddin Arraniri t iba di Sumatera, yaitu menjelang wafatnya
Sultan Iskandar Muda, ia membawa pengertian tasawuf yang salah
pula yang didapa tkannya di India, khususnya faham wUjudiah.
Di India ia terbiasa melihat tasawuf yang diselewengkan dengan
berbagai praktek-klenik dan pedukunannya yang bertujuan menumpuk kekayaan. Hamzah Fansuri juga melihat kenya t a an ini
sepulang dari Persia, namun buru-buru dia sendiri memperoleh
pemahaman yang salah dari Nuruddin Arraniri. Agaknya, Nuruddin belum s empat mendalami karya-karya Hamzah Fansuri secara
menyeluruh sebelum melahirkan pe rt ent angannya, atau ada halhal lain yang berlatar-belakang politik maka ia menyerang Hamzah
dan Syamsuddin habis-habisan. Labih-lebih mengingat posisi
Syamsudin sebagai kadi agung di istana Sultan Iskandar Muda,
yang memb u at ajarannya leluasa tersebar.
Bait-bait yang dipe t ik dari “Syair P erahu” ini akan menunjukkan betapa Hamzah Fansuri tidak meninggalkan tauhid dan
rukun iman.
1
Inilah gerangan sua tu madah
mengarangkan syair terlalu indah
26 membe tuli jalan t e m p at berpindah
di sanalah i’tikad diperbetuli sudah
2
Wahai mu da kenali dirimu
adalah, perahu tamsil t u b u hmu
tiadalah berapa lama hidupmu
ke akhirat jua kekal diammu
3
Hai muda arif budiman
hasilkan kemudi dengan pedoman
alat pe r ahumu jua kerjakan
itulah jalan membe tuli insan
19
Ingati sungguh siang dan malam
lautnya deras be r t ambah dalam
anginpun keras OMB a k n ya rencam
ingati perahu jangan tenggelam
21
Sampailah Minggu dengan masanya
datanglah angin dengan paksanya
berlayar perahu sidang budimannya
berlayar itu dengan kelengkapannya
22
Wujud Allah nama pe r ahunya
ilmu Allah akan kurungnya
iman Allah nama kemudinya
yakin akan Allah nama pawangnya
30
T untu ti ilmu jangan kepalang di dalam kub ur terbaring seorang
Munkar wa Nakir ke sana da t ang
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang
33
Kenal dirimu hai anak Adam
t a tka la di dunia terangnya alam
sekarang di k u b ur t emp a tmu kelam
tiadalah berbeda siang dan malam
Sajak-sajak ini benar-benar indah. Pemilihan imaji-imaji simbol iknya tep at dan menggugah. Pemakaiannya pun konsisten dan
perulangan-perulangan yang te rdapat di da l umumnya membawa ki ta
pada suasana ekstase sebagaimana dalam zikir, sehingga ki ta membayangkan bahwa ada keserasian ant a ra bentuk dan isi.
Penamaan syair kepada sajak itu sebenarnya menimbulkan
persoalan, karena bentukn ya yang emp at baris i tu. Syair berasal
Dari kata-kata Arab “shi ‘ir” yang berarti puisi, bukan sajak empat
baris. Karena itu diragukan bahwa Hamzah Fansuri menggunakan
nama syair u n t uk sajak-sajaknya i tu. Sajak empat baris seperti
itu agaknya lebih kena, sebab sudah barang ten tu Hamzah tidak
asing dengan b e n t uk persajakan Persia i tu.
Naguib Al-Attas juga mempertanyakan hal i tu. Namun masalah
yang tak kalah penting yang diajukan Naguib Al-Attas adalah apakah sudah ada buku-buku uraian tasawuf dalam bahasa Melayu
sebelum Hamzah Fansuri? Persoalan itu dijawab sendiri oleh AlAttas.
Menurut Al-Attas memang belum dike t emukan tulisan yang
menguraikan tasawuf secara jelas dan rinci dalam bahasa
Melayu sebelum munculnya karya-karya Hamzah Fansuri seperti
“Asrarul Arifien”, “Sharabul Ashiqin” dan “Mu ntahi”. Ini
tidak dike t emukan tanda-tanda semaraknya sastra Melayu sejak
kedatangan Islam di Sumatera sebelum Hamzah Fansuri menulis
rubayatn ya seperti “Syair Pe r ahu”, “Syair Dagang”, “Syair
Burung pingai “dan sebagainya.
28 Dengan Hamzah Fansuri, ka ta Al-Attas lebih lanjut, perkembangan bahasa Melayu menjadi pesat. Pengaruhnya luar biasa di
kalangan cendikiawan Indonesia. Ia banyak menambah perbendaharaan kata-kata Melayu sedemikian banyaknya karena pengetahuannya yang luas dalam bahasa Arab dan Persia. Dengan sendirinya, ia pun membawa pula pembaha ruan di bidang logika atau
mant iq, karena masalah bahasa bersangkutan pa ut dengan masalah
logika dan pemikiran.
Pada j amannya pula tidak ada yang mampu menandingi Hamzah Fansuri dalam kesusastraan. Karya-karyanya berpengaruh
besar dalam gaya maupun thema te rhadap sastra Melayu berikutnya. Pada masanya, buku-buku uraian tasawuf dan keagamaan
kebanyakan ditulis dalam bahasa Arab. Misalnya buku-buku yang
disebut-sebut dalam “Sejarah Me l ayu” seperti “Durrul Manzum”
(Benang Mutiara) dan “Al-Sayful Q ati” (Pedang Tajam) Dalam
bukun ya “Sha r abul Ashiqin”, di mana ia membicarakan pentingnya syariah unt uk dilaksanakan, Hamzah sendiri menya t akan
bahwa ia mengerjakan ka ryanya dalam bahasa Melayu untuk
pembaca yang tidak mengerti bahasa Arab dan Persia.
Dengan demikian, apabila belum juga dike t emukan karyakarya berbahasa Melayu yang sama berisi dan segar bahasanya
seperti karya Hamzah, maka Hamzah Fansuri sudah sepantasnya
mendapa tkan gelar sebagai Bapak Bahasa dan Sastra Indonesia
Sebutan ini layak diberikan kepadanya sebagai penghargaan
t e rhadap jerih payah dan mu tu karya-karyanya.
J aka r ta 12 November 1983 Daftar Bacaan
1. Syed Muhammad Naguib Al-Attas “T he mysticism of Hamzah
Fansur i “(University of Indonesian Press, Kuala L ump ur; 1970)
2. Syed Muhammad Naguib Al-Attas “Raniri dan The Wujudiyyah of 17th Century A cheh” (MBRAS, Singapore; 1966)
3. V.Y. Braginsky “Some Remarks on The St RUC ture of The
Syair Perahu By Hamzah F ansuri “(Bijdragen deel 1973)
4. J. Doerenbos “De Geschrieften van Hamzah Pansoe ri” (Leiden 1933)
5. Annemarie Schimmel “Mystical Dimensions of Islam” University of Nor th Carolina Press, Chapel Hill: 1975)
6. R.A. Nicholson “Studies in Islamic mysticism” (Cambridge
University Press 1980 – r EPR int ed)
7. Dr. Harun Hadiwijono “Keba t inan Islam Abad XVI” (BPK
Gunung Mulia, J a k a r t a: 1975)
8. Bahrum Rangkuti “Asrar-i-khudi Mohamad I qbal” (Bulan
Bintang J a k a r t a: 1966)
9. Roger Garaudy “Janji-janji I sl umum” (terj. HM Rasjidi, Bulan
Bintang, J a k a r ta 1 9 8 2)
30 SYAIR PERAHU
Inilah gerangan suatu madah,
mengarangkan syair terlalu indah,
membe tuli jalan t emp at be rpindah,
disanalah i’tikat ‘diperbetuli sudah
Wahai muda, kenali dirimu,
adalah perahu tamsil t u b u h m u,
tiadalah berapa lama hidupmu,
ke akhirat jua kekal diammu
Hai muda arif-budiman,
hasilkan kemudi dengan pedoman,
alat pe r ahumu jua kerjakan,
itulah jalan membe tuli insan.
Perteguh j ua alat pe r ahumu,
hasilkan bekal air dan k a y u,
dayung pengayuh t a ruh disitu.
sehingga laju pe r ahumu i tu.
1 imam. HAaaq m
Sudahlah hasil kayu dan a y a r
2
angkatlah pula sauh dan layar,
pada beras bekal jantanlah taksir,
niscaya sempurna jalan yang kabir
  3
.
Perteguh jua alat perahumu,
muaranya sempit tempatmu lalu,
banyaklah disana ikan dan hiu,
menanti perahumu lalu dari situ.
Muaranya dalam, ikanpun banyak,
disanalah perahu karam dan rusak,
karangnya tajam seperti tombak,
keatas pasir kamu tersesak.
Ketahui olehmu hai anak dagang
riaknya rencam * ombaknya karang,
ikanpun banyak datang menyarang,
hendak membawa ketengah sawang.
2 air; 3 besar.
4 kacau
memi 1 Muaranya itu terlalu sempit,
dimanakan lalu sampan dan rakit,
jikalau ada pedoman dikapi t,
sempurnalah jalan terlalu ba’id
  2
.
Baiklah perahu engkau pe r t eguh,
hasilkan 3 pendapat
 4
 dengan tali sauh,
anginnya keras ombaknya cabuh
  5
.
pul aunya j auh t emp at berlabuh.
Lengkapi penda r at dan tali sauh,
derasmu banyak be r t emu musuh,
selebu
 6
 rencam
 7
 ombaknya c abuh,
LIIA
 8
 akan tali yang teguh.
Barang siapa bergantung disitu,
t eduhl ah selebu yang rencam i t u,
pedoman be tuli pe r ahumu laju,
selamat engkau ke pulau i tu.
; 2 jauh; 3 ikatkan; 4 tali penambat ke darat; 5 kacau dan riuh;
6 samudera; 7 kacau dan memusingkan; 8 baca: La Uaha illa’llahu.
33 LIIA jua yang engkau ikut,
di laut keras topan dan r ibut,
hiu dan paus di belakang me n u r u t,
pe r t e t apl ah kemudi jangan terkejut.
Laut Silan terlalu dalam,
disanalah perahu rusak dan karam,
meskipun banyak disana menye l umum,
larang mendapat pe rma ta nilam ‘.
Laut Silan wahid al kahhar
  2
,
riaknya rencam ombaknya besar,
anginnya songsongan (mem) belok sengkar
  3
,
perbaik kemudi jangan berkisar.
Itulah laut yang maha indah,
kesanalah kita semuanya be rpindah,
hasilkan bekal kayu dan juadah,
selamatlah engkau sempurna musyahadah
 4
1 sejenis batu yang indah; 2 yang berwenang; disini laut Silan dibandingkan
dengan wujud Tuhan; 3 balok atau papan melintang di kapal; 4 mengetahui
dan mengalami Tuhan dalam batin menurut ilmu suluk;
34 Silan itu ombaknya kisah
  5
,
banyaklah akan kesana be rpindah,
topan dan r ibut terlalu ‘azamah
  6
,
perbetuli pedoman jangan be rubah.
Laut Kulzum terlalu dalam,
ombaknya muhit
 7
 pada sekalian alam,
banyaklah disana rusak dan karam
perbaiki na’am
  8
, Siang dan malam.
Ingati sungguh siang dan malam,
lautnya deras be r t ambah dalam,
anginpun keras, ombaknya rencam,
ingati perahu jangan tenggelam,
Jikalau engkau ingati sungguh,
angin yang keras menjadi t e d u h,
t ambahan selalu t e t ap yang c abuh,
selamat engkau ke pulau itu berlabuh.
5 cerita; 6 hebat:
7 sangat luas, meliputi segala sesuatu;
8 na’am: ya, disini agaknya pengakuan. Sampailah ahad dengan masanya,
datanglah angin dengan paksanya,
belajar perahu sidang budiman (nya),
berlayar itu dengan kelengkapannya.
Wujud Allah nama perahunya,
ilmu Allah akan ‘,
iman Allah nama kemudinya,
“Yakin akan Al l ah” nama pawangnya.
“Taha r at
 2
 dan istinja “
 3
 nama lantainya,
“Kufur
 4
 dan ma s i a t “
 s
 air ruangnya,
tawakkul akan Allah j u r u b a t u n y a,
tauhid itu akan sauhnya.
LIIA akan talinya,
kamal
 6
 Allah akan tiangnya,
as salam alaikum akan tali lenggangnya,
t a at dan ibadat anak dayungnya.
1 dalam naskahnya tidak terbaca; 2 suci; 3 bersuci; 4 tidak percaya;
5 durhaka; 6 kesempurnaan.
36 Salat akan nabi tali bubut annya,
istigfar ‘Allah akan layarnya,
“Allahu a k b a r” nama anginnya,
subhan Allah akan lajunya.
“Wallahu a ‘a l umum” nama r ant aunya,
“Iradat
 2
 Al l ah “nama banda rnya,
“K u d r at Al l ah” nama l abuhannya,
“Surga j a n n at an n a ‘i m”
 3
 nama negerinya.
Karangan ini suatu madah,
mengarangkan syair t emp at be rpindah,
didalam dunia janganlah t a r r i ‘ah
4
,
didalam kubur berkhalwat sudah.
Kenal dirimu didalam k u b u r,
badan seorang hanya tersungkur
dengan siapa lawan b e r t u t u r,
dibalik papan badan t e rhancur.
1 permintaan ampun; 2 kemauan; 3 surga yang nikmat; 4 loba;
37 Didalam dunia banyaklah mamang
  5
,
ke akhirat jua t emp a tmu pulang,
janganlah disusahi emas dan uang,
itulah membawa badan terbuang.
T u n t u ti ilmu jangan kepalang,
dalam kubur terbaring seorang,
Munkar wa Nakir
 6
 kesana datang,
menanyakan jikalau ada engkau sembahyang
Tongkatnya lekat tidak terhisab,
badanmu remuk siksa dan azab,
akalmu itu hilang dan l enyap,
6 kedua malaikat yang menurut kepercayaan menanyai orang yang
mati didalam kuburannya; 7 hilang sejajar.
38 Munkar wa Nakir bukan kepalang,
suaranya merdu be r t ambah garang
tongka tnya besar terlalu panjang,
c abuknya banyak tidak terbilang.
Kenal dirimu, hai anak Adam!
t a tka la di dunia terangnya alam,
sekarang di k u b ur t emp a tmu kelam,
tidak berbeda siang dan malam.
Kenal dirimu, hai anak dagang!
dibalik papan t idur t e r l ent ang,
kelam dan dingin bukan kepalang,
dengan siapa lawan bicara?
LIIA itu firman,
Tuhan itulah ketergantungan alam semesta,
iman t e r sur at pada ha ti insap,
siang dan malam jangan dilalaikan. LIIA itu terlalu nya t a,
t auhid ma’rifat ‘semata-mata,
memandang yang gaib semuanya r a t a,
lenyapkan kesana sekalian ki t a.
LIIA itu jangan kaupe rmudah-mudah.
siapa kesana berpindah,
da’im
 2
 dan ka’im
 3
 jangan be rubah,
khalak
 4
 disana dengan LIIA.
LIIA itu jangan kaulalaikan,
siang dan malam jangan kausunyikan,
selama hidup juga engkau pakaikan,
Allah dan rasul juga yang menyampaikan
LIIA itu ka ta yang teguh,
memadamkan cahaya sekalian r u s u h,
jin dan setan sekalian musuh,
hendak membawa dia bersungguh-sungguh.
1 pengetahuan tentang zat Allah yang dalam; 2 permanen; 3 teguh; 4 yang
dijadikan; makhluk. LIIA itu kesudahan ka t a,
tauhid ma’rif at semata.
hapus ingin sekalian hal,
hamba dan Tuhan tidak berbeda.
LIIA itu t emp at mengintai
bidang yang KADIM ‘t empat berdamai,
wujud Allah terlau b i t a i
2
,
siang dan malam jangan bercerai.
LIIA itu t emp at musyahadah,
menya t akan tauhid jangan berubah,
sempurnalah jalan iman yang mudah,
pe r t emuan Tuhan terlalu susah.
Dari: DE GESCHRIFTEN VAN HAMZAH PANSOERl
(Dissertatie J. Doorenbos).