Posts tagged ‘Duduk’

28 Oktober 2012

Rahasia dibalik Dzikir Jahar

oleh alifbraja

Hingga kini, masih banyak orang yang under estimate, merasa tidak mempercayai dengan dalil suudzon dan syak wasangka, apakah benar ada yang dinamakan dzikir jahar atau dzikir keras. Kebanyakan dari mereka, mengira bahwa yang dinamakan dzikir keras itu sesuatu yang tidak ada riwayat dari Rasulnya. Benarkah?

Sebagai ilustrasi, sebagaimana orang bijak pernah berkata, bahwa manusia akan dikumpulkan dengan orang yang disukainya. Jika ia mencintai musik, maka ia akan berkumpul dengan para pecinta musik. Jika ia mencintai hobi motor cross misalnya, maka ia akan berkumpul dengan mereka yang mencitai hobi yang sama. Tidak perduli dengan suara bising dan dentuman musik yang menjadi-jadi. Bagi mereka yang penting adalah mencari kenikmatan.

Ya, begitulah bahwa manusia akan dikumpulkan bersama dengan orang yang memiliki hobi dan minat yang sama. Demikian juga dengan dzikir, atau bagi mereka yang menyukai dzikir. Timbulnya pertanyaan, benarkah ada dzikir jahar, ialah keluar dari mereka yang memang belum mencintai apa itu dzikir jahar. Padahal, Allah sendiri adalah firman-Nya menyatakan bahwa orang yang beriman yang memiliki hati suci, jika mendengar dzikir akan tersentuh dan gemetar hatinya, “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” (QS. Al Anfal ayat 2).

Dalam ayat ini, Allah memberi isyarat bahwa mereka yang beriman tidak akan merasa resah tetapi akan tersentuh hati dan jiwanya jika mendengarkan dzikir. Dari ayat ini yang menjadi titik tekan adalah dalam kata dzukiro, yang berarti dzikir itu dibacakan. Berarti orang yang beriman itu mendengar bacaan dzikir, lalu mereka bergetar hatinya. Kemudian, kita bisa menyimpulkan bahwa apa pun yang bisa didengar atau terdengar itu adalah suara yang dinyaringkan atau dikeraskan. Berarti dzikir dalam ayat tersebut adalah dzikir jahar atau dzikir yang dinyaringkan. Untuk lebih jelasnya, maka kita uraikan satu per satu ayat Al Quran dan Hadits yang menerangkan tentang dzikir jahar.

 

HUKUM DZIKIR KERAS (JAHAR) DALAM AL-QUR’AN DAN AL-HADITSHUKUM DZIKIR JAHAR DALAM AQUR’AN

 

– 1. Q.S. AL-‘AROF AYAT 204 :

“Dan apabila dibacakan Al-Qur’an, maka dengarkanlah baik-baik, dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapatkan rahmat .”

 

Penjelasan ayat ini bukan menunjukan dzikir dalam hati tapi dzikir yang terdengar atau dzikir keras. Namun, Ayat di atas seakan bertentangan dengan Al-Qur’an dan hadits yang lain tentang anjuran untuk berdzikir dalam hati seperti Q.S.Al-‘Arof ayat 205: “Sebutlah nama Allah di dalam hatimu dengan merendahkan diri dan tidak dengan suara yang keras dari pagi sampai petang, Dan janganlah dirimu menjadi golongan yang lupa (lalai).”

Sebenarnya Ayat 205 ini tidaklah bertentangan dengan ayat 204 yang menunjukan akan diperintahkannya dzikir jahar. Dan ayat 205 ini tidak bisa dijadikan alasan untuk melarang dzikir keras karena akan bertentangan dengan dzikir yang telah umum yang biasa dibaca dengan suara keras, seperti takbiran, adzan, membaca talbiyah ketika pelaksanakan haji, membaca al-qur’an dengan dikeraskan atau dilagukan, membaca sholawat dangan suara keras dan lain-lain. Hanya saja, Q.S Al’Arof ayat 205 ini hanya menjelaskan tentang dzikir yang tidak memakai gerak lidah yaitu dzikir dalam hati atau khofi. Jadi penjelasan Ayat 205 ini menunjukan, bagaimanapun bentuknya dzikir jika dibaca dalam hati pasti tidak akan mengeluarkan suara karena dzikirnya sudah menggunakan hati, bahkan sudah tidak menggunakan gerak lidah.

Kesimpulan dari dua ayat itu, Allah menunjukan adanya perintah dibolehkannya berdzikir dengan jahar (keras) maupun dzikir dalam hati (khofi) yang tidak memakai gerak lidah.

 

 

 

– 2. Q.S.AL-BAQOROH AYAT 200 :

“Apabila engkau telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menywebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu atau bahkan berdzikirlah lebih (nyaring dan banyak) daripada itu.”

Menurut Ibnu Katsir, latar belakang turunnya ayat ini ialah kebiasaan bangsa Arab, baik suku quraisy maupun lainnya pada musim haji mereka biasanya berkumpul di Mudzalifah setelah wukuf di Arafah. Disitu mereka membanggakan kebesaran nenek moyang mereka dengan cara menyebut-nyebut kebesaran nenek moyang mereka itu dalam pidato mereka. Ketika telah memeluk agama Islam, Nabi memerintahkan mereka hadir di Arafah untuk wukuf kemudian menuju mudzdalifah. Setelah mabit di mudzdalifah mereka diperintahkan untuk meninggalkan tempat itu dengan tidak menunjukan perbedaan diantara mereka (dengan cara menyebut kebesaran nenek moyang) seperti yang mereka lakukan pada masa pra Islam.

Berbeda dengan Ibnu Katsir, yaitu Mahmud Hijazi menafsirkan ayat ini dengan mengatakan, bila kamu selesai mengerjakan haji maka berdzikirlah kepada Tuhanmu dengan baik (dengan cara menyebut-nyebut nama Allah) sebagaimana kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu sewaktu kamu jahiliyah atau sebutlah nama Allah itu lebih keras daripada kamu menyebut-nyebut nama nenek moyangmu itu. Begitu pun penafsiran Ibnu Abbas, seperti terdapat dalam kitab Tanwir al Miqbas ketika menafsirkan kata aw asyadda dzikro yang berarti menyebut Allah dengan mengatakan “Ya Abba” seperti menyebut nenek moyang “Ya Allah”.

Dua pendapat mufasir di atas mengarahkan kita pada kesimpulan bahwa menyebut nama Allah dalam pengertian dzikrullah dianjurkan setelah menunaikan ibadah haji,. Dzikrullah tersebut dikerjakan dengan suara keras, bahkan boleh dengan suara yang lebih keras daripada suara jahiliyah tatkala mereka menyebut nama nenek moyang mereka ketika berhaji.

 

 

 

 

 

– 3. Q.S. AL-BAQOROH AYAT 114 :

“ Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalangi-halangi menyebut nama Allah di dalam mesjid-mesjid-Nya ..”

 

– 4. Q.S. AN-NUR AYAT 36 :

Didalam semua rumah Allah diijinkan meninggikan (mengagungkan) suara untuk berdzikir dengan menyebut nama-Nya dalam mensucikan-Nya sepanjang pagi dan petang.”

 

– 5. Dan lain-lain

 

HUKUM DZIKIR JAHAR MENURUT HADITS ROSUL

 

HADITS KE SATU

Dalam Kitab Bukhori jilid 1:

Dalam hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Ibnu Abbas ra., berkata: “Inna rof’ash shauti bidzdzikri hiina yanshorifunnaasu minal maktuubati kaana ‘ala ‘ahdi Rosuulillaahi sholallaahu alaihi wasallam kuntu ‘alamu idzaanshorrofuu bidzaalika sami’tuhu.” Artinya :“Sesungguhnya mengeraskan suara dalam berdzikir setelah manusia-manusia selesai dari sholat fardlu yang lima waktu benar-benar terjadi pada zaman Nabi Saw. Saya (ibnu Abbas) mengetahui para sahabat melakukan hal itu karena saya mendengarnya .”

Selanjutnya dalam hadits :“Suara yang keras dalam berdzikir bersama-sama pada waktu tertentu atau ba’da waktu sholat fardhu, akan berbekas dalam menyingkap hijab, menghasilkan nur dzikir” (HR. Bukhari).

 

 

– HADITS KE DUA

Dari Abu Khurairah ra, katanya Rasulullah bersabda: “Allah berfirman; ‘Aku berada di dalam sangkaan hamba-Ku tentang diri-Ku, Aku menyertainya ketika dia menyebut-Ku, jika dia menyebut-Ku kepada dirinya, maka Aku menyebutnya kepda diri-Ku. Maka jika menyebut-tu di depan orang banyak, maka Aku akan menyebutnya di tempat yang lebih baik daripada mereka” (HR. Bukhari). Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut ‘di depan orang banyak’, berarti dzikir tersebut dilakukan secara jahar.

 

– HADITS KE TIGA

Diriwayatkan di dalam Al Mustadrak dan dianggap saheh, dari Jabir ra. berkata: “Rasulullah keluar menjumpai kami dan bersabda: ‘Wahai saudara-saudara, Allah memiliki malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis-majlis dzikir di dunia. Maka penuhilah taman-taman syurga’. Mereka bertanya:’Dimanakah taman-taman syurga itu?’. Rasulullah menjawab: ‘Majlis-majlis dzikir.’ Kunjungilah dan hiburlah diri dengan dzikir kepada Allah” (HR. Al Badzar dan Al Hakim).

Penjelasan hadits ini, bahwa dalam kalimat ‘malaikat yang pergi berkeliling dan berhenti di majlis dzikir di dunia’ maksudnya berarti dzikir dalam hal ini adalah dzikir jahar yang dilakukan manusia. Karena malaikat hanya mengetahui dzikir jahar dan tidak mampu mengetahui dzikir khofi. Hal ini sebagaimana sabda Rasul: “Adapun dzikir yang tidak terdengar oleh malaikat yakni dzikir khofi atau dzikir dalam hati yakni dzikir yang memiliki keutamaan 70x lipat dari dzikir yang diucapkan” (HR. Imam Baihaqi dalam Kitab Tanwirul Qulub hal.509).

 

 

– HADITS KE EMPAT

Hadits yang dishohehkan oleh An Nasai dan Ibdu Majjah dari As Sa’ib dari Rasululah SAW, beliau bersabda: “Jibril telah datang kepadaku dan berkata, ‘Perintahkanlah kepada sahabat-sahabatmu untuk mengeraskan suaranya di dalam takbir”(HR. Imam Ahmad Abu Daud At Tirmidzi).

Penjelasan hadits ini, bahwa sangat jelas tidak dilarangnya dzikir keras tetapi dianjurkan untuk melakukan dzikir jahar.

 

– HADITS KE LIMA

Didalam kitab Sya’bil Iman dari Abil Jauza’ ra. berkata :“Nabi Saw, bersabda, “Perbanyaklah dzikir kepada Allah sampai orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” (H.R.Baihaqi)

Penjelasan hadits ini, jika dikatakan menyebut “orang-orang munafik berkata bahwa kalian adalah orang-orang ria (mencari pujian).” Hadits ini menunjukan dzikir jahar karena dengan dzikir jahar (terdengar) itulah orang munafik akhirnya menyebutnya ria .

 

– HADIITS KE ENAM

Juga dalam kitab Sya’bil Iman yang di shohehkan oleh Al-Hakim dari Abu Sa’id Al-Khudri ra., berkata :“Nabi Saw, bersabda,” Perbanyaklah dzikir kepada Allah kendati kalian dikatakan gila”. (H.R.Al-Hakim danAl-Baihaqi)

 

– HADITS KE TUJUH,

Dari Jabir bin Abdullahra, berkata :“Ada seorang yang mengeraskan suaranya dalam berdzikir, maka seorang berkata, “ semestinya dia merendahkan suaranya.” Rosulullah bersabda,” Biarkanlah dia,sebab sesungguhnya dia adalah lebih baik.“ (Al-Baihaqi). Dari Sa’id bin Aslam ra., katanya Ibnu Adra’ berkata, “ Aku menyertai Nabi Saw. Pada suatu malam, lalu melewati seseorang di mesjid yang mengeraskan suaranya, lalu aku berkata, “ Wahai Rosulullah, tidaklah ia termasuk orang ria ? “ Beliau menjawab, “ Tidak,tetapi dia pengeluh,” (H.R.Baihaqi).

 

 

PENDAPAT PARA ULAMA TENTANG DZIKIR JAHAR

Imam An-Nawawi berkata : Bahwa bacaan dzikir sir (samar) lebih utama apabila takut ria, atau khawatir mengganggu orang yang sedang sholat atau tidur. Sedangkan yang jahar (dzikir keras) lebih baik apabila tidak ada kekhawatiran tentang hal ini, mengingat amalan di dalamnya lebih banyak manfaatnya, karena ia dapat membangkitkan kalbu orang yang membaca atau yang berdzikir, ia mengumpulkan semangat untuk berfikir, mengalahkan pendengaran kepadanya, mengusir tidur, dan menambah kegiatan” (dalam Kitab Haqiqot Al-Tawwasulu wa Al-Wasilat Al-Adlow’il kitabi wa As-Sunnah).

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih didalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang kepada Allah yang telah menjadikan hati jadi keras bagaikan batu, penghalangnya yaitu seperti sipat malas, sombong, ria, iri dengki dan sebagainya)

Imam Al-Ghozali r.a. mengatakan: “Sunnat dzikir keras (jahar) diberjemaahkan di mesjid karena dengan banyak suara keras akan memudahkan cepat hancurnya hati yang keras bagaikan batu, seperti satu batu dipukul oleh orang banyak maka akan cepat hancur”.

 

KENAPA MESTI DZIKIR KERAS?

Ulama ahli ma’rifat mengatakan bahwa untuk mencapai ma’rifat kepada Allah bisa diperoleh dengan kebeningan hati. Sedangkan kebeningan hati itu bisa dicapai dengan suatu thoriqoh (cara), diantaranya banyak berdzikir kepada Allah. Jadi, ma’rifattidak akan bisa diperoleh jika hati kita busuk penuh dengan kesombongan, ria, takabur, iri dengki, dendam, pemarah, malas beribadah dan lain-lain. Oleh sebab itu dzikir diantara salah satu cara (thiriqoh) untuk membersihkan hati.

Sebab, manusia sering menyalahgunakan fitrah yang diberikan Tuhan, sehingga hati mereka menjadi keras. Sifat-sifat yang tidak terpuji tersebut, mendorong manusia memiliki hati yang keras melebihi batu. Hal tersebut sebagaimana kalimat yang tercantum dalam Al Quran surat Al Baqoroh ayat 74: “tsumma qosat quluubukum minba’di dzaalika fahiya kal hijaaroti aw asyaddu qoswatun”, artinya “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu,bahkan lebih keras lagi”.Dari ayat tersebut hati manusia yang membangkang terhadap Allah menjadikan hatinya keras bagaikan batu bahkan lebih keras daripada batu.

Maka, jalan keluarnya untuk melembutkan hati yang telah keras bagaikan batu sehingga kembali tunduk kepada Allah, sebagaimana Ulama ahli ma’rifat mengatakan penafsirkan ayat tersebut, sebagaimana dalam kitab miftahu Ash-Sshudur karya Sulthon Awliya Assayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “fakamaa annal hajaro laa yankasiru illa biquwwatin dlorbil muawwil fakadzaalikal qolbu laayankasiru illa biquwwati ”, artinya “sebagaimana batu tidak pecah kecuali bila dipukul dengan tenaga penuh pukulan palunya, demikian hati yang membatu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan kuatnya suara dzikir. “liannadz dzikro laa yu’tsiru fiijam’i tsanaati qolbi shohibihi illa biquwwatin”, artinya “ Demikian pula dzikir tak akan memberi dampak dalam menghimpun fokus hati pendzikirnya yang terpecah pada Allah kecuali dengan suara keras”.

Syekh Ibrihim Al-Mabtuli r.a. menerangkan juga dalam kita kifayatul At-Qiya hal 108 : “Irfa’uu ashwatakum fidzdzikri ila antahshula lakum aljam’iyatu kal ‘arifiin.“ Artinya: “Keraskanlah suaramu didalam berdzikir, sehingga sampai menghasilkan al jam’iyah (keteguhan hatimu) seperti orang-orang yang telah mengenal Allah”. Selanjutnya masih menurut beliau “Dan wajib bagi murid-murid yang masih di dalam tahap belajar menuju Allah, untuk mengangkat suaranya dalam berdzikir, sampai terbongkarlah hijab (yaitu penghalang yang akan menghalangi kita dekat kepada Allah, seperti sifat-sifat jelek manusia: iri, dengki, sombong, takabur,dll yang disumberkan oleh hati yang keras).

 

CARA BERDZIKIR DENGAN KERAS YANG DIAJARKAN ROSUL

Dalam hadits shohihnya, dari Yusuf Al-Kaorani : “Sesungguhnya Sayyidina ‘Ali r.a. telah bertanya pada Nabi Saw. : Wahai Rosulullah, tunjukkanlah kepadaku macam-macam thoriqot (jalan) yang paling dekat menuju Allah dan yang paling mudah bagi hamba-hamba-Nya dan yang paling utama di sisi Allah, maka Nabi Saw menjawab: wajiblah atas kamu mendawamkan dzikkrullah: Sayyidina ‘Ali r.a bertanya lagi: Bagaimana cara berdzikirnya ya Rosulallah? Maka Nabi menjawab: pejamkan kedua matamu, dan dengarkan (ucapan) dariku tiga kali, kemudian ucapkan olehmu tiga kali, dan aku akan mendengarkannya. Maka Nabi Saw. Mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali sambil memejamkan kedua matanya dan mengeraskan suaranya, sedangkan Sayyidina ‘Ali r.a mengucapkan LAA ILAAHA ILLALLAH tiga kali, sedangkan Nabi Saw memdengarkannya”. (Hadits dengan sanad sahih, dalam kitab Jami’ul Ushul Auliya)

 

Dalam kitab Tanwirul Quluub dijelaskan cara gerakan dzikir agar terjaga dari datangnya Syetan, merujuk Firman Allah dalam Al-Qur’an Surat Al’Arof ayat 17: “Demi Allah (kami Syetan) akan datang kepada manusia melalui arah depan, arah belakang, arah kanan dan arah kiri”. Ayat ini menunjukan arah datangnya syetan untuk menggoda manusia agar menjadi ingkar terhadap Allah. Jelas, sasarannya manusia melalui empat arah; 1. Depan 2.Belakang 3.Kanan 4.Kiri.Maka, dzikirnya pun harus menutup empat arah. Dalam kitab Tanwirul Qulub: ucapkan kalimat “LAA” dengan diarahkan dari bawah pusat tarik sampai otak hal ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah depan dan belakang. Adapun ditarik kalimat itu ke otak karena syetan mengganggu otak/pikiran kita sehingga banyak pikiran kotor atau selalu suuddzon. Dan “ILAA” dengan diarahkan ke susu kanan atas, dan kalimat “HA” diarahkan ke arah susu kanan bagian bawah adapun ini untuk menutup pintu syetan yang datang dari arah kanan. Dan “ILLALLAH” diarahkan ke susu kiri yang bagian atas serta bawahnya, hal ini untuk menutup pintu syetan yang datangnya dari arah kiri, namun lapadz jalalah yaitu lapadz “ALLAAH”nya diarahkan dengan agak keras ke susu kiri bagian bawah sekitar dua jari, karena disanalah letaknya jantung atau hati (keras bagaikan batu) sebagaimana pendapat Imam Al-ghozali.

Syarat berdzikir menurut para Ulama Tasawuf:

1. Dengan berwudlu sempurna

2. Dengan suara kuat/ keras

3. Dengan pukulan yang tepat ke hati sanubari

 

 

 

MANA YANG PALING UTAMA, DZIKIR KERAS (JAHAR) ATAU DZIKIR HATI (KHOFI)?

Dalam kitab ulfatu mutabarikin dan kitab makanatu Adz-dzikri bahwasanya Rosul pernah bersabda: “sebaik-baik dzikir adalah dalam hati”. Dalam kitab tersebut dijelaskan hal itu bagi orang yang telah mencapai kelembutan bersama Allah, hati bersih dari penyakit, hati yang sudah lembut. Sedangkan dzikir keras itu lebih utama bagi orang yang hatinya keras bagaikan batu, sehingga sulit untuk tunduk pada perintah Allah karena sudah dikuasai oleh nafsunya.

Dalam kitab Miftahu Ash-Shudur karya Sulthon Auliya As-Sayyid Asy-Syekh Al-‘Alamah ‘Al-‘Arif billah Syekh Ahmad Shohibul wafa Tajul ‘Arifin r.a. bahwa “ Sulthon Awliya As-Sayyid Syekh Abu A-Mawahib Asy-Syadzili r.a. berkata: “Para ulama toriqoh berbeda pendapat tentang mana yang lebih utama, apakah dzikir sir (hati) atau dzikir jahar (keras), menurut pendapat saya bahwa dzikir jahar lebih utama bagi pendzikir tingkat pemula (bidayah) yang memang hanya dapat meraih dampak dzikir dengan suara keras dan bahwa dzikir sir (pelan) lebih utama bagi pendzikir tingkat akhir (nihayah) yang telah meraih Al-Jam’iyyah (keteguhan hati kepada Allah)” .

Imam Bukhori, dalam kitab Sahihnya bab dzikir setelah salat fardlu, berkata: “ Ishaq ibnu Nasr memberitahu kami, dia berkata’Amru memberitahu saya bahwa Abu Ma’bad, pelayan Ibnu Abbas, semoga Allah meridloi keduanya, memberitahu Ibnu Abbas bahwa “Mengeraskan suara dalam berdzikir ketika jama’ah selesai dan shalat fardlu sudah biasa dilakukan pada masa Nabi Muhammad. Ibnu Abbas berkata: “Aku tahu hal itu, saat mereka selesai shalat karena aku mendengarnya”. Sayyid Ahmad Qusyayi. Q.s., berkata: ”inilah dalil keutamaan dzikir keras (jahar) yang didengar orang lain, dengan demikian ia membuat orang lain berdzikir kepada Allah dengan dzikirnya kepada Allah“.

 

DZIKIR KERAS MERESAHKAN?

Dzikir keras tidak akan meresahkan atau mengganggu orang yang hatinya penuh dengan cinta kepada Allah. Dengan terdengarnya dzikir menjadi magnet (daya tarik) yang kuat bagi orang yang beriman, bahkan menjadi kenikmatan tersendiri. Sebagaimana firman Allah dalam Al-qur’an QS.Al-Anfal ayat 2 :

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, Dan apabila dibacakan kepadanya ayat-ayat-Nya bertambah kuat imannya dan mereka hanya kepada Allah saja berserah diri” .

 

ALLAH TIDAK TULI

Ada anekdot dari seorang Ulama Tasawuf pengamal thoriqoh: suatu hari ada dialog antara mahasiswi dan ulama tasawuf. Mahasiswi bertanya: “Pak Kiai, kenapa dzikir mesti keras (jahar) padahal Allah itu tidak tuli?”. Ulama Tasawuf menjawab dengan membalikan pertanyaan: “yang bisa kena sifat tuli itu yang memiliki telinga atau tidak?”. Mahasiswi menjawab: “iya yang punya telinga”. Ulama Tasawuf kembali bertanya: “Kalau Allah punya telinga tidak?”. Mahasiswi menjawab: “tidak punya”. Ulama tasawuf kembali bertanya lagi: “apakah dengan suara keras makhluk akan merusak pendengaran Allah?”. Mahasiswi menjawab: “tidak Pak Kiai”.

Selanjutnya Ulama Tasawuf mengatakan: “oleh sebab itu istighfarlah dan bersyahadatlah dengan baik, bagaimanapun Allah tidak akan tuli dan tidak akan rusak pendengaran-Nya oleh suara kerasnya makhluk. Bagi-Nya suara keras maupun pelan terdengar oleh Allah sama. Hanya saja, hati manusia yang tuli akan perintah Allah. Jadi, dzikir keras bukan untuk Allah dan bukan ingin didengar oleh Allah karena Allah sudah tahu. Tapi tujuan dzikir keras itu diarahkan untuk hati yang tuli kepada Allah yang keras bagaikan batu sedangkan kita tahu batu itu tidak akan hancur kecuali dengan pukulan yang kuat, begitupun hati yang keras bagaikan batu tidak akan hancur kecuali dengan suara pukulan dzikir yang kuat. Jadi, Allah tidak butuh akan dzikir kita, sebaliknya kitalah yang butuh akan dzikir kepada Allah supaya hati menjadi lembut, bersih dan ma’rifat kepada Allah.

28 Oktober 2012

DZIKRULLAH

oleh alifbraja
Beruntunglah, Berbahagialah & Bersyukurlah kpd ALLAH SWT, Karena penjelasannya TIDAK ADA DI BUKU2 LAINNYA, Dan ilmu2 AgamaNYA ALLAH SWT  tidak gampang ditemukan & tidak sebanding dengan harta & Material yang ada di muka bumi ini, maka tunduk sujud syukurlah Kepada-NYA semoga penjelasan ini menjadi HIDAYAH bagi kita semua,……..AMIN
Ini adalah kekuatan cahaya Dzikir yg ada pada diri manusia dgn 4 tingkatan ingatan fokus pada ALLAH SWT Sang Maha Bercahaya.
Makin dalam & fana (hampa) suatu fokus dzikir maka makin terlenalah Sang Hamba oleh fenomena kegaiban alam Nur Ilahiah.
Karena jika ingin mengenali ALLAH pahamilah tentang Gaib sesungguhnya ALLAH pun sifatNYA GAIB & Perkenalanmu Kepada-NYA Takkkan habis sampai seumur hidupmu di dunia ini.
Seorang Hamba terkadang tidak menyadari bahwa ia sebenarnya masih di dunia sehingga menerawang melintasi alam kegaiban nur Ilahiah yang tak ada batas akhirnya membutuhkan power energi cahaya dzikir yg kuat.
Jika sang Hamba berpikir bijak ia pasti kembali ke dunia ibarat orang yang lagi menyelam melihat cakrawala keindahan bawah laut tidak terlalu lama lalu ia kembali ke permukaaan dasar laut untuk persiapan oksigennya kembali.
Begitulah tehnik berzikir yang bijaksana saudara……………………………
Ketahuilah Brothers  secara realita banyak saudara2 kita yang ERROR oleh fenomena alam kegaiban ALLAH SWT ketika mengosongkan pikiran &  masuk dalam alam kefanaan (hampa) melalui dzikir 4 tingkatan Syariat-Tarekat-Hakikat-Ma’rifat.
Padahal kalau ditelaah secara hakikat Alam fenomena visual kegaiban ALLAH SWT Takkan Habis oleh masa, batas, ruang & waktu ibaratnya klo menghitung ilmu2NYA ALLAH SWT takkan habis biarpun laut dijadikan tinta untuk menulis ayat2 ilmu ALLAH SWT Yang Maha Luas Pengetahuan-NYA Di Alam Jagat Raya.
Berikut ini adalah tuntunan2 dzikir:
  • Dzikir Syariat :
  •  “La Ilaha Illallah” diucapkan berulang2 dgn lisan sampai masuk kedalam hati sehingga lisan/mulut tak berucap lagi, rahasia dzikir ini terdiri dari 12 huruf yg sama maknanya dengan Waktu 12 jam, dzikir ini selalu dikumandangkan oleh para malaikat bumi (Malaikatul Ahyar) ketika ALLAH SWT menciptakan setiap makhlukNYA di muka bumi.
  • Dzikir Tarekat :
  •  “ALLAH”ALLAH”ALLAH” diucapkan berulang2 di dalam hati saja dengan pengosongan pikiran fana (hampa) lalu fokus pada nama tadi sehingga nama ALLAH tadi membuat & menciptakan alam bayangan hidup  didepan mata anda sendiri, jangan kaget & takut oleh fenomena tersebut karena para jin syetan selalu mengintai anda tetapi berlindunglah Kepada ALLAH SWT yang Maha Menjaga Orang Beriman dgn ayat & doa : audzu billahi minas syathanir rajim…………… La ilaha illallah anta subhanaka inni kuntu minaz zhalimin……….lalu lafazkan… ALLAHU SALAMUN HAFIZHUN WALIYYUN WA MUHAIMIN ( Allah Yang Maha sejahtera, Maha Memelihara, Maha Melindungi lagi Maha Menjaga Hambanya yg beriman).
  • Dzikir Hakikat :
  •  “HU”HU”HU (DIA ALLAH) diucapkan dalam hati saja dengan keadaan fana (hampa) melalui perantaraan tarikan Nafas ke dalam sampai ke perut, usahakan perut tetap keras biarpun nafas telah keluar, dalam bahasa ilmu tenaga dalam ini adalah metode pemusatan power lahiriah dari perut, dalam istilah cina yin & yang ini adalah penyembuhan/pengobatan pada diri secara bathiniah dan kesemuanya itu benar adanya karena pusat perut adalah sumber daya energi kekuatan manusia secara lahiriah & bathiniah serta secara hakikat dzikir”HU” sebenarnaya tempatnya pada pusat perut dengan perantaraan cahaya nafas yg sangat berharga pada manusia.
  • Dzikir Ma’rifat : 
  • ” HU”AH”-”HU”AH”-HU”AH” atau HU-WAH” (Dia ALLAH Bersamaku”) sebenarnya bunyi dzikir ini sudah perpaduan antara hakikat & ma’rifat, dzikir tersebut dilantunkan dalam hati saja dengan gerakan nafas “HU” masuk kedalam “AH” keluar nafas, pada para sufi (wali Allah) ini adalah dzikir kenikmatan, kecintaan ( Mahabbatullah) yang sangat luas faedah hidayahnya & karomahnya sehinngga dapat menyingkap tabir rahasia2 Allah Swt pada gerakan kehidupan ini.
  • Dzikir rahasia  ma’rifat :
  •  ” Hu”wallahu Ahad (Allah Maha Tunggal)
Pada penjelasan diatas tentang dzikir sebenarnya kalau bicara tentang tingkatan pemahaman Agama dengan ilmun2NYA ALLAH SWT terdiri 7 fase tingkatan  :
  1. Syariat : mentaati segala perintahnya dan menjauhi segala laranganNYA
  2. Tarekat : Jalan spritual menuju kepadaNYA
  3. Hakikat : Mengetahui arti makna sesuatu pada kehidupan TAPI hamba itu diam pada orang awam KARENA itulah ikatan janjinya kepada ALLAH SWT.
  4. Ma’rifat : Mengetahui pengenalan dirinya kepada ALLAH SWT.   seperti yang  hadist katakan ” kenalilah dirimu sendiri sebelum mengenali ALLAH setelah engkau MengenaliNYA maka binasalah wujudmu BERSAMANYA.
  5. Musyahadah : Penyaksian fenomena kegaiban NUR ALLAH SWT Di langit & di bumi, ia menyaksikanNYA bersama para wali ALLAH & nabi2 ALLAH & Khususnya Baginda Rasulullah Nabi Muhammad SAW
  6. Mukasyaf : Terbukanya Tabir rahasia seluruhnya di langit & di bumi, para mukasyaf saat ini hanya terdiri dari 111 orang saja di  seluruh  dunia & setiap ada wafat ada yang menggantikan Wali tersebut, jadi  berbahagialah hamba yang telah menemukannya.
  7. Mahabbah : Kecintaan kepada ALLAH SWT dengan penglihatan pada setiap gerakan nafas & hidupnya ada  kasih sayang TuhanNYA Yang Maha Pemberi Nan Maha pemurah, tingkatan ini hanya ALLAH SWT saja yang tahu tentang kedudukan hambanya, tapi ketahuilah saudara Wali-NYA saat ini yang mencapai tingkatan MAHABBAH cuma berjumlah 11(sebelas) orang saja Di dunia ini & setiap ada yg kembali kehadiratNYA akan ada yg menggantikannya (sama para Mukasyaf), maka sangat Berbahagialah di dunia & Akherat orang2 yang telah menjumpainya.
27 Oktober 2012

SISTEMATIKA TASAWUF 3

oleh alifbraja

PERAN WIRID DALAM  KEHIDUPAN HATI

Sebagian kita mengartikan WIRID ; sebagai rangkaian doa dan zikir di amalkan seorang salik ,yang diberikan oleh seorang guru kepada murid.Dalam Ensiklopedia Tasawuf disebutkan ;Wirid berasal dari kata arab WIRID, jamaknya Awrad yang berarti kumpulan zikir dan do’a do’a kepada Allah.Pembacaan wirid sangat dianjurkan,wirid merupakan do’a do’a pendek atau formula formula untuk memuja Tuhan dan memuji Muhammad saw,dan membacanya dalam hitungan tertentu sekian kali,pada jam jam yang telah ditentukan yang dipercaya akan memperoleh keajaiban atau paling tidak akan mendatangkan manfaat.

 

Didalam Kamus Tasawuf juga disebutkan,WIRID jamaknya AURAD.Wirid adalah seruan yang mengandung permohonan tertentu kepada Allahswt.Wirid diartikan juga dengan do’a do’a yang diucapkan berulang ulang setiap hari.Dalam istilah tassawuf adalah doa yang diulang pada waktu tertentu saetiap hari biasanya sesudah shalat wajib.Rangkaian kalimat qurani,biasanya dibaca sejumlah seratus kali ataulebih.Kalimat kalimat tersebut merupakan pelatihan yang menumbuhkan konsentrasi keagamaan sehari hari.Kalimat kalimat wirid biasanya dibaca oleh kelompok kelompok thariqat dan juga kelompok lainya.Gaya dan model aurad sangat beragam,tetapi pada umumnya mengandung permohonan ampunan(istigfar), shalawat nabi, dan syahadah.

 

Menurut hemat kami pengertian pengertian tentang wirid tersebut diatas merupakn pengertian wirid yang sempit.Sebenarnya WIRID mempunyai arti yang lebih luas yaitu WIRID adalah amal amal kebaikan dalam islam termasuk do’a dan dzikir yang dilakukan oleh penempuh jalan menuju Allah ( salik).Jadi wirid tidak hanya membaca doa dan dzikir tapi melakukan amal ibadah ibadah lain juga bisa disebut WIRID.Seperti dijelaskan oleh Syeikh Ahmad bin Muhammad bin ‘Ajibah al hasani dalam kitabnya : Iqazh al Himam fi Syarh al Hikam ;versi Indonesia :”Lebih dekat kepada Allah ” terjemahan :Abdul Halim S,Ag );bahwa WIRID menurut istilah adalah dzikir dan ibadah lainya yang ditetapkan seorang hamba kepada dirinya sendiri atau ditetapkan seorang guru kepada muridnya.

 

Syeikh Sa’id Hawa rahimaullah dalam kitabnya : Mudzakiraat fi manzilis shidiqien wa rabbaniyyin ;terjemahan : imran effendi menjelaskan panjang lebar tentang wirid .Wirid wirid harian adalah kehidupan hati,dengan wirid ,hati menjadi terang bersih dan tenteram,shalat adalah wirid khusus sementara amal amal dalam islam lainya merupakan wirid umum.Menurut syeikh ‘Athaillah rahimaullah: seorang arif tak pernah meninggalkan ibadah, maka padukanlah ibadah dengan ma’rifat, sebab orang yang hanya melakukan ibadah dan zuhud tanpa memperoleh ma’rifah akan surut semangat ibadahnya.Agar gambaran ma’rifah tak menyimpang maka beliau menjelaskan bahwa ma’rifah hakiki itu ada di akhirat, sedangkan keharusan kita didunia ini hanya memperhatikan ciptaanNYA dan menyelami sifat sifatNYA.

 

Wirid wirid harian diperlukan agar supaya hati seorang salik yang sedang menempuh perjalanan menuju Allah berada dalam kesadaran.Seperti kita ketahui bahwa ketika ruh dimasukan dalam jasad atau tubuh maka seketika itu pula ruh tersebut menjadi tawanan jasad atau tubuhnya,sehingga ruh terpengaruh oleh tuntutan tuntutan jasad.dan inilah yang mjenyebabkan dirinya terhijab (tertutup tabir).padahal azalnya hati ini telah mengenal Allah seperti difirmankan Allah swt :

 

وَاِذْ اَخَذَ رَبُّكَ مِنْ بَنِى اَدَ مَ مِنْ ظُهُوْ رِهِمْ ذ ُرِّ يَّتَهُمْ وَاَشْـهَدَ هُـمْ عَلَي

 

اَنْفُــسِهِمْ اَلَسْتُ بِــرَبِّكُــمْ قاَ لُوْا بَلىَ شَــهِد ناَ اَنْ تَــقُــوْ لُــوْا يَـــوْمَ

 

الْقِيَــمَةِ اِناَّ كُــنَّا عَــنْ هَــذَا غَا فِلِــيْــنَ .

 

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan anak anak adam dari sulbi mereka Dan Allah mengambil kesaksian terhadap ruh mereka(seraya berfirman):”BukanKah AKU ini Tuhanmu?”,mereka menjawab,”Betul (Engkau Tuhan kami),kami bersaksi (Kami lakukan yang demikian itu) agar dihari kiamat kamu tidak mengatakan :’Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini ‘.” (Al ‘Araf(7):172 )

 

Akan tetapi ketika ruh sudah masuk kedalam raga maka beragam tuntutan jasadpun memberinya perubahan yang berpengaruh langsung kepada hati.Bila cahaya yang menyinari hati begitu kuat,maka sesorang dapat menangkis beragam desakan tubuh,tetapi jika sesorang melakukan dosa ,maka hatinya tertitik noda noktah hitam.

 

Oleh karena itu agar hati seseorang tetap dalam kondisi tertentu, maka ia harus menjaga beberapa hal tertentu.Karena itu ibadah disyariatkan kepada kita, baik wajib maupun yang sunat,agar dapat mengisi dan mewarnai keadaan yang ada diri seseorang.Hati bukan hanya satu, kondisi bukan hanya satu dan pengaruh yang membekaspun bukan hanya satu macam, karena ini dan hal lainya,maka disyari’atkan kepada kita hal hal yang wajib dan nafilah ( sunat yang sangat dianjurkan).Sebagian syariat nafilah itu diserahkan kepada kita agar seseorang dapat mengambil,sesuai dengan kapsitas dirinya,kebutuhan hatinya, dan keadaan yang meliputinya.Allah berfirman :

 

 
بَلِ الا ِنْـساَنُ عَــلَى نَــفْسِــهِ بَــصِيْــرَةً . وَلَوْ اَلْـقَى مَــعاَ ذِيـرَهُ .

 

“Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri.Dan meskipun dia

Mengemukakan alasan alasannya.” (Al Qiyamah(75):14-15)

 

 

Orang yang hidup dalm lingkungan yang kacau harus lebih gencar mencuci hatinya katimbang orang yang hidup dalam lingkungan mesjid misalnya.dan inilah sebagian hikmah, mengapa hal hal yang nafilah (sunat) tidak terikat;karena faktor tertentu, maka tingkat kebutuhan sesorang berbeda, ada yang sedikit ada Pula yang banyak.maka setiap orang hemdaklah mengatur segala urusan agar hatinya tetap dalam kondisi tertentu.Jika ia tidak memperhatikan hal itu maka bisa jadi tiba tiba hatinya tertutup, lalu makin tebal,tapi tetap tidak merasa.Karena itu setiap hari seseorang harus mencuci hatinya, dan sholat dianggap alat pencuci yang utama.Setiap rukun islam mempunyai peran dalam pencucian hati,tetapi sholat yang kontinyu sangat ampuh sekali mengkilapkan/menjernihkan hati dan jiwa,lebih lebih bila sholat ditunaikan dengan segenap kesempurnaan.Allah berfirman :

 

 

….. اِنَّ الصَّــلَو ةََ َ تَـنْهىَ عَـنِ الْفَـحْـشَآ ءِ وَالمُـنْــكَرِ……

 

“…..Sesungguhnya sholat itu mencegah dari hal hal keji dan mungkar……

(al-Ankabut /29:45)

 

 

Selain sebagai penghalang nafsu dari melakukan kekejian dan kemungkaran, sholat juga sebagai juga senagai pembasuh ruhani, karena pada dasarnya sholat harus dilakukan dalam suasana ruhani tertentu.Pasti menyimpan hikmah kebaikan jika sholat itu diwajibkan pada malam issro’ mi’roj tepatnya ketika mi’raj.Dari sinilah para ahli perjalanan menuju Allah berpendapat bahwa ketika seorang menunaikan sholat rohaninya naik melambung ke alam arwah.

 

Orang yang setiap hari membawa ruhaninya naik melalui shalat shalatnya, maka ia akan menjadikan ruhaninya benar benar suci.Jika seorang benar benar berdiri menegakkan shalatnya,seraya memperhatikan makna makna yang terkandung didalamnya,seperti sujud, rukuk,sholawat kepada nabi,memuji Allah,berdoa beristighfar dan membaca al qur’an sesungguhnya ia telah membersihkan ruhaninya.Jika seseorang melaksanakan sholat wardu dengan sempurnadan rapih ,maka berarti ia mencuci ruhani jiwa dan hatinya sebanyak lima kali.Jika sholat wajib dipadu dengan sholat sholat sunat, seperti sunat rawatib, witir, qiyamul lail, sholat dhuha, maka tak pelak lagi hatinya akan menjadi bersih dan berkilau.Tanpa pencucian yang terus menerus dengan sholat ruhani akan bertanbah kotor,jiwanya makin kusam dan hatinya kian menjadi gelap.

Ari Ibnu Mas’ud rahimaullah, dia menuturkan, rosulullah bersabda :

” Kalian akan terbakar, kalian akan terbakar !namun jika kalian sholat subuh,makaAkan dicucinya.Kalian akan terbakar kalian akan terbakar,namun jika kalian sholat Dhuhur maka akan dicucinya.Kalian akan terbakar kalian akan terbakar namun jika kalian sholat as’ar maka akan dicucinya.Kalian akan terbakar kalian akan terbakar namun jika kalian sholat maghrib maka akan dicucinya.Kalian akan terbakar Kalian akan terbakar namun jika kalina sholat ‘isya’ maka akan dicucinya, kemudian kalian tidur maka tiada keawjiban bagi kalian hingga kalian bangun .” (HR Tabrani )

 

Apabila wirid yang kontinyu itu menyatu dengan sholat maka proses pencucian akan makin besar pengaruhnya.Raosulullah saw mempunyai berbagi wirid yang menyatu dengan sholat sholatnya dan sungguh betapa banyak sholat dan wirid beliau.Dalam satu rekaat saja rosulullah memmbaca surat al baqarah. Al imron, an nisa’.

Ibnu Umar berkata :

“Dalam satu majlis (saja) kami hitung Rosulullah melafalkan doa:Rabbighfirlii wa tub ‘alayya innaka antat tawwabur rohim (yaTuhanku ampunilah aku dan berilah aku taubat,sesungguhnyaEngkau maha pemberi taubat lagi penyayang ) “.(HR Abu dawud ,tirmidzi)

‘Aisyah berkata : “Rasulullah berdzikir kepada Allah dalam semua waktu “.

(HR Muslim)

Shalat, doa, dzikir selepas sholat, doa dan dzikir pada saat tertentu, doa dikala malam dan siang serta dzikir dzikir bebas semua itu bisa menopang pencucian dan pembersihan ruhani dan hati yang terus menerus.Namun jika melalaikan berarti tiada pembersihan,peringatan dan penerangan baginya hingga terkadang sampai kepada kekufuran.

Sesungguhnya sesorang yang menginginkan kesempurnaan ibadah dan ubudiyah, demi meraih hati yang tetap terang dan menerangi maka tiada jalan lain kecuali harus melazimkan wirid wirid harian yang dipadu dengan shalat.Seorang yang tidak punya pencucian harian yang kontinyu bagi hatinya, maka ia berada dalam bahaya.Maka setiap muslim hendaknya mengobati hatinya setiap hari, hingga ia selalu siap untuk berjumpa dengan Allah yang maha suci .Inilah keadaan yang kita warisi dari Rasulullah saw. Dan inilah yang harus dimiliki setiap Muslim khusunya yang ingin menempuh perjalanan menuju ALLAH.

27 Oktober 2012

SISTEMATIKA TASAWUF 1

oleh alifbraja

SYARI’AT TAREKAT HAKEKAT

Dalam dunia tasawuf istilah tersebut diatas sangat populer;Syari’at Tarikat-Tarekat (Thariqat) Hakikat -Hakekat (haqiqat) adalah rangkaian sarana / jalan menuju Allah dan satu sama lain tidak bisa dipisahkan.Syeikh Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad Syatha,dalam syair hikmahnya mengatakan :

Inilah Jalan penghidupan keyakinan

Syari’at, tariqat, haqiqat menuju kemuliaan

Dengarlah yang tersirat dalam gambaran

Yang tersurat dalam bisikan.

Inilah gambaran jalan menuju Allah melalui Syariat, tariqat, haqiqat, melalui jalan ini seseorang akan mudah mengawasi ketakwaannya dan menjauhi hawa nafsu.Tiga jalan utama ini menjadi sarana bagi orang orang beriman menuju akhirat tanpa boleh meninggalkan salah satu dari tiga tersebut.

Syari’at tanpa haqiqad, adalah sifat orang yang beramal hanya untuk memperoleh surga, menurut syeikh Sayyid Abi Bakar Ibnu Muhammad ,Bagi orang yang beramal karena memperoleh surga,ada atau tidak adanya syari’at sama saja keadaannya,karena ia beranggapan;masuk surga itu semata mata anugerah Allah.dan inilah syariat yang kosong.

 

Haqiqat tanpa syari’at menjadi batal,Syeikh Ibn Muhammad Syatha mencontohkan :bila ada seorang yang memerintahkan sahabatnya mendirikan sholat, maka ia akan menjawab, mengapa harus sholat ?bukankah sejak zaman azali dia sudah ditetapkan takdirnya ? bila telah ditetapkan sebagai seorang yang beruntung,tentu ia akan masuk surga walaupun tidak shalat, sebaliknya apabila ia telah ditetapkan sebagai orang yang celaka maka ia akan masuk neraka walaupun mendirikan shalat.ini jalan yang salah.

Sayri’at adalah peraturan Allah yang telah ditetapkan melalui wahyu, berupa perintah dan larangan.Thariqat pelaksanaan dari peraturan hukum Allah ( syari’at).sedangkan Haqiqat adalah menyelami dan mendalami apa yang tersirat dan tersurat dalam syari’at, sebagai tugas menjalankan firmanNYA

Kedudukan tiga jalan menuju Allah tersebut dijelaskan oleh syeikh Ibn Muhammad syatha;dalam syair hikmahnya :

Ibarat Bahtera itulah Syariat

Ibarat samudera itulah tharikqat

Ibarat mutiara itulah haqiqat

Syari’at ibarat kapal / bahtera, sebagai instrument, Tarekat ibarat lautan sebagai wadah yang mengantar tujuan.Haqiqat ibarat mutiara yang sangat berharga dan banyak mafaatnya.

Untuk memperoleh mutiara haqiqat, manusia harus mengarungi lautan /samudra yang sangat luas dangan ombak dan gelombang yang dahsyat.Sedangkan untuk mengarungi lautan itu,tidak ada jalan lain kecuali dengan kapal.

Rumi dengan indah memberikan deskripsi ketiga hal tersebut sabagai berikut :

Syari’at ibarat pelita;ia menerangi jalan,tanpa pelita kalian tak dapat berjalan, ketika sedang menapaki jalan kalian sedang menempuh tarekat, dan ketika telah sampai pada tujuan itulah hakekat.

1.SYARI”AT

Didlam eksiklopedi tasawuf disebutkan bahwa syari’at merupakan salah satu tahap praktek bagi calon sufi.keempat tahap lainya itu: syari’ah ( hukum keagamaan eksoterik ) tariqah (jalan mistik),haqiqah (kebenaran) dan ma’rifah ( pengetahuan ).

Syarat pertama adalah mengambil dan mengikuti syari’at;hukum Allah untuk kehidupan manusia,yang pada waktunya akan membawa seseorang ke sirat al mustaqim (yaitu jalan agama yang lurus.Jalan ini membawa sesorang ke dalam hakekat ( kebenaran akhir yang tak terbantahkan dan mutlak tentang seluruh eksistensinya ).

Syari’at dari akar kata syara’a yang berarti jalan.ia adalah jalan yang benar,sebuah rute perjalanan baik dan dapat ditempuh oleh siapapun.Sebagian besar sufi memahami syari’at dalam pengertian yang luas; mencakup ilmu dan seluruh ajaran islam.Syari’at bukan hanya sekumpulan kode atau peraturan yang mengatur tindak lahiri.Ia juga menjelaskan tentang keimanan, tauhid, cinta ,syukur,sabar,ibadah,zikir,jihad takwa.dan ihsan serta menunjukkan bagaimana mewujudkan realitas tersebut.semua doktrin sufi,secara implicit dan /atau ekplisit lahir dari sini.Syeikh Ahmad Sirhindi mengemukakan ; di dalam syari’at terkandung tiga hal yaitu : pengetahuan(ilmu),praktik ( amal)dan ikhlas.artinya meyakini kebenaran syari’at dan melaksanakan perintah perintahNYA dengan tulus dan ikhlas demi mendapatkan keridloan Illahi

Syari’at berisi ajaran moral dan etika yang menjadi dasar tasawuf.Syari’at memberi petunjuk kepada setiap orang untuk hidup secara tepat didunia ini.Mencoba menjalankan tasawuf tanpa mengikuti syari’at bagaikan membangun rumah berfondasi pasir.Tanpa dibangun kehidupan teratur yang dibangun dari prinsip moral dan etika yang kuat maka tidak ada mistisisme yang dapat berkembang.Kebutuhan terhadap syari’at sering diibaratkan dengan perahu nabi nuh yang harus dibangun dengan papan dan pasak.papan adalah ilmu dan pasak adalah amal.Tanpa perahu seseorang akan tenggelam dalam lautan keserbabendaan,sebagaimana putra nabi nuh yang menolak hukum yang dibawa ayahnya, karena itu didalam tasawuf syari’at sering dilihat sebagi bagian dari lipat tiga : syari’at, adalah jalan utama,yang cabangnya adalah jalan yang lebih sulit ( Tariqah) yang mengarah ke kebenaran ( haqiqah)

Dasar pokok ilmu syari’at adalah wahyu Allah yang tertulis jelas dalam Al-Qur’an dan sunah nabi Muhammad saw.ibadah mahdzah dan ghairu mahdzah serta ibadah muamalah tercantum denga jelas dalam ilmu syari’at.

Siappun tidak boleh menganggap dirinya terlepas dari syari’at,walaupun ulama sufi besar dan piawi, atau wali sekalipun.Orang yang menganggap dirinya tidak memerlukan syari’at untuk mencapai tarikah sangat sesat dan meneyesatkan..Karena syari’at itu seluruhnya bermuatan ibadah dan muamalah, maka menjadi satu paduan dengan thariqat dan haqiqat.Ibadah seperti itu tidak gugur kewajibanya, walaupun seorang telah mencapai tingkat wali..Bahkan ibadah syari’atnya wajib melebihi tingkat ibadah manusia biasa.Sebagaimana dicontohkan rosulullah saw,ketika mendirikan sholat dengan penuh kekhusukan dan begitu lama berdiri,ruku’dan sujudnya,sehingga dua kakinya bengkak karena dikerjakan dengan penuh kecintaan dan ketulusan.

Ketika nabi ditanya berkaitan dengan ibadahnya yang begitu hebat dan sungguh sungguh beliau menjawab : “Mengapa saya tidak menjadi hamaba yang bersyukur ?”Karena ibadah itu termasuk salah satu cara untuk mensukuri nikmat ALLah dan semua anugerahnya.Maka para sufiyah atau waliyullah tetap berkewajiban melaksankan ibadah syari’at yang ditaklifkan kepada setiap muslim dan muslimat..

Oleh karena itu wajib bagi penempuh jalan ruhani dan para penuntut ilmu ilmu islam secara intensive mempelajari ilmu syari’at.Sebab semua ilmu yang berkaitan erat dengan kehidupan dunia dan akhirat tergantung erat kepada ilmu syari’at. Ilmu tasawuf dengan pendekatan kebatinan ( ruhaniyah ) tetap tergantung erat dengan syari’at.Tanpa syari’at semua ilmu ruhaniyah tak ada artinya.

Hati para sufiah akan bersinar cemerlang dalam menempuh kehidupan ruhaniyah yang tinggi, haya akan diperoleh dengan ilmu syari’at. Demikian juga kemaksiatan batin dan pencegahanya yang sudah tercantum dari teladan nabi saw,semua tercantum dalam ilmu syari’at.

Ilmu tasawuf adalah bagian dari akhlaq mahmudah, hanya akan diperoleh dari uswah hasanahya nabi Muhammad saw.Cahaya yang bersinar dari kehidupan nabi muhammad saw adalah pokok dasar dari pengembangan ilmu tasawuf atau dasar pribadi bagi para penuntut ilmu tasawuf.Menurut nabi Muhammad saw hati adalah ukuran pertama penuntut ilmu tasawuf.dengan kesucian hati dan ketulusannya melahirkan akhlaq mahmudah dan mencegah akhlaq mazmumah,seperti yang diajarkan dalam sunah nabi Muhammad saw,sebagian dari ilmu syari’at. Dengan pengertian lain, hati manusia shufiyah itu akan ditempati oleh tariqat yang berdasarkan syari’at.

2.TAREKAT

Tarekat menurut bahasa berasal dari kata arab TARIQAH ( jama’:taruq atau tara’iq ) yang bararti jalan atau metode atau aliran (madzab).Tarekat adalah jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan tujuan sampai ( wusul) kapada NYA.Tarekat merupakan metode yang harus ditempuh seorang sufi dengan aturan aturan teretentu, dengan petunjuk guru atau mursid tarekat masing masing,agar berada sedekat mungkin dengan ALLAH swt.Ahli taswuf mengaitkan istilah tarekat dengan firmanNYA :”Dan bahwasanya apabila mereka tetap berdiri pada jalan (tariqah) yang benar niscaya akan kami turunnkan ( hikmah)seperti hujan yang deras dari langit. (AL-Jin/72:16).

Pemikiran yang mendasari tasawuf adalah karena Allah merupakan zat yang maha suci,maka yang suci itu tidak akan dapat didekati kecuali dengan sesuatu yang suci.Dalam mendekatkan diri kepada Allah, para sufi biasanya melalui tahapan tahapan spiritual ( maqomat).masing masing sufi menempuh tahapan spiritual yang berbeda beda,berdasarkan pengalaman ruhani yang berbeda pula. menurut AL Gazali langkah langkah yang harus ditempuh untuk mencapai kejernihan hati ( tazkiyah al nafs ) adalah :Takhalli yaitu pengosongan hati dari selain Allah, Tahalli :yaitu mengisi hati dengan zikir kepada Allah dan sifat sifat terpuji, dan Tajalli ; yaitu;memperoleh hakekat dan penampakan Tuhan.

Metoda yang digunakan para suifi untuk mendekatkan diri kepada Allah berbeda beda,, sebagian mereka melalui cara selalu dalam keadaan zikir kepada Allah ( mulzamah al-dzikr), selalu melatih diri (riyadoh ),selalu bersunguhsungguh untuk membersihkan hati dari sifat sifat tercela dan hawa nafsu (mujahadah),sebagian yang lain melalui metoda tujuh yaitu; memperingati diri(musyaratah),mengawasidiri(muraqabah),intropeksi (muhasabah),menghukum diri (mu’raqabah ) kesungguhan lahir batin (mujahadah ),menyesali diri (mu’atabah) dan pembukaan hijab ( mukhasafah ).Serentak dengan itu mereka melintasi tingkatan tingkatan (maqamat) antara lain tobat, sabar,ridla,zuhud, muhatabah, dan ma’rifah.

Menurut syeikh Ajiba al hasani ; tarekat berarti bertujuan membereskan hati membereskan hati dengan tiga hal : ikhlas, jujur dan tenang ( tuma’ninah) atau bisa dikatakan membereskan hati dengan cara mengosongkannya dari kotoran kotoran jiwa dan menghiasinya dengan keutamakan.

Suatu ketika syeikh Baha’ al Din al naqsyabandi ditanya :apa tujuan tariqah ?,beliau menjawab :”tujuannya adalah mengetahui secara rinci apa yang baru engkau ketahui secara singkat, dan untuk merasakan dalam penglihatan apa yang telah engkau ketahui lewat penjelasan dan argument”.Tujuan tareqah adalah memperkuat keyakinan terhadap syari’at,menyakini kebenaranya, mematuhi jaran ajaranya dengan senang dan spontan,mengikis kemalasan dan meniadakan penentangan atas keinginan diri ( nafsu ).

Seluruh kegiatan Tariqah dapatlah dikatakan mengarah pada satu tujuan ; yaitu ma’rifat billah atau mengenal ALLAH.Ma’rifat billah adalah puncak tujuan dari perjalanan tariqat atau ajaran tasawuf.Dengan berbagai jalan, cara, atau metoda ,tariqah pada intinya adalah ingin menjadi orang selalu taqarub billah, ma’rifat billah dan sekaligus ingin menjadi orang yang dikasihi ALLAH atau yang dikenal dengan sebutan WALIYULLAH.

3.WAJIBKAH MENGIKUTI KELOMPOK TAREKAT TERTENTU

Ada semacam keyakinan kuat dalam masyarkat kita bahwa pengamal tariqat harus mengikuti orginasasi atau kelompok tarekat tertentu,sehingga dia dapat disebut pengamal tariqat jika ia telah memsuki suatu organisasi tarekat tertentu yang dibimbing seorang guru tertentu dan mempunyai tata cara menurut ajaran organisasi tersebut.Dengan demikian ada doktrin yang baku dan diyakini benar benar, bahwa seorang tidak bisa sampai kepada tujuan ibadat secara hakiki sebelum menempuh atau melaksanakan ajaran organisasi tariqoah tertentu.

Ust.Labib MZ (dalam Rahasia Ilmu Tasawuf ) perpendapat ; seorang pengamal tariqat tidaklah harus menjadi anggota kelompok jama’h tariqoh dalam aliran tertentu, namun seorang yang sudah melaksanakan ajaran islam secara murni dan konsekwen sudah termasuk melaksanakan tariqat.

Semua orang sesuai dengan profesinya dan kemampuanya dengan cara sendiri sendiri bisa dikategorikan pengamal tariqat.Dalam hal ini tariqat yang digariskan dalam syari’at tenytunya. Sebab tariqat yang tidak sesuai dengan syari’at adalah sesat.Tidak ada tariqat tanpa syari’at, tidak terwujud hakekat tanpa adanya syari’at. Seperti dikatakan syeikhZainudin bin Ali Al Malibari :” Bahwasanya Tariqat ( jalan menuju Allah yang ditempuh orang islamn ) adalah syari’at,tariqat, hakikat.Maka dengarkanlah contoh contoh dari ketiga tiganya “.

Jadi tarekat umat islam tak lain adalah syari’at islam itu sendiri.Dan umat islam yang mengamalkan syari’atnya berarti sudah mengamalkan tareqat,tak peduli apapun profesinhya, direktur dokter ,ulama, pengajar,kyai , ustaz, da’i ,pelajar, mahasiswa dan lainya.Jalan tariqah bisa ditempuh dengan berbagi macam jalan termasuk juga orang sudah mengususkan diri dengan memperbanyak zikir dan senantiasa bertaqarub kepada Allah,baik lewat organisasi tariqat tertentu atau tidak ,nilainya sama hanya cara dan bentuknya yang berlainan.

Syeikh Zainudin bin Ali al malibary dalam “Nadhom Hidayatul Adzkiya” mengatakan :”Dan bagi masing masing dari kaum ada sebuah jalan (tariqat,cara)dari beberapa jalan,yang dipilihnya, maka dari jalan ini mereka sampai.Seperti duduknya diantara manusia dalam keadaan mendidik, dan seperti memperbanyak wirid – wirid, puasa, solat. Dan seperti berkhidmad kepada manusia, membawa kayu bakar untuk bersedekah dengan uang yang dihasilkannya”.

Pada akhirnya seorang muslim tidaklah wajib mengikuti ataupun memasuki kelompok atau organisasi tarekat teretntu,(agar sampai kepada Allah ) tetapi wajib bagi umat islam untuk melaksanakan syari’at islam sebagi tariqat yang sah untuk menuju kepada ALLAH, sebagai bukti perwujudan keimanan kepada Allah. Apabila seorang muslim telah melaksanakan syari’at dengan benar dan sesuai petunjuk sunah rosul maka berarti sudah melaksanakan tariqat yang dilakukan oleh keksaih Allah, wliyullah.

4.HAKIKAT

Dalam eksiklopedi Tasawuf di terangkan ; Hakikat atau kebenaran adalah makna terdalam dari praktik dan petunjuk yang ada pada syari’at dan tarekat.Haqiqah menunjukan hakikat esensial segala sesuatu atau kebenaran., ia adalah pengalaman langsung akan kebenaran gaib.Tanpa pemahaman yang didasari pengalaman tersebut maka kita ditakdirkan untuk taklit, meniru mereka yang telah mencapai tingkat HAQIQAH, seperti laiknya sebuah mesin.Pencapaian pada tingkat haqiqah ini menegaskan dan memperkukuhkan prkatik dua tingkat pertama.Sebelum mencapai tingkat haqiqah, seluruh praktik merupakan bentuk peniruan .

Haqiqah ( kebenaran atau kenyataan seakar dengan kata Al haq, realty, absol ute).Makna haqiqah (hakikat) menunjukan kebenaran esoteric yang merupakan batas dari transendensi manusia dan teologis.Dalam pengertian ini haqiqah merupakan unsur ketiga setelah syaria’at (hukum) yang merupakan keyakinan eksoteris,tarikat (jalan)sebagai tahapan esoterisme,yang ketiga ialah haqiqah yakni kebenaran esensial.

Haqiqah adalah kemampuan seorang dalam merasakan dan melihat kehadiran Allah di dalam syari’at .Dalam dunia sufi haqiqah diartikan sebagai aspek batin dari syari’at,sehingga haqiqah adalah aspek yang paling penting dalam setiap amal,inti, dan rahasia dari syari’at ; merupakan tujuan setiap penempuh jalan menuju ALLAH ( salik).

27 Oktober 2012

CAHAYA ILLAHI

oleh alifbraja

CAHAYA ILLAHI KENDARAAN DAN TENTARA HATI

بِسْمِ الًّلهِ الرَّ حْمَنِ الرَّ حِيمِ

 

Setelah menjelaskan WARID secara umum,selanjutnya Syeikh Ibnu ‘Atha’illah rahimaullah menjelaskan lebih spesifik lagi dengan mengartikan WARID sebagai CAHAYA yang dituangkan dalam hati :

“Cahaya adalah tunggangan hati dan asrar(rahasia rahasia batin) cahaya adalah tentara hati,seperti kegelapan adalah tentara nafsu.Jika Allah ingin menolong hambaNYA,maka DIA menolongnya dengan pasukan cahaya,dan memutuskan sokongan kegelapan dan segala sesuatu selain Allah darinya “.

Syeikh Sa’id Hawa menjelaskan ; WARID jika dirinci lebih detail berarti ; cahaya atau cahaya yang dituangkan Allah ke dalam hati seseorang, merupakan akibat dari proses penghadapan seorang hamba kepada Allah atau merupakan pemberia-NYA.Sebagaimana dijelaskan Oleh Allah dalam surat Az zumar ;22 :

اَفَمَنْ شَرَّ حَ اللَّهُ صَدْ رَهُ لِِلاِْ سْلاَ مِ فَهُوَ عَلىَ نُوْ رٍ مِنْ رَبِهِ. . . .
Apakah orang orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya ( sama dengan orang yang hatinya membatu) (Az-zumar:22)

 

Juga Firman Allah dalam surat Muhammad:17 ;

وَ الَّذِ يْنَ اَهْتَدَ وْا زَا دَهُمْ هُدً وَ اَ تَهُمْ تَقْوَ هُمْ

“Dan orang yang mendapat petunjuk,Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwakanya ( Muhammad:22)

Dan Firman NYA dalam surat Al-Ankabut:69 :

وَالَّذِ ينَ جَا هَدُ وا فِيْناَ لَنَهْدِ يَنَّهُمْ سًبُلَنَا وَاِنَّ الَّلهَ لَمَعَ

الْمُحْسِنِيْنَ

“Dan orang orang yang berjihad untuk(mencari keridlaan) KAMI,benar benar akan KAMI tunjukan kepada mereka jalan jalan KAMI”. (Al-Ankabut :69).

Kendaraan yang ditunggangi hati untuk menempuh perjalanan menuju Allah adalah cahaya ,sedang tentara hati dan jiwa yang denganya ia dapat mengalahkan tentara syetan,juga adalah cahaya.Ada dua peran yang dimainkan oleh cahaya dalam hati.Pertama sebagai tunggangan seorang dalam mengarungi perjalanan menuju Allah;bila seorang memiliki cahaya,maka ia akan mengendarai tungganganya dan berjalan menuju Allah.Kedua sebagai prajurit, bila memiliki cahaya, maka ia akan mengalahkan tentara lain yang ingin menyerahkannya kepada syetan atau dunia.Oleh karena itu kita juga harus meneliti tidak saja kepada hal hal yang mendatangkan WARID,tetapi juga harus mengamati apakah warid warid itu telah memainkan peranya dalam hati; apakah warid warid itu juga bisa menjadi kendaraan yang dapat dikemudikan untuk menuju akhirat dan untuk menentang dorongan dorongan syaitani.

Marilah kita bertanya pada dirikita masing masing;Apakah kita dapat menambah cahaya yang ada dalam hati kita masing masing?Jika mampu melakukannya,maka kita dapat dinyatakan lulus.Sebaliknya jika kita tak lulus.kita merugi.Dan semua itu kembali kepada Allah dan iradatNYA; bila Allah menghendaki kebaikan pada diri seorang hamba, maka DIA menganugerahi WARID berupa cahaya, dan Allah menyelematkannya dari segala bentuk kegelapan dan dari berbagai macam benda ( dzat) selain Allah.

Apakah kita memiliki tanda tanda yang dapat kita gunakan untuk mengetahui apa yang Allah kehendaki pada diri kita ?Apakah Allah menginginkan kebaikan pada diri kita ?.tanda bahwa Allah menghendaki kebaikan pada diri kita ,menurut syeikh Sa’id Hawa adalah ;menumbuhkan pemahaman agama NYA,seperti disinyalir oleh Nabi dalam sabdanya :

مَـنْ يـُرِ دِ الَـلَّهُ بِـِهِ خـَيـْرًا يــُفَــقِّهْـهُ فـــِى الــدِّ يــْنِ :
Barang siapa yang Allah menghendaki kebaikan padanya ,maka DIA memberi pemahaman agama kepadanya
(HR Muslim ,Tirmidzi)

Jika kau jumpai seseorang yang dianugerahi pemahaman terhadap agama_NYA,itu adalah pertanda bahwa Allah menginginkan kebaikan bagi seorang itu.Maka seyogyanya ia senang dan melantunkan pujian kepada Allah.

Menurut syeikh Sa’id Hawa rahimaullah sebagian orang memasukan tema pembicaraan ini ke dalam kajian filsafat.Padahal sebenarnya tidak,karena ini adalah fitrah dan merupakan aspektertinggi dan terluhur dalam islam.Selama kita mengacu pada pengertian seperti ini, maka kita mengarah pada kebaikan.Namun bila kita terlalu banyak membaca dan mengkaji berbagai macam disiplin ilmu, sementara hati kita tidak di asah dan tak pernah diperhatikan hingga menjadi gelap,maka mesti menjadi peringatan bagi kita.karena bila kita tidak merasa lelah dan terus begitu, maka yang akan muncul dikalangan kita adalh filosof, dan bukan kaum RABBANI.

NUR atau cahaya ini amat penting.karena jika seseorang memiliki lampu senter,lalu pada malam dinyalakan,maka akan terlihat segala sesuatu yang ada disekelilingnya,Jika sesuatu itu terlihat,maka akal akan berperan untuk memutuskan,apakah sesuatu itu membahayakan atau bermanfaat,jelek atau baik,harus berbuat atau menahan diri,berjalan atau berhenti,dan seterusnya,

Untuk masalah akhirat kita mempunyai NUR (cahaya) BASHIRAH ( mata batin) dan punya kepastian.Dengan cahya akan terlihat segala sesuatu,dan cahaya pulalah yang membedakan cara pandang sang muslim dan si kafir dalm memandang sesuatu.Allah melukiskan dalam firmanNYA :

” Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya,Allah hilangkan cahaya(yang menyinari)mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan,tak dapat melihat “.(Al-Baqarah :17).

Melalui cahaya seorang mukmin dapat menatap sesuatu dengan penglihatan imani yang lain dengan penglihatan orang kafir.Penglihatan orang kafir adalah penglihatan yang bersifat meterialistis melulu dilandasi oleh nafsu untuk kepentingan individual semata.Mereka (orang kafir) seharusnya melihat segala sesuatu dengan berdasarkan api tersebut, yang tak lain adalah (cahaya) syari’at.Namun Allah menghilangkan cahaya bagi mereka.Jadi ayat diatas mengabarkan bahwa ada yang bersemayam dalam hati,ang dengannya mesti melihat sesuatu menurut hakekatnya.

Setelah cahaya bisa diraih lalu bagaimana dengan BASHIRAH,suatu kurnia yang denganya sesorang menentukan hukum tentang apa yang wajib dilakukan.Allah berfirman :

” Sesungguhnya telah datang dari RABB-mubashaa’ir (bukti bukti yang terang ) kepada kalian “.(Al-An’am :104 ).

Al-Quran adalah BASHAA’IR jamak dari bashirah.dengan alQuran ini Allah memberimu bashirah yang melaluinya kita menghukumi segala sesuatu.Hukum bashirah adalah bila seorang muslim melihat tindak kemungkaran,maka ia harus memeranginya,dan bila menemukan perilaku kebaikan,maka ia mengokohkannya.demikian juga dengan hukum hukum yang lain.

Setelah Bashirah menetapkan,maka peran terakhir adalah hati,dimana ia bisa menerima untuk melakukan hukum itu, bisa pula meninggalkannya.Penerimaan hukum tersebut muncul lantaran cahaya yang dimiliki fungsional sebagai tentara hati,sedangkan penolakanya terjadi karena kegelapan yang ada telah menjalankan perannya sebagai tentara nafsu.Wirid wirid yang dilazimkan oleh sesorang adalah faktor menentukan untuk melahirkan kepatuhan hati ini.Karena itu ,para ahli suluk menginginkan agar seseorang terus menerus melakukan WIRID nya hingga mampu meraih kesempurnaan itu.Tapi jangan lupa ketika melakukan wirid pusatkan hati sepenuhnya kepada Allah.Tunaikan WIRID, karena dimana ada WIRID disitu pula ada WARID,meski kehadlirannya kadang dapat dirasakan,kadang tidak.

Warid warid yang dituangkan kedalam hati sesorang itu bukan hanya satu macam,walaupun memang pada akhirnya warid warid berupa cahaya,yang lahir lantaran rasa senang kepada Allah yang sekaligus sebagai anugerah Illahi.Cahaya itu terasa dalam bentuk dada yang lapang dan hati yang berbunga.Yang paling penting untuk diingat adalah,bahwa Warid Warid yang dicurahkan kedalam hati sesorang itu bervariasi.

Seseorang yang mengarungi perjalanan menuju Allah,lantas disusupi rasa teteram,lalu merasa bahwa dirinya mempunyai hati dan hati tersebut memiliki sensivitas dan kepekaan yang tinggi,itu sudah cukup menjadi WARID yang besar bagi sang pejalan menuju ALLAH.

27 Oktober 2012

ARTI DAN DIFINISI RUH

oleh alifbraja

Ruh ada pada diri manusia, tanpa ruh berarti mati, tubuh tak bergerak dan seluruh bagian tubuh tak berarti.Ada kehidupan maka ada ruh dalam tubuh kita.Salah satu bagian yang dekat dengan diri kita adalah RUH,sehingga kita perlu mengetahui tentang bagian dari diri kita ini.Oleh karenya mengetahui tentang ruh perlu untuk bekal perjalanan menuju Allah.

Lalu apa ruh itu, kalau ada dari mana dia ,ada dimana, dan kemana setelah tubuh ini mati, ruh keluar dari tubuh, bagaimana keadaan ruh setelah diluar tubuh atau bagaimana keadaan sebelum di tiupkan dalam tubuh,dan apa peran ruh dalam diri kita sehingga berperan dalam perjalanan menuju ALLAH SWT.

Ketika memperhatikan seorang saleh yang berjalan menuju Allah,kami mendapat pengalaman banyak tentang ruh dan inilah salah satu faktor yang mendorong saya untuk mengetahui apa sebenarnya ruh

Bertanya tentang ruh sering kali di jawab dengan dalil firman Allah : dalam surat al isyra’ ’85 :

وَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً –

Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh. Katakanlah, “Ruh”itu termasuk urusan Tuhan-ku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.”

Ini sering dijadikan landasan bahwa ruh adalah urusan Tuhan manusia tak usah tahu,lalu apakah dosa bila orang seperti saya ingin tahu benar tentang ruh sebagai jawaban pertanyaan pengalaman dalam perjalanan menuju Allah.lama saya tidak punya jawaban .Alhamdulillah Allah memberi jalan beberapa karya besar ulama ternyata ada yang membahas mengenai ruh.

Syeikh Ali akhmad Abdul ‘Al Ath- thahthawi dalam karyanya :RU’YAL AHYA LIL AMWAT” telah diterjemahkan oleh Ustaz Masrokhan Ahmad.(terima kasih kepada uztad dan penerbit citra risalah ;buku ini banyak memberikan keterangan pertanyaan saya)dan saya merasa nyaman membaca buku ini.karya ulama lainya yang memberi keterangan tentang ruh adalah ;Tarbiyah Ruhiyah ,Syeikh Sa’id Hawa, “Sirr al asrar fiima Yahtaj Ilahyah al abror .karya syeikh abdul qadir al jilany, “Wahabiyah fi al mizan ;syeikh Ja’far subhani, dan tentu saja IHYA ‘Ulumuddin Syeikh Imam al Gazali.

Tulisan selanjutnya tentang RUH merujuk dan mengutip karya tersebut diatas dan bermaksud memotivasi saudara dan sahabat saya untuk mengatahui lebih jauh tentang ruh dan alam gaib.siapa tahu dalam perjalan menempuh jalan Allah mendapatkan pengalaman tersendiri menganai ruh dan alam gaib,sehingga menyaksikan sendiri apa yang dibicarakan karya ulama tersebut.

Syeikh akhmad ‘abdul’ath thahtawi berpendapat. Sesungguhnya tidak ada larangan dalam agama untuk berusaha mengungkap hakekat ruh.namun ia tetap merupakan rahasia yang tidak dibukan Allah,keseluruhan.Selanjutnya beliau menjelaskan ;Ruh adalah suatu kekuatan yang menumbuhkan kehidupan di alam ini,baik pada tumbuhan, binatang maupun manusia.Namun ia lebih dominan pada sesuatu yang bergerak dan memiliki kepekaan, mempunyai akal dan dapat berpikir, yakni binatang dan manusia.

Imam al Alusi menyebutkan ada seribu pendpat di kalangan para peneliti mengenai ruh.Menurut beliau ada dua pendapat yang paling kuat dan yang terkuat adalah ; RUH merupakan jisim ruhani yang tinggi dan hidup, berlawanan dengan jisim yang dapat diraba.RUH itu berjalan pada jisim tidak dapat diurai dan tidak dapat dibagi.Ia meniupkan kehidupan pada jisim selama jisim itu layak menerimanya.Ibnul Qayyim sangat setuju dengan pendapat ini,Beliau mengatakan inilah pendapat yang benar sedangkan pendapat yang lain tidak benar.Pendapat ini sesuai dengan Al kitab, sunnah dan ijma’ para sahabat.bahkan juga sesuai dengan dalil aqli.Meski demikian pendapat ini belum bisa mengungkap secara jelas tentang hakekat ruh.

Syeikh Said hawa Rahimaullah mendifinsikan RUH mempunyai dua arti,pertama nyawa yaitu alat jasmani yang halus bersumber dari rongga hati inderawi (jantung).Ia menyebar dengan bantuan urat yang berdenyut ke seluruh tubuh ,mengalir dalam badan dan mencurahkan cahanya kehidupan,perasaan, penglihatan,pendengaran dan indera penciuman.Kehidupan manusia diibaratkan cahaya yang bersumber dari sebuah lampu.Ruh diibaratkan lampu .Curhan cahaya kehidupan seperi curahan sinar lampu yang menyinari setiap sudut rumah.

Makna kedua ,Ruh adalah kehalusan rohani yang ada pada diri manuasia yang berfungsi mengetahui dan memahami.inilah yang dimaksuh pengetian Ruh menurut para dokter dan sering disebut NYAWA.

24 Oktober 2012

MERASAKAN KEHADIRAN TUHAN dalam SHALAT

oleh alifbraja

Wahai Ahmad! Aku heran dengan tiga kelompok dari hambaku: hamba yang melakukan shalat dan dia tahu kepada siapa dia mengangkatkan tangannya serta di depan siapa dia berdiri, akan tetapi ngantuk dalam shalatnya dan aku heran dengan hamba yang memiliki kemampuan untuk bisa menyiapkan makanan hari ini akan tetapi dia hanya memikirkan untuk esok hari serta aku heran dengan hamba yang tidak tahu bahwa aku ridho atau kah marah kepadanya sementara dia tertawa”.

 

Dalam kelanjutan dari hadits mi’raj, Tuhan berfirman kepada Nabi Muhammad saw.:

Wahai Ahmad! Aku heran dengan tiga kelompok dari hambaku: Pertama: Aku heran dengan hamba yang melakukan shalat dan di tahu kepada siapa dia mengangkat tangan serta di depan siapa dia berdiri, akan tetapi dia ngantuk dalam shalatnya!…”

 

Kutipan dari hadits ini mengisyaratkan akan satu poin dimana kita semua atau kebanyakan dari kita terkena dengan ‘penyakit’ tersebut yaitu kita belum bisa menjalankan shalat yang sebenarnya; walaupun setiap orang yang memiliki kesadaran dan makrifat yang kuat maka dia akan lebih memiliki perhatian kepada shalat dan akan lebih memahami pentingnya shalat.

Kita semua tahu bahwa shalat kita dalam keutamaan dan kelayakannya tidak seperti shalat yang dilakukan oleh para para wali ilahi dan juga kita mengetahui bahwa efek dan buah dari shalat yang telah disebutkan dalam banyak ayat dan riwayat tidak dimiliki oleh shalat kita, akan tetapi banyak dari kita tidak mengetahui dengan betul kadar kekurangan dan kelemahan kita, oleh karenanya kita mesti berusaha untuk membenahi segala kekurangan dan kecacatan shalat kita. Kita harus menyadari kekurangan dan kecacatan shalat dengan ketidak hadiran hati dikarenakan kurangnya perhatian serta kita harus benar-benar tahu bahwa jika kita melakukan shalat dengan sempurna dan semestinya, betapa banyak faedah yang akan kita dapatkan dari kesempatan untuk menjalankan shalat dan betapa kita akan meraih hasil-hasil yang tinggi darinya dimana tanpa adanya kehadiran hati dan kesadaran untuk menjalankan shalat akan banyak hasil dan manfaat yang akan hilang dari kita serta dengan bahasa apa lagi supaya kita bisa sadar.

Sepantasnya kita disini menyinggung sedikit tentang shalatnya para wali Tuhan dan membandingkan shalat mereka dengan shalatnya kita sehingga kita bisa melihat kekurangan yang ada dalam shalat kita. Sebab dengan membandingkan yang lemah dengan yang kuat serta yang kurang dengan yang sempurna kita akan lebih mengetahui kekurangan dan kecacatan kita.

Alhasil, untuk membenahi kekurangan karena kurangnya perhatian kepada shalat, telah banyak disinggung oleh para tokoh agama dalam buku-buku mereka diantaranya buku “Asraar Al-Shalat” karya marhum Mirza Jawad Aqhae Tabrizi ra. juga buku “Asraar Al-Shalat” karya Imam Khumanei ra. Dan pada kesempatan ini kita akan menyinggung bagian dari poin-poin yang berkenaan dengan shalat:

 

 

Hakekat dan Essensi Shalat

Shalat artinya bahwa seorang hamba berdiri di depan Tuhan dan mengakui akan kehambaannya serta mengadukan seluruh permohonannya kepada Tuhan. Orang yang berdiri untuk melakukan shalat hendaklah dia merasakan kehadiran Tuhan hendaklah sadar didepan maqom apa dia berdiri dan ini akan membuat dia menjalankan tugas kehambaan dengan puncak ketundukan dan kekhusyuan.

Ketika kita berdiri untuk menjalankan shalat, sangat sedikit konsentrasi kita kepada shalat akan tetapi konsentrasi kita kepada masalah-masalah lain yang kita miliki, bahkan terkadang masalah tersebut berhubungan dengan puluhan tahun yang lalu yang masuk ke dalam benak kita. Malah ketika kita kita hendak mengucapkan salam baru kita sadar bahwa kita sedang menjalankan shalat! Betapa hal ini sangat buruk dan tidak sepantasnya karena kita sedang berdiri dihadapan Tuhan serta kita tidak sadar didepan siapa kita berdiri dan apa yang kita ucapkan! Tuhan memasukkan sifat-sifat ini tergolong kepada tanda-tanda orang munafik:

Ÿwurtbqè?ù’tƒno4qn=¢Á9$#žwÎ)öNèdur4’n<$|¡à2

dan mereka tidak mengerjakan sembahyang, melainkan dengan malas.[1]

 

Terdapat juga dalam sebauh riwayat bahwa barang siapa yang menjalankan shalat akan tetapi hatinya tidak terikat oleh shalat, apakah dia tidak takut kalau aku jadikan dia menjadi seperti keledai. Saking buruk dan tidak pantasnya seseorang tidak perhatian dan konsentrasi dalam shalatnya sehingga dia berhak dirubah menjadi seperti seekor keledai; pada hakekatnya dia bukanlah manusia. Bagaimana mungkin seseorang berdiri di depan seseorang pembesar, akan tetapi dia tidak perhatian kepadanya dan hatinya ditempat lain, apalagi dia berdiri di depan Tuhan alam semesta – Tuhan segenap wujud, seluruh kebaikan dan semua kenikmatan darinya – bahkan dia tidak perhatian kepadaNya melebihi ketidak perhatian dia kepada manusia biasa!.

Apakah ketika seseorang berdiri di depan yang lain dan berbicara dengannya, dia akan memalingkan mukanya? Jika berbuat demikian apakah secara akal dia tidak disebut gila? Alhasil, Tuhan tidaklah bersifat jisim sehingga kita mengarahkan muka kita ke arahnya, akan tetapi hubungan atau perhatan dengan Tuhan dilakukan lewat hati. Sebab dia melingkupi dan menguasai segala sesuatu dan hanya dengan hati kita bisa menghadapNya artinya jika kita hati kita berpaling dariNya dan tidak perhatian dalam shalat kita berarti kita berpaling dari Tuhan.

Apakah seseorang ketika Tuhan dengan karuniaNya memberikan izin dan kesempatan untuk berdiri di depanNya, berbicara denganNya dan menyampaikan segala isi hatinya serta bermunajat kepadaNya – bukannya memanfaatkan kesempatan ini dan bersyukur atas kenikmatan yang besar ini – malah dial alai dariNya? Orang-orang besar ( penting ) tidak sembarangan member izin dan kesempatan kepada sembarang orang untuk bisa menghadap kepadanya, akan tetapi Tuhan karena kecintaanNya yang tak terbatas dia membuka pintu rumahNya lebar-lebar untuk semua manusia dan mengizinkan mereka untuk menghadapNya. Maka kita mesti menggunakan kesempatan emas ini dan dengan segenap wujud kita menghadap kepadaNya dan perhatian kita hanya mengarah kepadaNya.

Jika seseorang tidak memiliki keyakinan kepada Tuhan dan tidak meyakini bahwa dia berada dihadapanNya, jelas dia tidak akan perhatian kepadaNya, akan tetapi orang yang meyakini akan Tuhan dan tahu bahwa kita berdiri di hadapanNya maka ketidak perhatian kita adalah sebuah kejelekan dan sesuatu yang tidak pantas dilakukan. Oleh karenanya dalam riwayat menggunakan kata “aku heran”:[2]Tuhan berfriman: aku heran kepada hambaku yang berdiri di depanku akan tetapi dia malas-malasan dan tidak perhatian.

 

Urgensi dan Nilai Shalat

Dikarenakan shalat memiliki urgensi yang cukup besar dan memberikan pengaruh yang sangat berarti bagi manusia, syetan pun dengan segala daya dan upaya berusaha mencegah manusia untuk bisa betul-betul memahami hakekat shalat serta menghalangi manusia untuk menjalankan shalat yang merupakan perbuatan baik disisi Tuhan. Oleh karenanya syetan berusaha memasukan kedalam fikiran manusia supaya dia mengingat apa-apa yang sudah terlupakannya sehingga hati manusia tidak lagi konsentrasi kepada shalat. Akan tetapi syetan hanya bisa menguasai orang-orang seperti kita yang mengizinkan dan memberikan dia tempat di hati kita serta tidak berusaha menjauhkannya dari diri kita akan tetapi malah melibatkannya, maka tentunya ketika menjalankan shalat kita disibukkan dengannya.

Jalan yang terbaik bagi manusia untuk meraih kesempurnaan dan dekat dengan Tuhan adalah shalat dan dalam rangka mencurahkan karuniaNya kepada manusia serta agar manusia bisa meraih kesempurnaan, Tuhan mewajibkan shalat dalam lima waktu. Bahkan sebagian dari fuqoha ( ahli fiqh ) berkata: barang siapa yang tenggelam di lautan maka dia tetap herus menjalankan shalat sesuai dengan keadaannya dan hendaklah hatinya konsentrasi kepada Tuhan walaupun syarat-syarat yang lain seperti menghadap kiblat bagi dia dimaafkan ( tidak disyaratkan ). Ini semua tidak lain melainkan karena shalat memiliki peran sangan mendasar dalam kesempurnaan dan kebahagiaan manusia, oleh karenanya Nabi saw. bersabda: “shalat adalah sebaik-baiknya perkara…”[3]serta imam Ridho as. berkata: “shalat adalah kurbannya setiap ketakwaan”.[4]

Syetan dengan jiwa permusuhan lamanya dengan manusia akan selalu berusaha untuk menghalangi manusia untuk mendapatkan apa yang paling baik dan yang paling penting baginya dia juga akan berusaha untuk membuat manusia lalai dari factor-faktor yang membuat mereka sempurna dan bahagia:

tA$s%y7Ï?¨“ÏèÎ6sùöNßg¨ZtƒÈqøî_{tûüÏèuHødr&

Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau Aku akan menyesatkan mereka semuanya,[5]

 

 

Terkadang dua raka’at shalat walau itu shalat sunnah yang dilakukan dengan penuh kesadaran dan kekhusu’an akan membuat dosa-dosa manusia terampuni, sebab tidak mungkin manusia yang melakukan shalat dengan penuh kesadaran dan kekhusu’an serta tahu di depan siapa dia berdiri akan tetapi dia tidak menyesali perbuatan-perbuatan buruk dan jahat yang telah dilakukannya serta tidak berniat untuk meninggalkan perbuatan tersebut.

Dalam sebuah riwayat Nabi Muhammad saw. bersabda: “Jika di depan rumah seseorang mengalir sungai dan lima kali dalam sehari dia melakukan mandi, apakah akan tersisa kotoran di badannya? Shalat pun demikian pula seperti sebuah sungai dan ketika manusia melakukan shalat maka semua dosa-dosanya akan diampuni”.[6]

Jika kita sudah sudah memahami essensi shalat dan betul-betul mengambil manfaat darinya maka tidak akan tersisa lagi dosa dalam diri kita. Akan tetapi sangat disayangkan kita tidak betul-betul memahami nilai-nilai yang ada dalam shalat dan kita menjalankannya dengan asal-asalan; oleh karenanya sama sekali kita tidak mendapat faedah darinya. Maka poin kedua adalah kita harus betul-betul memahami pentingnya serta pengaruh yang sangat berharga dari shalat sehingga kita sadar bahwa shalat yang dilakukan tanpa ada kesadaran, kekhusu’an dan kehadiran hati sama sekali tidak memiliki faedah serta keberkahan.

Jika dua raka’at shalat bisa membuat semua dosa-dosa manusia terampuni, konsekwen dalam menjalankan shalat-shalat yang berkualitas dan diterima oleh Tuhan, akan membuat manusia bisa meraih derajat yang paling tinggi yaitu “qurb ila Allah”. Maka dengan memperhatikan poin-poin tersebut, tidak akan tersisa bagi kita kecuali penyesalan dan kerugian diakibatkan karena kehilangan faedah serta manfaat yang besar tersebut.

Jika kita kehilangan uang sebesar seratus tuman ( mata uang Iran ) maka konsentrasi kita menjadi buyar dan jika kita kehilangan emas permata yang sangat berharga atau cincin yang bernilai seratus ribu tuman, selama beberapa hari akan selalu kepikiran dan tidak bisa tidur; sementara jika kita kehilangan dua raka’at shalat yang lebig berharga dari seluruh dunia dan kelezatannya, kita tidak merasakan penyesalan sama sekali.

Andai kita tahu bahwa bagaimana para wali Tuhan mengambil faedah dari shalat: sebagian para pembesar berkata – mungkin ini juga kandungan dari beberapa riwayat – jika para raja dunia mengetahui betapa lezatnya melakukan shalat maka dia akan menanggalkan tahtanya dan hanya akan melakukan shalat. ( Dari pernyataan dan ucapan mereka ini menunjukan akan tingginya derajat yang telah mereka raih ).

Betapa kita selalu berusaha siang dan malam untuk bisa meraih kelezatan-kelezatan dengan melengkapi diri dengan makanan dan pakaian serta dengan yang lainnya. Terkadang kita selama bertahun-tahun banting tulang dan mempersiapkan segala sesuatu untuk kita bisa merasakan kelezatan; seorang alim berkata: semua kelezatan yang dimiliki oleh para raja tidak ada apa-apanya dibanding dengan kelezatan yang dimiliki oleh seoarang mukmin dalam menjalankan shalat dua raka’at; akan tetapi mereka bahagia dengan kelezatan-kelezatan materi dan tidak mengetahui akan kelezatan-kelezatan bermunajat dengan Tuhan.

Untuk bisa memperbaiki semua kerugian-kerugian yang telah lalu dan betul-betul mengambil faedah dari shalat serta agar kita tidak kehilangan berkah-berkah dan faedah-faerah yang ada dalam munajat dengan Tuhan, kita harus betul-betul mengamalkan aturan-aturan yang ada dalam riwayat-riwayat atau ucapan-ucapan para ulama, para wali Tuhan dan nasehat-nasehat akhlaki dari para ulama akhlak dimana baik mereka sendiri sudah mengalami dan merasakan hal-hal tersebut atau mereka merujuk dari riwayat-riwayat. ( Nilai yang dimiliki oleh poin-poin ini sungguh tidak terbatas, akan tetapi karena ini kita bisa dapatkan dengan percuma dan dengan sangat murah, kita tidak bisa merasakannya. Setiap riwayat yang tertulis dalam buku-buku hadits lebih berharga dari semua harta benda dan semua kelezatan-kelezatan dunia ).

 

Merenungkan Tentang Shalat dan Kebesaran Tuhan

Termasuk kepada amalan-amalan yang bisa menghasilkan kehadiran hati dan konsentrasi adalah hendaklah seseorang beberapa saat sebelum menjalankan shalat dia duduk di mesjid atau di tempat shalat, berfikir dan mengkonsentrasikan diri hanya kepada Tuhan serta mengosongkan diri kita dari selainNya. Kosongkan hati kita dari pikiran-pikiran, khayalan-khayalan serta ingatan-ingatan dengan mengkonsentrasikan indra kita juga melupakan semua kecendrungan-kecendrungan duniawi dan berusahalah mengahdirkan hati. Alhasil, dengan tafakur dan penyesalan akibat kehilangan nilai-nilai maknawi dari shalat serta memperbaiki kerugian dan kekurangan yang telah lalu maka hal-hal di atas akan bisa diraihnya.

Sebelum melakukan shalat sebaiknya seseorang mengkontrol pikirannya dan sebisa mungkin konsentrasinya terpusat kepada shalat, tempat shalat dan tempat sujud. Atau jika dia melakukan shalat di tempat sepi dan tidak seorang pun yang melihatnya, hendaklah dia duduk santai sehingga tidak ada beban lagi dibadannya dan setelah mengkonsentrasikan indranya sebisa mungkin dia merasakan kehadiran Tuhan serta membawa dirinya berada dihadapan Tuhan yang maha tinggi.

Kita sering mengklaim bahwa berada di haribaan Tuhan begitu juga dengan alam ini, akan tetapi ini hanya di mutuk belaka sementara hati kita belum bisa meyakininya. Ketika kita sedang sendirian berada di kamar dan jauh dari pandangan orang lain, kita akan berbuat sesuatu perbuatan tertentu dan ketika kita sadar bahwa ada orang lain atau keluarga kita memperhatikan kita maka kita akan merubah perbuatan kita. Ketika manusia menjaga perbuatannya di hadapan orang lain serta kita akan selalu hati-hati dalam berbuat, maka jika dia betul-betuk meyakini bahwa kita berada di hadapan Tuhan serta tahu bahwa Dia melihat perbuatan kita maka tentu dia akan menjaga hatinya supaya tidak mengarah kepada sesana dan kemari. Jika manusia tahu bahwa dia berada di hadapan orang lain maka hatinya tidak akan merasa bebas untuk berbuat ini dan itu terutama ketika dia merasa bahwa dia berada di hadapan Tuhan serta merasakan kehadiranNya maka dia akan lebih mengkontrol hatinya serta akan betul-betul merasakan kehadirannya. Atau ketika dalam shalat dia mengucapkan “Allahu Akbar”dan dia meyakini bahwa Tuhan maha besar dari segala sesuatu dimana kebesarannya tidak terbatas maka sedetikpun dia tidak akan lalai akan kehadiranNya. Pada langkah pertama kita belum bisa merasakan kebesaran Tuhan, kita hanya melapalkan ucapan ini dan tidak bisa memenggambarkan kebesaran dan keagunganNya; apa itu kebesaran Tuhan? Atau sebesar apa kebesaran Tuhan sehingga Dia lebih besar dari manusia dan seluruh makhluk? Otak kita sama sekali tidak bisa menampung kebesaran Tuhan, walaupun dengan merenungi karya-karya Tuhan serta dengan usaha yang keras dalam rangka meniti tahapan-tahapan sampai akhirnya kita bisa merasakan kebesaran Tuhan.

Telah dinukil dari Imam Shadiq as. sebuah riwayat yang rinci bahwa seorang perempuan penjual minyak wangi bernama Zaenab datang ke rumah Nabi saw. dan menanyakan tentang kebesaran Tuhan, Rasul saw. menjawab pertanyaanya dengan memberikan perbandingan alam-alam, tujuh langit dan bintang-bintang dimana yang satu lebih kecil dibanding yang lain, diantaranya beliau bersabda: “bumi ini dengan apa yang ada di dalam serta yang ada di atasnya dibandingkan dengan langit pertama ibarat sebuah cincin yang berada di padang pasir yang luas”.[7]Perbanding ini juga berlaku antara satu alam dengan alam-alam yang ada di atasnya dan tidak ragu lagi bahwa perbandingan antara alam satu dengan alam yang lain serta perbandingan antara bintang-bintang di angkasa raya akan membawa manusia untuk bisa memahami keagungan Tuhan.

Bumi dengan segala kebesarannya sangat kecil dibandingkan dengan matahari begitu pula matahari tidak bisa dibandingkan dengan bintang-bintang yang lainnya dimana semuanya berputar di angkasa dan tidak terjadi benturan antara yang satu dengan yang lain. Ketika seseorang mengetahui ada susunan bintang baru, dia akan mengatahui bahwa sampainya cahaya dari satu bintang kepada bintang yang lain lamanya sampai berjuta-juta tahun. Cahaya yang memiliki kecepatan tiga ratus ribu kilo meter setiap detiknya, bayangkan jika selama setahun apalagi sampai satu juta tahun! Selain itu, dibelakang bintang-bintang ini terdapat alam-alam lain, sebab bintang-bintang yang bisa di lihat dengan mata lahir terletak di langit pertama. Tentang masalah ini Tuhan berfirman:

$¨Z­ƒy—uruä!$yJ¡¡9$#$u‹÷R‘‰9$#yxŠÎ6»|ÁyJÎ/

dan kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang.[8]

 

( Dan tidak ada seorang pun yang mengetahui tentang langit-langit yang lain serta tidak bisa memperkirakan luas dan besarnya langit tersebut ). Tidak ragu lagi bahwa ini semua menunjukan akan kebesaran serta keagungan tanpa batas Tuhan. Tuhan yang dengan ucapan “kun” ( jadilah ), Dia menciptakan semua wujud – pada hakekatnya inilah kita yang berkata begitu sementara Tuhan tidak butuh untuk menyucapkan kata “kun”dan kehendakNya cukup untuk menciptakan seluruh wujud – memiliki kebesaran dan keagungan yang maha tidak terbatas dimana alam semesta tercipta dengan kehendakNya dan akan tetap ada karenaNya pula serta jika Dia tidak berkehendak maka semuanya akan musnah.

Maka ketika manusia dengan memperhatikan kebesaran ciptaan, sampai batas tertentu dia mengetahui kebesaran Tuhan sepantasnya ketika dia melakukan shalat hendaklah sadar di depan siapa dia sedang berdiri. Apakah pantas ketika berdiri di depanNya pikiran kita kepada roti, air, pakaian, rumah atau peralatan yang lain? Seberapa nilai seluruh wujud, manusia, bumi, lautan dan gunung-gunung dibandingkan dengan wujud Tuhan sehingga manusia mau melepaskan Tuhan demi mencari isi perut, pakaian, wanita, anak-anak atau dunia? Apakah manusia yang berakal akan berbuat demikian?.

Oleh karenanya salah satu perkara yang mengakibatkan munculnya kehadiran hati dalam diri manusia adalah hendaklah dia sebelum shalat untuk merenungkan keagungan Tuhan serta betul-betul menyadari di depan siapa dia berdiri atau hendaklah dia membaca doa-doa baik sebelum ataupun sesudah shalat. Ketika shalat hendaklah berusaha untuk memahami makna dari kelimat-kalimat yang diucapkannya, berpikir dan merenungkan semuanya seperti apa yang ditekan oleh Marhum Mirza Jawad Oqo Tabrizi dalam bukunya “Asrar Al-Shalat”. Jelas ketika seseorang hendak berkata, langkah pertama dia akan menggambarkan dalam benaknya makna-makna dari lafadz yang hendak diucapkan kemudian baru dia berucap, akan tetapi sudah menjadi kebiasaan bagi kita untuk cepat-cepat melakukan shalat sehingga tidak ada kesempatan untuk memikirkan dan merenungkan makna-makna dari lafadz yang kita ucapkan.

Selayaknya manusia melakukan shalat dengan penuh konsentrasi dan jika sebelumnya dalam satu menit dia menyelesaikan satu raka’at hendaklah sekarang selesaikan dalam dua menit walaupun sebenarnya ini sangat sebentar bagi orang yang hendak pergi keharibaan ilahi. Lama kelamaan konsentrasi kepada makna-makna bacaan shalat akan menjadi ‘malakah’ baginya seperti hanya perhatian kepada lafadz shalat yang sudah menjadi ‘malakah’ baginya.

Imam Sajjad as. berkata:

“…dan ketika engkau menjalankan shalat, anggaplah bahwa ini adalah shalat terakhirmu!”.[9]

 

Ketika melakukan shalat kita tidak tahu apakah ini shalat terakhir bagi kita ataukah bukan, oleh karenanya Imam as. berkata hendaklah kita anggap bahwa ini adalah shalat terakhir bagi kita. Jika manusia mengetahui bahwa umurnya tidak tersisa kecuali sebanyak waktu dua raka’at shalat maka dia akan betul-betul mengkonsentrasikan dirinya dan berusaha untuk melakukan shalat sebaik mungkin dan sekhusu’ mungkin. Sementara ini kita tidak tahu kapan akan berakhir umur kita maka sebaiknya kita untuk selalu menganggap bahwa shalat yang kita lakukan adalah shalat terakhir. Anggapan ini akan membuat kita untuk selalu bertahan di hadapan syetan dan berusaha mengeluarkannya dari dalam diri kita serta betul-betul memanfaatkan kesempatan-kesempatan dan detik-detik dari shalat yang kita lakukan. Tidak diragukan bahwa keadaan seperti akan sangat berpengaruh kepada kita untuk bisa menghadirkan hati kita. Walau pun sebaiknya setelah selesai melakukan shalat manusia tidak lalai kepada Tuhan serta merasa diri tidak lagi berada dihadapan dan dilihat olehNya.

Apakah setelah beberapa tahun anda jauh dari teman dekat dan sekarang anda berhasil bertemu dengannya serta sangat menikmati pertemuan ini, akan tetapi setelah pertemuan tersebut anda langsung berdiri dan tanpa mengucapkan kata perpisahan pergi meninggalkannya begitu saja? Seseorang yang hanya sekedar mengucapkan “assalaamu ‘alaikum warahmatullahi wa barokaatuh” dia langsung berdiri dan melanjutkan kembali pekerjaannya seolah-olah dia merasa diri terpenjarakan ketika bersama Tuhan dan menunggu waktu dan secepat mungkin untuk lepas dari penjara dan kurungan tersebut sehingga dirinya menjadi bebas?.

Seharusnya setelah melakukan shalat hendaklah kita membaca doa yang panjang baik untuk diri sendiri ataupun untuk orang lain. Dalam sebuah riwayat Nabi saw. menukilkan bahwa Tuhan berfirman:

Barang siapa yang tertimpa hadas dan dia tidak melakukan wudlu sesungguhnya dia telah berpaling ( menjauh ) dariu, barang siapa yang terkena hadas lalu dia berwudlu akan tetapi tidak melakukan shalat dua raka’at sungguh dia telah berpaling dariku dan barang siapa yang terkena hadas lalu dia berwudlu setelah itu dia melakukan shalat dua rakaat dan berdoa, maka jika seandainya aku tidak menjawab permohonannya dariku tentang urusan agama dan dunianya sungguh aku telah menjauh darinya dan aku bukanlah tuhan yang menjauh (dari hambanya)”.[10]

 

Maka salah satu perkara yang menyebabkan perhatian kepada Tuhan dan menarik karuniaNya adalah kondisi yang selalu dalam keadaan wudlu. Terlebih lagi jika setelah melakukan wudhu dia menjalankan shalat dua raka’at lalu setelah itu dia berdoa dan memohon kepadaNya agar untuk beberapa saat dia bisa bersamaNya dan selalu mendapat taufik serta kebaikanNya.

Apakah untuk melakukan wudlu dan menjalankan dua raka’at shalat butuh waktu berapa lama? Serta apa susahnya untuk melakukan itu dimana Tuhan berfirman: jika doanya tidak aku kabulkan maka aku telah berbuat dhalim kepadanya, ini tidak lain kecuali karena karunia Tuhan dan jangan sampai dengan mudah karunia ini kita hilangkan.

Orang-orang yang selalu melakukan hal ini dan selalu dalam keadaan wudlu lalu setelah itu dia melakukan shalat dua raka’at dan diakhiri dengan berdoa, maka mereka telah mendapat banyak keuntungan karena pasti doa-doanya akan terkabulkan walaupun mungkin tidak secara langsung, karena hal itu sesuai dengan mashlahat yang ada di sisi Tuhan.

Kelanjutan dari hadits mi’raj tersebut, Tuhan berfirman:

dan aku heran dengan hamba yang memiliki kemampuan untuk bisa menyiapkan makanan hari ini akan tetapi dia hanya memikirkan untuk esok hari serta aku heran dengan hamba yang tidak tahu bahwa aku ridho atau kah marah kepadanya sementara dia tertawa”.


[1]Al-Taubah: ayat 54.

[2]Kondisi-kondisi seperti keheranan, takut, sedih dan sifat lain khusus bagi wujud material yang memiliki sifat materi. Tuhan terlindung dari keheranan karena seuatu atau sifat jiwa yang lain, ketika Dia menggunakan kata-kata tersebut, Dia ingin berbicara dengan bahasa kita.

[3]Jaami’ Ahadis Al-Syiah, jilid 4, hal. 6. Atau Al-Hikmah Al-Zaahirah, hal. 139.

[4]Kaafi, jilid 3, hal. 265.

[5]Shaad: ayat82.

[6]Wasaail Al-Syiah, jilid , hal. 7.

[7]Bihar Al-Anwar, jilid 60, hal. 83-85.

[8]Al-Fushilat: ayat 12.

[9]Bihar Al-Anwar, jilid 69, hal. 408.

[10]Bihar Al-Anwar, jilid 80, hal. 308.

23 Oktober 2012

Antara muhammad dan alloh ada siapa?

oleh alifbraja

1.Antara muhammad dan alloh ada siapa?

2.antara tuhan dan alloh ada siapa?

Ringkas nya antara ke-dua-duanya. yang ada hanya diri yang wajib maujud. hanya tuhan (zat, sifat, asma, af’al).

Muhammad/insan kamil merupakan kenyataan diri nya maujud, dari pada zat, sifat, asma dan af’al nya. dan alloh nama jabatan/ismun kabir/nama kebesaran bagi tuhan.dan tuhan (zat, sifat, asma, af’al) pangkat nya.

ANA ANTA BIMA AYYADTUKA WA ANTA BIMA QOLLANTUKA{aku ialah engkau,dengan ke kuatan ku yang ada pada engkau. dan engkau ialah aku dengan pertalian ku pada engkau}.

MAJOHARTU PI SAY’IN KAJUHRI PIL INSAN{tiada nyata ku kepada se suatu seperti pada insan}.

walau sangat terang dan nyata lengkap DIA pada insan/muhammad. dan pernyataan nya AKU adalah ENGKAU dan ENGKAU adalah AKU. serupa tapi tidak sebanding, ia tidak bisa dinyata kan DIA yang sebenar nya.tetapi tidak laen dari pada DIA tadi. karena martabat di sini, ada perkara QADIM dan MUHADAST dan di martabat ANA ANTA ini.

DIA bukan ZAT lagi, setelah bertajalinya. lalu yang mana DIA sebenar nya? ini lah rahasia.???.zat bukan, kerna di martabat zat atau ahdah tuhan, di situ LA’TANYIN/TIADA’TAPI NYATA.

belum lagi ada sifat, asma dan af’al nya. tidak bisa dikata kan sempurna. dan bertajali beberapa martabat, baru dia sempurna,tapi diri nya bukan zat lagi.

ahmad/muhammad awal juga bukan DIA sebenar nya. yang merupakan tajalinya, martabat sifat bagi nya. nur muhammad/muhammad akhir juga bukan DIA sebenar nya, yang merupakan tajalinya, martabat asma bagi nya.

ruh juga bukan DIA sebenar nya, yang merupakan tajalinya, martabat af’al bagi nya, dan muhammad juga bukan DIA sebenar nya, yang merupakan maujud zat, sifat, asma dan af’al nya. tetapi semua itu tidak laen daripada DIA.

kalau dari semua martabat dan ber pasal-pasal dan perincian/proses tajalinya, di dilihat nampak diri nya,.tetapi di katakan dirinya sebenar nya bukan lah seperti proses ke adaan perincian/tajalinya. itu cuma kisah.

tetapi diri nya sekarang ibarat biji telah menjadi pokok. jadi yang dilihat nampak pada perincian/tajalinya tadi. ibarat proses biji menjadi pokok. dan sempurna dia, DIA yang menjadi pokok sekarang. dan pokok bukan biji lagi.

pokok merupakan sempurna dimana terhimpun zat, sifat, asma dan af’al. itu lah yang dinyata kan diri nya seberna. dan diri nya, laisya, qadim, dan muhalapah.

masalah semua pendapat itu adanya benar semua, benarnya menurut ilmunya, dan keyakinannya, dan tingkat maqam kedudukan nya. walau jalan berbeda, tetapi hasil nya, tetap satu…

Dan yang diperintahkan wajib tuk di kenal itu tuhan alloh ta’ala, bukan zat. zat memang tak bisa di kenal. buat apa mikir kan zat.
Dan benar sempurna nya, maripat kepada alloh harus’ awal, zahir, batin dan akhir.

pokok yang di maksud di sini, pokok diri sebernanya diri yang baginya zat, sifat, asma, af’al. yang qadim, muhallapah, bukan diri pokok yang maujud dirinya pada zat, sifat, asma dan af’al. yang muhaddast

Dan pokok pastilah dari pada biji. dan Biji telah menjadi pokok, (sempurna). lalu pokok itu bukan biji lagi. dan di diri pokok tidak ada biji lagi. karena biji sudah jadi pokok. dan kenyataan sekarang yang ada hanyalah diri si pokok tadi (tuhan yang sempurna dan bernama alloh). yang sekarang maujud zat, sifat, asma dan af’al nya, pada alam semesta beserta isinya. jadi sekarang yang ada dan maujud hanyalah diri si pokok.tidak layak lagi kenyataan itu disebut biji. dan sekarang biji itu hanya tinggal’menjadi kisah, proses awal kejadian, tajali nya dirinya. proses biji menjadi pokok.

Rasullah sendiri sampai kepada tuhan tanpa ilmu, beliau hanya bertafakur di gua hirak. sehingga alloh membuka kan rahasia nya kepada rasulullah. dalam hal ini rasulullah hanya baru sampae kepada martabat nya, perjalan poroses tajali2nya, masih di biji. belum bertemu dengan diri nya tuhan atau diri pokok lagi. dan rasulullah baru bertemu dengan tuhan nya (diri pokok) . secara ruh dan jasad, di peristiwa isro miraj nabi. di peringkat ini makam tertinggi, makam puncak nya rasullah, mengenal dan bertemu, siapa diri alloh taala sebenarnya.

{Biji benih yang telah tumbuh, membesar menjadi “pokok”,

setelah benih menjadi pokok, maka ia tidak lagi dipanggil/(bernama) benih tetapi pokok.}

tapi dzatnya tetap sama, walaupun berapa banyak tajalinya, zatnya tidak berubah kerana dia sekarang seperti dia dahulu juga, dan dia dahulu seperti seperti dia sekarang juga,

jikalau ada perubahan dalam dzatnya semasa pentajalian maka itu bukanlah tajali.
kerana dzatnya telah berubah.

dari pokok dijadikan kayu, dari kayu dijadikan pelbagai barang, seperti meja, kerusi, papan rumah, dan bermacam-macam lagi,

walaupun perabot (kerusi) itu disalut perak atau emas, tatapi dzatnya tidak berubah, dzatnya tetap dzat kayu dan pokok.

jikalau dzat tidak ada bolehkah kerusi ujud, kerana tanpa Kayu (dzat) kerusi tidak akan wujud. kerusi hanyalah khayalan fikirran apabila kerusi binasa apakah yang tinggal? sudah pasti dzat, kayu.

jadi jangan keliru tuhan itu adalah dzat wajibal wujud yang berasal dari dzat mutlak, tanpa dzat tiada satupun yang ada di semesta alam ini.

apabila dzat wajibal wujud hadir barulah sifat, asma dan afaal hadir,
tetapi sifat, asma dan afaal tidak akan ujud tanpa wujud dzat.

Yang ana maksud pokok di sini, sebenar nya diri nya, yang bernama alloh. yang bagi nya, zat, sifat, asma, af’al. bukan nya kenyataan maujud darinya yang muhadast, seperti alam semesta, beserta isi nya. tetapi biji yang jadi pokok. sempurna diri nya di nyatakan tuhan alloh ‘esa diri nya’ pada zat, sifat, asma af’al {terhimpun}, dan juga laisya, qadim dan muhalapah.alloh ta’ala sebenar nya.

yang wajib bagi mu’min maripat kepada nya. dan kenyataan sekarang yang ada dan maujud itu alloh ta’ala. diri nya bukan zat lagi. karena ada sifat, asma dan af’al nya. memang itu semua dari pada zat nya,.

Lalu yang dinamakan alloh ta’ala, bagi diri nya zat, sifat, asma, af’al. lalu tanyakan pada batin ente, siapa gerangan ‘alloh ta’ala sebernar nya siapa???

itu lah yang ana maksud pokok itu. yang bagi nya laisya, qadim dan muhalafah. dan diri nya bukan zat, bukan juga sifat, dan juga bukan asma, dan juga bukan af’al.

dan apabila batin itu, menyatakan diri nya, msih ada perinciin/perjalanan/ ada nya hakikat. diri nya baru memperkenal kan/baru membukakan rahasia nya, tentang asal kejadian/proses tajali nya. dan untuk kenyataan sekarang ini hanyalah menjadi kisah/cerita,(kisah proses biji menjadi pokok).

dan yang di nyata kan itu wal awalu (biji), bukan wal akhiru (pokok) zat, sifat, asma, af’al (sempurna nya)…dan apabila batin itu, menyata kan tanpa ada perinciin/perjalanan lagi, dan tidak ada lagi hakikat2.

alhammdulillah, diri nya telah memperkenal kan dirinya, membuka kan rahasia nya, dan dia menyatakan diri nya sebenarnya. bertemu dengan dirinya (pokok). dan ke nyataan diri nya sekarang ada nya, terang dan nyata, diri nya dan ujud nya esa.

inilah puncak maripat kepada alloh. mengenal dan bertemu dengan tuhan alloh swt sebenar nya. dan yang pasti ini.ARAPTU ROBBY BI ROBBY{aku kenal tuhan dengan pengenalan tuhan}.

Dan tentang apa yang di kata dan di rasa. ALLISANU TARJUMANUL QOLBI WAL QOLBI TARJUMANUL HIDAYAH WAL HIDAYAH MIN NURIL QODIM.{lisan terjemahan dari hati, dan hati terjemahan dari hidayah, dan hidayah dari pada nur yang qodim}.

WA ZAUKU PI NAPSI BI ZAUKI.{dan pengrasa pada insan itu pengrasa aku}.

setiap yg ujud pasti bernama
asal allah ialah zat yg maha suci yang bernama?
usul allah ialah sifat yg kamalat
asal manusia ialah roh
usul manusia ialah hati yg menjadi nilai disisi tuhan
awal alloh tiada permulaan
akhir alloh tiada kesudahan
awal manusia ada permulaan
akhir manusia tidak ada kesudahan
zahir alloh dgn nama?
batin alloh dgn nama robbi

Dan zat ialah sama dengan ujud/diri.. dan ujud/diri itu ialah si hayun yang maha suci ada nya. karena semua nya, tajali dan maujud dari pada si hayun/maha hidup.

ZAT merupakan sama dengan DIRI. dan DIRI ialah si HAYUN. jadi zat=ujud/diri. dan ujud /diri itu bukan zat. jadi zat=ujud/diri. dan ujud /diri ialah si hayun.

Kenapa diri nya bukan zat?. karena pada zaman sekarang. zat itu dapat di analisa atau di sensor oleh teknologi. walau pun zat tidak berupa dan berbentuk tidak dapat di lihat. tetapi dia menempati ruang/tempat.

contoh nya, zat kabohidrat dan zat protein. seperti nasi mengandung zat karbohidrat. dan telur mengandung zat protein. dan dimana antara nasi dan telur zat kandungan nya berbeda. zat kandungan yang ada pada nasi ber beda dengan yang ada pada telur.

itu membukti kan zat, menempati ruang/tempat. dan keberadaan nya, bisa di analisa dan di sensor oleh alat. dan seperti udara juga tidak berupa dan berbentuk, dan tidak dapat di lihat.tetapi dia menempati ruang dan tempat.

Jadi ZAT= UJUD/DIRI. dan UJUD/DIRI ialah si HAYUN. itu biji. dan sekarang yang perlu di maripati si HAYUN yang sempurna, ada sifat,asma dan af’al. yang bernama tuhan yang ber asma kan alloh ta’ala.

 

23 Oktober 2012

hal jabariyah lahaulawalaku wata illa billah

oleh alifbraja

Untuk ubudiyahnya,  aku .. disandarkan kepada,  lahaulawalaku wata illa billah….(tiada daya dan upayaku…) bagi yang belum mentajalikan asma (belum mengenal nama ke-100) …  makanya  adab ibadah ubudiyahnya ada istigpar.. subhanallah 33x, alhamdulillah 33x, allahu akbar, 33x  berjumlah 99, dan tambah  lagi satu nama yang Asli (nama yang ke-100), nama yang Rahasia,, nama yang tidak dinyaringkan. 

Sedangkan, kesimpulan makrifat (yang sudah tahu nama yang ke-100) iaitu adalah perhimpunan kesempurnaan (dzat, sifat, asma dan afaal) pada  nama Rahasia itu.  Mustahil kenal pangkat (Tuhan) dan jabatan (Allah), tetapi tidak kenal nama Aslinya (Rahsianya) …..anak-anak  juga tau..

(Berkaitan pertanyaan ante itu) Betul masih jabariyah..ibarat sekolah tidak ada ijazah..apa lagi belum pernah digurukan..Firman Allah: Tuhan mengajarkan kalam dan apa yang kita tidak ketahui.

Jadi yang tidak diketahui disuruh cari (carilah nama Rahasia itu).

(Perhatian: Nama Rahasia adalah sama dengan Ismu al Adzim, nama Asli Dzat dan nama yang ke-100)

23 Oktober 2012

Nama diri Rahasia Allah

oleh alifbraja

Perkara kita menuntut ilmu..di saat kita sulit memahami sesuatu
 soalan berkaitan ketuhanan.. cubalah tafakurkan insyaallah ada jalanya yang diberikan Allah.. itu adalah Rahmat dari Allah…menjadi sutu temuan..(penemuan yang baru).

Cuba fikirkan, kenapa Tuhan dinamakan Allah?

Jawapannya:

1                   Kerana  ada Dzat, ertinya  diri Allah taala,  tetapi jangan Dzat mutlak semata, dia  mempunyai nama Asli (nama yang Ke-100).

2                   Kerana ada sifat, ertinya ada rupa

3                   Kerana ada asma (nama Asli), baru nama pangkatnya iaitu Tuhan, dan nama jabatannya Allah.

4                   Kerana ada afaal, ertinya kelakuan.

.Segala kesempurnaan dzat, sifat,  asma dan afaal itu terhimpun dan  dinamakan  RAHASIA, (pada nama yang ke-100).
Mari kita perhatikan tentang tajali secara ringkas:

1                   Tajali dzat

2                   Tajali sifat

3                   Tajali Asma

4                   Tajali afaal

Tauhid pula secara ringkas:

Tauhidnya adalah untuk mensyahkan rukun Syahadat, yang berjumlah empat perkara:

  1. Tauhidul dzat, iaitu mengesakan pada zat, iaitu yang ada  pada nama Rahasia (mengesakan dzat pada Rahasia)
  2. Tauhidul sifat, iaitu mengesakan sifat, iatu pada  nama Rahasia
  3. Tauhidul asma, iaitu mengesakan asma, iaitu pada   nama Rahasia
  4. Tauhidul afaal, iaitu mengesakan afaal, iaitu pada nama Rahasia.
     

Walhasil daripada makrifat adalah RASA (merasakan), iaitu dapat  merasakan rasa roh, iaitu seperti apa rasanya.  Dapat pula merasakan rasa Rabbani (ketuhanan), iaitu seperti apa rasanya.

Walaupun 1000 tahun mendefinasikan Allah, jikalau  belum merasakan, maknanya belum berhasil menemui Allah, seperti   mengkhayalkan perkahwinan, tetapi belum berkawin, pasti tidak tahu bagaimana rasanya berkawin.

Teka-teki ini kalau anda temukan, anda antara percaya dan tidak percaya, antara yakin dan tidak yakin.
JADI KEBENARAN BERADA  DI ANTARA YAKIN DAN TIDAK YAKIN, ANTARA IA DAN TIDAK IA.  TETAPI KALAU SUDAH YAKIN APABILA DI SEBUT NAMA ASLINYA (nama yang ke-100)  MAKA BERGETARLAH HATINYA..

Nama Rahasia Allah nampak aksara arabnya (alif, lam, lam ha) (pada wajah kita)  cubalah (berdiri di hadapan cermin) bercermin.. di  huruf apa hidung, dua lobang hidung, huruf apa pada  kedua mata, hurup apa, mulut dan telinga,  sesudah mulut dan telinga, maka dirahsiakan (nama itu) jangan sampai didengar orang,  setelah tahu nama Rahasia maka  tutuplah mulut (jangan beri tahu), tutup telinga..(agar ia menjadi Rahasia).

Mudah-mudahan faham, perkara ini tidak boleh diberitahu secara langsung, hanya dengan isyarat-isyarat jua.

Kesimpulan Keakuan.

KESIMPULAN AKUAN  PADA   NAMA RAHASIA,  kepada  Allah kena,  kepada  hamba pun kena, sekali  sebut saja sudah terhimpun (pada kedua-duanya) . Segala sesuatu akuan didudukkan pada  nama RAHASIA Allah, (nama yang ke-100),  nama Aslinya disebut ismu al adzim, iaitu sebelum mengetahui Nama Dzat Aslinya (nama yang ke-100):

Sedangkan ALLAH, adalah nama jabatan untuk puji-pujian dan TUHAN ialah nama Pangkatnya..juga untuk puji-pujian.  Nama pangkat dan nama jabatan boleh  dinyaringkan.. tetapi apabila  menduduki   nama RAHASIA tidak boleh dinyaringkan.. ( kerana ia adalah Rahasia).

Seorang salik harus mencari Guru yang murabi mursid untuk menyampaikan Nama Rahasia tersebut..harus dibaiat kerana sifatnya  sangat  Rahasia…. sekalipun (tidak diberitahu kepada ) anak kita sendiri..

%d blogger menyukai ini: