Posts tagged ‘Choi’

11 November 2012

MAQAM ROH

oleh alifbraja

MAQAM ROH

 

Dalam istilahi tasawwuf yang dimaksud maqamat sangat berbeza dengan maqam dalam istilah umum yang bererti kubur. Pengertian  maqamat secara adalah bentuk jamak dari kata maqam, yang berarti kedudukan kerohanian
Maqam erti nya :
1) adalah “tempat berdiri”, dalam istilah sufis bererti tempat atau martabat seseorang hamba di hadapan Allah pada saat dia berdiri menghadap kepada-Nya. Adapun “ahwal” bentuk jamak dari ‘hal’ 
2) biasanya diartikan sebagai keadaan minda atau fikiran yang dialami oleh para sufi celah-celah perjalanan kerohaniannya

Dengan erti kata lain, maqam diertikan sebagai suatu tahap adab
 kepadaNya dengan bermacam usaha diwujudkan untuk satu tujuan
pencarian dan ukuran tugas masing-masing yang berada dalam tahapnya
sendiri ketika dalam keadaan tersebut, serta tingkah laku riyadah
menuju kepadanya.

3  Seorang sufi tidak dibenarkan berpindah ke suatu maqam
lain, kecuali setelah menyelesaikan syarat-syarat yang ada dalam maqam
tersebut. Tahap-tahap atau tingkat-tingkat maqam ini bukannya berbentuk
yang sama di antara ahli-ahli sufi, namun mereka bersependapat bahawa
tahap permulaan bagi setiap maqam ialah taubah.
Rentetan amalan para sufi tersebut di atas akan memberi kesan kepada
keadaan rohani yang disebut sebagai al-ahwal yang diperoleh secara
rohaniah dalam hati secara tidak langsung sebagai anugerah daripada Allah
semata-mata, daripada rasa senang atau sedih, rindu atau benci, rasa takut
atau sukacita, ketenangan atau kecemasan secara berlawanan dalam kenyataan
dan pengalaman dan sebagainya.
4 Al-Maqamat dan al-ahwal adalah dua bentuk kesinambungan yang bersambungan dan bertalian daripada sebab akibat amalan-amalan melalui latihan-latihan rohani.

Banyak pendapat yang berbeza untuk mendefinisikan maqamat, di antaranya :

 Al Qusyairi, menjelaskan bahwa maqamat adalah etika seorang hamba dalam wushul (mencapai, menyambung) kepadanya dengan macam upaya, diwujudkan dengan tujuan pencarian dan ukuran tugas. Al Qusyairi menggambarkan maqamat dalam taubat – wara – zuhud – tawakal – sabar dan Ridha.

Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal – mahabbah – ma’rifat dan redha.

At Thusi menjelaskan maqamat sebagai berikut : Al Taubat – Wara – Zuhud – faqir – sabar – redha – tawakal – ma’rifat.

Al Kalabadhi (w. 990/5) didalam kitabnya “Al taaruf Li Madzhab Ahl Tasawuf”, menjelaskan ada sekitar 10 maqamat : Taubat – zuhud – sabar – faqir – dipercaya – tawadhu (rendah hati) – tawakal – redha – mahabbah (cinta) -dan ma’rifat.

Ibn Arabi dalam kitab Al futuhat Al Makiyah bahkan menyebutkan enam puluh maqam tetapi tidak memperdulikan sususunan maqam tersebut.

Maqam-maqam di atas harus dilalui oleh seorang sufi yang sedang mendekatkan diri kepada Tuhannya. Karena urutan masing-masing ulama sufi dalam menentukan urutan seperti yang tersebut di atas tidak seragam sehingga mengelirukan murid, biasanya Syaikh (guru) tasawuf akan memberikan petunjuknya kepada muridnya.

Menjelaskan perbezaan tentang maqamat dan hal mengelirukan karena definisi dari masing-masing tokoh tasawuf berbeza tetapi umumnya yang dipakai sebagai berikut:

Maqamat adalah perjalanan rohaniah yang diperjuangkan oleh para Sufi untuk memperolehnya. Perjuangan ini pada hakikatnya merupakan perjuangan srohaniah yang panjang dan melelahkan untuk melawan hawa nafsu termasuk ego manusia yang dipandang sebagai berhala besar dan merupakan halangan untuk menuju Tuhan.

Didalam kenyataannya para Saliki memang untuk berpindah dari satu maqam ke maqam lain itu memerlukan waktu yang bertahun- tahun, sedangkan “ahwal” sering diperoleh secara spontan sebagai hadiah dari Tuhan. Contoh ahwal yang sering disebut adalah : takut , syukur, rendah hati, ikhlas, takwa, gembira. Walaupun definisi yang diberikan sering berlawanan makna, namun kebanyakan mereka mengatakan bahwa ahwal dialami secara spontan dan berlangsung sebentar dan diperoleh bukan atas dasar usaha sedar dan perjuangan keras, seperti halnya pada maqamat, melainkan sebagai hadiah dari kilatan Ilahiah , yang biasa disebut “lama’at”.
Menurut al-Qusyairi (w. 465 H) maqam adalah tahapan adab (etika) seorang hamba dalam rangka wushul (sampai) kepadaNya dengan berbagai upaya, diwujudkan dengan suatu tujuan pencarian dan ukuran tugas.
Adapun pengertian maqam dalam pandangan al-Sarraj (w. 378 H) yaitu kedudukan atau tingkatan seorang hamba dihadapan Allah yang diperoleh melalui serangkaian pengabdian (ibadah), kesungguhan melawan hawa nafsu dan penyakit-penyakit hati (mujahadah), latihan-latihan spiritual (riyadhah) dan mengarahkan segenap jiwa raga semata-mata kepada Allah.
Semakna dengan al-Qusyairi, al-Hujwiri (w. 465 H) menyatakan bahwa  maqam  adalah keberadaan seseorang di jalan Allah yang dipenuhi olehnya kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan maqam itu serta menjaganya hingga ia mencapai kesempurnaannya.  Jika diperhatikan beberapa pendapat sufi diatas maka secara terminologis kesemuanya sepakat memahami Maqamat bermakna kedudukan seorang pejalan spiritual di hadapan Allah yang diperoleh melalui kerja keras beribadah, bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu dan latihan-latihan spiritual sehingga pada akhirnya ia dapat mencapai kesempurnaan. Bentuk maqamat adalah pengalaman-pengalaman yang dirasakan dan diperoleh seorang sufi melalui usaha-usaha tertentu; jalan panjang berisi tingkatan-tingkatan yang harus ditempuh oleh seorang sufi agar berada sedekat mungkin dengan Allah. Tasawuf memang bertujuan agar manusia (sufi) memperoleh hubungan langsung dengan Allah sehingga ia menyadari benar bahwa dirinya berada sedekat-dekatnya dengan Allah. Namun, seorang sufi tidak dapat begitu saja dekat dengan Allah. Ia harus menempuh jalan panjang yang berisi tingkatan-tingkatan (stages ataustations). Jumlah maqam yang harus dilalui oleh seorang sufi ternyata bersifat relatif. Artinya, antara satu sufi dengan yang lain mempunyai jumlah maqam yang berbeda. Ini merupakan sesuatu yang wajar mengingat maqamat itu terkait erat dengan pengalaman sufi itu sendiri.
Ibn Qayyim al-Jauziyah (w. 750 H) berpendapat bahwa Maqamat terbagi kepada tiga tahapan. Yang pertama adalah kesadaran (yaqzah), kedua adalah tafkir (berpikir) dan yang ketiga adalah musyahadah. Sedangkan menurut al-Sarraj Maqamat terdiri dari tujuh tingkatan yaitu taubat, wara’, zuhd, faqr, shabr, tawakkal dan ridha. 
 Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumudin membuat sistematika maqamat dengan taubat – sabar – faqir – zuhud – tawakal – mahabah – ma’rifat dan ridha. At Thusi menjelaskan maqamat sebagai berikut : Al Taubat – Wara – Zuhud – faqir – sabar – ridha – tawakal – ma’rifat. Al Kalabadhi (w. 990/5) didalam kitabnya “Al taaruf Li Madzhab Ahl Tasawuf” menjelaskan ada sekitar 10 maqamat : Taubat – zuhud – sabar – faqir – dipercaya – tawadhu (rendah hati) – tawakal – ridho – mahabbah (cinta) -dan ma’rifat.
Tentang “Hal”, dapat diambil contoh beberapa item yang diungkapkan oleh al-
Thusi sebagai item yang termasuk di dalam kategori hâl yaitu:
 Al-murâqabat (rasa selalu diawasi oleh Tuhan),
al-qurb (perasaan dekat kepada Tuhan),
al-mahabbat (rasa cinta kepada Tuhan),
 al-khauf wa al-rajâ’ (rasa takut dan pengharapan kepada Tuhan),
 al-syawq (rasa rindu),
 al-uns (rasa berteman),
al-thuma’nînat (rasa tenteram),
 al-musyâhadat (perasaan menyaksikan Tuhan dengan mata hati), dan
al-yaqîn (rasa yakin). 
Kembali kepada masalah Al-Maqaamaat dan Al-Akhwaal, yang dapat
dibezakan dari dua segi:

a). Tingkat kerohanian yang disebut maqam hanya dapat diperoleh
dengan cara pengamalan ajaran Tasawuf yang sungguh-sungguh. Sedangkan
ahwaal, di samping dapat diperoleh manusia yang mengamalkannya, dapat
juga diperoleh manusia hanya karena anugErah semata-mata dari Tuhan,
meskipun ia tidak pernah mengamalkan ajaran Tasawuf secara sungguh-
sungguh.

b) Tingkatan kerohanian yang disebut maqam sifatnya
bertahan lama, sedangkan ahwaal sifatnya sementara; sering ada pada
diri manusia, dan sering pula hilang. Meskipun ada pendapat Ulama
Tasawuf yang mengatakan bahwa maqam dan ahwaal sama pengertiannya,
namun penulis mengikuti pendapat yang membeZakannya beserta alasan-
alasannya.

Tentang jumlah tingkatan maqam dan ahwaal, tidak disepakati oleh Ulama
Tasawuf. Abu Nashr As-Sarraaj mengatakan bahwa tingkatan maqam ada
tujuh, sedangkan tingkatan ahwaal ada sepuluh.

Adapun tingkatan maqam menurut Abu Nashr As-Sarraj, dapat disebutkan
sebagai berikut:

a). Tingkatan Taubat (At-Taubah);
b) Tingkatan pemeliharaan diri dari perbuatan yang haram dan yang
makruh, serta yang syubhat (Al-Wara’);
c). Tingkatan meninggalkan kesenangan dunia (As-Zuhdu).
d) Tingkatan memfakirkan diri (Al-Faqru).
e). Tingkatan Sabar (Ash-Shabru).
f). Tingkatan Tawakkal (At-Tawakkul).
g). Tingkatan kerelaaan (Ar-Ridhaa).

Mengenai tingkatan hal (al-ahwaal) menurut Abu Nash As Sarraj, dapat
dikemukakan sebagai berikut;

a). Tingkatan Pengawasan diri (Al-Muraaqabah)
b). Tingkatan kedekatan/kehampiran diri (Al-Qurbu)
c). Tingkatan cinta (Al-Mahabbah)
d). Tingkatan takut (Al-Khauf)
e). Tingkatan harapan (Ar-Rajaa)
f). Tingkatan kerinduan (Asy-Syauuq)
g). Tingkatan kejinakan atau senang mendekat kepada perintah Allah
(Al-Unsu).
h). Tingkatan ketenangan jiwa (Al-Itmi’naan)
i). Tingkatan Perenungan (Al-Musyaahaah)
j). Tingkatan kepastian (Al-Yaqiin).

Maqām merupakan tahapan-tahapan thariqah yang harus dilalui oleh seorang salik, yang membuahkan keadaan tertentu yang merasuk dalam diri salik. Misalnya maqām taubat, seorang salik dikatakan telah mencapai maqām ini ketika dia telah bermujahadah dengan penuh kesungguhan untuk menjauhi segala bentuk maksiat dan nafsu syahwat. Dengan demikian, maqām adalah suatu keadaan tertentu yang ada pada diri salik yang didapatnya melalui proses usaha riyadhah (melatih hawa nafsu).

Sedangkan yang dimaksud dengan hāl − sebagaimana diungkapkan oleh al-Qusyairi − adalah suatu keadaan yang dianugerahkan kepada seorang sālik tanpa melalui proses usaha riyadhah.

Namun, dalam konsep maqām ini Ibn Atha’illah memiliki pemikiran yang berbeza, dia memandang bahawa suatu maqām boleh dicapai bukan karena adanya usaha dari seorang salik, melainkan semata anugerah Allah swt. Karena jika maqām dicapai karena usaha salik sendiri, sama halnya dengan menisbatkan bahwa salik memiliki kemampuan untuk mencapai suatu maqām atas kehendak dan kemampuan dirinya sendiri.
Pun jika demikian, maka hal ini bertentangan dengan konsep fana’ iradah, iaitu bahwa manusia sama sekali tidak memiliki kehendak, dan juga bertentangan dengan keimanan kita bahwa Allah yang menciptakan semua perbuatan manusia. Dengan demikian, bagi seorang salik untuk mencapai suatu maqām hendaknya salik menghilangkan segala kehendak dan angan-angannya (isqath al-iradah wa al-tadbir).

Mengenai maqām, Ibn Atha’illah membahaginya tingkatan maqam sufi menjadi 9 tahapan;

1. Maqam taubat
2. Maqam zuhud
3. Maqam shabar
4. Maqam syukur
5. Maqam khauf
6. Maqam raja’
7. Maqam ridha
8. Maqam tawakkal
9. Maqam mahabbah

Iklan
22 Agustus 2012

SUNGSANG BAWANA BALIK

oleh alifbraja

Sebelum perang dunia II yang berarti “Alam semesta terjungkir balik”. Isi cerita tersebut dianggap pula sebagai Ilmu Kesempurnaan Hidup (Ngelmu Kasampurnan). Pencipta cerita itu ialah Ks. Wiryasusastra. Ajaran ini yang terkandung didalamnya khusus meliputi mahkluk hidup pada umumnya, dan manusia pada khususnya, dengan maksud memberi petunjuk jalan kepada umat manusia dalam usahanya mencapai kesempurnaan hidup. Satu sama lain digambarkannya secara plastis (dengan sesuatu wujud), sesuai dengan keadaan wajar dalam masyarakat (Jawa), sebagai berikut :

Dalam lukisan tersebut yang memegang peranan penting, peranan utama, ialah Rahsa Jati (le moi subti), yang mewujudkan “asas Ketuhanan Yang Maha Esa” (Goddelyk levensbeginsel atau Wiji), ataupun “Rahasia Hidup”. Seolah-olah Rahsa jati itu merupakan seorang manusia. Dalam pada itu “Jati” berarti hidup yang menghidupkan. Rahasia dan hidup (jati) itu baik, dialam fana maupun baka, satu sama lain tak dapat dipisahkan. Tegasnya pengertian yang satu tak dapat dipisahkan daripada pengertian yang lain. Senantiasa berdampingan satu sama lain. Dengan perkataan lain hidup itu pada hakekatnya selalu diliputi oleh, atau sama nilainya dengan rahasia!. Sedangkan tiap rahasia, yaitu tiap hal yang belum atau tidak diketahui, sedikit banyak selalu berdaya dan berlaku menurut kodrat alam. Sebagai perangsang membangkitkan semangat, menggerakkan pelbagai hasrat sehingga menjadi sesuatu kegiatan kearah terbukanya rahasia bersangkutan. Tegasnya menyadari hal-hal yang tersembunyi dibelakang rahasia tersebut. Secara wajar atau tidak, ataupun bersifat batiniah belaka.

Paling sedikit pada umat manusia peristiwa itu merupakan salah satu sifat yang khas. Perangsangan adalah suatu hal yang esensiil terhadap hidup. Tiada hidup tanpa perangsangan ! Dalam hubungan ini kiranya, dapat dikemukakan pula; bahwa kegiatan/pergerakan (pada manusia) itu merupakan salah satu keistimewaan (essentialia) hidup. Falsafah hidup menurut konsepsi Wiryasusastra tersebut ternyata sangat mirip dengan yang diilhami oleh falsafah hidup bangsa Arab, dalam hal ini menurut ajaran Agama Islam, sebagai berikut :

I.   Pada suatu hari oleh sang Jati dengan para pembantu utamanya, antara lain patih “rahsajati” dan para menteri bupati “Sukma Wisesa”, “Sukma Purba”, Sukma Langgeng”, dan “Sukma Luhur”, dimusyawarahkan kebijaksanaan terbaik yang harus diambil demi penyebaran “Wiji” (benih) atau asas hidup itu.

Keempat tokoh tersebut diatas bersama menguasai yang disebut “Alam Papat” (lihat bagan). Dalam perinciannya masing-masing menguasai nafsu luawamah, amarah, mutmainah dan supiah, dibawah pimpinan dan pengawasan Rahsajati atau mulhimah. Dalam kesusastraan Jawa terkenal dengan “Sedulur Papat Lima Pancer”.

Sementara itu dalam musyawarah tersebut diambil kesimpulan untuk mengirim Rahsajati beserta keempat menteri bupatinya tadi kebumi (dunia fana) guna melaksanakan tujuan tersebut diatas.

Kemudian Sang Jati mengundurkan diri kembali keistananya.

Dalam perjalanannya kebumi selanjutnya mereka yang bertugas terpaksa melintasi wilayah kediaman para Jin (badan halus, lelembut) dalam hal ini berarti rintangan, hambatan, godaan, dsb. Wilayah itu dalam kesusastraan Arab dinamakan kediaman Malaikat, bidadara dan bidadari, yang dalam kesusastraan Arab disebut Alam hidayat, Alam nuriyah dan Alam Siriyah. Alam-alam tersebut meliputi “Alam Sipat Loro” (bhs Jawa), yang dalam kesusastraan Arab disebut Ashadhu’anna dan Waashadhu’anna.

Stelah meninggalkan “Alam” tersebut tibalah mereka dalam Alam ruhiyah dan Alam jawaliyah, yang dalam kesusastraan jawa disebut “Alam Telu”. Pada tempat ini mereka berhenti sejenak. Dalam kesempatan ini itu mereka mulai membentuk sebuah tabir. Guna keperluan mereka kelima bersama. Bahan-bahan bangunannya terdiri dari zat-zat (essenties) yang diperlukannya dari keempat unsur poko hidup. Dalam hal ini bumi (bantala), api (agni), angin (udaka) dan air (tirta).

Setelah karya tersebut selesai mereka meneruskan perjalanannya, melalui sifat kamal, jamal, jalal dan sifat kahar. Sifat-sifat ini bersama dalam kesusastraan Jawa dinamakan “Sipat Papat” menuju kearah alam nasut, malakut, jabarut dan Alam lahut. Sifat-sifat atau alam-alam ini dalam “Ilmu Kejawen” terkenal sebagai Alam Papat.

Menurut Kanjeng Sunan Kalijaga alam-alam tersebut dalam “Ilmu Kejawen” terkenal sebagai “Alam Papat”. Kelak akan dialami setiap orang dalam akhirat. Makananya sajan rasa, “Alam Papat” itu bersifat “langgeng” atau abadi, dalam hal ini tidak berubah lagi sedikitpun juga, sepanjang masa. Pengertian itu tergolong pada kerohanian, bersifat mujarad, mengandung pengertian Ketuhanan Yang Maha Esa.

Alam Papat tersebut diatas, menurut pandangan hidup suku bangsa Jawa kuno, terdiri atas :

  1. Alam rohiyah atau Alam hidayat. Dikuasai oleh nyawa, jiwa (ziel, soul).

  2. Alam Suriyah atau Alam Nasut (berarti kelalaian). Dikuasai oleh perasaan atau sifat Lauwamah, Amarah, Supiah dan Mutmainah.

  3. Alam nuriyah, dalam 2 (dua) tingkat (nuriyah dan nuriyah luhur). Dikuasai oleh Pramana dan atau Hidayat, yang berarti kewaspadaan dan petunjuk. Didalamnya termasuk Alam Iskat, yang dikuasi oleh syahwat atau libido sexual.

  4. Alam uluhiyah. Dalam 3 (tiga) tingkat : Uluhiyah, Uluhiyah Luhur dan Uluhiyah yang paling luhur. Dikuasai oleh rasa Ketuhanan Yang Maha Esa. Tingkat hidup ini pada lain kesempatan disebut pula Makrifating makrifat.

Kemudian perjalanan “para utusan” tersebut diatas (=roh) langsung menuju ke-Alam aba’iyya (Alam akhadiyat), wabda (Alam wahdat), wahidirya (Alam wakhidiyat), arwah (Alam arwah), mitsal (Alam misal), ajsam (Alam ajsam), insan kamil (manusia sempurna). Alam-alam ini bersama dalam kesusastraan Jawa disebut “Alam Pitu”.

Jalan yang terkhir itu melalu daerah tandus, hutan rimba belantara, sambil mendaki gunung yang penuh dengan jurang dan lereng, yang dalam atau tidak dalam, besar kecil. Arti kiasannya ialah pelbagai rintangan, tantangan dan kesulitan yang harus diatasi selama hidupnya. Dengan perkataan lain jalan itu pada galibnya (ataukah harus), mau tidak mau, melalui perjuangan yang hebat.

Jalan melalui “Alam Pitu” itu menuju kearah sebuah gua yang penuh dengan berbagai rahasia.

Gua tersebut memperlambangkan “Hubungan Antara Kelamin” (antara pria dan wanita), yang penuh diliputi hal-hal yang pada hakekatnya kerapkali merupakan suatu tanda tanya besar (rahasia).

Pada suatu ketika Rahsajati dan rombongan masuk kedalam gua tersebut. Saat ini memperlambangkan titik persetubuhan tatkala sang alat kelamin laki-laki (penis) melintasi pinti gerbang luar liang peranakan (introitus vaginae). Saat itu dinamakan “Jayengdriya” (bhs Jawa), dalam bahasa Arab Bait al-mukadas, yang berarti “peningkatan, pemusatan atau penguasaan pancaindra kita” (titil timbulnya puncak syahwat = orgasme).

Dalam gua tersebut “para utusan” tadi melintasi berbagi jalan yang satu sama lain sejajar letaknya. Jalan-jalan tersebut bersambung satu sama lain dengan 20 buah pintu berganda !. Nama-nama jalan tersebut masing-masing sama dengan nama SIFAT KETUHANAN YANG MAHA ESA (dalam bahasa Jawa : Sifat rongpuluh), yaitu :

1. Wujud, 2. Qidam, 3. Baqa, 4. Muhalafalil Hawadis, 5.Qiyamuh Binafsihi, 6. Wahda Niyat, 7. Qodrat, 8. Irodat, 9. Ilmu, 10. Hayat, 11. Samak, 12. Bashar, 13. Qalam, 14. Qadiran, 15. Muridan, 16. Aliman, 17. Hayan, 18. Samian, 19. Basiran, 20. Mutakalinan.

Dipandang sepintaslalu pernyataan tersebut diatas itu bertentangan dengan pengertian “TAN KENA KINAYA NGAPA”! ada sifatnya, tetapi tidak ada wujudnya, misalnya ! Mungkinkah ini????.

Menurut “Ilmu Kejawen” (Serat Wirid Hidayat Jati) SIPAT DUA PULUH  itu meliputi :

~SATU~

  1. Allah (Tuhan Yang Maha Esa atau Tuhan Yang Maha Suci), dalam hal ini berarti “Hidup yang menghidupkan segenap makhluk hidup”.

  2. Kun (bhs Arab), berarti firman Tuhan.

  3. Nukat gaib, berarti “Benih yang bersifat rahasia”.

~DUA~

  1. Dzat, berarti intisari (essence) (Tuhan Yang Maha Esa).

  2. Sifat (bhs Jawa), berarti warna atau cahaya (Tuhan Yang Maha Esa).

  3. Asma, berarti nama, julukan Tuhan Yang Maha Esa.

  4. Angpal, berarti budipekerti  Tuhan Yang Maha Esa.

~TIGA~

  1. Dzat mutelak, berarti jasad atau badan wadag.

  2. Dzat subekti, berarti jiwa (roh, badan halus).

  3. Dzat Salikin, berarti perasaan.

  4. Dzat suhud, berarti nukad gaib (=sub 1c).

~EMPAT~

  1. Kahar atau agung, berarti segala keluhuran insani.

  2. Jalal atau elok, berarti “tiada bandingnya” perihal sifat kelaminnya. Dalam artkata “bukan pri, bukan wanita, bukan banci”. (Sukar dibayangkan untuk dan oleh seorang manusia biasa).

  3. Jamal atau wisesa, berarti “nartani” (bhs Jawa) = segala keadaan.

  4. Kamal atau sempurna, berarti sempurna budipekertinya, menimbulkan keadaan yang wajar.

~LIMA~

  1. Alam nasut, berarti alam jasad atau jasmani (=wajar).

  2. Alam malakut, berarti alam jiwa atau rohani.

  3. Alam jabarut, berarti rasa.

  4.  Aalam lahut, berarti Cahaya/Pamor (=Tuhan Yang Maha Esa).

~ENAM~

  1. Wujud, berarti badan.

  2. Ilmu, berarti rasa.

  3. Nur, berarti cahaya.

  4. Suhud, berarti sempurna.

~TUJUH~

  1. Nur, berarti Cahaya (Tuhan Yang Maha Esa).

  2. Sir, berarti rasa.

  3. Roh, berarti jiwa atau nyawa (bhs Jawa).

  4. Jasad, berarti badan.

~DELAMAPAN~

  1. Mutmainah, dinamakan pula “Nafsu Putih”, ialah lambang hidung atau alat pembau lainnya.

  2. Supiah, dinamakan pula “Nafsu Kuning”, lambang mata atau alat penglihatan lainnya.

  3. Amarah, dinamakan pula “Nafsu Merah”, lambang telinga atau alat pendengar lainnya.

  4. Lauwamah, dinamakan pula “Nafsu Hitam”, lambang alat-alat pembentukan kata-kata, suara dsb. = alat-alat untuk berbicara.

~SEMBILAN~

  1. Napas, berarti jalan udara pernapasan tatkala berbicara (angin ing lesan).

  2. Tanapas, berarti jalan udara pernapasan tatkala mendengarkan sesuatu (angin ing karna).

  3. Anpas, berarti jalan udara pernapasan tatkala melihat sesuatu (angin ing netra).

  4. Nupus, berarti jalan udara pernapasan tatkala mencium, membau (angin ing grana).

~SEPULUH~

Jisim halus terdiri dari :

  1. Roh Illapi, berarti hidup keperbauan (gesanging grana).

  2. Roh Rahmani, berarti hidup kepenglihatan (gesanging netra).

  3. Roh Nurani, hidup kependengaran (gesanging karna).

  4. Roh Rohmani, berarti hidup kepembicaraan (gesanging lesan).

~SEBELAS~

Jisim wadak terdiri dari :

  1. Roh Rabbani, meliputi faedah hidung atau membau.

  2. Roh Nabati, meliputi faedah mata atau melihat.

  3. Roh Hewani, meliputi telinga atau mendengar.

  4. Roh Jasmani, meliputi lesan atau perasaan.

~DUA BELAS~

  1. Sarengat, diliputi pergerakan badan.

  2. Tarekat, diliputi pergerakan angan-angan atau hati sanubari.

  3. Hakekat, meliputi pergerakan jiwa.

  4. Makripat, diliputi pergerakan rasa atau perasaan.

~TIGA BELAS~

  1. Mani, berarti kejantanan rasa luhur yang sebenarnya (Sejatining rasa = concritisering van het gevoel).

  2. Wadi, berarti tempat (penimbunan) rasa.

  3. Madi, berarti hakekat rasa.

  4. Manikam atau Manikem, berarti pengumpulan rasa (kempaling raos).

Semuanya terpusat dalam badan (Janaloka), diperlambangkan dengan “Seganten Kidul” (Samudra Selatan = Samudra Indonesia, penuh dengan gelombang-gelombang besar dan karenanya tidak pernah “tentram”, selalu “bergerak”, menggetar, tepat seperti hidup dan kehidupan manusia. Samudra tersebut dikuasai oleh Nyai Roro atau Ratu Kidul)

~EMPAT BELAS~

  1. Sidik, berarti benar.

  2. Amanat, berarti kepercayaan.

  3. Tabligh, berarti mendatangkan.

  4. Patonah, berarti bijaksana.

~LIMA BELAS~

  1. Dzikir Satariyah atau Dzikir Sarengat, berarti dzikir badaniah, dengan diiringi ucapan-ucapan tertentu. Dalam alam nasut. Pada lahiriahnya tidak sulit.

  2. Dzikir Isbandiyah atau dzikir Tarekat, berarti dzikir dalam batin, dalam alam malakut. Pada lahiriahnya tidak terasa.

  3. Dzikir Bardiyah atau Dzikir Hakekat, dalam alam jabarut. Pada umumnya perbuatannya tidak disadari.

  4. Azikir Jalalah atau Dzikir Makripat, dalam alam lahut. Pada lahiriah tidak terasa apa-apa.

~ENAM BELAS~

  1. Sembahyang Jema’at, berarti sembahyang sarengat (jasmaniah).

  2. Sembahyang Kusta atau sembahyang tanpa lisan, atau dalam keadaan “Heneng”.

  3. Sembahyang Kaji atau sembahyang yang dipusatkat pada telinga, atau dalam keadaan “Hening” (murni).

  4. Sembahyang Ismungali atau sembahyang yang dipusatkan pada mata, atau dalam keadaan “Hawas” (waspada).

  5. Sembahyang Daim atau sembahyang yang berpusat pada hidung atau dalam keadaan “Heling” (=selalu ingat…… kepada Tuhan Yang Maha Esa).

~TUJUH BELAS~

  1. Johar, berarti sesotya.

  2. Adam, berarti tidak (ora atau dihin).

  3. Adjebuldanbi, menuruti kehendak rasa sendiri.

  4. Insan Kamil, berarti kesempurnaan manusia.

~DELAPAN BELAS~

  1. Dalil memuat firman Allah, ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w.

  2. Kadis (hadith) memuat sabda Nabi Muhammad s.a.w, ditujukan kepada para “Sahabatnya” (disciplen).

  3. Ijemak memuat wejangan yang ditujukan kepada para “Sahabat” tadi.

  4. Kiyas memuat ajaran para wali yang ditujukan kepada para mukmin.

~SEMBILAN BELAS~

  1. Lapal, diucapkan dengan perkataan bahasa Ara.

  2. Makna, berarti “arti” diucapkan dalam bahasa Daerah (Jawa, Sunda, Madura, Madura, Batak, Aceh dan lain-lai).

  3. Murad, berarti “wredi” diucapkan dalam bahasa Daerah atau lain terjemahan.

  4. dMaksud (surasa), diucapkan dalam bahasa daerah atau lain terjemahan.

~DUA PULUH~

  1. Ekram (bhs Jawa = eling), berarti selalu ingat. Dalam artikata selalu memusatkan pikirannya kepeda Tuhan Yang Maha Esa. Dalam hal ini selalu mentaati segala perintahnya.

  2. Mikrat, berarti mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa.

  3. Munajat, berarti ucapannya hanya meliputi dan diliputi rasa Ketuhanan Yang Maha Esa.

  4. Ngubadul atau Molah, berarti menghapus segala tindakan yang bersifat keduniawia. Segala tindakannya, perbuatannya bersifat Ketuhanan, dan ditujukan semata-mata kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Masalah tersebut diatas kiranya dapat disederhanakan melalui tafsiran sebagai berikut.

1.     Kita harus mengakui adanya Tuhan Yang Maha Esa yang tunggal, atau mengakui adanya hanya satu “Hidup yang menghidupkan segala makluk hidup.

“Benih” atau permulaannya bersifat rahasia dan diberi nama Sesotya yang terhormat atau “Permata yang bersinar-sinar” (Nukat Gaib, Nur Muhammad, Karatoning Kabatinan), sedangkan bahasanya disebut KUN (bhs Arab) atau Firman Tuhan. Firman Tuhan itu mengandung “Perintah Tuhan Yang Maha Esa” dalam bentuk bahasa yang dapat dimengerti umat manusia yang bersangkutan, masing-masing bangsa dalam bahasanya sendiri-sendiri. Alhasil terhadap bangsa Arab misalnya dalam bahasa Arab, bang Yunani dalam bahasa Yunani demikian seterusnya, dengan terjemahannya kedalam bahasa yang lain.

Firman Allah yang asli berbentuk Ilham, bersifat gaib. Ilham itu hanya dapat tertangkap para Nabi, avatar dsb (pada umumnya).

2.     Inti-pati (essence) Tuhan Yang Maha Esa dinamakan DZAT. Dzat itu mempunyai sifat (bhs Jawa sipat) atau “warna” atau “cahaya” (=Cahaya Tuhan Yang Maha Esa), juliukan (asma), sedangkan “budi-pekertinya” disebut Angpal atau Af’al (berarti menurut garis-garis fa’ali), yang selalu bersifat baik, bijaksana dan budiman.

3.     Dalam keadaan kongkrit Dzat tersebut dinamakan Dzat Mutelak atau Jazad (organisme). Dalam tiap jasad terkandung secara integral Dzat subekti (jiwa atau roh). Dzat salikin (perasaan) dan Nukat Gaib.

4.     Dalam keadaan tersebut terkandung pula segala keluhuran, keagungan makhluk hidup (Kahar), keelokan yang tiada bandingnya (Jalal), kekuasaan tertinggi atas segala keadaan dan peristiwa (Jamal atau Wisesa), bersifat serba sempurna (Kamal.

5.     Tiap jasad berada dalam alam yang wajar, materiil atau “Alam jasmani” (Alam Nasut), diliputi oleh jiwa atau “Alam rohani” (Alam Malakut), perasaan (Alam Jabarut) dan “Alam Cahaya Tuhan (Alam Lahut).

6.     Tiap jasad mempunyai badan (Wujud), yaitu bentuk yang wajar atau mujarad, rasa atau perasaan, ataupun “arti” (Ilmu), cahaya atau sesuatu yang memancar (Nur), yang serba sempurna (Suhud).

7.     Sebaliknya tiada cahaya tanpa rasa atau perasaan, ataupun arti jiwa dan jasad.

8.     Tiap jasad memiliki 4 nafsu : Nafsu Mutmainah, Supiah, Amarah dan Lauwamah.

9.     Sesuai dengan kedudukannya sebagai “Tetalining urip” (segala sesuatu yang melekat pada masalah hidup), berdasarkan kegiatan alat-alat pancaindera kita.

Jalannya pernapasan mempunyai 4 macam bentuk :

a.     Tatkala mendengarkan (angining karna), dinamakan Tanapas.

b.     Tatkala melihat (angining netra), dinamakan Anpas.

c.      Tatkala membau (angining grana), dinamakan Nupus.

d.     Tatkala berbicara (angining lesan), dinamakan Napas.

10.      Adapun “hidupnya” (berfungsinya) alat :

a.     Pembau (gesanging grana) dijiwai oleh Roh Ilapi.

b.     Penglihat (gesanging netra) diliputi oleh Roh Rahmani.

c.      Pendengaran (gesanging karna) dijiwai oleh Roh Nurani.

d.     Lisan atau daya berbicara (gesanging lesan) dijiwai oleh Roh Rohmani.

Roh-roh tersebut (sub a s/d d) tergolong pada yang dinamakan “Jisim” atau “Badan Halus”.

11.      Mengenal kefaedahannya, maka :

a.     Membau (berfungsinya alat-alat pembau) dijiwai Oleh Roh Rabbani .

b.     Melihat (berfungsinya alat-alat penglihatan), jiwai oleh Roh Nabati.

c.      Mendengar (berfungsinya alat-alat pendengar) dijiwai oleh Roh Hewani.

d.     Berbicara (berfungsinya alat-alat bicara), dijiwai oleh Roh Jasmani.

Roh-roh tersebut (sub a s/d d) tergolong pada yang dinamakan “Badan Wadaq”.

12.      Untuk mencapai faedah tersebut diatas (dapat berfungsi sebagaimana mestinya) dibutuhkan gerakan atau kegiatan:

a.     Jasmaniah (Saerengat).

b.     Rohaniah (kebatinan melalui angan-angan atau perasaan, ataupun hati sanubari (Tarekat).

c.      Falsafah (Hakekat).

d.     Melalui jalan tasawuf atau mistik (Makripat).

13.      Hal-hal tersebut diliputi oleh “rasa kenyataan” (Mani atau cocretisering), membutuhkan “tempat rasa” (Wadi), menimbulkan “Hakekat Rasa” (Madi) dan akhirnya “Pusat Pengumpulan Rasa” (Manikem atau “Kumpulaning Rasa”, Jayengdriya atau Bait Al-Mukadas).

14.      Hal-hal tersebut harus dilakukan secara tepat atau benar dengan seksama (sidik), dengan penuh kepercayaan (amanat) serta sempurna. Tegasnya janganlah setengah-setengah hendaknya. Jika dirasakan belum sempurna, wajid diusahakan (didatangkan = tabligh) sedemikian, hingga semurna penuh, secara bijaksana (patonah) antara lain dengan :

15.      I. a. Dzikir Sataryah atau Dzikir sareat, yang berarti badaniah, diiringi ucapan-ucapan tertentu. Berlangsung dalam alam nasut. Dalam artikata secara lahiriah dapat disaksikan fihak ketiga pula. Perbuatan itu pada galibnya tidak sulit adanya.

b. Dzikir Isbandiah atau Dzikir tarekat, yang berlangsung dalam batin atau Alam Malakut. Pada lahiriahnya tidak terasa.

c. Dzikir Bardiyah atau Dzikir Hakekat, yang berarti melaksanakan jiwa dzikir saja. Berlangsung dalam Alam Jabarut. Terlaksananya pada galibnya tidak disadari oleh yang melaksanakannya.

d. Dzikir Jalalah atau Dzikir Makrifat. Pada peristiwa ini pada galibnya tiada apa-apa. Berlangsung pada Alam Lahut.

Dalam pada itu “dzikir” berarti pujaan atau pujian terhadap Tuhan Yang Maha Esa dengan berulang-ulang mengucapkan kata-kata dalam bentuk lagu (berirama) sifat-sifat Tuhan Yang Maha Esa.

16.      II. a. Sembahyang pada hari Jum’at atau “sembahyang sarengat” ataupun “sembahyang jasmaniah”.

b. Sembahyang Kusta atau sembahyang tanpa lisan atau sambil berdiam diri dan tidak berbicara sama sekali. Manusia yang bersangkutan ada dalam keadaan “Heneng”.

c. Sembahyang Kaji, dipusatkan ditelinga (karna dan atau pendengaran. Cara ini menimbulkan kemurnian batin, atau pikiran. Manusia bersangkutan ada dalamkeadaan “Hening”.

d. Sembahyang Ismungalim, dipusatkan pada mata (netra) atau penglihatan. Cara ini menimbulkan kewaspadaan atau keadaan “Hawas”.

e. Sembahyang Daim, dipusatkan pada hidung atau alat-alat pembau lainnya. Cara ini mampu memperingatkan orang yang bersangkutan kepada sesuatu hal, ataupun menarik perhatian. Dalam pada itu orang tersebut ada dalamkeadaan “Heling”.

Dalam suasana ini sembahyang berarti pernyataan bakti dan perkataan tertentu, dalam suasana “Heneng, Hening, Heling, Hawas”!!

17.      Perlu ditandaskan lebih jauh, bahwa “Sesotya yang terhormat” atau Nukat gaib” ataupun “Johar”, itu berarti tiada yang mendahuluhinya (Adam). Pengertian ini dapat tercapai atas dasar rasa yang kuat (addjebuldanbi) dan rasa perikemanusiaan yang sempurna (Insan Kamil).

18.      Sebagai pedoman hendaknya selalu dipakai firman Tuhan yang ditujukan kepada Nabi Muhammad s.a.w. (Dalil). Selanjutnya sabda Nabi Muhammad s.a.w. kepada para muroidnya yang pertama dan terutama atau “Sahabat Nabi” (Abubakar, Umar, Usman, Ali) (Kadis, Hadits), wejangan yang ditujukan kepada para “Sahabat Nabi” tersebut (Ijemak), dan ajaran para “Waliyullah” (auliya atau orang suci penyebar Agama Iaslam kepada para pendeta atau mukmin (Kiyas).

19.      Hendaknya diperhatikan pula perkataannya dalam bahasa Arab (lapal), arti kata-kata tersebut dalam bahasa daerah (makna), penjelasaannya (wredi) dan tujuannya (maksud).

20.      Singkatnya kita harus selalu ingat (eling), dalam artikata memusatkan perhatian kita kepada Tuhan Yang Maha Esa (Ikram), mengagungkan Tuhan Yang Maha Esa (murad), yang harus dicerminkan pada ucapannya yang selalu diliputi dan meliputi perihal Ketuhanan (munajat) dan budipekerti yang nyata. Tegasnya menghapuskan segala tindakan / perbuatan yang bersifat keduniawian, sambil mengutamakan tindakan / perbuatan yang bersifat kerohanian. Dalam artikata ditujukan semata-mata kepada, tegasnya menembah, Tuhan Yang Maha Esa (Ngubadil atau Molah).

Sumber :

Buku “Gagasan Tentang Hakekat Hidup dan Kehidupan Manusia”, oleh Dr. A. Sena Sastroamidjojo, Penerbit Bhratara, Jakarta 1971.

22 Agustus 2012

Keadilan Tuhan….

oleh alifbraja

Seorang pengembara yang mencari kebenaran, suatu ketika berhenti di sebuah pohon beringin besar….pengembara ini kemudian duduk bersandar pada batang pohon beringin tersebut…tanpa sengaja matanya menatap buah yang tergantung pada ranting pohon beringin tersebut yang tampak tidak sebanding dengan pohonnya yang begitu gagah dan besar…dia lalu bergumam dalam hatinya…Betapa tak adilnya Tuhan .membikin pohon beringin dengan pohon yang besar tetapi berbuah kecil..
Ketika agak lama bersandar tiba-tiba di lihatnya seekor kuda yang berjalan dikendarai seseorang.Pengembara itupun kemudian membati alam hatinya..ah betapa tak adilnya tuhan…burung yang kecil diberi sayap tetapi kuda yang besar malah tak diberi sayap,di antara angin sepoi ditambah dengan tubuh yang letih tanpa disadari kemudian tertidurlah pengembara itu dengan tetap bersandar pada batang pohon beringin.
Tak lama kemudian jatuhlah sebiji buah beringin dan tepat mengenai hidung si pengembara…terbangunlah si pengembara dari tidurnya….sambil memijit-mijit hidungnya..ketika berjalan baru beberapa langkah..jatuh tepat mengenai pundaknya kotoran burung pipit..
pengembara itu pun merenung..lalu terbayanglah olehnya…seandainya saja buah beringin itu besar..tentu tewaslah ia karena kejatuhan buahnya..untunglah buah beringin kecil…seandainya kuda bersayap..lalu buang kotoran dari udara..tentu betapa akan menjadi kacau mereka yang di bawah…lalu menangis dan memohon ampunalah si pengembara..atas kekurangajarannya telah mengomentari yang tidak-tidak terhadap keadilan Tuhan….
sahabat…renungi kisah diatas….kadang kita sering merasa tuhan tidak adil pada kita…atas apa-apa yang menimpah kita entah itu bernama putus cinta. lambat jodoh,..hidung kurang mancung,..orangtua ,.atau orang yang kita kasihi pergi,..atau kecelakaan….,tetapi setelah kelak kabut ke tak fahaman mulai hilang dari akal fikiran kita,barulah kita dapat melihat betapa semua peristiwa didunia terjadi atas keadilanNya yang sangat sempurna.
.” Tuhanku…tiadalah sesungguhnya Engkau ciptakan ini dengan sia-sia..
Maha Suci Engkau….”( Q>S Al Imron 190-191)

%d blogger menyukai ini: