Posts tagged ‘Dari (Persian)’

8 Oktober 2012

AL-QUR’AN DAN RAHASIANYA 2

oleh alifbraja

ALLAH MENAMBAHKAN NIKMATNYA KEPADA ORANG-ORANG YANG BERSYUKUR
Setiap orang sangat memerlukan Allah dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggu na kan tangannya hingga kemampuan ber bicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat me mer lu kan apa yang telah diciptakan oleh Allah dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menya dari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah. Mereka menganggap bahwa segala sesuatunya terjadi dengan sendirinya atau mereka meng anggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mere ka sendiri. Anggapan ini merupakan kesalah an yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasih nya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya dengan mengabaikan nikmat Allah yang tidak ter hitung banyaknya di sepanjang hidupnya. Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s. an-Nahl: 18).
Meskipun kenyataannya demikian, ke banyak an manusia tidak mampu mensyukuri kenikmatan yang telah mereka terima. Adapun penyebabnya diceritakan dalam al-Qur’an: Setan, yang berjanji akan menyesat kan manusia dari jalan Allah, berkata bahwa tujuan utamanya adalah untuk menjadikan manusia tidak bersyukur kepada Allah. Pernyataan setan yang mendurhakai Allah ini menegaskan pentingnya bersyukur kepada Allah:
“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur. Allah berfirman, ‘Keluarlah kamu dari surga itu sebagai orang terhina lagi terusir. Sesungguhnya barangsiapa di antara mereka mengikuti kamu, benar-benar Aku akan mengisi neraka Jahanam dengan kamu semuanya’.” (Q.s. al-A‘raf: 17-8).
Dalam pada itu, orang-orang yang beriman karena menyadari kelemahan mereka, di hadapan Allah mereka memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri oleh orang-orang yang beriman. Karena orang-orang yang beriman mengetahui bahwa Allah adalah Pemilik segala sesuatu, mereka juga bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepa ham an, wawasan, dan kekuatan yang dikaru nia kan kepada mereka, dan mereka mencintai keimanan dan membenci kekufuran. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran dan dimasukkan dalam golongan orang-orang beriman. Pemandangan yang indah, urusan yang mudah, keinginan yang tercapai, berita-berita yang menggembirakan, perbuatan yang terpuji, dan nikmat-nikmat lainnya, semua ini menjadikan orang-orang beriman berpaling kepada Allah, bersyukur kepada-Nya yang telah menunjukkan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Sebagai balasan atas kesyukurannya, sebu ah pahala menunggu orang-orang yang ber iman. Ini merupakan rahasia lain yang dinyatakan dalam al-Qur’an; Allah menam bah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Misalnya, bahkan Allah memberi kan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak lagi kepada orang-orang yang bersyu kur kepada Allah atas kesehatan dan kekuatan yang mereka miliki. Bahkan Allah menga runia kan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak kepada orang-orang yang mensyukuri ilmu dan kekayaan tersebut. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang ikhlas yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah dan mereka ridha dengan karunia tersebut, dan mereka menjadikan Allah sebagai pelin dung mereka. Allah menceritakan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Dan ketika Tuhanmu memaklumkan: ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” (Q.s. Ibrahim: 7)
Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah. Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah. Rasulullah saw. juga me nye butkan masalah ini, beliau saw. bersab da:
“Jika Allah memberikan harta kepadamu, maka akan tampak kegembiraan pada dirimu dengan nikmat dan karunia Allah itu.1
Dalam pada itu, seorang kafir atau orang yang tidak mensyukuri nikmat hanya akan melihat cacat dan kekurangan, bahkan pada lingkungan yang sangat indah, sehingga ia akan merasa tidak berbahagia dan tidak puas, maka Allah menjadikan orang-orang seperti ini hanya menjumpai berbagai peristiwa dan pemandangan yang tidak menyenangkan. Akan tetapi Allah menampakkan lebih ba nyak nikmat dan karunia-Nya kepada orang-orang yang ikhlas dan memiliki hati nurani.
Bahwa Allah menambah kenikmatan kepada orang-orang yang bersyukur, ini juga merupakan salah satu rahasia dari al-Qur’an. Bagaimanapun harus kita camkan dalam hati bahwa keikhlasan merupakan prasyarat agar dapat mensyukuri nikmat. Jika seseorang menunjukkan rasa syukurnya tanpa berpaling dengan ikhlas kepada Allah dan tanpa meng hayati rahmat dan kasih sayang Allah yang tiada batas, tetapi rasa syukurnya itu hanya untuk menarik perhatian orang, tentu saja ini merupakan ketidakikhlasan yang parah. Allah mengetahui apa yang tersimpan dalam hati dan mengetahui ketidakikhlasannya tersebut. Orang-orang yang memiliki niat yang tidak ikhlas bisa saja menyembunyikan apa yang tersimpan dalam hati dari orang lain. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikannya dari Allah. Orang-orang seperti itu bisa saja men syukuri nikmat ketika tidak menghadapi penderitaan. Tetapi pada saat-saat berada dalam kesulitan, mungkin mereka akan meng ingkari nikmat.
Perlu diperhatikan, bahwa orang-orang mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah sekalipun mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit. Seseorang yang melihat dari luar mungkin melihat berkurangnya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut. Misalnya, Allah menya takan bahwa Dia akan menguji manu sia dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyu kur, mereka berharap bahwa Allah akan memberi pahala kepada mereka berupa surga sebagai pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut. Mereka mengetahui bahwa Allah tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya. Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam mengha dapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka. Dengan demikian, ciri-ciri orang yang ber iman adalah tetap menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

RAHASIA BERSERAH DIRI DAN BERTAWAKAL KEPADA ALLAH
Berserah diri kepada Allah merupakan ciri khusus yang dimiliki orang-orang mukmin, yang memiliki keimanan yang mendalam, yang mampu melihat kekuasaan Allah, dan yang dekat dengan-Nya. Terdapat rahasia penting dan kenikmatan jika kita berserah diri kepada Allah. Berserah diri kepada Allah maknanya adalah menyandarkan dirinya dan takdirnya dengan sungguh-sungguh kepada Allah. Allah telah menciptakan semua makh luk, binatang, tumbuh-tumbuhan, maupun benda-benda tak bernyawa — masing-masing dengan tujuannya sendiri-sendiri dan takdir nya sendiri-sendiri. Matahari, bulan, lautan, danau, pohon, bunga, seekor semut kecil, sehelai daun yang jatuh, debu yang ada di bangku, batu yang menyebabkan kita tersan dung, baju yang kita beli sepuluh tahun yang lalu, buah persik di lemari es, ibu anda, teman kepala sekolah anda, diri anda — pendek kata segala sesuatunya, takdirnya telah ditetapkan oleh Allah jutaan tahun yang lalu. Takdir segala sesuatu telah tersimpan dalam sebuah kitab yang dalam al-Qur’an disebut sebagai ‘Lauhul-Mahfuzh’. Saat kematian, saat jatuh nya sebuah daun, saat buah persik dalam peti es membusuk, dan batu yang menye babkan kita tersandung — pendek kata semua peris tiwa, yang remeh maupun yang penting — semuanya tersimpan dalam kitab ini.
Orang-orang yang beriman meyakini tak dir ini dan mereka mengetahui bahwa takdir yang diciptakan oleh Allah adalah yang ter baik bagi mereka. Itulah sebabnya setiap detik dalam kehidupan mereka, mereka selalu berserah diri kepada Allah. Dengan kata lain, mereka mengetahui bahwa Allah mencipta kan semua peristiwa ini sesuai dengan tujuan ilahiyah, dan terdapat kebaikan dalam apa saja yang diciptakan oleh Allah. Misalnya, terse rang penyakit yang berbahaya, menghadapi musuh yang kejam, menghadapi tuduhan palsu padahal ia tidak bersalah, atau mengha dapi peristiwa yang sangat mengerikan, semua ini tidak mengubah keimanan orang yang beriman, juga tidak menimbulkan rasa takut da lam hati mereka. Mereka menyambut dengan rela apa saja yang telah diciptakan Allah untuk mereka. Orang-orang beriman menghadapi dengan kegembiraan keadaan apa saja, keadaan yang pada umumnya bagi orang-orang kafir menyebabkan perasaan ngeri dan putus asa. Hal itu karena rencana yang paling mengerikan sekalipun, sesung guh nya telah direncanakan oleh Allah untuk menguji mereka. Orang-orang yang meng hadapi semuanya ini dengan sabar dan ber tawakal kepada Allah atas takdir yang telah Dia ciptakan, mereka akan dicintai dan diridhai Allah. Mereka akan memperoleh surga yang kekal abadi. Itulah sebabnya orang-orang yang beriman memperoleh kenikmatan, ketenangan, dan kegembiraan dalam kehidupan mereka karena bertawakal kepada Tuhan mereka. Inilah nikmat dan rahasia yang dijelaskan oleh Allah kepada orang-orang yang beriman. Allah menjelaskan dalam al-Qur’an bahwa Dia mencintai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (Q.s. Ali ‘Imran: 159) Rasulullah saw. juga menyatakan hal ini, beliau bersabda:
“Tidaklah beriman seorang hamba Allah hingga ia percaya kepada takdir yang baik dan buruk, dan mengetahui bahwa ia tidak dapat menolak apa saja yang menimpanya (baik dan buruk), dan ia tidak dapat terkena apa saja yang dijauhkan darinya (baik dan buruk).”1
Masalah lainnya yang disebutkan dalam al-Qur’an tentang bertawakal kepada Allah adalah tentang “melakukan tindakan”. Al-Qur’an memberitahukan kita tentang ber bagai tindakan yang dapat dilakukan orang-orang yang beriman dalam berbagai keadaan. Dalam ayat-ayat lainnya, Allah juga menjelas kan rahasia bahwa tindakan-tindakan tersebut yang diterima sebagai ibadah kepada Allah, tidak dapat mengubah takdir. Nabi Ya‘qub a.s. menasihati putranya agar melakukan bebe rapa tindakan ketika memasuki kota, tetapi setelah itu beliau diingatkan agar bertawakal kepada Allah. Inilah ayat yang membicarakan masalah tersebut:
“Dan Ya‘qub berkata, ‘Hai anak-anakku, janganlah kamu masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu ger bang yang berlainan, namun demikian aku tidak dapat melepaskan kamu barang sedikit pun dari (takdir) Allah. Keputusan menetap kan (sesuatu) hanyalah hak Allah; kepada-Nyalah aku bertawakal dan hendak lah kepada-Nya saja orang-orang yang berta wakal berserah diri’.” (Q.s. Yusuf: 67).
Sebagaimana dapat dilihat pada ucapan Nabi Ya‘qub, orang-orang yang beriman tentu saja juga mengambil tindakan berjaga-jaga, tetapi mereka mengetahui bahwa mereka tidak dapat mengubah takdir Allah yang dikehendaki untuk mereka. Misalnya, sese orang harus mengikuti aturan lalu lintas dan tidak mengemudi dengan sembarangan. Ini merupakan tindakan yang penting dan meru pa kan sebuah bentuk ibadah demi kesela matan diri sendiri dan orang lain. Namun, jika Allah menghendaki bahwa orang itu meninggal karena kecelakaan mobil, maka tidak ada tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah kematiannya. Terkadang tindakan pencegahan atau suatu perbuat an tampaknya dapat menghindari orang itu dari kematian. Atau mungkin seseorang dapat melakukan keputusan pen ting yang dapat mengubah jalan hidup nya, atau seseorang dapat sembuh dari penyakitnya yang memati kan dengan menunjukkan kekuatannya dan daya tahannya. Namun, semua peristiwa ini terjadi karena Allah telah menetapkan yang demikian itu. Sebagian orang salah menafsir kan peristiwa-peristiwa seperti itu sebagai “mengatasi takdir sese orang” atau “mengubah takdir seseorang”. Tetapi, tak seorang pun, bahkan orang yang sangat kuat sekalipun di dunia ini yang dapat mengubah apa yang telah ditetapkan oleh Allah. Tak seorang manusia pun yang memi liki kekuatan seperti itu. Sebaliknya, setiap makhluk sangat lemah dibandingkan dengan ketetapan Allah. Adanya fakta bahwa sebagian orang tidak menerima kenyataan ini tetap tidak meng ubah kebenaran. Sesungguhnya, orang yang menolak takdir juga telah ditetap kan demi kian. Karena itulah orang-orang yang meng hin dari kematian atau penyakit, atau meng ubah jalannya kehidupan, mereka mengalami peristiwa seperti ini karena Allah telah menetapkannya. Allah menceritakan hal ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:
“Tidak ada suatu bencana pun yang me nimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul-Mahfuzh) sebelum Kami mencipta kannya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah. Supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Q.s. al-Hadid: 22-3).
Sebagaimana dinyatakan dalam ayat di atas, peristiwa apa pun yang terjadi telah dite tap kan sebelumnya dan tertulis dalam Lauh Mahfuzh. Untuk itulah Allah me nyata kan kepada manusia supaya tidak ber duka cita terhadap apa yang luput darinya. Misalnya, seseorang yang kehilangan semua harta ben da nya dalam sebuah kebakaran atau meng alami kerugian dalam perdagangannya, semua ini memang sudah ditetapkan. Dengan demi kian mustahil baginya untuk menghin dari atau mencegah kejadian tersebut. Jadi tidak ada gunanya jika merasa berduka cita atas kehilangan tersebut. Allah menguji hamba-hamba-Nya dengan berbagai kejadian yang telah ditetapkan untuk mereka. Orang-orang yang bertawakal kepada Allah ketika mereka menghadapi peristiwa seperti itu, Allah akan ridha dan cinta kepadanya. Seba liknya, orang-orang yang tidak berta wakal kepada Allah akan selalu mengalami kesulit an, keresahan, ketidakbahagiaan dalam kehidupan mereka di dunia ini, dan akan memperoleh azab yang kekal abadi di akhirat kelak. Dengan demiki­an sangat jelas bahwa bertawakal kepada Allah akan membuahkan keberuntungan dan kete nang an di dunia dan di akhirat. Dengan me­nyingkap rahasia-rahasia ini kepada orang-orang yang beriman, Allah membebaskan mereka dari berbagai kesulitan dan menjadi kan ujian dalam kehidupan di dunia ini mu dah bagi mereka.

TERDAPAT KEBAIKAN DALAM SETIAP PERISTIWA
Allah memberitahukan kita bahwa dalam setiap peristiwa yang Dia ciptakan terdapat kebaikan di dalamnya. Ini merupakan rahasia lain yang menjadikan mudah bagi orang-orang yang beriman untuk bertawakal kepada Allah. Allah menyatakan, bahkan dalam pe ris tiwa-peristiwa yang tampaknya tidak me nye nangkan terdapat kebaikan di dalam nya:
“Mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaik an yang banyak.” (Q.s. an-Nisa’: 19).
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, pada hal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui.” (Q.s. al-Baqarah: 216).
Dengan memahami rahasia ini, orang-orang yang beriman menjumpai kebaikan dan keindahan dalam setiap peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang sulit tidak membuat mereka merasa gentar dan khawatir. Mereka tetap tenang ketika menghadapi penderitaan yang ringan maupun berat. Orang-orang Muslim yang ikhlas bahkan melihat kebaikan dan hikmah Ilahi ketika mereka kehilangan selu ruh harta benda mereka. Mereka tetap ber syukur kepada Allah yang telah mengkaru nia kan kehidupan. Mereka yakin bahwa dengan kehilangan harta tersebut Allah sedang melindungi mereka dari perbuatan maksiat atau agar hatinya tidak terpaut dengan harta benda. Untuk itu, mereka ber syukur dengan sedalam-dalamnya kepada Allah karena kerugian di dunia tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kerugian di akhirat. Kerugian di akhirat artinya azab yang kekal abadi dan sangat pedih. Orang-orang yang tetap sibuk mengingat akhirat melihat setiap peristiwa sebagai kebaikan dan kein dah an untuk menuju kehidupan akhirat. Orang-orang yang bersabar dengan penderita an yang dialaminya akan menyadari bahwa dirinya sangat lemah di hadapan Allah, dan akan menyadari betapa mereka sangat memer lukan Dia. Mereka akan berpaling kepada Allah dengan lebih berendah diri dalam doa-doa mereka, dan dzikir mereka akan semakin mendekatkan diri mereka kepada-Nya. Tentu saja hal ini sangat bermanfaat bagi kehidupan akhirat seseorang. Dengan bertawakal sepe nuh nya kepada Allah dan dengan menun jukkan kesabaran, mereka akan memperoleh ridha Allah dan akan memperoleh pahala berupa kebahagiaan abadi.
Manusia harus mencari kebaikan dan kein dahan tidak saja dalam penderitaan, tetapi juga dalam peristiwa sehari-hari. Misal nya, masakan yang dimasak dengan susah payah ternyata hangus, dengan kehendak Allah, mungkin akan bermanfaat menjauhkan dari madharat kelak di kemudian hari. Sese orang mungkin tidak diterima dalam ujian masuk perguruan tinggi untuk menggapai harapan nya pada masa depan. Bagaimanapun, hen dak nya ia mengetahui bahwa terdapat ke baik an dalam kegagalannya ini. Demikian pula hendaknya ia dapat berpikir bahwa barang kali Allah menghendaki dirinya agar terhin dar dari situasi yang sulit, sehingga ia tetap merasa senang dengan kejadian itu. Dengan berpikir bahwa Allah telah menem patkan berbagai rahmat dalam setiap peris tiwa, baik yang terlihat maupun yang tidak, orang-orang yang beriman melihat keindahan dalam bertawakal mengharapkan bimbingan Allah.
Seseorang mungkin tidak selalu melihat kebaikan dan hikmah Ilahi di balik setiap peristiwa. Sekalipun demikian ia mengetahui dengan pasti bahwa terdapat kebaikan dalam setiap peristiwa. Ia memanjatkan doa kepada Allah agar ditunjukkan kepadanya kebaikan dan hikmah Ilahi di balik segala sesuatu yang terjadi.
Orang-orang yang menyadari bahwa segala sesuatu yang diciptakan Allah memiliki tujuan tidak pernah mengucapkan kata-kata, “Seandainya saya tidak melakukan…” atau “Seandainya saya tidak berkata …,” dan seba gai nya. Kesalahan, kekurangan, atau peris tiwa-peristiwa yang kelihatannya tidak meng untungkan, pada hakikatnya di dalam nya terdapat rahmat dan masing-masing merupa kan ujian. Allah memberikan pelajar an pen ting dan mengingatkan manusia tentang tuju an penciptaan pada setiap orang. Bagi orang-orang yang dapat melihat dengan hati nurani nya, tidak ada kesalahan atau pen de ritaan, yang ada adalah pelajaran, peringat an, dan hikmah dari Allah. Misalnya, seorang Muslim yang tokonya terbakar akan melaku kan mawas diri, bahkan keimanannya menja di lebih ikhlas dan lebih lurus, ia menganggap peristiwa itu sebagai peringatan dari Allah agar tidak terlalu sibuk dan terpikat dengan harta dunia.
Hasilnya, apa pun yang dihadapinya dalam kehidupannya, penderitaan itu pada akhirnya akan berakhir sama sekali. Seseorang yang me ngenang penderitaannya akan merasa takjub bahwa penderitaan itu tidak lebih dari sekadar kenangan dalam pikiran, bagaikan orang yang mengingat kembali adegan dalam film. Oleh karena itu, akan datang suatu saat ketika pengalaman yang sangat pedih akan tinggal menjadi kenangan, bagaikan bayangan adegan dalam film. Hanya ada satu yang masih ada: bagaimanakah sikap seseorang ketika menghadapi kesulitan, dan apakah Allah ridha kepadanya atau tidak. Seseorang tidak akan dimintai tanggung jawab atas apa yang telah ia alami, tetapi yang dimintai tang gung jawab adalah sikapnya, pikirannya, dan keikhlasannya terhadap apa yang ia alami. Dengan demikian, berusaha untuk melihat kebaikan dan hikmah Ilahi terhadap apa yang diciptakan Allah dalam situasi yang dihadapi seseorang, dan bersikap positif akan menda tang kan kebahagiaan bagi orang-orang ber iman, baik di dunia maupun di akhirat. Tidak duka cita dan ketakutan yang meng hing gapi orang-orang yang beriman yang memahami rahasia ini. Demikian pula, tidak ada manusia dan tidak ada peristiwa yang menjadikan rasa takut atau menderita di dunia ini dan di akhirat kelak. Allah menjelas kan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai ber ikut:
“Kami berfirman, ‘Turunlah kamu dari surga itu. Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan mereka tidak bersedih hati’.” (Q.s. al-Baqarah: 38).
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tidak bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu ber takwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidup an di dunia dan di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.” (Q.s. Yunus: 62-4).

Iklan
2 Oktober 2012

Adab Hutang Piutang Dalam Islam

oleh alifbraja

Adab Hutang Piutang

Ulama menyebut akad peminjaman itu sebagai akad irfaq, yang berarti pemberian manfaat atau belas kasih. Oleh karenanya, memberikan pinjaman itu dianjurkan dalam Islam. Dari Ibnu Mas’ud  radhiyallahu anhu, bahwasanya Nabi shallallahu alaihi wassallam bersabda:
مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُقْرِضُ مُسْلِمًا قَرْضًا مَرَّتَيْنِ إِلاَّ كَانَ كَصَدَقَتِهَا مَرَّةً
“Tidaklah seorang muslim memberikan pinjaman kepada muslim yang lain dua kali kecuali seperti shadaqah satu kali.” (Shahih Lighairihi, HR. Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Targhib no. 901)
Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu anhu bahwasanya Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda:
كُلُّ قَرْضٍ صَدَقَةٌ
“Setiap pinjaman adalah shadaqah.” (Hasan Lighairihi, HR. Ath-Thabarani dan Al-Baihaqi. Lihat Shahih At-Targhib no. 899)
Jadi pemberian pinjaman itu merupakan perbuatan yang baik, membantu memberikan jalan keluar bagi seorang muslim yang mengalami kesempitan dan juga memenuhi kebutuhannya.
Syarat sahnya pinjam meminjam:
1. Seorang yang meminjami adalah orang yang sah bila memberi, sehingga tidak boleh seorang wali yatim meminjamkan dari harta yatim.
2. Mengetahui jumlah harta yang dipinjamkan atau sifat barang yang dipinjamkan.
 
Beberapa Adab Pinjam-Meminjam
Diharamkan bagi orang yang meminjamkan untuk mensyaratkan adanya tambahan dalam pengembalian atau mensyaratkan imbalan manfaat tertentu. Ulama bersepakat, bila ia mensyaratkan lalu mengambilnya maka itu termasuk riba, walaupun diistilahkan dengan sebutan lain seperti bunga, jasa, atau yang lain.
Hal itu karena Islam mensyariatkan peminjaman adalah sebagai amal kebaikan atau ibadah yang dia mesti harapkan balasannya di sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Telah kita sebutkan tadi bahwa landasan peminjaman adalah akad irfaq, sehingga akad ini bukanlah lahan untuk mencari keuntungan duniawi, tapi ukhrawi. Adapun lahan untuk keuntungan duniawi maka telah dibuka oleh Islam berupa jual beli atau yang lain.
Dalam sebuah riwayat:
“Semua pinjaman yang menyeret kepada (imbalan) manfaat maka itu riba.”
Riwayat ini lemah, namun telah menjadi kaidah dalam akad pinjam meminjam atau utang piutang. Sehingga tidak boleh bagi seorang yang meminjamkan untuk menerima hadiah atau manfaat lainnya yang berasal dari peminjam, bila ini disebabkan oleh transaksi pinjam-meminjam tersebut. Setiap muslim wajib memerhatikan hal itu dan berhati-hati darinya serta mengikhlaskan niat dalam peminjamannya. Karena peminjaman bukan dimaksudkan untuk pengembangan harta, tapi untuk pengembangan pahala dengan mendekatkan kepada Allah l dengan amalan ini. Yakni memberikan kebutuhan kepada orang yang membutuhkan, serta mengambil kembali pokoknya. Jika demikian tujuannya, niscaya Allah subhanahu wa ta’ala akan menurunkan barakah pada hartanya.
Perlu diperhatikan lagi bahwa keharaman mengambil imbalan manfaat dari peminjaman itu adalah bila hal itu dipersyaratkan dalam peminjaman dengan ucapan atau bahkan perjanjian yang jelas. Semacam mengatakan: ‘Saya pinjami kamu, tapi kembalinya dilebihkan sekian persen.’ Atau: ‘Dengan syarat rumahmu saya pakai atau sawahmu saya garap.’
Atau mungkin juga tanpa terucap, tapi memang ada maksud untuk itu dan keinginan ke arah itu. Atau bahkan ada isyarat, maka ini sama hukumnya: tidak boleh.
Demikian pula menurut Ibnu Taimiyah rahimahullah, hadiah yang diberikan oleh peminjam selama masa peminjaman, juga dilarang bagi orang yang meminjami untuk menerimanya. Beliau menyebutkan hadits dan nasihat sahabat Abdullah bin Salam radhiyallahu anhu kepada Abu Burdah bin Abu Musa dalam riwayat Al-Bukhari rahimahullah: “Engkau berada pada daerah yang riba menyebar luas padanya. Maka bila engkau punya hak atas seseorang lalu ia menghadiahkan kepadamu berupa jasa membawakan jerami, gandum atau rumput basah (untuk makanan hewan), jangan sekali-kali kamu menerimanya karena itu termasuk riba.”
Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan: “Nabi shallallahu alaihi wassallam, demikian pula para sahabatnya, melarang orang yang meminjami untuk menerima hadiah dari peminjam sebelum pelunasan. Karena tujuan dari pemberian hadiah itu adalah agar mengundurkan penagihan, walaupun itu tidak disyaratkan atau diucapkan. Sehingga kedudukannya seperti mengambil 1.000 dengan hadiah langsung, dan nanti 1.000 lagi belakangan. Ini adalah riba. Oleh karenanya, boleh memberikan tambahan ketika melunasi dan memberikan hadiah setelahnya, karena makna riba telah hilang.” (dinukil dari At-Ta’liqat Ar-Radhiyyah, 2/432)
Adapun bila tambahan itu diberikan oleh peminjam karena dorongan dirinya sendiri, tanpa persyaratan atau isyarat atau maksud ke arah itu, maka dibolehkan untuk diambil, karena ini termasuk pelunasan yang baik. Karena Nabi n pernah meminjam hewan lalu mengembalikan dengan yang lebih baik, seraya mengatakan: “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi.” Sehingga hal itu terhitung pemberian shadaqah dari peminjam.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata:
كَانَ لِرَجُلٍ عَلىَ النَّبِيِّ n سِنٌّ مِنَ الْإِبِلِ فَجَاءَهُ يَتَقَاضَاهُ فَقَالَ n: أَعْطُوهُ .فَطَلَبُوا سِنَّهُ فَلَمْ يَجِدُوا لَهُ إِلاَّ سِنًّا فَوْقَهَا، فَقَالَ: أَعْطُوهُ. فَقَالَ: أَوْفَيْتَنِي أَوْفَى اللهُ بِكَ. قَالَ النَّبِيُّ n: إِنَّ خِيَارَكُمْ أَحْسَنُكُمْ قَضَاءً
“Dahulu Nabi punya tanggungan utang seekor unta dengan umur tertentu untuk seseorang, maka orang itupun datang dan minta dilunasi. Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda: ‘Berikan kepada dia.’ Maka para sahabat mencari yang seumur, namun mereka tidak mendapati kecuali yang lebih tua. Maka beliau mengatakan: ‘Berikan itu kepadanya.’ Orang itupun mengatakan: ‘Engkau telah penuhi aku, semoga Allah memenuhimu.’ Maka Nabi shallallahu alaihi wassallam bersabda: ‘Sesungguhnya sebaik-baik kalian adalah yang paling baik dalam melunasi’.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Jabir bin Abdillah radhiyallahu anhu mengatakan: “Aku datang kepada Nabi shallallahu alaihi wassallam dan ketika itu beliau punya utang kepada saya, lalu beliau melunasi aku serta menambahinya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
Demikian pula hukumnya bila tambahan tersebut adalah sesuatu yang sebelumnya sudah berlangsung antara keduanya, bukan karena pinjaman.
 
Wajib atas peminjam agar punya perhatian dalam melunasi utangnya, tanpa menunda-nunda bila sudah punya kemampuan. Karena Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Tidakkah balasan kebaikan itu kecuali kebaikan juga.” (Ar-Rahman: 60)
Sebagian orang bermudah-mudah dalam urusan hak-hak orang, khususnya dalam perkara utang. Ini adalah akhlak tercela yang menyebabkan kebanyakan orang enggan untuk memberikan pinjaman serta memberikan kelonggaran kepada mereka yang butuh.
Sebaliknya, di antara mereka (pihak yang membutuhkan pinjaman) pergi ke bank-bank dan melakukan transaksi haram, riba, karena ia tidak mendapatkan orang yang meminjami dengan pinjaman yang baik. Sementara orang yang meminjami pun tidak mendapatkan orang yang dapat mengembalikan pinjaman dengan cara yang baik. Akhirnya lenyaplah kebaikan dari tengah-tengah manusia.
 
Memberi Tangguh
Ketika sampai tempo yang ditentukan dan peminjam belum bisa melunasi, dianjurkan untuk memberikan tangguh. Sehingga ia mendapatkan rezeki untuk membayarnya. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia berkelapangan. Dan menyedekahkan (sebagian atau semua utang) itu, lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (Al-Baqarah: 280)
Akan lebih bagus lagi bila ia menggugurkan/memutihkan/menganggap lunas utangnya. Dari Abu Hurairah z bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda:
كَانَ رَجُلٌ يُدَايِنُ النَّاسَ فَكَانَ يَقُولُ لِفَتَاهُ: إِذَا أَتَيْتَ مُعْسِرًا فَتَجَاوَزْ عَنْهُ، لَعَلَّ اللهَ يَتَجَاوَزُ عَنَّا؛ فَلَقِيَ اللهَ فَتَجَاوَزَ عَنْهُ
“Dahulu ada seseorang yang suka memberi utang kepada manusia, maka dia mengatakan kepada pegawainya: ‘Bila kamu datangi orang yang kesulitan membayar maka mudahkanlah, mudah-mudahan Allah mengampuni kita.’ Maka ia berjumpa dengan Allah subhanahu wa ta’ala sehingga Allah subhanahu wa ta’ala mengampuninya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dari Abdullah bin Abu Qatadah, dia berkata:
أَنَّ أَبَا قَتَادَةَ طَلَبَ غَرِيمًا لَهُ فَتَوَارَى عَنْهُ ثُمَّ وَجَدَهُ فَقَالَ: إِنِّي مُعْسِرٌ. فَقَالَ: آللهِ؟ قَالَ: آللهِ. قَال: فَإِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ n  يَقُولُ: مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُنْجِيَهُ اللهُ مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلْيُنَفِّسْ عَنْ مُعْسِرٍ أَوْ يَضَعْ عَنْهُ
Abu Qatadah radhiyallahu anhu mencari orang yang berutang kepadanya. Orang itu bersembunyi darinya. Ketika ia ditemukan, ia mengatakan: “Sesungguhnya aku kesusahan.” Abu Qatadah radhiyallahu anhu berkata: “Demi Allah?” “Demi Allah,” jawabnya. Abu Qatadah menyambut: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah bersabda: ‘Barangsiapa yang suka untuk Allah selamatkan dari kesusahan di hari kiamat maka hendaknya ia memberikan jalan keluar bagi orang yang kesusahan atau menggugurkannya’.” (Shahih, HR. Muslim no. 3976)
مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ أَظَلَّهُ اللهُ فِى ظِلِّهِ
“Barangsiapa yang memberikan tangguh kepada orang yang kesusahan atau menggugurkan utangnya niscaya Allah l akan naungi dia dalam naungan-Nya.” (Shahih, HR. Muslim dan Al-Baihaqi)
 
Haram Berniat untuk Tidak Membayar Utang
Dari Maimun Al-Kurdi dari ayahnya, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda:
أَيُّمَا رَجُلٍ تَزَوَّجَ امْرَأَةً عَلَى مَا قَلَّ مِنَ الْمَهْرِ أَوْ كَثُرَ لَيْسَ فِي نَفْسِهِ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَيْهَا حَقَّهَا خَدَعَهَا فَمَاتَ وَلَمْ يُؤَدِّ إِلَيْهَا حَقَّهَا لَقِيَ اللهَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَهُوَ زَانٍ، وَأَيُّمَا رَجُلٍ اسْتَدَانَ دَيْنًا لاَ يُرِيدُ أَنْ يُؤَدِّيَ إِلَى صَاحِبِهِ حَقَّهُ خَدَعَهُ حَتَّى أَخَذَ مَالَهُ فَمَاتَ وَلَمْ يُؤَدِّ دَيْنَهُ لَقِيَ اللهَ وَهُوَ سَارِقٌ
“Siapapun laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan mahar sedikit atau banyak tanpa niatan dalam dirinya untuk memberikan haknya, dia tipu istrinya lalu dia (laki-laki itu) mati sementara belum memberikan haknya maka akan bertemu Allah di hari kiamat dalam status sebagai pezina. Dan siapapun laki-laki yang berutang dan tidak ada niatan untuk melunasi hak orang yang mengutanginya, ia tipu dia sehingga dia ambil harta orang yang meminjaminya sampai dia mati dan belum membayar utangnya maka nanti akan bertemu Allah dalam status sebagai pencuri.” (Shahih, HR. At-Thabarani, Shahih At-Targhib no. 1807)
Dari Ibnu Umar radhiyallahu anhumma ia berkata Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda:
“Barangsiapa yang mati sementara ia menanggung utang satu dinar atau satu dirham maka akan dibayar dengan pahala amal baiknya, karena di sana tidak ada dinar dan dirham.” (Hasan Shahih, HR. Ibnu Majah dengan sanad yang hasan, juga At-Thabarani dalam Mu’jam Al-Kabir dengan lafadz: Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda: “Utang itu ada dua macam, maka barangsiapa yang mati dan dia berniat untuk melunasinya maka aku menjadi walinya, dan barangsiapa yang mati sementara dia tidak berniat melunasinya, maka orang itulah yang diambil pahala amal baiknya, di hari itu tidak ada dinar dan dirham.” (Shahih Lighairihi, Shahih At-Targhib no. 1803)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu ia berkata Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda:
مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّى اللهُ عَنْهُ، وَمَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ إِتْلاَفَهَا أَتْلَفَهُ اللهُ
“Barangsiapa mengambil harta manusia dan ia ingin melunasinya, niscaya Allah akan melunasinya. Dan barangsiapa mengambil harta manusia dengan niat menghancurkannya, niscaya Allah menghancurkan dia.” (Shahih, HR. Al-Bukhari)
 
Tidak Boleh Bagi yang Mampu Untuk Menunda Pembayaran
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda:
مَطْلُ الْغَنِيِّ ظُلْمٌ
“Penundaan orang yang mampu itu adalah perbuatan zalim.” (Shahih, HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Dalam hadits lain:
لَيُّ الْوَاجِدِ يُحِلُّ عِرْضَهُ وَعُقُوبَتَهُ
“Penundaan orang yang mampu akan menghalalkan kehormatan dan hukumannya.” (HR. Abu Dawud, Nasa’i, dalam Sunan Al-Kubra, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban)
Menghalalkan kehormatannya yakni membolehkan bagi orang yang mengutangi untuk berkata keras padanya, sedangkan menghalalkan hukumannya yakni membolehkan hakim untuk memenjarakannya.
 
Jangan Menganggap Sepele Urusan Utang!
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu anhu, ia mendengar Nabi shallallahu alaihi wassallam bersabda:
لَا تُخِيفُوا أَنْفُسَكُمْ بَعْدَ أَمْنِهَا. قَالُوا: وَمَا ذَاكَ يَا رَسُولَ اللهِ؟ قَالَ: الدَّيْنُ
“Jangan kalian buat takut diri kalian setelah rasa amannya.” Mereka mengatakan: “Apa itu, ya Rasulullah?” “Utang,” jawab beliau. (HR. Ahmad, Abu Ya’la, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi, dan Al-Hakim. Beliau mengatakan: Sanadnya shahih. Lihat Shahih Targhib, 2/165 no. 1797)
Dari Tsauban radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wassallam bersabda:
مَنْ فَارَقَ رُوْحُهُ جَسَدَهُ وَهُوَ بَرِيءٌ مِنْ ثَلاَثٍ دَخَلَ الْجَنَّةَ؛ الْغُلُولُ، وَالدَّيْنُ، وَالْكِبْرُ
“Barangsiapa yang rohnya berpisah dengan jasadnya dan dia terbebas dari tiga perkara maka dia akan masuk ke dalam Al-Jannah; (tiga perkara itu adalah) mengambil harta rampasan perang sebelum dibagi, utang, dan kesombongan.” (Shahih, HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, dan Al-Hakim dan ini lafadz beliau. Lihat Shahih At-Targhib, 2/166 no. 1798)
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wassallam, beliau bersabda:
مَنْ حَالَتْ شَفَاعَتُهُ دُوْنَ حَدٍّ مِنْ حُدُودِ اللهِ فَقَدْ ضَادَّ اللهَ فِي أَمْرِهِ، وَمَنْ مَاتَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ فَلَيْسَ ثَمَّ دِيْنَارٌ وَلاَ دِرْهَمٌ وَلَكِنَّهَا الْحَسَنَاتُ وَالسَّيِّئَاتُ
“Barangsiapa yang pembelaannya menghalangi salah satu dari hukum had Allah maka dia telah melawan perintah Allah. Dan barangsiapa yang mati dan menanggung utang, maka di sana tidak ada dinar dan tidak ada dirham. Yang ada adalah amal kebaikan dan amal keburukan.” (Shahih, HR. Al-Hakim dan dishahihkannya; Abu Dawud, dan At-Thabarani. Lihat Shahih At-Targhib, 2/168 no. 1809)
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, dari Nabi shallallahu alaihi wassallam, beliau bersabda:
نَفْسُ الْمُؤْمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيْنِهِ حَتَّى يُقْضَى عَنْهُ
“Jiwa seorang mukmin tergantung dengan utangnya sampai dilunasi.” (Shahih, HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan beliau mengatakan hasan; Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban. Lihat Shahih At-Targhib no. 1811)
Dari Samurah, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wassallam berkhutbah kepada kami lalu mengatakan:
هَا هُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِى فُلاَنٍ؟ فَلَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ، ثُمَّ قَالَ: هَا هُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِى فُلاَنٍ؟ فَلَمْ يُجِبْهُ أَحَدٌ، ثُمَّ قَالَ: هَا هُنَا أَحَدٌ مِنْ بَنِى فُلاَنٍ؟ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ: أَنَا يَا رَسُولَ اللهِ. فَقَالَ n: مَا مَنَعَكَ أَنْ تُجِيبَنِى فِى الْمَرَّتَيْنِ الأُولَيَيْنِ، أَمَا إِنِّي لَمْ أُنَوِّهْ بِكُمْ إِلاَّ خَيْرًا، إِنَّ صَاحِبَكُمْ مَأْسُورٌ بِدَيْنِهِ. فَلَقَدْ رَأَيْتُهُ أَدَّى عَنْهُ حَتَّى مَا بَقِىَ أَحَدٌ يَطْلُبُهُ بِشَىْءٍ
“Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Tidak seorangpun menjawabnya. Lalu (beliau) berkata lagi: “Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Tidak seorangpun menjawabnya. Lalu beliau berkata lagi: “Apakah di sini ada seseorang dari bani fulan?” Maka seseorang berdiri dan mengatakan: “Saya, wahai Rasulullah.” Maka beliau mengatakan: “Apa yang menghalangimu untuk menjawab pada (panggilan) pertama dan kedua kalinya? Saya tidak menyebut kalian kecuali yang baik. Sesungguhnya teman kalian tertahan (yakni untuk masuk ke surga) dengan sebab utangnya.” Samurah mengatakan: “Sungguh aku melihat orang tadi melunasinya, sehingga tidak seorangpun menuntutnya lagi dengan sesuatupun.” (Shahih, HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dan Al-Hakim, dalam riwayatnya: “Kalau kalian ingin maka tebuslah, dan kalau kalian ingin maka serahkanlah dia kepada siksa Allah.” (Shahih At-Targhib no. 1810)
Dari Muhammad bin Abdillah bin Jahsy radhiyallahu anhu, ia berkata:
كَانَ رَسُولُ اللهِ n قَاعِدًا حَيْثُ تُوضَعُ الْجَنَائِزِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ قِبَلَ السَّماَءِ ثُمَّ خَفَّضَ بَصَرَهُ فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَى جَبْهَتَهُ فَقَالَ: سُبْحَانَ اللهِ، سُبْحَانَ اللهِ، مَا أُنْزِلَ مِنَ التَّشْدِيدِ؟ قَالَ: فَعَرَفْنَا وَسَكَتْنَا حَتَّى إِذَا كَانَ الْغَدُ، سَأَلْتُ رَسُولَ اللهِ n فَقُلْنَا: مَا التَّشْدِيدُ الَّذِي نَزَلَ؟ قَالَ: فِي الدَّيْنِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَوْ قُتِلَ رَجُلٌ فِي سَبِيلِ اللهِ ثُمَّ عَاشَ ثُمَّ قُتِلَ ثُمَّ عَاشَ ثُمَّ قُتِلَ وَعَلَيْهِ دَيْنٌ مَا دَخَلَ الْجَنَّةَ حَتَّى يُقْضَى دَيْنُهُ
Waktu itu Rasulullah n duduk di tempat jenazah-jenazah itu diletakkan. Beliau lalu mengangkat kepalanya ke arah langit lalu menundukkan pandangannya dan segera meletakkan tangannya di dahinya lalu berkata: “Subhanallah, subhanallah, apa yang diturunkan dari tasydid (urusan yang diperberat)?” Maka kami tahu dan kami diam, sehingga bila esok harinya aku bertanya kepada Rasulullah n maka kami katakan: “Tasydid apa yang turun?” Beliau menjawab: “Dalam urusan utang. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang terbunuh di jalan Allah, lalu hidup kembali, lalu terbunuh lagi, lalu hidup lagi lalu terbunuh lagi sementara dia punya utang maka dia tidak akan masuk surga sehingga dilunasi utangnya.” (Hasan, An-Nasa’i, At-Thabarani, dan Al-Hakim dan ini lafadznya dan beliau katakan: Sanadnya shahih, Shahih At-Targhib no. 1804)

Wallahu a’lam bish-shawab.

29 September 2012

Ilmu Haqiqat

oleh alifbraja

 

Ali bin Abi Tholib r.a Karamallahu Wajhah berkata : “Tidak Syah Sholat seseorang melainkan dengan Mengenal akan Allah”. Di dalam perjalanan Ma’rifatullah/Mengenal akan Allah maka di mulai dengan Mengenal akan Diri sendiri (Diri yang sebenar-benarnya Diri). Sebab diri yang dikatakan sebenar-benarnya diri itu, yang memiliki hubungan langsung dengan Tuhannya. Tentu bagi mereka yang sudah paham tentang Ma’rifat telah mengetahui yang mana sih…., diri yang harus di kenal itu.

Akan tetapi dari mereka-mereka yang telah kenal akan diri banyak yang tidak menyadari bahwasannya apa yang telah dilaluinya/diketahuinya itu masih sebatas Kulit dalam pandangan Arifbillah. Kenapa demikian..? karena diri yang banyak diketahui oleh sebagian penuntut Ma’rifatullah itu masih terbatas kepada diri yang ada pada dirinya sendiri. Dan ada juga yang terbatas pada pandangannya kepada orang yang diistimewakan dan diagungkannya. Sedangkan Ma’rifat yang sebenarnya dan sesempurna-sesempurnanya adalah Ma’rifat yang Universal, tidak ada batasanya dan tidak terbatasi oleh diri sendiri saja maupun orang tertentu saja. Setiap orang yang berada di dalam lingkaran Ma’rifat merujuk kepada SumberPengetahuan Allah/Sumber Hakikatullah yang di sebut dengan “Nur Muhammad”, sebagaimana dalil yang telah dipahami oleh mereka-mereka yang ber paham Ma’rifat bahwa “Nur Muhammad” itu awal-awal dari segala sesuatu.

Dengan Nur itu maka terciptalah Seluruh sekalian Alam beserta isinya. Rosulullah Saw bersabda : “Bahwasannya Allah Swt telah menjadikan akan Ruh-ku daripada Zat-Nya sedangkan sekalian Alam beserta isinya terbit dari pada Nur-ku (Nur Muhammad)”. Sabda Rosulullah Saw yang lain : “Sesungguhnya Aku adalah Bapak sekalian Ruh sedangkan Adam adalah Bapak dari sekalian batang tubuh (Jasad)”. Dari dalil tersebut telah menguraikan bahwa Hakikat Nur Muhammad itu tidak hanya ada pada satu diri saja melainkan ada pada setiap yang maujud. Sehingga tak terbatas bagi Nur Muhamad itu, melainkan meliputi sekalian Alam termasuk pada diri sendiri.

Jika seseorang mengenal akan Allah melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada pada dirinya sendiri maka belum lah dikatakan mengenal akan Allah yang meliputi sekalian Alam. Begitu juga jika seseorang mengenal akan Allah melalui Nur-Nya (Nur Muhammad) yang ada hanya pada orang-orang tertentu yang diistimewakannnya dan diagungkannya dari diri Ustadz-ustadznya, Guru-gurunya, Syaikhnya ataupun Mursyidnya maka sesungguhnya ia masih terhijab oleh yang sesuatu yang dipandangnya. Rumus dari pada Ma’rifatulah yang sebenarnya dan Universal itu adalah : “Syuhudul Wahdah Fil Katsroh, Syuhudul Katsroh Fil Wahdah”. (Memandang yang Satu (Nur) ada pada yang banyak, memandang yang banyak ada pada yang Satu).

Saya mau katakan bahwa seseorang yang mengenal Allah sebatas pandanganya kepada dirinya sendiri atau orang tertentu yang diistimewakan dan diagungkannya maka mereka itu mengenal akan Allah masih sebatas Kulit saja dari pemahaman Marifatullah yang sesungguhnya. Jika demikian!, bagaimana mungkin ia akan sampai kepada keikhlasan tertinggi dan bagaimana mungkin ia mengatakan telah bertemu dengan Allah sedangan di halaman Istana Allah saja (DARKATUL QUDRAT) ia belum memasukinya, karena masih terdinding/terhijab pandangannya dari sesuatu selain Allah Swt (HAQQUL HAQIQI). Jika anda benar-benar ingin menjumpai Allah dan bertemu dengan Allah (LIQO’) maka lepaskanlah pandangan hatimu dari sesuatu apapun. Jangan berhenti pada pandangan JAMALULLAH/ KEINDAHAN ALLAH maka niscaya engkau akan mabuk dan takjub di dalamnya.

Pandanganmu akan Hakikat Nur yang ada hanya pada dirimu saja atau yang ada hanya pada orang yang engkau kagumi dan istemawakan saja membuktikan bahwa tanpa engkau sadari engkau telah tenggelam dan mabuk di dalam sifat JAMALULLAH/KEINDAHAN ALLAH. Ketahuilah! Bahwa untuk sampai kepada Allah Swt dengan melalui EMPAT tahapan, yaitu : JALALULLAH (Kebesaran dan Keagungan Allah) JAMALULLAH (Keindahan Allah) QOHARULLAH (Kekerasan/Kepastian Allah) KAMALULLAH (Kesempurna’an Allah) Untuk bisa menaiki tahapan-tahapan tersebut agar sampai kepada KAMALULLAH (KESEMPURNAAN ALLAH), maka wajib baginya Satu Pandangan yaitu Allah Swt tanpa melalui perantara selain Nur Muhammad.

Sedangkan Nur Muhammad itu meliputi setiap yang Maujud termasuk pada diri sendiri. Sehingga yang dikatakan sebenar-benarnya Guru/Mursyid Murobbi adalah Nur Muhammad Rosulullah Saw sebagai pemegang Kunci Pintu Surga/MIFTAHUL JANNAH. Siapapun mereka itu, jika Satu yang di pandang yaitu Allah Swt, melalui Hakikat Nur Muhammad yang meliputi sekalian Alam maka tidak ada sebutan yang pantas baginya selain “ARIFBILLAH”. Jika masih ada pandangan yang terbatas atau dibatasi tentang Hakikat Nur Muhammad itu pada beberapa diri saja maka belumlah pantas baginya menyandang sebutan “ARIFBILLAH” melainkan mereka itu masih di sebut dengan orang yang berada pada “TARIKAT/Perjalanan” menuju kepada Allah. Mursyid Murobbi tidak hanya ada pada satu diri Melainkan Meliputi setiap “Kaun Maujudi” Siapa yang sanggup mematikan Diri Itulah Langkah Awal menuju Diri Sejati

Jangan tertipu dengan apa yang dipandang Karena semuanya hanyalah bayang-bayang Tidak terpisah Al-Haq dengan selayang pandang. Tujulah kepada satu yang ada di dalam pandang. Belumlah dikatakan sebenar-benarnya mengenal. Sebelum engkau mengerti JALAL, JAMAL, QOHAR DAN KAMAL Empat sifat yang maujud dan Nyata pada Nur-Nya. Alif itu menunjukkan akan Zat-Nya Lam Awal adalah ketetapan Sifat-Nya Lam Akhir kenyataan Asma’ Nya Sedangkan Ha adalah bukti dari Af’al-Nya Kesempurnaan Allah dalam keserba meliputannya Pada Muhammad Rosulullah segala rahasianya Sebagai inti dasar dari sekalian alam Menjadi saksi kemaujudannya Alif adalah jati diri Muhammad Kaf itu adalah Ilmu Muhammad Ba’ adalah Kelakuan Muhammad Ro’ itu kehendak pada diri Muhammad Dari situlah Maha Agung Allah Ta’ala Dalam keserba meliputan sekalian Alam Allah dan Muhammad satu Rahasia Menjadi Kalimah ALLAH dan AKBAR Karena itulah Rosulullah bersabda “Agungkanlah dan besarkanlah Kalimah Allah : Allahu Akbar…. Allahu Akbar…… Allahu Akbar Walillahil hamd”.

 

 

25 September 2012

CINTA ALLAH

oleh alifbraja

Ternyata “CINTA ALLAH” Meliputi

Bismillaahirrohmaanirrohiim

“Maka nikmat Tuhan kamu yang mana lagikah yang kamu dustakan?”.

Surah Arrahman

Ayat :

(13,16,18,21,23,25,28,30,32,34,36,38,40,42,45,47,49,51,53,55,57,59,61,63,65,67,69,71,73,75,77)

 

Segala Puji hanya bagi Allah, Penguasa dari segala penguasa yang menguasai Raja sekalian raja-raja dan tidak ada sesuatu kekuasaan apapun melainkan Hanya Ia lah yang berkuasa atas tiap-tiap segala sesuatu serta meliputi seluruh sekalian Alam.

Sholawat dan Salam yang tak terhingga dan tak terbatas serta tiada bandingannya atas Kekasih Pilihan yang menjadi panutan bagi orang-orang yang beriman, Sayyidii wa Mawla Al-Musthofa Muhammad Rosulillah Saw sebanyak bilangan Makhluk yang diciptakan, seluas samudra yang tiada bertepi, di setiap detik waktu dan zaman, di setip tarikan nafas, detakkan jantung, kedipan mata, darah mengalir dan disetiap keserba meliputan akan sesuatu maka sebanyak itu pulalah terhatur Shalawat dan salam kepada Beliau beserta Para Keluarga Ahlul Bait yang tangisannya adalah mutiara , sedihnya adalah cinta, rintihannya adalah do’a. Tidak lupa pula Rahmat dan Berkah Allah senantiasa tercurah dan memancar kepada Para Sahabat-sahabat Rosulullah Saw yang menjadi kawan dalam suka dan duka, bersama berjuang dalam menegakkan Kalimah Allah dimuka Bumi dan bersama-sama bahu membahu untuk menyebarkan Agama Suci yaitu Islam Indallah.

 

Amma ba’du.

Saudara-saudaraku sekalian yang di Rahmati Allah Swt………………………

Sungguh, tiada kebahagiaan yang sangat berharga dan teristimewa selain mendapatkan dan merasakan Cinta Kasih Allah Swt. Seluruh umat Islam mendambakan dan merindukannya, karena kerinduan yang tertanam di jiwa itulah maka mereka-mereka yang berada di dalam Islam itu mencari Hakikat/Kebenaran untuk mendapatkan dan merasakan Cinta Kasih Allah Swt dengan beragam macam jalan (Tarikah). Lalu dengan banyaknya macam jalan yang di tempuh, menjadikan Islam itu bergolong-golongan (Aliran), dan mereka yang berada dalam masing-masing golongan itu lalu menjadi berbeda paham/pendapat satu dengan yang lainnya.

Maha Suci Allah, ketahuilah wahai saudara-saudaraku……………….

Sungguh, pada Hakikatnya perbedaan-perbedaan itu semuanya terbit dari pada Kerinduan yang mendalam dari dalam diri untuk bisa mendapatkan dan merasakan Cinta Kasih Allah Swt, akan tetapi kita semuanya tidak menyadari bahwa Kerinduan akan Cinta Allah lah yang membuat kita jadi berbeda-beda jalan.

Itu semua disebabkan tiadanya kesadaran jiwa tentang Hakikat Cinta Allah akan tiap-tiap sesuatu bahkan juga pada diri, maka kita semuanya menjadi saling tuding menuding, cela mencela, caci mencaci, hasut menghasut, iri dengki, salah menyalahkan dll, mempertahankan ke-Ego-an dan pendapat masing-masing karena merasa dirinya/golongannya/alirannya/mahzabnya/tarikatnya yang paling benar di dalam menuju kepada Allah Swt.

Ketahuilah!, wahai saudara-saudaraku…………………

Sesungguhnya memperturutkan Ego yang ada pada diri adalah perangkap Hawa Nafsu yang membawa kepada Mudhorat baik pada diri sendiri maupun pada orang lain. Apakah tuding menuding, cela mencela, caci mencaci, hasut menghasut dll itu tidak merugikan? Dan apakah itu bukan Mudhorat?. Marilah kita merenungkannya bersama-sama.

Segala Puji bagi Allah yang telah mencipta akan sesuatu itu di dalam Cinta Kasih-Nya. Dengan Cinta-Nya lah segala sesuatu itu maujud dan dengan Cinta-Nya lah yang maujud itu Hidup dan dengan Cinta-Nyalah yang Hidup itu bergerak dsb.

Sadarilah!, wahai saudara-saudaraku………………………..

Apa saja yang ada pada diri kita mulai dari rambut, kulit darah, daging, urat, tulang, otak, sum-sum, penglihatan, pendengaran, penciuman dan rasa yang merasakan itu semua adalah Nikmat Karunia Allah. Dengan nikmat-nikmat itulah yang ada pada diri kita menunjukan bukti bahwa Allah Cinta akan hamba-Nya meliputi diri zahir dan batin.

Mengapa kita tidak menyadarinya bahwa cinta itu Anugrah Allah yang langsung datang dari sisi Nya tanpa melalui proses belajar. Cinta itu tumbuh dengan sendirinya baik anda suka maupun tidak suka, cinta itu akan bersemi di relung kalbu membuat perasaan hati tidak menentu. Cinta itu bagaikan bom waktu yang apabila jatuh ke hati lama kelamaan membuat hati selalu rindu, jika kerinduan sudah melekat pada hati seseorang maka segala sesuatu tidak berharga lagi dimatanya. Yang selalu terbayang dan terkenang hanyalah siapa yang dicintainya bahkan ia ingin menyatu dengan siapa yang di cintainya. Apalah artinya harta yang banyak, uang yang banyak, mobil mewah, rumah bertingkat, istri yang cantik kalau dihati tidak menemukan cinta yang sejati yaitu Allah SWT.

Ketahuilah! cinta itu diturunkan Allah kepada hati setiap makhluk Nya khususnya manusia membuktikan bahwa Allah benar–benar sangat mencintai dan menyayanginya. Allah berfirman :

“Katakanlah : “Kepunyaan siapakah apa yang ada di langit dan di bumi?.” Katakanlah : “Kepunyaan Allah,” Dia telah menetapkan atas Diri Nya Kasih Sayang dan Dia sungguh akan menghimpun kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya. Dan orang–orang yang merugikan dirinya mereka itu tidak ber Iman”. (QS, Al-An’aam : 12)

Dan Nabi Isa a.s. pernah mengatakan di dalam do’anya, yang dicantumkan di dalam Alqur’anulkarriim :

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS, Al-Maa’idah : 118)

Di dalam pembukaan surah Al–Fatihah telah dijelaskan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Lalu kenapa kita masih tidak menyadarinya, bahwa karena Kasih Sayang Allah lah semuanya ada. Tujuh lapis langit, tujuh lapis bumi dan apa–apa yang ada di antara keduanya semua sebagai bukti Kasih Sayang Allah SWT.

Jadi kesimpulannya kita ini (saya, anda, mereka) adalah manusia yang beruntung yang mendapatkan cinta Allah, Kasih Sayang Allah, Pengertian Allah dsb. Itulah makna dari kalimah Allah yaitu “Bismillaahirrohmaanirrohiim”. (Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang).

Allah SWT menciptakan segala sesuatu tidak ada yang sia2, pasti ada makna dan Hikmah di balik penciptaan itu.

Allah berfirman:

“(Yaitu)Orang-orang yang mengigat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi(seraya berkata):”Ya Tuhan kami,tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka”.(Qs,Ali’imran:191)

.

Dari firman Allah tersebut menjelaskan bahwa penciptaan Alam berserta isinya mengandung Makna Dan Hikmah bagi mereka yang au merenungkannya. Tentu ada suatu rahasia, di mana kalau kita mengerti pasti tidak akan mensia-siakan hidup ini.

Pada awalnya hidup ini adalah suci karena datang dari pada Allah yang maha suci,Rasulullah pernah bersabda:yang artinya

“Setiap manusia terlahir dalam keadaan fitrah(suci),dan kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi,Kristen atau Majusi”

.

Sungguh Allah telah menciptakan jiwa itu di dalam kefitrahannya, yang mana kefitrahannya itu bisa memilih mana jalan kebaikan dan mana jalan kebatilan. Allah telah mengilhamkan kepada jiwa2 yang fitrah itu berupa jalan2 kefasiqan dan jalan2 ketaqwaan. akan tetapi semuah kembali kepada diri sendiri,mau mengambil kefasiqan atau ketaqwaan. Dan sebaik2 pakaian adalah Taqwa.

Mereka yang bisa merasakan Ilham Allah pada hati nurani di jiwanya, maka mereka itulah yang men dapat keberuntungan. Karena hidupnya akan semakin menjadi baik dan terarah pada jalan2 ketaqwaan yang di ridhoi Allah SWT.

Sudah ketetapan Allah bahwa bagi sispa saja yang mau mendapatkannya kebahagiaan dunia akhirat ia harus kembali kepada kefitrahaan seperti awal dia terlahir. Untuk itu ia harus mengerti akan Hakikat Kehidupannya itu dengan berlandaskan keImanan dan keYakinan kepada Allah SWT. Apabila hal tersebut sudah dijalani maka akan di dapatkan ketenangan jiwa serta fikiran berangsur-angsur akan semakin jernih.Jiwa yang tenang dan tentram adalah suatu sarana untuk menuju kepada sang pencipta yaitu Allah SWT.

Orang yang mengerti akan dirinya sendiri akan lebih mencintai Allah Tuhannya dari segala sesuatu selain Allah. Itulah orang–orang yang akan mendapatkan ketenangan serta ketentraman jiwa dan fikirannya akan menjadi jernih dalam berfikir serta arif bijaksana tutur katanya, menjadi mulia budi pekertinya. Mereka itulah yang sejalan dengan apa yang di ajarkan oleh Rasulullah SAW.

Sadarilah! Bahwa manusia hidup di dunia ini hanya satu kali, jika kita tidak mengenal dan tidak mengerti akan diri kita sendiri serta tidak bisa menempatkan diri kita pada rel yang benar maka kerugianlah yang akan kita dapatkan.

Wahai Saudara-saudaraku…………………

Bersatulah dalam Cinta Kasih Allah, dan tebarkan lah Rahmat kepada siapa saja, kokohkan Lahiriahmu dengan Islam Indallah, nyatakan bahwa yang ada hanya Islam dan Islam bukan Golongan melainkan Islam adalah Agama yang Suci yang membimbing Manusia kepada Jalan yang lurus. Mantapkan Jiwamu dengan Aqidah ke Imanan dan Ketauhidan, hanya dengan Aqidah, ke Imanan dan Ketauhidan itulah engkau akan merdeka dari pengaruh ke-Ego-an dan merasa benar sendiri yang menyebabkan perpecahan Umat. Pandanglah di dalam penyaksian Hatimu dengan Ihsan, bahwa tidak ada yang ku pandang akan sesuatu apapun di situ terdapat Ilmu Allah Swt. Sehingga jangan lah engkau berburuk sangka tatkala melihat sesuatu, karena jika engkau berburuk sangka maka sama halnya engkau berburuk sangka kepada Allah. Selalulah dan biasakanlah untuk berbaik sangka akan apa saja yang terjadi baik pada dirimu maupun yang di luar dirimu maka sama halnya engkau berbaik sangka kepada Allah.

 

“Tidak bergerak sesuatu itu sekecil apapun juga, melainkan semuanya dengan Izin Allah”.

18 September 2012

Takbir Muthlaq Dan Muqayyad Pada Bulan Dzulhijjah

oleh alifbraja

Takbir Muthlaq (Tidak Terikat) dan Takbir Muqayyad (Terikat) Pada Bulan Dzulhijjah Di antara ibadah yang disyari’atkan dan dianjurkan untuk diperbanyak memasuki 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah Takbir. Ibadah ini masih terus berlanjut hingga selesainya hari-hari Tasyriq. Ada dua jenis takbir yang disyariatkan pada hari-hari tersebut, yang disebut dengan Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad. Bagaimana itu? Takbir Muthlaq (Tidak Terikat) dan Takbir Muqayyad (Terikat)

Pada Bulan Dzulhijjah

Di antara ibadah yang disyari’atkan dan dianjurkan untuk diperbanyak memasuki 10 hari pertama bulan Dzulhijjah adalah Takbir. Ibadah ini masih terus berlanjut hingga selesainya hari-hari Tasyriq. Ada dua jenis takbir yang disyariatkan pada hari-hari tersebut, yang disebut dengan Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad. Bagaimana itu? Untuk mendapatkan keterangan yang jelas berdasarkan bimbingan ilmu yang benar, kami turunkan secara berseri keterangan para ‘ulama besar dalam masalah ini. Keterangan Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` (Komisi Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa) [1]

Pertanyaan : Bagaimana pendapat anda tentang Takbir Muthlaq pada ‘Idul Adh-ha saja? Apakah terus berlanjut hingga akhir hari ke-13 Dzulhijjah ataukah tidak? Apakah ada perbedaan antara orang yang sedang berhaji dengan yang tidak sedang berhaji? Jawab : Takbir Mutlaq terus berlanjut hingga penghujung hari terakhir hari-hari tasyriq (yakni akhir tanggal 13 Dzulhijjah). Tidak ada perbedaan dalam hal ini antara orang yang sedang menunaikan ibadah haji dengan yang tidak. Berdasarkan firman Allah :

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (Al-Hajj : 28)

dan firman Allah Ta’ala :

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

Dan sebutlah nama Allah pada hari-hari yang tertentu. (Al-Baqarah : 203)

hari-hari yang telah ditentukan adalah 10 hari pertama Dzulhijjah. Sedangkan hari-hari yang tertentu adalah hari-hari Tasyriq. Hal ini dikatakan oleh shahabat Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, sebagaimana disebutkan oleh Al-Bukhari dari beliau. Al-Bukhari juga berkata, “Dulu shahabat Ibnu ‘Umar dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum keluar ke pasar pada 10 hari pertama Dzulhijjah seraya bertakbir, dan umat manusia pun bertakbir karena takbir beliau berdua. ”

Dan dalam Shahih Al-Bukhari secara mu’allaq, “Bahwa dulu Ibnu ‘Umar bertakbir di Mina pada hari-hari tersebut, (juga) setiap selesai shalat wajib, ketika berada di atas pembaringannya, ketika berada di tendanya, ketika duduk, maupun ketika berjalan, pada seluruh hari-hari tersebut. ”

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Fatwa no. 1185 Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Wakil Ketua : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi Anggota : ‘Abdullah bin Ghudayyan Anggota : ‘Abdullah bin Mani’

* * *

Pertanyaan : Saya mendengar sebagian orang bertakbir pada hari-hari Tasyriq, mereka bertakbir setiap selesai shalat hingga waktu ‘Ashr Tasyriq hari ke-3 (yakni tanggal 13 Dzulhijjah). Apakah itu benar atau tidak? Jawab : Disyari’atkan pada hari Raya ‘Idul Adh-ha Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad. Adapun Takbir Muthlaq dilakukan pada semua waktu (setiap saat) sejak masuknya bulan Dzulhijjah sampai akhir hari Tasyriq. Adapun Takbir Muqayyad, dilakukan setiap selesai shalat fardhu, dimulai sejak shalat shubuh hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat ‘Ashr hari Tasyriq yang terakhir.

Disyari’atkannya takbir tersebut telah ditunjukkan oleh ijma’ dan perbuatan para shahabat radhiyallahu ‘anhum.

وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

Fatwa no. 10. 777 Al-Lajnah Ad-Da`imah lil Buhuts Al-‘Ilmiyyah wa Al-Ifta` Ketua : ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz Wakil Ketua : ‘Abdurrazzaq ‘Afifi Anggota : ‘Abdullah bin Ghudayyan

[1] Adalah sebuah lembaga di Kerajaan Saudi ‘Arabia yang mengemban amanah melakukan riset ilmiah dan fatwa-fatwa berdasarkan Al-Qur`an dan As-Sunnah berdasarkan manhaj para salafush shalih. Duduk di majelis yang mulia ini adalah para ‘ulama besar Ahlus Sunnah, yang memiliki kapasitas keilmuan, ketaqwaan, dan keshalihan yang diterima dan dipercaya oleh umat. Antara lain, Asy-Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah (beliau ketika itu sebagai ketua), Asy-Syaikh ‘Abdurrazzaq ‘Afifi, Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Alu Asy-Syaikh (beliau sebagai ketua sekarang), Asy-Syaikh Shalih Al-Fauzan, Asy-Syaikh ‘Abdullah bin Ghudayyan, dan masih sangat banyak lagi. Komisi Tetap ini telah banyak fatwa-fatwanya dalam menjawab berbagai problem kentemporer dari berbagai belahan dunia. Fatwa-fatwa mereka sangat dicari dan dibutuhkan oleh umat, karena bobot dan kualitas ilmiah yang sangat tinggi, di samping bobot dan kualitas para ‘ulama yang duduk padanya. Ciri khas yang sangat menonjol adalah komitmen yang tinggi terhadap dalil-dalil Al-Qur`an dan As-Sunnah dengan manhaj para salafush shalih dari kalangan para shahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in, serta para ‘ulama Ahlus sunnah setelahnya. Tidak ada keterikatan – apalagi fanatik – terhadap madzhab tertentu. Hal-hal tersebut di antara yang membuat majelis ini tidak lagi hanya milik Kerajaan Saudi ‘Arabia saja, tapi seakan menjadi milik dunia Islam international. Untuk mengetahui lebih jauh tentang komisi fatwa ini silakan kunjungi www. alifta. com

(Sumber www. assalafy. org/mahad/?p=400#more-400)

Samahatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah Kepada Fadhilatusy Syaikh Al-Mukarram ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz hafizhahullah setelah penghormatan dan pemuliaan :

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah senantiasa menjaga kami dan anda di atas nikmat Islam. Diiringi dengan pertanyaan tentang kondisi kesehatan anda … semoga Allah tetap menjaga anda terus berada di atas ketaatan kepada-Nya. Kami memohon fatwa tentang Takbir Muthlaq pada hari Raya ‘Idul ‘Adh-ha. Apakah takbir setiap selesai shalat lima waktu termasuk Takbir Muthlaq ataukah tidak? Apakah itu sunnah, mustahab (dianjurkan), ataukah bid’ah? Karena telah terjadi banyak perdebatan dalam masalah ini.

* * *

Dari ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz kepada Saudara yang Mulia M-‘A-M waffaqahullah – amin

سلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Surat anda tertanggal 24/2/1387 H telah sampai, washshalakumullah bihudahu, isi kandungannya berupa pertanyaan adalah telah diketahui. Jawaban atas pertanyaan anda adalah sebagai berikut :

الحمد لله وصلى الله وسلم على رسول الله وعلى آله وأصحابه ومن اهتدى بهداه Takbir pada ‘Idul ‘Adh-ha merupakan ibadah yang disyariatkan sejak awal bulan sampai akhir hari ke-13 bulan Dzulhijjah. Berdasarkan firman Allah :

وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ فِي أَيَّامٍ مَعْلُومَاتٍ

dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (Al-Hajj : 28)

yaitu 10 hari pertama Dzulhijjah

dan firman Allah Ta’ala :

وَاذْكُرُوا اللَّهَ فِي أَيَّامٍ مَعْدُودَاتٍ

Dan sebutlah nama Allah pada hari-hari yang tertentu. (Al-Baqarah : 203)

Yaitu hari-hari Tasyriq. Juga berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

« أيام التشريق أيام أكل وشرب وذكر الله عز وجل »

Hari-hari Tasyriq adalah hari-hari untuk menikmati makan dan minum, serta hari-hari untuk berdzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya. Al-Bukhari menyebutkan dalam kitab Shahih-nya secara mu’allaq dari shahabat Ibnu ‘Umar dan shahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhum,

« أنهما كانا يخرجان إلى السوق أيام العشر فيكبران ويكبر الناس بتكبيرهما »

“Bahwa keduanya dulu keluar ke pasar pada 10 hari pertama (Dzulhijjah) dan bertakbir. Maka umat pun bertakbir dengan takbir kedua shahabat tersebut. ”

Dulu ‘Umar bin Al-Khaththab dan anaknya, ‘Abdullah radhiyallahu ‘anhuma bertakbir di hari-hari Mina di masjid maupun di kemah, keduanya mengeraskan suaranya sehingga Mina bergetar dengan takbir.

Diriwayatkan juga dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan sejumlah shahabat radhiyallahu ‘anhum takbir setiap selesai shalat lima waktu mulai sejak shalat Shubuh hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah) hingga shalat ‘Ashr hari ke-13 bulan Dzulhijjah. Ini berlaku bagi orang yang tidak sedang berhaji. Adapun orang yang sedang berhaji maka dalam kondisi ihramnya dia menyibukkan diri dengan mengucapkan talbiyah sampai melempar jumrah ‘aqabah pada hari Nahr (hari ke-10 Dzulhijjah). Adapun setelah itu, dia menyibukkan diri dengan takbir. Ia bertakbir pada lemparan pertama ketika melempar jumrah. Jika bertakbir sambir bertalbiyah maka tidak mengapa. Berdasarkan perkataan Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu :

« كان يلبي الملبي يوم عرفة فلا ينكر عليه، ويكبر المكبر فلا ينكر عليه »

“Dulu seorang bertalbiyah pada hari ‘Arafah, tidak ada yang mengingkarinya. Dan seorang bertakbir, tidak ada yang mengingkarinya. ” (HR. Al-Bukhari 970)

Namun yang afdhal (utama) bagi seorang yang berihram adalah mengucapkan talbiyah. Adapun bagi seorang yang tidak berihram yang afdhal adalah bertakbir pada hari-hari tersebut.

Dengan demikian, kita tahu bahwa Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad – menurut pendapat ‘ulama yang paling benar – bertemu pada lima hari, yaitu : Hari ‘Arafah (9 Dzulhijjah), Hari Nahr (10 Dzulhijjah), dan hari-hari Tasyriq (11,12,13 Dzulhijjah). Adapun hari ke-8 dan sebelumnya hingga awal bulan, takbir padanya adalah Takbir Muthlaq, tidak ada muqayyad padanya berdasarkan ayat-ayat dan riwayat-riwayat di atas.

Dalam kitab Musnad, dari shahabat Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa beliau bersabda :

« ما من أيام أعظم عند الله ولا أحب إليه العمل فيهن من هذه الأيام العشر فأكثروا فيهن من التهليل والتكبير والتحميد » Tidak ada hari yang lebih mulia di sisi Allah dan tidak ada amalan yang lebih dicintai oleh-Nya pada hari-hari tersebut, dibanding 10 hari pertama (Dzulhijjah) tersebut. Maka perbanyaklah padanya tahlil, takbir, dan tahmid. (HR. Ahmad)

* * *

Fadhilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin rahimahullah

1. Takbir Muthlaq terdapat pada dua tempat :

Pertama : Malam ‘Idul Fithri, sejak terbenam Matahari sampai selesainya shalat ‘Id Kedua : 10 Dzulhijjah, sejak masuk bulan Dzulhijjah sampai waktu fajar Hari ‘Arafah, dan pendapat yang benar masih terus berlanjut hingga hari terakhir hari-hari Tasyriq (yakni hari ke-13). [1]

2. Takbir Muqayyad sejak selesai shalat ‘Idul Adh-ha sampai waktu ‘Ashr hari Tasyriq yang terakhir (hari ke-13)

3. Takbir Gabungan, antara Muthlaq dan Muqayyad, sejak terbit fajar (waktu Shubuh) hari ‘Arafah sampai selesai shalat ‘Idul Adh-ha, dan pendapat yang benar terus berlanjut sampai terbenam Matahari hari Tasyriq paling terakhir. [2]

Perbedaan antara Takbir Muthlaq dan Takbir Muqayyad (terikat) : Takbir Muthlaq disyari’atkan setiap waktu tidak hanya setiap selesai shalat fardhu. Jadi pensyari’atannya bersifat mutlak, oleh karena itu dinamakan Takbir Muthlaq. Adapun Takbir Muqayyad, disyari’atkan hanya setiap selesai shalat fardhu, (dengan catatan, terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ‘ulama tentang jenis shalat yang disyari’atkan setelahnya takbir). Jadi pensyari’atannya terikat dengan shalat, oleh karena itu dinamakan dengan Takbir Muqayyad (terikat). Wallahu a’lam,

[1] Yakni terdapat perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama tentang batas akhir Takbir Muthlaq. Sebagian ‘ulama menyatakan berakhir sampai waktu fajar hari ‘Arafah. Sebagian yang lain berpendapat masih terus berlanjut, baru berakhir pada akhir hari ke-13. Pendapat kedua inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah. (pent)

[2] Yakni terdapat perbedaan pendapat di kalangan ‘ulama tentang batas akhir Takbir Gabungan antara Muthlaq dan Muqayyad. Sebagian ‘ulama menyatakan berakhir sampai selesainya shalat ‘Idul Adh-ha. Sebagian yang lain berpendapat masih terus berlanjut, baru berakhir pada akhir hari ke-13. Pendapat kedua inilah yang dikuatkan oleh Asy-Syaikh Al-‘Utsaimin rahimahullah.

17 September 2012

dosa besar menurut Al-quran dan hadis

oleh alifbraja

Kriteria dosa besar menurut Al-quran dan hadis

Di dalam ajaran Islam, dikenal adanya dosa besar dan dosa kecil.
Namun tidak didapati rincian dalam al-Qur’an dan Hadis, dua sumber
agama Islam, tentang kesalahan apa saja yang dikategorikan dosa besar
dan dosa kecil.

Dalam al-Qur’an, misalnya surat al-Nisa’ ayat 37, dan surat al-Najm
ayat 32, disebut kata kaba’ir dan kaba’ir al-ism. Menurut Muhammad
Fuad Abd al-Baqi, hanya 3 ayat dalam al-Qur’an yang mengandung kata
kaba’ir atau kaba’ir al-ism. Dalam ayat-ayat itu, yang disebut
kaba’ir tidak jelas. Kata kaba’ir atau kaba’ir al-ism, yang biasanya
diterjemahkan dengan dosa besar dan muncul dalam al-Qur’an sebanyak 3
kali itu, semuanya tidak menyebut kesalahan apa saja yang disebut
dosa besar.

Hadis, yang fungsinya antara lain menjelaskan yang masih umum dalam
al-Qur’an, tidak banyak membantu kita untuk dapat memahami kesalahan
apa saja yang disebut dosa besar. Dalam Hadis, justeru yang terungkap
hanya dosa-dosa yang paling besar diantara dosa-dosa besar (akbar al-
kaba’ir), yaitu syirik, durhaka kepada kedua orang tua, saksi palsu,
mundur dari medan perang melawan orang kafir, dan sihir. Jika ada
dosa paling besar, tentu ada dosa besar dan dosa kecil. Dengan
demikian, perincian dosa-dosa besar belum jelas adanya. Bahkan,
ungkapan-ungkapan dalam al-Qur’an atau Hadis yang mengacu kepada arti
dosa-dosa besar belum jelas. Oleh karena itu, tulisan ini mencoba
mengungkap kriteria-keriteria dosa besar, baik melalui sumber pertama
(al-Qur’an) maupun sumber kedua (Hadis) Rasulullah, dengan cara
menelusuri istilah atau ungkapan yang digunakan dalam dua sumber
ajaran Islam tersebut.

Sebelum dicoba diuraikan ungkapan-ungkapan yang mengacu kepada arti
dosa besar dalam al-Qur’an dan Hadis, terlebih dahulu dikemukakan
beberapa ungkapan yang biasa diterjemahkan dengan arti dosa dalam
bahasa Indonesia.

Istilah-Istilah Dosa Dalam Al-Qur’an

Dalam al-Qur’an, terdapat sejumlah istilah atau kata yang biasa
diterjemahkan dengan dosa dalam bahasa Indonesia. Istilah-istilah
tersebut ,misalnya: al-itsm, al-zanb, al-khith’u, al -sayyi’at dan al-
hub.

Kata al-itsm dengan berbagai bentuk kata jadiannya, menurut
perhitungan Muhammad Fuad ‘Abd al-Baqi, muncul sebanyak 44 kali dalam
al-Qur’an. Menurut Lewis Ma’luf, kata al-itsm, berarti ‘amila ma la
yahillu (mengerjakan sesuatu yang tidak halal atau tidak dibolehkan
agama). Makna kata al-itsm, seperti diungkap Lewis Ma’luf, umum
sekali, yaitu mencakup semua amal yang dilarang agama. Padahal al-
Qur’an, ketika menunjuk hal-hal yang dilarang agama, misalnya zina,
mengungkapnya dengan kata fahisyat. Jadi, tidak selamanya hal-hal
yang dilarang agama disebut al-itsm oleh al-Qur’an. Berbeda dengan
Lewis Ma’luf, Al-Raghib al-Asfahani, salah seorang pakar bahasa al-
Qur’an, mengemukakan bahwa kata al-itsm berarti sebutan bagi
perbuatan-perbuatan yang menghambat tercapainya pahala. Dengan kata
lain, al-itsm adalah sebutan bagi tindakan yang menghambat
terwujudnya kebaikan.

Berbeda dengan Lewis Ma’luf dan al-Asfahani, al-Maraghi (penulis
tafsir al-Maraghi), mengatakan bahwa al-itsm sama dengan al-zanb.
Sesuatu perkataan atau tindakan baru dapat disebut al-itsm, demikian
al-Maraghi, bila mendatangkan bahaya yang menimpa jasmani, jiwa,
akal, dan harta benda (materi). Ibn Mandhur, penulis kamus Lisan al-
Arab, lebih khusus lagi mengartikan al-itsm dengan al-khamar. Alasan
yang dikemukakan Ibn Mandhur ialah bait syair Arab yang berbunyi
“syaribtu al-itsm hatta dlalla ‘aqliy, kazalika al-itsm tazhabu bi al-
‘uqul” (saya meminum al-ism, “al-khamar”, maka ingatanku hilang.
Memang khamar dapat menghilangkan ingatan).

Dalam al-Qur’an, terdapat dua tindakan yang dapat dikategorikan al-
itsm, yakni meminum khamar dan bermain judi, seperti yang terdapat
dalam surat al-Baqarah ayat 219. Memang, mengartikan al-itsm dengan
sesuatu yang menghambat perbuatan baik, mendatangkan bahaya, dan
bahkan secara eksplisit sama dengan khamar, seperti yang dilakukan
oleh ibn Mandhur, tidak jauh dari hakikat kata al-itsm, seperti yang
ditunjukkan oleh al-Qur’an. Seseorang yang meminum khamar dan bermain
judi, misalnya, dapat mengganggu aktifitas yang positif, dapat
membahayakan kesehatan jasmani dan rohani,dan dapat menimbulkan
perbuatan-perbuatan negatif lainnya.

Dari sejumlah kata al-itsm yang muncul dalam al-Qur’an, terlihat
bahwa kata al-ism digunakan untuk menyebut pelanggaran yang memiliki
efek negatif dalam kehidupan seseorang dan masyarakat.

Kata al-zanb dengan berbagai bentuk kata jadiannya disebut sebanyak
48 kali dalam al-Qur’an. Menurut Lewis Ma’luf, kata al-zanb berarti
tabi’ahu falam yufarriq israh (menyertai dan tidak pernah berpisah).
Kata al-zanab yang dirangkai dengan binatang, misalnya zanab al-
hayawan berarti ekor binatang. Ekor binatang biasanya terletak di
belakang, dekat dengan tempat keluarnya kotoran. Ekor, kalau begitu,
menggambarkan keterbelakangan atau kehinaan. Ungkapan zanab al-qawm
berarti masyarakat terkebelakang. Dengan demikian dapat dipahami
bahwa ungkapan al-zanb yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia
dengan dosa, ditujukan kepada perbuatan-perbuatan yang mengandung
nilai kehinaan dan keterbelakangan, seperti letak ekor binatang yang
dekat dengan tempat keluarnya kotoran.

Diantara 48 kata al-zanb yang muncul dalam al-Qur’an adalah terdapat
dalam surat Ali Imran ayat 135. Dalam ayat ini, Allah menjelaskan
bahwa orang-orang yang meminta ampun dari dosa (al-zanb), karena
mengerjakan fahisyat, maka Allah akan mengampuni dosa mereka. Kata
fahisyat berarti al-zina atau ma yusytaddu qubhuh min al-zunub (dosa
yang paling jelek atau paling besar). Dengan demikian, dapat dipahami
bahwa kata al-zanb mengacu juga kepada perbuatan dosa yang paling
jelek termasuk zina. Apalagi, diantara ulama tafsir, misalnya al-
Maraghi, memang mengartikan kata fahisyat dalam ayat itu dengan arti
zina.

Tindakan lain yang dikatakan al-zanb oleh al-Qur’an adalah mengubur
hidup-hidup anak perempuan, seperti yang dilakukan masyarakat
Jahiliyah. Tindakan mereka disebutkan dalam surat al-Takwir ayat 9.
Perbuatan masyarakat Jahiliyah seperti diungkap dalam ayat itu
termasuk perbuatan keji, sebab tindakan itu tidak mengenal
perikemanusiaan sama sekali. Dalam Islam, merusak tubuh manusia yang
telah meninggal, jika tidak ada kepentingan keilmuan atau kepentingan
lain, diketegorikan dosa, apalagi mengubur hidup-hidup manusia.

Mendustakan ayat-ayat Allah diungkap pula dengan kata al-zanb,
seperti terdapat dalam surat al-Anfal ayat 54. Hal ini, menurut
pandangan Allah, karena dosa mendustakan ayat-ayat Allah termasuk
dosa paling besar. Dalam ajaran Islam, puncak ajaran agama adalah
tauhid (mengesakan Allah). Oleh karena ajaran tauhid paling penting
dalam ajaran Islam, maka orang-orang yang menganggap Allah memiliki
anak, seperti dalam surat al-Maidah ayat 18, dikatakan sebagai orang
berdosa besar.

Dari sekian banyak ayat yang mengadung kata al-zanb dalam al-Qur’an,
dapat dipahami bahwa kata al-zanb digunakan untuk menyebut dosa
terhadap Allah dan dosa terhadap sesama manusia. Kebanyakan kata al-
zanb muncul dalam bentuk yang sangat umum, sehingga tidak dapat
diketahui apakah dosa yang ditunjukkannya termasuk dosa besar atau
dosa kecil. Untuk mengetahui besar kecilnya dosa yang ditunjuk oleh
kata al-zanb harus didukung oleh petunjuk lain yang terdapat dalam
konteks ayat yang memuat kata al-zanb itu, atau petunjuk dari Hadis
Rasulullah.

Al-khith’u juga termasuk salah satu kata yang sering diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia dengan arti dosa. Bentuk kata kerja madli
(kata kerja lampau) dari kata al-khith’u ialah khati’a. Penggunaan
kata khathi’a fi dinih berarti salaka sabila khatha’in amidan aw
ghaira amidin (mengikuti jalan yang salah, baik disengaja maupun
tidak disengaja). Nampaknya, kata al-khith’u ini dianggap sama dengan
kata al-zanb oleh Lewis Ma’luf. Namun, Lewis menambahkan pendapat
lain bahwa al-khith’u khusus digunakan untuk mengungkap kesalahan
yang tidak disengaja.

Berbeda dengan Lewis, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-
khith’u dengan arti melenceng dari arah yang sebenarnya. Pengertian
melenceng seperti diungkap al-Asfahani ini, memiliki beberapa
kemungkinan. Pertama, niat mengerjakan sesuatu yang salah, kemudian
benar-benar dikerjakan. Kesalahan seperti ini dinamakan al-khith’u al-
tamm (betul-betul salah). Kedua, niat mengerjakan sesuatu yang boleh
dikerjakan tetapi yang dikerjakan justru sebaliknya. Dengan kata
lain, benar niatnya, tetapi tindakannya salah. Ketiga, niat
mengerjakan yang tidak boleh dikerjakan, tetapi yang dilakukan
sebaliknya, yaitu mengerjakan perbuatan yang boleh dilakukan. Yang
disebut ketiga ini, salah niatnya tetapi benar tindakannya. Kata al-
khith’u dalam al-Qur’an, menurut perhitungan Muhammad Fu’ad Abd al-
Baqi, muncul sebanyak 22 kali. Diantara kata al-khith’u yang muncul
dalam al-Qur’an ialah dalam surat al-Isra’ ayat 31. Kata al-khith’u
dalam ayat ini dirangkai dengan kata kabiran (besar). Kata kabiran
adalah sifat dari kata al-khith’u, sehingga rangkaian dua kata yang
disebut terakhir ini berarti dosa besar. Dengan demikian, kata al-
khith’u dalam ayat ini dapat diterjemahkan sebagai dosa besar jika
dirangkai dengan kata kabiran.

Dari sekian banyak ayat al-Qur’an yang mengandung kata al-khith’u
dapat dipahami bahwa kata ini digunakan untuk menyebut dosa yang
cukup bervariasi, misalnya dosa terhadap Allah, dan dosa terhadap
sesama manusia. Juga dapat dipahami bahwa al-Qur’an, ketika
menggunakan kata al-khith’u atau al-khathiat, tidak menjelaskan
secara tersurat, apakah dosa yang ditunjukkannya dosa besar atau dosa
kecil. Untuk membedakan dosa yang ditunjukkannya, dibutuhkan petunjuk
lain, seperti adanya kata kabiran dalam ayat 31 surat al-isyra’ yang
dikutip di depan.

Seperti disebut di depan, kata al-sayyi’at juga termasuk kata yang
diterjemahkan dalam bahasa Indoenesia dengan arti dosa. Kata ini
dengan segenap kata jadiannya, menurut perhitungan Muhammad Fu’ad
‘Abd al-Baqi, muncul sebanyak 167 kali. Seorang pakar bahasa al-
Qur’an, al-Raghib al-Asfahani, mengartikan kata al-sayyi’at atau al-
su’ dengan kullu ma yaghummu al-insan min al-umur al-dunyawiyyat wa
al-ukhrawiyyat wa min al-ahwal al-nafsiyyat wa al-badaniyyat wa al-
kharijat min fawat malin wa jahin wa faqd hamim (segala sesuatu yang
dapat menyusahkan manusia, baik masalah keduniaan maupun masalah
keakhiratan, atau baik masalah yang terkait dengan kejiwaan atau
jasmani, yang diakibatkan oleh hilangnya harta benda, kedudukan dan
meninggalnya orang-orang yang disayangi).

Ternyata kata al-sayyi’at yang muncul dalam al-Qur’an, semuanya
merujuk kepada arti yang disebutkan al-Asfahani tersebut. Dalam al-
Qur’an, surat Thaha ayat 22, dikatakan bahwa Tuhan memerintahkan Nabi
Musa untuk memasukkan tangannya ke ketiaknya, niscaya tangan Nabi
Musa akan keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacad. Hal itu sebagai
mu’jizat lain yang dimiliki Nabi Musa dari Tuhannya. Kata al-su’,
dalam ayat ini berarti penyakit, yaitu al-barash (belang), yang
banyak menimpa tangan, penyakit yang selalu menyusahkan orang yang
ditimpanya. Oleh karena itu, sangat tepat bila kata al-su’ diartikan
juga dengan al-huzn (susah). Sesuatu hal yang jelek juga dikatakan al-
su’, dan karena itu kata al-su’ dalam hal ini dilawankan dengan al-
husna (baik), dan al-sayyiat dilawankan dengan kata al-hasanat,
seperti terdapat dalam surat al-Nisa’ ayat 79.

Dalam al-Qur’an, perbuatan-perbuatan yang dikategorikan al-su antara
lain: perzinaan (Surat al-Nisa’ ayat 22), menjadikan syetan sebagai
teman (surat al-Nisa’ ayat 38), mengubur hidup-hidup anak perempuan
seperti yang dilakukan masyarakat Jahiliyah (surat al-Nisa’ ayat 58-
59). Dari sekian banyak kata al-su’ atau al-sayyi’at yang muncul
dalam al-Qur’an, kelihatannya tidak selalu mengacu kepada arti dosa
besar (seperti yang disebutkan dalam Hadis Rasulullah) atau dosa
kecil. Terkadang kata al-su’ digunakan untuk menyebut dosa besar,
seperti zina (surat al-Isra’ ayat 32), membunuh anak perempuan hidup-
hidup (surat al-Nahl ayat 59), dan sebagainya. Terkadang juga kata al-
su’ ada yang mengacu kepada dosa kecil, seperti yang muncul dalam
surat al-Nisa’ ayat 31. Disamping itu, ada lagi kata al-su’ dalam al-
Qur’an yang tidak jelas mengacu kepada dosa besar atau dosa kecil,
seperti yang muncul dalam surat al-A’raf ayat 95, surat al-Ra’d ayat
6, surat Yunus ayat 28, surat al-Naml ayat 90, surat Ghafir ayat 40,
dan lain-lain.

Kata al-hub, yang diterjemahkan dengan arti dosa, muncul dalam al-
Qur’an sebanyak satu kali, yaitu dalam surat al-Nisa’ ayat 2. Menurut
al-Asfahani, kata al-hub sama dan sinonim dengan kata al-itsm. Oleh
karena kata al-hub ini muncul hanya satu kali dalam al-Qur’an, tidak
dapat diketahui berbagai makna yang timbul dari kata tersebut, apakah
ia mengacu kepada arti dosa besar atau dosa kecil, atau dosa secara
umum. Khusus dalam surat al-Nisa’ ayat 2 di atas, karena kata al-hub
dirangkai dengan kata kabiran, maka rangkaian itu diterjemahkan
dengan dosa besar.

Kriteria Dosa Besar

Tidak mudah untuk menentukan kriteria dosa besar dalam al-Qur’an.
Kesulitan itu tetap terasa, walaupun istilah-istilah yang biasa
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dengan dosa telah dijelaskan
sebelum ini. Diantara lima istilah tersebut, tidak satu pun yang
secara eksplisit dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan
dosa besar. Bila al-Qur’an menyebut dosa besar, maka istilah-istilah
tersebut dirangkai dengan kata kabir atau adim (dua kata yang berarti
besar). Oleh karena itu, ditemukan rangkaian kata-kata: isman adiman,
isman kabiran, zanban adiman, khith’an kabiran, atau huban kabiran,
untuk merujuk dosa-dosa besar. Dengan demikian, jika ditemukan kata
ism, zanb, khith’ saja, maka tidak dihukumi sebagai dosa besar, tanpa
melihat indikator lain yang dapat mengantarkan kita memahaminya
sebagai dosa besar.

Sebagai dikatakan di atas, Hadis pun tidak banyak membantu kita
menjelaskan kekaburan itu. Yang disebut dalam Hadis hanyalah dosa-
dosa terbesar diantara dosa-dosa besar. Sedangkan dosa besar itu
sendiri masih kabur. Setelah tidak jelas macam-macam dosa besar,
menurut al-Qur’an dan Hadis, maka ijtihadlah yang harus difungsikan
untuk mengetahui macam-macam dosa besar. Oleh karena dasar untuk
mengetahui dosa besar itu ijtihad, maka hasilnya menjadi relatif.
Jika dampak negatif yang ditimbulkan suatu tindakan pelanggaran
dijadikan tolok ukur untuk mengetahui dosa besar, kesulitan yang
ditemui ialah bahwa dampak negatif itu sendiri relatif juga. Suatu
pelanggaran, yang dianggap oleh seseorang memiliki dampak yang
relatif cukup besar bagi dirinya, belum tentu dirasakan sebagai hal
yang sama oleh orang lain. Dalam menyelesaikan problem ini, akan
digunakan tolok ukur lain, yaitu istilah apa yang digunakan al-Qur’an
ketika mengancam pelanggar suatu aturan. Tentu yang dianalisa adalah
bahasa yang digunakan oleh al-Qur’an atau Hadis tersebut.

Berdasarkan tolok ukur kebahasaan itu, dosa besar menurut al-Baruzi,
seperti dikutip al-Ghimari setidak-tidaknya ada lima belas kategori,
yaitu dosa besar yang diancam dengan hukuman had, dosa besar yang
ditandai dengan ungkapan “fahisyah”, dosa besar karena pelanggaran
yang dilakukan termasuk perbuatan syetan, dosa besar karena Allah
tidak menyenangi tindakan itu termasuk pelakunya, dosa besar karena
pelaku dosa diancam dengan laknat, dosa besar karena Allah marah
terhadap pelakunya, dosa besar ditandai dengan ungkapan “shalat yang
dikerjakan seseorang ditolak Allah”, dosa besar karena pelakunya
dikecam sebagai orang merugi, dosa besar ditandai dengan ungkapan
“bukan dari golongan kami”, dosa besar ditandai dengan ungkapan
“Allah menutup pintu taubat bagi pelaku dosa”, dosa besar ditandai
dengan ungkapan “kemaksiatan menghabiskan kebaikan”, dosa besar
ditandai dengan ancaman wayl, dosa besar karena tindakan itu
membatalkan amalan shaleh, dosa besar ditandai dengan ungkapan “Allah
tidak menyenangi pelaku dosa”, dan dosa besar ditandai dengan
ungkapan “tidak perlu ditanyakan resiko yang akan diterima pelaku
dosa”. Macam-macam dosa besar yang dikemukakan al-Baruzi tersebut,
tidak dijelaskan semua di sini, karena disamping tidak memungkinkan
dari segi tempat yang disediakan, juga karena sebagian besar dari
dosa-dosa tersebut, sudah disebutkan dalam Hadis Rasulullah, bahkan
ada yang termasuk dosa terbesar. Oleh karena itu hanya sebagian saja
yang akan diuraikan di sini.

1. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Hukuman Had.

Terdapat sejumlah ayat al-Qur’an yang mengancam sebuah pelanggaran
dengan hukuman had, misalnya surat al-Baqarah ayat 178. Ayat ini
membicarakan hukuman had bagi pembunuh, atau terkenal dengan qishash.
Secara eksplisit, memang sudah dikatakan dalam Hadis bahwa dosa
pembunuhan termasuk dosa besar. Namun, tidak semua pelanggaran yang
diancam dengan hukuman had disebut oleh Hadis Rasulullah. Dalam Hadis
disebutkan bahwa dosa besar karena diancam hukuman had hanyalah zina,
dan saksi palsu. Padahal dosa besar dengan tolok ukur ancaman had
bagi sebuah pelanggaran cukup banyak, misalnya: membunuh, zina, qazaf
(tuduhan palsu), mencuri, pengacau di jalan, liwath (homo seksual) .

Kata had berasal dari kata kerja hadda. Kalimat hadda Allah ‘anna al-
syarra, berarti kaffahu wa sharrafahu (menjauhkan atau memalingkan).
Tegasnya, Allah menjauhkan kita dari bahaya. Ungkapan hadda al-
muzniba berarti aqama ‘alyhi al-had bima yamna’u ghairahu wa
yamna’uhu min irtikab al-zanb (menerapkan hukuman had kepada
seseorang yang berbuat dosa, agar dia jera dan agar orang lain yang
mengetahui hukuman tersebut dapat juga jera). Kemudian muncullah
istilah had dan dalam bentuk jamaknya hudud, yang berarti hukuman
yang diterapkan di dunia bagi pelanggar hukum tertentu, seperti
pencurian dengan hukuman potongan tangan, zina dengan hukuman rajam,
pembunuhan dengan hukuman qishash, dan sebagainya.

Hukuman bagi pembunuhan, perzinaan, qazaf, mencuri, mengacau di
jalan, dan liwath (homoseksual) dikategorikan dosa besar, bukan saja
karena diancam dengan hukuman had, tetapi karena dampak negatif dari
tindakan- tindakan tersebut memang besar. Di sini, untuk menilai
tindakan-tindakan tersebut sebagai dosa besar, bukan saja acuan
kebahasaan tetapi juga acuan dampak negatif yang ditimbulkannya.
Pembunuhan, misalnya, memiliki dampak negatif yang cukup besar, sebab
pembunuhan tidak saja menghilangkan nyawa orang yang terbunuh. Lebih
dari itu, pembunuhan dapat menambah penderitaan keluarga yang
ditinggalkannya, terutama jika yang terbunuh itu orang yang menjadi
tulang punggung kehidupan keluarga.

Demikian juga perzinaan, dikategorikan dosa besar, karena disamping
diancam dengan hukuman had, juga karena dampak negatif yang
ditimbulkan zina cukup besar. Penyakit kelamin, anak lahir tanpa
orang tua sah dan hidup terlantar, cemoohan masyarakat dan masih
banyak lagi yang lainnya, adalah dampak-dampak yang ditimbulkan
perzinaan. Qazaf pun tidak kalah besar dampaknya bila dibandingkan
dengan pembunuhan dan perzinaan. Orang yang dituduh palsu, dalam hal
ini wanita baik-baik yang dituduh berzina, nama baiknya akan
tercemar, termasuk nama baik keluarganya. Wanita itu juga akan
dikucilkan dari masyarakat, dan akan mengalami penderitaan batin yang
cukup hebat. Tidak mudah untuk memulihkan nama baiknya, dan kalaupun
bisa, membutuhkan waktu yang cukup lama dan membutuhkan mental yang
cukup prima. Wajar bila penuduh palsu diancam dengan hukuman berat,
yaitu dipukul delapan puluh kali (hukuman had), kesaksian mereka
ditolak selamanya, dan mereka dikategorikan orang fasik. Demikian
juga mencuri dan mengacau di jalan, termasuk yang diancam dengan
hukuman had oleh al-Qur’an. Hukuman-hukuman yang diancamkan kepada
pezina, pencuri, penuduh palsu, dan pengacau di jalan tersebut cukup
berat. Dengan melihat ancaman hukuman tersebut, tidak salah jika
pelanggaran-pelanggaran yang diancam dengan hukuman had dikategorikan
dosa besar.

2.Dosa Besar Ditandai Ungkapan “Fahisyat’.

Dosa besar dapat dikenal juga dengan adanya ungkapan fahisyat bagi
tindakan pelanggaran. Diantara ayat yang menggunakan kata fahisyat
untuk menunjuk suatu pelanggaran adalah ayat 15 surat al-Nisa’. Dalam
ayat ini, Allah menetapkan bahwa para isteri yang dituduh mengerjakan
perbuatan fahisyat, harus dibuktikan kebenarannya oleh empat orang
saksi. Kata fahisyat berarti qabihat dan syani’at (jelek dan keji).
Banyak mufassir menafsirkan kata fahisyat dalam ayat ini dengan arti
zina. Namun dalam beberapa ayat lain, kata fahisyat muncul dalam
makna yang sangat umum, misalnya dalam ayat 45 surat al-Ankabut.
Dalam ayat disebut terakhir, dikatakan bahwa shalat dapat mencegah
seseorang dari perbuatan fahsya’ (bentuk jamak dari fahisyat). Kata
fahisyat dalam ayat ini tidak dapat dipahami dengan makna zina,
karena tidak ada petunjuk yang mengantarkan kita untuk dapat
memahaminya dengan arti zina. Demikian pula kata fahsya’ dalam ayat
169 surat al-Baqarah, ayat 28 surat al-A’raf, ayat 24 surat Yusuf,
ayat 22 surat al-Nisa’ dan sebagainya, muncul dengan makna yang
sangat umum. Kata-kata fahsya’ atau fahisyat dalam konteks seperti
ini tidak dapat dipahami dengan mengacu kepada arti dosa besar atau
dosa kecil. Namun pada saat tertentu, misalnya ada petunjuk yang
tegas yang mengarah kepada arti dosa besar, kata fahisyat atau
fahsya’, dapat dijadikan dasar untuk menghukumi sebuah pelanggaran
sebagai dosa besar.

3. Dosa Besar Karena Pelakunya Diancam Dengan Laknat.

Dosa besar terkadang dapat diketahui dengan adanya ungkapan lain yang
digunakan al-Qur’an atau Hadis, selain yang dikemukakan di atas,
yaitu pelakunya diancam dengan laknat, misalnya dalam ayat 51-52
surat al-Nisa. Dalam ayat ini, Allah menyatakan melaknat orang-orang
musyrik dan orang-orang yang percaya kepada Thaghut dan orang-orang
yang mengakui bahwa orang kafir Makkah lebih benar jalannya dari
orang-orang beriman. Dalam ayat ini, Allah menggunakan kata “la’ana”
yang, dari segi bahasa, berarti akhaza wa sabba (menyiksa dan
mencaci) dan dapat juga berarti ab’adahu min al-khair (menjauhkan
dari kebaikan). Lebih jauh lagi, kata la’ana berarti ‘azzaba
(menyiksa). Al-Maraghi mengartikan kata la’ana dengan ab’adahu min al-
khayr. Dengan arti bahasa dan istilah dari kata la’ana seperti
dikutip di atas, dapat dipahami bahwa kata la’ana mengakibatkan
jauhnya seseorang dari kebaikan, atau tegasnya, jauhnya seseorang
dari rahmat Allah. Orang yang dijauhi memang ada kemungkinan karena
tidak disenangi, dan dampak dari tidak disenangi orang antara lain
tidak mendapatkan kebaikan orang lain. Orang tidak disenangi dalam
ayat di atas ialah orang musyrik, dan kemusyrikan termasuk dalam
akbar al-kabair (salah satu dosa terbesar diantara dosa-dosa besar).

Orang-orang yang tidak disenangi Allah, seperti tercantum dalam al-
Qur’an cukup bervariasi, misalnya orang-orang kafir (Qs. al-Ahzab
ayat 64). Bahkan golongan ini dinyatakan secara tegas akan dimasukkan
ke dalam neraka yang apinya menyala-nyala di akhirat nanti. Golongan
yang tidak disenangi Allah, juga termasuk orang-orang Yahudi dan
Nasrani yang telah melanggar janji kepada Allah. Hati mereka pun
enggan dan kaku, serta keras bagaikan batu, sehingga tidak mau
menerima ayat-ayat Allah. Bahkan lebih jauh lagi, mereka berani
merubah ayat-ayat Allah (ayat al-Qur’an), seperti merubah arti dan
mengurangi atau menambah huruf dan kata-kata dalam ayat al-Qur’an
tersebut.

Dalam Hadis Rasulullah pun terdapat kata la’ana, yaitu sabda
Rasulullah: “la’ana Allah al-rasyi wa al-murtasyi” (Allah melaknat
orang yang menyuap dan yang disuap). Beberapa kata la’ana yang
muncul, baik dalam al-Qur’an maupun dalam Hadis memang mengacu kepada
arti dosa besar. Apalagi pelanggaran-pelanggaran yang diungkap dengan
kata la’ana, dampak negatifnya memang besar, sehingga tepat bila kata
la’ana digunakan sebagai dasar untuk menghukumi pelanggaran yang
ditunjuknya sebagai dosa besar.

4. Dosa Besar Yang Ditandai Ungkapan “Kemaksiatan Dapat Merusak
Kebaikan”.

Dosa besar dalam kategori ini tidak ditemukan dalam al-Qur’an, tetapi
ditemukan dalam Hadis Rasulullah. Hadis tersebut berbunyi: “Iyyakum
wa al-hasad fa inna al-hasad ya’kul al-hasanat kama ta’kul al-nar al-
hathab” (Jauhilah sifat hasad (dengki), sebab dengki itu dapat
memakan amalan baik, sebaimana halnya api membakar kayu). Dalam kamus
Arab, kata hasad digunakan, misalnya dalam ungkapan “hasada fulan
ni’matahu wa ‘ala ni’matihi” yang berarti “tamanna zawala ni’matih wa
tahawwulaha ilayhi” (Seseorang berharap hilangnya ni’mat yang didapat
orang lain, dan dapat berpindah ke tangan dia). Hasad, kalau begitu,
adalah sifat yang tidak terpuji. Kemudian, bagaimana sifat hasad
dapat memakan amal-amal baik, sehingga digambarkan sebagai api
membakar kayu? Tidak dijelaskan oleh Rasulullah. Dapat diduga bahwa
alasan hasad dapat memakan amal-amal baik, adalah karena orang kalau
sudah hasad, tidak pernah merasa puas dengan nikmat yang diberikan
Allah. Bahkan, nikmat Allah yang ada di tangan orang lain diusahakan
pindah ke tangannya. Dalam pandangan orang hasad, kebaikan dan nikmat
yang ada di tangannya selalu dirasakan kurang. Bahkan, nikmat
tersebut tidak diakui eksistensinya. Jadi, sifat hasad sama dengan
api yang membakar kayu. Yang tersisa hanya arang dan debu. Lama
kelamaan, arang dan debu pun akan hilang tanpa bekas. Gambaran hasad
dapat menghilangkan kebaikan bersifat abstrak. Proses hilangnya
kebaikan oleh sifat hasad tidak dapat dilihat. Oleh karena itu,
dibutuhkan perumpamaan. Kemudian, Rasulullah mengambil perumpamaan:
Hasad menghilangkan kebaikan sama dengan api membakar kayu. Dengan
cara mempersamakan seperti ini, sesuatu yang awalnya bersifat abstrak
berubah menjadi kongkrit. Ia menjadi seakan-akan dapat diihat,
seperti halnya benda nyata. Seseorang yang telah hangus amal baiknya,
berarti ia tidak memiliki peluang untuk memperoleh balasan kebaikan
dari Allah. Sebaliknya, justeru balasan keburukan (neraka) yang akan
diperolehnya. Bila demikian, dapat dipahami kalau sifat hasad
dikategorikan sebagai dosa besar.

5. Dosa Besar Karena Diancam Dengan Wayl (Celaka).

Dalam al-Qur’an terdapat beberapa ayat yang mengandung kata wayl
(celaka), antara lain dalam surat al-Muthaffifin ayat 1-3. Kata wayl
menurut kamus bahasa Arab berarti al-halak (kehancuran). Kata wayl
dalam ayat 1 surat al-Muthaffifin tersebut, menurut al-Maraghi,
merujuk kepada arti kehancuran yang besar. Kehancuran besar
menggambarkan besarnya dampak yang ditimbulkan. Kehancuran besar
dalam ayat ini ialah menimbang dengan timbangan yang besar ketika
membeli dan menimbang dengan timbangan kecil ketika menjual. Tindakan
ini jelas mencari keuntungan yang sebesar-besarnya dalam perdagangan,
tanpa memperhatikan kerugian dan penderitaan orang lain. Setidak-
tidaknya, ada dua keuntungan yang diraih oleh orang yang melakukan
penipuan seperti itu: Pertama, keuntungan dari selisih timbangan
barang yang dibeli; Kedua, keuntungan dari selisih harga jual barang.
Oleh karena itu, tindakan tersebut sangat menguntungkan diri sendiri
dan sangat merugikan orang lain. Dengan demikian, adalah tepat bila
al-Qur’an mengancam pelakunya dengan kata wayl, yang merujuk kepada
besarnya dosa bagi pelaku tindakan tersebut.

Al-Asfahani mengartikan kata wayl dengan al-qubh (jelek) atau al-
tahassur (penyesalan). Pengertian wayl seperti yang dikemukakan al-
Asfahani, secara etimologis, berbeda dengan pengertian yang diberikan
oleh Lewis Ma’luf. Namun pada hakekatnya, dua pengertian itu memiliki
makna yang sama, yaitu merujuk kepada arti kejelekan atau kejahatan
yang besar, dan dampaknya menimbulkan kehancuran yang besar pula.
Pendusta lagi banyak berbuat dosa, sebagai dikatakan dalam al-Qur’an
surat al-Hujurat ayat 7, tepat diancam dengan wayl. Kedustaan sudah
cukup membahayakan, apalagi ditambah dengan kesenangan melakukan dosa.

6. Dosa Besar Ditandai Ungkapan”Allah Tidak Suka Melihat Pelaku Dosa”.

Dosa besar dalam kategori ini ditandai ungkapan “la yandhuru” (tidak
melihat). Kata nadhara, bentuk kata kerja lampau dari kata kerja
yandhuru, dalam al-Qur’an ditemukan lebih seratus kali dengan
berbagai bentuk kata jadiannya. Seperti dikatakan di atas, kata la
yandhuru, yang berarti tidak melihat, bukan saja berarti tidak
melihat karena tidak bertemu atau tidak menemukan, akan tetapi
ungkapan itu memiliki arti tertentu, yaitu tidak ingin melihat karena
merasa tidak senang dengan sesuatu. Dalam al-Qur’an, tidak ditemukan
ungkapan la yandhuru, dalam arti seperti disebut terakhir. Ungkapan
la yandhuru dalam arti tersebut terakhir hanya ditemukan dalam Hadis,
misalnya “la yandhuru Allah ‘azza wa jalla ila al-rajuli ata rajulan
aw imrataan fi duburiha” (Allah tidak senang melihat seseorang yang
menyetubuhi sesama lelaki (homoseksual) dan bersetubuh dengan
perempuan melalui duburnya (sodomi).

Ungkapan la yandhuru (tidak mau melihat) seperti dalam Hadis di atas,
disebabkan ketidaksenangan kepada sesuatu. Ketidaksenangan boleh jadi
menjurus kepada tidak mau melihat yang tidak disenangi itu, sebab
pada umumnya orang yang tidak senang kepada sesuatu atau kepada
seseorang, boleh jadi ia tidak mau melihat sesuatu atau seseorang
yang dibencinya. Dalam Hadis lain dikatakan: Salasatun la
yukallimuhum Allah yawm al-qiyamat wa la yuzakkihim wa la yandhuru
ilayhim wa lahum ‘azabun alim: syaikhun zanin, wa malikun kazzab, wa
‘ailun mustakbirun (ada tiga golongan yang tidak diajak bicara oleh
Allah di hari qiyamat, tidak dibersihkan hatinya, dan akan disiksa
dengan siksaan yang pedih, yaitu orang tua yang berzina, raja
pendusta, dan orang miskin yang sombong).

Kata la yukallimuhum Allah (mereka tidak diajak bicara oleh Allah),
bukan karena Allah tidak bertemu dengan orang itu, akan tetapi
ungkapan itu memiliki makna kiasan, yaitu kiasan bahwa Allah tidak
senang kepada mereka. Bahkan, ketidaksenangan Allah itu ditegaskan
lagi dengan kata berikutnya wa la yandhuru ilayhim (Allah tidak mau
melihat mereka). Mengapa Allah tidak senang kepada mereka ? Tentu
saja karena perilaku mereka sudah melampaui batas. Orang tua yang
berzina, dianggap melampaui batas, sebab orang tua seharusnya memberi
contoh yang baik kepada anak cucu. Raja yang berdusta juga sangat
dibenci Allah, sebab raja seharusnya jujur dalam menjalankan
pemerintahan, bukan malah mengelabui rakyatnya.

Kesimpulan

Dari uraian yang telah dipaparkan sebelum ini, dapat dipahami bahwa
al-Qur’an tidak menyebut secara tegas macam-macam dosa besar. Dalam
al-Qur’an hanya terdapat ungkapan-ungkapan yang dapat mengantarkan
kita untuk dapat menghukumi sebuah pelanggaran itu sebagai sebuah
dosa besar. Dengan meresapi sejumlah istilah atau ungkapan yang
menjadi tanda untuk memahami dosa besar, sebagaimana yang dikemukakan
al-Baruzi, maka akan muncul puluhan macam dosa besar. Dosa-dosa yang
pernah diucapkan oleh Rasulullah hanyalah sebagian dari dosa-dosa
besar yang terdapat dalam ajaran Islam. Untuk mengetahui secara rinci
macam-macam dosa besar, kita hanya merujuk saja kepada ungkapan-
ungkapan tersebut, baik yang terdapat dalam al-Qur’an maupun Hadis.

16 September 2012

TABIR Huruf Hijaiyah

oleh alifbraja

 

Rahasia Huruf Hijaiyah

بسم الله الرحمن الرحم
مُّحَمَّدٌ رَّسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاء عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاء بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِّنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُم مَّغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam- penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mu’min). Allah menjanjikan kepada orang- orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. AL-FATH ayat 29),

Ada dua puluh sembilan huruf Hijaiyah. Awalnya adalah alif, kemudian ba, kemudian ta, dan akhirnya adalah ya. Huruf kedua, Ba, merangkum semua pengetahuan tentang wujud semesta. Ba adalah Bahr, Samudera. Setiap wujud sejatinya meng-ada di dalam “samudera” abadi ini. Renungkanlah perlahan sekali…

Ba-Bahr Al Qudrah-Samudera Kehendak
Tubuh kita dan segala benda-benda, air yang kita teguk dan udara yang kita hirup, segala yang kita lihat sentuh dan rasakan, padat cair dan gas, semuanya terbangun dari atom-atom. Kita semua sudah tahu itu. Meski atom bukanlah elemen terkecil dari benda-benda, sebagaimana telah ditunjukkan oleh para ahli fisika kuantum, mari kita batasi perjalanan kita hanya sampai di atom ini. Inti atom (nucleus) merupakan pusat atom. Seberapa besar inti atom ini? Jika kita perbesar ukuran sebiji atom menjadi sebesar bola berdiameter 200 meter, maka besarnya inti atom adalah sebesar sebutir debu di pusatnya.

Hebatnya, sebutir debu ini membawa 99,95% massa atom seluruhnya yang dipadatkan oleh strong nuclear force ke dalam partikel proton. Sementara elektron-elektron sangatlah ringan dan bergerak mengelilingi proton pada jarak yang jauh sekali. Seberapa jauh? Jika kita perbesar ukuran elektron menjadi sebesar biji kelereng, maka jarak antara elektron ini ke inti atom adalah sejauh satu kilometer! Ada apa di antara elektron dengan proton? Tidak ada apa-apa. Hanya ruang kosong semata sepanjang jarak satu kilometer itu!

Sebutir garam terdiri dari banyak sekali atom. Jika kita bisa menghitung satu milyar atom dalam sedetik, maka kita membutuhkan lebih dari lima ratus tahun untuk menghitung jumlah seluruh atom di dalam sebutir garam saja! Atom-atom itu secara rapi membangun wujud sebutir garam. Dan di dalamnya terbentang ruang kosong di antara atom-atomnya. Sebagaimana samudera. Sebutir garam mewujud di dalamnya. Ia “berenang” dan meng-ada di dalamnya. Juga kita dan semua benda-benda.

Wujud kita sejatinya selalu berada di dalam samudera ruang kosong….di dalam samudera atomis gaya-gaya….di dalam samudera kehendakNya (Bahr al-Qudrah)…

Dari Husein bin Ali bin Abi Thalib as. :
Seorang Yahudi mendatangi Nabi Muhammad SAW. Pada saat itu Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib as bersama Nabi.
Yahudi itu berkata kepada Nabi Muhammad SAW : “apa faedah dari  huruf hijaiyah?”
Rasulullah SAW lalu berkata kepada Ali bin Abi Thalib as, “Jawablah”.
Lalu Rasulullah SAW mendoakan Ali, “ya Allah, sukseskan Ali dan bungkam orang Yahudi itu”.
Lalu Ali berkata : “Tidak ada satu huruf-pun kecuali semua bersumber pada nama-nama Allah swt”.
Kemudian Ali berkata :

  1. “Adapun Alif artinya tidak ada Tuhan selain Dia yang Maha Hidup dan Kokoh,
  2. Adapun Ba artinya tetap ada setelah musnah seluruh makhluk-Nya.
  3. Adapun Ta, artinya yang maha menerima taubat, menerima taubat dari semua hamba-Nya,
  4. adapun Tsa artinya adalah yang mengokohkan semua makhluk “Dialah yang mengokohkan orang-orang beriman dengan perkataan yang kokoh dalam kehidupan dunia”
  5. Adapun Jim maksudnya adalah keluhuran sebutan dan pujian-Nya serta suci seluruh nama-nama-Nya.
  6. Adapun Ha adalah Al Haq, Maha hidup dan penyayang.
  7. Kha maksudnya adalah maha mengetahui akan seluruh perbuatan hamba-hamba-Nya.
  8. Dal artinya pemberi balasan pada hari kiamat,
  9. Dzal artinya pemilik segala keagungan dan kemuliaan.
  10. Ra artinya lemah lembut terhadap hamba-hamba-Nya.
  11. Zay artinya hiasan penghambaan.
  12. Sin artinya Maha mendengar dan melihat. 
  13. Syin artinya yang disyukuri oleh hamba-Nya.
  14. Shad maksudnya adalah Maha benar dalam setiap janji-Nya.
  15. Dhad artinya adalah yang memberikan madharat dan manfaat.
  16. Tha artinya Yang suci dan mensucikan,
  17. Dzha artinya Yang maha nampak dan menampakan seluruh tanda-tanda.
  18. Ayn artinya Maha mengetahui hamba-hamba-Nya.
  19. Ghayn artinya tempat mengharap para pengharap dari semua ciptaan-Nya.
  20. Fa artinya yang menumbuhkan biji-bijian dan tumbuhan.
  21. Qaf artinya adalah Maha kuasa atas segala makhluk-Nya
  22. Kaf artinya yang Maha mencukupkan yang tidak ada satupun yang setara dengan-Nya, Dia tidak beranak dan tidak diperanakan.
  23. Adapun Lam maksudnya adalah maha lembut terhadap hamba-nya.
  24. Mim artinya pemilik semua kerajaan.
  25. Nun maksudnya adalah cahaya bagi langit yang bersumber pada cahaya arasynya.
  26. Adapun waw artinya adalah, satu, esa, tempat bergantung semua makhluk dan tidak beranak serta diperanakan.
  27. Ha artinya Memberi petunjuk bagi makhluk-Nya.
  28. Lam alif artinya tidak ada tuhan selain Allah, satu-satunya serta tidak ada sekutu bagi-Nya.
  29. Adapun ya artinya tangan Allah yang terbuka bagi seluruh makhluk-Nya”. 

Rasulullah lalu berkata “Inilah perkataan dari orang yang telah diridhai Allah dari semua makhluk-Nya”.
Mendengar penjelasan itu maka yahudi itu masuk Islam.

Dari Ibrahim bin Khuttab, dari Ahmad bin Khalid, dari Salamah bin Al Fadl, dari Abdullah bin Najiyah, dari Ahmad bin Badil Al Ayyamy, dari Amr bin Hamid hakim kota ad Dainur, dari Farat bin as Saib dari Maimun bin Mahran, dari Ibnu Abbas dan sanadnya Rosulullah SAW, ia berkata: “Segala sesuatu ada penjelasan (tafsir)nya yang diketahui oleh orang yang mengetahuinya dan tidak diketahui oleh orang yang tidak mengetahuinya”.

Ilmu Huruf dan Rahasianya

Ketika huruf hijaiyah terbagi menjadi 28 makhraj (pengucapan huruf) dan setiap makhraj merupakan manzilah dari manzilah-manzilah bulan yang jumlahnya juga 28, maka tersusunlah huruf-huruf itu ke dalam susunan Abjad. Dan huruf-huruf itu terbagi menjadi:

Pertama: Bertitik dan tidak bertitik, menggambarkan nathiq (bicara) dan shamit (diam).
Kedua: Mengandung empat unsur, yaitu:

  1. Unsur api : alif, haa’, tha’, shad, mim, fa’, syin.
  2. Unsur udara : ba’, wawu, ya’, nun, shat, ta’, dha’.
  3. Unsur air : jim, za’, kaf, sin, qaf, tsa’, zha’.
  4. Unsur tanah : ha’, lam, ‘ain, ra’, kha’, ghain.

Ketiga: Dari segi kesendirian dan tidaknya, terbagi menjadi: mufradah, matsani dan matsalis. Mufradah adalah huruf-huruf Muqaththa’ah (yang terdapat di awal surat Al-Qur’an) seperti huruf alif, kaf, dan lam. Matsani seperti dal, dzal, sampai fa’ dan qaf. Matsalis seperti ba’ sampai kha’ dalam susunan Abatatsa. Dari sisi nuqthah (titik): ada yang satu, dua, dan yang tiga.

Keempat: Malfuzhi, masruri, dan malbubi. Malfuzhi adalah huruf yang dalam pelafazhan atau pengucapannya tidak sama antara huruf pertama dan huruf terakhir, misalnya alif dan jim.Masruri adalah huruf yang dalam pengucapannya sama antara huruf pertama dan huruf terakhir, misalnya mim, nun, dan wawu. Malbubi adalah huruf yang pengucapannya terdiri dari dua huruf, misalnya ba, ta; huruf ini juga disebut huruf ‘illiyyah.

Kelima: Mufashshalah dan Muwashshalah. Mufashshalah adalah huruf yang hanya bisa disambung dengan huruf sebelumnya, yaitu alif, wawu, dzal, ra’, za’, dan dal. Muwashshalah adalah huruf yang bisa disambung dengan huruf sebelum dan sesudahnya.

Keenam: Huruf cahaya dan huruf kegelapan. Huruf cahaya adalah: shat, ra’, alif, tha’, ‘ain, lam, ya’, ha’, qaf, nun, mim, sin, kaf, ha’. Yang semuanya terhimpun dalam kalimat:

صِرَاطُ عَلِيٍّ حَقٌّ نُمْسِكُهُ
Jalan Ali benar kita pegang teguh

Dan selain huruf-huruf tersebut adalah huruf kegelapan. Coba kita perhatikan nama-nama semuanya didominasi oleh huruf-huruf cahaya kecuali “Al-Wadûd”.

Ketujuh: Huruf mudghamah (tersembunyi) dan muzhharah (nampak). Masing-masing berjumlah 14 sama dengan pembagian jumlah manzilah bulan. Yang nampak selalu berada di atas bumi, dan yang tersembunyi selalu berada di bawah bumi.
Huruf Mudghamah adalah huruf yang bila diawali (Al) bunyi Al-nya tidak nampak, misalnya Ra’ dan Dal. Huruf Muzhharah adalah huruf yang bila diawali (Al) bunyi Al-nya nampak, misalnya ba’, jim.

Hukum huruf-huruf tersebut memiliki rahasia yang menakjubkan. Misalnya, dalam susunan Abatatsa, “alif” merupakan huruf zat Yang Maha Suci, yakni Al-Awwalu wal Akhiru. Adapun khalifah huruf “alif” adalah “ya'” dan “wawu”, keduanya termasuk huruf layyinah dalam menjelaskan semua huruf, sebagaimana wujud Yang Maha Suci adalah sumber dari semua wujud, dan hal ini terkandung dalam doa, misalnya:

يا من كل شيئ قائم بك
Wahai Zat yang segala sesuatu terwujud karena keberadaan-Mu

Tak ubahnya kwalitas suara dan perbedaannya terjadi di udara karena ketergantungan gelombang pada sumber gelombang.

Karena itu kita tidak akan menemukan dua bentuk yang sama dalam semua wujud berdasarkan hukum penampakan Ahadiyah (hukum Alif dan ba’) dan penampakan nama “Man laysa kamitslihi syay-un ” (Dia yang tidak diserupai oleh segala sesuatu). Demikian juga kita tidak akan mendapatkan dua suara dalam wujud yang sama, sebagaimana hal ini digambarkan oleh Allah swt dalam firman-Nya:

وَ مِنْ ءَايَتِهِ خَلْقُ السمَاوَاتِ وَ الأَرْضِ وَ اخْتِلاََف أَلْسِنَتِكمْ وَ أَلْوَانِكمْ إِنَّ فى ذَلِك لاَيَاتٍ لِّلْعَلِمِينَ

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi, dan perbedaan bahasa dan warna kulitmu, sesungguhnya dalam hal itu ada tanda-tanda kekuasaan Allah bagi semesta alam.” (Ar-Rum: 22).

Allah Maha Mendengar suara ini dan semua suara yang kwalitasnya telah terjadi dan akan terjadi di udara, dengan satu pendengaran yang sifatnya hudhuri dan isyraqi (pengenalan tingkat rasa).
(Disarikan dari kitab Syarah Doa Jawsyan Kabir, Sabzawari)

30 kunci huruf hijaiyah yang berada di tubuh manusia yaitu:
1. alif = hidung
2. ba” = mata
3. ta” = tempat mata(lubang tempat mata)
4. tsa” = bahu kanan
5. jim = bahu kiri
6. ha = tangan kanan
7. kha = tangan kiri
8. dal = telapak tangan kanan dan kiri
9. dzal = kepala dan rambut
10. ro” = rusuk kanan
11. zai = rusuk kiri
12. sin = dada kanan
13. syin = dada kiri
14. shod = pantat kanan
15. dhod = pantat kiri
16. tho” = hati
17. zho” = gigi
18. ain = paha kanan
19. ghoin = paha kiri
20. fa” = betis kanan
21. kof = betis kiri
22. kaf = kulit
23. lam = daging
24. mim = otak
25. nun = nur/cahaya
26. wau = telapak kaki kanan dan kiri
27. HA” = sungsum tulam
28. lam alif = manusia utuh
29. hamzah = memenuhi segala
30. ya” = mulut/manusia

Affirmasi:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ……………….

contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan ALIF
contoh:
Ya ALLAH saya minta kunci dengan Hamzah

30 kunci dipakai untuk membersihkan bagian bagian tubuh dari hal -hal yang negatif.sehingga tubuh dapat berfungsi normal.dan tentunya meningkatkan tingkat kita dalam hal dunia dan spiritual..

Nb.
Artikel ini sekedar sebagai referensi bahan kajian. Dan sebenarnya masih banyak lagi kajian mengenai ilmu huruf ini, yaitu diantaranya mengenai ilmu huruf dan lain sebagainya Yang mana kajian itu tidak saya tampilkan di sini karena sudah terlalu jauh dari prinsip dasar.

Huruf hijaiyah itu adalah Intisari Asma-asma Allah Ta’ala. Hanya Allah swt, saja yang Maha Mengetahui rahasianya. Bila ada seorang Ulama Sufi dibukakan rahasia huruf, itu pun masih sebagian kecil sekali, dibanding samudera rahasia huruf itu sendiri.

Allah swt, tidak memerintahkan kita agar menyelidiki rahasia-rahasia ghaib yang tersembunyi dibalik huruf-huruf hijaiyah. Kecuali jika Allah swt, menghendaki hambaNya untuk mengetahuinya, Allah swt membukakan hijab huruf itu. Dan itu pun hanya kurang dari setetes samuderaNya hakikat huruf yang tiada hingga. Oleh karena itu, janganlah kita membatasi diri terhadap rahasia & karunia ilmu dari Allah swt.

INILAH BEBERAPA PRINSIP DASAR

  • “Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepada kalian pelajaran dari Rabb kalian dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Yunus: 57)
  • “Dan Kami turunkan dari Al-Qur`an sesuatu yang menjadi penyembuh dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Isra`: 82)
  • “Katakanlah: ‘(Al-Qur`an) itu adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman’.” (Fushshilat: 44)
  • “Kalau sekiranya Kami menurunkan Al-Qur`an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir.” (Al-Hasyr: 21)
  • Dari Syifa` bintu Abdullah radhiallahu ‘anha:
    أَنَّهَا كَانَتْ تُرْقِي فِي الْجَاهِلِيَّةِ، فَلَمَّا جَاءَ اْلإِسْلاَمُ، قَالَتْ: لاَ أَرْقِي حَتَّى اسْتَأْذَنَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. فَأَتَيْتُهُ فَاسْتَأْذَنْتُهُ. فَقَالَ عَنْهَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ارْقِي مَا لَمْ يَكُنْ فِيْهَا شِرْكٌ

    “Dahulu dia meruqyah di masa jahiliyyah. Setelah kedatangan Islam, maka dia berkata: ‘Aku tidak meruqyah hingga aku meminta izin kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.’ Lalu dia pun pergi menemui dan meminta izin kepada beliau. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepadanya: ‘Silahkan engkau meruqyah selama tidak mengandung perbuatan syirik’.” (HR. Al-Hakim, Ibnu Hibban, dan yang lainnya. Al-Huwaini berkata: “Sanadnya muqarib.” Ibid, hal. 220). 

  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
    “Barangsiapa membaca satu huruf dari Kitabullah maka dia mendapat satu kebaikan dan satu kebaikan dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat. Aku tidak mengatakan alif laam miim satu huruf, akan tetapi alif satu huruf, laam satu huruf dan miim satu huruf.” (HR. At-Tirmidziy 5/175, lihat Shahiih Sunan At-Tirmidziy 3/9 serta Shahiihul Jaami’ Ash-Shaghiir 5/340)

 

 

14 September 2012

Tasawuf » Makna Hukum Labiriah dan Realitas Batin (Syariat dan Hakikat) – Praktek sufi bag 2

oleh alifbraja

Syariat dan hakikat yang dapat kita satukan
sehingga dapat membuat kita semakin berkembang  

Menurut para sufi, segala sesuatu yang kita saksikan dalam penciptaan ini memiliki sifat polaritas di dalamnya. Juga, setiap fenomena dalm penciptaan bersifat siklus (berputar) .Suatu fenomena terlihat seakan-akan mulai dari satu titik dan berakhir di satu titik lain, lalu kedua titik itu bertemu. Misalnya, riwayat penciptaan dimulai dengan siklus hidrologis. Air dari laut menguap, menjadi awan, kemudian turun sebagai hujan lalu mengalir kembali ke laut. Prinsip yang sama dapat diterapkan pada hukum lahiriah dan realitas batin. Kata Arab syari ‘at berarti jalan. Apabila orang naik ke atasnya seakan-akan ia menaruh sampan ke sungai agar dapat mencapai samudra. Apabila si penempuh mempunyai penglihatan yang menyatu, apabila ia seorang manusia utuh (man of unity) maka ia akan mengakui bahwa sekalipun itu adalah sungai, tapi mempunyai arah yang akan membawa ke alam dan hakikatnya yang asli, yakni samudra. Kata Arab bagi realitas batin adalah haqiqah yang berarti kebenaran. Samudra adalah realitas batin sedang sungai adalah jalan lahiriah. Sungai tak akan mempunyai tujuan atau makna apabila ia tidak berakhir di samudra, namun asalnya adalah dari samudra!

Mengenai orang yang memiliki visi dan wawasan, serta keterhubungan dan kesatuan sejati, pada saat mereka melangkah ke dalam syariat, mereka merasa bahwa mereka telah melangkah ke dalam hakikat batin. Dari sisi pandang kaum sufi, apahila sesorang sedang mencari kedalaman makna dan transformasi dalam hidupnya, maka pada saat ia menerima syariat, ia segera menyadari makna hatin dan ruhnya, Misalnya, syariat mewajibkan orang melakukan penyucian lahiriah, yang merupakan kombinasi dari mencuci seluruh badan secara ritual pada keadaan tertentu, dan mencuci hanya bagian-bagian tertentu saja secara ritual pada keadaan tertentu lainnya, sebelum mendirikan salaat Nah, apabila seseorang mempunyai visi hidup yang menyatukan dan mencari pengetahuan tentang kesatuan, maka ia akan menyadari hahwa pengetahuan ini tak akan tercapai apabila ia tidak disucikan secara lahir maupun hatin, dan ia akan memperluas tuntutan hukum lahiriah itu la akan menyucikan kulit dan dagingnya, hukan saja dengan penyucian ritual, tetapi juga dengan menjaga jenis makanan dan minuman yang dikonsumsinya Lebih dari itu, ia akan menyucikan hati, niat, dan pikirannya Ini merupakan pandangan kesatuan dari hukum syariat, atau tata perilaku. la semata-mata dan secara langsung mengantarkan ke realitas batin.

Hukum Islam yang lahiriah, seperti telah disebutkan sehelumnya, adalah hukum Tuhan yang sempurna dan final yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw. la didasarkan pada hukum-hukum perilaku yang diwahyukan secara langsung dalam Al-Qur’an dan pada sunah Nabi Muhammad. Hukum-hukum ini memungkinkan setiap anggotamasyarakat mendalami lehihjauh dan mengemhangkan kesadaran yang lebih tinggi yang merupakan maksud dan tujuan di balik penciptaan ini. Pengemhangan batin, yang merupakan tujuan tasawuf tidaklah mungkin tanpa Islam eksoteris. Kepentingan esoteris tidak akan cukup apabila seseorang tidak mempunyai perlindungan dari hatas-batas lahiriah tata perilaku lahiriah. Air tak akan tertampung tanpa wadah, dan isi telur tak akan tertarnpung tanpa kulitnya. Demikian pula, hukum lahiriah itu ibarat kulit yang melindungi realitas batin, ibarat sekat luar yang melindungi inti batin yang dengan aman membawa apa yang bila tidak dilindungi akan menjadi energi yang sangat mudah menguap.

Sekarang, di manakah hukum lahiriah (syariat) berakhir dan realitas (hakikat) batin mulai? Yang satu berurusan dengan yang lahiriah dan kasar, sedang yang lainnya berurusan dengan yang batin dan halus. Serupa dengan mengatakan bahwa ini sungai dan itu samudra, padahal sebenamya keduanya merupakan aspek dari satu sistem yang saling dihubungkan oleh satu hakikat, yaitu air.

Dari sisi pandang sufi, manusia harus memeluk dan tunduk kepada hukum syariat maupun hakikat batin, karena ia meliputi keduanya. Manusia adalah genting, atau ruang pemisah, di antara keduanya. la terlibat dalam hukum lahiriah, atau undang-undang perilaku, dalam arti bahwa ia merupakan entitas fisik, material, dan ia terlibat dalam hakikat batin dalam arti bahwa ada sesuatu di dalam dirinya yang melampaui waktu dan ruang. Jadi, ke dalam ia merupakan hakikat batin, dan ke luar ia adalah hukum lahiriah. Syekh sufi besar mengatakan:

Barangsiapa bersyariat tanpa hakikat,
ia telah meninggalkan jalan yang benar;

Barangsiapa punya hakikat batin tanpa syariat,
ia adalah orang bidah.

Barangsiapa menyatukan keduanya,
ia mempunyai kesadaran.

Hukum Islam yang lahiriah adalah hukum yang diwahyukan Ilahi. Dalam alam ada hukum-hukum tertentu yang tak dapat dilanggar atau dipatahkan. Namun, di dalam batas-batasnya, orang dapat mengadakan beberapa perubahan. Misalnya, suatu rumah tangga di mana peraturan umum rumah itu telah ditetapkan, tetapi di dalam peraturan itu orang mengizinkan sang anak untuk berbuat banyak sekali hal yang disukainya dalam suatu ruang tertentu. Misalnya, si anak dapat mengubah kedudukan meja kursi atau meletakkan barang-barang tertentu di dinding, dan sebagainya. Namun, sejauh berkenaan dengan gaya perabotan atau batas sesungguhnya dari ruang itu, si anak tak punya komentar atau pilihan apa-apa. Tentu saja, sebagian batas-batas atau peraturan bersifat fleksibel, tetapi selalu ada batas akhirnya. Pengetahuan tentang batas-batas ini dan perilaku pantas yang diperlukan agar tetap berada di dalamnya adalah mengenai hukum Islam yang lahiriah. Menghormari dan mencintai hukum lahiriah ini adalah menghormari dan mencintai realitas fisik yang alami.

Semua nabi dan rasul mencapai kualitas yang luar biasa dalam mengungkapkan sebagian dari hukum- hukum Ilahi, baik hukum yang menguasai keberadaan maupun hukum yang mengatur mereka dalam kehidupan, sesuai dengan keadaan, tempat, dan ruang di mana mereka hidup. Mereka saling menguatkan. Tak ada nabi atau rasul yang menolak pendahulunya. Apabila ada suatu pembatalan (nasakh) atas hukum-hukum sebelumnya, maka ini karena realitas atau kesadaran umat sebelumnya itu masih berkembang dan belum siap untuk persoalan yang akan datang. Misalnya, lihatlah minuman alkohol. Di iklim gurun yang panas, tak mungkin menyimpan buah-buahan dalam waktu lama tanpa terjadi fermentasi, dan demikian pula ribuan tahun yang lalu, minuman anggur adalah hasil yang alami dari musim buah-buahan yang berlangsung lama.

Orang diizinkan meminum anggur namun tujuannya bukan supaya menjadi mabuk. Kemudian tiba saatnya ketika terdapat kemungkinan untuk membuat alkohol secara kimiawi dalam skala besar, sehingga orang dapat merusak diri dan lingkungannya dengan meminum alkohol. Karena itulah maka hukurn Islam yang terakhir diwahyukan memperingatkan hal ini dan melarang sama sekali konsumsi minuman beralkohol, walaupun sedikit.

Jadi, selalu ada tahapan kejadian dan tujuan di balik pembatalan (nasakh) hukum-hukum nabi tertentu, yang diwahyukan kepada nabi sebelurnnya, oleh nabi yang kemudian. Semua nabi berada dalam Islam, yakni dalam ketundukan, dalam arti bahwa masing-masing telah menyerahkan dirinya kepada Allah; dan hukurn lahiriah, atau hukurn perilaku, yang dibawa oleh masing-masing nabi merupakan konfirmasi dan kelanjutan dari hukum yang dibawa oleh pendahulunya, dari hukurn Ilahi yang saling mengisi. Ketika kota dibangun, peraturan dan ketetapan tertentu menjadi jelas, sampai seluruh kota itu disempurnakan. Kemudian seluruh peraturan dan ketentuan yang telah berkembang dan diperlukan dalam rangka pembangunan dipadukan dan disempurnakan, semuanya sesuai dengan rencana utama (master plan) yang asli!

Nabi Musa as mengungkapkan banyak hukum yang sepenuhnya segaris dengan hukum yang datang sebelumnya dan yang datang sesudahnya. Namun, selama beberapa abad, hukurn-hukum tersebut dirusak, dan hanya kandungan hukumnya saja yang tetap penting. Maka muncullah Nabi ‘Isa as, yang menghidupkan kembali ruh hukum itu, tanpa mengubah hukum-hukum yang berasal dari Musa. la mempertanyakan cara penerapan hukum-hukum itu, dan berusaha untuk membenahi ketimpangan antara ruh dan kandungan hukum itu, dengan menekankan kualitas perilaku yang santun, kelemah-lembutan, keimanan, kepercayaan dan semua nilai moral Kristen lainnya. Kemudian, Nabi Muhammad mengukuhkan hukum asli itu secara benar-benar berimbang dan dalam bahasa dan kultur yang berbeda dengan bahasa dan kultur para nabi sebelumnya. Nabi Muhammad menghapuskan beberapa hukum dan, sesuai perintah llahi, membawa beberapa hukum baru, dengan demikian menyempurnakan undang-undang perilaku jalan kenabian.

Hukum-hukum kenabian (nubuwah) adalah aturan- aturan perilaku dari wahyu Ilahi yang dibawa oleh individu-individu yang peka luar biasa dalam keterhubungannya antara dunia nampak dan dunia gaib. “Hati” mereka bagaikan cermin yang memantulkan hukum asli yang diharapkan dalam alam gaib dan dalam bentuk yang lebih dapat diraba, yang mereka berikan untuk kemanusiaan. Hukum-hukum ini tidaklah kaku atau represif, dan di dalamnya terdapat banyak sekali kebebasan untuk menciptakan hukum-hukum sekunder (by-laws) dan peraturan baru yang lebih rinci untuk mengatur kehidupan manusia. Misalnya, jumlah yang tepat dari makanan yang dibolehkan untuk konsumsi manusia sehari-hari tidak diwahyukan Ilahi. Di lain pihak, adalah merupakan hukum alam dan umumnya dapat dipahami bahwa apabila seseorang tidak makan dalam jangka waktu cukup lama maka ia akan mati. Namun, tidaklah mudah dipahami, misalnya, bahwa apabila homoseksualitas merajalela maka masyarakat bisa binasa. Ini karena kita belum pernah hidup dalam suatu lingkungan di mana homoseksualitas telah berlaku menyeluruh. Maka hukum Ilahi dengan jelas melarang perbuatan homoseksual, karena apabila tidak demikian maka masyarakat akan dihancurkan dan didaur ulang. Sifat telanjang akan datang menyertainya, dan contoh Sodom dan Gomorah akan berulang sendiri. Kemudian ada hukum-hukum yang lebih halus yang berkenaan dengan pelanggaran yang kurang jelas, seperti riba. Telah diwahyukan kepada banyak nabi dan rasul, terutama ditekankan kepada para nabi besar terakhir-Musa, .Isa, dan Muhammad-bahwa riba akan menyebabkan kehancuran setiap masyarakat yang tenggelam di dalamnya. Isa menentang praktik riba, dan banyak orang Yahudi menentangnya karena ia mengancam akan menghancurkan kebiasaan buruk mereka, yang menjadi gantungan mata pencaharian mereka. Sekarang kita lihat benar-benar seluruh dunia dikuasai, diobsesi, dan dikendalikan oleh sistem riba yang beroperasi melalui sarana sistem perbankan resmi.

Syariat Islam, sebagaimana disebutkan sebelumnya, adalah kulminasi dari semua hukum yang diwahyukan sebelumnya. Masyarakat dan kultur yang mengikuti hukum Tuhan yang asli akan bertahan. Individu atau masyarakat akan beroleh maslahat sesuai dengan kadar penerapan hukum ini. Apabila suatu masyarakat atau negeri berlaku dermawan kepada fakir miskin, yang sesuai dengan semua hukum Tuhan, maka sebagai akibat dari perbuatan ini banyak kebaikan akan datang kepada orang-orang dermawan. Maka bilamana, secara terbuka atau diam-diam, seseorang atau suatu masyarakat berbuat baik, perbuatan itu segaris dengan hukum Islam. Kesejahteraan dan kemakmuran suatu kultur atau masyarakat tergantung pada seberapa dekat praktik mereka dengan syariat Islam yang asli. Karena mayoritas kaum Muslim sekarang tidak sepenuhnya melaksana- kan syariat Islam, selain kedangkalannya, mereka pun secara individu dan kolektif sedang ditimpa dan dihukum oleh ketidaktahuan atau perbuatan batil mereka sendiri.

Dalam sejarah kemajuan umat manusia, kita dapati bahwa hukum syariat yang diwahyukan sangat sederhana pada mulanya. Namun, ketika kultur, peradaban dan kesadaran manusia berkembang, hukum syariat menjadi lebih rinci dan kompleks. Manusia di masa awal mempunyai cara dan gagasan yang sederhana dan langsung tentang hidup. Bahkan hingga kini, beberapa suku pengembara (nomadic) mempunyai undang-undang perilaku yang benar-benar berhubungan dengan sifat pembawaan lahir manusia. Undang-undang ini adalah orisinil dan sangat sederhana serta blak-blakan. Pemimpin dari suku semacam itu pada umumnya mempunyai sifat-sifat yang paling disukai di kalangan kaumnya. la pemurah, kuat, ramah, penyayang, tidak egois, dan seterusnya. Suku-suku ini terus hidup secara demikian selama suatu masa hingga tiba-tiba muncul pemimpin yang tak becus, atau sistem itu ditantang oleh suatu kultur yang lebih kompleks atau maju, dan kemudian cara hidup mereka yang sederhana hilang.

Singkatnya, hukum syariat Ilahi telah diwahyukan dalam format yang berbeda-beda selama suatu kurun waktu sesuai dengan kebutuhan masa itu, dan proses ini disempurnakan secara total l.400 tahun lalu. Master plan dari alam gaib ini, dari Sumber seluruh realitas penciptaan, adalah bagian dari cinta dan belas-kasih- Nya kepada manusia sehingga kita tidak dibiarkan tanpa bimbingan. Para nabi dan rasul mengungkapkan apa yang hakiki dan perlu bagi kondisi manusia. Hukum-hukum dan cetak biru yang mereka bawa terkulminasi dalam cetak biru akhir yang merupakan undang-undang Muhammad. Jadi, berbagai macam aturan-aturan hukum lahiriah ini bersifat komplementer (saling mengisi) dan merupakan bacaan-bacaan dari kitab yang sama. Kira- kira seperti membaca bab-bab berlainan dari kitab atau lembaran yang sama. Dan di dalam parameter hukum. syariat, ada ruangan bagi hukum buatan manusia yang selaras dengan syariat itu. Syariat Islam, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, memberikan pokok-pokok hukum, tetapi di dalam hal-hal spesifik-misalnya, berapa besar pajak harus ditarik atas penduduk untuk barang- barang impor tertentu-diserahkan kepada pemerintahan dari masa bersangkutan untuk memutuskannya. Apabila pemerintah memerlukan sejumlah tertentu uang untuk suatu proyek khusus, dan rakyat kaya, maka pemerintahan Islam dapat menetapkan peraturan untuk mengumpulkan uang melalui pajak tambahan, walaupun hal itu tidak diungkapkan secara tegas sebagai wajib menurut hukum Islam. Jadi, ada jangkauan yang luas di dalam hukum Islam untuk menetapkan peraturan dan ketentuan yang sesuai dengan keadaan sekarang dan yang selaras dengan itu. Keluwesan ini- lah,berdasarkan dan di dalam bentuk yang tepat, yang meyakinkan bahwa hukum lahiriah itu sebenarnya merupakan sarana menuju hakikat batin, dan bukan suatu halangan yang menutupi atau mencegah jalan masuk kepadanya.

11 September 2012

Asal Mula dan Proses Penciptaan Manusia

oleh alifbraja

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. ” (At Tin : 5)

Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di atas bisa menjadi bahan renungan buat kita. Sungguh kenyataannya terpampang di hadapan mata. Alangkah sempurna penciptaannya dan alangkah indahnya.

Lalu pernahkan kita memikirkan dari mana kita diciptakan dan bagaimana tahap-tahap penciptaannya? Pernahkah terpikir di benak kita bahwa tadinya kita berasal dari tanah dan dari setetes mani yang hina?

Pembahasan berikut ini mengajak Anda untuk melihat asal usul kejadian manusia agar hilang kesombongan di hati dengan kesempurnaan jasmani yang dimiliki dan agar kita bertasbih memuji Allah ‘Azza wa Jalla dengan kemahasempurnaan kekuasaan-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman kepada para Malaikat-Nya sebelum menciptakan Adam ‘Alaihis Salam :
“Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah. ” (Shad : 71)

Begitu pula dalam ayat lain Allah Subhanahu wa Ta’ala mengingatkan orang-orang musyrikin yang ingkar dan sombong tentang dari apa mereka diciptakan. Dia Yang Maha Tinggi berfirman :
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat. ” (Ash Shaffat : 11)

Dua ayat di atas dan ayat-ayat Al Qur’an lainnya yang serupa dengannya menunjukkan bahwasanya asal kejadian manusia dari tanah. Barangsiapa yang mengingkari hal ini, sungguh ia telah kufur terhadap pengkabaran dari Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri.

Berkaitan dengan hal di atas, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menentukan tahapan-tahapan penciptaan manuasia dan begitu pula Rasul-Nya Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam telah memberikan kabar kepada kita akan hal tersebut dalam hadits-haditsnya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk (lain). Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik. ” (Al Mukminun : 12-14)

“Wahai manusia, jika kamu dalam keraguan tentang kebangkitan (dari kubur), maka ketahuilah sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah, kemudian dari setetes mani, kemudian dari segumpal darah, kemudian dari segumpal daging yang sempurna kejadiannya dan yang tidak sempurna, agar Kami jelaskan kepada kamu dan Kami tetapkan dalam rahim, apa yang Kami kehendaki sampai waktu yang telah ditentukan, kemudian Kami keluarkan kamu sebagai bayi … . ” (Al Hajj : 5)

Ayat-ayat di atas menerangkan tahap-tahap penciptaan manusia dari suatu keadaan kepada keadaan lain, yang menunjukkan akan kesempurnaan kekuasaan-Nya sehingga Dia Jalla wa ‘Alaa saja yang berhak untuk diibadahi.

Begitu pula penggambaran penciptaan Adam ‘Alaihis Salam yang Dia ciptakan dari suatu saripati yang berasal dari tanah berwarna hitam yang berbau busuk dan diberi bentuk.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia (Adam) dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. ” (Al Hijr : 26)

Tanah tersebut diambil dari seluruh bagiannya, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
“Sesungguhnya Allah menciptakan Adam dari segenggam (sepenuh telapak tangan) tanah yang diambil dari seluruh bagiannya. Maka datanglah anak Adam (memenuhi penjuru bumi dengan beragam warna kulit dan tabiat). Di antara mereka ada yang berkulit merah, putih, hitam, dan di antara yang demikian. Di antara mereka ada yang bertabiat lembut, dan ada pula yang keras, ada yang berperangai buruk (kafir) dan ada yang baik (Mukmin). ” (HR. Imam Ahmad, Abu Daud, dan Tirmidzi, berkata Tirmidzi : ‘Hasan shahih’. Dishahihkan oleh Asy Syaikh Nashiruddin Al Albani dalam Shahih Sunan Tirmidzi juz 3 hadits 2355 dan Shahih Sunan Abu Daud juz 3 hadits 3925)

Semoga Allah merahmati orang yang berkata dalam bait syi’irnya :
Diciptakan manusia dari saripati yang berbau busuk.
Dan ke saripati itulah semua manusia akan kembali.

Setelah Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan Adam ‘Alaihis Salam dari tanah. Dia ciptakan pula Hawa ‘Alaihas Salam dari Adam, sebagaimana firman-Nya :
“Dia menciptakan kamu dari seorang diri, kemudian Dia jadikan daripadanya istrinya … . ” (Az Zumar : 6)

Dalam ayat lain :
“Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan istrinya, agar dia merasa senang kepadanya … . ” (Al A’raf : 189)

Dari Adam dan Hawa ‘Alaihimas Salam inilah terlahir anak-anak manusia di muka bumi dan berketurunan dari air mani yang keluar dari tulang sulbi laki-laki dan tulang dada perempuan hingga hari kiamat nanti. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 457)

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :
“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (mani). ” (As Sajdah : 7-8)

Imam Thabari rahimahullah dan selainnya mengatakan bahwa diciptakan anak Adam dari mani Adam dan Adam sendiri diciptakan dari tanah. (Lihat Tafsir Ath Thabari juz 9 halaman 202) Allah Subhanahu wa Ta’ala menempatkan nuthfah (yakni air mani yang terpancar dari laki-laki dan perempuan dan bertemu ketika terjadi jima’) dalam rahim seorang ibu sampai waktu tertentu.

Dia Yang Maha Kuasa menjadikan rahim itu sebagai tempat yang aman dan kokoh untuk menyimpan calon manusia. Dia nyatakan dalam firman-Nya :
“Bukankah Kami menciptakan kalian dari air yang hina? Kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh (rahim) sampai waktu yang ditentukan. ” (Al Mursalat : 20-22)

Dari nuthfah, Allah jadikan ‘alaqah yakni segumpal darah beku yang bergantung di dinding rahim. Dari ‘alaqah menjadi mudhghah yakni sepotong daging kecil yang belum memiliki bentuk. Setelah itu dari sepotong daging bakal anak manusia tersebut, Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian membentuknya memiliki kepala, dua tangan, dua kaki dengan tulang-tulang dan urat-uratnya. Lalu Dia menciptakan daging untuk menyelubungi tulang-tulang tersebut agar menjadi kokoh dan kuat. Ditiupkanlah ruh, lalu bergeraklah makhluk tersebut menjadi makhluk baru yang dapat melihat, mendengar, dan meraba. (Bisa dilihat keterangan tentang hal ini dalam kitab-kitab tafsir, antara lain dalam Tafsir Ath Thabari, Tafsir Ibnu Katsir, dan lain-lain)

Demikianlah kemahakuasaan Rabb Pencipta segala sesuatu, sungguh dapat mengundang kekaguman dan ketakjuban manusia yang mau menggunakan akal sehatnya. Semoga Allah meridhai ‘Umar Ibnul Khaththab, ketika turun awal ayat di atas (tentang penciptaan manusia) terucap dari lisannya pujian :
“Fatabarakallahu ahsanul khaliqin”
Maha Suci Allah, Pencipa Yang Paling Baik

Lalu Allah turunkan firman-Nya :
“Fatabarakallahu ahsanul khaliqin” untuk melengkapi ayat di atas. (Lihat Asbabun Nuzul oleh Imam Suyuthi, Tafsir Ibnu Katsir juz 3 halaman 241, dan Aysarut Tafasir Abu Bakar Jabir Al Jazairi juz 3 halaman 507-508)

Maha Kuasa Allah Tabaraka wa Ta’ala, Dia memindahkan calon manusia dari nuthfah menjadi ‘alaqah. Dari ‘alaqah menjadi mudhghah dan seterusnya tanpa membelah perut sang ibu bahkan calon manusia tersebut tersembunyi dalam tiga kegelapan, sebagaimana firman-Nya :
” … Dia menjadikan kamu dalam perut ibumu kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan … . ” (Az Zumar : 6)

Yang dimaksud “tiga kegelapan” dalam ayat di atas adalah kegelapan dalam selaput yang menutup bayi dalam rahim, kegelapan dalam rahim, dan kegelapan dalam perut.

Demikian yang dikatakan Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Abu Malik, Adh Dhahhak, Qatadah, As Sudy, dan Ibnu Zaid. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir juz 4 halaman 46 dan keterangan dalam Adlwaul Bayan juz 5 halaman 778)

Sekarang kita lihat keterangan tentang kejadian manusia dari hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Abi ‘Abdurrahman ‘Abdullah bin Mas’ud radhiallahu ‘anhu berkata :
Telah menceritakan kepada kami Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dan beliau adalah yang selalu benar (jujur) dan dibenarkan. Beliau bersabda (yang artinya) “Sesungguhnya setiap kalian dikumpulkan kejadiannya dalam rahim ibunya selama 40 hari berupa nuthfah. Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga (40 hari). Kemudian menjadi gumpalan seperti sekerat daging selama itu pula. Kemudian diutus kepadanya seorang Malaikat maka ia meniupkan ruh kepadanya dan ditetapkan empat perkara, ditentukan rezkinya, ajalnya, amalnya, sengsara atau bahagia. Demi Allah yang tiada illah selain Dia, sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli Surga sehingga tidak ada di antara dia dan Surga melainkan hanya tinggal sehasta, maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli neraka sehingga ia memasukinya. Dan sungguh salah seorang di antara kalian ada yang beramal dengan amalan ahli neraka sehingga tidak ada antara dia dan neraka melainkan hanya tinggal sehasta. Maka telah mendahuluinya ketetapan takdir, lalu ia beramal dengan amalan ahli Surga sehingga ia memasukinya. ” (HR. Bukhari 6/303 -Fathul Bari dan Muslim 2643, shahih)

Berita Nubuwwah di atas mengabarkan bahwa proses perubahan janin anak manusia berlangsung selama 120 hari dalam tiga bentuk yang tiap-tiap bentuk berlangsung selama 40 hari. Yakni 40 hari pertama sebagai nuthfah, 40 hari kedua dalam bentuk segumpal darah, dan 40 hari ketiga dalam bentuk segumpal daging. Setelah berlalu 120 hari, Allah perintahkan seorang Malaikat untuk meniupkan ruh dan menuliskan untuknya 4 perkara di atas.

Dalam riwayat lain :
Malaikat masuk menuju nuthfah setelah nuthfah itu menetap dalam rahim selama 40 atau 45 malam, maka Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia?” Lalu ia menulisnya. Kemudian berkata lagi : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan?” Lalu ia menulisnya dan ditulis (pula) amalnya, atsarnya, ajalnya, dan rezkinya, kemudian digulung lembaran catatan tidak ditambah padanya dan tidak dikurangi. (HR. Muslim dan Hudzaifah bin Usaid radhiallahu ‘anhu, shahih)

Dalam Ash Shahihain dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
Allah mewakilkan seorang Malaikat untuk menjaga rahim. Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Nuthfah, Wahai Rabbku! Segumpal darah, wahai Rabbku! Segumpal daging. ” Maka apabila Allah menghendaki untuk menetapkan penciptaannya, Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan? Apakah (nasibnya) sengsara atau bahagia? Bagaimana dengan rezkinya? Bagaimana ajalnya?” Maka ditulis yang demikian dalam perut ibunya. (HR. Bukhari `11/477 -Fathul Bari dan Muslim 2646 riwayat dari Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu)

Dari beberapa riwayat di atas, ulama menggabungkannya sehingga dipahami bahwasanya Malaikat yang ditugasi menjaga rahim terus memperhatikan keadaan nuthfah dan ia berkata : “Wahai Rabbku! Ini ‘alaqah, ini mudhghah” pada waktu-waktu tertentu saat terjadinya perubahan dengan perintah Allah dan Dia Subhanahu wa Ta’ala Maha Tahu. Adapun Malaikat yang ditugasi, ia baru mengetahui setelah terjadinya perubahan tersebut karena tidaklah semua nuthfah akan menjadi anak. Perubahan nuthfah itu terjadi pada waktu 40 hari yang pertama dan saat itulah ditulis rezki, ajal, amal, dan sengsara atau bahagianya. Kemudian pada waktu yang lain, Malaikat tersebut menjalankan tugas yang lain yakni membentuk calon manusia tersebut dan membentuk pendengaran, penglihatan, kulit, daging, dan tulang, apakah calon manusia itu laki-laki ataukah perempuan. Yang demikian itu terjadi pada waktu 40 hari yang ketiga saat janin berbentuk mudhghah dan sebelum ditiupkannya ruh karena ruh baru ditiup setelah sempurna bentuknya.

Adapun sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam :
Apabila telah melewati nuthfah waktu 42 malam, Allah mengutus padanya seorang Malaikat, maka dia membentuknya dan membentuk pendengarannya, panglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya. Kemudian Malaikat itu berkata : “Wahai Rabbku! Laki-laki atau perempuan … . ” Al Qadhi ‘Iyadl dan selainnya mengatakan bahwasanya sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam di atas tidak menunjukkan dhahirnya dan tidak benar pendapat yang membawakan hadits ini pada makna dhahirnya. Akan tetapi yang dimaksudkan maka dia membentuknya dan membentuk pendengarannya, penglihatannya … dan seterusnya adalah bahwasanya Malaikat itu menulis yang demikian, kemudian pelaksanaannya pada waktu yang lain (pada waktu 40 hari yang ketiga) dan tidak mungkin pada waktu 40 hari yang pertama. Urutan perubahan tersebut sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat Al Mukminun ayat 12 sampai 14. (Lihat keterangan hal ini dalam Shahih Muslim Syarah Imam An Nawawi, halaman 189-191)

Ibnu Hajar Al Asqalani rahimahullah dalam Fathul Bari (II/484) membawakan secara ringkas perkataan Ibnu Ash Shalah : “Adapun sabda beliau Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dalam hadits Hudzaifah bahwasanya pembentukan terjadi pada awal waktu 40 hari yang kedua. Sedangkan dalam dhahir hadits Ibnu Mas’ud dikatakan bahwa pembentukan baru terjadi setelah calon anak manusia menjadi mudhghah (segumpal daging). Maka hadits yang pertama (hadits Hudzaifah) dibawa pengertiannya kepada pembentukan secara lafadh dan secara penulisan saja belum ada perbuatan, yakni pada masa itu disebutkan bagaimana pembentukan calon anak manusia dan Malaikat yang ditugasi menuliskannya.”

Dalam ta’liq kitab Tuhfatul Wadud halaman 203-204 disebutkan bahwasanya hadits yang menyatakan Malaikat membentuk nuthfah setelah berada di rahim selama 40 malam, tidaklah bertentangan dengan hadits-hadits yang lain. Karena pembentukan Malaikat atas nuthfah terjadi setelah nuthfah tersebut bergantung di dinding rahim selama 40 hari yakni ketika telah berubah menjadi mudhghah. Wallahu A’lam.

Perubahan janin dari nuthfah menjadi ‘alaqah dan seterusnya itu berlangsung setahap demi setahap (tidak sekaligus). Pada waktu 40 hari yang pertama, darah masih bercampur dengan nuthfah, terus bercampur sedikit demi sedikit hingga sempurna menjadi ‘alaqah pada 40 hari yang kedua, dan sebelum itu tidaklah ia dinamakan ‘alaqah. Kemudian ‘alaqah bercampur dengan daging, sedikit demi sedikit hingga berubah menjadi mudhghah. (Lihat Fathul Bari) Tatkala telah sempurna waktu 4 bulan, ditiupkanlah ruh dan hal ini telah disepakati oleh ulama. Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah membangun madzhabnya yang masyhur berdasarkan dhahir hadits Ibnu Mas’ud bahwasanya anak ditiupkan ruh padanya setelah berlalu waktu 4 bulan. Karena itu bila janin seorang wanita gugur setelah sempurna 4 bulan, janin tersebut dishalatkan (telah memiliki ruh kemudian meninggal). Diriwayatkan yang demikian juga dari Sa’id Ibnul Musayyib dan merupakan salah satu dari pendapatnya Imam Syafi’i dan Ishaq.

Dinukilkan dari Imam Ahmad bahwasanya ia berkata : “Apabila janin telah mencapai umur 4 bulan 10 hari, maka pada waktu yang 10 hari itu ditiupkan padanya ruh dan dishalatkan atasnya (bila janin tersebut gugur). ” (Lihat Iqadzul Himam Al Muntaqa min Jami’ Al ‘Ulum wa Al Hikam halaman 88-89 oleh Abi Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali)
Kita lihat dalam hadits Ibnu Mas’ud di atas bahwasanya penulisan Malaikat terjadi setelah berlalu waktu 40 hari yang ketiga. Sedangkan pada riwayat-riwayat di atas, penulisan Malaikat terjadi setelah waktu 40 hari yang pertama. Riwayat-riwayat tersebut tidaklah bertentangan.

Imam An Nawawi rahimahullah menerangkan dalam Syarah Muslim (juz 5 halaman 191) setelah membawakan lafadh hadits dari Imam Bukhari berikut ini (yang artinya) : ‘Sesungguhnya penciptaan setiap kalian dikumpulkan dalam rahim ibunya selama 40 hari (sebagai nuthfah). Kemudian menjadi segumpal darah selama itu juga. Kemudian menjadi segumpal daging selama itu juga. Kemudian Allah mengutus seorang Malaikat dan diperintah (untuk menuliskan) empat perkara, rezkinya dan ajalnya, sengsara atau bahagianya. Kemudian ditiupkan ruh padanya … . ‘

Yang jelas penulisan takdir untuk janin di perut ibunya bukanlah penulisan takdir yang ditetapkan untuk semua makhluk sebelum makhluk itu dicipta. Karena takdir yang demikian telah ditetapkan 50. 000 tahun sebelumnya, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam dari Abdullah bin ‘Amr radhiallahu ‘anhuma :
“Sesungguhnya Allah menetapkan takdir-takdir makhluknya lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi. ” (HR. Muslim 2653, shahih)

Dalam hadits ‘Ubadah bin Shamit radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
Pertama kali yang Allah ciptakan adalah pena (Al Qalam). Lalu Dia berfirman kepadanya : “Tulislah!” Maka pena menuliskan segala apa yang akan terjadi hingga hari kiamat. (HR. Abu Daud 4700, Tirmidzi 2100, dan selain keduanya. Dishahihkan oleh Syaikh Salim Al Hilali dalam Iqadzul Himam) Banyak nash yang menyebutkan bahwa penetapan takdir seseorang apakah ia termasuk orang yang bahagia atau sengsara telah ditulis terdahulu.

Antara lain dalam Shahihain dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda :
“Tidak ada satu jiwa melainkan Allah telah menulis tempatnya di Surga atau di neraka dan telah ditulis sengsara atau bahagia. ” Maka seorang laki-laki berkata : “Wahai Rasulullah! Mengapa kita tidak mengikuti (saja) ketentuan kita (yang telah ditulis) dan kita tinggalkan amal?” Maka beliau bersabda : “Beramal-lah, maka setiap orang akan dimudahkan terhadap apa yang ditetapkan baginya.

Adapun orang yang bahagia akan dimudahkan baginya untuk beramal dengan amalan orang yang bahagia. Adapun orang yang sengsara akan dimudahkan baginya untuk beramal dengan amalan orang yang sengsara. ” Kemudian beliau membaca : “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa dan membenarkan adanya pahala yang terbaik (Surga), maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah. ” (QS. Al Lail : 5-7) [HR. Bukhari 3/225 -Fathul Bari dan Muslim 2647] Bahagia atau sengsara seseorang ditentukan oleh akhir amalnya, sebagaimana diisyaratkan dalam hadits Ibnu Mas’ud di atas.

Demikian pula dalam hadits berikut, dari Sahl bin Sa’ad radhiallahu ‘anhu dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, beliau bersabda :
“Sesungguhnya hanyalah amal-amal ditentukan pada akhirnya (penutupnya). ” (HR. Bukhari 11/330 -Fathul Bari)

Sebagai penutup dapat kita simpulkan bahwa Allah Maha Kuasa menciptakan apa saja yang Dia kehendaki. Dia menciptakan manusia pertama (Adam ‘Alaihis Salam) dari tanah, sedangkan anak-anak Adam berketurunan dengan nuthfah hingga akhir kehidupan nanti. Dia tempatkan nuthfah dalam rahim ibu dan dijaga oleh seorang Malaikat. Nuthfah ini kemudian pada akhirnya menjadi segumpal daging dan dari segumpal daging terus berkembang hingga menjadi sosok anak manusia kecil yang bernyawa lengkap dengan pendengaran, penglihatan, tangan, dan kaki. Bersamaan dengan itu telah ditulis ketentuan takdir untuknya, apakah rezkinya lapang ataukah sempit, apakah amalnya baik atau sebaliknya, kapan datang ajalnya dan apakah ia termasuk hamba Allah yang beruntung ataukah yang sengsara. Naudzubillah!

Dari tanah manusia berasal dan pada akhirnya akan kembali menjadi tanah. Mungkin ini bisa menjadi bahan renungan untuk kita semua.

Wallahu A’lam Bis Shawab.
Daftar Bacaan :
1. Al Qur’anul Karim.
2. Adlwaul Bayan. Asy Syaikh Muhammad Amin Asy Syinqithi.
3. Ad Durul Mantsur fi At Tafsir Al Ma’tsur. Imam As Suyuthi.
4. Ahkamuth Thifli. Asy Syaikh Ahmad Al ‘Aysawi.
5. Asbabun Nuzul. Imam As Suyuthi.
6. ‘Aunul Ma’bud. Al Hafidh Ibnu Qayyim Al Jauziyah.
7. Aysarut Tafasir. Asy Syaikh Abu Bakar Jabir Al Jazairi.
8. Fathul Bari. Al Hafidh Ibnu Hajar Al Atsqalani.
9. Iqadzul Himam Al Muntaqa min Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam. Syaikh Abi Usamah Salim bin ‘Ied Al Hilali.
10. Jami’ Al ‘Ulum wal Hikam. Al Hafidh Ibnu Rajab Al Hanbali.
11. Jami’ Al Bayan fi Ta’wil Al Qur’an. Ibnu Jarir Ath Thabari.
12. Mu’jam Mufradat Alfadzil Qur’an. Al ‘Allamah Al Ashfahani.
13. Shahih Muslim Syarah An Nawawi. Imam An Nawawi.
14. Shahih Sunan Abi Daud. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
15. Shahih Sunan At Tirmidzi. Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani.
16. Tafsir Ibnu Katsir. Al Hafidh Ibnu Katsir.
17. Tafsir Al Qurthubi. Imam Al Qurthubi.

Artinya : Jejak kehidupannya.
Ma’thuf merupakan istilah dalam ilmu nahwu yang bermakna kurang lebih lafadh yang mengikuti lafadh tertentu yang terletak sebelumnya.
Ma’thuf ‘alaih bermakna lafadh yang diikuti oleh lafadh tertentu yang terletak sesudahnya.

(Dinukil dari Majalah Salafy – MUSLIMAH Edisi XIX/Rabi’ul Awwal/1418/1997], ditulis oleh : ustadz Abul Muslim Al Atsari dan ustadzah Zulfa. Peringatan : Majalah Salafy edisi 2002 dan seterusnya, dipegang oleh Ja’far Umar Thalib dan isinya sarat dengan kesesatan Sufiyahnya. Allahu a’lam)

23 Agustus 2012

Jangka Jayabaya

oleh alifbraja

Ramalan Jayabaya adalah ramalan dalam tradisi Jawa yang salah satunya ditulis oleh Jayabaya, raja Kerajaan Kadiri. Ramalan ini dikenal pada khususnya di kalangan masyarakat Jawa yg dilestarikan secara turun temurun oleh para pujangga. Asal -usul utama serat jangka Jayabaya dapat dilihat pada kitab Musasar yg digubah oleh Sunan Giri Prapen. Sekalipun banyak keraguan keaslianya tapi sangat jelas bunyi bait pertama kitab Musasar yg menuliskan bahwasanya Jayabaya-lah yg membuat ramalan-ramalan tersebut.

“Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.”

Meskipun demikian, kenyataannya dua pujangga yang hidup sezaman dengan Prabu Jayabaya, yakni Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, sama sekali tidak menyebut dalam kitab-kitab mereka: Kakawin Bharatayuddha, Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya, bahwa Prabu Jayabaya memiliki karya tulis. Kakawin Bharatayuddha hanya menceritakan peperangan antara kaum Korawa dan Pandawa yang disebut peperangan Bharatayuddha. Sedangkan Kakawin Hariwangsa dan Kakawin Gatotkacasraya berisi tentang cerita ketika sang prabu Kresna, titisan batara Wisnu ingin menikah dengan Dewi Rukmini, dari negeri Kundina, putri prabu Bismaka. Rukmini adalah titisan Dewi Sri.

Dari berbagai sumber dan keterangan yang ada mengenai Ramalan Jayabaya, maka pada umumnya para sarjana sepakat bahwa sumber ramalan ini sebenarnya hanya satu, yakni Kitab Asrar (Musarar) karangan Sunan Giri Perapan (Sunan Giri ke-3) yang kumpulkannya pada tahun Saka 1540 = 1028 H = 1618 M, hanya selisih 5 tahun dengan selesainya kitab Pararaton tentang sejarah Majapahit dan Singosari yang ditulis di pulau Bali 1535 Saka atau 1613 M. Jadi penulisan sumber ini sudah sejak jamannya Sultan Agung dari Mataram bertahta (1613-1645 M).

Kitab Jangka Jayabaya pertama dan dipandang asli, adalah dari buah karya Pangeran Wijil I dari Kadilangu (sebutannya Pangeran Kadilangu II) yang dikarangnya pada tahun 1666-1668 Jawa = 1741-1743 M. Sang Pujangga ini memang seorang pangeran yang bebas. Mempunyai hak merdeka, yang artinya punya kekuasaan wilayah “Perdikan” yang berkedudukan di Kadilangu, dekat Demak! Memang beliau keturunan Sunan Kalijaga, sehingga logis bila beliau dapat mengetahui sejarah leluhurnya dari dekat, terutama tentang riwayat masuknya Sang Brawijaya terakhir (ke-5) mengikuti agama baru, Islam, sebagai pertemuan segitiga antara Sunan Kalijaga, Brawijaya ke-V dan Penasehat Sang Baginda benama Sabda Palon dan Nayagenggong.

Disamping itu Beliau menjabat sebagai Kepala Jawatan Pujangga Keraton Kartasura tatkala jamannya Sri Paku Buwana II (1727-1749). Hasil karya sang Pangeran ini berupa buku-buku misalnya, Babad Pajajaran, Babad Majapahit, Babad Demak, Babad Pajang, Babad Mataram, Raja Kapa-kapa, Sejarah Empu, dll. Tatkala Sri Paku Buwana I naik tahta (1704-1719) yang penobatannya di Semarang, Gubernur Jenderalnya benama van Outhoorn yang memerintah pada tahun 1691-1704. Kemudian diganti G.G van Hoorn (1705-1706), Pangerannya Sang Pujangga yang pada waktu masih muda. Didatangkan pula di Semarang sebagai Penghulu yang memberi Restu untuk kejayaan Keraton pada tahun 1629 Jawa = 1705 M, yang disaksikan GG. Van Hoorn.

Ketika keraton Kartasura akan dipindahkan ke desa Sala, sang Pujangga diminta pandapatnya oleh Sri Paku Buwana II. Ia kemudian diserahi tugas dan kewajiban sebagai peneliti untuk menyelidiki keadaan tanah di desa Sala, yang terpilih untuk mendirikan keraton yang akan didirikan tahun 1669 Jawa (1744 M).

Sang Pujangga wafat pada hari Senin Pon, 7 Maulud Tahun Be Jam’iah 1672 Jawa 1747 M, yang pada jamannya Sri Paku Buwono 11 di Surakarta. Kedudukannya sebagai Pangeran Merdeka diganti oleh puteranya sendiri yakni Pangeran Soemekar, lalu berganti nama Pangeran Wijil II di Kadilangu (Pangeran Kadilangu III), sedangkan kedudukannya sebagai pujangga keraton Surakarta diganti oleh Ngabehi Yasadipura I, pada hari Kemis Legi,10 Maulud Tahun Be 1672 Jawa = 1747 M.[sunting] Analisa

Jangka Jayabaya yang kita kenal sekarang ini adalah gubahan dari Kitab Musarar, yang sebenarnya untuk menyebut “Kitab Asrar” Karangan Sunan Giri ke-3 tersebut. Selanjutnya para pujangga dibelakang juga menyebut nama baru itu.

Kitab Asrar itu memuat lkhtisar (ringkasan) riwayat negara Jawa, yaitu gambaran gilir bergantinya negara sejak jaman purbakala hingga jatuhnya Majapahit lalu diganti dengan Ratu Hakikat ialah sebuah kerajaan Silam pertama di Jawa yang disebut sebagai ”Giri Kedatan”. Giri Kedatan ini nampaknya Merupakan jaman peralihan kekuasaan Islam pertama di Jawa yang berlangsung antara 1478-1481 M, yakni sebelum Raden Patah dinobatkan sebagai Sultan di Demak oleh para Wali pada 1481 M. Namun, demikian adanya keraton Islam di Giri ini masih bersifat ”Hakikat” dan diteruskan juga sampai jaman Sunan Giri ke-3.

Sejak Sunan Giri ke-3 ini praktis kekuasaannya berakhir karena penaklukkan yang dilakukan oleh Sultan Agung dari Mataram; Sejak Raden Patah naik tahta (1481) Sunan Ratu dari Giri Kedatan ini lalu turun tahta kerajaan, diganti oleh Ratu seluruh jajatah, ialah Sultan di Demak, Raden Patah. Jadi keraton di Giri ini kira-kira berdiri antara 1478-1481 M atau lebih lama lagi, yakni sejak Sunan Giri pertama mendirikannya atau mungkin sudah sejak Maulana Malik Ibrahim yang wafat pada tahun 1419 M (882 H). Setelah kesultanan Demak jatuh pada masa Sultan Trenggono, lalu tahta kerajaan jatuh ke tangan raja yang mendapat julukan sebagai “Ratu Bobodo”) ialah Sultan Pajang. Disebut demikian karena pengaruh kalangan Ki Ageng yang berorientasi setengah Budha/Hindu dan setengah Islam di bawah pengaruh kebatinan Siti Jenar, yang juga hendak di basmi pengaruhnya sejak para Wali masih hidup.

Setelah Kerajaan ini jatuh pula, lalu di ganti oleh penguasa baru yakni, Ratu Sundarowang ialah Mataram bertahta dengan gelar Prabu Hanyokro Kusumo (Sultan Agung) yang berkuasa di seluruh Jawa dan Madura. Di kelak kemudian hari (ditinjau, dari sudut alam pikiran Sri Sultan Agung dari Mataram ini) akan muncullah seorang raja bertahta di wilayah kerajaan Sundarowang ini ialah seorang raja Waliyullah yang bergelar Sang Prabu Herucakra yang berkuasa di seluruh Jawa-Madura, Patani dan Sriwijaya.

Wasiat Sultan Agung itu mengandung kalimat ramalan, bahwa kelak sesudah beliau turun dari tahta, kerajaan besar ini akan pulih kembali kewibawaannya, justru nanti dijaman jauh sesudah Sultan Agung wafat. Ini berarti raja-raja pengganti beliau dinilai (secara pandangan batin) sebagai raja-raja yang tidak bebas merdeka lagi. Bisa kita maklumi, karena pada tahun-tahun berikutnya praktis Mataram sudah menjadi negara boneka VOC yang menjadi musuh Sultan Agung (ingat perang Sultan Agung dengan VOC tahun 1628 & 1629 yang diluruk ke Jakarta/ Batavia oleh Sultan Agung).

Oleh Pujangga, Kitab Asrar digubah dan dibentuk lagi dengan pendirian dan cara yang lain, yakni dengan jalan mengambil pokok/permulaan cerita Raja Jayabaya dari Kediri. Nama mana diketahui dari Kakawin Bharatayudha, yang dikarang oleh Mpu Sedah pada tahun 1079 Saka = 1157 M atas titah Sri Jayabaya di Daha/ Kediri. Setelah mendapat pathokan/data baru, raja Jayabaya yang memang dikenal masyarakat sebagai pandai meramal, sang pujangga (Pangeran Wijil) lalu menulis kembali, dengan gubahan “JANGKA JAYABAYA” dengan ini yang dipadukan antara sumber Serat Bharatayudha dengan kitab Asrar serta gambaran pertumbuhan negara-negara dikarangnya sebelumnya dalam bentuk babad.

Lalu dari hasil, penelitiannya dicarikan Inti sarinya dan diorbitkan dalam bentuk karya-karya baru dengan harapan dapat menjadi sumber semangat perjuangan bagi generasi anak cucu di kemudian hari.

Cita-cita yang pujangga yang dilukiskan sebagai jaman keemasan itu, jelas bersumber semangat dari gambaran batin Sultan Agung. Jika kita teliti secara kronologi, sekarang ternyata menunjukan gambaran sebuah negara besar yang berdaulat penuh yang kini benama “REPUBLIK INDONESIA”!. Kedua sumber yang diperpadukan itu ternyata senantiasa mengilhami para pujangga yang hidup diabad-abad kemudian, terutama pujangga terkenal R.Ng., cucu buyut pujangga Yasadipura I pengganti Pangeran Wijil I.

Jangka Jayabaya dari Kitab Asrar ini sungguh diperhatikan benar-benar oleh para pujangga di Surakarta dalam abad 18/19 M dan sudah terang Merupakan sumber perpustakaan dan kebudayaan Jawa baru. Hal ini ternyata dengan munculnya karangan-karangan baru, Kitab Asrar/Musarar dan Jayabaya yang hanya bersifat ramalan belaka. Sehingga setelah itu tumbuh bermacam-macam versi teristimewa karangan baru Serat Jayabaya yang bersifat hakikat bercampur jangka atau ramalan, akan tetapi dengan ujaran yang dihubungkan dengan lingkungan historisnya satu sama lain sehingga merupakan tambahan riwayat buat negeri ini.

Semua itu telah berasal dari satu sumber benih, yakni Kitab Asrar karya Sunan Giri ke-3 dan Jangka Jayabaya gubahan dari kitab Asrar tadi, plus serat Mahabarata karangan Mpu Sedah & Panuluh. Dengan demikian, Jangka Jayabaya ini ditulis kembali dengan gubahan oleh Pangeran Wijil I pada tahun 1675 Jawa (1749 M) bersama dengan gubahannya yang berbentuk puisi, yakni Kitab Musarar. Dengan begitu menjadi jelaslah apa yang kita baca sekarang ini. (Kitab Musasar Jayabaya)

Asmarandana

1. Kitab Musarar dibuat tatkala Prabu Jayabaya di Kediri yang gagah perkasa, Musuh takut dan takluk, tak ada yang berani.

2. Beliau sakti sebab titisan Batara wisnu. Waktu itu Sang Prabu menjadi raja agung, pasukannya raja-raja.

3. Terkisahkan bahwa Sang Prabu punya putra lelaki yang tampan. Sesudah dewasa dijadikan raja di Pagedongan. Sangat raharja negara-nya.

4. Hal tersebut menggembirakan Sang Prabu. Waktu itu tersebutkan Sang Prabu akan mendapat tamu, seorang raja pandita dari Rum bernama, Sultan Maolana.

5. Lengkapnya bernama Ngali Samsujen. Kedatangannya disambut sebaik-baiknya. Sebab tamu tersebut seorang raja pandita lain bangsa pantas dihormati.

6. Setelah duduk Sultan Ngali Samsujen berkata: “Sang Prabu Jayabaya, perkenankan saya memberi petuah padamu menge.nai Kitab Musarar.

7. Yang menyebutkan tinggal tiga kali lagi kemudian kerajaanmu akan diganti oleh orang lain”. Sang Prabu mendengarkan dengan sebaik-baiknya. Karena beliau telah mengerti kehendak Dewata.

8. Sang Prabu segera menjadi murid sang Raja Pandita. Segala isi Kitab Musarar sudah diketahui semua. Beliaupun ingat tinggal menitis 3 kali.

9. Kelak akan diletakkan dalam teken Sang Pandita yang ditinggal di Kakbah yang membawa Imam Supingi untuk menaikkan kutbah,

10. Senjata ecis itu yang bernama Udharati. Dikelak kemudian hari ada Maolana masih cucu Rasul yang mengembara sampai ke P. Jawa membawa ecis tersebut. Kelak menjadi punden Tanah Jawa.

11. Raja Pandita pamit dan musnah dari tempat duduk. Kemudian terkisahkan setelah satu bulan Sang Prabu memanggil putranya.

12. Setelah sang putra datang lalu diajak ke gunung Padang. Ayah dan putra itu setelah datang lalu naik ke gunung.

13. Di sana ada Ajar bernama Ajar Subrata. Menjemput Prabu Jayabaya seorang raja yang berincoknito termasuk titisan Batara Wisnu.

14. Karenanya Sang Prabu sangat waspada, tahu sebelum kejadian mengenai raja-raja karena Sang Prabu menerima sasmita gaib.

15. Bila Islam seperti Nabi. Prabu Jayabaya bercengkrama di gunung sudah lama. Bertemu dengan ki Ajar di gunung Padang. Yang bertapa brata sehingga apa yang dikehendaki terjadi.

16. Tergopoh-gopoh menghormati. Setelah duduk ki Ajar memanggil seorang endang yang membawa sesaji. Berwarna-warni isinya. Tujuh warna-warni dan lengkap delapan dengarn endangnya.

17. Jadah (ketan) setakir, bawang putih satu talam, kembang melati satu bungkus, darah sepitrah, kunir sarimpang, sebatang pohon kajar dan kembang mojar satu bungkus.

18. Kedelapan endang seorang. Kemudian ki Ajar menghaturkan sembah : “Inilah hidangan kami untuk sang Prabu”. Sang Prabu waspada kemudian menarik senjata kerisnya.

19. Ki Ajar ditikam mati. Demikian juga endangnya. Keris kemudian dimasukkan lagi. Cantrik-cantrik berlarian karena takut. Sedangkan raja putra kecewa melihat perbuatan ayahnya.

20. Sang putra akan bertanya merasa takut. Kemudian merekapun pulang. Datang di kedaton Sang Prabu berbicara dengan putranya.

21. Heh anakku. Kamu tahu ulah si Ajar yang saya bunuh. Sebab berdosa kepada guru saya Sultan Maolana Ngali Samsujen tatkala masih muda.

Sinom

1. Dia itu sudah diwejang (diberitahu) oleh guru mengenai kitab Musarar. Sama seperti saya. Namun dia menyalahi janji, musnah raja-raja di P. Jawa. Toh saya sudah diberitahu bahwa saya tinggal 3 kali lagi.

2. Bila sudah menitis tiga kali kemudian ada jaman lagi bukan perbuatan saya. Sudah dikatakan oleh Maolana Ngali tidak mungkin berobah lagi. Diberi lambang Jaman Catur semune segara asat.

3. Itulah Jenggala, Kediri, Singasari dan Ngurawan. Empat raja itu masih kekuasaan saya. Negaranya bahagia diatas bumi. Menghancurkan keburukan.

4. Setelah 100 tahun musnah keempat kerajaan tersebut. Kemudian ada jaman lagi yang bukan milik saya, sebab saya sudah terpisah dengan saudara-saudara ditempat yang rahasia.

5. Di dalam teken sang guru Maolana Ngali. Demikian harap diketahui oleh anak cucu bahwa akan ada jaman Anderpati yang bernama Kala-wisesa.

6. Lambangnya: Sumilir naga kentir semune liman pepeka. Itu negara Pajajaran. Negara tersebut tanpa keadilan dan tata negara, Setelah seratus tahun kemudian musnah.

7. Sebab berperang dengan saudara. Hasil bumi diberi pajak emas. Sebab saya mendapat hidangan Kunir sarimpang dari ki Ajar. Kemudian berganti jaman di Majapahit dengan rajanya Prabu Brawijaya.

8. Demikian nama raja bergelar Sang Rajapati Dewanata. Alamnya disebut Anderpati, lamanya sepuluh windu (80 tahun). Hasil negara berupa picis (uang). Ternyata waktu itu dari hidangan ki Ajar.

9. Hidangannya Jadah satu takir. Lambangnya waktu itu Sima galak semune curiga ketul. Kemudian berganti jaman lagi. Di Gelagahwangi dengan ibukota di Demak. Ada agama dengan pemimpinnya bergelar Diyati Kalawisaya.

10. Enam puluh lima tahun kemudian musnah. Yang bertahta Ratu Adil serta wali dan pandita semuanya cinta. Pajak rakyat berupa uang. Temyata saya diberi hidangan bunga Melati oleh ki Ajar.

11. Negara tersebut diberi lambang: Kekesahan durung kongsi kaselak kampuhe bedah. Kemudian berganti jaman Kalajangga. Beribukota Pajang dengan hukum seperti di Demak. Tidak diganti oleh anaknya. 36 tahun kemudian musnah.

12. Negara ini diberi lambang: cangkrama putung watange. Orang di desa terkena pajak pakaian dan uang. Sebab ki Ajar dahulu memberi hidangan sebatang pohon kajar. Kemudian berganti jaman di Mataram. Kalasakti Prabu Anyakrakusuma.

13. Dicintai pasukannya. Kuat angkatan perangnya dan kaya, disegani seluruh bangsa Jawa. Bahkan juga sebagai gantinya Ajar dan wali serta pandita, bersatu dalam diri Sang Prabu yang adil.

14. Raja perkasa tetapi berbudi halus. Rakyat kena pajak reyal. Sebab waktu itu saya mendapat hidangan bawang putih dari ki Ajar. Rajanya diberi gelar: Sura Kalpa semune lintang sinipat.

15. Kemudian berganti lagi dengan lambang: Kembang sempol Semune modin tanpa sreban. Raja yang keempat yang penghabisan diberi lambang Kalpa sru kanaka putung. Seratus tahun kemudian musnah sebab melawan sekutu. Kemudian ada nakhoda yang datang berdagang.

16. Berdagang di tanah Jawa kemudian mendapat sejengkal tanah. Lama kelamaan ikut perang dan selalu menang, sehingga terpandang di pulau Jawa. Jaman sudah berganti meskipun masih keturunan Mataram. Negara bernama Nyakkrawati dan ibukota di Pajang.

17. Raja berpasukan campur aduk. Disegani setanah Jawa. Yang memulai menjadi raja dengan gelar Layon keli semune satriya brangti. Kemudian berganti raja yang bergelar: semune kenya musoni. Tidak lama kemudian berganti.

18. Nama rajanya Lung gadung rara nglikasi(Raja yang penuh inisiatif dalam segala hal, namun memiliki kelemahan suka wanita) kemudian berganti gajah meta semune tengu lelaki (Raja yang disegani/ditakuti, namun nista.) Enam puluh tahun menerima kutukan sehingga tenggelam negaranya dan hukum tidak karu-karuan.

19. Waktu itu pajaknya rakyat adalah Uang anggris dan uwang. Sebab saya diberi hidangan darah sepitrah. Kemudian negara geger. Tanah tidak berkasiat, pemerintah rusak. Rakyat celaka. Bermacam-macam bencana yang tidak dapat ditolak.

20. Negara rusak. Raja berpisah dengan rakyat. Bupati berdiri sendiri-sendiri. Kemudian berganti jaman Kutila. Rajanya Kara Murka(Raja-raja yang saling balas dendam.). Lambangnya Panji loro semune Pajang Mataram(Dua kekuatan pimpinan yang saling jegal ingin menjatuhkan).

21. Nakhoda(Orang asing)ikut serta memerintah. Punya keberanian dan kaya. Sarjana (Orang arif dan bijak) tidak ada. Rakyat sengsara. Rumah hancur berantakan diterjang jalan besar. Kemudian diganti dengan lambang Rara ngangsu , randa loro nututi pijer tetukar(( Ratu yang selalu diikuti/diintai dua saudara wanita tua untuk menggantikannya).

22. Tidak berkesempatan menghias diri(Raja yang tidak sempat mengatur negara sebab adanya masalah-masalah yang merepotkan ), sinjang kemben tan tinolih itu sebuah lambang yang menurut Seh Ngali Samsujen datangnya Kala Bendu. Di Semarang Tembayat itulah yang mengerti/memahami lambang tersebut.

23. Pajak rakyat banyak sekali macamnya. Semakin naik. Panen tidak membuat kenyang. Hasilnya berkurang. orang jahat makin menjadi-jadi Orang besar hatinya jail. Makin hari makin bertambah kesengsaraan negara.

24. Hukum dan pengadilan negara tidak berguna. Perintah berganti-ganti. Keadilan tidak ada. Yang benar dianggap salah. Yang jahat dianggap benar. Setan menyamar sebagai wahyu. Banyak orang melupakan Tuhan dan orang tua.

25. Wanita hilang kehormatannya. Sebab saya diberi hidangan Endang seorang oleh ki Ajar. Mulai perang tidak berakhir. Kemudian ada tanda negara pecah.

26. Banyak hal-hal yang luar biasa. Hujan salah waktu. Banyak gempa dan gerhana. Nyawa tidak berharga. Tanah Jawa berantakan. Kemudian raja Kara Murka Kutila musnah.

27. Kemudian kelak akan datang Tunjung putih semune Pudak kasungsang(Raja berhati putih namun masih tersembunyi). Lahir di bumi Mekah(Orang Islam yang sangat bertauhid). Menjadi raja di dunia, bergelar Ratu Amisan, redalah kesengsaraan di bumi, nakhoda ikut ke dalam persidangan.

28. Raja keturunan waliyullah. Berkedaton dua di Mekah dan Tanah Jawa(Orang Islam yang sangat menghormati leluhurnya dan menyatu dengan ajaran tradisi Jawa (kawruh Jawa)). Letaknya dekat dengan gunung Perahu, sebelah barat tempuran. Dicintai pasukannya. Memang raja yang terkenal sedunia.

29. Waktu itulah ada keadilan. Rakyat pajaknya dinar sebab saya diberi hidangan bunga seruni oleh ki Ajar. Waktu itu pemerintahan raja baik sekali. Orangnya tampan senyumnya manis sekali.

Isi Ramalan
1. Besuk yen wis ana kreta tanpa jaran — Kelak jika sudah ada kereta tanpa kuda.

2. Tanah Jawa kalungan wesi — Pulau Jawa berkalung besi.

3. Prahu mlaku ing dhuwur awang-awang — Perahu berjalan di angkasa.

4. Kali ilang kedhunge — Sungai kehilangan mata air.

5. Pasar ilang kumandhang — Pasar kehilangan suara.

6. Iku tandha yen tekane zaman Jayabaya wis cedhak — Itulah pertanda zaman Jayabaya telah mendekat.

7. Bumi saya suwe saya mengkeret — Bumi semakin lama semakin mengerut.

8. Sekilan bumi dipajeki — Sejengkal tanah dikenai pajak.

9. Jaran doyan mangan sambel — Kuda suka makan sambal.

10. Wong wadon nganggo pakeyan lanang — Orang perempuan berpakaian lelaki.

11. Iku tandhane yen wong bakal nemoni wolak-waliking zaman— Itu pertanda orang akan mengalami zaman berbolak-balik

12. Akeh janji ora ditetepi — Banyak janji tidak ditepati.

13. keh wong wani nglanggar sumpahe dhewe— Banyak orang berani melanggar sumpah sendiri.

14. Manungsa padha seneng nyalah— Orang-orang saling lempar kesalahan.

15. Ora ngendahake hukum Hyang Widhi— Tak peduli akan hukum Hyang Widhi.

16. Barang jahat diangkat-angkat— Yang jahat dijunjung-junjung.

17. Barang suci dibenci— Yang suci (justru) dibenci.

18. Akeh manungsa mung ngutamakke dhuwit— Banyak orang hanya mementingkan uang.

19. Lali kamanungsan— Lupa jati kemanusiaan.

20. Lali kabecikan— Lupa hikmah kebaikan.

21. Lali sanak lali kadang— Lupa sanak lupa saudara.

22. Akeh bapa lali anak— Banyak ayah lupa anak.

23. Akeh anak wani nglawan ibu— Banyak anak berani melawan ibu.

24. Nantang bapa— Menantang ayah.

25. Sedulur padha cidra— Saudara dan saudara saling khianat.

26. Kulawarga padha curiga— Keluarga saling curiga.

27. Kanca dadi mungsuh — Kawan menjadi lawan.

28. Akeh manungsa lali asale — Banyak orang lupa asal-usul.

29. Ukuman Ratu ora adil — Hukuman Raja tidak adil

30. Akeh pangkat sing jahat lan ganjil— Banyak pejabat jahat dan ganjil

31. Akeh kelakuan sing ganjil — Banyak ulah-tabiat ganjil

32. Wong apik-apik padha kapencil — Orang yang baik justru tersisih.

33. Akeh wong nyambut gawe apik-apik padha krasa isin — Banyak orang kerja halal justru merasa malu.

34. Luwih utama ngapusi — Lebih mengutamakan menipu.

35. Wegah nyambut gawe — Malas untuk bekerja.

36. Kepingin urip mewah — Inginnya hidup mewah.

37. Ngumbar nafsu angkara murka, nggedhekake duraka — Melepas nafsu angkara murka, memupuk durhaka.

38. Wong bener thenger-thenger — Orang (yang) benar termangu-mangu.

39. Wong salah bungah — Orang (yang) salah gembira ria.

40. Wong apik ditampik-tampik— Orang (yang) baik ditolak ditampik (diping-pong).

41. Wong jahat munggah pangkat— Orang (yang) jahat naik pangkat.

42. Wong agung kasinggung— Orang (yang) mulia dilecehkan

43. Wong ala kapuja— Orang (yang) jahat dipuji-puji.

44. Wong wadon ilang kawirangane— perempuan hilang malu.

45. Wong lanang ilang kaprawirane— Laki-laki hilang perwira/kejantanan

46. Akeh wong lanang ora duwe bojo— Banyak laki-laki tak mau beristri.

47. Akeh wong wadon ora setya marang bojone— Banyak perempuan ingkar pada suami.

48. Akeh ibu padha ngedol anake— Banyak ibu menjual anak.

49. Akeh wong wadon ngedol awake— Banyak perempuan menjual diri.

50. Akeh wong ijol bebojo— Banyak orang tukar istri/suami.

51. Wong wadon nunggang jaran— Perempuan menunggang kuda.

52. Wong lanang linggih plangki— Laki-laki naik tandu.

53. Randha seuang loro— Dua janda harga seuang (Red.: seuang = 8,5 sen).

54. Prawan seaga lima— Lima perawan lima picis.

55. Dhudha pincang laku sembilan uang— Duda pincang laku sembilan uang.

56. Akeh wong ngedol ngelmu— Banyak orang berdagang ilmu.

57. Akeh wong ngaku-aku— Banyak orang mengaku diri.

58. Njabane putih njerone dhadhu— Di luar putih di dalam jingga.

59. Ngakune suci, nanging sucine palsu— Mengaku suci, tapi palsu belaka.

60. Akeh bujuk akeh lojo— Banyak tipu banyak muslihat.

61. Akeh udan salah mangsa— Banyak hujan salah musim.

62. Akeh prawan tuwa— Banyak perawan tua.

63. Akeh randha nglairake anak— Banyak janda melahirkan bayi.

64. Akeh jabang bayi lahir nggoleki bapakne— Banyak anak lahir mencari bapaknya.

65. Agama akeh sing nantang— Agama banyak ditentang.

66. Prikamanungsan saya ilang— Perikemanusiaan semakin hilang.

67. Omah suci dibenci— Rumah suci dijauhi.

68. Omah ala saya dipuja— Rumah maksiat makin dipuja.

69. Wong wadon lacur ing ngendi-endi— Perempuan lacur dimana-mana.

70. Akeh laknat— Banyak kutukan

71. Akeh pengkianat— Banyak pengkhianat.

72. Anak mangan bapak—Anak makan bapak.

73. Sedulur mangan sedulur—Saudara makan saudara.

74. Kanca dadi mungsuh—Kawan menjadi lawan.

75. Guru disatru—Guru dimusuhi.

76. Tangga padha curiga—Tetangga saling curiga.

77. Kana-kene saya angkara murka — Angkara murka semakin menjadi-jadi.

78. Sing weruh kebubuhan—Barangsiapa tahu terkena beban.

79. Sing ora weruh ketutuh—Sedang yang tak tahu disalahkan.

80. Besuk yen ana peperangan—Kelak jika terjadi perang.

81. Teka saka wetan, kulon, kidul lan lor—Datang dari timur, barat, selatan, dan utara.

82. Akeh wong becik saya sengsara— Banyak orang baik makin sengsara.

83. Wong jahat saya seneng— Sedang yang jahat makin bahagia.

84. Wektu iku akeh dhandhang diunekake kuntul— Ketika itu burung gagak dibilang bangau.

85. Wong salah dianggep bener—Orang salah dipandang benar.

86. Pengkhianat nikmat—Pengkhianat nikmat.

87. Durjana saya sempurna— Durjana semakin sempurna.

88. Wong jahat munggah pangkat— Orang jahat naik pangkat.

89. Wong lugu kebelenggu— Orang yang lugu dibelenggu.

90. Wong mulya dikunjara— Orang yang mulia dipenjara.

91. Sing curang garang— Yang curang berkuasa.

92. Sing jujur kojur— Yang jujur sengsara.

93. Pedagang akeh sing keplarang— Pedagang banyak yang tenggelam.

94. Wong main akeh sing ndadi—Penjudi banyak merajalela.

95. Akeh barang haram—Banyak barang haram.

96. Akeh anak haram—Banyak anak haram.

97. Wong wadon nglamar wong lanang—Perempuan melamar laki-laki.

98. Wong lanang ngasorake drajate dhewe—Laki-laki memperhina derajat sendiri.

99. Akeh barang-barang mlebu luang—Banyak barang terbuang-buang.

100. Akeh wong kaliren lan wuda—Banyak orang lapar dan telanjang.

101. Wong tuku ngglenik sing dodol—Pembeli membujuk penjual.

102. Sing dodol akal okol—Si penjual bermain siasat.

103. Wong golek pangan kaya gabah diinteri—Mencari rizki ibarat gabah ditampi.

104. Sing kebat kliwat—Yang tangkas lepas.

105. Sing telah sambat—Yang terlanjur menggerutu.

106. Sing gedhe kesasar—Yang besar tersasar.

107. Sing cilik kepleset—Yang kecil terpeleset.

108. Sing anggak ketunggak—Yang congkak terbentur.

109. Sing wedi mati—Yang takut mati.

110. Sing nekat mbrekat—Yang nekat mendapat berkat.

111. Sing jerih ketindhih—Yang hati kecil tertindih

112. Sing ngawur makmur—Yang ngawur makmur

113. Sing ngati-ati ngrintih—Yang berhati-hati merintih.

114. Sing ngedan keduman—Yang main gila menerima bagian.

115. Sing waras nggagas—Yang sehat pikiran berpikir.

116. Wong tani ditaleni—Orang (yang) bertani diikat.

117. Wong dora ura-ura—Orang (yang) bohong berdendang.

118. Ratu ora netepi janji, musna panguwasane—Raja ingkar janji, hilang wibawanya.

119. Bupati dadi rakyat—Pegawai tinggi menjadi rakyat.

120. Wong cilik dadi priyayi—Rakyat kecil jadi priyayi.

121. Sing mendele dadi gedhe—Yang curang jadi besar.

122. Sing jujur kojur—Yang jujur celaka.

123. Akeh omah ing ndhuwur jaran—Banyak rumah di punggung kuda.

124. Wong mangan wong—Orang makan sesamanya.

125. Anak lali bapak—Anak lupa bapa.

126. Wong tuwa lali tuwane—Orang tua lupa ketuaan mereka.

127. Pedagang adol barang saya laris—Jualan pedagang semakin laris.

128. Bandhane saya ludhes—Namun harta mereka makin habis.

129. Akeh wong mati kaliren ing sisihe pangan—Banyak orang mati lapar di samping makanan.

130. Akeh wong nyekel bandha nanging uripe sangsara—Banyak orang berharta tapi hidup sengsara.

131. Sing edan bisa dandan—Yang gila bisa bersolek.

132. Sing bengkong bisa nggalang gedhong—Si bengkok membangun mahligai.

133. Wong waras lan adil uripe nggrantes lan kepencil—Yang waras dan adil hidup merana dan tersisih.

134. Ana peperangan ing njero—Terjadi perang di dalam.

135. Timbul amarga para pangkat akeh sing padha salah paham—Terjadi karena para pembesar banyak salah faham.

136. Durjana saya ngambra-ambra—Kejahatan makin merajalela.

137. Penjahat saya tambah—Penjahat makin banyak.

138. Wong apik saya sengsara—Yang baik makin sengsara.

139. Akeh wong mati jalaran saka peperangan—Banyak orang mati karena perang.

140. Kebingungan lan kobongan—Karena bingung dan kebakaran.

141. Wong bener saya thenger-thenger—Si benar makin tertegun.

142. Wong salah saya bungah-bungah—Si salah makin sorak sorai.

143. Akeh bandha musna ora karuan lungane—Banyak harta hilang entah ke mana

144. Akeh pangkat lan drajat pada minggat ora karuan sababe—Banyak pangkat dan derajat lenyap entah mengapa.

145. Akeh barang-barang haram, akeh bocah haram—Banyak barang haram, banyak anak haram.

146. Bejane sing lali, bejane sing eling—Beruntunglah si lupa, beruntunglah si sadar.

147. Nanging sauntung-untunge sing lali—Tapi betapapun beruntung si lupa.

148. Isih untung sing waspada—Masih lebih beruntung si waspada.

149. Angkara murka saya ndadi—Angkara murka semakin menjadi.

150. Kana-kene saya bingung—Di sana-sini makin bingung.

151. Pedagang akeh alangane—Pedagang banyak rintangan.

152. Akeh buruh nantang juragan—Banyak buruh melawan majikan.

153. Juragan dadi umpan—Majikan menjadi umpan.

154. Sing suwarane seru oleh pengaruh—Yang bersuara tinggi mendapat pengaruh.

155. Wong pinter diingar-ingar—Si pandai direcoki.

156. Wong ala diuja—Si jahat dimanjakan.

157. Wong ngerti mangan ati—Orang yang mengerti makan hati.

158. Bandha dadi memala—Hartabenda menjadi penyakit

159. Pangkat dadi pemikat—Pangkat menjadi pemukau.

160. Sing sawenang-wenang rumangsa menang — Yang sewenang-wenang merasa menang

161. Sing ngalah rumangsa kabeh salah—Yang mengalah merasa serba salah.

162. Ana Bupati saka wong sing asor imane—Ada raja berasal orang beriman rendah.

163. Patihe kepala judhi—Maha menterinya benggol judi.

164. Wong sing atine suci dibenci—Yang berhati suci dibenci.

165. Wong sing jahat lan pinter jilat saya derajat—Yang jahat dan pandai menjilat makin kuasa.

166. Pemerasan saya ndadra—Pemerasan merajalela.

167. Maling lungguh wetenge mblenduk — Pencuri duduk berperut gendut.

168. Pitik angrem saduwure pikulan—Ayam mengeram di atas pikulan.

169. Maling wani nantang sing duwe omah—Pencuri menantang si empunya rumah.

170. Begal pada ndhugal—Penyamun semakin kurang ajar.

171. Rampok padha keplok-keplok—Perampok semua bersorak-sorai.

172. Wong momong mitenah sing diemong—Si pengasuh memfitnah yang diasuh

173. Wong jaga nyolong sing dijaga—Si penjaga mencuri yang dijaga.

174. Wong njamin njaluk dijamin—Si penjamin minta dijamin.

175. Akeh wong mendem donga—Banyak orang mabuk doa.

176. Kana-kene rebutan unggul—Di mana-mana berebut menang.

177. Angkara murka ngombro-ombro—Angkara murka menjadi-jadi.

178. Agama ditantang—Agama ditantang.

179. Akeh wong angkara murka—Banyak orang angkara murka.

180. Nggedhekake duraka—Membesar-besarkan durhaka.

181. Ukum agama dilanggar—Hukum agama dilanggar.

182. Prikamanungsan di-iles-iles—Perikemanusiaan diinjak-injak.

183. Kasusilan ditinggal—Tata susila diabaikan.

184. Akeh wong edan, jahat lan kelangan akal budi—Banyak orang gila, jahat dan hilang akal budi.

185. Wong cilik akeh sing kepencil—Rakyat kecil banyak tersingkir.

186. Amarga dadi korbane si jahat sing jajil—Karena menjadi kurban si jahat si laknat.

187. Banjur ana Ratu duwe pengaruh lan duwe prajurit—Lalu datang Raja berpengaruh dan berprajurit.

188. Lan duwe prajurit—Dan punya prajurit.

189. Negarane ambane saprawolon—Lebar negeri seperdelapan dunia.

190. Tukang mangan suap saya ndadra—Pemakan suap semakin merajalela.

191. Wong jahat ditampa—Orang jahat diterima.

192. Wong suci dibenci—Orang suci dibenci.

193. Timah dianggep perak—Timah dianggap perak.

194. Emas diarani tembaga—Emas dibilang tembaga

195. Dandang dikandakake kuntul—Gagak disebut bangau.

196. Wong dosa sentosa—Orang berdosa sentosa.

197. Wong cilik disalahake—Rakyat jelata dipersalahkan.

198. Wong nganggur kesungkur—Si penganggur tersungkur.

199. Wong sregep krungkep—Si tekun terjerembab.

200. Wong nyengit kesengit—Orang busuk hati dibenci.

201. Buruh mangluh—Buruh menangis.

202. Wong sugih krasa wedi—Orang kaya ketakutan.

203. Wong wedi dadi priyayi—Orang takut jadi priyayi.

204. Senenge wong jahat—Berbahagialah si jahat.

205. Susahe wong cilik—Bersusahlah rakyat kecil.

206. Akeh wong dakwa dinakwa—Banyak orang saling tuduh.

207. Tindake manungsa saya kuciwa—Ulah manusia semakin tercela.

208. Ratu karo Ratu pada rembugan negara endi sing dipilih lan disenengi—Para raja berunding negeri mana yang dipilih dan disukai.

209. Wong Jawa kari separo—Orang Jawa tinggal setengah.

210. Landa-Cina kari sejodho — Belanda-Cina tinggal sepasang.

211. Akeh wong ijir, akeh wong cethil—Banyak orang kikir, banyak orang bakhil.

212. Sing eman ora keduman—Si hemat tidak mendapat bagian.

213. Sing keduman ora eman—Yang mendapat bagian tidak berhemat.

214. Akeh wong mbambung—Banyak orang berulah dungu.

215. Akeh wong limbung—Banyak orang limbung.

216. Selot-selote mbesuk wolak-waliking zaman teka—Lambat-laun datanglah kelak terbaliknya zaman.

%d blogger menyukai ini: