Posts tagged ‘hari kiamat’

12 April 2013

Agama pamungkas dapat ditetapkan merupakan agama sempurna

oleh alifbraja

 

Sebelum memasuki pada inti pembahasan kiranya perlu dijelaskan di sini apa yang dimaksud dengan Redaksi  “sempurna” (kâmil). Redaksi “sempurna” di sini secara lahir adalah kebalikan dari redaksi “cacat” (nâqish). Secara umum tatkala kita berkata agama sempurna; artinya agama yang tidak cacat. Dengan kata lain, artinya agama yang tidak memiliki kekurangan untuk kebahagiaan duniawi dan ukhrawi manusia. Dan memberikan apa saja yang dibutuhkan manusia untuk kesempurnaannya.

Kunci untuk mengakses pada dalil-dalil mengapa Islam disebut agama sempurna terletak pada masalah kepamungkasan agama Islam. Artinya kepamungkasan Nabi Islam dan keyakinan bahwa selepasnya tiada lagi nabi yang akan diutus, sejatinya membimbing kita untuk menerima bahwa mengikut kaidah agama ini haruslah agama sempurna; karena apabila agama ini tidak sempurna maka wajib bagi Tuhan untuk mengirim agama lainnya untuk kesempurnaan petunjuk manusia. Sementara sesuai dengan kaidah rasional dan referensial kita ketahui bahwa Tuhan tidak mengirim lagi agama lain. Karena itu agama ini harus menyediakan segala sesuatu yang dibutuhkan manusia hingga hari Kiamat dimana apabila tidak demikian adanya maka niscaya Tuhan dalam membimbing manusia tidak menuntaskan dalil-dalil dan hujjah-hujjah. Tentu saja hal sedemikian tercela (qabih) bagi Tuhan.

Karena itu, Anda perhatikan bahwa masalah kepamungkasan dan pembahasan sempurnanya agama atau dengan ungkapan lebih baik lebih sempurnanya agama Islam mirip dua gambar satu koin dan satu sama lain saling bertautan.

Dalam tulisan ini kami berada pada tataran menjawab pertanyaan yang diajukan di atas. Dan sejatinya kita akan menempuh pelbagai jalan yang digunakan untuk menetapkan dan membuktikan masalah kepamungkasan agama. Namun secara selintasan kita akan membahas masalah kesempurnaan agama Islam. Di bawah ini kami akan menjelaskan indicator yang menunjukkan kesempurnaan agama Islam. Dan sebagai pendahuluan kami sebutkan bahwa: seluruh aturan Islam, senantiasa segar dan baru. Tidak ada agama yang menampilkan kesegaran dan kebaruan seperti yang dimiliki Islam.  Dan keterkinian aturan-aturan Islam senantiasa sejalan dan selaras dengan seluruh masa.

Artinya pada setiap masa dan zaman dan untuk setiap perbuatan Anda dapat temukan sebuah hukum dalam aturan-aturan Islam. Dan demikianlah Anda menjumpai agama ini memiliki hukum pada setiap masalah. Setiap masalah tidak didiamkan atau tidak indahkan begitu saja. Dari angle ini, sisi ini dapat menjadi salah satu sisi kesempurnaan agama Islam.

Agama Islam untuk dapat menjawab setiap persoalan di setiap masa memberdayakan salah satu media dan mekanisme yang tiada duanya dalam pelbagai sistem penetapan hukum. Berikut ini kami akan menyinggung beberapa dari media tersebut:

1.       Agama Islam menggunakan pelbagai aturan dan kaidah universal dimana kaidah-kaidah ini sejatiniya merupakan simbol dan formula ketercakupan dan kemenyeluruhan ajaran Ilahi ini. Akan tetapi supaya kaidah-kaidah universal ini dapat bercorak menyeluruh dan mencakup segala hal serta mampu memberikan solusi atas setiap persoalan maka seyogyanya kaidah tersebut diadopsi dari sumber-sumber khusus dan diberdayakan semaksimal dan seoptimal mungkin sebagaimana yang akan kami singgung beberapa hal berikut ini:

a.       Allah Swt memandang hujjah (argumen dan dalil) bahwa segala yang dihukumi oleh akal sehat dalam proses inferensi hukum-hukum syariat; misalnya hukum tercelanya menghukum seseorang tanpa adanya penjelasan hukum sebelumnya, atau hukum akal terhadap terpujinya keadilan dan tercelanya kezaliman dan sebagainya. Atas alasan ini, Anda simak perhatian Islam terhadap hukum-hukum akal sehat seperangkat kaidah universal menandaskan bahwa kaidah ini bercorak menyeluruh yang dapat diberdayakan dan dayagunakan pada setiap masa untuk menjawab setiap persoalan yang ada.

b.       Allah Swt menetapkan hukum-hukum mengikut kepada kemaslahatan dan kemudaratan. Sebagai contoh, setiap persoalan yang memiliki kemasalahatan yang lebih besar maka ia memiliki signifikansi dan preferensi yang lebih tinggi ketimbang persoalan yang setingkat di bawahnya.

c.       Adanya aturan-aturan universal dimana kaidah universal ini dapat menjadi pembatas sebagian hukum-hukum Ilahi lainnya. Di antaranya Allah Swt befirman, “Allah tidak menjadikan kesusahan bagimu dalam agama.” (Qs. Al-Hajj [28]:78) dimana aturan ini dapat membatasi hukum agama yang memberikan kesusahan bagi manusia dan merubahnya menjadi hukum yang lain. Karena itu, satu hukum agama dapat berubah dan berganti sesuai dengan situasi dan kondisi yang berkembang di lapangan. Misal lainnya dalam hal ini adalah kaidah idhtirar (dalam kondisi darurat) dan kaidah ikrah (paksaan).

d.       Aturan-aturan Islam selaras dan sejalan dengan fitrah manusia dan Tuhan menaruh perhatian terhadap nurani yang tidak berubah manusia ini dalam aturan-aturan Islam. Menjaga dan mengindahkan apa yang senada dengan tabiat sehat seorang manusia dan memilih jalan medium (i’tidal) dalam proses penetapan aturan dan hukum. Dengan kata lain, Allah Swt menaruh perhatian pada fitrah suci manusia dalam menetapkan aturan-aturan universal. Di antara aturan ini adalah aturan-aturan yang bertalian dengan pria dan wanita yang memiliki aturan-aturan khusus tersendiri.

e.       Ijtihad salah satu kaidah yang diterima (khususnya) dalam dunia Syiah dimana dengan penetapan dan kodifikasi ijtihad dalam agama Islam, sehingga ajaran Islam memiliki dimensi mencakupi dan menyeluruh. Misalnya mujtahid dengan memberdayakan kaidah-kaidah universal lau mencocokkannya dengan masalah-masalah baru. Dan demikianlah agama mampu memberikan solusi atas pelbagai persoalan setiap orang pada setiap masa.

Akhirnya dengan adanya sumber-sumber universal ini dimana Allamah Sya’rani bertutur tentang jalan-jalan ini: “Fikih Islam tidak cacat, melainkan kita memiliki kaidah-kaidah universal yang dapat kita gunakan untuk menjawab persoalan-persoalan kekinian pada setiap masa. Dan perkara ini adalah perkara yang telah berkembang pada masa Syaikh Thusi hingga masa kami.”[1]

2.       Salah satu media lainnya yang diberdayakan Islam untuk menunjukkan ketercakupan dan kemenyeluruhannya adalah keragaman dan bilangan hukum. Tatkala Anda menyaksikan dalam kitab fikih, Anda menyimak bahwa terdapat sebagian besar hukum-hukum Islam membahas masalah-masalah yang paling sederhana kehidupan manusia; misalnya makan dan minum hingga yang paling rumit hubungan sosial termasuk di antaranya adalah jual-beli, pemerintahan dan sebagainya. Karena itu, di samping ada kaidah-kaidah universal sebagaiman yang disebutkan pada bagian pertama di atas dan dapat menjadi problem solver (pemecah masalah), Islam secara partikulir dan kasus-per-kasus memiliki banyak hukum-hukum bagi kehidupan personal dan sosial manusia. Dan hal ini juga merupakan manifestasi yang lain dari universalitas, kemenyeluruhan dan kemencakupan Islam dan pada saat yang sama merupakan salah satu formula kesempurnaan agama Ilahi ini.

 

 

Hingga kini kita telah menyinggung salah satu dalil atas kesempurnaan agama Islam yaitu universalitas, kemenyeluruhan dan kemencakupan agama Ilahi ini. Sebagai kelanjutan pembahasan ini, untuk menjelaskan sisi sempurna agama Islam, kita juga dapat bersandar pada dalil-dalil lainnya sebagaimana berikut ini:

1.       Dengan mengkaji kasus-per-kasus hukum-hukum Islam dan membandingkannya dengan hukum-hukum yang serupa pada agama-agama Ilahi lainnya atau dengan sistem-sistem hukum dan perundangan yang ada di dunia saat ini, maka satu jalan lainnya akan muncul dan dapat menunjukkan keunggulan dan kesempurnaan hukum-hukum Islam. Misalnya hukum-hukum transaksi; apabila kita ingin membandingkan misalnya jual-beli dan pernikahan dalam Islam, Yahudi dan Kristen, keragaman dan keluasan penetapan hukum dalam Islam tiada bandingnya. Bahkan di antara aturan-aturan madani (civil laws) dunia saat ini, aturan madani Iran yang mengambil sumber dari fikih Syiah Ja’fari menurut pengakuan para profesional dan dosen terkemuka merupakan salah satu aturan madani yang termaju di dunia saat ini.

2.       Salah satu sisi lainya kesempurnaan agama Islam, dominasi akhlak Islam dan perilaku kenabian atas maktab-maktab lainnya (baik pada masa kemunculannya atau pun masa sekarang ini). Akhlak yang diajarkan dalam Islam termasuk pelbagai aturan-aturan praktis khususnya pada perilaku personal dan sosial yang memperhatikan tinjauan dunia dan akhirat. Hal ini berbeda dengan ajaran moral yang diajarkan dalam Kristen dan Yahudi yang dominan mendapat penegasan adalah perilaku yang lebih banyak condong ke dunia atau ke akhirat. Atau kebalikan dari maktab-maktab akhlak dunia saat ini yang tidak dapat menjawab lebih dari satu dimensi dari multi dimensi perilaku yang dimiliki manusia. Akan tetapi akhlak yan diajarkan dalam Islam di samping menghimpun pelbagai dimensi manusia dan menjawab pelbagai kebutuhan ini, ia mampu menyediakan tercapainya tujuan-tujuan transendental bagi kehidupan manusia dan hal itu tidak lain adalah kedekatan kepada Tuhan (qurb Ilahi).

3.       Di antara dalil ayat-ayat dan riwayat-riwayat terkait kesempurnaan agama Islam yang dapat disebutkan di sini adalah sebagai berikut:

Pertama, Sesungguhnya dalam (surah) ini benar-benar terdapat penyampaian yang jelas bagi kaum yang menyembah Allah. (Qs. Al-Anbiya [21]:106) Pada ayat ini, penyampaian jelas dan nyata bagi kaum yang menyembah Allah. Allamah Thabathabai dalam menafsirkan ayat ini menulis: Iblagh (penyampaian) bermakna terpenuhi dan genapnya sesuatu. Dan juga bermakna sesuatu yang dengannya harapan manusia terpenuhi.[2] Anda letakkan ayat ini di samping ayat “Telah Kusempurnakan bagimu agamamu.” (Qs. Al-Maidah [5]:5) maka Anda akan memahami bahwa Islam adalah agama sempurna yang melaluinya segala hajat dan harapan manusia yaitu kedekatan kepada Allah (qurb ilaLalah) terpenuhi.

Kedua, Dia-lah yang telah mengutus rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas segala agama (Qs. Al-Taubah [9]:33) Kandungan ayat ini adalah kemenangan (Islam) atas seluruh agama dan bahwa tiada lagi agama yang akan datang selepasnya. Sekiranya adalagi agama yang akan diturunkan setelahnya maka niscaya ayat ini telah dianulir oleh ayat lainnya (sementara ayat ini tidak termasuk ayat yang dianulir). Dari sisi lain, lantaran apabila agama ini yang merupakan agama terakhir dan pamungksa bukan merupakan agama sempurna maka niscaya petunjuk manusia akan mengalami kecacatan (tidak sempurna) dan tentu saja hal ini tercela bagi Tuhan.

Ketiga, Sima’e menukil dari Imam Musa Kazhim As bahwa ia berkata kepada Imam, “Apakah Rasulullah Saw memenuhi segala sesuatu apa pada masanya? Imam menjawab, iya. Bahkan Rasulullah telah menghadirkan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat hingga hari kiamat.[3]

Keempat,  Rasulullah Saw pada khutbah Hajjatulwida’ bersabda: “Ayyuhannas! Tidakklah sesuatu yang mendekatkanmu kepada surga dan menjauhkanmu dari neraka kecuali aku telah perintahkan kalian untuk melakukannya. Dan tidaklah sesuatu yang mendekatkanmu kepada neraka dan menjauhkanmu dari surga kecuali telah aku larang kalian untuk tidak melakukannya.”

Dalil-dalil ayat dan riwayat akhir kenabian juga merupakan ayat-ayat dan riwayat-riwayat yang secara langsung menunjukkan atas kesempurnaan agama Islam.[]

 

Referensi untuk telaah lebih jauh:

1.       Husaini Qazwini, Âyâ Qawânin-e Islâm Irtjiâ’i ast?

2.       Kharrazi, Bidâyat al-Ma’ârif al-Ilahiyyah.

3.       Ayatullah Ja’far Subhani, Muhadhârat fii Ilahiyyah.

4.       Syirazi, Naqd wa Tarh Andisyeh-hâi dar Mabâni I’tiqâdi.

5.       Allamah Thabathabai, al-Mizân, jil. 28.

6.       Kulaini, al-Kâfi, jil. 1.

 


[1]. Muhsin Kharrazi, Bidâyat al-Ma’ârif, jil. 1, hal. 270, sesuai nukilan dari kitab Râh-e Sa’âdat, hal. 214.

[2]. Sayid Muhammad Husain Thabathabai, al-Mizân, jil. 28, hal. 186.

[3]. Kulaini, al-Kâfi, jil. 1, hal. 57

26 September 2012

rosulullah

oleh alifbraja

 

Kesempurnaan Rupa SAW..
Diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah bahwa Rasulullah SAW melihat di malam hari seperti di siang hari. Rasulullah SAW bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku di depanmu. Janganlah kamu mendahuluiku di ruku` dan sujud. Sesungguhnya aku melihatmu dari depan dan belakangku.”

Kesempurnaan Mulut SAW..
Diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW pernah meminum air dari sebuah tempat. Kemudian sisa air tersebut dituangkan kembali ke sumur. Maka setelah itu air sumur tersebut berbau misk (musk).

Juga pernah suatu ketika Sayyidina Al Husein Radhiallahu anhu merasa haus. Rasulullah pun memintakan air untuknya dan tidak mendapatkan air. Maka Rasulullah SAW memberikan lidahnya SAW kepada Sayyidina Al Husain RA, maka ia menghisapnya hingga hilang dahaganya.

Diriwayatkan pula bahwa di antara gigi-gigi beliau SAW terlihat nur (cahaya). Sholawatullah wasalaamuhu alaihi wa ala aalihi wa shohbih .

Kesempurnaan Wajah SAW..
Sayyidah Aisyah RA ketika sedang menjahit, tiba-tiba terjatuh jarumnya. Maka ia meraba- raba berusaha mencarinya. Lalu masuklah Rasulullah SAW seakan-akan nur terpancar dari wajahnya. Dengan nur tersebut ia pun mendapatkan jarumnya. Kemudian ia memberitahu Rasulullah SAW tentang apa yang ia lihat. Dan Rasulullah SAW pun bersabda, “Celaka, sungguh celaka bagi yang orang yang tak melihatku di hari kiamat.”

Dan (indahnya) wajah yang seperti matahari, terang, menerangi malam yang gelap gulita (Hamziyah)

Yang lebih tampan darimu (Rasulullah SAW) tak pernah dipandang mataku.Dan yang lebih sempurna darimu tak pernah dilahirkan perempuan. Engkau tercipta lepas dari segala aib. Seakan akan engkau tercipta sekehendakmu (Sayyidah Aisyah RA)

Kesempurnaan Keringat SAW..
Suatu hari Rasulullah tertidur dan mengeluarkan keringat. Tak lama datang Ummu Sulaim dengan membawa botol dan mengambil keringat yang mengalir pada Rasulullah SAW hingga beliau terbangun. “Apa yang kau lakukan Ummu Sulaim,” tanya Rasulullah. Ia pun menjawab, “Ini adalah keringatmu, ya Rasulullah. Ku jadikan wewangian. Sesungguhnya ini adalah wewangian yang terwangi.”

“Apabila lewat di jalan, tercium wanginya hingga dapat diketahui bahwa beliau SAW baru saja lewat. Dan apabila duduk di majlis, tercium harumnya berhari hari walaupun ia telah pergi. Dan ia memiliki sebaik-baik keharuman walaupun tak memakai wewangian.” (Maulid ad diiba`I)

Suara SAW..
Diriwayatkan oleh sahabat bahwa suara beliau adalah sebaik baik suara. Hingga di malam hari beberapa sahabat dapat mendengarkan suara Rasulullah SAW yang sedang membaca Al-Qur’an sedangkan mereka berada atas arsy.

Imam Ali mengatakan bahwa tidaklah Allah Ta`ala mengutus seorang nabi kecuali memiliki sebaik-baik wajah dan suara dan begitu pula Rasulullah SAW

Ketiak SAW..
Seorang sahabat berkata, “Ketika Rasulullah Saw sedang mengangkat kedua tangannya untuk berdoa, kami melihat cahaya di bawah lengannya.”

Tinggi SAW
Rasulullah SAW mempunyai tinggi badan normal. Tidak tinggi jangkung atau pendek. Akan tetapi apabila bersama para sahabat, terlihat beliau lebih tinggi dari sahabatnya SAW

Dan masih banyak lagi kelebihan Rasulullah yang nampak begitu jelas. Diantaranya adalah disebutkan oleh seorang ulama dalam bentuk nadzhom tentang khushusiat Rasulullah SAW. Beliau mengatakan, “Kelebihan Nabi kita sepuluh hal :

1. Tak pernah ber-ihtilam (mimpi basah)

2. Tak mempunyai bayangan

3. Bumi langsung menelan apa-apa yang keluar dari perut SAW

4. Nyamuk tak pernah hinggap padanya

5. Walau matanya tidur, hatinya tak tidur

6. Melihat dari belakang seperti dari depan

7. Tak pernah menguap sama sekali

8. Lahir dalam keadaan berkhitan

9. Hewan-hewan tunggangannya mengenali kerasulannya

10. Apabila duduk, duduknya melebihi tinggi sahabat-sahabatnya.

22 September 2012

Busana melebihi mata kaki

oleh alifbraja

Sifat Panjangnya Gamis, Iobang Tangan Baju, Sarung, Ujung Sorban Dan Haramnya Melemberehkan Sesuatu Dari Yang Tersebut Di Atas Karena Maksud Kesombongan Dan Kemakruhannya jikalau Tidak Karena maksud Kesombongan
787. Dari Asma’ binti Yazid al-Anshari radhiallahu ‘anha, kata-nya: “Lobang tangan gamisnya Rasulullah s.a.w. itu sampai pada pergelangan tangan.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan.
788. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda:
“Barangsiapa yang menarik bajunya – yakni melemberehkan sampai menyentuh tanah, baik yang berupa baju, sarung dan Iain-lain – karena maksud kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah pada hari kiamat – maksudnya tidak akan dilihat dengan rasa keridhaan dan kerahmatan.”
Abu Bakar lalu berkata: “Ya Rasulullah, sesungguhnya sarungku itu selalu melembereh saja – karena kurusnya badan, kecuali kalau saya membenarkan lagi letaknya, misalnya dengan diikat keras-keras atau diangkat ke atas.” Maksudnya, apakah diancam dengan tin-dakan sebagaimana di atas itu. Rasulullah s.a.w. lalu menjawab: “Sesungguhnya anda tidak termasuk golongan orang yang melaku-kan semacam rtu dengan maksud kesombongan,” jadi tidak apa-apa hukumnya.
Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayat-kan sebagiannya.
789. Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Allah tidak akan melihat – dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan – kepada orang yang menarik sarungnya – yakni melemberehkannya sampai menyentuh tanah – karena maksud kecongkakan.” (Muttafaq ‘alaih)
790. Dari Abu Hurairah r.a. pula dari Nabi s.a.w. sabdanya: “Apa yang ada di bagian bawah dari kedua matakaki, maka akan dimasukkan dalam neraka.” (Riwayat Bukhari)
791. Dari Abu Zar r.a. dari Nabi s.a.w., sabdanya: “Ada tiga macam orang yang tidak diajak bicara oleh Allah – dengan pem-bicaraan keridhaan, tetapi dibicarai dengan nada kemarahan – pada hari kiamat dan tidak pula dilihat olehNya – dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan, serta tidak pula disucikan olehNya -yakni dosa-dosanya tidak diampuni – dan mereka itu akan men-dapatkan siksa yang menyakitkan sekali.” Katanya: Rasulullah s.a.w. membacakan kalimat di atas itu sampai tiga kali banyaknya.
Abu Zar kemudian berkata: “Mereka itu merugi serta menyesal sekali. Siapakah mereka itu, ya Rasulullah?” Rasulullah s.a.w. ber-sabda: “Yaitu orang yang melemberehkan – pakaiannya sampai menyentuh tanah, orang yang mengundat-undat – yakni sehabis memberikan sesuatu seperti sedekah dan Iain-Iain lalu menyebutnyebutkan kebaikannya pada orang yang diberi itu dengan maksud mengejek orang tadi – serta orang yang melakukan barangnya -maksudnya membuat barang dagangan menjadi laku atau terjual -dengan jalan bersumpah dusta – seperti mengatakan bahwa barangnya itu amat baik sekali atau tidak ada duanya lagi.” (Riwayat Muslim)
Dalam riwayat Imam Muslim lainnya disebutkan: Almusbilu izarahu yakni yang pertama ialah orang yang melemberehkan sarungnya – sampai menyentuh tanah.
792. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma dari Nabi s.a.w., sabdanya:
“Melemberehkan itu ada pada sarung, gamis dan sorban. Barangsiapa yang menarik sesuatu – yakni melemberehkan sarung, gamis atau sorban – dengan maksud kesombongan, maka Allah tidak akan melihatnya – dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan -pada hari kiamat.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Nasa’i dengan isnad yang baik.
793. Dari Abu Juraij yaitu Jabir bin Sulaim r.a., katanya: “Saya melihat ada seorang lelaki yang orang-orang semuanya sama me-ngeluarkan uraiannya berpokok pangkal dari pendapat orang tersebut. Orang itu tidak mengucapkan sesuatu, melainkan orang-orang sama mengeluarkan uraiannya dengan berpedoman dari ucapan orang tersebut. Saya bertanya: “Siapakah orang itu?” Orang-orang sama menjawab: “Itu adalah Rasuiullah s.a.w.” Saya lalu mengucapkan ‘”Alaikas salam, ya Rasulullah,” sampai dua kali. Rasulullah s.a.w. lalu bersabda: “Jangan mengucapkan: ‘Alaikas-salam, sebab ‘Alaikas-salam adalah sebagai penghormatan kepada orang-orang mati. Ucapkanlah: Assalamu ‘alaik.”
Jabir berkata: “Saya lalu bertanya: “Apakah anda itu Rasulullah.” Beliau s.a.w. menjawab: “Ya, saya adalah Rasulullah yakni utusan Allah. Allah ialah yang apabila engkau ditimpa oleh sesuatu bahaya, kemudian engkau berdoa padanya – supaya bahaya itu dilenyapkan, maka Allah pasti melapangkan engkau dari bahaya tadi. ]uga jikalau engkau ditimpa oleh tahun paceklik – bahaya kelaparan – lalu engkau berdoa padaNya, maka Allah akan menumbuhkan tanaman-tanaman untukmu dan jikalau engkau berada di suatu
tanah kersang atau di daerah yang tandus, kemudian engkau kehilangan ken-daraanmu, kemudian engkau berdoa padaNya – mohon supaya diselamatkan, maka Allah akan mengembalikan kendaraanmu itu padamu.”
Jabir berkata: “Saya lalu berkata: “Berilah saya suatu perjanjian yang wajib saya penuhi!” Beliau s.a.w. bersabda: “Jangan sekali-kali engkau mencaci-maki kepada seseorangpun.”
Jabir berkata: “Sesudah saat itu saya tidak pernah lagi mencaci-maki kepada siapapun, baik ia orang merdeka atau hamba sahaya, ataupun kepada unta dan kambing.”
Beliau s.a.w. melanjutkan sabdanya: “Janganlah engkau meremehkan sedikitpun dari perbuatan yang baik – yakni sekalipun tampaknya tidak berarti dan kurang berharga, tetapi lakukanlah itu. Hendaklah engkau berbicara dengan saudaramu dan engkau senantiasa menunjukkan muka yang manis padanya, karena sesungguhnya yang sedemikian itu termasuk perbuatan yang baik. Angkatlah sarungmu sampai kepertengahan betis, tetapi jikalau engkau enggan berbuat semacam itu, maka bolehlah sampai pada kedua matakaki. Takutlah pada perbuatan melemberehkan sarung, sebab sesung-guhnya yang sedemikian itu termasuk kesombongan dan sesung-guhnya Allah itu tidak suka kepada kesombongan. Jikalau ada seseorang yang mencaci-maki padamu atau mencela dirimu dengan sesuatu yang ia tahu bahwa cela tadi memang ada dalam dirimu, maka janganlah engkau membalas mencela padanya dengan sesuatu yang engkau tahu bahwa cela itu memang ada dalam dirinya, sebab hanyasanya tanggungan- yakni dosa – perbuatan itu adalah pada diri orang yang mencela saja.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dengan isnad yang shahih dan Imam Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih.
794. Dari Abu Hurairah r.a., katanya: “Pada suatu ketika ada seorang lelaki bersembahyang dengan melemberehkan sarungnya lalu Rasuiullah s.a.w. bersabda padanya: “Pergilah dulu dan ber-Wudhu’lah.” Kemudian orang tersebut lalu pergi dan berwudhu’. Setelah itu ia datang lagi, lalu beliau s.a.w. bersabda pula: “Pergilah dan berwudhu’lah!”Selanjutnya ada seorang lelaki lain berkata: “Ya Rasulullah, mengapakah Tuan memerintahkan orang itu berwudhu’ kemudian Tuan berdiam saja padanya – yakni tidak menyuruh apa-apa lagi padanya. Beliau s.a.w. lalu bersabda: “Sesungguhnya orang itu bersembahyang dan ia melemberehkan sarungnya dan sesungguhnya Allah itu tidak akan menerima shalatnya seseorang yang melembererikan sarungnya itu.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad yang shahih atas syarat Imam Muslim.
795. Dari Qais bin Bisyr at-Taghlibi, katanya: “Saya diberitahu oleh ayahku dan ia adalah kawan erat pada Abuddarda’, katanya: “Di Damsyik ada seorang lelaki dari golongan para sahabat Nabi s.a.w. yang bernama Ibnul Handhaliyah. Ia adalah seorang yang suka menyendiri dan jarang sekali duduk-duduk bersama dengan orang-orang banyak. Hanyasanya kerjanya ialah bersembahyang dan jikalau selesai, maka kerjanya lagi hanyalah bertasbih dan bertakbir, sehingga ia mendatangi tempat keluarganya lagi. Pada suatu ketika ia berjalan melalui kita dan kita di saat itu berada di tempat Abuddarda’, kemudian Abuddarda’ berkata padanya: “Berikanlah kepada kita sesuatu uraian yang dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak pula menyebabkan bahaya bagi anda.”Orang itu lalu berkata: “Pada suatu ketika Rasulullah s.a.w. mengirimkan sepasukan tentera, lalu datang. Ada seorang lelaki yang termasuk juga dalam kalangan pasukan tadi datang terus duduk di tempat duduk yang diduduki oleh Rasulullah s.a.w. kemudian orang itu berkata kepada orang yang ada di dekatnya: “Andaikata anda mengetahui keadaan ketika kita bertemu muka, yakni kita semua dan musuh, maka ada seseorang yang menyerang
musuhnya lalu menusuknya. Kemudian orang itu berkata: “Ambillah ini daripada-ku. Saya adalah anak keturunan al-Ghifari.” Bagaimanakah pendapat anda dalam hal ucapannya itu?” Orang yang ada di dekatnya itu menjawab: “Saya tidak mempunyai pendapat lain, kecuali bahwa pahala orang itu sudah batal – yakni musnah karena kesombongannya dengan ucapannya tadi. Ada orang lain yang juga mendengarkannya lalu ia berkata: “Saya tidak menganggap bahwa ada sesuatu yang tidak baik karena adanya ucapannya yang sedemikian tadi.” Kedua orang – yakni yang berpendapat bahwa orang yang membunuh itu lenyap pahalanya dan yang mengatakan tidak apa-apa – saling bertengkar faham, sehingga Rasulullah s.a.w. mendengar persoalan tadi, kemudian bersabda: “Maha Suci Allah! Tidak ada halangannya jikalau ia diberi pahala dan dipuji.” Saya – Bisyr -melihat pada Abuddarda’ dan ia merasa gembira dengan keterangan orang tersebut – yakni Ibnul Handhaliyah. Abuddarda’ lalu meng-angkat kepalanya melihat orang itu dan bertanya: “Anda mendengar sendirikah yang sedemikian itu dari Rasulullah s.a.w.?” la menjawab: “Ya.” Abuddarda’ mengulang-ulangi kata-katanya itu, sehingga saya pasti akan berkata: “Hendaklah ia duduk saja pada kedua lututnya.”
Bisyr – ayah Qais yang meriwayatkan Hadis inr – berkata: “Ibnul Hanzhalah lalu berjalan melalui kita lagi pada suatu hari yang lain. Abuddarda’ berkata padanya: “Sudilah kiranya anda memberikan kepada kita suatu uraian yang dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak menyebabkan bahaya kepada anda.” Orang itu berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda kepada kita: “Orang yang memberikan perbelanjaan kepada kuda – untuk perang yaitu dengan jalan menggembalanya, memberi minurn, makan dan segala yang diperlukan dalam perawatannya – adalah sebagai orang yang membeberkan tangannya dengan mengeluarkan sedekah tanpa menggenggamnya samasekali.” Selanjutnya pada hari yang lain lagi orang itu berjalan pula melalui kita, lalu Abuddarda’ berkata padanya: “Sudilah kiranya anda menguraikan suatu uraian yang dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak pula
membahayakan anda.” Orang itu berkata: “Rasulullah s.a.w. bersabda; “Sebaik-baik orang lelaki ialah Khuraim al-Usaidi, andaikata tidak panjang rambut kepalanya dan tidak pula melemberehkan sarungnya.” Sabda beliau s.a.w. sampailah pada Khuraim, lalu cepat-cepat ia mengambil pisau kemudian ia memotong rambut kepalanya dengan pisau tadi sampai pada kedua telinganya serta mengangkat sarungnya sampai di pertengahan kedua betisnya. Pada suatu hari yang lain lagi orang itu berjalan melalui kita pula, lalu Abuddarda’ berkata padanya: “Sudilah kiranya anda memberikan sebuah uraian kepada kita yang dapat memberikan kemanfaatan kepada kita dan tidak pula membahayakan anda.” Orang itu berkata: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya engkau semua itu akan mendatangi saudara-saudaramu – yakni sesama kaum mu’minin – maka perbaguskanlah kendaraan-kendaraanmu serta perbaguskan pulalah pakaian-pakaianmu, sehingga engkau semua itu merupakan seolah-olah sebagai tahi lalat – yakni menonjol tentang keindahan tubuh dan pakaiannya – di kalangan para manusia, karena sesungguhnya Allah itu tidak menyukai kepada keburukan-baik dalam ucapan, pakaianmu.kelakuan dan Iain-Iain-juga tidak menyukai sesuatu yang sengaja dimaksudkan untuk mengakibatkan keburukan.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud isnad hasan, kecuali Qais bin Bisyr, maka para ahli Hadis berselisih tentang dapatnya ia dipercaya atau tentang kelemahannya dalam membawakan Hadis. Imam Muslim pernah meriwayatkan orang ini.
796. Dari Abu Said al-Khudri r.a., katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda:
“Cara bersarungnya seseorang Muslim itu ialah sampai pertengahan betis dan tidak ada halangan serta tidak ada dosa untuk bersarung di antara pertengahan betis itu sampai kepada kedua matakaki. Apa yang ada di bagian bawah dari kedua matakaki, maka itulah yang akan dimasukkan dalam neraka.Juga barangsiapa yang menarik – yakni melemberehkan sarungnya
sampai menyentuh tanah – dengan maksud kesombongan, maksud kesombongan, maka ia tidak akan dilihat oleh Allah -dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan.”
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.
797. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya berjalan melalui Rasulullah s.a.w. dan sarungku ada yang menge- lembereh, lalu beliau s.a.w. bersabda: “Hai Abdullah, angkatlah sarungmu itu!” kemudian saya mengangkatnya. Kemudian beliau bersabda lagi: “Tambahkanlah – mengangkatnya!” Lalu saya me- nambahkannya. Maka tidak henti-hentinya saya membenarkan letaknya sesudah itu.” Sebagian orang-orang sama berkata: “Sampai di manakah mengangkatnya?” Ibnu Umar menjawab: “Sampai pada pertengahan kedua betis.” (Riwayat Muslim)
798. Dari Ibnu Umar radhiallahu ‘anhuma pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Barangsiapayang menarik pakaiannya – yakni melemberehkannya – karena maksud kesombongan, maka Allah tidak akan melihatnya – dengan pandangan keridhaan dan kerahmatan – padanya pada hari kiamat.” Ummu Salamah bertanya: “Bagaimanakah kaum wanita berbuat dengan ujung pakaiannya,” maksudnya bahwa oleh sebab kaum wanita itu diperintah menutupi seluruh tubuhnya karena merupakan aurat, maka apakah melem-berehkan pakaian untuk kaum wanita itu juga berdosa? Beliau s.a.w. menjawab: “Yaitu kalau mereka melemberehkannya itu sejengkaI.” la berkata: “Kalau begitu masih dapat terbuka kaki mereka itu.” Beliau s.a.w. bersabda; “Bolehlah melemberehkannya sampai se-hasta dan jangan menambahkan lagi.”
Diriwayatkan oleh Imam-imam Abu Dawud dan Termidzi dan Termidzi mengatakan bahwa ini adalah Hadis hasan shahih

4 September 2012

Bahaya Bersumpah

oleh alifbraja

1. Jangan bersumpah kecuali dgn nama Allah. Barangsiapa bersumpah dgn nama Allah dia harus jujur . Barangsiapa disumpah dgn nama Allah ia harus rela . Kalau tidak rela niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.
2. Barangsiapa merampas hak orang muslim hasil sumpahnya maka Allah mengharamkan baginya masuk surga dan mewajibkannya masuk neraka. Para sahabat bertanya Ya Rasulullah meskipun barang itu sedikit? Nabi menjawab Meskipun hanya sebatang kayu araak . {HR.

Muslim}
3. Sumpah dgn maksud melariskan dagangan adl penghapus barokah. {HR.

Bukhari dan Muslim}
4. Barangsiapa bersumpah tidak dgn nama Allah maka dia telah berbuat syirik .
5. Ada tiga kelompok orang yg kelak pada hari kiamat Allah tidak akan berkata-kata tidak akan melihat tidak akan pula mensucikan mereka. Bagi mereka azab yg pedih. Abu Dzarr berkata Rasulullah mengulang-ulangi ucapannya tiga kali dan aku bertanya Siapakah mereka itu ya Rasulullah? Beliau menjawab Orang yg pakaiannya menyentuh tanah krn kesombongannya orang yg menyiarkan pemberiannya dan orang yg menjual dagangannya dgn sumpah palsu.
6. Barangsiapa mengangkat sumpah terhadap suatu perkara kemudian dia mengetahui sesuatu yg lbh baik maka hendaklah dia menebus sumpahnya dan mengemukakan apa yg lbh baik .

Keterangan:
Kafarat sumpah sudah dijelaskan oleh Allah di dalam Al Qur’an sebagai berikut: Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yg tidak dimaksud tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yg kamu sengaja maka kafarat sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin yaitu dari makanan yg biasa kamu berikan kepada keluargamu atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian maka kafaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adl kafarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah . Dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur .
7. Berhati-hatilah jangan kamu banyak bersumpah dalam penjualan. Itu memang melariskan jualan tapi menghilangkan barokahnya . {HR.

Muslim}

6 Agustus 2012

Tiga Inti Ajaran Islam

oleh alifbraja

Diiringi panjatan do’a dan sanjungan serta pujian hanya bagi Alloh semata atas segala kenikmatan serta ma’unah(pertolongan) yang tercurah kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari para hamba-Nya. Kemudian diiringi panjatan sholawat bagi baginda Rosululloh Muhammad bin Abdulloh, bagi keluarga, para sahabat, serta seluruh pengikut beliau yang tulus setia meniti jalan hidup beliau dan menaati ajaran beliau sampai hari kiamat.

Pada majelis kita kali ini kami mengajak sidang pembaca untuk membahas “tiga inti ajaran Islam” yang merupakan salah satu karakteristik Islam yang paling pokok. Kami berharap semoga dengan mengenal serta mengilmui ketiganya kita bisa meluruskan pemahaman sekaligus amalan kita sebagai wujud ukhuwwah (persaudaraan) dan kebersamaan di bawah naungan panji agama Islam.

Pertama:

Berserah Diri Kepada Alloh Dengan Mentauhidkan-Nya

Inti ajaran Islam pertama adalah berserah diri sepenuh jiwa dan raga hanya kepada Alloh yang didasari kemurnian tauhid kepada-Nya semata. “Berserah diri” di sini bermakna menghinakan dan merendahkan diri disertai ketundukan yang tulus dari setiap hamba kepada penciptanya. Sehingga secara utuh maknanya seorang hamba berserah diri, patuh lagi tunduk kepada Alloh untuk meninggikan keesaan-Nya dalam hak-hak berkehendak dan berbuat yang melazimkan keesaan-Nya dalam hak-hak peribadahan. Inilah hakikat mentauhidkan Alloh, yaitu yang disebut tauhid ibadah, bermakna diunjukkannya seluruh peribadahan hamba hanya kepada-Nya semata.

Ketahuilah, mentauhidkan Alloh dengan seluruh peribadahan merupakan hal yang paling besar dalam ajaran Islam. Keagungan peribadahan ini tersirat dari penyebutannya di dalam Kitabulloh (al-Qur’an) dan dalam hadits-hadits Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam. Ia merupakan perintah Alloh yang pertama dan seruan awal para rosul utusan-Nya kepada manusia, bahkan para rosul itu diutus demi tujuan tauhid ibadah tersebut.[1] Demikian juga tidaklah didapati fi’il[2] yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an selain peribadahan kepada-Nya[3]. Dan tidaklah Alloh memerintah manusia dengan fi’il amr[4] yang pertama kali disebutkan di dalam al-Qur’an selain fi’il amr untuk beribadah kepada-Nya[5]. Ini hanya sebagian hikmah Alloh yang mengisyaratkan pada keutamaan ketundukan seorang hamba dengan tauhid ibadah kepada-Nya semata.

Alloh menyebutkan bahwa tauhid adalah millah[6] Nabi Ibrohim alaihis salam, dan kita diwajibkan untuk menitinya. Sebagaimana Alloh menyebutkan teladan dalam berserah diri kepada-Nya pada diri Nabi Ibrohim dan anak-anak serta pengikutnya sehingga kita harus meneladaninya dan tidak membencinya.[7]

Berserah diri, tunduk, dan merendah yang dilakukan oleh seorang muslim merupakan kewajiban yang telah diperintahkan untuk senantiasa dilakukan selama hayat masih dikandung badan[8], dan dia harus melakukan seluruh ritual peribadahannya kepada Alloh disebabkan cinta dan rindunya yang mendalam kepada-Nya. Sebagaimana dia harus merendahkan diri serta menundukkan keangkuhannya di hadapan Alloh dengan harapan yang tinggi lagi besar kepada ridho dan rohmat-Nya serta dengan perasaan takut, cemas, dan khawatir akan murka dan siksa-Nya. Alloh telah berfirman:

Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap dan cemas dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami. (QS. al-Anbiya’ [21]: 90)

Dalam ayat di atas disebutkan bahwa berserah dirinya seorang muslim kepada Alloh harus terwujud dalam bentuk amalan sholih dan kebaikan yang didasari keikhlasan hanya kepada-Nya semata. Itulah sesungguhnya hakikat khusyu’, yaitu sikap merendah seorang hamba di hadapan penciptanya yang ia yakin akan kebesaran dzat-Nya dan ketinggian serta keagungan sifat-Nya.

Nampak jelaslah bahwa berserah diri kepada Alloh yang dimaksudkan di sini tidak sama dengan berserah diri kepada taqdir; bila seseorang telah menerima taqdir Alloh—apapun bentuk dan cita rasanya—maka berarti ia telah berserah diri kepada-Nya. Bukan itu maksudnya! Akan tetapi, seseorang dikatakan telah berserah diri kepada Alloh bila ia telah mencurahkan waktu, daya, dan upayanya untuk beramal ibadah kepada Alloh semata, bahkan selama hayat masih dikandung badan ia harus melakukannya. Maka pahamilah wahai kaum!

Kedua:

Mewujudkan Ketaatan Atas Segala Perintah Alloh dan Menjauhi Larangan-Nya

 

Mengapa Islam memerintahkan manusia untuk taat kepada perintah Alloh dan Rosul-Nya, apa faedah yang akan didapati oleh mereka yang taat, apa pula celakanya bila mereka tidak taat? Pertanyaan seperti ini mungkin yang sering menutupi fithroh suci setiap orang yang enggan untuk taat.

Ada satu hal yang harus selalu kita ingat, yaitu bahwa Alloh telah mengutus para rosul kepada seluruh umat, bahkan tiada suatu umat pun melainkan Alloh telah mengutus kepada mereka seorang rosul. Alloh juga menyebutkan tujuan diutusnya mereka guna menyampaikan kabar gembira sekaligus peringatan serta ancaman. Alloh berfirman:

Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. dan tidak ada suatu umat pun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. (QS. Fathir [35]: 24)

Kabar gembira dan peringatan tersebut disampaikan kepada seluruh umat ini, yaitu kabar gembira bagi umat yang taat dan peringatan serta ancaman bagi mereka-mereka yang enggan.

Ketahuilah, ketaatan apapun yang dilakukan oleh manusia pada hakikatnya adalah untuk kebaikan diri mereka sendiri dan bukan untuk membahagiakan Alloh dengan ditaati-Nya.[9] Sungguh, ketaatan manusia kepada Alloh dan rosul-Nya merupakan kebutuhan asasi disebabkan butuhnya mereka kepada rohmat Alloh, penciptanya. Oleh sebab itu, Alloh memerintahkan manusia untuk taat kepada-Nya dan taat kepada rosul-Nya, yaitu agar mereka dirohmati oleh Robb seru sekalian alam. Ini adalah sebagian kabar gembira yang dibawa oleh para rosul. Alloh berfirman:

Dan taatilah Alloh dan rosul, supaya kamu diberi rohmat. (QS. Ali Imron [3]: 132)

Telah kita ketahui bahwa Alloh telah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada kita—sebagai umat terakhir—sebagaimana Dia pun telah menurunkan al-Qur’an bersama beliau. Seperti halnya para rosul sebelum beliau, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam pun diutus dengan membawa kabar gembira sekaligus peringatan bagi kita.[10] Maka perhatikanlah firman Alloh sebagai kabar gembira bagi kaum yang taat (yang artinya):

… barangsiapa taat kepada Alloh dan Rosul-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. (QS. an-Nisa’ [4]: 13)

Di dalam ayat selanjutnya Alloh berfirman tentang ancaman bagi mereka-mereka yang lalim lagi durhaka (yang artinya):

Dan barangsiapa yang mendurhakai Alloh dan Rosul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Alloh memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan. (QS. an-Nisa’ [4]: 14)

Mungkin ada yang mengatakan ancaman tersebut sekedar ancaman, sebagaimana kabar gembira itu hanya sekedar janji. Aduhai, sungguh besar kecelakaan dan sungguh gelap jalan mereka, yakinlah bahwa tiada seorang pun yang mengatakan demikian melainkan ia sangat jahil bahkan telah tersesat di lembah hitam kekufuran.

Sudahkah mereka belajar dari umat-umat yang terdahulu? Sudahkah mereka tahu bahwa Alloh pun telah memerintahkan supaya kita mengambil pelajaran dari umat-umat yang terdahulu?[11]

Ingatlah kesudahan kaum ‘Ad yang mengerikan, mengapa angin yang sangat dingin lagi sangat kencang menerpa mereka selama tujuh hari delapan malam sehingga mereka binasa sama sekali dan tidak menyisakan seorang pun? Ingatlah kesudahan kaum Tsamud yang celaka, mengapa petir yang sangat besar dengan suara mengguntur yang memekakkan lagi mematikan membinasakan mereka? Ingatlah pula kesudahan kaum Nabi Luth alaihis salam yang menjijikkan, gerangan apa sebabnya negeri tempat tinggal mereka dibalikkan sedangkan hujan batu yang panas membakar menerpa mereka hingga binasa? Sejarah telah menjadi saksi bahwa kaum ‘Ad telah durhaka kepada Nabi Hud alaihis salam, kaum Tsamud tidak taat kepada Nabi Sholih alaihis salam, sementara kaum Nabi Luth alaihis salam enggan dan berpaling dari seruan beliau.[12]

Ingatlah juga kapal penyelamat Nabi Nuh alaihis salam, bagaimana air telah menenggelamkan seluruh manusia dan tiada tersisa seorang pun di muka bumi ini selain yang taat mengikuti Nabi Nuh alaihis salam dan menumpang di atas kapal yang Alloh perintahkan Nabi Nuh alaihis salam untuk membuatnya?[13] Sungguh ini adalah keterangan yang nyata, maka ambillah pelajaran wahai kaum![14] Akankah kesombonganmu tetap mengalahkan fithrohmu?

Maka jelaslah bahwa hanya mereka yang enggan taat lantaran sombonglah yang menolak kejelasan perkara yang terang-benderang—laksana matahari di siang hari—ini. Rosululloh shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan kejelasan masalah ini dalam sabda beliau:

“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan!” Para sahabat bertanya: “Siapa orang yang enggan (masuk surga), wahai Rosululloh?” Beliau menjawab: “Barangsiapa yang taat kepadaku niscaya akan masuk surga, dan siapa saja yang mendurhakaiku dialah orang yang enggan (masuk surga).” Dalam riwayat lain beliau bersabda: “… dan siapa saja yang mendurhakaiku niscaya akan masuk neraka.”[15]

Setelah semuanya jelas, kini ketahuilah bahwa “ketaatan” itu disebut “ketaatan” apabila berupa ketekunan melaksanakan perintah seiring dengan senantiasa waspada untuk meninggalkan larangan. Bila seseorang hanya melaksanakan perintah saja, dia masih belum dikatakan taat sehingga dia juga meninggalkan larangan. Demikian juga, bila seseorang hanya meninggalkan larangan namun tidak melaksanakan perintah tidaklah disebut orang yang taat sehingga dia menegakkan perintah-perintah.

Ketahuilah bahwa perintah yang paling awal, paling agung, dan paling utama adalah mentauhidkan Alloh dengan seluruh peribadahan sebagaimana hal ini telah jelas pada inti ajaran Islam yang pertama. Sebaliknya, larangan yang paling besar dan paling utama untuk ditinggalkan adalah menduakan Alloh dengan makhluk-Nya sebagai pemilik hak peribadahan, ialah dosa syirik, mempersekutukan Alloh dengan makhluk-Nya. Maka ketaatan seorang muslim yang paling utama ialah ia mengesakan Alloh dengan seluruh macam ibadah seiring dengan ia tinggalkan kesyirikan serta para pelakunya. Lebih lanjut hal ini akan kita pahami pada inti ajaran Islam yang ketiga berikut ini.

Ketiga:

Berlepas Diri dari Kesyirikan dan Pelakunya

Kewajiban awal bagi setiap muslim adalah bertauhid yang murni lagi tulus seiring dengan berlepas diri dan cuci tangan dari kesyirikan. Perhatikanlah apa yang telah Alloh perintahkan dan dari apa yang kita dilarang-Nya dalam ayat berikut:

Ibadahilah Alloh dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun…. (QS. an-Nisa’ [4]: 36)

Di sini Alloh subhanahu wata’ala memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk beribadah kepada-Nya dan melarang mereka dari mempersekutukan-Nya. Hal ini mengandung penetapan hak peribadahan hanya bagi-Nya semata. Sehingga siapa yang tidak beribadah kepada-Nya maka ia kafir lagi congkak, dan siapa yang beribadah kepada Alloh disertai peribadahan kepada selain-Nya maka ia kafir lagi musyrik, sedangkan siapa saja yang hanya beribadah kepada-Nya semata ialah muslim yang mukhlish.[16]

Ketahuilah, berlepas diri dari kesyirikan itu mengharuskan berlepas diri dari para pelakunya. Tatkala seseorang berusaha menyucikan diri dari kesyirikan maka usahanya itu mengharuskannya membersihkan diri dari hubungan baik dengan para pelaku kesyirikan di atas kesyirikan mereka. Sungguh Alloh telah menunjuk teladan yang baik dalam masalah ini pada diri Nabi Ibrohim alaihis salam dan kaumnya.[17]

Akhirnya, semoga Alloh menuntun kita semua meniti jalan-Nya yang lurus dalam ber-Islam yang sesuai dengan kehendak-Nya.


[1] Lihat QS. al-Anbiya’ [21]: 25.

[2] Fi’il: kata kerja

[3] Fi’il yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an terdapat dalam surat al-Fatihah ayat 4, yaitu kata na’budu yang berarti “kami beribadah”. Dan tidak ada kata kerja lainnya yang mendahuluinya dalam surat tersebut yang merupakan surat pertama dalam al-Qur’an sesuai urutan dalam Mushhaf Utsmani.

[4] Fi’il amr dalam bahasa Indonesia disebut “kata perintah”.

[5] Fi’il amr yang pertama kali disebutkan dalam al-Qur’an terdapat dalam surat al-Baqoroh ayat 21, yaitu kata u’budu yang berarti “beribadahlah kalian”. Dan tidak ada kata perintah lainnya yang mendahuluinya dari ayat-ayat sebelumnya sampai awal al-Qur’an.

[6] Millah: agama atau jalan hidup

[7] QS. al-Baqoroh [2]: 130–132

[8] QS. al-An’am [6]: 162–163

[9] QS. Fushshilat [41]: 46

[10] QS. al-Baqoroh [2]: 119

[11] QS. Yusuf [12]: 109

[12] Lihat QS. Hud [11]: 50–83, QS. al-Haqqoh [69]: 4–8.

[13] Lihat QS. Hud [11]: 25–49.

[14] Lihat QS. al-Hajj [22]: 46.

[15] Hadits shohih riwayat Bukhori, kitab al-I’tishom bil Kitab was Sunnah bab al-iqtida’ bi sunani Rosulillah shallallahu ‘alaihi wasallam.

[16] Syarh Tsalatsatul Ushul, Syaikh Muhammad al-Utsaimin, hlm. 42. Mukhlish artinya yang tulus ibadahnya hanya untuk Alloh subhanahu wata’ala.

[17] Lihat QS. al-Mujadilah [58]: 22 dan QS. al-Mumtahanah [60]: 4.

28 Juli 2012

Ruh Ilmu adalah Amal

oleh alifbraja

Assalamu’alaikum wa rohmatullahi wa barokatuh….
Herbert Spencer mengatakan : “Yang menjadi tujuan besar pendidikan bukanlah pengetahuan, melainkan tindakan”. Bahwa yang terpenting adalah tindakan nyata bukan hanya sekedar teori dan ide saja. Karena pendidikan dan latihan adalah ilmu praktek, maka ilmu ini akan kurang bermanfaat bila tidak pernah dipraktekkan dan dibuktikan dalam kehidupan nyata di alam realita.

Sufyan Ats-Tsauri berkata : “Ilmu itu dipelajari agar dengannya seseorang bisa bertakwa kepada Allah” (Al-Hilyah : 6/362).

Imam Ghazali berkata: “Ilmu tanpa amal adalah gila dan pada masa yang sama, amalan tanpa ilmu merupakan suatu amalan yang tidak akan berlaku dan sia- sia.”

Ilmu semata-mata masih belum dapat menjauhkan diri kita daripada maksiat, kerana ilmu yang tidak diamalkan tidak akan mampu menolong manusia melarikan diri daripada melakukan maksiat selama-lamanya.

Di samping itu, ilmu yang ada juga masih belum mampu mendorong kita untuk taat kepada Allah s.w.t. Ini kerana beramal dan taat kepada Allah itu datangnya daripada kesedaran diri bahawa ia akan menghadapi maut suatu hari nanti.

Seseorang itu juga tidak mampu menjauhkan dirinya daripada api neraka hanya dengan bergantung kepada pencapaian hidup dan ilmunya semata-mata. Ia hendaklah diikuti dengan amalan yang didasari dengan ilmu yang telah dipelajarinya.

Maka tujuan dari mempelajari ilmu adalah untuk beramal dengannya dan bersungguh-sunggguh dalam menerapkannya. Dan ini terdapat pada orang-orang yang berakal, yang dikehendaki Allah Ta’ala bagi mereka kebaikan hidup di dunia dan akhirat.

Imam Tirmidzi meriwayatkan dari Abi Barzah Al Aslami, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Kedua kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ia ditanya tentang umurnya dalam hal apa ia habiskan, tentang ilmunya dalam hal apa ia kerjakan dengannya, tentang hartanya dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan, dan tentang tubuhnya dalam hal apa ia gunakan”. Dalam riwayat Thabrani dan Al-Bazzar dengan lafadz : “… dan tentang ilmunya apa yang diamalkannya dari ilmu tersebut”.

Abu Darda radhiyallohu anhu berkata : “Engkau tidak akan menjadi alim sampai engkau berilmu, dan engkau dengan ilmu tadi tidak akan menjadi alim sampai engkau mengamalkannya”.
Abu Darda radhiyallohu anhu juga berkata : “Sesungguhnya hal pertama yang akan ditanyakan Robbku di hari kiamat yang paling aku takuti adalah tatkala Dia berkata : ‘Engkau telah berilmu, maka apa yang telah kamu amalkan dari ilmumu itu?”.

Abu Hurairoh radhiyallohu anhu berkata : “Perumpamaan ilmu yang tidak diamalkan bagaikan harta simpanan yang tidak dinfakkan di jalan Alloh Ta’ala”.

Az-Zuhri berkata : “Orang-orang tidak akan menerima ucapan seorang alim yang tidak beramal, dan tidak pula orang beramal yang tidak berilmu”.

Abu Qilabah berkata : “Jika Alloh menjadikanmu berilmu maka jadikanlah ilmu itu sebagai ibadah kepada Alloh, dan janganlah kamu hanya berorientasi untuk menyampaikannya kepada orang lain (tanpa mengamalkannya)”.

Abdullah bin Al Mu’taz berkata : “Ilmu seorang munafiq pada lidahnya, sedang ilmu seorang mukmin pada amalannya”.

Amal adalah pendorong untuk tetap menjaga dan memperkokoh ilmu dalam sanubari para penuntut ilmu, dan ketiadaan amal merupakan pendorong hilangnya ilmu dan mewariskan kelupaan. Asy Sya’bi berkata : “Kami dahulu meminta bantuan dalam mencari hadits dengan berpuasa, dan kami dahulu meminta bantuan untuk menghapal hadits dengan mengamalkannya”.

As Sulamiy berkata : “Telah memberi kabar kepada kami dari orang-orang yang mengajari Al-Qur’an kepada kami, bahwa mereka (para shahabat Nabi) dahulu belajar Al-Qur’an dari Nabi shollallohu alaihi wa sallam dimana mereka apabila mempelajari sepuluh ayat mereka tidak akan beranjak ke ayat berikutnya sampai mereka mengamalkan kandungannya”.

Sesungguhnya orang yang bodoh kelak di hari kiamat akan ditanya kenapa ia tidak belajar (mencari ilmu), sedangkan orang yang berilmu akan ditanya apa yang telah diamalkan dengan ilmunya. Jika ia meninggalkan amal, maka ilmunya akan berbalik menjadi hujjah bagi dirinya.

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda : “Pada hari kiamat nanti, seseorang akan digiring kemudian dilemparkan ke dalam api neraka sampai isi perutnya terburai keluar. Kemudian penghuni neraka bertanya kepadanya : ‘Bukankah kamu dahulu menyerukan kebajikan dan melarang kemungkaran?’ Ia menjawab : ‘Saya dahulu menganjurkan kebaikan tapi saya sendiri tidak melakukannya, dan saya melarang kemungkaran tapi saya sendiri mengerjakannya’.”(HR. Bukhari dan Muslim).

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga bersabda : “Perumpamaan seorang alim yang mengajarkan kebaikan kepada manusia dan melupakan dirinya, seperti lilin yang menerangi manusia tetapi membakar dirinya sendiri”. (HR. Thabrani).

Yahya bin Muadz Ar Razi berkata : “Orang miskin pada hari kiamat adalah orang yang ilmunya berbalik menjadi hujjah baginya, ucapannya berbalik menjadi musuhnya, dan pemahamannya yang mematahkan udzurnya”.

Ibnul Jauzi berkata : “Orang yang benar-benar sangat patut dikasihani adalah orang yang menyia-nyiakan umurnya dalam suatu ilmu yang tidak ia amalkan, sehingga ia kehilangan kesenangan dunia dan kebaikan akhirat, kemudian dia ketika hari kiamat dalam datang dalam keadaan bangkrut dengan kuatnya hujjah atas dirinya”. (Shoidul Khatir hal. 144).

Ilmu adalah Pohon, dan Amal adalah Buahnya
Para pembaca yang budiman, tahukah Anda bahwa ilmu bukanlah ibadah yang independen? Ilmu hanya disebut ibadah dan terpuji apabila ilmu tersebut membuahkan amalan. Jika ilmu tidak membuahkan amal maka jadilah tercela dan akan menyerang pemiliknya. Hal ini dijelaskan dengan tegas oleh Al-Imam Asy-Syathibi dalam kitabnya yang luar biasa Al-Muwafaqat. Beliau berkata:

أَنَّ كُلَّ عِلْمٍ لا يُفيد عَمَلاً؛ فَلَيْسَ فِي الشَّرعِ مَا يَدُلُّ عَلَى استِحسَانِه

Semua ilmu yang tidak membuahkan amal maka tidak dalam syariat satu dalil pun yang menunjukkan akan baiknya ilmu tersebut.” (Al-Muwafaqat 1/74)

Oleh karena itu, semua dalil yang berkaitan dengan keutamaan ilmu dan penuntut ilmu semuanya harus dibawakan kepada ilmu yang disertai dengan amal.

Firman Allah:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لا يَعْلَمُونَ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الألْبَابِ (٩)

Katakanlah: ‘Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakal-lah yang dapat menerima pelajaran. (Q.S. Az-Zumar: 9)

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ (١٨)

Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu), tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. (Q.S. Ali Imran: 18)

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ

Niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. (Q.S. Al-Mujadalah: 11)

Demikian juga semisal hadits Nabi saw.:

من يُرِدِ اللهُ به خيرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّيْنِ

Barang siapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya maka Allah akan membuat dia faqih (paham) tentang ilmu agama.

Maksudnya adalah orang yang dikendaki kebaikan oleh Allah adalah orang yang diberi ilmu dan mengamalkan ilmunya. Adapun orang yang berilmu dan tidak mengamalkan ilmu maka tercela, karena jelas ilmunya akan menjadi bumerang baginya.

Asy-Syathibi rahimahullah membawakan banyak dalil yang menunjukkan akan hal itu. Beliau berkata: “Sesungguhnya ruh ilmu adalah amal. Jika ada ilmu tanpa amal maka ilmu tersebut kosong dan tidak bermanfaat. Allah telah berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

Sesungguhnya yang takut kepada Allah adalah para ulama. (Q.S. Fathir: 28)

Dan Allah juga berfirman:

وَإِنَّهُ لَذُو عِلْمٍ لِمَا عَلَّمْنَاهُ

Dan Sesungguhnya Dia mempunyai pengetahuan, karena Kami telah mengajarkan kepadanya. (Q.S. Yusuf: 68)

Qatadah berkata: “Maksudnya adalah لَذُو عَمَلٍ بِمَا عَلَّمْنَا dia mengamalkan ilmu yang Kami ajarkan kepadanya…” (Al-Muwafaqat 1/75).

Dan yang paling menunjukkan akan hal ini adalah hadits Nabi saw:

لاَ تَزُوْلُ قَدَمَا الْعَبْدِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتىَّ يُسأَلَ عَنْ خَمْسِ خِصَالٍ”،

“Tidak akan bergerak kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai ditanya tentang lima perkara.” Di antara lima perkara tersebut yang disebutkan oleh Nabi saw.: وعَنْ عِلْمِهِ, مَاذَا عَمِلَ فِيهِ؟ “ Dia akan ditanyakan tentang ilmunya, apa yang telah diamalkan dari ilmunya?”

Pernah ada seseorang yang bertanya (masalah agama) kepada Abu Ad-Darda’, maka Abu Ad-Darda’ berkata kepadanya: “Apakah semua masalah agama yang kau tanyakan kau amalkan?” Orang itu menjawab: “Tidak.” Maka Abu Ad-Darda’ menimpalinya: “Apa yang engkau lakukan dengan menambah hujjah yang akan menjadi bumerang bagimu?” (Al-Muwaafaqaat 1/82 sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Abdil-Bar dalam Al-Jami’ no 1232).

Oleh karena itu, sungguh indah kesimpulan yang disampaikan oleh Asy-Syathibi dalam perkataannya: “Dan dalil akan hal ini (bahwasanya ilmu hanyalah wasilah untuk amal dan bukan tujuan) terlalu banyak. Semuanya memperkuat bahwa ilmu merupakan sebuah wasilah (sarana) dan bukan tujuan langsung jika ditinjau dari kacamata syariat. Akan tetapi, ilmu hanyalah wasilah untuk beramal. Maka semua dalil yang menunjukkan akan keutamaan ilmu hanyalah berlaku bagi ilmu yang disertai dengan amalan. Dan kesimpulannya bahwasanya seluruh ilmu syar’i tidaklah dituntut (dalam syariat) kecuali dari sisi sebagai sarana untuk mencapai sesuatu yaitu amal.” (Al-Muwafaqat 1/83-85)

Sungguh indah wasiat Al-Khathib al-Baghdadi kepada para penuntut ilmu:

إِنِّي مُوصِيكَ يَا طَالِبَ الْعِلْمِ بِإِخْلَاصِ النِّيَّةِ فِي طَلَبِهِ، وَإِجْهَادِ النَّفْسِ عَلَى الْعَمَلِ بِمُوجَبِهِ، فَإِنَّ الْعِلْمَ شَجَرَةٌ وَالْعَمَلَ ثَمَرَةٌ، وَلَيْسَ يُعَدُّ عَالِمًا مَنْ لَمْ يَكُنْ بِعِلْمِهِ عَامِلًا، … وَمَا شَيْءٌ أَضْعَفُ مِنْ عَالِمٍ تَرَكَ النَّاسُ عِلْمَهُ لِفَسَادِ طَرِيقَتِهِ ، وَجَاهِلٍ أَخَذَ النَّاسُ بِجَهْلِهِ لِنَظَرِهِمْ إِلَى عِبَادَتِهِ …

وَالْعِلْمُ يُرَادُ لِلْعَمَلِ كَمَا الْعَمَلُ يُرَادُ لِلنَّجَاةِ ، فَإِذَا كَانَ الْعَمَلُ قَاصِرًا عَنِ الْعِلْمِ، كَانَ الْعِلْمُ كَلًّا عَلَى الْعَالِمِ ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ عِلْمٍ عَادَ كَلًّا، وَأَوْرَثَ ذُلًّا، وَصَارَ فِي رَقَبَةِ صَاحِبِهِ غَلًّا ، قَالَ بَعْضُ الْحُكَمَاءِ: الْعِلْمُ خَادِمُ الْعَمَلِ، وَالْعَمَلُ غَايَةُ الْعِلْمِ

Aku memberi wasiat kepadamu wahai penuntut ilmu untuk mengikhlaskan niat dalam menuntut ilmu dan berusaha keras untuk mengamalkan konsekuensi ilmu. Sesungguhnya ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Seseorang tidak akan dianggap alim bila tidak mengamalkan ilmunya. Tidak ada yang lebih lemah dari kondisi seorang alim yang ditinggalkan ilmunya oleh masyarakat karena jalannya (yang kosong dari amal) dan seorang yang jahil yang diikuti kejahilannya oleh masyarakat karena melihat ibadahnya.”

Tujuan ilmu adalah amal, sebagaimana tujuan amal adalah keselamatan. Jika ilmu kosong dari amal maka ilmu itu akan menjadi beban (bumerang) bagi pemiliknya. Kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang menjadi beban (bumerang) dan mendatangkan kehinaan, dan akhirnya menjadi belenggu di leher pemiliknya.

Sebagian ahli bijak berkata, “Ilmu adalah pembantu bagi amal, dan amal adalah puncak dari ilmu.” (Iqtidhaul Ilmi Al-’Amal 14-15)

Semangat Beramal Mengalahkan Kelelahan dan Kelemahan
Syaikh Abdurrozaq bercerita, “Suatu ketika aku pernah shalat Tarawih di Masjid Nabawi. Dulu, setiap malam bulan Ramadhan, para imam Masjid Nabawi membaca tiga juz dari Al-Quran dangan bacaan tartil. Berbeda dengan sekarang di mana para imam hanya membaca satu juz. Ketika itu, aku shalat dan ternyata di hadapanku ada seorang dari Indonesia yang juga ikut shalat malam. Yang menarik perhatianku, ternyata orang tersebut kakinya buntung satu. Tatkala berdiri dia hanya bertopang pada satu kakinya. Sungguh menakjubkan, kita yang memiliki dua kaki merasa kelelahan menunggu imam menyelesaikan bacaan tiga juz dalam sepuluh rakaat, sementara orang Indonesia ini meskipun hanya bertopang pada satu kaki tetapi semangatnya yang begitu luar biasa; sama sekali tidak bergeming selama shalat, tidak terjatuh atau tertatih-tatih. Keimanan yang luar bisa yang menjadikannya kuat untuk bertahan berjam-jam melaksanakan shalat Tarawih.”

Kisah yang luar biasa, Timbul kebanggaan dalam diri kita mengetahui orang yang beliau contohkan itu berasal dari Indonesia, namun sekaligus timbul rasa malu dalam diri kita, mengapa kita tidak semangat beribadah seperti orang yang buntung tersebut?

Dalam kitab AL-HIKAM disebutkan ;
“Janganlah kalian bersahabat dengan orang yang tidak membangkitkan semangat beribadah, serta ucapan yang tidak membawa kalian mendekati Allah Swt. Apabila kalian berbuat salah, ia mengatakan bahwa itu adalah kebaikan, sebab kalian bersahabat dengan orang yang perilakunya lebih jelek dari diri kalian sendiri.”

Pembicaraanmu dengan seorang sahabat dalam pergaulan dengan cara yang baik dan sopan santun, diajarkan dalam dasar-dasar agama Islam. Demikian percakapan itu menjadi dasar dalam pergaulan hidup manusia yang dapat diambil manfaatnya. Pada dasarnya persahabatan itu mempengaruhi hidup manusia. Memilih pergaulan sebagai cara mernperbagus persahabatan sama pentingnya seorang memilih makanan yang cocok dengan seleranya, juga makanan yang dapat memberi manfaat bagi kesehatan.

Bergaul dengan orang saleh, tentu saja akan memperoleh kesalehannya. Bergaul dengan orang berakhlak buruk, ia akan mendapatkan akhlak buruk juga. Berbicarapun demikian. Berbicara selalu menjadi ukuran bagaimana keadaan seseorang. Nilai seorang diukur dari ucapannya. Ucapan yang sesuai dengan tuntunan Nabi Saw, adalah yang mampu menggerakkan semangat beramal dan beribadah, serta sebagai pemicu amalan yang diridai oleh Allah. Sabda Rasulullah Saw., “Bergaul hendaklah dengan sesama orang beriman dan makanan yang disajikan dimakan oleh orang-orang yang takwa.“ (HR. Abi Daud dan Tirmidzi)

Ketahuilah, bahwasanya pokok sengketa manusia itu berasal dari pergaulan. Pergaulan yang tepat ialah memilih dan menyaring, orang yang akan bersama kita, persahabatan yang tepat ialah mendapatkan orang yang tidak hanya bisa tertawa di kala kita senang, tetapi juga menangis bersama kita di kala susah.

Bersahabat memang penting, lebih penting lagi adalah kebaikannya (maslahah), dan menghindari sahabat yang membawa kerusakan (mafsadah). Sebaik-baik orang yang bersahabat ialah mereka yang berjumpa karena Allah dan apabila berpisah adalah juga karena Allah. Jangan sampai sahabat kita akan menenggelamkan kita sendiri, karena harus mengikuti kemauan mereka, tanpa mengetahui tujuan dan arah yang jelas dan bermanfaat. Sufyan Ats Tsaury berkata, “Apabila kalian bergaul dengan orang banyak tentunya harus mengikuti mereka. Barangsiapa yang mengikuti mereka, tentu harus niengambil hati mereka, barangsiapa yang mengambil hati mereka, akan binasa seperti mereka.

Bersahabatlah dengan orang yang akan menyelamatkanmu di dunia dan akhirat, melepaskanmu dari bencana yang sengaja atau tidak disengaja. Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Biasanya kalian suka mengikuti sepak terjang sahabat-sahabatmu, maka hendaklah kalian suka memilih orang yang akan menjadi sahabatmu. “(HR. Ahmad dan Tabarany). Khalifah Ali mengingatkan, “Kawan yang paling jelek ialah orang yang suka mencari-cari kesalahanmu, dan mengajak kamu bermuka dua.”

Wallahu a’lam bishshowab..
Sekian, terima kasih. Semoga bermanfaat.
Wassalamu’alaikum Wa Rohmatullahi Wa Barokatuh…

23 Juli 2012

Tasawuf Adalah Dzikir

oleh alifbraja

Istilah tasawuf sering kali disalahpahami sebagian orang.Mereka memahami tasawuf hanya sebatas duduk sepanjang hari beribadah di masjid. Dulu, para ahli sufi adalah pedagang di siang hari dan zuhud di kala malam,’’ ungkap tokoh sufi terkemuka asal Lebanon, Maulana Syaikh Muhammad Hisyam Kabbani.(Bersambung ke hal. 7) Disadur dari Islam Digest, Harian Umum Republika. 26 Juni 2011

Menurut tokoh penyebar tasawuf di Benua Amerika itu, tasawuf tidak berangkat dari titik hampa. Dasar tasawuf, kata alumnus Universitas Al-Azhar, Damaskus,Suriah, itu, disebutkan dua kali dalam Al Qur’an, yakni surah al-Kahfi ayat 28 dan surah al-Jin ayat 16.

Isi amar (perintah) itu menyebutkan agar belajar dari para ahli ibadah yang menghabiskan waktu mereka di malam hari untuk ta’abbuddan mengaryakan hidup mereka di kala siang guna bekerja mencari nafkah,’’ ujar Syekh Kabbani kepada wartawan Republika, Nashih Nasrullah.

Murid dari Syekh Abdullah ad-Daghestani dan Syekh Muhammad Nazim al-Haqqani itu menegaskan bahwa tasawuf adalah zikir. Sedangkan, zuhud bisa dimaknai dengan menahan diri dari segala bentuk akhlak yang tercela. Menurutnya, tak sedikit orang yang memahami zuhud dengan meninggalkan dunia lalu menyendiri (uzlah) di tempat sepi.

Berikut petikan wawancara dengan lulusan American University Beirut, Lebanon, di bidang Kimia dan alumnus Fakultas Kedokteran University of Louvain, Belgia, itu tentang makna tasawuf yang sebenarnya:

Apa hakikat tasawuf dan aktualisasinya dalam konteks kehidupan modern?

Kehidupan modern semestinya mengikuti alur agama, bukan sebaliknya. Dan, Islam adalah tujuan utama. Sekalipun pada dasarnya saya tidak menyebut dinamika kehidupan saat ini dengan istilah modern. Tak lain karena kehidupan dari awal penciptaan Adam AS sampai hari kiamat nanti sejatinya tidak berbeda,masih kehidupan yang sama.

Kehidupan yang ada ialah fase peralihan antara dunia dan akhirat. Di fase inilah, kita wajib menaati apa yang diperintahkan oleh Allah. Melaksanakan kelima rukun Islam dan meyakini keenam rukun iman. Tak ketinggalan di aspek ihsan, seyogyanya kita jalani langkah-langkah menyucikan jiwa ( tazkiyat an-nafs) dari segala bentuk sifat tercela. Inilah pada dasarnya makna dan inti tasawuf. Hakikat tasawuf bukanlah hal yang baru. Tidak ada yang berubah dari tasawuf sejak masa Rasulullah hingga periode sekarang.

Lantas, apa dasar kemurnian (ashalat) tasawuf dalam ko- ridor yang Syekh sebutkan?

Tasawuf tidak berangkat dari titik hampa. Dasar tasawuf disebutkan dua kali dalam Al Qur’an. Pertama, saat Allah memerintah Rasulullah untuk memperhatikan para ahlu shufah dalam surah al-Kahfi ayat 28, yang berbunyi:

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya”.

Sedang ayat yang kedua terdapat pada surah al-Jin ayat 16:

“Dan bahwasanya, jikalau mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama Islam), benar-benar Kami akan memberi minum kepada mereka air yang segar (rezki yang banyak).

Perintah ini ditujukan secara umum, baik untuk Rasulullah maupun umatnya.” Isi amar (perintah) itu menyebutkan agar belajar dari para ahli ibadah yang menghabiskan waktu mereka di malam hari untuk ta’abbuddan mengaryakan hidup mereka di kala siang guna bekerja mencari nafkah. Tidak sebagaimana yang disalahpahami sebagian orang. Mereka memahami tasawuf sebatas duduk sepanjang hari beribadah di masjid. Dulu, para ahli sufi adalah pedagang di siang hari dan para zuhud di kala malam.

Tasawuf adalah zikir. Hal ihwal zikir banyak disebutkan dalam Al Qur’an. Tidak ada yang baru. Tak seorang pun laik berasumsi tasawuf ialah perkara baru. Apabila mereka benar-benar mengerti Al Qur’an dan Hadis ditambah dengan penguasaan pendapat para imam, seperti Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Hanbali,terkait tasawuf, maka asumsiasumsi miring tentang tasawuf tak akan pernah muncul.

Lalu, mengapa banyak penggunaan simbol-simbol dalam tasawuf?

Kita tidak pernah bersinggungan dengan simbol dan istilah-istilah itu. Tanyakan kepada mereka yang melontarkan. Prinsip kita selaras dengan syariah. Tiap hal yang keluar dari syariah, kita tolak, baik dalam tarekat Naqsyabandiyah maupun mayoritas tarekat yang pernah ada. Perkara yang sesuai syarat sebagaimana berlaku di empat mazhab, maka kita sambut. Jangan berbicara dengan saya tentang wihdat al-wujud Ibnu Arabi ataupun teori-teori teosofi lainnya. Kita tidak terima!

Dalam bertasawuf dituntut keberadaan mursyid, menurut Syekh?

Siapa yang bilang ada tuntutan itu. Keberadaan mursyid bukan syarat utama bertasawuf. Sangat mungkin Anda bertasawuf dengan menyucikan dan memperbaiki akhlak Anda tanpa bimbingan syekh. Kecuali, jika kondisi memang mendorong Anda untuk mengikuti seorang syekh, seperti khawatir tergelincir, dalam keadaan seperti ini sebaiknya Anda mengikuti dan bertaklid kepada syekh, baik dalam amalan maupun wirid-wirid.

Jika tidak, tempalah diri Anda sendiri dengan akhlak-akhlak yang mulia. Tetapi, coba Anda renungkan hikmah di balik Allah mengutus Jibril untuk menyampaikan wahyu kepada Rasulullah. Mengapa harus melalui Jibril? Apakah Allah tidak mampu, sampai mesti menempatkan Jibril sebagai perantara? Bukankah Allah pernah secara langsung berbicara kepada Musa AS?

Ada satu pelajaran yang hendak Allah sampaikan, jika ingin konsisten dan berkomitmen,laksanakan ajaran agama dan ikutilah sosok yang dapat dijadikan sebagai pembimbing. Sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah dalam soal wahyu ataupun tatkala hijrah ke Madinah. Beliau meminta Abu Bakar as-Shiddiq untuk mengarahkan jalan. Terlebih dengan masalah penempaan spiritual. Dalam kondisi tertentu sangat memerlukan pembimbing karena dinamikanya sulit dan berliku. Alangkah lebih baik dan berhati-hati jika Anda berguru kepada seorang syekh. Tugas syekh adalah membimbing dan mengarahkan.Tidak lebih dan tidak kurang.

Bagaimana Syekh memaknai zuhud dalam konteks kekinian?

Zuhud saat ini bisa kita maknai dengan menahan diri dari segala bentuk akhlak yang tercela. Zuhud dari segala apa yang dilarang oleh Allah. Berzuhudlah dalam hal itu. Zuhud yang hakiki ialah zuhud dengan pengertian ini. Jangan ikuti perbuatan-perbuatan mungkar. Lakukan amalan-amalan terpuji dan perbuatan yang diperintahkan.

Tak sedikit orang yang memahami zuhud adalah meninggalkan dunia lalu menyendiri (uzlah) di tempat sepi. Zuhud yang utama justru adalah berinteraksi dengan sesama manusia sembari terus berzikir kepada Allah. Zuhud seperti ini jauh lebih bermanfaat bagi Anda dan mereka. Pemahaman zuhud yang menafikan kehidupan dunia adalah distorsi yang berusaha dimasukkan di luar pegiat tasawuf. Padahal pada intinya, zuhud adalah meninggalkan larangan dan menjalani perintah.

Perbincangan terhenti sejenak.Seorang pengikut tarekat Naqsyabandiyah dari Sukabumi, Jawa Barat, bertandang ke Syekh. Tujuan kedatangannya untuk meminta sanad tarekat yang ia tekuni. Tanpa berpikir panjang, Syekh pun lantas memberikan sanad dan izin untuk menyebarkan tarekat Naqsyabandiyah di wilayahnya. Belum lama tamu tersebut beranjak, sepasang calon suami istri yang berencana melangsungkan pernikahan pada bulan haji mendatang meminta nasihat kepada Syekh. Syekh lalu memberi petuah bijak tentang kunci keluarga sakinah. “Jangan bertengkar,” ujarnya. Pertengkaran hanya akan membuahkan kebencian. Dalam keluarga kedua pasangan adalah mitra, tempat saling berbagi.

Berbagai masalah diselesaikan dengan arif, tanpa mengedepankan ego dan emosi masing-masing. “Terapkan agama dalam keluarga,” imbuh Syekh.

Suasana hikmat itu berganti ceria dan kebahagian. Sosok alim Syekh menyimpan sisi manusiawi yang humoris. Sutradara dan artis kawakan, Dedy Mizwar, menyusul kemudian untuk menghadap dan berbincang dengan Syekh. Syekh melontarkan humor ringan, tapi memberikan wawasan dan pengetahuan. Syekh menguraikan asal kata Mizwar menurut etimologi bahasa Arab, berikut kata-kata yang hampir berdekatan dengan kata Mizwar. Mizwar berarti orang yang suka berkunjung atau bepergian. Sedang miswak adalah orang yang suka bersiwak. Adapun Mizwar bermakna orang yang suka kawin. “Manakah nama Anda,” seloroh Syekh yang diikuti tawa para tamu.

Gerakan tasawuf konon hingga sekarang menjadi daya pendorong perubahan, menurut Syekh?

Anda perlu ingat, tasawuf bukan gerakan. Tetapi, tasawuf adalah aktualisasi agama. Selama tidak ada pelaksanaan ihsan dan penempaan akhlak, maka bukan berarti tasawuf. Ihsan yang dimaksud sebagaimana ditegaskan dalam sebuah hadis, yakni menyembah Allah seolah-olah kita melihat-Nya. Jika tidak,bersikaplah seakan Allah melihat tiap gerakan kita. Sekali lagi, tasawuf bukan gerakan, melainkan bagian yang tak terlepas dari agama. Alasan inilah yang mendasari Syekh Al-Azhar, Kairo, Mesir, Prof Ahmed El Thayyib, untuk membentuk Asosiasi Muslim Sufi pertama di dunia.

Asosiasi itu mengumpulkan para sufi di bawah satu komando untuk menunjukkan nilai-nilai tasawuf di tengah-tengah konspirasi kubu yang kontra terhadap tasawuf. Kini posisi tasawuf semakin jelas. Tasawuf kembali seperti posisi semula dalam agama.

Maqam tasawuf paling dasar adalah tobat, bagaimana kriteria tobat yang diterima?

Tobat selalu diterima oleh Allah. Jangan mengira tobat hamba akan ditolak. Selama Anda niat sepenuh hati untuk bertobat atas perbuatan dosa atau khilaf yang Anda lakukan, Allah akan ampuni segenap dosa. Sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS Az-Zumar [39]: 53).

Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Teruslah berusaha dan mintalah selalu pengampunan. Para sahabat tiap kali berbuat salah pergi ke Rasulullah dan beristighfar di hadapannya. Kisah ini tertuang apik dalam Al Qur’an. Rasulullah pun memintakan ampun kepada Allah bagi mereka. Kini, para ulama juga menilai memintakan ampun terhadap Rasulullah juga menjadi syarat penting diterimanya tobat.

Apa petuah Syekh untuk umat Islam di Indonesia?

Bersatulah! Taati Allah, Rasul, dan para ulil amri. Perhatikan dan cermati kemelut perpolitikan serta perang saudara yang kini berkecamuk di Dunia Arab,sesama umat Islam saling bunuh. Jangan tiru mereka. Selesaikan segala persoalan dengan arif dan bijaksana. Terlebih sekarang, fitnah kian marak di tengahtengah hidup manusia.

Fitnah yang ada kini tidak memandang usia, tempat, ataupun kondisi. Ini pertanda dekatnya hari akhir. Jangan keluar rumah tanpa keperluan mendesak. Untuk stabilitas ekonomi Indonesia, saya sarankan agar berinvestasi emas. Akan datang masa tatkala mata uang tak lagi bernilai. Kita tidak ingin Indonesia menjadi Zimbabwe berikutnya.Mata uang di sana tak berharga. Nominal triliunan nilainya tak sebanding, uang mereka jatuh. Investasilah pada emas. Insya Allah bangsa Indonesia akan selamat.

13 Juli 2012

Tujuh maqam ilmu dinilai dari niat

oleh alifbraja

Tujuh maqam ilmu dinilai dari niatnya:

Imam Abdullah bin al Mubarak ra telah meriwayatkan dalam kitab Al Zuhd dengan sanad beliau daripada Khalid bin Maadan yang berkata kepada Muaz r.a:
Wahai Muaz r.a! Kisahkanlah kepadaku satu hadis yang pernah engkau dengar daripada Rasulullah saw.
Khalid bin Maadan bercerita: “Muaz r.a menangis sehingga aku sangka tidak akan berhenti kerana lamanya…tetapi akhirnya Muaz r.a berhenti juga daripada tangisannya… kemudian Muaz r.a berkata: Aku mendengar Rasulullah saw pernah bersabda kepadaku”:
Sabda Rasulullah SAW: “Wahai Muaz! Sebenarnya aku mahu berpesan kepada kamu jikalau engkau mampu memeliharanya pasti ia akan memberi manfaat kepada engkau di sisi Allah tetapi jika engkau mensia-siakannya dan tidak memeliharanya maka akan terputuslah hujjahmu di hadapan Allah pada hari kiamat nanti.
Wahai Muaz! Sesungguhnya Allah SWT telah menjadikan tujuh orang malaikat sebelum ia menciptakan langit dan bumi. Kemudian ditentukanNya pada setiap langit satu malaikat untuk  menjaga pintunya.
1. Lalu naiklah malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba yang dilakukannya mulai dari pagi sampai ke petang. Pada amalan tersebut terdapat Nur bagaikan cahaya matahari, sehingga menyangka bahawa amalan itu amat bagus. Apabila sampai ke langit yang pertama. Malaikat penjaga langit pertama itu berkata kepada Hafazhah:
“Pukulkan amalan ini ke muka orang yang mengerjakannya. Akulah malaikat penjaga ghibah (mengumpat). Allah telah menyuruhku supaya aku tidak membiarkan amalan orang yang mengumpat orang lain itu dapat melalui pintu langit jagaan ku untuk terus naik ke langit kedua.”
2. Kemudian malaikat Hafazhah membawa pula amalan seseorang hamba, kali ini berjaya melepasi langit pertama. Ia menyangka amalan itu sangat baik (Lantaran berjaya melintasi langit yang pertama, kerana pengamalnya tidak mengumpat orang). Namun apabila sampai ke pintu langit kedua malaikat penjaga pintu itu berkata:
“Berhenti kamu di situ hai hafazah, pukulkan amalan ini ke muka orang yang mengerjakannya kerana ia mengharapkan keuntungan dunia dari amalan ini. Allah telah menyuruhku supaya aku tidak membiarkan amalan orang seperti ini melintasi aku untuk terus naik ke langit ketiga. Selain daripada itu ia juga suka disanjung dan dirai di dalam majlis orang ramai. Akulah juga malaikat penjaga kebesaran.”
3. Kemudian naik pula malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba yang penuh sinaran dan cahaya daripada pahala sedekah, sembahyang dan puasa. Malaikat Hafazhah merasa kagum melihat keindahan amalan tersebut lalu ia membawa amalan itu (melintasi langit yang pertama dan kedua dengan mudah). Namun apabila sampai ke pintu langit ketiga ia ditahan oleh malaikat penjaga langit ketiga itu:
“Berhenti kamu di sini dan pukulkan amalan ini ke muka orang yang mengerjakannya. Akulah malaikat takbur dan sombong. Allah memerintahkan aku supaya tidak membenarkan amalan orang yang takbur dan sombong dapat melintasiku.”
4. Kemudian naik pula malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba. Amalan itu bersinar-sinar seperti bintang yang bergemerlapan. Baginya suara tasbih bersatu dengan pahala sembahyang, puasa, haji dan umrah. Para malaikat Hafazhah berjaya membawa amalan itu sehingga sampai ke pintu langit yang keempat. Namun berkata malaikat penjaga langit keempat itu:
“Berhenti kamu di sini dan pukulkan amalan ini ke muka, belakang dan perut orang yang mengerjakannya. Akulah malaikat ujub. Allah menyuruhku supaya tidak membiarkan amalan orang yang ujub dapat melintasiku. Ia beramal adalah dengan dorongan perasaan ujub, yakni sangat bangga terhadap dirinya sendiri.”
5. Kemudian naik pula malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba sehingga mereka berjaya sampai ke pintu langit yang kelima seolah-olah amalan itu pengantin cantik berseri yang dihantar penuh keraian ke rumah suaminya  lalu berkata malaikat penjaga langit yang kelima:
“Berhenti kamu dan pukulkan  amalan  ini ke muka orang yang mengerjakannya dan campakkanlah di atas tengkoknya. Akulah malaikat hasad. Sesungguhnya orang itu sangat hasad dengki kepada orang yang belajar ilmu dan beramal yang menyamai taraf amalannya. Ia hasad dan mencela jika ada orang lain yang beramal lebih dari amalannya. Allah menyuruhku supaya aku tidak membiarkan amalan orang yang hasad ini melintasi pintu langit kelima jagaan aku ini.”
6. Kemudian naik pula malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba. Baginya cahaya seperti bulan purnama sarat dengan pahala sembahyang, zakat, umrah puasa dan jihad fi sabillillah. Malaikat Hafazhah berjaya membawa amalannya sehingga melepasi pintu langit ke enam. Namun berkata pula malaikat penjaga pintu langit ke enam:
“Berhenti kamu dan pukulkan amalan ini ke muka orang yang mengerjakannya kerana ia tidak belas kasihan kepada hamba-hamba Allah yang dalam kesusahan ditimpa mala petaka bahkan ia masih mampu bersuka ria. Akulah malaikat rahmat. Allah menyuruhku supaya tidak membiarkan amalan orang yang tidak peduli akan nasib umat Islam yang lain dapat melintasi aku.”
7. Kemudian naik pula malaikat Hafazhah membawa amalan seseorang hamba. Amalan itu penuh dengan pahala sembahyang, puasa, nafkah, jihad dan warak. Ianya berbunyi seperti lebah dan baginya cahaya seperti cahaya matahari dan diiringi oleh tiga ribu orang malaikat. Mereka telah berjaya membawanya sehingga sampai ke pintu langit ketujuh maka berkata malaikat penjaga pintu langit tersebut:
“Berhentilah kamu dan pukulkan dengan amalan ini ke muka orang yang mengerjakannya bahkan pukulkan pula akan seluruh anggota badannya dan tutupkan ke atas hatinya. Akulah malaikat penjaga zikir. Tahukah kamu orang ini beramal dengan mengharap disebut dan dipuji orang. Aku akan menghalang amalan orang yang riak dan sukakan puji-pujian dari sampai kepada Tuhanku. Ia beramal bukan kerana mencari keredhaan Allah tetapi hanya bertujuan supaya mendapat tempat yang tinggi di hati para fukaha dan supaya disebut di kalangan para ulama dan supaya masyhur namanya di merata tempat. Allah menyuruhku supaya tidak membiarkan amalan orang yang riak itu melintasi aku, kerana setiap amalan yang tidak ikhlas adalah riak dan Allah tidak akan menerima amalan orang yang riak.”
8. Kemudian naik pula malaikat Hafazhah dengan amalan seseorang hamba. Amalan itu berupa sembahyang, zakat, puasa, haji, umrah, akhlak mulia, banyak berdiam (daripada perkara yang tidak berguna) dan banyak berzikir. Amalan hamba ini diusung oleh para malaikat penjaga tujuh petala langit sehingga mereka melintasi segala halangan dan sampai kepada Allah. Para malaikat itu berhenti di hadapan Allah dan bersaksi dengan keikhlasan dan kebaikan amalan tersebut lalu Allah berfirman kepada para malaikatnya;
“Kamu adalah yang bertugas menjaga amalan hambaKu ini dan sebenarnya Aku lebih mengetahui segala isi hatinya. Ia sebenarnya tidak menghendaki akan Aku dengan amalannya itu. Ia hanya mengharapkan sesuatu ganjaran daripadaKu. Aku turunkan ke atasnya akan laknatKu.”
Lalu para malaikat tadi berkata:
“Ke atasnya laknatMu dan juga laknat kami.” Lalu melaknat akan dia oleh tujuh petala langit dan seisinya.
Mendengar sabda Rasulullah saw ini lalu Muaz r.a menangis seraya berkata: “Engkau adalah Rasulullah saw sedangkan aku adalah Muaz r.a (hamba Allah yang bukan Rasul). Maka bagaimana aku dapat selamat dan sejahtera. Lalu Rasulullah saw bersabda:
“Hendaklah engkau ikuti aku walaupun hanya dengan sedikit amalan. Wahai Muaz jaga lidahmu baik-baik daripada mencela saudaramu yang membaca Al Quran (Golongan Ulama) dan pertanggungkanlah segala dosamu ke atasmu dan jangan engkau mempertanggungkan dosamu ke atas orang lain dan jangan engkau menganggap dirimu bersih dan jangan pula engkau mencela orang lain dan jangan engkau memuji dirimu dihadapan orang. Dan jangan engkau campur adukkan urusan dunia di dalam urusan akhirat. Dan jangan engkau menyombong diri di dalam majlis nanti orang ramai akan takut kepadamu kerana kejahatanmu dan jangan engkau berbisik kepada seseorang sedangkan seorang lagi ada di sisimu. Jangan engkau membesarkan dirimu maka akan terputus daripadamu segala kebaikan di dunia dan di akhirat. Dan jangan engkau carikkan (pecah belah) akan manusia maka mencarik akan dikau oleh anjing2 api nereka pada hari kiamat nanti. Allah telah berfirman:
Maksudnya: Demi yang mencarik akan dicarikkan. (QS: Al Nazi’at: 2)
Apakah engkau ketahui wahai Muaz r.a siapakah mereka yang mencarik-carik itu?
Muaz r.a bertanya: “Ya Rasulullah saw, sebenarnya siapa mereka?”
Lalu Nabi saw menjawab: “Itulah anjing-anjing garang di dalam api neraka yang akan mencarikkan daging sehingga sampai ke tulang.”
Muaz r.a bertanya: “Ya Rasulullah saw siapakah orang yang mampu melaksanakan segala perkara yang engkau sebutkan tadi? Dan siapakah yang akan selamat daripada seksaan itu?”
Nabi saw menjawab: “Itu sebenarnya mudah bagi orang yang dimudahkan oleh Allah”.
Kemudian lalu Khalid bin Maadan berkata: “Maka aku tidak pernah melihat seseorang yang banyak membaca Al Quranul Karim lebih daripada Muaz r.a kerana beliau faham terhadap hadis yang besar ini.”
Renungkan baik-baik perkara yang terkandung di dalam hadis ini wahai orang yang menuntut ilmu pengetahuan. Timbangkanlah baik-baik, yang mana yang lebih penting dan yang mana lebih baik? Pastikah anda belajar ilmu yang akan menjadikan anda lebih berhati-hati? Berhati-hati  daripada segala perkara yang akan membinasakan kalian kemudian hari! Hendaklah kalian sibuk dengan memperbaiki hatimu dan membangun akhiratmu. Janganlah anda bergaul dengan orang yang bercakap kosong, berangan-angan panjang tentang dunia, takabur, riak, hasad-dengki, ujub sehingga akhirnya anda turut binasa bersama dengan orang-orang yang binasa. Dan ketahuilah olehmu bahawa tiga perkara ini (hasad, riak dan ujub) ialah punca kepada segala penyakit hati dan baginya tempat tumbuh “hubbud dun-ya” (yakni cinta akan dunia dan takut akan kematian).

LANJUTAN LIHAT  ARTIKEL “MAQAMAT”   DISINI
12 Juli 2012

AHLUS SUNNAH WAL JAMA’AH Haruskah dijadikan rujukan dalam beragama?

oleh alifbraja

suatu pertanyaan yang mungkin membuat para pembaca sedikit mengernyitkan dahi. Hal ini dikarenakan adanya konsekuensi yang cukup berat di balik jawaban dari pertanyaan tersebut. Suatu jawaban yang akan mengisyaratkan sikap mental dan prinsip kita dalam beragama. Untuk itu, mari kita kaji lebih mendalam istilah tersebut.

Pengertian Ahlus Sunnah wal Jama’ah
1. Definisi As-Sunnah

As-Sunnah secara bahasa adalah jalan yang ditempuh atau cara pelaksanaan suatu amalan, baik dalam perkara kebaikan maupun kejelekan. (Fathul Bari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqolany rahimahullah, jilid 13)
Adapun pengertian dalam istilah syari’ah adalah petunjuk dan jalan di mana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan para shahabatnya berada di atasnya, baik dalam hal ilmu, ‘aqidah, ucapan, ibadah, akhlaq maupun mu’amalah. Sunnah dalam makna ini wajib untuk diikiuti. (Al-Washiyyah Al-Kubra fi ‘Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah, hal.23)
Jadi makna As-Sunnah di sini bukan seperti dalam pengertian ilmu fiqih, yaitu: suatu amalan yang apabila dikerjakan mendapat pahala, dan apabila ditinggalkan tidak berdosa.
2. Definisi Al-Jama’ah
Al-Jama’ah, secara bahasa, berasal dari kata “Al-Jam’u” dengan arti mengumpulkan yang bercerai-berai. (Qamus Al-Muhith, karya Al-Fairuz Abadi rahimahullah)
Adapun secara istilah syari’ah berarti orang-orang terdahulu dari kalangan shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para pengikut mereka hingga Hari Kiamat. Mereka berkumpul dan bersatu di atas Al-Haq (kebenaran) yang bersumber dari Al-Kitab dan As-Sunnah, serta para imam mereka. (Al-I’tisham, karya Al-Imam Asy-Syathibi rahimahullah, I/28)
Dari penjelasan diatas, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang konsisten berpegang teguh dengan Sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah dari kalangan shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Tabi’in (murid para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam), Tabi’ut Tabi’in (murid para Tabi’in), dan para imam yang mengikuti mereka, serta orang-orang yang mengikuti jalan mereka hingga hari Kiamat dalam perkara ‘aqidah, ucapan, dan amalan. (Syarh Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyah, karya Ibnu Abil ‘Izz Al-Hanafy rahimahullah, hal. 33)

Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah orang-orang yang paling antusias dalam merujuk kepada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam berdasarkan pada pemahaman para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Ini adalah PRINSIP UTAMA dalam agama ini dan merupakan satu-satunya kunci bagi umat ini untuk bersatu dan terhindar dari perpecahan. Hal ini ditegaskan dan ditekankan oleh Ar-Rasul  shallallahu ‘alaihi wasallam dalam sabdanya:

“Aku wasiatkan kepada kalian untuk tetap bertaqwa kepada Allah dan senantiasa mendengarkan dan taat walaupun yang memimpin kalian adalah seorang budak dari Habsyi. Barangsiapa di antara kalian yang hidup (berumur panjang), niscaya akan melihat perselisihan yang banyak. Oleh karena itu, wajib bagi kalian berpegang teguh dengan sunnahku dan sunnah para Kulafa’ur Rosyidin. Gigitlah sunnah itu dengan gigi-gigi geraham kalian (peganglah kuat-kuat–red). Dan jauhilah perkara-perkara baru yang diada-adakan (dalam urusan agama), karena sesungguhnya setiap perkara yang baru yang diada-adakan adalah bid’ah, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Ahmad dan Ashabus Sunan, kecuali An-Nasa’i)
Dan dalam riwayat An-Nasa’i disebutkan bahwa Rasulullah  bersabda: ”dan setiap kesesatan akan masuk An-Nar (neraka).”

Ar-Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam juga menjelaskan tentang adanya satu kelompok yang diselamatkan oleh Allah, dan satu-satunya yang selamat dari An-Nar (neraka). Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan dari shahabat (murid beliau) Mu’awiyah bin Abu Sufyan radliyallahu ‘anhuma:

”Ketahuilah bahwa Ahlul Kitab sebelum kalian telah terpecah belah menjadi 72 golongan, dan sungguh umat ini juga akan terpecah menjadi 73 golongan. Yang 72 golongan di dalam neraka. Dan satu golongan di dalam Al-Jannah (surga), mereka itu adalah Al-Jama’ah.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ad-Darimi dan Al-Hakim. Dishahihkan Asy-Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, no. 203-204, I/404).
Dalam riwayat lain disebutkan bahwa para shahabat  radliyallahu ‘anhum bertanya: ”Siapakah Al-Jama’ah itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah  menjawab: ”Mereka adalah orang-orang yang berada di atas apa yang aku dan para shahabatku pada hari ini berada di atasnya (manhaj, aqidah, ibadah, mu’amalah, dan akhlaq yang islami–red).” (HR. Ath-Thabarani di Al-Mu’jam Ash-Shaghir, I/256)
Dari hadits-hadits tersebut, Rasulullah  menegaskan bahwa satu-satunya ”solusi” agar umat selamat (terhindar) dari perpecahan, kebinasaan, kesesatan adalah hanya dengan mengembalikan segala urusan agama kepada ”Sunnah” beliau shallallahu ‘alaihi wasallam dan ”Sunnah” para shahabat radliyallahu ‘anhum. Berpegang teguh dengan ”Sunnah” para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bermakna mengembalikan semua pemahaman terhadap Al-Qur’an dan As-Sunnah (Al-Hadits) kepada pemahaman mereka, karena di tengah-tengah merekalah ayat-ayat Al-Qur’an turun dan mereka mendengar langsung pengertiannya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Terlalu banyak untuk disebutkan di sini ayat-ayat Al-Qur’an dan Al-Hadits yang mengabarkan tentang tingginya keutamaan dan kedudukan para Shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di sisi Allah  dan Rasul-Nya . Mereka adalah manusia terbaik setelah Ar-Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam. Terbaik dalam segala hal dalam urusan agama ini, ilmu, iman, taqwa, pemahaman, pengamalan, pembelaan terhadap agama ini, dsb. Untuk itulah kita diperintahkan mengikuti petunjuk dan jalan mereka. Bahkan, barangsiapa mengikuti jalan selain jalannya para shahabat , niscaya Allah  akan biarkan dirinya tenggelam dalam kesesatan. Allah  berfirman dalam Al-Qur`an surat An-Nisa: 115, yang artinya:
”Barangsiapa menentang Ar-Rasul setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan selain jalannya kaum mukminin, maka Kami biarkan dia leluasa bergelimang dalam kesesatan (berpaling dari kebenaran), dan Kami masukkan dia ke dalam Jahannam. Dan Jahannam adalah seburuk-buruk tempat kembali.”
Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah lainnya menjelaskan bahwa ‘jalannya kaum mukminin’ dalam ayat di atas maksudnya adalah jalannya para shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Sebutan lain dari Ahlus Sunnah
As-Salafy Adalah nama lain dari Ahlus Sunnah Wal Jama’ah. Begitu juga Al-Firqatun Najiyah, Ath-Thaifah Al-Manshurah.
Istilah “As-Salafy” atau “Salafy” atau “As-Salafus Shalih” sebenarnya merupakan istilah syar’iyyah (sesuai dengan syariat Islam). Istilah tersebut bukanlah slogan keduniaan yang berkenaan dengan politik, sosial, ekonomi ataupun yang lainnya. Bukan pula nama bagi individu, organisasi, yayasan, partai ataupun aliran-aliran tertentu yang mengatasnamakan Islam.
Arti ‘Salaf’ secara bahasa adalah ‘pendahulu’ bagi suatu generasi (kamus Al-Muhith). Sedangkan dalam istilah syariah berarti orang-orang pertama yang memahami, mengimani, memperjuangkan, serta mengajarkan Islam yang diambil langsung dari shahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, Tabi’in dan Tabi’ut Tabi’in. Istilah yang lebih lengkap bagi mereka ini ialah ‘As-Salafus Sholih’ (para pendahulu yang sholih–red). (Al-Aqidah As-Salafiyah baina Al-Imam Ibnu Hanbal wal Imam Ibnu Taimiyyah, karya Dr. Sayyid Abdul Aziz As-Sily, hal.25-28)
Sedangkan seorang muslim yang mengikuti pemahaman ini dinamakan ‘Salafy’ atau ‘As-Salafy’ (majalah As-Shalah, no. 9, halaman 86-90, keterangan Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullah)
Penggunaan istilah ‘Salaf’ atau ’Salafy’ sebenarnya bukanlah hal asing atau sesuatu yang baru dalam agama ini. Istilah ini banyak kita jumpai dalam kitab-kitab para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sejak dahulu.
Selain disebut As-Salafy, Ahlus Sunnah wal Jama’ah, disebut juga dengan Al-Firqatun Najiyah (kelompok yang selamat) atau juga Ath-Thaifah Al-Manshurah (kelompok yang mendapat pertolongan). Mereka senantiasa ada pada setiap generasi untuk membimbing umat ini. Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam haditsnya yang diriwayatkan oleh Al-Imam Al-Bukhari dan Muslim:

“Akan senantiasa ada dari umatku (tiap generasi) sekelompok orang yang selalu tampak di atas Al-Haq, tidak akan menyusahkan mereka orang-orang yang meninggalkan mereka sampai datang keputusan Allah (Hari Kiamat).”
Merekalah Al-Firqatun Najiyah Al-Manshurah. Para imam besar ahlus sunnah (semisal Al-Imam Asy-Syafi’i, Ahmad, Abdullah Ibnul Mubarak,  Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban, Al-Hakim, Al-Ajurry, An-Nawawi, dan lain-lain) sepakat bahwa mereka adalah para ulama ‘Ahlul Hadits’.
Ahlul Hadits adalah para ulama besar di jamannya. Merekalah yang paling berhak untuk dijadikan rujukan pada setiap permasalahan dalam agama ini, karena mereka adalah golongan yang paling kuat hujjahnya, paling tahu tentang Al-Qur’an sebagaimana dikatakan oleh ‘Umar ibnul Khotthob : “Akan ada sekelompok orang yang mendebat kamu dengan syubhat-syubhat (kerancuan pemahaman) yang mereka ambil dari Al-Qur’an, maka bungkamlah syubhat-syubhat mereka itu dengan Sunnah (hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam), karena orang yang tahu tentang sunnah/hadits adalah orang yang paling tahu tentang Al-Qur’an.” (Diriwayatkan oleh Al-Ajurry dalam Asy-Syari’ah, hal. 48, dan kitab lainnya).
Demikianlah para pembaca yang mulia, berdasarkan pada keterangan-keterangan di atas, maka Ahlus Sunnah wal Jama’ah adalah satu-satunya yang akan mendapatkan pertolongan Allah dan selamat dari siksa api neraka. Oleh karena itu, wajib bagi kita untuk meniti jejak mereka, baik dalam masalah manhaj, aqidah, ibadah, akhlaq, atau mu’amalah. Tidak ada pilihan yang lain. Karena mereka tidaklah ber-ta’ashshub (fanatik) kepada pendapat seseorang/organisasi tertentu, kecuali hanya kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka adalah satu dan kokoh diatas satu prinsip, walaupun tempat mereka berbeda-beda dan tersebar di berbagai negeri.
Alhamdulillah, di masa kita sekarang ini sangat mudah untuk mendapatkan bimbingan dari para ulama Ahlul Hadits (Ahlus Sunnah). Kitab-kitab mereka tersebar di berbagai pelosok negeri, bahkan dari tulisan para imam As-Salafus Shalih yang terdahulu hingga para ulama Ahlul Hadits di masa ini.
Semoga Allah  senantiasa membimbing kita diatas “Ash-Shirathal Mustaqim”. Yaitu jalannya orang-orang yang telah diberi nikmat oleh Allah dari kalangan para Nabi, shahabatnya dan para ulama Ahlus Sunnah wal Jama’ah sebagai pewaris dan penjaga risalah Ilahi… Amin.
Wallahu a’lam bish showab.

10 Juli 2012

Nasihat Mendidik Dari Imam al-Ghazali, dalam kitab “Ayuuhal Walad”

oleh alifbraja

Nasihat Mendidik Dari Imam al-Ghazali, dalam kitab “Ayuuhal Walad”

 
Nasihat tulus dari Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang dinukilkan dalam surat kepada murid yang disayanginya. Metode dan isi nasihat dalam mendidik Imam al-Ghazali begitu cantik dan dapat diambil dalam kitab ini.

Kitab Ayyuhal walad ini juga dikenal dengan Al Risalah Al Waladiah. Merupakan karangan Imam al Ghazali ra yang asalnya ditulis dalam bahasa Persia kemudian telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Kitab ini ditulis beliau untuk membalas sepucuk surat yang telah dikirim oleh salah seorang murid beliau dengan harapan agar Al Imam Al Ghazali dapat membalasnya, memberi wasiat dan nasihat kepada dirinya.

Imam Al Ghazali dengan dengan tulus dan ikhlas hatinya telah membalas surat tersebut dan telah memasukkan beberapa saran yang cukup berguna buat muridnya juga kita. (Muqaddimah penerjemah)

Saya nukilkan beberapa nasihat indah dan mendalam yang diambil dari kitab Ayyuhal Walad Imam al-Ghazali:

Waktu Itu Adalah Kehidupan

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Antara nasihat Rasulullah SAW kepada umatnya adalah seperti hadits beliau:

علامة إعراض الله تعالى عن العبد, اشتغاله بما لا يعنيه, وإن امرأ ذهبت ساعة من عمره, في غير ما خلق له من العبادة, لجدير أن تطول عليه حسرته, ومن جاوز الأربعين ولم يغلب خيره على شره فليتجهز إلى النار.
Maksudnya:

Adalah termasuk tanda berpalingnya Allah Taala dari seseorang hamba apabila ia selalu mengerjakan hal yang tidak berguna. Dan seandainya ada sesaat saja dari umurnya yang telah digunakannya pada hal yang bukan tujuan hidupnya (beribadah kepada Allah) maka layaklah penyesalan (di hari kiamat nanti) dan siapa yang umurnya lebih dari 40 tahun sedangkan kebaikannya masih belum dapat melebihi kejahatannya maka layaklah ia mempersiapkan dirinya untuk memasuki api neraka.

Ilmu Itu Tidak Berguna Jika tidak dilaksanakan

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Jaganlah engkau menjadi orang yang bangkrut pada amalnya dan janganlah kamu jadikan dirimu itu kosong dari hal yang menguntungkan dan yakinlah sesungguhnya ilmu semata-mata belum menjamin keselamatanmu dikhirat kelak. Mafhum dari kenyataan di atas itu adalah: Ilmu tanpa amal tidak akan berguna. Ilmu akan menjadi berguna bila mana kita mengamalkannya dalam kehidupan seharian kita.kita juga dituntut agar mengisi jiwa yang kosong dengan berusaha menuntut ilmu.Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi: 110

فمن كان يرجوا لقآء ربه فليعمل عملا صلحا

Artinya:

Maka siapa yang mengharap akan bertemu Tuhannya, maka hendaklah ia beramal akan amalan yang saleh.

Sesungguhnya dalil tentang klaim agar kita beramal dengan ilmu banyak sekali.

Ikhlaskan Niat

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Berapa banyak dari malam-malam yang telah engkau penuhkan dengan berjaga untuk mengulang dan menatap kitab dan berapa lama engkau telah menahan tidur.

Aku tidak pasti apakah niat yang mendorong engkau berbuat demikian, apakah hanya semata-mata mencari keuntungan dunia, menghimpun segala mata benda dan mencapai posisi yang tertinggi serta membanggakan kemampuan mu di hadapan teman-teman. Jika ini niatmu maka engkau akan rugi serugi-ruginya.

Namun seandainya niatmu itu adalah untuk menghidupkan segala syariat Nabi Muhammad SAWcdan berbuat akhlakmu, serta berusaha memecahkan keinginan nafsumu yang sering terangsang ke arah kejahatan, maka beruntunglah engkau seribu keuntungan. Seorang anggota syair telah berkata:

سهر العيون لغير وجهك ضائع
وبكاؤهن لغير فقدك باطل
Artinya:

Tidur kalau bukan karena zat-Mu adalah sia-sia dan menangis kalau bukan karena kehilangan-Mu adalah tidak berguna.

Hakikat Hidup, Cinta & Amal

Wahai Anakku Yang Tercinta;

عش ما شئت فإنك ميت, وأحبب ما شئت فإنك مفارقه, واعمل ما شئت فإنك مجزي به.

Artinya:

Hiduplah kamu sesuka hatimu karena engkau pasti akan mati dan cintailah apa saja yang kamu kehendaki karena engkau pasti akan berpisah dengannya dan buatlah apa saja yang kamu kehendaki karena engkau akan dibalas menurut amal perbuatanmu.

Inilah antara nasihat-nasihat dasar dari Imam al-Ghazali terkandung dalam kitab tersebut. Selebihnya bisa disebut melalui kitabnya yang masih banyak dijual di toko-toko buku inshaAllah. Sekadar sharing moga-moga dapat dimanfaatkan untuk praktek.Nasihat tulus dari Hujjatul Islam Imam al-Ghazali yang dinukilkan dalam surat kepada murid yang disayanginya. Method dan isi nasihat dalam mendidik Imam al-Ghazali begitu cantik dan dapat diambil dalam kitab ini.

Kitab Ayyuhal walad ini juga dikenal dengan Al Risalah Al Waladiah. Merupakan karangan Imam al Ghazali ra yang asalnya ditulis dalam bahasa Persia kemudian telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Kitab ini ditulis beliau untuk membalas sepucuk surat yang telah dikirim oleh salah seorang murid beliau dengan harapan agar Al Imam Al Ghazali dapat membalasnya, memberi wasiat dan nasihat kepada dirinya.

Imam Al Ghazali dengan dengan tulus dan ikhlas hatinya telah membalas surat tersebut dan telah memasukkan beberapa saran yang cukup berguna buat muridnya juga kita. (Muqaddimah penerjemah)

Saya nukilkan beberapa nasihat indah dan mendalam yang diambil dari kitab Ayyuhal Walad Imam al-Ghazali:

Waktu Itu Adalah Kehidupan

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Antara nasihat Rasulullah SAW kepada umatnya adalah seperti hadits beliau:

علامة إعراض الله تعالى عن العبد, اشتغاله بما لا يعنيه, وإن امرأ ذهبت ساعة من عمره, في غير ما خلق له من العبادة, لجدير أن تطول عليه حسرته, ومن جاوز الأربعين ولم يغلب خيره على شره فليتجهز إلى النار.
Maksudnya:

Adalah termasuk tanda berpalingnya Allah Taala dari seseorang hamba apabila ia selalu mengerjakan hal yang tidak berguna. Dan seandainya ada sesaat saja dari umurnya yang telah digunakannya pada hal yang bukan tujuan hidupnya (beribadah kepada Allah) maka layaklah penyesalan (di hari kiamat nanti) dan siapa yang umurnya lebih dari 40 tahun sedangkan kebaikannya masih belum dapat melebihi kejahatannya maka layaklah ia mempersiapkan dirinya untuk memasuki api neraka.

Ilmu Itu Tidak Berguna Jika tidak dilaksanakan

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Jaganlah engkau menjadi orang yang bangkrut pada amalnya dan janganlah kamu jadikan dirimu itu kosong dari hal yang menguntungkan dan yakinlah sesungguhnya ilmu semata-mata belum menjamin keselamatanmu dikhirat kelak. Mafhum dari kenyataan di atas itu adalah: Ilmu tanpa amal tidak akan berguna. Ilmu akan menjadi berguna bila mana kita mengamalkannya dalam kehidupan seharian kita.kita juga dituntut agar mengisi jiwa yang kosong dengan berusaha menuntut ilmu.Firman Allah dalam Surah Al-Kahfi: 110

فمن كان يرجوا لقآء ربه فليعمل عملا صلحا

Artinya:

Maka siapa yang mengharap akan bertemu Tuhannya, maka hendaklah ia beramal akan amalan yang saleh.

Sesungguhnya dalil tentang klaim agar kita beramal dengan ilmu banyak sekali.

Ikhlaskan Niat

Wahai Anakku Yang Tercinta;

Berapa banyak dari malam-malam yang telah engkau penuhkan dengan berjaga untuk mengulang dan menatap kitab dan berapa lama engkau telah menahan tidur.

Aku tidak pasti apakah niat yang mendorong engkau berbuat demikian, apakah hanya semata-mata mencari keuntungan dunia, menghimpun segala mata benda dan mencapai posisi yang tertinggi serta membanggakan kemampuan mu di hadapan teman-teman. Jika ini niatmu maka engkau akan rugi serugi-ruginya.

Namun seandainya niatmu itu adalah untuk menghidupkan segala syariat Nabi Muhammad SAWcdan berbuat akhlakmu, serta berusaha memecahkan keinginan nafsumu yang sering terangsang ke arah kejahatan, maka beruntunglah engkau seribu keuntungan. Seorang anggota syair telah berkata:

سهر العيون لغير وجهك ضائع
وبكاؤهن لغير فقدك باطل
Artinya:

Tidur kalau bukan karena zat-Mu adalah sia-sia dan menangis kalau bukan karena kehilangan-Mu adalah tidak berguna.

Hakikat Hidup, Cinta & Amal

Wahai Anakku Yang Tercinta;

عش ما شئت فإنك ميت, وأحبب ما شئت فإنك مفارقه, واعمل ما شئت فإنك مجزي به.

Artinya:

Hiduplah kamu sesuka hatimu karena engkau pasti akan mati dan cintailah apa saja yang kamu kehendaki karena engkau pasti akan berpisah dengannya dan buatlah apa saja yang kamu kehendaki karena engkau akan dibalas menurut amal perbuatanmu.

Inilah antara nasihat-nasihat dasar dari Imam al-Ghazali terkandung dalam kitab tersebut. Selebihnya bisa disebut melalui kitabnya yang masih banyak dijual di toko-toko buku inshaAllah. Sekadar sharing moga-moga dapat dimanfaatkan untuk praktek.

%d blogger menyukai ini: