Posts tagged ‘Filosofi’

23 Juli 2012

Nikmatnya Celaan

oleh alifbraja

sebuah Maqam yang harus dilewati oleh para penempuh jalan kebenaran, maqam yang tidak meng-enakkan yaitu Maqam Celaan. Jarang sekali ada pembahasan tentang maqam celaan walaupun hampir semua kita yang menekuni tarekat, berguru, pernah mengalami hal seperti itu. Saya menemukan ulasan lengkap tentang maqam celaan dalam sebuah kitab Tasawuf Klasik yang berjudul Kasyful Mahjub karya Al-Hujwiri.

Untuk lebih mudah memahami saya akan mengajukan pertanyaan kepada anda, “Pernahkah anda dihina orang? Dicela atau dilecehkan orang?” Jawabannya tentu saja ada. Pengalaman orang yang berguru, menekuni tarekat lebih khusus lagi, tiba-tiba saja tanpa sebab setelah berguru orang yang selama ini menjadi teman kemudian menjauhi anda, bahkan orang tua yang anda hormati jadi ikut membenci anda. Ketika orang tua anda mengetahui anda telah berguru kepada Wali Allah apakah mereka langsung setuju? Jawabannya hampir semua orang tua tidak setuju dengan sebab atau tanpa sebab kecuali orang tua anda benar-benar paham tentang tasawuf/tarekat.

Ditambah lagi orang-orang sekitar anda sangat tidak senang dengan Tarekat, maka semakin bertambah-tambah hinaan dan cacian yang anda terima. Ada yang bisa melewati itu semua dengan tabah dan bisa mengambil hikmah dari kejadian yang menimpanya namun tidak mereka berputus asa menganggap menekuni tarekat membuat hidup jadi susah kemudian mengambil keputusan untuk tidak lagi berguru.

Pernahkah anda merenung kenapa anda dikucilkan dan dianggap aneh dan tidak hanya anda sayapun mengalami hal yang sama. Memang harus di akui ada faktor lain yang ikut menyuburkan kebencian dan ketidaksenangan orang terhadap Tarekat seperti tingkah laku pengamal tarekat sendiri yang terkesan eksklusif, tidak mau bergaul dengan lingkungan, tidak menjaga syariat dan lain-lain. Terlepas dari itu semua, saya juga melihat orang-orang yang bertingkah laku baik dan orang juga tidak tahu kalau dia pengamal tarekat namun anehnya orang tetap saja tidak senang. Setelah saya merenung dalam dalam akhirnya saya menemukan jawabannya dan saya uraikan secara singkat dalam empat point berikut ini :

Pertama, Kalau anda sebagai pengamal tarekat sebagai inti dari ajaran Islam dianggap aneh dan asing di zaman ini itu hal yang wajar karena telah terlebih dahulu Nabi mengingatkan dalam hadistnya :
“Permulaan Islam ini asing, dan akan kembali asing pula, maka gembiralah orang-orang yang dianggap asing”. (HR Muslim dari Abu Hurairah).
Kalau ada golongan lain yang merasa lebih “Islam” dari anda itupun wajar karena biasanya yang merasa itu berarti tidak memilikinya 

Kedua, anda menemukan mutiara yang dicari oleh seluruh dunia yaitu bertemu dengan Kekasih Allah. Kakasih Allah ibarat pengantin yang disembunyikan oleh Allah dan hanya diperkenalkan kepada orang-orang yang telah ditakdirkan oleh-Nya. Anda harus mensyukuri nikmat dan karunia yang luar biasa ini. Banyak cara Allah untuk menyembunyikan kekasih-Nya, salah satunya manusia terhijab oleh kekurangan yang nampak pada diri seorang wali sebagaimana juga musuh musuh Islam melihat kekurangan yang Nampak pada diri Nabi. Kalau ada orang mengatakan Guru anda sesat, itu juga wajar karena dia melihat Guru anda dibalik hijab yang dibuat oleh Allah.

Anda begitu yakin Nabi Muhammad adalah seorang mulia dan dimuliakan Allah, apakah musuh-musuh Islam dari dulu beranggapan yang sama? Apakah Abu Lahab dan Abu Jahal menilai Nabi seperti anda menilai? Apakah orang yang menggambar karikatur Nabi dengan penuh kebencian melhat Nabi dengan kemulyaan? Tentu saja TIDAK, mereka melihat nabi dibalik hijab.

Rasulullah SAW, yang menjadi teladan dan pemimpin orang-orang yang mengikut jalan kebenaran, dan yang mengunguli derajat pecinta pecinta Tuhan, Kemulyaan Beliau diakui dan kebenaran Beliau menerima wahyu dari Allah tidak diragukan sedikitpun. Namun dalam pandangan orang yang tidak senang, Belau dituduh dengan berbagai macam tuduhan, “Orang yang suka mengada-ada”, “penyair” bahkan Beliau dituduh Gila dan pendusta.

Orang-orang beriman yang mengalami celaan dilukiskan dalam firman Allah :
“Mereka tidak takut celaan seseorang, itulah rahmat Tuhan yang Dia anugerahkan kepada siapapun yang Dia kehendaki, Tuhan Maha Pemurah lagi Maha bijaksana” (QS 5:59).

Ketiga, Coba anda bayangkan disebuah desa ada seorang gadis paling cantik dan anda termasuk penduduk desa tersebut. Gadis itu diperebutkan oleh banyak laki-laki dan anda termasuk salah seorang yang berusaha mengambil hati. Bisa anda bayangkan bagaimana susahnya anda merebut hati si gadis diantara puluhan pesaing. Kemudian bayangkan juga anda berada disebuah kota dan dikota tersebut ada seorang gadis paling cantik, primadona kota dan seluruh pemuda di kota tersebut berlomba-lomba merebut hati sang gadis.

Bisa anda bayangkan pengorbanan harta, pikiran dan tenaga untuk bisa mendapatkan gadis pujaan anda, bisa jadi anda ditolak dan mengalami sakit hati. Sekarang bayangkan yang ingin anda rebut cinta adalah dari Sang Maha Cinta yang diperebutkan oleh Manusia seluruh alam ini, ada 5 milyar saingan anda untuk memperoleh perhatian dan cinta Dia Yang Maha Esa. Sekarang coba anda bayangkan pengorbanan apa yang harus anda berikan agar bisa mendapatkan cinta dari Sang Maha Cinta tersebut?. Apakah harta anda cukup untuk bisa mendekati Dia? Apakah pikiran anda cukup untuk dikorbankan kepada-Nya dan apakah perasaan anda siap untuk kecewa dan sakit hati untuk mencapai Cinta-Nya? Saya tidak melanjutkan uraian ini dan saya yakin ada menemukan jawabannya. Yang diminta dari anda oleh Sang Kekasih adalah sedikit kesabaran dalam menggapai cinta tersebut, pantaskah anda berkeluh kesah?

Ke empat, Orang yang masuk tarekat pada hakikatnya adalah memulai hidup baru dalam Taubat kepada-Nya, melangkahkan kaki setahap demi setahap menuju kehadirat Allah. Anda, saya dan semua kita di dalam hati ini bersemayam Jin, setan yang sejak lahir (buka surat An Naas) telah menemani kita siang dan malam selama 24 jam sampai kita mengucapkan kata perpisahan dengan mereka ketika kita menyatakan diri menjadi murid seorang kekasih Allah. Setan dan dalam diri anda itu kemudian keluar dari tubuh anda, keluar dengan nada kesal dan kecewa. Lalu rasa kecewa tersebut kemudian dia masuk ke tubuh sahabat anda, tetangga anda atau bisa jadi orang tua anda sendiri, lewat mereka para jin/setan tersebut dengan bebas mencaci maki anda sebagai orang yang telah meninggakan mereka. Lalu kenapa anda jadi marah kalau dicaci oleh tetangga yang pada hakikatnya adalah telah di masuki oleh “diri anda”, sekutu yang sejak lahir menemami anda. Kalau ada yang mencaci anda karena anda mengamalkan tarekat, dalam hati ucapkan, “wahai kawan lama, maaf, aku tak bisa bersamamu lagi, sekarang aku sudah jadi murid Wali” he he.

Memegang kebenaran itu ibarat memegang bara api, kalau digenggam tangan akan terbakar kalau dilepas maka bara itu akan terlepas dan hilang. Guru memberikan rahasia kepada saya, “Pegang kuat-kuat bara itu dan nanti bara itu akan padam ditanganmu dan kamu harus punya prinsip tangan yang terbakar atau bara api yang padam dan jangan pernah kau melapaskan bara tersebut”. Ditempat lain Guru juga memberikan gambaran bahwa seorang penempuh jalan kebenaran persis seperti orang yang berada diantara buaya dan dinding terjal. Di depan ada dinding terjal sementara dibelakang ada buaya. Kalau mundur akan mati dimakan buaya sementara kalau maju harus melewati dinding yang terjal dan sangat sulit. Guru memberikan rahasia, “Kalau Aku akan terus maju walau harus merangkak”.

Seorang teman seperguruan bertanya kepada saya, “Menurut anda apakah Guru kita termasuk orang yang benar?”. Saya jawab, “Pertanyaan itu ketika tahun pertama berguru saya masih bisa menjawabnya, tapi sekarang setelah belasan tahun saya berguru pertanyaan tersebut tidak bisa lagi terjawab”. Dengan penasaran dia bertanya lagi, “kenapa bisa begitu?”. Saya jawab, “Bertahun-tahun saya mencari Wali Allah, begitu banyak saya menjumpai Guru yang mengaku Wali Allah dan dan hampir saja saya putus asa karena tidak menemukan orang yang benar-benar Wali Allah dan saya pikir tidak mungkin orang seperti saya bisa berjumpa dengan seorang Wali Allah. Setelah berguru awalnya timbul keraguan dalam hati, dan saya membuka Al Qur’an dan Hadist untuk mencari kebenaran dari apa yang disampaikan Guru. Bukan hanya itu saya juga mempelahari  ucapan-ucapan ulama, kitab-kita tentang Tauhid dan tasawuf untuk Menelusuri kebenaran yang di ajarkan oleh Guru. Setelah setahun saya mengambil kesimpulan bahwa Guru kita benar-benar seorang Wali Allah, Ulama Pewaris Nabi dan Beliau benar Khalifah Rasulullah yang menegakkan Agama ini yang kebenarannya tidak diragukan lagi.” Kemudian saya melanjutkan, “Kalau anda saudaraku hari ini bertanya tentang kebenaran Guru kita, saya tidak bisa menjawabnya karena bagi saya saat ini berguru bukan karena benar dan salah tapi karena kecintaan saya kepada Beliau sebagai seoranng pengemban amanah Allah. Andai seluruh dunia ini mengatakan Guru kita salah atau sesat dan siapapun jadi murid Beliau dikatakan masuk Neraka, saya tidak peduli dan saya akan tetap menjadi murid Beliau”. Kemudian saya melanjutkan, “Saudaraku, Kebenaran mutlak itu hanya ada pada Allah dan Guru kita telah mengantarkan saya kepada Allah, Sang Kebenaran Mutlak, jadi untuk apa saya harus mendengarkan kebenaran versi manusia yang sangat besar kemungkinan salahnya?

Siapapun anda wahai saudaraku, apakah kita satu Guru atau berbeda Guru, saya memberikan nasehat kepada anda, siapapun Guru anda, hormati Beliau sayangi Beliau dan teruslah melanjutkan Berguru karena sesungguhnya bersama Kekasih Allah itu adalah sebesar-besarnya rahmat dan karunia dan sesungguhnya Guru Mursyid itu adalah pintu yang langsung menuju kehadirat Allah SWT.

Walaupun pandangan orang negatif terhadap anda, digolongkan anda kapada pengikut aliran sesat, dituduh sebagai pembuat bid’ah bahkan orang mengatakan anda kafir jangan membuat pribadi anda berubah menjadi pribadi pendendam, pribadi yang putus asa dan kemudian malah bertingkah laku aneh sesuka hati. “ah saya sudah terlanjur dianggap sesat, mendingan buat yang aneh-aneh sekalian”. Kemulyaan dan ketinggian derajat seseorang tidak tergantung dari penilaian orang, manusia itu bersifat baharu dan penilaiannya pun akan berubah termasuk penilaiaan terhadap anda. Jadilah pribadi yang mulia karena anda mengemban amanah yang mulia, dalam diri anda telah tertanam Nur Allah dan kemanapun anda melangkah Allah dan seluruh alam ini akan ridho kepada anda. Jadilah pribadi yang ketika orang melihat dan menilai anda maka orang akan mengatakan, “orang ini benar dan Gurunya juga benar”.

Bersyukurlah karena masih ada orang yang menghina anda, karena yang paling berbahaya justru ketika anda dipuji karena pujian sering kali membuat orang lalai dan lupa dan kemudian tanpa sadar menjadi sombong dan angkuh sementara dua sikap itu yang paling tidak disenangi oleh Tuhan dan sikap itu membuat anda jauh dari Tuhan. Hinaan manusia akan membuat cinta anda kepada Tuhan semakin menggelora dan hati anda selalu terjaga untuk selalu mengingat dan membesarkan nama-Nya. Ketika semua orang mencaci dan menghina orang maka anda hanya memikirkan satu saja, semain fokus pada satu tujuan yaitu Allah SWT. Yakinlah bahwa Orang-orang yang menghina anda itu sengaja diciptakan oleh Tuhan sebagai lawan tanding agar anda bersungguh-sungguh dan bersemangat dalam menggapai cintai-Nya. Suatu saat nanti anda akan menangis dan selalu bersyukur karena anda dihina orang dan hal itu hanya bisa terjadi ketika anda benar-benar bisa memaknai Nikmatnya Celaan. Salam

Iklan
20 Juli 2012

EKSISTENSI TUHAN; DITOLAK DAN DITETAPKAN [2]

oleh alifbraja

 

EKSISTENSI TUHAN; DITOLAK DAN DITETAPKAN [2]

 
 
 

    Pendahuluan

 Pada makalah yang telah lalu, telah kami sajikan uraian beberapa pandangan penganut materialisme dan ateisme yang mengklaim, bahwa mereka adalah orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Dan telah kami sajikan pula uraian jawaban-jawaban yang disampaikan oleh para penganut agama yang memperkenalkan diri mereka sebagai orang-orang yang menerima dan meyakini keberadaan Tuhan. Dengan mengkaji secara cermat kedua pandangan dengan berbagai argumen yang mereka sajikan tersebut, kita akan mengetahui kebenaran dan kesalahan salah satu dari dua pandangan tersebut.  Berikut ini kami sajikan di meja makan Anda  hidangan lanjutan pembahasan tersebut.  Selamat menikmati. 

    Tuhan dan Keburukan

David Hume adalah seorang filosof yang berusaha dengan gigih mengkritik dan menolak argumen keberadaan Tuhan. Salah satu dalil yang diajukannya adalah dalil keberadaan keburukan. Dalil tersebut berbentuk seperti ini: ” Apakah sebenarnya Tuhan itu ingin mencegah keburukan, tetapi Dia tidak punya kemampuan? Jika demikian halnya berarti Tuhan tidak memiliki kekuasaan. Apakah Tuhan itu memiliki kekuatan, tetapi Dia tidak berkehendak untuk menghilangkan keburukan? Jika demikian halnya berarti Dia berkehendak buruk. Ataukah Tuhan itu  memiliki kekuataan dan juga memnghendaki kebaikan? Jika memang demikian halnya, lalu keburukan itu datang dari mana?

Argumen tersebut bisa  disusun dalam bentuk yang lebih sederhana sebagai berikut:

1- Tuhan itu Maha Kuat (Maha Kuasa).

2- Tuhan itu Maha Berkehendak baik.

3- Jika demikian, maka terdapat keburukan.

Ketiga proposisi di atas saling kontradiksi. Jika proposisi satu dan dua itu dianggap benar, maka proposisi ketiga itu dianggap batil. Tetapi karena proposisi ketiga itu benar, maka berarti proposisi satu dan dua itu batil. Dengan demikian, maka keberadaan Tuhan harus ditolak.

 Dalam menjawab persoalan di atas, pertama yang harus dipermasalahkan adalah jenis kontradiksi yang disebutkan itu sendiri. Sebagai contoh, jika seorang ayah menginginkan agar anaknya kelak menjadi seorang ilmuan, maka karena keinginannya tersebut ia pasti rela melihat anaknya mengalami kesusahan, penderitaan, kesulitan belajar, jauh dari kedua orang tua dan kepahitan hidup lainnya. Apakah jika sang ayah yang tidak mencegah kesusahan dan kesulitan tersebut dapat dikatakan tidak menginginkan kebaikan terhadap masa depan anaknya? Tentu tidak demikian. Oleh karena itu, sama sekali tidak benar jika seseorang yang memiliki kemampuan untuk menghilangkan kesulitan tetapi hal itu tidak dia lakukan,  lantas dikatakan bahwa dia seorang yang berkeinginan buruk. apatah lagi jika kesusahan tersebut merupakan satu hal yang tidak dapat dipisahkan dari tercapainya tujuan yang baik itu sendiri.

 Dalam hal ini, mungkin saja Tuhan tidak menginginkan sebagian keburukan di alam materi ini lenyap. Sebab keberadaannya itu justeru akan menyebabkan kebaikan yang sangat besar. Bahkan malah sebaliknya bahwa ketiadaannya itu dapat mengakibatkan banyak sekali kebaikan yang tidak bisa aktual, karena keberadaannya merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dengan alam materi itu sendiri. Coba saja kita bayangkan, apakah segi tiga siku-siku itu bisa diciptakan, jika -disisi lain- tidak diinginkan segi tiga tersebut mempunyai sudut 180 derajat?

Untuk lebih  memecahkan permasalahan di atas, kami bawakan juga pandangan para filosof dalam menghadapi permasalahan keberadaan keburukan:

1- Quiditas keburukan itu sendiri.

2- Kebaikan dan keburukan di alam materi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan, tetapi kebaikan lebih dominan atas keburukan.

Bagian pertama yang perlu dijelaskan dari pembahasan di atas adalah bahwa keburukan itu muncul dari “ketiadaan”, bukan dari “ada”. Sebenarnya terdapat dua sumber keburukan yang perlu diperhatikan. Pertama, bahwa sesuatu itu dapat dikategorikan buruk, jika dia bersifat adam (ketiadaan) seperti: buta (ketiadaan melihat), miskin, lemah, jelek, tua dan mati. Kedua, sesuatu itu dapat dikategorikan buruk jika ia merupakan pangkal ketiadaan seperti: penganiayaan, bencana alam, kezaliman, pencurian dan pembunuhan. Mati, miskin, lemah, tua dan jelek, semua itu dapat dikatakan buruk karena dalam hal ini manusia tidak memiliki hidup, tidak kaya, tidak kuat, tidak muda dan tidak cantik. Yakni dari sisi ketidak punyaan dan ketiadaan memiliki sesuatu itulah dia dikatakan buruk. Adapun penganiayaan, bencana alam, pencurian dan pembunuhan, semua itu dikatakan buruk, karena hal itu menyebabkan hilangnya kenikmatan dan kehidupan bagi manusia.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa ada itu sendiri semuanya baik, tidak ada “ada” yang tidak baik, ketiadaanlah sebenarnya yang buruk. Yang dimaksud dengan “tiada atau ketiadaan” disini bukanlah “tiada mutlak” yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan wujud. Tetapi yang dimaksud dengan “ketiadaan” di sini adalah “adam malakah” (ketiadaan potensi). Maksud dari adam malakah ialah: setiap sesuatu yang maujud yang tidak memiliki atau kehilangan sifat kesempurnaannya (seperti melihat, mendengar, berbicara, dll) sementara ia termasuk sesuatu yang memiliki potensi untuk menerima sifat kesempurnaan tersebut. Ketiadaan  memiliki kesempurnaan yang merupakan sifat suatu maujud itulah yang dikatakan buruk. Buta, bisu dan tuli pada manusia itu dikatakan buruk, karena sebenarnya manusia memiliki potensi untuk dapat melihat, berbicara dan mendengar. Tetapi buta, bisu dan tuli pada batu tidak dikatakan buruk, karena ia memang tidak memiliki potensi untuk itu.

Jadi keburukan itu pada dasarnya adalah merupakan sifat relasi dan bukan hakiki yang kemunculannya tidak membutuhkan penciptaan. Berbeda halnya dengan kebaikan yang merupakan sifat hakiki bagi segala maujud yang dari sisi keberadaannya bersumber dari “Kreator” kebaikan. Dari uraian ini kita dapat mengetahui kebatilan konsep duisme penciptaan. Sebab yang tercipta secara hakiki sebenarnya hanyalah wujud yang merupakan kebaikan. Sementara adam -yang merupakan keburukan- tidak ada penciptaannya secara hakiki. Dia hanyalah berupa relasi dari kesempurnaan yang tidak teraih atau yang telah hilang. Dengan kata lain bahwa kebaikan  dari sisi wujud fi nafsi adalah benar-benar baik, sedangkan keburukan dari sisi wujud nisbi dan qiyasi adalah keburukan yang tidak hakiki(relatif).

 Adapun permasalahan yang kedua, yaitu bahwa di alam ini terdapat banyak kebaikan tetapi juga diikuti keburukan, dan mengapa alam ini tidak diciptakan dengan dipenuhi kebaikan saja? Mengapa harus ada keburukan yang mengisi kekosongan-kekosongan yang tidak dipenuhi oleh kebaikan? Yakni, mengapa alam ini tidak diciptakan dalam bentuk di mana posisi-posisi keburukan itu ditempati oleh kebaikan dan posisi-posisi kekurangan diduduki oleh kesempurnaan, sehingga sama sekali tidak ada lagi keburukan dan kekurangan? Dalam bentuk pertanyaan lain; mengapa alam ini tidak diciptakan dengan sistem yang paling baik dan sempurna?

 Untuk menjawab permasalahan tersebut, terlebih dahulu kami uraikan tentang kemungkinan adanya salah satu dari lima sistem di alam raya ini :

1- Semuanya hanya kebaikan

2- Semuanya hanya keburukan

3- Kebaikan lebih banyak dari pada keburukan

4- Keburukan lebih banyak dari pada kebaikan

5- Kebaikan sama banyaknya dengan keburukan

Kemungkinan yang pertama -menurut pandangan filosof- hanya terdapat di alam akal, sebab di alam akal sama sekali tidak terdapat keburukan. Di alam tersebut hanya terdapat kebaikan semata, dan di alam itulah para malaikat hanya sibuk bertahmid dan bertasbih pada Tuhannya. Mereka tidak pernah merasa malas dan letih dalam melakukan tugas-tugasnya.

Kemungkinan yang kedua, keempat dan kelima -berdasarkan pengalaman dan penyaksian realitas- tertolak. Sebab kita semua menyaksikan bahwa kebaikan yang terdapat di alam ini lebih banyak dibandingkan dengan keburukan.  Adapun orang yang mengira bahwa keburukan itu lebih banyak  daripada kebaikan, karena dia menyaksikan bahwa keburukan itu sering menimpa dirinya atau orang lain di sekitarnya dan dia lupa menghitung kebaikan yang telah banyak diperolehnya. Di samping itu, dia hanya melihat dirinya dengan pandangan partikuler, dia tidak memandang alam ini secara universal dengan isinya secara totaliatas. Dia hanya melihat kucing  memangsa tikus, macan memangsa kijang, ular mematuk katak, orang-orang yang kuat memeras orang-orang yang lemah dan bodoh dan ia juga hanya memperhatikan orang-orang yang ditimpa berbagai penyakit, semua itu ia nilai sebagai keburukan. Dia lupa bahwa jika kucing tidak memangsa tikus, maka kucing akan kelaparan dan mati, dan kemungkinan populasi tikus akan semakin bertambah banyak dan mengganggu sawah serta tanaman para petani. Dia lupa bahwa dengan adanya orang-orang yang ditimpa berbagai penyakit, para ilmuan akan melakukan penelitian mencari sebab dari penyakit-penyakit tersebut dan menemukan cara pencegahannya serta cara pengobatannya sehingga akan memajukan pengetahuan dan teknologi kedokteran. Singkat kata dibalik keburukan yang kita saksikan terdapat kebaikan yang tersembunyi. Mulla Sadra dengan pandangan bijak seorang filosof berkata: “Sekiranya tidak terdapat berbagai pertentangan di alam ini, maka tidak akan langgeng anugerah (faidh) dari Pencipta (mabda) yang dermawan”[1]. Oleh sebab itu, sebagian filosof memandang bahwa keburukan itu merupakan keniscayaan bagi alam materi yang memiliki hukum dan tabiat berbagai pertentangan. Yakni, bahwa hakikat alam materi itu sendiri mengharuskan terwujudnya berbagai pertentangan di dalamnya, dan mustahil keberadaan alam ini jika tanpa tabiat dan watak semacam itu.  jika Tuhan menghilangkan sifat dan watak tersebut dari alam materi ini, sama halnya Tuhan tidak menciptakan alam materi. Sementara meninggalkan penciptaan alam materi, sama halnya dengan meninggalkan kebaikan yang sangat banyak itu sendiri. Dan hal ini mustahil bagi Wujud yang Maha Dermawan.

Dengan demikian maka sistem yang harus berlaku di alam materi ini adalah kemungkinan yang ketiga dari lima kemungkinan tersebut. Yakni bahwa kebaikan itu lebih banyak daripada keburukan. Hal ini sama dengan persepsi kita terhadap segi tiga siku-siku yang mengharuskan terwujudnya 180 derajat. Dengan kata lain bahwa segi tiga siku-siku itu tidak terpisahkan dengan 180 derajat tersebut.

    Tuhan dan Teori Sosiogenik

 Teori sosiogenik pada dasarnya tidak menafikan Tuhan secara mutlak, tetapi ia memiliki pandangan yang berbeda tentang Tuhan dengan konsepsi Tuhan pengikut agama-agama. Pendukung pandangan ini -terutama Emile Durkheim (1858-1917) seorang sosiolog berkebangsaan Prancis- dalam menghadapi realitas agama, disamping berusaha menjelaskan dimensi agama yang memiliki aspek pragmatis dan kegunaan praktis dalam kehidupan masyarakat, dia juga membantah dan menolak objektivitas luar dari keyakinan dan pengalaman religius. Durkheim membagi hakikat agama kepada dua bagian; bagian yang dikuduskan dan tidak dikuduskan [2]. Bagian yang dikuduskan itu berhubungan erat dengan masyarakat, sedang bagian yang tidak dikuduskan berhubungan dengan individu dan pribadi.

Hal pertama yang dilakukan oleh sosiolog ini menguatkan pandangan bahwa hakikat agama bukanlah keyakinan pada eksistensi Tuhan yang Maha Tinggi dan metafisika. Sebab terdapat agama -seperti Budhisme- yang tidak memiliki keyakinan pada Tuhan. Agama Budha tidak menerima konsep Tuhan agama Hindu, dan bahkan secara mendasar dalam maktab ini tidak terdapat keyakinan tentang Tuhan dan atau suatu wujud yang maha tinggi dan hegemoni.

Hal kedua menjelaskan bahwa hakikat agama -seperti pemahaman gaib dan atau matafisika- tidak memiliki pengaruh, sebab manusia awal secara umum tidak mengenal keberadaan dua alam yang berbeda, yakni mereka tidak memiliki konsepsi alam fisika dan alam metafisika. Manusia awal menafsirkan semua fenomena dan gejala dengan mukjizat. Artinya mereka tidak melihat keberadaan dua alam yang berebeda. Oleh karena itu mereka melihat segala sesuatu sebagai perkara luar biasa dan matafisika. Pembagian alam kepada alam fisika dan metafisika itu berhubungan dengan manusia berperadaban dan memiliki atmosfir pemikiran kekinian. Sebab manusia berperadaban tersebut mengetahui dan mendapat pengaruh dari kaidah-kaidah ilmu alam.

Setelah melakukan penelitian pada kabilah-kabilah yang terdapat di Australia, akhirnya Durkheim berpendapat bahwa totem yang diagungkan oleh kabilah-kabilah pada awalnya adalah  merupakan suatu simbol, namun dia simbol dari apa? Jawaban pertama yang bisa diberikan adalah bahwa totem adalah simbol dari kekuatan tanpa nama dan menjadi alamat sesembahan dari suatu kabilah. Tetapi jawaban tersebut tidak cukup sampai disini. Selanjutnya Durkheim berpendapat bahwa jika totem adalah suatu gambaran realitas dan objektivitas kabilah, maka totem adalah realitas masyarakat  dan merupakan tajassum darinya.  Totem adalah lambang dan semboyan, bahkan masyarakat itu sendiri dalam bentuk simbol. Yakni ketika masyarakat tersebut tampak dalam tahap simbol, itulah dia totem. Durkheim dari dua bentuk tinjauan tersebut mengambil kesimpulan bahwa Tuhan kabilah atau kekuatan tanpa nama serta alamat, bukanlah sesuatu yang lain dari kabilah itu sendiri dan menjelma dalam bentuk gambaran hewan atau tumbuhan (totem). Oleh sebab itu totem adalah simbol kabilah (masyarakat) dan sekaligus simbol Tuhan, sebab Tuhan dan masyarakat pada hakikatnya adalah satu.  

 Kelemahan teori di atas dapat ditinjau dari beberapa sisi:

1- Defenisi memandang hakikat agama memiliki dua bagian; bagian yang dikuduskan yang berhubungan dengan masyarakat dan bagian yang tidak dikuduskan yang berhubungan dengan person adalah suatu asumsi yang menyusun metode berfikir Durkheim terhadap agama. Jadi pada dasarnya, Durkheim dari awal pemikirannya memiliki persepsi bahwa perkara yang disucikan itu adalah perkara masyarakat, sementara  perkara yang tidak disucikan adalah merupakan perkara pribadi. Dari metode berpikir ini maka konklusi yang akan diperoleh Durkheim adalah bahwa agama adalah manifestasi dari kebutuhan-kebutuhan masyarakat yang merupakan suatu perkara yang tidak asing, sebab pada hakikatnya dengan berasumsikan hakikat agama seperti tersebut, teori Durkheim sudah jatuh pada argumen daur (sirklus) yang tersembunyi. Yakni bahwa apa yang sudah menjadi asumsi, itu juga yang nantinya akan menjadi konklusi.

 2- Memandang agama masyarakat awal tanpa berdasarkan pada keyakinan terhadap alam metafisika, tetapi karena semua gejala dan peristiwa alam menurut pandangan mereka adalah satu, juga pandangan yang tidak benar. Sementarta para peneliti yang se-zaman dengan Durkheim memperlihatkan bukti-bukti kebalikan dari pandangan tersebut. Masyarakat awal, meskipun tidak memiliki pemahaman tentang alam metafisika yang sama dengan pemahaman manusia sekarang, tetapi mereka memiliki pemahaman tentang peristiwa luar biasa dan tidak bersumber dari alam fisika yang sangat menyerupai dengan pemahaman manusia sekarang tentang pemahaman mereka terhadap alam metafisika.

 3- Menurut teori Durkheim, agama terbatas hanya pada seruan kelompok untuk tujuan menjaga kelebihan-kelebihan khusus kelompok tersebut. Oleh karena itu, agama dengan syariatnya tidak mungkin berhubungan dengan seluruh manusia. Pandangan bahwa seruan Tuhan itu terbatas hanya pada seruan kelompok saja, tidak benar dan bahkan kebalikan yang terdapat dalam agama. Sebab dalam agama -pada umumnya- seruan Tuhan tidak membatasi suatu kelompok tertentu. Bahkan seruan Tuhan  menyeluruh untuk semua manusia pada persamaan dan persaudaraan.

 4- Kebanyakan para nabi dan utusan Tuhan bangkit menentang tirani dan sistem masyarakat. Di samping itu merekapun memberi petunjuk  manusia kepada perbaikan individu yang pada akhirnya mengarah kepada perbaikan masyarakat. Dan para nabi serta utusan ini mendakwahkan diri mereka sebagai utusan Tuhan yang dekat dengan Tuhan. Dengan demikian, jika Tuhan adalah masyarakat yang berpakaian lain, maka para nabi dan utusan tersebut tidak mungkin mendapat ketetapan dari Tuhan sebagai utusan, dan tidak mungkin pula mereka bangkit menentang serta menyalahkan sistem masyarakat yang ada.

    Tuhan dan Agama di mata Freud

 Teori lain yang menolak objektifitas  Tuhan (keberadaan wujud luar Tuhan) datang dari Sigmund Freud (1856-1939) pendiri mazhab psiko analisis dalam ilmu psikologi. Freud sendiri memiliki beberapa uraian dan teori tentang hadirnya konsep Tuhan ditengah manusia, yang intinya adalah merupakan kebutuhan-kebutuhan kejiwaan manusia. Yakni Tuhan di sisi Freud itu bersifat negatif dan tercipta oleh ilusi manusia. Oleh sebab itu Tuhan tidak memiliki eksistensi luar.

 Menurut Freud agama adalah suatu bentuk aksi manusia dalam mempertahankan diri ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan menakutkan alam tabiat. Manusia ketika berhadapan dengan kekuatan-kekuatan alam tabiat seperti; gempa, topan, banjir, penyakit dan kematian, tidak mampu mempertahankan diri. jika kekuatan yang menakutkan tersebut merupakan perkara tabiat murni yang tidak memiliki ruh, melihat serta mendengar, maka menusia tidak mampu melakukan sesuatu ketika berhadapan dengannya. Tetapi jika kekuatan-kekuatan itu datang dari maujud yang memiliki ruh, melihat dan mendengar, maka mereka memiliki harapan untuk mengikat hati maujud tersebut sehingga merasa aman dari keburukannya. Yakni mereka dapat memohon belas kasihan kepadanya, memuji-mujinya dan memberikan kurban untuknya. Sehingga dengan cara seperti itu dia bisa bermurah hati dan tidak mengirimkan malapetaka lagi kepada umat manusia. Singkatnya -menurut Freud- Tuhan adalah jelmaan rasa takut manusia.

 Dalil yang dikemukakan oleh Freud -dalam membenarkan pandangannya- merupakan peristiwa-peristiwa yang dialami oleh hampir semua orang. Menurutnya terdapat suatu hakikat yang sangat jelas yang kita alami ketika masa kecil. Misalnya ketika kita merasa takut terhadap berbagai peristiwa alam tabiat yang mengerikan, maka tempat berlindung kita ketika itu adalah bapak. Pada saat itu sang bapak segera memberikan perlindungannya sambil mengucapkan kata-kata yang mampu menenangkan dan menguatkan hati kita. Ini pengalaman di masa kecil kita. Tetapi sekarang, ketika kita telah menginjak usia dewasa bagaimana?

Menurut Freud, sebenarnya pada masa usia telah dewasa, seruan agama itu tidak berbeda dengan seruan bapak yang memberikan ketenangan kepada anaknya yang sedang menegalami ketakutan. Keyakinan pada agama menciptakan Tuhan sebagai tempat berlindung manusia ketika menghadapi berbagai ancaman alam tabiat serta perasaan takut dari peristiwa-peristiwa yang ditimbulkannya. Sehingga kematianpun tidak menimbulkan rasa takut dengan mengingat Tuhan ciptaan tersebut.

 Pandangan lain yang dikemukakan oleh Freud -yang lebih populer dari pandangan di atas- adalah bahwa kemunculan agama sebagai kepercayaan manusia adalah akibat pengekangan libido  mereka. Menurutnya, bahwa libido merupakan induk dari semua kecenderungan-kecenderungan manusia, bahkan ia sebagai satu-satunya kecenderungan. Libido ini, setiap kali tergerakkan ia harus dipenuhi dan dipuaskan. Tetapi manusia sejak masa kanak-kanaknya sudah dberikan pengajaran oleh orang tua mereka mengenai pandangan ketidak bebasan libido secara mutlak. Bahkan  mereka malah diperintahkan  untuk menutup alat kemaluannya. Setiap kali usia seseorang itu bertambah, ia dapati berbagai keharusan masyarakat itu semakin membatasi gerak libidonya. Tetapi manusia tidak merasa cukup dengan berbagai batasan yang dibuatnya tersebut. Namun, setiap kali libido itu memuncak sementara keharusan dan batasan masyarakat berusaha membendungnya, tetap saja libido ini tidak hilang, tetapi ia  bergerak dari alam sadar ke alam bawah sadar kemudian terpendam di alam bawah sadar. Di alam bawah sadar libido menumpuk, ketika tidak mendapatkan jalan keluar, maka ia akan berubah dalam bentuk yang lain. Menurut Freud para penyair, seniman dan bahkan para nabi muncul dari jalan ini. Yakni sair, seni, dan atau pengajaran agama itu timbul dari libido yang terpendam di alam bawah sadar yang tidak memiliki jalan keluar. Dengan kata lain bahwa -menurut Freud- konsepsi Tuhan, kitab suci, ibadah dan hukum-hukum agama, semuanya itu muncul dari libido.

 Freud juga mempunyai teori lain tentang kemunculan agama yang ia utarakan dalam bukunya “Totem dan Tabu”. Dalam buku tersebut dia menguraikan tentang kehidupan masyarakat awal, dan selanjutnya ia mengutarakan kisah kemunculan agama. Dalil kemunculan agama yang diutarakan Freud  -yang dikenal dengan Oedipus Complex- tidak kita ungkap disisni, karena tidak begitu menjadi perhatian para ahli studi agama dan menurut sebagian mereka kisah tersebut tidak memiliki nilai ilmiah.      

Salah satu kritikan terhadap pandangan Freud tersebut datang dari ahli psikolog sendiri. Mereka menolak metode dan teori psiko analisis Freud yang ia gunakan untuk menjelaskan kemunculan agama. Pandangan Freud yang banyak dikritisi khususnya adalah masalah libido. Bahkan sebahagian murid-murid Freud sendiri seperti Yung dan Adler tidak menerima teori-teorinya dimasa dia masih hidup. Mereka membuat teori sendiri yang berbeda dengan teori gurunya.

Jika kita menerima uraian Freud tentang agama, hal ini tidak berarti konklusi yang diambilnya itu benar dan argumentatif. jika sebab manusia beragama karena kejahatan original (sebagaimana dalam penjelasannya dalam odipus complex), rasa takut, dan atau libido, tidak berarti bahwa konsepsi tentang Tuhan hanyalah ilusi murni. Sebab memang bisa saja kepercayaan terhadap sesuatu itu muncul dari perkara yang salah, tetapi tidak mustahil sesuatu itu memilki realitas objektif.  Freud melihat kebutuhan manusia terhadap Tuhan hanya dari satu sisi, yaitu kebutuhan mereka kepada perlindungan-Nya dari rasa takut terhadap bencana alam. Freud tidak melihat sisi dan dimensi sifat Tuhan yang pengasih dan penyayang yang dapat memberikan kenyamanan, ketenangan dan kenikmatan pada manusia. Nah perasaan mendapatkan anugerah yang berlimpah inilah yang memunculkan kebutuhan manusia untuk berterima kasih dan bersyukur pada sipemberi semua itu, dan bukan karena rasa takut dan butuh perlindungan. Oleh sebab itu ada atau tidaknya realitas Tuhan, tidak bisa dibuktikan dan dinafikan dengan perasaan dan kebutuhan manusia. Tetapi wujud Tuhan itu dapat dibuktikan dengan argumen akal, pengamatan yang dalam dan pengalaman metafisika bagi yang memiliki pengalaman ini.

Hubungan antara alam sadar dan alam bawah sadar sebagaimana dikonsepsikan oleh Freud, tidak dapat diterima oleh psikolog. Apa yang terdapat di alam sadar akan pergi ke alam bawah sadar ketika terkekang, dan alam bawah sadar menjadi tempat penumpukkan kecenderungan-kecenderungan yang terkekang, masih belum dapat dibuktikan kebenarannya.

 Dalam perjalanan sejarah ummat menusia, betapa banyak orang-orang yang dimasa kecilnya sudah kelihatan bakatnya sebagai penyair atau seniman, sementara libido pada usia dini belum dikenal oleh anak-anak. Bahkan menurut Islam, Yahya dan Isa telah mendapatkan derajat kenabian semenjak usia kanak-kanak.

 


1- Al-Asfar jilid 7 hal.77.  1.1.A

2-Tahap-tahap Mendasar Pemikiran dalam Sosiologi hal.37522

20 Juli 2012

KSISTENSI TUHAN; DITOLAK DAN DITETAPKAN [1]

oleh alifbraja

KSISTENSI TUHAN; DITOLAK DAN DITETAPKAN [1]

 
 
 

Para penganut materialisme dan ateisme mengklaim, bahwa mereka adalah orang-orang yang menolak eksistensi Tuhan. Di sisi lain, para penganut agama memperkenalkan diri mereka sebagai orang-orang yang menerima dan meyakini keberadaan Tuhan. Untuk mengetahui kebenaran dan kesalahan salah satu dari dua pandangan tersebut, kita perlu mengkaji dan memahami argumen-argumen yang mereka sajikan.

Para penganut ateisme -untuk mempertahankan pandangan mereka- telah berusaha semaksimal mungkin untuk menunjukkan kelemahan-kelemahan konsepsi kaum beragama. Di antara argumen yang mereka lontarkan terhadap para pemeluk agama adalah : Terjadinya kesalahan pada akal dan alat pikir, keyakinan terhadap wujud Tuhan disebabkan karena kebodohan, eksperimen-eksperimen ilmiah tidak dapat membuktikan keberadaan Tuhan, banyak kejahatan dan keburukan yang tidak sesuai dengan pandangan kaum beragama bahwa Tuhan itu adalah baik dan berkehendak baik, dan sejumlah dalil serta argumen lainnya. Berikiut ini, mari kita kaji argumen mereka.

Dalil pertama : Kesalahan akal dan alat pikir manusia.

Akal dan pikiran manusia dapat melakukan kesalahan, karenanya ia tidak bisa dijadikan sandaran dan tolok ukur kebenaran. Di samping itu, hasil pemikiran manusia dibagi dua. Pertama: Pemikiran yang menerima penelitian dan eksperimen. Kedua: Pemikiran yang tidak menerima penelitian dan eksperimen. Pemikiran yang menerima eksperimen dapat diterima, dan sebaliknya pemikiran yang tidak menerima eksperimen harus ditolak. Sementara persoalan-persoalan ketuhanan, termasuk hasil pemikiran manusia jenis kedua, yakni tidak bisa menerima eksperimen. Dengan demikian maka persoalan-persoalan agama dan segala hal yang berhubungan dengan ketuhanan tidak bisa diterima dan harus ditolak.

Muthaharidalam menjawab masalah ini menulis:

Pertama: Jika argumen tersebut benar, seharusnya tidak harus berpihak pada kaum materialisme dan tidak juga pada kaum ber-Tuhan, tetapi sebatas pada kaum “tidak mengetahui”. Karenanya, dalil tersebut tidak dapat mendukung mazhab meterialisme dan tidak juga bermanfaat bagi mereka.

Kedua: Argumen tersebut termasuk argumen akal murni, bukan eksperimen. Dengan demikian, jika selain eksperimen tidak ada argumen lain yang bisa dijadikan sandaran, maka dengan sendirinya argumen inipun tidak dapat dijadikan sandaran. Oleh sebab itu, dengan sendirinya dalil inipun harus ditolak. Sebab, dia menolak keabsahan dalil yang bukan eksperimen.

Ketiga: Penelitian dan eksperimen itu berlandaskan pancaindera. Sedangkan pancaindera tidak lebih kecil dan lebih sedikit kesalahannya dibandingkan dengan akal. Oleh sebab itu, jika argumen akal tersebut ditolak keabsahannya -dengan alasan mengalami kesalahan- maka hasil eksperimen pun harus ditolak keabsahannya, karena pancaindera pun bisa mengalami kesalahan, bahkan lebih banyak dibanding kesalahan akal. Jadi pada dasarnya, sebagaimana kesalahan yang terjadi pada panca indera itu tidak menyebabkan orang menolak seluruh pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penelitian dan eksperimen -karena kesalahan bisa dihindari dengan pengulangan penelitian dan eksperimen yang lebih seksama dan teliti- demikian pula halnya kesalahan sebagian dari argumen akal, tidak harus menyebabkan seluruh bentuk argumennya tertolak. Sebenarnya manusia, dengan ketelitian dan latihan yang sempurna dan dengan penuh kehati-hatian pada materi dan bentuk istidlal (argumentasi akal murni), dapat sampai pada satu seri argumentasi yang meyakinkan yang tidak perlu dibantu oleh eksperimen. Bahkan sebagian besar dari masalah-masalah ketuhanan di dalam filsafat dan teologi Islam ditetapkan berdasarkan argumen bentuk ini.

Dalil ke dua : Manusia itu beragama (meyakini eksistensi Tuhan), disebabkan menyaksikan berbagai peristiwa dan bencana alam, tetapi mereka tidak mengetahui sebab khusus dari peristiwa dan kejadian alam tersebut. Kepercayaan terhadap wujud Tuhan inilah yang dijadikan alat untuk menjelaskan ketidaktahuan mereka terhadap sebab khusus tersebut.

Pada dasarnya pandangan yang dipelopori oleh August Comte ini berpijak pada asumsi bahwa sumber didapatkannya agama dan kepercayaan pada wujud Tuhan adalah karena kebodohan dan kejahilan manusia terhadap gejala dan fenomena sebab akibat yang terjadi di alam ini. Kemudain, dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan sains, pemikiran tentang Tuhan dan agama pada manusia akan menjadi hilang. Jadi, pandangan ini berlandaskan pada suatu teori bahwa hukum-hukum universal pada awalnya merupakan bentuk hipotesa-hipotesa yang digunakan untuk menjelaskan peristiwa dan fenomena yang tidak diketahui sebabnya. Kemudian penelitian dan eksperimen memiliki peran untuk menentukan apakah hipotesa tersebut diterima ataukah ditolak. Dalam hal ini, keyakinan manusia terhadap wujud Tuhan pun merupakan sebuah hipotesa yang disebabkan oleh ketidaktahuan mereka terhadap sebab dari berbagai peristiwa dan fenomena, seperti timbulnya berbagai macam penyakit, gunung meletus, gempa bumi, gerhana matahari dan bulan, topan dan bencana alam lainnya.

Tetapi sebagaimana diketahui, tidak semua hukum-hukum dan judgmen-judgmen manusia dari jenis tersebut harus diperoleh dengan jalan penelitian dan eksperimen. Seperti proposisi mate-matika misalnya, proposisi jenis ini tidak perlu dilakukan penelitian dan eksperimen laboratorium untuk menemukan hasilnya apakah hipotesa sebelumnya cocok dengan hasil eksperimen ataukah tidak. Tetapi dengan metode mate-matika itu setiap orang dapat langsung memperoleh konklusinya tanpa melakukan hipotesa dan eksperimen sebelumnya. Meskipun -seandainya- teori di atas dapat dipercaya, tetapi hal itu tidak bisa dijadikan sebagai dasar untuk meyakini wujud Tuhan. Sebab jika diasumsikan bahwa keyakinan terhadap wujud Tuhan merupakan hasil suatu hipotesa, maka dia harus dinamakan hipotesa ” sebab dari semua sebab – sebab” (hatta sebab dari hukum kausalitas alam itu sendiri). Adapun hipotesa sebab untuk akibat khusus tidak mempunyai hubungan dengan kepercayaan pada Tuhan kaum beragama. Karena -menurut kaum beragama- suatu maujud yang dapat memberikan efek khusus pada maujud lainnya (yakni suatu sebab terbatas yang hanya bisa memunculkan akibat terbatas), tidak bisa dan tidak layak dikonsepsi sebagai Tuhan. Bahkan itu hanyalah merupakan satu makhluk dari makhluk-makhluk Tuhan yang tak terhitung jumlahnya.

Dalil ketiga : Manusia berpikir tentang Tuhan dan beragama dikarenakan keterbelakangan dan problem-problem sosial serta ekonomi yang tidak dapat mereka atasi. Kaum beragama itu berasal dari masyarakat strata bawah, kemudian penderitaan dan kemiskinan yang dialaminya menyeret mereka pada kondisi kebutuhan kepada perlindungan. Karenanya, berpikir tentang wujud Tuhan dan beragama, mereka jadikan sebagai tempat bernaung untuk mengurangi penderitaan mereka dan memberikan ketenangan jiwa. Di sisi lain, masyarakat strata atas dan para penguasa mempunyai kesempatan untuk memanfaatkan kondisi ini demi mempertahankan kekuasaan dan kekayaannya, sehingga keyakinan dan kepercayaan kelas bawah tersebut tetap eksis dan terpelihara. Atas dsar itulah aliran ini menolak agama, sebab agama -menurut mereka- merupakan candu masyarakat.

Dengan menelusuri sejarah para nabi pendakwah agama dan menyaksikan keragaman strata masyarakat yang menerima keberadaan Tuhan dan beragama, pandangan ini dengan mudah dapat ditolak. Karena tidak semua para nabi dan pendakwah agama itu dari kaum lemah, miskin, dan lapisan masyarakat bawah. Bagitu pula orang-orang yang menerima seruan mereka, tidak semuanya dari lapisan dan golongan masyarakat miskin dan menderita. Di zaman sekarang ini kita saksikan, betapa banyak orang-orang pintar, ilmuan, seniman, praktisi politik, penguasa, serta orang-orang kaya yang berpegang teguh pada agama secara murni tanpa pretensi dan kepentingan individu serta golongan. Bahkan tidak hanya sebatas itu, mereka malah bersedia menjadi pasilitator untuk pengembangan dakwah agama ditengah masyarakat. Kebalikan dari pandangan tersebut, justru kemiskinan yang mendekatkan seseorang kepada kekufuran (menolak Tuhan dan keluar dari agama).

Dalil Keempat : Pembahasan tentang Tuhan tidak akan sampai pada suatu konklusi, karena jika segala yang maujud di alam ini memiliki sebab dan Tuhan adalah sebab utamanya, maka berarti, Tuhan juga tidak bisa keluar dari hukum kausalitas tersebut, artinya bahwa Tuhan juga harus memiliki sebab. Sesuai dengan hukum ini bahwa setiap eksistensi harus mempunyai sebab.

Betrand Russel dalam buku kecilnya “Mengapa saya tidak beragama masehi (Kristen)?” berkata: ” Ketika saya masih muda, saya tidak memikirkan masalah yang dalam ini, dan argumen sebab dari semua sebab-sebab sudah cukup lama saya dengar. Sampai suatu hari ketika usia saya 18 tahun dengan membaca otobiografi John Stuart Mill, saya dapati kalimat ini; ayah saya berkata pada saya bahwa pertanyaan :siapa yang menciptakan saya? tidak punya jawaban. Sebab jika ada jawabnya, maka akan segera disusul dengan pertanyaan berikutnya: siapa yang menciptakan Tuhan? Kalimat sederhana ini menjelaskan kepada saya tentang kebatilan argumen sebab dari semua sebab-sebab. Jika setiap sesuatu harus mempunyai sebab, maka Tuhan juga harus mempunyai sebab. Karena jika sesuatu itu dapat ber-eksistensi tanpa sebab, maka sesuatu itu bisa berupa Tuhan dan bisa juga berupa alam. Ditinjau dari sisi inilah kehampaan argumen tersebut”.

Pada dasarnya orang yang menganggap salah dan batil argumen sebab dari semua sebab-sebab dikarenakan kerancuan pengetahuan mereka atas maksud dari argumen tersebut. Sebenarnya argumen ini tidak mengatakan bahwa setiap yang memiliki eksistensi itu harus bersebab, sehingga wujud Tuhan pun butuh kepada sebab selain diri-Nya. Tetapi yang dimaksud bahwa segala sesuatu yang memiliki eksistensi itu harus bersebab adalah segala sesuatu yang bersifat wujud mumkin (yakni segala sesuatu yang -dari segi konsepsi- antara ada dan tidak adanya adalah sama). Sedangkan Tuhan bukanlah wujud mumkin, tetapi Tuhan adalah wujud wajib, yakni wujud yang keberadaannya bersifat niscaya (dharuri) dengan sendirinya. Dengan demikian maka eksistensi Tuhan tidak membutuhkan sebab. (Di dalam filsafat Islam, prinsip ini dibahas secara luas dan detail. Pilar-pilarnya adalah kemustahilan daur (sirklus) dan kemustahilan tasalsul (berantai) dalam hukum sebab-akibat ). Pada saatnya nanti kita akan sampai juga pada pembahasan yang cukup menarik ini. Kami harap Anda sabar menunggu gilirannya.

16 Juli 2012

Hakikat Mati

oleh alifbraja

Al-Ghazali
Kesembilan maqam ruhani yang telah kami sebutkan terdahulu bukanlah satu
kategori yang berdiri sendiri-sendiri. Justru sebagian diantaranya menunjukkan
esensi maqam lainnya, seperti prinsip atau maqam cinta (mahabbah) dan prinsip
atau maqam ridha (rela terhadap ketetapan Allah); keduanya merupakan maqam
tertinggi. Di antara maqam tersebut saling berkait dengan maqam lainnya,
seperti maqam tobat dan zuhud; maqam takut (khauf) dan sabar. Sebab, tobat itu
merupakan tindakan kembali dari jalan yang menjauhkan (diri dari Allah) menuju
jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya. Sedangkan zuhud merupakan tindakan
meninggalkan ragam kesibukan yang menghalangi pendekatan diri kepada-Nya; rasa
takut (al-khauf) merupakan cambuk yang menggiring perilaku untuk meninggalkan
kesibukan-kesibukan tersebut. Sabar adalah perjuangan ruhani melawan ragam
nafsu yang menghalangi jalan pendekatan diri kepada-Nya.

Jadi, masing-masing maqam tersebut
tidak berdiri sendiri, akan tetapi saling berkaitan antara satu dengan yang
lainnya, melalui ma’rifat dan mahabbah, yang berdiri sendiri. Hanya saja,
ma’rifat dan mahabbah tidak dapat berwujud sempurna, kecuali dengan cara
menafikan rasa cinta kepada selain Allah dalam kalbu. Untuk kepentingan
tersebut memerlukan al-khauf, sabar dan zuhud. Di antara hal yang besar manfaat
dan fungsinya dalam hal ini adalah mengingat akan mati. Inilah pembahasan yang
kami maksudkan.

 

Syariat memberikan imbalan pahala
yang besar terhadap orang yang suka mengingat mati. Sebab dengan mengingat
mati, akan menyulitkan dirinya dalam mencintai dunia, selain memutus hubungan
hati dengan dunia itu sendiri.
Allah Swt. berfirman:
“Katakanlah, ‘Sesungguhnya kematian yang kamu Iari dari padanya, maka
sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu.” (Q.s. Al-Jumu’ah: 8).

Rasulullah Saw. bersabda:
“Perbanyaklah mengingat penghancur kelezatan-kelezatan!” (Al-Hadis).

Beliau juga bersabda, “Barangsiapa tidak menyukai pertemuan dengan Allah, Allah
pun tidak suka bertemu dengannya.”

Aisyah r.a. bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang
yang dikumpulkan bersama para syuhada’ (orang yang mati syahid)?” tanya Aisyah
r.a.
“Benar,” jawab Rasulullah, “yaitu, orang yang mengingat mati duapuluh kali
dalam sehari semalam.”

Rasulullah Saw. melintasi sebuah majelis yang penuh dengan gelak tawa, lalu
beliau bersabda, “Campurilah majelis kalian dengan pengaruh
kelezatan-kelezatan!”
“Apakah itu?” di antara mereka mengajukan pertanyaan.
“Maut,” jawab beliau singkat.

Rasulullah Saw. bersabda, “Andaikata binatang-binatang itu tahu akan kematian
sebagaimana manusia (mengetahuinya), tentu kalian tidak akan makan daging yang
gemuk darinya.”
Sabda beliau pula, “Cukup maut sebagai pemberi peringatan.”
Sabdanya:
“Aku tinggalkan dua pemberi peringatan di tengah-tengah kalian, yang diam dan
dapat berbicara. Yang diam adalah maut, sedangkan yang berbicara adalah
Al-Qur’an.” (Al-Hadis).

Ada seorang laki-laki yang disebut-sebut di sisi Rasulullah Saw, orang itu
selalu dipuji dengan baik. Lalu Rasulullah Saw bertanya, “Bagaimana teman
kalian itu men yebut mati?”
“Kami hampir tidak pernah mendengar dia mengingat mati,” jawab mereka.
“(Jika demikian), maka sesungguhnya teman kalian itu bukanlah di situ,” jawab
beliau.

Seorang sahabat dan kaum Anshar bertanya, “Wahai Rasulullah, siapakah manusia
yang paling cerdas dan mulia?” tanya seorang laki-laki dan (kaurn) Anshar.
“Yang paling banyak mengingat mati di antara mereka, dan yang paling banyak
(tekun) mempersiapkan diri menghadapi kematian. Mereka itulah orang-orang yang
paling cerdas, mereka pergi dengan kelegaan dunia dan kemuliaan akhirat,” sabda
beliau.

Manfaat Ingat Kematian
Mati merupakan persoalan besar, sekaligus masalah yang luar biasa. Tiada
sesuatu pun yang luar biasa melebihi kematian ini. Mengingat mati besar
manfaatnya. Kematian dapat mempersempit kehidupan dunia dan menjadikan hati benci
pada dunia.
Membenci duniawi merupakan pangkal segala kebaikan, sebagaimana cinta dunia
merupakan pangkal dari segala kesalahan.

 

Bagi orang ‘arif (ahli ma’rifat)
mengingat Allah itu memiliki dua fungsi dan kegunaan: Pertama, benci pada
dunia, dan kedua, rindu akhirat.
Orang yang mencintai -tidak mustahil- pasti merasakan rindu. Rindu pada hal-hal
yang bisa diraba, pengertiannya adalah, penyempurnaan fantasi untuk mencapai
pada penyaksian langsung.

 

Rasa rindu kepada-Nya pasti bisa
dicapai melalui fantasi, tanpa penglihatan dengan mata.
Hal-ihwal akhirat dan kenikmatannya berikut keindahan hadirat ketuhanan, bagi
orang ‘arif diketahui dalam bentuk seakan-akan dia melihat dari balik tirai
tipis pada waktu mendung dan cahaya remang. Dia merindukan kesempunaan itu
melalui tajalli dan musyahadah. Dia tahu bahwa hal tersebut tidak akan terjadi,
kecuali dengan maut; karenanya dia tidak benci mati, sebab dia tidak membenci
pertemuan dengan Allah Swt, bahkan dia menyukai pertemuan dengan-Nya.

 

Orientasi duniawi muncul disebabkan
oleh kurangnya mengingat mati. Cara untuk bertafakur pada kematian ialah,
hendaklah seseorang mengosongkan pikiran dan ingatannya selain kematian. Lalu
duduk berkhalwat dan mengendalikan ingatan tentang mati dengan lubuk kalbunya.
Mula-mula ia mengingat tentang sahabat-sahabatnya yang telah lalu (meninggal
dunia), mengingat mereka satu persatu, lalu mengingat sifat rakus, ambisi,
angan-angan dan kecintaan mereka terhadap kedudukan dan harta. Kemudian
mengingat pergulatan mereka menjelang direnggut maut dan penyesalannya
menyia-nyiakan waktu dan umur.

 

Selanjutnya bertafakur tentang
tubuh-tubuh mereka: Bagaimana tubuh-tubuh tersebut terobek-robek dalam tanah
dan menjadi bangkai yang dimakan ulat. Lalu, mengembalikan kepada dirinya,
bahwa dirinya seperti salah seorang di antara mereka: Angan-angannya seperti
angan-angan mereka dan pergulatannya (nanti menjelang kematian) seperti
pergulatan mereka. Kemudian perhatiannya dialihkan pada anggota-anggota
tubuhnya, bagaimana nanti ia menjadi remuk; selanjutnya dialihkan pada biji
matanya, ketika nanti ia dimakan ulat; pada lidahnya ketika lidah itu menjadi
usang kemudian menjadi bangkai di dalam mulutnya.

 

Apabila Anda melakukan hal itu, maka
bagi Anda dunia atau harta-benda itu kecil dan hina, dan Anda menjadi bahagia.
Sebab, orang yang bahagia itu adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari
orang lain. Karena itulah Rasulullah Saw bersabda:

 

“Hai manusia, seakan-akan maut itu
telah ditetapkan kepada selain kita, seakan-akan kebenaran itu telah diwajibkan
kepada selain kita, dan seakan-akan orang-orang mati yang kita antarkan baru
saja pergi, mereka kembali kepada kita, kita tempatkan mereka di makam-makamnya
dan kita makan harta-harta peninggalan (warisan)nya, seakan-akan kita (hidup)
kekal setelah mereka. Kita melupakan setiap peringatan dan aman (terbebas) dari
bencana.” (Al-Ha dis).
Lamunan Panjang

 

Lamunan panjang merupakan akar dari
kelalaian mengingat mati. Lamunan itu merupakan kebodohan yang sebenarnya.
Karena itulah Rasulullah Saw. bersabda kepada Abdullah bin Umar r.a.:
“Jika masuk waktu pagi, jangan kamu bicarai dirimu tentang sore har. Bila masuk
waktu sore, jangan kamu bicarai dirimu tentang pagi. Ambil (kesempatan) dari
hidupmu untuk matimu, dari sehatmu untuk sakitmu, sebab kamu hai Abdullah,
tidak tahu apa namamu esok hari.” (Al-Hadis).

Rasulullah Saw juga bersabda, “Ada dua kebiasaan (perangai) yang paling aku
takutkan pada ummatku, yaitu: menuruti hawa nafsu dan lamunan panjang.”

Usamah membeli budak wanita sampai dua bulan dengan harga seratus, lalu
Rasulullah Saw. berkata:
“Apakah kalian tidak merasa heran kepada Usamah, orang yang membeli (budak
wanita) sampai dua bulan? Sungguh Usamah itu panjang lamunannya. Demi jiwaku
yang ada pada kekuasaan-Nya, aku tidak akan mengejapkan kedua mataku, kecuali
aku telah mengira bahwa tempat tumbuhnya bulu pelupuk mata tidak dapat mengatup
hingga Allah mencabut ruhku. Aku tidak akan mengangkat kedua mataku, sedangkan
aku mengira bahwa dirikulah sebenarnya yang menaruhnya hingga aku dimatikan,
dan aku tidak akan menelan sesuap (makanan), kecuali aku mengira bahwa aku
tidak akan memasukkannya ke tenggorokan hingga aku tersekat dengannya karena
menjelang kematian.”

Kemudian beliau bersabda, “Hai anak Adam, jika kalian berakal, maka hendaklah
kalian perhitungkan diri kalian dengan kematian. Demi jiwaku yang ada pada
kekuasaan-Nya, sesungguhnya apa yang dijanjikan kepada kalian pasti tiba, dan
kalian bukan tidak mampu.”

Rasulullah Saw. bersabda, “Generasi pertama dan ummat ini selamat dengan
keyakinan dan kezuhudan, dan akhir ummat ini menjadi binasa karena sifat kikir
dan panjang angan-angan.”
Dan Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah kalian semua ingin masuk surga?”
“Benar,” jawab mereka.
“Pendekkanlah angan-angan kalian, jadikan ajal kalian ada di hadapan mata
kalian, dan malulah kepada Allah dengan sebenar-benarnya,” sabda beliau.

Kematian Dimata Orang Arif
Orang ‘arif yang paripurna tidak putus-putus menyebut dan mengingat Allah,
tidak lagi mengingat mati, bahkan dia itu fana’ dalam tauhid. Dia tidak pernah
menoleh ke masa lalu dan masa depan, tidak pula keadaan dari sisi bahwa itu
sekadar keadaan. Dia adalah anak waktunya, patuh kepada sang waktu. Maksudnya,
dia seperti orang yang menyatu dengan yang diingat atau disebutkannya. Kami
tidak menyatakan bahwa dia menyatu dengan Dzat Allah Swt. Hal ini jangan Anda
rasionalisasikan, nanti Anda tergelincir dan salah, kemudian buruk sangka.

 

Orang ‘arif tidak lagi merasakan
rasa takut/cemas (khauf) dan rasa berharap (raja’), karena khauf dan raja’ itu
adalah cambuk yang menggiring seorang hamba kepada suatu kondisi yang penuh
dengan rasa. Lalu bagaimana ia akan mengingat mati, padahal tujuan mengingat
mati itu adalah agar hubungan ikatan kalbunya dengan apa yang bisa ditinggalkan
setelah kematian itu terputus. Sedangkan seorang ‘arif telah mengalami mati,
dalam kaitannya dengan hak dunia dan apa saja yang akan ia tinggalkan dengan
terjadinya kematian itu. Dia juga bebas dari orientasi kepada akhirat, apalagi
pada dunia. Selain Allah Swt, baginya rendah dan hina. Maut baginya merupakan
penyingkapan tirai agar tambah jelas dan yakin. Inilah makna ucapan Sayyidina
Ali r.a, “Jika tirai itu telah dibuka, maka belum bisa menambah keyakinan
bagiku.”
Orang yang melihat orang lain dari balik tirai, keyakinannya belum bertambah
dengan tersingkapnya tirai, hanya saja, bertambah jelas.

 

Maka mengingat mati itu dibutuhkan
oleh orang yang kalbunya masih menoleh pada dunia, agar dia tahu bahwa dia akan
berpisah dan meninggalkannya, sehingga dia tidak selalu cinta dunia. Karena
itulah, Rasulullah Saw. bersabda: “Sesungguhnya Ruhul Quds (Jibril) membisik
dalam hatiku, ‘Cintailah apa yang kamu cintai, sesungguhnya kamu akan berpisah
dan meninggalkannya. Puaskanlah hidupmu, sebab sesungguhnya kamu itu adalah
mayit. Dan beramallah sesukamu, karena sesungguhnya kamu mendapat imbalan
dengannya’.”

Hakikat Dan Esensi Mati

Barangkali Anda ingin tahu hal-ihwal dan hakikat mati. Anda tidak akan pernah
mengetahui hal itu sebelum Anda tahu tentang hakikat hidup. Anda tidak akan
pernah mengetahui hakikat hidup sebelum Anda tahu tentang ruh; itu adalah diri
Anda, esensi dan jatidiri Anda. Ruh adalah hal yang tersembunyi dalam diri
Anda. Anda jangan terlalu giat untuk mengenal Tuhan sebelum Anda kenal diri
Anda. Maksud kami dengan diri Anda adalah ruh Anda, sesuatu yang dinisbatkan
kepada Allah Swt. dalam firman-Nya yang berbunyi, “Katakanlah, ‘Ruh itu
termasuk urusan Tuhanku’.” (Q.s. Al-Isra’: 85).
Dan dalam firman-Nya yang berbunyi, “Dan telah meniupkan ke dalamnya ruh
(ciptaan)-Ku.” (Q.s. Al-Hijr: 29).

Dimaksud ayat tersebut bukan ruh jasad yang halus, yang merupakan pembawa
energi indera dan gerak, yang bersumber dari hati dan menyebar ke seluruh
tubuh; menyebar ke seluruh rongga urat-urat yang berdenyut. Dari Situ mengalir
cahaya indera penglihatan pada mata, cahaya indera pendengaran pada telinga,
dan pada seluruh kekuatan dan indera-indera lainnya; sebagaimana cahaya pelita
mengalir ke seluruh sisi rumah. Ruh Ini sama dengan ruh binatang, ia bisa
menjadi binasa dengan maut, sebab itu adalah uap yang kematangannya terus
stabil ketika minyaknya masih stabil. Bila minyak itu telah labil, ia jadi
rusak sebagaimana cahaya yang mengalir dari pelita itu punah ketika pelita itu
padam, karena minyaknya telah habis, atau karena dipadamkan.
Ruh semacam ini menjadi binasa
(rusak) dengan terputusnya makanan (bagi manusia atau binatang), karena makanan
bagi ruh tersebut minyak bagi pelita. Pembunuhan terhadapnya seperti tiupan
pada pelita. Ruh semacam ini, kesehatan dan stabilitasnya menjadi garapan ilmu
kedokteran. Ruh ini tidak memikul ma’rifat dan amanat.

8 Juli 2012

Filosofi Gelap Freemasonry

oleh alifbraja

Filosofi Gelap Freemasonry Ateis

Filosofi Gelap Freemasonry Ateis (1)

Ilustrasi strata organ Fremasonry.

Oleh: Harun Yahya *

Freemason Ateis menjadikan “perdamaian, persaudaraan dan kasih sayang di antara umat manusia” sebagai ajaran misi mereka.

Namun konsep-konsep ini, meskipun tampaknya positif pada pandangan pertama, menyimpan permusuhan terhadap agama.

Masonry Ateis telah menjadi salah satu topik utama yang membuat orang penasaran dan bingung. Itu karena kegiatan organisasi ini bersifat rahasia, dus filosofi dan tujuan-tujuan mereka memiliki sejumlah kontroversi.

Dalam pernyataan publik, Freemason Ateis kerap mengobral “cinta kasih sesama manusia, toleransi, persaudaraan universal, cara-cara menggapai pengetahuan dan kebijaksanaan…” secara luas. Sebuah konsep instan yang menarik hati. Walau demikian, Freemasonry Ateis adalah sebuah organisasi gelap dengan fitur-fitur ateis dan bahkan anti-agama.

Aspek paling menarik Freemasonry Ateis adalah konsep-konsep yang mereka sebutkan dalam pernyataan publik dan tuduhan mereka terhadap kaum “beragama” pada intinya tidak memiliki banyak perbedaan. Pada tahap ini, seseorang mungkin akan bertanya, “Kenapa?”

Bagaimana pun juga, konsep-konsep ini tampaknya saling berlawanan; cinta, toleransi dan konsep “humanis” sejenis lainnya tampaknya tidak anti-agama pada pandangan pertama.

Selain itu, banyak orang yang berpikir bahwa konsep-konsep tersebut terdapat dalam moral dan ajaran agama. Benarkah demikian? Bagaimana pun jua, kebenaran yang melekat dalam konsep inilah yang lebih utama.

Apakah arti cinta bagi kaum Freemasonry Ateis? Freemason Ateis kerap berbicara tentang persaudaraan, toleransi dan perdamaian universal. Mereka menggunakan retorika bahwa manusia bertanggung jawab terhadap manusia lainnya.

Sebenarnya ini adalah kata-kata yang merujuk pada konsolidasi (persatuan) di antara manusia, dengan demikian tidak ada yang salah dengan mereka. Namun, bagaimana dengan tanggung jawab seseorang kepada Allah?

Pertanyaan ini menguak wajah filosofi Masonik Ateis yang sebenarnya. Hal itu karena, “cinta pada manusia”, sebagaimana dimaksudkan filsafat Masonik ateis, bukan cinta yang bersumber dari kenyataan bahwa manusia adalah ciptaan Allah, sebagaimana disepakati Yunus Emre dalam kata-katanya “untuk mengasihi ciptaan karena Sang Pencipta”.

Sebaliknya, Freemason Ateis percaya bahwa semua manusia lahir sebagai akhir dari sebuah proses evolusi. Hal ini, bagaimanapun, merupakan ekspresi utama penolakan terhadap Allah.

Secara singkat, filsafat yang didefinisikan sebagai “humanisme”, yang merupakan tulang punggung Freemasonry Ateis, hanya meramalkan cinta yang ditunjukkan kepada manusia dan bukan kepada Allah.

Filosofi yang terdistorsi ini diungkapkan dalam laporan resmi Freemason Ateis loji Turki yang diterbitkan pada 1923:

“Kami tidak lagi menerima Allah sebagai tujuan hidup kita. Kami telah menciptakan tujuan kita sendiri. Tujuan itu akan melayani kemanusiaan dan bukan Allah lagi.”

“Masyarakat tertinggal itu impoten. Untuk menutupi ketidakmampuan mereka, mereka kerap mendewakan kekuatan dan kejadian yang mengelilingi mereka. Masonry mempertuhankan manusia.” (Selamet Mahfili-Konferensi Ketiga, hal: 51).

Definisi humanisme, yang menjadi dasar Freemasonry Ateis, menunjukkan bahwa filosofi ini bersifat anti-agama. Julian Huxley, pemimpin gerakan humanis di abad ke-20 mendirikan sebuah agama baru, “Evolusi Humanisme” dengan bimbingan teori evolusi Darwin.

Dia berkata, “Ketika menggunakan kata “humanis”, maksud saya adalah manusia merupakan makhluk alam seperti tetumbuhan atau binatang. Dengan kata lain, tubuh manusia, pikiran dan jiwa manusia tidak diciptakan oleh kekuatan supranatural, namun tercipta berdasarkan hasil evolusi.

Oleh karena itu, manusia tidak boleh percaya pada kendali maupun panduan kekuatan supranatural, tapi harus percaya pada kendali dan kekuatannya sendiri.” (Brosur Asosiasi Humanis Amerika).

John Dewey menerbitkan “Manifesto Humanis” pada 1933. Manifesto ini menekankan gagasan bahwa sudah waktunya untuk menghilangkan agama Ilahi dan menggantinya dengan era baru pengembangan ilmiah dan kerjasama sosial.

Manifesto kedua yang diterbitkan pada 1973 menjelaskan semua ancaman terhadap umat manusia. Dalam Manifesto ini, diberikan garis besar tentang bagaimana filsafat ini menyangkal keberadaan Allah: “Tidak ada Tuhan yang akan menyelamatkan kita. Kita harus menyelamatkan diri kita sendiri.”

Ideologi Masonik Ateis juga didasarkan pada prinsip-prinsip humanistik yang sama. Semua kata-kata panas yang digunakan dalam ideologi mereka bersifat menipu ketika seseorang benar-benar melihat arti keberadaan masing-masing.

Setelah terlepas dari keberadaan Allah, kata-kata seperti cinta, persaudaraan dan perdamaian menjadi tidak berarti. Tujuan eksistensi manusia satu-satunya di dunia adalah untuk menyembah Allah. “Tidaklah aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka menyembah-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56).

Jika manusia menyangkal tugas ini dan memberontak kepada Allah, maka Allah mungkin tidak akan pernah memberikan keselamatan.

Seseorang tidak akan pernah bisa benar-benar mencintai orang lain kecuali ia memiliki iman kepada Allah. Inilah sebabnya mengapa istilah “cinta kasih terhadap manusia” kerap digunakan dalam ideologi Masonik Ateis yang sepenuhnya terpisah dari kenyataan.

Semua ideologi yang didasarkan pada pengingkaran akan memperkuat sisi jahat dalam diri seseorang dan oleh sebab itu, akan menimbulkan pertumpahan darah dan penyiksaan.
Selama abad ke-20, karena adanya ideologi anti-agama seperti komunisme dan fasisme, ratusan juta orang menderita dan menjadi korban genosida, sementara miliaran lainnya menjadi sasaran penyiksaan dan penindasan.

Hal ini juga penting diingat, bahwa Revolusi Perancis—sebuah gerakan yang didukung Freemason—mendapatkan kekuatannya dari moto “Kebebasan, Kesetaraan dan Persaudaraan”, namun berakhir dengan tewasnya puluhan ribu orang di bawah guillotine (pisau jagal).

Seperti halnya konsep “cinta kasih sesama manusia” yang ditafsirkan dalam kerangka humanisme, “pengetahuan” dan “rasionalisme” juga digunakan dalam konteks anti-agama oleh Freemason Ateis.

Bagi seorang Muslim, ilmu pengetahuan adalah alat untuk mengamati alam semesta yang diciptakan Allah dan untuk memahami rahasia-rahasia yang mendasari cara dan fungsinya.

Berpikir rasional, di sisi lain, adalah cara menjalankan perintah-perintah Allah dalam Alquran dan merupakan tanda keimanan. Namun dalam terminologi Masonik Ateis, konsep-konsep ini digunakan dengan konotasi yang sama sekali berbeda.

Menurut pola pikir Masonik Ateis, ilmu bukan merupakan alat yang digunakan untuk menganalisa makhluk yang diciptakan Allah. Sebaliknya, memercayai sains dikaitkan dengan menjadi ateis.

Dengan kedok ilmu pengetahuan, kebohongan Darwinisme diindoktrinasikan kepada masyarakat. Kaum Masonik Ateis mengajarkan perang melawan agama dengan cara-cara tipuan ala Darwinisme, yang sebenarnya ditolak oleh ilmu itu sendiri.

Dalam sebuah jurnal yang diterbitkan Freemason Ateis Turki, disebutkan bahwa tanggung jawab Freemason Ateis adalah membuat propagasi non-religiusitas yang berkedok “ilmu” pengetahuan.

“Memercayai bahwa ini (teori Darwin) adalah cara terbaik dan tunggal dalam evolusi, tugas utama Masonik kami tidak menyimpang dari ilmu-ilmu dan kebijaksanaan positif, untuk menyebarkan kepercayaan di antara masyarakat dan untuk meningkatkan masyarakat dengan bimbingan ilmu,” kata jurnal tersebut.

Kata-kata Ernest Renan berikut ini sangat penting, “Tujuan agama yang sia-sia akan runtuh dengan sendirinya, hanya jika masyarakat dilatih dan tercerahkan oleh ilmu pengetahuan dan akal.”

Kata-kata Lessing berikut juga mendukung argumen yang sama, “Melalui pencerahan manusia dengan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, manusia tidak lagi merasa membutuhkan agama satu hari nanti.”

Inilah pendekatan Masonik Ateis terhadap agama.


* Ilmuwan Muslim asal Turki

7 Juli 2012

PANDANGAN FILSAFAT AL-KINDI

oleh alifbraja

PANDANGAN FILSAFAT AL-KINDI

 
Biografi Al-Kindi
 
Al-kindi yang dikenal sebagai filosuf  muslim keturunan Arab pertama, nama lengkapnya adalah Abu Yusuf Yakub ibn al-Shabbah ibn Imran ibn Muhammad ibn al-Asy’as ibn Qais al-Kindi. Ia populer dengan sebutan Al-Kindi, yaitu dinisbatkan kepada Kindah, yakni suatu kabilah terkemuka pra-islam yang merupakan cabang dari Bani Kahlan yang menetap di Yaman.[1], yang juga kindah sejak dulu menempati daerah selatan Jazirah Arab yang tergolong memiliki apresiasi kebudayaan yang cukup tinggi dan banyak dikagumi orang.[2]
 
Ia lahir di Kufah sekitar 185 H (801 M) dari keluarga kaya dan terhormat. Kakek buyutnya, al-Asy’as ibn Qais adalah salah seorang sahabat Nabi yang gugur bersama Sa’ad ibn Abi Waqqas dalam peperangan antara kaum muslimin dengan Persia di Irak.. sedangkan ayahnya, Ishaq ibn al-Shabbah adalah gubernur Kufah pada masa pemerintahan Al-Mahdi (775-785 M) dan Al-Rasyid (786-809 M). ayahnya wafat ketika ia masih  kanak-kanak, namun ia tetap memperoleh kesempatan untuk menuntut ilmu  dengan baik di Bashrah dan Baghdad di mana dia dapat bergaul dengan ahli pikir tekenal.[3]
 
Memperhatikan tahun lahirnya, dapat diketahui bahwa Al-Kindi hidup pada masa keemasan kekuasaan Bani ‘Abbas. Pada masa kecilnya, Al-Kindi sempat merasakan masa pemerintahan khalifah  Harun Al-Rasyid yang terkenal sangat memperhatikan dan mendorong perkembangan ilmu pengetahuan bagi kaum Muslim. Pada masa pemerintahannya, Baghdad menjadi pusat perdagangan sekaligus pusat ilmu pengetahuan. A-Rasyid mendirikan semacam akademi atau lembaga, tempat  pertemuan para ilmuwan  yang disebut Bayt Al-Hikmah (balai ilmu pengetahuan). Al-Rasyid wafat pada tahun 193 H (809 M) ketika Al-Kindi masih berumur 9 tahun. Sepeninggal Al-Rasyid, putranya, Al-Amin menggantikannya sebagai Khalifah, tetapi pada masanya tidak tercatat ada usaha-usaha untuk mengembangkan lebih lanjut ilmu pengetahuan yang telah dirintis dengan mengembangkan usaha susah payah ayahnya. Al-Amin wafat pada tahun 198 H (813 M), kemudian  digantikan  oleh saudaranya  Al-Makmun. Pada masa pemerintahan Al-Makmun (198-228 H) perkembangan ilmu pengetahuan amat pesat. Fungsi Bayt Al-Hikmah lebih ditingkatkan, sehingga pada masanya berhasil dipertemukan antara  ilmu-ilmu keislaman dengan ilmu-ilmu asing, khususnya dari Yunani. Pada masa ini juga dilakukan penerjemahan besar-besaran kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab, sehingga perkembangan ilmu pengetahuan di kalangan kaum muslim sangat pesat karena memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri. Dan pada waktu inilah Al-Kindi muncul sebagai salah seorang tokoh yang mendapat kepercayaan untuk menerjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab, bahkan ia memberi komentar terhadap pikiran-pikiran pada filosof Yunani.[4]
 
Al-kindi yang dilahirkan di Kuffah pada masa kecilnya memperoleh pendidikan di Bashrah. Tentang siapa  guru-gurunya tidak dikenal, karena tidak terekam dalam sejarah hidupnya. Tetapi dapat dipastikan ia mempelajari ilmu-ilmu sesuai  dengan  kurikulum pada masanya. Ia mempelajari Al-Qur’an, membaca, menulis, dan berhitung. Setelah menyelesaikan pelajaran (dasar(-nya di Bashrah, ia melanjutkan ke Baghdad hingga tamat, ia mahir sekali dalam berbagai macam cabang ilmu yang ada pada waktu itu, seperti ilmu ketabiban (kedokteran), filsafat, ilmu hitung, manthiq (logika), geometri, astronomi, dan lain-lain. Pendeknya  ilmu-ilmu yang berasar dari Yunani juga ia pelajari, dan sekurang-kurangnya salah satu bahasa yang menjadi bahasa ilmu pengetahuan kala itu ia kuasai dengan baik yaitu bahasa Suryani. Dari buku-buku Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Suryani inilah Al-Kindi menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Namun Al-Kindi menanjak setelah hidup di istana pada masa pemerintahan Al-Mu’tashim yang menggantikan Al-Makmun pada tahun 218 H (833 M) karena pada waktu itu  Al-Kindi dipercaya pihak istana menjadi guru pribadi pendidik puteranya, yaitu Ahmad bin Mu’tashim. Pada masa inilah Al-Kindi berkesempatan menulis karya-karyanya, setelah pada masa Al-Makmun menerjemahkan kitab-kitab Yunani ke dalam bahasa Arab.[5]
 
Membahas tentang mengapa Al-Kindi tidak disebutkan ahli falsafat islam yang pertama dan kehormatan ini diberikan kepada farabi?[6]
 
Memang bermacam-macam fikiran orang tentang gelar itu. Ada yang memasukkan Al-Kindi ke dalam golongan ahli falsafat dan menamakan dia ahli falsafat islam yang pertama. Ada juga yang memberikan gelar ahli falsafat islam yang pertama kepada farabi dengan alas an, bahwa al-kindi hanya merupakan penerjemah pertama dari kitab-kitab falsafat yunani ke dalam bahasa arab, karena al-kindilah anak arabyang pertama mengupas falsafat dalam bahasa arab.[7]
 
Sesudah mengikuti apa yang disebutkan diatas, maka salah paham orang terhadap al-kindi mudah dihindarkan. Jikalau kita mengakui bahwa al-kindi bukan hanya sekedar penerjemah kitab-kitab falsafat yunani, tetapi juga mengupas isi falsafat aristoteles dan plato, dan menyalurkan kepada suatu falsafat yang dapat diterima oleh islam. Maka dengan tidak ragu-ragu al-kindi dapat dinamakan ahli falsafat islam yang pertama, tetapi ia kalah dalam susunan bahasa yang indah, seperti yang pernah dikerjakan oleh farabi, yang lebih jelas mengemukakan analisa dan pendirian-pendirian falsafat islam. Sehingga falsafat yang dikemukakan oleh farabi itu merupakan corak falsafat islam yang sudah nyata bentuknya, meskipun rintisan kearah itu telah dibuka sebelumnya oleh al-kindi. Lalu farabi terkenal sebagai ahli falsafat islam yang pertama, yang buku dan bahasanya yang indah, sesuai dengan kemajuan kesusasteraan arab dikala itu, dibaca orang dalam kalangan luas dan mendapat perhatian penuh dari umum, terutama dari penulis-penulis sejarah.[8]
 
Lain dari pada itu al-kindi banyak musuhnya, tidak saja karena ia seorang yang  terpandai, tetapi juga karena ia seorang yang terdekat dengan istana dan mempunyai pengaruh terhadap aliran-aliran tertentu. Tidak pula kita lupakan suatu hal yang terpenting, yang merupakan mega kemasyhuran al-kindi, bahwa kitab-kitabnya banyak yang hilang, dan lama kemudian dari pada matinya baru di ketemukan orang kembali serta dibicarakan, lama sesudah orang sepakat memberikan gelar kehormatan kepada farabi. Tetapi ia tetap merupakan perintis falsafat islam yang pertama. Dr. Madkur menyebut dia, “mu’assis awwal lil madrasah falsafiyah islamiyah“. (peletak baut pertama bagi aliran falsafat islam).[9]
 
Mustafa Abdurraziq juga menjunjung al-kindi sebagai ahli falsafat islam yang pertama karena tiga hal:
  1. al-kindi  mula-mula membagi falsafat dalam 3 ilmu, yaitu ilmu ketuhanan, ilmu pasti, dan ilmu alam, ketiga-tiganya adalah merupakan dasar falsafat islam.
  2. bahwa al-kindilah yang mula-mula membuka jalan ke arah falsafat islam dengan mempertemukan dua pendapat yang berbeda antara plato dan aristoteles, sehingga dengan demikian itu bertemu pulalah agama dengan falsafat.
  3. bahwa al-kindi adalah seorang arab islam yang mula-mula merintis membuka ilmu falsafat ini, sehingga ilmu itu tersiar diantara orang arab dan dalam kalangan islam.[10]
Ibnu Usaibi’ah mengatakan tentang al-kindi: “tidak ada dalam dunia islam orang yang masyhur tentang ilmu falsafat pada masanya selain dari al-kindi, sehingga ia berhak dinamakan filosof islam”. Ibnu Nutabah juga berkata dengan jelas: “al-kindi ialah Ya’kub bin sibah, yang dalam masa hidupnya dinakan filosof islam”.[11]
 
Dengan demikian hampir semua orang menamakan al-kindi filosof islam pada waktu hidupnya, sampai lahirlah farabi menutupi kemasyhurannya, dan namanya tidak disebut lagi. Farabi masyhur karena karangan-karangan al-kindi, farabi digelarkan “guru yang kedua” karena ia mengupas falsafat yang kedua lebih mendalam dan lebih tegas, yang oleh al-kindi baru hanya disinggung-singgung dan yang oleh aristoteles baru digugat-gugat, sehingga dengan demikian farabi beroleh gelar, disamping aristoteles sebagai guru pertama, guru kedua dalam ilmu falsafat. Memang sudah menjadi kebiasaan dalam sejarah, yang memulai menderita susah payah, yang menyudahi biasanya beroleh kemenangan. Tetapi bagaimanapun juga, jasa penanam bibit dan perintis jalan tidak mudah dilupakan orang.[12]
 
Karya Al-Kindi
Sebagai seorang filosof islam yang produktif, diperkirakan karya yang pernah ditulis Al-Kindi dalam berbagai bidang tidak kurang dari 270 buah. Dalam bidang filsafat, diantaranya adalah:
  1. kitab Al-Kindi ila Al-Mu’tashim Billah fi al-Falsafah al-Ula (tentang filsafat pertama),
  2. kitab al-Falsafah al-Dakhilat wa al-Masa’il al-Manthiqiyyah wa al Muqtashah wa ma fawqa al-Thabi’iyyah (tentang filsafat yang diperkenalkan dan masalah-masalah logika dan muskil, serta metafisika),
  3. kitab fi Annahu la Tanalu al-Falsafah illa bi ‘ilm al-Riyadhiyyah (tentang filsafat tidak dapat dicapai kecuali dengan ilmu pengetahuan dan matematika),
  4. kitab fi Qashd Aristhathalis fi al-Maqulat (tentang maksud-maksud Aristoteles dalam kategori-kategorinya),
  5. kitab fi Ma’iyyah al-‘ilm wa Aqsamihi (tentang sifat ilmu  pengetahuan dan klasifikasinya),
  6. Risalah fi Hudud al-Asyya’ wa  Rusumiha (tentang definisi benda-benda dan uraiannya),
  7. Risalah fi Annahu Jawahir la Ajsam (tentang substansi-substansi tanpa badan),
  8. kitab fi Ibarah al-Jawami’ al  Fikriyah (tentang ungkapan-ungkapan mengenai ide-ide komprehensif),
  9. Risalah al-Hikmiyah fi Asrar al-Ruhaniyah (sebuah tilisan filosofis tentang rahasia-rahasia spiritual),
  10. dan Risalah fi al-Ibanah an al-‘illat al-Fa’ilat al-Qaribah li al-kawn wa al-Fasad (tentang penjelasan mengenai sebab dekat yang aktif terhadap alam dan kerusakan).[13]
Definisi filsafat al-kindi
Al-kindi menyajikan banyak definisi filsafat tanpa menyatakan bahwa definisi mana yang menjadi miliknya. Yang disajikan adalah definisi-definisi dari filsafat terdahulu, itu pun tanpa menegaskan dari siapa diperolehnya. Mungkin dengan menyebut berbagai macam definisi itu dimaksudkan bahwa pengertian yang sebenarnya tercakup dalam semua definisi yang ada, tidak hanya pada salah satunya. Hal ini berarti bagi al-kindi, bahwa untuk memperoleh pengertian lengkap tentang apa filsafat itu harus memperhatikan semua unsur yang terdapat dalam semua definisi tentang filsafat. Definisi-definisi al-kindi sebagai berikut:[14]
  1. Filsafat sendiri terdiri dari gabungan dua kata, philo, sahabat dan Sophia, kebijaksanaan. Filsafat adalah cinta kepada kebijaksanaan. Definisi ini berdasar atas etimologi yunani dari kata-kata itu.
  2. Filsafat adalah upaya manusia meneladani perbuatan-perbuatan Tuhan sejauh dapat dijangkau oleh kemampuan akal manusia. Definisi ini merupakan definisi fungsional, yaitu meninjau filsafat dari segi tingkah laku manusia.
  3. Filsafat adalah latihan untuk mati. Yang dimaksud dengan mati adalah bercerainya jiwa dari badan. Atau mematikan hawa nafsu adalah mencapai keutamaan. Oleh karenanya, banyak orang bijak terdahulu yang mengatakan bahwa kenikmatan adalah suatu kejahatan. Definisi ini juga merupakan definisi fungsional, yang bertitik tolak pada segi tingkah laku manusia pula.
  4. Filsafat adalah pengetahuan dari segala pengetahuan dan kebijaksanaan dari segala kebijaksanaan. Definisi ini bertitik tolak dari segi kausa.
  5. Filsafat adalah pengetahuan manusia tentang dirinya. Definisi ini menitikberatkan pada fungsi filsafat sebagai upaya manusia untuk mengenal dirinya sendiri. Para filosof  berpendapat bahwa manusia adalah badan. Jiwa dan aksedensial manusia yang mengetahui dirinya demikian itu berarti mengetahui segala sesuatu. Dari sinilah para filosof menamakan manusia sebagai mikrokosmos.
  6. Filsafat adalah pengetahuan tentang segala sesuatu yang abadi dan bersifat menyeluruh (umum), baik esensinya maupun kausa-kausanya. Definisi ini menitikberatkan dari sudut pandang materinya.
Dari beberapa definisi yang amat beragam diatas, tampaknya al-kindi menjatuhkan pilihannya pada definisi terakhir dengan menambahkan suatu cita filsafat, yaitu sebagai upaya mengamalkan nilai keutamaan. Menurut al-kindi, filosof adalah orang yang berupaya memperoleh kebenaran dan hidup mengamalkan kebenaran yang diperolehnya yaitu orang yang hidup menjunjung tinggi nilai keadilan atau hidup adil. Dengan demikian, filsafat yang sebenarnya bukan hanya pengetahuan tentang kebenaran, tetapi di samping itu juga merupakan aktualisasi atau pengamalan dari kebenaran itu. Filosof yang sejati adalah yang mampu memperoleh kebijaksanaan dan mengamalkan kebijaksanaan itu. Hal yang disebut terakhir menunjukkan bahwa konsep al-kindi tentang filsafat merupakan perpaduan antara konsep Socrates dan aliran stoa. Tujuan terakhir adalah dalam hubungannya dengan moralita.[15]
Al-kindi menegaskan juga bahwa filsafat yang paling tinggi tingkatannya adalah filsafat yang berupaya mengetahui kebenaran yang pertama, kausa daripada semua kebenaran, yaitu filsafat pertama. Filosof yang sempurna dan sejati adalah yang memiliki pengetahuan tentang yang paling utama ini. Pengetahuan tentang kausa (‘illat) lebih utama dari pengetahuan tentang akibat (ma’lul, effect). Orang akan mengetahui tentang ralitas secara sempurna jika mengetahui pula yang menjadi kausanya.[16]
Epistemologi Al-Kindi
Al-kindi menyebutkan adanya tiga macam pengetahuan manusia, yaitu: a). pengetahuan inderawi, b). pengetahuan yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal yang disebut pengetahuan rasional, dan c). pengetahuan yang diperoleh langsung dari Tuhan yang disebut pengetahuan isyraqi dan iluminatif.
  1. Pengetahuan inderawi
Pengetahuan inderawi terjadi secara langsung ketika orang mengamati terhadap obyek-obyek material, kemudian dalam proses tanpa tenggang waktu dan tanpa berupaya berpindah ke imajinasi (musyawwirah), diteruskan ke tempat penampungannya yang disebut hafizhah (recollection). Pengetahuan yang diperoleh dengan jalan ini tidak tetap, karena obyek yang diamati pun tidak tetap, selalu dalam keadaan menjadi, berubah setiap saat, bergerak, berlebih-berkurang kuantitasnya, dan berubah-ubah pula kualitasnya.
Pengetahuan inderawi ini tidak memberi gambaran tentang hakikat sesuatu realitas. Pengetahuan inderawi selalu berwatak dan bersifat parsial (juz’iy). Pengetahuan inderawi amat dekat kepada penginderaannya, tetapi amat jauh dari pemberian gambaran tentang alam pada hakikatnya.[17]
  1. Pengetahuan rasional
Pengetahuan tentang sesuatu yang diperoleh dengan jalan menggunakan akal bersifat universal, tidak parsial, dan bersifat immaterial. Obyek pengetahuan rasional bukan individu, tetapi genus dan spesies. Orang mengamati manusia sebagai yang berbadan tegak dengan dua kaki, pendek, jangkung, berkulit putih atau berwarna, yang semua ini akan menghasilkan pengetahuan inderawi. Tetapi orang yang mengamati manusia, menyelidiki hakikatnya sehingga sampai pada kesimpulan bahwa manusia ialah makhluk berpikir (ratinal animal= hayawan nathiq), telah memperoleh pengetahuan rasional yang abstrak universal, mencakup semua individu manusia. Manusia yang telah ditajrid (dipisahkan) dari yang inderawi tidak mempunyai gambar yang terlukis dalam perasaan.
 
Al-kindi memperingatkan agar orang tidak mengacaukan metoda yang ditempuh untuk memperoleh pengetahuan, karena setiap ilmu mempunyai metodanya sendiri yang sesuai dengan wataknya. Watak ilmulah yang mennetukan metodanya. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan suatu metoda suatu ilmu untuk mendekati ilmu lain yang mempunyai metodanya sendiri. Adalah suatu kesalahan jika kita menggunakan metoda ilmu alam untuk matematika, atau menggunakan metoda ilmu alam untuk metafisika.[18]
  1. Pengetahuan Isyraqi
Al-kindi mengatakan bahwa pengetahuan inderawi saja tidak akan sampai pada pengetahuan yang hakiki tentang hakikat-hakikat. Pengetahuan rasional terbatas pada pengetahuan tentang genus dan spesies. Banyak filosof yang membatasi jalan memperoleh pengetahuan pada dua macam jalan ini. Al-kindi, sebagaimana halnya banyak filosof isyraqi, mengingatkan adanya jalan lain untuk memperoleh pengetahuan lewat jalan isyraqi (iluminasi), yaitu pengetahuan yang langsung diperoleh dari pancaran Nur Ilahi. Puncak dari jalan ini ialah yang diperoleh para Nabi untuk membawakan ajaran-ajaran yang berasal dari wahyu kepada umat manusia. Para Nabi memperoleh pengetahuan yang berasal dari wahyu Tuhan tanpa upaya, tanpa bersusah payah, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya. Pengetahuan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semata-mata. Tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkan-Nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu. Pengetahuan dengan jalan wahyu ini merupakan kekhususan bagi para Nabi yang membedakan dengan manusia-manusia lainnya. Akal meyakinkan kebenaran pengetahuan mereka berasal dari Tuhan, karena pengetahuan itu memang ada pada saat manusia biasa tidak mampu mengusahakannya, Karena hal itu memang diluar kemampuan manusia. Bagi manusia tidak ada jalan lain kecuali menerima dengan penuh ketaatan dan ketundukan kepada kehendak Tuhan, membenarkan semua yang dibawakan para Nabi.[19]
 
Filsafat dan Agama Menurut Al-Kindi[20]
Agama yang bersumber dari wahyu Ilahi mengandung kebenaran, dan kebenaran ini dituangkan untuk manusia. Filsafat juga mengandung kebenaran, kebenarannya didasarkan pada pencarian nalar manusia. Dengan demikian ujung dari keduanya ialah “kebenaran”. Filsafat mencari kebenaran dan agama membawa kebenaran. Namun demikian kebenaran agama tidak akan dirasakan kecuali oleh orang yang berakal. Oleh sebab itu kebenaran agama harus digali  agar lebih jelas. Penggalinya ini dilakukan dengan menggunakan nalar filsafat.
 
Bagi al-kindi kebenaran yang dibawa oleh agama lebih positif dan lebih meyakinkan daripada kebenaran filsafat, walaupun ia juga harus memakai filsafat untuk lebih memperjelasnya, tetapi pekerjaan itu hanyalah pekerjaan membuka selubung barang yang telah ada.
Jadi, kebenaran yang hendak dicari oleh filsafat, akallah yang menjadi alat pencariannya, dan kebenaran yang dibawa oleh agama akal pulalah yang berfungsi untuk membuka tabirnya. Dengan demikian akal berfungsi dalam filsafat dan juga dalam agama.
 
Selanjutnya pembahasan yang paling tinggi dalam filsafat ialah pembahasan tentang masalah yang ada atau masalah kebenaran yang awal, yakni masalah ketuhanan. Sebab yang menjadi inti dari penggalian filsafat tidak lain ialah kebenaran. Kebenaran tidak akan sampai tuntas pembahasannya sebelum sampai kepada pokok dari segala kebenaran. Untuk itu filsafat berusaha keras untuk sampai kepada kebenaran pertama itu. Kebenaran pertama itulah Tuhan. Masalah ketuhanan digali dari berbagai jurusan, sehingga tampak dengan jelas kemutlakan-Nya, keadaan-Nya, keesaan-Nya dan sebagainya. Demikian pulalah dengan agama, di mana teologinya dengan dalil-dalil aklinya menetapkan tentang eksistensi Tuhan Yang Maha Mutlak itu. Demikianlah pandangan al-kindi tentang filsafat dan agama. Keduanya berjalan seiring, yang satu membutuhkan yang lain. Suatu kali al-kindi pernah mengatakan, bahwa siapa yang mengatakan filsafat ini bertentangan dengan agama berarti dialah yang tidak beragama.
 
Dengan ini tampak dengan jelas, bahwa al-kindi sangat mengagumi filsafat di samping kecintaannya kepada agama. Melihat jalan fikirannya dengan demikian tidak salah ada diantara ahli sejarah yang menganggap dia sebagai ahli ilmu kalam dari golongan mu’tazilah ketimbang sebagai filosof. Tetapi karena al-kindilah orang yang pertama Memperkenalkan buah fikiran filosof-filosof yunani serta memberikan analisa-analisa yang jelimet tentang dasar-dasar filsafat yunani itu, maka oleh sebagian besar pemikir islam menamakan dia sebagai filosof.[21]
 
Metafisika Al-kindi
Alam ini merupakan juz’iat (particulars) yang segalanya itu terdapat materi hakiki yang disebut kulliat (universal). Dalam istilah filsafat hakikat yang juz’iat itu biasa disebut dengan aniah dan hakikat yang kulliat disebut mahiah. Mahiah terdiri dari genus dan species.[22]
 
Bagi aristoteles benda-benda terdiri dari materi dan bentuk. Materi ialah substansi yang belum mempunyai bentuk, yang merupakan inti dari segala-galanya. Bila bentuk diletakkan pada materi berwujudlah materi tadi dalam keragaman yang dapat kita inderai. Terwujudnya bentuk digerakkan oleh penggerak pertama yang tidak diliputi oleh waktu, sebab adanya waktu ialah ketika telah wujudnya alam. Bagi al-kindi Tuhan tidaklah terdiri dari aniah ataupun mahiah. Tuhan mengatasi segenap alam, oleh sebab itu ia tidak sama dengan alam. Juga Tuhan tidak tersusun dari genus dan species, sebab setiap yang tersusun dari genus dan species adalah merupakan bentuk kejamakan dan bersifat fana (temporer), sedangkan Tuhan Maha Suci dari jamak dan fana. Tuhan hanya Esa, Dia-lah satu-satunya yang Esa, sebab Dia satu-satunya yang tidak tersusun dari genus dan species. Dan Tuhan itu kekal buat selama-lamanya.[23]
 
Tuhan bukan sebagai penggerak pertama seperti yang diungkapkan oleh aristoteles, tetapi bagi al-kindi Tuhan adalah pencipta. Daripada ciptaan-Nya yang awallah alam ini bersumber, sebagai akibat dari emanasi. Dalam hal ini al-kindi dekat dengan plotinus. Bagi plotinus, dari Yang Asal lagi Maha Sempurna melimpahlah makhluk yang pertama yaitu akal. Dari akal mengalir jiwa dunia dan dari jiwa lahirlah materi sebagai makhluk terendah. Mata rantai ini semakin jauh dari asalnya semakin berkuranglah kesempurnaannya. Menurut pandangan al-kindi yang asal dan Maha Sempurna itu, itulah Al-Khalik (creator) sebagai pencipta makhluk, kemudian makhluk melahirkan makhluk dan seterusnya sambung-bersambung ke bawah ke tingkat terendah.[24]
 
Di sini tampak bahwa al-kindi menyesuaikan antara filsafat plotinus dengan asas kepercayaan islam. Baginya Tuhan berada di atas hukum alam, Tuhan menjelmakan alam itu mempunyai suatu sunnah (ketentuan) yang tetap, sehingga yang satu menjadi sebab timbulnya yang lain.
Teori emanasi yang dibawa oleh al-kindi merupakan pembuka jalan bagi al-farabi untuk selanjutnya lebih memperjelas emanasi ini dalam bentuk yang lebih rinci.[25]
 
Tentang hakikat Tuhan, al-kindi mengatakan bahwa Tuhan adalah wujud yang haq (sebenarnya) yang tidak pernah tiada sebelumnya dan tidak akan pernah tiada selama-lamanya, yang ada sejak awal dan akan senantiasa ada selama-lamanya. Tuhan adalah wujud sempurna yang tidak pernah didahului wujud yang lain, dan wujud-Nya tidak akan pernah berakhir serta tidak ada wujud lain melainkan dengan perantaraan-Nya.[26]
 
Untuk membuktikan tentang wujud Tuhan, al-kindi berpijak pada adanya gerak, keanekaan, dan keteraturan alam sebagaimana argumentasi yang sering dikemukakan oleh filosof yunani.[27]
 
Sehubungan dalil gerak, al-kindi mengajukan pertanyaan sekaligus memberikan jawabannya dalam ungkapan berikut: mungkinkah sesuatu menjadi sebab adanya sendiri, ataukah hal itu tidak mungkin? Jawabnya: yang demikian itu tidak mungkin. Dengan demikian, alam ini adalah baru, ada permulaan dalam waktu, demikian pula alam ini ada akhirnya, oleh karenanya alam ini harus ada yang menciptakannya. Dari segi filsafat, argument al-kindi itu sejalan dengan argument aristoteles tentang causa prima dan penggerak pertama, penggerak yang tidak bergerak. Dari segi agama, argumen al-kindi itu sejalan dengan argumen ilmu kalam: alam berubah-ubah, semua yang berubah-ubah adalah baru, jadi alam adalah baru. Karena alam adalah baru, maka alam adalah ciptaan yang mengharuskan ada penciptanya, yang mencipta dari tiada (creation ex nihilo).[28]
 
Tentang dalil keanekaan alam wujud, al-kindi mengatakan bahwa tidak mungkin keanekaan alam wujud ini tanpa ada kesatuan, demikian pula sebaliknya tidak mungkin ada kesatuan tanpa keanekaan alam inderawi atau yang dapat dipandang sebagai inderawi. Karena dalam wujud semuanya mempunyai persamaan keanekaan (keserbaragaman) dan kesatuan (keseragaman), maka sudah pasti hal ini terjadi karena ada sebab, bukan karena kebetulan, dan sebab ini bukan alam wujud yang mempunyai persamaan dan keserbaragaman dan keseragaman itu sendiri. Jika tidak demikian akan terjadi hubungan sebab-akibat yang tidak berkesudahan, dan hal ini tidak mungkin terjadi. Oleh karenanya, sebab itu adalah diluar wujud itu sendiri, eksistensinya lebih tinggi, lebih mulia, dan lebih dulu adanya. Sebab ini, tidak lain adalah Tuhan.[29]
 
Mengenai dalil keteraturan alam wujud sebagai bukti adanya Tuhan, al-kindi mengatakan bahwa keteraturan alam inderawi tidak mungkin terjadi kecuali dengan adanya zat yang tidak terlihat, dan zat yang tidak terlihat itu tidak mungkin diketahui adanya kecuali dengan adanya keteraturan dan bekas-bekas yang menunjukkan ada-Nya yang terdapat dalam alam ini. Argumen demikian ini disebut argumen teleologik yang pernah juga digunakan aristoteles, tetapi juga bisa diperoleh dari ayat-ayat Al-Qur’an.
 
Tentang sifat-sifat Tuhan, al-kindi berpendirian seperti golongan mu’tazillah, yang menonjolkan ke-Esa-an sebagai satu-satunya sifat Tuhan.[30]
 
Corak  filsafat Al-Kindi tidak banyak diketahui karena buku-bukunya tentang filsafat banyak yang hilang, baru pada zaman belakangan orang menemukan kurang lebih 20 risalah Al-Kindi dalam tulisan tangan.[31]
Al-Kindi telah berjasa dalam usahanya menjadikan filsafat sebagai salah satu khazanah pengetahuan islam setelah disesuaikan lebih dahulu dengan agama. Dalam risalahnya yang dihadiahkan kepada Ahmad bin al-Mu’tashim billah tentang filsafat “pertama”(metaphysic) Al-Kindi menyatakan pendapatnya, baik agama maupun filsafat kedua-duanya menghendaki kebenaran. Agama menempuh jalan syari’at, sedangkan filsafat menempuh jalan metode pembuktian. Filsafat yang mempunyai kedudukan serta martabat yang tertinggi dan termulia ialah  filsafat “pertama”(filsafat metafisik), yakni pengetahuan tentang “kebenaran pertama”(al Haqqul-awwal)  yang merupakan illah (sebab pokok)  bagi semua kebenaran (Al-Haqq), demikian Al-kindi.[32]
 
Ketuhanan Menurut Al-Kindi
Sebagaimana halnya dengan filosof-filosof Yunani dan filosof-filosof islam lainnya, Al-Kindi, selain dari filosof adalah juga ahli ilmu pengetahuan. Pengetahuan ia bagi ke dalam dua bagian:
  1. Pengetahuan Ilahi (علم الهي, Divine science),  sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an: yaitu pengetahuan lansung yang diperoleh Nabi dari Tuhan. Dasar pengetahuan ini ialah keyakinan.
  2. Pengetahuan manusiawi (علم انساني, human science) atau falsafat. Dasarnya ialah pemikiran (ratio-reason)
Argumen-argumen yang dibawa Al-Qur’an lebih meyakinkan daripada argument-argumen yang ditimbulkan falsafat. Tetapi falsafat dan Al-Qur’an tak bertentangan, kebenaran yang diberitakan wahyu tidak bertentangan dengan kebenaran yang dibawa falsafat. Mempelajari falsafat dan berfalsafat tidak dilarang, karena teologi adalah bagian dari falsafat, dan umat islam diwajibkan belajar  teologi.[33]
 
Falsafat  baginya ialah pengetahuan tentang yang benar (بحث عن الحق, knowledge of truth). Di sinilah terlihat persamaan falsafat dan agama. Tujuan agama ialah menerangkan apa yang benar dan apa yang baik, falsafat itu pulalah tujuannya. Agama, disamping wahyu, mempergunakan akal, dan falsafat  juga mempergunakan akal. Yang benar pertama (الحق  الأول, the first truth) bagi Al-Kindi ialah Tuhan. Falsafat  dengan demikian membahas soal Tuhan dan agama ini pulalah dasarnya. Dan falsafat yang paling tinggi ialah falsafat tentang Tuhan. Sebagaimana kata Al-Kindi:
وَأسرَفُ  الفَلسَفةِ وأعْلاهاَ مَرْتبَةً الفَلسفةُ الأُوْلى أعْنىِ  عِلمَ الحَقِّ الأوَّلِ  هُوَ عِلَّةُ كُلِّ حَقٍّ
“Falsafat yang termula dan tertinggi derajatnya adalah falsafat utama, yaitu ilmu tentang yang benar pertama, yang menjadi sebab bagi segala yang benar.”[34]
 
Adapun mengenai ketuhanan, bagi Al-Kindi, Tuhan adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud lain. Wujud-Nya tidak  berakhir, sedangkan wujud lain disebabkan wujud-Nya. Tuhan adalah Maha esa yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak ada dzat lain yang menyamai-Nya dalam segala aspek. Ia tidak dilahirkan dan tidak pula melahirkan.[35]
 
Sesuai dengan faham yang ada di dalam Islam, Tuhan bagi Al-Kindi adalah Pencipta dan bukan penggerak pertama sebagaimana pendapat Aristoteles. Alam bagi Al-Kindi bukan kekal  dizaman lampau (qadim) tetapi mempunyai permulaan. Pendapat Al-Kindi yang demikian menunjukkan betapa kuatnya pengaruh ilmu kalam pada waktu itu. Dalam hal membuktikan adanya Tuhan, Al-Kindi mengemukakan dalil empiris, yaitu: 1. dalil baharu alam, 2. dalil keragaman dan kesatuan, dan 3. dalil pengendalian alam.[36]
 
Jiwa Menurut Al-kindi
Adapun tentang jiwa, menurut Al-Kindi, tidak tersusun, tetapi mempunyai arti penting, sempurna dan mulia. Substansi roh berasal dari substansi Tuhan. Hubungan roh dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari. Selain itu jiwa bersifat spiritual, Illahiah, terpisah dan berbeda dari tubuh.[37]
 
Roh adalah lain dari badan dan mempunyai wujud sendiri. Argumen  yang dikemukakan Al-Kindi tentang kelainan roh dari badan ialah keadaan badan mempunyai hawa nafsu (carnal desire) dan sifat pemarah (passion). Roh menentang keinginan hawa nafsu dan passion. Sudah jelas hawa yang melarang tidak sama, tetapi berlainan dari yang dilarang.[38]
 
Roh bersifat kekal  dan tidak hancur dengan hancurnya badan. Dia tidak hancur, karena substansinya berasal dari substansi Tuhan. Ia adalah cahaya yang dipancarkan Tuhan selama dalam badan, roh tidak memperoleh kesenangan yang sebenarnya dan pengetahuannya tidak sempurna. Hanya setelah bercerai dengan badan, roh memperoleh kesenangan sebenarnya dalam bentuk pengetahuan yang sempurna. Setelah bercerai dengan badan, roh pergi ke alam kebenaran atau alam akal diatas bintang-bintang, di dalam lingkungan cahaya Tuhan, dekat dengan Tuhan dan dapat melihat Tuhan. Disinilah terletak kesenangan abadi dari roh.[39]
 
Hanya roh yang sudah suci di dunia ini yang dapat pergi ke alam kebenaran itu. Roh yang masih kotor dan belum bersih, pergi dahulu ke bulan. Setelah berhasil membersihkan diri dari sana, baru ia pindah ke merkuri, dan demikianlah naik setingkat demi setingkat hingga ia akhirnya setelah benar-benar  bersih, sampai ke alam akal, dalam lingkungan cahaya Tuhan dan melihat Tuhan.[40]
 
Jiwa mempunyai tiga daya:
  1. daya bernafsu (appetitive)
  2. daya pemarah (irascible)
  3. dan daya berpikir (cognitive faculty)
daya berpikir itu disebut akal. Menurut Al-Kindi ada tiga macam akal:
  1. akal yang  bersifat  potensial
  2. akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi actual
  3. dan akal yang telah mencapai tingkat  kedua dari aktualitas, yang dalam bahasa arab disebut:
فىِ حالةٍ مِنَ الفعْلِ ظَاهِرةً حِيْنَ يَبَاشِرُ  الفِعْلَ, الفِعْلُ الَّذى نُسمِّيْهِ الثَّانِى.
“Dalam keadaan aktual nyata, ketika Ia aktual, akal yang kami sebut “yang kedua”[41]
 
Akal yang bersifat potensial tak bisa mempunyai sifat aktual jika tidak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Dan oleh Karena itu bagi Al-Kindi ada lagi satu macam akal yang mempunyai wujud diluar roh manusia, dan bernama:العقل الذي بالعقل أبد (akal yang selamanya dalam aktualitas). Akal ini, karena selamanya dalam aktualitas, ialah yang membuat akal bersifat potensial dalam roh manusia menjadi aktual. Sifat-sifat akal ini:
  1. ia merupakan akal pertama
  2. ia selamanya dalam aktualitas
  3. ia merupakan species dan genus
  4. ia membuat akal potensial menjadi aktual berpikir
  5. ia tidak sama dengan akal potensial tetapi lain dari padanya.[42]
Bagi Al-Kindi manusia disebut menjadi عاقل (‘akil) jika ia telah mengetahui universal, yaitu jika ia telah memperoleh akal yang diluar itu. Akal pertama ini bagi Al-Kindi, mengandung arti banyak, karena dia adalah universal. Dalam limpahan dari Yang  Mahasatu, akal inilah yang pertama-tama merupakan yang banyak (اوّل متكثّر).[43]
 
 
Moral Menurut Al-Kindi
Menurut Al-Kindi, filsafat harus memperdalam pengetahuan manusia tentang diri dan bahwa seorang filosof wajib menempuh hidup susila. Hikmah sejati membawa serta pengetahuan serta pelaksanaan keutamaan. Kebijaksanaan tidak dicari untuk diri sendiri (Aristoteles), melainkan untuk hidup bahagia (stoa). Tabiat manusia baik, tetapi ia digoda oleh nafsu. Konflik itu dihapuskan oleh pengetahuan (paradoks Socrates). Manusia harus menjauhkan diri dari keserakahan. Milik memberatkan jiwa. Socrates dipuji sebagai contoh zahid (asket). Al-Kindi mengecam para ulama yang memperdagangkan agama (tijarat bi al-din) untuk memperkaya diri dan para filosof yang memperlihatkan jiwa kebinatangan untuk mempertahankan kedudukannya dalam Negara.  Ia merasa diri korban kelaliman Negara seperti Socrates. Dalam kesesakan jiwa, filsafat menghiburnya dan mengarahkannya untuk melatih kekangan, keberanian dan hikmah dalam keseimbangan sebagai keutamaan pribadi, tetapi pula keadilan untuk meningkatkan  tata Negara. Sebagai filosof, Al-Kindi prihatin, kalau-kalau syari’at kurang menjamin perkembangan kepribadian secara wajar. Karena itu dalam akhlak dia mengutamakan kaedah stoa dan Socrates.[44]
 
 
Kenabian Menurut Al-Kindi[45]
 
Tentang kenabian bagi Al-Kindi adalah satu derajat pengetahuan yang tertinggi bagi manusia. Hanya nabi yang bisa mencapai pengetahuan yang sempurna tentang alam ghaib dan ketuhanan  melalui wahyu. Kesanggupan untuk mengetahui seluk-beluk alam ghaib yang sempurna  seperti itu tidak mungkin dapat dicapai oleh manusia biasa.
Keterbatasan pengetahuan manusia terhadap soal-soal hakikat dan alam ghaib disebabkan keterbatasan keleluasaan akalnya atas jasad. Oleh karena itu pengetahuan yang dicapai oleh manusia masih sedikit sekali dan hal ini masih belum sepenuhnya pula dapat diyakini kebenarannya. Berlainan dengan wahyu yang disampaikan Tuhan kepada nabi, ia lebih positif dan kebenarannya dapat diyakini sepenuhnya. Jadi kenabian lebih tinggi dari derajat para filosof.
 
 
Kesimpulan
Al-kindi adalah filosof islam yang mula-mula secara sadar berupaya mempertemukan ajaran-ajaran islam dengan filsafat yunani. Sebagai seorang filosof, al-kindi amat percaya kepada kemampuan akal untuk memperoleh pengetahuan yang benar tentang realitas. Tetapi dalam waktu yang sama diakuinya pula keterbatasan akal untuk mencapai pengetahuan metafisis. Oleh karenanya menurut al-kindi diperlukan adanya Nabi yang mengajarkan hal-hal diluar jangkauan akal manusia yang diperoleh dari wahyu Tuhan. Dengan demikian, al-kindi tidak sependapat dengan para filosof yunani dalam hal-hal yang dirasakan bertentangan dengan ajaran agama islam yang diyakininya. Misalnya mengenai kejadian alam berasal dari ciptaan Tuhan yang semula tiada, berbeda dengan pendapat aristoteles yang mengatakan bahwa alam tidak diciptakan dan bersifat abadi. Oleh karenanya al-kindi tidak termasuk filosof yang dikritik  al-ghazali dalam kitabnya tahafut al-falasifah (kerancuan para filosof).[46]
 
Karangan-karangan al-kindi umumnya berupa makalah-makalah pendek dan dinilai kurang mendalam dibandingkan dengan tulisan-tulisan farabi. Namun sebagai filosof perintis yang menempuh jalan bukan seperti para pemikir sebelumnya, maka nama al-kindi memperoleh cetak biru dan mendapat tempat yang istimewa di kalangan filosof  sezamannya dan sesudahnya. Tentu saja ahli-ahli pikir kontemporer yang cinta kebenaran dan kebijaksanaan akan senantiasa merujuk kepadanya.[47]
 
REFERENSI:
ý     Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, Filsafat Islam, Jakarta: gaya media pratama, cet.III, 2002.
ý     Dr. H.A. Mustafa, Filsafat Islam, Bandung: pustaka setia, cet. II, desember 2004.
ý     Prof.Dr.H. Abu Bakar Aceh, sejarah filsafat islam, sala\; cv. Ramadani, cet.I, 1970.
ý     Yunasril Ali, perkembangan pemikiran falsafi dalam islam, Jakarta: bumi aksara,  cet.I,  1991.
ý     Dr. Ahmad Fuad Al Ahwani, Filsafaf Islam,  Jakarta: pustaka firdaus, cet. 8, 1997.
ý     Harun Nasution, Falsafat dan  mistisisme  dalam islam, Jakarta: bulan bintang, cet.10, 1999.
[1] Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, Filsafat Islam, Jakarta: gaya media pratama, cet.III, 2002, hal. 15
[2] Dr. H.A. Mustafa, Filsafat Islam, Bandung: pustaka setia, cet. II, desember 2004, hal. 99
[3] Ibid, Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, Filsafat Islam
[4] Ibid, Dr. H.A. Mustafa, Filsafat Islam, hal. 100
[5] Ibid, hal. 101
[6] Prof.Dr.H. Abu Bakar Aceh, sejarah filsafat islam, sala\; cv. Ramadani, cet.I, 1970, hal. 46
[7] ibid
[8] ibid
[9] ibid
[10] Ibid, hal. 47
[11] ibid
[12] ibid
[13] Ibid, Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, Filsafat Islam, hal.  17
[14] Ibid, Dr. H.A. Mustafa, Filsafat Islam, hal. 102-103
[15] Ibid, hal. 104
[16] ibid
[17] Ibid, hal. 104-105
[18] Ibid
[19] Ibid, hal. 106
[20] Yunasril Ali, perkembangan pemikiran falsafi dalam islam, Jakarta: bumi aksara,  cet.I,  1991, hal. 30
[21] Ibdi, hal. 31
[22] ibid
[23] ibid
[24] Ibid, hal. 32
[25] ibid
[26] Ibid, Dr. H.A. Mustafa, Filsafat Islam, hal. 109
[27] ibid
[28] ibid
[29] Ibid, hal. 109-110
[30] ibid
[31] Dr. Ahmad Fuad Al Ahwani, Filsafaf Islam,  Jakarta: pustaka firdaus, cet. 8, 1997, hal. 68
[32] Ibid, hal. 69
[33] Harun Nasution, Falsafat dan  mistisisme  dalam islam, Jakarta: bulan bintang, cet.10, 1999, hal. 8
[34] Ibid, hal.9
[35] Ibid, Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, Filsafat Islam, hal. 19
[36] Ibid, hal. 20
[37] Ibid, hal. 22
[38] Ibid, Harun Nasution, Falsafat dan  mistisisme  dalam islam, hal. 10
[39] Ibid, hal. 11
[40] Ibid,  hal. 12
[41] Ibid,
[42] Ibid, hal. 13
[43] Ibid, hal. 14
[44] Ibid, Dr. Hasyimsyah Nasution, M.A, Filsafat Islam, hal. 24
[45] Yunasril Ali, perkembangan pemikiran falsafi dalam islam, Jakarta: bumi aksara,  cet.I,  1991,  hal. 33-34
[46] Ibid, Dr.H.A. Mustafa, filsafat islam, hal. 114-115
[47] ibid
 
%d blogger menyukai ini: